Pendekatan Diagnosis dan Terapi Kandidiasis

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Pendekatan Diagnosis dan Terapi Kandidiasis"

Transkripsi

1 Artikel Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan (P2KB) Pendekatan Diagnosis dan Terapi Kandidiasis Soroy Lardo Sub SMF/Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Departemen Penyakit Dalam Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta Abstrak Pendahuluan: Infeksi jamur terjadi akibat meningkatnya penggunaan antibiotik spektrum luas dan pasien dengan imunodefisiensi. Beberapa patogen, seperti Criptococcus, Candida, dan Fusarium, jarang menimbulkan penyakit serius pada pejamu normal, sementara jamur endemik lain, seperti Histoplasmosis, Coccidiodes, dan Paracoccidioides, menyebabkan penyakit pada pejamu normal, namun memiliki kecenderungan menjadi agresif pada imunokompromais. Infeksi jamur yang terjadi bersamaan dengan penyakit kritis merupakan problem serius. Spesies kandida merupakan flora normal namun dapat menjadi suatu patogen oportunistik. Kandidiasis terjadi pada beberapa penyakit seperti esofagitis, penyakit jamur yang terkait dengan penggunaan kateter dan pada pasien yang memiliki kerusakan menetap mukosa atau mendapatkan antibiotik spektrum luas. Bentuk kandidiasis lain adalah kandidiasis kulit, kandidiasis funguria, kandidiasis endokarditis dan kandidiasis disseminata. Kandidemia merupakan penyebab keempat tertinggi infeksi nosokomial dalam darah di Amerika Serikat dan negara berkembang. Kandidiasis invasif memiliki dampak signifikan dengan tingkat kematian 47%. Kematian pada dewasa sekitar 15-25% dan 10-15% untuk bayi dan anak anak. Pendekatan diagnostik terhadap infeksi jamur menjadi prioritas penting, sehingga pengetahuan terhadap perubahan epidemiologi dan faktor risiko infeksi jamur menjadi acuan utama manajemen terukur infeksi jamur yang optimal. Kata kunci: Kandidiasis, Pendekatan Diagnosis - Terapi Korespondensi: Soroy Lardo [email protected] 236

2 Diagnosis and Treatment of Candidiasis Soroy Lardo Division of Tropical Medicine and Infectious Disease, Department of Internal Medicine, Gatot Soebroto Central Army Hospital, Jakarta Abstract Introduction: Fungal infections can occur due to the increasing use of broad-spectrum antibiotics and patients with immunodeficiency. Some pathogens, such as Cryptococcus, Candida,and Fusarium, rarely cause serious diseases in the normal host, while other endemic fungi, such as Histoplasmosis, Coccidiodes, and Paracoccidiodes can cause disease in a normal host, but has a tendency to be aggressive on immunocompromise. Candida species are normal flora that may be an apportunistic pathogen. Candidiasis occurs in some diseases such as gastrointestinal mucosal esophagitis, a fungal disease associated with the use of catheters and in - patients who have mucosal damage or obtain broad spectrum antibiotics. Other candidiasis consist of skin candidiasis, funguria candidiasis, disseminated candidiasis and endocarditis candidiasis. Candidemia is the fourth most common cause of nosocomial bloodstream infections in the United States and in many of the developed country. Invasive candidiasis has a significant impact on patient outcomes, and it has been estimated that the mortality of invasive candidiasis is as high as 47%. The mortality rates are 15%-25% for adults and 10-15% for neonates and children. Diagnostic approach to fungal infection is a priority. The knowledge of the changes in epidemiology and risk factors for fungal infections, has become the main reference to measure optimal treatment of fungal infections. Keywords: Candidiasis, diagnostic and treatment Pendahuluan Infeksi jamur dapat terjadi akibat meningkatnya penggunaan antibiotika spektrum luas dan pasien dengan imunodefisiensi. Beberapa patogen, seperti Criptococcus, Candida, dan Fusarium, jarang menimbulkan penyakit serius pada pejamu normal,sementara jamur endemik lain, seperti Histoplasmosis, Coccidiodes, dan Paracoccidioides, dapat menyebabkan penyakit pada pejamu normal, namun memiliki kecenderungan menjadi agresif pada imunokompromais. Bentuk terbanyak jamur adalah yeast yang produksinya melalui budding dan bentuk mold, sebagai struktur tubular kompleks (hifa) yang tumbuh dengan bercabang atau meluas. 1,2 Infeksi jamur yang terjadi pada penyakit kritis merupakan problem serius. Terdapat kesulitan dalam menentukan diagnosis. Berdasarkan studi EPIC, pengamatan singkat terhadap infeksi mendapatkan tingginya angka infeksi jamur di ICU dan beberapa unit lain. Insidensi pada sejumlah besar populasi bervariasi, meningkat dengan adanya penggunaan antibiotik, sehingga menjadi penting untuk meningkatkan kewaspadaan di antara klinisi. 3 Epidemiologi Penyakit Jamur Perkembangan infeksi jamur saat ini semakin meningkat. Terutama sejak HIV/AIDS menjadi kasus infeksi global. Para mikologis memperkirakan terdapat sekitar 1,5 juta spesies jamur dan 400 spesies di antaranya merupakan penyebab potensial infeksi pada manusia. Dalam dekade terakhir ini, infeksi jamur menarik perhatian terutama munculnya mikosis oportunistik dan mikosis nosokomial sebagai penyebab kematian, seperti yang dikemukakan oleh Fridkin dan Jarvis pada tahun ,4 Infeksi jamur atau mikosis merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas pasien rawat inap di rumah sakit, terutama yang dengan imunokompromais. Infeksi oportunistik jamur dapat menjadi infeksi serius jika respons imunologik terhadap pejamu tidak efektif, sehingga mengakibatkan transisi mikroorganisme komensal menjadi patogen invasif. 2 Infeksi jamur pada manusia dibagi berdasarkan pendekatan anatomi, infeksi jamur endemik dan infeksi jamur oportunistik (HIV/AIDS, leukemia,tumor padat, limfoma maligna dan transplantasi organ). Pendekatan anatomi infeksi jamur terdiri infeksi mukokutaneus dan infeksi organ dalam. 237

3 Infeksi mukokutaneus dapat menyebabkan morbiditas serius, namun jarang menimbulkan kematian. Sedangkan infeksi jamur organ melalui penyebaran infeksinya (sistemik) dapat menyebabkan penyakit berat dan mengancam nyawa. 2,5 Kandidiasis, merupakan infeksi oportunistik jamur dengan insidens tertinggi. Kandida merupakan flora normal yang beradaptasi dengan baik untuk hidup pada manusia (saluran cerna, saluran urogenital dan kulit). Saat ini Kandida adalah penyebab terbanyak infeksi nosokomial, dengan insidens yang meningkat di USA dan Eropa. Sebagai patogen nosokomial, hasil dari studi survailans populasi aktif memperlihatkan adanya sejumlah kasus kandidemia pada fasilitas pelayanan kesehatan rawat jalan. Hal tersebut memperlihatkan bahwa kandida tidak terbatas semata pada pasien perawatan kritis. Walaupun pertumbuhannya meningkat di rumah sakit, kandidemia secara bermakna lebih jarang ditemukan pada kelompok pasien dengan risiko tinggi. Hal tersebut termasuk resipien stem cell yang mendapatkan profilaksis anti jamur dengan fluconazol, yang berperan menurunkan mortalitas kandidiasis invasif. Insidensi kandidemia juga menurun secara bermakna pada resipien transplantasi hati, terutama disebabkan perbaikan faktorfaktor yang terkait dengan teknik operasi, seperti menurunkan waktu iskemia saat pembedahan, berkurangnya penggunaan darah dan performance dari anastomosis Roux-en-Y. Berdasarkan studi retrospektif dan survailans berbasis populasi, insidensi kandidemia memperlihatkan adanya peningkatan spesies non albican dari kandida. Hal tersebut disebabkan oleh meningkatnya penggunaan flukonazol. C parapsilosis adalah spesies kandida kedua terbanyak di bagian selatan Eropa dengan C. glabrata sebagai penyebab kandidemia kedua terbanyak di bagian Eropa lainnya seperti Perancis, Jerman, dan Inggris. Perbedaan spektrum dari kandidiasis invasif berhubungan dengan perbedaan tipe pasien yang diobati di masing-masing pusat pengobatan dan penggunaan pendekatan klinik yang berbeda. 6 Histoplasmosis ditemukan terutama di Amerika Utara dan Tengah. Koksidiomikosis ditemukan terutama di Arizona, California, Meksiko, Texas dan Amerika Selatan. Kriptokokus, kebanyakan ditemukan di daerah subtropis dan tropis termasuk Australia, Asia Tenggara, Afrika dan Amerika. Sebelum era highly active antiretroviral therapy (HAART), kriptokokus meliputi 5-10% penderita AIDS terutama bila CD 4 kurang dari 50 sel /mm 3. Pada non-aids, kriptokokus terutama sebagai infeksi oportunistik pada individu yang mengalami transplantasi organ, mendapatkan imunosupresan, diabetes mellitus, gagal ginjal, penyakit hati kronis dan penyakit paru kronis. Sekitar 20% infeksi kriptokokus tanpa diketahui penyakit yang mendasari. 4,7 Sedangkan pada IFI (Infasive Fungal Infections) secara epidemiologi dapat dilihat dari tabel 1. Patogenesis Infeksi Jamur Patogenesis infeksi jamur dimulai melalui jaringan Tabel 1. Prinsip Perubahan dalam Epidemiologi IFI Efek Menurunkan Kandidiasis Invasif pada resipien transplant Meningkatnya infeksi spesies non albican Meningkatnya Aspergillosis Invasif pada pasien penyakit kritis dan PPOK Meningkatnya infeksi oleh spesies non fumigates Lebih tinggi onset lanjut pada aspergillosis invasif pada stem cell hematopoetic transplant dan solid organ transplant Meningkatnya Zygomicosis Dikutip dari 6 Kemungkinan Etiologi Profilaksis dengan Flukonazol Profilaksis dengan Flukonazol Meningkatnya survival pada pasien penyakit kritis Meningkatnya penggunaan prosedur invasif Kortikosteroid Meningkatnya teknik diagnostik Memendeknya waktu neutro penia Gravt versus- host disease Prolonge imunosupression Profilaksis dengan Voriconazol ekstraselular maupun dalam fagosit. Kulit yang tidak intak/ terdapat lesi merupakan port de entry infeksi jamur (kandidiasis, dermatofitosis). Respon imun yang pertama kali berperan terhadap infeksi jamur adalah cell-mediated-immunity (CMI) yang bersifat protektif dengan menekan reaktivasi infeksi jamur asimptomatis dan mencegah terjadinya infeksi oportunistik. Respon CMI dapat menginduksi terbentuknya granuloma. Granuloma terbentuk oleh berbagai penyakit sistemik, misalnya koksidioidomikosis, histoplasmosis dan blastomikosis. Sedangkan supurasi akut yang ditandai dengan adanya neutrofil di dalam eksudat dan penyakit jamur tertentu seperti aspergilosis dan sporotrichosis. 4 Respons imun yang terjadi berikutnya adalah respons imun terhadap mikroorganisme ekstraselular dan respons imun intraseluler fakultatif. Respons imun seluler merupakan mediator utama perlawanan terhadap infeksi jamur. Sel T CD4+ dan CD8+ bekerjasama untuk mengeliminasi jamur. Dari subset sel T CD4+, respons sel TH1 merupakan respons protektif, sedangkan respons sel Th2 merugikan host, Oleh karena itu inflamasi granulomatosa sering merupakan penyebab kerusakan jaringan pada host yang terinfeksi jamur intraseluler. 2,4 Kandidiasis Spesies kandida merupakan flora normal namun dapat menjadi suatu patogen oportunistik. Kandidiasis terjadi pada beberapa penyakit yaitu mukosa gastrointestinal terutama esofagitis, penyakit jamur yang terkait dengan penggunaan kateter dan pasien yang memiliki kerusakan menetap mukosa atau mendapatkan antibiotik spektrum luas. 7 Kandida adalah organisme secara ekstrim berkolonisasi pada individu tanpa sekuele klinis. Pada individu yang peka, dapat menyebabkan problema simtomatik seperti thrush yang menjadi nilai minor. Sebagai organisme intraseluler, perkembangbiakan diawali dengan blastopor yang membelah 238

4 dari proses budding sebagai proses yang melibatkan material baru pada tempat blastopor. Ketika blastopor matur, nukleat dibagi menjadi dua elemen yang dipisahkan oleh dinding sel. Sebagai sel baru yang membelah, perkembangbiakan diawali dalam bentuk hifa yang menjadi kunci dari kandida. Kandida menginvasi melalui perlekatan jaringan lokal, khususnya matriks ekstraselular subendothelial. Hal itu secara fundamental penting, sebab dalam observasi invasi kandida ditandai dengan adanya kerusakan kulit, terutama endotel. Kemampuan berbagai spesies kandida melekat pada permukaan, dipengaruhi oleh patogenesitas intrinsik. C. albican melekat lebih baik daripada C. tropicalis atau C. parapsilosis. Kemampuan kandida memproduksi proteinase dalam kerusakan permukaan keratin kulit, berperan penting dalam proses resistensi jamur individual terhadap gangguan oksidatif dari netrofil. Pada tingkat makroskopis, faktor lain memegang peranan penting. Pada saluran cerna, koloni kandida terdapat di dalam integritas saluran cerna. Sedangkan bakteri anaerob dapat mencegah adhesi ke mukosa dan integritas mukosa. Dalam pola invasi, segala sesuatu yang mengganggu ekologi akan memicu pertumbuhan kandida bersamaan dengan kerusakan jaringan. Muatan total kandida memiliki perilaku seperti invasi, meskipun bukti yang ada secara umum tidak menunjukkan hal tersebut. Spektrum penggunaan antibiotik yang luas dan beberapa penyakit akan meningkatkan pertumbuhan kandida. Hal tersebut terdapat pada kondisi imunokompromais dan disertai dengan kerusakan kulit berat secara potensial organisme ini menyebabkan problema yang serius. 3 Spesies kandida berbentuk oval yeast, sering berkolonisasi di mulut, saluran cerna dan vagina pada individu sehat. Kandida tersebut dapat menyebabkan penyakit melalui overgrowth atau invasi. Stomatitis (thrush) kandida sering terjadi pada individu yang mendapatkan antibiotik, terapi kortikosteroid dan yang memiliki gangguan terhadap CMI. Vulvovaginitis akibat kandida, dapat muncul pada wanita dengan diabetes mellitus atau dengan tanpa faktor predisposisi. Kandida juga dapat berkolonisasi dan menginfeksi saluran kemih, terutama penggunaan indwelling urinary catheter. Pada kondisi tertentu spesies kandida dapat masuk ke dalam darah dan menyebabkan sepsis. Hal tersebut dapat terjadi pada neutropenia sesudah kemoterapi yang disebabkan oleh masuknya sumber infeksi ke dalam sistem gastrointestinal atau individu yang mendapatkan nutrisi parenteral, dalam hal ini kateter merupakan sumber infeksi. 1 Candida albicans dapat dikultur dari mulut, vagina dan feses. Beberapa faktor risiko terjadinya kandidiasis invasif adalah prolonged neutropenia, pasca pembedahan abdomen, terapi antibiotik spektrum luas, gagal ginjal, penggunaan kateter khususnya dalam pemberian total parenteral nutrisi dan penggunaan obat injeksi. Imunodefisiensi seluler akan menjadi predisposisi penyakit mukokutaneus. Jika tidak didapatkan penyebab lain, kandidiasis oral dan vagina dapat muncul pada infeksi HIV. 7 Jenis penyebab kandidiasis lainnya C. tropicalis, C. parapsilosis, C. guilliermondii, C. glabarta, C. krusei serta beberapa spesies lainnya dapat menyebabkan kandidiasis profundus, bahkan menjadi kondisi fatal. C. parapsilosis sering sebagai penyebab endokarditis. C. tropicalis menyebabkan sekitar sepertiga kandidiasis profundus pada pasien neutropenia. 4,7 Kandidiasis lokal dan sistemik ditentukan oleh respon imun dan beberapa faktor penting yang mempengaruhi invasi kandida ke dalam jaringan tubuh. Faktor-faktor tersebut diantaranya usia, wanita hamil trimester ketiga, diabetes mellitus, keganasan hematologi (neutropenia), pemberian antibiotik spektrum luas, kortikosteroid dosis tinggi, penggunaan kateter vena central, nutrisi parenteral, renal replacement therapy pada pasien ICU dan penggunaan alat prostetik. Melalui sirkulasi, kandida dapat menimbulkan berbagai infeksi pada ginjal, hepar, menempel pada katup jantung buatan, meningitis, arthritis dan endophtalmitis. 4,8 Manifestasi Klinis dan Pengobatan a. Kandidiasis Kulit dan Mukosa Kandidiasis kulit dan mukosa sering menyertai berbagai penyakit seperti AIDS, diabetes, kehamilan, usia dan trauma. Kandidiasis kulit dapat terjadi berupa infeksi kulit yang ditandai dengan paronikhia, bengkak dan nyeri pada permukaan kuku dan onkomikosis. Pada anak-anak dapat menjadi suatu infeksi kulit diseminata. Kandidiasis mukokutan kronik merupakan infeksi heterogenus pada rambut, kuku, kulit, membran mukosa yang menetap meskipun telah mendapatkan pengobatan intermiten. Kondisi tersebut dapat bertambah parah dan menjadi kandida granuloma yang ditandai dengan exophytic outgrowth pada kulit. Sebagian pasien seperti itu terkait dengan kelainan abnormal berupa autimmune polyendocrinopathy-candidiasis-ectodermal disytrophy (APECED) syndrome, yaitu hipoparatiroid, insufisiensi adrenal, tiroiditis autoimun, penyakit graves, hepatitis kronik aktif, alopesia, anemia pernisiosa juvenile, malabsorbsi dan hipogonadisme. 2 Kandidiasis oral (oral thrush) ditemukan sebagai bercak berwarna putih yang konfluen dan melekat pada mukosa oral serta faring, khususnya di dalam mulut dan lidah. Lesi tersebut biasanya tanpa nyeri, tetapi pembentukan fisura pada sudut mulut dapat menimbulkan nyeri. 4 Kandidiasis esofagus ditandai dengan gejala odinofagia substernal, refluks gastroesofageal atau mual tanpa nyeri substernal. Temuan dikonfirmasi dengan endoskopi dan biopsi. Pengobatan tergantung tingkat beratnya penyakit. Jika masih mampu menelan dapat diberikan fluconazol mg/hari (atau cairan itraconazol, 10 mg/ml, 100mg/hari) selama hari. Pada keadaan esofagitis dapat diberikan flukonazol oral dan termasuk voriconazol intravena 200 mg/dua kali sehari, Amphoterisin B intravena 0,3 mg/kg BB/hari atau caspofungin intravena 50mg/hari atau micafungin intravena 150mg/hari. Kandidiasis vulvogina terjadi pada 75% wanita. Faktor risiko 239

5 yang dapat menyebabkan kondisi tersebut adalah kehamilan, diabetes mellitus tidak terkontrol, penggunaan antibiotik spektrum luas, penggunaan kortikosteroid dan infeksi HIV. Gejala yang muncul termasuk pruritus vulva akut, keputihan yang menimbulkan rasa nyeri pada vagina dan disparenia. Pengobatan yang dapat diberikan adalah topikal azol seperti clotrimazol vagina tablet 100 mg selama 7 hari atau miconazol 200 mg supposutoria vagina selama 3 hari. Dapat juga diberikan fluconazo l150 mg oral periminggu untuk mengurangi rekurensi. 4,7 b. Kandida Funguria Kandidiasis funguria sering terjadi akibat penggunaan instrumentasi terhadap pasien dengan diabetes yang mendapatkan antibiotik spektrum luas dan penggantian/ pelepasan kateter. Dalam traktus urinarius, lesi yang paling sering ditemukan berupa abses renal dan kandidiasis kandung kemih. Infeksi lanjut funguria dapat meningkatkan terjadinya kandidiasis diseminata terutama dengan adanya infeksi saluran kemih (dalam pembersihan kandidiasis urin) dan komplikasi obstruksi uretra. Gejala asimptomatik dapat diberikan flukonazol oral 200mg selama 7-14 hari dengan fungsi ginjal yang baik. Irigasi kandung kemih dengan amphotericin B ( mg/ml) digunakan jika terdapat kandidiuria transien khususnya kolonisasi pada bladder. 4,7 c. Kandidiasis Diseminata Kandidisiasis diseminata merupakan komplikasi kandidemia yang menyebar secara hematogen ke berbagai organ. Walaupun kenyataannya hanya 50% kultur darah kandida yang didapatkan positif. Penyebaran hematogenus dapat terjadi dari penetrasi organisme di esofagus yang mengalami erosi, infeksi pada sendi diakibatkan oleh penyebaran mikroorganisme di kulit dan infeksi ginjal, terjadi dari kateter yang menyebabkan infeksi saluran kemih. Kandidiasis diseminata dapat bersifat jinak, prosesnya self limited, penyakit berat dan berkomplikasi. 2,7 Gambaran klinis kandidiasis diseminata adalah lapisan putih infiltrat di retina yang meluas ke dalam vitreous dan lesi kulit eritematosus disertai dengan nyeri muskular disekitar infeksi kulit yang terkena. Gejala seperti itu umumnya dijumpai pada 50% kasus. Sistem organ lain yang dapat terlibat dalam penyakit tersebut adalah otak, meningen dan miokardium, katup jantung, chorioretina, ginjal, limpa, endokrin dan pankreas. Bentuk lain dari kandidiasis diseminata adalah kandidiasis hepatopslenik, terjadi pada kemoterapi yang agresif dan prolonged neutropenia pada pasien kanker hematologik. Gejala klinis adalah demam dan nyeri abdomen beberapa minggu setelah kemoterapi. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan enzim hati dan alkali fosfatase. CT-Scan abdomen memperlihatkan hepatosplenomegali yang ditandai dengan multipel densitas rendah pada hati dan limpa. Diagnosis ditegakkan dengan biopsi hati, histopatologi dan kultur. 2,4,5 Pengobatan anti jamur untuk kandidiasis diseminata berkembang sejak meningkatnya kasus kandidiasis non albicans. Pilihan terapi adalah Flukonazol mg/hari, Amphotericin B mg/kgbb/hari, Voriconazole 200 mg/ 2 kali sehari atau Caspofungin 50 mg/hari. Terapi kombinasi Azol dan Amphotericin B masih dalam penelitian. Floucytosine 150 mg/kgbb/hari dibagi dalam 4 dosis diberikan jika sudah melibatkan sistem saraf pusat. Terapi Kandidiasis diseminata dilanjutkan sampai 2 minggu setelah hasil kultur darah positif dan perbaikan klinis dari tanda-tanda infeksi. Pada pasien yang secara klinik stabil, terapi parenteral dapat dihentikan dan terapi oral flukonazol mg oral dapat diberikan 1-2 kali sehari. Pelepasan/penggantian kateter dianjurkan, karena dapat mengurangi kandidemia dan mortalitas sampai 30%. 2,7 Kandida Endokarditis Kandida Endokarditis merupakan komplikasi yang jarang terjadi sebagai fungemia transient. Hal tersebut umumnya terjadi dari inokulasi operasi bedah katup jantung atau penggunaan injeksi yang berulang. Frekuensinya meningkat pada penggunaan katup prostetik beberapa bulan setelah pembedahan. Gejala yang muncul adalah splenomegali dan petekiae, sebagai predileksi embolisasi pembuluh darah besar. Penyebabnya lebih banyak adalah Candida non albicans yaitu Candida parapsilosis dan Candida tropicalis, yang 50% dari isolat darah resisten terhadap flukonazol. Diagnosis ditegakkan dengan ditemukan secara definitif kultur Candida dari emboli atau dari vegetasi saat penggantian katup. Pada keadaan kerusakan katup (aorta dan mitral) dan diperlukan terapi bedah, pemberian amphotericin mg/ kg/hari intravena atau dosis total mg/kg/hari diperlukan. 5 Pendekatan Diagnostik, Perkembangan Pengobatan dan Laboratorium Sebelumnya, infeksi jamur jarang ditemukan, diagnosisnya sulit, dengan pilihan terapi yang terbatas sementara terapi yang tersedia bersifat toksik. Saat ini kasusnya lebih sering terjadi, tetapi masih sulit dalam diagnosis namun semakin besar pilihan pengobatan yang tersedia yang sedikit toksik. Diagnosis definitif adalah dengan kultur darah yang seringkali terlambat. Sebagai penggantinya, penilaian didasarkan pada gambaran klinis, infeksi yang dikombinasikan dengan identifikasi pasien dengan faktor resiko dengan adanya kolonisasi pada tempat awal infeksi serta data epidemiologis, sehingga terdapat kepastian untuk upaya intervensi, tanpa menunggu hasil kultur Bermacam obat yang tersedia sudah berkembang dalam beberapa tahun ini. Golongan azol yang baru mempunyai spektrum lebih baik untuk spesies kandida dan juga aspergillus. Echinocandins juga menawarkan spektrum lebih lebar dalam aktivitas dengan toksisitasnya. Model tradisional untuk diagnosis dan pengobatan infeksi jamur diperoleh dari pendekatan pasien imunokompromais. Terdapat perbedaan fundamental di antara 240

6 pasien dan populasi penyakit kritis dan menghubungkan langsung dari satu populasi ke populasi lain yang mungkin menjadi salah satu problematika. 3 Pasien imunokompromais memiliki kepekaan yang tidak terpisahkan terhadap infeksi jamur, disebabkan oleh gangguan fungsi imun. Hal tersebut secara relatif menjadi masalah di ruang isolasi terutama pada pasien yang memiliki kecenderungan disfungsi organ. Pengobatan infeksi jamur dan risikonya secara potensial dapat diperhitungkan. Risiko pengobatan terhadap berkembangnya kegagalan sistem organ secara relatif kecil. Sebaliknya pada populasi penyakit kritis, populasi dengan penyakit heterogenitas masif dan terdapatnya disfungsi imun sangat menentukan dan biasanya merupakan kondisi sekunder dari penyakit awal. 3 Satu atau lebih organ yang terkena, morbiditas dan mortalitas dari penyakit awal sangat menentukan morbiditas sekunder. Definisi kepekaan terhadap infeksi jamur tergantung dari beratnya penyakit, faktor sekunder seperti kerusakan kulit, kateter indwelling, antibiotik spektrum luas dan pertumbuhan jamur. Gagal organ terutama ginjal atau gagal hati mempresentasikan kecenderungan risiko potensial dihubungkan dengan pengobatan. Infeksi jamur pada pasien dengan tanda klinik dari beratnya penyakit terhadap adanya kematian menunjukkan infeksi jamur adalah sulit atau tidak dapat ditentukan. 3 Diagnosis infeksi kandida ditegakkan dengan ditemukannya hifa atau pseudohifa dalam sediaan basah (wet mount) yaitu NaCl dan 10% KOH, pewarnaan gram jaringan, periodic acid Schiff atau methenamine silver stain untuk menampilkan inflamasi. adanya organisme dengan hematoxylin eosin staining tidak berarti dapat mengeksklusi infeksi kandida. Tantangan utama adalah isolat kandida secara hematogenus terhadap kandidiasis diseminata. Adanya kandida di sputum, urin, kateter peritoneal menunjukkan adanya kolonisasi dibandingkan infeksi dalam. Hal tersebut dapat juga sebagai pertumbuhan organisme pada kateter. Pemeriksaan baik antigen atau antibodi terhadap penyebaran kandida secara hematogen belum tersedia dan tervalidasi sebagai alat diagnostik. Beberapa penelitian saat ini sedang mengembangkan kegunaan test beta glukan. 2,8 Pengobatan Berdasarkan IDSA 2009 Pengobatan infeksi jamur berdasarkan IDSA 2009 mengacu munculnya beberapa anti jamur sejak Melalui beberapa penelitian yang dipublikasikan untuk pengobatan kandidemia, kandidiasis invasif, penyakit mukosa termasuk kandidiasis orofaringeal dan kandidiasis esofageal. Terdapat data prospektif untuk pencegahan kandidiasis invasif pada neonatus risiko tinggi dan dewasa serta pengobatan empirik kandidiasis invasif dewasa. Beberapa perubahan dari pedoman pengobatan tersebut adalah penggunaan echinocandis dan spektrum azol yang luas dalam manajemen kandidemia dan kandidiasis mukosa, misalnya pada kasus kandidiasis disseminta kronik, osteomielitis dan dan penyakit pada sistem syaraf pusat. Pedoman tersebut memuat pengobatan definitif pada pasien non netropenia dan pasien netropenia dan terapi empirik pada pasien non neutropenia dan neutropena. Berikut adalah beberapa hal yang terdapat di dalam pedoman: Berdasarkan tabel di atas, echinocandin digunakan untuk kondisi moderat sampai berat pada pasien dengan penggunaan azol sebelumnya dan sebagai terapi awal pada pasien dengan dugaan infeksi C. glabrata. Flukonazol lebih disukai sebagai terapi awal pada pasien dengan atau dugaan infeksi C. parapsilosis, jika tidak ada penggunaan azol sebelumnya. Flukonazol sebaiknya disediakan pada pasien yang sebelumnya belum diberikan azol. Flukonazol harus disediakan pada pasien tanpa pemberian azol yang tidak dalam kondisi kritis. Terapi empirik sebaiknya dimulai setelah empat hari demam meskipun antibiotik sudah diberikan. Azol tidak digunakan untuk terapi empirik pada pasien yang menerima azol untuk profilaksis. 8 Tabel 1 Petunjuk Pengobatan Pasien Neutropenia dan non Neutropenia 8 Kondisi/Kelompok Pengobatan Terapi Rekomendasi Primer Tingkatan Rekomendasi Alternatif Tingkatan Pasien Non Neutropenia Kandidemia (Target Terapi) Flukonazol/ A-1 Formulasi Lipid AmB A-1 Echicocandiny (LAmB) atau AmB d atau Voriconazol Suspek Kandidiasis (Terapi Empirik) Sebagai Kandidemia B-III L-AmB atau AmB-d B-III Echinocandin atau Flukonazol Pasien Neutropeni Kandidemia (Target Terapi) Echinocandin atau A-II Flukonazol atau B-III LFAmB Vorikonazol Suspek KandidasisTerapi Empirik LFAmB atau caspofungin A-I B-I Flukonazol B-I untuk Itraconazol atau voriconazol Voriconazol Dikutip dari 8 241

7 Perkembangan terapi saat ini adalah dengan pemberian golongan echinocandin pada infeksi kandidiasis memiliki efikasi yang sangat baik. Hal itu ditunjukkan dengan beberapa keberhasilan terapi pada pasien dengan infeksi jamur, khususnya dalam kondisi tidak stabil. Hal tersebut dapat dilihat dari gambar di bawah ini: Berdasarkan pendapat Gafter, et al. 10 dalam pengobatan infeksi kandida invasiv, terdapat beberapa faktor yang perlu menjadi perhatian: (a) Flukonazol tidak direkomendasikan sebagai obat empirik tunggal untuk pasien dengan infeksi berat. (b) Perbandingan efikasi untuk caspofungin dan micafungin terhadap formulasi amphotericin B. (c) Echinocandin memiliki profil perbandingan dan keamanan sebagai golongan azol/polyens. (d) Echinocandin mungkin dapat dipertimbangkan sebagai terapi pertama untuk terapi empirik dari kandidemia. (e) Liposomal amphoterisin B alternatif terbaik untuk gangguan organ. Pencegahan Infeksi jamur invasif menyebabkan kesakitan dan kematian pada pasien immunosupresi. Penggunaan profilaksis azol terhadap spesies kandida sudah dilakukan, bersamaan dengan meningkatnya insidensi invasif aspergillosis dan infeksi oleh jamur filamentosa lain seperti Mucorales. Faktor risiko dan perbedaan skala waktu terjadinya onset sebaiknya sejak awal sudah dapat diidentifikasi. Pengetahuan terhadap perubahan epidemiologi dan faktor resiko untuk infeksi jamur sebagai hal penting, ketika strategi terapetik semakin berkembang dan profilaksis efektif untuk meningkatkan prognosis pasien immunosupresi. 6 Kultur Darah Jamur Imunokompromais (Transplants, neutropenia, BMT, AIDS) Mulai (Lipidf) Polyen dan Tunggu untuk Identifikasi Stabil Hemodinamik? (Non Neutropeni, ada riwayat Azol sebelumnya, insiden rendah Kandida Glabarta dan Kandida Krusei) Mikosis Endemik Kandida Lanjut (Lipid) Poliyene sampai stabil dan Pertimbangkan Flukonazol, Itrakonazol Probabilitas tinggi terhadap resistensi Azol? (Epidemiologi lokal, kolonisasi dengan strain flukonazol atau eksposur saat ini) Echinochandins. Lipid Polyene dan tunggu identifikasi dan respon monitor. alternatif LFAS Echinochandins Alternatif: LFAS Respon Baik Fluconazol Alternatif: Echinochandins Votconazol Amphotericin B Respon Baik Selesaikan selama 14 hari dari kultur negatif pertama Selesaikan selama 14 hari dari kultur negatif pertama dan switch ke Flukonazol/Variconazol jika stabil Switch Agen/klas anti jamur lain Gambar 1. Pendekatan Pengobatan Kandidiasis Invasif pada Kondisi Kritis. Pada Kondisi Tertentu (Endophtalmitis, Gangguan Hati, Lien, Kulit dan AIDS) Pengobatan dapat Lebih Panjang.(Dikutip dari 8 dan 9) 242

BAB 1 PENDAHULUAN. infeksi yang didapat pada pasien di Pediatric Intensive Care Unit (PICU).

BAB 1 PENDAHULUAN. infeksi yang didapat pada pasien di Pediatric Intensive Care Unit (PICU). BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang penelitian Infeksi merupakan penyebab utama dari kesakitan dan kematian pasien termasuk pada anak. Infeksi melalui aliran darah merupakan penyebab utama infeksi yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. berkembang di daerah beriklim tropis, termasuk di Indonesia. Candida dapat

BAB 1 PENDAHULUAN. berkembang di daerah beriklim tropis, termasuk di Indonesia. Candida dapat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Candida adalah salah satu jenis jamur yang banyak tumbuh dan berkembang di daerah beriklim tropis, termasuk di Indonesia. Candida dapat ditemukan di tanah, buah-buahan,

Lebih terperinci

PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI

PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI GOLONGAN AZOL 1. KETOKONAZOL Spektrum luas efektif terhadap Blastomyces dermatitidis, Candida species, Coccidiodes immitis, Histoplasma capsulatum, Malasezzia furfur, Paracoccidiodes

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Acquired Immune Deficiency Syndrom (AIDS) dapat diartikan sebagai

BAB 1 PENDAHULUAN. Acquired Immune Deficiency Syndrom (AIDS) dapat diartikan sebagai BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Acquired Immune Deficiency Syndrom (AIDS) dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pernapasan yang membuat pasien datang berobat ke dokter. (Rab, 2010) Batuk

BAB I PENDAHULUAN. pernapasan yang membuat pasien datang berobat ke dokter. (Rab, 2010) Batuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Batuk merupakan salah satu keluhan utama pada kelainan saluran pernapasan yang membuat pasien datang berobat ke dokter. (Rab, 2010) Batuk merupakan mekanisme refleks

Lebih terperinci

Keadaan immunocompromised yaitu gangguan

Keadaan immunocompromised yaitu gangguan Sari Pediatri, Sari Vol. Pediatri, 3, No. Vol. 4, Maret 3, No. 2002: 4, Maret 244-2002 248 Infeksi Jamur Sistemik pada Pasien Immunocompromised Djajadiman Gatot Dalam keadaan normal relatif sedikit spesies

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kandidiasis adalah infeksi yang disebabkan oleh. jamur Candida sp. Kandidiasis merupakan infeksi

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kandidiasis adalah infeksi yang disebabkan oleh. jamur Candida sp. Kandidiasis merupakan infeksi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kandidiasis adalah infeksi yang disebabkan oleh jamur Candida sp. Kandidiasis merupakan infeksi oportunistik dengan insidensi tertinggi (Nasronudin, 2008). Kandidiasis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Masalah. Staphylococcus adalah bakteri gram positif. berbentuk kokus. Hampir semua spesies Staphylococcus

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Masalah. Staphylococcus adalah bakteri gram positif. berbentuk kokus. Hampir semua spesies Staphylococcus BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Staphylococcus adalah bakteri gram positif berbentuk kokus. Hampir semua spesies Staphylococcus merupakan bakteri koagulase negatif, kecuali Staphylococcus aureus

Lebih terperinci

FORM UNTUK JURNAL ONLINE. : Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Pada Infeksi Jamur Subkutan

FORM UNTUK JURNAL ONLINE. : Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Pada Infeksi Jamur Subkutan : : Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Pada Infeksi Jamur Subkutan : infeksi jamur subkutan adalah infeksi jamur yang secara langsung masuk ke dalam dermis atau jaringan subkutan melalui suatu trauma.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mamalia. Beberapa spesies Candida yang dikenal dapat menimbulkan penyakit

BAB I PENDAHULUAN. mamalia. Beberapa spesies Candida yang dikenal dapat menimbulkan penyakit BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Candida spp dikenal sebagai fungi dimorfik yang secara normal ada pada saluran pencernaan, saluran pernapasan bagian atas dan mukosa genital pada mamalia. Beberapa

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Karakter Biologi Klebsiella pneumoniae K. pneumoniae tergolong dalam kelas gammaproteobacteria, ordo enterobacteriale, dan famili Enterobacteriaceae. Bakteri K. pneumoniae adalah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kulit, saluran pencernaan, saluran pernafasan dan saluran kemih. 5 Invasi Candida spp pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kulit, saluran pencernaan, saluran pernafasan dan saluran kemih. 5 Invasi Candida spp pada BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Candiduria 2.1.1 Definisi Invasi jamur khususnya Candida spp. bisa terjadi pada berbagai organ tubuh seperti kulit, saluran pencernaan, saluran pernafasan dan saluran kemih.

Lebih terperinci

bahan yang diperoleh adalah tetap dalam isopropil alkohol dan udara kering menengah diikuti oleh budidaya pada Sabouraud agar.

bahan yang diperoleh adalah tetap dalam isopropil alkohol dan udara kering menengah diikuti oleh budidaya pada Sabouraud agar. Kehadiran Candida sebagai anggota flora komensal mempersulit diskriminasi keadaan normal dari infeksi. Sangat penting bahwa kedua temuan klinis dan laboratorium Data (Tabel 3) yang seimbang untuk sampai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tubuh yang berlebihan terhadap infeksi. Sepsis sering terjadi di rumah sakit

BAB I PENDAHULUAN. tubuh yang berlebihan terhadap infeksi. Sepsis sering terjadi di rumah sakit BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sepsis adalah penyakit mengancam jiwa yang disebabkan oleh reaksi tubuh yang berlebihan terhadap infeksi. Sepsis sering terjadi di rumah sakit misalnya pada pasien

Lebih terperinci

Profil Candida penyebab kandidemia dan pola kepekaan terhadap anti jamur pada pasien sakit kritis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusuno

Profil Candida penyebab kandidemia dan pola kepekaan terhadap anti jamur pada pasien sakit kritis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusuno Profil Candida penyebab kandidemia dan pola kepekaan terhadap anti jamur pada pasien sakit kritis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusuno Mursinah, Fera Ibrahim, Mardiastuti H Wahid Fakultas Kedokteran Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ruang rawat intensif atau Intensive Care Unit (ICU) adalah unit perawatan di rumah sakit yang dilengkapi peralatan khusus dan perawat yang terampil merawat pasien sakit

Lebih terperinci

FARMAKOTERAPI PADA PENYAKIT INFEKSI JAMUR. dr. Agung Biworo, M.Kes

FARMAKOTERAPI PADA PENYAKIT INFEKSI JAMUR. dr. Agung Biworo, M.Kes FARMAKOTERAPI PADA PENYAKIT INFEKSI JAMUR dr. Agung Biworo, M.Kes Infeksi oleh jamur disebut mikosis. Infeksi ini lebih jarang dibanding infeksi bakteri atau virus. Infeksi oleh jamur biasanya baru terjadi

Lebih terperinci

FARMAKOTERAPI PADA PENYAKIT INFEKSI JAMUR

FARMAKOTERAPI PADA PENYAKIT INFEKSI JAMUR FARMAKOTERAPI PADA PENYAKIT INFEKSI JAMUR dr. Agung Biworo, M.Kes Infeksi oleh jamur disebut mikosis. Infeksi ini lebih jarang dibanding infeksi bakteri atau virus. Infeksi oleh jamur biasanya baru terjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi adalah adanya suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik. Infeksi yang muncul selama seseorang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Stroke adalah salah satu penyakit yang sampai saat ini masih menjadi masalah serius di dunia kesehatan. Stroke merupakan penyakit pembunuh nomor dua di dunia,

Lebih terperinci

Invasive Aspergillus Stomatitis in Patients with Acute Leukemia: Report of 12 Cases

Invasive Aspergillus Stomatitis in Patients with Acute Leukemia: Report of 12 Cases Invasive Aspergillus Stomatitis in Patients with Acute Leukemia: Report of 12 Cases Abstrak Reprints or correspondence: Dr. Yoshinari Myoken, Dept. of Oral Surgery, Hiroshima Red-Cross Atomic Bomb Survivors

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. rongga mulut. Kandidiasis oral paling banyak disebabkan oleh spesies Candida

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. rongga mulut. Kandidiasis oral paling banyak disebabkan oleh spesies Candida I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kandidiasis merupakan infeksi jamur oportunistis yang sering terjadi di rongga mulut. Kandidiasis oral paling banyak disebabkan oleh spesies Candida albicans (Neville dkk.,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang. Kolonisasi bakteri merupakan keadaan ditemukannya. koloni atau sekumpulan bakteri pada diri seseorang.

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang. Kolonisasi bakteri merupakan keadaan ditemukannya. koloni atau sekumpulan bakteri pada diri seseorang. 1 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kolonisasi bakteri merupakan keadaan ditemukannya koloni atau sekumpulan bakteri pada diri seseorang. Kolonisasi tidak menimbulkan gejala klinis hingga infeksi dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi neonatus khususnya sepsis neonatorum sampai saat ini masih

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi neonatus khususnya sepsis neonatorum sampai saat ini masih BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi neonatus khususnya sepsis neonatorum sampai saat ini masih menjadi masalah karena merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada bayi baru lahir. Masalah

Lebih terperinci

Sehat merupakan kondisi yang ideal secara fisik, psikis & sosial, tidak terbatas pada keadaan bebas dari penyakit dan cacad (definisi WHO)

Sehat merupakan kondisi yang ideal secara fisik, psikis & sosial, tidak terbatas pada keadaan bebas dari penyakit dan cacad (definisi WHO) 1 Sehat merupakan kondisi yang ideal secara fisik, psikis & sosial, tidak terbatas pada keadaan bebas dari penyakit dan cacad (definisi WHO) Sakit : pola respon yang diberikan oleh organisme hidup thd

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. yang menyebabkan infeksi karena jamur banyak ditemukan (Nasution, 2005).

BAB 1 PENDAHULUAN. yang menyebabkan infeksi karena jamur banyak ditemukan (Nasution, 2005). 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan daerah tropis dengan suhu dan kelembaban tinggi yang menyebabkan infeksi karena jamur banyak ditemukan (Nasution, 2005). Insiden penyakit infeksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbagai sumber infeksi, seperti: gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga

BAB I PENDAHULUAN. berbagai sumber infeksi, seperti: gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Abses leher dalam adalah terkumpulnya nanah (pus) di dalam ruang potensial yang terletak di antara fasia leher dalam, sebagai akibat penjalaran dari berbagai sumber

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. keberadaannya sejak abad 19 (Lawson, 1989). Flora konjungtiva merupakan

BAB 1 PENDAHULUAN. keberadaannya sejak abad 19 (Lawson, 1989). Flora konjungtiva merupakan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Adanya mikroorganisme yang normal pada konjungtiva manusia telah diketahui keberadaannya sejak abad 19 (Lawson, 1989). Flora konjungtiva merupakan populasi mikroorganisme

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pernafasan bagian atas; beberapa spesiesnya mampu. memproduksi endotoksin. Habitat alaminya adalah tanah, air dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pernafasan bagian atas; beberapa spesiesnya mampu. memproduksi endotoksin. Habitat alaminya adalah tanah, air dan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karakteristika stafilokokus Bakteri ini merupakan flora normal pada kulit dan saluran pernafasan bagian atas; beberapa spesiesnya mampu memproduksi endotoksin. Habitat alaminya

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Epidemiologi ISK pada anak bervariasi tergantung usia, jenis kelamin, dan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Epidemiologi ISK pada anak bervariasi tergantung usia, jenis kelamin, dan BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Epidemiologi Infeksi Saluran Kemih Epidemiologi ISK pada anak bervariasi tergantung usia, jenis kelamin, dan faktor-faktor lainnya. Insidens ISK tertinggi terjadi pada tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)/ Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) telah menjadi masalah yang serius bagi dunia kesehatan. Menurut data World Health

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34

BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram dan merupakan penyumbang tertinggi angka kematian perinatal dan neonatal. Kematian neonatus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kelompok penyakit yang berhubungan dengan infeksi. Penyakit ini banyak ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. kelompok penyakit yang berhubungan dengan infeksi. Penyakit ini banyak ditemukan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pneumonia komunitas merupakan salah satu penyebab kematian utama pada kelompok penyakit yang berhubungan dengan infeksi. Penyakit ini banyak ditemukan dan dapat menimbulkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Penyakit infeksi merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia.

I. PENDAHULUAN. Penyakit infeksi merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Penyakit infeksi merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Sekitar 53 juta kematian di seluruh dunia pada tahun 2002, sepertiganya disebabkan oleh

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. menurun, maka sifat komensal candida ini dapat berubah menjadi. disebabkan oleh Candida albicans, sisanya disebabkan oleh Candida

BAB 1 PENDAHULUAN. menurun, maka sifat komensal candida ini dapat berubah menjadi. disebabkan oleh Candida albicans, sisanya disebabkan oleh Candida BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Candidiasis adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh Candida sp. Candida adalah anggota flora normal yang hidup di dalam kulit, kuku, membran mukosa, saluran pencernaan,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kejadian HAIs 2.1.1 Definisi Menurut definisi dari WHO (World Health Organization) HAIs (Healthcare Associated Infections) atau HAIs merupakan infeksi pada pasien di rumah sakit

Lebih terperinci

(Cryptococcus neoformans)

(Cryptococcus neoformans) INFEKSI JAMUR PADA SUSUNAN SARAF PUSAT (Cryptococcus neoformans) Cryptococcus neofarmans adalah jamur seperti ragi (yeast like fungus) yang ada dimanamana di seluruh dunia. Jamur ini menyebabkan penyakit

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit HIV & AIDS merupakan suatu penyakit yang terus berkembang dan menjadi masalah global yang melanda dunia. Indonesia merupakan negara di ASEAN yang paling tinggi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jamur oportunistik yang sering terjadi pada rongga mulut, dan dapat menyebabkan

BAB I PENDAHULUAN. jamur oportunistik yang sering terjadi pada rongga mulut, dan dapat menyebabkan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Candida albicans (C.albicans) merupakan salah satu jamur yang sering menyebabkan kandidiasis pada rongga mulut. 1 Kandidiasis merupakan infeksi jamur oportunistik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sindrom klinik ini terjadi karena adanya respon tubuh terhadap infeksi, dimana

BAB I PENDAHULUAN. Sindrom klinik ini terjadi karena adanya respon tubuh terhadap infeksi, dimana BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Sepsis merupakan suatu sindrom kompleks dan multifaktorial, yang insidensi, morbiditas, dan mortalitasnya sedang meningkat di seluruh belahan dunia. 1 Sindrom klinik

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kerap kali dijumpai dalam praktik dokter. Berdasarkan data. epidemiologis tercatat 25-35% wanita dewasa pernah mengalami

BAB 1 PENDAHULUAN. kerap kali dijumpai dalam praktik dokter. Berdasarkan data. epidemiologis tercatat 25-35% wanita dewasa pernah mengalami BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan kondisi klinis yang kerap kali dijumpai dalam praktik dokter. Berdasarkan data epidemiologis tercatat 25-35% wanita dewasa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Jamur pada Mulut Jamur pada mulut merupakan ragi yang tumbuh di dalam rongga mulut, dan dapat berubah menjadi patogen dalam kondisi-kondisi tertentu. Faktor yang dapat mempengaruh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. adalah infeksi. Sekitar lima puluh tiga juta kematian

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. adalah infeksi. Sekitar lima puluh tiga juta kematian BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia adalah infeksi. Sekitar lima puluh tiga juta kematian di seluruh dunia pada tahun 2002, sepertiganya disebabkan oleh

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian di sub bagian Pulmologi, bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr Kariadi 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 4.2.1 Tempat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kedokteran disebut dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu

BAB I PENDAHULUAN. kedokteran disebut dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Saat ini masyarakat dihadapkan pada berbagai penyakit, salah satunya adalah penyakit Lupus, yang merupakan salah satu penyakit yang masih jarang diketahui oleh masyarakat,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ISK merupakan keadaan tumbuh dan berkembang biaknya kuman dalam saluran kemih meliputi infeksi di parenkim ginjal sampai infeksi di kandung kemih dengan jumlah bakteriuria

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORI. sehat, baik itu pasien, pengunjung, maupun tenaga medis. Hal tersebut

BAB II TINJAUAN TEORI. sehat, baik itu pasien, pengunjung, maupun tenaga medis. Hal tersebut BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 Infeksi Nosokomial Rumah sakit adalah tempat berkumpulnya orang sakit dan orang sehat, baik itu pasien, pengunjung, maupun tenaga medis. Hal tersebut menyebabkan rumah sakit berpeluang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. menurunnya sistem kekebalan tubuh. AIDS yang merupakan singkatan dari Acquired

BAB 1 PENDAHULUAN. menurunnya sistem kekebalan tubuh. AIDS yang merupakan singkatan dari Acquired BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang AIDS dapat terjadi pada hampir semua penduduk di seluruh dunia, termasuk penduduk Indonesia. AIDS merupakan sindrom (kumpulan gejala) yang terjadi akibat menurunnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Selatan dan 900/ /tahun di Asia (Soedarmo, et al., 2008).

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Selatan dan 900/ /tahun di Asia (Soedarmo, et al., 2008). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia, terutama di negara yang sedang berkembang. Besarnya angka pasti pada kasus demam tifoid di

Lebih terperinci

FARMASI USD Mei 2008. Oleh : Yoga Wirantara (078114021) Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma

FARMASI USD Mei 2008. Oleh : Yoga Wirantara (078114021) Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Oleh : Yoga Wirantara (078114021) Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Abstrak, Di lingkungan tempat tinggal kita banyak sekali terdapat berbagai macam jenis jamur. Jamur merupakan salah satu organisme

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. morbiditas dan mortalitas pada bayi dan anak-anak. Infeksi mikroba. intrinsik untuk memerangi faktor virulensi mikroorganisme.

BAB I PENDAHULUAN. morbiditas dan mortalitas pada bayi dan anak-anak. Infeksi mikroba. intrinsik untuk memerangi faktor virulensi mikroorganisme. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Urosepsis merupakan respon sistemik terhadap infeksi dimana pathogen atau toksin dilepaskan ke dalam sirkulasi darah sehingga terjadi proses aktivitas proses inflamasi.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh masuk dan berkembang biaknya

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh masuk dan berkembang biaknya BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh masuk dan berkembang biaknya mikroorganisme yaitu bakteri, virus, jamur, prion dan protozoa ke dalam tubuh sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tubuh memiliki pusat pengaturan yang diatur oleh otak. Otak merupakan organ paling besar dan paling kompleks pada sistem saraf. Sistem saraf merupakan sistem fungsional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kandidiasis adalah sekelompok infeksi yang disebabkan oleh Candida

BAB I PENDAHULUAN. Kandidiasis adalah sekelompok infeksi yang disebabkan oleh Candida BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kandidiasis adalah sekelompok infeksi yang disebabkan oleh Candida albicans dan spesies lain dari genus kandida (Pappas, et al., 2009). Ada lebih dari 20 spesies

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) & Acquired Immunodeficieny Syndrome (AIDS) merupakan suatu penyakit yang terus berkembang dan menjadi masalah global yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehidupan manusia tidak dapat lepas dari keberadaan mikroorganisme. Lingkungan di mana manusia hidup terdiri dari banyak jenis dan spesies mikroorganisme. Mikroorganisme

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Ventilator Associated Pneumonia (VAP) merupakan suatu peradangan pada paru (Pneumonia)

BAB I PENDAHULUAN. Ventilator Associated Pneumonia (VAP) merupakan suatu peradangan pada paru (Pneumonia) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ventilator Associated Pneumonia (VAP) merupakan suatu peradangan pada paru (Pneumonia) yang disebabkan oleh pemakaian ventilator dalam jangka waktu yang lama pada pasien

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Candida albicans dan Aspergillus yang menyebabkan mukormikosis. Selama

BAB I PENDAHULUAN. Candida albicans dan Aspergillus yang menyebabkan mukormikosis. Selama BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan jamur. Beberapa spesies jamur merupakan flora normal yang dapat menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sepsis menimbulkan suatu respon imun yang berlebihan oleh tubuh

BAB I PENDAHULUAN. Sepsis menimbulkan suatu respon imun yang berlebihan oleh tubuh BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sepsis menimbulkan suatu respon imun yang berlebihan oleh tubuh terhadap suatu infeksi. 1 Ini terjadi ketika tubuh kita memberi respon imun yang berlebihan untuk infeksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam bidang kesehatan dan perekonomian dunia. Selama empat dekade terakhir

BAB I PENDAHULUAN. dalam bidang kesehatan dan perekonomian dunia. Selama empat dekade terakhir BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas (SCBA) merupakan salah satu kasus kegawatan dibidang gastroenterologi yang saat ini masih menjadi permasalahan dalam bidang kesehatan

Lebih terperinci

Limfoma. Lymphoma / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

Limfoma. Lymphoma / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved Limfoma Limfoma merupakan kanker pada sistem limfatik. Penyakit ini merupakan kelompok penyakit heterogen dan bisa diklasifikasikan menjadi dua jenis utama: Limfoma Hodgkin dan limfoma Non-Hodgkin. Limfoma

Lebih terperinci

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 8 Anak menderita HIV/Aids. Catatan untuk fasilitator. Ringkasan Kasus:

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 8 Anak menderita HIV/Aids. Catatan untuk fasilitator. Ringkasan Kasus: Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Bab 8 Anak menderita HIV/Aids Catatan untuk fasilitator Ringkasan Kasus: Krishna adalah seorang bayi laki-laki berusia 8 bulan yang dibawa ke Rumah Sakit dari sebuah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. satu penyebab kematian utama di dunia. Berdasarkan. kematian tertinggi di dunia. Menurut WHO 2002,

BAB I PENDAHULUAN. satu penyebab kematian utama di dunia. Berdasarkan. kematian tertinggi di dunia. Menurut WHO 2002, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi adalah invasi dan multiplikasi mikroorganisme atau parasit dalam jaringan tubuh (1). Infeksi tidak hanya menjadi masalah kesehatan bagi Indonesia bahkan di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. saluran cerna, dan saluran genitourinarius. Bahkan, jamur ini kadang-kadang dijumpai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. saluran cerna, dan saluran genitourinarius. Bahkan, jamur ini kadang-kadang dijumpai BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Candida sp adalah flora normal pada manusia yang dapat dijumpai pada kulit, saluran cerna, dan saluran genitourinarius. Bahkan, jamur ini kadang-kadang dijumpai pada

Lebih terperinci

REINFORECEMENT BLOK 11 Pemicu 2. DR.Harum Sasanti, drg, SpPM KaDep. Ilmu Penyakit Mulut FKGUI

REINFORECEMENT BLOK 11 Pemicu 2. DR.Harum Sasanti, drg, SpPM KaDep. Ilmu Penyakit Mulut FKGUI REINFORECEMENT BLOK 11 Pemicu 2 DR.Harum Sasanti, drg, SpPM KaDep. Ilmu Penyakit Mulut FKGUI Pengantar Tugas Drg. tidak hanya tahu dan merawat masalah gigi saja, tetapi juga perlu tahu dan sebisa mungkin

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. baik usia muda maupun tua (Akphan dan Morgan, 2002). Kandidiasis oral

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. baik usia muda maupun tua (Akphan dan Morgan, 2002). Kandidiasis oral I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kandidiasis oral merupakan infeksi jamur yang sering terjadi pada manusia baik usia muda maupun tua (Akphan dan Morgan, 2002). Kandidiasis oral disebabkan oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Infeksi virus dengue maupun demam berdarah dengue (DBD) merupakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Infeksi virus dengue maupun demam berdarah dengue (DBD) merupakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infeksi virus dengue maupun demam berdarah dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan global. Dalam tiga dekade terakhir terjadi peningkatan angka kejadian penyakit di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid merupakan penyakit infeksi tropik sistemik, yang disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam tifoid merupakan infeksi bakteri sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang dijumpai di berbagai negara berkembang terutama di daerah tropis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. virus DEN 1, 2, 3, dan 4 dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegepty dan Aedesal

BAB I PENDAHULUAN. virus DEN 1, 2, 3, dan 4 dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegepty dan Aedesal 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Infeksi dengue masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi. Infeksi dengue disebabkan oleh virus DEN 1,

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Infeksi Nosokomial Infeksi nosokomial adalah infeksi yang berkenaan atau berasal dari rumah sakit, digunakan untuk infeksi yang tidak ada atau mengalami masa inkubasi sebelum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Infeksi saluran napas bawah masih tetap merupakan masalah utama dalam bidang kesehatan, baik di negara yang sedang berkembang maupun yang sudah maju. Data

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. seseorang selama di rumah sakit (Darmadi, 2008). Infeksi nosokomial merupakan

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. seseorang selama di rumah sakit (Darmadi, 2008). Infeksi nosokomial merupakan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infeksi nosokomial dapat diartikan sebagai infeksi yang diperoleh seseorang selama di rumah sakit (Darmadi, 2008). Infeksi nosokomial merupakan salah satu penyebab utama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Infeksi bakteri yang berkembang menjadi sepsis yang merupakan suatu respon tubuh dengan adanya invasi mikroorganisme, bakteremia atau pelepasan sitokin akibat pelepasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terutama obat yang mengalami eliminasi utama di ginjal (Shargel et.al, 2005).

BAB I PENDAHULUAN. terutama obat yang mengalami eliminasi utama di ginjal (Shargel et.al, 2005). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ginjal merupakan organ penting dalam mengatur kadar cairan dalam tubuh, keseimbangan elektrolit, dan pembuangan sisa metabolit dan obat dari dalam tubuh. Kerusakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi yang ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri dalam saluran kemih, meliputi infeksi diparenkim

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Apendisitis akut merupakan penyebab akut abdomen yang paling sering memerlukan

BAB 1 PENDAHULUAN. Apendisitis akut merupakan penyebab akut abdomen yang paling sering memerlukan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Apendisitis akut merupakan penyebab akut abdomen yang paling sering memerlukan tindakan pembedahan. Keterlambatan dalam penanganan kasus apendisitis akut sering menyebabkan

Lebih terperinci

ABSTRAK. UJI EFEK ANTIFUNGI EKSTRAK AIR TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria) SECARA IN VITRO TERHADAP Candida albicans

ABSTRAK. UJI EFEK ANTIFUNGI EKSTRAK AIR TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria) SECARA IN VITRO TERHADAP Candida albicans iv ABSTRAK UJI EFEK ANTIFUNGI EKSTRAK AIR TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria) SECARA IN VITRO TERHADAP Candida albicans Bernike Yuriska M.P, 2009; Pembimbing I: Endang Evacuasiany,Dra.,Apt.M.S.AFK Pembimbing

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kanker payudara adalah pertumbuhan sel yang abnormal pada jaringan payudara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kanker payudara adalah pertumbuhan sel yang abnormal pada jaringan payudara 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker payudara adalah pertumbuhan sel yang abnormal pada jaringan payudara seseorang, yang bersifat buruk, sifat tumbuhnya sangat cepat, merusak, menyebar dan menyebabkan

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Immunitas Niken Andalasari Sistem Imunitas Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah. kesehatan yang terus berkembang di dunia. Peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah. kesehatan yang terus berkembang di dunia. Peningkatan BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus berkembang di dunia. Peningkatan penyakit infeksi ini dapat memberikan pengaruh terhadap penggunaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Demam typhoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut pada usus halus yang disebabkan oleh Salmonella enterica serotype typhi (Salmonella typhi) (Kidgell

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Istilah onikomikosis merupakan suatu istilah yang merujuk pada semua

BAB I PENDAHULUAN. Istilah onikomikosis merupakan suatu istilah yang merujuk pada semua BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Istilah onikomikosis merupakan suatu istilah yang merujuk pada semua kelompok infeksi jamur yang mengenai kuku, baik itu merupakan infeksi primer ataupun infeksi sekunder

Lebih terperinci

BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala

BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). 10,11 Virus ini akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan terapi saluran akar bergantung pada debridement

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan terapi saluran akar bergantung pada debridement BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Keberhasilan terapi saluran akar bergantung pada debridement chemomechanical pada jaringan pulpa, debris pada dentin, dan penggunaan irigasi terhadap infeksi mikroorganisme.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus RNA berpilin tunggal. HIV menginfeksi dan membunuh helper (CD4) T lymphocytes. Sel-sel lainnya yang mempunyai protein

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (40 60%), bakteri (5 40%), alergi, trauma, iritan, dan lain-lain. Setiap. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013).

BAB I PENDAHULUAN. (40 60%), bakteri (5 40%), alergi, trauma, iritan, dan lain-lain. Setiap. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013). 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang disebabkan oleh virus (40 60%), bakteri (5 40%), alergi, trauma, iritan, dan lain-lain. Setiap tahunnya ± 40 juta

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Infeksi bakteri yang berkembang menjadi sepsis, merupakan suatu respons

BAB 1 PENDAHULUAN. Infeksi bakteri yang berkembang menjadi sepsis, merupakan suatu respons BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi bakteri yang berkembang menjadi sepsis, merupakan suatu respons tubuh terhadap invasi mikroorganisme, bakteremia atau pelepasan sitokin akibat pelepasan endotoksin

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sel Cluster of differentiation 4 (CD4) adalah semacam sel darah putih

BAB 1 PENDAHULUAN. Sel Cluster of differentiation 4 (CD4) adalah semacam sel darah putih BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sel Cluster of differentiation 4 (CD4) adalah semacam sel darah putih atau limfosit. Sel tersebut adalah bagian terpenting dari sistem kekebalan tubuh, Sel ini juga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human Immunodeficiency Virus(HIV) dan penyakitacquired Immuno

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human Immunodeficiency Virus(HIV) dan penyakitacquired Immuno BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Infeksi Human Immunodeficiency Virus(HIV) dan penyakitacquired Immuno Deficiency Syndrome(AIDS) saat ini telah menjadi masalah kesehatan global. Selama kurun

Lebih terperinci

FORM UNTUK JURNAL ONLINE. : Keberhasilan Terapi Tingtura Podofilin 25% Pada Pasien AIDS Dengan. Giant Condyloma Acuminatum

FORM UNTUK JURNAL ONLINE. : Keberhasilan Terapi Tingtura Podofilin 25% Pada Pasien AIDS Dengan. Giant Condyloma Acuminatum : : Keberhasilan Terapi Tingtura Podofilin 25% Pada Pasien AIDS Dengan Giant Condyloma Acuminatum Tanggal kegiatan : 23 Maret 2010 : GCA merupakan proliferasi jinak berukuran besar pada kulit dan mukosa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Diabetes Mellitus (DM) merupakan gangguan metabolisme dengan. yang disebabkan oleh berbagai sebab dengan karakteristik adanya

BAB I PENDAHULUAN. Diabetes Mellitus (DM) merupakan gangguan metabolisme dengan. yang disebabkan oleh berbagai sebab dengan karakteristik adanya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) merupakan gangguan metabolisme dengan karakteristik adanya tanda-tanda hiperglikemia akibat ketidakadekuatan fungsi dan sekresi insulin (James,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetic foot merupakan salah satu komplikasi Diabetes Mellitus (DM).

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetic foot merupakan salah satu komplikasi Diabetes Mellitus (DM). BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Diabetic foot merupakan salah satu komplikasi Diabetes Mellitus (DM). Diabetic foot adalah infeksi, ulserasi, dan atau destruksi jaringan ikat dalam yang berhubungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang. Infeksi nosokomial atau Hospital-Acquired Infection. (HAI) memiliki kontribusi yang besar terhadap tingkat

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang. Infeksi nosokomial atau Hospital-Acquired Infection. (HAI) memiliki kontribusi yang besar terhadap tingkat BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Infeksi nosokomial atau Hospital-Acquired Infection (HAI) memiliki kontribusi yang besar terhadap tingkat mortalitas di dunia. Infeksi nosokomial menempati urutan keempat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kanker kepala dan leher merupakan salah satu tumor ganas yang banyak

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kanker kepala dan leher merupakan salah satu tumor ganas yang banyak I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kanker kepala dan leher merupakan salah satu tumor ganas yang banyak terjadi didunia dan meliputi sekitar 2,8% kasus keganasan (Jemal dkk., 2006). Kanker kepala

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengisian alveoli oleh eksudat, sel radang dan fibrin. Pneumonia masih

BAB I PENDAHULUAN. pengisian alveoli oleh eksudat, sel radang dan fibrin. Pneumonia masih BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius. Pneumonia ditandai dengan konsolidasi

Lebih terperinci