BAB 2 LANDASAN TEORI
|
|
|
- Hengki Sonny Budiono
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 2 LANDASAN TEORI 2. Metode Pengukuran Kinera Perusahaan Tradisional Institusi perbankan mempunyai peranan yang vital dalam perekonomian suatu negara. Karena itu, sangat penting bagi pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan perekonomian untuk mengetahui baik atau buruknya kinera bank-bank yang ada. Sampai saat ini, sudah banyak penelitian-penelitian yang dilakukan untuk mengukur kinera industri perbankan di Indonesia, baik industri perbankan nasional secara keseluruhan maupun pengukuran kinera untuk masing-masing bank. Pengukuran-pengukuran tersebut umumnya menggunakan metode pengukuran kinera perusahaan yang dapat digunakan untuk mengukur kinera perbankan. Metode-metode tersebut antara lain adalah: Analisis trend Analisis common-size Analisis rasio keuangan 2.. Analisis Trend Analisis ini dilakukan dengan cara mengamati data-data perbankan yang dianggap mewakili kinera perbankan selama periode pengamatan. Misalnya, pengukuran return on asset pada beberapa bank tertentu selama periode tertentu. Dengan melakukan analisis terhadap data-data ini, akan dapat diketahui kinera bank-bank tersebut selama periode pengamatan, apakah membaik atau malah sebaliknya. Hasil dari analisis ini uga dapat digunakan untuk melakukan forecast terhadap kinera bank di masa datang. Komponen-komponen yang sering digunakan dalam melakukan analisis trend antara lain adalah total aset, laba bersih, return on equity (ROE) dan return on asset (ROA). Pengamatan terhadap komponen-komponen tersebut dilakukan tiap periode pengamatan, sehingga dapat ditentukan, apakah teradi peningkatan atau penurunan di masing-masing periode. Pengamatan terhadap komponen- 8
2 9 komponen ini uga dilakukan terhadap bank-bank lain yang dianggap sebagai peer (bank-bank serupa) dari bank yang dievaluasi tersebut ( dalam persen ) BANK C BANK B BANK E BANK D.00 BANK A Grafik 2. Analisis Trend pada Rasio Return on Asset sumber: Penulis Grafik 2. di atas, memuat contoh analisis trend dari 5 bank. Grafik tersebut merekomendasikan bahwa kinera Bank A dan D kurang baik, Bank B dan Bank E cukup baik dan Bank C mempunyai kinera yang paling baik diantara 5 bank tersebut. Meskipun Bank A saat ini mempunyai kinera yang kurang baik, analisis trend memperkirakan bahwa kinera Bank A ke depan akan membaik dilihat dari tren kineranya yang semakin baik Analisis Common-Size Analisis common-size dilakukan dengan cara menyatakan akun-akun yang terdapat para laporan neraca sebagai presentase dari total aktiva dan akun-akun yang terdapat pada laporan laba-rugi sebagai presentase dari total pendapatan. Seperti halnya analisis trend, analisis common-size ini uga tidak hanya dilakukan pada satu bank saa namun uga dilakukan terhadap beberapa bank-bank lainnya
3 0 yang dianggap sebagai peer dari bank yang akan dievaluasi. Contoh analisis common-size dapat dilihat pada tabel 2.. di bawah ini. Tabel 2. Contoh Analisis Common-Size 3 Bank Perbandingan Laporan Laba Rugi Laporan Keuangan (milyar) Common Size (%) Bank X Bank Y Bank Z Bank X Bank Y Bank Z Total Pendapatan 25,57 25,06 8, % 00.0% 00.0% Jumlah Pendapatan Bunga 22,333 23,24 6, % 92.9% 86.3% Jumlah Pendapatan Operasional Lainnya 3,238,775 2, % 7.% 3.7% Jumlah Beban Bunga 0,446 6,553 6, % 26.2% 35.2% Total Beban Operasional 8,949 0,907 5, % 43.6% 3.5% Laba (Rugi) Operasional 6,76 7,780 6, % 3.% 33.3% Laba (Rugi) Bersih 4,346 4,838 4, % 9.3% 23.7% sumber : Penulis Dengan melakukan perbandingan antara bank yang dievaluasi dengan bank-bank peer-nya, akan dapat diidentifikasi pada area mana bank tersebut memiliki kinera yang lebih baik atau lebih buruk dibandingkan dengan bank peer-nya. Misal dilakukan pengukuran kinera terhadap bank Z. Secara umum bank Z mempunyai kinera paling baik, ditandai paling besarnya persentase laba bersih dan laba operasionalnya terhadap total pendapatan. Namun Bank Z perlu mengikuti Bank Y dalam mencari kreditur dan debitor, karena Bank Y mempunyai presentase beban bunga paling kecil dibandingkan ketiga bank lainnya, hal ini menunukkan bahwa kemungkinan bank Y mempunyai interest margin (selisih antara interest rate kredit dan sumber dana ) yang besar Analisis Rasio Keuangan Analisis rasio keuangan digunakan untuk mengetahui risiko dan kinera perusahaan. Pengolahan data dalam bentuk rasio adalah penting, karena dengan mengolah data keuangan perusahaan menadi bentuk rasio memungkinkan untuk membandingkan risiko dan kinera perusahaan-perusahaan dengan ukuran yang berbeda. Dengan analisis rasio ini, bisa diketahui karakteristik-karakteristik perusahaan baik dari sisi operasional, finansial dan investasinya.
4 Banyak sekali rasio-rasio keuangan yang dapat digunakan untuk mengukur kinera perusahaan, namun untuk industri perbankan, rasio-rasio yang digunakan berbeda dengan industri lainnya. Rasio-rasio yang sering digunakan oleh para analis untuk mengukur kinera industri perbankan antara lain adalah return on asset (ROA), non performing loan (NPL), capital adequacy ratio (CAR), loan to deposit ratio (LDR), net interest margin (NIM) dan BOPO. Penelasan dari masing-masing rasio keuangan tersebut di atas adalah : Rasio capital adequacy ratio (CAR). mod al CAR ratio...(2.) aktiva tertimbang menurut risiko - modal: dana yang berasal dari para pemilik saham bank sendiri - aktiva tertimbang menurut risiko: umlah dari aktiva produktif yang dimiliki perbankan dengan pembobotan sesuai dengan enis aktivanya. Semakin tinggi rasio ini menunukkan kemampuan bank tersebut untuk melakukan ekspansi (penyaluran kredit) karena perbandingan antara modal dan aktiva berisiko masih kecil. Rasio net interest margin (NIM). NIM ratio pendapa tan bunga beban bunga aktiva produktif...(2.2) - Pendapatan bunga: pendapatan yang didapatkan dari kredit-kredit yang disalurkan oleh bank tersebut. - Beban bunga: biaya yang harus dibayarkan oleh bank ketika menerima dana dari nasabah atau sumber dana lainnya. - aktiva produktif: aktiva yang menghasilkan bunga sebagai pendapatan bank tersebut. Semakin tinggi rasio ini menunukkan semakin tingginya kemampuan bank ini dalam menghasilkan profit, karena kemampuan bank tersebut dalam mencari
5 2 sumber dana yang murah kemudian menyalurkan dalam bentuk kredit dengan tingkat bunga yang tinggi. Rasio non performing loan (NPL). NPL ratio total kredit bermasalah total kredit...(2.3) - kredit bermasalah : dana yang disalurkan kepada masyarakat yang sedang dalam keadaan telat bayar lebih dari 90 hari melewati masa atuh tempo - kredit : dana perbankan yang disalurkan kepada masyarakat Ketika perbankan memberikan fasilitas kredit kepada masyarakat, ada kemungkinan fasilitas kredit tersebut tidak dapat dikembalikan baik bunga ataupun pokoknya lebih dari 90 hari melewati masa atuh temponya. Kredit dalam keadaan seperti ini dinamakan kredit bermasalah. Semakin besar rasio ini menunukkan proporsi kredit bermasalah semakin besar, dan menunukkan kinera yang buruk dari bank tersebut. Rasio loan to Deposit (LDR). total kredit yang disalurkan Loan to Deposit rasio (2.4) dana pihak ketiga yang ada Rasio ini mengukur presentase kredit yang disalurkan terhadap total dana pihak ketiga (dana dalam bentuk deposito, tabungan dan giro) yang ada di bank tersebut. Semakin tinggi rasio ini menunukkan semakin banyaknya dana yang disalurkan dalam bentuk kredit dibandingkan total DPK-nya, sehingga profitabilitasnya semakin tinggi. Namun di lain sisi, kemampuan likuiditasnya menadi semakin rendah. Sehingga untuk rasio LDR ini perlu ditentukan tingkat yang optimal, sehingga bank tersebut mampu menghasilkan keuntungan dari pembayaran bunga kredit namun tetap menaga likuiditasnya. Rasio return on asset (ROA). laba bersih Re turn on Asset ratio...(2.5) total aset
6 3 - Laba bersih : keuntungan yang dihasilkan oleh bank setelah pendapatan total dikurangi biaya operasional, beban bunga, beban paak dan semua beban lainnya. - Total aset : semua aktiva yang menadi milik bank tersebut, baik yang lancar maupun yang tetap. Rasio ini mengukur keuntungan yang mampu dihasilkan perusahaan dibandingkan dengan total aset dari perusahaan. Semakin tinggi rasio ini menunukkan semakin banyaknya keuntungan bersih yang dihasilkan perusahaan dengan menggunakan aset yang dimilikinya, yang menunukkann semakin baiknya kinera bank yang bersangkutan. Beban operasional per pendapatan operasional (BOPO) beban operasional BOPO...(2.6) pendapa tan operasional - Beban operasional : semua biaya yang dikeluarkan oleh bank dalam melakukan operasinya pada periode tertentu. - Pendapatan operasional : total pendapatan yang dihasilkan oleh bank dengan melakukan aktivitasnya pada periode tertentu. Rasio ini menunukkan porsi biaya operasional yang diperlukan dalam rangka menghasilkan keuntungan dalam operasional bank tersebut. Semakin rendahnya rasio ini, menunukkan semakin baiknya bank tersebut dalam menekan biaya operasional. Rasio-rasio yang akan dipakai dalam karya akhir ini adalah NPL, LDR, ROA dan BOPO karena menyesuaikan dengan sisi perbankan yang diukur yaitu sisi intermediasi dan profitabilitas. Rasio NPL dan LDR mengukur kinera perbankan dari sisi intermediasi sedangkan rasio ROA dan BOPO mengukur kinera perbankan dari sisi profitabilitas. 2.2 Metode Data Envelopment Analysis (DEA) Bank adalah sebuah organisasi yang mempunyai sumber daya (input) yang digunakan mencapai sasaran-sasaran tertentu (output). Kemampuan menghasilkan
7 4 output yang semaksimal mungkin dengan menggunakan sumber daya (input) yang ada, merupakan hal yang diharapkan. Kinera sebuah bank dapat dilihat dari kemampuan bank tersebut dalam menggunakan sumber daya (input) yang dimilikinya untuk menghasilkan target (output) yang semaksimal mungkin. Hal ini menadi dasar pemikiran dari pengukuran kinera dengan metode Data Envelopment Analysis (DEA). DEA merupakan metode pengukuran kinera yang saat ini secara internasional sudah banyak digunakan oleh para akademisi dan praktisi untuk melakukan pengukuran kinera institusi perbankan baik secara eksternal (perbankan secara luas) maupun secara internal (untuk masing-masing bank). Adapun bank-bank yang diukur dengan metode DEA ini disebut decision making unit (DMU) 2.2. Pengenalan Metode Data Envelopment Analysis. Selama ini, efisiensi dihitung dengan menggunakan rasio, misalnya dengan membagi satu output dengan satu input. Pada tahun 962, Farrell dan Fieldhouse mengembangkan teknik baru yang memungkinkan digunakannya banyak output dan input secara bersamaan. Mereka melakukan pembobotan untuk masing-masing input dan output, dan efisiensi ditentukan dengan membagi umlah terbobot output dengan umlah terbobot input. Persamaan matematisnya dapat dilihat di bawah ini : Efisiensi teknikal unit J : s u f yr ui y + u y us y 2 2 s...( 2.7) vx + v2 x vm xm v x r m i i i dimana : x i nilai input ke i th di unit v i pembobo tan untuk input ke i th y r nilai output ke r th di unit u r pembobo tan untuk output ke r th Kendala utama metode Farrell adalah menentukan pembobotan yang pantas untuk tiap DMU. Kendala ini mampu diselesaikan oleh Charnes, Cooper
8 5 dan Rhodes. Pendekatan yang mereka lakukan memungkinkan tiap DMU untuk memilih sendiri pembobotan input dan output untuk mencapai efisiensi tertinggi. Metode ini disebut Data Envelopment Analysis atau DEA. DEA sangat efektif untuk mengukur kinera DMU-DMU yang dalam beroperasi melibatkan banyak input dan output. Tidak seperti model-model parametric seperti analisis regresi, DEA tidak memerlukan bentuk fungsional yang ditentukan sebelumnya, yang berarti pemodelan yang digunakan akan bebas untuk membentuk frontier (batas) dari DMU-DMU yang efisien. Batas yang dibentuk tersebut dinamakan production frontier. DMU yang tidak berada pada production frontier, dinilai tidak efisien. Ada dua model dasar dari DEA yaitu model CCR, yang didasarkan pada asumsi constant returns to scale (CRS), dan model BCC, yang didasarkan asumsi variable returns to scale (VRS). CCR menggunakan asumsi CRS, dimana bertambahnya nilai input akan menyebabkan adanya pertambahan nilai pada output secara proporsional. Grafik 2.2 mengilustrasikan production frontier dengan pemodelan CCR. 5 4 Production Frontier Output 3 2 Production Possibility Set Input Grafik 2.2 Production Frontier Pemodelan CCR sumber : A Comphrehensive DEA-Solver Software, Second Edition
9 6 Model BCC didasarkan pada asumsi VRS, dimana bertambahnya nilai input, akan menyebabkan adanya pertambahan nilai output namun dengan proporsi yang bervariasi, tergantung pada besarnya ukuran DMU tersebut. Grafik 2.3 mengilustrasikan production frontier dengan pemodelan BCC. 5 4 PRODUCTION FRONTIER Output 3 2 Production Possibility Set Input Grafik 2.3 Production Frontier Pemodelan BCC sumber: A Comphrehensive DEA Solver Software, Second Edition Persyaratan Pemodelan DEA Pemodelan DEA memerlukan beberapa kondisi untuk dapat menghasilkan hasil pemodelan yang akurat dan tidak bias, antara lain : Decision Making Unit (unit-unit yang diukur dalam pemodelan) harus beroperasi pada lingkungan yang homogen. Input dan output yang digunakan harus mewakili aktifitas dari decision making unit (DMU) yang diukur. Tiap DMU harus mempunyai data input dan output yang lengkap. Untuk menaga tercukupinya degrees of freedom, umlah DMU yang diukur harus memenuhi persamaan di bawah ini : n max{ m x s,3( m + s) }...(2.8)
10 7 Dimana : n umlah minimum DMU m umlah input dan s umlah output Model Charnes, Cooper & Rhodes (CCR) Model CCR (persamaan 3) menghitung global technical efficiency (gabungan technical efficiency dan scale efficiency) untuk tiap DMU. Persamaan 3 merupakan pengembangan dari persamaan ; pemodelan CCR memungkinkan tiap DMU untuk menentukan sendiri pembobotan input dan output-nya masingmasing. Pembobotan ini dimasukkan sebagai variabel (u,v) ke dalam pemodelan dan berlaku selama nilai efisien (θ) berada diantara 0 sampai. Denominator disebut virtual input dan numerator disebut virtual output. Maximize s ur yro r θ m... (2.9) v x i i io ur yr r subect to :, m v x s i i i Untuk : u r 0 ; r,..., s ; v 0; i,..., m ; x 0;,..., n ; y 0;,..., n i i r Dimana : x i nilai input ke i th di unit v i pembobo tan untuk input ke i th y r nilai output ke r th di unit u r pembobo tan untuk output ke r th Persamaan Linear Programming CCR Dua bentuk linear programming dapat digunakan untuk menyelesaikan model CCR dengan lebih sederhana dibandingkan persamaan 3. Bentuk persamaan primal linear program CCR : s Maximize r θ u y r ro...(2.0)
11 8 subect to : s r m i m ur yr vi xi ;,..., n i vi xi0 ; dan ur, vi 0 Linear program (LP) primal di atas menormalisasikan constraints dengan menggunakan denominator pada persamaan 2 dan menggunakan numerator sebagai fungsi obyektif (yaitu maksimalisasi persamaan 4). Bentuk persamaan dual linear program CCR: Minimize m s + θ s i + sr...(2.) i r subect to : θ x io n x λ s i i 0 n y λ s s r + r + r y ro + λ 0 ;,..., n ; si 0; i,..., m ; sr 0; r,..., s Bentuk LP dual ini, lebih cepat diselesaikan dibandingkan LP primal dikarenakan mempunyai constraint yang lebih sedikit. LP dual dibentuk dengan memasangkan dual variabel di masing-masing batasan. Technical efficiency atau radial efficiency ditentukan pada perhitungan awal; θ melambangkan proporsi input yang dibutuhkan untuk menghasilkan nilai output pada DMU yang efisien. Sebagai contoh, ika θ, maka DMU itu dianggap efisien. Jika θ 0. 65, berarti DMU tersebut seharusnya mampu menghasilkan tingkat output-nya dengan hanya memakai 65% input saat ini. Pada perhitungan selanutnya, mix efficiency atau slacks ditentukan. + Kelebihan input atau kekurangan output diwakili oleh variabel slack dan. Slack digunakan untuk menggambarkan pergerakan linear menuu frontier, namun tidak seperti pergerakan yang diasosiasikan dengan s i s r θ. Jika θ dan kedua slack bernilai 0, maka tidak ada mix inefficiency dan DMU tersebut dapat dikatakan fully efficient. Jika sebuah DMU itu efisien maka nilai θ dari persamaan 3,4 dan 5 akan bernilai sama.
12 9 Nilai efisiensi dari tiap DMU ditentukan relatif berdasarkan nilai efisiensi dari DMU lainnya. Tabel 2.2 dihalaman berikut mengklasifikasikan enis-enis efisiensi DMU hasil pemodelan CCR. Tabel 2.2 Jenis Efisiensi Decision Making Unit Hasil Pemodelan DEA Nilai θ, slacks 0 Nilai θ, slacks > 0 Nilai θ <, (input oriented) Nilai θ >, (output oriented) Jenis Efisiensi Fully efficient Weakly efficient Inefficient Inefficient sumber : Pengukuran Kinera Perbankan dengan Metode DEA oleh Denise Ho Orientasi Optimalisasi CCR Optimalisasi pemodelan CCR dapat berorientasi pada input dan pada output. CCR berorientasi input (CCR-Input) bertuuan untuk meminimalkan input untuk mendapatkan tingkat output tertentu. Hasil dari pemodelan CCR-Input akan memberikan rekomendasi bagi DMU-DMU yang tidak efisien, seberapa banyak input yang harus dikurangi dalam mencapai output yang ada untuk mencapai tahap efisien. Sedangkan pemodelan CCR berorientasi output (CCR-Output) bertuuan untuk memaksimalkan output dengan tingkat input tertentu. Hasil dari pemodelan CCR-Output akan memberikan rekomendasi bagi DMU-DMU yang tidak efisien, seberapa besar output perlu ditingkatkan dengan input yang ada untuk mencapai tahap efisien Model Banker, Charnes and Cooper (BCC) Pemodelan BCC lebih fleksibel karena memungkinkan asumsi variabel return to scale (VRS); production frontier-nya terdiri dari garis-garis lurus yang membentuk lengkungan. Pemodelan BCC membuat pemodelan dengan banyak input dan output menadi satu virtual input dan output (persamaan 6). Satu variabel baru yaitu u ~ o, ditambahkan untuk melakukan estimasi terhadap economies of scale. Jika nilai ~ u o 0, maka θ B akan sama dengan
13 20 pemodelan CCR, karena itu DMU tersebut beroperasi dengan asumsi CRS. Jika ~ u o < 0, maka DMU tersebut beroperasi pada decreasing return to scale, dan bila ~ u o > 0 maka DMU tersebut beroperasi pada increasing return to scale. DMU yang beroperasi pada keadaan constant return to scale, akan mengalami output yang bertambah proporsional dengan penambahan input. DMU yang beroperasi dengan keadaan increasing return to scale akan mengalami output yang bertambah dengan proporsi lebih besar dibandingkan penambahan input, sedangkan DMU yang beroperasi dengan keadaan decreasing return to scale akan mengalami output yang bertambah dengan proporsi lebih kecil dibandingkan penambahan input. Maximize s ur yro u o r θ B (2.2) m v x i i io ~ subect to : s r u r m i y r v x i u i ~ o ;,..., n, Untuk : ur 0; r,..., s ; vi 0; i,..., m ; u o : unrestrictred ~ Persamaan Linear Programming BCC Sebagaimana dengan pemodelan CCR, dua bentuk linear programming dapat digunakan untuk menyelesaikan model BCC dengan lebih sederhana. Bentuk persamaan primal linear program BCC : Maximize subect to : m ~ θ B ur yro u o...(2.3) r s r m ur yr vi xi u o 0;,..., n i ~ m i vi xi0 ; dan ur, vi 0; u o : unrestricted Bentuk persamaan dual linear program BCC : ~
14 2 Minimize Z o m s + θ si + sr...(2.4) i r subect to : θ x io n x λ s i i 0 n y λ r s + r y ro n λ + λ 0 ;,..., n ; si 0; i,..., m ; sr 0; r,..., s Orientasi Optimalisasi BCC Sama dengan pemodelan CCR, Optimalisasi pemodelan BCC dapat berorientasi pada input dan pada output. BCC berorientasi input (BCC-Input) bertuuan untuk meminimalkan input untuk mendapatkan tingkat output tertentu. Hasil dari pemodelan BCC-Input akan memberikan rekomendasi bagi DMU- DMU yang tidak efisien, seberapa banyak input yang harus dikurangi dalam mencapai output yang ada untuk mencapai tahap efisien. Sedangkan pemodelan BCC berorientasi output (BCC-Output) bertuuan untuk memaksimalkan output. Hasil dari pemodelan BCC-Output akan memberikan rekomendasi bagi DMU-DMU yang tidak efisien, seberapa besar output perlu ditingkatkan dengan input yang ada untuk mencapai tahap efisien Returns to Scale Konsep returns to scale pertama kali diperkenalkan kepada DEA pada pemodelan BCC. Pada pemodelan CCR, asumsi yang dipakai adalan constant returns to scale (CRS), dimana kemiringan production frontier konstan dan peningkatan pada input menyebabkan bertambahnya output secara proporsional. Model BCC memungkinkan perubahan kemiringan production frontier dan teradinya tiga situasi dibawah ini : Munculnya constant returns to scale (CRS) ketika produktifitas marginal sama dengan produktifitas rata-rata. Hal ini mewakili keadaan most productive scale size (MPSS)
15 22 Munculnya increasing returns to scale (IRS) ketika produktifitas marginal lebih besar dari produktifitas rata-rata. Dalam hal ini, penambahan input akan menyebabkan penambahan output dengan proporsi lebih besar. Munculnya decreasing returns to scale (DRS) ketika produktifitas marginal lebih kecil dari produktifitas rata-rata. Dalam hal ini, penambahan pada input akan menyebabkan penambahan output dengan proporsi lebih kecil Pada pemodelan di bawah asumsi VRS, variabel melambangkan nilai intercept dari garis lurus, sehingga dapat diindikasikan daerah mana yang beroperasi dengan keadaan CRS, IRS maupun DRS. Grafik 2.4 di halaman berikut mengilustrasikan mengenai konsep returns-to-scale. DMU C dan D terletak pada frontier CCR dan BCC, sehingga dalam keadaan global technical efficient. DMU tersebut beroperasi pada keadaan CRS dan ada dalam most productive scale size. DMU A dalam keadaan technically efficient namun tidak scale efficient dan beroperasi pada keadaan IRS, sedangkan DMU B uga technically efficient namun tidak scale efficient dan beroperasi pada keadaan DRS. Sedangkan DMU lainnya tidak efisien secara BCC. u ~ o 6 5 CCR Frontier 4 Output 3 D B F Decreasing Returns to Scale Area Constant Returns to Scale Area 2 C E G Increasing Returns to Scale Area A BCC Frontier Grafik 2.4 Daerah IRS, CRS dan DRS sumber : A Comphrehensive DEA-Solver Software, Second Edition. Input
16 Pemodelan Lanutan Pemodelan dengan Pembatasan Pembobotan Pemodelan DEA dasar tidak memerlukan informasi awal mengenai pembobotan pada input dan output dan membebaskan masing-masing DMU untuk menentukan pembobotan pada input dan output. Namun, kadang-kadang hasil dari pemodelan DEA dasar itu menghasilkan production frontier yang tidak realistis dan tidak mungkin dicapai. Bila hal itu teradi, pembatasan pembobotan perlu dilakukan untuk mendapatkan production frontier yang realistis dan mungkin dicapai. Dua pemodelan yang sering dipakai dalam melakukan pembatasan pembobotan adalah metode cone-ratio dan metode assurance region. Metode cone-ratio dikembangkan oleh Charnes et al pada tahun 989. Metode ini membatasi daerah yang mungkin dipakai sebagai nilai pembobotan, dengan cara membentuk polyhedral convex cones yang didefinisikan oleh vektor arah yang non-negative. Metode assurance region dikembangkan oleh Thompson et al, yang membolehkan pihak yang melakukan pemodelan untuk melakukan pembatasan nilai pembobotan atau menggunakan rasio untuk membatasi pembobotan. Pembatasan nilai pembobotan bisa diformulasikan sebagai berikut L < v i < U i, dimana merupakan batas bawah dan U merupakan batas atas. Sedangkan rasio Li digunakan bila tidak ada batas pasti yang ada, tetapi ada batas proporsional yang bisa digunakan. Sebagai contoh di sebuah bank, tiap pengawas maksimum mengawasi 5 orang teller Variabel Non-Discretionary Dua model dasar DEA mengasumsikan bahwa variabel input dan output dari DMU yang diukur dapat dipengaruhi sampai tingkat tertentu oleh manaemen dan pihak lainnya yang terlibat dalam proses. Variabel-variabel seperti ini disebut dengan discretionary variable (D). Namun, ada keadaan dimana manaemen sama sekali tidak punya kontrol terhadap variabel, variabel seperti ini disebut dengan non-discretionary variable (ND). Misal, sebuah pemodelan menggunakan
17 24 populasi di suatu daerah sebagai salah satu input. Pihak manaemen tentunya tidak mempunyai kontrol terhadap umlah populasi tersebut. Bila manaemen memasukkan variabel ND seperti populasi itu sebagai variabel normal, akan menyebabkan rekomendasi dari hasil pemodelan DEA menadi tidak realistis. Sebagai contoh, hasil pemodelan DEA bisa saa merekomendasikan untuk meningkatkan tingkat pendidikan dari populasi di sekitar cabang bank tersebut. Hal yang tentunya ada di luar kontrol dari manaemen. Untuk menyelesaikan masalah ini, variabel ND dipindahkan dari fungsi obyektif dan dimasukkan hanya pada constraint. Banker dan Morey (986) mengembangkan modifikasi dari model CCR untuk mengakomodasi adanya variabel ND, dengan formulasi di bawah ini : Minimize subect to s + θ ε s i + sr...(2.9) iεd r θ x y xio io ro n n n x λ + s x λ + s i i y λ s r i i, i D, i ND + r, r,..., s Huruf D dan ND, mengacu pada discreationary dan non-discreationary input. Dikarenakan ND tidak bisa dirubah oleh manaemen, maka θ tidak bisa diaplikasikan pada variabel ini sehingga input ini dianggap nilainya yang tetap Interpretasi Hasil Pemodelan Data-data yang dihasilkan dari pemodelan DEA antara lain adalah : Production frontier yang berisikan DMU-DMU yang efisien Nilai efisiensi untuk masing-masing DMU Sebuah peer group untuk masing-masing DMU inefisien yang terdiri dari DMU-DMU yang efisien yang paling mirip dengan DMU inefisien. Target efisiensi untuk tiap DMU inefisien.
18 25 Input slack untuk tiap DMU inefisien (kelebihan input yang digunakan) Output slack untuk tiap DMU inefisien (kekurangan output yang dihasilkan) Technical dan Scale Efficiency Pemodelan CCR memakai asumsi keadaan constant returns to scale; dimana skala produksi diasumsikan tidak akan mempengaruhi tingkat efisiensi dan hanya satu tingkat efisiensi yang digunakan yaitu overall efficiency, yang uga disebut global technical efficiency (TE). Pemodelan BCC mampu mengukur scale efficiency (SE) dan local pure technical efficiency (PTE). Untuk pemodelan BCC, DMU-DMU beroperasi pada salah satu keadaan returns to scale yaitu CRS, IRS dan DRS Perhitungan Nilai Efisiensi Nilai efisiensi dihitung dengan mengukur arak sebuah DMU ke production frontier. Perhitungan nilai efisiensi ini berdasarkan grafik 2.5 di halaman berikut. Tabel 2.3 menunukkan nilai efisiensi yang dihitung untuk DMU D. Pada pemodelan CCR-Input, DMU D mempunyai TE sebesar Sedangkan pada pemodelan BCC, tingkat PTE dari DMU D adalah DMU D harus mengurangi input-nya sebanyak 37% untuk menadi locally technically efficient dan sebanyak 52% untuk menadi technically efficient. Pada pemodelan berorientasi output, nilai TE dari D adalah 2.5 dan nilai PTE-nya adalah.74. Maksudnya, DMU D perlu meningkatkan output-nya
19 26 sebnyak 5% untuk menadi technically efficient, tetapi hanya perlu meningkatkan outputnya sebanyak 74% untuk bisa menadi PTE efficient. Perbedaan antara PTE dan TE adalah scale efficiency. Scale inefficiency dihitung dengan mengukur arak antara BCC frontier dan CCR frontier. Persamaan sederhana antara hubungan ketiga efisiensi ini adalah : Technical efficiency(te) Pure technical efficiency (PTE) x Scale efficiency (SE) Output C 0 9 B 8 E 7 6 D 5 4 A Input Grafik 2.5 Dasar Perhitungan Nilai Efisiensi sumber: Penelitian Mengenai DEA oleh Denise Ho Penentuan reference set Tiap DMU yang tidak efisien paling tidak mempunyai satu DMU referensi yang terletak pada batas efisien. DMU yang tidak efisien itu akan dibandingkan terhadap DMU efisien yang paling dekat dengannya. Pada Grafik 2.5 dapat dilihat bahwa DMU D mempunyai peer group referensi dari DMU A dan B dengan pemodelan BCC orientasi input (BCC- Input), atau DMU B dan C pada pemodelan BCC orientasi output (BCC-Output). Jika pemodelan memakai CCR, maka DMU satu-satunya bisa diadikan referensi adalah DMU B, karena hanya DMU B yang terletak di batas efisien.
20 27 Sebuah DMU akan mempunyai satu atau lebih peer yang efisien. Reference set (peer group) ditentukan dengan cara menemukan DMU yang paling mirip dengan DMU yang bersangkutan. Nilai lambda (λ) melambangkan proporsi dari tiap DMU yang efisien yang membentuk CMU hipotesa yang harus ditiru oleh DMU yang tidak efisien. Sebagai contoh, DMU D harus mengurangi inputnya sehingga mencapai nilai λ )( x ) + ( λ x ) dalam rangka mencapai nilai ( A A B B technical efficient Keunggulan dan Kekurangan Metode DEA Keunggulan-keunggulan metode DEA antara lain adalah : DEA mampu memproses banyak input dan output secara simultan Tidak memerlukan asumsi dasar mengenai bentuk fungsional dari suatu sistem produksi. Satuan input dan output dapat berbeda ( seperti mata uang, luas area, umlah karyawan, dll) Tiap DMU menentukan sendiri nilai efisiensi tertingginya dengan menentukan pembobotannya sendiri. Meskipun metode DEA sudah bisa menyelesaikan masalah-masalah pengukuran kinera yang sebelumnya tidak dapat diukur oleh metode pengukuran tradisional, namun sebagaimana metode pengukuran kinera lainnya masih saa terdapat beberapa kekurangan, antara lain : DEA tidak mengenali random error. Semua deviasi dari frontier dianggap sebagai inefisiensi. Kesalahan pada pengukuran dapat menghasilkan hasil efisiensi relatif yang bias. Penentuan input dan output sangat rawan terhadap subyektifitas karena ditentukan berdasarkan pertimbangan pihak yang akan melakukan pengukuran kinera, misalnya manaemen. DEA mengukur efisiensi relatif. Karena itu bila DMU-DMU yang mempunyai efisiensi tinggi tidak dimasukkan ke dalam pengukuran, DMU-DMU yang diukur akan terlihat lebih efisien dari yang sebenarnya. Mengasumsikan bahwa data bebas dari kesalahan pengukuran. Sensitif terhadap ketidak-tersediaan data.
21 Pengukuran Kinera Perbankan dengan Pemodelan DEA Fungsi perbankan yang semakin berkembang membuat pelaku bisnis harus melihat perbankan tidak hanya dari satu sisi saa dan begitu pula halnya dalam melakukan pengukuran kinera. Pengukuran kinera perbankan harus dilihat dari beberapa sudut pandang, hal ini membuat semakin rumitnya penentuan input dan output yang tepat dalam melakukan pemodelan DEA, karena berbedanya sudut pandang menyebabkan input dan output yang dipakai akan berbeda. Untuk mengakomodasi hal tersebut, ada beberapa versi dari pemodelan DEA yang sering digunakan dalam melakukan pengukuran kinera perbankan yaitu model produksi, model intermediasi dan model profitabilitas. Model produksi yang biasa disebut output approach, menganggap bank sebagai fasilitas produksi yang mengkonversikan input seperti karyawan, sumber daya dan capital menadi output seperti deposit atau pinaman. Penelitian DEA yang menggunakan model produksi antara lain penelitan oleh Soteriou dan Stavrinides (997), Athanassopoulos (997), Sherman dan Ladino (995) dan Oral et al (990). Model intermediasi memandang bank sebagai intermediator yang menerima input dalam bentuk deposit dan investasi untuk dipinamkan serta output dalam bentuk pinaman, mortgage dan investasi. Pada tahun 997, Athanassopoulos menerbitkan penelitan DEA pertama yang menggunakan model intermediasi untuk meneliti 68 cabang bank di Yunani dengan menggunakan beban bunga dan non-bunga sebagai input dan pendapatan non-bunga serta total nasabah sebagai output. Model profitabilitas, serupa dengan model produksi, uga menganggap bank sebagai fasilitas produksi yang mengubah input menadi output. Namun enis input dan output yang digunakan berbeda dengan model produksi. Oral dan Yolalan (990) melakukan penelitian yang mengukur kinera 20 bank di Turki dengan model profitabilitas. Input yang mereka gunakan adalah beban operasional dan beban bunga, sedangkan output yang digunakan adalah pendapatan bunga dan non-bunga.
22 29 Selain 3 model di atas, pengukuran dengan pemodelan DEA uga dapat dilihat dari sisi eksternal dan internal. Pengukuran secara eksternal biasanya mengambil obyek institusi perbankan nasional suatu negara untuk menentukan rata-rata efisiensi pada bank-bank yang beroperasi di negara tersebut sekaligus untuk mencari bank-bank efisien yang akan diadikan benchmark dalam rangka meningkatkan kinera institusi perbankan secara menyeluruh. Sedangkan pengukuran secara internal, biasanya mengambil obyek cabang-cabang dari sebuah bank. Tuuannya untuk mencari rata-rata efisiensi dari cabang-cabang yang beroperasi sekaligus mencari cabang-cabang yang efisien untuk diadikan benchmark bagi cabang lainnya Pengukuran Kinera Perbankan Eksternal dengan Pemodelan DEA Indonesia saat ini sedang dalam masa transisi dari industri perbankannya. Pengetahuan mengenai baik atau tidaknya kinera industri perbankan nasional sangat diperlukan oleh pelaku-pelaku ekonomi seperti masyarakat, pemerintah, bank sentral, para pengusaha, para investor dan pihak-pihak lainnya. Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia saat ini sedang mendorong bank-bank untuk melakukan konsolidasi dalam rangka memperbaiki struktur modalnya. Selain itu investor asing uga diberi keleluasaan untuk melakukan investasi di Indonesia dengan cara meningkatkan porsi kepemilikan saham dari bank-bank yang ada maupun membuka cabang di Indonesia. Dengan melakukan pengukuran kinera perbankan secara eksternal, akan memberikan masukan apakah kebiakan pemerintah dan Bank Indonesia tersebut ini sudah benar. Beberapa tahun belakangan ini diberbagai negara, banyak akademisi dan praktisi yang melakukan pengukuran kinera institusi perbankan nasionalnya dengan menggunakan pemodelan DEA. Di bawah ini terdapat beberapa penelitian mengenai pengukuran kinera industri perbankan suatu negara. Salah satu penelitian tersebut berudul: Determinants of Commercial Bank Performance in Transition: An Application of Data Envelopment Analysis. Penelitian ini dilakukan oleh David A Grigorian dari International Monetery Fund dan Vlad Manole dari World Bank pada tahun Penelitian ini dilakukan untuk mengukur kinera dari bank-bank di negara-negara Eropa Tengah, Eropa Timur
23 30 dan negara-negara pecahan dari Uni Soviet. Pemodelan yang dipakai dalam penelitian ini adalah model intermediasi dan produksi. Tiga input yang dipakai adalah () karyawan, (2) aktiva tetap dan (3) beban bunga. Sedangkan untuk output-nya dipakai dua buah kombinasi output untuk mewakili model intermediasi dan produksi. Kombinasi output pertama adalah ()pendapatan bunga dan non-bunga, (2) total pinaman bersih dan (3) aktiva lancar termasuk kas, uang di lembaga keuangan lainnya dan treasury bills. Sedangkan kombinasi output kedua adalah () deposit, (2) total pinaman bersih dan (3) aktiva lancar. Penelitian lain yang menggunakan pemodelan DEA, uga dilakukan oleh Igor Jemric dan Boris Vucic dari Bank Nasional Kroasia pada tahun Penelitian ini bertuuan untuk mengukur kinera bank-bank di Kroasia antara tahun Seperti halnya pada negara yang industri perbankannya sedang dalam fase transisi, pengukuran kinera terhadap bank-bank di Kroasia merupakan hal yang sangat penting, mengingat bahwa industri perbankan merupakan lembaga keuangan paling penting di Kroasia, dimana 90% dari total aset institusi keuangan dikelola oleh institusi perbankan. Pemodelan DEA yang dipakai adalah CCR dan BCC, sedangkan pendekatan yang dipakai adalah pendekatan produksi dan intermediasi. Untuk pendekatan produksi, input-input yang dipakai adalah () beban bunga dan beban lainnya, (2) administrasi dan umum (3) beban gai karyawan dan (4) beban lainnya yang belum termasuk dalam beban di atas. Sedangkan output-output yang dipakai adalah () pendapatan bunga dan (2) pendapatan non-bunga. Untuk pendekatan intermediasi, input-input yang dipakai adalah () aktiva tetap dan biaya software, (2) umlah karyawan, dan (3) deposit yang diterima. Sedangkan output-output yang dipakai adalah () total pinaman dan (2) surat berharga angka pendek. Tabel 2.4 di halaman berikut, menunukkan pengukuran kinera perbankan eksternal dengan metode data envelopment analysis yang telah dilakukan peneliti lain.
24 3 Tabel 2.4 Pengukuran Kinera Perbankan Secara Eksternal Peneliti Tipe Pendekatan Salary Expenses Input Output Sampel Earning Assets Richard S Barr, Premises and Fixed Assets Interest Income Bank Komersial Kory A Killgo Intermediation Other Non Interest Expense Non Interest Income Di Amerika Serikat (2002) Interest Expense Fixed Expense Casu and Molyneux Production Total Cost Loan 530 bank di Perancis, (2000) Total customers Other earning assets Jerman, Italia, UK Total deposits dan Spanyol Grigorian and Manole Profit Labor Revenue 074 bank, 7 negara (2002) Fixed assets Net loans di negara Eropa Timur Interest expense Liquid assets dan bekas Rusia Lozano-Vivas, Pastor Production Labor Loan 62 bank di 0 and Hasan (200) Physical capital Deposits negara Eropa Other earning assets Bergendahl (998) Production Personnel Loan 48 bank di Denmark, Material Deposits Finlandia, Swedia Expected credit losses Gross revenue dan Norwegia Sathye (200) Production Labour Loans 29 bank di Australia sumber : penulis Capital Loanable funds Demand deposits Pengukuran Kinera Perbankan Internal dengan Pemodelan DEA Pengukuran kinera perbankan internal dituukan untuk mengukur kinera masing-masing cabang dari suatu bank. Penelitian-penelitian terdahulu kebanyakan memfokuskan kepada kemampuan cabang-cabang tersebut untuk mengatur pengeluaran biaya (cost efficiency). Pavlopoulos dan Kouzelis (989) menggunakan dasar efisiensi biaya dalam mengukur kinera dari 362 cabang Bank Nasional Yunani. Ditemukan bahwa cabang-cabang tersebut beroperasi di bawah economies of scale. Penelitian lain yang menggunakan metode ini dilakukan oleh Zardkoohi dan Kolari (994) yang meneliti 65 cabang dari 43 bank di Finlandia yang ternyata uga beroperasional dengan economies of scale. Pengukuran berdasarkan efisiensi biaya, berfokus pada seauh mana cabang sebuah bank mampu meminimalkan pengeluaran dalam kegiatan operasional tanpa mengurangi mutu pelayanan. Input dan output yang digunakan biasanya merupakan komponen yang ada di bawah kendali dari masing-masing cabang. Pengukuran berdasarkan cost efficiency dapat dilakukan dengan pendekatan profitabilitas maupun intermediasi.
25 32 Selain pendekatan dari sisi biaya (cost efficiency), market efficiency uga mulai digunakan sebagai fungsi dalam mengukur kinera cabang-cabang sebuah bank. Hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Antreas D. Athanassopoulos yang melakukan pengukuran dengan market efficiency yang menyatakan bahwa salah satu tuuan sebuah bank adalah melakukan penetrasi pasar dengan menual produk finansialnya ke konsumen-konsumen baru dengan tetap memberi servis ke pelanggan yang sudah ada. Pengukuran kinera berdasarkan market efficiency berfokus pada seauh mana sebuah cabang bank dengan sumber daya yang tersedia, mampu memaksimalkan penualan. Tabel 2.5 memuat beberapa penelitian terdahulu yang mengukur kinera perbankan secara internal. Input dan output yang dipakai pada penelitianpenelitian tersebut sangat beragam, dan sangat tergantung kepada tuuan masingmasing pengukuran. Data input dan output-nya uga bukan merupakan data-data yang disertakan dalam laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan, data-data tersebut merupakan data-data internal yang sulit didapatkan oleh pihak luar. Sehingga agak sulit bagi peneliti yang bukan merupakan pihak internal perbankan untuk melakukan pengukuran kinera dari masing-masing cabang sebuah bank. Tabel 2.5 Penelitian Terdahulu Mengenai Pengukuran Kinera Cabang Bank Peneliti Input Output Sampel No. of employees Avg monthly : % employee w/ college degree - Net profit Years of experiences - Balance of current accounts 5 cabang bank Al-Fara, Alidi dan Location - Balance of saving accounts di Saudi Arabia Bu-Bushait 993 Expenditure on decoration - Balance of other accounts Avg monthly salaries - Value of mortgages Other operasional expenses Index for loans No. of current accounts Direct labour costs No. of transactions Athanassopoulus Technology facilities Liabilities sakes 998 Loan and mortgages 580 cabang bank Insurance and securities di Inggris No of credit cards sold Personnel Incident duration Soterio dan Zenios Computer Waiting time 999 Space Reliability 44 cabang bank Responsiveness di Cyprus Assurance tangibles Empathy Labour costs Credit card Kantor dan Maital Transactions Weighted output index 999 Area for transactions only Commissions on Exim 250 cabang bank Commercial accounts di Timur Tengah Saving accounts Activity sumber : Penulis
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Bank-bank yang dinilai mempunyai kinerja yang baik dari hasil pengukuran dengan menggunakan pemodelan DEA 1 dan 2 adalah bank-bank yang dimiliki oleh investor
BAB III METODOLOGI. Sudah banyak sekali penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai efisiensi dari DMU,
BAB III METODOLOGI III. 1 Metode Pengukuran Efisiensi Perbankan Sudah banyak sekali penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai efisiensi dari DMU, hal ini terbukti dari jumlah penelitian yang berjumlah
BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan intermediasi memandang bahwa sebuah lembaga keuangan
BAB III METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Pada penelitian ini menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA). Ruang lingkup pada penelitian ini ialah menganalisis pengaruh efisiensi kinerja
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1 Pemilihan Sampel Penelitian menggunakan sampel data sekunder yang diperoleh melalui akses data terhadap Laporan tahunan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL)
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kuantitatif (quantitative method) yaitu suatu metode penelitian yang bertujuan untuk mengetahui efisiensi
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis data sekunder
29 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis data sekunder yang diambil dari beberapa sumber, yaitu data Statistik Perbankan Syariah (SPS)
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 1. Waktu dan Tempat Penelitian Data yang diolah dalam Tugas Akhir ini diambil dari PT. Central Asia Tbk. Menurut waktu pengumpulannya, data yang digunakan adalah data time series,
BAB 2 KAJIAN PUSTAKA
BAB 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1 Konsep Program Linear Program linear merupakan model matematik untuk mendapatkan alternatif penggunaan terbaik atas sumber-sumber organisasi. Kata sifat linear digunakan untuk
III. METODE PENELITIAN
27 III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Initial Public Offering (IPO) adalah proses pertama suatu perusahaan berubah statusnya yaitu dari perusahaan milik perorangan menjadi perusahaan
BAB 1 PENDAHULUAN. bisnis yang berkembang dengan pesat sehingga sangat diperlukan sumber-sumber
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Semakin majunya perkembangan perekonomian saat ini semakin banyak pula bisnis yang berkembang dengan pesat sehingga sangat diperlukan sumber-sumber dana yang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kegiatan usaha perbankan syariah pada dasarnya merupakan perluasan jasa perbankan bagi masyarakat yang membutuhkan dan menghendaki pembayaran imbalan yang tidak didasarkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bank-bank besar di Jepang masih beroperasi di atas skala efisiensi minimum, hasil
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka Penelitian yang dilakukan Drake dan Hall (2003) di Jepang dengan menggunakan pendekatan nonparametrik (DEA) menujukkan hasil bahwa merger bank-bank besar di
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perbankan memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan stabilitas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perbankan memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan stabilitas ekonomi suatu negara. Sebab sektor perbankan mempunyai tugas utama sebagai lembaga penghimpun
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Dari penelitian yang telah dilakukan, dan telah dijelaskan pula di bab-bab sebelumnya, maka dapat di ambil simpulan sebagai berikut: 1. Perkembangan Capital Adequacy
PENGUKURAN KINERJA BANK-BANK DI INDONESIA DENGAN MENGGUNAKAN METODE DATA ENVELOPMENT ANALYSIS TESIS
PENGUKURAN KINERJA BANK-BANK DI INDONESIA DENGAN MENGGUNAKAN METODE DATA ENVELOPMENT ANALYSIS TESIS FAJAR ARIWINADI 0606160493 UNIVERSITAS INDONESIA FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN JAKARTA
BAB VI KESIMPULAN & SARAN
BAB VI KESIMPULAN & SARAN 6.1 Kesimpulan Penelitian ini meneliti, apakah Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), BOPO, Net Interest Margin (NIM) dan Loan to Deposit Ratio (LDR) mampu mempengaruhi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bank merupakan suatu lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bank merupakan suatu lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan (financial intermediary) antara pihak-pihak yang memiliki dana (surplus unit) dengan pihak-pihak
I. PENDAHULUAN. Bank merupakan lembaga keuangan terpenting dan sangat. bank bagi perkembangan dunia usaha juga dinilai cukup signifikan, dimana bank
I. PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Bank merupakan lembaga keuangan terpenting dan sangat mempengaruhi perekonomian baik secara mikro maupun secara makro. Peran bank bagi perkembangan dunia usaha juga dinilai
BAB I PENDAHULUAN. keemasan yang puncaknya ditandai dengan keberhasilan beberapa bank besar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan adanya krisis ekonomi yang menimpa Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 yang menyebabkan merosotnya nilai rupiah hingga terjadinya krisis keuangan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
117 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan pada bab sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan dari hipotesis yang diajukan sebagai berikut : Berdasarkan
BAB 1 PENDAHULUAN. potensi dapat bermanfaat untuk pertumbuhan ekonomi, perlu disalurkan. kegiatan yang produktif. (AnggrainiPutri,2011)
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Globalisasi yang terjadi saat ini telah merubah aspek dalam ekonomi, politik serta budaya. Ekonomi lebih cepat tumbuh membuat lebih banyak pula modal yang diperlukan
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Landasan Teori dan Konsep 2.1.1 Capital Adequacy Ratio (CAR) Menurut Undang-Undang RI nomor 10 tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang perbankan,
BAB I PENDAHULUAN. memiliki fungsi intermediasi yaitu menghimpun dana dari masyarakat yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Menurut UU No.10 tahun 1998 : Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Jumingan (2006:239), kinerja keuangan bank merupakan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kinerja Keuangan 2.1.1 Pengertin Kinerja Keuangan Menurut Jumingan (2006:239), kinerja keuangan bank merupakan gambaran kondisi keuangan bank pada suatu periode tertentu baik
BAB I PENDAHULUAN. perekonomian yang berfungsi sebagai perantara (financial intermediary) antara
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bank merupakan lembaga yang memiliki peran penting dalam perekonomian yang berfungsi sebagai perantara (financial intermediary) antara pihak kelebihan dana
3 KERANGKA PEMIKIRAN. Konsep Efisiensi Produksi
10 produsen. Kelemahan model tersebut menurut Coelli et al. (1998) dan Adiyoga (1999) yaitu: (1) Model tersebut sulit digunakan pada produsen yang menghasilkan dua output; (2) distribusi dari inefisiensi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1.KERANGKA PENELITIAN Penelitian ini dilakukan berdasarkan pada kebutuhan untuk melengkapi analisis benchmarking yang telah dilakukan sebelumnya oleh BUMIDA untuk menentukan
BAB I PENDAHULUAN. Perbankan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan bank, mencakup
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perbankan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan bank, mencakup kelembagaan kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.
BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. periode tertentu. Namun bila hanya melihat laporan keuangan, belum bisa
BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Rasio Keuangan Laporan keuangan merupakan cerminan dari kinerja perusahaan pada satu periode tertentu. Namun bila hanya melihat laporan keuangan, belum
BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 5.1. Analisis Perkembangan Penyaluran Kredit Dalam pelaksanaan aktivitas operasional bank, salah satu upaya yang dilakukan oleh setiap perbankan adalah peningkatan kinerja
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Dari penelitian yang telah dilakukan dan telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil simpulan sebagai berikut: 1. Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian (Yuliani, 2007) (Dendawijaya,2006:120).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perbankan mempunyai peranan penting dalam membangun sistem perekonomian Indonesia. Bank sebagai lembaga keuangan berfungsi sebagai intermediasi atau perantara
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan bank syariah di Indonesia menunjukan arah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan bank syariah di Indonesia menunjukan arah peningkatan, menurut data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kini sudah ada 12 Bank Umum Syariah (BUS),
BAB 1 PENDAHULUAN. lepas dari peran Bank sebagai lembaga keuangan. Menurut Susilo (2000:6) secara
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bank adalah lembaga keuangan yang memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian suatu negara. Perkembangan ekonomi suatu negara tidak lepas dari peran Bank
BAB I PENDAHULUAN. Industri perbankan memegang peranan penting bagi pembangunan ekonomi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Industri perbankan memegang peranan penting bagi pembangunan ekonomi sebagai financial intermediary atau perantara pihak yang kelebihan dana dengan pihak
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 LandasanTeori Profitabilitas perbankan adalah suatu kondisi yang menggambarkan kesanggupan atau kemampuan bank dalam mendapatkan laba (Malayu S.P. Hasibuan, 1996).Profitabilitas
ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN PT. BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) TBK DENGAN PT.BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK. Nama : Sarah Natya
ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN PT. BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) TBK DENGAN PT.BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK Nama : Sarah Natya Dosen Pembimbing: Erny Pratiwi, SE, MMSI Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN. besar atau paling tidak sama dengan return (imbalan) yang dikehendaki
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pasar modal didefinisikan sebagai tempat terjadinya transaksi jual beli berbagai instrumen atau sekuritas jangka panjang (Gunawan, 2012). Kehadiran pasar modal ini merupakan
BAB I PENDAHULUAN. menjadi acuan dalam perekonomian suatu negara. Menurut UU No 10 Tahun
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kondisi dunia perbankan di Indonesia telah mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu. Bank yang pada awal kemunculannya di Indonesia sejak penjajahan Belanda
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ada lima penelitian terdahulu tentang ROA (Return on Aseet) yang
12 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Ada lima penelitian terdahulu tentang ROA (Return on Aseet) yang dijadikan rujukan dalam penelitian ini, yaitu penelitian yang dilakukan oleh : 1. Tan
BAB I PENDAHULUAN. menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia berkembang sejalan dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perbankan mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Sejarah menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia berkembang sejalan dengan perkembangan lembaga perbankan.
EVALUASI DUA TAHAP EFISIENSI CABANG BANK MENGGUNAKAN DATA ENVELOPMENT ANALYSIS (DEA)
EVALUASI DUA TAHAP EFISIENSI CABANG BANK MENGGUNAKAN DATA ENVELOPMENT ANALYSIS (DEA) Oleh : Vivit Ninda Mayangsari (1207 100 030) Dosen Pembimbing: Drs. Sulistiyo,, MT 1 Latar Belakang Rumusan Masalah
BAB I PENDAHULUAN. sejak adanya Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Eksistensi perbankan syariah di Indonesia saat ini semakin meningkat sejak adanya Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah yang memberikan
UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Sistem keuangan merupakan salah satu hal yang krusial dalam masyarakat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sistem keuangan merupakan salah satu hal yang krusial dalam masyarakat modern. Sistem pembayaran dan intermediasi hanya dapat terlaksana bila ada sistem keuangan
BAB 1 PENDAHULUAN. termasuk Indonesia. Sektor perbankan berfungsi sebagai perantara keuangan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perbankan dalam perekonomian suatu negara memiliki fungsi dan peranan yang sangat penting. Perbankan merupakan salah satu sub sistem keuangan yang paling penting
BAB 5 PENUTUP. normal. Berdasarkan uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas,
BAB 5 PENUTUP 5.1 Simpulan Selama periode pengamatan menunjukkan bahwa data penelitian berdistribusi normal. Berdasarkan uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Tingkat Kesehatan Bank Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004, tingkat kesehatan bank adalah hasil penilaian kualitatif
BAB I PENDAHULUAN. menunjang berjalannya roda perekonomian mengingat fungsinya sebagai
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Perbankan mempunyai peran yang sangat vital dalam pencapaian tujuan nasional yang berkaitan dalam peningkatan dan pemerataan taraf hidup masyarakat serta
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dunia perbankan Indonesia semakin menghadapi banyak tantangan, terutama menghadapi pasar global. Di dalam melaksanakan bisnis, perbankan Indonesia akan dihadapkan
BAB I PENDAHULUAN. strategi bisnis dalam skala internasional agar dapat bertahan bahkan lebih
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Memasuki era globalisasi telah mendorong entitas bisnis melakukan strategi bisnis dalam skala internasional agar dapat bertahan bahkan lebih berkembang. Strategi bisnis
BAB V SIMPULAN DAN SARAN. dengan menggunakan pendekatan CAMELS pada data penelitian yang digunakan
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan analisis kinerja keuangan BPR Konvensional di Jawa dan Sumatera dengan menggunakan pendekatan CAMELS pada data penelitian yang digunakan antara tahun 2007
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Sektor perbankan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Sektor perbankan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan ekonomi dalam sebuah negara. Bank memegang peranan penting dalam menyeimbangkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Penelitian ini merujuk pada dua penelitian sebelumnya yaitu : 1. Sofan Hariati (2012) Peneliti terdahulu yang dijadikan rujukan oleh penulis adalah peneliti
BAB I PENDAHULUAN. pihak yang kelebihan dana (surplus spending unit), kemudian menempatkanya
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bank adalah sebuah lembaga atau perusahaan yang aktivitasnya menghimpun dana berupa giro, deposito tabungan dan simpanan yang lain dari pihak yang kelebihan
BAB I PENDAHULUAN. Menurut Taswan (2006:4), bank adalah lembaga keuangan atau
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Taswan (2006:4), bank adalah lembaga keuangan atau perusahaan yang aktivitasnya menghimpun dana berupa giro, deposito, tabungan dan simpanan lainnya dari pihak
BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh rasio keuangan Capital
BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh rasio keuangan Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR), Non Performing Loan (NPL), BOPO, dan Net
BAB I PENDAHULUAN. perusahaan pada umumnya, bank juga berorientasi untuk mendapatkan laba yang
BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat dari tugas akhir ini. Berikutnya diuraikan mengenai batasan masalah dan sistematika
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam dunia modern sekarang ini, pertumbuhan dan perkembangan perekonomian suatu negara tergantung pada lembaga keuangannya. Lembaga keuangan terutama perbankan berperan
BAB I PENDAHULUAN. terjadi perkembangan yang sangat pesat dari tahun-tahun sebelumnya. Hal
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kondisi perbankan di Indonesia saat ini memang sangat baik, dimana terjadi perkembangan yang sangat pesat dari tahun-tahun sebelumnya. Hal tersebut terlihat dari berkurangnya
ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAN KESEHATAN BANK. Muniya Alteza
ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAN KESEHATAN BANK Muniya Alteza Laporan Keuangan Bank Tujuan pembuatan laporan keuangan bank: 1. Memberikan informasi keuangan tentang jumlah aktiva da jenis aktiva yang dimiliki
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan analisis data dan pembahasan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Perkembangan Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI A. Bank dan Perbankan Secara sederhana bank dapat diartikan sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek penelitian merupakan salah satu faktor yang tidak dapat dipisahkan dari suatu penelitian. Menurut Suharsimi Arikunto (2010:161), objek penelitian adalah
BAB I PENDAHULUAN. ini berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentukbentuk lainnya
BAB 1 PENDAHULUAN. bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan ekonomi. Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah
1 A. Latar Belakang Penelitian BAB 1 PENDAHULUAN Di negara seperti Indonesia, bank memegang peranan penting dalam pembangunan karena bukan hanya sebagai sumber pembiayaan untuk kredit investasi kecil,
BAB III METODE PENELITIAN. Sampel bank umum syariah yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bank Syariah Mandiri
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Sampel Penelitian Sampel bank umum syariah yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bank Syariah Mandiri (BSM) dan Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan bank konvensional yang
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Pengertian perbankan dalam pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No.10 Tahun
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Landasan Teori dan Konsep 2.1.1 Pengertian Bank Pengertian perbankan dalam pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No.10 Tahun 1998 adalah segala sesuatu yang menyangkut
ANALISIS EFISIENSI KINERJA MENGGUNAKAN MODEL DATA ENVELOPMENT ANALYSIS (DEA) PADA PT XYZ
ANALISIS EFISIENSI KINERJA MENGGUNAKAN MODEL DATA ENVELOPMENT ANALYSIS (DEA) PADA PT XYZ ZA IMATUN NISWATI 081385659518 [email protected] Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Matematika
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Seiring dengan adanya krisis ekonomi yang menimpa Indonesia sejak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan adanya krisis ekonomi yang menimpa Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 yang menyebabkan merosotnya nilai rupiah hingga terjadinya krisis keuangan
BAB I PENDAHULUAN. dikenal dengan istilah di dunia perbankan adalah kegiatan funding (Kasmir, 2008:
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Bank merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan, artinya aktivitas perbankan selalu berkaitan dalam bidang keuangan. Aktivitas perbankan yang pertama
BAB 1 PENDAHULUAN. (Nopirin, 2009:34). Kelangkaan dana yang dimiliki dunia perbankan memicu
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada pertengahan tahun 1997 Indonesia mengalami krisis ekonomi yang terus berkelanjutan. Pada akhir tahun 1997, suku bunga untuk jangka waktu bulanan di Bank
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Loan to Deposit Ratio (LDR) 2.1.1 Pengertian Loan to Deposit Ratio (LDR) Pengertian Loan to Deposit Ratio menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/7/PBI/2013 Tentang
BAB I PENDAHULUAN. dalam kegiatan ekonomi. Karena perbankan mempunyai fungsi utama sebagai
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perbankan merupakan salah satu sarana yang mempunyai peranan strategis dalam kegiatan ekonomi. Karena perbankan mempunyai fungsi utama sebagai lembaga perantara (financial
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan di PT. Bank Sahabat Sampoerna karena pada tanggal 9 Mei
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Penelitian dilakukan di PT. Bank Sahabat Sampoerna karena pada tanggal 9 Mei 2011 merupakan tonggak sejarah dimana secara resmi PT Sampoerna Investama
