BAB 2 LANDASAN TEORI
|
|
|
- Doddy Kurniawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian Seiring dengan pertambahan penduduk dan perkembangan kota, jalan-jalan utamanya telah mengubah lahan pertanian di sepanjang jalan menjadi lahan terbangun, salah satunya adalah perumahan. Munculnya perumahan-perumahan tersebut akan menambah jumlah pergerakan yang dapat mengganggu arus lalu lintas menerus yang kemudian dapat menurunkan tingkat pelayanan jalan. Penurunan tingkat layanan tersebut berlangsung pada macetnya lalu lintas jalan, terutama pada saat jam puncak pagi maupun sore. Adanya bangkitan pergerakan penghuni perumahan dapat mengganggu arus lalu lintas menerus yang kemudian dapat berpengaruh pada tingkat pelayanan jalan utama di perkotaan. Untuk itu perlu dikaji bagaimana kontribusi pergerakan penghuni perumahan terhadap pelayanan jalan utama di perkotaan. (Yahya, 2007) Jalan layang non tol Kampung Melayu-Tanah Abang merupakan sebuah proyek jalan layang ini dibangun untuk mengatasi dan mengurangi kemacetan yang ada pada wilayah Jakarta, jalan layang tersebut dibangun dari daerah Kampung Melayu sampai dengan Tanah Abang. Obyek penelitian tersebut yaitu pada paket Mas Mansyur, yang berukuran panjangnya mencapai 0, 75 km, tinggi maksimum 18,77 m, tinggi minimum 12,65 m, dan lebarnya mencapai 20 m. 7
2 8 Gambar 2.1 Peta Jalan Layang Non Tol Kampung Melayu-Tanah Abang Gambar 2.2 Design Jalan Layang Non Tol Paket Mas Mansyur Jalan layang non tol Kampung Melayu-Tanah Abang Terdiri dari 3 paket, yaitu paket Mas Mansyur yang berada pada Jalan KH. Mas Mansyur yang terletak pada daerah Tanah abang sampai dengan jalan Satrio, kemudian paket Satrio yang berada pada jalan Satrio sampai dengan jalan Casablanca, dan yang terakhir paket Casablanca yang berada pada jalan Casablanca sampai dengan daerah Kampung Melayu.
3 9 2.2 Ladasan Teori Proyek pembangunan, terutama pembangunan jalan layang non tol merupakan bukan suatu hal yang baru, apa yang berubah dan merupan hal yang baru ialah dimensi dari proyek tersebut, baik dari segi kualitas maupun segi kuantitas. Sejalan dengan perubahan tersebut timbulah persaingan yang ketat, hal ini mendorong para pengusaha mencari dan menggunakan cara-cara pengelolaan, metode serta teknik yang baik, sehingga penggunaan sumber daya benar-benar efektif dan efisien. Metode konstruksi balance cantilever adalah metode pembangunan jembatan jalan layang non tol dimana dengan memanfaatkan efek kantilever seimbangnya maka struktur dapat berdiri sendiri, mendukung berat sendirinya tanpa bantuan sokongan lain (perancah/falsework). Metode ini dilakukan dari atas struktur sehingga tidak diperlukan sokongan di bawahnya yang mungkin dapat mengganggu aktivitas di bawah jembatan. Metode balanced cantilever dapat dilakukan secara cor setempat (cast in situ) atau secara segmen pracetak (precast segmental). (Liono, 2009) Konsep utamanya adalah struktur jembatan dibangun dengan pertama kali membangun struktur-struktur kantilever seimbang. Kantilever yang pertama dibuat adalah kantilever N, dan seterusnya dibangun kantilever N+1, kantilever N+2, kantilever N+3 dan kantilever N+i. (Liono, 2009) Gambar 2.3 Metode konstruksi balanced cantilever
4 Box Girder Box girder merupakan salah satu dari segment jembatan layang. Box girder merupakan suatu bentuk perkembangan dari girder. Girder itu sendiri adalah struktur jembatan yang menghubungkan antara struktur bawah dan sebagai penyangga plat diatasnya. Perbedaan girder dan box girder terletak pada bentuk dan fungsi. Girder adalah balok diantara dua penyangga (pier atau abutment) pada jembatan Atau fly over. Umumnya merupakan balok I, tetapi juga bisa berbentuk box, atau bentuk lainnya. Girder adalah elemen konstruksi jembatan yang sangat penting, karena dilihat dari fungsinya yaitu untuk menahan beban konstruksi yang ada diatasnya yaitu plat lantai dan menghubungkan antara pile-pile jembatan. (Fadhilah, Fitriani, & Astuti, 2011) Jalan layang non tol kampung Melayu-Tanah Abang tersebut menggunakan box girder. Box girder adalah jembatan di mana balok utama terdiri dari balok-balok dalam bentuk kotak berongga. Box girder tersebut merupakan beton yang biasanya terdiri dari beton pratekan, baja struktural, atau komposit baja dan beton bertulang. Bemtuk dari box girder ini biasanya berbentuk empat persegi panjang atau trapesium dalam penampang. Box girder biasanya digunakan untuk jalan layang, jalan raya dan juga untuk monorail. Pengangkutan box girder untuk disambungkan ke pier (kolom jalan layang) diperlukannya alat berat untuk mengangkatnya. Sebelumnya alat berat telah ditentukan pemilihannya supaya alat berat yang digunakan bisa menjadi efektif dalam penggunaannya. Alat berat yang ditentukan dalam pengangkutan box girder dan juga material lainnya pada proyek ini yaitu, menggunakan mobile crane beroda rantai, dan laucher gantry.
5 11 Gambar 2.4 Box Girder Box Girder Pier Gambar 2.5 Box Girder yang Terpasang pada Pier Alat Berat Alat Berat atau heavy equipment, adalah alat bantu yang di gunakan oleh manusia untuk mengerjakan pekerjaan yang berat/susah untuk di kerjakan dengan tenaga manusia/membantu manusia dalam mengerjakan pekerjaan yang berat. Misal untuk membuat sebuah danau, jalan layang, gedung bertingkat tinggi, jembatan, dan sebagainya, manusia sangat memerlukan alat berat untuk membantu proses pengerjaannya. Penggunaan alat-alat berat yang kurang tepat dengan kondisi dan situasi lapangan pekerjaan akan berpengaruh berupa kerugian antara lain rendahnya produksi, tidak tercapainya jadwal/target yang telah ditentukan, atau kerugian biaya
6 12 repair yang tidak semestinya. Oleh karena itu sebelum menentukan type dan jumlah peralatan, sebaiknya kita fahami lebih dahulu fungsi dan aplikasinya. Selain Faktor ini biasanya pihak executive di sebuah perusahaan alat berat, sangat memikirkan mengenai spare part dan kecepatan dalam perbaikan unit untuk mereduce down time unit saat sedang rusak. Namun hal - hal seperti ini biasanya di pikirkan sejak awal oleh si pembeli dan si penyuply saat investasi unit di awal Perencanaan Kebutuhan Alat Berat Perencanaan alat adalah usaha yang dilakukan untuk menghitung/memperkirakan kebutuhan alat, baik jenis, kapasitas, maupun jumlah yang diperlukan perusahaan, untuk mendukung pelaksanaan proyek yang telah direncanakan dalam rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP) maupun rencana jangka panjang perusahaan (RJPP). (Wilopo, 2009) Perencanaan kebutuhan alat dilakukan bertahap, dimulai dari perencanaan di tingkat unit usaha, kemudian kebutuhan seluruh unit usaha digabung, dan seterlah dikaji, atau bila perlu dikoreksi di tingkat kantor pusat, menjadi kebutuhan alat perusahaan yang dituangkan dalam RKAP tahun yang akan datang. (Wilopo, 2009) Dalam merencanakan kebutuhan alat harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut (Wilopo, 2009): Jenis, volume, dan waktu pelaksanaan pekerjaan. Tuntutan mutu pekerjaan / rencana mutu. Metode konstruksi. Ketersediaan alat. Rencana biaya.
7 13 Perencanaan detail meliputi jenis, kapasitas, dan jumlah alat, dilakukan pada saat proyek akan dimulai, di mana pada tahap ini sudah dipertimbangkan metode konstruksi pekerjaan yang sudah disempurnakan Gantry Gantry adalah alat berat yang terletak diatas struktur jalan layang. Fungsi dari alat tersebut adalah untuk mengangkut benda-benda yang sangat berat yaitu seperti box girder pada proyek jalan layang. Launching gantry memiliki bagian yang bernama winch, winch tersebut yang memiliki fungsi untuk mengangkut beban berat tersebut. Winch dapat bergerak naik-turun, kanan-kiri, dan depan-belakang. Launching gantry salah satu dari berbagai jenis girder launchers. Pelaksanaan erection girder dilaksanakan diatas jembatan. Girder diluncurkan dari span satu menuju span yang dituju menggunakan trolley yang bergerak diatas re1 longitudinal, setelah girder sampai pada posisi launching gantry, lalu launching gantry yang membawa balok girder tersebut bergerak secara transversal menuju bearing pad dimana balok tersebut akan diletakkan, setelah pekerjaan erection girder pada satu span tersebut selesai lalu gantry bergerak maju. (kristijanto & Supani, 2007) Gambar 2.6 Launching Gantry
8 14 a. Dimensi Gantry Ukuran dimensi dari gantry yang berada di jalan layang non tol Kampung Melayu-Tanah Abang khususnya pada paket Mas Mansyur yaitu: Tabel 2.1 Karakteristik Dimensi Gantry karakteristik dimensi gantry Tinggi launcher panjang truss girder hook stroke drum support transversal winch displacement rails cylinders stroke rear leg cylinders stroke ketinggian main beam winch wheels under rollers wheels transversal rails winch interaxe sliding longitudinal sliding whells interface sevice cranes max stroke front leg cylinders stroke spreader cylinders stroke winch sliding speed 8650 mm 8330 mm mm 2250 mm ± 500 mm 400 mm 1200 mm 4000 mm F 220 mm F 220 mm 5700 mm mm 25 m 1000 mm 400/450 mm 7,5 m/min b. Berat Structur Gantry Alat berat gantry merupakan alat yang mempunyai dimensi yang cukup besar dan memiliki berat yang besar pula. Ukuran berat gantry yaitu: Tabel 2.2 Berat Structur Gantry Structure Weight Summary dan Main girder Front head 8550 Rear head 8550 Lifting winch Lifting spreader 2405 Front and rear leg 1800 Rollers Rail Total
9 Crane Alat pengangkat yang biasa digunakan didalam proyek konstruksi adalah crane. Cara kerja crane adalah dengan mengangkat material yang akan dipindahkan, memindahkan secara horizontal, kemudian menurunkan material ditempat yang diinginkan. Beberapa tipe crane yang umum dipakai adalah: a. Truck Crane Crane jenis ini dapat berpindah tempat dari satu proyek ke proyek lainnya tanpa bantuan dari alat pengangkutan. Akan tetapi bagian dari crane tetap harus dibongkar untuk mempermudah perpindahan. Seperti halnya crawler crane, truck crane ini dapat berputar 360º. Untuk menjaga keseimbangan alat, truck crane memiliki kaki. Di dalam pengoperasiannya kaki tersebut harus dipasangkan dan roda diangkat dari tanah sehingga keselamatan pengoperasian dengan boom yang panjang akan terjaga. Gambar 2.7 Truck Crane b. Crane untuk Lokasi Terbatas Crane tipe ini diletakan di atas dua buah as tempat kedua as ban bergerak secara simultan. Dengan kelebihan ini maka crane jenis ini dapat bergerak dengan leluasa. Alat penggerak crane jenis ini adalah roda yang sangat
10 16 besar yang dapat meningkatkan kemampuan alat dalam bergerak dilapangan dan dapat bergerak di jalan raya dengan kecepatan maksimum 30 mph. Letak ruang operator crane biasanya pada bagian-bagian deck yang dapat berputar. c. Tower Crane Tower crane adalah salah satu peralatan utama yang digunakan dalam pembangunan gedung-gedung bertingkat. Simulasi tower crane adalah alat yang efektif dalam pemodelan operasi konstruksi yang rumit seperti mengangkat beban-beban yang berat. (Hasan & Al-Hussein, 2010) Tower crane merupakan alat yang digunakan untuk mengangkat material secara vertical dan horizontal kesuatu tempat yang tinggi pada ruang gerak yang terbatas. Tipe crane ini dibagi berdasarkan cara crane tersebut berdiri yaitu crane yang dapat berdiri bebas (free standing crane), crane diatas rel (rail mounted crane), crane yang ditambatkan pada bangunan (tied-in tower crane) dan crane panjat (climbing crane). Gambar 2.8 Tower Crane
11 17 d. Mobile Crane Mobile crane adalah suatu alat pengangkat yang bersifat dinamis, maksudnya bahwa alat pengangkat ini dapat berpindah-pindah tempat, pada saat sedang melakukan pengangkatan beban. Mobile crane dapat berpindahpindah dikarenakan memiliki roda penggerak, roda penggerak Mobile crane memiliki dua jenis yaitu, jenis rantai dan jenis roda yang terbuat dari karet seperti yang banyak digunakan pada automobil lainnya. Jenis crane ini banyak digunakan pada medan yang rata dan relative keras. Mobile Crane beroda karet Mobile crane beroda karet juga terdapat boom yang disangga oleh struktur utamanya (super structure flat form) dapat berupa rangka (lattice) dari baja dengan alat kendali kabel dan hidrolis. Sebagai penggerak utamanya bisa menggunakan mesin disel, bensin atau motor listrik, sedangkan untuk pengendalian hidrolis dipergunakan motor yang terpisah dari prime mover nya. (Suryadharma & Wigroho, 1998) Umumnya mobile crane beroda karet dilengkapi dengan kabel baja tunggal sebagai alat pengangkatnya, yang terbentang dari titik boom hingga bagian bawah dan bisa berupa hook, tong, bucket, dan sebagainya. Mobile crane dilengkapi dengan sekering beban terbesar. Jarak beban/kemiringan lengan berdasar atas 75% - 85% beban yang mengakibatkan tergulingnya crane. (Suryadharma & Wigroho, 1998)
12 18 Gambar 2.9 Mobile Crane Sebelum melakukan pengerjaan mobile crane memasang atau menurunkan kaki-kaki depan dan belakang yang ada di mobile crane, hal ini berguna supaya mobile crane tidak bergerak rodanya pada saan proses pengangkatan yang cukup berat. Gambar 2.10 Pemasangan Kaki-Kaki pada Mobile Crane Mobile crane beroda karet yang berada di proyek jalan layang non tol Kampung Melayu-Tanah Abang khususnya pada paket Mas Mansyur yaitu sebanyak 1 buah. Mobile crane beroda karet tersebut berfungsi untuk mengangkat atau memindahkan form work (alat untuk tempat tenaga kerja bekerja pada ruang yang susah dijangkau), dan benda yang
13 19 lebih ringan. Mobile crane beroda karet digunakan juga karena mobile crane beroda rantai sedang digunakan untuk proses penambahan segment, sehingga untuk mempercepat pengerjaan dibutuhkan tambahan crane lagi. Mobile crane beroda karet apabila tidak digunakan, alat tersebut akan diletakkan pada paket Casablanca. Gambar 2.11 Proses Pemasangan Form Work dengan Mobile Crane Mobile Crane Beroda Rantai Tipe ini mempunyai bagian atas yang dapat bergerak 360 derajat. Dengan roda rantai maka crane tipe ini dapat bergerak didalam lokasi proyek saat melakukan pekerjaannya. Pada saat crane akan digunakan diproyek lain maka crane diangkut dengan menggunakan lowbed trailer. Pengangkutan ini dilakukan dengan membongkar boom menjadi beberapa bagian untuk mempermudah pelaksanaan pengangkutan. Crawler crane adalah suatu mesin pengangkat yang bersifat dinamis, dalam arti mesin ini tidak hanya bekerja pada satu tempat, tetapi dapat pula melakukan perpindahan tempat saat pengangkatan beban.
14 20 Gambar 2.12 Crawler Crane Gambar 2.13 Lowbed Trailer Banyak model opsional direkayasa dengan perluasan boom dikenal sebagai "fly jib" atau 'jib tetap'. Lonjakan kabel tersuspensi dan oleh karena itu berlaku sebagai kompresi, bukan bending seperti boom telescoping hidrolik. Baru model rantai yang berukuran kecil ada yang dilengkapi dengan boom telescoping. Beberapa model bermotor yang dipasang dengan trek karet untuk membuat mereka sesuai untuk pekerjaan perkotaan dan pergerakan di perkerasan. (Peurifoy, L. Robert; Schexnayder, J. Clifford; Shapira, Aviad, 1956) Dimensi umum dan kapasitas untuk crawler crane adalah (Peurifoy, L. Robert; Schexnayder, J. Clifford; Shapira, Aviad, 1956):
15 21 Panjang boom maksimum : 100 sampai 400 ft Panjang maksimum fly jib : 30 sampai 120 ft Maksimum radius (boom saja) : ft Minimal radius : 10 sampai 15 ft Kapasitas angkat maksimum (pada radius minimal) : 30 sampai 600 ton Perjalanan maksimum kecepatan : 50 sampai 100 ft / menit (0,6-1,2 mph) Dasar bantalan tekanan : 7 sampai 20 psi Crawler crane yang digunakan pada jalan layang non tol Kampung Melayu-Tanah Abang paket Mas Mansyur yaitu crawler crane type kuat angkat 100 ton. Data-data mobile crane beroda rantai adalah: 1) General Description Mobile Crane Beroda Rantai General Description merupakan deskripsi secara umum tentang mobile crane beroda rantai. Data-data deskripsi secara umum tentang mobile crane beroda rantai yaitu: Tabel 2.3 General Description Mobile Crane Beroda Rantai GENERAL DESCRIPTION Type Crawler mounted, fully revolving Maximum lifting capacity 200,000 lbs (90,700 kg) (at 11 operating radius, with 40 boom ) Basic boom length 40 (12.2 m) Maximum boom length 200 (61.0 m) Basic boom & jib length (24.4 m m) Maximum boom & jib length (57.9 m m) Working weight Approx. 179,700 lbs (81,500 kg) Ground bearing pressure Approx psi (75.6 kpa) Gradeability 40% 2) General Dimensions Data-data dimensi umum untuk jenis mobile crane beroda rantai yaitu:
16 22 Tabel 2.4 Dimensi Umum Mobile Crane BerodaRantai GENERAL DIMENSIONS Height to top of gantry (lowered) (3.32 m) Width of upper machine with operator s cab 10 6 (3.20 m) Radius of rear end (counterweight) 14 4 (4.38 m) Counterweight ground clearance 3 8 (1.12 m) Center of rotation to boom foot pin 3 7 (1.10 m) Height from ground to boom foot pin 5 10 (1.77 m) Height over gantry (raised) 20 4 (6.20 m) Overall length of crawler 20 8 (6.30 m) Center to center of tumblers (5.44 m) Overall width of crawlers (5.14 m) Shoe width 36 (0.91 m) Ground clearance of carbody 15 (0.39 m) 3) Working Speed Data kecepatan kerja mobile crane beroda rantai yaitu: Tabel 2.5 Working Speed WORKING SPEED Hoist line speed (front and rear drum) 390 ~ 10 ft/min (120 ~ 3 m/min) Lowering line speed (front and rear drum) 390 ~ 10 ft/min (120 ~ 3 m/min) Boom hoist line speed 230 ~ 7 ft/min (70 ~ 2 m/min) Boom lowering line speed 230 ~ 7 ft/min (70 ~ 2 m/min) Swing speed 4.0 rpm (4.0 min-1) Travel speed (High / Low) 1.18 / 0.75 mph (1.9 / 1.2 km/hour) Tipe crane yang digunakan pada proyek pembangunan Jalan Layang Non Tol Kampung Melayu-Tanah Abang paket Mas Mansyur yaitu tipe mobile crane beroda rantai sehingga crane tersebut dapat berjalan bebas dikarenakan memiliki roda berjenis rantai dibawah crane tersebut. Dan jumlah mobile crane beroda rantai yang digunakan pada Jalan Layang Non Tol Kampung Melayu Tanah Abang pada paket Mas Mansyur untuk mengangnkut box girder yaitu sebanyak 1 buah mobile crane beroda rantai.
17 Safety Keamanan dari alat berat sangatlah penting, dikarenakan sering terjadinya kecelakaan-kecelakaan yang ditimbulkan pada saat pengoperasian alat berat. Oleh karena itu operator alat berat dan juga tenaga kerja yang bekerja di proyek diwajibkannya menggunakan peralatan keamanan yang sudah dianjuarkan, yaitu seperti helm proyek, sepatu keselamatan, dan pakaian visibilitas tinggi saat mengoperasikan atau bekerja di alat berat. Beban jatuh dari alat berat pengangkut menimbulkan bahaya parah pada operator dan pekerja di dekatnya, oleh karena itu untuk pengangkutan beban jangan melebihi kapasitas beban dari alat berat pengangkut. Jika adanya ketidak yakinan tentang ukuran dan berat beban, maka harus dilakukannya pengnghitungan berat untuk memastikan bahwa memenuhi kapasitas alat berat tersebut. Sebelum alat berat memulai untuk pengoprasian maka diperlukannya pengecekan-pengecekan terhadap alat supaya untuk memastikan alat berat tersebut sudah siap untuk digunakan. Pengecekan alat berat seperti memeriksa semua sling, rantai, dan kait yang akan digunakan untuk mengangkat dan mengamankan beban. Dan juga kurangnya pelatihan operator juga merupakan penyebab utama dari kecelakaan, maka dari itu operator alat berat sangat memerlukan pelatihan yang maksimal, sehingga operator alat berat dapat menguasai alat berat yang digunakannya dan juga dapat mengatasi medan-medan yang ada di dalam proyek. Data kecelakaan crane terbatas karena kematian dan luka-luka biasanya hanya dilaporkan. Peristiwa kerusakan properti biasanya tidak dilaporkan, kecuali untuk operator asuransi. Keseriusan kecelakaan crane, bagaimanapun, adalah jelas. Apalagi, ada beberapa pekerjaan harian yang bisa dengan mudah berubah menjadi
18 24 kecelakaan parah atau bahkan fatal. (Peurifoy, L. Robert; Schexnayder, J. Clifford; Shapira, Aviad, 1956). Peningkatan keselamatan pada pekerjaan crane merupakan yang pertama dan terutama, bahwa semua pihak yang terlibat (manajer proyek, pengawas umum, operator crane, dll) harus menyadari faktor bahaya keselamatan yang meningkatkan kemungkinan kecelakaan khususnya pada pekerjaan. Potensi bahaya keamanan, di mana tingkat keamanan yang diharapkan pada lokasi tertentu dapat dievaluasi, sebaiknya sebelum konstruksi sebenarnya telah dimulai, masuk dalam tiga kategori (faktor yang terkait terutama dengan tower crane yang ditandai dengan tanda bintang). (Peurifoy, L. Robert; Schexnayder, J. Clifford; Shapira, Aviad, 1956): a. Faktor manusia direfleksikan sebagian besar dalam pengalaman dan kompetensi operator, mode kerja operator, dan sikap dari semua personel yang terlibat di tempat kerja crane. b. Faktor proyek adalah adanya garis kekuatan dan kekompakan dari tempat, saling tumpang tindih sampul kerja crane dan selama mengoperasikan crane, lamanya hari kerja dan bekerja pada shift malam, kondisi kerja di dalam kabin operator dan penggunaan opsional. c. Tipikal factor lingkungan yaitu, spesifik non-proyek adalah angin dan cuaca buruk, standar pemeliharaan crane dan bagian alat mengangkat, dan kebijakan perusahaan terhadap manajemen keselamatan. Keselamatan harus menjadi perhatian utama tidak hanya ketika crane beroperasi, tetapi juga dalam fase lain dari kehadirannya di lokasi proyek. Hal ini terutama berlaku untuk tower crane selama ereksi dan pembongkaran, memanjat, dan setelah jam kerja. Selama semua periode crane tidak secara penuh atau kondisi aktif alami. Kondisi kerja alami adalah ketika crane melakukan apa yang dirancang
19 25 dan dibangun untuk melakukan, yaitu, mengangkat beban. Setelah tugas, ketika tidak ada beban yang pengangkatan, keseimbangan kekuatan dialihkan, sementara operator tidak ada di dalam cab. Embusan angin, kegagalan struktur lokal, atau pelepasan rem yang berlangsung tanpa disadari ketika cab tak berawak dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan. (Peurifoy, L. Robert; Schexnayder, J. Clifford; Shapira, Aviad, 1956) Rencana keselamatan perusahaan crane harus membahas: Pemeriksaan peralatan Analisis bencana bagi umum, garis kerja, dll Lokasi crane Perpindahan crane Definisi pengangkatan, produksi, dan umum Penentuan zona tanggung jawab, garis kontrol dan pelaporan Menulis laporan kecelakaan dan prosedur investigasi 2.3 Jalan Layang Definisi / pengertian Jalan Layang adalah jalan yang dibangun tidak sebidang melayang menghindari daerah/kawasan yang selalu menghadapi permasalahan kemacetan lalu lintas, melewati persilangan kereta api untuk meningkatkan keselamatan lalu lintas dan efisiensi. Jalan Layang secara umum memiliki fungsi sebagai berikut: 1. Sebagai jalan alternative, untuk mengurangi kemacetan. 2. Tidak menghampat pengendara yang ingin melintas lurus karena persimpangan. 3. Mempermudah distribusi ekonomi masyarakat. 4. Menggunakan kolong jalan layang untuk taman kota.
20 Data Umum Proyek a. Data Proyek Nama Proyek : Jalan Layang Non Tol Kampung Melayu-Tanah Abang (Paket Mas Mansyur) Lokasi Proyek Fungsi Bangunan Pemilik Konsultan MK Kontraktor Utama : Jl. KH. Mas Mansyur : Jalan Layang Non Tol : DPU DKI : PT. Lapi Ganesatama : KSO PT. Istaka Karya dan PT. Sumbersari Cipta Marga Perencana Pondasi Perencana Struktur : PT. Bimatekno Karyatama Konsultan : Ir. Jody Firmansyah. MSE. Ph.D, dan rekan Perencana MEP : PT. Metakom Pranata Perencana Gantry dan prestress : PT. Vorspann System Losinger Indonesia (VSL Indonesia) b. Data Lingkungan Proyek Batas-batas dari lingkungan proyek Jalan Layang Non Tol Kampung Melayu-Tanah Abang, yaitu: Sebelah Utara : Jalan Menuju Tanah Abang Sebelah Selatan : Jalan Menuju Kampung Melayu Sebelah Timur Sebelah Barat : ANZ Tower, Sampoerna Strategic Square : Hotel Le Meridien Jakarta
21 27 Gambar 2.14 Peta Lokasi c. Analisa Lalu Lintas Analisis dampak lalu lintas pada dasarnya merupakan analisis pengaruh pengembangan tata guna lahan terhadap sistem pergerakan arus lalu lintas disekitarnya yang diakibatkan oleh bangkitan lalu lintas yang baru, lalul intas yang beralih, dan oleh kendaraan keluar masuk dari / ke lahan tersebut. Pada proses pengerjaan jalan layang non tol Kampung Melayu-Tanah Abang pada paket Mas Mansyur, prosesnya sebagian mengganggu aktifitas lalu lintas jalan yang berada pada lokasi pengerjaan erection segment. Pada proses erection segment dengan menggunakan alat berat mobile crane beroda rantai memerlukan ruas jalan yang berfungsi untuk gerak maju mundurnya alat berat mobile crane. Ruas jalan yang dibutuhkan sekitar dua jalur jalan, sehingga pada proses erection segment dengan menggunakan alat berat mobile crane, dua jalur jalan ditutup dan dialihkan kea rah yang lain, hal tersebut dapat dilihat pada gambar Dikarenakan kedua jalur tersebut digunakan untuk pergerakan mobile crane, sehingga pekerjaan
22 28 erection segment dengan menggunakan alat berat mobile crane hanya bisa dilakukan pada malam hari, ketika kendaraan yang menggunakan jalur jalan tersebut sudah mulai sepi dan tidak mengganggu arus lalu lintas dan tidak mengakibatkan kemacetan lalu lintas. Pada proses erection segment dengan menggunakan alat berat gantry, proses tersebut tidak terlalu banyak mengambil ruas jalan, melainkan hanya mengambil sedikit ruas jalan yang berada di sekitar lokasi pengerjaan proses erection segment, hal ini berfungsi untuk menjaga keamanan dan batas safty area untuk meminimaliskan terjadinya kecelakaan pada lokasi proyek yang tidak diinginkan. Arah Jalan Pengalihan Jalan Gambar 2.15 Lokasi Jalan 2.5 Mesin Ereksi Jembatan Industri jembatan sedang bergerak dengan konstruksi mekanik dikarenakan untuk menghemat tenaga kerja, memperpendek durasi proyek dan meningkatkan kualitas. Kecenderungan ini tampak jelas di beberapa negara dan mempengaruhi
23 29 metode konstruksi sebagian besar. Konstruksi jembatan mekanis didasarkan pada penggunaan mesin-mesin khusus. Mesin ereksi jembatan generasi baru adalah struktur yang kompleks dan halus. Mereka menangani beban berat pada bentang panjang di bawah kendala yang sama, bahwa hambatan untuk diberikannya jembatan layang menuju struktur akhir. Keselamatan operasi dan kualitas produk tergantung pada interaksi yang kompleks antara keputusan, struktural, mekanik dan elektro hidrolik komponen mesin, dan jembatan yang didirikan. Terlepas dari kerumitan, mesin ereksi jembatan harus seringan mungkin. Beratnya mengatur investasi awal, biaya pengiriman dan perakitan lokasi, dan tekanan peluncuran. Pembatasan beratnya menentukan penggunaan baja kekuatan tinggi dan merancang untuk tingkat tegangan tinggi dalam beban berbeda dan kondisi pendukung, yang membuat mesin tersebut berpotensi rentan terhadap ketidakstabilan. Mesin ereksi jembatan dirakit dan dibongkar berkali-kali, dalam kondisi berbeda dan oleh awak berbeda. Mereka dimodifikasi dan disesuaikan dengan kondisi di New York. Node struktural dan splices lapangan dikenakan ratusan pembalikan beban. Sifat pembebanan sering sangat dinamis dan mesin mungkin terkena dampak dan angin kencang. Memuat dan reaksi pendukung diterapkan secara eksentris, bagian pendukung sering tidak memiliki diafragma, dan mesin yang paling memiliki sistem pendukung yang fleksibel. Memang kondisi desain seperti itu hampir tak terbayangkan dalam struktur permanen akibat beban tersebut. Tingkat kecanggihan mesin ereksi jembatan generasi baru memerlukan budaya technical yang memadai. Grup subkontrak lama dapat menyebabkan hilangnya
24 30 komunikasi, masalah tidak dibahas dengan selama perencanaan dan desain harus diselesaikan di lokasi, risiko yang salah begitu rumit tidak selalu jelas dalam mesin, dan kesalahan manusia merupakan penyebab utama kecelakaan. Solusi melakukan percobaan baru tanpa persiapan dapat menyebabkan hasil bencana. Beberapa mesin jembatan ereksi runtuh di tahun-tahun, dengan korban jiwa dan penundaan yang sangat besar dalam jadwal proyek. Tingkat struktur teknis yang memadai untuk kompleksitas konstruksi mekanik jembatan akan menyelamatkan hidup manusia dan akan memfasilitasi proses pengambilan keputusan dengan evaluasi risiko yang lebih tepat. (Rosignoli, 2010) Pengantar Metode Konstruksi Jembatan Setiap metode konstruksi jembatan memiliki kelebihan dan kelemahan. Tanpa adanya persyaratan tertentu yang membuat satu solusi segera lebih baik untuk yang lain, penilaian atas kemungkinan alternatif selalu menjadi tugas yang berat. Perbandingan berdasarkan jumlah bahan struktural dapat menyesatkan biaya teknologi pengolahan bahan baku (tenaga kerja, investasi untuk peralatan khusus, pengiriman dan perakitan situs peralatan, energi) dan biaya tidak langsung yang berkaitan dengan proyek durasi sering memerintah di negara-negara industri. Jumlah yang lebih tinggi dari bahan baku karena proses konstruksi yang efisien dan cepat jarang membuat anti solusi ekonomis. Biaya teknologi yang rendah merupakan penyebab bagi keberhasilan metode peluncuran tambahan untuk jembatan PC (Precast Concrete). Dibandingkan dengan penggunaan perancah tanah, peluncuran ini mengurangi biaya tenaga kerja dengan investasi yang sama. Dibandingkan dengan penggunaan MSS (Movable Scaffolding System), peluncuran ini mengurangi investasi dengan biaya tenaga kerja yang sama.
25 31 Dalam kedua kasus peluncuran ini mengurangi biaya teknologi konstruksi dan bahkan jika menekankan peluncuran dapat meningkatkan jumlah bahan baku, sisanya adalah positif dan solusinya adalah biaya efektif. Metode konstruksi yang datang paling dekat dengan peluncuran bertahap adalah segment pracetak. Biaya tenaga kerja yang serupa tetapi investasi yang lebih tinggi dan break even poin beralih ke jembatan yang lebih lama. Bentang m adalah jangka rentang ereksi dengan gantry peluncuran overhead atau underslung. Rentang yang lebih panjang yang didirikan sebagai cantilevers seimbang: launching gantry diri mencapai m rentang dan bingkai mengangkat menutupi bentang lagi dan jembatan kurva. Berat peluncuran gantry digunakan untuk marco-segment pembangunan bentang m. rentang dengan ereksi rentang marco-segment membutuhkan alat peraga dari dasarnya. Ereksi kantilever seimbang melibatkan pengecoran segmen dek panjang di bawah jembatan untuk strand jacking ke potition. Kedua solusi memerlukan investasi yang tinggi. Pada jembatan pendek, pra fabrikasi adalah batasan untuk balok penopang dan slab dek adalah cast di tempat. Balok pracetak sering didirikan dengan crane darat. Lingkungan yang sensitif, lokasi tidak dapat diakses, dermaga tinggi, slops curam dan daerah yang dihuni sering membutuhkan perakitan dengan beam launchers, dan peningkatan biaya teknologi. Jembatan LRT (Light Rail Transit) dan HSR (High Speed Railway) dengan bentang m mungkin ereksinya oleh pracetak rentang penuh. Investasi tersebut begitu tinggi bahwa titik impas tercapai dengan ratusan bentang. Plat pracetak memberikan 2-4 per hari untuk pembangunan jalur cepat proyek skala besar. Materi
26 32 dioptimalkan dan biaya tenaga kerja menambah kualitas tinggi dari produksi pabrik. Jalan operator crane dan tanah mungkin mendirikan empat jalur gelagar U tunggal (dua LRT rentang) setiap malam. Operator berat dengan underbridge dan gantry ditolong oleh SPMT (Self Propelled Modular Transporters) ini adalah alternatif untuk pengiriman tanah bentang HSR (High Speed Railway). Pracetak mencakup lebih dari 100 m telah didirikan dengan floating crane. Jembatan PC (Precast Concrete) bentang sedang juga dapat cor di tempat. Uuntuk jembatan dengan lebih dari dua atau tiga bentang akan lebih mudah untuk maju sejalan dengan menggunakan kembali formwork yang sama beberapa kali, dan dek dibangun oleh span ke span. Pengecoran terjadi dalam salah satu bekisting tetap atau bergerak. Pilihan peralatan diatur oleh alasan ekonomis karena biaya tenaga kerja yang terkait dengan perancah tetap dan investasi diminta untuk MSS keduanya cukup. Mulai dari tahun empat puluhan, perancah kayu asli telah diganti dengan sistem framing baja modular. Terlepas dari struktur pendukung halus, pekerja melebihi 50% dari biaya konstruksi span. Pengecoran pada perancah adalah solusi yang layak hanya dengan tenaga kerja murah dan untuk jembatan kecil. Keterbatasan lain adalah hambatan dari daerah di bawah jembatan. Suatu MSS (Movable Scaffolding System) terdiri dari sel pengecoran dirakit ke sebuah rangka launching. MSS yang digunakan untuk rentang oleh pengecoran rentang jembatan bentang panjang dengan m. Jika tiang tidak tinggi dan daerah bawah jembatan dapat diakses, bentang m dapat dicetak dengan m MSS yang didukung ke tiang sementara di setiap bentang. Pengoperasi berulang mengurangi biaya tenaga kerja, jumlah bahan baku yang terpengaruh, dan kualitas
27 33 yang lebih tinggi daripada yang dicapai dengan sebuah perancah. Jembatan penyeberangan yang lokasi tidak dapat diakses dengan tiang tinggi dan rentang hingga 300 m dicor di tempat sebagai cantilevers seimbang. Ketika jembatan pendek dari bentang melebihi m dek ini mendukung form travelers. Overhead travelers lebih cocok di jembatan PC (Precast Concrete) sementara mesin underslung digunakan dalam jembatan cable stayed dan cable supported arches. Dengan jembatan panjang dan bentang m, dua sel pengecoran lagi dapat ditangguhkan dari launching girder yang juga menyeimbangkan cantilevers selama konstruksi. (Rosignoli, 2010) Fitur Utama Dari Mesin Ereksinya Jembatan Industri mesin ereksi jembatan adalah ceruk pasar yang sangat khusus. setiap mesin yang awalnya disusun untuk sebuah ruang lingkup, setiap produsen memiliki kebiasaan teknologi sendiri, dan setiap kontraktor preferensi dan harapan digunakan kembali. Negara fabrikasi juga mempengaruhi beberapa aspek desain. Namun demikian, skema konseptual tidak banyak. Beam launchers kebanyakan terdiri dari dua rangka batang segitiga terbuat dari modul lama yang dilas. Diagonal dapat dibautkan ke akord untuk pengiriman lebih mudah meskipun perakitan lokasi lebih mahal. Pin atau baut longitudinal digunakan untuk splices lapangan di akord. Mesin gelagar tunggal generasi baru memungkinkan pengelasan robotized dan memiliki pelana kurang mendukung dan winch trolley yang lebih kecil. Bentang jarang 50 m melebihi pada jembatan balok pracetak. Launching gantry untuk bentang dengan ereksi rentang jembatan pracetak segmen juga beroperasi pada bentang m tetapi payload jauh lebih tinggi sebagai gantry mendukung seluruh rentang selama perakitan. Muatan dari SPM
28 34 dalam rentang tempatnya dengan pengecoran bentang bahkan lebih tinggi karena juga termasuk sel casting, meskipun sifat pembebanan kurang dinamis. Mesin serbaguna twin girder overhead yang terdiri dari dua rangka batang yang menangguhkan segmen dek atau sel pengecoran dan membawa runways untuk winch troli atau crane portal. Splices lapangan dirancang untuk perakitan cepat dan sifat modular desain memungkinkan konfigurasi perakitan alternatif. Mesin ini mudah digunakan kembali, namun, beratnya, permintaan tenaga kerja dan kompleksitas operasi mungkin menyarankan penggunaan mesin-mesin khusus lebih pada jembatan yang panjang. Lebih ringan dan lebih otomatis mesin girder tunggal overhead dibangun di sekitar pusat rangka 3D atau dua diikat pada I girders. Ekstensi lampu depan kontrol overturning dan kerangka C belakang sepanjang jembatan diselesaikan selama peluncuran. Mesin girder tunggal overhead yang ringkas dan stabil dan memerlukan crane darat hanya untuk perakitan pada lokasi. Konfigurasi teleskopik dengan gelagar utama belakang dan depan di bawah jembatan juga tersedia untuk jembatan dengan kurva rencana yang ketat. Mesin underslung terdiri dari dua rangka batang 3D atau sepasang I girders yang ditunjang ke bracket pier. Props dari fondasi dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas beban ketika pilar pendek. Kerangka C belakang selesai melewati jembatan dapat digunakan untuk mempersingkat girder. Mesin underslung menyediakan berdasarkan kendala tanah dan persyaratan izin. Marco-segmental konstruksi membutuhkan gantry berat kepala rangka kembar dengan kaki pendular belakang yang membutuhkan dukungan ke dek sebelum mengangkat segment. Sendi melintang di perempat span dan sendi memanjang di
29 35 jembatan tengah membagi m bentang menerus menjadi empat segment. Segment dicor langsung di bawah gantry dengan sel pengecoran yang menggulung di sepanjang jembatan dan diputar dan dimasukkan dengan kurungan prefabrikasi di abutment. (Rosignoli, 2010) Beam Launcher Metode yang paling umum untuk balok pracetak adalah dengan mendirikan crane darat. Crane biasanya memberikan prosedur ereksi yang paling sederhana dan cepat dengan minimum investasi, dan dek dapat dibangun di beberapa tempat sekaligus. Akses yang baik diperlukan sepanjang seluruh panjang jembatan untuk posisi crane dan mengirimkan girder. Pilar tinggi atau lereng curam membuat ereksi crane mahal atau mencegahnya sama sekali. Penggunaan beam launcher memecahkan kesulitan. Sebuah beam launcher adalah mesin launching terdiri dari dua rangka batang segitiga. Panjang rangka adalah sekitar 2,3 kali span tyipical tapi ini jarang masalah karena gantry beroperasi di atas dek (Gambar 2.16). Beam launcher dengan mudah mengatasi dengan variasi panjang span dan geometri dek, lekukan perencanaan dan kendala tanah. Balok silang mendukung gantry di pilar dan memungkinkan pergeseran melintang untuk mendirikan balok tepi dan untuk melintasi gantry untuk launching di sepanjang kurva. Dua winch troli span diantara akord atas rangka batang dan dua winch masingmasing. Winch utama menggantungnya balok dan winch translasi yang bekerja pada putaran jangkar yang menggerakkan troli pada sepanjang gantry. Troli ketiga membawa sebuah generator listrik yang memakan operasi gantry. Ketika balok yang
30 36 dikirimkan pada abutment dan vertikal. Jika gerakannya kecil, winch utama dapat diganti dengan yanglebih murah hidrolik silindernya. Sumber: Data Gambar Encyclopedia Of Life Support Systems (EOLSS) Gambar M, 90 Ton launcher untuk 45 M, 120 beams Ton (Comtec) Sebuah beam launcher beroperasi di salah satu dari dua cara tergantung pada bagaimana beams yang dikirimkan. Jika beams yang disampaikan pada lapangan, launcher mengangkatnya ke lebel dek dan menempatkannya ke Bearings. Jika beams yang disampaikan di abutment, launcher yang bergerak kembali ke abutment dan troli winch akan dipindah ke bagian belakang dari gantry. Troli depan mengambil ujung depan beam dan pindah ke depan dengan bagian belakang tersuspensi dari bahan pembawa straddle. Ketika bagian belakang balok mencapai troli winch belakang, troli mengangkatnya untuk melepaskan pengangkut. Gerakan longitudinal gantry adalah proses dua langkah. Penjepit otomatis memblokir rangka batang ke beams silang dan troli winch memindahkan beam satu span ke depan, maka troli winch yang menempel pada beams silang, blok-blok tersebut dilepaskan dan winch translasi mendorong rangka batang ke span berikutnya. Redundansi dari jangkar diperlukan di kedua fase untuk launching aman
31 37 bersama bidang lereng. Urutannya dapat diulang berkali-kali sehingga ketika balok yang dikirimkan di abutment, gantry dapat menempatkannya membentang beberapa ke depan. Ketika jembatan sudah panjang, gantry bergerak memperlambat ereksi turun dan mungkin lebih cepat untuk melemparkan lempengan dek segera setelah beams ditempatkan dan untuk mengirimkan beams berikutnya sepanjang penyelesaian jembatan. Rangka defleksi pada saat mendarat di pilar dengan potongan kesejajaran. Gaya kesejajaran kecil tapi pelana dukungan harus dicapai dengan langkah silinder yang panjang yang berputar ditempelkan ke ujung truss. Perangkat serupa juga diterapkan pada bagian belakang dari gantry untuk melepaskan dukungan reaksi ketika meluncurkan ke depan dan untuk memulihkan defleksi ketika peluncuran mundur. Generasi baru girder launcher tunggal didasarkan pada dua I girder diikat. Main girder nya lebih murah dari dua rangka batang segitiga karena pengelasan robotized, troli winch lebih kecil, jumlah bagian dukungan sadel, dan beams silang yang lebih pendek. Hidung launching lebih ringan dapat dicapai dengan laser cut windows di jaring untuk menghindari pengelasan tangan. Frame C mendukung ujung belakang gantry dan memungkinkan balok untuk melewati saat dikirim di sepanjang penyelesaian jembatan. Frame C tidak diperlukan bila balok dikirimkan tepat pada lapangan karena launcher dapat mengangkat dan menggeser ke posisi dalam rentang yang sama (gambar 2.17).
32 38 Sumber: Data Gambar Encyclopedia Of Life Support Systems (EOLSS) Gambar M, 98 Ton single girder shifter for 28 M, 60 Ton beams (Deal) Balok silang yang menempel pada topi pair membawa rel untuk lateralis bergeser dari gantry. Balok silang memiliki overhang lateral untuk penempatan di tepi balok penopang dan untuk melintasi gantry untuk launching sepanjang kurva. Lokasi tungkai dukungan disesuaikan agar tidak mengganggu balok pracetak yang digunakan untuk mengatur balok silang horizontal. Beberapa launchers memiliki crane pelayanan yang ringan di ujung rangka batang untuk memposisikan balok silang tanpa memerlukan crane darat. Pelana dukungan terdiri dari rol bawah yang bergeser lateral di sepanjang balok silang dan rol atas yang menunjang rangka batang. Balok kedudukan memungkinkan rol atas untuk mengatasi dengan rotasi lentur dalam rangka dan gradien dari bidang laucher. Sebuah poros vertikal menghubungkan dua rol untuk memungkinkan rotasi pada bidang horisontal. Sisi lateralis bergeser sepanjang balok silang dicapai dengan konstan atau silinder panjang ringan. Penjepit otomatis menghambat rangka batang ke balok silang selama operasi troli winch. Launching di sepanjang bidang cenderung dan mematahkan dari setiap komponen sistem derek yang akan membiarkan gantry tak terkendali mengenai dukungan gesekan rendah. Redundansi sistem derek melibatkan operasi oversizing dan lambat. (Rosignoli, 2010)
33 Erection Girder Tipe I Dengan Sistem Foating Crane, Kura-Kura, Dan Girder Launcher Dalam kutipan laporan (Supani, 2007) tentang metode pelaksanaan erection girder tipe I dengan sistem foating crane, kura-kura dan launcher girder pada proyek jembatan suramadu ini berisikan sebagian tentang mengenai metode kerja erection girder, kriteria waktu, biaya, cara operasi alat berat. Pada erection girder tipe I digunakan dua buah floating cranes berkapasitas 100 ton untuk meletakkan girder pada pilar. Floating cranes tersebut ditempatkan diatas ponton. Untuk menjaga kestabilan maka floating cranes dikaramkan dengan cara diisi air pada bagian badan floating cranes. Gambar 2.18 Floating Cranes Metode kura-kura ini hampir sama dengan floating cranes, yang berbeda hanya pada alat berat yang digunakan untuk melaksanakan erection girder. Metode ini digunakan dua buah crawler cranes berkapasitas 100 ton untuk meletakkan girder pada pilar. Crawler cranes tersebut ditempatkan di atas ponton. Metode yang ke tiga yaitu metode girder launchers, girder launchers ini menggunakan alat launching gantry, salah satu dari berbagai jenis girder launchers. Pelaksanaan erection girder dilaksanakan diatas jembatan. Girder diluncurkan dari span satu menuju span yang dituju menggunakan trolley yang bergerak diatas rellongitudinal, setelah girder sampai pada posisi launching gantry, lalu launching
34 40 gantry yang membawa balok girder tersebut bergerak secara transversal menuju bearing pad dimana balok tersebut akan diletakkan, setelah pekerjaan erection girder pada satu span tersebut selesai lalu gantry bergerak maju. Perhitungan cycle time pada ke-3 alternatif untuk masing-masing alat berdasarkan pada data-data dari supplier alat berat, buku referensi, dan pengamatan dilapangan. Perhitungan ini dilakukan dengan mengasumsikan bahwa peralatan dalam kondisi baik atau dengan Efisiensi kerja (E) = 75%. Hasil dari analisa perhitungan waktu siklus dari masing-masing alat dapat dilihat seperti pada tabel berikut (Supani, 2007) : Tabel 2.6 Perbandingan Durasi Erection Girder No. Metode cycle time girder (menit) Productivitas Q (girder/ jam) Durasi / girder (jam) Productivitas Q (girder/hari ) Durasi / bentang (hari) Durasi 29 bentang (hari) Floating Crane Kura-Kura Girder Launchers Tabel 2.7 Perbandingan Kinerja Biaya Terhadap Ketiga alternative No. Metode Biaya lauching girder/girder Biaya lauching girder per 29 (Rp) bentang (Rp) Floating Crane Rp 2,255, Rp 10,467,351, Kura-Kura Rp 38,307, Rp 17,774,592, Girder Launchers Rp 12,422, Rp 6,911,206, Hasil dari analisa perhitungan biaya untuk masing-masing alat dapat dilihat pada tabel 2.7.
35 41 Tabel 2.8 Hasil Kesimpulan Analisa-analisa No Alternatif Analisa Keuntungan/kerugian Analisa AHP Pada Tiap Responden Analisa AHP Berkelompok Analisa Sensitifitas 1 Floating Crane Prioritas Kedua Prioritas Kedua Prioritas Kedua Prioritas Kedua 2 Kura-Kura Prioritas Terendah Prioritas Terendah Prioritas Terendah Prioritas Terendah 3 Girder Launchers Prioritas Pertama Prioritas Pertama Prioritas Pertama Prioritas Pertama Berdasarkan tabel 2.9, dapat diketahui bahwa metode girder launchers selalu menjadi prioritas utama sebagai metode pelaksanaan erection girder pada proyek pembangunan causeway jembatan Suramadu sisi Madura Tahap II pada semua analisa. Dengan mempertimbangkan yang telah didapat dari hasil analisa maka metode erection girder yang paling tepat untuk dilaksanakan pada proyek pembangunan causeway Jembatan Suramadu Sisi Madura Tahap II adalah metode girder launchers (gantry). (Supani, 2007)
36
PERBANDINGAN GANTRY DAN MOBILE CRANE PADA JALAN LAYANG DARI SEGI WAKTU, METODE KERJA, DAN BIAYA
PERBANDINGAN GANTRY DAN MOBILE CRANE PADA JALAN LAYANG DARI SEGI WAKTU, METODE KERJA, DAN BIAYA 1 WAHID SULISTIYONO HUSEIN, 2 DWI DINARIANA 1 Teknik Sipil, Universitas Bina Nusantara 2 Teknik Sipil, Universitas
BAB 2 STUDI PUSTAKA. 2.1 Pengertian, Prinsip Kerja, Serta Penggunaan Tower Crane Pada
BAB 2 STUDI PUSTAKA 2.1 Pengertian, Prinsip Kerja, Serta Penggunaan Tower Crane Pada Gedung Bertingkat. (www.ilmusipil.com/tower-crane-proyek-gedung) Di dalam proyek konstruksi bangunan bertingkat, tower
METODA KONSTRUKSI GELAGAR JEMBATAN BETON PRATEKAN PROYEK JALAN LAYANG CIMINDI BANDUNG
METODA KONSTRUKSI GELAGAR JEMBATAN BETON PRATEKAN PROYEK JALAN LAYANG CIMINDI BANDUNG Shita Andriyani NRP : 0321068 Pembimbing : Dr. Ir. Purnomo Soekirno JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum merupakan suatu struktur dalam jembatan atau fly over yang berfungsi sebagai penghubung antara struktur bawah dan atas, dengan kata lain girder berfungsi sebagai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain : Struktur jembatan atas merupakan bagian bagian jembatan yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Komponen Jembatan Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain : 1. Struktur jembatan atas Struktur jembatan atas merupakan bagian bagian jembatan yang memindahkan
PENGERTIAN CRANE. 1. Crane Beroda Crawler
PENGERTIAN CRANE Alat pengangkat yang biasa digunakan didalam proyek konstruksi adalah crane. Cara kerja crane adalah dengan mengangkat material yang akan dipindahkan, memindahkan secara horizontal, kemudian
Pemasangan Jembatan Metode Perancah Pemasangan Jembatan Metode Perancah
Pemasangan Jembatan Metode Perancah Pemasangan Jembatan Metode Perancah Pekerjaan jembatan rangka baja terdiri dari pemasangan struktur jembatan rangka baja hasil rancangan patent, seperti jembatan rangka
Ada dua jenis tipe jembatan komposit yang umum digunakan sebagai desain, yaitu tipe multi girder bridge dan ladder deck bridge. Penentuan pemilihan
JEMBATAN KOMPOSIT JEMBATAN KOMPOSIT JEMBATAN KOMPOSIT adalah jembatan yang mengkombinasikan dua material atau lebih dengan sifat bahan yang berbeda dan membentuk satu kesatuan sehingga menghasilkan sifat
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Struktur Atas Jalan Layang Jalan layang adalah jalan yang dibangun tidak sebidang melayang menghindari daerah/kawasan yang selalu menghadapi permasalahan kemacetan lalu lintas,
PEKERJAAN PERAKITAN JEMBATAN RANGKA BAJA
PEKERJAAN PERAKITAN JEMBATAN RANGKA BAJA 1. Umum Secara umum metode perakitan jembatan rangka baja ada empat metode, yaitu metode perancah, metode semi kantilever dan metode kantilever serta metode sistem
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjaun Umum Jembatan adalah suatu struktur yang melintasi suatu rintangan baik rintangan alam atau buatan manusia (sungai, jurang, persimpangan, teluk dan rintangan lain) dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mesin Pemindah Bahan Mesin pemindah bahan (material handling equipment) adalah peralatan yang digunakan untuk memindahkan muatan yang berat dari satu tempat ke tempat lain dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peralatan pengangkat bahan digunakan unuk memindahkan muatan di lokasi atau area, departemen, pabrik, lokasi konstruksi, tempat penyimpanan, pembongkaran muatan dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Latar Belakang Penggunaan Tower Crane Tower crane adalah salah satu alat berat yang sering digunakan dalam proyek konstruksi, alat ini terdiri dari slewing unit, tower, dan
BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN
BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Dari hasil analisa dan perhitungan alat berat gantry dan mobile crane pada jalan layang non tol Kampung Melayu-Tanah Abang pada paket Mas Mansyur, dapat ditarik kesimpulan
MACAM MACAM JEMBATAN BENTANG PENDEK
MACAM MACAM JEMBATAN BENTANG PENDEK 1. JEMBATAN GELAGAR BAJA JALAN RAYA - UNTUK BENTANG SAMPAI DENGAN 25 m - KONSTRUKSI PEMIKUL UTAMA BERUPA BALOK MEMANJANG YANG DIPASANG SEJARAK 45 cm 100 cm. - LANTAI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Overhead Crane Overhead Crane merupakan gabungan mekanisme pengangkat secara terpisah dengan rangka untuk mengangkat
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Overhead Crane Overhead Crane merupakan gabungan mekanisme pengangkat secara terpisah dengan rangka untuk mengangkat sekaligus memindahkan muatan yang dapat digantungkan
BAB 4 HASIL DAN BAHASAN
BAB 4 HASIL DAN BAHASAN 4.1 Hasil Pegumpulan Data Hasil pengumpulan data yang didapat adalah, data-data spesifikasi dari alat berat gantry, alat berat mobile crane, dan box girder. 4.1.1 Data Gantry Gantry
BAB IV PERALATAN YANG DIGUNAKAN. Pada setiap pelaksanaan proyek konstruksi, alat-alat menjadi faktor yang sangat
BAB IV PERALATAN YANG DIGUNAKAN Pada setiap pelaksanaan proyek konstruksi, alat-alat menjadi faktor yang sangat signifikan dalam menentukan proses pelaksanaan pekerjaan tersebut dengan baik, benar, dan
INOVASI DALAM SISTEM PENAHAN BEBAN GRAVITASI UNTUK GEDUNG SUPER-TINGGI
INOVASI DALAM SISTEM PENAHAN BEBAN GRAVITASI UNTUK GEDUNG SUPER-TINGGI Jessica Nathalie Handoko Davy Sukamta ABSTRAK Kesuksesan pengembangan sebuah gedung super-tinggi sangat ditentukan oleh kecepatan
BAB III METODOLOGI. 3.2 TAHAPAN PENULISAN TUGAS AKHIR Bagan Alir Penulisan Tugas Akhir START. Persiapan
METODOLOGI III - 1 BAB III METODOLOGI 3.1 TAHAP PERSIAPAN Tahap persiapan merupakan rangkaian kegiatan sebelum memulai pengumpulan dan pengolahan data. Pada tahap ini disusun hal-hal penting yang harus
BAB VII PEMBAHASAN MASALAH. umumnya digunakan untuk berbagai konstruksi jembatan : 4. Sistem Penggunaan Counter Weight dan Link-set
BAB VII PEMBAHASAN MASALAH 7.1. Macam-macam Metode erection Karena pembahasan masalah kita mengambil metode erection, maka kita akan menjelaskan sedikit macam-macam metode pelaksanaan erection pada balok
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kebutuhan infrastruktur jalan yang lebih memadai untuk menampung
1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Kebutuhan infrastruktur jalan yang lebih memadai untuk menampung jumlah kendaraan yang semakin lama semakin bertambah menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan
ALAT PENGANGKAT CRANE INDRA IRAWAN
INDRA IRAWAN - 075524046 ALAT PENGANGKAT CRANE Crane adalah alat pengangkat yang pada umumnya dilengkapi dengan drum tali baja, tali baja dan rantai yang dapat digunakan untuk mengangkat dan menurunkan
BAB II PEMBAHASAN MATERI
BAB II PEMBAHASAN MATERI Mesin pengangkat yang dimaksud adalah seperangkat alat yang digunakan untuk mengangkat, memindahkan serta menurunkan suatu benda ke tempat lain dengan jangkauan operasi terbatas.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. meskipun istilah aliran lebih tepat untuk menyatakan arus lalu lintas dan
8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Arus Lalu lintas Ukuran dasar yang sering digunakan untuk mendefenisikan arus lalu lintas adalah konsentrasi aliran dan kecepatan. Aliran dan volume sering dianggap sama,
BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengetahuan Umum Rencana Anggaran Biaya ( RAB ) diberikan sebagai dasar pemikiran lebih lanjut.
BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1. Pengetahuan Umum Rencana Anggaran Biaya ( RAB ) Pelaksanaan atau pekerjaan sebuah proyek konstruksi dimulai dengan penyusunan perencanaan, penyusunan jadwal (penjadwalan)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Jembatan Jembatan adalah suatu konstruksi yang gunanya untuk meneruskan jalan melalui suatu rintangan yang berada lebih rendah. Rintangan ini biasanya jalan lain
BAB II STUDI PUSTAKA
BAB II STUDI PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Suatu proyek dikatakan sukses apabila kontraktor berhasil mendapatkan laba maksimum dan owner mendapatkan hasil yang memuaskan serta tepat waktu dalam penyelesaiannya
BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini seiring dengan berkembangnya pengetahuan dan teknologi,
BAB I PENDAHULUAN I. Umum Dewasa ini seiring dengan berkembangnya pengetahuan dan teknologi, pembangunan konstruksi sipil juga semakin meningkat. Hal ini terlihat dari semakin meningkatnya pembangunan
BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN
BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1 Manajemen Konstruksi Dalam sebuah proyek konstruksi, terdapat sangat banyak perilaku dan fenomena kegiatan proyek yang mungkin dapat terjadi. Untuk mengantisipasi perilaku
BAB II PEMBAHASAN MATERI. dalam setiap industri modern. Desain mesin pemindah bahan yang beragam
BAB II PEMBAHASAN MATERI 2.1 Mesin Pemindah Bahan Mesin pemindah bahan merupakan bagian terpadu perlengkapan mekanis dalam setiap industri modern. Desain mesin pemindah bahan yang beragam disebabkan oleh
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jakarta adalah ibukota negara Indonesia yang memiliki hampir 10 juta orang yang berada di area metropolitan. Seiring berkembang dengan pesatnya pembangunan di Jakarta
M SIN PENGANGKAT PENGANGKA ( o h ist s ing n machi h ne n )
MATERI 2 MESIN PENGANGKAT (hoisting machine) Tujuan Pembelajaran Setelah melalui penjelasan dan diskusi Mahasiswa dapat menghitung kapasitas pesawat angkat Mahasiswa dapat menyebutkan komponenkomponen
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR ATAS
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR ATAS 5.1. Uraian Umum Pada sebuah pelaksanaan konstruksi, banyak sekali pihak-pihak yang berkaitan didalamnya. Karena semakin banyaknya pihak yang berkaitan, maka makin
STANDAR JEMBATAN DAN SNI DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM SEKRETARIAT JENDERAL PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN
STANDAR JEMBATAN DAN SNI DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM SEKRETARIAT JENDERAL PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN 1 BAB I JEMBATAN PERKEMBANGAN JEMBATAN Pada saat ini jumlah jembatan yang telah terbangun di Indonesia
DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR LAMBANG, NOTASI, DAN SINGKATAN
DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR LAMBANG, NOTASI, DAN SINGKATAN i ii iii iv vii xiii xiv xvii xviii BAB
MODIFIKASI PERENCANAAN JEMBATAN KALI BAMBANG DI KAB. BLITAR KAB. MALANG MENGGUNAKAN BUSUR RANGKA BAJA
MODIFIKASI PERENCANAAN JEMBATAN KALI BAMBANG DI KAB. BLITAR KAB. MALANG MENGGUNAKAN BUSUR RANGKA BAJA Mahasiswa: Farid Rozaq Laksono - 3115105056 Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Djoko Irawan, Ms J U R U S A
MODIFIKASI PERANCANGAN JEMBATAN TRISULA MENGGUNAKAN BUSUR RANGKA BAJA DENGAN DILENGKAPI DAMPER PADA ZONA GEMPA 4
MODIFIKASI PERANCANGAN JEMBATAN TRISULA MENGGUNAKAN BUSUR RANGKA BAJA DENGAN DILENGKAPI DAMPER PADA ZONA GEMPA 4 Citra Bahrin Syah 3106100725 Dosen Pembimbing : Bambang Piscesa, ST. MT. Ir. Djoko Irawan,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Mesin pemindah bahan merupakan salah satu peralatan mesin yang digunakan untuk memindahkan muatan dari lokasi pabrik, lokasi konstruksi, lokasi industri, tempat penyimpanan, pembongkaran
BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN 4.1 Material. Material Konstruksi meliputi seluruh bahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan pada suatu proses konstruksi, dari
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Jembatan adalah sebuah struktur konstruksi bangunan atau infrastruktur sebuah jalan yang difungsikan sebagai penghubung yang menghubungkan jalur lalu lintas pada
MEKANISME KERJA JIB CRANE
JIB CRANE DEFINISI JIB CRANE Jib Crane adalah jenis crane di mana anggota horisontal (jib atau boom), mendukung bergerak hoist, adalah tetap ke dinding atau ke tiang lantai-mount. Jib dapat ayunan melalui
BAB III METODE PERENCANAAN. Gambar 3.1 Dimensi jembatan utama. 1. Tipe jembatan : Rangka baja
34 BAB III METODE PERENCANAAN 1.1 Data Perencanaan 1.1.1. Data konstruksi 6 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 Gambar 3.1 Dimensi jembatan utama. 1. Tipe jembatan : Rangka baja 2. Jumlah bentang : 1 3. Kelas
TINJAUAN PUSTAKA. menahan gaya angkat keatas. Pondasi tiang juga digunakan untuk mendukung
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Dasar Pondasi Tiang digunakan untuk mendukung bangunan yang lapisan tanah kuatnya terletak sangat dalam, dapat juga digunakan untuk mendukung bangunan yang menahan gaya angkat
BAB V PERALATAN DAN MATERIAL
BAB V PERALATAN DAN MATERIAL 5.1 Peralatan Dalam pekerjaan proyek konstruksi peralatan sangat diperlukan agar dapat mencapai ketepatan waktu yang lebih akurat, serta memenuhi spesifikasi teknis yang telah
BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. manajemen yang baik untuk menunjang kelancaran
BAB IV Tinjauan Bahan Bangunan Dan Alat - Alat BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT 4.1 Tinjauan Umum Penyediaan alat kerja dan bahan bangunan pada suatu proyek memerlukan manajemen yang baik untuk
Kata kunci : metode bekisting table form
1 Perbandingan Waktu dan Biaya Konstruksi Pekerjaan Bekisting Menggunakan Metode Semi Sistem Dengan Metode Table Form (Studi Kasus: Proyek FMipa Tower ITS Surabaya) Muhammad Fandi, Yusroniya Eka Putri,
BONDEK DAN HOLLOW CORE SLAB
BONDEK DAN HOLLOW CORE SLAB Dibuat Untuk Memenuhi Persyaratan Perkuliahan Struktur Beton Gedung Semester IV Tahun Ajaran 2015 Dibuat oleh : KELOMPOK 6 Deasy Monica Parhastuti 131111003 Gani Adnan Sastrajaya
BAB I PENDAHULUAN. Bab I - Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang. Pesatnya perkembangan dalam bidang ekonomi global menuntut adanya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya perkembangan dalam bidang ekonomi global menuntut adanya pengembangan infrastruktur pendukungnya. Kegiatan yang serba cepat, serta masyarakat yang dituntut
Oleh : AGUSTINA DWI ATMAJI NRP DAHNIAR ADE AYU R NRP
PERBANDINGAN METODE PELAKSANAAN PLAT PRECAST DENGAN PLAT CAST IN SITU DITINJAU DARI WAKTU DAN BIAYA PADA GEDUNG SEKOLAH TINGGI KESEHATAN DAN AKADEMI KEBIDANAN SIDOARJO Oleh : AGUSTINA DWI ATMAJI NRP. 3107
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. UMUM Penelitian ini berupa analisa perbandingan pengecoran menggunakan alat berat concrete pump dan concrete bucket untuk pekerjaan konstruksi pada proyek bangunan. Permodelan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Beban Struktur Pada suatu struktur bangunan, terdapat beberapa jenis beban yang bekerja. Struktur bangunan yang direncanakan harus mampu menahan beban-beban yang bekerja pada
BAB 3 STUDI LAPANGAN. Gambar 3.1 Kerangka pemikiran studi lapangan. pelaksanaannya segala sesuatu perlu direncanakan dengan tepat dan cermat.
BAB 3 STUDI LAPANGAN Gambar 3.1 Kerangka pemikiran studi lapangan Saat ini proyek konstruksi bangunan bertingkat sangat berkembang, dalam pelaksanaannya segala sesuatu perlu direncanakan dengan tepat dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. buah kabin operator yang tempat dan fungsinya adalah masing-masing. 1) Kabin operator Truck Crane
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bagian-bagian Utama Pada Truck Crane a) Kabin Operator Seperti yang telah kita ketahui pada crane jenis ini memiliki dua buah kabin operator yang tempat dan fungsinya adalah
BAB VIl TINJAUAN KHUSUS (METODE KERJA BEKISTING ALUMA SYSTEM PADA BALOK DAN PELAT)
BAB VIl TINJAUAN KHUSUS (METODE KERJA BEKISTING ALUMA SYSTEM PADA BALOK DAN PELAT) 7.1 Uraian Umum Pada umumnya penggunaan bahan bangunan struktur gedung bertingkat proyek di Indonesia menggunakan bahan
BAB VII TINJAUAN KHUSUS CORE WALL
BAB VII TINJAUAN KHUSUS CORE WALL 7.1. Uraian Umum Core Wall merupakan sistem dinding pendukung linear yang cukup sesuai untuk bangunan tinggi yang kebutuhan fungsi dan utilitasnya tetap yang juga berfungsi
NEUTRON, Vol.4, No. 2, Agustus
NEUTRON, Vol.4, No. 2, Agustus 2004 79 0Studi Efektifitas Waktu dan Biaya Pelaksanaan Erection PCI Girder dengan Metode Crawler Crane dan Roller Skate (Kasus : Proyek Pembangunan Jembatan Suramadu Sisi
PENDAHULUAN Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Beton bertulang, beton hanya memikul tegangan tekan, sedangkan tegangan tarik dipikul oleh baja sebagai penulangan ( rebar ). Sehingga pada beton bertulang, penampang beton
BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. sesuai dengan fungsi masing-masing peralatan. Adapun alat-alat yang dipergunakan
BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT 4.1 Peralatan Dalam pekerjaan proyek konstruksi peralatan sangat diperlukan agar dapat mencapai ketepatan waktu yang lebih akurat, serta memenuhi spesifikasi
BAB V ANALISIS HASIL DESAIN GUIDEWAY
BAB V ANALISIS HASIL DESAIN GUIDEWAY 5.1 UMUM Pada bab sebelumnya telah dilakukan proses permodelan terhadap kedua sistem bentang, baik bentang sederhana maupun bentang menerus terintegral. Hasil yang
Analisa Biaya dan Waktu Bekisting Metode Konvensional dengan Sistem PERI pada Proyek Puncak Kertajaya Apartemen
1 Analisa Biaya dan Waktu Bekisting Metode Konvensional dengan Sistem PERI pada Aditya Febrian Saputra, Farida Rahmawati, ST., MT. dan Yusronia Eka Putri, ST., MT Jurusan S1 Teknik Sipil, Fakultas Teknik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Jembatan secara umum adalah suatu konstruksi yang berfungsi untuk menghubungkan dua bagian jalan yang terputus oleh adanya rintangan-rintangan seperti lembah yang dalam,
membuat jembatan jika bentangan besar dan melintasi ruas jalan lain yang letaknya lebih
BAB III PERENCANAAN PENJADUALAN PROYEK JEMBATAN 3.1. Umum. Jembatan adalah suatu konstruksi yang berfungsi untuk menghubungkan dua ruas jalan yang dipisahkan oleh suatu rintangan atau keadaan topografi
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Dewasa ini perkembangan pengetahuan tentang perencanaan suatu bangunan berkembang semakin luas, termasuk salah satunya pada perencanaan pembangunan sebuah jembatan
BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN
BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Uraian Umum Metoda pelaksanaan dalam sebuah proyek konstruksi adalah suatu bagian yang sangat penting dalam proyek konstruksi untuk mencapai hasil dan tujuan yang
BAB II TEORI DASAR. unloading. Berdasarkan sistem penggeraknya, excavator dibedakan menjadi. efisien dalam operasionalnya.
BAB II TEORI DASAR 2.1 Hydraulic Excavator Secara Umum. 2.1.1 Definisi Hydraulic Excavator. Excavator adalah alat berat yang digunakan untuk operasi loading dan unloading. Berdasarkan sistem penggeraknya,
BETON PRA-CETAK UNTUK RANGKA BATANG ATAP
Konferensi Nasional Teknik Sipil 3 (KoNTekS 3) Jakarta, 6 7 Mei 29 BETON PRA-CETAK UNTUK RANGKA BATANG ATAP Siswadi 1 dan Wulfram I. Ervianto 2 1 Program Studi Teknik Sipil, Universitas Atma Jaya Yogyakarta,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang pemilihan topik, lokasi pengamatan, tujuan penulisan, ruang lingkup pembahasan, metode penyusunan, dan sistematika penulisan Tugas Akhir.
Analisa & Pembahasan Proyek Pekerjaan Pelat Lantai
Analisa & Pembahasan Proyek Pekerjaan Pelat Lantai Soft cor ini dipasang sepanjang keliling area yang akan dicor, dengan kata lain pembatas area yang sudah siap di cor dengan area yang belum siap. 46 Pekerjaan
Nama : Mohammad Zahid Alim Al Hasyimi NRP : Dosen Konsultasi : Ir. Djoko Irawan, MS. Dr. Ir. Djoko Untung. Tugas Akhir
Tugas Akhir PERENCANAAN JEMBATAN BRANTAS KEDIRI DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM BUSUR BAJA Nama : Mohammad Zahid Alim Al Hasyimi NRP : 3109100096 Dosen Konsultasi : Ir. Djoko Irawan, MS. Dr. Ir. Djoko Untung
PERANCANGAN ALTERNATIF STRUKTUR JEMBATAN KALIBATA DENGAN MENGGUNAKAN RANGKA BAJA
TUGAS AKHIR PERANCANGAN ALTERNATIF STRUKTUR JEMBATAN KALIBATA DENGAN MENGGUNAKAN RANGKA BAJA Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Tingkat Strata 1 (S-1) DISUSUN OLEH: NAMA
BAB II STUDI PUSTAKA
BAB II STUDI PUSTAKA 2.1. TINJAUAN UMUM Pada Studi Pustaka ini akan membahas mengenai dasar-dasar dalam merencanakan struktur untuk bangunan bertingkat. Dasar-dasar perencanaan tersebut berdasarkan referensi-referensi
BAB VII PEMBAHASAN MASALAH. sebuah lahan sementara di sebuah proyek bangunan lalu dipasang pada proyek
BAB VII PEMBAHASAN MASALAH 7.1 Beton Precast Beton precast adalah suatu produk beton yang dicor pada sebuah pabrik atau sebuah lahan sementara di sebuah proyek bangunan lalu dipasang pada proyek bangunan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab II. Tinjauan Pustaka BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. PENGERTIAN SISTEM PRACETAK Sebagian besar dari elemen struktur pracetak dicetak ditempat tertentu (dapat dilokasi proyek ataupun diluar lokasi proyek
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Menurut Supriyadi (1997) jembatan adalah suatu bangunan yang memungkinkan suatu ajalan menyilang sungai/saluran air, lembah atau menyilang jalan lain yang tidak
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Beton Pracetak Aplikasi teknologi prafabrikasi (pracetak) sudah mulai banyak dimanfaatkan karena produk yang dihasilkan melalui produk masal dan sifatnya berulang. Selain itu
Dalam pelaksanaan bangunan atas jembatan kereta api
BAB III METODA PELAKSANAAN BANGUNAN ATAS JEMBATAN KERETA API Dalam pelaksanaan bangunan atas kereta api dibedakan menjadi 2 tahap sebagaimana dijelaskan berikut ini. 1. Pembuatan baru. Untuk pembuatan
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. terhitung mulai dari tanggal 07 Oktober 2013 sampai dengan 07 Desember 2013
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Pengamatan Pekerjaan Konstruksi Dalam kegiatan Kerja Praktik (KP) yang kami jalankan selama 2 bulan terhitung mulai dari tanggal 07 Oktober 2013 sampai dengan 07 Desember
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menyilang sungai atau saluran air, lembah atau menyilang jalan lain atau
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Fly Over atau Overpass Jembatan yaitu suatu konstruksi yang memungkinkan suatu jalan menyilang sungai atau saluran air, lembah atau menyilang jalan lain atau melintang tidak
BIDANG STUDI STRUKTUR DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK USU 2014
REDESAIN PRESTRESS (POST-TENSION) BETON PRACETAK I GIRDER ANTARA PIER 4 DAN PIER 5, RAMP 3 JUNCTION KUALANAMU Studi Kasus pada Jembatan Fly-Over Jalan Toll Medan-Kualanamu TUGAS AKHIR Adriansyah Pami Rahman
METODE JACKING BOX TUNNEL UNDERPASS CIBUBUR
METODE JACKING BOX TUNNEL UNDERPASS CIBUBUR PT DELTA SYSTECH INDONESIA Metode Jacking Tunnel Underpass Cibubur 1. Persiapan Jacking Hal hal yang perlu diperhatikan sebelum pelaksanaan Jacking Box adalah
I. PENDAHULUAN. Balok merupakan elemen struktur yang selalu ada pada setiap bangunan, tidak
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Balok merupakan elemen struktur yang selalu ada pada setiap bangunan, tidak terkecuali pada bangunan rumah tinggal sederhana. Balok merupakan bagian struktur yang fungsinya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Struktur Dalam perencanaan suatu struktur bangunan gedung bertingkat tinggi sebaiknya mengikuti peraturan-peraturan pembebanan yang berlaku untuk mendapatkan suatu
ANALISIS PERBANDINGAN PERILAKU STRUKTUR JEMBATAN CABLE STAYEDTIPE FAN DAN TIPE RADIALAKIBAT BEBAN GEMPA
ANALISIS PERBANDINGAN PERILAKU STRUKTUR JEMBATAN CABLE STAYEDTIPE FAN DAN TIPE RADIALAKIBAT BEBAN GEMPA Masrilayanti 1, Navisko Yosen 2 1,2 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Andalas [email protected]
PENGENALAN KOMPONEN PRACETAK
Ikatan Ahli Pracetak dan Prategang Indonesia PENGENALAN KOMPONEN PRACETAK Oleh : Gambiro 1 PENGENALAN KOMPONEN PRACETAK BANGUNAN GEDUNG 2 3 (Koncz, 1978, Vol. 3) Gbr. 1.a : Sistem struktur untuk struktur
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 JENIS JEMBATAN Jembatan dapat didefinisikan sebagai suatu konstruksi atau struktur bangunan yang menghubungkan rute atau lintasan transportasi yang terpisah baik oleh sungai, rawa,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Jembatan Pelengkung (arch bridges) Jembatan secara umum adalah suatu sarana penghubung yang digunakan untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah yang lainnya oleh karena
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Arus Lalu Lintas Ukuran dasar yang sering digunakan untuk definisi arus lalu lintas adalah konsentrasi aliran dan kecepatan. Aliran dan volume sering dianggap sama, meskipun
PENGANTAR KONSTRUKSI BANGUNAN BENTANG LEBAR
Pendahuluan POKOK BAHASAN 1 PENGANTAR KONSTRUKSI BANGUNAN BENTANG LEBAR Struktur bangunan adalah bagian dari sebuah sistem bangunan yang bekerja untuk menyalurkan beban yang diakibatkan oleh adanya bangunan
KAJIAN PEMANFAATAN KABEL PADA PERANCANGAN JEMBATAN RANGKA BATANG KAYU
Konferensi Nasional Teknik Sipil 3 (KoNTekS 3) Jakarta, 6 7 Mei 2009 KAJIAN PEMANFAATAN KABEL PADA PERANCANGAN JEMBATAN RANGKA BATANG KAYU Estika 1 dan Bernardinus Herbudiman 2 1 Jurusan Teknik Sipil,
UNIVERSITAS GUNADARMA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS GUNADARMA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN Tugas Mata Kuliah Metode Konstruksi Metode Pelaksanaan Konstruksi Jembatan Oleh: Yogi Oktopianto (16309875) Fakultas Jurusan : Teknik Sipil dan
MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG APARTEMEN TRILIUM DENGAN METODE PRACETAK (PRECAST) PADA BALOK DAN PELAT MENGGUNAKAN SISTEM RANGKA GEDUNG (BUILDING
MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG APARTEMEN TRILIUM DENGAN METODE PRACETAK (PRECAST) PADA BALOK DAN PELAT MENGGUNAKAN SISTEM RANGKA GEDUNG (BUILDING FRAME SYSTEM) LATAR BELAKANG Perkembangan industri konstruksi
BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI BASEMENT
BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI BASEMENT 5.1 Uraian Umum Metode konstruksi adalah bagian yang sangat penting dalam proyek konstruksi untuk mendapatkan tujuan dari proyek, yaitu biaya, kualitas dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pembebanan Komponen Struktur Pada perencanaan bangunan bertingkat tinggi, komponen struktur direncanakan cukup kuat untuk memikul semua beban kerjanya. Pengertian beban itu
PERBANDINGAN ANTARA METODE PELAKSANAAN PELAT CAST IN SITU DAN PELAT PRECAST DITINJAU DARI SEGI WAKTU DAN BIAYA PADA GEDUNG SMPN 43 SURBAYA
PERBANDINGAN ANTARA METODE PELAKSANAAN PELAT CAST IN SITU DAN PELAT PRECAST DITINJAU DARI SEGI WAKTU DAN BIAYA PADA GEDUNG SMPN 43 SURBAYA Oleh : M.DICKY FIRMANSYAH NRP. 3108 030 064 HERI ISTIONO NRP.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pondasi Dalam Pondasi dalam adalah pondasi yang dipakai pada bangunan di atas tanah yang lembek. Pondasi ini umumnya dipakai pada bangunan dengan bentangan yang cukup lebar, salah
PERENCANAAN JEMBATAN DENGAN MENGGUNAKAN PROFIL BOX GIRDER PRESTRESS
PERENCANAAN JEMBATAN DENGAN MENGGUNAKAN PROFIL BOX GIRDER PRESTRESS Tugas Akhir Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat untuk menempuh Ujian Sarjana Teknik Sipil Disusun Oleh: ULIL RAKHMAN
MUHAMMAD SYAHID THONTHOWI NIM.
STUDI ANALISIS MODIFIKASI BATANG TEGAK LURUS DAN SAMBUNGAN BUHUL TERHADAP LENDUTAN, TEGANGAN PELAT BUHUL DAN KEBUTUHAN MATERIAL PADA JEMBATAN RANGKA BAJA AUSTRALIA KELAS A JURNAL Disusun Oleh: MUHAMMAD
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pembangunan di Indonesia saat ini sangat pesat, dimulai dengan dibangunnya jembatan terpanjang di Indonesia yaitu jembatan Suramadu, diikuti dengan rencana
