DAFTAR ISI ii. Halaman
|
|
|
- Adi Indradjaja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI ii PENDEKATAN PSIKOANALISIS. 1 PENDEKATAN EKSITENSIAL HUMANISTIK 4 PENDEKATAN CLIENT-CENTERED.. 6 PENDEKATAN GESTALT. 9 PENDEKATAN ANALISIS TRANSAKSIONAL (AT). 12 PENDEKATAN TINGKAH LAKU 15 PENDEKATAN RET (Rational Emotive Terapy).. 18 PENDEKATAN REALITAS 20 PENDEKATAN TRAIT AND FACTOR 24 DAFTAR PUSTAKA. 27 ii
2 PENDEKATAN PSIKOANALISIS A Nama Pendekatan Psikoanalisis B Tokoh Sigmund Freud (1896), Carl Jung, Adler, Sullivan, Otto Rangk, Fromm, Horney, Erikson, dll C Konsep Dasar 1. Perkembangan kepribadian yang normal berlandaskan resolusi dan integrasi fase-fase perkembangan psikoseksual yang berhasil. 2. Perkembangan kepribadian yang gagal merupakan akibat dari resolusi sejumlah fase psikoseksual yang tidak memadai. 3. Id, ego, dan superego membentuk dasar bagi struktur kepribadian. 4. Kecemasan adalah akibat perepresian konflikkonflik dasar. 5. Mekanisme-mekanisme pertahanan ego dikembangkan untuk mengendalikan kecemasan. 6. Proses-proses tak sadar berkaitan erat dengan tingkahlaku yang muncul sekarang. D Asumsi Perilaku bermasalah 1. Dinamika yang tidak efektif antar id, ego dan super ego 2. Kecemasan 3. Proses belajar yang tidak benar pada masa kanak-kanak E Tujuan Konseling 1. Membuat hal-hal yang tidak disadari menjadi disadari. 2. Merekontruksi kepribadian dasar. 3. Menghidupkan kembali pengalamanpengalaman masa kanak-kanak dini dengan menembus konflik-konflik yang direpresi. 4. Kesadaran intelektual F Peran Konselor 1. Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, Ketulusan diri, ketulusan hati, dan hubungan pribadi yang lebih efektif dalam mengatasi kecemasan melalui cara-cara yang realistis. 2. Konselor membangun hubungan kerjasama dengan klien dan kemudian melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan dan menafsirkan. 3. Konselor memberikan perhatian kepada resistensi klien. 4. Fungsinya adalah mempercepat proses penyadaran hal-hal yang tersimpan dalam ketidaksadaran. G Depkripsi Proses Konseling 1. Proses konseling difokuskan pada usaha menghayati pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. 2. Pengalaman masa lampau ditata, dianalisi, dan ditafsirkan dengan tujuan merekontruksi 1
3 kepribadian. 3. Menekankan dimensi afektif dalam membuat pemahaman ketidaksadaran 4. Pemahaman intelektual penting, tetapi yang lebih penting mengasosiasikan antara perasaan dan ingatan dengan pemahaman diri. H Teknik 1. Interprestasi Prosedur dasar yang digunakan dalam analisis asosiasi bebas, analisis mimpi, analisis resistansi dan analisis tranfaransi. 2. Analisi mimpi Prosedur yang penting untuk membuka hal-hal yang tidak disadari dan membantu klien memperoleh tilikan kepada masalah-masalah yang belum terpecahkan. 3. Asosiasi bebas Suatu metode pengungkapan pengalaman masa lampau dan penghentian emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik dimasa lalu. 4. Analisis resistensi Suatu konsep fundamental praktek-praktek psikoanalisa, yang bekerja melawan kemajuan terapi dan mencegah klien menampilkan hal-hal yang tidak disadari. 5. Analisis transferensi Transferensi muncul dengan sendirinya dalam proses terapeutik pada saat dimana kegiatankegiatan klien masa lalu yang tak terselesaikan dengan orang lain, menyebabkan dia mengubah masa kini dan mereaksi kepada analisis sebagai yang ia lakukan kepada ibunya atau ayahnya. I Keterbatasan 1. Pandangan yang terlalu determistik dinilai terlalu merendahkan martabat kemanusiaan. 2. Terlalu benyak menekankan kepada masa kanakkanak dan menganggap kehidupan seolah-olah ditentukan oleh masa lalu. Hal ini memberikan gambaran seolah-olah tanggung jawab individu berkurang. 3. Cenderung meminimalkan rasionalitas. 4. Bahwa perilaku ditentukan oleh energi psikis, adalah suatu yang meragukan. 5. Penyembuhan dalam psikoanalisis terlalu bersifat rasional. 6. Data penelitian empiris kurang banyak mendukung sistem dan konsep psikoanalisis, seperti konsep tentang energi psikis yang menentukan tingkah laku manusia. J Contoh Penerapan 1. Mengatasi kecemasan, serta sifat traferensi dan transferensi balik. 2. Mengobati Borderline dan gangguan Narsis. Borderline dan gangguan narsistik tampaknya 2
4 berakar dalam trauma dan gangguan perkembangan selama fase pemisahanindividuasi. Namun, manifestasi penuh dari gejala kepribadian dan perilaku cenderung berkembang pada masa dewasa awal. Borderline dan gejala narsis seperti membelah (suatu proses defensif untuk menjaga persepsi yang tidak kompatibel terpisah) dan pengertian tentang kebesaran adalah manifestasi perilaku tugas perkembangan yang terganggu atau tidak selesai lebih awal (St Clair, 2004). 3
5 PENDEKATAN EKSITENSIAL HUMANISTIK A Nama Pendekatan Eksitensial Humanistik B Tokoh May, Maslow, Frankl, Jourard C Konsep Dasar 1. Perkembangan kepribadian yang normal berlandaskan keunikan masing-masing individu. 2. Kesadaran diri berkembang sejak bayi. 3. Determinasi diri dan kecenderungan kearah pertumbuhan adalah gagasan sentral. 4. Psikopatologi adalah akibat dari kegagalan dalam mengatualkan potensi. 5. Perbedaan-perbedaan dibuat antara rasa bersalah eksitensial dan rasa bersalah neurotik serta antara kecemasan eksitensial dengan kecemasan neurotik. 6. Berfokus pada saat sekarang dan pada menjadi apa seorang itu ; yang bearti memiliki orentasi ke masa depan. 7. Ia menekankan kesadaran dirisebelum bertindak. D Asumsi Perilaku bermasalah 1. Gangguan jiwa disebabkan karena individu yang bersangkutan tidak dapat mengembangkan potensinya. Dengan perkataan lain, pengalamannya tertekan. E Tujuan Konseling 1. Menyajikan kondisi-kondisi untuk memaksimalkan kesadaran diri dan pertumbuhan. 2. Menghapus penghambat-penghambat aktualisasi potensi diri. 3. Membantu klien menemukan dan menggunakan kebebasan memilih dengan memperluas kesadaran diri. 4. Membantu klien agar bebas dan bertanggung jawab atas arah kehidupannya sendiri. F Peran Konselor 1. Berusaha memahami klien 2. Memberikan reaksi-reaksi pribadi dalam kaitan dengan apa yang dikatakan klien. 3. Menyadari peran dari tanggung jawab terapis 4. Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik 5. Terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh. 6. Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihanpilihan akhir terletak di tangan klien 7. Terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implisit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif 8. Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk 4
6 G Depkripsi Proses Konseling mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri 9. Bekerja ke arah mengurangi ketergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien. 1. Adanya hubungan yang akrab antara konselor dan konseli. 2. Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problem dan apa yang diinginkannya. 3. Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan sanggahan. 4. Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan konseling. 5. Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya beserta lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor. H Teknik 1. Diagnosis 2. Pengetesan 3. Bisa meminjam teknik-teknik pendekatan lain. Teknik lain yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling, sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. Rogers. meliputi: (1) acceptance (penerimaan); (2) respect (rasa hormat); (3) understanding (pemahaman); (4) reassurance (menentramkan hati); (5) encouragementlimited questioning (pertanyaan terbatas; dan (6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan). (memberi dorongan); I Keterbatasan 1. Dalam metodologi, bahasa dan konsepnya yang mistikal 2. Dalam pelaksanaannya tidak memiliki teknik yang tegas. 3. Terlalu percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya (keputusan ditentukan oleh klien sendiri) 4. Memakan waktu lama. J Contoh Penerapan 1. Penerapan : Eksistensial Humanistik tepat sekali diterapkan pada anak remaja yang dikembangkan dalam lembaga pendidikan dan diperlukan untuk membentuk manusia yang mampu bertanggung jawab dalam mengambil keputusan. 5
7 PENDEKATAN CLIENT CENTERED A Nama Pendekatan Client Centered B Tokoh Carl Rogers, tahun1940-an C Konsep Dasar 1. Klien memiliki kemampuan untuk menjadi sadar atas masalah-masalahnya serta cara-cara mengatasinya. 2. Kepercayaan diletakan pada kesanggupan klien untuk mengarahkannya sendiri. 3. Kesehatan mental adalah keselarasan antara diri ideal dan diri riel. 4. Maladjusment adalah akibat dari kesenjangan antara diri ideal dan diri riel. 5. Berfokus pada saat sekarang serta mengalami dan mengepresikan perasaan-perasaan. D Asumsi Perilaku bermasalah 1. Secara singkat dapat dikemukakan karakteristik prilaku bermasalah adalah : pengasingan yaitu orang yang tidak memperoleh penghargaan secara positif dari orang lain, ketidakselarasan antara pengalaman dan self ( tidak kongruensi ), mengalami kecemasan yang ditujukan oleh ketidak kongsistenan mengenai konsep dirinya, defensif, dan berprilaku yang salah penyesuaiannya ( Hansen dkk., 1982 ). E Tujuan Konseling 1. Menyediakan iklim yang aman dan kondusif bagi ekplorasi diri klien sehingga ia mampu menyadari penghambat-penghambat pertumbuhan dan aspek-aspek pengalaman diri yang sebelumnya diingkari atau didisiorsinya. 2. Membantu klien agar mampu bergerak ke arah keterbukaan terhadap pengalaman serta meningkatkan spontanitas dan perasaan hidup. F Peran Konselor 1. Konselor tidak memimpin, mengatur atau menentukan proses perkembangan konseling, tetapi hal tersebut dilakukan oleh klien itu sendiri. 2. Konselor merefleksikan perasaan-perasaan klien, sedangkan arah pembicaraan ditentukan oleh klien. 3. Konselor menerima klien dengan sepenuhnya dalam keadaan seperti apapun. 4. Konselor memberi kebebasan pada klien untuk mengeksperiskan perasaan-perasaan sedalamdalamnya dan seluuas-luasnya. G Depkripsi Proses Konseling 1. Klien datang sendiri pada konselor untuk meminta bantuan. 2. Penentuan situasi yang cocok untuk memberikan bantuan oleh konselor. 3. Konselor menerima, mengenal dan memperjelas perasaan negative klien. 4. Konselor memberikan kebebasan klien untuk 6
8 mengemukakan masalahnya. 5. Apabila perasaan negative itu dinyatakan seluruhnya, secara berangsur timbul perasaan positif. 6. Konselor menerima, mengenal memperjelas perasaan positif klien. 7. Pada diri klien timbul pemahaman tentang diri sendiri. 8. Pemahaman yang lebih jelas pada diri klien tentang kemungkinan menentukan kepuasan dan berbuat. 9. Timbul inisiatif pada diri klien untuk melakukan perbuatan yang positif. 10. Adanya perkembangan lebih lanjut dalam diri klien tentang pemahaman terhadap diri sendiri. 11. Timbul perkembangan tindakan yang positif dan integrative pada diri klien. 12. Klien secara berangsur-angsur merasa tidak membutuhkan lagi. H Teknik 1. Mendengarkan aktip 2. Mereflesikan perasaan-perasaan 3. Menjelaskan 4. Hadir bagi klien 5. Acceptence (penerimaan ) 6. Respect (rasa hormat ) 7. Understanding ( mengerti, memahami) 8. Reassurance ( menentramkan hati, meyakinkan ) 9. Encounragement ( dorongan ) 10. Limited Questioning ( pertanyaan terbatas ) 11. Reflection (memantulkan pertanyaan dan perasaan ) I Keterbatasan Adapun kelemahan pendekatan Client-Centered terletak pada beberapa hal berikut ini: 1. Cara sejumlah pemratek menyalahtafsirkan atau menyederhanakan sikap-sikap sentral dari posisi Client-Centered. 2. Tidak semua konselor bisa mempraktekan terapi Client-Centered, sebab banyak konselor yang tidak mempercayai filsafat yang melandasinya. 3. Membatasi lingkup tanggapan dan gaya konseling mereka sendiri pada refleksi-refleksi dan mendengar secara empatik. 4. Adanya jalan yang menyebabkan sejumlah pemraktek menjadi terlalu terpusat pada klien sehingga mereka sendiri kehilangan rasa sebagai pribadi yang unik. 5. Terlalu menekankan pada aspek afektif, emosional, perasaan sebagai penentu perilaku tetapi melupakan factor intelektif, kognitif, dan rasional. 6. Penggunaan informasi untuk membantu klien 7
9 tidak sesuai dengan teori. 7. Tujuan untuk setiap klien yaitu memaksimalkan diri, dirasa terlalu luas, umum dan longgar sehingga sulit untuk menilai setiap individu. 8. Sulit bagi konselor untuk benar-benar bersifat netral dalam situasi hubungan interpersonal. J Contoh Penerapan 1. Pendekatan ini bisa diterapkan secara luas pada konseling dan terapi individual serta kelompok bagi pada pengajaran terpusat pada Klien. Berikut ini ada contoh kasus yang biasa ditangani oleh pendekatan Client-centered. Misalnya, seorang mahasiswi mengira bahwa dia sangat sayang pada adiknya yang perempuan, tetapi pada suatu saat dia mulai sadar akan tingkah lakunya yang bertentangan dengan fikiran itu, karena ternyata dia berkali-kali mengucapkan kata-kata yang sengit penuh rasa iri kepada adiknya yang sudah mempunyai pacar. Padahal, terhadap adik sendiri seorang kakak tidak boleh bertindak begitu. Pengalaman yang nyata ini menunjuk pada suatu pertentangan antara siapa saya ini sebenarnya dan seharusnya menjadi orang yang bagaimana. Bilamana mahasiswi mulai menyadari kesenjangan dan mengakui pertentangan itu, dia menghadapi keadaan dirinya sebagaimana adanya. Kesadaran yang masih samar-samar akan kesenjangan itu menggejala dalam perasaan kurang tenang dan cemas serta dalam evaluasi diri sebagai orang yang tidak pantas (worthless). Mahasiswi ini siap untuk menerima layanan konseling dan menjalani proses konseling untuk menutup jurang pemisah antara dua kutub di dalam dirinya sendiri, serta akhirnya menemukan dirinya kembali sebagai orang yang pantas (person of worth). 8
10 PENDEKATAN GESTALT A Nama Pendekatan Gestalt B Tokoh Fritz Perls C Konsep Dasar 1. Manusia selalu aktif sebagai keseluruhan. 2. Setiap individu bukan semata-mata penjumlahan bagian-bagian atau organ-organ seperti hati, jantung, otak dan sebagainya, melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. 3. Berfokus pada apa dan bagaimana di sini dan sekarang untuk membantu klien agar menerima polaritas-polaritas dirinya. 4. Konsep-konsep utama mencakup tanggung jawab pribadi, urusan yang tak selesai, penghindaran, mengalami dan menyadari saat sekarang. 5. Ia adalah terapi yang menekankan perasaanperasaan dan pengaruh-pengaruh urusan yang tak selesai terhadap perkembangan kepribadian sekarang. D Asumsi Perilaku bermasalah 1. Individu bermasalah karena terjadi pertentangan antara kekuatan top dog dan keberadaan under dog 2. Perkembangan yang terganggu karena terjadi ketidak seimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self). 3. Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis 4. Ketidak mampuan individu mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya. 5. Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang. 6. Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi. E Tujuan Konseling 1. Meningkatkan proses pertumbuhan klien dan membantu klien mengembangkan potensi manusiawinya. 2. Memperoleh kesadaran atas pengalaman dari saat ke saatnya. 3. Menantang klien agar menerima tanggung jawab atas pengambilan dukungan internal alih-alih dukungan eksternal F Peran Konselor 1. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi, memahami kenyataan atau realitas, serta mendapatkan insight secara penuh 2. Membantu klien menuju pencapain integritas kepribadiannya 3. Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri 9
11 G Depkripsi Proses Konseling 4. Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat bertingkah laku menurut prinsip Gestalt semua situasi bermasalah yang muncul dan akan selalu muncul dapat diatasi dengan baik. 1. Fokus utama konseling: bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. 2. Tugas konselor mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya dan mau mencoba menghadapinya 3. Klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif, menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. 4. Konselor menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak, keinginan-keinginannya untuk melakukan diagnosis, interprestasi maupun memberi nasehat 5. Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatan yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri. 6. Konselor membantu klien menghadapi transisi dari ketergantuangannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien. 7. Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya, dirinya tidak berdaya, bodoh atau gila. 8. Konselor membantu membuat perasaan klien bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal. H Teknik 1. Konfrontasi 2. Dialog dengan polaritas-polaritas 3. Permainan peran 4. Tetap dengan perasaan-perasaan 5. Bermain proyeksi 6. Teknik pembalikan 7. Menembus jalan buntu 8. Menghidupkan kembali serta mengalami ulang urusan yang tak selesai berupa dendam dan rasa bersalah. I Keterbatasan 1. Cenderung kurang memperhatikan faktor kognitif 2. Pendekatan gestalt menekankan tanggung jawab atas diri sendiri, tetapi mengabaikan tanggung 10
12 jawab pada orang lain. 3. Menjadi tidak produktif bila penggunaan teknikteknik Gestalt dikembangkan secara mekanis. 4. Dapat terjadi klien sering bereaksi negatif terhadap sejumlah teknik Gestalt karena merasa dirinya dianggap anak kecil atau orang bodoh. 5. Sedikit bukti empiris penelitian terhadap efektivitas terapi. J Contoh Penerapan 1. Pendekatan ini cocok diterapkan pada konseling dan terapi individual serta kelompok. Juga bisa diterapkan pada situasi-situasi mengajar-belajar di kelas. Contoh kasus: Angel adalah seorang mahasiswi yang menganggap bahwa semua laki-laki itu tidak baik. Ia menganggap bahwa semua laki-laki selalu menyakiti dan bersikap kasar. Perilaku Angel cenderung menjauhi laki-laki. Hal ini membuat ibunya cemas apabila anaknya tidak mendapatkan pasangan hidup pada akhirnya. Merekapun mendatangi konselor dengan pendekatan gestalt, ternyata diketahui bahwa pada masa lalunya, Angel mengalami perlakuan yang buruk dari ayahnya, sewaktu berusia sekolah dasar, ia seringkali dipukuli dihardik dengan sangat kasar. (unfinished bussines). Konselor Gestalt akan berusaha untuk membantu Angel merasakan apa yang terjadi saat ini. Konselor akan menfasilitasi Angel untuk menunjukkan situasi yang terjadi saat ini. Pendekatan Gestalt tidak berorientasi pada masa lalu atau berusaha untuk mengorek perilaku orang tua yang menyebabkan Angel berperilaku menjauhi laki-laki. Sebab, jika itu dilakukan, maka Angel ini akan berusaha untuk meraih masa lalunya yang hilang, dan dia akan berpikir menjadi anak kecil. Ini adalah proses yang tidak produktif. Angel akan dibantu untuk menyadari bahwa perilakunya tidak produktif dan kemudian mencari perilaku-perilaku yang lebih produktif. Akhirnya, klien didorong untuk langsung mengalami perjuangan disini-dan-sekarang terhadap urusan yang tak selesai di masa lampau. Dengan mengalami konflik-konflik, meskipun hanya membicarakannya, klien lambat laun bisa memperluas kasadarannya. 11
13 PENDEKATAN ANALISIS TRANSAKSIONAL (AT) A Nama Pendekatan Transaksional B Tokoh Eric Berne C Konsep Dasar 1. Berfokus pada permainan-permainan yang dimainkan untuk menghindari keakraban dalam transaksi-transaksi. 2. Kepribadian terdiri dari ego orang tua, ego orang dewasa, dan ego anak. 3. Permainan, penipuan, putusan-putusan dini, skenario kehidupan, dan internalisasi perintahperintah adalah konsep utama. D Asumsi Perilaku bermasalah 1. Menolak konsep adanya sakit mental pada setiap manusia. 2. Perilaku bermasalah hakekatnya terbentuk karena adanya rasa tidak bertanggung jawab terhadap keputusannya. E Tujuan Konseling 1. Agar bebas dari skenario, bebas dari permainan, menjadi pribadi yang otonom yang sanggup memilih ingin menjadi apa dirinya. 2. Menguji putusan-putusan dini dan membuat putusan-putusan baru berlandaskan kesadaran. 3. Memprogram pribadinya agar membuat ego state berfungsi pada saat tepat F Peran Konselor 1. Konselor berperan sebagai guru, pelatih dan narasumber 2. Sebagai guru, konselor menerangkan konsepkonsep seperti analisis struktural, analisis transaksional analisis skenario, dan analisis permainan 3. Sebagai pelatih, konselor mendorong dan mengajari agar klien mempercayai ego dewasanya sendiri. 4. Membantu klien dalam hal menemukan kondisi masa lalu yang tidak menguntungkan 5. Menolong klien mendapatkan perangkat yang diperlukan untuk mendptkan perubahan 6. Tugas kunci konselor adalah menolong klien untuk menemukan kekuatan internal guna mengambil keputusan yang cocok G Depkripsi Proses Konseling Menurut Harris : 1. Pada bagian pendahuluan digunakan untuk menentukan kontrak dengan klien, baik mengenai masalah maupun tanggung jawab kedua pihak. 2. Pada bagian kedua baru mengajarkan Klien tentang ego statenya dengan diskusi bersama Klien ( Shertzer & Stone, 1980 : 209). Kontrak bagi Dusay (Cosini, 1984 : 419 ) adalah berbentuk pernyataan klien terapis untuk bekerja sama mencapai tujuan dan 12
14 masing-masing terikat untuk saling bertangung jawab, karena terapist bukanlah pula orang yang menanti mukjizat terapist. Kontrak dalam Pendekatan ini menurut Dusay mencakup 4 (empat)komponen: a. Saling menyetujui, yakni terjadinya persetujuan dalam keadaaan ego state dewasa antara Klien terapist untuk melakukan perubahan yang spesifik. b. Kompetensi, yakni kesediaan terapist untuk memberikan layanan yang menggunakan kompetensi yang dimilikinya, yakni merubah dan mengatasi persepsi klien yang salah atas diri dan lingkungannya. Kontrak untuk hidup sehat dan panjang umur berada diluar jangkauan kompetensi terapis. c. Tujuan yang legal, adalah menyangkut materi dan tujuan dari kontrak yang bersifatlegal. d. Konpensasi yakni menyangkut imbalan bagi terapist yang telah mengorbankan waktu dan kemampuannya. Setelah kontrak ini selesai, baru kemudian terapist bersama klien menggali ego state dan memperbaikinya sehingga terjadi dan tercapainya tujuan konseling. H Teknik 1. Analisis skenario 2. Kuisioner 3. analisis struktural, 4. analisis transaksional, 5. kursi kosong, 6. bermaian peran, 7. percontohan keluarga, 8. analisis ritual; 9. hiburan dan permainan, 10. analisis permainan dan ketegangan, I Keterbatasan 1. Konsep dan prosedurnya tidak dapat dijadikan objek pengujian untuk mendapatkan vadilitas ilmiah 2. Data empiris yang objektif sangat kurang 3. Meminimalkan / mengabaikan aspek emosional J Contoh Penerapan 1. Pendekatan ini bisa diterapkan pada hubungan orang tua anak, belajar di kelas, pada konseling dan terapi individual serta kelompok, dan pada konseling perkawinan. Secara rasional, keberhasilan AT di klinik-klinik Psikoterapi mungkin sekali kita rekrut ke sekolah. 13
15 Malah kita lebih optimis lagi, karena dapat mengamati langsung perubahan klien di luar ruangan konseling. Betapa tidak, titik sentral dari analisisnya terletak pada transaksi. Selama klien masih berada di sekolah, selama itu pula kita dapat menganalisis transaksinya baik dengan temannya atau gurunya. Lebih optimis lagi, bahwa AT dapat berhasil bila digunakan sebagai penyuluh kelompok. Karena orang yang sehat kreteria AT adalah yang punya perasaan bebas untuk menentukan pilihannya. Transaksi yang digunakan adalah terciptanya transaksi antar status ego Dewasa. Kemungkinan tumbuh dan berkembang transaksi antar ego Dewasa ini lebih besar dengan teman sebaya. Jadi kondisi ini memungkinkan konselor menerapkan AT sebagai penyuluh kelompok di sekolah. Kondisi sekolah yang menunjang penerapan AT sebagai pendekatan penyuluhan kelompok ini, justru sebaliknya bagi penyuluh individual. Harapan agar komunikasi atau transaksi antara konselor klien dapat terbentuk transaksi antara ego state dewasa-dewasa, justru sulit terbina. Karena adanya jarak antara Konselor dengan Klien. Jarak itu adalah faktor usia. Konselor lebih cenderung jauh lebih tua dari klien yang siswa ( untuk SMTP, tahun untuk SMTA). Karena itu transaksi yang mungkin sering muncul adalah antara ego state Dewasa (Konselor) Anak-anak (Pada siswa). Kondisi ini ditopang oleh faktor budaya kita. Indonesia sebagai bangsa yang berlandaskan pada Pancasila bukanlah negara yang berfaham Liberal. Adat dan sopan santun ketimuran selalu melekat pada masyarakat Indonesia. Cara berbicara dengan orang yang sama besar atau lebih kecil tidak sama dengan cara berbicara dengan orang yang dihormati dan atau lebih besar. Pada beberapa daerah, bahasa yang digunakanpun juga berbeda, lebih halus dan lembut. Karena itu, keberhasilan AT pada masyarakat Amerika yang egaliter belim tentu bisa sama dengan masyarakat kita. 14
16 PENDEKATAN TINGKAH LAKU A Nama Pendekatan Tingkah laku B Tokoh Wolve, Eysenck, Lazarus, Salter C Konsep Dasar 1. Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dipengaruhi oleh faktor-faktor luar. 2. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungan dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. 3. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macam penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. 4. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkuangan, melalui hukum-hukum belajar(pembiasan klasik, pembiasan operan, peniruan) 5. Manusia bukanlah hasil dorongan tidak sadar melainkan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisikondisi pembentukan tingkah laku. 6. Manusia cenderung akan mengambil stimulus yang menyenangkan dan menghindarkan stimulus yang tidak menyenangkan. 7. Berfokus pada tingkahlaku yang nampak, ketepatan dalam menyusun tujuan-tujuan treatmentt, pengembangan rencana-rencana treatment yang spesifik, dan evaluasi yang obyektif atas hasil-hasil terapi. 8. Terapi berlandaskan prisip-prinsip teori belajar. 9. Tingkahlaku yang normal dipelajari melalui perkuatan dan peniruan. 10. Tingkahlaku yang abnormal akibat dari belajar yang keliru. 11. Ia menekankan tingkah laku yang sekarang dan hanya sedikit memberikan perhatian kepada sejarah masa lampau dan sumber-sumber gangguan. D Asumsi Perilaku bermasalah 1. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat, yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan 2. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentuk dari cara balajar atau lingkungan yang salah. 3. Manusia bermasalah mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku yang negatif dari lingkungannya. 4. Tingkah laku maladaptip terjadi karena kesalahpahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat 5. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan 15
17 cara belajar dan juga dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar. E Tujuan Konseling 1. Menghapus pola-pola tingkahlaku yang maladaptif dan membantu klien dalam mempelajari pola-pola tingkahlaku yang konstruktif. 2. Mengubah tingkah laku. 3. Tujuan-tujuan spesifik dipilih oleh klien. 4. Tujuan-tujuan yang luas dipecah ke dalam subtujuan-subtujuan yag tepat. F Peran Konselor 1. Memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment yaitu dalam penerapan pengetahuan ilmiah dalam memecahkan masalah-masalah para kliennya. 2. Secara khasnya, terapis berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan mengarah pada tingkah laku yang baru. 3. Fungsi penting lainnya adalah peran terapis sebagai model bagi klien. G Depkripsi Proses Konseling 1. Proses konseling dibingkai oleh kerangka kerja untuk mengejar klien dalam mengubah tingkah lakunya. 2. Proses konseling adalah proses belajar, konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut. 3. Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialami pada waktu itu. 4. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi metode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah. H Teknik 1. Desensitisasi sistematik 2. Latihan asertif 3. Terapi aversi 4. Pengondisian operan I Keterbatasan 1. Bersifat dingin kurang menyetuh aspek pribadi, bersifat manipulatif, dan mengabaikan hubungan antar pribadi. 2. Lebih terkosentrasi kepada teknik 3. Pemilihan tujuan sering ditentukan oleh konselor. 4. Konstruksi belajar yang dikembangkan dan digunakan oleh konselor, tidak cukup komprehensif untuk menjelaskan belajar dan harus dipandang hanya sebagai suatu hipotesis yang harus diuji. 5. Perubahan klien hanya berupa kejala yang hanya dapat berpindah kepada bentuk tingkah laku yang lain. 16
18 J Contoh Penerapan 1. Pendekatan ini diterapkan secara luas pada terapi individual dan kelompok, lembagalembaga, sekolah-sekolah, dan situasi belajar lainnya. Terapis behavior harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment yaitu dalam penerapan pengetahuan ilmiah dalam memecahkan masalah-masalah para kliennya. Secara khasnya, terapis berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan mengarah pada tingkah laku yang baru. Fungsi penting lainnya adalah peran terapis sebagai model bagi klien. Bandura mengungkapkan bahwa salah satu proses fundamental yang memungkinkan klien bisa mempelajari tingkah laku baru adalah imitasi atau pencontohan sosial yang disajikan oleh terapis. Karena klien sering memandang terapis sebagai orang yang patut diteladani, klien sering kali meniru sikap-sikap, nilai-nilai, kepercayaankepercayaan, dan tingkah laku terapis. Jadi, terapis harus menyadari peranan penting yang dimainkannya dalam proses identifikasi dari klien. Terapis yang tidak menyadari kekuatan yang dimilikinya dalam mempengaruhi dan membentuk cara berpikir dan bertindak kliennya, berarti terapis mengabaikan arti penting kepribadiannya sendiri dalam proses terapi. 17
19 PENDEKATAN RET (Rational Emotive Terapy) A Nama Pendekatan RET (Rational Emotive Terapy) B Tokoh Albert Ellis (1960-an) C Konsep Dasar 1. Neurosis adalah pemikiran dan tingkah laku irasional. 2. Gangguan-gangguan emosional berakar pada masa kanak-kanak, tetapi dikekalkan melalui reindoktrinasi sekarang. 3. Sistem keyakinan adalah penyebab masalahmasalah emosional 4. Metode ilmiah diterapkan pada kehidupan sehari-hari. D Asumsi Perilaku bermasalah Tingkah laku bermasalah: tingkah laku yang didasarkan dikendalikan oleh cara berpikir yang irrasional (IB) Ciri-ciri IB: 1. Tidak dapat dibuktikan 2. Menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan) yang sebenarnya tidak perlu. 3. Menghalangi individu untuk berkembang. E Tujuan Konseling 1. Menghapus pandangan hidup klien yang mengalahkan diri dan membantu klien dalam memperoleh pandangan hidup yang lebih toleran dan rasional. 2. Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan klien yang irrasional dan tidak logis menjadi pandangan yang irrasional dan logis. 3. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa waswas, rasa marah. 4. Memperbaiki cara berpikir, merasa dan berperilaku sehingga ia tidak mengalami gangguan emosional dimasa yang akan datang. F Peran Konselor 1. Konselor lebih edukatif direktif kepada klien, dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan, khususnya pada tahap awal 2. Mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung. 3. Menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien, kemudian memperbaiki mereka untuk mendidik dirinya sendiri. 4. Dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien. 5. Mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya. 6. Menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis 18
20 G Depkripsi Proses Konseling 7. Menggunakan humor dan menekan sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irrasional. 1. Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis, yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batas-batas tujuan yang disusun cara bersama-sama oleh konselor dan klien. H Teknik 1. Teknik-teknik Emotif ( assertive adaptive, bermain peran, Imitasi) 2. Teknik-teknik Behavioristik (Reinforcement, sosial modeling, Live model) 3. Teknik-teknik koniktif (Home work assigments, latihan assertive) 4. Reinforcement I Keterbatasan 1. Ada klien yang boleh ditolong melalui analisa logik dan falsafah, tetapi ada pula yang tidak begitu sulit otaknya untuk dibantu dengan cara yang sedemikian yang berasaskan kepada logika. 2. Ada setengah klien yang begitu terpisah dari realita sehingga usaha untuk membawanya ke alam nyata sukar sekali dicapai. 3. Ada juga klien yang terlalu berprasangka terhadap logik, sehingga sukar untuk mereka menerima analisa logik. 4. Ada juga setengah klien yang memang suka mengalami gangguan emosi dan bergantung kepadanya di dalam hidupnya, dan tidak mahu membuat apa-apa perubahan lagi dalam hidup mereka. J Contoh Penerapan 1. Pendekatan ini pada menekankan pentingnya pemikiran sebagai dasar dari gangguan-gangguan pribadi. Sumbangan utamanya adalah penekananya pada keharusan praktek dan bertindak menuju perubahan tingkah laku masalah. Contoh kasusnya : Pencurian sepeda motor yang dilakukan siswa SMU. 19
21 PENDEKATAN REALITAS A Nama Pendekatan Realitas B Tokoh William Glasser C Konsep Dasar 1. Menolak model medis dan kosep tentang penyakit mental. 2. Berfokus pada apa yang bisa dilakukan sekarang, dan menolak masa lampau sebagai variable utama. 3. Pertimbangan nilai dan tanggung jawab moral ditekankan. D Asumsi Perilaku bermasalah 1. Reality therapy pada dasarnya tidak mengatakan bahwa perilaku individu itu sebagai perilaku yang abnormal. 2. Konsep perilaku menurut konseling realitas lebih dihubungkan dengan berperilaku yang tepat atau berperilaku yang tidak tepat. 3. Menurut Glasser, bentuk dari perilaku yang tidak tepat tersebut disebabkan karena ketidak mampuannya dalam memuaskan kebutuhannya, akibatnya kehilangan sentuhan dengan realitas objektif, dia tidak dapat melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya, tidak dapat melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya, tidak dapat melakukan atas dasar kebenaran, tangguang jawab dan realitas. 4. Meskipun konseling realitas tidak menghubungkan perilaku manusia dengan gejala abnormalitas, perilaku bermasalah dapat disepadankan dengan istilah identitas kegagalan. Identitas kegagalan ditandai dengan keterasingan, penolakan diri dan irrasionalitas, perilakunya kaku, tidak objektif, lemah, tidak bertanggung jawab, kurang percaya diri dan menolak kenyataan 5. Menurut Glasser (1965, hlm.9), basis dari terapi realitas adalah membantu para klien dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar psikologisnya, yang mencangkup kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kkebutuhan untuk merasakan bahwa kita berguna baik bagi diri kita sendiri maupun bagi oaring lain. 6. Pandangan tentang sifat manusia mencakup pernyataan bahwa suatu kekuatan pertumbuhan mendorong kita untuk berusaha mencapai suatu identitas keberhasilan. Penderitaan pribadi bisa diubah hanya dengan perubahan identitas. Pandangan terapi realitas menyatakan bahwa, karena individu-individu bisa mengubaha cara hidup, perasaan, dan 20
22 tingkah lakunya, maka merekapun bisa mengubah identitasnya. Perubahan identitas tergantung pada perubahan tingkah laku. 7. Maka jelaslah bahwa terapi realitas tidak berpijak pada filsafat deterministik tentang manusia, tetapi dibangun diatas asumsi bahwa manusia adalah agen yang menentukan dirinya sendiri. Prinsip ini menyiratkan bahwa masingmasing orang memilkiki tanggung jawab untuk menerima konsekuensi-konsekuensi dari tingkah lakunya sendiri. Tampaknya, orang menjadi apa yang ditetapkannya E Tujuan Konseling 1. Membimbing klien ke arah mempelajari tingkah laku yang realistik dan bertanggung jawab serta mengembangkan identitas keberhasilan. 2. Membantu klien dalam membuat pertimbanganpertimbangan nilai tentang tingkah lakunya sendiri dan dalam merencanakan tindakan bagi perubahan. F Peran Konselor 1. Bertindak sebagai pembimbing yang membantu konseli agar bisa menilai tingkah lakunya sendiri secara realistis. 2. Berperan sebagai moralis 3. Motivator 4. Sebagai guru 5. Memberikan kontrak 6. Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis 7. Konselor bersikap anonim, artinya konselor berusaha tak dikenal klien, dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya, sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis. G Depkripsi Proses Konseling Langkah-langkah yang ditempuh : 1. Menciptakan hubungan kerja dengan klien 2. Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi. 3. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya 4. Pengembangan resistensi untuk pemahaman diri 5. Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor. 6. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi. 7. Menutup wawancara konseling 21
23 H Teknik 1. Asosiasi bebas, yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang, sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya. Klien diminta mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Tujuan teknik ini adalah agar klien mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lalu. Hal ini disebut juga katarsis. 2. Analisis mimpi, klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke permukaan. Menurut Freud, mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari. 3. Interpretasi, yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien, baik dalam asosiasi bebas, mimpi, resistensi, dan transferensi klien. Konselor menetapkan, menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resitensi dan transferensi. 4. Analisis resistensi; resistensi berati penolakan, analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi). Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi 5. Analisis transferensi. Transferensi adalah mengalihkan, bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. Dalam hal ini, klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta, seksualitas, kebencian, kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. Konselor menggunakan sifat-sifat netral, objektif, anonim, dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut. I Keterbatasan 1. Di anggap terlalu sederhana dan dangkal. Di akui bahwa kritik pendekatan konseling realitas pada daerah ini. Glasser juga menyetujui bahwa 22
24 delapan tahap dari pendekatan konseling realitas adalah sederhana dan jelas lebih menekankan pada praktek dan tidak pada materi yang sederhana. 2. Kekurangan terapi realitas : ( Gerald Corey, 1973 : 286 ) Tidak memperhatikan dinamika alam bawah sadar manusia. Di satu sisi pendekatan ini juga memandang peristiwa masa lalu sebagai penyebab dari peristiwa sekarang. J Contoh Penerapan Pendekatan ini paling cocok untuk konseling individu, kelompok, dan konseling perkawinan. Dalam konseling individu, biasanya konselor menemui klien sekali dalam seminggu. Sementara dalam konseling kelompok, konselor bisa dengan meminta komitmen dari para anggota kelompok untuk melaksanakan rencana dan komitmen yang telah dibuat sesuai dengan masalah yang dibahas dalam forum tersebut. Sedangkan aplikasi pendekatan realitas dalam konseling perkawinan adalah ketika sepasang suami istri berkeinginan untuk bercerai. Melalui pendekatan ini konselor dapat mengeksplorasi pro dan kontra diteruskannya suatu perkawinan. ( Gerald Corey, 1973 : 283 ) 23
25 PENDEKATAN TRAIT AND FACTOR A Nama Pendekatan Trait and Factor B Tokoh Walter Bigham, John Darley, Donald G.Paterson dan E.G.Williamson. C Konsep Dasar 1. Manusia merupakan sistem sifat atau faktor yang saling berkaitan anatar satu dengan lainnya, seperti kecakapan, minat, sikap, dan temperamen. 2. Perkembangan kemajuan individu mulai dari masa bayi sampai dewasa diperkuat oleh interaksi sifat dan faktor. Telah banyak dilakukan usaha untuk menyusun kategori individu atas dasar dimensi sifat dan faktor. 3. Manusia berusaha untuk menggunakan pemahaman diri dan pengetahuan kecakapan dirinya sebagai dasar bagi pengembangan potensinya. 4. Manusia mempunyai potensi untuk berbuat baik atau buruk 5. Makna hidup adalah mencari kebenaran dan berbuat baik serta menolak kejahatan. 6. Menjadi manusia seutuhnya tergantung pada hubungan dengan orang lain. D Asumsi Perilaku bermasalah 1. Asumsi perilaku bermasalah adalah individu yang tidak mampu memahami kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya sehingga individu tersebut tidak dapat mengaktualisasikan dirinya secara optimal. (Gudnanto FKIP UMK). E Tujuan Konseling 1. Membantu individu mencapai perkembangan kesempurnaan berbagai aspek kehidupan manusia. 2. Membantu individu dalam memperoleh kemajuan memahami dan mengelola diri dengan cara membantunya menilai kekuatan dan kelemahan diri dalam kegiatan dengan perubahan kemajuan tujuan hidup karier. 3. Membantu individu untuk memperbaiki kekurangan, tidak mampuan, dan keterbatasan diri serta membantu pertubuhan dan integrasi kepribadian. 4. Mengubah sifat-sifat subyektif dan kesalahan dalam penilai diri dengan menggunakan metode ilmiah. F Peran Konselor Dalam konseling, konselor membantu klien untuk menemukan sumber-sumber pada dirinya sendiri, sumber-sumber lembaga dalam masyarakat guna membantu klien dalam penyesuaian yang optimum 24
26 G Depkripsi Proses Konseling H Teknik 1. Atending 2. Parafase sejauh dia bisa. Bantuan dalam konseling ini mencakup lima jenis bantuan yaitu: 1. Hubungan konseling yang mengacu pada belajar yang terbimbing kearah pemahaman diri. 2. Konseling jenis edukasi atau belajar kembali yang individu butuhkan sebagai alat untuk mencapai penyesuaian hidup dan tujuan personalnya. 3. Konseling dalam bentuk bantuan yang dipersonalisasikan untuk klien dalam memahami dan trampil untuk mngaplikasikan pinsip dan teknik-teknik dalam kehidupan sehari-hari. 4. Konseling yang mencakup bimbingan dan teknik yang mempunyai pengaruh terapiutik atau kuratif. 5. Konseling bentuk redukasi bagi diperolehnya kataris secara teraputik. Peranan yang dapat dan seharusnya dilakukan oleh seorang konselor Trait and Factor (Surya, Mohamad : 5) adalah sebagai berikut : 1. Konselor memberitahu kepada klien tentang berbagai kemampuan yang diperoleh melalui penyelenggaraan testing psikologis, angket dan alat ukur lainnya. 2. Konselor memberitahukan tentang bidangbidang yang cocok sesuai dengan kemampuan serta karakteristiknya. 3. Konselor secara aktif mempengaruhi perkembangan klien. 4. Konselor membantu klien mencari atau menemukan sebab-sebab kesulitan atau gangguannya dengan diagnosis eksternal. 5. Secara esensial peranan konselor adalah seperti guru, dimana memberi informasi dan mengarahkan secara efektif. 1. Hubungan konselor dengan klien merupakan hubungan yang sangat akrab, sangat bersifat pribadi dalam hubungan tatap muka. 2. Konselor bukan hanya membantu individu atas apa saja yang sesuai dengan potensinya, tetapi konselor, juga mempengaruhi klien berkembang ke satu arah yang terbaik baginya. 3. Konselor memang tidak menetapkan tetapi memberikan pengaruh untuk mendapatkan cara yang baik dalam membuat keputusan. 25
27 3. Refleksi perasaan 4. Meringkas I Keterbatasan 1. Pandangannya dikembangkan dalam situasi pendidikan dan kliennya dibatasi terutama kepada siswa, siswa yang memilki keragaman derajat kemantapan dan tanggung jawab sendiri. 2. Pandangannya terlalu menekankan pada pengendalian konselor dan hasil yang dicapai pada diri klien lebih banyak tergantung kepada keunggulan konselor dalam mengarahkan dan membatasi klien. 3. Banyak meminimalkan atau mengabaikan aspek afektif klien yang justru seharusnya menjadi kepedulian konselor. 4. Terlalu banyak pertimbangan yang ditekankan pada data obyektif. Penggunaan dan keyakinan yang berlebihan terhdap data ini kurang tepat karena keterbatasan reliabilitas, validitas, dan kelengkapan alat dan datanya. 5. Suatu dilema bagi konselor karena ia harus mendorong dan meyakinkan klien mewujudkan kemampuannya, tetapi ia harus melakukannya tanpa persuasi. J Contoh Penerapan 1. Membantu orang yang bermasalah tentang perjodohan 2. Pendidikan 3. Pekerjaan 4. Meramalkan pengguna narkoba. Contoh kasus: Paijo adalah siswa kelas X SMA di sebuah kota kecil. Dia merasa tidak diperhatikan lagi oleh kedua orang tuanya. Ayah ibunya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Kemudian dia mencari pelarian dengan clubbing yang otomatis minuman keras dan narkoba sudah menjadi hal biasa. Dia sendiri merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut, tapi sulit baginya untuk lepas dari kebiasaannya itu, karena menurut pendapatnya dengan seperti itu dia akan mendapatkan banyak teman dan tidak kesepian lagi. Akhirnya dia semakin tidak nyaman dan datang ke konselor untuk meminta bantuan. Dalam kasus ini, konselor menggunakan pendekatan konseling Trait and Factor. 26
28 DAFTAR PUSTAKA Corey Gerald Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: PT. Reftika Aditama. Surya Mohamad Teori-teori Konseling. Bandung : Pustaka Bani Quraisy Latipun Psikologo konseling. Malang: UMM Press
MODEL TERAPI KONSELING. Teori dan Praktek
MODEL TERAPI KONSELING Teori dan Praktek Ragam model terapi konseling Terapi Psikoanalitik / Freud, Jung, Adler Terapi Eksistensial humanistik / May, Maslow, Frank Jourard Terapi Client-Centered / Carl
APLIKASI KONSEP-KONSEP PSIKOANALAISIS DALAM KONSELING KELUARGA
APLIKASI KONSEP-KONSEP PSIKOANALAISIS DALAM KONSELING KELUARGA A. Pendekatan Psikoanalisis Aliran psikoanalisis dipelopori oleh Sigmund Freud pada tahun 1896. Dia mengemukakan bahwa struktur kejiwaan manusia
PERSPEKTIF DAN MAKNA PENDEKATAN KONSELING
PERSPEKTIF DAN MAKNA PENDEKATAN KONSELING Esensi Konseling Suatu proses hubungan untuk membantu orang lain, yang terbangun dalam suatu hubungan tatap muka antara dua orang individu (klien yang menghadapi
KONSEP DASAR. Manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan.
KONSEP DASAR Manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagianbagian organ-organ seperti hati, jantung, otak, dan sebagainya,
A. Konsep Dasar. B. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah
A. Konsep Dasar Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten.
KONSEP DASAR. Manusia padasarnya adalah unik memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional
KONSEP DASAR Manusia padasarnya adalah unik memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika
BAB I PENDAHULUAN. fenomena---teori adalah untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai suatu kegiatan profesional dan ilmiah, pelaksaan konseling bertitik tolak dari teori-teori yang dijadikan sebagai acuannya. Pada umumnya teori diartikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Konseling merupakan bagian dari bimbingan baik sebagai pelayanan maupun sebagai teknik. Konseling merupakan inti dari bagian bimbingan secara keseluruhan dan lebih
Reality Therapy. William Glasser
Reality Therapy William Glasser 1. Latar Belakang Sejarah William Glasser lahir tahun 1925, mendapatkan pendidikan di Cleveland dan menyelesaikan sekolah dokter di Case Western Reserve University pada
A. Identitas : Nissa (Nama Samaran)
A. Identitas Nama Umur Jenis kelamin Agama Pekerjaan Asal Sekolah Kelas : Nissa (Nama Samaran) : 18 tahun : Perempuan : Islam : Siswa : SMA Negeri 1 Sanden : XII Semester : 1 Alamat B. Deskripsi Kasus
BAB II TEKNIK KONSELING DALAM TEORI GESTALT
BAB I PENDAHULUAN Konseling atau Terapi Gestalt dikembangkan dari sumber dan pengaruh tiga disiplin ilmu yang sangat berbeda, yaitu Psikoanalisis yang dikembangkan oleh Wilhelm Reih, Fenomenologi Eksistensialisme
CARL ROGERS (CLIENT CENTERED THERAPY)
Biografi CARL ROGERS (CLIENT CENTERED THERAPY) 1. Carl Rogers dilahirkan di Illionis 8 Januari 1902 USA. 2. Ia menaruh perhatian atas ilmu pengetahuan alam dan biologi. Pengaruh filsafat J. Deway mendorong
BAB II PENDEKATAN RATIONAL EMOTIVE THERAPY DALAM KELUARGA
BAB II PENDEKATAN RATIONAL EMOTIVE THERAPY DALAM KELUARGA 2.1. Konsep Dasar Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Keluarga merupakan tempat utama dimana seorang anak tumbuh dan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan tempat utama dimana seorang anak tumbuh dan berkembang pertama kalinya. Menurut Reiss (dalam Lestari, 2012;4), keluarga adalah suatu kelompok
KONSEP DASAR. Manusia : mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/dipengaruhi oleh faktorfaktor
KONSEP DASAR Manusia : mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/dipengaruhi oleh faktorfaktor dari luar Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini
Psikologi Konseling Psychoanalysis Therapy and Person Center Therapy
Modul ke: Fakultas Psikologi Psikologi Konseling Psychoanalysis Therapy and Person Center Therapy Agustini, M.Psi., Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Pendahuluan Psychoanalysis Therapy
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pada prinsipnya sebagai makhluk sosial, antara individu yang satu dengan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada prinsipnya sebagai makhluk sosial, antara individu yang satu dengan yang lainnya pasti membutuhkan kerjasama. Ketergantungan manusia satu dengan yang lain merupakan
PANDUAN REFLEKSI/PENGAMATAN PRAKTIK PENDEKATAN KONSELING BEHAVIORAL FASE PROSES KONSELING
PANDUAN REFLEKSI/PENGAMATAN PRAKTIK PENDEKATAN KONSELING BEHAVIORAL FASE-FASE PROSES KONSELING Konselor Klien Pengamat Petunjuk : Berilah tanda silang pada jenjang skala yang disediakan sesuai dengan keadaan
Psikologi Konseling MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh 10
MODUL PERKULIAHAN Psikologi Konseling Problem Solving Counseling Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 10 MK 61033 Muhammad Ramadhan, M.Psi, Psikolog Abstract Modul
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa ingin berinteraksi dengan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Ketika seorang anak masuk dalam lingkungan sekolah, maka anak berperan sebagai
BAB I PENDAHULUAN. Pendukung utama tercapainya sasaran pembangunan manusia Indonesia
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendukung utama tercapainya sasaran pembangunan manusia Indonesia adalah pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang bermutu tidak cukup hanya dilakukan melalui transformasi
BAB I PENDAHULUAN. Sebagai mahluk sosial, manusia senantiasa hidup bersama dalam sebuah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sebagai mahluk sosial, manusia senantiasa hidup bersama dalam sebuah masyarakat. Manusia senantiasa berhubungan dengan manusia lain untuk memenuhi berbagai
Intervensi Kelompok (pengantar II) Danang Setyo Budi Baskoro, M.Psi
Intervensi Kelompok (pengantar II) Danang Setyo Budi Baskoro, M.Psi Konseling Kelompok Salah satu bentuk konseling dengan memanfaatkan kelompok untuk membantu, memberi umpan balik dan pengalaman belajar
I. PENDAHULUAN. luput dari pengamatan dan dibiarkan terus berkembang.
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Fenomena remaja yang terjadi di Indonesia khususnya belakangan ini terjadi penurunan atau degredasi moral. Dalam segala aspek moral, mulai
PRIBADI CARL ROGERS. Setelah mendapat gelar doktor dalam psikologi Rogers menjadi staf pada Rochester Guidance Center dan kemudian menjadi
9 PRIBADI CARL ROGERS Carl Rogers adalah seorang psikolog yang terkenal dengan pendekatan terapi klinis yang berpusat pada klien (client centered). Rogers kemudian menyusun teorinya dengan pengalamannya
Psikologi Konseling Pendekatan Konseling Rasional Emotif (Rational Emotive Therapy)
Modul ke: Psikologi Konseling Pendekatan Konseling Rasional Emotif (Rational Emotive Therapy) Fakultas Psikologi Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Pendekatan Kognitif Terapi kognitif: Terapi
BAB I PENDAHULUAN. adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan. untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Masyarakat Indonesia telah menerima Pancasila sebagai ideologinya. Ideologi yang bersumberkan pandangan hidup merupakan kristalisasi nilai-nilai yang diterima
BAB I PENDAHULUAN. atau interaksi dengan orang lain, tentunya dibutuhkan kemampuan individu untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah mahluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk berinteraksi timbal-balik dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Memulai suatu hubungan atau
SIJIL PSIKOLOGI ISLAM DAN KAUNSELING. WPK 913 Kaedah Terapi Minggu 2
SIJIL PSIKOLOGI ISLAM DAN KAUNSELING WPK 913 Kaedah Terapi Minggu 2 Pensyarah: Ustazah Dr Nek Mah Bte Batri PhD Pendidikan Agama Islam (UMM) PhD Fiqh & Sains Teknologi (UTM) Sinopsis: Kursus ini akan membincangkan
BAB II KAJIAN TEORITIS
5 2.1 Pengertian Perilaku BAB II KAJIAN TEORITIS Perilaku adalah respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus dari luar oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya interaksi antara individu
TERAPI RASIONAL EMOTIF Oleh : L. Rini Sugiarti, M.Si, psikolog*
TERAPI RASIONAL EMOTIF Oleh : L. Rini Sugiarti, M.Si, psikolog* Ide Dasar Terapi Rasional Emotif merupakan salah satu dari sekian banyak pendekatan yang dapat digunakan dalam psikoterapi. Terapi Rasional
Presented by : Ayu Puspita Sari Psychology 2k11 UIN SA SBY
Presented by : Ayu Puspita Sari Psychology 2k11 UIN SA SBY INTRODUCTION Sebagai reaksi terhadap apa yang disebutnya ketrbatasan mendasar dari psikoanalisis, Carl R. Rogers lalu mengembangkan terapi client-centered.
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
8 BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1. Kajian Pustaka 2.1.1. Penyesuaian Diri Penyesuaian berarti adaptasi yang dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa bertahan serta memperoleh
Psikologi Konseling Agustini, M.Psi., Psikolog MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh
MODUL PERKULIAHAN Psikologi Konseling Psikologi Konseling Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 12 61033 Agustini, M.Psi., Psikolog Abstract Dalam perkuliahan ini akan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam dunia pendidikan, psikologi adalah salah satu disiplin ilmu yang amat penting dipelajari. Namun sebagian besar teori psikologi berasal dari Barat, jadi besar
I. PENDAHULUAN. Setiap manusia dilahirkan dalam kondisi yang tidak berdaya. Untuk memenuhi kebutuhan
I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG DAN MASALAH 1. Latar Belakang Setiap manusia dilahirkan dalam kondisi yang tidak berdaya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sangat tergantung pada bantuan orang-orang
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
KONSELING REMAJA Putri Marlenny P, S.Psi, M.Psi, Psikolog Rumah Duta Revolusi Mental HP/WA :
KONSELING REMAJA Putri Marlenny P, S.Psi, M.Psi, Psikolog Rumah Duta Revolusi Mental HP/WA : 081-5687-1604 NB : Materi ini telah TIM RDRM persentasikan di Dinas Kesehatan Kota Semarang 2017 About Me Nama
BAB I PENDAHULUAN. yang tak kunjung mampu dipecahkan sehingga mengganggu aktivitas.
1 BAB I PENDAHULUAN Dalam Bab berikut dipaparkan mengenai latar belakang penelitian, identifikasi masalah penelitian, rumusan dan pertanyaan penelitian, tujuan peneltian dan manfaat penelitian. A. Latar
Anggit Fajar Nugroho Jurnal Tawadhu Vol. 2 no. 1, 2018
TEORI-TEORI BIMBINGAN KONSELING DALAM PENDIDIKAN (Teori Psikoanalisis, Teori Berpusat Pada Klien dan Teori Behavioristik) Anggit Fajar Nugroho Pascasarjana IAIN Purwokerto [email protected] Abstract
Sunardi, plb fip upi
Sunardi, plb fip upi TERAPI PSIKOANALITIK TERAPI HUMANISTIK TERAPI PSIKOLOGIS TERAPI KOGNITIF TERAPI TINGKAH LAKU TERAPI KELOMPOK TRITMEN TERAPI OBAT-OBATAN INTERVENSI MEDIS T. ELEKTROKONVULSIF TERAPI
BAB IV ANALISIS HASIL DATA PENELITIAN. dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. 77
BAB IV ANALISIS HASIL DATA PENELITIAN A. Temuan Penelitian Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola kategori dan suatu uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema
Fenomenologi Intuitif Carl Rogers: Psikolog (Aliran Humanisme) D. Tiala (pengampu kuliah Psikoterapi dan Konseling Lintas Budaya)
Fenomenologi Intuitif Carl Rogers: Psikolog (Aliran Humanisme) D. Tiala (pengampu kuliah Psikoterapi dan Konseling Lintas Budaya) Carl Ransom Rogers lahir pada tanggal 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinios,
BAB I PENDAHULUAN. lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Guru dihadapkan pada karakterisktik siswa yang beraneka ragam dalam kegiatan pembelajaran. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajar secara lancar dan
THEORY AND PRACTICE OF COUNSELING AND PSYCHOTHERAPY (TEORI DAN PRAKTEK DARI KONSELING DAN PSIKOTERAPI) TERAPI ADLER
THEORY AND PRACTICE OF COUNSELING AND PSYCHOTHERAPY (TEORI DAN PRAKTEK DARI KONSELING DAN PSIKOTERAPI) GERALD COREY TERAPI ADLER ALFRED ADLER ( 1870-1912 ) Pengembang psikodinamika pada terapi (8-10) thn.
Behavioristik Therapy ARNOLD LAZARUZ
Behavioristik Therapy ARNOLD LAZARUZ 1. Latar Belakang ejarah Arnold Lazarus (lahir 1932) mendapat didikan di Johannesberg, Afrika Selatan. Dia merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Mesikipun dibesarkan
BAB I PENDAHULUAN. Gangguan perkembangan seseorang bisa dilihat sejak usia dini, khususnya pada usia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan dipandang sebagai proses yang dinamis yang dipengaruhi oleh sifat bakat seseorang dan pengaruh lingkungan dalam menentukan tingkah laku apa yang
BAB I PENDAHULUAN. Sastra adalah seni yang tercipta dari tangan-tangan kreatif, yang merupakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sastra adalah seni yang tercipta dari tangan-tangan kreatif, yang merupakan jabaran dari kehidupan yang terjadi di muka bumi ini. Sastra merupakan salah satu seni yang
BAB. V KESIMPULAN DAN SARAN
137 BAB. V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Konsep mimpi Sigmund Freud. Mimpi adalah produk psikis yang dianggap sebagai konflik antara daya-daya psikis. Dengan menganalisis mimpi maka dapat mengetahui
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 2014
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Layanan bimbingan pada dasarnya upaya peserta didik termasuk remaja untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi termasuk masalah penerimaan diri. Bimbingan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Devi Eryanti, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan yang bermutu adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional
Theories And Intervention
Theories And Intervention INTERVENSI Upaya merubah pikiran, perasaan, dan atau perilaku individu serta keadaan sosial dengan sengaja sesuai tujuan yang dikehendaki Tujuan; Pemecahan masalah; Memperbaiki
Psikologi Konseling Konseling Berbasis Problem
Modul ke: Psikologi Konseling Konseling Berbasis Problem Fakultas Psikologi Agustini, M.Psi., Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Konseling Berbasis Problem Konseling berbasis problem:
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Self Efficacy 2.1.1 Pengertian Self Efficacy Self efficacy adalah keyakinan diri individu tentang kemampuannya dan juga hasil yang akan individu peroleh dari kerja kerasnya yang
BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dengan proses belajar mengajar, diantaranya siswa, tujuan, dan. antara siswa dan guru dalam rangka mencapai tujuannya.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya
INTERVENSI DALAM PSIKOLOGI KLINIS. DITA RACHMAYANI, S.Psi., M.A dita.lecture.ub.ac.id
INTERVENSI DALAM PSIKOLOGI KLINIS DITA RACHMAYANI, S.Psi., M.A dita.lecture.ub.ac.id [email protected] INTERVENSI? Penggunaan prinsip-prinsip psikologi untuk menolong orang mengalami masalah-masalah
I. PENDAHULUAN. lain. Menurut Supratiknya (1995:9) berkomunikasi merupakan suatu
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Hakikat manusia adalah sebagai makhluk sosial, oleh karena itu setiap manusia tidak lepas dari kontak sosialnya dengan masyarakat, dalam pergaulannya
BERBAGAI PENDEKATAN DALAM PSIKOLOGI
BERBAGAI PENDEKATAN DALAM PSIKOLOGI Subtitle MENGAPA INDIVIDU BERPERILAKU AGRESIF? PENDEKATAN-PENDEKATAN BIOLOGIS PSIKODINAMIKA BEHAVIOR HUMANISTIK KOGNITIF Memandang perilaku dari sudut pandang pemfungsian
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Di era sekarang perceraian seolah-olah menjadi. langsung oleh Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perceraian merupakan kata yang umum dan tidak asing lagi di telinga masyarakat. Di era sekarang perceraian seolah-olah menjadi trend, karena untuk menemukan informasi
BAB II LANDASAN TEORI. merupakan hak setiap individu untuk menentukan sikap, pemikiran dan emosi
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Perilaku Asertif 2.1.1. Pengertian Perilaku Asertif Menurut Smith (dalam Rakos, 1991) menyatakan bahwa perilaku asertif merupakan hak setiap individu untuk menentukan sikap, pemikiran
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI A. Kompetensi Interpersonal 1. Pengertian Kompetensi Interpersonal Menurut Mulyati Kemampuan membina hubungan interpersonal disebut kompetensi interpersonal (dalam Anastasia, 2004).
KEBUTUHAN HARGA DIRI DAN KONSEP DIRI NIKEN ANDALASARI
1 KEBUTUHAN HARGA DIRI DAN KONSEP DIRI NIKEN ANDALASARI Apakah harga diri atau self esteem itu? Coopersmith (Gilmore, 1974) mengemukakan bahwa:.self esteem is a personal judgement of worthiness that is
Alfred Adler. Individual Psychology
Alfred Adler Individual Psychology Manusia lahir dengan tubuh yang lemah dan inferior, suatu kondisi yang mengarah pada perasaan inferior sehingga mengakibatkan ketergantungan kepada orang lain. Manusia
MODUL PERKULIAHAN. Kesehatan Mental. Kesehatan Mental yang Berkaitan dengan Kesejahketaan Psikologis (Penyesuaian Diri)
MODUL PERKULIAHAN Kesehatan Mental yang Berkaitan dengan Kesejahketaan Psikologis (Penyesuaian Diri) Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 03 MK61112 Aulia Kirana,
KETERAMPILAN KONSELING : KLARIFIKASI, MEMBUKA DIRI, MEMBERIKAN DORONGAN, MEMBERIKAN DUKUNGAN, PEMECAHAN MASALAH DAN MENUTUP PERCAKAPAN
KETERAMPILAN KONSELING : KLARIFIKASI, MEMBUKA DIRI, MEMBERIKAN DORONGAN, MEMBERIKAN DUKUNGAN, PEMECAHAN MASALAH DAN MENUTUP PERCAKAPAN oleh Rosita E.K., M.Si Konsep dasar dari konseling adalah mengerti
I. PENDAHULUAN. Secara hakiki, manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Secara hakiki, manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain untuk dapat mempertahankan hidupnya. Proses kehidupan
TUGAS INSTRUMEN EVALUASI PROSES KONSELING MODEL STAKE
TUGAS INSTRUMEN EVALUASI PROSES KONSELING MODEL STAKE Mata Kuliah Pengembangan Instrumen dan MediaBimbingan dan Konseling Dosen Pengampu Prof.Edi Purwanta, M.Pd & Dr.Ali Muhtadi Oleh: Liza Lestari (16713251041)
Psikologi Konseling. Psikologi Konseling. Psikologi Psikologi
MODUL PERKULIAHAN Psikologi Konseling Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 05 61033 Abstract Dalam perkuliahan ini akan didiskusikan mengenai Ketrampilan Dasar Konseling:
BAB II KAJIAN TEORI. seseorang karena konsep diri merupakan kerangka acuan (frame of reference) dalam
BAB II KAJIAN TEORI A. Konsep diri Konsep diri adalah gambaran tentang diri individu itu sendiri, yang terjadi dari pengetahuan tentang diri individu itu sendiri, yang terdiri dari pengetahuan tentang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sikap (Attitude) 2.1.1 Definisi Sikap Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Berdasarkan batasan tersebut,
Bab 2. Landasan Teori. Tokoh-tokoh tersebut tidak saja berfungsi untuk memainkan cerita, tetapi juga berperan
Bab 2 Landasan Teori 2.1 Teori Penokohan Penokohan merupakan satu bagian penting dalam membangun sebuah cerita. Tokoh-tokoh tersebut tidak saja berfungsi untuk memainkan cerita, tetapi juga berperan untuk
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa yang diharapkan menjadi calon-calon pemimpin bangsa maupun menjadi calon penggerak kehidupan bangsa dari sumbangsih
BAB II LANDASAN TEORI
16 BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Tentang Teknik Cognitive Restructuring 1. Pengertian Teknik Cognitive Restructuring Beck mengatakan bahwa terapi kognitif meliputi usaha memberikan bantuan kepada konseli
1. PENDAHULUAN. kegiatan belajar mengajar di dalam kelas adalah sebuah proses dimana
1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian anak, baik di luar dan di dalam sekolah yang berlangsung seumur hidup. Proses
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. berhubungan dengan orang lain (Stuart & Sundeen, 1998). Potter & Perry. kelemahannya pada seluruh aspek kepribadiannya.
7 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep diri 2.1.1. Pengertian Konsep diri Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu
BAB I PENDAHULUAN. Keterlibatan Belajar Siswa, (Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2011), 2
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sikap pasif siswa sering ditunjukan dalam sebuah proses belajar, hal ini terlihat dari perilaku siswa dalam sebuah proses belajar yang cenderung hanya berperan
BAB I PENDAHULUAN. sebagai contoh kasus tawuran (metro.sindonews.com, 25/11/2016) yang terjadi. dengan pedang panjang dan juga melempar batu.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tawuran terjadi dikalangan pelajar sudah menjadi suatu hal yang biasa, sebagai contoh kasus tawuran (metro.sindonews.com, 25/11/2016) yang terjadi di tangerang,
BAB I PENDAHULUAN. Manusia tidak dapat hidup seorang diri karena manusia merupakan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia tidak dapat hidup seorang diri karena manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan kehadiran individu lain dalam kehidupannya. Tanpa kehadiran
BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS
BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS 2.1 Pengertian Perilaku Asertif Perilaku assertif adalah perilaku antar perorangan yang melibatkan aspek kejujuran dan keterbukaan pikiran dan perasaan. Perilaku assertif
BAB 1 PENDAHULUAN. Pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan manusia untuk mengubah
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan manusia untuk mengubah sikap dan tata laku seseorang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran
BAB II TINJAUAN TEORITIS. A. Karyawan PT. INALUM. capital, yang artinya karyawan adalah modal terpenting untuk menghasilkan nilai
1 BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Karyawan PT. INALUM 1. Pengertian Karyawan Karyawan adalah sumber daya yang sangat penting dan sangat menentukan suksesnya perusahaan. Karyawan juga selalu disebut sebagai
BAB II TINJAUAN TEORETIS
BAB II TINJAUAN TEORETIS 2.1 Tinjauan pustaka 2.1.1 Komunikasi Teraupetik Menurut Stuart (1998), mengatakan komunikasi terapeutik merupakan hubungan interpersonal antara perawat dengan klien dalam memperbaiki
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
1 BAB 1 PENDAHULUAN Bab ini merupakan pendahuluan dari keseluruhan laporan penelitian yang menguraikan pokok bahasan tentang latar belakang masalah yang menjadi fokus penelitian, pertanyaan penelitian,
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. ditemukan tujuh novel yang menghadirkan citra guru dan memiliki tokoh guru, baik
347 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Dalam karya sastra Indonesia modern pascaproklamasi kemerdekaan ditemukan tujuh novel yang menghadirkan citra guru dan memiliki tokoh guru, baik sebagai tokoh
I. PENDAHULUAN. berkembang melalui masa bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa hingga. Hubungan sosial pada tingkat perkembangan remaja sangat tinggi
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Masalah 1. Latar Belakang Pada hakekatnya manusia merupakan mahkluk sosial, sehingga tidak mungkin manusia mampu menjalani kehidupan sendiri tanpa melakukan
BAB IV ANALISIS TERAPI RASIONAL EMOTIF DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK KONFRONTASI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN SOSIAL ANAK KORBAN BULLYING
BAB IV ANALISIS TERAPI RASIONAL EMOTIF DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK KONFRONTASI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN SOSIAL ANAK KORBAN BULLYING Setelah menyajikan data hasil lapangan maka peneliti melakukan analisis
BAB I PENDAHULUAN. saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana dua
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pacaran merupakan sebuah konsep "membina" hubungan dengan orang lain dengan saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana
BAB II LANDASAN TEORI. tersebut mempelajari keadaan sekelilingnya. Perubahan fisik, kognitif dan peranan
BAB II LANDASAN TEORI A. KEMANDIRIAN REMAJA 1. Definisi Kemandirian Remaja Kemandirian remaja adalah usaha remaja untuk dapat menjelaskan dan melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya sendiri setelah
BAB I PENDAHULUAN. Stres senantiasa ada dalam kehidupan manusia yang terkadang menjadi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Stres senantiasa ada dalam kehidupan manusia yang terkadang menjadi masalah kesehatan mental. Jika sudah menjadi masalah kesehatan mental, stres begitu mengganggu
Psikologi Konseling Pendekatan Konseling Non- Directive
Modul ke: Fakultas Psikologi Psikologi Konseling Pendekatan Konseling Non- Directive Agustini, M.Psi., Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Dasar Filsafi Carl Rogers Mengenai Manusia Manusia
Client Centered Therapy
Client Centered Therapy 1. Latar Belakang Sejarah Carl Ransom Rogers (1902-1987) pada awal tahun 1940 (Corey 1986:100; Corey 1995: 291-294) pada awal tahun 1940 mengembangkan teori yang disebut non-directive
BAB I PENDAHULUAN. anak-anak terus bekerja, dan daya serap anak-anak tentang dunia makin meningkat.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dunia kognitif anak-anak ialah kreatif, bebas dan penuh imajinasi. Imajinasi anak-anak terus bekerja, dan daya serap anak-anak tentang dunia makin meningkat.
NO. Hal yang diungkap Daftar Pertanyaan
179 LAMPIRAN 180 181 A. Pedoman Wawancara NO. Hal yang diungkap Daftar Pertanyaan 1. Perkenalan dan Rapport 2. Riwayat Penyakit 3. Dampak penyakit terhadap kehidupan secara keseluruhan 4. Aspek Tujuan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Manusia adalah makhluk sosial. Salah satu indikasi bahwa manusia
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial. Salah satu indikasi bahwa manusia sebagai makhluk sosial adalah perilaku komunikasi antarmanusia. Manusia tidak dapat hidup sendiri,
BAB I PENDAHULUAN. tumbuh menjadi dewasa. Menurut Hurlock (2002:108) bahwa remaja. mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Remaja seringkali diartikan sebagai masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa, yang dimasuki pada usia kira-kira 10 hingga 12 tahun
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan merupakan dasar bagi kemajuan dan kelangsungan hidup
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan merupakan dasar bagi kemajuan dan kelangsungan hidup individu. Melalui pendidikan, individu memperoleh informasi dan pengetahuan yang dapat dipergunakan
Psikologi Kepribadian I Sejarah Psikoanalisa Dasar & Teori Sigmund Freud
Modul ke: Psikologi Kepribadian I Sejarah Psikoanalisa Dasar & Teori Sigmund Freud Fakultas Psikologi Agustini, M.Psi., Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Pandangan Dasar Manusia Pandangan
BAB II LANDASAN TEORI. Unconditional Self-Acceptance (USA). USA yang timbul dari penilaian individu
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Penerimaan diri 2.1.1 Definisi Penerimaan Diri Ellis (dalam Richard et al., 201) konsep penerimaan diri disebut Unconditional Self-Acceptance (USA). USA yang timbul dari penilaian
