BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENGUJIAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENGUJIAN"

Transkripsi

1 BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENGUJIAN IV.1 Penentuan Skenario Penilaian Model penilaian perusahaan yang lazim digunakan adalah dividend discounted model (DDM). Model ini menilai suatu perusahaan berdasarkan dividen yang dibagikan kepada para pemegang sahamnya. Namun, ada beberapa perusahaan dengan laba yang cukup besar tidak pernah membayarkan dividennya, atau tidak membayarkan dividen secara teratur, ataupun dividen yang diberikan kepada pemegang saham tidak berhubungan langsung dengan laba yang diperoleh perusahaan pada tahun berjalan. Untuk perusahaan seperti ini, penggunaan DDM untuk menilai perusahaan akan menjadi kurang tepat. Selain DDM, model penilaian perusahaan berdasarkan arus kas dapat dibagi menjadi dua, yaitu free cash flow to equity (FCFE) dan free cash flow to firm (FCFF). Model penilaian FCFE digunakan apabila perusahaan memiliki komposisi utang yang stabil, sementara model FCFF digunakan untuk perusahaan yang memiliki komposisi utang yang tidak stabil. Penilaian perusahaan dengan FCFE dengan mendiskontokan required rate of return on equity (r), sedangkan penilaian perusahaan dengan FCFF merupakan penilaian untuk keseluruhan perusahaan, dengan mendiskontokan biaya modal rata-rata tertimbang (WACC). Dalam model FCFF, proporsi struktur modal perusahaan merupakan salah satu kunci dalam memaksimalkan nilai perusahaan. Selama periode , PT Astra International Tbk pernah satu kali tidak membagikan dividen yang biasanya dibayarkan dua kali dalam satu tahun. 31

2 Hal ini terjadi pada tahun 2008, dimana perusahaan hanya membayarkan dividennya satu kali saja. Perusahaan juga memiliki komposisi utang jangka panjang (non-current liabilities) yang kurang stabil dan berfluktuasi antara 24,96% 42,37%. Karena alasan-alasan tersebut di atas, maka penulis menggunakan model penilaian FCFF dalam melakukan penelitian. Di samping model penilaian, adapun tiga skenario penilaian untuk estimasi harga wajar saham, antara lain: 1. stable growth, dimana tidak ada pertumbuhan tinggi atau perusahaan sudah dalam pertumbuhan stabil. Stable growth umumnya digunakan apabila tingkat pertumbuhan perusahaan lebih kecil atau sama dengan tingkat pertumbuhan ekonomi; 2. two-stage growth, dimana akan ada pertumbuhan tinggi pada suatu periode, kemudian akan turun ke tingkat pertumbuhan stabil. Two-stage growth umumnya digunakan apabila tingkat pertumbuhan perusahaan lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan ekonomi dan perusahaan memiliki keunggulan kompetitif, akan tetapi keunggulan kompetitif tersebut dibatasi oleh waktu; 3. three-stage growth, dimana akan ada pertumbuhan tinggi pada suatu periode, kemudian tingkat pertumbuhan akan menurun bertahap ke tingkat pertumbuhan stabil. Three-stage growth umumnya digunakan apabila tingkat pertumbuhan perusahaan lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan ekonomi, dan perusahaan juga memiliki keunggulan kompetitif yang tidak dibatasi oleh waktu. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan salah satu dari ketiga skenario penilaian yang tersedia di atas, yaitu stable growth. PT Astra International Tbk. 32

3 merupakan perusahaan dengan enam lini bisnis dimana otomotif merupakan lini yang terpenting dan memberikan kontribusi kurang lebih 50% bagi pendapatan bersih perusahaan di tahun Penulis menggunakan skenario stable growth dengan beberapa asumsi. Pertama, banyak pesaing yang bergerak dalam bidang yang sama, bermain di pasar dengan kompetisi yang kuat, sehingga tidak memungkinkan bagi perusahaan untuk mencapai tingkat pertumbuhan tinggi yang bertahan lama, sehingga digunakan tingkat pertumbuhan yang lebih kecil atau sama dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Kedua, penulis juga berasumsi dengan keadaan sekarang ini, dimana di Indonesia rentan oleh kemacetan, kemacetan tersebut terjadi di mana-mana dan tidak hanya pada Ibukota DKI Jakarta saja. Salah satu faktor penyebab kemacetan yaitu tingkat pelebaran jalan yang lebih lambat daripada tingkat pertumbuhan kendaraan. Dengan keadaan seperti ini, lama kelamaan masyarakat akan jenuh untuk memiliki atau membeli kendaraan baru, sehingga pendapatan perusahaan cenderung stabil. Ketiga, penulis mengasumsikan adanya AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang mempengaruhi perekonomian di Indonesia. Perkembangan terakhir yang terkait dengan AFTA adalah adanya kesepakatan untuk menghapuskan semua bea masuk impor barang bagi Brunai Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapura dan Thailand pada tahun 2010, dan bagi Cambodia, Laos, Myanmar dan Vietnam pada tahun Dengan adanya AFTA 2010, di mana produk-produk luar negeri akan masuk ke Indonesia tanpa dipungut bea cukai, maka produk-produk perusahaan lokal harus siap bersaing dengan produk luar 33

4 negeri tersebut. Hal ini akan berdampak pada penjualan perusahaan lokal yang mungkin tingkat pertumbuhannya tidak sepesat seperti tahun sebelumnya. Keempat, penulis berasumsi bahwa tingkat pertumbuhan perusahaan tidak lebih dari tingkat pertumbuhan ekonomi karena harga baja domestik diprediksi meningkat untuk pengiriman April Juni Kenaikan harga baja domestik dipengaruhi oleh melonjaknya harga bahan baku baja, dan permintaan baja di China dan luar China yang meningkat. Perusahaan menggunakan bahan baku baja dalam divisi otomotifnya. Apabila harga baja naik, maka harga pokok produk juga akan meningkat, yang akan berdampak pada laba perusahaan yang semakin kecil atau turun. Oleh karena itu, penulis berasumsi bahwa tingkat pertumbuhan perusahaan untuk tahun 2010 akan lebih kecil atau sama dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan menggunakan skenario stable growth dalam penelitian ini. Dalam skenario penilaian stable growth, akan diuraikan perhitungan dan analisis biaya modal rata-rata tertimbang serta arus kas bebas perusahaan untuk mengestimasikan harga wajar saham periode IV.2 Analisis Biaya Modal Rata-rata Tertimbang Penilaian saham dapat digunakan dengan dua cara, yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal. Dalam penelitian ini penulis menggunakan analisis fundamental, yaitu mengevaluasi nilai suatu saham dengan menggunakan data-data keuangan untuk menilai kinerja perusahaan dan potensi pertumbuhan di masa mendatang. Data-data historis ini akan digunakan untuk memprediksi pergerakan saham ke depan. 34

5 Penelitian menggunakan data historis lima tahun yang lalu yaitu tahun 2005 sampai dengan 2009, yang diproyeksikan ke periode 2010 seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2010, sehingga dapat diketahui estimasi harga wajar saham pada tahun 2010 dengan me-nilai sekarang-kan estimasi arus kas bebas yang diperoleh perusahaan tahun Estimasi harga wajar saham PT Astra International Tbk. menggunakan pendekatan biaya modal rata-rata tertimbang (WACC). Untuk memperoleh WACC, harus diketahui terlebih dahulu nilai dari tiap-tiap komponen biaya yang berada di dalamnya, antara lain: biaya utang setelah pajak (k d (1 T)), biaya saham preferen (k p ), dan biaya laba yang ditahan (k s ). Untuk menghitung biaya utang setelah pajak dan biaya saham preferen (jika ada) relatif mudah, akan tetapi untuk menghitung biaya laba yang ditahan cukup sulit. Berikut ini akan dibahas metode perhitungan biaya laba yang ditahan dengan pendekatan capital asset pricing model (CAPM), biaya utang, sampai dengan WACC. IV.2.1 Pendekatan CAPM Pendekatan yang paling umum digunakan untuk menghitung biaya laba yang ditahan (k s ) atau disebut juga biaya ekuitas adalah dengan menggunakan pendekatan Capital Asset Pricing Model (CAPM). Data-data yang diperlukan untuk menghitung biaya ekuitas yaitu harga saham PT Astra International (ASII), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) per tahun yang berubah-ubah tiap bulan selama periode 2005 sampai dengan

6 40,000 35,000 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 Gambar IV.1 : Pergerakan Harga Saham ASII dan IHSG ASII IHSG 3,000 2,500 2,000 1,500 1, Jan 05 Jul 05 Jan 06 Jul 06 Jan 07 Jul 07 Jan 08 Jul 08 Jan 09 Jul 09 Berdasarkan grafik pergerakan harga saham ASII dan IHSG di atas, selama periode diketahui trend IHSG cenderung naik selama periode Januari 2005 sampai dengan Februari 2008, kemudian IHSG terus menurun tajam sampai dengan November 2008 hingga mencapai 1.241,54. Penurunan IHSG dipengaruhi oleh krisis keuangan global tahun 2008, sehingga memaksa Otoritas Bursa untuk melakukan penghentian perdagangan selama 3 hari untuk mencegah terpuruknya bursa akibat sentimen negatif. Setelah itu IHSG kembali naik sedikit demi sedikit. Peningkatan tajam terjadi pada Februari sampai dengan Juli Titik terendah IHSG sebesar 1.029,61 pada April 2005 dan titik tertinggi 2.745,83 pada Desember Hampir sama dengan pergerakan IHSG, trend harga saham ASII terus naik dari titik terendah Rp pada November 2005 hingga mencapai titik tertinggi Rp pada Desember Harga saham ASII pernah jatuh drastis pada 36

7 Oktober 2008 menjadi Rp dan harga tersebut merupakan penutupan terendah saham ASII selama periode Namun seiring dengan pemulihan IHSG, saham ASII naik tajam terutama pada bulan Februari 2009 sampai dengan Juli Pertama-tama, penulis melakukan perhitungan tingkat pengembalian harga saham ASII yang disimbolkan dengan Ri, dan tingkat pengembalian IHSG yang disimbolkan dengan Rm atau k M. k M merupakan tingkat pengembalian pasar. Contoh perhitungan aritmatika tingkat pengembalian ASII dan IHSG pada bulan Februari 2005 terhadap ASII dan IHSG bulan Januari T ingkat Pengembalian ASII Feb 2005 = Nilai ASII Feb Nilai ASII Jan 2005 Nilai ASII Jan 2005 Tingkat Pengembalian IHSG Feb 2005 = = (Rp Rp ) / Rp = 7,46% Nilai IHSG Feb Nilai IHSG Jan 2005 Nilai IHSG Jan 2005 = (1.073, ,44) / 1.045,44 = 2,72% Berdasarkan perhitungan di atas, dapat disimpulkan bahwa terjadi kenaikkan harga ASII pada Februari 2005 dibandingkan dengan bulan Januari 2005 yang menyebabkan tingkat pengembalian bernilai positif sebesar 7,46%. Begitu pula dengan IHSG, tingkat pengembalian pasar naik sebesar 2,72% yang artinya pasar saham secara keseluruhan semakin baik. Kinerja perusahaan yang makin baik merupakan salah satu penyebab kenaikkan tingkat pengembalian harga saham ASII melebihi tingkat pengembalian IHSG. Untuk perhitungan bulan selanjutnya sama dengan contoh di atas, dan dilakukan sampai dengan 37

8 Desember Pergerakan tingkat pengembalian ASII dan IHSG periode 2005 sampai dengan 2009 dapat dilihat pada Gambar IV.2 Gambar IV.2 : Pergerakan Tingkat Pengembalian ASII dan IHSG 40% 30% 20% 10% 0% 10% 20% 30% 40% ASII (Ri) IHSG (Rm) 50% Feb 05 Aug 05 Feb 06 Aug 06 Feb 07 Aug 07 Feb 08 Aug 08 Feb 09 Aug 09 Berdasarkan grafik pergerakan tingkat pengembalian ASII dan IHSG di atas, selama periode diketahui trend tingkat pengembalian IHSG terus berfluktuasi, dengan titik terendah -31,42% pada Oktober 2008 dan titik tertinggi 20,13% pada April Rata-rata tingkat pengembalian IHSG selama periode sebesar 1,51% per bulan atau 18,15% per tahun. Rata-rata tingkat pengembalian IHSG dihitung dengan geometric average karena datanya berfluktuatif. GMR = 1 + tk. pengembalian 1 + tk. pengembalian x x 1 + tk. pengembalian - 1 IHSG Feb 2005 IHSG Mar 2005 IHSG Des 2009 jml data 59 = 1 + 2,72% 1 + 0,59% 1 4,68% x x 1 + 4,91% - 1 = 1,51% 38

9 Hampir sama dengan tingkat pengembalian IHSG, trend tingkat pengembalian ASII juga berfluktuasi dengan titik terendah -45,32% pada Oktober 2008 dan titik tertinggi 32,99% pada Oktober Harga saham ASII yang jatuh juga mempengaruhi tingkat pengembaliannya. Pada Oktober 2008 sewaktu tingkat pengembalian IHSG turun, ASII turun lebih tajam daripada pasar. Hal ini menunjukkan bahwa ASII sensitif terhadap pasar. Tingkat sensitivitas ini juga dapat dibuktikan dengan perhitungan beta perusahaan. Ratarata tingkat pengembalian ASII selama periode sebesar 2,12% per bulan atau 25,47%. Rata-rata tingkat pengembalian ASII dihitung dengan geometric average karena datanya berfluktuatif. GMR = 1 + tk. pengembalian 1 + tk. pengembalian x x 1 + tk. pengembalian - 1 ASII Feb 2005 ASII Mar 2005 ASII Des 2009 jml data 59 = 1 + 7,46% 1 2,78% 1 + 0,48% x x 1 + 7,26% - 1 = 2,12% Kedua, penulis melakukan perhitungan beta yang disimbolkan dengan b i. Beta ditentukan berdasarkan tingkat pengembalian ASII dan IHSG. Beta dihitung dengan menggunakan fungsi SLOPE dalam software Microsoft Excel. Perhitungan beta sebagai berikut. Beta =SLOPE(Ri;Rm) = 1,42 Ri merupakan tingkat pengembalian ASII per bulan, sedangkan Rm adalah tingkat pengembalian IHSG per bulan selama periode Beta yang dihasilkan melalui perhitungan sebesar 1,42, sedangkan beta menurut Business & Financial News, Breaking US & International News ( pada tanggal 25 Juli 2010 adalah sebesar 1,44. Beta hasil perhitungan dan reuters tidak 39

10 berbeda jauh, oleh karena itu penulis menggunakan beta hasil perhitungan untuk melakukan analisis selanjutnya. Beta senilai 1,42 artinya harga saham ASII sensitif terhadap pasar dan juga lebih agresif atau spekulatif daripada pasar. Apabila perekonomian pasar sedang membaik, harga saham ASII dapat naik dengan pesat melebihi IHSG, ataupun sebaliknya. Semakin besar nilai beta, berarti semakin besar pula resiko saham tersebut. Setelah tingkat pengembalian pasar (Rm) dan Beta (b i ) telah diukur, maka hal ketiga yang dilakukan adalah menentukan tingkat bunga BI (BI Rate) yang disimbolkan dengan k RF. BI rate merupakan dasar tingkat pengembalian bebas risiko yang menjadi acuan suku bunga bagi bank-bank di Indonesia. BI rate yang digunakan adalah BI rate pada Desember 2009 yaitu sebesar 6,50% per tahun. BI rate memiliki titik terendah hingga 6,50% pada Agustus sampai dengan Desember 2009 dan memiliki titik tertingginya 12,75% pada Desember 2005 sampai dengan April Hal ini berarti mengestimasikan biaya ekuitas dimulai dari 6,50% kemudian kenaikkan atau penurunannya mencerminkan risiko saham seperti yang diukur oleh koefisien betanya. Dari hasil perhitungan ketiga komponen biaya ekuitas, yaitu: tingkat pengembalian pasar (k M ), beta (b i ) dan BI rate (k RF ), maka akan didapat biaya ekuitas dengan pendekatan CAPM. Tingkat pengembalian pasar (k M ) yang dipakai adalah 18,15% karena k s yang dipakai untuk menghitung WACC yang relevan dengan FCFF adalah data setahun. Perhitungan biaya ekuitas dengan pendekatan CAPM sebagai berikut. 40

11 k s = k RF + (k M k RF ) b i = 6,50% + (18,15% 6,50%) 1,42 = 23,03% Perhitungan biaya ekuitas (k s ) beserta komponen-komponennya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel IV.1 : Perhitungan k s dengan Pendekatan CAPM Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa selama periode tingkat pengembalian harga saham ASII sebesar 2,12% per bulan atau sebesar 25,47% per tahun. Tingkat pengembalian IHSG atau pasar sebesar 1,51% atau sebesar 18,15% per tahun. Tingkat pengembalian ASII lebih besar daripada tingkat pengembalian pasar yang artinya harga saham ASII bergerak lebih cepat dibandingkan pasar dan menyebabkan harga saham ASII terus melonjak naik melebihi rata-rata pergerakan pasar. Hal ini akan membuat para investor tertarik untuk investasi pada saham ASII. Setelah dilakukan perhitungan, koefisien beta yang menggambarkan sensitivitas suatu saham terhadap pasar nilainya sebesar 1,42. Artinya apabila pasar berubah 1%, maka saham ASII berubah sebesar 1,42%. Saham yang koefisien betanya lebih dari 1,0 berarti saham tersebut lebih agresif daripada pasar atau dengan kata lain, saham ASII bersifat spekulatif. Apabila beta naik sebanyak 0,1; maka nilai k s naik sebesar 1,16%, hal ini menunjukkan bahwa 41

12 saham ASII beresiko tinggi. Sedangkan untuk BI Rate atau tingkat pengembalian bebas risiko nilainya 6,50% per tahun pada Desember Dengan metode CAPM, ketika dilakukan perhitungan diperoleh nilai k s = 23,03%. Biaya ekuitas (k s ) yang diperoleh sebesar 23,03% menunjukkan tingkat pengembalian minimum yang harus diharapkan manajemen untuk menjustifikasi saldo laba ditahan dan menanamkannya kembali ke dalam bisnis daripada membayarkannya kepada pemegang saham sebagai dividen. Dengan kata lain, karena investor memiliki peluang untuk mendapatkan 23,03% jika laba dibayarkan kepada mereka sebagai dividen, maka biaya kesempatan perusahaan untuk ekuitas dari saldo laba ditahan adalah 23,03%. Nilai k s inilah yang akan dijadikan dasar untuk menghitung WACC. IV.2.2 Biaya Utang Biaya utang pada umumnya adalah biaya yang ditanggung perusahaan apabila perusahaan memiliki utang kepada pihak-pihak tertentu. Menentukan nilai biaya utang (k d ) pada suatu perusahaan tidak sesulit menentukan biaya laba yang ditahan atau biaya ekuitas (k s ). Data-data yang diperlukan untuk menentukan biaya utang yaitu tingkat bunga bebas resiko (k RF ) atau BI rate Desember 2009, default spread for country dan default spread for firm berdasarkan peringkat Pefindo (Pefindo rating) pada catatan atas laporan keuangan 2009 yang disesuaikan dengan default spread for rating classes: Early 2009 (Sumber: Damodaran, 2010: p.92). 42

13 Tabel IV.2 : Default Spreads for Rating Classes (Early 2009) Rating Default Spread Inte rest Rate of Bond AAA 1,25% 4,75% AA 1,75% 5,25% A+ 2,25% 5,75% A 2,50% 6,00% A- 3,00% 6,50% BBB 3,50% 7,00% BB 4,25% 7,75% B+ 5,00% 8,50% B 6,00% 9,50% B- 7,25% 10,75% CCC 8,50% 12,00% CC 10,00% 13,50% C 12,00% 15,50% D 15,00% 18,50% Rata-rata pefindo rating surat berharga yang diterbitkan memiliki peringkat AA-, namum karena peringkat tersebut tidak ada dalam tabel di atas, maka penulis mengambil peringkat satu level di bawah AA- yaitu peringkat A+. Default spread for country dan default spread for firm pada peringkat A+ masing-masing bernilai 2,25% dan 5,75%. BI rate pada Desember 2009 sebesar 6,50%. Perhitungan biaya utang (k d ) adalah sebagai berikut. k d 2009 = k RF + Default spread for country + Default spread for firm = 6,50% + 2,25% + 5,75% = 14,50% Berdasarkan perhitungan di atas, dapat disimpulkan bahwa biaya utang pada tahun 2009 cukup tinggi yaitu 14,50%, yang artinya perusahaan harus membayar bunga yang tinggi untuk utang baru yang dipinjam perusahaan. Perhitungan k d berdasarkan tingkat suku bunga Bank Indonesia yang dipengaruhi oleh rating default spread for country dan default spread for firm pada perusahaan tersebut. 43

14 Tarif pajak mempengaruhi biaya utang, dimana bunga yang dikenakan atas utang tersebut adalah biaya yang dapat dikurangkan atau dengan kata lain bunga akan memberikan pengurangan pajak yang mengurangi biaya utang bersih. Jadi, penulis juga harus menentukan besarnya persentase pajak pada periode Perhitungan persentase pajak untuk tahun Pajak % 2009 = Pajak 2009 Laba sebelum pajak 2009 = Rp Rp = 24,13% Berdasarkan hasil persentase pajak di atas, dapat diketahui bahwa secara keseluruhan perusahaan membayar pajak tahun 2009 sebesar 24,13% dari laba sebelum pajak pada tahun Penulis menghitung tarif pajak dengan menggunakan pembayaran pajak yang dilakukan perusahaan berdasarkan laba sebelum pajak pada laporan komersial perusahaan, tanpa memperhatikan peraturan tarif pajak yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak pada periode 2009 yaitu sebesar 28% untuk Wajib Pajak Badan. Tarif pajak ini yang akan digunakan untuk menentukan biaya utang setelah pajak. Tarif pajak menjadi pengurang biaya utang, sehingga biaya utang setelah pajak adalah 11,00% yang artinya perusahaan harus menyanggupi membayar suku bunga 11,00% kepada kreditor apabila melakukan penambahan utang baru. IV.2.3 Biaya Modal Rata-rata Tertimbang Pada PT Astra International Tbk. biaya modalnya hanya menggunakan dua sumber dana saja, yaitu utang jangka panjang dan laba ditahan atau ekuitas. Dapat dinyatakan demikian, karena selama periode , perusahaan 44

15 tidak mengeluarkan saham preferen ataupun saham biasa baru untuk menambah modalnya. Perusahaan hanya menggunakan utang jangka panjang dan ekuitas saham sebagai sumber pendanaan perusahaan selama periode tersebut. Data yang dibutuhkan untuk menghitung proporsi struktur modal perusahaan adalah laporan keuangan perusahaan dalam bentuk neraca (balance sheet) selama periode 2005 sampai dengan Total komponen modal merupakan total keseluruhan sumber pendanaan (kewajiban jangka panjang dan saham biasa atau ekuitas). Contoh perhitungan proporsi struktur modal perusahaan tahun W d 2005 = total utang jangka panjang 2005 / total komponen modal 2005 = Rp / Rp = 42,37% W s 2005 = total saham biasa 2005 / total komponen modal 2005 = Rp / Rp = 57,63% Pada perhitungan untuk tahun 2005 diperoleh proporsi struktur modal perusahaan 42,37% utang dan 57,63% ekuitas biasa. Artinya, setiap penambahan modal pada tahun 2005, akan terdiri atas 42,37% utang dan 57,63% ekuitas biasa. Begitu pula perhitungan proporsi struktur modal dan penjelasan untuk tahun 2006 sampai dengan Setiap perusahaan akan memiliki sebuah struktur permodalan yang optimal, yang didefinisikan sebagai campuran utang, dan saham biasa yang menyebabkan harga sahamnya dapat dimaksimalkan. PT Astra International Tbk. memiliki struktur modal yang tidak tetap setiap tahunnya selama periode , jadi penulis mengambil struktur permodalan tahun terakhir (tahun 2009) yang dianggap sebagai struktur permodalan optimal perusahaan, yaitu terdiri dari 45

16 24,96% utang dan 75,04% ekuitas biasa. Artinya, setiap penambahan modal pada perusahaan terdiri atas 24,96% utang dan 75,04% ekuitas atau saham biasa. Setelah menentukan semua komponen WACC, yaitu rata-rata komponen biaya utang setelah pajak, biaya laba ditahan, dan proporsi struktur modal perusahaan, maka akan dapat menghitung WACC. Perhitungan WACC PT Astra International Tbk. dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel IV.3 : Biaya Modal Rata-rata Tertimbang (WACC) Berdasarkan hasil perhitungan WACC di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap penambahan satu rupiah pada modal PT Astra International Tbk. akan terdiri dari 24,96 sen utang dengan biaya setelah pajak sebesar 11,00%; dan 75,04 sen ekuitas biasa dengan biaya 23,03%. WACC bernilai 20,02%, artinya ekspektasi tingkat pengembalian yang diminta oleh investor utang maupun ekuitas sebesar 20,02%. Selama PT Astra International Tbk. tetap menjaga struktur permodalannya untuk selalu tepat pada sasarannya, dan sepanjang komponen biayanya tetap bernilai sama, maka biaya modal rata-rata tertimbangnya akan menjadi 20,02%. IV.3 Free Cash Flow to Firm Free cash flow to firm (FCFF) akan mencerminkan kas yang benar-benar tersedia untuk didistribusikan kepada para investor dan lebih relevan untuk 46

17 digunakan ketika mengestimasikan nilai dari suatu perusahaan. Nilai dari operasi sebuah perusahan akan bergantung pada seluruh arus kas bebas yang diharapkan di masa mendatang. Oleh karena itu, penulis melakukan perhitungan arus kas bebas (FCFF), yang kemudian akan dikombinasikan dengan biaya modal ratarata tertimbang untuk menentukan estimasi harga wajar saham. Data yang diperlukan untuk menghitung arus kas bebas berasal dari laporan keuangan PT Astra International Tbk. periode , komponen FCFF yaitu, laba operasi setelah pajak (EBIT (1 T)), penyusutan dan amortisasi (depreciation and amortization), pengeluaran modal (capital expenditure), dan perubahan modal kerja (change in working capital). Berbeda dengan komponen FCFF lainnya, nilai EBIT (1 T) tidak didapatkan secara langsung dari laporan keuangan perusahaan. Perhitungan EBIT dilakukan dengan menjumlahkan laba sebelum pajak penghasilan (profit before income tax) pada laporan laba rugi dengan beban bunga (interest expense). Kemudian dihitung nilai EBIT setelah pajak untuk tahun tersebut. Contoh perhitungan EBIT (1 T) tahun 2005 sebagai berikut. EBIT 1 T = laba sebelum pajak beban bunga 2005 (1 pajak (%) = Rp Rp (1 22,82% = Rp Grafik masing-masing komponen arus kas bebas dapat dilihat pada Gambar IV.3 di bawah ini. 47

18 Trillions Gambar IV.3 : Komponen FCFF Periode EBIT (1 T) Depre. & Amort. CapEx Chg. in WC EBIT (1 T) perusahaan secara keseluruhan semakin meningkat dan naik tajam pada tahun 2006 sampai dengan tahun Pada tahun 2006 terjadi penurunan nilai EBIT (1 T) karena pendapatan perusahaan menurun sebesar 10% dari tahun 2005 yang diakibatkan menurunnya penjualan divisi otomotif sebesar 19% dan peningkatan 4% pada divisi non-otomotif. Untuk depreciation and amortization meningkat secara bertahap dari 2005 sampai dengan Capital expenditure bergerak seiring dengan EBIT (1 T), apabila EBIT (1 T) tinggi, maka capital expenditure juga nilainya tinggi, tetapi nilainya tidak melebihi EBIT (1 T). Pada tahun 2005 capital expenditure hampir mendekati nilai EBIT (1 T) atau nilainya cukup tinggi karena perusahaan mengalokasikan capital expenditure pada akuisisi 35% kepemilikan di PT Toyo Fuji Logistic Indonesia. Pada tahun 2008, capital expenditure juga naik cukup tinggi dari tahun sebelumnya karena dialokasikan pada peningkatan kepemilikan saham 48

19 pada PT Marga Mandalasakti dari 34% menjadi 62,6%. Sedangkan untuk change in working capital nilainya berfluktuasi, pada tahun 2006 dan tahun 2009 modal kerja perusahaan bernilai negatif. Hal ini berarti perusahaan berhasil meningkatkan modal kerja sendiri lebih banyak daripada tahun sebelumnya, atau kegiatan operasi perusahaan berhasil menambah arus kas atau EBIT (1 T). Data-data yang diperlukan untuk menghitung arus kas bebas tersedia pada laporan keuangan perusahaan, jadi dapat dengan mudah dilakukan perhitungan arus kas bebas setiap tahunnya. FCFF dihitung selama periode 2005 sampai dengan Berikut contoh perhitungan FCFF tahun 2005 dan tabel FCFF selama periode FCFF = EBIT (1 - T) Depreciation 2005 Capital Expenditure 2005 Working Capital 2005 FCFF = Rp Rp Rp Rp = Rp Tabel IV.4 : Free Cash Flow to Firm (FCFF) 49

20 Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa kas yang tersedia untuk didistribusikan kepada para investor berfluktuasi, namun di akhir tahun 2009 nilainya meningkat. Pada tahun 2005, FCFF nilainya kecil karena perusahaan melakukan beberapa pengeluaran modal (capital expenditure) yang cukup besar antara lain joint venture 50:50 dengan Toyota Financial Service Corporation of Japan pada 14 Oktober 2005, dan membeli 35% saham PT Toyo Fuji Logistic Indonesia pada 9 Desember Ketersediaan FCFF untuk didistribusikan kepada pemegang saham yang semakin meningkat merupakan salah satu faktor yang akan membuat investor baru tertarik untuk berinvestasi atau membeli saham PT Astra International Tbk. Setelah menghitung FCFF periode 2005 sampai dengan 2009, selanjutnya adalah menilai perusahaan dengan men-nilai sekarang-kan FCFF tahun 2010, yaitu FCFF tahun 2009 di tambahkan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia. IV.4 Estimasi Harga Wajar Saham Pada sub-bab sebelumnya telah dibahas mengenai biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) sebesar 20,02% dan free cash flow to firm (FCFF) tahun 2009 yang akan digunakan untuk melakukan penilaian harga wajar saham PT Astra International Tbk. tahun Model penilaian yang akan digunakan oleh penulis untuk mengestimasi harga wajar saham yaitu model penilaian FCFF. 50

21 IV.4.1 Price to Book Value (PBV) Pada perhitungan dengan model penilaian FCFF, akan didapatkan nilai buku saham pada tahun 2010, maka untuk mendapatkan nilai wajar sahamnya, harus diketahui rasio nilai pasar/nilai buku atau (PBV ratio) terlebih dahulu selama 5 tahun terakhir yaitu periode Data yang diperlukan untuk melakukan perhitungan PBV ratio, yaitu harga pasar per lembar saham per Desember periode yang dapat diperoleh melalui website umum, dan nilai buku per lembar saham yang diperoleh dari laporan keuangan perusahaan. Nilai buku per lembar saham atau sering disebut book value (BV) dihitung dengan melakukan pembagian antara jumlah ekuitas perusahaan dengan jumlah saham beredar. Contoh perhitungan nilai buku per saham tahun Nilai buku per lembar saham 2005 = Ekuitas saham biasa 2005 Jumlah saham beredar 2005 = Rp = Rp Nilai buku per lembar saham tahun 2005 sebesar Rp artinya nilai aset perusahaan yang secara teoritis akan diterima pemegang saham jika perusahaan tersebut dijual atau dilikuidasi sebesar Rp per lembar saham. Untuk nilai buku per lembar saham tahun dilakukan dengan cara yang sama seperti di atas. Setelah itu dilakukan perbandingan dengan harga pasar aktualnya atau menghitung PBV ratio. Contoh perhitungan PBV ratio tahun PBV ratio 2005 = Harga pasar per lembar saham 2005 Nilai buku per lembar saham 2005 = Rp Rp = 2,02 51

22 PBV ratio tahun 2005 sebesar 2,02 yang artinya nilai pasar saham harganya 2,02 kali daripada harga bukunya, perusahaan memiliki nilai/citra yang bagus dalam bisnisnya yang tercermin dalam harga saham perusahaan. Untuk perhitungan PBV ratio tahun sama seperti perhitungan di atas. Berikut ini tabel PBV ratio selama lima tahun terakhir (periode ). Tabel IV.5 : PBV ratio Pada tabel di atas, diketahui bahwa pada tahun 2007, perusahaan memiliki harga pasar yang bagus yaitu 4,10 kali dari nilai bukunya. Namun, pada tahun 2008, perusahaan terkena dampak krisis global sehingga PBV ratio menurun menjadi 1,29 dan merupakan PBV ratio terkecil selama periode Pada tahun 2009 harga pasar saham perusahaan mulai meningkat sampai dengan saat ini. Rata-rata PBV ratio selama periode yaitu 2,75. IV.4.2 Tingkat Pertumbuhan FCFF Selain PBV ratio, untuk melakukan penilaian harga wajar saham, penulis harus menentukan tingkat pertumbuhan FCFF berdasarkan scenario growth yang telah dipilih dan dibahas pada awal bab IV ini. Penulis telah memilih skenario 52

23 stable growth dimana tingkat pertumbuhan perusahaan lebih kecil atau maksimal sebesar tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun Pada dasarnya pertumbuhan FCFF jarang sekali melewati pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, maka pertumbuhan FCFF diasumsikan sama dengan pertumbuhan ekonomi. Penulis melakukan estimasi harga wajar saham pada awal tahun 2010 dan juga pada awal April 2010 Pada awal Januari 2010, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2010 sebesar 5,00% 5,50% dengan tingkat inflasi 5% 6% selama tahun Oleh karena itu, penulis menggunakan tingkat pertumbuhan maksimal sebesar 5,50% untuk mengestimasi harga wajar saham awal tahun Pada April 2010, Bank Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2010 berkisar antara 5,50% 6,00%. Oleh karena itu, penulis menggunakan tingkat pertumbuhan 6,00% untuk mengestimasi harga wajar saham awal April IV.4.3 Estimasi Harga Wajar Saham Awal 2010 Setelah mengetahui tingkat pertumbuhan FCFF yang diharapkan untuk tahun selanjutnya, maka dalam estimasi harga wajar saham dengan model penilaian FCFF, penulis melakukan perhitungan secara bertahap. Pertama-tama, penulis melakukan perhitungan nilai perusahaan berdasarkan FCFF tahun 2009 yang tumbuh sesuai dengan tingkat pertumbuhan yang diharapkan, kemudian dibagi dengan selisih WACC dengan tingkat pertumbuhan tersebut. Perhitungan nilai perusahaan sebagai berikut. 53

24 Nilai perusahaan Jan 2010 = FCFF 2009 x (1 + tingkat pertumbuhan FCFF) (WACC tingkat pertumbuhan FCFF) = Rp x (1 + 5,50%) (20,02% 5,50%) = Rp Nilai perusahaan PT Astra International cukup tinggi, nilai ini mencerminkan nilai perusahaan yang memiliki proyeksi arus kas yang besar untuk didistribusikan kepada kreditor dan pemegang saham. Nilai perusahaan ini juga merupakan prospek ke depan perusahaan yang akan tercermin dalam harga sahamnya yang semakin tinggi. Nilai perusahaan merupakan total dari kewajiban dan ekuitas yang terdapat pada perusahaan tersebut, maka untuk mendapatkan nilai ekuitas biasa, total nilai perusahaan harus dikurangkan dengan book value (BV) utang tahun 2009 sebesar Rp Nilai ekuitas biasa tersebut merupakan nilai yang tersisa bagi pemegang saham. Semakin besar nilai ekuitas biasa, maka semakin besar estimasi harga buku saham perusahaan tersebut. Estimasi harga buku saham tahun 2010 merupakan hasil bagi antara nilai ekuitas biasa dengan jumlah saham yang beredar. Jumlah saham yang beredar dari tahun 2005 sampai dengan 2009 jumlahnya tetap yaitu lembar saham. Perhitungan nilai ekuitas biasa dan estimasi harga buku saham tahun 2010 dengan tingkat pertumbuhan FCFF 5,50% adalah sebagai berikut. Nilai ekuitas biasa Jan 2010 = Nilai perusahaan Jan 2010 Total kewajiban = Rp Rp = Rp Estimasi harga buku saham Jan 2010 = Nilai ekuitas biasa Jan 2010 Jumlah saham beredar 54

25 = Rp = Rp Estimasi harga buku saham berdasarkan model penilaian FCFF sebesar Rp per lembar saham atau mengarah ke Rp per lembar saham. Untuk mendapatkan harga wajar saham, maka estimasi harga buku saham harus dikalikan dengan rata-rata PBV ratio sebesar 2,75. Perhitungan estimasi harga wajar saham awal 2010 sebagai berikut. Harga wajar saham Jan 2010 = Estimasi harga buku saham Jan 2010 x PBV ratio = Rp x 2,75 = Rp Berdasarkan hasil perhitungan di atas, maka estimasi harga wajar saham di awal 2010 sebesar Rp per lembar saham atau mengarah ke Rp per lembar saham. Harga wajar ini sangat berbeda jauh dengan harga aktual awal Januari 2010 yaitu sebesar Rp Perbedaan ini terjadi karena perbedaan asumsi yang digunakan oleh penulis dengan asumsi dari para investor marginal di pasar. Penulis berpandangan pesimis dan hati-hati dalam menentukan setiap perhitungan yang dipakai, sehingga menyebabkan harga wajar saham nilainya berada di bawah harga pasar. IV.4.4 Estimasi Harga Wajar Saham April 2010 Dalam mengestimasi harga wajar saham April 2010, pertama-tama dilakukan perhitungan FCFF berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama tahun 2010 (belum diaudit). Kemudian, hasil FCFF kuartal pertama tahun 2010 tersebut ditambahkan dengan FCFF 2009 dan dikurangkan dengan FCFF kuartal 55

26 pertama tahun 2009 untuk mendapatkan FCFF selama setahun yang berakhir tanggal 31 Maret Tabel IV.6 : Perhitungan FCFF 2010 Dalam mengestimasi bulan April 2010, penulis menggunakan tingkat pertumbuhan FCFF sebesar 6,00%. Sama halnya seperti di atas, dalam estimasi harga wajar saham dengan model penilaian FCFF, penulis melakukan perhitungan secara bertahap. Pertama-tama, penulis melakukan perhitungan nilai perusahaan berdasarkan FCFF April tahun 2010 yang tumbuh sesuai dengan tingkat pertumbuhan yang diharapkan, kemudian dibagi dengan selisih WACC dengan tingkat pertumbuhan tersebut. Perhitungan nilai perusahaan sebagai berikut. 56

27 Nilai perusahaan Apr 2010 = FCFF 2010 (Q1) x (1 + tingkat pertumbuhan FCFF) (WACC tingkat pertumbuhan FCFF) = Rp x (1 + 6,00%) (20,02% 6,00%) = Rp Nilai perusahaan PT Astra International cukup tinggi pada April 2010 dibandingkan dengan Januari 2010, nilai ini mencerminkan keadaan perusahaan yang semakin baik di tahun BV utang tahun 2009 dan jumlah saham yang beredar sama yaitu Rp dan lembar saham. Perhitungan nilai ekuitas biasa dan estimasi harga buku saham tahun 2010 dengan tingkat pertumbuhan FCFF 6,00% adalah sebagai berikut. Nilai ekuitas biasa Apr 2010 = Nilai perusahaan Apr 2010 Total kewajiban Estimasi harga buku saham Apr 2010 = = Rp Rp = Rp Nilai ekuitas biasa Apr 2010 Jumlah saham beredar = Rp = Rp Estimasi harga buku saham berdasarkan model penilaian FCFF sebesar Rp per lembar saham atau mengarah ke Rp per lembar saham. Untuk mendapatkan harga wajar saham, maka estimasi harga buku saham harus dikalikan dengan rata-rata PBV ratio sebesar 2,75. Perhitungan estimasi harga wajar saham April 2010 sebagai berikut. Harga wajar saham Apr 2010 = Estimasi harga buku saham Apr 2010 x PBV ratio = Rp x 2,75 = Rp

28 Berdasarkan hasil perhitungan di atas, maka estimasi harga wajar saham di April 2010 sebesar Rp per lembar saham atau mengarah ke Rp per lembar saham. Harga wajar ini sangat berbeda jauh dengan harga aktual awal April 2010 yaitu sebesar Rp Perbedaan ini terjadi karena perbedaan asumsi yang digunakan oleh penulis dengan asumsi dari para investor marginal di pasar. Penulis berpandangan pesimis dan hati-hati dalam menentukan setiap perhitungan yang dipakai, sehingga menyebabkan harga wajar saham nilainya berada di bawah harga pasar. Dari model penilaian FCFF yang diuraikan oleh penulis, dapat disimpulkan bahwa estimasi harga wajar saham ASII berkisar diantara Rp Rp Ini merupakan harga wajar saham yang aman secara teoritis yang mengikuti tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun Penulis berpandangan pesimis, oleh karena itu estimasi harga wajar saham ini merupakan harga minimum apabila perusahaan sedang dalam kondisi buruk (harga terburuk). Estimasi harga wajar saham menghasilkan angka tersebut apabila sampai akhir tahun 2010 PT Astra International Tbk. tidak melakukan stock split. Apabila perusahaan melakukan stock split, maka estimasi harga wajar saham nilainya akan semakin rendah. Stock split sudah diusulkan oleh beberapa pemegang saham perusahaan, namun perusahaan sampai dengan bulan Juni 2010 belum melakukan stock split. Hasil estimasi harga wajar saham ini berada dibawah harga aktualnya, karena penulis berpandangan pesimis dalam menentukan komponen perhitungan yang dipakai dalam model penilaian ini. Pelaku pasar cenderung menginginkan 58

29 harga yang lebih tinggi dari perkiraan riset, oleh karena itu, penulis menggunakan pandangan pesimis. Di samping itu, analisis ini hanya menggunakan analisis fundamental atau tidak dilengkapi dengan analisis teknikal, maka secara fundamental, nilai saham ASII meningkat sesuai pertumbuhan ekonomi. Dengan nilai saham yang lebih tinggi di pasar (overvalue), maka investor sebaiknya menjual saham ASII tersebut ataupun terus menahan saham tersebut sampai dengan harga pasar saham yang lebih tinggi, sehingga investor akan memperoleh capital gain yang lebih besar. 59

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENGHITUNGAN. yang paling lazim digunakan ialah Dividend Discounted Model (DDM).Metode ini

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENGHITUNGAN. yang paling lazim digunakan ialah Dividend Discounted Model (DDM).Metode ini BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENGHITUNGAN IV. 1 Penentuan Skenario Penelitian Ada beberapa metode yang dapat dipakai jika kita sebagai peneliti ataupun analis keuangan di pasar dalam menilai suatu kewajaran

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. tertentu untuk mencapai suatu tingkat pengembalian (rate of return) yang. dan dampaknya terhadap harga surat berharga tersebut.

BAB II LANDASAN TEORI. tertentu untuk mencapai suatu tingkat pengembalian (rate of return) yang. dan dampaknya terhadap harga surat berharga tersebut. BAB II LANDASAN TEORI II.1 Valuasi II.1.1 Konsep Investasi merupakan suatu komitmen penempatan dana pada periode waktu tertentu untuk mencapai suatu tingkat pengembalian (rate of return) yang diinginkan.

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Desain Penelitian Berdasarkan jenisnya, data yang disajikan dalam penelitian ini adalah data aplikatif kuantitatif. Seperti disampaikan oleh peneliti dimuka bahwa penelitian

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Untuk melakukan penilaian atas nilai wajar dari suatu saham, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan analisis

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. II.1.1 Pengertian Saham / Sekuritas. untuk memperoleh bagian dari prospek atau kekayaan organisasi yang

BAB II LANDASAN TEORI. II.1.1 Pengertian Saham / Sekuritas. untuk memperoleh bagian dari prospek atau kekayaan organisasi yang BAB II LANDASAN TEORI II Kerangka Teori dan Literatur II.1 Saham / Sekuritas II.1.1 Pengertian Saham / Sekuritas Menurut Suad Husnan (2005 : 29), sekuritas merupakan secarik kertas yang menunjukkan hak

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisa Kinerja Operasi PT. Acset Indonusa Tbk Depresiasi dari Rupiah telah menyebabkan memburuknya defisit neraca berjalan. Bank Indonesia memprediksi defisit

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. saham adalah Dividend Discount Model (DDM) dan Price Earning Ratio (PER)

BAB IV PEMBAHASAN. saham adalah Dividend Discount Model (DDM) dan Price Earning Ratio (PER) BAB IV PEMBAHASAN IV.1 Pemilihan Metode Metode yang digunakan untuk melakukan penelitian terhadap penilaian saham adalah Dividend Discount Model (DDM) dan Price Earning Ratio (PER) atau biasa disebut juga

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan mulai dari bulan 30 Juni 2009 sampai 30 Juni 2014, untuk

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan mulai dari bulan 30 Juni 2009 sampai 30 Juni 2014, untuk 64 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Objek Penelitian Penelitian ini dilakukan pada 2 (dua) Badan Usaha Milik Negara bidang perbankan yang terdaftar di BEI yaitu PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.. Penelitian

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Jenis/Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Hermawan (2009 :17), penelitian deskriptif adalah penelitian yang memusatkan perhatian

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1 Analisis Kinerja Keuangan PT Astra Agro Lestari Tbk Sebelum dan

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1 Analisis Kinerja Keuangan PT Astra Agro Lestari Tbk Sebelum dan BAB IV PEMBAHASAN IV.1 Analisis Kinerja Keuangan PT Astra Agro Lestari Tbk Sebelum dan Sesudah Akuisisi IV.1.1 Analisis Kinerja Keuangan PT Astra Agro Lestari Tbk dengan menggunakan Rasio Keuangan IV.1.1.1

Lebih terperinci

BAB V. KESIMPULAN dan SARAN. dengan pendekatan discounted cash flow dapat ditarik beberapa

BAB V. KESIMPULAN dan SARAN. dengan pendekatan discounted cash flow dapat ditarik beberapa BAB V KESIMPULAN dan SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penghitungan dan analisis penilaian perusahaan dengan pendekatan discounted cash flow dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: a. Estimasi

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Penentuan Skenario Penelitian Objek penelitian ini adalah PT Astra Agro Lestari Tbk, PT BW Plantation Tbk dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk yang dilakukan selama

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Objek Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menghitung nilai akuisisi PT. Indosat Tbk jika dibuyback oleh pemerintah. Dengan menggunakan Empat metode yang saling keterkaitan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian ini terdapat 9 sampel perusahaan dari sektor Property dan

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian ini terdapat 9 sampel perusahaan dari sektor Property dan BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini terdapat 9 sampel perusahaan dari sektor Property dan Real Estate yang membagikan dividen kepada para pemegang saham secara tunai dan rutin selama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menginvestasikan dananya adalah sektor properti. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan sektor properti

BAB I PENDAHULUAN. menginvestasikan dananya adalah sektor properti. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan sektor properti BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pasar modal di Indonesia yang pesat menunjukan bahwa kepercayaan pemodal untuk menginvetasikan dananya di pasar modal cukup baik. Banyaknya pilihan saham

Lebih terperinci

Cost of Capital & Capital Structure

Cost of Capital & Capital Structure Cost of Capital & Capital Structure 1 COST OF CAPITAL After Tax Cost of Debt Cost of Preffered Stock Cost of Retained Earning Cost of Common Stock Weighted Average Cost of Capital 2 BALANCE SHEET FUND

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Indeks LQ45 merupakan indeks yang terdiri dari 45 saham di Bura Efek Indonesia dengan likuiditas yang tinggi dan kapitalisasi pasar yang besar serta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Investasi dapat diartikan sebagai suatu komitmen penempatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Investasi dapat diartikan sebagai suatu komitmen penempatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Investasi dapat diartikan sebagai suatu komitmen penempatan dana pada satu atau beberapa objek investasi dengan harapan akan mendapatkan keuntungan di masa mendatang.

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Metode Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam studi kasus ini adalah data sekunder yang didapat dari PT.Kimia Farma Tbk, Bursa Efek Indonesia (BEI), www.kimiafarma.co.id

Lebih terperinci

LAPORAN KINERJA BULANAN - PANIN Rp CASH FUND

LAPORAN KINERJA BULANAN - PANIN Rp CASH FUND LAPORAN BULANAN - PANIN Rp CASH FUND 10-Mar-2004 Panin Rp Cash Fund bertujuan untuk memberikan hasil yang relatif stabil melalui penempatan terutama pada instrumen pasar uang. Pasar Uang 100% Deposito

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI Untuk menjawab pertanyaan dari studi ini banyak digunakan acuan teori keuangan. Teori yang digunakan untuk landasan perhitungan studi ini adalah teori proses bisnis, financial planning

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pasar modal mempunyai peran penting bagi perekonomian negara. Pasar modal

BAB 1 PENDAHULUAN. Pasar modal mempunyai peran penting bagi perekonomian negara. Pasar modal BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pasar modal mempunyai peran penting bagi perekonomian negara. Pasar modal dewasa ini telah menjadi salah satu indikator perkembangan perekonomian sebuah negara. Dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lebih dikenal dengan istilah Initial Public Offering (IPO). IPO merupakan simbol

BAB I PENDAHULUAN. lebih dikenal dengan istilah Initial Public Offering (IPO). IPO merupakan simbol BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Ketersediaan dana untuk mengembangkan bisnis dalam suatu perusahaan menjadi prasyarat yang harus dipenuhi agar target pengembangan bisnis tercapai. Perolehan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. 3.1 Kerangka Pemikiran

METODE PENELITIAN. 3.1 Kerangka Pemikiran III. METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Tahapan awal yang dilakukan untuk menganalisis optimasi struktur modal pada PT Pusri adalah dengan menganalisis laporan keuangan. Selain itu melihat rencana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. investasi yang produktif guna mengembangkan pertumbuhan jangka panjang.

BAB I PENDAHULUAN. investasi yang produktif guna mengembangkan pertumbuhan jangka panjang. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pasar modal merupakan sarana yang digunakan oleh para investor untuk kegiatan investasi serta sarana pendanaan bagi perusahaan maupun institusi lain seperti pemerintahan.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Harga Saham Saham adalah surat berharga yang menunjukkan kepemilikan atas perusahaan sehingga pemegang saham memiliki hak klaim atas dividen atau distribusi

Lebih terperinci

Definisi. Modal ( Capital ): dana yg digunakan untuk membiayai pengadaan asset dan operasional suatu perusahaan

Definisi. Modal ( Capital ): dana yg digunakan untuk membiayai pengadaan asset dan operasional suatu perusahaan STRUKTUR MODAL Definisi Modal ( Capital ): dana yg digunakan untuk membiayai pengadaan asset dan operasional suatu perusahaan Modal dapat dilihat di neraca sisi kanan (staffel) : hutang, saham biasa, saham

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Berkembangnya suatu perusahaan tergantung pada kinerja keuangan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Berkembangnya suatu perusahaan tergantung pada kinerja keuangan yang 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Berkembangnya suatu perusahaan tergantung pada kinerja keuangan yang dapat memberikan kontribusi pada harga saham yang dapat berpengaruh pada Bursa Efek Indonesia.

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Menurut Sugiyono (2012:13) penelitian kuantitatif adalah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Menurut Sugiyono (2012:13) penelitian kuantitatif adalah BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif. Menurut Sugiyono (2012:13) penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang

Lebih terperinci

III.METODE PENELITIAN. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder

III.METODE PENELITIAN. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder 38 III.METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang didapat tidak secara langsung dari objek penelitian. Peneliti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pihak yang membutuhkan dana. Menurut Fahmi dan Hadi (2009:41), pasar modal

BAB I PENDAHULUAN. pihak yang membutuhkan dana. Menurut Fahmi dan Hadi (2009:41), pasar modal BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Peran aktif lembaga pasar modal merupakan sarana untuk mengalokasikan sumber daya ekonomi secara optimal dengan mempertemukan kepentingan investor selaku pihak

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Economic Value Added (EVA) Economic Value Added (EVA) merupakan sebuah metode pengukuran nilai tambah ekonomis yang diciptakan perusahaan dari kegiatannya selama periode tertentu.

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORITIS

BAB II URAIAN TEORITIS BAB II URAIAN TEORITIS A. Penelitian Terdahulu Situmorang (2008) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Econonic Value Added dan Rasio Profitabilitas Terhadap Harga Saham Perusahaan Properti Yang terdaftar

Lebih terperinci

LAPORAN KINERJA BULANAN - PANIN Rp CASH FUND

LAPORAN KINERJA BULANAN - PANIN Rp CASH FUND LAPORAN BULANAN - PANIN Rp CASH FUND 10-Mar-2004 Panin Rp Cash Fund bertujuan untuk memberikan hasil yang relatif stabil melalui penempatan terutama pada instrumen pasar uang. Pasar Uang 100% Deposito

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Investasi dalam suatu perusahaan merupakan suatu hal yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. Investasi dalam suatu perusahaan merupakan suatu hal yang sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Investasi dalam suatu perusahaan merupakan suatu hal yang sangat penting agar perusahaan dapat menjalankan kegiatan usahanya. Namun, aktivitas investasi merupakan aktivitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. luar negeri. Sementara itu bagi investor, pasar modal merupakan wahana untuk

BAB I PENDAHULUAN. luar negeri. Sementara itu bagi investor, pasar modal merupakan wahana untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehadiran pasar modal mempunyai pengaruh yang penting dalam menunjang perekonomian suatu negara. Pasar modal merupakan suatu sarana yang dapat dimanfaatkan untuk memobilisasi

Lebih terperinci

Bab I PENDAHULUAN. Pasar modal merupakan salah satu komponen pembiayaan struktur modal

Bab I PENDAHULUAN. Pasar modal merupakan salah satu komponen pembiayaan struktur modal Bab I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pasar modal merupakan salah satu komponen pembiayaan struktur modal perusahaan yang sudah terdaftar untuk mengelola assetnya, disamping dengan pembiayaan melalui hutang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Ketiga perusahaan tersebut adalah PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dengan

BAB III METODE PENELITIAN. Ketiga perusahaan tersebut adalah PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dengan BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Obyek Penelitian Penelitian ini mengambil objek perusahaan yang tergolong ke dalam sektor industri telekomunikasi yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dari perusahaan

Lebih terperinci

LAPORAN KINERJA BULANAN - PANIN Rp CASH FUND

LAPORAN KINERJA BULANAN - PANIN Rp CASH FUND LAPORAN BULANAN - PANIN Rp CASH FUND 10-Mar-2004 Panin Rp Cash Fund bertujuan untuk memberikan hasil yang relatif stabil melalui penempatan terutama pada instrumen pasar uang. Pasar Uang 100% Deposito

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk mengukur likuiditas atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk mengukur likuiditas atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Rasio Lancar (Current Ratio) Current Ratio merupakan salah satu rasio yang paling umum digunakan untuk mengukur likuiditas atau kemampuan perusahaan untuk

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Penulisan karya akhir ini menggunakan metode studi kepustakaan, dimana data diperoleh dari laporan keuangan perusahaan yang dianalisis, buku-buku, internet, surat kabar, dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suatu negara. Bagi pihak emiten, pasar modal merupakan salah satu sarana

BAB I PENDAHULUAN. suatu negara. Bagi pihak emiten, pasar modal merupakan salah satu sarana BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pasar modal merupakan sarana terpenting dalam perdagangan efek pada suatu negara. Bagi pihak emiten, pasar modal merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan tambahan

Lebih terperinci

LAPORAN KINERJA BULANAN - PANIN Rp CASH FUND

LAPORAN KINERJA BULANAN - PANIN Rp CASH FUND LAPORAN BULANAN - PANIN Rp CASH FUND 10-Mar-2004 Panin Rp Cash Fund bertujuan untuk memberikan hasil yang relatif stabil melalui penempatan terutama pada instrumen pasar uang. Pasar Uang 100% RD Pasar

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teori Teori Modigliani Miller (MM) Teori struktur modal modern dimulai pada tahun 1958, ketika Profesor Franco Modigliani dan Merton Miller (MM) menerbitkan apa yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. satu atau beberapa objek investasi dengan harapan akan mendapatkan keuntungan

BAB I PENDAHULUAN. satu atau beberapa objek investasi dengan harapan akan mendapatkan keuntungan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Investasi dapat diartikan sebagai suatu komitmen penempatan dana pada satu atau beberapa objek investasi dengan harapan akan mendapatkan keuntungan di masa mendatang

Lebih terperinci

BAB 2. Tinjauan Teoritis dan Perumusan Hipotesis

BAB 2. Tinjauan Teoritis dan Perumusan Hipotesis 10 BAB 2 Tinjauan Teoritis dan Perumusan Hipotesis 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Pasar Modal a. Pengertian Pasar Modal Pengertian pasar modal secara umum adalah suatu tempat bertemunya para penjual dan pembeli

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. Model prediksi harga saham yang akan dibuat pada penelitian ini merupakan

BAB IV PEMBAHASAN. Model prediksi harga saham yang akan dibuat pada penelitian ini merupakan BAB IV PEMBAHASAN IV.1 Model Prediksi Harga Saham Model prediksi harga saham yang akan dibuat pada penelitian ini merupakan model yang dibuat berdasarkan pada faktor-faktor dari siklus bisnis (business

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi dunia semakin hari semakin pesat, semakin banyaknya orang berlomba-lomba dalam menciptakan teknologi canggih semakin pesat pula persaingan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Return Saham Menurut Jogiyanto (2000:107), return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Return dapat berupa : 1. Return realisasi (realized

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Konsep Saham dan Return Saham Pada sebuah perusahaan publik, tujuan dari manajemen adalah memaksimalkan harga saham perusahaan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendapatan bunga atau yang sering disebut Net Interest Margin (NIM), selain itu

BAB I PENDAHULUAN. pendapatan bunga atau yang sering disebut Net Interest Margin (NIM), selain itu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bank merupakan suatu organisasi jasa yang mempunyai peranan penting dalam upaya pembangunan ekonomi nasional. Bank berperan sebagai lembaga intermediasi penyalur dana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Himawan Hariyoga, dalam. 283,5 trilliun. Berikut data realisasi investasi hingga September 2012:

BAB I PENDAHULUAN. Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Himawan Hariyoga, dalam. 283,5 trilliun. Berikut data realisasi investasi hingga September 2012: BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemulihan ekonomi yang lambat di negara-negara maju pasca krisis global 2008 silam, menyebabkan para investor lebih memilih mendiversifikasikan investasinya ke luar

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. Pengertian dan Pemahaman Dividen

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. Pengertian dan Pemahaman Dividen BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS II.1 Rerangka Teori dan Literatur II.1.1 Dividend Payout Ratio II.1.1.1 Pengertian dan Pemahaman Dividen Istilah dividen menurut Darmadji dan Fakhrudin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. panjang diantara berbagai alternatif lainnya bagi perusahaan, termasuk di dalamnya

BAB I PENDAHULUAN. panjang diantara berbagai alternatif lainnya bagi perusahaan, termasuk di dalamnya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pasar modal merupakan salah satu alternatif pilihan sumber dana jangka panjang diantara berbagai alternatif lainnya bagi perusahaan, termasuk di dalamnya adalah sektor

Lebih terperinci

Nadya Destiyanti Putri

Nadya Destiyanti Putri PENENTUAN NILAI HARGA WAJAR SAHAM PADA PT. ADIRA DINAMIKA MULTI FINANCE TBK, DENGAN MENGGUNAKAN METODE GORDON GROWTH MODEL. Nadya Destiyanti Putri 26213293 Latar Belakang Masalah 1. Investasi saham merupakan

Lebih terperinci

LAPORAN KINERJA BULANAN - PANIN Rp CASH FUND

LAPORAN KINERJA BULANAN - PANIN Rp CASH FUND LAPORAN BULANAN - PANIN Rp CASH FUND 10-Mar-2004 Panin Rp Cash Fund bertujuan untuk memberikan hasil yang relatif stabil melalui penempatan terutama pada instrumen pasar uang. Pasar Uang 100% Obligasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan berarti perusahaan telah melakukan financial leverage. Semakin besar utang

BAB I PENDAHULUAN. dan berarti perusahaan telah melakukan financial leverage. Semakin besar utang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam perkembangannya, dunia mengalami kemajuan yang pesat. Sama dalam dunia perekonomian seiring dengan perkembangannya perekonomian suatu perusahaan akan mengalami

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHAS AN. Padahal reksa dana syariah memiliki perkembangan yang cukup pesat, tercatat

BAB IV PEMBAHAS AN. Padahal reksa dana syariah memiliki perkembangan yang cukup pesat, tercatat BAB IV PEMBAHAS AN IV.1 Analisis Kinerja Portofolio Melihat kinerja portofolio perlu dilakukan sebelum melakukan keputusan investasi. Dengan membandingkan kinerja antar reksa dana, maka investor mendapatkan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Economic Value Added (EVA) 1. Definisi Economic Value Added (EVA) EVA menurut John D.Martin et al (2010:44), menyatakan bahwa: Nilai Tambah Ekonomi (Economic Value Added EVA),

Lebih terperinci

Landasan Teori BAB II. Kelayakan Usaha

Landasan Teori BAB II. Kelayakan Usaha BAB II Landasan Teori Kelayakan Usaha James C. Van Horne (1989:303) mengemukakan bahwa Feasibility is allocations of capital to long term capital investment used in the production of goods or services.

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kinerja Keuangan PT. Lippo Karawaci Tbk tahun 2009 sampai dengan tahun 2012 Dalam Bab ini penulis akan melakukan analisis terhadap laporan keuangan dengan menggunakan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 8 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Budget Budget adalah ungkapan kuantitatif dari rencana yang ditujukan oleh manajemen selama periode tertentu dan membantu mengkoordinasikan apa yang dibutuhkan untuk diselesaikan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Laporan Keuangan 2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan Setiap perusahaan yang menjalankan bisnis di bidang apapun, baik manufaktur, jasa, dagang, dan lainnya pasti memiliki aktivitas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. ditopang oleh banyaknya permintaan akan hunian yang semakin tinggi sejalan

I. PENDAHULUAN. ditopang oleh banyaknya permintaan akan hunian yang semakin tinggi sejalan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor properti merupakan sektor yang menarik mengingat sektor ini sangat ditopang oleh banyaknya permintaan akan hunian yang semakin tinggi sejalan dengan peningkatan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. Bab ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu landasan teori dan pengembangan hipotesis.

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. Bab ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu landasan teori dan pengembangan hipotesis. BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Bab ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu landasan teori dan pengembangan hipotesis. II.1 Landasan Teori Untuk mencapai sasaran studi diperlukan landasan

Lebih terperinci

LAPORAN KINERJA BULANAN - PANIN Rp CASH FUND

LAPORAN KINERJA BULANAN - PANIN Rp CASH FUND LAPORAN BULANAN - PANIN Rp CASH FUND 10-Mar-2004 Panin Rp Cash Fund bertujuan untuk memberikan hasil yang relatif stabil melalui penempatan terutama pada instrumen pasar uang. Pasar Uang 100% Obligasi

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan. BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS A. Kajian Pustaka 1. Nilai Perusahaan Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap perusahaan, yang sering dikaitkan dengan harga saham.

Lebih terperinci

Total Ekuitas Nilai buku per lbr saham = Jumlah Saham Beredar

Total Ekuitas Nilai buku per lbr saham = Jumlah Saham Beredar PENILAIAN SAHAM Saham adalah bukti kepemilikan dalam suatu perusahaan Jenis saham : 1. Saham biasa (common stock) 2. Saham preferen Karakteristik Saham Preferen: a. Hak preferen terhadap deviden: hak menerima

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. pengambilan keputusan investasi di pasar modal juga semakin kuat.

BAB 1 PENDAHULUAN. pengambilan keputusan investasi di pasar modal juga semakin kuat. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pasar modal merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk sarana mendapatkan dana dalam jumlah besar dari masyarakat pemodal (investor), baik dari dalam

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN 4.1 Penentuan Skenario Penelitian Penelitian ini dilakukan pada PT. Waskita Karya (Persero) Tbk karena perusahaan ini merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. investasi (return) dari investasi yang dilakukan. Return yang diperoleh berupa

BAB I PENDAHULUAN. investasi (return) dari investasi yang dilakukan. Return yang diperoleh berupa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada umumnya investor mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan dan untuk memperoleh pendapatan atau tingkat pengembalian investasi (return) dari investasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (subprime mortgage crisis) telah menimbulkan dampak yang signifikan secara

BAB I PENDAHULUAN. (subprime mortgage crisis) telah menimbulkan dampak yang signifikan secara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Krisis keuangan di Amerika Serikat yang bermula dari krisis kredit perumahan (subprime mortgage crisis) telah menimbulkan dampak yang signifikan secara global.

Lebih terperinci

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS. tersebut. Nilai perusahaan lazim diindikasikan dengan Price to Book Value

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS. tersebut. Nilai perusahaan lazim diindikasikan dengan Price to Book Value BAB 2 KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Nilai Perusahaan Setiap perusahaan memiliki tujuan untuk memaksimalkan kekayaan pemegang saham dengan cara meningkatkan nilai perusahaan (Keown, 2004:3).

Lebih terperinci

dalam penelitian ini dilakukan scoring dengan kriteria sebagai berikut : 1. Data yang digunakan adalah data rata-rata kinerja keuangan masing-masing

dalam penelitian ini dilakukan scoring dengan kriteria sebagai berikut : 1. Data yang digunakan adalah data rata-rata kinerja keuangan masing-masing Untuk membandingkan kinerja keuangan dari ketiga saham tersebut, maka dalam penelitian ini dilakukan scoring dengan kriteria sebagai berikut : 1. Data yang digunakan adalah data rata-rata kinerja keuangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. telah memiliki perubahan pola pikir tentang uang dan pengalokasiannya. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. telah memiliki perubahan pola pikir tentang uang dan pengalokasiannya. Hal ini BAB I PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Sebuah negara yang memiliki keuangan yang kuat dan modern, berarti telah memiliki perubahan pola pikir tentang uang dan pengalokasiannya. Hal ini menjadi sangat di

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian dengan judul ANALISIS PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN TELEKOMUNIKASI YANG GO PUBLIC DI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencari keuntungan sebesar-besarnya demi menyejahterakan karyawan dan

BAB I PENDAHULUAN. mencari keuntungan sebesar-besarnya demi menyejahterakan karyawan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada saat ini persaingan dalam dunia bisnis semakin tinggi. Semakin banyak perusahaan baru yang muncul untuk bersaing dengan perusahaan lama. Tujuan perusahaan

Lebih terperinci

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Aktivitas investasi merupakan aktivitas yang dihadapkan pada berbagai

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Aktivitas investasi merupakan aktivitas yang dihadapkan pada berbagai BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aktivitas investasi merupakan aktivitas yang dihadapkan pada berbagai macam resiko dan ketidakpastian yang seringkali sulit diprediksikan oleh para investor. Untuk

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN 18 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Penelitian Pasar modal merupakan wahana pengalokasian dana secara efisien. Oleh karena itu investor dapat melakukan investasi pada beberapa perusahaan melalui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tahun 1989 menjadi 288 emiten pada tahun 1999 (Susilo dalam. di Bursa Efek Indonesia mencapai 442 emiten (www.sahamok.com).

BAB I PENDAHULUAN. tahun 1989 menjadi 288 emiten pada tahun 1999 (Susilo dalam. di Bursa Efek Indonesia mencapai 442 emiten (www.sahamok.com). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pasar modal di Indonesia sejak tahun 1997 mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini dapat dilihat dari 56 emiten pada tahun 1989 menjadi 288 emiten pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dana dari investor. Pasar modal merupakan pasar untuk berbagai objek keuangan

BAB I PENDAHULUAN. dana dari investor. Pasar modal merupakan pasar untuk berbagai objek keuangan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pasar modal memiliki peranan penting dalam perekonomian suatu negara, dimana pasar modal berfungsi sebagai pendanaan usaha atau untuk mendapatkan dana dari

Lebih terperinci