BAB I PENDAHULUAN UKDW
|
|
|
- Ade Sugiarto
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Permasalahan Keberadaan para penyandang cacat sudah tidak asing lagi dalam kehidupan masyarakat. Mereka dapat dijumpai di pinggir jalan, panti-panti yang menampung mereka, sekolahsekolah khusus yang didirikan bagi mereka, bahkan juga di dalam keluarga dan gereja. Dalam buku Perjuangan Penyandang Cacat Di Negara-Negara Berkembang, mereka yang mendapat predikat penyandang cacat umumnya dipandang sebagai warga negara yang tidak produktif, tidak efektif, dan tidak efisien, manusia yang lemah dan rendah mobilitasnya sehingga tidak mempunyai arti penting dalam keberhasilan pembangunan. 1 Pandangan ini rupanya telah melemahkan keberadaan penyandang cacat di tengah-tengah masyarakat karena mereka disandingkan dengan orang normal yang dianggap lebih produktif, efektif dan efisien. Selama ini masyarakat secara umum memandang kecacatan adalah sebuah aib di dalam keluarga dan masyarakat. Sehingga ketika ada seseorang atau salah seorang anggota keluarga yang mengalami kecacatan, maka keluarga akan merasa malu dan minder ketika berhadapan dengan orang lain. Pandangan lainnya lagi mengenai kecacatan ialah bahwa kecacatan sebagai sebuah peristiwa yang menyedihkan, sebagai akibat dari perbuatan roh jahat atau setan yang akhirnya mengakibatkan para penyandang cacat mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan. Perlakuan yang kurang menyenangkan seperti dikucilkan, dianggap lemah dan tidak berdaya serta harus selalu dibantu telah melemahkan keberadaan penyandang cacat di dalam masyarakat. Dampak yang kemudian terjadi dengan adanya perlakuan yang kurang menyenangkan bagi mereka adalah bahwa para penyandang cacat akhirnya memandang dirinya sebagai pribadi yang lemah, tidak berdaya dan hanya menyusahkan orang-orang disekitarnya. Perlakuan yang melemahkan keberadaan penyandang cacat membuat mereka tidak bisa 1 Peter Coleridge, Perjuangan Penyandang Cacat di Negara-negara Berkembang. Pembebasan dan pembangunan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hlm. xii 1
2 mengembangkan kemampuan lain yang mereka miliki karena masyarakat sendiri pun tidak memberikan kesempatan kepada mereka. Selain perlakuan yang kurang menyenangkan, penulis melihat bahwa dalam penggunaan bahasa yang dikenakan kepada penyandang cacat juga turut mempengaruhi cara pandang mereka dan sikap mereka. Hal ini karena istilah atau terminologi yang digunakan akan mempengaruhi cara pikir dan cara memandang sesuatu, penggunaan bahasa yang kurang tepat sering dipakai untuk menggambarkan sesuatu atau seseorang yang akan berdampak pada diri orang yang dikenai stigma atau label tersebut. 2 Pada akhirnya stigma yang dikenakan pada seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan dari penggunaan bahasa yang kurang tepat akan menjadikan penyandang cacat terasing dari lingkungan sosial dan berdampak pada psikologisnya. Kata yang sering dipakai yang kemudian menjadi stigma yang dikenakan kepada penyandang cacat antara lain; orang cacat, orang yang berkebutuhan khusus dan penyandang cacat. Dampaknya yang dirasakan oleh penyandang cacat adalah rasa malu, minder, rendah diri serta tertutup dari lingkungan sosial karena merasa stigma yang dilekatkan padanya menjadikan dirinya berbeda dengan lingkungan sosialnya. Stigma negatif yang dilekatkan telah membuat orang merasa cacat atau dicacatkan oleh orang lain, karena dengan memakai sebutan ini maka secara tidak langsung mereka telah ditempatkan sebagai objek atau kasus dan bukan sebagai manusia. 3 Tanpa disadari penggunaan bahasa telah menjadi permasalahan yang perlu diperhatikan karena, penggunannya telah menjadikan seorang penyandang cacat menjadi objek dan bukan hanya melalui sikap yang ditunjukkan dengan pemberian amal atau sedekah atau bantuan saja yang hanya menjadikan mereka sebagai objek dari rasa belas kasihan karena bahasa juga turut mempengaruhi hal tersebut. Selanjutnya dalam penulisan ini, penulis akan menggunakan kata penyandang cacat. 2 ZAENAL_ALIMIN/MODUL_1_UNIT_2.pdf Anak Berkebutuhan Khusus diunduh pada tanggal 27 April 2010 pukul 07:05 WIB 3 Peter Coleridge. Perjuangan Penyandang Cacat di Negara-negara Berkembang. Pembebasan dan pembangunan, (Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR. 1997), p
3 Definisi kata cacat, berarti cela, aib, lecet dan adanya kekurangan yang terdapat pada badan, benda, batin atau akhlak sehingga menyebabkan mutunya kurang baik atau kurang sempurna. 4 Definisi ini telah melemahkan keberadaan penyandang cacat di dalam masyarakat karena keberadaan seseorang hanya dilihat dari mutunya saja. Selain itu penggunaan kata orang cacat umumnya dipakai dalam kosa kata para pekerja profesional di bidang kecacatan, terutama di pusat-pusat rehabilitasi. Sehingga penggunaan kata orang cacat dirasakan agak kikuk dan kurang pas untuk digunakan karena tidak sesuai dengan model sosial kecacatan, dimana istilah yang dipakai adalah orang yang memiliki kerusakan/kelemahan fungsi fisik, namun jadinya bertele-tele. 5 Kemudian, dalam penggunaan kata orang yang berkebutuhan khusus, hal ini memang sangat jelas telah menunjukkan bahwa tiap manusia memiliki kebutuhan yang berbeda-beda sehingga pernyataan ini tidak dapat menjelaskan keberadaan penyandang cacat. Sementara dalam penggunaan kata penyandang cacat, yang juga dipakai oleh sebagian besar aktivis yang bergerak di bidang kecacatan, terkandung jelas mengenai keberadaan mereka, lebih tegas menunjuk siapa diri mereka sebenarnya 6 serta kebutuhan-kebutuhan mereka yang jelasjelas berbeda dengan yang lainnya. Dalam penggunaan kata ini, keberadaan penyandang cacat akan lebih dihargai dan bukan untuk melemahkan keberadaan mereka. Mengenai pendefinisian cacat itu sendiri nyatanya saling berbeda, seperti yang diungkapkan oleh Anne Fritzson dan Samuel Kabue dalam bukunya Interpreting Disability, bahwa definisi cacat itu berbeda karena berdasarkan pada cara, waktu dan bagaimana seseorang tersebut melihat kecacatan itu sendiri yang pada akhirnya jatuh pada pengklasifikasian model kecacatan yakni model kedokteran dan model sosial. 7 Hal ini muncul karena pada pengklasifikasian, cacat masih dilihat berdasarkan pada ketidakmampuan seseorang dan keadaan lingkungan sosial. Lebih lanjut Anne Fritzson dan Samuel Kabue mengemukakan mengenai model kecacatan yakni model kedokteran dan 4 Peter Coleridge, Perjuangan Penyandang Cacat di Negara-negara Berkembang. Pembebasan dan pembangunan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hlm Peter Coleridge, Perjuangan Penyandang Cacat di Negara-negara Berkembang. Pembebasan dan pembangunan, hlm Peter Coleridge, Perjuangan Penyandang Cacat di Negara-negara Berkembang. Pembebasan dan pembangunan, hlm Arne Fritzson and Samuel Kabue. Interpreting Disability: A Church of All and for All, (Geneva: Risk Book, 2004), hlm. viii 3
4 model sosial. Dalam model kedokteran mengandung pemahaman adanya kekurangan atau kehilangan sebagian anggota tubuhnya sedangkan dalam model sosial, mengandung adanya pemahaman budaya setempat bahwa tubuh yang cacat adalah sebuah kesalahan yang berkembang dari generasi ke generasi. 8 Dengan model kecacatan yang diungkapkan oleh Anne Fritzson dan Samuel Kabue, penulis juga melihat bahwa akhirnya cara pandang seseorang terhadap kecacatan itu sangat beragam karena konteks dimana seseorang itu berada turut mempengaruhi bagaimana cara pandang seseorang terhadap penyandang cacat. Selain penggunaan bahasa yang kemudian menjadi stigma yang dikenakan kepada penyandang cacat, ada berbagai pengaruh lainnya yang mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap kecacatan. Seperti yang diungkapkan oleh Peter Coleridge dalam bukunya yang berjudul Pembebasan dan Pembangunan, bahwa dari berbagai pandangan yang diungkapkan oleh masyarakat terbagi menjadi tiga model kecacatan 9, yaitu; 1) Model Tradisional merupakan konstruk yang dibuat oleh agama dan budaya di tiap masyarakat dimana kecacatan masih dipandang sebagai bentuk hukuman dan orang yang mengalaminya dianggap seseorang yang berdosa besar, selain itu kecacatan juga masih dianggap sebagai akibat dari kemarahan leluhur, atau perbuatan penguasa dunia lain. 2) Model kedokteran atau model individual, menganggap bahwa kecacatan adalah abnormalitas jadi ada yang disebut dengan normalitas, karenanya yang abnormal itu perlu dinormalkan, dikoreksi, ditanggulangi, disembuhkan. Dalam model ini, tubuh manusia dianggap sebagai bahan yang luwes dan dan dapat diubah bentuknya, sedangkan lingkungan sosial tidak bisa berubah, sehingga orang yang ingin menyatu dengan masyarakatlah yang harus berubah, bukan masyarakatnya. 3) Model sosial memahami bahwa penyatuan diri penyandang cacat dengan masyarakat sebagai proses merobohkan rintangan ranjau-ranjau sosial termasuk rintangan dalam bentuk sikap negatif masyarakat. Model ini bukan sebagai 8 Arne Fritzson and Samuel Kabue. Interpreting Disability: A Church of All and for All,, (Geneva: Risk Book, 2004),hlm. ix 9 Peter Coleridge. Perjuangan Penyandang Cacat di Negara-negara Berkembang. Pembebasan dan pembangunan. (Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR. 1997), hlm
5 normalisasi, bukan pengobatan maupun perawatan. Rehabilitasi dimaknai sebagai pendobrakan rintangan di tingkat individual, dan dilakukan dalam kerangka besar konteks sosial. Nancy L. Eiesland juga mengungkapkan tiga kategori yang mempengaruhi pandangan sosial terhadap kecacatan yang juga menjadi kritikannya, karena ketiga kategori itu telah melemahkan keberadaan penyandang cacat di dalam masyarakat. Ketiga kategori itu ialah; 1) Jiwa individu 10. Terdapat unsur mengenai rehabilitasi yang masuk didalam kategori ini. Dimana dalam rehabilitasi ada anggapan bahwa penyandang cacat harus menjalani perawatan medis dan rehabilitasi fisik sebagai bagian dari proses untuk berdamai dengan kecacatan yang dialaminya. Sehingga dalam kategori ini kecacatan masih dilihat sebagai masalah individu dan bukan sebagai masalah sosial ataupun politik. 2) Interaksi di dalam sosial. Kategori yang kedua, adalah interaksi didalam sosial. Menurut Erving Goffman, seorang sosiolog yang menganalisa mengenai kecacatan dalam interaksi dengan masyarakat, hal ini dipengaruhi oleh stigma yang melekat dalam masyarakat sehingga membentuk pemahaman dan mempengaruhi sikap serta interaksi mereka. Lebih lanjut, Goffman berpendapat bahwa stigma telah membangun hubungan sosial didalam masyarakat 11. Stigma muncul didalam proses interaksi sosial dimana seseorang ditandai atau dipisahkan dengan stigma tertentu yang kemudian menjadikannya terpisah dengan kelompok lainnya. Stigma sangat mendominasi di dalam masyarakat karena dengan penamaan tertentu terhadap seseorang atau sekelompok orang maka akan mempengaruhi interaksi seseorang dengan orang lain. 3) Kelompok sosial 12 Dalam kategori ini ditawarkan mengenai kerangka kerja secara konseptual sebagai sebuah alternatif untuk mempertimbangkan keberadaan penyandang cacat sebagai 10 Nancy L. Eiesland, The Disabled God: Toward a Liberatory Theology Of Disability. (Nashville: Abingdon Press, 1994), hlm Nancy L. Eiesland, The Disabled God: Toward a Liberatory Theology Of Disability. hlm Nancy L. Eiesland, The Disabled God: Toward a Liberatory Theology Of Disability. hlm 62 5
6 bagian dari masyarakat. Dalam hal ini pemisahan kelompok yang diakibatkan oleh pemahaman dan perlakuan diskriminasi sosial perlu diperbaiki sehingga tidak ada lagi pihak-pihak yang dipisahkan dari kelompok karena stigma yang dilekatkan kepada mereka.. Pada akhirnya, ketiga kategori yang diungkapkan Nancy L.Eiesland menjadi sebuah kritikannya karena telah melemahkan keberadaan penyandang cacat melalui stigma-stigma yang dilekatkan kepada mereka. Melalui kritikannya ini, ia ingin mengatakan bahwa selama ini keberadaan penyandang cacat hanya dilihat sebagai seseorang atau sekelompok orang yang harus selalu dikasihani, lemah, dan tidak berdaya sehingga harus selalu dibantu karena tanpa bantuan orang lain mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak hanya melemahkan keberadaan mereka di dalam masyarakat tapi juga di dalam gereja. Dengan kritikannya Eiesland mengajak untuk melihat keberadaan penyandang cacat bukan sebagai objek kasihan, sebagai seseorang yang harus selalu dibantu tapi menyadari bahwa mereka juga bisa menjadi pribadi yang mandiri, pribadi yang tidak selamanya harus selalu dibantu tapi mereka juga bisa membantu orang lain. Dengan melihat keberadaan penyandang cacat yang diperlemahkan didalam masyarakat, Nancy L. Eiesland juga melihat hal ini ada dalam gereja. Dia melihat bahwa selama ini simbol-simbol dalam gereja tidak mewakili keberadaan penyandang cacat sehingga Tuhan dirasakan jauh dari keberadaan penyandang cacat. Simbol-simbol yang penulis maksudkan disini ialah berupa gambaran Allah yang selama ini dirasakan jauh dan tidak menyentuh keberadaan penyandang cacat. Justru penyandang cacat memerlukan simbol-simbol yang menyentuh hidup mereka dalam gereja dan gereja juga perlu memberikan simbol-simbol yang mewakili keberadaan mereka. 13 Dengan tidak adanya simbol yang mewakili keberadaan penyandang cacat dalam gereja, maka Nancy L. Eiesland menawarkan sebuah gambaran Tuhan yang cacat untuk dapat menyentuh dan mewakili keberadaan penyandang cacat dalam gereja. Dengan gambaran Tuhan yang cacat, gereja diajak untuk menyentuh realita keberadaan umatnya. 13 Nancy L. Eiesland, The Disabled God: Toward a Liberatory Theology Of Disability. (Nashville: Abingdon Press, 1994), hlm 20 6
7 Kritikan Nancy L. Eiesland mengenai ketiga kategori serta simbol berupa gambar Allah di dalam gereja juga menjadi sebuah kritikan bagi Jemaat GKP Kampung Sawah dalam memandang keberadaan penyandang cacat di dalamnya. Penulis memilih konteks GKP Kampung Sawah karena penulis melihat bahwa di dalamnya terdapat keberadaan penyandang cacat yang perlu mendapatkan perhatian serta pelayanan dari gereja. Setelah melakukan pra penelitian sebelumnya, penulis mengetahui bahwa pelayanan gereja selama ini berupa bantuan diakonia dan katekisasi khusus yang bersifat insidentil. Disini memunculkan pertanyaan dalam diri penulis mengenai bagaimana keberadaan penyandang cacat diterima dalam Jemaat GKP Kampung Sawah. Hal lain yang juga menjadi pertanyaan penulis adalah bagaimana selama ini gambaran tentang Tuhan yang dimaknai oleh penyandang cacat di dalam kehidupan mereka. I.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, maka rumusan pertanyaan yang dapat dimunculkan dalam penulisan skripsi ini ialah: Bagaimana gambaran Tuhan yang sesuai bagi para penyandang cacat dalam menghayati Iman Kristen? Untuk mempermudah penulis menjawab pertanyaan permasalahan tersebut, maka penulis perlu mengetahui beberapa hal, seperti berikut: 1) Bagaimana penyandang cacat dan keluarganya memaknai kecacatan di dalam kehidupan mereka? 2) Bagaimana penyandang cacat dan keluarganya memaknai Tuhan di dalam kehidupan mereka? 3) Bagaimana Jemaat GKP Kampung Sawah menerima keberadaan para penyandang cacat melalui pelayanannya selama ini? I.3. Judul Gambaran Tuhan Yang Cacat (Sebuah Refleksi Teologi Dalam Sikap Nyata Solidaritas Yesus Menurut Nancy L. Eiesland Dalam Konteks Gereja Kristen Pasundan Jemaat Kampung Sawah) 7
8 I.4. Tujuan Penulisan Diharapkan melalui penulisan ini penyandang cacat dapat menghayati kehadiran Tuhan di dalam kehidupan ini. Menghayati kehadiran Tuhan melalui gambaran Tuhan yang cacat sehingga pemaknaan akan Tuhan dapat lebih menyentuh keberadaan penyandang cacat, terkhusus di Jemaat GKP Kampung Sawah. I.5. Metode Penulisan Dalam pembahasan skripsi ini penulis menggunakan metode berikut ini: Metode penelitian Dalam metode penelitian, yang digunakan adalah penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang yang menjadi subyek penelitian dan perilaku yang diamati. 14 Penulis memilih penelitian kualitatif karena penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang dapat digunakan untuk menjawab permasalahan di dalam penelitian ini. Penelitian kualitatif bermanfaat untuk menelaah dan memahami sikap, pandangan, perasaan dan perilaku induvidu atau sekelompok orang. Penelitian kualitatif juga disebut dengan bersifat deskritif-analitis sebab data yang akan dianalisa berupa deskripsi. 15 Metode pengumpulan data Dalam pengumpulan data, penulis melakukannya dengan melakukan wawancara kepada narasumber di Jemaat GKP Kampung Sawah dan juga studi literatur. Dengan kata lain hasil penelitian dengan melakukan wawancara akan menghasilkan data deskriptif berupa penjelasan-penjelasan dari individu atau kelompok yang menjadi partisipan. 16 Wawancara telah dilakukan kepada 11 orang anggota keluarga yang mewakili penyandang cacat, 6 orang anggota Majelis Jemaat dan 12 orang jemaat dari berbagai 6 kategori usia di Jemaat GKP Kampung Sawah yakni kategori Sekolah Minggu (pengajar), remaja, pemuda, perempuan, pria dan lansia. 14 Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2010). Hlm Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. Hlm Anselm Strauss & Juliet Corbin, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif: Tatalangkah dan Teknik-teknik Teoritisasi Data. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm.4-5 8
9 Metode penulisan Metode yang dipakai penulis untuk mengungkapkan hasil kajiaannya adalah dengan deskripstif-analitis, yakni metode yang meletakan deskripsi atau pengambaran masalah atau bahan kajian dan kemudian mencoba menganalisisnya dengan referensi-referensi dari proses kajian pustaka yang juga akan digunakan penulis. I.6. Sistematika Penulisan Bab I : PENDAHULUAN Bab II Bab III Dalam bab ini diuraikan latar belakang permasalahan, rumusan masalah, judul, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika pembahasan. : ANALISIS SIKAP GEREJA KRISTEN PASUNDAN JEMAAT KAMPUNG SAWAH TERHADAP PENYANDANG CACAT DALAM KEHIDUPAN BERJEMAAT Dalam bab ini berisi hasil penelitian dan wawancara yang telah penulis lakukan di Jemaat GKP Kampung Sawah : TIGA KATEGORI YANG MEMPENGARUHI CARA PANDANG TERHADAP KECACATAN MENURUT NANCY L. EIESLAND DALAM KONTEKS JEMAAT GKP KAMPUNG SAWAH TERHADAP PENYANDANG CACAT Dalam bab ini berisi teori-teori yang digunakan untuk menganalisa hasil penelitian di Jemaat GKP Kampung Sawah. Dan diakhiri dengan refleksi Teologi Tuhan Yang Cacat Bab IV : KESIMPULAN DAN SARAN Dalam bab ini berisi kesimpulan serta saran kepada Jemaat GKP Kampung Sawah 9
BAB I PENDAHULUAN UKDW
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Jawa Barat merupakan salah satu propinsi yang memiliki agama-agama suku dan kebudayaan-kebudayaan lokal serta masih dipelihara. Salah satu agama suku yang ada di Jawa
UKDW BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Setiap orang di dunia lahir dan tumbuh dalam keluarga, baik keluarga inti maupun keluarga asuh. Peran keluarga memberikan kontribusi besar dalam pertumbuhan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN 1. Dampak skizofrenia bagi keluarga sangatlah besar, ini menyebabkan seluruh keluarga ikut merasakan penderitaan tersebut. Jika keluarga tidak siap dengan hal ini,
UKDW BAB I. Pendahuluan. 1. Latar Belakang Masalah. Secara umum dipahami bahwa orang Indonesia harus beragama. Ini salah
BAB I Pendahuluan 1. Latar Belakang Masalah Secara umum dipahami bahwa orang Indonesia harus beragama. Ini salah satunya karena Indonesia berdasar pada Pancasila, dan butir sila pertamanya adalah Ketuhanan
UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan Disabilitas sebagai Isu Sosial
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan 1.1.1. Disabilitas sebagai Isu Sosial Isu disabilitas sebenarnya bukan sebuah isu yang baru sama sekali. Manusia zaman dahulu pun telah mengenal disabilitas,
UKDW BAB 1 PENDAHULUAN
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Setiap manusia tentunya memiliki keunikan di dalam kepribadian dan karakternya masingmasing. Di dalam kepelbagaian kepribadian yang unik dan berbeda, disitulah
BAB V. Penutup. GKJW Magetan untuk mengungkapkan rasa syukur dan cinta kasih karena Yesus
BAB V Penutup 5.1 Kesimpulan dan Refleksi Upacara slametan sebagai salah satu tradisi yang dilaksanakan jemaat GKJW Magetan untuk mengungkapkan rasa syukur dan cinta kasih karena Yesus sebagai juruslamat
UKDW BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gereja hidup di tengah masyarakat. Gereja kita kenal sebagai persekutuan orangorang percaya kepada anugerah keselamatan dari Allah melalui Yesus Kristus. Yesus Kristus
BAB I PENDAHULUAN. Obor Indonesia, 1999, p Jane Cary Peck, Wanita dan Keluarga Kepenuhan Jati Diri dalam Perkawinan dan Keluarga, Yogyakarta:
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Pada dasarnya setiap orang memiliki suatu gambaran tentang keluarga dan keluarga harmonis. Keluarga merupakan sistem sosial dari hubungan utama, yang memungkinkan
BAB I PENDAHULUAN. Bandung, 1999, hlm 30
1 BAB I PENDAHULUAN A. Pendahuluan A.1. Latar belakang permasalahan Harus diakui bahwa salah satu faktor penting di dalam kehidupan masyarakat termasuk kehidupan bergereja adalah masalah kepemimpinan.
UKDW. BAB I Pendahuluan. A. Latar Belakang
BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Kehidupan umat beragama tidak bisa dipisahkan dari ibadah. Ibadah bukan hanya sebagai suatu ritus keagamaan tetapi juga merupakan wujud respon manusia sebagai ciptaan
BAB I PENDAHULUAN UKDW
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Sulawesi Utara adalah salah satu provinsi yang dikenal dengan banyaknya tradisi, ritual dan adat istiadat, yang membentuk identitas dari Minahasa. Salah
UKDW BAB I. PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG
BAB I. PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Teologi merupakan suatu usaha atau kegiatan untuk mencermati kehadiran Tuhan Allah di mana Allah menyatakan diri-nya di dalam kehidupan serta tanggapan manusia akan
BAB I PENDAHULUAN. Jurnal Teologi Gema Duta Wacana edisi Musik Gerejawi No. 48 Tahun 1994, hal. 119.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada umumnya, musik merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari suatu kegiatan peribadatan. Pada masa sekarang ini sangat jarang dijumpai ada suatu
BAB I PENDAHULUAN. A. Permasahan. 1. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Permasahan 1. Latar Belakang Masalah Gereja sebagai suatu kehidupan bersama religius yang berpusat pada Yesus Kristus 1 hadir di dunia untuk menjalankan misi pelayanan yaitu melakukan
BAB I PENDAHULUAN. menciptakan Hawa sebagai pendamping bagi Adam. Artinya, manusia saling
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sejak awal adanya kehidupan manusia, kodrati manusia sebagai makhluk sosial telah ada secara bersamaan. Hal ini tersirat secara tidak langsung ketika Tuhan
BAB I PENDAHULUAN. Ketika seseorang akan melakukan sesuatu hal, pasti orang tersebut memiliki hal-hal
BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG MASALAH Ketika seseorang akan melakukan sesuatu hal, pasti orang tersebut memiliki hal-hal tertentu yang mempengaruhi dalam dirinya untuk bertindak. Sesuatu yang mempengaruhi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Indonesia merupakan suatu negara kepulauan yang terdiri dari beragam budaya dan ragam bahasa daerah yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Dengan adanya
UKDW BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kehidupan manusia selalu diperhadapkan dengan berbagai keragaman, baik itu agama, sosial, ekonomi dan budaya. Jika diruntut maka banyak sekali keragaman yang
BAB 1 PENDAHULUAN. Perjamuan kudus merupakan perintah Tuhan sendiri, seperti terdapat dalam Matius 26:26-29, Mar
BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dalam pengajaran gereja sakramen disebut sebagai salah satu alat pemelihara keselamatan bagi umat Kristiani. Menurut gereja-gereja reformasi hanya ada dua sakramen,
BAB I PENDAHULUAN UKDW
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Tidak seorangpun ingin dilahirkan tanpa dekapan lembut seorang ibu dan perlindungan seorang ayah. Sebuah kehidupan baru yang telah hadir membutuhkan kasih untuk bertahan
BAB I PENDAHULUAN. 1 Dra.Ny.Singgih D.Gunarsa, Psikologi Untuk Keluarga, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1988 hal. 82
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Banyak orang berpendapat bahwa siklus hidup manusia adalah lahir, menjadi dewasa, menikah, mendapatkan keturunan, tua dan mati. Oleh karena itu pernikahan
BAB I PENDAHULUAN UKDW
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Dalam menjalani proses kehidupan, peristiwa kematian tidak dapat dihindari oleh setiap manusia. Namun, peristiwa kematian sering menjadi tragedi bagi orang
BAB I PENDAHULUAN UKDW
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Ibadah merupakan sebuah bentuk perjumpaan manusia dengan Allah, pun juga dengan corak masing-masing sesuai dengan pengalaman iman dari setiap individu atau
Disampaikan dalam acara Temu Inklusi 2016 Oleh : Karel Tuhehay KARINAKAS YOGYAKARTA
Disampaikan dalam acara Temu Inklusi 2016 Oleh : Karel Tuhehay KARINAKAS YOGYAKARTA Istilah Community Based Rehabilitation (CBR) Di Indonesiakan : Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM) Sejarah perkembangan
UKDW BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN A. PERMASALAHAN 1. Latar Belakang Masalah a) Gambaran GKP Dan Konteksnya Secara Umum Gereja Kristen Pasundan atau disingkat GKP melaksanakan panggilan dan pelayanannya di wilayah Jawa
BAB I PENDAHULUAN. merupakan hak asasi bagi setiap orang, oleh karena itu bagi suatu Negara dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan dalam masyarakat Indonesia adalah mutlak adanya dan merupakan hak asasi bagi setiap orang, oleh karena itu bagi suatu Negara dan Bangsa seperti Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. kewajiban untuk mewujudkan pendidikan nasional seperti yang tercantum dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal mengemban tugas dan kewajiban untuk mewujudkan pendidikan nasional seperti yang tercantum dalam pasal 3 UU RI No.20, Tahun
UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Papua terkenal dengan pulau yang memiliki banyak suku, baik suku asli Papua maupun suku-suku yang datang dan hidup di Papua. Beberapa suku-suku asli Papua
BAB I PENDAHULUAN. Padjajaran, 1974, hlm. 8 4 S.d.a
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Kanker sebetulnya bukanlah nama penyakit atau rasa sakit. Kanker merupakan sebuah nama untuk sekelompok besar bermacam-macam perasaan tidak sehat dengan
UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 PERMASALAHAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 PERMASALAHAN 1.1.1 Latar Belakang Masalah Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) adalah Gereja mandiri bagian dari Gereja Protestan Indonesia (GPI) sekaligus anggota Persekutuan Gereja-Gereja
UKDW BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju tahap yang lebih dewasa. Secara formal, seseorang dikatakan sebagai remaja jika telah memasuki batasan
BAB I. A. Latar belakang permasalahan
BAB I A. Latar belakang permasalahan Kesehatan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Setiap manusia mendambakan dirinya selalu sehat agar bisa melakukan segala aktivitasnya tanpa adanya
BAB I PENDAHULUAN. 1986, h Afra Siauwarjaya, Membangun Gereja Indonesia 2: Katekese Umat dalam Pembangunan Gereja
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang dan Kerangka Teori. Gereja, dalam ekklesiologi, dipahami sebagai kumpulan orang percaya yang dipanggil untuk berpartisipasi dalam perutusan Kristus yaitu memberitakan
BAB I PENDAHULUAN UKDW. Dr. H. Hadiwijono, Iman Kristen, Jakarta Pusat: BPK Gunung Mulia, 1979, hlm
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Dewasa ini pertanyaan perihal Siapa Allah? merupakan bagian dari sebuah problematika yang sangat sensitif begitu pun ketika kita berbicara mengenai iman,
BAB I Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang Masalah Keadaan Umum Gereja Saat Ini
BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah 1.1.2 Keadaan Umum Gereja Saat Ini Gereja yang dahulu hanya berfungsi dan dianggap jemaat sebagai tempat bersekutu, merasa tenang, menikmati liturgi yang menarik,
BAB I PENDAHULUAN UKDW
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Masyarakat Jember merupakan percampuran dari berbagai suku. Pada umumnya masyarakat Jember disebut dengan masyarakat Pandhalungan. 1 Wilayah kebudayaan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Kusta merupakan penyakit menular langsung yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium leprae)
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Permasalahan. Pelayanan kepada anak dan remaja di gereja adalah suatu bidang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Pelayanan kepada anak dan remaja di gereja adalah suatu bidang pelayanan yang penting dan strategis karena menentukan masa depan warga gereja. Semakin
BAB I PENDAHULUAN A. PERMASALAHAN. A.1 Latar Belakang Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN A. PERMASALAHAN A.1 Latar Belakang Permasalahan Keberadaan gereja tidak bisa dilepaskan dari tugas dan tanggung jawab pelayanan kepada jemaat dan masyarakat di sekitarnya. Tugas dan tanggung
BAB I PENDAHULUAN. Gereja merupakan persekutuan orang-orang percaya di dalam Kristus.
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Gereja merupakan persekutuan orang-orang percaya di dalam Kristus. Dasar kesaksian dan pelayanan gereja adalah Kristus. Kekuasaan dan kasih Kristus tidak terbatas
Universitas Indonesia Library >> UI - Disertasi (Membership)
Universitas Indonesia Library >> UI - Disertasi (Membership) Dinamika kognitif dan pola-pola tingkah laku dalam kehidupan ekonomi orang-orang miskin pada tingkat individual : studi lapangan di Desa Parungsari,
BAB I PENDAHULUAN UKDW
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Fenomena kasus hamil sebelum nikah saat ini sering terjadi di masyarakat. Di Indonesia sendiri, kasus hamil sebelum nikah sangat banyak terjadi di kota besar
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada zaman globalisasi dewasa ini tanpa disadari kita telah membuat nilainilai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada zaman globalisasi dewasa ini tanpa disadari kita telah membuat nilainilai moral yang ada di dalam masyarakat kita semakin berkurang. Pergaulan bebas dewasa
BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Dalam proses penyebarluasan firman Tuhan, pekabaran Injil selalu berlangsung dalam konteks adat-istiadat dan budaya tertentu, seperti halnya Gereja gereja di
Bab I Pendahuluan Bdk. Pranata Tentang Sakramen dalam Tata dan Pranata GKJW, (Malang: Majelis Agung GKJW, 1996), hlm.
Bab I Pendahuluan 1. 1 Latar Belakang Masalah Selama ini di Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) dilakukan Perjamuan Kudus sebanyak empat kali dalam satu tahun. Pelayanan sebanyak empat kali ini dihubungkan
BAB I PENDAHULUAN 1. Permasalahan 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1. Permasalahan 1.1. Latar Belakang Masalah Setiap manusia tentunya memiliki masalah dan pergumulannya masing-masing. Persoalan-persoalan ini mungkin berkaitan dengan masalah orang per
I. PENDAHULUAN. Narkotika selain berpengaruh pada fisik dan psikis pengguna, juga berdampak
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Narkotika selain berpengaruh pada fisik dan psikis pengguna, juga berdampak pada kehidupan sosial ekonomi individu, masyarakat, bahkan negara. Gagal dalam studi,gagal dalam
BAB I. Pendahuluan. Trap-trap di desa Booi kecamatan Saparua, Maluku Tengah.Booi merupakan salah satu
BAB I Pendahuluan I. Latar Belakang Tesis ini menjelaskan tentang perubahan identitas kultur yang terkandung dalam Trap-trap di desa Booi kecamatan Saparua, Maluku Tengah.Booi merupakan salah satu Negeri
BAB I. Pendahuluan UKDW
BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Permasalahan Belakangan ini banyak gereja mencoba menghadirkan variasi ibadah dengan maksud supaya ibadah lebih hidup. Contohnya dalam lagu pujian yang dinyanyikan dan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Kebebasan merupakan hal yang menarik bagi hampir semua orang. Di Indonesia, kebebasan merupakan bagian dari hak setiap individu, oleh karena itu setiap
1. LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN 1 1. LATAR BELAKANG MASALAH Manusia dalam kehidupannya memiliki banyak kebutuhan, antara lain : kebutuhan untuk diperhatikan, mendapatkan bimbingan, pemeliharaan, asuhan, penghiburan,
UKDW. Bab I. Pendahuluan
Bab I Pendahuluan 1. Latar Belakang Permasalahan Tak dapat dipungkiri bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, maka dari itu kehidupan seorang manusia yang dimulai dari kelahiran dan diakhiri dengan
@UKDW BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Sebagai jemaat dewasa di GKJ, pasti mengenal tentang istilah pamerdi. 1 Jemaat awam menganggap bahwa pamerdi adalah semacam perlakuan khusus yang diberikan kepada
UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini, di berbagai tempat di dunia, terkhusus di Indonesia, terjadi perubahan yang cukup mencolok dalam partisipasi jemaat
BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Prinsip dasar bahwa untuk beriman kita membutuhkan semacam jemaat dalam bentuk atau wujud manapun juga. Kenyataan dasar dari ilmu-ilmu sosial ialah bahwa suatu ide atau
BAB I PENDAHULUAN. bertemunya masyarakat yang beragama, yang disebut juga sebagai jemaat Allah. 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Persekutuan di dalam Yesus Kristus dipahami berada di tengah-tengah dunia untuk dapat memberikan kekuatan sendiri kepada orang-orang percaya untuk dapat lebih kuat
UKDW BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG MASALAH Kehidupan bergereja (berjemaat) tidak dapat dilepaskan dari realita persekutuan yang terjalin di dalamnya. Dalam relasi persekutuan tersebut, maka setiap anggota
BAB I PENDAHULUAN. diberikan dibutuhkan sikap menerima apapun baik kelebihan maupun kekurangan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penerimaan diri dibutuhkan oleh setiap individu untuk mencapai keharmonisan hidup, karena pada dasarnya tidak ada manusia yang diciptakan oleh Allah SWT tanpa kekurangan.
BAB I PENDAHULUAN. kemampuan mendengar dan kemampuan bicara (Somantri, 2006). selayaknya remaja normal lainnya (Sastrawinata dkk, 1977).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuna rungu wicara adalah kondisi realitas sosial yang tidak terelakan didalam masyarakat. Penyandang kecacatan ini tidak mampu berkomunikasi dengan baik selayaknya
BAB I PENDAHULUAN. A. Permasalahan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Permasalahan Orang Kristen memiliki tugas dan panggilan pelayanan dalam hidupnya di dunia. Tugas dan panggilan pelayanannya yaitu untuk memberitakan Firman Allah kepada dunia ini.
BAB I PENDAHULUAN UKDW
BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Sakramen berasal dari bahasa Latin; Sacramentum yang memiliki arti perbuatan kudus 1. Dalam bidang hukum dan pengadilan Sacramentum biasanya diartikan sebagai barang
BAB IV ANALISA DAN REFLEKSI TEOLOGI
BAB IV ANALISA DAN REFLEKSI TEOLOGI Dalam bab ini berisi tentang analisa penulis terhadap hasil penelitian pada bab III dengan dibantu oleh teori-teori yang ada pada bab II. Analisa yang dilakukan akan
BAB IV ANALISA FUNGSI KONSELING PASTORAL BAGI WARGA JEMAAT POLA TRIBUANA KALABAHI
BAB IV ANALISA FUNGSI KONSELING PASTORAL BAGI WARGA JEMAAT POLA TRIBUANA KALABAHI Permasalahan hidup yang dihadapi oleh warga jemaat Pola Tribuana Kalabahi meliputi beberapa aspek, yaitu aspek fisik, sosial,
BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN
BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN Mustopo Habib berpendapat bahwa kesenian merupakan jawaban terhadap tuntutan dasar kemanusiaan yang bertujuan untuk menambah dan melengkapi kehidupan. Namun
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sempurna, ada sebagian orang yang secara fisik mengalami kecacatan. Diperkirakan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan ini, tidak semua orang berada pada kondisi fisik yang sempurna, ada sebagian orang yang secara fisik mengalami kecacatan. Diperkirakan ada
UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Peribadatan dalam gereja serta perayaan sakramen-sakramen adalah jembatan bagi warga jemaat untuk mengalami persekutuan dengan Tuhan dan seluruh warga jemaat. Sehingga
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah WHO 2001 menyatakan bahwa paling tidak ada satu dari empat orang didunia mengalami masalah mental, sekitar 450 juta orang di dunia mengalami gangguan kesehatan
UKDW BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Permasalahan Perkawinan adalah bersatunya dua orang manusia yang bersama-sama sepakat untuk hidup di dalam satu keluarga. Setiap manusia memiliki hak yang sama untuk
UKDW BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG MASALAH Perempuan di berbagai belahan bumi umumnya dipandang sebagai manusia yang paling lemah, baik itu oleh laki-laki maupun dirinya sendiri. Pada dasarnya hal-hal
10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E)
10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi
Ordinary Love. Timothy Athanasios
Ordinary Love Timothy Athanasios Bab I Gereja dan Pelayanan Konsep menciptakan berhala, hanya rasa ingin tahu yang bisa memahami. (Gregory Nyssa) Jika Kerajaan Allah hendak direalisasikan dalam rupa dua
BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Gereja adalah komunitas yang saling berbagi dengan setiap orang dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Gereja adalah komunitas yang saling berbagi dengan setiap orang dengan memberi sesuai dengan kemampuannya. Gereja adalah tempat setiap orang dalam menemukan belas kasih
UKDW BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG Gereja yang ada dan hadir dalam dunia bersifat misioner sebagaimana Allah pada hakikatnya misioner. Yang dimaksud dengan misioner adalah gereja mengalami bahwa dirinya
UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Keluarga adalah institusi pertama yang dibangun, ditetapkan dan diberkati Allah. Di dalam institusi keluarga itulah ada suatu persekutuan yang hidup yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PERMASALAHAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PERMASALAHAN Gereja merupakan lembaga keagamaan yang ada dalam dunia ini. Sebagai sebuah lembaga keagamaan tentunya gereja juga membutuhkan dana untuk mendukung kelancaran
BAB I PENDAHULUAN. menjadi lebih mudah dengan berbagai macam kepentingan. Kecepatan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang seiring dengan berjalannya waktu, sehingga segala aspek kehidupan manusia tidak memiliki batas.
BAB I PENDAHULUAN UKDW. R. Siti Maryam, Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya (Jakarta : Penerbit Salemba Medika, 2008), hlm. 32.
BAB I PENDAHULUAN Sebagai pendahuluan, maka pada bab ini penulis akan memberikan pengantar terkait dengan keseluruhan tulisan dalam skripsi ini. Penulis membagi bab I menjadi beberapa bagian, yaitu Latar
Bab 1 Pendahuluan. pada Bab 2 dan sistematika penulisan skripsi ini.
Bab 1 Pendahuluan 1.1. Pendahuluan Penyelenggaraan sebuah ibadah Kristen identik dengan praktek nyanyian dan musik, meskipun keduanya tidak selalu ditemukan dalam ibadah Kristen. Nyanyian dan musik menjadi
BAB I PENDAHULUAN. 1. Permasalahan a. Latar Belakang Permasalahan
1 BAB I PENDAHULUAN 1. Permasalahan a. Latar Belakang Permasalahan Saat ini Pendidikan Kristiani untuk anak semakin berkembang. Hal ini dapat dipastikan dengan hadirnya berbagai macam pendekatan yang disesuaikan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh segala aspek kehidupan yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh segala aspek kehidupan yang ada di sekitarmya, seperti aspek ekonomi, sosial, politik, budaya, bahkan juga faktor
UKDW. BAB I Pendahuluan
BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Permasalahan Hidup yang penuh berkelimpahan merupakan kerinduan, cita-cita, sekaligus pula harapan bagi banyak orang. Berkelimpahan seringkali diartikan atau setidaknya
12. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
12. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama
UKDW BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berbicara akan persoalan Perjamuan Kudus maka ada banyak sekali pemahaman antar jemaat, bahkan antar pendeta pun kadang memiliki dasar pemahaman berbeda walau serupa.
BAB I PENDAHULUAN UKDW. E.P. Ginting, Religi Karo: Membaca Religi Karo dengan Mata yang Baru (Kabanjahe: Abdi Karya, 1999), hlm.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Secara umum masyarakat Karo menganggap bahwa agama Hindu-Karo adalah agama Pemena (Agama Pertama/Awal). Dalam agama Pemena, terdapat pencampuran konsep
BAB I PENDAHULUAN. Kelahiran, perkawinan serta kematian merupakan suatu estafet kehidupan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kelahiran, perkawinan serta kematian merupakan suatu estafet kehidupan setiap manusia. Perkawinan ini di samping merupakan sumber kelahiran yang berarti obat
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Sekolah : SMP-K PERMATA BUNDA CIMANGGIS Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Katolik Kelas/Semester : VIII / 1 Alokasi Waktu : 2 x 40 menit A. Standar Kompetensi : Memahami
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia tergambar dalam berbagai keragaman suku, budaya, adat-istiadat, bahasa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk. Kemajemukan dari Indonesia tergambar dalam berbagai keragaman suku, budaya, adat-istiadat, bahasa dan agama.
BAB I PENDAHULUAN. ajarannya akan berbeda dengan mainstream, bahkan memiliki kemungkinan terjadi
BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Masalah Dalam suatu masyarakat terdapat sebuah sistem dan komponen yang mendukung eksistensi komunitas. Komponen itu antara lain agama, kewarganegaraan, identitas suku,
BAB V PENUTUP. tertentu. Untuk menjawab topik dari penelitian ini, yakni Etika Global menurut Hans Küng
BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Pertama, sebuah konsep etika dibangun berdasarkan konteks atau realita pada masa tertentu. Untuk menjawab topik dari penelitian ini, yakni Etika Global menurut Hans Küng ditinjau
Hari Pertama Kerajaan Kristus Bagi Gereja-Nya Bagi Dunia Kita Hari Kedua Doakan Yang Menyatukan Bagi Gereja-Nya Bagi Dunia Kita Hari Ketiga
Hari Pertama Kamis, 25 Mei 2006 Kerajaan Kristus...dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah. Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem,
BAB I PENDAHULUAN. Acquired Immune Deficiency Syndrom (AIDS) merupakan sekumpulan gejala
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Acquired Immune Deficiency Syndrom (AIDS) merupakan sekumpulan gejala penyakit yang disebabkan karena menurunnya sistem imunitas atau kekebalan tubuh yang disebabkan
BAB IV PANDANGAN WARGA JEMAAT GBI BANDUNGAN TERHADAP PSK BANDUNGAN. A. Pandangan Warga Jemaat GBI Bandungan Terhadap PSK Bandungan
BAB IV PANDANGAN WARGA JEMAAT GBI BANDUNGAN TERHADAP PSK BANDUNGAN A. Pandangan Warga Jemaat GBI Bandungan Terhadap PSK Bandungan Pada Bab II telah dijelaskan bahwa cara pandang Jemaat Gereja terhadap
