SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR"

Transkripsi

1 TIPOLOGI MANGROVE DAN KETERKAITANNYA DENGAN POPULASI GASTROPODA Littorina neritoides (LINNE, 1758) DI KEPULAUAN TANAKEKE, KABUPATEN TAKALAR, SULAWESI SELATAN MUSAYYADAH TIS IN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Tipologi Mangrove dan Keterkaitannya dengan Populasi Gastropoda Littorina neritoides (LINNE, 1758) di Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan adalah karya saya sendiri di bawah bimbingan Komisi Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal dan/atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Januari 2008 Musayyadah Tis in

3 RINGKASAN Musayyadah Tis in. TIPOLOGI MANGROVE DAN KETERKAITANNYA DENGAN POPULASI GASTROPODA Littorina neritoides (LINNE, 1758) DI KEPULAUAN TANAKEKE, KABUPATEN TAKALAR, SULAWESI SELATAN. Di bawah bimbingan : Prof. DR. Ir. Dietriech G. Bengen, DEA dan DR. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi mangrove, populasi gastropoda Littorina neritoides dan keterkaitan antara keduanya. Pada lokasi penelitian ditemukan jenis gastropoda yang dominan adalah Littorina neritoides dengan kepadatan yang cukup tinggi, sehingga diperlukan suatu analisis mengenai keterkaitan antara ekosistem mangrove dengan Littorina neritoides. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan April sampai Juni 2007 di Pulau Bauluang dan Lantangpeo, kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Pengukuran kondisi ekosistem mangrove dilakukan dengan menggunakan transek kuadrat berukuran 10 m x 10 m (kategori pohon), 5 m x 5 m (kategori anakan) dan 1 m x 1 m (kategori semai), sementara populasi Littorina neritoides menggunakan transek kuadrat berukuran 1 m x 1 m. Analisis regresi digunakan untuk mendeterminasi hubungan antara ekosistem mangrove dengan Littorina neritoides, dan percobaan dilakukan untuk mengetahui kontribusi mangrove berupa nitrat dan fosfat terhadap Littorina neritoides. Analisis Komponen Utama digunakan untuk mengetahui hubungan antara kondisi fisika kimia lingkungan dengan biologi dalam hal ini kerapatan mangrove, kepadatan Littorina neritoides dan produktivitas serasah. Ekosistem mangrove di lokasi penelitian relatif homogen dan didominasi oleh Rhizophora mucronata, sementara jenis mangrove lain seperti Lumnitzera racemosa, Sonneratia alba, Rhizophora apiculata and Rhizophora stylosa ditemukan dalam jumlah yang relatif lebih kecil. Kerapatan mangrove tertinggi didapatkan di Pulau Bauluang, kepadatan gastropoda Littorina neritoides juga terdapat di Pulau Bauluang. Kontribusi mangrove terhadap Littorina neritoides berupa nitrat sebesar 0.71 mg/ind/thn dan fosfat sebesar 0.44 mg/ind/thn. Kerapatan mangrove dengan kepadatan Littorina neritoides memiliki hubungan yang kuat dengan korelasi 0.81 sementara penutupan mangrove dan kepadatan Littorina neritoides memiliki korelasi Kondisi fisika kimia lingkungan di Pulau Bauluang dicirikan dengan suhu, salinitas, Oksigen terlarut (DO) yang tinggi serta didominasi oleh fraksi pasir kasar. Sementara di Pulau Lantangpeo dicirikan dengan kandungan nitrat, fosfat dan produktivitas serasah yang tinggi, serta proporsi pasir halus dan lumpur yang tinggi. Hasil Analisis Komponen Utama menunjukkan bahwa kepadatan gastropoda Littorina neritoides tinggi pada lingkungan dengan kandungan DO, dan salinitas yang tinggi, kerapatan mangrove yang tinggi serta substrat berpasir.

4 ABSTRAK Musayyadah Tis in. TIPOLOGI MANGROVE DAN KETERKAITANNYA DENGAN POPULASI GASTROPODA Littorina neritoides (LINNE, 1758) DI KEPULAUAN TANAKEKE, KABUPATEN TAKALAR, SULAWESI SELATAN. Di bawah bimbingan : Prof. DR. Ir. Dietriech G. Bengen, DEA dan DR. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc. Ekosistem mangrove memegang peranan penting sebagai habitat berbagai organisme, diantaranya gastropoda Littorina neritoides. Kebutuhan untuk mendapatkan informasi tentang pentingnya ekosistem mangrove terhadap gastropoda Littorina neritoides dan untuk mengetahui sejauh mana keterkaitan antara ekosistem mangrove dengan jenis gastropoda ini merupakan dasar dari penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi mangrove, populasi Littorina neritoides dan keterkaitan antara keduanya. Pengukuran kondisi ekosistem mangrove dilakukan dengan menggunakan transek kuadrat berukuran 10 m x 10 m, 5 m x 5 m dan 1 m x 1 m, populasi Littorina neritoides menggunakan transek kuadrat berukuran 1 m x 1 m. Analisis regresi digunakan untuk mendeterminasi hubungan antara ekosistem mangrove dengan Littorina neritoides, dan percobaan dilakukan untuk kontribusi mangrove berupa nitrat dan fosfat terhadap Littorina neritoides. Analisis Komponen Utama digunakan untuk mengetahui hubungan antara kondisi fisika kimia lingkungan dengan biologi dalam hal ini kerapatan mangrove, kepadatan Littorina neritoides dan produktivitas serasah. Ekosistem mangrove di lokasi penelitian relatif homogen dan didominasi oleh Rhizophora mucronata, sementara jenis mangrove lain seperti Lumnitzera racemosa, Sonneratia alba, Rhizophora apiculata and Rhizophora stylosa ditemukan dalam jumlah yang relatif lebih kecil. Kontribusi mangrove terhadap Littorina neritoides berupa nitrat sebesar 0.71 mg/ind/thn dan fosfat sebesar 0.44 mg/ind/thn. Kerapatan mangrove dengan kepadatan Littorina neritoides memiliki hubungan yang kuat dengan korelasi 0.81 sementara penutupan mangrove dan kepadatan Littorina neritoides memiliki korelasi 0.97.

5 ABSTRACT Musayyadah Tis in. MANGROVE TYPOLOGY AND ITS RELATION WITH GASTROPOD Littorina neritoides (LINNE, 1758) IN TANAKEKE ISLANDS, TAKALAR REGENCY, SOUTH SULAWESI. Under supervision of Prof. DR. Ir. Dietriech G. Bengen, DEA and DR. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc. Mangrove ecosystem plays an important role as habitat for divers living such as gastropod Littorina neritoides. The need to get information about mangrove ecosystem condition which important for gastropod Littorina neritoides and to identify its relation is the principal reason of this research. The research aims to analyse mangrove condition, Littorina neritoides population, and relation of both. Mangrove ecosystem condition was measure using square transect of 10 m x 10 m, 5 m x 5 m and 1 m x 1 m, and population of Littorina neritoides using square transect of 1 m x 1 m. Regretion analysis was used to determine the relation between mangrove and Littorina neritoides, and an experiment the was undertaken to analyse mangrove contribution (nitrat and phosphate) to Littorina neritoides. Principal Components Analysis (PCA) was used to explore relation between environment condition and biologycal condition. Mangrove of the research location are relatively homogenous and dominated by Rhizophora mucronata, while the others mangrove species such as Lumnitzera racemosa, Sonneratia alba, Rhizophora apiculata and Rhizophora stylosa were found in relatively smaller number. The mangrove contribution to Littorina neritoides were nitrat and phosphate where nitrat contributed about 0.71 mg/ind/year dan phosphate about 0.44 mg/ind/year. Mangrove ecosystem and Littorina neritoides have strong corelation of 0.81 betweeen mangrove density and L. neritoides density, and 0.97 between mangrove cover and L. neritoides density)

6 @ Hak Cipta milik Institut Pertanian Bogor, Tahun 2008 Hak Cipta dilindungi Undang-undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebut sumber. a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah b. Pengutipan tidak merugikan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa ijin Institut Pertanian Bogor 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa ijin Insititut Pertanian Bogor.

7 TIPOLOGI MANGROVE DAN KETERKAITANNYA DENGAN POPULASI GASTROPODA Littorina neritoides (LINNE, 1758) DI KEPULAUAN TANAKEKE, KABUPATEN TAKALAR, SULAWESI SELATAN MUSAYYADAH TIS IN Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Progarm Studi Ilmu Kelautan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

8 Judul : Tipologi Mangrove dan Keterkaitannya dengan Populasi Gastropoda Littorina neritoides (LINNE, 1758) di Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. N a m a : Musayyadah Tis in N R P : C Disetujui Komisi Pembimbing Prof. Dr.Ir. Dietriech G. Bengen, DEA Ketua Dr.Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc Anggota Diketahui, Ketua Program Studi Imu Kelautan Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Djisman Manurung, M.Sc Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S Tanggal Ujian : 14 Januari 2008 Tanggal Lulus :

9 PRAKATA Puji syukur dari segenap keikhlasan hati kepada Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Besar, yang mengajarkan makhluknya melalui perantara Kalam-Nya, yang tiada hentinya mengurus dan memelihara mahluk- Nya siang dan malam, yang memberikan pelajaran dan petunjuk pada yang dikehendaki-nya dan membebani mahluknya sesuai kemampuannya, sehingga penulisan Tesis ini dapat diselesaikan. Tesis ini adalah hasil penelitian yang InsyaAllah memberikan pengayaan dan manfaat bagi pembaca, terutama bagi penulis. Dalam pelaksanaan penelitian ini, penulis telah mendapatkan kemudahan dan bantuan dari berbagai pihak, olehnya tidaklah berlebihan untuk menghaturkan ucapan terima kasih kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Ir. Dietriech G. Bengen, DEA, selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc, selaku anggota komisi pembimbing yang telah meluangkan waktu, memberikan bimbingan, arahan, dan masukan; 2. Bapak/ibu staf pengajar dan administrasi PS. Ilmu Kelautan (PS-IKL) IPB yang membantu proses penyelesaian studi penulis; 3. Suamiku Kasim Mansyur, orang tua tercinta, Ayahanda Tis in dan ibundaku Nurbayti, ayahanda mertuaku Mansyur Djima dan ibunda mertuaku Saharia (alm), untuk semua keikhlasan, doa dan dukungannya. 4. Segenap keluarga besar penulis atas kasih sayang, cinta dan motivasi yang tiada hentinya. 5. Teman-teman seperjuangan di IKL-IPB atas dukungan dan kerjasamanya. 6. Staf sekretariat dan perpustakaan yang membantu dengan koleksi bukubukunya serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Akhir kata, penulis mengharapkan saran dan koreksi dari pembaca dan penggunanya atas kekurangan penulisan tesis ini. Semoga Allah SWT senantiasa memberi kita petunjuk dan karunia serta meridhoi segala aktivitas kita, amin Bogor, Januari 2008 P e n u l i s

10 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Murante pada tanggal 11 Oktober 1980 dari Ayah Tis in dan Ibu Nurbayti. Penulis adalah anak kedua dari 2 orang bersaudara. Pendidikan Sarjana (S1) ditempuh di Program Studi Eksplorasi Sumberdaya Kelautan, Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Makassar dan berhasil menyelesaikan studi pada tahun Penulis diterima di Program Studi Ilmu Kelautan IPB pada Tahun 2005.

11 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL... xii DAFTAR GAMBAR... xiii DAFTAR LAMPIRAN... xiv I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Hipotesis Kerangka Pemikiran... 4 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ekosistem mangrove Produktivitas Ekosistem Mangrove Peran Mangrove sebagai Habitat Moluska Nilai Penting Gastropoda Littorina spp III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Prosedur penelitian Analisis Data Ekosistem Mangrove Kepadatan Individu Gastropoda Pola Sebaran Pemanfaatan Nutrien Pemanfaatan alga Analisis Parameter Lingkungan Hubungan antara kerapatan dan penutupan mangrove dengan kepadatan L. neritoides IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Mangrove di Pulau Bauluang dan Pulau Lantangpeo Karakteristik Fisika Kimia Air dan Sedimen Karakteristik Populasi Gastropoda Littorina neritoides Keterkaitan Populasi Littorina neritoides dengan Ekosistem Mangrove Kepadatan L. neritoides berdasarkan Zona Vertikal Mangrove dan Hubungannya dengan Kerapatan Mangrove Pemanfaatan Alga oleh L. neritoides Pola Hubungan antara Kepadatan L. neritoides dengan Kerapatan dan Penutupan Mangrove Hubungan antara kondisi lingkungan, kerapatan mangrove dan kepadatan gastropoda L. neritoides... 48

12 KESIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN... 60

13 DAFTAR TABEL Halaman 1 Parameter alat dan bahan penelitian Sebaran jenis mangrove yang dijumpai di lokasi penelitian Parameter fisika kimia air dan sedimen Kepadatan L. neritoides berdasarkan zona vertikal mangrove Pemanfaatan alga oleh L. neritoides Pemanfaatan nutrien oleh alga... 45

14 DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Kerangka pemikiran Tipe-tipe mangrove Peta lokasi pengamatan di Kepulauan Tanakeke Contoh penempatan transek pengukuran vegetasi mangrove Kerapatan mangrove di lokasi penelitian Indeks nilai penting (INP) jenis mangrove di lokasi penelitian Produktivitas serasah di lokasi penelitian Kepadatan L. neritoides pada masing-masing jenis mangrove di lokasi penelitian Kepadatan Littorina neritoides pada tegakan mangrove (Rhizophora spp) saat pasang terendah Kepadatan Littorina neritoides pada tegakan mangrove (Rhizophora spp) saat pasang tertinggi (Bulan purnama) Kepadatan Littorina neritoides pada tegakan mangrove (Rhizophora spp) saat pasang tertinggi (Bulan baru) Perbandingan kepadatan L. neritoides pada masing-masing zona vertikal mangrove di Pulau Bauluang Hubungan kepadatan L. neritoides dengan kerapatan mangrove pada masing-masing zona vertikal mangrove di Pulau Bauluang Perbandingan kepadatan L. neritoides pada masing-masing zona vertikal mangrove di Pulau Lantangpeo Perbandingan kepadatan L. neritoides pada masing-masing zona vertikal mangrove di Pulau Lantangpeo (terlindung) Hubungan kepadatan L. neritoides dengan kerapatan mangrove pada masing-masing zona vertikal mangrove di Pulau Lantangpeo Hubungan kepadatan L. neritoides dengan kerapatan mangrove Hubungan kepadatan L. neritoides dengan penutupan mangrove Grafik Analisis Komponen Utama (PCA) karakteristik fisika kimia dan biologi perairan di lokasi penelitian... 49

15 20 Grafik Analisis Komponen Utama (PCA) karakteristik sedimen dan kondisi biologi di lokasi penelitian... 50

16 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Hasil perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) kategori pohon di Pulau Bauluang Hasil perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) kategori pohon di Pulau Lantangpeo Hasil perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) kategori pohon di Pulau Lantangpeo bagian terlindung Hasil perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) kategori anakan di Pulau Bauluang Hasil perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) kategori anakan di Pulau Lantangpeo Hasil perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) kategori anakan di Pulau Lantangpeo bagian terlindung Hasil perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) kategori semai di Pulau Bauluang Hasil perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) kategori semai di Pulau Lantangpeo Hasil perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) kategori semai di Pulau Lantangpeo bagian terlindung Kepadatan gastropoda Littorina neritoides (m2) pada saat pasang terendah Kepadatan gastropoda Littorina neritoides (m2) pada saat pasang tertinggi (bulan baru) Kepadatan gastropoda Littorina neritoides (m2) pada saat pasang tertinggi (bulan purnama) Hasil Analisis Komponen Utama variabel fisika kimia lingkungan Hasil Analisis Komponen karakteristik biologi perairan (a) Hasil analisis regresi polynomial kubik antara kerapatan mangrove dengan kepadatan (b) Hasil analisis regresi polynomial kubik antara penutupan mangrove dengan kepadatan Ekosistem mangrove dan asosiasinya dengan gastropoda L. neritoides Pada lokasi penelitian... 77

17 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem utama di perairan yang mengandung sumberdaya alam hayati yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam menunjang kehidupan dan kesejahteraan secara berkesinambungan dengan tetap menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestariannya. Mangrove terutama dimanfaatkan langsung oleh masyarakat sebagai bahan pembuatan arang, kayu bakar dan juga sebagai bahan konstruksi, sehingga seiring dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka pemanfaatan hutan mangrove semakin meningkat pula. Hal ini dapat berdampak pada kerusakan ekosistem mangrove yang selanjutnya dapat memusnahkan berbagai fungsi ekosistem tersebut. Ditinjau dari sisi ekologis, mangrove dihuni oleh beragam biota baik berasal dari daratan maupun dari lautan, serta fauna khas penghuni mangrove. Secara garis besar fauna yang menghuni kawasan mangrove dapat dikategorikan ke dalam kelompok pendatang dan penghuni asli. Kelompok pendatang adalah fauna yang berada di kawasan mangrove hanya sebagian saja dari siklus hidupnya, sedangkan penghuni asli menghabiskan seluruh siklus hidupnya pada kawasan mangrove. Salah satu fauna penghuni asli kawasan mangrove adalah gastropoda. Keberadaan gastropoda ini sangat dipengaruhi oleh kondisi kawasan mangrove itu sendiri. Pada kawasan yang terbuka terhadap laut lepas, komposisi gastropoda akan lebih banyak dipengaruhi oleh jenis yang berasal dari laut. Selain itu juga ditentukan oleh kondisi fisika kimia substrat dan komunitas mangrove itu sendiri. Pada lokasi penelitian di dapatkan jenis gastropoda yang dominan adalah Littorina neritoides. Secara ekonomis gastropoda termasuk L. neritoides belum mempunyai nilai penting namun sebagai grazer gastropoda berperan penting dalam rantai makanan karena mendukung kehidupan pada rantai makanan selanjutnya. Tekanan lingkungan cukup besar terjadi pada beberapa ekosistem mangrove di Sulawesi Selatan khususnya pulau-pulau kecil yang termasuk ke dalam kepulauan Tanakeke, akibat adanya eksploitasi untuk bahan pembuatan arang dan kayu bakar dan konversi menjadi lahan tambak. Padahal pemanfaatan yang tidak berlebihan dapat memberikan manfaat yang sangat

18 besar bagi masyarakat, karena tersedianya habitat bagi berbagai organisme yang berasosiasi dengan mangrove, sehingga kelangsungan produksi dapat terjamin. Ekosistem mangrove yang mengalami tekanan terus menerus akan berdampak pada berbagai organisme yang memanfaatkan ekosistem ini sebagai habitat, terutama L. neritoides sebagai organisme yang dominan pada ekosistem mangrove di Pulau Bauluang dan Pulau Lantangpeo. Dampak yang dapat ditimbulkan seperti terjadinya degradasi populasi L. neritoides yang akan mengakibatkan terganggunya bahkan terputusnya rantai makanan pada ekosistem tersebut Perumusan Masalah Ekosistem mangrove di Kepulauan Tanakeke dalam kurun waktu satu dekade terakhir mengalami degradasi yang tinggi. Eksploitasi tersebut terutama dikonversi menjadi areal tambak. Luas ekosistem mangrove di Sulawesi Selatan dari data RePPProT (1985) adalah ha, namun Giessen et al (1991) dalam Bahar (2004), mengatakan bahwa luas mangrove yang tersisa adalah ha atau tersisa 31% dari luas areal semula. Lebih lanjut dilaporkan bahwa laju degradasi ekosistem mangrove di Sulawesi sebesar 68,9%. Saat ini ekosistem mangrove di kepulauan Tanakeke, khususnya di Pulau Bauluang dan Lantangpeo, merupakan hasil rehabilitasi yang dilakukan oleh pemerintah. Kenyataan ini memperlihatkan sebagian pola komunitas mangrove pada kawasan ini tidak sama dengan pola mangrove yang terbentuk secara alami. Walaupun demikian ditemukan berbagai macam fauna invertebrata dan vertebrata pada ekosistem ini, termasuk berbagai organisme yang ditemukan pada substrat, akar, batang dan daun mangrove. Apabila ekosistem mangrove mengalami degradasi yang berpotensi terhadap kerusakan ekosistem, tentunya hal ini akan merubah karakteristik lingkungan yang akan berpengaruh terhadap fungsi ekologisnya, terutama sebagai habitat berbagai organisme termasuk gastropoda. Selanjutnya akan berdampak pada keberadaan populasi L. neritoides karena dapat terjadi perubahan struktur mangrove yang mengakibatkan perubahan kontribusi bahan organik. Di Pulau Bauluang dan Lantangpeo, gastropoda L. neritoides dapat dijadikan indikator degradasi ekosistem mangrove akibat tekanan lingkungan, dilihat dari kepadatannya dan karena ditemukan dominan di area ini.

19 Di Pulau Bauluang dan Lantangpeo kondisi ekosistem mangrove sudah pulih, akan tetapi terjadi degradasi populasi Littorina neritoides dari bagian depan mangrove yang berhadapan langsung dengan laut sampai ke bagian belakang ekosistem mangrove. Fenomena ini perlu dianalisis untuk medapatkan informasi sejauh mana keterkaitan mangrove dengan kepadatan Littorina neritoides sehingga pemanfaatan mangrove ke depannya dapat dilakukan dengan tetap menjaga kelestariannya. Ekosistem mangrove juga memberikan kontribusi berupa nutrien terhadap L. neritoides, namun analisis mengenai besarnya kontribusi tersebut belum pernah dilakukan pada lokasi penelitian ini. Selain itu analisis untuk mendapatkan informasi mengenai pola hubungan antara ekosistem mangrove dalam hal kerapatan dan penutupan dengan kepadatan L. neritoides perlu dilakukan agar pemanfaatan ekosistem yang berlebihan dapat dihindari Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : - Menganalisis kondisi ekosistem mangrove di Pulau Bauluang dan Pulau Lantangpeo. - Menganalisis populasi Littorina neritoides di lokasi penelitian. - Mendeterminasi keterkaitan Littorina neritoides dengan ekosistem mangrove di lokasi penelitian Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi mengenai keberadaan populasi gastropoda dan keterkaitannya dengan ekosistem mangrove, sehingga informasi ini dapat berkontribusi dalam pengelolaan ekosistem mangrove di kawasan ini Hipotesis Keberadaan populasi gastropoda L. neritoides terkait erat dengan tipologi mangrove, sehingga perubahan yang terjadi pada ekosistem mangrove akan mempengaruhi populasi gastropoda L. neritoides.

20 1.6. Kerangka pemikiran Ekosistem mangrove memiliki berbagai fungsi baik secara fisik, ekologis maupun sosial ekonomi. Fungsi ekologis terutama sebagai habitat yang baik untuk daerah pemijahan (spawning ground), daerah pengasuhan (nursery ground) dan daerah mencari makan (feeding ground) berbagai macam organisme, selain itu berperan penting dalam produktivitas perairan melalui serasah yang dihasilkan. Salah satu biota yang berperan cukup penting pada ekosistem mangrove di sini adalah gastropoda. Gastropoda L. neritoides yang dominan pada ekosistem mangrove di Pulau Bauluang dan Lantangpeo, memanfaatkan pohon mangrove sebagai tempat melekat. Serasah yang merupakan potensi nutrien akan mendukung pertumbuhan alga sebagai makanan bagi L. neritoides. Eksistensi fauna ini sangat tergantung pada kondisi ekosistem mangrove, terutama dalam hal ini ketersediaan habitat dan makanan yang dipengaruhi oleh kondisi fisik kimiawi lingkungan (Gambar 1). Produksi serasah akan mendukung ketersediaan makanan fauna ini, oleh karenanya diperlukan suatu pendekatan untuk mengetahui seberapa besar sumbangan mangrove terhadap L. neritoides berupa nutrien dalam bentuk nitrat dan fosfat. Pentingnya ekosistem mangrove terhadap populasi L. neritoides dan belum adanya informasi mengenai keterkaitan antara keduanya merupakan dasar dari penelitian ini dengan berusaha mengkaji keterkaitan antara ekosistem mangrove dengan L. neritoides, dengan mengaitkan antara kondisi mangrove dengan populasi Littorina neritoides.

21 Ekosistem Mangrove Fungsi fisik Fungsi ekologis Fungsi sosial ekonomi Habitat Produktivitas perairan Mencari makan o o Produksi serasah Ketersediaan nutrien Tegakan mangrove Alga Kondisi fisik kimiawi lingkungan Populasi Littorina neritoides Gambar 1 Kerangka pemikiran

22 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ekosistem Mangrove Kata mangrove merupakan kombinasi antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove (Macnae, 1968). Dalam bahasa Inggris kata mangrove digunakan baik untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang-surut maupun untuk individu-individu spesies tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut. Sedangkan dalam bahasa Portugis kata mangrove digunakan untuk menyatakan individu spesies tumbuhan, sedangkan kata mangal untuk menyatakan komunitas tumbuhan tersebut. Bengen (2004) mendefinisikan hutan mangrove sebagai komunitas vegetasi pantai tropis dan sub tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang-surut pantai berlumpur. Adapun menurut Aksornkoae (1993), hutan mangrove adalah tumbuhan halofit yang hidup di sepanjang areal pantai yang dipengaruhi oleh pasang tertinggi sampai daerah mendekati ketinggian rata-rata air laut yang tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis. Ekosistem mangrove di pulau-pulau kecil merupakan ekosistem utama yang sangat berperan penting bagi ketersediaan sumberdaya ikan di kawasan tersebut, dan bagi kelangsungan hidup ekosistem lainnya serta bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya. Ekosistem mangrove di pulau-pulau kecil menghadapi gradien karakter lingkungan yang berat, sehingga hanya jenis tertentu yang memiliki toleransi terhadap kondisi lingkungan yang dapat bertahan dan berkembang. Peran penting dari pohon mangrove adalah luruhan daun yang gugur ke dalam air (serasah). Serasah ini merupakan sumber bahan organik yang penting dalam rantai makanan yang bisa mencapai 7 8 ton /ha/tahun, dan berperan penting dalam kesuburan perairan di sekitarnya. Bengen (2004), memaparkan lebih jauh tentang fungsi ekologis hutan mangrove sebagai berikut : Sebagai peredam gelombang dan angin badai, pelindung pantai dari abrasi, penahan lumpur dan perangkap sedimen yang diangkut oleh aliran air permukaan. Sebagai penghasil sejumlah detritus, terutama yang berasal dari daun dan dahan pohon mangrove yang rontok. Sebagian dari detritus ini dapat

23 dimanfaatkan sebagai bahan makanan bagi para pemakan detritus, dan sebagian lagi diuraikan secara bakterial menjadi mineral-mineral hara yang berperan dalam penyuburan perairan. Sebagai daerah asuhan (nursery ground), daerah mencari makan (feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning ground) bermacam biota perairan (ikan, udang dan kekerangan) baik yang hidup di perairan pantai maupun lepas pantai. Pemanfaatan hutan mangrove saat ini sangat tinggi, terutama sebagai penghasil kayu bakar, bahan baku untuk membuat arang, dan juga untuk pembuatan bubur kertas (pulp). Disamping itu ekosistem mangrove dimanfaatkan sebagai pemasok larva ikan dan udang alam, bahkan Saenger et al (1983) dalam Bengen (2004) telah mengidentifikasi lebih dari 70 macam kegunaan pohon mangrove bagi kepentingan umat manusia, baik dalam bentuk produk langsung maupun produk tidak langsung. Lugo dan Snedaker (1974) dalam Woodroffe (1992), membagi mangrove berdasarkan fungsi dan substrat dasarnya sebagai berikut (Gambar 2) : 1. Overwash (genangan pasut) mangrove, merupakan tanaman mangrove yang berada dalam bentuk pulau kecil dengan jenis Rhizophora sp yang dominan dan sedimen dasar terbentuk dari tanah humus serasah mangrove yang terakumulasi. 2. Fringe (tepian pantai) mangrove, merupakan mangrove yang terletak di tepian pantai dengan sedimen pasir berlumpur yang dipengaruhi pasang surut, umumnya didominasi oleh Rhizophora sp. 3. Riverine (sepanjang sungai) mangrove, merupakan mangrove yang berada di kanan dan kiri sungai yang umumnya ke arah darat membentuk zonasi dan substratnya adalah pasir dan lumpur. 4. Basin (genangan sungai) mangrove, merupakan mangrove yang terdapat di bagian dalam hutan mangrove berbentuk cekungan seperti mangkuk dengan sedimen berasal dari serasah mangrove. 5. Hammock (berelevasi) mangrove, merupakan tipe mangrove seperti basin mangrove, tetapi sedimen dasar di bawah serasah mangrove adalah limestone. 6. Scrub (semak) mangrove, merupakan mangrove dalam bentuk belukar yang berukuran kerdil dan umumnya areal ini miskin nutrien.

24 Overwash fringe Riverine Basin Hammock Scrub Gambar 2 Tipe komunitas mangrove (Lugo dan Snedaker, 1974 dan Tomascik et al, 1997) 2.2. Produktivitas Ekosistem Mangrove Ekosistem mangrove memiliki peran yang sangat penting yaitu berhubungan dengan produktivitas primer yang tinggi jika dibandingkan dengan ekosistem lain di wilayah pesisir. Secara biologi ekosistem mangrove merupakan produsen primer energi hidup melalui serasah yang dihasilkan. Produktivitas primer ekosistem ini diperkirakan lebih besar daripada produktivitas ekosistem perairan pantai lainnya seperti ekosistem terumbu karang dan padang lamun (Indradjaya, 1992). Soenardjo (1999) mengatakan bahwa produksi primer bersih merupakan bagian dari produksi primer fotosintesis tumbuhan yang tersisa setelah beberapa bagian digunakan untuk respirasi tumbuhan yang bersangkutan. Fotosintesis dan respirasi adalah dua elemen pokok dari produksi primer bersih. Komponenkomponen produksi primer bersih adalah keseluruhan dari organ utama tumbuhan meliputi daun, batang dan akar. Selanjutnya Clough (1986) dalam Soenardjo (1999) menyatakan produksi primer bersih mangrove berupa materi yang tergabung dalam biomassa tumbuhan yang selanjutnya akan lepas sebagai serasah atau dikonsumsi oleh organisme heterotrof atau dapat juga dinyatakan sebagai akumulasi materi organik baru dalam jaringan tumbuhan sebagai kelebihan dari respirasi yang biasanya dinyatakan dalam berat kering materi organik. Tumbuhan mangrove sebagaimana tumbuhan lainnya mengkonversi cahaya matahari dan zat hara (nutrien) menjadi jaringan tumbuhan (bahan

25 organik) melalui proses fotosintesis. Tumbuhan mangrove merupakan sumber makanan potensial, dalam berbagai bentuk, bagi semua biota yang hidup di ekosistem hutan mangrove. Berbeda dengan ekosistem pesisir lainnya, komponen dasar dari rantai makanan di ekosistem hutan mangrove bukanlah tumbuhan mangrove itu sendiri, tetapi serasah yang berasal dari tumbuhan mangrove (daun, ranting, buah, batang dan sebagainya) (Bengen, 2004). Sebagian serasah mangrove di dekomposisi (dihancurkan/diuraikan) oleh bakteri dan fungi menjadi zat hara (nutrien) terlarut yang dapat dimanfaatkan langsung oleh fitoplankton, alga, ataupun tumbuhan mangrove sendiri dalam proses fotosintesis, sebagian lagi sebagai partikel serasah (detritus) dimanfaatkan oleh ikan, udang, dan kepiting sebagai makanannya. Proses makan memakan dalam berbagai kategori dan tingkatan biota membentuk suatu jala/rantai makanan (Bengen, 2004). Serasah atau detritus organik meliputi semua bahan tumbuhan yang telah mati dan melalui beberapa tahapan dekomposisi yang dapat menghasilkan energi potensial bagi kehidupan konsumer. Sebutan serasah biasanya digunakan untuk ekosistem daratan khususnya bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan tinggi sedangkan detritus digunakan untuk ekosistem perairan (Mason, 1977). Daun-daun mangrove yang jatuh didefinisikan oleh Chapman (1976) sebagai berat materi tumbuhan mati yang jatuh dalam satuan luas permukaan tanah dalam periode waktu tertentu. Dekomposisi adalah proses penghancuran organisme secara bertahap sehingga strukturnya tidak lagi dalam bentuk yang kompleks tetapi telah di uraikan menjadi bentuk-bentuk yang sederhana. Lamanya proses dekomposisi daun mangrove antara jenis mangrove yang satu dengan lain berbeda. Organisme-organisme yang telah mati mengalami penghancuran yaitu pecahanpecahan berukuran besar menjadi partikel-partikel lebih kecil dan akhirnya menjadi molekul-molekul. Dekomposisi mencakup interaksi rumit dari faktor-faktor lingkungan fisik dan aktivitas biologi. Mason (1977) membagi proses-proses dekomposisi menjadi 3 yaitu pelindihan (leaching), penghawaan (weathering) dan aktivitas biologi. Ketiga proses tersebut berlangsung secara simultan. Pelindihan adalah mekanisme hilangnya bahan-bahan yang dapat larut dari serasah atau detritus organik oleh hujan atau aliran air. Penghawaan adalah mekanisme pelapukan atau faktor-faktor fisik seperti pengikisan oleh angin, es atau pergerakan

26 gelombang. Sementara aktivitas biologi adalah proses yang menghasilkan pecahan-pecahan bahan organik (detritus) secara bertahap oleh makhluk hidup. Produksi serasah daun untuk setiap jenis mangrove berbeda. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor internal dan eksternal nyang saling berkaitan. Hasil penelitian Soerojo (1986) di Kembang Kuning Cilacap yaitu jumlah serasah daun mangrove yang dihasilkan oleh jenis Rhizopora apiculata 2.12 gram kering/m 2 /hari. Perbedaan jumlah serasah yang dihasilkan antara satu lokasi lokasi dengan lokasi lainnya disebabkan oleh beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi produktivitas, kesuburan tanah, kelembaban tanah, kerapatan, musim dan tegakan. Hasil penelitian Sediadi dan Pramudji (1987) menunjukkan bahwa pada tegakan Rhizopora, jumlah jatuhan serasahnya meningkat secara nyata sesuai dengan pertambahan umur dan jumlah maksimumnya didapatkan pada usia 10 tahun. Tegakan di atas 10 tahun tidak menghasilkan perbedaan nyata. Jarak tumbuh dari garis pantai secara tidak langsung juga mempengaruhi jumlah serasah yang jatuh. Mangrove dengan tegakan tua akan menghasilkan jatuhan serasah lebih banyak dan tegakan Rhizopora menghasilkan jatuhan serasah lebih banyak dibanding dengan tegakan Avicenia. Pelepasan nutrisi anorganik selama periode dekomposisi sangat penting dalam mempertahankan keberlangsungan siklus nutrisi di lingkungan alam. Dengan terpeliharanya siklus nutrisi maka pertumbuhan alga dapat berlangsung secara lestari. Produksi zat hara dalam siklus ini tidak saja sebagai faktor penting bagi produksi alga akan tetapi juga untuk pertumbuhan plankton pada perairan pantai yang mempunyai hubungan dengan ekosistem mangrove (Soenardjo, 1999) Peran Mangrove sebagai Habitat Moluska Dalam ekosistem mangrove kelas gastropoda merupakan kelompok yang dominan dari moluska. Menurut Frith (1977), kelompok gastropoda yang dominan pada hutan mangrove ádalah dari famili Neritidae, Littorinidae, Potamididae, Muricidae, Onchinidae dan Ellobidae. Selanjutnya Budiman dan Darnaedi (1982) menambahkan bahwa jenis-jenis moluska dari famili Potamididae dan Ellobiidae mempunyai frekuensi kehadiran yang cukup tinggi di hutan mangrove karena luasnya daerah yang disukai oleh Ellobiidae (kering, lembab, berpasir) dan Potamididae (lumpur, berair, terbuka). Kehadiran jenis-

27 jenis moluska yang tinggi tergantung pada kemampuan menyesuaikan diri atau memiliki toleransi lingkungan yang luas, seperti tahan kering (Littorina, Brachiodontes dan Crassostrea), jenis yang dapat menghindar dari air pasang (Nerita dan Littorina) dan jenis yang tahan terendam air (Cerithidea). Menurut Budiman (1991) batasan masing-masing kelompok moluska penghuni hutan mangrove adalah sebagai berikut : 1. Kelompok moluska asli hutan mangrove artinya semua jenis moluska yang seluruh atau sebagian besar hidup dewasanya dihabiskan di hutan mangrove, dimana jenis-jenis moluska ini sangat jarang ditemukan di luar ekosistem mangrove. Sebagian besar pemakan serasah, hanya beberapa jenis pemakan alga. Banyak dijumpai di bagian tengah dan belakang hutan mangrove. Contohnya Cerithidea cingulata dan Terebralia sulcata. 2. Kelompok moluska fakultatif artinya jenis-jenis moluska yang mempergunakan hutan mangrove sebagai salah satu tempat hidupnya. Penyebarannya terutama di bagian depan hutan mangrove dan apabila keadaan memungkinkan menyebar sampai bagian tengah hutan mangrove. Contoh Crasosstrea cuculata dan Littorina scabra. 3. Kelompok moluska pendatang artinya jenis-jenis moluska yang secara tidak sengaja ada dalam ekosistem mangrove, umumnya hidup di area sempit di sekitar perbatasan dengan ekosistem tempat hidupnya dan frekuensi kehadiran dan jumlah individu di luar ekosistem lebih melimpah. contoh Thiara scabra dan Barbatia pectumcularis. Menurut Kartawinata et al (1979), adanya perbedaan jenis substrat dan kondisi mikrohabitat serta kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan menyebabkan gastropoda menyebar secara mendatar dan menegak. Habitat hutan mangrove bersifat khusus, setiap jenis biota di dalamnya mempunyai kisaran ekologis dan mempunyai relung tersendiri. Sebaran mendatar berlaku bagi jenis-jenis yang hidup pada permukaan substrat baik sebagai infauna maupun epifauna. Sementara sebaran menegak berlaku bagi jenis fauna yang hidupnya melekat pada akar atau menempel pada batang dan daun pohon mangrove. Diantara faktor-faktor substrat yang mempengaruhi distribusí vertikal adalah : (1) keadaan dan ukuran butiran, (2) jenis, banyaknya dan bentuk bahan organik yang berasosiasi dengan substrat, (3) derajat kekerasan substrat padat, (4) jumlah (luasan) daerah dari jenis substrat tertentu, (5) faktor-faktor lingkungan air seperti gerakan air, cahaya, salinitas, oksigen, tekanan dan sebagainya.

28 Variasi substrat dalam hutan mangrove meliputi akar-akar, batang dan daun mangrove, kayu-kayu mati, lumpur, tumpukan pasir dan lainnya (Berry, 1963). Fauna hutan mangrove berdasarkan habitatnya adalah; (1) Fauna yang hidup di atas permukaan tanah (surface fauna/epifauna), (2) Fauna yang hidup meliang dalam tanah (infauna), (3) Fauna yang hidup di pohon mangrove (tree fauna) (Sasekumar 1974). Lebih lanjut Berry dalam Budiman dan Darnaedi (1982), mengatakan bahwa semua gastropoda yang termasuk pemanjat pohon, bergerak aktif turun dan naik mengikuti pasang dan surut, hal ini merupakan suatu adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang disebabkan oleh pengaruh pasang surut di dalam hutan mangrove. Cockroft dan Forbes dalam Kusrini (1988) menambahkan bahwa penghindaran air selama periode pasang naik dapat merupakan mekanisme menghindari pemangsaan. Budiman (1991) mengatakan bahwa jenis-jenis yang hidup di daerah pasang surut memiliki beberapa cara mengatasi problem lingkungan hidup antara lain: 1. Menyimpan air dalam cangkang. 2. Bergerak mencari tempat yang masih digenangi air atau masih lembab. 3. Memofifikasi atau menambah alat pernafasan lain selain insang, sehingga dapat mengambil oksigen langsung dari udara. 4. Toleransi terhadap fluktuasi salinitas yang besar terutama di daerah tropis yang mengalami penyinaran matahari kuat dan frekuensi hujan yang cukup tinggi, berpengaruh terhadap perairan pantai. Hughes (1986) mengatakan bahwa pada pantai berbatu di daerah terbuka yang kering Littorina neritoides menutup cangkangnya dengan operculum sampai kondisi lingkungan kembali lembab, dan difusi oksigen sekitar operculum diminimalkan. Menurut Nybakken (1992), pemilihan habitat dari gastropoda tergantung dari ketersediaan makanan yang berupa detritus dan makroalgae serta kondisi lingkungan yang terlindung dari gerakan massa air. Hawkes (1979) menambahkan bahwa faktor físika dan kimia seperti pasang surut, kedalaman, substrat, kecepatan arus, Oksigen terlarut, ph, Logam berat dan unsur hara serta interaksi kedua faktor tersebut dapat mempengaruhi kehidupan perairan. Salah satu jenis gastropoda yang memanfaatkan mangrove sebagai habitat adalah Littorina spp. Menurut Tantanasiriwong (1978), gastropoda yang ditemukan pada hutan mangrove termasuk dalam sub kelas Prosobranchia.

29 Beberapa famili yang umum ditemukan yaitu: Littorinidae, Neritidae, Potamididae, Cerithiidae. Jenis Littorina spp merupakan gastropoda dari famili Littorinidae dan termasuk kelompok moluska fakultatif. Adapun susunan taksonomi gastropoda L. neritoides adalah sebagai berikut: Filum : Moluska Kelas : Gastropoda Subkelas : Prosobranchia Ordo : Mesogastropoda Famili : Littorinidae Genus : Littorina Spesies : Littorina neritoides Penyebaran kelompok ini terutama di bagian muka ekosistem mangrove dan apabila keadaan memungkinkan dapat menyebar sampai bagian tengah hutan mangrove. Menurut Kartawinata et al (1978), Littorina spp merupakan jenis yang sifatnya semiterestris yaitu jenis yang hidupnya hampir selalu di atas air, artinya selalu berada pada tajuk pohon mangrove di atas permukaan laut. Genus Littorina ditemukan hidup di batang, akar, cabang dan daun mangrove. Akar dan batang mangrove dimanfaatkan sebagai mikrohabitat, karena memerlukan ketersediaan substrat keras tempat melekat serta untuk melindungi diri dari mangsa. Penelitian yang dilakukan oleh Samson (1999) menemukan bahwa pada daerah yang ditumbuhi Bruguiera gymnorrhiza, yang memiliki sistem perakaran berupa akar lutut yang rendah ditemukan sedikit individu gastropoda. Sistem perakaran akar lutut kurang baik untuk substrat tempat melekatnya gastropoda yang membutuhkan substrat yang lebih tinggi, sehingga memungkinkan mereka terhindar dari air. Selain itu diduga arus air yang melewatinya bergerak relatif lebih cepat tanpa hambatan yang berarti dari akar. Dari penelitian tersebut didapatkan bahwa kondisi yang kurang menguntungkan ini hanya dapat diadaptasi dengan baik oleh Nerita lineata yang melekat erat dalam jalinan akar Bruguiera gymnorrhiza. Menurut Paine (1996) dalam Boneka (1993), kelimpahan Littorina dikontrol oleh substrat dalam hal ini permukaan mikrohabitat (tegakan mangrove) dan dapat juga dikontrol oleh pemangsaan. Boneka et al (1997) mengatakan bahwa beberapa predator teresterial yang diketahui seperti burung, kadal, dan ular, sedangkan predator akuatik seperti kepiting dan ikan. Penelitian yang dilakukan di Pulau Bunaken, Sulawesi Utara menunjukan bahwa predator akuatik seperti

30 kepiting masuk melalui bagian bawah pohon dan memangsa gastropoda Littorina scabra, sementara predator teresterial masuk melalui bagian atas pohon. Pada penelitian ini predator yang ditemukan terutama kepiting: Portunids (Scylla serrata, Thalamita crenata, Portunus pelagicus), grapsids (Metopograpsus sp, Sesarma sp) dan Hermit crabs (Calcinus sp). Kepiting ini terutama aktif pada malam hari. Portunids aktif pada saat pasang tinggi, sedangkan grapsids dan hermit crabs aktif pada kondisi pasang maupun surut. Beberapa kepiting portunid menggali atau bersembunyi di balik pecahan karang selama periode surut untuk menghindari keterbukaan. Lebih lanjut Reid (1992) mengatakan bahwa di Selat Cockle, Magnetic Island, Queensland utara ditemukan dua predator penting, yaitu burung dan kepiting. Burung merupakan predator yang memangsa gastropoda yang berada pada bagian pohon yang tinggi yaitu pada dedaunan (Reid 1986 dalam Boneka et al 1997)). Untuk melindungi diri dari predator spesies yang memanfaatkan mangrove sebagai habitat terutama spesies yang cenderung berada pada bagian akar dan batang memiliki warna yang gelap. Berkaitan dengan pemilihan habitat di dedaunan mangrove, Boneka (1993) mengatakan bahwa distribusi dan kelimpahan spesies Littorina dapat dihubungkan dengan karakteristik substrat dalam hal ini tegakan mangrove sebagai mikrohabitat dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Dedaunan mangrove berada pada bagian yang relatif terbuka dibanding bagian lainnya seperti batang dan akar. 2. Dedaunan secara alami berada pada level tinggi pada pohon mangrove. 3. Ketinggian pohon (hubungannya dengan umur) dapat mengontrol ketersediaan daun untuk gastropoda Nilai Penting Gastropoda Littorina spp Gastropoda Littorina spp belum memiliki nilai ekonomis penting, namun dalam ekosistem mangrove sangat berperan penting dalam rantai makanan. Menurut Nybakken (1992), pada umumnya moluska berperan penting dalam suatu ekosistem yaitu sebagai bagian dari rantai makanan dan sebagai indikator pencemaran pada muara-muara sungai (estuaria) dan juga pada bagian pantai yang terlindung dari gelombang besar. Beberapa spesies gastropoda telah dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan industri. Menurut Prahoro dan Anthony (2000), jenis-jenis gastropoda yang

31 sering dimanfaatkan dan dikonsumsi oleh masyarakat Lombok Timur adalah Vasticardium sp, Donax sp, Codikia sp, Strombus sp, Pila polita, Siphonaria sirius. Kasinatha dan Shanmugam (1988) melaporkan bahwa telah terjadi pengambilan secara berlebihan (Overexploitasi) fauna gastropoda seperti Telescopium sp, Cerithidea fluviantilis, Nitica sp, littorina spp, dan Nassarius sp di kawasan mangrove Pitchavaram dan estuari Vellar India untuk industri kapur. Gastropoda Littorina spp merupakan grazer (micro herbivore) yang memanfaatkan alga yang melekat pada pohon mangrove. Serasah mangrove yang didekomposisi menjadi nutrien terlarut dimanfaatkan oleh alga dalam proses fotosintesis. Selain dimanfaatkan oleh gastropoda, alga juga dimanfaatkan oleh udang-udang kecil, ikan dan organisme lainnya. Selanjutnya kepiting dan ikan akan memanfaatkan gastropoda Littorina spp ini sebagai makanan. Menurut Boneka et al (1997) kepiting dan ikan merupakan dari predator akuatik utama bagi Littorina spp. Kepiting dan ikan merupakan sumberdaya hayati yang dapat menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat setempat sehingga dapat membantu meningkatkan perekonomian. Dengan terciptanya rantai makanan ini, maka ketika gastropoda Littorina spp mengalami degradasi akibat adanya gangguan ekosistem mangrove maka dapat berdampak pada terganggunya rantai makanan bahkan berpotensi terhadap terputusnya rantai makanan pada ekosistem tersebut. Lebih lanjut akan berdampak pada berkurangnya sumberdaya hayati dan lebih jauh akan mempengaruhi perekonomian masyarakat setempat.

32 III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan April sampai Juni 2007 di ekosistem mangrove yang terdapat di Pulau Bauluang dan Pulau Lantangpeo, Kepulauan Tanakeke, Kecamatan Mappakasunggu, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan (Gambar 3). Pulau Bauluang dan Pulau Lantangpeo merupakan bagian dari Kepulauan Tanakeke yang terletak di Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan, sekitar 40 km sebelah selatan Kota Makassar. Berdasarkan keputusan UNESCO (1991) mengenai batasan pulau kecil maka kedua pulau ini dikategorikan sebagai pulau sangat kecil karena luasnya kurang dari 100 km 2 dan lebarnya kurang dari 3 km. Pulau-pulau yang terdapat pada Kepulauan Tanakeke memiliki topografi datar dengan persentase kelandaian 35%. Pulau Lantangpeo memiliki bentuk pantai yang berlekuk-lekuk sehingga membentuk teluk, hal ini memungkinkan munculnya endapan lumpur yang dalam.

33 3.2. Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan pada penelitian serta parameter yang diukur disajikan pada Tabel 1 sebagai berikut : Tabel 1 Parameter, Alat dan Bahan Penelitian Parameter Satuan Metode analisis/alat Bahan FISIK OSEANOGRAFI: 1. Suhu 2. Arus 0 C m/s Termometer Bola duga + kompas Air contoh KUALITAS AIR: 1. ph 2. DO 3. TOM 4. Salinitas 5. Nitrat 6. Fosfat SEDIMEN : 1. Fraksi sedimen 2. ph 3. Redoks potensial (Eh) 4. TOM 5. DO BIOLOGI : 1. Mangrove - Kerapatan - Penutupan - INP 2. Littorina neritoides 3. Produktivitas serasah mg/l mg/l 0 / 00 mg/l mg/l % mv mg/l mg/l Ind/100m 2, m 2 /ha, % Ind/m 2 gr /m 2 /hari ph-meter DO meter Titrimetrik Handrefraktometer Spektrofotometer Spektrofotometer Pengayakan ph-meter Redoks potensiometer Titrimetrik Titrimetrik Transek kuadrat Transek kuadrat Jala Penampung, oven, timbangan Air contoh Air contoh Air contoh Air contoh Air contoh, Asam disulfonim, NO 3, NH 4 OH, Air contoh, Asam disulfonim, PO 4, NH4OH Sampel sedimen Tegakan mangrove Sampel L. neritoides Serasah mangrove 4. Pemanfaatan nutrien 5. Pemanfaatan alga mg/l % Styrofoam Styrofoam, kaca, mikroskop Air contoh Sampel L. neritoides 3.3. Prosedur Penelitian Tahap Penentuan Stasiun Penentuan titik stasiun dilakukan pada setiap kerapatan mangrove baik secara vertikal maupun secara horizontal, dan berdasarkan keberadaan ekosistem mangrove di Pulau Bauluang dan Pulau Lantangpeo.

34 Tahap Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan untuk dianalisis terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer yang dimaksud adalah data yang terdiri dari data mengenai kondisi mangrove, serasah mangrove, kualitas air, kepadatan populasi L. neritoides, sedangkan data sekunder adalah data pasang surut. a. Kondisi ekosistem mangrove Pengumpulan data kondisi ekosistem mangrove dilakukan dengan menggunakan transek kuadrat berukuran 10 m x 10 m. Masing-masing stasiun pengamatan ditempatkan pada Pulau Bauluang dan Pulau Lantangpeo, dimana setiap stasiun terdiri dari 3 transek garis dan tiap transek garis terdiri dari 3 transek kuadrat (Gambar 4). Transek garis ditentukan dari arah laut ke darat Transek garis U Laut Darat Transek kuadrat Gambar 4 Contoh penempatan transek pengukuran vegetasi mangrove b. Kualitas air Pengukuran kualitas air dilakukan dengan dua cara yaitu secara insitu dan pengukuran di laboratorium. Pengukuran secara insitu dilakukan dengan cara mengambil contoh air pada masing-masing stasiun pengamatan. Parameter kualitas air yang diukur di lapangan meliputi suhu, oksigen terlarut (DO), ph dan salinitas, sedangkan untuk parameter kualitas air yang diukur di laboratorium seperti TOM, nitrat dan fosfat dilakukan dengan mengambil

35 contoh air yang selanjutnya dianalisis di Laboratorium Oseanografi Kimia, Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar. c. Kualitas sedimen dan fraksi sedimen Contoh sedimen diambil pada stasiun yang sama dengan pengambilan contoh air. Sedimen diambil kurang lebih 500 gram selanjutnya dimasukkan ke dalam plastik dan disimpan dalam cool box untuk selanjutnya dianalisis di laboratorium Oseanografi Kimia, Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar. d. Kepadatan populasi Littorina neritoides Pengukuran kepadatan populasi L. neritoides dilakukan dengan menggunakan transek kuadrat berukuran 1 m x 1 m yang ditempatkan di setiap transek kuadrat pada ekosistem mangrove. Pada tiap transek kuadrat di ekosistem mangrove terdapat 5 transek kuadrat untuk pengamatan kepadatan populasi L. neritoides pada masing-masing jenis mangrove. e. Pemanfaatan nutrien oleh alga dan pemanfaatan alga oleh L. neritoides. Pengukuran pemanfaatan nutrien oleh alga bertujuan untuk mengetahui seberapa besar nutrien berupa nitrat dan fosfat yang dibutuhkan oleh alga untuk pertumbuhan dalam jangka waktu tertentu. Pengamatan ini dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1. Mengambil air contoh pada lokasi penelitian, lalu memasukkan ke dalam wadah (styrofoam) untuk menumbuhkan alga. 2. Mengukur nutrien awal pada contoh air dalam styrofoam. 3. Memasukkan beberapa lempengan kaca sebagai media tumbuh alga. 4. Setelah satu minggu dilakukan kembali pengukuran nutrien. Sementara pengukuran pemanfaatan alga oleh L. neritoides dilakukan dengan tujuan mengetahui seberapa besar luasan alga yang digerus oleh L. neritoides dalam jangka waktu tertentu. Pengamatan ini dilakukan dengan pendekatan untuk memberikan gambaran seberapa besar persentase pemanfatan alga oleh Littorina neritoides dengan menggunakan 30 individu L. neritoides dengan ukuran panjang individu sekitar 2 cm. Tahapan pengamatan ini merupakan lanjutan dari pengamatan pemanfaatan nutrien oleh alga dengan tahapan sebagai berikut:

36 1. Setelah satu minggu menumbuhkan alga pada styrofoam, media tumbuh alga berupa lempengan kaca dipindahkan ke wadah yang kering. 2. Memasukkan 30 individu L. neritoides ke dalam wadah tersebut selama 1 hari. 3. Mengukur luasan alga yang digerus oleh L. neritoides. Alga merupakan makanan bagi jenis gastropoda ini, sehingga dengan pengamatan yang dilakukan untuk melihat pemanfaatan nutrien oleh alga dan pemanfaatan alga oleh L. neritoides dapat diketahui kontribusi mangrove berupa guguran daun yang berpotensi menjadi nutrien secara tidak langsung terhadap gastropoda L. neritoides dalam jangka waktu tertentu. f. Produktivitas Serasah Pengukuran produktivitas serasah dilakukan untuk mengetahui kesuburan perairan di lokasi penelitian. Serasah mangrove sangat berperan penting dalam ekosistem mangrove karena selain dapat dimanfaatkan secara langsung, proses penguraiannya akan membentuk bahan anorganik yang akan dimanfaatkan oleh berbagai organisme yang berada di sekitar ekosistem mangrove. Pengukuran produktivitas serasah dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1. Menempatkan jala penampung serasah berukuran 1 m x 1 m di bawah mangrove pada setiap stasiun pengamatan. Bagian bawah jala penampung diberi pemberat. 2. Pengumpulan serasah dilakukan 15 hari sekali selama 1 (satu) bulan. 3. Serasah yang dikumpulkan dikeringkan dalam oven dengan suhu 60 0 C sampai mendapatkan berat konstan. Selanjutnya serasah ditimbang kering Analisis Data a. Ekosistem Mangrove Data yang diperoleh dari lapangan digunakan untuk menghitung kerapatan, frekuensi jenis, dominansi dan Indeks Nilai Penting (The important value). Menurut Bengen (2004), nilai penting jenis didapatkan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut : INP = KRi + FRi + DRi Nilai penting suatu jenis berkisar antara 0 hingga 300. Nilai penting ini memberikan suatu gambaran mengenai pengaruh atau peranan suatu jenis

37 tumbuhan mangrove dalam komunitas. Indeks Nilai Penting merupakan penjumlahan dari nilai kerapatan relatif n jenis-i (KR i ), frekuensi relatif jenis (FR i ) dan Dominansi relatif jenis-i (DR i ) dimana masing-masing diperoleh dengan menggunakan persamaan sebagai berikut : 1. Kerapatan Jenis (K i ) merupakan jumlah tegakan jenis i (n i ) dalam satuan unit area yang diukur (A). K i = n i A 2. Kerapatan Relatif Jenis i (KR i ) merupakan perbandingan antara jumlah tegakan jenis i (ni) dan jumlah tota tegakam seluruh jenis (Σn). KR i = ni x100 n 3. Frekuensi jenis (Fi) merupakan jumlah petak contoh/plot dimana ditemukan suatu jenis (p i ) dalam semua petak contoh yang diamati (p). F i = pi p 4. Frekuansi Relatif Jenis (FR i ) merupakan perbandingan antara frekuensi jenis i (F i ) dengan jumlah frekuensi untuk seluruh jenis (ΣF) FR i = Fi x100 F 5. Dominansi jenis (D i ) merupakan luas bidang dasar jenis i (Li) dalam suatu unit area Li D i = A Dimana : Li atau BA (Basal area) = π DBH 2 /4 (dalam cm 2 ), DBH merupakan diameter pohon dari jenis ke i, dimana DBH = CBH/π (dalam cm); CBH merupakan lingkaran pohon setinggi dada. π (3.1416) adalah konstanta.

38 6. Dominansi relatif jenis (DR i ) perbandingan antara dominansi jenis i dan dominansi seluruh jenis. DR i = Di x100 D b. Kepadatan Individu Gastropoda Untuk menghitung kepadatan individu dalam hal ini Littorina spp maka dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan : X = Dimana : A D i X = Kelimpahan Gastropoda (individu/m 2 ) D i = Jumlah individu gastropoda ke i A = Satuan luas (m 2 ) c. Pola sebaran Untuk mengetahui pola penyebaran jenis L. neritoides digunakan Indeks Morisita ( I d ) (Krebs, 1989) dengan rumus sebagai berikut: Dimana : I d n Xi I 2 2 {( xi xi )/( xi ) x )} d = n i = Indeks Dispersi Morisita = Jumlah total unit sampling = Jumlah individu jenis ke-i Dengan kriteria penyebaran sebagai berikut: I d = 1: pola dispersi acak I d < 1: pola dispersi seragam I d > 1: pola dispersi mengelompok d. Pemanfaatan nutrien Untuk menghitung besarnya nutrien yang diserap oleh alga dilakukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut: N alga = N to N t1

39 dimana : N alga N to N t1 = Nutrien yang dimanfaatkan oleh alga (mg/l), dimana nutrien dalam hal ini dibatasi hanya pada nitrat dan ortofosfat = Nutrien awal (mg/l) = Nutrien pada waktu t (mg/l) Jumlah nutrien berupa nitrat dan fosfat yang berkurang merupakan besarnya nutrien yang dimanfaatkan oleh alga. e. Pemanfaatan alga Untuk mengetahui persentase pemanfaatan alga oleh L. neritoides dapat dihitung dengan menggunakan persamaan : A X = x100% B dimana : X = Persentase pemanfaatan alga (%) A = Total luas daerah yang digerus (cm 2 ) B = Total luas daerah yang ditumbuhi alga (cm 2 ) Selanjutnya untuk mengetahui besarnya kontribusi mangrove berupa nutrien yang berasal dari serasah mangrove yang dimanfaatkan oleh L. neritoides dapat dihutung dengan persamaan : Y = NxX dimana : N = Nutrien (nitrat dan fosfat) yang dimanfaatkan oleh alga (mg/l) X = Pemanfaatan alga oleh L. neritoides f. Analisis Parameter Lingkungan Untuk mendeterminasi sebaran stasiun berdasarkan karakteristik lingkungan, digunakan suatu pendekatan analisis statistik multivariabel yang didasarkan pada Analisis Komponen Utama (Principal Components Análysis atau PCA). Metode ini memungkinkan suatu representasi yang lebih mudah diinterpretasikan pada struktur data yang banyak dengan hanya menarik informasi esensial (Bengen 2000). Analisis statistik multivariabel ini lebih tepat digunakan karena variabelnya berupa variabel metrik dan memiliki unit pengukuran yang berbeda. Variabel yang ada seperti kualitas air ( ph, DO, TOM, dll), Kualitas sedimen (ph, Eh ), merupakan variabel yang sifatnya independen.

40 Dengan menggunakan analisis PCA dapat dikaji hubungan antara variabelvariabel tersebut (korelasi antar variabel) dan dapat dilihat apakah ada pengelompokan individu (stasiun) berdasarkan parameter tersebut. Analisis Komponen Utama adalah suatu teknik ordinasi yang memproyeksikan dispersi matriks data multidimensional dalam suatu bidang datar, dengan cara mereduksi ruang, maka diperoleh sumbu-sumbu baru yang merepresentasikan secara optimal dari sebagian besar variabilitas data matriks multidimensional, sehingga dapat ditemukan hubungan antar variabel dan hubungannya antar obyek (Legendre dan Legendre, 1983). Analisis ini membagi matriks korelasi parameter menjadi beberapa komponen, kemudian menyusun keragaman komponen bersangkutan dari yang terbesar pada sumbu komponen utama, sehingga didapatkan distribusí spasial parameter físika, kimia dan biologi pada lokasi penelitian. Data variabel físika kimia perairan yang diperoleh tidak memiliki unit pengukuran yang sama, maka sebelum dilakukan analisis terlebih dahulu dilakukan normalisasi terhadap data melalui pemusatan dan pereduksian. Dengan demikian hasil PCA tidak direalisasikan dari nilai-nilai asli karakteristik habitat tapi dari indeks sintetik yang diperoleh dari kombinasi linier nilai-nilai asli karakteristik habitat. Nilai sesudah pemusatan diperoleh dari selisih antara nilai karakteristik habitat tersebut sebagai berikut : C = X ij X i Dimana : X i = nilai rata-rata karakteristik habitat X ij = Nilai asli karakteristik habitat C = Nilai pemusatan Sementara pereduksian merupakan hasil bagi antara parameter yang telah dipusatkan dengan nilai simpangan baku parameter tersebut sebagai berikut : C R = Sd Dimana : R = nilai reduksi C = Nilai pemusatan Sd = Nilai simpangan baku karakteristik habitat

41 Untuk menentukan hubungan antara dua peubah di gunakan pendekatan matriks korelasi yang dihitung dari indeks sintetik sebagai berikut : B sxn = A sxn A t nxs Dimana : B sxn A sxn = matriks korelasi rij = matriks indeks sintetis, aij A t nxs = matriks transpos A sxn Korelasi linier antara dua parameter yang dihitung dari indeks sintetiknya adalah peragam dari kedua parameter tersebut yang dinormalkan. Diantara semua indeks yang menunjukkan ragam stasiun yang maksimum. Indeks ini di sebut komponen utama pertama yang merupakan sumbu kesatu (F1). Suatu proporsi tertentu dari ragam total stasiun dijelaskan oleh componen utama ini. Selanjutnya dicari komponen utama kedua (F2) yang memiliki korelasi nihil dengan komponen utama pertama. Komponen utama kedua memberikan informasi terbesar sebagai pelengkap komponen utama pertama. Proses ini berlanjut terus hingga diperoleh komponen utama ke p, dimana bagian informasi yang dapat dijelaskan semakin kecil. Pada prinsipnya Analisis Komponen Utama menggunakan pengukuran jarak Euclidean (jumlah kuadrat perbedaan antara individu untuk variabel yang berkoresponden) pada data (Bengen, 2000). Jarak Euclidean didasarkan pada rumus sebagai berikut : d p 2 ( i, i') = ( X ij X i' j j= 1 Dimana : i, i = dua baris j = Indeks pada kolom (bervariasi dari 1 hingga p) ) 2 Semakin kecil jarak Euclidean antar 2 stasiun, maka semakin mirip karakteristik físika kimia air dan substrat antar kedua stasiun tersebut dan sebaliknya semakin besar jarak Euclidean antar 2 stasiun, maka semakin berbeda karakteristik físika kimia air dan substrat antar kedua stasiun tersebut.

42 g. Hubungan antara Kepadatan L. neritoides dengan Kerapatan dan Penutupan Mangrove Hubungan antara kepadatan L. neritoides dengan vegetasi mangrove dapat dijelaskan dengan menggunakan analisis regresi. Tujuan analisis ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kedua peubah dalam hal ini hubungan antara kepadatan L. neritoides sebagai variabel tak bebas (Y) dengan kerapatan dan penutupan mangrove sebagai variabel bebas (X). Nilai korelasi (R) menjelaskan seberapa besar hubungan antara peubah X dan Y, semakin besar hubungan antara kedua peubah, nilai korelasi (R) mendekati 1 (satu). Nilai koefisien determinasi (R 2 ) menggambarkan seberapa besar X (kerapatan mangrove) mempengaruhi Y (kepadatan L. neritoides), nilai R 2 dapat dibandingkan untuk menguji ketepatan fungsi yang digunakan, serta melihat nilai errornya. Semakin besar nilai R 2 dan semakin kecil nilai error maka variabel bebas (X) semakin bagus untuk meramalkan variabel tak bebas (Y). Persamaan regresi yang digunakan berdasarkan Steel dan Torrie (1960) sebagai berikut: 2 Y = β + β X + β X β Dimana : Y = Kepadatan L. neritoides X = Kerapatan mangrove (pohon) β = Ordo (1, 2, 3...n) n n X

43 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Mangrove di Pulau Bauluang dan Pulau Lantangpeo Ekosistem mangrove di Kepulauan Tanakeke didominasi oleh jenis Rhizophora sp, dengan kerapatan rata-rata ind/ha. Khususnya Di Pulau Bauluang dan Lantangpeo, ekosistem mangrove memiliki luas masingmasing 1559 km 2 dan 3885 km 2 (Mutmainnah, 2004). Jenis mangrove yang terdapat di Pulau Bauluang didominasi oleh Rhizhopora mucronata, selain itu ditemukan jenis lain dalam jumlah yang kecil yaitu Lumnitzera racemosa dan Sonneratia alba. Sementara di Pulau Lantangpeo terdapat jenis Rhizhopora apicula dan Rhizophora stylosa di antara jenis Rhizhopora mucronata yang juga mendominasi di pulau ini (Gambar 5) Kerapatan (ind/100m2) Gambar 5 Kerapatan mangrove di lokasi penelitian Ukuran tinggi pohon mangrove di Pulau Bauluang berkisar antara 4-6 meter dengan diameter pohon berkisar antara 4 15 cm, sedangkan di Pulau Lantangpeo ketinggian pohon berkisar antara meter dengan diameter pohon berkisar antara cm. Ekosistem mangrove di Pulau Bauluang dan Pulau Lantangpeo tidak membentuk zonasi, ekosistem yang terbentuk bersifat homogen yang didominasi oleh jenis Rhizophora mucronata. Keberadaan jenis Rm Rm Lr Rm Sa Rm Ra Rs Rm Ra Rs Rm Ra Rm Ra Rs Rm Ra Rs Rm Rs B1 B2 B3 L1 L2 L3 LT1 LT2 LT3 Stasiun Pengamatan Ket : Rm = Rhizophora mucronata Ra = Rhizophora apiculata Lr = Lumnitzera racemosa Rs = Rhizophora stylosa Sa = Sonneratia alba 0.89

44 mangrove lain seperti Sonneratia Alba, Lumnitzera racemosa, R. apiculata dan R. stylosa ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit. Pemanfaatan ekosistem mangrove oleh masyarakat di lokasi penelitian, diantaranya untuk berbagai keperluan seperti untuk kayu bakar, pembuatan arang, tiang rumput laut, mebel dan sebagai areal tambak. Ekosistem mangrove ini merupakan hasil rehabilitasi yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Pulau Bauluang memiliki kerapatan mangrove yang lebih tinggi serta kelestariannya tetap terpelihara dari tahun ke tahun, hal ini disebabkan adanya kesadaran masyarakat yang memberlakukan sistem tebang pilih dan tanam kembali dalam pemanfaatan ekosistem mangrove. Parabang (1998) mengatakan bahwa konversi mangrove menjadi areal pertambakan di Pulau Lantangpeo sudah berlangsung sejak 1980 dengan luas areal mangrove yang dikonversi sekitar 1500 ha sehingga pada pulau ini memiliki kerapatan yang lebih rendah. Salah satu faktor yang mempengaruhi mangrove adalah pasang surut. Proses terjadinya pasang surut di dalam ekosistem mangrove sangat penting artinya dalam hal suplai oksigen. Berdasarkan data yang diperoleh dari DISHIDROS AL diperoleh tipe pasang surut pada lokasi penelitian adalah tipe pasut campuran condong ke harian tunggal (mixed tide prevailing diurnal) dengan tunggang pasang sekitar cm. Tunggang pasang yang cukup tinggi dengan relief pantai relatif datar memungkinkan air laut dapat mencapai mangrove yang jauh ke darat ketika terjadi pasang. Penyebaran mangrove di Pulau Bauluang dan Pulau Lantangpeo dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Sebaran jenis mangrove yang dijumpai di lokasi penelitian No Jenis Mangrove Stasiun B1 B2 B3 L1 L2 L3 LT1 LT2 LT3 1 R. mucronata x x x x x x x x x 2 L. racemosa - x S. alba - - x R. apiculata x x x x x - 5 R.stylosa x x - x x x Keterangan: x = ada dijumpai; - = tidak ada dijumpai Jenis mangrove di Pulau Bauluang terdiri dari yaitu Rhizophora mucronata, Lumnitzera racemosa dan Sonneratia alba, sementara di Pulau Lantangpeo didapatkan jenis Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata dan Rhizophora stylosa. Dari kelima jenis mangrove tersebut yang paling banyak ditemukan

45 adalah Rhizophora mucronata, jenis ini dominan pada kedua pulau dan di jumpai pada semua stasiun pengamatan. Jenis lain dijumpai dalam jumlah yang lebih sedikit. Jenis Rhizophora mucronata memiliki Indeks nilai penting (INP) tertinggi untuk semua kategori di semua stasiun penelitian (Gambar 6) Rm Rm Rm Rm Rm Rm Rm Rm Indeks Nilai Penting Rm Ra Rs Lr Sa Ra Rs Ra Ra Ra Rs Rs Rs pohon Anakan semai 0.00 B1 Ia B2 IIa B3 IIIa L1 Ib L2 IIb L3 IIIb LT1 Ic LT2 IIc LT3 IIIc Stasiun Ket : Rm = Rhizophora mucronata Ra = Rhizophora apiculata Lr = Lumnitzera racemosa Rs = Rhizophora stylosa Sa = Sonneratia alba Gambar 6 Indeks nilai penting (INP) jenis mangrove di lokasi penelitian Mangrove jenis Rhizophora mucronata menyebar luas dan ditemukan di setiap transek pengamatan. Pulau Bauluang dan Lantangpeo merupakan pulau dengan dataran rendah sehingga pada area mangrove selalu tergenang oleh air. Pada kondisi seperti ini, jenis Rhizophora mucronata mampu tumbuh dan berkembang dengan baik. Pada perhitungan INP didapatkan jenis R. mucronata memiliki Indeks nilai penting (INP) tertinggi untuk semua kategori di semua stasiun penelitian. Besarnya nilai INP menggambarkan bahwa secara ekologis jenis ini sangat penting artinya atau memberikan peranan yang paling besar terhadap struktur komunitas mangrove. Nilai INP Jenis Rhizophora mucronata di lokasi penelitian berkisar antara Hal ini menandakan bahwa jenis mangrove ini berperan penting dalam ekosistem, sehingga apabila mengalami degradasi maka ekosistem mangrove pada lokasi penelitian berpotensi mengalami kerusakan terutama di Pulau Bauluang dengan INP berkisar antara (Lampiran 1).

46 Jenis Rhizophora mucronata memiliki nilai dominasi dan frekuensi paling tinggi, hal tersebut manandakan bahwa spesies ini paling banyak dalam hal pemanfaatan ruang dengan frekuensi kehadiran yang tinggi. Dominasi R. mucronata dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Keberadaan R. mucronata yang dominan dilokasi penelitian menandakan bahwa jenis ini lebih mampu beradaptasi terhadap kondisi lingkungan. Selain itu faktor eksternal juga sangat berpengaruh karena ekosistem mangrove yang ada pada lokasi penelitian merupakan hasil rehabilitasi di mana masyarakat cenderung memilih jenis yang mudah tumbuh sehingga jenis tumbuhan yang dipilih cenderung sama. Aksornkoae (1993), mengatakan bahwa ekosistem mangrove yang digenangi air laut hampir setiap saat hanya jenis Rhizophora mucronata yang bisa bertahan, sedangkan Bruguiera spp dan Xylocarpus spp jarang mendominasi daerah yang tergenang Karakteristik fisik kimia air dan sedimen Dari hasil pengukuran karakteristik fisika kimia lingkungan memperlihatkan bahwa kondisi lingkungan pada lokasi penelitian masih dalam kondisi normal (tabel 3). Tabel 3 Nilai rerata karakteristik fisika kimia air dan sedimen Kondisi fisika kimia air Sedimen Sta Suhu Salinitas DO TOM Kec. Arus Nitrat Fosfat ( 0 ph C) (ppm) (mg/l) (mg/l) (m/det) (mg/l) (mg/l) ph Eh B B B L L L LT LT LT Diantara stasiun pengamatan terdapat perbedaan suhu namun tidak begitu signifikan. Suhu merupakan faktor penting bagi kehidupan organisme di lautan, karena mempengaruhi aktivitas metabolisme dan perkembangbiakan. Kusmana (1993) mengatakan bahwa pertumbuhan mangrove yang baik memerlukan suhu rata-rata minimal lebih besar dari 20 0 C.

47 Suhu yang tinggi pada stasiun B1, B2 dan B3 berkaitan dengan perbedaan radiasi matahari terhadap pemanasan perairan. Pada stasiun yang lebih terlindung oleh vegetasi mangrove memiliki suhu yang relatif lebih rendah. Di Pulau Lantangpeo, tingkat naungan lebih tinggi sehingga mempengaruhi proses pemanasan. Sementara pada stasiun yang cenderung terbuka (Pulau Bauluang), dengan tingkat naungan yang lebih rendah serta jarak tanam yang diatur sedemikian rupa memiliki suhu yang relatif lebih tinggi. Salinitas merupakan faktor penting dalam pertumbuhan, daya tahan dan zonasi spesies mangrove. Menurut Aksornkoae (1993), mangrove biasanya tumbuh subur di daerah estuaria dengan tingkat salinitas antara ppt. Nilai salinitas cenderung tinggi karena lokasi penelitian merupakan pulau kecil yang tidak terpengaruh oleh aliran air tawar dari daratan yang dapat menurunkan nilai salinitas. Karakteristik kimia lainnya seperti ph berkisar antara atau cenderung basa, dimana ph air laut lebih dipengaruhi oleh larutan garam yang lebih bersuasana basa. Nilai ph yang diperoleh tidak memiliki kisaran yang luas karena adanya pengaruh kapasitas penyangga dari garam-garam karbonat dan bikarbonat yang tinggi. Berdasarkan standar baku mutu yang telah ditetapkan, toleransi organisme terhadap ph air berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup KEP No. 51/MNLH/I/2004, berkisar antara (MNLH, 2004), sehingga dapat disimpulkan bahwa kisaran ph air yang ada di lokasi pengamatan masih menunjang kehidupan organisme yang ada. Menurut Effendi (2003) nilai ph sangat mempengaruhi proses biokimia perairan seperti proses nitrifikasi akan berakhir pada ph rendah. Konsentrasi oksigen terlarut (DO) rata-rata di lokasi penelitian cukup tinggi (> 5 ppm) sehingga dapat mendukung kehidupan organisme perairan tersebut. Konsentrasi Oksigen Terlarut (DO) di Pulau Bauluang cenderung lebih tinggi di banding stasiun lainnya. Kandungan oksigen yang lebih rendah pada stasiun yang berada ada Pulau Lantangpeo berkaitan dengan produksi serasah yang cenderung lebih tinggi sehingga kebutuhan oksigen untuk proses dekomposisi juga relatif lebih besar. Konsentrasi oksigen terlarut dalam perairan dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya suhu, salinitas, serta proses dekomposisi dan respirasi organisme. Nilai ph sedimen dan Eh (redoks potensial) menunjukkan bahwa ph sedimen cenderung basa. Nilai ph tanah tinggi umumnya diperoleh di pinggir

48 laut, sedangkan yang rendah yang jauh dari garis pantai seperti pada bagian terlindung Pulau Lantangpeo. Menurut Odum (1971), sedimen dasar suatu perairan dibagi menjadi tiga zona yang didasarkan pada nilai redoks potensial dan reaksi-reaksi kimia yang terjadi di dalamnya yaitu zona tereduksi (Eh < 0 mv), zona transisi yang berkesinambungan ( mv) dan zona teroksidasi sempurna (Eh > 200 mv). Dari nilai Eh (Redoks potensial) yang diperoleh pada lokasi penelitian menunjukkan bahwa pada lokasi penelitian tergolong dalam zona teroksidasi sempurna. Nilai ph sedimen yang cenderung basa pada lokasi penelitian umumnya diperoleh di pinggir laut, sedangkan ph rendah terletak jauh dari garis pantai seperti pada bagian terlindung Pulau Lantangpeo. Menurut Hakim (1986), perombakan bahan-bahan organik oleh kegiatan mikroorganisme akan menghasilkan senyawa asam organik yang berpotensi menurunkan nilai ph. Konsentrasi TOM pada lokasi pengamatan berkisar antara mg/l. Kandungan bahan organik tersebut terutama bersumber dari serasah mangrove. Kandungan bahan organik ini juga dipengaruhi oleh lingkungan. Pada lingkungan yang dipengaruhi oleh ombak dan arus yang kuat cenderung mempunyai bahan organik yang rendah dan sebaliknya lokasi yang cenderung terlindung memiliki bahan organik yang relatif tinggi. Arus pada substrat berpasir selain menghanyutkan partikel sedimen yang berukuran kecil juga dapat menghanyutkan bahan organik. Konsentrasi nitrat dan fosfat menunjukkan bahwa pada Pulau Lantangpeo memiliki kandungan nitrat dan fosfat yang relatif lebih tinggi di banding Pulau Bauluang. Kandungan nitrat dan fosfat yang relatif lebih tinggi pada Pulau Lantangpeo (terlindung) berkaitan dengan produksi serasah di lokasi tersebut yang juga relatif lebih tinggi di banding stasiun lain (gambar 7). Umur merupakan salah satu yang mempengaruhi produktivitas serasah. Mangrove dengan tegakan yang lebih tua akan menghasilkan serasah yang lebih banyak. Sediadi dan Pamudji (1987) mengatakan bahwa pada tegakan Rhizophora spp, jumlah jatuhan serasah meningkat secara nyata sesuai dengan pertambahan umur dan jumlah maksimum didapatkan pada usia 10 tahun. Tegakan mangrove di Pulau Lantangpeo memiliki umur yang lebih tua dibanding tegakan mangrove pada Pulau Bauluang. Moriber (1974) dalam Efriyeldi (1997) mengatakan bahwa senyawa fosfat berasal dari erosi tanah, limpasan permukaan, buangan industri, kotoran hewan

49 dan pelapukan dari tanaman. Pada lokasi pengamatan sumbangan nutrien terbesar berasal dari pelapukan guguran serasah mangrove. Serasah mangrove didekomposisi oleh bakteri menjadi nutrien terlarut yang dapat dimanfaatkan untuk proses fotosintesis oleh fitoplankton, alga dan juga mangrove. Produktivitas serasah (gr kering/m2/hari) B1 Ia B2 IIa IIIa B3 L1 Ib IIb L2 IIIb L3 LT1 Ic LT2 IIc LT3 IIIc Stasiun Gambar 7 Produktivitas serasah di lokasi penelitian Jenis substrat juga berkaitan dengan kandungan oksigen dan nutrien dalam sedimen. Pada substrat berpasir terdapat pori udara yang memungkinkan terjadinya percampuran yang lebih intensif dengan air yang ada di atasnya, tetapi sebaliknya nutrien cenderung lebih rendah pada substrat berpasir. Pada substrat yang lebih halus memiliki kandungan nutrien yang lebih besar namun oksigen cenderung lebih rendah. Menurut Hardjowigeno (1987) bahwa tanah tanah bertekstur liat mempunyai luas permukaan yang lebih besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi, tetapi oksigen tidak begitu banyak Karakteristik Populasi Gastropoda Littorina neritoides Kepadatan L. neritoides pada masing-masing stasiun memperlihatkan adanya perbedaan antara stasiun yang satu dan lainnya (Gambar 8). Kepadatan L. neritoides pada jenis Rhizophora mucronata di Pulau Bauluang relatif lebih tinggi dibanding Pulau Lantangpeo. Kepadatan yang tinggi dipengaruhi oleh kondisi mangrove yang rapat. Ketinggian pohon juga berpengaruh dimana ditemukan ketinggian yang relatif pendek sehingga menyediakan mikrohabitat yang lebih besar, sehingga semua bagian bisa menjadi tempat melekat baik itu akar, batang, maupun cabang dan daun. Pada

50 Pulau Lantangpeo tegakan mangrove cukup rapat namun jika dibandingkan dengan Pulau Bauluang kerapatannya masih lebih rendah, dan memiliki ketinggian berkisar m sehingga hanya menempati bagian akar dan batang sedang bagian daun tidak dapat di jangkau B1 B2 B3 L1 L2 L3 LT1 LT2 LT3 Rm Lr 1.68 Sa 3.00 Ra Rs Gambar 8 Kepadatan L. neritoides (ind/m 2 ) pada masing-masing jenis mangrove di lokasi penelitian Di Pulau Lantangpeo nutrien (nitrat dan fosfat) cenderung lebih tinggi, sehingga dapat dikatakan bahwa tingginya nutrien pada ekosistem mangrove belum tentu diiringi oleh tingginya kepadatan L. neritoides. Tersedianya alga sebagai sumber makanan gastropoda ini merupakan salah satu faktor penentu kepadatan L. neritoides. Di Pulau Lantangpeo cahaya matahari yang dibutuhkan oleh alga tidak maksimal akibat tegakan mangrove yang tinggi dengan daun yang rimbun sehingga menghalangi masuknya cahaya matahari. Selain itu pada Pulau Lantangpeo bagian terlindung, merupakan area yang kurang terbuka mengakibatkan sirkulasi air yang tidak maksimal menjadi salah satu faktor pembatas. Pola sebaran L. neritoides mengelompok pada setiap stasiun (Id = ). Odum (1971) mengatakan bahwa pola penyebaran biota di alam umumnya terjadi secara mengelompok dan jarang sekali terjadi secara acak. Sifat mengelompok pada organisme disebabkan oleh beberapa hal diantaranya kondisi lingkungan, kebiasaan makan dan cara bereproduksi. Pola penyebaran mengelompok dapat mengakibatkan meningkatnya persaingan antar individu dalam mendapatkan makanan dan ruang sebagai tempat hidupnya, dengan

51 hidup mengelompok organisme cenderung kuat dalam berkompetisi. Dari segi reproduksi apabila hidup mengelompok akan memudahkan perjalanan fertilisasi Keberadaan L. neritoides secara vertikal pada mikrohabitat (tegakan mangrove) Gastropoda Littorina neritoides ditemukan hidup pada akar, batang, cabang dan daun mangrove. Jadi keberadaan spesies ini tidak hanya pada bagian tertentu tetapi semua bagian tegakan mangrove dapat dijadikan sebagai tempat melekat yang baik. Penelitian yang dilakukan oleh Boneka (1993) untuk jenis gastropoda Littoraria scabra dihasilkan bahwa jenis ini hanya ditemukan pada bagian batang dan akar walaupun pada daerah penelitian didominasi oleh anakan mangrove, sehingga ketinggian pohon tidak menjadi faktor pembatas. Lebih lanjut dikatakan bahwa daerah yang didominasi oleh anakan menguntungkan bagi jenis Littoraria pallescens yang lebih senang berada di dedaunan. Gastropoda Littorina dapat merayap naik dan menggantung hanya dengan bantuan lendirnya yang kental. Rosewater (1970) dalam Budiman dan Darnaedi (1982) mengatakan bahwa genus Littorina mampu bertahan hidup hanya dengan percikan-percikan air pasang. Oleh sebab itu L. neritoides pada lokasi penelitian dijumpai juga di bagian daun mangrove. Pemanfaatan mikrohabitat berupa mangrove oleh organisme ini pada saat pasang terendah/neap tide, terutama pada bagian akar, yang diikuti oleh batang selanjutnya pada bagian cabang dan daun (Gambar 9). Keberadaannnya pada saat pasang terendah mulai dari ketinggian sekitar 50 meter dari permukaan tanah % Pulau Bauluang % % % Pulau Lantangpeo % % Akar Batang cabang dan daun Akar Batang cabang dan daun Pulau Lantangpeo (teluk) % % % Akar Batang cabang dan daun Gambar 9 Kepadatan Littorina neritoides (ind/m 2 ) pada tegakan mangrove (Rhizophora spp) saat pasang terendah

52 Sementara pada saat pasang tertinggi (spring tide), kepadatan tertinggi pada bagian batang. Hal serupa terjadi pada saat bulan baru, selanjutnya pada bagian akar kemudian pada bagian cabang dan daun (Gambar 10 dan 11). Pada pasang tertinggi, keberadaan L. neritoides mulai dari ketinggian sekitar 100 cm dari permukaan tanah. Pulau Bauluang Pulau Lantangpeo % % % % % Akar Batang cabang dan daun % Akar Batang cabang dan daun Pulau Lantangpeo (teluk) % % % Akar Batang cabang dan daun Gambar 10 Kepadatan Littorina neritoides (ind/m 2 ) pada tegakan mangrove (Rhizophora spp) saat pasang tertinggi (Bulan purnama) Pulau Bauluang Pulau Lantangpeo % % % % % % Akar Batang cabang dan daun Akar Batang cabang dan daun Pulau Lantangpeo (teluk) % % % Akar Batang cabang dan daun Gambar 11 Kepadatan Littorina neritoides (ind/m 2 ) pada tegakan mangrove (Rhizophora spp) saat pasang tertinggi (Bulan baru)

53 Gastropoda Littorina neritoides dominan pada lokasi penelitian dan mempunyai penyebaran yang luas di dalam hutan mangrove, serta dijumpai pada setiap transek pengamatan. Jenis L. neritoides merupakan salah satu jenis gastropoda yang mampu bergerak bebas (mobile) dan mempunyai toleransi yang cukup tinggi terhadap lingkungan yang ekstrim, seperti perubahan beberapa faktor lingkungan terutama suhu dan salinitas akibat adanya pasang surut air laut. Gerakan L. neritoides mengikuti gerak turun naiknya air pasang sehingga pada saat pasang tertinggi kepadatan L. neritoides tinggi pada bagian batang, pada bagian lain ditemukan dalam jumlah yang lebih kecil. Sebaliknya pada saat pasang terendah di peroleh kepadatan yang tinggi pada bagian akar untuk jenis mangrove Rhizophora spp yang memiliki tipe perakaran berupa akar tongkat. Berdasarkan data pasang surut DISHIDROS AL, tinggi pasang (tidal range) pada Bulan April 2007 sekitar 112 cm saat pasang tertinggi dan sekitar cm pada pada saat pasang terendah. Pada saat pasang tertinggi, ketinggian air akan menutupi hampir seluruh bagian akar tegakan mangrove, terutama pada zona depan sehingga L. neritoides akan bergerak ke bagian yang lebih tinggi dalam hal ini batang, cabang dan daun. Ketinggian air pasang pada saat pasang terendah relatif lebih kecil sehingga pada bagian akar dapat menyediakan habitat yang lebih besar. Pada jenis mangrove Sonneratia alba dan Lumnitzera racemosa keberadaan Littorina neritoides hanya pada bagian batang, cabang dan daun, hal ini berkaitan dengan sistem perakaran jenis mangrove tersebut. Sistem perakaran cakar ayam pada S. alba tidak disenangi sebagai tempat melekat karena sistem perakaran tersebut cenderung tergenang sehingga tidak memberikan peluang untuk terhindar dari pemangsaan pada saat pasang. Gerakan Littorina ke bagian yang lebih tinggi pada periode pasang merupakan mekanisme untuk menghindari predator. Salah satu predator penting yang dihindari oleh Littorina adalah kepiting. Pada saat pengamatan didapatkan bahwa keberadaan spesies ini selalu berada lebih tinggi dari ketinggian air pasang. Di Pulau Lantangpeo keberadaan L. neritoides pada bagian daun sangat sedikit. Hal ini berkaitan dengan ketinggian dan umur tegakan mangrove. Di pulau ini tegakan mangrove memiliki ketinggian pohon sekitar 12 meter sehingga L. neritoides tidak ditemukan di bagian daun pada kategori pohon.

54 Gastropoda L. neritoides pada level tinggi tidak lebih dari 5 meter dari permukaan tanah, karena bagaimanapun resiko kekeringan akan lebih besar pada level ini. Semakin menjauhi pantai kepadatannya semakin sedikit pada level tinggi. Keberadaan Littorina neritoides pada bagian-bagian tertentu dari tegakan mangrove dan pergerakannya lebih dipengaruhi oleh pasang. Selain itu didapatkan bahwa tidak selamanya individu yang berukuran kecil hanya akan menempati bagian daun atau cabang tapi dapat juga ditemukan pada bagian batang dan akar. Penelitian yang dilakukan oleh Boneka (1993) pada jenis Littoraria scabra dan Littoraria pallescens dihasilkan bahwa tidak ada indikasi hubungan antara ukuran cangkang dalam hal ini panjang cangkang dengan level ketinggian pada spesies Keterkaitan Populasi Littorina neritoides dengan Ekosistem Mangrove Kepadatan L. neritoides berdasarkan zona vertikal mangrove dan hubungannya dengan kerapatan mangrove Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui perubahan atau degradasi kepadatan L. neritoides dari daerah yang berhubungan langsung dengan laut sampai pada daerah belakang yang menjauhi garis pantai (Tabel 4). Penentuan zona depan, tengah dan belakang didasarkan pada pengaruh gelombang, arus, genangan air dan jenis substrat. Zona depan merupakan zona yang berhadapan langsung dengan laut. Daerah ini tergenang setiap saat baik pada saat pasang maupun pada saat surut, dan didominasi oleh fraksi pasir kasar. Pada zona ini pengaruh gelombang dan arus sangat terasa. Zona belakang merupakan daerah dengan tingkat genangan yang sangat rendah, didominasi oleh fraksi sedimen lumpur dan pengaruh gelombang tidak terasa lagi. Sementara zona tengah merupakan zona yang berada diantara zona depan dan zona belakang dan didominasi oleh fraksi pasir halus. Kepadatan L. neritoides tertinggi terdapat pada zona depan, yang kemudian di ikuti zona tengah lalu zona belakang. Perbedaan kepadatan berdasarkan zona ini tidak dapat di ketahui untuk jenis mangrove Sonneratia alba karena jenis ini hanya di dapatkan pada zona depan. Pada zona belakang jenis L. racemosa dan R. apiculata tidak ditemukan namun terlihat bahwa pada zona depan memiliki kepadatan yang lebih tinggi dibanding zona tengah. Dari hasil tersebut dapat diprediksikan bahwa apabila jenis mangrove ini ditemukan pada zona belakang, kepadatan L. neritoides tidak lebih tinggi di banding zona depan dan tengah.

55 Tabel 4 Kepadatan Littorina neritoides berdasarkan zona vertikal mangrove Jenis Zona P. Bauluang (ind/m 2 ) P. Lantangpeo (ind/m 2 ) P. Lantangpeo (terlindung) (ind/m 2 ) R. Mucronata Zona depan 26,24 14,77 11,22 Zona tengah 10,15 4,84 4,40 Zona belakang 5,22 2,36 1,49 L. racemosa Zona depan 0,95 0,00 0,00 Zona tengah 0,73 0,00 0,00 Zona belakang 0,00 0,00 0,00 S. alba Zona depan 3,00 0,00 0,00 Zona tengah 0,00 0,00 0,00 Zona belakang 0,00 0,00 0,00 R. apiculata Zona depan 0,00 6,19 2,69 Zona tengah 0,00 1,27 0,00 Zona belakang 0,00 0,00 0,00 R. stylosa Zona depan 0,00 1,13 0,65 Zona tengah 0,00 0,55 0,94 Zona belakang 0,00 0,32 0,00 Penyebaran jenis gastropoda ini dipengaruhi oleh pasang, karena air laut sangat diperlukan dalam proses reproduksi dan perkembangan larva. Pada lokasi penelitian, daerah yang dikenai pasang cukup luas disebabkan lokasi penelitian merupakan daerah yang datar sehingga penyebarannya juga cukup luas. Kepadatan L neritoides berkurang dari zona mangrove bagian depan hingga ke bagian belakang. Semakin menjauhi pantai kepadatannya semakin rendah. Kepadatan L. neritoides yang tinggi pada zona depan berkaitan dengan ketersediaan makanan dan kondisi lingkungan. Perubahan kepadatan L. neritoides pada tiap zona dipengaruh oleh ketersediaan makanan artinya dipengaruhi oleh daerah yang subur dengan kebutuhan makanan yang bisa terpenuhi. Pada daerah yang berhubungan langsung dengan lautan terbuka pertumbuhan dan perkembangan alga sebagai makanan bagi L. neritoides lebih efektif karena kebutuhan nutrien bisa terpenuhi. Bagian depan memiliki sirkulasi air yang membawa unsur hara lebih lancar. Selain itu zona depan dapat digenangi air secara terus menerus sehingga nutrien yang terkandung dalam air akan selalu mendukung pertumbuhan alga termasuk alga yang melekat pada

56 akar dan batang mangrove. Menurut Kartawinata et al (1979), substrat berpasir yang berbatasan langsung dengan laut terbuka sangat disukai oleh Littorina. Pada daerah yang jauh dari pinggir pantai, pertumbuhan alga kurang maksimal karena kebutuhan nutrien kurang terpenuhi. Tingkat genangan yang rendah mengakibatkan mikrohabitat L. neritoides berupa tegakan mangrove tidak dapat ditumbuhi alga secara optimal akibat suplai nutrien yang rendah. Jalinan akar mangrove Rhizophora spp juga bisa menghambat sirkulasi air yang membawa nutrien ke dalam daerah yang lebih jauh dari pinggir pantai. Selain itu pada bagian belakang hutan mangrove jarang dikenai pasang sehingga kebutuhan air laut untuk reproduksi dan perkembangan larva sangat terbatas. Menurut Kartawinata et al (1979), gastropoda yang menempati bagian tengah dan belakang dari hutan mangrove adalah dari famili Potamididae. Pengamatan ini juga menunjukkan hubungan antara kepadatan L. neritoides dan kerapatan mangrove pada masing-masing zona vertikal mangrove. Kerapatan mangrove tiap zona pada masing-masing jenis mangrove tidak memperlihatkan perbedaan kerapatan yang signifikan. Pada pengamatan L. neritoides di dapatkan bahwa semakin menjauhi pantai kepadatannya semakin rendah sementara hal ini tidak berlaku pada mangrove. Hal ini dapat dijelaskan bahwa eksistensi L. neritoides secara vertikal berdasarkan jarak dari pantai tidak begitu terpengaruh oleh kerapatan mangrove tapi lebih dipengaruhi oleh daerah yang subur dengan kebutuhan makanan yang bisa terpenuhi. Pada zona depan di Pulau Bauluang, selain jenis R. Mucronata terdapat juga jenis L. racemosa dan Sonneratia alba. Kehadiran jenis L. racemosa dan Sonneratia alba hanya dalam jumlah yang sedikit dan berada di antara tegakan jenis R. Mucronata serta tidak membentuk zonasi sendiri (Gambar 12). 1. Kepadatan L. neritoides (ind/m2) 2. Kerapatan mangrove (ind/100m2) ,24 34,33 R. mucronata 0,95 0,33 3,00 1,00 0,67 0,73 Gambar 12 Perbandingan kepadatan L. neritoides pada masing-masing zona vertikal mangrove di Pulau Bauluang 10,15 33,89 5,22 Rm Lr Sa Rm Lr Rm 35,33 Depan Tengah Belakang Zona vertikal mangrove L. racemosa S. alba Gastropoda Littorina neritoides

57 Pada Pulau Lantangpeo terdapat tiga jenis mangrove, namun ekosistem tersebut juga didominasi oleh R. Mucronata (Gambar 14). Kehadiran jenis R. apiculata dan R. stylosa tidak membentuk zonasi namun berada di antara komunitas R. mucronata dengan kerapatan yang rendah, sehingga kondisi lingkungan yang terbentuk dipengaruhi oleh R. Mucronata. Kondisi yang sama didapatkan di Pulau Lantangpeo bagian terlindung (Gambar 15). Pada pulau ini semakin menjauhi garis pantai, kerapatan mangrove semakin meningkat namun kepadatan L. neritoides justru mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pada zona belakang terdapat kerapatan mangrove yang relatif lebih tinggi dibanding zona depan dan tengah, namun kondisi lingkungan tidak mendukung perkembangan L. neritoides termasuk reproduksi dan pemenuhan makanan. 1. Kepadatan L. neritoides (ind/m2) 2. Kerapatan mangrove (ind/100m2) ,77 23,67 6,19 3,00 1,13 0,44 4,84 22,67 26,00 2,36 1,271,44 0,550,89 0,320,56 Rm Ra Rs Rm Ra Rs Rm Rs Depan Tengah Belakang Zona vertikal mangrove R. mucronata R. apiculata R. stylosa Gastropoda Littorina neritoides Gambar 14 Perbandingan kepadatan L. neritoides pada masing-masing zona vertikal mangrove di Pulau Lantangpeo 1. Kepadatan L. neritoides (ind/m2) 2. Kerapatan mangrove (ind/100m2) ,22 R. mucronata 24,67 3,00 2,69 0,65 0,33 Gambar 15 Perbandingan kepadatan L. neritoides pada masing-masing zona vertikal mangrove di Pulau lantangpeo (terlindung) 4,4 25,44 2,56 0,94 1,49 Rm Ra Rs Rm Rs Rm 26,22 Depan Tengah Belakang Zona vertikal mangrove R. apiculata R. stylosa Gastropoda Littorina neritoides

58 Pemanfaatan produksi mangrove oleh Littorina neritoides Pemanfaatan alga oleh Littorina neritoides berkisar antara % setiap individu perhari (Tabel 5). Tabel 5 Pemanfaatan alga oleh Littorina neritoides Pulau Tingkat konsumsi alga Pemanfaatan perhari oleh L.neritoides(cm 2 /ind) (%) Bauluang Lantangpeo Lantangpeo (terlindung) Guguran daun mangrove akan mengalami penguraian dan akan menjadi makanan bagi berbagai organisme perairan. Serasah yang telah terurai merupakan sumber utama unsur karbon, nitrogen baik untuk ekosistem hutan itu sendiri maupun ekosistem sekitarnya. Dengan demikian mangrove berperan langsung dalam rantai perputaran energi dan zat-zat hara yang penting artinya bagi kelangsungan hidup sumberdaya hayati perairan. Produksi nutrien merupakan faktor penting bagi produksi alga. Alga merupakan makanan bagi jenis gastropoda grazer. Menurut Hyman (1967), Littorina merupakan salah satu gastropoda grazer dari sub kelas prosobranchia. Gastropoda Littorina obtusa ditemukan memanfaatkan alga coklat Fucus dan Ascophyllum sebagai makanan. Pada penelitian ini didapatkan bahwa salah satu jenis alga yang dapat dikonsumsi oleh L. neritoides adalah alga coklat Chnoospora implexa. Nutrien pada lokasi penelitian sebagian besar bersumber dari hasil dekomposisi serasah mangrove. Nutrien tersebut kemudian di konsumsi oleh alga, selanjutnya alga dimanfaatkan oleh L. neritoides sebagai makanan. Kontribusi mangrove berupa sumbangan nitrat untuk L. neritoides berkisar mg/l/ind/hari, sedangkan untuk fosfat berkisar mg/l/ind/hari (Tabel 6). Tabel 6 Pemanfaatan nutrien (nitrat dan fosfat) oleh alga Pulau Nutrien Pemanfaatan nutrien Kontribusi mangrove (nutrien) untuk oleh alga (mg/l/hari) L.neritoides (mg/l/ind/hari) Bauluang Nitrat (mg/l) Fosfat (mg/l) Lantangpeo Nitrat (mg/l) Fosfat (mg/l) Lantangpeo Nitrat (mg/l) (terlindung) Fosfat (mg/l)

59 Pada proses rantai makanan yang terjadi dapat diketahui kontribusi mangrove berupa nitrat terhadap gastropoda Littorina neritoides di lokasi penelitian sekitar mg/l/ind/hari, fosfat sekitar mg/l/ind/hari. Selanjutnya dapat diprediksikan kontribusi berupa nitrat dan fosfat setiap tahun pada lokasi penelitian sekitar mg/l/ind/thn dan mg/l/ind/thn. Di Pulau Lantangpeo kontribusi nutrien cenderung lebih besar dibanding Pulau Bauluang, namun kepadatan Littorina neritoides lebih rendah. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pemilihan habitat oleh gastropoda dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk kondisi fisika kimia lingkungan. Pulau Bauluang memiliki karakteristik oksigen terlarut (DO), salinitas dan suhu yang cenderung lebih tinggi sehingga mendukung kehidupan gastropoda. Jenis substrat juga berpengaruh terhadap keberadaan L. neritoides., karena jenis substrat sangat berkaitan dengan keberadaan predator. Selain dapat menyediakan habitat untuk berbagai macam organisme, ekosistem mangrove juga dapat mendukung kelangsungan hidup mereka dengan adanya rantai makanan yang berlangsung pada ekosistem ini Pola Hubungan antara Kepadatan L. neritoides dengan Kerapatan dan Penutupan Mangrove Hubungan antara kepadatan L. neritoides dengan vegetasi mangrove dapat dijelaskan dengan menggunakan regresi polynomial kubik. Dengan melihat koefisien korelasi (R), koefisien determinasi (R 2 ) yang terbesar dan error yang terkecil maka digunakan regresi polynomial kubik. 20 Kepadatan L. neritoides (ind/m2) Kerapatan mangrove (ind/100m2) 40 Gambar 17 Hubungan kepadatan L. neritoides dengan kerapatan mangrove

60 Hubungan antara kerapatan mangrove dan kepadatan L. neritoides dapat dijelaskan dengan persamaan Y= X X X 3 dengan korelasi sebesar 0.81 (81%) (Gambar 17). Koefisien determinasi (R 2 ) juga memberi suatu ukuran goodness of fit tentang persamaan yang diperkirakan, selain itu R 2 merupakan ukuran untuk mengetahui kualitas model regresi jadi besar kecilnya nilai koefisien determinasi menyatakan tinggi rendahnya kualitas regresi. Nilai R 2 yang diperoleh adalah 65.60%, sehingga dapat dikatakan bahwa kerapatan mangrove dapat menjelaskan kepadatan Littorina neritoides sebesar 0.65 (65%). Nilai R 2 dibatasi antara 0 1, jika R 2 = 1 maka dapat dikatakan score sempurna yang diperoleh hanya jika titik-titik data terjadi persis sepanjang suatu garis lurus dan apabila R 2 = 0 menandakan sebaliknya yang menunjukkan bahwa X sungguh sia-sia sebagai peramal untuk Y. Jadi semakin mendekati 1 artinya variabel bebas (X) semakin baik untuk meramalkan variabel tak bebas (Y). Pada analisis regresi untuk melihat hubungan antara penutupan mangrove dengan kepadatan gastropoda Littorina neritoides dapat dijelaskan dengan persamaan Y= X X X 3 dengan korelasi (R) sebesar 0.97 (97.97%). Nilai R 2 yang diperoleh adalah 96%, sehingga dapat diartikan bahwa kepadatan Littorina neritoides dapat dijelaskan dengan penutupan mangrove sebesar 0.96 (96%) (Gambar 18) Kepadatan Gastropoda (ind/m2) Penutupan mangrove (m2/ha) Gambar18 Hubungan kepadatan L. neritoides dengan penutupan mangrove

61 Grafik yang dihasilkan pada analisis regresi menunjukkan bahwa semakin tinggi penutupan mangrove, kepadatan Littorina neritoides cenderung semakin rendah. Di Pulau Lantangpeo, meskipun memiliki kerapatan mangrove yang lebih rendah dibanding Pulau Bauluang namun tegakan pohon pada pulau ini lebih besar, sehingga penutupannya relatif lebih tinggi. Pada daerah dengan penutupan mangrove yang tinggi dan tegakan yang tinggi serta daun yang rimbun akan menghalangi cahaya matahari yang sangat dibutuhkan oleh alga dalam proses fotosintesis. Kawasan mangrove yang lebih teduh karena penutupan (kanopi) yang relatif tinggi seperti Pulau Lantangpeo menyebabkan tingkat naungan yang tinggi. Hal ini berdampak terhadap terbatasnya penetrasi cahaya yang masuk ke kawasan mangrove, sehingga dapat menghambat pertumbuhan alga. Gastropoda Littorina neritoides merupakan organisme grazer yang memanfaatkan alga sebagai makanannya, sehingga dengan kebutuhan makanan yang tidak mencukupi menjadi salah satu faktor penyebab kepadatan Littorina neritoides di Pulau Lantangpeo cenderung lebih rendah dibanding pada Pulau Bauluang Hubungan antara kondisi lingkungan, kerapatan mangrove dan kepadatan gastropoda L. neritoides Matriks korelasi antar variabel memunculkan sumbu-sumbu faktorial. Komponen utama yang digunakan untuk analisis variabel fisika kimia air adalah tiga komponen, karena dengan tiga komponen saja sudah dapat merepresentasikan 83.21% dari ragam total (Gambar 19). Sementara untuk analisis sedimen adalah dua komponen, kedua komponen ini dapat merefresentasikan 84.96% dari ragam total (Gambar 20).

62 1.0 A ph 0.5 *Lmpr Sal Eh Sumbu 2 : 18.74% 0.0 Nitrat Fosfat *Phl TOM ph sed DO *Pk -0.5 *Ps Sumbu 1 : 46.21% Active Suppl B Sta LT3 Sta LT2 Sta B3 Sta B1 Sumbu 2: 18.74% Sta LT1 Sta L2-1.0 Sta B2-1.5 Sta L1Sta L Sumbu 1: 46.21% Active Keterangan: Sal = Salinitas Phl = Pasir halus Pk = Pasir kasar Lmpr = Lumpur Ps = Pasir sedang Gambar 19 Grafik Analisis Komponen Utama (PCA) karakteristik fisika-kimia lingkungan di lokasi penelitian. A. Korelasi karakteristik fisika kimia lingkungan pada sumbu 1 dan 2. B. Sebaran stasiun penelitian pada sumbu 1 dan 2.

63 1.0 A 0.5 *Serasah Lr Sumbu 2 : 23.59% 0.0 Ra Rs *Ln Rm -0.5 Sa Sumbu 1 : 46.99% Active Suppl. 4 3 B 2 Sta B2 Sumbu 2: 23.59% Sta L1 Sta LT1 Sta LT2 Sta L2Sta LT3 Sta L3 Sta B1-2 Sta B Sumbu 1: 46.99% Active Keterangan: Ra = Kerapatan Rhizophora apiculata Lr = Lumnitzera racemosa Rs = Kerapatan Rhizophora stylosa Sa = Sonneratia alba Rm = Kerapatan Rhizophora mucronata Ln = Kepadatan Littorina neritoides Gambar 20. Grafik Analisis Komponen Utama karakteristik biologi di lokasi penelitian. A. Korelasi karakteristik biologi pada sumbu 1 dan 2. B. Sebaran stasiun penelitian pada sumbu 1 dan 2.

64 Grafik hasil Analisis Komponen Utama memperlihatkan adanya 3 pengelompokan. Kelompok I terdiri dari stasiun B1, B2, dan B3 (Pulau Bauluang) yang dicirikan oleh oksigen terlarut, salinitas, serta dicirikan dengan kandungan fraksi pasir kasar yang tinggi. Selain itu dicirikan oleh kerapatan jenis mangrove Rhizophora mucronata yang lebih tinggi daripada stasiun lainnya, pada stasiun B2 dan B3 masing-masing terdapat jenis mangrove Lumnitzera racemosa dan Sonneratia alba. Kelompok ini dicirikan juga dengan kepadatan Littorina neritoides yang tinggi. Kelompok II terdiri dari stasiun L1, L2 dan L3 (Pulau Lantangpeo) dicirikan oleh ph sedimen, serta jenis mangrove R. apiculata. Kelompok III adalah stasiun LT1, LT2 dan LT3 (Lantangpeo bagian terlindung) dengan ciri nitrat, fosfat, produktivitas serasah, serta jenis mangrove Rhizophora stylosa. Kondisi substrat di Pulau Lantangpeo bagian terlindung dicirikan oleh fraksi pasir halus dan lumpur.

65 Perbedaan jenis substrat pada lokasi pengamatan berkaitan dengan proses pencucian (flushing) air laut. Kandungan pasir kasar yang tinggi pada daerah yang terbuka seperti Pulau Bauluang dan Pulau Lantangpeo terutama pada bagian yang dekat dengan garis pantai disebabkan karena pada daerah ini sering mengalami pencucian baik oleh pasang surut maupun gelombang, sehingga partikel yang halus tercuci dan terbawa masuk ke laut. Partikel pasir yang besar atau fraksi yang lebih berat akan sulit dipindahkan ke tempat lain dan mudah mengendap sementara fraksi yang lebih ringan akan cepat terbawa oleh arus maupun gelombang. Sedangkan di Pulau Lantangpeo bagian terlindung memiliki kandungan pasir halus dan lumpur yang tinggi karena lokasinya yang terlindung, proses pencucian kurang maksimal. Menurut Duursma dan Carroll (1996), partikel berbentuk pasir hanya bisa dipindahkan oleh arus yang kuat, sedang fraksi debu atau liat akan menumpuk di kawasan yang relatif terlindung. Eksistensi gastropoda pada umumnya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Kepadatan L. neritoides tinggi pada lingkungan dengan kandungan oksigen terlarut (DO) yang tinggi, dan pada lingkungan salinitas yang memadai serta didominasi oleh fraksi sedimen pasir kasar. Kandungan oksigen terlarut yang tinggi dibutuhkan dalam proses reproduksi, respirasi, pertumbuhan dan perkembangan. Sementara salinitas berhubungan juga dengan laju respirasi. Hughes (1986) mengatakan bahwa laju respirasi gastropoda menurun pada salinitas rendah, hal ini kemungkinan disebabkan oleh penurunan ventilasi. Lebih lanjut dikatakan bahwa banyak gasropoda intertidal menarik diri atau bersembunyi di dalam cangkang ketika salinitas rendah. Kepadatan L. neritoides ditemukan lebih tinggi pada jenis substrat berpasir daripada daerah yang didominasi oleh substrat berlumpur. Soemodihardjo (1977) mengatakan bahwa kondisi substrat berpengaruh terhadap susunan fauna, gastropoda Littoraria scabra umumnya menyukai komunitas mangrove pada daerah yang berbatasan dengan laut terbuka dengan substrat berpasir. Hal ini berhubungan dengan keberadaan predator terutama predator akuatik. Menurut Paine (1996) dalam Boneka (1993), pemangsaan dapat mengontrol kepadatan Littorina spp, selanjutnya ditemukan bahwa predator utama Littorina spp adalah kepiting. Lebih lanjut (Boneka, 1995) mengatakan bahwa pada faktor yang paling penting dalam mengontrol populasi Littorina spp pada ekosistem mangrove adalah predator akuatik. Kepiting dari infraordo Brachyura cenderung hidup pada substrat berlumpur, terutama famili Xanthidae, Ocypodidae, dan Grapsidae. Aksornkoae (1993) mengatakan bahwa kepiting lebih cenderung hidup di tempat yang sejuk dan lembab untuk mencegah efek desikasi atau

66 pengeringan. Macintosh (1988) menambahkan bahwa famili Ocypodidae cenderung dapat hidup dengan kondisi substrat yang relatif berlumpur. Substrat berlumpur pada Pulau Lantangpeo berpotensi terhadap tingginya populasi kepiting, sehingga hal ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kepadatan L. neritoides cenderung lebih rendah dibanding pada Pulau Bauluang dengan karakteristik substrat berpasir. Pulau Lantangpeo terutama bagian yang terlindung memiliki produktivitas serasah, serta kandungan nitrat dan fosfat yang tinggi. Serasah merupakan potensi nutrien yang sangat dibutuhkan oleh alga. Namun fenomena yang didapatkan justru keberadaan L. neritoides di pulau ini cenderung lebih rendah. Hal ini dapat dijelaskan bahwa kawasan yang lebih teduh dapat berpengaruh terhadap proses fotosintesis alga sehingga walaupun kandungan nutrien tinggi namun tidak didukung oleh penetrasi cahaya maka tetap akan menjadi faktor pembatas bagi perkembangan alga. Hal yang lebih penting adalah tingkat predator yang tinggi sangat menentukan keberadaan gastropoda pada suatu habitat, walaupun ketersediaan makanan dapat terpenuhi pada habitat tersebut. Berhubungan dengan kecenderungan gastropoda terhadap jenis mangrove tertentu, hasil penelitian yang dilakukan oleh Samson (1999) dengan mendeterminasi hubungan antara distribusi gastropoda dengan mangrove, menunjukkan bahwa gastropoda di kawasan mangrove Tritih Cilacap lebih banyak berasosiasi dengan Rhizophora mucronata dan Rhizopora apiculata dibanding dengan Avicennia marina dan Avicennia alba, sementara asosiasi dengan Bruguiera gymnorrhiza sangat rendah. Jenis Rhizophora spp memiliki sistem perakaran tongkat, sehingga menyediakan ruang atau tempat melekat yang lebih besar bagi gastropoda epifauna seperti Littorina spp. Gastropoda Littorina spp cenderung menghindari air laut, sehingga organisme ini akan bergerak ke bagian yang lebih tinggi ketika terjadi pasang. Penghindaran terhadap air laut merupakan mekanisme untuk menghindari predator. Jenis mangrove yang memiliki sistem perakaran lutut dan cakar ayam seperti Avicennia spp, Sonneratia spp dan Bruguiera gymnorrizha, bukan pilihan yang baik sebagai tempat melekat, karena peluang untuk menghindari pemangsaan sangat kecil. Faktor yang tak kalah pentingnya adalah produksi serasah yang selanjutnya berkaitan dengan ketersediaan makanan. Perbedaan produksi serasah pada jenis mangrove yang berbeda juga berperan penting terhadap kecenderungan gastropoda pada jenis mangrove tertentu. Hasil penelitian Soenardjo (1999) menunjukkan bahwa

67 jenis Rhizophora spp menghasilkan serasah yang lebih banyak dibandingkan dengan jenis Avicennia spp.

68 V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan analisis komunitas mangrove di lokasi penelitian di dapatkan lima jenis mangrove yaitu Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, Lumnitzera racemosa, Rhizhopora apiculata dan Rhizophora stylosa. Komunitas mangrove di lokasi penelitian dalam kategori baik. Adapun mangrove yang dominan dan memegang peranan penting di lokasi penelitian adalah Rhizophora mucronata. Nilai-nilai parameter fisika kimia lingkungan dari hasil pengamatan menunjukkan kondisi perairan masih dapat dikatakan baik dimana dari hasil pengamatan parameterparameter lingkungan masih berada dalam batas yang memungkinkan untuk kehidupan mangrove dan berbagai macam gastropoda. Kepadatan Littorina neritoides tertinggi di Pulau Bauluang (14 ind/m 2 ) diikuti pulau Lantangpeo (8 ind/m 2 ) dan terendah di Pulau Lantangpeo bagian terlindung (7 ind/m 2 ). Kepadatan Littorina neritoides tertinggi pada ekosistem mangrove bagian depan yang berhadapan langsung dengan laut. Pemanfaatan mikrohabitat tertinggi pada bagian batang saat pasang tertinggi dan pada akar pada saat pasang terendah. Sementara pola sebaran L. neritoides mengelompok di setiap stasiun pengamatan. Ekosistem mangrove dan gastropoda Littorina neritoides memiliki keterkaitan yang erat, hal ini ditunjukkan dengan adanya korelasi yang erat antara kerapatan mangrove dan kepadatan Littorina neritoides dengan koofisien korelasi (R) Sementara penutupan mangrove dan kepadatan L. neritoides juga memiliki hubungan dengan koofisien korelasi (R) sebesar Selain itu mangrove berkontribusi nyata terhadap Littorina neritoides berupa nitrat sebesar mg/l/ind/thn dan fosfat mg/l/ind/thn. Kepadatan Littorina neritoides tinggi pada pada stasiun yang mengandung oksigen terlarut (DO) yang tinggi, dicirikan dengan salinitas serta pada daerah dengan substrat berpasir.

69 5.2. Saran Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa saran guna memperkaya informasi mengenai keterkaitan ekosistem mangrove dengan gastropoda, diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Pada penelitian ini dilakukan pada lokasi dengan struktur komunitas mangrove yang relatif homogen dan didominasi oleh jenis Rhizophora mucronata. Untuk selanjutnya disarankan untuk memilih lokasi yang memiliki struktur komunitas mangrove yang lebih heterogen atau pada komunitas mangrove yang didominasi oleh jenis mangrove lainnya, dengan demikian diharapkan akan diketahui keterkaitan lebih jauh antara Littorina neritoides dengan struktur mangrove yang berbeda. 2. Mengamati lebih jauh mengenai tingkah laku gastropoda, terutama dalam hal reproduksi, perkembangan larva dan tingkah laku gastropoda pada saat surut di lantai ekosistem mangrove sehingga akan diketahui kecenderungan terhadap habitat tertentu yang dipengaruhi oleh kondisi fisika kimia lingkungan. 3. Melakukan pengamatan terhadap biota yang berpotensi sebagai predator seperti kepiting dan predator akuatik lainnya.

70 DAFTAR PUSTAKA Aksornkoae S Ecology and Management of Mangroves. Bangkok: IUCN Bengen DG Sinopsis Teknik Pengambilan Contoh dan Analisis Data Biofisik Sumberdaya Pesisir. Bogor: Pusat kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor. Bengen DG Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Bogor: Pusat kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor. Bengen DG Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut serta Prinsip Pengelolaannya. Bogor: Pusat kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor. Boneka FB Coexistence of Littoraria scabra and Littoraria pallescens (Gastropoda: Littorinidae) in Northern Sulawesi, Indonesia. Di dalam: Hylleberg J dan Ayyakkannu K, editor. Proceedings of The Sixth Workshop of The Tropical Marine Mollusc Programme (TMMP); Bangkok, 27 Okt- 2 Nov Bangkok: Prince of Songkla University and Phuket Marine Biological Center. Hlm Boneka FB, Lumingas LJL dan Pratasik SB Predation on Littoraria scabra (Linne, 1958) (Littorinidae:Prosobranchia) in The Mangrove of Bunaken Island, Sulawesi Utara. Di dalam: Hyllerberg J, editor. Proceedings of The Eighth Workshop of The Tropical Marine Mollusc Programme (TMMP); Bangkok, Agust Bangkok: Phuket marine Biological Center. hlm Budiman A dan Darnaedi Struktur Komunitas Moluska di Hutan Mangrove Morowali Sulawesi Selatan. Di dalam: Soemodihardjo S (eds). Prosiding Seminar Mangrove; Baturraden. Hlm Budiman A Penelaahan Beberapa Gatra Ekologi Moluska Bakau Indonesia (disertasi). Jakarta: Program Pascasarjana, Universitas Indonesia. Duursma EK dan Carroll J Environtment Compartement; Equilibria and Assessment of Processess Between Air, Water, Sediment and Biota. Berlin Heidenberg. Germany: Spinger-Verlag Effendi H Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius. Efriyeldi Struktur Komunitas Makrozoobentos dan Keterkaitannya dengan karakteristik Sedimen di Perairan Muara Sungai Bantan Tengah Bengkalis (tesis). Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

71 Frith DW A Premilinary list of Macrofauna from a Mangrove Forest and Adjacent Biotopes at Surin Island, Western Peninsular Thailand. Phuket Marine Biology Centre Researc Bulletin. 17:1-14. Hardjowigeno S Ilmu Tanah. Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa. Hawkes HA Invertebrates as Indicators of River Water Quality. Di dalam: James and Evinson, editor. Chichester: John Wiley and Sons. Hughes RN A Fungtional Biology of Marine Gastropods. Sydney: School of Animal Biology, University College of North Wales. Hyman LH The Invertebrates: Mollusca I. New york: McGraw-Hill Boo. Indradjaya DDS, Pengembangan Model Analisis Biaya Manfaat dengan Proses Analisis Hirarki dalam Pengelolaan Sumberdaya Pesisir. Jurnal Ekonomi Lingkungan. Kartawinata K, Adisoemarno S, Soedihardjo S, Tantar IGM Status Pengetahuan Hutan Bakau di Indonesia. Di dalam: Soemodihardjo S (eds). Prosiding Seminar Ekosistem Mangrove; Jakarta. Hlm Kasinathan R dan Shanmugam Overexplotation of Molluscan Fauna in The Vellar Estuary and Pitchavaram Mangrove. Proceding of MAB/COMARMICE IV: Asian and Pacific Regional Workshop and International Symposium on The Consevation and Management og Coral Reef ang Mangrove Ecosystem; Okinawa: Galaxea. Hlm Kusrini MD Komposisi dan Struktur Komunitas Keong Potamididae di Hutan Mangrove Teluk Hurun. Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Lampung Selatan (karya ilmiah). Bogor: Fakultas Perikanan. Krebs CJ Ecological Methodology. New york: University of Brithish Columbia, Harper Collins Publishers. Legendre L dan P. Legendre Numerical Ecology. New york: Elsevier Scientific Publising Company. 419p Macintosh DJ, The Ecology and Physiology of decapods of Mangrove Swamps. London: Symp. Zooll. Soc. Hlm Macnae W A General Account of The Fauna and Flora of Mangrove Swamps and Forest in Indo-west Pasific Region. Adv. Marine Biology. Mason CF Decomposition, Studies in Biology no. 74. London: The Edward Arnold (publ) Ltd. Southampton.

72 Mutmainnah Kajian Pengembangan Pemanfaatan Sumberdaya Pulau Kecil; Studi Kasus Pulau Tanakeke Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (tesis). Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. MNLH Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Tentang Baku Mutu Air laut. Jakarta: KEP No-51/MNLH/I/ April Nybakken JW Biologi Laut gy: Suatu Pendekatan Ekologi. Terjemahan oleh Eidman M, Koesoebiono, Bengen DG, Hutomo M, Sukarjo S; Jakarta: Penerbit PT. Gramedia. Odum E Fundamentals of Ecology, third edition. Philadelphia: WB Sanders and Co. 574p Parabang S Studi Kualitas Lingkungan Pantai Ditinjau dari Ketahanan Pangan Masyarakat; Studi Kasus Pulau Tanakeke Kabupaten Takalar (tesis). Makassar: Program Pascasarjana, Universitas Hasanuddin. Prahoro P dan Anthony SP Keanekaragaman Jenis Keong (Gastropoda) di Pantai Ujung Kelor, Batu Mampar dan Gunung Linus, teluk Ekas Lombok Timur (NTB). Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. Hlm Reid DG Predation by crabs on Littoraria Spesies (Littorinidae) in Queensland mangrove forest. Di dalam: Grahame J, Mill PJ dan Reid DG, editor. Proceeding of The International Symposium on Littorinid Biology. Hlm Samson SA Keanekaragaman dan Asosiasi Gastropoda pada Kawasan Mangrove Wanawisata Payau Tritih Cilacap Jawa Tengah (tesis). Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Sasekumar A Distribution of Makrofauna on a Malayan Mangrove Shore. J.Anim.Ecol 43: Sediadi A dan Pamudji Penelitian Kecepatan Gugur Mangrove dan Penguraiannya dalam Hutan Bakau di Teluk ambon. Prosiding Seminar III Ekosistem Hutan Mangrove. Hlm Soemohardjo S Beberapa Segi Biologi Hutan Payau dan Tinjauan Singkat KOmunitas Mangrove di Gugusan Pulau Pari. Oseana. Vol 3. Hlm Soenardjo N Produksi dan Laju Dekomposisi Serasah Mangrove dan Hubungannya dengan Struktur Komunitas Mangrove di Kaliutu Kabupaten Rembang Jawa Tengah (tesis). Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Steel RGD dan Torrie JH Principle and Procedures of Statistic with Special Reference to the Biological Sciences. New york: McGraw-Hill Book Company, Inc.

73 Tantanasiriwong R An Illustrated Checklist of Marine Shelled Gastropods from Phuket Island: Adjacent Mainland and Offshore Island, Western Peninsular Thailand. Phuket Marine Biology Centre Research Bulletin Woodroffe C Mangrove Sediments and Geomorphology. In Tropical Mangrove Ecosystem. American geophysical Union. Washington.

74 Lampiran 1 Perhitungan komponen utama (parameter fisika kimia air) a. Koordinat plot stasiun Stasiun Sumbu 1 Sumbu 2 Sumbu 3 B B B L L L LT LT LT b. Koordinat plot parameter Parameter Sumbu 1 Sumbu 2 Sumbu 3 Suhu Arus Sal ph DO TOM Nitrat Fosfat c. Akar ciri dan persentase varian (ragam) dari 3 sumbu utama Sumbu 1 Sumbu 2 Sumbu 3 Akar ciri Ragam (%) Akumulasi (%)

75 Lampiran 2 Perhitungan komponen utama (sedimen) a. Koordinat plot stasiun (sedimen) Stasiun Sumbu 1 Sumbu 2 B B B L L L LT LT LT b. Koordinat plot parameter (sedimen) Parameter Sumbu 1 Sumbu 2 ph Eh Pasir sangat kasar Pasir kasar Pasir sedang Pasir halur Pasir sangat halus Lumpur c. Akar ciri dan persentase varian (ragam) dari 2 sumbu utama Sumbu 1 Sumbu 2 Akar ciri Ragam (%) Akumulasi (%)

76 Lampiran 3 Hasil Analisis Faktorial Koresponden (AFK) untuk kepadatan Littorina neritoides a. Akar ciri dan persentase varian (ragam) dari L. neritoides Sumbu 1 Sumbu 2 Akar ciri Ragam (%) 45.04% 37.35% Akumulasi (%) 45.04% 82.39% b. Tabel kualitas refresentasi (kosinus kuadrat) dan kontribusi relatif untuk stasiun pada 2 sumbu utama Stasiun Sumbu 1 Sumbu B B B L L L LT LT LT c. Tabel kualitas refresentasi (kosinus kuadrat) dan kontribusi relatif untuk variabel pada 2 sumbu utama Variabel Sumbu 1 Sumbu Rm Lr Sa Ra Rs

77 Lampiran 4 Hasil Analisis Faktorial Koresponden (AFK) untuk kerapatan mangrove a. Akar ciri dan persentase varian (ragam) dari L. neritoides Sumbu 1 Sumbu 2 Akar ciri Ragam (%) 71.22% 13.50% Akumulasi (%) 71.22% 84.73% b. Tabel kualitas refresentasi (kosinus kuadrat) dan kontribusi relatif untuk stasiun pada 2 sumbu utama Stasiun Sumbu 1 Sumbu B B B L L L LT LT LT c. Tabel kualitas refresentasi (kosinus kuadrat) dan kontribusi relatif untuk variabel pada 2 sumbu utama Variabel Sumbu 1 Sumbu Rm(p) Ra(p) Rs(p) Rm(a) Rm(s) Ra(s)

78 Lampiran 5 (a) Hasil analisis pengelompokkan (cluster) stasiun berdasarkan kepadatan L. neritoides Cluster Analysis of Observations Standardized Variables, Euclidean Distance, Single Linkage Amalgamation Steps Step Number of Similarity Distance Clusters New Number of obs. clusters level level joined cluster in new cluster Lampiran 5 (b) Hasil analisis pengelompokkan (cluster) stasiun berdasarkan kerapatan mangrove Cluster Analysis of Observations: Standardized Variables, Euclidean Distance, Single Linkage Amalgamation Steps Step Number of Similarity Distance Clusters New Number of obs. clusters level level joined cluster in new cluster

79 Lampiran 6 (a) Hasil analisis regresi polynomial kubik antara kerapatan mangrove dengan kepadatan Littorina neritoides The regression equation is Y = X X** X**3 S = R-Sq = 65.6 % R-Sq(adj) = 44.9 % Analysis of Variance Source DF SS MS F P Regression Error Total Source DF Seq SS F P Linear Quadratic Cubic Lampiran 14 (b) Hasil analisis regresi polynomial kubik antara penutupan mangrove dengan kepadatan Littorina neritoides The regression equation is Y = X X** X**3 S = R-Sq = 34.8 % R-Sq(adj) = 0.0 % Analysis of Variance Source DF SS MS F P Regression Error Total Source DF Seq SS F P Linear Quadratic Cubic

80 Lampiran 7. Ekosistem mangrove dan asosiasinya dengan gastropoda Littorina neritoides pada lokasi penelitian

81

MANGROVE DAN KETERKAITANNYA DENGAN POPULASI GASTROPODA

MANGROVE DAN KETERKAITANNYA DENGAN POPULASI GASTROPODA ABSTRAK Musayyadah Tis in. TIPOLOGI MANGROVE DAN KETERKAITANNYA DENGAN POPULASI GASTROPODA Littorina neritoides (LINNE, 1758) DI KEPULAUAN TANAKEKE, KABUPATEN TAKALAR, SULAWESI SELATAN. Di bawah bimbingan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yaitu mendapatkan makanan, suhu yang tepat untuk hidup, atau mendapatkan

BAB I PENDAHULUAN. yaitu mendapatkan makanan, suhu yang tepat untuk hidup, atau mendapatkan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap makhluk hidup yang berada di suatu lingkungan akan saling berinteraksi, interaksi terjadi antara makhluk hidup dengan makhluk hidup itu sendiri maupun makhluk

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai kawasan pesisir yang cukup luas, dan sebagian besar kawasan tersebut ditumbuhi mangrove yang lebarnya dari beberapa

Lebih terperinci

STRUKTUR KOMUNITAS MOLUSKA (GASTROPODA DAN BIVALVIA) SERTA ASOSIASINYA PADA EKOSISTEM MANGROVE DI KAWASAN PANTAI ULEE - LHEUE, BANDA ACEH, NAD

STRUKTUR KOMUNITAS MOLUSKA (GASTROPODA DAN BIVALVIA) SERTA ASOSIASINYA PADA EKOSISTEM MANGROVE DI KAWASAN PANTAI ULEE - LHEUE, BANDA ACEH, NAD STRUKTUR KOMUNITAS MOLUSKA (GASTROPODA DAN BIVALVIA) SERTA ASOSIASINYA PADA EKOSISTEM MANGROVE DI KAWASAN PANTAI ULEE - LHEUE, BANDA ACEH, NAD Oleh : IRMA DEWIYANTI C06400033 SKRIPSI PROGRAM STUD1 ILMU

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan yang disebut sumberdaya pesisir. Salah satu sumberdaya pesisir

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan yang disebut sumberdaya pesisir. Salah satu sumberdaya pesisir BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan pesisir dan laut di Indonesia memegang peranan penting, karena kawasan ini memiliki nilai strategis berupa potensi sumberdaya alam dan jasajasa lingkungan yang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Secara keseluruhan daerah tempat penelitian ini didominasi oleh Avicennia

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Secara keseluruhan daerah tempat penelitian ini didominasi oleh Avicennia BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi umum daerah Wonorejo Kawasan mangrove di Desa Wonorejo yang tumbuh secara alami dan juga semi buatan telah diputuskan oleh pemerintah Surabaya sebagai tempat ekowisata.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Kata mangrove berasal dari bahasa Melayu manggi-manggi, yaitu nama

TINJAUAN PUSTAKA. Kata mangrove berasal dari bahasa Melayu manggi-manggi, yaitu nama TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Mangrove Kata mangrove berasal dari bahasa Melayu manggi-manggi, yaitu nama yang diberikan kepada mangrove merah (Rhizopora spp.). Nama mangrove diberikan kepada jenis tumbuh-tumbuhan

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara ekologis ekosistem padang lamun di perairan pesisir dapat berperan sebagai daerah perlindungan ikan-ikan ekonomis penting seperti ikan baronang dan penyu, menyediakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ekologis yaitu untuk melakukan pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery

BAB I PENDAHULUAN. ekologis yaitu untuk melakukan pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem mangrove adalah suatu lingkungan yang memiliki ciri khusus yaitu lantai hutannya selalu digenangi air, dimana air tersebut sangat dipengaruhi oleh pasang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhannya bertoleransi terhadap salinitas (Kusmana, 2003). Hutan mangrove

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhannya bertoleransi terhadap salinitas (Kusmana, 2003). Hutan mangrove 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, terutama di pantai berlindung, laguna, dan muara sungai yang tergenang pada saat pasang

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. pengelolaan kawasan pesisir dan lautan. Namun semakin hari semakin kritis

PENDAHULUAN. pengelolaan kawasan pesisir dan lautan. Namun semakin hari semakin kritis PENDAHULUAN Latar Belakang Mangrove merupakan ekosistem yang memiliki peranan penting dalam pengelolaan kawasan pesisir dan lautan. Namun semakin hari semakin kritis kondisi dan keberadaannya. Beberapa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Tentang Mangrove 2.1.1. Pengertian mangrove Hutan mangrove secara umum didefinisikan sebagai hutan yang terdapat di daerah-daerah yang selalu atau secara teratur tergenang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki pulau dengan garis pantai sepanjang ± km dan luas

BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki pulau dengan garis pantai sepanjang ± km dan luas BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar didunia yang memiliki 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang ± 81.000 km dan luas sekitar 3,1 juta km 2.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. fauna yang hidup di habitat darat dan air laut, antara batas air pasang dan surut.

BAB I PENDAHULUAN. fauna yang hidup di habitat darat dan air laut, antara batas air pasang dan surut. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mangrove merupakan ekosistem yang kompleks terdiri atas flora dan fauna yang hidup di habitat darat dan air laut, antara batas air pasang dan surut. Ekosistem mangrove

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Lokasi penelitian secara umum berada di Kabupaten Indramayu tepatnya di Desa Brondong Kecamatan Pasekan. Wilayah pesisir di sepanjang pantai

Lebih terperinci

memiliki kemampuan untuk berpindah tempat secara cepat (motil), sehingga pelecypoda sangat mudah untuk ditangkap (Mason, 1993).

memiliki kemampuan untuk berpindah tempat secara cepat (motil), sehingga pelecypoda sangat mudah untuk ditangkap (Mason, 1993). BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pelecypoda merupakan biota bentik yang digunakan sebagai indikator biologi perairan karena hidupnya relatif menetap (sedentery) dengan daur hidup yang relatif lama,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu hutan mangrove yang berada di perairan pesisir Jawa Barat terletak

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu hutan mangrove yang berada di perairan pesisir Jawa Barat terletak 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu hutan mangrove yang berada di perairan pesisir Jawa Barat terletak di Cagar Alam Leuweung Sancang. Cagar Alam Leuweung Sancang, menjadi satu-satunya cagar

Lebih terperinci

PRODUKSI DAN LAJU DEKOMPOSISI SERASAH DAUN MANGROVE API-API

PRODUKSI DAN LAJU DEKOMPOSISI SERASAH DAUN MANGROVE API-API PRODUKSI DAN LAJU DEKOMPOSISI SERASAH DAUN MANGROVE API-API (Avicennia marina Forssk. Vierh) DI DESA LONTAR, KECAMATAN KEMIRI, KABUPATEN TANGERANG, PROVINSI BANTEN Oleh: Yulian Indriani C64103034 PROGRAM

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari buah pulau (28 pulau besar dan pulau kecil) dengan

BAB I PENDAHULUAN. dari buah pulau (28 pulau besar dan pulau kecil) dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan di daerah tropika yang terdiri dari 17.504 buah pulau (28 pulau besar dan 17.476 pulau kecil) dengan panjang garis pantai sekitar

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

1. PENDAHULUAN Latar Belakang 1. PENDAHULUAN Latar Belakang Ekosistem mangrove tergolong ekosistem yang unik. Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem dengan keanekaragaman hayati tertinggi di daerah tropis. Selain itu, mangrove

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang

BAB I PENDAHULUAN. maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pesisir merupakan wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut. Menurut Suprihayono (2007) wilayah pesisir merupakan wilayah pertemuan antara daratan dan laut,

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 22 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kelompok Umur Pertumbuhan populasi tiram dapat dilihat berdasarkan sebaran kelompok umur. Analisis sebaran kelompok umur dilakukan dengan menggunakan FISAT II metode NORMSEP.

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem mangrove merupakan ekosistem pesisir yang terdapat di sepanjang pantai tropis dan sub tropis atau muara sungai. Ekosistem ini didominasi oleh berbagai jenis

Lebih terperinci

SEBARAN DAN ASOSIASI PERIFITON PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN (Enhalus acoroides) DI PERAIRAN PULAU TIDUNG BESAR, KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA UTARA

SEBARAN DAN ASOSIASI PERIFITON PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN (Enhalus acoroides) DI PERAIRAN PULAU TIDUNG BESAR, KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA UTARA SEBARAN DAN ASOSIASI PERIFITON PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN (Enhalus acoroides) DI PERAIRAN PULAU TIDUNG BESAR, KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA UTARA Oleh: Yuri Hertanto C64101046 PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. saling berkolerasi secara timbal balik. Di dalam suatu ekosistem pesisir terjadi

BAB I PENDAHULUAN. saling berkolerasi secara timbal balik. Di dalam suatu ekosistem pesisir terjadi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan pesisir dan laut merupakan sebuah ekosistem yang terpadu dan saling berkolerasi secara timbal balik. Di dalam suatu ekosistem pesisir terjadi pertukaran materi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Hutan mangrove merupakan hutan yang tumbuh pada daerah yang berair payau dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan mangrove memiliki ekosistem khas karena

Lebih terperinci

Mangrove menurut Macnae (1968) merupakan perpaduan

Mangrove menurut Macnae (1968) merupakan perpaduan 1 2 Mangrove menurut Macnae (1968) merupakan perpaduan antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove. Menurut Mastaller (1997) kata mangrove berasal dari bahasa Melayu kuno mangi-mangi untuk menerangkan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. Vegetasi Hutan Hutan merupakan ekosistem alamiah yang sangat kompleks mengandung berbagai spesies tumbuhan yang tumbuh rapat mulai dari jenis tumbuhan yang kecil hingga berukuran

Lebih terperinci

STRUKTUR DAN POLA ZONASI (SEBARAN) MANGROVE SERTA MAKROZOOBENTHOS YANG BERKOEKSISTENSI, DI DESA TANAH MERAH DAN OEBELO KECIL KABUPATEN KUPANG

STRUKTUR DAN POLA ZONASI (SEBARAN) MANGROVE SERTA MAKROZOOBENTHOS YANG BERKOEKSISTENSI, DI DESA TANAH MERAH DAN OEBELO KECIL KABUPATEN KUPANG STRUKTUR DAN POLA ZONASI (SEBARAN) MANGROVE SERTA MAKROZOOBENTHOS YANG BERKOEKSISTENSI, DI DESA TANAH MERAH DAN OEBELO KECIL KABUPATEN KUPANG Oleh: Muhammad Firly Talib C64104065 PROGRAM STUDI ILMU DAN

Lebih terperinci

V. INDIKATOR-INDIKATOR EKOSISTEM HUTAN MANGROVE

V. INDIKATOR-INDIKATOR EKOSISTEM HUTAN MANGROVE V. INDIKATOR-INDIKATOR EKOSISTEM HUTAN MANGROVE Berdasarkan tinjauan pustaka yang bersumber dari CIFOR dan LEI, maka yang termasuk dalam indikator-indikator ekosistem hutan mangrove berkelanjutan dilihat

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV HASIL DAN PEMBAHASAN DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... ii BERITA ACARA... PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH... iv PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI SKRIPSI... v ABSTRAK... vi ABSTRACT... vii RINGKASAN...

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI POPULASI MAKROZOOBENTOS DI KAWASAN EKOSISTEM MANGROVE DESA LADONG ACEH BESAR. Lili Kasmini 11 ABSTRAK

IDENTIFIKASI POPULASI MAKROZOOBENTOS DI KAWASAN EKOSISTEM MANGROVE DESA LADONG ACEH BESAR. Lili Kasmini 11 ABSTRAK IDENTIFIKASI POPULASI MAKROZOOBENTOS DI KAWASAN EKOSISTEM MANGROVE DESA LADONG ACEH BESAR Lili Kasmini 11 ABSTRAK Desa Ladong memiliki keanekaragaman mangrove yang masih tinggi yang berpotensi untuk tetap

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dalam 3 zona berdasarkan perbedaan rona lingkungannya. Zona 1 merupakan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dalam 3 zona berdasarkan perbedaan rona lingkungannya. Zona 1 merupakan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Lingkungan Penelitian Pada penelitian ini, lokasi hutan mangrove Leuweung Sancang dibagi ke dalam 3 zona berdasarkan perbedaan rona lingkungannya.

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

1. PENDAHULUAN Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ekosistem terumbu karang adalah salah satu ekosistem yang paling kompleks dan khas di daerah tropis yang memiliki produktivitas dan keanekaragaman yang tinggi. Ekosistem

Lebih terperinci

KAJIAN SUMBERDAYA EKOSISTEM MANGROVE UNTUK PENGELOLAAN EKOWISATA DI ESTUARI PERANCAK, JEMBRANA, BALI MURI MUHAERIN

KAJIAN SUMBERDAYA EKOSISTEM MANGROVE UNTUK PENGELOLAAN EKOWISATA DI ESTUARI PERANCAK, JEMBRANA, BALI MURI MUHAERIN KAJIAN SUMBERDAYA EKOSISTEM MANGROVE UNTUK PENGELOLAAN EKOWISATA DI ESTUARI PERANCAK, JEMBRANA, BALI MURI MUHAERIN DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagian besar wilayah di Indonesia adalah perairan, perairan tersebut berupa laut, sungai, rawa, dan estuari. Pertemuan antara laut dengan sungai disebut dengan

Lebih terperinci

ASOSIASI GASTROPODA DI EKOSISTEM PADANG LAMUN PERAIRAN PULAU LEPAR PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG. Oleh : Indra Ambalika Syari C

ASOSIASI GASTROPODA DI EKOSISTEM PADANG LAMUN PERAIRAN PULAU LEPAR PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG. Oleh : Indra Ambalika Syari C ASOSIASI GASTROPODA DI EKOSISTEM PADANG LAMUN PERAIRAN PULAU LEPAR PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG Oleh : Indra Ambalika Syari C64101078 DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan erat. Selain keunikannya, terdapat beragam fungsi yang dapat dihasilkan

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan erat. Selain keunikannya, terdapat beragam fungsi yang dapat dihasilkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hutan mangrove merupakan ekosistem yang unik karena terdapat pada daerah peralihan (ekoton) antara ekosistem darat dan laut yang keduanya saling berkaitan erat. Selain

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang khusus terdapat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang khusus terdapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang khusus terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut (Tjardhana dan Purwanto,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atas pulau, dengan garis pantai sepanjang km. Luas laut Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. atas pulau, dengan garis pantai sepanjang km. Luas laut Indonesia BAB I PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari atas 17.508 pulau, dengan garis pantai sepanjang 81.000 km. Luas laut Indonesia sekitar 3,1

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem padang lamun (seagrass) merupakan suatu habitat yang sering dijumpai antara pantai berpasir atau daerah mangrove dan terumbu karang. Padang lamun berada di daerah

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. garis pantai sepanjang kilometer dan pulau. Wilayah pesisir

PENDAHULUAN. garis pantai sepanjang kilometer dan pulau. Wilayah pesisir PENDAHULUAN Latar belakang Wilayah pesisir merupakan peralihan ekosistem perairan tawar dan bahari yang memiliki potensi sumberdaya alam yang cukup kaya. Indonesia mempunyai garis pantai sepanjang 81.000

Lebih terperinci

1. Pengantar A. Latar Belakang

1. Pengantar A. Latar Belakang 1. Pengantar A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar yang memiliki sekitar 17.500 pulau dengan panjang sekitar 81.000, sehingga Negara kita memiliki potensi sumber daya wilayah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pulau Pramuka I II III

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pulau Pramuka I II III BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Parameter Fisika dan Kimiawi Perairan Berdasarkan hasil penelitian di perairan Kepulauan Seribu yaitu Pulau Pramuka dan Pulau Semak Daun, diperoleh nilai-nilai parameter

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. antara dua samudera yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. antara dua samudera yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik mempunyai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan yang secara geografis terletak di antara dua samudera yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik mempunyai keanekaragaman

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pulau Dudepo merupakan salah satu pulau kecil berpenduduk yang berada

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pulau Dudepo merupakan salah satu pulau kecil berpenduduk yang berada 27 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Pulau Dudepo merupakan salah satu pulau kecil berpenduduk yang berada di Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo yang terletak pada

Lebih terperinci

V ASPEK EKOLOGIS EKOSISTEM LAMUN

V ASPEK EKOLOGIS EKOSISTEM LAMUN 49 V ASPEK EKOLOGIS EKOSISTEM LAMUN 5.1 Distribusi Parameter Kualitas Perairan Karakteristik suatu perairan dan kualitasnya ditentukan oleh distribusi parameter fisik dan kimia perairan yang berlangsung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hutan mangrove adalah komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi

BAB I PENDAHULUAN. Hutan mangrove adalah komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan mangrove adalah komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur.

Lebih terperinci

Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang. berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur. Komunitas vegetasi ini

Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang. berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur. Komunitas vegetasi ini II. TINJAIJAN PliSTAKA Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa spesies pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur.

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2012 TENTANG REHABILITASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2012 TENTANG REHABILITASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2012 TENTANG REHABILITASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 33 ayat (2)

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 33 ayat (2) PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2012 TENTANG REHABILITASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ekosistem lamun, ekosistem mangrove, serta ekosistem terumbu karang. Diantara

BAB I PENDAHULUAN. ekosistem lamun, ekosistem mangrove, serta ekosistem terumbu karang. Diantara 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya merupakan perairan dan terletak di daerah beriklim tropis. Laut tropis memiliki

Lebih terperinci

2.2. Struktur Komunitas

2.2. Struktur Komunitas 5 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Makrozoobentos Hewan bentos dibagi dalam tiga kelompok ukuran, yaitu makrobentos (ukuran lebih dari 1,0 mm), meiobentos (ukuran antara 0,1-1 mm) dan mikrobentos (ukuran kurang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tertentu dan luasan yang terbatas, 2) Peranan ekologis dari ekosistem hutan

BAB I PENDAHULUAN. tertentu dan luasan yang terbatas, 2) Peranan ekologis dari ekosistem hutan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem mangrove memiliki sifat khusus yang berbeda dengan ekosistem hutan lain bila dinilai dari keberadaan dan peranannya dalam ekosistem sumberdaya alam, yaitu

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pantai Nanganiki merupakan salah satu pantai yang terletak di Desa

BAB 1 PENDAHULUAN. Pantai Nanganiki merupakan salah satu pantai yang terletak di Desa BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pantai Nanganiki merupakan salah satu pantai yang terletak di Desa Ne otonda Kecamatan Kotabaru Kabupaten Ende. Keindahan Pantai Nanganiki dapat dinikmati sebagai objek

Lebih terperinci

B. Ekosistem Hutan Mangrove

B. Ekosistem Hutan Mangrove B. Ekosistem Hutan Mangrove 1. Deskripsi merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, didominasi oleh beberapa spesies pohon mangrove yang mampu tumbuh di daerah pasang surut pantai berlumpur. umumnya tumbuh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. luar biasa ini memberikan tanggung jawab yang besar bagi warga Indonesia untuk

BAB I PENDAHULUAN. luar biasa ini memberikan tanggung jawab yang besar bagi warga Indonesia untuk BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia memiliki hutan mangrove yang terluas di dunia dan juga memiliki keragaman hayati yang terbesar serta strukturnya yang paling bervariasi. Mangrove dapat tumbuh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sampai sub tropis. Menurut Spalding et al. (1997) luas ekosistem mangrove di dunia

BAB I PENDAHULUAN. sampai sub tropis. Menurut Spalding et al. (1997) luas ekosistem mangrove di dunia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan mangrove merupakan salah satu ekosistem yang khas dimana dibentuk dari komunitas pasang surut yang terlindung dan berada di kawasan tropis sampai sub tropis.

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Mangrove

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Mangrove 4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Mangrove Mangrove atau biasa disebut mangal atau bakau merupakan vegetasi khas daerah tropis, tanamannya mampu beradaptasi dengan air yang bersalinitas cukup tinggi, menurut Nybakken

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Ekosistem pesisir tersebut dapat berupa ekosistem alami seperti hutan mangrove,

BAB I PENDAHULUAN. Ekosistem pesisir tersebut dapat berupa ekosistem alami seperti hutan mangrove, BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dalam suatu wilayah pesisir terdapat beragam sistem lingkungan (ekosistem). Ekosistem pesisir tersebut dapat berupa ekosistem alami seperti hutan mangrove, terumbu karang,

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ekosistem terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut yang penting karena menjadi sumber kehidupan bagi beraneka ragam biota laut. Di dalam ekosistem terumbu

Lebih terperinci

DISTRIBUSI DAN PREFERENSI HABITAT SPONS KELAS DEMOSPONGIAE DI KEPULAUAN SERIBU PROVINSI DKI JAKARTA KARJO KARDONO HANDOJO

DISTRIBUSI DAN PREFERENSI HABITAT SPONS KELAS DEMOSPONGIAE DI KEPULAUAN SERIBU PROVINSI DKI JAKARTA KARJO KARDONO HANDOJO DISTRIBUSI DAN PREFERENSI HABITAT SPONS KELAS DEMOSPONGIAE DI KEPULAUAN SERIBU PROVINSI DKI JAKARTA KARJO KARDONO HANDOJO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2006 PERNYATAAN MENGENAI TESIS

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. pada iklim tropis dan sub tropis saja. Menurut Bengen (2002) hutan mangrove

TINJAUAN PUSTAKA. kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. pada iklim tropis dan sub tropis saja. Menurut Bengen (2002) hutan mangrove II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hutan Mangrove 1. Pengertian Hutan Mangrove Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis dan sub tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove mampu tumbuh

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 16 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Kajian populasi Kondisi populasi keong bakau lebih baik di lahan terlantar bekas tambak dibandingkan di daerah bermangrove. Hal ini ditunjukkan oleh nilai kepadatan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Ekosistem Mangrove 1. Definisi Kata Mangrove mempunyai dua arti, pertama sebagai komunitas yaitu komunitas atau masyarakat tumbuhan atau hutan yang tahan terhadap kadar garam

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK FISIKA KIMIA PERAIRAN DAN KAITANNYA DENGAN DISTRIBUSI SERTA KELIMPAHAN LARVA IKAN DI TELUK PALABUHAN RATU NURMILA ANWAR

KARAKTERISTIK FISIKA KIMIA PERAIRAN DAN KAITANNYA DENGAN DISTRIBUSI SERTA KELIMPAHAN LARVA IKAN DI TELUK PALABUHAN RATU NURMILA ANWAR KARAKTERISTIK FISIKA KIMIA PERAIRAN DAN KAITANNYA DENGAN DISTRIBUSI SERTA KELIMPAHAN LARVA IKAN DI TELUK PALABUHAN RATU NURMILA ANWAR SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 0 I. PENDAHULUAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove yang cukup besar. Dari sekitar 15.900 juta ha hutan mangrove yang terdapat di dunia, sekitar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Potensi wilayah pesisir dan laut Indonesia dipandang dari segi. pembangunan adalah sebagai berikut ; pertama, sumberdaya yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. Potensi wilayah pesisir dan laut Indonesia dipandang dari segi. pembangunan adalah sebagai berikut ; pertama, sumberdaya yang dapat 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Potensi wilayah pesisir dan laut Indonesia dipandang dari segi pembangunan adalah sebagai berikut ; pertama, sumberdaya yang dapat diperbaharui seperti perikanan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN Latar Belakang

I PENDAHULUAN Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumberdaya alam pesisir merupakan suatu himpunan integral dari komponen hayati (biotik) dan komponen nir-hayati (abiotik) yang dibutuhkan oleh manusia untuk hidup dan

Lebih terperinci

Modul 1 : Ruang Lingkup dan Perkembangan Ekologi Laut Modul 2 : Lautan sebagai Habitat Organisme Laut Modul 3 : Faktor Fisika dan Kimia Lautan

Modul 1 : Ruang Lingkup dan Perkembangan Ekologi Laut Modul 2 : Lautan sebagai Habitat Organisme Laut Modul 3 : Faktor Fisika dan Kimia Lautan ix M Tinjauan Mata Kuliah ata kuliah ini merupakan cabang dari ekologi dan Anda telah mempelajarinya. Pengetahuan Anda yang mendalam tentang ekologi sangat membantu karena ekologi laut adalah perluasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub-tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Kata mangrove diduga berasal dari bahasa Melayu manggi-manggi, yaitu

TINJAUAN PUSTAKA. Kata mangrove diduga berasal dari bahasa Melayu manggi-manggi, yaitu 6 TINJAUAN PUSTAKA Pengetian Mangrove Kata mangrove diduga berasal dari bahasa Melayu manggi-manggi, yaitu nama yang diberikan kepada mangrove merah (Rhizopora spp.). Nama Mangrove diberikan kepada jenis

Lebih terperinci

STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI DESA MARTAJASAH KABUPATEN BANGKALAN

STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI DESA MARTAJASAH KABUPATEN BANGKALAN STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI DESA MARTAJASAH KABUPATEN BANGKALAN Supriadi, Agus Romadhon, Akhmad Farid Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Trunojoyo Madura e-mail: [email protected] ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Plankton merupakan organisme renik yang hidup melayang-layang di air dan

BAB I PENDAHULUAN. Plankton merupakan organisme renik yang hidup melayang-layang di air dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Plankton merupakan organisme renik yang hidup melayang-layang di air dan mempunyai kemampaun berenang yang lemah dan pergerakannya selalu dipegaruhi oleh gerakan massa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak di daerah beriklim tropis dan merupakan negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya perairan. Laut tropis

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. tahapan dalam stadia hidupnya (larva, juwana, dewasa). Estuari merupakan

TINJAUAN PUSTAKA. tahapan dalam stadia hidupnya (larva, juwana, dewasa). Estuari merupakan 5 TINJAUAN PUSTAKA Estuari Estuari merupakan suatu komponen ekosistem pesisir yang dikenal sangat produktif dan paling mudah terganggu oleh tekanan lingkungan yang diakibatkan kegiatan manusia maupun oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan Salomon, dalam Rahayu et al. (2006), untuk mengurangi dampak perubahan

BAB I PENDAHULUAN. dan Salomon, dalam Rahayu et al. (2006), untuk mengurangi dampak perubahan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemanasan global mengakibatkan terjadinya perubahan iklim. Menurut Sedjo dan Salomon, dalam Rahayu et al. (2006), untuk mengurangi dampak perubahan iklim, upaya yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.466 pulau dengan garis pantai sepanjang 99.023 km 2 (Kardono, P., 2013). Berdasarkan UNCLOS

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Hutan mangrove di DKI Jakarta tersebar di kawasan hutan mangrove Tegal Alur-Angke Kapuk di Pantai Utara DKI Jakarta dan di sekitar Kepulauan Seribu. Berdasarkan SK Menteri

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. dalam siklus karbon global, akan tetapi hutan juga dapat menghasilkan emisi

TINJAUAN PUSTAKA. dalam siklus karbon global, akan tetapi hutan juga dapat menghasilkan emisi 16 TINJAUAN PUSTAKA Karbon Hutan Hutan merupakan penyerap karbon (sink) terbesar dan berperan penting dalam siklus karbon global, akan tetapi hutan juga dapat menghasilkan emisi karbon (source). Hutan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Estuari oleh sejumlah peneliti disebut-kan sebagai area paling produktif,

TINJAUAN PUSTAKA. Estuari oleh sejumlah peneliti disebut-kan sebagai area paling produktif, TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Estuari Estuari oleh sejumlah peneliti disebut-kan sebagai area paling produktif, karena area ini merupakan area ekoton daerah pertemuan dua ekosistem berbeda (tawar dan laut)

Lebih terperinci

FITOPLANKTON : DISTRIBUSI HORIZONTAL DAN HUBUNGANNYA DENGAN PARAMETER FISIKA KIMIA DI PERAIRAN DONGGALA SULAWESI TENGAH

FITOPLANKTON : DISTRIBUSI HORIZONTAL DAN HUBUNGANNYA DENGAN PARAMETER FISIKA KIMIA DI PERAIRAN DONGGALA SULAWESI TENGAH FITOPLANKTON : DISTRIBUSI HORIZONTAL DAN HUBUNGANNYA DENGAN PARAMETER FISIKA KIMIA DI PERAIRAN DONGGALA SULAWESI TENGAH Oleh : Helmy Hakim C64102077 PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. bahasa Gorontalo yaitu Atiolo yang diartikan dalam bahasa Indonesia yakni

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. bahasa Gorontalo yaitu Atiolo yang diartikan dalam bahasa Indonesia yakni BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Lokasi Pengamatan Desa Otiola merupakan pemekaran dari Desa Ponelo dimana pemekaran tersebut terjadi pada Bulan Januari tahun 2010. Nama Desa Otiola diambil

Lebih terperinci

2.2. Parameter Fisika dan Kimia Tempat Hidup Kualitas air terdiri dari keseluruhan faktor fisika, kimia, dan biologi yang mempengaruhi pemanfaatan

2.2. Parameter Fisika dan Kimia Tempat Hidup Kualitas air terdiri dari keseluruhan faktor fisika, kimia, dan biologi yang mempengaruhi pemanfaatan 4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Chironomida Organisme akuatik yang seringkali mendominasi dan banyak ditemukan di lingkungan perairan adalah larva serangga air. Salah satu larva serangga air yang dapat ditemukan

Lebih terperinci

Latar Belakang (1) Ekosistem mangrove Produktivitas tinggi. Habitat berbagai organisme makrobentik. Polychaeta

Latar Belakang (1) Ekosistem mangrove Produktivitas tinggi. Habitat berbagai organisme makrobentik. Polychaeta Latar Belakang (1) Ekosistem mangrove Produktivitas tinggi Habitat berbagai organisme makrobentik Kelompok makrobentik infauna yang berperan penting pada ekosistem substrat lunak Berperan dalam proses

Lebih terperinci

KEANEKARAGAMAN PLANKTON PADA HUTAN MANGROVE DI KEPULAUAN TOGEAN SULAWESI TENGAH. Halidah

KEANEKARAGAMAN PLANKTON PADA HUTAN MANGROVE DI KEPULAUAN TOGEAN SULAWESI TENGAH. Halidah Keanekaragaman Plankton pada Hutan Mangrove KEANEKARAGAMAN PLANKTON PADA HUTAN MANGROVE DI KEPULAUAN TOGEAN SULAWESI TENGAH Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar Jl. Perintis Kemerdekaan

Lebih terperinci

GEOKIMIA Pb, Cr, Cu DALAM SEDIMEN DAN KETERSEDIAANNYA PADA BIOTA BENTIK DI PERAIRAN DELTA BERAU, KALIMANTAN TIMUR

GEOKIMIA Pb, Cr, Cu DALAM SEDIMEN DAN KETERSEDIAANNYA PADA BIOTA BENTIK DI PERAIRAN DELTA BERAU, KALIMANTAN TIMUR GEOKIMIA Pb, Cr, Cu DALAM SEDIMEN DAN KETERSEDIAANNYA PADA BIOTA BENTIK DI PERAIRAN DELTA BERAU, KALIMANTAN TIMUR Oleh: Sabam Parsaoran Situmorang C64103011 PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. A. Mangrove. kemudian menjadi pelindung daratan dan gelombang laut yang besar. Sungai

TINJAUAN PUSTAKA. A. Mangrove. kemudian menjadi pelindung daratan dan gelombang laut yang besar. Sungai II. TINJAUAN PUSTAKA A. Mangrove Mangrove adalah tanaman pepohonan atau komunitas tanaman yang hidup di antara laut dan daratan yang dipengaruhi oleh pasang surut. Habitat mangrove seringkali ditemukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pantai sekitar Km, memiliki sumberdaya pesisir yang sangat potensial.

BAB I PENDAHULUAN. pantai sekitar Km, memiliki sumberdaya pesisir yang sangat potensial. 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Indonesia sebagai suatu negara kepulauan dengan panjang garis pantai sekitar 81.000 Km, memiliki sumberdaya pesisir yang sangat potensial. Salah satu ekosistem

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Ekosistem laut merupakan suatu kumpulan integral dari berbagai komponen abiotik (fisika-kimia) dan biotik (organisme hidup) yang berkaitan satu sama lain dan saling berinteraksi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. daratan dengan ekosistem lautan. Oleh karena itu, ekosistem ini mempunyai

TINJAUAN PUSTAKA. daratan dengan ekosistem lautan. Oleh karena itu, ekosistem ini mempunyai 5 TINJAUAN PUSTAKA Mangrove merupakan suatu formasi hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, lantai hutannya tergenang pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut. Ekosistem mangrove merupakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pelestaraian mangrove dengan mengubahnya menjadi tambak-tambak. Menurut

I. PENDAHULUAN. pelestaraian mangrove dengan mengubahnya menjadi tambak-tambak. Menurut I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perencanaan pembangunan di era tahun 1980 an hingga pertengahan tahun 1990 an banyak memberikan pandangan keliru tentang pengelolaan hutan mangrove yang berorientasi pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kerusakan hutan mangrove di Indonesia, kini semakin merata ke berbagai

BAB I PENDAHULUAN. Kerusakan hutan mangrove di Indonesia, kini semakin merata ke berbagai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kerusakan hutan mangrove di Indonesia, kini semakin merata ke berbagai wilayah di Nusantara. Kerusakan hutan mangrove ini disebabkan oleh konversi lahan menjadi areal

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN. Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN. Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan 29 BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN 3.1. Kerangka Berpikir Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan ekosistem laut. Mangrove diketahui mempunyai fungsi ganda

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. terluas di dunia. Hutan mangrove umumnya terdapat di seluruh pantai Indonesia

PENDAHULUAN. terluas di dunia. Hutan mangrove umumnya terdapat di seluruh pantai Indonesia PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki hutan mangrove terluas di dunia. Hutan mangrove umumnya terdapat di seluruh pantai Indonesia dan hidup serta tumbuh berkembang

Lebih terperinci

Kelimpahan, Keanekaragaman dan Kemerataan Gastropoda di Ekosistem Mangrove Pulau Dudepo, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara

Kelimpahan, Keanekaragaman dan Kemerataan Gastropoda di Ekosistem Mangrove Pulau Dudepo, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara Kelimpahan, Keanekaragaman dan Kemerataan Gastropoda di Ekosistem Mangrove Pulau Dudepo, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara 1,2 Riskawati Nento, 2 Femy Sahami dan 2 Sitti Nursinar 1 [email protected]

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem perikanan pantai di Indonesia merupakan salah satu bagian dari sistem perikanan secara umum yang berkontribusi cukup besar dalam produksi perikanan selain dari perikanan

Lebih terperinci

KEANEKARAGAMAN JENIS GASTROPODA DI HUTAN MANGROVE SEGORO ANAK BLOK BEDUL TAMAN NASIONAL ALAS PURWO SKRIPSI. Oleh : Saniatur Rahmah NIM.

KEANEKARAGAMAN JENIS GASTROPODA DI HUTAN MANGROVE SEGORO ANAK BLOK BEDUL TAMAN NASIONAL ALAS PURWO SKRIPSI. Oleh : Saniatur Rahmah NIM. KEANEKARAGAMAN JENIS GASTROPODA DI HUTAN MANGROVE SEGORO ANAK BLOK BEDUL TAMAN NASIONAL ALAS PURWO SKRIPSI Oleh : Saniatur Rahmah NIM. 071810401011 JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

Lebih terperinci