ROADMAP INDUSTRI PENGOLAHAN TEMBAKAU
|
|
|
- Siska Darmali
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 ROADMAP INDUSTRI PENGOLAHAN TEMBAKAU DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO DAN KIMIA DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN JAKARTA, 2009
2 I. PENDAHULUAN 1.1. Ruang Lingkup Industri Hasil Tembakau Industri Hasil Tembakau (IHT) sampai saat ini masih mempunyai peran penting dalam menggerakkan ekonomi nasional terutama di daerah penghasil tembakau, cengkeh dan sentra-sentra produksi rokok, antara lain dalam menumbuhkan industri/jasa terkait, penyediaan lapangan usaha dan penyerapan tenaga kerja. Dalam situasi krisis ekonomi, IHT tetap mampu bertahan dan tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), bahkan industri ini mampu memberikan sumbangan yang cukup signifikan dalam penerimaan negara. Dalam tahun 2005 jumlah IHT (Rokok) sebanyak perusahaan dan dalam tahun 2006 sudah mencapai perusahaan atau meningkat sebesar 23,12 %. Dalam periode yang sama produksi rokok mencapai 220,3 milyar batang dan 218,7 milyar batang. Sebaran IHT secara geografis sebagian besar (75%) berada di Jawa Timur, Jawa Tengah (20%), dan sisanya berada di daerah-daerah lain seperti Sumatera Utara, Jawa Barat, dan D.I Yogyakarta. Produk hasil olahan tembakau terdiri dari rokok (rokok kretek dan rokok putih), cerutu dan tembakau iris (shag). Khusus untuk industri rokok, peranan dari masing-masing golongan pabrik baik besar (Gol. I), menengah (Gol II), gol kecil (Gol IIIA dan Gol III B) tahun 2007 sebagai berikut : GOL PABRIK Jumlah PRODUKSI CUKAI Juml. Produksi (Batang) Pabrik (Juta Batang) % (Milyar Rp.) % I > 2 Milyar 8 173, , II > 500 Juta s.d 2 Milyar 15 23, , III A > 6 Juta s.d 500 Juta , , III B 0 s.d 6 Juta , Total , , Keterangan : 1. Data Produksi tidak termasuk jenis Cerutu, KLM/KLB, TIS 2. Sumber Ditjen Bea dan Cukai, Departemen Keuangan 1 1
3 Tanaman tembakau terdiri dari batang, daun tembakau dan bunga. Setelah tanaman tembakau berumur, daun secara bertahap dipetik mulai dari daun bawah, tengah dan atas. Selanjutnya batang tembakau dimanfaatkan untuk kayu bakar dan biji dari bunga digunakan (secara selektif) untuk bibit dan daun tembakau diproses menjadi rokok, cerutu, tembakau iris dan/atau diekspor dalam bentuk tembakau yang sudah dikeringkan. Secara singkat, pohon industri tembakau dapat digambarkan sebagai berikut : Dalam pengembangan IHT, aspek ekonomi masih menjadi pertimbangan utama dengan tidak mengabaikan faktor dampak kesehatan. Industri Hasil Tembakau mendapatkan prioritas untuk dikembangkan karena mengolah sumber daya alam, menyerap tenaga kerja cukup besar baik langsung maupun tidak langsung (±10 juta orang) dan sumbangannya dalam penerimaan negara (cukai) tahun 2006 Rp. 42,03 triliyun sedangkan tahun 2007 sebesar Rp 43,54 triliun. 2 2
4 Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah RPJM ( ) pembangunan sektor industri diarahkan untuk : 1). Memperkuat dan memperdalam sturktur industri; 2). Meningkatkan iklim persaingan yang kondusif; 3). Meningkatkan revitalisasi, konsolidasi dan restrukturisasi industri; 4) meningkatkan peran industri kecil dan menengah; 5) penyebaran pembangunan industri; dan 6) meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi industri. Sesuai dengan kriteria yang ditetapkan seperti banyak menyerap tenaga kerja, menggunakan/ mengolah SDA dalam negeri dan memiliki potensi ekspor maka Industri tembakau dengan produksi utama rokok/ sigaret merupakan salah satu industri dalam kelompok industri makanan dan minuman yang memenuhi kriteria untuk dikembangkan. Namun demikian, IHT dewasa ini dihadapkan pada berbagai permasalahan antara lain isu dampak merokok terhadap kesehatan baik di tingkat global yang disponsori oleh WHO sebagaimana tertuang dalan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dan di tingkat nasional pengendalian produk tembakau tertuang dalam PP No.19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. Di samping itu, IHT juga dihadapkan pada masalah kebijakan cukai yang tidak terencana dengan baik, tidak transparan dan lebih berorientasi pada upaya peningkatan pendapatan negara tanpa mempertimbangkan kemampuan industri rokok dan daya beli masyarakat ditambah dengan maraknya produksi dan peredaran rokok ilegal. Sasaran pengembangan IHT melalui pendekatan klaster adalah meningkatkan hubungan dan jaringan kerja sama yang saling menguntungkan antar stakeholders yang terkait dengan IHT guna meningkatkan daya saing dan value chains diantara pelaku usaha. 3 3
5 Pada akhirnya pengembangan IHT diharapkan mampu menyediakan lapangan kerja, meningkatkan penerimaan negara melalui cukai dan pajak, menjamin kelangsungan usaha budidaya tembakau dan cengkeh, menumbuhkan industri terkait dengan tetap memperhatikan aspek kesehatan. Untuk mencapai sasaran pengembangan industri tembakau perlu dijabarkan pokok-pokok rencana aksi baik jangka menengah maupun jangka panjang Pengelompokan Industri Hasil Tembakau Kelompok Industri Hulu Dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) tahun 2005, Industri Hasil Tembakau yang tergolong dalam Kelompok Industri Hulu adalah Industri Pengeringan dan Pengolahan Tembakau (KBLI 16001). Yang termasuk dalam kelompok ini yaitu kegiatan usaha dibidang pengasapan dan perajangan daun tembakau Kelompok Industri Antara Industri Hasil Tembakau yang termasuk dalam kelompok Industri Antara yaitu Industri Bumbu Rokok serta kelengkapan lainnya (KBLI 16009), meliputi: tembakau bersaus, bumbu rokok dan kelengkapan rokok lain seperrti klembak menyan, saus rokok, uwur, klobot, kawung dan pembuatan filter Kelompok Industri Hilir Industri Hasil Tembakau yang termasuk dalam Kelompok Industri Hilir meliputi: Industri Rokok Kretek (KBLI 16002), Industri Rokok Putih (KBLI dan Industri Rokok lainnya (KBLI 16004) meliputi cerutu, rokok klembak menyan dan rokok klobot/kawung. 4 4
6 1.3. Kecenderungan Global Industri Hasil Tembakau Kecenderungan Yang Telah Terjadi Sebelum tahun 1990 permintaan rokok dunia meningkat secara konstan, namun 10 (sepuluh) tahun kemudian pertumbuhan konsumsi rokok dunia berhenti. Di USA dan Eropa Barat penjualan rokok mulai menurun dan perhatian kesehatan masyarakat mulai tumbuh dan kampanye anti merokok secara besar-besaran mulai dilakukan. Selanjutnya sejak ditetapkan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang merupakan konvensi yang dirancang oleh WHO sejak tahun 1999 dan ditetapkan tanggal 28 Mei 2003 di Genewa dan diberlakukan tanggal 27 Februari 2005 serta sudah ditanda tangani dan diratifikasi lebih dari 40 negara. Sampai dengan Juni 2008, FCTC sudah ditandatangani oleh 168 negara dan dari jumlah tersebut sebanyak 157 negara sudah melakukan ratifikasi.indonesia termasuk salah satu negara yang sampai saat ini belum menandatangani dan meratifikasi. FCTC bertujuan untuk melindungi generasi muda sekarang dan mendatang dari kerusakan kesehatan, sosial, lingkungan dan konsekwensi ekonomi dari konsumsi dan paparan asap rokok melalui upaya pengendalian tembakau. Langkah-langkah utama yang dilakukan meliputi tindakan pengurangan permintaan dan pasokan tembakau. Di Indonesia pengendalian tembakau telah diatur dalam PP 19/tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan namun ada beberapa hal yang belum diatur sesuai yang ditetapkan dalam FCTC. 5 5
7 Kecenderungan Yang Akan Terjadi Hal-hal Pokok yang diatur dalam FCTC antara lain meliputi: Penerapan pajak yang tinggi dengan tujuan kesehatan Pelarangan penjualan produk tembakau kepada anak dibawah umur Pelarangan penjualan rokok dalam batangan/dalam jumlah kecil Penerapan pajak yang tinggi terhadap produk tembakau akan berdampak terhadap penurunan produksi dan konsumsi tembakau disamping itu akan mendorong peningkatan produksi dan peredaran rokok tanpa cukai (rokok ilegal) Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan dan adanya kampanye anti merokok diberbagai negara akan cukup efektif untuk mengatasi perkembangan industri rokok. Meskipun penjualan di Amerika dan Eropa Barat menurun, namun volume penjualan rokok di Asia dan Eropa Timur cenderung meningkat sebagai dampak perusahaan tersebut berhasil mendapatkan pangsa pasar yang signifikan terutama di negara-negara yang sedang berkembang yang mempunyai populasi aktif merokok. Perusahaan tersebut mengakuisisi industri rokok utama lokal dan mulai menawarkan produkproduk mulai dari merek lokal asli yang telah populer dan merek internasional yang telah dikenal luas Analisis Terhadap Kecenderungan Yang Telah dan Akan Terjadi Adanya kecenderungan perusahaan rokok besar memperluas pasar-pasar baru terutama di negara yang belum berkembang karena di negara tersebut belum kuat gerakan anti merokok baik oleh pemerintah maupun organisasai non pemerintah. 6 6
8 Perusahaan rokok besar mempunyai kecenderungan untuk membeli perusahaan rokok kecil yang tidak dapat bersaing dengan perusahaan besar yang mempunyai fasilitas modern. Kondisi ini menjadikan pasar global rokok hanya dikuasai oleh beberapa industri besar seperti Phillip Morris, Japan Tobacco International, Reemmstma. Disisi lain adanya pengaturan pengendalian tembakau secara global melalui FCTC berdampak terhadap pengembangan IHT di dalam negeri. Selanjutnya untuk pengembangan Industri Hasil Tembakau (IHT) di dalam negeri pemerintah bersama stakeholder terkait telah menyusun Roadmap IHT dengan prioritas untuk jangka menengah ( ) pada aspek penerimaan, kesehatan dan tenaga kerja sedang untuk jangka panjang ( ) aspek kesehatan menjadi prioritas yang lebih dibanding aspek penerimaan dan tenaga kerja. Disamping itu produksi rokok tahun 2020 dibatasi maksimal mencapai 260 milyar batang. Pengendalian tembakau secara global yang terkait dengan penerapan pajak yang tinggi terhadap produk tembakau akan berdampak terhadap penurunan produksi rokok dari sisi hilirnya dan penurunan permintaan tembakau dan cengkeh dari sisi hulunya Permasalahan Yang Dihadapi Industri Hasil Tembakau a. Bahan Baku Mutu tembakau yang belum mampu memenuhi standar pabrik; Ketidakseimbangan jenis pasokan dan jenis kebutuhan tembakau; Pelaksanan Kemitraan khususnya tembakau rakyat belum berjalan dengan baik; SNI Tembakau belum menjadi acuan dalam perdagangan tembakau; Berfluktuasinya harga cengkeh. 7 7
9 b. Produksi Kurangnya penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) khususnya industri kecil; SNI produk olahan tembakau yang tidak sesuai dengan perkembangan teknologi; Rendahnya tingkat produktifitas dan efisiensi; Kurangnya kemampuan industri pengolahan tembakau untuk melakukan diversifikasi produk dengan resiko kesehatan yang rendah. c. Pemasaran Terbatasnya akses pasar luar negeri; Regulasi di daerah yang kurang disosialisasikan; Traktat International Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control-FCTC) cenderung membatasi konsumsi produk hasil tembakau; Beredarnya rokok ilegal; Kebijakan cukai yang kurang terencana; II. FAKTOR DAYA SAING 2.1. Permintaan dan Penawaran Permintaan Dunia, Regional dan Domestik Total konsumsi dunia akan produk hasil tembakau/rokok tahun 2000 sebesar 5,50 triliun batang atau meningkat 1,4% dalam kurun waktu 10 tahun (dari tahun 1990) sebesar 5,42 triliun batang. Dengan asumsi tingkat pertumbuhan yang sama maka diperkirakan konsumsi produk hasil tembakau/rokok tahun 2010 sebesar 5,58 triliun batang. Negara utama yang mengkonsumsi rokok terbesar di dunia tahun 2004 adalah China (1.790 milyar batang), USA (499 milyar batang), Rusia (380 milyar batang), Jepang (216 milyar 8 8
10 batang) dan Indonesia (204 milyar batang), sehingga total keseluruhan konsumsi dari 5 (lima) negara tersebut sebesar milyar batang atau 56% dari konsumsi dunia. Negaranegara yang memiliki tingkat konsumsi rokok yang tergolong tinggi antara lain negara-negara Eropa Timur, Brasil, Turki, Jerman, Philipina dan Korea. Sedangkan di tingkat domestik, konsumsi rokok (rokok kretek, rokok putih dan cerutu) pada tahun 2000 mencapai 215 milyar batang atau meningkat 38 % (3,8 % per tahun) dalam kurun waktu 10 tahun (tahun 1990) sebesar 155 milyar batang. Untuk tahun 2010 dengan asumsi tingkat pertumbuhan 3,2 % karena adanya upaya pengendalian konsumsi diperkirakan permintaan domestik dipertahankan mencapai 240 milyar batang. Total produksi dunia pada tahun 2004 sebesar 5,53 triliun batang dengan pertumbuhan 1,4 % pertahun dan prediksi tahun 2010 sebesar 6,35 triliun batang. Di tingkat domestik produksi rokok mengalami tingkat produksi tertinggi yaitu pada tahun 2000 sebesar 239,5 milyar batang. Namun dengan adanya kebijakan kenaikan cukai yang tinggi produksi rokok mengalami penurunan hingga hanya mencapai 192,3 milyar batang pada tahun Dalam tahun 2007 produksi rokok mencapai 231,0 milyar batang dan tahun 2008 dengan mempertimbangkan aspek ekonomi ditargetkan produksi rokok mencapai 240 milyar batang atau meningkat rata-rata 3,2% per tahun dan tahun 2015 ditargetkan produksi rokok sebesar 260 milyar batang atau meningkat 1,4 % per tahun. 9 9
11 Analisis GAP Pada tahun 2000 defisit kebutuhan rokok dunia sebesar 50 milyar batang dan pada tahun 2010 diperkirakan surplus sebesar 620 milyar batang. Di tingkat domestik pada tahun 2000 terjadi surplus sebesar 24,5 milyar batang dan pada tahun 2009 dipekirakan surplus 18 milyar batang yang ditujukan untuk pasar ekspor. Dalam lima tahun terakhir, neraca perdagangan produk olahan tembakau mengalami surplus dari segi nilai perdagangan sebesar USD 161,80 juta pada tahun 2002 dan meningkat menjadi USD 217,46 juta pada tahun Perilaku Pasar. a. Dalam Negeri Produksi rokok tahun 2000 sebesar 239,5 milyar batang terus mengalami penurunan sampai dangan tahun 2003 yang produksinya hanya mencapai 192,3 milyar batang atau turun rata-rata sebesar 7,01 % per tahun. Sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2007 produksi rokok mengalami kenaikan menjadi sebesar 231,0 milyar batang. Selanjutnya perilaku pasar per jenis rokok mengalami perubahan diantaranya sebagai berikut : Sigaret Putih Mesin (SPM) dalam tahun 2000 mempunyai pangsa pasar sebesar 10,7% turun menjadi 7,0 % pada tahun Sigaret Kretek Mesin (SKM) dalam tahun 2000 mempunyai pangsa pasar sebesar 50,3% naik menjadi 58 % pada tahun Sigaret Kretek Tangan (SKT) dalam tahun 2000 mempunyai pangsa pasar sebesar 39% turun menjadi 37% pada tahun
12 Pangsa pasar Perkembangan produksi rokok dalam 5 (lima) tahun terakhir seperti pada tabel 1. Tabel 1. Perkembangan Produksi Rokok Nasional Tahun 2004 s/d Tahun 2008 No. Jenis Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun *) 1 Rokok Kretek 188,27 205,01 202,96 214,6 223,00 (Milyar Batang) (% thd total) 92,34 93,05 92,79 92,9 92,9 (% Perkembangan) 8,8 8,89-0,99 5,74 3,9 2 Rokok Putih 15,61 15,46 15,77 16,4 17,0 (Milyar Batang) (% thd total) 7,45 6,95 7,21 7,1 7,1 (% Perkembangan) -17,67-0,96 2 3,99 0 Total (Milyar Batang) 203,88 222,38 218, ,0 (% Perkembangan) 6 9,07-0,72 5,6 3,89 *) angka sementara Perkembangan Pangsa Pasar Per Jenis Produk Tembakau dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Perkembangan Pangsa Pasar Per Jenis Produk Tembakau 100% 80% 60% 40% 20% 0% SKT SKM SPM 11 11
13 b. Ekspor Olahan Tembakau Dalam 5 tahun terakhir, ekspor cerutu berkembang rata-rata 18,94 % per tahun. Yaitu dari USD 11,30 Juta pada tahun 2004 menjadi USD 22,00 juta pada tahun Dalam periode yang sama ekspor rokok berkembang rata-rata 25,4 % dari USD 157,61 juta menjadi USD 357,78 juta. Perkembangan Ekspor Olahan Tembakau (Rokok dan Cerutu) dalam 5 (lima) tahun terakhir seperti pada tabel 2. Tabel 2. Ekspor Produk Cerutu dan Rokok Tahun 2004 s.d 2008 (USD Juta) Uraian Cerutu( ton) 11,30 14,17 15,63 21,24 22,00 Rokok (ton) Sumber : Website BPS c. Impor Olahan Tembakau Dalam 5 tahun terakhir, impor cerutu naik rata-rata 197,5% per tahun. Yaitu dari USD 0,09 juta pada tahun 2004 menjadi USD 0,979 juta pada tahun Dalam periode yang sama impor rokok naik rata-rata 86,87 % dari USD 0,836 juta menjadi USD 4,357 juta. Perkembangan Impor Olahan Tembakau (Rokok dan Cerutu) dalam 5 (lima) tahun terakhir seperti pada tabel 3. Tabel 3. Impor Produk Olahan Tembakau Tahun 2004 s.d 2008 (USD Juta) Uraian Cerutu( ton) 0,090 0,091 0,337 0,085 0,979 Rokok (ton) 0,836 1,939 2,474 0,593 4,357 Sumber : Website BPS 12 12
14 2.2. Faktor Kondisi (Input) Sumber Daya Alam Kondisi sumber daya alam di Indonesia turut mendukung perkembangan Industri Hasil Tembakau karena potensi bahan baku (tembakau dan cengkeh) cukup tersedia di dalam negeri, akan tetapi jenis, jumlah dan mutu sering kali tidak sesuai dengan standar industri. Faktor lain adalah iklim dan struktur tanah yang sangat mempengaruhi tanaman tembakau sehingga masing-masing daerah menghasilkan tembakau dengan karakteristik tertentu seperti : Tembakau Temanggung, Weleri, Mranggen, Madura, Paiton, Deli, dan lain-lain Sumber Daya Modal Dalam hal sumber daya modal, masih ada kendala tidak adanya skim kredit khusus bagi usaha tani tembakau dan cengkeh dalam pengadaan permodalan sehingga menghambat pelaksanaan intesifikasi tembakau dan cengkeh Sumber Daya Manusia Faktor sumber daya manusia di Indonesia didukung oleh ketersediaan tenaga kerja terampil dan pengalaman di bidang olahan tembakau. Akan tetapi masih ada beberapa kendala terutama dalam hal keterbasan tenaga ahli di bidang blended dan taste tembakau.serta litbang olahan tembakau Infrastruktur Dalam hal infrastruktur di Indonesia, IHT masih mengalami kendala antara lain keterbatasan penyediaan sarana produksi (pupuk, bibit) bagi petani tembakau dan cengkeh serta keterbatasan dukungan sarana dan prasarana transportasi di sentra-sentra produksi tembakau dan cengkeh
15 Sedangkan dalam hal administrasi publik masih adanya pungutan/retribusi di daerah-daerah yang cukup memberatkan petani tembakau dan cengkeh. Untuk kebijakan cukai dan penyederhanaan tarif, IHT masih mempunyai kendala dengan kebijakan yang berdimensi jangka pendek dan selalu berubahubah sehingga tidak ada kepastian berusaha bagi industri rokok untuk jangka panjang Teknologi Dalam hal teknologi, IHT masih mempunyai beberapa kendala antara lain keterbatasan dukungan penelitian dan pengembangan di bidang olahan tembakau, keterbatasan pengembangan produk diversifikasi olahan tembakau dan SNI Tembakau dan produk olahannya sudah tidak sesuai dengan perkembangan technology Industri Inti, Pendukung dan Terkait Industri Inti o Industri Kretek o Industri Rokok Putih o Industri Cerutu Industri Pendukung o Industri Kertas Sigaret dan Tipping Paper o Industri Filter o Industri flavor o Industri kertas karton o Industri plastik o Industri mesin dan peralatan o Industri percetakan o Industri periklanan 14 14
16 Industri Terkait o Jasa transportasi o Jasa Perdagangan o Jasa Perbankan 2.4. Strategi Perusahaan dan Persaingan Strategi Perusahaan dalam persaingan dilakukan melalui : 1. Peningkatan pengelolaan permintaan (pengembangan pasar baru, penetrasi pasar, pengembangan produk, riset pasar, pengembangan jalur distribusi, respon cepat kepada konsumen. 2. Peningkatan produksi dan teknologi (Supply Chain Management, Manajemen Sumber Daya) 3. Teknologi Informasi (Peningkatan produktivitas, pengembangan mutu sesuai standar) 4. Peningkatan keterampilan, profesionalisme dan kompetensi (Pengembangan SDM, Perencanaan SDM) 5. Strategi pemasaran melalui periklanan. 6. Strategi pengembangan produksi rokok rendah tar dan nikotin. III. ANALISA SWOT 3.1. Kekuatan Industri olahan tembakau memberikan dampak perekonomian yang sangat luas Penggunaan komponen bahan baku lokal cukup besar Indonesia sebagai eksportir kretek utama yang produknya memiliki cita rasa khas Indonesia sudah lama dikenal sebagai eksportir cerutu Teknologi pengolahan telah dikuasai dan berkembang 3.2. Kelemahan Supply Demand dan harga bahan baku tembakau dan cengkeh sangat berfluktuasi 15 15
17 Mutu tembakau belum standar dan rekayasa tembakau rendah nikotin belum banyak diterapkan Utilisasi kapasitas olahan tembakau masih rendah Dukungan litbang olahan tembakau belum ada Lemahnya kemampuan penetrasi pasar ekspor Adanya kesenjangan jumlah dan harga bahan baku tembakau dan cengkeh bagi industri skala kecil dan menengah 3.3. Peluang Berkembangnya teknologi olahan tembakau rendah tar dan nikotin Pengembangan pasar rokok rendah tar dan nikotin cukup besar baik domestik maupun ekspor Belum optimalnya penguasaan pasar terutama pasar negaranegara berkembang 3.4. Ancamanan Adanya pengawasan secara global terhadap tembakau dan olahannya melalui ketentuan FCTC Maraknya peredaran rokok illegal Tindakan proteksisionisme di beberapa negara tujuan ekspor, terutama di negara-negara maju. IV. SASARAN 4.1. Sasaran Jangka Menengah ( ) Meningkatnya produksi rokok menjadi 240 milyar batang pada tahun 2010; Meningkatnya Nilai ekspor tembakau sebesar 15%/tahun dari US $ 397,08 juta pada tahun 2008 menjadi US $ 1.056,24 juta pada tahun 2015 ; Meningkatnya nilai ekspor rokok dan cerutu sebesar 15%/tahun dari US $ 401,44 juta pada tahun 2008 menjadi US $ 1.067,84 juta pada tahun
18 4.2. Sasaran Jangka Panjang ( ) Tercapainya produksi rokok menjadi 260 milyar batang pada tahun 2015 sampai dengan 2025; Meningkatnya ekspor tembakau dan produk hasil tembakau khususnya ke negara-negara yang sedang berkembang, Eropa (cerutu dan tembakau), Ex-Uni Soviet, Afrika, Amerika dan Asia; Terciptanya jenis/varietas tanaman tembakau dan produk IHT yang memiliki tingkat resiko rendah terhadap kesehatan; Minimalisasi peredaran rokok ilegal; Berkurangnya produksi dan peredaran rokok ilegal. V. SRATEGI DAN KEBIJAKAN 5.1. Visi dan Arah Pengembangan Industri Hasil Tembakau Terwujudnya Industri Hasil Tembakau yang kuat dan berdaya saing di pasar dalam negeri dan global dengan memperhatikan aspek kesehatan. Arah Kebijakan : Dalam rangka tercapainya sasaran pengembangan Industri Nasional melalui triple track (pro-growth, pro-job, pro-poor), maka kebijakan pengembangan IHT diarahkan pada: Penciptaan kepastian berusaha dan iklim usaha yang kondusif. Pertumbuhan dalam jangka pendek (s/d 2009) diutamakan untuk IHT menggunakan tangan (SKT). Peningkatan ekspor. Penanganan rokok ilegal. Perbaikan struktur industri rokok. Pengenaan cukai yang terencana, kondusif dan moderat Indikator Pencapaian Meningkatnya produksi rokok menjadi 240 milyar batang pada tahun 2010 dan tahun 2025 sebesar 260 milyar batang
19 Meningkatnya nilai ekspor tembakau sebesar 15%/tahun dari US $ 397,08 juta pada tahun 2008 menjadi US $ 1.056,24 juta pada tahun 2015 Meningkatnya nilai ekspor rokok dan cerutu sebesar 15%/tahun dari US $ 401,44 juta pada tahun 2008 menjadi US $ 1.067,84 juta pada tahun Meningkatnya ekspor tembakau dan produk hasil tembakau khususnya ke negara-negara yang sedang berkembang, Eropa (cerutu dan tembakau), Ex-Uni Soviet, Afrika, Amerika dan Asia; Terciptanya jenis/varietas tanaman tembakau dan produk IHT yang memiliki tingkat resiko rendah terhadap kesehatan; Berkurangnya produksi dan peredaran rokok ilegal 5.3. Tahapan Imlementasi Mengadakan Workshop Pengembangan Klaster Pengolahan Tembakau dilakukan bersama stakeholder terkait dalam rangka sosialisasi klaster pengolahan tembakau Pelatihan Teknis Pengolahan Tembakau bagi aparat pembina dan pengusaha Melakukan komunikasi dan kerjasama dengan perusahaan mitra tembakau Melakukan upaya penumbuhan industri pengolahan tembakau lokal (tembakau iris dan industri rokok skala kecil) Melakukan upaya penumbuhan wirausaha baru dibidang industri pengolahan tembakau melalui kegiatan magang dibeberapa pabrik rokok di Jawa Tengah 18 18
20 VI. PROGRAM/RENCANA AKSI 6.1. Jangka Menengah ( ) Kajian pengembangan IHT Bantuan permodalan Diversifikasi penggunaan energi alternatif Perumusan dan penerapan SNI Tembakau Kajian dampak lingkungan penggunaan batu bara atau bahan bakar lainnya untuk proses pengeringan tembakau Mengupayakan pasokan Bahan Bakar Minyak Tanah (BBMT) bersubsidi untuk proses pengomprongan tembakau. Peningkatan penyerapan tenaga kerja di Sigaret Kretek Tangan (SKT) Penyusunan RUU Pengendalian Dampak Tembakau yang komprehensif dan berimbang dengan melibatkan industri dan stakeholder Penanganan produk rokok ilegal Pembenahan struktur industri rokok terutama pada skala sangat kecil melalui Penggabungan Pabrikan Golongan III A & B serta pemberlakuan Golongan Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF ) setara dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM). Registrasi kepemilikan dan pengawasan impor mesin pembuat rokok Penyusunan rumusan insentif ekspor bagi produk tembakau dan rokok. Peningkatan kemitraan antara petani tembakau dengan pengusaha industri rokok. Peningkatan koordinasi dengan stakeholder terkait dalam penentuan kebijakan cukai yang terencana, kondusif dan moderat. Peningkatan ekspor produk IHT melalui promosi, misi dagang, perjanjian bilateral, regional dan multilateral 19 19
21 6.1. Jangka Panjang ( ) Peningkatan sarana dan prasarana Peningkatan program kemitraan Peningkatan mutu SDM dalam penguasaan teknologi. Peningkatan ekspor produk IHT melalui promosi, misi dagang, perjanjian bilateral, regional dan multilateral. Pengembangan produk IHT yang beresiko rendah bagi kesehatan Peningkatan kemampuan SDM Kajian dan revisi SNI rokok Peningkatan Social Responsibility Program/SRP Peningkatan mutu produk IHT sesuai keinginan pasar. Mengembangkan diversifikasi produk IHT
22 Gambar 2. Kerangka Pengembangan Industri Hasil Tembakau Sasaran Jangka Menengah ( ) 1. Terwujudnya keseimbangan pasokan tembakau dan cengkeh sesuai dengan kebutuhan ekspor tembakau dan kebutuhan industri rokok; 2. Meningkatnya produksi rokok menjadi 240 milyar batang pada tahun 2010; 3. Meningkatnya Nilai ekspor tembakau sebesar 15 persen/tahun dari USD 397,08 juta pada tahun 2008 menjadi USD 1.056,24juta pada tahun 2015 ; 4. Meningkatnya nilai ekspor rokok dan cerutu sebesar 15 persen/tahun dari USD 401,44 juta pada tahun 2008 menjadi USD 1.067,84juta pada tahun 2015 ; 5. Meningkatnya mutu tembakau yang sesuai dengan kebutuhan industri; 6. Meningkatnya kemitraan antara produsen rokok dengan petani tembakau yang saling menguntungkan; 7. Terwujudnya UU Pengendalian Dampak Produk Tembakau yang komprehensif dan berimbang guna menciptakan kepastian usaha; 8. Kebijakan cukai yang terencana dan kondusif sesuai dengan kemampuan IHT; 9. Berkurangnya produksi dan peredaran rokok ilegal. Sasaran Jangka Panjang ( ) 1. Tercapainya produksi rokok menjadi 260 milyar batang pada tahun 2015 sampai dengan 2025; 2. Meningkatnya ekspor tembakau dan produk hasil tembakau khususnya ke negara-negara yang sedang berkembang, Eropa (cerutu dan tembakau), Ex-Uni Soviet, Afrika, Amerika dan Asia. 3. Terciptanya jenis/varietas tanaman tembakau dan produk IHT yang memiliki tingkat resiko rendah terhadap kesehatan; 4. Kebijakan cukai yang terencana dan moderat; 5. Minimalisasi peredaran rokok ilegal; 6. Berkembangnya diversifikasi produk IHT. Strategi 1. Seimbangnya kebutuhan akan pasokan tembakau dan cengkeh. 2. Peningkatan mutu dan daya saing IHT. 3. Penguasaan teknologi dalam pengembangan IHT yang berkaitan dengan pengurangan resiko kesehatan. 4. Penanganan rokok ilegal. 5. Keterlibatan IHT dalam penetapan kebijakan cukai. 6. Keterlibatan IHT dalam penyusunan RUU Pengendalian Dampak Produk Tembakau. Skala Prioritas 1. Jangka Waktu : Urutan Prioritas pada aspek keseimbangan Tenaga Kerja dengan penerimaan dan Kesehatan 2. Jangka Waktu : Urutan Prioritas pada aspek Penerimaan, Kesehatan dan Tenaga Kerja 3. Jangka Waktu : Prioritas pada aspek Kesehatan melebihi aspek Tenaga Kerja dan Penerimaan Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Menengah ( ) 1. Melakukan diversifikasi penggunaan energi alternatif untuk pengeringan tembakau, revisi dan penyusunan SNI Tembakau; 2. Menangani produk rokok ilegal; 3. Membenahi struktur industri rokok; 4. Memberi insentif ekspor bagi produk tembakau dan rokok; 5. Memberlakukan kebijakan cukai yang terencana, kondusif dan moderat; 6. Menjamin keseimbangan pasokan dan kebutuhan bahan baku serta peningkatan produktifitas tembakau dan cengkeh; 7. Meningkatkan ekspor produk tembakau dan rokok. 8. Registrasi mesin sigaret linting; 9. Pengawasan mesin sigaret linting impor Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang ( ) 1. Meningkatkan inovasi teknologi proses pengolahan tembakau; 2. Meningkatkan program kemitraan, meningkatkan mutu SDM dalam penguasaan teknologi pengolahan tembakau; 3. Mengembangkan dan diversifikasi produk industri hasil tembakau yang beresiko rendah bagi kesehatan; 4. Penerapan SNI produk tembakau dan rokok
23 Infrastruktur : Tersedianya sarana dan prasarana di sentra-sentra produksi IHT. Meningkatkan peran litbang dalam : a. Pengadaan benih unggul b. Pengembangan dan diversifikasi produk yang beresiko rendah terhadap kesehatan. Unsur Penunjang Peningkatan Teknologi a. Inisiasi ( ) : Pengembangan dan diversifikasi produk IHT yang beresiko rendah terhadap kesehatan. b. Pengembangan ( ) : Modifikasi dan Pengembangan teknologi pengolahan tembakau. c. Matang ( ) : Industry & Technology Upgrading SDM : Peningkatan kemampuan SDM litbang dalam melaksanakan pengembangan dan diversifikasi produk yang beresiko rendah terhadap kesehatan. Pasar : a. Membangun merek lokal di pasar internasional. b. Meningkatkan kemampuan pemasaran dan market intellegence produk IHT. c. Meningkatkan akses dan penetrasi pasar ekspor. d. Meningkatkan promosi ekspor dan fasilitasi perdagangan. Iklim Usaha : a. Kebijakan cukai yang terencana dan moderat. b. Penanganan rokok illegal untuk menciptakan persaingan usaha yang sehat. c. Meningkatnya kemitraan antara produsen rokok dengan petani tembakau dan cengkeh d. Penyusunan RUU Pengendalian Dampak Tembakau yang komprehensif dan berimbang dengan melibatkan industri dan stakeholder
24 Gambar 3. Kerangka Keterkaitan Industri Hasil Tembakau 23 23
25 Fasilitasi Klaster WG Daya Saing Balittas PT Perush./ Industri Asosiasi Prop Kab/ Kota Dep.kop.& UKM Dep.ESDM BPOM Dep.Kes Dep.Keu Dep.Dag Dep.Tan Depprin Tabel 4. Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Industri Hasil Tembakau Rencana Aksi Pemerintah Pusat Pemda Swasta PT & Litbang Forum Pemetaan potensi tembakau dan cengkeh ; O O O O 2. Bantuan permodalan; O O O O O 3. Diversifikasi penggunaan energi alternative; O O O O O O O O 4. Perumusan dan penerapan SNI Tembakau; 5. Kajian dampak lingkungan penggunaan batu bara atau bahan bakar lainnya untuk proses pengeringan tembakau; 6. Pemberian subsidi dan jaminan pasokan Bahan Bakar Minyak Tanah (BBMT) bagi proses pengomprongan tembakau; 7. Peningkatan penyerapan tenaga kerja di Sigaret Kretek Tangan (SKT); 8. Penyusunan RUU Pengendalian Dampak Tembakau yang komprehensif dan berimbang dengan melibatkan industri dan stakeholder; O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O 24 24
26 9. Penanganan produk rokok illegal; O O O O O O O 10. Pembenahan struktur industri rokok terutama pada skala sangat kecil melalui Penggabungan Golongan III A & B serta O O O pemberlakuan Golongan SKTF setara dengan SKM; 11. Registrasi kepemilikan mesin pembuat rokok; O O O O O O 12. Pengawasan impor mesin pembuat rokok; O O O O O 13. Penyusunan rumusan insentif ekspor bagi produk tembakau dan rokok; 14. Perluasan kemitraan antara petani tembakau dengan pengusaha industri rokok; 15. Peningkatan Koordinasi dengan stakeholder terkait dalam penentuan kebijakan cukai yang terencana, kondusif dan moderat; 16. Peningkatan ekspor produk IHT melalui promosi, misi dagang, perjanjian bilateral, regional dan multilateral. O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O 25 25
27 Gambar 4. Sebaran Industri Rokok, Bahan Baku Utama dan Pendukung Sumut Sumbar Sulut Malut Lampung Jateng Jatim Sulsel Maluku Jabar NTB Bali Keterangan : : Bahan Baku Utama(Tembakau) : Sumatera Utara, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB. : Industri Rokok : Sumut (PT STTC, Pagi Tobacco), Jabar (PT BAT Indonesia & pabrik rokok kecil), Jateng (PT Djarum, PT Nojorono, PR Sukun, PR Gentong Gotri, PR Jamu Bol, Filasta, Wikatama, PR Menara dan Industri rokok kecil lainnya). Jatim (PT Gudang Garam Tbk, PT H.M Sampoerna, PT Bentoel Prima, PT Philip Moris Indonesia, PT Gelora Jaya, PT Karya Niaga Bersama, PT Gandum dan perusahaan rokok kecil lainnya), NTB(industri rokok kecil). : Bahan Baku Pendukung (Cengkeh) : Sumbar, Lampung, Jateng, Jatim, Bali, Sulsel, Sulut, Maluku Utara, Maluku
2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun (Lembaran Negara Republik Indon
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1261, 2015 KEMENPERIN. Tembakau. Produksi Industri. ROADMAP. Pencabutan PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63/M-IND/PER/8/2015 TENTANG PETA JALAN
PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN INDUSTRI UNGGULAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 99/M-IND/PER/8/2010 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN INDUSTRI UNGGULAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
BAB I PENDAHULUAN. yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 milimeter (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 milimeter yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia sebagai salah satu negara dengan berbagai potensi besar yang dimilikinya baik potensi alam, sumberdaya manusia, maupun teknologi tentunya memiliki berbagai
TINJAUAN KEBIJAKAN TERKAIT
TINJAUAN KEBIJAKAN TERKAIT Pada bagian ini akan dibahas mengenai kebijakan yang terkait dengan pengembangan industri tembakau, yang terdiri dari : 1) Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri
BAB I PENDAHULUAN. perdagangan sangat berarti dalam upaya pemeliharaan dan kestabilan harga bahan pokok,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perdagangan memegang peranan penting dalam perekonomian suatu negara. Kegiatan perdagangan sangat berarti dalam upaya pemeliharaan dan kestabilan harga bahan pokok,
DISAMPAIKAN OLEH : DIREKTUR JENDERAL INDUSTRI AGRO PADA RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2013 JAKARTA, FEBRUARI 2013 DAFTAR ISI
DISAMPAIKAN OLEH : DIREKTUR JENDERAL AGRO PADA RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERAN TAHUN 2013 JAKARTA, FEBRUARI 2013 DAFTAR ISI I. KINERJA AGRO TAHUN 2012 II. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN AGRO III. ISU-ISU STRATEGIS
BAB 17 PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR
BAB 17 PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR A. KONDISI UMUM Sebagai motor penggerak (prime mover) pertumbuhan ekonomi, sektor industri khususnya industri pengolahan nonmigas (manufaktur) menempati
BAB 17 PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR
BAB 17 PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR BAB 17 PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR A. KONDISI UMUM Sebagai motor penggerak (prime mover) pertumbuhan ekonomi, sektor industri khususnya
KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA
KELOMPOK I KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA TOPIK : PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI AGRO DAN KIMIA MELALUI PENDEKATAN KLASTER KELOMPOK INDUSTRI HASIL HUTAN DAN PERKEBUNAN, KIMIA HULU DAN
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : KEP-17/BC/1998 TENTANG
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN NOMOR : KEP17/BC/1998 TENTANG PENUNJUKAN PERUSAHAANPERUSAHAAN HASIL TEMBAKAU DALAM NEGERI DENGAN MASINGMASING
AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian
AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN 2012-2014 Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Jakarta, 1 Februari 2012 Daftar Isi I. LATAR BELAKANG II. ISU STRATEGIS DI SEKTOR INDUSTRI III.
Ringkasan. Kebijakan Pembangunan Industri Nasional
Ringkasan Kebijakan Pembangunan Industri Nasional Era globalisasi ekonomi yang disertai dengan pesatnya perkembangan teknologi, berdampak sangat ketatnya persaingan, dan cepatnya terjadi perubahan lingkungan
I. PENDAHULUAN. Cengkeh merupakan komoditas yang unik dan strategis bagi. perekonomian nasional. Dikatakan unik karena Indonesia adalah negara
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Cengkeh merupakan komoditas yang unik dan strategis bagi perekonomian nasional. Dikatakan unik karena Indonesia adalah negara produsen sekaligus konsumen bahkan merupakan
I. PENDAHULUAN. Industri rokok merupakan industri yang sangat besar di Indonesia,
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Industri rokok merupakan industri yang sangat besar di Indonesia, dengan total produksi nasional rata-rata mencapai 220 milyar batang per tahun dan nilai penjualan nasional
10 poin arah pengembangan tembakau dan industri hasil tembakau yang direncanakan sebagai berikut :
Sebagaimana arah RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2010 2015 dan RKPD Kabupaten Bandung Tahun 2012, Kabupaten Bandung berupaya melakukan akselerasi pembangunan daerah yang akan difokuskan untuk mencapai peningkatan
TUGAS LAPORAN. Analisis Proses Bisnis Perusahaan Manufaktur. PT. HM SAMPOERNA Tbk. Laporan ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
TUGAS LAPORAN Analisis Proses Bisnis Perusahaan Manufaktur PT. HM SAMPOERNA Tbk. Laporan ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Analisis Proses Bisnis (APB) Disusun Oleh : Nama : Andrian Ramadhan
BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan dilema serta kontroversial. Industri rokok kretek memegang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keberadaan industri rokok khususnya rokok kretek di Indonesia semakin menimbulkan dilema serta kontroversial. Industri rokok kretek memegang peranan dalam perekonomian
BAB I PENDAHULUAN. Karakteristik industri rokok merupakan consumer goods dan invisible (taste),
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Karakteristik industri rokok merupakan consumer goods dan invisible (taste), produknya unik, konsumen loyal, bersifat konsumtif, segmen pasar usia produktif dan maskulin,
Industrialisasi Sektor Agro dan Peran Koperasi dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Kementerian Perindustrian 2015
Industrialisasi Sektor Agro dan Peran Koperasi dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional Kementerian Perindustrian 2015 I. LATAR BELAKANG 2 INDUSTRI AGRO Industri Agro dikelompokkan dalam 4 kelompok, yaitu
ROADMAP INDUSTRI GULA
ROADMAP INDUSTRI GULA DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO DAN KIMIA DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN JAKARTA, 2009 I. PENDAHULUAN 1.1. Ruang Lingkup Industri Gula Indonesia potensial menjadi produsen gula dunia
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 449 /KMK.04/2002 TENTANG PENETAPAN TARIF CUKAI DAN HARGA DASAR HASIL TEMBAKAU
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 449 /KMK.04/2002 TENTANG PENETAPAN TARIF CUKAI DAN HARGA DASAR HASIL TEMBAKAU MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka pelaksanaan
KEBIJAKAN CUKAI HASIL TEMBAKAU
KEBIJAKAN CUKAI HASIL TEMBAKAU Disampaikan Oleh: Djaka Kusmartata Kepala Bidang Kebijakan Kepabeanan dan Cukai II Pusat Kebijakan Pendapatan Negara Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI Jakarta,
SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA KUNJUNGAN KERJA DI PT. GUDANG GARAM TBK Kediri, 27 Maret 2015
SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA KUNJUNGAN KERJA DI PT. GUDANG GARAM TBK Kediri, 27 Maret 2015 Assalamu alaikum Wr Wb. Yth. Direktur Utama PT. Gudang Garam Tbk dan Jajarannya Yth. Para hadirin sekalian
DISAMPAIKAN PADA RAPAT KOORDINASI DAN SINKRONISASI PENYUSUNAN PROGRAM KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO TAHUN 2013 Oleh : SEKRETARIS DIREKTORAT
DISAMPAIKAN PADA RAPAT KOORDINASI DAN SINKRONISASI PENYUSUNAN PROGRAM KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO TAHUN 2013 Oleh : SEKRETARIS DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO JAKARTA, 7 FEBRUARI 2013 DAFTAR
BAB I PENDAHULUAN. sumber daya perkebunan dalam rangka peningkatan daya saing usaha perkebunan, nilai tambah,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebijakan umum pembangunan perkebunan sebagaimana tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) Pembangunan Perkebunan 2010 sd 2014, yaitu mensinergikan seluruh sumber
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.1121, 2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEUANGAN. Cukai. Tembakau. Tarif. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 179/PMK.011/2012 TENTANG TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU DENGAN
KEBIJAKAN TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU 2013 : SINERGI DALAM ROADMAP INDUSTRI HASIL TEMBAKAU
KEBIJAKAN TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU 2013 : SINERGI DALAM ROADMAP INDUSTRI HASIL TEMBAKAU Oleh: Surono Widyaiswara Pusdiklat Bea dan Cukai Abstraksi: Kebijakan tarif cukai hasil tembakau tahun 2013 dilandasi
BAB I PENDAHULUAN. penghasil tembakau terbanyak di dunia setelah Cina, Brazil, India, Amerika
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Indonesia merupakan salah satu dari beberapa negara penghasil tembakau terbesar didunia. Berdasarkan data tahun 2004, Indonesia merupakan negara ke-6 penghasil
PEMBINAAN INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH MELALUI PENERAPAN STANDAR NASIONAL INDONESIA. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan
2014 PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA SELATAN DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN PEMBINAAN INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH MELALUI PENERAPAN STANDAR NASIONAL INDONESIA Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi
KEBIJAKAN PENGUATAN SEKTOR RIIL DI INDONESIA Kamis, 16 Juli 2009
KEBIJAKAN PENGUATAN SEKTOR RIIL DI INDONESIA Kamis, 16 Juli 2009 Â Krisis keuangan global yang melanda dunia sejak 2008 lalu telah memberikan dampak yang signifikan di berbagai sektor perekonomian, misalnya
Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI
PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan
Mendukung terciptanya kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Meningkatnya jumlah minat investor untuk melakukan investasi di Indonesia
E. PAGU ANGGARAN BERDASARKAN PROGRAM No. Program Sasaran Program Pengembangan Kelembagaan Ekonomi dan Iklim Usaha Kondusif 1. Peningkatan Iklim Investasi dan Realisasi Investasi Mendukung terciptanya kesempatan
PAPARAN PUBLIK TAHUNAN KINERJA KUARTAL PERTAMA April 2015
PAPARAN PUBLIK TAHUNAN KINERJA KUARTAL PERTAMA 2015 27 April 2015 Agenda IKHTISAR PENTING KUARTAL PERTAMA 2015 IKHTISAR BISNIS IKHTISAR KEUANGAN PT HM SAMPOERNA Tbk. KOMITMEN UNTUK INDONESIA 2 Ikhtisar
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERTEMBAKAUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERTEMBAKAUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa tembakau merupakan salah satu kekayaan
Pemerintah Indonesia saat ini sedang berusaha meningkatkan. Namun dengan semakin menipisnya sumber devisa migas yang secara
1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerintah Indonesia saat ini sedang berusaha meningkatkan perolehan devisa, baik dari sektor migas maupun dari sektor non migas. Namun dengan semakin menipisnya sumber
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri tekstil merupakan industri penting sebagai penyedia kebutuhan sandang manusia. Kebutuhan sandang di dunia akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah
1 of 5 21/12/ :02
1 of 5 21/12/2015 14:02 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 179/PMK.011/2012 TENTANG TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
DUKUNGAN SUB SEKTOR PERKEBUNAN TERHADAP PELAKSANAAN KEBIJAKAN
DUKUNGAN SUB SEKTOR PERKEBUNAN TERHADAP PELAKSANAAN KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL Direktur Jenderal Perkebunan disampaikan pada Rapat Kerja Revitalisasi Industri yang Didukung oleh Reformasi Birokrasi 18
2017, No c. bahwa pada tanggal 4 Oktober 2017, Pemerintah bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia telah menyepakati tar
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1485, 2017 KEMENKEU. Cukai Hasil Tembakau. Tarif. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 146/PMK.010/2017 TENTANG TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 146/PMK.010/2017 TENTANG TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 146/PMK.010/2017 TENTANG TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa ketentuan
4.2.7 URUSAN PILIHAN PERINDUSTRIAN KONDISI UMUM
4.2.7 URUSAN PILIHAN PERINDUSTRIAN 4.2.7.1 KONDISI UMUM Proses pembangunan sering kali dikaitkan dengan proses industrialisasi dan pembangunan industri sebenarnya merupakan satu jalur kegiatan untuk meningkatkan
BAB V ANALISIS PERILAKU MODEL
BAB V ANALISIS PERILAKU MODEL Pada bagian analisis kebijakan, terlebih dahulu akan dilakukan analisis pada model dasar, dan kemudian dilanjutkan dengan analisis penerapan skenario kebijakan yang telah
ROADMAP INDUSTRI GULA
ROADMAP INDUSTRI GULA DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO DAN KIMIA DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN JAKARTA, 2009 I. PENDAHULUAN 1.1. Ruang Lingkup Industri Gula Indonesia potensial menjadi produsen gula dunia
1 PENDAHULUAN. Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan pertanian memiliki peran strategis dalam menunjang perekonomian Indonesia. Sektor pertanian berperan sebagai penyedia bahan pangan, pakan ternak, sumber bahan baku
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P- 31/BC/2010
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P- 31/BC/2010 TENTANG TATA CARA PERDAGANGAN DAN KEMASAN PENJUALAN ECERAN BARANG
SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 179/PMK.011/2012 TENTANG TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 179/PMK.011/2012 TENTANG TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK
BAB 1 PENDAHULUAN. Begitu besarnya dampak krisis ekonomi global yang terjadi di Amerika Serikat secara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Begitu besarnya dampak krisis ekonomi global yang terjadi di Amerika Serikat secara tidak langsung menghantam perekonomian hampir seluruh negara di dunia bahkan membuat
I. PENDAHULUAN. banyak menghadapi tantangan dan peluang terutama dipacu oleh proses
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Agribisnis buah-buahan Indonesia saat ini dan masa mendatang akan banyak menghadapi tantangan dan peluang terutama dipacu oleh proses globalisasi, proses yang ditandai
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Tinjauan Objek Studi PT. Gudang Garam Tbk PT. Handjaya Mandala Sampoerna Tbk.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Tinjauan Objek Studi 1.1.1 PT. Gudang Garam Tbk. PT Gudang Garam Tbk yang selanjutnya disebut Gudang Garam adalah sebuah perusahaan rokok populer asal Indonesia. Perusahaan ini didirikan
VIII SKENARIO ALTERNATIF KEBIJAKAN PENGEMBANGAN SISTEM AGROINDUSTRI KAKAO
VIII SKENARIO ALTERNATIF KEBIJAKAN PENGEMBANGAN SISTEM AGROINDUSTRI KAKAO Pada bab sebelumnya, telah dilakukan analisis dampak kebijakan Gernas dan penerapan bea ekspor kakao terhadap kinerja industri
Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur
XII Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur Globalisasi ekonomi menuntut produk Jawa Timur mampu bersaing dengan produk sejenis dari negara lain, baik di pasar lokal maupun pasar internasional. Kurang
Written by Danang Prihastomo Friday, 06 February :22 - Last Updated Wednesday, 11 February :46
RUMUSAN HASIL RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2015 Jakarta, 5 Februari 2015 Rapat Kerja Menteri Perindustrian Tahun 2015 dengan tema Terbangunnya Industri yang Tangguh dan Berdaya Saing Menuju
BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia pemasaran global saat ini, apabila kita mengunjungi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam dunia pemasaran global saat ini, apabila kita mengunjungi pasar tradisional, supermarket, minimarket ataupun warung-warung yang ada di pinggir jalan,
C. Program. Berdasarkan klaim khasiat, jumlah serapan oleh industri obat tradisional, jumlah petani dan tenaga
C. Program PERKREDITAN PERMODALAN FISKAL DAN PERDAGANGAN KEBIJAKAN KETERSEDIAAN TEKNOLOGI PERBAIKAN JALAN DESA KEGIATAN PENDUKUNG PERBAIKAN TATA AIR INFRA STRUKTUR (13.917 ha) Intensifikasi (9900 ha) Non
PROGRAM PENINGKATAN PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS GULA
PROGRAM PENINGKATAN PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS GULA Disampaikan oleh: Direktur Jenderal Perkebunan pada Acara Semiloka Gula Nasional 2013 Peningkatan Produksi dan Produktivitas Gula dalam Mewujudkan Ketahanan
I. PENDAHULUAN. Ubi kayu mempunyai peran cukup besar dalam memenuhi kebutuhan pangan
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Ubi kayu mempunyai peran cukup besar dalam memenuhi kebutuhan pangan maupun mengatasi ketimpangan ekonomi dan pengembangan industri. Pada kondisi rawan pangan,
BABI PENDAHULUAN. alamnya. Di era industri yang terus berkembang, Indonesia turut pula
BAB 1 PENDAHULUAN BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Indonesia adalah negara kepulauan yang kaya akan sumber daya alamnya. Di era industri yang terus berkembang, Indonesia turut pula mengembangkan
ALUR PIKIR DAN ENAM PILAR PENGEMBANGAN HORTIKULTURA
ALUR PIKIR DAN ENAM PILAR PENGEMBANGAN HORTIKULTURA ENAM PILAR PENGEMBANGAN HORTIKULTURA 1. Pengembangan kawasan agribisnis hortikultura. 2. Penerapan budidaya pertanian yang baik / Good Agriculture Practices
RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) TAHUN 2013
RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) TAHUN 2013 DIREKTORAT TANAMAN SEMUSIM DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN 0 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penerapan sistem akuntabilitas kinerja instansi
KEBIJAKAN DAN STRATEGI OPERASIONAL PENGEMBANGAN BIOINDUSTRI KELAPA NASIONAL
KEBIJAKAN DAN STRATEGI OPERASIONAL PENGEMBANGAN BIOINDUSTRI KELAPA NASIONAL Gamal Nasir Direktorat Jenderal Perkebunan PENDAHULUAN Kelapa memiliki peran strategis bagi penduduk Indonesia, karena selain
DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO
RENCANA STRATEGIS DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO TAHUN 2010 2014 (REVISI II) DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN 2012 KATA PENGANTAR Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal
VII. KINERJA LEMBAGA PENUNJANG PEMASARAN DAN KEBIJAKAN PEMASARAN RUMPUT LAUT. menjalankan kegiatan budidaya rumput laut. Dengan demikian mereka dapat
VII. KINERJA LEMBAGA PENUNJANG PEMASARAN DAN KEBIJAKAN PEMASARAN RUMPUT LAUT 7.1. Kinerja Lembaga Penunjang Pengembangkan budidaya rumput laut di Kecamatan Mangarabombang membutuhkan suatu wadah sebagai
IV.C.6. Urusan Pilihan Perindustrian
6. URUSAN PERINDUSTRIAN Urusan perindustrian mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi yaitu sebagai pemicu kegiatan ekonomi lain yang berdampak ekspansif atau meluas ke berbagai sektor
POTENSI DAN PELUANG EKSPOR PRODUK PERKEBUNAN UNGGULAN DI SULAWESI SELATAN
POTENSI DAN PELUANG EKSPOR PRODUK PERKEBUNAN UNGGULAN DI SULAWESI SELATAN PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN DINAS PERKEBUNAN Jalan Perkebunan No. 7 Makassar Tujuan Penyelenggaraan Perkebunan 1. Meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan merupakan salah satu pelaku ekonomi yang kegiatannya adalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan merupakan salah satu pelaku ekonomi yang kegiatannya adalah menghasilkan barang atau jasa yang dibutuhkan konsumen. Perusahaan berusaha membuat suatu produk
PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN INDUSTRI UNGGULAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 96/M-IND/PER/8/2010 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN INDUSTRI UNGGULAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
181/PMK.011/2009 TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU
181/PMK.011/2009 TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU Contributed by Administrator Monday, 16 November 2009 Pusat Peraturan Pajak Online PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 181/PMK.011/2009 TENTANG
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2013
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2013 KAKAO Penyebaran Kakao Nasional Jawa, 104.241 ha Maluku, Papua, 118.449 ha Luas Areal (HA) NTT,NTB,Bali, 79.302 ha Kalimantan, 44.951 ha Maluku,
I. PENDAHULUAN. Sehubungan dengan cita-cita bangsa Indonesia seperti yang tercantum dalam
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sehubungan dengan cita-cita bangsa Indonesia seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yaitu wujudkan masyarakat adil dan makmur kita perlu melaksanakan pembangunan
B. VISI : Indonesia Menjadi Negara Industri yang Berdaya Saing dengan Struktur Industri yang Kuat Berbasiskan Sumber Daya Alam dan Berkeadilan
RENCANA KERJA DAN ANGGARAN KEMENTRIAN NEGARA/LEMBAGA FORMULIR 1 : RENCANA PENCAPAIAN SASARAN STRATEGIS PADA KEMENTRIAN NEGARA/LEMBAGA TAHUN ANGGARAN : 216 A. KEMENTRIAN : (19) KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
PAPARAN PUBLIK TAHUNAN KINERJA April 2013
PAPARAN PUBLIK TAHUNAN KINERJA 2012 18 April 2013 Agenda IKHTISAR PENTING DI TAHUN 2012 IKHTISAR BISNIS IKHTISAR KEUANGAN PT HM SAMPOERNA Tbk. SUKSES KAMI, KOMITMEN KAMI UNTUK INDONESIA 2 Ikhtisar Penting
PROGRAM KERJA 2009 DAN DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO DAN KIMIA
PROGRAM KERJA 2009 DAN RENCANA KERJA 2010 DITJEN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA Disampaikan oleh : DIREKTUR JENDERAL INDUSTRI AGRO DAN KIMIA pada Rapat Kerja Departemen Perindustrian dengan Dinas Propinsi Jakarta,
Tema Pembangunan 2007
Tema Pembangunan 2007 Berdasarkan kemajuan yang dicapai dalam tahun 2005 dan perkiraan 2006, serta tantangan yang dihadapi tahun 2007, tema pembangunan pada pelaksanaan tahun ketiga RPJMN adalah MENINGKATKAN
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Bursa Efek menurut UU No.8 Th. 1995 adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli
KAJIAN KEIKUTSERTAAN INDONESIA DALAM TRANS-PACIFIC PARTNERSHIP (TPP) PADA SEKTOR KESEHATAN KHUSUSNYA PRODUKSI TEMBAKAU/ROKOK
KAJIAN KEIKUTSERTAAN INDONESIA DALAM TRANS-PACIFIC PARTNERSHIP (TPP) PADA SEKTOR KESEHATAN KHUSUSNYA PRODUKSI TEMBAKAU/ROKOK Indonesian Conference on Tobacco or Health 2017 Balai Kartini, Jakarta 15-16
BAB I PENDAHULUAN. dan pada dunia bisnis. Keadaan ini yang menuntut suatu perusahaan untuk selalu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan era globalisasi ini mengakibatkan kemajuan pada teknologi dan pada dunia bisnis. Keadaan ini yang menuntut suatu perusahaan untuk selalu memperbaiki
Judul :Analisis Daya Saing Eksport Tembakau Indonesia ke Pasar Jepang Periode Nama : Ida Bagus Mulya Iswara NIM : ABSTRAK
Judul :Analisis Daya Saing Eksport Tembakau Indonesia ke Pasar Jepang Periode 2005-2016 Nama : Ida Bagus Mulya Iswara NIM : 1206105047 ABSTRAK Indonesia merupakan negara agraris yang menjadikan sektor
KEYNOTE SPEECH MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA PERESMIAN PABRIK PT. INDO KORDSA, TBK JAKARTA, 06 JANUARI 2015
KEYNOTE SPEECH MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA PERESMIAN PABRIK PT. INDO KORDSA, TBK JAKARTA, 06 JANUARI 2015 Yang Mulia Duta Besar Turki; Yth. Menteri Perdagangan atau yang mewakili;
PROSPEK KONSUMSI CENGKEH DI INDONESIA
PROSPEK KONSUMSI CENGKEH DI INDONESIA Oleh: Bambang Sayaka dan Benny Rachman') Abstrak Prospek cengkeh agaknya semakin tidak menentu sebagai akibat menurunnya harga cengkeh yang berkepanjangan serta sistem
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR: KEP-09/BC/1996 TENTANG PENETAPAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI,
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR: KEP-09/BC/1996 TENTANG PENETAPAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, Menimbang Mengingat : bahwa dengan telah ditetapkannya
BAB V KESIMPULAN. ini terjadi dan meningkatnya kebutuhan suatu negara akibat berkembangnya
BAB V KESIMPULAN Keamanan energi erat hubungannya dengan kelangkaan energi yang saat ini terjadi dan meningkatnya kebutuhan suatu negara akibat berkembangnya industrialisasi dan kepentingan militer. Kelangsungan
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN
VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 8.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil kajian mengenai strategi pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Pacitan, maka prioritas strategi yang direkomendasikan untuk mendukung
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Indonesia yang kaya akan budaya dan hasil alamnya memiliki banyak industri yang menggantungkan usahanya pada hasil alam tersebut. Salah satu industri yang menggabungkan
Kajian Konseptual Pengembangan Kawasan Industri Tembakau
Pekerjaan Jasa Konsultansi Kajian Konseptual Pengembangan Kawasan Industri Tembakau 2.1 Kriteria Penentuan Lokasi Kawasan Industri Secara Umum 2.1.1. Teori Lokasi Industri menurut Alfred Weber Teori lokasi
BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan terigu dicukupi dari impor gandum. Hal tersebut akan berdampak
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perubahan pola konsumsi makanan pada masyarakat memberikan dampak positif bagi upaya penganekaragaman pangan. Perkembangan makanan olahan yang berbasis tepung semakin
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka keterpaduan pelaksanaan Pengembangan Ekonomi Kreatif, dengan ini
RENCANA PROGRAM/KEGIATAN DINAS KOPERASI USAHA KECIL MENENGAH PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN ,949,470,000
RENCANA PROGRAM/KEGIATAN DINAS KOPERASI USAHA KECIL MENENGAH PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN 2015 No. A SEKRETARIAT 1,949,470,000 1) Program Pelayanan Administrasi 1,082,400,000
