BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Devi Tan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Karakteristik Responden a. Karakteristik Responden Tabel 6 memperlihatkan data karakteristik responden dan hasil uji homogenitas responden berdasarkan jenis kelamin anak, pendidikan ayah, pendidikan ibu, pendapatan keluarga, riwayat kegemukan orang tua, riwayat kesehatan keluarga, dan status keluarga. Jenis kelamin anak pada kelompok perlakuan yaitu laki-laki sebanyak 58,1% (n=18) dan perempuan sebanyak 41,9% (n=13), sedangkan untuk kelompok kontrol yaitu laki-laki sebanyak 45,5% (n=15) dan perempuan sebanyak 54,5% (n=18). Tingkat pendidikan ayah pada kelompok perlakuan yaitu tingkat pendidikan tinggi sebanyak 64,5% (n=2) dan tingkat pendidikan rendah sebanyak 35,5% (n=11); sedangkan untuk kelompok kontrol yaitu tingkat pendidikan tinggi sebanyak 66,7% (n=22) dan tingkat pendidikan rendah sebanyak 33,3% (n=11).
2 12 Tingkat pendidikan ibu pada kelompok perlakuan yaitu tingkat pendidikan tinggi sebanyak 45,2% (n=14) dan tingkat pendidikan rendah sebanyak 54,8% (n=17); sedangkan untuk kelompok kontrol yaitu tingkat pendidikan tinggi sebanyak 54,5% (n=18) dan tingkat pendidikan rendah sebanyak 45,5% (n=15). Tingkat pendapatan keluarga pada kelompok perlakuan yaitu tingkat pendapatan tinggi sebanyak 1% (n=31); sedangkan untuk kelompok kontrol yaitu tingkat pendapatan tinggi sebanyak 97% (n=32) dan tingkat pendapatan rendah sebanyak 3% (n=1). Riwayat kegemukan orang tua pada kelompok perlakuan yaitu ada riwayat sebanyak 93,5% (n=29) dan tidak ada riwayat sebanyak 6,5% (n=2); sedangkan untuk kelompok kontrol yaitu ada riwayat sebanyak 9,9% (n=3) dan tidak ada riwayat sebanyak 9,1% (n=3). Riwayat kesehatan keluarga pada kelompok perlakuan yaitu keluarga berisiko sebanyak 71% (n=22) dan keluarga tidak berisiko sebanyak 29% (n=9); sedangkan untuk kelompok kontrol yaitu keluarga berisiko sebanyak 81,8% (n=27) dan keluarga tidak berisiko sebanyak 18,2% (n=6). Status keluarga pada kelompok perlakuan yaitu keluarga inti sebanyak 83,9% (n=26) dan keluarga besar sebanyak 16,1% (n=5); sedangkan untuk kelompok kontrol yaitu keluarga inti sebanyak 66,7% (n=22) dan keluarga besar sebanyak 33,3% (n=11).
3 121 Tabel di bawah ini memperlihatkan ada atau tidaknya perbedaan variasi jenis kelamin anak, pendidikan orang tua (ayah, ibu), pendapatan keluarga, riwayat kegemukan orang tua, riwayat kesehatan keluarga, dan status keluarga. Adapun hasil analisis data sebagai berikut : Tabel 6. Uji kesetaraan responden pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol Karakteristik responden Jenis kelamin - Laki-laki - Perempuan Pendidikan ayah - Tinggi - Rendah Pendidikan ibu - Tinggi - Rendah Pendapatan keluarga - Tinggi - Rendah Riwayat kegemukan orang tua - Ada riwayat - Tidak ada riwayat Riwayat kesehatan - Keluarga berisiko - Keluarga tidak berisiko Struktur keluarga - Keluarga inti - Keluarga besar Perlakuan Kontrol n (31) % n (33) % p
4 122 Hasil analisis menunjukkan bahwa antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol telah memiliki kesetaraan/ homogenitas. Hasil uji homogenitas antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol pada jenis kelamin anak didapat nilai p=.313, pendidikan ayah didapat nilai p=.856, pendidikan ibu didapat nilai p=.453, pendapatan keluarga didapat nilai p=.329, riwayat kegemukan orang tua didapat nilai p=.694, riwayat kesehatan keluarga didapat nilai p=.36, dan status keluarga didapat nilai p=.112. Uji kesetaraan ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan untuk jenis kelamin anak, pendidikan ayah, pendidikan ibu, pendapatan keluarga, riwayat kegemukan orang tua, riwayat kesehatan keluarga, dan status keluarga antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.
5 123 b. Distribusi frekuensi berdasarkan kemampuan keluarga, IMT anak, self-efficacy, pengetahuan keluarga, budaya keluarga, dan aktivitas fisik anak pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol 1) Grafik proporsi kemampuan keluarga pada tingkat baik PRE KE 1 KE 2 KE 3 KE 4 KE 5 KE 6 KLP PERLAKUAN KLP KONTROL Gambar 11. Proporsi Kemampuan Keluarga pada tingkat baik 2) Tabel 7. Distribusi kemampuan keluarga sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok Perlakuan Kontrol Kemampuan Setelah (Post) Kemampuan Baik Kurang Sebelum (Pre) n % n % Baik (n=) Kurang (n=31) 31 1 Baik (n=) Kurang (n=33)
6 124 Tabel 7 menunjukkan kemampuan keluarga kurang sebelum intervensi pada kedua kelompok. Setelah intervensi pada kelompok perlakuan berada pada kemampuan baik (1%) sedangkan kelompok kontrol yang memiliki kemampuan baik sebanyak 6 keluarga (18,2%) dan kurang 27 keluarga (81,8%). 3) Grafik perubahan skor tingkat kemandirian keluarga pre-post pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol Kemandirian Pre Perlakuan (%) Kemandirian Post Perlakuan (%) Gambar 12a. Perubahan Skor Tingkat Kemandirian Keluarga Perlakuan Pengukuran pre kelompok perlakuan (gambar 12a), semua keluarga sebanyak 31 (1%) berada dalam kategori kemampuan kurang, yaitu terdapat 14 (45,2%) keluarga berada pada kemandirian 1 dan 17 (54,8%) keluarga berada pada
7 125 kemandirian 2. Setelah intervensi selama 6 bulan terdapat perubahan tingkat kemandirian, pada kelompok perlakuan 31 (1%) keluarga telah masuk dalam kategori kemampuan baik yaitu terdapat 16 (51,6%) keluarga berada pada kemandirian 3 dan 15 (48,4%) keluarga berada pada kemandirian Kemandirian Pre Kontrol (%) Kemandrian Post Kontrol (%) Gambar 12b. Perubahan Skor Tingkat Kemandirian Keluarga Kontrol Perubahan skor pada pre kelompok kontrol yaitu seluruh keluarga juga berada dalam kategori kemampuan kurang, yaitu 9 (27,3%) keluarga berada pada kemandirian 1 dan 24 (72,7%) keluarga berada dalam kemandirian 2. Setelah 6 bulan, keluarga dengan kemampuan baik sebanyak 6 (18,2%) keluarga, yaitu terdapat 4 (12,1%) keluarga dalam tingkat kemandirian 3 dan 2 (6,1%) keluarga dalam tingkat kemandirian 4, dan kemampuan
8 126 kurang sebanyak 27 (81,8%) keluarga yang berada pada tingkat kemandirian 2. 4) Grafik Perubahan Penurunan IMT anak KLP PERLAKUAN KLP KONTROL KE 1 KE 2 KE 3 KE 4 KE 5 KE 6 Gambar 13. Perubahan Penurunan IMT anak (%) 5) Tabel 8. Distribusi perubahan IMT sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok Perlakuan Kontrol IMT Setelah (Post) IMT Sebelum Menurun Meningkat (Bulan 1) n % n % Menurun (n=3) 3 1 Meningkat (n=1) 1 1 Menurun (n=3) 3 1 Meningkat (n=3) 3 1 Berdasarkan tabel 8 menunjukkan penurunan IMT pada kelompok perlakuan sebanyak 3 anak setelah intervensi
9 127 sedangkan pada kelompok kontrol terjadi peningkatan IMT sebanyak 3 anak (1%). 6) Grafik distribusi status gizi anak berdasarkan IMT/U NORMAL OVERWEIGHT OBESITAS 1 IMT ANAK PRE KLP PERLAKUAN IMT ANAK PRE KLP KONTROL IMT ANAK POST KLP PERLAKUAN IMT ANAK POST KLP KONTROL Gambar 14. Distribusi Status Gizi anak Pengukuran pre kelompok perlakuan dari 31 (1%), terdapat 7 (22,6%) anak dengan status gizi overweight dan obesitas sebanyak 24 (77,4%); sedangkan pada kelompok kontrol dari 33 (1%) anak, terdapat 26 (78,8%) anak dengan status gizi overweight dan 7 (21,2%) obesitas. Setelah dilakukan intervensi selama 6 bulan, terdapat perubahan status gizi anak pada kedua kelompok, yaitu pada kelompok perlakuan dengan status gizi baik baik sebanyak 4 (12,9%), overweight sebanyak 13 (41,9%), dan obesitas sebanyak 14 (45,2%), sedangkan pada kelompok kontrol
10 128 terdapat status gizi anak overweight sebanyak 21 (63,6%) dan status gizi obesitas sebanyak 12 (36.4%) anak. 7) Grafik perubahan Self-Efficacy Keluarga CASE CONTROL 2 PRE KE 4 KE 6 Gambar 15. Perubahan Self-Efficacy Keluarga 8) Grafik Perubahan Pengetahuan Keluarga KLP PERLAKUAN KLP KONTROL PRE KE 1 KE 2 KE 3 KE 4 KE 5 KE 6 Gambar 16. Perubahan Pengetahuan
11 129 9) Grafik Perubahan Budaya Keluarga KLP PERLAKUAN KLP KONTROL PRE 15.2 KE KE 2 KE KE KE KE 6 Gambar 17. Perubahan Budaya Keluarga 1) Grafik Perubahan Aktivitas Fisik Anak KLP PERLAKUAN KLP KONTROL PRE KE KE KE 3 3 KE KE KE 6 Gambar 18. Perubahan Aktivitas Fisik Anak 11) Grafik distribusi asupan makan anak pre-post kelompok perlakuan
12 13 a) Grafik asupan makan anak pre kelompok perlakuan KURANG CUKUP LEBIH Gambar 19. Asupan makan anak pre kelompok perlakuan b) Grafik asupan makan anak post kelompok perlakuan KURANG CUKUP LEBIH Gambar 2. Asupan makan anak post kelompok perlakuan
13 131 12) Grafik distribusi asupan makan anak pre-post kelompok kontrol a) Grafik asupan makan anak pre kelompok kontrol KURANG CUKUP LEBIH Gambar 21. Asupan makan anak pre kelompok kontrol b) Grafik asupan makan anak post kelompok kontrol KURANG 4 CUKUP LEBIH Gambar 22. Asupan makan anak post kelompok kontrol
14 Pengaruh FEMM terhadap kemampuan keluarga, IMT anak, pengetahuan keluarga, budaya keluarga, aktivitas fisik anak, dan asupan karbohidrat anak pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol Tabel-tabel di bawah ini menunjukkan ada tidaknya perbedaan kemampuan keluarga, IMT anak, pengetahuan keluarga, budaya keluarga, aktivitas fisik anak, dan asupan makan antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Adapun hasil analisisnya adalah sebagai berikut : a. Perbedaan rerata kemampuan keluarga Waktu Pengamatan Pret test Post Test Perubahan (Post-Pre) Tabel 9. Perbedaan rerata kemampuan keluarga sebelum dan setelah intervensi antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol Skor Kemampuan Keluarga Mean/ Mean rank Min Maks Med Perlakuan Kontrol Perlakuan Kontrol Perlakuan Kontrol Nilai p Uji Statistik.139 Mann Whitney. Mann Whitney. Mann Whitney Hasil penelitian pada tabel 9 menunjukkan nilai mean rank kemampuan keluarga pada kelompok perlakuan sebelum intervensi yaitu 1.55 dan setelah intervensi yaitu 3.48, sedangkan nilai mean rank perubahan yaitu 1.93; sedangkan kelompok kontrol didapatkan nilai mean rank pada pengukuran pre yaitu 1.73 dan pada bulan ke
15 133 6 yaitu 2.24, sedangkan nilai mean rank perubahan yaitu.51. Hal ini menunjukkan mean rank perubahan kemampuan keluarga lebih besar pada kelompok perlakuan. Hasil uji Mann Whitney setelah intervensi pada kedua kelompok didapatkan nilai p=., artinya terdapat perbedaan kemampuan keluarga antara kedua kelompok pada bulan ke 6. b. Perbedaan rerata IMT anak Tabel 1. Perbedaan rerata IMT anak sebelum dan setelah intervensi antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol Waktu Pengamatan Pret test Post Test Perubahan (Post-Pre) Nilai IMT Anak Mean/ Mean rank Min Maks Med SD Perlakuan Kontrol Perlakuan Kontrol Perlakuan Kontrol Nilai p Uji Statistik. Independen t-test.46 Independen t-test. Mann Whitney Hasil penelitian pada tabel 1 menunjukkan nilai mean rank IMT anak pada kelompok perlakuan sebelum intervensi yaitu 24.8 dan setelah intervensi yaitu 22.59, sedangkan nilai mean rank perubahan yaitu artinya terjadi penurunan IMT anak. Pada kelompok kontrol didapatkan nilai mean pada pengukuran pre yaitu dan pada bulan ke 6 yaitu 23.7 sedangkan nilai mean perubahan yaitu 1.35 artinya terjadi peningkatan IMT anak. Hasil uji
16 134 Mann Whitney mean perubahan IMT anak pada kedua kelompok didapatkan nilai p=., artinya terdapat perbedaan mean perubahan IMT anak pada bulan ke 6. c. Perbedaan rerata pengetahuan keluarga Tabel 11. Perbedaan rerata pengetahuan keluarga sebelum dan setelah intervensi antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol Waktu Pengamatan Pret test Post Test Perubahan (Post-Pre) Skor Pengetahuan Keluarga Mean/ Mean rank Min Maks Med Perlakuan Kontrol Perlakuan Kontrol Perlakuan Kontrol Nilai p Uji Statistik.34 Mann Whitney. Mann Whitney. Mann Whitney Hasil penelitian pada tabel 11 menunjukkan nilai mean rank pengetahuan keluarga pada kelompok perlakuan sebelum intervensi yaitu 3.65 dan setelah intervensi yaitu 1.26, sedangkan nilai mean rank perubahan yaitu Pada kelompok kontrol didapatkan nilai mean rank pada pengukuran pre yaitu 3.94 dan pada bulan ke 6 yaitu 4.48, sedangkan nilai mean rank perubahan yaitu.54. Hal ini menunjukkan mean perubahan pengetahuan keluarga lebih besar pada kelompok perlakuan. Hasil uji Mann Whitney setelah intervensi pada kedua kelompok didapatkan nilai p=., artinya terdapat
17 135 perbedaan pengetahuan keluarga antara kedua kelompok pada bulan ke 6. d. Perbedaan rerata budaya keluarga Tabel 12. Perbedaan rerata budaya keluarga sebelum dan setelah intervensi antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol Waktu Pengamatan Pret test Post Test Perubahan (Post-Pre) Skor Budaya Keluarga Mean/ Mean rank Min Maks Med Perlakuan Kontrol Perlakuan Kontrol Perlakuan Kontrol Nilai p Uji Statistik.38 Mann Whitney. Mann Whitney. Mann Whitney Hasil penelitian pada tabel 12 menunjukkan nilai mean rank budaya keluarga pada kelompok perlakuan sebelum intervensi yaitu 2.1 dan setelah intervensi yaitu 4.68, sedangkan nilai mean rank perubahan yaitu Pada kelompok kontrol didapatkan nilai mean rank pada pengukuran pre yaitu 1.88 dan pada bulan ke 6 yaitu 2.3, sedangkan nilai mean rank perubahan yaitu.15. Hal ini menunjukkan mean rank perubahan budaya keluarga lebih besar pada kelompok perlakuan. Hasil uji Mann Whitney setelah intervensi pada kedua kelompok didapatkan nilai p=., artinya terdapat perbedaan budaya keluarga antara kedua kelompok pada bulan ke 6.
18 136 e. Perbedaan rerata aktivitas fisik anak Tabel 13. Perbedaan rerata aktivitas fisik anak sebelum dan setelah intervensi antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol Waktu Pengamatan Pret test Post Test Perubahan (Post-Pre) Mean/ Mean rank Skor Aktifitas Fisik Anak Min Maks Med SD Perlakuan Kontrol Perlakuan Kontrol Perlakuan Kontrol Nilai p Uji Statistik.63 Independen t-test. Mann Whitney. Independen t-test Hasil penelitian pada tabel 13 menunjukkan nilai mean aktivitas fisik anak pada kelompok perlakuan sebelum intervensi yaitu dan setelah intervensi yaitu 31.61, sedangkan nilai mean perubahan yaitu Pada kelompok kontrol didapatkan nilai mean rank pada pengukuran pre yaitu 19.3 dan pada bulan ke 6 yaitu 22.33, sedangkan nilai mean perubahan yaitu 3.3. Hal ini menunjukkan mean perubahan aktivitas fisik anak lebih besar pada kelompok perlakuan. Hasil uji Mann Whitney setelah intervensi pada kedua kelompok didapatkan nilai p=., artinya terdapat perbedaan aktivitas fisik anak antara kedua kelompok pada bulan ke 6.
19 137 f. Perbedaan rerata asupan makan anak meliputi: energi dan karbohidrat Tabel 14a. Perbedaan rerata asupan karbohidrat anak sebelum dan setelah intervensi antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol Waktu Pengamatan Pret test Post Test Perubahan (Post-Pre) Asupan Karbohidrat Mean Min Max Med SD Intervensi Kontrol Intervensi Kontrol Intervensi Kontrol Nilai p Uji Statistik.783 Independen t-test.119 Independen t-test.821 Independen t-test Tabel 14b. Perbedaan rerata asupan energi dan karbohidrat anak sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok Asupan makanan Energi Karbohidrat Pre/ Post n Mean SD Perlakuan Pre Post Kontrol Pre Post Perlakuan Pre Post Kontrol Pre Post Mean Perubahan p Hasil analisis pada tabel 14a menunjukkan tidak terdapat perbedaan perubahan asupan karbohidrat anak antara kelompok perlakuan dan kontrol dengan nilai p=.821. Namun mean selisih
20 138 antara post-pre pada kelompok perlakuan dan kontrol menunjukkan penurunan asupan karbohidrat. Tabel 14b menunjukkan nilai mean perubahan asupan energi anak pada kelompok perlakuan yaitu dan kelompok kontrol yaitu -11.3, berarti terdapat rerata nilai penurunan asupan energi pada kedua kelompok dan terlihat penurunan asupan energi lebih besar pada kelompok perlakuan dibandingkan kontrol. Rerata perubahan asupan karbohidrat mengalami penurunan yaitu kelompok perlakuan sebesar dan kontrol sebesar Hasil uji paired t-test asupan karbohidrat pada kelompok perlakuan terdapat perbedaan antara sebelum dan setelah intervensi dengan nilai p=.4 sedangkan kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan dengan nilai p=.114.
21 Hubungan pengetahuan keluarga, budaya keluarga, aktivitas fisik anak, dan asupan karbohidrat anak dengan kemampuan keluarga dan IMT anak melalui penerapan FEMM a. Hubungan antara pengetahuan keluarga dengan kemampuan keluarga dan IMT anak pada kedua kelompok setelah intervensi 1) Hubungan antara pengetahuan keluarga dengan kemampuan keluarga dalam mengendalikan gaya hidup anak Tabel 15. Hubungan antara pengetahuan keluarga dengan kemampuan keluarga Perlakuan Kontrol Kemampuan Keluarga Setelah (Post) Pengetahuan Baik Kurang Keluarga (Post) n % n % Baik (n= 31) 31 1 Kurang (n= ) Baik (n= 3) 3 1 Kurang (n= 3) Hasil penelitian setelah intervensi menunjukkan bahwa dari keluarga kelompok perlakuan dengan pengetahuan yang baik memiliki kemampuan keluarga yang baik yaitu sebanyak 1%; sedangkan keluarga dari kelompok kontrol yang memiliki pengetahuan yang baik dengan kemampuan kurang yaitu 3 keluarga, dan pengetahuan keluarga kurang dengan kemampuan baik 6 keluarga. Hasil analisis uji Chi-Square gabungan kedua
22 14 kelompok menunjukkan nilai p=., sehingga disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan keluarga dengan kemampuan keluarga. 2) Hubungan antara pengetahuan keluarga dengan IMT anak Tabel 16. Hubungan antara pengetahuan keluarga dengan IMT anak Perlakuan Kontrol IMT Anak (Post) Pengetahuan Menurun Meningkat Keluarga (Post) n % n % Baik (n= 31) ,2 Kurang (n= ) Baik (n=3) 3 1 Kurang (n= 3) 3 1 Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari keluarga kelompok perlakuan dengan pengetahuan yang baik dapat membantu dalam penurunan IMT anak yaitu sebanyak 96,8%. Sedangkan keluarga dari kelompok kontrol yang memiliki pengetahuan yang baik, tidak terdapat penurunan IMT bahkan terdapat 3 anak dengan IMT meningkat, sedangkan pengetahuan keluarga kurang IMT anak meningkat sebanyak 3 anak (1%). Hasil analisis uji Chi-Square gabungan kedua kelompok menunjukkan nilai p=., sehingga disimpulkan bahwa terdapat
23 141 hubungan yang bermakna antara pengetahuan keluarga dengan IMT anak. b. Hubungan antara budaya keluarga dengan kemampuan keluarga dan IMT anak setelah intervensi 1) Hubungan antara budaya keluarga dengan kemampuan keluarga dalam mengendalikan gaya hidup anak Tabel 17. Hubungan antara budaya keluarga dengan kemampuan keluarga Perlakuan Kontrol Kemampuan keluarga (Post) Budaya keluarga (Post) Baik Kurang n % n % Mendukung (n=29) 29 1 Kurang mendukung (n= 2) 2 1 Mendukung (n=5) Kurang mendukung (n=28) Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari keluarga kelompok perlakuan dengan budaya mendukung memiliki kemampuan keluarga yang baik yaitu sebanyak 29 (1%). Sedangkan keluarga dari kelompok kontrol yang memiliki budaya mendukung, hanya 2 keluarga (4%) yang memiliki kemampuan baik. Uji yang digunakan adalah uji Chi-Square, dengan nilai p=., sehingga disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara budaya keluarga dengan kemampuan keluarga.
24 142 2) Hubungan antara budaya keluarga dengan IMT anak Tabel 18. Hubungan antara budaya keluarga dan IMT anak Perlakuan Kontrol IMT Anak (Post) Budaya keluarga (Post) Menurun Meningkat n % n % Mendukung (n= 29) Kurang mendukung (n=2) 2 1 Mendukung (n= 5) 5 1 Kurang Mendukung (n=28) 28 1 Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari keluarga kelompok perlakuan dengan budaya keluarga mendukung dapat membantu dalam menurunkan IMT anak yaitu sebanyak 28 anak (96,6%). Sedangkan keluarga dari kelompok kontrol yang memiliki budaya mendukung, terdapat 5 anak yang mengalami peningkatan IMT. Hasil analisis uji Chi-Square gabungan kedua kelompok menunjukkan nilai p=., sehingga disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara budaya keluarga dengan IMT anak.
25 143 c. Hubungan antara aktivitas fisik anak dengan kemampuan keluarga dan IMT anak setelah intervensi 1) Hubungan antara aktivitas fisik anak dengan kemampuan keluarga dalam mengendalikan gaya hidup anak Tabel 19. Hubungan antara aktivitas fisik anak dengan kemampuan keluarga Perlakuan Kontrol Kemampuan keluarga (Post) Aktifitas Fisik (Post) Baik Kurang n % n % Baik (n= 28) 28 1 Kurang (n=3) 3 1 Baik (n=3 ) Kurang (n=3) Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak dari kelompok perlakuan dengan aktivitas fisik anak yang baik, memiliki kemampuan keluarga yang baik yaitu sebanyak 28 (1%). Sedangkan anak dari kelompok kontrol yang memiliki aktivitas fisik anak yang baik, hanya 1 (33,3%) yang masuk dalam kategori kemampuan keluarga baik. Hasil analisis uji Chi-Square gabungan kedua kelompok menunjukkan nilai p=., sehingga disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik anak dengan kemampuan keluarga.
26 144 2) Hubungan antara aktivitas fisik anak dengan IMT anak Tabel 2. Hubungan antara aktivitas fisik anak dengan IMT anak Perlakuan Kontrol IMT Anak (post) Aktifitas Fisik (Post) Menurun Meningkat n % n % Baik (n= 28) Kurang (n=3) 3 1 Baik (n= 3 ) 3 1 Kurang (n=3) 3 1 Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak dari kelompok perlakuan dengan aktivitas fisik anak yang baik dapat membantu dalam penurunan IMT anak yaitu sebanyak 27 anak (96,4%). Sedangkan anak dari kelompok kontrol yang memiliki aktivitas fisik anak yang baik, terdapat 3 anak yang mengalami peningkatan IMT. Hasil analisis uji Chi-Square gabungan kedua kelompok menunjukkan nilai p=., sehingga disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik anak dengan IMT anak.
27 145 d. Hubungan antara asupan makan anak dengan kemampuan keluarga dan IMT anak setelah intervensi 1) Hubungan antara asupan makan anak dengan kemampuan keluarga dalam mengendalikan gaya hidup anak Tabel 21. Hubungan antara asupan karbohidat anak dengan kemampuan keluarga Perlakuan Kontrol Asupan Karbohidrat (Post) Kemampuan keluarga (Post) Baik Kurang n % n % Lebih (n=3) 3 1 Baik (n=23) 23 1 Kurang (n=5) 5 1 Lebih (n=3) Baik (n=28) Kurang (n=2) Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak dari kelompok perlakuan dengan asupan karbohidrat yang baik dan kurang akan memiliki kemampuan keluarga yang baik yaitu sebanyak 1%. Sedangkan anak dari kelompok kontrol yang memiliki asupan makan anak yang baik, hanya 4 (14,3%) yang masuk dalam kategori kemampuan keluarga baik. Hasil analisis uji Chi-Square gabungan kedua kelompok menunjukkan nilai p=.232, sehingga disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara asupan makan anak dengan kemampuan keluarga.
28 146 2) Hubungan antara asupan makan anak dengan IMT anak Tabel 22. Hubungan antara asupan makan anak dengan IMT anak Perlakuan Kontrol Asupan Karbohidrat (Post) Menurun IMT Anak (Post) Meningkat n % n % Lebih (n=3) 3 1 Baik (n=23) Kurang (n=5) 5 1 Lebih (n=3) 3 1 Baik (n=28) 28 1 Kurang (n=2) 2 1 Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak dari kelompok perlakuan dengan asupan energi yang baik dapat membantu dalam penurunan IMT anak yaitu sebanyak 22 (95,7%). Sedangkan anak dari kelompok kontrol yang memiliki asupan karbohidrat yang lebih, baik, dan kurang, mengalami peningkatan IMT sebanyak 1%. Hasil analisis uji Chi-Square gabungan kedua kelompok menunjukkan nilai p=.367, sehingga disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara asupan makan anak dengan IMT anak.
BAB II KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS
DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK... ii LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI... iii LEMBAR PENGESAHAN... iv DAFTAR RIWAYAT HIDUP... v SURAT PERNYATAAN... vi KATA PENGANTAR... vii DAFTAR ISI... ix DAFTAR TABEL... xii DAFTAR
BAB V HASIL PENELITIAN. Universitas Diponegoro / RSUP Dr. Kariadi Semarang dan RSUD Kota
BAB V HASIL PENELITIAN Jumlah sampel pada penelitian ini setelah melewati kriteria inklusi dan eksklusi adalah sebanyak 70 subyek yang terdiri dari kelompok suplementasi dan kelompok tanpa suplementasi.
BAB V HASIL PENELITIAN. Karekteristik sampel penelitian dipaparkan dalam Tabel 5.1 diskripsi
BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Karakteristik Subjek Penelitian Karekteristik sampel penelitian dipaparkan dalam Tabel 5.1 diskripsi dan frekuensi berdasarkan nilai mean dan persentase penelitian untuk dapat
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan tujuan, hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan oleh peneliti, maka dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut : 1. Ada perbedaan kemampuan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian ini menggunakan Quasy Eksperiment, yaitu pre-test and post-test with control group design. Kelompok perlakuan diberikan intervensi
BAB 5 HASIL PENELITIAN. Tiga puluh dua pasien di ruang ICU dengan ventilator mekanik yang telah
BAB 5 HASIL PENELITIAN Tiga puluh dua pasien di ruang ICU dengan ventilator mekanik yang telah memenuhi syarat inklusi dan keluarganya bersedia menandatangani informed consent diikutsertakan dalam studi
BAB V HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS. Penelitian ini dilakukan di Poltekkes YRSU Dr.Rusdi. Jl.H Adam Malik
BAB V HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS Penelitian ini dilakukan di Poltekkes YRSU Dr.Rusdi. Jl.H Adam Malik No.140-142 Medan, Sumatera Utara. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Poltekkes YRSU Dr.Rusdi
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini pada 7Sekolah Lanjutan Tingkat Atas yang ada di Kota Pangkalpinang, yaitu SMA St. Yosef, SMKN I, SMK Sore, SMAN 3, SMAN 4,
BAB III METODE PENELITIAN. penelitian quasy experimental, control group pre test post test design. Jenis
49 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, menggunakan desain penelitian quasy experimental, control group pre test post test design. Jenis penelitian
LEMBAR PERSETUJUAN...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i ABSTRAK... ii LEMBAR PERSETUJUAN... iii PENGESAHAN SKRIPSI... iv SURAT PERNYATAAN... v RIWAYAT HIDUP... vi KATA PENGANTAR... vii DAFTAR ISI... ix DAFTAR TABEL... xi DAFTAR
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Karakteristik Subyek Penelitian Subyek penelitian ini adalah mahasiswa pendidikan dokter di Universitas muhammadiyah Yogyakarta, khususnya
BAB 4 Hasil Penelitian dan Interpretasi
47 BAB 4 Hasil Penelitian dan Interpretasi Pada bab ini, akan dipaparkan hasil penelitian serta interpretasi dari hasil penelitian tersebut. Akan dijabarkan gambaran umum responden dan hasil dari analisa
DAFTAR ISI. METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian... 47
DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN. i PERNYATAAN... ii ABSTRAK...... iii KATA PENGANTAR... iv UCAPAN TERIMA KASIH... vi DAFTAR ISI... viii DAFTAR TABEL... xi DAFTAR GRAFIK... xiii DAFTAR BAGAN... xiv BAB I BAB
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada bab ini akan dipaparkan hasil dan pembahasan dari penelitian
58 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan dipaparkan hasil dan pembahasan dari penelitian mengenai pengaruh mendengarkan Al-Qur an surat Ar-Rahman dan terjemahnya terhadap peningkatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Obesitas merupakan masalah yang banyak dijumpai baik di negara maju maupun di negara berkembang. Obesitas merupakan suatu masalah serius pada masa remaja seperti
DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...
DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... i iii v vii ix x BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian... 1 B. Rumusan Masalah Penelitian...
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. maju dan negara berkembang. Setiap tahun prevalensi obesitas selalu
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Obesitas saat ini masih menjadi masalah kesehatan utama di negara maju dan negara berkembang. Setiap tahun prevalensi obesitas selalu mengalami peningkatan.
BAB V HASIL PENELITIAN. Maret Mei 2015, menggunakan rancangan eksperimental true pada dua kelompok
BAB V HASIL PENELITIAN Penelitian yang telah dilaksanakan di PSTW Budi Mulia 4 Jakarta pada bulan Maret Mei 2015, menggunakan rancangan eksperimental true pada dua kelompok perlakuan. Kelompok I diberikan
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TEKANAN DARAH PEGAWAI DI KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN AGAMA PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017
UNIVERSITAS ANDALAS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TEKANAN DARAH PEGAWAI DI KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN AGAMA PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 Oleh : GYZKA ARTE TIFA No. BP. 1511226019 Diajukan
BAB I PENDAHULUAN. setelah diketahui bahwa kegemukan merupakan salah satu faktor risiko. koroner, hipertensi dan hiperlipidemia (Anita, 1995).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah kegemukan bukanlah hal baru dalam masyarakat kita, bahkan 20 tahun yang lalu kegemukan merupakan kebanggaan dan lambang kemakmuran. Bentuk tubuh yang gemuk
METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data
METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Desain penelitian ini adalah cross sectional study, dilakukan di SDN 09 Pagi Pademangan Barat Jakarta Utara. Pemilihan lokasi sekolah dasar dilakukan secara
BAB V HASIL PENELITIAN. Dalam penelitian ini digunakan sebanyak 30 perempuan penderita
44 BAB V HASIL PENELITIAN Dalam penelitian ini digunakan sebanyak 30 perempuan penderita xerostomia yang berusia lanjut sebagai sampel, yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok musik klasik barat
LAMPIRAN. Surat Pernyataan Persetujuan untuk Ikut Serta dalam Penelitian (Informed Consent)
LAMPIRAN Lampiran 1 Surat Pernyataan Persetujuan untuk Ikut Serta dalam Penelitian (Informed Consent) Yang bertanda tangan dibawah ini: N a m a : U s i a : Alamat : Pekerjaan : Dengan sesungguhnya menyatakan
BAB I PENDAHULUAN.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang masih menjadi masalah di bidang kesehatan. Hipertensi yang dikenal juga sebagai tekanan darah tinggi, adalah
BAB. IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. DESKRIPSIS DATA. 1. Gaya Hidup (X1) yang berasal dari data responden
BAB. IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. DESKRIPSIS DATA Berdasarkan judul penelitian Hubungan Gaya Hidup Dan Tingkat Kebugaran jasmani Terhadap Risiko Sindrom Metabolik maka dapat dideskripsikan data
BAB 1 : PENDAHULUAN. lebih. Kondisi ini dikenal sebagai masalah gizi ganda yang dapat dialami oleh anakanak,
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah gizi kurang yang ada di Indonesia masih belum teratasi dengan baik. Saat ini Indonesia telah dihadapkan dengan masalah gizi baru yaitu masalah gizi lebih.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian experimental dengan menggunakan rancangan pre-experimental (pre-post test with control group design) untuk
BAB I PENDAHULUAN. lainnya gizi kurang, dan yang status gizinya baik hanya sekitar orang anak
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Hasil analisis data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas 2005) menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan gizi kurang pada anak usia sekolah yaitu
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2014/2015 di MAN 1 Pringsewu Kabupaten Pringsewu. 3.2 Populasi Penelitian Populasi penelitian
BAB IV HASIL PENELITIAN. pembahasannya tentang Penerapan Metode Pembelajaran Aktif Tipe Team
61 BAB IV HASIL PENELITIAN Pada bab ini dideskripsikan hasil-hasil penelitian beserta pembahasannya tentang Penerapan Metode Pembelajaran Aktif Tipe Team Quiz Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan
rumus : n = (P 1 -P Ket : Z 1- - P 1 Kebiasaan makan..., Evi Heryanti, FKM UI, )²
BAB 4 METODOLOGI PENELITIP AN 4.1. Desain Penelitian Penelitian ini mengenai kebiasaan makan cepat saji (fast food modern), aktivitas fisik dan faktor lainnyaa dengan status gizi mahasiswa penghuni Asrama
BAB V HASIL PENELITIAN. ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana) terhadap jumlah sel NK dan kadar
BAB V HASIL PENELITIAN Telah dilakukan penelitian eksperimental untuk menganalisis efektivitas ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana) terhadap jumlah sel NK dan kadar sitokin IFN- γ pada penderita
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian dan Desain Penelitian Penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu penelitian eksperimen semu (quasi eksperimental). Sugiyono (2010) menyatakan, bahwa eksperimen
BAB V HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS. Tabel 5.1 Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin
5.1 Karakteristik Subjek Penelitian BAB V HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap dan memperkuat interpretasi hasil pengujian Hipotesis, maka dipaparkan deskripsi data berupa
BAB I PENDAHULUAN. Overweight dan obesitas adalah dua istilah yang berbeda. Overweight
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Overweight dan obesitas adalah dua istilah yang berbeda. Overweight adalah kondisi berat badan seseorang melebihi berat badan normal pada umumnya. Sementara obesitas
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN Dukuh Gamping Kidul terletak di kelurahan Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Dukuh Gamping
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Metode Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen semu (quasi exsperiment). Meneliti pengaruh program pelatihan pencegahan diare pada
BAB I PENDAHULUAN. Hipertensi memiliki istilah lain yaitu silent killer dikarenakan penyakit ini
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Hipertensi memiliki istilah lain yaitu silent killer dikarenakan penyakit ini biasanya menyerang tanpa tanda-tanda. Hipertensi itu sendiri bisa menyebabkan berbagai
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. sekolah. Penulis membagikan Skala kebiasaan belajar kepada respondenpada tanggal 27 Juni
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengumpulan Data Sebelum pengumpulan data penulis, meminta surat ijin penelitian kepada Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan untuk melakukan penelitian di SMK
BAB V HASIL. Penelitian dilakukan pada 12 ekor kelinci jantan New Zealand, secara
BAB V HASIL Penelitian dilakukan pada 12 ekor kelinci jantan New Zealand, secara random dibagi menjadi dua kelompok dengan jumlah masing-masing kelompok 6 ekor kelinci. Enam ekor kelinci dilakukan abrasi
BAB IV PEMBAHASAN. Penelitian dilakukan di SMA Swasta se-kota Salatiga, dengan subyek
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Subyek Penelitian Penelitian dilakukan di SMA Swasta se-kota Salatiga, dengan subyek penelitian adalah seluruh guru SMA swasta yang berjumlah 131 guru yang terdiri dari
BAB V PEMBAHASAN. terhadap pengetahuan ibu tentang pola makan balita di Desa Sambirejo,
BAB V PEMBAHASAN Berdasarkan data penelitian dan analisa hasil penelitian maka dilakukan pembahasan secara mendalam mengenai hasil penelitian. Pembahasan difokuskan untuk menjawab permasalahan penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegemukan atau obesitas telah menjadi masalah kesehatan global di dunia. Masalah kesehatan ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju tetapi juga di negara berkembang.
BAB IV. Kusuma yang terletak di Kasihan Bantul Yogyakarta. Di area posyandu. 2. Gambaran Umum Karakteristik Responden
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN 1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di posyandu Anyelir A dan posyandu Wijaya Kusuma yang terletak di Kasihan Bantul Yogyakarta.
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA HUBUNGAN KARAKTERISTIK INDIVIDU GAYA HIDUP DAN KONSUMSI ZAT GIZI TERHADAP STATUS IMT LANSIA DI 3 POSBINDU KELURAHAN RANGKAPAN JAYA LAMA KECAMATAN PANCORAN MAS KOTA DEPOK TAHUN 2008
dan rendah serat yang menyebabkan pola makan yang tidak seimbang.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sejalan dengan strategi pembangunan kesehatan untuk mewujudkan bangsa yang sehat, di tahun 2011 dicanangkan peningkatan derajat kesehatan sebagai salah satu fokus
BAB V HASIL PENELITIAN
BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Hasil Analisis Karakteristik Responden 5.1.1 Usia Gambar 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia di Instalasi Gawat Darurat RS. Kepresidenan RSPAD Gatot Soebroto
DAFTAR ISI Esya Anesty Mashudi, 2012
DAFTAR ISI Abstrak i Abstract ii Kata Pengantar iii Ucapan Terima Kasih vi Daftar Isi ix Daftar Tabel xi Daftar Gambar xii Daftar Grafik xiii BAB I. PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang Penelitian 1 B. Identifikasi
BAB I PENDAHULUAN. yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Muhammadiyah Yogyakarta. Semua responden penelitian berdomisili di
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Karakteristik Responden Responden penelitian ini melibatkan 56 pasien diabetes melitus yang melakukan kontrol rutin di poli penyakit dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dari berbagai penelitian terdapat hubungan yang bermakna antara kegemukan dan usia harapan hidup seseorang (Soegih dan Wiramihardja, 2009). Begitu pula obesitas pada
BAB IV ANALISIS PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISIS PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Subjek Penelitian SMP Negeri 10 Salatiga merupakan salah satu SMP Negeri di Salatiga yang terletak di jalan argomulyo Salatiga. SMP Negeri 10 Salatiga
DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... ii. UCAPAN TERIMA KASIH... iv. DAFTAR ISI... v. DAFTAR TABEL... vii. DAFTAR GRAFIK... ix
DAFTAR ISI ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii UCAPAN TERIMA KASIH... iv DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GRAFIK... ix BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Identifikasi Masalah
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG. Identitas Responden
LAMPIRAN Lampiran 1. Kuisioner FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG No. Responden: Nama Jenis Kelamin Usia Kelas Tanggal: Identitas Responden
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
13 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Anak dengan status gizi lebih merupakan salah satu tantangan paling serius dalam bidang kesehatan masyarakat di abad 21. Hal ini merupakan masalah global yang prevalensinya
DAFTAR ISI Hal. ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... iv DAFTAR TABEL... vi DAFTAR GAMBAR... viii
DAFTAR ISI Hal. ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... iv DAFTAR TABEL... vi DAFTAR GAMBAR... viii BAB I BAB II BAB III PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian... 1.2. Rumusan Masalah... 1.3.
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Ketidakseimbangan antara asupan dan keluaran energi mengakibatkan pertambahan berat badan. Kelebihan berat badan pada anak apabila telah menjadi obesitas akan berlanjut
Iswidhani¹, Suhaema¹ ABSTRAK
PENDIDIKAN MANAJEMEN DIABETES MANDIRI MELALUI KUNJUNGAN RUMAH MENINGKATKAN PENGETAHUAN, MEMPERBAIKI ASUPAN ZAT GIZI DAN KADAR GLUKOSA DARAH PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI KOTA MATARAM Iswidhani¹, Suhaema¹
Semuel Sandy, M.Sc*, Maxi Irmanto, M.Kes, ** *) Balai Litbang Biomedis Papua **) Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih
Analisis Hubungan Tingkat Kecukupan Gizi Terhadap Status Gizi pada Murid Sekolah Dasar di SD Inpres Dobonsolo dan SD Inpres Komba, Kabupaten Jayapura, Papua Semuel Sandy, M.Sc*, Maxi Irmanto, M.Kes, **
BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN. A. Orientasi Kancah dan Persiapan Penelitian
37 BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN A. Orientasi Kancah dan Persiapan Penelitian 1. Orientasi Kancah Penelitian ini dilakukan di dua lokasi yaitu di kampus program studi Teknik Sipil Universitas
BAB I PENDAHULUAN. balita, anak-anak, remaja, dewasa dan usia lanjut, makanan yang memenuhi syarat
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah WHO menyatakan bahwa gizi adalah pilar utama dari kesehatan dan kesejahteraan sepanjang siklus kehidupan. Sejak janin dalam kandungan, bayi, balita, anak-anak,
BAB V HASIL. Penelitian dilakukan pada 12 ekor kelinci jantan New Zealand, secara
BAB V HASIL Penelitian dilakukan pada 12 ekor kelinci jantan New Zealand, secara random dibagi menjadi dua kelompok dengan jumlah masing-masing kelompok 6 ekor kelinci. Enam ekor kelinci yang dilakukan
BAB 1 : PENDAHULUAN. saja. Penyebab timbulnya masalah gizi disebabkan oleh beberapa faktor sehingga
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun penanggulangan nya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja.
Seseorang yang berat badannya 20% lebih tinggi berat badan normal dianggap mengalami obesitas. Metode yang paling berguna dan paling banyak digunakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Obesitas merupakan suatu penyakit multifaktorial, yang diakibatkan oleh akumulasi jaringan lemak berlebihan, sehingga dapat mengganggu kesehatan (Sudoyo, 2007). Obesitas
BAB 1 PENDAHULUAN. serius karena termasuk peringkat kelima penyebab kematian di dunia.sekitar 2,8 juta
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Obesitas merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian yang serius karena termasuk peringkat kelima penyebab kematian di dunia.sekitar 2,8 juta orang
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Olahraga adalah segala bentuk aktivitas fisik kompetitif yang biasanya dilakukan melalui partisipasi santai atau terorganisi, bertujuan untuk menggunakan, memelihara
BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gizi merupakan sebuah masalah keluarga yang sifatnya jangka panjang dan kebisaan makan yang sehat harus dimulai sejak dini. Masalah gizi pada anak di Indonesia akhir-akhir
NPart Tests. Mann-Whitney Test Homogenitas. Ranks. Grup N Mean Rank Sum of Ranks. sebelum Total 14.
NPart Tests Mann-Whitney Test Homogenitas Ranks Grup N Mean Rank Sum of Ranks sebelum1 1 7 6.21 43.50 2 7 8.79 61.50 Total 14 Test Statistics b sebelum1 Mann-Whitney U 15.500 Wilcoxon W 43.500 Z -1.156
BAB 1 PENDAHULUAN. (SDM) yang berkualitas, sehat, cerdas, dan produktif (Hadi, 2005). bangsa bagi pembangunan yang berkesinambungan (sustainable
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan pembangunan suatu bangsa sangat tergantung kepada keberhasilan bangsa itu sendiri dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, sehat, cerdas,
BAB I PENDAHULUAN. lum masa dewasa dari usia tahun. Masa remaja dimulai dari saat pertama
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Remaja didefinisikan oleh WHO sebagai suatu periode pertumbuhan dan perkembangan manusia yang terjadi setelah masa anak-anak dan sebe lum masa dewasa dari usia 10-19
Hanna Mutiara, Susi Susanti, Anggraeni Janar Wulan, Tri Umiana Sholeha. Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
Screening Pertumbuhan dan Peningkatan Pengetahuan tentang Pola Makan Gizi Seimbang pada Siswa Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Lampung Selatan dalam Upaya Meningkatkan Derajat Kesehatan Anak Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. lebih di Indonesia terjadi di kota-kota besar sebagai akibat adanya
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, pada saat ini menghadapi masalah yang berhubungan dengan pangan, gizi dan kesehatan. Dalam bidang gizi, Indonesia diperkirakan
PENILAIAN STATUS GIZI BALITA (ANTROPOMETRI) Saptawati Bardosono
PENILAIAN STATUS GIZI BALITA (ANTROPOMETRI) Saptawati Bardosono PENDAHULUAN Masalah gizi di Indonesia masih merupakan masalah nasional Kelompok usia yang rentan masalah gizi antara lain usia balita: Bayi
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan cross sectional yaitu penelitian non-eksperimental dengan menggunakan data primer untuk mengetahui
BAB 5 HASIL PENELITIAN. Empat puluh pasien karsinoma mammae stadium III B yang memenuhi kriteria
BAB 5 HASIL PENELITIAN 5.1 Karakteristik Pasien Empat puluh pasien karsinoma mammae stadium III B yang memenuhi kriteria inklusi dalam penelitian, selanjutnya dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kontrol
DAFTAR ISI... HALAMAN SAMPUL MUKA.. HALAMAN JUDUL...
DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL MUKA.. HALAMAN JUDUL... SURAT PERNYATAAN HALAMAN PERSETUJUAN... LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI DAFTAR RIWAYAT HIDUP KATA PENGANTAR... LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ABSTRAK
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen kuasi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen kuasi (quasi experiment) dengan pretest-posttest non-equivalent control group
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS ATAU RANCANGAN PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah explanatory research atau penelitian yang menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat
BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi
BAB I PENDAHULUAN. memungkinkan manusia bekerja secara maksimal (Moehji, 2009).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia yang sehat setiap harinya memerlukan makanan yang cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya sehingga memiliki kesanggupan yang maksimal dalam menjalankan kehidupannya.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Uji Asumsi. Sebelum melakukan analisis dengan menggunakan analisis regresi,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Uji Asumsi Sebelum melakukan analisis dengan menggunakan analisis regresi, terlebih dahulu perlu dilakukan uji asumsi terhadap data penelitian. Uji asumsi yang dilakukan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen, yakni metode
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen, yakni metode yang sistematis dan logis untuk membuktikan suatu hipotesis. Hipotesis merupakan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah metode preexperimental karena berupa penelitian lapangan yang memberikan perlakuan atau tindakan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil penelitian 1. Karakteristik dasar subyek penelitian Penelitian dilakukan sejak 22 Juni 2016 sampai 1 Agustus 2016 di Puskesmas Pandak I Bantul. Sampel penelitian
