BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Farida Wibowo
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Pada hasil penelitian, akan dibahas mengenai gambaran umum perusahaan, sejarah singkat perusahaan, visi dan misi perusahaan, struktur organisasi, uraian tugas, aktivitas perusahaan, auditor internal, dan risiko bisnis pada PT Dirgantara Indonesia Bandung (Persero) Gambaran Umum PT Dirgantara Indonesia Bandung (Persero) PT. Dirgantara Indonesia (DI) (nama bahasa Inggris: Indonesian Aerospace Inc.) adalah industri pesawat terbang yang pertama dan satu-satunya di Indonesia dan di wilayah Asia Tenggara. Perusahaan ini dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. DI didirikan pada 26 April 1976 dengan nama PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan BJ Habibie sebagai Presiden Direktur. Industri Pesawat Terbang Nurtanio kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 11 Oktober Seteleah direstrukturisasi, IPTN kemudian berubah nama menjadi Dirgantara Indonesia pada 24 Agustus PT Dirgantara Indonesia tidak hanya memproduksi berbagai pesawat tetapi juga helikopter, senjata, menyediakan pelatihan dan jasa pemeliharaan (maintenance service) untuk mesin-mesin pesawat. Dirgantara Indonesia juga menjadi sub- 81
2 kontraktor untuk industri-industri pesawat terbang besar di dunia seperti Boeing, General Dynamic, Fokker dan lain sebagainya. Dirgantara Indonesia pernah mempunyai karyawan sampai 16 ribu orang. Karena krisis ekonomi banyak karyawan yang dikeluarkan dan karyawannya kemudian menjadi berjumlah sekitar 4000 orang. Pada awal hingga pertengahan tahun 2000-an Dirgantara Indonesia mulai menunjukkan kebangkitannya kembali, banyak pesanan dari luar negeri seperti Thailand, Malaysia, Brunei, Korea, Filipina dan lain-lain. Meskipun begitu, karena dinilai tidak mampu membayar utang berupa kompensasi dan manfaat pensiun dan jaminan hari tua kepada mantan karyawannya, DI dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 4 September Namun pada tanggal 24 Oktober 2007 keputusan pailit tersebut dibatalkan Sejarah Singkat PT Dirgantara Indonesia Bandung (Persero) PT Dirgantara Indonesia dahulu PT IPTN dan sebelumnya PT Nurtanio, berasal dari pengambilan fasilitas LIPNUR (Lembaga industry Penerbangan Nurtanio)-TNI AU. Dengan berdasar kepada Peraturan Pemerintah No. 12, tanggal 15 April 1976, dipersiapkan pendirian industri pesawat terbang dengan menghimpun asset, fasilitas dan potensi Negara, yaitu asset pertamina, divisi Advance Technology dan Teknologi Penerbangan (ATTP) yang semula disediakan untuk pembangunan industri pesawat terbang dengan asset LIPNUR sebagai modal dasar pendirian industri pesawat terbang Indonesia. Dengan modal ini diharapkan tumbuh sebuah industri pesawat terbang yang mampu menjawab tantangan jaman. Berdasarkan Akte
3 Notaris No. 15, tanggal 28 April 1976 didirikanlah PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio. Setelah dilakukan pembenahan dan pembangunan fisik yang diperlukan, tertanggal 28 April 1976 PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (PT Nurtanio) diresmikan. Lalu pada tanggal 17 April 1986, berubah nama menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), dan pergantian nama yang terakhir diresmikan pada tanggal 24 Agustus 2000, menjadi PT Dirgantara Indonesia (PT DI). PT Dirgantara Indonesia memiliki core competence dalam bidang : aircraft design, development and manufacturing of civilan and military regional commuter aircraft sejak tahun 1976 telah dapat mengembangkan produk bukan hanya pesawat terbang tetapi termasuk : Telecommunication, Automotive, maritime, Information Technology, Oil $ Gas, Control & Automation, Military, Simulation Technology, Indusrial Turbine, and Engineering Sevices. Melalui program restrukturisasi yang puncaknya terjadi pada tahun 2004, maka PT Dirgantara Indonesia sekarang didukung oleh sekitar personil, yang sebelumnya berjumlah personil dengan 18 Satuan Usaha. Saat ini disederhanakan menjadi 5 Satuan Usaha saja, yaitu : a. Aircraft Design & Manufacturing (Airplane & Helicopter) b. Aerostructure (Parts & Components, Sub-Assemblies, Assemblies, Tools & Equipment) c. Aircraft Services (Maintenance, Overhaul, Repair & Alteration) d. Engineering Services (Simulation Technology, Electronic Visualization System)
4 Defence (Launchers, SUT Torpedo, Rockets) Visi dan Misi Perusahaan Visi dari PT Dirgantara Indonesia adalah menjadi perusahaan kelas dunia dalam industri dirgantara yang berbasis pada penguasaan tekonologi tinggi dan mampu bersaing dalam pasar global dengan mengandalkan keunggukan biaya. Adapun misi yang dijadikan pedoman PT Dirgantara Indonesia adalah sebagai berikut: 1. Menjalankan usaha dengan selalu berorientasi pada aspek bisnis dan komersil dan dapat menghasilkan produk dan jasa yang memiliki keunggulan biaya. 2. Sebagai pusat keunggulan di bidang industri dirgantara Indonesia terutama dalam rekayasa, rancang bangun, manufaktur, produksi dan pemeliharaan untuk kepentingan komersial dan militer dan juga untuk aplikasi di luar industri dirgantara. 3. Menjadikan perusahaan sebagai pemain kelas dunia di industri global yang mampu bersaing dan melakukan aliansi strategis dengan industri dirgantara kelas dunia lainnya Aktivitas Perusahaan Kegiatan usaha di PT Dirgantara Indonesia Bandung (Persero) dilaksanakan berdasarkan RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) yang meliputi bidang
5 produksi, pemasaran, penelitian dan pembangunan yang merupakan kegiatan pokok industri pesawat terbang yang masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Dalam bidang produksi dibagi atas program pesawat dan sistem senjata, program komponen dan program jasa. Dimana program pembuatan pesawat diadakan pada SU Aircraft, program pembuatan senjata pada SU Defence, pembuatan komponen (parts, tools and jigs) ditangani oleh SU Aerostructure, serta program service ditangani oleh ACS (SU Aircraft Services). 2. Dalam bidang pemasaran, usaha yang dilakukan untuk pemasaran dalam negeri diarahkan pada peningkatan penjualn pada instansi pemerintah maupun perusahaan penerbangan sedangkan untuk pemasaran luar negeri dilakukan tahap pendekatan penjualan dan realisasi penjualan produk CN-235 dan NBELL-412 sebagai sub kontraktor dari industri aircraft di luar negeri (Boeing General Dynamics, British Aerospace) dan untuk pesawat N-250 baru diadakan tahap promosi pendekatan penjualan. 3. Dalam bidang penelitian dan pengembangan telah melaksanakan kegiatankegiatan seperti melakukan pengmbangan program N-250 (Turbo Prop) dan N-2130 (Turbo Jet) sedangkan untuk pengembangan program produk yang sudah ada melalui CN-235 MPA/ versi militer (angkut barang, paratroop, ambulan udara), pengembangan material komposit untuk pesawat CN-412, tes kualifikasi sistem senjata pada pesawat NBELL-412, pengembangan roket dan torpedo. Kegiatan-kegiatan tersebut pada dasarnya adalah melanjutkan dan mengembangkan program-program baru disamping kegiatan-kegiatan
6 lainnya sebagai penunjang usaha yang bersifat administratif dan pengembangan dalam manajemen. Usaha-usaha yang telah dilakukan oleh PT. Dirgantara Indonesia untuk meningkatkan penjualan baik di dalam negeri maupun di luar negeri adalah dengan meningkatkan pangsa pasar tertentu untuk pesawat N-250, CN-235, NBELL-412 dan NAS-332 serta program jasa ACS (SU Aircraft Services) dan (Universal Maintenance Center) Struktur Organisasi Tingkat Departemen Satuan Pengawasan Internal di PT Dirgantara Indonesia Bandung (Persero) Setiap perusahaan pada dasarnya menginginkan agar tujuan perusahaan dapat tercapai. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut, diperlukan struktur organisasi yang jelas agar setiap karyawan yang menjadi anggota organisasi tersebut,mengerti akan tanggung jawab dan wewenang masing-masing. Struktur organisasi yang dimiliki oleh PT Dirgantara Indonesia Bandung (Persero) memiliki wewenang dan tanggung jawab tersendiri dalam meraih pangsa pasar dalam wilayah yang menjadi kekuasaannya, disamping itu juga memiliki wewenang untuk melakukan dan menciptakan produk-produk yang dihasilkan. Berdasarkan Surat Keputusan Direksi PT Dirgantara Indonesia Bandung (Persero) Nomor : SKEP/070/031.01/PTD/KA0000/01/2008, tentang penetapan struktur organisasi tingkat departemen di lingkungan Satuan Pengawasan Intern, maka struktur organisasi departemen internal audit di PT Dirgantara Indonesia terdiri atas :
7 4.1.3 Gambar 4.1 Struktur Organisasi pada Divisi Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan Komite Audit Deskripsi Tugas Auditor Internal di PT Dirgantara Indonesia Bandung (Persero) Fungsi Satuan Pengawasan Intern (SPI) sebagai pengelola aktivitas pemeriksaan perusahaan diuraikan menjadi 6 (enam) aktivitas sebagai berikut : a.i.1. Merencanakan Program SPI. Mengelolala kegiatan penyusunan perencanaan program SPI baik jangka panjang maupun jangka pendek yang meliputi kegiatan pemeriksaan dan nonpemeriksaan. Penyusunan rencana pemeriksaan didasarkan penilaian risiko yang dilakukan paling sedikit setahun sekali. Sebagai bahan masukkan penyusunan diambil dari Laporan Internal dan Eksternal, data monitoring dan permintaanaudit dari manajemen. Penyusunan rencana non-pemeriksaan meliputi aktivitas pemberian jasa konsultasi, penilaian dan pengembangan aktivitas audit, training, partnership dan lain-lain.
8 a.i.2. Melaksanakan Program Audit Mengelola kegiatan pelaksanaan pemeriksaan yang dilakukan melalui 3 (tiga) tahap, yaitu: a. Tahap persiapan pemeriksaan dengan tujuan mengumpulkan informasi umum dan bukti pemeriksaan sebagai dasar pembuatan program pemeriksaan pendahuluan seperti dasar hokum, sejarah usaha, organisasi, daftar aktiva, prosedur kegiatan dan tinjauan fisik. b. Tahap pemeriksaan pendahuluan dengan tujuan memperoleh identifikasi mengenai aspek pengendaluian manajemen yang lemah sebagai dasar penyusunan program pemeriksaan lanjutan. c. Tahap pemeriksaan lanjutan merupakan pemriksaan secara rinci yang merupakan kelanjutan dari pemeriksaan pendahuluan. a.i.3. Melaporkan Hasil Audit Mengelola kegiatan penyusunan hingga pendistribusian laporan yang diantaranya, meliputi : a. Konfimrasi temuan pemeriksaan dengan pihak auditee yang menghasilkan daftar temuan rinci. b. Penyusunan draft Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP). c. Penyusunan akhir atas draft LHP pimpinan tertinggi auditee. d. Pembuatan LHP dan menyampaikannyakepada direktur utama dan pihak yang terkait lainnya.
9 4. Memonitor dan memeriksa tindak lanjut temuan/rekomendasi mengelola kegiatan pelaksanaan pemeriksaan tindak lanjut, yaitu : a. Membuat daftar monitoring yang dihasilkan dari aktivitas auditee. b. Memeriksa tindak lanjut atas temuan/rekomendasi yang telah disampaikan oleh LHP. c. Merekomendasikan temuan monitoring sebagai fungsi Daily Operatian Control. 5. Mengevaluasi Kinerja Auditor Mengelola kegiatan pelaksanaan, memonitor dan menilai efektivitas program jaminan dan peningkatan kualitas audit yang meliputi tahapan: a. Mengumpulkan dan menganalisa LHP dan bukti pemeriksaan. b. Membuat kuesioner yang akan diisi oleh manjemen/auditee. c. Menganalisa isi kuesioner. d. Membuat penilaian kinerja auditor. 6. Mengembangkan Metode Audit Mengelola kegiatan pelaksanaan pengembangan pemeriksaan yaitu sebagai berikut : a. Mengumpulkan dokumen audit dan hasil observasi kegiatan pemeriksaan baik berupa hasil evaluasi kinerja auditor maupun riwayat atau permasalahan yang dihadapi pemeriksa. b. Membuat konsep/model pemriksaan sehingga melahirkan berbagai alternatif konsep/model dengan menggunakan teori/teknik audit modern.
10 c. Pengujian konsep/model pemeriksaan bersam-sama dengan pemeriksa. d. Membuat kebijakan audit seperti : kebijakan pemriksaan, strategi pemriksaan, prosedur pemeriksaan, teknik dan metode pemeriksaan Karakteristik Responden Data responden yang berhasil dikumpulkan oleh penulis dari penelitian ini adalah sebanyak 30 orang. Sesuai dengan ukuran sampel telah ditentukan di Bab III. Data mengenai karakteristik responden adalah sebagai berikut : a. Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 4.1 sebagai berikut : Tabel 4.1 Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Responden Persentase % Pria Wanita Jumlah (Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2010) Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui profil Karyawan PT Dirgantara Indonesia pada divisi Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan Komite Audit berdasarkan jenis kelamin. Data yang diperoleh melalui kuesioner yang diisi oleh responden menunjukkan bahwa responden berjenis kelamin wanita berjumlah 18 orang atau sebesar 60%, jadi responden paling banyak berdasarkan jenis kelamin adalah wanita. Hal ini disebabkan bahwa karyawan wanita lebih banyak berperan dalam melakukan aktivitas audit, sehingga jasa mereka lebih banyak digunakan.
11 b. Profil Responden Berdasarkan Usia berikut : Profil responden berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 4.2 adalah sebagai Tabel 4.2 Profil Responden Berdasarkan Usia Usia Jumlah Responden Persentase % Tahun Tahun Tahun Jumlah (Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2010) Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui profil Karyawan PT Dirgantara Indonesia pada divisi Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan Komite Audit berdasarkan usia. Data yang diperoleh melalui kuesioner yang diisi oleh responden menunjukkan bahwa responden paling banyak berdasarkan usia adalah responden yang berusia tahun berjumlah 15 orang. Hal ini disebabkan bahwa PT Dirgantara Indonesia merupakan perusahaan yang sudah lama berdiri dan berdasarkan kemampuan finansial tidak mampu untuk merekrut karyawan baru untuk melakukan proses regenerasi. c. Profil Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Profil responden berdasarkan pendidikan terakhir dapat dilihat pada tabel 4.3 seperti sebagai berikut : Tabel 4.3 Profil Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Usia Jumlah Responden Persentase % S2 4 13,33
12 S Diploma 8 26,67 SMA 6 20 Jumlah (Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2010) Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui profil Karyawan PT Dirgantara Indonesia Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan Komite Audit berdasarkan pendidikan terakhir. Data yang diperoleh melalui kuesioner yang diisi oleh responden menunjukkan bahwa responden yang berpendidikan S1 berjumlah 12 orang atau sebesar 40%. Hal ini disebabkan, perusahaan membutuhkan karyawan minimal S1 untuk mendukung aktivitas perusahaan agar mampu berkembang lebih baik. d. Profil Responden Berdasarkan Lamanya Bekerja Profil responden berdasarkan lamanya bekerja dapat dilihat pada table 4.4 seperti sebagai berikut : Tabel 4.4 Profil Responden Berdasarkan Lamanya Bekerja Lamanya Bekerja Jumlah Responden Persentase % 1-5 Tahun 2 6, Tahun Tahun 7 23, Tahun 6 20 >20 Tahun 9 30 Jumlah (Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2010) Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui profil Karyawan PT Dirgantara Indonesia Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan Komite Audit berdasarkan lamanya bekerja. Data yang diperoleh melalui kuesioner yang diisi oleh responden menunjukkan bahwa responden berdasarkan lamanya bekerja lebih dari 20 tahun
13 berjumlah 9 orang atau 30%. Hal ini disebabkan, perusahaan masih membutuhkan kemampuan karyawan yang lebih berpengalaman untuk menjalankan aktivitas perusahaan. 4.2 Hasil Pembahasan Hasil Analisis Kualitatif Analisis Auditor Internal pada Divisi Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan Komite Audit di PT Dirgantara Indonesia Bandung Terlebih dahulu penulis membahas mengenai hasil analisis secara kualitatif dari penelitian ini. Dimana pada bagian ini akan dijelaskan hasil penelitian yang diperoleh dengan memberikan penilaian atas jawaban responden yang diisi oleh 30 orang pegawai dari divisi Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan Komite Audit. Dimana untuk menetapkan peringkat dalam setiap variabel auditor internal dapat dilihat dari perbandingan antara skor aktual dan skor ideal menggunakan rumus sebagai berikut : Keterangan : a. Skor aktual adalah jawaban seluruh responden atas kuesioner yang telah diajukan. b. Skor ideal adalah skor atau bobot tertinggi atau semua responden diasumsikan memilih jawaban dengan skor tertinggi.
14 1. Tanggapan Responden terhadap Auditor Internal Pada tahapan ini sebelum melakukan pengujian tentang bagaimana auditor internal pada setiap indikator. Peneliti terlebih dahulu melakukan pengujian tanggapan responden terhadap indikator-indikator yang ada pada auditor internal. Responden menilai risiko bisnis dengan menilai beberapa kriteria yang ada pada indikator-indikator yaitu Tujuan Wewenang dan Tanggung Jawab, Independensi dan Objektivitas, Keahlian dan Kecermatan Profesional dan Program Quality Assurance dan Perbaikan. Untuk mengetahui tanggapan responden mengenai risiko bisnis, akan dijelaskan pada tabel berikut : Tabel 4.5 Jawaban responden Mengenai Auditor Internal pada PT Dirgantara Indonesia Bandung No. Instrumen Jawaban Responde n Jawaban Skor Aktual Jawaban Skor Ideal Sangat Setuju (5) Setuju (4) Netral (3) Tidak setuju (2) Sangat Tidak Setuju (1)
15 TOTAL Berdasarkan tabel di atas, maka untuk mencari bagaimana sebenarnya tanggapan responden terhadap auditor internal pada pada bagian Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan komite Audit di PT Dirgantara Indonesia Bandung dapat digunakan rumus sebagai berikut : Skor aktual Skor ideal = 83,16% Berdasarkan perhitungan di atas, maka tanggapan responden terhadap auditor internal adalah 83,16%. Hal ini menunjukkan bahwa auditor internal di mata responden pada bagian Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan komite audit di PT Dirgantara Indonesia adalah baik. Penilaian yang baik oleh responden disebabkan oleh beberapa hal penting yang mampu diperhatikan oleh divisi Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan Komite audit di PT Dirgantara Indonesia Bandung yaitu Tujuan,
16 Wewenang dan Tanggung Jawab, Independensi dan Objektivitas, Keahlian dan Kecermatan Profesional, dan Program Quality Assurance dan Perbaikan. 1. Tujuan, Wewenang dan Tanggung Jawab Auditor internal diberi kewenangan memeriksa dan mengevaluasi kecukupan dan efektivitas dari sistem kontrol manajemen yang dimiliki oleh organisasi untuk mengarahkan aktivitasnya kearah pencapaian sasaran yang sesuai dengan kebijakan dan rencana organisasi. Dalam melakukan aktivitas-aktivitas ini, direktur audit dan para anggota staf audit lainnya diberikan wewenang untuk mendapatkan akses penuh, bebas dan tidak terbatas kepada seluruh fungsi, catatan, properti dan karyawan organisasi, sehingga auditor internal harus bertanggung jawab untuk merencanakan penugasan audit. Untuk mengetahui tanggapan responden terhadap indikator tujuan, wewenang dan tanggung jawab dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara skor aktual dan skor ideal. Dari semua data jawaban responden, maka dapat dilihat sepert pada tabel 4.5 berikut ini : Tabel 4.6 Persentase Skor Aktual Tujuan, Wewenang dan Tanggung Jawab Tangga pan Instru men Total Respon den/bo bot Sangat Setuju/ Setuju/ Netral/ Tidak Setuju/ Sangat Tidak Setuju/ Skor Aktual Skor Ideal
17 (Sumber : Tabulasi Data) Berdasarkan tabel diatas, maka untuk mencari bagaimana sebenarnya tanggapan responden terhadap indikator tujuan, wewenang dan tanggung jawab dapat digunakan rumus sebagai berikut : Skor aktual Skor ideal = 83,33% Berdasarkan perhitungan di atas, maka dapat diketahui bahwa tanggapan responden terhadap indikator tujuan, wewenang dan tanggung jawab adalah sebesar 83,33%. Hal tersebut menunjukkan bahwa tujuan, wewenang dan tanggung jawab pada divisi Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan Komite audit di Pt Dirgantara Indonesia adalah baik di mata responden. Hal ini terjadi karena pada PT Dirgantara Indonesia Bandung, auditor internal mereka mampu memenuhi tujuan, wewenang dan tanggung jawab sebagai seorang auditor. 2. Independensi dan Objektivitas Independensi merupakan dasar dari profesi auditing. Hal itu berarti bahwa auditor akan bersikap netral terhadap entitas dan oleh karena itu akan bersikap objektif. Publik dapat mempercayai fungsi audit karena auditor bersikap tidak memihak serta mengakui adanya kewajiban untuk bersikap adil.
18 Objektivitas adalah suatu sikap mental. Meskipun prinsip ini tidak dapat diukur secara tepat, namun wajib untuk dipegang oleh semua anggota. Objektivitas berarti tidak memihak dan tidak berat sebelah dalam semua hal yang berkaitan dengan penugasan. Kepatuhan pada prinsip ini akan meningkat bila para anggota menjauhkan diri dari keadaan yang dapat menimbulkan pertentangan kepentingan. Untuk mengetahui tanggapan responden terhadap indikator independensi dan objektivitas dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara skor aktual dan skor ideal. Dari semua data jawaban responden, maka dapat dilihat seperti pada tabel berikut ini : Tabel 4.7 Persentase Skor Aktual Independensi dan Objektivitas Tangga pan Instrum en Total Respon den/bob ot Sangat Setuju/ Setuju/ Netral/ Tidak Setuju/ Sangat Tidak Setuju/ Skor Aktual Skor Ideal (Sumber : Tabulasi Data) Berdasarkan tabel diatas, maka untuk mencari bagaimana sebenarnya tanggapan responden terhadap indikator independensi dan objektivitas dapat digunakan rumus sebagai berikut : Skor aktual Skor ideal
19 = 82,53% Berdasarkan perhitungan di atas, maka dapat diketahui bahwa tanggapan responden terhadap indikator independensi dan objektivitas adalah sebesar 82,53%. Hal tersebut menunjukkan bahwa independensi dan objektivitas pada divisi Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan Komite audit di PT Dirgantara Indonesia Bandung adalah baik di mata responden. Dalam kegiatannya auditor internal telah mampu bersikap independen dan objektivitas dalam melakukan audit. 3. Keahlian dan Kecermatan Profesional Auditor internal harus memiliki pengetahuan, keterampilan dan kompetensi lain yang dibutuhkan untuk melaksanakan tanggung jawab mereka. Auditor internal harus menggunakan kecermatan dan keterampilan yang diharapkan dari seorang auditor internal yang cukup berhati-hati dan kompeten. Untuk mengetahui tanggapan responden terhadap indikator keahlian dan kecermatan profesional dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara skor aktual dan skor ideal. Dari semua data jawaban responden, maka dapat dilihat seperti pada tabel berikut ini : Tabel 4.8 Persentase Skor Aktual Keahlian dan Kecermatan Profesional Tangga pan Instrum en Total Respon den/bob ot Sangat Setuju/ Setuju/
20 Netral/ Tidak Setuju/ Sangat Tidak Setuju/ Skor Aktual Skor Ideal (Sumber : Tabulasi Data) Berdasarkan tabel diatas, maka untuk mencari bagaimana sebenarnya tanggapan responden terhadap indikator keahlian dan kecermatan profesional dapat digunakan rumus sebagai berikut : Skor aktual Skor ideal = 82,8% Berdasarkan perhitungan di atas, maka dapat diketahui bahwa tanggapan responden terhadap indikator keahlian dan kecermatan professional adalah sebesar 82,8%. Hal tersebut menunjukkan bahwa independensi pada divisi Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan Komite audit di PT Dirgantara Indonesia Bandung adalah baik di mata responden. Dalam syarat menjadi seorang auditor, para auditor internal telah mampu memenuhi keahlian dan kecermatan professional, sehingga mendukung kegiatan audit untuk lebih baik. 4. Program Quality Assurance dan Perbaikan Direktur audit harus mengembangkan dan mempertahankan suatu program quality assurance dan perbaikan yang mencakup semua aspek aktivitas audit internal
21 dan secara terus menerus mengawasi efektivitasnya. Program tersebut harus dirancang untuk membantu aktivitas audit internal memberi nilai tambah dan memperbaiki operasi organisasi serta untuk memberikan assurance bahwa aktivitas audit internal sesuai dengan standar dan kode etik. Untuk mengetahui tanggapan responden terhadap indikator keahlian dan kecermatan professional dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara skor aktual dan skor ideal. Dari semua data jawaban responden, maka dapat dilihat seperti pada tabel berikut ini : Tabel 4.9 Persentase Skor Aktual Program Quality Assurance dan Perbaikan Tanggap an Instrume n Total Respond en/bobot Sangat Setuju/ Setuju/ Netral/ Tidak Setuju/ Sangat Tidak Setuju/ Skor Aktual Skor Ideal (Sumber : Tabulasi Data) Berdasarkan tabel diatas, maka untuk mencari bagaimana sebenarnya tanggapan responden terhadap program quality assurance dan perbaikan dapat digunakan rumus sebagai berikut : Skor aktual Skor ideal 505
22 600 = 84,16% Berdasarkan perhitungan di atas, maka dapat diketahui bahwa tanggapan responden terhadap indikator program quality assurance dan perbaikan adalah sebesar 84,16%. Hal tersebut menunjukkan bahwa program quality assurance dan perbaikan pada divisi Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan Komite audit di PT Dirgantara Indonesia Bandung adalah sangat baik di mata responden. Hal ini menunjukkan bahwa program quality assurance dan perbaikan telah dijalankan dengan baik di perusahaan oleh para staf auditor internal perusahaan Analisis Risiko Bisnis pada Divisi Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan Komite Audit di PT Dirgantara Indonesia Bandung Pada bagian ini akan dijelaskan hasil penelitian yang diperoleh dengan memberikan penilaian atas jawaban responden yang diisi oleh 30 orang pegawai dari Divisi Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan Komite Audit di PT Dirgantara Indonesia Bandung, dimana untuk menetapkan peringkat dalam setiap variabel risiko bisnis dapat dilihat dari perbandingan antara skor aktual dengan skor ideal menggunakan rumus sebagai berikut :
23 Keterangan : a. Skor aktual adalah jawaban seluruh responden atas kuesioner yang telah diajukan. b. Skor ideal adalah skor atau bobot tertinggi atau semua responden diasumsikan memilih jawaban dengan skor tertinggi. 1. Tanggapan Responden Terhadap Risiko Bisnis Pada tahapan sebelum melakukan pengujian tentang bagaimana risiko bisnis pada setiap indikator. Peneliti terlebih dahulu melakukan pengujian tanggapan responden terhadap indikator-indikator yang ada pada auditor internal. Responden menilai risiko bisnis dengan menilai beberapa kriteria yang ada pada indikatorindikator yaitu Pelaporan Keuangan yang bisa Diandalkan, Efektivitas dan Efisiensi dari Operasional dan Pemenuhan Hukum dan Peraturan. Untuk mengetahui tanggapan responden mengenai risiko bisnis, akan dijelaskan pada tabel berikut : Tabel 4.10 Jawaban responden Mengenai Risiko Bisnis pada PT Dirgantara Indonesia Bandung No. Instrumen Jawaban Responde n Jawaban Skor Aktual Jawaban Skor Ideal Sangat Setuju (5) Setuju (4) Netral (3) Tidak setuju (2) Sangat Tidak Setuju (1)
24 TOTAL Berdasarkan tabel di atas, maka untuk mencari bagaimana sebenarnya tanggapan responden terhadap auditor internal pada pada bagian Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan komite Audit di PT Dirgantara Indonesia Bandung dapat digunakan rumus sebagai berikut : Skor aktual Skor ideal = 80,33% Berdasarkan perhitungan di atas, maka tanggapan responden terhadap auditor internal adalah 80,33%. Hal ini menunjukkan bahwa risiko bisnis di mata responden pada bagian Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan komite audit di PT Dirgantara Indonesia adalah baik. Penilaian yang baik oleh responden disebabkan oleh beberapa hal penting yang mampu diperhatikan oleh divisi Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan Komite audit di PT Dirgantara Indonesia Bandung yaitu Pelaporan Keuangan yang bisa Diandalkan, Efektivitas dan Efisiensi dari Operasional dan Pemenuhan Hukum dan Peraturan. 2. Pelaporan Keuangan yang bisa Diandalkan
25 Tujuan pelaporan keuangan berkaitan dengan penyajian laporan keuangan yang andal, termasuk pencegahan pelaporan keuangan publik yang mengandung kecurangan. Tujuan-tujuan tersebut terutama diarahkan oleh persyaratan-persyaratan eksternal. Untuk mengetahui tanggapan responden terhadap indikator indpendensi dan objektivitas dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara skor aktual dan skor ideal. Dari semua data jawaban responden, maka dapat dilihat seperti pada tabel berikut ini : Tabel 4.11 Persentase Skor Aktual Pelaporan Keuangan yang bisa Diandalkan Tanggapa Instrumen Total n Responden /Bobot Sangat Setuju/ Setuju/ Netral/ Tidak Setuju/ Sangat Tidak Setuju/ Skor Aktual Skor Ideal (Sumber : Tabulasi Data) Berdasarkan tabel diatas, maka untuk mencari bagaimana sebenarnya tanggapan responden terhadap pelaporan keuangan yang bisa diandalkan dapat digunakan rumus sebagai berikut : Skor aktual Skor ideal
26 = 84,66% Berdasarkan perhitungan di atas, maka dapat diketahui bahwa tanggapan responden terhadap indikator pelaporan keuangan yang bisa diandalkan adalah sebesar 84,66%. Hal tersebut menunjukkan bahwa pelaporan keuangan yang bisa diandalkan pada divisi Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan Komite audit di PT Dirgantara Indonesia Bandung adalah sangat baik di mata responden. Hal ini menunjukkan bahwa pelaporan keuangan yang bisa diandalkan telah dijalankan dengan sangat baik di perusahaan oleh para staf akuntansi yang telah membuat laporan keuangan. Jadi risiko bisnis yang ada di setiap kegiatan perusahaan dapat diketahui berdasarkan laporan keuangan yang ada, sehingga memudahkan para auditor internal perusahaan untuk melakukan aktivitas audit dalam menilai risiko bisnis perusahaan. 3. Efektivitas dan Efisiensi dari Operasional Tujuan operasional berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi operasi entitas, termasuk kinerja dan tujuan profitabilitas dan pengamanan sumber daya terhadap kerugian. Tujuan-tujuan tersebut bervariasi berdasarkan pilihan manajemen mengenai struktur dan kinerja. Untuk mengetahui tanggapan responden terhadap indikator keahlian dan kecermatan professional dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara skor aktual dan skor ideal. Dari semua data jawaban responden, maka dapat dilihat seperti pada tabel berikut ini : Tabel 4.12 Persentase Skor Aktual Efektivitas dan Efisiensi dari Operasional
27 Tanggap an Respond en/bobot Instrume n Total Sangat Setuju/ Setuju/ Netral/ Tidak Setuju/ Sangat Tidak Setuju/ Skor Aktual Skor Ideal (Sumber : Tabulasi Data) Berdasarkan tabel diatas, maka untuk mencari bagaimana sebenarnya tanggapan responden terhadap efektivitas dan efisiensi dari operasional dapat digunakan rumus sebagai berikut : Skor aktual Skor ideal = 79,16% Berdasarkan perhitungan di atas, maka dapat diketahui bahwa tanggapan responden terhadap indikator efektivitas dan efisiensi dari operasional adalah sebesar 79,16%. Hal tersebut menunjukkan bahwa efektivitas dan efisiensi dari operasional pada divisi Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan Komite audit di PT Dirgantara Indonesia Bandung adalah baik di mata responden. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas dan efisiensi dari operasional telah dijalankan dengan baik oleh manajemen perusahaan. Hal ini menggambarkan kinerja perusahaan memuaskan,
28 tujuan profitabilitas tercapai dan pengamanan sumber daya terhadap kerugian dapat dilakukan, sehingga risiko bisnis dapat diminimalisasi oleh para auditor internal perusahaan. 4. Pemenuhan Hukum dan Peraturan Tujuan-tujuan ketaatan berkaitan dengan ketaatan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku bagi entitas. Tujuan-tujuan tersebut tergantung pada faktorfaktor eksternal, seperti peraturan lingkungan dan cenderung serupa untuk semua entitas dalam beberap kasus dan dalam beberapa industri. Untuk mengetahui tanggapan responden terhadap indikator indpendensi dan objektivitas dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara skor aktual dan skor ideal. Dari semua data jawaban responden, maka dapat dilihat seperti pada tabel berikut ini : Tabel 4.13 Persentase Skor Aktual Pemenuhan Hukum dan Peraturan Tanggapa Instrumen Total n Responden /Bobot Sangat Setuju/ Setuju/ Netral/ Tidak Setuju/ Sangat Tidak Setuju/ Skor Aktual Skor Ideal (Sumber : Tabulasi Data) Berdasarkan tabel diatas, maka untuk mencari bagaimana sebenarnya tanggapan responden terhadap pemenuhan hukum dan peraturan dapat digunakan rumus sebagai berikut :
29 Skor aktual Skor ideal = 77,55% Berdasarkan perhitungan di atas, maka dapat diketahui bahwa tanggapan responden terhadap indikator pemenuhan hukum dan peraturan adalah sebesar 77,55%. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemenuhan hukum dan peraturan pada divisi Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan Komite audit di PT Dirgantara Indonesia Bandung adalah baik di mata responden. Hal ini menunjukkan bahwa pemenuhan hukum dan peraturan telah dijalankan dengan baik di perusahaan oleh manajemen perusahaan. Dimana setiap aktivitas yang ada di perusahaan berdasarkan hukum dan peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, UUD kebijakan telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku Hasil Uji Hipotesis Langkah-langkah pengujian hipotesis ini adalah sebagai berikut : 1. Pengujian Korelasi Rank Spearman Dalam pembahasan ini penulis akan membahas hasil data yang telah diperoleh dari hasil penelitian dan pengujian hipotesis dihitung berdasarkan korelasi Rank Spearman. Langkah-langkah pengujiannya yaitu, menghitung ranking variabel X dan
30 Y, dengan melihat skor perhitungan kuesioner dan menentukan ranking seperti pada tabel dibawah ini : Tabel 4.14 Tabel Penolong Perhitungan Korelasi Rank Spearman No. Xi Yi R (Xi) R (Yi) bi bi Total (Sumber : Data Hasil Penelitian, 2010)
31 Perhitungan nilai statistika pada penelitian ini menggunakan analisis korelasi Rank Spearman, adapun rumus dari korelasi rank Spearman sebagai berikut : Dari data-data yang ada pada tabel-tabel diatas, kemudian dihitung untuk menghasilkan rumus Rank Spearman. Dalam rumus Rank Spearman tersebut, peneliti mencari. Nilai dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Nilai korelasi untuk hubungan auditor internal dengan risiko bisnis adaah sebesar 0,747. Hal ini berarti, nilai koefisien korelasi ( bersifat kuat dan searah, yaitu setiap kenaikan auditor internal akan diikuti oleh risiko bisnis. Begitu juga sebaliknya setiap penurunan auditor internal akan diikuti oleh penurunan risiko bisnis Di atas telah dilakukan pengujian hipotesis secara manual sementara berikut ini hasil ini diperoleh dengan menggunakan SPSS 12 For Windows. Tabel 4.15
32 Hasil Uji Hipotesis Korelasi Rank Spearman Correlations Auditor Internal Risiko Bisnis Spearman's rho Auditor Internal Correlation Coefficient (*) Sig. (2-tailed)..000 N Risiko Bisnis Correlation Coefficient.747(*) Sig. (2-tailed).000. N * Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). Dari hasil di atas baik pengujian hipotesis secara manual maupun dengan menggunakan SPSS 12 for windows dapat dilihat bahwa = 0,747, maka termasuk hubungan dalam kriteria yang kuat. 2. Analisis Koefisien Determinasi Untuk mengetahui persentase auditor internal mempunyai pengaruh terhadap risiko bisnis, maka digunakan koefisien determinasi. Hasil perhitungan koefisien determinasi secara manual sebagai berikut: KD = r 2 100% KD = 0, % KD = 0, % KD = 0, % KD = 55,4% Dengan demikian berdasarkan perhitungan manual diperoleh koefisien determinasi, yaitu (0.747)= 55,8%. Maka pengaruh auditor internal terhadap risiko bisnis adalah sebesar 55,8% dan sisanya sebesar 44,2% dipengaruhi oleh faktor lain
33 seperti auditor eksternal dan penyebab risiko. Maksudnya jika pihak manajemen, auditor internal dan auditor eksternal terdapat komunikasi yang searah dan benar,maka risiko bisnis perusahaan dapat diminimalisasikan dengan menghindari faktorfaktor penyebab risiko. 3. Uji Statistik Uji statsitik yang digunakan adalah uji t dengan rumus sebagai berikut : Dimana : Jika t hitung > dari t tabel, maka H O ditolak, H 1 diterima Jika t hitung < dari t tabel, maka H O diterima, H 1 ditolak Berdasarkan dari hasil pengujian hipotesis dengan rumus t student diperoleh nilai t hitung sebesar 5,594 dan berdasarkan tabel daftar distribusi dengan derajat kebebasan n-2 dan tingkat signifikan didapat nilai t tabel sebesar 2,042. Jadi, dapat disimpulkan bahwa hasil t tabel > t hitung atau 5,594>2,042, artinya H O ditolak dan H 1 diterima. Artinya auditor internal berperan terhadap risiko bisnis. Dibawah ini akan digambarkan kriteria penerimaan hipotesis dengan kurva daerah penerimaan dan penolakan sebagai berikut :
34 Gambar 4.2 Kurva t Distribusi (Uji Dua Pihak) 4. Kesimpulan Pengujian terhadap hipotesis yang dilakukan dengan menggunakan korelasi rank spearman membuktikan bahwa hipotesis Ho yang dikemukakan oleh penulis ditolak dan H 1 diterima, dengan menghasilkan korelasi uji validitas. Dari korelasi tersebut terlihat bentuk hubungan yang kuat, signifikan dan searah antara besarnya auditor internal dengan risiko bisnis, yang dapat diartikan bahwa setiap perubahan auditor internal sebesar satu persen (%) akan diikuti dengan perubahan risiko bisnis sebesar (0,747). Hal ini berarti nilai koefisien korelasi (r) bersifat kuat searah, yaitu setiap kenaikan auditor internal akan diikuti oleh kenaikan risiko bisnis demikian juga sebaliknya setiap penurunan auditor internal akan diikuti oleh penurunan risiko bisnis, sedangkan dari hasil pengujian hipotesis dengan rumus t student nilai t hitung sebesar 5,594 dan berdasarkan tabel daftar distribusi t dengan derajat kebebasan n-2 dan tingkat signifikansi 5 % nilai t tabel sebesar 2,042. Berdasarkan hasil tersebut di dapat nilai t tabel > t hitung atau 5,594 > 2,042, yang artinya Ho ditolak dan Ha diterima, hal ini berarti auditor internal memberikan
35 pengaruh yang signifikan terhadap risiko bisnis. Berdasarkan koefisien determinasi dapat diketahui bahwa pengaruh auditor internal terhadap risiko bisnis adalah sebesar 55,8%, sedangkan sisanya 44,2% dipengaruhi oleh faktor lain seperti auditor eksternal dan faktor penyebab risiko. Secara ideal, hasil penelitian ini tentunya tidak bermaksud dibatasi dalam hal generalisasinya bagi implementasi atau aplikasi kebijakan perusahaan dalam kaitannya dengan perolehan auditor internal, yaitu pada perusahaan PT Dirgantara Indonesia Bandung saja, tetapi juga bagi perusahaan-perusahaan indsutri lain secara umum. Namun, tentu saja mungkin tidak semua konteks hasil penelitian ini bisa diambil manfaatnya, karena perbedaan tempat dan kondisi keuangan dan objek yang diteliti merupakan suatu hal yang sangat penting dalam mempengaruhi hasil kesimpulan penelitian yang didapatkan. Oleh karena itu, bagi perusahaan PT Dirgantara Indonesia Bandung yang diteliti, hasil penelitian ini merekomendasikan untuk sangat seriusnya memperhatikan kebijakan manajemen didalam perusahaan sehingga auditor internal dapat menilai dan meminimalkan risiko bisnis dengan baik dan selanjutnya berdampak pada pengambilan keputusan oleh pihak manajemen perusahaan. Pengambilan keputusan yang tepat tentunya dapat menguntungkan banyak pihak karena mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk melihat risiko bisnis secara optimal dengan menggunakan seluruh asset yang dimilik. Keputusan yang tepat diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap PT Dirgantara Indonesia Bandung, juga kepercayaan para pemegang saham akan pengembalian dari investasi yang mereka tanamkan.
BAB I PENDAHULUAN. memegang peranan penting dalam setiap perusahaan. Dimana dalam melakukan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Keberhasilan dan kelangsungan kegiatan suatu industri, sangat dipengaruhi oleh tenaga kerja yang dimilliki. Tenaga kerja merupakan salah satu faktor yang
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Sejarah Singkat PT. Dirgantara Indonesia Pada tahun 1976 merupakan era baru bagi bangsa Indonesia karena dengan dikeluarakanya peraturan Pemerintah No. 12 tanggal 5
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Dalam melaksanakan penelitian pada PT. Dirgantara Indonesia penulis memperoleh data dan mengetahui pelaksanaan perencanaan pajak pasal 21 atas
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Responden dalam Penelitian ini adalah karyawan PT. Telkom Indonesia.
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Karakteristik Responden Penelitian Responden dalam Penelitian ini adalah karyawan PT. Telkom Indonesia. Tbk Divisi Acess Makassar sebanyak 50 orang terpilih berdasarkan populasinya.
PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Audit Internal
PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Audit Internal PIAGAM AUDIT INTERNAL PT LIPPO KARAWACI TBK I. LANDASAN HUKUM Landasan pembentukan Internal Audit berdasarkan kepada Peraturan Nomor IX.I.7, Lampiran Keputusan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
B a b V. K e s i m p u l a n d a S a r a n BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab IV, penulis dapat menyimpulkan bahwa : 1.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Perusahaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Perusahaan Kegiatan penelitian dan percobaan terbang di Bumi Nusantara ini dimulai hanya satu tahun setelah Penerbangan Pesawat udara pertama dilakukan oleh persaudaraan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Definisi internal audit menurut Sukrisno Agoes (2004: 221) adalah: Definisi Internal Audit menurut Sawyer (2005: 10) adalah:
2.1 Pengertian Internal Audit BAB II TINJAUAN PUSTAKA Definisi internal audit menurut Sukrisno Agoes (2004: 221) adalah: Internal audit (pemeriksaan intern) adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian
SURAT KEPUTUSAN BERSAMA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI NO.SKB.003/SKB/I/2013
SURAT KEPUTUSAN BERSAMA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI NO.SKB.003/SKB/I/2013 TENTANG INTERNAL AUDIT CHARTER (PIAGAM AUDIT INTERNAL) PT ASURANSI JASA INDONESIA (PERSERO) 1. VISI, MISI DAN STRUKTUR ORGANISASI
BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. tentang sesuatu hal objektives, valid, dan reliable tentang suatu hal (variabel
BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Menurut Sugiyono (2010 : 13), definisi dari objek penelitian yaitu Sasaran ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu tentang
PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Audit Internal
PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Audit Internal PIAGAM AUDIT INTERNAL PT LIPPO KARAWACI TBK I. LANDASAN HUKUM Landasan pembentukan Internal Audit berdasarkan kepada Peraturan Nomor IX.I.7, Lampiran Keputusan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Pelatihan Divisi Sumber Daya Manusia (SDM) PT. INTI (Persero) 4.1.1 Bentuk-bentuk Pelatihan Bentuk-bentuk pelatihan kerja yang dilaksanakan di Divisi Sumber
BAB I PENDAHULUAN. Saat ini di Indonesia, perusahaan publik, bank dan BUMN wajib memiliki
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Saat ini di Indonesia, perusahaan publik, bank dan BUMN wajib memiliki unit audit internal untuk membantu memastikan sistem pengendalian intern di perusahaan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Orang yang melaksanakan fungsi auditing dinamakan pemeriksa atau auditor. Pada mulanya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis a. Pengertian Auditing dan Internal Auditing Istilah auditing dikenal berasal dari bahasa latin yaitu : audire, yang artinya mendengar. Orang yang melaksanakan
PIAGAM AUDIT INTERNAL
PIAGAM AUDIT INTERNAL (INTERNAL AUDIT CHARTER) PT PERTAMINA INTERNASIONAL EKSPLORASI & PRODUKSI DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 3 1.1 Umum... 3 1.2 Visi, Misi, Dan Tujuan... 3 1.2.1 Visi Fungsi Audit Internal...
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Definisi Audit Internal Perkembangan suatu perusahaan ditandai dengan semakin banyaknya unitunit operasi perusahaan, jenis usaha, meluasnya
DAFTAR ISI... ABSTRAK... ABSTRACT... KATA PENGANTAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... BAB I PENDAHULUAN... 1
DAFTAR ISI ABSTRAK... ABSTRACT... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... i ii iii vii xii xiv xv BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang Penelitian... 1
DAFTAR ISI CHARTER KOMITE AUDIT. I Pendahuluan 1. II Tujuan Pembentukan Komite Audit 1. III Kedudukan 2. IV Keanggotaan 2. V Hak dan Kewenangan 3
DAFTAR ISI CHARTER KOMITE AUDIT Halaman I Pendahuluan 1 II Tujuan Pembentukan Komite Audit 1 III Kedudukan 2 IV Keanggotaan 2 V Hak dan Kewenangan 3 VI Tugas dan Tanggung Jawab 4 VII Hubungan Dengan Pihak
Struktur Organisasi PT. SINAR MAS BANDUNG SENTOSA
Struktur Organisasi PT. SINAR MAS BANDUNG SENTOSA Dewan Komisaris Direktur General Manager Sekretaris Divisi Akuntansi dan Keuangan Divisi Umum dan Personalia Divisi Pembelian Divisi Pabrik Divisi Pemasaran
PIAGAM AUDIT INTERNAL PT SILOAM INTERNATIONAL HOSPITALS TBK.
PIAGAM AUDIT INTERNAL PT SILOAM INTERNATIONAL HOSPITALS TBK. I. Landasan Hukum Landasan pembentukan Internal Audit berdasarkan kepada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 56/POJK.04/2015 tanggal 23 Desember
1.1. Dasar/ Latar Belakang Penyusunan Piagam Audit Internal
Piagam Audit Intern 1.0 PENDAHULUAN 2.0 VISI 3.0 MISI 1.1. Dasar/ Latar Belakang Penyusunan Piagam Audit Internal a. Peraturan Bank Indonesia No.1/6/PBI/1999 tanggal 20 September 1999 tentang Penugasan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Menurut Nazir (1993:155), objek penelitian merupakan sesuatu yang akan kita ukur. Tetapi yang kita ukur sebenarnya bukanlah objek tersebut, melainkan indikator
TINJAUAN PT. DIRGANTARA INDONESIA (Persero)
BAB II TINJAUAN PT. DIRGANTARA INDONESIA (Persero) 2.1 Sejarah PT.dirgantara Indonesia PT Dirgantara Indonesia (persero) merupakan salah satu perusahaan penerbangan di Asia yang berpengalaman dan berkompetisi
BAB I PENDAHULUAN. Globalisasi menuntut pertumbuhan perekonomian khususnya dunia usaha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Globalisasi menuntut pertumbuhan perekonomian khususnya dunia usaha untuk semakin maju lebih efektif. Semakin maju dunia usaha dan semakin berhasilnya perusahaan,
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan penulis pada Bab IV, penulis menyimpulkan terdapat hubungan yang positif antara pemeriksaan operasional
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. dalam menunjang efektivitas pengendalian internal persediaan barang jadi yang
Bab V Kesimpulan Dan Saran 132 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai peranan audit internal dalam menunjang efektivitas pengendalian internal persediaan
DAFTAR ISI v. ABSTRAK i KATA PENGANTAR. ii. DAFTAR TABEL viii DAFTAR LAMPIRAN xiv
DAFTAR ISI ABSTRAK i KATA PENGANTAR. ii DAFTAR ISI v DAFTAR TABEL viii DAFTAR LAMPIRAN xiv BAB I PENDAHULUAN 1 Latar Belakang Penelitian. 1 2 Identifikasi Masalah.. 3 3 Maksud dan Tujuan Penelitian.. 4
PIAGAM KOMITE AUDIT 2015
PIAGAM KOMITE AUDIT 2015 DAFTAR ISI Halaman BAGIAN PERTAMA... 1 PENDAHULUAN... 1 1. LATAR BELAKANG... 1 2. VISI DAN MISI... 1 3. MAKSUD DAN TUJUAN... 1 BAGIAN KEDUA... 3 PEMBENTUKAN DAN KEANGGOTAAN KOMITE
INTERNAL AUDIT CHARTER 2016 PT ELNUSA TBK
2016 PT ELNUSA TBK PIAGAM AUDIT INTERNAL (Internal Audit Charter) Internal Audit 2016 Daftar Isi Bab I PENDAHULUAN Halaman A. Pengertian 1 B. Visi,Misi, dan Strategi 1 C. Maksud dan Tujuan 3 Bab II ORGANISASI
PIAGAM AUDIT INTERNAL
PIAGAM AUDIT INTERNAL MUKADIMAH Dalam melaksanakan fungsi audit internal yang efektif, Audit Internal berpedoman pada persyaratan dan tata cara sebagaimana diatur dalam Standar Pelaksanaan Fungsi Audit
BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN
28 BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Menurut Moh. Nazir (2008;56), objek merupakan sesuatu yang dibicarakan dan yang dipikirkan sesuatu yang menjadi perhatian. Dalam penelitian ini
- 1 - LAMPIRAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 7 /SEOJK.03/2016 TENTANG STANDAR PELAKSANAAN FUNGSI AUDIT INTERN BANK PERKREDITAN RAKYAT
- 1 - LAMPIRAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 7 /SEOJK.03/2016 TENTANG STANDAR PELAKSANAAN FUNGSI AUDIT INTERN BANK PERKREDITAN RAKYAT - 2 - PEDOMAN STANDAR PELAKSANAAN FUNGSI AUDIT INTERN BANK
BAB IV PEMBAHASAN. Secara umum, penelitian ini bertujuan membantu perusahaan dalam
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Proses Produksi Secara umum, penelitian ini bertujuan membantu perusahaan dalam menekan tingkat terjadinya kecacatan produk yang terjadi selama proses produksinya dengan efektif dan
Berdasarkan Tabel 4.1 di atas, dapat diketahui bahwa terdapat 18 responden laki-laki dengan persentase 43% dan 24 orang responden
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Pelatihan terhadap Kinerja Karyawan pada ERHA CLINIC Bandung Hasil Penelitian pada bab ini penulis membahas hasil penelitian tentang pengaruh Pelatihan
PEDOMAN KERJA KOMITE AUDIT
PEDOMAN KERJA KOMITE AUDIT DAFTAR ISI Executive Summary BAB I Tujuan Umum... 3 BAB II Organisasi... 4 1. Struktur... 4 2. Tugas, Tanggung Jawab dan Wewenang... 4 3. Hubungan Kerja dengan Dewan Komisaris,
PIAGAM KOMITE AUDIT DAN RISIKO USAHA (BUSINESS RISK AND AUDIT COMMITTEES CHARTER) PT WIJAYA KARYA BETON Tbk. BAGIAN I
PIAGAM KOMITE AUDIT DAN RISIKO USAHA (BUSINESS RISK AND AUDIT COMMITTEES CHARTER) PT WIJAYA KARYA BETON Tbk. BAGIAN I 1.1. Pengertian Komite Audit dan Risiko Usaha adalah komite yang dibentuk oleh dan
BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan perusahaan yang cepat dalam lingkungan bisnis yang semakin
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Pertumbuhan perusahaan yang cepat dalam lingkungan bisnis yang semakin ketat, persaingannya akan menimbulkan tantangan bagi manajemen. Tantangan manajemen
BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Menurut Husein Umar menerangkan bahwa: ditambahkan hal-hal lain jika di anggap perlu.
BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Menurut Husein Umar menerangkan bahwa: Objek Penelitian menjelaskan tentang apa dan atau siapa yang menjadi obyek penelitian. Juga di mana dan kapan
Pedoman Audit Internal (Internal Audit Charter) Lampiran, Surat Keputusan, No:06/FMI-CS/III/2017 Tentang Penetapan Kepala Unit Audit Internal
1. Definisi a) Audit Internal adalah suatu kegiatan pemberian keyakinan dan konsultasi yang bersifat independen dan objektif, dengan tujuan untuk meningkatkan nilai dan memperbaiki operasional perusahaan,
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian, observasi dan wawancara yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk meningkatkan efektifitas penjualan, pelaksanaan audit
BAB I PENDAHULUAN. dapat memperoleh kesuksesan hanya dengan mengadopsi teknologi baru dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Dalam era teknologi yang telah berkembang saat ini, suatu perusahaan tidak dapat memperoleh kesuksesan hanya dengan mengadopsi teknologi baru dengan cepat
Pedoman Kerja Unit Internal Audit (Internal Audit Charter)
Pedoman Kerja Unit Internal Audit (Internal Audit Charter) PT Erajaya Swasembada Tbk & Entitas Anak Berlaku Sejak Tahun 2011 Piagam Internal Audit ini merupakan salah satu penjabaran dari pedoman pelaksanaan
PIAGAM KOMITE AUDIT. ( AUDIT COMMITTE CHARTER ) PT FORTUNE MATE INDONESIA Tbk
PIAGAM KOMITE AUDIT ( AUDIT COMMITTE CHARTER ) PT FORTUNE MATE INDONESIA Tbk 2 Januari 2013 Halaman DAFTAR ISI... 1 BAGIAN PERTAMA... 2 PENDAHULUAN... 2 1. LATAR BELAKANG... 2 2. VISI DAN MISI... 2 3.
INTERNAL AUDIT CHARTER
Halaman : 1 dari 5 I. PENDAHULUAN Tujuan utama Piagam ini adalah menentukan dan menetapkan : 1. Pernyataan Visi dan Misi dari Divisi Satuan Kerja Audit Intern (SKAI) Bank Woori Saudara 2. Tujuan dan ruang
Daftar Pertanyaan. Daftar pertanyaan berikut ini terdiri dari tipe isian, isilah pada tempat jawaban
Daftar Pertanyaan Petunjuk Pengisian Daftar pertanyaan berikut ini terdiri dari tipe isian, isilah pada tempat jawaban yang disediakan dengan singkat dan jelas dan sandainya Bapak/Ibu berkeberatan mencantumkan
Struktur Organisasi. PT. Akari Indonesia. Pusat dan Cabang. Dewan Komisaris. Direktur. General Manager. Manajer Sumber Daya Manusia Kepala Cabang
134 Struktur Organisasi PT. Akari Indonesia Pusat dan Cabang Dewan Komisaris Direktur Internal Audit General Manager Manajer Pemasaran Manajer Operasi Manajer Keuangan Manajer Sumber Daya Manusia Kepala
PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT SINAR MAS AGRO RESOURCES & TECHNOLOGY Tbk.
PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT SINAR MAS AGRO RESOURCES & TECHNOLOGY Tbk. 1 BAB I DASAR DAN TUJUAN PEMBENTUKAN 1.1. Dasar Pembentukan 1.1.1 PT Sinar Mas Agro Resources & Technology Tbk,
PT ARGHA KARYA PRIMA INDUSTRY, Tbk. PIAGAM UNIT INTERNAL AUDIT
PT ARGHA KARYA PRIMA INDUSTRY, Tbk. PIAGAM UNIT INTERNAL AUDIT A. PENDAHULUAN A.1 TUJUAN PENYUSUNAN PIAGAM UNIT INTERNAL AUDIT a. Memenuhi Keputusan Ketua Bapepam dan LK No. KEP-496/BL/2008 tanggal 28
Piagam Audit Internal. PT Astra International Tbk
Piagam Audit Internal PT Astra International Tbk Desember 2010 PIAGAM AUDIT INTERNAL 1. Visi dan Misi Visi Mempertahankan keunggulan PT Astra International Tbk dan perusahaanperusahaan utama afiliasinya
BAB II TINJAUAN UMUM PT. DIRGANTARA INDONESIA (persero)
BAB II TINJAUAN UMUM PT. DIRGANTARA INDONESIA (persero) 2.1 Sejarah PT.dirgantara Indonesia PT Dirgantara Indonesia (persero) merupakan salah satu perusahaan penerbangan di Asia yang berpengalaman dan
DAFTAR ISI CHARTER KOMITE AUDIT PT INDOFARMA (Persero) Tbk
DAFTAR ISI CHARTER KOMITE AUDIT PT INDOFARMA (Persero) Tbk Halaman I. Pembukaan 1 II. Kedudukan 2 III. Keanggotaan 2 IV. Hak dan Kewenangan 4 V. Tugas dan Tanggungjawab 4 VI. Hubungan Dengan Pihak Yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Audit Internal 2.1.1 Pengertian Audit Internal Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, penulis mengemukakan beberapa pendapat mengenai pengertian Audit Internal. Menurut
ABSTRAK Audit internal memiliki peran yang signifikan dalam meningkatkan efektivitas pengendalian internal kepegawaian dan penggajian
ABSTRAK Dalam keadaan perekonomian yang tidak menentu, berhasil atau tidaknya suatu perusahaan sangat tergantung pada kemampuan sumber daya manusia itu sendiri. Perusahaan dituntut untuk maju dan berkembang
PIAGAM AUDIT INTERNAL
PIAGAM AUDIT INTERNAL Latar Belakang Unit Audit Internal unit kerja dalam struktur organisasi Perseroan yang dibentuk untuk memberikan keyakinan yang memadai dan konsultasi yang bersifat independen dan
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Melalui penelaahan laporan tahunan, kebanyakan perusahaan industri menunjukan bahwa unsur harta terbesar pada neraca adalah persediaan. Oleh karena itu efektifitas persediaan bahan baku merupakan
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, penulis mengambil kesimpulan bahwa: 1. Komite Audit dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya
PIAGAM UNIT AUDIT INTERNAL
PIAGAM UNIT AUDIT INTERNAL PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk memandang pemeriksaan internal yang dilaksanakan oleh Unit Audit Internal sebagai fungsi penilai independen dalam memeriksa dan mengevaluasi
BAB I PENDAHULUAN. Dalam menghadapi perkembangan yang semakin maju, persaingan antara Rumah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam menghadapi perkembangan yang semakin maju, persaingan antara Rumah Sakit menjadi semakin ketat. Persaingan yang dihadapi oleh Rumah Sakit saat ini bukan hanya
PENGARUH AUDIT OPERASIONAL ATAS PROSES PRODUKSI TERHADAP EFEKTIVITAS PROSES PRODUKSI
PENGARUH AUDIT OPERASIONAL ATAS PROSES PRODUKSI TERHADAP EFEKTIVITAS PROSES PRODUKSI Dalam perusahaan industri, produksi merupakan aktivitas utama dari seluruh aktivitas perusahaan. Dilihat dari pentingnya
PT Wintermar Offshore Marine Tbk
PT Wintermar Offshore Marine Tbk ( Perusahaan ) Piagam Audit Internal I. Pembukaan Sebagaimana yang telah diatur oleh peraturan, yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 56/POJK.04/2015 yang ditetapkan
BAB I PENDAHULUAN. Laporan hasil pemeriksaan merupakan kesempatan bagi satuan pengawas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Laporan hasil pemeriksaan merupakan kesempatan bagi satuan pengawas intern untuk menunjukkan kontribusinya pada perbaikan kinerja organisasi. Laporan juga
BAB V. Kesimpulan dan Saran. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai gambaran
BAB V Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai gambaran secara umum variabel-variabel yang ada dalam penelitian ini, maka penulis mencoba menarik kesimpulan
BAB I PENDAHULUAN. krisis global, berhasil atau tidaknya suatu perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Dalam kondisi perekonomian sekarang yang tidak stabil dikarenakan terjadinya krisis global, berhasil atau tidaknya suatu perusahaan dalam mempertahankan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian Internal Auditor dan Ruang Lingkupnya. Kata internal auditor terdiri dari dua kata yaitu internal dan Auditor.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Internal Auditor dan Ruang Lingkupnya Kata internal auditor terdiri dari dua kata yaitu internal dan Auditor. Berdasarkan kamus besar Bahasa Indonesia, internal artinya
BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan baik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun Badan Usaha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perusahaan baik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) sebagai pelaku ekonomi tidak
BAB I PENDAHULUAN. sedang menghadapi era globalisasi, dimana persaingan antar perusahaan semakin
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Sumber Daya Manusia merupakan salah satu sumber daya yang menentukan keberhasilan perusahaan, untuk mencapai tujuannya. Kini dunia sedang menghadapi era
PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT SUMBERDAYA SEWATAMA
PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT SUMBERDAYA SEWATAMA 1 DAFTAR ISI I. DEFINISI...3 II. VISI DAN MISI...4 III. TUJUAN PENYUSUNAN PIAGAM KOMITE AUDIT...4 IV. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB...4 V.
DAFTAR ISI CHARTER SATUAN PENGAWASAN INTERN
DAFTAR ISI CHARTER SATUAN PENGAWASAN INTERN Halaman I. Pembukaan 1 II. Visi dan Misi SPI 2 III. Kebijakan Umum Pengendalian Internal Dan Audit Internal 3 IV. Kedudukan SPI 3 V. Peran SPI 3 VI. Ruang Lingkup
Piagam Unit Audit Internal ( Internal Audit Charter ) PT Catur Sentosa Adiprana, Tbk
Piagam Unit Audit Internal ( Internal Audit Charter ) PT Catur Sentosa Adiprana, Tbk Pendahuluan Piagam Audit Internal ( Internal Audit Charter ) adalah dokumen formal yang berisi pengakuan keberadaan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. itu telah disebarkan kuesioner kepada 50 orang responden. Oleh karena itu
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan bauran promosi di perusahaan snack Ribut di Purwokerto, minat beli konsumen snack Ribut, dan pengaruh pelaksanaan
ABSTRAK PERANAN AUDIT OPERASIONAL DALAM MENUNJANG EFEKTIVITAS FUNGSI PERSONALIA
ABSTRAK PERANAN AUDIT OPERASIONAL DALAM MENUNJANG EFEKTIVITAS FUNGSI PERSONALIA Saat ini dunia sedang mengalami krisis ekonomi. Krisis tersebut berdampak sangat besar terhadap aktivitas perusahaan di dunia.
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Melalui penelaahan laporan tahunan, kebanyakan perusahaan industri menunjukan bahwa unsur harta terbesar pada neraca adalah persediaan. Oleh karena itu efektifitas persediaan barang jadi merupakan
Piagam Audit Internal. PT Astra International Tbk
PT Astra International Tbk Agustus 2016 PIAGAM AUDIT INTERNAL I. Visi & Misi Visi Misi Visi 2020 Menjadi Kebanggaan Bangsa Grup Astra diakui memiliki standar kelas dunia dalam hal tata kelola perusahaan,
BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini, yang menjadi objek penelitian adalah pelaksanaan
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Dalam penelitian ini, yang menjadi objek penelitian adalah pelaksanaan audit internal dan penerapan Good Corporate Governance (GCG). Studi empiris pada BUMN
ABSTRAK. iii. Universitas Kristen Marantha
ABSTRAK Akuntan memiliki andil yang besar dalam memperbaiki perekonomian Indonesia. Jasa akuntan khususnya dalam penugasan audit sangat dibutuhkan untuk menilai dan menentukan kewajaran laporan keuangan
KUESIONER PEMERIKSAAN INTERNAL VARIABEL INDEPENDEN
KUESIONER PEMERIKSAAN INTERNAL VARIABEL INDEPENDEN Jawaban Kuesioner No Pernyataan SS S N TS STS I. Kualifikasi Pemeriksaan Internal Independensi, Kompetensi, Integritas, Objektivitas, dan Keberhasilan
Hal: Permohonan Pengisian Kuesioner. Kepada: Yth. Bapak/Ibu Responden di tempat
Hal: Permohonan Pengisian Kuesioner Kepada: Yth. Bapak/Ibu Responden di tempat Dengan hormat, Sehubungan dengan penelitian yang saya lakukan dalam rangka penyusunan skripsi guna meraih kesarjanaan di,
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian yang berjudul Dampak Kualitas Software Absensi Fingerprint
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian Penelitian yang berjudul Dampak Kualitas Software Absensi Fingerprint Terhadap Disiplin Kerja Karyawan di Lembaga Penerbangan dan Antariksa
nilai-nilai profesinya... 60
DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel... 41 Tabel 3.2 Nilai Koefisien Korelasi Rank Spearman... 44 Tabel 4.1 Nilai-nilai Korelasi Product Moment Variabel Sikap Profesionalisme Akuntan Publik...
BAB II PROFIL PERUSAHAAN
BAB II PROFIL PERUSAHAAN 2.1 Sejarah Umum dan Perkembangan Perusahaan Pada awalnya untuk merencanakan serta membuat pesawat terbang di Indonesia, baru terwujud ssetelah proklamasi kemerdekaan yang ditujukan
PIAGAM (CHARTER) AUDIT SATUAN PENGAWASAN INTERN PT VIRAMA KARYA (Persero)
PIAGAM (CHARTER) AUDIT SATUAN PENGAWASAN INTERN PT VIRAMA KARYA (Persero) Jakarta, 17 Januari 2017 DAFTAR ISI Halaman A. PENDAHULUAN... 1 I. Latar Belakang... 1 II. Maksud dan Tujuan Charter Satuan Pengawasan
ABSTRAK PERANAN PENGENDALIAN INTERNAL DALAM MENUNJANG EFEKTIVITAS FUNGSI PERSEDIAAN BARANG JADI
ABSTRAK PERANAN PENGENDALIAN INTERNAL DALAM MENUNJANG EFEKTIVITAS FUNGSI PERSEDIAAN BARANG JADI Dalam industri manufaktur, persediaan merupakan modal kerja yang sangat penting yang harus dikelola secara
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan serta didukung dengan data yang diperoleh dari hasil penelitian terdapat beberapa hal yang dapat disimpulkan
I. PENDAHULUAN. 1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan;
I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. didirikan berdasarkan akta pendirian Perusahaan sebagaimana diumumkan dalam Berita negara RI No. 95 tanggal 27 Nopember 1992, tambahan Nomor
