BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA DATA
|
|
|
- Hartono Hartanto
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA DATA 4. PERHITUNGAN DATA Dari percobaan yang telah dilakukan dengan menggunakan pipa spiral dan pipa bulat ½ in, didapatkan data mentah berupa perbedaan tekanan manometer ( h), debit aliran dari variasi pembukaan katup utama dan konsentrasi campuran antara padatan dengan pelarut. Massa jenis campuran diketahui dengan cara mengukur berat dari fluida tesebut berdasarkan jumlah volume dari fluida tersebut, sedangkan kecepatan aliran didapat dari debit aliran di bagi dengan luas penampang pipa, debit sendiri didapat dengan menampung fluida yang keluar dari pipa uji dengan gelas ukur dibagi dengan waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi volume tertentu. Dalam pengambilan data terdapat beberapa variasi konsentrasi kepadatan (Cw) adapun persamaan untuk menentukan konsentrasi kepadatan adalah sebagai berikut : Cvρs Cw = Cvρs + (00 C) Cvρs =.(4.) ρm Dimana : Cw Cv ρs ρm =persentasi berat padatan = persentasi volume padatan = densitas padatan = densitas campuran apabila massa jenis dari padatan tidak diketahui maka dapat digunakan perbandingan volume dari fluida yang akan digunakan volumelumpur x00% vol. lumpur + vol. air (4.2) percobaan pada penelitian ini menggunakan tiga variasi padatan yaitu 20%, 30% dan 45 %
2 untuk mendapatkan padatan 20%, campuran yang digunakan adalah 0 liter Lumpur ditambahkan 40 liter pelarut, dari perhitungan yang ada maka didapatkan konsentrasi padatan (Cw) 20% 0 x 00% = 20% Sedangkan untuk mendapatkan konsentrasi 35%, campuran yang dipergunakan adalah perhitungan 5 liter Lumpur ditambahkan 35 liter air sebagai pelarut maka dari 5 x 00% = 30% Untuk konsentrasi 45% maka jumlah lumpur yang digukana agak banyak, tujuannya agar volume campuran di bak penampung melebihi saluran isap pompa Maka perhitungan yang digunakan apada konsentrasi ini adalah sebagai berikut : 30 x 00% = 45% Pada pipa ½ in dengan konsentrasi padatan 45% Penelitian pertama dilakukan dengan konsentrasi padatan 45% Lumpur dan 55% air sebagai pelarut. Tabel 4. Data hasil penelitian konsentrasi 45% Bukaan Valve h h2 h t (0-90) (mm) (mm) (mm) (second) , , , , , , , , , ,6
3 , , ,4 Data diatas merupakan data dari hasil percobaan di laboratorium, besarnya debit aliran dibuat konstan yaitu 2 liter atau 2x0-3 m 3, untuk mendapatkan debit alirannya maka 2x0-3 m 3 di bagi dengan waktu untuk memenuhi volume tersebut. Dari debit aliran ini akan di dapatkan kecepatan fluida yang keluar dari pipa uji. Massa jenis campuran fluida ini dapat di hitung dengan menimbang massa dari campuran fluida ini dengan satuan volume tertentu. Pada konsentrasi ini di dapat massa jenis dari campuran ini adalah 449 kg/m 3. nilai P didapat dari perbedaan head pada manometer, setelah diolah maka data didapatkan sebagai berikut : Tabel 4.2 Hasil perhitungan debit, P, luas penampang dan kecepatan Q P A V (m*3/s) (Pa) (m*2) (m/s) 0, , , , , , , , , , , , , ,079 0, ,2409 0, , , ,6486 0, , , , , ,5894 0, , , , , , , ,545 0, , , ,5822 0, , , , , , , ,2367 0, , , ,6605 0, ,925224
4 Dari data diatas terlihat debit aliran bertambah besar seiring dengan semakin besarnya pembukaan katup utama, oleh karena itu kecepatan aliran juga bertambah besar. Dari data yang tersedia dengan rumus-rumus yang terdapat pada landasan teori dapat di cari tegangan geser serta gradient kecepatan dari konsentrasi fluida ini. Nilai dari tegangan geser di dapatkan dari persamaan 2.6 dimana nilai yang diperlukan adalah P dan jarak antara manometer pertama dan manometer kedua sebagai contoh : pada pembukan 30 o didapat P adalah 84,79097 Pa dan jarak manometer 800 mm atau 0,8m maka : 3 (2.7x0 ) x84,79097 τ = = 0, Pa 4x0,8 Demikian seterusnya sehingga semua nilai tegangan geser didapatkan, selanjutnya dicari nilai shear rate atau gradient kecepatannya dengan menggunakan persamaan 2.7 dimana nilai yang dibutuhkan untuk menghitung gradient kecepatan adalah kecepatan aliran fluida yang keluar dari pipa uji, sebagai contoh pada pembukaan katup 30 o didapatkan perhitungan sebagai berikut: 8x0,89752 γ = = 565,368 [/s] 3 2.7x0 Perhitungan tersebut ditampilkan pada table di bawah ini :
5 Tabel 4.3 Hasil perhitungan Tegangan geser dan Gradient kecepatan pada konsentrasi padatan 30% du/dx [/s] log du/dx τ [Pa] log τ 8V/D D P/4L 68,532 2, , , ,7302 2, , , ,6447 2, , , ,7904 2,933387, ,39 966,0552 2, , , ,02 3, , , ,46 3, , , ,259 3, , , ,424 3, , , ,503 3, , , ,66 3, , , Jika nilai tegangan geser dan gradient kecepatan didapatkan maka nilai tegangan geser dan gradient kecepatan dari air perlu diketahui untuk dimasukan dalam plot grafik Tabel 4.4 Tegangan geser dan Gradient kecepatan standar air du/dx [/s] τ [Pa] du/dx [/s] τ [Pa]
6 Setelah semua nilai didapatkan maka semua nilai tadi yaitu nilai tegangan geser dan gradient kecepatan untuk campuran Lumpur dan air (konsentrasi 45%), tegangan geser dan gradient kecepatan serta fluida Newtonian diplot dalam grafik hubungan shear stress dan shear rate. Shear rate vs shear stress 3 2,5 shear stress,[pa] 2,5 0,5 0 water newtonian padatan 45% shear rate,du/dx[/s] Gambar 4. Hubungan antara shear stress dan shear rate pada konsentrasi padatan 45% Nilai power law index didapat dengan cara menampilkan data dalam format log. Sehingga dapat di tarik garis perpotongan pada shear stress. Selain cara tadi dapat pula di gunakan persamaan yang terdapat pada dasar teori, dengan persamaan 2.8 maka di dapatkan power law index dari fluida ini. Nilai power law index ini adalah nilai kemantapan aliran. Dari power law index ini dapat diketahui karakteristik fluida yang sedang diuji. Jika nilai power law index n= maka dapat dipastikan fluida tersebut Newtonian, jika power law index n > maka fluida tersebut dipastikan dilatant sedangkan jika nilai power law index n< maka fluida tersebut tergolong plastic semu (pseudoplastis)
7 Shear rate vs shear stress 0 shear stress,[pa] 0, w ater new tonian padatan 45% 0, shear rate,du/dx[/s] Gambar 4.2 Kurva aliran dengan konsentrasi padatan 45% pada grafik log-log Pada umumnya kekentalan dari fluida Non-Newtonian sangat dipengaruhi oleh kecepatan aliran, tetapi jika aliran kecepatan lambat maka konsentrasi padatan akan menentukan seberapa besar kekentalan (viscosity) dari fluida tersebut, dari nilai yang sudah diketahui diatas maka kekentalan sesaat (apparent viscosity) dari fluida ini dapat diketahui dengan menggunakan persamaan : n µ = K8 (4.3) Dengan membandingkan nilai apparent viscosity antara konsentrasi padatan dan apparent viscosity air maka dapat diketahui apa fluida ini merupakan shear thickening (Rheopectic ) atau Shear thining (Thixotropic). Tabel 4.5 Apparent Viscosity Air du/dx [/s] µ [Pa.s] Tabel diatas merupakan tabel standar dari air yang akan digunakan sebagai data pembanding dari apperent viscosity dari campuran, sedangkan tabel dibawah ini
8 merupakan tabel apparent viscosity dari campuran antara Lumpur dan air sebagai pelarut Tabel 4.6 Apparent Viscosity padatan 45% air padatan 45% du/dx [/s] µ [Pa.s] du/dx [/s] µ [k*8^(n-)] 444,2554 0, ,368 0, ,244 0, ,532 0, ,3704 0, ,6447 0, ,09 0, ,447 0, ,2 0, ,46 0, ,564 0, ,424 0, ,349 0, ,66 0, ,4484 0, , Pada pipa ½ in dengan konsentrasi padatan 30% Penelitian selanjutnya dengan pipa yang sam ½ in konsentrasi padatan 30%, dimana komposisi yang digunakan adalah 5 liter Lumpur dan 35 liter pelarut, setelah komposisi yang dibuat tepat sirkulasikan campuran tersebut sesuai dengan prosedur pengujian. Data yang didapat sama seperti data pada konsentrasi 30% yaitu perbedaan ketinggian head pada manometer, debit aliran dan massa jenis dari konsentrasi padatan 30%. Tabel 4.7 Hasil penelitian konsentrasi padatan 30% Bukaan Valve h h2 h t (0-90) (mm) (mm) (mm) (second) , , ,6
9 , , , , , , ,3 Dari data diatas dapat dilakukan penghitungan debit aliran, kecepatan aliran dan pressure drop ( P) dari aliran untuk massa jenis dari konsentrasi ini di dapatkan 350kg/m 3. setelah dilakukan perhitungan sesuai dengan dasar teori yang telah ada maka di dapatkan data sebagai berikut: Tabel 4.8 Hasil perhitungan debit, P, luas penampang dan kecepatan untuk padatan 30% Q P A V (m*3/s) (Pa) (m*2) (m/s) 6,25E ,6E-06 0, ,39E ,6E-06 0,7436 0, ,6E-06 0, , ,6E-06, , ,6E-06, , ,6E-06, , ,6E-06, , ,6E-06, , ,6E-06 2,3059 0, ,6E-06 2, , ,6E-06 2, Pada data diatas terlihat debit aliran bertambah besar sesuai dengan pembukaan katup demikian juga dengan kecepatan aliran, kerugian tekanan pada pipa uji juga mengalami pertambahan seiring dengan bertambah besarnya pembukaan
10 katup.selanjutnya dilakukan perhitungan tegangan geser dalam pipa uji dan gradient kecepatan pada pipa uji sesuai dengan persamaan yang terdapat pada dasar teori Tabel 4.9 Hasil perhitungan Tegangan geser dan Gradient kecepatan pada konsentrasi padatan 30% du/dx [/s] log du/dx τ [Pa] 8V/D D P/4L 30,949 2, , ,9708 2, , ,4797 2, , ,077 2, , ,2838 2, , ,77 3, , ,646 3, , ,049 3, , ,06 3,249789, ,39 3, , ,774 3, , Nilai aliran untuk air terdapat pada tabel 4.4 maka untuk kurva aliran untuk konsentrasi padatan 30 % adalah sebagai berikut, nilai tegangan geser dimasukan pada sumbu axis dan nilai gradient kecepatan di plot pada sumbu ordinat untuk mendapatkan hsil grafik yang lebih baik maka sebaiknya nilai gradient kecepatan pada grafik dimulai dari skala 300/s sampai dengan 550 /s. sedangakan untuk nilai tegangan geser dimulai dar 0.5 pa sampai denga 2.5 Pa sehingga didapatkan garifik yang profosional
11 shear rate vs shear stress 3 2,5 shear stress,[pa} 2,5 0,5 water newtonian padatan 30% shear rate,[/s] Gambar 4.3 Hubungan antara shear stress dan shear rate pada konsentrasi padatan 30% Grafik selanjutnya dibuat dalam skala log yang tujuannya mempermudah mengetahui kemantapan aliran (power law index) untuk konsentrasi padatan 30%. Grafik kurva alirannya akan menjadi seperti berikut ini : shear rate vs shear stress 0 shear stress,[pa} 0, water newtonian padatan 30% 0, shear rate,[/s] Gambar 4.4 Kurva aliran dengan konsentrasi padatan 30% pada grafik log-log Pada kedua grafik diatas terlihat semua data berada diatas garis Newton hal ini menunjukan kemungkinan fluida dengan konsentrasi padatan 30% adalah fluida Non-Newtonian dengan karakteristik pseudoplastic atau plastis semu, untuk mengetahui hubungan antara apparent viskositas dan gradient kecepatan. Dengan
12 persamaan yang ada maka berikut ini akan ditampilkan grafik hubungan antara viskositas sesaat dan gradient kecepatannya. Tabel 4.0 Hubungan apparent viscosity dan gradient kecepatan untuk air dan padatan 30% air padatan 30% du/dx [/s] µ [Pa.s] du/dx [/s] µ [k*8^(n-)] 877,3704 0, ,2 0, ,09 0, ,78 0, ,2 0, ,46 0, ,564 0, ,424 0, ,349 0, ,67 0, ,4484 0, ,56 0, , ,0034 Dari data diatas dapat dibuat grafik hubungan antara apparent viscosity dengan gradient kecepatan antara air dengan padatan 30% sebagai berikut : apparent viscosity vs shear stress 0,004 apparent viscosity,[pa.s] 0,0035 0,003 0,0025 0,002 0,005 0,00 0,0005 w ater padatan 30% shear rate,[/s] Gambar 4.5 Hubungan antara apparent viscosity dan shear rate pada konsentrasi padatan 30% pada grafik diatas terlihat dengan bertambahnya gradient kecepatan maka apparent viscosity ( kekentalan sesaat) pada konsentrasi 30% semakin menurun dan mendekati viskositas dari fluida Newtonian (air)
13 Hubungan antara koefisien gesek dengan bilangan Reynolds(generatif Reynolds) dapat ditampilkan pada grafik 4.6 berikut ini Tabel 4. Hubungan faktor gesekan terhadap bilangan Reynolds pada konsentrasi padatan 30% laminer Turbulent Water padatan 30% Re f Re f Re f Re f 600 0, , ,2633 0, , , , ,679 0, , ,983 0, , ,469 0, , ,86 0, , ,978 0, , ,32 0, , ,08 0, , ,473 0, , ,23 0, , ,37 0, ,3 6035,937 0, , ,6 0, ,2 4524,02 0, ,57 0, , , ,0265 Pada tabel diatas ditampilkan hubungan antara factor gesekan dan bilangan Reynolds, perhitungan untuk tabel diatas berdasarkan pada persmaan 2.9 dan 2.0 pada dasar teori. Factor gesekan mengikuti persamaan fanning f = 2 τ ρ m V 2
14 Sedangkan untuk bilangan Reynold menggunakan regeneratf Reynolds karena niali bilangan Reynolds tidak dapat dihitung secara pasti, hal ini disebabkan karena data yang dihasilkan merupakan apparent viscosity. koef gesek vs Re* laminer turbulent padatan 30% f 0, 0, Re* Gambar 4.6 Hubungan factor gesekan terhadap generatif bilangan Reynolds pada konsentrasi padatan 30% 4..3 Pada Pipa ½ in dengan Konsentrasi Padatan 20% Penelitian selanjutnya pipa ½ in dengan konsentrasi padatan 20%, dimana komposisi yang digunakan adalah 0 liter Lumpur dan 40 liter pelarut, setelah komposisi yang dibuat tepat sirkulasikan campuran tersebut sesuai dengan prosedur pengujian. Data yang didapat sama seperti data pada konsentrasi 30% yaitu perbedaan ketinggian head pada manometer, debit aliran dan massa jenis dari konsentrasi padatan 20%. Tabel 4.2 Hasil penelitian konsentrasi padatan 20% Bukaan Valve h h2 h t (0-90) (mm) (mm) (mm) (second) , , ,3
15 , , , , , , , , ,7 Setelah didapatkan data seperti diatas maka dilakukan perhitngan kecepatan aliran, debit aliran, luas penampang pipa uji dan P untuk konsentrasi padatan 40% sesuai dengan persamaan yang ada. Tabel 4.3 hasil perhitungan debit, P, luas penampang dan kecepatan untuk padatan 20% Q P A V (m*3/s) (Pa) (m*2) (m/s) 0, ,6E-06, , ,6E-06, ,25E ,6E-06 0, ,39E ,6E-06 0,7436 0, ,6E-06 0, , ,6E-06, , ,6E-06, , ,6E-06, , ,6E-06, , ,6E-06, , ,6E-06 2,3059 0, ,6E-06 2, , ,6E-06 2,299928
16 Selanjutnya dilakukan perhitungan nilai tegangan geser dan gradient kecepatan pada konsentrasi padatan 240%, dengan menggunakan persamaan yang ada maka didapat hasil penghitungan sebagai berikut: Tabel 4.4 Hasil perhitungan Tegangan geser dan Gradient kecepatan pada konsentrasi padatan 20% du/dx [/s] log du/dx τ [Pa] 8V/D D P/4L 30,949 2, , ,9708 2, , ,4797 2, , ,077 2, , ,2838 2, , ,77 3, , ,646 3, , ,049 3, , ,06 3,249789, ,39 3, , ,774 3, , , , , ,375 Setelah tegangan geser dan gradient kecepatan di dapatkan maka kurva aliran dapat dibuat, kurva aliran untuk konsentrasi padatan 20% adalah sebagai berikut :
17 shear rate vs shear stress 3 shear stress[pa] 2,5 2,5 0,5 water newtonian padatan 20% shear rate[/s] Gambar 4.7 Hubungan antara shear stress dan shear rate pada konsentrasi padatan 20% untuk mengetahui kemantapan aliran (power law index) pada konsentrasi padatan maka kurva aliran harus terlebih dahulu di log, maka grafik untuk konsentrasi padatan 20% adalah sebagai berikut : shear rate vs shear stress 0 shear stress[pa] 0, water newtonian padatan 20% 0, shear rate[/s] Gambar 4.8 kurva aliran dengan konsentrasi padatan 20% pada grafik log-log 4..4 Pada Pipa Spiral P/Di = 4,3 dengan Konsentrasi Padatan 45% Sama halnya dengan pipa ½ in ini komposisi Lumpur dan pelarut sama hanya pipa aliran yang dipakai adalah dengan pipa spiral P/Di = 4,3 in.
18 Tabel 4.5 Data hasil penelitian konsentrasi 30%(Pipa Spiral P/Di = 4,3) Bukaan Valve h h2 h t (0-90) (mm) (mm) (mm) (second) 5 7 6,5 0,5 57, ,5 6,5 43, ,5 3,5 27, ,5 23,5 8, ,5 29,5 6, , , , , ,5 03,5 7, , ,5 52,5 5, ,5 224,5 4, ,5 297,5 3, , ,5 392,5 3, , ,6302 Dari data percobaan di laboratorium diatas besarnya debit aliran dibuat konstan sama dengan untuk pipa ½ in yaitu 2 literatau 2x0-3 m 3, sama dengan perhitungan sebelumnya dengan didapatkan debit aliran, kecepatan aliran dan pressure drop, maka didapatkan pula massa jenis untuk konsentrasi ini sama dengan yang ½ in 449 kg/m 3.
19 Tabel 4.6 Hasil perhitungan debit, P, luas penampang dan kecepatan untuk pada Padatan 45 % (pipa spiral P/Di=4,3) Q P A V (m*3/s) (Pa) (m*2) (m/s) 3,48074E ,3E-05 0,07 4,62999E ,3E-05 0,09 7,29353E ,3E-05 0,4 0, ,3E-05 0,2 0, ,3E-05 0,24 0, ,3E-05 0,29 0, ,3E-05 0,34 0, ,3E-05 0,46 0, ,3E-05 0,53 0, ,3E-05 0,56 0, ,3E-05 0,7 0, ,3E-05 0,7 0, ,3E-05 0,89 0, ,3E-05,04 0, ,3E-05,6 0, ,3E-05,26 0, ,3E-05,33 0, ,3E-05,52 Pada data diatas terlihat debit aliran juga semakin bertambah sesuai dengan bukaan katup demikian juga dengan kecepatan aliran,kerugian tekanan pada ngalami pertambahan seiring deberta pembuka katup. Selanjutnya dilakukan perhitungan tegangan geser dan gradient kecepatan sesuai dengan persamaan pada dasar teori. Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Tegangan geser dan Gradient kecepatan pada Konsentrasi padatan 45%(pipa spiral P/Di = 4,3) du/dx log du/dx τ [Pa] 8V/D D P/4L 2,8903 2,326 0, ,2724 2,47463, ,4989 2,538447, ,2245 2,603387, ,229 2,64759, ,383 2,679776,988975
20 58,2484 2, ,2847 dan mendekati viskositas dari fluida Newtonian (air) Hubungan antara koefisien gesek dengan bilangan Reynolds(generatif Reynolds) dapat ditampilkan pada grafik 4.8 berikut ini Tabel 4.8 Hubungan faktor gesekan terhadap bilangan Reynolds pada konsentrasi padatan 45% laminer Turbulent Water padatan 45% Re f Re f Re f Re f 600 0, , ,2633 0, , , , ,679 0, ,09 337,983 0, , ,469 0, , ,86 0, , ,978 0, , ,32 0, , ,08 0, , ,473 0, , ,23 0, , ,37 0, , ,937 0, , ,6 0, , ,02 0, , ,57 0, , , , , , , ,0254 Pada tabel diatas ditampilkan hubungan antara factor gesekan dan bilangan Reynolds, perhitungan untuk tabel diatas berdasarkan pada persmaan 2.9 dan 2.0 pada dasar teori. Factor gesekan mengikuti persamaan fanning f = 2 τ ρ m V 2 Sedangkan untuk bilangan Reynold menggunakan regeneratf Reynolds karena niali bilangan Reynolds tidak dapat dihitung secara pasti, hal ini disebabkan karena data yang dihasilkan merupakan apparent viscosity.
21 Koef Gesek Lumpur pada pipa P/Di=4,3 f=64/re* f=0,364*re^-/4 Cw=45% f 0, 0, Re* Gambar 4.9 Hubungan factor gesekan terhadap bilangan Renold Generatif Pada konsentrasi padatan 45% 4.2 ANALISA DATA Dari beberapa kali percobaan baik dengan menggunkan pipa ½ in ataupun pipa spiral P/Di = 4,3 dan dengan berbagai konsentrasi padatan maka didapatkan beberapa data beserta grafik dengan analisa sebagai berikut : Pada konsentrasi padatan 20% pada pipa ½ in Kurva aliran mendekati garis Newton ini berarti bahwa dengan campuran pelarut sebanyak 80% sifat dari konsentrasi larutan lebih kepada fluida Newtonian, hal ini menunjukan kekentalan pada konsentrasi ini sangat dipengaruhi oleh pelarut dalam hal ini air sehingga pada grafik hubungan antara apparent viscosity dengan gradient kecepatan cendrung mendekati kekentalan daripada air.
22 Shear rate vs shear stress 3 2,5 shear stress,[pa] 2,5 0,5 w ater new tonian padatan 45% padatan 30% padatan 20% shear rate,du/dx[/s] Gambar 4.0 Kurva aliran berbagai variasi konsentrasi padatan pada pipa ½ in Pada konsentrasi 30% dan 45% Pada konsentrasi ini terlihat pada kurva alirannya berada diatas garis Newton hal ini membuktikan bahwa pada konsentrasi ini campuran antara air dan Lumpur merupakan jenis fluida Non-Newtonian dengan sifat Pseudoplastis atau plastis semu. Dilihat dari kurva aliran dalam skala log-log maka pada konsentrasi ini nilai kemantapan aliran (power law index) berdada antara 0.93 sampai dari penjelasan sebelumnya jika nilai kemantapan aliran (power law index) n = maka fluida tersebut adalah Newtonian sedangkan jika diatas (n>) maka fluida tersebut digolongkan kedalam jenis dilatant, apabila nilai kemantapan aliran (power law index)n < maka fluida tersebut merupakan jenis pseudoplastis. Jadi untuk konsentrasi kepadatan 30% fluida ini masih memiliki kecendrungan ke jenis Newtonian akan tetapi dengan konsentrasi 45% keatas fluida ini sudah tergolong jenis Non-Newtonian Pseudoplastis.
23 apparent viscosity vs shear rate apparent viscosity[pa.s] 0,004 0,0035 0,003 0,0025 0,002 0,005 0,00 0,0005 water padatan 45% padatan 30% padatan 20% shear rate[/s] Gambar 4. Kurva apparent viscosity dan shear rate Pada berbagai variasi konsentrasi padatan pada pipa ½ in Hubungan antara apparent viscosity (kekentalan sesaat) dengan shear rate (gradient kecepatan) pada konsentrasi padatan 20% kekentalan sesaatnya hampir mendekati air akan tetapi jika gradient kecepatannya bertambah maka apperent viscosity akan berimpit dengan air dan kemungkinan akan di bawah air sedangkan untuk apparent viscosity untuk 30% memiliki kekentalan lebih tinggi dari air, walaupun gradient kecepatannya bertambah kekentalan sesaatnya tetap berada di atas air. Jadi untuk konsentrasi padatan 30% masih mendekati sifat Newtonian tetapi pada saat konsentrasi padatan diatas 45% fluida ini memiliki sifat Thixotropic (shear thining) yaitu fluida yang viscositasnya seolah-olah makin lama viscositasnya semakin menurun. Pada konsentrasi padatan diatas 45% gesekan fluida terhadap dinding pipa uji lebih besar di bandingkan pada padatan dibawah 20%. Untuk padatan dibawah 30% factor gesekan antara fluida dengan dinding pipa masih mendekati factor gesekan pada air murni. Hubungan antara generatif Reynolds dan factor gesekan pada konsentrasi padatan 30% dan 20% daperlihatkan pada grafik di bawah ini diasumsikan untuk konsentrasi padatan 30% hampir sama dengan konsentrasi padatan 45%
24 sedangkan untuk padatan di bawah 20% memiliki sifat hampir sama dengan padatan 20% karena padatan ini memiliki kecendrungan ke sifat air. hubungan koef gesek terhadap bilangan Reynold f 0, laminer turbulent padatan 20% padatan 30% water padatan 45% 0, Re* Gambar 4.2 Kurva friction factor dan bilangan Reynolds Pada berbagai variasi konsentrasi padatan pada pipa ½ in Pada grafik diatas terlihat nilai factor gesekan untuk padatan 30% keatas berada diatas faktor gesekan untuk konsentrasi padatan 20% dimana konsentrasi padatan 20% memiliki sifat yang hampir sama dengan sifat air.
25 f 0, Koef Gesek Lumpur pada pipa P/Di=4,3 f=64/re* f=0,364*re^-/4 Cw=45% Cw=30% Cw=20% 0, Re* Gambar 4.3 Hubungan koef gesek dan reynold number pada pipa spiral dengan P/Di = 4,3 pada konsentrasi 20%, 30 % dan 45% Dari grafik diatas dapat kita lihat dengan konsentrasi yang sama antara pipa spiral P/Di = 4,3 menunjukan dengan semakin tinggi konsentrasinya pada Cw 45% menunjukan nilai koef gesek pipa spiral lebih tinggi dari koef gesek air murni. jadi. Jadi pada percobaan dengan pipa spiral efek dari kepadatan Lumpur tidak berpengaruh terhadap nilai koef gesek, jadi dapat disimpulkan dari percobaan aliran pada pipa bulat dan spiral untuk pipa spiral nilai pitch (panjang langkah x putaran)sangat mempengaruhi koef gesek paada pipa spiral tersebut.
BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA DATA
BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA DATA 4.1 PERHITUNGAN DATA Dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan data berupa ketinggian permukaan fluida uji (h), debit aliran dari ketinggian permukaan fluida
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI.1. KLASIFIKASI FLUIDA Fluida dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian, tetapi secara garis besar fluida dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu :.1.1 Fluida Newtonian
HAMBATAN GESEK ALIRAN LUMPUR DALAM PIPA 1/2 DAN PIPA SPIRAL P/Di = 4,3
HAMBATAN GESEK ALIRAN LUMPUR DALAM PIPA 1/2 DAN PIPA SPIRAL P/Di = 4,3 TUGAS AKHIR Disusun Oleh DIDIK SETIAWAN 0403220172 DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA GENAP 2007/2008 HAMBATAN
Karakteristik Aliran Lumpur (Mud Slurry) Pada Pipa 1 Inchi
Karakteristik Aliran Lumpur (Mud Slurry) Pada Pipa 1 Inchi Roby Irwansyah. Fakultas Industri, jurusan Teknik Mesin. [email protected] Abstraksi Fluida Non-Newtonian atau fluida viscoelastic yaitu salah
KARAKTERISTIK ALIRAN LUMPUR(SULRRY) PADA PIPA 12,7 mm
KARAKTERISTIK ALIRAN LUMPUR(SULRRY) PADA PIPA 12,7 mm Ridwan ST, MT *), Sunyoto ST,MT *) Muhammad Alhabah**) Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri Universitas Gunadarma Depok, Indonesia Abstraksi
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Dalam kasus Semburan Lumpur Lapindo Brantas yang sudah berjalan 2 tahun terakhir ini, pemerintah dan pihak yang terkait disibukkan dengan cara mengatasi/penanggulangannya,
BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA DATA
BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA DATA.1 PERHITUNGAN DATA Dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan data mentah berupa temperatur kerja fluida pada saat pengujian, perbedaan head tekanan, dan waktu
UNIVERSITAS INDONESIA EFEK LARUTAN TINTA TERHADAP KOEFISIEN GESEK PADA PIPA ACRYLIC Ø 12,7 MM SKRIPSI
UNIVERSITAS INDONESIA EFEK LARUTAN TINTA TERHADAP KOEFISIEN GESEK PADA PIPA ACRYLIC Ø 12,7 MM SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik FACHRIZA SOFYAN 0806368540
BAB III ALAT PENGUJIAN
BAB III ALAT PENGUJIAN 3.1 RANCANGAN ALAT UJI Pada penelitian ini alat uji dirancang sendiri berdasarkan dasar teori dang pengalaman dari dosen pembimbing. Alat uji ini dirancang sebagai alat uji dengan
BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA DATA
BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA DATA 4.1 DATA Selama penelitian berlangsung, penulis mengumpulkan data-data yang mendukung penelitian serta pengolahan data selanjutnya. Beberapa data yang telah terkumpul
2 yang mempunyai posisi vertikal sama akan mempunyai tekanan yang sama. Laju Aliran Volume Laju aliran volume disebut juga debit aliran (Q) yaitu juml
KERUGIAN JATUH TEKAN (PRESSURE DROP) PIPA MULUS ACRYLIC Ø 10MM Muhammmad Haikal Jurusan Teknik Mesin Universitas Gunadarma ABSTRAK Kerugian jatuh tekanan (pressure drop) memiliki kaitan dengan koefisien
Rheologi. Rini Yulianingsih
Rheologi Rini Yulianingsih Sifat-sifat rheologi didefinisikan sebagai sifat mekanik yang menghasilkan deformasi dan aliran bahan yang disebabkan karena adanya stress Klasifikasi Rheologi 1 ALIRAN BAHAN
JUDUL TUGAS AKHIR ANALISA KOEFISIEN GESEK PIPA ACRYLIC DIAMETER 0,5 INCHI, 1 INCHI, 1,5 INCHI
JUDUL TUGAS AKHIR http://www.gunadarma.ac.id/ ANALISA KOEFISIEN GESEK PIPA ACRYLIC DIAMETER 0,5 INCHI, 1 INCHI, 1,5 INCHI ABSTRAKSI Alat uji kehilangan tekanan didalam sistem perpipaan dibuat dengan menggunakan
UNIVERSITAS INDONESIA PENGURANGAN KOEFISIEN GESEK DENGAN MENGGUNAKAN PEG PPM, 400 PPM, 600PPM PADA PIPA BULAT DIAMETER 3MM SKRIPSI
UNIVERSITAS INDONESIA PENGURANGAN KOEFISIEN GESEK DENGAN MENGGUNAKAN PEG 4 2 PPM, 4 PPM, 6PPM PADA PIPA BULAT DIAMETER 3MM SKRIPSI DENY AGUS IRIYANTO 86368484 FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN
KARAKTERISTIK ZAT CAIR Pendahuluan Aliran laminer Bilangan Reynold Aliran Turbulen Hukum Tahanan Gesek Aliran Laminer Dalam Pipa
KARAKTERISTIK ZAT CAIR Pendahuluan Aliran laminer Bilangan Reynold Aliran Turbulen Hukum Tahanan Gesek Aliran Laminer Dalam Pipa ALIRAN STEDY MELALUI SISTEM PIPA Persamaan kontinuitas Persamaan Bernoulli
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Definisi Fluida
BAB II DASAR TEORI 2.1 Definisi Fluida Fluida dapat didefinisikan sebagai zat yang berubah bentuk secara kontinu bila terkena tegangan geser. Fluida mempunyai molekul yang terpisah jauh, gaya antarmolekul
ANALISIS FAKTOR GESEK PADA PIPA AKRILIK DENGAN ASPEK RASIO PENAMPANG 1 (PERSEGI) DENGAN PENDEKATAN METODE EKSPERIMENTAL DAN EMPIRIS TUGAS AKHIR
ANALISIS FAKTOR GESEK PADA PIPA AKRILIK DENGAN ASPEK RASIO PENAMPANG 1 (PERSEGI) DENGAN PENDEKATAN METODE EKSPERIMENTAL DAN EMPIRIS TUGAS AKHIR Oleh : DEKY PUTRA 04 04 22 013 3 DEPARTEMEN TEKNIK MESIN
BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA
BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA Untuk mendapatkan koefisien gesek dari saluran pipa berpenampang persegi, nilai penurunan tekanan (pressure loss), kekasaran pipa dan beberapa variabel
BAB II DASAR TEORI. m (2.1) V. Keterangan : ρ = massa jenis, kg/m 3 m = massa, kg V = volume, m 3
BAB II DASAR TEORI 2.1 Definisi Fluida Fluida dapat didefinisikan sebagai zat yang berubah bentuk secara kontinu bila terkena tegangan geser. Fluida mempunyai molekul yang terpisah jauh, gaya antar molekul
BAB II ALIRAN FLUIDA DALAM PIPA. beberapa sifat yang dapat digunakan untuk mengetahui berbagai parameter pada
BAB II ALIRAN FLUIDA DALAM PIPA.1 Sifat-Sifat Fluida Fluida merupakan suatu zat yang berupa cairan dan gas. Fluida memiliki beberapa sifat yang dapat digunakan untuk mengetahui berbagai parameter pada
UNIVERSITAS INDONESIA PENGURANGAN PRESSURE DROP DENGAN MENGGUNAKAN SERAT ABACA PADA TANGKI AIR BALLAST KAPAL SKRIPSI
UNIVERSITAS INDONESIA PENGURANGAN PRESSURE DROP DENGAN MENGGUNAKAN SERAT ABACA PADA TANGKI AIR BALLAST KAPAL SKRIPSI M. PRIMADYA PUTRA 0806338355 FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK PERKAPALAN DEPOK JUNI
BAB III DESKRIPSI ALAT DAN PROSEDUR PENELITIAN
BAB III DESKRIPSI ALAT DAN PROSEDUR PENELITIAN 3.1 RANCANGAN ALAT UJI Pada penelitian ini peralatan yang dipergunakan untuk melakukan pengujian adalah terlihat pada gambar berikut ini: Gambar 3.1 Set up
Karakteristik Drag Reduction dan Profil Distribusi Kecepatan Aditif CMC pada Aliran Crude Oil dalam Pipa Spiral
Karakteristik Drag Reduction dan Profil Distribusi Kecepatan Aditif CMC pada Aliran Crude Oil dalam Pipa Spiral 1 Kurniawan Teguh Waskito, 2 Yanuar 1 Mahasiswa Program Magister Teknik Mesin, Departemen
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Definisi fluida
BAB II DASAR TEORI 2.1 Definisi fluida Fluida dapat didefinisikan sebagai zat yang berubah bentuk secara kontinu bila terkena tegangan geser. Fluida mempunyai molekul yang terpisah jauh, gaya antar molekul
Menghitung Pressure Drop
Menghitung Pressure Drop Jika di dalam sebuah pipa berdiameter dan panjang tertentu mengalir air dengan kecepatan tertentu maka tekanan air yang keluar dari pipa dan debit serta laju aliran massanya bisa
FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS BAB II
BAB II FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS 2.1 Tujuan Pengujian 1. Mengetahui pengaruh factor gesekan aliran dalam berbagai bagian pipa pada bilangan reynold tertentu. 2. Mengetahui pengaruh
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian terhadap aliran campuran air crude oil yang mengalir pada pipa pengecilan mendadak ini dilakukan di Laboratorium Thermofluid Jurusan Teknik Mesin. 3.1 Diagram Alir
Gambar 3-15 Selang output Gambar 3-16 Skema penelitian dengan sudut pipa masuk Gambar 3-17 Skema penelitian dengan sudut pipa masuk
DAFTAR ISI Halaman Judul... i Lembar Pengesahan Dosen Pembimbing... ii Lembar Pengesahan Dosen Penguji... iii Halaman Persembahan... iv Halaman Motto... v Kata Pengantar... vi Abstrak... ix Abstract...
Rumus bilangan Reynolds umumnya diberikan sebagai berikut:
Dalam mekanika fluida, bilangan Reynolds adalah rasio antara gaya inersia (vsρ) terhadap gaya viskos (μ/l) yang mengkuantifikasikan hubungan kedua gaya tersebut dengan suatu kondisi aliran tertentu. Bilangan
Pengaruh Diameter Gelembung Hidrogen Terhadap Penurunan Tekanan (Pressure Drop) Pada Saluran Tertutup Segi-Empat
Pengaruh Diameter Gelembung Hidrogen Terhadap Penurunan Tekanan (Pressure Drop) Pada Saluran Tertutup Segi-Empat Rachmat Subagyo 1, I.N.G. Wardana 2, Agung S.W 2., Eko Siswanto 2 1 Mahasiswa Program Doktor
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Fluida Aliran fluida atau zat cair (termasuk uap air dan gas) dibedakan dari benda padat karena kemampuannya untuk mengalir. Fluida lebih mudah mengalir karena ikatan molekul
Pengaruh Serat (Fiber) Daun Pandan Terhadap Koefisien Gesek Aliran Dalam Pipa Spiral
Pengaruh Serat (Fiber) Daun Pandan Terhadap Koefisien Gesek Aliran Dalam Pipa Spiral Erwita Ivana Muthia Mahasiswa Strata Satu, Departmen Teknik Mesin Universitas Indonesia, Depok 16424 Tel : (021) 7270032.
REYNOLDS NUMBER K E L O M P O K 4
REYNOLDS NUMBER K E L O M P O K 4 P A R A M I T A V E G A A. T R I S N A W A T I Y U L I N D R A E K A D E F I A N A M U F T I R I Z K A F A D I L L A H S I T I R U K A Y A H FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU
BAB III ANALISA ALIRAN TURBULENT TERHADAP ALIRAN FLUIDA CAIR PADA CONTROL VALVE ANSI 150 DAN ANSI. 300 PADA PT.POLICHEM INDONESIA Tbk
BAB III ANALISA ALIRAN TURBULENT TERHADAP ALIRAN FLUIDA CAIR PADA CONTROL VALVE ANSI 150 DAN ANSI 300 PADA PT.POLICHEM INDONESIA Tbk Dalam bab ini penulis akan mengolah data yang telah didapatkan dari
BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Analisa aliran berkembang..., Iwan Yudi Karyono, FT UI, 2008
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Suatu sistem transfer fluida dari suatu tempat ke tempat lain biasanya terdiri dari pipa,valve,sambungan (elbow,tee,shock dll ) dan pompa. Jadi pipa memiliki peranan
Aliran Fluida. Konsep Dasar
Aliran Fluida Aliran fluida dapat diaktegorikan:. Aliran laminar Aliran dengan fluida yang bergerak dalam lapisan lapisan, atau lamina lamina dengan satu lapisan meluncur secara lancar. Dalam aliran laminar
8. FLUIDA. Materi Kuliah. Staf Pengajar Fisika Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya
8. FLUIDA Staf Pengajar Fisika Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Tegangan Permukaan Viskositas Fluida Mengalir Kontinuitas Persamaan Bernouli Materi Kuliah 1 Tegangan Permukaan Gaya tarik
KOEFISIEN GESEK PADA RANGKAIAN PIPA DENGAN VARIASI DIAMETER DAN KEKASARAN PIPA
KOEFISIEN GESEK PADA RANGKAIAN PIPA DENGAN ARIASI DIAMETER DAN KEKASARAN PIPA Yanuar, Didit Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Mesin Universitas Gunadarma Depok Abstraksi Penelitian ini dilakukan
STUDI EKSPERIMENTAL PENGUKURAN HEAD LOSSES MAYOR (PIPA PVC DIAMETER ¾ ) DAN HEAD LOSSES MINOR (BELOKAN KNEE 90 DIAMETER ¾ ) PADA SISTEM INSTALASI PIPA
Vol. 1, No., Mei 010 ISSN : 085-8817 STUDI EKSPERIMENTAL PENGUKURAN HEAD LOSSES MAYOR (PIPA PVC DIAMETER ¾ ) DAN HEAD LOSSES MINOR (BELOKAN KNEE 90 DIAMETER ¾ ) PADA SISTEM INSTALASI PIPA Helmizar Dosen
EFEK KEKASARAN PIPA TERHADAP KOEFISIEN GESEK SKRIPSI DACHRY ANTONI
UNIVERSITAS INDONESIA EFEK KEKASARAN PIPA TERHADAP KOEFISIEN GESEK SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Teknik DACHRY ANTONI 0906604703 FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK
pipa acrylic diameter 5, mm (1 inci) dan pipa acrylic diameter 38,1 mm (1,5 inci) Metode Penelitian Metode penelitian yang dilakukan penulis yai
ANALISA ALIRAN FLUIDA PADA PIPA ACRYLIC DIAMETER 1,7 MM (0,5 INCI) DAN 38,1 MM (1,5 INCI) Disusun oleh: Eko Singgih Priyanto Fakultas Teknologi Industri, Teknik Mesin ABSTRAKSI Alat uji kehilangan tekanan
ANALISA PRESSURE DROP DALAM INSTALASI PIPA PT.PERTAMINA DRILLING SERVICES INDONESIA DENGAN PENDEKATAN BINGHAM PLASTIC
Available online at Website http://ejournal.undip.ac.id/index.php/rotasi ANALISA PRESSURE DROP DALAM INSTALASI PIPA PT.PERTAMINA DRILLING SERVICES INDONESIA DENGAN PENDEKATAN BINGHAM PLASTIC *Eflita Yohana,
ANALISIS FAKTOR GESEKAN PADA PIPA HALUS ABSTRAK
ANALISIS FAKTOR GESEKAN PADA PIPA HALUS Juari NRP: 1321025 Pembimbing: Robby Yussac Tallar, Ph.D. ABSTRAK Hidraulika merupakan ilmu dasar dalam bidang teknik sipil yang menjelaskan perilaku fluida atau
PERANCANGAN MIXER MATERI KULIAH KALKULUS TEP FTP UB RYN MATERI KULIAH KALKULUS TEP FTP UB
PERANCANGAN MIXER MATERI KULIAH KALKULUS TEP FTP UB RYN - 2012 Mechanical Mixing Tujuan : Sifat 2 baru (rheologi, organoleptik, fisik) untuk melarutkan berbagai campuran Meningkatkan transfer massa dan
FLUID FLOW ANALYSIS IN PIPE DIAMETER 12.7 MM ACRYLIC (0.5 INCHES) AND 38.1 MM (1.5 INCH) Eko Singgih Priyanto, Ridwan., ST., MT
FLUID FLOW ANALYSIS IN PIPE DIAMETER 1.7 MM ACRYLIC (0.5 INCHES) AND 38.1 MM (1.5 INCH) Eko Singgih Priyanto, Ridwan., ST., MT Professional Program, 008 Gunadarma University http://www.gunadarma.ac.id
LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK KIMIA IV DINAMIKA PROSES PADA SISTEM PENGOSONGAN TANGKI. Disusun Oleh : Zeffa Aprilasani NIM :
LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK KIMIA IV DINAMIKA PROSES PADA SISTEM PENGOSONGAN TANGKI Disusun Oleh : Zeffa Aprilasani NIM : 2008430039 Fakultas Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Jakarta 2011 PENGOSONGAN
Aliran Turbulen (Turbulent Flow)
Aliran Turbulen (Turbulent Flow) A. Laminer dan Turbulen Laminer adalah aliran fluida yang ditunjukkan dengan gerak partikelpartikel fluidanya sejajar dan garis-garis arusnya halus. Dalam aliran laminer,
BAB III PERALATAN DAN PROSEDUR PENGUJIAN
BAB III PERALATAN DAN PROSEDUR PENGUJIAN 3.1 PERANCANGAN ALAT PENGUJIAN Desain yang digunakan pada penelitian ini berupa alat sederhana. Alat yang di desain untuk mensirkulasikan fluida dari tanki penampungan
MODUL PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA
MODUL PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA LABORATORIUM TEKNIK SUMBERDAYA ALAM dan LINGKUNGAN JURUSAN KETEKNIKAN PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013 MATERI I KALIBRASI SEKAT UKUR
Laporan Praktikum Operasi Teknik Kimia I Efflux Time BAB I PENDAHULUAN
Page 1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penggunaan efflux time dalam dunia industri banyak dijumpai pada pemindahan fluida dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan pipa tertutup serta tangki sebagai
Losses in Bends and Fittings (Kerugian energi pada belokan dan sambungan)
Panduan Praktikum Fenomena Dasar 010 A. Tujuan Percobaan: Percobaan 5 Losses in Bends and Fittings (Kerugian energi pada belokan dan sambungan) 1. Mengamati kerugian tekanan aliran melalui elbow dan sambungan.
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS 4.1 Pengujian Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui performansi dari sistem perpipaan air untuk penyiraman kebun vertikal yang telah dibuat meliputi pengujian debit airnya.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Pompa Sentrifugal Pompa sentrifugal adalah suatu alat atau mesin yang digunakan untuk memindahkan cairan dari suatu tempat ke tempat yang lain melalui suatu media perpipaan
PENGARUH VARIASI VOLUME TABUNG TEKAN TERHADAP EFISIENSI PADA POMPA HIDRAM
NASKAH PUBLIKASI PENGARUH VARIASI VOLUME TABUNG TEKAN TERHADAP EFISIENSI PADA POMPA HIDRAM Naskah Publikasi ini disusun guna memenuhi Tugas Akhir pada Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah
STUDI DISTRIBUSI TEKANAN ALIRAN MELALUI PENGECILAN SALURAN SECARA MENDADAK DENGAN BELOKAN PADA PENAMPANG SEGI EMPAT
STUDI DISTRIBUSI TEKANAN ALIRAN MELALUI PENGECILAN SALURAN SECARA MENDADAK DENGAN BELOKAN PADA PENAMPANG SEGI EMPAT Sarjito, Subroto, Arif Kurniawan Jurusan Teknik Mesin Fakultas Tekknik Universitas Muhammadiyah
ACARA III VISKOSITAS ZAT CAIR
ACARA III VISKOSITAS ZAT CAIR A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM 1. Tujuan Praktikum Menentukan koefisien Viskositas (kekentalan) zat cair berdasarkan hukum Stokes 2. WaktuPraktikum Senin, 18 Mei 2015 3. Tempat
LABORATORIUM TEKNIK KIMIA SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2015
LABORATORIUM TEKNIK KIMIA SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2015 MODUL : Aliran Fluida PEMBIMBING : Emmanuella MW,Ir.,MT Praktikum : 8 Maret 2017 Penyerahan : 15 Maret 2017 (Laporan) Oleh : Kelompok : 3 Nama
PENGUKURAN VISKOSITAS. Review Viskositas 3/20/2013 RINI YULIANINGSIH. Newtonian. Non Newtonian Power Law
PENGUKURAN VISKOSITAS RINI YULIANINGSIH Review Viskositas Newtonian Non Newtonian Power Law yz = 0 + k( yz ) n Model Herschel-Bulkley ( yz ) 0.5 = ( 0 ) 0.5 + k( yz ) 0.5 Model Casson Persamaan power law
PENGUJIAN PENGARUH VARIASI HEAD SUPPLY DAN PANJANG LANGKAH KATUP LIMBAH TERHADAP UNJUK KERJA POMPA HIDRAM
PENGUJIAN PENGARUH VARIASI HEAD SUPPLY DAN PANJANG LANGKAH KATUP LIMBAH TERHADAP UNJUK KERJA POMPA HIDRAM Franciscus Manuel Sitompul 1,Mulfi Hazwi 2 Email:[email protected] 1,2, Departemen
TRANSPORT MOLEKULAR TRANSFER MOMENTUM, ENERGI DAN MASSA RYN. Hukum Newton - Viskositas RYN
TRANSPORT MOLEKULAR TRANSFER MOMENTUM, ENERGI DAN MASSA RYN Hukum Newton - Viskositas RYN 1 ALIRAN BAHAN Fluid Model Moveable Plate A=Area cm 2 F = Force V=Velocity A=Area cm 2 Y = Distance Stationary
Analisa Pengaruh Penambahan Rambut dan Serat Pisang Terhadap Nilai Minor Losses pada Pipa Spiral Lengkung
Analisa Pengaruh Penambahan Rambut dan Serat Pisang Terhadap Nilai Minor Losses pada Pipa Spiral Lengkung Frans Enriko Siregar dan Andhika Bramida H. Departemen Teknik Mesin, FT UI, Kampus UI Depok 16424
BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN
BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN 4.1 Perhitungan Pengurangan Tekanan pada Katup. Pada bab ini akan dilakukan analisa kebocoran pada power steering system meliputi perhitungan kerugian tekanan yang dialami
Pengaruh Serat ( Fiber ) Daun Nanas Terhadap Koefisien Gesek Aliran Dalam Pipa Spiral
Pengaruh Serat ( Fiber ) Daun Nanas Terhadap Koefisien Gesek Aliran Dalam Pipa Spiral Kartika Zuhra Department Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Depok 16424 Tel : (021) 7270032. Fax :
LAPORAN PRAKTIKUM ALIRAN FLUIDA DALAM PIPA KATA PENGANTAR PENYUSUN: Nanang Wahdiat ( ) FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS PANCASILA JAKARTA SELATAN
LAPORAN PRAKTIKUM ALIRAN FLUIDA DALAM PIPA PENYUSUN: Nanang Wahdiat (4311216186) FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS PANCASILA JAKARTA SELATAN 2013 KATA PENGANTAR 1 Atas limpahan taufik dan hidayah Allah SWT,
ALIRAN FLUIDA. Kode Mata Kuliah : Oleh MARYUDI, S.T., M.T., Ph.D Irma Atika Sari, S.T., M.Eng
ALIRAN FLUIDA Kode Mata Kuliah : 2035530 Bobot : 3 SKS Oleh MARYUDI, S.T., M.T., Ph.D Irma Atika Sari, S.T., M.Eng Apa yang kalian lihat?? Definisi Fluida Definisi yang lebih tepat untuk membedakan zat
Kerugian Tekanan dan Model Matematika Aliran Lumpur dalam Pipa Bulat. Ridwan
Kerugian Tekanan dan Model Matematika Aliran Lumpur dalam Pipa Bulat Ridwan Program Studi Teknik Mesin FTI Universitas Gunadarma Jl. Margonda Raya 10 Depok, 16424 E-mail: [email protected] Abstrak
Analisa Tekanan Air Dengan Methode Pipe Flow Expert Untuk Pipa Berdiameter 1, ¾ dan ½ Di Instalasi Pemipaan Perumahan
Analisa Tekanan Air Dengan Methode Pipe Flow Expert Untuk Pipa Berdiameter 1, ¾ dan ½ Di Instalasi Pemipaan Perumahan Oleh : 1), Arif Setyo Nugroho, 2). Martinus Heru Palmiyanto.3) AEB Nusantoro 3). 1,2,3)
PERENCANAAN INSTALASI PEMIPAAN DENGAN MENGGUNAKAN METHODE PIPE FLOW EXPERT. ABSTRACT
PERENCANAAN INSTALASI PEMIPAAN DENGAN MENGGUNAKAN METHODE PIPE FLOW EXPERT. Arif Setyo Nugroho Jurusan Teknik Mesin AT Warga Surakarta www.atw.ac.id ABSTRACT In the installation of the pipe network should
KOEFISIEN RUGI-RUGI SUDDEN EXPANSION PADA ALIRAN FLUIDA CAIR
Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 8 IST AKPRIND Yogyakarta KOEFISIEN RUGI-RUGI SUDDEN EXPANSION PADA ALIRAN FLUIDA CAIR I Gusti Gde Badrawada Jurusan Teknik Mesin, FTI, IST AKPRIND Yogyakarta
2 a) Viskositas dinamik Viskositas dinamik adalah perbandingan tegangan geser dengan laju perubahannya, besar nilai viskositas dinamik tergantung dari
VARIASI JARAK NOZEL TERHADAP PERUAHAN PUTARAN TURIN PELTON Rizki Hario Wicaksono, ST Jurusan Teknik Mesin Universitas Gunadarma ASTRAK Efek jarak nozel terhadap sudu turbin dapat menghasilkan energi terbaik.
(Indra Wibawa D.S. Teknik Kimia. Universitas Lampung) POMPA
POMPA Kriteria pemilihan pompa (Pelatihan Pegawai PUSRI) Pompa reciprocating o Proses yang memerlukan head tinggi o Kapasitas fluida yang rendah o Liquid yang kental (viscous liquid) dan slurrie (lumpur)
ALIRAN FLUIDA DALAM PIPA TERTUTUP
MAKALAH MEKANIKA FLUIDA ALIRAN FLUIDA DALAM PIPA TERTUTUP Disusun Oleh: Nama : Juventus Victor HS NPM : 3331090796 Jurusan Dosen : Teknik Mesin-Reguler B : Yusvardi Yusuf, ST.,MT JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS
BAB IV PENGUKURAN KEHILANGAN ENERGI AKIBAT BELOKAN DAN KATUP (MINOR LOSSES)
BAB IV PENGUKURAN KEHILANGAN ENERGI AKIBAT BELOKAN DAN KATUP (MINOR LOSSES) 4.1 Pendahuluan Kerugian tekan (headloss) adalah salah satu kerugian yang tidak dapat dihindari pada suatu aliran fluida yang
BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA
BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA Untuk mendapatkan koefisien gesek pada saluran pipa berpenampang persegi, nilai penurunan tekanan (pressure loss), kekasaran pipa dan beberapa variabel
Klasisifikasi Aliran:
Klasisifikasi Aliran: 1) Aliran Invisid dan Viskos 2) Aliran kompresibel dan tak kompresible 3) Aliran laminer dan turbulen 4) Aliran steady dan unsteady 5) Aliran seragam dan tak seragam 6) Aliran satu,
BAB IV PERHITUNGAN SISTEM HIDRAULIK
BAB IV PERHITUNGAN SISTEM HIDRAULIK 4.1 Perhitungan Beban Operasi System Gaya yang dibutuhkan untuk mengangkat movable bridge kapasitas 100 ton yang akan diangkat oleh dua buah silinder hidraulik kanan
TUGAS AKHIR BIDANG KONVERSI ENERGI PERANCANGAN, PEMBUATAN DAN PENGUJIAN POMPA DENGAN PEMASANGAN TUNGGAL, SERI DAN PARALEL
TUGAS AKHIR BIDANG KONVERSI ENERGI PERANCANGAN, PEMBUATAN DAN PENGUJIAN POMPA DENGAN PEMASANGAN TUNGGAL, SERI DAN PARALEL Oleh: ANGGIA PRATAMA FADLY 07 171 051 JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS
Analisa Pengaruh Variasi Sudut Sambungan Belokan Terhadap Head Losses Aliran Pipa
Analisa Pengaruh Variasi Sudut Sambungan Belokan Terhadap Head Losses Aliran Pipa Zainudin*, I Made Adi Sayoga*, I Made Nuarsa* Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Mataram Jalan Majapahit
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Hukum Kekekalan Massa Hukum kekekalan massa atau dikenal juga sebagai hukum Lomonosov- Lavoiser adalah suatu hukum yang menyatakan massa dari suatu sistem tertutup akan konstan
PERANCANGAN SISTEM DISTRIBUSI AIR BERSIH DINGIN DARI TANGKI ATAS MENUJU HOTEL PADA THE ARYA DUTA HOTEL MEDAN
PERANCANGAN SISTEM DISTRIBUSI AIR BERSIH DINGIN DARI TANGKI ATAS MENUJU HOTEL PADA THE ARYA DUTA HOTEL MEDAN SKRIPSI Skripsi Yang Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik HATOP
BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA DATA
BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA DATA 4. 1. Perhitungan Pompa yang akan di pilih digunakan untuk memindahkan air bersih dari tangki utama ke reservoar. Dari data survei diketahui : 1. Kapasitas aliran (Q)
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Data Hasil Penelitian Penelitian sling pump jenis kerucut variasi jumlah lilitan selang dengan menggunakan presentase pencelupan 80%, ketinggian pipa delivery 2 meter,
KAJI EKSPERIMENTAL ALIRAN DUA FASE AIR-CRUDE OIL MELEWATI PIPA SUDDEN EXPANSION
C.1 KAJI EKSPERIMENTAL ALIRAN DUA FASE AIR-CRUDE OIL MELEWATI PIPA SUDDEN EXPANSION Eflita Yohana *, Ambangan Siregar, Yohanes Aditya W Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jl.
Panduan Praktikum 2012
Percobaan 4 HEAD LOSS (KEHILANGAN ENERGI PADA PIPA LURUS) A. Tujuan Percobaan: 1. Mengukur kerugian tekanan (Pv). Mengukur Head Loss (hv) B. Alat-alat yang digunakan 1. Fluid Friction Demonstrator. Stopwatch
Analisis Aliran Fluida Terhadap Fitting Serta Satuan Panjang Pipa. Nisa Aina Fauziah, Novita Elvianti, dan Verananda Kusuma Ariyanto
Analisis Aliran Fluida Terhadap Fitting Serta Satuan Panjang Pipa Nisa Aina Fauziah, Novita Elvianti, dan Verananda Kusuma Ariyanto Jurusan teknik kimia fakultas teknik universitas Sultan Ageng Tirtayasa
PENGUJIAN PENGARUH VARIASI HEAD SUPPLY DAN PANJANG LANGKAH KATUP LIMBAH TERHADAP UNJUK KERJA POMPA HIDRAM
PENGUJIAN PENGARUH VARIASI HEAD SUPPLY DAN PANJANG LANGKAH KATUP LIMBAH TERHADAP UNJUK KERJA POMPA HIDRAM SKRIPSI Skripsi Yang Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik FRANCISCUS
KERUGIAN JATUH TEKAN (PRESSURE DROP) PIPA MULUS ACRYLIC Ø 8MM SKRIPSI
UNIVERSITAS INDONESIA KERUGIAN JATUH TEKAN (PRESSURE DROP) PIPA MULUS ACRYLIC Ø 8MM SKRIPSI TORANG RIDHO SOUVENIERGUS 0806368906 FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN DEPOK JUNI 2011 UNIVERSITAS INDONESIA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian dan Prinsip Dasar Alat uji Bending 2.1.1. Definisi Alat Uji Bending Alat uji bending adalah alat yang digunakan untuk melakukan pengujian kekuatan lengkung (bending)
TUGAS AKHIR. Analisa Aliran Turbulen Terhadap Aliran Fluida Cair Pada Control Valve AGVB ANSI 150 Dan ANSI 300
TUGAS AKHIR Analisa Aliran Turbulen Terhadap Aliran Fluida Cair Pada Control Valve AGVB ANSI 150 Dan ANSI 300 Diajukan guna melengkapi sebagian syarat Dalam mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1) Disusun
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 HASIL PERHITUNGAN PARAMETER PENSTOCK
40 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 HASIL PERHITUNGAN PARAMETER PENSTOCK Diameter pipa penstock yang digunakan dalam penelitian ini adalah 130 mm, sehingga luas penampang pipa (Ap) dapat dihitung
Dosen : Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, MSc
2/9/208 FLUIDS FOOD Lecture Note Dosen : Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, MSc Dept of Food Science & Technology Faculty of Agricultural Engineering & Technology Bogor Agricultural University BOGO 208 TUJUAN
KAJI EKSPERIMENTAL ALIRAN DUA FASE WATER-CRUDE OIL MELEWATI PIPA SUDDEN EXPANSION HORISONTAL BERPENAMPANG LINGKARAN
KAJI EKSPERIMENTAL ALIRAN DUA FASE WATER-CRUDE OIL MELEWATI PIPA SUDDEN EXPANSION HORISONTAL BERPENAMPANG LINGKARAN *Ambangan Siregar 1, Eflita Yohana 2 1 Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik,
VISKOSITAS DAN TENAGA PENGAKTIFAN ALIRAN
VISKOSITAS DAN TENAGA PENGAKTIFAN ALIRAN I. TUJUAN 1. Menentukan viskositas cairan dengan metoda Ostwald 2. Mempelajari pengaruh suhu terhadap viskositas cairan II. DASAR TEORI Viskositas diartikan sebagai
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Prinsip Kerja Pompa Hidram Prinsip kerja hidram adalah pemanfaatan gravitasi dimana akan menciptakan energi dari hantaman air yang menabrak faksi air lainnya untuk mendorong ke
KARAKTERISTIK BENTUK PENAMPANG PIPA KOTAK TERHADAP NILAI KOEFISIEN GESEK ALIRAN AIR SKRIPSI
UNIVERSITAS INDONESIA KARAKTERISTIK BENTUK PENAMPANG PIPA KOTAK TERHADAP NILAI KOEFISIEN GESEK ALIRAN AIR SKRIPSI ARIF HUDAYA 090665246 FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN DEPOK JULI 2012 ii UNIVERSITAS
Analisa Pengaruh Penambahan Serat Bambu dan Serat Kelapa Terhadap Nilai Minor Losses pada Pipa Spiral Lengkung
Analisa Pengaruh Penambahan Serat Bambu dan Serat Kelapa Terhadap Nilai Minor Losses pada Pipa Spiral Lengkung Andhika Bramida H. Departemen Teknik Mesin, FT UI, Kampus UI Depok 16424 Indonesia [email protected]
BAB IV HASIL YANG DICAPAI DAN POTENSI KHUSUS
31 BAB IV HASIL YANG DICAPAI DAN POTENSI KHUSUS 4.1 DESAIN PIPA PENSTOCK Desain Pipa Penstock yang akan berkaitan dengan besar debit air yang mengalir melalui Pipa Penstock. Jadi debit optimum air (Qopt)
BAB III DESKRIPSI ALAT DAN PROSEDUR PENGUJIAN
BAB III DESKRIPSI ALAT DAN PROSEDUR PENGUJIAN 3.1 RANCANGAN ALAT PENGUJIAN Pada penelitian ini alat uji yang akan dibuat terlebih dahulu di desain sesuai dengan dasar teori, pengalaman dosen pembimbing
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.1. Tekanan Atmosfer Tekanan atmosfer adalah tekanan yang ditimbulkan oleh bobot udara di atas suatu titik di permukaan bumi. Pada permukaan laut, atmosfer akan menyangga kolom air
BAB IV PERANCANGAN SISTEM PERPIPAAN AIR UNTUK PENYIRAMAN TANAMAN KEBUN VERTIKAL
BAB IV PERANCANGAN SISTEM PERPIPAAN AIR UNTUK PENYIRAMAN TANAMAN KEBUN VERTIKAL 4.1 Kondisi perancangan Tahap awal perancangan sistem perpipaan air untuk penyiraman kebun vertikal yaitu menentukan kondisi
