BAB IV TEKTONOSTRATIGRAFI DAN POLA SEDIMENTASI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV TEKTONOSTRATIGRAFI DAN POLA SEDIMENTASI"

Transkripsi

1 BAB IV TEKTONOSTRATIGRAFI DAN POLA SEDIMENTASI Dalam bab ini akan dipaparkan tektonostratigrafi dari daerah penelitian. Tektonostratigrafi adalah suatu analisis yang menghubungkan antara peristiwa tektonik dan rekamannya dalam bentuk tatanan stratigrafi pada saat beberapa fase seperti: fase pre-rift,fase syn-rift, dan fase post rift. Informasi stratigrafi diperoleh dari studi literatur dan data log sumur yaitu log gamma ray, dari studi literatur dan data sumur di ketahui batas-batas lapisan yang diperkirakan merupakan lapisan prerift, syn-rift, dan post rift. Sedangkan data seismik digunakan untuk membuat beberapa peta seperti: - Peta bawah permukaan (dalam waktu) - Peta horizon pre-rift atau basement - Peta horizon top syn-rift - Peta horizon post-rift - Peta isochrone (ketebalan dalam waktu) antara horizon pre-rift dan top synrift - Peta isochrone (ketebalan dalam waktu) antara horizon top syn-rift dan post-rift - Model 3D dari struktur-struktur yang terdapat di daerah penelitan - Peta atribut seismik (untuk menganalisis fasies daerah penelitian) Pola sedimentasi adalah suatu analisis mengenai proses-proses sedimentasi yang terjadi meliputi litologi, lingkungan pengendapan, source sediment, dan paleocurrent. Pada skripsi ini penulis membatasi pola sedimentasi yang terjadi selama fase syn-rift, berdasarkan analisis data log sumur, peta isochrone dan peta atribut seismik. Pada daerah penelitian yaitu Blok Tanjung Jabal terdapat 6 data sumur yaitu sumur N-TJ-1, NW-TJ-1, TJ-1, TJ-2, TJ-3, dan SW-TJ-1. Dari data sumur ini di lakukan korelasi detail berdasarkan marker stratigrafi yang sudah ada. Dari hasil korelasi kemudian dianalisis dan diketahui batas-batas untuk horizon top syn-rift, dan postrift yang kemudian dilakukan pengikatan dari data sumur dengan data seismik. 52

2 Sedangkan untuk penentuan horizon pre-rift, dilakukan berdasarkan analisis dari interpretasi data seismik, hal ini dikarenakan data sumur pemboran tidak mencapai interval basement (pre-rift). Gambar 4.1 Peta koordinat dan lokasi sumur-sumur daerah penelitian. 4.1 Tektonostratigrafi Blok Tanjung Jabal Terdapat 3 fase dalam analisis tektonostratigrafi Blok Tanjung Jabal, yaitu fase prerift, syn-rift, dan post-rift. Fase pre-rift merupakan fase awal dimana cekungan belum terbentuk sehingga tidak ada proses sedimentasi yang terjadi. Fase syn-rift merupakan fase dimana sudah terbentuknya cekungan dan proses sedimentasi berlangsung selama fase rifting masih terjadi. Sedangkan fase post-rift adalah fase yang terjadi setelah fase rifting berhenti sehingga proses sedimen yang terjadi menghasilkan endapan yang relatif paralel dan selaras (gambar 4.2) Analisis Data Log Sumur Tahap awal dalam menentukan tektonostratigrafi di daerah Tanjung Jabal, Jambi dilakukan korelsi detail pada data log sumur di daerah penelitian berupa korelasi SB (sequence boundary) dan MFS (maximum flooding surface). Dari hasil korelasi sumur ini terlihat adanya penebalan dan menipisan pada interval Top Formasi Lahat- MFS 3 dan pada interval MFS 3-Top Formasi Talangakar Bawah terlihat korelasi memiliki ketebalan yang relatif sama. 53

3 Gambar 4.2 (a) fase pre-rift; (b) fase syn-rift; (c) fase post-rift. Dari data sumur-sumur yang telah dilakukan korelasi, kemudian dilakukan analisis untuk menentukan horizon top syn-rift dan post-rift. Analisis untuk fase syn-rift berdasarkan data sumur yang terlihat penipisan dan penebalan pada marker yang telah dilakukan korelasi (gambar 4.3). Penentuan horizon top syn-rift dilakukan berdasarkan batas MFS yang memperlihatkan bahwa lapisan atau interval di atasnya terlihat memiliki ketebalan yang relatif sama. Penentuan batas top syn-rift berdasarkan MFS dilakukan karena MFS lebih bersifat global sehingga dalam interpretasi horizon pada data seismik horizon top syn-rift terlihat lapisan di atasnya yang paralel dan continous. Analisis untuk penentuan horizon post-rift dilakukan berdasarkan hasil data korelasi log sumur yang memperlihatkan ketebalan hasil korelasi yang relatif sama (gambar 4.4). Penarikan horizon top post-rift untuk Daerah Blok Tanjung Jabal dilakukan berdasarkan marker stratigrafi Top Formasi Talangakar Bawah, hal ini dikarenakan Top Formasi Talangakar Bawah merupakan marker stratigrafi terdekat setelah marker untuk top syn-rift. Penentuan marker top post-rift yaitu Top Formasi Talangakar Bawah dilakukan karena formasi-formasi yang diendapkan setelah Formasi Talangakar Bawah diendapkan secara selaras yang merupakan penciri dari hasil endapan post-rift (gambar 2.3). 54

4 Top syn-rift Top F.Lahat Gambar 4.3 Korelasi log sumur Daerah Blok Tanjung Jabal interval syn-rift. Top post-rift Top F. Talangakar Bawah Top syn-rift Gambar 4.4 Korelasi log sumur Daerah Blok Tanjung Jabal interval post-rift. 55

5 4.1.2 Pengikatan Data Sumur dengan Data Seismik Setelah ditentukan marker horizon untuk top syn-rift dan top post-rift berdasarakan hasil analisis korelasi log sumur kemudian marker untuk top syn-rift dan top post-rift diikat dengan data seimik. Sumur yang dapat diikat dengan data seimik harus memiliki data log sonik dan log density. Terdapat 3 sumur yang memiliki log sonik dan log density yaitu sumur TJ-1, TJ-2, dan NW-TJ-1 sehingga hanya ketiga sumur ini yang dapat diikat dengan data seimik. Metode yang umum dipakai untuk melakukan pengikatan data sumur ke data seimik adalah dengan memanfaatkan seismogram sintetik dari hasil survei kecepatan (well velocity survey) (Sukmono, 1999). Metode well seismic tie dalam penelitian ini menggunakan check shot survey, yaitu berdasarkan data check shot yang dimiliki oleh ketiga sumur di atas. Gambar 4.5 Metode well to seimic tie menggunakan seismogram sintetik dan check shot. 56

6 Dari hasil analisis pengikatan data sumur ke data seismik menggunakan metode seismogram sintetik dan check shot terdapat perbedaan perbedaan terutama pada sumur TJ-2. Hasil dari analisis seismogram sintetik hasil yang sangat baik diperlihatkan pada sumur TJ-1. Sedangkan berdasarkan dari hasil menggunakan metode check shot hasil yang sangat baik di hasilkan oleh sumur TJ-1,dan TJ-2, namun untuk sumur NW-TJ-1 terlihat perbedaan namun tidak begitu signifikan. Hasil analisis pengikatan data sumur ke data seismik yang digunakan pada penelitian ini adalah hasil analisis menggunakan metode check shot karena hasilnya lebih baik dan koreksi kesalahan yang lebih kecil Horizon Pre-Rift Setelah diketahui marker untuk batas top syn-rift dan top post-rift dari data log sumur kemudian melakukan marker untuk batas pre-rift (basement). Karena data log sumur pemboran tidak mencapai batuan dasar (basement) sehingga dalam menentukan batas pre-rift berdasarkan konfigurasi refleksi seismik yang terlihat pada penampang seismik. Dalam penentuan batas-batas untuk lapisan pre-rift dapat dianalisis berdasarkan refleksi seismik terutama batas-batas sekuens pengendapan yaitu downlap dan onlap yang terlihat pada penanpang seismik.(gambar 4.6) Gambar 4.6 Batas-batas sekuens pengendapan pada suatu cekungan. (Mitchum,1986) Berdasarkan data stratigrafi diketahui bahwa batuan dasar (basement) dari Subcekungan Jambi adalah batuan beku granit (Simanjuntak, dkk., 1991). Oleh karena itu dalam menentukan batas untuk lapisan pre-rift terlihat perbedaan dari hasil 57

7 refleksi data seismik yang terlihat pada penampang berbentuk tidak beraturan. Berbeda dengan batuan sedimen yang terlihat bentuk perlapisan dan relatif paralel.(gambar 4.7) Gambar 4.7 Penentuan horizon pre-rift daerah penelitian. Gambar 4.8 Penentuan horizon pre-rift daerah penelitian. Dari gambar di atas terlihat perbedaan lapisan batuan dasar (basement) dengan lapisan sedimen yang diendapkan di atasnya. Batas sekuens onlap dan downlap 58

8 terlihat jelas sehingga dapat disimpulkan bahwa gambar di atas merupakan batas cekungan. Pada lapisan batuan dasar terlihat bentuk yang tidak beraturan (chaotic), sedangkan lapisan sedimen terlihat bentuk perlapisan dan relatif paralel. Hal ini dapat dipergunakan juga sebagai penentuan horizon pre-rift bila tidak ditemukan batas onlap atau downlap pada penampang seismik.(gambar 4.8) Setelah diketahui batas-batas horizon pre-rift maka dilakukan analisis penarikan horizon pre-rift yang terdapat pada Blok Tanjung Jabal yang berjumlah 2000 penampang seismik berupa data seismik 3D, jumlah penampang seismik yang dianalisis pada daerah penelitian berjumlah sekitar 85 line seismik dengan interval penarikan horizon yaitu per 25 penampang seismik dan beberapa penampang seismik yang memiliki struktur yang jelas dan data check shot dari data log sumur pemboran. Dari hasil analisis penarikan horizon pre-rift pada data seismik, kemudian dilakukan pembuatan peta horizon pre-rift dalam bentuk time structure (gambar 4.9). Peta horizon pre-rift sangat penting untuk menentukan bentuk atau geometri cekungan sebelum terjadinya proses sedimentasi di Blok Tanjung Jabal. Dari peta pre-rift (gambar 4.9) bentuk atau geometri cekungan belum terlihat dengan jelas, terdapat tinggian (basement high) di bagian utara dan di bagian selatan terlihat adanya cekungan. Peta pre-rift ini memiliki nilai terendah -2093ms dan nilai tertinggi -1327ms. Bila dikalibrasi menjadi data kedalaman dalam meter, dengan nilai kalibrasi dari ms (milisekon) menjadi meter sekitar 1.2 (1ms = 1,2 meter) untuk batuan klastik kompak (Taner, dkk (1977)). Berarti kedalaman terendah sekitar ,6 meter dan kedalaman tertinggi sekitar -1592,4 meter. 59

9 Gambar 4.9 Peta Struktur Waktu Horizon Pre-Rift (Basement) Blok Tanjung Jabal, Jambi. 60

10 4.1.4 Horizon Top Syn-Rift Dalam penerikan horizon top syn-rift yang sudah memiliki marker yaitu MFS3 (berdasarkan data log sumur) maka setelah data log sumur diikat dengan data seismik horizon top syn-rift dapat diinterpretasi berdasarkan data sumur MFS3. Kesulitan dalam penarikan horizon ini disebabkan karena letak sumur yang dapat diikat dengan data seismik saling berdekatan sehingga hasil interpretasi untuk daerah yang jauh dari data sumur bisa terjadi kesalahan. Oleh karena itu dalam melakukan interpretasi horizon ini harus dilakukan penarikan yang detail pada penampang-penampang seismik yang dekat dengan sumur dan kemudian untuk penampang seimik yang jauh dari data sumur harus mengikuti hasil interpretasi pada penampang seismik yang berada di dekat sumur. Dari hasil analisis seismogram sintetik dan check shot terlihat bahwa wavelet untuk MFS 3 berada di fase zero crossing (gambar4.5). Maka pada data seismik dalam analisis penarikan horizon top syn-rift mengikuti fase zero crossing pada panampang-penampang seimik yang terdapat di daerah penelitian. (gambar 4.10) Gambar 4.10 Penarikan horizon Top syn rift berdasarkan hasil check shot sumur TJ-1 inline

11 Gambar di atas merupakan analisis penarikan horizon top syn-rift pada penampang seismik inline 923 yang melewati sumur TJ-1. Dalam analisis penarikan horizon top syn-rift selain berdasarkan data check shot dari 3 data sumur, horizon top syn-rift dapat pula dibedakan berdasarkan pola refleksi dari penampang seismik di daerah penelitian. Dari gambar di atas terlihat bahwa di atas horizon top syn-rift memiliki pola refleksi yang lebih kuat dibandingkan pola refleksi di bawah horizon top synrift. Dari gambar di atas terlihat bahwa sumur TJ-1 merupakan sumur vertikal, marker MFS 3 pada sumur TJ-1 berada pada kedalaman 5620 kaki di bawah permukaan. Sedangkan pada penampang seismik marker MFS 3 berada pada ms. Sedangkan untuk sumur TJ-2 marker MFS 3 berada pada kedalaman 5484 kaki di bawah permukaan, dan pada penampang seismik sumur TJ-2 dilewati oleh penampang seismik inline 976, dan marker MFS 3 berada pada pada kedalaman ms pada penampang seismiknya. Untuk sumur NW-TJ-1 marker MFS 3 berada pada kedalaman 5733 kaki di bawah permukaan, sumur NW-TJ-1 di lewati oleh penampang seismik inline 995, dan marker MFS 3 berada pada kedalaman ms. Berdasarkan analisis penarikan horizon top syn-rift ini terlihat bahwa MFS 3 berada pada kedalaman yang berbeda-beda. Pada sumur TJ-1 dan TJ-2 perbedaan kedalaman tidak terlalu jauh, namun pada sumur NW-TJ-1 kedalaman marker MFS 3 memiliki kedalaman yang cukup jauh, hal ini karena sumur NW-TJ-1 berada di zona hanging wall dari sesar turun yang berarah barat daya timur laut (gambar 4.11). Setelah dilakukan penarikan horizon top syn-rift pada seluruh data seismik berdasarkan batas-batas dan acuan yang ada. Hasil analisis penarikan horizon top syn-rift pada data seismik 3D Blok Tanjung Jabal yang berjumlah sekitar 85 penampang seismik dengan interval penampang seismik yaitu per 25 penampang seismik menghasilkan data yaitu peta top syn-rift. Peta ini yang kemudian akan dianalisis geometri cekungan yang ada di Blok Tanjung Jabal dengan menggunakan peta pre-rift juga agar geometri cekungan jelas terlihat. Data isochrone atau 62

12 ketebalan lapisan antara peta top syn-rift dan peta pre-rift ini yang digunakan untuk menganalisis tektonostratigrafi dan pola sedimentasi Blok Tanjung Jabal. Gambar 4.11 Sumur NW-TJ-1 dan Sumur TJ-2 pada inline 995. Namun sebelum dilakukan analisis tektonostratigrafi dan pola sedimentasi Blok Tanjung Jabal, dilakukan penarikan horizon post-rift untuk dapat menentukan apakah cekungan pada Blok Tanjung Jabal ini sudah berhenti atau masih mengalami proses sedimentasi fase syn-rift, oleh karena itu penarikan horizon post-rift penting juga untuk dilakukanagar analisis pola sedimentasi fase awal post-rift dapat dilakukan. Peta top Syn-rift memiliki nilai terendah -1827,59 ms dan nilai tertinggi -1297,04 ms. Bila data di atas dikalibrasi menjadi data kedalaman dalam meter, dengan nilai kalibrasi dari ms (milisekon) menjadi meter sekitar 1.2 (1ms = 1,2 meter) untuk batuan klastik kompak (Taner, dkk (1977)), maka kedalaman terendah sekitar ,11 meter dan kedalaman tertinggi sekitar meter. 63

13 Gambar 4.12 Peta Struktur Waktu Horizon Top Syn-Rift Blok Tanjung Jabal, Jambi. 64

14 4.1.5 Horizon Post-Rift Dalam analisis penarikan horizon post-rift yang sudah memiliki marker yaitu Top Formasi Talangakar Bawah (L-TAF). Marker ini diambil karena Formasi Talangakar Atas diendapkan secara selaras di atas Formasi Talangakar Bawah (gambar 2.3). Analisis horizon post-rift ditentukan berdasarkan marker yang sudah pasti (top formasi) sehingga dapat diketahui proses dan waktu terjadinya fase postrift pada Blok Tanjung Jabal, Jambi ini. Fase post-rift yang memiliki endapan yang relatif sudah selarah karean endapan tidak lagi dipengaruhi oleh struktur yang terjadi pada cekungan tersebut. Dalam melakukan interpretasi horizon post-rift ini, terdapat kesulitan-kesulitan yang hampir sama dengan kesulitan dalam menginterpretasi horizon top syn-rift. Oleh karena itu dalam menginterpretasi horizon post-rift dilakukan penarikan yang detail pada penampang-penampang seismik yang dekat dengan sumur dan untuk penampang-penampang seismik yang jauh dari data sumur mengikuti hasil interpretasi horizon post-rift yang berada jauh dari data sumur. Dari hasil analisis seismogram sintetik dan check shot terlihat bahwa wavelet untuk marker Top Formasi Talangakar Bawah berada di fase zero crossing (gambar4.5). Maka pada data seismik dalam analisis penarikan horizon post-rift mengikuti fase zero crossing pada panampang-penampang seimik yang terdapat di daerah penelitian. (gambar 4.13). Gambar 4.13 merupakan analisis penarikan horizon post-rift pada penampang seismik inline 923 yang melewati sumur TJ-1 sama seperti analisis penarikan horizon top syn-rift. Dalam analisis penarikan horizon post-rift selain berdasarkan data check shot dari 3 data sumur, horizon post-rift dapat pula dibedakan berdasarkan pola refleksi dari penampang seismik di daerah penelitian. Dari gambar di atas terlihat bahwa Formasi Talangakar Bawah memiliki pola refleksi yang lebih kuat dibandingkan pola refleksi dari Formasi Talangakar Atas, sehingga dalam melakukan interpretasi penarikan horizon post-rift dapat juga dibedakan berdasarkan pola refleksi dari penampang seismik yang terdapat pada Blok Tanjung Jabal ini. 65

15 Gambar 4.13 Penarikan horizon post-rift berdasarkan hasil check shot sumur TJ-1 inline 923. Pada sumur TJ-1 marker Top L-TAF berada pada kedalaman 5232 kaki di bawah permukaan. Sedangkan pada penampang seismik marker Top L-TAF berada pada ms. Sedangkan untuk sumur TJ-2 marker Top L-TAF berada pada kedalaman 5100 kaki di bawah permukaan, dan pada penampang seismik sumur TJ-2 dilewati oleh penampang seismik inline 976, dan marker Top L-TAF berada pada pada kedalaman ms pada penampang seismik inline 976. Untuk sumur NW-TJ-1 marker Top L-TAF berada pada kedalaman 5287 kaki di bawah permukaan, sumur NW-TJ-1 berada pada penampang seismik inline 995, dan marker Top L-TAF berada pada kedalaman ms. Hasil analisis check shot pada sumur-sumur lain menunjukkan hasil yang tidak berbeda jauh dengan analisis check shot pada sumur TJ-1. Hal ini dikarenakan marker Top L-TAF merupakan marker yang sudah sesuai dengan data pemboran juga (cutting) sehingga hasil marker untuk Top L-TAF sudah benar. Hasil analisis check shot pada penampang inline 995 menunjukkan hasil seperti gambar di bawah ini. 66

16 Gambar 4.14 Sumur NW-TJ-1 dan Sumur TJ-2 pada inline 995. Setelah dilakukan interpretasi penarikan horizon post-rift pada penampangpenampang seismik yang terdapat pada Blok Tanjung Jabal maka analisis peta horizon post rift sudah dapat dilakukan. Penarikan horizon post-rift penting untuk dapat mengetahui cekungan-cekungan yang sudah tidak mengalami fase syn-rift lagi. Marker Top L-TAF diambil sebagai acuan untuk menentukan horizon post-rift dikarenakan berdasarakan data stratigrafi Sub-cekungan Jambi, Formasi Talangakar Atas diendapakan secara selarah di atas Formasi Talangakar Bawah. Hal inilah yang menjadi acuan penting Top L-TAF ditentukan sebagai marker untuk horizon postrift. Dari horizon post-rift kemudian dianalisis peta isochrone antara horizon post-rift dan horizon top syn-rift, untuk menentukan geometri cekungan yang tidak terpengaruh lagi proses sedimentasi akibat struktur atau menentukan geometri cekungan yang sudah tidak dipengaruhi fase syn-rift. Hasil dari interpretasi penarikan horizon post-rift kemudian dilakukan pembuatan peta horizon post-rift berdasarkan waktu (time structure) (gambar 4.15). 67

17 Gambar 4.15 Peta Struktur Waktu Horizon Post-Rift Blok Tanjung Jabal, Jambi. 68

18 Peta Post-rift memiliki nilai terendah sekitar -1722,48 ms dan nilai tertinggi ,70 ms. Berdasarkan data kalibrasi ke dalam satuan meter, dengan nilai kalibrasi dari ms (milisekon) menjadi meter sekitar 1.2 (1ms = 1,2 meter) untuk batuan klastik kompak (Taner, dkk (1977)), maka kedalaman terendah sekitar ,98 meter dan kedalaman tertinggi sekitar -1511,64 meter Struktur Geologi Blok Tanjung Jabal Struktur geologi pada Blok Tanjung Jabal, Jambi dipengaruhi oleh 3 pola utama yang berkembang di Cekungan Sumatra Selatan. Struktur-struktur yang terdapat di Blok Tanjung Jabal yang dipengaruhi oleh 3 pola utama struktur-struktur di Cekungan Sumatra ini sebagian besar mengikuti pola-pola yang sudah ada. Oleh karena itu pola struktur yang terdapat di Blok Tanjung Jabal mengikuti pola-pola struktur geologi Sumatra seperti: Struktur geologi berarah timur laut-barat daya (Pola Jambi) Struktur geologi berarah utara-selatan (Pola Sunda) Struktur geologi berarah barat laut-tenggara (Pola Sumatra) Struktur yang terdapat di Blok Tanjung Jabal memiliki pola-pola yang mengikuti pola struktur geologi seperti di atas. Pada Blok Tanjung Jabal memiliki sesar-sesar besar yang mempengaruhi pembentukan struktur-struktur di Blok Tanjung Jabal. Terdapat 3 sesar yang mempengaruhi geometri cekungan di Blok Tanjung Jabal, sesar-sesar ini mengikuti pola-pola struktur yang terdapat di Sumatra. Dari 3 pola struktur geologi Sumatra pada Blok Tanjung Jabal, sesar Pola Jambi dan Pola Sunda yang mempengaruhi pola sedimentasi dan geometri cekungan di Blok Tanjung Jabal ini. Hal ini dikarenakan struktur yang mengikuti Pola Jambi dan Pola Sunda membentuk sesar normal sehingga cekungan ini membentuk half graben dan dapat mempengaruhi pola sedimentasi. Sedangkan untuk Pola Sumatra menghasilkan sesar naik dan tidak mempengaruhi geometri cekungan dan pola sedimentasi pada Blok Tanjung Jabal. Sesar-sesar pada Blok Tanjung Jabal diinterpretasi berdasarkan data seismik dan dalam melakukan interpretasi sesar dilakukan pada satu garis penampang saja (bila 69

19 sesar terlihat pada penampang inline maka interpretasi dilakukan hanya pada penampang inline, begitu juga pada penampang xline). Oleh karena itu pada beberapa penampang terdapat struktuk yang sangat buruk karena berada pada garis sesar yang terdapat di Blok Tanjung Jabal. Terdapat banyak sesar di daerah penelitian namun yang mempengaruhi pola sedimentasi dan geometri cekungan hanya sesar-sesar yang besar dan memiliki arah-arah tertentu. Sesar-sesar yang mempengaruhi geometri cekungan dan pola sedimentasi seperti gambar di bawah ini (gambar 4.16). Gambar 4.16 Struktur sesar-sesar di Blok Tanjung Jabal. Gambar di atas ini merupakan gambar interpretasi sesar pada daerah penelitian dalam tampilan 3D, agar terlihat arah kemiringan dari sesar-sesar tersebut. Dari gambar di atas terlihat bahwa sesar-sesar di atas memiliki kemiringan yang relatif tidak besar, hanya sesar berarah timur laut-barat daya (Pola Jambi) yang memiliki kemiringan yang relatif besar, sedangkan sesar-sesar denga arah lain memiliki kemiringan yang relatif kecil. Sesar yang berarah timur laut-barat daya merupakan sesar normal dan juga mempengaruhi geometri dari cekungan yang terdapat pada Blok Tanjung Jabal. Struktur lain pada Blok Tanjung Jabal dapat dilihat pada peta isochrone interval synrift yang mencirikan geometri cekungan pada saat fase syn-rift masih berlangsung. 70

20 Struktur geometri lain seperti dataran tinggi (basement high), cekungan, dan perlipatan juga terdapat di Blok Tanjung Jabal. Struktur-struktur yang timbul di Blok Tanjung Jabal ini dihasilkan oleh pola-pola sturktur utama yang mempengaruhi pembentukan cekungan-cekungan di dearah penelitian, yaitu Pola Jambi, Pola Sunda, dan Pola Sumatra. Gambar 4.17 Jenis-jenis sesar Blok Tanjung Jabal, Jambi Geometri Endapan Syn-Rift Blok Tanjung Jabal Geometri atau bentuk suatu lapisan dapat dilihat berdasarkan data ketebalan lapisan tersebut. Analisis geometri endapan syn-rift dilakukan untuk menentukan tektonostratigrafi yang terjadi di daerah penelitian. Berdasarkan geometri dari endapan syn-rift dapat diketahui sesar-sesar yang mempengaruhi proses sedimentasi yang sedang berlangsung di daerah penelitian. Geometri endapan syn-rift pada Blok Tanjung Jabal dianalisis berdasarkan data isochrone (ketebalan lapisan dalam waktu) antara horizon pre-rift dengan horizon syn-rift, sehingga diketahui geometri atau ketebalan lapisan pada interval syn-rift. Berdasarkan peta isochrone interval syn-rift dapat dianalisis sesar-sesar yang mempengaruhi sedimentasi dan juga sesar-sesar yang tidak mempengaruhi 71

21 sedimentasi. Sesar-sesar yang mempengaruhi sedimentasi berarti sesar tersebut terbentuk dan aktif pada saat fase syn-rift, sehingga sedimen mengisi cekungancekungan yang terbentuk akibat dari sesar-sesar tersebut. Adapun sesar yang tidak mempengaruhi proses sedimentasi fase syn-rift berarti sesar tersebut terbentuk setelah fase syn-rift selesai atau sesar terbenuk dan aktif pada saat fase post-rift. Sesar yang mempengaruhi proses sedimentasi dapat dilihat bahwa sesar tersebut memotong lapisan dan terjadi perbedaan ketebalan lapisan interval syn-rift pada foot wall dan hanging wall (gambar 4.18), perbedaan ketebalan pada interval syn-rift terjadi karena sedimen mengisi cekungan yang terbentuk akibat aktivitas sesar. Ketebalan lapisan interval syn-rift pada foot wall lebih tipis dibandingkan tebal lapisan interval syn-rift pada hanging wall. Gambar 4.18 Sesar-sesar yang mempengaruhi proses sedimentasi fase syn-rift. Pada gambar di atas terdapat 2 sesar yang mempengaruhi proses sedimentasi, kedua sesar ini merupakan sesar normal, arah dari kedua sesar adalah sesar SW-NE dan sesar N-S. Perbedaan ketebalan pada fase syn-rift inilah yang dapat menentukan tektonostratigrafi pada Blok Tanjung Jabal. Kedua sesar ini mempengaruhi geometri 72

22 cekungan yang terdapat di Blok Tanjung Jabal. Pada gambar di atas perbedaan ketebalan pada interval syn-rift membuktikan bahwa sesar SW-NE dan sesar N-S mempengaruhi sedimentasi yang terjadi. Kedua sesar tersebut memiliki arah yang relatif sama dengan arah pola struktur Sumatra, sesar SW-NW merupakan sesar dengan Pola Jambi dan sesar N-S merupakan sesar denga Pola Sunda. Analisis geometri endapan syn-rift berdasarkan peta isochrone interval syn-rift pada Blok Tanjung Jabal membuktikan bahwa sesar SW-NE dan sesar N-S mempengearuhi ketebalan lapisan interval syn-rift di Blok Tanjung Jabal (gambar 4.19). Pada peta isochrone interval syn-rift terlihat adanya 2 cekungan yang dipengaruhi oleh 2 sesar pembatas (border fault) yaitu sesar NE-SW dan sesar N-S. Analisis peta isochrone interval syn-rift Blok Tanjung Jabal terlihat ada 2 cekungan yang terdapat di Blok Tanjung Jabal ini. Cekungan tersebut terdapat di sebelah barat laut dan selatan dari Blok Tanjung Jabal, Jambi. Kedua cekungan ini terbentuk akibat pengaruh struktur sesar yang berkembang di Blok Tanjung Jabal. Struktur yang mempengaruhi kedua cekungan ini merupakan sesar normal yang berarah barat daya-timur laut dan sesar yang berarah relatif utara-selatan. Menurut de Coster, 1974 aktivitas tektonik berarah NE-SW (Pola Jambi) dan N-S (Pola Sunda) menghasilkan konfigurasi dasar termasuk formasi half graben, horst, dan sesar blok. Struktur half graben inilah yang membentuk cekungan-cekungan baru yang terdapat di sepanjang Sumatra, sedangkan Pola Sumatra lebih menghasilkan sesar-sesar naik dan tidak membentuk cekungan-cekungan baru. Pada daerah Blok Tanjung Jabal aktivitas tektonik berarah NE-SW (Pola Jambi) sangat mempengaruhi struktur-struktur yang terbentuk di Blok Tanjung Jabal, Jambi. 73

23 Gambar 4.19 Peta isochrone interval syn-rift Blok Tanjung Jabal, Jambi. 74

24 Berdasarkan peta isochrone interval syn-rift dapat dilakukan analisis tektonostratigrafi Blok Tanjung Jabal, analisis tektonostratigrafi menentukan sesarsesar yang mempengaruhi proses sedimentasi di Blok Tanjung Jabal dan juga sedimen-sedimen yang mengisi interval syn-rift pada Blok Tanjung Jabal, Jambi ini. Berdasarkan data sumur, dan data seismik terbukti bahwa interval syn-rift berisi sedimen-sedimen Formasi Lahat dan sebagian dari Formasi Talangakar Bawah. Hal ini dapat dianalisis dari data sumur dan data seismik. Pada gambar 4.3 terbukti bahwa marker untuk Top syn-rift merupakan marker MFS 3 yang merupakan bagian dari Formasi Talangakar Bawah, sedangkan pada data seismik juga dapat dilihat pada interval syn-rift mencirikan endapan-endapan yang terjadi selama proses rifting (aktivitas penurunan sesar) masih berlangsung sehingga menghasilkan endapanendapan dengan ciri-ciri tidak selaras, dan adanya penebalan sedimen pada daerah yang dekat dengan sesar pembatas (border fault) Geometri Endapan Post-Rift Blok Tanjung Jabal Analisis peta isochrone interval post-rift digunakan untuk menganalisis cekungancekungan yang sudah tidak terpengaruh proses rifting oleh sesar-sesar di Blok Tanjung Jabal. Interval post-rift merupakan lapisan dimana sedimen yang mengisi cekungan sudah relatif paralel dan selaras. Geometri dari endapan post-rift mengindikasikan cekungan-cekungan yang sudah tertutup atau sudah tidak menampung sedimen lagi karena sudah berisi sedimen pada fase syn-rift. Sedimen syn-rift mengisi cekungan yang terbentuk akibat sesar-sesar normal di Blok Tanjung Jabal. Lapisan post-rift merupakan lapisan setelah proses rifting selesai, oleh karena itu lapisan post-rift merupakan lapisan yang tebal dan berisi sedimen dari formasiformasi setelah fase syn-rift. Namun dalam penelitian kali ini marker post-rift merupakan marker dari Top Formasi Talangakar Bawah, yang merupakan marker formasi setelah fase syn-rift selesai. Dalam data seismik terlihat bahwa endapan post-rift sudah tidak dipengaruhi lagi oleh struktur sesar yang membentuk cekungan di Blok Tanjung Jabal. Endapan postrift mencirikan endapan yang memiliki ketebalan yang sama. Ketebalan endapan post-rift pada foot wall dan hanging wall relatif sama (gambar 4.18), karena proses pengendapan sedimen tidak dipengaruhi oleh sesar-sesar pembatas (border faults). 75

25 Analisis peta isochrone interval post-rift memperlihatkan bahwa cekungancekungan yang ada di Blok Tanjung Jabal telah terisi oleh sedimen dan geometri endapan post-rift mengindikasikan bahwa fase rifting telah selesai dan sedimen yang mengisi cekungan sudah tidak dipengaruhi oleh sesar-sesar pembatas. Peta isochrone interval post-rift yang mencirikan geometri endapan post-rift, geometri interval post-rift memiliki ketebalan lapisan yang relatif sama. Hal ini yang dapat di buktikan pada data sumur dan data seismik. Interval post-rift mencirikan endapan yang memiliki ketebalan yang relatif sama (gambar 4.4), dari data sumur dapat dibedakan antara interval syn-rift dengan interval post-rift. Berdasarkan data seismik interval post-rift juga terlihat dari reflektor seismik yang relatif paralel, sejajar dan selaras. Berdasarkan peta isochrone interval post-rift, tektonostratigrafi Blok Tanjung Jabal dapat diketahui bahwa sesar-sesar yang aktif pada saat fase syn-rift, sudah berhenti sehingga endapan yang diendapan pada fase post-rift relatif sejajar dan memiliki ketebalan yang relatif sama (gambar 4.20). Fase post-rift juga mengindikasikan bahwa cekungan-cekungan yang terbentuk saat fase syn-rift sudah terisi penuh oleh sedimen endapan syn-rift. Berdasarkan peta isochrone interval post-rift (gambar 4.20) terlihat bahwa cekungan-cekungan yang terbentuk pada fase syn-rift telah terisi sedimen dan pada fase post-rift cekungan-cekungan tersebut relatif memiliki ketebalan yang sama, walaupun cekungan yang terdapat di sebelah selatan Blok Tanjung Jabal masih terlihat adanya penebalan sedimen, namun ketebalan sedimen pada cekungan ini relatif tidak jauh berbeda. Pada cekungan yang terjadi akibat sesar yang berarah SW-NE (Pola Jambi) pada fase post-rift cekungan ini terlihat sudah tidak memiliki bentuk cekungan lagi (ketebalan sedimennya sama), sehingga dapat disimpulkan bahwa geometri cekungan yang terjadi akibat sesar SW-NE pada fase post-rift cekungan sudah terisi penuh. Fase post-rift pada Blok Tanjung Jabal terbukti telah terjadi saat terendapkannya sebagian dari sedimen Formasi Talangakar Bawah sampai terendapkannya formasi-formasi yang mengisi Cekungan Sumatra Selatan. Karena fase post-rift berlangsung terus setelah fase rifting atau sedimen endapan syn-rift berakhir. 76

26 Gambar 4.20 Peta isochrone interval post-rift Blok Tanjung Jabal, Jambi. 77

27 4.1.9 Klasifikasi Tektonostratigrafi Blok Tanjung Jabal Berdasarkan analisis-analisis yang sudah dilakukan sebelumnya, maka analisis mengenai tektonostratigrafi Blok Tanjung Jabal dapat disimpulkan seperti berikut: - Fase Pre-Rift : fase pre-rift pada Blok Tanjung Jabal terjadi pada endapan Pra- Tersier, sehingga endapan yang mengisi fase pre-rift merupakan batuan dasar dari Cekungan Sumatra Selatan. Batuan dasar dari Cekungan Sumatra Selatan, Sub-cekungan Jambi terdiri dari kompleks batuan Paleozoikum dan batuan Mesozoikum, batuan metamorf, batuan beku dan batuan karbonat. - Fase Syn-Rift : fase syn-rift terendapkan secara tidak selaras di atas endapan prerift, hal ini dikarenakan pada fase syn-rift proses rifting masih berlansung, sehingga geometri cekungan terus berubah bentuknya. Berdasarkan analisis data sumur dan data seismik fase syn-rift diisi oleh sedimen-sedimen dari Formasi Lahat dan sebagian kecil dari Formasi Talangakar Bawah. Formasi Lahat terdiri dari konglomerat, tufa, breksi vulkanik andesitik, endapan lahar, aliran lava dan batupasir kuarsa, sedangkan sebagian dari Formasi Talangakar Bawah yang terdiri dari batupasir konglomeratan, batupasir kuarsa, serpih dan sisipan batubara dengan struktur sedimen berupa struktur perlapisan bersusun. Ciri-ciri dari endapan syn-rift yang menjadi bukti bahwa fase syn-rift terjadi pada Formasi Lahat dan sebagian dari Formasi Talangakar Bawah adalah distribusinya terbatas dan keterdapatannya berasosiasi dengan sesar normal (yang membentuk graben atau half-graben). Lingkungan pengendapan dalam lingkungan tertutup dan terbatas, seperti yang ditunjukkan dengan endapan lakustrin (danau), atau alluvial fan yang berasosiasi dengan gawir sesar pada Anggota Konglomerat Formasi Lahat, dan juga memiliki hubungan tidakselaras, baik terhadap formasi batuan di maupun di atasnya bawah 78

28 - Fase Post-Rift : fase post-rift terendapkan secara selaras di atas fase syn-rift hal ini dikarenakan endapan fase post-rift merupakan endapan saat proses rifting telah berakhir dan cekungan sudah terisi penuh oleh sedimen fase syn-rift. Formasi yang mengisi fase post-rift merupakan formasi setelah fase syn-rift yaitu dari sebagian Formasi Talangakar Bawah, Formasi Talangakar Atas, Formasi Baturaja, Formasi Gumai, sampai formasi paling muda pada Cekungan Sumatra Selata, Sub-cekungan Jambi ini. Fase post-rift ditandai dengan formasi yang diendapkan secara selaras terhadap formasi batuan di bawah maupun di atasnya. Berdasarkan analisis-analisis tersebut tektonostratigrafi Blok Tanjung Jabal, Jambi dapat disimpulkan seperti pada gambar 4.21 di bawah ini: Gambar 4.21 Klasifikasi tektonostratigrafi Blok Tanjung Jabal. Berdasarkan stratigrafi Blok Tanjung Jabal menurut M. N. Alamsyah, dkk. (2008) (gambar 4.22) terbukti bahwa fase pre-rift terjadi pada batuan Pra-Tersier, yang terdiri dari batuan dasar Sub-cekungan Jambi. Fase syn-rift terjadi pada EosenTengah-Oligosen Awal yang terdiri dari batuan Formasi Lahat dan sebagian dari Formasi Talangakar Bawah, sedangkan fase post-rift terjadi pada Oligosen Akhir-Resen yang terdiri dari formasi-formasi yang diendapkan setelah fase syn-rift berakhir. Namun pada penelitian ini batas post-rift diambil berdasarkan batas formasi terdekat setelah batas fase syn-rift. Oleh karena itu batas post-rift pada Blok Tanjung Jabal merupakan marker Top L-TAF. 79

29 Gambar 4.22 Stratigrafi Blok Tanjung Jabal. (M. N. Alamsyah, dkk. (2008)) 4.2 Pola Sedimentasi Blok Tanjung Jabal Analisis pola sedimentasi Blok Tanjung Jabal dilakukan untuk menentukan prosesproses sedimentasi yang terjadi di daerah penelitian yaitu Blok Tanjung Jabal yang meliputi litologi, lingkungan pengendapan, source sediment, dan paleocurrent. Analisis pola sedimentasi dilakukan berdasarkan analisis data sumur, peta isochrone dan peta atribut seismik, pada penelitian ini pola sedimentasi yang dianalisis merupakan pola sedimentasi pada saat fase syn-rift dan fase immediate post-rift (post-rift awal). Berdasarkan peta isochrone interval syn-rift dan post-rift, batas endapan sedimen yang terjadi pada fase syn-rift dan fase post-rift sudah dapat dibedakan. Pada fase syn-rift yang mengandung sedimen dari Formasi Lemat dan sebagian dari Formasi Talangakar Bawah, berarti pada fase syn-rift berisi endapan-endapan dari 80

30 lingkungan darat seperti danau, sungai menganyam, dan sungai meander. Sedangkan untuk fase post-rift mengandung endapan-endapan yang terjadi setelah fase syn-rift berakhir dan berisi formasi-formasi yang mencirikan endapan darat, transisi, laut dangkal, hingga laut dalam. Maka dari itu analisis pola sedimentasi pada fase postrift hanya awal dari pengendapan fase post-rift (immediate post-rift) Analisis Atribut Seismik Data seismik yang terdapat di Blok Tanjung Jabal, merupakan data seismik 3D. Biasanya data seismik 3D digunakan untuk pengembangan lapangan dari blok tersebut. Pada data seismik 3D ntuk melakukan analisis atribut seismik hasilnya akan jauh lebih baik dibandingkan melakukan analisis seismik pada data seismik 2D. Definisi dari atribut seismik menurut Taner (2001) adalah segala informasi yang bisa didapatkan dari data seismik baik melalui pengukuran secara langsung maupun dengan melakukan analisis berdasarkan pengalaman. Informasi yang tersedia pada data seismik bersifat kuantitatif dan deskriptif sehingga atribut seismik yang ditampilkan merupakan representasi data seismik orisinil pada skala yang sama. Ahmed dkk. (2006), menyatakan bahwa informasi yang dapat dibangkitkan dari pengukuran khas atribut seismik antara lain: fitur geometri, kinematik, dinamik dan statistik. Secara umum atribut seismik dapat menampilkan data seismik termanipulasi yang digunakan untuk mempermudah proses interpretasi geologi sehingga analisis terhadap geologi bawah permukaan dapat ditingkatkankualitasnya (Sukmono, 2007). Carter (1995), membagi tiga jenis atribut seismik yang dapat dibangkitkan dari data post-stack seismik, yaitu: - Atribut seismik instantaneous Atribut instantaneous mendiskripsikan bentuk tunggal di dalam volume 3D dan biasanya digunakan untuk menghasilkan irisan (slice) horison. - Atribut seismik single-trace windowed - Atribut seismik multi-trace windowed Atribut single-trace widowed dan multi-trace windowed mendeskripsikan variasi karakter seismik di ruang 3D. Karakter ini dapat digunakan untuk melakukan interpretasi sikuen atau system tracts dan untuk menampilkan variasi internal fasies seismik. 81

31 Untuk analisis pola sedimentasi Blok Tanjung Jabal, analisis atribut seismik yang digunakan adalah atribut seismik dari volume atribut dari envelope. Volume atribut seismik envelope merupakan total energi seketika (tiba-tiba) dari sinyal analitik, dalam bidang geofisika Envelope biasa disebut juga dengan Instantaneous Amplitude, Magnitude atau Reflection strength. Env = f 2 + g 2 f dan g merupakan bilangan asli dan imaginer dari komponen-komponen reflektor seismik. Jadi, jika f adalah bagian dari bilangan asli, yang merupaka reflektor dari seismik asli, sedangkan g akan menjadi sampel dari perubahan Hilbert (biasa disebut amplitude quadrature) dari reflektor. Atribut seismik envelope berguna untuk menentukan bright spots (perangkap gas), mendeteksi perubahan litologi berdasarkan perubahan energi refleksi yang kuat, dan untuk mendeteksi sekuen boundaries. Envelope dapat juga digunakan untuk membantu menentukan perbedaan fase antara beberapa versi data seismik, energi puncak menunjukan fase bebas dari data seismik. Penampang atribut seismik dari envelope seperti gambar 4.23 di bawah ini. Gambar 4.23 Penampang seismik envelope inline

32 Banyak peneliti-peneliti yang menggunakan atribut seismik untuk melakukan kegiatan eksplorasi bawah permukaan, Thanatit & Ronghe (1999), menggunakan atribut amplitudo seismik untuk mencitrakan distribusi penyebaran hidrokarbon dan untuk mengkarakterisasi reservoar yang berasosiasi dengan channel. Ahmed dkk. (2006), menerapkan atribut amplitude reflection, instantaneous frequency, instantaneous phase dan instantaneous envelope untuk mendeteksi channel tubuh batupasir dan pelamparannya di Cekungan Muglad, Sudan. Manan dkk. (2006), melakukan studi fasies sedimentasi untuk mengidentifikasi reservoar yang bernilai ekonomis, dikontrol dengan atribut reflection strength, instantaneous frequency dan instantaneous phase. Solihulhadi & Tolioe (2007), melakukan interpretasi struktur patahan dengan lebih baik melalui atribut seismik dengan menampilkan diskontinuitas reflektor sepanjang permukaan patahan. Susilo dkk. (2007), menggunakan atribut seismik berbasis CWT untuk memperjelas kenampakan anomali seismik untuk pembuatan model fasies dan struktur geologi. Bunyamin dkk. (2008), melakukan penentuan jenis litologi batuan menggunakan atribut RMS amplitude dan sweatness. Pada penentuan pola sedimentasi di Blok Tanjung Jabal analisis atribut seismik yang dilakukan adalah analisis atribut amplitudo seismik. Atribut amplitudo seismik biasanya digunakan untuk menentukan fasies dan pemetaan properti reservoir. Perubahan lateral dari amplitudo data seismik dapat digunakan untuk membedakan antara satu fasies dengan fasies yang lain. Sebagai contoh, lapisan berbentuk konkordan cenderung memiliki amplitudo yang lebih besar, dibandingkan bentuk hummocky dan chaotic (berantakan). Lingkungan yang kaya dengan batu pasir biasanya cenderung memiliki amplitudo yang besar. Dalam penelitian kali ini menggunakan perhitungan RMS amplitude untuk menentukan pola sedimentasi daerha penelitian. Secara umum, fungsi utama dari atribut amplitudo seismik adalah mengidentifikasi beberapa parameter seperti berikut: - Akumulasi hidrokarbon - Lithologi gross - Porositas kasar - Batupasir sungai dan delta - Tipe spesifik dari reef (karang) - Ketidakselarasan - Perubahan dari stratigrafi sekuen 83

33 Rumus perhitungan RMS amplitude adalah akar kuadrat dari penjumlahan kuadrat amplitudo data seismik. RMS amplitude = 1 N N i=1 A i 2 Dimana, N = jumlah dari sempel amplitudo di dalam jendela analisis A = nilai amplitude RMS amplitude = 1 8 ( ) Gambar 4.24 Prinsip perhitungan RMS amplitude. (Sukmono, 2003) Analisis Atribut Seismik Berdasarkan Data Sumur Pada analisis ini lebar jendela yang akan dilakukan perhitungan RMS amplitude, diperkirakan berdasarkan analisis check shot yang sudah diikat ke data seismik. Hal ini diperkirakan dari 3 sumur yaitu TJ-1, TJ-2, dan NW-TJ-1 yang memiliki data check shot dan bisa diikat ke data seismik. Analisis pola sedimentasi pada endapan syn-rift pada data sumur dilihat berdasarkan kurva respon log gamma ray yang dihubungkan dengan lingkungan pengendapannya. Untuk endapan syn-rift analisis diukur dari 1 sekuen dari SB ke SB, yang terdekat dari MFS 3 sebagai marker top syn-rift Blok Tanjung Jabal. Sehingga analisis endapan syn-rift bisa disebut juga sebagai analisis endapan late syn-rift pada Blok Tanjung Jabal, yaitu analisis kurva respon log gamma ray dari SB-2 ke SB-1 (gambar 4.25). 84

34 Gambar 4.25 Kurva respon log gamma ray dari SB-2 ke SB-1. Berdasarkan kurva respon log gamma ray SB-2 ke SB-1 dari sumur-sumur yang terdapat di Blok Tanjung Jabal. Terlihat bahwa endapan SB-2 ke SB-1 mencirikan endapan darat. Hal ini dapat diketahui berdasarkan analisis Kendall (1995) yang mendefinisikan respon log gamma ray terhadap variasi ukuran butir, yang terlihat pada gambar Gambar 4.26 Kurva respon log gamma ray terhadap variasi ukuran butir. (Kendall, 1995) 85

35 Kemudian menurut Kendall, respon log gamma ray dapat mencerminkan lingkungan pengendapan seperti yang terlihat pada gambar 4.27 sebagai berikut: Gambar 4.27 Respon log terhadap sistem lingkungan pengendapan klastik: lingkungan fluvial, delta, laut dangkal hingga laut dalam. (Kendall, 1995) Kurva respon log gamma ray pada sumur-sumur di Blok Tanjung Jabal, menunjukkan tipe bell shape atau fining upward dan biasanya tipe demikian dijumpai pada pengendapan sungai, alluvial, atau fluvial. Berdasarkan analisis-analisis yang sudah dilakukan dalam penentuan lebar jendela atribut untuk menentukan pola sedimentasi endapan syn-rift Blok Tanjung Jabal yaitu dari SB-2 ke SB-1. Maka lebar jendela pada data seismik dapat dianalisis berdasarkan data check shot yang ada pada sumur TJ-1, TJ-2, dan NW-TJ-1. Analisis lebar jendela tergantung nilai lebar jarak antara SB-2 ke SB-1 pada sumur TJ-1, TJ-2, dan NW-TJ-1 yang terdapat di data seismic. Bentuk jendela berdasarkan horizon top sy-rift yang sudah dilakukan analisisnya (gambar 4.29). 86

36 Gambar 4.28 Pola kurva log gamma ray SB-2 SB-1 yang berbentuk fining upward. Setelah besar jendela atribut diketahui nilainya dari ketiga data sumur yang memiliki data check shot, maka peta atribut seimik RMS amplitude dapat dianalisis, berdasarakan acuan dari lebar jendela pada ketiga sumur di inline 923 untuk sumur TJ-1, inline 976 untuk sumur TJ-2, dan inline 995 untuk sumur NW-TJ-1. Gambar 4.29 Contoh lebar jendela SB-2 SB-1 pada penampang seismik envelope pada inline

37 Kemudian ketiga nilai lebar jendela tersebut dihitung dan didapatkan nilai lebar jendela seperti pada tabel 4.1 seperti berikut. Tabel Analisis Peta Atribut Seismik RMS Amplitude Interval SB-2-SB-1 penampang seismik lebar jendela nama peta atribut NW- TJ-1 TJ-1 TJ-2 TJ-3 SW- TJ-1 N- TJ-1 inline ms RMS inline ms RMS ms RMS inline 995 ketebalan SB-2 -SB-1 pada sumur (feet) Pada tabel 4.1 data diperoleh dari data sumur (untuk ketebalan) dan nilai RMS diperoleh dari data peta atribut seismik amplitudo. Dari data-data pada tabel 4.1 dilakukan analisis koefisien korelasi pada ketiga peta RMS amplitude, bila nilai koefisien korelasi antara 0.75 R maka peta tersebut yang memiliki penyebaran data yang cukup baik, dan dapat digunakan sebagai analisis pola sedimentasi Blok Tanjung Jabal. Grafik 4.1, 4.2, dan 4.3 menunjukkan penyebaran data dan koefisien korelasi dari data-data pada tabel 4.1. Grafik 4.1 Penyebaran data dan keofisien korelasi peta RMS 1 interval SB-2-SB-1 Ketebalan Target (feet) RMS RMS 1 y = 6.287x R² = rms 1 Linear (rms 1) 88

38 Grafik 4.2 Penyebaran data dan keofisien korelasi peta RMS 2 interval SB-2-SB-1 Ketebalan Target (feet) RMS y = 25.49x R² = rms 2 Linear (rms 2) RMS Grafik 4.3 Penyebaran data dan keofisien korelasi peta RMS 3 interval SB-2-SB-1 Ketebalan Target (feet) RMS RMS 3 y = x R² = rms 3 Linear (rms 3) Berdasarkan grafik 4.1, 4.2, dan 4.3 terbukti bahwa peta atribut seimik RMS 2 memiliki penyebaran data dan nilai koefisien korelasi yang cukup bagus, yaitu dengan nilai R 2 =0,771 dengan rumus y = 25.49x Dengan demikian peta atribut seimik RMS 2 digunakan untuk melakukan analisis pola sedimentasi endapan syn-rift Blok Tanjung Jabal. Pada grafik 4.2 menunjukkan bahwa nilai ketebalan berbanding lurus dengan nilai RMS, artinya jika nilai ketebalan semakin tinggi maka nilai RMS juga semikin tinggi. Nilai koefisien korelasi yang cukup bagus dan nilai yang berbanding lurus pada peta atribut seimik RMS 2 dapat digunakan untuk menganalisis peta ketebalan SB2-SB1 berdasarkan rumus dari penyebaran data peta atribut seimik RMS 2, sehingga peta ketebalan SB 2-SB 1 inilah yang lebih akurat untuk menggambarkan pola sedimentasi endapan syn-rift Blok Tanjung Jabal. 89

39 Gambar 4.30 Peta Atribut Seismik RMS 2 dan Peta Ketebalan Interval SB2-SB1 Blok Tanjung Jabal. 90

40 Pembuatan peta ketebalan interval SB 2-SB 1 menggunakan rumus koefisien korelasi yaitu y = 25.49x , dimana y adalah peta ketebalan interval SB 2-SB 1 yang dicari dan nilai x adalah peta atribut seismic RMS 2 (gambar 4.30). Sehingga di dapat peta baru berupa data ketebalan interval SB 2- SB 1 di Blok Tanjung Jabal. Pada gambar 4.30 peta atribut seismik RMS 2 telah di-overlay dengan peta isochrone interval syn-rift, sehingga menggambarkan geometri dari cekungan atau Blok Tanjung Jabal. Dalam melakukan interpretasi pola sedimentasi geometri dari suatu daerah sangatlah penting, karena geometri dapaat menggambarkan lingkungan pengendapan pada daerah tersebut. Peta atribut seismik RMS 2 memperlihatkan bahwa sepanjang cekungan yang terbentuk dari sesar SW-NE (Pola Jambi) menghasilkan nilai RMS yang tinggi, oleh karena itu memiliki ketebalan interval SB 2-SB 1 yang tinggi pula, dengan ketebalan sekitar 200 hingga 500 kaki Interpretasi Pola Sedimentasi Endapan Syn-Rift Setelah melakukan analsis peta atribut seismik RMS amplitude dan membuat peta ketebalan interval SB-2 SB-1 kemudian interpretasi pola sedimentasi endapan synrift dapat dilakukan. Pada gambar 4.30 terlhat bahwa nilai RMS dan ketebalan interval SB-2 SB-1 yang tinggi, nilai RMS dan ketebalan interval SB-2 SB-1 yang tinggi ini mencirikan adanya proses sedimentasi yang berlangsung pada daerah tersebut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa akumulasi sedimen terjadi pada daerah flexural margin atau cekungan yang dihasilkan akibat pensesaran. Menurut Leeder dan Gawthrope (1987) cekungan yang dihasilkan akibat gaya extensional (tarikan) menghasilkan cekungan yang dapat menampung sedimen, cekungan ini biasanya disebut flexural margin. Flexural margin berisi endapanendapan sedimen yang bersumber dari bagian sisi-sisi cekungan, sumber sedimen dari footwall menghasilkan endapan berbentuk alluvial fan dan sumber sedimen dari hanging wall berbentuk alluvial cones (gambar 4.31). Untuk mengetahui pola sedimentasi lebih detail lagi, dapat digunakan metode upscaling property log gamma ray. Metode ini merupakan metode yang terdapat pada softwere Petrel yang dapat memberikan gambaran peta penyebaran properti kurva log gamma ray dari sumur-sumur yang ada pada Blok Tanjung Jabal. 91

41 Dikarenakan letak sumur-sumur yang ada pada Blok Tanjung Jabal saling berdekatan dan tidak menyebar pada daerah penelitian, maka dalam melakukan penyebaran properti kurva log gamma ray menggunakan acuan peta atribut seismik RMS 2 atau peta ketebalan interval SB-2 SB-1. Pada penelitian ini penulis menggunakan peta atribut seismik RMS 2 sebagai acuan dalam melakukan penyebaran properti kurva log gamma ray. Gambar 4.31 Pola sedimentasi endapan syn-rift (Leeder dan Gawthorpe, 1987) Contoh metode upscaling property log gamma ray dapat dilihat pada gambar 4.32, metode upscaling property log gamma ray memberikan gambaran penyebaran properti kurva log gamma ray dalam satu zona atau grid. 1 zona Gambar 4.32 Contoh upscaling property log gamma ray (Schlumberger, 2007) 92

42 Gambar 4.33 Contoh upscaling property log gamma ray pada interval syn-rift pada sumur TJ-2, NW- TJ-1, TJ-3. Menurut I.N. Suta dan Xiaoguang (2005) cut off v-shale untuk Formasi Talangakar Bawah adalah 45%, sehingga pada metode upscaling property log gamma ray yang sudah dilakukan untuk membedakan antara batupasir dan batulempung menggunakan cut off v-shale sebesar 45%. Artinya nilai gamma ray yang di bawah dari 45% (<45%) dianalisis sebagai batupasir, dan nilai gamma ray di atas 45% (>45%) dianalisis sebagai batulempung. Pada gambar 4.33 terlihat warna kuning menggambarkan lapisan batupasir dan warna hijau menggambarkan lapisan batulempung. Setelah melakukan pemodelan 3D untuk horizon pre-rift, syn-rift, dan post-rift dalam bentuk kedalaman sebenarnya (depth structure) menggunakan software HRS dan Petrel, metode upscaling property log gamma ray dapat digambarkan dalam bentuk 3D. Metode upscaling property log gamma ray menggambarkan penyebaran batupasir yang dianalisis dari data log sumur, yang kemudian dapat menganalisis 93

43 pola sedimentasi endapan syn-rift yang terjadi di Blok Tanjung Jabal. Pola sedimentasi endapan syn-rift yang dianalisis hanya mencakup pola sedimentasi di daerah flexural margin (cekungan) yang dibentuk dari sesar-sesar yang membentuk cekungan (sesar SW-NE dan sesar N-S). Pemodelan 3D menggambarkan geometri cekungan syn-rift di Blok Tanjung Jabal. Geometri cekungan syn-rift digunakan untuk mencirikan pola pengendapan atau pola sedimentasi yang terjadi pada fase syn-rift. Pada pemodelan 3D, interpretasi pola sedimentasi seperti arah pengendapan, sumber sediment, lingkungan pengendapan dapat dianalisis berdasarkan bentuk atau geometri dari cekungannya (gambar 4.34). Gambar 4.34 Model 3D interval syn-rift Blok Tanjung Jabal. Berdasarkan analisis-analisis yang sudah dilakukan sebelumnya untuk menentukan pola sedimentasi endapan syn-rift dan berdasarkan bukti-bukti yang ada maka interpretasi pola sedimentasi Blok Tanjung Jabal harus berdasarkan data-data yang telah dianalisis, data-data menunjukkan bahwa pola sedimentasi endapan syn-rift yang terjadi pada saat diendapkan Formasi Lahat dan sebagian dari Formasi Talangakar Bawah yang mencirikan lingkungan pengendapan darat seperti sungai dan kipas alluvial. Sehingga dalam menginterpretasi pola sedimentasi endapan syn- 94

44 rift pada Blok Tanjung Jabal ini mengacu pada analisis-analisis tersebut. Oleh karena itu pola sedimentasi endapan syn-rift Blok Tanjung Jabal, Jambi dapat diinterpretasikan seperti gambar Berdasarkan gambar 4.35 terlihat bahwa hasil analisis menggunakan metode upscaling property log gamma ray menunjukkan hasil yang sama dengan analisis pola sedimentasi menggunakan metode atribut seismik RMS amplitude. Hasil dari metode upscaling property log gamma ray menunjukkan bahwa penyebaran batupasir pada endapan syn-rift terjadi pada daerah-daerah yang memiliki ketebalan yang cukup besar bila dilihat dari hasil analisis atribut seismik. Dapat disimpulkan bahwa pola sedimentasi endapan syn-rift Blok Tanjung Jabal terjadi pada cekungan (flexural margin) akibat sesar SW-NE (Pola Jambi) membentuk endapan-endapan fluvial channel berupa sungai meander di sepanjang sesar SW-NE dan dipengaruhi juga oleh alluvial fan dari gawir-gawir sesar SW-NE (Pola Jambi) ini. 95

45 Gambar 4.35 Pola sedimentasi endapan syn-rift Blok Tanjung Jabal, Jambi. 96

BAB 3 GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB 3 GEOLOGI DAERAH PENELITIAN BAB 3 GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1. Stratigrafi Daerah Penelitian Stratigrafi daerah penelitian terdiri dari beberapa formasi yang telah dijelaskan sebelumnya pada stratigrafi Cekungan Sumatra Tengah.

Lebih terperinci

Tabel hasil pengukuran geometri bidang sesar, ketebalan cekungan dan strain pada Sub-cekungan Kiri.

Tabel hasil pengukuran geometri bidang sesar, ketebalan cekungan dan strain pada Sub-cekungan Kiri. Dari hasil perhitungan strain terdapat sedikit perbedaan antara penampang yang dipengaruhi oleh sesar ramp-flat-ramp dan penampang yang hanya dipengaruhi oleh sesar normal listrik. Tabel IV.2 memperlihatkan

Lebih terperinci

BAB V INTERPRETASI DATA. batuan dengan menggunakan hasil perekaman karakteristik dari batuan yang ada

BAB V INTERPRETASI DATA. batuan dengan menggunakan hasil perekaman karakteristik dari batuan yang ada BAB V INTERPRETASI DATA V.1. Penentuan Litologi Langkah awal yang dilakukan pada penelitian ini adalah menentukan litologi batuan dengan menggunakan hasil perekaman karakteristik dari batuan yang ada dibawah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Objek yang dikaji adalah Formasi Gumai, khususnya interval Intra GUF a sebagai

BAB III METODE PENELITIAN. Objek yang dikaji adalah Formasi Gumai, khususnya interval Intra GUF a sebagai BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek yang dikaji adalah Formasi Gumai, khususnya interval Intra GUF a sebagai batas bawah sampai Intra GUF sebagai batas atas, pada Lapangan Izzati. Adapun

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Cadzow filtering adalah salah satu cara untuk menghilangkan bising dan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Cadzow filtering adalah salah satu cara untuk menghilangkan bising dan V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Penerapan Cadzow Filtering Cadzow filtering adalah salah satu cara untuk menghilangkan bising dan meningkatkan strength tras seismik yang dapat dilakukan setelah koreksi NMO

Lebih terperinci

TEKTONOSTRATIGRAFI DAN POLA SEDIMENTASI ENDAPAN SYN- RIFT BLOK TANJUNG JABAL, JAMBI. oleh : Muhammad Panji Suryaatmaja

TEKTONOSTRATIGRAFI DAN POLA SEDIMENTASI ENDAPAN SYN- RIFT BLOK TANJUNG JABAL, JAMBI. oleh : Muhammad Panji Suryaatmaja TEKTONOSTRATIGRAFI DAN POLA SEDIMENTASI ENDAPAN SYN- RIFT BLOK TANJUNG JABAL, JAMBI oleh : Muhammad Panji Suryaatmaja 12005035 Sari Blok Tanjung Jabal terletak pada Sub-cekungan Jambi, Cekungan Sumatra

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Cekungan Sumatera Selatan merupakan salah satu cekungan di Indonesia yang berada di belakang busur dan terbukti menghasilkan minyak dan gas bumi. Cekungan Sumatera

Lebih terperinci

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang mengambil judul Interpretasi Reservoar Menggunakan. Seismik Multiatribut Linear Regresion

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang mengambil judul Interpretasi Reservoar Menggunakan. Seismik Multiatribut Linear Regresion 1 IV. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian yang mengambil judul Interpretasi Reservoar Menggunakan Seismik Multiatribut Linear Regresion Pada Lapngan Pams Formasi Talangakar

Lebih terperinci

BAB IV METODE DAN PENELITIAN

BAB IV METODE DAN PENELITIAN 40 BAB IV METODE DAN PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada Lapangan T, berada di Sub-Cekungan bagian Selatan, Cekungan Jawa Timur, yang merupakan daerah operasi Kangean

Lebih terperinci

Aplikasi Metode Dekomposisi Spektral Dalam Interpretasi Paleogeografi Daerah Penelitian

Aplikasi Metode Dekomposisi Spektral Dalam Interpretasi Paleogeografi Daerah Penelitian Bab IV Aplikasi Metode Dekomposisi Spektral Dalam Interpretasi Paleogeografi Daerah Penelitian Aplikasi Metode Dekomposisi Spektral dalam interpretasi paleogeografi di daerah penelitian dilakukan setelah

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada gambar di bawah ini ditunjukkan lokasi dari Struktur DNF yang ditandai

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada gambar di bawah ini ditunjukkan lokasi dari Struktur DNF yang ditandai 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Geologi Regional Stuktur DNF terletak kurang lebih 160 kilometer di sebelah barat kota Palembang. Pada gambar di bawah ini ditunjukkan lokasi dari Struktur DNF yang ditandai

Lebih terperinci

Bab IV Analisis Data. IV.1 Data Gaya Berat

Bab IV Analisis Data. IV.1 Data Gaya Berat 41 Bab IV Analisis Data IV.1 Data Gaya Berat Peta gaya berat yang digabungkan dengn penampang-penampang seismik di daerah penelitian (Gambar IV.1) menunjukkan kecenderungan topografi batuan dasar pada

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1. Fisiografi Regional Van Bemmelen (1949) membagi Pulau Sumatera menjadi 6 zona fisiografi, yaitu: 1. Zona Jajaran Barisan 2. Zona Semangko 3. Pegunugan Tigapuluh 4. Kepulauan

Lebih terperinci

BAB IV RESERVOIR KUJUNG I

BAB IV RESERVOIR KUJUNG I BAB IV RESERVOIR KUJUNG I Studi geologi yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui geometri dan potensi reservoir, meliputi interpretasi lingkungan pengendapan dan perhitungan serta pemodelan tiga dimensi

Lebih terperinci

BAB IV TEKTONOSTRATIGRAFI DAN POLA SEDIMENTASI Tektonostratigrafi Formasi Talang Akar (Oligosen-Miosen Awal)

BAB IV TEKTONOSTRATIGRAFI DAN POLA SEDIMENTASI Tektonostratigrafi Formasi Talang Akar (Oligosen-Miosen Awal) BAB IV TEKTONOSTRATIGRAFI DAN POLA SEDIMENTASI 4.1 Tektonostratigrafi 4.1.1 Tektonostratigrafi Formasi Talang Akar (Oligosen-Miosen Awal) Berdasarkan penampang seismik yang sudah didatarkan pada horizon

Lebih terperinci

Bab II Tektonostrigrafi II.1 Tektonostratigrafi Regional Cekungan Sumatra Selatan

Bab II Tektonostrigrafi II.1 Tektonostratigrafi Regional Cekungan Sumatra Selatan Bab II Tektonostrigrafi II.1 Tektonostratigrafi Regional Cekungan Sumatra Selatan Cekungan Busur Belakang Sumatera terbentuk pada fase pertama tektonik regangan pada masa awal Tersier. Sedimentasi awal

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL DAERAH PENELITIAN. Posisi C ekungan Sumatera Selatan yang merupakan lokasi penelitian

BAB II GEOLOGI REGIONAL DAERAH PENELITIAN. Posisi C ekungan Sumatera Selatan yang merupakan lokasi penelitian BAB II GEOLOGI REGIONAL DAERAH PENELITIAN 2.1 Stratigrafi Regional Cekungan Sumatera Selatan Posisi C ekungan Sumatera Selatan yang merupakan lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 2.1. Gambar 2.1

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di PT. Pertamina EP Asset 2 dengan studi kasus pada Lapangan SBS yang terletak pada jalur Sesar Lematang yang membentuk

Lebih terperinci

BAB III GEOLOGI UMUM 3.1 TINJAUAN UMUM

BAB III GEOLOGI UMUM 3.1 TINJAUAN UMUM BAB III GEOLOGI UMUM 3.1 TINJAUAN UMUM Cekungan Asri merupakan bagian dari daerah operasi China National Offshore Oil Company (CNOOC) blok South East Sumatera (SES). Blok Sumatera Tenggara terletak pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daerah OCO terdapat pada Sub-Cekungan Jatibarang yang merupakan bagian dari Cekungan Jawa Barat Utara yang sudah terbukti menghasilkan hidrokarbon di Indonesia. Formasi

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL 9 II.1 Fisiografi dan Morfologi Regional BAB II GEOLOGI REGIONAL Area Penelitian Gambar 2-1 Pembagian zona fisiografi P. Sumatera (disederhanakan dari Van Bemmelen,1949) Pulau Sumatera merupakan salah

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Gambaran Umum Daerah penelitian secara regional terletak di Cekungan Sumatra Selatan. Cekungan ini dibatasi Paparan Sunda di sebelah timur laut, Tinggian Lampung di sebelah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Analisis fasies dan evaluasi formasi reservoar dapat mendeskripsi

BAB I PENDAHULUAN. Analisis fasies dan evaluasi formasi reservoar dapat mendeskripsi BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Analisis fasies dan evaluasi formasi reservoar dapat mendeskripsi sifat-sifat litologi dan fisika dari batuan reservoar, sehingga dapat dikarakterisasi dan kemudian

Lebih terperinci

BAB III DATA DAN PENGOLAHAN DATA

BAB III DATA DAN PENGOLAHAN DATA BAB III DATA DAN PENGOLAHAN DATA 3.1 Pendahuluan Analisis tektonostratigrafi dan pola sedimentasi interval Formasi Talang Akar dan Baturaja dilakukan dengan mengintegrasikan data geologi dan data geofisika

Lebih terperinci

I.2 Latar Belakang, Tujuan dan Daerah Penelitian

I.2 Latar Belakang, Tujuan dan Daerah Penelitian Bab I Pendahuluan I.1 Topik Kajian Topik yang dikaji yaitu evolusi struktur daerah Betara untuk melakukan evaluasi struktur yang telah terjadi dengan mengunakan restorasi palinspatik untuk mengetahui mekanismenya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik mengenai geologi terutama mengenai sifat/karakteristik suatu reservoir sangat penting dalam tahapan eksploitasi suatu

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 GEOLOGI REGIONAL Cekungan Jawa Barat Utara yang terletak di sebelah baratlaut Pulau Jawa secara geografis merupakan salah satu Cekungan Busur Belakang (Back-Arc Basin) yang

Lebih terperinci

STRATIGRAFI REGIONAL CEKUNGAN SUMATERA SELATAN

STRATIGRAFI REGIONAL CEKUNGAN SUMATERA SELATAN STRATIGRAFI REGIONAL CEKUNGAN SUMATERA SELATAN Oleh : Edlin Shia Tjandra (07211033) Fanny Kartika (07211038) Theodora Epyphania (07211115) TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB IV UNIT RESERVOIR

BAB IV UNIT RESERVOIR BAB IV UNIT RESERVOIR 4.1. Batasan Zona Reservoir Dengan Non-Reservoir Batasan yang dipakai untuk menentukan zona reservoir adalah perpotongan (cross over) antara kurva Log Bulk Density (RHOB) dengan Log

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Cekungan Kutai merupakan cekungan Tersier terbesar dan terdalam di Indonesia bagian barat, dengan luas area 60.000 km 2 dan ketebalan penampang mencapai 14 km. Cekungan

Lebih terperinci

BAB IV PEMODELAN RESERVOAR

BAB IV PEMODELAN RESERVOAR BAB IV PEMODELAN RESERVOAR Daerah penelitian, Lapangan Yapin, merupakan lapangan yang sudah dikembangkan. Salah satu masalah yang harus dipecahkan dalam pengembangan lapangan adalah mendefinisikan geometri

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang mengambil judul Analisis Reservoar Pada Lapangan

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang mengambil judul Analisis Reservoar Pada Lapangan BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian yang mengambil judul Analisis Reservoar Pada Lapangan FRL Formasi Talangakar, Cekungan Sumatera Selatan dengan Menggunakan Seismik

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data seismik 3D PSTM Non

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data seismik 3D PSTM Non 39 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Data Penelitian Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data seismik 3D PSTM Non Preserve. Data sumur acuan yang digunakan untuk inversi adalah sumur

Lebih terperinci

II.1.2 Evolusi Tektonik.. 8

II.1.2 Evolusi Tektonik.. 8 DAFTAR ISI Halaman LEMBAR PENGESAHAN ii PERNYATAAN.. iii KATA PENGANTAR.. iv SARI... v ABSTRACT.. vi DAFTAR ISI vii DAFTAR TABEL ix DAFTAR GAMBAR x BAB I PENDAHULUAN... 1 I.1 Latar Belakang... 1 I.2 Lokasi

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN 5.1 Pra-Interpretasi Pada BAB ini akan dijelaskan tahapan dan hasil interpretasi data seismik 3D land dan off-shore yang telah dilakukan pada data lapangan SOE. Adapun

Lebih terperinci

a) b) Frekuensi Dominan ~22 hz

a) b) Frekuensi Dominan ~22 hz Pada tahap akhir pembentukan sistem trak post-rift ini diendapkan Formasi Menggala yang merupakan endapan transgresif yang melampar di atas Kelompok Pematang. Formasi Menggala di dominasi oleh endapan

Lebih terperinci

Bab III Pengolahan dan Analisis Data

Bab III Pengolahan dan Analisis Data Bab III Pengolahan dan Analisis Data Dalam bab pengolahan dan analisis data akan diuraikan berbagai hal yang dilakukan peneliti untuk mencapai tujuan penelitian yang ditetapkan. Data yang diolah dan dianalisis

Lebih terperinci

BAB II TATANAN GEOLOGI

BAB II TATANAN GEOLOGI BAB II TATANAN GEOLOGI 2.1 Geologi Regional Cekungan Natuna Barat berada pada kerak kontinen yang tersusun oleh batuan beku dan metamorf yang berumur Kapur Awal Kapur Akhir. Cekungan ini dibatasi oleh

Lebih terperinci

IV.5. Interpretasi Paleogeografi Sub-Cekungan Aman Utara Menggunakan Dekomposisi Spektral dan Ekstraksi Atribut Seismik

IV.5. Interpretasi Paleogeografi Sub-Cekungan Aman Utara Menggunakan Dekomposisi Spektral dan Ekstraksi Atribut Seismik persiapan data, analisis awal (observasi, reconnaissance) untuk mencari zone of interest (zona menarik), penentuan parameter dekomposisi spektral yang tetap berdasarkan analisis awal, pemrosesan dekomposisi

Lebih terperinci

Sekuen Stratigrafi Rift System Lambiase (1990) mengajukan pengelompokan tektonostratigrafi cekungan synrift yang terbentuk dalam satu satu siklus

Sekuen Stratigrafi Rift System Lambiase (1990) mengajukan pengelompokan tektonostratigrafi cekungan synrift yang terbentuk dalam satu satu siklus BAB II KAJIAN PUSTAKA II.1 Sekuen Stratigrafi Rift System Lambiase (1990) mengajukan pengelompokan tektonostratigrafi cekungan synrift yang terbentuk dalam satu satu siklus tektonik menjadi rift initiation,

Lebih terperinci

BAB III GEOLOGI UMUM

BAB III GEOLOGI UMUM BAB III GEOLOGI UMUM 3.1 Geologi Regional Cekungan Sumatra Selatan merupakan cekungan yang berbentuk asimetris, dibatasi oleh sesar dan singkapan batuan Pra-Tersier yang mengalami pengangkatan di bagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Kegiatan eksplorasi di Cekungan Sumatra Tengah telah dimulai sejak tahun 1924. Pemboran pertama di lokasi Kubu #1 dilakukan pada tahun 1939, kemudian dilanjutkan dengan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Tugas Akhir ini dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan pada 13 April 10 Juli 2015

BAB IV METODE PENELITIAN. Tugas Akhir ini dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan pada 13 April 10 Juli 2015 53 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Waktu dan Tempat Penelitian Tugas Akhir ini dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan pada 13 April 10 Juli 2015 di PT. Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore, TB. Simatupang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lebih tepatnya berada pada Sub-cekungan Palembang Selatan. Cekungan Sumatra

BAB I PENDAHULUAN. lebih tepatnya berada pada Sub-cekungan Palembang Selatan. Cekungan Sumatra BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Daerah penelitian termasuk dalam wilayah Cekungan Sumatra Selatan, lebih tepatnya berada pada Sub-cekungan Palembang Selatan. Cekungan Sumatra Selatan termasuk

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN YOGYAKARTA 2011

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN YOGYAKARTA 2011 SIKUEN STRATIGRAFI DAN ESTIMASI CADANGAN GAS LAPISAN PS-11 BERDASARKAN DATA WIRELINE LOG, SEISMIK DAN CUTTING, FORMASI EKUIVALEN TALANG AKAR LAPANGAN SETA CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA SKRIPSI Oleh: SATYA

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Lintasan Dan Hasil Penelitian Penelitian yang dilakukan dalam cakupan peta 1212 terdiri dari 44 lintasan yang terbentang sepanjang 2290 km, seperti yang terlihat pada peta

Lebih terperinci

2.2.2 Log Sumur Batuan Inti (Core) Log Dipmeter Log Formation Micro Imager (FMI)

2.2.2 Log Sumur Batuan Inti (Core) Log Dipmeter Log Formation Micro Imager (FMI) DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...i HALAMAN PERSETUJUAN... ii HALAMAN PERSEMBAHAN... iii UCAPAN TERIMAKASIH...iv ABSTRAK...vi ABSTRACT... vii DAFTAR ISI... viii DAFTAR GAMBAR...xi DAFTAR TABEL...xvi DAFTAR LAMPIRAN...

Lebih terperinci

Interpretasi Stratigrafi daerah Seram. Tabel 4.1. Korelasi sumur daerah Seram

Interpretasi Stratigrafi daerah Seram. Tabel 4.1. Korelasi sumur daerah Seram BAB 4 GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 4.1. Interpretasi Stratigrafi 4.1.1. Interpretasi Stratigrafi daerah Seram Daerah Seram termasuk pada bagian selatan Kepala Burung yang dibatasi oleh MOKA di bagian utara,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHALUAN. kondisi geologi di permukaan ataupun kondisi geologi diatas permukaan. Secara teori

BAB I PENDAHALUAN. kondisi geologi di permukaan ataupun kondisi geologi diatas permukaan. Secara teori 1 BAB I PENDAHALUAN I.1. Latar Belakang Kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mencari lapangan-lapangan baru yang dapat berpotensi menghasilkan minyak dan atau

Lebih terperinci

3.3. Pengikatan Data Sumur pada Seismik-3D (Well Seismic Tie)

3.3. Pengikatan Data Sumur pada Seismik-3D (Well Seismic Tie) Berdasarkan kenampakkan umum dari kurva-kurva log sumur (electrofasies) pada masing-masing sumur beserta marker-marker sikuen yang telah diketahui, dapat diinterpretasi bahwa secara umum, perkembangan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian 1.1. Latar Belakang Penelitian BAB 1 PENDAHULUAN Data seismik dan log sumur merupakan bagian dari data yang diambil di bawah permukaan dan tentunya membawa informasi cukup banyak mengenai kondisi geologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Badan Geologi (2009), Subcekungan Enrekang yang terletak

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Badan Geologi (2009), Subcekungan Enrekang yang terletak BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Menurut Badan Geologi (2009), Subcekungan Enrekang yang terletak pada bagian utara-tengah dari Sulawesi Selatan merupakan salah satu subcekungan yang memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Lapangan Nagabonar merupakan bagian dari grup Nagabonar (NB Group) yang terdiri dari Lapangan Nagabonar (NB), Lapangan Mama dan Lapangan Nagabonar Extension (NBE).

Lebih terperinci

BAB IV MODEL EVOLUSI STRUKTUR ILIRAN-KLUANG

BAB IV MODEL EVOLUSI STRUKTUR ILIRAN-KLUANG BAB IV MODEL EVOLUSI STRUKTUR ILIRAN-KLUANG IV.1. Analisis Geometri Struktur Iliran-Kluang Berdasarkan arahnya, sesar yang ada didaerah sepanjang struktur Iliran- Kluang dapat dibedakan atas tiga kelompok,

Lebih terperinci

Salah satu reservoir utama di beberapa lapangan minyak dan gas di. Cekungan Sumatra Selatan berasal dari batuan metamorf, metasedimen, atau beku

Salah satu reservoir utama di beberapa lapangan minyak dan gas di. Cekungan Sumatra Selatan berasal dari batuan metamorf, metasedimen, atau beku 1. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Salah satu reservoir utama di beberapa lapangan minyak dan gas di Cekungan Sumatra Selatan berasal dari batuan metamorf, metasedimen, atau beku berumur Paleozoic-Mesozoic

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI CEKUNGAN SUMATERA TENGAH

BAB II GEOLOGI CEKUNGAN SUMATERA TENGAH BAB II GEOLOGI CEKUNGAN SUMATERA TENGAH II.1 Kerangka Tektonik dan Geologi Regional Terdapat 2 pola struktur utama di Cekungan Sumatera Tengah, yaitu pola-pola tua berumur Paleogen yang cenderung berarah

Lebih terperinci

BAB IV INTERPRETASI SEISMIK

BAB IV INTERPRETASI SEISMIK BAB IV INTERPRETASI SEISMIK Analisa dan interpretasi struktur dengan menggunakan data seismik pada dasarnya adalah menginterpretasi keberadaan struktur sesar pada penampang seismik dengan menggunakan bantuan

Lebih terperinci

BAB 2 GEOLOGI REGIONAL

BAB 2 GEOLOGI REGIONAL BAB 2 GEOLOGI REGIONAL 2.1 Struktur Regional Terdapat 4 pola struktur yang dominan terdapat di Pulau Jawa (Martodjojo, 1984) (gambar 2.1), yaitu : Pola Meratus, yang berarah Timurlaut-Baratdaya. Pola Meratus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. eksplorasi hidrokarbon, salah satunya dengan mengevaluasi sumur sumur migas

BAB I PENDAHULUAN. eksplorasi hidrokarbon, salah satunya dengan mengevaluasi sumur sumur migas BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Penelitian Dalam mencari cadangan minyak dan gas bumi, diperlukan adanya kegiatan eksplorasi hidrokarbon, salah satunya dengan mengevaluasi sumur sumur migas yang sudah

Lebih terperinci

Bab III Pengolahan Data

Bab III Pengolahan Data S U U S Gambar 3.15. Contoh interpretasi patahan dan horizon batas atas dan bawah Interval Main pada penampang berarah timurlaut-barat daya. Warna hijau muda merupakan batas atas dan warna ungu tua merupakan

Lebih terperinci

III.3 Interpretasi Perkembangan Cekungan Berdasarkan Peta Isokron Seperti telah disebutkan pada sub bab sebelumnya bahwa peta isokron digunakan untuk

III.3 Interpretasi Perkembangan Cekungan Berdasarkan Peta Isokron Seperti telah disebutkan pada sub bab sebelumnya bahwa peta isokron digunakan untuk III.3 Interpretasi Perkembangan Cekungan Berdasarkan Peta Isokron Seperti telah disebutkan pada sub bab sebelumnya bahwa peta isokron digunakan untuk menafsirkan perkembangan cekungan. Perlu diingat bahwa

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS SEKATAN SESAR

BAB V ANALISIS SEKATAN SESAR BAB V ANALISIS SEKATAN SESAR Dalam pembahasan kali ini, penulis mencoba menganalisis suatu prospek terdapatnya hidrokarbon ditinjau dari kondisi struktur di sekitar daerah tersebut. Struktur yang menjadi

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS DINAMIKA CEKUNGAN

BAB III ANALISIS DINAMIKA CEKUNGAN BAB III ANALISIS DINAMIKA CEKUNGAN 3.1. Pembuatan Model Sejarah Geologi Model sejarah geologi yang dianalisis pada penelitian ini adalah model kurva sejarah pemendaman seperti yang telah dibahas pada bab

Lebih terperinci

BAB IV PENGOLAHAN DATA

BAB IV PENGOLAHAN DATA BAB IV PENGOLAHAN DATA Secara umum, metode penelitian dibagi atas tiga kegiatan utama yaitu: 1. Pengumpulan data, baik data kerja maupun data pendukung 2. Pengolahan data 3. Analisis atau Interpretasi

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS KORELASI INFORMASI GEOLOGI DENGAN VARIOGRAM

BAB IV ANALISIS KORELASI INFORMASI GEOLOGI DENGAN VARIOGRAM BAB IV ANALISIS KORELASI INFORMASI GEOLOGI DENGAN VARIOGRAM Tujuan utama analisis variogram yang merupakan salah satu metode geostatistik dalam penentuan hubungan spasial terutama pada pemodelan karakterisasi

Lebih terperinci

Bab V. Analisa Stratigrafi Sekuen

Bab V. Analisa Stratigrafi Sekuen BAB V Bab V. Analisa Stratigrafi Sekuen ANALISA STRATIGRAFI SEKUEN Korelasi adalah langkah yang sangat penting dalam suatu pekerjaan geologi bawah permukaan sebab semua visualisasi baik dalam bentuk penampang

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL Cekungan Jawa Barat Utara merupakan cekungan sedimen Tersier yang terletak tepat di bagian barat laut Pulau Jawa (Gambar 2.1). Cekungan ini memiliki penyebaran dari wilayah daratan

Lebih terperinci

Estimasi Porositas pada Reservoir KarbonatMenggunakan Multi Atribut Seismik

Estimasi Porositas pada Reservoir KarbonatMenggunakan Multi Atribut Seismik Estimasi Porositas pada Reservoir KarbonatMenggunakan Multi Atribut Seismik Bambang Hari Mei 1), Eka Husni Hayati 1) 1) Program Studi Geofisika, Jurusan Fisika FMIPA Unhas [email protected]

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. SARI... i. ABSTRACT... ii. KATA PENGANTAR... iii. DAFTAR ISI... vi. DAFTAR GAMBAR... x. DAFTAR TABEL... xvi BAB I PENDAHULUAN...

DAFTAR ISI. SARI... i. ABSTRACT... ii. KATA PENGANTAR... iii. DAFTAR ISI... vi. DAFTAR GAMBAR... x. DAFTAR TABEL... xvi BAB I PENDAHULUAN... DAFTAR ISI SARI......... i ABSTRACT...... ii KATA PENGANTAR.... iii DAFTAR ISI.... vi DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR TABEL... xvi BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang Penelitian... 1 1.2 Ruang Lingkup

Lebih terperinci

Bab III Tektonostratigrafi Kelompok Pematang Sub Cekungan Barumun

Bab III Tektonostratigrafi Kelompok Pematang Sub Cekungan Barumun Bab III Tektonostratigrafi Kelompok Pematang Sub Cekungan Barumun III.1. Data dan Metodologi III.1.1. Data Data yang akan dipergunakan dalam penelitian ini meliputi data lebih dari 1000 km seismik 2D eks

Lebih terperinci

KARAKTERISASI RESERVOAR FORMASI BELUMAI DENGAN MENGGUNAKAN METODE INVERSI IMPENDANSI AKUSTIK DAN NEURAL NETWORK PADA LAPANGAN YPS.

KARAKTERISASI RESERVOAR FORMASI BELUMAI DENGAN MENGGUNAKAN METODE INVERSI IMPENDANSI AKUSTIK DAN NEURAL NETWORK PADA LAPANGAN YPS. KARAKTERISASI RESERVOAR FORMASI BELUMAI DENGAN MENGGUNAKAN METODE INVERSI IMPENDANSI AKUSTIK DAN NEURAL NETWORK PADA LAPANGAN YPS Andri Kurniawan 1, Bagus Sapto Mulyatno,M.T 1, Muhammad Marwan, S.Si 2

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. cekungan penghasil minyak dan gas bumi terbesar kedua di Indonesia setelah

BAB I PENDAHULUAN. cekungan penghasil minyak dan gas bumi terbesar kedua di Indonesia setelah BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Menurut Pertamina BPPKA (1996), Cekungan Kutai merupakan salah satu cekungan penghasil minyak dan gas bumi terbesar kedua di Indonesia setelah Cekungan

Lebih terperinci

HALAMAN PENGESAHAN...

HALAMAN PENGESAHAN... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii ABSTRAK... iv PERNYATAAN... v KATA PENGANTAR... vi DAFTAR ISI... vii DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR TABEL... xiv DAFTAR LAMPIRAN... xv BAB I. PENDAHULUAN...

Lebih terperinci

BAB III GEOMETRI DAN KARAKTERISASI UNIT RESERVOIR

BAB III GEOMETRI DAN KARAKTERISASI UNIT RESERVOIR BAB III GEOMETRI DAN KARAKTERISASI UNIT RESERVOIR III.1. Analisis Biostratigrafi Pada penelitian ini, analisis biostratigrafi dilakukan oleh PT Geoservices berdasarkan data yang diambil dari sumur PL-01

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan 1.1 Subjek dan Objek Penelitian 1.2 Latar Belakang Permasalahan 1.3 Masalah Penelitian

Bab I Pendahuluan 1.1 Subjek dan Objek Penelitian 1.2 Latar Belakang Permasalahan 1.3 Masalah Penelitian Bab I Pendahuluan 1.1 Subjek dan Objek Penelitian Subjek dari penelitian ini berupa studi stratigrafi sekuen dalam formasi Pulau Balang di lapangan Wailawi, Cekungan Kutai Bagian Selatan Kalimantan Timur.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Lapangan TERRA adalah salah satu lapangan yang dikelola oleh PT.

BAB I PENDAHULUAN. Lapangan TERRA adalah salah satu lapangan yang dikelola oleh PT. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lapangan TERRA adalah salah satu lapangan yang dikelola oleh PT. Chevron Pacific Indonesia (PT. CPI) dalam eksplorasi dan produksi minyak bumi. Lapangan ini terletak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pliosen Awal (Minarwan dkk, 1998). Pada sumur P1 dilakukan pengukuran FMT

BAB I PENDAHULUAN. Pliosen Awal (Minarwan dkk, 1998). Pada sumur P1 dilakukan pengukuran FMT BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Lapangan R merupakan bagian dari kompleks gas bagian Selatan Natuna yang terbentuk akibat proses inversi yang terjadi pada Miosen Akhir hingga Pliosen Awal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Sejarah eksplorasi menunjukan bahwa area North Bali III merupakan bagian selatan dari Blok Kangean yang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Sejarah eksplorasi menunjukan bahwa area North Bali III merupakan bagian selatan dari Blok Kangean yang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Sejarah eksplorasi menunjukan bahwa area North Bali III merupakan bagian selatan dari Blok Kangean yang dioperasikan oleh Atlantic Richfield Bali North Inc (ARCO),

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS STRATIGRAFI SEKUEN, DISTRIBUSI DAN KUALITAS RESERVOIR

BAB V ANALISIS STRATIGRAFI SEKUEN, DISTRIBUSI DAN KUALITAS RESERVOIR BAB V ANALISIS STRATIGRAFI SEKUEN, DISTRIBUSI DAN KUALITAS RESERVOIR V.1 Analisis Sekuen dari Korelasi Sumur Analisis stratigrafi sekuen pada penelitian ini dilakukan dengan analisis data sumur yang dilanjutkan

Lebih terperinci

BAB III PEMODELAN GEOMETRI RESERVOIR

BAB III PEMODELAN GEOMETRI RESERVOIR BAB III PEMODELAN GEOMETRI RESERVOIR Pemodelan reservoir berguna untuk memberikan informasi geologi dalam kaitannya dengan data-data produksi. Studi geologi yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui geometri

Lebih terperinci

BAB III DATA DAN PENGOLAHAN DATA

BAB III DATA DAN PENGOLAHAN DATA BAB III DATA DAN PENGOLAHAN DATA 3.1 Data 3.1.1 Data Seismik Data yang dimiliki adalah data seismik hasil migrasi post stack 3-D pada skala waktu / time dari Lapangan X dengan polaritas normal, fasa nol,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Cekungan Sumatra Tengah merupakan cekungan penghasil minyak bumi yang pontensial di Indonesia. Cekungan ini telah dikelola oleh PT Chevron Pacific Indonesia selama

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB II GEOLOGI DAERAH PENELITIAN BAB II GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 2.1 Geologi Regional 2.1.1 Fisiografi Regional Menurut Heidrick dan Aulia (1993) Cekungan Sumatra Tengah terletak di antara Cekungan Sumatra Utara dan Cekungan Sumatra

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL Cekungan Sunda dan Asri adalah salah satu cekungan sedimen yang terletak dibagian barat laut Jawa, timur laut Selat Sunda, dan barat laut Cekungan Jawa Barat Utara (Todd dan Pulunggono,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Zona penelitian ini meliputi Cekungan Kalimantan Timur Utara yang dikenal juga

II. TINJAUAN PUSTAKA. Zona penelitian ini meliputi Cekungan Kalimantan Timur Utara yang dikenal juga 4 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Geomorfologi Zona penelitian ini meliputi Cekungan Kalimantan Timur Utara yang dikenal juga dengan Cekungan Tarakan yang merupakan salah satu cekungan penghasil hidrokarbon

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Maksud dan Tujuan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Maksud dan Tujuan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan minyak dan gas bumi sebagai sumber daya bahan baku konsumsi kegiatan manusia sehari-hari masih belum dapat tergantikan dengan teknologi maupun sumber daya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Era eksplorasi dengan target jebakan struktur pada reservoir-reservoir Kelompok Sihapas yang berumur Miosen dengan lingkungan pengendapan laut tidak banyak

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1. Kerangka Tektonik (a) 5 (b) Gambar 1. Posisi tektonik Cekungan Sumatera Selatan dan pembagian subcekungan di Cekungan Sumatera Selatan (Laporan Internal PT. PERTAMINA EP Asset

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan kebutuhan minyak bumi di Indonesia terutama untuk kebutuhan industri semakin meningkat. Namun meningkatnya kebutuhan akan minyak bumi tersebut tidak diiringi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN... ii LEMBAR PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv SARI... vi ABSTRACT... vii DAFTAR ISI... viii DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR TABEL... xvi DAFTAR LAMPIRAN... xvii BAB I PENDAHULUAN...

Lebih terperinci

Gambar 4.5. Peta Isopach Net Sand Unit Reservoir Z dengan Interval Kontur 5 Kaki

Gambar 4.5. Peta Isopach Net Sand Unit Reservoir Z dengan Interval Kontur 5 Kaki Gambar 4.5. Peta Isopach Net Sand Unit Reservoir Z dengan Interval Kontur 5 Kaki Fasies Pengendapan Reservoir Z Berdasarkan komposisi dan susunan litofasies, maka unit reservoir Z merupakan fasies tidal

Lebih terperinci

DAFTAR GAMBAR. Gambar 5. Pengambilan Conventinal Core utuh dalam suatu pemboran... Gambar 6. Pengambilan Side Wall Core dengan menggunakan Gun...

DAFTAR GAMBAR. Gambar 5. Pengambilan Conventinal Core utuh dalam suatu pemboran... Gambar 6. Pengambilan Side Wall Core dengan menggunakan Gun... DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Kontribusi berbagai cabang disiplin ilmu dalam kegiatan eksplorasi (Peadar Mc Kevitt, 2004)... Gambar 2. Peta Lokasi Struktur DNF... Gambar 3. Batas batas Struktur DNF dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diantaranya memiliki status plug and abandon, satu sumur menunggu

BAB I PENDAHULUAN. diantaranya memiliki status plug and abandon, satu sumur menunggu BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak dan gas bumi yang cukup besar, baik dari jumlah minyak dan gas yang telah diproduksi maupun dari perkiraan perhitungan

Lebih terperinci

BAB III TEORI DASAR. Prinsip dasar metodee seismik, yaitu menempatkan geophone sebagai penerima

BAB III TEORI DASAR. Prinsip dasar metodee seismik, yaitu menempatkan geophone sebagai penerima BAB III TEORI DASAR 3.1. Konsep Refleksi Gelombang Seismik Prinsip dasar metodee seismik, yaitu menempatkan geophone sebagai penerima getaran pada lokasi penelitian. Sumber getaran dapat ditimbulkan oleh

Lebih terperinci

Gambar 1. Kolom Stratigrafi Cekungan Jawa Barat Utara (Arpandi dan Padmosukismo, 1975)

Gambar 1. Kolom Stratigrafi Cekungan Jawa Barat Utara (Arpandi dan Padmosukismo, 1975) STRATIGRAFI CEKUNGAN JAWA BARAT BAGIAN UTARA Sedimentasi Cekungan Jawa Barat Utara mempunyai kisaran umur dari kala Eosen Tengah sampai Kuarter. Deposit tertua adalah pada Eosen Tengah, yaitu pada Formasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Untuk memenuhi permintaan akan energi yang terus meningkat, maka

BAB I PENDAHULUAN. Untuk memenuhi permintaan akan energi yang terus meningkat, maka BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Untuk memenuhi permintaan akan energi yang terus meningkat, maka perusahaan penyedia energi melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya energi yang berasal dari

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. LEMBAR PENGESAHAN... ii LEMBAR PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv. SARI...v ABSTRACT... vi DAFTAR ISI...

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. LEMBAR PENGESAHAN... ii LEMBAR PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv. SARI...v ABSTRACT... vi DAFTAR ISI... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... ii LEMBAR PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv SARI...v ABSTRACT... vi DAFTAR ISI... vii DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR TABEL...xv DAFTAR LAMPIRAN... xvi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini di Indonesia semakin banyak ditemukan minyak dan gas yang terdapat pada reservoir karbonat, mulai dari ukuran kecil hingga besar. Penemuan hidrokarbon dalam

Lebih terperinci