PAMSIMAS 2012 KATA SAMBUTAN
|
|
|
- Susanto Suhendra Hartanto
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1
2 KATA SAMBUTAN Banyak masyarakat miskin di perdesaan yang belum mendapatkan air bersih yang layak. Selain itu adalah masyarakat di wilayah peri-urban yang mana masyarakatnya berpenghasilan rendah, pemukiman dan lingkungannya rawan serta tidak/belum tersedianya sarana sanitasi yang layak. Air bersih yang layak tersebut adalah layak secara kualitas maupun layak secara kuantitas. Kebutuhan air itu sudah sepantasnya dapat terpenuhi. Dan upaya penyediaan air minum di masyarakat harus sejalan dengan penanganan kesehatan dan sanitasinya. Melalui Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi berbasis Masyarakat (Pamsimas), pemerintah berupaya untuk: (i) meningkatkan jumlah masyarakat perdesaan dan peri-urban untuk mendapatkan akses air minum, kesehatan dan sanitasi, (ii) mengurangi jumlah penduduk terserang penyakit diare dan penyakit lainnya yang ditularkan melalui air dan lingkungan, serta (iii) meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia pemerintah daerah dan masyarakat dalam pelaksanaan maupun penanganan pasca proyek. Sehingga, pada akhirnya pencapaian target MDGs bidang air minum, dan penyehatan lingkungan (AMPL) dapat terwujud. Program Pamsimas dilaksanakan di 15 provinsi. Dan merupakan program lintas kementerian: Bappenas, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Keuangan. Koordinasi lintas kementerian, juga di tingkat pusat maupun daerah sangat penting. Oleh karena itu, amat perlu adanya Buku Pedoman maupun Petunjuk Pelaksanaan program Pamsimas, yang dapat menjadi acuan dalam menjalankan seluruh kegiatan. Semoga dengan Buku Pedoman dan Buku Petunjuk Teknis yang cukup lengkap ini dapat memberikan arahan pada seluruh siklus kegiatan Pamsimas; baik dalam hal peran masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, mampu melaksanakan pengoperasian, sampai dengan pemeliharaan sarana air minum dan sanitasi yang sehat. Jakarta, Mei 2012 Direktur Jenderal Cipta Karya, Budi Yuwono P. NIP i
3 KATA PENGANTAR Air sebagai kebutuhan utama kehidupan, seharusnya dapat terpenuhi secara kualitas maupun kuantitas. Namun masih banyak masyarakat miskin di Indonesia yang belum mendapatkan air bersih yang layak. Program Pamsimas adalah program andalan Pemerintah di dalam penyediaan air bersih dan sanitasi berbasis masyarakat bagi masyarakat miskin di perdesaan. Sejak 2008 Pamsimas dilaksanakan, dampaknya positif bagi masyarakat desa yang tersebar di 15 provinsi. Sebagai program stimulan dengan pendekatan berbasis masyarakat, program Pamsimas menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dan sekaligus sebagai penanggungjawab pelaksanaan kegiatan. Agar lancar dan dapat dipertanggungjawabkan, maka diperlukan Buku Pedoman dan Petunjuk Teknis. Buku-buku ini merupakan penyempurnaan buku-buku tahun lalu, dan banyak manfaat dapat dipetik, antara lain: Mengendalikan program termasuk penilaian kinerja pendampingan masyarakat dalam pembuatan semua bentuk dokumen program Pamsimas Panduan kerja pengendalian mutu pelaksanaan pendampingan masyarakat dalam hal pembuatan segala bentuk dokumen terkait program Pamsimas Memantau dan evaluasi proses pendampingan masyarakat untuk membuat semua pelaporan dan pertanggungjawaban Panduan untuk memfasilitasi masyarakat dalam membuat segala jenis dokumen dalam kegiatan Program Pamsimas Memahami secara menyeluruh segala bentuk pelaporan dan pertanggungjawaban di tingkat masyarakat Memastikan semua pelaporan dan pertanggungjawaban dapat dibuat oleh masyarakat dan memuat informasi yang benar Dengan demikian diharapkan seluruh aspek kegiatan di tingkat masyarakat dapat berjalan dengan baik. Masyarakat dapat menikmati air bersih dan sanitasi yang layak sepanjang masa dalam pengelolaan yang berkelanjutan. Jakarta, Mei 2012 Direktur Pengembangan Air Minum - DJCK, Ir. Danny Sutjiono ii
4 DAFTAR ISI KATA SAMBUTAN... i KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI... iii BAB 1. PENDAHULUAN Tujuan Pengertian Pengguna Petunjuk Teknis... 1 BAB 2. SPAMS PERDESAAN Tujuan dan Keluaran Skema dan Siklus Penguatan Keberlanjutan Prinsip dan Strategi Prinsip Penguatan Keberlanjutan Strategi Penguatan Keberlanjutan Penanggungjawab dan Peran Pelaku Penanggung Jawab Peran Pelaku BAB 3. SPAMS PERDESAAN DI TINGKAT KABUPATEN/KOTA Komponen Kegiatan Pengembangan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan Dukungan Kelembagaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota Tahapan Kegiatan Workshop Pengenalan Keberlanjutan SPAMS Perdesaan Workshop Ekspose Rencana Kerja Asosiasi dan Pengembangan Kemitraan Workshop Penyelenggaraan Keberlanjutan dan Kemitraan BAB 4. SPAMS PERDESAAN DI TINGKAT DESA/KELURAHAN Komponen Kegiatan Perkuatan Fungsi BP-SPAMS Perkuatan Kapasitas KPM Bidang AMPL Sinkronisasi dan Integrasi PJM-ProAKSi Tahapan Kegiatan Monitoring Keberlanjutan Tahap II Tingkat Desa/Kelurahan Penyusunan Program Kerja BP-SPAMS Hal iii
5 4.2.3 Pemantauan dan Pelaporan Kinerja BP-SPAMS Sinkronisasi PJM ProAksi dalam Musrenbang dan RPJM Desa Pengawalan Prioritas AMPL Desa dalam Musrenbang Kecamatan Pengelolaan Kemitraan BAB 5. PELAPORAN Pelaporan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota Pelaporan oleh Pelaku PENGUATAN Keberlanjutan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL BP-SPAMS Pelaporan oleh Fasilitator Keberlanjutan Lampiran: SOP Pembentukan Asosiasi Pengelola SPAM Perdesaan Lampiran 1 Format Rencana Kerja Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan Lampiran 2 Pemantauan Berkala Kinerja Lampiran 3 Laporan Pertanggungjawaban Keuangan Lampiran 4 Berita Acara Hasil Rapat Anggota Lampiran 5 Rancangan Berita Acara Hasil Kesepakatan Musrenbang RKPD Lampiran 6 Pendataan Status Cakupan AMPL Lampiran 7 Laporan Bulanan Kegiatan Fasilitator Keberlanjutan Lampiran 8 (Contoh) Keputusan Kepala Desa / Lurah Nomor : Tahun Tentang Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Lampiran 9 Contoh Format: Nota Kesepahaman Lampiran 10 Rancangan Rencana Kerja BP-SPAMS Lampiran 11 Contoh Laporan TKK: Laporan Kemajuan Pencapaian Target SPAMS Perdesaan Lampiran 12 Laporan Pembinaan oleh SKPD Mitra Asosiasi Lampiran 13 Format Laporan Pelaksanaan Rencana Kerja Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dan Kemitraan Lampiran 14 Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan: Buku Bank Lampiran 15 Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan: Buku Kas Lampiran 16 Laporan Keuangan iv
6 BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 TUJUAN Petunjuk Teknis Penguatan Keberlanjutan Program Pamsimas dimaksudkan untuk menyediakan panduan bagi semua pelaku Pamsimas dalam melakukan proses penguatan keberlanjutan di tingkat desa/kelurahan dan kabupaten/kota. 1.2 PENGERTIAN Pamsimas tidak hanya mendukung pelaksanaan kegiatan reguler, namun juga menyediakan dukungan pasca reguler berupa pendampingan dan pengembangan kapasitas untuk memastikan seluruh hasil kegiatan Pamsimas di tingkat desa/kelurahan berkelanjutan. Upaya pendampingan dan pengembangan kapasitas ini dilakukan di tingkat kabupaten/kota serta desa/kelurahan dan dinamakan sebagai Penguatan Keberlanjutan. 1.3 PENGGUNA Petunjuk Teknis ini merupakan rangkaian dari seluruh pedoman umum dan petunjuk teknis yang disediakan oleh Pamsimas. Oleh karena itu, petunjuk teknis ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari petunjuk teknis yang lainnya. Petunjuk Teknis ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai rujukan bagi TKP dan TKK dalam pengelolaan penguatan keberlanjutan untuk seluruh AMPL Perdesaan, baik yang disediakan oleh Pamsimas maupun penyedia AMPL lainnya. Petunjuk Teknis ini diperuntukkan sebagai acuan pelaksanaan kerja oleh TKP, TKK, PPMU, DPMU dan terutama Fasilitator Keberlanjutan dalam melaksanakan penguatan keberlanjutan SPAMS Perdesaan. Secara umum, pengguna dan manfaat pedoman masing-masing dapat dilihat pada Tabel 1.1 dibawah ini: 1
7 Tabel 1.1 Pengguna dan Manfaat Pedoman Pengguna Manfaat Organisasi masyarakat, (LKM, BP-SPAMS, Asosiasi) Pengelola Program (CPMU, PPMU dan DPMU) Konsultan Pelaksana (CMAC, PMAC dan DMAC) Memahami proses dan kegiatan penguatan keberlanjutan di tingkat desa/kelurahan dan kabupaten/kota Acuan menyusun rencana dan pelaksanaan kegiatan Memahami secara menyeluruh proses dan kegiatan penguatan keberlanjutan di tingkat desa/kelurahan dan kabupaten/kota Merencanakan pengelolaan kegiatan penguatan keberlanjutan Mengendalikan kegiatan penguatan keberlanjutan termasuk penilaian kinerja pelaksanaan tahap penguatan keberlanjutan Panduan kerja pengendalian mutu pelaksanaan penguatan keberlanjutan di tingkat desa/kelurahan dan kabupaten/kota Menyusun strategi dan rencana kerja pendampingan penguatan keberlanjutan Memantau dan evaluasi proses pelaksanaan penguatan keberlanjutan Fasilitator Keberlanjutan Panduan untuk memfasilitasi proses dan kegiatan penguatan keberlanjutan baik di tingkat masyarakat maupun kabupaten/kota Pengendalian mutu pekerjaan Pemerintah (Pusat, Provinsi, Kabupaten/ Kota, Kecamatan, Desa/ Kelurahan) Memahami secara menyeluruh proses dan kegiatan penguatan keberlanjutan baik di tingkat masyarakat maupun kabupaten/kota Memimpin pelaksanan penguatan keberlanjutan terutama di tingkat kabupaten/kota Memastikan seluruh rangkaian proses dan kegiatan dilakukan sesuai dengan panduan. Para Pemeduli AMPL Memberikan dukungan langsung sebagai mitra untuk penguatan keberlanjutan dan peningkatan layanan AMPL Melakukan kontrol sosial 2
8 BAB 2. SPAMS PERDESAAN 2.1 TUJUAN DAN KELUARAN Penguatan Keberlanjutan SPAMS Perdesaan mempunyai tujuan sebagai berikut: 1. Menjamin penyelenggaraan pelayanan sarana air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL) secara mandiri dan berkelanjutan. 2. Meningkatkan jumlah penduduk (perdesaan dan pinggiran kota) yang memiliki akses AMPL yang layak, dengan pelayanan air minum dan penyehatan yang memadai. 3. Mengedepankan pendekatan berbasis masyarakat dalam penyediaan air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL) untuk wilayah perdesaan. Keluaran yang diharapkan dalam penguatan keberlanjutan Pamsimas adalah: 1. Terbangunnya BP-SPAMS yang mandiri dalam penyelenggaraan pelayanan AMPL di tingkat desa/kelurahan. 2. Tersedia dan berfungsinya Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan di tingkat kabupaten sebagai lembaga/wadah bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk mendorong peningkatan pelayanan dan cakupan air minum secara berkelanjutan. 3. Tersedia dan berfungsinya Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL yang mampu memfasilitasi terlembaganya prioritas AMPL perdesaan dan pendekatan berbasis masyarakat. 2.2 SKEMA DAN SIKLUS Penguatan keberlanjutan SPAMS Perdesaan merupakan salah satu bagian dari keseluruhan kegiatan Pamsimas. Gambar 1 berikut ini merupakan skema bagaimana Pamsimas mengelola penguatan keberlanjutan dalam kerangka program secara keseluruhan. Sedangkan Gambar 2 adalah siklus kegiatan penguatan keberlanjutan di tingkat Kabupaten/Kota dan Kelurahan/Desa. 3
9 Gambar 1. Skema Dukungan Keberlanjutan Pamsimas 4
10 Gambar 2. Siklus Kegiatan Penguatan Keberlanjutan Kabupaten Desa Sosialisasi RAD AMPL Review RAD Pengkuran kinerja BPSPAMS Sinkronisasi PJM ProAKsi - RKP PJM ProAKSi Workshop 1 Kegiatan Pasca Workshop 1 1. Pembentukan Asosiasi BPSPAMS 2. Sosialisasi dan seleksi usulan HID 3. Sosialisasi dan seleksi usulan PAKET Pelatihan Asosiasi Pelatihan MonKes Lokakarya pasca konstruksi Penyusunan RK BPSPAMS Penyusunan RKP Desa Sinkronisasi RK & RKP Penguatan Kader AMPL & Kegiatan Pasca Workshop 1 1. Penyusunan Rencana Kerja BPSPAMS 2. Penyusunan RKP Desa 3. Sinkronisasi RK & RKP Workshop 2 Kegiatan Pasca Workshop 2 Kegiatan Pasca Workshop 2 1. Pemaparan Rencana Kerja Asosiasi 2. Penetapan HID 3. Penetapan PAKET 4. Inisiasi kemitraan Penguatan Asosiasi Pengembangan Kemitraan Monitoring Keberlanjutan 1. Pelaksanaan Rencana Kerja BPSPAMS 2. Pelaksanaan HID dan atau PAKET 3. Pembangunan program AMPL lainnya (DAK, PNPM, dll) Workshop 3 Kegiatan Pasca Workshop 3 Kegiatan Pasca Workshop 3 1. Evaluasi 2. LPJ Asosiasi 1. Evaluasi 2. LPJ BPSPAMS & Kader Keterangan: Workshop-1: Penguatan Keberlanjutan Pengelolaan SPAMS Perdesaan Workshop-2: Ekspose Rencana Kerja Asosiasi dan Pengembangan Kemitraan Workshop-3: Evaluasi Kinerja Pelayanan SPAMS Perdesaan dan dan Pelaksanaan Kemitraan 2.3 PRINSIP DAN STRATEGI Dalam penguatan keberlanjutan, berikut ini adalah prinsip dan strategi dasar sebagai acuan bagi seluruh pelaku, baik pelaku langsung maupun tidak langsung untuk pelaksanaan kegiatan. 5
11 2.3.1 Prinsip Penguatan Keberlanjutan 1) Kemitraan. Bekerja sama dengan berbagai pelaku penyelenggaraan pelayanan AMPL-BM dan pengembangan kapasitas di tingkat kabupaten/kota dan desa/kelurahan. 2) Sinergitas. Memastikan bahwa seluruh proses dan kegiatan dalam penguatan keberlanjutan merujuk kepada berbagai instrumen pembangunan AMPL, baik yang disediakan oleh Pamsimas, penyedia AMPL lainnya maupun pemerintah daerah. Penerapan AMPL BM menyesuaikan dengan sistem penyelenggaraan pembangunan, termasuk perencanaan dan penganggaran, yang berlaku di kabupaten/kota, kecamatan dan desa/kelurahan. 3) Kemandirian. Berorientasi kepada keberlanjutan penyelenggaraan pelayanan AMPL yang berkualitas melalui BP-SPAMS yang berdaya/mandiri. 4) Multipihak. Mengedepankan penyelenggaraan AMPL sebagai tanggungjawab bersama dimana setiap pelaku diharapkan untuk memaksimalkan peran dan kapasitasnya dalam mendukung keberlanjutan penyelenggaraan pelayanan AMPL-BM Strategi Penguatan Keberlanjutan Strategi penyelenggaraan keberlanjutan SPAMS perdesaan terbagi dua, yaitu strategi untuk tingkat kabupaten/kota dan strategi untuk tingkat masyarakat/desa. Namun, dukungan berbagai pelaku di tingkat kecamatan menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan penguatan keberlanjutan Pamsimas. A. Strategi di Tingkat Kabupaten/Kota 1. Mengembangkan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan adalah wadah/forum/perkumpulan dari badan/kelompok pengelola SPAMS desa/kelurahan yang menjembatani kepentingan antara badan pengelola SPAMS dengan pemerintah daerah, untuk mendorong keberlanjutan pemanfaatan SPAMS desa. 2. Menciptakan Dukungan Pemerintah Kabupaten/Kota Program/kegiatan AMPL berbasis masyarakat di tingkat kabupaten/kota mempunyai potensi keberlanjutan yang lebih besar jika ada mekanisme yang terlembagakan pada sistem pemerintah daerah untuk memastikan bahwa program dan kegiatan AMPL-BM seperti yang tertuang dalam RAD AMPL dapat selalu terlaksana setiap tahunnya, misalnya melalui peraturan kepala daerah atau keputusan kepala daerah mengenai pagu indikatif untuk kegiatan AMPL berbasis masyarakat atau penerapan mekanisme bantuan hibah kepada tingkat desa/kelurahan untuk pelaksanaan AMPL berbasis 6
12 masyarakat. Pamsimas memberikan pendampingan berupa dukungan advokasi kepada pemerintah daerah dan legislatif melalui penyediaan bantuan teknis. B. Strategi di Tingkat Masyarakat/Desa atau Kelurahan 1. Memperkuat fungsi BP-SPAMS Pamsimas memberikan pendampingan penguatan BP-SPAMS dalam 3 (tiga) aspek: (a) perluasan cakupan layanan, (b) peningkatan kualitas layanan, dan (c) kemitraan. Tujuan penguatan BP-SPAMS adalah melestarikan penyediaan AMPL yang berbasis masyarakat sampai kepada tahap pengembangan dan perbaikan kualitas serta cakupan layanan. Pada tahap awal, Pamsimas memberikan pendampingan kepada BP-SPAMS berupa bantuan teknis dan pelatihan. Pada tahap lanjutan, pemerintah daerah diharapkan mempunyai program regular pendampingan BP-SPAMS, serta Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan menjadi mitra utama seluruh BP- SPAMS. 2. Memperkuat Kapasitas Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL KPM bidang AMPL adalah anggota masyarakat desa/kelurahan yang mempunyai ketertarikan dan pengetahuan dibidang AMPL, serta kemauan dan kemampuan untuk menggerakkan masyarakat berpartisipasi dalam rangka belajar dan bekerja bersama dibidang air minum dan penyehatan lingkungan serta perilaku hidup bersih dan sehat Pamsimas berupaya untuk menyatukan berbagai pelaku dan instrumen terkait dengan kegiatan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan tingkat desa/kelurahan, diantaranya melalui kegiatan penguatan kapasitas kader pemberdayaan masyarakat atau relawan air minum dan penyehatan lingkungan (KPM-AMPL). Pada tahap awal, dukungan Pamsimas untuk KPM-AMPL diberikan dalam bentuk pelatihan dan bantuan teknis. Pada tahap lanjutan, pemerintah kabupaten/kota diharapkan mempunyai program regular pendampingan KPM- AMPL, terutama dalam kegiatan perencanaan dan penganggaran tahunan untuk menjamin prioritas AMPL Perdesaan, terutama dengan pendekatan berbasis masyarakat. 3. Sinkronisasi dan integrasi PJM-ProAKSi ke dalam RKP/RPJM Desa Sinkronisasi dan integrasi PJM-ProAKSi dalam perencanaan dan penganggaran tahunan tingkat desa/kelurahan dilakukan sebagai salah satu upaya untuk memastikan adanya dukungan pembiayaan bagi program dan kegiatan prioritas AMPL tingkat desa sebagai pelaksanaan PJM ProAKSi. 7
13 Sinkronisasi dan/atau integrasi PJM ProAKsi terhadap RKP Desa atau RPJM Desa dilakukan oleh Pemerintah Desa/kelurahan dengan BP-SPAMS yang didukung oleh LKM dan KPM-AMPL. Pamsimas memberikan dukungan melalui pelatihan dan bantuan teknis 2.4 PENANGGUNGJAWAB DAN PERAN PELAKU Penguatan keberlanjutan merupakan upaya bersama yang melibatkan pelaku terkait. Gambar 3 berikut ini menjelaskan tata hubungan atau organisasi dari pelaksanaan keberlanjutan. Gambar ini menjadi acuan dasar bagi seluruh pelaku dalam memaksimalkan peran dan tanggungjawabnya pada setiap kegiatan penguatan keberlanjutan. Gambar 3. Organisasi dan Tata Kerja Pelaku Pamsimas dalam Penguatan Keberlanjutan 8
14 2.4.1 Penanggung Jawab 1) Tim Koordinasi Provinsi (TKP) bertanggung jawab untuk pengelolaan penguatan Keberlanjutan SPAMS Perdesaan di tingkat provinsi, termasuk di dalamnya adalah penyediaan dukungan berbagai kegiatan pengembangan kapasitas bagi pelaku penguatan keberlanjutan tingkat kabupaten/kota. 2) PPMU bertanggung jawab dalam pemantauan pengelolaan penguatan keberlanjutan SPAMS Perdesaan dalam Pamsimas oleh kabupaten/kota melalui DPMU, termasuk diantaranya adalah membantu TKP untuk mengkoordinasikan dukungan kelembagaan dan anggaran dari SKPD terkait. Peran ini dilaksanakan oleh PPMU dalam kapasitasnya sebagai pengelola Pamsimas secara keseluruhan di tingkat provinsi. 3) Tim Koordinasi Kabupaten/Kota (TKK) bertanggung jawab dalam mengkoordinasikan keseluruhan pengelolaan Pamsimas di tingkat kabupaten/kota. TKK juga bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan pemilihan atau penunjukan salah satu SKPD sebagai Mitra Utama Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dalam forum konsultasi dan diskusi antara SKPD dan Pokja AMPL (jika telah terbentuk). Penunjukan atau pemilihan SKPD mitra utama Asosiasi Pengelola SPAMS perdesaan berikut tugas dan fungsinya dalam penguatan keberlanjutan disahkan dengan Instruksi atau Surat Keputusan Kepala Daerah. 4) DPMU bertanggung jawab dalam memimpin pelaksanaan penguatan keberlanjutan SPAMS Perdesaan dalam Pamsimas mulai dari perencanaan sampai dengan pemantauan, termasuk didalamnya adalah membantu TKK untuk mengkoordinasikan dukungan kelembagaan dan anggaran dari SKPD terkait. 5) SKPD Mitra Utama Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan adalah Mitra TKK dan DPMU dalam memimpin pengelolaan penguatan keberlanjutan SPAMS Perdesaan, yang bertanggung jawab untuk: 1. Menyediakan dan mengkoordinasikan pembinaan baik teknis maupun non teknis secara langsung dalam rangka pendampingan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan. 2. Memantau kinerja Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan secara berkala, termasuk memberikan masukan kepada DPMU untuk peningkatan kualitas pengelolaan Pamsimas. 3. Mengkoordinasikan program dan kegiatan pengembangan kapasitas Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan kepada SKPD terkait dan pelaku AMPL lainnya. 6) BPMD Kabupaten/Kota dan Seksi PMD Kecamatan bertanggung jawab dalam: 1. Memberikan pembinaan, pendampingan, serta pengembangan kapasitas Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL Desa/Kelurahan. 9
15 2. Pemantauan kinerja Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL secara berkala, dalam penguatan keberlanjutan. 3. Mengkoordinasikan program dan kegiatan pengembangan kapasitas Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL kepada SKPD terkait dan pelaku AMPL lainnya. Catatan: Seksi PMD Kecamatan bertanggungjawab dalam pembinaan, pemantauan, koordinasi program terkait KPM AMPL di wilayah kecamatan dan melaporkannya kepada Sekretariat Daerah dengan tembusan kepada. BPMD Kabupaten/Kota 7) Pemerintah Desa/Kelurahan bertanggung jawab dalam memimpin upaya sinergitas dan sinkronisasi perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi pembangunan dalam hal ini AMPL-BM di tingkat desa/kelurahan. 8) PMAC dan DMAC memberikan bantuan teknis untuk pelaku tingkat provinsi dan kabupaten/kota dalam pengelolaan (mulai dari perencanaan sampai dengan pemantauan) penguatan keberlanjutan. DMAC akan memberikan dukungan langsung dan peningkatan kapasitas bagi Fasilitator Keberlanjutan. 9) Fasilitator Keberlanjutan bertanggung jawab dalam penyediaan bantuan teknis sebagai berikut: a) Pendampingan (fasilitasi), konsultasi, dan pengembangan kapasitas Asosiasi SPAMS Perdesaan secara menerus. Dalam hal ini, Fasilitator Keberlanjutan bekerja bersama dengan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan untuk mewujudkan tujuan penguatan keberlanjutan Pamsimas. b) Komunikasi dan konsultasi berbagai usulan kebutuhan kegiatan pengembangan kapasitas untuk Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan, BP- SPAMS, Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL serta LKM dengan berbagai SKPD terkait, termasuk dengan Seksi PMD Kecamatan dan BPMD. c) Koordinasi penyediaan bantuan teknis oleh PMAC dan DMAC untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan penguatan keberlanjutan SPAMS Perdesaan Peran Pelaku Selain sebagai penanggung jawab, pelaku juga berperan dalam pendampingan dan pembinaan kelembagaan masyarakat yang akan mengawal kegiatan penguatan keberlanjutan. 10
16 A. Pendampingan dan Pembinaan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan 1) Sekretaris Daerah cq Bidang Ekonomi dan Pembangunan sebagai Pembina a) Memberikan pembinaan kepada pengurus asosiasi dalam rangka menjalankan tugas dan fungsi asosiasi melalui SKPD Mitra Utama Asosiasi. b) Memberikan arahan dan pertimbangan dalam rangka sinergitas kegiatankegiatan bidang AMPL kabupaten/kota, khususnya AMPL BM. 2) SKPD Mitra Utama a) Memimpin fasilitasi pembentukan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan. b) Pada tahun pertama operasionalisasi Asosiasi SPAM Perdesaan, SKPD Mitra diharapkan dapat memberikan bantuan berupa fasilitas ruang sekretariat. c) Memfasilitasi rapat rutin tiga bulanan untuk Pengurus Asosiasi Pengelola SPAM Perdesaan. d) Menyusun dan melaksanakan tugas pembinaan dan pendampingan langsung terhadap Asosiasi Pengelola SPAM Perdesaan., termasuk dalam penyusunan program, kegiatan dan anggaran berdasarkan arahan dari Pembina Asosiasi. e) Mengkomunikasikan kebutuhan pengembangan kapasitas Asosiasi Pengelola SPAM Perdesaan kepada SKPD terkait melalui rapat koordinasi TKK/Pokja AMPL dan DPMU. f) Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kinerja Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan. g) Memfasilitasi diskusi kemitraan antara asosiasi pengelola SPAMS perdesaan, BP-SPAMS dan calon mitra. h) Memberikan masukan kepada Sekretaris Daerah cq bidang Ekonomi Pembangunan dalam rangka perumusan kebijakan daerah dan pembinaan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan Tingkat Kab/Kota. 3) Fasilitator Keberlanjutan a) Memfasilitasi pembentukan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan. b) Mengadvokasi pemerintah daerah dalam memilih SKPD yang menjadi mitra kunci untuk pembinaan Asosiasi Pengelola SPAM Perdesaan. c) Mendampingi BP-SPAMS dan pelaku AMPL lainnya dalam proses pembentukan Asosiasi Pengelola SPAM Perdesaan. 11
17 d) Melakukan pendampingan terhadap Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dalam melakukan pemetaan kapasitas BP-SPAMS dan pemantauan kinerja BP-SPAMS. e) Membantu Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dalam pengembangan program dan rencana kegiatan tahunan, pengembangan rencana pembiayaan untuk pelaksanaan program/kegiatan tersebut, dan biaya operasional dan target atau indikator kinerja. f) Mengembangkan kapasitas Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan untuk mengkomunikasikan rencana kerja program/kegiatan dan pembiayaan tahunan tersebut dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendapatkan dukungan program/kegiatan dan/atau pembiayaan. g) Mengembangkan kapasitas Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan untuk melakukan pembinaan terhadap BP-SPAMS, termasuk diantaranya adalah pendampingan teknis, keuangan, dan kelembagaan. h) Memfasilitasi Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan untuk mengembangkan transparansi dan akuntabilitas terhadap anggotanya dan juga terhadap publik, termasuk diantaranya adalah pelaporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan program/kegiatan dan pertanggungjawaban keuangan secara rutin. i) Memfasilitasi Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan untuk melakukan evaluasi triwulanan terhadap seluruh pelaksanaan rencana kerja program/kegiatan serta pembiayaannya. j) Memfasilitasi Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dan anggotanya untuk mendapatkan pembelajaran bersama (knowledge sharing) mengenai AMPL dari berbagai pihak, tidak terbatas di tingkat kabupaten dan provinsi, termasuk dalam bidang pemeliharaan dan pengembangaan sarana air minum, pengelolaan kelembagaan dan keuangan, dan lain sebagainya sesuai dengan kebutuhannya. k) Memastikan terselenggaranya dialog dan konsultasi rutin antara Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dengan SKPD Mitra dan SKPD terkait dalam rangka pembinaan, pemantauan dan konsultasi, termasuk sinkronisasi program/kegiatan. l) Memfasilitasi Pemerintah Daerah dan Asosiasi SPAMS Perdesaan dalam pembinaan kinerja BP-SPAMS, dan advokasi penerapan iuran SPAMS yang memenuhi biaya operasional, pemeliharaan, dan pemulihan. m) Memfasilitasi Pemerintah Daerah dan Asosiasi SPAMS Perdesaan dalam pemetaan kondisi keberfungsian SPAMS terbangun. 12
18 4) Institusi Terkait Lain Institusi terkait lainnya misalnya PDAM dapat berperan sebagai mitra Asosiasi memberikan pendampingan kepada BP-SPAMS dan anggota lainnya dalam hal operasional dan pemeliharaan untuk peningkatan kualitas/kinerja operasional dan pemeliharaan SPAMS. B. Pendampingan dan Pembinaan KPM Bidang AMPL dan BP-SPAMS 1) Seksi PMD Kecamatan a) Memastikan bahwa Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL menyampaikan laporan tiga bulanan mengenai kinerja BP-SPAMS. b) Pembahasan mengenai kinerja BP-SPAMS berdasarkan laporan Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL menjadi agenda pertemuan rutin kecamatan-desa/kelurahan di tingkat kecamatan. c) Mengkomunikasikan hasil pemantauan kinerja BP-SPAMS dengan pelaku AMPL lainnya di tingkat kecamatan untuk ditindaklanjuti, seperti sanitarian dan puskesmas. d) Memastikan bahwa Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL ikut serta dalam musrenbang kecamatan khusus untuk pembahasan sektor AMPL. 2) BPMD Kabupaten/Kota a) Penyediaan pelatihan terkait dengan pengembangan kapasitas BP- SPAMS, sesuai dengan laporan Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL atas hasil penilaian kinerja BP-SPAMS. b) Berkoordinasi dengan Seksi PMD kecamatan mengenai pemantauan kinerja Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL. c) Pembahasan program dan kegiatan pengembangan kapasitas BP-SPAMS dengan SKPD lainnya yang relevan, melalui TKK/Pokja AMPL. 3) Pemerintah Desa a) Pemerintah Desa merupakan penanggungjawab seluruh kegiatan pembangunan AMPL di desa/kelurahan. b) Pemerintah Desa melalui Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL Desa memantau kinerja SPAMS desa termasuk kinerja BP-SPAMS. c) Bekerjasama dengan LKM memantau/mengawasi BP-SPAMS dalam pengelolaan SPAMS terbangun. d) Pemerintah Desa melalui Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL melaporkan kinerja SPAMS desa/kelurahan, termasuk PJM ProAksi kepada Seksi PMD Kecamatan. 13
19 e) Pemerintah Desa memfasilitasi LKM dan BP-SPAMS serta sanitarian dalam pembahasan kinerja SPAMS perdesaan. 4) Fasilitator Keberlanjutan Pendampingan yang diberikan oleh Fasilitator Keberlanjutan tidak secara langsung, namun melalui Seksi PMD Kecamatan, BPMD, dan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan, yaitu sebagai berikut: a) Membantu BPMD dalam memfasilitasi dan mengadvokasi Seksi PMD Kecamatan dalam pengembangan program dan kegiatan pendampingan dan pengembangan kapasitas Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL. b) Memfasilitasi BPMD dan Seksi PMD Kecamatan dalam penguatan kapasitas Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL. c) Membantu BPMD untuk berkoordinasi dengan Seksi PMD Kecamatan untuk memastikan bahwa Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL melakukan pelaporan hasil pemantauan triwulanan kinerja BP-SPAMS. d) Berkoordinasi dengan Seksi PMD Kecamatan, memantau kapasitas Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL dalam menyuarakan prioritas AMPL Desa dan BP-SPAM di berbagai forum pembangunan di tingkat kecamatan. e) Jika diperlukan, dalam rangka pengembangan kapasitas Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan, Fasilitator Keberlanjutan melakukan pendampingan langsung secara teknis, keuangan dan kelembagaan terhadap BP-SPAMS berdasarkan rekomendasi hasil pemantauan kinerja serta kebutuhan masing-masing BP-SPAMS. f) Uji Petik kinerja BP-SPAMS. Tim Fasilitator Keberlanjutan melaksanakan Uji Petik Kinerja BP-SPAMS berdasarkan laporan pemantauan tiga bulanan Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL mengenai kinerja BP-SPAMS. 14
20 BAB 3. SPAMS PERDESAAN DI TINGKAT KABUPATEN/KOTA 3.1 KOMPONEN KEGIATAN Keberlanjutan SPAMS Perdesaan tingkat Kabupaten/Kota difokuskan kepada pendampingan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan, pembinaan terhadap asosiasi dan pelaku penguatan keberlanjutan tingkat desa oleh pemerintah daerah (SKPD Mitra Utama, Kasi PMD dan BPMD), serta sinkronisasi perencanaan AMPL tingkat desa dengan kabupaten, terutama untuk PJM ProAksi dengan RAD AMPL Pengembangan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan Pamsimas memberikan dukungan bagi inisiatif badan pengelola SPAMS perdesaan untuk membentuk suatu wadah/forum Pengelola SPAMS Perdesaan tingkat kabupaten/kota. Bagi pemerintah daerah keberadaan Asosiasi dirasa sangat strategis untuk mengefisiensikan kegiatan pembinaan terhadap BP-SPAMS. Asosiasi Pengelola SPAMS akan jembatani antara pengelola SPAMS Perdesaan dengan pemerintah daerah. Pamsimas memberikan dukungan dalam proses pembentukan dan penguatan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dalam bentuk penyediaan sarana: lokakarya, pelatihan dan bantuan teknis. Di sisi lain, Pemerintah daerah dan pelaku AMPL lainnya (swasta dan lembaga non pemerintah) juga diharapkan memberikan dukungan yang lebih besar dalam pendampingan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan melalui kemitraan. 1) Agenda Kerja Berikut adalah agenda kerja utama bagi Asosiasi SPAMS Perdesaan. Agenda kerja ini merupakan kegiatan minimal yang akan dilaksanakan selama pendampingan Pamsimas. Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dapat menambahkan kegiatan lainnya sesuai dengan kebutuhan anggota dan pemangku kepentingan lainnya serta kapasitas pengurus Asosiasi. 15
21 1. Penyusunan Rencana Kerja Rencana Kerja Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan adalah acuan pelaksanaan program/kegiatan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan untuk mencapai tujuan dan target yang disepakati anggota untuk kurun waktu satu tahun mendatang berdasarkan tugas dan fungsi Asosiasi. Rencana kerja ini bersifat tahunan, menunjukkan berbagai kegiatan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan termasuk rencana pembiayaannya/investasinya (dari berbagai sumber, baik dari anggota, Pemerintah Daerah, lembaga non pemerintah, dunia usaha/swasta, dan Pamsimas). Rencana kerja asosiasi SPAMS perdesaan berfungsi sebagai: a. Acuan pencapaian target kinerja tahunan asosiasi b. Acuan pengalokasian sumber daya (SDM, dana, asset) asosiasi c. Acuan pelaksanaan program/kegiatan tahunan asosiasi d. Acuan pemantauan, evaluasi, dan pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan tahunan asosiasi e. Media promosi asosiasi dalam pengembangan kemitraan Rencana kerja Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan memuat sekurangkurangnya: a. Prioritas isu/masalah yang akan ditangani pada tahun rencana b. Tujuan dan target Asosiasi Pengelola SPAM Perdesaan tahun rencana c. Program, Kegiatan, dan Kebutuhan Anggaran Tahun Rencana Contoh format rencana kerja asosiasi dapat dilihat pada Lampiran 1. Langkah-langkah penyusunan rencana kerja Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan sekurang-kurangnya adalah sebagai berikut: a. Persiapan penyusunan, yaitu penyepakatan tim penyusun dan jadwal penyusunan Rencana Kerja Asosiasi. b. Perumusan substansi Rencana Kerja, yang terdiri dari: Analisis data/informasi hasil pemantauan pelaksanaan RK BP-SPAMS/ kinerja BP-SPAMS Analisis data hasil pemantauan berkala kinerja AMPL Desa/Kelurahan Prioritisasi masalah untuk ditangani pada tahun rencana Perumusan tujuan dan target asosiasi pada tahun rencana Analisis kebutuhan investasi bagi pencapaian target asosiasi Perumusan program/kegiatan dan perkiraan anggaran tahun rencana Penyusunan matriks program/kegiatan asosiasi 16
22 c. Pembahasan hasil perumusan substansi Rencana Kerja, yaitu tahap penyepakatan substansi Rencana Kerja melalui rapat anggota. d. Penyusunan naskah Rencana Kerja Asosiasi sesuai outline Rencana Kerja, yaitu penuangan hasil kesepakatan substansi ke dalam sistematika naskah Rencana Kerja Asosiasi e. Pengesahan Rencana Kerja dengan Keputusan Ketua Asosiasi melalui kesepakatan dalam Rapat Anggota. 2. Pemantauan Kinerja dan Pendampingan BP-SPAMS A. Pemantauan Kinerja BP-SPAMS Berikut adalah usulan kegiatan tahunan dalam rencana kerja asosiasi: a) Pemutakhiran data akses air minum dan sanitasi desa/kelurahan berdasarkan hasil pemantauan kinerja BP-SPAMS. Hasil pemantauan kinerja disampaikan oleh Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL setiap tiga bulan. Hasil pemantauan yang dilakukan oleh Pemerintah Desa selanjutnya disampaikan kepada Seksi PMD Kecamatan. b) Pembahasan hasil pemantauan kinerja BP-SPAMS bersama SKPD Mitra Utama, PDAM, SKPD lainnya yang relevan, dan penyedia AMPL lainnya, dilakukan dalam rapat rutin tiga bulanan. Hasil pembahasan atas hasil pemantauan kinerja ini disampaikan oleh SKPD mitra kepada TKK dan/atau Pokja AMPL, dengan tembusan kepada Kantor Sekretaris Daerah cq Asisten Sekretariat Daerah bidang Ekonomi dan Pembangunan. c) Identifikasi kebutuhan pendampingan BP-SPAMS berdasarkan kesepakatan pembahasan hasil pemantauan kinerja. Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan memberikan rekomendasi perihal prioritas pendampingan BP-SPAMS berdasarkan konsultasi dan diskusi dengan SKPD Mitra dan Pelaku AMPL lainnya dalam rapat rutin. Contoh format pemantauan kinerja BP-SPAMS (kumulatif) oleh Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dapat dilihat pada Lampiran 2. B. Pendampingan BP-SPAMS di BidangTeknis Berikut adalah usulan kegiatan tahunan dalam rencana kerja asosiasi (sesuai kebutuhan BP-SPAMS atau hasil pemantauan kinerja oleh Pemerintah Daerah bersama Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL): a) Kunjungan ke desa dalam rangka perbaikan kerusakan teknis b) Pengawasan kegiatan konstruksi untuk pengembangan SAM. c) Fasilitasi pengujian kualitas air d) Penyediaan suku-cadang untuk SAM. 17
23 C. Pendampingan BP-SPAMS di Bidang Penyelenggaraan Pelayanan SAMS Berikut adalah usulan kegiatan tahunan dalam rencana kerja asosiasi (sesuai permintaan BP-SPAMS atau hasil pemantauan kinerja oleh Pemerintah Desa dan Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL): a) Pendampingan kepada BP-SPAMS dalam menentukan tariff yang memadai untuk operasional, pemeliharaan (OM), dan cost-recovery. b) Peningkatan kapasitas BP-SPAMS dalam rangka pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel, misalnya pelaporan keuangan kepada pengguna, pencatatan keuangan yang baik, pelaksanaan audit, dan lainnya. D. Mengkomunikasikan Kebutuhan BP-SPAMS dengan Pelaku Kunci Asosiasi Penglola SPAMS Perdesaan yang berkedudukan di kabupaten/kota menjadi perpanjangan tangan BP-SPAMS untuk mengkomunikasikan berbagai kebutuhan BP-SPAMS kepada berbagai pemangku kepentingan, terutama untuk aspek yang sifatnya tidak bisa ditangani langsung oleh Asosiasi SPAMS Perdesaan, misalnya penyampaian kebutuhan pelatihan kepada SKPD yang relevan dan perbaikan kerusakan teknis SAMS yang parah (memerlukan biaya yang cukup besar). 3. Pengembangan Database AMPL Perdesaan dan Kinerja BP-SPAMS Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan mengumpulkan berbagai data dan informasi mengenai kinerja BP-SPAMS dan cakupan AMPL di setiap desa. Dalam rangka pengembangan basis data, maka hal-hal berikut ini dapat menjadi usulan kegiatan tahunan untuk Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan: a) Pencatatan hasil pemantauan kinerja secara terkomputerisasi atau tertulis. b) Pengkomunikasian data-data hasil pemantauan kepada SKPD Mitra dan Pelaku AMPL dalam rapat rutin. c) Sinkronisasi data dengan informasi dari seluruh pelaku AMPL tingkat kabupaten/kota. 4. Pengelolaan Kemitraan Kemitraan adalah hubungan antara dua pihak atau lebih untuk saling membantu dalam memenuhi kebutuhan pihak yang bermitra. Kemitraan harus menunjukkan sifat-sifat sebagai berikut: hubungan jangka panjang, berorientasi pada pemecahan persoalan bersama/tujuan bersama, dengan dilandasi nilainilai luhur, dan saling bergantung. 18
24 Prinsip kemitraan adalah sebagai berikut: a) Partisipasi, semua pelaku yang akan bermitra berpartisipasi terutama di dalam pengambilan keputusan dan tanggungjawab. b) Punctual (tepat waktu), memastikan adanya kecocokan waktu pelaksanaan upaya pemenuhan kebutuhan para pihak yang bermitra. c) Kesadaran mengenai kesetaraan, berarti bahwa semua pelaku menerima bahwa setiap pihak yang bermitra adalah setara, mampu menjalankan kemitraan sesuai dengan fungsi dan tanggungjawabnya masing-masing. d) Akuntabel, memastikan bahwa semua pelaku yang akan bermitra menunjukkan akuntabilitas yang baik. e) Komunikasi, memastikan bahwa terjalinnya komunikasi pada setiap pelaku kemitraan, serta setiap pelaku mampu untuk menyampaikan atau mengkomunikasikan kebutuhan dan tanggungjawabnya. f) Kolaborasi, memastikan bahwa semua pelaku yang bermitra menunjukkan kesiapan bekerjasama (berkolaborasi) dengan para mitranya. g) Percaya, bahwa kemitraan dibangun di atas kepercayaan setiap pelakunya, dan diharapkan bahwa kepercayaan tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik dalam wujud transparansi dan akuntabilitas. h) Berbagi, bahwa kemitraan bukanlah tanggungjawab salah satu pelaku saja, sehingga semua pihak yang bermitra diharapkan untuk dapat berbagi tanggungjawab sesuai dengan kapasitasnya. Pengelolaan kemitraan di tingkat kabupaten/kota dilaksanakan sebagai berikut: a) Dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan atau pembiayaan untuk perluasan cakupan layanan AMPL tingkat desa/kelurahan dan penguatan kapasitas Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dan BP-SPAMS. b) Dapat dilakukan dengan penyedia AMPL yang beroperasi di tingkat kabupaten/kota (LSM, lembaga akademis, dan swasta), pemerintah atau perusahaan milik pemerintah (perkebunan, pertambangan dan lainnya) serta pemerintah daerah (kabupaten/kota dan provinsi). c) Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dapat mengajukan usulan program kemitraan kepada berbagai pihak berdasarkan masukan dan kebutuhan anggotanya. Prioritas usulan kegiatan untuk kemitraan adalah berdasarkan kriteria yang disepakati bersama dalam musyawarah anggota dan masukan dari SKPD Mitra Utama atau Pokja AMPL. 5. Rapat Anggota/Pertanggungjawaban Rapat anggota sebagai bentuk transparansi, partisipasi dan akuntabilitas merupakan pertemuan untuk pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan dan pembiayaan asosiasi; dilakukan setiap enam bulan sekali. 19
25 a. Prinsip partisipasi dalam rapat anggota adalah seluruh anggota Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan mempunyai hak untuk mengetahui keseluruhan kegiatan asosiasi dalam satu tahun dan memiliki hak suara untuk menyampaikan pendapat, penilaian, dan saran. b. Prinsip transparansi dalam pertanggungjawaban keuangan adalah bahwa laporan keuangan serta dokumen keuangan terbuka untuk diketahui anggota dan dapat diverifikasi oleh anggota yang ditunjuk untuk melakukan internal verifikasi keuangan asosiasi. Dalam Rapat Anggota, yang dilaporkan sekurang-kurangnya mencakup: a. Kegiatan yang dilakukan oleh asosiasi selama enam bulan pelaporan. Tingkat capaian kinerja asosiasi berdasarkan rencana kerja tahun berjalan; prestasi penting, kendala yang masih dihadapi dan masih memerlukan penanganan pada tahun berikutnya, Faktor kunci keberhasilan pencapaian tengah tahunan yang dilaporkan untuk dipelihara/ditingkatkan pada periode enam bulan berikutnya. b. Penggunaan keuangan Asosiasi selama enam bulan pelaporan Laporan keuangan dengan menggunakan format laporan (Contoh format laporan dapat dilihat pada Lampiran 3. Rapat Anggota selain dihadiri oleh anggota Asosiasi juga dihadiri SKPD Mitra Asosiasi dan dapat dihadiri Pembina, PDAM, dan SKPD lain yang diperlukan. Setiap hasil atau kesepakatan rapat anggota selalu dicatatkan dalam bentuk berita acara. Contoh format berita acara rapat anggota dapat dilihat dalam Lampiran Dukungan Kelembagaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota Pemerintah daerah, asosiasi pengelola SPAMS perdesaan dan pelaku AMPL lainnya di tingkat kabupaten/kota adalah pelaku utama dalam mengupayakan terwujudnya keberlanjutan SPAMS perdesaan. Pamsimas memberikan dukungan pada tahun pertama kegiatan penguatan keberlanjutan, pada tahun-tahun selanjutnya pemerintah kabupaten/kota diharapkan untuk secara mandiri memimpin dan mengawal kegiatan penguatan keberlanjutan SPAMS perdesaan sesuai dengan cita-cita kabupaten/kota dalam penyediaan air minum dan penyehatan lingkungan. Untuk mendukung kemandirian kabupaten/kota dalam meneruskan kegiatan penguatan keberlanjutan, pelaku-pelaku di tingkat kabupaten/kota diharapkan dapat menyusun rencana tindak kabupaten/kota untuk melanjutkan kegiatan penguatan keberlanjutan SPAMS perdesaan. Pamsimas akan memberikan dukungan berupa peningkatan kapasitas pemerintah daerah dan pelaku lainnya dalam meneruskan kegiatan penguatan keberlanjutan SPAMS perdesaan. 20
26 Untuk penyusunan rencana tindak, maka diharapkan kegiatan tersebut berikut ini terlaksana: 1. TKP dan TKK melakukan pembahasan bersama SKPD Mitra, Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan, Pokja AMPL, dan Pelaku AMPL lainnya mengenai kemajuan pelaksanaan kegiatan penguatan keberlanjutan SPAM perdesaan dan rencana tindak lanjutnya. 2. Berdasarkan hasil pembahasan bersama tersebut, maka TKP dan TKK serta SKPD Mitra dapat melakukan: (i) penilaian kinerja Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan, (ii) penilaian kinerja BP-SPAMS, (iii) evaluasi cakupan pelayanan AMPL, dan (iv)efektifitas pembinaan dan pendampingan pemerintah daerah dalam kegiatan penguatan keberlanjutan SPAMS perdesaan. Pada tahap ini, TKP dan TKK dapat menentukan kriteria pencapaian kabupaten/kota dalam kegiatan penguatan keberlanjutan. 3. Berdasarkan hasil evaluasi bersama tersebut, TKP mendorong TKK untuk memfasilitasi penyusunan Rencana Tindak Pengelolaan Penerusan Kegiatan Penguatan Keberlanjutan SPAMS Perdesaan, yang mana disinkronkan dengan program dan kegiatan yang tersedia dalam RAD AMPL, RKPD, dan Renja SKPD serta usulan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dan masyarakat seperti PJM ProAksi. 4. TKP dan TKK diharapkan untuk dapat memastikan bahwa pengelolaan penguatan keberlanjutan SPAMS perdesaan ada di dalam program kerja masing-masing SKPD yang relevan. 5. Pembahasan rencana tindak tersebut di tingkat kabupaten/kota bersama dengan pelaku AMPL lainnya dan DPRD. Pengesahan rencana tindak tersebut dilakukan dalam bentuk SK Kepala Daerah. 3.2 TAHAPAN KEGIATAN Penguatan keberlanjutan SPAMS Perdesaan yang difasilitasi Pamsimas dibagi dalam 3 (tiga) kegiatan utama yang bersifat menerus. Pamsimas menyediakan kegiatan pengembangan kapasitas pada 2 (dua) kegiatan pertama, dan diharapkan pemerintah kabupaten/kota melalui TKK melanjutkan pada kegiatan ketiga. Tiga kegiatan utama tersebut sebagai berikut: 1. Pelaksanaan Workshop di Tingkat Kabupaten/Kota (disebut selanjutnya sebagai Workshop 1) mengenai Pengenalan Keberlanjutan SPAMS Perdesaan. 21
27 2. Pelaksanaan Workshop di Tingkat Provinsi (disebut selanjutnya sebagai Workshop 2) mengenai Pengembangan Rencana Kerja Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dan Kemitraan dalam rangka mendukung Keberlanjutan. 3. Pelaksanaan Workshop di Tingkat Kabupaten/Kota (disebut selanjutnya sebagai Workshop 3) Evaluasi Kinerja Pelayanan SPAMS Perdesaan dan Pelaksanaan Kemitraan Workshop Pengenalan Keberlanjutan SPAMS Perdesaan Sebagai awal dari siklus keberlanjutan, pemahaman dan kesadaran akan kebutuhan yang sama dari setiap pelaku menjadi sangat penting. Workshop ini mempunyai tujuan utama sebagai berikut: Sosialisasi Keberlanjutan SPAMS Perdesaan untuk Pamsimas dan SPAMS perdesaan lainnya yang ada di tingkat kabupaten/kota (seperti: PPIP, IKK, DAK, AMPL oleh LSM). Menumbuhkan kebutuhan bersama untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan cakupan SPAMS serta mengembangkan BP-SPAMS (dan pengelola SPAMS desa lainnya) yang mandiri. Memanfaatkan berbagai sumberdaya yang tersedia di tingkat desa/kelurahan termasuk di dalamnya adalah penguatan kapasitas Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL. Sosialisasi mengenai berbagai insentif (misalnya HID dan PAKET) yang disediakan untuk mendukung keberlanjutan pelayanan SPAMS yang layak dan berkualitas sebagai salah satu bentuk penghargaan kepada kabupaten/kota dan desa/kelurahan yang mempunyai potensi keberlanjutan yang baik. Penyelenggaraan workshop ini merupakan tanggungjawab TKK dengan SKPD Mitra, sedangkan penyediaan substansi, pelaksanaan dan pemantauan hasil pelatihan dibantu oleh Fasilitator Keberlanjutan dan DMAC. Peserta workshop adalah Kepala Desa, Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL, BP-SPAMS, Pengelola SPAM desa selain Pamsimas, Kasi PMD Kecamatan, dan SKPD terkait (minimal adalah Bappeda, Dinas PU, Dinas Kesehatan, BPMD), dan penyedia AMPL lainnya yang bekerja di wilayah kabupaten/kota (seperti: LSM dan dunia usaha - perusahaan perkebunan dan pertambangan). Workshop ini terbagi dalam dua bagian: 1. Pembahasan peran, fungsi serta tanggungjawab setiap pelaku dalam pelaksanaan dan pendampingan kegiatan keberlanjutan di tingkat desa (Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL, Kepala Desa, Kasi PMD dan BPMD). Pada akhir bagian ini diharapkan peserta sudah mempunyai kesepakatan tentang rancangan peran, fungsi, dan tanggungjawabnya masing-masing dalam Keberlanjutan 22
28 SPAMS Perdesaan serta berkomitmen bahwa secara sadar bersama-sama untuk melaksanakan peran, fungsi, dan tanggungjawabnya tersebut. 2. Pengembangan kebutuhan bersama dari berbagai pemangku kepentingan, baik dari BP-SPAMS/Pengelola SPAM Desa lainnya dan Pemda mengenai adanya Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan sebagai wadah bersama untuk pengembangan pelayanan dan akses SPAMS Perdesaan dan kapasitas kelembagaan. Pada bagian ini diharapkan sudah ada pembahasan setidaknya mengenai karakteristik dan kriteria kelembagaan, peran dan fungsi asosiasi, peran dan tanggungjawab berbagai pihak yang akan terlibat dalam pengelolaan Asosiasi (pengurus) dan pembinaan Asosiasi (Pemda). 1) Prakondisi Pelaksanaan Workshop Workshop ini bisa dilaksanakan apabila kondisi berikut terpenuhi: 1. Kepala Daerah atau Sekretaris Daerah sudah terinformasikan mengenai kegiatan keberlanjutan dan berkomitmen untuk melaksanakannya. 2. TKK dan DPMU memahami dan berkomitmen untuk melaksanakan konsep keberlanjutan, terutama untuk mewujudkan elemen utama dalam program penguatan keberlanjutan, misalnya pengembangan Asosiasi SPAMS Perdesaan, peningkatan kapasitas Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL, penyusunan program dan kegiatan pembinaan Asosiasi, Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL, dan BP-SPAMS. 3. TKK dan DPMU sudah dapat meyakinkan BPMD dan Kasi PMD Kecamatan untuk berperan penuh sebagaimana kewenangannya dalam struktur pemda untuk mendampingi Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL dalam keberlanjutan SPAMS Perdesaan. Jika dimungkinkan, adanya rancangan tupoksi tambahan dalam struktur Kasi PMD dan BPMD mengenai pendampingan Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL dan BP- SPAMS dituangkan dalam bentuk rancangan Instruksi Kepala Daerah bersama dengan penunjukkan SKPD Mitra Utama SPAM Pengelolaan Perdesaan. 4. TKK dan DPMU sudah dapat mengkomunikasikan kepada Kepala Daerah atau Sekretaris Daerah mengenai perlu adanya SKPD yang menjadi Mitra Utama untuk pembinaan Asosiasi Pengelola SPAM Perdesaan. Adanya rancangan instruksi Kepala Daerah mengenai SKPD Mitra Utama Asosiasi SPAM Perdesaan yang mana tupoksinya dibahas dalam workshop kabupaten. Pada tahap pra-workshop, rancangan Instruksi atau SK Kepala Daerah (SK) mengenai pelaksanaan keberlanjutan SPAMS Perdesaan sudah tersedia. Rancangan instruksi kepala daerah memuat: (i) penunjukkan SKPD utama yang bertangungjawab dalam pembinaan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan, 23
29 (ii) penunjukkan BPMD dan Seksi PMD Kecamatan sebagai penanggung jawab pembinaan Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL, (iii) tugas, fungsi dan tanggungjawab masing-masing SKPD, dan (iv) rancangan pemantauan cakupan dan kualitas pelayanan SPAMS perdesaan dan kinerja BP-SPAMS (termasuk mekanisme dan format, sesuai dengan peraturan pemerintah mengenai pemantauan penyelenggaraan pembangunan). 2) Hasil Workshop Pada akhir workshop, diharapkan pemerintah kabupaten/kota, pelaku Pamsimas serta pelaku AMPL lainnya minimal mempunyai kebutuhan bersama untuk: 1. Menentukan peran Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL dalam dalam mengkomunikasikan kinerja, cakupan serta perluasan pelayanan AMPL dan kinerja BP-SPAMS. 2. Menunjuk Kasi PMD dan BPMD yang menjadi penanggungjawab dalam pembinaan langsung terhadap Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL. 3. Berkomitmen untuk menyediakan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan sebagai perpanjangan tangan BP-SPAMS dan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam memaksimalkan kualitas pelayanan dan cakupan AMPL tingkat desa/kelurahan. 4. Menyepakati peran Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam keberlanjutan dan program penyediaan AMPL perdesaan selanjutnya, termasuk dalam HID dan PAKET Pamsimas serta program penyediaan AMPL Perdesaan lainnya. 5. Memilih SKPD Mitra Utama yang menjadi penanggungjawab dalam pembinaan langsung terhadap Asosiasi SPAMS Perdesaan. Berita acara hasil workshop menjadi komitmen bersama yang ditandatangani baik oleh pemerintah daerah (perwakilan TKK dan DPMU, serta perwakilan BP- SPAMS) dalam pelaksanaan kegiatan keberlanjutan SPAMS perdesaan. Selanjutnya, berita acara ini menjadi rujukan bagi finalisasi Instruksi atau SK Kepala Daerah mengenai Pelaksanaan Keberlanjutan SPAM Perdesaan. 3) Tindak Lanjut Workshop Setelah pelaksanaan workshop, Pamsimas menyediakan dukungan bagi kabupaten/kota yang siap untuk melaksanakan penguatan keberlanjutan, sebagai berikut: 24
30 A. Advokasi Komitmen Pemerintah Daerah Finalisasi rancangan Instruksi atau SK Kepala Daerah mengenai pelaksanaan Keberlanjutan SPAMS Perdesaan. Contoh format dapat dilihat pada Lampiran 5. Penyusunan rancangan kegiatan pembinaan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dan Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL dalam pengelolaan keberlanjutan SPAMS Perdesaan. Contoh format dapat dilihat pada Lampiran 6. B. Pendampingan untuk Pengembangan Kelembagaan Pembangunan Asosiasi Pengelola SPAM Perdesaan. Penunjukkan Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL untuk menjalankan peran di bidang AMPL Perdesaan dalam kegiatan penguatan keberlanjutan. C. Penguatan Kapasitas Asosiasi dan KPM bidang AMPL a. Pelatihan Asosiasi Pengelola SPAM Perdesaan Pelatihan ini merupakan tahap awal bagi pengembangan kapasitas pengurus Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dan dilaksanakan di tingkat kabupaten/kota. Berikut adalah beberapa substansi minimal yang wajib disampaikan dalam pelatihan untuk pengurus Asosiasi, yaitu: Pengelolaan organisasi asosiasi (teknis, tata kerja, dan keuangan). Penyusunan rencana kerja dan operasionalisasinya. Mitra dan Pembina Asosiasi Pengelola SPAM Perdesaan. Pendekatan pendampingan BP-SPAMS, termasuk identifikasi kebutuhan dan mekanisme pelaksanaan kegiatan pendampingan. Mekanisme pemantauan kinerja BP-SPAMS. Pengelolaan kemitraan. Pengembangan data cakupan SPAMS dan kinerja BP-SPAMS. Promosi kegiatan Asosiasi, BP-SPAMS dan kinerja SPAMS kepada berbagai pihak. Untuk kabupaten/kota yang diusulkan mendapatkan PAKET dan mempunyai desa yang mendapatkan HID, maka perlu ada materi mengenai mekanisme PAKET, termasuk peran Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dalam pemilihan desa. Berbagai pembelajaran dari pengelolaan asosiasi yang terkait dengan air minum dan penyehatan lingkungan dapat menjadi contoh selama 25
31 pelaksanaan pelatihan. Konsultasi dengan pelaku asosiasi langsung dapat memberikan manfaat lebih besar kepada peserta pelatihan. Penyelenggaraan pelatihan merupakan tanggungjawab Ditjen PMD Kementerian Dalam Negeri, yang mana dalam pelaksanaannya TKP (BPMD Provinsi) dan PPMU menjadi mitra utama Ditjen PMD. Khusus untuk penyediaan substansi, fasilitasi pelaksanaan, dan pemantauan hasil pelatihan akan dibantu oleh PMAC dan Fasilitator Keberlanjutan. b. Pelatihan KPM bidang AMPL Pelatihan ini dilaksanakan di tingkat Provinsi, merupakan tahap awal bagi pengembangan kapasitas Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL dalam pelaksanaan keberlanjutan SPAMS Perdesaan. Berikut adalah beberapa substansi minimal dalam pelatihan untuk Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL: Pelaksanaan monitoring keberlanjutan tingkat desa, pemanfaatan hasil monitoring oleh pemerintahan desa dan masyarakat, dan pelaporannya. Mitra dan Pembina Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPLdalam Keberlanjutan, seperti Seksi PMD Kecamatan, BPMD dan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan. Pendampingan dalam penyusunan dan pelaksanaan rencana kerja BP- SPAMS. Pemantauan kinerja BP-SPAMS serta mekanisme pelaporannya, terutama dalam upaya menciptakan transparansi dan akuntabilitas dalam penyelenggaran pelayanan SPAMS tingkat desa/kelurahan. Mengkomunikasikan prioritas AMPL dalam berbagai forum pembangunan, termasuk musrenbang desa dan kecamatan. Penyelenggaraan pelatihan tingkat kabupaten untuk Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL merupakan tanggungjawab BPMD, yang mana dalam pengelolaan pelatihan, penyediaan substansi, fasilitasi pelaksanaan, dan pemantauan hasil pelatihan akan dibantu oleh Seksi PMD Kecamatan, Fasilitator Keberlanjutan, dan DMAC. Untuk pelatihan KPM bidang AMPL dan Asosiasi, prakondisi yang harus dipenuhi adalah: a. Pelatihan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan Terpilihnya pengurus Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan sesuai dengan kriteria yang disepakati dalam workshop kabupaten. 26
32 Tersusunnya anggaran dasar (AD) atau rancangan anggaran dasar Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan. Contoh format sebagaimana dalam Lampiran 7. b. Pelatihan Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL Desa/Kelurahan Penunjukkan Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL untuk berperan dan bertanggungjawab dalam keberlanjutan SPAMS Perdesaan. Penunjukkan kader ini disertai SK Kepala Desa yang menjelaskan tanggungjawabnya, hubungan tata kerja dengan LKM dan BP-SPAMS serta pemerintahan desa (Kepala Desa). Contoh format sebagaimana dalam Lampiran Workshop Ekspose Rencana Kerja Asosiasi dan Pengembangan Kemitraan Kegiatan kedua dalam pelaksanaan penguatan Keberlanjutan SPAMS Perdesaan adalah penyelenggaraan workshop ekspose rencana kerja Asosiasi SPAMS Perdesaan dan Pengembangan Kemitraan yang dilakukan di tingkat provinsi. Workshop ini mempunyai tujuan utama sebagai berikut: 1. Memaparkan rencana kerja Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan. 2. Memfasilitasi usulan kegiatan kemitraan dalam rencana kerja Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan. 3. Mempromosikan potensi BP-SPAMS dalam peningkatan pelayanan SPAMS dan cakupan AMPL 4. Mensosialisasikan daftar desa penerima HID (jika ada) 5. Mensosialisasikan daftar kab/kota penerima PAKET Pamsimas (jika ada) 6. Mereview realisasi program dan anggaran pembinaan BP-SPAMS di kabupaten/kota Penyelenggaraan workshop tingkat provinsi ini merupakan tanggung jawab TKP dan PPMU. Khusus dalam penyediaan substansi, pelaksanaan dan pemantauan hasil pelatihan akan dibantu oleh PMAC dan Fasilitator Keberlanjutan. Peserta workshop tingkat provinsi adalah pengurus asosiasi pengelola SPAMS perdesaan, perwakilan satu atau dua BP-SPAMS per kabupaten/kota, SKPD mitra utama asosiasi, BPMD, dan penyedia AMPL lain (calon mitra). Workshop ini terbagi dalam dua bagian, yaitu: 1. Pembahasan rancangan akhir rencana kerja asosiasi pengelola SPAMS Perdesaan, dan rancangan program dan kegiatan SKPD. Pada bagian ini, diharapkan asosiasi dan SKPD membahas: (i) berbagai usulan kegiatan yang dapat dimitrakan pelaksanaannya, dan 27
33 (ii) usulan kegiatan yang bersifat investasi (perluasan layanan atau rehabilitasi untuk perbaikan kualitas layanan SPAMS) untuk didiskusikan lebih lanjut di tingkat kabupaten/kota. Bagian ini adalah untuk mendorong kemitraan antara asosiasi dengan pemerintah daerah, baik pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota. Komitmen kemitraan asosiasi dan pemerintah daerah dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman. 2. Promosi cakupan SPAMS Perdesaan dan kinerja BP-SPAMS dalam rangka memperoleh dukungan calon mitra untuk investasi perluasan cakupan pelayanan SPAMS (dan rehabilitasi) dan pengembangan kapasitas. Pada bagian ini, asosiasi pengelola SPAMS perdesaan dapat menawarkan berbagai kegiatan terkait investasi dan pengembangan kapasitas untuk BP-SPAMS kepada calon mitra. Pemda masing-masing akan membantu fasilitasi diskusi atau pertemuan tindak lanjut di tingkat kabupaten/kota. Komitmen kemitraan antara asosiasi dan mitra dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman. Format Nota Kesepahaman dapat dilihat pada Lampiran 9. 1) PraKondisi Pelaksanaan Workshop Workshop ini bisa dilaksanakan apabila kondisi berikut terpenuhi: 1. Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan mempunyai rancangan akhir rencana kerja dan usulan kegiatan kemitraan. 2. SKPD Mitra Utama dan BPMD kabupaten/kota mempunyai rancangan akhir program dan kegiatan pendampingan asosiasi dan BP-SPAMS. 3. Pemerintah kabupaten/kota mempunyai program dan kegiatan terkait pengembangan SPAMS perdesaan (jika ada RAD AMPL, maka sudah ada matriks program dan kegiatan terkait dengan AMPL yang akan dikembangkan pada tahun selanjutnya). 4. Tersedianya profil kinerja BP-SPAMS dan cakupan layanannya, yang mana akan diusulkan sebagai salah satu kegiatan kemitraan. 5. Teridentifikasinya calon mitra (selain pemda) untuk ikut serta dalam workshop provinsi. 2) Hasil Workshop Pada akhir workshop, diharapkan pemerintah provinsi, kabupaten/kota, pelaku Pamsimas serta pelaku AMPL lainnya menyepakati sekurang-kurangnya beberapa hal berikut ini: 1. Menyusun dan melaksanakan program peningkatan kapasitas untuk Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dan BP-SPAMS, termasuk alokasi pembiayaannya dan jadwal pelaksanaannya. 2. Mengembangkan strategi kemitraan bagi perluasan dan peningkatan layanan AMPL, termasuk upaya untuk memberdayakan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dan BP-SPAMS. 28
34 3. Melembagakan basis data cakupan AMPL dan kinerja BP-SPAMS sebagai bahan evaluasi bersama untuk penyusunan progam dan kegiatan terkait dengan AMPL. Hasil workshop dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman antara Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dan mitra-mitranya (pemerintah daerah dan penyedia AMPL lainnya). Contoh format nota kesepahaman dapat dilihat pada Lampiran 10. Untuk kabupaten/kota yang mendapatkan PAKET Pamsimas, maka pada akhir workshop ini diharapkan sudah ada kesepakatan tindak lanjut untuk pelaksanaan PAKET Pamsimas di kabupaten/kota terkait. 3) Tindak Lanjut Workshop Setelah pelaksanaan workshop, tindak lanjut yang diharapkan akan dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota dan asosiasi pengelola SPAMS perdesaan, dengan didampingi oleh Fasilitator Keberlanjutan, adalah sebagai berikut: 1. Fasilitasi tindak lanjut atau pelaksanaan rencana kemitraan antara asosiasi pengelola SPAMS perdesaan-pemerintah kabupaten/kota-mitra lainnya. 2. Untuk kabupaten/kota penerima PAKET Pamsimas, fasilitasi pelaksanaan PAKET termasuk diantaranya pemilihan usulan pemanfaatan dana PAKET dan pemilihan desa. 3. Pelaksanaan rencana kerja asosiasi pengelola SPAMS Perdesaan dan pelaporannya. 4. Pelaksanaan kegiatan pendampingan asosiasi/kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL oleh SKPD mitra, Seksi PMD Kecamatan, dan BPMD. 5. Pelaksanan pemantauan kinerja SPAMS perdesaan dan BP-SPAMS oleh Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL. 6. Sinkronisasi PJM ProAksi ke dalam rencana kerja pembangunan (RKP) desa oleh LKM dan Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL serta pemerintah desa. 7. Pengawalan prioritas AMPL desa dalam musrenbang desa dan kecamatan oleh Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL dan pemerintah desa Workshop Penyelenggaraan Keberlanjutan dan Kemitraan Pada kegiatan ketiga, keberhasilan penguatan keberlanjutan ditunjukkan dengan adanya realisasi komitmen seluruh pelaku. Mengingat penguatan keberlanjutan merupakan upaya bersama yang dilaksanakan untuk menjawab kebutuhan seluruh pelaku dalam pemenuhan kebutuhan dasar untuk air minum dan penyehatan 29
35 lingkungan, maka penting untuk melihat bagaimana seluruh pelaku dapat menunjukkan hasil pelaksanaan keberlanjutan secara mandiri. Workshop yang dilaksankan di tingkat kabupaten/kota ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai wadah untuk rapat tahunan anggota asosiasi pengelola SPAMS Perdesaan. Rapat tahunan anggota Asosiasi pengelola SPAMS Perdesaan menjadi salah satu wadah yang mencerminkan kualitas pelaksanaan penguatan keberlanjutan di kabupaten/kota terkait. Rapat tahunan merupakan media pertanggungjawaban asosiasi kepada anggotanya. Workshop ini diharapkan dapat menghasilkan sekurang-kurangnya hal berikut: 1. Pertanggungjawaban pemerintah daerah terhadap pelaksanaan kegiatan penguatan keberlanjutan SPAMS perdesaan, termasuk di dalamnya adalah pendampingan asosiasi pengelola SPAMS perdesaan, Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL, dan BP-SPAMS serta pelaksanaan kegiatan kemitraan antara asosiasi/bp-spams dengan pemerintah kabupaten/kota. 2. Pertanggungjawaban pengurus asosiasi pengelola SPAMS perdesaan kepada seluruh anggotanya sebagai salah satu perwujudan transparansi dan akuntabilitas. 3. Evaluasi pelaksanaan tugas dan fungsi asosiasi pengelola SPAMS perdesaan, untuk memastikan bahwa tugas dan fungsinya dilaksanakan sesuai dengan amanat yang disampaikan pada awal pembentukannya. 4. Penyusunan rencana kerja tahunan bersama, dalam rangka peningkatan kualitas penyelenggaraan SPAMS perdesaan. 5. Evaluasi pelaksanaan PAKET Pamsimas dan/ atau HID khusus untuk kabupaten/kota yang mendapatkan PAKET Pamsimas dan/atau desanya memperoleh HID Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa kegiatan ini bersifat mandiri, maka diharapkan kegiatan ini dapat berlangsung tanpa adanya bantuan dari Pamsimas. Penyelenggaraan rapat anggota ini menjadi tanggungjawab pemerintah daerah (TKK dan SKPD Mitra) dan asosiasi pengelola SPAMS perdesaan, yang mana secara substansi, pelaksanaan, dan pemantauan hasilnya menjadi tanggungjawab SKPD Mitra, Seksi PMD Kecamatan, dan BPMD dibantu oleh Fasilitator Keberlanjutan. Prinsip pelaksanaan workshop ini adalah adanya peningkatan transparansi dan akuntabilitas dari setiap pelaku terhadap pelaksanaan seluruh kegiatan penguatan keberlanjutan. 1) PraKondisi Pelaksanaan Workshop Workshop ini bisa dilaksanakan apabila kondisi berikut terpenuhi: 1. Pemerintah daerah (TKK) mempunyai laporan pelaksanaan kegiatan keberlanjutan SPAMS Perdesaan dan pencapaian target SPAMS perdesaan, contoh laporan pada Lampiran
36 2. Pemerintah daerah (TKK) sudah mempunyai rancangan rencana tindak penerusan keberlanjutan SPAMS perdesaan oleh pemerintah daerah, sebagai salah satu komitmen pemerintah daerah dalam menjamin keberlangsungan SPAMS desa. 3. SKPD Mitra Utama mempunyai laporan pelaksanaan kegiatan pembinaan/ pendampingan asosiasi pengelola SPAM perdesaan dan rancangan kegiatan untuk tahun selanjutnya, contoh laporan pada Lampiran Seksi PMD Kecamatan mempunyai laporan pelaksanaan pendampingan Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL dan hasil sinkronisasi PJM ProAKsi dan RKP desa yang memuat prioritas AMPL (kumulatif di seluruh desa pada kecamatan terkait), contoh laporan pada Lampiran BPMD mempunyai laporan pelaksanaan pendampingan BP-SPAMS serta rancangan kegiatan untuk tahun selanjutnya, contoh rencana kerja pada Lampiran Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan mempunyai laporan pelaksanaan rencana kerja dan kemitraan serta laporan pertanggungjawaban keuangan, dan rancangan rencana kerja dan pembiayaan untuk tahun selanjutnya, contoh laporan pada Lampiran 14. 2) Hasil Workshop Pada akhir workshop, diharapkan pemerintah kabupaten/kota, pelaku Pamsimas serta pelaku AMPL lainnya mempunyai kesepakatan sebagai berikut: 1. Pemerintah daerah menyusun program dan kegiatan regular untuk pengembangan kapasitas dan keberlanjutan SPAMS perdesaan, dalam bentuk rencana tindak untuk mendukung kegiatan keberlanjutan SPAMS perdesaan. Rencana tindak ini disahkan dalam bentuk instruksi atau SK Kepala Daerah (dapat dilihat di Bab 5). 2. Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan menyusun rancangan rencana kerja dan kemitraan tahun selanjutnya. 3) Tindak Lanjut Workshop Setelah pelaksanaan workshop, tindak lanjut yang diharapkan akan dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota dan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan, dengan didampingi oleh Fasilitator Keberlanjutan, adalah sebagai berikut: 1. Advokasi pemerintah daerah untuk pembiayaan program dan kegiatan yang termuat dalam rencana kerja tahun depan. Dalam hal ini diharapkan program dan kegiatan yang dirumuskan bersama dalam workshop kabupaten terbiayai di tahun selanjutnya. 2. Pelaksanaan rencana kerja dan pendampingan, termasuk pemantauan kinerja asosiasi oleh pemerintah daerah. 31
37 3. Pelaksanaan kegiatan pendampingan asosiasi/kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL oleh SKPD mitra, Seksi PMD Kecamatan, dan BPMD. 4. Pelaksanaan rencana kerja dan kemitraan asosiasi pengelola SPAMS perdesaan. 5. Pelaksanan pemantauan kinerja SPAMS perdesaan dan BP-SPAMS oleh Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL. Tata cara pelaksanaan ketiga rangkaian workshop secara rinci dapat dilihat dalam Manual Pelaksanaan Workshop Penguatan Keberlanjutan SPAMS Perdesaan Gambar 4 menunjukkan secara keseluruhan bagaimana penguatan Keberlanjutan SPASM Perdesaan dalam Pamsimas akan dioperasionalkan. Perlu dipahami bahwa gambar ini bukanlah suatu acuan pelaksanaan yang bersifat kaku. Pelaku Pamsimas di tingkat provinsi, kabupaten/kota dan desa/kelurahan dapat menyesuaikan dengan kapasitas dan perkembangan pelaksanaan program. Pelaku, penanggungjawab, dan waktu yang digambarkan dalam gambar ini adalah untuk membantu memastikan bahwa semua pelaku Pamsimas memahami konsekuensi pelaksanaan setiap kegiatan penguatan keberlanjutan ini. 32
38 Gambar 4. Tata Cara, Penanggungjawab dan Jadwal Pelaksanaan Keberlanjutan SPAM Perdesaan 33
39 BAB 4. SPAMS PERDESAAN DI TINGKAT DESA/KELURAHAN 4.1 KOMPONEN KEGIATAN Keberlanjutan SPAMS Perdesaan tingkat Desa/Kelurahan difokuskan kepada penguatan kapasitas Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL Desa/Kelurahan, pembinaan oleh Seksi PMD Kecamatan dan BPMD, serta sinkronisasi perencanaan AMPL tingkat desa/kelurahan dengan kecamatan, terutama untuk PJM ProAksi dengan Rencana Kerja Pembangunan (RKP) desa dalam musrenbang desa dan musrenbang kecamatan Perkuatan Fungsi BP-SPAMS BP-SPAMS diharapkan mempunyai kapasitas kemampuan pengelolaan keuangan; menerapkan iuran yang layak untuk operasional, pemeliharaan dan pemulihan; pengembangan kemitraan, dan kemampuan teknis yang baik untuk mendukung dan memastikan keberlanjutan pelayanan AMPL tingkat desa. Perkuatan BP-SPAM dilakukan untuk menjamin kelangsungan fungsi dan perannya sebagai: 1. Lembaga pengelola pelayanan air minum dan promosi penyehatan lingkungan yang mandiri, transparan, dan akuntabel. 2. Mitra utama bagi pemerintahan desa dalam penyusunan program dan kegiatan prioritas untuk AMPL tingkat desa/kelurahan. 3. Lembaga yang berorientasi kepada pelayanan air minum dan promosi penyehatan lingkungan di tingkat desa/kelurahan Perkuatan Kapasitas KPM Bidang AMPL Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL dipilih dari antara KPM yang ada, atau dari pengurus BP-SPAMS desa setempat. Jumlah Kader Pemberdayaan Masyarakat 34
40 Bidang AMPL diputuskan oleh masing-masing desa/kelurahan, namun minimal tiap desa/kelurahan memiliki 1 (satu) orang Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL. KPM bidang AMPL yang digagas oleh Pamsimas ini akan menjadi bagian dari Tim KPM Desa (bila sudah ada). Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL ini bertugas sebagai perwakilan masyarakat tingkat desa dalam menyuarakan kebutuhan prioritas pembangunan AMPL dalam forum musrenbang kecamatan dan kabupaten. Pamsimas memberikan penguatan kapasitas Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL untuk dapat membantu pemerintah dan masyarakat desa/kelurahan dalm bidang AMPL dengan peran sebagai berikut: 1. Mitra pemerintah desa dan LKM dalam pemantauan pencapaian target cakupan pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan tingkat desa/kelurahan. 2. Mitra pemerintah desa/kelurahan dan LKM dalam penilaian kinerja BP-SPAMS, termasuk membantu pemerintah desa/kelurahan dalam penyampaian laporan kinerja BP-SPAMS kepada Seksi PMD Kecamatan dan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan dalam rangka identifikasi kebutuhan pengembangan kapasitas dan pemantauan kinerja. 3. Mitra pemerintah desa dan LKM dalam mengkomunikasikan usulan atau prioritas pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan desa/kelurahan kepada tingkat pemerintahan yang lebih tinggi (kecamatan dan kabupaten) melalui forum musrenbang dan Forum SKPD. 4. Perwakilan masyarakat untuk menyampaikan kebutuhan pendampingan atau peningkatan kapasitas kepada pihak terkait, misalnya Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan, pemerintah kabupaten/kota, dan pelaku AMPL lainnya. 5. Mitra pemerintah kabupaten/kota (BPMD dan Kantor Sekretaris Daerah) dalam pemantauan kinerja BP-SPAMS dalam rangka identifikasi kebutuhan pengembangan kapasitas serta pemantauan cakupan pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan. Dalam penguatan kapasitas Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL, Kasi PMD Kecamatan dan BPMD Kabupaten (Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa) mempunyai peran yang sangat penting. Pamsimas mengharapkan dukungan kedua lembaga ini dalam mengkoordinasikan penguatan kapasitas dan pemantauan kinerja Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL dengan berbagai pelaku AMPL lainnya, termasuk dengan SKPD terkait AMPL (Bappeda, Dinas PU, Dinas Kesehatan, dan Kantor Sekretaris Daerah). Tata cara pemilihan KPM bidang AMPL secara rinci dapat dilihat dalam Prosedur Operasi Baku (POB) Kader Pemberdayaan Masyarakat bidang AMPL. 35
41 4.1.3 Sinkronisasi dan Integrasi PJM-ProAKSi Salah satu hasil Pamsimas adalah dokumen Pembangunan Jangka Menegah Program Air Minum, Kesehatan dan Sanitasi (PJM ProAKSi) yang merupakan rencana strategis penyediaan air minum dan penyehatan lingkungan tingkat desa/kelurahan. Sinkronisasi dan integrasi PJM-ProAKSi adalah proses untuk memastikan prioritas dan porsi kegiatan air minum, kesehatan dan sanitasi (AMPL) dalam RPJM atau RKP Desa/Kelurahan sesuai dengan kebutuhan nyata yang dihasilkan dari proses partisipatif. Proses sinkronisasi dan integrasi PJM ProAKSI dengan RPJM/RKP Desa/Kelurahan dilakukan secara partisipatif dan memberikan kesempatan dan ruang bagi seluruh elemen masyarakat (termasuk perempuan dan warga miskin) untuk menyampaikan pendapat. 4.2 TAHAPAN KEGIATAN Monitoring Keberlanjutan Tahap II Tingkat Desa/Kelurahan Monitoring tahap II bertujuan untuk melihat kesesuaian antara RKM dengan kenyataan pelaksanaan kegiatan di masyarakat. Secara umum tahap ini adalah membandingkan antara apa yang direncanakan di RKM dengan kondisi setelah konstruksi (dan kegiatan) selesai, terkait aspek kualitas dan potensi akses di masyarakat. Tahap ini membantu masyarakat untuk melihat kemungkinan untuk meningkatkan pengelolaan, keuangan, operasional dan pemeliharaan praktis agar pelayanan dapat berkelanjutan dan pemanfaatannya lebih merata. Monitoring ini dilakukan untuk mengukur kemajuan aspek-aspek yang mempengaruhi keberlanjutan dan perubahan perilaku masyarakat. Berikut adalah aspek-aspek yang menjadi subyek monitoring keberlanjutan: 1. Efektifitas keberlanjutan sarana yang meliputi kualitas sistem, keberfungsian, dan keuangan. 2. Efektifitas penggunaan, terutama untuk mengetahui pertambahan akses AMPL. 3. Ketanggapan program terhadap kebutuhan masyarakat. 4. Kesetaraan dalam pengelolaan. 5. Partisipasi masyarakat melalui perberdayaan. 6. Perubahan perilaku hidup bersih dan sehat. Pemantauan kepada aspek tersebut di atas dilakukan dalam bentuk rembug desa dan FGD menggunakan MPA/PHAST. Monitoring keberlanjutan dilakukan oleh masyarajat dengan difasilitasi oleh BP-SPAMS dibantu oleh LKM dan KPM Bidang AMPL. 36
42 Fasilitator keberlanjutan akan memantau hasil pelaksanaan monitoring keberlanjutan untuk dimasukkan ke dalam SIM Pamsimas. Proses pelaksanaan Pemantauan Keberlanjutan Tahap 2 secara lebih rinci dapat dilihat pada Buku Panduan Proses Pemantauan Keberlanjutan Tahap 2, sedangkan hasil proses dan analisis temuannya dicatat dalam Buku Catatan Proses (Fieldbook) Pemantauan Keberlanjutan Tahap Penyusunan Program Kerja BP-SPAMS 1) Penyusunan Rencana Kerja BP-SPAMS 1. Rencana kerja BP-SPAMS adalah acuan pelaksanaan program/kegiatan BP- SPAMS untuk mencapai tujuan dan target yang disepakati masyarakat untuk kurun waktu satu tahun mendatang; 2. Hasil monitoring keberlanjutan tahap II dan laporan pemantauan dan evaluasi kinerja BP-SPAMS digunakan sebagai dasar dalam penyusunan rencana kerja BP-SPAMS. 3. Hasil identifikasi kesenjangan capaian setiap aspek dalam monitoring keberlanjutan tahap II dengan nilai dibawah 50 menjadi target utama dalam penyusunan Rencana Kerja; 4. Target tahunan dijabarkan dalam program dan kegiatan dan harus mencerminkan aspek-aspek yang mempengaruhi keberlanjutan layanan dan perubahan perilaku; 5. Aspek aspek yang diwujudkan dalam Rencana Kerja antara lain: a. Pengelolaan SAM rutin (O&M) b. Pengembangan Sarana Air Minum dan Sanitasi c. Pengembangan kesehatan (PHBS) d. Pengembangan kemitraan 6. Hal-hal minimal yang harus ada dalam Rencana Kerja BP-SPAMS adalah: sasaran (target) tahun mendatang, program/kegiatan; jadwal pelaksanaan; penanggung jawab kegiatan; kebutuhan biaya pelaksanaan dan pengembangan pelayanan. 7. Untuk mengukur kemajuan pelaksanaan rencana kerja, maka pelaksanaan rencana kerja tahunan dipantau setiap 3 (tiga) bulanan. 2) Identifikasi kebutuhan Pengembangan Kapasitas BP-SPAMS 1. Identifikasi kebutuhan pengembangan kapasitas BP-SPAMS ditujukan untuk memetakan macam kebutuhan pengembangan sebagai dasar perumusan program dan kegiatan yang dinilai efektif dan efisien bagi peningkatan kapasitas BP-SPAMS; 37
43 2. Identifikasi kebutuhan dapat dilakukan melalui diskusi/fgd atau berdasarkan analisis Hasil monitoring MPA-PHAST Tahap II dan laporan pemantauan dan evaluasi Pemantauan dan Pelaporan Kinerja BP-SPAMS 1) Tingkat desa/kelurahan Pemantauan dan pelaporan kinerja BP-SPAMS dilakukan oleh Pemerintah Desa (cq. Kaur Pembangunan). Hasil pementauan dalam bentuk laporan yang telah disetujui Kepala Desa selanjutnya disampaikan kepada Seksi PMD Kecamatan dan asosiasi pengelola SPAMS perdesaan. Secara lebih rinci uraian program kerja terkait dengan pemantauan dan pelaporan kinerja BP-SPAMS adalah sebagai berikut: 1. Pemerintah Desa (melalui Kaur Pembangunan) melakukan pemantauan kinerja BPSPSAMS melalui: (i) diskusi dengan BP-SPAMS, (ii) diskusi dengan masyarakat pengguna, dan (iii) pemeriksaan kualitas SAM dan air. 2. Pemerintah Desa, LKM, Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL/LKM dan BP-SPAMS melakukan pembahasan hasil pemantauan kinerja BP-SPAMS di tingkat desa. Pembahasan hasil evaluasi kinerja ini adalah untuk: (i) memastikan bahwa hasil penilaian kinerja adalah akurat, dan (ii) adanya dukungan atau kesepakatan LKM/BP-SPAMS mengenai target dan upaya peningkatan kinerja. 3. LKM harus berkonsultasi dengan sanitarian untuk penilaian kinerja BP-SPAMS yang terkait dengan pencapaian komponen kesehatan, seperti SBS, akses kepada sanitasi sehat dan CTPS,. Konsultasi dimaksudkan supaya: (i) adanya pemahaman yang benar mengenai kriteria SBS, akses kepada sanitasi sehat dan CTPS antara LKM, BP-SPAMS, dan sanitarian, dan (ii) memastikan bahwa hasil penilaian kinerja adalah akurat. 4. Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL melaporkan hasil pemantauan kinerja BP-SPAMS (yang sudah dibahas bersama dengan LKM, BP-SPAMS dan sanitarian) kepada Kepala Desa/Lurah dengan tembusan kepada Seksi PMD Kecamatan setiap 3 (tiga) bulan. Fasilitator Keberlanjutan akan mendapatkan hasil pemantauan kinerja BP-SPAMS langsung dari Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL. Kepala Seksi PMD Kecamatan menyampaikan laporan mengenai hasil pemantauan kinerja kepada BPMD dengan tembusan kepada Sekretaris Daerah. 38
44 5. Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL menyampaikan laporan hasil pemantauan kinerja disampaikan kepada Asosiasi SPAM Perdesaan melalui sms dengan format yang sudah disediakan oleh Pamsimas. 2) Tingkat kabupaten/kota Hasil pemantauan kinerja BP-SPAMS dibahas bersama antara BPMD (berdasarkan laporan Seksi PMD Kecamatan), SKPD Mitra Utama, Asosiasi Pengelola SPAM Perdesaan, SKPD lainnya yang relevan, dan penyedia AMPL lainnya dalam rapat rutin tiga bulanan. Hasil pembahasan pemantauan kinerja ini disampaikan oleh SKPD Mitra kepada TKK dan/atau Pokja AMPL dengan tembusan kepada Asisten Sekretaris Daerah bidang Ekonomi dan Pembangunan. Aspek yang termasuk ke dalam penilaian kinerja adalah: 1. Keberfungsian SPAMS dan kelembagaan, yang meliputi: cakupan pelayanan SPAMS, pengumpulan tariff atau iuran bulanan (yang memenuhi biaya operasional, biaya operasional dan pemeliharaan serta biaya rehabilitasi dan pengembangan), cakupan pelayanan hasil pengembangan SPAMS dan kualitas fisik prasarana. 2. Pelaksanaan (realisasi) rencana kerja dan kemitraan 3. Pencapaian komponen kesehatan, yaitu SBS, akses kepada sanitasi yang layak dan CTPS Format pemantauan kinerja BP-SPAMS dapat dilihat pada Lampiran Sinkronisasi PJM ProAksi dalam Musrenbang dan RPJM Desa Kegiatan sinkronisasi PJM ProAksi dengan RPJM Desa atau Rencana Kerja Pembangunan (RKP) Desa difasilitasi oleh Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL. Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL berfungsi untuk menfasilitasi pengkajian awal terhadap pencapaian PJM ProAksi dan memfasilitasi pemerintah desa untuk melakukan pengkajian awal terhadap berbagai kegiatan pembangunan desa/kelurahan terkait AMPL, anggaran desa/kelurahan, dan prioritas pembangunan. Sebelum dilakukan sinkronisasi PJM ProAksi dalam forum musrenbang desa, maka berikut adalah prakondisi yang perlu disiapkan oleh pelaku AMPL di tingkat desa/kelurahan: 1. BP-SPAMS mempersiapkan hasil pemuktahiran PJM ProAksi, khususnya untuk kegiatan-kegiatan yang sudah terbiayai dan belum terbiayai dalam RKM oleh Pamsimas, termasuk jika di dalamnya sudah ada rencana pengembangan SPAMS desa (data berdasarkan hasil penilaian kinerja BP-SPAMS), serta pembiayaan pengembangan SPAM desa dari sumber lainnya dan pembangunan baru SPAMS desa di lokasi berbeda dengan Pamsimas. 39
45 2. Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL mempersiapkan rencana atau daftar usulan prioritas pembangunan desa/kelurahan serta rancangan anggarannya, termasuk untuk AMPL. Informasi ini adalah hasil konsultasi Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL dengan pemerintah desa (Kepala Desa dan perangkatnya). Kegiatan sinkronisasi dan integrasi dilakukan dalam bentuk: Pengkajian ulang PJM ProAksi oleh berbagai pelaku AMPL tingkat desa, misalnya LKM, BP-SPAMS, dan Pemerintahan Desa (Kepala Desa dan perangkatnya). Pengkajian ulang dilakukan setelah pelaksanaan pamsimas regular, termasuk memastikan pemenuhan target pencapaian AMPL tingkat desa. Pembiayaan program dan kegiatan PJM-ProAKSi melalui anggaran desa. Diskusi program dan prioritas AMPL, sesuai dengan yang tertuang dalam PJM ProAksi, dalam musrenbang tingkat desa setiap tahunnya. Dalam diskusi ini, berbagai pelaku AMPL tingkat desa dapat mendiskusikan mengenai usulan program dan kegiatan AMPL untuk dibiayai dalam anggaran tahunan desa secara bertahap dan dalam anggaran tingkat pemerintahan kecamatan atau kabupaten/kota. Hasil dari diskusi ini adalah: (i) pemuatan program dan kegiatan prioritas AMPL desa ke dalam RKP desa, (ii) alokasi dan realisasi anggaran desa (atau ADD) untuk pembiayaan program dan kegiatan AMPL desa. Pemuatan kebijakan AMPL ke dalam RPJM Desa. Bagi desa-desa yang sedang dalam tahap penyusunan RPJM Desa maka kebijakan AMPL dalam PJM-ProAKSi dapat dimasukkan ke dalam salah satu kebijakan prioritas RPJM Desa, sedangkan untuk desa-desa yang sudah mempunyai RPJM Desa maka kebijakan AMPL dalam PJM-ProAKSi dapat menjadi masukan dalam proses pengkajian ulang kebijakan. Berdasarkan hasil musrenbang desa, BP-SPAMS melakukan pemuktahiran untuk PJM ProAksi yang akan dibiayai oleh ADD, dana investasi BP-SPAMS dan kontribusi masyarakat, sedangkan Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL (bersama dengan perwakilan pemerintah desa) membawa daftar prioritas pembangunan AMPL desa kepada musrenbang kecamatan (jika tidak terbiayai oleh ADD, BP-SPAMS maupun kontribusi masyarakat) Pengawalan Prioritas AMPL Desa dalam Musrenbang Kecamatan Pengawalan prioritas AMPL Desa dalam musrenbang kecamatan bertujuan untuk membantu memastikan prioritas AMPL desa menjadi kegiatan prioritas pembangunan di wilayah kecamatan dalam rangka mengakses pembiayaan kegiatan dari APBD kab/kota. Pengawalan dilakukan oleh delegasi musrenbang desa/kelurahan yang mengikuti musrenbang kecamatan. Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL diharapkan menjadi anggota delegasi musrenbang desa/kelurahan. 40
46 Musrenbang kecamatan dilaksanakan untuk penajaman, penyelarasan, klarifikasi dan kesepakatan usulan rencana kegiatan pembangunan desa/kelurahan, yang diintegrasikan dengan prioritas pembangunan kabupaten/kota di wilayah kecamatan. Penajaman, penyelarasan, klarifikasi dan kesepakatan mencakup: 1. Usulan rencana kegiatan pembangunan desa/kelurahan yang tertuang dalam berita acara musrenbang desa/kelurahan yang akan menjadi kegiatan prioritas pembangunan di wilayah kecamatan yang bersangkutan. 2. Kegiatan prioritas pembangunan di wilayah kecamatan yang belum tercakup dalam prioritas kegiatan pembangunan desa. 3. Pengelompokan kegiatan prioritas pembangunan di wilayah kecamatan berdasarkan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota. Kegiatan prioritas pembangunan daerah di wilayah kecamatan mengacu pada program dalam rancangan awal RKPD kabupaten/kota. Hasil musrenbang kecamatan dijadikan sebagai bahan masukan dalam penyusunan rancangan Renja SKPD dan rancangan RKPD kabupaten/kota. RKPD kabupaten/kota selanjutnya menjadi acuan penyusunan APBD kabupaten/kota. Hasil yang diharapkan dari pengawalan ini adalah prioritas AMPL desa disepakati sebagai kegiatan prioritas pembangunan di wilayah kecamatan yang tertuang dalam berita acara musrenbang kecamatan. Sebelum mengikuti musrenbang kecamatan, maka berikut adalah prakondisi yang perlu disiapkan oleh pelaku AMPL di tingkat desa/kelurahan dan kecamatan: 1. Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL dan Kepala Desa memastikan bahwa pembangunan AMPL menjadi kegiatan prioritas desa/kelurahan, sesuai dengan berita acara musrenbang desa/kelurahan. 2. Dalam berita acara ini juga dijelaskan bahwa AMPL menjadi kegiatan prioritas desa/kelurahan karena: a. AMPL desa/kelurahan merupakan kegiatan prioritas pembangunan desa/kelurahan yang sesuai dengan prioritas pembangunan kabupaten/kota untuk wilayah kecamatan tersebut. b. Pembangunan AMPL akan memberikan kontribusi yang siginifikan terhadap pencapaian target untuk akses air minum dan sanitasi di kecamatan dan kabupaten. c. Manfaat/nilai tambahnya bagi perbaikan derajat kesehatan, perekonomian, dan keadilan pemanfaatan sumber air penduduk kecamatan. d. Kewajaran biaya kegiatan. e. Kepastian bahwa kegiatan tersebut mampu dilaksanakan dengan dukungan Pemerintah Desa/Kelurahan. 41
47 Contoh format berita acara musrenbang mengenai prioritas AMPL dapat dilihat pada Lampiran Seksi PMD Kecamatan mempunyai data status cakupan AMPL berdasarkan laporan tiga bulanan dari Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL. Dianjurkan bagi Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL, Kepala Desa dan Seksi PMD Kecamatan untuk melakukan pertemuan pra-musrebang kecamatan. Pada pertemuan ini dapat diidentifikasi berbagai potensi yang dapat dikembangkan untuk AMPL sesuai kewenangan kecamatan Pengelolaan Kemitraan Pengelolaan kemitraan di tingkat desa/masyarakat dilaksanakan dengan sebagai berikut: 1. Dapat dilakukan dalam bentuk usulan pembiayaan untuk berbagai kegiatan yang terkait dengan AMPL tingkat desa/kelurahan dan penguatan kapasitas BP-SPAMS. 2. Dapat dilakukan dengan penyedia AMPL yang beroperasi di tingkat kabupaten/kota (LSM, lembaga akademis, dan swasta), permerintah atau perusahaan milik pemerintah (perkebunan, pertambangan dan lainnya) serta pemerintah daerah. 3. BP-SPAMS dapat mengajukan usulan kegiatan kemitraan kepada berbagai pihak berdasarkan masukan dan kebutuhan desa/kelurahan. Prioritas usulan kegiatan untuk kemitraan adalah berdasarkan eriodic yang disepakati bersama dalam musyawarah anggota dan masukan dari LKM, Pemerintah Desa, dan asosiasi pengelola SPAMS Perdesaan. 4. Usulan kegiatan kemitraan dapat disampaikan kepada asosiasi pengelola SPAMS perdesaan sebelum pelaksanaan workshop provinsi. Usulan kegiatan setidaknya memuat: jenis kegiatan (terkait pengembangan atau rehabilitasi SAM atau pengembangan kapasitas kelembagaan), spesifikasi, target waktu pelaksanaan, hasil yang diharapkan, serta usulan pembiayaan. 42
48 BAB 5. PELAPORAN 5.1 PELAPORAN OLEH PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA 1. Kepala SKPD Mitra Utama melaporkan kemajuan pelaksanaan kegiatan penguatan keberlanjutan SPAMS Perdesaan, terutama pendampingan terhadap Asosiasi SPAMS Perdesaan kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah, Ketua TKK dan Ketua DPMU setiap tiga bulan; 2. Kepala BPMD melaporkan kemajuan pelaksanaan pendampingan BP-SPAMS dan Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah, Ketua TKK dan Ketua DPMU setiap tiga bulan; 3. Kasi PMD melaporkan kinerja Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL kepada Camat dengan ditembuskan kepada Sekretaris Daerah,Ketua TKK dan Ketua DPMU. Format pelaporan adalah mengikuti format pelaporan pemerintah daerah 5.2 PELAPORAN OLEH PELAKU Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan 1) Pelaporan Kegiatan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan memberikan laporan kemajuan pelaksanaan kegiatan dan pembiayaan kepada SKPD Mitra Utama setiap tiga bulan, dengan tembusan kepada Ketua TKK. Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan memberikan laporan pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan kepada anggotanya setiap enam bulan. 2) Pelaporan/Pertanggungjawaban Keuangan Pertanggungjawaban pengelolaan keuangan dilakukan dalam rapat bersama seluruh anggota. Pengurus Asosiasi wajib memberikan laporan pengelolaan keuangan setiap tiga bulan kepada anggota, SKPD Mitra Pembinaan, dan Pembina. 43
49 1. Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan menyelenggarakan pembukuan sederhana dalam bentuk Buku Kas dan Buku Bank yang ditutup secara berkala pada setiap akhir bulan. Contoh format pembukuan dapat dilihat pada Lampiran 14 dan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan membuka rekening Bank pada Bank terdekat dengan dua (2) eriodic tanda tangan, Ketua, dan Bendahara Asosiasi. 3. Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan menyusun anggaran yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran dalam setiap tahun. Anggaran tersebut juga memuat sumber dana yang akan digunakan untuk membiayai operasional asosiasi. 4. Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan mempertanggungjawabkan keuangan kepada para anggota dan kepada pihak yang memberikan bantuan/dukungan dana pada setiap periode tertentu, bulanan, triwulan, dan atau tahunan. 5. Bentuk pertanggungjawaban berupa laporan keuangan eriodic berisi jumlah penerimaan dan pengeluaran serta jumlah sisa dana yang tersedia pada periode tersebut, baik di Kas maupun di Bank. 6. Laporan keuangan yang merupakan bentuk pertanggungjawaban keuangan asosiasi harus disertai dengan bukti pendukung yang valid dan layak, seperti kwitansi, faktur, dan nota. 7. Laporan keuangan Asosiasi harus ditandatangani oleh pengurus Asosiasi (Ketua dan Bendahara) serta diketahui oleh Pembina. Contoh format laporan keuangan dapat dilihat pada Lampiran Laporan Keuangan Asosiasi harus disampaikan kepada para anggota dan pihak yang berkepentingan paling lambat tanggal 10 setiap tiga bulan. Pamsimas akan melakukan pemantauan pelaporan keuangan secara rutin melalui Fasilitator Keberlanjutan. Mekanisme pelaporan keuangan untuk penggunaan dana Pamsimas diatur dalam SOP Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL Kader Pemberdayaan Masyarakat Bidang AMPL melaporkan hasil pemantauan kinerja BP-SPAMS yang dilakukan oleh LKM kepada Kepala Desa/Lurah dengan tembusan kepada Kasi PMD Kecamatan dan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan setiap 3 (tiga) bulan BP-SPAMS BP-SPAMS memberikan laporan bulanan dan tahunan kepada Pemerintah Desa/Kelurahan dan ditembuskan kepada LKM. 44
50 5.3 PELAPORAN OLEH FASILITATOR KEBERLANJUTAN Pelaporan oleh Fasilitator Keberlanjutan diatur dalam Kerangka Acuan Kerja. Fasilitator Keberlanjutan wajib mengirimkan salinan laporan kemajuan kepada SKPD Mitra Utama dan DPMU. Format pelaporan mengikuti ketentuan pelaksanaan Pamsimas seperti pengisian di MIS, termasuk di Modul Keberlanjutan 45
51 KUMPULAN FORMAT JUKNIS KEBERLANJUTAN
52 Lampiran 1 FORMAT RENCANA KERJA ASOSIASI PENGELOLA SPAMS PERDESAAN No Program Kerja Target Program Kegiatan Target Output Jadwal Biaya (Rp) Sumber Biaya Pelaksana 1 Program pembinaan kapasitas BP- SPAMS 2 Program peningkatan layanan distribusi/jaringan air minum Total Petunjuk Pengisian: 1. Kolom No: diisi dengan nomor urutan pengisian 2. Kolom Program: diisi dengan judul program. Kelompok program kerja (untuk pelaksanaan tugas asosiasi) dirinci atas program kerja tahun rencana. Minimal memuat: program peningkatan kapasitas Asosiasi/BP-SPAMS dan program peningkatan layanan distribusi/jaringan air minum. 3. Kolom target program: diisi dengan target hasil (manfaat) masing-masing program 4. Kolom kegiatan: diisi dengan nama kegiatan pada masing-masing program. Satu program dapat dirinci atas lebih dari satu kegiatan. 5. Kolom target output: diisi dengan target jumlah hasil yang langsung diperoleh jika kegiatan selesai dilaksanakan. 6. Kolom Jadwal: diisi dengan bulan pelaksanaan, misalnya Feb. atau Juli atau Maret-Juni, dan seterusnya 7. Kolom Biaya: diisi dengan jumlah dana yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan 8. Kolom Sumber Biaya: diisi dengan sumber dana untuk pelaksanaan kegiatan, contoh: iuran anggota, LSM Bijak Air, Bank, Dinas PU, Bappeda, dan lain-lain 9. Kolom Pelaksana: diisi dengan unit asosiasi/mitra asosiasi yang menjadi penanggung jawab pelaksanaan kegiatan LAMPIRAN 46
53 Lampiran 2 PEMANTAUAN BERKALA KINERJA BADAN PENGELOLA SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DAN SANITASI (BP-SPAMS) PROGRAM PAMSIMAS BP-SPAMS : DESA : KECAMATAN : CAKUPAN LAYANAN :...DUSUN (DARI...DUSUN) KABUPATEN : :...JIWA (DARI...JIWA) PROVINSI : OPSI SAM : TAHUN BERDIRI : No. INDIKATOR / SUB INDIKATOR KONDISI REAL BP-SPAMS RENDAH (1) SEDANG (2) TINGGI (3) Ket A DOKUMEN PERENCANAAN 1. Rencana Kerja (Investasi) BP-SPAMS Tidak Ada Ada B PENGELOLAAN ADMINISTRASI DAN KEUANGAN 1. Pembukuan Tidak Ada Pembukuan 2. Daftar Inventaris / Aset Yang Dikelola Tidak Ada Ada, Buku Kas, Iuran Dan Harian Lengkap, Buku Harian, Iuran, Kas, dan Laporan Keu. 3. Iuran Tidak Ada Ada 4. Perbandingan Iuran (I) & Biaya Opersional Dan Pemeliharaan (OP) I < OP I >= OP Ada I >= OP, dan pengembangan (cost recovery) C KINERJA LAYANAN AIR MINUM DAN SANITASI 1. Kondisi Sarana Air Minum yang berfungsi 2. Jumlah Penduduk yang sudah akses pada air minum yang layak saat ini 3. Jumlah Penduduk dengan akses pada air minum berdasarkan kapasitas system air minum yang terbangun. 4. Jumlah Penduduk yang belum Akses air minum yang layak saat ini < 40% (tidak berfungsi) 40-80% (sebagian) >80%-100% (berfungsi baik) < 40% 40-80% >80%-100% < 40% 40-80% >80%-100% >60% 20-60% <20% LAMPIRAN 47
54 No. INDIKATOR / SUB INDIKATOR KONDISI REAL BP-SPAMS RENDAH (1) SEDANG (2) TINGGI (3) Ket. D 5. Jumlah penduduk dengan akses jamban sehat 6. Jumlah Dusun telah mencapai SBS 100% 7. Jumlah dusun yang menerapkan CTPS KEMITRAAN < 40% 40-60% > 60% < 40% 40-60% > 60% < 40% 40-60% > 60% 1. Rencana Kemitraan Belum Ada Ada 2. Persentase realisasi kegiatan kemitraan terhadap rencana kemitraan/kerja sama < 25 % 25-50% > 50% Analisa Hasil Pengukuran (Skala Kinerja) Total Nilai < 23 Kinerja RENDAH Total Nilai Kinerja SEDANG Total Nilai > 32 Kinerja TINGGI KESIMPULAN REKOMENDASI Aspek Teknis Aspek Kesehatan dan Sanitasi Aspek Kelembagaan Disetujui oleh: BP-SPAMS... Tempat, Tanggal... Diisi oleh: KAUR PEMBANGUNAN... Nama... Nama... LAMPIRAN 48
55 Lampiran 3 LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan Bulan : Kabupaten : Provinsi : LAMPIRAN 49
56 Lampiran 4 BERITA ACARA HASIL RAPAT ANGGOTA ASOSIASI PENGELOLA SPAMS PERDESAAN.. KAB/KOTA Hari ini.tanggal..telah dilaksanakan Rapat Anggota Asosiasi nama asosiasi. Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaaan Kabupaten/Kota. Rapat dihadiri oleh orang anggota dari.(jumlah seluruh anggota). Rapat Anggota ini dinyatakan SAH karena telah memenuhi kuorum. (notulen Rapat terlampir) Hal-hal penting yang menjadi keputusan Rapat Anggota Asosiasi ini adalah: Hasil keputusan Rapat Anggota ini tidak melanggar AD/ART. Demikian Berita Acara ini dibuat untuk menjadi perhatian bagi seluruh anggota dan dilaksanakan oleh pengurus. Mengetahui: 1. Ketua 2. Sekretaris 3. Koordinator bidang Catatan: dilengkapi dengan Notulensi dan Daftar Hadir LAMPIRAN 50
57 Lampiran 5 RANCANGAN BERITA ACARA HASIL KESEPAKATAN MUSRENBANG RKPD KABUPATEN/KOTA..*) DI KECAMATAN.. TAHUN.. LAMPIRAN 51
58 LAMPIRAN 52
59 Sumber: Lampiran V Peraturan Menteri Dalam Negeri No 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah LAMPIRAN 53
60 Lampiran 6 PENDATAAN STATUS CAKUPAN AMPL KECAMATAN.KAB/KOTA TAHUN 20. PERIODE: (triwulan) No Desa/Dusun 1. Desa A: Dusun 1 Dusun 2 Dusun 3 Jumlah Penduduk Penduduk Yang Mendapat Akses SAM SBS CTPS Penerapan PHBS Pengolahan Limbah Rt PAM RT Pengolahan Sampah RT (Jiwa) (%) (%) (%) (%) (%) (%) Ket 2. Desa B Dusun 1 Dusun 2 Dusun 3 3. dan seterusnya Mengetahui: Camat. Ibukota Kecamatan tanggal. Disusun oleh: Kasi PMD Kecamatan.. Nama. Nama. LAMPIRAN 54
61 Lampiran 7 LAPORAN BULANAN KEGIATAN FASILITATOR KEBERLANJUTAN PROGRAM PENGEMBANGAN AIR MINUM DAN SANITASI BERBASIS MASYARAKAT Nama :.. Desa : Lokasi/wilayah tanggung jawab Posisi ; [CD/WSS/HH] Periode : Bulan No Uraian Kegiatan Lokasi Tujuan Partisipan L P Hasil yang Dicapai Kendala Rekomendasi Keterangan [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] dst Lokasi A., Di Susun oleh : Mengetahui Di setujui Fasilitator DMAC/CD/WSS/HH Ketua DPMU Keterangan : [1] : cukup Jelas [2] : diisi uraian kegiatan yang dilaksanakan selama pendampingan [3] : diisi tempat/lokasi melaksanakan kegiatan [4] : diisi penjelasan tujuan kegiatan yang dilaksanakan [5] : diisi jumlah partisipan/peserta yang terlibat dalam kegiatan berdasarkan jenis kelamin [6] : diisi penjelasan hasil yang dicapai dari kegiatan yang dilaksanakan [7] : diisi mengenai kendala yang ditemui dalam pelaksanaan kegiatan [8] : diisi rekomendasi terkait kendala yang ditemui selama pelaksanaan [9] : hal-hal yang perlu untuk diperhatikan LAMPIRAN 55
62 Lampiran 8 (Contoh) KEPUTUSAN KEPALA DESA / LURAH NOMOR : TAHUN TENTANG KADER PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BIDANG AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN D E S A / LURAH.. KECAMATAN. KABUPATEN... KEPALA DESA / LURAH Menimbang : a. Bahwa dalam mendorong keberlanjutan dan hasil pembangunan Program Pamsimas serta kegiatan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) di desa/kelurahan dan mengidentifikasi serta menginventaris kegiatan-kegiatan prioritas AMPL Desa/kelurahan, perlu menunjuk seorang Kader Desa Bidang AMPL atau Kader AMPL Desa.. Kecamatan.. Kabupaten... b. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu menunjuk Kader Desa Bidang AMPL atau Kader AMPL Desa dengan Keputusan Kepala Desa/Lurah. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Desa 2. Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 tentang Desa. 3. Peraturan Daerah Kabupaten..tentang Peraturan Desa 4. Peraturan Daerah Kabupaten..tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa 5. Peraturan Bupati tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Alokasi Dana Desa Tahun 6. Keputusan Bupati/Walikota.tentang Penetapan Usulan Desa Sasaran Program Pamsimas Tahun.. LAMPIRAN 56
63 7. SK Menteri Pekerjaan Umum tentang Penetapan Desa Sasaran Penerima Program Pamsimas Tahun Memperhatikan : Surat perihal. Menetapkan : PERTAMA MEMUTUSKAN : Menunjuk Saudara. Sebagai Kader Pemberdayaan Masyarakat bidang AMPL Desa/Kelurahan. KEDUA : Kader AMPL Desa sebagaimana diktum pertama mempunyai tugas : KETIGA : Honorarium Biaya Operasional Kader AMPL Desa sebagaimana dimaksud pada diktum PERTAMA dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Tahun (atau Anggaran BP-SPAMS). KEEMPAT : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan ; KELIMA : Apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapannya akan diadakan perubahan sebagaimana mestinya. Ditetapkan di.. Pada tanggal. KEPALA DESA / LURAH.nama Kades.. TEMBUSAN Disampaikan Kepada Yth. : 1. Bapak. Bupati. 2. Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten.. 3. Bapak Camat.. 4. Sdr. Kepala Bagian Pemerintahan Desa / Kelurahan 5. Sdr. Ketua BPD Desa. 6. Sdr. Ketua LPKMD Desa. 7. Arsip LAMPIRAN 57
64 Lampiran 9 Contoh Format: NOTA KESEPAHAMAN ANTARA ASOSIASI PENGELOLA SPAMS PERDESAAN KAB/KOTA. DENGAN.MITRA POTENSIAL. (Draf-Rahasia) Nota Kesepahaman ini telah disetujui oleh. Sebagai Pihak Pertama (Pihak A) dan sebagai Pihak kedua (Pihak B). Nota kesepahaman ini bertujuan agar kedua Pihak bekerjasama untuk.. Berikut di bawah ini adalah tugas-tugas khusus dan kewajiban-kewajiban dari masing-masing Pihak dalam kerangka kerja Nota Kesepahaman ini. MENGKONFIRMASIKAN hubungan mutualistis antara. MENGETAHUI pentingnya.. BERKEINGINAN untuk dan SESUAI dengan hukum yang berlaku dan peraturan terkait. TELAH DISEPAKATI SEBAGAI BERIKUT: PASAL 1 DEFINISI PASAL 2 TUJUAN PASAL 3 MEKANISME PENEMPATAN Hak dan Kewajiban Pihak A PASAL 4 HAK DAN KEWAJIBAN 1.1. Hak dan Kewajiban Pihak B 1.1. PASAL 5 KETENTUAN UMUM PASAL 6 KLAUSA PERALIHAN LAMPIRAN 58
65 PASAL 7 PENYELESAIAN SENGKETA Setiap sengketa diantara para pihak yang muncul atas interpretasi atau implementasi dari perjanjian ini harus diselesaikan dengan konsultasi atau negosiasi. PASAL 8 AMANDEMEN Perjanjian ini dapat diperbaharui atau diamandemen kapanpun dengan keputusan bersama para Pihak. Seperti pembaharuan atau amandemen dapat di masukan sesuai dengan waktu yang diberlakukan oleh para Pihak dan diharuskan menentukan bagian integral yang akan di revisi atau diamandeman dari perjanjian ini PASAL 9 MASA BERLAKU, JANGKA WAKTU DAN MASA BERAKHIR 1. Masa berakhirnya Nota Kesepahaman ini tidak akan berakibat kepada keabsahan dan jangka waktu dari perjanjian manapun sebagaimana perjanjian kerja telah di tandatangani oleh para Pihak. SEBAGAI SAKSI, yang bertandatangan dibawah ini, yang telah diberi kuasa oleh telah menandatangani Nota Kesepahaman ini. DIBUAT dalam dua rangkap di.. Pada... hari dalam bahasa. Pihak Pertama (A) Ketua Asosiasi Pihak Kedua (B) Atas Nama Badan Usaha NAMA NAMA LAMPIRAN 59
66 Lampiran 10 RANCANGAN RENCANA KERJA BP-SPAMS TAHUN. No. Kegiatan/Rincian Kegiatan Tujuan Sasaran Hasil Yang diharapkan Jadwal Pelaksanaan Biaya Sumber J F M A M J J A S O N D (Rp) Biaya Unit Pelaksana 1. Pengelolaan SAMS a.. b. 2. Pengembangan SAMS 3. Pengembangan PHBS 4. Pengembangan Kemitraan 5. dan lain-lain LAMPIRAN PAMSIMAS 60
67 Lampiran 11 Contoh Laporan TKK LAPORAN KEMAJUAN PENCAPAIAN TARGET SPAMS PERDESAAN KABUPATEN/KOTA Tahun.. A. Air Minum Tambahan Akses Air Minum Layak (Jiwa) Tahun.. SKPD N o Kegiat an Target Output Jadwal Pelaksanaan Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Desa Lokasi Pelaksana Total B. Sanitasi Tambahan Akses Sanitasi Layak (Jiwa) Tahun.. SKPD N o Kegiat an Target Output Jadwal Pelaksanaan Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Desa Lokasi Pelaksana Total, tanggal.. Mengetahui, tanggal.. Menyetujui, tanggal.. Tim Teknis Kab/Kota Kepala Bappeda Kab/Kota Bupati/Walikota LAMPIRAN PAMSIMAS 61
68 Lampiran 12 LAPORAN PEMBINAAN OLEH SKPD MITRA ASOSIASI KABUPATEN/KOTA. TAHUN ANGGARAN 20. No. Status Kinerja BP- SPAMS Jumlah BP-SPAMS Kegiatan Pembinaan Waktu Pelaksanaan SKPD Pelaksana Jumlah (Rp) Pendanaan Sumber Keterangan 1. Rendah. Teknik.. Kelembagaan Kesehatan Lingkungan 2. Sedang. Teknik.. Kelembagaan Kesehatan Lingkungan 3. Tinggi. Teknik.. Kelembagaan Kesehatan Lingkungan Tempat, Tanggal.. Menyetujui: SEKRETARIS DAERAH BIDANG EKBANG Disusun Oleh: BPMD/BAPERMAS 2. BAPPEDA 3. DINAS KESEHATAN 4. DINAS PU LAMPIRAN PAMSIMAS 62
69 Lampiran 13. FORMAT LAPORAN PELAKSANAAN RENCANA KERJA ASOSIASI PENGELOLA SPAMS PERDESAAN DAN KEMITRAAN No Program Kerja Kinerja Program Target Realisasi Kegiatan Kinerja Kegiatan Target Realisasi Target Jadwal Realisasi Biaya (Rp) Target Realisasi Sumber Biaya Pelaksana 1 Program pembinaan kapasitas SPAMS BP- 2 Program peningkatan layanan distribusi/jaringan air minum Kesimpulan: 1) Rata-rata tingkat capaian kinerja kegiatan = (diisi dengan rata-rata rasio antara realisasi dan target kegiatan) 2) Tingkat penyerapan anggaran = (diisi dengan rata-rata rasio antara realisasi dan target biaya) 3) Tingkat status (kinerja) BP-SPAMS = (diisi dengan...% mandiri,...% berkembang,...% tumbuh s.d laporan ini disusun) 4) Tingkat cakupan akses air minum pengelola SPAM yang menjadi anggota asosiasi= (diisi dengan jumlah dan % cakupan akses air minum sampai dengan laporan ini disusun) 5) Tingkat cakupan akses sanitasi BP-SPAMS yang menjadi anggota asosiasi = (diisi dengan jumlah dan % cakupan akses sanitasi sampai dengan laporan ini disusun) LAMPIRAN PAMSIMAS 63
70 Lampiran 14 ASOSIASI PENGELOLA SPAMS PERDESAAN Kabupaten/Kota : Buku Bank Bulan :.. LAMPIRAN PAMSIMAS 64
71 Lampiran 15 ASOSIASI PENGELOLA SPAMS PERDESAAN Kabupaten/Kota : Buku Kas Bulan :.. LAMPIRAN PAMSIMAS 65
72 Lampiran 16 LAPORAN KEUANGAN Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan Bulan : Kabupaten : Provinsi : Catatan: dilengkapi dengan TOR, Jadwal dan Daftar Hadir LAMPIRAN PAMSIMAS 66
PAMSIMAS 2013 KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR Salah satu program andalan Pemerintah untuk meningkatkan akses aman air minum dan sanitasi perdesaan dengan pendekatan berbasis masyarakat adalah Program Pamsimas. Pelaksanaan Program Pamsimas
GAMBARAN UMUM PROGRAM PAMSIMAS III I. LATAR BELAKANG
GAMBARAN UMUM PROGRAM PAMSIMAS III I. LATAR BELAKANG Pemerintah Indonesia memiliki komitmen untuk melanjutkan keberhasilan capaian target Millennium Development Goals sektor Air Minum dan Sanitasi (WSS-MDG),
KATA SAMBUTAN. Jakarta, Mei 2012. Direktur Jenderal Cipta Karya, Budi Yuwono P. NIP.110020173
KATA SAMBUTAN Banyak masyarakat miskin di pedesaan yang belum mendapatkan air bersih yang layak. Selain itu adalah masyarakat di wilayah peri-urban yang mana masyarakatnya berpenghasilan rendah, pemukiman
Lampiran: Surat CPMU Nomor : UM ca/Pamsimas/60 Tanggal : 10 April Revisi BAB 3. PROSES PEMILIHAN DESA HID 3.
Lampiran: Surat CPMU Nomor : UM.01.13.ca/Pamsimas/60 Tanggal : 10 April 2013 Revisi BAB 3. PROSES PEMILIHAN DESA HID 3.1 KETENTUAN UMUM Proses pemilihan desa secara resmi dimulai setelah CPMU mengeluarkan
PETUNJUK TEKNIS PEMILIHAN DESA SASARAN PROGRAM PAMSIMAS
PETUNJUK TEKNIS PEMILIHAN DESA SASARAN PROGRAM PAMSIMAS KATA PENGANTAR Salah satu upaya Pemerintah untuk meningkatkan akses aman air minum dan sanitasi adalah melalui Program Pamsimas. Program ini merupakan
KATA PENGANTAR. Jakarta, April 2016 DIREKTUR JENDERAL CIPTA KARYA. Dr. Ir. Andreas Suhono, M.Sc. NIP
KATA PENGANTAR Sesuai dengan amanat RPJPN 2005 2025 dan RPJM 2015-2019, Pemerintah melalui program pembangunan nasional Akses Universal Air Minum dan Sanitasi Tahun 2019, menetapkan bahwa pada tahun 2019,
KATA PENGANTAR. Dengan demikian diharapkan seluruh kegiatan Paket HKP dapat berjalan dengan baik dalam pengelolaan SPAMS Desa yang berkelanjutan.
KATA PENGANTAR Salah satu program andalan Pemerintah untuk meningkatkan akses aman air minum dan sanitasi perdesaan dengan pendekatan berbasis masyarakat adalah Program Pamsimas. Pelaksanaan Program Pamsimas
KATA PENGANTAR. Jakarta, Mei 2015 Direktur Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum. Ir. Mochammad Natsir, M.Sc. NIP
KATA PENGANTAR Salah satu upaya Pemerintah untuk meningkatkan akses aman air minum dan sanitasi adalah melalui program Pamsimas. Program ini merupakan program andalan Pemerintah di dalam penyediaan air
KATA PENGANTAR. Jakarta, April 2016 DIREKTUR JENDERAL CIPTA KARYA. Dr. Ir. Andreas Suhono, M.Sc. NIP
KATA PENGANTAR Sesuai dengan amanat RPJPN 2005 2025 dan RPJM 2015-2019, Pemerintah melalui program pembangunan nasional Akses Universal Air Minum dan Sanitasi Tahun 2019, menetapkan bahwa pada tahun 2019,
BUPATI TEMANGGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
BUPATI TEMANGGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TEMANGGUNG, Menimbang : a. bahwa berdasarkan
ROMS - 6 SULAWESI TENGAH. GORONTALO, SULAWESI UTARA, MALUKU, MALUKU UTARA
ROMS - 6 SULAWESI TENGAH. GORONTALO, SULAWESI UTARA, MALUKU, MALUKU UTARA Progres T-1 Sulawesi Tengah = 10 Kabupaten (T-1 52 Desa dari 72 Desa) Gorontalo = 4 Kabupaten (T-1 20 Desa dari 36 Desa) Sulawesi
PAMSIMAS 2013 KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR Salah satu program andalan Pemerintah untuk meningkatkan akses aman air minum dan sanitasi perdesaan dengan pendekatan berbasis masyarakat adalah Program Pamsimas. Pelaksanaan Program Pamsimas
PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PAMSIMAS II TINGKAT MASYARAKAT
PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PAMSIMAS II TINGKAT MASYARAKAT KATA PENGANTAR ( Air sebagai kebutuhan utama kehidupan, seharusnya dapat terpenuhi secara kuantitas, kualitas, terjangkau, dan kontinu. Namun
PAMSIMAS II 2013 KATA PENGANTAR (
KATA PENGANTAR ( Air sebagai kebutuhan utama kehidupan, seharusnya dapat terpenuhi secara kuantitas, kualitas, terjangkau, dan kontinu. Namun masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mendapatkan air
BUPATI SERDANG BEDAGAI PROVINSI SUMATERA UTARA
BUPATI SERDANG BEDAGAI PROVINSI SUMATERA UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA DAN PEDOMAN PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN
KATA SAMBUTAN. Jakarta, Pebruari Direktur Jenderal Cipta Karya, Budi Yuwono P. NIP
KATA SAMBUTAN Banyak masyarakat miskin di pedesaan yang belum mendapatkan air bersih yang layak. Selain itu adalah masyarakat di wilayah pinggiran kota (peri-urban) yang mana masyarakatnya berpenghasilan
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BELITUNG TIMUR, Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan
BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG MEKANISME TAHUNAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN KABUPATEN MALANG BUPATI MALANG,
1 BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG MEKANISME TAHUNAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN KABUPATEN MALANG BUPATI MALANG, Menimbang : a. bahwa untuk lebih menjamin ketepatan dan
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA SELATAN,
PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN DENGAN RAHMAT TUHAN
KATA PENGANTAR. Dengan demikian diharapkan seluruh kegiatan Paket HKP dapat berjalan dengan baik dalam pengelolaan SPAMS Desa yang berkelanjutan.
KATA PENGANTAR Salah satu program andalan Pemerintah untuk meningkatkan akses aman air minum dan sanitasi perdesaan dengan pendekatan berbasis masyarakat adalah Program Pamsimas. Pelaksanaan Program Pamsimas
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan Pembangunan Daerah adalah suatu proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan didalamnya, guna pemanfaatan
WALIKOTA CIREBON PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KOTA CIREBON NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA CIREBON
WALIKOTA CIREBON PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KOTA CIREBON NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA CIREBON DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA CIREBON, Menimbang
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJAR NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANJAR,
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJAR NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANJAR, Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 27 ayat
BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
SALINAN BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWOREJO, Menimbang: a. bahwa dalam
K AT A P E N G AN T AR
KATA PENGANTAR Air sebagai kebutuhan utama kehidupan, seharusnya dapat terpenuhi secara kuantitas, kualitas, terjangkau, dan kontinyu. Namun masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mendapatkan air
PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu PERATURAN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA Menteri Negara Perumahan Rakyat. Perumahan. Pemukiman. Pedoman.
No.369, 2009 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA Menteri Negara Perumahan Rakyat. Perumahan. Pemukiman. Pedoman. PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT Nomor 05/PERMEN/M/2009 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN
PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 106 Tahun 2008 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMBENTUKAN DAN PENYELENGGARAAN FORUM DELEGASI MUSRENBANG KABUPATEN SUMEDANG
PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 106 Tahun 2008 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMBENTUKAN DAN PENYELENGGARAAN FORUM DELEGASI MUSRENBANG KABUPATEN SUMEDANG BUPATI SUMEDANG Menimbang : a. bahwa pembangunan Daerah
BUPATI SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
BUPATI SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKOHARJO, Menimbang : bahwa
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI BANDUNG, Menimbang : a. bahwa berdasarkan
MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 05/PERMEN/M/2009
MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 05/PERMEN/M/2009 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI PERUMAHAN
BUPATI MALUKU TENGGARA
SALINAN N BUPATI MALUKU TENGGARA PERATURAN BUPATI MALUKU TENGGARA NOMOR 3.a TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN UMUM PERENCANAAN DAERAH KABUPATEN MALUKU TENGGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MALUKU
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2017 NOMOR 3
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2017 NOMOR 3 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI
BUPATI BANYUMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,
BUPATI BANYUMAS PERATURAN BUPATI BANYUMAS NOMOR 26 TAHUN 2010 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI BANYUMAS,
GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 21 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA, MEKANISME DAN TAHAPAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 21 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA, MEKANISME DAN TAHAPAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : a. b. bahwa
BUPATI TRENGGALEK PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
-1- BUPATI TRENGGALEK PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TRENGGALEK,
PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI CIAMIS,
PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI CIAMIS, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemerintahan yang
Standar Operasional Prosedur (SOP) Percepatan. Program Inovasi Desa (PID)
Standar Operasional Prosedur (SOP) Percepatan Program Inovasi Desa (PID) 2017 1 Selayang Pandang SOP Percepatan PID Standar Operasional Prosedur (SOP) Percepatan Program Inovasi Desa (PID) sebagai langkah
BUPATI LOMBOK BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
BUPATI LOMBOK BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT NOMOR 9 TAHUN 2015 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
BAB III TUJUAN, SASARAN, PROGRAM DAN KEGIATAN
BAB III TUJUAN, SASARAN, PROGRAM DAN KEGIATAN 3.1 Telaahan terhadap Kebijakan Nasional Rencana program dan kegiatan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pemalang mendasarkan pada pencapaian Prioritas
KATA PENGANTAR. Jakarta, Mei 2015 Direktur Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum. Ir. Mochammad Natsir, Msc. NIP.
KATA PENGANTAR Salah satu program andalan Pemerintah untuk meningkatkan akses aman air minum dan sanitasi perdesaan dengan pendekatan berbasis masyarakat adalah Program Pamsimas. Pelaksanaan Program Pamsimas
TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 4 TAHUN 2014 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG Bagian Hukum Setda Kabupaten Bandung
LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 02 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH
LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 02 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DEPOK,
LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2008 NOMOR : 07 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 07 TAHUN 2008 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2008 NOMOR : 07 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 07 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN SERTA
PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG TATA LAKSANA PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
1 PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG TATA LAKSANA PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MADIUN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan
Pedoman Umum Penyusunan Rencana Pengembangan Desa Pesisir
Pedoman Umum Penyusunan Rencana Pengembangan Desa Pesisir i Kata Pengantar Kegiatan pembangunan di wilayah pesisir dan Pulau-Pulau Kecil mempunyai potensi dampak kerusakan habitat, perubahan pada proses
PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA SELATAN
PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA SELATAN NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA SELATAN, Menimbang
AGGARAN DASAR ASOSIASI PENGELOLA SPAMS PERDESAAN TIRTA MAJU KABUPATEN SUBANG
AGGARAN DASAR ASOSIASI PENGELOLA SPAMS PERDESAAN TIRTA MAJU KABUPATEN SUBANG ======================================== BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Asosiasi Pengelola Sarana Penyediaan Air Minum dan Sanitasi
PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG
BUPATI SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SEMARANG,
WALIKOTA MATARAM PERATURAN WALIKOTA MATARAM NOMOR 14 TAHUN 2014 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KOTA MATARAM TAHUN 2015
WALIKOTA MATARAM PERATURAN WALIKOTA MATARAM NOMOR 14 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KOTA MATARAM TAHUN 2015 TIM PENYUSUN RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KOTA MATARAM TAHUN 2014
LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 58 TAHUN : 2006 SERI : D PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 2 TAHUN 2006 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 58 TAHUN : 2006 SERI : D PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 2 TAHUN 2006 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA CIMAHI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR. No. 1, 2013 Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 0085
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR No. 1, 2013 Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 0085 PERATURAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG SISTEM
Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS dan Menteri Dalam Negeri SURAT EDARAN BERSAMA
Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS dan Menteri Dalam Negeri Jakarta, 20 Januari 2005 Nomor : 0259/M.PPN/I/2005. 050/166/SJ. Sifat : Sangat Segera. Lampiran : 1 (satu) berkas.
GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 47 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN UMUM FORUM FOR ECONOMIC DEVELOPMENT AND EMPLOYMENT PROMOTION
GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 47 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN UMUM FORUM FOR ECONOMIC DEVELOPMENT AND EMPLOYMENT PROMOTION DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH,
Pengelolaan. Pembangunan Desa Edisi Desember Buku Bantu PENGANGGARAN PELAKSANAAN PERENCANAAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Buku Bantu Pengelolaan Pembangunan Desa Edisi Desember 2016 PENGANGGARAN PELAKSANAAN PERENCANAAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PELAPORAN Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014
KATA PENGANTAR. Jakarta, April 2016 DIREKTUR JENDERAL CIPTA KARYA. Dr. Ir. Andreas Suhono, M.Sc. NIP
KATA PENGANTAR Sesuai dengan amanat RPJPN 2005 2025 dan RPJM 2015-2019, Pemerintah melalui program pembangunan nasional Akses Universal Air Minum dan Sanitasi Tahun 2019, menetapkan bahwa pada tahun 2019,
PROVINSI JAMBI PERATURAN WALIKOTA JAMBI
SALINAN PROVINSI JAMBI PERATURAN WALIKOTA JAMBI NOMOR 14 TAHUN 2016 TENTANG PENGGUNAAN DAN PENGELOLAAN SISTEM INFORMASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA
URUSAN WAJIB & PILIHAN (Psl 11)
UU NO. 23 TAHUN 2014 DESENTRALISASI OTONOMI DAERAH URUSAN WAJIB & PILIHAN (Psl 11) PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN URUSAN WAJIB terkait PD (psl 12 ayat1 ) a) Pendidikan b) Kesehatan c) Pekerjaan Umum & Penataan
LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 58 TAHUN : 2006 SERI : D PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 2 TAHUN 2006 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 58 TAHUN : 2006 SERI : D PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 2 TAHUN 2006 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA CIMAHI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KOTA MATARAM TAHUN 2016
PEMERINTAH KOTA MATARAM 2016 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KOTA MATARAM TAHUN 2016 idoel Tim Penyusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah private (RKPD) 1/1/2016 Kota Mataram WALIKOTA MATARAM PROVINSI
BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO
BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO NOMOR : 87 TAHUN : 2012 PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 87 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGGARAAN MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN
LEMBARAN DAERAH KOTA BOGOR
LEMBARAN DAERAH KOTA BOGOR TAHUN 2008 NOMOR 1 SERI E PERATURAN DAERAH KOTA BOGOR NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BOGOR,
LEMBARAN DAERAH KOTA SUKABUMI
LEMBARAN DAERAH KOTA SUKABUMI TAHUN 2010 NOMOR 6 PERATURAN DAERAH KOTA SUKABUMI Tanggal : 26 Nopember 2010 Nomor : 6 Tahun 2010 Tentang : TAHAPAN, TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,
SALINAN PERATURAN MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2018 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA KERJA PEMERINTAH DENGAN
LATAR BELAKANG PROGRAM PAMSIMAS III
LATAR BELAKANG PROGRAM PAMSIMAS III Program PAMSIMAS III [2016 2019] merupakan kelanjutan program PAMSIMAS I [2008 2012] dan PAMSIMAS II [2013 2016] Dalam RPJMN 2015-2019, Pemerintah Indonesia telah mengambil
BUPATI KEBUMEN SURAT EDARAN NOMOR... TENTANG PETUNJUK TEKNIS MUSRENBANG DESA/KELURAHAN TAHUN 2017
BUPATI KEBUMEN Kebumen, Juli 2017 Kepada : Yth. 1. Camat 2. Kepala Desa/Lurah se-kabupaten Kebumen di T e m p a t SURAT EDARAN NOMOR... TENTANG PETUNJUK TEKNIS MUSRENBANG DESA/KELURAHAN TAHUN 2017 Sebagaimana
PEMERINTAH KABUPATEN MUKOMUKO
SALINAN PEMERINTAH KABUPATEN MUKOMUKO PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUKOMUKO NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN MUKOMUKO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MUKOMUKO,
LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR BALI TANGGAL 25 MEI 2015 NOMOR 26 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) PROVINSI BALI TAHUN 2016
LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR BALI TANGGAL 25 MEI 2015 NOMOR 26 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) PROVINSI BALI TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan merupakan
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN
PAMSIMAS 2013 KATA SAMBUTAN
KATA SAMBUTAN Banyak masyarakat miskin di pedesaan yang belum mendapatkan air bersih yang layak. Selain itu adalah masyarakat di wilayah peri-urban yang mana masyarakatnya berpenghasilan rendah, pemukiman
PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN
PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DAN PELAKSANAAN MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG)
MUSRENBANG RKPD DI KECAMATAN
MUSRENBANG RKPD DI KECAMATAN 3.1 Pengertian Musrenbang RKPD di Kecamatan Musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan dilaksanakan untuk penajaman, penyelarasan, klarifikasi dan kesepakatan usulan rencana
JADWAL TAHUNAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN KABUPATEN MALANG
LAMPIRAN II PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR : 20 TAHUN 2011 TANGGAL : 21 Juli 2011 JADWAL TAHUNAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN KABUPATEN MALANG A. JADWAL BULANAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH 1. Bulan Januari
PERATURAN BUPATI SINJAI NOMOR 47 TAHUN 2013 TENTANG MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH
PERATURAN NOMOR 47 TAHUN 2013 TENTANG MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH PERATURAN NOMOR 47 TAHUN 2013 TENTANG MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN RENCANA KERJA PEMBANGUNAN
Pemerintah Kota Tangerang
RINGKASAN RENCANA KERJA BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH 1.1. Latar Belakang Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disebut Renja adalah dokumen perencanaan untuk periode satu tahun,
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA DIREKTORAT PENGEMBANGAN AIR MINUM Central Project Management Unit Program Nasional PAMSIMAS
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA DIREKTORAT PENGEMBANGAN AIR MINUM Central Project Management Unit Program Nasional PAMSIMAS Jl. Pattimura No. 20 Kebayoran Baru, Jakarta 12110,
BUPATI BOMBANA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOMBANA NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH
BUPATI BOMBANA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOMBANA NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BOMBANA, Menimbang : a. bahwa sesuai
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah pada pasal 260 menyebutkan bahwa Daerah sesuai dengan kewenangannya menyusun rencana pembangunan Daerah
PERATURAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA KOMITE KEBIJAKAN PERCEPATAN PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR NOMOR : PER- 01 /M.
PERATURAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA KOMITE KEBIJAKAN PERCEPATAN PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR NOMOR : PER- 01 /M.EKON/05/2006 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KOMITE KEBIJAKAN PERCEPATAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD), adalah dokumen perencanaan
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MAJALENGKA
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MAJALENGKA SALINAN NOMOR : 3 TAHUN 2012 PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAJALENGKA NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN MAJALENGKA Menimbang :
GUBERNUR GORONTALO PERATURAN GUBERNUR GORONTALO NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG
GUBERNUR GORONTALO PERATURAN GUBERNUR GORONTALO NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI GORONTALO DENGAN RAHMAT
SURAT EDARAN BUPATI KEBUMEN. Kebumen, Oktober 2010
BUPATI KEBUMEN Kebumen, Oktober 2010 Nomor : 500 /01019 Kepada : Sifat : Yth. Camat sekabupaten Kebumen; Lampiran : 1 Bendel Perihal : Petunjuk Teknis Musrenbang Desa Penyusunan RKP Desa di Tahun 2011
PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA, Menimbang : a. bahwa agar kegiatan pembangunan
BUPATI NGANJUK PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 02 TAHUN 2012 TENTANG
BUPATI NGANJUK PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 02 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH, RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH, RENCANA STRATEGIS
PEMERINTAH PROVINSI MALUKU PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR 02 TAHUN 2010 TENTANG MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH MALUKU
PEMERINTAH PROVINSI MALUKU PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR 02 TAHUN 2010 TENTANG MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH MALUKU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR MALUKU, Menimbang : a.
KEBERLANJUTAN DESA PASCA
KEBERLANJUTAN DESA PASCA 1. Status Keberfungsian Desa Pasca Provinsi Jumlah Desa Pasca Berfungsi Status Keberfungsian Berfungsi Sebagian Tidak Berfungsi Jawa Barat 427 395 26 6 Banten 229 172 52 5 Kalimantan
LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PROBOLINGGO NOMOR : 07 TAHUN 2013 BAB I PENDAHULUAN
LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PROBOLINGGO NOMOR : 07 TAHUN 2013 Rencana Pembangunan TANGGAL Jangka : 11 Menengah JUNI 2013 Daerah BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perencanaan pembangunan memainkan
LAMPIRAN V : PERATURAN BUPATI BANDUNG NOMOR : 60 TAHUN 2012 TANGGAL : 27 Desember 2012 TENTANG : PEDOMAN PELAKSANAAN MUSYAWARAH PERENCANAAN
LAMPIRAN V : PERATURAN BUPATI BANDUNG NOMOR : 60 TAHUN 2012 TANGGAL : 27 Desember 2012 TENTANG : PEDOMAN PELAKSANAAN MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD),
TAHAPAN DAN TATACARA PELAKSANAAN MUSRENBANG RKPD KABUPATEN BANYUWANGI DI KECAMATAN (MUSRENBANGCAM) TAHUN 2015
TAHAPAN DAN TATACARA PELAKSANAAN MUSRENBANG RKPD KABUPATEN BANYUWANGI DI KECAMATAN (MUSRENBANGCAM) TAHUN 2015 Musrenbang RKPD Kabupaten Banyuwangi di kecamatan (Musrenbang Kecamatan) merupakan forum musyawarah
PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG
PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN KUDUS DENGAN RAHMAT
BUPATI ROKAN HULU PROVINSI RIAU
BUPATI ROKAN HULU PROVINSI RIAU PERATURAN BUPATI ROKAN HULU NOMOR 23 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN ROKAN HULU TAHUN 2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI ROKAN HULU,
PERATURAN DAERAH KOTA KUPANG NOMOR 18 TAHUN 2007 TENTANG MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN KELURAHAN DAN KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KOTA KUPANG NOMOR 18 TAHUN 2007 TENTANG MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN KELURAHAN DAN KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA KUPANG, Menimbang : a. bahwa sehubungan dengan
BUPATI BLORA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLORA,
BUPATI BLORA PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG PIAGAM INTERNAL AUDIT (INTERNAL AUDIT CHARTER) DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BLORA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLORA, Menimbang
BUPATI JEPARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
SALINAN BUPATI JEPARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka
