Siauw Giok Tjhan, Sahabat-ku

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Siauw Giok Tjhan, Sahabat-ku"

Transkripsi

1 Siauw Giok Tjhan, Sahabat-ku Go Gien Tjwan 1 Pada tanggal 4 November 1965, lebih dari sebulan setelah Gerakan 30 September yang melakukan kudeta pada tanggal 1 Oktober 1965, Siauw Giok Tjhan diambil oleh sekelompok tentara bersenjata dari rumahnya dengan dalih diamankan. Istilah diamankan yang digunakan pihak militer pada waktu itu mungkin merupakan terjemahan dari Schutzhaft Nehmenyang digunakan oleh Nazi ketika mereka menduduki negaranegara Eropa. Pada waktu penangkapan itu dilakukan, Suiauw atau keluarganya tidak ditunjukkan surat penahanan resmi dari pihak yang berwenang, sebuah hal yang lazim berlaku di negara hukum. Setelah berada di berbagai tahanan sebagai tahanan politik yang tidak pernah diadili, pada tanggal 15 September 1975, Siauw diizinkan pulang ke rumahnya sebagai seorang tahanan rumah. Perubahan status ini terjadi bukan karena keputusan seorang hakim, akan tetapi karena jerih payah isteri Siauw yang terus menerus memohon pihak berkuasa untuk membebaskan Siauw, karena kemunduran kesehatan Siauw selama di penjara. Pada tanggal 1 Mei 1978 Siauw Giok Tjhan dikembalikan ke masyarakat, berarti penahanan rumah-nya dihentikan dan ia tidak lagi harus melapor ke kekuasaan militer setiap minggu. Tetapi ternyata ia tidak bebas penuh, karena di kartu penduduknya ada tanda ET (eks Tapol), sebagai tanda bahwa ia adalah seorang musuh masyarakat yang tindak tanduknya harus tetap diawasi oleh penguasa. Karena kesehatannya yang kian mundur, pada tanggal 18 September 1978, ia pergi ke negeri Belanda untuk perawatan kesehatan dan pada tanggal 20 November 1981, di usia 68 tahun, ia meninggal karena serangan jantung. Atas permintaan saya, Siauw menulis sebuah memoar yang ia beri judul Suatu Renungan. Ini diselesaikan antara bulan Oktober dan Desember Ini adalah sebuah kombinasi refleksi dan sekaligus pengamatan seorang yang terlibat dalam sejarah politik Indonesia. Saya mendorongnya untuk lebih menceritakan pengalaman pribadi-nya ketimbang analisis politik. Permintaan ini melahirkan naskah kedua yang ia namakan Lima Jaman yang diterbitkan pada tahun 1981 di Belanda. Ke Lima Jaman yang dimaksud adalah zaman penjajahan Belanda, zaman pendudukan Jepang, zaman revolusi kemerdekaan, zaman kemerdekaan, termasuk masa demokrasi terpimpin dan zaman Orde Baru. Pada tahun 1978, 1 Go Gien Tjwan turut mendirikan Baperki dan menjadi Sekretaris Jendral-nya. Perannya dalam sejarah Indonesia besar, sebagai salah satu tokoh Baperki dan seorang akademisi yang kerap membahas masalah Tionghoa di Indonesia.

2 memperlengkap berbagai hal yang membuat penuturannya tentang zaman Orde Baru lebih up-to-date. Ternyata Siauw Giok Tjhan adalah seorang yang tidak bisa menggambarkan jasa dan kebesaran dirinya sendiri dalam sejarah Indonesia. Kedua naskah yang disebut di atas, hampir tidak menyinggung berbagai kegiatan dan keberhasilan politik seorang Siauw Giok Tjhan. Oleh karena itu, saya anggap perlu memberi sebuah ilustrasi yang lebih jelas tentang perjalanan politik Siauw Giok Tjhan. Untuk mengerti sosok Siauw Giok Tjhan dan perannya dalam sejarah Indonesia, kita harus menengok ke posisi komunitas Tionghoa di Indonesia. Siauw adalah seorang anggota komunitas Tionghoa ini. Kehadiran Tionghoa dalam jumlah yang besar di berbagai kepulauan besar Indonesia sudah dimulai sejak era Kristen. Mereka pada umumnya adalah para pedagang yang membawa barang-barang buatan Tiongkok dan negara-negara lain ke Indonesia dan membawa barang-barang atau hasil bumi para kerajaan yang berada di wilayah yang kini dikenal sebagai Indonesia. Mereka sudah melakukan kegiatan perdagangan internasional. Banyak dari mereka din pulau Jawa bekerja sebagai tukang di berbagai bidang, termasuk kayu dan pembuatan lemari. Dan banyak di antara mereka yang sudah berasimilasi dengan penduduk Jawa. Kedatangan Belanda di Indonesia mengubah perkembangan di atas. Secara berangsur posisi Tionghoa sebagai pedagang internasional diambil alih oleh Belanda, apalagi setelah VOC didirikan pada tahun Tionghoa terdesak untuk tidak lagi menjadi importir dan eksportir, dan menjadi perantara antara para pengusaha besar dan para pengusaha kecil dan para petani. Selama zaman penjajahan bidang intermediate trade ini dikuasai oleh Tionghoa. Di zaman berkembangnya VOC di abad ke 17 dan 18, penduduk di Hindia Belanda, nama Indonesia ketika itu, dibagi atas perbedaan keturunan ras yang berkaitan dengan peran ekonomi-nya. Pada abad ke 19, pembagian penduduk atas dasar ras ini diundangkan secara resmi sebagai: golongan pribumi, golongan Asing Asia dan golongan Eropa. Tentunya perkembangan ini tidak membantu pembentukan nasion Indonesia, terutama karena Belanda sengaja mencegah terbentuknya kesatuan golongan Tionghoa dan golongan pribumi. Di masa ini berkembang pula sebuah golongan hybrid antara Tionghoa dan pribumi yang dinamakan peranakan. Peranakan adalah produk kawin campuran antara para pendatang Tionghoa pria (totok) yang menikah dengan penduduk wanita lokal. Keturunan mereka kemudian menikah antara sama lain dan berkembang sebagai sebuah komunitas besar. Dan komunitas ini bersama para totok dan orang-orang Asia asing lainnya, India dan Arab mengisi lapisan tengah di dalam struktur masyarakat kolonial. Lapisan atas diisi oleh komunitas Eropa dan terbawah diisi oleh komunitas pribumi.

3 Di awal abad ke 20, terutama di pulau Jawa, komunitas peranakan telah berkembang sebagai komunitas yang memiliki nilai sosial, ekonomi, kebudayaan dan agama yang berbeda dengan komunitas-komunitas lain, termasuk komunitas Tionghoa totok. Sebagian besar Tionghoa di pulau Jawa adalah peranakan. Di luar pulau Jawa, terutama Sumatra dan Kalimantan, situasi-nya berbeda. Sebagian besar Tionghoa di sana berhasil mempertahankan ke Tionghoa-annya walaupun sudah ber-generasi hidup di Indonesia. Walaupun demikian, komunitas peranakan oleh Belanda diperlakukan secara hukum sebagai golongan Asing Tionghoa. Oleh karenanya, didiskriminasi oleh berbagai kebijakan Belanda. Bangkitlah gerakan melawan diskriminasi di pulau Jawa. Gerakan ini dipengaruhi ajaran Kong Hu Cu dan mereka percaya bahwa ajaran Kong Hu Cu akan menjadi alat ampuh gerakan melawan diskriminasi Belanda. Timbullah tekad mendirikan sebuah organisasi modern yang terdiri dari para peranakan dan totok. Pada tahun 1900 Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK) lahir di Jakarta dan tidak lama kemudian cabang-cabangnya lahir di berbagai kota besar dan kecil di Jawa dan di luar Jawa. Tidak lama setelah itu, beberapa organisasi Tionghoa lainnya didirikan di antaranya Tiong Hoa Siang Hwee (Kamar Dagang Tionghoa) dan Soo Po Sia (Klub Pembaca) dengan tujuan menyebar luaskan nasionalisme Tiongkok. THHK terbentuk bukan karena gerakan nasionalisme Tiongkok yang bertujuan menghancurkan kerajaan Manchuria. Juga bukan karena gerakan reformasi politik yang dipimpin oleh Kang Yu Wei. Kang Yu Wei datang ke Indonesia pada tahun 1904, empat tahun setelah THHK berdiri. Kedatangan Kang di Indonesia menimbulkan persepsi salah bahwa pendirian THHK adalah akibat gerakan politik yang berkembang di Tiongkok. Walaupun terjalin hubungan antara Tionghoa di Indonesia dengan Tiongkok dan berbagai perkembangan di Tiongkok mempengaruhi Tionghoa di Indonesia, tetapi pendirian THHK disebabkan perkembangan di Indonesia. Perkembangan yang berkaitan dengan dinamika dunia peranakan di Indonesia, dengan bantuan komunitas totok. Tujuan utama pendirian THHK adalah menjadikan ajaran Kong Hu Cu sebuah kekuatan untuk semua Tionghoa di Hindia Belanda yang memungkinkan mencapai reformasi hukum dan sosial yang menguntungkan komunitas Tionghoa. Salah satu langkah pertama adalah mengajar bahasa Tionghoa untuk semua anak-anak Tionghoa. Sebagian besar peranakan tidak bisa berbahasa Tionghoa. Dengan demikian anak-anak Tionghoa bisa dengan baik mempelajari ajaran Kong Hu Cu. Inilah yang menyebabkan THHK mendirikan sekolah-sekolah dan berubah menjadi sebuah organisasi yang mengelola sekolah. Model pendidikan yang diambil adalah pendidikan modern Barat dan Jepang. Bahasa Tionghoa yang dipakai adalah Mandarin.

4 Kesadaran untuk menemukan identitas peranakan melalui pemahaman kebudayaan leluhur menyebabkan timbulnya kesalahan persepsi. Se-olah-olah gerakan ini dipengaruhi oleh gerakan nasionalisme Tiongkok yang disebar luaskan para pejuang revolusi Tiongkok. Padahal gerakan ini tidak didasari kesadaran politik walaupun perkembangannya secara tidak langsung memiliki implikasi politik. Pada tahun 1917 sekitar 700 tokoh peranakan dari berbagai pelosok Jawa mengadakan sebuah kongres di Semarang. Tema utama adalah perwakilan Tionghoa dalam Volksraad mengingat secara hukum Tionghoa di Hindia Belanda adalah Kaula Belanda. Akan tetapi sebagian besar hadirin menolak usul untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum mencapai perwakilan di Volksraad karena mereka menganggap dirinya warga negara Tiongkok, jadi menolak Undang-Undang Belanda 1910 yang menjadikan mereka Kaula Belanda. Argumentasi mereka: sebagai orang-orang asing, tidak harus masuk Volksraad yang juga tidak beranggotakan orang-orang Inggris, Jerman maupun Jepang. Memang tidak adanya keinginan untuk terlibat dalam kegiatan politik adalah hal yang wajar untuk komunitas Tionghoa di Hindia Belanda. Akan tetapi ini bukan alasan utama mengapa sebagian besar tokoh peranakan di kongres itu menolak untuk masuk Volksraad. Keputusan semacam itu biasanya dibuat oleh para tokoh masyarakat yang terlibat sebagai pimpinan organisasi-organisasi seperti perkumpulan kematian dan THHK. Salah satu pengaruh kuat untuk tidak terlibat dalam Volksraad datang dari harian Sin Po yang diterbitkan di Jakarta. Harian ini mendorong komunitas Tionghoa untuk berpaling ke Tiongkok dan menyebarluaskan pengertian bahwa Tiongkok yang kuat akan selalu melindungi Tionghoa di Hindia Belanda. Kegiatan peranakan di Jawa ternyata membuahkan beberapa hal yang positif terhadap kebijakan diskriminasi. Secara berangsur, keharusan membawa kartu penduduk dan penangkapan semaunya dihentikan. Keluhan Tionghoa yang tidak bisa mengirim anak-anaknya ke sekolah pemerintah menyebabkan Belanda mendirikan sekolah Tionghoa Belanda HCS. Keinginan untuk berpolitik mulai menonjol setelah tahun 1920-an, setelah masyarakat melihat bahwa kegiatan-kegiatan di tahun-tahun sebelumnya membuahkan perkembangan yang positif. Peranakan ternyata cukup puas dengan adanya Undang-Undang Belanda tentang dwi kewarganegaraan. Ini berarti selama mereka tinggal di Hindia Belanda meraka menjadu Kaula belanda. Kalau meninggalkan wilayah [penjajahan, mereka menjadi warga negara Tiongkok. Setelah penindasan keras terhadap pemberontakan komunis pada tahun 1926/1927 dan dibuangnya Sukarno dan Hatta ke pulau-pulau terpencil di luar Jawa pada tahun 1930-an, para tokoh peranakan merasa sebaiknya tetap tidak terlibat dalam kegiatan politik. Apalagi melihat

5 peranakan yang terlibat dalam pemberontakan komunis dibuang ke Boven Digul di Irian Barat, bersama para komunis lainnya. Akan tetapi di lain pihak, para tokoh peranakan ini melihat bahwa diskriminasi terhadap Tionghoa masih ada. Orang Tionghoa tidak diizinkan masuk ke Perkumpulan Belanda, tidak boleh masuk ke kolam-kolam renang tertentu. Walaupun kaula Belanda, orang Tionghoa tidak bisa menjadi pegawai negeri di kementerian dalam negeri. Mereka tidak boleh memilki tanah yang bisa diolah untuk pertanian, kecuali di Tanggerang. Bilamana berhadapan dengan kasus hukum, mereka hanya bisa masuk ke pengadilan yang menangani kasuskasus pribumi. Walaupun demikian, secara keseluruhan, posisi Tionghoa di Hindia Belanda cukup baik. Masih ada pula harapan bahwa Tiongkok yang kuat akan bisa membantu posisi mereka. Status kaula Belanda juga memungkinkan peranakan untuk menjadi pedagang, juru tulis, pegawai di berbagai institusi dan dokter atau sarjana hukum. Syarat untuk bisa menikmati kehidupan tenang, menurut mereka adalah tidak terlibat dalam kegiatan politik. Terlibat dalam kegiatan politik, dianggap berbahaya, atau hong-hiam. Terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, sebaliknya, merupakan kegiatan terpuji. Cukup banyak peranakan yang terlibat dalam pengembangan organisasi-organisasi sosial peranakan. Kaitan dengan gerakan di Tiongkok terasa masih ada, walaupun lemah. Hubungan kebudayaan dengan Tiongkok tetap dipertahankan. Akan tetapi komitmen untuk mempertahankan kebudayaan Tiongkok termasuk penggunaan bahasa Tionghoa tidak besar. Dalam hal dukungan terhadap Tiongkok, pada umumnya peranakan hanya menunjukkan sikap basa-basi, walaupun kalau ada bencana alam dan ketika Tiongkok diserang Jepang, mereka siap menyumbang. Di lain pihak, peranakan juga tidak merasa merupakan bagian penduduk Indonesia yang mulai menuntut kemerdekaan, seperti yang dinyatakan dalam pemberontakan komunis pada tahun 1926/1927 dan kegiatan nasionalisme pada tahun 1930-an. Tentunya ada pengecualian, yaitu kehadiran sejumlah kecil peranakan yang sudah memiliki kesadaran politik. Mereka sadar bahwa tidak bijaksana ber-orientasi ke Tiongkok bilamana mereka dan keturunannya ingin menetap di Indonesia. Akan tetapi mereka tetap berjumlah kecil dan tidak memperoleh dukungan luas. Pada tahun 1927, sebuah organisasi peranakan yang dinamakan Chung Hua Hui (CHH) didirikan. Nama organisasi ini dalam Mandarin, yang memiliki arti sama dengan Tiong Hoa Hwee Kwan (Perkumpulan Rumah Tionghoa nama dalam bahasa Hokian. Rencana mereka setiap perkumpulan Tionghoa akan memiliki gedung sendiri). Hanya perkataan Kwan, atau gedung/rumah ditiadakan. Orientasi CHH adalah Belanda dan bahasa yang digunakan dalam rapat-rapatnya adalah bahasa Belanda. Hanya ratusan peranakan yang kaya raya bergabung dalam CHH.

6 Pada tahun 1932, sebuah organisasi politik peranakan lain dibentuk, Partai Tionghoa Indonesia. Lagi-lagi, dukungan masa untuk partai ini tidak besar. Akan tetapi PTI berorientasi ke Indonesia, menentang kolonialisme dan mendukung gerakan mencapai Indonesia merdeka, di mana peranakan akan menjadi warga negara Indonesia dengan hak yang sama dengan pribumi. Menjelang masuknya Jepang ke Indonesia pada tahun 1942, PTI bersama para pejuang kemerdekaan nasionalis menuntut Indonesia merdeka sekarang. Siauw Giok Tjhan yang lahir pada tahun 1914 di Surabaya, mengikuti perjuangan ini sebagai anggota PTI. Simpatinya terhadap gerakan kemerdekaan bisa dilihat dari tulisan-tulisannya sebagai seorang wartawan di harian Mata Hari yang diterbitkan di Semarang pada tahun 1930-an juga mendukung gerakan Indonesia Merdeka Sekarang. Jadi jelas bahwa sudah sejak zaman kolonial, bertentangan dengan sikap mayoritas peranakan, Siauw sudah terjun dalam kegiatan politik. Bahkan, ia sudah bersikap anti kolonial dan berkeyakinan bahwa masa depan peranakan berada di Indonesia yang merdeka, bukan Tiongkok. Tentunya sikap Siauw muda ini dianggap oleh masyarakat peranakan tidak ceng-lie (masuk di akal) dan sikap anti kolonial-nya sangat hong-hiam. Setelah Jepang masuk pada tahun 1942, Siauw Giok Tjhan pindah ke Malang di Jawa Timur. Di sana ia berusaha untuk tidak membangkitkan perhatian, karena sebagai wartawan Mata Hari ia menulis banyak artikel anti Jepang, terutama setelah Jepang menyerang Tiongkok pada tahun Zaman pendudukan Jepang dipergunakan oleh Siauw untuk merenungkan dan mempersiapkan perjuangan rakyat Indonesia mencapai kemerdekaan Indonesia. Ia menganggap dirinya bagian yang tidak terpisahkan dari rakyat Indonesia. Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah. Dua hari kemudian Sukarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tibalah kesempatan untuk Siauw berperan dalam memimpin komunitas Tionghoa di masa yang penuh gejolak di masa revolusi dan sesudahnya. Karena sikap a-politis dari sebagian besar komunitas Tionghoa di zaman kolonial, tidak banyak kader politik yang siap tampil ke depan. Siauw yang terlatih dalam kegiatan politik sejak zaman PTI, mulai berkembang sebagai seorang pemimpin yang paling trampil dari komunitas peranakan. Pada waktu itu sebagian besar Tionghoa menginginkan dipulihkannya kembali kekuasaan penjajahan Belanda. Dengan tegas Siauw menekankan bahwa masa depan peranakan sangat berkaitan dengan revolusi Indonesia yang akan menghilangkan kemungkinan dikembalikannya penjajahan Belanda. Untuk menunjukkan bahwa pemikiran ini konkrit, Siauw membentuk Angkatan Muda Tionghoa, sebuah organisasi muda yang militan. Ia ingin menunjukkan ke dunia bahwa Tionghoa di Indonesia tidak hanya berpeluk tangan menunggu revolusi mencapai hasilnya di tempat yang aman. Pada

7 tanggal 9 November 1945, bersama sekelompok pemuda Tionghoa Malang, ia pergi ke Surabaya, yang menjadi medan pertempuran. Keesokan harinya, para pemuda Tionghoa Malang ini bertemu pula dengan beberapa pemuda Tionghoa asal Surabaya yang turut bertempur di pihak rakyat Indonesia. Akan tetapi Siauw menyadari bahwa bertempur di pihak Indonesia sebagai sebuah golongan etnis yang terpisah tidak benar. Para tokoh PTI lainnya pun berpendapat bahwa setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, peranakan harus berintegrasi ke dalam berbagai organisasi politik nasional untuk membangun nasion Indonesia. Berdasarkan kesepakatan ini, Siauw bergabung di dalam Partai Sosialis pada tahun 1946, partai gabungan kedua partai sosialis yang tadinya dipimpin oleh Amir Syarifudin dan Syahrir. Pada tahun yang sama Siauw diangkat oleh Presiden Sukarno menjadi anggota KNIP Komite Nasional Indonesia Pusat yang berfungsi sebagai parlemen sementara. Pada tahun 1947, ia diangkat sebagai menteri negara di kabinet Amir Syarifudin dengan tugas memobilisasi komunitas Tionghoa untuk mendukung Republik Indonesia. Sebelum itu, ia turut berpartisipasi dalam konperensi Inter Asian Relations di New Delhi sebagai wakil Indonesia. Hingga penyerahan kedaulatan penuh ke Indonesia oleh Belanda pada tahun 1949, Siauw tetap menjadi anggota badan Pekerja KNIP dan DPR sementara Indonesia. Setelah kedaulatan penuh, ia pun tetap berada di parlemen, bergabung dengan kelompok Serikat Kerakyatan Indonesia (SKI) yang dipimpin oleh beberapa tokoh Batak. Siauw merasakan solidaritas kelompok ini sebagai kelompok minoritas. Sumbangan utama yang paling menonjol dari Siauw dalam sejarah berkaitan dengan pendekatan dan pemikirannya tentang penyelesaian masalah Tionghoa di Indonesia. Pada tahun 1954, beberapa tokoh peranakan merasa perlu mendirikan sebuah organisasi massa untuk membela kepentingan Tionghoa. Mereka meminta bantuan Siauw. Yang direncanakan adalah pembentukan Baperwatt (Badan Permusyawaratan Warga Negara Turunan Tionghoa). Pada rapat pembentukan organisasi ini yang berlangsung selama dua hari, 12 Maret dan 134 Maret 1954 di Jakarta, Siauw secara aklamasi diangkat sebagai ketua umum. Prestasi Siauw sebagai seorang politikus yang berpengalaman dan memiliki pengetahuan politik praktis karena keterlibatannya dalam revolusi Indonesia, berada di atas semua hadirin rapat pembentukan tersebut. Siauw dengan sangat berpengaruh dan meyakinkan mengubah prinsip pembentukan Baperwatt. Siauw menyatakan bahwa masalah Tionghoa berkaitan dengan perjuangan membangun nasion Indonesia. Banyak tokoh politik, menurutnya, lupa akan tugas penting ini. Mereka lebih mementingkan kepentingan partai-partai politik mereka sebagai batu loncatan untuk memperkaya diri mereka masing-masing dengan memperoleh izin-izin import. Untuk mencapai

8 ini, mereka melahirkan berbagai kebijakan rasis terhadap kelas pedagang Tionghoa yang sudah menjadi warganegara dan menurut UUD memiliki hak dan kewajiban sama dengan para warganegara Indonesia lainnya. Kebijakan-kebijakan rasis ini harus ditentang dengan cara yang positif dan membangun, dengan menyadarkan seluruh rakyat Indonesia bahwa hanya ada satu nasion, bangsa Indonesia, dalam negara Indonesia yang merupakan sebuah negara terbentuk atas dasar nasion. Oleh karena itu, Siauw menandaskan, komunitas peranakan tidak boleh memiliki Baperwatt, organisasi yang hanya terdiri atas warganegara Indonesia keturunan Tionghoa. Yang harus didirikan adalah Baperki, Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia. Konsep rasial yang salah tentang kewarganegaraan Indonesia harus dikoreksi. Oleh karena itu Siauw berkata: mulai besok, ketika kita mendirikan Baperki cabang Jakarta Raya, orangorang asli harus diajak untuk menjadi anggota. Berdasarkan pemikiran inilah, pada waktu cabang Jakarta dibentuk pada tanggal 14 Maret 1954, rekan wartawan Siauw, Sudarjo Tjokrosisworo, diangkat sebagai ketua-nya. Akan tetapi terlambat. Baperki akhirnya tetap dicap sebagai organisasi Tionghoa. Siauw berpendapat bahwa pengelompokan masyarakat atas dasar keturunan ras adalah peninggalan penjajahan Belanda. Jalan keluar yang dicanangkan Baperki adalah integrasi dalam kegiatan politik dan bahu membahu dengan golongan etnis lainnya, membangun masyarakat yang adil dan makmur. Hanya dengan jalan inilah, menurut Siauw, kepentingan Tionghoa akan terlindungi. Pandangan ini didukung sepenuhnya oleh Presiden Sukarno. Akan tetapi, kepentingan politik dan ekonomi dari berbagai pihak di Republik Indonesia menentang dalih ini. Di bawah pimpinan Siauw yang inspirasional dan karismatik, Baperki berkembang sebagai sebuah organisasi massa yang besar dan berpengaruh dalam membela kepentingan Tionghoa. Ia menjadi organisasi massa Tionghoa terbesar dalam sejarah Indonesia. Beberapa tokoh politik dari golongan etnis lain yang menentang rasisme bergaung dalam Baperki. Di antaranya tokoh-tokoh partai-partai politik yang berpengaruh. Akan tetapi, pengelompokan masyarakat peninggalan Belanda lebih kuat dari ajakan Baperki untuk bersama melawan diskriminasi dan ketidak adilan dan membangun nasion Indonesia modern yang demokratis. Salah satu sumbangan penting Siauw dan Baperki-nya dalam sejarah berhubungan dengan ajakan tanpa lelah-nya bahwa Indonesia adalah tanah air Tionghoa di Indonesia, bukan Tiongkok. Ajakan ini menjadi lebih mencolok setelah Penyelesaian Dwi-Kewarganegaraan yang ditandatangani di Jakarta dan Beijing pada tahun 1955, di mana Tionghoa menghadapi kenyataan mereka harus memilih antara kewarganegaraan Tiongkok atau Indonesia. Baperki melangsungkan kampanye besar-besar-an menjelaskan betapa pentingnya Tionghoa memilih kewarganegaraan Indonesia dan menolak kewarganegaraan Tiongkok. Cukup banyak

9 Tionghoa, karena hubungan kebudayaan dengan Tiongkok, memilih kewarganegaraan Tiongkok - pilihan yang kemudian mereka sesali. Pada akhir tahun 1970-an dan 1980-an, mereka berusaha menjadi warganegara Indonesia melalui jalur naturalisasi. Ini menunjukkan betapa tepatnya anjuran Siauw tentang jalan keluar yang harus ditempuh komunitas Tionghoa di Indonesia. Siauw Giok Tjhan menyadari bahwa diskriminasi dan rasisme tidak muncul di saat adanya Social Vacuum kekosongan sosial melainkan merupakan warisan kolonialisme. Di awal pembentukan Baperki, Siauw sering menyatakan harapannya bahwa: harus ada situasi yang tidak memungkinkan rasisme berkembang, sebuah formulasi yang ternyata diterima oleh banyak pihak. Setelah Demokrasi Terpimpin yang dianjurkan Sukarno pada tahun 1959 dilaksanakan, istilah Sosialisme Indonesia menjadi tujuan utama. Kebijakan Baperki, integrasi, dicanangkan sebagai integrasi dalam revolusi pembentukan masyarakat sosialis. Integrasi yang dilaksanakan tanpa menanggalkan latar belakang kebudayaan dan etnisitas Tionghoa. Para musuh Baperki, termasuk beberapa intelektual Katolik melihat perkembangan ini sebagai sesuatu yang berbahaya, karena dianggapnya bisa menuju ke arah terbentuknya masyarakat komunis. Dengan dukungan para perwira Angkatan Darat kanan, mereka mencanangkan konsep asimilasi dan menentang integrasi. Kebijakan asimilasi ini ternyata tidak secara dalam diformulasikan oleh mereka. Praktisnya, mereka hanya menganjurkan ganti nama dan dihilangkannya ciri-ciri etnisitas Tionghoa dari kelompok peranakan. Mereka tidak ingin memaksakan perubahan agama ke agama Islam dan kawin campuran. Program mereka sebenarnya lebih bersifat anti komunis. Gerakan 30 September yang melakukan aksinya pada tanggal 1 Oktober 1965 merupakan permulaan dari hancurnya rezim Demokrasi Terpimpin yang dipimpin oleh Sukarno yang didukung oleh PKI dan Baperki. Posisi Sukarno setelah itu lemah dan pada tanggal 11 Maret 1966, Jendral Suharto melakukan kudeta yang menjatuhkan Sukarno. Suharto kemudian menggantikannya sebagai presiden Indonesia. Berakhirlah kehadiran Baperki sebagai sebuah kekuatan politik. Ia dilarang oleh pemerintah militer. Siauw Giok Tjhan menjadi seorang tahanan politik dan meninggal di Belanda sebagai seorang eksil. Setelah itu kelompok asimilasi memang menang. Akan tetapi ternyata mereka gagal melahirkan seorang pemimpin sekaliber Siauw Giok Tjhan, pemimpin yang memiliki visi politik besar dan pemimpin yang memiliki integritas tinggi. Memang sosok seperti Siauw tidak mungkin bisa lahir di zaman Orde Baru. Yang bisa muncul dan berkembang di zaman itu hanyalah para Cukong. Perjuangan Siauw Giok Tjhan untuk mewujudkan: nasion Indonesia yang sepenuhnya bebas dari diskriminasi rasial dan masyarakat yang bebas

10 dari kekhawatiran diperlakukan sebagai warganegara kelas kambing masih belum tercapai. Ia sendiri memang mengakui bahwa ini adalah sebuah perjuangan yang memerlukan perjuangan teguh yang memakan waktu panjang. Tetapi ia yakin bahwa perjuangan ini pasti akan mencapai kemenangan. Siauw meninggal di universitas Leiden, beberapa saat sebelum ia memberi seminar di mana ia akan mencanangkan keyakinannya bahwa perjuangan mencapai demokrasi di Indonesia akan terwujud. Siauw Giok Tjhan adalah seorang pembangun nasion yang meninggal sebagai seorang patriot, walaupun patriot asing. Ia meninggal sebagai seorang sosialis yang senantiasa berupaya membawa komunitas-nya menjadi bagian tak terpisahkan dari nasion Indonesia tanpa menanggalkan latar belakang kebudayaan dan etnisitas-nya.

G30S dan Kejahatan Negara

G30S dan Kejahatan Negara Telah terbit Buku: G30S dan Kejahatan Negara Catatan Penyunting Pada tanggal 1 Oktober 1965, sekitar pukul 7 pagi, saya bermain catur dengan ayah saya, Siauw Giok Tjhan di beranda depan rumah. Sebuah kebiasaan

Lebih terperinci

PERANAN KOMUNITAS TIONGHOA DALAM PEMBANGUNAN BANGSA

PERANAN KOMUNITAS TIONGHOA DALAM PEMBANGUNAN BANGSA PERANAN KOMUNITAS TIONGHOA DALAM PEMBANGUNAN BANGSA Siauw Tiong Djin Globalization menimbulkan anggapan di benak banyak orang bahwa nation-building (pembangunan bangsa) dan esensi nation tidak lagi relevan.

Lebih terperinci

TOKOH-TOKOH TIONGHOA DALAM REVOLUSI KEMERDEKAAN INDONESIA 1

TOKOH-TOKOH TIONGHOA DALAM REVOLUSI KEMERDEKAAN INDONESIA 1 TOKOH-TOKOH TIONGHOA DALAM REVOLUSI KEMERDEKAAN INDONESIA 1 Bondan Kanumoyoso http://www.nabilfoundation.org/media.php?module=publikasi&id=152 Kamis, 25 November 2010-12:05:57 WIB Tulisan ini menyorot

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Sejarah Indonesia penuh dengan perjuangan menentang penjajahan.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Sejarah Indonesia penuh dengan perjuangan menentang penjajahan. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sejarah Indonesia penuh dengan perjuangan menentang penjajahan. Perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan Indonesia merupakan rangkaiaan peristiwa panjang yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 bukanlah peristiwa yang terjadi begitu saja. Peristiwa tersebut adalah sebuah akumulasi sebuah perjuangan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dalamnya. Untuk dapat mewujudkan cita-cita itu maka seluruh komponen yang

I. PENDAHULUAN. dalamnya. Untuk dapat mewujudkan cita-cita itu maka seluruh komponen yang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perubahan suatu negara untuk menjadi lebih baik dari aspek kehidupan merupakan cita-cita dan sekaligus harapan bagi seluruh rakyat yang bernaung di dalamnya.

Lebih terperinci

Siauw Giok Tjhan. Soe Tjen Marching 1

Siauw Giok Tjhan. Soe Tjen Marching 1 Siauw Giok Tjhan Soe Tjen Marching 1 Siapakah Siauw Giok Tjhan? Berpuluh tahun lamanya saya tidak tahu sama sekali. Mendengar namanya pun saya belum pernah. Karena saya adalah anak Orde Baru. Lahir pada

Lebih terperinci

B A B III KEADAAN AWAL MERDEKA

B A B III KEADAAN AWAL MERDEKA B A B III KEADAAN AWAL MERDEKA A. Sidang PPKI 18 19 Agustus 1945 Proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 hanya menyatakan Indonesia sudah merdeka dalam artian tidak mengakui lagi bangsa

Lebih terperinci

pengalaman putra 'tokoh integrasi' Tionghoa Indonesia pada 1965

pengalaman putra 'tokoh integrasi' Tionghoa Indonesia pada 1965 'Dicina-cinakan' di jalan: pengalaman putra 'tokoh integrasi' Tionghoa Indonesia pada 1965 Endang NurdinBBC Indonesia 27 Oktober 2017 http://www.bbc.com/indonesia/dunia-41738253?ocid=wsindonesia.chat-apps.in-app-msg.whatsapp.trial.link1_.auin

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Politik Indonesia Pada Masa Demokrasi Terpimpin Tahun , penulis

BAB V PENUTUP. Politik Indonesia Pada Masa Demokrasi Terpimpin Tahun , penulis BAB V PENUTUP 1.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian Dampak Nasakom Terhadap Keadaan Politik Indonesia Pada Masa Demokrasi Terpimpin Tahun 1959-1966, penulis menarik kesimpulan bahwa Sukarno sebagi

Lebih terperinci

KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA. Oleh: Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH[1].

KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA. Oleh: Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH[1]. KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA Oleh: Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH[1]. WARGANEGARA DAN KEWARGANEGARAAN Salah satu persyaratan diterimanya status sebuah negara adalah adanya unsur warganegara yang

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. bangsa Indonesia setelah lama berada di bawah penjajahan bangsa asing.

BAB I. PENDAHULUAN. bangsa Indonesia setelah lama berada di bawah penjajahan bangsa asing. BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 yang diucapkan oleh Soekarno Hatta atas nama bangsa Indonesia merupakan tonggak sejarah berdirinya

Lebih terperinci

BAB III STATUS KEWARGANEGARAAN KOMUNITAS CINA DI YOGYAKARTA. A. Dasar Hukum Kewarganegaraan Komunitas Keturunan Cina

BAB III STATUS KEWARGANEGARAAN KOMUNITAS CINA DI YOGYAKARTA. A. Dasar Hukum Kewarganegaraan Komunitas Keturunan Cina BAB III STATUS KEWARGANEGARAAN KOMUNITAS CINA DI YOGYAKARTA A. Dasar Hukum Kewarganegaraan Komunitas Keturunan Cina Pada tahun pertama kemerdekaan Republik Indonesia, Pemerintah belum memperhatikan persoalan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR ISI DAFTAR PUSTAKA DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 BAB II ISI... 4 2.1 Pengertian Sistem Pemerintahan... 2.2 Sistem Pemerintahan Indonesia 1945 s.d.1949...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. didalam Undang-Undang Dasar 1945 Pembukaan alinea pertama Bahwa sesungguhnya

BAB I PENDAHULUAN. didalam Undang-Undang Dasar 1945 Pembukaan alinea pertama Bahwa sesungguhnya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap bangsa di dunia memiliki hak yaitu mendapatkan kemerdekaan, seperti didalam Undang-Undang Dasar 1945 Pembukaan alinea pertama Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Bangsa yang majemuk, artinya Bangsa yang terdiri dari beberapa suku

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Bangsa yang majemuk, artinya Bangsa yang terdiri dari beberapa suku I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan Bangsa yang majemuk, artinya Bangsa yang terdiri dari beberapa suku bangsa, beranekaragam Agama, latar belakang sejarah dan kebudayaan daerah.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemilu 1955 merupakan pemilihan umum pertama dengan sistem multi partai yang dilakukan secara terbuka,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemilu 1955 merupakan pemilihan umum pertama dengan sistem multi partai yang dilakukan secara terbuka, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemilu 1955 merupakan pemilihan umum pertama dengan sistem multi partai yang dilakukan secara terbuka, bebas dan jujur.tetapi pemilihan umum 1955 menghasilkan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bab V, penulis memaparkan kesimpulan dan rekomendasi dari hasil penelitian secara keseluruhan yang dilakukan dengan cara studi literatur yang data-datanya diperoleh

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM

BAB II GAMBARAN UMUM BAB II GAMBARAN UMUM 2.1. Jepang Pasca Perang Dunia II Pada saat Perang Dunia II, Jepang sebagai negara penyerang menduduki negara Asia, terutama Cina dan Korea. Berakhirnya Perang Dunia II merupakan kesempatan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus

I. PENDAHULUAN. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1 I. PENDAHULUAN A.Latar BelakangMasalah Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 banyak sekali permasalahan yang dihadapi oleh Indonesia.Sebagai negara yang baru merdeka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perjuangan kemerdekaan melawan penjajahan telah terjadi sejak kedatangan penjajah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perjuangan kemerdekaan melawan penjajahan telah terjadi sejak kedatangan penjajah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perjuangan kemerdekaan melawan penjajahan telah terjadi sejak kedatangan penjajah Barat di Nusantara. Perjuangan itu berawal sejak kedatangan bangsa Portugis

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Pada bab ini penulis mencoba menarik kesimpulan dari pembahasan yang

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Pada bab ini penulis mencoba menarik kesimpulan dari pembahasan yang BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Pada bab ini penulis mencoba menarik kesimpulan dari pembahasan yang telah dikemukakan. Kesimpulan tersebut merupakan jawaban dari pertanyaanpertanyaan penelitian

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1964 TENTANG PEMBERIAN PENGHARGAAN/TUNJANGAN KEPADA PENRINTIS PERGERAKAN KEBANGSAAN/KEMERDEKAAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1964 TENTANG PEMBERIAN PENGHARGAAN/TUNJANGAN KEPADA PENRINTIS PERGERAKAN KEBANGSAAN/KEMERDEKAAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1964 TENTANG PEMBERIAN PENGHARGAAN/TUNJANGAN KEPADA PENRINTIS PERGERAKAN KEBANGSAAN/KEMERDEKAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa dipandang

Lebih terperinci

Ebook dan Support CPNS Ebook dan Support CPNS. Keuntungan Bagi Member cpnsonline.com:

Ebook dan Support CPNS   Ebook dan Support CPNS. Keuntungan Bagi Member cpnsonline.com: SEJARAH NASIONAL INDONESIA 1. Tanam paksa yang diterapkan pemerintah colonial Belanda pada abad ke-19 di Indonesia merupakan perwujudan dari A. Dehumanisasi masyarakat Jawa B. Bekerjasama dengan Belanda

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan karena terjadinya peristiwa

BAB I PENDAHULUAN. Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan karena terjadinya peristiwa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan karena terjadinya peristiwa bersejarah 10 November 1945 yang dikenal dengan Hari Pahlawan. Pertempuran tiga pekan yang terjadi

Lebih terperinci

Pijar-Pijar Gagasan Soekarno

Pijar-Pijar Gagasan Soekarno Peringatan Hari Lahir Pancasila - 01 Juni 2015 11:20 wib Pijar-Pijar Gagasan Soekarno Faisal Ismail, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta PADA sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Negara eropa yang paling lama menjajah Indonesia adalah Negara Belanda

BAB I PENDAHULUAN. Negara eropa yang paling lama menjajah Indonesia adalah Negara Belanda BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia di jajah oleh bangsa Eropa kurang lebih 350 tahun atau 3.5 abad, hal ini di hitung dari awal masuk sampai berakhir kekuasaannya pada tahun 1942. Negara eropa

Lebih terperinci

BAB IV PENUTUP. identik dengan bacaan-bacaan liar dan cabul yang mempunyai corak realisme-sosialis.

BAB IV PENUTUP. identik dengan bacaan-bacaan liar dan cabul yang mempunyai corak realisme-sosialis. BAB IV PENUTUP Kesimpulan Kemunculan karya sastra Indonesia yang mengulas tentang kolonialisme dalam khazanah sastra Indonesia diprediksi sudah ada pada masa sastra Melayu Rendah yang identik dengan bacaan-bacaan

Lebih terperinci

29. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunadaksa (SDLB-D)

29. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunadaksa (SDLB-D) 29. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunadaksa (SDLB-D) A. Latar Belakang Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara

Lebih terperinci

BAB 7: SEJARAH PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA. PROGRAM PERSIAPAN SBMPTN BIMBINGAN ALUMNI UI

BAB 7: SEJARAH PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA.  PROGRAM PERSIAPAN SBMPTN BIMBINGAN ALUMNI UI www.bimbinganalumniui.com 1. Berikut ini adalah daerah pertama di yang diduduki oleh tentara Jepang... a. Aceh, Lampung, Bali b. Morotai, Biak, Ambon c. Tarakan, Pontianak, Samarinda d. Bandung, Sukabumi,

Lebih terperinci

Sambutan Presiden RI pada Upacara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional, Jakarta, 7 November 2012 Rabu, 07 November 2012

Sambutan Presiden RI pada Upacara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional, Jakarta, 7 November 2012 Rabu, 07 November 2012 Sambutan Presiden RI pada Upacara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional, Jakarta, 7 November 2012 Rabu, 07 November 2012 SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA UPACARA PENGANUGERAHAN GELAR PAHLAWAN

Lebih terperinci

Diskusikan secara kelompok, apa akibat apabila Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diubah. Bagaimana sikap kalian terhadap hal ini?

Diskusikan secara kelompok, apa akibat apabila Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diubah. Bagaimana sikap kalian terhadap hal ini? UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 disusun dalam masa revolusi namun nilai-nilai yang terkandung dalam Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah nilai-nilai yang luhur universal dan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dan peri-keadilan (MPR RI, 2012: 2).

I. PENDAHULUAN. dan peri-keadilan (MPR RI, 2012: 2). 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemerdekaan merupakan hak setiap bangsa untuk terlepas dan terbebas dari tekanan bangsa lain. Hal ini senada dengan isi pembukaan UUD 1945. Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan

Lebih terperinci

yang korup dan lemah. Berakhirnya masa pemerintahan Dinasti Qing menandai masuknya Cina ke dalam era baru dengan bentuk pemerintahan republik yang

yang korup dan lemah. Berakhirnya masa pemerintahan Dinasti Qing menandai masuknya Cina ke dalam era baru dengan bentuk pemerintahan republik yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Republik Rakyat Cina (RRC) adalah salah satu negara maju di Asia yang beribukota di Beijing (Peking) dan secara geografis terletak di 39,917 o LU dan 116,383

Lebih terperinci

RANI PURWANTI KEMALASARI SH.MH. Modul ke: Fakultas EKONOMI DAN BISNIS. Program Studi MANAJEMEN.

RANI PURWANTI KEMALASARI SH.MH. Modul ke: Fakultas EKONOMI DAN BISNIS. Program Studi MANAJEMEN. Modul ke: MATA KULIAH : KEWARGANEGARAAN MODUL 2 NEGARA DAN SISTEM PEMERINTAHAN SUMBER : BUKU ETIKA BERWARGANEGARA, PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI PERGURUAN TINGGI. ( DITERBITKAN OLEH UMB GRAHA ILMU ) Fakultas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Aceh memiliki kedudukan yang sangat strategis sebagai pusat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Aceh memiliki kedudukan yang sangat strategis sebagai pusat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Aceh memiliki kedudukan yang sangat strategis sebagai pusat perdagangan. Aceh banyak menghasilkan lada dan tambang serta hasil hutan. Oleh karena itu, Belanda

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL RIGHTS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL RIGHTS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL RIGHTS (KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA)

Lebih terperinci

Fakta Sejarah Perjuangan. Siauw Giok Tjhan Tidak Bisa Dihapus!

Fakta Sejarah Perjuangan. Siauw Giok Tjhan Tidak Bisa Dihapus! Fakta Sejarah Perjuangan Siauw Giok Tjhan Tidak Bisa Dihapus! Chan Chung Tak Eddie Lembong, mantan ketua INTI dengan tegas mengatakan, Fakta Sejarah Perjuangan Siauw Giok Tjhan, tidak bisa dihapus dari

Lebih terperinci

Peran koran Tionghoa buat Sumpah Pemuda

Peran koran Tionghoa buat Sumpah Pemuda Peran koran Tionghoa buat Sumpah Pemuda Senin, 30 Oktober 2017 06:00Reporter : Rendi Perdana Koran Sin Po. 2017 Merdeka.com/rendi Merdeka.com - Alunan biola di tengah Kongres Pemuda II pada 28 Oktober

Lebih terperinci

BAB V. Kesimpulan. Studi mengenai etnis Tionghoa dalam penelitian ini berupaya untuk dapat

BAB V. Kesimpulan. Studi mengenai etnis Tionghoa dalam penelitian ini berupaya untuk dapat BAB V Kesimpulan A. Masalah Cina di Indonesia Studi mengenai etnis Tionghoa dalam penelitian ini berupaya untuk dapat melihat Masalah Cina, khususnya identitas Tionghoa, melalui kacamata kultur subjektif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. political competition and struggles, in which the media, as institution, take a. position (Kahan, 1999: 22).

BAB I PENDAHULUAN. political competition and struggles, in which the media, as institution, take a. position (Kahan, 1999: 22). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah These approaches and almost all the specific literature on media and politics have in common a view of the media as refelction of the society s political competition

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berat bagi rakyat Indonesia. Sebagai negara yang baru merdeka belum lepas

BAB I PENDAHULUAN. berat bagi rakyat Indonesia. Sebagai negara yang baru merdeka belum lepas BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia menjadi masa yang berat bagi rakyat Indonesia. Sebagai negara yang baru merdeka belum lepas dari incaran negara

Lebih terperinci

KISI-KISI PEDAGOGIK UKG 2015 SEJARAH STANDAR KOMPETENSI GURU KOMPETENSI GURU MATA PELAJARAN/KELAS/KEAHLIAN/BK

KISI-KISI PEDAGOGIK UKG 2015 SEJARAH STANDAR KOMPETENSI GURU KOMPETENSI GURU MATA PELAJARAN/KELAS/KEAHLIAN/BK KISI-KISI UKG 2015 SEJARAH Indikator Pencapaian b c d e 1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual, 1.1 Memahami karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suatu persamaan-persamaan dan berbeda dari bangsa-bangsa lainnya. Menurut Hayes

BAB I PENDAHULUAN. suatu persamaan-persamaan dan berbeda dari bangsa-bangsa lainnya. Menurut Hayes 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Nasionalisme adalah suatu konsep dimana suatu bangsa merasa memiliki suatu persamaan-persamaan dan berbeda dari bangsa-bangsa lainnya. Menurut Hayes (Chavan,

Lebih terperinci

PENGATURAN PERKAWINAN SEAGAMA DAN HAK KONSTITUSI WNI Oleh: Nita Ariyulinda Naskah diterima : 19 September 2014; disetujui : 3 Oktober 2014

PENGATURAN PERKAWINAN SEAGAMA DAN HAK KONSTITUSI WNI Oleh: Nita Ariyulinda Naskah diterima : 19 September 2014; disetujui : 3 Oktober 2014 PENGATURAN PERKAWINAN SEAGAMA DAN HAK KONSTITUSI WNI Oleh: Nita Ariyulinda Naskah diterima : 19 September 2014; disetujui : 3 Oktober 2014 Membentuk suatu keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN PARADIGMA. berbagai cara untuk mencapai apa yang diinginkan. Menurut Pusat Pembinaan

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN PARADIGMA. berbagai cara untuk mencapai apa yang diinginkan. Menurut Pusat Pembinaan 10 II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN PARADIGMA A. Tinjauan Pustaka 1. Konsep Usaha K. H. Abdurrahman Wahid Usaha merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan, dapat pula dikatakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan keanekaragaman etnis, budaya, adat-istiadat serta agama. Diantara banyaknya agama

Lebih terperinci

Sejarah Penjajahan Indonesia

Sejarah Penjajahan Indonesia Sejarah Penjajahan Indonesia Masa penjajahan Indonesia tidak langsung dimulai ketika orang-orang Belanda pertama kali menginjakkan kaki di Nusantara pada akhir abad ke-16. Sebaliknya, proses penjajahan

Lebih terperinci

Pada tanggal 1 September 1945, Komite Sentral dari Komite-komite Kemerdekaan Indonesia mengeluarkan sebuah manifesto:

Pada tanggal 1 September 1945, Komite Sentral dari Komite-komite Kemerdekaan Indonesia mengeluarkan sebuah manifesto: Yusuf Budianto 0906636075 BAB 7-BAB 12 Adanya rencana pembuangan para tahanan Indonesia ke Tanah Merah membuat reputasi Belanda memburuk. Hal ini juga menimbulkan protes keras dari orang Indonesia, apalagi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebelum kedatangan bangsa Belanda, etnis Tionghoa sudah menyebar ke seluruh Nusantara.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebelum kedatangan bangsa Belanda, etnis Tionghoa sudah menyebar ke seluruh Nusantara. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebelum kedatangan bangsa Belanda, etnis Tionghoa sudah menyebar ke seluruh Nusantara. Secara umum etnis Tionghoa adalah orang-orang yang berasal dari Tiongkok. Sebutan

Lebih terperinci

Nasion Indonesia dan Kewarganegaraan Indonesia Oleh: Siauw Tiong Djin

Nasion Indonesia dan Kewarganegaraan Indonesia Oleh: Siauw Tiong Djin Nasion Indonesia dan Kewarganegaraan Indonesia Oleh: Siauw Tiong Djin Sebelum kemerdekaan diproklamasikan, Liem Koen Hian, Tan Ling Djie, Tjoa Sik Ien dan Siauw Giok Tjhan berkali-kali bertemu untuk merumuskan

Lebih terperinci

BAB I MASA AWAL KEMERDEKAAN INDONESIA

BAB I MASA AWAL KEMERDEKAAN INDONESIA BAB I MASA AWAL KEMERDEKAAN INDONESIA Peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Pembentukan BPUPKI (Dokuritsu Junbi Cosakai) Pembentukan PPKI (Dokuritsu Junbi Inkai) Peristiwa Rengasdengklok Perumusan Teks

Lebih terperinci

BAB I PARTAI POLITIK PADA MASA PENJAJAHAN

BAB I PARTAI POLITIK PADA MASA PENJAJAHAN BAB I PARTAI POLITIK PADA MASA PENJAJAHAN Kepartaian yang terjadi di Indonesia, sudah mulai tumbuh dan berkembang sejak masa kolonial Belanda, untuk hal yang menarik untuk disimak dalam buku ini, dimulai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Partai politik merupakan organisasi politik yang dapat berperan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. Partai politik merupakan organisasi politik yang dapat berperan sebagai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Partai politik merupakan organisasi politik yang dapat berperan sebagai penyalur aspirasi masyarakat, dimana partai politik menjadi penghubung antara penguasa

Lebih terperinci

66. Mata Pelajaran Sejarah untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA)

66. Mata Pelajaran Sejarah untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) 66. Mata Pelajaran Sejarah untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) A. Latar Belakang Sejarah merupakan cabang ilmu pengetahuan yang menelaah tentang asal-usul dan perkembangan serta peranan

Lebih terperinci

sherila putri melinda

sherila putri melinda sherila putri melinda Beranda Profil Rabu, 13 Maret 2013 DEMOKRASI YANG PERNAH BERLAKU DI INDONESIA DEMOKRASI YANG PERNAH BERLAKU DI INDONESIA Demokrasi berasal dari kata DEMOS yang artinya RAKYAT dan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Bab ini merupakan bab terakhir dalam penulisan skripsi yang berjudul Kedudukan Opsir Cina dalam Pemerintahan Hindia Belanda di Batavia antara Tahun 1910-1942. Bab ini berisi

Lebih terperinci

KEHIDUPAN POLITIK PADA MASA DEMOKRASI TERPIMPIN

KEHIDUPAN POLITIK PADA MASA DEMOKRASI TERPIMPIN KEHIDUPAN POLITIK PADA MASA DEMOKRASI TERPIMPIN Nama : DIMAS DWI PUTRA Kelas : XII MIPA 3 SMAN 1 SUKATANI 2017/3018 Gagalnya usaha untuk kembali ke UUD 1945 dengan melalui Konstituante dan rentetan peristiwa-peristiwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Demokrasi menjadi bagian bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Demokrasi menjadi bagian bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Demokrasi menjadi bagian bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya untuk mewujudkan kekuasaan warga negara untuk dijalankan oleh pemerintahan

Lebih terperinci

PERISTIWA YANG TERJADI PADA TAHUN

PERISTIWA YANG TERJADI PADA TAHUN PERISTIWA YANG TERJADI PADA TAHUN 1945-1949 K E L O M P O K 1 A Z I Z A T U L M A R A T I ( 1 4 1 4 4 6 0 0 2 0 0 ) D E V I A N A S E T Y A N I N G S I H ( 1 4 1 4 4 6 0 0 2 1 2 ) N U R U L F I T R I A

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tentang dirinya sendiri. Semua usaha yang tidak menentu untuk mencari identitas-identitas

BAB I PENDAHULUAN. tentang dirinya sendiri. Semua usaha yang tidak menentu untuk mencari identitas-identitas BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Revolusi yang menjadi alat tercapainya kemerdekaan bukan hanya merupakan kisah sentral dalam sejarah Indonesia, melainkan unsur yang kuat dalam persepsi bangsa Indonesia

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Nagasaki, Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat pada sekutu pada tanggal 15

1. PENDAHULUAN. Nagasaki, Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat pada sekutu pada tanggal 15 1 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setelah Kota Hiroshima dijatuhi bom atom oleh Sekutu tanggal 6 Agustus 1945, keesokan harinya tanggal 9 Agustus 1945 bom atom kedua jatuh di Kota Nagasaki, Jepang

Lebih terperinci

5. Materi sejarah berguna untuk menanamkan dan mengembangkan sikap bertanggung jawab dalam memelihara keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup.

5. Materi sejarah berguna untuk menanamkan dan mengembangkan sikap bertanggung jawab dalam memelihara keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. 13. Mata Pelajaran Sejarah Untuk Paket C Program IPS A. Latar Belakang Sejarah merupakan cabang ilmu pengetahuan yang menelaah tentang asal-usul dan perkembangan serta peranan masyarakat di masa lampau

Lebih terperinci

Negara Jangan Cuci Tangan

Negara Jangan Cuci Tangan Negara Jangan Cuci Tangan Ariel Heryanto, CNN Indonesia http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160426085258-21-126499/negara-jangan-cuci-tangan/ Selasa, 26/04/2016 08:53 WIB Ilustrasi. (CNN Indonesia)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sekelompok orang yang akan turut serta secara aktif baik dalam kehidupan politik dengan

BAB I PENDAHULUAN. sekelompok orang yang akan turut serta secara aktif baik dalam kehidupan politik dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Permasalahan Partisipasi merupakan aspek yang penting dari demokrasi, partisipasi politik yang meluas merupakan ciri khas dari modernisasi politik. Partisipasi politik

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR Tunas Indonesia Raya TIDAR

ANGGARAN DASAR Tunas Indonesia Raya TIDAR ANGGARAN DASAR Tunas Indonesia Raya TIDAR BAB I NAMA, WAKTU DAN TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 1 1. Organisasi ini bernama TUNAS INDONESIA RAYA disingkat TIDAR, selanjutnya disebut Organisasi. 2. Organisasi ini

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. memberikan kesempatan lebih luas bagi kaum wanita untuk lebih berkiprah maju

I. PENDAHULUAN. memberikan kesempatan lebih luas bagi kaum wanita untuk lebih berkiprah maju 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan babak baru bagi perjuangan rakyat Indonesia

Lebih terperinci

KISI-KISI MATERI PLPG MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA. Standar Kompetensi Guru (SKG) Kompetensi Guru Mata Pelajaran (KD)

KISI-KISI MATERI PLPG MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA. Standar Kompetensi Guru (SKG) Kompetensi Guru Mata Pelajaran (KD) KISI-KISI MATERI PLPG MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA No (IPK) 1 Pedagogik Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, sosial, kultural, emosional, dan intelektual Memahami karakteristik peserta

Lebih terperinci

DEKLARASI UNIVERSAL HAK ASASI MANUSIA 1 MUKADIMAH

DEKLARASI UNIVERSAL HAK ASASI MANUSIA 1 MUKADIMAH DEKLARASI UNIVERSAL HAK ASASI MANUSIA 1 MUKADIMAH Bahwa pengakuan atas martabat yang melekat pada dan hak-hak yang sama dan tidak dapat dicabut dari semua anggota keluarga manusia adalah landasan bagi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemerdekaan Indonesia. Berhubung dengan masih buruk dan minimnya sarana dan prasarana

BAB I PENDAHULUAN. kemerdekaan Indonesia. Berhubung dengan masih buruk dan minimnya sarana dan prasarana BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Setelah Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945 di Jakarta oleh Ir.Soekarno dan Drs.Muhammad Hatta, seluruh tanah air pun menggegap gempita

Lebih terperinci

Daftar Isi Kata Pengantar I Sebuah Imbauan A Sajak-Sajak i Pendirian, Pembangunan dan Perkembangan Ureca Kegiatan Organisasi Kemahasiswaan Ureca

Daftar Isi Kata Pengantar I Sebuah Imbauan A Sajak-Sajak i Pendirian, Pembangunan dan Perkembangan Ureca Kegiatan Organisasi Kemahasiswaan Ureca Daftar Isi Kata Pengantar I Sebuah Imbauan A Sajak-Sajak i Pendirian, Pembangunan dan Perkembangan Ureca Siauw Tiong Djin: Baperki, Ureca Dan Siauw Giok Tjhan 1 Go Gien Tjwan: Riwayat Ureca 39 Dali Santun

Lebih terperinci

Marjinalisasi dan Afirmasi

Marjinalisasi dan Afirmasi PAPUA DAN INDONESIA DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI: Marjinalisasi dan Afirmasi Oleh: Simon P. Morin Seminar Akhir Tahun Tim Kajian Papua P2 Politik LIPI dan Jaringan Damai Papua (JDP) Integrasi Sosial Ekonomi,

Lebih terperinci

SYARAT-SYARAT DAN PENYEDERHANAAN KEPARTAIAN (Penetapan Presiden Nomor 7 Tahun 1959 Tanggal 31 Desember 1959) PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

SYARAT-SYARAT DAN PENYEDERHANAAN KEPARTAIAN (Penetapan Presiden Nomor 7 Tahun 1959 Tanggal 31 Desember 1959) PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SYARAT-SYARAT DAN PENYEDERHANAAN KEPARTAIAN (Penetapan Presiden Nomor 7 Tahun 1959 Tanggal 31 Desember 1959) PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa berhubung dengan keadaan ketatanegaraan di Indonesia,

Lebih terperinci

A. Pengertian Orde Lama

A. Pengertian Orde Lama A. Pengertian Orde Lama Orde lama adalah sebuah sebutan yang ditujukan bagi Indonesia di bawah kepemimpinan presiden Soekarno. Soekarno memerintah Indonesia dimulai sejak tahun 1945-1968. Pada periode

Lebih terperinci

KEWARGANEGARAAN IDENTITAS NASIONAL

KEWARGANEGARAAN IDENTITAS NASIONAL KEWARGANEGARAAN IDENTITAS NASIONAL Identitas nasional Indonesia menunjuk pada identitas-identitas yang sifatnya nasional Bahasa nasional atau bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Bendera negara yaitu

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. permasalahan penelitian yang terdapat pada bab 1. Beberapa hal pokok yang

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. permasalahan penelitian yang terdapat pada bab 1. Beberapa hal pokok yang BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1 Kesimpulan Kesimpulan ini merupakan inti pembahasan yang disesuaikan dengan permasalahan penelitian yang terdapat pada bab 1. Beberapa hal pokok yang menjadi kesimpulan

Lebih terperinci

SILABUS DAN RPP MATA KULIAH SEJARAH INDONESIA BARU PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH S1

SILABUS DAN RPP MATA KULIAH SEJARAH INDONESIA BARU PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH S1 SILABUS DAN RPP MATA KULIAH SEJARAH INDONESIA BARU PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH S1 FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2014 UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS ILMU SOSIAL SILABUS Fakultas

Lebih terperinci

1.PENDAHULUAN. Pemikiran politik modern di Indonesia mulai sejak bangkitnya nasionalisme tahun

1.PENDAHULUAN. Pemikiran politik modern di Indonesia mulai sejak bangkitnya nasionalisme tahun 1 1.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemikiran politik modern di Indonesia mulai sejak bangkitnya nasionalisme tahun 1900 yang diawali dengan munculnya sekelompok mahasiswa yang membentuk perkumpulan

Lebih terperinci

PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN Oleh DANIEL ARNOP HUTAPEA, S.Pd Materi Ke-2 Dinamika Penerapan Demokrasi

PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN Oleh DANIEL ARNOP HUTAPEA, S.Pd Materi Ke-2 Dinamika Penerapan Demokrasi PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN Oleh DANIEL ARNOP HUTAPEA, S.Pd Materi Ke-2 Dinamika Penerapan Demokrasi Undang Undang yang berkaitan dengan Demokrasi a. Dalam Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 (sebelum

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada tahun 1853, dengan kapal perangnya yang besar, Komodor Perry datang ke Jepang. Pada saat itu, Jepang adalah negara feodal yang terisolasi dari negara-negara lainnya

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. pemikiran dua tokoh tersebut, tidak bisa kita lepaskan dari kehidupan masa lalunya yang

BAB V KESIMPULAN. pemikiran dua tokoh tersebut, tidak bisa kita lepaskan dari kehidupan masa lalunya yang BAB V KESIMPULAN Sutan Sjahrir dan Tan Malaka merupakan dua contoh tokoh nasional yang memberikan segenap tenaga dan pikirannya pada masa kemerdekaan. Kajian terhadap pemikiran dua tokoh tersebut, tidak

Lebih terperinci

Rangkuman Materi Ajar PKn Kelas 6 MATERI AJAR

Rangkuman Materi Ajar PKn Kelas 6 MATERI AJAR Rangkuman Materi Ajar PKn Kelas 6 MATERI AJAR Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan Kelas/Semester : VI / I Alokasi Waktu : 6 x 35 Menit Standar Kompetensi 1. Menghargai nilai-nilai juang dalam proses

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu bangsa yang menganut paham demokrasi, didalam

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu bangsa yang menganut paham demokrasi, didalam I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu bangsa yang menganut paham demokrasi, didalam sistem politiknya adanya keanekaragaman politik sangat diakui di negara ini. Hal ini

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MENJADI TUAN DI NEGERI SENDIRI: PERSPEKTIF POLITIK. Dr. H. Marzuki Alie KETUA DPR-RI

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MENJADI TUAN DI NEGERI SENDIRI: PERSPEKTIF POLITIK. Dr. H. Marzuki Alie KETUA DPR-RI DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MENJADI TUAN DI NEGERI SENDIRI: PERSPEKTIF POLITIK Dr. H. Marzuki Alie KETUA DPR-RI Disampaikan Pada Acara Konvensi Kampus VII dan Temu Tahunan XIII Forum Rektor

Lebih terperinci

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Modul ke: DEMOKRASI ANTARA TEORI DAN PELAKSANAANNYA Fakultas TEKNIK Martolis, MT Program Studi Teknik Mesin TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS 1. MENYEBUTKAN PENGERTIAN, MAKNA DAN MANFAAT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan Pancasila dan UUD

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan Pancasila dan UUD BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 mengakui bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan rakyat dan menjadi unsur

Lebih terperinci

Komunisme dan Pan-Islamisme

Komunisme dan Pan-Islamisme Komunisme dan Pan-Islamisme Tan Malaka (1922) Penerjemah: Ted Sprague, Agustus 2009 Ini adalah sebuah pidato yang disampaikan oleh tokoh Marxis Indonesia Tan Malaka pada Kongres Komunis Internasional ke-empat

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Pada bab terakhir dalam penulisan skripsi ini akan dituangkan kesimpulan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Pada bab terakhir dalam penulisan skripsi ini akan dituangkan kesimpulan BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bab terakhir dalam penulisan skripsi ini akan dituangkan kesimpulan dan rekomendasi berdasarkan hasil penelitian mengenai permasalahan yang dikaji dalam skripsi ini,

Lebih terperinci

Keterlibatan Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris. dalam Genosida 65

Keterlibatan Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris. dalam Genosida 65 Keterlibatan Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris dalam Genosida 65 Majalah Bhinneka April 2, 2016 http://bhinnekanusantara.org/keterlibatan-pemerintah-amerika-serikat-dan-inggris-dalam-genosida-65/

Lebih terperinci

2015 PERISTIWA MANGKOK MERAH (KONFLIK DAYAK DENGAN ETNIS TIONGHOA DI KALIMANTAN BARAT PADA TAHUN

2015 PERISTIWA MANGKOK MERAH (KONFLIK DAYAK DENGAN ETNIS TIONGHOA DI KALIMANTAN BARAT PADA TAHUN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Pada sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tanggal 1 Juni 1945, Soekarno tampil dihadapan peserta sidang dengan pidato

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Negarawan merupakan karakter yang sangat penting bagi kepemimpinan nasional Indonesia. Kepemimpinan negarawan diharapkan dapat dikembangkan pada pemimpin pemuda Indonesia

Lebih terperinci

Ajaran Khong Hu Cu : Agama atau Pendidikan Moral?

Ajaran Khong Hu Cu : Agama atau Pendidikan Moral? Ajaran Khong Hu Cu : Agama atau Pendidikan Moral? Ringkasan buku dengan judul KEBUDAYAAN MINORITAS TIONGHOA DI INDONESIA Penulis : Leo Suryadinata Diterjemahkan oleh : Dede Oetomo Penerbit P T Gramedia

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamirkan pada

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamirkan pada BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 menjadi hari bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Peristiwa yang terjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Veygi Yusna, 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Veygi Yusna, 2013 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebijakan politik yang dikeluarkan oleh pemerintah biasanya menimbulkan berbagai permasalahan yang berawal dari ketidakpuasan suatu golongan masyarakat, misalnya

Lebih terperinci

Telah menyetujui sebagai berikut: Pasal 1. Untuk tujuan Konvensi ini:

Telah menyetujui sebagai berikut: Pasal 1. Untuk tujuan Konvensi ini: LAMPIRAN II UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL CONVENTION FOR THE SUPPRESSION OF TERRORIST BOMBINGS, 1997 (KONVENSI INTERNASIONAL PEMBERANTASAN PENGEBOMAN

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. Pertama, mengenai tingkat kehidupan manusia dari masa pra sejarah sampai

BAB V KESIMPULAN. Pertama, mengenai tingkat kehidupan manusia dari masa pra sejarah sampai BAB V KESIMPULAN Pertama, mengenai tingkat kehidupan manusia dari masa pra sejarah sampai masa penjajahan Belanda merupakan hal yang sangat kompleks. Tan Malaka sedikit memberikan gambaran mengenai kondisi

Lebih terperinci

Indikator. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Materi Pokok dan Uraian Materi. Bentuk-bentukInteraksi Indonesia-Jepang.

Indikator. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Materi Pokok dan Uraian Materi. Bentuk-bentukInteraksi Indonesia-Jepang. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Materi Pokok dan Uraian Materi Indikator Bentuk-bentukInteraksi Indonesia-Jepang Dampak Kebijakan Imperialisme Jepang di Indonesia Uji Kompetensi 2. Kemampuan memahami

Lebih terperinci