KESIMPULAN HASIL PERBANDINGAN
|
|
|
- Liana Darmadi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 KESIMPULAN HASIL PERBANDINGAN Dari deskripsi dan penjabaran kebijakan desentrasiliasi pendidikan di dua negara: Amerika Serikat dan Indonesia, dan dengan menggunakan Kerangka Kerja Comparative Public Policy sebagaimana dikonsepkan oleh Heidenheimer, maka dapat disimpulkan hasil perbandingan sebagai berikut: A. Choices of Scope Pilihan Wilayah cakupan: Sebagaimana yang dimaksudkan oleh Heidenheimer, bahwa perbandingan kebijakan dengan menggunakan kerangka kerja ini menganalisis sejauhmana peran dan tanggungjawab public (pemerintah) dibandingkan dengan peran dan tanggung jawab privat (swasta) dalam menangani masalah kebijakan. Sejauhmana wilayah cakupan keterlibatan pemerintah dalam menangani permasalahan public dibandingkan dengan wilayah cakupan keterlibatan masyarakat (privat). Juga untuk menganalisis apakah suatu kebijakan itu ditetapkan untuk menyelesaikan masalahmasalah tunggal atau masalah yang kompleks (saling berkaitan). Misalnya kebijakan tentang pendidikan; apakah kebijakan itu hanya khusus untuk menyelesaikan masalah pendidikan saja atau juga dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah kemiskinan dan lain-lain yang berkaitan dengan peningkatan akses warganegara untuk memperoleh kehidupan yang lebih harmonis. 1
2 Dengan kerangka itu maka kebijakan desentralisasi pendidikan di Amerika Serikat dapat diidentifikasikan sebagai memiliki cakupan yang luas. Kebijakan pendidikan di negeri paman sam ini disamping dimaksudkan untuk memberikan otonomi yang luas kepada pemerintah daerah (Distrik) secara politis, juga untuk memberikan akses yang luas kepada masyarakat Amerika Serikat untuk lebih mudah mendapatkan pelayanan pemerintah, khususnya dalam bidang pendidikan. Scope lain yang lebih luas yang ingin dicapai oleh AS dengan kebijakan ini adalah menjadikan AS sebagai negara yang memiliki keunggulan di berbagai bidang melalui human treatment di sekolah-sekolah yang diatur sedemikian rupa. Sementara itu, ditinjau dari besaran/luasan wilayah cakupan negara memonopili pendidikan (The Scope of the State Education Monopoly), maka Amerika Serikat termasuk salah satu negara demokrasi yang tidak banyak mencampuri (mengintervensi) dan memonopoli penyelenggaraan pendidikan. Justeru di Amerika Serikat banyak sekolah dan universitas yang tidak diselenggarakan oleh negara tetapi oleh kalangan gereja dan lembaga swasta yang lain. Tentang dukungan anggaran (pendanaan) dapat disimpulkan bahwa; meskipun sekolah-sekolah swasta mengambil kontribusi kuantitatif yang lebih besar bagi akses pendidikan warganegara, namun pemerintah Amerika Serikat tidak selalu memberikan dukungan anggaran/biaya bagi sekolah-sekolah swasta. Dalam hal ini terdapat praktik yang beraneka ragam antara, antara praktik di negara bagian yang satu dengan praktik di negara bagian yang lain. Ada beberapa Negara Bagian dan Pemerintah Daerah (Distrik) yang memang memberikan dukungan anggaran kepada semua sekolah yang ada, baik sekolah negeri maupun swasta, melalui apa yang disebut sebagai public support. Sementara di beberapa Negara Bagian yang lainnya, misalnya; Colorado dan Tennessee, tidak demikian. Di 2
3 dua negara bagian ini bahkan tidak ada satupun siswa/mahasiswa dari sekolah/perguruan tinggi swasta yang menerima bantuan dana (grants) dari negara (Heidenheimer, 1990: hal.24). Kebijakan desentralisasi pendidikan di Indonesia agaknya juga memilih kerangka Choice of Scope ini secara luas. Desentralisasi pendidikan di Indonesia dimaksudkan untuk mencapai banyak tujuan; yaitu untuk tujuan pengaturan pendidikan itu sendiri, untuk peningkatan akses pelayanan seluas-luasnya kepada masyarakat, untuk reformasi birokrasi, untuk fungsi desentraslisasi dan otonomi daerah secara politik, serta untuk menyelesaikan permasalahan kependudukan dan kemiskinan penduduk. Dapat disimpulkan bahwa untuk hal yang berkaitan dengan cakupan di luar pendanaan, antara AS dan Indonesia terdapat kesamaan dalam kerangka kerja ini. Hal ini sangat dimungkinkan karena memang selama ini Indonesia cukup condong ke AS dalam hal pengembangan sistem pemerintahan yang desentralistik dan dalam hal membangun sektor pendidikannya. bedanya hanyalah pada faktor waktu. AS lebih dulu dan lebih lama, sedangkan Indonesia masih baru dicanangkan dan dilaksanakan. Pilihan Choice of Scope dari tinjauan di luar faktor pendanaan dalam kebijakan-kebijakan pendidikan di berbagai negara sesungguhnya hampir sama, yaitu menitik beratkan pada luasnya cakupan dan luasnya atau kompleksnya permasalahan yang harus dapat diselesaikan dengan satu kebijakan tertentu. Akan tetapi jika ditinjau dari besaran/luasan wilayah cakupan negara memonopili pendidikan (The Scope of the State Education Monopoly), maka yang terjadi dan diterapkan di Indonesia ada sedikit perbedaan. Negara/Pemerintah Indonesia menyediakan bantuan (semacam grants) bagi sekolah-sekolah swasta dan universitas-universitas swasta 3
4 dengan persyaratan-persyaratan tertentu. Hal ini biasanya dikaitkan dengan program pembinaan. Bahkan akhir-akhir ini ada keputusan politik yang cukup menggembirakan, yaitu bahwa semua sekolah (SD-SMP) swasta mendapat bantuan otomatis yang diberi nama BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Untuk yang terakhir ini tidak kita jumpai di Amerika Serikat. B. Choices of Policy Instruments Pilihan Instrumen Kebijakan : Pertanyaan utamanya adalah: How centralized should national education system be?, and how much leeway should local or regional authorities have to make deviating decisions?. Dalam hal ini sepertinya antara Amerika Serikat dan Indonesia memiliki kesamaan, yaitu sama-sama memberi kewenangan yang besar kepada pemerintah regional dan pemerintah lokal dalam menentukan keputusan-keputusan untuk pengembangan sektor pendidikan. Konsekuensinya akan ada banyak variasi. Agar banyaknya variasi itu tidak bersifat destruktif tetapi konstruktif maka negara/pemerintah membentuk badan-badan yang mengkoordinasikan sektor pendidikan. Di tingkat nasional ada Departemen Pendidikan (AS=IND), di tingkat regional dan lokal ada Dinas Pendidikan (pada prinsipnya AS=IND Cuma berbeda pada peristilahan). Sekedar mengingat kembali bahwa Pilihan-pilihan Instrumen Kebijakan (Choices of Policy Instruments) ini menganalisis instrument atau alat kebijakan apa yang digunakan. Caranya adalah menggunakan struktur pemerintahan sebagai instrument kebijakan atau alat-alat lainnya. Kebijakan itu diambil untuk tujuan (dijadikan alat mencapai tujuan) mempertahankan kekuasaan pengambilan keputusan di tingkat nasional atau untuk tujuan (dijadikan alat mencapai tujuan) delegasi wewenang di 4
5 tingkat yang lebih rendah. Dengan konsepsi seperti ini, maka dari deskripsi kebijakan pendidikan di dua negara (AS dan Indonesia) dapat dianalisis dan disimpulkan sebagai berikut: Baik Amerika Serikat maupun Indonesia ternyata sama-sama menjadikan pilihan kebijakan pendidikan sebagai intervensi negara kepada masyarakatnya (warga negara). Heidenheimer bahkan menyatakan bahwa kebijakan pendidikan di banyak negara memang digunakan sebagai alat pemerintah untuk menunjukkan hegemoni atau intervensi pemerintah atas warga negaranya, meskipun alasan masing-masing negara berbeda satu dengan yang lain. Berkaitan dengan kebijakan desentralisasi pendidikan, baik di Amerika maupun di Indonesia, sama-sama merupakan konsekuensi logis dari kebijakan desentralisasi pemerintahan (politik) dan otonomi yang diambil oleh negara. Di Amerika Serikat, kebijakan desentralisasi pendidikan sudah sejak lama diterapkan bersamaan dengan diterapkannya system pemerintahan yang dibagi atas pemerintahan federal, pemerintahan negara bagian, dan pemerintahan daerah (distrik). Sehingga dapat dikatakan bahwa kebijakan desentralisasi pendidikan di AS di satu sisi merupakan alat pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu yaitu bahwa pemerintah daerah memiliki kekuasaan otonom di bidang pendidikan, di sisi lain merupakan pilihan yang dengan itu pemerintah pusat memiliki kekuasaan secara makro untuk mengontrol secara nasional. Bagi Indonesia, kebijakan desentralisasi pendidikan juga memiliki dua nilai strategis seperti AS. Di satu sisi merupakan instrument kebijakan pemerintah pusat untuk mengintervensi urusan sector pendidikan secara politik, di sisi lain merupakan instrument kebijakan yang dimaksudkan untuk tujuan pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah propinsi serta pemerintah kabupaten/kota. 5
6 C. Choices of Distribution Pilihan Distribusi/Penyebaran : Pilihan-pilihan Distribusi (Choices of Distribution) ini menganalisis dampak kebijakan itu ke mana saja. Apakah kebijakan itu memiliki dampak multiplier atau tidak. Dalam perspektif ini, kebijakan pendidikan di Amerika Serikat dan di Indonesia dapat disimpulkan sama, yaitu sama-sama memiliki dampak multiplier (multiplier effect). Heidenheimer mengakui bahwa kebijakan sector pendidikan di banyak negara hamper sama jika dilihat dari sisi pilihan-pilihan distribusi (Choices of Distribution). Hal ini dikarenakan sector pendidikan selalu berhubungan secara signifikan dengan bidang-bidang lain, yaitu: bidang hak asasi manusia, bidang pembangunan ekonomi antara isu kemiskinan versus kesejahteraan, bidang kemartabatan bangsa, bidang pembangunan SDM dan lain-lain. Khusus pembangunan pendidikan tingkat dasar, hamper semua negara menaruh perhatian besar. Tujuannya hamper sama, yaitu menciptakan rasa keadilan dan kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan dasar bagi semua warga negara, memobilisasi warga negara kea rah melek huruf, dan terlebih lagi memberi bantuan khusus kepada masyarakat miskin. Di Indonesia, dampak yang dihasilkan oleh kebijakan desentralisasi pendidikan meluas ke bidang-bidang; politik, ekonomi, budaya, agama, teknologi, pertahanan dan bahkan pariwisata. Di Amerika Serikat, dampak kebijakan desentralisasi pendidikan terutama dirasakan pada pembangunan bidang-bidang politik, ekonomi, dan pengembangan teknologi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa antara AS dan Indonesia memiliki kesamaan ditinjau dari sisi pilihan-pilihan distribusi (Choices of Distribution). Di Amerika Serikat, negara/pemerintah menaruh perhatian khusus kepada tingginya apresiasi masyarakat untuk memasukkan anak-anaknya ke 6
7 sekolah dasar. Sebab dengan banyaknya dan tingginya tingkat apresiasi masyarakat menyekolahkan anaknya di sekolah dasar maka akan terdapat cukup banyak siswa yang akan masuk ke jenjang menengah. Begitu seterusnya, banyaknya apresiasi siswa masuk ke sekolah lanjutan menengah akan menciptakan semakin berkualitasnya mahasiswa yang masuk ke perguruan tinggi karena adanya pola recruitmen yang didudun untuk itu. Pada gilirannya universitas-universitas diharapkan akan melahirkan tenaga-tenaga yang berkualitas dan mampu bersaing di tingkat universal. Di Indonesia agaknya juga tidak jauh berbeda. Pemerintah sangat concern pada angka apresiasi sekolah dasar hingga ke jenjang sekolah menengah. Disamping untuk tujuan mendapatkan calon tenaga yang berkualitas, juga untuk mengetahui factor penyebab adanya drop-out pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Karena itu, public di Indonesia akan bersuara keras terhadap adanya fenomena dimana angka drop-out siswa sekolah dasar yang cukup tinggi tetapi pemerintah tidak mengambil tindakan apa-apa. Di Era desentralisasi pendidikan sekarang ini, pemerintah daerah di Indonesia disibukkan dengan adanya isu-isu pendidikan di seputar hal tersebut. Menyadari akan adanya kecenderungan pola perilaku public yang seperti itu serta semakin majunya prestasi dan praktik demokratisasi, maka pemerintah pusat, pemerintah propinsi, dan pemerintah daerah, bersama-sama dengan Dewan Pendidikan dan Komite sekolah masing-masing level terus bekerja keras. D. Choices of Reistraints and Innovation Pilihan Pemecahan Masalah Detail dan Inovasi : Pilihan-pilihan Pemecahan Masalah Secara Detail dan Inovasi (Choices of Reistraints and Innovation). Tipe pilihan ini menganalisis 7
8 berbagai alternative yang mungkin dapat dipilih dan digunakan untuk memecahkan permasalahan secara detail. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berkisar antara ; bagaimana cara melanjutkan, mengakhiri atau menyesuaikan kebijakan yang sudah diimplementasikan selama ini. Pertanyaan-pertanyaan tersebut digunakan untuk menemukan kreasi dan inovasi bagi pemecahan masalah yang mungkin belum dapat dipecahkan dengan alternative yang sudah pernah dipilih selama ini. Dalam kaitan ini, Amerika Serikat telah memiliki pengalaman yang cukup baik. Bahwa kebijakan desentralisasi pendidikan telah membuktikan dapat dijadikan sebagai pilihan untuk memudahkan pemerintah menangani permasalahapermasalahan secara detail dan mengkreasikan pilihan-pilihan alternative bagi perbaikan kebijakan pendidikan lebih lanjut dengan inovasi-inovasi yang bervariasi antara distrik yang satu dengan distrik yang lain. Paling sedikit, kebijakan desentralisasi pendidikan telah dapat membantu pemerintah pusat untuk lebih cepat dan lebih detail untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul di sector pendidikan. Di Indonesia, hal tersebut diharapkan juga terjadi. Meskipun pengalaman yang diperoleh Indonesia masih relative rendah (masih baru), namun untuk beberapa kasus pendidikan yang muncul maka dengan adanya kebijakan desentralisasi pendidikan ini pemerintah memiliki banyak pilihan untuk menyelesaikan permasalahan pendidikan secara detail berdasarkan karakter local (daerah). Apalagi dengan kebijakan desentralisasi pendidikan ini akses public dan keterlibatan public cukup diberi peluang lebar, yaitu dengan diadakannya kelembagaan semacam Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Hal ini memungkinkan bagi adanya pilihan-pilihan pemecahan masalas pendidikan secara detail dan inovatif. Hasil perbandingan kebijakan antara Amerika Serikat dan Indonesia dapat dilihat pada table berikut: 8
9 Tabel: Hasil Perbandingan Kebijakan Desentralisasi Pendidikan Amerika Serikat dan Indonesia PILIHAN AMERIKA SERIKAT INDONESIA 1 Scope - Negara tidak memonopoli penyelenggaraan sekolah. - Sekolah Swasta justru lebih banyak drpd sekolah negeri. - Anggaran pemerintah pusat lebih banyak diberikan ke sekolah2 negeri. - Dukungan dari anggaran negara bagian bervariasi. Bahkan ada negara bagian yang sama sekali tidak memberi dukungan anggaran ke sekolah2 swasta - Dukungan dari anggaran Pemprov/Pemkab/Pemkot untuk wilayah masing2. - Ada program khusus: Bantuan Operasional Sekolah (BOS), sumber anggarannya sebagian dari pusat, prov, kab/kot. 2 Instruments - Desentralisasi. Memberi kewenangan dan otonomi yg luas kpd pemerintah Distrik, dg dukungan pemerintah Negara Bagian. - Konsekuensinya banyak variasi keputusan yg berbeda. - Agar variasi itu positif dan tetap konstruktif, pemerintah pusat membentuk badan2 yang mengkoordinasikan sektor pendidikan. - Di tingkat nasional ada Dept Pendidikan Federal, di tingkat regional dan lokal ada Board of Education (semacam Dinas Pendidikan). - Desentralisasi. Memberi kewenangan dan otonomi yg luas kpd pemkab/pemkot, dengan dukungan pemprov. - Di tingkat nasional ada DEPDIKNAS, di tingkat regional dan lokal ada Dinas Pendidikan Prov, dan Dinas Pendidikan Kab/Kota. PILIHAN AMERIKA SERIKAT INDONESIA - Negara/pemerintah pusat 9
10 3 Distribution menaruh perhatian kepada tingginya apresiasi masyarakat memasukkan anak2nya ke Sekolah Dasar dan Menengah. - Menciptakan semakin berkualitasnya mahasiswa yang masuk ke perguruan tinggi. - Perguruan Tinggi diharapkan bisa melahirkan tenaga-tenaga yang berkualitas dan mampu bersaing secara universal. - Kebijakan pendidikan multy misi: Politik, social, ekonomi, budaya, dan kemartabatan bangsa (daya saing bangsa). (ada seleksi dalam recruitment mahasiswa) 4 Reistraints and Innovation - Dengan mendesentralisasikan kebijakan pendidikan, banyak permasalahan yang dapat dipecahkan lebih cepat dan lebih detail dg hasil yang sesuai dengan semangat desentralisasi dan otonomi daerah. - Keterlibatan public diberi akses sangat besar dalam turut serta mendisain, memonitor dan mengevaluasi hasil-hasil implementasi kebijakan pendidikan.. Bahkan dengan kebijakan desentralisasi pendidikan, akses public dan keterlibatan public cukup diberi peluang lebar, yaitu dengan diadakannya kelembagaan semacam Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. BERSAMBUNG KE BAB V Surabaya, Oktober 2005 Ulul Albab, Drs., MS 10
Perbandingan Kebijakan Pendidikan AS-INDONESIA BAB I PENDAHULUAN
PENDAHULUAN A. Pengertian Comparative Public Policy Sebagaimana dikemukakan oleh Feldman (1978); perbandingan kebijakan public adalah suatu metode mempelajari kebijakan public (meliputi proses kebijakan,
BAB III ANALISIS SWOT KEBIJAKAN DESENTRALISASI PENDIDIKAN DI INDONESIA
ANALISIS SWOT KEBIJAKAN DESENTRALISASI PENDIDIKAN DI INDONESIA A. PERMASALAHAN Jika dibandingkan dengan kebijakan desentralisasi pendidikan di Amerika Serikat, maka ebijakan desentralisasi pendidikan yang
PERBANDINGAN KEBIJAKAN PUBLIK TENTANG PENDIDIKAN INDONESIA AMERIKA
PERBANDINGAN KEBIJAKAN PUBLIK TENTANG PENDIDIKAN INDONESIA AMERIKA Oleh : Maya Wulan Pramesti*) Abstraksi Sebagaimana dikemukakan oleh Feldman (1978); perbandingan kebijakan publik adalah suatu metode
ISU-ISU KRITIS DALAM PENDIDIKAN OTONOMI PENDIDIKAN DOSEN PENGAMPU: Atikah Solihah NIM Yunita NIM KELAS C
ISU-ISU KRITIS DALAM PENDIDIKAN OTONOMI PENDIDIKAN Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Isu-Isu Kritis dalam Pendidikan. DOSEN PENGAMPU: Prof. Dr. Aceng Rahmat, M.Pd. Atikah Solihah NIM
PERBANDINGAN KEBIJAKAN PUBLIK TENTANG PENDIDIKAN INDONESIA AMERIKA. Oleh : Teguh Edhy Wibowo*)
PERBANDINGAN KEBIJAKAN PUBLIK TENTANG PENDIDIKAN INDONESIA AMERIKA Oleh : Teguh Edhy Wibowo*) Abstraksi Sebagaimana dikemukakan oleh Feldman (1978); perbandingan kebijakan publik adalah suatu metode mempelajari
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN OTONOMI DAERAH D. MACHDUM FUADY, S.H., M.H. EKONOMI AKUNTANSI. Modul ke: Fakultas. Program Studi
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Modul ke: OTONOMI DAERAH Fakultas EKONOMI Program Studi D. MACHDUM FUADY, S.H., M.H. AKUNTANSI http://www.mercubuana.ac.id PENGERTIAN DAN LATAR BELAKANG; TUJUAN DAN PRINSIP;
PARADIGMA PELAYANAN PUBLIK PADA ERA DESENTRALISASI DI INDONESIA
PARADIGMA PELAYANAN PUBLIK PADA ERA DESENTRALISASI DI INDONESIA Oleh : PROF.DR. SADU WASISTIONO, MS A. PENDAHULUAN Penduduk dan Wilayah Indonesia yang beraneka ragam (Ribuan pulau, suku bangsa, ras dsb)
MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH Oleh: Hamid Abstrak: Sejak tahun 1998 sampai sekarang, era reformasi telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai segi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia termasuk
Mata Kuliah Kewarganegaraan OTONOMI DAERAH. Modul ke: Panti Rahayu, SH, MH. Fakultas EKONOMI DAN BISNIS. Program Studi MANAJEMEN.
Mata Kuliah Kewarganegaraan Modul ke: OTONOMI DAERAH Fakultas EKONOMI DAN BISNIS Panti Rahayu, SH, MH Program Studi MANAJEMEN www.mercubuana.ac.id OTONOMI DAERAH Otonomi daerah : pemberian wewenang pemerintahan
BAB I PENDAHULUAN. Di era persaingan global, Indonesia memerlukan sumber daya manusia
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di era persaingan global, Indonesia memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang cerdas, sehat, jujur, berakhlak mulia, berkarakter, dan memiliki kepedulian sosial
ISU-ISU PENDIDIKAN DIY Oleh Dr. Rochmat Wahab, MA
ISU-ISU PENDIDIKAN DIY Oleh Dr. Rochmat Wahab, MA Pengantar Keberadaan bangsa Indonesia dewasa ini dihadapkan persoalan-persoalan yang sangat kompleks. Secara eksternal, Globalisasi dengan segala konsekuensinya,
Strategi Pengembangan Sekolah Efektif untuk Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi
Strategi Pengembangan Sekolah Efektif untuk Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi Tjondro Indrasutanto Abstrak. Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya
BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, yang secara umum bertumpu pada dua paradigma baru yaitu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Reformasi bidang politik di Indonesia pada penghujung abad ke 20 M telah membawa perubahan besar pada kebijakan pengembangan sektor pendidikan, yang secara umum bertumpu
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lahirnya Undang-undang No. 22 tahun 1999 yang direvisi dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lahirnya Undang-undang No. 22 tahun 1999 yang direvisi dengan Undang- undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, telah membawa nuansa pembaharuan
STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN APA, BAGAIMANA, DAN MENGAPA
STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN APA, BAGAIMANA, DAN MENGAPA Kualitas SNP (Isi, Kompetensi Lulusan, Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Sarana dan Prasarana, Pengelolaan, Penilaian, Proses, Biaya) SPM
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Bantuan United Nations Children s Fund (UNICEF) Dalam Mensukseskan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Bantuan United Nations Children s Fund (UNICEF) Dalam Mensukseskan Program MBS di Jawa Barat Pendidikan merupakan hal penting bagi perkembangan dan kesejahteraan
RINA KURNIAWATI, SHI, MH
Modul ke: OTONOMI DAERAH Mengetahui wewenang daerah yang diberikan oleh pemerintah pusat Fakultas FAKULTAS www.mercubuana.ac.id RINA KURNIAWATI, SHI, MH Program Studi Otonomi Daerah Otonomi daerah : pemberian
MANAJEMEN PELAYANAN PUBLIK
MANAJEMEN PELAYANAN PUBLIK Oleh : PROF. DR. SADU WASISTIONO, MS A. PENDAHULUAN Pemerintah adalah public servant Kesadaran ttg arti pentingnya pelayanan umum dan manajemennya di kalangan pemerintahan masih
BAB I PENDAHULUAN. berbagai dimensi dalam kehidupan mulai dari politik, sosial, budaya, dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan terus menjadi topik yang diperbincangkan oleh banyak pihak. Pendidikan seperti magnet yang sangat kuat karena dapat menarik berbagai dimensi dalam
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Hingga saat ini, relasi antara Pemerintah Daerah, perusahaan dan masyarakat (state, capital, society) masih belum menunjukkan pemahaman yang sama tentang bagaimana program CSR
Bab I Pendahuluan. A. Latar Belakang
A. Latar Belakang Bab I Pendahuluan Salah satu permasalahan pendidikan di Indonesia adalah kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan berhubungan dengan proses penyelenggaraan pendidikan, sumber daya manusia
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam peningkatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan peningkatan kualitas
SIGNIFIKANSI PERAN MASYARAKAT DALAM IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)
SIGNIFIKANSI PERAN MASYARAKAT DALAM IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS) Al Darmono Jurusan Tarbiyah, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ngawi Abstrak Manajemen Berbasis Sekolah merupakan penyerasian
Weakness, Opportunity and Threath). Dengan hasil pada masing-masing
BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI SKPD 3.1 IDENTIFIKASI PERMASALAHAN BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI PELAYANAN Pada bagian identifikasi permasalah berdasarkan tugas dan fungsi Kantor
BAB I PENDAHULUAN. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke-4 dijelaskan. bahwa tujuan nasional Indonesia diwujudkan melalui pelaksanaan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke-4 dijelaskan bahwa tujuan nasional Indonesia diwujudkan melalui pelaksanaan penyelenggaraan negara yang berkedaulatan
RechtsVinding Online
SISTEM KESEHATAN DAERAH : ISU DAN TANTANGAN BIDANG KESEHATAN DI INDONESIA Oleh : Dona Budi Kharisma * Naskah diterima: 15 Februari 2018; disetujui: 23 Februari 2018 Saat ini, sektor kesehatan di Indonesia
PENATAAN KELEMBAGAAN URUSAN PANGAN
PENATAAN KELEMBAGAAN URUSAN PANGAN Disampaikan oleh ONZUKRISNO, SH, M.Si Kepala Biro Organisasi Setda Prov. Sumbar Bukittinggi, 11 Maret 2016 UU NOMOR 23 TAHUN 2014 U R U S A N P E M E R I N T A H A N
ANALISIS DAMPAK AKREDITASI SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN (Studi Kasus Di SD Negeri Donohudan 3 Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali)
ANALISIS DAMPAK AKREDITASI SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN (Studi Kasus Di SD Negeri Donohudan 3 Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali) TESIS Diajukan Kepada Program Pasca Sarjana Universitas
BAB I PENDAHULUAN. harkat dan martabat manusia dapat ditingkatkan. Melalui pendidikan manusia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan saat ini merupakan kebutuhan primer setiap manusia. Karenanya, pendidikan tidak boleh dianggap sepele karena dengan pendidikan harkat dan martabat
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Reformasi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998 berdampak ke hampir seluruh aspek kehidupan bangsa. Salah satu dampak dari adanya reformasi adalah perubahan
TUJUAN 2. Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua
TUJUAN 2 Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua 35 Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua Target 3: Memastikan pada 2015 semua anak-anak di mana pun, laki-laki maupun perempuan, dapat menyelesaikan
DR. Ulul Albab, MS. Rektor Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya
DR. Ulul Albab, MS. Rektor Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya www.unitomo.ac.id Negara & Korupsi Government corruption as the sale by government officials of government property for personal gain
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Masalah. Salah satu upaya untuk mewujudkan sistem pemerintahan yang baik
19 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Salah satu upaya untuk mewujudkan sistem pemerintahan yang baik adalah dengan sistem pembangunan ekonomi nasional. Sejak era reformasi bergulir, pemerintah
ACDPINDONESIA Education Sector Analytical And Capacity Development Partnership
Risalah Kebijakan November 2014 Ketidakhadiran Guru di Indonesia Tingkat ketidakhadiran guru di Indonesia Alasan guru tidak hadir di sekolah Kegiatan guru di sekolah ketika sedang tidak mengajar Dampak
KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI AMERIKA SERIKAT Taat Wulandari 1
KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI AMERIKA SERIKAT Taat Wulandari 1 Abstract Regarding education is a means of countries to develop, there are some policies and strategies to fulfill the above mission. Such as to
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN. Modul ke: Otonomi Daerah. 12Fakultas EKONOMI DAN BISNIS. Program Studi AKUNTANSI
Modul ke: 12Fakultas Matsani EKONOMI DAN BISNIS PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Otonomi Daerah, SE.,MM. Program Studi AKUNTANSI Pengertian Otonomi secara sempit diartikan sebagai mandiri sedangkan dalam arti
KEWARGANEGARAAN. Modul ke: 12FEB OTONOMI DAERAH. Fakultas SYAMSUNASIR, S.SOS., M. M. Program Studi Management
KEWARGANEGARAAN Modul ke: Fakultas 12FEB OTONOMI DAERAH SYAMSUNASIR, S.SOS., M. M. Program Studi Management PENGERTIAN OTONOMI DAERAH Otonomi scr sempit diartikan sbg Mandiri, scr luas diartikan sbg Berdaya.
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Selama pemerintahan orde baru sentralisasi kekuasaan sangat terasa dalam
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Selama pemerintahan orde baru sentralisasi kekuasaan sangat terasa dalam setiap aktivitas pemerintahan daerah, bahkan rancangan pembangunan disetiap daerah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa penyelenggaraan desentralisasi dilaksanakan dalam bentuk pemberian kewenangan Pemerintah
BAB I PENDAHULUAN. pemerataan, dan pemeliharaan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebijakan pemerintah Indonesia tentang Otonomi Daerah, yang dilaksanakan secara efektif mulai tanggal 1 Januari 2002, merupakan kebijakan yang dipandang sangat demokratis
KEKURANGAN DAN KELEBIHAN KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH
KEKURANGAN DAN KELEBIHAN KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH Oleh ARISMAN Widyaiswara Muda BPSDM Kementerian Hukum dan HAM RI Pengertian atau Definisi Otonomi Daerah adalah kewenangan Daerah Otonom untuk mengatur
BAB I PENDAHULUAN. perencanaan Millenium Development Goals (MDGS), yang semula dicanangkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia bergantung pada kualitas pendidikan. Peran pendidikan
I. PENDAHULUAN. meningkatkan kesadaran perlunya pembangunan berkelanjutan.
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan daerah pada dasarnya adalah upaya untuk mengembangkan kemampuan ekonomi daerah untuk menciptakan kesejahteraan dan memperbaiki kehidupan material secara adil
BAB 1 PENDAHULUAN. transparansi publik. Kedua aspek tersebut menjadi hal yang sangat penting dalam
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di era reformasi ini tuntutan demokratisasi menjadi suatu fenomena global termasuk di Indonesia yang menyebabkan adanya aspek akuntabilitas dan transparansi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era globalisasi sekarang ini pendidikan memegang peranan penting bagi semua orang, karena dengan pendidikan semua orang akan memiliki bekal untuk kehidupan dimasa
Kebijakan Pemerintah Daerah VII-2
Penyampaian LKPJ Walikota Bandung Tahun 2012, merupakan wujud akuntabilitas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah sesuai dengan ketentuan pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah
MAKALAH CIVIC EDUCATION. Otonomi Daerah Dalam Kerangka NKRI
MAKALAH CIVIC EDUCATION Otonomi Daerah Dalam Kerangka NKRI Di susun oleh: 1. Nessri Meryani 2. Rismanto Dosen Pembimbing: Dr. H. Sirajudin, M., M.Ag., M.H Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Bengkulu (STAIN)
Pendahuluan. I.1 Latar Belakang
I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Pembangunan daerah, sebagai bagian integral pembangunan nasional, selain berkepentingan terhadap penyelenggaraan pembangunan sektoral nasional di daerah, juga berkepentingan
PENINGKATAN EFEKTIVITAS SEKOLAH
PENINGKATAN EFEKTIVITAS SEKOLAH ( Studi pada SD Negeri Sobokerto 1 dan MI Al-Islam Ngesrep 1 ) TESIS Oleh : Nama : Retnaning Winastuti NIM : Q.100030109 Program Studi : Magister Manajemen Pendidikan Konsentrasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
20 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sedikitnya ada tiga fungsi utama yang harus dijalankan oleh pemerintah dalam fungsi pelayanan publik, yaitu fungsi pelayanan masyarakat (public service function),
PUSAT KAJIAN ADMINISTRASI INTERNASIONAL LAN (2009)
ABSTRAK KEMITRAAN PEMERINTAH DAN SWASTA Pelaksanaan otonomi daerah telah membawa perubahan yang mendasar di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perubahan tersebut tentunya tidak hanya berdampak pada sistem
UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2009 TENTANG KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2009 TENTANG KEPEMUDAAN Menimbang DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, : a. bahwa dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia sejak
BAB I PENDAHULUAN BAB I
BAB I BAB I 1 A Latar Belakang Lahirnya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) merupakan perwujudan dari tekad melakukan reformasi pendidikan untuk menjawab tuntutan
BAB I PENDAHULUAN. kompleksnya persoalan yang dihadapi Negara, maka terjadi pula. perkembangan di dalam penyelenggaraan pemerintahan yang ditandai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejalan dengan pesatnya perkembangan zaman dan semakin kompleksnya persoalan yang dihadapi Negara, maka terjadi pula perkembangan di dalam penyelenggaraan pemerintahan
Kekuasaan & Proses Pembuatan Kebijakan
KMA Kekuasaan & Proses Pembuatan Kebijakan Departemen Administrasi Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof. Drh. Wiku Adisasmito, M.Sc., Ph.D. Proses Pembuatan Kebijakan
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN. Modul ke: Otonomi Daerah. Fakultas Ilmu Komunikasi. Program Studi Hubungan Masyarakat. Ramdhan Muhaimin, M.Soc.
Modul ke: 11 PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Otonomi Daerah Fakultas Ilmu Komunikasi Program Studi Hubungan Masyarakat Ramdhan Muhaimin, M.Soc.Sc Sub Bahasan 1. Pengertian Otonomi Daerah 2. Latar Belakang Otonomi
BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI
BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1 Identifikasi Permasalahan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dengan tugas pokoknya merumuskan kebijakan teknis perencanaan pembangunan daerah
BAB I PENDAHULUAN. Secara konseptual desentralisasi pendidikan adalah suatu proses dimana suatu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Secara konseptual desentralisasi pendidikan adalah suatu proses dimana suatu lembaga yang lebih rendah kedudukannya menerima pelimpahan kewenangan untuk melaksanakan
MEMBERDAYAKAN KOMITE SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN MUTU LAYANAN PENDIDIKAN. Oleh : Alpres Tjuana, S.Pd., M.Pd
MEMBERDAYAKAN KOMITE SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN MUTU LAYANAN PENDIDIKAN Oleh : Alpres Tjuana, S.Pd., M.Pd Pendahuluan Govinda (2000) dalam laporan penelitiannya School Autonomy and Efficiency Some Critical
I. PENDAHULUAN. dibagi-baginya penyelenggaraan kekuasaan tersebut, agar kekuasaan tidak
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Konteks pemerintahan yang demokratis kekuasaan tidak berada dan dijalankan oleh satu badan tapi dilaksanakan oleh beberapa badan atau lembaga. Tujuan dari dibagi-baginya
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1. VISI Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Sawahlunto Tahun 2013-2018, adalah rencana pelaksanaan tahap ketiga (2013-2018) dari Rencana Pembangunan Jangka
RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR... TAHUN... TENTANG
RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR... TAHUN... TENTANG LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH KEPADA PEMERINTAH, LAPORAN KETERANGAN PERTANGGUNGJAWABAN KEPALA DAERAH KEPADA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT
RPJMD Kabupaten Jeneponto Tahun ini merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Bupati dan Wakil Bupati Jeneponto terpilih
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional dan regional, juga bermakna sebagai pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan
ANGGARAN DASAR FEDERASI AERO SPORT INDONESIA MUKADIMAH
ANGGARAN DASAR FEDERASI AERO SPORT INDONESIA MUKADIMAH Bahwa sesungguhnya Olahraga itu merupakan kodrat naluriah manusia yang selalu ingin melakukan gerakan-gerakan dan kegiatan jasmani yang bermakna dan
BAB I PENDAHULUAN. melibatkan partisipasi masyarakat sebagai elemen penting dalam proses. penyusunan rencana kerja pembangunan daerah.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Pelaksanaan otonomi daerah tidak terlepas dari sebuah perencanaan baik perencanaan yang berasal dari atas maupun perencanaan yang berasal dari bawah. Otonomi
Mengingat : 1. Pasal 18 Ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
SALINAN Menimbang PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PELAKSANAAN DAN PENETAPAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian (Ulum, 2004). (Stanbury, 2003 dalam Mardiasmo, 2006).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Organisasi sektor publik adalah organisasi yang bertujuan menyediakan/memproduksi barang-barang publik. Tujuan organisasi sektor publik berbeda dengan organisasi
ANALISIS KEBIJAKAN PENAMBAHAN SEKOLAH MENENGAH NEGERI BARU DI KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2004
ANALISIS KEBIJAKAN PENAMBAHAN SEKOLAH MENENGAH NEGERI BARU DI KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2004 (Penelitian Naturalistis Fenomenologis di SMK Negeri 1 Ambal) TESIS Diajukan kepada Universitas Muhammadiyah Surakarta
BAB I PENDAHULUAN. Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Garut Tahun
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan serta ditujukan untuk meningkatkan
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KABUPATEN LAMONGAN
27 LEMBARAN DAERAH Nopember KABUPATEN LAMONGAN 5/D 2007 SERI D PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KABUPATEN LAMONGAN
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT LD 42 2008 R PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI KECAMATAN DAN KELURAHAN KABUPATEN GARUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
BAB I PENDAHULUAN. investasi. Dengan demikian nilai modal ( human capital ) suatu bangsa tidak hanya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu bentuk investasi sumber daya manusia ( SDM ) yang lebih penting dari investasi modal fisik. Pendidikan memberikan sumbangan yang amat
BAB III ISU ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI
BAB III ISU ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi SKPD Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah beberapa
I. PENDAHULUAN. daerah, masalah pertumbuhan ekonomi masih menjadi perhatian yang penting. Hal ini
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam menilai keberhasilan pembangunan dan upaya memperkuat daya saing ekonomi daerah, masalah pertumbuhan ekonomi masih menjadi perhatian yang penting. Hal ini dikarenakan
BAB I PENDAHULUAN. Tatanan kehidupan masyarakat yang semrawut merupakan akibat dari sistem
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tatanan kehidupan masyarakat yang semrawut merupakan akibat dari sistem perekonomian yang tidak kuat, telah mengantarkan masyarakat bangsa pada krisis yang berkepanjangan.
BAB I PENDAHULUAN. demokrasi, desentralisasi dan globalisasi. Jawaban yang tepat untuk menjawab
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Memasuki abad 21, hampir seluruh negara diberbagai belahan dunia (termasuk Indonesia) menghadapi tantangan besar dalam upaya meningkatkan sistem demokrasi,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BKD KABUPATEN GRESIK 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Kesuksesan sebuah penyelenggaraan tugas pemerintahan, terutama pada penyelenggaraan pelayanan public kepada masyarakat sangat tergantung pada kualitas SDM Aparatur.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH KEPADA PEMERINTAH, LAPORAN KETERANGAN PERTANGGUNGJAWABAN KEPALA DAERAH KEPADA DEWAN PERWAKILAN
OTONOMI DAERAH DAN OTONOMI PENDIDIKAN. Inom Nasution 1 ABSTRAK
OTONOMI DAERAH DAN OTONOMI PENDIDIKAN Inom Nasution 1 ABSTRAK Reformasi yang terjadi di Indonesia telah mengakibatkan pergeseran penyelenggaraan pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi. Pergeseran
