BAB 2 DASAR TEORI. 2.1 Service Oriented Architecture (SOA) Konsep Service Oriented 2-1

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 2 DASAR TEORI. 2.1 Service Oriented Architecture (SOA) Konsep Service Oriented 2-1"

Transkripsi

1 BAB 2 DASAR TEORI 2.1 Service Oriented Architecture (SOA) Saat berbicara mengenai SOA, maka terlebih dahulu harus dilakukan pembahasan mengenai services. Services adalah sebuah fungsi yang terdefinisi dengan baik, terenkapsulasi, dan tidak tergantung state yang dimiliki oleh fungsi yang lain. [BAR09]. Service sendiri dapat melingkupi [MER07] : 1. Menangani sebuah proses bisnis seperti menghitung jumlah pajak atau melakukan sebuah kegiatan teknis melakukan akses terhadap sebuah basis data. 2. Dapat melakukan akses terhadap services lain dan dengan teknologi pendukung yang memadai dapat mengakses aplikasi lain dan dapat memberikan respon terhadap permintaan yang bermacam-macam. 3. Independen terhadap aplikasi lain sehingga pengubahan terhadap aplikasi yang menggunakan services tersebut tidak akan mengubah services tersebut. Sementara pengubahan terhadap services tidak akan mengubah aplikasi yang menggunakan services yang bersangkutan. SOA adalah sebuah arsitektur yang bersifat service oriented (berorientasi service), dimana sebuah permasalahan akan dibagi-bagi menjadi berbagai macam service kecil yang saling berkerja sama. [ERL05]. Pembahasan mengenai konsep service oriented ini akan dibahas pada subbab berikut Konsep Service Oriented Dengan service oriented, sebuah permasalahan akan dibagi-bagi menjadi service yang lebih kecil dimana masing-masing service mempunyai tugasnya sendiri-sendiri. Service melakukan hal ini dengan cara melakukan enkapsulasi dari lojik yang terkandung dalam suatu proses/cara kerja. Proses/cara kerja ini dapat meliputi suatu kegiatan dalam bisnis, sebuah entitas, atau suatu bentuk kumpulan lojik yang lain. [ERL05] Seperti dapat dilihat dalam Gambar 2-1, sebuah service dapat mengenkapsulasi sebuah proses, baik proses itu melupakan proses besar atau hanya sebuah proses kecil. Service ini dapat mengengkapsulasi langkah lojik yang ada dalam suatu proses, dan menyediakan langkah tersebut sebagai sebuah service yang dapat dengan mudah digunakan atau 2-1

2 2-2 dipasangkan dengan service lainnya. Sebuah service juga dapat terdiri dari service-service lainnya yang lebih kecil. [ERL05] Gambar 2-1. Enkapsulasi lojik dalam bentuk service [ERL05] Contoh dari dekomposisi lojik menjadi service dapat dilihat dalam sebuah proses bisnis. Misalkan kita ambil contoh sebuah proses bisnis dalam sebuah restoran. Saat seorang pelanggan masuk, dia akan diberikan menu oleh pelayan. Pelayan lalu akan mencatat pesanan yang dibuat oleh pelanggan, lalu membawa pesanan tersebut ke dapur. Di dapur, masakan akan dibuat oleh seorang juru masak. Setelah masakan tersebut jadi, pelayan akan membawa masakan tersebut ke pada pelanggan. Dari contoh ini dapat dilihat empat proses yang berbeda, yaitu proses pemesanan, proses pencatatan pesanan dan pemberitahuan pesanan ke dapur, proses pembuatan pesanan, dan proses pengantaran pesanan yang sudah terbuat ke pelanggan. Masing-masing proses ini, dapat dianggap sebuah service tersendiri, sehingga kita akan mempunyai service memesan makanan, service pencatatan pesanan, dan service lainnya yang sesuai. Selain itu, serviceservice tersebut dapat didekomposisi menjadi service yang lebih kecil, sebagai contoh service memesan makanan dapat didekomposisi menjadi service melihat daftar menu dan service memilih menu yang dipesan.

3 2-3 Dalam konsep service oriented, ada beberapa prinsip yang mendasari sebuah service yaitu [ERL05] : 1. Service bersifat reusable, baik itu secara langsung maupun tidak langsung 2. Service saling mempunyai sebuah kontrak formal bagaimana service itu saling berinteraksi 3. Service bersifat loosely coupled yaitu independen satu sama lain 4. Service menyembunyikan lojik yang ada di dalam service tersebut dari dunia luar 5. Service mampu untuk membentuk service lain 6. Service bersifat mandiri dan mampu untuk mengatur dirinya sendiri 7. Service bersifat stateless, yaitu service tidak menyimpan kondisi dirinya sendiri 8. Service bersifat discoverable, yaitu service dapat ditemukan oleh service lain Komponen SOA Gambar 2-2. Komponen-Komponen SOA [ERL05] Ada 4 komponen utama yang ada di dalam SOA seperti dalam Gambar 2-2, yaitu [ERL05] : 1. Operation, yaitu lojik yang diperlukan oleh process untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan 2. Message, yaitu data yang diperlukan untuk menyelesaikan sebagian atau seluruh bagian dari pekerjaan 3. Service, yaitu kumpulan operation yang mampu mengerjakan pekerjaan yang saling berkaitan. 4. Process, yaitu kumpulan aturan bisnis yang menentukan service mana yang akan digunakan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

4 2-4 Komponen-komponen yang ada di dalam SOA akan saling berhubungan dengan cara sebagai berikut [ERL05] : 1. Sebuah operation mengirim dan menerima message untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu. 2. Sebuah operation biasanya didefinisikan oleh message apa saja yang operation tersebut terima dan kirimkan. 3. Sebuah service adalah kumpulan dari operation yang saling berhubungan 4. Sebuah service didefinisikan oleh operation-operation yang dipunyai oleh service tersebut. 5. Sebuah instan dari process dapat membentuk service 6. Sebuah instan dari process tidak didefinisikan oleh service yang dimilikinya, karena process tersebut dapat hanya menggunakan sebagian saja dari seluruh fungsionalitas dari service 7. Sebuah instan dari process menggunakan kumpulan operasi yang unik untuk menyelesaikan pekerjaannya 8. Setiap instan dari process didefinisikan oleh service operation yang process tersebut pergunakan. Gambar 2-3 menggambarkan ilustrasi mengenai keterhubungan antar komponenkomponen SOA. Gambar 2-3. Keterhubungan antar komponen SOA [ERL05] Layering pada SOA Aplikasi yang digunakan oleh perusahaan pada umumnya menggunakan sebuah enterprise architecture, yaitu sebuah arsitektur aplikasi untuk skala enterprise. Fokus

5 2-5 utamanya dari enterprise architecture adalah pada pengaturan lojik bisnis yang dimiliki oleh perusahaan untuk selanjutnya diimplementasi dalam sebuah aplikasi. Gambar 2-4. Posisi SOA pada sebuah enterprise architecture [ERL05] Gambar 2-4 menunjukkan sebuah aplikasi yang menggunakan enterprise architecture yang terbagi menjadi 3 bagian utama, yaitu business process layer, service enterprise layer, dan application layer. Business process layer adalah layer yang berkaitan dengan kebutuhan dan pengetahuan bisnis yang dipunyai oleh suatu enterprise. Application layer berkaitan dengan dengan implementasi dari lojik bisnis yang terkandung di dalam business process layer dalam suatu solusi teknologi informasi. SOA masuk menjadi bagian dari enterprise architecture ini dengan menjadi penjembatan antara lojik dan pengetahuan bisnis dengan implementasi dari lojik tersebut. SOA membuat sebuah layer baru bernama service interface layer yang terletak di antara business process layer dan application layer. [ERL05] Service interface layer sendiri akan dibagi menjadi 3 bagian utama seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 2-5, yaitu orchestration service layer, business service layer, dan application service layer.

6 2-6 Gambar 2-5. Layering pada SOA [ERL05] Application Service Layer Application service layer, seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 2-6 adalah layer yang terletak berbatasan dengan aplication layer. Layer ini menjadi fondasi dasar untuk membuat fungsionalitas-fungsionalitas aplikasi secara teknis. Service yang ada di dalam layer ini biasa disebut sebagai application services, dimana tugasnya adalah menyediakan fungsi-fungsi untuk pemrosesan data pada suatu lingkungan aplikasi baik aplikasi modern maupun aplikasi legacy (aplikasi yang sudah dipakai sejak lama). Fungsi yang disediakan bersifat reusable sehingga selalu dapat digunakan kembali. [ERL05] Karakteristik yang dimiliki oleh application services adalah sebagai berikut [ERL05] : 1. Menyediakan fungsionalitas yang spesifik terhadap tugas pemrosesan tertentu 2. Menggunakan sumber daya yang disediakan oleh platform terknologi tertentu 3. Berorientasi solusi 4. Bersifat generik dan reusable 5. Dapat digunakan untuk membuat integrasi point-to-point dengan service yang disediakan oleh aplikasi lain 6. Inkonsisten dalam tingkatan transparansi interface yang disediakan oleh service yang bersangkutan

7 Dapat terdiri dari service yang dikembangkan sendiri maupun dikembangkan oleh orang lain Gambar 2-6. Application Service Layer [ERL05] Business Service Layer Berbeda dengan application service layer yang bertanggung jawab untuk merepresentasikan teknologi yang digunakan dan lojik dari aplikasi, business service layer yang ditunjukkan dalam Gambar 2-7 bertanggung jawab untuk menyediakan service yang berkaitan dengan representasi lojik dari bisnis. Lojik bisnis ini akan diatur dalam sebuah service bernama business service. Tanggung jawab dari business service adalah mengimplementasikan lojik dan model bisnis perusahaan dalam sebuah service. [ERL05] Business service sendiri terbagi menjadi 2 katagori, yaitu [ERL05] : 1. Task-centric business service, yaitu service yang mengenkapsulasi lojik bisnis yang spesifik terhadap sebuah kegiatan atau proses bisnis yang dimiliki perusahaan. Service ini paling mudah untuk dianalisis, namun potensi reuse yang ada terbatas.

8 Entity- centric business service, yaitu service yang mengenkapsulasi sebuah entitas bisnis (seperti invoice atau jadwal kegiatan). Service ini memiliki potensi reuse yang tinggi, namun memerlukan proses analisis yang lebih sulit. Gambar 2-7. Business Service Layer [ERL05] Service Orchestration Layer Orchestration service layer, yang diilustrasikan dalam Gambar 2-8, adalah layer yang memberikan abstraksi paling tinggi dari lojik dan aturan bisnis perusahaan serta bagaimana service harus berjalan. Layer ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan perlunya sebuah service lain yang bertanggung jawab untuk mengatur bagaimana service-service yang ada dapat dieksekusi dengan urutan yang sesuai. Orchestration service layer mempunyai process services, yaitu service yang dapat mengatur business service dan application service untuk berjalan dengan aturan dan urutan yang sesuai dengan lojik dan aturan bisnis perusahaan yang telah terdefinisi di dalam process service tersebut. [ERL05]

9 2-9 Gambar 2-8. Orchestration Service Layer [ERL05] 2.2 Service Oriented Analysis and Design Aplikasi berbasis SOA berdasarkan pada konsep service-oriented, sehingga untuk membangun sebuah aplikasi berbasis SOA tidak bisa menggunakan teknik pengembangan aplikasi yang pada umumnya digunakan seperti analisis terstruktur atau object-oriented. Salah satu metode dengan konsep service-oriented yang dapat digunakan adalah Service Oriented Analysis and Design (SOAD) yang diperkenalkan oleh Thomas Erl [ERL05]. Gambar 2-9. Fase dalam SOAD [ERL05]

10 2-10 Skema fase pengembangan aplikasi dengan menggunakan SOAD dapat dilihat dalam Gambar 2-9. Fase pengembangan dalam SOAD terbagi menjadi 6 fase yaitu service-oriented analysis, service oriented design, service development, service testing, service deployment, dan service administration. Walaupun terbagi menjadi 6 fase, inti dari SOAD dapat dilihat dari 2 fase pertama, yaitu service-oriented analysis dan service-oriented design karena dari 2 fase pertama inilah konsep dan prinsip mengenai service-oriented mulai dimasukkan dalam analisis dan desain solusi yang akan dibuat Service-Oriented Analysis Service-oriented analysis adalah fase awal dalam pengembangan sebuah aplikasi SOA, dimana akan ditentukan lingkup dari aplikasi SOA yang akan dibuat. Setelah lingkup aplikasi ditentukan, selanjutnya dilakukan identifikasi dan analisis service yang akan ada di dalam aplikasi. Tujuan yang ingin dicapai dalam tahapan service-oriented analysis adalah sebagai berikut [ERL05] : 1. Mendefinisikan kandidat-kandidat service yang akan ada 2. Mengelompokkan kandidat service yang telah didefinisikan dalam sesuai dengan konteks lojik masing-masing 3. Mendefinisikan batasan antara service sehingga tidak terjadi overlap antar service. 4. Mengidentifikasi lojik yang terkandung di dalam service yang berpotensi untuk digunakan kembali 5. Memastikan bahwa lojik dalam tiap service sudah sesuai dengan tujuan dan fungsionalitas dari service yang bersangkutan 6. Mendefinisikan model awal komposisi service Service-oriented analysis terbagi menjadi 3 langkah, yaitu [ERL05] : 1. Mendefinisikan kebutuhan bisnis, dimana kebutuhan bisnis akan ditangkap dan dimodelkan menggunakan teknik seperti Business Process Management (BPM). 2. Mengidentifikasi sistem yang telah ada, yaitu melihat dan melakukan pendataan sistem lain pada lingkungan operasional aplikasi yang mempunyai kemungkinan untuk berinteraksi atau memberikan pengaruh kepada aplikasi nantinya. 3. Memodelkan kandidat-kandidat service yang disediakan oleh aplikasi. Contoh dari kandidat service dan service operation yang dihasilkan dapat dilihat dalam Gambar Kandidat service yang dimaksud di sini adalah kandidat service dalam bentuk

11 2-11 business service dan application service, serta lojik orkestrasi dalam bentuk process services. Gambar Contoh Kandidat Service dan Operasi pada Service [ERL05] Service Oriented Design Setelah membuat kandidat dari service pada tahap analisis, maka tahap berikutnya adalah membuat desain konkrit dari kandidat service yang telah ada dan mengimplementasikannya dalam sebuah komposisi yang membentuk suatu proses bisnis. Dalam SOAD, desain dan implementasi dari service menggunakan teknologi web service yang berbasis XML (extensible Markup Language), XSD (XML Schema Definition), SOAP (Simple Object Access Protocol), dan WSDL (Web Service Definition Language), dan WS-* extension. [ERL05] Tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan service oriented design ini adalah sebagai berikut [ERL05] : 1. Bagaimana mendefinisikan secara fisik interface service dari kandidat service yang telah didapatkan dalam service oriented analysis 2. Karakteristik SOA apa saja yang akan diimplementasikan 3. Standar apa saja yang diperlukan oleh aplikasi SOA yang dibuat Tujuan yang telah disebutkan di atas akan didetilkan lagi dalam poin-poin sebagai berikut [ERL05]: 1. Menentukan bagian utama dari sistem 2. Menentukan standar apa saja yang akan dipakai dalam sistem yang akan dibuat 3. Membuat batasan yang jelas dari sistem yang akan dibuat 4. Mendefinisikan interface service 5. Mengidentifikasi kemungkinan komposisi service yang mungkin muncul

12 Menerapkan prinsip service orientation 7. Mengeksplorasi dukungan untuk sistem SOA lainnya Gambar Proses Service Oriented Design [ERL05] Gambar 2-11 menunjukkan langkah-langkah yang ada pada service oriented design. Ada 3 langkah utama, yaitu [ERL05] : 1. Mengkomposisi SOA, yaitu mendefinisikan teknologi yang akan digunakan dalam SOA. Dalam SOAD, teknologi SOA yang dipergunakan adalah web service. 2. Service design, yang mencakup penentuan hasil akhir services berupa entity-centric business service, task-centric business service, dan application services berdasarkan kandidat service yang telah didapatkan dalam tahap analisis. 3. Business process design. Proses bisnis yang akan didesain pada langkah ini adalah proses bisnis untuk orchestration layer yang akan menentukan lojik workflow dari SOA. Dalam mendesain service baik entity-centric, task-centric, dan application services, langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut [ERL05] : 1. Menentukan service mana dari tahap analisis yang akan didesain 2. Menentukan schema pesan yang digunakan. Service bertukar informasi dengan mengirimkan pesan, sehingga schema atau struktur pesan yang digunakan harus didefinisikan dari awal sehingga services dapat saling mengerti pesan yang

13 2-13 dikirimkan. Schema akan didefinisikan dalam format XML dengan menggunakan XSD yang diterapkan dalam bentuk web services menggunakan WSDL dan SOAP. 3. Mendefinisikan interface dari service. Interface disini berupa port dimana melalui port tersebut service dapat mengirimkan dan menerima pesan. Port akan didefinisikan dengan menggunakan WSDL, lalu untuk tiap port akan didefinisikan pesan yang akan diterimanya dengan menggunakan schema yang telah disepakati. 4. Mengaplikasikan prinsip service-orientation, yang berupa reusablity, autonomy, statelessness, dan discoverability 5. Me-refine ulang interface service yang telah didefinisikan 6. Mengembangkan lebih lanjut operasi yang ada dalam suatu service sehingga mencakup semua hal yang mungkin. 7. Mengidentifikasi batasan teknis yang ada, baik dari segi keamanan, performansi, dan realibilitas 8. Mengidentifikasi service lain yang diperlukan, apabila service yang didesain bersifat kompleks dan merupakan hasil komposisi dari banyak service. Gambar Contoh Service dan Service Operation yang telah didesain [ERL05] Gambar 2-12 menunjukkan contoh service yang bersifat entity-centric, yaitu service employee. Service dan service operation yang telah didefinisikan di atas selanjutnya akan didefinisikan dalam bentuk WSDL seperti dalam Gambar 2-13.

14 2-14 Gambar Contoh WSDL dari Service dan Service Operation [ERL05] 2.3 Service Component Architecture SCA (Service Component Architecture) adalah sebuah metode pengembangan aplikasi SOA yang memandang sebuah aplikasi SOA sebagai sebuah komposisi dari komponenkomponen. SCA ini akan memberikan cara untuk mendefinisikan bagian-bagian dari SOA sebagai sebuah komponen-komponen, bagaimana cara untuk merangkai komponenkomponen tersebut untuk bekerja bersama, dan memberikan spesifikasi untuk mengimplementasikan komponen-komponen tersebut dalam suatu bahasa pemograman tertentu Konsep SCA Gambar 2-14 memperlihatkan struktur aplikasi yang dibangun dengan menggunakan SCA. SCA membagi aplikasi dalam berbagai SCA component, SCA component sendiri dapat berupa banyak hal, seperti sebuah kelas dalam Java, sebuah kelas dalam C++, atau sebuah implementasi dari BPEL maupun sebuah framework seperti Spring. SCA components ini lalu akan dikelompokkan dalam sebuah satuan lojik yang dinamanakan SCA composite. SCA composite ini dapat terdiri dari berbagai macam SCA component dengan implementasi yang berbeda-beda. Sebuah aplikasi dapat terdiri dari satu atau lebih SCA composite. [CHA07]

15 2-15 Gambar Aplikasi SOA dengan SCA [CHA07] Aplikasi yang dibangun dengan SCA dapat berinteraksi dengan aplikasi lain yang tidak dikembangkan dengan SCA seperti web services, sebuah halaman web, dan jenis aplikasi lainnya. Sebuah SCA component juga dapata melakukan akses terhadap basis data, baik dengan menggunakan teknologi SCA yaitu SDO (Service Data Object), maupun dengan memanfaatkan teknologi yang dibawa oleh implementasi dari SCA component tersebut. Misalkan apabila SCA component adalah sebuah kelas dalam Java, maka untuk melakukan pengaksesan terhadap basis data dapat menggunakan JDBC (Java Data Base Connectivity) atau JPA (Java Persistence API). [CHA07] Sebuah SCA composite akan dideskripsikan dalam sebuah file konfigurasi dengan ekstensi.composite. File ini menggunakan sebuah format XML bernama SCDL (Service Component Definition Language) untuk mendeskripsikan SCA component yang ada di dalam SCA composite tersebut dan bagaimana SCA component tersebut saling berelasi satu sama lain. [CHA07] SCA lebih lanjut lagi membagi lingkungan operasional sebuah aplikasi SCA dalam bentuk domain-domain, dimana setiap aplikasi SCA yang berjalan di dalam domain tersebut sebagai sebuah runtime. Konsep domain ini sangat penting di dalam SCA karena walaupun SCA mendukung untuk membuat aplikasi terdistribusi, SCA tidak memberikan definisi khusus bagaimana tiap bagian dari aplikasi terdistribusi tersebut untuk saling berinteraksi. Dengan membagi menjadi domain-domain, SCA dapat membedakan antara komunikasi di dalam domain dengan aplikasi di luar domain SCA, seperti ditunjukkan dalam Gambar [CHA07]

16 2-16 Gambar Domain dalam SCA [CHA07] Elemen SCA SCA terdiri 4 elemen utama, yaitu [KAR06] : 1. Assembly model, yaitu bagaimana mendefinisikan struktur aplikasi yang dibangun dari SCA 2. Client and Implementation model, yaitu bagaimana mengimplementasikan service yang dibuat dalam assembly model ke dalam bahasa pemograman tertentu 3. Bindings, yaitu bagaimana interaksi antar komponen dan services yang dimiliki SCA 4. Policy Framework, yaitu bagaimana menambah pengaturan interaksi tiap komponen dalam aplikasi Assembly Model Gambar Contoh SCA Assembly Model [OPE207]

17 2-17 Assembly model, yang mendefinisikan struktur dari sebuah aplikasi SCA, merupakan sebuah model yang memuat artifak-artifak yang mendefinisikan konfigurasi dari sebuah domain SCA dalam bentuk SCA composite dan SCA component serta hubungan dan artifakartifak lain yang mendefinisikan bagaimana artifak tersebut saling berinteraksi. [OPE207] Artifak-artifak dari Assembly Model akan didefinisikan dalam sebuah file XML yang menyimpan semua keterangan mengenai artifak-artifak tersebut. Beberapa contoh artifak dapat dilihat dalam Gambar SCA Component Dalam SCA, SCA component adalah satuan pembangun aplikasi SCA yang terkecil. SCA component merupakan sebuah instans pengimplementasian yang telah dikonfigurasi. Implementasi yang dimaksud di sini dapat berupa kode program yang membuat SCA component tersebut mampu untuk melakukan suatu fungsi tertentu. Konfigurasi di sini maksudnya adalah bagaimana komponen tersebut mampu melakukan interaksi dengan dunia luar, baik komunikasi data maupun pemanggilan fungsi dari SCA component yang bersangkutan. [CHA07] Gambar SCA Component [CHA07] Gambar 2-17 memperlihatkan bagian-bagian dari suatu SCA component. Setiap SCA component mengimplementasikan suatu lojik bisnis tertentu, yang kemudian akan dikelola dalam bentuk satu atau lebih services. Sebuah service memiliki sejumlah operations yang dapat digunakan oleh client yang mengakses SCA component tersebut. Bagaimana service dideskripsikan tergantung dari bagaimana SCA component yang mengandung service tersebut diimplementasi. Apabila SCA component diimplementasi dengan menggunakan Java, maka

18 2-18 service dapat berupa interface Java, atau misal SCA component diimplementasi dengan menggunakan BPEL, maka service akan dapat berupa WSDL. [CHA07] Selain menyediakan services kepada client penggunanya, sebuah SCA component dapat menggunakan service yang disediakan oleh SCA component lain di dalam domain yang sama atau yang disediakan oleh aplikasi lain di luar domain. Sebuah SCA component dapat mendeskripsikan service-service yang dibutuhkannya itu dengan menggunakan references. References akan mengandung interface dari service-service lain yang akan digunakan oleh SCA component tersebut. [CHA07] Di luar service dan references, sebuah SCA component juga dapat mengandung nilai tertentu yang dibaca dari file konfigurasi SCDL untuk SCA component yang bersangkutan, yang diberi nama property. Dengan property ini, SCA component mampu mendapatkan data seperti lokasi, waktu, atau pengaturan konfigurasi lainnya. [CHA07] SCA component didefinisikan sebagai sub-elemen dari sebuah SCA composite. Contoh dari pendefinisian ini dapat dilihat dalam Gambar Gambar Pendefinisian SCA Component di dalam SCA Composite [KAR06]

19 2-19 SCA Composites Gambar SCA Composite [CHA07] Gambar 2-19 mendeskripsikan sebuah SCA composite. SCA composite adalah sebuah satuan lojik untuk pengelompokkan beberapa SCA component. Di dalam SCA composite, sebuah reference yang menunjuk kepada service yang disediakan oleh sebuah SCA component di dalam domain yang sama akan dihubungkan dengan wire. Selain itu, service dan reference yang ada dimiliki SCA component yang ada di dalam SCA composite dapat dipublish ke luar dari SCA composite sehingga dapat digunakan oleh SCA composite lain, hal ini dinamakan promotion. [CHA07] SCA composite didefinisikan dalam sebuah file XML dengan ekstensi.composite. Contoh pendefinisian SCA composite dapat dilihat dalam Gambar Client and Implementation Model Artifak SCA yang telah dibuat dalam assembly model selanjutnya diimplementasikan menjadi kode dalam bahasa pemograman tertentu. SCA menyediakan pedoman untuk mengimplementasikan model yang telah dibuat dalam bentuk client and implementation model. Client and implementation model menyediakan penjelasan spesifik bagaimana untuk membangun artifak-artifak yang telah dibuat sebelumnya dalam suatu bahasa pemograman tertentu. Client and implementation model ini bersifat extensible, artinya dapat terus dikembangkan sehingga SCA dapat diimplementasikan dalam berbagai macam bahasa. Saat

20 2-20 ini, SCA menyediakan 8 jenis client and implementation model, yaitu dalam BPEL, Java, Spring Framework, EJB, JAX-WS, C++, COBOL, dan PHP. [CHA07] Contoh dari client and implementation model ini dalam Java misalnya SCA component dideklarasikan dalam kelas Java, services adalah fungsi di dalam kelas tersebut, dan untuk mengakses service kita menggunakan interface dalam Java. [OPE407] Bindings Gambar Bindings pada SCA [CHA07] Bindings, seperti tampak pada Gambar 2-20 adalah cara suatu SCA component untuk berkomunikasi dengan hal lain di luar dirinya. Bindings dapat dideklarasikan secara implisit dan eksplisit, implisit apabila komunikasi yang berlangsung antara SCA component dalam satu domain yang sama, dan eksplisit apabila komunikasi berlangsung antara SCA component dengan SCA component lain di luar domain atau dengan aplikasi lain yang tidak dibangun dengan SCA. Setiap bindings akan mendefinisikan sebuah protokol tertentu yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi dengan service/reference tertentu. Setiap service/reference dapat memiliki banyak bindings, sehingga memungkinkan service/reference tersebut untuk dapat diakses dengan berbagai macam cara. [CHA07]

21 2-21 Untuk saat ini, bindings yang didukung dengan SCA ada 4 jenis, yaitu web service, JMS (Java Message Service), JCA (JavaEE Connector Architecture), dan EJB (Enterprise Java Beans). [KAR06] Policy Framework Mengatur bagaimana interaksi antara bagian-bagian dalam sebuah aplikasi cukup rumit, sehingga untuk membantu para developer dalam melakukan pengaturan tersebut SCA menyediakan bagian yang bernama policy. Policy berguna untuk mendefinisikan bagaimana suatu bagian aplikasi harus bekerja dalam berbagai kondisi yang ada. Policy dikategorikan menjadi 2 bagian, yaitu [OPE207] : 1. Interaction policies, yaitu untuk modifikasi bagaimana suatu SCA component berinteraksi dengan SCA component lain. Contohnya adalah policy yang berkaitan dengan keamanan pesan. Interaction policies biasa diaplikasikan pada bindings 2. Implementation policies, yaitu untuk modifikasi bagaimana sebuah SCA component bertingkah laku dalam suatu domain. Contohnya adalah bagaimana sebuah SCA component harus berperilaku dalam sebuah transaksi data. Policy yang telah dibuat selanjutnya akan didefinisikan dalam bentuk tag XML dengan menggunakan WS-Policy dan WS-PolicyAssessment. [OPE207] SCA Runtime Lingkungan operasional sebuah aplikasi SCA haruslah dalam lingkungan yang mendukung bagian-bagian SCA seperti SCA component, SCA composite, dan kemampuan untuk membaca file konfigurasi SCA dalam bentuk SDLC dan implementasi dari policy SCA. Karena itulah lingkungan operasional dari aplikasi SCA ini bersifat khusus dan diberi nama SCA runtime. Untuk saat ini, beberapa lingkungan SCA runtime yang ada adalah IBM Websphere, Rougewave, TIBCO, dan Oracle Fabric. Selain runtime dari vendor yang bersifat propeitary seperti disebutkan sebelumnya, ada yang bersifat open source, yaitu apache tuscany. [KAR06]

BAB 4 ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI

BAB 4 ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI BAB 4 ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI Dalam studi kasus ini akan dibangun 3 buah aplikasi, yaitu aplikasi pengelolaan transaksi penjualan (SIPOS) sebagai aplikasi utama yang berbasis SOA serta aplikasi

Lebih terperinci

BAB 1 Service Oriented Architecture 1.1 Evolusi SOA

BAB 1 Service Oriented Architecture 1.1 Evolusi SOA BAB 1 Service Oriented Architecture 1.1 Evolusi SOA Dengan melakukan penelusuran evolusi pola-pola integrasi, maka dapat ditunjukkan bahwa SOA merupakan teknik integrasi yang dibangun berdasarkan teknologi

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS. 3.1 Model Penerapan BPM pada SOA III-1

BAB III ANALISIS. 3.1 Model Penerapan BPM pada SOA III-1 BAB III ANALISIS 3.1 Model Penerapan BPM pada SOA Penerapan proses BPM pada sebuah organisasi akan mengakibatkan sistem yang digunakan terus berubah untuk mencapai proses bisnis yang lebih efisien dan

Lebih terperinci

Implementasi Service-Oriented Architecture dengan Web Service untuk Aplikasi Informasi Akademik

Implementasi Service-Oriented Architecture dengan Web Service untuk Aplikasi Informasi Akademik 1 Implementasi Service-Oriented Architecture dengan Web Service untuk Aplikasi Informasi Akademik F Kapojos, H.F. Wowor, A.M. Rumagit, A.P.R Wowor. Abstrak Service Oriented Architecture (SOA) suatu teknologi

Lebih terperinci

3.1 Arsitektur Web Service

3.1 Arsitektur Web Service BAB 3 Web Service Seperti telah dijelaskan sebelumnya, SOA terdiri atas sekumpulan layanan. Menurut Luthria et al, (2009), jika layanan mencerminkan fungsi bisnis di dalam model komputasi berbasis layanan,

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS METODE

BAB 3 ANALISIS METODE BAB 3 ANALISIS METODE 3.1 Analisis Pembangunan Aplikasi SOA dengan SOAD dan Aplikasi SOA adalah aplikasi yang menggunakan konsep service-oriented dalam pembangunan dan penggunaan aplikasi. Penggunaan konsep

Lebih terperinci

Studi Pembangunan Aplikasi Berbasis SOA. dengan SOAD dan SCA

Studi Pembangunan Aplikasi Berbasis SOA. dengan SOAD dan SCA Studi Pembangunan Aplikasi Berbasis SOA dengan SOAD dan SCA LAPORAN TUGAS AKHIR Disusun sebagai syarat kelulusan tingkat sarjana oleh: Yuandra Ismiraldi / 13505069 PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA SEKOLAH

Lebih terperinci

By : Agung surya permana ( )

By : Agung surya permana ( ) By : Agung surya permana (5108100504) Latar belakang Rumusan masalah Permasalahan yang diangkat dalam menyelesaikan tugas akhir ini adalah: Bagaimana mengimplementasikan metode arsitektur SOA dari hasil

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Business Process Management (BPM) Konsep Dasar Tujuan II-1

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Business Process Management (BPM) Konsep Dasar Tujuan II-1 BAB II DASAR TEORI 2.1 Business Process Management (BPM) 2.1.1 Konsep Dasar Business Process Management (BPM) adalah disiplin ilmu untuk memodelkan, automatisasi, mengelola, dan mengoptimasi proses bisnis

Lebih terperinci

Arsitektur Web Service Web service memiliki tiga entitas dalam arsitekturnya, yaitu: 1. Service Requester (peminta layanan)

Arsitektur Web Service Web service memiliki tiga entitas dalam arsitekturnya, yaitu: 1. Service Requester (peminta layanan) 1. Pengenalan Web Service Definisi Web Service Web service adalah suatu sistem perangkat lunak yang dirancang untuk mendukung interoperabilitas dan interaksi antar sistem pada suatu jaringan. Web service

Lebih terperinci

Bab II. TINJAUAN PUSTAKA

Bab II. TINJAUAN PUSTAKA Bab II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu Berdasarkan penelitian penulis, aplikasi distribusi penjualan barang sudah ada. Dari aplikasi yang sudah ada tersebut penulis ingin mengembangkan lagi

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Arsitektur Perangkat Lunak Arsitektur perangkat lunak adalah sekumpulan pernyataan yang menggambarkan komponen perangkat lunak dan fungsi-fungsi yang ada pada komponen tersebut.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Permasalahan e-gov merupakan suatu konsep penyelenggaraan pemerintahan yang memfokuskan pada kepentingan warga negara terkait untuk pemberian layanan dan administrasi

Lebih terperinci

INTEGRASI SISTEM INFORMASI RUMAH SAKIT BERBASIS PENERAPAN SOA

INTEGRASI SISTEM INFORMASI RUMAH SAKIT BERBASIS PENERAPAN SOA Media Informatika Vol. 11 No. 1 (2012) INTEGRASI SISTEM INFORMASI RUMAH SAKIT BERBASIS PENERAPAN SOA Ana Hadiana Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer LIKMI Jl. Ir. H. Juanda no. 96 Bandung

Lebih terperinci

WEB SERVICES. Sistem terdistribusi week 12

WEB SERVICES. Sistem terdistribusi week 12 WEB SERVICES Sistem terdistribusi week 12 Outline Kegunaan web service Sejarah bahasa pemrograman Perusahaan pengusul web service Arsitektur web service Keuntungan & kekurangan wes service Kegunaan web

Lebih terperinci

SERVICE ORIENTED ARCHITECTURE (SOA)

SERVICE ORIENTED ARCHITECTURE (SOA) Implemented using Web Services SERVICE ORIENTED ARCHITECTURE (SOA) Oleh: Ahmad Syauqi Ahsan 1 TUJUAN Mengerti konsep dasar dari Service Oriented Architecture (SOA). Memahami manfaat SOA. Mengerti kapan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Teknologi digital adalah teknologi yang jika dilihat dari segi cara

BAB I PENDAHULUAN. Teknologi digital adalah teknologi yang jika dilihat dari segi cara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teknologi menjadi sebuah alat sederhana yang dapat membantu tercapainya kebutuhan manusia dengan lebih cepat dan mudah. Hampir seluruh aktivitas manusia melibatkan

Lebih terperinci

Web Services merupakan salah satu bentuk implementasi dari arsitektur model aplikasi N-Tier yang berorientasi layanan. Perbedaan Web Services dengan

Web Services merupakan salah satu bentuk implementasi dari arsitektur model aplikasi N-Tier yang berorientasi layanan. Perbedaan Web Services dengan Overview Web Service (sebagai software) adalah sebuah sistem didesain untuk mendukung mesin interoperabilitas untuk berinteraksi dalam jaringan. Seringnya Web service hanya berupa application programming

Lebih terperinci

Web Service. Asep Herman Suyanto

Web Service. Asep Herman Suyanto Web Service Asep Herman Suyanto [email protected] http://www.bambutechno.com Web service adalah sistem perangkat lunak yang dirancang untuk mendukung interaksi yang bisa beroperasi machine-to-machine

Lebih terperinci

BS603 PENGEMBANGAN APLIKASI ENTERPRISE Niko Ibrahim, S.Kom, MIT

BS603 PENGEMBANGAN APLIKASI ENTERPRISE Niko Ibrahim, S.Kom, MIT BS603 PENGEMBANGAN APLIKASI ENTERPRISE 2016 - Niko Ibrahim, S.Kom, MIT Silabus BS603 Aturan dan tata cara kuliah Tujuan Perkuliahan Materi kuliah Buku referensi Tugas dan Quiz Ujian Tengah dan Akhir Semester

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Basis Data Terdistribusi didefinisikan sebagai sebuah collection of multiple,

BAB II LANDASAN TEORI. Basis Data Terdistribusi didefinisikan sebagai sebuah collection of multiple, BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Basis Data Terdistribusi Basis Data Terdistribusi didefinisikan sebagai sebuah collection of multiple, database yang saling berkaitan secara logik yang didistribusikan melalui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengambil keputusan. Data Warehouse sebagai sarana pengambilan keputusan, merupakan

BAB I PENDAHULUAN. pengambil keputusan. Data Warehouse sebagai sarana pengambilan keputusan, merupakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 Dalam menentukan dan mengambil suatu keputusan pada suatu perusahaan atau instansi diperlukan data-data yang diolah menjadi suatu informasi yang berguna bagi

Lebih terperinci

PENERAPAN SOA SEBAGAI ALTERNATIF PENGINTEGRASIAN MULTI SISTEM INFORMASI

PENERAPAN SOA SEBAGAI ALTERNATIF PENGINTEGRASIAN MULTI SISTEM INFORMASI Media Informatika Vol. 9 No. 1 (2010) PENERAPAN SOA SEBAGAI ALTERNATIF PENGINTEGRASIAN MULTI SISTEM INFORMASI Ana Hadiana Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer LIKMI Jl. Ir. H. Juanda 96 Bandung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sistem lain. Dalam hal tersebut, database yang tersebar di suatu instansi atau

BAB I PENDAHULUAN. sistem lain. Dalam hal tersebut, database yang tersebar di suatu instansi atau BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, berbagai sistem yang berada di suatu instansi atau perusahaan dimungkinkan untuk saling berkomunikasi, dalam

Lebih terperinci

Enterprise Java Beans (EJB)

Enterprise Java Beans (EJB) Enterprise Java Beans (EJB) P E N G E M B A N G A N A P L I K A S I E N T E R P R I S E ( C ) 2 0 1 6 N I K O I B R A H I M F A K U L T A S T E K N O L O G I I N F O R M A S I U N I V E R S I T A S K R

Lebih terperinci

Pendahuluan Tinjauan Pustaka Service Oriented Architecture (SOA)

Pendahuluan Tinjauan Pustaka Service Oriented Architecture (SOA) 1. Pendahuluan Teknologi informasi dapat digunakan untuk membantu dalam peningkatan kinerja suatu bisnis atau organisasi. Untuk mengoptimalkan proses bisnisnya, perusahaan memanfaatkan teknologi informasi

Lebih terperinci

Arsitektur Aplikasi Web

Arsitektur Aplikasi Web Web Engineering 2010 Arsitektur Aplikasi Web Husni [email protected] Husni.trunojoyo.ac.id Komputasi.wordpress.com Outline Pendahuluan Metode dan Pendekatan Seluk beluk Arsitektur Web Komponen dasar

Lebih terperinci

Arsitektur Aplikasi Web

Arsitektur Aplikasi Web Rekayasa Web #4 Arsitektur Aplikasi Web Oleh: Nurwahyu Alamsyah @wahyualam wahyualam.com [email protected] Teknik Informatika Universitas Trunojoyo Madura Outline Pendahuluan Metode dan Pendekatan Seluk

Lebih terperinci

MI2193 PEMROGRAMAN WEB LANJUT PHP FRAMEWORK. Created by MTA Revised by HPU

MI2193 PEMROGRAMAN WEB LANJUT PHP FRAMEWORK. Created by MTA Revised by HPU MI2193 PEMROGRAMAN WEB LANJUT PHP FRAMEWORK Created by MTA Revised by HPU SET THE FRAME, GET TO WORK Arsitektur MVC Programming-in-large Pengembangan Berbasis Komponen Framework MODEL-VIEW-CONTROLLER (MVC)

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bab ini membahas teori-teori yang dijadikan acuan tugas akhir ini.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bab ini membahas teori-teori yang dijadikan acuan tugas akhir ini. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini membahas teori-teori yang dijadikan acuan tugas akhir ini. 2.1 Web Service Web Service adalah sekumpulan application logic beserta objek-objek dan method-method yang dimilikinya

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. user management seperti yang diuraikan oleh definisi-definisi berikut.

BAB III LANDASAN TEORI. user management seperti yang diuraikan oleh definisi-definisi berikut. BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Teori Umum Terdapat beberapa teori umum yang digunakan dalam implementasi web user management seperti yang diuraikan oleh definisi-definisi berikut. 3.1.1. CDM (Conceptual Data

Lebih terperinci

Rancang Bangun Aplikasi Cash Bank dan Sales dengan Service Oriented Architecture pada Platform Java

Rancang Bangun Aplikasi Cash Bank dan Sales dengan Service Oriented Architecture pada Platform Java Rancang Bangun Aplikasi Cash Bank dan Sales dengan Service Oriented Architecture pada Platform Java Riyanarto Sarno 1, Dwi Sunaryono 2, Gita Ventyana 3 1,2,3 Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi

Lebih terperinci

PENGGUNAAN PARADIGMA SOA (SERVICE ORIENTED ARCHITECTURE) UNTUK MEREALISASIKAN INTEROPERABILITAS DAN INTEGRITAS SISTEM INFORMASI.

PENGGUNAAN PARADIGMA SOA (SERVICE ORIENTED ARCHITECTURE) UNTUK MEREALISASIKAN INTEROPERABILITAS DAN INTEGRITAS SISTEM INFORMASI. Media Informatika Vol. 11 No. 1 (2012) PENGGUNAAN PARADIGMA SOA (SERVICE ORIENTED ARCHITECTURE) UNTUK MEREALISASIKAN INTEROPERABILITAS DAN INTEGRITAS SISTEM INFORMASI Rini Astuti Sekolah Tinggi Manajemen

Lebih terperinci

WEB SERVICE Pembayaran Uang Kuliah Online. dengan PHP dan SOAP WSDL. Roki Aditama CV. LOKOMEDIA

WEB SERVICE Pembayaran Uang Kuliah Online. dengan PHP dan SOAP WSDL. Roki Aditama CV. LOKOMEDIA WEB SERVICE Pembayaran Uang Kuliah Online dengan PHP dan SOAP WSDL Roki Aditama CV. LOKOMEDIA WEB SERVICE Pembayaran Uang Kuliah Online dgn PHP dan SOAP WSDL Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Dalam perkembangan teknologi komputerisasi saat ini, khususnya di bidang informatika, sistem informasi memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia,

Lebih terperinci

TUGAS ONLINE 2 : SOAP PERANCANGAN SISTEM BERBASIS KOMPONEN

TUGAS ONLINE 2 : SOAP PERANCANGAN SISTEM BERBASIS KOMPONEN TUGAS ONLINE 2 : SOAP PERANCANGAN SISTEM BERBASIS KOMPONEN NURMIGIANTI 2012 81 030 JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS ESA UNGGUL 2014 I. Pendahuluan SOAP (Simple Object Access

Lebih terperinci

Firewall & WEB SERVICE

Firewall & WEB SERVICE Firewall & WEB SERVICE Definisi Firewall Umumnya ditempatkan pada batas network untuk membangun batas pinggir keamanan (security). Firewall digunakan untuk melindungi internal network dari eksternal yang

Lebih terperinci

SI402 Arsitektur Enterprise Pertemuan #4 Suryo Widiantoro, ST, MMSI, M.Com(IS)

SI402 Arsitektur Enterprise Pertemuan #4 Suryo Widiantoro, ST, MMSI, M.Com(IS) SI402 Arsitektur Enterprise Pertemuan #4 Suryo Widiantoro, ST, MMSI, M.Com(IS) Mahasiswa mampu menjelaskan bahasa, pedoman, dan visualisasi yang digunakan sebagai dasar pembuatan sebuah pemodelan arsitektur

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan otobus (PO) merupakan salah satu jasa akomodasi angkutan darat yang melayani perjalanan dari satu kota menuju kota lainnya. Saat ini informasi mengenai jadwal

Lebih terperinci

BAB 5 IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN APLIKASI

BAB 5 IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN APLIKASI BAB 5 IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN APLIKASI 5.1 Implementasi Aplikasi Implementasi aplikasi dilakukan dengan cara mengimplementasikan perancangan yang telah dibuat sebelumnya dalam bentuk kode program dan

Lebih terperinci

DAFTAR ISTILAH. Unit informasi digital yang terdapat pada halaman web. Pihak yang menyediakan layanan. Pihak yang membutuhkan layanan

DAFTAR ISTILAH. Unit informasi digital yang terdapat pada halaman web. Pihak yang menyediakan layanan. Pihak yang membutuhkan layanan DAFTAR TABEL Tabel III-1 Fase dan Deliverables UP dalam Tugas Akhir... III-1 Tabel III-2 Fitur Joomla... III-2 Tabel III-3 Fitur Drupal... III-3 Tabel III-4 Identifikasi Web Service... III-5 Tabel III-5

Lebih terperinci

TUGAS SISTEM INFORMASI BERBASIS WEB. PHP Web Service. Nama : Ilham NIM : Kelas : 6B. Daftar isi

TUGAS SISTEM INFORMASI BERBASIS WEB. PHP Web Service. Nama : Ilham NIM : Kelas : 6B. Daftar isi TUGAS SISTEM INFORMASI BERBASIS WEB PHP Web Service Nama : Ilham NIM : 09071003024 Kelas : 6B Daftar isi FAKULTAS ILMU KOMPUTER JURUSAN SISTEM INFORMASI 2009/2010 1 1. Pengenalan web service 3 2. Apa itu

Lebih terperinci

BAB 3 Studi Kasus SOA

BAB 3 Studi Kasus SOA BAB 3 Studi Kasus SOA Sebagai pembuktian integrasi berbasis SOA maka akan dibangun aplikasi bisnis fiktif berupa kredit perbankan yang dinamakan aplikasi WHUBANK. Aplikasi WHUBANK ini merupakan proof of

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka Berdasarkan dengan judul penelitian oleh penulis mengenai Pengembangan Web api Pada Sistem Assesmen Dan Berbasis Tag Sebagai Pembantu Penyusunan Strategi Pembelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) bidang II Kota Bandung adalah salah satu bagian dari BPPT Kota Bandung yang melayani proses penerbitan perizinan meliputi

Lebih terperinci

Teknik Informatika S1

Teknik Informatika S1 Teknik Informatika S1 Rekayasa Perangkat Lunak Lanjut Pengenalan Web App + Req. Web App Disusun Oleh: Egia Rosi Subhiyakto, M.Kom, M.CS Teknik Informatika UDINUS [email protected] +6285740278021 Aplikasi

Lebih terperinci

Pertemuan XI Database Connectivity Fak. Teknik Jurusan Teknik Informatika. Caca E. Supriana, S.Si.,MT.

Pertemuan XI Database Connectivity Fak. Teknik Jurusan Teknik Informatika. Caca E. Supriana, S.Si.,MT. Pertemuan XI Database Connectivity Fak. Teknik Jurusan Teknik Informatika Universitas Pasundan Caca E. Supriana, S.Si.,MT. [email protected] id 2014 Database Connectivity Database Connectivity

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. adalah sebuah model arsitektur yang mendukung service orientation (John

BAB II LANDASAN TEORI. adalah sebuah model arsitektur yang mendukung service orientation (John BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Service Oriented Architecture Definisi Service Orientation Architecture (SOA) menurut Open Group adalah sebuah model arsitektur yang mendukung service orientation (John Erickson,

Lebih terperinci

BAB 1 Perkembangan Web Service

BAB 1 Perkembangan Web Service BAB 1 Perkembangan Web Service Service Oriented Architecture (SOA) (McGovern dkk, 2003) merupakan paradigma yang baru muncul untuk aplikasi terdistribusi dan pemrosesan e-business yang berasal dari pemrograman

Lebih terperinci

PROPOSAL. Hudi Kusuma Bharata /14/2009

PROPOSAL. Hudi Kusuma Bharata /14/2009 PROPOSAL Pengembangan Framework Aplikasi berbasis SOA (Service-Oriented Architecture) untuk Integrasi Aplikasi-2 Bisnis di PT XYZ Hudi Kusuma Bharata - 341208719 11/14/2009 Abstraksi: Membuat framework

Lebih terperinci

DAFTAR ISI PRAKATA ARTI SINGKATAN

DAFTAR ISI PRAKATA ARTI SINGKATAN PRAKATA ARTI SINGKATAN ABSTRACT INTISARI DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Perumusan Masalah 2 1.3 Batasan Masalah 2 1.4 Keaslian Penelitian

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Sistem dan pencarian dokumen dengan memanfaatkan web service pada sistem yang berbeda sebagai sumber data dan index yang telah dibuat dapat

Lebih terperinci

Rancang Bangun Sistem Informasi Akuntansi dengan Paradigma Pengembangan Terintegrasi Menggunakan Enterprise Service Bus (ESB)

Rancang Bangun Sistem Informasi Akuntansi dengan Paradigma Pengembangan Terintegrasi Menggunakan Enterprise Service Bus (ESB) Rancang Bangun Sistem Informasi Akuntansi dengan Paradigma Pengembangan Terintegrasi Menggunakan Enterprise Service Bus (ESB) M. Eka Wijaya*, Bambang Setiawan, Radityo Prasetianto Wibowo Jurusan Sistem

Lebih terperinci

ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI KASIR (SIKASIR) BERBASIS MOBILE

ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI KASIR (SIKASIR) BERBASIS MOBILE ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI KASIR (SIKASIR) BERBASIS MOBILE TUGAS AKHIR ADLAN QOWI 1112001015 PROGRAM STUDI INFORMATIKA FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS BAKRIE JAKARTA 2016 ANALISIS

Lebih terperinci

PENGANTAR RUP & UML. Pertemuan 2

PENGANTAR RUP & UML. Pertemuan 2 PENGANTAR RUP & UML Pertemuan 2 PENGANTAR RUP Rational Unified Process (RUP) atau dikenal juga dengan proses iteratif dan incremental merupakan sebuah pengembangan perangkat lunak yang dilakukan secara

Lebih terperinci

SI402 Arsitektur Enterprise Pertemuan #10 Suryo Widiantoro, ST, MMSI, M.Com(IS)

SI402 Arsitektur Enterprise Pertemuan #10 Suryo Widiantoro, ST, MMSI, M.Com(IS) SI402 Arsitektur Enterprise Pertemuan #10 Suryo Widiantoro, ST, MMSI, M.Com(IS) Mahasiswa mampu menjelaskan tahapan, komponen, penyimpanan, dan tatakelola arsitektur TOGAF dalam rangka pengembangan dokumen

Lebih terperinci

Unified Modelling Language (UML)

Unified Modelling Language (UML) Unified Modelling Language (UML) Tatik yuniati Abstrak Unified Modelling Language (UML) adalah sebuah bahasa yg telah menjadi standar dalam industri untuk visualisasi, merancang dan mendokumentasikan sistem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengolahan data dan penyebaran informasi menjadi kurang efektif dan efisien, apabila sumber informasi dalam bentuk kertas yang statis atau mengandalkan daya ingat

Lebih terperinci

Basis Data 2. Database Client / Server. Arif Basofi, S.Kom. MT. Teknik Informatika, PENS

Basis Data 2. Database Client / Server. Arif Basofi, S.Kom. MT. Teknik Informatika, PENS Basis Data 2 Database Client / Server Arif Basofi, S.Kom. MT. Teknik Informatika, PENS Tujuan Memahami bentuk-bentuk arsitektur aplikasi dalam database. Memahami konsep arsitektur: Single-Tier Two-Tier:

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. sasaran tertentu, sedangkah menurut (Hall, 2007) mengatakan sistem adalah. adalah sebuah sistem harus lebih dari satu bagian.

BAB II LANDASAN TEORI. sasaran tertentu, sedangkah menurut (Hall, 2007) mengatakan sistem adalah. adalah sebuah sistem harus lebih dari satu bagian. BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi 2.1.1 Sistem Menurut Fitz Gerald dalam Jogiyanto (2005), suatu sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama

Lebih terperinci

BAB IV PERANCANGAN. 4.1 Proses Bisnis Pengadaan Barang

BAB IV PERANCANGAN. 4.1 Proses Bisnis Pengadaan Barang BAB IV PERANCANGAN Pada tahap perancangan ini akan dilakukan perancangan proses pengadaan barang yang sesuai dengan proses bisnis rumah sakit umum dan perancangan aplikasi yang dapat membantu proses pengadaan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Dalam pembuatan tugas akhir Sistem Informasi Administrasi Salon SN berbasis desktop ini dilakukan beberapa tinjauan sumber pustaka, dan berikut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Arsitektur software three tier berkembang pada tahun 1990an untuk mengatasi keterbatasan arsitektur two-tier(client-server). Pada gambar I-1 dapat dilihat bahwa arsitektur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Web service adalah suatu sistem perangkat lunak yang dirancang untuk mendukung interoperabilitas dan interaksi antar sistem pada suatu jaringan. Web service digunakan

Lebih terperinci

PENJURIAN ONLINE BERBASIS WEB SERVICE

PENJURIAN ONLINE BERBASIS WEB SERVICE PENJURIAN ONLINE BERBASIS WEB SERVICE Dwi Sunaryono 1, Wahyu Suadi 2, I Made Krisna Widhiastra 3 1,2,3 Fakultas Teknologi Informasi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 60111 E-mail : [email protected],

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Service Oriented Thomas Erl (2005) mengatakan Service oriented merupakan sebuah pendekatan dalam penyelesaian masalah besar dengan membaginya menjadi sekumpulan layanan (service)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Seiring dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi yang ada,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Seiring dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi yang ada, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi yang ada, khususnya di dalam dunia teknik informatika, penting bagi pelaku industri yang berkecimpung di dunia

Lebih terperinci

Tujuan 04/07/ :01

Tujuan 04/07/ :01 Sistem Basis Data : Perancangan Perangkat Lunak Tujuan Mahasiswa mampu memahami analisis dan desain model database Mahasiswa paham dan mengerti konsep desain database Mahasiswa mengerti desain arsitektur

Lebih terperinci

SI402 Arsitektur Enterprise Pertemuan #2 Suryo Widiantoro, ST, MMSI, M.Com(IS)

SI402 Arsitektur Enterprise Pertemuan #2 Suryo Widiantoro, ST, MMSI, M.Com(IS) SI402 Arsitektur Enterprise Pertemuan #2 Suryo Widiantoro, ST, MMSI, M.Com(IS) Mahasiswa mampu menjelaskan bahasa, pedoman, dan visualisasi yang digunakan sebagai dasar pembuatan sebuah pemodelan arsitektur

Lebih terperinci

1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Koperasi merupakan badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum. Koperasi Citra Telekomunikasi Institut Teknologi (IT) Telkom Bandung merupakan sebuah

Lebih terperinci

INTEGRASI PERANGKAT LUNAK ENTERPRISE RESOURCE PLANNING (ERP) DENGAN MENGGUNAKAN METODE SERVICE ORIENTED ARCHITECTURE (SOA)

INTEGRASI PERANGKAT LUNAK ENTERPRISE RESOURCE PLANNING (ERP) DENGAN MENGGUNAKAN METODE SERVICE ORIENTED ARCHITECTURE (SOA) INTEGRASI PERANGKAT LUNAK ENTERPRISE RESOURCE PLANNING (ERP) DENGAN MENGGUNAKAN METODE SERVICE ORIENTED ARCHITECTURE (SOA) Safuwan, Riyanarto Sarno, Rizky Januar Akbar Jurusan Teknik Informatika, Fakultas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem informasi mengalami perkembangan yang sangat cepat. Perkembangan ini terjadi karena permintaan masyarakat yang menginginkan sistem informasi yang efektif dan

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN Saat ini, dua teknologi paling populer yang digunakan pada Internet adalah dan World Wide Web. Pada beberapa tahun yang akan

1. PENDAHULUAN Saat ini, dua teknologi paling populer yang digunakan pada Internet adalah  dan World Wide Web. Pada beberapa tahun yang akan 1. PENDAHULUAN Saat ini, dua teknologi paling populer yang digunakan pada Internet adalah e-mail dan World Wide Web. Pada beberapa tahun yang akan datang, kita mungkin melihat teknologi internet lain yang

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI WEB-SERVICE UNTUK PEMBANGUNAN SISTEM KARTU RENCANA STUDI (KRS) ON-LINE

IMPLEMENTASI WEB-SERVICE UNTUK PEMBANGUNAN SISTEM KARTU RENCANA STUDI (KRS) ON-LINE IMPLEMENTASI WEB-SERVICE UNTUK PEMBANGUNAN SISTEM KARTU RENCANA STUDI () ON-LINE A r a d e a Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Siliwangi Tasikmalaya Abstrak Pemanfaatan teknologi informasi

Lebih terperinci

3.1 APLIKASI YANG DITANGANI OLEH CODE GENERATOR

3.1 APLIKASI YANG DITANGANI OLEH CODE GENERATOR BAB III ANALISIS Bab ini berisi analisis mengenai aplikasi web target code generator, analisis penggunaan framework CodeIgniter dan analisis perangkat lunak code generator. 3.1 APLIKASI YANG DITANGANI

Lebih terperinci

Fase pertama: single user, single tasking

Fase pertama: single user, single tasking Interoperabilitas Evolusi Pemanfaatan Komputer Fase pertama: single user, single tasking Komputasi dijalankan secara terbatas di satu mesin oleh satu pemakai yang hanya mengeksekusi satu aplikasi pada

Lebih terperinci

WEB-BASED INTERPRISE sebagai SOLUSI BISNIS

WEB-BASED INTERPRISE sebagai SOLUSI BISNIS WEB-BASED INTERPRISE sebagai SOLUSI BISNIS Latar Belakang Dengan lingkungan sistem informasi yang semakin terdistribusi dan heterogen akan sangat dibutuhkan pola manajemen system yang secara konsisten

Lebih terperinci

Aplikasi Terdistribusi Menggunakan Windows Communcation Foundation untuk Sistem Informasi Dosen

Aplikasi Terdistribusi Menggunakan Windows Communcation Foundation untuk Sistem Informasi Dosen Aplikasi Terdistribusi Menggunakan Windows Communcation Foundation untuk Sistem Informasi Dosen Oleh: Gilbert Krisetia Prakosa NIM: 612006043 Skripsi ini telah diterima dan disahkan sebagai salah satu

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA Bab ini berisi penjelasan tentang kajian berbagai pustaka yang digunakan dalam penyusunan Tugas Akhir ini. Kajian pustaka akan dilakukan terhadap beberapa literatur tentang Extensible

Lebih terperinci

BUSINESS PROCESS REPORTING SERVICE SUBSISTEM SMS BASED SERVICE

BUSINESS PROCESS REPORTING SERVICE SUBSISTEM SMS BASED SERVICE BUSINESS PROCESS REPORTING SERVICE SUBSISTEM SMS BASED SERVICE LAPORAN TUGAS AKHIR Disusun sebagai syarat kelulusan tingkat sarjana oleh: Budi Satrio / 13504006 PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA SEKOLAH

Lebih terperinci

PENERAPAN BUSINESS PROCESS MANAGEMENT DALAM SERVICE-ORIENTED ARCHITECTURE

PENERAPAN BUSINESS PROCESS MANAGEMENT DALAM SERVICE-ORIENTED ARCHITECTURE PENERAPAN BUSINESS PROCESS MANAGEMENT DALAM SERVICE-ORIENTED ARCHITECTURE STUDI KASUS: VIRTUAL RESEARCH CENTER LAPORAN TUGAS AKHIR Disusun sebagai syarat kelulusan tingkat sarjana oleh: Brahmasta Adipradana

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI WEB SERVICE PADA SISTEM INFORMASI ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN WEB SERVICE

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI WEB SERVICE PADA SISTEM INFORMASI ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN WEB SERVICE IMPLEMENTASI TEKNOLOGI WEB SERVICE PADA SISTEM INFORMASI ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN WEB SERVICE Miftahur Rohmah 4114080 Prodi Sistem Informasi Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang 2017

Lebih terperinci

Teknik Informatika S1

Teknik Informatika S1 Teknik Informatika S1 Rekayasa Perangkat Lunak Lanjut Pengenalan Web App + Req. Web App Disusun Oleh: Egia Rosi Subhiyakto, M.Kom, M.CS Teknik Informatika UDINUS [email protected] +6285740278021 SILABUS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN I.1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Dalam dunia sistem informasi, konsep-konsep dan pemikiran yang ada terus bertambah dan berkembang. Begitu pula dengan pemikiran tentang permasalahan arsitektur dalam

Lebih terperinci

PENERAPAN JAVA SERVER FACES UNTUK DESIGN PATTERN WEB

PENERAPAN JAVA SERVER FACES UNTUK DESIGN PATTERN WEB PENERAPAN JAVA SERVER FACES UNTUK DESIGN PATTERN WEB Yanto (1) Abstrak: J2EE Pattern adalah kumpulan pola-pola yang digunakan dalam menyelesaikan masalah yang umumnya dihadapi oleh setiap programmer Java

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Koperasi Bina Sejahtera Paguyuban Keluarga Bogem terletak di Kelurahan Kebonjayanti Kecamatan Kiaracondong Kota Bandung yang beralamat di Jl. Kebonjayanti No. 39 Kota

Lebih terperinci

BAB 2 BPEL dan ESB 2.1 Business Process Execution Language (BPEL)

BAB 2 BPEL dan ESB 2.1 Business Process Execution Language (BPEL) BAB 2 BPEL dan ESB 2.1 Business Process Execution Language (BPEL) Di dalam perusahaan, BPEL digunakan untuk standardisasi EAI dan memperluas integrasi sistem yang masih terisolasi. Antar perusahaan, BPEL

Lebih terperinci

MODUL 4 Unified Software Development Process (USDP)

MODUL 4 Unified Software Development Process (USDP) MODUL 4 Unified Software Development Process (USDP) Daftar Isi 4.1 Pengantar USDP... 2 4.2 Fase USDP... 2 4.2.1 Fase, Workflow dan Iterasi... 3 4.2.2 Perbedaan USDP dan Siklus Hidup Waterfall... 3 4.2.3

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, aplikasi dan platform yang digunakan oleh departemen-departemen dan unit pendukung pada perguruan tinggi menjadi beragam.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi informasi semakin pesat sampai saat ini dengan terus dikembangkannya

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi informasi semakin pesat sampai saat ini dengan terus dikembangkannya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi informasi semakin pesat sampai saat ini dengan terus dikembangkannya teknologi-teknologi yang mendukungnya. Salah satu teknologi yang

Lebih terperinci

PROSES, OBJEK DAN LAYANAN TERDISTRIBUSI

PROSES, OBJEK DAN LAYANAN TERDISTRIBUSI PROSES, OBJEK DAN LAYANAN TERDISTRIBUSI SISTEM TERDISTRIBUSI CLIENT SERVER PROSES TERDISTRIBUSI SISTEM TERDISTRIBUSI CLIENT SERVER 1 Proses terdistribusi dapat diaplikasikan pada berbagai ruang kerja,

Lebih terperinci

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI REKAM MEDIS BERBASIS MOBILE

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI REKAM MEDIS BERBASIS MOBILE PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI REKAM MEDIS BERBASIS MOBILE Ida Bagus Made Mahendra, Ida Bagus Gede Dwidasmara, Putu Praba Santika Program Studi Teknik Informatika, Jurusan Ilmu Komputer, Fakultas MIPA, Universitas

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas berbagai teori yang melandasi dalam membangun sistem ini. 3.1 Sistem Informasi Menurut Hall (2006, p6), sistem informasi adalah serangkaian prosedur formula

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan atau organisasi dalam menentukan kebijakan-kebijakan strategis

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan atau organisasi dalam menentukan kebijakan-kebijakan strategis BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini informasi merupakan hal yang sangat penting bagi suatu perusahaan atau organisasi dalam menentukan kebijakan-kebijakan strategis perusahaan terkait dengan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proses evaluasi guru yang berjalan di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Dayeuhkolot meliputi banyak aspek, mulai dari proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar), Administrasi,

Lebih terperinci

SISTEM INFORMASI DISTRIBUSI BARANG BERBASIS WEB SERVICE

SISTEM INFORMASI DISTRIBUSI BARANG BERBASIS WEB SERVICE SISTEM INFORMASI DISTRIBUSI BARANG BERBASIS WEB SERVICE Susan Dian Purnamasari 1), Maulana 2), Fatoni 3) 1), 2) Sistem Informasi Universitas Bina Darma Palembang 3) Manajemen Informatika Universitas Bina

Lebih terperinci

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

BAB II. KAJIAN PUSTAKA BAB II. KAJIAN PUSTAKA A. Rapor Rapor berasal dari kata dasar report yang berarti laporan. Rapor merupakan laporan hasil dari suatu kegiatan yang disusun secara benar. Materi yang dilaporkan dalam hal

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI WEB SERVICE PADA. ORIENTED ARCHITECTURE (SOA) (Studi kasus : PT. Smeva Holiday) TUGAS AKHIR

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI WEB SERVICE PADA. ORIENTED ARCHITECTURE (SOA) (Studi kasus : PT. Smeva Holiday) TUGAS AKHIR IMPLEMENTASI TEKNOLOGI WEB SERVICE PADA APLIKASI e-tourism BERBASIS SERVICE ORIENTED ARCHITECTURE (SOA) (Studi kasus : PT. Smeva Holiday) TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh

Lebih terperinci