Rinitis Alergi sebagai Faktor Risiko Otitis Media Supuratif Kronis
|
|
|
- Farida Setiawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Rinitis Alergi sebagai Faktor Risiko Otitis Media Supuratif Kronis Tutie Ferika Utami, Kartono Sudarman, Bambang Udji Djoko Rianto, Anton Christanto Departemen Telinga Hidung dan Tenggorok, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/RS Dr. Sardjito, Yogyakarta, Indonesia LATAR BELAKANG Otitis media supuratif kronik (OMSK) adalah radang kronik telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya sekret dari telinga (otorea) lebih dari 2 bulan, baik terus menerus atau hilang timbul. 1 OMSK juga merupakan peradangan akibat infeksi mukoperiosteum kavitas timpani yang ditandai oleh perforasi membran timpani dengan sekret yang keluar terus menerus atau hilang timbul selama lebih dari 3 bulan dan dapat menyebabkan perubahan patologik yang permanen. 2 Ada juga yang memberi batas waktu 6 minggu untuk terjadinya awal proses kronisitas pada OMSK. 3 Sekret yang keluar mungkin serosa, mukus atau purulen. 1,2,3,4 OMSK secara klasik dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu otitis media supuratif kronik tipe benigna (OMSKB) atau tipe tubotimpanum atau tipe safe dan tipe maligna, atau tipe atikoantral atau tipe unsafe. OMSKB dibagi menjadi tipe aktif, tipe laten dan tipe inaktif. Pada OMSKB tipe laten, saat pemeriksaan kavum timpani kering setelah mendapat pengobatan, tetapi sebelumnya ada riwayat otore yang hilang timbul. OMSKB inaktif bila ada riwayat otore di masa lalu dan saat pemeriksaan kavum timpani kering tanpa kemungkinan kekambuhan dalam waktu dekat. Pada otitis media supuratif tipe benigna proses infeksi hanya terbatas pada mukosa telinga tengah saja dan yang terkena adalah mesotimpanun dan hipotimpanum serta tuba auditoria. Tipe ini jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. 5 Prevalensi OMSKB di negara berkembang berkisar antara 5 10%, sedangkan di negara maju 0,5 2%. 6 Diperkirakan sekitar 10 juta penduduk Indonesia menderita OMSKB. 7 Survei Nasional Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran tahun menunjukkan prevalensi OMSKB antara 2,10 5,2%. 8 Frekuensi OMSKB di RS Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta pada tahun 1989 sebesar 15,21%. 9 Di RS Hasan Sadikin Bandung dilaporkan frekuensi OMSKB selama periode sebesar 15,7% 10 dan pada tahun 1991 dilaporkan prevelensi OM- SKB sebesar 10,96%. 11 Frekuensi penderita OMSKB di RS Dr Sardjito Yogyakarta pada tahun 1997 sebesar 8,2%. 12 Data catatan medis kunjungan kasus baru penderita OM- SKB di RS Sardjito tahun 2002 adalah 460 orang, sedangkan jumlah seluruh kunjungan di poliklinik THT pada tahun tersebut adalah orang, maka frekuensi OMSKB adalah 3,4%. 13 Faktor predisposisi kronisitas otitis media diduga karena: 1) disfungsi tuba auditoria kronik, infeksi fokal seperti sinusitis kronik, adenoiditis kronik dan tonsilitis kronik yang menyebabkan infeksi kronik atau berulang saluran napas atas dan selanjutnya mengakibatkan udem serta obstruksi tuba auditoria. Beberapa kelainan seperti hipertrofi adenoid, celah palatum mengganggu fungsi tuba auditoria. Gangguan kronik fungsi tuba auditoria menyebabkan proses infeksi di telinga tengah menjadi kronik, 2) perforasi membran timpani yang menetap menyebabkan mukosa telinga tengah selalu berhubungan dengan udara luar. Bakteri yang berasal dari kanalis auditorius eksterna atau dari luar lebih leluasa masuk ke dalam telinga tengah menyebabkan infeksi kronik mukosa telinga tengah. 5 3) Pseudomonas aeruginusa dan Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang tersering diisolasi pada OMSKB, sebagian besar telah resisten terhadap antibiotika yang lazim digunakan. Ketidaktepatan atau terapi yang tidak adekuat menyebabkan kronisitas infeksi. 14 4) Faktor konstitusi, alergi merupakan salah satu faktor konstitusi yang dapat menyebabkan kronisitas. Pada keadaan alergi ditemukan perubahan berupa bertambahnya sel goblet dan berkurangnya sel kolumner bersilia pada mukosa telinga tengah dan tuba auditoria sehingga produksi cairan mukoid bertambah dan efisiensi silia berkurang. 15 Penyakit alergi adalah suatu penyimpangan reaksi tubuh terhadap paparan bahan asing yang menimbulkan gejala pada orang yang berbakat atopi sedangkan pada kebanyakan orang tidak menimbulkan reaksi apapun CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 425 7/23/ :33:06 PM
2 Rinitis alergi adalah suatu gangguan hidung yang disebabkan oleh reaksi peradangan mukosa hidung diperantarai oleh imunoglobulin E (Ig E), setelah terjadi paparan alergen (reaksi hipersensitivitas tipe I Gell dan Comb). Gejala klinik rinitis alergi disebabkan oleh mediator kimia yang dilepaskan oleh sel mast, basofil dan eosinofil akibat reaksi alergen dengan Ig E spesifik yang melekat di permukaannya. Mediator yang paling banyak diketahui peranannya adalah histamin. Histamin akan menyebabkan hidung gatal, bersin-bersin, rinore cair dan hidung tersumbat. 17 Rinitis alergi bersifat kronik dan persisten sehingga dapat menyebabkan perubahan berupa hipertrofi dan hiperplasi epitel mukosa dan dapat menimbulkan komplikasi otitis media, sinusitis dan polip nasi. Beberapa pendapat menyatakan bahwa pada rinitis alergi, edema mukosa selain terjadi di kavum nasi juga meluas ke nasofarings dan tuba auditoria sehingga dapat mengganggu pembukaan sinus dan tuba auditoria. 17 Prevalensi rinitis alergi di Indonesia belum diketahui pasti, namun data dari beberapa rumah sakit menunjukkan bahwa frekuensi rinitis alergi berkisar 10 26%. Penelitian tentang penatalaksanaan OMSKB telah banyak dilakukan, namun lebih banyak ditujukan pada jenis pengobatan seperti perlunya antibiotik, jenis antibiotik, apakah cukup lokal atau sistemik, apakah antibiotika yang diberikan sudah sesuai dengan jenis bakterinya serta apakah cukup tindakan konservatif atau perlu tindakan operatif saja. Begitu juga penelitian mengenai faktor-faktor yang mendasari patogenesis OMSKB seperti fungsi ventilasi dan drainase tuba auditoria dalam hubungannya dengan proses penyembuhan OMSKB. 12 Faktor alergi khususnya rinitis alergi sebagai faktor risiko OMSKB belum pernah diteliti. Restuti (2006) 16 menyatakan bahwa prevalensi dan patogenesis OMSK dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain kekerapan infeksi saluran napas atas, sosioekonomi, gizi, alergi dan faktor imunitas. Sebagai respons alergi terjadi sekresi berbagai mediator dan sitokin yang mempengaruhi terjadinya inflamasi dan kondisi seperti ini dapat berulang hingga kronis. Interleukin-1 (IL-1) merupakan sitokin yang kadarnya tinggi pada pasien OMSK; demikian juga tumor necrosis factor-α (TNF-α) yang dihubungkan dengan kronisitas pada otitis media juga memiliki kadar yang tinggi. Selain faktor fungsi tuba, patogenesis OMSK juga dipengaruhi oleh faktor mukosa telinga tengah sebagai target organ alergi. Pada biopsi mukosa telinga tengah didapatkan eosinophilic cationic protein (ECP), IL-5 dan basic major protein (BMP) yang tinggi pada pasien otitis media dengan rinitis alergi dibandingkan dengan pasien otitis media tanpa rinitis alergi. Sebagian besar otitis media supuratif kronik tampaknya berasal dari otitis media supuratif akut yang berulang, namun beberapa peneliti mengatakan bahwa otitis media kronis mungkin berasal dari otitis media efusi yang terinfeksi sekunder dengan hipertrofi dan hipersekresi mukosa telinga tengah. 6 Penelitian epidemiologi di beberapa negara memperlihatkan angka > 50% pasien otitis media dengan rinitis alergi, 21% pasien rinitis alergi menderita otitis media. Tuba auditoria memegang peranan penting sebagai fungsi regulasi tekanan udara di dalam telinga tengah. Mekanisme ini dihubungkan dengan patofisiologi penyebab obstruksi tuba, terutama akibat infeksi atau inflamasi dari proses alergi. Rinitis dihubungkan sebagai etiologi otitis media dengan 2 cara yaitu: disfungsi tuba disebabkan oleh reaksi alergi dari mukosa nasal atau adanya fungsi mukosiliar yang terganggu. 18 METODE PENELITIAN Rancangan dan Populasi Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kasus-kontrol; bertujuan menganalisis /menentukan rinitis alergi sebagai faktor risiko otitis media supuratif kronik benigna (OMSKB), membandingkan antara pasien OMSKB dengan faktor risiko rinitis (kasus) dan pasien non OMSKB dengan faktor risiko rinitis alergi (kontrol). Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah semua penderita OMSKB yang berobat ke klinik rawat jalan THT RS Dr. Sardjito Yogyakarta. Pengambilan sampel dengan cara berurutan (consecutive sampling) sampai tercapai jumlah sampel minimal. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria Inklusi: 1) Pasien OMSKB rawat jalan dengan keluhan sekret telinga berulang atau pernah, dan pada pemeriksaan otoskopi didapat cairan/ tanpa cairan pada liang telinga, membran timpani perforasi sentral tanpa kolesteatom dan granulasi, kontrol : pasien non OMSKB, yang datang ke poli rawat jalan THT, 2) Penderita pria atau wanita umur 5 tahun dan kooperatif, 3) Bebas dari obat antihistamin, kortikosteroid sistemik dan topikal setidaknya selama 7-10 hari. Kriteria Eksklusi : 1) Menderita OMA pada kelompok kontrol. Subyek Penelitian Subyek yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dan menandatangani informed consent tanpa randomisasi dibagi menjadi kelompok kasus dan kelompok kontrol setelah anamesis dan pemeriksaan otoskopi. Setiap subyek terpilih selanjutnya dianamnesis dan menjalani pemeriksaan fisik hidung serta pemeriksaan rinoskopi anterior, selanjutnya dilakukan skin prick test bagi sampel yang belum pernah di test. Jumlah Sampel Perkiraan besar sampel dihitung menggunakan rumus besar sampel untuk penelitian analitik kategorik tidak berpasangan dengan α ditentukan sebesar 5% untuk tingkat kesalahan tipe I, β ditetapkan sebesar 20% untuk kesalahan tipe II; power (1-β) adalah 80% berarti penelitian ini mempunyai pe- 426 CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 426
3 luang sebesar 80% untuk mengetahui adanya pengaruh faktor risiko terhadap kasus apabila perbedaan itu ada di populasi. Zα untuk menguji hipotesis satu arah sebesar 1,64 dan Zβ sebesar 0,84. Dari kepustakaan didapatkan proporsi pajanan pada kelompok kontrol sebesar 20 %. Dari hasil perhitungan besar sampel minimal, maka jumlah total sampel 98 orang, untuk kelompok kasus adalah 49 orang dan kelompok kontrol 49 orang. Analisis Statistik Data disajikan dalam bentuk tabulasi dan deskripsi statistik. Analisis statistik yang digunakan adalah: 1) Uji X 2 untuk menghitung ada tidaknya perbedaan karakteristik kedua kelompok. 2) Analisis regresi logistik, untuk menilai variabel-variabel yang berpengaruh pada otitis media supuratif kronik benigna. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian di poliklinik THT RS Dr. Sardjito Yogyakarta dari bulan Juni 2007 sampai dengan bulan Maret 2008 menemukan 53 penderita OM- SKB dan 50 pasien non OMSKB, 100 pasien di antaranya memenuhi kriteria inklusi penelitian ini, sisanya sebanyak 3 pasien dari kelompok kasus tidak bersedia menjalani skin prick test. 1. Karakteristik demografis subyek penelitian Uji X 2 mendapatkan nilai p = 0,102 (> 0,05), tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antar usia kelompok kasus dengan kelompok kontrol pada penelitian ini. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara jenis kelamin subyek pada kelompok kasus dan kelompok kontrol dengan nilai p = 0,840 (p > 0,05); OR: 0,922; IK 95%: 0,41-2,03. Kedua variabel umur dan jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap morbiditas OMSKB. Tabel 1. Distribusi subyek penelitian menurut umur dan jenis kelamin Kasus Kontrol Total (%) Nilai p (Uji X 2 ) Umur (tahun) (10) 5 (10) 10 (10) (30) 26 (52) 41 (41) 0, (52) 18 (36) 44 (44) 56 4 (8) 1 (2) 5 (5) Jenis Kelamin Laki laki 21 (42) 22 (44) 43 (43) 0,840 Perempuan 29 (58) 28 (56 57 (57) Tabel 2a. Distribusi menurut keluhan dan kelainan telinga Keluhan dan Kelainan telinga Kel.Kasus Kel.Kontrol Nilai p (Uji X 2 ) Cairan dari Telinga 26 (52) - 0,001 Batuk, pilek dan demam 41 (82) - 0,001 Manipulasi telinga 9 (18) - Kambuh < 3 x/ th 7 (14) - Kambuh 3 x/th 43 (86) - 0,006 Pendengaran menurun 3 (6) - 0,079 Perforasi MT 50 (100-0,001 Tabel 2b. Distribusi menurut keluhan dan kelainan hidung Keluhan dan Kelainan hidung Meler, bersin dan tersumbat 41 (82) 9 (18) 0,001 Riwayat atopi (+) 26 (52) 1 (2) 0,001 Hipertrofi, livide, discharge serous, Shiner dan crease 40 (80) 4 (8) 0,001 Tabel 3. Hubungan keluhan dan kelainan telinga dan hidung dengan rinitis alergi RA (+) RA (-) Total Nilai p (Uji X 2 ) Keluhan dan kelainan Telinga Telinga meler (26) Tidak meler (74) 0,001 Batuk, pilek dan demam (41) Manipulasi telinga (59) 0,001 Kambuh < 3 x/th 4 3 7(7) Kambuh 3 x/th (93) 0,616 Perforasi MT (50) 0,001 Tidak perforasi MT (50) Keluhan dan kelainan Hidung Meler, bersin dan tersumbat (50) Tanpa keluhan (50) 0,001 Riwayat atopi 27-27(27) Tanpa riwayat atopi (73) 0,001 Hipertrofi, livide, discharge sereus, shiner dan crease Tanpa kelainan hidung (44) 56(56) 0, CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 427
4 2. Karakteristik keluhan dan kelainan telinga dan hidung kelompok kasus dan kontrol pada keluhan cairan keluar dari telinga dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05); OR: 3,08; IK 95%: 2,2 4,2. Sebanyak 41 kasus (82%) mengeluh batuk, pilek dan demam sebelum keluhan telinga timbul dan 9 pasien (18%) karena manipulasi telinga - p = 0,001 (< 0,05); OR: 6,5; IK 95%: 3,5 11,9. Sebanyak 7 pasien (14%) kambuh kurang dari 3 kali pertahun, 43 pasien (86%) kambuh 3 kali per tahun. p = 0,006 (< 0,05); OR: 2,1; IK 95%: 1,7 2,7. Keluhan penurunan pendengaran perbedaan antara kelompok kasus dan kelompok kontrol tidak berbeda bermakna - p = 0,079 ( > 0,05); OR: 2,06; IK 95%: 1,68 2,53. Penurunan pendengaran dapat disebabkan karena faktor usia. Tabel 4. Hasil pengukuran kedua kelompok penelitian terhadap rinitis alergi Kasus Kontrol Nilai p Rinitis Alergi (+) 40 (80) 8 (16) 0,001 Rinitis Alergi (-) 10 (20) 42 (84) Total 50 (100) 50 (100) Tabel 5. Hasil regresi logistik pengaruh variabel terhadap OMSKB Variabel ß p Adjusted Odd- Ratio IK 95% Rinitis Alergi 0,080 0,001 21,00 7,53 58,56 Keluhan dan kelainan telinga Batuk, pilek dan demam Manipulasi telinga 3,108 0,008 22,38 2,24 22,81 Perforasi MT Tidak perforasi MT Telinga meler Tidak meler Keluhan dan kelainan hidung Meler, bersin dan Tersumbat 1,752 0,032 5,76 1,16 28,56-1,69 0,135 0,185 0,02 1,69 13,89 0, ,7 0,001 4,525 Riwayat atopi (+) 0,001 1,000 1,000 0,001 1,024 Hipertrofi, livide, Discharge sereus, Shiner dan crease 12,51 0, ,93 0,001 2,586 Kelainan telinga berupa perforasi membran timpani terjadi pada semua kasus - 50 pasien (100%), sedangkan di kelompok kontrol tidak terdapat kelainan telinga. p = 0,001 (p < 0,05). kelompok kasus dengan kelompok kontrol pada ketiga variabel keluhan dan kelainan hidung (p = 0,001). 3. Hubungan antara keluhan dan kelainan telinga dan hidung dengan rinitis alergi Terdapat perbedaan bermakna keluhan telinga meler, batuk, pilek dan demam serta kelainan telinga berupa perforasi membran timpani pada rinitis alergi (p = 0,001 < 0,05). Namun tidak terdapat perbedaan rinitis alergi yang bermakna antara kekambuhan < 3 kali/tahun maupun kekambuhan 3 kali/tahun (p = 0,616 > 0,05). Setasubrata (1999) 12 tidak mendapatkan perbedaan bermakna frekuensi kekambuhan dalam hal gangguan fungsi ventilasi (p = 0,26) dan drainase dari tuba eustachius dengan (p = 0,12). Keluhan dan kelainan hidung dengan rinitis alergi berbeda bermakna (p = 0,001 < 0,05) pada ketiga variabel karena ketiga variabel tersebut merupakan tanda dan gejala rinitis alergi. Hasil penelitian ini sama dengan hasil Wratsongko (2004) 19 dengan nilai p = 0,001 untuk ketiga variabel tersebut. 4. Hubungan OMSKB terhadap rinitis alergi kedua kelompok terhadap rinitis alergi dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05); OR: 21; IK 95%: 7,53 58,56. Risiko kejadian kasus (OMSKB) adalah 21 kali lebih sering pada orang yang menderita rinitis alergi dibandingkan dengan orang yang tidak menderita rinitis alergi. Hurst (2002) 20 juga menemukan perbedaan bermakna antara pasien otitis media efusi (OME) dengan pasien atopi, (p = 0,001). Begitu juga Suprihati dan Putra (1993) 17 menemukan hubungan antara rinitis alergi dengan OME (PR prevalence ratio = 2,18 ) yang menandakan bahwa rinitis alergi merupakan faktor risiko OME. 5. Analisis regresi logistik Variabel tergantung pada penelitian ini adalah OMSKB, sedangkan variabel bebas yang dianalisis adalah rinitis alergi, keluhan dan kelainan telinga dan keluhan dan kelainan hidung. Didapatkan tiga variabel yang berhubungan bermakna atau berpengaruh terhadap OMSKB yaitu rinitis alergi (p = 0,001, OR: 21: IK 95%: 7,53 58,56). Peluang terjadinya OMSKB 22 kali lebih besar pada pasien dengan keluhan telinga diawali batuk, pilek dan demam dibandingkan pasien dengan keluhan telinga tanpa diawali batuk, pilek dan demam (p = 0,008, OR: 22,38 ; IK 95%: 2,24 22,81). Peluang terjadinya OMSKB 5 kali lebih besar pada pasien dengan perforasi membran timpani dibandingkan pasien tanpa perforasi membran timpani (p = 0,032, OR: 5,76 ; IK 95%: 1,16 28,56). 428 CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 428
5 SIMPULAN Rinitis alergi merupakan faktor risiko pada otitis media supuratif kronik benigna (OMSKB). SARAN Melakukan test alergi (skin prick test), menegakkan diagnosis rinitis alergi serta memberikan terapi rinitis alergi pada pasien otitis media yang sering berulang untuk menekan angka kejadian OMSKB. DAFTAR PUSTAKA 1. Helmi. Panduan penatalaksanaan baku otitis media supuratif kronik di Indonesia. Jakarta 2002: Paparela MM. Definition and classification of otitis media. Fifth Asia Oceania Congress of Otorhinological Societies 1983: Proctor B. Chronic otitis media and mastoiditis. Otolaryngology vol 2. Paparela, MM, Schumrick, DA (eds). Philadelphia:WB. Saunders Co Djaafar ZA. Diagnosis dan pengobatan otitis media supuratif kronik. Pengobatan Non Operatif Otitis Media Supuratif Kronik. Jakarta 1990: Mawson SR. Disease of Middle Ear. Disease of the ear. 3 rd ed. Great Britain: Alden and Mombrax ltd Sedjawidada R. Historia naturalis of otitis media: a scheme resuming the inter relationships between various form of otitis media and their resective surgical iteration. ORL Indonesia 1985: 16(3). 7. Boesoirie T. Miringoplasti dini, suatu cara efektif merekonstruksi mekanisme pendengaran konduktif pasca radang kronis telinga tengah. FK UNPAD Bandung. Disertasi 1995: Departemen Kesehatan RI. Pedoman upaya kesehatan telinga dan pencegahan gangguan pendengaran untuk puskesmas Helmi. Perjalanan penyakit dan gambaran klinis otitis media supuratif kronik. Pengobatan non operatif otitis media supuratif. Jakarta 1990: Boesoirie T. Prevalensi serta pola kepekaan kuman aerob dan anaerob pada otomastoiditonis kronis di RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung. FK UNPAD Bandung. Tesis Magister 1992: Djohar TH. Evaluasi fungsi tuba eusthacius dengan metoda modifikasi inflasi-deflasi dan tetes telinga memakai zat warna pada penderita-penderita otitis media perforata kering dewasa. Karya Tulis Akhir 1992 Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung. 12. Setasubrata YD. Peran fungsi ventilasi dan drainase tuba auditoria pada kesembuhan otitis media supuratif kronik benigna aktif. Karya Tulis Akhir 1999: Hartanto D. Daya guna klinis amnion sebagai bahan bridge pada penutupan perforasi membran timpani permanen secara konservatif. Karya Tulis Akhir FK UGM Yogyakarta. 14. Djoko Rianto BU. Effectiveness of ciprofloxacin ear drops vs chloramphenicol ear drops for treating active benign type chronic otitis media. Master of Science in Public Health Thesis.1998.Yogyakarta Gadjah Mada University. 15. Gladstone HB, Jackler RK, Varav K. Tympanic membrane wound healing: an overview. Otolaryngol Clin North Am : Restuti RD. Hubungan Alergi dengan Otitis Media Supuratif Kronik. Abstrak Pertemuan Ilmiah Tahunan Otologi I. Jakarta 2006: Putra IGK, Suprihati W. Hubungan antara rinitis kronik alergika dan otitis media dengan efusi. Kumpulan Naskah Ilmiah Kongres PERHATI. Bukit Tinggi Lazo-Saenz JG, Galvan Aguilera AA. Eustachian tube dysfunction in allergic rhinitis. Otollaryngol Head Neck Surg : Wratsongko GT. Uji Diagnostik Skor Rinitis Alergi. Karya Tulis Akhir FK UGM Yogyakarta. 20. Hurst DS, Venge P. The impact of atopy on neutrophil activity in middle ear effusion from children and adults with chronic otitis media. Arch Otolaryngol Head Neck Surg : CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 429 7/23/ :33:08 PM
BAB 1 PENDAHULUAN. oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah. mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan pada mukosa hidung
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Rhinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Secara klinis, rinitis alergi didefinisikan sebagai kelainan simtomatis pada hidung yang
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Rinitis alergi 2.1.1. Definisi Secara klinis, rinitis alergi didefinisikan sebagai kelainan simtomatis pada hidung yang diinduksi oleh inflamasi yang diperantarai IgE (Ig-E
BAB I PENDAHULUAN. Rinitis alergi (RA) adalah penyakit yang sering dijumpai. Gejala utamanya
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Rinitis alergi (RA) adalah penyakit yang sering dijumpai. Gejala utamanya adalah bersin, hidung beringus (rhinorrhea), dan hidung tersumbat. 1 Dapat juga disertai
BAB 4 METODE PENELITIAN
31 BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah bidang Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan leher 4.2. Rancangan Penelitian Desain penelitian
2.3 Patofisiologi. 2.5 Penatalaksanaan
2.3 Patofisiologi Otitis media dengan efusi (OME) dapat terjadi selama resolusi otitis media akut (OMA) sekali peradangan akut telah teratasi. Di antara anak-anak yang telah memiliki sebuah episode dari
I. PENDAHULUAN. Farmasi dalam kaitannya dengan Pharmaceutical Care harus memastikan bahwa
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pharmaceutical Care adalah salah satu elemen penting dalam pelayanan kesehatan dan selalu berhubungan dengan elemen lain dalam bidang kesehatan. Farmasi dalam kaitannya
4.3.1 Identifikasi Variabel Definisi Operasional Variabel Instrumen Penelitian
DAFTAR ISI SAMPUL DALAM... i LEMBAR PENGESAHAN... ii PENETAPAN PANITIA PENGUJI... iii KATA PENGANTAR... iv PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... v ABSTRAK... vi ABSTRACT... vii DAFTAR ISI... viii DAFTAR TABEL...
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. inflamasi kronik telinga tengah yang ditandai dengan perforasi membran timpani
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan salah satu penyakit inflamasi kronik telinga tengah yang ditandai dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Otitis media supuratif kronis (OMSK) merupakan peradangan dan infeksi kronis pada telinga tengah dan rongga mastoid yang ditandai dengan adanya sekret yang keluar terus
BAB 1 PENDAHULUAN. pakar yang dipublikasikan di European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sinusitis adalah peradangan pada salah satu atau lebih mukosa sinus paranasal. Sinusitis juga dapat disebut rinosinusitis, menurut hasil beberapa diskusi pakar yang
BAB 1 PENDAHULUAN. diperantarai oleh lg E. Rinitis alergi dapat terjadi karena sistem
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Definisi Rinitis Alergi (RA) menurut ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) merupakan reaksi inflamasi pada mukosa hidung akibat reaksi hipersensitivitas
BAB 5 HASIL DAN BAHASAN. adenotonsilitis kronik dengan disfungsi tuba datang ke klinik dan bangsal THT
32 BAB 5 HASIL DAN BAHASAN 5.1 Gambaran Umum Sejak Agustus 2009 sampai Desember 2009 terdapat 32 anak adenotonsilitis kronik dengan disfungsi tuba datang ke klinik dan bangsal THT RSUP Dr. Kariadi Semarang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dan sekret yang keluar terus-menerus atau hilang timbul yang terjadi lebih dari 3
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan salah satu penyakit inflamasi kronik telinga tengah yang ditandai dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN. Telinga, Hidung, dan Tenggorok Bedah Kepala dan Leher, dan bagian. Semarang pada bulan Maret sampai Mei 2013.
28 BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini mencakup bidang Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, dan Tenggorok Bedah Kepala dan Leher, dan bagian pulmonologi Ilmu
BAB 1 PENDAHULUAN. Rhinitis alergi merupakan peradangan mukosa hidung yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Rhinitis alergi merupakan peradangan mukosa hidung yang disebabkan mediasi oleh reaksi hipersensitifitas atau alergi tipe 1. Rhinitis alergi dapat terjadi
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS DAN TONSILITIS KRONIS SERTA KARIES DENTIS DAN PERILAKU KURATIF IBU Anggraini D. 1) 1) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Abstrak Latar Belakang. Otitis media
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah telinga, hidung, dan tenggorokan merupakan masalah yang sering terjadi pada anak anak, misal otitis media akut (OMA) merupakan penyakit kedua tersering pada
BAB I PENDAHULUAN. Otitis media efusi (OME) merupakan salah satu penyakit telinga
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Otitis media efusi (OME) merupakan salah satu penyakit telinga tengah yang biasanya terjadi pada anak. Pada populasi anak, OME dapat timbul sebagai suatu kelainan
BAB I PENDAHULUAN. kemampuan mendengar dan berkomunikasi dengan orang lain. Gangguan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Telinga adalah organ penginderaan yang berfungsi ganda untuk pendengaran dan keseimbangan dengan anatomi yang kompleks. Indera pendengaran berperan penting dalam
BAB IV HASIL PENELITIAN. Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis
BAB IV HASIL PENELITIAN Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis kronik yang berobat di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL. Selama penelitian diambil sampel sebanyak 50 pasien
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. otitis media dibagi menjadi bentuk akut dan kronik. Selain itu terdapat sistem
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Otitis media merupakan peradangan mukosa telinga tengah yang terdiri atas otitis media non supuratif dan supuratif. Berdasarkan durasi waktu otitis media dibagi menjadi
BAB I PENDAHULUAN. paranasal dengan jangka waktu gejala 12 minggu, ditandai oleh dua atau lebih
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rinosinusitis kronik (RSK) merupakan inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal dengan jangka waktu gejala 12 minggu, ditandai oleh dua atau lebih gejala, salah satunya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rinosinusitis kronis (RSK) adalah penyakit inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung lebih dari 12 minggu. Pengobatan RSK sering belum bisa optimal
PENGERTIAN Peradangan mukosa hidung yang disebabkan oleh reaksi alergi / ransangan antigen
RSU. HAJI MAKASSAR RINITIS ALERGI PENGERTIAN Peradangan mukosa hidung yang disebabkan oleh reaksi alergi / ransangan antigen TUJUAN Menembalikan fungsi hidung dengan cara menghindari allergen penyebab,
Pahmi Budiman Saputra Basyir 1, Teti Madiadipoera 1, Lina Lasminingrum 1 1
Angka Kejadian dan Gambaran Rinitis Alergi dengan Komorbid Otitis Media di Poliklinik Rinologi Alergi Departemen Ilmu Kesehatan THT-KL RS Dr. Hasan Sadikin Pahmi Budiman Saputra Basyir 1, Teti Madiadipoera
BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh reaksi alergi pada penderita yang sebelumnya sudah tersensitisasi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rinitis Alergi (RA) merupakan salah satu penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada penderita yang sebelumnya sudah tersensitisasi alergen yang sama
ANGKA KEBERHASILAN MIRINGOPLASTI PADA PERFORASI MEMBRANA TIMPANI KECIL, BESAR, DAN SUBTOTAL PADA BULAN JUNI 2003 SAMPAI JUNI 2004
ANGKA KEBERHASILAN MIRINGOPLASTI PADA PERFORASI MEMBRANA TIMPANI KECIL, BESAR, DAN SUBTOTAL PADA BULAN JUNI 2003 SAMPAI JUNI 2004 Shinta Fitri Boesoirie, Thaufiq S. Boesoirie Bagian Ilmu Kesehatan Telinga,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Definisi Otitis Media Supuratif Kronis
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Otitis Media Supuratif Kronis Suatu radang kronis telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya sekret dari telinga (otorea) lebih dari 2 bulan,
BAB I PENDAHULUAN. karakteristik dua atau lebih gejala berupa nasal. nasal drip) disertai facial pain/pressure and reduction or loss of
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps (EP3OS) tahun 2012, rinosinusitis didefinisikan sebagai inflamasi pada hidung dan sinus paranasalis
BAB 3 METODE PENELITIAN
21 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian intervensi atau uji klinis dengan randomized controlled trial pre- & posttest design. Studi ini mempelajari
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL RSUD
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Penelitian dilakukan sampai jumlah sampel terpenuhi.
Keywords : P. aeruginosa, gentamicin, biofilm, Chronic Supurative Otitis Media
Keywords : P. aeruginosa, gentamicin, biofilm, Chronic Supurative Otitis Media xv BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Otitis media supuratif kronik (OMSK) adalah dampak dari episode otitis media akut
Hubungan Otitis Media Supuratif Kronis dengan Rinitis Alergi. di RSUP H. Adam Malik Medan. di Tahun Oleh : GRACE ROSELINY P
Hubungan Otitis Media Supuratif Kronis dengan Rinitis Alergi di RSUP H. Adam Malik Medan di Tahun 2014 Oleh : GRACE ROSELINY P 110100110 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2014. Hubungan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. patofisiologi, imunologi, dan genetik asma. Akan tetapi mekanisme yang mendasari
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Asma Dari waktu ke waktu, definisi asma mengalami perubahan beberapa kali karena perkembangan dari ilmu pengetahuan beserta pemahaman mengenai patologi, patofisiologi,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rhinitis berasal dari dua kata bahasa Greek rhin rhino yang berarti hidung dan itis yang berarti radang. Demikian rhinitis berarti radang hidung atau tepatnya radang
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Rinosinusitis kronis merupakan inflamasi kronis. pada mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rinosinusitis kronis merupakan inflamasi kronis pada mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung selama minimal 12 minggu berturut-turut. Rinosinusitis kronis
ABSTRAK KARAKTERISTIK PASIEN SINUSITIS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PADA APRIL 2015 SAMPAI APRIL 2016 Sinusitis yang merupakan salah
ABSTRAK KARAKTERISTIK PASIEN SINUSITIS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PADA APRIL 2015 SAMPAI APRIL 2016 Sinusitis yang merupakan salah satu penyakit THT, Sinusitis adalah peradangan pada membran
HUBUNGAN JENIS OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2012.
HUBUNGAN JENIS OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2012 Oleh: DENNY SUWANTO 090100132 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit alergi sebagai reaksi hipersensitivitas tipe I klasik dapat terjadi pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit alergi sebagai reaksi hipersensitivitas tipe I klasik dapat terjadi pada individu dengan kecenderungan alergi setelah adanya paparan ulang antigen atau alergen
IDENTITAS I.1. IDENTITAS RESPONDEN
66 Lampiran 1 STATUS PENELITIAN No. I. IDENTITAS I.1. IDENTITAS RESPONDEN Nama :... Tanggal lahir :... Jenis Kelamin :... Alamat :... Telepon :... No. M R :... Anak ke/dari :... Jumlah orang yang tinggal
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) atau yang biasa disebut congek adalah
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) atau yang biasa disebut congek adalah infeksi kronis di telinga tengah dengan adanya lubang
BAB 1. PENDAHULUAN. hidung akibat reaksi hipersensitifitas tipe I yang diperantarai IgE yang ditandai
1 BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Rinitis alergi (RA) adalah manifestasi penyakit alergi pada membran mukosa hidung akibat reaksi hipersensitifitas tipe I yang diperantarai IgE yang ditandai dengan
BAB I PENDAHULUAN. hidung dan sinus paranasal ditandai dengan dua gejala atau lebih, salah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps (EPOS) 2012, rinosinusitis kronis didefinisikan sebagai suatu radang hidung dan sinus paranasal
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. Definisi klinis rinitis alergi adalah penyakit. simptomatik pada hidung yang dicetuskan oleh reaksi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Definisi klinis rinitis alergi adalah penyakit simptomatik pada hidung yang dicetuskan oleh reaksi inflamasi yang dimediasi oleh immunoglobulin E (IgE)
BAB III METODE DAN PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik THT-KL RSUD Dr. Moewardi
BAB III METODE DAN PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik THT-KL RSUD Dr. Moewardi Surakarta, Poliklinik THT-KL RSUD Karanganyar, Poliklinik THT-KL RSUD Boyolali.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis kronik yang berobat di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL RSUD Dr. Moewardi
ABSTRAK KARAKTERISTIK PASIEN OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS DI POLIKLINIK THT RSUP SANGLAH SELAMA PERIODE BULAN JANUARI JUNI 2013
ABSTRAK KARAKTERISTIK PASIEN OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS DI POLIKLINIK THT RSUP SANGLAH SELAMA PERIODE BULAN JANUARI JUNI 2013 Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) merupakan lanjutan dari episode initial
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Immunitas Niken Andalasari Sistem Imunitas Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh
BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan profil kesehatan provinsi Daerah Istimewa. Yogyakarta tahun 2012, penyakit infeksi masih menduduki 10
BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Berdasarkan profil kesehatan provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2012, penyakit infeksi masih menduduki 10 besar penyakit baik di puskesmas maupun di bagian
BAB 3 KERANGKA PENELITIAN
BAB 3 KERANGKA PENELITIAN 3.1 Kerangka Konseptual Dari hasil tinjauan kepustakaan serta kerangka teori tersebut serta masalah penelitian yang telah dirumuskan tersebut, maka dikembangkan suatu kerangka
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian dilakukan di klinik alergi Bagian / SMF THT-KL RS Dr. Kariadi
29 BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. HASIL PENELITIAN 4.1.1. Jumlah Sampel Penelitian Penelitian dilakukan di klinik alergi Bagian / SMF THT-KL RS Dr. Kariadi Semarang, didapatkan 44 penderita rinitis alergi
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah bidang Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian
GAMBARAN KUALITAS HIDUP PENDERITA SINUSITIS DI POLIKLINIK TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN RSUP SANGLAH PERIODE JANUARI-DESEMBER 2014
1 GAMBARAN KUALITAS HIDUP PENDERITA SINUSITIS DI POLIKLINIK TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN RSUP SANGLAH PERIODE JANUARI-DESEMBER 2014 Oleh: Sari Wulan Dwi Sutanegara 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN
KEPERAWATAN DEWASA. Otitis Media Akut dan Kronik. Oleh: KELOMPOK VIIII. Fitriani 023. A. Usmianti. Khumaerah PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
Tugas kelompok Dosen pembimbing: Abdul Majid, S.Kep., Ns., M.Kep. KEPERAWATAN DEWASA Otitis Media Akut dan Kronik Oleh: KELOMPOK VIIII Fitriani 023 A. Usmianti Khumaerah PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS
RINITIS ALERGI DI POLIKLINIK THT-KL BLU RSU PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2010 DESEMBER Elia Reinhard
RINITIS ALERGI DI POLIKLINIK THT-KL BLU RSU PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2010 DESEMBER 2012 1 Elia Reinhard 2 O. I. Palandeng 3 O. C. P. Pelealu Kandidat skripsi Fakultas Kedokteran Universitas
Korelasi otitis media dengan temuan nasoendoskopi pada penderita rinosinusitis akut
Laporan Penelitian Korelasi otitis media dengan temuan nasoendoskopi pada penderita rinosinusitis akut Ariel Anugrahani, Teti Madiadipoera, Arif Dermawan Departemen Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala
Famili : Picornaviridae Genus : Rhinovirus Spesies: Human Rhinovirus A Human Rhinovirus B
RHINOVIRUS: Bila Anda sedang pilek, boleh jadi Rhinovirus penyebabnya. Rhinovirus (RV) menjadi penyebab utama dari terjadinya kasus-kasus flu (common cold) dengan presentase 30-40%. Rhinovirus merupakan
BAB III METODE DAN PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL RSUD
BAB III METODE DAN PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL RSUD Dr. Moewardi Surakarta, RSUD Karanganyar, RSUD Sukoharjo, dan RSUD Boyolali.
BAB I PENDAHULUAN. 8,7% di tahun 2001, dan menjadi 9,6% di tahun
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Asma merupakan penyakit kronik yang sering ditemukan dan merupakan salah satu penyebab angka kesakitan pada anak di seluruh dunia. Di negara maju dan negara berkembang
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Otitis media supuratif kronik (OMSK) adalah suatu. infeksi kronis pada telinga tengah yang diikuti
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Otitis media supuratif kronik (OMSK) adalah suatu infeksi kronis pada telinga tengah yang diikuti perforasi pada membran timpani dengan riwayat keluarnya cairan bening
BAB I PENDAHULUAN. timbul yang disertai rasa gatal pada kulit. Kelainan ini terutama terjadi pada masa
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dermatitis atopik (DA) merupakan suatu penyakit peradangan kronik, hilang timbul yang disertai rasa gatal pada kulit. Kelainan ini terutama terjadi pada masa bayi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. endoskopis berupa polip atau sekret mukopurulen yang berasal dari meatus
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang kronik (RSK) merupakan inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal dengan jangka waktu gejala 12 minggu, ditandai oleh dua atau lebih gejala, salah satunya berupa hidung
ABSTRAK PREVALENSI INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT SEBAGAI PENYEBAB ASMA EKSASERBASI AKUT DI POLI PARU RSUP SANGLAH, DENPASAR, BALI TAHUN 2013
ABSTRAK PREVALENSI INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT SEBAGAI PENYEBAB ASMA EKSASERBASI AKUT DI POLI PARU RSUP SANGLAH, DENPASAR, BALI TAHUN 2013 Data WHO 2013 dan Riskesdas 2007 menunjukkan jumlah penderita
KRITERIA DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS
KRITERIA DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS Fairuziah Binti Bader Alkatiri Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana [email protected] ABSTRAK
BAB II. Kepustakaan. 2.1 Anatomi telinga luar
BAB II Kepustakaan 2.1 Anatomi telinga luar Secara anatomi, telinga dibagi atas 3 yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Telinga luar berfungsi mengumpulkan dan menghantarkan gelombang bunyi
BAB 1 PENDAHULUAN. kemudian akan mengalami asma dan rhinitis alergi (Djuanda, 2007). inflamasi dan edukasi yang kambuh-kambuhan (Djuanda,2007).
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dermatitis atopik atau gatal-gatal masih menjadi masalah kesehatan terutama pada anak-anak karena sifatnya yang kronik residif sehingga mempengaruhi kualitas hidup pasien
Pengaruh pengobatan konservatif terhadap mucociliar clearance tuba Eustachius penderita OMSK benigna aktif
Laporan Penelitian 1 Pengaruh pengobatan konservatif terhadap mucociliar clearance tuba Eustachius penderita OMSK benigna aktif Chintriany Hadiningsih, Raden Sedjawidada, Linda Kodrat Bagian Ilmu Kesehatan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Istilah atopik pertama kali diperkenalkan oleh Coca (1923), yaitu istilah yang dipakai untuk sekelompok penyakit pada individu yang mempunyai riwayat alergi/hipersensitivitas
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Rinitis Alergi adalah peradangan mukosa saluran hidung yang disebabkan
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Rinitis Alergi Rinitis Alergi adalah peradangan mukosa saluran hidung yang disebabkan alergi terhadap partikel, antara lain: tungau debu rumah, asap, serbuk / tepung sari yang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dasar diagnosis rinosinusitis kronik sesuai kriteria EPOS (European
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dasar diagnosis rinosinusitis kronik sesuai kriteria EPOS (European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyposis) 2012 adalah inflamasi hidung dan sinus paranasal
BAB 1 PENDAHULUAN. terjadi di Indonesia, termasuk dalam daftar jenis 10 penyakit. Departemen Kesehatan pada tahun 2005, penyakit sistem nafas
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyakit infeksi saluran nafas atas akut yang sering terjadi di Indonesia, termasuk dalam daftar jenis 10 penyakit terbanyak di rumah sakit. Menurut laporan
BAB 1 PENDAHULUAN. pada saluran napas yang melibatkan banyak komponen sel dan elemennya, yang sangat mengganggu, dapat menurunkan kulitas hidup, dan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asma dan rinosinusitis adalah penyakit yang amat lazim kita jumpai di masyarakat dengan angka prevalensi yang cenderung terus meningkat selama 20-30 tahun terakhir.
HUBUNGAN ANTARA RIWAYAT ALERGI KELUARGA, LAMA SAKIT DAN HASIL TES KULIT DENGAN JENIS DAN BERATNYA RINITIS ALERGI ARTIKEL
HUBUNGAN ANTARA RIWAYAT ALERGI KELUARGA, LAMA SAKIT DAN HASIL TES KULIT DENGAN JENIS DAN BERATNYA RINITIS ALERGI ARTIKEL Karya Tulis Ilmiah Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat dalam menempuh
BAB 6 PEMBAHASAN. Penelitian ini mengikutsertakan 61 penderita rinitis alergi persisten derajat
BAB 6 PEMBAHASAN 6.1. Karakteristik subyek penelitian Penelitian ini mengikutsertakan 61 penderita rinitis alergi persisten derajat ringan, sedang-berat dengan rerata usia subyek 26,6 ± 9,2 tahun, umur
Otitis Media Supuratif Kronik pada Anak
ARTIKEL PENELITIAN Otitis Media Supuratif Kronik pada Anak Muhamad Faris Pasyah, Wijana Departemen/SMF Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN RINOSINUSITIS PADA PENDERITA RINITIS ALERGI LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN RINOSINUSITIS PADA PENDERITA RINITIS ALERGI LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti ujian hasil Karya Tulis Ilmiah mahasiswa program
BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang ditemukan pada banyak populasi di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Otitis media supuratif kronis (OMSK) merupakan penyakit pada telinga yang merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang ditemukan pada banyak populasi di dunia
BAB I PENDAHULUAN. Rinitis alergi (RA) merupakan suatu inflamasi pada mukosa rongga hidung
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rinitis alergi (RA) merupakan suatu inflamasi pada mukosa rongga hidung yang disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe I yang dipicu oleh alergen tertentu.
BAB I PENDAHULUAN. sinus yang disebabkan berbagai macam alergen. Rinitis alergi juga merupakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rinitis alergi merupakan inflamasi kronis mukosa saluran hidung dan sinus yang disebabkan berbagai macam alergen. Rinitis alergi juga merupakan masalah kesehatan global
BAB I PENDAHULUAN. paranasaldengan jangka waktu gejala 12 minggu, ditandai oleh dua atau lebih gejala, salah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang (RSK) merupakaninflamasi mukosa hidung dan sinus paranasaldengan jangka waktu gejala 12 minggu, ditandai oleh dua atau lebih gejala, salah satunya berupa hidung tersumbat
Laporan Kasus SINUSITIS MAKSILARIS
Laporan Kasus SINUSITIS MAKSILARIS Pembimbing: drg. Ernani Indrawati. Sp.Ort Disusun Oleh : Oktiyasari Puji Nurwati 206.12.10005 LABORATORIUM GIGI DAN MULUT RSUD KANJURUHAN KEPANJEN FAKULTAS KEDOKTERAN
ABSTRAK KARAKTERISTIK PASIEN OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS DI RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2015
ABSTRAK KARAKTERISTIK PASIEN OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS DI RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2015 Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) merupakan radang kronik telinga tengah dengan perforasi membran timpani
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dermatitis Atopik (DA) adalah penyakit inflamasi pada kulit yang bersifat kronis dan sering terjadi kekambuhan. Penyakit ini terjadi akibat adanya kelainan pada fungsi
BAB 1 PENDAHULUAN. Secara fisiologis hidung berfungsi sebagai alat respirasi untuk mengatur
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara fisiologis hidung berfungsi sebagai alat respirasi untuk mengatur kondisi udara dengan mempersiapkan udara inspirasi agar sesuai dengan permukaan paru-paru,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Alergi merupakan suatu keadaan hipersensitivitas terhadap kontak atau pajanan zat asing (alergen) tertentu dengan akibat timbulnya gejala-gejala klinis, yang mana
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan. suatu kondisi di mana terjadi peradangan pada mukosa
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan suatu kondisi di mana terjadi peradangan pada mukosa telinga bagian tengah (auris media), tuba eustachius, dan antrum
BAB IV METODE PENELITIAN. Telinga, Hidung, dan Tenggorok Bedah Kepala dan Leher. Tempat : Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang
1 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup dalam penelitian ini mencakup bidang Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, dan Tenggorok Bedah Kepala dan Leher. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian
BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Rinosinusitis kronis disertai dengan polip hidung adalah suatu penyakit
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Rinosinusitis kronis disertai dengan polip hidung adalah suatu penyakit inflamasi yang melibatkan mukosa hidung dan sinus paranasal, dapat mengenai satu
BAB I PENDAHULUAN. yang berbatas pada bagian superfisial kulit berupa bintul (wheal) yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Urtikaria merupakan salah satu manifestasi keluhan alergi pada kulit yang paling sering dikeluhkan oleh pasien. Urtikaria adalah suatu kelainan yang berbatas pada bagian
A PLACEBO-CONTROLLED TRIAL OF ANTIMICROBIAL TREATMENT FOR ACUTE OTITIS MEDIA. Paula A. Tahtinen, et all
A PLACEBO-CONTROLLED TRIAL OF ANTIMICROBIAL TREATMENT FOR ACUTE OTITIS MEDIA Paula A. Tahtinen, et all PENDAHULUAN Otitis media akut (OMA) adalah penyakit infeksi bakteri yang paling banyak terjadi pada
Kata kunci : Otitis Media Akut, Karakteristik, Anak, Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya Denpasar.
ABSTRAK Latar Belakang : Otitis Media Akut (OMA) merupakan penyakit infeksi telinga tengah yang sering dijumpai terutama pada anak-anak. Anak-anak lebih rentan terhadap OMA karena anatomi dan sistemkekebalan
BAB 1 PENDAHULUAN. negara di seluruh dunia (Mangunugoro, 2004 dalam Ibnu Firdaus, 2011).
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asma merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai negara di seluruh dunia (Mangunugoro, 2004 dalam Ibnu Firdaus, 2011). Asma merupakan penyakit inflamasi
Mr rinto, 22 thn KU : discharge hidung kental dan kekuningan
Mx gejala camelia Mr rinto, 22 thn KU : discharge hidung kental dan kekuningan Nasal discharge Ad material spt mucus yg keluar dr hidung. Nama lainnya : Runny nose; Postnasal drip; Rhinorrhea Produksi
BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN. Eustachius dan prosessus mastoideus (Dhingra, 2007).
20 BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1. Anatomi telinga tengah Telinga tengah terdiri dari membran timpani, kavum timpani, tuba Eustachius dan prosessus mastoideus (Dhingra, 2007). 2.1.1. Membran Timpani Membran
