JST Kesehatan, Juli 2014, Vol.4 No.3 : ISSN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "JST Kesehatan, Juli 2014, Vol.4 No.3 : ISSN"

Transkripsi

1 JST Kesehatan, Juli 2014, Vol.4 No.3 : ISSN NEUROPATI OPTIK TOKSIK SETELAH PEMBERIAN ETAMBUTOL PADA PENDERITA TUBERKULOSIS DI MAKASSAR Toxic Optic Neuropathy After Administration of Ethambutol in Patient with Pulmonary Tuberculosis in Makassar Nur Azizah Juzmi 1, Batari Todja Umar 2, Rahasiah Taufik 2 1 Program Studi Biomedik, Konsentrasi Combined Degree, Universitas Hasanuddin 2 Bagian Ilmu Kesehatan Mata, Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin ( [email protected]) ABSTRAK Etambutol merupakan obat golongan makrolid yang speesifik digunakan untuk mengobati infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis, efek samping potensial dari etambutol adalah toksisitas okuler adalah neuropati optik toksik. Penelitian ini bertujuan menilai besarnya kejadian neuropati optik toksik pada penderita tuberkulosis setelah pemberian etambutol. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan sampel sebanyak 119 penderita tuberkulosis di poli DOTS RSUP Wahidin Sudirohusodo dan Balai Besar kesehatan Paru Makassar. Data meliputi tajam penglihatan, kontras sensitivitas, penglihatan warna, RAPD, funduskopi, dan lapangan pandang. Data dianalisis dengan analisis bivariat untuk melihat hubungan antara kejadian neuropati optik toksik dengan dosis dan lama pemakaian obat etambutol pada penderita tuberkulosis. Hasil penelitian menunjukkan penurunan tajam penglihatan pada pemakaian obat di bawah 2 bulan sebesar 0,9% sedangkan di atas 2 bulan sebesar 100%. Penurunan kontras sensitivitas sebesar 0,9% pada pemakaian di bawah 2 bulan dan 100% di atas 2 bulan. Gangguan penglihatan warna sebanyak 0.9% pada pemakaian di bawah 2 bulan dan 100% pada pemakaian di atas 2 bulan. Kelainan RAPD ditemukan 0,9% pada pemakaian di bawah 2 bulan dan 100% pada pemakaian di atas 2 bulan. Kelainan gambaran funduskopi dan gangguan lapangan pandang tidak ditemukan pada pemakaian di bawah 2 bulan dan 50% pada pemakaian di atas 2 bulan. Hasil analisis uji statistik untuk semua hasil pemeriksaan diperoleh nilai p < 0,05, sedangkan untuk analisis kejadian neuropati optik toksik dengan dosis etambutol tidak dapat dilakukan oleh karena seluruh sampel mendapatkan jumlah dosis yang sama sesuai dengan berat badan. Kata Kunci: Neuropati Optik Toksik, Etambutol, Pasien Tuberkulosis ABSTRACT Ethambutol is macrolid agent specifically effective againts Mycobacterium tuberculosis, potensial side effect from ethambutol is optic neuropathy. This study aims to investigate the incidence of toxic optic neuropathy in patient with pulmonary tuberculosis in Makassar after ethambutol administration.this study using a cross sectional methods with 119 samples of pulmonary tuberculosis in DOTS center of Wahidin sudirohusodo hospital and Balai Besar kesehatan Paru Makassar. The data include visual acuity, contrast sensitivity, colour vision, Relative Afferent pupilary Defect (RAPD), funduscopy, and visual field. Data were analyzed using bivariat analysis to luate correlation between incidence of toxic optic neuropathy related with dosage and duration of ethambutol administration in patients with pulmonary tuberculosis.the results of this study shows decrease in visual acuity under 2 months medication is 0.9% while above 2 months is 100%. Decreased of contrast sensitivity is 0.9% experienced by those under 2 montsh medication and 100% by those above 2 months medication.colour vision abnormality 0.9% is experienced by those under 2 months ethambutol medication and 100% is experienced by those above 2 months medication. 0.9% of RAPD are experienced by those under 2 months medication and 100% experienced by those above 2 months medication.. Funduscopy and visual field abnormality are not found in those under 269

2 Nur Azizah Juzmi ISSN months medication but 50% in those treated more than 2 months. Statistical analysis for all examination showed p value <0.05. And for the analysis of the incidence of toxic optic neuropathy and its relationship with ethambutol dosage could not be done because all the patients use similiar dosage based on their body weight. Keywords: Toxic Optic Neuropathy, Ethambutol, Tuberculosis Patient PENDAHULUAN Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Diperkirakan sepertiga penduduk di seluruh dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium TB. Tahun 1995 WHO memperkirakan di seluruh dunia terdapat 9 juta kasus baru TB dengan jumlah kematian 3 juta orang/tahun. Sebagian besar kasus terjadi dinegara-negara berkembang, dua pertiga kasus terjadi di benua Asia. Di negaranegara berkembang TB paru menyumbangkan angka 25% dari seluruh angka kematian (Merdian, 2003). Di Indonesia, TB merupakan masalah kesehatan, baik dari sisi angka kematian (mortalitas), angka kejadian penyakit (morbiditas), maupun diagnosis dan terapinya. Dengan penduduk lebih dari 200 juta orang. Di Indonesia, TB merupakan masalah kesehatan, baik dari sisi angka kematian (mortalitas), angka kejadian penyakit (morbiditas), maupun diagnosis dan terapinya. Estimasi prlensi TB semua kasus adalah sebesar dan estimasi insidensi berjumlah kasus baru per tahun, Jumlah kematian akibat TB diperkirakan kematian pertahunnya. Indonesia sekarang berada pada ranking kelima negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Meskipun memiliki beban penyakit TB yang tinggi, Indonesia merupakan negara pertama di antara High Burden Country (HBC) di wilayah WHO South-East Asian yang mampu mencapai target global TB untuk deteksi kasus dan keberhasilan pengobatan pada tahun 2006 (Kemetrian Kesehatan Republik Indonesia, 2011). Etambutol merupakan obat golongan makrolid yang menjadi salah satu obat OAT yang dipergunakan dalam terapi TB paru. Efek samping potensial yang sangat serius dari etambutol adalah toksisitas okuler dalam bentuk neuritis optik atau neuritis retrobulbar yang dapat mengenai satu atau kedua mata. Toksisitas ini paling banyak mengenai serabut saraf optik, sehingga dapat menyebabkan penglihatan kabur, penurunan visus, defek lapangan pandang skotoma sentral, dan diskromatopsia. Pada beberapa kasus, kelainan visus membaik setelah obat etambutol dihentikan. Kadang-kadang, visus memburuk dalam bulan pertama setelah obat dihentikan dan membaik dalam bulan-bulan berikutnya. Pada kasus yang jarang, kelainan visus dan penglihatan warna tidak mengalami perbaikan (Gupta, 2007). Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian pada penderita tuberkulosis paru yang menggunakan etambutol untuk mengetahui kejadian neuropati toksik dan hubungannya dengan dosis dan lama pemakaian obat. BAHAN DAN METODE Lokasi dan rancangan penelitian Penelitian ini dilakukan di Poli DOTS RSUP Wahidin Sudirohusodo dan Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Makassar. Jenis penelitian yang digunakan adalah observational dengan menggunakan desain cross sectional study. Populasi dan sampel Populasi penelitian adalah penderita TB Paru yang telah mendapat terapi Etambutol di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat di Makassar. 119 sampel pada penelitian ini diperoleh secara consecutive sampling yang memenuhi kriteria inklusi yaitu pasien tuberkulosis paru yang telah mendapat terapi 270

3 Neuropati Optik Toksik, Etambutol, Pasien Tuberkulosis ISSN etambutol, tidak memiliki penyakit okuler lainnya dan tidak memiliki riwayat penyakit sistemik lainnya. Semua sampel bersedia untuk mengikuti penelitian ini dengan menandatangani informed concent yang telah dikeluarkan oleh Komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Metode pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar isian penelitian meliputi umur, jenis kelamin, pekerjaan, dosis obat yang digunakan dan lama pemakaian obat. Neuropati optik toksik dinilai dengan pemeriksaan tajam penglihatan, RAPD, kontras sensitivitas, penglihatan warna, funduskopi dan lapangan pandang. Analisa data Data diolah dengan menggunakan program Statistical Package for Social Science (SPSS) 19,0. Analisis hubungan antara kejadian neuropati optik toksik dengan dosis dan lama pemakaian digunakan analisis uji chi square dan disajikan dalam bentuk tabel disertai narasi. HASIL Karakteristik sampel Tabel 1 memperlihatkan karakteristik demografi sampel penelitian. Dari 119 sampel, 54 (45.4%) adalah jenis kelamin laki-laki dan 65(54.6%) perempuan. Dosis etambutol yang digunakan oleh sampel pada penelitian ini yaitu 550 mg pada 17 (14.3%) pasien, 825 mg pada 52 (43.7%) pasien, 1100 mg pada 44 (37.0%) pasien, dan 1375 mg pada 6 (5.0%) pasien. Lama pemakaian etambutol <2 bulan sebanyak 117 (98.3%), >2 bulan sebanyak 2(1.68%) pasien. Tabel 2 memperlihatkan hubungan antara tajam penglihatan, kontras sensitivitas, penglihatan warna, RAPD pada kelompok lama pemakaian etambutol, terlihat tajam penglihatan yang menurun, kontras sensitivitas menurun, kelainan penglihatan warna, dan adanya RAPD pada 3 (2.5%) sampel, yakni pada lama pemakaian etambutol 2 bulan sebanyak 1(0.9%) sampel dan pada lama pemakaian etambutol >2 bulan sebanyak 2(100%) sampel. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan Fisher s Exact diperoleh nilai p=0.00. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lama pemakaian etambutol dengan penurunan tajam penglihatan, penurunan kontras sensitivitas, kelainan penglihatan warna, dan RAPD. Sedangkan data pada Tabel 3 memperlihatkan gambaran funduskopi serta lapangan pandang pada kelompok lama pemakaian etambutol. Dari tabel tersebut terlihat gambaran fun-duskopi yang tidak normal dan kelainan lapangan pandang terdapat pada 1 sampel (50 ) yang berada dalam kelompok lama pemakaian etambutol >2 bulan. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji Fisher s Exact untuk menentukan kemaknaan hubungan antara lama pemakaian etambutol dengan gambaran funduskopi. Dari analisis tersebut kemudian diperoleh nilai p= Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lama pemakaian etambutol dengan kelainan gambaran funduskopi dan lapangan pandang. 271

4 Nur Azizah Juzmi ISSN Tabel 1. Karakteristik umum sampel penelitian Total Sampel Karakteristik Umum N (%) 119 (100) Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Dosis Etambutol 550 mg 825 mg 1100 mg 1375 mg Lama Pemakaian <2 bulan >2 bulan 54 (45.4) 65 (54.6) 17 (14.3) 52 (43.7) 44 ( 37.0) 6 (5.0) 117 (98.3) 2 (1.68) n : jumlah subyek Tabel 2. Hubungan antara lama pemakaian dengan tajam penglihatan, kontras sensitivitas, penglihatan warna, RAPD Lama TP KS PW RAPD Pemakaian N(%) T(%) N(%) T(%) N(%) TN(%) TA(%) A(%) 2bulan >2bulan Fisher s exact test, p=0,000 TP : Tajam penglihatan, KS: Kontras sensitivitas, PW : Penglihatan Warna, RAPD : Relative afferent pupillary defect, N : Normal, TN: Tidak Normal, T : Turun, TA:Tidak ada, A: Ada Tabel 3. Hubungan antara lama pemakaian dengan funduskopi dan lapangan pandang Lama pemakaian N(%) TN (%) 2bulan >2bulan Fisher s exact test, p=0,017 N : Normal, TN: Tidak Normal 272

5 Neuropati Optik Toksik, Etambutol, Pasien Tuberkulosis ISSN PEMBAHASAN Penelitian ini menunjukkan bahwa dari 119 sampel penderita TB paru yang telah mendapat terapi etambutol, ditemukan 3 sampel yang mengalami neuropati optik toksik berdasarkan lama pemakaian etambutol. Lama pemakaian etambutol dalam penelitian ini dibagi atas kelompok lama pemakaian 2 bulan dan kelompok lama pemakaian >2 bulan. Tajam penglihatan yang menurun pada 3 (2.5%) sampel, yakni pada lama pemakaian etambutol <2 bulan sebanyak 1 (0.9%) sampel dan pada lama pemakaian etambutol >2 bulan sebanyak 2 (100%) sampel. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lama pemakaian etambutol dengan penurunan tajam penglihatan. Hal ini serupa dengan penelitian yang dilaporkan oleh Hendrayati, bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lama berobat dengan penurunan visus pada penderita TB paru (Hendrayati, 1995). Etambutol dapat mengakibatkan kebutaan akibat optik neuritis jika pemberian etambutol tidak dihentikan. Tajam penglihatan akan kembali normal secara perlahan setelah etambutol dihentikan (Chan, 2007). Kontras sensitivitas yang menurun terdapat 3 (2.5 %)sampel, yakni pada lama pemakaian etambutol 2 bulan sebanyak 1(0.9%) sampel dan pada lama pemakaian etambutol >2 bulan sebanyak 2(100%) sampel. Secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara lama pemakaian etambutol dengan penurunan tes kontras sensitivitas. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang mendeteksi adanya neuropati optik toksik subklinis pada 100 pasien yang ditandai adanya penurunan kontras sensitivitas, tanpa kelainan pada gambaran fundus, tajam penglihatan dalam batas normal dan penglihatan warna yang juga normal (menggunakan ishihara), dapat disimpulkan bahwa menurunnya kontras sensitivitas merupakan penanda awal adanya kerusakan nervus optik (Newman, 2008). Penglihatan warna yang terganggu juga merupakan pemeriksaan awal yang penting dalam mendiagnosis neuropati optik toksis etambutol, pada penelitian ini didapatkan penurunan kontras sensitivitas pada 3 (2.5%) sampel, yakni pada lama pemakaian etambutol 2 bulan sebanyak 1 (0.9%) sampel dan pada lama pemakaian etambutol >2 bulan sebanyak 2 (100%) sampel. Serupa dengan penelitian yang dilaporkan oleh Su-Ann L, yang menemukan kelainan penglihatan warna pada 2 pasien dengan neuropati optik toksik setelah 6 bulan mendapat terapi etambutol, dan setelah 9 bulan pemberian etambutol dihentikan penglihatan warnanya kembali normal secara perlahan (Su-Ann, 2006). Pada penelitian ini didapatkan ketiga sampel yang mengalami gangguan warna menunjukkan pola ireguler diperiksa menggunakan panel Fansworth yang bisa mendeteksi dan membedakan gangguan penglihatan warna tipe dapatan, sesuai dengan penelitian sebelumnya, dari 19 pasien yang mendapat terapi etambutol dengan dosis 15 mg/kkbb/hari pada follow up awal didapatkan gangguan penglihatan warna pada 12 pasien dengan kelainan penglihatan warna kuning- biru ditemukan paling banyak (Menon, 2009). Dinyatakan oleh Kaimbo dalam penelitian deskriptifnya, didapatkan 15 pasien dari 42 pasien tuberkulosis yang mendapat terapi etambutol mengalami kelainan penglihatan warna melalui pemeriksaan menggunakan panel Fansworth yang sebelumnya mengunakan ishihara diperoleh hasil penglihatan warna yang normal (Kaimbo, 2003). Adanya Relative Afferent Pupillary Defect (RAPD) pada penelitian ini terlihat pada 3 (2.5 %) sampel, yakni pada lama pemakaian etambutol 2 bulan sebanyak 1 (0.9%) sampel dan pada lama pemakaian etambutol >2 bulan sebanyak 2 (100%) sampel. Hal ini berbeda dengan penelitian oleh Su-Ann, yang melaporkan 3 pasien mengalami neuropati optik toksik setelah menerima terapi etambutol, yang ditandai dengan 273

6 Nur Azizah Juzmi ISSN penurunan tajam penglihatan, gangguan penglihatan warna dan kelainan lapangan pandang tapi tanpa disertai adanya RAPD (Su-Ann, 2006). Adanya perbedaan yang didapatkan pada hasil penelitian ini kemungkinan karena adanya perbedaan derajat keparahan dan riwayat perjalanan dari neuropati optik toksik pada masingmasing sampel. Sebagaimana disebutkan dalam literatur bahwa RAPD hanya dapat terlihat jika gangguan pada nervus optik tidak bersamaan terjadi antara kedua mata (asimetris) (Eva, 2007). Pada penelitian ini ketiga sampel mengalami kerusakan pada nervus optik secara tidak bersamaan, kerusakan dimulai pada satu mata dan karena pemakaian etambutol diteruskan maka nervus optik mata sebelah pun ikut mengalami kerusakan akibat efek toksik yang terus menerus diberikan selama pemakaian etambutol. Kelainan gambaran fundus berupa pucat pada diskus optik daerah temporal ditemukan pada 1 sampel (50 %) yang berada dalam kelompok lama pemakaian etambutol > 2 bulan. Secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara lama pemakaian etambutol dengan kelaianan gambaran fundus. Hal ini serupa dengan penelitian yang dilaporkan oleh Lavanya et al, pada 5 pasien yang didiagnosis neuropati optik toksik etambutol terdapat 2 pasien dengan gambaran fundus berupa pucat pada diskus optik daerah temporal, 1 pasien mengalami atrofi nervus optik, dan 2 pasien dengan gambaran fundus yang normal (Lavanya, 2006). Dijelaskan dalam literatur bahwa pada fase awal dari neuropati optik toksik etambutol, kerusakan pada nervus optik telah terjadi jika pemakaian etambutol terus dilanjutkan maka kerusakan akan menyebar sampai ke anterior dari kiasma optikus, dan akhirnya melibatkan seluruh kiasma dan memberikan gambaran bitemporal hemianopsia pada pemeriksaan lapangan pandang dengan perimetri Humprey (Meyer, 2003). Dalam penelitian ini, didapatkan kesimpulan bahwa ada hubungan antara lama pemakaian etambutol dengan kejadian neuropati optik toksik yang ditandai oleh adanya adanya penurunan visus, penurunan kontras sensitivitas, kelainan penglihatan warna, adanya RAPD, kelainan gambaran fundus dan kelainan pada lapangan pandang. Penemuan ini sesuai dengan yang telah dilaporkan oleh Tsai RK et al dalam penelitiannya, bahwa manifestasi toksisitas okular akibat etambutol biasanya lambat, secara umum tidak nampak sebelum terapi berlangsung selama lebih 1 bulan. Interval mean variabel antara onset terapi dan efek toksik dilaporkan terjadi pada bulan ke 3 sampai bulan ke 5. Manifestasi toksisitas bahkan bisa terlihat setelah 12 bulan dari awal terapi diberikan (Tsai, 1997). Dilaporkan oleh Alvin Kwok, bahwa tidak ada yang disebut dosis aman etambutol, dilaporkan bahwa pada dosis 12.3 mg/kgbb parhari pun ditemukan manifestasi toksisitas okular (Kwok, 2006). Mekanisme kerja etambutol menyebabkan neuropati optik belum diketahui pasti, tetapi diduga etambutol dimetabolisme menjadi agen chelating yang dapat menganggu fungsi enzim mitokondria yang mengandung logam, seperti enzim sitokrom c oksidase komplek IV yang mengandung tembaga dan NADH Q-oksidoreduktase kompleks I yang mengandung besi (Newman, 2008). Gangguan ini dapat menyebabkan kerusakan rantai respiratorius mitokondria yang mengakibatkan terjadinya neuropati optic (Schiefer, 2007). Sehingga walaupun dalam dosis yang dinyatakan aman yaitu 15 mg/kgbb per hari tetapi paparan agen toksik secara terus menerus dalam waktu lama akan menyebabkan kerusakan sel- sel baik secara langsung maupun menstimulasi terjadinya apoptosis dari sel nervus optik itu sendiri (Miller, 2008). 274

7 Neuropati Optik Toksik, Etambutol, Pasien Tuberkulosis ISSN Prinsip pengobatan TB di Indonesia merujuk pada Kemenkes 2009 tentang pedoman penanggulangan tuberkulosis di Indonesia. Dengan alasan ini, maka dalam penelitian ini penentuan hubungan dosis etambutol dengan kejadian neuropati optik toksik selanjutnya tidak dapat dianalisis secara statistik. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dan saran. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 119 sampel, bahwa ada hubungan antara lama pemakaian Etambutol dengan kejadian neuropati optik toksik. Dari penelitian yang telah dilakukan, maka dikemukakan beberapa saran untuk perbaikan di masa mendatang, antara lain: sampel pada penelitian ini sangat terbatas, sehingga dipandang perlu untuk dilakukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar dengan sebaran yang merata pada semua variabel, juga dipandang perlu untuk dilakukan penelitian lanjutan pada kelompok pasien TB paru tipe kambuh yang mendapat terapi OAT kategori 2 untuk mengetahui besarnya kejadian neuropati optik toksik, serta diperlukan pengambilan sampel penelitian pada tempat pelayanan kesehatan yang lain seperti puskesmas sebagai sarana pelayanan primer dan banyak menangani kasus TB paru, dan sebaiknya diperlukan pemeriksaan laboratorium lengkap untuk mengetahui normal tidaknya fungsi dari ginjal pada seluruh sampel yang akan menjamin jalur ekskresi dari etambutol, sehingga tidak ada bias pada hasil yang ditemukan. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada teman sejawat dari Rumas sakit Wahidin Sudirohusodo dan Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat di mana penelitian ini berlangsung, pembimbing, serta pihak-pihak yang telah membantu terselesaikannya penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Chan JW. (2007). Nutritional and toxic optic neuropathies in Optic nerve disorders. First edition. New york: Springer. Eva PR. & Whitcher JP. (2007). Ophthalmologic examination in Vaughan & Asbury s general ophthalmology, 17th ed. New York : Mc Graw hill-lange co. Gupta V., Gupta A., & Rao NA. (2007). Intraocular tuberkulosis-an update. Survey of ophthalmology ;52: Hendrayati R. (1995). Kelainan tajam penglihatan dan penglihatan warna penderita tuberkulosis paru pada pemakaian tuberkulostatik (tesis). Makassar. Universitas Hasanuddin. Kaimbo WK & Bifuko ZA. (2003). Colour vision in 42 Congolese patients with tuberculosis receiving ethambutol treatment. Beige Ophthalmol. 52: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Stranas (Strategi Na - sional) Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kwok A. (2006). Ocular Toxicity of Ethambutol. Drug Review. Hongkong Medical Dairy. 2:2. Lavanya V., Rao., & Sulatha VB. (2006). Ocular toxicity of antituberculosis treatment. Kerala journal of ophthalmology, 18:3. Menon V., Jain D. & Saxena R. (2009). Prospective evaluation of visual function for early detection of ethambutol toxicity. Br J ophthalmol, 93: Merdian A. (2003). Peran Serta dokter Praktek Umum Swasta pada DOTS dalam Simposium Hari TB sedunia. Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia. Meyer D., Kubis KC. & WolfMA. (2003). Chiasmopathy. Survey ophthalmology, 44:

8 Nur Azizah Juzmi ISSN Miller RN., Biousse V. & Newman JN. (2008). Toxic and deficiency optic neuropathies in Walsh and Hoyt s Clinical neuroophthalmology: the essential. 2nd ed. Philadelphia: Lippincott Wiliiam and Wilkins. Newman SA., Arnold AC. & Friedman DI. (2008). BCSC: Neuro-opthalmology. San Francisco: Elsevier. Schiefer U. & Hart W. (2007). Clinical Neuro Opthalmology: Functional Anatomy of The Human Visual Pathway. 1st ed. St. Louis. USA: Springer. Su-Ann L. (2006). Ethambutol-associated optic neuropathy. Singapore: Department of ophthalmology Tan Tock Seng Hospital. Tsai RK. & Lee YH. (1997). Reversibility of ethambutol optic neuropathy. J Ocul Pharmacol Ther, 13;

NEUROPATI OPTIK BILATERAL PASCA TERAPI ETAMBUTOL

NEUROPATI OPTIK BILATERAL PASCA TERAPI ETAMBUTOL NEUROPATI OPTIK BILATERAL PASCA TERAPI ETAMBUTOL Sarah M. Josephina Denny Walandow Bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado Email: [email protected] Abstract:

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. Setelah perang kemerdekaan, TB

Lebih terperinci

BAB I. Pendahuluan. Saraf optik merupakan kumpulan akson yang berasal. dari sel-sel ganglion retina menuju khiasma nervus

BAB I. Pendahuluan. Saraf optik merupakan kumpulan akson yang berasal. dari sel-sel ganglion retina menuju khiasma nervus BAB I Pendahuluan I.1 Latar belakang Saraf optik merupakan kumpulan akson yang berasal dari sel-sel ganglion retina menuju khiasma nervus optikus dan berakhir di korpus genikulatum lateral (Hartono, 1994).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkolusis paru merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian

Lebih terperinci

GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU PENDERITA TUBERKULOSIS TERHADAP KETIDAKPATUHAN DALAM PENGOBATAN MENURUT SISTEM DOTS DI RSU

GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU PENDERITA TUBERKULOSIS TERHADAP KETIDAKPATUHAN DALAM PENGOBATAN MENURUT SISTEM DOTS DI RSU ABSTRAK GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU PENDERITA TUBERKULOSIS TERHADAP KETIDAKPATUHAN DALAM PENGOBATAN MENURUT SISTEM DOTS DI RSU dr. SLAMET GARUT PERIODE 1 JANUARI 2011 31 DESEMBER 2011 Novina

Lebih terperinci

Hilman Mahyuddin, Lutfi Hendriansyah Departemen Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RSUPN Cipto Mangunkusumo

Hilman Mahyuddin, Lutfi Hendriansyah Departemen Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RSUPN Cipto Mangunkusumo Efek Terapi Bedah terhadap Reversibilitas Gangguan Penglihatan pada Penderita Tumor Intrakranial Studi Retrospektif di Departemen Bedah Saraf RSUPN Cipto Mangunkusumo Tahun 2000 2005 Hilman Mahyuddin,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. World Health Organization (WHO) memperkirakan sepertiga dari populasi dunia telah terinfeksi

Lebih terperinci

BAB I. Pendahuluan. Saraf optik merupakan kumpulan akson yang berasal. dari sel-sel ganglion retina menuju chiasma nervus

BAB I. Pendahuluan. Saraf optik merupakan kumpulan akson yang berasal. dari sel-sel ganglion retina menuju chiasma nervus 1 BAB I Pendahuluan I.1 Latar belakang Saraf optik merupakan kumpulan akson yang berasal dari sel-sel ganglion retina menuju chiasma nervus optikus dan berakhir di korpus genikulatum (Hartono, 1999). Neuropati

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular. langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular. langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang sebagian besar menyerang paru-paru tetapi juga dapat mengenai

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci: HIV-TB, CD4, Sputum BTA

ABSTRAK. Kata kunci: HIV-TB, CD4, Sputum BTA ABSTRAK Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi oportunistik yang paling sering dijumpai pada pasien HIV. Adanya hubungan yang kompleks antara HIV dan TB dapat meningkatkan mortalitas maupun morbiditas.

Lebih terperinci

ABSTRAK TINJAUAN TERHADAP PENERAPAN HOSPITAL DOTS LINKAGE DI RUMAH SAKIT IMMANUEL KOTA BANDUNG TAHUN 2012 DALAM UPAYA PENANGANAN TUBERKULOSIS PARU

ABSTRAK TINJAUAN TERHADAP PENERAPAN HOSPITAL DOTS LINKAGE DI RUMAH SAKIT IMMANUEL KOTA BANDUNG TAHUN 2012 DALAM UPAYA PENANGANAN TUBERKULOSIS PARU ABSTRAK TINJAUAN TERHADAP PENERAPAN HOSPITAL DOTS LINKAGE DI RUMAH SAKIT IMMANUEL KOTA BANDUNG TAHUN 2012 DALAM UPAYA PENANGANAN TUBERKULOSIS PARU Mutiara Dewi, 2013, Pembimbing I : dr. Sri Nadya J. Saanin,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) memperkirakan

BAB 1 PENDAHULUAN. Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) memperkirakan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) memperkirakan sepertiga dari

Lebih terperinci

ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS PAMARICAN KABUPATEN CIAMIS PERIODE JANUARI 2013 DESEMBER : Triswaty Winata, dr., M.Kes.

ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS PAMARICAN KABUPATEN CIAMIS PERIODE JANUARI 2013 DESEMBER : Triswaty Winata, dr., M.Kes. ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS PAMARICAN KABUPATEN CIAMIS PERIODE JANUARI 2013 DESEMBER 2015 Annisa Nurhidayati, 2016, Pembimbing 1 Pembimbing 2 : July Ivone, dr.,mkk.,m.pd.ked. : Triswaty

Lebih terperinci

GAMBARAN PERUBAHAN BERAT BADAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS SELAMA PENGOBATAN DOTS DI BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU-PARU MEDAN TAHUN 2009

GAMBARAN PERUBAHAN BERAT BADAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS SELAMA PENGOBATAN DOTS DI BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU-PARU MEDAN TAHUN 2009 GAMBARAN PERUBAHAN BERAT BADAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS SELAMA PENGOBATAN DOTS DI BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU-PARU MEDAN TAHUN 2009 Oleh: MIRNA RAMZIE 070100217 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan bentuk yang paling banyak dan paling penting (Widoyono, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. merupakan bentuk yang paling banyak dan paling penting (Widoyono, 2011). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit tubercolusis atau yang sering disebut TB merupakan penyakit infeksi yang dapat menyerang berbagai organ atau jaringan tubuh.tuberkulosis paru merupakan bentuk

Lebih terperinci

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 1 GAMBARAN HASIL AKHIR PENGOBATAN PASIEN TB PARU BTA POSITIF YANG MENGGUNAKAN STRATEGI DOTS TIDAK MENGALAMI KONVERSI SPUTUM SETELAH 2 BULAN PENGOBATAN DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN PADA TAHUN 2004-2012 Oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencanangkan TB sebagai kegawatan dunia (Global Emergency), terutama

BAB I PENDAHULUAN. mencanangkan TB sebagai kegawatan dunia (Global Emergency), terutama BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa situasi Tuberkulosis (TB) dunia semakin memburuk, dimana jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Diperkirakan sekitar 2 miliar atau sepertiga dari jumlah penduduk dunia telah

BAB I PENDAHULUAN. Diperkirakan sekitar 2 miliar atau sepertiga dari jumlah penduduk dunia telah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Diperkirakan sekitar 2 miliar atau sepertiga dari jumlah penduduk dunia telah terinfeksi oleh kuman Mycobacterium tuberculosis pada tahun 2007 dan ada 9,2 juta penderita

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sedangkan tuberkulosis yang menyerang organ diluar paru-paru disebut

BAB I PENDAHULUAN. Sedangkan tuberkulosis yang menyerang organ diluar paru-paru disebut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang menyerang organ tubuh terutama paru. Tuberkulosis paru merupakan tuberkulosis

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Dilaksanakan pada bulan Maret Juni 2015 di klinik VCT RSUP Dr.

BAB IV METODE PENELITIAN. Dilaksanakan pada bulan Maret Juni 2015 di klinik VCT RSUP Dr. BAB IV METODE PENELITIAN 2.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Penyakit Saraf dan Ilmu Penyakit Dalam sub bagian Infeksi Tropis. 2.2 Tempat dan waktu penelitian Dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. tanah lembab dan tidak adanya sinar matahari (Corwin, 2009).

BAB I PENDAHULUAN. yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. tanah lembab dan tidak adanya sinar matahari (Corwin, 2009). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (Price & Wilson, 2006). Penyakit ini dapat menyebar melalui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat di dunia walaupun upaya pengendalian dengan strategi Directly

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat di dunia walaupun upaya pengendalian dengan strategi Directly BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis Paru (TB Paru) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia walaupun upaya pengendalian dengan strategi Directly Observed Treatment Short-course

Lebih terperinci

HUBUNGAN PERILAKU PENCARIAN LAYANAN KESEHATAN DENGAN KETERLAMBATAN PASIEN DALAM DIAGNOSIS TB PARU DI BBKPM SURAKARTA SKRIPSI

HUBUNGAN PERILAKU PENCARIAN LAYANAN KESEHATAN DENGAN KETERLAMBATAN PASIEN DALAM DIAGNOSIS TB PARU DI BBKPM SURAKARTA SKRIPSI HUBUNGAN PERILAKU PENCARIAN LAYANAN KESEHATAN DENGAN KETERLAMBATAN PASIEN DALAM DIAGNOSIS TB PARU DI BBKPM SURAKARTA SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Sarjana Kedokteran Faris Budiyanto G0012074

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK PASIEN TUBERCULOSIS MULTI DRUG RESISTANCE DI KOTA SURABAYA TAHUN

KARAKTERISTIK PASIEN TUBERCULOSIS MULTI DRUG RESISTANCE DI KOTA SURABAYA TAHUN KARAKTERISTIK PASIEN TUBERCULOSIS MULTI DRUG RESISTANCE DI KOTA SURABAYA TAHUN 2009-2013 SKRIPSI OLEH : Steven Hermantoputra NRP : 1523011019 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. menular yang muncul dilingkungan masyarakat. Menanggapi hal itu, maka perawat

BAB 1 PENDAHULUAN. menular yang muncul dilingkungan masyarakat. Menanggapi hal itu, maka perawat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pada era sekarang ini tantangan dalam bidang pelayanan keperawatan semakin meningkat. Hal tersebut ditunjukkan dengan semakin banyaknya berbagai penyakit menular yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV dapat menyebabkan penderita

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan

BAB 1 PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yang biasanya sering menyerang paru, tetapi juga bisa menyerang

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS TUMINTING MANADO

KARAKTERISTIK PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS TUMINTING MANADO KARAKTERISTIK PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS TUMINTING MANADO Dian Wahyu Laily*, Dina V. Rombot +, Benedictus S. Lampus + Abstrak Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi yang terjadi di

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pemberian OAT fase awal di BP4 (Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pemberian OAT fase awal di BP4 (Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian tentang perbedaan kadar SGOT-SGPT sebelum dan sesudah pemberian OAT fase awal di BP4 (Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru) Ngadinegaran,

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR RISIKO KEJADIAN TUBERKULOSIS MULTIDRUG RESISTANT

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR RISIKO KEJADIAN TUBERKULOSIS MULTIDRUG RESISTANT ANALISIS FAKTOR-FAKTOR RISIKO KEJADIAN TUBERKULOSIS MULTIDRUG RESISTANT DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO TAHUN 2015 Ira D. Pawa, Jootje M. L. Umboh, Budi T. Ratag * Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Lebih terperinci

Nurhayati Jumaelah 1, Ns. Yunie Armiyati, M.Kep, Sp.KMB 2, Ir. Rahayu Astuti, M.Kes 3

Nurhayati Jumaelah 1, Ns. Yunie Armiyati, M.Kep, Sp.KMB 2, Ir. Rahayu Astuti, M.Kes 3 1 HUBUNGAN ANTARA KINERJA PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) TERHADAP KEBERHASILAN PENGOBATAN PENDERITA TB PARU DENGAN STRATEGI DOTS DI RSUP DR. KARIADI SEMARANG Nurhayati Jumaelah 1, Ns. Yunie Armiyati, M.Kep,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan desain cross-sectional. Pengambilan data dilakukan secara

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan desain cross-sectional. Pengambilan data dilakukan secara BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian Penelitian ini berupa deskriptif non eksperimental dengan menggunakan desain cross-sectional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif berdasarkan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Emil E, ; Pembimbing I: Penny Setyawati M., dr, SpPK, M.Kes. PembimbingII :Triswaty Winata, dr., M.Kes.

ABSTRAK. Emil E, ; Pembimbing I: Penny Setyawati M., dr, SpPK, M.Kes. PembimbingII :Triswaty Winata, dr., M.Kes. ABSTRAK VALIDITAS PEMERIKSAAN BASIL TAHAN ASAM SPUTUM PASIEN TERSANGKA TUBERKULOSIS PARU DENGAN PEWARNAAN ZIEHL NEELSEN TERHADAP KULTUR M.tuberculosis PADA MEDIA OGAWA Emil E, 1010115; Pembimbing I: Penny

Lebih terperinci

Artikel Penelitian. Abstrak. Abstract PENDAHULUAN. Nitari Rahmi 1, Irvan Medison 2, Ifdelia Suryadi 3

Artikel Penelitian. Abstrak. Abstract PENDAHULUAN.  Nitari Rahmi 1, Irvan Medison 2, Ifdelia Suryadi 3 345 Artikel Penelitian Hubungan Tingkat Kepatuhan Penderita Tuberkulosis Paru dengan Perilaku Kesehatan, Efek Samping OAT dan Peran PMO pada Pengobatan Fase Intensif di Puskesmas Seberang Padang September

Lebih terperinci

PREVALENSI DAN KARAKTERISTIK PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU-PARU MEDAN TAHUN Oleh : ANGGIE IMANIAH SITOMPUL

PREVALENSI DAN KARAKTERISTIK PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU-PARU MEDAN TAHUN Oleh : ANGGIE IMANIAH SITOMPUL PREVALENSI DAN KARAKTERISTIK PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU-PARU MEDAN TAHUN 2012 Oleh : ANGGIE IMANIAH SITOMPUL 100100021 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Lebih terperinci

HUBUNGAN PEMBERIAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) DENGAN KADAR ASAM URAT SKRIPSI. Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

HUBUNGAN PEMBERIAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) DENGAN KADAR ASAM URAT SKRIPSI. Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran HUBUNGAN PEMBERIAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) DENGAN KADAR ASAM URAT SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran Ivan Setiawan G0010105 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS

Lebih terperinci

1 Universitas Kristen Maranatha

1 Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. paru yang disebabkan oleh basil TBC. Penyakit paru paru ini sangat

BAB I PENDAHULUAN. paru yang disebabkan oleh basil TBC. Penyakit paru paru ini sangat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang menyerang paru paru yang disebabkan oleh basil TBC. Penyakit paru paru ini sangat menular melalui udara atau sering

Lebih terperinci

PERAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) TERHADAP KEBERHASILAN PENGOBATAN TB PARU DI KECAMATAN MEDAN MAIMUN. Oleh: FILZA RIFQI AUFA ASLAM

PERAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) TERHADAP KEBERHASILAN PENGOBATAN TB PARU DI KECAMATAN MEDAN MAIMUN. Oleh: FILZA RIFQI AUFA ASLAM PERAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) TERHADAP KEBERHASILAN PENGOBATAN TB PARU DI KECAMATAN MEDAN MAIMUN Oleh: FILZA RIFQI AUFA ASLAM 120100459 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2015 PERAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Leber Hereditary Optic Neuropathy (LHON) merupakan penyakit

BAB I PENDAHULUAN. Leber Hereditary Optic Neuropathy (LHON) merupakan penyakit BAB I PENDAHULUAN 1..1Latar Belakang Leber Hereditary Optic Neuropathy (LHON) merupakan penyakit diturunkan secara maternal yang menyebabkan penderitanya mengalami degenerasi pada serabut saraf retina

Lebih terperinci

INTISARI. Ari Aulia Rahman 1 ; Yugo Susanto 2 ; Rachmawati 3

INTISARI. Ari Aulia Rahman 1 ; Yugo Susanto 2 ; Rachmawati 3 INTISARI GAMBARAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN RAWAT INAP DI RUANG DAHLIA (PARU) DENGAN DIAGNOSIS TB PARU DENGAN ATAU TANPA GEJALA HEMAPTO DI RSUD ULIN BANJARMASIN PADA TAHUN 2013 Ari Aulia Rahman

Lebih terperinci

PERBEDAAN KADAR UREUM-KREATININ SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN OBAT ANTITUBERKULOSIS FASE AWAL

PERBEDAAN KADAR UREUM-KREATININ SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN OBAT ANTITUBERKULOSIS FASE AWAL PERBEDAAN KADAR UREUM-KREATININ SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN OBAT ANTITUBERKULOSIS FASE AWAL Restu Matra Pratiwi 1, Suryanto 2 1 Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyerang berbagai organ,

BAB I PENDAHULUAN. bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyerang berbagai organ, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru. Penyakit

Lebih terperinci

BAB 3 KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, DAN HIPOTESIS

BAB 3 KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, DAN HIPOTESIS 16 BAB 3 KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, DAN HIPOTESIS 3.1. Kerangka Teori Patogenesis Definisi Inflamasi KGB yang disebabkan oleh MTB Manifestasi Klinis a. keras, mobile, terpisah b. kenyal dan terfiksasi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian adalah kuasi experimental dengan rancangan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian adalah kuasi experimental dengan rancangan BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Jenis penelitian adalah kuasi experimental dengan rancangan perlakuan tunggal one group pre and post test design.kuasi experimental dimaksudkan adalah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan sinar matahari, tetapi dapat hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan sinar matahari, tetapi dapat hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyakit TBC Paru merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat. Kuman ini memiliki sifat khusus tahan asam, cepat mati dengan sinar

Lebih terperinci

Identifikasi Faktor Resiko 1

Identifikasi Faktor Resiko 1 IDENTIFIKASI FAKTOR RESIKO TERJADINYA TB MDR PADA PENDERITA TB PARU DI WILAYAH KERJA KOTA MADIUN Lilla Maria.,S.Kep. Ners, M.Kep (Prodi Keperawatan) Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun ABSTRAK Multi Drug

Lebih terperinci

Hubungan Pengetahuan dan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis di Puskesmas Andalas Kota Padang

Hubungan Pengetahuan dan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis di Puskesmas Andalas Kota Padang 724 Artikel Penelitian Hubungan Pengetahuan dan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis di Puskesmas Andalas Kota Padang Ivan Putra Siswanto 1, Yanwirasti 2, Elly Usman 3 Abstrak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dunia dan menyebabkan angka kematian yang tinggi. Penyakit ini

BAB I PENDAHULUAN. dunia dan menyebabkan angka kematian yang tinggi. Penyakit ini BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit tertua yang menginfeksi manusia. Penyakit ini menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia dan menyebabkan angka kematian

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis merupakan penyakit yang mudah menular dimana dalam tahun-tahun terakhir memperlihatkan peningkatan dalam jumlah kasus baru maupun jumlah angka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kecacatan dalam masyarakat (Depkes RI, 2009). pembangunan berkelanjutan yang diberi nama Sustainable Development Goals

BAB I PENDAHULUAN. kecacatan dalam masyarakat (Depkes RI, 2009). pembangunan berkelanjutan yang diberi nama Sustainable Development Goals BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan merupakan hak dasar manusia dan tanggung jawab bersama dari setiap individu, masyarakat, pemerintah dan swasta. Perilaku masyarakat adalah perilaku proakftif

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat dunia. Setiap tahunnya, TB Paru menyebabkan hampir dua juta

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat dunia. Setiap tahunnya, TB Paru menyebabkan hampir dua juta BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang TB Paru adalah salah satu masalah kesehatan yang harus dihadapi masyarakat dunia. Setiap tahunnya, TB Paru menyebabkan hampir dua juta kematian, dan diperkirakan saat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. kesehatan masyarakat yang penting di dunia ini. Pada tahun 1992 World Health

BAB I PENDAHULUAN UKDW. kesehatan masyarakat yang penting di dunia ini. Pada tahun 1992 World Health 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang penelitian Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi

Lebih terperinci

PROFIL RADIOLOGIS TORAKS PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI POLIKLINIK PARU RSUD DR HARDJONO-PONOROGO SKRIPSI

PROFIL RADIOLOGIS TORAKS PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI POLIKLINIK PARU RSUD DR HARDJONO-PONOROGO SKRIPSI PROFIL RADIOLOGIS TORAKS PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI POLIKLINIK PARU RSUD DR HARDJONO-PONOROGO SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran OLEH : EKA DEWI PRATITISSARI

Lebih terperinci

Abstrak. Dicky Sanjaya, 2009.Pembimbing I: Evi Yuniawati, dr., MKM Pembimbing II: Dani, dr., MKes

Abstrak. Dicky Sanjaya, 2009.Pembimbing I: Evi Yuniawati, dr., MKM Pembimbing II: Dani, dr., MKes Abstrak PERBEDAAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU PENDERITA TB DENGAN PENGOBATAN LENGKAP DAN PUTUS BEROBAT DI PUSKESMAS LANJAK DAN BADAU PROPINSI KALIMANTAN BARAT TAHUN 2008 Dicky Sanjaya, 2009.Pembimbing

Lebih terperinci

ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA MULTIDRUG-RESISTANT TUBERCULOSIS DI RUMAH SAKIT PARU DR.H.A.ROTINSULU, BANDUNG TAHUN 2014

ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA MULTIDRUG-RESISTANT TUBERCULOSIS DI RUMAH SAKIT PARU DR.H.A.ROTINSULU, BANDUNG TAHUN 2014 ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA MULTIDRUG-RESISTANT TUBERCULOSIS DI RUMAH SAKIT PARU DR.H.A.ROTINSULU, BANDUNG TAHUN 2014 Ferdinand Dennis Kurniawan, 1210122 Pembimbing I : Dr.Jahja Teguh Widjaja, dr., SpP.,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. TB Paru merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi

BAB 1 PENDAHULUAN. TB Paru merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang TB Paru merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi permasalahan di dunia hingga saat ini, tidak hanya di negara berkembang tetapi juga di negara maju.

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA GLAUKOMA DENGAN DIABETES MELITUS DAN HIPERTENSI SKRIPSI. Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

HUBUNGAN ANTARA GLAUKOMA DENGAN DIABETES MELITUS DAN HIPERTENSI SKRIPSI. Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran HUBUNGAN ANTARA GLAUKOMA DENGAN DIABETES MELITUS DAN HIPERTENSI SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran Karla Kalua G0011124 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Lebih terperinci

GAMBARAN NILAI MANTOUX TEST PADA ANAK DENGAN RIWAYAT KONTAK DENGAN ORANG DEWASA SATU HUNIAN YANG MENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS PADANG BULAN, MEDAN

GAMBARAN NILAI MANTOUX TEST PADA ANAK DENGAN RIWAYAT KONTAK DENGAN ORANG DEWASA SATU HUNIAN YANG MENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS PADANG BULAN, MEDAN GAMBARAN NILAI MANTOUX TEST PADA ANAK DENGAN RIWAYAT KONTAK DENGAN ORANG DEWASA SATU HUNIAN YANG MENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS PADANG BULAN, MEDAN Oleh : EFFI ROHANI N 100100053 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

HUBUNGAN OBESITAS SENTRAL DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA PASIEN LAKI-LAKI. Oleh : THARMANTHIRAN THIRUCHELVAM

HUBUNGAN OBESITAS SENTRAL DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA PASIEN LAKI-LAKI. Oleh : THARMANTHIRAN THIRUCHELVAM HUBUNGAN OBESITAS SENTRAL DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA PASIEN LAKI-LAKI Oleh : THARMANTHIRAN THIRUCHELVAM 080100410 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 ABSTRACT Introduction.

Lebih terperinci

ABSTRAK GAMBARAN KELAINAN REFRAKSI ANAK USIA 6-15 TAHUN DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2012

ABSTRAK GAMBARAN KELAINAN REFRAKSI ANAK USIA 6-15 TAHUN DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2012 ABSTRAK GAMBARAN KELAINAN REFRAKSI ANAK USIA 6-15 TAHUN DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI 2012 31 DESEMBER 2012 Jason Alim Sanjaya, 2014, Pembimbing I : July Ivone, dr.,m.k.k.,mpd.ked.

Lebih terperinci

ABSTRACT. Keywords : Mycobacterium tuberculosis, Resistance, Isoniazid, Rifampin, Streptomycin, Ethambutol. xviii

ABSTRACT. Keywords : Mycobacterium tuberculosis, Resistance, Isoniazid, Rifampin, Streptomycin, Ethambutol. xviii ABSTRACT Background : Tuberculosis is a leading cause disease of death in infectious diseases. Until now there are many cases of M. tuberculosis resistance to primary choice anti tuberculosis drugs (ATD).

Lebih terperinci

NILAI DIAGNOSTIK PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS SPUTUM BTA PADA PASIEN KLINIS TUBERKULOSIS PARU DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

NILAI DIAGNOSTIK PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS SPUTUM BTA PADA PASIEN KLINIS TUBERKULOSIS PARU DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA NILAI DIAGNOSTIK PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS SPUTUM BTA PADA PASIEN KLINIS TUBERKULOSIS PARU DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA Inayati* Bagian Mikrobiologi Fakuktas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas

Lebih terperinci

QUALITY OF LIFE PADA PENDERITA LEBER HEREDITARY OPTIC NEUROPATHY (LHON) JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA

QUALITY OF LIFE PADA PENDERITA LEBER HEREDITARY OPTIC NEUROPATHY (LHON) JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA QUALITY OF LIFE PADA PENDERITA LEBER HEREDITARY OPTIC NEUROPATHY (LHON) JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana strata-1 kedokteran umum Nida

Lebih terperinci

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN ANGKA KESEMBUHAN DAN ANGKA PENEMUAN KASUS TUBERKULOSIS DI KOTA SEMARANG TAHUN 2014

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN ANGKA KESEMBUHAN DAN ANGKA PENEMUAN KASUS TUBERKULOSIS DI KOTA SEMARANG TAHUN 2014 FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN ANGKA KESEMBUHAN DAN ANGKA PENEMUAN KASUS TUBERKULOSIS DI KOTA SEMARANG TAHUN 2014 Siti Kholifah *), Suharyo **), Massudi Suwandi **) *) Alumni S1 Kesehatan Masyarakat

Lebih terperinci

Oleh: Esti Widiasari S

Oleh: Esti Widiasari S HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN INJEKSI DEPOT-MEDROXYPROGESTERONE ACETATE (DMPA) DENGAN KADAR ESTRADIOL PADA PENDERITA KANKER PAYUDARA TESIS Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Magister

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Penyakit Tuberkulosis (TB) Paru merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan

Lebih terperinci

Yeni Octaria 1) dr. Sahab Sibuea, M.Sc. 2)

Yeni Octaria 1) dr. Sahab Sibuea, M.Sc. 2) FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN TERHADAP KEPATUHAN IBU/BAPAK DALAM PENGOBATAN TUBERKULOSIS ANAK DI POLI ANAK RUMAH SAKIT ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG DESEMBER 2012-JANUARI 2013 Yeni Octaria 1) dr. Sahab

Lebih terperinci

ABSTRACT. Keywords: Supervisory Swallowing Drugs, Role of Family, Compliance Drinking Drugs, Tuberculosis Patients ABSTRAK

ABSTRACT. Keywords: Supervisory Swallowing Drugs, Role of Family, Compliance Drinking Drugs, Tuberculosis Patients ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) DAN PERAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TUBERKULOSIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SARIO KOTA MANADO Andri Saputra Yoisangadji 1), Franckie R.R

Lebih terperinci

INTISARI. Lisa Ariani 1 ; Erna Prihandiwati 2 ; Rachmawati 3

INTISARI. Lisa Ariani 1 ; Erna Prihandiwati 2 ; Rachmawati 3 INTISARI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PNEUMONIA DAN PNEUMONIA SERTA TB PARU STUDI DESKRIPTIF PADA PASIEN RAWAT INAP DI RUANG DAHLIA (PARU) DI RSUD ULIN BANJARMASIN TAHUN 2013 Lisa Ariani 1 ; Erna

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. batang (basil) yang dikenal dengan nama Mycobacterium tuberculosis, yang sebagian besar

BAB I PENDAHULUAN. batang (basil) yang dikenal dengan nama Mycobacterium tuberculosis, yang sebagian besar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyebab kematian utama yang diakibatkan oleh infeksi. Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan

Lebih terperinci

PERBEDAAN KADAR LEUKOSIT SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN OBAT ANTITUBERKULOSIS PADA FASE AWAL

PERBEDAAN KADAR LEUKOSIT SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN OBAT ANTITUBERKULOSIS PADA FASE AWAL PERBEDAAN KADAR LEUKOSIT SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN OBAT ANTITUBERKULOSIS PADA FASE AWAL Gita Bestari 1, Adang 2 1 Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KONDISI RUMAH DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS KISMANTORO KABUPATEN WONOGIRI PUBLIKASI ILMIAH

HUBUNGAN ANTARA KONDISI RUMAH DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS KISMANTORO KABUPATEN WONOGIRI PUBLIKASI ILMIAH HUBUNGAN ANTARA KONDISI RUMAH DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS KISMANTORO KABUPATEN WONOGIRI PUBLIKASI ILMIAH Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini sering

BAB 1 PENDAHULUAN. disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini sering BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis paru (TB) adalah penyakit infeksi menular kronik yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini sering terjadi di daerah padat penduduk

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN. Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis (Kumar dan Clark, 2012). Tuberkulosis (TB) merupakan salah

Lebih terperinci

ABSTRAK PREVALENSI TUBERKULOSIS PARU DI RUMAH SAKIT PARU ROTINSULU BANDUNG PERIODE JANUARI-DESEMBER 2007

ABSTRAK PREVALENSI TUBERKULOSIS PARU DI RUMAH SAKIT PARU ROTINSULU BANDUNG PERIODE JANUARI-DESEMBER 2007 ABSTRAK PREVALENSI TUBERKULOSIS PARU DI RUMAH SAKIT PARU ROTINSULU BANDUNG PERIODE JANUARI-DESEMBER 2007 Yanuarita Dwi Puspasari, 2009. Pembimbing I : July Ivone, dr., MS Pembimbing II : Caroline Tan Sardjono,

Lebih terperinci

The Effect of Zinc Distribution for New TB Patients who Have Ethambutol Therapy Toward Visual Field Defect

The Effect of Zinc Distribution for New TB Patients who Have Ethambutol Therapy Toward Visual Field Defect 248 Ophthalmol Ina 2016;42(3):248-253 ORIGINAL ARTICLE The Effect of Zinc Distribution for New TB Patients who Have Ethambutol Therapy Toward Visual Field Defect Neni Daniati, Kusdiantoro, Laksmi Wulandari,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis dan dapat disembuhkan. Tuberkulosis

BAB I PENDAHULUAN. oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis dan dapat disembuhkan. Tuberkulosis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis dan dapat disembuhkan. Tuberkulosis dapat menyebar

Lebih terperinci

PENGARUH KOINSIDENSI DIABETES MELITUS TERHADAP LAMA PENGOBATAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA TAHUN

PENGARUH KOINSIDENSI DIABETES MELITUS TERHADAP LAMA PENGOBATAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA TAHUN PENGARUH KOINSIDENSI DIABETES MELITUS TERHADAP LAMA PENGOBATAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA TAHUN 2008 2009 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC)

BAB 1 PENDAHULUAN. Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC) BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Pada tahun

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA TERAPI KORTIKOSTEROID DENGA KEJADIAN GLAUKOMA PADA ANAK DENGAN SINDROMA NEFROTIK JURNAL ILMIAH KTI

HUBUNGAN ANTARA TERAPI KORTIKOSTEROID DENGA KEJADIAN GLAUKOMA PADA ANAK DENGAN SINDROMA NEFROTIK JURNAL ILMIAH KTI HUBUNGAN ANTARA TERAPI KORTIKOSTEROID DENGA KEJADIAN GLAUKOMA PADA ANAK DENGAN SINDROMA NEFROTIK JURNAL ILMIAH KTI Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana Strata-1 Kedokteran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di negara berkembang. Badan kesehatan dunia, World Health Organitation

BAB I PENDAHULUAN. di negara berkembang. Badan kesehatan dunia, World Health Organitation BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis Paru (TB Paru) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia termasuk Indonesia. Sebagian besar kematian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis (TB paru) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada umumnya Tuberkulosis terjadi pada paru, tetapi dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan dunia. Pada tahun 2012 diperkirakan 8,6 juta orang terinfeksi TB dan 1,3 juta orang meninggal karena penyakit ini (termasuk

Lebih terperinci

PREVALENSI TERJADINYA TUBERKULOSIS PADA PASIEN DIABETES MELLITUS (DI RSUP DR.KARIADI SEMARANG) LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

PREVALENSI TERJADINYA TUBERKULOSIS PADA PASIEN DIABETES MELLITUS (DI RSUP DR.KARIADI SEMARANG) LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH PREVALENSI TERJADINYA TUBERKULOSIS PADA PASIEN DIABETES MELLITUS (DI RSUP DR.KARIADI SEMARANG) LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai persyaratan guna mencapai gelar sarjana strata-1 kedokteran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menular (dengan Bakteri Asam positif) (WHO), 2010). Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan global utama dengan tingkat

BAB I PENDAHULUAN. menular (dengan Bakteri Asam positif) (WHO), 2010). Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan global utama dengan tingkat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan yang penting saat ini. WHO menyatakan bahwa sekitar sepertiga penduduk dunia tlah terinfeksi kuman Tuberkulosis.

Lebih terperinci

HUBUNGAN USIA, PARITAS DAN PEKERJAAN IBU HAMIL DENGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH

HUBUNGAN USIA, PARITAS DAN PEKERJAAN IBU HAMIL DENGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH HUBUNGAN USIA, PARITAS DAN PEKERJAAN IBU HAMIL DENGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH Liza Salawati Abstrak. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas

Lebih terperinci

J. Teguh Widjaja 1, Hartini Tiono 2, Nadia Dara Ayundha 3 1 Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Maranatha

J. Teguh Widjaja 1, Hartini Tiono 2, Nadia Dara Ayundha 3 1 Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Maranatha FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KEPATUHAN BEROBAT PASIEN TB PARU DEWASA DI RS IMMANUEL BANDUNG DENGAN DOTS DAN RS MITRA IDAMAN BANJAR TANPA DOTS THE FACTORS RELATED TO TB ADULT PATIENT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang paling sering mengenai organ paru-paru. Tuberkulosis paru merupakan

Lebih terperinci

MULTI DRUG RESISANT TUBERCULOSIS (MDR-TB): PENGOBATAN PADA DEWASA

MULTI DRUG RESISANT TUBERCULOSIS (MDR-TB): PENGOBATAN PADA DEWASA MULTI DRUG RESISANT TUBERCULOSIS (MDR-TB): PENGOBATAN PADA DEWASA Sumardi Divisi Pulmonologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUGM / KSM Pulmonologi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Abstract Tuberculosis treatment

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep Pelayanan Kesehatan Peran PMO : - Pengetahuan - Sikap - Perilaku Kesembuhan Penderita TB Paru Gambar 3.1 Kerangka Konsep B. Hipotesis 1. Terdapat hubungan pengetahuan

Lebih terperinci

HUBUNGAN KETERLAMBATAN PASIEN DALAM DIAGNOSIS TB PARU DENGAN JARAK RUMAH DAN STATUS PEKERJAAN DI FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN (BBKPM) SURAKARTA SKRIPSI

HUBUNGAN KETERLAMBATAN PASIEN DALAM DIAGNOSIS TB PARU DENGAN JARAK RUMAH DAN STATUS PEKERJAAN DI FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN (BBKPM) SURAKARTA SKRIPSI HUBUNGAN KETERLAMBATAN PASIEN DALAM DIAGNOSIS TB PARU DENGAN JARAK RUMAH DAN STATUS PEKERJAAN DI FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN (BBKPM) SURAKARTA SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Sarjana Kedokteran

Lebih terperinci

JST Kesehatan, Juli 2016, Vol.6 No.3 : ISSN

JST Kesehatan, Juli 2016, Vol.6 No.3 : ISSN JST Kesehatan, Juli 2016, Vol.6 No.3 : 298 302 ISSN 2252-5416 EVALUASI EFEKTIFITAS KONSELING OLEH APOTEKER TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KEPATUHAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU The Evaluation of the

Lebih terperinci

ABSTRAK FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KEPATUHAN BEROBAT PASIEN TB PARU DI RSI BANDUNG DENGAN DOTS DAN RS

ABSTRAK FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KEPATUHAN BEROBAT PASIEN TB PARU DI RSI BANDUNG DENGAN DOTS DAN RS ABSTRAK FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KEPATUHAN BEROBAT PASIEN TB PARU DI RSI BANDUNG DENGAN DOTS DAN RS.MITRA IDAMAN BANJAR TANPA DOTS Nadia Dara Ayundha 1110179, 2014 Pembimbing I : Dr.

Lebih terperinci