Pendekatan Problem Based Learning untuk Pembelajaran Optimal
|
|
|
- Yanti Sasmita
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Pendekatan Problem Based Learning untuk Pembelajaran Optimal Oleh : Aini Mahabbati *) Pendahuluan Proses pembelajaran selalu berorientasi untuk menjawab pertanyaan mengenai efektivitas pencapaian tujuan pembelajaran. Pembelajaran konvensional sangat terfokus pada transfer searah materi ajar dari guru. Efektivitas hanya diukur dari hasil belajar yang diwakili oleh skor penguasaan teori. Belajar menjadi kegiatan yang hanya berpusat pada pendalaman konseptual saja dan cenderung tidak menggarisbawahi konteks nyata yang berhubungan dengan materi ajar. Sedangkan dalam tataran konteks, hasil atau penguasaan materi ajar akan teruji coba keberhasilannya bila dapat menjawab problem nyata pada kehidupan yang berkaitan dengan materi keilmuan. Teori-teori yang diajarkan pada pembelajaran konvensional hanya berdiri di situasi kelas dan akan mandul ketika dibawa pada konteks real. Materi yang teoritik belum menemukan jembatan untuk mengarah ke praksis-aplikatif. Padahal hasil dari satu penelitian mengenai proses pembelajaran oleh Schroeder (1993) - dengan menggunakan instrumen Indikator tipe Myer-Briggs (MBTI) yang biasa digunakan untuk mengetahui fungsi perbedaan individu dalam proses belajar - menyatakan bahwa sekitar 60 % dari mahasiswa baru memiliki orientasi praksis daripada teoritis terhadap pembelajaran, dan persentase itu bertambah setiap tahunnya (Melvin L. Siberman, 2004). Kondisi real yang bisa dijadikan contoh adalah proses transfer bahan ajar di sekolah-sekolah hingga ke perguruan tinggi. Prestasi siswa di kelas seringkali tidak sebanding dengan kemampuan mengatasi persoalan dalam kondisi nyata di luar kelas. Pada pembelajaran sains misalnya, teori sains yang didapat di kelas idealnya dapat membantu siswa mempermudah hidup keseharian, karena sebenarnya fenomena sains tidak lepas dari alam sehari-hari. Namun kenyataannya, sains tetap menjadi materi yang bertarget pada kegiatan belajar *) Dosen di Jurusan PLB FIP UNY [email protected] 1
2 mengajar sempit, berupa nilai semata. Siswa di luar kelas akan mempelajari alam keseharian mereka dengan sama sekali terpisah dari aktivitas belajar formal, misalnya dengan bertanya atau menggunakan sumber lain di luar pembelajaran di sekolah. Padahal sudah pada waktunya sekolah tidak lagi hanya sebagai lembaga formal yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Keseluruhan aspek manusia dan alam telah seharusnya terjawab dari proses pembelajaran yang selama ini dipercayakan kepada sekolah, dan sumber di luar adalah pendukung proses pembelajaran itu sendiri yang menjadi tugas sekolah untuk mengolahnya. Di sinilah problem based learning (PBL) diperlukan sebagai suatu pendekatan pembelajaran yang mengusahakan materi ajar berada sedekat mungkin dengan kondisi real. Proses pembelajaran PBL akan menyodorkan berbagai masalah yang berusaha dipecahkan sesuai paradigma teori yang dipelajari. Selain akan mengena ke tujuan pembelajaran, PBL juga sesuai dengan teori belajar efektif yang menyarankan pelibatan seluruh indera dan aspek psikologis manusia (kognisi, afeksi, psikomotorik) sebagai sarana yang membantu proses pembelajaran. Problem Based Learning (PBL) Problem Based Learning merupakan strategi pembelajaran dengan menawarkan problem yang berkaitan dengan materi ajar untuk diolah dan dirumuskan solusinya (Barrows, 1999 dalam Proses problem solving dalam PBL akan membutuhkan informasi-informasi yang dapat menggambarkan tingkat pemahaman dan pengetahuan siswa mengenai konsep-konsep. Kemudian siswa juga akan mengidentifikasi konsep apa yang mereka butuhkan untuk lebih memahami problem dan bagaimana merumuskan solusi yang lebih efektif. Pada awalnya PBL sebagai strategi pembelajaran yang berbasis pada aktivitas pemecahan masalah telah seringkali digunakan dalam seting disiplin ilmu-ilmu medis, karena problem pemecahan masalah yang berkaitan dengan medis ternyata sangat kompleks daripada teori yang disajikan di kelas. namun 2
3 dalam perkembangan dan aplikasinya, PBL juga sangat tepat digunakan di berbagai disiplin keilmuan yang menginginkan proses belajar aktif. pemanfaatan PBL juga tidak hanya tepat diterapkan di kelas-kelas tinggi atau dewasa, melainkan juga disarankan untuk kelas-kelas rendah sebagai perangsang kreativitas siswa. PBL sebagai Rumpun dari Active Learning (Pembelajaran Aktif) Problem Based Learning merupakan salah satu model pembelajaran aktif yang melibatkan siswa sebagai subyek pembelajaran yang memegang peran utama proses. Dalam model ini guru lebih berperan sebagai fasilitator yang mendampingi proses belajar siswa. Guru tidak berperan penuh dengan menyampaikan gagasan-gagasannya saja, melainkan memberi siswa stimulasi untuk mencapai sintesa pemikiran mereka sendiri. Menurut pembelajaran aktif, memberikan paparan konsep hanya akan menghambat siswa dalam mencapai pemahaman komprehensif. Pembelajaran yang berorientasi pada guru yang memaparkan konsep belaka juga akan menghambat daya kreatifitas siswa dan bisa jadi akan mematikan potensi siswa. Model pembelajaran aktif seperti ini akan sangat efektif dalam mengoptimalkan belajar siswa, karena akan melibatkan seluruh indera dalam mengolah bahan pembelajaran. Dikatakan oleh Melvin L. Siberman (2004) bahwa proses belajar sesungguhnya berlangsung secara bergelombang dan memerlukan pengalaman akan materi sebelum bisa memahaminya, bukan sekedar pengulangan dan penghafalan. Ketika belajar bersifat aktif, seperti penyajian problem solving dalam PBL siswa akan berupaya untuk menggali informasi untuk memecahkan masalah. Selain itu pembelajaran aktif lebih diterima oleh siswa dibanding dengan pembelajaran teoritis. Hasil penelitian dengan instrumen MBTI oleh Schroeder (1993) yang lebih mendalam mengenai proses pembelajaran menunjukkan bahwa siswa menengah lebih menyukai kegiatan belajar yang aktif daripada kegiatan yang reflektif abstrak dengan rasio lima banding satu (Melvin L. Siberman, 2004). Pembelajaran aktif akan melibatkan siswa untuk berinteraksi dengan kondisi real sebagai laboratorium belajar sekaligus sebagai sumber pemecahan 3
4 masalah hingga pencapaian pemahaman terhadap gejala alam dan sosial. Dengan asumsi bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi pembelajar atau siswa dengan kondisi real ini Habermas mengelompokkan pembelajar mulai dari menguasai keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengolah realitas (belajar teknis), menghubungkan realitas alam dengan kepentingan manusia (pembelajaran praksis), hingga pada tahap yang lebih tinggi yaitu belajar emansipatoris yang bertujuan untuk mencapai pemahaman dan kesadaran sebaik mungkin tentang gejala perubahan kultural dari suatu lingkungan (Hamzah B. Uno, 2006). PBL dan Pembelajaran Optimal Sebagaimana disebutkan PBL adalah pembelajaran yang membutuhkan pelibatan seluruh komponen psikologis siswa, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik secara aktif. Pelibatan seluruh komponen tersebut berlangsung sepanjang proses pembelajaran sehingga akan menjadikan proses pembelajaran menjadi optimal. Proses PBL secara umum menantang siswa dengan based problem and solution, membentuk kelompok-kelompok belajar untuk mengkolaborasikan pemikiran, dan menjadi subyek penggerak proses belajar secara utuh karena guru hanya berperan sebagai fasilitator. Secara rinci, karakteristik PBL berkenaan dengan pelibatan unsur-unsur psikologis dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, pembelajaran penuh dinamika dengan membuka problem dan analisa pemecahan masalah. Model seperti ini akan memaksimalkan fungsi kognisi. Sweller and Cooper (1985) dan Cooper and Sweller (1987) mengungkapkan bahwa menggunakan pendekatan empiris dengan mengawali pembelajaran dengan problem solving akan lebih efektif daripada hanya memaparkan contoh-contoh sebagai pelengkap pembelajaran. Meskipun di awal pembelajaran siswa akan menemukan kesulitan untuk mengolah informasi yang sangat melimpah dengan keterbatasan waktu yang tersedia. Proses kerja kognisi dalam PBL dijabarkan oleh Schimdt (1993) 4
5 adalah dengan analisa problem atau informasi baru dengan mengelaborasi pengetahuan yang telah ada di memori siswa. Dan sebaliknya, kegiatan problem solving dan belajar kontekstual juga akan melatih dan menajamkan sisi kognisi siswa. Bekerja dalam seting diskusi kelompok juga akan mengasah kemampuan kognisi mereka. Kedua, fungsi afeksi dalam PBL akan terasah ketika siswa membentuk kelompok diskusi dan mengakomodasi segala pendapat yang akan muncul pada proses diskusi. Secara afektif PBL juga memotivasi siswa untuk dapat belajar aktif dan lebih banyak. Basis problem yang digunakan dalam PBL akan mendorong siswa untuk lebih menyadari fungsi pembelajaran bagi kehidupan dan karirnya di masa yang akan datang sekaligus akan membantu siswa bersikap lebih fleksibel dalam menerima pengetahuan baru. Apabila aktivitas PBL telah meranah ke aspek afeksi siswa, maka akan tumbuh semangat untuk melanjutkan pembelajarannya meskipun di luar situasi kelas. Sebagaimana unsur afeksi yang berpuncak pada pengertian atau ilmu yang mewatak, yakni ketika ilmu telah terintegrasi pada kepribadian dan menjadi pribadi yang melandasi gaya hidup (tim penulis buku Psikologi Pendidikan FIP IKIP Yogyakarta, 1999). Ketiga, pada aspek psikomotorik PBL akan lebih lengkap bila disertai dengan pengalaman lapangan dan tindakan nyata. Menggali persoalan dengan observasi akan lebih otentik dan mengundang minat siswa untuk mengolah dan mengatasinya. Demikian juga praktek langsung ke lapangan untuk mengaplikasikan hasil diskusi pemecahan masalah di kelas akan membantu siswa untuk mengutuhkan pemahaman materi. Di samping itu seringnya melakukan praktek pengalaman lapangan akan membuat siswa terbiasa dan terlatih terjun di bidang minatnya dan akan menunjang profesionalitas karir di masa yang akan datang. Lebih dari itu, puncak keterampilan psikomotor yang terbentuk dari PBL akan menumbuhkan kemampuan menyusun mekanisme kerja yang kontekstual dan inovatif (tim penulis buku Psikologi Pendidikan FIP IKIP Yogyakarta, 1999). 5
6 Penutup Vernon A. Magnesen mengatakan bahwa manusia belajar hanya sepuluh persen dari apa yang dilihat, dua puluh persen dari apa yang didengar, tiga puluh persen dari apa yang dilihat dan didengar, tujuh puluh persen dari apa yang dikatakan, dan sembilan puluh persen dari apa yang dilakukan. Keterlibatan seluruh indera ini juga akan mengaktifkan komponen triadik manusia (kognitif, afeksi,dan psikomotorik) untuk dapat mengolah pengetahuan dan melakukan pembelajaran. Model pembelajaran Problem Based Learning yang dipaparkan di atas menjawab ideal situasi belajar yang bertujuan untuk mengoptimalkan proses pembelajaran komprehensif. Proses PBL yang berupa kegiatan pemecahan masalah kontekstual dalam satu kelompok diskusi kecil dan mengelaborasi pemikiran dan pemahaman materi menjadi stimulasi untuk berkembangnya potensi kognitif, afeksi,dan psikomotori. Berkembangnya kualitas fungsi kognitif, afeksi, dan psikomotorik juga akan mempermudah siswa dalam proses pembelajaran. Yang harus menjadi catatan kunci dari PBL adalah bahwa pembelajaran yang berpusat pada diri peserta didik akan membentuk mereka sebagai pribadi mandiri dan berpengalaman dalam proses menggali dan menemukan hal-hal baru. Daftar Pustaka Anonim Problem Based Learning Initiative. [online] Available at : [diakses pada tangga 5 Februari 2007]. Gordon Dryden & Jeanette Vos. The Learning Revolution: To Change the Way the World Learns. (terjemahan. Ahmad Baiquni, Revolusi Cara Belajar). Penerbit Mizan, Bandung, Hamzah B. Uno. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Bumi Aksara, Jakarta
7 Wikipedia, the free encyclopedia Problem-based learning. [online] Available at : learning. [diakses pada tangga 5 Februari 2007]. Melvin L. Siberman. Active Learning: 101 Strategies to teach any Subject. (terjemahan. Raisul Muttaqien, Active Learning: 101 Cara Belajar Aktif ). Penerbit Nusamedia & Nuansa, Bandung,
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan 1. Problem-Based Learning a. Pengertian Problem-Based Learning Problem-Based Learning merupakan model pembelajaran yang menjadikan
IMPLIKASI MODEL PROBLEM BASED LEARNING
IMPLIKASI MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PELAJARAN BIOLOGI KELAS VII-A SMP NEGERI 1 GESI TAHUN AJARAN 2007/2008 SKRIPSI OLEH : NANIK SISWIDYAWATI X4304016 FAKULTAS
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
BAB I PENDAHULUAN Bab I tentang Sistem Pendidikan Nasional: pendidikan adalah usaha sadar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan tidak diperoleh begitu saja dalam waktu yang singkat, namun memerlukan suatu proses pembelajaran sehingga menimbulkan hasil yang sesuai dengan proses
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terbuka, artinya setiap orang akan lebih mudah dalam mengakses informasi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan teknologi dan era globalisasi yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di dunia yang terbuka,
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER OLEH MAHASISWA CALON GURU FISIKA
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER OLEH MAHASISWA CALON GURU FISIKA Susilawati Program Studi Pendidikan Fisika, IKIP PGRI Semarang Jln. Lontar No. 1 Semarang [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. berpikir yang melibatkan berpikir konkret (faktual) hingga berpikir abstrak tingkat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan bagi kehidupan manusia diera global seperti saat ini menjadi kebutuhan yang amat menentukan bagi masa depan seseorang dalam kehidupannya, yang menuntut
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Visi pendidikan sains di Indonesia mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pemahaman tentang sains dan teknologi melalui pengembangan keterampilan berpikir, dan
BAB I PENDAHULUAN. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yang diperoleh
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari hasil pemikiran dan penyelidikan melalui metode ilmiah. Fisika merupakan salah satu dari
II. TINJAUAN PUSTAKA. pembelajaran yang didasarkan pada banyaknya permasalahan yang
10 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Problem Based Learning (PBL) Model Problem Based Learning atau PBL merupakan suatu model pembelajaran yang didasarkan pada banyaknya permasalahan yang membutuhkan penyelidikan
BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kualitas pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan termasuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peningkatan kualitas pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan termasuk sekolah dasar merupakan tujuan utama pembangunan pendidikan pada saat ini dan pada waktu
PENGARUH PROBLEM BASED INSTRUCTION PADA SISWA DENGAN TINGKAT MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PENGUASAAN KONSEP BIOLOGI SISWA KELAS X SMA BATIK 1 SURAKARTA
PENGARUH PROBLEM BASED INSTRUCTION PADA SISWA DENGAN TINGKAT MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PENGUASAAN KONSEP BIOLOGI SISWA KELAS X SMA BATIK 1 SURAKARTA SKRIPSI Oleh: NUR EKA KUSUMA HINDRASTI K4307041 FAKULTAS
BAB I PENDAHULUAN. Mata pelajaran Fisika sebagai bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Mata pelajaran Fisika sebagai bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu-ilmu dasar (basic science) yang perlu diberikan pada siswa. Hal ini tak lepas dari
II. TINJAUAN PUSTAKA. suatu proses pembelajaran. Perubahan yang terjadi pada siswa sejatinya
8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teoretis 1. Hasil Belajar Seseorang akan mengalami perubahan pada tingkah laku setelah melalui suatu proses pembelajaran. Perubahan yang terjadi pada siswa sejatinya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan usaha sadar untuk membekali warga negara agar menjadi warga negara yang memiliki kecerdasan dan kepribadian yang baik. Hal tersebut sesuai
Skripsi OLEH: REDNO KARTIKASARI K
PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) DENGAN METODE EKSPERIMEN UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS VIII C SMP NEGERI 14 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2010/2011
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan menjadi sarana yang paling penting dan efektif untuk membekali siswa dalam menghadapi masa depan. Oleh karena itu, proses pembelajaran yang bermakna sangat
BAB I PENDAHULUAN. wawasan, ketrampilan dan keahlian tertentu kepada individu guna. diyakini mampu menanamkan kapasitas baru bagi semua orang untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan aspek penting bagi perkembangan sumber daya manusia dan merupakan suatu upaya untuk memberikan pengetahuan, wawasan, ketrampilan dan keahlian
guna mencapai tujuan dari pembelajaran yang diharapkan.
8 II. KAJIAN PUSTAKA A. Strategi Pembelajaran 1. Pengertian Strategi Pembelajaran Menurut Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan diamanatkan bahwa proses pembelajaran
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada era globalisasi, seluruh negara di dunia berusaha melakukan pembenahan di segala bidang, termasuk bidang pendidikan. Kemajuan suatu negara salah satunya
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan diartikan sebagai usaha atau kegiatan untuk mengembangkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan diartikan sebagai usaha atau kegiatan untuk mengembangkan potensi dan ketrampilan. Di antaranya meliputi, pengajaran keahlian khusus, pengetahuan,
2015 PENGARUH PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP PENGUASAAN KONSEP SISWA PADA POKOK BAHASAN ENZIM
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan salah satu faktor yang menunjang kemajuan dari suatu bangsa karena bangsa yang maju dapat dilihat dari pendidikannya yang maju pula
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam menyiapkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mampu bersaing
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Proses belajar adalah suatu proses interaksi antara guru dan siswa untuk mendapatkan sebuah pengetahuan yang melibatkan aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarakan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan : Hasil belajar siswa SMA Negeri 2 Serui Kabupaten Kepulauan Yapen,
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarakan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan : Hasil belajar siswa SMA Negeri 2 Serui Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua dengan pembelajaran berbasis
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah kegiatan yang dilakukan secara sadar berupa pembinaan (pengajaran) pikiran dan jasmani anak didik berlangsung sepanjang hayat untuk meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Pasal 31 ayat 2 Undang-Undang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memiliki peranan yang amat penting untuk menjamin kelangsungan hidup Negara, juga merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
BAB I PENDAHULUAN. rendah. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator. Pertama, lulusan dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu hal penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Menurut Quisumbing (Kunandar, 2011:10), pendidikan memiliki
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat (1) tentang sistem pendidikan nasional: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
BAB I PENDAHULUAN. kini, dan pendidikan berkualitas akan muncul ketika pendidikan di sekolah juga
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sangat berperan penting dalam maju mundurnya suatu negara. Masa depan bangsa sangat bergantung pada kualitas pendidikan masa kini, dan pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. diperlukan perbaikan mutu pendidikan agar mencapai tujuan tersebut.
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Tuntutan era globalisasi saat ini adalah kebutuhan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Yang bertujuan untuk mewujudkan negara yang mampu berkompetisi
II. KERANGKA TEORETIS. 1. Pembelajaran berbasis masalah (Problem- Based Learning)
7 II. KERANGKA TEORETIS A. Tinjauan Pustaka 1. Pembelajaran berbasis masalah (Problem- Based Learning) Untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar, para ahli pembelajaran telah menyarankan penggunaan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Problem Based Learning (PBL) 1. Pengertian Problem Based Learning (PBL) Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu model pembelajaran yang berbasis pada masalah, dimana masalah
2015 PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI PENGETAHUAN SISWA DALAM MATA PELAJARAN IPS SD
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mata pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) yang selama ini berlangsung di Sekolah Dasar lebih menekankan pada pembelajaran yang bersifat ekspositori. Dimana siswa
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menurut Dikti (2007), materi pembelajaran pendidikan tinggi di Indonesia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Dikti (2007), materi pembelajaran pendidikan tinggi di Indonesia saat ini umumnya disusun tidak mengikuti taksonomi dimensi pengetahuan yang akan dicapai
BAB I PENDAHULUAN. lebih besar, karena kedudukannya sebagai orang yang lebih dewasa, lebih
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan, yang berlangsung dalam lingkungan tertentu.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari struktur yang abstrak dan pola hubungan yang ada didalamnya. Belajar matematika pada hakekatnya adalah
I. PENDAHULUAN. Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan yang
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam menyiapkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mampu bersaing
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Dalam suatu pendidikan tentu tidak terlepas dengan pembelajaran di
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam suatu pendidikan tentu tidak terlepas dengan pembelajaran di sekolah yang menginginkan pembelajaran yang bisa menumbuhkan semangat siswa untuk belajar.
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan memegang peranan yang penting dalam mempersiapkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan yang penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang handal, karena pendidikan diyakini akan dapat mendorong memaksimalkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Menurut kurikulum KTSP SD/MI tahun 2006 Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas dan mempunyai daya saing tinggi sangat diperlukan dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas dan mempunyai daya saing tinggi sangat diperlukan dalam menghadapi persaingan di berbagai bidang kehidupan, terutama
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perilakunya karena hasil dari pengalaman.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Belajar Banyak ahli pendidikan yang mengungkapkan pengertian belajar menurut sudut pandang mereka masing-masing. Berikut ini kutipan pendapat beberapa ahli pendidikan tentang
II. TINJAUAN PUSTAKA. Efektivitas pembelajaran merupakan suatu ukuran yang berhubungan dengan tingkat
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Efektivitas Pembelajaran Efektivitas pembelajaran merupakan suatu ukuran yang berhubungan dengan tingkat keberhasilan dari suatu proses pembelajaran. Pembelajaran dikatakan efektif
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu Pengetahuan Alam atau biasa yang disebut dengan IPA membutuhkan sebuah pengalaman langsung, agar tujuan dari pembelajaran IPA tersebut dapat tercapai dengan
BAB I LATAR BELAKANG MASALAH. kerja, mendorong perguruan tinggi untuk membekali lulusannya dengan kemampuan
BAB I LATAR BELAKANG MASALAH 1.1 Latar Belakang Masalah Perubahan yang sangat cepat di semua sektor kehidupan khususnya dunia kerja, mendorong perguruan tinggi untuk membekali lulusannya dengan kemampuan
BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
II. TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu model
6 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teoritis 1. Problem Based Learning (PBL) Model pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu model pembelajaran yang didasarkan pada banyaknya permasalahan yang membutuhkan
BAB I PENDAHULUAN. SD merupakan titik berat dari pembangunan masa kini dan masa mendatang.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Peningkatan kualitas pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan termasuk SD merupakan titik berat dari pembangunan masa kini dan masa mendatang. Banyak hal
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Proses pembelajaran adalah suatu proses komunikasi edukatif antara pendidik dan peserta didik. Peran pendidik membantu dan membimbing peserta didik untuk mencapai
BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran ekonomi selama ini berdasarkan hasil observasi di sekolahsekolah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran ekonomi selama ini berdasarkan hasil observasi di sekolahsekolah menengah atas cenderung bersifat monoton dan tidak menghasilkan banyak kemajuan
2016 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembelajaran adalah proses interaksi antar peserta didik dan pendidik melalui sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (PERMENDIKBUD No 103 tahun 2015 pasal 1).
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mutu lulusan pendidikan sangat erat kaitannya dengan proses
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mutu lulusan pendidikan sangat erat kaitannya dengan proses pelaksanaan pembelajaran yang dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain kurikulum, tenaga pendidik, proses
I. PENDAHULUAN. timbul pada diri manusia. Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003 Bab 1 Pasal 1
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan proses dalam pembangunan manusia untuk mengembangkan dirinya agar dapat menghadapi segala permasalahan yang timbul pada diri manusia. Menurut
BAB I PENDAHULUAN. penunjang roda pemerintahan, guna mewujudkan cita cita bangsa yang makmur dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Indonesia merupakan salah satu Negara terbesar didunia yang termasuk kategori Negara berkembang yang saat ini menempatkan pendidikan sebagai fondasi dan atau penunjang
BAB 1 PENDAHULUAN. kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut UU No. 20 Tahun 2003. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Alam semesta beserta isinya diciptakan untuk memenuhi semua kebutuhan makhluk hidup yang ada di dalamnya. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling
II. TINJAUAN PUSTAKA. baik. Efektivitas berasal dari kata efektif. Dalam Kamus Besar Bahasa
12 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Efektivitas Pembelajaran Pembelajaran dianggap dapat berhasil apabila proses dan hasil belajarnya baik. Efektivitas berasal dari kata efektif. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
MODEL PEMBELAJARAN PBL ( PROBLEM BASED LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PBL ( PROBLEM BASED LEARNING) MAKALAH INI DIBUAT UNTUK MEMENUHI TUGAS SEMINAR PENDIDIKAN DISUSUN OLEH KALAM SIDIK PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS
KURIKULUM 2013 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2015
KURIKULUM 2013 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2015 1 1.3c MODEL PROBLEM BASED LEARNING 2 Model Problem Based Learning 3 Definisi Problem Based Learning : model pembelajaran yang dirancang agar peserta
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sistem pendidikan di Indonesia telah mengalami banyak perubahan. Perubahan perubahan itu terjadi karena telah dilakukan berbagai usaha pembaharuan dalam pendidikan,
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan pondasi utama dalam upaya memajukan bangsa.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan pondasi utama dalam upaya memajukan bangsa. Suatu bangsa dapat dikatakan maju apabila pendidikan di negara tersebut maju dan dapat mengelola
I. PENDAHULUAN. Ilmu kimia adalah cabang dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang secara khusus
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu kimia adalah cabang dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang secara khusus mempelajari tentang struktur, susunan, sifat dan perubahan materi, serta energi yang menyertai
BAB I PENDAHULUAN. sampai dengan Sekolah Menengah Atas (SMA). Matematika perlu. diberikan kepada semua siswa mulai dari sekolah dasar untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan di Indonesia mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Sekolah Menengah Atas
KOMPARASI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF PICTURE AND PICTURE
KOMPARASI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF PICTURE AND PICTURE DAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR DALAM MATERI KERUSAKAN LINGKUNGAN PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 3 PONTIANAK Norsidi Dosen
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
1 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu faktor pendukung yang sangat penting dalam menghasilkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas tinggi baik sebagai individu
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan sangat diperlukan untuk mencerdaskan kehidupan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sangat diperlukan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan pendidikan bangsa ini akan cerdas dalam berpikir, dan bijak dalam bertindak. Agar
BAB II KAJIAN TEORI. 1. Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis
6 BAB II KAJIAN TEORI A. Kajian Teoritik 1. Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis a. Pengertian Berpikir Kreatif Proses berpikir merupakan urutan kejadian mental yang terjadi secara alamiah atau terencana
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dunia pendidikan saat ini sedang berkembang pesat membuat persaingan di berbagai negara. Dengan bantuan dari berbagai media pengetahuan dapat di peroleh dengan
PROBLEM BASED LEARNING. R. Nety Rustikayanti, S.Kp., M.Kep. 2016
PROBLEM BASED LEARNING R. Nety Rustikayanti, S.Kp., M.Kep. 2016 Learning = Pembelajaran Hakikat pembelajaran mengasah atau melatih moral kepribadian manusia proses pembelajaran dituntut untuk selalu menyesuaikan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Ahmad Mulkani, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Ilmu kimia merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah yang termasuk ke dalam rumpun bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Seiring dengan perubahan
