BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perencanaan Arsitektur Enterprise Menurut Surendro (2009) sesuai dengan IEEE ( ), arsitektur adalah pengorganisasian yang fundamental dari suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen, relasi yang terjadi antara komponen dan beberapa lingkungannya, serta prinsip-prinsip yang digunakan sebagai petunjuk dalam desain dan evolusinya. Menurut Spewak yang dikutip Surendro (2009), definisi dari enterprise adalah organisasi (atau badan lintas organisasi) yang mendukung lingkup bisnis dan misi yang telah ditetapkan. Definisi enterprise dapat berarti suatu daerah aktivitas umum dan tujuan dalam sebuah organisasi atau antara beberapa organisasi, dimana informasi dan sumber daya lainnya dipertukarkan (Bernard dalam Sanny dkk., 2012). Dari definisi arsitektur dan enterprise yang berkaitan tersebut dapat disimpulkan bahwa arsitektur enterprise adalah komponen yang saling berkaitan, ataupun prinsip guna mendukung suatu bisnis organisasi. Sesuai dengan Surendro (2009), arsitektur enterprise adalah sekumpulan prinsip, metode dan model yang bersifat masuk akal yang digunakan untuk mendesain dan merealisasikan sebuah struktur organisasi enterprise, proses bisnis, sistem informasi dan infrastrukturnya (Surendro, 2009). Dalam membangun sebuah arsitektur enterprise, dibutuhkan sebuah perencanaan. PAE merupakan pendekatan yang dibuat oleh Spewak (1992) untuk membangun arsitektur enterprise dengan berdasarkan dorongan data dan 9

2 10 dorongan bisnis. Menurut Surendro (2009), PAE merupakan proses mendefinisikan arsitektur-arsitektur untuk penggunaan informasi yang mendukung bisnis dan juga mencakup rencana untuk mengimplementasikan arsitektur tersebut. 2.2 Kerangka Kerja Perencanaan Arsitektur Enterprise Dalam perencanaan arsitektur enterprise terdapat sebuah kerangka kerja yang dapat menjadi panduan dalam merencanakan arsitektur enterprise tersebut. Menurut CIO Council yang dikutip oleh Setiawan (2009), sebuah architecture framework adalah alat yang bisa digunakan untuk mengembangkan cakupan luas dari arsitektur-arsitektur yang berbeda. Ada banyak kerangka kerja perusahaan arsitektur pada saat ini, dan dari sekian kerangka kerja yang ada selalu ada yang baru dan ditambahkan setiap hari. Beberapa kerangka kerja tersebut adalah sebagai berikut (Minoli, 2008): a. The Open Group Architecture Framework (TOGAF). b. Zachman Enterprise Architecture Framework. c. Extended Enterprise Architecture Framework (E2AF). d. Enterprise Architecture Planning (EAP). e. Federal Enterprise Architecture Framework (FEAF). f. Treasury Enterprise Architecture Framework (TEAF). g. Capgemini s Integrated Architecture Framework (IAF). h. Joint Technical Architecture (JTA). i. Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (C4ISR) and DoDAF.

3 11 j. Department of Defense Technical Reference Model (DoD TRM). k. Technical Architecture Framework for Information Management (TAFIM). l. Computer Integrated Manufacturing Open System Architecture (CIMOSA). m. Purdue Enterprise Reference Architecture (PERA). n. Standards and Architecture for egovernment Applications (SAGA). o. European Union IDABC & European Interoperability Framework. ISO/IEC (IEEE Std ). p. IEEE Std IEEE Recommended Practice for Architectural Description. Dari sekian banyak kerangka kerja yang ada, hanya beberapa yang populer digunakan dikalangan perancang sistem informasi. Hal ini dikuatkan oleh hasil survei Institute for Enterprise Architecture Development (IFEAD) di tahun 2003 pada Gambar 2.1. Kerangka kerja yang paling banyak digunakan dalam dunia industri maupun pemerintahan adalah Zachman, TOGAF, IAF dan FEAF (Setiawan, 2009). Gambar 2.1 Survei Penggunaan EA Framework (Setiawan, 2009) Berdasarkan hasil survei di atas, dapat ditarik dua kerangka kerja yang lebih banyak digunakan dan populer yaitu Zachman Framework dan The Open Group Architecture Framework (TOGAF).

4 Kerangka Kerja Zachman Salah satu kerangka kerja yang paling popular adalah kerangka kerja Zachman. Kerangka kerja ini diperkenalkan oleh John Zachman pada tahun Kerangka kerja ini bukan sebuah metodologi yang menyebutkan metode dan proses spesifik untuk mengumpulkan, mengelola dan menggunakan informasi yang dituliskan pada sebuah kerangka kerja pada umumnya. Kerangka kerja Zachman lebih mengarah kepada alat untuk taksonomi pengelolaan artifak sebuah arsitektur seperti dokumen perancangan, spesifikasi dan model yang menunjukkan kepada siapa target dari artifak tersebut seperti pemilik organisasi, para pengembang. Dari beberapa artifak yang ada pada organisasi berguna, namun dengan bantuan kerangka kerja Zachman kemudian dapat dipilih artifak yang berguna untuk organisasi, (Surendro, 2009). Kerangka kerja Zachman adalah kerangka kerja arsitektur enterprise yang menyediakan cara untuk memandang dan mendefinisikan sebuah enterprise secara formal dan terstruktur dengan baik. Menurut Rumapea (2007), kerangka kerja Zachman terdiri dari matriks 6x6. Pada kolom merepresentasikan fokus, abstraksi atau topik arsitektur enterprise, yaitu Data (atau What), Fungsi (atau How), Jaringan (atau Where), Manusia (atau Who), Waktu (atau When) dan Motivasi (atau Why). Sedangkan pada urutan baris dari baris pertama hingga baris keenam merepresentasikan perspektif-perspektif sebagai berikut : a. Perspektif Perencana: perencana disini selaku perencana arsitektur yang akan menetapkan konteks, latar belakang dan tujuan enterprise.

5 13 b. Perspektif Pemilik: pada baris ini pemilik akan menetapkan model-model konseptual dari enterprise. c. Perspektif Perancang: para perancang menetapkan model-model sistem informasi sekaligus menjembatani dan menghubungkan hal-hal yang diinginkan pemilik dan hal-hal yang dapat direalisasikan secara teknis dan fisik. d. Perspektif Pembangun: pada baris ini pembangun sistem menetapkan rancangan teknis dan fisik yang digunakan dalam mengawasi implementasi teknis dan fisik. e. Perspektif Subkontraktor: menetapkan peran dan rujukan bagi pihak yang bertanggung jawab untuk melakukan pembangunan sistem. f. Perspektif Functioning Enterprise: merepresentasikan perspektif pengguna dan wujud nyata hasil implementasi. Dari urutan perspektif tersebut merupakan sebuah urutan kronologis dari perencana sampai ke pengguna. Setiap perspektif memberikan syarat dan batasan pada arsitektur sistem informasi. Tiap perspektif tersebut merupakan representasi lengkap sistem informasi dari berbagai sudut pandang. Dari tiap perspektif inilah nantinya akan memberikan sebuah deskripsi dari arsitektur enterprise, (Surendro, 2009). Kerangka kerja Zacman ditunjukkan seperti sel-sel seperti yang terlihat pada Gambar 2.2.

6 14 Gambar 2.2 Kerangka Kerja Zachman TOGAF Architecture Development Method Kerangka kerja populer lainnya adalah The Open Group Architecture Framework atau yang biasa dikenal dengan TOGAF. TOGAF adalah kerangka kerja dan metode yang diterima secara luas dalam pengembangan arsitektur sebuah perusahaan. TOGAF merupakan hasil pengembangan forum Open Group yang merupakan forum kerja antara vendor dan pengguna. Menurut Open Group yang dikutip Yunis (2009), TOGAF merupakan sebuah kerangka kerja yang memberikan detil bagaimana membangun dan mengelola serta mengimplementasikan arsitektur enterprise yang disebut dengan Architecture Development Method (ADM). ADM merupakan metode generik yang berisikan sekumpulan aktivitas yang digunakan dalam memodelkan pengembangan arsitektur enterprise. Metode

7 15 ini juga bisa digunakan sebagai panduan atau alat untuk merencanakan, merancang, mengembangkan dan mengimplementasikan arsitektur sistem informasi untuk organisasi (Yunis dan Surendro, 2009). TOGAF ADM seperti ditunjukkan pada Gambar 2.3 merupakan metode yang fleksibel yang dapat menggunakan berbagai macam teknik pemodelan yang ada dalam perancangan. Metode ini juga dapat disesuaikan dengan perubahan dan kebutuhan selama perancangan dilakukan, seperti menggabungkan ADM dengan kerangka kerja lainnya sehingga menghasilkan arsitektur yang spesifik terhadap organisasi. TOGAF ADM menyatakan visi dan prinsip yang jelas tentang bagaimana melakukan pengembangan arsitektur enterprise. Prinsip tersebut digunakan sebagai ukuran dalam menilai keberhasilan dari pengembangan arsitektur enterprise oleh organisasi (Open Group, 2009). Prinsip-prinisip tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Prinsip Enterprise, prinsip yang mendukung keputusan bisnis di seluruh bagian organisasi, (Surendro, 2009). b. Prinsip Teknologi Informasi (TI), yang mengarahkan penggunaan sumber daya teknologi informasi di seluruh bagian organisasi, (Surendro, 2009). c. Prinsip Arsitektur, prinsip yang menjelaskan bagaimana mengembangkan arsitektur proses organisasi dan bagaimana mengimplementasikannya. Prinsip ini dipengaruhi oleh rencana organisasi, strategi, faktor pasar, sistem dan teknologi yang ada dalam organisasi. Langkah awal yang perlu diperhatikan pada saat mengimplementasikan TOGAF ADM adalah mendefinisikan persiapan-persiapan yaitu dengan cara mengidentifikasi konteks arsitektur yang akan dikembangkan, kedua adalah

8 16 mendefinisikan strategi dari arsitektur dan menetapkan bagian-bagian arsitektur yang akan dirancang, yaitu mulai dari arsitektur bisnis, arsitektur sistem informasi, arsitektur teknologi, serta menetapkan kemampuan dari arsitektur yang akan dirancang dan dikembangkan (Harrison dan Varveris dalam Yunis, 2009). Tahapan TOGAF ADM terdiri dari 8 (delapan) fase yang berbentuk seperti siklus yang ditunjukkan pada Gambar 2.3 yaitu : a. Architecture Vision Tahapan Architecture Vision menjelaskan bagaimana menciptakan keseragaman pandangan mengenai pentingnya arsitektur enterprise untuk mencapai tujuan organisasi yang dirumuskan dalam bentuk strategi serta menentukan lingkup dari arsitektur yang akan dikembangkan. Pada tahapan ini berisikan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk mendapatkan arsitektur yang ideal. b. Business Architecture Tahapan ini mendefinisikan kondisi awal arsitektur bisnis, menentukan model bisnis atau aktivitas bisnis yang diinginkan berdasarkan skenario bisnis. c. Information System Architecture Pada tahapan ini lebih menekankan pada aktivitas bagaimana arsitektur sistem informasi dikembangkan. Pendefinisian arsitektur sistem informasi dalam tahapan ini meliputi arsitektur data dan arsitektur aplikasi yang akan digunakan oleh organisasi. Arsitekur data lebih memfokuskan pada bagaimana data digunakan untuk kebutuhan fungsi bisnis, proses dan layanan. Teknik yang bisa digunakan dengan yaitu: ER-Diagram, Class Diagram, dan Object Diagram.

9 17 d. Technology Architecture Membangun arsitektur teknologi yang diinginkan, dimulai dari penentuan jenis kandidat teknologi yang diperlukan dengan menggunakan Technology Portfolio Catalog yang meliputi perangkat lunak dan perangkat keras. Dalam tahapan ini juga mempertimbangkan alternatif-alternatif yang diperlukan dalam pemilihan teknologi. e. Opportunities and Solution Pada tahapan ini lebih menekan pada manfaat yang diperoleh dari arsitektur enterprise yang meliputi arsitektur bisnis, arsitektur data, arsitektur aplikasi dan arsitektur teknologi, sehingga menjadi dasar bagi stakeholder untuk memilih dan menentukan arsitektur yang akan diimplementasikan. f. Migration Planning Pada tahapan ini akan dilakukan penilaian dalam menentukan rencana migrasi dari suatu sistem informasi. Biasanya pada tahapan ini untuk pemodelannya menggunakan matrik penilaian dan keputusan terhadap kebutuhan utama dan pendukung dalam organisasi terhadap implementasi sistem informasi g. Implementation Governance Menyusun rekomendasi untuk pelaksanaan tatakelola implementasi yang sudah dilakukan, tatakelola yang dilakukan meliputi tata kelola organisasi, tatakelola teknologi informasi, dan tatakelola arsitektur. h. Arcitecture Change Management Menetapkan rencana manajemen arsitektur dari sistem yang baru dengan cara melakukan pengawasan terhadap perkembangan teknologi dan perubahan

10 18 lingkungan organisasi, baik internal maupun eksternal serta menentukan apakah akan dilakukan siklus pengembangan arsitektur enterprise berikutnya. TOGAF ADM juga merupakan metode yang bersifat generik dan mudah di implementasikan berdasarkan kebutuhan banyak organisasi, baik organisasi industri ataupun industri akademik seperti perguruan tinggi (Mutyarini dan Sembiring dalam Yunis, 2009). Gambar 2.3. Architecture development method Pemilihan Kerangka Kerja Arsitektur Enterprise Menurut Setiawan (2009), dalam memilih sebuah kerangka kerja arsitektur enterprise tidak hanya sekedar memilih, tetapi juga terdapat kriteria yang berbeda yang bisa dijadikan sebagai acuan, seperti:

11 19 a. Tujuan dari arsitektur enterprise dengan melihat bagaimana definisi arsitektur dan pemahamannya, proses arsitektur yang telah ditentukan sehingga mudah untuk diikuti, dukungan terhadap evolusi arsitektur. b. Input untuk aktivitas arsitektur enterprise seperti pendorong bisnis dan input teknologi. c. Output dari aktivitas arsitektur enterprise seperti model bisnis dan desain transisional untuk evolusi dan perubahan kerangka kerja. Hasil perbandingan yang dilakukan oleh Setiawan (2009), memetakan Zachman framework dan TOGAF kedalam sebuah tabel sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan EA Framework, seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 2.1. Tabel 2.1 Perbandingan kerangka kerja arsitektur enterprise antara Zachman Framework dan TOGAF Kriteria Zachman TOGAF Definisi arsitektur dan pemahamannya Parsial Ya, pada fase preliminary Proses arsitektur yang detail Ya Ya, ADM dengan 9 fase yang detail Dukungan terhadap evolusi arsitektur Tidak Ya, ada fase migration planning Architecture knowledge base Tidak Ya Pendorong bisnis Parsial Ya Input teknologi Tidak Ya Model bisnis Ya Ya Desain transisional Tidak Ya, hasil fase migration planning Menyediakan prinsip arsitektur Tidak Ya 2.3 Arsitektur Data Pengertian data di dalam kamus besar bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional, 2008) adalah kenyatan yang ada yang berfungsi sebagai bahan sumber untuk menyusun suatu keterangan yang benar. Pada masing-masing area fungsi dan proses-proses organisasi membutuhkan data dan informasi sejalan dengan pertumbuhan enterprise dan peningkatan kinerjanya. Kepentingan data

12 20 dalam rencana pengembangan menempatkan pembangunan arsitektur data sebagai langkah pertama dalam visi perencanaan masa depan. Arsitektur data merupakan bagian dari PAE. Menurut Tupper (2011), arsitektur data merupakan model disain strategis yang merupakan landasan untuk kegiatan pembangunan berkelanjutan yang bertumpu pada persetujuan pemilik rencana pengembangan. Menurut Surendro (2009), arsitektur data merupakan kumpulan kebutuhan bisnis suatu organisasi, informasi, satuan proses dan penyatuan yang mengendalikan bisnis organisasi. Arsitektur data juga merupakan suatu aturan bagi organisasi untuk memilih, membangun dan memelihara informasi tersebut. Kerangka arsitektur data menyediakan struktur untuk mendokumentasikan detail informasi yang penting bagi sebuah organisasi atau perusahaan seperti mengidentifikasikan dan mendefinisikan jenis-jenis data utama yang mendukung fungsi-fungsi bisnis yang telah didefinisikan pada model bisnis. arsitektur data menghasilkan model data konseptual yang menguraikan detail data sehingga cukup untuk tujuan perencanaan. Arsitektur data merupakan kumpulan master cetak biru (blue print) terintegrasi pada level abstraksi yang berbeda-beda dan mencakup nama data formal, definisi data komprehensif, struktur data yang efektif, aturan integritas data yang tepat serta dokumentasi data yang tangguh (Setiawan, 2009). Menurut Rumapea (2009), arsitektur data memberikan manfaat seperti menyediakan kosa kata standar untuk identifikasi, definisi dan penamaan jenis data utama yang mendukung bisnis serta digunakan untuk menetapkan kebutuhan sistem aplikasi yang didefinisikan untuk mengelola sekumpulan entitas data.

13 21 Menurut Surendro (2007), ada tiga tahap dalam pembangunan arsitektur data yaitu pembuatan daftar entitas data, diagram hubungan entitas dan matrik proses bisnis terhadap entitas data Daftar entitas data Pada tahap ini dilakukan identifikasi entitas data yang muncul dari fungsi dan proses bisnis. Entitas data ini muncul sebagai kebutuhan untuk menjalankan fungsi dan proses bisnis yang ada di organisasi Diagram hubungan-entitas Suatu entitas data dapat menunjang lebih dari satu area fungsi dan tidak berdiri sendiri. Dalam tahap ini menghubungan antar entitas dengan entitas lainnya. Pemodelan dilakukan dengan Entity Relationship Diagram (ERD) Matriks Proses vs. Entitas Data Matriks proses vs. entitas data merupakan hubungan antara area fungsi dan entitas data adalah dalam hal pembuatan, pengolahan, dan penggunaan data untuk keperluan pemenuhan tujuan fungsi bisnis. Hubungan ini didefinisikan melalui matriks proses terhadap entitas data. Masing-masing sel dalam matriks diisi dengan huruf-huruf: C (create), R (reference) dan U (update). 2.4 Normalisasi data Normalisasi adalah suatu proses yang digunakan dalam menentukan pengelompokan atribut-atribut dalam sebuah relasi sehingga dapat diperoleh relasi

14 22 yang berstruktur baik, (Kadir, 2008). Normalisasi dapat dikatakan sebagai suatu teknik untuk mengatur atau mengorganisasi data ke dalam tabel-tabel untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam suatu organisasi. Tujuan dari normalisasi sendiri adalah untuk menghilangkan kerangkapan data, mengurangi kompleksitas dan mempermudah pemodifikasian data. Berikut adalah tahapan dalam normalisasi. Bentuk Tidak Normal Menghilangkan Perulangan Bentuk Normal Pertama Menghilangkan Ketergantungan Parsial Bentuk Normal Kedua Menghilangkan Ketergantungan Transitif Bentuk Normal Ketiga Gambar 2.4. Tahapan Normalisasi 1. Bentuk tidak normal (Unnormalized form) merupakan kumpulan data yang akan dicacat dan tidak ada suatu format tertentu. 2. Bentuk normal pertama (1NF / First normal form) adalah suatu keadaan yang menghilangkan atribut yang bernilai ganda. 3. Bentuk normal kedua (2NF / Second normal form) adalah jika relasi sudah berada dalam bentuk normal pertama.

15 23 4. Bentuk normal ketiga (3NF / Third normal form). Suatu relasi dikatakan memenuhi bentuk normal ketiga apabila sudah memenuhi bentuk normal kedua dan tiap relasi yang ada tidak mempunyai atribut yang bergantung secara transitif terhadap kunci utama. 2.5 Conceptual Data Model / Model Data Konseptual Sebuah model data konseptual merupakan representasi, rincian logis dari sebuah data. Sedangkan model data fisik adalah kelanjutan dari model data konseptual yang menggambarkan data ditingkat internal, desain mutlak dari implementasi suatu database seperti bagaimana sebuah penyimpanan data secara detailnya dengan format record, penyusunan record dan jalur akses. Menurut Connolly dan Begg (2005), dalam membuat model data konseptual digunakan teknik pemodelan Entity Relationship (ER) yang kemudian direpresentasikan dalam Entity Relationship Diagram (ERD). Model ER dinyatakan dalam entitas dalam sebuah lingkungan bisnis, hubungan antara entitas dan atribut dari entitas tersebut (Hoffer, 2005). Menurut Elmasri dan Navathe (2001) Model ER menggambarkan data sebagai entitas, hubungan dan atribut. Entitas adalah objek dalam dunia nyata yang dapat dibedakan dari objek yang lainnya (Ramakhrisnan dan Gehrke, 2003). Menurut Hoffer (2011) entitas dapat berupa individu, sebuah tempat, sebuah objek, suatu peristiwa atau suatu konsep. Atribut adalah properti atau sebuah karakteristik dari suatu entitas (Hoffer et al, 2011). Relationship adalah hubungan di antara dua atau lebih entitas (Ramakhrisnan dan Gehrke, 2003). Relationship adalah sekumpulan relasi yang mempunyai tipe yang sama.

16 24 Menurut Winarko (2006), kardinalitas relasi adalah sebuah bilangan yang menunjukkan jumlah maksimum elemen dari sebuah entitas yang berelasi dengan elemen dari entitas yang lain. Macam kardinalitas relasi adalah sebagai berikut: a. Satu ke satu : kardinalitas satu ke satu menyatakan bahwa setiap entitas pada tipe entitas A paling banyak berpasangan dengan satu entitas pada tipe entitas B, begitu pula sebaliknya (Kadir, 2009). b. Satu ke banyak : kardinalitas satu ke banyak menyatakan bahwa setiap entitas pada tipe entitas A bisa berpasangan dengan banyak entitas pada tipe entitas B, sedangkan setiap entitas B hanya bisa berpasangan dengan satu entitas pada tipe entitas A (Kadir, 2009). c. Banyak ke satu : kardinalitas banyak ke satu menyatakan bahwa setiap entitas pada tipe entitas A paling banyak berpasangan dengan satu entitas pada tipe entitas B dan setiap entitas pada tipe entitas B bisa berpasangan dengan banyak entitas pada tipe entitas A (Kadir, 2009). d. Banyak ke banyak : kardinalitas banyak ke banyak menyatakan bahwa setiap entitas pada tipe entitas A bisa berpasangan dengan banyak entitas pada tipe entitas B, begitu pula sebaliknya (Kadir, 2009). Menurut Connolly dan Begg (2005) : Tahapan dalam membuat model data konseptual adalah sebagai berikut: a. Mengidentifikasi tipe-tipe entitas yang dibutuhkan oleh basis data. b. Mengidentifikasi tipe-tipe relasi yang terdapat diantara tipe-tipe entitas yang telah diidentifikasi sebelumnya.

17 25 c. Mengidentifikasi dan menghubungkan atribut-atribut dengan tipe entitas atau dengan tipe relasi yang sesuai dan mendokumenkan setiap atribut secara detail. d. Menentukan domain atribut dalam model konseptual dan mendokumentasikan secara detail setiap domain. e. Menentukan atribut pada kunci kandidat, kunci primer, dan kunci pengganti jika terdapat lebih dari satu kunci kandidat maka harus dipilih satu kunci primer dan kunci pengganti untuk sisanya. f. Mempertimbangkan penggunaan konsep pemodelan tingkat tinggi / enhanced modelling (langkah pilihan), seperti spesialisasi / generalisasi, agregasi, dan komposisi. g. Memeriksa redundansi pada model Mengidentifikasikan apakah ada redundansi dalam model. Aktifitas dalam langkah ini adalah : 1. Memeriksa kembali relasi satu ke satu (1:1). Kemungkinan ada dua entitas yang menggambarkan obyek yang sama dalam organisasi. Oleh karena itu, kedua entitas tersebut harus digabungkan. 2. Menghilangkan relasi yang berlebihan (redundant). Suatu relasi menjadi berlebihan jika informasi yang sama dihasilkan melalui relasi yang berbeda. Untuk meminimalkan data model maka relasi yang berlebihan tersebut harus dihilangkan. 3. Mempertimbangkan dimensi waktu. Dimensi waktu yang dimaksud meliputi situasi dan kondisi, seperti relasi kekeluargaan.

18 26 h. Memvalidasi model konseptual dengan transaksi pengguna dengan menjamin model konseptual dapat mendukung kebutuhan proses bisnis yang dibutuhkan oleh pengguna. i. Memeriksa model data konseptual dengan pengguna dengan melakukan pemeriksaan terhadap model data konseptual dengan pengguna untuk menjamin model telah merepresentasikan sudut pandang pengguna berdasarkan kebutuhan perusahaan. 2.5 Sistem Manajemen Basis Data Basis data menurut Hoffer (2005) adalah kumpulan data yang saling berkaitan. Menurut Connolly (2005) basis data merupakan kumpulan data yang saling berhubungan, yang didesain sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan informasi organisasi. Sistem Manajemen Basis Data atau Database Management System (DBMS) menurut Connolly (2005) adalah suatu sistem perangkat lunak yang memungkinkan pengguna untuk mendefinisikan, membuat, dan memelihara database dan juga menyediakan akses terkontrol ke database. Menurut Neeraj Sharma (2010) Sistem Manajemen Database, atau sering disingkat DBMS, adalah satu set perangkat lunak yang merupakan suatu kontrol akses, mengatur, menyimpan, mengelola, mengambil dan memelihara data dalam database. DMBS merupakan program untuk pengelolaan kumpulan file yang saling berkaitan yang berguna untuk membaca data, mengisi data, menghapus data dan melaporkan data dalam database.

19 27 Beberapa fungsi dari DBMS menurut Connolly dan Begg (2005) : 1. Data Storage, Retrieval dan Update Sebuah DBMS harus menyediakan pengguna dengan kemampuan untuk menyimpan, mengambil dan mengubah data dalam basis data. 2. A User-Accessible Catalog Sebuah DBMS harus menyediakan sebuah catalog dimana deskripsi dari data disimpan dan yang diakses oleh pengguna. 3. Transaction Support DBMS harus menyediakan suatu mekanisme yang dapat memastikan dengan baik semua update berhubungan dengan transaksi yang diberikan dibuat atau tidak satupun dari update tersebut dibuat. 4. Concurrency Control Services DBMS harus meyediakan suatu mekanisme untuk memastikan bahwa basis data ter-update dengan benar ketika beberapa pengguna meng-update basis data pada waktu yang bersamaan. 5. Recovery Service DBMS harus menyediakan suatu mekanisme untuk memperbaiki basis data yang rusak karena suatu kejadian. 6. Authorization Service DBMS harus menyediakan sebuah mekanisme untuk memastikan bahwa hanya pengguna yang diberikan otoritas yang dapat mengakses basis data. 7. Support For Data Communication DBMS harus mampu berintegrasi dengan komunikasi perangkat lunak.

20 28 8. Integrity Services DBMS harus menyediakan saran untuk memastikan bahwa data di dalam basis data dan perubahan data mengikuti aturan tertentu. 9. Service To Promote Data Independence DBMS harus memasukkan fasilitas-fasilitas untuk mendukung programprogram independen dari struktur actual dari basis data. 10. Utility Services DBMS seharusnya menyediakan sekumpulan untility services agar basis data dapat dikelola secara efektif. Menurut Connolly dan Begg (2005), beberapa tahapan bertujuan untuk memilih DBMS yang tepat untuk mendukung sistem basis data seperti : 1. Define terms of reference of study, mendefinisikan dan pemilihan DBMS yang sesuai dengan tujuan dan ruang lingkup penelitian serta tugas-tugas yang harus dilakukan, sesuai spesifikasi kebutuhan pengguna, daftar DBMS yang tersedia dan batasan serta jadwal waktu untuk penelitian. 2. Shortlist two or three products, membuat daftar berbagai produk DBMS yang ada untuk dievaluasi. Memilih produk DBMS tertentu yang sesuai dengan anggaran organisasi, dukungan vendor dan kecocokan dengan perangkat lunak yang lain. 3. Evaluate products, untuk kepentingan evaluasi, fitur-fitur ini dapat berupa groups (seperti definisi data) atau individu (tipe data yang tersedia. 4. Recommend selection and produce report, tahap akhir dari pemilihan DBMS adalah untuk mendokumentasikan proses dan untuk menyediakan laporan dan rekomendasi untuk sebuah produk DBMS tertentu.

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN I.1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Institusi pendidikan tinggi di Indonesia dituntut untuk selalu melakukan peningkatan mutu atau perbaikan secara berkesinambungan / continuous improvement (Sudirman,1997)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini, teknologi informasi merupakan salah satu teknologi yang sedang berkembang dengan pesat. Dengan kemajuan teknologi informasi, pengaksesan terhadap data atau

Lebih terperinci

PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE MENGGUNAKAN METODE TOGAF ADM (STUDI KASUS : RSUD Dr.SOEGIRI LAMONGAN)

PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE MENGGUNAKAN METODE TOGAF ADM (STUDI KASUS : RSUD Dr.SOEGIRI LAMONGAN) PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE MENGGUNAKAN METODE TOGAF ADM (STUDI KASUS : RSUD Dr.SOEGIRI LAMONGAN) Yeni Kustiyahningsih Fakultas Teknik, Jurusan Manajemen Informatika, Universitas Trunojoyo Email

Lebih terperinci

Bab 3 Metodologi Penelitian

Bab 3 Metodologi Penelitian 36 Bab 3 Metodologi Penelitian 3.1. Tahapan Penelitian Tahapan penelitian yang dilakukan mengacu pada kerangka The Open Group Architecture Framework (TOGAF) yang merupakan kerangka kerja arsitektur di

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Penelitian Dalam mengembangkan blueprint Sistem Informasi penerapan SNP di Sekolah Menengah Atas, keseluruhan proses yang dilalui harus melalui beberapa tahapan.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan sistem informasi saat ini telah mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Hal ini mengakibatkan timbulnya persaingan yang semakin ketat pada sektor bisnis

Lebih terperinci

RANCANGAN MODEL ARSITEKTUR TEKNOLOGI INFORMASI SISTEM PERBANKAN DENGAN MENGGUNAKAN KERANGKA KERJA TOGAF

RANCANGAN MODEL ARSITEKTUR TEKNOLOGI INFORMASI SISTEM PERBANKAN DENGAN MENGGUNAKAN KERANGKA KERJA TOGAF RANCANGAN MODEL ARSITEKTUR TEKNOLOGI INFORMASI SISTEM PERBANKAN DENGAN MENGGUNAKAN KERANGKA KERJA TOGAF Ibrahim 1, Lela Nurpulaela 2 1,2 Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Singaperbangsa Karawang

Lebih terperinci

Enterprise Architecture Planning

Enterprise Architecture Planning Enterprise Architecture Planning Other Framework TKB5354 Perancangan Arsitektur Enterprise Chalifa Chazar www.script.id [email protected] Kerangka kerja zahman adalah pendekatan klasifikasi artifak

Lebih terperinci

Arsitektur Sistem Informasi. Tantri Hidayati Sinaga, M.Kom.

Arsitektur Sistem Informasi. Tantri Hidayati Sinaga, M.Kom. Arsitektur Sistem Informasi Tantri Hidayati Sinaga, M.Kom. Arsitektur Teknologi Informasi Arsitektur teknologi informasi adalah seluruh aspek meliputi piranti keras, piranti lunak, perangkat jaringan dan

Lebih terperinci

Enterprise Architecture. Muhammad Bagir, S.E., M.T.I

Enterprise Architecture. Muhammad Bagir, S.E., M.T.I Enterprise Architecture Muhammad Bagir, S.E., M.T.I Enterprise Architecture Sebuah blueprint yang menjelaskan bagaimana semua elemen TI dan manajemen bekerja bersama dalam satu kesatuan dan memberikan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka Pada penelitian sebelumnya yang berjudul Pengembangan Model Arsitektur Enterprise Untuk Perguruan Tinggi dilakukan pengembangan model arsitektur enterprise untuk

Lebih terperinci

Arsitektur Enterprise

Arsitektur Enterprise Arsitektur Enterprise Kualitas Informasi Usefull Completness Correctness Security Up to date Sistem Informasi Enterprise Enterprise membutuhkan perencanaan Sistem Informasi yang bersifat menyeluruh dan

Lebih terperinci

yang sudah ada (Mardiana & Araki 2013).

yang sudah ada (Mardiana & Araki 2013). BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Strategi Sistem Informasi/Teknologi Informasi Strategi merupaka definisi dari kumpulan tindakan yang saling terintegrasi yang mengarah pada peningkatan kesejahteraan dan kekuatan

Lebih terperinci

PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE STMIK SUMEDANG. Oleh : Asep Saeppani, M.Kom. Dosen Tetap Program Studi Sistem Informasi S-1 STMIK Sumedang

PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE STMIK SUMEDANG. Oleh : Asep Saeppani, M.Kom. Dosen Tetap Program Studi Sistem Informasi S-1 STMIK Sumedang PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE STMIK SUMEDANG. Oleh : Asep Saeppani, M.Kom. Dosen Tetap Program Studi Sistem Informasi S-1 STMIK Sumedang ABSTRAK Arsitektur enterprise merupakan suatu upaya memandang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lingkungannya, serta prinsip-prinsip yang digunakan sebagai petunjuk dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lingkungannya, serta prinsip-prinsip yang digunakan sebagai petunjuk dalam BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Arsitektur Enterprise Menurut Surendro (2009) sesuai dengan IEEE (1471-2000), arsitektur adalah pengorganisasian yang fundamental dari suatu sistem yang terdiri dari beberapa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peran sistem informasi dan teknologi informasi (SI/TI) sangatlah penting untuk mengatur jalannya proses bisnis yang ada dalam sebuah organisasi agar lebih efektif dan

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI 3.2. Enterprise Arsitektur Arsitektur enterprise adalah sebuah pendekatan yang didirikan berdasarkan model dan manajemen holistik TI sebagai kerangka kerja untuk menunjukan penciptaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN I.1 I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi sudah semakin pesat, sehingga memudahkan pekerjaan yang ada pada suatu organisasi serta kemudahan mengakses informasi yang di butuhkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pendidikan Tinggi di Indonesia terdiri atas 81 perguruan tinggi negeri (PTN) dan tercatat lebih kurang 2.236 perguruan tinggi swasta (PTS) (HELTS, 2004: 24). Berdasarkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG. Teknologi Informasi yang berkembang dengan sangat pesat saat ini

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG. Teknologi Informasi yang berkembang dengan sangat pesat saat ini BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Teknologi Informasi yang berkembang dengan sangat pesat saat ini semakin berperan dalam pengambilan keputusan oleh individu, perusahaan maupun instansi pemerintah.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Teknologi informasi yang berkembang dengan sangat pesat saat ini semakin berperan dalam pengambilan keputusan oleh individu, perusahaan maupun instansi pemerintah.

Lebih terperinci

Integrasi Zachman Framework dan TOGAF ADM (Architecture Development Method)

Integrasi Zachman Framework dan TOGAF ADM (Architecture Development Method) INFORMATION SYSTEM FOR EDUCATORS AND PROFESSIONALS Vol.1, No. 2, Juni 2016, 157-166 E-ISSN: 2548-3587 157 Integrasi Zachman Framework dan TOGAF ADM (Architecture Development Method) Rully Pramudita 1,*,Nadya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN I.1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang I.1.1 E-Commerce PT. XYZ Pemanfaatan teknologi informasi di era ini, telah menjadi trend bagi setiap organisasi atau perusahaan untuk memperoleh efisiensi dan efektifitas

Lebih terperinci

Enterprise Architecture. Muhammad Bagir, S.E., M.T.I

Enterprise Architecture. Muhammad Bagir, S.E., M.T.I Enterprise Architecture Muhammad Bagir, S.E., M.T.I 1 2 Outline Materi Kriteria Framework EA Perbandingan EA Framework Elemen Dasar Dokumentasi EA Pendekatan Lengkap EA 3 Kriteria Framework EA Untuk memilih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi informasi (TI) pada saat ini berkembang dengan cepat dan mempengaruhi kegiatan usaha manusia dibidang bisnis. Tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN I.1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Pada awalnya PT. Pos Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa pengiriman surat dan paket. Namun, Pada saat ini PT. Pos Indonesia telah

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Sistem Informasi

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Sistem Informasi II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Sistem Informasi Menurut Sutedjo (2002), sistem adalah kumpulan elemen yang saling berhubungan satu sama lain yang membentuk satu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan.

Lebih terperinci

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab II Tinjauan Pustaka Bab II Tinjauan Pustaka II.1 Definisi Enterprise Architecture (EA) Sebelum membahas EA, harus terlebih dahulu diketahui pengertian atau definisi tentang enterprise dan arsitektur. Definisi enterprise dalam

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Teori Basis Data 2.1.1 Pengertian Data Menurut Turban (2003, p2), data ialah fakta yang belum diolah atau gambaran dari transaksi yang ditangkap, direkam, disimpan dan diklasifikasikan.

Lebih terperinci

Gambar I.1 Jumlah Penduduk Muslim di Dunia

Gambar I.1 Jumlah Penduduk Muslim di Dunia BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Perkembangan bisnis di Indonesia telah mengalami kemajuan yang pesat. Terdapat berbagai jenis bisnis yang sedang berkembang di Indonesia, seperti bisnis di bidang makanan,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peran dari sistem informasi dan teknologi informasi (SI/TI) dalam menjalankan kegiatan bisnis suatu organisasi di era informasi saat ini sangatlah dibutuhkan. Dimana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perguruan tinggi adalah sebuah lembaga yang menyelenggarakan pendidikan profesional dan akademik dalam lingkup beberapa disiplin ilmu pengetahuan. Tujuan dari perguruan

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Sebelumnya 2.2 Arsitektur Enterprise

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Sebelumnya 2.2 Arsitektur Enterprise II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Sebelumnya Secara umum penelitian penggunaan dan pemanfaatan Perencanaan Arsitektur Enterprise yang dilakukan ditujukan untuk studi kasus atas organisasi yang bergerak

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Metode Pengumpulan Data Pada penyusunan penelitian ini, teknik pengumpulan data adalah faktor yang terpenting yang harus dipenuhi untuk di analisis lebih lanjut. Pengumpulan

Lebih terperinci

Bab 3. Metode Penelitian

Bab 3. Metode Penelitian 12 Bab 3 Metode Penelitian 3.1. Tahapan Penelitian Metode penelitian yang akan digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi secara lebih mendalam

Lebih terperinci

Bab 2. Tinjauan Pustaka

Bab 2. Tinjauan Pustaka 6 Bab 2 Tinjauan Pustaka 2.1. Penelitian Terdahulu Penelitian tentang perencanaan strategi TI/SI sudah sering dikembangkan salah satunya penelitian yang berjudul Perencanaan Strategis Sistem Dan Teknologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Persaingan yang semakin kompetitif dalam dunia pendidikan terutama bagi Akademi yang dikelola oleh masyarakat (Swasta), menuntut pihak pengelola untuk mengembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bersaing ditengah persaingan bisnis yang semakin ketat (Luftman, 2004).

BAB I PENDAHULUAN. bersaing ditengah persaingan bisnis yang semakin ketat (Luftman, 2004). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penerapan sistem informasi/teknologi informasi (SI/TI) dalam suatu organisasi telah menjadi isu yang sangat penting, karena SI/TI dapat membantu organisasi meraih

Lebih terperinci

ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI PERPUSTAKAAN STKIP HAMZANWADI SELONG DENGAN MENGGUNAKAN TOGAF ADM

ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI PERPUSTAKAAN STKIP HAMZANWADI SELONG DENGAN MENGGUNAKAN TOGAF ADM Jurnal Ilmiah DASI Vol. 15 No. 04 Desember 201, hlm 20-25 ISSN: 1411-3201 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI PERPUSTAKAAN STKIP HAMZANWADI SELONG DENGAN MENGGUNAKAN TOGAF ADM Intan Komala Dewi P

Lebih terperinci

Bab III Analisa dan Kerangka Usulan

Bab III Analisa dan Kerangka Usulan Bab III Analisa dan Kerangka Usulan III.1 Perencanaan Strategis dalam Pengembangan CIF III.1.1 Kendala Pengembangan CIF Pembangunan dan pengembangan CIF tentunya melibatkan banyak sekali aspek dan kepentingan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA FASE TOGAF ADM

BAB IV ANALISA FASE TOGAF ADM BAB IV ANALISA FASE TOGAF ADM 4.1 Analisa Studi Kasus Penerapan sistem informasi dalam fungsi bisnis pada setiap organisasi dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan bahwa untuk menerapkan sistem

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1Sistem Informasi 2.1.1 Pengertian Sistem Memahami sistem, terlebih dahulu harus memahami hakikat definisi dari sistem itu sendiri. Menilik pemaparan dari Jogiyanto (2005:34),

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terdahulu yang pernah dilakukan sebagai bahan perbandingan dan kajian. Adapun

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terdahulu yang pernah dilakukan sebagai bahan perbandingan dan kajian. Adapun 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Penelitian dilakukan tidak terlepas dari hasil penelitian-penelitian terdahulu yang pernah dilakukan sebagai bahan perbandingan dan kajian. Adapun hasil-hasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Disadari maupun tidak, arus informasi dan data secara terus-menerus telah memberikan perspektif baru dalam dunia bisnis. Hal ini menandakan bahwa kebutuhan

Lebih terperinci

PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE UNTUK PENINGKATAN KUALITAS MANAJEMEN LAYANAN PADA BAGIAN ADMINISTRASI AKADEMIK STIKOM SURABAYA

PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE UNTUK PENINGKATAN KUALITAS MANAJEMEN LAYANAN PADA BAGIAN ADMINISTRASI AKADEMIK STIKOM SURABAYA PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE UNTUK PENINGKATAN KUALITAS MANAJEMEN LAYANAN PADA BAGIAN ADMINISTRASI AKADEMIK STIKOM SURABAYA Yoppy Mirza Maulana 1) dan Febriliyan Samopa ) 1) Program Studi Magister

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk menganalisa perancangan sistem adalah framework Zachman yang akan dijabarkan dalam masing-masing kolomnya yang terdiri dari What,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Semakin berkembangnya Teknologi Informasi (TI) berbasis komputer memudahkan perusahaan dalam menjalankan aktivitas bisnisnya terutama dalam mengelola informasi. TI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lembaga pemerintah, secara umum, memiliki beberapa proyek Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuke-government pada masing-masing unit organisasi dengan kondisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang Pada era golbalisasi saat ini persaingan bisnis yang semakin ketat diantara perguruan tinggi di Indonesia mendorong perguruan tinggi untuk memberikan pelayanan maksimal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) diyakini oleh banyak pihak sebagai salah satu hasil karya cipta teknologi penting yang banyak memberikan manfaat

Lebih terperinci

Bab 1 Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah

Bab 1 Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah Bab 1 Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah Peran dari sistem informasi dan teknologi informasi (SI/TI) dalam menjalankan kegiatan bisnis suatu organisasi di era informasi saat ini sangat dibutuhkan.

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN MODEL ARSITEKTUR ENTERPRISE UNTUK PERGURUAN TINGGI

PENGEMBANGAN MODEL ARSITEKTUR ENTERPRISE UNTUK PERGURUAN TINGGI Yunis, Pengembangan Model Arsitektur Enterprise untuk Perguruan Tinggi PENGEMBANGAN MODEL ARSITEKTUR ENTERPRISE UNTUK PERGURUAN TINGGI Roni Yunis 1 Kridanto Surendro 2 Erwin S. Panjaitan 3 1,3 Jurusan

Lebih terperinci

MODEL PERENCANAAN STRATEGIS SI/TI PERGURUAN TINGGI MENGGUNAKAN FRAMEWORK TOGAF (Studi Kasus STKIP Kie Raha)

MODEL PERENCANAAN STRATEGIS SI/TI PERGURUAN TINGGI MENGGUNAKAN FRAMEWORK TOGAF (Studi Kasus STKIP Kie Raha) MODEL PERENCANAAN STRATEGIS SI/TI PERGURUAN TINGGI MENGGUNAKAN FRAMEWORK TOGAF (Studi Kasus STKIP Kie Raha) Imam Hizbullah 1, Eko Nugroho 2, Paulus Insap Santosa 3 1,2,3 Departemen Teknik Elektro dan Teknologi

Lebih terperinci

MENGENAL FRAMEWORK ENTERPRISE ARCHITECTURE SISTEM INFORMASI UNTUK JASA BENGKEL MOBIL

MENGENAL FRAMEWORK ENTERPRISE ARCHITECTURE SISTEM INFORMASI UNTUK JASA BENGKEL MOBIL 8 INFOKA Nomor II / Th. IX/ September / 4 ENGENAL FRAEWORK ENTERPRISE ARCHITECTURE SISTE INFORASI UNTUK JASA BENGKEL OBIL SUGENG URDOWO (Dosen AIK JTC Semarang) ABSTRAK Kepuasan layanan pada pelanggan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sangat dibutuhkan. Sampai saat ini PT. XYZ masih belum memiliki pendefinisian

BAB I PENDAHULUAN. sangat dibutuhkan. Sampai saat ini PT. XYZ masih belum memiliki pendefinisian 1 BAB I PENDAHULUAN 1.2. Latar Belakang Penelitian PT. XYZ adalah sebuah perusahaan dalam bidang jasa fabrikasi sheetmetal. Dimana dalam setiap proses bisnisnya, pengelolaan terhadap data dan informasi

Lebih terperinci

PERENCANAAN CETAK BIRU SISTEM INFORMASI TERINTEGRASI BERBASIS E2AF DAN METODOLOGI EAP (Studi Kasus Universitas Muhammadiyah Surakarta)

PERENCANAAN CETAK BIRU SISTEM INFORMASI TERINTEGRASI BERBASIS E2AF DAN METODOLOGI EAP (Studi Kasus Universitas Muhammadiyah Surakarta) PERENCANAAN CETAK BIRU SISTEM INFORMASI TERINTEGRASI BERBASIS E2AF DAN METODOLOGI EAP (Studi Kasus Universitas Muhammadiyah Surakarta) Ady Purna Kurniawan Chalifa Chazar ABSTRAK Suatu organisasi membutuhkan

Lebih terperinci

ABSTRAK. ii Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. ii Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK PT. Cisangkan merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi genteng dan paving blok yang berada di Bandung dan menggunakan sistem informasi dalam pengolahan dan pengintegrasian data data

Lebih terperinci

Enterprise Architecture Planning Untuk Proses Pengelolaan Manajemen Aset Dengan Zachman Framework

Enterprise Architecture Planning Untuk Proses Pengelolaan Manajemen Aset Dengan Zachman Framework Enterprise Architecture Planning Untuk Proses Pengelolaan Manajemen Aset Dengan Zachman Framework Titus Kristanto Teknik Informatika Institut Teknologi Adhi Tama, Surabaya E-mail: [email protected]

Lebih terperinci

ENTERPRISE ARCHITECTURE PLANNING DALAM PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PERGURUAN TINGGI

ENTERPRISE ARCHITECTURE PLANNING DALAM PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PERGURUAN TINGGI Seminar Nasional Sistem Informasi Indonesia, 6 November 2017 ENTERPRISE ARCHITECTURE PLANNING DALAM PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PERGURUAN TINGGI 1 Safrian Aswati, 2 Saleh Malawat, 3 Suhendra, dan 4 Khairil

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 1.1 Kerangka Penelitian Proses penelitian untuk menerapkan Standar Nasional Pendidikan yang dilakukan di SMP Negeri 1 Parigi dapat dilihat melalui kerangka penelitian pada

Lebih terperinci

Nelly Khairani Daulay

Nelly Khairani Daulay PERANCANGAN CETAK BIRU INFRASTRUKTUR TEKNOLOGI INFORMASI PADA STMIK MURA LUBUKLINGAU Program Studi Sistem Komputer, STMIK Musi Rawas Lubuklinggau Jl. Jend. Besar Soeharto Kel. Lubuk Kupang Kec. Lubuklinggau

Lebih terperinci

PEMILIHAN EA FRAMEWORK

PEMILIHAN EA FRAMEWORK PEMILIHAN EA FRAMEWORK Erwin Budi Setiawan Program Studi Ilmu Komputasi, Fakultas Sains, Institut Teknologi Telkom Jl Telekomunikasi, Terusan Buah Batu Bandung E-mail: [email protected] ABSTRAK Dalam

Lebih terperinci

Perancangan Cetak Biru Teknologi Informasi

Perancangan Cetak Biru Teknologi Informasi Perancangan Cetak Biru Teknologi Informasi Budi Daryatmo STMIK MDP Palembang [email protected] Abstrak: Pengelolaan TI perlu direncanakan dan dituangkan dalam bentuk cetak biru TI sehingga organisasi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Berkaca pada pesatnya laju perkembangan teknologi yang modern, proses bisnis jual beli akan lebih efektif jika menggunakan sistem informasi yang memadai. Sistem akan membuat proses

Lebih terperinci

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab II Tinjauan Pustaka Bab II Tinjauan Pustaka Ketika suatu organisasi akan diproyeksikan dan dikembangkan dengan harapan agar organisasi tersebut mempunyai eksistensi dan competitive advantage yang baik, maka perencanaan strategis

Lebih terperinci

III METODOLOGI PENELITIAN

III METODOLOGI PENELITIAN 39 III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Permasalahan Dukungan SIMPEG yang berkualitas bagi Badan Litbang Pertanian merupakan suatu keharusan agar mampu menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi stakeholder.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tabel I.1 Nama Direktorat PT.XYZ

BAB I PENDAHULUAN. Tabel I.1 Nama Direktorat PT.XYZ BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang PT. XYZ merupakan sebuah badan usaha milik negara (BUMN) yang memiliki kompetensi di bidang jasa. Tujuan didirikannya adalah untuk membantu konsumen dalam menangani

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI II.1 Enterprise Architecture Enterprise Architecture dapat didefinisikan sebagai sebuah blueprint yang menjelaskan bagaimana semua elemen TI dan manajemen bekerja bersama dalam satu

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Metode Pengumpulan Data Dalam penyusunan penelitian ini membutuhkan berbagai macam data untuk di analisis lebih lanjut. Adapun metode yang digunakan dalam mengumpulkan data

Lebih terperinci

ABSTRAK. Keywords : Arsitektur Interprise, Zachman Framework, Arsitektur Teknologi Informasi

ABSTRAK. Keywords : Arsitektur Interprise, Zachman Framework, Arsitektur Teknologi Informasi Judul Pembimbing I Pembimbing II Penyusun : Perancangan Arsitektur Teknologi Informasi Di Laboratorium Pengembangan Dan Penerapan Teknologi Informasi Teknik Informatika, UPN Veteran Jatim Menggunakan Zachman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang sedemikian pesat serta potensi pemanfaatannya secara luas, membuka peluang bagi proses akses, pengelolaan, dan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata Kunci: Proses Bisnis, Sistem Informasi, TOGAF Framework,. i Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Kata Kunci: Proses Bisnis, Sistem Informasi, TOGAF Framework,. i Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK PT Pos Indonesia merupakan salah satu perusahaan jasa yang menjadi tulang punggung pemerintah Indonesia dalam bisnis layanan pengiriman dokumen dan barang. Dengan misi sosial untuk memenuhi kebutuhan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka Terdapat beberapa penelitian menggunakan metode The Open Group Architecture Framework (TOGAF) terkait perancangan Enterprise Architecture, yaitu: Penelitian

Lebih terperinci

PERANCANGAN ENTERPRISE ARCHITECTURE PADA PT. XYZ DENGAN MENGGUNAKAN METODE TOGAF ADM

PERANCANGAN ENTERPRISE ARCHITECTURE PADA PT. XYZ DENGAN MENGGUNAKAN METODE TOGAF ADM TESIS PM147501 PERANCANGAN ENTERPRISE ARCHITECTURE PADA PT. XYZ DENGAN MENGGUNAKAN METODE TOGAF ADM CATUR WAHYU WIJAYA NRP. 9115205307 DOSEN PEMBIMBING: Dr. Eng. Febriliyan Samopa, S.Kom, M.Kom PROGRAM

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Jurnal Rekayasa Sistem & Industri Volume 3, Nomor 1, Januari

I. PENDAHULUAN. Jurnal Rekayasa Sistem & Industri Volume 3, Nomor 1, Januari ANALISIS DAN PERANCANGAN TECHNOLOGY ARCHITECTURE MENGGUNAKAN THE OPEN GROUP ARCHITECTURE FRAMEWORK ARCHITECTURE DEVELOPMENT METHOD (TOGAF ADM) PADA PT SHAFCO MULTI TRADING 1 Renantia Indriani, 2 Murahartawaty,

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata Kunci : enterprise architecture, arsitektur sistem informasi, 8-Productions, TOGAF, TOGAF ADM

ABSTRAK. Kata Kunci : enterprise architecture, arsitektur sistem informasi, 8-Productions, TOGAF, TOGAF ADM ABSTRAK Perencanaan arsitektur sistem informasi organisasi adalah sebuah proses yang kompleks, karena itu proses perencanaan harus dikelola berdasarkan suatu petunjuk yang jelas dengan tujuan menyelaraskan

Lebih terperinci

BAB II. 2.1 Model Data High Level Data Model (Conceptual Data Model)

BAB II. 2.1 Model Data High Level Data Model (Conceptual Data Model) BAB II PENGEMBANGAN SISTEM BASIS DATA Bab ini akan membahas lebih lanjut mengenai arsitektur sistem basis data dan pengembangan sistem basis data. Sistem basis data tidak berdiri sendiri, tetapi selalu

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Porter s Value Chain Diagram yang digunakan pada fase Business Architecture.

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Porter s Value Chain Diagram yang digunakan pada fase Business Architecture. BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Persiapan Penelitian 4.1.1. Alat Penelitian Alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari alat bantu analisis dan alat bantu deskripsi. Alat bantu analisis

Lebih terperinci

ENTERPRISE ARSITEKTUR PLANNING

ENTERPRISE ARSITEKTUR PLANNING Metode EAP Ada 2metode EAP yang banyak digunakan yaitu : 1. Metode Zachman 2. Metode Togaf ENTERPRISE ARSITEKTUR PLANNING Uro Abdulrohim, MT Zachman Framework Dalam pengembangan EA ada beberapa metode

Lebih terperinci

Kata kunci: Enterprise Architetcure, TOGAF ADM, pemerintahan, pengendalian dan evaluasi pembangunan

Kata kunci: Enterprise Architetcure, TOGAF ADM, pemerintahan, pengendalian dan evaluasi pembangunan ANALISIS DAN PERANCANGAN ENTERPRISE ARCHITECTURE FUNGSI BISNIS PENGENDALIAN DAN EVALUASI PEMBANGUNAN PADA BADAN PERENCANAAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA) PROVINSI JAWA BARAT MENGGUNAKAN FRAMEWORK TOGAF

Lebih terperinci

Jurnal Sarjana Teknik Informatika e-issn: Volume 2 Nomor 2, Juni 2014

Jurnal Sarjana Teknik Informatika e-issn: Volume 2 Nomor 2, Juni 2014 PEMBUATAN MODEL ENTERPRISE ARCHITECTURE PLANNING BTM SURYA UMBULHARJO DENGAN TOGAF ARCHITECTURE DEVELOPMENT METHOD (Bagian Penghimpunan dan ) 1 Fitrayadi (09018237), 2 Ali Tarmuji (0014107301) 1,2 Program

Lebih terperinci

STMIK Pringsewu; Jl. Wisma Rini No 09 Pringsewu, (0729)

STMIK Pringsewu; Jl. Wisma Rini No 09 Pringsewu, (0729) PENGEMBANGAN STRATEGI SISTEM INFORMASI DAN TEKNOLOGI INFORMASI PADA PERGURUAN TINGGI SWASTA DI PRINGSEWU DENGAN MENGGUNAKAN METODOLOGI ENTERPRISE ARCHITECTURE PLANNING (EAP) Ahmad Khumadi* 1, Eka Ridhawati

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. organisasi untuk mengembangkan sebuah arsitektur enterprise yang mampu

BAB I PENDAHULUAN. organisasi untuk mengembangkan sebuah arsitektur enterprise yang mampu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan sebuah organisasi perlu melakukan pengembangan bisnis dan sistem informasi melalui pemanfaatan arsitektur enterprise. Salah

Lebih terperinci

PERENCANAAN ARSITEKTUR SISTEM INFORMASI DI STMIK KADIRI DENGAN TOGAF ARCHITECTURE DEVELOPMENT METHOD

PERENCANAAN ARSITEKTUR SISTEM INFORMASI DI STMIK KADIRI DENGAN TOGAF ARCHITECTURE DEVELOPMENT METHOD PERENCANAAN ARSITEKTUR SISTEM INFORMASI DI STMIK KADIRI DENGAN TOGAF ARCHITECTURE DEVELOPMENT METHOD Wildan Mahmud 1 dan Achmad Holil Noor Ali 2 Program Studi Magister Manajemen Teknologi Institut Teknologi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hubungannya satu dengan yang lain, yang berfungsi bersama-sama untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hubungannya satu dengan yang lain, yang berfungsi bersama-sama untuk BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dasar Sistem Informasi 2.1.1 Pengertian Sistem Menurut Sutabri (2004), sistem adalah sekelompok unsur yang erat hubungannya satu dengan yang lain, yang berfungsi bersama-sama

Lebih terperinci

ENTERPRISE ARCHITECTURE PLANNING UNTUK PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PERGURUAN TINGGI

ENTERPRISE ARCHITECTURE PLANNING UNTUK PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PERGURUAN TINGGI ENTERPRISE ARCHITECTURE PLANNING UNTUK PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PERGURUAN TINGGI Tesis untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S-2 Program Studi Magister Sistem Informasi Dyna

Lebih terperinci

MODEL ANALISA. Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Rekayasa Perangkat Lunak. Dosen Pembimbing : Wachyu Hari Haji, S.Kom, MM.

MODEL ANALISA. Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Rekayasa Perangkat Lunak. Dosen Pembimbing : Wachyu Hari Haji, S.Kom, MM. MODEL ANALISA Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Rekayasa Perangkat Lunak Dosen Pembimbing : Wachyu Hari Haji, S.Kom, MM Disusun Oleh : Fadhilla Eka Hentino / 41813120051 UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA

Lebih terperinci

PENGUKURAN KESENJANGAN DAN PERENCANAAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI MENGGUNAKAN TOGAF (Studi Kasus : Politeknik Surabaya)

PENGUKURAN KESENJANGAN DAN PERENCANAAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI MENGGUNAKAN TOGAF (Studi Kasus : Politeknik Surabaya) PENGUKURAN KESENJANGAN DAN PERENCANAAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI MENGGUNAKAN TOGAF (Studi Kasus : Politeknik Surabaya) Agus Hermanto [9112205310] Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Hari Ginardi, M.Kom PROGRAM

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi telah mengubah manusia dalam menyelesaikan semua pekerjaan dan segala aspek kehidupan manusia. Dimana teknologi informasi dan komunikasi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat memiliki andil penting dalam proses bisnis sebuah perusahaan. Teknologi informasi dapat meringankan pekerjaan manusia

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Tinjauan Pustaka Pemanfaatan enterprise Architecture planning (EAP) untuk perencanaan system informasi melibatkan pemahaman dan kejelasan beberapa definisi

Lebih terperinci

Perancangan Aplikasi Basis Data. by: Ahmad Syauqi Ahsan

Perancangan Aplikasi Basis Data. by: Ahmad Syauqi Ahsan 02 Perancangan Aplikasi Basis Data by: Ahmad Syauqi Ahsan Latar Belakang 2 Metodologi perancangan basis data dapat menggunakan alat bantu seperti Designer 2000 dari Oracle, ERWin, BPWin, dan lain sebagainya.

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP BAB V PENUTUP

BAB V PENUTUP BAB V PENUTUP BAB V PENUTUP V.1 Kesimpulan Berikut ini merupakan kesimpulan dari penerapan Zachman Framework yang telah dilakukan pada perusahaan PT.Berdikari Indo Super Grosir Cianjur. V.1.1. Kolom What Pada bagian

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Dalam penelitian ini tidak terlepas dari penelitian sebelumnya. Hasil penelitian terdahulu memiliki manfaat bagi berbagai pihak yang ingin mengembangkan

Lebih terperinci