LAPORAN KINERJA BADAN SAR NASIONAL
|
|
|
- Suryadi Budiaman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 LAPORAN KINERJA BADAN SAR NASIONAL 1
2 KATA PENGANTAR Badan SAR Nasional merupakan Institusi Pemerintah yang melaksanakan tugas di bidang pencarian dan pertolongan. Badan SAR Nasional mempunyai tugas pokok mencari, menolong dan menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya dalam musibah pelayaran dan / atau penerbangan, atau bencana dan musibah lainnya. Dalam rangka melaksanakan Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 Tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN, Undang-undang Nomor 28 tahun 1999, dan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 Tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, serta Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 Tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja Dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, maka Badan SAR Nasional telah menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Badan SAR Nasional Tahun Anggaran 2014 sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugas dan fungsinya. Dengan disusunnya Laporan akuntabilitas ini diharapkan dapat mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja Instansi Pemerintah yang baik sebagai salah satu prasyarat terciptanya pemerintahan yang bersih, terpercaya serta akuntabel sehingga tugas pokok dan fungsi dapat berjalan secara efisien, efektif, transparan serta responsif terhadap aspirasi masyarakat dan lingkungan (good governance). Dengan segala kendala yang dihadapi, diharapkan pelaksanaan tugas di masa mendatang dapat berjalan lebih baik lagi sehingga program yang telah disusun dapat terlaksana dengan baik. Jakarta, Februari 2015 Kepala Badan SAR Nasional FHB Soelistyo, S.Sos. Marsekal Madya TNI 2
3 DAFTAR ISI Kata Pengantar... 2 Daftar Isi... 3 Ikhtisar Eksekutif... 4 BAB I PENDAHULUAN. 6 I.1. Gambaran Umum.. 8 I.2. Kelembagaan 8 I.3. Landasan Hukum. 15 I.4. Aspek Strategi 16 I.5. Permasalahan Utama.. 23 BAB II PERENCANAAN KINERJA 25 II.1. Ikhtisar Rencana Strategis (RENSTRA) II.2. Perjanjian Kinerja BAB III AKUNTABILITAS KINERJA BADAN SAR NASIONAL. 32 III.1. Prosedur Pengumpulan Data III.2. Analisis Capaian Kinerja III.3. Realisasi Anggaran III.4. Capaian Kinerja Sesuai dengan RPJMN dan Renstra Basarnas 111 BAB IV PENUTUP 117 3
4 IKHTISAR EKSEKUTIF Seiring dengan bergulirnya arus reformasi sejak tahun 1998, tuntutan masyarakat makin meningkat terhadap adanya penyelenggaraan pemerintahan yang baik, bersih dan bertanggung jawab serta bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam upaya mewujudkan Good Governance. Salah satu perwujudan Good Governance adalah hasil pelaksanaan tugas yang dapat dipertanggungjawabkan (akuntabel). Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 Tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, serta Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 Tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja Dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah yang menentukan bahwa setiap Instansi Pemerintah, Eselon I, Eselon II, sampai tingkat Unit kerja mandiri wajib membuat Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah untuk mempertanggungjawabkan hasil pelaksanaan tugas pokok dan fungsi, kewenangan pengelolaan sumber daya dan kebijakan, berdasarkan perencanaan strategis yang telah ditetapkan. Badan SAR Nasional sebagai instansi pemerintah bertanggung jawab di bidang Pencarian dan Pertolongan (Search And Rescue) telah melaksanakan tugas pokok dan fungsi sesuai Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan serta Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2007 tentang Badan SAR Nasional. Pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Badan SAR Nasional dalam Tahun Anggaran 2014 secara umum telah dapat terlaksana dengan baik. Hal tersebut terlihat pada pencapaian ketiga Indikator Kinerja Utama (IKU) yang melebihi target, yaitu : - Pada Indikator Kinerja Utama (IKU) Response time pada operasi SAR dalam penanganan musibah/ bencana terealisasi response time selama 46 menit dengan capaian kinerja sebesar 148% dari target 1 jam 30 menit. Indikator Kinerja Utama (IKU) ini didukung oleh 2 (dua) sasaran strategis, yaitu : Meningkatnya pelayanan dalam penyelenggaraan operasi SAR dengan indikator kinerja : Rata-rata response time pada penanganan musibah pelayaran (1 jam 4 menit) Rata-rata response time pada penanganan musibah penerbangan (41 menit) Rata-rata response time pada penanganan bencana (31 menit) Rata-rata response time pada penanganan musibah lain-lain (47 menit) Meningkatnya kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana Rata-rata waktu tindak awal dalam penyelenggaraan operasi SAR (10 menit) Persentase kecukupan personil siaga rescuer pada Kantor SAR (50,00%) Persentase cakupan wilayah yang mampu dijangkau (103,00%) 4
5 - Pada Indikator Kinerja Utama Persentase keberhasilan evakuasi korban pada operasi SAR terealisasi sebesar 98,62% dengan capaian kinerja sebesar 103,81% dari target 95%. Indikator Kinerja Utama (IKU) ini didukung oleh 1 (satu) sasaran strategis, yaitu : Tercapainya keberhasilan penyelamatan korban dalam penyelenggaraan operasi SAR Persentase jumlah korban terselamatkan dalam penyelenggaraan operasi SAR (94,69%) Persentase jumlah korban yang ditemukan dalam penyelenggaraan operasi SAR (98,62%) - Pada Indikator Kinerja Utama Persentase keterlibatan potensi SAR dalam kegiatan SAR terealisasi sebesar 115,65% dengan capaian kinerja sebesar 165,21% dari target 70%. Indikator Kinerja Utama (IKU) ini didukung oleh 2 (dua) sasaran strategis, yaitu : Meningkatnya peran serta organisasi potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR Jumlah keterlibatan personil potensi SAR pada pelaksanaan latihan SAR (1242 orang) Rata-rata persentase keterlibatan potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR maritime (94,06%) Rata-rata persentase keterlibatan potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR darat (92,42%) Meningkatnya kemampuan organisasi potensi SAR dalam pelaksanaan operasi SAR Persentase organisasi potensi SAR yang memiliki tenaga rescuer bersertifikasi SAR (71,29%) Persentase peningkatan organisasi potensi SAR yang dibina (159,02%). Dilihat dari evaluasi Indikator Kinerja Utama (IKU) dari tiap-tiap pelaksanaan sasaran (sesuai formulir Penetapan Kinerja dan Pengukuran Kinerja) maka tingkat capaian kinerja Badan SAR Nasional secara keseluruhan dapat dikatakan sangat baik (A), dimana rata-rata tingkat capaian sasaran kinerja Badan SAR Nasional terealisasi sebesar 139,14%. Dengan demikian, capaian kinerja Basarnas secara keseluruhan dapat dikatakan baik, sehingga dimasa mendatang kiranya kondisi ini dapat dipertahankan dan bahkan jika mungkin ditingkatkan. 5
6 BAB I PENDAHULUAN I.1. Gambaran Umum Badan SAR Nasional dibentuk sebagai lembaga yang menangani bidang pencarian dan pertolongan pada musibah pelayaran, musibah penerbangan, bencana dan musibah lainnya. Badan SAR Nasional lahir pada tanggal 28 Februari 1972, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1972 sebagai suatu lembaga yang bernama Badan SAR Indonesia (Basari). Selanjutnya, pada Tahun 2007 Badan SAR Nasional berubah menjadi Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK), berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 99 Tahun 2007 tentang Badan SAR Nasional. Sesuai dengan Peraturan Presiden tersebut, Badan SAR Nasional bertugas untuk membantu pemerintah dalam tugas-tugas di bidang pencarian dan pertolongan. Keberhasilan tugas pencarian dan pertolongan itu juga sesuai dengan tuntutan dari ICAO (International Civil Aviation Organization) dan IMO (International Maritime Organization) serta Peraturan Pemerintah RI Nomor 36 Tahun 2006 tentang Pencarian dan Pertolongan. Dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya musibah penerbangan, pelayaran maupun musibah lainnya, diperlukan kesiapan di bidang pencarian dan pertolongan (Search and Rescue) baik dari segi sarana/ prasarana, peralatan SAR maupun sumber daya manusia (SDM). Tolok ukur keberhasilan pelayanan SAR terletak pada kecepatan dalam menanggapi musibah yang dapat terlihat dari tindakan awal saat pencarian dan pengerahan unsur-unsur dalam upaya operasi pencarian serta pertolongan di tempat terjadinya musibah. Operasi pencarian dan pertolongan dalam menyelamatkan jiwa manusia merupakan kegiatan spesifik yang memerlukan kecepatan, ketepatan, dan keandalan dari Badan SAR Nasional. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 99 tahun 2007 tentang Badan SAR Nasional, Badan SAR Nasional mempunyai tugas untuk melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pencarian dan pertolongan (search and rescue) yang selanjutnya disebut SAR sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Disamping itu, Badan SAR Nasional memiliki tugas untuk melaksanakan 6
7 pembinaan, pengoordinasian, dan pengendalian potensi SAR dalam pelaksanaan operasi SAR. Dalam rangka meningkatkan rasa aman bagi pengguna jasa transportasi, kegiatan SAR yang cepat dan tepat membutuhkan operasi pencarian dan pertolongan yang andal, khususnya angkutan laut dan udara. Usaha dan kegiatan tersebut di antaranya meliputi kegiatan berikut: mencari, menolong, dan menyelamatkan jiwa manusia yang dikhawatirkan hilang, atau menghadapi bahaya dalam musibah pelayaran dan penerbangan serta musibah lainnya. Operasi SAR dilakukan segera setelah diketahui adanya musibah atau keadaan darurat. Operasi SAR akan dihentikan apabila korban musibah telah berhasil diselamatkan atau tidak ada harapan lagi untuk menyelamatkan korban berdasarkan hasil analisis/evaluasi. Seiring dengan bergulirnya arus reformasi sejak tahun 1998, tuntutan masyarakat makin meningkat terhadap adanya penyelenggaraan pemerintahan yang baik, bersih dan bertanggung jawab serta bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam upaya mewujudkan Good Governance. Salah satu perwujudan Good Governance adalah hasil pelaksanaan tugas yang dapat dipertanggungjawabkan (akuntabel). Hasil pelaksanaan tugas yang akuntabel tersebut antara lain dapat dilihat dari laporan akuntabilitas yang setiap tahun disusun. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 Tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, serta Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 Tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja Dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah yang menentukan bahwa setiap Instansi Pemerintah, Eselon I, Eselon II, sampai tingkat Unit kerja mandiri wajib membuat Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah untuk mempertanggungjawabkan hasil pelaksanaan tugas pokok dan fungsi, kewenangan pengelolaan sumber daya dan kebijakan, berdasarkan perencanaan strategis yang telah ditetapkan. Guna memenuhi ketentuan-ketentuan tersebut di atas, disusunlah Laporan Kinerja Basarnas sebagai salah satu perwujudan tanggung jawab atas pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Basarnas Tahun Anggaran
8 I.2. Kelembagaan Organisasi SAR pertama di Indonesia diatur dalam Keputusan Presiden nomor 11 tahun 1972 tanggal 28 Februari 1972 tentang Badan SAR Indonesia (BASARI) dengan tupoksi menangani musibah kecelakaan penerbangan dan pelayaran. Basari berkedudukan di bawah Presiden dan bertanggungjawab langsung kepada Presiden serta sebagai pelaksana di lapangan kepada PUSARNAS (Pusat SAR Nasional) yang dipimpin oleh seorang pejabat dari Departemen Perhubungan. Pada Tahun 1980, berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.91/OT.002/Phb-80 dan KM.164/OT.002/Phb-80 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perhubungan, PUSARNAS diubah menjadi Badan SAR Nasional. Perubahan struktur organisasi Badan SAR Nasional mengalami perbaikan pada tahun 1998 berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 80 Tahun 1998 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan SAR Nasional dan KM. 81 Tahun 1998 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor SAR. Pada tahun 2001, struktur organisasi Badan SAR Nasional diubah sesuai dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 24 Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perhubungan dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 79 Tahun 2002 tentang organisasi dan Tata Kerja Kantor SAR. Berdasarkan kajian dan analisis kelembagaan yang mengacu pada perkembangan dan tuntutan tugas yang lebih besar, pada tahun 2007 dilakukan perubahan Kelembagaan dan Organisasi Badan SAR Nasional menjadi Lembaga Pemerintah Non-Departemen (LPND) yang diatur secara resmi sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 99 Tahun 2007 tentang Badan SAR Nasional. Sebagai LPND, Badan SAR Nasional bertanggungjawab langsung kepada Presiden. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 tahun 2009, pada perkembangannya, sebutan LPND berubah menjadi Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK), sehingga Badan SAR Nasional pun berubah menjadi Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK). Sebagai LPNK, Badan SAR Nasional secara bertahap melepaskan diri dari struktur Kementerian Perhubungan. Pada tahun 2009, pembinaan administratif dan teknis pelaporan masih melalui Kementerian Perhubungan. Selanjutnya Badan SAR Nasional bertanggungjawab langsung kepada Presiden mulai tahun
9 a. Kedudukan Kedudukan Badan SAR Nasional sesuai Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2007 tentang Badan SAR Nasional, berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. b. Tugas Pokok Badan SAR Nasional memiliki tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Pencarian dan Pertolongan (Search And Rescue). c. Fungsi Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut diatas, Badan SAR Nasional menyelenggarakan fungsi sebagai berikut : 1) perumusan kebijakan nasional dan kebijakan umum di bidang SAR; 2) perumusan kebijakan teknis di bidang SAR; 3) koordinasi kebijakan, perencanaan dan program di bidang SAR; 4) pembinaan, pengerahan dan pengendalian potensi SAR; 5) pelaksanaan siaga SAR; 6) pelaksanaan tindak awal dan operasi SAR; 7) pengoordinasian potensi SAR dalam pelaksanaan operasi SAR; 8) pendidikan, pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang SAR; 9) penelitian dan pengembangan di bidang SAR; 10) pengelolaan data dan informasi dan komunikasi di bidang SAR; 11) pelaksanaan hubungan dan kerja sama di bidang SAR; 12) pengelolaan barang milik/ kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Badan SAR Nasional; 13) penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum; 14) pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Badan SAR Nasional; dan 15) penyampaian laporan, saran dan pertimbangan di bidang SAR. d. Struktur Organisasi Berdasarkan Peraturan Kepala Badan SAR Nasional Nomor PER.KBSN- 01/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan SAR Nasional, struktur organisasi Badan SAR Nasional yang telah diubah dengan Peraturan Kepala 9
10 Badan SAR Nasional Nomor PK.07 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Kepala Badan SAR Nasional Nomor PER.KBSN-01/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan SAR Nasional dan Peraturan Kepala Badan SAR Nasional Nomor PK.18 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Kepala Badan SAR Nasional Nomor PER.KBSN-01/2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan SAR Nasional terdiri atas sebagai berikut : 1) Kepala Badan Kepala Badan SAR Nasional ditunjuk langsung oleh Presiden yang dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab kepada Presiden. 2) Sekretariat Utama Sekretariat Utama adalah unsur pembantu pimpinan yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Badan SAR Nasional. Sekretariat Utama dipimpin oleh Sekretaris Utama yang terdiri atas tiga Biro yaitu Biro Umum, Biro Perencanaan dan KTLN, serta Biro Hukum dan Kepegawaian. 3) Deputi Bidang Potensi SAR Deputi Bidang Potensi SAR adalah unsur pelaksana sebagian tugas dan fungsi Badan SAR Nasional di bidang potensi SAR yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Badan SAR Nasional. Deputi Bidang Potensi SAR dipimpin oleh deputi yang terdiri atas 2 (dua) direktorat yaitu Direktorat Sarana dan Prasarana serta Direktorat Pendidikan dan Pelatihan, dan Pemasyarakatan SAR. 4) Deputi Bidang Operasi SAR Deputi Bidang Operasi SAR adalah unsur pelaksana sebagian tugas dan fungsi Badan SAR Nasional di bidang operasi SAR yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Badan SAR Nasional. Deputi Bidang Operasi SAR dipimpin oleh deputi yang terdiri atas 2 (dua) Direktorat yaitu Direktorat Operasi dan Latihan serta Direktorat Komunikasi. 10
11 5) Pusat Data dan Informasi Pusat Data dan Informasi adalah unsur penunjang Badan SAR Nasional yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Badan SAR Nasional melalui Sekretaris Utama. Pusat Data dan Informasi dipimpin oleh Kepala. 6) Inspektorat Inspektorat adalah unsur pengawasan yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Badan SAR Nasional melalui Sekretaris Utama. Inspektorat dipimpin oleh Inspektur. 7) Unit Pelaksana Teknis Unit Pelaksana Teknis melaksanakan tugas SAR dan administratif Badan SAR Nasional di daerah, dibentuk Unit Pelaksana Teknis yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Badan SAR Nasional. 11
12 KEPALA BASARNAS SEKRETARIAT UTAMA BIRO UMUM BIRO HUKUM & KEPEGAWAIAN BIRO REN & KTLN DEPUTI BIDANG POTENSI SAR DEPUTI BIDANG OPERASI SAR DIT. SARANA & PRASARANA DIT. BINA KETENAGAAN & PEMASYARAKATAN SAR DIT. OPERASI & LATIHAN DIT. KOMUNIKASI INPEKTORAT PUSDATIN KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL BALAI DIKLAT Gambar 1.1. Struktur Organisasi Basarnas 12
13 KANTOR SAR KELAS A SEKSI OPERASI SAR SUB BAGIAN UMUM SEKSI POTENSI SAR KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL Gambar 1.2. Struktur Organisasi Kantor SAR Kelas A KANTOR SAR KELAS B SUB SEKSI OPERASI SAR URUSAN UMUM SUB SEKSI POTENSI SAR KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL Gambar 1.3. Struktur Organisasi Kantor SAR Kelas B 13
14 Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan, Pemerintah membentuk Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Pencarian dan Pertolongan. Kedudukan Badan pencarian dan Pertolongan (Basarnas) sebagai Lembaga Pemerintah Nonkementerian yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Presiden. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bertugas: a. menyusun dan menetapkan norma, standar, prosedur, kriteria, serta persyaratan dan prosedur perizinan dalam penyelenggaraan Pencarian dan Pertolongan; b. memberikan pedoman dan pengarahan dalam penyelenggaraan Pencarian dan Pertolongan; c. menetapkan standardisasi dan kebutuhan penyelenggaraan Pencarian dan Pertolongan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan; d. melakukan koordinasi dengan instansi terkait; e. menyelenggarakan sistem informasi dan komunikasi; f. menyampaikan informasi penyelenggaraan Pencarian dan Pertolongan kepada masyarakat; g. menyampaikan informasi penyelenggaraan Operasi Pencarian dan pertolongan secara berkala dansetiap saat pada masa penyelenggaraan Operasi Pencarian dan Pertolongan kepada masyarakat; h. melakukan pembinaan, pemantauan, dan evaluasi terhadap penyelenggaraan Pencarian dan Pertolongan; i. melakukan pemasyarakatan Pencarian dan Pertolongan. Dalam UU Nomor 29 Tahun 2014 ini disebutkan bahwa Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memiliki kewenangan untuk mengerahkan personel dan peralatan yang dibutuhkan dari Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk melaksanakan Operasi Pencarian dan Pertolongan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 14
15 I.3. Landasan Hukum Penyelenggaraan SAR Nasional dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang meliputi: 1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan. 2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penerbangan. 3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran. 4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 5. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan. 6. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2006 tentang Pencarian dan Pertolongan. 7. Peraturan Kepala Badan SAR Nasional Nomor PK.08 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor SAR sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Kepala Badan SAR Nasional Nomor PK.24 Tahun Peraturan Kepala Badan SAR Nasional Nomor PER.KBSN-01/2008 tentang Organisasi dan Tata Laksana Badan SAR Nasional sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Kepala Badan SAR Nasional Nomor PK.18 Tahun Keputusan Kepala Badan SAR Nasional No: KEP/103/XII/2002 tentang Standar Kebutuhan Minimal Peralatan SAR pada Kantor SAR, Badan SAR Nasional, International Convention for the Safe of Live at Sea (SOLAS), International Aviation & Maritime Search and Rescue (IAMSAR), ICAO/IMO, Search and Rescue, International Civil Aviation Organization, Annex 12, Tahun UNCLOS-82 yang diratifikasi dengan Peraturan Pemerintah No 37 Tahun 2002, Indonesia diterima dan diakui sebagai negara kepulauan yang memiliki laut pedalaman, namun Indonesia harus menyediakan jalur laut internasional. 15
16 I.4. Aspek Strategis I.4.1. Sarana dan Prasarana Keberhasilan Badan SAR Nasional dalam melaksanakan tugas ditentukan oleh sarana dan prasarana yang dimilikinya. Sarana dan Prasarana bukanlah unsur yang paling utama dalam keberhasilan Operasi SAR namun Operasi SAR tidak akan berhasil maksimal tanpa dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Sarana dan prasarana yang dimaksud meliputi beberapa hal sebagai berikut. 1. Sistem Komunikasi SAR Salah satu fasilitas SAR yang memegang peranan utama dalam pelaksanaan kegiatan SAR adalah sistem komunikasi SAR Nasional. Sistem komunikasi ini tidak lepas dari semua jenis peralatan komunikasi yang digunakan sebagai sarana pertukaran informasi baik berupa voice maupun data dalam kegiatan SAR. Sistem komunikasi yang digelar memiliki beberapa fungsi sebagai berikut. a. Jaringan Penginderaan Dini Komunikasi sebagai sarana penginderaan dini dimaksudkan agar setiap musibah pelayaran penerbangan serta bencana atau musibah lainnya dapat dideteksi sedini mungkin, agar usaha pencarian, pertolongan dan penyelamatan dapat dilaksanakan dengan cepat. Oleh karena itu setiap informasi yang diterima harus memiliki kemampuan dalam hal kecepatan, kebenaran, dan aktualisasinya. Implementasi sistem komunikasi harus mengacu kepada peraturan International Maritime Organization (IMO) dan International Civil Aviation Organization (ICAO) untuk memonitor musibah penerbangan. Hingga saat ini, Badan SAR Nasional memiliki alat deteksi sinyal yang mengindikasikan lokasi musibah yang bernama LUT (Local User Terminal) sebanyak dua buah berupa perangkat stasiun bumi kecil yang mengolah data dari Cospas-Sarsat. 16
17 b. Jaringan Koordinasi Komunikasi sebagai sarana koordinasi, dimaksudkan untuk dapat berkoordinasi dalam mendukung kegiatan operasi SAR baik internal antara kantor pusat Badan SAR Nasional dengan Kantor SAR dan antar Kantor SAR, dan eksternal dengan seluruh potensi SAR dan Rescue Coordination Centers (RCCs) negara tetangga secara cepat dan tepat. c. Jaring Komando dan Pengendalian Jaring ini merupakan sarana komando dan pengendalian untuk mengendalikan unsur-unsur yang terlibat dalam operasi SAR. d. Jaring Pembinaan, Administrasi, dan Logistik Jaring ini digunakan oleh Badan SAR Nasional untuk pembinaan dan administrasi perkantoran. Untuk memaksimalkan fungsi komunikasi SAR, Badan SAR Nasional telah dilengkapi peralatan-peralatan komunikasi seperti berikut. Fixed Line Telecommunication, Radio Communication, AFTN (Aeronautical Fixed Telecommunication Network), SATCOM (Satellite Communication). Koordinasi antarunit SAR selama operasi SAR akan menentukan suksesnya operasi SAR. Keandalan seluruh alat komunikasi mencakup transfer data maupun suara dalam segala kondisi dan cuaca menjadi keharusan. 2. Sarana dan Peralatan SAR Sebagai komponen pendukung keberhasilan pelaksanaan operasi SAR, sarana dan peralatan SAR telah diupayakan untuk selalu tetap mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, baik kualitas maupun kuantitasnya. Secara umum, gambaran kondisi sarana dan prasarana Badan SAR Nasional dapat dijabarkan sebagai berikut: 17
18 a. Sarana SAR Udara Untuk menunjang penyelamatan korban di lautan, Badan SAR Nasional telah memiliki helikopter (rotary wing) BO-105yang berkategori ringan (light type) dan dua buah helikopter dauphinas 365 N3+ yang berkategori menengah (medium range). Kondisi saat ini, cakupan wilayah udara Badan SAR Nasional meliputi Medan, Tanjung Pinang, Jakarta, Surabaya, dan Denpasar. Berikut ini disajikan peta kekuatan sarana SAR Udara Badan SAR Nasional. Gambar 1.4. Wilayah Lokasi Jangkauan Helikopter b. Sarana SAR Laut Untuk menunjang penyelamatan korban di lautan, Badan SAR Nasional telah memiliki Rescue Boat dan Rigid Inflatable Boat. Selain sebagai sarana angkut tim penolong (rescue team) yang akan memberikan pertolongan, sarana laut juga harus memiliki kemampuan mencari dan mengarungi lautan pada berbagai kondisi alam dan cuaca. Berikut ini disajikan peta kekuatan sarana SAR laut Badan SAR Nasional: 18
19 Gambar 1.5. Lokasi Jangkauan Wilayah Rescue Boat c. Sarana SAR Darat Sebagai sarana penunjang operasi pertolongan terhadap musibah dan bencana, secara garis besar sarana SAR darat yang telah dimiliki oleh Badan SAR Nasional mencakup Rescue Truck dan Rescue Car. Dalam rangka mendukung kecepatan mobilisasi tim penolong, kendaraan-kendaraan tersebut telah dilengkapi dengan rescue tool. d. Peralatan SAR (SAR Equipment) Peralatan SAR adalah bagian penting bagi rescuer dalam melaksanakan pertolongan terhadap korban musibah dan atau bencana sehingga dukungan peralatan yang memadai akan membantu proses pertolongan. Kantor-kantor SAR telah dilengkapi dengan peralatan SAR yang disesuaikan dengan lokasi dan kondisi setempat. 19
20 Gambar 1.6. Lokasi Jangkauan Wilayah Rescue Boat60 M 3. Prasarana SAR a. Prasarana Kantor (Gedung) Prasarana fisik gedung dan bangunan adalah penunjang utama yang merupakan awal dari segala aktivitas mulai dari perencanaan, pengoordinasian, sampai evaluasi. Tersedianya gedung yang memadai akan menjadi salah satu unsur pemacu etos kerja sekaligus memberikan kemudahan bagi masyarakat pengguna jasa SAR. 20
21 10 Kansar Lampung Gambar 1.7. Lokasi Kantor SAR b. Gedung Badan SAR Nasional Gedung Kantor Pusat Badan SAR Nasional berlokasi Jl Angkasa B 15 Kemayoran, Jakarta Pusat. c. Gedung Kantor SAR UPT Badan SAR Nasional yang bernama kantor SAR, saat ini berjumlah 33 kantor yang tersebar di seluruh Indonesia. d. Prasarana Hanggar Badan SAR Nasional telah memiliki hanggar untuk penyimpanan NBO-105 yang berlokasi di Lanud Atang Senjaya Bogor yang dibangun pada tahun Selain itu, Badan SAR Nasional juga menggunakan fasilitas yang dimiliki TNI-AL di Lanud AL Juanda untuk penyimpanan NBO-105 di Tanjung Pinang. 21
22 e. Prasarana Labuh Untuk menambatkan Rescue Boat yang dimiliki Badan SAR Nasional, telah dijalin kerjasama antara Badan SAR Nasional dengan berbagai instansi yang memiliki sifat sebagai potensi SAR dan memiliki fasilitas pelabuhan antara lain TNI-AL, ASDP, dan Administrator Pelabuhan agar Rescue Boat dapat berlabuh. I.4.2. Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia merupakan salah satu komponen penting dalam penyelenggaraan kegiatan SAR. Penyediaan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang SAR bertujuan untuk mewujudkan sumber daya manusia yang profesional, kompeten, disiplin, bertanggungjawab, dan memiliki integritas. Untuk mencapai tujuan tersebut, Badan SAR Nasional telah melakukan perencanaan sumber daya manusia, pendidikan dan pelatihan, pemeliharaan kompetensi, serta pengawasan, pemantauan, dan evaluasi. SDM yang dimiliki Badan SAR Nasional relatif masih kurang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya jika dibandingkan dengan luas wilayah cakupan NKRI. a. Kepegawaian SDM yang dimiliki Basranas sampai dengan 30 Januari 2014 adalah sejumlah 2916 orang, sudah termasuk 961 tenaga penolong (rescuer) dan tenaga teknis pusat dan daerah. b. Pendidikan, Pelatihan, dan Pembinaan Dalam rangka meningkatkan kemampuan personil Badan SAR Nasional serta UPT di daerah dan Potensi SAR, telah dilakukan pendidikan dan pelatihan, penyuluhan kepada masyarakat serta pembinaan SDM Potensi SAR. Sejak awal 2013, telah dilaksanakan pembangunan Balai Diklat Badan SAR Nasional untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan pelatihan secara mandiri Badan SAR Nasional. Balai Diklat ini direncanakan mulai dapat digunakan pada awal tahun 2015 dan rampung sepenuhnya pada tahun
23 I.4.3. Aspek Kelembagaan Badan SAR Nasional dalam bidang Kelembagaan adalah kerja sama dengan K/L, instansi, organisasi atau lembaga lain yang sudah berjalan baik, tetapi perlu diperkuat lagi terutama dengan K/L yang berkaitan secara langsung dengan Badan SAR Nasional seperti BNPB, BMKG, MENPAN, BAPPENAS, dll. Kerjasama dengan luar negeri yang sudah terjalin dengan baik merupakan salah satu kekuatan pendukung Badan SAR Nasional. Walaupun demikian, dalam kenyataannya, memang masih perlu ditingkatkan lagi. Kekuatan selanjutnya adalah seluruh program kegiatan berdasarkan Renstra sebelumnya telah terlaksana dengan baik. Status kinerja yang disandang Badan SAR Nasional sekarang ini adalah Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). I.5. Permasalahan Utama Permasalahan yang saat ini sedang dihadapi oleh Basarnas adalah sebagai berikut : a. Penataan kelembagaan Organisasi dan Tata Laksana (Ortala) yang kurang optimal. Dalam kaitan itu kurangnya sumber daya manusia sehingga telah terjadi tumpang tindih dari beberapa unit kerja karena tugas pokok dan fungsi dari masing-masing unit kerja. b. Dana cadangan operasional khusus yang bersifat bencana masih bergantung kepada BNPB sehingga menghambat kinerja terutama dalam bidang operasi yang bersifat bencana. Pelaksanaan operasi SAR terkait penanganan kecelakaan pesawat udara dan kapal laut adalah murni menjadi tanggungan Badan SAR Nasional. c. Sarana dan prasarana telah diupayakan agar mampu memiliki kekuatan yang sangat memadai untuk mendukung operasi SAR, namun sebaran sarananya belum optimal karena penambahan Pos SAR dan Kantor SAR baru setiap tahun. Sarana dan prasarana Badan SAR Nasional juga belum didukung oleh pengawakan yang sesuai dengan kebutuhan. d. Kemampuan sumber daya manusia Badan SAR Nasional sudah diakui internasional. Namun sertifikasi international yang ada belum merata, sehingga timbul kesenjangan antar wilayah kerja Badan SAR Nasional. Kesenjangan yang muncul itu dinilai dari adanya para rescuer yang sudah memiliki sertifikasi internasional dan ada yang belum mendapatkan sertifikasi tetapi sudah dapat 23
24 menjalankan tugas dan fungsinya sebagai penolong. Kuantitas SDM Badan SAR Nasional cukup besar tetapi tidak memiliki kapasitas yang cukup sebagai rescuer, sehingga potensi lain SAR sebagai tenaga pendukung dalam operasi penyelamatan, terutama dari TNI, masih diperlukan. 24
25 BAB II PERENCANAAN KINERJA Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2007, Basarnas mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan dibidang pencarian dan pertolongan (Search and Rescue) yang selanjutnya disebut SAR sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Disamping itu mempunyai tugas pula melaksanakan pembinaan pengkoordinasian, dan pengendalian potensi SAR dalam kegiatan SAR terhadap orang dan material yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya dalam pelayaran dan/atau penerbangan, serta memberikan bantuan SAR dalam bencana dan musibah lainnya sesuai dengan peraturan SAR nasional dan internasional. Peningkatan pelayanan SAR yang dituntut dari Basarnas memerlukan suatu perencanaan yang mempunyai perspektif lebih panjang, karena berbagai masalah yang dihadapi saat ini baik yang menyangkut kelembagaan, sumber daya manusia, sarana/ prasarana dan peralatan, sistem SAR nasional, koordinasi dan penyuluhan serta sosialisasi kepada masyarakat, memerlukan penanganan secara bertahap Dalam rangka membuat arah kebijakan jangka panjang tersebut maka dibuatlah Rencana Strategis Basarnas sebagai dasar acuan dalam pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan pengembangan kelembagaan Basarnas, hukum dan kewenangan, sumber daya manusia, pendidikan dan pelatihan, sarana/ prasarana, penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat, kerjasama nasional dan internasional serta dalam rangka pelayanan jasa pencarian dan pertolongan yang terlaksana secara terpadu dengan program pembangunan nasional, dan bersifat komprehensif dan responsif terhadap perkembangan lingkungan serta berpegang kepada pendekatan kesisteman. 25
26 II.1.Ikhtisar Rencana Strategis (RENSTRA) a. Visi Basarnas mempunyai visi yaitu Berhasilnya pelaksanaan operasi SAR pada setiap waktu dan tempat dengan cepat, andal dan aman. b. Misi Untuk mewujudkan visi tersebut, Basarnas mempunyai misi menyelenggarakan kegiatan operasi SAR yang efektif dan efisien melalui upaya tindak awal yang maksimal serta pengerahan potensi SAR yang didukung oleh sumber daya manusia yang profesional, fasilitas SAR yang memadai, dan prosedur kerja yang mantap dalam mewujudkan visi Basarnas. c. Tujuan dan Sasaran Strategis Dalam rangka mencapai visi dan misi Basarnas seperti yang dikemukakan terdahulu, maka visi dan misi tersebut harus dirumuskan ke dalam bentuk yang lebih terarah dan operasional berupa perumusan tujuan strategis organisasi. Tujuan strategis merupakan penjabaran atau implementasi dari pernyataan misi yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 1 (satu) sampai 5 (lima) tahun. Basarnas dapat secara tepat mengetahui apa yang harus dilaksanakan oleh organisasi dalam memenuhi visi dan misinya dengan diformulasikannya tujuan strategis ini dalam mempertimbangkan sumber daya dan kemampuan yang dimiliki. Lebih dari itu, perumusan tujuan strategis ini juga akan memungkinkan Basarnas untuk mengukur sejauh mana visi dan misi organisasi telah dicapai mengingat tujuan strategis dirumuskan berdasarkan visi dan misi organisasi. Oleh karena itu, tujuan strategis Basarnas adalah mendukung terwujudnya penyelenggaraan operasi SAR yang efektif dan efisien melalui upaya tindak awal yang maksimal serta pengerahan potensi SAR yang didukung oleh SDM yang profesional, fasilitas SAR yang memadai dan prosedur kerja yang mantap. Selanjutnya dirumuskan sasaran strategis untuk dapat mengukur pencapaian tujuan dimaksud. Pengukuran keberhasilan ini dilakukan melalui indikator kinerja yang terukur. 26
27 Tabel 2.1. Sasaran Strategis Basarnas No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Sasaran Indikator Kinerja Utama (IKU): Response time pada operasi SAR dalam penanganan musibah/ bencana 1. Meningkatkan pelayanan Rata-rata response time pada dalam penyelenggaraan penanganan musibah pelayaran operasi SAR Rata-rata response time pada penanganan musibah penerbangan Rata-rata response time pada penanganan bencana Rata-rata response time pada penanganan musibah lain-lain 2. Meningkatkan kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana Rata-rata waktu tindak awal dalam penyelenggaraan operasi SAR Persentase kecukupan personil siaga rescuer pada Kantor SAR Persentase cakupan wilayah yang mampu dijangkau Indikator Kinerja Utama (IKU): Persentase keberhasilan evakuasi korban pada operasi SAR 3. Meningkatkan keberhasilan penyelamatan korban dalam penyelenggaraan operasi SAR Persentase jumlah korban terselamatkan dalam penyelenggaraan operasi SAR Persentase jumlah korban yang ditemukan dalam penyelenggaraan operasi SAR Indikator Kinerja Utama (IKU): Persentase keterlibatan potensi SAR dalam kegiatan SAR 4. Meningkatkan peran serta Jumlah keterlibatan personil potensi 27
28 No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Sasaran organisasi potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR 5. Meningkatkan kemampuan organisasi potensi SAR dalam melaksanakan operasi SAR SAR pada pelaksanaan latihan SAR Persentase keterlibatan potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR maritim Persentase keterlibatan potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR darat Persentase organisasi potensi SAR yang memiliki tenaga rescuer bersertifikasi SAR Persentase peningkatan organisasi potensi SAR yang dibina d. Program Berdasarkan Rencana Strategis Badan SAR Nasional tahun , Basarnas didukung dengan 2 (dua) program generik dan 1 (satu) program teknis sebagai berikut : Program dukungan manajemen pelaksanaan tugas teknis lainnya Basarnas. Program ini menitikberatkan pada terlaksananya kegiatan perencanaan dan program termasuk kerjasama luar negeri, tersusunnya peraturan perundangundangan, terlaksananya pengelolaan administrasi perkantoran, keuangan, data, informasi, serta terlaksananya pengawasan dan pembinaan internal Basarnas. Peningkatan sarana dan prasarana aparatur Basarnas. Program ini lebih menekankan pada pembinaan dan peningkatan sarana dan prasarana aparatur Basarnas dalam mencapai visi dan misi. 28
29 Program pengelolaan pencarian, pertolongan dan penyelamatan. Program ini bertujuan pada pelaksanaan pengelolaan sarana dan prasarana SAR serta pembinaan pengawakan, terselenggaranya diklat SAR, pengelolaan operasi dan Latihan SAR, dan terlaksananya pengelolaan sistem peralatan komunikasi SAR II.2. Perjanjian Kinerja Perjanjian Kinerja merupakan kontrak kerja dalam pelaksanaan tugas yang tertuang dalam Penetapan Kinerja. Penetapan Kinerja pada dasarnya adalah pernyataan komitmen yang mempresentasikan tekad dan janji untuk mencapai kinerja yang jelas dan terukur dalam rentang waktu satu tahun tertentu dengan mempertimbangkan sumber daya yang dikelolanya. Tujuan khusus Penetapan Kinerja adalah untuk meningkatkan akuntabilitas, transparansi, dan kinerja sebagai wujud nyata komitmen antara penerima amanah dan pemberi amanah, sebagai dasar penilaian keberhasilan/ kegagalan pencapaian tujuan dan sasaran organisasi, menciptakan tolok ukur kinerja sebagai dasar evaluasi kinerja, dan sebagai dasar pemberian reward atau penghargaan dan sanksi. Basarnas telah membuat Penetapan Kinerja tahun 2014 secara berjenjang sesuai dengan kedudukan, tugas dan fungsi yang ada. Penetapan Kinerja ini merupakan tolok ukur evaluasi akuntabilitas kinerja pada akhir Tahun Penetapan Kinerja Basarnas Tahun 2014 disusun dengan berdasarkan pada Rencana Kinerja Tahun 2014 yang telah ditetapkan sehingga secara substansial Penetapan Kinerja Tahun 2014 tidak ada perbedaan dengan Rencana Kinerja Tahun Adapun Penetapan Kinerja dapat dilihat pada tabel berikut ini. 29
30 Tabel 2.2. Perjanjian Kinerja Tahun 2014 Basarnas No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Sasaran Target Indikator Kinerja Utama (IKU): Response time pada operasi SAR dalam penanganan musibah/ bencana 1. Meningkatkan pelayanan dalam penyelenggaraan operasi SAR 2. Meningkatkan kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana Rata-rata response time pada penanganan musibah pelayaran Rata-rata response time pada penanganan musibah penerbangan Rata-rata response time pada penanganan bencana Rata-rata response time pada penanganan musibah lain-lain Rata-rata waktu tindak awal dalam penyelenggaraan operasi SAR 1 Jam 30 Menit 2 jam 1 jam 1 jam 2 jam 10 menit Persentase kecukupan personil siaga rescuer pada Kantor SAR 100% Persentase cakupan wilayah yang mampu dijangkau 84% Indikator Kinerja Utama (IKU): Persentase keberhasilan evakuasi korban pada operasi SAR 95% 3. Meningkatkan keberhasilan penyelamatan korban dalam penyelenggaraanoperasi SAR Persentase jumlah korban terselamatkan dalam penyelenggaraanoperasi SAR Persentase jumlah korban yang ditemukan dalam penyelenggaraanoperasi SAR 90% 95% Indikator Kinerja Utama (IKU): Persentase keterlibatan potensi SAR dalam kegiatan SAR 70% 4. Meningkatkan peran serta organisasi potensi SAR dalam penyelenggaraanoperasi SAR 5. Meningkatkan kemampuan organisasi Jumlah keterlibatan personil potensi SAR pada pelaksanaan latihan SAR Persentase keterlibatan potensi SAR dalam penyelenggaraanoperasi SAR maritim Persentase keterlibatan potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR darat Persentase organisasi potensi SAR yang memiliki tenaga rescuer bersertifikasi SAR 475 orang 90% 90% 50% 30
31 No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Sasaran Target potensi SAR dalam melaksanakan operasi SAR Persentase peningkatan organisasi potensi SAR yang dibina Dengan perincian Pagu Anggaran untuk melaksanakan kegiatan pada tahun anggaran 2014 adalah sebagai berikut : 50% Program dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya Badan SAR Nasional Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur badan SAR Nasional Program pengelolaan pencarian, pertolongan dan penyelamatan Rp ,- Rp ,- Rp ,- Jumlah Total Rp ,- 31
32 BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Akuntabilitas kinerja merupakan langkah strategis dalam menerapkan kinerja yang berorientasi pada hasil (result oriented). Kebijakan pemerintah yang berorientasi pada hasil akan lebih difokuskan pada kepentingan masyarakat pada umumnya. Akuntabilitas kinerja dapat dipertanggungjawabkan apabila disertai dengan adanya informasi mengenai hasil-hasil yang diperoleh. Hasil-hasil yang diperoleh tersebut kinerjanya harus diukur sampai sejauh mana pencapaiannya melalui pengukuran kinerja. Berdasarkan analisa terhadap akuntabilitas kinerja tersebut dapat dijadikan landasan untuk penilaian atas keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan program, kegiatan dan kebijakan sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi dan misi dengan memperhatikan rencana kerja dan realisasi kerja dalam program Basarnas Di dalam penilaian pencapaian kinerja Badan SAR Nasional dilakukan pengelompokan kategori, yaitu : Tabel 3.1. Penilaian Pencapaian Kinerja No. Kategori Nilai Angka (%) Interprestasi 1. A Sangat Baik 2. B Baik 3. C Cukup 4. D 0 50 Kurang Secara garis besar capaian kinerja Basarnas dapat dikatakan sangat baik dengan kategori A dan sudah memenuhi target capaian kinerja. Target Kinerja dimaksud dicapai melalui Indikator Kinerja Utama dengan cara perhitungan sebagai berikut. 32
33 III.1. Prosedur Pengumpulan Data Pengukuran Capaian Kinerja Basarnas Tahun 2014 dilakukan dengan cara membandingkan antara Target (rencana) dan Realisasi dari tiap-tiap indikator. Pencatatan dan pengumpulan data diperoleh dari seluruh Unit Kerja di lingkungan Basarnas dari tiap eselon pada Kantor Pusat Basarnas, 13 (tiga belas) Kantor SAR Kelas A, 21 (dua puluh satu) Kantor SAR Kelas B serta 65 (enam puluh lima) Pos SAR yang tersebar di seluruh Indonesia, baik data administratif maupun data teknis. Data-data tersebut kemudian dianalisa dan dievaluasi sehingga didapatkan data realisasi dari indikator yang telah ditetapkan. Adapun prosedur pengumpulan data tersebut sebagaimana pada gambar 3.1. Kantor Pusat Basarnas Sekretariat Utama Deputi Bidang Potensi SAR Deputi Bidang Operasi SAR 34 Kantor SAR 65 Pos SAR PUSAT DATA Proses Analisa & Evaluasi Data Realisasi Tiap-tiap Indikator Gambar 3.1. Prosedur Pengumpulan Data 33
34 III.2. Analisis Capaian Kinerja Pencapaian kinerja Basarnas Tahun 2014 diukur dari 3 (tiga) Indikator Kinerja Utama (Key Performance Indicator) yang diterangkan pada tabel berikut. Tabel 3.2. Indikator Kinerja Utama Basarnas Indikator Kinerja Utama Target Realisasi Capaian Kinerja Response time pada operasi SAR dalam penanganan musibah/ 1 jam 46 menit 148,40% bencana 30 menit Persentase keberhasilan evakuasi korban pada operasi 95% 98,62% 103,81% SAR Persentase keterlibatan potensi SAR dalam kegiatan SAR 70% 115,65% 165,21% Berikut penjelasan masing-masing indikator kinerja utama beserta sasaran strategis dan indikator kinerja sasaran yang mendukungnya. III.2.1. Indikator Kinerja Utama Response time pada operasi SAR dalam penanganan musibah/ bencana (46 menit). - Perbandingan antara target dengan realisasi kinerja tahun 2014 Capaian dari indikator kinerja utama response time pada operasi SAR dalam penanganan musibah/ bencana pada tahun 2014 adalah sebesar 46,44 menit dari target capaian 1 jam 30 menit, sehingga telah memenuhi target. - Perbandingan realisasi kinerja serta capaian kinerja tahun 2014 dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir Apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya maka capaian indikator kinerja utama response time pada operasi SAR dalam 34
35 penanganan musibah/ bencana pada tahun 2014 mengalami kenaikan atau lebih cepat. Perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Tabel 3.3. Tabel Perbandingan Indikator Kinerja Utama Response time pada operasi SAR dalam penanganan musibah/ bencana Tahun Target Realisasi Tahun jam 30 menit 3 jam 47 menit Tahun jam 30 menit 1 jam 57 menit Tahun jam 30 menit 1 jam 29 menit Tahun jam 30 menit 48 menit Tahun jam 30 menit 46 menit - Analisis keberhasilan / peningkatan kinerja serta usaha yang telah dilakukan EKSTERNAL Dilaksanakannya Kerjasama Luar Negeri yang mencakup kegiatan kerjasama teknis operasional dan bantuan luar negeri melalui kerjasama secara bilateral, regional maupun multilateral. Adapun kerjasama tersebut meliputi: 1. The 2 nd ASEAN Transport SAR Forum; Dalam rangka menindaklanjuti hasil pertemuan the 1 st ASEAN Transport SAR Forum yang diselenggarakan pada tanggal 5-7 Maret 2013 di Bali, Indonesia, dan sesuai implementasi dari kerangka acuan (TOR) ASEAN Transport SAR Forum (ATSF), Indonesia dalam hal ini Basarnas telah menyelenggarakan the 2 nd ASEAN Transport SAR Forum pada tanggal Maret 2014 di Yogyakarta. ASEAN Transport SAR Forum merupakan tindak lanjut dari pertemuan ASEAN SAR EXPERT Group Meeting yang dilaksanakan di Yangon, Myanmar pada tanggal Oktober 2012 yang diprakarsai oleh Badan SAR Nasional. Hasil pertemuan ASEAN SAR Expert Group Meeting tersebut diperkuat dari hasil 35
36 pertemuan ASEAN Senior Transport Official Meeting (STOM) ke-34, dan ASEAN Transport Ministers (ATM) Meeting ke-18, 2. ASEAN Transport SAR Exercise Planner Meeting Sebagai tindak lanjut dari 2 nd ASEAN Transport SAR Forum guna mempersiapkan penyelenggaraan Command Post Exercise (CPX) dan Table Top Exercise (TTX), Basarnas (Bagian KTLN) telah menyelenggarakan ASEAN Transport SAR Exercise Planner Meeting pada tanggal Juli 2014 di Bogor, Jawa Barat. Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari Indonesia (Basarnas), Singapura, Thailand, Kamboja dan Australia. Adapun pokok bahasan dalam pertemuan dimaksud adalah sebagai berikut: ASEAN Transport SAR ExercisePlan and Scenario;Controller and Evaluator Handbook;Sesi Akademis; danasean Transport SAR Forum Standard and Operating Procedures. 3. Peningkatan Kapasitas di bidang Urban SAR; Basarnas menyelenggarakan Forum Group Discussion untuk rencana pembentukan forum kerja sama regional ASEAN di bidang Urban SAR, Forum ini merupakan wadah bagi negara-negara anggota ASEAN dalam rangka peningkatan kapasitas nasional tim Urban SAR sesuai dengan standar INSARAG. Pencapaian tersebut dapat dilaksanakan antara lain melalui : a. Perumusan perjanjian kerjasama yang bersifat teknis; b. Penyederhanaan procedure clearance untuk operasi bersama (joint operation); c. Pendidikan dan pelatihan untuk semua personel SAR di ASEAN; d. Melaksanakan latihan bersama (joint exercise) simulasi secara rutin; dan e. Melaksanakan workshop dan seminar. Inisiatif Basarnas tersebut diharapkan dapat mendorong kerjasama ASEAN di bidang kebencanaan yang dikoordinasikan oleh BNPB sebagai national focal point; 36
37 4. Diplomasi pada Sidang Kerjasama Luar Negeri Basarnas berpartisipasi aktif dalam berbagai pertemuan berskala Internasional dan juga menyelenggarakan beberapa pertemuanpertemuan baik tingkat Bilateral, Regional maupun Multilateral. antara lain : a. Pada tanggal Juli 2011, Basarnas telah menyelenggarakan pertemuan InternationalSearch and Rescue Forum-INSARAG Asia Pacific Regional Meeting yang telah menghadirkan sebanyak 150 Orang yang terdiri dari Organisasi Pemerintah, Organisasi Non Pemerintah, serta delegasi Internasional baik dari UN-OCHA maupun perwakilan Badan asing lainnya; b. Pada tanggal 29 Mei-1 Juni 2012, Basarnas telah menyelenggarakan International Search and Rescue Advisory Group (INSARAG) Asia Pacific Regional Earthquake Response Exercise, yang diselenggarakan di Padang-Sumatera Barat. Pertemuan ini merupakan Latihan penanganan gempa bumi INSARAG merupakan salah satu implementasi resolusi Sidang Umum PBB 57/150 mengenai Strengthening the Effectiveness and Coordination of Urban Search and Rescue Assistance, dan bertujuan untuk mempraktekkan INSARAG Guidelines and Methodology, terutama dalam masa tanggap darurat bencana gempa bumi. Selain itu, dalam rangka memberikan pemahaman mengenai prosedur dan mekanisme di dalam INSARAG Guidelines and Methodology, terutama mengenai proses klasifikasi dan sertifikasi internasional IEC, maka diselenggarakan pula Workshop on INSARAG Guidelines and Methodology. Latihan ini menghadirkan peserta dari 26 Negara Asia Pasifik dan 9 organisasi/lembaga internasional, latihan INSARAG dihadiri oleh delegasi dari UN-OCHA, INSARAG Secretariat, Kepala Kantor SAR, dan beberapa instansi 37
38 pemerintah maupun swasta, seperti BNPB, BPBD, Jakarta Rescue, PMI, dll; c. Pada tahun 2013 dan 2014, Basarnas juga telah menyelenggarakan pertemuan tingkat regional ASEAN, yakni ASEAN Transport SAR Forum. Forum ini merupakan forum teknis di bawah sektor transportasi yang bertujuan untuk melahirkan suatu kesepakatan bersama negara-negara anggota ASEAN dalam bidang pelayanan jasa SAR Transportasi. 5. Kerja sama Indonesia-China Dalam kerangka kerja sama bilateral antara Indonesia dengan China di bidang maritim. Berdasarkan hasil pertemuan 9 th Technical Commitee Meeting (TCM) on Maritime Cooperation yang diselenggarakan pada tanggal Januari 2015 di Beijing. Basarnas dengan Ministry of Transportation China, China Academy of Space Technology (CAST) dan China National Space Authority (CNSA) membahas hal-hal sebagai berikut: a. China-Indonesia Joint Table Top Maritime SAR Exercise Ministry of Transportation China akan menyusun rencana dan jadwal pelaksanaan China-Indonesia Joint Table Top Maritime SAR Exercise. Pada bulan April 2015 pihak China akan berkunjung ke Basarnas untuk membahas skenario TTX tersebut dan pada bulan Mei 2015 pihak Indonesia diundang untuk berkunjung ke China untuk kembali membahas skenario. China-Indonesia Joint Table Top Maritime SAR Exercise akan di laksanakan di China pada bulan Agustus b. Indonesia China Maritime Search and Rescue Information System Kedua belah pihak telah membahas proposal China-Indonesia Maritime Search and Rescue Information System (SRIS) dan bertukar informasi terkait hal-hal teknis kerjasama informasi di bidang SAR. Kedua belah pihak lebih lanjut menyepakati untuk membahas finalisasi tentang project SRIS tersebut pada pertemuan 3 rd Maritime Cooperation Committee di China. 38
39 Selain daripada itu, Basarnas juga menjalin kerja sama dengan China dalam kerangka ASEAN-China Maritime Cooperation. Dalam kerangka kerja sama tersebut, Basarnas dengan China Academy of Space Technology (CAST) dan China National Space Authority (CNSA) bermaksud untuk membangun kerja sama di bidang Satellite Information Maritime Application Center (SIMAC) Project 6. Kerja sama Indonesia-Australia Basarnas telah melakukan kerja sama dibidang SAR dengan Australia dalam hal ini Australia Maritime Safety Authority (AMSA) dengan ditandanganinya Arrangement for the Coordination of SAR Services pada tanggal 5 April Kerja sama antara Indonesia dan Australia dalam kerangka Indonesia Transport Safety Assistance Package (ITSAP), Adalah sebuah paket bantuan dari Australia untuk keselamatan transportasi di indonesia yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2008 berdasarkan MoU bidang transportasi yang ditandatangani oleh para Menteri Transportasi kedua negara. Proyek ITSAP yang saat ini berjalan berdasarkan MoU bidang transportasi untuk tahun adalah sebagai berikut: a. Exchange officer antara Basarnas dan AMSA dalam rangka mendukung pelaksanaan operasi SAR; b. Peningkatan kemampuan Ship Tracking Information dan system komunikasi satelit. Program ini akan dilaksanakan Jakarta berupa pelatihan kepada pesonel Basarnas terhadap penggunaan Inmarsat-C safety Net services; c. Additional capacity building berupa pelaksanaan latihan SAR; d. Pelaksanaan SAR Exercise Ausindo pada tanggal 21 Mei 2014 di Lombok Nusa Tenggara Barat; e. Demonstration SARMAP System; f. The 3rd Indonesia-Australia SAR Forum; g. English Language Training. 39
40 7. INSARAG Regional Group Asia/Pasific Meeting; Basarnas telah menghadiri pertemuan INSARAG Regional Group Asia/Pasific Meeting yang dilaksanakan pada tanggal September 2014 di Seoul, Korea Selatan. Pertemuan tersebut dihadiri oleh 37 peserta dari 16 negara di kawasan Asia dan Pasifik, Sekretariat INSARAG, Ketua Kelompok Kerja dan perwakilan dari kantor UN-OCHA. Negara-Negara yang hadir diantaranya Korea Selatan (tuan rumah), Indonesia, Australia, Bangladesh, China, Jepang, Nepal, Malaysia, Thailand, Philipina, Singapura, Selandia Baru dan Uni Emirate Arab. Pertemuan INSARAG Regional Asia-Pacific tahun 2014 membahas hal-hal masalah-masalah yang muncul dalam Pertemuan INSARAG Asia-Pasifik tahun 2013 di Singapura serta isu-isu INSARAG global yang meliputi : a. Review terhadap INSARAG Guidelines; b. Review terhadap INSARAG External Classification/Reclasification (IEC/IER); Program pengembangan kapasitas USAR yang sedang berlangsung di negara-negara Asia Pasifik, yaitu Pakistan, Mongolia, Bangladesh, India, Malaysia, Thailand dan Singapura. INTERNAL Beberapa pelatihan Internal yang dilaksanakan oleh Internal BASARNAS antara lain : Latihan operasi SAR Karuna Nisevanam ke-169 Dilaksanakan di: Padang Tanggal 16 s/d 23 Maret 2014 Jumlah peserta adalah 150 orang terdiri dari Kantor Pusat & BSG, Kan SAR Padang, Kantor SAR Medan, Kantor SAR Pekanbaru, Kan SAR Banda Aceh, Kantor Jambi, Kantor SAR Jakarta, Kru Heli, SAR Gurila Padang, Pramuka Padang dan Padang Baywatch 40
41 Latihan operasi SAR Karuna Nisevanam ke-168 Dilaksanakan di: Bengkulu, Tanggal 24 s/d 28 Maret 2014 Jumlah peserta adalah 150 orang terdiri dari Kantor Pusat, Kantor SAR Bengkulu, Kantor SAR Palembang, Kantor SAR Lampung dan Potensi SAR 60 org, Bengkulu 5 org Latihan Operasi SAR Maritime Pollution Exercise (Marpolex) Dilaksanakan di:dumai, Tanggal 17 s/d 20 Juni 2014 Jumlah peserta adalah 180 orang terdiri dari Kantor Pusat, Kru Heli BO, ABK RB Pekanbaru, Kantor SAR Pekanbaru dan Bulsi (Kantor SAR 5 org, Pekanbaru 7 org Latihan Proficiency Awak Kapal Dilaksanakan di:denpasar, Tanggal 16 s/d 19 Juni 2014 Jumlah peserta adalah 175 orang terdiri dari Kantor Pusat, Kru Heli Dauphin, Kru Heli BO, Kru RB Denpasar, Kantor SAR Denpasar dan Balawista8 org Latihan Operasi SAR Australia Indonesia (Ausindo) Dilaksanakan di:mataram, Tanggal 19 s/d 23 Mei 2014 Jumlah peserta adalah 140 orang terdiri dari Kantor Pusat, Perwakilan, Kedubes Australia, Perwakilan AMSA,Kantor SAR Mataram, Kasi Ops Denpasar, Kasi Ops Semarang, Kasi Ops Surabaya, Kasi Ops Lampung, Ops Bandung, Kasubsi Ops Kupang, Ops Merauke, Kasubsi Ops Ambon, Ops Timika, Kru Heli Dauphin Surabaya, ABK KAL TNI AL, ABK Kapal KPLP 12 org Latihan SAR (Indopura) Dilaksanakan di:tanjung Pinang Tanggal 8 s/d 10 Oktober 2014 Pihak Indonesia:Kantor Pusat, Kantor SAR Tanjung Pinang, Instansi militer di Provinsi Riau dan sekitarnya, Kepolisian Daerah Prov. Kepri, Dishub Prov. Kepri, BMKG Tanjung Pinang, PT Angkasa Pura I, Bea Cukai Tanjung Pinang, Imigrasi Tanjung Pinang, Pemerintah 41
42 Prov. Kepri, Potensi SAR Tanjung Pinang, Ormas Tanjung Pinang, SROP Tanjung Pinang Dari Singapur : Civil Aviation Authority of Saingapore (CAAS), National Environment Agency, Republic of Singapore Air Force (RSAF), Republic of Singapore Navy (RSN), Maritime Porth Authority (MPA), Ministry of Defence (MINDEF), Singapore Civil Defence Force (SCDF), Ministry of Health (MOH), Singapore Police Force, Immigration and Check Point Authority (ICA) Jumlah keseluruhan: 150 org Latihan Operasi SAR Indonesia Malaysia (Malindo) Dilaksanakan di:banda AcehTanggal 23 s/d 28 Nov 2014 Pihak Indonesia:Kantor Pusat, Kantor SAR Banda Aceh, TNI Polisi Setempat Aceh, Badan Meteorologi Aceh, Potensi SAR Setempat Pihak Malaysia:Jabatan Penerbangan Awam Malaysia, Tentera Udara di Raja Malaysia, Agensi Penguat Kuasaan Maritim Malaysia Tentera Laut Di Raja Malaysia, Polisi Di Raja Malaysia, Majlis Keselamatan Negara, Tentera Darat Malaysia, Jabatan Meteorologi Malaysia, Pejabat/Ketua Menteri/pihak berkuasa tempatan Jumlah keseluruhan: 130 org - Analisis atas efisiensi penggunaan sumber daya Personil yang saat ini dimilik oleh Basarnas masih belum memenuhi kebutuhan akan personil yang sesungguhnya. Dari 4430 personil yang dibutuhkan, hanya terpenuhi 3044 personil. Sedangkan apabila ditinjau dari sisi ketersediaan peralatan, sarana dan prasarana, Pengadaan sarana dan prasarana kantor pusat dan kantor SAR belum terkoordinasi baik dengan Direktorat Sarana dan Prasarana, terutama 42
43 begitu pula dari sisispesifikasi. Salah satu sarana yang dirasakan kurang antara lain adalah No Sarana Laut Kebutuhan (unit) Kondisi Saat Ini (unit) Kekuranga n (Unit) 1. Rescue Boat Rigid Inflatable Boat Rubber Boat Kurangnya jumlah dan kualifikasi ABK untuk mengawaki rescue boat. Hal ini diantisipasi dengan memberikan pelatihan singkat tentang mesin kapal, perawatan dan penggunaan Rescue Boat FamiliarisasiSaranadanPeralatanSAR yangdiadakandirektoratsaranadanprasaranabe;um seluruhnya diketahui oleh seluruh pegawai kantor SAR, karena itu penyebaran ilmu tersebut dilaksananakan dengan sistem transfer knowlodge diantara pegawai yang sudah mengikuti pelatihan dengan yang belum. - Analisis program/ kegiatan yang menunjang keberhasilan pencapaian pernyataan kinerja Program pengelolaan pencarian, pertolongan dan penyelamatan Program ini memberikan penekanan kepada pelaksanaan pengelolaan sarana dan prasarana SAR serta pembinaan pengawakan, terselenggaranya diklat SAR, pengelolaan operasi dan Latihan SAR, dan terlaksananya pengelolaan sistem peralatan komunikasi SAR, selain ini program ini juga berisikan antra lain : Pelaksanaan pengendalian operasi SAR Pemeliharaan sarana SAR Pengadaan peralatan SAR Pemeliharaan peralatan SAR komunikasi 43
44 Capaian kinerja response time pada operasi SAR dalam penanganan musibah/ bencana ini berasal dari sasaran strategis sebagai berikut : 1) Meningkatnya pelayanan dalam penyelenggaraan operasi SAR; 2) Meningkatkan kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana Penjelasan dari perhitungan sasaran tersebut adalah sebagai berikut: 1) Meningkatnya pelayanan dalam penyelenggaraan operasi SAR. Pencapaian sasaran ini dapat dilihat dari capaian 4 (empat) indikator kinerja sasarannya, sebagai berikut : Tabel 3.4. Indikator Kinerja Sasaran Meningkatnya Pelayanan Dalam Penyelenggaraan Operasi SAR Indikator Kinerja Target Realisasi Rata-rata response time pada penanganan musibah pelayaran Rata-rata response time pada penanganan musibah penerbangan Rata-rata response time pada penanganan bencana Rata-rata response time pada penanganan musibah lain-lain 2 jam 1 jam 4 menit 1 jam 41 menit 1 jam 31 menit 2 jam 47 menit Rata-rataresponse time adalah ukuran seberapa cepat upaya pencarian dan pertolongan pada tindak awal musibah pelayaran, musibah penerbangan, bencana dan musibah lain-lain yang ditentukan berdasarkan diterimanya berita musibah hingga kesiapan personil/sar Rescue Unit (SRU) untuk mobilisasi ke lokasi. Rumus perhitungan dari response time dapat dilihat di bawah ini. Keterangan : T 1 = Waktu Precom-Excom T 2 = Waktu Briefing T 3 = Waktu Persiapan Keberangkatan Tim/ Personil SAR 44
45 Data response time dari musibah yang ditangani Basarnas Tahun 2014 dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 3.5. Data Response Time Tahun 2014 REALISASI CAPAIAN (menit) NO. KANTOR SAR Musibah Musibah Musibah Bencana Pelayaran Penerbangan lain-lain 1. Kantor SAR Banda Aceh 88, ,58 57,32 2. Kantor SAR Medan 162, ,33 103,91 3. Kantor SAR Pekanbaru 93, ,00 36,92 4. Kantor SAR Padang 67, ,83 42,61 5. Kantor SAR Tanjung Pinang 39, ,00 6. Kantor SAR Palembang 80, ,42 7. Kantor SAR Jakarta 11, ,27 76,67 8. Kantor SAR Semarang 46, ,32 67,11 9. Kantor SAR Surabaya 56, ,58 20, Kantor SAR Denpasar 86, ,25 34, Kantor SAR Mataram 96,33 70,00 23,22 53, Kantor SAR Pontianak 34, ,50 33, Kantor SAR Banjarmasin 26, ,00 52, Kantor SAR Balikpapan 14,60 50,00 75,00 52, Kantor SAR Kupang 78, ,00 22, Kantor SAR Makassar 36, ,75 24, Kantor SAR Manado 118,61 20,00 26,25 26, Kantor SAR Kendari 31, , Kantor SAR Ambon 161, , Kantor SAR Sorong 75, , Kantor SAR Timika 62, , Kantor SAR Biak 47, , Kantor SAR Jayapura 30,83 8,50 58,17 25, Kantor SAR Merauke 25, , Kantor SAR Bengkulu 28, ,00 59, Kantor SAR Jambi 41, ,50 32, Kantor SAR Pangkal Pinang 24, ,67 67, Kantor SAR Lampung 75, , Kantor SAR Bandung 75,00 60,00 55,72 82, Kantor SAR Gorontalo 102, ,00 25, Kantor SAR Palu 43, ,67 27, Kantor SAR Ternate 141, ,00 95, Kantor SAR Manokwari 35, ,00 21,00 64,77 41,70 31,61 47,67 RATA - RATA 1 jam 4 menit 41 menit 31 menit 47 menit 45
46 Tabel 3.6. Data Response Time Tahun 2013 NO BULAN PELAYARAN PENERBANGAN BENCANA LAINNYA 1 Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember menit 42 menit 33 menit 51 menit RATA-RATA 1 jam 6 menit 42 menit 33 menit 51 menit Tabel 3.7. Data Response Time Tahun 2012 NO BULAN PELAYARAN PENERBANGAN BENCANA LAINNYA 1 Januari 283,95-18,50 107,62 2 Pebruari 154,30-187,56 109,27 3 Maret 182,27 15,00 45,44 63,72 4 April 175,39 238,00 28,83 85,30 5 Mei 140,61 107,50 51,43 37,71 6 Juni 279,53 15,00 15,00 104,91 7 Juli 141,37-45,00 78,17 8 Agustus 244,97 305,00 174,17 58,09 9 September 453,72 195,00 28,33 88,48 10 Oktober 213,60-55,00 210,32 11 Nopember 181,90 5,00 64,65 63,30 12 Desember 367,02 43,00 48,56 125,05 RATA-RATA 170 menit 67 menit 50 menit 71 menit 2 jam 50 menit 1 jam 7 menit 50 menit 1 jam 11 menit 46
47 Tabel 3.8. Data Response Time Tahun 2011 NO BULAN PELAYARAN PENERBANGAN BENCANA LAIN-LAIN 1 Januari 41, ,5 83,56 2 Pebruari 293, ,33 65,45 3 Maret 129, ,33 29,04 4 April 375, ,5 192,79 5 Mei 289, ,67 98,11 6 Juni 316, ,79 7 Juli 187, ,38 8 Agustus 284, ,72 9 September 169,88 24,67 37, Oktober 162, ,67 139,66 11 November 98, , Desember 240, ,14 105, menit 92 menit 67 menit 92 menit RATA-RATA 3 Jam 35 Menit 1 Jam 32 Menit 1 Jam 7 Menit 1 Jam 32 Menit Berikut penjabaran dari indikator-indikator yang mendukung sasaran meningkatnya pelayanan dalam penyelenggaraan operasi SAR pada tahun a) Response Time pada musibah pelayaran Rata-rata response time pada musibah pelayaran Tahun 2014 adalah 1 jam 4,77 menit dari target sebesar 2 jam, sehingga telah memenuhi target dengan capaian kinerja sebesar 146,02%. Apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya maka rata-rata response time pada musibah pelayaran pada tahun 2014 mengalami kenaikan atau lebih cepat, yaitu dari rata-rata response time selama 5 jam 10 menit pada tahun 2010, 3 jam 35 menit pada tahun 2011, 2 jam 50 menit pada tahun 2012, 1 jam 6 menit pada tahun 2013 menjadi 1 jam 4menit pada tahun
48 Perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Response Time Pada Musibah Pelayaran 6:00:00 5:10:00 4:48:00 3:36:00 3:35:00 2:50:00 2:24:00 1:12:00 0:00:00 1:06:00 1:04: Gambar 3.2. Perbandingan Response Time pada Musibah Pelayaran Tabel 3.9. Tabel Perbandingan Response Time pada Musibah Pelayaran Tahun Target Realisasi Tahun jam 5 jam 10 menit Tahun jam 3 jam 35 menit Tahun jam 2 jam 50 menit Tahun jam 1 jam 6 menit Tahun jam 1 jam 4 menit Berikut prosentase jumlah korban terselamatkan pada musibah pelayaran. 150,00% Persentase Jumlah Korban Terselamatkan Pada Musibah Pelayaran 100,00% 83,31% 87,38% 93,39% 93,65% 85,87% 50,00% 0,00%
49 Tabel Perbandingan Response Time dengan Persentase Jumlah Korban Terselamatkan pada Musibah Pelayaran Tahun Target Realisasi Persentase Jumlah Korban Terselamatkan Tahun jam 5 jam 10 menit 83,31% Tahun jam 3 jam 35 menit 87,38% Tahun jam 2 jam 50 menit 93,39% Tahun jam 1 jam 6 menit 93,65% Tahun jam 1 jam 4 menit 85,87% b) Response Time pada musibah penerbangan Rata-rata response time pada musibah penerbangan Tahun 2014 adalah 41 menit dari target 1 jam, sehingga telah memenuhi target. Apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya maka rata-rata response time pada musibah penerbangan pada tahun 2014 mengalami kenaikan atau lebih cepat, yaitu dari rata-rata response time selama 2 jam 05 menit pada tahun 2010, 1 jam 32 menit pada tahun 2011, 1 jam 07 menit pada tahun 2012, 42 menit pada tahun 2013 menjadi 41 menit pada tahun Perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Response Time Pada Musibah Penerbangan 2:24:00 2:05:00 1:55:12 1:26:24 0:57:36 0:28:48 1:32:00 1:07:00 0:42:00 0:41:00 0:00: Gambar 3.3. Perbandingan Response Time pada Musibah Penerbangan 49
50 Tabel Tabel Perbandingan Response Time pada Musibah Penerbangan Tahun Target Realisasi Tahun jam 2 jam 05 menit Tahun jam 1 jam 32 menit Tahun jam 1 jam 07 menit Tahun jam 42 menit Tahun jam 41 menit Berikut prosentase jumlah korban terselamatkan pada musibah penerbangan. 150,00% Persentase Jumlah Korban Terselamatkan Pada Musibah Penerbangan 100,00% 99,34% 79,19% 92,87% 94,66% 78,46% 50,00% 0,00% Tabel Perbandingan Response Time dengan Persentase Jumlah Korban Terselamatkan pada Musibah Penerbangan Tahun Target Realisasi Persentase Jumlah Korban Terselamatkan Tahun jam 2 jam 05 menit 99,34% Tahun jam 1 jam 32 menit 79,19% Tahun jam 1 jam 07 menit 92,87% Tahun jam 42 menit 94,66% Tahun jam 41 menit 78,46% 50
51 c) Response Time pada bencana Rata-rata response time pada bencana Tahun 2014 adalah 31 menit dari target 1 jam, sehingga telah memenuhi target. Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya maka rata-rata response time pada bencana pada tahun 2014 mengalami kenaikan atau lebih cepat, yaitu dari rata-rata response time selama 1 jam 7 menit pada tahun 2011, 50 menit pada tahun 2012, 33 menit pada tahun 2013 menjadi 31 menit pada tahun Sedangkan pada tahun 2010 ratarata response time pada bencana selama 3 jam 11 menit. Perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Response Time Pada Bencana 3:21:36 2:52:48 2:24:00 1:55:12 1:26:24 0:57:36 0:28:48 0:00:00 3:11:00 1:07:00 0:50:00 0:33:00 0:31: Gambar 3.4. Perbandingan Response Time pada Bencana Tabel Tabel Perbandingan Response Time pada Bencana Tahun Target Realisasi Tahun jam 3 jam 11 menit Tahun jam 1 jam 7 menit Tahun jam 50 menit Tahun jam 33 menit Tahun jam 31 menit 51
52 Berikut prosentase jumlah korban terselamatkan pada bencana. 150,00% Persentase Jumlah Korban Terselamatkan Pada Bencana 100,00% 98,39% 99,23% 98,88% 50,00% 44,19% 51,50% 0,00% Tabel Perbandingan Response Time dengan Persentase Jumlah Korban Terselamatkan pada Bencana Tahun Target Realisasi Persentase Jumlah Korban Terselamatkan Tahun jam 3 jam 11 menit 44,19% Tahun jam 1 jam 7 menit 51,50% Tahun jam 50 menit 98,39% Tahun jam 33 menit 99,23% Tahun jam 31 menit 98,88% d) Response Time pada musibah lain-lain Rata-rata response time pada musibah lain-lain Tahun 2014 adalah 47 menit dari target 2 jam, sehingga telah memenuhi target. Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya maka rata-rata response time pada musibah lainnya pada tahun 2014 mengalami kenaikan atau lebih cepat, yaitu dari rata-rata response time selama 1 jam 32 menit pada tahun 2011, 1 jam 11 menit pada tahun 2012, 51 menit pada tahun 2013 menjadi 47 menit pada tahun Sedangkan pada tahun 2010 rata-rata response time pada musibah lainnya selama 4 jam 44 menit. 52
53 Pada musibah lainnya sebagian besar berita yang diterima berasal dari masyarakat sehingga diperlukan konfirmasi ke tempat yang dilaporkan telah terjadi musibah. Konfirmasi tersebut dimaksudkan selain untuk memastikan kebenaran musibah, juga untuk memastikan musibah apa yang terjadi sehingga dapat dijadikan acuan penyiapan personil dan peralatan SAR pada musibah dimaksud. Response Time Pada Musibah Lainnya 6:00:00 4:48:00 4:44:00 3:36:00 2:24:00 1:12:00 1:32:00 1:11:00 0:51:00 0:47:00 0:00: Gambar 3.5. Perbandingan Response Time pada Musibah Lainnya Tabel Tabel Perbandingan Response Time pada Musibah Lainnya Tahun Target Realisasi Tahun jam 4 jam 44 menit Tahun jam 1 jam 32 menit Tahun jam 1 jam 11 menit Tahun jam 51 menit Tahun jam 47 menit Berikut prosentase jumlah korban terselamatkan pada musibah lainnya. 150,00% Persentase Jumlah Korban Terselamatkan Pada Musibah Lainnya 100,00% 50,00% 30,76% 59,22% 80,83% 50,84% 60,65% 0,00%
54 Tabel Perbandingan Response Time dengan Persentase Jumlah Korban Terselamatkan pada Bencana Tahun Target Realisasi Persentase Jumlah Korban Terselamatkan Tahun jam 3 jam 11 menit 30,76% Tahun jam 1 jam 7 menit 59,22% Tahun jam 50 menit 80,83% Tahun jam 33 menit 50,84% Tahun jam 31 menit 60,65% Persentase capaian kinerja rata-rata response time pada penanganan musibah pelayaran, musibah penerbangan, bencana dan musibah lain-lain sudah mencapai target atau lebih dari 100%. Hal tersebut dapat menggambarkan kinerja Basarnas yang semakin baik, Berikut ini adalah data yang menggambarkan semakin cepat response time yang dimiliki Basarnas, semakin banyak jumlah korban yang terselamatkan dan ditemukan. Tabel Tabel Perbandingan Persentase Korban Terselamatkan dan Persentase Korban Ditemukan Tahun Pelayaran Penerbangan Bencana Jenis Musibah Persentase korban terselamatkan Persentase korban ditemukan Tahun ,31% 91,81% Tahun ,38% 95,22% Tahun ,39% 95,21% Tahun ,65% 96,49% Tahun ,87% 92,45% Tahun ,34% 100% Tahun ,19% 100% Tahun ,50% 100% Tahun ,66% 100% Tahun ,46% 93,85% Tahun ,19% 86,17% Tahun ,50% 94,74% Tahun ,18% 99,73% Tahun ,23% 99,93% Tahun ,88% 99,85% 54
55 Musibah Lainnya Jenis Musibah Persentase korban terselamatkan Persentase korban ditemukan Tahun ,76% 91,28% Tahun ,22% 92,66% Tahun ,55% 98,22% Tahun ,84% 92,73% Tahun ,65% 95,98% Dari uraian diatas maka dapat dinyatakan bahwa pencapaian kinerja melalui sasaran strategis Pelayanan dalam Penyelenggaraan Operasi SAR meningkat baik dilihat dari sisi pencapaian target kinerja Tahun Peningkatan kinerja ini terjadi karena adanya sosialisasi yang terus dilakukan oleh Basarnas dan Kantor SAR di daerah dan selalu siap siaga dalam melaksanakan tindak awal yang maksimal serta pengerahan potensi SAR yang didukung oleh sumber daya manusia yang profesional, fasilitas SAR yang memadai, dan prosedur kerja yang mantap. 2) Meningkatnya kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana. Pencapaiansasaran ini dapat dilihat dari capaian 3 (tiga) indikator kinerja sasarannya yaitu sebagai berikut : Tabel Indikator Kinerja Sasaran Meningkatnya kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana Indikator Kinerja Target Realisasi Rata-rata waktu tindak awal dalam penyelenggaraan operasi SAR Persentase kecukupan personil siaga rescuer pada Kantor SAR Persentase cakupan wilayah yang mampu dijangkau 10 menit 10 menit 100% 50% 84% 103% Untuk mewujudkan keberhasilan dalam penyelenggaraan setiap operasi SAR, maka harus didukung dengan adanya kesiapsiagaan personil dan sarana SAR yang memadai. Siaga SAR adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk 55
56 memonitor, mengawasi, mengantisipasi, dan mengkoordinasikan kegiatan SAR dalam musibah dan bencana. Berikut penjabaran dari indikator-indikator pendukung sasaran strategis meningkatkan kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana. a) Rata-rata waktu tindak awal dalam penyelenggaraan operasi SAR Waktu tindak awal dalam penyelenggaraan operasi SAR adalah untuk mengukur seberapa cepat upaya mencari kebenaran informasi musibah/ bencana yang diterima dengan alat komunikasi (dimana tahapan ini disebut preliminary communication extended communication) untuk dapat ditindaklanjuti. Tindak awal pelaksanaan operasi SAR dilakukan apabila laporan berita terjadinya musibah/ bencana berasal dari sumber yang dianggap belum jelas kebenarannya, misalnya adanya signal distress yang diterima oleh satelit atau laporan dari individu/ perusahaan. Tabel Perbandingan rata-rata waktu tindak awal Tahun Target Realisasi menit 21 menit menit 15 menit menit 10 menit menit 10 menit menit 10 menit Rata-rata waktu tindak awal dalam penyelenggaraan operasi SAR pada Tahun 2014 tetap apabila dibandingkan dengan tahun 2012 dan 2013 sedangkan jika dibandingkan dengan rata-rata waktu tindak awal tahun 2011 dan 2010 mengalami kenaikan, yaitu 15 menit pada tahun 2011 dan 21 menit pada Tahun Berikut grafik perbandingan rata-rata tindak awal dalam penyelenggaraan operasi SAR Tahun
57 Rata-rata waktu tindak awal 0:28:48 0:21:36 0:14:24 0:07:12 0:21:00 0:15:00 0:10:00 0:10:00 0:10:00 0:00: Gambar 3.6. Perbandingan Rata-rata Waktu Tindakan Awal b) Persentase kecukupan personil siaga rescuer pada Kantor SAR Kesiapsiagaan yang dilakukan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana dilakukan selama 24 (dua puluh empat) jam yang meliputi siaga rescuer, siaga komunikasi, siaga Awak Buah Kapal (ABK), dan siaga kepala jaga harian (Kajahar). Kecukupan personil siaga terutama siaga rescuer berpengaruh besar pada keberhasilan operasi SAR yang efektif dan efisien. Saat ini pelaksanaan siaga rescuer pada Kantor SAR rata-rata dilaksanakan oleh 6 (enam) personil, sedangkan standar siaga rescuer sebanyak 12 (duabelas) personil hal tersebut dikarenakan masih terbatasnya ketersediaan anggaran siaga rescuer yang ada dalam DIPA Basarnas. Di samping itu jumlah personil siaga masih belum sesuai dengan kebutuhan. Masih kurangnya personil dalam siaga rescuer sangat berpengaruh terhadap kinerja Basarnas khususnya response time dikarenakan apabila terjadi musibah/ bencana, maka masih harus menunggu kelengkapan jumlah rescuer untuk berkumpul karena personil yang melakukan siaga rescuer rata-rata hanya 6 (enam) personil. Untuk mengatasi kekurangan personil rescuer tersebut Basarnas telah mengajukan penambahan tenaga rescuer dari penerimaan pegawai baru pada Tahun Anggaran 2014, namun belum dapat menambah kekurangan personil karena personil rescuer baru belum dapat mulai 57
58 melaksanakan tugas pada tahun Berikut grafik perbandingan persentase kecukupan personil siaga rescuer Tahun PROSENTASE KECUKUPAN PERSONIL SIAGA RESCUER PADA KANTOR SAR 50,00% 50,00% 50,00% 50,00% 50,00% Gambar 3.7. Perbandingan Persentase Kecukupan Personil Siaga Rescuer Pada Kantor SAR c) Persentase cakupan wilayah yang mampu dijangkau Kecepatan dan keberhasilan operasi SAR juga sangat dipengaruhi oleh jumlah sebaran kantor SAR yang berada di seluruh Indonesia, semakin banyak jumlah Kantor SAR maka pelaksanaan operasi SAR akan semakin cepat. Apabila dilihat dari jumlah provinsi maka jumlah kantor SAR yang dirasa masih kurang, karena masih ada beberapa kantor SAR yang memiliki wilayah tanggungjawab 2 (dua) sampai 3 (tiga) provinsi, sehingga masih perlu diadakan penambahan Kantor SAR. Sesuai dengan Peraturan Kepala Badan SAR Nasional Nomor : PK. 20 Tahun 2014 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Kepala Badan SAR Nasional Nomor PK.19 Tahun 2012 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kantor Search And Rescue (SAR), serta Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor : B/3546/M.PAN-RB/9/2014 tanggal 23 September 2014 Perihal : Kriteria Klasifikasi Kantor SAR dan Peningkatan Eselon Kantor SAR, jumlah Kantor SAR dan Pos SAR terdiri atas : - 13 (tiga belas) lokasi Kantor SAR Kelas A; - 21 (dua puluh satu) lokasi Kantor SAR Kelas B; 58
59 - 65 (enam puluh lima) lokasi Pos SAR. Dari 34 Kantor SAR yang dimiliki Basarnas maka persentase cakupan wilayah yang mampu dijangkau terealisasi sebesar 103% dari target sebesar 84% atau telah memenuhi target. Apabila dibandingkan dengan Tahun 2012 dan 2013 maka Persentase cakupan wilayah yang mampu dijangkau mengalami kenaikan, yaitu sebesar 72,72 pada tahun 2012 dan sebesar 100% pada tahun Berikut koordinat letak 34 (tiga puluh empat) Kantor SAR dan 65 (enam puluh lima) Pos SAR. Tabel Koordinat Kantor SAR dan Pos SAR NO KANTOR SAR KOORDINAT 1 MEDAN 03⁰ 33' 7.62'' LU - 098⁰ 31' 11.82'' BT Pos SAR Tanjung Balai Pos SAR Sibolga Pos SAR Nias 02⁰ 59' 33.48'' LU - 099⁰ 50' 57.9'' BT 01⁰ 42' 7.44'' LU - 098⁰ 49' 24.3'' BT 01⁰ 13' 55.86'' LU - 097⁰ 39' 8.22'' BT 2 PADANG 00⁰ 48' 29.8''LS - 100⁰ 19' 32.5'' BT Pos SAR Pasaman Pos SAR Kepulauan Mentawai 00⁰ 07' 46.4''LU - 099⁰ 52' 19.3'' BT 2⁰ 58' 44" LS - 100⁰ 21' 50" E 3 BENGKULU 03⁰ 52' 42.3''LS - 102⁰ 20' 52.5'' BT 4 JAKARTA 06⁰ 07' 35.00'' LS - 106⁰ 39' 20'' BT Pos SAR Sukabumi Pos SAR Banten 06⁰ 54' 46.00'' LS - 106⁰ 56' 01'' BT 05⁰ 56' 07.00'' LS - 106⁰ 00' 02'' BT 5 BANDUNG 06⁰ 57' 58.00'' LS - 107⁰ 40' 30'' BT Pos SAR Cirebon 06⁰ 40' 24.58'' LS - 108⁰ 25' 17'' BT 6 SEMARANG 07⁰ 00' 03'' LS - 110⁰ 20' 23.84'' BT Pos SAR Jepara Pos SAR Cilacap Pos SAR Surakarta 06⁰ 37' 41'' LS - 110⁰ 42' 30'' BT 07⁰ 43' 9.47'' LS - 109⁰ 01' 2.32'' BT 07⁰ 34' 24'' LS - 110⁰ 48' 59'' BT 59
60 NO KANTOR SAR KOORDINAT 7 SURABAYA 07⁰ 22' 15.79'' LS - 112⁰ 46' 41.82'' BT Pos SAR Trenggalek Pos SAR Jember 08⁰ 05' 14.59'' LS - 111⁰ 42' 38.98'' BT 08⁰ 06' 20.48'' LS - 113⁰ 44' 15.02'' BT 8 DENPASAR 08⁰ 47' 25'' LS - 115⁰ 09' 48'' BT Pos SAR Karangasem Pos SAR Jembrana Pos SAR Buleleng 08⁰ 28' 56'' LS - 115⁰ 37' 20'' BT 08⁰ 20' 36.8'' LS - 114⁰ 34' 03.7'' BT 08⁰ 6' 43" LS - 115⁰ 5' 28" BT 9 MANADO 01⁰ 24' 05.16'' LU - 125⁰ 00' 52.00'' BT Pos SAR Amurang Pos SAR Tahuna 01⁰ 11' 25.66'' LU - 125⁰ 34' 46.96'' BT 03⁰ 37' 0'' LU - 125⁰ 29' 0'' BT 10 GORONTALO 00⁰ 33' 21.86'' LU - 123⁰ 03' 59.63'' BT Pos SAR Gorontalo Utara 00⁰ 49' 39'' LU - 122⁰ 55' 8'' BT 11 MAKASSAR 05⁰ 04' 19.26'' LS - 119⁰ 32' 39.42'' BT Pos SAR Bone Pos SAR Selayar Pos SAR Mamuju 04⁰ 34' 14.58'' LS - 120⁰ 22' 48'' BT 06⁰ 08' 28.2'' LS - 120⁰ 27' 12.12'' BT 2⁰ 41' 53 LS - 118⁰ 51' 50 BT 12 BIAK 01⁰ 11' 17'' LS - 136⁰ 7' 7'' BT Pos SAR Nabire Pos SAR Serui 03⁰ 18' 00'' LS - 135⁰ 34' 00'' BT 01⁰ 52' 00'' LS - 136⁰ 13' 30'' BT 13 BANDA ACEH 05⁰ 31' 12.04'' LU - 95⁰ 19' 21.97'' BT Pos SAR Kutacane Pos SAR Meulaboh Pos SAR Langsa Pos Simeuleu 03⁰ 25' 10.80'' LU - 97⁰ 53' 07.56'' BT 04⁰ 08' 26.14'' LU - 96⁰ 9' 39.15'' BT 04⁰ 08' 43'' LU - 97⁰ 57' 30'' BT 05⁰ 55' 0'' LU - 95⁰ 0' 29'' BT 14 PEKANBARU 00⁰ 28' 10'' LU - 101⁰ 27' 05'' BT Pos SAR Bengkalis 01⁰ 28' 31'' LU - 102⁰ 08' 42'' BT 15 PALEMBANG 02⁰ 53' 54'' LS - 104⁰ 42' 56'' BT Pos SAR Pagar Alam 04⁰ 0' 57'' LS - 103⁰ 14' 58,3'' BT 16 LAMPUNG 05⁰ 18' 42'' LS - 105⁰ 11' 15'' BT 17 TANJUNG PINANG 00⁰ 54' 9.36'' LU - 104⁰ 29' 12'' BT Pos SAR Pulau Natuna Besar 03⁰ 54' 43.92'' LU - 108⁰ 20' 41.58'' BT 60
61 NO KANTOR SAR KOORDINAT Pos SAR Tanjung Balai Karimun Pos SAR Batam Pos SAR Anambas 01⁰ 01' 26.46'' LU - 103⁰ 23' 33.06'' BT 01⁰ 02' 38'' LU - 104⁰ 1' 51'' BT 03⁰ 13' 50,2'' LU - 106⁰ 13' 46.2'' BT 18 MATARAM 08⁰ 37' 53'' LS - 116⁰ 07' 34'' BT Pos SAR Kayangan Pos SAR Wadu Mbolo 08⁰ 28' 51'' LS - 116⁰ 40' 42'' BT 08⁰ 31' 2.5'' LS - 118⁰ 41' 21.6' BT (Bima) 19 KUPANG 10⁰ 10' 19.2''LS - 123⁰ 39' 18.66'' BT Pos SAR Mabar Labuan Bajo Pos SAR Maumere Pos SAR Waingapu 08⁰ 32' 00''LS - 119⁰ 52' 00'' BT 08⁰ 36' 00'' LS - 122⁰ 12' 00'' BT 09⁰ 38' 372'' LS - 120⁰ 15' 180'' BT 20 KENDARI 04⁰ 02' 26.3'' LS - 122⁰ 29' 19.05'' BT Pos SAR Bau-bau/ Buton Pos SAR Kolaka Pos SAR Wakatobi 05⁰ 30' 43.25'' LS - 122⁰ 33' 38.70'' BT 04⁰ 03' 55'' LS - 121⁰ 36' 29'' BT 05⁰ 18' 59'' LS - 123⁰ 35' 00'' BT 21 PONTIANAK 00⁰ 08' 10.38'' LS - 109⁰ 24' 26.7'' BT Pos SAR Sintete Pos SAR Ketapang 01⁰ 11' 07.98'' LS - 109⁰ 03' 03.73'' BT 01⁰ 46' LS - 109⁰ 56' BT 22 BALIKPAPAN 01⁰ 15' 35'' LS - 116⁰ 53' 53'' BT Pos SAR Tarakan Pos SAR Sangatta Pos SAR Nunukan 03⁰ 20' 44'' LU - 117⁰ 34' 15'' BT 00⁰ 30' 50'' LU - 117⁰ 34' 34'' BT 04⁰ 3' 32'' LU - 117⁰ 39' 57'' BT 23 BANJARMASIN 3⁰ 27' LS - 114⁰ 46' BT Pos SAR Sampit Pos SAR Kotabaru 02⁰ 33' LS - 112⁰ 57' BT 03⁰ 14' LS - 116⁰ 15' BT 24 PALU 0⁰ 54' 2,94 LS - 119⁰ 53' 5,4 BT Pos SAR Luwuk Banggai 2⁰ 20' 0'' LU - 124⁰ 20' 0'' BT 61
62 NO KANTOR SAR KOORDINAT 25 TERNATE 00⁰ 45' 43,64 LS - 127⁰ 19' 00,77 BT Pos SAR Tobelo 01⁰ 57' 0'' LU - 128⁰ 17' 0'' BT 26 AMBON 3⁰ 42' 18'' LS - 128⁰ 05' 24'' BT Pos SAR Namlea Pos SAR Banda Pos SAR Tual Pos SAR Saumlaki 03⁰ 16' LS - 127⁰ 05' BT 04⁰ 31' LS - 129⁰ 54' BT 05⁰ 38' LS - 132⁰ 40' BT 7⁰ 58' 18 LS - 131⁰ 19' 18 BT 27 SORONG 00⁰ 53' 23.3'' LS - 131⁰ 19' 23.2'' BT Pos SAR Fak-fak Pos SAR Raja Ampat 02⁰ 55' 25.44'' LS - 132⁰ 13' 6.96'' BT 0⁰ 48' 4 LS - 130⁰ 26' 35 BT 28 TIMIKA 04⁰ 31' 30" LS - 136⁰ 52' 07" BT Pos SAR Agats Pos SAR Kaimana 05⁰ 31' LS - 138⁰ 09' BT 03⁰ 38' 43 LS - 133⁰ 42' 20 BT 29 JAYAPURA 2⁰ 44' 11.86'' LS - 140⁰ 31' 58.71'' BT Pos SAR Wamena Pos SAR Sarmi Pos SAR Oksibil 4⁰ 05' 46.29'' LS - 138⁰ 56' 52.50'' BT 1⁰ 51' 33.88'' LS - 138⁰ 44' 45.40'' BT 05⁰ 4' 48 LS - 137⁰ 10' 48 BT 30 MERAUKE 08⁰ 31' 7.08'' LS - 140⁰ 24' 43.74'' BT Pos SAR Okaba Pos SAR Boven Digoel 08⁰ 05' 42.8'' LS - 139⁰ 43' 15.4'' BT 05⁰ 48' LS - 140⁰ 18' BT 31 PANGKAL PINANG 02⁰ 07' LS - 106⁰ 06' 17'' BT Pos SAR Belitung 02⁰ 44' 1'' LU - 107⁰ 38' 07'' BT 32 MANOKWARI 00⁰ 53' 29.28'' LS - 134⁰ 02' 35.82'' BT 33 JAMBI 01⁰ 37' 59,04'' LS - 103⁰ 38' 51,42'' BT 34 Yogyakarta 07 48' 48.89" LS ' 44.36" BT 62
63 III.2.2.Indikator Kinerja Utama Keberhasilan evakuasi korban pada operasi SAR (98,62%) - Perbandingan antara target dengan realisasi kinerja tahun 2014 Capaian dari indikator kinerja utama keberhasilan evakuasi korban pada operasi SAR sebesar 98,62% dari target capaian sebesar 95% telah memenuhi target. - Perbandingan realisasi kinerja serta capaian kinerja tahun 2014 dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir Jumlah kejadian musibah/ bencana yang ditangani oleh Basarnas pada tahun 2014 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan jumlah kejadian musibah/ bencana yang ditangani Basarnas pada tahun 2013, yaitu sebanyak 1733 pada tahun 2013 menjadi 1639 Pada tahun Hal tersebut disebabkan karena jumlah kejadian musibah/ bencana tidak dapat diprediksi oleh manusia. Berikut perbandingan realisasi indikator kinerja utama keberhasilan evakuasi pada operasi SAR. Tabel Tabel Perbandingan Indikator Kinerja Utama Keberhasilan evakuasi korban pada operasi SAR Tahun Target Realisasi Tahun % 91% Tahun % 95,06% Tahun % 97,59% Tahun % 98,66% Tahun % 98,62% 63
64 - Analisis penyebab keberhasilanpeningkatan kinerja serta usaha-usaha yang telah dilakukan Pembinaan Potensi Kantor SAR Dalam salah satu nomenklaturnya, Direktorat Bina Ketenagaan dan Pemasyarakatan SAR (Ditbinga) melalui Kantor SAR mempunyai tanggung jawab melakukan pembinaan terhadap potensi SAR yang ada di daerah. Selama tahun 2014, setiap Kantor SAR Kelas A mendapat jatah 3 kali melaksanakan pelatihan SAR bagi Potensi SAR dan untuk Kantor SAR Kelas B mendapat jatah 2 kali. Dalam pelaksanaannya, pelatihan dibuka oleh pimpinan dari Kantor Pusat, dalam hal ini Deputi Bidang Potensi (Eselon 1) dan Direktur Bina Ketenagaan dan Pemasyarakatan SAR atau jika keduanya berhalangan dibuka oleh pejabat eselon III di Ditbinga atau jika berhalangan lagi oleh Kepala Kantor SAR setempat. Pelatihan bagi potensi SAR di masing-masing Kantor SAR tersebut harus mendapat asistensi atau melibatkan petugas observasi (observer) dari Ditbinga. Observasi ini mencakup semua aspek, mulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga pengakhiran pelatihan. Sedangkan jenis pelatihan bagi potensi SAR yang sudah dibakukan dan menjadi pedoman pelaksanaan pelatihan meliputi pelatihan water rescue, jungle rescue dan medical first responder Rapat Forum Koordinasi SAR Daerah (FKSD) Rapat Forum Koordinasi SAR Daerah yang telah dikembangkan menjadi Rapat Forum Koordinasi Potensi SAR Daerah (FKPSD) dilaksanakan untuk meningkatkan fungsi koordinasi seluruh stake holder bidang SAR di daerah. Dengan adanya FKPSD ini harapkan akan ada kesamaan pola pikir dan pola tindak dalam pelaksanaan operasi SAR dimana kekuatan Basarnas yang ada di daerah atau Kantor SAR dapat terintegrasi dengan potensi SAR sehingga pelaksanaan operasi SAR dapat berjalan efektif dan efisien serta mampu meminimalisir jumlah korban jiwa saat terjadi musibah baik kecelakaan, bencana maupun kondisi yang membahayakan jiwa manusia. Potensi SAR yang ada di daerah diantaranya unsur TNI, Polri, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota, BPBD, PMI, 64
65 Pemadam Kembakaran, Orari, Mapala, Pramuka, dan organisasi/institusi penggiat SAR Rapat FKPSD masih relevan dilaksanakan guna menyamakan persepsi, pola pikir maupun pola tindak dalam pelaksanaan operasi SAR. FKPSD ini juga menjadi wadah untuk koordinasi lintas sektoral dan merekatkan jalinan silaturahmi antara Kantor SAR dengan potensi SAR yang ada maupun antar Potensi SAR. Dengan FKPSD diharapkan akan mempercepat response time dan kerja sama di lapangan, sehingga pelaksanaan operasi SAR dapat berjalan optimal - Analisis atas efisiensi penggunaan sumber daya Basarnas dan Kantor SAR dapat terintegrasi dengan potensi SAR sehingga pelaksanaan operasi SAR dapat berjalan efektif dan efisien serta mampu meminimalisir jumlah korban jiwa saat terjadi musibah baik kecelakaan, bencana maupun kondisi yang membahayakan jiwa manusia. Potensi SAR yang ada di daerah diantaranya unsur TNI, Polri, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota, BPBD, PMI, Pemadam Kembakaran, Orari, Mapala, Pramuka, dan organisasi/institusi penggiat SAR - Analisis program/ kegiatan yang menunjang keberhasilan pencapaian kinerja Peningkatan sarana dan prasarana aparatur Basarnas. - Program ini lebih menekankan pada pembinaan dan peningkatan sarana dan prasarana aparatur Basarnas dalam mencapai visi dan misi. Program pengelolaan pencarian, pertolongan dan penyelamatan. - Program ini bertujuan pada pelaksanaan pengelolaan sarana dan prasarana SAR serta pembinaan pengawakan, terselenggaranya diklat SAR, pengelolaan operasi dan Latihan SAR, dan terlaksananya pengelolaan sistem peralatan komunikasi SAR 65
66 Perhitungan indikator kinerja utama ini mengukur persentase keberhasilan Basarnas dalam mengevakuasi korban pada operasi SAR yang ditangani pada Tahun Pengevakuasian korban yang dimaksud terdiri dari korban selamat, luka-luka maupun korban yang telah meninggal dunia. Pencapaian indikator kinerja utama ini didukung dari sasaran Tercapainya keberhasilan penyelamatan korban dalam penyelenggaraan operasi SAR. Penjelasan lebih lanjut dari pencapaian sasaran ini adalah sebagai berikut: 1) Tercapainya keberhasilan penyelamatan korban dalam penyelenggaraan operasi SAR.Pencapaian sasaran ini dapat diukur dari 2 (dua) indikator kinerja sasarannya, sebagai berikut : Tabel Indikator Kinerja Sasaran Tercapainya keberhasilan penyelamatan korban dalam penyelenggaraan operasi SAR Indikator Kinerja Target Realisasi Persentase jumlah korban terselamatkan dalam penyelenggaraan operasi SAR Persentase jumlah korban yang ditemukan dalam penyelenggaraan operasi SAR 90,00% 94,69% 95,00% 98,62% Apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya maka persentase capaian sasaran tercapainya keberhasilan penyelamatan korban dalam penyelenggaraan operasi SAR pada tahun 2014relatif mengalami kenaikan, namun mengalami sedikit penurunan jika dibandingkan dengan tahun Berikut penjabaran dari indikator-indikator yang mendukung sasaran tercapainya keberhasilan penyelamatan korban dan penyelenggaraan operasi SAR. a) Persentase jumlah korban terselamatkan dalam penyelenggaraan operasi SAR Tolok ukur keberhasilan Basarnas dalam melaksanakan operasi SAR dapat dilihat dari persentase jumlah korban yang terselamatkan dan ditemukan pada pelaksanaan operasi SAR. Dalam hal ini pengukuran 66
67 tersebut diambil dari rata-rata persentase jumlah korban pada musibah pelayaran, musibah penerbangan, bencana dan musibah lainnya. Untuk persentase jumlah korban terselamatkan dalam penyelenggaraan operasi SAR diukur dari jumlah korban selamat baik dalam keadaan sehat, luka ringan dan luka berat dari jumlah total korban musibah/ bencana yang terdata pada pelaksanaan tanggap darurat. Berikut ini dapat dilihat rumus perhitungan persentase jumlah korban terselamatkan. Pada tahun 2014 jumlah korban selamat yang berhasil dievakuasi oleh Basarnas dari total kejadian musibah/ bencana yang ditangani Basarnas sebanyak korban dari total korban sebanyak korban atau sebesar 94,69%. Sehingga capaian kinerja pada indikator ini telah memenuhi target sebesar 90%. Berikut perbandingan jumlah korban selamat yang telah ditangani oleh Basarnas dari tahun Tabel Perbandingan Persentase Jumlah Korban Selamat Tahun Tahun Jumlah Total Jumlah Korban Korban Selamat Persentase ,27% ,07% ,77% ,58% ,69% 67
68 b) Persentase jumlah korban yang ditemukan dalam penyelenggaraan operasi SAR Untuk persentase jumlah korban yang ditemukan diukur dari jumlah korban yang selamat dan meninggal dari jumlah total korban musibah/ bencana yang dilaporkan/ terdata. Berikut ini dapat dilihat rumus perhitungan persentase jumlah korban yang ditemukan dalam pelaksanaan operasi SAR : Pada tahun 2014 jumlah korban yang ditemukan dari total musibah/ bencana yang ditangani Basarnas sebanyak korban dari total korban sebanyak korban atau sebesar 98,62%. Sehingga capaian kinerja pada indikator ini memenuhi target sebesar 95%. Berikut perbandingan jumlah korban yang ditemukan oleh Basarnas dari tahun Tabel Perbandingan Persentase Jumlah Korban Yang Ditemukan Tahun Jumlah Total Jumlah Korban Korban Ditemukan Persentase ,82% ,06% ,59% ,66% % 68
69 Data musibah yang ditangani Basarnas dari Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2014 dijelaskan dibawah ini. Tabel Data Musibah Yang Ditangani Basarnas Tahun 2014 NO JENIS MUSIBAH JUMLAH KEJADIAN (KALI) JUMLAH KORBAN (ORANG) KORBAN SELAMAT (ORANG) PERSEN TASE JUMLAH KORBAN KORBAN PERSE MENINGGAL NTASE (ORANG) KORBAN HILANG (ORANG) PERSEN TASE PERSENTA SEHSL. OPS M.Pelayaran ,87% 284 6,58% 326 7,55% 92,45% 2 M. Penerbangan ,46% 10 15,38% 4 6,15% 93,85% 3 Bencana ,88% 258 0,97% 41 0,15% 99,85% 4 M. Lainnya ,65% ,33% 86 4,02% 95,98% TOTAL IV ,69% ,94% 457 1,38% 98,62% Dari tabel di atas dapat dilihat data musibah yang ditangani Basarnas Tahun Pada musibah pelayaran jumlah penanganan musibah sebanyak 607 kejadian dengan jumlah korban 4317 yang terdiri dari 3707 korban selamat (85,98%), 284 korban meninggal dunia (6,58%) dan 326 korban hilang (7,55%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 92,45%. - Pada musibah penerbangan jumlah penanganan musibah sebanyak 11 kejadian dengan jumlah korban 65 yang terdiri dari 51 korban selamat (78,46%), 10 korban meninggal dunia (15,38%) dan 4 korban hilang (6,15%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 93,85%. - Pada bencana jumlah penanganan musibah sebanyak 189 kejadian dengan jumlah korban yang terdiri dari korban selamat (98,88%), 258 korban meninggal dunia (0,97%) dan 41 korban hilang (0,15%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 99,85%. - Pada musibah lain-lain jumlah penanganan musibah sebanyak 832 kejadian dengan jumlah korban 2137 yang terdiri dari 1296 korban selamat (60,65%), 755 korban meninggal dunia (35,33%) dan 86 korban hilang (4,02%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 95,98%. 69
70 Tabel Data Musibah Yang Ditangani Basarnas Tahun 2013 JUMLAH JUMLAH JENIS NO KEJADIAN KORBAN KORBAN MUSIBAH PERSENTA (KALI) (ORANG) SELAMAT SE (ORANG) JUMLAH KORBAN KORBAN PERSENTA MENINGGAL SE (ORANG) KORBAN PERSENTA PERSENTA HILANG SE HSL. SE (ORANG) OPS M. Pelayaran ,65% 336 2,83% 416 3,51% 96,49% 2 M. Penerbangan ,66% 15 5,34% 0 0,00% 100,00% 3 Bencana ,23% 197 0,699% 19 0,067% 99,96% 4 Musibah Lainlain ,84% ,89% 130 7,27% 92,73% JUMLAH ,58% ,08% 565 1,34% 98,66% Dari tabel di atas dapat dilihat data musibah yang ditangani Basarnas Tahun Pada musibah pelayaran jumlah penanganan musibah sebanyak 617 kejadian dengan jumlah korban yang terdiri dari korban selamat (93,65%), 336 korban meninggal dunia (2,83%) dan 416 korban hilang (3,51%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 96,49%. - Pada musibah penerbangan jumlah penanganan musibah sebanyak 11 kejadian dengan jumlah korban 281 yang terdiri dari 266 korban selamat (94,66%) dan 15 korban meninggal dunia (5,34%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 100%. - Pada bencana jumlah penanganan musibah sebanyak 896 kejadian dengan jumlah korban yang terdiri dari korban selamat (99,23%), 197 korban meninggal dunia (0,699%) dan 19 korban hilang (0,067%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 99,96%. - Pada musibah lain-lain jumlah penanganan musibah sebanyak 209 kejadian dengan jumlah korban 1788 yang terdiri dari 909 korban selamat (50,84%), 749 korban meninggal dunia (41,89%) dan 130 korban hilang (7,27%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 92,73%. 70
71 Tabel Data Musibah Yang Ditangani Basarnas Tahun 2012 JUMLAH KORBAN JUMLAH JUMLAH PERSEN JENIS NO KEJADIAN KORBAN KORBAN KORBAN KORBAN TASE MUSIBAH PERSEN PERSEN PERSEN (KALI) (ORANG) SELAMAT MENINGGAL HILANG TASE TASE TASE HSL. (ORANG) (ORANG) (ORANG) OPS M. Pelayaran ,39% 168 1,78% 457 4,84% 95,16% 2 M. Penerbangan ,87% 69 7,13% 0 0,00% 100,00% 3 Bencana ,39% 128 1,34% 25 0,26% 99,74% 4 Musibah Lainlain ,83% ,82% 72 2,35% 97,65% JUMLAH ,77% 881 3,83% 554 2,41% 97,59% Dari tabel di atas dapat dilihat data musibah yang ditangani Basarnas Tahun Pada musibah pelayaran jumlah penanganan musibah sebanyak 460 kejadian dengan jumlah korban 9451 yang terdiri dari 8826 korban selamat (93,39%), 168 korban meninggal dunia (1,78%) dan 457 korban hilang (4,84%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 95,16%. - Pada musibah penerbangan jumlah penanganan musibah sebanyak 21 kejadian dengan jumlah korban 968 yang terdiri dari 899 korban selamat (92,87%) dan 69 korban meninggal dunia (7,13%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 100%. - Pada bencana jumlah penanganan musibah sebanyak 171 kejadian dengan jumlah korban 9530 yang terdiri dari 9377 korban selamat (98,39%), 128 korban meninggal dunia (1,34%) dan 25 korban hilang (0,26%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 99,74%. - Pada musibah lain-lain jumlah penanganan musibah sebanyak 581 kejadian dengan jumlah korban 3067 yang terdiri dari 2479 korban selamat (80,83%), 516 korban meninggal dunia (16,82%) dan 72 korban hilang (2,35%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 97,65%. 71
72 Tabel Data Musibah Yang Ditangani Basarnas Tahun 2011 JUMLAH KORBAN JUMLAH JUMLAH PERSEN JENIS NO KEJADIAN KORBAN KORBAN KORBAN KORBAN TASE MUSIBAH PERSEN PERSEN PERSEN (KALI) (ORANG) SELAMAT MENINGGAL HILANG TASE TASE TASE HSL. (ORANG) (ORANG) (ORANG) OPS M. Pelayaran ,38% 357 7,84% 218 4,78% 95,22% 2 M. Penerbangan ,19% 67 20,81% 0 0,00% 100,00% 3 Bencana ,50% ,23% 14 5,26% 94,74% 4 Musibah Lainlain ,22% ,44% 68 7,34% 92,66% JUMLAH ,07% ,98% 300 4,94% 95,06% Dari tabel di atas dapat dilihat data musibah yang ditangani Basarnas Tahun Pada musibah pelayaran jumlah penanganan musibah sebanyak 320 kejadian dengan jumlah korban 4556 yang terdiri dari 3981 korban selamat (87,38%), 357 korban meninggal dunia (7,84%) dan 218 korban hilang (4,78%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 95,22%. - Pada musibah penerbangan jumlah penanganan musibah sebanyak 16 kejadian dengan jumlah korban 322 yang terdiri dari 255 korban selamat (79,19%) dan 67 korban meninggal dunia (20,81%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 100%. - Pada bencana jumlah penanganan musibah sebanyak 92 kejadian dengan jumlah korban 266 yang terdiri dari 137 korban selamat (51,50%), 115 korban meninggal dunia (43,23%) dan 14 korban hilang (5,26%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 94,74%. - Pada musibah lain-lain jumlah penanganan musibah sebanyak 396 kejadian dengan jumlah korban 927 yang terdiri dari 549 korban selamat (59,22%), 310 korban meninggal dunia (33,44%) dan 68 korban hilang (7,34%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 92,66%. 72
73 Tabel Data Musibah Yang Ditangani Basarnas Tahun 2010 JUMLAH JUMLAH JUMLAH KORBAN PROSEN- NO JENIS KEJADIAN KORBAN KORBAN PROSEN- KORBAN PROSEN- KORBAN PROSEN- TASE MUSIBAH (KALI) SELAMAT TASE MENINGGAL TASE HILANG TASE HSL.OPS (ORANG) (ORANG) (ORANG) M. Pelayaran % % % 91.81% 2 M. Penerbangan % % % % 3 Bencana % % % 86.17% 4 Musibah Lain-lain % % % 91.28% JUMLAH % % % 90.82% Dari tabel di atas dapat dilihat data musibah yang ditangani Basarnas Tahun Pada musibah pelayaran jumlah penanganan musibah sebanyak 154 kejadian dengan jumlah korban 1684 yang terdiri dari 1403 korban selamat (83,31%), 143 korban meninggal dunia (8,49%) dan 138 korban hilang (8,19%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 91,81%. - Pada musibah penerbangan jumlah penanganan musibah sebanyak 7 kejadian dengan jumlah korban 755 yang terdiri dari 750 korban selamat (99,34%) dan 5 korban meninggal dunia (0,66%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 100%. - Pada bencana jumlah penanganan musibah sebanyak 92 kejadian dengan jumlah korban 1901 yang terdiri dari 840 korban selamat (44,19%), 798 korban meninggal dunia (41,98%) dan 263 korban hilang (13,83%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 86,17%. - Pada musibah lain-lain jumlah penanganan musibah sebanyak 397 kejadian dengan jumlah korban 608 yang terdiri dari 187 korban selamat (30,76%), 368 korban meninggal dunia (60,53%) dan 53 korban hilang (8,72%), dengan tingkat keberhasilan operasi sebesar 91,28%. 73
74 Berikut grafik perbandingan jumlah kejadian musibah yang ditangani Basarnas Tahun Jumlah Musibah Pelayaran Jumlah Musibah Penerbangan Jumlah Bencana Jumlah Musibah Lainnya Gambar 3.8. Perbandingan Jumlah Kejadian Musibah Yang Ditangani Basarnas Berikut grafik perbandingan jumlah korban musibah yang ditangani Basarnas Tahun Jumlah Korban Pada Musibah Pelayaran Jumlah Korban Pada Musibah Penerbangan Jumlah Korban Pada Bencana Jumlah Korban Pada Musibah Lainnya Gambar 3.9. Perbandingan Jumlah Kejadian Musibah Yang Ditangani Basarnas 74
75 Adapun perbandingan persentase korban yang selamat, ditemukan dalam keadaan meninggal dunia dan hilang dari Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2014, dapat dilihat pada grafik di bawah ini. Prosentase Jumlah Korban Musibah/ Bencana 100,00% 80,00% 60,00% 40,00% 64,27% 26,56% 81,07% 93,77% 95,58% 94,69% 20,00% 0,00% 13,98% 9,18% 4,94% 3,83% 3,94% 2,41% 3,08% 1,34% 1,38% Selamat Meninggal dunia Hilang Gambar Perbandingan Persentase Jumlah Korban Musibah/ Bencana 75
76 Berikut beberapa kejadian musibah dari 1639 kejadian yang terjadi pada tahun Tabel Beberapa Kejadian Musibah Yang Ditangani Basarnas Tahun 2014 JENIS MUSIBAH Musibah Pelayaran KEJADIAN MUSIBAH Kapal Tongkang Posh Mogami Tenggelam di Perairan Tanjung Pinggir Sekupang, Batam Pada hari Jumat tanggal 18 Juli 2014 pada pukul WIB Kantor SAR Tanjungpinang menerima telepon dari Bpk. Faisal (Ka Ops PLP TUB) bahwa kapal tongkang Type Semi Summersible Barge Posh Mogami tenggelam pada tanggal 18 Juli 2014 pukul Wib di perairaan Tanjung Pinggir Sekupang Batam dengan POB 9 (sembilan) orang, 6 (enam) orang selamat dan 3 (tiga) orang dalam pencarian. Dan telah dilakukan pencarian bersama anggota PLP TUB dan Pol Air Polda Kepri. Selanjutnya Kantor SAR Tanjungpinang diminta bantuan untuk melaksanakan pencarian tehadap musibah tersebut. Setelah menerima informasi terjadinya musibah pelayaran tersebut diatas dan diyakini akan kebenaran informasi/data yang diperoleh. Berdasarkan data/informasi yang diperoleh maka Kepala Kantor SAR Tanjungpinang memerintahkan Koordinator Pos SAR Batam segera berkoordinasi dengan pihak unsur potensi SAR. Pada tanggal 18 Juli 2014 pukul 76
77 JENIS MUSIBAH KEJADIAN MUSIBAH WIB, RIB Pos SAR Batam dengan POB 5 (lima) orang bergerak ke lokasi terjadinya musibah untuk melakukan pencarian musibah tersebut. Setelah diyakini kebenaran berita musibah tersebut, Kantor SAR Tanjungpinang melaporkan kejadian tersebut ke Kantor Pusat Badan SAR Nasional melalui Telegram Kantor SAR Tanjungpinang Nomor: 145 / SAR-106 /0414 TW G. Disamping itu juga berupaya melakukan koordinasi dengan instansi berpotensi SAR, yaitu Pol Air Polda Kepri dan PLP TUB untuk mengerahkan unsur SAR laut bagi pelaksanaan Operasi SAR. Setelah informasi yang diperlukan terkumpul serta kesiapan unsur SAR yang akan dikerahkan dalam pelaksanaan Operasi SAR. Selanjutnya Kepala Kantor SAR Tanjungpinang segera menggelar Operasi SAR. Pada tanggal 18 Juli 2014 pukul WIB, RIB Pos SAR Batam berangkat ke lokasi terjadinya musibah untuk melakukan pencarian terhadap korban. Pada pukul wib, RIB Pos SAR Batam tiba di lokasi musibah. Informasi dari lokasi kejadian yang dilaporkan akan melaksanakan pencarian bersama anggota PLP TUB dan diperkirakan 3(tiga) orang korban terjebak didalam kapal. Operasi SAR hari pertama di hentikan sementara dengan hasil nihil. Operasi hari kedua, tim SAR berhasil menemukan 2 (dua) orang korban dalam keadaan meninggal dunia. Kemudian korban dievakuasi ke Rumah Sakit Otorita Batam. Operasi hari ketiga, tim SAR berhasil menemukan 1 (satu) orang korban dalam keadaan meninggal dunia dan dievakuasi ke Rumah Sakit Otorita Batam. Dengan telah menemukan korban, maka operasi SAR dinyatakan ditutup. 77
78 JENIS MUSIBAH KEJADIAN MUSIBAH Musibah KM. Andeswara di sungai Lumpur Telah terjadi musibah KM. Andeswara tenggelam di sungai lumpur perairan Selat Bangka Pulau Mas Pari dan sungai Lumpur tujuan Tobali Bangka sebayak 37 orang, 24 orang selamat, 9 orang di ketemukan dalam keadaan meninggal Dunia sedangkan 4 orang belum diketemukan, unsur yang terlibat Tim Rescuer Kantor SAR Palembang, Pol Airut Cenggal serta Masyarakat setempat, sarana yang digunakan Rescue Truck, Rescue Car, Ruber Boat, 2 set alat selam, RB 219 Kantor SAR Palembang, Kapal Polisi Perairan, Kapal Nelayan setempat seta 8 unit HT. Musibah Penerbangan Pesawat Pilatus 31 PK-IWT yang jatuh di Kota Tual, Maluku Tenggara tanggal 19 Januari 2014 TW I menerima laporan dari Koordinator Pos SAR Tual bahwa telah terjadi musibah terhadap Pesawat Pilatus 31 78
79 JENIS MUSIBAH KEJADIAN MUSIBAH PK-IWT di Kota Tual Maluku Tenggara posisi 05º38 00 S 132º45 00 E, jarak dari Pos SAR Tual ke lokasi musibah ± 1,5 NM. TW I Team Rescue Pos SAR Tual menuju lokasi musibah menggunakan Rescue Car Compartment. TW I Kantor SAR Ambon melakukan koordinasi dengan Koordinator Pos SAR Tual untuk identitas korban dan posisi Pesawat Pilatus 31 PK-IWT yang jatuh dan terbakar di Kota Tual. TW I Kantor SAR Ambon melakukan koordinasi dengan GM Bandara Internasional Pattimura Ambon tentang route penerbangan Pesawat Pilatus 31 PK-IWT Jayapura Tual. Nama nama korban pesawat Pilatus 31 PK-IWT yang ditemukan : 1. Widi Kurniawan (Capt. Pilot) : Meninggal 2. Arief (DSKU) : Meninggal 3. Evi (Teknik Enginering) : Meninggal 4. Jefry (Ground Staf) : Meninggal Korban Pesawat Pilatus 31 PK-IWT dievakuasi ke Rumah Sakit Umum (RSU) Karel Sadsuitubun Langgur Maluku Tenggara. Dengan ditemukan 4 (empat) orang korban Pesawat Pilatus 31 PK-IWT maka operasi SAR dinyatakan selesai dan Unsur SAR yang dikerahkan dikembalikan ke satuannya masing masing dengan ucapan terima kasih. 79
80 JENIS MUSIBAH KEJADIAN MUSIBAH Pesawat Air Asia Hilang Kontak Pada hari Minggu tanggal 28 Desember 2014 Jam Wita, Kantor SAR Banjarmasin menerima berita dari IDMCC Basarnas perihal Pesawat Air Asia dengan Flight Number AWQ8501 seri Air Bus 320 rute Surabaya- Singapore mengalami Lost contact di koordinat S E di daerah Selatan Teluk Kumai. Tim Kantor SAR Banjarmasin segera berkoordinasi dengan instansi/potensi terkait yang ada di daerah Pangkalan Bun, dan membentuk posko SAR yang berlokasi di Lanud Iskandar Pangkalan Bun. Pada hari Minggu tanggal 28 Desember 2014 Jam Wita tim Rescue Pos SAR berangkat menuju lanud Iskandar Pangkalan Bun dengan menggunakan sarana Rescue D-Max Box, rescue Truck Personil, perahu karet dan perlengkapan penunjang operasi SAR lainnya. Pada jam Wita, Tim Rescue Pos SAR Sampit tiba di Posko Lanud Iskandar Pangkalan Bun dan langsung berkoordinasi dengan instansi SAR terkait. Pada hari Senin tanggal 29 Desember 2014 Jam Wita Tim Rescue Kantor SAR Banjarmasin berangkat menuju Pangkalan Bun dengan sarana 1 (satu) unit RIB (Rigid Inflatable Boat), Alkom, Search Cam dan perlengkapan penunjang operasi SAR lainnya. Pada hari Senin tanggal 29 Desember 2014 Jam Wita, Tim Rescue Kantor SAR Banjarmasin, Tim Rescue Pos SAR Sampit bersama dengan TNI AU, TNI AL, BPBD Pangkalan Bun dan ATC Bandara Iskandar masih melakukan pemantauan 80
81 JENIS MUSIBAH KEJADIAN MUSIBAH terkait pesawat Air Asia yang lost contact. Pada hari Rabu tanggal 31 Desember 2014 jam Wita diberangkatkan kembali tim Rescue Kantor SAR dengan sarana 1 (satu) unit mobil Rescue Mitsubishi Strada, 1 (satu) unit mobil Toyota Fortuner, alat evakuasi dan alat dokumentasi menuju Pangkalan Bun. Jumlah personil Kantor SAR Banjarmasin dan Pos SAR Sampit yang terlibat dalam melaksanakan operasi SAR berjumlah 33 orang. Operasi SAR masih terus berlanjut ke tahun Bencana Banjir Naibonat Pada hari Selasa tanggal 18 Pebruari 2014 pukul Wita, menerima berita via Pak Mexi mengenai banjir yang terjadi di desa Naibonat Kab Kupang. Kansar Kupang mengirimkan tim rescue dengan membawa 2 unit truk personil, 2 buah rubber boat dilengkapi palsar menuju ke lokasi musibah untuk melaksanakan ops SAR. Ops SAR berjalan dengan baik, hingga pukul Wita sejumlah warga berhasil dievakuasi dengan selamat dan dibawa ke Posko BPBD Kab Kupang di Naibonat Pada hari Jumat tanggal 05 Desember 2014 pukul Wita, menerima berita telegram dari BMKG Klas I Kupang bahwa 81
82 JENIS MUSIBAH KEJADIAN MUSIBAH pada pukul Wita telah terjadi gempa bumi tektonik berkekuatan 4,7 SR. Pusat gempa di laut terletak di posisi ± 51 km barat laut Sumba Barat Daya, dengan kedalaman 10 km. Dari hasil koordinasi, gempa ini tidak menyebabkan kerusakan material maupun korban jiwa. Musibah banjir di Desa Hutanabolon Kec. Tuka Kab. Tapteng Pukul WIB Tim Rescue Pos SAR Sibolga berjumlah 7 (tujuh) orang bergerak menuju ke lokasi musibah untuk melakukan pencarian dan evakuasi terhadap musibah banjir di Desa Hutanabolon Kecamatan Tuka Kabupaten Tapanuli Tengah. Tim rescue Pos SAR Sibolga dibantu oleh warga dalam pengevakuasian korban banjir hingga pukul pada titik koordinat N E, tidak terdapat korban jiwa pada musibah banjir. Pada pukul WIB Operasi SAR terhadap banjir dinyatakan selesai dan ditutup. 82
83 JENIS MUSIBAH Musibah Lainnya KEJADIAN MUSIBAH Musibah Gedung Runtuh Di Perumahan Cendrawasih Samarinda, Kalimantan Timur Kantor SAR Balikpapan menerima informasi dari Bapak Muryanto salah satu anggota dari BPBD Provinsi Kaltim, pada Selasa (3/6/2014) bahwa telah terjadi musibah gedung runtuh. Gedung ruko berlantai 3 tersebut berada di Jl. Ahmad Yani 2, Perum. Cendrawasih Permai, Kelurahan Temindung, Kecamatan Sei. Pinang. Diperkirakan terdapat belasan orang yang tertimpa reruntuhan gedung tersebut. Sesaat setelah menerima berita tersebut Kepala Kantor SAR Balikpapan Hendra Sudirman, S.E., M.Si. segera menyiapkan tim rescuenya untuk bergerak menuju lokasi kejadian musibah. Dengan dibekali peralatan Urban SAR seperti Search Cam, Thermal Detector dan peralatan SAR lainnya selanjutnya 1 tim rescue diberangkatkan menuju lokasi. Pada hari pertama pencarian pukul WITA tim SAR berhasil menemukan 1 orang korban selamat bernama Paiman (49) dan pukul WITA tim SAR kembali menemukan 2 orang pekerja bangunan dalam keadaan meninggal dunia yaitu Kasiran (50) dan Kadori 83
84 JENIS MUSIBAH KEJADIAN MUSIBAH (35). Pukul WITA korban bernama Suyadi (40) selamat dengan kondisi patah kaki. Pukul WITA tim SAR berhasil menemukan Surani (25) dan Abdul Makrub (26) dalam kondisi meninggal dunia. Hingga malam hari diperkirakan masih ada sejumlah korban yang masih tertimbun reruntuhan gedung. Dari data yang dihimpun humas Kantor SAR Balikpapan jumlah korban selamat berjumlah 72 orang, meninggal dunia 4 orang dan 8 orang masih dalam pencarian. Operasi SAR memasuki hari kedua (4/6/2014), pada pukul WITA tim SAR kembali menemukan korban bernama Jarwo (45). Pagi harinya tim rescue mendapat bantuan 1 unit kendaraan alat berat berupa excavator jack hammer untuk membantu mempermudah proses pencarian dan evakuasi korban dengan memecah reruntuhan gedung. Dengan bantuan kendaraan tersebut tim rescue berhasil menemukan 2 orang korban lagi dalam keadaan meninggal dunia. Kedua korban tersebut bernama Sugianto (35) dan Toyo (45) sehingga menyisakan 5 orang yang masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan. Di hari ketiga (5/6/2014) tim rescue Kantor SAR Balikpapan menemukan kembali 2 korban reruntuhan yaitu Rudi Surianto (32) dan Peron Pamudi (40) dalam keadaan meninggal dunia pada pukul WITA dan WITA, dan operasi dilanjutkan hingga hari keempat (6/6/2014). Pada siang hari pukul WITA korban bernama Toni (35) ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan pukul WITA korban bernama Jono (50) ditemukan dengan kondisi yang sama. Dengan proses evakuasi yang cukup lama dan memakan tidak membuat tim SAR gabungan lelah dalam melakukan proses pencarian korban. Hingga hari keempat jumlah korban yang berhasil selamat berjumlah 72 Orang, meninggal dunia 11 Orang dan masih 84
85 JENIS MUSIBAH KEJADIAN MUSIBAH dalam pencarian 1 orang sehingga jumlah total korban berjumlah 84 Orang. Tim rescue Kantor SAR Balikpapan mendapat bantuan dari unsur potensi lainnya seperti, Korem 091/ASN, Polresta Samarinda, Tagana Samarinda, Brimob Samarinda, DVI Polda Kaltim, BPBD Prov Kaltim, BPBD Kota Samarinda, Orari/ RAPI Samarinda, SENKOM Samarinda, Ormas Pemuda Pancasila, dan tim ERT dari beberapa perusahaan di Samarinda. Hingga pada malam hari pukul WITA korban terakhir bernama Jarno (35) ditemukan oleh tim rescue Balikpapan, dan berhasil di keluarkan dengan dibantu excavator. Sabtu (7/6/2014) akhirnya operasi ditutup oleh insiden commander dari BPBD Samarinda dan tim rescue Kantor SAR Balikpapan kembali ke Balikpapan. Musibah Orang Hilang Di Gunung Tandikek Kab. Tanah Datar Sumatera Barat Pada tanggal 13 Oktober 2014 Pukul Wib terima Informasi dari Ibu Iyen (Teman Survivor) bahwa telah terjadi Musibah 5 (lima) hilang saat melakukan pendakian di Gunung Tandikek Kab.Tanah Datar Sumatera Barat, dengan rencana Survivor turun pada tanggal 12 Oktober 2014, namun para pendaki merasa tersesat dan sempat berkomunikasi. Kontak 85
86 JENIS MUSIBAH KEJADIAN MUSIBAH terakhir dengan survivor melalui SMS mereka berada pada titik koordinat 0 26'30.00" S '5.08" E, Maka perlu menunjuk Tim Rescue Kantor SAR Padang untuk melaksanakan Operasi tersebut. Tim Kantor SAR Padang Mengadakan Breafing dan Precom ( Pengecekan dengan Instansi Terkait) dan di lanjutkan dengan mempersiapkan peralatan Tim Kantor SAR Padang Bergerak menuju Tempat Kejadian Musibah ( TKM ) dengan menggunakan peralatan lengkap ( Palsar Darat ). Rencana setelah sampai di TKM langsung berkoordinasi dengan BPBD dan Masyarakat setempat. Hasil Operasi orang hilang di Gunung Tandikek Kabupaten Tanah Datar Sumbar adalah 5 (Lima) Selamat. Musibah 1 Orang Jatuh Ke Sumur Di Dusun Karang Sari Lombok Timur. Pada tanggal 25 Maret 2014 terjadi musibah lainnya pada Kantor SAR Mataram. Berita diterima tanggal 25 Maret 2014 pada pukul FKSD Lombok Timur, perihal telah terjadi Musibah 1 orang Jatuh ke sumur di dusun Karang Sari Lombok Timur. Tim SAR berangkat menuju tempat kejadian pada tanggal 25 Maret 2014 pada pukul Dilakukan operasi SAR selama 1 hari, dibantu oleh tim SAR dari Kantor SAR Mataram dan masyarakat sekitar dengan hasil meninggal dunia 1 orang. Korban dievakuasi menuju Rumah Sakit Umum Daerah 86
87 JENIS MUSIBAH KEJADIAN MUSIBAH dan jenasahnya di berikan pada pihak keluarga. Operasi SAR ditutup 25 Maret 2014 pada pukul semua unsur yang terlibat dikembalikan ke kesatuan masing-masing. III.2.3.Indikator Kinerja Utama Persentase keterlibatan potensi SAR dalam kegiatan SAR (115,65%). Indikator kinerja utama ini mengukur persentase keterlibatan potensi SAR dalam semua kegiatan SAR yang dilaksanakan oleh Basarnas baik di Kantor Pusat maupun di daerah. Kegiatan SAR yang dimaksud yaitu operasi SAR, latihan SAR, pendidikan dan pelatihan SAR serta pembinaan SAR. - Perbandingan antara target dengan realisasi kinerja tahun 2014 Capaian dari indikator kinerja utama persentase keterlibatan potensi SAR dalam kegiatan SAR sebesar 115,65% dari target capaian 70%. - Perbandingan realisasi kinerja serta capaian kinerja tahun 2014 dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir Apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya maka capaian indikator kinerja utama persentase keterlibatan potensi SAR dalam kegiatan SAR pada tahun 2014 mengalami kenaikan. 87
88 Perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Tabel Tabel Perbandingan Indikator Kinerja Utama Persentase keterlibatan potensi SAR dalam kegiatan SAR Tahun Target Realisasi Tahun ,3% 41,14% Tahun % 55,26% Tahun ,6% 73,89% Tahun ,3% 82,67% Tahun % 115,65% - Analisis penyebab keberhasilan/ peningkatan kinerja serta usahausahayang telah dilakukan Seksi Pengerahan Potensi mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan rencana penyelenggaraan dan pengerahan potensi SAR dalam operasi SAR, pelaksanaan pemetaan instansi/ organisasi berpotensi SAR, kerja sama dan bantuan operasi SAR dalam dan luar negeri serta pemantauan dan bimbingan pengerahan potensi SAR dalam pelaksanaan operasi SAR. Kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Seksi Pengerahan Potensi adalah sebagai berikut: a) Pengerahan SRU (SAR Rescue Unit) pada saat operasi SAR; b) Pemetaan instansi/ organisasi berpotensi SAR c) Melakukan kerjasama dan bantuan operasi SAR dalam dan luar negeri. Bentuk kerjasama dan bantuan operasi SAR ini telah dilaksanakan saat pelaksanaan operasi SAR musibah lost contactnya pesawat MH370 dengan mengirimkan 2 (dua) orang Liasion Officer (LO) ke dan operasi SAR di Perairan Aceh pada bulan Maret tahun d) Melaksanakan program ITSAP bekerjasama dengan Biro KTLN dalam penyegaran petugas pendamping pelaksana operasi SAR di kantor AMSA Australia e) Pengamanan SAR dalam rangka Sail Raja Ampat di Raja Ampat Wilayah Kerja Kantor SAR Sorong, bulan Agustus 2014; 88
89 f) Melaksanakan Rapat Koordinasi SAR Nasional tanggal 9 dan 10 Desember Analisis atas efisiensi penggunaan sumber daya Peningkatan Pengerahan Potensi dan Pengendalian Operasi SAR di Kantor SAR melalui sosialisasi Petunjuk penyelenggaraan Operasi SAR, Menguji Kesiapan dan kemampuan SRU Basarnas dan teknis laporan penyelenggaraan operasi SAR. Adapun Sasaran dari kegiatan ini adalah semua Kantor SAR, akan tetapi pada tahun 2014 kegiatan peningkatan kemampuan operasi SAR Kantor SAR hanya tercapai pada 11 Kantor SAR. - Analisis program/ kegiatan yang menunjang keberhasilan pencapaian pernyataan kinerja Program pengelolaan pencarian, pertolongan dan penyelamatan. Program ini bertujuan pada pelaksanaan pengelolaan sarana dan prasarana SAR serta pembinaan pengawakan, terselenggaranya diklat SAR, pengelolaan operasi dan Latihan SAR, dan terlaksananya pengelolaan sistem peralatan komunikasi SAR Capaian kinerja persentase keterlibatan potensi SAR dalam kegiatan SAR ini berasal dari sasaran strategis sebagai berikut : 1) Meningkatnya peran serta organisasi potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR, 2) Meningkatnya kemampuan organisasi potensi SAR dalam melaksanaan operasi SAR 89
90 Penjelasan dari perhitungan sasaran tersebut adalah sebagai berikut: 1) Meningkatnya peran serta organisasi potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR. Pencapaiansasaran ini dapat diukur dari 3 (tiga) indikator kinerja sasarannya, sebagai berikut : Tabel Indikator Kinerja Sasaran Meningkatnya peran serta organisasi potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR Indikator Kinerja Target Realisasi Jumlah keterlibatan personil potensi SAR pada pelaksanaan latihan SAR 475 orang 1245 orang Rata-rata persentase keterlibatan potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR maritim 90% 94,06 % Rata-rata persentase keterlibatan potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR darat 90% 92,42 % Dengan adanya organisasi potensi SAR yang cukup maka pelaksanaan operasi SAR dapat ditangani lebih maksimal. Apabila musibah/ bencana yang terjadi di daerah yang memiliki jarak yang jauh dan sulit dijangkau oleh Kantor SAR dan Pos SAR dengan adanya organisasi potensi SAR yang terlatih maka akan membantu penyelenggaraan operasi SAR. Apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya maka persentase capaian sasaran meningkatnya peran serta organisasi potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR pada tahun 2014 mengalami kenaikan. Perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini. 90
91 Berikut penjabaran dari indikator-indikator yang mendukung sasaran meningkatnya peran serta organisasi potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR. a) Jumlah keterlibatan personil potensi SAR pada pelaksanaan latihan SAR Untuk membentuk organisasi potensi SAR yang terlatih maka diperlukan pembinaan yaitu dengan mengikutsertakan organisasi potensi SAR tersebut dalam latihan SAR, diharapkan dengan latihan tersebut seluruh personil potensi SAR dapat turut serta aktif dalam pelaksanaan operasi SAR. Pada Tahun 2014 telah dilaksanakan latihan SAR dengan melibatkan potensi SAR, yaitu antara lain: Latihan INDOPURA digelar di Tanjungpinang pada tanggal 8 s.d 10 Oktober Badan SAR Nasional melalui program kerja tahun 2014 menyelenggarakan latihan bersama dengan Rescue Coordinator 91
92 Center (RCC) Singapura pada tanggal 8 s/d 10 Oktober 2014, yang diikuti oleh 150 peserta yang berasal pihak Indonesia dan pihak Singapura dengan rincian instansi/ organisasi sebagai berikut : PihakIndonesia: - Instansi militer di Provinsi Riau dan sekitarnya - Kepolisian Daerah Prov. Kepri - Dishub Prov. Kepri - BMKG Tanjung Pinang - PT Angkasa Pura I - Bea Cukai Tanjung Pinang - Imigrasi Tanjung Pinang - Pemerintah Prov. Kepri - Potensi SAR Tanjung Pinang - Ormas Tanjung Pinang - SROP Tanjung Pinang Pihak Singapura: - Civil Aviation Authority of Saingapore (CAAS) - National Environment Agency - Republic of Singapore Air Force (RSAF) - Republic of Singapore Navy (RSN) - Maritime Porth Authority (MPA) - Ministry of Defence (MINDEF) - Singapore Civil Defence Force (SCDF) - Ministry of Health (MOH) - Singapore Police Force - Immigration and Check Point Authority(ICA) Latihan yang merupakan program kerja rutin Badan SAR Nasional setiap tahun ini diberi nama SAR EXERCISE INDOPURA XXXII. Latihan ini diarahkan kepada penanggulangan musibah 92
93 kecelakaan pesawat udara yang mengalami musibah di perbatasan kedua Negara. Latihan AUSINDOdiselenggarakan di Mataram pada tanggal 19 s.d 23 Mei Pada Latihan Ausindo ini memiliki Tema yaitu Melalui Latihan SAR Ausindo Tahun 2014, Kita Tingkatkan Kemampuan Teknis, Manajerial dan Kerjasama antara Basarnas dan Potensi SAR dengan RCC Australia dalam Penyelenggaraan Operasi SAR dalam musibah pelayaran di Wilayah Kerja Kantor SAR Mataram. Latihan ini diikuti oleh 140 peserta. Hal ini sesuai dengan tujuan diselenggarakannya acara ini yaitumelatih dan mengembangkan kemampuan Kantor SAR Mataram dalam mengkoordinasikan dan mengendalikan Operasi SAR bersama dengan potensi SAR dan RCC Australia, di wilayah perbatasan Australia dan Indonesia. Seiring dengan banyaknya kejadian Imigran Gelap tersebut ataupun musibah pelayaran dan penerbangan lainnya yang membutuhkan bantuan SAR, maka menjadi tuntutan tugas dari Badan SAR Nasional untuk mampu cepat dan tepat dalam memberikan pertolongan dan penyelamatan terhadap jiwa manusia yang mengalami musibah/bencana. 93
94 Latihan MALINDOdiselenggarakan di Banda Aceh pada tanggal November Dalam Rangka meningkatkan kerjasama dalam hal pengkoordinasian dibidang pencarian dan pertolongan pada musibah penerbangan dan pelayaran internasional, Badan SAR Nasional (Basarnas) melalui Kantor SAR Banda Aceh menggelar latihan SAR Malindo ke 38 Tahun Latihan antar kedua negara Indonesia dan Malaysia ini diselenggarakan di Kantor SAR Banda Aceh dan Kantor Malaysian Strategic Research Centre (MRSC) Langkawi, yang diikuti oleh 150 peserta dengan rincian instansi/ organisasi sebagai berikut : Pihak Indonesia: - Kantor Pusat - Kantor SAR Banda Aceh - TNI Polisi Setempat Aceh - Badan Meteorologi Aceh - Potensi SAR Setempat 94
95 Pihak Malaysia: - Jabatan Penerbangan Awam Malaysia - Tentera Udara di Raja Malaysia - Agensi Penguat Kuasaan Maritim Malaysia - Tentera Laut Di Raja Malaysia - Polisi Di Raja Malaysia - Majlis Keselamatan Negara - Tentera Darat Malaysia - Jabatan Meteorologi Malaysia - Pejabat/Ketua Menteri/pihak berkuasa tempatan - Latihan yang berlangsung selama dua hari ini bertujuan untuk meningkatkan kerjasama antar kedua negara khususnya dalam hal penyelenggaraan operasi SAR. Latihan Karuna Nisevanam 168diselenggarakan di Bengkulu pada tanggal 24 s.d 28 Maret Latihan SAR Karuna Nisevanam ( KN ) ke 168 di Kantor SAR Bengkulu berlangsung dari tanggal 24 s.d 28 Maret Kegiatan ini mengangkat Tema : Melalui Latihan SAR Karuna Nisevanam ke-168 tahun 2014, Kita Tingkatkan Kemampuan Teknis, Manajerial dan Kerjasama antara Kantor SAR dengan Potensi SAR dalam Penyelenggaraan Operasi SAR Bencana Gempa Bumi di Wilayah Kerja Kantor SAR Bengkulu. Bertempat di Aula Hotel Nala Bengkulu dilaksanakan pembukaan Latsarda Karuna Nisevanam ke 168 oleh Direktur Operasi Basarnas Brigjend TNI 95
96 Tatang Zainudin kegiatan tersebut diikuti oleh 150 peserta yang terdiri dari perwakilan personel TNI AD, AL, Polri, perwakilan Rescuer dari kantor SAR Palembang, perwakilan Rescuer dari Kantor SAR Lampung dan instansi terkait yang ada di Bengkulu. Hadir dalam acara tersebut Gubernur Bengkulu yang diwakili oleh Staf Ahli bidang Hukum dan Politik, Pejabat dari Basarnas, Kapolda Bengkulu, Danrem 041/Gamas Bengkulu, Danlanal Bengkulu, Kakan SAR Bengkulu, dan undangan lainnya. Latihan SAR Karuna Nisevanam 169diselenggarakan di Padang pada tanggal 16 s.d 23 Maret Badan SAR Nasional menyelenggarakan latihan bersama melalui Latihan SAR Karuna Nisevanam (KN) 169 guna mendukung Mentawai Megathrust Direx 2014 di Padang. Latihan ini berlangsung mulai dari tanggal 16 s/d 23 Maret 2014 yang diikuti oleh 150 peserta. Latihan yang bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan antar kantor SAR dan instansi/lembaga berpotensi SAR dalam operasi SAR terhadap bencana ini melibatkan 136 orang yang terdiri dari personil Kantor Pusat Basarnas, Kantor SAR (Kansar) Padang, Kansar Medan, Kansar Pekanbaru, Kansar Aceh, Kansar Jambi, Kansar Jakarta, Basarnas Spesial Group (BSG) serta crew heli Basarnas. 96
97 Latihan Operasi SAR Maritime Pollution Exercise (Marpolex) diselenggarakan didumai Tanggal 17 s/d 20 Juni Latihan ini diikuti oleh 180 peserta dengan sasaran dan tujuan : - Melatih dan meningkatkan kerjasama dan kapabilitas dalam operasi pengamanan, pencarian dan pertolongan, pemadaman kebakaran, penanggulangan dampak tumpahan minyak di laut; - Membina kemampuan SMC dan staf SMC kantor SAR Pekanbaru dalam merencanakan, mengerahkan, mengkoordinasikan dan mengendalikan SRU dalam pelaksanaan operasi SAR terhadap musibah pelayaran tumpahan minyak di laut; - Meningkatkan koordinasi dan kerjasama kantor SAR Pekanbaru dan Potensi SAR; - Melatih personil dalam perencanaan, komando dan pengendalian dalam suatu operasi integrasi; - Menguji coba dan mengevaluasi prosedur penanggulangan tumpahan minyak; - Menguji coba dan mengevaluasi kemampuan dalam penanggulangan tumpahan minyak. Latihan Proficiency Awak Kapal dilaksanakan di Denpasar Tanggal 16 s/d 19 Juni 2014 Latihan ini diikuti oleh 185 peserta, dengan sasaran dan tujuan : - Pembekalan kepada awal RB dalam penyelenggaraan operasi SAR; - Menguji kemampual ABK dan rescuer dalam menangani ops SAR pelayaran; - Menguji kemampuan koordinasi dengan potensi SAR dalam penyelenggaraan ops SAR pelayaran; - Proficiency ABK dalam mendukung kegiatan Joint Meeting Cospas Sarsat tahun
98 ASEAN Transport SAR Exercisedilaksanakan di Hotel Grand Mercure Harmoni, Jakarta Pusat Latihan ini diikuti oleh 150 peserta dengan sasaran dan tujuan : - Meningkatkan ketrampilan dan kemampuan komando dalam proses pengambilan keputusan; - Latihan mengembangkan rencana secara spesifik, kebijakan prosedur negara ASEAN dalam operasi SAR; - Evaluasi komando kontrol dan organisasi SAR antar negara ASEAN dalam proses perencanaan operasi SAR; - Meningkatkan informasi mekanisme pembagian utk ops SAR antara negara-negara ASEAN. Jumlah keterlibatan personil potensi SAR pada pelaksanaan latihan SAR pada tahun 2014sebanyak 1245 orang, sehingga memenuhi jumlah keterlibatan personil yang ditargetkan sebanyak 425 orang. Perbandingan jumlah keterlibatan personil potensi SAR pada pelaksanaan latihan SAR dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut. Tabel Perbandingan Jumlah Keterlibatan Personil Potensi SAR Pada Pelaksanaan Latihan SAR Tahun Target Realisasi Tahun orang 168 orang Tahun orang 326 orang Tahun orang 576 orang Tahun orang 695 orang Tahun orang 1245 orang 98
99 Berikut grafik perbandingan jumlah keterlibatan personil potensi SAR dalam pelaksanaan latihan SAR Tahun Jumlah Keterlibatan Personil Potensi SAR dalam Pelaksanaan Latihan SAR Gambar Perbandingan Jumlah Keterlibatan Personil Potensi SAR dalam Pelaksanaan Latihan SAR b) Rata-rata persentase keterlibatan potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR Setiap pelaksanaan operasi SAR pasti di dalamnya melibatkan organisasi potensi SAR baik pada operasi SAR maritim maupun operasi SAR di darat, di mana rata-rata persentase keterlibatan organisasi potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR dihitung dari rata-rata persentaseketerlibatan organisasi potensi SAR setiap kejadian musibah/ bencana pada setiap Kantor SARterhadap jumlah organisasi potensi SAR pada setiap Kantor SAR yang terdata. Keterlibatan organisasi potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR maritim dan di darat memiliki perbedaan. Organisasi potensi SAR maritim lebih spesifik karena harus memiliki sarana, prasarana dan personil yang mempunyai kemampuan khusus, misalnya kemampuan menyelam dan teknik pertolongan di air. Sedangkan dari segi sarana harus memiliki peralatan di air, misalnya rubber boat, rigid inflatable boat, rescue boat dan lain-lain. Sedangkan untuk pelaksanaan operasi 99
100 SAR di darat hampir seluruh organisasi potensi SAR dapat dikatakan memiliki kemampuan dalam segi sarana, peralatan maupun personil. Rata-rata persentase keterlibatan potensi SAR pada penyelenggaraan operasi SAR maritim pada tahun 2014 sebesar 94,06% dari yang ditargetkan sebesar 90% atau dengan capaian kinerja sebesar 104,51%.Sedangkan rata-rata persentase keterlibatan potensi SAR pada penyelenggaraan operasi SAR darat pada tahun 2014 sebesar 92,42% dari yang ditargetkan sebesar 90% atau dengan capaian kinerja sebesar 104,51%. Tabel Perbandingan Rata-rata Persentase Keterlibatan Potensi SAR dalam Penyelenggaraan Operasi SAR Maritim Tahun Target Realisasi Tahun % 50% Tahun % 60,05% Tahun % 71,68% Tahun % 93,82% Tahun % 94,06% Tabel Perbandingan Rata-rata Persentase Keterlibatan Potensi SAR dalam Penyelenggaraan Operasi SAR Darat Tahun Target Realisasi Tahun % 50% Tahun % 61% Tahun % 71,87% Tahun % 94,09% Tahun % 92,42% 100
101 2) Meningkatnya kemampuan organisasi potensi SAR dalam melaksanaan operasi SAR. Pencapaian sasaran ini diukur dari 2 (dua) indikator kinerja sasaran sebagai berikut : Tabel Indikator Kinerja Sasaran Meningkatnya kemampuan organisasi potensi SAR dalam melaksanaan operasi SAR Indikator Kinerja Target Realisasi Persentase organisasi potensi SAR yang memiliki tenaga rescuer bersertifikasi SAR 50% 71,29% Persentase peningkatan organisasi potensi SAR yang dibina 50% 59,02% Keberhasilanpenyelenggaraan operasi SAR bergantung pada keberhasilan Basarnas dalam mengkoordinasikan organisasi potensi SAR dan kemampuan organisasi potensi SAR itu sendiri. Oleh karena itu kemampuan organisasi potensi SAR secara kualitas maupun kuantitas menjadi point yang sangat penting. Salah satu tugas Basarnas adalah memberikan pembinaan terhadap organisasi potensi SAR agar memiliki personil yang berkualitas SAR. Pembinaan tersebut dilakukan dengan cara menyelenggarakan pendidikan dan latihan selain itu juga melaksanakan sosialisasi, pameran, rapat koordinasi dan workshop di bidang SAR. Dengan meningkatnya kemampuan organisasi potensi SAR, maka diharapkan dapat mengurangi jumlah korban yang meninggal pada saat pelaksanaan pertolongan. Berikut penjabaran dari indikator-indikator yang mendukung sasaran meningkatnya kemampuan organisasi potensi SAR dalam melaksanaan operasi SAR. a) Persentase organisasi potensi SAR yang memiliki tenaga rescuer bersertifikasi SAR Dalam membantu kinerja Basarnas pada pelaksanaan operasi SAR, organisasi potensi SAR diharapkan memiliki tenaga rescuer yang 101
102 berkualitas dan kompeten. Untuk mewujudkan hal tersebut, Basarnas telah melaksanakan pendidikan dan pelatihan untuk organisasi potensi SAR disesuaikan dengan klasifikasi dan jenjang pelatihan SAR sesuai dengan permintaan dari organisasi potensi SAR bersangkutan dan hasil pendidikan dan pelatihan tersebut peserta mendapatkan sertifikat. Pelatihan yang dilaksanakan pada tahun 2014 antara lain Latihan Dasar SAR, Water Rescue, Pelatihan Crisis Management dan Publicity, Pelatihan SAR Management dan ERP, Pelatihan Peliputan Bencana, serta Pelatihan Basic Sea Survival. Pada tahun 2014 ditargetkan terdapat 50% organisasi potensi SAR yang memiliki tenaga rescuer bersertifikasi SAR dari seluruh organisasi potensi SAR yang terdata. Sampai dengan tahun 2014 Basarnas telah mengeluarkan sertifikat SAR pada 72 organisasi potensi SAR atau sebesar 71,29% dari 101 organisasi potensi SAR yang terdata. Berikut grafik perbandingan jumlah organisasi yang memiliki personil bersertifikasi SAR Tahun Jumlah Organisasi Potensi SAR yang Memiliki Personil Bersertifikasi SAR Gambar Perbandingan Jumlah Organisasi Potensi SAR yang Memiliki Personil Bersertifikasi SAR 102
103 Tabel Pelaksanaan Sertifikasi Diklat SAR Eksternal NO INSTANSI LAMA KEGIATAN JUMLAH KETERANGAN 1 POTENSI SAR SITU BOJONGSARI- DEPOK FEBRUARI WATER RESCUE 2 PT. KASONGAN BUMI KENCANA FEBRUARI PELATIHAN OPEN MINING RESCUE 3 KANSAR PALU 17 S/D 20 MARET PELATIHAN PERTOLONGAN DI AIR BAGI POTENSI SAR PALU 4 POTENSI SAR GN.SALAK-BOGOR, APRIL JUNGLE RESCUE 5 NIRWANA RESORT, PULAU BINTAN AGUSTUS PELATIHAN WATER RESCUE BAGI LIFEGUARD 6 POTENSI SAR WADUK KEDUNG OMBO, PURWODADI-JAWA TENGAH, MEI WATER RESCUE 7 PERTAMINA TARAKAN, 6-8 MEI WATER RESCUE 8 KANSAR JAMBI 23 S/D 26 JUNI PELATIHAN PERTOLONGAN DI AIR BAGI POTENSI SAR JAMBI 9 POTENSI SAR GN. MAHAWU, TOMOHON SULAWESI UTARA 82 JUNGLE RESCUE 10 KANSAR PALEMBANG AGUSTUS PELATIHAN PERTOLONGAN DI KETINGGIAN 11 KANSAR P.PINANG AGUSTUS PELATIHAN PERTOLONGAN DI AIR 103
104 NO INSTANSI LAMA KEGIATAN JUMLAH KETERANGAN 12 BALAI DIKLAT SEPTEMBER 2014, PALABUHAN RATU, SUKABUMI 80 WATER RESCUE 13 KANSAR MEDAN 01 S/D 05 SEPTEMBER PELATIHAN PERTOLONGAN DI AIR 14 KANSAR ACEH 29 SEPT - 02 OKT PELATIHAN POTENSI SAR TK. DASAR KANSAR MANADO KANSAR PALEMBANG Minahasa Utara, Sulawesi Utara, 15 s/d 19 September 2014 PALEMBANG, NOVEMBER Pelatihan Pertolongan di medan vertikal bagi Potensi SAR PELATIHAN PERTOLONGAN DI AIR BAGI POTENSI SAR PALEMBANG 17 KANSAR JAMBI 11 S/D 13 NOVEMBER PELATIHAN PERTOLONGAN DI KETINGGIAN BAGI POTENSI SAR JAMBI 18 KANSAR SURABAYA SURABAYA DAN GUNUNG RINGGIT PASURUAN, NOVEMBER PELATIHAN JUNGLE RESCUE 19 KANSAR LAMPUNG LAMPUNG, 25 S/D 27 NOVEMBER PELATIHAN TEKNIK PERTOLONGAN DI KETINGGIAN 20 KANSAR P.PINANG NOVEMBER PELATIHAN PERTOLONGAN DI KETINGGIAN 21 BALAI DIKLAT + KANSAR YOGYAKARTA YOGYAKARTA, NOVEMBER PELATIHAN MFR 104
105 NO INSTANSI LAMA KEGIATAN JUMLAH KETERANGAN 22 BALAI DIKLAT + KANSAR YOGYAKARTA YOGYAKARTA, NOVEMBER HART 23 BALAI DIKLAT + KANSAR YOGYAKARTA YOGYAKARTA, NOVEMBER JR 24 BALAI DIKLAT + KANSAR YOGYAKARTA YOGYAKARTA, NOVEMBER WR b) Persentase peningkatan organisasi potensi SAR yang dibina Persentase peningkatan organisasi potensi SAR yang dibina Mengukur persentase peningkatan jumlah organisasi potensi SAR yang dibina BASARNAS per tahun, yang dihitung dari selisih jumlah organisasi potensi SAR yang dibina tahun ini dengan tahun sebelumnya dibandingkan jumlah total organisasi potensi SAR yang terdata. Pembinaan potensi SAR dilaksanakan dengan kegiatan Forum Komunikasi SAR Daerah (FKSD), serta berbagai kegiatan pendidikan dan latihan potensi SAR yang dilaksanakan oleh Kantor SAR. Rapat Forum Koordinasi SAR Daerah yang telah dikembangkan menjadi Rapat Forum Koordinasi Potensi SAR Daerah (FKPSD) dilaksanakan untuk meningkatkan fungsi koordinasi seluruh stake holder bidang SAR di daerah. Dengan adanya FKPSD ini harapkan akan ada kesamaan pola pikir dan pola tindak dalam pelaksanaan operasi SAR dimana kekuatan Basarnas yang ada di daerah atau Kantor SAR dapat terintegrasi dengan potensi SAR sehingga pelaksanaan operasi SAR dapat berjalan efektif dan efisien serta mampu meminimalisir jumlah korban jiwa saat terjadi musibah baik kecelakaan, bencana maupun kondisi yang membahayakan jiwa manusia. Potensi SAR yang ada di daerah diantaranya unsur TNI, Polri, Pemerintah Provinsi dan 105
106 Pemerintah Kabupaten/Kota, BPBD, PMI, Pemadam Kembakaran, Orari, Mapala, Pramuka, dan organisasi/institusi penggiat SAR. Selama tahun 2014, Ditbinga telah melaksanakan Rapat FKPSD sebanyak 4 (empat) kali, yaitu: - Green Q Hotel Gorontalo tanggal Maret Rapat FKPSD di Gorontalo dibuka oleh Direktur Binga Marsekal Pertama TNI SB Supriyadi dan dihadiri oleh seluruh stake holder di bidang SAR yang ada di Provinsi Gorontalo. Kegiatan ini dihadiri oleh 35 instansi/ organsasi potensi SAR. - Green Aquila Hotel, Bandung, Jawa Barat tanggal 8-9 September 2014 Rapat FKPSD di Bandung dibuka oleh Kepala Badan SAR Nasional (Kabasarnas) Marsekal Madya TNI FHB Sulistyo. Hadir juga 106
107 pada kesempatan tersebut Deputi Bidang Operasi Mayjen Tatang, Direktur Sarpras Laksamana Rudy Hendro, serta sejumlah pimpinan Kantor Pusat Basarnas. Kegiatan ini dihadiri oleh 79 instansi/ organsasi potensi SAR. FKPSD di Bandung menjadi moment pertama dari pengembangan dari Rapat Forum Koordinasi SAR Daerah (FKSD) menjadi Forum Koordinasi Potensi SAR (FKPSD). Sebelumnya, FKSD memiliki orientasi untuk mendorong dibuatnya Peraturan Daerah (Perda) sebagai payung dalam pelaksanaan operasi SAR. Namun, dalam implementasinya, Rapat FKSD yang sudah berkalikali dilaksanakan di berbagai daerah, belum menghasilkan satupun Perda tentang SAR. Karena itulah, substansi FKSD berorientasi pada FKPSD dimana esensi kegiatan ini pada peningkatan koordinasi guna mendukung pelaksanaan operasi SAR dan pembinaan terhadap Potensi SAR dalam bentuk pelatihan-pelatihan SAR. FKPSD ini akan mengacu pada pembuatan Peraturan Kabasarnas yang mengatur tentang Potensi SAR pada pelaksanaan operasi SAR. - Amurang, Manado, Sulawesi Utara tanggal Oktober 2014 Rapat FKPSD di Amurang dihadiri oleh Direktur Bina Ketenagaan dan Pemasyarakatan SAR Marsekal Pertama TNI Supriyadi dan dibuka oleh Gubernur Sulawesi Utara Gubernur yang diwakili oleh Asisten I Kabupaten Minahasa Selatan. Kegiatan ini dihadiri oleh 112 instansi/ organsasi potensi SAR. - Lombok Plaza Hotel, Mataram Nusa Tenggara Barat tanggal Oktober
108 Rapat FKPSD dibuka oleh Kepala Subdit Pemasyarakatan SAR dan Sertifikasi I Ketut Parwa dan ditutup secara resmi oleh Direktur Binga Brigjen TNI (Mar) Suprayogi. Kegiatan ini dihadiri oleh 44 instansi/ organsasi potensi SAR. Rapat FKPSD masih relevan dilaksanakan guna menyamakan persepsi, pola pikir maupun pola tindak dalam pelaksanaan operasi SAR. FKPSD ini juga menjadi wadah untuk koordinasi lintas sektoral dan merekatkan jalinan silaturahmi antara Kantor SAR dengan potensi SAR yang ada maupun antar Potensi SAR. Dengan FKPSD diharapkan akan mempercepat response time dan kerja sama di lapangan, sehingga pelaksanaan operasi SAR dapat berjalan optimal. Sedangkan rincian kegiatan pendidikan dan pelatihan potensi SAR yang dilaksanakan oleh Kantor SAR disajikan pada tabel berikut. Tabel Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Potensi SAR yang dilaksanakan oleh Kantor SAR NO KANTOR SAR JENIS PELATIHAN JUMLAH POTENSI WAKTU PELAKSANAAN 1 Kansar Biak Rescue Game /Challenge 60ORG Februari Kansar Palu Pertolongan Di Air 35ORG Maret Kansar Pontianak Teknik Pencarian Didarat 40ORG Maret Kansar Ambon Medical First Responder 40ORG Maret Kansar Mataram Pertolongan Di Air 27ORG 2-5 April Kansar Merauke Pertolongan Di Air 43ORG April Kansar Surabaya Pertolongan Di Air 55ORG April Kansar Gorontalo Pertolongan Di Air 40 ORG April Kansar Banjarmasin Pertolongan Di Air 35ORG 30 April-2 Mei Kansar Bandung Teknik Pencarian Didarat 41ORG Mei Kansar Medan Pertolongan Di Air 30ORG Mei Kansar Manokwari Pertolongan Di Air 60ORG Mei Kansar Balik Papan Teknik Pencarian Didarat 46ORG Mei Kansar Palembang Pertolongan Di Air 35ORG Mei Kansar Pekan Baru Pelatihan Selam 60ORG 2-5 Juni Kansar Aceh Pelatihan Selam 12ORG 2-5 Juni Kansar DenpASAR SAR Plan 30ORG 4-14 Juni Kansar Ternate High Angle Rescue Tehnique 38ORG Juni Kansar Timika Rescue Game /Challenge 24ORG 9-12 Juni
109 NO KANTOR SAR JENIS PELATIHAN JUMLAH POTENSI WAKTU PELAKSANAAN 20 Kansar Jayapura Pertolongan Di Air 37ORG Juni Kansar Makasar Pertolongan Di Air 60ORG Juni Kansar Jambi Pertolongan Di Air 35ORG Juni Kansar Lampung Pertolongan Di Air 34ORG Juni Kansar Padang Pertolongan Di Air 48 ORG Juni Kansar Sorong Medical First Responder 30 ORG Agustus Kansar Palembang High Angle Rescue Tehnique 32 ORG Agustus Kansar Pangkal Pinang Pertolongan Di Air 44 ORG Agustus Kansar Makasar Pertolongan Di Air 47 ORG Agustus Kansar Tanjung Pinang Pertolongan Di Air 34 ORG Agustus Kansar Medan Pertolongan Di Air 35 ORG September Kansar Kupang Teknik Pencarian Didarat 115 ORG September Kansar Mataram High Angle Rescue Tehnique 37 ORG September Kansar Ambon Pertolongan Di Air 40 ORG September Kansar Pekan Baru Pertolongan Di Air 41 ORG September Kansar Jakarta Pertolongan Di Air 40 ORG September Kansar Biak Pertolongan Di Air 30 ORG September Kansar Padang Pertolongan Di Air 35 ORG 29 Sept-03 Okt Kansar Aceh Pengenalan SAR 40 ORG 30 Sept-03 Okt Kansar Bandung Medical First Responder 30 ORG 6-7 September Kansar Palu Pertolongan Di Air 53 ORG 8-11 September Kansar Manado High Angle Rescue Tehnique 45 ORG September Kansar Pontianak Pengenalan CSSR 45 ORG Oktober Kansar Kupang Pertolongan Di Air 30 ORG Oktober Kansar Bengkulu Pertolongan Di Air 45 ORG Oktober Kansar Surabaya Teknik Pencarian Didarat 30 ORG Oktober Kansar Padang High Angle Rescue Tehnique 40 ORG Oktober Kansar Jambi High Angle Rescue Tehnique 37 ORG Oktober Kansar Bengkulu High Angle Rescue Tehnique 40 ORG Oktober Kansar Palembang Pertolongan Di Air 30 ORG November Kansar Lampung High Angle Rescue Tehnique 29 ORG November Kansar Tanjung Pinang Pertolongan Di Air 30 ORG November Kansar Medan Pertolongan Di Air 37 ORG November Kansar Ternate Medical First Responder 40 ORG November Kansar Kendari Medical First Responder 30 ORG 28 Nov-1 Des Kansar Pangkal Pinang High Angle Rescue Tehnique 41 ORG 28 Nov-1 Des Kansar Gorontalo Teknik Pencarian Didarat 33 ORG 5-9 Desember 2014 Pada tahun 2014 total instansi/ organisasi potensi SAR yang dibina oleh Basarnas sebanyak 326 instansi/ organisasi, sedangkan pada tahun 2013 total instansi/ organisasi potensi SAR yang dibina oleh Basarnas sebanyak 205 instansi/ organsasi. Sehingga persentase peningkatan 109
110 organisasi potensi SAR yang dibina tahun 2014 sebesar 59,02%, memenuhi target sebesar 50%. 100,00% 80,00% 60,00% 40,00% 27,00% 20,00% Prosentase Peningkatan Organisasi Potensi SAR yang Dibina 34,65% 53,47% 74,43% 59,02% 0,00% Gambar Perbandingan Persentase Peningkatan Organisasi Potensi SAR yang Dibina III.3. Realisasi Anggaran Dalam rangka mencapai sasaran strategis Basarnas, pada Tahun Anggaran 2014 telah dianggarkan pendanaan APBN melalui Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dengan total anggaran sebesarrp ,- Sedangkan terealisasi sebesar Rp ,- atau sebesar 96,37%. Tabel Akuntabilitas Keuangan Basarnas Tahun 2014 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Sasaran Pagu Realisasi Meningkatkan pelayanan dalam penyelenggaraan operasi SAR Rata-rata response time pada penanganan musibah pelayaran Rata-rata response time pada penanganan musibah penerbangan Rata-rata response time pada penanganan bencana Rata-rata response time pada penanganan musibah lain-lain Meningkatkan keberhasilan penyelamatan korban dalam penyelenggaraan operasi SAR Persentase jumlah korban terselamatkan dalam penyelenggaraan operasi SAR 110
111 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Sasaran Pagu Realisasi Persentase jumlah korban yang ditemukan dalam penyelenggaraan operasi SAR Meningkatkan kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana Meningkatkan peran serta organisasi potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR Meningkatkan kemampuan organisasi potensi SAR dalam melaksanakan operasi SAR Rata-rata waktu tindak awal dalam penyelenggaraan operasi SAR Persentase kecukupan personil siaga rescuer pada Kantor SAR Persentase cakupan wilayah yang mampu dijangkau Jumlah keterlibatan personil potensi SAR pada pelaksanaan latihan SAR Rata-rata persentase keterlibatan potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR maritime Rata-rata persentase keterlibatan potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR darat Persentase organisasi potensi SAR yang memiliki tenaga rescuer bersertifikasi SAR Persentase peningkatan organisasi potensi SAR yang dibina III.4. Capaian Kinerja Sesuai dengan RPJMN dan Renstra Basarnas Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) merupakan tahapan pencapaian visi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) RPJPN secara garis besar memberikan pedoman dan arah pembangunan dalam visi dan misi untuk periode 20 tahun ke depan, untuk mencapai tujuan dibentuknya Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti tercantum dalam Pembukaan Undang-undang Dasar Negara RI Tahun 1945, dan merupakam acuan dari setiap tahap RPJMN yang berkesinambungan dan berkelanjutan. RPJMN merumuskan permasalahan, sasaran serta arah kebijakan pembangunan yang akan diambil oleh bangsa ini dalam kurun waktu 5 tahun ke depan. Dengan demikian, RPJMN ini 111
112 merupakan pedoman bagi seluruh komponen bangsa baik itu pemerintah, masyarakat dan dunia usaha, dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional secara sinergis, koordinatif, dan saling melengkapi. Penerapan dalam perencanaan jangka menengah (RPJMN) menghendaki adanya perumusan permasalahan, sasaran serta arah kebijakan pembangunan untuk menyelesaikan permasalahan bangsa dalam periode jangka menengah dengan sistematis dan terstruktur. Sehingga kebijakan pembangunan yang dirancang dapat terukur kinerja pelaksanaannya dan terjamin keberhasilan pencapaiannya. Perumusan indikator kinerja untuk mengukur keberhasilan pencapaian sasaran dari setiap tahap kebijakan pembangunan merupakan bagian yang penting dalam perumusan RPJMN Keberhasilan pencapaian sasaran pada setiap tingkatan dapat diukur dengan menggunakan indikator kinerja dan target-target yang direncanakan. Melalui monitoring dan evaluasi kinerja pelaksanaan pembangunan akan dihasilkan informasi kinerja yang dapat menjadi masukan bagi proses perencanaan dalam periode berikutnya. Menindaklanjuti hal tersebut, maka perumusan indikator kinerja Basarnas telah tercantum dalam rencana pembangunan jangka menengah Basarnas/ Rencana Strategis Basarnas , sebagai berikut : Tabel Indikator Kinerja Basarnas Tahun INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET Response time pada operasi SAR dalam penanganan musibah/ bencana 5 JAM 30 MENIT 4 JAM 30 MENIT 3 JAM 30 MENIT 2 JAM 30 MENIT 1 JAM 30 MENIT Meningkatnya pelayanan dalam penyelenggaraan operasi SAR 1. Rata-rata response time pada penanganan musibah pelayaran 2. Rata-rata response time pada penanganan musibah penerbangan 3. Rata-rata response time pada penanganan bencana 6 JAM 5 JAM 4 JAM 3 JAM 2 JAM 5 JAM 4 JAM 3 JAM 2 JAM 1 JAM 5 JAM 4 JAM 3 JAM 2 JAM 1 JAM 112
113 INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET Rata-rata response time pada penanganan musibah lain-lain 6 JAM 5 JAM 4 JAM 3 JAM 2 JAM Meningkatnya kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana 1. Rata-rata waktu tindak awal dalam penyelenggaraan operasi SAR 2. Persentase kecukupan personil siaga rescuer pada Kantor SAR 20 MENIT 15 MENIT 10 MENIT 10 MENIT 10 MENIT 50% 63% 75% 88% 100% 3. Persentase cakupan wilayah yang mampu dijangkau 75% 75% 78% 81% 84% Keberhasilan evakuasi korban pada operasi SAR 95% 95% 95% 95% 95% Meningkatnya keberhasilan penyelamatan korban dalam penyelenggaraan operasi SAR 1. Persentase jumlah korban terselamatkan dalam penyelenggaraan operasi SAR 90% 90% 90% 90% 90% 2. Persentase jumlah korban yang ditemukan dalam penyelenggaraan operasi SAR 95% 95% 95% 95% 95% Persentase keterlibatan potensi SAR dalam kegiatan SAR Meningkatnya peran serta organisasi potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR 1. Jumlah keterlibatan personil potensi SAR pada pelaksanaan latihan SAR 2. Rata-rata persentase keterlibatan potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR maritim 3. Rata-rata persentase keterlibatan potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR darat 43,3% 50,0% 56,6% 63,3% 70% 175 ORG 250 ORG 325 ORG 400 ORG 475 ORG 50% 60% 70% 80% 90% 50% 60% 70% 80% 90% Meningkatnya kemampuan organisasi potensi SAR dalam melaksanaan operasi SAR 1. Persentase organisasi potensi SAR yang memiliki tenaga rescuer bersertifikasi SAR 2. Persentase peningkatan organisasi potensi SAR yang dibina 30% 35% 40% 45% 50% 30% 35% 40% 45% 50% 113
114 Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi kinerja sesuai perumusan indikator kinerja Basarnas yang telah tercantum dalam rencana pembangunan jangka menengah Basarnas/ Rencana Strategis Basarnas , maka capaian target adalah sebagai berikut : Tabel Capaian Indikator Kinerja Basarnas Tahun NO. INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian 1. Response time pada operasi SAR dalam penanganan musibah/ bencana Meningkatnya pelayanan dalam penyelenggaraan operasi SAR 1 Rata-rata response time pada penanganan musibah pelayaran 2 Rata-rata response time pada penanganan musibah penerbangan 3 Rata-rata response time pada penanganan bencana 4 Rata-rata response time pada penanganan musibah lainlain 5 JAM 30 MENIT 3 JAM 47 MENIT 6 JAM 5 JAM 10 MENIT 5 JAM 2 JAM 05 MENIT 5 JAM 3 JAM 11 MENIT 6 JAM 4 JAM 44 MENIT 131,21% 4 JAM 30 MENIT 1 JAM 57 MENIT 113,89% 5 JAM 3 JAM 35 MENIT 158,33% 4 JAM 1 JAM 32 MENIT 136,33% 4 JAM 1 JAM 7 MENIT 121,11% 5 JAM 1 JAM 32 MENIT 156,62% 3 JAM 30 MENIT 1 JAM 29 MENIT 128,33% 4 JAM 2 JAM 50 MENIT 161,67% 3 JAM 1 JAM 7 MENIT 157,62% 2 JAM 30 MENIT 129,17% 3 JAM 1 JAM 6 MENIT 48 MENIT 168% 1 JAM 30 MENIT 163,33% 2 JAM 1 JAM 4 MENIT 46 MENIT 148,40% 146,67% 162,78% 2 JAM 42 MENIT 165% 1 JAM 41 MENIT 131,67% 172,08% 3 JAM 50 MENIT 172,22% 2 JAM 33 MENIT 172,5% 1 JAM 31 MENIT 148,33% 169,33% 4 JAM 1 JAM 11 MENIT 170,42% 3 JAM 51 MENIT 171,67% 2 JAM 47 MENIT 160,83% 114
115 NO. INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Meningkatnya kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana 1 Rata-rata waktu tindak awal dalam penyelenggar aan operasi SAR 2 Persentase kecukupan personil siaga rescuer pada Kantor SAR 3 Persentase cakupan wilayah yang mampu dijangkau 20 MENIT 21 MENIT 95,24% 15 MENIT 15 MENIT 100% 10 MENIT 10 MENIT 100% 10 MENIT 10 MENIT 100% 10 MENIT 10 MENIT 100% 50% 50% 100% 63% 50% 79,37% 75% 50% 66,67% 88% 50% 56,82% 100% 50% 50% 75% 72% 96% 75% 72% 96% 78% 72% 92,31% 81% 100% 123,45% 84% 103% 122,62% 2. Keberhasilan evakuasi korban pada operasi SAR 95% 91% 96% 95% 95,06% 100,06% 95% 97,59% 102,73% 95% 98,66% 103,85% 95% 98,62% 103,81% Meningkatnya keberhasilan penyelamatan korban dalam penyelenggaraan operasi SAR 1 Persentase jumlah korban terselamatkan dalam penyelenggar aan operasi SAR 2 Persentase jumlah korban yang ditemukan dalam penyelenggar aan operasi SAR 90% 64,27% 71,41% 90% 81,07% 90,08% 90% 93,77% 104,89% 90% 95,58% 106,2% 90% 94,69% 105,21% 95% 90,82% 95,60% 95% 95,06% 100,06% 95% 97,59% 102,73% 95% 98,66% 103,85% 95% 98,62% 103,81% 115
116 NO. INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian 3. Persentase keterlibatan potensi SAR dalam kegiatan SAR 43,3% 41,14% 95,02% 50,0% 55,26% 110,52% 56,6% 73,89% 130,56% 63,3% 82,67% 130,60% 70% 115,65% 165,21% Meningkatnya peran serta organisasi potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR Meningkatnya kemampuan organisasi potensi SAR dalam melaksanaan operasi SAR 1 Jumlah keterlibatan personil potensi SAR pada pelaksanaan latihan SAR 2 Rata-rata persentase keterlibatan potensi SAR dalam penyelenggar aan operasi SAR maritim 3 Rata-rata persentase keterlibatan potensi SAR dalam penyelenggar aan operasi SAR darat 1 Persentase organisasi potensi SAR yang memiliki tenaga rescuer bersertifikasi SAR 2 Persentase peningkatan organisasi potensi SAR yang dibina 175 ORG 168 ORG 96,00% 250 ORG 326 ORG 130,40% 325 ORG 576 ORG 177,23% 400 ORG 695 ORG 173,75% 475 ORG 1242 ORG 261,47% 50% 50,00% 100,00% 60% 60,05% 100,08% 70% 71,68% 102,40% 80% 93,82% 117,28% 90% 94,06% 104,51% 50% 50,00% 100,00% 60% 61,00% 101,67% 70% 71,87% 102,67% 80% 94,09% 117,61% 90% 92,42% 102,68% 30% 26,73% 89,10% 35% 42,57% 161,63% 40% 53,47% 133,68% 45% 68,32% 151,82% 50% 71,29% 142,58% 30% 27,00% 90,00% 35% 34,65% 99,00% 40% 53,47% 133,68% 45% 74,43% 165,4% 50% 59,02% 118,04% 116
117 BAB IV PENUTUP IV.1. Kesimpulan Secara garis besar tingkat capaian kinerja Badan SAR Nasional Tahun 2014 dapat dikatakan baik karena telah memenuhi target. Laporan Akuntabilitas Kinerja Badan SAR Nasional Tahun 2014 ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang berbagai capaian kinerja, laporan ini merupakan wujud transparansi dan akuntabilitas Badan SAR Nasional. Tugas pelayanan SAR yang diemban oleh Badan SAR Nasional telah dilaksanakan dengan baik pada Tahun Anggaran 2014, hal ini tidak terlepas dari dukungan dan kerja sama dengan unsur-unsur lainnya baik di lingkungan Badan SAR Nasional maupun seluruh instansi/organisasi potensi SAR. Kerja sama yang telah terjalin dengan baik ini diharapkan dapat lebih ditingkatkan lagi sehingga kinerja Badan SAR Nasional secara keseluruhan dapat berlangsung secara maksimal. Kiranya Laporan Kinerja Tahun 2014 ini dapat memenuhi kewajiban akuntabilitas dan sekaligus menjadi sumber informasi dalam pengambilan keputusan guna peningkatan kinerja bagi Badan SAR Nasional, Laporan Kinerja ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumbangan penting dalam penyusunan dan implementasi : rencana kerja, rencana kinerja, rencana anggaran dan rencana strategis dimasa yang akan datang. Badan SAR Nasional akan melakukan berbagai langkah untuk lebih menyempurnakan laporan ini agar terwujud transparansi dan akuntabilitas yang kita ingin wujudkan bersama. IV.2. Upaya Perbaikan Suatu operasi SAR dinilai berhasil, efektif dan efisien, apabila dipenuhinya persyaratan, yaitu cepat menanggapi informasi musibah yang diterima, tepat menentukan lokasi musibah, segera mengambil langkah pertolongan dan berhasil melakukan pertolongan serta meminimalkan jumlah korban. Keberhasilan kinerja operasi SAR ditentukan oleh kecepatan, ketepatan dan kompetensi personil SAR yang mampu dan terampil. 117
118 Salah satu tugas dan tanggung jawab Basarnas adalah melaksanakan siaga SAR 24 jam yang meliputi siaga rescuer, siaga komunikasi, siaga ABK dan siaga kepala jaga harian (Kajahar). Kecukupan personil siaga terutama siaga rescuer berpengaruh pada keberhasilan operasi SAR yang efektif dan efisien. Upaya perbaikan ke depan untuk mewujudkan keberhasilan operasi SAR adalah dengan mengajukan penambahan personil untuk tingkat rescuer kepada Kementerian PAN & RB. 118
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA DEPUTI BIDANG OPERASI SAR BADAN SAR NASIONAL TAHUN 2014 DEPUTI BIDANG OPERASI SAR BADAN SAR NASIONAL
Halaman Judul LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA DEPUTI BIDANG OPERASI SAR BADAN SAR NASIONAL TAHUN 2014 DEPUTI BIDANG OPERASI SAR BADAN SAR NASIONAL KATA PENGANTAR Badan SAR Nasional merupakan Institusi Pemerintah
LAPORAN KINERJA BADAN SAR NASIONAL TAHUN 2015
LAPORAN KINERJA BADAN SAR NASIONAL TAHUN 2015 DAFTAR ISI Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii Ikhtisar Eksekutif... iv BAB I PENDAHULUAN. 1 I.1. Gambaran Umum.. 1 I.2. Kelembagaan 3 I.3. Landasan Hukum.
KATA PENGANTAR DEPUTI BIDANG POTENSI SAR SUKARTO MARSEKAL MUDA TNI
KATA PENGANTAR Rencana Strategis instansi pemerintah dalam tataran operasional ditetapkan dalam jangka waktu 5 (lima) tahunan merupakan penjabaran teknis dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
KEPALA BADAN SAR NASIONAL PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR PK. 6 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA STRATEGIS BADAN SAR NASIONAL TAHUN
KEPALA BADAN SAR NASIONAL PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR PK. 6 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA STRATEGIS BADAN SAR NASIONAL TAHUN 2015-2019 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN SAR NASIONAL,
BAB I PENDAHULUAN I.1. Kondisi Umum
BAB I PENDAHULUAN I.1. Kondisi Umum Bidang kedeputian di lingkungan Badan SAR Nasional (BASARNAS) terbentuk seiring dengan reorganisasi lembaga ini menjadi Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK). Terdapat
RENCANA STRATEGIS BADAN SAR NASIONAL
RENCANA STRATEGIS BADAN SAR NASIONAL TAHUN 2010-2014 1 LAMPIRAN PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR : PK. 02 TAHUN 2010 TANGGAL : 29 JANUARI 2010 RENCANA STRATEGIS BADAN SAR NASIONAL TAHUN 2010-2014
PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR PK 7 TAHUN 2015 TENTANG INSPEKTUR PENCARIAN DAN PERTOLONGAN PADA KECELAKAAN PESAWAT UDARA BADAN SAR NASIONAL
KEPALA BADAN SAR NASIONAL PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR PK 7 TAHUN 2015 TENTANG INSPEKTUR PENCARIAN DAN PERTOLONGAN PADA KECELAKAAN PESAWAT UDARA BADAN SAR NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.1388,2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BASARNAS. Organisasi. Kantor SAR. Klasifikasi. Kriteria. PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR PK. 19 TAHUN 2014 TENTANG KRITERIA KLASIFIKASI ORGANISASI
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2000 TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2000 TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 33 Undang-undang Nomor 15
PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR PK. 20 TAHUN 2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BADAN SAR NASIONAL
KEPALA BADAN SAR NASIONAL PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR PK. 20 TAHUN 2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BADAN SAR NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA PUSAT DATA DAN INFORMASI TAHUN 2014
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA PUSAT DATA DAN INFORMASI TAHUN 2014 BADAN SAR NASIONAL JAKARTA, MARET 2015 DAFTAR ISI DAFTAR ISI... KATA PENGANTAR... IKHTISAR EKSEKUTIF... i ii iii BAB I PENDAHULUAN....
Rencana Strategis
BAB I PENDAHULUAN A. Kondisi Umum Sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional pada bab XIV salah satu agenda pembangunan nasional
LAKIP DIREKTORAT KOMUNIKASI 2014 KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR Badan SAR Nasional berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2007, tentang Badan SAR Nasional mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan dibidang pencarian dan pertolongan ( search
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.186, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KESRA. Pencarian. Pertolongan. Badan. Pencabutan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 83 TAHUN 2016 TENTANG BADAN NASIONAL PENCARIAN DAN PERTOLONGAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2000 TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2000 TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 33 Undang-undang Nomor 15
KOTA BANDUNG TAHUN 2016
DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN DINAS PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN TAHUN 2016 Jalan Sukabumi No. 17 Bandung Telp. (022) 7207113 1 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan Kehadapan Tuhan
KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM. 30 TAHUN 2001
MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM. 30 TAHUN 2001 TATA CARA PELAKSANAAN SIAGA SEARCH AND RESCUE (SAR) DAN PENGGANTIAN BIAYA OPERASI SEARCH AND RESCUE (SAR)
2017, No Perubahan Ketiga atas Organisasi dan Tata Kerja Badan SAR Nasional (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 684); 4. Peratur
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.293, 2017 BASARNAS. Unit Siaga Pencarian dan Pertolongan. PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR PK 4 TAHUN 2017 TENTANG UNIT SIAGA PENCARIAN DAN PERTOLONGAN DENGAN
BMKG BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH INSPEKTORAT TAHUN 2015
BMKG BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH INSPEKTORAT TAHUN 2015 Jl. Angkasa I No. 2 Kemayoran, Jakarta 10720 Phone : (62 21) 65866230, 65866231, Fax : (62
RENCANA STRATEGIS BADAN SAR NASIONAL KANTOR SAR SEMARANG
RENCANA STRATEGIS BADAN SAR NASIONAL KANTOR SAR SEMARANG 2015-2019 Jl. Bukit Barisan A IV No. 9 Komp Perum Permata Puri Ngaliyan Semarang 50189 INDONESIA Telp. 024-7629192, 7628384/115, Fax. 7629189 Website:
INSPEKTORAT SEKRETARIAT KABINET REPUBLIK INDONESIA
INSPEKTORAT SEKRETARIAT KABINET REPUBLIK INDONESIA INSPEKTORAT 2015 SEKRETARIAT KABINET REPUBLIK INDONESIA LAPORAN KINERJA INSPEKTORAT SEKRETARIAT KABINET TAHUN 2014 Nomor : LAP-3/IPT/2/2015 Tanggal :
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2000 TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2000 TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 33 Undang-undang Nomor 15
PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR: PK. 01 TAHUN 2014 TENTANG PEMBINAAN POTENSI SAR BADAN SAR NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
KEPALA BADAN SAR NASIONAL PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR: PK. 01 TAHUN 2014 TENTANG PEMBINAAN POTENSI SAR BADAN SAR NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN SAR NASIONAL, Menimbang
KOTA BANDUNG TAHUN 2014
DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN DINAS PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN TAHUN 2014 JALAN SUKABUMI NO 17 BANDUNG Telp. (022) 7207113 1 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan Kehadapan Tuhan
DAFTAR ISI. Halaman Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii Ringkasan Eksekutif... iii
BADAN SAR NASIONAL N AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH (LAKIP) KANTOR SAR KELAS B MERAUKE TAHUN MERAUKE, 20 FEBRUARI 2015 DAFTAR ISI Halaman Kata Pengantar... i Daftar Isi..... ii Ringkasan Eksekutif....
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Terselenggaranya Good Governance merupakan prasyarat utama untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dalam mencapai tujuan dan cita-cita bangsa dan negara. Dalam rangka itu
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2006 TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2006 TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa musibah yang dialami manusia
L A P O R A N K I N E R J A
L A P O R A N K I N E R J A 2 0 1 4 A s i s t e n D e p u t i B i d a n g P e m b e r d a y a a n M a s y a r a k a t Deputi Bidang Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Kabinet Republik Indonesia 2014 K a
2016, No Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepoti
No. 1646, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BASARNAS. SAKIP. Evaluasi. Juklak. Pencabutan. PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR PK. 9 TAHUN 2016 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN EVALUASI ATAS IMPLEMENTASI
BAB V PENUTUP. yang mengalami kecelakaan di perairan Indonesia koordinasi terhadap
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah penulis lakukan serta dengan melakukan analisa terhadap hasil penelitian tersebut, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu : 1. Imigran
BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA
BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA Pada penyusunan Laporan Akuntabilias Kinerja Tahun 2013 ini, mengacu pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I A. Latar Belakang Tahun 2015 merupakan tahun pertama dalam pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015 2019. Periode ini ditandai dengan fokus pembangunan pada pemantapan
2017, No Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan L
No.1236, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKO-KEMARITIMAN. SAKIP. PERATURAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG KEMARITIMAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2017 TENTANG SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA DI
PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR : PK.08 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR SEARCH AND RESCUE
KEPALA BADAN SAR NASIONAL PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR : PK.08 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR SEARCH AND RESCUE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN SAR NASIONAL,
Sekretariat Jenderal KATA PENGANTAR
RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) SEKRETARIAT JENDERAL 2014 KATA PENGANTAR Sesuai dengan INPRES Nomor 7 Tahun 1999, tentang Akuntabilits Kinerja Instansi Pemerintah yang mewajibkan kepada setiap instansi pemerintah
KEPALA BADAN SAR NASIONAL PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR : PK.07 TAHUN 2010 TENTANG
KEPALA BADAN SAR NASIONAL PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR : PK.07 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR: PER.KBSN-01/2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah ditetapkannya pembentukan
RANCANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI,
1 RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN, SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.330, 2014 BASARNAS. Standar Kompetensi. Jabatan. Penyususn. Pedoman. PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR PK. 6 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN STANDAR KOMPETENSI
KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT DEWAN PERTIMBANGAN PRESIDEN LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DEWAN PERTIMBANGAN PRESIDEN TAHUN 2015
KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT DEWAN PERTIMBANGAN PRESIDEN LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DEWAN PERTIMBANGAN PRESIDEN TAHUN 2015 JAKARTA, FEBRUARI 2016 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i DAFTAR
RENCANA KINERJA TAHUNAN SEKRETARIAT JENDERAL TAHUN 2012
RENCANA KINERJA TAHUNAN SEKRETARIAT JENDERAL TAHUN 2012 SEKRETARIAT JENDERAL KEMENTERIAN PERTANIAN 2011 KATA PENGANTAR Sesuai dengan INPRES Nomor 7 Tahun 1999, tentang Akuntabilits Kinerja Instansi Pemerintah
PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR : PK. 23 TAHUN 2009 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN SAR NASIONAL,
PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR : PK. 23 TAHUN 2009 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN SIAGA SEARCH AND RESCUE (SAR) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN SAR NASIONAL, Menimbang : bahwa dalam
BAB I PENDAHULUAN. Selanjutnya dengan tersusunnya LAKIP Bagian Hukum, maka diharapkan dapat :
BAB I PENDAHULUAN I.1 KONDISI UMUM ORGANISASI B agian Hukum dibentuk berdasarkan Keputusan Kepala BSN Nomor 965/BSN-I/HK.35/05/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Standardisasi Nasional. Bagian
DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN DINAS PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN KOTA BANDUNG KOTA BANDUNG TAHUN 2016
DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN DINAS PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN TAHUN 2016 Jalan Sukabumi No. 17 Bandung Telp. (022) 7207113 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan Kehadapan Tuhan
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa dengan telah ditetapkannya pembentukan
2016, No Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 267, Tamba
No.904, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BASARNAS. SAKIP. Pedoman. PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR PK. 4 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN IMPLEMENTASI SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH
BUPATI TOBA SAMOSIR PROVINSI SUMATERA UTARA PERATURAN BUPATI TOBA SAMOSIR NOMOR 88 TAHUN 2016 TENTANG
SALINAN Menimbang BUPATI TOBA SAMOSIR PROVINSI SUMATERA UTARA PERATURAN BUPATI TOBA SAMOSIR NOMOR 88 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN
BAB I PENDAHULUAN. B. Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Sekretariat Negara
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyusunan Laporan Kinerja Kementerian Sekretariat Negara Tahun 2015 dilaksanakan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dan mencapai tujuan serta cita- cita bangsa bernegara
PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR : PK. 07 TAHUN 2009 TENTANG PENGGANTIAN BIAYA OPERASI SEARCH AND RESCUE (SAR)
PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR : PK. 07 TAHUN 2009 TENTANG PENGGANTIAN BIAYA OPERASI SEARCH AND RESCUE (SAR) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN SAR NASIONAL, Menimbang : a. bahwa
KATA PENGANTAR. Bandung, Januari 2015 KEPALA BADAN PENANAMAN MODAL DAN PERIJINAN TERPADU PROVINSI JAWA BARAT
KATA PENGANTAR Sebagai tindaklanjut dari Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, yang mewajibkan bagi setiap pimpinan instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.380, 2014 PERTAHANAN. Badan Keamanan Laut. Pembentukan. Pencabutan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 178 TAHUN 2014 TENTANG BADAN KEAMANAN LAUT DENGAN RAHMAT
BAHAN PAPARAN. Disampaikan pada : BIMBINGAN TEKNIS AUDIT
BAHAN PAPARAN Disampaikan pada : BIMBINGAN TEKNIS AUDIT PENGERTIAN ISTILAH 1. Bandar Udara adalah lapangan terbang yang dipergunakan untuk mendarat dan lepas landas pesawat udara, naik turun penumpang
1998 Amandments to the International Convention on Maritime Search and Rescue, 1979 (Resolution MCS.70(69)) (Diadopsi pada tanggal 18 Mei 1998)
1998 Amandments to the International Convention on Maritime Search and Rescue, 1979 (Resolution MCS.70(69)) (Diadopsi pada tanggal 18 Mei 1998) Adopsi Amandemen untuk Konvensi Internasional tentang Pencarian
PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR PK. 4 TAHUN 2017 TENTANG UNIT SIAGA PENCARIAN DAN PERTOLONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
KEPALA BADAN SAR NASIONAL PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR PK. 4 TAHUN 2017 TENTANG UNIT SIAGA PENCARIAN DAN PERTOLONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN SAR NASIONAL, Menimbang
PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG
SALINAN PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA KINERJA TAHUNAN, PENETAPAN KINERJA, RENCANA AKSI, DAN LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA DI LINGKUNGAN
I N S P E K T O R A T
PEMERINTAH KABUPATEN KOTABARU I N S P E K T O R A T Alamat :Jalan Nilam No. 7 Kotabaru Telp. (0518) 21402 Kode Pos 72116 KOTABARU ( LKj) TAHUN 2016 PERANGKAT DAERAH INSPEKTORAT KABUPATEN KOTABARU DAFTAR
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dan mencapai tujuan serta cita- cita bangsa bernegara
LAPORAN AKUNTABILITAS DAN KINERJA PEMERINTAH (LAKIP)
LAPORAN AKUNTABILITAS DAN KINERJA PEMERINTAH (LAKIP) ASISTEN DEPUTI BIDANG MATERI PERSIDANGAN 2014 KATA PENGANTAR Dalam rangka melaksanakan amanah Inpres Nomor 7 Tahun 1999, Asisten Deputi Bidang Materi
BUPATI BLORA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLORA,
BUPATI BLORA PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG PIAGAM INTERNAL AUDIT (INTERNAL AUDIT CHARTER) DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BLORA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLORA, Menimbang
PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR : PK. 15 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR SEARCH AND RESCUE
KEPALA BADAN SAR NASIONAL PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR : PK. 15 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR SEARCH AND RESCUE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN SAR NASIONAL,
PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA
PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA Menimbang
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP-SKPD) TAHUN 2015
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP-SKPD) TAHUN 2015 INSPEKTORAT KABUPATEN LABUHANBATU JL. SISINGAMANGARAJA No.062 RANTAUPRAPAT KATA PENGANTAR Laporan Akuntabilitas Kinerja Tahun 2015
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOJONEGORO NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA LAIN KABUPATEN BOJONEGORO
Salinan PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOJONEGORO NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA LAIN KABUPATEN BOJONEGORO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BOJONEGORO, Menimbang : a.
2 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tamba
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.491, 2015 KEMENKOMINFO. Akuntabilitas Kinerja. Pemerintah. Sistem. Penyelenggaraan. Pedoman. PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13
PERATURAN DAERAH KOTA PARIAMAN NOMOR: 10 TAHUN 2010
PERATURAN DAERAH KOTA PARIAMAN NOMOR: 10 TAHUN 2010 SABID UAK SADAYU A NG T E N T A N G PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA PARIAMAN KOTA PARIAMAN TAHUN 2010-0
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA SEKRETARIAT INSPEKTORAT JENDERAL TAHUN 2016
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA SEKRETARIAT INSPEKTORAT JENDERAL TAHUN 2016 SEKRETARIAT INSPEKTORAT JENDERAL KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN JAKARTA, JANUARI 2017 Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Inspektorat
RENCANA KINERJA BALAI BESAR PULP DAN KERTAS TAHUN ANGGARAN 2015
RENCANA KINERJA BALAI BESAR PULP DAN KERTAS TAHUN ANGGARAN 2015 KATA PENGANTAR R encana Kinerja merupakan dokumen yang berisi target kinerja yang diharapkan oleh suatu unit kerja pada satu tahun tertentu
PEMERINTAH KOTA SOLOK LAPORAN KINERJA TAHUN 2016
PEMERINTAH KOTA SOLOK LAPORAN KINERJA TAHUN 2016 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA) KOTA SOLOK 2017 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH BADAN SAR NASIONAL
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH BADAN SAR NASIONAL TAHUN 2012 BAB I PENDAHULUAN 1. Umum a. Badan SAR Nasional (Basarnas) dibentuk sebagai lembaga yang bersifat kemanusiaan dalam bidang
Kata Pengantar. Kerja Keras Kerja Lebih Keras Kerja Lebih Keras Lagi 1
Kata Pengantar Reformasi birokrasi dilingkungan Kementerian Hukum dan HAM pada hakikatnya adalah perubahan besar dalam paradigma dan tata kelola pemerintahan untuk menciptakan birokrasi pemerintah yang
Bab I Pendahuluan A. LATAR BELAKANG
Bab I Pendahuluan A. LATAR BELAKANG Penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan yang tepat, jelas, terukur dan akuntabel merupakan sebuah keharusan yang perlu dilaksanakan dalam usaha mewujudkan
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
- 1 - PERATURAN PRESIDEN NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 17 Undang-Undang
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1213, 2013 KEMENTERIAN SOSIAL. Kinerja. Rencana Tahunan. Rencana Aksi. LAKIP. Penyusunan. Pedoman. Pencabutan. PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN
