BAB 2 LANDASAN TEORI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Transkripsi

1 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Theory of Reasoned Action Theory of Reasoned Action (TRA) dikembangkan oleh Fishbein dan Ajzen pada tahun 1975 dan disusun menggunakan asumsi dasar bahwa manusia adalah mahluk dengan daya nalar untuk memutuskan perilaku apa yang akan diambil, dengan cara yang sadar dan mempertimbangkan segala informasi yang tersedia.tra ini menjelaskan bahwa perilaku dilakukan karena individu mempunyai minat atau keinginan untuk melakukannya. Lebih lanjut Ajzen (1980) mengemukakan bahwa minat melakukan atau tidak melakukan perilaku tertentu dipengaruhi oleh dua penentu dasar, yaitu : 1. Sikap (attitude towards behaviour) Sikap untuk berperilaku didefinisikan sebagai respon seseorang yang positif atau negatif tentang melakukan suatu perilaku yang diinginkan (Fishbein & Ajzen, 1975). Menambahkan sikap terhadap perilaku sebagai komponen baru berarti bahwa untuk memprediksi satu perilaku tertentu itu perlu un tuk mengukur sikap sesorang terhadap melakukan perilaku itu, bahkan hanya sikap terhadap obyek dimana perilaku diarahkan Ini adalah keyakinan pribadi seseorang dan perasaan terhadap perilaku (Fishbein & Ajzen, 1980). Menurut model TRA, sikap dipengaruhi oleh keyakinan tentang perilaku dan evaluasi perilaku. 2. Norma subjektif (subjective norms) Faktor kedua dalam model TRA yang mempengaruhi perilaku seseorang atau niat perilaku adalah norma subyektif. Norma subyektif didefinisikan sebagai persepsi individu terhadap pemikiran orang lain atas perilaku harus dilakukan. Norma subyektif dianggap sebagai persepsi individu tentang bagaimana orang-orang atau dirinya sendiri akan berpikir dan berperilaku. Keyakinan tentang bagaimana orang lain mengharapkan individu harus berperilaku dan motivasi untuk mematuhi pendapat ini menentukan norma subyektif. Semua faktor yang menentukan perilaku seseorang dalam model TRA dalam Gambar

2 8 Beliefs about the Behavior Attitude about the Behavior Evaluation of the BehaviorBehavior Intention Behavior Opinions of Referents Others Opinions of Referents Others Subjective Norm Gambar 2.1 Theory of Reasoned Action Model (Fishbein & Ajzen, 1980). 2.2 Technology Acceptance Model (TAM) Technology Acceptance Model (TAM) yang dikembangkan oleh Fred Davis (1989) menjelaskan penerimaan teknologi yang akan digunakan oleh pengguna teknologi. Teori ini diadopsi dari beberapa model yang dibangun untuk menganalisa dan memahami faktor- faktor yang mempengaruhi diterimanya teknologi baru. Untuk mengidentifikasi kekhawatiran pelanggan tentang pengetahuan mereka, privasi dan keamanan mereka, serta risiko yang dirasakan saat menggunakan teknologi RFID, versi lanjutan dari TAM digunakan dalam penelitian ini. Selain persepsi kemudahan penggunaan dan kegunaan yang dirasakan, TAM diperpanjang dengan menambahkan tiga struktur yaitu; (1) self-efficacy, (2) percieved creditibility dan (3) percieved risk. Model penelitian yang diusulkan untuk pengguna teknologi RFID pada SC yang ditunjukkan pada Gambar 2.2

3 9 Perceived Risk Perceived Usefulness Perceived Ease of Use Customers Intention to Use SC Perceived Self - Efficacy Perceived Credibility Gambar 2.2 Model Penelitian individual terhadap penggunaan RFID (Davis, 1989) Faktor yang mempengaruhi individual terhadap penggunaan teknologi RFID pada SC: 1. Perceived Usefulness (PU) Persepsi kegunaan atau PU didefinisikan sebagai probabilitas subjektif dari pengguna potensial yang menggunakan sistem aplikasi tertentu akan meningkatkan kinerjanya. Dalam konteks organisasi kerja, kegunaan ini tentu saja dikaitkan dengan peningkatan kinerja individu secara langsung atau tidak langsung berdampak pada kesempatan memperoleh keuntungan lebih baik yang bersifat fisik atau materi maupun non materi. Tentu saja jika pelanggan Starbucks mengetahui bahwa SC memiliki kegunaan (PU) dalam bertransaksi maka pelanggan akan berminat untuk mencoba menggunakan SC tersebut. 2. Perceived Ease of Use (PEOU) Persepsi kemudahan penggunaan (PEOU) didasarkan sejauh mana calon pengguna mengharapkan sistem baru yang memberikan kemudahan saat menggunakanannya. Dengan demikian persepsi kemudahan menggunakan ini merujuk pada keyakinan individu bahwa sistem IT (Information Technology) yang akan digunakan tidak sulit atau tidak membutuhkan usaha yang besar pada saat digunakan.

4 10 Setelah pelanggan mencoba dan mengetahui bahwa menggunakan SC mudah makan pelanggan merasakan kemudahan penggunaaan (PEOU) maka pelanggan berminat untuk terus menggunakan SC dalam bertransaksi. 3. Perceived Self-Efficacy Teori Perceived Self-efficacy (PSE) oleh (Bandura, 1986) adalah keyakinan individu terhadap kemampuan mereka akan mempengaruhi cara individu dalam bereaksi terhadap situasi dan kondisi tertentu. PSE memiliki efek positif bagi Persepsi Kegunaan (PU) and Persepsi Kemudahan Penggunaan (PEOU). Hal ini diyakini bahwa kepercayaan pelanggan yang mampu dalam menggunakan SC akan memiliki efek positif pada minat pelanggan lain tentang kegunaan dan kemudahan menggunakan SC dalam bertransaksi. 4. Perceived Credibility Perceived Credibility (PC) didefinisikan bahwa sebagai sejauh mana seorang penggunaan teknologi akan memiliki privasi dan keamanan (Wang et al, 2003). PC secara signifikan terkait dengan penerimaan SC dan minat untuk menggunakan, karena sangat penting privasi dan keamanan bagi pelanggan terhadap teknologi baru dalam bertransaksi di Starbucks. 5. Perceived Risk Perceived risk (PR) atau resiko ketidaknyamanan adalah perasaan cemas dan gelisah individu ketika menggunakan sistem, yang akan membawa efek negatif pada Persepsi Kemudahan Penggunaan atau PEOU. PR berarti bahwa pelanggan merasa menggunakan SC akan lebih berisiko dari pada alat transaksi lain yang ia gunakan dapat mempengaruhi minat untuk menggunakan SC. 6. Customer s Intention to Use Minat pelanggan adalah suatu keinginan minat seseorang untuk melakukan suatu perilaku tertentu. Seseorang akan melakukan sesuatu jika mempunyai minat atau keinginan untuk melakukan. Minat perilaku merupakan prediksi yang baik dari penerimaan teknologi dari pemakaian sistem (Davis, 1989). Oleh karena itu dengan lima faktor yaitu Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use, Perceived Self-Efficacy, Percieved Creditibility,dan Percieved Risk akan

5 11 mempengaruhi pelanggan Starbucks terhadap minat untuk menggunakan SC. 2.3 Cashless Payment SC merupakan salah satu bentuk cashless payment yang diterbitkan oleh Starbucks Coffee selaku pelaku industri makanan dan minuman yang menerapkan sistem RFID. Cashless payment adalah seluruh transaksi keuangan yang dilakukan tanpa melibatkan uang kartal seperti giro dan cek, tetapi menggunakan sarana elektronik seperti transaki melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM), kartu debet, kartu kredit, serta transaksi yang menggunakan teknologi tinggi seperti ebanking, e- commerce, atau e-payment. (Bank for International Settlement, 1996). SC tidak termasuk dalam kategori e-money. Pengertian electronic money (emoney) menurut Bank of International Settlement (BIS) uang elektronik berbeda dengan alat pembayaran elektronik berbasis kartu lain seperti kartu kredit atau debit. E-money memiliki karakteristik sedikit berbeda dibandingkan pembayaran elektronik yang telah disebutkan sebelumnya, pada dasarnya e-money merupakan produk pra bayar (stored value). Stored value adalah dimana nilai uang telah tercatat dalam instrument kartu, sepenuhnya berada dalam penguasaan konsumen dan proses verifikasi cukup dilakukan pada tingkat pedagang (point of sales) tanpa harus online ke bank issuer (Bank for International Settlement, 1996). Dalam peraturan Bank Indonesia nomor 11/12/PBI2009 Tentang uang elektronik (E-money), menyatakan bahwa e-money adalah alat pembayaran elektronik yang memenuhi unsur-unsur sebagai berikut (Bank Indonesia, 2009) : a. Diterrbitkan atas dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu oleh pemegang kepada penerbit; b. Nilai uang disimpan secara elektronik dalam suatu media seperti server atau chip; c. Digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang yang bukan merupakan penerbit uang elektronik tersebut; dan d. Nilai uang elektronik yang disetor oleh pemegang dan dikelola oleh penerbit bukan merupakan simpanan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengatur mengenai perbankan

6 12 Hal ini membuktikan bahwa Sc bukan e-money tetapi hanya cashless payment karena Starbucks Coffee merupakan penerbit dan pedagang dalam transaksi untuk penggunaan SC. 2.4 Radio Frequency Identification (RFID) Dalam istilah sederhana, RFID adalah sistem yang mentransmisikan identitas dari suatu obyek atau orang tanpa kabel, menggunakan gelombang radio dibaca oleh penerima. RFID adalah teknologi pengumpulan data otomatis yang memungkinkan peralatan untuk membaca tag di kejauhan, tanpa kontak atau berhadapan langsung (Want, 2004). RFID adalah tag kecil berisi chip sirkuit terpadu dan antena, dan memiliki kemampuan untuk menanggapi gelombang radio yang ditransmisikan dari pembaca RFID untuk mengirim, proses, dan menyimpan informasi. Sistem RFID terdiri dari tiga komponen dasar: 1. Tag, 2. Pembaca dan, 3. Peralatan pengolahan data Tag berisi informasi identifikasi unik dari benda yang dipasang. Informasi dalam tag dapat mengidentifikasi objek yang terkait dengan itu dalam hal yang produsen, merek, model dan nomor seri untuk obyek, yang terdiri dari 96 bit. Tag terdiri dari microchip kecil yang menempel ke antena dan berkomunikasi melalui frekuensi radio dengan transceiver atau tag reader (Sharma, 2007). Tag reader memancarkan dan menerima gelombang radio untuk membaca informasi yang tersimpan dalam tag, dan peralatan pengolahan data memproses semua data yang dikumpulkan (Wu et al, 2006). Sebuah RFID tag bisa aktif atau pasif. Sebuah tag RFID pasif tidak memiliki sumber daya sendiri dan biasanya hanya berisi nomor seri atau jumlah data kecil. Tag aktif lebih kompleks membawa sumber daya dan terus-menerus dapat mengkomunikasikan sinyal kembali ke pembaca.

7 Manfaat dan Aplikasi RFID Kemampuan untuk menangkap lebih banyak data, secara otomatis tanpa keterlibatan pengguna, dalam hampir waktu yang sama membuat RFID yang kuat dan teknologi yang unik (Sharma, 2007). Dengan waktu respon kurang dari 1/100 detik, scanner nirkabel (reader) bisa membaca ini. Informasi yang disimpan dalam tag, dan RFID dapat memproses beberapa set data pada waktu yang sama (Chao, Yang & Jen, 2007). Hal ini meningkatkan efisiensi operasional, dengan memungkinkan perusahaan untuk menciptakan sistem kontrol otomatis dan sistem manajemen persediaan dengan cepat. Meskipun teknologi RFID relatif baru untuk diimplementasi secara komersial, jumlah perusahaan mengadopsi teknologi RFID meningkat secara bertahap. Misalnya, Beberapa lembaga keuangan menerbitkan electonic money (emoney) yaitu Bank BCA meluncurkan Flazz, Bank Mandiri dengan E-toll, Bank DKI dengan JackCard dan masih banyak lagi Teknologi RFID dalam Industri F&B Pada tanggal 31 mei 2013 Starbucks Indonesia selaku pelaku industri food and beverages (F&B) baru saja meluncurkan SC. SC sendiri mengadopsi teknologi RFID didalamnya, kegunaan Starbucks Card sendiri sebagai alat transaksi untuk pelanggan saat berbelanja diseluruh gerai Starbucks Indonesia. Pada hari pertama peluncuran Starbucks Card sebanyak aktifasi dilakukan dengan total 151 gerai (PT. Sari Coffee Indonesia, 2013) Gambar 2.3 Tampilan SC edisi Indonesia ( 2013)

8 14 Cashless Payment pada SC adalah kartu keanggotan yang menawarkan nilai tambah (reward) ketika penggunanya melakukan pembelian disetiap toko diseluruh gerai Starbucks Indonesia. Cara mendapatkan Starbucks Card konsumen hanya perlu mengisi minimal saldo Rp 100,000 dan maximal saldo Rp 2,000,000. Untuk mendapatkan keuntungan lebih saat bertransaksi saat pembelian menggunakan Starbucks Card, konsumen terlebih dahulu perlu mendaftarkan nomer SC ke lalu membuat akun pribadi sebagai keanggotaan SC. Teknologi RFID dapat digunakan dalam SC yang dapat mengidentifikasi pelanggan saat bertransaksi. Setiap kunjungan pengguna Starbucks Card yang telah terdaftar keanggotaannya mendapatkan Reward atas pembelian, yaitu 1. Gratis 1 minuman ukuran Grande jenis apapun, saat pembelian 10 minuman ukuran apapun (tidak berlaku minuman botol siap minum). 2. Gratis 1 kantong biji kopi ukuran 250g, saat pembelian ke-8 kantong biji kopi ukuran 250g. 3. Gratis 1 Starbucks Via Ready Brew (3sachets), saat pembelian ke-8 bungkus jenis apapun Starbucks Via Ready Brew. 4. Gratis 1 minuman ukuran Tall jenis apapun saat pembelian gelas atau botol minum Starbucks. 5. Gratis 1 kantong biji kopi ukuran 250g, saat pembelian alat Coffee Pres. 6. Gratis 1 minuman ukuran Grande jenis apapun saat Pengguna Starbucks Card berulang tahun dengan pembelian makanan. Syarat dan Ketentuan : Keuntungan Starbucks Card disetiap negara berbeda. Poin 1,2,3 gratis dapat diambil pada kedatangan selanjutnya ditoko Starbucks seluruh Indonesia. Konsumen hanya boleh menggunakan 1 starbucks card per transaksi Masa berlaku 12bulan sejak transaksi terakhir

9 15 Customer Care Starbucks Card Website ( Pengecekan Saldo Registrasi kartu Mengnonaktifkan kartu Mutasi 10 transaksi terakhir Data konsumen Syarat,Kententuan dan tanya jawab Customer Care Center {CCC} hotline Senin- Jumat WIB Pengecekan Saldo Mengnonaktifkan kartu Mutasi 10 transaksi terakhir Transfer Saldo Gerai Toko Pembelian dengan kartu starbucks Top-up saldo kartu Penukaran Reward 2.5 Penelitian Terdahulu Pada bab ini terdiri dari teoritikal konsep dan aspek yang bersangkutan dengan faktor yang mempengaruhi individual terhadap minat penggunaan teknologi Radio Frequency Identification (RFID) pada SC yang ada di Wisma BNI 46. Penelitian mengenai faktor yang mempengaruhi individu dalam penggunaan teknologi RFID sudah pernah dilakukan sebelumnya pada industri perhotelan (Ozturk, 2010). Teori yang digunakan adalah Theory of Reasoned Action (Fishbein & Ajzen, 1980) dan Technology Acceptance Model (Davis, 1989)

10 16 Penelitian terdahulu yang dilakukan Ozturk (2010) berbeda dengan penelitian ini. Penelitian ini dilakukan pada industri makanan dan minuman yang ada diwilayah DKI Jakarta sedangkan Ozutrk (2010) penelitiannya dilakukan pada industri perhotelan di Amerika. Selain itu penelitian ini untuk mengidentifikasi Cashless pada Starbucks. Hal ini menarik karena Starbucks Indonesia baru mengadopsi SC pada 2013 sedangkan Starbucks Amerika sudah mengadopsi pada Hasil penelitian yang dilakukan Ozturk (2010) membutikan bahwa Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use,dan Percieved Risk memberikan hasil signifikan yang positif terhadap individu dalam penggunaan RFID pada industri perhotelan. Percieved Creditibility memberikan hasil signifikan negatif Sedangkan Perceived Self-Efficacy tidak memberikan hasil yang signifikan terhadap individu dalam penggunaan RFID pada industri perhotelan. 2.6 Kerangka Pikir Perceived Usefulnes Penjelasan : Persepsi tentang kegunaan yang dirasakan atau perceived usefulnes (PU) diukur dengan rata-rata dari empat item diadaptasi dari Davis (1989). PU merupakan salah satu dari dua faktor yang paling mempengaruhi individu terhadap penggunaan teknologi. Selain itu beberapa penelitian seperti Chen dan Tan (2004) dalam penelitian toko online dan Ozturk (2010) penggunaan RFID dalam industri perhotelan mengemukakan hasil yang sama. Bahwa perceived usefulnes dan perceived ease of use merupakan dua faktor paling kuat untuk mempengaruhi individu terhadap teknologi baru. Pada penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis sebagai berikut : Hipotesis 1 : Ada hubungan positif dan signifikan antara penggunaan teknologi RFID pada SC dan keyakinan tentang kegunaan yang dirasakan atau perceived usefulnes (PU) terhadap minat pelanggan.

11 17 Perceived Ease of Use Penjelasan : Persepsi kemudahan penggunaan atau perceived ease of use (PEOU) diukur dengan rata-rata dari empat item diadaptasi dari Davis (1989). Minat individu terhadap penggunaan teknologi RFID pada SC diukur dengan rata-rata dari dua item, yang didasarkan pada skala yang dikembangkan oleh Ajzen dan Fishbein (1980) dan Azjen (1991). Hasil penelitian yang dilakukan Davis (1989) mengemukakan bahwa PEOU faktor kedua yang paling mempengaruhi individu terhadap penggunaan teknologi. Hipotesis 2 : Ada hubungan positif yang signifikan antara penggunaan teknologi RFID dan keyakinan tentang kemudahan penggunaan dirasakan atau perceived ease of use (PEOU) terhadap minat pelanggan. Perceived self-efficacy Penjelasan: Persepsi Kepercayaan diri atau self-efficacy diukur dengan rata-rata enam item yang dikembangkan oleh Ozturk (2010). Dalam penelitian oztruk (2010) self-efficacy tidak memberikan hasil signifikan yang berarti dan tidak memiliki hubungan dengan minat konsumen terhadap penggunaan RFID dalam industri perhotelan. Selain itu penggunanya percaya bahwa pengetahuan, keahlian, dan kemampuan juga tidak mempengaruhi perilaku mereka untuk menggunakan RFID. Hipotesis 3 : Ada hubungan positif dan signifikan antara penggunaan teknologi RFID pada SC dan keyakinan tentang kepercayaan diri atau Perceived self-efficacy mereka tentang menggunakannya terhadap minat pelanggan.

12 18 Perceived credibility Penjelasan : Kredibilitas Dirasakan atau perceived credibility diukur dengan rata-rata dua item yang dikembangkan oleh Ozturk (2010) dengan hasil signifikan positif dengan minat untuk menggunakan teknologi. Bukan hanya itu perceived credibility juga mempengaruhi penggunanya terhadap perilaku untuk terus menggunakan RFID. Hipotesis 4 : Ada hubungan positif dan signifikan antara penggunaan teknologi RFID pada SC dan keyakinan tentang kredibilitas yang dirasakan atau perceived credibility terhadap minat pelanggan. Perceived Risk Penjelasan : Risiko yang dirasakan diukur dengan rata-rata empat item yang dikembangkan oleh Ozturk (2010) mengemukakan hasil signifikan negative. Pengguna teknologi berpendapat bahwa jika teknologi terlalu beresiko untuk digunakan maka berdampak negativ bahwa teknologi tersebut akan sulit diterima oleh penggunanya. Hipotesis 5 : Ada hubungan positif dan signifikan antara penggunaan teknologi RFID pada SC dan keyakinan tentang risiko yang dirasakan atau perceived risk terhadap minat pelanggan.

ANALISIS PENGARUH PENGGUNAAN STARBUCKS CARD PADA PELANGGAN STARBUCKS COFFEE INDONESIA

ANALISIS PENGARUH PENGGUNAAN STARBUCKS CARD PADA PELANGGAN STARBUCKS COFFEE INDONESIA ANALISIS PENGARUH PENGGUNAAN STARBUCKS CARD PADA PELANGGAN STARBUCKS COFFEE INDONESIA Mahdalena Moniaga 1, Sevenpri Candra 2 School of Business Management - BINUS University/ 021 534 5830/ [email protected]

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Technology Acceptance Model (TAM) TAM adalah teori sistem informasi yang memodelkan penerimaan dan penggunaan teknologi. TAM yang dikemukakan oleh Davis (Davis, 1989) merupakan

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian akan dilakukan di DKI Jakarta, karena merupakan provinsi dengan aktifasi tertinggi pada peluncuran perdana. Dengan peringkat gerai

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. diperkenalkan oleh Fred D. Davis. Davis et al. (1989) menyebutkan bahwa TAM

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. diperkenalkan oleh Fred D. Davis. Davis et al. (1989) menyebutkan bahwa TAM BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Technology Acceptance Model (TAM) Technology Acceptance Model (TAM) merupakan model yang diperkenalkan oleh Fred D. Davis. Davis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. muka. Fenomena ini yang kemudian dapat dilihat dalam bisnis e-commerce yang

BAB I PENDAHULUAN. muka. Fenomena ini yang kemudian dapat dilihat dalam bisnis e-commerce yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem informasi akuntansi belakangan ini banyak menyinggung tentang e-commerce dengan berorientasi pada Business-to-Customer (B2C). Saat ini banyak orang yang menggunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Melambatnya pertumbuhan ekonomi global sebagai dampak peningkatan harga

BAB I PENDAHULUAN. Melambatnya pertumbuhan ekonomi global sebagai dampak peningkatan harga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Permasalahaan yang dihadapi ekonomi dunia dewasa ini semakin pelik. Melambatnya pertumbuhan ekonomi global sebagai dampak peningkatan harga komoditas dunia

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. menggunakan perangkat mobile serta jaringan nirkabel (Ayo et al., 2007). Jonker

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. menggunakan perangkat mobile serta jaringan nirkabel (Ayo et al., 2007). Jonker BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Mobile commerce Mobile commerce adalah kegiatan transaksi yang bersifat komersial dengan menggunakan perangkat mobile serta jaringan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. fungsi standar menjadi hadirnya sebuah telepon seluler pintar atau smartphone

BAB I PENDAHULUAN. fungsi standar menjadi hadirnya sebuah telepon seluler pintar atau smartphone BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Industri telekomunikasi nasional saat ini ditandai dengan tiga tren utama (APJII, 2013). Pertama, tergesernya fitur telepon genggam atau ponsel dengan fungsi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Automatic Teller Machine (ATM) dan electronic banking (e-banking)

BAB 1 PENDAHULUAN. Automatic Teller Machine (ATM) dan electronic banking (e-banking) BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pengembangan layanan perbankan tidak lagi hanya dengan slogan layanan yang aman dan terpercaya, namun juga mampu memberikan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di dalam dunia bisnis ritel ini, setiap saat akan berkembang sehingga menyebabkan berbagai jenis ritel bermunculan dan persaingan di dalam bisnis ritel yang sejenis

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 11 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Theory of Reasoned Action (Teori Tindakan Beralasan). Theory of Reasoned Action (TRA) pertama kali diperkenalkan oleh Martin Fishbein dan Ajzen dalam Jogiyanto (2007). Teori

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Perkembangan teknologi informasi, telekomunikasi, dan internet

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Perkembangan teknologi informasi, telekomunikasi, dan internet BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi informasi, telekomunikasi, dan internet menyebabkan mulai munculnya aplikasi bisnis yang berbasis internet. Internet menawarkan kenyamanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. teknologi adalah munculnya internet. Walaupun internet tidak dapat dikatakan

BAB I PENDAHULUAN UKDW. teknologi adalah munculnya internet. Walaupun internet tidak dapat dikatakan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Teknologi merupakan hal yang tidak terlepaskan dari kehidupan manusia sehari-hari, baik dalam pekerjaan, sekolah maupun untuk sekedar hiburan. Teknologi berkembang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam upaya mencegah kelemahan dari penggunaan uang tunai tersebut, kini

BAB I PENDAHULUAN. Dalam upaya mencegah kelemahan dari penggunaan uang tunai tersebut, kini BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Uang selalu dibutuhkan manusia dalam kegiatan ekonomi. Uang telah lama digunakan sebagai alat pembayaran yang sah, namun penggunaan uang tunai dirasa memberikan banyak

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era modern ini, penggunaan internet menjadi salah satu aktivitas penting dalam mendukung kehidupan manusia di seluruh dunia. Berdasarkan data dari internetworldstats.com,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi informasi saat ini berdampak ke segala aspek

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi informasi saat ini berdampak ke segala aspek BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi informasi saat ini berdampak ke segala aspek kehidupan. Pemanfaatan teknologi dalam bisnis, dewasa ini semakin sering digunakan di dunia

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Era globalisasi telah menuntut segala informasi dapat diakses secara cepat dan

PENDAHULUAN. Era globalisasi telah menuntut segala informasi dapat diakses secara cepat dan PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Era globalisasi telah menuntut segala informasi dapat diakses secara cepat dan praktis. Munculnya sebuah teknologi baru, khususnya di bidang teknologi informasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengenal e-commerce yang merupakan proses jual beli atau pertukaran produk,

BAB I PENDAHULUAN. mengenal e-commerce yang merupakan proses jual beli atau pertukaran produk, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah memberikan perkembangan besar terhadap peradaban manusia, salah satunya dalam dunia perdagangan dan pembayaran.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan lingkungan yang serba cepat dan dinamis. Organisasi

BAB I PENDAHULUAN. perubahan lingkungan yang serba cepat dan dinamis. Organisasi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada era globalisasi, para pelaku bisnis di dunia dihadapkan pada perubahan lingkungan yang serba cepat dan dinamis. Organisasi membutuhkan teknologi informasi agar

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 1.1 Tinjauan Pustaka Penelitian tentang persepsi kemudahan penggunaan pernah dilakukan oleh Suhendro pada tahun 2009 bertujuan untuk membuat perceived usefulness

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kreatif memicu kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan akselerasi yang

BAB I PENDAHULUAN. kreatif memicu kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan akselerasi yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan kemampuan sumber daya manusia yang sangat inovatif dan kreatif memicu kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan akselerasi yang tinggi. Perkembangan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berkembangnya teknologi informasi yang semakin pesat ini, menimbulkan pemikiran baru bagi pelaku bisnis untuk menjalankan bisnisnya agar dapat bersaing dengan pelaku

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penilitian terdahulu mengenai technology acceptance model dan situs jejaring

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penilitian terdahulu mengenai technology acceptance model dan situs jejaring BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu Dalam penelitian ini, peneliti menyertakan beberapa uraian singkat penilitian terdahulu mengenai technology acceptance model dan situs jejaring sosial.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sekali mengalami perubahan (Jogiyanto, 2008: 1). Hal ini terjadi karena

BAB I PENDAHULUAN. sekali mengalami perubahan (Jogiyanto, 2008: 1). Hal ini terjadi karena 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini, perkembangan sistem teknologi informasi berkembang dengan pesat. Dimulai dari era akuntansi pada tahun 1950, sampai ke era jejaring global di mulai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penelitian terdahulu dalam jurnal yang berkaitan dengan inovasi teknologi,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penelitian terdahulu dalam jurnal yang berkaitan dengan inovasi teknologi, BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Dalam melakukan penelitian, dibutuhkan landasan teori yang digunakan sebagai pendukung teori yang akan dibahas. Penelitian ini merujuk pada penelitian terdahulu

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Technology Acceptance Model (TAM) diadopsi dari model The Theory of

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Technology Acceptance Model (TAM) diadopsi dari model The Theory of BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Technology Acceptance Model (TAM) Technology Acceptance Model (TAM) diadopsi dari model The Theory of Reasoned Action (TRA), dengan satu premis bahwa reaksi

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. Saat ini teknologi informasi semakin berkembang dengan pesat. Banyak

BAB I. PENDAHULUAN. Saat ini teknologi informasi semakin berkembang dengan pesat. Banyak 1 BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Saat ini teknologi informasi semakin berkembang dengan pesat. Banyak institusi menggunakan kemajuan teknologi informasi untuk meningkatkan keunggulan kompetitifnya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Electronic Commerce (e-commerce) (McLeod & Schell, 2004). Menurut Indrajit

BAB I PENDAHULUAN. Electronic Commerce (e-commerce) (McLeod & Schell, 2004). Menurut Indrajit BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan kemajuan zaman yang semakin pesat, maka manusia di tuntut untuk mengikuti perkembangan dari dunia itu sendiri, kadang manusia pun tidak memandang waktu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berkembang pesat dibandingkan dengan waktu waktu sebelumnya, misalnya

BAB I PENDAHULUAN. berkembang pesat dibandingkan dengan waktu waktu sebelumnya, misalnya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi yang terjadi sekarang ini sudah sangat berkembang pesat dibandingkan dengan waktu waktu sebelumnya, misalnya yang terdapat pada bidang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. house) dalam berbagai kegiatan e-business, e-commerce dan usaha teknologi

BAB I PENDAHULUAN. house) dalam berbagai kegiatan e-business, e-commerce dan usaha teknologi BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Teknologi informasi dalam dunia bisnis saat ini sudah menjadi suatu kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan operasional suatu perusahaan terlebih

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pikkarainen et al. (2004: 204) mendefinisikan E-banking sebagai sebuah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pikkarainen et al. (2004: 204) mendefinisikan E-banking sebagai sebuah BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Electronic Banking (E-Banking) Pikkarainen et al. (2004: 204) mendefinisikan E-banking sebagai sebuah portal internet yang memungkinkan nasabah untuk menggunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. dalam setahun terakhir tercatat lebih dari 73 coffee shop tumbuh berkembang

BAB I PENDAHULUAN UKDW. dalam setahun terakhir tercatat lebih dari 73 coffee shop tumbuh berkembang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pesatnya perkembangan dunia bisnis terlihat dengan semakin banyak pelaku usaha membuka dan mengembangkan bisnis mereka. Salah satu bidang bisnis di Kabupaten

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. memanfaatkan teknologi yang sudah di modernisasi dan juga dapat

BAB 1 PENDAHULUAN. memanfaatkan teknologi yang sudah di modernisasi dan juga dapat BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemajuan dan perkembangan teknologi yang diiringi dengan perkembangan sistem informasi berbasis teknologi terjadi begitu pesat di era globalisasi ini. Dengan adanya

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. keamanan hingga sampai pada sektor perbankan. Pada sektor perbankan, hasil dari

II. TINJAUAN PUSTAKA. keamanan hingga sampai pada sektor perbankan. Pada sektor perbankan, hasil dari II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Internet Banking Revolusi informasi yang ditandai dengan kemunculan internet telah berdampak hampir ke setiap sektor kehidupan manusia, dimulai dari sektor pertahanan dan keamanan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini, membuat seseorang menjadi lebih mudah untuk berbelanja, belanja sendiri tidak harus dilakukan ketika

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan teknologi yang pesat dewasa ini telah membuat kehidupan banyak masyarakat menjadi lebih mudah. Dalam beberapa tahun belakangan ini, internet merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berkembang pesat. Teknologi informasi sudah menjadi suatu kebutuhan yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. berkembang pesat. Teknologi informasi sudah menjadi suatu kebutuhan yang sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan ekonomi dan teknologi di Indonesia pada saat sekarang ini sangat berkembang pesat. Teknologi informasi sudah menjadi suatu kebutuhan yang sangat penting,

Lebih terperinci

APPENDIX A. Page 55. Salam Kenal,

APPENDIX A. Page 55. Salam Kenal, Page 55 APPENDIX A Salam Kenal, Nama saya Hadian Anindito. Saya mahasiswa universitas Bina Nusantara International jurusan Sistem Informasi. Kuesioner ini saya ciptakan dengan tujuan sebagai salah satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian TCASH (Telkomsel)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian TCASH (Telkomsel) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1 TCASH (Telkomsel) TCASH adalah uang elektronik yang diselenggarakan oleh Telkomsel yang terdaftar dan diawasi oleh Bank Indonesia, Memiliki fungsi

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN SISTEM APLIKASI KEANGGOTAAN KONSUMEN BERBASIS RFID UNTUK PENGUMPULAN POIN PADA PROSES TRANSAKSI RETAIL

RANCANG BANGUN SISTEM APLIKASI KEANGGOTAAN KONSUMEN BERBASIS RFID UNTUK PENGUMPULAN POIN PADA PROSES TRANSAKSI RETAIL RANCANG BANGUN SISTEM APLIKASI KEANGGOTAAN KONSUMEN BERBASIS RFID UNTUK PENGUMPULAN POIN PADA PROSES TRANSAKSI RETAIL Adrian Hadi Kardison Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Udayana E-mail:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi saat ini semakin berkembang seiring dengan

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi saat ini semakin berkembang seiring dengan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi saat ini semakin berkembang seiring dengan berkembangnya zaman. Teknologi tidak dapat dipisahkan dan telah berpengaruh besar terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sangat pesat. Internet sudah menjadi alat komunikasi online yang sangat penting

BAB I PENDAHULUAN. sangat pesat. Internet sudah menjadi alat komunikasi online yang sangat penting 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teknologi informasi terus berkembang dan memiliki pertumbuhan yang sangat pesat. Internet sudah menjadi alat komunikasi online yang sangat penting bagi banyak orang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Technology Acceptance Model (TAM) adalah model yang mengadopsi theory of

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Technology Acceptance Model (TAM) adalah model yang mengadopsi theory of BAB II KAJIAN PUSTAKA 1.1 Technology Acceptance Model (TAM) Technology Acceptance Model (TAM) adalah model yang mengadopsi theory of reasoned action yang dikembangkan oleh Fishbein dan Ajzen (1975). TAM

Lebih terperinci

A-PDF Manual Split Demo. Purchase from to remove the watermark BAB I PENDAHULUAN

A-PDF Manual Split Demo. Purchase from  to remove the watermark BAB I PENDAHULUAN A-PDF Manual Split Demo. Purchase from www.a-pdf.com to remove the watermark BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1 Profil PT Bank Central Asia Tbk. KCU Tasikmalaya PT Bank Central

Lebih terperinci

BAB 3 LANDASAN TEORI

BAB 3 LANDASAN TEORI BAB 3 LANDASAN TEORI 3.1 Belanja Online Belanja online (online shopping) adalah proses dimana konsumen secara langsung membeli barang-barang, jasa dan lain-lain dari seorang penjual secara interaktif dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (hardware) dan perangkat lunak (software) memberikan kekuatan untuk mengelola

BAB I PENDAHULUAN. (hardware) dan perangkat lunak (software) memberikan kekuatan untuk mengelola 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan teknologi komputer yang pesat baik dalam perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) memberikan kekuatan untuk mengelola informasi dengan

Lebih terperinci

BAB I INTRODUKSI. pembayaran mikro, kapan saja dan dimana saja dengan menggunakan smartphone

BAB I INTRODUKSI. pembayaran mikro, kapan saja dan dimana saja dengan menggunakan smartphone BAB I INTRODUKSI 1.1 Latar Belakang Instrumen pembayaran non tunai berupa uang elektronik, menjadi alat pembayaran alternatif yang aman dan dapat digunakan untuk transaksi pembayaran mikro, kapan saja

Lebih terperinci

PERANCANGAN MODEL PENERIMAAN LAYANAN SMS TRACKING PT XYZ WILAYAH KOTA PALEMBANG

PERANCANGAN MODEL PENERIMAAN LAYANAN SMS TRACKING PT XYZ WILAYAH KOTA PALEMBANG PERANCANGAN MODEL PENERIMAAN LAYANAN SMS TRACKING PT XYZ WILAYAH KOTA PALEMBANG Della Oktaviany Sistem Informasi STMIK GI MDP Jl. Rajawali No. 14, Palembang 30113, Indonesia e-mail: [email protected]

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. media layanan elektronik (e-channel) saat ini telah jauh berkembang. Bahkan

BAB I PENDAHULUAN. media layanan elektronik (e-channel) saat ini telah jauh berkembang. Bahkan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sejalan dengan teknologi yang terus berevolusi, aktivitas transaksi melalui media layanan elektronik (e-channel) saat ini telah jauh berkembang. Bahkan sudah banyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam beberapa dekade terakhir terjadi perubahan yang drastis di dalam bisnis khususnya e-business, perkembangan tersebut diantaranya perkembangan komunikasi dan proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat ditandai dengan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat ditandai dengan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat ditandai dengan pertumbuhan industri perbankan yang ada dalam negara tersebut. Semakin berkembang industri perbankan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI DAN MODEL PENELITIAN

BAB II LANDASAN TEORI DAN MODEL PENELITIAN BAB II LANDASAN TEORI DAN MODEL PENELITIAN 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Internet Internet adalah kumpulan jaringan komputer yang saling berhubungan dan memiliki infrastruktur yang sangat unik, yang bisa menghubungkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Informasi yang berkualitas merupakan informasi yang strategis untuk

BAB I PENDAHULUAN. Informasi yang berkualitas merupakan informasi yang strategis untuk BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN Seiring perkembangan zaman, semua kegiatan masyarakat semakin akrab bahkan sangat akrab dengan teknologi informasi, termasuk menjalankan sebuah tugas. Salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jasa seperti usaha jasa sewa mobil, pariwisata, transportasi, jasa pihak ketiga dan

BAB I PENDAHULUAN. jasa seperti usaha jasa sewa mobil, pariwisata, transportasi, jasa pihak ketiga dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada era globalisasi saat ini, persaingan usaha dalam industri jasa semakin ketat. Dilihat dari banyaknya perusahaan yang menawarkan usaha dalam bentuk jasa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Internet sebagai sebuah media informasi telah berkembang dengan sangat pesat. Dahulu internet hanya bisa digunakan untuk mencari informasi, sekarang internet

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembayaran merupakan hal penting bagi manusia dalam menunjang

BAB I PENDAHULUAN. Pembayaran merupakan hal penting bagi manusia dalam menunjang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembayaran merupakan hal penting bagi manusia dalam menunjang kehidupanya, oleh karena itu jenis pembayaran berubah dari waktu ke waktu agar lebih lancar, efisien,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada masa kini, sebagian masyarakat semakin merasakan informasi sebagai salah

BAB I PENDAHULUAN. Pada masa kini, sebagian masyarakat semakin merasakan informasi sebagai salah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada masa kini, sebagian masyarakat semakin merasakan informasi sebagai salah satu kebutuhan pokok di samping kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan. Seiring dengan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Fokus utama penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Fokus utama penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA Fokus utama penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh pada minat penggunaan e-money. Berbagai penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. Iklan merupakan sarana komunikasi terhadap produk yang disampaikan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. Iklan merupakan sarana komunikasi terhadap produk yang disampaikan BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS 2.1. Periklanan Iklan merupakan sarana komunikasi terhadap produk yang disampaikan melalui berbagai media dengan biaya pemrakarsa agar masyarakat tertarik untuk menyetujui

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sumber: Techinasia, (2014) 1

BAB 1 PENDAHULUAN. Sumber: Techinasia, (2014) 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini, membuat seseorang menjadi lebih mudah untuk berbelanja, belanja sendiri tidak harus dilakukan ketika berada

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian-Penelitian Terdahulu Penelitian tentang mobile banking telah banyak dilakukan oleh peneliti di berbagai negara. Adapun jenis mobile banking yang paling banyak diteliti

Lebih terperinci

PERANCANGAN MODEL PENERIMAAN LAYANAN SMS TRACKING PT XYZ WILAYAH KOTA PALEMBANG

PERANCANGAN MODEL PENERIMAAN LAYANAN SMS TRACKING PT XYZ WILAYAH KOTA PALEMBANG PERANCANGAN MODEL PENERIMAAN LAYANAN SMS TRACKING PT XYZ WILAYAH KOTA PALEMBANG Della Oktaviany Sistem Informasi STMIK GI MDP Jl. Rajawali No. 14, Palembang 30113, Indonesia e-mail: [email protected]

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. maupun untuk membantu tercapainya tujuan perusahaan. Perkembangan

BAB 1 PENDAHULUAN. maupun untuk membantu tercapainya tujuan perusahaan. Perkembangan 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dewasa ini penggunaan teknologi informasi terasa semakin dibutuhkan. Hampir semua perusahaan membutuhkan teknologi informasi, baik yang bergerak dalam bidang

Lebih terperinci

Judul : Penerapan Model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 untuk Menjelaskan Minat dan Penggunaan Mobile Banking

Judul : Penerapan Model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 untuk Menjelaskan Minat dan Penggunaan Mobile Banking Judul : Penerapan Model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 untuk Menjelaskan Minat dan Penggunaan Mobile Banking di Kota Denpasar Nama : Ni Wayan Dewi Mas Yogi Pertiwi NIM : 1306305008

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bab tinjauan pustaka ini terdiri dari dua Sub Bab yaitu Sub Bab 2.1 Landasan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bab tinjauan pustaka ini terdiri dari dua Sub Bab yaitu Sub Bab 2.1 Landasan BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab tinjauan pustaka ini terdiri dari dua Sub Bab yaitu Sub Bab 2.1 Landasan Teori yang memaparkan teori teori yang digunakan dalam penelitian ini, dan Sub Bab 2.2 Penelitian Penelitian

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori

Bab 2. Landasan Teori Bab 2 Landasan Teori 2.1. Teori Perilaku Rencanaan (Theory Of Planned Behavior) Melanjutkan sekolah dan menyelesaikan pendidikan merupakan sebuah tujuan yang semestinya dicapai oleh setiap siswa. Untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dewasa ini, internet telah menjadi suatu kebutuhan atas ketersediaan informasi. Perkembangan internet salah satunya diukur dari semakin meningkatnya pengguna

Lebih terperinci

ANALISIS AWAL PENERIMAAN APLIKASI E-KRS MENGGUNAKAN PENDEKATAN TAM (TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL)

ANALISIS AWAL PENERIMAAN APLIKASI E-KRS MENGGUNAKAN PENDEKATAN TAM (TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL) ANALISIS AWAL PENERIMAAN APLIKASI E-KRS MENGGUNAKAN PENDEKATAN TAM (TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL) Ratna Kartika Wiyati STIKOM Bali Jln. Raya Puputan no.86 Renon Denpasar e-mail: [email protected]

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tetapi merambah pada interaksi yang lebih komplek. Internet membantu

BAB I PENDAHULUAN. tetapi merambah pada interaksi yang lebih komplek. Internet membantu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Internet saat ini sudah menjadi sesuatu yang familiar bagi semua kalangan masyarakat. Perkembangan dalam bidang tekhnologi informasi menjadikan internet tidak

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan menggunakan salah satu perdiktor dari TAM yaitu perceived ease of. use(persepsi kemudahan dalam menggunakan teknologi).

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan menggunakan salah satu perdiktor dari TAM yaitu perceived ease of. use(persepsi kemudahan dalam menggunakan teknologi). BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teori Technology Acceptance Model(TAM) telah digunakan oleh banyak peneliti untuk mengeksplorasi sikap pengguna terhadap teknologi dan perilaku pengguna untuk menggunakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mengambil topik pengaruh kepercayaan, kemudahan dan persepsi resiko nasabah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mengambil topik pengaruh kepercayaan, kemudahan dan persepsi resiko nasabah BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Penelitian didasarkan pada hasil penelitian sebelumnya yang mengambil topik pengaruh kepercayaan, kemudahan dan persepsi resiko nasabah terhadap penggunaan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Electronic Book (E-Book) Secara sederhana e-book dapat diartikan sebagai buku elektronik atau buku digital. Buku elektronik adalah versi digital dari buku yang umumnya terdiri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan produk yang dibutuhkan. Penggunaan uang secara non tunai mulai meningkat

BAB I PENDAHULUAN. dan produk yang dibutuhkan. Penggunaan uang secara non tunai mulai meningkat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Uang adalah alat pembayaran yang sangat diperlukan untuk mendapatkan jasa dan produk yang dibutuhkan. Penggunaan uang secara non tunai mulai meningkat pesat seiring

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Landasan teori terdiri dari Technology Acceptance Model (TAM), Task

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Landasan teori terdiri dari Technology Acceptance Model (TAM), Task BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN penelitian. Bab ini menjabarkan mengenai landasan teori dan rumusan hipotesis 2.1 Landasan Teori Landasan teori terdiri dari Technology Acceptance Model (TAM),

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Selain berfungsi sebagai alat tukar (medium of exchange) dan alat pembayaran yang

BAB I PENDAHULUAN. Selain berfungsi sebagai alat tukar (medium of exchange) dan alat pembayaran yang BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan dibahas mengenai beberapa hal yang menjadi latar belakang penelitian, perumusan masalah, batasan masalah, keaslian penelitian, tujuan penelitian, dan manfaat yang diharapkan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Laju perkembangan teknologi informasi berjalan cepat seiring berkembangnya penggunaan internet. Dampak dari perkembangan teknologi dapat dirasakan hampir di berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan: aqidah, syariah, akhlak, ibadah dan muamalah. Islam bukan hanya

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan: aqidah, syariah, akhlak, ibadah dan muamalah. Islam bukan hanya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Islam adalah agama yang universal dan komperehensif, yaitu agama yang mengatur kehidupan manusia disegala penjuru dunia yang meliputi aspek kehidupan: aqidah,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Era perkembangan informasi saat ini berkembang sangat pesat seiring

BAB I PENDAHULUAN. Era perkembangan informasi saat ini berkembang sangat pesat seiring 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Era perkembangan informasi saat ini berkembang sangat pesat seiring terjadinya ledakan informasi. Hal ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pada pengaruh persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaan, dan persepsi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pada pengaruh persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaan, dan persepsi BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Pada penelitian saat ini merujuk pada penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Akan tetapi dalam penelitian ini berfokus pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dewasa ini kemajuan teknologi semakin canggih dan semakin membaik

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dewasa ini kemajuan teknologi semakin canggih dan semakin membaik BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini kemajuan teknologi semakin canggih dan semakin membaik dan diyakini dapat memberikan kontribusi besar pada pertumbuhan yang signifikan pada sektor jasa perbankan.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sistem Pembayaran Sistem Pembayaran menurut Bank Indonesia merupakan sistem yang berkaitan dengan transaksi antar dua pihak dimana terdapat pertukaran atau pemindahan sejumlah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. berubah. Awalnya sistem barter digunakan untuk melakukan transaksi

BAB 1 PENDAHULUAN. berubah. Awalnya sistem barter digunakan untuk melakukan transaksi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan bisnis dari masa ke masa semakin pesat dan cepat. Mengikuti perkembangan bisnis, maka teknologi pembayaran juga ikut maju dan berubah. Awalnya sistem barter

Lebih terperinci