BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH"

Transkripsi

1 BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1. Aspek Geografis dan Demografi Karakteristik Lokasi dan Wilayah Wilayah Provinsi Jawa Timur dengan luas ,14 Km 2 memiliki batas-batas sebagai berikut: sebelah Utara Laut Jawa, sebelah Timur Selat Bali, sebelah Selatan Samudera Hindia, dan sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah. Secara astronomis terletak antara 111 o,0-114 o,4 Bujur Timur dan 7 o,12-8 o,48 Lintang Selatan. Sebagian besar wilayah Jawa Timur terdiri dari 90% wilayah daratan dan 10% wilayah Kepulauan termasuk Madura. Secara administrasif berdasarkan Permendagri No. 18 Tahun 2013 tentang Buku Induk Kode Wilayah, Jawa Timur terdiri dari 38 Kabupaten/Kota (29 Kabupaten dan 9 Kota) yang mempunyai 664 Kecamatan dengan 783 Kelurahan dan Desa. Tabel 2.1 Jumlah Kecamatan dan Desa pada masing masing Kabupaten/Kota se Jawa Timur Tahun 2013 Kabupaten/Kota Kecamatan Kelurahan/Desa Kelurahan Desa Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) Kabupaten 01. Pacitan Ponorogo Trenggalek Tulungagung Blitar Kediri Malang Lumajang Jember Banyuwangi Bondowoso Situbondo Probolinggo Pasuruan Sidoarjo Mojokerto Jombang BAB II - 1

2 Kabupaten/Kota Kecamatan Kelurahan/Desa Kelurahan Desa Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) 18. Nganjuk Madiun Magetan Ngawi Bojonegoro Tuban Lamongan Gresik Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep Kota 30. Kediri Blitar Malang Probolinggo Pasuruan Mojokerto Madiun Surabaya Batu Sumber: Permendagri Nomor 18 Tahun 2013 Salah satu faktor penting yang mempengaruhi tingkat kesuburan tanah adalah banyaknya gunung berapi yang masih aktif. Provinsi Jawa Timur mempunyai beberapa gunung berapi yang masih aktif yang tersebar mulai mulai dari perbatasan barat ke timur meliputi Gunung Lawu, Gunung Kelud, Gunung Bromo, Gunung Argopuro, dan Gunung Ijen dengan gunung tertinggi yaitu Gunung Semeru. Faktor topografi, jenis tanah dan geologi memberikan pengaruh besar terhadap tingkat erosi yang tinggi di wilayah lajur gunung api tengah seperti Magetan, Trenggalek, Tulungagung, Tuban, Kediri, Blitar, Malang, Probolinggo, Situbondo dan Bondowoso dan daerah perbukitan gamping seperti Madura dan Pacitan dari lajur pegunungan selatan. Pegunungan gamping dengan tingkat kesuburan tanah yang marginal dan mempunyai kecenderungan menjadi tanah kritis. Lajur gunung api tengah dengan beberapa gunung api yang masih aktif, seperti Gunung Lawu, Wilis, Kelud, Kawi, Arjuno, Semeru, Bromo, Raung, Merapi dan lainnya merupakan ancaman bencana alam letusan BAB II - 2

3 gunung api, baik berupa banjir atau longsoran lahar, aliran lava, awan panas, gas beracun maupun gempa vulkanik yang perlu diwaspadai sejak dini. Lajur ini juga rawan longsor dan gempa bumi tektonik, karena tanahnya yang tidak begitu mampat, lapisan tanahnya tebal dengan kelerengan yang curam dan terletak di atas struktur sesar dan patahan. Berikut ini nama dan tinggi gunung berapi di Jawa Timur. Tabel 2.2 Lokasi, Nama dan Tinggi Gunung Berapi di Jawa Timur Lokasi Kabupaten Nama Gunung Berapi Tinggi (M) Malang Kelud Welirang Arjuno Semeru Lumajang Lamongan Bromo Jember Argopuro Bondowoso Pendil Suket Banyuwangi Merapi Raung Sumber : BPS Jawa Timur, 2013 Panjang bentangan Barat-Timur Provinsi Jawa Timur sekitar 400 kilometer dan lebar bentangan utara-selatan sekitar 200 kilometer. Jawa Timur memiliki wilayah kepulauan yang terdiri dari pulau bernama sebanyak 232 pulau, pulau tanpa nama sebanyak 55 sehingga total keseluruhan pulau kecil yang dimiliki Provinsi Jawa Timur sebanyak 287 pulau (Sumber : Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia, 2004). Pulau Madura adalah pulau terbesar di Jawa Timur, di sebelah timur Pulau Madura terdapat gugusan pulau, paling timur adalah Kepulauan Kangean, dan paling utara adalah Kepulauan Masalembu. Pulau Bawean berada sekitar 150 kilometer sebelah utara pulau Jawa, sedangkan bagian selatan meliputi pulau Nusa Barung, Sempu, Sekel dan Panehan. BAB II - 3

4 Gambar 2.1 Peta Administrasi Wilayah dan Pulau Pulau Jawa Timur Sumber : RTRW Provinsi Jawa Timur Tahun Berdasarkan struktur fisik dan kondisi geografis, Jawa Timur dapat dikelompokkan sebagai berikut : (1) Bagian Utara dan Madura merupakan daerah yang relatif kurang subur yang berupa pantai, dataran rendah dan pegunungan; (2) Bagian Tengah merupakan daerah yang relatif subur; (3) Bagian Selatan-Barat merupakan pegunungan yang memiliki potensi tambang cukup besar; (4) Bagian Timur pegunungan dan perbukitan yang memiliki potensi perkebunan, hutan dan tambang. Kondisi topografi Provinsi Jawa Timur terbagi menjadi 2 aspek antara lain : 1) Ketinggian Lahan Secara topografi wilayah daratan Jawa Timur dibedakan menjadi beberapa wilayah ketinggian, yaitu : Ketinggian meter dari permukaan laut: meliputi 41,39 % dari seluruh luas wilayah dengan topografi relatif datar dan bergelombang. Ketinggian meter dari permukaan laut: meliputi 36,58 % dari luas wilayah dengan topografi bergelombang dan bergunung. Ketinggian meter dari permukaan laut: meliputi 9,49 % dari luas wilayah dengan kondisi berbukit. Ketinggian lebih dari meter dari permukaan laut : meliputi 12,55 % dari seluruh luas wilayah dengan topografi bergunung dan terjal. BAB II - 4

5 Gambar 2.2 Peta Ketinggian Lahan Sumber : RTRW Provinsi Jawa Timur Tahun ) Kemiringan Lereng Sebagian besar wilayah Jawa Timur mempunyai kemiringan lereng 0-15 % hampir di seluruh dataran rendah Provinsi Jawa Timur, sedangkan untuk kemiringan lereng 15-40% berada pada daerah perbukitan dan pegunungan, kemiringan lereng >40% berada pada daerah pegunungan. Gambar 2.3 Peta Kemiringan Lereng Sumber : RTRW Provinsi Jawa Timur Tahun BAB II - 5

6 Secara umum wilayah Provinsi Jawa Timur merupakan kawasan subur dengan berbagai jenis tanah seperti Halosen, Pleistosen, Pliosen, Miosen, dan Kwarter yang dipengaruhi adanya gunung berapi. Sekitar 20,60 % luas wilayah yaitu wilayah puncak gunung api dan perbukitan gamping yang mempunyai sifat erosif, sehingga tidak baik untuk dibudidayakan sebagai lahan pertanian. Sebagian besar wilayah Jawa Timur mempunyai kemiringan tanah 0-15 %, sekitar 65,49 % dari luas wilayah yaitu wilayah dataran aluvial antar gunung api sampai delta sungai dan wilayah pesisir yang mempunyai tingkat kesuburan tinggi dan dataran aluvial di lajur Kendeng yang subur, sedang dataran aluvial di daerah gamping lajur Rembang dan lajur Pegunungan Selatan cukup subur. Gambar 2.4 Peta Jenis Tanah Sumber : RTRW Provinsi Jawa Timur Tahun BAB II - 6 Kondisi geologi Jawa Timur yang cukup kaya akan potensi sumberdaya mineral, memiliki sekitar 20 jenis bahan galian yang mendukung sektor industri maupun konstruksi, yang secara umum dapat dikelompokkan menjadi empat lajur, yaitu: pertama Lajur Rembang terbentuk oleh batu lempung napalan dan batu gamping merupakan cekungan tempat terakumulasinya minyak dan gas bumi; kedua Lajur Kendeng terbentuk batu lempung dan batupasir, potensi lempung, bentonit, gamping; ketiga lajur Gunung Api Tengah terbentuk oleh endapan material gunung api kuarter, potensi bahan galian konstruksi berupa batu pecah, krakal, krikil, pasir, tuf; keempat lajur Pegunungan

7 Selatan terbentuk oleh batu gamping dengan intrusi batuan beku dan aliran lava yang mengalami tekanan, potensi mineral logam, marmer, onyx, batu gamping, bentonit, pospat. Gambar 2.5 Peta Formasi Geologi Sumber : RTRW Provinsi Jawa Timur Tahun Secara hidrologi wilayah Provinsi Jawa Timur terdiri dari air permukaan dan air tanah. Air permukaan meliputi Wilayah Sungai (WS), dan Waduk, sedangkan air tanah berupa mata air. Pembagian WS di meliputi tujuh WS yaitu WS Bengawan Solo, WS Brantas, WS Welang Rejoso, WS Pekalen Sampean, WS Baru Bajulmati, WS Bondoyudo Bedadung, dan WS Madura. Provinsi Jawa Timur memiliki 686 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang tercakup dalam wilayah sungai, WS Bengawan Solo memiliki 94 DAS, WS Brantas memiliki 220 DAS, WS Welang Rejoso memiliki 36 DAS, WS Pekalen Sampean memiliki 56 DAS, WS Baru Bajulmati memiliki 60 DAS, WS Bondoyudo Bedadung memiliki 47 DAS, dan WS Madura memiliki 173 DAS. Berdasarkan data Pengairan dalam angka dari tahun 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, luas Catchment Area yang dapat diidentifikasi berdasarkan wilayah sungai, cenderung nilainya tetap. Kecuali pada WS Bengawan Solo dan WS Brantas yang luasan Catchment Area nya meningkat pada tahun 2011, 2012 dan BAB II - 7

8 Tabel 2.3 Luas Catchment Area (Km 2 ) pada Wilayah Sungai di Jawa Timur No Wilayah Sungai Bengawan Solo , , , , , ,30 2 Brantas , , , , , ,00 3 Welang Rejoso 2.601, , , , , ,00 4 Pekalen Sampean 3.953, , , , , ,00 5 Baru Bajulmati 3.675, , , , , ,00 6 Bondoyudo Bedadung 5.364, , , , , ,00 7 Madura 4.575, , , , , ,00 Sumber : Pengairan dalam angka dari tahun 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013 Selain Sungai, sumber daya air yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air adalah waduk-waduk tersebar hampir di seluruh Jawa Timur. Jumlah Waduk yang ada di Jawa Timur berjumlah 89 buah waduk. Tabel 2.4 Jumlah Waduk, Volume Tampung, Kapasitas Efektif dan Luas Daerah Genangan pada Wilayah Sungai di Jawa Timur No Wilayah Sungai Bengawan Solo 61 Waduk 61 Waduk 61 Waduk 61 Waduk 61 Waduk 61 Waduk Volume Tampung ( , , , , , ,63 m 3 ) KapasitasEfektif (10 3 m 3 ) , , , , , ,80 Luas Daerah Genangan 3.612, , , , , ,79 (km 2 ) 2 Brantas 21 Waduk 21 Waduk 21 Waduk 21 Waduk 21 Waduk 21 Waduk Volume Tampung ( , , , , , ,00 m 3 ) KapasitasEfektif (10 3 m 3 ) , , , , , ,90 Luas Daerah Genangan 2.913, , , , , ,75 (km 2 ) 3 Welang Rejoso Pekalen Sampean Baru Bajulmati Bondoyudo Bedadung Madura 1 Waduk 1 Waduk 1 Waduk 1 Waduk 1 Waduk 1 Waduk Volume Tampung ( , , , , , ,00 m 3 ) KapasitasEfektif (10 3 m 3 ) 7.250, , , , , ,00 Luas Daerah Genangan 2,8 2,8 2,8 2,8 2,8 2,8 (km 2 ) No Wilayah Sungai Bengawan Solo 61 Waduk 61 Waduk 61 Waduk 61 Waduk 61 Waduk 61 Waduk Volume Tampung ( , , , , , ,63 m 3 ) KapasitasEfektif (10 3 m 3 ) , , , , , ,80 Luas Daerah Genangan 3.612, , , , , ,79 (km 2 ) 2 Brantas 21 Waduk 21 Waduk 21 Waduk 21 Waduk 21 Waduk 21 Waduk Volume Tampung ( , , , , , ,00 m 3 ) KapasitasEfektif (10 3 m 3 ) , , , , , ,90 Sumber : Pengairan dalam angka dari tahun 2008, 2009, 2010, 2011, 2012 BAB II - 8

9 Provinsi Jawa Timur memiliki jumlah mata air yang cukup banyak dan tersebar di seluruh Wilayah sungai. Berdasarkan data Pengairan dalam angka dari tahun 2008, 2009, 2010, 2011, 2012,2013 jumlah mata air yang ada masih tetap tidak mengalami perubahan yaitu sebanyak mata air, yang memiliki debit rerata tahunan yang sama yaitu 73,20 m 3 /detik, serta memiliki volume tahunan 2.308, m 3. Tabel 2.5 Jumlah Mata Air, Debit Rerata Tahunan dan Valume Tahunan di Wilayah Sungai UPT PSDAW di Jawa Timur Tahun 2012 No Wilayah Sungai UPT PSAWS Kabupaten/Kota Jumlah Mata Air (bh) Debit Rerata Tahunan (m 3 /detik) Volume Tahunan (10 6 I BENGAWAN SOLO Madiun 1 Kabupaten Madiun 114 0,60 18,89 2 Kabupaten Magetan 138 3,12 98,46 3 Kabupaten Ngawi 217 2,68 84,55 4 Kabupaten Ponorogo 428 1,51 47,56 5 Kabupaten Pacitan 140 0,31 9,81 JUMLAH ,22 259,26 Bengawan Solo 6 Kabupaten Bojonegoro 46 0,41 12,93 7 Kabupaten Gresik 11 0,57 17,98 8 Kabupaten Tuban 28 0,32 10,06 9 Kabupaten Lamongan 50 0,25 7,88 JUMLAH 135 1,55 48,85 II BRANTAS Bango Gedangan 10 Kab/Kota Malangdan Kota Batu 487 9,80 309,18 11 Kab/Kota Blitar 162 4,45 140,18 12 Kabupaten Tulungagung 76 0,96 30,21 13 Kabupaten Trenggalek 321 0,01 0,19 JUMLAH ,21 479,76 Puncu Selodono 14 Kabupaten Kediri 323 8,27 260,71 15 Kabupaten Nganjuk 112 1,49 47,11 16 Kabupaten Jombang 73 0,98 30,84 JUMLAH ,74 338,67 Buntung Paketingan 17 Kabupaten Sidoarjo 5 0,01 0,16 18 Kabupaten Mojokerto 38 1,98 62,44 19 Kota Surabaya 0 0,00 0,00 m 3 ) BAB II - 9

10 No BAB II - 10 Rancangan Awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Wilayah Sungai UPT PSAWS Kabupaten/Kota Jumlah Mata Air (bh) Debit Rerata Tahunan (m 3 /detik) Volume Tahunan (10 6 JUMLAH 43 1,99 62,60 III. WELANG REJOSO Gembong Pekalen 20 Kabupaten Pasuruan 292 0,00 0,00 21 Kabupaten Probolinggo 222 6,44 203,09 JUMLAH 514 6,44 203,09 IV. PEKALEN SAMPEAN Sampean Baru 22 Kabupaten Situbondo 57 3,38 106,56 23 Kabupaten Bondowoso 119 2,24 70,58 JUMLAH 176 5, V. BARU BAJULMATI Sampean Baru 24 Kabupaten Banyuwangi ,25 354,78 JUMLAH ,25 354,78 BONDOYUDO VI. BEDADUNG Bondoyudo Mayang 25 Kabupaten Lumajang 255 2,15 67,80 26 Kabupaten Jember 315 1,50 47,30 JUMLAH 570 3,65 115,11 VII. MADURA Madura 27 Kabupaten Bangkalan 36 4,20 132,40 28 Kabupaten Sampang 33 1,04 32,86 29 Kabupaten Pamekasan 38 1,70 53,69 30 Kabupaten Sumenep 21 1,60 50,38 JUMLAH 128 8,54 269,33 Total Jawa Timur , ,57 Sumber :Pengairan dalam angka dari tahun 2008, 2009, 2011, 2012 m 3 ) Kondisi Iklim Provinsi Jawa Timur secara umum termasuk iklim tropis yang mengenal 2 (dua) perubahan putaran musim, yaitu musim Kemarau (Mei-Oktober) dan musim Penghujan (Nopember-sampai sekitar bulan April). Hingga bulan Desember seluruh wilayah di Jawa Timur sudah memasuki musim penghujan. Hampir setiap hari hujan mengguyur semua wilayah dengan intensitas ringan hingga lebat. Jika ditinjau dari kondisi suhu udara, pada tahun 2012 di Provinsi Jawa Timur suhu udara maksimum mencapai 35,4 derajat Celcius dan suhu udara minimum 20,6 derajat Celcius. Kecepatan angin maksimum

11 mencapai 16 knots yang terjadi pada bulan Maret. Jumlah curah hujan maksimum terjadi pada bulan Januari dengan curah hujan sebesar 445,9 mm. Tabel 2.6 Keadaan Cuaca Bulanan Tahun 2012 Bulan Temperatur - Max ( o C) Temperatur - Min ( o C) Jumlah Curah Hujan (mm) Kecepatan Angin maksimum (1) (2) (3) (4) (5) Januari 34,6 23,5 445,9 15 Februari 33,6 23,1 61,0 11 Maret 32,7 22,8 210,9 16 April 33,4 24,1 140,8 12 Mei 32,7 22,7 114,0 12 Juni 32,0 21,5 67,7 13 Juli 32,4 20,6-13 Agustus 33,1 20,6-14 September 33,4 20,6-14 Oktober 35,1 23,5 2,1 14 November 35,4 24,6 58,0 13 Desember 34,3 22, Sumber : Stasiun Meteorologi Klas I Juanda, Surabaya tahun 2013 Secara umum wilayah Provinsi Jawa Timur dapat dibagi 2 bagian besar, tutupan lahan lindung dan lahan budidaya. Kawasan lindung memiliki luas kurang lebih Ha atau sekitar 12,10% dari luas wilayah Provinsi Jawa Timur, termasuk di dalamnya kawasan lindung mutlak di mana terdapat cagar alam seluas kurang lebih Ha, suaka margasatwa seluas kurang lebih Ha, taman nasional seluas kurang lebih Ha, taman hutan raya seluas kurang lebih ,3 Ha serta taman wisata alam seluas kurang lebih 298 Ha (SK Menteri Kehutanan Nomor 395/Menhut-II/2011). Adapun, penggunaan lahan budidaya adalah seluas kurang lebih ,70 Ha atau 87,90% dari luas wilayah provinsi Jawa Timur. Gambaran perubahan proporsi penggunaan lahan di Jawa Timur menunjukkan kecenderungan menurunnya luas wilayah pertanian. Pertanian lahan basah memiliki luas kurang lebih Ha atau 19,08% dari luas wilayah provinsi Jawa Timur. Penggunaan lahan kawasan terbangun dikendalikan agar tidak mengkonversi luas pertanian lahan basah, terutama sawah irigasi teknis. Secara lebih rinci diuraikan pada Tabel 2.7 Penggunaan Lahan Eksisting Provinsi Jawa Timur dan Gambar 2.6 Peta Penggunaan Lahan Eksisting Provinsi Jawa Timur. BAB II - 11

12 Tabel 2.7 Penggunaan Lahan Eksisting Provinsi Jawa Timur No. Penggunaan Lahan Eksisting (Ha) Prosentase (%) A. KAWASAN LINDUNG ,30 12,11 1 Hutan Lindung ,00 7,21 2 Kawasan Suaka Alam, ,30 4,90 Pelestarian Alam 1) Suaka Margasatwa ,00 0,38 2) Cagar Alam ,00 0,23 3) Taman Nasional ,00 3,70 4) Taman Hutan Raya ,30 0,58 5) Taman Wisata Alam 298,00 0,01 B. KAWASAN BUDIDAYA ,70 87,89 1 Kawasan Hutan Produksi ,00 16,38 2 Kawasan Hutan Rakyat ,30 7,56 3 Kawasan Pertanian ,71 42,27 1) Pertanian Lahan Basah ,00 19,08 2) Pertanian lahan kering/ ,71 23,19 tegalan/kebun campur 4 Kawasan Perkebunan ,00 7,52 5 Kawasan Industri 7.403,80 0,15 6 Kawasan Pemukiman ,00 12,45 7 Lainnya ,89 1,56 T O T A L ,00 100,00 Sumber : RTRW Provinsi Jawa Timur Tahun Gambar 2.6 Peta Penggunaan Lahan Eksisting Provinsi Jawa Timur Sumber : RTRW Provinsi Jawa Timur Tahun BAB II - 12

13 Potensi Pengembangan Wilayah Potensi pengembangan wilayah di Provinsi Jawa Timur dapat di tinjau dalam berbagai aspek antara lain potensi kehutanan, pertanian, perkebunan, perikanan, dan pertambangan. Potensi Kehutanan di Provinsi Jawa Timur dapat di tinjau pada kawasan peruntukan hutan produksi dengan luas sekurang kurangnya Ha atau 16,38% dari luas wilayah Provinsi Jawa Timur dan hutan rakyat dengan luas sekurang kurangnya ,30 Ha atau 7,56% dari luas wilayah Provinsi Jawa Timur. Gambar 2.7 Peta Peruntukan Hutan Produksi Provinsi Jawa Timur Sumber : RTRW Provinsi Jawa Timur Tahun Berdasarkan total kawasan hutan produksi dan hutan rakyat, Provinsi Jawa Timur mampu memproduksi kayu dan hasil penggunaan kayu sebagai berikut : Tabel 2.8 Produksi Kayu dan Penggunaan Kayu Tahun Tahun Produksi Kayu Pertukangan Kayu Bakar Jati (m 3 ) Rimba (m 3 ) Jati (m 3 ) Rimba (m 3 ) (1) (2) (3) (4) (5) Sumber : BPS Jawa Timur, 2013 BAB II - 13

14 Potensi Pertanian di Jawa Timur meliputi pertanian lahan basah, pertanian lahan kering, dan hortikultura dengan total Luas rencana sawah di Provinsi Jawa Timur seluas Ha. Rencana penggunaan lahan untuk pertanian lahan basah berupa Sawah beririgasi teknis dengan luas sekurang-kurangnya Ha atau 20,03% dari luas Jawa Timur dengan peningkatan jaringan irigasi semi teknis dan sederhana menjadi irigasi teknis yang tersebar di masing-masing wilayah sungai. Rencana pengembangan pertanian lahan kering di wilayah Provinsi Jawa Timur ditetapkan dengan luas sekurang-kurangnya Ha atau 17,76% dari luas Jawa Timur yang diarahkan pada daerah-daerah yang belum terlayani oleh jaringan irigasi. Untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional dan kebutuhan pangan Provinsi Jawa Timur, perlu dilakukan perlindungan terhadap lahan pertanian pangan sehingga dapat menjamin ketersediaan pangan. Berdasarkan hal tersebut provinsi Jawa Timur menetapkan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) di Jawa Timur Seluas kurang lebih ,72 Ha dengan rincian lahan basah seluas ,9 Ha dan lahan kering seluas 215, Ha. Gambar 2.8 Peta Peruntukan Pertanian Pangan Lahan Basah dan Kering Provinsi Jawa Timur Sumber : RTRW Provinsi Jawa Timur Tahun BAB II - 14

15 Berdasarkan total luas lahan sawah, provinsi Jawa Timur mampu memproduksi tanaman pangan sebagaimana tabel berikut : Tabel 2.9 Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai Provinsi Jawa Timur Tahun Tahun Produksi (Ton) Padi Jagung Kedelai Sumber : BPS Jawa Timur dan Dinas Pertanian Potensi Perkebunan Berdasarkan komoditasnya, pengembangan perkebunan dapat dibagi dalam 2 (dua) kelompok yakni perkebunan tanaman tahunan dan perkebunan tanaman semusim Gambar 2.9 Peta Peruntukan Perkebunan Provinsi Jawa Timur Sumber : RTRW Provinsi Jawa Timur Tahun Berdasarkan total luasan rencana kawasan peruntukan perkebunan, Provinsi Jawa Timur mampu mencapai produksi terutama pada komoditas tanaman tahunan berupa tebu dan tembakau dan tanaman musiman berupa kopi dan kakao sebagaimana pada tabel berikut : BAB II - 15

16 Tabel 2.10 Produksi Tanaman Tahunan dan Musiman Provinsi Jawa Timur Tahun Tahun Tanaman Tahunan (Ton) Tanaman Musiman (Ton) Tebu Tembakau Kopi Kakao Sumber : BPS Jawa Timur dan Dinas Perkebunan Potensi Perikanan Provinsi Jawa Timur pada dasarnya adalah pengembangan perikanan tangkap, perikanan budidaya, dan pengelolaan serta pemasaran hasil perikanan yang dikemas dalam sebuah sistem minapolitan. Pengembangan kawasan perikanan tangkap di Jawa Timur memiliki prospek yang bagus, didukung oleh pengembangan pelabuhan perikanan Brondong yang terletak di Pantai Utara Jawa Timur, pengembangan pelabuhan perikanan Muncar di Kabupaten Banyuwangi, dan Prigi di Kabupaten Trenggalek. Pengembangan kawasan peruntukan perikanan budidaya terdiri dari perikanan budidaya air payau, perikanan budidaya air tawar, dan perikanan budidaya air laut. Sektor perikanan budidaya air payau berada pada kawasan Ujung Pangkah dan Panceng di Kabupaten Gresik, serta Sedati di Kabupaten Sidoarjo dengan komoditas ikan bandeng dan garam. Sedangkan potensi garam yang merupakan salah satu potensi budidaya air payau berada pada Kabupaten Bangkalan, Gresik, Lamongan, Pamekasan, Pasuruan, Probolinggo, Sampang, Sumenep, Tuban, serta Kota Pasuruan, dan Surabaya. Perikanan budidaya air tawar berada pada Kabupaten Bojonegoro, Lamongan, Magetan, Malang, Blitar, Trenggalek, Tulungagung, Jember, dan Banyuwangi. Perikanan budidaya air laut tersebar pada wilayah pesisir seperti adanya sentra pengembangan ikan laut di bagian pantai utara Jawa Timur. BAB II - 16

17 Gambar 2.10 Peta Peruntukan Perikanan Budidaya Air Payau Provinsi Jawa Timur Sumber : RTRW Provinsi Jawa Timur Tahun Berdasarkan total luasan kawasan peruntukan perikanan budidaya dan hasil perikanan tangkap, Provinsi Jawa Timur mampu mencapai produksi perikanan sebagaimana pada tabel berikut : Tahun Tabel 2.11 Produksi Perikanan Tangkap dan Budidaya Provinsi Jawa Timur Tahun Perikanan tangkap (Ton) Perikanan Perairan Tawar Payau Perikanan Budidaya (Ton) Asin (Laut) Laut Umum (Kolam) (Tambak) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,3 Sumber : BPS Jawa Timur dan Dinas Perikanan Potensi Pertambangan di Provinsi Jawa Timur dibagi menjadi potensi pertambangan mineral (logam, bukan logam, batuan dan batubara), potensi pertambangan minyak dan gas bumi dan potensi panas bumi. a. Potensi Mineral Logam Mineral logam yang banyak terdapat di Provinsi Jawa Timur adalah pasir besi dan mangaan disamping itu juga logam emas, tembaga serta unsur logam Au, Ag, Cu dan Zn, sebagaimana tabel berikut : BAB II - 17

18 Tabel 2.12 Potensi Mineral Logam di Jawa Timur Sumber : Dinas ESDM Prov Jatim, 2013 b. Potensi Mineral Bukan Logam Mineral bukan logam yang banyak terdapat di Provinsi Jawa Timur adalah dolomit, pasir kuarsa dan fosfat, disamping itu mempunyai potensi mineral bukan logam yang lain seperti yodium, belerang, zeolit, kaolin, feldspar, bentonit, gipsum, kalsit, rijang, pirofilit, dan oker, sebagaimana tabel berikut : Tabel 2.13 Potensi Mineral Bukan Logam di Jawa Timur Sumber : Dinas ESDM Prov Jatim, 2013 c. Potensi Batuan Potensi batuan yang banyak terdapat di Provinsi Jawa Timur adalah batuan gamping dan andesit, disamping itu juga mempunyai potensi batuan trass, marmer, tanah liat, tanah urug, opal, kalsedon, diorit, pasir, sirtu, onyx, toseki, breksi, jasper dan tuff, sebagaimana tabel berikut : BAB II - 18

19 Tabel 2.14 Potensi Batuan di Jawa Timur Sumber : Dinas ESDM Prov Jatim, 2013 d. Potensi Batubara Potensi batubara di Jawa Timur tersebar di tiga kabupaten yaitu Trenggalek, Pacitan dan Tulungagung dengan total potensi sebesar ,35 ton seluas 74,1 Ha, sebagaimana tabel berikut : Tabel 2.15 Potensi Batubara di Jawa Timur Sumber : Dinas ESDM Prov Jatim, 2013 e. Potensi Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Provinsi Jawa Timur merupakan daerah yang memiliki potensi pertambangan migas yang cukup potensial, dimana cadangan migas yang telah terbukti maupun yang masih terduga masih sangat besar. Jawa BAB II - 19

20 Timur menduduki posisi peringkat ke-3 (tiga) sebagai daerah penghasil pertambangan migas setelah Riau dan Kalimantan Timur. Di wilayah Jawa Timur terdapat 39 blok migas, yang berstatus Produksi sebanyak 13 (tiga belas) Wilayah Kerja, status eksplorasi sebanyak 23 (dua puluh tiga) Wilayah Kerja dan status development sebanyak 3 (tiga) Wilayah Kerja. Gambar 2.11 Peta Peruntukan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Provinsi Jawa Timur BAB II - 20 Sumber : RTRW Provinsi Jawa Timur Tabel 2.16 Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi Provinsi Jawa Timur NO NAMA BLOK OPERATOR STATUS 1 MURIAH PC MURIAH LTD. PENGEMBANGAN 2 TITAN AWE (TITAN) NZ LIMITED EKSPLORASI 3 EAST MURIAH PEARL OIL (EAST MURIAH) LIMITED EKSPLORASI 4 BAWEAN CAMAR RESOURCES CANADA INC. PRODUKSI 5 EAST BAWEAN I EAST BAWEAN LTD. EKSPLORASI 6 NORTH MADURA AWE (NORTH MADURA) NZ LIMITED EKSPLORASI 7 KARAPAN AMSTELCO KARAPAN PTE, LTD. EKSPLORASI 8 NORTH EAST MADURA-III ANADARKO INDONESIA COMPANY EKSPLORASI 9 BULU KRISENERGY (SATRIA) LTD. EKSPLORASI 10 PANGKAH HESS (INDONESIA PANGKAH) LIMITED PRODUKSI 11 WEST MADURA OFFSHORE PT. PERTAMINA HULU ENERGI WEST MADURA OFFSHORE EKSPLORASI 12 POLENG PERTAMINA EP PRODUKSI 13 TERUMBU AWE (TERUMBU) NZ LIMITED EKSPLORASI 14 KETAPANG BLOCK PC KETAPANG II LTD. PENGEMBANGAN 15 MANDALA CONSORTIUM PT. BUMI HASTA MUKTI - FORTUNE EMPIRE GROUP LTD. EKSPLORASI

21 NO NAMA BLOK OPERATOR STATUS 16 MADURA SPE PETROLEUM LTD EKSPLORASI 17 SOUTH MADURA SOUTH MADURA EXPLORATION COMPANY LTD. EKSPLORASI 18 JAWA BAGIAN TIMUR AREA-3 PERTAMINA EP PRODUKSI 19 TUBAN JOB PERTAMINA-PETROCHINA EAST JAVA PRODUKSI 20 RANDUGUNTING BLOCK PERTAMINA EP RANDUGUNTING EKSPLORASI 21 CEPU BLOCK MOBIL CEPU LTD. PRODUKSI 22 JAWA BAGIAN TIMUR AREA-4 PERTAMINA EP PRODUKSI 23 JAWA BAGIAN TIMUR AREA-5 PERTAMINA EP PRODUKSI 24 JAWA BAGIAN TIMUR AREA-6 PERTAMINA EP PRODUKSI 25 BLORA PT. SELE RAYA ENERGI EKSPLORASI 26 ALAS JATI BLOCK PT. INSANI BINA PERKASA EKSPLORASI 27 BRANTAS LAPINDO BRANTAS INC. PRODUKSI 28 SAMPANG SANTOS (SAMPANG) PTY LTD. PRODUKSI 29 GUNTING EXXONMOBIL EXPLORATION AND PRODUCTION INDONESIA (GUNTING) LIMITED EKSPLORASI 30 SOUTH EAST MADURA PT. ENERGI MINERAL LANGGENG EKSPLORASI 31 MADURA OFFSHORE BLOCK SANTOS (MADURA OFFSHORE) PTY. LTD. PRODUKSI 32 MADURA STRAIT HUSKY OIL (MADURA) LTD. PENGEMBANGAN 33 NORTHEAST MADURA TECHWIN ENERGY NORTHEAST MADURA LTD. EKSPLORASI 34 NORTH KANGEAN PETROJAVA NORTH KANGEAN INC EKSPLORASI 35 KANGEAN EMP KANGEAN LTD. EKSPLORASI 36 SIBARU MITRA ENERGY (INDONESIA SIBARU) LTD. EKSPLORASI 37 EAST KANGEAN GREENSTAR ASSETS LIMITED EKSPLORASI 38 EAST SEPANJANG PT EASCO EAST SEPANJANG EKSPLORASI 39 JAWA BAGIAN TIMUR AREA-7 PERTAMINA EP PRODUKSI Sumber : Dinas ESDM Prov Jatim, 2013 Potensi panas bumi di wilayah Provinsi Jawa Timur berada pada lokasi yang berdekatan dengan gunung api aktif dengan titik lokasi sebagaimana Gambar 2.12 dan Tabel 2.17 Gambar 2.12 Sumber : Dinas ESDM Prov Jatim, 2013 BAB II - 21

22 No Rancangan Awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) LAPANGAN Arjuno - Welirang Tiris - Gunung Lamongan Songgoriti - Kawi Gunung Pandan Tabel 2.17 Potensi Panas Bumi di Jawa Timur POTENSI (MWe) KABUPATEN / KOTA Kab. Mojokerto, Kab. Pasuruan dan Kab. Malang Kab. Probolinggo dan Kab. Lumajang 25 Kota Batu dan Kab. Malang 50 Kab. Madiun dan Kab. Bojonegoro 5 Melati 25 Kab. Pacitan Open Field 6 Rejosari 25 Kab. Pacitan Open Field 7 Gunung Lawu Ngebel - Wilis Blawan - Ijen Iyang - Argopuro Gunung Wilis - 12 Pegunungan Bromo - Tengger - Kab. Karanganyar Prov. Jawa Tengah, Kab. Magetan Prov. Jawa Timur Kab. Ponorogo dan Kab. Madiun Kab. Bondowoso, Kab. Banyuwangi dan Kab. Situbondo Kab. Probolinggo dan Kab. Lumajang Kab. Ponorogo, Kab. Madiun, Kab. Nganjuk, Kab. Kediri, Kab. Tulungagung dan Kab. Trenggalek Kab. Pasuruan, Kab. Probolinggo, Kab. Lumajang, Kab. Malang dan Kota Malang KETERANGAN Survei Pendahuluan Geologi, Geokimia dan Geofisika oleh Badan Geologi Tahun 2010 dan Survei Magnetotellurik (MT) oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2012 Survei Pendahuluan Geologi, Geokimia dan Geofisika oleh Pemerintah Provinsi Jatim Tahun 2013 Survei Pendahuluan Geologi, Geokimia, Geofisika dan MT oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2012 Survei Pendahuluan Geologi, Geokimia, Geofisika dan MT oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2012 Lintas Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur (kewenangan Pusat). Status saat ini telah ditetapkan sebagai WKP oleh Menteri ESDM Pengembang : PT. Bakrie Dharmakarya Energy Pengembang : PT. Medco Cahaya Geothermal Pengembang : PT. Pertamina Geothermal Energy Status : Penugasan Survey Pendahuluan Panasbumi kepada PT. MRI Energy Status : Penawaran Survey Pendahuluan Panasbumi kepada Badan Usaha BAB II - 22

23 No. 13 LAPANGAN Potensi yang belum teridentifikasi POTENSI (MWe) - -- Sumber : Dinas ESDM Prov Jatim, 2013 KABUPATEN / KOTA KETERANGAN Daerah yang diperkirakan mempunyai potensi energi Panasbumi dan belum dilakukan inventarisasi antara lain : Kawasan G. Kelud, Pulau Bawean dan Kec. Parengan Kec. Rengel Kab. Tuban Wilayah Rawan Bencana. Kawasan rawan bencana alam merupakan kawasan yang diindikasikan sebagai kawasan yang sering terjadi bencana. Kawasan rawan bencana wilayah Provinsi Jawa Timur dikelompokkan dalam kawasan rawan bencana tanah longsor, gelombang pasang, banjir dan kebakaran hutan serta angin kencang dan puting beliung. Untuk antisipasi dampak bencana perlu upaya-upaya antara lain deteksi dini bencana, melestarikan kawasan lindung dan penanggulangan bencana. Kawasan Rawan Bencana Tanah Longsor Ada 6 jenis tanah longsor, yakni: longsoran translasi, longsoran rotasi, pergerakan blok, runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan. Wilayah rawan longsor di Jawa Timur dengan potensi gerakan tanah menengah-tinggi sebagaimana tabel berikut. Tabel 2.18 Wilayah Potensi Tanah Longsor di Provinsi Jawa Timur KABUPATEN/KOTA KECAMATAN POTENSI GERAKAN TANAH KABUPATEN NGAWI WIDODAREN, JOGOROGO PITU, KEDUNGGALAR, PARON Menengah-Tinggi KABUPATEN TUBAN BANCAR, TAMBAKBOYO, KEREK, RENGEL, MONTONG Menengah KABUPATEN BOJONEGORO KABUPATEN MAGETAN NGAMBON, PURWOSARI PONCOL, MAGETAN, PANEKAN, PLAOSAN, PARANG Menengah Menengah-Tinggi BAB II - 23

24 KABUPATEN/KOTA KECAMATAN POTENSI GERAKAN TANAH KABUPATEN MADIUN KABUPATEN NGANJUK KARE, GEMARANG, WUNGU, DAGANGAN LOCERET, GONDANG, SAWAHAN Menengah-Tinggi Menengah KABUPATEN PONOROGO NGRAYUN, SAWOO, SAMPUNG, SAMBIT, SLAHUNG, BUNGKAL, BADEGAN, SOKO, MLARAK, PULUNG, NGEBEL Menengah-Tinggi KABUPATEN PACITAN KABUPATEN TRENGGALEK NAWANGAN, BANDAR, TEGALOMBO, NGADIREJO TULAKAN, ARJOSARI, KEBONAGUNG, PACITAN PRINGKUKU, PUNUNG, DONOREJO BENDUNGAN, MUNJUNGAN, TUGU, DURENAN, KARANGAN, PULE, PANGGUL, DONGKO, KAMPAK, WATULIMO, MUNJUNGAN Menengah-Tinggi Menengah-Tinggi KABUPATEN KEDIRI GROGOL, SEMEN, MOJO Menengah-Tinggi KABUPATEN TULUNGAGUNG KABUPATEN BLITAR KABUPATEN MALANG KABUPATEN LUMAJANG KABUPATEN PASURUAN KABUPATEN PROBOLINGGO PAGERWOJO, SENDANG, KAUMAN, KARANGREJO, BANDUNG, KALIDAWIR, REJOTANGAN, BESUKI BAKUNG, WONOTIRTO, KADEMANGAN, SUTOJAYAN, PANGGUNGREJO PONCOKUSUMO, JABUNG, SUMBERMA NJING, BATU, PAU, KALIPARE TEMPURSARI, PRONOJIWO, SENDURO, RANDUGUNG, KLAKAH LUMBANG, TUTUR, TOLASARI LUMBANG, SUKAPURA, SUMBER, GADING, KRUCIL Menengah-Tinggi Menengah-Tinggi Menengah Menengah-Tinggi Menengah Menengah-Tinggi BAB II - 24

25 KABUPATEN/KOTA KECAMATAN POTENSI GERAKAN TANAH KABUPATEN JEMBER KABUPATEN SITUBONDO KABUPATEN BONDOWOSO PANTI, TEMPUREJO, TANGGUL, JEBLUG, BANGSALSARI, ARJASA, RAMBIPUJI, MUNJULSARI, SUKORAMBI BUNGATAN, SUMBERMALANG, JATIBANTENG, BANYUGLUGUR, KENDIT PAKEM, CURAH DAMI, GRUJUGAN, MAESAN, KLABANG Menengah-Tinggi Menengah-Tinggi Menengah-Tinggi KABUPATEN BANYUWANGI KALIPIRO, WONGSOREJO Menengah-Tinggi KOTA BATU JUNREJO, BATU, BUMIAJI Menengah-Tinggi Sumber: RTRW Jawa Timur Keterangan: Menengah: Daerah yang mempunyai potensi Menengah untuk terjadi Gerakan Tanah. Pada Zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Tinggi : Daerah yang mempunyai potensi Tinggi untuk terjadi Gerakan Tanah. Pada Zona ini dapat terjadi Gerakan Tanah jika curah hujan diatas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali. Kawasan Rawan Gelombang Pasang Kawasan rawan gelombang pasang di Provinsi Jawa Timur berada di kawasan sepanjang pantai di wilayah Jawa Timur baik yang berbatasan dengan Laut Jawa, Selat Bali, Selat Madura, Samudera Hindia maupun di kawasan kepulauan. Kawasan Rawan Bencana Banjir Lokasi dengan potensi banjir di Provinsi Jawa Timur meliputi: Tabel 2.19 Lokasi Potensi Banjir di Provinsi Jawa Timur Kabupaten/Kota Area/Kecamatan Tingkat Potensi Banjir Bangkalan Bangkalan Potensi Menengah Banyuwangi Glagah Potensi Menengah Blitar Udanawu, Ponggok, Bakung, Potensi Menengah Kesamben Bojonegoro Kasiman, Padangan, Kalitidu, Potensi Menengah BAB II - 25

26 BAB II - 26 Rancangan Awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten/Kota Area/Kecamatan Tingkat Potensi Banjir Bojonegoro Bondowoso Grujugan, Tegalampel, Cerme Potensi Menengah Gresik Gresik Potensi Tinggi Jember Silo Potensi Menengah Jombang Megaluh Potensi Menengah Kediri Semen, Grogol, Pagu, Pare, Puncu, Potensi Menengah Wates Lamongan Sekaran, Babat, Laren, Karanggeneng, Potensi Tinggi Deket, Lamongan, Sukodadi Lumajang Tempeh, Tempursari, Pronojiwo Potensi Menengah Madiun Kebonsari, Sawahan, Wonosari Potensi Menengah Magetan Plaosan, Bendo, Kawedanan Potensi Menengah Malang Kepanjen, Pakisaji Potensi Menengah Mojokerto Jatiroto, Mojokerto, Bangsal, Mojosari, Potensi Menengah Pungging Nganjuk Rejoso Potensi Menengah Ngawi Ngrambe, Padas Potensi Menengah Pacitan Ngadirojo, Kebonagung Potensi Menengah Pasuruan Purwosari, Kraton Potensi Menengah Ponorogo Jetis, Kauman, Siman Potensi Menengah Probolinggo Kota Anyar, Paiton Potensi Menengah Sampang Sreseh, Jrengik, Sampang Potensi Menengah Sidoarjo Krian, Taman, Sidoarjo Potensi Menengah Situbondo Sumbermalang, Situbondo Potensi Menengah Sumenep Sumenep Potensi Rendah Trenggalek Pule Potensi Menengah Tuban Jatirogo, Bancar, Tuban Potensi Menengah Tulungagung Pagerwojo, Gondang, Kalidawir Potensi Menengah Kota Pasuruan Rejoso Potensi Rendah Kota Surabaya sebagian besar wilayah Kota Surabaya Potensi Menengah Kota Malang Wilayah Kota Bagian tengah dan timur Potensi Rendah Sumber : RTRW Provinsi Jawa Timur Kawasan Rawan Kebakaran Hutan dan Puting Beliung Kawasan rawan bencana kebakaran hutan dan puting beliung di Jawa Timur meliputi : a. Kawasan di Gunung Arjuno; b. Kawasan di Gunung Kawi; c. Kawasan di Gunung Welirang; d. Kawasan di Gunung Kelud;dan e. Kawasan Tahura R.Soeryo. Kawasan Rawan Letusan Gunung Api Kawasan rawan letusan gunung api di Jawa Timur berada pada lereng gunung api yang masih aktif. Terdapat 7 gunung api aktif di Jawa Timur serta lokasi yang merupakan wilayah rawan bencana letusan.

27 Kawasan yang diindikasikan dapat meletus/mengeluarkan lava, asap beracun dan mengeluarkan debu pasir, meliputi: Tabel 2.20 Kawasan Rawan Letusan Gunung Api di Jawa Timur No Nama Gunung Api Kabupaten/Kota Lokasi Pos Pengamatan 1 Ijen Bondowoso dan Banyuwangi 2 Semeru Malang dan Lumajang 3 Bromo Malang, Lumajang, Probolinggo dan Pasuruan 4 Lamongan Lumajang dan Probolinggo 5 Arjuno-Welirang Pasuruan dan Mojokerto 6 Kelud Kediri, Blitar dan Malang 7 Raung Banyuwangi, Bondowoso dan Jember Sumber : RTRW Provinsi Jawa Timur Gambar 2.13 Peta Kawasan Rawan Letusan Gunung Api Pos pengamatan Gunung Api Kawah Ijen, Dusun Panggung Sari, Desa taman Sari, Licin, Kec.glagah Kab.Banyuwangi Pos Pengamatan Gunung Api di Gunung Sawur Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro, Kab.Lumajang. Pos Pengamatan Gunung Api di Cemoro Lawang Desa Ngadisari, Kec. Sukapura, Kab.Probolinggo Pos Pengamatan di Desa Tegalrandu, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang. Pos Pengamatan Gunung Api di Kasiman, Desa Sukoreno, Kecamatan prigen, Kabupaten Pasuruan Pos Pengamatan Gunung Api di Dusun Margomulyo, Desa Sugih Waras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri Pos Pengamatan Gunung Api di Kp.Mang Desa Sragi, Kecamatan Songon Kabupaten Banyuwangi Sumber : RTRW Provinsi Jawa Timur BAB II - 27

28 Kawasan Rawan Gempa Bumi Kawasan rawan bencana gempa bumi di Provinsi Jawa Timur berada di wilayah: Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Blitar, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Jember, Kabupaten Jombang, Kabupaten Kediri, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Madiun, Kabupaten Magetan, Kabupaten Malang, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Ponorogo,Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tulungagung. Gambar 2.14 Lokasi Gempa Dibedakan Skala Modified Mercalli Intensity (MMI) Sumber: Istilah kebencanaan pada BNPB, RTRW Provinsi Jawa Timur BAB II - 28 Kawasan Rawan Tsunami Di wilayah Jawa Timur wilayah rawan gempa utamanya pada pantai selatan Jawa Timur yang diklasifikasi berdasarkan tingkat risikonya, yakni: a. Risiko besar tsunami, meliputi: Kabupaten Banyuwangi Kabupaten Jember Kabupaten Pacitan Kabupaten Trenggalek. b. Risiko sedang tsunami, meliputi: Kabupaten Malang (bagian selatan) Kabupaten Blitar (bagian selatan) Kabupaten Lumajang Kabupaten Tulungagung.

29 Gambar 2.15 Lokasi Rawan Bencana Tsunami Di Jawa Timur Sumber : RTRW Provinsi Jawa Timur Kawasan Luapan Lumpur Kawasan luapan lumpur meliputi area terdampak dari bahaya luapan lumpur, polusi gas beracun, dan penurunan permukaan tanah (land subsidence) di wilayah Kabupaten Sidoarjo Dengan terpetakannya wilayah rawan bencana, diharapkan masyarakat harus dikondisikan untuk lebih siap dan tahan terhadap ancaman bencana yang diakibatkan oleh murni bencana alam (misalnya: gempa, gunung meletus), perubahan iklim, dan bencana karena kerusakan lingkungan oleh manusia. Di samping itu, kondisi ini harus mendorong pemerintah segera mengintegrasikan dan mengarusutamakan aspek mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dan kawasan rawan bencana ke dalam program-program pembangunan daerah. Pemerintah daerah harus mampu menelaah dan menjalankan Manajemen Risiko Bencana (Disaster Risk Management). Oleh karena itu, untuk melindungi dan melestarikan lingkungan, maka orientasi pembangunan daerah harus memperhatikan aspek lingkungan dengan pembangun pro enviroment / pro lingkungan, sehingga mendorong terciptanya sustainability development di Jawa Timur. BAB II - 29

30 Demografi Jumlah Penduduk. Pertumbuhan jumlah penduduk Provinsi Jawa Timur terus mengalami peningkatan setiap tahun, baik laki-laki mapun perempuan. Jumlah penduduk Jawa Timur tahun 2009 sebanyak jiwa dan terus bertambah hingga tahun 2012 menjadi jiwa, dimana pertumbuhan paling banyak adalah perempuan, sebagaimana tabel berikut: Tabel 2.21 Struktur Penduduk Jawa Timur menurut Jenis Kelamin No Uraian Jumlah penduduk : Laki-laki , Perempuan Pertumbuhan 0,71 0,65 0,75 0,72 Sumber : BPS Provinsi Jawa Timur Pertumbuhan jumlah penduduk Jawa Timur disetiap Kabupaten/Kota sangat bervariasi, dari yang tertinggi Kota Surabaya dengan jumlah penduduk sekitar jiwa dengan laju pertumbuhan 0,56 persen dan terendah yaitu Kota Mojokerto dengan jumlah penduduk sebesar jiwa. BAB II - 30

31 Kabupaten/Kota Kabupaten Tabel 2.22 Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun [1] Jumlah Penduduk LPP [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] 01 Pacitan 539, , , , Ponorogo 854, , , , Trenggalek 672, , , , Tulungagung 985, , ,481 1,002, Blitar 1,112,395 1,116,639 1,121,848 1,126, Kediri 1,491,969 1,499,768 1,509,566 1,518, Malang 2,428,283 2,446,218 2,467,711 2,487, Lumajang 1,003,172 1,006,458 1,010,865 1,014, Jember 2,320,314 2,332,726 2,348,552 2,362, Banyuwangi 1,550,663 1,556,078 1,562,851 1,568, Bondowoso 732, , , , Situbondo 643, , , , Probolinggo 1,088,122 1,096,244 1,106,436 1,115, Pasuruan 1,499,255 1,512,468 1,528,546 1,542, Sidoarjo 1,904,110 1,941,497 1,984,234 2,024, Mojokerto 1,014,587 1,025,443 1,038,272 1,049, Jombang 1,195,940 1,202,407 1,210,479 1,217, Nganjuk 1,013,531 1,017,030 1,021,589 1,025, Madiun 660, , , , Magetan 620, , , , Ngawi 817, , , , Bojonegoro 1,206,506 1,209,973 1,214,518 1,218, Tuban 1,112,815 1,118,464 1,125,679 1,131, Lamongan 1,180,007 1,179,059 1,186,721 1,193, Gresik 1,160,718 1,177,042 1,195,882 1,213, Bangkalan 897, , , , Sampang 865, , , , Pamekasan 785, , , , Sumenep 1,037,595 1,042,312 1,048,423 1,053, Kota 71 Kediri , , , Blitar , , , Malang , , , Probolinggo , , , Pasuruan , , , Mojokerto , , , Madiun , , , Surabaya ,765,487 2,785,706 2,801, Batu , , , Jawa Timur 37,236,149 37,476,757 37,781,599 38,052, Sumber : BPS Provinsi Jawa Timur Ketenagakerjaan. Dalam bidang Ketenagakerjaan di Jawa Timur, penduduk dikelompokkan menjadi 2 (dua) golongan yaitu penduduk usia kerja dan penduduk bukan usia kerja. Penduduk Usia Kerja (15 tahun keatas) yang dibedakan menjadi 2 (dua) kelompok yaitu penduduk yang termasuk dalam kelompok angkatan kerja dan penduduk bukan angkatan kerja. Perkembangan angkatan kerja menurut kelompok umur sebagaimana tabel berikut. BAB II - 31

32 BAB II - 32 Rancangan Awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tabel 2.23 Angkatan Kerja menurut Kelompok Umur di Jawa Timur GOLONGAN UMUR ** Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Jumlah Angkatan Kerja Sumber : BPS Provinsi Jawa Timur Jumlah angkatan kerja di Jawa Timur pada Agustus 2012 mencapai orang, bertambah sekitar orang dibanding angkatan kerja Agustus 2011 sebesar orang. Selanjutnya jumlah penduduk yang bekerja di Jawa Timur pada Agustus 2012 mencapai orang, bertambah sekitar orang dibanding keadaan Agustus 2011 sebesar orang. Jumlah penduduk pencari kerja/pengangguran pada bulan Agustus tahun 2011 sebanyak orang turun menjadi orang pada bulan Agustus tahun Indikator utama ketenagakerjaan yang sering digunakan sebagai indikasi keberhasilan dalam menangani masalah pengangguran adalah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), yang merupakan perbandingan antara jumlah penganggur terhadap jumlah angkatan kerja, dengan perkembangan seperti berikut. Tabel 2.24 Indikator Ketenagakerjaan Di Jawa Timur Bulan Agustus Agustus 2012 URAIAN Penduduk 15 Tahun *** Angkatan Kerja Bekerja/Kesempatan kerja Jumlah Pengangguran TPT 5,08 4,25 4,16 4,12 4,33 TPAK 69,25 69,08 69,49 69,62 69,92 Sumber : BPS Provinsi Jawa Timur. Keterangan ***: Data menunggu validasi BPS

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1. Aspek Geografis dan Demografi 2.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah Wilayah Provinsi Jawa Timur dengan luas 48.039,14 Km 2 memiliki batasbatas sebagai berikut:

Lebih terperinci

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Akhir Tahun Anggaran 2015 BAB I - 1

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Akhir Tahun Anggaran 2015 BAB I - 1 BAB I A. LATAR BELAKANG Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah pasal 69 ayat 1, menyatakan bahwa Kepala Daerah wajib menyampaikan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD),

Lebih terperinci

BAB V RENCANA PROGRAM DAN PRIORITAS DAERAH

BAB V RENCANA PROGRAM DAN PRIORITAS DAERAH BAB V RENCANA PROGRAM DAN PRIORITAS DAERAH 5.1. Prioritasdan Arah Kebijakan RKPD Tahun 2013 5.1.1. Prioritas dan Arah Kebijakan Spasial Arah kebijakan spasial akan berintegrasi dengan kebijakan sektoral

Lebih terperinci

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 2.1 Gambaran Umum Kondisi Daerah 2.1.1 Aspek Geografis dan Demografi 2.1.1.1 Karakteristik Lokasi dan

Lebih terperinci

III. KEADAAN UMUM LOKASI

III. KEADAAN UMUM LOKASI III. KEADAAN UMUM LOKASI Penelitian dilakukan di wilayah Jawa Timur dan berdasarkan jenis datanya terbagi menjadi 2 yaitu: data habitat dan morfometri. Data karakteristik habitat diambil di Kabupaten Nganjuk,

Lebih terperinci

Nomor : KT.304/ 689 /MJUD/XI/2014 Surabaya, 20 Nopember 2014 Lampiran : - Perihal : Awal Musim Hujan 2014/2015 Prov. Jawa Timur.

Nomor : KT.304/ 689 /MJUD/XI/2014 Surabaya, 20 Nopember 2014 Lampiran : - Perihal : Awal Musim Hujan 2014/2015 Prov. Jawa Timur. BMKG BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN METEOROLOGI KLAS I JUANDA SURABAYA Alamat : Bandar Udara Juanda Surabaya, Telp. 031 8667540 Pes. 104, Fax. 031-8673119 E-mail : [email protected]

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR. Provinsi Jawa Timur membentang antara BT BT dan

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR. Provinsi Jawa Timur membentang antara BT BT dan BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR 4. 1 Kondisi Geografis Provinsi Jawa Timur membentang antara 111 0 BT - 114 4 BT dan 7 12 LS - 8 48 LS, dengan ibukota yang terletak di Kota Surabaya. Bagian utara

Lebih terperinci

Gambar 1. Analisa medan angin (streamlines) (Sumber :

Gambar 1. Analisa medan angin (streamlines) (Sumber : BMKG BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN METEOROLOGI KLAS I JUANDA SURABAYA Alamat : Bandar Udara Juanda Surabaya, Telp. 031 8667540 Pes. 104, Fax. 031-8673119 E-mail : [email protected]

Lebih terperinci

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 2.1 Gambaran Umum Daerah 2.1.1 Aspek Geografis dan Demografi 1. Karakteristik Lokasi Dan Wilayah 1.1 Luas

Lebih terperinci

TABEL II.A.1. LUAS LAHAN KRITIS DI LUAR KAWASAN HUTAN JAWA TIMUR TAHUN

TABEL II.A.1. LUAS LAHAN KRITIS DI LUAR KAWASAN HUTAN JAWA TIMUR TAHUN TABEL II.A.1. LUAS LAHAN KRITIS DI LUAR KAWASAN HUTAN JAWA TIMUR TAHUN 2008-2012 PADA MASING-MASING DAS (BRANTAS, SOLO DAN SAMPEAN) No Kabupaten Luas Wilayah Lahan Kritis Luar Kawasan Hutan (Ha) Ket. (Ha)

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Beberapa gambaran umum dari kondisi fisik Kabupaten Blitar yang merupakan wilayah studi adalah kondisi geografis, kondisi topografi, dan iklim.

Lebih terperinci

P E N U T U P P E N U T U P

P E N U T U P P E N U T U P P E N U T U P 160 Masterplan Pengembangan Kawasan Tanaman Pangan dan Hortikultura P E N U T U P 4.1. Kesimpulan Dasar pengembangan kawasan di Jawa Timur adalah besarnya potensi sumberdaya alam dan potensi

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR

DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR ISI Daftar Isi... i Daftar Gambar... ii Daftar Tabel... iii 1. Gambaran Umum... 1 1.1 Karakteristik Lokasi dan Wilayah... 1 2. Geologi... 2 3. Pertambangan Umum... 8 3.1 Data Potensi Pertambangan...

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Daerah Penelitian 1. Profil Provinsi Jawa Timur Jawa Timur sudah dikenal sebagai salah satu Provinsi di Indonesia yang memiliki posisi strategis, baik dari

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 33 IV. KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Letak Geografis dan Administrasi Pemerintahan Provinsi Jawa Timur terletak pada 111 0 hingga 114 4 Bujur Timur, dan 7 12 hingga 8 48 Lintang Selatan. Disebelah

Lebih terperinci

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 9 BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 2.1 Gambaran Umum Kondisi Daerah 2.1.1 Aspek Geografis dan Demografi 2.1.1.1 Karakteristik Lokasi dan

Lebih terperinci

POTENSI KOMODITAS UNGGULAN KAWASAN

POTENSI KOMODITAS UNGGULAN KAWASAN 42 Masterplan Pengembangan Kawasan Tanaman Pangan dan Hortikultura POTENSI KOMODITAS UNGGULAN KAWASAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA JAWA TIMUR POTENSI KOMODITAS UNGGULAN KAWASAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA

Lebih terperinci

Jumlah Penduduk Jawa Timur dalam 7 (Tujuh) Tahun Terakhir Berdasarkan Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab./Kota

Jumlah Penduduk Jawa Timur dalam 7 (Tujuh) Tahun Terakhir Berdasarkan Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab./Kota Jumlah Penduduk Jawa Timur dalam 7 (Tujuh) Tahun Terakhir Berdasarkan Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab./Kota TAHUN LAKI-LAKI KOMPOSISI PENDUDUK PEREMPUAN JML TOTAL JIWA % 1 2005 17,639,401

Lebih terperinci

LUAS KAWASAN HUTAN PERUM PERHUTANI DIVRE JAWA TIMUR BERDASARKAN PERUNTUKANNYA TAHUN

LUAS KAWASAN HUTAN PERUM PERHUTANI DIVRE JAWA TIMUR BERDASARKAN PERUNTUKANNYA TAHUN Tabel I.A.1. LUAS KAWASAN HUTAN PERUM PERHUTANI DIVRE JAWA TIMUR BERDASARKAN PERUNTUKANNYA TAHUN 2010-2014 TAHUN 2010 TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013 TAHUN 2014 NO. KABUPATEN HUTAN HUTAN HUTAN HUTAN HUTAN

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Kondisi Fisiografi

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Kondisi Fisiografi III. KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI A. Kondisi Fisiografi 1. Letak Wilayah Secara Geografis Kabupaten Sleman terletak diantara 110 33 00 dan 110 13 00 Bujur Timur, 7 34 51 dan 7 47 30 Lintang Selatan. Wilayah

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI JAWA TIMUR

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI JAWA TIMUR BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI JAWA TIMUR Seuntai Kata Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap 10 (sepuluh) tahun sekali

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK BERITA RESMI STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI JAWA TIMUR No. 16/02/35/Th. XIII, 16 Februari 2015 Tipologi Wilayah Jawa Timur Hasil Pendataan Potensi Desa 2014 Pendataan Potensi Desa (Podes) dilaksanakan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR,

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 47 TAHUN 2005 TENTANG TARIF DASAR DAN TARIF JARAK BATAS ATAS DAN BATAS BAWAH ANGKUTAN PENUMPANG ANTAR KOTA DALAM PROPINSI KELAS EKONOMI MENGGUNAKAN

Lebih terperinci

EVALUASI/FEEDBACK KOMDAT PRIORITAS, PROFIL KESEHATAN, & SPM BIDANG KESEHATAN

EVALUASI/FEEDBACK KOMDAT PRIORITAS, PROFIL KESEHATAN, & SPM BIDANG KESEHATAN EVALUASI/FEEDBACK PRIORITAS, PROFIL KESEHATAN, & SPM BIDANG KESEHATAN MALANG, 1 JUNI 2016 APLIKASI KOMUNIKASI DATA PRIORITAS FEEDBACK KETERISIAN DATA PADA APLIKASI PRIORITAS 3 OVERVIEW KOMUNIKASI DATA

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR, MEMUTUSKAN:

GUBERNUR JAWA TIMUR, MEMUTUSKAN: GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 8 TAHUN 2005 TENTANG TARIF DASAR DAN TARIF JARAK BATAS ATAS DAN BATAS BAWAH ANGKUTAN PENUMPANG ANTAR KOTA DALAM PROPINSI KELAS EKONOMI MENGGUNAKAN

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2008 1

GUBERNUR JAWA TIMUR. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2008 1 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG TARIF DASAR DAN TARIF JARAK BATAS ATAS DAN BATAS BAWAH ANGKUTAN PENUMPANG ANTAR KOTA DALAM PROVINSI KELAS EKONOMI MENGGUNAKAN

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2008 1

GUBERNUR JAWA TIMUR. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2008 1 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 50 TAHUN 2008 TENTANG TARIF DASAR DAN TARIF JARAK BATAS ATAS DAN BATAS BAWAH ANGKUTAN PENUMPANG ANTAR KOTA DALAM PROVINSI KELAS EKONOMI MENGGUNAKAN

Lebih terperinci

BAB 2 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. 2.1 Geografi dan Demografi Kabupaten Sidoarjo

BAB 2 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. 2.1 Geografi dan Demografi Kabupaten Sidoarjo BAB 2 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Semburan lumpur Lapindo terjadi di area pengeboran sumur Banjar Panji 1 yang dioperasikan oleh Lapindo Brantas Incorporation (LBI), yang berlokasi di desa Renokenongo,

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2009 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2010

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2009 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2010 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2009 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2010 GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang Mengingat : a. bahwa dalam upaya meningkatkan

Lebih terperinci

BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 36 BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN A. Keadaan Geografi Letak dan Batas Wilayah Kabupaten Ngawi secara geografis terletak pada koordinat 7º 21 7º 31 LS dan 110º 10 111º 40 BT. Batas wilayah Kabupaten

Lebih terperinci

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI 16 KONDISI UMUM WILAYAH STUDI Kondisi Geografis dan Administratif Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada koordinat 106 0 45 50 Bujur Timur dan 106 0 45 10 Bujur Timur, 6 0 49

Lebih terperinci

PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI (Angka Ramalan II Tahun 2014)

PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI (Angka Ramalan II Tahun 2014) BPS PROVINSI JAWA TIMUR PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI (Angka Ramalan II Tahun 2014) No. 75/11/35/Th.XII, 3 November 2014 A. PADI Produksi Padi Provinsi Jawa Timur berdasarkan Angka Ramalan II (ARAM

Lebih terperinci

2. JUMLAH USAHA PERTANIAN

2. JUMLAH USAHA PERTANIAN BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 61/09/35/Tahun XI, 2 September 2013 HASIL SENSUS PERTANIAN 2013 PROVINSI JAWA TIMUR (ANGKA SEMENTARA) JUMLAH RUMAH TANGGA USAHA PERTANIAN DI PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2013 SEBANYAK

Lebih terperinci

RENCANA KERJA DINAS PERIKANAN DAN KELAUTAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2010

RENCANA KERJA DINAS PERIKANAN DAN KELAUTAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2010 RENCANA KERJA DINAS PERIKANAN DAN KELAUTAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 200 KODE PERMEN 2 05 000 2 Kelautan dan Program Peningkatan Kesejahteraan Petani Dinas 2.400.000 Fasilitasi Program Anti Kemiskinan

Lebih terperinci

LUAS KAWASAN HUTAN PERUM PERHUTANI BERDASARKAN PERUNTUKANNYA TAHUN

LUAS KAWASAN HUTAN PERUM PERHUTANI BERDASARKAN PERUNTUKANNYA TAHUN Tabel I.A.. KABUPATEN Blora (Jateng) Lamongan Gresik Magetan Ponorogo 0 Pacitan (Kota) Trenggalek Tulungagung 0 Kota Batu Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep Lumajang Jember 0 Situbondo Banyuwangi Tiap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Keberadaan suatu waduk merupakan salah satu upaya manusia untuk mencukupi kebutuhan dan menjaga ketersediaan air sepanjang tahun sesuai dengan fungsi

Lebih terperinci

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN NGAWI

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN NGAWI Rencana Pola ruang adalah rencana distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya. Bentukan kawasan yang

Lebih terperinci

- 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH

- 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH - 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH I. UMUM Bahwa bumi air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kedelai merupakan salah satu tanaman yang menjadi komoditas utama di Indonesia. Bagian yang dimanfaatkan pada tanaman kedelai adalah bijinya. Berdasarkan Sastrahidajat

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013 GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

III. INDIKASI PEMANFAATAN ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL PROVINSI LIMA TAHUNAN

III. INDIKASI PEMANFAATAN ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL PROVINSI LIMA TAHUNAN III. INDIKASI PEMANFAATAN ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL PROINSI LIMA TAHUNAN No Program Utama Lokasi Instansi Pelaksana Sumber A Program Utama Pengembangan Wilayah 1 Pengembangan kerjasama

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI. 2.1 Sejarah Singkat PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur

BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI. 2.1 Sejarah Singkat PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI 2.1 Sejarah Singkat PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur merupakan salah satu unit pelaksana induk dibawah PT PLN (Persero) yang merupakan

Lebih terperinci

PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (Angka Sementara Tahun 2014)

PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (Angka Sementara Tahun 2014) BPS PROVINSI JAWA TIMUR PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (Angka Sementara Tahun ) No.22/03/35/Th XIII,2 Maret 2015 A. PADI Angka Sementara (ASEM) produksi Padi Provinsi Jawa Timur sebesar 12,398 juta ton Gabah

Lebih terperinci

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah 2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah Provinsi Kalimantan Timur dengan ibukota Samarinda berdiri pada tanggal 7 Desember 1956, dengan dasar hukum Undang-Undang

Lebih terperinci

BAB I KONDISI FISIK. Gambar 1.1 Peta Administrasi Kabupaten Lombok Tengah PETA ADMINISTRASI

BAB I KONDISI FISIK. Gambar 1.1 Peta Administrasi Kabupaten Lombok Tengah PETA ADMINISTRASI BAB I KONDISI FISIK A. GEOGRAFI Kabupaten Lombok Tengah dengan Kota Praya sebagai pusat pemerintahannya merupakan salah satu dari 10 (sepuluh) Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografis dan Iklim Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang terletak di Pulau Jawa selain Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta), Banten,

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 78 TAHUN 2013 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2014

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 78 TAHUN 2013 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2014 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 78 TAHUN 2013 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2014 GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

Pemanfaatan Peta Geologi dalam Penataan Ruang dan Pengelolaan Lingkungan

Pemanfaatan Peta Geologi dalam Penataan Ruang dan Pengelolaan Lingkungan Pemanfaatan Peta Geologi dalam Penataan Ruang dan Pengelolaan Lingkungan Yogyakarta, 21 September 2012 BAPPEDA DIY Latar Belakang UU No.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; Seluruh

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Simpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini sebagai berikut.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Simpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini sebagai berikut. BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan Simpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini sebagai berikut. 1. Berdasarkan Tipologi Klassen periode 1984-2012, maka ada 8 (delapan) daerah yang termasuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perencanaan Embung Logung Dusun Slalang, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perencanaan Embung Logung Dusun Slalang, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus BAB I PENDAHULUAN 1 Latar Belakang Dalam rangka peningkatan taraf hidup masyarakat dan peningkatan sektor pertanian yang menjadi roda penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, pemerintah berupaya melaksanakan

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Letak Geografis. 08º00'27" Lintang Selatan dan 110º12'34" - 110º31'08" Bujur Timur. Di

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Letak Geografis. 08º00'27 Lintang Selatan dan 110º12'34 - 110º31'08 Bujur Timur. Di IV. KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI A. Letak Geografis Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai lima Kabupaten dan satu Kotamadya, salah satu kabupaten tersebut adalah Kabupaten Bantul. Secara geografis,

Lebih terperinci

V. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. 5.1 Provinsi Jawa Timur Jawa Timur merupakan penghasil gula terbesar di Indonesia berdasarkan

V. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. 5.1 Provinsi Jawa Timur Jawa Timur merupakan penghasil gula terbesar di Indonesia berdasarkan 68 V. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1 Provinsi Jawa Timur Jawa Timur merupakan penghasil gula terbesar di Indonesia berdasarkan tingkat produksi gula antar daerah. Selain itu Jawa Timur memiliki jumlah

Lebih terperinci

PEMBANGUNAN PERPUSTAKAAN DESA/KELURAHAN DI JAWA TIMUR 22 MEI 2012

PEMBANGUNAN PERPUSTAKAAN DESA/KELURAHAN DI JAWA TIMUR 22 MEI 2012 PEMBANGUNAN PERPUSTAKAAN DESA/KELURAHAN DI JAWA TIMUR 22 MEI 2012 OLEH : Drs. MUDJIB AFAN, MARS KEPALA BADAN PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN PROVINSI JAWA TIMUR DEFINISI : Dalam sistem pemerintahan di Indonesia

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti secara geografis terletak pada koordinat antara sekitar 0 42'30" - 1 28'0" LU dan 102 12'0" - 103 10'0" BT, dan terletak

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung.

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. IV. GAMBARAN UMUM A. Kondisi Umum Kabupaten Lampung Tengah Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. Luas wilayah Kabupaten Lampung Tengah sebesar 13,57 % dari Total Luas

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi

IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik 4.1.1 Wilayah Administrasi Kota Bandung merupakan Ibukota Propinsi Jawa Barat. Kota Bandung terletak pada 6 o 49 58 hingga 6 o 58 38 Lintang Selatan dan 107 o 32 32 hingga

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. sebuah provinsi yang dulu dilakukan di Indonesia atau dahulu disebut Hindia

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. sebuah provinsi yang dulu dilakukan di Indonesia atau dahulu disebut Hindia BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN A. Profil Eks Karesidenan Madiun Karesidenan merupakan pembagian administratif menjadi kedalam sebuah provinsi yang dulu dilakukan di Indonesia atau dahulu disebut

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Peneliti mengambil penelitian di Provinsi Jawa Timur yang terdiri atas 29 (dua puluh sembilan) kabupaten dan 9 (sembilan) kota yang telah dikelompokkan

Lebih terperinci

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur Disampaikan dalam Acara: World Café Method Pada Kajian Konversi Lahan Pertanian Tanaman Pangan dan Ketahanan Pangan Surabaya, 26 September 2013 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Pemerintah Provinsi

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2014 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2015

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2014 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2015 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2014 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2015 GUBERNUR JAWA TIMUR. Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. Secara Geografis Kota Depok terletak di antara Lintang

BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. Secara Geografis Kota Depok terletak di antara Lintang BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Letak, Luas dan Batas Wilayah Secara Geografis Kota Depok terletak di antara 06 0 19 06 0 28 Lintang Selatan dan 106 0 43 BT-106 0 55 Bujur Timur. Pemerintah

Lebih terperinci

TABEL II.B.1. KEGIATAN ANEKA USAHA KEHUTANAN DI KABUPATEN/ KOTA TAHUN

TABEL II.B.1. KEGIATAN ANEKA USAHA KEHUTANAN DI KABUPATEN/ KOTA TAHUN TABEL II.B.1. KEGIATAN ANEKA USAHA KEHUTANAN DI KABUPATEN/ KOTA TAHUN 2008-2012 TAHUN 2008 TAHUN 2009 TAHUN 2010 TAHUN 2011 TAHUN 2012 Wana Farma/ Lebah Wana Farma/ Lebah Wana Farma/ Lebah Wana Farma/

Lebih terperinci

Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 1 Periode: Maret-Agustus 2015

Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 1 Periode: Maret-Agustus 2015 PENENTUAN ZONASI PERIZINAN PERTAMBANGAN MINERAL NON LOGAM DAN BATUAN DI KABUPATEN BLORA BAGIAN SELATAN PROVINSI JAWA TENGAH Dody Bagus Widodo, Budiarto, Abdul Rauf Prodi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 68 TAHUN 2015 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2016

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 68 TAHUN 2015 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2016 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 68 TAHUN 2015 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2016 GUBERNUR JAWA TIMUR. Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (Angka Ramalan II 2015)

PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (Angka Ramalan II 2015) BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 74/11/35/Th XIII, 2 November PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (Angka Ramalan II ) A. PADI Angka Ramalan (ARAM) II produksi Padi Provinsi Jawa Timur tahun sebesar 13,05 juta ton Gabah

Lebih terperinci

KONDISI W I L A Y A H

KONDISI W I L A Y A H KONDISI W I L A Y A H A. Letak Geografis Barito Utara adalah salah satu Kabupaten di Propinsi Kalimantan Tengah, berada di pedalaman Kalimantan dan terletak di daerah khatulistiwa yaitu pada posisi 4 o

Lebih terperinci

KONDISI UMUM BANJARMASIN

KONDISI UMUM BANJARMASIN KONDISI UMUM BANJARMASIN Fisik Geografis Kota Banjarmasin merupakan salah satu kota dari 11 kota dan kabupaten yang berada dalam wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Kota Banjarmasin secara astronomis

Lebih terperinci

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec BAB III KONDISI UMUM LOKASI Lokasi penelitian bertempat di Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Kota Banjarbaru, Kabupaten Kota Banjarmasin, dan Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN WILAYAH

BAB III TINJAUAN WILAYAH BAB III TINJAUAN WILAYAH 3.1. TINJAUAN UMUM DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Pembagian wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara administratif yaitu sebagai berikut. a. Kota Yogyakarta b. Kabupaten Sleman

Lebih terperinci

PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DIKAWASAN DAS BRANTAS ( Studi kasus Kabupaten Malang Jawa Timur ) Oleh : Sylviani. Ringkasan

PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DIKAWASAN DAS BRANTAS ( Studi kasus Kabupaten Malang Jawa Timur ) Oleh : Sylviani. Ringkasan PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DIKAWASAN DAS BRANTAS ( Studi kasus Kabupaten Malang Jawa Timur ) Oleh : Sylviani Ringkasan Pemanfaatan sumber air dikawasan DAS Brantas mulai dari hulu sampai hilir (termasuk

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR,

GUBERNUR JAWA TIMUR, GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 80 TAHUN 2014 TENTANG PEMANFAATAN RUANG PADA KAWASAN PENGENDALIAN KETAT SKALA REGIONAL DI PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang 70 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Tanggamus 1. Keadaan Geografis Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Sragi merupakan salah satu kecamatan dari 17 Kecamatan yang

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Sragi merupakan salah satu kecamatan dari 17 Kecamatan yang 43 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Gambaran Umum Daerah Penelitian 1. Keadaan Umum Kecamatan Sragi a. Letak Geografis Kecamatan Sragi merupakan salah satu kecamatan dari 17 Kecamatan yang ada di

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Kondisi Geografis. Wonogiri (Jawa Tengah) : Kabupaten Trenggalek (Jawa Timur)

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Kondisi Geografis. Wonogiri (Jawa Tengah) : Kabupaten Trenggalek (Jawa Timur) III. KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI A. Kondisi Geografis 1. Batas Administrasi Kabupaten Pacitan merupakan bagian dari koridor tengah di Pantai Selatan Jawa yang wilayahnya membentang sepanjang Pantai Selatan

Lebih terperinci

C I N I A. Pemetaan Kerentanan Tsunami Kabupaten Lumajang Menggunakan Sistem Informasi Geografis. Dosen, FTSP, Teknik Geofisika, ITS 5

C I N I A. Pemetaan Kerentanan Tsunami Kabupaten Lumajang Menggunakan Sistem Informasi Geografis. Dosen, FTSP, Teknik Geofisika, ITS 5 C I N I A The 2 nd Conference on Innovation and Industrial Applications (CINIA 2016) Pemetaan Kerentanan Tsunami Kabupaten Lumajang Menggunakan Sistem Informasi Geografis Amien Widodo 1, Dwa Desa Warnana

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI WILAYAH PERENCANAAN 2.1. KONDISI GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI

BAB II DESKRIPSI WILAYAH PERENCANAAN 2.1. KONDISI GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI BAB II DESKRIPSI WILAYAH PERENCANAAN 2.1. KONDISI GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI Kabupaten Kendal terletak pada 109 40' - 110 18' Bujur Timur dan 6 32' - 7 24' Lintang Selatan. Batas wilayah administrasi Kabupaten

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan 3 (tiga) lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Pada daerah pertemuan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 121 TAHUN 2016 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2017

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 121 TAHUN 2016 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2017 \ PERATURAN NOMOR 121 TAHUN 2016 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2017 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya

Lebih terperinci

Gambar 1. Peta Prakiraan Cuaca Hujan Mei 2018 (Sumber : Stasiun Klimatologi Karangploso Malang)

Gambar 1. Peta Prakiraan Cuaca Hujan Mei 2018 (Sumber : Stasiun Klimatologi Karangploso Malang) PRAKIRAAN CURAH HUJAN BULAN MEI 2018 Pada bulan Mei 2018, sebagian wilayah di Jawa Timur mulai memasuki masa peralihan dari musim penghujan menuju kemusim kemarau. Namun sebagian kecil wilayah Jawa Timur

Lebih terperinci

PETA SUNGAI PADA DAS BEKASI HULU

PETA SUNGAI PADA DAS BEKASI HULU KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Sub DAS pada DAS Bekasi Hulu Berdasarkan pola aliran sungai, DAS Bekasi Hulu terdiri dari dua Sub-DAS yaitu DAS Cikeas dan DAS Cileungsi. Penentuan batas hilir dari DAS Bekasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng dunia yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng Australia yang bergerak saling menumbuk. Akibat tumbukan antara

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 1. Wilayah Administratif Kabupaten Tanggamus

II. TINJAUAN PUSTAKA. 1. Wilayah Administratif Kabupaten Tanggamus II. TINJAUAN PUSTAKA A. Gambaran Umum Kabupaten Tanggamus 1. Wilayah Administratif Kabupaten Tanggamus Secara geografis wilayah Kabupaten Tanggamus terletak pada posisi 104 0 18 105 0 12 Bujur Timur dan

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN LOKASI

BAB III TINJAUAN LOKASI BAB III TINJAUAN LOKASI 3.1 Gambaran Umum Kota Surakarta 3.1.1 Kondisi Geografis dan Administratif Wilayah Kota Surakarta secara geografis terletak antara 110 o 45 15 dan 110 o 45 35 Bujur Timur dan antara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengurus dan mengatur keuangan daerahnya masing-masing. Hal ini sesuai

BAB I PENDAHULUAN. mengurus dan mengatur keuangan daerahnya masing-masing. Hal ini sesuai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemerintah pusat memberikan kebijakan kepada pemerintah daerah untuk mengurus dan mengatur keuangan daerahnya masing-masing. Hal ini sesuai dengan Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. repository.unisba.ac.id

BAB I PENDAHULUAN. repository.unisba.ac.id BAB I PENDAHULUAN Pada bab pendahuluan ini akan dibahas mengenai latar belakang, perumusan masalah, maksud tujuan dan sasaran, ruang lingkup, serta sistematika pembahasan, yang menjadi penjelasan dasar

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Rasio Konsumsi Normatif Rasio konsumsi normatif adalah perbandingan antara total konsumsi dan produksi yang menunjukkan tingkat ketersediaan pangan di suatu wilayah. Rasio konsumsi

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU 4.1 Kondisi Geografis Secara geografis Provinsi Riau membentang dari lereng Bukit Barisan sampai ke Laut China Selatan, berada antara 1 0 15 LS dan 4 0 45 LU atau antara

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 26 Administrasi Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Propinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak diantara 6 o 57`-7 o 25` Lintang Selatan dan 106 o 49` - 107 o 00` Bujur

Lebih terperinci

BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso Malang KATA PENGANTAR

BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso Malang KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR BMKG Memperhatikan perkembangan dinamika atmosfer dasarian I September 2016 hingga saat ini, tampak bahwa anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik Equator bagian tengah (Nino 3.4) menunjukkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat dari tahun ketahun. Pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai

Lebih terperinci

Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik

Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik Seuntai Kata Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap 10 (sepuluh) tahun sekali sejak 1963. Pelaksanaan ST2013 merupakan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis Sumber: Gambar 4.1 Peta Provinsi Banten 1. Batas Administrasi Secara geografis, Provinsi Banten terletak di ujung barat Pulau Jawa yang memiliki luas sebesar 9.160,70

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 125 TAHUN 2008

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 125 TAHUN 2008 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 125 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS PEKERJAAN UMUM BINA MARGA PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR MENIMBANG

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso KATA PENGANTAR Sebagai upaya mewujudkan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang yang efektif, efisien dan sistematis guna menunjang pembangunan daerah dan mendorong perkembangan wilayah

Lebih terperinci

DATA MINIMAL YANG WAJIB DITUANGKAN DALAM DOKUMEN INFORMASI KINERJA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH

DATA MINIMAL YANG WAJIB DITUANGKAN DALAM DOKUMEN INFORMASI KINERJA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH Lampiran II. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : Tanggal : DATA MINIMAL YANG WAJIB DITUANGKAN DALAM DOKUMEN INFORMASI KINERJA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH Tabel-1. Lindung Berdasarkan

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print)

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print) A714 Pembuatan Peta Daerah Rawan Bencana Tanah Longsor dengan Menggunakan Metode Fuzzy logic (Studi Kasus: Kabupaten Probolinggo) Arief Yusuf Effendi, dan Teguh Hariyanto Jurusan Teknik Geomatika, Fakultas

Lebih terperinci

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LAMONGAN

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LAMONGAN Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga Naskah Akademis untuk kegiatan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lamongan dapat terselesaikan dengan baik

Lebih terperinci