R199 PEKERJAAN DALAM PENANGKAPAN IKAN
|
|
|
- Ari Kartawijaya
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 R199 PEKERJAAN DALAM PENANGKAPAN IKAN 1
2 R-199 Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan 2
3 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan produktif dalam kondisi yang merdeka, setara, aman, bermartabat. Tujuan-tujuan utama ILO ialah mempromosikan hak-hak kerja, memperluas kesempatan kerja yang layak, meningkatkan perlindungan sosial, dan memperkuat dialog dalam menangani berbagai masalah terkait dengan dunia kerja. Organisasi ini memiliki 183 negara anggota dan bersifat unik di antara badan-badan PBB lainnya karena struktur tripartit yang dimilikinya menempatkan pemerintah, organisasi pengusaha dan serikat pekerja/ buruh pada posisi yang setara dalam menentukan program dan proses pengambilan kebijakan. Standar-standar ILO berbentuk Konvensi dan Rekomendasi ketenagakerjaan internasional. Konvensi ILO merupakan perjanjian-perjanjian internasional, tunduk pada ratifikasi negara-negara anggota. Rekomendasi tidak bersifat mengikat kerapkali membahas masalah yang sama dengan Konvensi yang memberikan pola pedoman bagi kebijakan dan tindakan nasional. Hingga akhir 2009, ILO telah mengadopsi 188 Konvensi dan 199 Rekomendasi yang meliputi beragam subyek: kebebasan berserikat dan perundingan bersama, kesetaraan perlakuan dan kesempatan, penghapusan kerja paksa dan pekerja anak, promosi ketenagakerjaan dan pelatihan kerja, jaminan sosial, kondisi kerja, administrasi dan pengawasan ketenagakerjaan, pencegahan kecelakaan kerja, perlindungan kehamilan dan perlindungan terhadap pekerja migran serta kategori pekerja lainnya seperti para pelaut, perawat dan pekerja perkebunan. Lebih dari ratifikasi Konvensi-konvensi ini telah terdaftar. Standar ketenagakerjaan internasional memainkan peranan penting dalam penyusunan peraturan, kebijakan dan keputusan nasional. 3
4 R-199 Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan 4
5 R199 Rekomendasi ILO No. 199 tahun 2007 mengenai Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan Rekomendasi mengenai pekerjaan di sektor penangkapan ikan Rekomendasi: R199 Tempat: Geneva Sidang Konferensi: 96 Tanggal Pengesahan: 14:06:2007 Klasifikasi Subyek: Nelayan Subyek: Nelayan Lihat dokumen ini dalam bahasa: Perancis Spanyol Status: Instrumen terbaru. Rekomendasi ini disahkan setelah tahun 1985 dan dianggap sebagai dokumen terbaru. Sidang Umum Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), Setelah diadakan di Jenewa oleh Badan Pimpinan Kantor Perburuhan Internasional, dan setelah disidangkan dalam sidangnya yang ke 96 pada tanggal 30 Mei 2007, dan 5
6 R-199 Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan Berdasarkan Rekomendasi ILO No. 126 tahun 1966 mengenai Pelatihan Kejuruan (untuk Nelayan), dan Dengan mempertimbangkan kebutuhan untuk mengganti Rekomendasi ILO No. 196 tahun 2005 mengenai Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan, yang merevisi Rekomendasi ILO No. 7 tahun 1920 mengenai Jam Kerja (dalam Penangkapan Ikan), dan Setelah memutuskan pemberlakuan usulan-usulan tertentu yang terkait dengan pekerjaan di sektor penangkapan ikan, yang merupakan butir keempat dari agenda sidang, dan Setelah menetapkan bahwa usulan-usulan ini perlu dibuat dalam bentuk Rekomendasi, sebagai peraturan tambahan dari Konvensi ILO tahun 2007 mengenai Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan (selanjutnya disebut Konvensi ) dan mengganti Rekomendasi ILO No. 196 tahun 2005 mengenai Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan; Mengadopsi pada tanggal empat belas Juni tahun dua ribu tujuh Rekomendasi berikut ini, yang dapat disebut sebagai Rekomendasi ILO tahun 2007 mengenai Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan. Bagian I. Persyaratan kerja di kapal penangkap ikan Perlindungan untuk Remaja 1. Negara Anggota perlu menetapkan persyaratan tentang pelatihan sebelum melaut bagi mereka yang berusia 16 sampai 18 tahun yang bekerja di kapal penangkap ikan, dengan mempertimbangkan instrumen-instrumen internasional mengenai pelatihan kerja di kapal penangkap ikan, termasuk masalah kesehatan dan keselamatan kerja seperti kerja di malam hari, tugas-tugas berberbahaya, bekerja menggunakan mesin berbahaya, penanganan secara manual dan transportasi muatan yang berat, pekerjaan dengan ruang gerak yang besar, pekerjaan yang lama serta persoalan-persoalan terkait lainnya yang diidentifikasi setelah dilakukan penilaian resiko terkait. 6
7 2. Pelatihan bagi mereka yang berusia antara 16 sampai 18 tahun dapat diberikan melalui partisipasi dalam program magang atau program pelatihan yang telah disetujui, yang harus beroperasi sesuai ketentuan yang telah ditetapkan dan dipantau oleh pihak berwenang yang berkompeten, dan tidak boleh mengganggu pendidikan umum mereka. 3. Negara Anggota perlu mengambil langkah-langkah untuk memastikan peralatan keselamatan, pertolongan dan pelengkapan untuk bertahan hidup yang dibawa di kapal penangkap ikan yang membawa mereka yang berusia di bawah 18 tahun adalah sesuai dengan ukuran mereka. 4. Jam kerja awak kapal yang berusia di bawah 18 tahun tidak boleh lebih dari delapan jam per hari dan 40 jam per minggu, dan mereka tidak boleh bekerja lembur kecuali bila tidak dapat dihindari untuk alasan keselamatan. 5. Awak kapal yang berusia di bawah 18 tahun harus dipastikan punya waktu yang cukup untuk makan dan istirahat minimal satu jam untuk makan utama pada hari itu. Pemeriksaan Kesehatan 6. Dalam menentukan sifat pemeriksaan kesehatan, Negara Anggota perlu mempertimbangkan usia mereka yang akan diperiksa serta sifat tugas yang akan mereka lakukan. 7. Sertifikat medis harus ditandatangani seorang praktisi medis yang disetujui pihak berwenang yang berkompeten. 8. Pengaturan perlu dibuat agar mereka yang, setelah diperiksa, dinyatakan tidak fit untuk bekerja di kapal penangkap ikan atau jenis kapal penangkap ikan tertentu, atau untuk melakukan jenis pekerjaan tertentu di kapal, dapat meminta pemeriksaan lanjutan oleh seorang atau beberapa orang penengah medis (medical referees) yang bebas dari kepentingan pemilik kapal atau organisasi pemilik kapal atau awak kapal manapun. 7
8 R-199 Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan 9. Pihak berwenang yang berkompeten perlu mempertimbangkan pedoman internasional tentang pemeriksaan kesehatan dan sertifikasi untuk mereka yang bekerja di laut, seperti Panduan untuk Melaksanakan Pemeriksaan Medis secara Berkala bagi para Pelaut (ILO/ WHO). 10. Untuk awak kapal yang dikecualikan dari penerapan ketentuan terkait pemeriksaan kesehatan dalam Konvensi ini, pihak berwenang yang berkompeten perlu mengambil langkah yang memadai untuk mengadakan pengawasan kesehatan guna memastikan kesehatan dan keselamatan kerja. Kompetensi dan Pelatihan 11. Negara Anggota perlu: (a) Mempertimbangkan standar-standar internasional yang diterima secara umum tentang pelatihan dan kompetensi untuk awak kapal dalam menentukan kompetensi yang dibutuhkan untuk nakhoda, kelasi, masinis dan pihak lain yang bekerja di kapal penangkap ikan; (b) Menangani persoalan-persoalan berikut ini, yang terkait dengan pelatihan kejuruan untuk awak kapal: perencanaan dan administrasi nasional, termasuk koordinasi; standar keuangan dan pelatihan; program-program pelatihan, termasuk prapelatihan kejuruan serta kursus-kursus singkat untuk awak kapal yang sedang bekerja; metoda pelatihan; serta kerjasama internasional; dan (c) memastikan tidak ada diskriminasi yang terkait akses ke pelatihan. 8
9 Bagian II. Persyaratan layanan Catatan layanan 12. Di akhir setiap kontrak, catatan layanan yang terkait dengan kontrak tersebut harus disediakan bagi awak penangkapan ikan yang bersangkutan, atau dimasukkan dalam buku kerja awak tersebut. Langkah khusus 13. Untuk awak kapal yang tidak termasuk dalam ruang lingkup Konvensi ini, pihak berwenang yang berkompeten perlu mengambil langkah guna memberi mereka perlindungan yang memadai sesuai kondisi pekerjaan mereka dan sarana untuk menyelesaikan perselisihan. Upah awak penangkap ikan 14. Awak penangkap ikan berhak atas uang muka sesuai upah mereka berdasarkan persyaratan yang ditetapkan. 15. Untuk kapal dengan panjang 24 meter atau lebih, semua awak kapal berhak atas upah minimal sesuai ketentuan undang-undang nasional, peraturan atau kesepakatan kerja bersama. Bagian III. Akomodasi 16. Dalam menetapkan persyaratan atau pedoman, pihak berwenang yang berkompeten perlu mempertimbangkan pedoman internasional yang terkait dengan akomodasi, makanan, dan kesehatan serta kebersihan mereka yang bekerja atau tinggal di kapal, termasuk ketentuan edisi terbaru Kode Keselamatan untuk Nelayan dan Kapal Penangkap Ikan (FAO/ILO/IMO) serta Panduan Sukarela tentang Desain, Konstruksi dan Peralatan Kapal Kecil Penangkap Ikan (FAO/ILO/IMO) 17. Pihak berwenang yang berkompeten perlu bekerjasama dengan organisasi dan lembaga terkait untuk mengembangkan dan 9
10 R-199 Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan menyebarluaskan materi pendidikan dan informasi serta panduan di kapal tentang akomodasi dan makanan yang aman dan sehat di kapal penangkap ikan. 18. Pemeriksaan atas akomodasi awak kapal yang ditentukan pihak berwenang yang berkompeten perlu dilaksanakan bersamaan dengan survei awal atau survei berkala atau inspeksi untuk tujuan lain. Desain dan Konstruksi 19. Isolasi yang memadai harus dipasang pada dek yang terekspos di atas ruang akomodasi awak kapal, dinding pemisah bagian luar kamar tidur dan ruang makan, kotak mesin dan dinding pemisah dapur serta ruang-ruang lain yang dapat menimbulkan panas, dan bila perlu, untuk mencegah kondensasi atau panas yang berlebihan di dalam kamar tidur, ruang makan, ruang rekreasi dan gang. 20. Perlindungan harus diberikan dari efek panas pipa uap air atau pipa air panas. Pipa uap air dan pipa pembuangan tidak boleh melewati akomodasi awak kapal atau gang yang menuju akomodasi awak kapal. Apabila tidak dapat dihindari, pipa-pipa tersebut harus diisolasi dan ditutup secara memadai. 21. Bahan dan perabotan yang digunakan di ruang akomodasi harus tahan lembab, mudah dibersihkan dan tidak mudah dimakan rayap. Kebisingan dan getaran 22. Tingkat kebisingan di ruang kerja dan ruang hidup, yang ditetapkan pihak berwenang yang berkompeten, perlu sesuai dengan pedoman Internasional Labour Organization tentang level eksposur terhadap faktor-faktor lingkungan di tempat kerja dan, bila mungkin, perlindungan khusus yang dianjurkan Internasional Maritime Organization, serta instrumen perubahan dan pelengkap selanjutnya tentang tingkat kebisingan yang dapat diterima di kapal. 10
11 23. Pihak berwenang yang berkompeten, bersama badan-badan internasional yang berkompeten dan perwakilan organisasi-organisasi pemilik kapal serta awak kapal dan dengan mempertimbangkan, bila mungkin, standar-standar internasional terkait, perlu mengkaji secara terus-menerus masalah getaran di kapal penangkap ikan agar dapat meningkatkan perlindungan terhadap awak kapal, selama dapat dipraktekkan, dari dampak getaran yang mengganggu. (1) Kajian ini harus mencakup dampak eksposur dari getaran yang berlebihan terhadap kesehatan dan kenyamanan awak serta tindakan yang akan ditentukan atau dianjurkan untuk mengurangi getaran di kapal penangkap ikan guna melindungi awak kapal. (2) Upaya untuk mengurangi getaran, atau dampaknya, yang akan dipertimbangkan harus mencakup: (a) petunjuk kepada awak kapal tentang bahaya terhadap kesehatan mereka akibat terekspos getaran terlalu lama; (b) penyediakan alat pelindung pribadi yang disetujui untuk awak kapal bila perlu; dan (c) penilaian resiko dan pengurangan eksposur di kamar tidur, ruang makan, ruang rekreasi dan fasilitas makanan serta akomodasi awak kapal lainnya dengan menerapkan ketentuan-ketentuan yang sesuai dengan panduan yang diberikan Kode Etik (ILO) tentang faktor-faktor lingkungan di tempat kerja dan revisi berikutnya, dengan mempertimbangkan perbedaan antara eksposur di tempat kerja dan di ruang hidup. Pemanasan 24. Sistem pemanas harus dapat memelihara temperatur di akomodasi awak kapal pada tingkat yang memuaskan, sebagaimana yang ditetapkan pihak berwenang yang berkompeten, dalam kondisi cuaca dan iklim normal yang mungkin dihadapi sewaktu melaksanakan 11
12 R-199 Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan tugas, dan harus diatur agar tidak membahayakan keselamatan atau kesehatan awak kapal atau keselamatan kapal itu sendiri. Penerangan 25. Metoda penerangan tidak boleh membahayakan keselamatan atau kesehatan awak kapal atau keselamatan kapal. Kamar tidur 26. Setiap tempat tidur harus dilengkapi satu kasur nyaman dan satu alas bantalan atau kombinasi kasur, termasuk alas per, atau kasur per. Materi alas yang digunakan harus terbuat dari bahan yang telah disetujui. Tempat tidur tidak boleh dipasang bersebelahan sehingga akses ke salah satu tempat tidur hanya dapat dilalui dari tempat tidur yang lain. Untuk tempat tidur bertingkat, tempat tidur yang di bawah tidak boleh lebih rendah dari 0,3 meter dari paras lantai, sedangkan tempat tidur atas harus dilengkapi alas tahan debu yang dipasang kurang lebih di tengah bagian dasar tempat tidur bawah dengan sisi bawah tiang kepala dek (deck head beams). Tempat tidur tidak boleh dipasang lebih dari dua tingkat. Apabila tempat tidur dipasang di sepanjang sisi kapal, maka diperbolehkan hanya satu tempat tidur satu tingkat bila jendela cahaya terletak di atas tempat tidur. 27. Kamar tidur harus dilengkapi gorden untuk jendela cahaya, dan sebuah cermin, lemari kecil untuk keperluan kamar mandi, satu rak buku dan beberapa gantungan jas yang memadai. 28. Bila mungkin, tempat tidur anggota awak kapal harus diatur sedemikian rupa sehingga penjagaannya terpisah dan pekerja siang tidak menggunakan kamar yang sama dengan penjaga (watchkeeper). 29. Untuk kapal dengan panjang 24 meter atau lebih, kamar tidur laki-laki dan perempuan harus terpisah. 12
13 Akomodasi yang sehat 30. Ruang akomodasi yang sehat harus dilengkapi dengan: (a) lantai yang terbuat dari bahan yang tahan lama dan mudah dibersihkan yang telah disetujui, serta tahan lembab dan mudah dikeringkan; (b) dinding pemisah yang terbuat dari baja atau bahan lain yang disetujui dan harus kedap air hingga minimal 0,23 meter di atas permukaan dek; (c) penerangan, pemanasan dan ventilasi yang memadai; dan (d) pipa pembuangan tanah dan pipa limbah dengan dimensi yang memadai dipasang untuk mengurangi resiko gangguan dan supaya mudah dibersihkan; pipa-pipa ini tidak boleh melewati tangki air tawar atau air minum, dan bila mungkin, tidak boleh melewati bagian atas ruang makan atau ruang tidur. 31. Tipe kamar mandi harus sesuai dengan apa yang disetujui dan dilengkapi air yang banyak, tersedia setiap saat dan dapat dikontrol secara independen. Bila mungkin, kamar mandi terletak di tempat yang nyaman tapi terpisah dari WC. Jika ada lebih dari satu kamar mandi di satu kompartemen, maka kamar mandi harus diberi sekat yang memadai untuk menjamin privasi. 32. Fasilitas sanitasi yang terpisah harus disediakan untuk laki-laki dan perempuan. Fasilitas rekreasi 33. Bila fasilitas rekreasi dibutuhkan, perabotannya harus termasuk, minimal, satu rak buku beserta fasilitas untuk membaca, menulis dan, bila mungkin, permainan. Fasilitas dan layanan rekreasi harus dikaji sesering mungkin agar dapat memastikan ia tetap sesuai dengan perubahan dalam kebutuhan awak kapal dikarenakan oleh perkembangan teknis, operasional, serta perkembangan lainnya. Pertimbangan juga harus diberikan pada antara lain fasilitas-fasilitas 13
14 R-199 Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan berikut ini tanpa mengenakan biaya apapun kepada awak kapal, bila mungkin: (a) satu ruang merokok; (b) menonton televisi dan penerimaan siaran radio; (c) proyeksi film atau film video, stoknya harus cukup selama masa pelayaran dan bila perlu, diganti setiap kurun waktu tertentu; (d) peralatan olahraga termasuk peralatan latihan, permainan di atas meja, dan permainan di dek; (e) satu perpustakaan yang berisi buku kejuruan serta buku-buku lain, stok buku harus cukup selama masa pelayaran dan diganti setiap kurun waktu tertentu; (f) fasilitas untuk kerajinan tangan rekreasional; dan (g) peralatan elektronik seperti radio, televisi, video recorder, CD/ DVD player, komputer pribadi dan perangkat lunak, serta cassette recorder/player. Makanan 34. Awak kapal yang diangkat menjadi tukang masak harus dilatih dan memenuhi persyaratan untuk mengisi posisi mereka di kapal. Bagian IV. Perawatan kesehatan, perlindungan kesehatan dan jaminan sosial Perawatan kesehatan di kapal 35. Pihak berwenang yang berkompeten perlu membuat daftar obatobatan dan peralatan yang sesuai dengan resiko terkait yang harus dibawa di kapal penangkap ikan; daftar ini harus mencakup pembalut wanita serta beberapa unit pembuangan yang sesuai dan ramah lingkungan. 14
15 36. Kapal penangkap ikan yang membawa 100 orang awak kapal atau lebih harus dilengkapi dengan seorang doktor medis yang memenuhi syarat di kapal. 37. Awak kapal harus mengikuti pelatihan di bidang P3K dasar sesuai undang-undang dan peraturan nasional, dengan mempertimbangkan instrumen internasional yang berlaku. 38. Formulir standar untuk laporan medis harus dirancang secara khusus untuk memfasilitasi pemberian secara rahasia informasi medis dan informasi terkait tentang masing-masing awak antara kapal penangkap ikan dengan pangkalan di darat bila ada yang sakit atau cidera. 39. Untuk kapal dengan panjang 24 meter atau lebih, di samping ketentuan Pasal 32 Konvensi ini, elemen-elemen berikut ini perlu dipertimbangkan: (a) sewaktu mementukan peralatan medis dan obat-obatan yang akan dibawa ke kapal, pihak berwenang yang berkompeten perlu mempertimbangkan rekomendasi internasional di bidang ini, seperti rekomendasi yang tercantum dalam edisi terbaru Pedoman Medis Internasional untuk Kapal (ILO/IMO/ WHO) dan Contoh Daftar Obat-obatan yang Penting (WHO), serta perkembangan pengetahuan medis dan metoda perawatan yang disetujui; (b) pemeriksaan peralatan medis dan obat-obatan harus dilakukan dengan interval tidak lebih dari 12 bulan; inspekstur harus memastikan bahwa tanggal kadaluwarsa dan kondisi penyimpanan semua obat sudah diperiksa, isi peti obat dicatat dan sesuai dengan pedoman medis yang digunakan secara nasional, dan suplai obat-obatan diberi label dengan nama generik di samping setiap nama merek yang digunakan, lengkap dengan tanggal kadaluwarsa dan kondisi penyimpanan; (c) panduan medis harus menjelaskan cara menggunakan isi peralatan medis dan obat-obatan, dan harus dirancang agar di samping dokter, orang lain juga dapat merawat orang sakit 15
16 R-199 Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan (d) atau cidera di kapal, baik dengan maupun tanpa nasehat medis, melalui komunikasi radio atau satelit; panduan ini harus disusun dengan mempertimbangkan rekomendasi internasional di bidang ini, termasuk panduan yang ada di edisi terbaru Pedoman Medis Internasional untuk Kapal (ILO/IMO/WHO) dan Pedoman P3K Medis untuk Pemakaian dalam Kecelakaan yang Melibatkan Barang Berbahaya (IMO); dan nasehat medis yang disediakan melalui komunikasi radio atau satelit harus disediakan secara gratis untuk semua kapal tanpa memandang bendera yang mereka kibarkan. Kesehatan dan keselamatan kerja Penelitian, penyuluhan informasi dan konsultasi 40. Untuk membantu peningkatan secara terus-menerus keselamatan dan kesehatan para awak kapal, Negara Anggota perlu menetapkan kebijakan dan program pencegahan kecelakaan kapal penangkap ikan yang mencakup pengumpulan dan penyuluhan materi kesehatan dan keselamatan kerja, penelitian dan analisa, dengan mempertimbangkan kemajuan teknologi dan pengetahuan di bidang kesehatan dan keselamatan kerja serta instrumen internasional terkait. 41. pihak berwenang yang berkompeten perlu berupaya memastikan konsultasi secara teratur tentang masalah keselamatan dan kesehatan dengan tujuan memastikan bahwa semua pihak terkait sudah mengetahui secara wajar perkembangan nasional, internasional dan perkembangan lain di bidang ini dan tentang kemungkinan penerapannya di kapal penangkap ikan yang mengibarkan bendera Negara Anggota. 42. Saat memastikan para pemilik kapal penangkap ikan, nakhoda, awak kapal dan pihak terkait lainnya sudah menerima pedoman yang memadai dan sesuai, materi pelatihan, atau informasi terkait lainnya, pihak berwenang yang berkompeten perlu mempertimbangkan standar, kode, panduan internasional terkait serta informasi lainnya. 16
17 Dalam hal ini, pihak berwenang yang berkompeten perlu mengikuti dan menggunakan penelitian dan panduan internasional tentang keselamatan dan kesehatan di sektor penangkapan ikan, termasuk penelitian terkait di bidang kesehatan dan keselamatan kerja secara umum yang mungkin berlaku untuk pekerjaan di kapal penangkap ikan. 43. Informasi terkait bahaya tertentu harus disampaikan kepada semua awak dan pihak lain di kapal melalui pengumuman resmi yang berisi instruksi atau panduan, atau sarana lain yang sesuai. 44. Komisi bersama untuk kesehatan dan keselamatan kerja perlu dibentuk: (a) di darat; atau (b) di atas kapal penangkap ikan, bila dianggap perlu oleh pihak berwenang yang berkompeten, setelah konsultasi, sesuai jumlah awak kapal di kapal tersebut. Sistem pengelolaan kesehatan dan keselamatan kerja 45. Saat menetapkan metoda dan program terkait keselamatan dan kesehatan di sektor penangkapan ikan, pihak berwenang yang berkompeten perlu mempertimbangkan setiap pedoman internasional terkait tentang sistem pengelolaan kesehatan dan keselamatan kerja, termasuk Panduan tentang sistem pengelolaan kesehatan dan keselamatan kerja, ILO-OSH 2001 Penilaian resiko 46. (1) Penilaian resiko terkait penangkapan ikan harus dilaksanakan, bila mungkin, dengan melibatkan partisipasi awak kapal atau perwakilan mereka dan perlu mencakup: (a) penilaian dan pengelolaan resiko; (b) pelatihan, dengan mempertimbangkan ketentuan terkait dalam Bab III Konvensi internasional tentang Standar Pelatihan, 17
18 R-199 Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan Sertifikasi dan Pengawasan Personil Kapal Penangkap Ikan, 1995 (Konvensi STCW-F) yang diadopsi IMO; dan (c) instruksi di kapal untuk awak kapal. (2) untuk memberi dampak terhadap sub-ayat (1) (a), Negara Anggota, setelah konsultasi, perlu mengadopsi undang-undang, peraturan atau tindakan lain yang mengharuskan adanya: (a) partisipasi secara aktif dan teratur dari semua awak kapal dalam meningkatkan keselamatan dan kesehatan dengan secara terus-menerus mengidentifikasi bahaya, menilai resiko dan mengambil tindakan untuk mengatasi resiko melalui pengelolaan keselamatan; (b) sistem pengelolaan kesehatan dan keselamatan kerja yang dapat mencakup kebijakan tentang kesehatan dan keselamatan kerja, ketentuan tentang partisipasi awak kapal dan ketentuan tentang pengaturan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sistem serta mengambil tindakan untuk memperbaiki sistem ini; dan (c) Sistem untuk membantu pelaksanaan kebijakan dan program keselamatan dan kesehatan dan menyediakan awak kapal dengan sebuah forum untuk membahas masalah keselamatan dan kesehatan; prosedur pencegahan di atas kapal harus dirancang agar dapat melibatkan awak kapal dalam mengidentifikasi bahaya dan potensi bahaya dan dalam pelaksanaan tindakan untuk mengurangi atau menghapus bahaya tersebut. (3) Sewaktu menyusun ketentuan sebagaimana yang disebutkan dalam sub-ayat (1)(a), Negara Anggota perlu mempertimbangkan instrumen internasional terkait tentang penilaian dan pengelolaan resiko. Spesifikasi teknis 47. Negara Anggota perlu menangani hal-hal berikut ini, hingga ke tingkat yang dapat diterapkan dan sesuai kondisi yang ada di sektor penangkapan ikan: 18
19 (a) (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) (i) (j) (k) (l) (m) (n) (o) (p) (q) (r) (s) (t) (u) (v) kelaikan laut dan stabilitas kapal penangkap ikan; komunikasi radio; temperatur, ventilasi dan penerangan tempat kerja; pengurangan tingkat kelicinan di permukaan dek; keamanan mesin, termasuk pelindung mesin; pemahaman tentang kapal untuk awak kapal dan pemantau perikanan yang baru di kapal; alat pelindung pribadi; pemadaman kebakaran dan penyelamatan jiwa; bongkar muat kapal; gir pengangkat (lifting gear); peralatan jangkar dan tambatan; keselamatan dan kesehatan di tempat tinggal; kebisingan dan getaran di tempat kerja; ergonomi, termasuk yang terkait dengan susunan tempat kerja serta pengangkatan dan penanganan secara manual; peralatan dan prosedur untuk menangkap, menangani, menyimpan dan memproses ikan dan sumber daya laut lainnya; desain, konstruksi dan modifikasi kapal yang terkait dengan kesehatan dan keselamatan kerja; navigasi dan penanganan kapal; bahan-bahan berbahaya yang digunakan di kapal; sarana aman untuk keluar masuk kapal penangkap ikan di pelabuhan; ketentuan keselamatan dan kesehatan khusus untuk remaja; upaya untuk mencegah keletihan; dan persoalan-persoalan lain yang terkait dengan keselamatan dan kesehatan. 19
20 R-199 Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan 48. sewaktu menyusun undang-undang, peraturan atau tindakan lain terkait standar-standar teknis yang berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan di kapal penangkap ikan, pihak berwenang yang berkompeten perlu mempertimbangkan edisi terbaru Peraturan Keselamatan untuk Nelayan dan Kapal Penangkap Ikan, Bagian A (FAO/ ILO/IMO) Pembuatan daftar penyakit terkait kerja 49. Negara Anggota perlu membuat daftar penyakit yang dikenai terekspos oleh bahan-bahan atau kondisi berbahaya di sektor penangkapan ikan. Jaminan Sosial 50. Untuk memperluas jaminan sosial perlindungan secara progresif ke semua awak kapal, Negara Anggota perlu memelihara informasi terbaru tentang: (a) prosentase awak kapal yang ditanggung; (b) kisaran kontijensi yang ditanggung; dan (c) tingkat manfaat. 51. setiap orang yang dilindungi menurut Pasal 34 Konvensi ini berhak mengajukan banding apabila manfaat mereka ditolak atau bila penetapan mutu atau kuantitas manfaat mereka ternyata merugikan. 52. perlindungan sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 38 dan Pasal 39 Konvensi ini perlu diberikan untuk semua kontijensi yang ditanggung. 20
21 Bagian V. Ketentuan Lain 53. pihak berwenang yang berkompeten perlu menyusun kebijakan inspeksi untuk petugas berwenang agar dapat mengambil tindakan sebagaimana yang ditentukan dalam ayat 2 Pasal 43 Konvensi ini. 54. Negara Anggota perlu bekerjasama, hingga ke tingkat tertinggi yang mungkin, dalam menerapkan panduan yang disepakati secara internasional tentang kebijakan yang ditentukan dalam ayat 53 Rekomendasi ini. 55. Negara Anggota, dalam kapasitasnya sebagai negara pantai, saat memberikan perijinan untuk menangkap ikan di zona ekonomi eksklusifnya, dapat meminta kapal penangkap ikan tersebut untuk mematuhi persyaratan Konvensi ini. Apabila perijinan ini dikeluarkan oleh negara pantai, maka negara-negara ini perlu mempertimbangkan sertifikat atau dokumen sah lainnya yang menyebutkan bahwa kapal tersebut sudah diperiksa pihak berwenang yang berkompeten atau atas namanya dan didapati sesuai dengan ketentuan Konvensi ini. 21
K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA
K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA 1 K 100 - Upah yang Setara bagi Pekerja Laki-laki dan Perempuan untuk Pekerjaan yang Sama Nilainya 2 Pengantar
K 183 KONVENSI PERLINDUNGAN MATERNITAS, 2000
K 183 KONVENSI PERLINDUNGAN MATERNITAS, 2000 2 K-183 Konvensi Perlindungan Maternitas, 2000 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan
R-90 REKOMENDASI PENGUPAHAN SETARA, 1951
R-90 REKOMENDASI PENGUPAHAN SETARA, 1951 2 R-90 Rekomendasi Pengupahan Setara, 1951 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan
K27 PEMBERIAN TANDA BERAT PADA BARANG-BARANG BESAR YANG DIANGKUT DENGAN KAPAL
K27 PEMBERIAN TANDA BERAT PADA BARANG-BARANG BESAR YANG DIANGKUT DENGAN KAPAL 1 K-27 Mengenai Pemberian Tanda Berat pada Barang-Barang Besar yang Diangkut dengan Kapal 2 Pengantar Organisasi Perburuhan
K 95 KONVENSI PERLINDUNGAN UPAH, 1949
K 95 KONVENSI PERLINDUNGAN UPAH, 1949 2 K-95 Konvensi Perlindungan Upah, 1949 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki
K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL
K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL 1 K-144 Konsultasi Tripartit untuk Meningkatkan Pelaksanaan Standar-Standar Ketenagakerjaan Internasional
K187. Tahun 2006 tentang Landasan Peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
K187 Tahun 2006 tentang Landasan Peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja 1 K187 - Tahun 2006 tentang Landasan Peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja ISBN 978-92-2-xxxxxx-x Cetakan Pertama, 2010
R-111 REKOMENDASI DISKRIMINASI (PEKERJAAN DAN JABATAN), 1958
R-111 REKOMENDASI DISKRIMINASI (PEKERJAAN DAN JABATAN), 1958 2 R-111 Rekomendasi Diskriminasi (Pekerjaan dan Jabatan), 1958 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan
K182 PELANGGARAN DAN TINDAKAN SEGERA PENGHAPUSAN BENTUK-BENTUK PEKERJAAN TERBURUK UNTUK ANAK
K182 PELANGGARAN DAN TINDAKAN SEGERA PENGHAPUSAN BENTUK-BENTUK PEKERJAAN TERBURUK UNTUK ANAK 1 K 182 - Pelanggaran dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak 2 Pengantar
K 173 KONVENSI PERLINDUNGAN KLAIM PEKERJA (KEPAILITAN PENGUSAHA), 1992
K 173 KONVENSI PERLINDUNGAN KLAIM PEKERJA (KEPAILITAN PENGUSAHA), 1992 2 K-173 Konvensi Perlindungan Klaim Pekerja (Kepailitan Pengusaha), 1992 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan
R-166 REKOMENDASI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA, 1982
R-166 REKOMENDASI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA, 1982 2 R-166 Rekomendasi Pemutusan Hubungan Kerja, 1982 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan
K69 SERTIFIKASI BAGI JURU MASAK DI KAPAL
K69 SERTIFIKASI BAGI JURU MASAK DI KAPAL 1 K-69 Sertifikasi Bagi Juru Masak Di Kapal 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan
R197 REKOMENDASI MENGENAI KERANGKA PROMOTIONAL UNTUK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
R197 REKOMENDASI MENGENAI KERANGKA PROMOTIONAL UNTUK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA 1 R-197 Rekomendasi Mengenai Kerangka Promotional Untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan
K81 PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN DALAM INDUSTRI DAN PERDAGANGAN
K81 PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN DALAM INDUSTRI DAN PERDAGANGAN 1 K-81 Pengawasan Ketenagakerjaan dalam Industri dan Perdagangan 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan
K19 PERLAKUKAN YANG SAMA BAGI PEKERJA NASIONAL DAN ASING DALAM HAL TUNJANGAN KECELAKAAN KERJA
K19 PERLAKUKAN YANG SAMA BAGI PEKERJA NASIONAL DAN ASING DALAM HAL TUNJANGAN KECELAKAAN KERJA 1 K-19 Perlakukan Yang Sama Bagi Pekerja Nasional dan Asing dalam Hal Tunjangan Kecelakaan Kerja 2 Pengantar
K177 Konvensi Kerja Rumahan, 1996 (No. 177)
K177 Konvensi Kerja Rumahan, 1996 (No. 177) 1 K177 - Konvensi Kerja Rumahan, 1996 (No. 177) 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan
K111 DISKRIMINASI DALAM PEKERJAAN DAN JABATAN
K111 DISKRIMINASI DALAM PEKERJAAN DAN JABATAN 1 K 111 - Diskriminasi dalam Pekerjaan dan Jabatan 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan
K 158 KONVENSI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA, 1982
K 158 KONVENSI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA, 1982 2 K-158 Konvensi Pemutusan Hubungan Kerja, 1982 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan
K120 HYGIENE DALAM PERNIAGAAN DAN KANTOR-KANTOR
K120 HYGIENE DALAM PERNIAGAAN DAN KANTOR-KANTOR 1 K-120 Hygiene dalam Perniagaan dan Kantor-Kantor 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan
K122 Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja
K122 Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja 1 K 122 - Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan
K45 KERJA WANITA DALAM SEGALA MACAM TAMBANG DIBAWAH TANAH
K45 KERJA WANITA DALAM SEGALA MACAM TAMBANG DIBAWAH TANAH 1 K-45 Mengenai Kerja Wanita dalam Segala Macam Tambang Dibawah Tanah 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan
K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA
K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA 1 K-88 Lembaga Pelayanan Penempatan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi
K138 USIA MINIMUM UNTUK DIPERBOLEHKAN BEKERJA
K138 USIA MINIMUM UNTUK DIPERBOLEHKAN BEKERJA 1 K 138 - Usia Minimum untuk Diperbolehkan Bekerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan
R-180 REKOMENDASI PERLINDUNGAN KLAIM PEKERJA (KEPAILITAN PENGUSAHA), 1992
R-180 REKOMENDASI PERLINDUNGAN KLAIM PEKERJA (KEPAILITAN PENGUSAHA), 1992 2 R-180 Rekomendasi Perlindungan Klaim Pekerja (Kepailitan Pengusaha), 1992 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO)
K87 KEBEBASAN BERSERIKAT DAN PERLINDUNGAN HAK UNTUK BERORGANISASI
K87 KEBEBASAN BERSERIKAT DAN PERLINDUNGAN HAK UNTUK BERORGANISASI 1 K 87 - Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak untuk Berorganisasi 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan
K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA
K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki
K98 BERLAKUNYA DASAR-DASAR DARI HAK UNTUK BERORGANISASI DAN UNTUK BERUNDING BERSAMA
K98 BERLAKUNYA DASAR-DASAR DARI HAK UNTUK BERORGANISASI DAN UNTUK BERUNDING BERSAMA 1 K 98 - Berlakunya Dasar-dasar dari Hak untuk Berorganisasi dan untuk Berunding Bersama 2 Pengantar Organisasi Perburuhan
R-188 REKOMENDASI AGEN PENEMPATAN KERJA SWASTA, 1997
R-188 REKOMENDASI AGEN PENEMPATAN KERJA SWASTA, 1997 2 R-188 Rekomendasi Agen Penempatan kerja Swasta, 1997 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas
K105 PENGHAPUSAN KERJA PAKSA
K105 PENGHAPUSAN KERJA PAKSA 1 K 105 - Penghapusan Kerja Paksa 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki dan
K181 Konvensi tentang Penyalur Tenaga Kerja Swasta
K181 Konvensi tentang Penyalur Tenaga Kerja Swasta 1 K 181 - Konvensi tentang Penyalur Tenaga Kerja Swasta 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas
K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi
K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi 1 K 150 - Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi 2 Pengantar Organisasi Perburuhan
K106 ISTIRAHAT MINGGUAN DALAM PERDAGANGAN DAN KANTOR- KANTOR
K106 ISTIRAHAT MINGGUAN DALAM PERDAGANGAN DAN KANTOR- KANTOR 1 K-106 Istirahat Mingguan Dalam Perdagangan dan Kantor-Kantor 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan
K185 PERUBAHAN DOKUMEN IDENTITAS PELAUT, 2003
K185 PERUBAHAN DOKUMEN IDENTITAS PELAUT, 2003 1 K-185 Perubahan Dokumen Identitas Pelaut, 2003 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan
K89 Konvensi tentang Kerja Malam bagi Wanita yang dipekerjakan di Industri. (Hasil Revisi tahun 1948)
K89 Konvensi tentang Kerja Malam bagi Wanita yang dipekerjakan di Industri (Hasil Revisi tahun 1948) 1 K 89 - Konvensi tentang Kerja Malam bagi Wanita yang dipekerjakan di Industri (Hasil Revisi tahun
R198 REKOMENDASI MENGENAI HUBUNGAN KERJA
R198 REKOMENDASI MENGENAI HUBUNGAN KERJA 1 R-198 Rekomendasi Mengenai Hubungan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan
K143 KONVENSI PEKERJA MIGRAN (KETENTUAN TAMBAHAN), 1975
K143 KONVENSI PEKERJA MIGRAN (KETENTUAN TAMBAHAN), 1975 1 K-143 Konvensi Pekerja Migran (Ketentuan Tambahan), 1975 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang
R201 Rekomendasi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Rangga, 2011
R201 Rekomendasi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Rangga, 2011 2 R-201: Rekomendasi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Rangga, 2011 R201 Rekomendasi tentang Pekerjaan Yang Layak
15B. Catatan Sementara NASKAH REKOMENDASI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA. Konferensi Perburuhan Internasional
Konferensi Perburuhan Internasional Catatan Sementara 15B Sesi Ke-100, Jenewa, 2011 NASKAH REKOMENDASI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA 15B/ 1 NASKAH REKOMENDASI TENTANG PEKERJAAN
K102. Konvensi ILO No. 102 Tahun 1952 mengenai (Standar Minimal) Jaminan Sosial
K102 Konvensi ILO No. 102 Tahun 1952 mengenai (Standar Minimal) Jaminan Sosial 1 Konvensi ILO No. 102 Tahun 1952 mengenai (Standar Minimal) Jaminan Sosial Copyright Organisasi Perburuhan Internasional
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2000 TENTANG K E P E L A U T A N PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2000 TENTANG K E P E L A U T A N PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran diatur
K168. Konvensi Promosi Kesempatan Kerja dan Perlindungan terhadap Pengangguran, 1988 (No. 168)
K168 Konvensi Promosi Kesempatan Kerja dan Perlindungan terhadap Pengangguran, 1988 (No. 168) K168 - Konvensi Promosi Kesempatan Kerja dan Perlindungan terhadap Pengangguran, 1988 (No. 168) 2 K168 Konvensi
Lampiran IV MARPOL 73/78 PERATURAN UNTUK PENCEGAHAN PENCEMARAN OLEH KOTORAN DARI KAPAL. Peraturan 1. Definisi
Lampiran IV MARPOL 73/78 PERATURAN UNTUK PENCEGAHAN PENCEMARAN OLEH KOTORAN DARI KAPAL Bab 1 Umum Peraturan 1 Definisi Untuk maksud Lampiran ini: 1 Kapal baru adalah kapai:.1 yang kontrak pembangunan dibuat,
R184 Rekomendasi Kerja Rumahan, 1996 (No. 184)
R184 Rekomendasi Kerja Rumahan, 1996 (No. 184) 1 R184 - Rekomendasi Kerja Rumahan, 1996 (No. 184) 2 R184 Rekomendasi Kerja Rumahan, 1996 (No. 184) Rekomendasi mengenai Kerja Rumahan Adopsi: Jenewa, ILC
PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2000 TENTANG KEPELAUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2000 TENTANG KEPELAUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UMUM Pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia pelaut dimaksudkan untuk menciptakan
KONVENSI NOMOR 81 MENGENAI PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN DALAM INDUSTRI DAN PERDAGANGAN
LAMPIRAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2003 TENTANG PENGESAHAN ILO CONVENTION NO. 81 CONCERNING LABOUR INSPECTION IN INDUSTRY AND COMMERCE (KONVENSI ILO NO. 81 MENGENAI PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN
K171 Konvensi Kerja Malam, 1990
K171 Konvensi Kerja Malam, 1990 2 K-171 Konvensi Kerja Malam, 1990 K171 Konvensi Kerja Malam, 1990 Konvensi mengenai Kerja Malam (Catatan: Tanggal berlaku:04:01:1995) Konvensi:C171 Tempat: Jenewa Sesi
K102. Konvensi ILO No. 102 Tahun 1952 mengenai (Standar Minimal) Jaminan Sosial
K102 Konvensi ILO No. 102 Tahun 1952 mengenai (Standar Minimal) Jaminan Sosial 1 Konvensi ILO No. 102 Tahun 1952 mengenai (Standar Minimal) Jaminan Sosial Copyright Organisasi Perburuhan Internasional
Konvensi 183 Tahun 2000 KONVENSI TENTANG REVISI TERHADAP KONVENSI TENTANG PERLINDUNGAN MATERNITAS (REVISI), 1952
Konvensi 183 Tahun 2000 KONVENSI TENTANG REVISI TERHADAP KONVENSI TENTANG PERLINDUNGAN MATERNITAS (REVISI), 1952 Komperensi Umum Organisasi Perburuhan Internasional, Setelah disidangkan di Jeneva oleh
K155 Konvensi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, 1981
K155 Konvensi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, 1981 2 K-155 Konvensi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, 1981 K155 Konvensi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, 1981 Konvensi mengenai Keselamatan dan Kesehatan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2016 TENTANG PENGESAHAN MARITIME LABOUR CONVENTION, 2006 (KONVENSI KETENAGAKERJAAN MARITIM, 2006)
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2016 TENTANG PENGESAHAN MARITIME LABOUR CONVENTION, 2006 (KONVENSI KETENAGAKERJAAN MARITIM, 2006) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
KONVENSI-KONVENSI ILO TENTANG KESETARAAN GENDER DI DUNIA KERJA
KONVENSI-KONVENSI ILO TENTANG KESETARAAN GENDER DI DUNIA KERJA Kantor Perburuhan Internasional i ii Konvensi-konvensi ILO tentang Kesetaraan Gender di Dunia Kerja Pengantar Kaum perempuan menghadapi beragam
15A. Catatan Sementara NASKAH KONVENSI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA. Konferensi Perburuhan Internasional
Konferensi Perburuhan Internasional Catatan Sementara 15A Sesi Ke-100, Jenewa, 2011 NASKAH KONVENSI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA 15A/ 1 NASKAH KONVENSI TENTANG PEKERJAAN YANG
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2000 TENTANG KEPELAUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2000 TENTANG KEPELAUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran diatur ketentuan-ketentuan
K189 Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, 2011
K189 Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, 2011 2 K-189: Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, 2011 K189 Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi
Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan. Pekerja rumah tangga, seperti juga pekerja-pekerja lainya, berhak atas kerja layak.
Konvensi No. 189 Konvensi mengenai kerja layak bagi pekerja rumah tangga Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan. Pekerja rumah tangga, seperti juga pekerja-pekerja lainya, berhak atas kerja layak. Pada
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 95, 2002 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4227) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
Daftar Periksa Pembinaan Peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Usaha Kecil dan Menengah dengan Metoda Pelatihan Partisipasi Aktif
Daftar Periksa Pembinaan Peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Usaha Kecil dan Menengah dengan Metoda Pelatihan Partisipasi Aktif Working Improvement in Small Medium Enterprise (WISE) by PAOT
PENYUSUNAN STANDAR INTERNASIONAL UNTUK PEKERJA RUMAH TANGGA. Organisasi Perburuhan Internasional
PENYUSUNAN STANDAR INTERNASIONAL UNTUK PEKERJA RUMAH TANGGA Organisasi Perburuhan Internasional Agenda Kerja Layak ILO untuk Pekerja Rumah Tangga Penyusunan Standar untuk Pekerja Rumah Tangga 2 I. DASAR
UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 1992 TENTANG PELAYARAN [LN 1992/98, TLN 3493]
UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 1992 TENTANG PELAYARAN [LN 1992/98, TLN 3493] BAB XIII KETENTUAN PIDANA Pasal 100 (1) Barangsiapa dengan sengaja merusak atau melakukan tindakan apapun yang mengakibatkan tidak
Naskah Rekomendasi mengenai Landasan Nasional untuk Perlindungan Sosial
Naskah Rekomendasi mengenai Landasan Nasional untuk Perlindungan Sosial 2 Naskah Rekomendasi mengenai Landasan Nasional untuk Perlindungan Sosial Naskah Rekomendasi mengenai Landasan Nasional untuk Perlindungan
b. bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut pada huruf a perlu diatur lebih lanjut mengenai perkapalan dengan Peraturan Pemerintah;
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2002 TENTANG P E R K A P A L A N PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran terdapat
PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2000 TENTANG KENAVIGASIAN
PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2000 TENTANG KENAVIGASIAN UMUM Kegiatan kenavigasian mempunyai peranan penting dalam mengupayakan keselamatan berlayar guna mendukung
K131. Konvensi Penetapan Upah Minimum, 1970
K131 Konvensi Penetapan Upah Minimum, 1970 2 K-131 Konvensi Penetapan Upah Minimum, 1970 K131 Konvensi Penetapan Upah Minimum, 1970 Konvensi mengenai Penetapan Upah Minimum, dengan Rujukan Khusus pada
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.5931 PENGESAHAN. Konvensi. 2006. Maritim. Ketenagakerjaan. (Penjelasan atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 193) PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 125 TAHUN 2001 TENTANG PENGESAHAN PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK RAKYAT CHINA MENGENAI PELAYARAN NIAGA PRESIDEN REPUBLIK
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (CPOB). Hal ini didasarkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Industri farmasi diwajibkan menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Hal ini didasarkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI. No.43/MENKES/SK/II/1988 tentang CPOB dan Keputusan
BAB II PENGATURAN PEKERJA RUMAHANMENURUT KONVENSI ILO N A. Konvensi Sebagai Produk ILO dan daya Ikatnya Bagi Negara-negara
BAB II PENGATURAN PEKERJA RUMAHANMENURUT KONVENSI ILO N0. 177 A. Konvensi Sebagai Produk ILO dan daya Ikatnya Bagi Negara-negara Anggota Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) merupakan organisasi perdamaian
K156 Konvensi Pekerja dengan Tanggung Jawab Keluarga, 1981
K156 Konvensi Pekerja dengan Tanggung Jawab Keluarga, 1981 2 K-156 Konvensi Pekerja dengan Tanggung Jawab Keluarga, 1981 K156 Konvensi Pekerja dengan Tanggung Jawab Keluarga, 1981 Konvensi mengenai Kesempatan
KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN MARITIM, 1979 LAMPIRAN BAB 1 ISTILAH DAN DEFINISI
KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN MARITIM, 1979 LAMPIRAN BAB 1 ISTILAH DAN DEFINISI 1.1 "Wajib" digunakan dalam Lampiran untuk menunjukkan suatu ketentuan, penerapan yang seragam
4. Metoda penerapan Konvensi No.111
Diskriminasi dan kesetaraan: 4. Metoda penerapan Konvensi No.111 Kesetaraan dan non-diskriminasi di tempat kerja di Asia Timur dan Tenggara: Panduan 1 Tujuan belajar Mengidentifikasi kebijakan dan tindakan
KESELAMATAN & KESEHATAN KERJA (K3) DI LINGKUNGAN RUMAH TANGGA
International Labour Organization KESELAMATAN & KESEHATAN KERJA (K3) DI LINGKUNGAN RUMAH TANGGA International Labour Organization KESELAMATAN & KESEHATAN KERJA (K3) DI LINGKUNGAN RUMAH TANGGA di Lingkungan
Konvensi ILO No. 189 & Rekomendasi No. 201
Konvensi ILO No. 189 & Rekomendasi No. 201 KERJA LAYAK bagi PEKERJA RUMAH TANGGA Irham Ali Saifuddin Capacity Building Specialist ILO Jakarta PROMOTE Project 1 DASAR PEMIKIRAN Pengakuan nilai sosial dan
REPUBLIK DEMOKRASI RAKYAT LAOS JADWAL KOMITMEN SPESIFIK
I. KOMITMEN HORISONTAL SEMUA SEKTOR YANG DICAKUP DALAM JADWAL INI 3) Kehadiran komersial pemasok jasa asing dapat berbentuk sebagai berikut : - Suatu usaha patungan dengan satu atau lebih penanam modal
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN ILO CONVENTION NO. 111 CONCERNING DISCRIMINATION IN RESPECT OF EMPLOYMENT AND OCCUPATION (KONVENSI ILO MENGENAI DISKRIMINASI DALAM
KONVENSI NO. 138 MENGENAI USIA MINIMUM UNTUK DIPERBOLEHKAN BEKERJA
KONVENSI NO. 138 MENGENAI USIA MINIMUM UNTUK DIPERBOLEHKAN BEKERJA Kongres Organisasi Ketenagakerjaan Internasional. Setelah diundang ke Jenewa oleh Badan Pengurus Kantor Ketenagakerjaan Internasional,
Sekilas tentang Konvensi No. 189 dan Rekomendasi No Catatan konsep
Sekilas tentang Konvensi No. 189 dan Rekomendasi No. 201 Catatan konsep Dokumen ini merupakan pengantar singkat Konvensi No. 189 dan Rekomendasi No. 201 yang disusun untuk memberikan pintu masuk yang tepat
Mengingat ketentuan-ketentuan yang relevan dari Konvensi Perserikatan Bangsa- Bangsa tentang Hukum Laut tanggal 10 Desember 1982,
PERSETUJUAN PELAKSANAAN KETENTUAN-KETENTUAN KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA TENTANG HUKUM LAUT TANGGAL 10 DESEMBER 1982 YANG BERKAITAN DENGAN KONSERVASI DAN PENGELOLAAN SEDIAAN IKAN YANG BERUAYA TERBATAS
Kode Etik Pemasok. Pendahuluan
KODE ETIK PEMASOK Kode Etik Pemasok Pendahuluan Sebagai peritel busana internasional yang terkemuka dan berkembang, Primark berkomitmen untuk membeli produk berkualitas tinggi dari berbagai negara dengan
Kode Etik C&A untuk Pasokan Barang Dagangan
Kode Etik C&A untuk Pasokan Barang Dagangan Perhatian: ini adalah terjemahan dari teks bahasa Inggris. Versi asli bahasa Inggrislah yang dianggap sebagai dokumen yang mengikat secara hukum. - April 2015
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2000 TENTANG PENGESAHAN ILO CONVENTION NOMOR 182 CONCERNING THE PROHIBITION AND IMMEDIATE ACTION FOR ELIMINATION OF THE WORST FORMS OF CHILD LABOUR (KONVENSI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 1 TAHUN 2000 (1/2000) TENTANG PENGESAHAN ILO CONVENTION NOMOR 182 CONCERNING THE PROHIBITION AND IMMEDIATE ACTION FOR ELIMINATION OF THE WORST FORMS OF CHILD
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1999 TENTANG
Menimbang : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN ILO CONVENTION NO. 111 CONCERNING DISCRIMINATION IN RESPECT OF EMPLOYMENT AND OCCUPATION (KONVENSI ILO MENGENAI DISKRIMINASI
Annex 1: Kovenan Internasional Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya
Annex 1: Kovenan Internasional Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya Diambil dan terbuka untuk ditandatangani, diratifikasi dan diaksesi oleh resolusi Mahkamah Umum 2200A (XXI) pada 16 Desember 1966, berlaku
BERITA NEGARA. KKP. Usaha Perikanan. Sertifikasi. Sistem. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA
No.1841, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KKP. Usaha Perikanan. Sertifikasi. Sistem. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35/PERMEN-KP/2015 TENTANG SISTEM DAN SERTIFIKASI
A. KRITERIA AUDIT SMK3
LAMPIRAN II PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN 2010 TENTANG SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PEDOMAN PENILAIAN PENERAPAN SMK3 A. KRITERIA AUDIT SMK3 1 PEMBANGUNAN DAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 1999 TENTANG
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN ILO CONVENTION NO. 138 CONCERNING MINIMUM AGE FOR ADMISSION TO EMPLOYMENT (KONVENSI ILO MENGENAI USIA MINIMUM UNTUK DIPERBOLEHKAN
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Organisasi Perburuhan Internasional
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Organisasi Perburuhan Internasional Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Organisasi Perburuhan Internasional Peraturan ran nperund Perundang-Undangan tentang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara kepulauan (Archipelagic State) memiliki lebih kurang 17.500 pulau, dengan total panjang garis pantai mencapai 95.181 km
Stop Eksploitasi pada Pekerja kelapa sawit. Panduan untuk kebun
Stop Eksploitasi pada Pekerja kelapa sawit Panduan untuk kebun Januari 2016 Panduan kerja untuk perkebunan, pabrik pengolahan, kebun, dan ladang Pendahuluan Panduan ini disusun dari Prinsip Tanpa Eksploitasi
BAB II LANDASAN TEORI. dan proses produksi (Tarwaka, 2008: 4). 1. Mencegah dan Mengurangi kecelakaan.
BAB II LANDASAN TEORI A. Keselamatan Kerja Menurut Tarwaka keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahan, landasan kerja dan lingkungan
PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42/PERMEN-KP/2016 TENTANG PERJANJIAN KERJA LAUT BAGI AWAK KAPAL PERIKANAN
PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42/PERMEN-KP/2016 TENTANG PERJANJIAN KERJA LAUT BAGI AWAK KAPAL PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN
Situasi Global dan Nasional
Pekerja Rumah Tangga (PRT) Situasi Global dan Nasional A r u m R a t n a w a t i K e p a l a P e n a s e h a t T e k n i s N a s i o n a l P R O M O T E I L O J A K A R T A 1 Pekerja Rumah Tangga: Angkatan
KEPPRES 55/1999, PENGESAHAN PERJANJIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK FEDERAL JERMAN DI BIDANG PELAYARAN
Copyright (C) 2000 BPHN KEPPRES 55/1999, PENGESAHAN PERJANJIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK FEDERAL JERMAN DI BIDANG PELAYARAN *48854 KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Konvensi tentang Penyalur Tenaga Kerja Swasta
Konvensi tentang Penyalur Tenaga Kerja Swasta Konferensi Umum Organisasi perburuhan Internasional, Setelah disidangkan di Jenewa oleh Badan Pelaksana Kantor Perburuhan Internasional dan setelah mengadakan
