BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Widya Lie
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Hasil wawancara dengan partisipan penelitian dan hasil dokumentasi dari data rekam medik dan data buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) menggambarkan angka kejadian BBLR di RSUD Salatiga dan faktor ibu yang berpotensi menentukan kejadian tersebut. Angka kejadian bayi dengan BBLR di RSUD Salatiga pada bulan Juni hingga Agustus 2012 dapat dirangkum pada tabel berikut : Tabel 4.1 Angka Kejadian Bayi dengan BBLR di RSUD Salatiga Juni-Agustus 2012 No Bulan Jumlah Kelahiran Jumlah Bayi BBLR Persentase BBLR 1. Juni ,74 2. Juli ,38 3. Agustus ,79 Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa kejadian bayi BBLR di RSUD masih tinggi. Sejak Juni hingga Agustus 2012 tercatat bahwa angka kejadian BBLR di RSUD Salatiga ini masih melebihi target capaian BBLR yang ditetapkan pada sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni maksimal 7% (Depkes, 2010). 41
2 42 Hasil kategorisasi terhadap partisipan dalam hal faktor ibu, baik dari segi faktor gizi ibu, faktor status ekonomi, faktor usia ibu, faktor pengawasan ANC, faktor pendidikan ibu, faktor penyakit/komplikasi selama kehamilan, faktor paritas, faktor jarak kehamilan, faktor pekerjaan ibu dan faktor kebiasaan ibu (merokok, minum alakohol) diringkaskan dalam Tabel 4.2 berikut ini.
3 43 Partisi pan Gizi Status ekonomi M1 Kurang Di bawah M2 Kurang Di atas M3 Kurang Di bawah M4 Kurang Di bawah M5 Sangat Di atas baik M6 Kurang Di bawah M7 Sangat Di atas baik M8 Sangat Di atas baik M9 Kurang Di bawah M10 Kurang Di bawah M11 Kurang Di bawah Tabel 4.2 Kategori faktor ibu pada masing-masing partisipan Usia ANC Pendidik Penyakit Paritas Jarak Pekerjaan Kebiasaan an Kehamilan Ibu Ibu Baik Baik Rendah Baik Baik Baik Berisiko Baik Baik Baik Rendah Baik Berisiko - Berisiko Baik Sangat Kurang Rendah Baik Baik Baik Baik Baik berisiko Baik Baik Rendah Baik Baik Baik Baik Baik Baik Kurang Menengah Berisiko Berisiko - Berisiko Baik Baik Baik Rendah Berisiko Berisiko - Berisiko Baik Sangat Baik Rendah Berisiko Baik Baik Baik Baik berisiko Baik Baik Rendah Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Menengah Berisiko Berisiko - Baik Baik Baik Kurang Menengah Baik Berisiko - Baik Baik Baik Kurang Rendah Baik Baik Baik Baik Baik
4 44 M12 Kurang Di bawah M13 Kurang Di bawah M14 Kurang Di bawah Baik Kurang Rendah Baik Berisiko - Berisiko Baik berisiko Kurang Rendah Baik Berisiko - Baik Baik Sangat berisiko Baik Rendah Baik Baik Baik Baik Baik
5 45 Faktor ibu menunjukkan asosiasi yang positif terhadap kejadian BBLR jika kategori kurang atau beresiko masih ditemukan pada sebagian partisipan yakni sebesar 50% atau lebih partisipan. Dilihat dari faktor gizi partisipan terdapat tiga dari empat belas partisipan mencapai kategori baik. Partisipan dinyatakan mencapai kategori baik, jika kenaikan berat badan selama hamil 0,3-0,5 kg/minggu disesuaikan dengan usia kehamilan partisipan masing-masing. Sebelas dari empat belas partisipan masuk dalam kategori kurang. Partisipan dinyatakan berstatus gizi kurang jika kenaikan berat badan selama hamil kurang dari 0,3 kg/minggu disesuaikan dengan usia kehamilan masing-masing. Sebelas dari empat belas partisipan (78,57%) berstatus gizi kurang melahirkan bayi dengan BBLR. Berdasarkan hasil tersebut, faktor gizi partisipan berasosiasi positif terhadap kejadian bayi BBLR di RSUD Salatiga. Empat dari empat belas partisipan masuk kategori di atas untuk faktor status ekonomi. Partisipan masuk kategori di atas jika pendapatan keluarga per bulan mencapai Rp ,00 atau lebih (menengah ke atas). Sepuluh dari empat belas partisipan masuk dalam kategori di bawah. Partisipan masuk kategori di bawah jika pendapatan keluarga per bulan kurang dari Rp ,00. Sepuluh dari empat belas partisipan (71,43%) dengan status ekonomi di bawah melahirkan bayi dengan BBLR
6 46 sehingga faktor status ekonomi berasosiasi positif dengan kejadian bayi BBLR di RSUD Salatiga. Sepuluh dari empat belas partisipan mencapai kategori baik dalam segi faktor usia. Artinya usia partisipan saat melahirkan masuk usia reproduksi sehat yaitu usia tahun. Tercatat hanya empat dari empat belas partisipan masuk kategori berisiko karena saat melahirkan mencapai usia < 20 tahun dan > 35 tahun. Sepuluh dari empat belas partisipan (71,43%) dengan usia reproduksi sehat yang melahirkan bayi dengan BBLR. Oleh karena itu, faktor usia partisipan ini tidak berasosiasi dengan kejadian bayi BBLR di RSUD Salatiga. Semua partisipan mendapat pelayanan ANC yang seharusnya kecuali enam dari empat belas partisipan yang tidak melakukan pemeriksaan Hb. Delapan dari empat belas partisipan mencapai kategori baik. Partisipan mencapai kategori baik jika partisipan memperoleh pemeriksaan dengan lengkap. Enam dari empat belas partisipan masuk kategori kurang. Partisipan masuk kategori kurang jika ada satu atau lebih jenis pemeriksaan yang belum dilakukan oleh partisipan. Delapan dari empat belas partisipan (57,14%) dengan pengawasan ANC baik, melahirkan bayi BBLR. Faktor pengawasan ANC ini tidak berasosiasi dengan kejadian bayi BBLR di RSUD Salatiga.
7 47 Tampak tidak ada variasi dari segi faktor pendidikan partisipan. Keseluruhan partisipan masuk kategori rendah dengan rata-rata pendidikan partisipan hanya tamat SMA, SMP dan SD. Sehingga faktor pendidikan partisipan ini tidak berasosiasi dengan kejadian bayi BBLR di RSUD Salatiga. Sepuluh dari empat belas partisipan masuk kategori baik, artinya partisipan tidak menderita penyakit ataupun tidak mengalami komplikasi selama kehamilan. Empat dari empat belas partisipan masuk dalam kategori berisiko. Partisipan masuk kategori berisiko jika selama kehamilan partisipan menderita penyakit atau mengalami komplikasi kehamilan. Sepuluh dari empat belas partisipan (71,43%) tidak menderita penyakit ataupun tidak mengalami komplikasi selama kehamilan, melahirkan bayi BBLR. Sehingga faktor penyakit/komplikasi selama kehamilan tidak berasosiasi terhadap kejadian bayi BBLR di RSUD Salatiga. Dilihat dari faktor paritas tercatat tujuh dari empat belas partisipan mencapai kategori baik, artinya kehamilan partisipan merupakan paritas 2 atau 3. Tujuh partisipan sisanya masuk kategori berisiko. Partisipan masuk kategori berisiko jika kehamilan partisipan merupakan paritas 1 atau lebih dari 3. Tujuh dari empat belas partisipan (50%) merupakan paritas pertama, menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR). Sehingga faktor
8 48 paritas ini berasosiasi dengan kejadian bayi BBLR di RSUD Salatiga. Tampak tidak ada variasi dalam segi faktor jarak kehamilan. Sehingga faktor jarak kehamilan ini tidak berasosiasi dengan kejadian bayi BBLR di RSUD Salatiga. Dilihat dari segi faktor pekerjaan tercatat sembilan dari empat belas partisipan masuk kategori baik, artinya partisipan tidak bekerja selama kehamilan atau hanya sebagai ibu rumah tangga. Lima dari empat belas partisipan masuk kategori berisiko, dimana partisipan bekerja selama kehamilan. Sembilan dari empat belas partisipan (64,29%) tidak bekerja atau sebagai partisipan rumah tangga (IRT) melahirkan bayi BBLR. Oleh karena itu, faktor pekerjaan partisipan tidak berasosiasi dengan kejadian bayi BBLR di RSUD Salatiga. Berdasarkan hasil wawancara, keseluruhan partisipan tidak merokok dan tidak mempunyai kebiasaan minum alkohol. Faktor kebiasaan partisipan ini tidak berasosiasi terhadap kejadian bayi BBLR di RSUD Salatiga. Tiga dari empat belas partisipan dengan status gizi baik dan status ekonomi di atas (M5, M7 dan M8), dua di antaranya yakni M5 dan M7 terlihat faktor lain yang mempengaruhi kejadian BBLRnya. M5 teridentifikasi adanya faktor lain yang ditemukan yaitu mengalami komplikasi selama kehamilan
9 49 (preeklamsi), partisipan bekerja selama kehamilan dan pengawasan ANC kurang. Kasus pada M7 terlihat faktor gizi partisipan baik dan status ekonomi di atas, namun yang menjadi faktor penyebab kejadian BBLRnya adalah faktor usia partisipan yang beresiko yaitu usia 42 tahun (lebih dari 35 tahun) dan faktor penyakit yang diderita partisipan yaitu hipertensi. Tujuh dari partisipan dengan paritas pertama (M2, M5, M6, M9, M10, M12 dan M13), lima diantaranya yaitu M6, M9, M10, M12 dan M13 dengan status ekonomi di bawah. Lima dari tujuh partisipan dengan paritas pertama menunjukkan status ekonomi di bawah melahirkan bayi BBLR. 4.2 Pembahasan Status gizi berasosiasi terhadap kejadian BBLR. Hal ini terbukti bahwa sebelas dari empat belas partisipan (78,57%) dengan status gizi kurang, melahirkan bayi BBLR di RSUD Salatiga. Indikator status gizi partisipan didasarkan atas kenaikan berat badan partisipan selama hamil yang disesuaikan dengan usia kehamilan masing-masing. Status gizi kurang dapat diindikasikan salah satunya dengan berat badan partisipan kurang dari kenaikan berat badan yang seharusnya. Status gizi kurang menyebabkan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR).
10 50 Penelitian Ojha di Nepal (2007) menunjukkan faktor yang signifikan berasosiasi terhadap resiko Low Birth Weight (LBW) atau BBLR adalah berat badan ibu selama hamil yang kurang. Penelitian Festy di Kabupaten Sumenep (2010) menunjukkan penambahan berat badan berpengaruh pada berat bayi baru lahir. Sehingga dapat diasumsikan penambahan yang sesuai berkontribusi terhadap berat badan bayi sehingga menentukan bayi tergolong dalam berat badan kurang dari 2500 gram atau berat badan bayi lebih dari 2500 gram. Status gizi kurang dikarenakan kurang asupan gizi atau nutrisi partisipan selama masa kehamilan. Asupan gizi atau nutrisi pada partisipan sangatlah penting guna menunjang pertumbuhan dan perkembangan janin yang dikandungnya. Partisipan dengan asupan gizi atau nutrisi cukup, tanpa pengaruh dari faktor-faktor lain, kemungkinan akan melahirkan bayi dengan berat badan normal. Menurut Waryana (2010), jika status gizi ibu hamil kurang maka akan dapat berakibat bayi lahir dengan berat badan kurang dari normal (low birth weight atau BBLR). Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme energi, karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat selama kehamilan. Peningkatan energi dan zat gizi tersebut diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, sehingga kekurangan gizi tertentu yang
11 51 diperlukan saat hamil dapat menyebabkan janin tumbuh tidak sempurna. Partisipan dengan status ekonomi di bawah, berasosiasi dengan kejadian bayi BBLR. Terbukti sepuluh dari empat belas partisipan (71,43%) dengan status ekonomi di bawah melahirkan bayi dengan BBLR di RSUD Salatiga. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Khatun & Rahman di Bangladesh (2008) menunjukkan bahwa Low Birth Weight (LBW) atau BBLR sebagian besar ditemukan pada keluarga dengan pendapatan pertahun kurang dari pendapatan rata-rata perkapita yaitu sebesar 85,2%. Faktor ekonomi berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan makanan dan layanan kesehatan. Faktor ekonomi yang diindikasikan dengan pendapatan keluarga kurang menyebabkan kebutuhan makanan dan layanan kesehatan tidak dapat terpenuhi secara maksimal. Faktor ekonomi ini berpengaruh terhadap kejadian Low Birth Weight atau BBLR. Status ekonomi ini berkaitan erat dengan tingkat pendapatan. Partisipan dengan pendapatan tinggi, kemungkinan besar gizi yang dibutuhkan selama hamil dapat tercukupi secara optimal. Asupan gizi pada partisipan dipengaruhi oleh pengambilan keputusan partisipan dalam pemilihan makanan. Jika partisipan mempunyai daya beli yang baik, maka pemilihan menu makanan partisipan akan lebih bervariasi, sehingga asupan gizi yang
12 52 dibutuhkan partisipan dapat tercukupi. Pengetahuan ibu akan mempengaruhi dalam pengambilan keputusan dan berpengaruh pada perilakunya. Ibu dengan pengetahuan gizi yang baik, kemungkinan akan memberikan gizi yang cukup bagi bayinya. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Proverawati & Asfuah (2009). paragraf di atas : Berikut ini ungkapan partisipan penelitian yang mendukung Selama hamil saya jarang minum susu, karena uangnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih penting seperti untuk makan sehari-hari, dan kebutuhan untuk sekolah (M3). Berdasarkan ungkapan di atas, masih ditemukan partisipan yang kurang memperhatikan kebutuhan gizi selama hamil dikarenakan faktor ekonomi. Partisipan dengan paritas pertama berasosiasi dengan kejadian BBLR. Terbukti tujuh dari empat belas partisipan (50%) dengan paritas pertama melahirkan bayi dengan BBLR. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Kasim,dkk di Bandung (2008) menunjukkan bahwa kejadian BBLR pada ibu kelompok risiko paritas 1 lebih tinggi dibandingkan paritas 2-4 (OR=1,88). Secara statistik didapatkan hubungan antara paritas 1 dengan kejadian BBLR (p=0,023). Pada paritas pertama partisipan belum mempunyai pengalaman merawat kehamilannya. Enam dari tujuh partisipan
13 53 dengan paritas pertama ini berstatus gizi kurang. Dapat disimpulkan bahwa partisipan dengan paritas pertama belum mempunyai pengalaman dalam pemenuhan kebutuhan gizi kehamilan. Mereka masih kurang memperhatikan asupan gizi atau nutrisi selama kehamilan, sehingga menyebabkan kenaikan berat badan mereka masih kurang dari peningkatan berat badan yang ideal untuk partisipan hamil. Partisipan dengan paritas pertama masih mengalami kesulitan secara finansial dalam merawat kehamilannya. Lima dari tujuh partisipan dengan paritas pertama masih tergolong dalam status ekonomi di bawah. Ekonomi di bawah mengakibatkan pemilihan variasi makanan lebih terbatas sehingga pemenuhan nutrisi selama kehamilan tidak tercukupi secara optimal. Hasil penelitian pada partisipan M5 dan M7 menunjukkan faktor gizi tidak selalu dominan mempengaruhi kejadian BBLR, namun terdapat faktor lain yang mempengaruhi kejadian BBLR yaitu adanya faktor usia partisipan (lebih dari 35 tahun), penyakit/komplikasi selama kehamilan (preeklamsi dan hipertensi), partisipan bekerja selama kehamilan dan pengawasan ANC yang kurang. Pada partisipan M5 teridentifikasi dengan preeklamsi melahirkan bayi lahir dengan BBLR. Preeklamsi berpengaruh
14 54 terhadap kualitas janin karena terjadi penurunan aliran darah ke plasenta menyebabkan janin kekurangan nutrisi sehingga terjadi gangguan pertumbuhan janin (Prawirahardjo, 2008). Hal ini terjadi pula pada partisipan M7 dengan riwayat hipertensi. Menurut Prawirahardjo (2008) efek hipertensi ini pada janin adalah menghambat pertumbuhan janin disebabkan menurunnya perfusi uteroplasenta, sehingga menimbulkan infusiensi plasenta. Kondisi ini dapat menyebabkan bayi lahir dengan BBLR. Faktor lain yang mungkin menentukan terjadinya BBLR pada M5 yaitu partisipan bekerja selama kehamilan. Wanita yang bekerja selama hamil, terlebih apabila pekerjaan tersebut memerlukan kerja fisik yang berat, kondisi ini dapat mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan kesejahteraan janin yang dikandungnya serta dapat beresiko mengalami persalinan prematur atau bayi dengan BBLR (Farrer H, 2001). Partisipan M5 juga teridentifikasi melakukan pengawasan ANC masih kurang. Saat hamil M5 tidak melakukan pemeriksaan Hb, sehingga kondisi partisipan tidak dapat terpantau, khususnya terhadap penyakit anemia (kurang darah). Pada ibu hamil yang menderita anemia berat dapat meningkatkan resiko morbiditas maupun mortalitas ibu dan bayi, kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan prematur juga lebih besar (Waryana, 2010).
15 55 Selain riwayat hipertensi, partisipan M7 teridentifikasi pula berusia lebih dari 35 tahun yaitu 42 tahun. Usia di atas 35 tahun dimana fungsi-fungsi organ repoduksi mulai menurun, sehingga tidak bagus untuk menjalani kehamilan. Selain itu, salah satu efek dari proses degeneratif (penurunan fungsi organ) adalah sklerosis (penyempitan) pembuluh darah arteri kecil dan arteriole miometrium menyebabkan aliran darah ke endometrium tidak merata dan maksimal sehingga dapat mempengaruhi penyaluran nutrisi dari ibu ke janin dan membuat gangguan pertumbuhan janin dalam rahim sehingga salah satunya dapat menyebabkan bayi lahir dengan BBLR (Bartini, 2012 dan Prawirahardjo, 2008).
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian Penelitian deskriptif ini menggambarkan dan menganalisis beberapa faktor ibu yang berasosiasi terhadap kejadian bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR)
TINJAUAN PUSTAKA Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Definisi Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) 2.1.1. Definisi Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah Menurut Saifuddin (2001), Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir
I. PENDAHULUAN. terpenting dalam pertumbuhan anak dimasa datang (Rodhi, 2011) World Health Organization (WHO) 2008, telah membagi umur kehamilan
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah 1.1.1 Latar Belakang Bayi sehat adalah modal utama dalam mewujudkan manusia berkualitas. Keadaan ibu sebelum dan saat hamil akan menentukan berat bayi yang
BAB V PEMBAHASAN. dengan preeklamsi di RSUD Dr. Moewardi Surakarta yang sesuai kriteria inklusi
BAB V PEMBAHASAN Hasil penelitian ini di dapatkan sebanyak 18 responden (60%) ibu bersalin dengan preeklamsi di RSUD Dr. Moewardi Surakarta yang sesuai kriteria inklusi berumur 20-35 tahun. Penelitian
BAB II TINJAUAN TEORI
BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 Pengertian Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram tanpa memandang
BAB I PENDAHULUAN. hingga kelahiran dan pertumbuhan bayi selanjutnya. (Depkes RI, 2009)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Upaya kesehatan ibu telah dipersiapkan sebelum dan selama kehamilan bertujuan untuk mendapatkan bayi yang sehat. Gangguan kesehatan yang terjadi selama kehamilan dapat
BAB Ι PENDAHULUAN. Kehamilan merupakan suatu proses fisiologis yang terjadi pada setiap
BAB Ι PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehamilan merupakan suatu proses fisiologis yang terjadi pada setiap wanita, menurut Depkes RI kehamilan merupakan masa kehidupan yang penting. Pada masa ini ibu harus
BAB I PENDAHULUAN. Berat bayi lahir rendah (BBLR) didefinisikan oleh World Health
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berat bayi lahir rendah (BBLR) didefinisikan oleh World Health Organization (WHO) sebagai berat saat lahir kurang dari 2500 gram. 1 Berdasarkan data dari WHO dan United
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pentingnya peningkatan berat badan yang sesuai dalam masa kehamilan sangat penting untuk mengetahui berat badan janin yang dilahirkan. Peningkatan berat badan
BAB I PENDAHULUAN. panjang badan 50 cm (Pudjiadi, 2003). Menurut Depkes RI (2005), menyatakan salah satu faktor baik sebelum dan saat hamil yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bayi dilahirkan setelah dikandung kurang lebih 40 minggu dalam rahim ibu. Pada waktu lahir bayi mempunyai berat badan sekitar 3 Kg dan panjang badan 50 cm (Pudjiadi,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di seluruh dunia lebih dari 20 juta setiap tahunnya dilahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR). Di negara berkembang kejadian BBLR 16,5%, 2 kali lebih tinggi dibandingkan
BAB I PENDAHULUAN. Salah satu penyebab kematian ibu adalah abortus. Abortus adalah
1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Salah satu penyebab kematian ibu adalah abortus. Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau umur kehamilan kurang dari 22
BAB I PENDAHULUAN. melalui jalan lahir namun kadang-kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Berat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehamilan merupakan suatu proses yang fisiologis. Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Kehamilan melibatkan perubahan fisik maupun emosional dari
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Merokok adalah suatu kebiasaan yang sudah umum dan meluas di masyarakat, dan pada faktanya kebiasaan merokok susah untuk dihilangkan. Merokok telah menjadi
BAB I PENDAHULUAN. sering ditemukan dan merupakan masalah gizi utama di Indonesia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anemia merupakan salah satu penyakit gangguan gizi yang masih sering ditemukan dan merupakan masalah gizi utama di Indonesia (Rasmaliah,2004). Anemia dapat didefinisikan
BAB 1 PENDAHULUAN. dan atau perkembangan fisik dan mental anak. Seseorang yang sejak didalam
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan potensi dasar dan alami dari setiap individu yang sangat diperlukan pada awal kehidupan dan pertumbuhan manusia. Apabila unsur dasar tersebut tidak
HUBUNGAN STATUS GIZI IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RSUD DR WAHIDIN SUDIROHUSODO KOTA MOJOKERTO
HUBUNGAN STATUS GIZI IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RSUD DR WAHIDIN SUDIROHUSODO KOTA MOJOKERTO Indra Yulianti*, Reva Arliyanti Hargiono** Program Studi D3 Kebidanan STIKES
BAB I PENDAHULUAN. Kehamilan merupakan permulaan suatu kehidupan baru. pertumbuhan janin pada seorang ibu. Ibu hamil merupakan salah satu
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kehamilan merupakan permulaan suatu kehidupan baru dalam periode pertumbuhan janin pada seorang ibu. Ibu hamil merupakan salah satu kelompok rawan kekurangan
BAB I PENDAHULUAN. anemia masih tinggi, dibuktikan dengan data World Health Organization
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anemia adalah masalah kesehatan masyarakat dunia yang dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas. Angka prevalensi anemia masih tinggi, dibuktikan dengan data
BAB I PENDAHULUAN. Sebagai tolak ukur keberhasilan kesehatan ibu maka salah satu indikator
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Angka kematian ibu dan bayi di Indonesia masih tergolong tinggi. Sebagai tolak ukur keberhasilan kesehatan ibu maka salah satu indikator terpenting untuk menilai kualitas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kurang Energi Kronis pada Ibu Hamil Kurang energi kronis (KEK) adalah keadaan dimana ibu menderita keadaan kekurangan makanan yang berlangsung menahun (kronis) yang mengakibatkan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan merupakan suatu bentuk dari kebutuhan dasar manusia.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan merupakan suatu bentuk dari kebutuhan dasar manusia. Indikator kesehatan suatu bangsa salah satunya yaitu masih dilihat dari tinggi atau rendahnya angka kematian
BAB I PENDAHULUAN. dikonsumsi oleh organisme secara normal melaui berbagai tahapan yaitu
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Gizi merupakan serangkaian proses penggunaan makanan yang dikonsumsi oleh organisme secara normal melaui berbagai tahapan yaitu pencernaan, penyerapan, transportasi,
Hubungan Antara Anemia Pada Ibu Hamil Dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah Di RS Pendidikan Panembahan Senopati Bantul
Hubungan Antara Anemia Pada Ibu Hamil Dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah Di RS Pendidikan Panembahan Senopati Bantul Rudi Harjanto 1 dan Alfaina Wahyuni 2 1 Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nutrisi merupakan hal yang fundamental bagi kehidupan manusia. Setiap makhluk hidup membutuhkan nutrisi yang cukup dan seimbang agar fungsi tubuh dapat berjalan dengan
BAB II TINJUAN PUSTAKA. Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme, karena itu kebutuhan
BAB II TINJUAN PUSTAKA 2.1 KEBUTUHAN GIZI PADA IBU HAMIL Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme, karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat. Peningkatan energi dan zat gizi tersebut
KARAKTERISTIK IBU KAITANNYA DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH
KARAKTERISTIK IBU KAITANNYA DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH Supiati Kementerian Kesehatan Politeknik Kesehatan Surakarta Jurusan Kebidanan Abstract: Age, Parity, Incidence of LBW. One indicator
BAB 1 PENDAHULUAN. kapasitas/kemampuan atau produktifitas kerja. Penyebab paling umum dari anemia
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu penentu kualitas sumberdaya manusia adalah gizi yang seimbang. Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan,
ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DI RUMAH SAKIT UMUM ANUTAPURA PALU ABSTRAK
ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DI RUMAH SAKIT UMUM ANUTAPURA PALU Rosmala Nur 1, Adhar Arifuddin 2, Redita Novilia 2 1.Bagian Kependudukan, Program Studi Kesehatan Masyarakat,
HUBUNGAN PENAMBAHAN BERAT BADAN IBU SELAMA HAMIL DENGAN KEJADIAN BBLR DI RUMAH SAKIT DR. NOESMIR BATURAJA TAHUN 2014
HUBUNGAN PENAMBAHAN BERAT BADAN IBU SELAMA HAMIL DENGAN KEJADIAN BBLR DI RUMAH SAKIT DR. NOESMIR BATURAJA TAHUN 2014 Wachyu Amelia Dosen STIKES Al-Ma arif Baturaja Program Studi DIII Kebidanan Email: [email protected]
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. kabupaten Bonebolango dengan batas-batas sebagai berikut:
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Gambaran Umum RS Toto Kabila RS Toto Kabila Kabupaten Bonebolango terletak di desa permata kecamatan tilongkabila memiliki luas tanah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Definisi bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) adalah apabila berat badannya kurang dari 2500 gram (Manuaba, 2007). Sebelum tahun
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia (SDKI) tahun 2012 AKI di Indoensia mencapai 359 per jumlah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Angka kematian ibu (AKI) menjadi salah satu indikator dalam derajat kesehatan masyarakat. AKI menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Definisi Kehamilan Risiko Tinggi Kehamilan berisiko adalah kehamilan yang akan menyebabkan terjadinya bahaya dan komplikasi yang lebih besar, baik terhadap ibu maupun terhadap janin
GAMBARAN KARAKTERISTIK IBU YANG MELAHIRKAN BAYI BARU LAHIR RENDAH DI RSUD AMBARAWA KABUPATEN SEMARANG ARTIKEL
GAMBARAN KARAKTERISTIK IBU YANG MELAHIRKAN BAYI BARU LAHIR RENDAH DI RSUD AMBARAWA KABUPATEN SEMARANG ARTIKEL Oleh HIFZOTUL AINI 041313a001 PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDI
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Berat badan lahir bayi adalah berat badan bayi yang ditimbang dalam
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Berat badan lahir bayi adalah berat badan bayi yang ditimbang dalam waktu satu jam pertama setelah lahir. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir
BAB I PENDAHULUAN. Sasaran Pembangunan Millenium Development Goals (MDGS) adalah 102 per
1 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Salah satu indikator terpenting untuk menilai keberhasilan kualitas pelayanan obstetri dan ginekologi dapat tercermin dalam penurunan Angka Kematian Ibu (AKI). Berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap tahunnya, angka kehamilan dunia semakin meningkat. Pada tahun 1995 terjadi 209,5 juta kehamilan di dunia, yang kemudian meningkat menjadi 210,9 juta pada 2008
ANALISIS FAKTOR RESIKO KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK SITI FATIMAH KOTA MAKASSAR
ANALISIS FAKTOR RESIKO KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK SITI FATIMAH KOTA MAKASSAR Ningsih Jaya 1 1 Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan, Makassar ABSTRACT Latar Belakang:
BAB I PENDAHULUAN. sengaja maupun tidak sengaja (Pudiastuti, 2011). Berbagai bentuk. penyimpangan perilaku seksual remaja cenderung mengalami
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehamilan remaja adalah kehamilan yang terjadi pada wanita remaja usia 14-19 tahun yang merupakan akibat perilaku seksual baik sengaja maupun tidak sengaja (Pudiastuti,
BAB 1 PENDAHULUAN. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) tahun
BAB 1 PENDAHULUAN 1.2 Latar Belakang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) tahun 2005-2025 kesehatan masyarakat merupakan salah satu tujuan yang harus dicapai untuk mewujudkan bangsa yang
BAB I PENDAHULUAN. bayi berat lahir rendah (BBLR), dan infeksi (Depkes RI, 2011). mampu menurunkan angka kematian anak (Depkes RI, 2011).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indikator pertama dalam menentukan derajat kesehatan adalah angka kematian bayi (AKB) karena dapat mencerminkan status kesehatan masyarakat. Sebagian besar penyebab
BAB I PENDAHULUAN. (Suharno, 1993). Berdasarkan hasil penelitian WHO tahun 2008, diketahui bahwa
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia yang berakibat buruk bagi penderita terutama golongan rawan gizi yaitu anak balita, anak sekolah, remaja, ibu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk
STATUS GIZI IBU HAMIL SERTA PENGARUHNYA TERHADAP BAYI YANG DILAHIRKAN
2003 Zulhaida Lubis Posted: 7 November 2003 STATUS GIZI IBU HAMIL SERTA PENGARUHNYA TERHADAP BAYI YANG DILAHIRKAN Oleh :Zulhaida Lubis A561030051/GMK e-mail: [email protected] Pendahuluan Status gizi
93 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes
HUBUNGAN KADAR HEMOGLOBIN DAN PERTAMBAHAN BERAT BADAN IBU HAMIL DENGAN BERAT BADAN BAYI BARU LAHIR Sri Hernawati Sirait (Prodi Kebidanan Pematangsiantar Poltekkes Kemenkes RI Medan) Lenny Nainggolan (Prodi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kehamilan Kehamilan pertumbuhan dan perkembangan janin intra uteri mulai sejak konsepsi dan berakhir pada saat permulaan persalinan (Sarwono, 2007). Menurut Sylviati (2008)
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Mortalitas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mortalitas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang. Di negara miskin, sekitar 25-50% kematian wanita usia subur disebabkan hal
BAB V PEMBAHASAN. bersalin umur sebanyak 32 ibu bersalin (80%). Ibu yang hamil dan
BAB V PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden 1. Umur Berdasarkan tabel 4.1 distribusi frekuensi ibu berdasarkan karakteristik umur saat bersalin di RSUD Sukoharjo didapatkan hasil ibu bersalin umur 20-35
HUBUNGAN UMUR, PARITAS, DAN PREEKLAMPSIA DENGAN KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DI RSUD DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN ABSTRAK
HUBUNGAN UMUR, PARITAS, DAN PREEKLAMPSIA DENGAN KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DI RSUD DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN Reny Diah Lestari 1, Ika Mardiatul Ulfa 1, Siti Mariyam 1 STIKES Sari Mulia
HUBUNGAN USIA IBU DENGAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RSUD DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN TAHUN
HUBUNGAN USIA IBU DENGAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RSUD DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN TAHUN 2013-2014 1 AKBID Sari Mulia Banjrmasin 2 STIKES Sari Mulia Banjarmasin * E-mail :[email protected]
BAB 1 PENDAHULUAN. umur kehamilan minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir. Badan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Persalinan preterm (prematur) merupakan persalinan yang berlangsung pada umur kehamilan 20-37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir. Badan Kesehatan Dunia
BAB 1 PENDAHULUAN. Upaya untuk memperbaiki kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan anak telah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Upaya untuk memperbaiki kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan anak telah menjadi prioritas utama dari pemerintah, bahkan sebelum Millenium Development Goal's 2015 ditetapkan.
BAB 1 PENDAHULUAN. dengan berat badan normal. Dengan kata lain kualitas bayi yang dilahirkan sangat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Status gizi ibu sebelum dan selama hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Bila gtatus gizi ibu normal pada masa sebelum dan selama hamil
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Asupan gizi yang baik selama kehamilan merupakan hal yang penting,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asupan gizi yang baik selama kehamilan merupakan hal yang penting, yaitu dengan mengkonsumsi banyak makronutrien dan mikronutrien yang memberikan manfaat untuk memenuhi
PENELITIAN HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN TERHADAP HASIL LUARAN JANIN. Idawati*, Mugiati*
PENELITIAN HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN TERHADAP HASIL LUARAN JANIN Idawati*, Mugiati* Hipertensi dalam kehamilan merupakan penyebab utama kematian ibu di Indonesia sekitar 25% dan menjadi penyulit kehamilan
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah Reflita a Hasni Mastian a a Politeknik Kesehatan Kemenkes Padang Abstract : Data birth in January-November 2009 the hospital Dr.M.Jamil
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masalah gizi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang
17 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masalah gizi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di negara berkembang termasuk Indonesia dan merupakan penyebab kematian ibu dan anak
HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RUMAH SAKIT UMUM Dr. SOEDIRAN WONOGIRI SKRIPSI
HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RUMAH SAKIT UMUM Dr. SOEDIRAN WONOGIRI SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S1
BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), khususnya bayi kurang
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), khususnya bayi kurang bulan (prematur), masih merupakan problem dunia dan nasional karena mempunyai angka kematian yang
FAKTOR MATERNAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN BBLR
FAKTOR MATERNAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN BBLR Isy Royhanaty 1), Dwi Indah Iswanti 2), Linda Saraswati 3) 1 Prodi Kebidanan, STIKes Karya Husada Semarang 2 Prodi Keperawatan, STIKes Karya Husada Semarang
KEJADIAN KEK DAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS KALONGAN KABUPATEN SEMARANG
KEJADIAN KEK DAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS KALONGAN KABUPATEN SEMARANG Puji Pranowowati 1, Yuliaji siswanto 2, Alfan Afandi 3 Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Ngudi Waluyo
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Berat Badan Lahir Cukup (BBLC) a. Definisi Berat badan lahir adalah berat badan yang didapat dalam rentang waktu 1 jam setelah lahir (Kosim et al., 2014). BBLC
BAB I PENDAHULUAN. Masa Kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa Kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir.
BAB I PENDAHULUAN. Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Kekurangan gizi dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Kekurangan gizi dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan, menurunnya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan mempunyai arti yang sangat penting bagi manusia, karena
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan mempunyai arti yang sangat penting bagi manusia, karena tanpa kesehatan yang optimal manusia tidak dapat melakukan semua aktifitas kesehariannnya dengan sempurna.perilaku
BAB 1 PENDAHULUAN. masa kehamilan. Anemia fisiologis merupakan istilah yang sering. walaupun massa eritrosit sendiri meningkat sekitar 25%, ini tetap
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kehamilan memberikan perubahan yang besar terhadap tubuh seorang ibu hamil. Salah satu perubahan yang besar yaitu pada sistem hematologi. Ibu hamil sering kali
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Angka kematian bayi (AKB) merupakan salah satu indikator untuk
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Angka kematian bayi (AKB) merupakan salah satu indikator untuk mengetahui derajat kesehatan di suatu negara. Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih sangat tinggi,
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian bayi di Indonesia masih tinggi. Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi di Indonesia merupakan yang tertinggi ASEAN dengan
BAB I PENDAHULUAN. hamil, pencegahan, pengobatan penyakit dan rehabilitasi. Program ini
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu kebijakan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan status kesehatan masyarakat melalui usaha pencegahan dan pengurangan morbiditas, mortalitas dan kecacatan
HUBUNGAN PERTAMBAHAN BERAT BADAN IBU SELAMA KEHAMILAN DENGAN BERAT BAYI LAHIR DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA SKRIPSI
HUBUNGAN PERTAMBAHAN BERAT BADAN IBU SELAMA KEHAMILAN DENGAN BERAT BAYI LAHIR DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Derajat Sarjana Kedokteran
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
32 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Gambaran Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di RSUD Tidar Magelang. Rumah Sakit Umum Daerah Tidar Magelang terletak di Jln. Tidar No. 30 A,
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gizi merupakan salah satu faktor penentu utama kualitas sumber daya manusia. Peran gizi dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia telah dibuktikan dari berbagai
BAB I PENDAHULUAN. proses selanjutnya. Proses kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Proses kehamilan, persalinan, nifas, neonatus dan pemilihan metode keluarga berencana merupakan suatu mata rantai yang berkesinambungan dan berhubungan dengan kesehatan
Volume 4 No. 1, Maret 2013 ISSN : HUBUNGAN PARITAS DENGAN KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RSUD R.A KARTINI JEPARA INTISARI
HUBUNGAN PARITAS DENGAN KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RSUD R.A KARTINI JEPARA Ita Rahmawati 1, Asmawahyunita 2, Devi Rosita 3 INTISARI AKB di Indonesia tahun 2007 sejumlah 34 per 1000 kelahiran
BAB I PENDAHULUAN. Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia pada tahun 2014 mencapai 214 per
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kematian ibu dapat menjadi salah satu indikator derajat kesehatan. Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia pada tahun 2014 mencapai 214 per 100 ribu kelahiran hidup
BAB I PENDAHULUAN. dari penyakit infeksi ke Penyakit Tidak Menular (PTM). Terjadinya transisi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Transisi epidemiologi yang paralel antara transisi demografi dan transisi teknologi, dewasa ini mengakibatkan perubahan pola penyakit dari penyakit infeksi ke Penyakit
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. bundar dengan ukuran 15 x 20 cm dengan tebal 2,5 sampai 3 cm dan beratnya 500
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Plasenta Previa Plasenta merupakan bagian dari kehamilan yang penting, mempunyai bentuk bundar dengan ukuran 15 x 20 cm dengan tebal 2,5 sampai 3 cm dan beratnya 500 gram. Plasenta
BAB I PENDAHULUAN. sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Menurut Manuaba (2010),
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Anemia pada kehamilan merupakan masalah yang umum karena mencerminkan nilai kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat dan pengaruhnya sangat besar terhadap kualitas
BAB I PENDAHULUAN. (BBLR) adalah salah satu dari penyebab utama kematian pada neonates
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Berat badan (BB) adalah salah satu indikator kesehatan pada bayi baru lahir. BB lahir menjadi begitu penting dikarenakan bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah salah
BAB I PENDAHULUAN. berat badan kurang dari 2500 gram pada saat lahir (Hasan & Alatas, 2005).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu penyebab kematian pada bayi dan anak ialah BBLR (Berat Badan Bayi Lahir Rendah) selain gangguan selama perinatal. BBLR (Berat Badan Bayi Lahir Rendah) adalah
BAB I PENDAHULUAN. negara berkembang lainnya. Angka Kematian Bayi (AKB) adalah jumlah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Angka kematian bayi di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara berkembang lainnya. Angka Kematian Bayi (AKB) adalah jumlah kematian bayi dalam usia 28 hari
