PEDOMAN AKADEMIK TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PEDOMAN AKADEMIK TAHUN PELAJARAN 2015/2016"

Transkripsi

1 YAYASAN PERGURUAN MASYARAKAT KALIMANTAN BARAT SMA SEMINARI SANTO PAULUS NYARUMKOP Kec. Singkawang Timur, Kota Singkawang, Kalimantan Barat HP / PEDOMAN AKADEMIK TAHUN PELAJARAN 2015/2016 NYARUMKOP SINGKAWANG 2015 PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 0

2 VISI SEKOLAH: "Menjadi SMA Katolik yang unggul, humanis dan religius di Indonesia" MISI SEKOLAH: Menyediakan pelayanan pendidikan yang berorientasi pada sanctitas, sanitas, scientia bagi generasi muda, sehingga menjadi kompeten, inklusif, dan berpikir filosofis dalam menjawab berbagai tantangan. TUJUAN LEMBAGA/SEKOLAH: 1. Menyediakan model pendidikan yang memungkinkan pembentukan generasi muda yang unggul dalam iman & takwa, berbudi pekerti luhur, berpikir filosofis, bersikap rasional dan dinamis, berpandangan luas, dan inklusif. 2. Meningkatkan profesionalisme warga sekolah melalui pelatihan dan pemberdayaan sehingga mampu memberikan pelayanan pendidikan yang berkualitas prima. 3. Memberikan pelayanan pendidikan yang inovatif, berkualitas dan mengimplementasikan kurikulum dengan konsekuen, efektif dan efisien. 4. Mempersiapkan dan kaderisasi generasi muda sebagai calon pemimpin yang memiliki spiritualitas kristiani, humanis, dan visioner. 5. Mempersiapkan dan kaderisasi generasi muda untuk ambil bagian dalam pewartaan Injil Kabar Gembira Kerajaan Allah. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 1

3 KEPUTUSAN KEPALA SEKOLAH NOMOR: 136/SMASNYK/Kep-SK/VI/2015 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA PENGASIH KEPALA SMA SEMINARI SANTO PAULUS NYARUMKOP Menimbang : bahwa dalam rangka implementasi Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah tahun ajaran, perlu menetapkan Peraturan Akademik tahun pelajaran 2015/2016. Mengingat : 1. Undang undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan 3. Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Memperhatikan : 1. Kurukulum Tingkat Satuan Pendidikan SMA Seminari Santo Paulus Nyarumkop Tahun Akademik 2015/ Rapat Dewan Pendidik dan Tenaga Kependidikan tanggal 15 Juni 2015 MEMUTUSKAN Menetapkan : Pedoman Pengelolaan Pendidikan SMA Seminari Santo Paulus Nyarumkop tahun akademik 2015/2016 Pertama : Rincian Pedoman Pengelolaan Pendidikan SMA Seminari Santo Paulus Nyarumkop tahun akademik 2015/2016 terlampir dalam Surat Keputusan ini. Kedua : Rincian Pedoman Pengembangan Kurikulum SMA Seminari Santo Paulus Nyarumkop tahun akademik 2015/2016 terlampir dalam Surat Keputusan ini Ketiga : Rincian Pedoman Pembinaan Kesiswaan SMA Seminari Santo Paulus Nyarumkop tahun akademik 2015/2016 terlampir dalam Surat Keputusan ini Keempat : Rincian Pedoman Penggunaan Sarana-Prasarana SMA Seminari Santo Paulus Nyarumkop tahun akademik 2015/2016 terlampir dalam Surat Keputusan ini Kelima Jika terdapat kekeliruan dalam keputusan ini di kemudian hari akan diadakan perubahan sebagaimana mestinya Keenam : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di : Nyarumkop Pada Tanggal : 30 Juni 2015 Kepala Sekolah, P. Meriko, OFMCap., S.Ag., M.A. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 2

4 Bagian Pertama PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI SANTO PAULUS TAHUN 2015/2016 BAB I KEGIATAN PEMBELAJARAN Pasal 1 Pengaturan Pembelajaran SMA Seminari Santo Paulus Nyarumkop melaksanakan sistem pembelajaran: 1. Setiap hari Jam Tatap Muka dimulai pukul diatur sebagai berikut: a. Pukul dipergunakan untuk kegiatan doa & renungan harian, kecuali hari Senin. b. Hari Senin Rabu: Jam Tatap Muka I dimulai pukul dan Jam Tatap Muka VIII: berakhir pukul 13.45; 1 JTM = 40 menit. c. Hari Kamis Jumat: Jam Tatap Muka I dimulai pukul dan Jam Tatap Muka VII: berakhir pukul 13.40; JTM = 45 menit d. Hari Sabtu:Jam Tatap Muka I dimulai pukul dan Jam Tatap Muka V: berakhir pukul 11.00; Pkl : peserta didik Kerja OSIS, Staf mengikuti Rapat Mingguan atau mendampingi kerja peserta didik 2. Selama Jam Sekolah berlangsung peserta didik tidak diperkenankan membawa/ menggunakan HP. 3. Peserta Didik wajib hadir dan mengikuti Kegiatan Pembelajaran minimal 90% dari hari efektif yang ada dalam tiap semester. 4. Apabila Peserta Didik tidak hadir dalam Kegiatan Pembelajaran peserta didik wajib menyampaikan surat permohonan ijin kepada Wali Kelas 5. Agar Kegiatan Pembelajaran berjalan efektif, hal-hal lain yang berhubungan dengan Kegiatan Pembelajaran diatur secara rinci dalam Tata Tertib Peserta Didik. BAB II KEGIATAN PENILAIAN Pasal 2 Pengaturan Tentang Kegiatan Penilaian 1. Peserta didik yang dapat mengikuti kegiatan penilaian, baik yang berupa Ulangan Harian (UH), Ulangan Tengah Semester (UTS), Ulangan Akhir Semester (UAS), Ulangan Kenaikan Kelas (UKK), Ujian Sekolah (US), maupun Ujian Nasional (UN), apabila peserta didik memenuhi kehadiran dalam Kegiatan Pembelajaran Tatap Muka minimal 90% 2. Jenis Penilaian yang diselenggarakan di SMA Seminari Santo Paulus adalah: a. Ulangan-ulangan pada Semester Gasal: (Untuk kelas X, XI dan XII) PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 3

5 (1) Ulangan Harian (UH) disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mata pelajaran (Nilai Tugas untuk pencapaian KD setara dengan Nilai UH) (2) Ulangan Remidiasi & Pengayaan (3) Latihan Ujian (khusus untuk kelas XII) (4) Ulangan Tengah Semester (UTS) dan (5) Ulangan Akhir Semester (UAS). b. Ulangan pada Semester Genap :(untuk kelas X & XI) (1) Ulangan Harian (UH) disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mata pelajaran (Nilai Tugas untuk pencapaian KD setara dengan Nilai UH) (2) Ulangan Remidiasi & Pengayaan (3) Ulangan Tengah Semester (UTS) dan (4) Ulangan Kenaikan Kelas (UKK) c. Ulangan pada Semester Genap :(untuk kelas XII) (1) Ulangan Harian (UH) disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mata pelajaran (Nilai Tugas untuk pencapaian KD setara dengan Nilai UH) (2) Ulangan Remidiasi & Pengayaan (3) Latihan-latihan Ujian (4) Tes Penjajagan Hasil Belajar Peserta didik(tphbs) (5) Ujian ujian : Ujian Praktik, Ujian Sekolah dan Ujian Nasional 3. Penghitungan nilai raport/lhbs (NR) Semester Gasal adalah: 7(Rata rata Ulangan Harian) +1.5 (Ulangan Tengah Semester) +1.5(Ulangan Akhir Semester) dibagi 10, secara umum ditulis: NR = 7(RT2 UH) + 1.5(UTS) + 1.5(UAS) Penghitungan nilai raport/lhbs (NR) Semester Genap adalah: 7(Rata rata Ulangan Harian) (Ulangan Tengah Semester ) (Ulangan Akhir Semester ) dibagi 10, secara umum ditulis : NR = 7(RT2 NH) + 1.5(UTS) + 1.5(UKK) NH (Nilai Harian) dapat berasal dari Nilai Ulangan Harian dan/atau Nilai Tugas Pasal 3 Kegiatan Remidiasi dan Pengayaan 1. Apabila hasil Ulangan Harian yang dicapai peserta didik > 50% di bawah KKM maka guru mata pelajaran harus memberikan pengajaran ulang KD tersebut baru kemudian diadakan kegiatan remidiasi. 2. Apabila hasil UH peserta didik 50% sama dengan KKM, maka peserta didik yang mendapat nilai dibawah KKM wajib mengikuti kegiatan Remidi sedang peserta didik yang nilainya > KKM dapat diberi kegiatan pengayaan. 3. Ketentuan banyaknya remidiasi disesuaikan kebutuhan dan waktu yang ditentukan oleh guru mata pelajaran, sebelum masuk ke KD berikutnya. Jika remediasi ke-1 belum sama dengan KKM atau masih belum tuntas, maka peserta didik berhak mengikuti remediasi ke-2, tetapi jika nilai remidiasi yang ke-1 sudah sama atau melebihi KKM, maka tidak perlu mengikuti remidiasi yang ke-2. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 4

6 4. Apabila diperlukan guru mata pelajaran dapat menambahkan kegiatan remidiasi. 5. Nilai hasil remidiasi tertinggi adalah sama dengan KKM, namun apabila nilai terendah UH di atas batas KKM maka peserta didik yang mengikuti remidiasi dapat diberi nilai terendah peserta didik yang tidak wajib mengikuti remidiasi. 6. Setelah kegiatan UAS Gasal/UKK tidak diselenggarakan kegiatan remidiasi oleh karenanya peserta didik diharapkan mempersiapkan diri dengan sebaikbaiknya. BAB III KENAIKAN KELAS DAN PENJURUSAN Pasal 4 Kenaikan Kelas Ketentuan kenaikan kelas diberlakukan aturan sebagai berikut: 1. Kriteria Kenaikan Kelas dari Kelas X ke kelas XI: Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun pelajaran dengan kriteria sebagai berikut : a. Peserta didik memperoleh nilai minimal tuntas pada penilaian akhir tahun pelajaran untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani dan olah raga dan kesehatan. Dalam hal ini mata pelajaran: Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Jasmani Olah Raga dan Kesehatan, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi wajib tuntas (> KKM) b. Peserta didik dinyatakan tidak naik ke kelas XI apabila yang bersangkutan memiliki nilai (KKM) lebih dari 3 (tiga) mata pelajaran. c. Kehadiran peserta didik pada kegiatan Tatap Muka minimal 90% 2. Kriteria Kenaikan Kelas dari Kelas XI ke kelas XII: Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun pelajaran dengan kriteria sebagai berikut : a. Peserta didik memperoleh nilai minimal tuntas pada penilaian akhir tahun pelajaran untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani dan olah raga dan kesehatan. Dalam hal ini mata pelajaran: Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Jasmani Olah Raga dan Kesehatan, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi wajib tuntas (> KKM) b. Peserta didik dinyatakan tidak naik ke kelas XII apabila yang bersangkutan memiliki nilai kurang/tidak tuntas KKM lebih dari 3 (tiga) mata pelajaran dan bukan pada mata pelajaran yang menjadi ciri khas program yang akan diambilnya. (Program Studi IIA: Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi; sedangkan Program Studi IIS: Ekonomi, Sosiologi, Geografi, dan Sejarah) c. Kehadiran peserta didik pada kegiatan tatap muka / KBM minimal 90% dari waktu efektif yang ada. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 5

7 Pasal 5 Penjurusan Program Studi 1. Ketentuan dan Penentuan Penjurusan Program Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial, dan dilakukan pada akhir semester 2 kelas X. 2. Peserta didik harus menyelesaikan seluruh program pembelajaran sesuai dengan jenjang kelas yang ditempuhnya (dengan pertimbangan seluruh SK atau KD yang belum tuntas pada semester 1, harus dituntaskan sampai mencapai KKM yang ditetapkan sebelum akhir semester 2). 3. Pelaksanaan Penjurusan Program dilakukan pada semester 1 kelas XI. 4. Penjurusan Program didasarkan atas : a. Nilai akademik Peserta didik yang naik ke kelas XI dan akan mengambil Program Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial boleh memiliki nilai yang tidak tuntas paling banyak 3 (tiga) mata pelajaran, namun bukan pada mata pelajaran yang menjadi ciri khas atau program studi Ilmu Alam atau Ilmu Sosial yang akan dipilihnya. b. Minat Peserta Didik Untuk mengetahui minat peserta didik dapat dilakukan melalui angket/kuesioner dan wawancara yang dilakukan oleh guru BK dan Wali Kelas dengan dasar hasil belajar peserta didik untuk mengidentifikasi minat dan bakat peserta didik agar sesuai dengan pilihannya. c. Tes intelegensia & bakat yang diadakan oleh sekolah bekerjasama dengan lembaga yang kompeten di bidangnya. 5. Syarat khusus Penjurusan: a. Program IPA Selain memenuhi syarat umum penjurusan program, peserta didik yang akan memilih program IPA, peserta didik harus memenuhi kriteria: nilai pada mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi wajib tuntas KKM dan memiliki nilai rata rata pada keempat mata pelajaran tersebut minimal 65 b. Program IPS Selain memenuhi syarat umum penjurusan program, peserta didik yang akan memilih program Bahasa, peserta didik harus memenuhi kriteria: nilai pada mata pelajaran Ekonomi, Sosiologi, Geografi dan Sejarah minimal tuntas KKM dan memiliki nilai rata rata pada keempat mata pelajaran tersebut minimal Batas waktu pindah program studi paling lambat satu bulan setelah KBM dimulai. BAB IV KELULUSAN Pasal 6 Pengaturan Kelulusan 1. Sesuai dengan ketentuan PP 19 Tahun 2005 pasal 72 ayat 1, peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan dasar dan menengah setelah : a. menyelesaikan seluruh program pembelajaran. Artinya: seluruh mata pelajaran telah tuntas (mencapai KKM. b. memperoleh nilai BAIK pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani dan olah raga dan kesehatan. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 6

8 c. lulus Ujian Sekolah (tertulis dan praktik) untuk kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 2. Kriteria peserta didik yang dinyatakan lulus secara rinci sesuai dengan ketentuan / aturan lain yang mengatur tentang kelulusan yang lain (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, Prosedur Operasi Standar Tentang Ujian Nasional & BSNP yang diberlakukan tahun berjalan). BAB V KEGIATAN EKSTRAKURIKULER Pasal 7 Pengaturan tentang Kegiatan Ekstrakurikuler: 1. Peserta Didik kelas X wajib mengikuti kegiatan Ekstrakurikuler Agama Katolik dan Pertanian/Perikanan 2. Peserta Didik kelas X & XI wajib memilih 1 (satu) jenis ekstrakurikuler yang difasilitasi sekolah. 3. Peserta Didik wajib hadir dan mengikuti Kegiatan Ekstrakurikuler minimal 90% dari waktu efektif yang ada dalam tiap semester. 4. Bagi peserta didik yang tidak memenuhi kehadiran 90% dengan alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan akan diberikan sanksi sesuai yang diatur dalam Tata Tertib peserta didik SMA Seminari Santo Paulus. BAB VII KEDISIPLINAN Pasal 8 Pengaturan Kedisiplinan Peserta didik tertuang dalam Buku Tata Tertib Peserta Didik SMA Seminari Santo Paulus Nyarumkop. BAB VIII PENGGUNAAN FASILITAS BELAJAR Pasal 9 Pengaturan / Ketentuan Peserta didik menggunakan fasilitas belajar diatur dalam Tata Tertib Penggunaan Fasilitas (Sarana-Prasarana) Belajar. BAB IX KONSULTASI AKADEMIK Pasal 10 Konsultasi Dengan Penasihat Akademik 1. Seluruh peserta didik berhak berkonsultasi tentang perkembangan prestasi akademis dan/atau perkembangan kepribadian kepada Penasehat Akademiknya. 2. Para peserta didik yang akan berkonsultasi sebelumnya mengadakan perjanjian terlebih dahulu dengan menyesuaikan jadwal masing-masing. 3. Apabila keadaan sangat mendesak, para peserta didik berhak langsung berkonsultasi kepada guru yang bersangkutan bersedia melayani. 4. Dalam berkonsultasi hendaknya peserta didik tetap menjaga norma-norma kesopanan. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 7

9 Pasal 11 Konsultasi Dengan Guru Mata Pelajaran 1. Seluruh peserta didik berhak berkonsultasi tentang perkembangan prestasi akademis dan/atau perkembangan kepribadian kepada guru mata pelajaran yang mengampunya. 2. Peserta didik yang akan berkonsultasi sebelumnya mengadakan perjanjian terlebih dahulu dengan menyesuaikan jadwal masing-masing. 3. Apabila keadaan sangat mendesak, peserta didik berhak langsung berkonsultasi kepada guru yang bersangkutan bersedia melayani. 4. Dalam berkonsultasi hendaknya peserta didik tetap menjaga norma-norma kesopanan. Pasal 12 Konsultasi Dengan Wali Kelas 1. Seluruh Peserta Disik berhak berkonsultasi tentang perkembangan prestasi akademik, perkembangan kepribadian serta permasalahan kelas kepada wali kelasnya. 2. Peserta didik yang akan berkonsultasi sebelum mengadakan perjanjian terlebih dahulu dengan menyesuaikan jadwal masing-masing. 3. Apabila keadaan sangat mendesak, peserta didik berhak langsung berkonsultasi kepada wali kelas yang bersangkutan bersedia melayani. 4. Dalam berkonsultasi hendaknya peserta didik tetap menjaga norma-norma kesopanan. Pasal 13 Konsultasi Dengan Guru Bimbingan Konseling 1. Seluruh peserta didik berhak berkonsultasi tentang perkembangan (akademis/belajar, karier, pribadi, sosial) kepada guru bimbingan konselingnya. 2. Peserta didik yang akan berkonsultasi, wajib mengadakan pernjanjian terlebih dahulu dengan menyesuaikan jadwal masing-masing. 3. Apabila keadaan sangat mendesak, peserta didik berhak langsung berkonsultasi kepada guru bimbingan konseling dan yang bersangkutan bersedia melayani. 4. Dalam berkonsultasi hendaknya peserta didik tetap menjaga norma-norma kesopanan. Pasal 14 Konsultan Akademik Konsultan Akademik, yang terdiri dari: Penasihat Akademik, Guru Mata Pelajaran, Wali Kelas, dan Guru Mata Pelajaran dituangkan dalam Surat Keputusan Kepala Sekolah tentang Pembagian Tugas. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 8

10 BAB X KETIDAK PUASAN Pasal 15 Mekanisme Penyampaian Ketidakpuasan Agar mekanisme penyampaian ketidakpuasan kepada sekolah efektif dan teratur, maka SMA Seminari Santo Paulus Nyarumkop membuat mekanisme penyampaian ketidakpuasan kepada sekolah sebagai berikut: 1. Tentang Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik: Peserta Didik/ Orang Tua/Wali Wali Kelas Guru BK Guru MP BK/ Guru MP Bid. Kurikulum Bid. Kurikulum KEPALA SEKOLAH 2. Tentang Layanan Administrasi dan Umum: Peserta Didik/ Orang Tua/ Wali Kotak Saran Wali Kelas Guru BK Guru MP Waka. Sekolah Rapat Dewan Pendidik Kepala Sekolah Tindak Lanjut 1. Struktur Kurikulum Kelas X Nomor BAB XI STRUKTUR KURIKULUM DAN PASSING GRADE Pasal 16 Struktur Kurikulum MATA PELAJARAN Semester Gasal KELAS X Semester Genap SI Real SI Real 1 Pendidikan Agama Pendidikan Kewarganegaraan Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Matematika Fisika Biologi Kimia Sejarah Geografi Ekonomi Sosiologi Seni Budaya Penjasorkes Teknologi Informasi & PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 9

11 Nomor Komunikasi MATA PELAJARAN Semester Gasal KELAS X Semester Genap SI Real SI Real 16 Bahasa Latin *) Bimbingan Konseling English Conversation **) Jumlah Jam Tatap Muka = *) Kelas Putra **) Kelas Putri 2. Struktur Kurikulum Kelas XI No. MATA PELAJARAN KELAS XI IA Semester Gasal Semester Genap KELAS XI IS Semester Gasal Semester Genap SI Real SI Real SI Real SI Real 1 Pendidikan Agama Pendidikan Kewarganegaraan Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Matematika Fisika Biologi Kimia Sejarah Geografi Ekonomi Sosiologi Seni Budaya Penjasorkes Teknologi Informasi & Komunikasi Bahasa Latin *) Muatan Lokal (Logika) English Conversation **) Bimbingan Konseling Jumlah Jam Tatap Muka = *) Kelas Putra **) Kelas Putri 3. Struktur Kurikulum Kelas XII No. MATA PELAJARAN KELAS XII IA Semester Gasal Semester Genap KELAS XII IS Semester Gasal Semester Genap SI Real SI Real SI Real SI Real 1 Pendidikan Agama Pendidikan Kewarganegaraan Bahasa Indonesia Bahasa Inggris PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 10

12 No. MATA PELAJARAN KELAS XII IA Semester Gasal Semester Genap KELAS XII IS Semester Gasal Semester Genap SI Real SI Real SI Real SI Real 5 Matematika Fisika Biologi Kimia Sejarah Geografi Ekonomi Sosiologi Seni Budaya Penjasorkes Teknologi Informasi & Komunikasi Bahasa Latin *) English Conversation **) Bimbingan Konseling Jumlah Jam Tatap Muka = *) Kelas Putra **) Kelas Putri Pasal 17 Passing Grade (KKM) SMA Seminari Santo Paulus Nyarumkop menetapkan Passing Grade (KKM) sebagai berikut: No. MATA PELAJARAN Passing Grade Kelas X XI IA XI IS XII IA XII IS 1 Pendidikan Agama Pendidikan Kewarganegaraan Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Matematika Fisika Biologi Kimia Sejarah Geografi Ekonomi Sosiologi Seni Budaya Penjasorkes Teknologi Informasi & Komunikasi Bahasa Latin English Conversation Muatan Lokal (Logika) Demikian Pedoman Akademis SMA Seminari Santo Paulus Nyarumkop Tahun Pelajaran 2015/2016 untuk dipergunakan sebagai mana mestinya. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 11

13 Bagian Kedua PEDOMAN PENGEMBANGAN KURIKULUM SMA SEMINARI SANTO PAULUS NYARUMKOP BAB I STANDAR KOMPETENSI PENDIDIK Pasal 1 Kompetensi Utama Pendidik 1. Standar kompetensi guru ini dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu: a. Kompetensi Pedagogik, meliputi kemampuan: (1) Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual, sosial, kultural, emosional, dan intelektual (2) Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik (3) Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu (4) Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik (5) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. (6) Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. (7) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik (8) Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. (9) Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. (10) Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. b. Kompetensi Kepribadian, meliputi kemampuan: (1) Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia. (2) Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat. (3) Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa. (4) Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri. (5) Menjunjung tinggi kode etik profesi guru. c. Kompetensi Sosial, meliputi kemampuan: (1) Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi. (2) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat. (3) Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 12

14 (4) Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain. d. Kompetensi Profesional, meliputi kemampuan: (1) Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. (2) Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu. (3) Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif. (4) Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif. (5) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri. 2. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru. 3. Kompetensi guru mata pelajaran mengacu pada Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru. BAB II TUGAS PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Pasal 2 Tugas Pokok Pendidik Pendidik (guru) mempunyai 3 (tiga) tugas pokok dalam pengelolaan pembelajaran, meliputi: 1. Membuat perencanaan kegiatan pembelajaran 2. Melaksanakan kegiatan pembelajaran 3. Melakukan evaluasi pembelajaran dan tindak lanjut pembelajaran Pasal 3 Perencanaan Kegiatan Pembelajaran Perencanaan kegiatan pembelajaran yang wajib disiapkan oleh pendidik, meliputi: a. Perangkat Pembelajaran, terdiri dari: (1) Program Tahunan dan Program Semester (2) Analisis Standar Isi (SK-KD) (3) Silabus (4) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (5) Bahan Ajar b. Perangkat Penilaian, terdiri dari: (1) Penetapan Passing Grade atau Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) (2) Perumusan Kisi-kisi Soal (3) Pengembangan Instrumen Penilaian dan Pedoman Penskoram (4) Analisis Hasil Belajar & Penetapan tindak lanjut pembelajaran Pasal 4 Program Tahunan dan Program Semester 1. Program Tahunan merupakan rencana tahunan kegiatan pembelajaran yang memiliki komponen: PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 13

15 a. Perhitungan Alokasi Waktu untuk Semester Gasal dan Genap untuk menghitung Hari Belajar Efektif (HBE) b. Rincian Program memuat Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Alokasi Waktu setiap Kompetensi Dasar 2. Program Semester merupakan rencana terinci untuk mendistribusikan Kompetensi Dasar dan Materi Pokok, serta penjadwalan Ulangan Harian (per- KD) Pasal 5 Analisis Standar Isi 1. Analisis Standar Isi merupakan langkah pertama dalam mengembangkan kurikulum (SK KD) sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan sekolah. 2. Analisis Standar Isi, juga disebut Analisis SK-KD minimal memiliki komponen: a. Identitas Mata Pelajaran b. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar c. Tahap Berpikir KD d. Materi Pokok dan Uraian Materi e. Indikator Pencapaian Kompetensi f. Tahap Berpikir Indikator g. Ruang Lingkup h. Alokasi Waktu Pasal 6 Silabus 1. Silabus merupakan jabaran lanjut dari Analisis Standar Isi yang menjadi acuan pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 2. Silabus memuat komponen: a. Identitas Mata Pelajaran b. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar c. Indikator Pencapaian Kompetensi d. Karakter yang diharapkan terbentuk e. Materi Pokok dan Uraian Materi f. Jenis Materi g. Kegiatan Pembelajaran h. Instrumen Penilaian i. Alokasi Waktu j. Sumber Belajar Pasal 7 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan rancangan arah dan proses kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). 2. RPP memiliki komponen: a. Identitas Mata Pelajaran b. Standar Kompetensi c. Kompetensi Dasar d. Indikator Pencapaian Kompetensi e. Tujuan Pembelajaran PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 14

16 f. Materi Pembelajaran g. Alokasi Waktu h. Metode/Model Pembelajaran i. Nilai Pendidikan Karakter j. Kegiatan Pembelajaran, terdiri dari: 1) Kegiatan Awal (Pendahuluan) 2) Kegiatan Inti, di dalamnya harus memperhatikan: a) Kegiatan Eksplorasi b) Kegiatan Elaborasi c) Kegiatan Konfirmasi 3) Kegiatan Penutup k. Penilaian Hasil Belajar l. Sumber Belajar 3. RPP dibuat per Kompetensi Dasar, artinya satu perangkat RPP hanya memuat satu KD. Pasal 8 Bahan Ajar 1. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. 2. Bahan Ajar dapat berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. 3. Sebuah bahan ajar pasing tidak mencakup: a. Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru) b. Kompetensi yang akan dicapai c. Content atau isi materi pembelajaran d. Informasi pendukung e. Latihan-latihan f. Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK) g. Evaluasi h. Respon atau balikan terhadap hasil evaluasi Pasal 9 Penetapan Passing Grade atau Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 1. Penetapan kriteria minimal ketuntasan belajar merupakan tahapan awal pelaksanaan penilaian hasil belajar sebagai bagian dari langkah pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. 2. Passing Grade atau KKM adalah kriteria paling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan. 3. KKM harus ditetapkan sebelum awal tahun ajaran dimulai. 4. KKM merupakan acuan bersama pendidik, peserta didik, dan orang tua peserta didik. 5. KKM merupakan kontrak pedagogik antara pendidik dengan peserta didik dan antara satuan pendidikan dengan masyarakat. 6. KKM merupakan target satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi tiap mata pelajaran. 7. Penetapan KKM merupakan kegiatan pengambilan keputusan yang dapat dilakukan melalui metode kualitatif dan atau kuantitatif. Metode kualitatif dapat dilakukan melalui professional judgement oleh pendidik dengan mempertimbangkan kemampuan akademik dan pengalaman pendidik mengajar mata pelajaran di sekolahnya. Sedangkan metode kuantitatif dilakukan dengan PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 15

17 rentang angka yang disepakati sesuai dengan penetapan kriteria yang ditentukan; 8. Penetapan nilai kriteria ketuntasan minimal dilakukan melalui analisis ketuntasan belajar minimal pada setiap indikator dengan memperhatikan kompleksitas, daya dukung, dan intake peserta didik untuk mencapai ketuntasan kompetensi dasar dan standar kompetensi 9. Kriteria ketuntasan minimal setiap Kompetensi Dasar (KD) merupakan rata-rata dari indikator yang terdapat dalam Kompetensi Dasar tersebut. Peserta didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan belajar untuk KD tertentu apabila yang bersangkutan telah mencapai ketuntasan belajar minimal yang telah ditetapkan untuk seluruh indikator pada KD tersebut; 10. Kriteria ketuntasan minimal setiap Standar Kompetensi (SK) merupakan ratarata KKM Kompetensi Dasar (KD) yang terdapat dalam SK tersebut; 11. Kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran merupakan rata-rata dari semua KKM-SK yang terdapat dalam satu semester atau satu tahun pembelajaran, dan dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar (LHB/Rapor) peserta didik Pasal 10 Perumusan Kisi-Kisi Soal 1. Kisi-kisi merupakan format yang memuat informasi mengenai ruang lingkup dan isi/kompetensi yang akan dinilai/diujikan. 2. Kisi-kisi disusun berdasarkan tujuan penilaian dan digunakan sebagai pedoman untuk mengembangkan soal. 3. Kisi-kisi harus mengacu pada SK-KD dan komponen-komponennya harus rinci, jelas, dan bermakna. 4. Setiap pendidik harus mengembangkan indikator dari setiap KD, sebelum menyusun soal. 5. Indikator merupakan rumusan yang menggambarkan karakteristik, ciri-ciri, perbuatan, atau respon yang harus ditunjukkan atau dilakukan oleh peserta didik dan digunakan sebagai penanda/indikasi pencapaian kompetensi dasar. 6. Pengembangan indikator hendaknya memperhatikan UKRK (urgensi, kontinuitas, relevansi, dan keterpakaian). 7. Rumusan indikator soal yang lengkap mencakup 4 komponen, yaitu A = audience, B = behaviour, C = condition, dan D = degree. 8. Kisi-kisi Soal minimal memiliki komponen: a. Identitas Mata Pelajaran b. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar c. Materi Pembelajaran d. Indikator Pencapaian Kompetensi e. Indikator Soal f. Bentuk Soal g. Nomor Soal Pasal 11 Pengembangan Instrumen Penilaian dan Pedoman Penskoran 1. Instrumen penilaian yang dikembangkan perlu memperhatikan hal-hal berikut : a. berhubungan dengan kondisi pembelajaran di kelas dan/atau di luar kelas. b. relevan dengan proses pembelajaran, materi, kompetensi dan kegiatan pembelajaran. c. menuntut kemampuan berpikir berjenjang, berkesinambungan, dan bermakna dengan mengacu pada aspek berpikir Taksonomi Bloom PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 16

18 d. mengembangkan kemampuan berpikir kritis seperti: mendeskripsikan, menganalisis, menarik kesimpulan, menilai, melakukan penelitian, memecahkan masalah, dsb. e. mengukur berbagai kemampuan yang sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik. f. mengikuti kaidah penulisan soal. 2. Teknik Penilaian dan Bentuk Soal: Teknik Penilaian Bentuk Instrumen Tes tertulis Tes lisan Tes praktik (tes kinerja) Penugasan individual atau kelompok Penilaian portofolio Jurnal Tes pilihan: pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan dll. Tes isian: isian singkat dan uraian Daftar pertanyaan Tes identifikasi Tes simulasi Tes uji petik kinerja Pekerjaan rumah Projek Lembar penilaian portofolio Buku cacatan jurnal Penilaian diri Penilaian antarteman Kuesioner/lembar penilaian diri Lembar penilaian antarteman 3. Setiap butir soal ditentukan skornya berdasarkan bobot soal (kompleksitas) 4. Konversi skor menjadi nilai menggunakan rumus: NILAI = Skor Perolehan x 100 Skor Maksimal Pasal 12 Analisis Hasil Belajar & Penetapan Tindak Lanjut Pembelajaran 1. Analisis Hasil Belajar merupakan penilaian terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik. 2. Analisis Hasil Belajar digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar dan memperbaiki proses pembelajaran. 3. Analisis Hasil Belajar dilakukan untuk mengukur penguasaan kompetensi dan pencapaian indikator yang ditetapkan pendidik. 4. Ketuntasan peserta didik dalam mencapai kompetensi sangat bergantung kepada kondisi peserta didik, sumber belajar dan pendidik. 5. Hasil analisis hasil belajar selanjutnya digunakan untuk menetapkan remediasi dan pengayaan peserta didik. 6. Pembelajaran remediasi pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi peserta didik yang mengalami kesulitan atau kelambatan belajar. 7. Setelah diketahui adanya kesulitan belajar dan keterlambatan pada satu atau lebih KD maka selanjutnya diberikan perlakuan (treatment) pembelajaran remediasi dan diakhiri dengan tes ulang. 8. Pembelajaran remediasi dan tes ulang dilakukan diluar jam tatap muka. 9. Bila ketuntasan klasikalnya kurang dari 50% artinya yang mengikuti pembelajaran remediasi lebih dari 50% maka remediasi dilakukan dengan memberikan pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 17

19 10. Jika yang mengikuti pembelajaran remediasi pada KD tersebut kurang dari 20% maka perlakuan yang diberikan berupa bimbingan secara khusus, misalnya dengan tutor sebaya. 11. Jika yang mengikuti remediasi berada pada rentang 20%-50% maka perlakuan diberikan dengan penugasan secara berkelompok. 12. Nilai hasil ulangan remediasi diperhitungkan maksima sama dengan KKM atau sama dengan nilai terendah dari siswa yang telah tuntas. 13. Bagi peserta didik yang mencapai ketuntasan kompetensi lebih awal diberikan pembelajaran pengayaan untuk menambah kompetensi atau materi sesuai dengan kapabilitas masing-masing. 14. Pembelajaran pengayaan dapat dilakukan dengan: (1) belajar kelompok (2) belajar mandiri (3) pembelajaran berbasis tema dan (4) pemadatan kurikulum. 15. Di akhir pembelajaran dilakukan penilaian hasil belajar dalam bentuk portofolio, dan harus dihargai sebagai nilai tambah (lebih) dari peserta didik yang normal. BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN PEMBELAJARAN Pasal 13 Kegiatan Awal (Pendahuluan) Pembelajaran Kegiatan Awal (Pendahuluan) Pembelajaran mencakup: 1. menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran; 2. mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; 3. menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; 4. menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus. Pasal 14 Kegiatan Inti Pembelajaran 1. Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. 2. Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. 3. Pelaksanaan kegiatan inti memuat: a. Kegiatan Eksplorasi Dalam kegiatan eksplorasi, guru: 1) melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber; PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 18

20 2) menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain; 3) memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya; 4) melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan 5) memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan. b. Kegiatan Eksplorasi Dalarn kegiatan elaborasi, guru: 1) membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna; 2) memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lainlain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis; 3) memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut; 4) memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif can kolaboratif; 5) memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar; 6) rnenfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan balk lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok; 7) memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan r iasi; kerja individual maupun kelompok; 8) memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan; 9) memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik. c. Kegiatan Konfirmasi Dalam kegiatan konfirmasi, guru: 1) memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupunhadiah terhadap keberhasilan peserta didik, 2) memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber, 3) memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan, 4) memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar: a) berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar; b) membantu menyelesaikan masalah; c) memberi acuan agar peserta didik dapatmelakukan pengecekan hasil eksplorasi; d) memberi informasi untuk bereksplorasi Iebih jauh; e) memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 19

21 Dalam kegiatan penutup, guru: Pasal 15 Kegiatan Akhir (Penutup) Pembelajaran 1. bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/ simpulan pelajaran; 2. melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram; 3. memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; 4. merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas balk tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik; 5. menyampaikan iencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya. BAB IV PROGRAM PENILAIAN PENDIDIKAN Pasal 16 Penilaian Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 1. Penilaian dalam KTSP adalah penilaian berbasis kompetensi, yaitu bagian dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan untuk mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik yang meliputi pengetahuan (Cognitive Competence), ketrampilan (Psychomotor Competence), dan sikap (Affective Competence) 2. Penilaian dilakukan selama proses pembelajaran dan/atau pada akhir pembelajaran. 3. Fokus penilaian pendidikan adalah keberhasilan belajar peserta didik dalam mencapai standar kompetensi yang ditentukan. 4. Penilaian dalam KTSP menggunakan acuan kriteria, artinya: hasil yang dicapai peserta didik dibandingkan dengan kriteria atau standar yang ditetapkan. 5. Penilaian merupakan bagian dari proses pendidikan yang dapat memacu dan memotivasi peserta didik untuk lebih berprestasi meraih tingkat yang setinggitingginya sesuai dengan kemampuannya. 6. Proses penilaian mencakup pengumpulan bukti yang menunjukkan pencapaian belajar peserta didik. 7. Penilaian mencakup semua proses pembelajaran, yang tidak terbatas pada karakteristik peserta didik saja, tetapi juga mencakup karakteristik metode mengajar, kurikulum, fasilitas, dan administrasi sekolah. 8. Instrumen penilaian dapat berupa tes tertulis, tes lisan, lembar pengamatan, pedoman wawancara, tugas rumah, dan sebagainya. 9. Penilaian hasil belajar peserta didik perlu memperhatikan: a. penilaian ditujukan untuk mengukur pencapaian kompetensi; b. penilaian menggunakan acuan kriteria yakni berdasarkan pencapaian kompetensi peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran; c. penilaian dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan; d. hasil penilaian ditindaklanjuti dengan program remediasi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan; e. penilaian harus sesuai dengan kegiatan pembelajaran. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 20

22 Pasal 17 Teknik Penilaian Teknik penilaian yang dimaksud antara lain dilaksanakan melalui: 1. Tes adalah pemberian sejumlah pertanyaan yang jawabannya dapat benar atau salah, dan dapat berupa tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau tes kinerja. 2. Tes dilakukan dilakukan secara berkesinambungan melalui: 3. Ulangan: Ulangan Harian (UH); Ulangan Tengah Semester (UTS); Ulangan Akhir Semester (UAS); dan Ulangan Kenaikan Kelas (UKK) 4. Ujian: Ujian Sekolah dan Ujian Nasional. 5. Observasi adalah penilaian yang dilakukan melalui pengamatan terhadap peserta didik selama pembelajaran berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran. 6. Penugasan adalah pemberian tugas kepada peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok, baik perupa penugasan terstruktur (PT) maupun kegiatan mandiri tidak terstruktur (TMTT). 7. Portofolio adalah kumpulan dokumen dan karya-karya peserta didik dalam bidang tertentu yang diorganisasikan untuk mengetahui minat, perkembangan prestasi, dan kreativitas peserta didik. 8. Projek adalah tugas yang diberikan kepada peserta didik dalam kurun waktu tertentu. 9. Produk (hasil karya) adalah penilaian yang meminta peserta didik menghasilkan suatu hasil karya. 10. Inventori merupakan teknik penilaian melalui skala psikologis yang dipakai untuk mengungkapkan sikap, minat, dan persepsi peserta didik terhadap objek psikologis. 11. Jurnal merupakan catatan pendidik selama proses pembelajaran yang berisi informasi hasil pengamatan terhadap kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkait dengan kinerja ataupun sikap dan perilaku peserta didik yang dipaparkan secara deskriptif. 12. Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk menilai dirinya sendiri mengenai berbagai hal. 13. Penilaian antarteman merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik mengemukakan kelebihan dan kekurangan temannya dalam berbagai hal secara jujur. Pasal 18 Aspek Penilaian 1. Penilaian dilakukan secara menyeluruh, mencakup semua aspek kompetensi yang meliputi: a. Domain Kognitif (Cognitive Domain), dengan tingkatan sebagai berikut: 1) Pengetahuan (Knowledge) : C-1 2) Pemahaman (Comprehension): C-2 3) Aplikasi (Application) : C-3 4) Analisis (Analysis) : C-4 5) Sintesis (Synthesis) : C-5 6) Evaluasi (Evaluation) : C-6 b. Domain Afektif (Affective Domain), dengan tingkatan sebagai berikut: 1) Penerimaan (Receiving/Attending): A-1 2) Tanggapan (Responding) : A-2 3) Penghargaan (Valuing) : A-3 PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 21

23 4) Pengorganisasian (Organization): A-4 5) Karakterisasi berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a value or Value Complex) : A-5 c. Domain Psikomotor (Psychomotor Domain), dengan tingkatan sebagai berikut: 1) Persepsi (Perception) : P-1 2) Kesiapan (Set) : P-2 3) Respon Terpimpin (Guided Response): P-3 4) Mekanisme (Mechanism) : P-4 5) Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response): P-5 6) Penyesuaian (Adaptation) : P-6 7) Penciptaan (Origination) : P-7 2. Aspek yang dinilai dalam mata pelajaran ditetapkan sebagai berikut: No Kelompok Mata Contoh Mata Pelajaran pelajaran Aspek yang dinilai 1 Agama dan akhlak Pendidikan Agama Kognitif dan Affektif mulia 2 Kewarganegaraan dan Pendidikan Kognitif dan Affektif kepribadian Kewarganegaraan 3 Ilmu Pengetahuan dan Matematika Kognitif dan Affektif Tenologi Fisika, Kimia, Biologi Kognitif, Psikomotor, dan Afektif Ekonomi, Sejarah, Kognitif dan Affektif Geografi, Sosiologi. Bhs Indonesia, Bhs Kognitif, Psikomotor, Inggris, Bhs Asing lain dan Afektif Teknologi Informasi dan Komunikasi 4 Estetika Seni Budaya Psikomotor dan Afektif 5 Jasmani, olahraga, dan kesehatan Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan Kognitif, Psikomotor, dan Afektif Kognitif, Psikomotor, dan Afektif Pasal 19 Mekanisme Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Sistem Penilaian meliputi kegiatan perancangan dan pelaksanaan penilaian, analisis dan tindak lanjut hasil penilaian, serta pelaporan penilaian. 1. Perencanaan Penilaian, mencakup: a. Perencanaan pinilaian oleh pendidik untuk Ulangan Harian (UH) 1) Menjelang awal tahun pelajaran, guru mata pelajaran melakukan: (a) pengembangan indikator pencapaian KD, (b) penyusunan rancangan penilaian (teknik dan bentuk penilaian) yang sesuai, (c) pembuatan rancangan program remedial dan pengayaan setiap KD, (d) penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) masing-masing mata pelajaran melalui analisis indikator dengan memperhatikan karakteristik peserta didik (kemampuan rata-rata peserta didik/intake), karakteristik setiap indikator (kesulitan/kerumitan atau kompleksitas), dan kondisi satuan pendidikan (daya dukung, misalnya kompetensi guru, fasilitas sarana dan prasarana). 2) Pada awal semester pendidik menginformasikan KKM dan silabus mata pelajaran yang di dalamnya memuat rancangan dan kriteria penilaian kepada peserta didik. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 22

24 3) Pendidik mengembangkan indikator penilaian, kisi-kisi, instrumen penilaian (berupa tes, pengamatan, penugasan, dan sebagainya) dan pedoman penskoran. 4) Kisi-kisi dan instrumen penilaian ditelaah oleh guru lain dalam kelompok mata pelajaran. b. Perencanaan Penilaian oleh Satuan Pendidikan untuk UTS, UAS dan UKK 1) Melalui rapat dewan pendidik, satuan pendidikan melakukan: (a) pendataan KKM setiap mata pelajaran (b) penentuan kriteria kenaikan kelas (c) penentuan kriteria nilai akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan, dengan mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik (d) penentuan kriteria kelulusan ujian sekolah (e) koordinasi ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas 2) Membentuk tim untuk menyusun instrumen penilaian (untuk ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ujian sekolah) yang meliputi: (a) pengembangan kisi-kisi penulisan soal (di dalamnya terdapat indikator soal), (b) penyusunan butir soal sesuai dengan indikator dan bentuk soal, serta mengikuti kaidah penulisan butir soal, (c) penelaahan butir soal secara kualitatif, dilakukan oleh pendidik lain (bukan penyusun butir soal) pengampu mata pelajaran yang sama atau dalam satu rumpun mata pelajaran dengan butir soal yang ditelaahnya, (d) perakitan butir-butir soal menjadi perangkat tes 2. Pelaksanaan Penilaian, mencakup: a. Pelaksanaan penilaian oleh pendidik untuk UH Kegiatan yang dilakukan oleh pendidik pada tahap ini meliputi: 1) Melaksanakan penilaian menggunakan instrumen yang telah dikembangkan; 2) Memeriksa hasil pekerjaan peserta didik mengacu pada pedoman penskoran, untuk mengetahui kemajuan hasil belajar dan kesulitan belajar peserta didik; b. Pelaksanaan penilaian oleh satuan pendidikan untuk UTS, UAS, UKK dan US Pelaksanaan penilaian oleh satuan pendidikan meliputi kegiatan berikut: 1) Melaksanakan koordinasi ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas; 2) Melakukan penilaian akhir untuk mata pelajaran pada kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, estetika, dan jasmani, olahraga, dan kesehatan; 3) Menyelenggarakan ujian sekolah untuk mata pelajaran pada kelompok ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak diujikan secara nasional, serta aspek kognitif dan/atau psikomotor untuk mata pelajaran dalam kelompok agama dan akhlak mulia, serta kewarganegaraan dan kepribadian. 3. Analisis Hasil Penilaian, mencakup: a. Analisis Hasil penilaian oleh pendidik (UH) Kegiatan yang dilakukan oleh pendidik pada tahap analisis adalah menganalisis hasil penilaian menggunakan acuan standar KKM yang telah PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 23

25 ditetapkan. b. Analisis hasil penilaian oleh satuan pendidikan (UTS, UAS, UKK, US) Kegiatan analisis hasil penilaian oleh satuan pendidikan meliputi: 1) Menganalisis hasil belajar peserta didik kelas X dan XI dibandingkan dengan nilai KKM yang telah ditetapkan untuk masing-masing mata pelajaran; 2) Menganalisis hasil ujian sekolah dengan membandingkan hasil ujian sekolah masing-masing peserta didik dengan batas kelulusan ujian sekolah yang telah ditentukan; 3) Menganalisis hasil penilaian kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, estetika, serta jasmani, olahraga, dan kesehatan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan; 4) Melalui rapat dewan pendidik, satuan pendidikan menetapkan dapat tidaknya peserta didik kelas X dan kelas XI naik kelas berdasarkan kriteria kenaikan kelas yang telah ditetapkan; 5) Melalui rapat dewan pendidik, satuan pendidikan menetapkan peserta didik yang lulus dari satuan pendidikan sesuai dengan kriteria kelulusan yang telah ditetapkan. 4. Tindak lanjut hasil analisis Analisis hasil penilaian telah dilakukan perlu ditindak lanjuti. a. Tindak lanjut oleh pendidik Kegiatan yang dilakukan oleh pendidik sebagai tindak lanjut hasil analisis meliputi: 1) Pelaksanaan program remediasi untuk peserta didik yang belum tuntas (belum mencapai KKM) untuk hasil ulangan harian dan memberikan kegiatan pengayaan bagi peserta didik yang telah tuntas; 2) Pengadministrasian semua hasil penilaian yang telah dilaksanakan. b. Tindak lanjut oleh satuan pendidikan Kegiatan yang dilakukan oleh satuan pendidikan sebagai tindak lanjut hasil analisis meliputi: 1) Menyiapkan laporan hasil belajar (rapor) peserta didik; 2) Satuan pendidikan penyelenggara ujian menerbitkan ijazah bagi peserta didik yang lulus dari satuan pendidikan sesuai dengan kriteria kelulusan. 5. Pelaporan Hasil Penilaian Pelaporan hasil penilaian disajikan dalam bentuk profil hasil belajar peserta didik. a. Pelaporan hasil penilaian oleh pendidik Pada tahap pelaporan hasil penilaian, pendidik melakukan kegiatan sebagai berikut: 1) Menghitung/menetapkan nilai mata pelajaran dari berbagai macam penilaian (hasil ulangan harian, tugas-tugas, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir semester atau ulangan kenaikan kelas); 2) Melaporkan hasil penilaian mata pelajaran dari setiap peserta didik pada setiap akhir semester kepada pimpinan satuan pendidikan melalui wali kelas atau wakil bidang akademik dalam bentuk nilai prestasi belajar (meliputi aspek pengetahuan, praktik, dan sikap) disertai deskripsi singkat sebagai cerminan kompetensi yang utuh; 3) Memberi masukan hasil penilaian akhlak kepada guru Pendidikan Agama dan hasil penilaian kepribadian kepada guru Pendidikan Kewarganegaraan sebagai informasi untuk menentukan nilai akhir semester akhlak dan kepribadian peserta didik; 4) Pendidik yang menilai ujian praktik melaporkan hasil penilaiannya kepada pimpinan satuan pendidikan melalui wakil pimpinan bidang akademik (kurikulum). PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 24

26 b. Pelaporan hasil penilaian oleh satuan pendidikan Kegiatan yang dilakukan oleh satuan pendidikan dalam tahap pelaporan: 1) Melaporkan hasil penilaian untuk semua mata pelajaran pada setiap akhir semester kepada orang tua/wali peserta didik dalam bentuk Laporan Hasil Belajar (rapor). 2) Melaporkan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan lengkap dengan nilai yang dicapai kepada orangtua/walinya; 3) Melaporkan pencapaian hasil belajar tingkat satuan pendidikan setiap tahun kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. BAB V MONITORING, EVALUASI DAN SUPERVISI Pasal 20 Monitoring dan Evaluasi 1. Monitoring adalah suatu cara untuk mengetahui apakah suatu kegiatan berjalan sesuai atau sedekat mungkin dengan rencana serta menggunakan sumber daya secara tepat. 2. Evaluasi adalah penilaian tentang bagaimana program dijalankan, apakah proses dan dampaknya sudah sesuai dengan yang diharapkan, serta mengecek faktor-faktor penghambat yang dihadapi, dan faktor-faktor pendukung yang dimiliki, untuk mencapai tujuan. 3. Monitoring dan evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian kegiatan program pembelajaran agar mencapai sasaran yang diharapkan secara tepat waktu, tepat jumlah, tepat mutu, dan tepat sasaran. 4. Monitoring dan Evaluasi secara umum dilaksanakan oleh Kepala Sekolah terhadap kegiatan program pembelajaran beserta segala bentuk pendukungnya. 5. Monitoring dan Evaluasi dilakukan secara berjenjang, oleh Kepala Sekolah kepada: Wakasek.Bid. Akademik, Bidang Sarana-Prasarana, Bidang Kesiswaan, Bidang Humas; serta Koordinator Bimbingan Konseling dan Bendahara. 6. Para Wakil Kepala Sekolah, Koordinator Bimbingan Konseling, dan Bendahara melakukan monitoring dan evaluasi sesuai dengan cakupannya. 7. Hasil monitoring dan evaluasi diadministrasikan dan dibukukan sebagai bahan pembuatan laporan kepada atasan langsung. Pasal 21 Supervisi Akademik 1. Supervisi Akademik, yang merupakan kegiatan saling tolong meningkatkan kualitas dengan memberi bantuan teknis kepada guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran. 2. Supervisi akademik sebaiknya dilakukan dengan pendekatan supervisi klinis yang dilaksanakan secara berkesinambungan melalui tahapan pra-observasi, observasi pembelajaran, dan pasca observasi. 3. Supervisi klinis adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis mulai dari tahap perencanaan, pengamatan dan analisis yang intesif terhadap penampilan pembelajarannya dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran. 4. Supervisi klinis diperlukan dalam perbaikan proses pembelajaran, diantaranya karena: PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 25

27 a. Perlu adanya ada balikan dari orang yang kompeten sejauhmana praktik profesional telah memenuhi standar kompetensi dan kode etik b. Agar pendidik tidak ketinggalan IPTEK dalam proses pembelajaran c. Agar pendidik tidak kehilangan identitas profesi d. Agar pendidik tidak mengalami kejenuhan profesional (bornout) e. Agar pendidik tidak Pelanggaran kode etik yang akut f. Agar pendidik tidak mengulang kekeliruan secara masif g. Agar pendidik tidak mengalami erosi pengetahuan yang sudah didapat dari pendidikan prajabatan (PT) h. Agar Siswa dirugikan, tidak mendapatkan layanan sebagaimana mestinya i. Agar apresiasi dan kepercayaan masyarakat dan pemberi pekerjaan tidak menurun 5. Supervisi klinis bertjuan: a. Menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawabnya terhadap pelaksanaan kualitas proses pembelajaran. b. Membantu guru untuk senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran. c. Membantu guru untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang muncul dalam proses pembelajaran d. Membantu guru untuk dapat menemukan cara pemecahan maslah yang ditemukan dalam proses pembelajaran e. Membantu guru untuk mengembangkan sikap positif dalam mengembangkan diri secara berkelanjutan. 6. Supervisi klinis memiliki karakteristik sebagai berikut: a. Perbaikan dalam pembelajaran mengharuskan guru mempelajari keterampilan intelektual dan bertingkah laku berdasarkan keterampilan tersebut. b. Fungsi utama supervisor adalah menginformasikan beberapa keterampilan, seperti: 1) keterampilan menganalisis proses pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan, 2) keterampilan mengembangkan kurikulum, terutama bahan pembelajaran, 3) keterampilan dalam proses pembelajaran. c. Fokus supervisi klinis adalah: 1) perbaikan proses pembelajaran, 2) keterampilan penampilan pembelajaran yang memiliki arti bagi keberhasilan mencapai tujuan pembelajaran dan memungkinkan untuk dilaksanakan, dan 3) didasarkan atas kesepakatan bersama dan pengalaman masa lampau. 7. Beberapa prinsip yang menjadi landasan bagi pelaksanaan supervisi klinis, adalah: a. Hubungan antara supervisor dengan guru, kepala sekolah dengan guru, adalah mitra kerja yang bersahabat dan pebuh tanggung jawab. b. Diskusi atau pengkajian balikan bersifat demokratis dan didasarkan pada data hasil pengamatan. c. Bersifat interaktif, terbuka, obyektif dan tidak bersifat menyalahkan. d. Pelaksanaan keputusan ditetapkan atas kesepakatan bersama. e. Hasil tidak untuk disebarluaskan f. Sasaran supervisi terpusat pada kebutuhan dan aspirasi guru, dan tetap berada di ruang lingkup pembelajaran. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 26

28 g. Prosedur pelaksanaan berupa siklus, mulai dari tahap perencanaan, tahap pelaksanaan (pengamatan) dan tahap siklus balikan. 8. Prosedur Supervisi Klinis Pelaksanaan supervisi klinis berlangsung dalam suatu siklus yang terdiri dari tiga tahap berikut : a. Tahap perencanaan awal. Pada tahap ini beberapa hal yang harus diperhatikan adalah: (1) menciptakan suasana yang intim dan terbuka, (2) mengkaji rencana pembelajaran yang meliputi tujuan, metode, waktu, media, evaluasi hasil belajar, dan lain-lain yang terkait dengan pembelajaran, (3) menentukan fokus obsevasi, (4) menentukan alat bantu (instrumen) observasi, dan (5) menentukan teknik pelaksanaan obeservasi. b. Tahap pelaksanaan observasi. Pada tahap ini beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain: (1) Pengamatan difokuskan pada aspek yang telah disepakati (2) Menggunakan instrumen observasi (3) Di samping instrumen perlu dibuat catatan (fieldnotes) (4) Catatan observasi meliputi perilaku guru dan siswa (5) Tidak mengganggu proses pembelajaran. c. Tahap akhir (diskusi balikan). Pada tahap ini beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain: (1) Dilaksanakan segera setelah observasi (2) Tanyakan bagaimana pendapat guru mengenai proses pembelajaran yang baru berlangsung (3) Tunjukkan data hasil observasi (instrumen dan catatan) (4) Diskusikan secara terbuka hasil observasi, terutama pada aspek yang telah disepakati (kontrak) (5) Berikan dorongan moral bahwa guru mampu memperbaiki kekurangannya (6) Tentukan bersama rencana pembelajaran dan supervisi berikutnya PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 27

29 Bagian Ketiga PEDOMAN TATA TERTIB SISWA BAB I HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK Pasal 1 Hak Hak Peserta Didik Setiap peserta didik di SMA Seminari Santo Paulus memiliki hak-hak sebagai berikut: 1. Mendapat pengajaran pada jam sekolah, (jika perlu juga di luar jam sekolah) sesuai dengan kurikulum dan jadwal pelajaran yang berlaku. 2. Memperoleh kenyamanan dan ketentraman batin dalam belajar, baik di ruang kelas maupun di ruangan belajar yang lain. 3. Mendapat tugas serta memperoleh informasi yang jelas, jika guru berhalangan hadir. 4. Mendapat perlakuan sopan dan adil dari almamater 5. Mendapat forum untuk menyampaikan keluhan dan kesulitan, baik yang berkaitan dengan belajar, maupun hal-hal yang bersifat pribadi. 6. Mendapatkan kesempatan dan fasilitas untuk mengembangkan bakat dan minat. 7. Mendapat fasilitas untuk memperoleh informasi aktual. 8. Mendapat kesempatan dibina, serta membina dan mendewasakan kepribadian dan iman. 9. Mengalami dan memiliki lingkungan sekolah yang bersih, indah, dan nyaman. 10. Mempunyai rasa memiliki terhadap barang-barang sekolah. 11. Mendapat jaminan dari sekolah untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan mengeluarkan pendapat sehubungan dengan peningkatan kualitas kegiatan pembelajaran serta pengembangan kepribadian dan iman. Pasal 2 Kewajiban Kewajiban Peserta Didik 1. Datang di sekolah 15 menit sebelum pelajaran dimulai. 2. Berdoa sebelum dan sesudah kegiatan belajar. 3. Mengikuti dengan tertib pelajaran dari setiap mata pelajaran mulai dari jam pertama sampai dengan jam terakhir. 4. Mengerjakan dan menyerahkan tugas-tugas tepat waktu 5. Standar Pakaian Seragam Putra: (1) Senin s.d. Selasa : Seragam Putih Abu-Abu, Ikat Pinggang Hitam, dan atribut (OSIS, Nama, Lokasi Sekolah), lengkap, baju dimasukkan. Serta sepatu hitam dan kaos kaki putih. (2) Celana panjang tanpa lipatan di depan, saku tersembunyi di samping kiri dan kanan, satu saku di belakang kanan, panjang celana sampai mata kaki, tidak model celana botol, tapak kuda. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 28

30 (3) Rabu s.d. Kamis: Baju Kotak Kotak Merah dan Celana Putih, Sepatu Hitam dan kaos kaki putih. (4) Jumat s.d. Sabtu: Seragam Khas SMA Santo Paulus Nyarumkop (ciri khas dan celana coklat, bersepatu dan berkaos kaki) (5) Menggunakan seragam olah raga khas SMA Santo Paulus Nyarumkop dan sepatu olah raga dan berkaos kaki 6. Standar Pakaian Seragam Putri: (1) Senin s.d. Selasa : Seragam Putih Abu-Abu, Ikat Pinggang Hitam, dan atribut (OSIS, Nama, Lokasi Sekolah), lengkap, baju dimasukkan. Serta sepatu hitam dan kaos kaki putih. (2) Rok minimal 5 cm di bawah lutut dan risleting di belakang (3) Rabu s.d. Kamis: Baju Putih Berdasi dan Rok Kotak Kotak Merah, Sepatu Hitam dan kaos kaki putih. (4) Jumat s.d. Sabtu: Seragam Khas SMA Santo Paulus Nyarumkop (ciri khas dan rok coklat, bersepatu dan berkaos kaki) (5) Menggunakan seragam olah raga khas SMA Santo Paulus Nyarumkop dan sepatu olah raga dan berkaos kaki 7. Mengikuti upacara bendera pada hari Senin, Hari Besar Nasional, dan upacara khusus lainnya. 8. Memberitahukan/ijin kepada wali kelas, dengan sepengetahuan orang tua/wali/pembina asrama, jika berhalangan hadir pada jam sekolah. 9. Meminta surat ijin dari Guru Piket atau Wakasek Bid. Kesiswaan, jika terlambat datang (lebih dari 10 menit) atau pulang sebelum jam sekolah berakhir. 10. Melapor kepada guru mata pelajaran, apabila pada jam pelajaran tersebut terlambat datang atau berhalangan hadir 11. Menggunakan Bahasa Indonesia dalam lingkungan sekolah. 12. Membina Tata Krama dan Sopan Santun pergaulan. 13. Berambut pantas dan rapi. 14. Melaksanakan program 7 K dilingkungan sekolah. 15. Mengikuti kerja bakti yang dikoordinir oleh pengurus OSIS. 16. Meminta Izin dari Kepala Sekolah, jika pulang ke rumah tidak saat libur sekolah. 17. Meninggalkan ruangan kelas pada jam istirahat. 18. Memelihara dan menjaga semua barang milik sekolah. 19. Hormat dan taat kepada Kepala Sekolah, Guru, serta Karyawan. 20. Bertanggungjawab terhadap pengurusan Uang Sekolah dan/atau Asrama, yakni: (1) Membayar uang sekolah dan asrama setiap awal bulan. (2) Tidak menunggak uang sekolah dan asrama selama tiga bulan. BAB II LARANGAN LARANGAN BAGI PESERTA DIDIK Pasal 3 Larangan Pada Jam Sekolah Pada Jam Sekolah (Pkl ), peserta didik dilarang: 1. Membawa alat-alat elektronik ke sekolah sejauh tidak ada kaitan langsung dengan kegiatan pembelajaran (termasuk di dalamnya hand phone atau smartphone). 2. Membawa senjata api, senjata tajam, dan semua alat yang digolongkan senjata ke sekolah. 3. Tidur pada saat jam belajar berlangsung dan pada saat jam istirahat. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 29

31 Pasal 4 Larangan Dalam Berpakaian dan Berpenampilan Dalam hal berpakaian dan berpenampilan, peserta didik dilarang: 1. Mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan norma kesusilaan dan kelayakan. 2. Mengenakan asesori dan model potongan rambut yang tidak sesuai dengan aturan sekolah. 3. Bertatto, memakai anting-anting (untuk putra), 4. Mengenakan perhiasan barang berharga yang berlebihan. Pasal 5 Larangan Merokok dan Mengkonsumsi NAPZA Selama berstatus peserta didik SMA Seminari Santo Paulus, dilarang: 1. Membawa rokok dan/atau merokok. 2. Membawa dan/atau mengkonsumsi miras, serta obat-obatan terlarang (NAPZA). Pasal 6 Larangan Perjudian dan Tindak Kriminal Selama berstatus peserta didik SMA Seminari Santo Paulus, dilarang: 1. Berjudi dalam bentuk dan kegiatan apapun, 2. Melakukan pencurian, penipuan, manipulasi, dan tindak kriminal lainnya. Pasal 7 Larangan Berbuat Onar dan Perkelahian Selama berstatus peserta didik SMA Seminari Santo Paulus, dilarang: 1. Membuat keonaran atau keributan baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. 2. Menyelesaikan masalah dengan berkelahi/bertengkar dengan siapa pun baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Pasal 8 Larangan Berbuat Asusila dan Menikah Selama berstatus peserta didik SMA Seminari Santo Paulus, dilarang: 1. Membawa dan/atau membaca bacaan dan gambar porno. 2. Menyimpan dan/atau memutar klip video porno. 3. Melakukan hubungan eksklusif yang tidak sehat di lingkungan sekolah dan/atau asrama. 4. Hamil atau menghamili. 5. Menikah. BAB III SANKSI SANKSI Pasal 9 Bentuk Sanksi Sanksi yang diberikan kepada siswa disesuaikan dengan pelanggarannya, dalam bentuk: 1. Nasihat/teguran oleh guru, wali kelas, guru BK, Waka.Bid. Kesiswaan, dan/atau Kepala Sekolah PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 30

32 2. Hukuman yang mendidik, berupa: memungut sampah, menyapu, mengepel lantai, membersihkan WC, menerjemahkan, membuat makalah, meringkas, menyelesaikan tugas akademik. 3. Pengurangan skor atas pelanggaran tata tertib. Pasal 10 Pemanggilan Orang Tua / Wali Siswa Sekolah akan memanggil orang tua peserta didik, jika: 1. saldo skor siswa 75, maka orang tua/wali dipanggil membuat Pernyataan I 2. saldo skor siswa 50, maka orang tua/ wali dipanggil membuat Pernyataan II 3. saldo skor siswa skor 25, maka orang tua/wali dipanggil membuat Pernyataan III 4. saldo siswa skor 0, maka orang tua/wali dipanggil dan siswa diserahkan kepada orang tua. 5. Siswa melakukan pelanggaran dengan skor -100, maka orang tua/ wali dipanggil dan siswa diserahkan/dikembalikan kepada orang tua. BAB IV PEMBERLAKUAN TATA TERTIB Pasal Tata Tertib ini berlaku bagi semua siswa selama berstatus sebagai siswa SMA Santo Paulus Nyarumkop. 2. Tata Tertib Siswa SMA Santo Paulus Nyarumkop juga berlaku bagi Penghuni Asrama Seminari dan Asrama Putri BAB V SISTEM SKOR PERILAKU SISWA Pasal 12 Maksud dan Tujuan Sistem Skor 1. Pelaksanaan Hak dan Kewajiban siswa mengacu pada sistem skor. 2. Setiap perilaku siswa yang bersifat negatif dikonversi ke dalam skor. 3. Setiap prestasi peserta didik diberikan reward skor sesuai dengan jenjangnya. 4. Tujuan penerapan sistem skor agar penilaian terhadap sikap dan perilaku siswa menjadi lebih adil, terukur, transparan dan berkorelasi yang memotivasi siswa untuk memperbaiki diri. Pasal 13 Teknis Penerapan Sistem Skor 1. Pada setiap awal semester, siswa diberi skor 100 per semester. 2. Selama menjadi siswa SMA Santo Paulus Nyarumkop, jika berperilaku negatif skor akan dikurangi sesuai dengan jenis pelanggaran seperti yang terlampir. 3. Satu kali melakukan pelanggaran yang berat dengan skor minus 100 tanpa mempertimbangkan perolehan reward siswa akan dikembalikan/dipulangkan kepada orang tua. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 31

33 LAMPIRAN I DAFTAR PERILAKU PENGURANGAN SKOR (PUNISHMENT/HUKUMAN) No. Daftar Perilaku Skor A. KERAJINAN 1. Terlambat masuk kelas kurang dari 15 menit Terlambat masuk kelas 15 menit atau lebih Tidak mengikuti pelajaran dengan baik, misalnya mengerjakan tugas mata -5 pelajaran lain, membaca majalah, komik, mengganggu proses pemelajaran dan sejenisnya. 4. Tidak mengikuti pelajaran tanpa izin Tidak masuk sekolah tanpa izin Tidak mengikuti kegiatan yang diwajibkan sekolah. Misalnya, upacar bendera, -10 kerja OSIS dan lain lain. 7. Meninggalkan pelajaran sebelum waktunya usai dan tidak kembali kesekolah -25 tanpa izin 8. Menyalahgunakan keuangan sekolah dan asrama Tidak mengerjakan dan menyelesaikan tugas tugas setiap mata pelajaran tepat waktu -5 B. KERAPIAN 1. Tidak mengenakan topi pada saat upacara bendera Tidak memakai atribut yang dijahit rapi, meliputi lokasi, OSIS dan nama yang -10 benar 3. Tidak memakai pakaian yang sesuai dengan model yang ditentukan Tidak memakai kaos kaki sesuai dengan ketentuan Tidak memakai ikat pinggang yang sesuai dengan yang ditentukan Baju yang tidak dimasukan, lengan baju digulung, celana panjang digulung, -5 rok terlalu tinggi 7. Tidak memakai celana panjang, rok, dan baju sesuai dengan warna yang -5 ditentukan 8. Tidak memakai sepatu hitam sesuai dengan yang ditentukan Tidak memakai pakaian olah raga pada pelajaran Penjaskes Berambut gondrong, dicat, gundul (putra), rambut panjang terurai, dicat (putri) dan sejenisnya -10 C. KELAKUAN 1. Berbicara jorok atau tidak sopan dengan sesama siswa Jajan pada saat pelajaran berlangsung Memalsukan surat izin Duduk-duduk di tempat tidak semestinya, misalnya di meja Tidak tertib dalam mengikuti upacara bendera Menimbulkan kegaduhan di kelas pada saat pelajaran berlangsung atau saat -10 guru tidak ada di ruangan kelas 7. Mengaktifkan ponsel pada saat pelajaran berlangsung atau saat upacara -10 bendera 8. Membawa rokok/merokok pada saat berada di lingkungan sekolah atau selama -50 berstatus pelajar SMA Santo Paulus Nyarumkop 9. Merusak sarana sekolah/lingkungan sekolah. Misalnya, perlengkapan kelas, -50 mencoret tembok, perabot sekolah, dan taman 10. Berbicara jorok atau tidak sopan terhadap guru dan karyawan Mencermarkan nama baik guru dan karyawan Berkelahi/terlibat penganiayaan Mengancam keselamatan guru dan karyawan Membawa/minum minuman keras Melakukan penipuan, pemalsuan, pencurian, dan tindak kriminal lainnya Membawa/membaca majalah/gambar, mendengarkan/menonton kaset porno Pacaran atau berduaan ditempat yang tidak pantas yang bisa menimbulkan -100 hal-hal yang tidak diinginkan 18. Melakukan tindakan yang tidak pantas. Misal: berciuman, berpelukan, dan -100 PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 32

34 No. Daftar Perilaku Skor indikasi pelecehan seksual lainnya di lingkungan sekolah dan asrama 19. Bercinta atau bermesum selama berstatus pelajar SMA Santo Paulus Nyarumkop Membawa/mengkonsumsi narkoba dan sejenisnya Melakukan penganiayaan terhadap guru dan karyawan Menikah atau Menghamili/Hamil Menyontek - 25 Hal hal yang belum tercantum dalam Tata Tertib ini akan diatur secara khusus, dan apabila ada hal-hal yang dipandang perlu akan diatur kemudian. LAMPIRAN II DAFTAR PERILAKU PENAMBAHAN SKOR (REWARD/PENGHARGAAN) No Perilaku Penambahan Skor Skor A. KELAKUAN 1. Mengharumkan nama sekolah melalui lomba atau kegiatan lainnya : a. Tingkat Kecamatan + 20 b. Tingkat Kabupaten /Kota + 30 c. Tingkat Provinsi + 40 d. Tingkat Nasional + 50 e. Tingkat Internasional Siswa mampu mempertahankan skor 100 yang diberikan pada awal semester + 50 tanpa pernah ada pengurangan skor 3. Jujur, berinisiatif, bertanggungjawab, mau bekerja sama, baik hati, suka + 20 menolong, berani dan memiliki kepedulian terhadap perkembangan dan nama baik sekolah 4. Jika pernah bersalah, menunjukkan adanya perubahan positif dalam kelakuan, kerajinan, dan kerapian + 20 B. KERAJINAN 1. Ikut secara aktif dalam organisasi di dalam dan luar sekolah: a. Menjadi pengurus kelas + 10 b. Menjadi panitia kegiatan + 5 c. Menjadi pengurus OSIS dan MPK c.1. Pengurus Inti OSIS dan MPK + 15 c.2. Koordinator Seksi Bidang dan + 10 Anggota MPK c.3. Anggota + 5 d. Aktif dalam organisasi di luar sekolah atas rekomendasi sekolah Siswa memiliki kehadiran 100 % dalam satu semester Siswa yang berprestasi sebagai pemegang peringkat tiga besar sekolah: a. Peringkat I + 35 b. Peringkat II + 30 c. Peringkat III Siswa yang berprestasi sebagai pemegang peringkat tiga besar kelas: a. Peringkat I + 20 b. Peringkat II + 15 c. Peringkat III + 10 C. KERAPIAN 1. Rapi dan bersih dalam tugas-tugas sekolah Rapi dan bersih dalam penampilan diri + 5 PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 33

35 KRETERIA PENILAIAN PERILAKU SISWA BERDASARKAN SKOR SELAMA 1 SEMESTER NILAI POINT KATEGORI A Sangat Baik B Baik C Cukup Baik D Kurang Baik E 0-30 Sangat Kurang Baik PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 34

36 Bagian Keempat PEDOMAN PENGGUNAAN SARANA/PRASARANA BAB I HAK DAN KEWAJIBAN SISWA DALAM MENGGUNAKAN LABORATORIUM BIOLOGI Pasal 1 Hak Menggunakan Laboratorium Biologi Para siswa berhak menggunakan laboratorium biologi dan fasilitasnya sesuai dengan kebutuhan dan jadwal yang telah ditetapkan. Pasal 2 Kewajiban Dalam Menggunakan Laboratorium Biologi 1. Siswa mengenakan pakaian seragam praktikum sekolah 2. Tidak boleh menaruh tas di meja praktikum 3. Siswa membawa alat yang diperlukan dan tidak boleh pinjam meminjam 4. Siswa bertanggung jawab terhadap alat alat yang dipakai dalam kegiatan praktikum laboratorium 5. Siswa yang merusakkan/menghilangkan alat/preparat, mengganti dengan barang ( bukan dengan uang ) 6. Selesai kegiatan siswa mengembalikan alat/preparat, dalam keadaan lengkap dan tidak rusak/hilang 7. Siswa diwajibkan menyusun laporan kegiatan laboratorium dan diserahkan satu minggu sesudah kegiatan berlangsung 8. Untuk kegiatn yang tidak bisa sekaligus selesai, ketua kelompok bertanggung jawab atas data yang diperoleh 9. Siswa yang tidak mengikuti kegiatan laboratorium biologi, wajib mengikuti kelas lain, atau melakukan kegiatan sendiri. BAB II HAK DAN KEWAJIBAN SISWA DALAM MENGGUNAKAN LABORATORIUM KIMIA Pasal 3 Hak Menggunakan Laboratorium Kimia Para siswa berhak menggunakan laboratorium kimia dan fasilitasnya sesuai dengan kebutuhan dan jadwal yang telah ditetapkan. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 35

37 Pasal 4 Kewajiban Dalam Menggunakan Laboratorium Kimia 1. Setiap permulaan kegiatan diawali dengan doa, demikian pula setelah selesai ditutup juga dengan doa 2. Siswa diharap datang tepat pada waktunya sesuai dengan jadawal jam yang telah dtentukan 3. Siswa diharap mengenakan pakaian seragam sekolah 4. Siswa tidak diperkenankan memakai sandal 5. Selama kegiatan berlangsung siswa diharap tenang dan tidak diperkenankan menerima tamu tanpa seizin Bapak/Ibu Guru pembimbing kegiatan laboratorium 6. Bila siswa tidak datang/hadir mengikuti kegiatan laboratorium maka siswi tersebut harus minta izin 7. Selama kegiatan berlangsung, siswa dilarang pinjam meminjam alat tulis menulis kepada teman lain, karena hal ini sangat mengganggu 8. Setiap kegiatan berlangsung, siswa diharap membawa buku petunjuk praktikum serta buku pegangan lain yang diperlukan 9. Setiap siswa diharap membawa tabung reaksi, pipet tetes dan penjepit sendiri 10. Siswa yang merusak atau menghilangkan alat alat laboratorium Kimia, harus menggantinya dengan alat/barang yang sama 11. Untuk mengikuti kegiatan Laboratorium Kimia berikutnya siswa harus sudah siap laporan kegiatan sebelumnya. BAB III HAK DAN KEWAJIBAN SISWA DALAM MENGGUNAKAN LABORATORIUM FISIKA Pasal 5 Hak Menggunakan Laboratorium Fisika Para siswa berhak menggunakan laboratorium fisika dan fasilitasnya sesuai dengan kebutuhan dan jadwal yang telah ditetapkan. Pasal 6 Kewajiban Dalam Menggunakan Laboratorium Fisika 1. Siswa tidak diperkenankan masuk ke dalam laboratorium sebelum minta izin yang bertugas 2. Alat-alat atau bahan yg ada dlm laboratorium tidak diperkenankan di bawa ke luar tanpa seizin guru 3. Siswa wajib menempati tempat yang telah ditentukan oleh guru dan wajib menjaga ketenangan serta ketertiban di dalam laboratorium selama jam praktikum 4. Alat dan bahan harus dipergunakan sesuai dengan petunjuk praktikum yang diberikan 5. Dalam melakukan percobaan siswa harus mengikuti petunjuk yang diberikan dan tidak bekerja menurut kehendak sendiri 6. Jika ada alat alat yang rusak atau pecah hendaknya dengan segera melaporkan pada Guru 7. Jika terjadi kecelakaan walau sangat kecil seperti kena kaca, terbakar atau ada bahan Kimia tertelan hendaknya segera melaporkan kepada Guru pembimbing 8. Setelah selesai melakukan praktikum siswa harus mengembalikan alat-alat ke tempat semula dalam keadaan bersih PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 36

38 9. Jagalah kebersihan laboratorium dan buanglah sampah pada tempat yang telah disediakan 10. Sebelum meninggalkan laboratorium, meja praktikum harus dalam keadaan bersih, kran air dan gas ditutup dan hubungan listrik diputuskan 11. Kerusakan atau kehilangan bahan atau alat yang terjadi karena kelalaian siswi, harus diganti oleh kelompok siswi yang bersangkutan 12. Siswa yang tidak mengindahkan tata tertib laboratorium atau tidak mentaati petunjuk guru pembimbing, akan dikeluarkan dari laboratorium. BAB IV HAK DAN KEWAJIBAN SISWA DALAM MENGGUNAKAN LABORATORIUM KOMPUTER Pasal 7 Hak Menggunakan Laboratorium Komputer Para siswa berhak menggunakan laboratorium komputer dan internet serta fasilitasnya sesuai dengan kebutuhan dan jadwal yang telah ditetapkan. Pasal 8 Kewajiban Dalam Menggunakan Laboratotium Komputer 1. Alas kaki dilepas dan diletakkan di tempat yang sudah ditentukan. 2. Tidak diperbolehkan menghidupkan sounds (dari speaker) kecuali ada ketentuan dari guru. 3. Tidak diperbolehkan mengaktifkan internet kecuali ada ketentuan dari guru. 4. Menggunakan computer secara rapi dan bertanggung jawab (kursi dimasukkan ke bawah meja kembali, keyboard dimasukkan laci kembali, menggunakan keyboard dengan selayaknya, mematikan computer dan monitornya kembali, dll) 5. Tidak diperbolehkan makan dan minum di dalam ruang lab. Computer. 6. Tidak diperbolehkan membawa tas ke dalam ruang lab. Computer, kecuali buku dan catatan kecil 7. Dilarang meninggalkan barang apapun di laboratorium komputer 8. Menjaga kebersihan ruangan 9. Ketika sudah selesai menggunakan, Komputer dan monitornya harus dimatikan kembali. 10. Bagi yang melanggar Ketentuan Umum ini akan dikeluarkan dari ruang computer, dan atau kepadanya diberikan sanksi sesuai tingkat pelanggarannya. BAB V HAK DAN KEWAJIBAN SISWA DALAM MENGGUNAKAN LABORATORIUM MULTIMEDIA Pasal 9 Hak Menggunakan Laboratorium Multimedia Para siswa berhak menggunakan ruang multimedia dan fasilitasnya sesuai dengan kebutuhan dan jadwal yang telah ditetapkan. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 37

39 Pasal 8 Kewajiban Dalam Menggunakan Laboratotium Multimedia 1. Siswa masuk ke dalam lab. Dengan membawa alat tulis lengkap dengan buku catatannya 2. Tidak diizinkan membawa makanan dan minuman ke dalam ruang multimedia 3. Siswa melaksanakan tugas yang diberikan dengan sebaik baiknya dan tetap menjaga ketenangan di dalam ruang multimedia 4. Semua bahan praktek disediakan di dalam laboratorium, siswi tidak diperkenankan membawa bahan praktek sendiri 5. Setelah kegiatan selesai dilaksanakan, siswi ke luar dari ruang multimedia dengan tenang dan menandatangani daftar hadir yang telah disediakan 6. Setiap jenis pelanggaran terhadap tata tertib di atas akan dikenakan sanksi, yaitu tidak diizinkan masuk ke dalam ruang multimedia Atau dikeluarkan dari ruang multimedia. BAB VI HAK DAN KEWAJIBAN SISWA DALAM MENGGUNAKAN RUANG PERPUSTAKAAN Pasal 9 Hak Menggunakan Ruang Perpustakaan Para siswa berhak menggunakan ruang perpustakaan dan fasilitasnya sesuai dengan kebutuhan dan jadwal yang telah ditetapkan. Pasal 10 Kewajiban Dalam Menggunakan Ruang Perpustakaan 1. Tas, Map dan buku cetak selain koleksi perpustakaan harap ditinggalkan di luar ruang perpustakaan, bawalah kertas catatan seperlunya 2. Tidak diperkenankan makan, minum dan merokok di ruang perpustakaan 3. Agar menjaga ketenangan di ruang perpustakaan, maka dimohon para pengguna perpustakaan tidak boleh ramai 4. Kalau mengambil buku atau majalah, setelah selesai membaca kembalikan ke tempatnya 5. Para siswa berhak memiliki kartu anggota, dengan mengisi blangko permohonan untuk menjadi anggota perpustakaan 6. Gunakan fasilitas perpustakan sebagaimana mestinya 7. Pembagian waktu untuk peminjaman buku adalah sebagai berikut : - Kelas X : hari SENIN dan SELASA - Kelas XI : hari RABU dan KAMIS - Kelas XII : hari JUMAT dan SABTU Pasal 11 Kewajiban / Kesanggupan Peminjam Pustaka 1. Memeriksa terlebih dahulu pustaka yang dipinjam dan segera melaporakan apabila terdapat kerusakan kerusakan, karena coretan coretan dan sebagainya 2. Menjaga dan memelihara pustaka dengan sebaik baiknya misalnya tidak membuat kotor, melipat lembaran 3. Memperhatikan batas waktu pinjam yang telah ditentukan, pada umumnya satu minggu dan segera mengembalikan pada waktunya PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 38

40 4. Apabila sampai akhir batas waktu pinjam pustaka masih diperlukan, maka pustaka harus dikembalikan dahulu untuk diperpanjang peminjamannya 5. Tidak meminjamkan pustaka yang dipinjam kepada orang lain 6. Mengembalikan buku pustaka yang dipinjam dalam keadaan sebagaimana pada waktu dipinjam 7. Kerusakan kerusakan, coretan coretan yang terdapat selama pustaka dipinjam adalah menjadi tanggung jawab peminjam 8. Memperbaiki pustaka yang dipinjam kalau rusak atau memperbaiki / mengganti biaya perbaikan 9. Mengganti pustaka yang dipinjam kalau hilang atau rusak sedemikian rupa, sehingga kalau tidak dapat diperbaiki lagi dengan pustaka yang sama 10. Tunduk kepada peraturan peraturan dan ketentuan ketentuan perpustakaan SMA Seminari Santo Paulus, tentang peraturan peminjaman pustaka 11. Bagi anggota perpustakaan SMA SEMINARI SANTO PAULUS yang pindah alamat rumah / kost harap memberitahukan kepada petugas perpustakaan. BAB VII HAK DAN KEWAJIBAN S I S W A DALAM MENGGUNAKAN RUANG UKS Pasal 12 Hak Menggunakan Ruang UKS Para siswa berhak menggunakan ruang UKS dan fasilitasnya sesuai dengan kesehatannya Pasal 13 Kewajiban Dalam Menggunakan Ruang UKS 1. Ruang UKS hanya dipergunakan oleh siswi yang sungguh sungguh sakit dan memerlukan istirahat untuk sementara waktu 2. Meninggalkan kelas karena sakit dan memerlukan istirahat di ruang UKS harus minta izin guru kelas yang sedang bertugas dan minta izin pula kepada petugas UKS 3. Di ruang UKS siswi wajib mencatatkan diri pada buku data UKS, untuk diketahui identitasnya 4. Siswi wajib menjaga ketenangan dan ketertiban di ruang UKS 5. Siswi wajib menjaga kebersihan dan kerapihan di ruang UKS 6. Penggunaan obat harus seizin petugas UKS 7. Penggunaan alat perlengkapan harus izin kepada petugas UKS 8. Meninggalkan ruang UKS harus izin kepada petugas UKS, dan wajib menata kembali peralatan dan perlengkapan UKS dengan rapih. PEDOMAN AKADEMIK SMA SEMINARI ST. PAULUS - 39

SILABUS DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (Berdasarkan Permendiknas 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses)

SILABUS DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (Berdasarkan Permendiknas 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses) SILABUS DAN (Berdasarkan Permendiknas 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses) Disunting dan dikembangkan oleh Pirdaus Widyaiswara LPMP Sumsel Perencanaan Proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana

Lebih terperinci

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN Penulis : R. Rosnawati SMA/MA/SMA-LB/SMK

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN Penulis : R. Rosnawati SMA/MA/SMA-LB/SMK Kode: MODEL-MODEL PEMBELAJARAN Penulis : R. Rosnawati Jenjang Sekolah: T/P : 2/2 SMA/MA/SMA-LB/SMK I. Kompetensi 1. Memahami model kooperatif 2. Memahami model pembelajaran berbasis masalah 3. Memahami

Lebih terperinci

STANDAR PROSES. PERMENDIKNAS Nomor 41 Tahun 2007

STANDAR PROSES. PERMENDIKNAS Nomor 41 Tahun 2007 STANDAR PROSES PERMENDIKNAS Nomor 41 Tahun 2007 berisi kriteria minimal proses pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. adalah

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR PROSES PENDIDIKAN KESETARAAN PROGRAM PAKET A, PROGRAM PAKET B, DAN PROGRAM PAKET C DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PENENTUAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR OLEH: ANNISA RATNA SARI, M.S.ED

PENENTUAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR OLEH: ANNISA RATNA SARI, M.S.ED PENENTUAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR OLEH: ANNISA RATNA SARI, M.S.ED PENGEMBANGAN KBM Menurut BSNP: Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PROSES UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PROSES UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PROSES UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Peraturan akademik ini disusun untuk meningkatkan kualitas layanan pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di SMA Negeri 1 Pare.

BAB I PENDAHULUAN. Peraturan akademik ini disusun untuk meningkatkan kualitas layanan pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di SMA Negeri 1 Pare. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 dan peraturan pemerintah RI No. 19 tahun 2005 mengamanatkan; Setiap satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah wajib

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA. A. Standar Isi BSNP yang diterapkan di SD Kreatif The naff

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA. A. Standar Isi BSNP yang diterapkan di SD Kreatif The naff BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A. Standar Isi BSNP yang diterapkan di SD Kreatif The naff Deskripsi dan analisis data penelitian ini menggambarkan data yang diperoleh di lapangan melalui instrumen

Lebih terperinci

RPP Theory A. Apakah RPP itu? Berdasarkan PP 19 Tahun 2005 Pasal 20 dinyatakan bahwa:

RPP Theory A. Apakah RPP itu? Berdasarkan PP 19 Tahun 2005 Pasal 20 dinyatakan bahwa: A. Apakah RPP itu? Berdasarkan PP 19 Tahun 2005 Pasal 20 dinyatakan bahwa: Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran,

Lebih terperinci

Permendiknas No.16 Tahun 2007 Standar Kualifikasi Akademik Dan Kopetensi Guru

Permendiknas No.16 Tahun 2007 Standar Kualifikasi Akademik Dan Kopetensi Guru Permendiknas No.16 Tahun 2007 Standar Kualifikasi Akademik Dan Kopetensi Guru DIREKTORAT PEMBINAAN SMA DITJEN MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL KUALIFIKASI AKADEMIK

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. Evaluasi Belajar Siswa Menurut pengertian bahasa, kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris yaitu pengertian istilah, evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui

Lebih terperinci

PERATURAN AKADEMIS SMA NEGERI 2 MADIUN TAHUN PELAJARAN 2011/2012. C. Landasan

PERATURAN AKADEMIS SMA NEGERI 2 MADIUN TAHUN PELAJARAN 2011/2012. C. Landasan PERATURAN AKADEMIS SMA NEGERI 2 MADIUN TAHUN PELAJARAN 2011/2012 A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 dan peraturan pemerintah RI No. 19 tahun 2005 mengamanatkan ; setiap

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. perhatian anak didik agar terpusat pada yang akan dipelajari. Sedangkan menutup

II. TINJAUAN PUSTAKA. perhatian anak didik agar terpusat pada yang akan dipelajari. Sedangkan menutup II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kemampuan Membuka Dan Menutup Pelajaran Guru sangat memerlukan keterampilan membuka dan menutup pelajaran. Keterampilan membuka adalah perbuatan guru untuk menciptakan sikap mental

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 14 B. TUJUAN 14 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 14 D. UNSUR YANG TERLIBAT 14 E. REFERENSI 15 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 15

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 14 B. TUJUAN 14 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 14 D. UNSUR YANG TERLIBAT 14 E. REFERENSI 15 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 15 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 14 B. TUJUAN 14 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 14 D. UNSUR YANG TERLIBAT 14 E. REFERENSI 15 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 15 G. URAIAN PROSEDUR KEGIATAN 18 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR

Lebih terperinci

STANDAR KOMPETENSI GURU (Permendiknas No. 16 Tahun 2007)

STANDAR KOMPETENSI GURU (Permendiknas No. 16 Tahun 2007) STANDAR KOMPETENSI (Permendiknas No. 16 Tahun 2007) Standar Kompetensi Guru Mata Pelajaran di SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK* KOMPETENSI INTI Kompetensi Pedagodik 1. Menguasai karakteristik peserta

Lebih terperinci

BAB IV STANDAR KOMPETENSI GURU. Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan memahami standar

BAB IV STANDAR KOMPETENSI GURU. Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan memahami standar Profesi Keguruan Rulam Ahmadi BAB IV STANDAR KOMPETENSI GURU A. Kompetensi Dasar Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan memahami standar kompetensi guru yang meliputi guru PAUD/TK/RA, guru SD/MI,

Lebih terperinci

TUGAS EVALUASI PROSES & HASIL PEMBELAJARAN KIMIA

TUGAS EVALUASI PROSES & HASIL PEMBELAJARAN KIMIA TUGAS EVALUASI PROSES & HASIL PEMBELAJARAN KIMIA PENILAIAN PEMBELAJARAN Disusun Oleh: KELOMPOK 1 Riza Gustia (A1C109020) Janharlen P (A1C109044) Zunarta Yahya (A1C109027) Widi Purwa W (A1C109030) Dewi

Lebih terperinci

No. KOMPETENSI INTI GURU KOMPETENSI GURU TK/ PAUD Kompetensi Pedagodik

No. KOMPETENSI INTI GURU KOMPETENSI GURU TK/ PAUD Kompetensi Pedagodik STANDAR KOMPETENSI GURU PAUD/TK/RA No. KOMPETENSI INTI GURU KOMPETENSI GURU TK/ PAUD Kompetensi Pedagodik Menguasai karakteristik peserta 1. Memahami karakteristik peserta didik usia didik dari aspek fisik,

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KEGIATAN PEMBELAJARAN MAPEl PAI. Oleh Dr. Marzuki FIS -UNY

PENGEMBANGAN KEGIATAN PEMBELAJARAN MAPEl PAI. Oleh Dr. Marzuki FIS -UNY PENGEMBANGAN KEGIATAN PEMBELAJARAN MAPEl PAI Oleh Dr. Marzuki FIS -UNY KEGIATAN PEMBELAJARAN Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik

Lebih terperinci

Standard Guru Penjas Nasional (Rumusan BSNP)

Standard Guru Penjas Nasional (Rumusan BSNP) Standar Guru Penjas Standard Guru Penjas Nasional (Rumusan BSNP) 1. Kompetensi Pedagogik 2. Kompetensi Kepribadian 3. Kompetensi Sosial 4. Kompetensi Profesional Kompetensi Pedagogik Menguasai karakteristik

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif ini nantinya akan bertujuan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK ) atau Classroom Action Reseach (CAR). Menurut wijaya (2009:9)

Lebih terperinci

TEKNIK PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Oleh: Dr. Marzuki UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

TEKNIK PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Oleh: Dr. Marzuki UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA TEKNIK PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Oleh: Dr. Marzuki UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 1 Penegasan Istilah Istilah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang digunakan terutama untuk

Lebih terperinci

PERATURAN AKADEMIK SMA NEGERI 1 PARE

PERATURAN AKADEMIK SMA NEGERI 1 PARE PERATURAN AKADEMIK SMA NEGERI 1 PARE BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Latar Belakang Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 dan peraturan pemerintah RI No. 19 tahun 2005 mengamanatkan; Setiap satuan pendidikan

Lebih terperinci

RANCANGAN PENILAIAN HASIL BELAJAR

RANCANGAN PENILAIAN HASIL BELAJAR DIREKTORAT PEMBINAAN SMA DITJEN MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL RANCANGAN PENILAIAN HASIL BELAJAR HAKIKAT PENILAIAN Penilaian merupakan rangkaian kegiatan untuk memperoleh,

Lebih terperinci

INSTRUMEN EVALUASI DIRI SEKOLAH (EDS)

INSTRUMEN EVALUASI DIRI SEKOLAH (EDS) INSTRUMEN EVALUASI DIRI SEKOLAH (EDS) STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TELAAH SILABUS, RPP, TES DAN PEDOMAN OBSERVASI RESPONDEN: PENGAWAS/KEPALA SEKOLAH BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. sebagai ikhtisar yang memberikan fakta tentang hal-hal khusus. Sedangkan

II. TINJAUAN PUSTAKA. sebagai ikhtisar yang memberikan fakta tentang hal-hal khusus. Sedangkan 10 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Profil Guru Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:1386), profil didefinisikan sebagai ikhtisar yang memberikan fakta tentang hal-hal khusus. Sedangkan guru adalah

Lebih terperinci

PERATURAN AKADEMIK SMA NEGERI 1 WARUNGKIARA TAHUN PELAJARAN 2010 /2011. Digunakan untuk kalangan sendiri SMA NEGERI 1 WARUNGKIARA

PERATURAN AKADEMIK SMA NEGERI 1 WARUNGKIARA TAHUN PELAJARAN 2010 /2011. Digunakan untuk kalangan sendiri SMA NEGERI 1 WARUNGKIARA PERATURAN AKADEMIK SMA NEGERI 1 WARUNGKIARA TAHUN PELAJARAN 2010 /2011 Digunakan untuk kalangan sendiri SMA NEGERI 1 WARUNGKIARA Jl. Palabuhanratu Km.29 Desa/Kec.Warungkiara Telp/Fax (0266)320248 Website:

Lebih terperinci

Draft 2010 PANDUAN PELAKSANAAN SKS SMA NEGERI 78 JAKARTA

Draft 2010 PANDUAN PELAKSANAAN SKS SMA NEGERI 78 JAKARTA Draft 2010 PANDUAN PELAKSANAAN SKS SMA NEGERI 78 JAKARTA A. Landasan 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Than 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 12, 35, 37, dan 38; 2. Peraturan Pemerintah

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : bahwa dalam

Lebih terperinci

B. Materi Ajar Permasalahan penduduk Indonesia (kuantitas dan kualitas). Dampak dari permasalahan penduduk terhadap pembangunan.

B. Materi Ajar Permasalahan penduduk Indonesia (kuantitas dan kualitas). Dampak dari permasalahan penduduk terhadap pembangunan. 80 Lampiran 1 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah : SMPN 1 Cipeucag Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas / Semester : VIII / 1 (satu) Standar Kompetensi : 1. memahami permasalahan

Lebih terperinci

PENYUSUNAN LAPORAN HASIL BELAJAR (LHB) PESERTA DIDIK SMA

PENYUSUNAN LAPORAN HASIL BELAJAR (LHB) PESERTA DIDIK SMA PENYUSUNAN LAPORAN HASIL BELAJAR (LHB) PESERTA DIDIK SMA Departemen Pendidikan Nasional LAPORAN HASIL BELAJAR (LHB) Setiap akhir semester, guru menelaah hasil pencapaian belajar setiap peserta didik (semua

Lebih terperinci

CONTOH RPA PADA PROGRAM PEMBIMBINGAN DAN PELATIHAN GURU RENCANA PENGAWASAN AKADEMIK (RPA-1)

CONTOH RPA PADA PROGRAM PEMBIMBINGAN DAN PELATIHAN GURU RENCANA PENGAWASAN AKADEMIK (RPA-1) CONTOH RPA PADA PROGRAM PEMBIMBINGAN DAN PELATIHAN GURU RENCANA PENGAWASAN AKADEMIK (RPA-1) Nama Sekolah : SMP Diradja Nama Kepala Sekolah : Drs. Surya Diradja, M.Pd. Alamat Sekolah :.Jalan Kapten Tendean,

Lebih terperinci

KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL (KKM)

KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL (KKM) KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL () KELAS X 3 Bahasa Indonesia 65 B 5 Matematika 60 B 6 Fisika 60 B 7 Biologi 60 B 8 Kimia 60 B 9 Sejarah 65 B 10 Geografi 65 B 11 Ekonomi 65 B 12 Sosiologi 65 B 13 Kesenian

Lebih terperinci

STANDAR KOMPETENSI GURU KELAS SD/MI

STANDAR KOMPETENSI GURU KELAS SD/MI STANDAR KOMPETENSI GURU KELAS SD/MI Disajikan pada kegiatan PPM Di UPTD BALEENDAH KAB BANDUNG Oleh BABANG ROBANDI JURUSAN PEDAGOGIK FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Makna Kompetensi

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN PROFESI GURU SD/MI. Udin S. Sa ud, Ph.D

PENGEMBANGAN PROFESI GURU SD/MI. Udin S. Sa ud, Ph.D PENGEMBANGAN PROFESI GURU SD/MI Oleh: Udin S. Sa ud, Ph.D UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA PENGERTIAN PROFESI Suatu pekerjaan tertentu (a particular business) yang menuntut persyaratan khusus dan istimewa

Lebih terperinci

MATA KULIAH PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU. Dr. Ali Mustadi, M. Pd NIP

MATA KULIAH PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU. Dr. Ali Mustadi, M. Pd NIP MATA KULIAH PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU Dr. Ali Mustadi, M. Pd NIP 19780710 200801 1 012 CAKUPAN KAJIAN Pengertian dan cakupan kompetensi guru Kebijakan pemerintah tentang kompetensi guru Analisis berbagai

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN BAB I PENDAHULUAN

STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN BAB I PENDAHULUAN SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 66 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN BAB I PENDAHULUAN Undang-Undang Nomor

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI TAMAN KANAK-KANAK/RAUDHATUL ATHFAL (TK/RA)

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI TAMAN KANAK-KANAK/RAUDHATUL ATHFAL (TK/RA) SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 5 TAHUN 009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI TAMAN KANAK-KANAK/RAUDHATUL ATHFAL (TK/RA) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

oleh, I Gede Margunayasa Jurusan PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha ABSTRAK

oleh, I Gede Margunayasa Jurusan PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha ABSTRAK PELATIHAN PEMBUATAN DAN IMPLEMENTASI PERANGKAT PEMBELAJARAN BERORIENTASI I2M3 DALAM UPAYA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU SD DI GUGUS XIV KECAMATAN BULELENG oleh, I Gede Margunayasa Jurusan PGSD Fakultas

Lebih terperinci

2 Menetapkan : Negara Republik Indonesia Nomor 4496) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas P

2 Menetapkan : Negara Republik Indonesia Nomor 4496) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas P BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1314, 2014 KEMENDIKBUD. Instruktur. Kursus Dan Pelatihan. Kompetensi. Kualifikasi. Standar. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 90 TAHUN

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KEGIATAN PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM. Oleh: Ajat Sudrajat

PENGEMBANGAN KEGIATAN PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM. Oleh: Ajat Sudrajat PENGEMBANGAN KEGIATAN PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Oleh: Ajat Sudrajat PRODI ILMU SEJARAH JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam menjalankan kerangka dan tujuan organisasi.masalah kompetensi itu menjadi penting,

BAB I PENDAHULUAN. dalam menjalankan kerangka dan tujuan organisasi.masalah kompetensi itu menjadi penting, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Kompetensi atau competency adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas/pekerjaan yang didasari atas pengetahuan, keterampilan dan sikap sesuai dengan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA SERANG DINAS PENDIDIKAN

PEMERINTAH KOTA SERANG DINAS PENDIDIKAN SURAT KEPUTUSAN KEPALA NOMOR : 422 / 042 / SMPN 19 Tentang PERATURAN AKADEMIK A. PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN 1. Proses Pembelajaran dilaksanakan dalam tahun pelajaran. 2. Satu Tahun Pelajaran dibagi

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA 59 BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A. Perencanaan Pembelajaran Deskripsi dan analisis data penelitian ini menggambarkan data yang diperoleh di lapangan melalui instrumen pengumpulan data yang berupa

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 66 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 66 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 66 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

Kata Kunci : Supervisi Akademik, Kompetensi Guru Dalam Mengelola KBM, PAIKEM

Kata Kunci : Supervisi Akademik, Kompetensi Guru Dalam Mengelola KBM, PAIKEM PENERAPAN SUPERVISI AKADEMIK UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU DALAM MENGELOLA KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR BERBASIS PAIKEM DI SD NEGERI 2 GROBOGAN, KECAMATAN GROBOGAN, KABUPATEN GROBOGAN SEMESTER I TAHUN

Lebih terperinci

STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI INSTRUKTUR

STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI INSTRUKTUR SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 90 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI DAN KOMPETENSI INSTRUKTUR PADA KURSUS DAN PELATIHAN STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI

Lebih terperinci

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG SALINAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

UNIT 1: RELEVANSI PROGRAM DBE3 DENGAN PERMENDIKNAS NO. 41/2007 UNIT 1-1

UNIT 1: RELEVANSI PROGRAM DBE3 DENGAN PERMENDIKNAS NO. 41/2007 UNIT 1-1 UNIT 1 RELEVANSI PROGRAM DBE3 DENGAN PERMENDIKNAS NO. 41/2007 UNIT 1 RELEVANSI PROGRAM DBE3 DENGAN PERMENDIKNAS NO. 41/2007 Pendahuluan DBE3 bertujuan untuk mendukung Kementerian Pendidikan Nasional dan

Lebih terperinci

Lamp 1. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PROSES UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

Lamp 1. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PROSES UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH 95 Lamp 1. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PROSES UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI 17. Jl. Mangga Besar IV/i No. 27, Kel. Kec. Tamansari, Telp , Fax Jakarta Barat 11150

SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI 17. Jl. Mangga Besar IV/i No. 27, Kel. Kec. Tamansari, Telp , Fax Jakarta Barat 11150 SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI 17 Jl. Mangga Besar IV/i No. 27, Kel. Kec. Tamansari, Telp.021-6392046, Fax.021-6492322 Jakarta Barat 11150 1 KETETAPAN RAKER SMAN 17 JAKARTA TAHUN AJARAN 2017/2018 TENTANG

Lebih terperinci

RANCANGAN PENILAIAN HASIL BELAJAR DIKLAT/BIMTEK KTSP 2009 DEPDIKNAS DIT. PEMBINAAN SMA

RANCANGAN PENILAIAN HASIL BELAJAR DIKLAT/BIMTEK KTSP 2009 DEPDIKNAS DIT. PEMBINAAN SMA RANCANGAN PENILAIAN HASIL BELAJAR HALAMAN 1/29 HAKIKAT PENILAIAN Penilaian merupakan rangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik

Lebih terperinci

Model Penyelenggaraan Peminatan Kurikulum 2013 di SMA KATA PENGANTAR. 2014,Direktorat Pembinaan SMA-Ditjen Pendidikan Menengah ii

Model Penyelenggaraan Peminatan Kurikulum 2013 di SMA KATA PENGANTAR. 2014,Direktorat Pembinaan SMA-Ditjen Pendidikan Menengah ii KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Tujuan... 3 C. Ruang Lingkup... 3 BAB II JUDUL BAB II... 4 A. Pengertian Peminatan,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PEMBIMBING PADA KURSUS DAN PELATIHAN

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PEMBIMBING PADA KURSUS DAN PELATIHAN SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PEMBIMBING PADA KURSUS DAN PELATIHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

A. KUALIFIKASI PEMBIMBING

A. KUALIFIKASI PEMBIMBING LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 41 TAHUN 2009 TANGGAL 30 JULI 2009 A. KUALIFIKASI PEMBIMBING STANDAR PEMBIMBING PADA KURSUS DAN PELATIHAN Standar kualifikasi pembimbing pada kursus

Lebih terperinci

SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 20 TAHUN 2007 TANGGAL 11 JUNI 2007 STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN

SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 20 TAHUN 2007 TANGGAL 11 JUNI 2007 STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 20 TAHUN 2007 TANGGAL 11 JUNI 2007 STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN A. Pengertian 1. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan

Lebih terperinci

Sasaran dan. Pengembangan Sikap Profesional. Kompetensi Dasar

Sasaran dan. Pengembangan Sikap Profesional. Kompetensi Dasar Sasaran dan Pengembangan Sikap Kompetensi Dasar Mahasiswa mampu memahami Sasaran dan Pengembangan Sikap Indikator: Pengertian Sikap Guru Pengertian Kinerja Guru Sasaran Sikap Guru Pengembangan Sikap Kinerja

Lebih terperinci

KISI- KISI UJI KOMPETENSI GURU (UKG)

KISI- KISI UJI KOMPETENSI GURU (UKG) KISI- KISI UJI KOMPETENSI GURU (UKG) MATA PELAJARAN JENJANG PENDIDIKAN : BIOLOGI : SMK Standar Guru Standar Isi Indikator Esensial Inti Guru Mapel Standar Pedagodik 1. Menguasai karakteristik peserta didik

Lebih terperinci

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) komponen muatan KTSP.

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) komponen muatan KTSP. I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) komponen muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan)

Lebih terperinci

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan

Lebih terperinci

Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan) muatan KTSP.

Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan) muatan KTSP. I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan) muatan

Lebih terperinci

STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN

STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 20 TAHUN 2007 TANGGAL 11 JUNI 2007 STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN A. Pengertian 1. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN IPA TERPADU

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN IPA TERPADU PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN IPA TERPADU KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA 2011 Perencanaan Mengkaji dan memetakan

Lebih terperinci

Fakta FAKTA,KONSEP, DEFINISI, OPERASI/RELASI,PRINSIP Pemufakatan (konvensi) dalam matematika diungkapkan melalui simbol-simbol tertentu 2 sebagai simb

Fakta FAKTA,KONSEP, DEFINISI, OPERASI/RELASI,PRINSIP Pemufakatan (konvensi) dalam matematika diungkapkan melalui simbol-simbol tertentu 2 sebagai simb Calon PPL Prodi Matematika FKIP UNSWAGATI CIREBON Disampaikan Tanggal 27 28 juli 2010 Oleh Suhasono Kusiono Fakta FAKTA,KONSEP, DEFINISI, OPERASI/RELASI,PRINSIP Pemufakatan (konvensi) dalam matematika

Lebih terperinci

DIKLAT/BIMTEK KTSP 2009 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1

DIKLAT/BIMTEK KTSP 2009 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1 PANDUAN PENYUSUNAN KTSP DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1 LANDASAN UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Permendiknas No.

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 144 B. TUJUAN 144 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 144 D. UNSUR YANG TERLIBAT 145 E. REFERENSI 145 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 145

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 144 B. TUJUAN 144 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 144 D. UNSUR YANG TERLIBAT 145 E. REFERENSI 145 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 145 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 144 B. TUJUAN 144 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 144 D. UNSUR YANG TERLIBAT 145 E. REFERENSI 145 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 145 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 149 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR

Lebih terperinci

ii KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan hidayahnya, sehingga dunia pendidikan kita telah memiliki Standar Nasional Pendidikan. Standar Nasional

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. dengan standar kompetensi lulusan yang sama dengan sekolah formal. Namun

BAB II KAJIAN TEORI. dengan standar kompetensi lulusan yang sama dengan sekolah formal. Namun BAB II KAJIAN TEORI A. Program Kesetaraan Kejar Paket C Pengertian untuk pendidikan kesetaraan adalah jalur pendidikan nonformal dengan standar kompetensi lulusan yang sama dengan sekolah formal. Namun

Lebih terperinci

PENYUSUNAN KTSP. Sosialisasi KTSP 1

PENYUSUNAN KTSP. Sosialisasi KTSP 1 PENYUSUNAN KTSP Sosialisasi KTSP 1 LANDASAN UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar Isi

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR PROSES PENDIDIKAN KHUSUS TUNANETRA, TUNARUNGU, TUNAGRAHITA, TUNADAKSA, DAN TUNALARAS DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR PROSES PENDIDIKAN KHUSUS TUNANETRA, TUNARUNGU, TUNAGRAHITA, TUNADAKSA, DAN TUNALARAS DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Satuan Pendidikan : SMP/MTs. Kelas/Semester : VII s/d IX /1-2. Nama Guru :... NIP /NIK :... Sekolah :...

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Satuan Pendidikan : SMP/MTs. Kelas/Semester : VII s/d IX /1-2. Nama Guru :... NIP /NIK :... Sekolah :... RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Satuan Pendidikan : SMP/MTs. Kelas/Semester : VII s/d IX /1-2 Nama Guru :... NIP /NIK :... Sekolah :... 1 2 PANDUAN PENGEMBANGAN

Lebih terperinci

STANDAR PENILAIAN (Permen No. 20 Th. 2007)

STANDAR PENILAIAN (Permen No. 20 Th. 2007) STANDAR PENILAIAN (Permen No. 20 Th. 2007) STANDAR PENILAIAN Peraturan Mendiknas Nomor: 20 Tahun 2007 tentang DIREKTORAT PEMBINAAN SMA DITJEN MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan 7 muatan KTSP Melaksanakan

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 1 (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 1 (RPP) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 1 (RPP) Nama Sekolah : SMP Negeri 21 Purworejo Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Kelas/Semester : IX/2 Standar Kompetensi : 3. Memahami dampak globalisasi

Lebih terperinci

BIDANG KURIKULUM (www.sman48-jkt.sch.id) Sugiyanta (SMAN 48 Jakarta) /

BIDANG KURIKULUM (www.sman48-jkt.sch.id) Sugiyanta (SMAN 48 Jakarta) / BIDANG KURIKULUM (www.sman48-jkt.sch.id) Sugiyanta (SMAN 48 Jakarta) [email protected] 08128533491/0817804183 Tujuan Umum : Mewujudkan Visi dan Misi SMAN 48 Tujuan Khusus : Meningkatkan Pencapaian Kompetensi

Lebih terperinci

BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Latar Belakang

BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Latar Belakang BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Latar Belakang Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 dan peraturan pemerintah RI No. 19 tahun 2005 mengamanatkan; Setiap satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah

Lebih terperinci

REVIEW DAN REVISI SILABUS-RPP MAPAEL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) Oleh: Ajat Sudrajat

REVIEW DAN REVISI SILABUS-RPP MAPAEL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) Oleh: Ajat Sudrajat REVIEW DAN REVISI SILABUS-RPP MAPAEL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) Oleh: Ajat Sudrajat PRODI ILMU SEJARAH JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2009 REVIEW

Lebih terperinci

kompetensi profesional, dan kompetensi sosial.

kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1. Kajian Teori 2.1.1 Pengertian Kompetensi Guru Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai

Lebih terperinci

Peraturan Mendiknas Nomor: 20 Tahun tentang STANDAR PENILAIAN DIREKTORAT PEMBINAAN SMA

Peraturan Mendiknas Nomor: 20 Tahun tentang STANDAR PENILAIAN DIREKTORAT PEMBINAAN SMA Peraturan Mendiknas Nomor: 20 Tahun 2007 tentang STANDAR PENILAIAN DIREKTORAT PEMBINAAN SMA DITJEN MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PENILAIAN PENDIDIKAN Penilaian

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. II. PEMBELAJARAN PENGAYAAN A. Pembelajaran Menurut SNP... B. Hakikat Pembelajaran Pengayaan... C. Jenis Pembelajaran Pengayaan...

DAFTAR ISI. II. PEMBELAJARAN PENGAYAAN A. Pembelajaran Menurut SNP... B. Hakikat Pembelajaran Pengayaan... C. Jenis Pembelajaran Pengayaan... DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang... B. ujuan...... C. Ruang Lingkup... II. PEMBELAJARAN PENGAYAAN A. Pembelajaran Menurut SNP... B. Hakikat Pembelajaran Pengayaan... C. Jenis

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 144 B. TUJUAN 144 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 144 D. UNSUR YANG TERLIBAT 144 E. REFERENSI 145 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 145

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 144 B. TUJUAN 144 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 144 D. UNSUR YANG TERLIBAT 144 E. REFERENSI 145 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 145 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 144 B. TUJUAN 144 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 144 D. UNSUR YANG TERLIBAT 144 E. REFERENSI 145 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 145 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 148 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR

Lebih terperinci

Contoh File KKM, PROTA, PROMES, SILABUS, RPP, SK & KD, PEMETAAN

Contoh File KKM, PROTA, PROMES, SILABUS, RPP, SK & KD, PEMETAAN Ini adalah Contoh: Jika ada yang berminat dengan Format *.Doc Silahkan kontak: Telp/SMS : 085 255 989 455 Website : http://bit.ly/rppkita Terima kasih! PERANGKAT PEMBELAJARAN PANDUAN PENGEMBANGAN RENCANA

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah :... Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Kelas/Semester : VIII/I Standar Kompetensi : 1. Menampilkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai

Lebih terperinci

MATERI BEDAH KISI-KISI DAN SOAL UKG, & STRATEGI SUKSES

MATERI BEDAH KISI-KISI DAN SOAL UKG, & STRATEGI SUKSES 1 MATERI BEDAH KISI-KISI DAN SOAL UKG, & STRATEGI SUKSES Oleh: TO SP. [email protected] atau [email protected] HP 08121575726 atau (0274) 781 7575 Rumah (0274) 882481 DASAR HUKUM UJI KOMPETENSI GURU

Lebih terperinci

DAFTAR HADIR A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 1 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 1 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 2

DAFTAR HADIR A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 1 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 1 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 2 DAFTAR HADIR A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 1 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 1 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 2 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 5 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA PENYUSUNAN

Lebih terperinci

PERATURAN SMA NEGERI 1 KARANGANYAR Nomor : 800/ 303 /2010

PERATURAN SMA NEGERI 1 KARANGANYAR Nomor : 800/ 303 /2010 PEMERINTAH KABUPATEN KEBUMEN DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA SMA NEGERI 1 KARANGANYAR Jalan Kemakmuran 51 Telp. (0287) 551094 Karanganyar KEBUMEN 54364 Nomor : 800/ 303 /2010 Tentang PERATURAN AKADEMIK

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA KENDARI DINAS PENDIDIKAN NASIONAL

PEMERINTAH KOTA KENDARI DINAS PENDIDIKAN NASIONAL A. PENILAIAN KELAS X PEMERINTAH KOTA KENDARI DINAS PENDIDIKAN NASIONAL SMA NEGERI 1 KENDARI Jln. Mayjen Soetoyo No.102 Telp/Fax : (0401) 3121 814 - NPSN 40402619, NSS 300123010102 Web-site : www.sman1kendari.sch.id,

Lebih terperinci

SMP NEGERI 1 SEMARAPURA Jalan Teratai, Semarapura Kelod, Klungkung Website:

SMP NEGERI 1 SEMARAPURA Jalan Teratai, Semarapura Kelod, Klungkung   Website: PERATURAN AKADEMIK SMP NEGERI 1 SEMARAPURA TAHUN PELAJARAN 2016 /2017 Digunakan untuk kalangan sendiri SMP NEGERI 1 SEMARAPURA Jalan Teratai, Semarapura Kelod, Klungkung Email: [email protected]

Lebih terperinci

I. STANDAR ISI. hal. 1/61. Instrumen Akreditasi SMP/MTs

I. STANDAR ISI. hal. 1/61. Instrumen Akreditasi SMP/MTs I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan

Lebih terperinci

1. Program keahlian melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

1. Program keahlian melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) I. STANDAR ISI 1. Program keahlian melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) A. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 muatan KTSP B. Melaksanakan kurikulum berdasarkan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

No Item Penilaian Keterangan/ Bukti Fisik

No Item Penilaian Keterangan/ Bukti Fisik INSTRUMEN KOMPONEN/BIDANG MANAJEMEN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN No Item Penilaian Keterangan/ Bukti Fisik 1. Muatan KTSP terdiri atas: (1) M (2) M (3) M (4) M (5) M (6) M (7) M (8) M Sekolah melaksanakan

Lebih terperinci

KTSP DAN IMPLEMENTASINYA

KTSP DAN IMPLEMENTASINYA KTSP DAN IMPLEMENTASINYA Disampaikan pada WORKSHOP KURIKULUM KTSP SMA MUHAMMADIYAH PAKEM, SLEMAN, YOGYAKARTA Tanggal 4-5 Agustus 2006 Oleh : Drs. Marsigit MA FMIPA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA KTSP DAN

Lebih terperinci

2. KTSP dikembangkan oleh program keahlian dengan melibatkan berbagai pihak sesuai dengan tahapan penyusunan KTSP.

2. KTSP dikembangkan oleh program keahlian dengan melibatkan berbagai pihak sesuai dengan tahapan penyusunan KTSP. I. STANDAR ISI 1. Program keahlian melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan

Lebih terperinci

SOSIALISASI DAN PELATIHAN KTSP 2009 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1 / 34

SOSIALISASI DAN PELATIHAN KTSP 2009 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1 / 34 HALAMAN 1 / 34 1 2 3 4 5 Pengertian Landasan Prinsip Pengembangan Unit Waktu Pengembangan g Silabus 6 7 8 9 Komponen Silabus Mekanisme Pengembangan Silabus Langkah Pengembangan Silabus Contoh Model HALAMAN

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 1 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 1 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 1 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 1 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 1 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 1 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 5 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA PENYUSUNAN

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISA DATA

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISA DATA BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISA DATA A. Deskripsi Data MAN Purwodadi adalah Madrasah Aliyah Negeri yang terletak di kabupaten Grobogan jawa tengah, tepatnya di jalan diponegoro no. 22 Purwodadi. Sekolah tersebut

Lebih terperinci