BAB. VI. PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERTANIAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB. VI. PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERTANIAN"

Transkripsi

1 A. Pendahuluan BAB. VI. PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERTANIAN Sektor pertanian telah dan terus dituntut berperan dalam perekonomian nasional melalui pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), perolehan devisa, penyediaan pangan dan bahan baku industri, pengentasan kemiskinan, penyedia lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat. Selain kontribusi langsung, sektor pertanian juga memiliki kontribusi yang tidak langsung berupa efek pengganda (multiplier effect), yaitu keterkaitan input-output antar industri, konsumsi dan investasi. Dampak tersebut relatif besar sehingga sektor pertanian layak dijadikan sebagai sektor andalan dalam pembangunan ekonomi nasional. Agar penerapan Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK) dapat dioperasionalkan, digunakan PBK dengan instrumen sebagai berikut: 1. Indikator kinerja, merupakan instrumen yang digunakan untuk mengukur kinerja; 2. Standar biaya, adalah satuan biaya yang ditetapkan baik berupa standar biaya masukan maupun standar biaya keluaran sebagai acuan perhitungan kebutuhan anggaran; 3. Evaluasi kinerja, merupakan penilaian terhadap capaian Sasaran Kinerja, konsistensi perencanan dan implementasi, serta realisasi penyerapan anggaran. Selama lima tahun ke depan Kementerian Pertanian telah mencanangkan 4 target utama yaitu (1) Pencapaian Swasembada dan Swasembada berkelanjutan, (2) Peningkatan Diversifikasi Pangan, (3) Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing dan Ekspor, dan (4) Peningkatan Kesejahteraan Petani. Dari ke empat (4) target utama tersebut, target utama ke tiga yakni Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing dan Ekspor adalah target yang menjadi tanggung jawab Ditjen PPHP untuk pencapaiannya. Peningkatan Nilai Tambah; upaya ini akan difokuskan pada dua hal yakni peningkatan kualitas dan kuantitas olahan produk pertanian untuk mendukung peningkatan daya saing dan ekspor. Peningkatan kualitas produk pertanian (bahan mentah dan olahan) diukur dari peningkatan kuantitas produk pertanian yang mendapat sertifikasi jaminan mutu. Pada akhir tahun 2014 semua produk pertanian organik, kakao fermentasi, bahan olah karet (bokar) sudah harus tersertifikasi dengan pemberlakuan sertifikasi wajib. Peningkatan jumlah olahan diukur dari rasio produk mentah dan olahan. Saat ini 80 % produk pertanian diperdagangkan dalam bentuk bahan mentah dan 20 % dalam bentuk olahan. Pada akhir tahun 2014 ditargetkan bahwa 50% produk pertanian diperdagangkan dalam bentuk olahan. Peningkatan Daya Saing, upaya ini akan difokuskan pada pengembangan produk berbasis sumberdaya lokal yang : (1) bisa meningkatkan pemenuhan permintaan untuk konsumsi dalam negeri; dan (2) bisa mengurangi ketergantungan impor (substitusi impor). Ukurannya adalah besarnya pangsa pasar (market share) di pasar dalam negeri dan penurunan net impor. Upaya peningkatan daya saing akan difokuskan pada peningkatan produksi susu yang selama ini impornya mencapai 73% untuk memenuhi kebutuhan domestik. Untuk mengurangi besarnya impor gandum/terigu yang mencapai 6,7 juta ton per tahun akan dikembangkan tepung-tepungan berbasis sumberdaya lokal, yang ditargetkan pada akhir 2014 sudah bisa mensubstitusi 10% impor gandum/terigu. Peningkatan Ekspor; upaya ini akan difokuskan pada pengembangan produk yang punya daya saing di pasar internasional, baik segar maupun olahan, yang kebutuhan di pasar VI - 1

2 dalam negeri sudah tercukupi. Indikatornya adalah pertumbuhan volume ekspor. Sasaran strategis pengembangan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian yang ingin dicapai dalam periode adalah: (1) Meningkatnya kapasitas, kemampuan dan kemandirian petani dan pelaku bisnis lainnya dalam usaha agroindustri, 2) Menurunnya tingkat kehilangan hasil pertanian, Tercapainya kemandirian dan ketahanan pangan dengan harga yang terjangkau, 4) Meningkatnya nilai tambah dan daya saing produk pertanian, 5) Meningkatnya daya serap pasar domestik dan devisa negara dari ekspor produk pertanian, 6) Meningkatnya keragaman produk olahan hasil pertanian, dan 7) Meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani. B. PROGRAM / KEGIATAN TAHUN DIPA Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara a. Sumber Dana Dekonsentrasi Kegiatan pembangunan PPHP tahun 2013 merupakan bagian dari Program dan kegiatan utama Kementerian Pertanian dalam mencapai tujuan dan saran yang telah ditetapkan yaitu Program Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing, Industri Hilir, Pemasaran dan Ekspor Hasil Pertanian. Program tersebut dijabarkan dalam kegiatankegiatan yang sesuai dengan tugas fungsi Eselon II di dalamnya meliputi kegiatan : a) Pengembangan Usaha dan Investasi b) Pengembangan Pengolahan Hasil Pertanian c) Pengembangan Mutu dan Standardisasi Pertanian d) Pengembangan Pemasaran Domestik e) Pengembangan Pemasaran Internasional f) Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Adapun indikator keberhasilan (outcome) dari Program Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing, Industri Hilir, Pemasaran dan Ekspor Hasil Pertanian hingga tahun 2014 adalah sebagai berikut : a) Meningkatnya produk olahan hasil pertanian yang bermutu iuntuk ekspor dan pasar domestic sebesar 5% per tahun b) Meningkatnya net ekspor komoditi segar dan olahan sebesar 15% pertahun c) Meningkatnya jumlah lembaga pemasaran petani dalam rangka penyerapan pasar hasil pertanian di pasar domestic sebesar 5% pertahun. d) Meningkatnya jumlah usaha pengolahan dan pemasaran hasil pertanian sebesar 6% pertahun. b. REALISASI FISIK DAN KEUANGAN : Sampai dengan akhir Desember 2013 Pagu dana Rp ,- Realisasi Keuangan Rp ,-(92,77 %) Realisasi Fisik : 96 % Sisa dana Rp ,- hal ini disebabkan oleh : a). Tidak dimanfaatkannya sebagian dana unuk belanja sewa Resi Gudang, Sebesar Rp ,-karena saat itu petani tidak perlu menyimpan jagung digudang karena harga jagung cukup baik. VI - 2

3 b). Tidak dimanfaatkannya honor nara sumber (belanja Profesi) Rp ,- untuk kegiatan Pengawasan Mutu dan Keamanan pangan OKKPD, karena nara sumber pusat tidak datang. c). Sisanya sebesar Rp ,- merupakan efisiensi penggunaan biaya bahan, perjalanan dan tidak adanya panggilan pusat untuk agenda Nasional seperti kegiatan Sinkronisasi kegiatan PPHP. RINCIAN KEGIATAN PPHP 2013 DI NTB KEGIATAN PENGEMBANGAN MUTU DAN STANDARISASI PENERAPAN DAN PENGAWASAN JAMINAN MUTU DAN KEAMANAN PANGAN 012. PEMBINAAN DAN SERTIFIKASI PANGAN ORGANIK A. SUB SEKTOR TANAMAN HORTIKULTURA I. Latar Belakang Dalam rangka menyediakan produk yang aman dan ramah lingkungan, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian selaku Otoritas Kompeten Pangan Organik, telah melakukan berbagai upaya untuk mengembangkan pertanian organik antara lain melalui penyediaan pedoman-pedoman dari penerapan SNI Sistem Pangan Organik, membina/menyiapkan Lembaga Sertifikasi Organik (LSO), bekerjasama dengan Komite Akreditasi Nasional (KAN) untuk pengawasan LSO dan sebagainya. Kebijakan pengembangan pangan organik juga dapat mengantisipasi kelangkaan pupuk kimia sintetis, mahalnya pestisida kimia sintetis, menghasilkan produk yang aman dikonsumsi dan diproses secara ramah lingkungan. Pada tahun 2013 ini Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian memberikan fasilitasi pengembangan pangan organik melalui dana dekonsentrasi dengan berbagai kegiatan yang masih terkait dengan implementasi sistem pertanian organik. II. Tujuan Untuk memberikan acuan baik kepada petugas Dinas Lingkup Pertanian maupun pemangku kepentingan lain yang terkait dalam melaksanakan kegiatan pembinaan dan sertifikasi organik Tahun Anggaran III. Sasaran Terbinanya Poktan/Gapoktan dalam pengembangan sistem pertanian organik. IV. Hasil Pelaksanaan Kegiatan a. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Pertemuan Pembinaan & Sertifikasi Pangan Organik Tahun Anggaran 2013 bertempat di Hotel Lombok Plaza di Jalan Pejanggik No.8 Mataram. b. Waktu Pelaksanaan VI - 3

4 Waktu Pelaksanaan Pertemuan Pembinaan & Sertifikasi Pangan Organik dilaksanakan dari tanggal 4-6 Juli c. Peserta Peserta Pertemuan Pembinaan & Sertifikasi Pangan Organik seluruhnya berjumlah 15 (lima belas) orang yang berasal dari beberapa kabupaten di NTB yang terdiri dari petugas dan petani/ kelompok tani dengan rincian sebagai berikut : Tabel IV-1. Jumlah Peserta Pertemuan Pembinaan & Sertifikasi Pangan Organik No. Kabupaten Petugas Petani Jumlah (orang) (orang) (orang) Lombok Barat Lombok Timur Sumbawa Jumlah d. Materi Pertemuan Materi yang disampaikan dalam pelaksanaan Pertemuan Pembinaan & Sertifikasi Pangan Organik antara lain : Kebijakan Sistem pangan organik Prinsip prinsip pertanian organik berdasar SNI Sistem kendali internal Penyusunan dokumen sistem mutu Simulasi penerapan sistem kendali internal Rencana tindak lanjut penerapan pada poktan/ gapoktan. e. Nara Sumber Nara sumber dalam kegiatan Pembinaan & Sertifikasi Pangan Organik ini berasal dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Provinsi NTB dan Direktorat Mutu & Standardisasi Ditjen PPHP Kementerian Pertanian. f. Kesimpulan Hasil Pertemuan 1. Dalam rangka menyediakan produk yang aman dan ramah lingkungan, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian selaku Otoritas Kompeten Pangan Organik, telah melakukan berbagai upaya untuk mengembangkan pertanian organik antara lain melalui penyediaan pedomanpedoman dari penerapan SNI Sistem Pangan Organik, membina/menyiapkan Lembaga Sertifikasi Organik (LSO), bekerjasama dengan Komite Akreditasi Nasional (KAN) untuk pengawasan LSO dan sebagainya. 3. Kebijakan pengembangan pangan organik juga dapat mengantisipasi kelangkaan pupuk kimia sintetis, mahalnya pestisida kimia sintetis, menghasilkan produk yang aman dikonsumsi dan diproses secara ramah lingkungan. VI - 4

5 4. Pada tahun 2013 ini Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian memberikan fasilitasi pengembangan pangan organik melalui dana dekonsentrasi dengan berbagai kegiatan yang masih terkait dengan implementasi sistem pertanian organik. 5. Diharapkan pengembangan pertanian organik ini dapat menjadi acuan atau contoh bagi masyarakat yang berminat mengembangkan agribisnis pertanian organik. V. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- ( 99,98 %) Realiusasi Fisik : 100 %) Sisa dana Rp ,-, Alasan dana SIAP : adalah merupakan efisiensi penggunaan dana untuk uang saku peserta. I. Latar Belakang PENGEMBANGAN OKKPD 012. PENGEMBANGAN OKKP-D Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan, Menteri Pertanian berwenang mengatur, membina dan/atau mengawasi kegiatan atau proses produksi pangan dan peredaran pangan segar. Untuk melaksanakan kewenangan tersebut, dipandang perlu untuk membentuk dan mengembangkan lembaga yang menangani keamanan pangan produk segar pertanian dalam hal ini Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Pusat (OKKP-P) dan Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKP-D). Lembaga ini berwenang untuk memberikan apresiasi kepada para produsen/pelaku usaha/gapoktan dan petani yang menjalankan sistem pertanian yang sehat dan aman konsumsi. Dalam sistem kinerjanya lembaga ini menjalankan tugas dan fungsinya secara proporsionai guna mendapatkan jaminan mutu dan aman dikonsumsi bagi konsumen. II. Maksud dan Tujuan Kegiatan a. Maksud Kegiatan Pengembangan sumberdaya manusia pembinaan dan pengawasan mutu dan keamanan pangan; Pengembangan sarana dan prasarana, pembinaan dan pengawasan mutu dan keamanan pangan; Pengembangan mutu dan gizi pangan, standarisasi mutu dan keamanan pangan; Pengembangan sistem keamanan dan pengawasan mutu dan keamanan pangan; Pemasyarakatan sistem mutu dan keamanan pangan; Penyempurnaan sistem dokumen VI - 5

6 b. Tujuan Kegiatan Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman petugas/produsen. Memberikan informasi kepada para petugas/produsen/pelaku usaha/ Gapoktan terhadap manfaat doksistu, audit internal, peningkatan SDM dan penyusunan verifikasi dokumen. Melaksanakan pengawasan mutu dan keamanan pangan hasil pertanian. Melaksanakan kegiatan audit yang ditugaskan OKKP-D dalam rangka registrasi pangan hasil pertanian (MD dan ML) III. Hasil Pelaksanaan Kegiatan : a. Meningkatnya pengetahuan, kemampuan pemahaman peserta sejumlah 130 orang terhadap penyempurnaan doksistu, audit internal dan peningkatan sumber daya manusia. b. Terlaksananya pengujian sampel sebanyak 2 paket. c. Terlaksananya sertifikasi 2 komoditas pertanian TPH. d. Sasarannya terlatihnya 45 orang peserta pertemuan yang terdiri dari petugas dan produsen. IV. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (97,96 %) Realisasi Fisik : 100 % Sisa dana Rp ,- Alasan : Sisa dana ini merupakan efisiensi penggunaan dana perjalanan dan belanja bahan dan belanja pengiriman surat dinas pos surat LAPORANKEGIATAN DAN PEMBINAAN PENGEMBANGAN STANDARISASI 013. SOSIALISASI SNI (TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA) I. Pendahuluan Penerapan SNI sektor pertanian sampai saat ini sebagian besar masih bersifat sukarela, namun penerapannya dapat diwajibkan dengan beberapa pertimbangan yang menyangkut keamanan, keselamatan dan kesehatan. Penerapan wajib tersebut dapat ditetapkan oleh instansi teknis yang terkait dengan memperhatikan kesiapan pelaku usaha dan sarana prasarana pendukung seperti laboratorium dan lembaga sertifikasi. Jika SNI produk pertanian yang telah ditetapkan dapat diterapkan dengan baik, maka ini dapat menjadi keunggulan komparatif bagi produk tersebut, untuk itu pertemuan Sosialisasi SNI juga penting untuk dilaksanakan. II. Maksud dan Tujuan Kegiatan VI - 6

7 a. Maksud Kegiatan Mensosialisasikan SNI kepada peserta agar dapat melaksanakan kegiatan ketentuan SNI dilapangan. b. Tujuan Kegiatan Agar peserta memahami ketentuan SNI pada tanaman Pangan dan hortikultura. Sebagai acuan bagi para pembina dan pengawas mutu agar produk yang dihasilkan pelaku usaha sesuai dengan persyaratan mutu dalam SNI serta dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun standar dan kebijakan selanjutnya. III. Teknis Pelaksanaan Kegiatan a. Ruang lingkup kegiatan, kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk pertemuan dan mengikuti pertemuan yang diselenggarakan oleh Pusat (Sosialisasi SNI) b. Metode Pelaksanaan Metode dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah dengan metode Ceramah yang disampaikan oleh Nara Sumber dan Diskusi. IV. Hasil Kegiatan a. Pertemuan ini dilaksanakan di Hotel Lombok Plaza, di Jalan Selaparang No.8 Cakranegara, pada tanggal Mei 2013 dengan jumlah peserta 35 orang terdiri dari petugas, petani/ pelaku usaha se-ntb dan peserta provinsi. b. Kesimpulan hasil pertemuan; a). SNI adalah dokumen yang disusun secara konsensus oleh panitia teknis atau sub Panitia Teknis, ditetapkan oleh BSN, yang berisikan persyaratan teknis, aturan pedoman atau sifat untuk suatu produk atau proses dan metode produksi dari suatu obyek pengukuran / penilaian untuk dipakai atau digunakan berulang ulang. b). Penerapan standar nasional indonesia diberlakukan secara wajib dan sukarela untuk SNI wajib berkaitan dengan kepentingan keamanan, keselamatan, kesehatan konsumen dan kelestarian lingkungan hidup. Sedangkan yang ersifat sukarela adalah persyaratan yang btidak berkaitan dengan SNI wajib yang didasarkan pada kesadaran sendiri, atau keperluan bisnis. c). SNI dibidang pertanian sangat bermanfaat bagi petani, pelaku usaha, asosiasi komoditas hasil pertanian, perguruan tinggi dan pemerintah baik peneliti maupun pemangku kebijakan. V. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(95,95 %) Realisasi Fisik :100 % Sisa dana Rp ,- VI - 7

8 Alasan : Sisa dana ini adalah merupakan efisiensi penggunaan dana perjalanan dinas Paket meiting luar kota yaitu perjalanan nara sumber/observer dan akomodasi dan konsumsi peserta PENGAWASAN JAMINAN MUTU PENGAWASAN JAMINAN MUTU DAN KEAMANAN PANGAN 011. PENGAWASAN MUTU DAN KEAMANAN PANGAN OKKPD. I. Latar Belakang Dalam rangka memenuhi tuntutan konsumen terhadap produk pertanian yang aman dikonsumsi dan bermutu serta berdaya saing sesuai amanat Perarturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan sehingga Kementerian Pertanian perlu menyiapkan sarana dan prasarananya baik berupa kebijakan, kelembagaan maupun pedoman teknis pendukung lainnya. Sesuai Permentan No. 58/Permentan/OT.140/8/2007 tentang Sistem Standardisasi Nasional di Bidang Pertanian bahwa untuk mendapatkan sertifikat sistem mutu, pelaku usaha dibidang pertanian harus menerapkan Sistem Mutu berdasarkan Sistem HACCP. Bagi pelaku usaha skala kecil, untuk langsung menerapkan sistem HACCP merupakan hal yang berat, untuk itu perlu ada pentahapan dalam penerapan melalui penerapan persyaratan dasar/pre-requisite program GAP, GHP dan GMP. Terkait dengan penerapan program persyaratan dasar tersebut, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Nusa Tenggara Barat menyiapkan beberapa petunjuk teknis yang antara lain petunjuk penerapan sistem jaminan mutu pangan yang baik. II. Maksud dan Tujuan Kegiatan a. Maksud Kegiatan Melakukan bimbingan penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan pangan bagi pelaku usaha pertanian (poktan/gapoktan) pada sektor tanaman pangan dan hortikultura Meningkatkan pemahaman standar sistem jaminan mutu, penyusunan dokumen sistem mutu, penerapannya sampai pada sertifikasi kepada OKKPD b. Tujuan Kegiatan Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman petugas dan produsen/ pelaku usaha pertanian dalam rangka menciptakan mutu dan keamanan pangan. Memberikan informasi kepada produsen/pelaku usaha/kelompok tani/petani tentang manfaat dan dampak dari peningkatkan jaminan mutu produk terhadap pasar dan kesehatan konsumen. Produsen mampu menerapkan secara terpadu system jaminan mutu dan keamanan pangan sejak pra produksi, sampai ke konsumen dengan baik. VI - 8

9 Meningkatkan daya saing dan nilai jual produk. III. Teknis Pelaksanaan Kegiatan a. Ruang Lingkup Kegiatan Pembelian sampel dan sarana penanganan sampel. Melaksanakan pertemuan dalam rangka ekspose hasil pengawasan dan Bimbingan teknis Pengawasan. b. Metode Pelaksanaan Metode pelaksanaan dalam kegiatan Pengawasan Mutu dan Keamanan pangan adalah dengan membeli sejumlah sampel (komoditi pangan/ hortikultura), kemudian melaksanakan pertemuan untuk mengekspose hasil pengawasan yang telah dilaksanakan. c. Tahapan Pelaksanaan 1. Tahap Persiapan Penyusunan Petunjuk Pelaksanaan/Petunjuk Teknis Kegiatan Melaksanakan rapat persiapan dalam rangka perencanaan kegiatan Mempersiapkan bahan/materi pertemuan dan pembinaan lapangan, serta penyusunan SK panitia pertemuan oleh PPK 2. Tahap Pelaksanaan Pengawasan Mutu dan Keamanan Pangan ada beberapa kegiatan yang merupakan inti dari kegiatan ini adalah : Pembelian Sampel dan sarana pengawasan Melaksanakan pertemuan dalam rangka ekspose hasil pengawasan. Mengikuti pertemuan teknis pengawasan, dan bimbingan teknis pengawasan. IV. HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN : a. Pelaku usaha belum sepenuhnya mentaati ketentuan dalam penggunaan pestisida b. Kebersihan lahan usahatani masih ditemukan bekas kemasan pestisida, dimana hal ini melanggar ketentuan persyaratan sertifikasi c. Petani/pelaku usaha belum tertib melakukan pencatatan usaha tani, sehingga menjadi kendala dalam penelusuran d. Perlakuan Pasca Panen terhadap produk belum baik sesuai ketentuan yang berlaku. V. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(89,32 %) Realisasi Fisik : 90 % Sisa dana Rp ,- Alasan : adanya efisiensi penggunaan daana pengambilan sampel, pengujian sampel dan honor praktisi nara sumber. VI - 9

10 1789. PENGEMBANGAN PEMASARAN DOMESTIK PEMANTAUAN PASAR DAN STABILITAS HARGA PEMANTAUAN DAN PENGAMANAN HARGA BERAS/GABAH 011. PEMANTAUAN DAN PENGAMANAN HARGA BERAS/GABAH A. PEMANTAUAN DAN PENGAMANAN HARGA BERAS/GABAH I. Pendahuluan Situasi perberasan saat ini menghadapi beberapa kendala di setiap subsistem, mulai dari kegiatan pra panen sampai dengan pasca panen. Beberapa kendala tersebut diantaranya panjangnya rantai tata niaga sehingga berpengaruh terhadap harga yang diterima petani; tingginya prosentase susut hasil panen yang Dalam rangka mendukung gerakan peningkatan produksi beras nasional (P2BN) 10 juta ton dan implementasi Inpres No. 3 tahun 2012 tentang Kebijakan Perberasan, maka perlu dilakukan upaya pengamanan harga pembelian pemerintah (HPP) dan penanganan pasca panen sampai di tingkat kabupaten/kecamatan agar petani dapat menikmati harga yang menguntungkan dalam menjual gabahnya. Pemasaran merupakan komponen penting selain proses produksi (on farm). Untuk mewujudkan hal tersebut maka diperlukan mencapai 20,51% yang berpengaruh terhadap kuantitas produksi; dan jumlah dan kondisi penggilingan padi yang berpengaruh terhadap kualitas beras yang dihasilkan. II. Maksud dan Tujuan Kegiatan a. Maksud Kegiatan Untuk mengetahui perkembangan harga beras/ gabah di Kab/Kota se NTB b. Tujuan Kegiatan 1) Memberikan pedoman/panduan teknis tentang kegiatan pemantauan dan pengamanan harga gabah/beras 2) Meningkatkan peran kelembagaan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan kelembagaan tani lainnya dalam rangka pemasaran gabah/beras. 3) Mendorong dan memfasilitasi pemasaran gabah/beras petani dengan stakeholder pemasaran dan Perum BULOG untuk pemenuhan stok beras nasional melalui nota kesepahaman (MOU) sehingga upaya pengamanan harga dapat dilaksanakan. III. Teknis Pelaksanaan Kegiatan a. Ruang Lingkup Kegiatan Ruang lingkup kegiatan Pemantauan dan Pengamanan Harga Gabah/Beras adalah : a) Identifikasi Gapoktan/Poktan/KTNA/penggilingan padi yang belum bermitra dengan Perum BULOG. b) Pemantauan harga gabah/beras petani secara berkala. c) Pemasaran gabah/beras hasil produksi petani pada tingkat harga yang layak yang menguntungkan petani. d) Pemenuhan stok beras nasional pada tingkat yang aman. e) Fasilitasi pertemuan koordinasi di tingkat Propinsi. VI - 10

11 b. Metode Pelaksanaan Kegiatan Pemantauan dan Pengamanan Harga Gabah/Beras, dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi penerima dana dekonsentrasi. c. Cara Pelaksanaan Dilaksanakan dalam bentuk pertemuan/rapat koordinasi dan menghasilkan nota kesepakatan (MOU) antara Gapoktan/Poktan dengan Perum BULOG. IV. HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN A. Tujuan dan Sasaran T u j u a n 1. Meningkatkan peran kelembagaan Gapoktan dan kelembagaan tani lainnya dalam rangka pemasaran gabah/beras; 2. Mendorong dan memfasilitasi pemasaran gabah/beras petani dengan stakeholder pemasaran dan Perum BULOG untuk pemenuhan stok beras nasional melalui nota kesepahaman sehingga upaya pengamanan harga dapat dilaksanakan; 3. Mengupayakan koordinasi yang sinergis antara petani/gapoktan dan stakeholder terkait dengan Pemerintah (Dinas Pertanian dan Divre Perum BULOG) dalam upaya peningkatan pemasaran gabah/beras petani. S a s a r a n Sasaran Kegiatan ini adalah petani/poktan/gapoktan dan penggilingan Padi/ Perpadi yang ada di Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Sumbawa. B. Pelaksanaan 1). Waktu dan Tempat Pertemuan dalam rangka Pemantauan dan Pengamanan Harga Beras/Gabah dilaksanakan sebanyak 2 kali pada lokasi yang berbeda. Pertemuan pertama dilaksanakan di Kabupaten Lombok Tengah pada Tanggal 1 April 2013, dan kedua dilaksanakan di Kabupaten Sumbawa pada Tanggal 2 April Pada masing-masing lokasi dilaksanakan selama 1 hari 2). P e s e r t a Peserta yang hadir dalam pertemuan ini berasal dari petani/gapoktan, penggilingan padi beberapa stake holder yang terkait antara lain BRI, Bank NTB, Badan Ketahanan Pangan, Biro Statistik, Bulog, dan Perpadi, yang seluruhnya pada masing-masing lokasi/ kabupaten berjumlah 50 orang. 3). Bahan/ Materi Bahan/ materi yang disajikan/ dibahas dalam Pertemuan Pemantauan dan Pengamanan Harga Beras/Gabah ini antara lain adalah : Program Pengembangan Tanaman Pangan (Padi) di NTB. Program Pengembangan Produksi Padi di Kabupaten Lombok Tengah & Sumbawa VI - 11

12 Peran Bulog dalam Penyerapan Gabah/Beras di NTB. 4). Konsumsi, dan Transportasi Untuk mendukung kegiatan ini, biaya konsumsi dan transportasi bagi peserta selama kegiatan berlangsung ditanggung panitia. C. Rumusan Hasil Pertemuan Berdasarkan hasil pertemuan yang dilakukan di 2 lokasi yaitu kabupaten Lombok Tengah dan Sumbawa maka dapat disampaikan beberapa hasil/kesepakatan sebagai berikut : 1. Pertemuan yang dilakukan di Kabupaten Lombok Tengah dihadiri oleh kepala Dinas Pertanian & Peternakan Kab.Lombok Tengah, Bulog Divre NTB, Kantor Satistik, Badan Ketahanan Pangan, sedangkan di Kabupaten Sumbawa dihadiri oleh Sekretaris Dinas, Bulog Sub Divre Sumbawa, Bank NTB Cabang Sumbawa, Penyuluh Pertanian, BKP Kabupaten Sumbawa, Statistik dan Gapoktan. 2. Pertemuan merupakan upaya dalam meningkatkan penyerapan Bulog kepada petani dengan meningkatkan peran Gapoktan dalam menyediakan gabah/beras melalui kerjasama pemasaran antara Bulog dan Gapoktan. 3. Gapoktan di Kabupaten Lombok Tengah cukup antusias terhadap pertemuan ini mengingat selama ini petani/gapoktan kurang mendapatkan informasi terhadap pemasaran beras/gabah ke Bulog, demikian juga terhadap harga yang sebenarnya ditingkat petani dan penggilingan padi. 4. Untuk memantapkan terhadap kerjasama antara Bulog dan Gapoktan dalam pengadaan dan pemasaran gabah/beras perlu adanya pertemuan lebih lanjut yang lebih jelas pada waktu yang akan datang. 5. Kerjasama ini perlu dipertimbangkan agar petani/gapoktan mendapatkan keuntungan yang wajar dan transparan sehingga petani tidak merasa dirugikan. 6. Dalam kerjasama ini harga yang disepakati adalah sesuai dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) pada Inpres Nomor 3 Tahun 2012, yaitu Gabah GKP dengan persyaratan kadar air maximum 25% dan kadar hampa/kotoran maximum 10% adalah sebesar Rp.3.300,- per Kg di petani atau Rp.3.500,-/ kg di penggilingan, sedangkan gabah GKG dengan kadar air maksimum 14% dan kadar hampa/kotoran maksimum 3% sebesar Rp.4.150,-/kg di penggilingan dan Rp ,-/kg di gudang Perum Bulog. Untuk Beras dengan derajat sosoh minimum 95% adalah sebesar Rp.6.600,- / kg di Gudang Perum Bulog. 7. Pada saat harga gabah/beras mengalami kenaikan umumnya petani lebih cenderung menjual kepada pembeli di pasaran umum melalui pedagang pengumpul atau saudagar yang mencari gabah/beras di lapangan. 8. Gapoktan yang diharapkan dalam kerjasama ini adalah gapoktan yang telah maju dan mampu malakukan manajemen yang baik sehingga diharapkan akan dapat melakukan kerjasama dengan Bulog secara baik dan berkelanjutan. Dengan kerjasama ini diharapkan Bulog dapat membantu petani dalam memasarkan gabah/berasnya dengan harga yang menguntungkan. 9. Disamping untuk membantu petani kerjasama ini juga diharapkan akan membantu Perum Bulog dalam memenuhi stok pangan di NTB sesuai dengan target pembelian yang telah ditentukan sebagai cadangan pangan agar daerah VI - 12

13 NTB tidak mengalami kekurangan pangan pada saat musim kemarau. 10. Dengan adanya kerjasama ini maka sasaran akhir dari pertemuan ini adalah akan terjadinya stabilisasi harga gabah/beras guna mendukung program surplus beras 10 juta ton pada tahun Untuk pertemuan di Kabupaten Sumbawa yang dilaksanakan pada Tanggal 2 April 2013 di Kantor BBU Padi Sering, dihadiri oleh Gapoktan cukup antusias, namun petani/gapoktan melihat bahwa sesuai dengan HPP yang ada saat ini masih jauh dibawah harga pasaran umum sehingga petani/gapoktan kurang tertarik untuk melakukan kerjasama dengan Bulog dan kegiatan seperti ini sudah sering diinformasikan oleh Bulog kepada petani/gapoktan. 12. Untuk petani gapoktan seperti yanga ada di Kecamatan Alas akan mengalami permasalahan pada saat musim hujan karena keterbatasan gudang tempat penyimpanan, sehingga dalam hal ini petani dalam perteman ini meminta kepada Bulog untuk membantu menyediakan sarana lantai jemur. 13. Untuk permodalan gapoktan dalam pertemuan ini yang dihadiri oleh Pihak Bank NTB dan BRI bersedia untuk membantu dalam memberikan kredit untuk lantai jemur dengan mengajukan proposal. 14. Dari kedua pertemuan dalam rangka pemantauan dan pengamanan harga gabah/beras ini untuk meningkatkan penyerapan dan stabilisai harga beras/gabah maka telah ada beberapa kesepakatan antara Bulog dan Gapoktan sebagai hasil tindak lanjut sehingga telah ditandatangani MoU kesepakatan pada Tanggal 30 April 2013 di Kantor Bulog Provinsi NTB yaitu : Gapoktan Ombe Baru Gapoktan Tunas Jaya Gapoktan Serumpun Gapoktan Karya Baru 15. Adapun isi hasil kesepakatan tersebut menyangkut kerjasama dalam hal sebagai berikut : Peningkatan produktivitas dan kualitas gabah/beras yang dihasilkan oleh Gapoktan/Kelompok Tani Meningkatkan pengadaan gabah/beras untuk stok pangan dan cadangan beras pemerintah (CBP) di Provinsi NTB Mengikutsertakan gapoktan/kelompok tani dan penggilingan padi kecil sebagai mitra kerja pengadaan Perum BULOG Divre NTB 16. Dengan adanya kerjasama bebrapa gapoktan ini maka diharapkan akan menjadi motivasi kepada gapoktan yang lain yang untuk ikut melakukan kerjasama terutama dalam mengatasi fluktuasi harga yang terlalu tinggi. 17. Kegiatan seperti ini diharapkan kepada pemerintah pusat dalam hal ini Ditjen PPHP untuk selalu memfasilitasi setiap tahun agar gapoktan lebih berkembang dalam pemasaran gabah/beras melalui Perum Bulog. D. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil pertemuan pemantauan dan pengamanan harga gabah/beras yang dilakukan di Kabupaten Lombok Tengah dan Sumbawa maka dapat diambil beberapa kesimpulan dan saran sebagai berikut : Kesimpulan VI - 13

14 1. Petemuan Pemantauan dan Pengamanan Harga Gabah/Beras yang dilaksanakan di Kabupaten Lombok Tengah dan Sumbawa telah mampu memberikan informasi tentang sistem pemsaran gabah/beras yang dilakukan oleh Perum BULOG. 2. Dengan pertemuan ini petani telah dapat mengetahui harga gabah/beras sesuai dengan mutu/kualitas berdasarkan Harga Pembelian Pemerintah sesuai Inpres Nomor 3 Tahun S a r a n 1. Untuk pengembanagn kerjasama Gapoktan dengan BULOG perlu dilakukan pertemuan pada wilayah kabupaten yang lain di NTB. 2. Dalam upaya meningkatkan stabilitas harga gabah / beras maka informasi harga gabah yang ditetapkan melalui Inpres No. 3 tahun 2012 perlu disosialisasikan kepada petani agar harga tidak dipermainkan oleh para pedagang perantara atau saudagar. V. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-100 %) Realisasi Fisik : 100% Sisa dana : - I. Pendahuluan PENGEMBANGAN INFORMASI PASAR PENGEMBANGAN PIP AGRIBISNIS 011.PIP DI PROVINSI A. PIP DI PROVINSI Kegiatan Pelayanan Informasi Pasar (PIP) secara umum telah dilaksanakan sejak awal tahun 1970 (sistem mingguan), yang pada saat itu dikoordinir oleh masing-masing Direktorat Bina Usaha Tani, di setiap Direktorat Jenderal, Departemen Pertanian. Dalam kegiatan ini, data harga dikumpulkan dan dikirimkan ke Pusat Data secara mingguan melalui surat/pos, dengan tujuan untuk melalukan pendataan secara statistik. Pada tahun 1979 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan ulai melaksanakan PIP sistem harian yang mencakup sebagian besar komoditas tanaman pangan dan hortikultura, dengan tujuan untuk memberikan informasi harga secara harian kepada para pelaku pasar melalui Radio. Sampai dengan tahun 1999 kegiatan ini sudah teralokasi di 27 propinsi, tetapi dengan terjadinya reorganisasi di tingkat Departemen Pertanian pada tahun 2000, kegiatan PIP di tingkat pusat tidak dapat terlaksana 5 secara optimal, meskipun pelaksanaan di daerah masih berjalan seperti semula. II. Tujuan dan Sasaran Kegiatan a. Tujuan kegiatan: Menciptakan Sistem Pelayanan Informasi Pasar yang akurat, cepat, kontinyu, dan up to date (terkini) dapat dipercaya agar langsung dapat dimanfaatkan oleh pengguna informasi Menyamakan persepsi dan koordinasi dalam pelaksanaan Pelayanan Informasi Pasar secara nasional, regional maupun lokal Meningkatkan dan mengembangkan kemampuan petugas Pelayanan Informasi VI - 14

15 Pasar dalam mengakses informasi dan pelayanan terhadap masyarakat agribisnis. b. Sasaran : Petugas PIP di Provinsi dan kabupaten III. Pelaksanaan Kegiatan Metode yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah kunjungan ke produsen, pedagang grosir maupun pengecer untuk memperoleh data harga di tingkat petani, grosir maupun pengecer. Pelaksana Kegiatan, Pelaksana kegiatan ini adalah Seksi Pemasaran Hasil dan Mutu Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Provinsi NTB. IV. Hasil Kegiatan 1. Petugas PIP setiap bulan mengentri data perkembangan harga di pasar induk mandalika yaitu sebagai berikut : Tabel VI-2. Rekapitulasi Harga Pedagang Eceran Komoditi Pangan Tahun 2013 Tabel VI-3. Rekapitulasi Harga Grosir Komoditi Tanaman Pangan Tahun 2013 VI - 15

16 Tabel VI-4. Rekapitulasi Harga Eceran Komoditi Hortikultura Tahun 2013 VI - 16

17 Tabel VI-5. Rekapitulasi Harga Grosir Komoditi Hortikultura Tahun 2013 VI - 17

18 2. Penyebaran Informasi Pasar melalui Media Masa (Koran Suara NTB) diterbitkan satu kali dalam satu minggu yaitu setiap hari Selasa. Minimnya sosialisasi informasi pasar ini diakibatkan oleh dana yang kurang mendukung. 3. Penyusunan Buletin informasi pasar ini dilaksanakan setiap triwulan, yaitu triwulan I, triwulan II, triwulan III dan triwulan IV. Adapun yang diekspose adalah harga bahan pangan dan sayuran pokok seperti Beras, Jagung, Kedelai, Kacang tanah, Kacang hijau, Ubi kayu, Bawang merah, Cabai dan Tomat. Data tersebut direkapitulasi berdasarkan laporan dari petugas PIP kabupaten. 4. Mengikuti pertemuan PIP tingkat Pusat, Workshop anailisis Pasar, Pertemuan Koordinasi Petugas PIP telah dilaksanakan sesuai dengan panggilan Pusat. Melaksanakan pembinaan di Kabupaten Pulau Lombok. V. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (99,71 %) Realisasi Fisik : 100 % Sisa dana Rp ,- Alasan, adanya efisienasi penggunaan dana penyebaran informasi pasar melalui media masa PIP. KABUPATEN VI - 18

19 I. Pendahuluan Kegiatan Pengembangan PIP Agribisnis di Kabupaten adalah merupakan kegiatan untuk menyediakan informasi harga tingkat kabupaten yang cepat, akurat, kontinyu dan up to date. Kegiatan PIP Agribisnis Kabupaten yang ada di Provinsi NTB ada pada 8 Kabupaten (Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu dan Bima). II. Tujuan dan Sasaran Kegiatan a. Tujuan kegiatan: Menciptakan Sistem Pelayanan Informasi Pasar yang akurat, cepat, kontinyu, dan up to date (terkini) dapat dipercaya agar langsung dapat dimanfaatkan oleh pengguna informasi Menyamakan persepsi dan koordinasi dalam pelaksanaan Pelayanan Informasi Pasar secara nasional, regional maupun lokal Meningkatkan dan mengembangkan kemampuan petugas Pelayanan Informasi Pasar dalam mengakses informasi dan pelayanan terhadap masyarakat agribisnis. b. Sasaran : Petugas PIP di Provinsi dan kabupaten III. Pelaksanaan Kegiatan 1. Metode pelaksanaan Metode yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah kunjungan ke produsen, pedagang grosir maupun pengecer untuk memperoleh data harga di tingkat petani, grosir maupun pengecer. Adapun hal-hal yang menyangkut kegiatan yang dilaksanakan di Kabupaten adalah sebagai berikut : o Insentif Petugas PIP Petugas PIP Kabupaten ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Provinsi NTB. Insentif diberikan terhadap Petugas pengumpulan/ rekapitulasi data harga harian tingkat grosir maupun eceran melalui SMS serta mengirim data harga ini dilakukan setiap hari dan untuk pelaporan dilakukan secara berkala yaitu mingguan, bulanan dan tahunan dalam bentuk laporan ke provinsi dan pusat. Selain melaksanakan tugas tersebut di atas Petugas PIP juga melakukan tabulasi/pengolahan data informasi pemasaran berupa data harga, supply dan demand dan data pendukung lainnya yang terkait dengan pemasaran. o Kegiatan operasional lainnya Antara lain berupa penyusunan data base informasi pemasaran di sentra produksi seperti data analisa usaha tani dan analisa biaya pemasaran yang berupa jenis komoditas, luas tanam, luas panen, produksi/ tonase, jadwal panen, jumlah penduduk, konsumsi perkapita, pengusaha pemasaran, domestik masuk/keluar, dan data-data lain yang terkait dengan harga pasar. o Perjalanan VI - 19

20 Dana perjalanan yang tersedia digunakan oleh petugas untuk mengikuti pertemuan PIP, pengumpulan data informasi pemasaran, pengumpulan data analisa usaha tani dan biaya pemasaran serta data-data lainnya yang terkait dengan pelayanan informasi pasar IV. Hasil Pelaksanaan Kegiatan 1. Petugas PIP Kabupaten setiap bulannya mengirim 3 jenis data informasi harga yaitu harga produsen (petani), pengumpul (grosir) dan eceran pada 2 komoditas yaitu tanaman pangan dan hortikultura. 2. Mengikuti pertemuan koordinasi PIP tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Pusat. V. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(100 % Realisasi Fisik : 100 % Sisa dana : LAPORAN KEGIATAN DAN PEMBINAAN OPTIMALISASI SARANA DAN KELEMBAGAAN PASAR DOMESTIK 011. FASILITASI SARANA PEMASARAN HASIL PERTANIAN I. Latar Belakang Dalam upaya meningkatkan kembali peran Pasar Tani dan STA sebagai sarana dan kelembagaan pemasaran bagi petani serta menguatkan kelembagaan Poktan PHP, disusun Pedoman Teknis Fasilitasi Sarana dan Kelembagaan Pemasaran Hasil Pertanian Tahun 2013 sebagai landasan dalam pelaksanaan kegiatan Pengawalan dan Pengembangan/Revitalisasi Pasar Tani, Pengawalan dan Optimalisasi Pengelolaan STA serta Fasilitasi Pemasaran untuk Poktan/Gapoktan yang telah dikembangkan di berbagai daerah baik di Tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota. II. Tujuan dan Sasaran a. Tujuan Tujuan diterbitkannya Pedoman Teknis Fasilitasi Sarana dan Kelembagaan Pemasaran Hasil Pertanian Tahun 2013 adalah : Sebagai landasan kerja dan implementasi Kegiatan Pengembangan Sarana dan Kelembagaan Pemasaran Hasil Pertanian (Pasar Tani, STA dan Poktan PHP). Meningkatkan operasionalisasi Pasar Tani dan STA serta menguatkan kelembagaan Poktan PHP sebagai sarana dan kelembagaan pemasaran bagi petani/poktan/gapoktan. Meningkatkan peran Kelembagaan Pasar Tani dan STA serta Poktan PHP dalam pemasaran hasil pertanian. b. Sasaran VI - 20

21 Sasaran yang diharapkan dengan diterbitkannya Pedoman Teknis Fasilitasi Sarana dan Kelembagaan Pemasaran Hasil Pertanian Tahun 2013 ni adalah : Meningkatnya peran Pasar Tani, STA dan Poktan PHP sebagai sarana dan kelembagaan pemasaran produk pertanian secara langsung kepada konsumen. Meningkatnya aktifitas pemasaran produk pertanian melalui Pasar Tani, STA dan Poktan/Gapoktan. Terbangunnya kelembagaan pemasaran bagi petani (Pasar Tani, STA dan Poktan PHP) yang mandiri. Meningkatnya usaha dan pemasaran hasil pertanian melalui Pasar Tani, STA dan Poktan/ Gapoktan. III. Hasil Pelaksanaan Kegiatan 1. Pendampingan, dalam rangka operasionalisasi Pasar Tani, ada empat orang tenaga pendamping ( Site Manajer) yaitu di Aspartan Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Timur dan Sumbawa. Pendampingan ini merupakan tenaga profesional sebagai pendamping (site manager) yang secara intensif membantu manajemen kelembagaan pengelola Pasar Tani/Aspartan dan poktan/gapoktan peserta Pasar Tani. Petugas ini setiap bulan membuat laporan pelaksanaan pendampingan. 2. Operasional Kegiatan Pasar Tani Operasional Kegiatan Pasar Tani merupakan anggaran yang disediakan untuk membantu kegiatan Pasar Tani, yang dapat diberikan setiap bulan/pada periode tertentu yang diserahkan kepada pengelola Pasar Tani untuk membantu operasionalisasi Pasar Tani baik dalam pelaksanaan kegiatan Pasar Tani yang dilakukan secara rutin maupun pada event tertentu/insidentil. Ada 4 Kabupaten yang mendapat anggaran tersebut yaitu : Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Timur dan Kab. Sumbawa. Dana operasional ini dipergunakan untuk kegiatan bongkar pasang Kegiatan kegiatan Pasar Tani, dengan biaya Rp ,-/ bulan / Kabupaten. 3. Bimbingan Teknis/Pelatihan/Temu Usaha Bimbingan teknis, pelatihan dan temu usaha dilakukan oleh tenaga pendamping (site manager) yang telah ditunjuk maupun oleh Instansi/Dinas terkait. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan pengelola Pasar Tani serta petani/poktan/gapoktan anggota Pasar Tani sehingga mampu melaksanakan manajemen usaha dan bisnis kelompok serta pengembangan usaha dan jaringan pemasaran. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk pertemuan yang diberi nama : Pertemuan Fasilitasi Sarana Pemasaran Hasil Pertanian. a. Tujuan dan Sasaran Adapun tujuan dari kegiatan pertemuan fasilitasi sarana pemasaran hasil pertanian ini Mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan operasional pasar tani. Untuk memperoleh masukan dan informasi terhadap kegiatan yang telah berjalan guna penyempurnaan kegiatan pasar tani pada masa yang akan datang. VI - 21

22 Sasaran Kegiatan ini adalah petugas dinas pertanian dan pengurus serta anggota pasar tani yang ada di Kota Mataram, Lombok Timur, Lombok Barat dan Sumbawa. b. Pelaksanaan a) Waktu dan Tempat Pertemuan Fasilitasi Sarana Pemasaran Hasil Pertanian ini dilaksanakan selama 1 hari yaitu Tanggal 26 Maret 2013 di Kantor Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Nusa Tenggara Barat Jalan Pejanggik No. 10 Mataram. b) P e s e r t a Peserta Pertemuan Fasilitasi Sarana Pemasaran Hasil Pertanian ini adalah Petugas yang menangani kegiatan pasar tani, Pengurus dan anggota, serta site manajer pasar tani yang ada di Kota Mataram, Kabupaten Lombok Timur, Lombok Barat dan Sumbawa dengan jumlah peserta keseluruhan 20 orang. c) M a t e r i Materi yang disajikan/ dibahas dalam Pertemuan Fasilitasi Sarana Pemasaran Hasil Pertanian ini adalah sebagai berikut: Kebijakan Pemasaran Hasil Pertanian Evaluasi Perkembangan kegiatan pasar tani selama tahun 2012 serta permasalahan yang dihadapi. Rencana kegiatan pasar tani Tahun 2014 Diskusi d) Konsumsi dan transportasi Selama kegiatan berlangsung panitia hanya menanggung konsumsi dan biaya transportasi. c. Rumusan Hasil Pertemuan Berdasarkan dari hasil pemaparan dan diskusi pada Pertemuan Koordinasi Pasar tani yang dilaksanakan selama satu hari ini dapat dirumuskan beberapa hasil sebagai berikut : 1. Pertemuan Fasilitasi Sarana Pemasaran Hasil Pertanian dihadiri oleh petugas Dinas Pertanian dari provinsi, kabupaten/kota, semua pengurus Pasar Tani/Aspartan dari 4 kabupaten/kota serta beberapa anggota kelompok tani/gapoktan serta site manajer. 2. Kegiatan pasar tani pada 4 kabupaten/kota secara operasional masih berjalan, meskipun masih banyak hambatan seperti kurangnya dukungan dari kabupaten/kota dalam hal lokasi, dana maupun peningkatan SDM. 3. Bahwa untuk kegiatan operasional pasar tani dalam meningkatkan volume transaksi sesuai dengan arahan Bapak Direktur Pemasaran Domestik dapat dilakukan diluar tenda pasar tani. 4. Bahwa tahun 2013 ini diharapkan dukungan pemerintah kabupaten /kota untuk dapat mengusulkan anggaran kegiatan dalam pengembangan pasar VI - 22

23 tani baik untuk modal, peningkatan SDM maupun sarana pendukung. 5. Untuk Kabupaten Sumbawa sesuai dengan produk yang dipasarkan berupa produk buah dan sayuran, maka dalam pelaksanaannya perlu direncanakan jadwal komoditas sesuai dengan lokasi, produk dan mitra yang ikut terlibat dalam pasar tani. 6. Untuk program pasar tani kedepan diharapkan untuk menuangkan dalam perencanaan terutama kegiatan kebutuhan rutin masyarakat dan pengembangan pasar tani melalui outlet yang didukung dengan pengadaan kendaraan Roda 3 yang diadakan Tahun 2013, seperti beras untuk pegawai dapat ditangani pasar tani, atau pembukaan outlet pada kecamatankecamatan yang berpotensi, atau mengadakan kemitraan dengan perhotelan/restoran. 7. Untuk pasar tani Kota Mataram perlu dipikirkan komoditas andalan yang mendukung situasi kota seperti produk olahan/kuliner 8. Untuk kebutuhan pasar tani pada tahun 2014 sesuai dengan peluang dan kondisi maka dapat diusulkan proposal ke Ditjen PPHP melalui e-proposal. 9. Kepada semua pasar tani diharapkan untuk melakukan kegiatan manajemen dengan memanfaatkan site manajer untuk membantu dalam pengelolaan pasar tani baik menyangkut administrasi, kelembagaan, kemitraan maupun permodalan. 10. Pasar tani diharapkan membuat perencanaan yang disesuaikan dengan kondisi seperti peluang pasar dan merangkul anggota dalam menangani pemasaran. 11. Pasar tani perlu meningkatkan kesadaran anggotanya akan pentingnya peranan pasar tani guna meningkatkan pendapatan petani. 12. Untuk menjaga citra pasar tani yang memiliki produk bermutu dengan harga murah maka kepada pegurus harus menerapkan disiplin baik yang menyangkut produk, harga, kebersihan dan keamanan dalam operasional. 13. Untuk meningkatkan efektifitas dalam pembinaan maka kepada pengurus pasar tani diharapkan untuk melaporkan kegiatannya baik yang menyangkut administrasi, kelembagaan, manajemen usaha maupun operasional serta permasalahan dan solusi yang telah diambil. 14. Untuk memantapkan manajemen kelembagaannya diharapkan agar menyususn dan menerapkan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) sehingga anggota merasa terikat dan memiliki aspartan sebagai wadah / sarana pemasaran yang paling efektif dan menguntungkan. 15. Untuk program kedepan, pasar tani dapat dilibatkan dalam program kegiatan Dinas Perindustrian Perdagangan yaitu Kegiatan Pasar Lelang, dan bantuan sarana lainnya seperti tenda yang diadakan oleh Disperindag. Sehingga dalam hal ini akan terjadi keterpaduan program dan perlu dikoordinasikan antara Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Provinsi NTB dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTB. Kesimpulan Dari hasil Pertemuan Fasilitasi Sarana Pemasaran Hasil Pertanian dapat VI - 23

24 disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. Kegiatan pasar tani pada 4 kabupaten/kota secara operasional masih berjalan, meskipun masih banyak hambatan seperti kurangnya dukungan dari kabupaten/kota dalam hal lokasi, dana maupun peningkatan SDM. 2. Bahwa tahun 2013 ini diharapkan dukungan pemerintah kabupaten /kota untuk dapat mengusulkan anggaran kegiatan dalam pengembangan pasar tani baik untuk modal, peningkatan SDM maupun sarana pendukung. 3. Untuk program pasar tani kedepan diharapkan untuk menuangkan dalam perencanaan terutama kegiatan kebutuhan rutin dan pengembangan pasar tani melalui outlet yang didukung dengan pengadaan kendaraan Roda 3 yang diadakan Tahun 2013, seperti beras untuk pegawai dapat ditangani pasar tani, atau pembukaan outlet pada kecamatan-kecamatan yang berpotensi, atau mengadakan kemitraan dengan perhotelan/restoran. 4. Dalam pengembangan pasar tani, maka untuk penempatan lokasi sangat diperlukan koordinasi dengan semua pihak yang terkait serta mendapat ijin secara tertulis guna menghindari permasalahn diwaktu yang akan datang. S a r a n Dalam rangka mendukung dan meningkatkan perkembangan operasional pasar tani ini maka dapat disarankan sebagai berikut : 1. Untuk meningkatkan efektifitas dalam pembinaan maka kepada pengurus pasar tani diharapkan untuk melaporkan kegiatannya baik yang menyangkut administrasi, kelembagaan, manajemen usaha maupun operasional serta permasalahan dan solusi yang telah diambil. 2. Untuk memantapkan kelembagaan pasar tani diharapkan agar menyususn dan menerapkan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) sehingga anggota merasa terikat dan memiliki pasar tani sebagai wadah / sarana pemasaran yang paling efektif dan menguntungkan. IV. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(100 %) Realisasi Fisik : 100 % Sisa dana : - I. Latar Belakang GEDUNG/ BANGUNAN PENGENBANGAN AKSES JARINGAN PASAR 011. PELAKSANAAN SISTEM RESI GUDANG A. PELAKSANAAN SISTEM RESI GUDANG Sistem Resi Gudang yang diterapkan oleh pemerintah, tenyata sangat banyak manfaatnya bagi para petani dankelompok tani. Manfaat tersebut diantaranya memperkecil fluktuasi harga. Di mana petani tidak perlu menjual barangnya segera setelah panen yang biasanya harganya sangat rendah. Dengan sistem resi gudang petani bisa menyimpan dan menahan hasil panennya, VI - 24

25 sehingga harga menjadi lebih baik. Petani mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pembiayaan atau kredit dari perbankan, karena Resi Gudang dapat dijadikan sebagai jaminan/agunan kredit. Secara keseluruhan sistem Resi Gudang sangat membantu para petani dan kelompok tani. II. Tujuan dan sasaran Resi Gudang Tujuan 1. Untuk menyimpan gabah/ beras pada saat panen raya karena pada saat panen raya harga jual murah. 2. Dapat dijadikan jaminan dari Bank / lembaga keuangan lainnya 3. Memberikan jaminan mutu komoditi dalam rangka meningkatkan nilai jual dengan sisitem tunda jual Sasaran, Resi Gudang diperuntukkan bagi Gapoktan/ Poktan untuk menyimpan hasil panen komoditinya untuk meningkatkan pendapatannya. III. Teknis Pelaksanaan Kegiatan a. Metode Pelaksanaan Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk Identifikasi lokasi calon Gudang yang akan di Sewa. Penetapan Gudang yang akan disewa Pertemuan dengan Gapoktan tentang tata cara pelaksanaan kegiatan yaitu mengenai tata cara pengangkutan dari Kebun/ sawah ke Gudang b. Cara Pelaksanaan Melakukan identifikasi lokasi Gudang ke Kabupaten/ Kota sentra Produksi beras/ Gabah Pertemuan, untuk meningkatnya kemampuan Gapoktan dalam mengelola kelembagaan dan tata cara pelaksanaan kegiatan. Melaksanakan kegiatan Sewa Gudang dan Transport hasil dengan sistem kontrak tual. Melaksanakan Pembinaan ke Lokasi Gapoktan pelaksana Resi Gudang. IV. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Waktu pelaksanaan direncanakan pada bulan November 2013 Tempat pelaksanaan dilaksanakan di Kabupaten Lombok Timur. V. Hasil Kegiatan 1. Melaksanakan Identifikasi ke Lokasi, yaitu ke Kabupaten Lombok Timur dan melaksanakan pembinaan ke Lokasi. 2. Dipergunakannya gudang oleh Gapoktan sebesar 33% dari anggaran, karena pada saat panen, harga jagung cukup bagus sehingga petani tidak menyimpan hasilnya digudang dan langsung menjual ke pedagang. VI - 25

26 VI. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (33,19 %) Realisasi Fisik : 35 % Sisa dana Rp ,- Alasan dana SIAP : Tidak dimanfaatkannya Belanja sewa sebesar Rp ,-, belanja perjalanan dinas paket meiting luar kota Rp ,-, perjalanan paket meiting dalam kota sebesar Rp ,-dan belanja bahan Rp , PENGAWALAN SUB TERMINAL AGRIBISNIS I. Latar Belakang Peranan subsektor tanaman pangan dan hortikultura di Nusa Tenggara Barat dalam pembangunan perekonomian daerah sangat penting dan strategis, dikarenakan antara lain : 1. Sebagian besar penduduk NTB masih menggantungkan hidupnya dari tanaman pangan dan hortikultura. 2. Masalah penyediaan bahan pangan bagi penduduk yang terus meningkat setiap tahun sejalan dengan pertumbuhan penduduk. 3. Jumlah penduduk miskin yang sebagian besar tinggal di pedesaan adalah petani 4. Usahatani tanaman pangan dan hortikultura masih tetap sebagai penampung tenaga kerja yang cukup besar, terutama tenaga kerja yang kurang terampil di pedesaan. 5. Meningkatnya permintaan bahan baku, baik untuk industri bahan makanan, maupun untuk pakan ternak. Dalam situasi demikian ini, subsektor tanaman pangan dan hortikultura dituntut untuk dapat menghasilkan bahan pangan dalam jumlah cukup, serta mampu menyerap tenaga kerja sebanyak mungkin, sekaligus menghasilkan devisa. Sub Terminal Agribisnis (STA) sebagai lembaga pemasaran yang memerankan fungsi busines leader bagi pelaksanaan manajemen rantai pasokan dapat mendistribusikan produk petani secara efisien memiliki peranan yang cukup strategis dalam pemasaran hasil pertanian tanaman pangan & hortikultura. II. Tujuan dan Sasaran 1. Tujuan: Meningkatkan peranan Sub Terminal Agrinbisnis dalam melayani petani/ kelompok tani dalam memasarkan hasil produksinya agar memiliki posisi tawar yang lebih baik. Meningkatkan ketersediaan data informasi harga, potensi, dan stok produksi tanaman pangan & hortikultura yang cepat, akurat, dan up to date. Meningkatkan pendapatan petani. 2. Sasaran Kegiatan : Sasaran dalam kegiatan ini adalah petani/ kelompok tani/ gapoktan / pedagang yang terlibat dalam kegiatan Sub Terminal Agribisnis (STA) di Provinsi, Kab.Lombok Timur dan Kab.Lombok Utara. III. Pelaksanaan Kegiatan VI - 26

27 1. Honor Pengelola STA, diperuntukkan untuk Petugas Pengelola STA di 3 Kabupaten, yaitu Provinsi, Lombok Utara dan Lombok Timur. 2. Opersional STA Provinsi dipergunakan untuk pembelian Alat berupa Lap Top, Operasional STA untuk Kabupaten Lombok Timur dipergunakan untuk pemberian Troli dan Operasional STA untuk Kabupaten Lombok Utara dipergunakan untuk Mesin Fax, Printer, Jaringan Internet dan Papan STA. IV. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(100 %) Realisasi Fisik :100 % Sisa dana : PENGEMBANGAN USAHA DAN INVESTASI PENGEMBANGAN KEMITRAAN DAN KEWIRAUSAHAAN PROFIL KELEMBAGAAN USAHA AGRIBISNIS 011. PROFIL KELEMBAGAAN USAHA AGRIBISNIS A. PROFIL KELEMBAGAAN USAHA AGRIBISNIS I. Latar Belakang Sebagian besar penduduk Indonesia menggantungkan sumber perekonomiannya dari usaha di sektor pertanian. Oleh sebab itu Indonesia sering disebut sebagai Negara Agraris. Dimana-mana dapat diihat hamparan lahan pertanian baik berupa sawah (budidaya pertanian di lahan basah) maupun budidaya pertanian di lahan kering. Kegiatan tersebut tentu diikuti oleh kegiatan atau usaha di bidang penanganan pasca panen, pengolahan dan pemasaran hasil-hasil pertanian. Usaha mulai dari budidaya sampai pengolahan dan pemasaran hasil pertanian masing-masing ataupun secara keseluruhannya sering disebut dengan istilah agribisnis atau usaha gribisnis. Dilihat dari jenis komoditasnya, Pertanian mencakup usaha-usaha di bidang tanaman pangan yaitu meliputi tanaman serealia seperti padi, jagung dan gandum; umbi-umbian seperti ubi kayu dan ketela rambat; kacang-kacangan seperti kedelai, kacang tanah, kacang hijau dan lain-lain; hortikultura yaitu sayuran, buah-buahan, bunga dan tanaman hias serta tanaman obat;. Salah satu upaya yang saat ini dilakukan dalam rangka mempercepat pembangunan masyarakat di pedesaan adalah peningkatan nilai tambah dan daya saing produk pertanian melalui usaha agribisnis atau agroindustri pedesaan berupa pengolahan hasil pertanian. Upaya ini diharapkan dapat mengangkat dan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat khususnya para petani sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat di sekitarnya. Dengan menumbuh kembangkan kelompok-kelompok usaha pengolahan hasil pertanian yang berorientasi mutu, diharapkan dapat tercipta produk pertanian yang unggul, berdaya saing dan mempunyai nilai tambah. II. Tujuan dan Sasaran Tujuan, melakukan penyusunan Buku Profil Kelompok Usaha Agribisnis untuk masingmasing sub sektor, meliputi : tanaman pangan dan hortikultura Sasaran, Tersusunnya buku profil Kelompok Usaha Agribisnis untuk : tanaman pangan VI - 27

28 dan hortikultura. III. Pelaksanaan Kegiatan dan Hasil Kegiatan 1. Melaksanakan pengumpulan data kelompok usaha agribisnis di kabupaten Kota se- NTB; 2. Tersedianya Buku Profil Kelompok Usaha Agribisnis Pertanian. IV. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(100 %) Realisasi Fisik : 100 % Sisa dana Rp. - Alasan dana SIAP : INVENTARISASI PRODUK UNGGULAN DAERAH A. PROFIL KELOMPOK USAHA AGRIBISNIS. I. Latar Belakang Indonesia dijuluki sebagai negara agraris, hal ini cukup beralasan karena sebagian besar penduduknya lebih kurang 60% berpenghasilan dari sektor pertanian dan berada di perdesaan. Sebagai negara yang kaya dengan keanekaragaman hayati, baik dari sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan termasuk dari sektor peternakan, sudah tentu banyak menyimpan kekayaan alam yang melimpah. Dari sumberdaya alam tersebut/produk bahan mentah kemudian diolah menjadi produk olahan dan menjadi produk unggulan dari masing-masing daerah. Semua itu, merupakan kebanggaan dan menjadi salah satu ikon dari hasil karya bangsa Indonesia. Oleh sebab itu harus tetap dijaga dengan baik kelestariannya agar tidak punah dan nantinya akan dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya. Sebagai negara yang kaya sumberdaya alam khususnya di sektor pertanian, selama ini produk- produk olahan bidang pertanian belum banyak tersedia baik dari segi jumlah maupun jenis produknya, maka sudah sewajarnya untuk ditata ulang guna mengetahui jumlah dan jenis/keragaman produk olahan tersebut berdasarkan dari kearifan lokal setiap daerah, sehingga dapat dikumpulkan menjadi produk unggulan nasional. Apabila hal ini dikelola dengan baik, maka dampak dari semua ini akan dapat memberikan nilai tambah dan daya saing bagi produk olahan itu sendiri. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka perlu dirancang suatu kegiatan guna menginventarisir produk olahan unggulan yang dikumpulkan dari seluruh daerah yang mencakup produk tanaman pangan dan hortikultura. II. Tujuan dan Sasaran Tujuan 1. Menginventarisir produk olahan unggulan yang meliputi produk tanaman pangan dan hortikultura dari masing-masing daerah, baik yang telah difasilitasi oleh Ditjen VI - 28

29 PPHP maupun yang belum. 2. Untuk mengetahui produk olahan unggulan dari masing-masing daerah baik dari segi jumlah dan jenis produk olahannya. Sasaran Tersusunnya buku hasil inventarisasi produk olahan unggulan yang meliputi tanaman pangan dan hortikultura dari masing-masing daerah. III. Metode Pelaksanaan a. Koordinasi dan konsultasi dengan Ditjen PPHP dan Dinas terkait. b. Pengumpulan data produk olahan unggulan ke masing-masing Kab./Kota dengan dilengkapi foto produk (format Form isian terlampir). c. Analisis awal data produk olahan yang telah terkumpul. d. Diskusi kelompok (Tim penyusun), jika perlu dengan Narasumber. e. Pembahasan awal hasil analisis data yang telah terkumpul. f. Pembahasan draft akhir buku inventarisasi, melibatkan Dinas terkait, Ditjen PPHP dan Pelaku Usaha jika diperlukan. g. Melaporkan hasil inventarisasi produk unggulan daerah. IV. Hasil Kegiatan Tersedianya Buku Hasil Inventarisasi Produk olahan unggulan tanaman pangan dan hortikultura. Meningkatnya mutu produk olahan unggulan yang dihasilkan oleh pelaku usaha V. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (100 %) Realisasai Fisik : 100 % Sisa dana Rp. - Alasan dana SIAP : BIMBINGAN PENGEMBANGAN USAHA KEMITRAAN, KEWIRAUSAHAAN DAN EKONOMI KREATIF. A. BIMBINGAN PENGEMBANGAN USAHA KEMITRAAN, KEWIRAUSAHAAN DAN EKONOMI KREATIF. I. Latar Belakang Secara umum telah terbangun kelembagaan kemitraan usaha pertanian antara petani baik secara individu maupun kelompok dengan perusahaan pertanian, namun belum terbangun kelembagaan kemitraan yang saling membutuhkan, saling memperkuat dan saling menguntungkan serta tidak berkelanjutan. Kelemahan mendasar yang ada antara lain adalah rendahnya komitmen antara pihak-pihak yang bermitra, bargaining position yang tidak seimbang, serta kurangnya transparansi dalam penetapan harga dan pembagian nilai tambah/keuntungan. Selain itu kendala lain adalah adanya ketimpangan VI - 29

30 antara pelaku usaha agribisnis di tingkat masyarakat yang masih banyak berada di sub sistem agribisnis hulu on farm dengan pihak lain yaitu pelaku usaha di sub sistem yang lain. Beberapa permasalahan dalam membangun kelembagaan kemitraan agribisnis dari segi teknis, ekonomis dan sosial/kelembagaan adalah sebagai berikut: 1. Kemampuan dan penguasaan teknologi baik budidaya maupun panen dan pasca panen pada petani dan aparat masih kurang 2. Dukungan teknologi informasi masih lemah sehingga dalam penentuan harga lebih didominasi oleh pihak inti (pemilik modal) 3. Biaya investasi relatif mahal 4. Belum ada jaminan pemasaran, terutama pada waktu produksi melimpah 5. Harga yang berfluaktuasi terutama saat-saat panen raya untuk produk tertentu. 6. Sistem pembayaran relatif lambat 7. Persaingan yang tidak sehat antara petani produsen dalam menjual hasil 8. Konsolidasi kelembagaan di tingkat petani masih lemah 9. Perusahaan pertanian yang bersedia sebagai avalis dan inti dalam kemitraan agribisnis masih terbatas 10. Komitmen yang dibangun diantara pihak-pihak yang bermitra masih belum optimal 11. Kelembagaan ekonomi petani relatif masih banyak yang bersifat informal. Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan kewirausahaan Indonesia: 1. Jiwa ambtenaar masih mewarnai tingkah laku dan kebiasaan masyarakat Indonesia. 2. Masih banyak masyarakat yang lebih mementingkan gengsi dibandingkan kerja keras untuk berprestasi. 3. Masih banyak masyarakat yang lebih memperhatikan materi tanpa memperhatikan makna dari pekerjaan yang harus ditangani. 4. Fungsi manajemen tidak berperan baik sehingga pola manajemen dan mekanisme organisasi tidak bisa terkendali. 5. Kurangnya modal dalam pengembangan usaha. 6. Kurangnya infrastruktur penunjang pengembangan kewirausahaan seperti akses penghubung (jalan) dan akses pemasaran. Pada APBN Tahun 2013 Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian melalui Program Pengembangan Kemitraan dan Kewirausahaan membiayai kegiatan Bimbingan Pengembangan Usaha Kemitraan Kewirausahaan dan Ekonomi Kreatif yang diharapkan dapat mendorong para petani/pelaku usaha perdesaan membentuk kelembagaan tani yang kuat dalam rangka mengembangkan kemitraan usaha, sehingga dapatmengembangkan usahanya secara lebih profesional dengan jiwa kewirausahaan yang kuat, untuk menghasilkan produk yang mempunyai nilai tambah dan berdaya saing tinggi. II. Tujuan dan Sasaran Tujuan VI - 30

31 Memfasilitasi terbentuknya dan/atau peningkatan kemitraan usaha antara Poktan/Gapoktan dengan Perusahaan Mitra. Memfasilitasi pengembangan kewirausahaan dan ekonomi kreatif pada Poktan/Gapoktan. Sasaran Terbentuknya dan/atau meningkatnya kemitraan usaha antara Poktan/Gapoktan dengan Perusahaan Mitra serta berkembangnya kewirausahaan dan ekonomi kreatif pada Poktan/Gapoktan NTB. III. Hasil Kegiatan : A. Bimbingan Usaha Kemitraan Kewirausahaan a. Kegiatan Bimbingan Pengembangan Usaha Kemitraan Kewirausahaan dan Ekonomi Kreatif dilaksanakan Di Hotel Lombok Plaza tanggal 18 April b. Peserta, Peserta Bimbingan Pengembangan Usaha Kemitraan Kewirausahaan dan Ekonomi Kreatif ini berasal dari Gapoktan/ Poktan Kabupaten/ Kota se Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan rincian sebagai berikut : Tabel VI-6. Peserta Gapoktan/Poktan Kabupaten/Kota se-ntb Kabupaten Peserta 1. Kota Mataram 2 2. Kabupaten Lombok Barat 2 3. Kabupaten Lombok Tengah 2 4. Kabupaten Lombok Timur 2 5. Kabupaten Lombok Utara 2 6. Kabupaten Dompu; 2 7. Kabupaten Sumbawa Barat 2 8. Kabupaten Sumbawa 2 9. Kabupaten Bima; Kota Bima; 2 TOTAL 20 c. Nara Sumber Nara Sumber pada kegiatan Bimbingan Pengembangan Usaha Kemitraan Kewirausahaan dan Ekonomi Kreatif ini berasal dari : a. Dinas Pertanian TPH Provinsi NTB. b. Bank BRI cabang Mataram. d. Rumusan Hasil Pertemuan 1) Salah satu mekanisme untuk meningkatkan nilai tambah, daya saing dan akses pasar dari para pelaku usaha kecil yang umumnya berada di pedesaan tersebut ialah melalui pengembangan kemitraan dan kewirausahaan agribisnis. 2) Untuk mengembangkan kemitraan menjadi salah satu mekanisme yang dapat meningkatkan nilai tambah, daya saing dan akses pasar dari usaha VI - 31

32 kecil. Paradigma kemitraan yang selama ini hanya sebatas pada jual-beli tersebut harus dirubah menjadi kemitraan agribisnis yang lebih luas dan dilaksanakan secara adil dan efektif melalui, penguatan kelembagaan, pemberian insentif teknologi modal usaha dan pendampingan/ pengawalan yang lebih intensif. 3) Sejalan dengan pengembangan kemitraan agribisnis, kemampuan para petani/ pelaku usaha kecil dalam meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk yang dihasilkan perlu terus ditingkatkan agar dapat menjadi wirausaha yang handal dan mampu mengembangkan kreatifitas dalam menjalankan usahanya. 4) Kegiatan Pertemuan Bimbingan Pengembangan Usaha Kewirausahaan, Kemitraan dan Ekonomi Kreatif dapat menjembatani para petani/ pengolah yang umumnya merupakan usaha kecil dengan perusahaan yang lebih besar untuk dapat bermitra, sekaligus mengidentifikasi dan mencari jalan pemecahan masalah/ kendala yang dihadapi dalam pengembangan kemitraan dan kewirausahaan, serta merumuskan saran-saran kebijakan dan langkah operasional guna meningkatkan kemitraan dan kewirausahaan agribisnis. e. S a r a n 1) Perlu diadakan pelatihan, pembinaan teknis, magang pendamping dan pemberian penghargaan sehingga terjadi reposisi peran petani dari hanya sebagai produsen menjadi produsen dan pemasok yang berdaya saing dan mampu memenuhi permintaan pasar. 2) Pelatihan-pelatihan kemitraan untuk Poktan/ Gapoktan perlu diadakan lebih banyak lagi untuk terbangunnya kelembagaan kemitraan yang saling membutuhkan, saling memperkuat dan saling menguntungkan serta berkelanjutan. 3) Diharapkan Poktan/ Gapoktan mulai memanfaatkan sarana dan prasarana misalnya resi gudang yang ada khususnya yang ada di Lombok Timur. 4) Poktan/ Gapoktan dapat juga memanfaatkan Bank sebagai fasilitas dalam memberi pinjaman dana untuk modal salah satunya melalui koperasi selaras. B. Sosialisasi Program LM3 dan Evaluasi LM3 Tahun sebelumnya. a. Tujuan Dan Sasaran Tujuan, Tujuan dilaksanakan Sosialisasi Pragram LM3 dan Evaluasi LM3 Tahun Sebelumnya adalah 1) Tumbuhnya kesadaran LM3 dalam pengembangan usaha agribisnis di lembaganya 2) Meningkatkan kemampuan petani/ kelompok tani dalam mengelola usahanya 3) Meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang berdaya saing Sasaran, Sasaran dari kegiatan Sosialisasi Program LM3, Evaluasi LM3 adalah : VI - 32

33 1) Terjadinya peningkatan keterampilan dan kualitas masyarakat pondok pesantren sehingga dapat menjadi tenaga pendamping bagi pemberdayaan masyarakat di luar pondok pesantren dalam mewujudkan ketahanan pangan 2) Tumbuhnya unit-unit bisnis di lingkungan masyarakat dan warga pesantren sehingga pada akhirnya pondok pesantren menjadi salah satu pelaku utama pengembangan ekonomi pedesaan b. Tempat dan Waktu, Kegiatan Sosialisasi Program LM3, Evaluasi LM3 tahun sebelumnya dilaksanakan Di Hotel Lombok Plaza tanggal 15 April c. Peserta,Peserta Sosialisasi Program LM3, Evaluasi LM3 tahun sebelumnya ini berasal dari Gapoktan/ Poktan dan Petugas Kabupaten/ Kota se Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan rincian sebagai berikut : Kabupaten Petugas Peserta 1. Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Keluatan Kota Mataram Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Barat Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan 1 1 Kabupaten Lombok Tengah 4. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan 1 1 Kabupaten Lombok Timur 5. Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan 1 1 Kehutanan Kabupaten Lombok Utara 6. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Dompu; Kepala Dinas Kehutanan, Pertanian dan 1 1 Perkebunan Kabupaten Sumbawa Barat 8. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan 1 1 Kabupaten Sumbawa 9. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan 1 1 Kabupaten Bima; 10. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kota Bima; 1 1 TOTAL 20 d. Nara Sumber,Nara Sumber pada kegiatan Sosialisasi Program LM3, Evaluasi LM3 tahun sebelumnya ini berasal dari : Dinas Pertanian TPH Provinsi NTB. Bank BRI cabang Mataram e. Rumujsan Hasil Pertemuan a) Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) merupakan lembaga mandiri yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dengan kegiatan meningkatkan gerakan moral melalui kegiatan pendidikan dan keterampilan VI - 33

34 untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Termasuk dalam kategori LM3 antara lain Pondok Pesantren, Seminari, Paroki dan Gereja, Pasraman, Vihara, Subak dll. b) Dengan adanya pertemuan Sosialisasi Kebijakan dalam Rangka Peningkatan Partisipasi Masyarakat (LM3) sehingga dapat menumbuhkan kesadaran LM3 serta meningkatkan semangat dan kapasitasnya untuk mengembangkan usaha agribisnis LM3 agar dapat lebih berperan dalam pembangunan masyarakat, baik dalam aspek moral spiritual, sosial maupun ekonomi. c) LM3 terpilih yang akan menjadi sasaran peserta pemberdayan dan pengembangan usaha adalah LM3 berbasis keagamaan dan berwawasan agribisnis yang mempunyai kendala permodalan untuk menjalankan usahanya dibidang pertanian. Guna memperoleh manfaat secara luas, maka penetapan LM3 terpilih berdasarkan atas beberapa kriteria, yaitu: Kriteria umum, Kriteria administrasi,kriteria teknis serta, Kriteria kompetensi. S a r a n a. Tim pembina dan tim teknis agar meningkatkan pembinaan teknis dan pengendalian kegiatan LM3 dan petugas Pendamping agar meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait dalam pendampingan LM3. b. Pembinaan LM3 dilakukan secara berkelanjutan yang meliputi pelatihan usaha, pemberdayaan kelompok tani dan bimbingan teknis, agar mampu mengembangkan usahanya secara mandiri, yang selanjutnya diharapkan sebagai motivator/fasilitator pengembangan agribisnis pada masyarakat sekitarnya. c. Pemerintah Kabupaten/ Kota melalui dinas lingkup pertanian Provinsi melakukan koordinasi, sosialisasi, pembinaan, monitoring, evaluasi dan pelaporan LM3 serta melakukan pembinaan lanjutan bagi LM3 yang pernah difasilitasi Departemen Pertanian. d. Menyusun laporan bulanan secara tertib dan dikirim sesuai pedoman umum bagi kelompok tani penerima LM3 e. Dalam rangka Sosialisasi LM3 lebih diharapkan untuk mengadakan sosialisasi di kabupaten/ kota dengan mengumpulkan para petani sekitar lokasi ponpes, sehingga lebih efektif serta didukung dengan dana untuk perjalanan ke kabupaten. IV. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(100 %) Realisasi Fisik : 100 % Sisa dana Rp. - Alasan dana SIAP PAMERAN PROMOSI, EKSEBISI DAN PERLOMBAAN DALAM NEGERI MAUPUN LUAR NEGERI PROMOSI LUAR NEGERI 011. AGRICULTURAL SPECIALITY EXSPORT PRODUCT I. Latar Belakang I. PENDAHULUAN VI - 34

35 Salah satu upaya untuk mengenalkan berbagai komoditas pertanian unggulan yang ada adalah dengan melakukan promosi, antara lain melalui kegiatan pameran yang berkesinambungan dan terkoordinasi baik dalam negeri maupun di luar negeri. Promosi produk pertanian merupakan suatu yang esensial untuk menunjang kegiatan agribisnis. Kegiatan tersebut melengkapi upaya untuk membuka akses pasar sekaligus untuk memacu peningkatan daya saing, yang terus dikembangkan melalui peningkatan kegiatan-kegiatan pemasaran lainnya termasuk analisis market intelligence dan analisis pasar. Dengan promosi melalui pameran diharapkan masyarakat dunia semakin mengenal dan tertarik terhadap produk unggulan pertanian Indonesia baik dalam bentuk segar maupun olahan. Atas dasar hal tersebut, maka Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian merasa perlu untuk menyelenggarakan kegiatan Indonesia Agricultural Specialty and Export Product Expo (INASEP) yang akan dilakukan pada tahun anggaran 2013 dengan pendanaan bersumber dari APBN baik yang dialokasikan di pusat maupun di daerah (dekonsentrasi). II. Tujuan dan Sasaran 1. Tujuan Mempromosikan produk specialty dan produk potensial untuk ekspor dari berbagai daerah. 2. Sasaran Terpromosikannya produk specialty dan produk-produk potensial untuk ekspor dari berbagai daerah melalui penyelenggaraan promosi dan pameran dengan mengundang calon buyer potensial dari berbagai negara. III. Hasil Kegiatan Pelaksanaan kegiatan Indonesia Agricultural Specialty and Export Product Expo (INASEP) 2013 sebagai berikut : A. Waktu dan Tempat Pameran Indonesia Agricultural Specialty and Export Product Expo (INASEP) 2013 dilaksanakan selama 3 (tiga) hari pada tangga 4 s/d 6 November 2013 di Street Theatre Garuda Wisnu Kencana (GWK) Bali. Peserta Pameran Indonesia Agricultural Specialty and Export Product Expo (INASEP) 2013 dari Provinsi Nusa Tenggara Barat antara lain Petugas sebanyak 2 ( dua ) orang Nama-nama petugas pendamping yang ikut serta dalam pemeran Indonesia Agricultural Specialty and Export Product Expo ( INASEP) 2013 adalah sebagai berikut : 1. Hj. Siti Chotijah, SP 2. Filiasta Embriono, SP B. Materi / Bahan Pameran Materi yang disajikan/ ditampilkan dalam Pameran dan Promosi Agro & Food Expo 2013 antara lain : 1. Produk Hortikultura : Buah-buahan segar : Jeruk Pamelo, Sawo, Rambutan, Buah Naga, Manggis, Mangga, Melon Golden. Produk Sayur-sayuran : Paprika, 2. Produk Olahan : VI - 35

36 Jagung berbagai macam olahan jagung seperti Jagung Garing, Emping Jagung/ Marning Jagung, Kerupuk Jagung, Nangka berbagai macam olahan dari nangka seperti Dodol nangka, Kripik nangka Dodol Sirsak Berbagai macam kripik seperti Kripik Singkong, Kripik Kentang, Kripik Pisang, Kripik Talas, Rengginang singkong, Kripik Tempe, Krupuk Jantung Pisang, Krupuk Ares, Kue Non Terigu seperti Coklat Keju, Nastar Jagung Berbagai macam olahan Kacang : Kacang Kriuk, Kacang Asin, C. Tindak lanjut yang akan dilakukan Setelah mengikuti Pameran ini tindak lanjut yang akan dilakukan adalah : 1. Melakukan bimbingan dan pembinaan kepada para pelaku usaha dan terus melakukan pemantauan perkembangan dari pelaku usaha yang di bina. 2. Memberikan bantuan berupa alat-alat pengolahan hasil yang dibutuhkan pelaku usaha sehingga dapat meningkatkan kinerja dan produksi. 3. Memfasilitasi pelaku usaha dalam hal pengemasan yaitu rumah kemasan karena selama ini pelaku usaha di Nusa Tenggara Barat masih sangat sederhana dalam pengemasan sehingga kalah saing dengan daerah lain. IV. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- Sisa dana Rp ,- Alasan dana SIAP, adanya efisiensi dana Sewa Stand sebesar Rp , PROMOSI DALAM NEGERI 011. PROMOSI DALAM NEGERI A. AGRO & FOOD EXPO I. PENDAHULUAN Dalam perusahaan yang sudah mapan biaya promosi menempati urutan kedua setelah biaya produksi. Sementara itu untuk usaha-usaha yang dikelola oleh pengusaha UKM, biaya promosi masih belum banyak diperhitungkan karena keterbatasan modal. Untuk itu pengusaha yang masih dalam kategori UKM perlu mendapat dukungan dari instansi yang berwenang untuk membantu melakukan promosi produk-produknya. Bantuan promosi tersebut diharapkan dapat meningkatkan peran UKM dalam mengantisipasi produk okal yang semakin kalah bersaing di pasar dalam negeri. Disamping itu berbagai cara harus diupayakan antara lain engan melakukan promosi di dalam negeri dengan rioritas utama mencintai produk lokal dan meningkatkan konsumsi masyarakat, serta tetapmempertahankan produk lokal menjadi tuan rumah dinegeri sendiri. Untuk itu seyogyanya promosi dilakukan secara terus menerus dan teratur, baik oleh pelaku usahanya sendiri maupun yang difasilitasi pemerintahseperti pada tahun-tahun sebelumnya, pada Tahun Anggaran 2013Ditjen PPHP Kementan mengalokasikan anggaran untuk kegiatan promosi dalam negeri yang melibatkan Pemda/Dinas-dinas di daerah serta pelaku usaha. Salah satu kegiatan VI - 36

37 promosi di Dalam Negeri yang akan diselenggarakan yaitu Agro and Food Expo Untuk mendukung kegiatan Promosi produk pertanian dalam negeri tersebut, disusun Petunjuk Teknis Agro & Food Expo 2013 yang diharapkan dapat digunakan sebagai acuan, panduan serta referensi bagi instansi terkait dan pelaku usaha agribisnis dalam mengikuti kegiatan tersebut, khususnya yang difasilitasi melalui APBN Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. II. TUJUAN DAN SASARAN 1. Tujuan Mempromosikan produk-produk unggulan dari masing-masing daerah seluruh Indonesia, serta pelaku usahanya 2. Sasaran Dikenalnya produk-produk unggulan dan pelaku usaha yang bersangkutan dari seluruh Indonesia dari sub sektor Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Peternakan, khususnya terkait dengan rempah dan jamu (termasuk jamu untuk hewan dan tanaman) serta etnofarmaka. III. Hasil yang dicapai 1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan, Tempat dan waktu penyelenggaraan Agro & Food Expo 2013 disesuaikan dengan agenda promosi yang difasilitasi/diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Kementerian Pertanian, pada tanggal 23 s/d 26 Mei 2013 di Jakarta Convetion Center Senayan Jakarta, bekerjasama dengan Event Organizer/ Penyelenggara Pameran PT. Wahyu Promo Citra Jakarta. 2. Peserta, Peserta Pameran Agro & Food Expo 2013 dari Provinsi Nusa Tenggara Barat antara lain Petugas sebanyak 2 ( dua ) orang Nama-nama petugas pendamping yang ikut serta dalam pemeran Agro & Food Expo 2013 adalah sebagai berikut : 1. Hj. Siti Chotijah, SP 2. Bq. Enita Adi Santi, SP 3. Materi / Bahan Pameran Materi yang disajikan/ ditampilkan dalam Pameran dan Promosi Agro & Food Expo 2013 antara lain : 1. Produk Padi 2. Palawija : Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau 3. Produk Sayur-sayuran : Bawang Merah dan Bawang Putih Sembalun, Bawang Putih Nunggal, 4. Produk Olahan : Jagung berbagai macam olahan jagung seperti Jagung Garing, Emping Jagung/ Marning Jagung, Kerupuk Jagung, Nangka berbagai macam olahan dari nangka seperti Dodol nangka, Kripik nangka VI - 37

38 Dodol Sirsak Berbagai macam kripik seperti Kripik Singkong, Kripik Kentang, Kripik Pisang, Kripik Talas, Rengginang singkong, Kripik Tempe, Krupuk Jantung Pisang, Krupuk Ares, Kue Non Terigu seperti Coklat Keju, Nastar Jagung Berbagai macam olahan Kacang : Kacang Kriuk, Kacang Asin, Kesimpulan Berdasarkan hasil evaluasi dan supervisi, maka pelaksanaan serta penyelenggaraan Pameran dan Promosi Produk Pertanian Agro & food Expo 2013 yang berlangsung dari tanggal 23 s/d 26 Mei 2013 di Jakarta Convetion Center, dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu : 1. Agro & Food Expo telah diselenggarakan sejak tahun 2001 dan telah menghasilkan transaksi yang signifikan pada setiap penyelenggaraannya. 2. Dengan adanya pameran tahunan Agro and Food 2013 ini, mampu mempromosikan produk-produk pertanian dan makanan dalam negeri, tetapi juga mampu menghasilkan transaksi bisnis. Sehingga ada imbas dari promosi ini, jadi bukan hanya sekedar pameran. 3. Tema pameran kali ini Jamu Brand Indonesia karena Jamu merupakan produk yang memiliki nilai historis, yang merupakan ciri khas bangsa Indonesia sehingga dapat mengembalikan kejayaan produk pertanian Indonesia. 4. Materi/komoditi yang dipromosikan/dipamerankan cukup menarik minat para pengunjung pameran, hal ini dipastikan dari jumlah produk yang terjual kepada pengunjung 5. Display dan landscape produk/komoditi yang dipamerankan pada stand NTB telah dapat memberikan nuansa tradisionil yang didukung semberdaya agraris (competitive advantage). 6. Keikutsertaan pelaku usaha dalam even Agro & Food Expo, telah dapat menarik mitra dagang/kontak bisnis dengan para pelaku usaha/stakeholder terutama dari Kota Jakarta dan sekitarnya. S a r a n 1. Untuk lebih meningkatkan antusias masyarakat luas tentang even-even atau pameran yang akan diadakan sebaiknya perlu diinformasikan kepada masyarakat dengan menyebarluaskan leaflet-leaflet atau brosur serta diinformasikan lewat media masa dan media elektronik. 2. Upaya tindaklanjut yang perlu dilakukan terutama dalam rangka memenuhi permintaan produk hasil pertanian komoditi unggulan daerah Nusa Tenggara Barat untuk pasar regional antara lain adalah memfasilitasi pertemuan langsung para pemasar atau para pelaku usaha daerah Nusa Tenggara Barat dengan konsumen/buyer dalam bentuk promosi dan pameran baik pada even-even pameran lainnya yang memiliki potensi pasar. 3. Untuk memenuhi peluang pasar yang cukup potensial tersebut untuk komoditi pertanian dan rempah-rempah dari Nusa Tenggara Barat, maka salah satunya yang perlu mendapat perhatian dalam mengangkat potensi daerah, yaitu memberikan pengetahuan dan pemahaman user atau pengunjung pameran, dan komoditi yang dipromosikan agar dilengkapi dengan brosur tentang diskripsi atau karakteristik VI - 38

39 komoditi yang bersangkutan dan untuk dapat menarik investasi dan atau minat investor ke Nusa Tenggara Barat, untuk pelaksanaan pameran yang akan datang agar dilengkapi dengan brosur atau leaflet informasi tentang potensi dan reputasi Daerah Nusa Tenggara Barat. 4. Dalam kegiatan Agro & Food Expo untuk tahun yang akan datang disarankan agar ditingkatkan dana untuk pembelian bahan pameran karena harga produk atau bahan yang dipamerkan semakin beragam dan harga naik. IV. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- Sisa dana Rp ,- Alasan dana SIAP : Adanya efisiensi dana Sewa Stand sebesar Rp ,- A. SURABAYA AGRIBUSSINESS MATCHING & EXPO (SAMEX) I. PENDAHULUAN Suksesnya suatu pemasaran terletak pada seberapa jauh kegiatan promosi dilaksanakan. Dengan kata lain promosi merupakan ujung tombak pemasaran. Disamping itu berbagai cara harus diupayakan antara lain dengan melakukan promosi di dalam negeri dengan prioritas utama mencintai produk lokal dan meningkatkan konsumsi masyarakat, serta tetap mempertahankan produk lokal menjadi tuan rumah dinegeri sendiri. Pada Tahun Anggaran 2013 Pemerintah mengalokasikan anggaran untuk kegiatan promosi dalam negeri yang melibatkan Pemda/Dinas-dinas di daerah serta pelaku usaha. Surabaya Agribusiness Matching and Expo (SAMEX), masing-masing memiliki peluang dan kelebihan sendiri-sendiri. Surabaya merupakan salah satu pusat kegiatan pemasaran bagi Kawasan Timur Indonesia, sedangkan Batam juga memiliki nilai lebih,dengan letak geografis Batam yang berdekatan dengan negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Hal ini memberi peluang untuk berinteraksi langsung dengan investor dan buyer internasional. Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Promosi produk pertanian dalam negeri tersebut, disusunlah Petunjuk Teknis Surabaya Agribusiness Matching and Expo (SAMEX) 2013 yang diharapkan dapat digunakan sebagai acuan, panduan serta referensi bagi para pihak terkait dalam mengikuti kegiatan tersebut, khususnya yang difasilitasi melalui APBN Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. Petunjuk teknis ini memuat tujuan dan sasaran kegiatan, tata laksana, hingga sistem pelaporan dan pelaksanaan kegiatan dimaksud. II. TUJUAN DAN SASARAN Tujuan Memperkenalkan produk unggulan pertanian dan pelaku usaha handal dari masingmasing daerah. Memfasilitasi adanya kontak bisnis antara pelaku usaha daerah dengan pembeli VI - 39

40 potensial Sasaran - Dikenalnya potensi produk-produk unggulan dan pelaku usahanya dari berbagai daerah. - Terjadinya kontak bisnis dan transaksi antara pelaku usaha daerah dengan pembeli potensial. III. PELAKSANAAN KEGIATAN Surabaya Agribusines Matching & Expo 2013 merupakan salah satu dari pameran yang di inisiasi oleh Direktorat Jenderal Pengelohan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Kemeterian Pertanian Repubik Indonesia. Pameran ini juga salah satu pameran produkproduk pertanian yang kontinuitas pelaksanaannya tetap terjaga sejak tahun Kepesertaan dan nilai transaksi yang dihasilkan pada penyelenggaraan pameran ini senantiasa menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan dari tahun ke tahun. Surabaya Agribusiness Matching & Expo 2013 yang dilaksanakan pada tanggal 27 s/d 30 Juni 2013 yang berlokasi di Grand City Convex- Surabaya, Diselenggarakan di Surabaya yang merupakan kota bisnis terbesar kedua di Indonesia, sekaligus juga sebagai salah satu pintu gerbang perekonomian nasional. Produk yang dipamerkan pada Pameran Surabaya Agribusiness Matching & Expo 2013 ini yaitu: Komoditi Tanaman Pangan Komoditi Hortikultura Komoditas Perkebunan Komoditas Peternakan Komoditas Perikanan Teknologi/ mesin pertanian 1. Mesin untuk tanaman pangan, hortikultura, perkebunan serta kehutanan 2. Mesin pengolahan hasil pertanian 3. Teknologi pengairan 4. Teknologi Pengolahan makanan dan minuman 5. Teknologi Kemasan Pupuk kimia dan obat-obatan Agrowisata 1. Taman wisata agro 2. Industry agrowisata Jasa 1. Konsultan pertanian 2. Keuangan dan perbankan 3. Pengangkutan Pelaksanaan kegiatan Surabaya Agribusiness Matching & Expo 2013 sebagai berikut : 1. Waktu dan Tempat Pameran Surabaya Agribusiness Matching & Expo 2013 dilaksanakan selama 4 (empat) hari pada tangga 27 s/d 30 Juni 2013 di Grand City Convex - Surabaya. Pameran ini berlangsung selama 10 Jam yaitu mulia jam WIB 2. Peserta Peserta Pameran Surabaya Agribusiness Matching & Expo 2013 dari Provinsi Nusa Tenggara Barat antara lain Petugas sebanyak 2 ( dua ) orang Nama-nama petugas VI - 40

41 pendamping yang ikut serta dalam pemeran Surabaya Agribusiness Matching & Expo 2013 adalah sebagai berikut : 1. Hj. Siti Chotijah, SP 2. Filiasta Embriono, SP 3. Materi / Bahan Pameran Materi yang disajikan/ ditampilkan dalam Pameran dan Promosi Surabaya Agribusiness Matching & Expo 2013 antara lain : a. Produk Sayur-sayuran : Bawang Merah dan Bawang Putih Sembalun, Bawang Putih Nunggal, b. Produk Olahan : Jagung berbagai macam olahan jagung seperti Jagung Garing, Emping Jagung/ Marning Jagung, Kerupuk Jagung, Tortila Nangka berbagai macam olahan dari nangka seperti Dodol nangka, Kripik nangka Dodol Sirsak Berbagai macam kripik seperti Kripik Singkong, Kripik Kentang, Kripik Pisang, Kripik Talas, Rengginang singkong, Kripik Tempe, Krupuk Jantung Pisang, Krupuk Ares, Kue Non Terigu seperti Coklat Keju, Nastar Jagung Berbagai macam olahan Kacang : Kacang Kriuk, Kacang Asin, IV. HASIL / KELUARAN Pameran Surabaya Agribusiness Matching & Expo 2013 secara rutin diselenggarakan sejak tahun 2002, serta mendapat dukungan penuh dari Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Kementrian Pertanian Republik Indonesia dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Surabaya Agribusiness Matching & Expo 2013 ditergetkan menjadi ajang potensi promosi investasi. Diselenggarakan oleh PT. Feraco bekerja sama dengan Kemeterian Pertanian dan Kemetrian Kelautan dan Perikanan yang diikuti lebih dari 250 peserta dari Kabupaten/ Kota dan Provinsi se Indonesia. Peserta pameran terdiri dari Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan kota dari seluruh Indonesia, Perusahaan/ Industri pada sub sector : Pertanian Tanaman Pangan, Perkebunan, Kehutanan, Peternakan dan Perikanan, Perusahaan/ Indutri makanan dan minuman, Perusahaan/ industry alat dan mesin pertanian, Perusahaan/ Industri pupuk dan kkimia, Perusahaan jasa konsultan, perusahaan travel dan agency agrowisata, lembaga keuangan dan Bank, Usaha kecil dan Menengah, BUMN dan BUMD. Acara diibuka dengan sambutan panitia direktur PT. FERACO bapak M. Ruslim, setelah itu sambutan oleh Direktur PUI Ir. Jamil Musanif, mewakili Menteri Pertanian. Dalam sambutannya Jamil Musanif menjelaskan bahwa sector pertanian sebagai bagian integral dari pembangunan nasional memiliki makna yang sangat strategis, karena pertanian merupakan suatu sector tumpuan harapan yang utama dalam penyediaan bahan pangan yang berkelanjutan bagi masyarakat, menyediakan bahan baku bagi industry dan sebagai penyedia lapangan kerja, dan penghasil devisa Negara. Oleh karena itu selain ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan pangan, program pembangunan pertanian juga diarahkan dalam rangka mendorong berkembanganya usaha agribisnis dan agroindustri, sehingga memiliki nilai tambah dan daya saing yang tinggi, baik di pasar domistik maupun pasar internasional yang selanjutnya mengangkat kesejahteraan masyarakat terutama petani. Ditambahkan juga Dalam rangka VI - 41

42 mensosialisasikan kecintaan terhadap produk-produk pertanian dalam negeri maka perlu dilakukan suatu kampanye terhadap produk pertanian yang dikemas dalam kegiatan promosi atau pameran. Surabaya Agribusiness Matching & Expo 2013 ini merupakan suatu pilihan yang sangat tepat untuk memperkenalkan potensi dan keunggulan produk daerah kita kepada potensial buyer yang berada di domestic dan regional market terutama dalam mengantisipasi masuknya produk-produk pertanian dari luar negeri. Hal senada dikatakan Kepala Dinas Petanian Jawa Timur Bapak Ir. Wibawa, MM Surabaya Agribusiness Matching & Expo 2013 merupakan ajang yang diperlukan utamanya pada eraotonomi daerah yang dilain pihak semakin mendesaknya wacana globalisasi yang jelas menuntut setiap pemerintah daerah otonomi untuk lebih aktif pmempromoosikan sekaligus menjual potensi investasi serta produk-produk unggulan agribisnis di daerahnya sehingga pada akhirnya dapat menjadi motor dalam menggerakkan roda perekonomian di masing-masing daerah. Dalam Surabaya Agribusiness Matching & Expo 2013 ini pelaku yang dihadirkan yaitu pelaku usaha sektor agribisnis dari dalam dan luar negeri, Perwakilan dagang Negara-negara sahabat, kalangan distributor, Masyarakat konsumen, masyarakat perbankan, asosiasi-asosiasi terkait, masyarakat umum. Didukung dengan penyelenggaraan acara Pasar Lelang Komoditi Agribisnis yang memberi peluang kepada peserta pameran untuk berinteraksi sekaligus menjual secara langsung potensi investasi dan produk-produk unggulan agribisnis daerahnya kepada Potential buyer yang secara terorganisir dihadirkan di acara ini. Keikutsertaan provinsi Nusa Tenggara Barat pada ajang Surabaya Agribusiness Matching & Expo 2013 ini memberikan sumbangsih bagi upaya untuk menciptakan industry agribisnis efesien dan berdaya saing. Dan kedepannya dapat meningkatkan kewirausahaan dan kemitraan dalam rangka optimalisasi pengembangan pasar global. Bagi para pelaku usaha kegiatan ini merupakan ajang untuk menambah pengetahuan serta pengalaman/wawasan sebagai bekal untuk dapat meningkatkan kemampuan (kompetensi) mereka dalam mengembangkan pangsa pasar produk hasil-hasil pertanian daerah Nusa Tenggara Barat, guna dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat khususnya untuk petani Nusa Tenggara Barat. V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil evaluasi dan supervisi, maka pelaksanaan serta penyelenggaraan Pameran dan Promosi Produk Pertanian Surabaya Matching & Expo 2013 yang berlangsung dari tanggal 27 s/d 30 Juni 2013 di Grand City Convex Surabaya apat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu : 1. Surabaya Agribusiness Matching & Expo 2013 telah diselenggarakan sejak tahun 2002 dan telah menghasilkan transaksi yang signifikan pada setiap penyelenggaraannya. 2. Surabaya Agribusiness Matching & Expo 2013 merupakan suatu pilihan yang sangat tepat untuk memperkenalkan potensi dan keuanggulan produk daerah keada potensial buyer yang beradaa di domestic dan regional market. 3. Pameran Surabaya Agribusiness Matching & Expo 2013 suatu upaya dalam merespon perkembangan persaingan pasar yang semakin ketat dan sekaligus untuk mengembangkan kegiatan pertanian yang berwawasan bisnis global. B. S a r a n VI - 42

43 1. Upaya tindaklanjut yang perlu dilakukan terutama dalam rangka memenuhi permintaan produk hasil pertanian komoditi unggulan daerah Nusa Tenggara Barat untuk pasar regional antara lain adalah memfasilitasi pertemuan langsung para pemasar atau para pelaku usaha daerah Nusa Tenggara Barat dengan konsumen/buyer dalam bentuk promosi dan pameran baik pada even-even pameran lainnya yang memiliki potensi pasar. 2. Dalam kegiatan Surabaya Agribusiness Matching & Expo 2013 untuk tahun yang akan datang disarankan agar ditingkatkan dana untuk pembelian bahan pameran karena harga produk atau bahan yang dipamerkan semakin beragam. VI. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- Sisa dana Rp , - Alasan dana SIAP : Adanya efisiensi dana Sewa Stand sebesar Rp ,- I. Latar Belakang E. PEKAN RAYA TANI Dalam rangka memperkuat jaringan pemasaran ditingkat petani maka pemerintah telah melakukan suatu kebijakan dibidang pemasaran yaitu : 1). Menumbuhkan gabungangabungan kelompok tani (gapoktan) yang berorentasi pasar; 2) membangun system atau mereposisi petani dari produsen menjadi pemasok; 3) menciptakan pasar tani dalam form-gate Marketing System. Petani harus memepunyai pasar dimana pasar ini harus dikelola oleh petani dan petani harus bertindak sebagai kelompok bukan individu. Gaung pasar tani memang sebatas lingkup yang relative kecil, tapi dari kecil itulah nantinya akan menjadi besar apabila dibarengi dengan semnagat dan komitmen yang tinggi dari para petani sendiri serta pembinaan dari pemerintah. Oleh karena itu diadakan Pekan Raya Tani Nasional yang dilaksanakan di Kupang Nusa Tenggara Timur tanggal 4 s/d 6 September 2013, agar dapat memberi peluang yang seluas-luasnya kepada para petani yang tergabung dalam Gapoktan untuk dapat memasarkan hasil produksinya. II. Tujuan dan Sasaran Tujuan Tujuan pelaksanaan kegiatan Pekan Raya Tani Nasional adalah : 1) Mempromosikan keberadaan Pasar Tani yang telah dibentuk di beberapa propinsi 2) Memberikan peluang yang seluas-luasnya kepada para petani yang tergabung dalam Gapoktan untuk dapat memasarkan hasil produksinya. 3) Memberi pelajaran yang innovative bagi petani untuk dapat melakukan kerjasama yang baik dibidang pemasaran Sasaran VI - 43

44 Sasaran pelaksanaan Kegiatan Pekan Raya Tani Nasional adalah : 1) Terciptanyan citra yang baik terhadap keberadaan Pasar Tani yang telah berdiri di beberapa propinsi. 2) Terciptanya kerjasama yang baik dan berkesinambungan antara petani produsen dengan pihak pembeli potensial (trader, retailer, industry pengolahan) 3) Termotivasinya para petani untuk mengembangkan bebagai produk olahan yang innovative sesuai kebutuhan/ persyaratan pasar. III. Ruang Lingkup Kegiatan Lingkup kegiatan dalam promosi produk pertanian pada Pameran Pekan Raya Tani Nasional ini antara lain meliputi berbagai kegiatan, yaitu : 1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan, Tempat dan waktu penyelenggaraan Pekan Raya Tani Nasional disesuaikan dengan agenda promosi yang difasilitasi/diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Kementerian Pertanian, pada tanggal 4 s/d 6 september 2013 di Lapangan Parkir Ramayana Kupang NTT, bekerjasama dengan Event Organizer/ Penyelenggara Pameran PT. Fery Agung Corindotama (FERACO). 3. Penyediaan Tempat (stand). Penyediaan tempat (stand) pameran dilaksanakan oleh pihak penyelenggara/event organizer PT. Fery Agung Corindotama (FERACO) Stand pameran sudah disiapkan pihak penyelenggara yang ditunjuk untuk dimanfaatkan sebelum pelaksanaan pameran dan promosi berlangsung, yaitu tanggal 4 s/d 6 September Penunjukkan Peserta. Penunjukan peserta yang ikut serta dalam promosi dari unsur petugas dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Nusa Tenggara Barat. 5. Penyiapan Bahan Promosi. Penyiapan bahan promosi antara lain meliputi : a. Produk Hasil Pertanian, baik dalam bentuk produk segar maupun produk olahan berasal dari pelaku usaha di P. Lombok dan P.Sumbawa. Produk/bahan/materi pameran disiapkan Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Provinsi NTB b. Bahan promosi dalam bentuk brosur/leaflet maupun buku-buku potensi disiapkan dan disediakan oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Provinsi Nusa Tenggara Barat. IV. Pelaksanaan Kegiatan Pekan Raya Tani Nasional diikuti oleh Pasar Tani dari berbagai daerah/ provinsi yang medapat alokasi kegiatan Pekan Raya Tani Dilaksanakan pada tanggal 4 s/d 6 September 2013 di Lapangan Parkir Ramayana Kupang NTT. Dinas yang bersangkutan mengusulkan Pasar Tani sebagai peserta Pekan Raya Tani 2013 dengan melampirkan Profil Pasar Tani yang bersangkutan serta produk yang akan ditawarkan pada Pekan Raya Tani. Produk yang dipamerkan pada Pameran Pekan Raya Tani Nasional 2013 ini yaitu: Industri Pertanian ; Produk-produk pertanian baik segar maupun olahan, Produk Tanaman Hortikultura, Produk Perkebunan, Produk Kehutanan, Produk Tanaman Rempah. VI - 44

45 Industri makanan dan minuman : ProdukOrganik, Produk Makanan Halal, Makanan Beku, Makanan Kaleng/ kemasan, Produk susu, Beras lain-lain. Pelaksanaan Pekan Raya Tani ini merupakan kerjasama PT. Fery Agung Corindotama dengan Kementrian Pertanian RI. Peserta Pameran Pekan Raya Tani Nasional dari Provinsi Nusa Tenggara Barat antara lain Petugas sebanyak 2 ( dua ) orang Nama-nama petugas pendamping yang ikut serta dalam pemeran Pekan Raya Tani Nasional adalah sebagai berikut : 1. Hj. Siti Chotijah, SP 2. Bq. Enita Adi Santi, SP A. Materi / Bahan Pameran Materi yang disajikan/ ditampilkan dalam Pameran Pekan Raya Tani Nasiona antara lain : 1. Produk Sayur-sayuran : Bawang Merah dan Bawang Putih Sembalun, Bawang Putih Nunggal, 2. Produk Olahan : 3. Jagung berbagai macam olahan jagung seperti Jagung Garing, Emping Jagung/ Marning Jagung, Kerupuk Jagung, Nangka berbagai macam olahan dari nangka seperti Dodol nangka, Kripik nangka Dodol Sirsak, Dodol Wortel, Dodol Nanas, Dodol Tomat Berbagai macam kripik seperti Kripik Singkong, Kripik Kentang, Kripik Pisang, Kripik Talas, Rengginang singkong, Kripik Tempe, Bermacam-macam stiek : Stiek Kangkung, Stiek Bayam, Stiek Sawi, Stiek Wortel. Berbagai macam olahan Kacang : Kacang Kriuk, Kacang Asin, Kacang Telur. V. Hasil / Keluaran Pameran Pekan Raya Tani Nasional yang dilaksanakan di lapangan Parkir Ramayana pada tanggal 4 s/d 6 September 2013 di yang di buka oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Drs. Berry A. Litelnoni, SH, MSi. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa even ini merupakan bentuk pemerintah Pusat dalam mempromosikan beragam potensi pertanian sekaligus mengembangkan produk unggulan di propinsi NTT. Nusa Tenggara Timur memiliki produk Jeruk, Kopi Arabika,ubi kayu,dan masih banyak lagi produk unggulan yang tiidak ada di wilayah lain. Kegiatan ini juga merupakan momen penting bagi petani dan pengusaha pertanian wilayah NTT untuk melihat kemajuan usaha pertanian di wilayah lain dan menggali informasi guna dikembangkan di wilayah propinsi ini. Pameran Pekan Raya Tani ini dihadiri oleh 40 Peserta dari Kabupaten/ Kota di seluruh Indonesia dan berkesempatan berkunjung ke berbagai tempat wisata yang dimiliki NTT. Pembukaan Pekan Raya Tani dibuka dengan tarian pembukaan dan sambutan untuk Wakil Gubernur NTT. Dalam sambutan pembukaan yang disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Kupang bahwa petani NTT harus memanfaatkan keesempatan yang ada supaya memiliki pengetahhuan lebih tentang bagaimana mengolah hasil pertanian menjadi produk yang lebih bernilai ekonomis. Pameran ini sangat bermanfaat supaya petani kita bisa mendapat pengetahuan dan VI - 45

46 mengembangkannya di NTT. Selain itu kegiatan seperti ini juga membawa manfaat bagi pembangunan dan promosi pariwisata NTT. Dalam pameran ini Propinsi NTB menampilkan produk-produk olahan dari pelaku usaha, dimana produk-produk tersebut merupakan produk unggulan dari daerah di NTB. masyarakat tidak hanya menampilkan hasil olahan dari tiap provinsi, tapi pengujung juga bisa memperoleh ilmu dalam mengelola pertanian. Keikutsertaan provinsi Nusa Tenggara Barat pada ajang Pekan Raya Tani Nasional yang berlangsung selama 3 (tiga) hari, yaitu dari tanggal 4 s/d 6 September 2013, cukup memberikan konstribusi yang cukup signifikan terutama dalam upaya pengenalan beberapa komoditi strategis unggulan Daerah Nusa Tenggara Barat. Kegiatan pameran dan promosi yang diikuti di Kupang telah memberikan peluang kepada Provinsi Nusa Tenggara Barat khususnya kepada para pelaku usaha yang ikut serta dalam ajang pameran dan promosi kali ini untuk dapat mengakses peluang pasar serta melakukan penetrasi pasar, melalui kontak bisnis/kontak dagang langsung dengan pengunjung/buyers pada saat pameran berlangsung. Dalam ajang Pameran Pekan Raya Tani ini daerah lain yang ikut serta menampilkan produk baik yang diolah maupun masih berupa bahan mentah agar memberi pemahaman kepada pengunjung terutama petani di NTT bahwa dari bahan mentah tersebut bisa diolah menjadi kripik, Dodol, manisan dan olahan lainnya yang bernilai ekonomis tinggi. Yang terpenting bagaimanan petani atau pengusaha pertanian mengelola hasil pertanian yang menjadi potensi wilayahnya menjadi sesuatu yang lebih bernilai. VI. Kesimpulan Dan Saran A. Kesimpulan Berdasarkan hasil evaluasi dan supervisi, maka pelaksanaan serta penyelenggaraan Pameran Pekan Raya Tani Naasional yang berlangsung dari tanggal 4 s/d 6 September 2013 di Lapangan Parkir Ramayana, dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu : 1. Materi/komoditi yang dipromosikan/dipamerankan cukup menarik minat para pengunjung pameran, hal ini dipastikan dari jumlah produk yang terjual kepada pengunjung. 2. Pekan Raya Tani yang diadakan di Kupang NTT dapat memberi peluang yang sebesar-besarnya kepada petani di Kupang untuk dapat melakukan kerjasama yang baik di bidang pemasaran dengan petani/ Gapoktan dari daerah lain. 3. Mendorong Gapoktan membentuk Pasar Tani di Kupang sebagai sarana petani memasarkan hasil produksinya. B. S a r a n 1. Untuk lebih meningkatkan antusias masyarakat luas tentang even-even atau pameran yang akan diadakan sebaiknya perlu diinformasikan kepada masyarakat dengan menyebarluaskan leaflet-leaflet atau brosur serta diinformasikan lewat media masa dan media elektronik. 2. Dalam melaksanakan pameran Pekan Raya Tani ini sangat penting dalam menentukan daerah mana tempat kegiatan pameran dilaksanakan sehingga sesuai dengan tujuan kita melaksanakan kegiatan tersebut. VI - 46

47 3. Perlu adanya koordinasi terlebih dahulu dengan pihak terkait yang ikut terlibat dalam pelaksanaan Pekan Raya Tani ini sehingga dapat berjalan dengan baik sesuai yang diharapkan. VII. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- Sisa dana Rp ,- Alasan dana SIAP, terdapat dana Siap sebesar Rp ,- karena adanya efisiensi dana Sewa Stand. 1. Latar Belakang 1792.PENGEMBANGAN PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN LAPORAN KEGIATAN DAN PEMBINAAN PEMBINAAN PENGAWALAN DAN PENDAMPINGAN PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN 011. PEMBINAAN PENGAWALAN DAN PENDAMPINGAN PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN B. PEMBINAAN PENGAWALAN DAN PENDAMPINGAN PENGOLAHAN HASIL HORTIKULTURA Hasil pertanian merupakan bahan yang sangat mudah rusak sehingga perlu segera dilakukan penanganan. Berbagai teknologi penanganan, pengawetan dan pengolahan dapat meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk pertanian, baik dari segi bentuk fisik dan tampilan serta gizi maupun rasa, bebas dari jasad renik patogen serta residu bahan kimia, sehingga produk aman ( food safety ) dan dapat memenuhi persyaratan pasar dalam dan luar negeri. Untuk mengembangkan usaha industri pengolahan hasil yang menghasilkan produk olahan yang berkualitas dan bernilai tambah serta aman untuk dikonsumsi, dalam pelaksanaannya terdapat beberapa permasalahan diantaranya adalah rendahnya penguasaan sarana dan teknologi pengolahan hasil oleh petani/pelaku usaha, hal ini dikarenakan (a) belum intensifnya pengembangan kelembagaan layanan pengolahan (UP3HP); (b) terbatasnya akses petani/pelaku usaha terhadap teknologi, informasi, sarana dan modal; serta (c) terbatasnya kemampuan sumberdaya manusia. Dalam mengatasi permasalahan tersebut, maka perlu adanya upaya kegiatan pengawalan dan pembinaan terhadap aparat UP3HP dan pelaku usaha pengolahan hasil yang dilakukan secara intensif, terarah dan berkelanjutan. Melalui kegiatan pengawalan dan pembinaan pengolahan hasil pertanian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan manajerial aparat pembina di daerah, kelompok tani, gapoktan dan pelaku usaha sehingga mampu menjalankan usahanya dengan menerapkan teknologi pengolahan hasil yang tepat guna, manajemen produksi yang baik serta menghasilkan produk olahan yang memiliki nilai tambah dan daya saing. 2. Tujuan dan Sasaran a. Tujuan : Meningkatkan kemampuan petugas dan pelaku usaha pengolahan hasil pertanian VI - 47

48 dibidang manajemen mutu dan teknologi guna menghasilkan produk olahan yang memiliki nilai tambah, bermutu, aman dan berdaya saing. b. Sasaran : Terwujudnya 10 kelompok tani/pelaku usaha yang mampu menerapkan teknologi pengolahan hasil tepat guna dan jaminan mutu serta keamanan pangan sehingga mampu menghasilkan produk olahan yang bernilai tambah, aman untuk dikonsumsi, bermutu, dan berdaya saing. Meningkatnya keanekaragaman produk olahan hasil pertanian yang memiliki nilai tambah dan daya saing. 3. Pelaksanaan a. Pengawalan dan Pembinaan ke Kabupaten/kota Pembinaan Kelompok Usaha adalah kegiatan pembinaan yang diberikan kepada kelompok terseleksi di daerah pengembangan pengolahan hasil pertanian yang telah dibina sebelumnya. Pembinaan mencakup : (a) Identifikasi Kelompok yaitu merupakan kegiatan pengumpulan informasi tentang wilayah, karakter, kemampuan dan motivasi kelompok, yang dikembangkan menjadi informasi / database bagi pengembangan usaha pengolahan; (2) Bimbingan Teknis adalah kegiatan pembinaan SDM kelompok usaha pengolahan yang dilakukan langsung di lapangan. Kegiatan ini akan diberikan kepada kelompok yang telah diidentifikasi dan dinilai masih memerlukan perbaikan dibidang manajemen dan teknologi pengolahan hasil pertanian untuk mencapai produksi skala ekonomis, pemberdayaan SDM, penggunaan teknologi tepat guna, pengemasan dan labeling berbasis GMP. Kegiatan Pengawalan dan pembinaan dilaksanakan oleh petugas provinsi bersama-sama dengan petugas kabupaten/kota dengan cara berkunjung ke lokasi unit usaha /pelaku usaha di 9 kabupaten dan mengadakan pertemuan/wawancara dengan pelaku usaha menggunakan kuesioner yang telah disiapkan guna mengumpulkan data dan informasi tentang wilayah, karakter, kemampuan dan motivasi kelompok dan lain-lain serta untuk mengetahui permasalahan dan hambatan yang dihadapi dalam pengembangan uisaha dan sekaligus solusinya. Data dan informasi hasil identifikasi kelompok selanjutnya dianalisa sebagai bahan / materi pembinaan berikutnya. b. Koordinasi dan konsultasi ke pusat Tujuan kegiatan ini adalah menyamakan persepsi antara pusat dan daerah dalam menetapkan kebijakan program dan kegiatan pengawalan dan pembinaan pengolahan hasil pertanian, sehingga dalam pelaksanaannya dapat berjalan lancar dan tertib sesuai sasaran yang telah ditetapkan. Bagi petugas /pejabat yang melakukan koordinasi dan konsultasi ke pusat diberikan biaya perjalanan dinas yang besarnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 4. Hasil Pelaksanaan Kegiatan a. Pelaku usaha yang di kawal dan di Bina adalah sebagai berikut : Tabel VI-7. Pelaku Usaha Kabupaten/Kota se-ntb No Kabupaten/ Kota Pelaku Usaha Alamat Jenis usaha VI - 48

49 1 Lombok Barat UPH Mekar Sari Ihtiar 2 Lombok Tengah UPH. Bedait Malik Sejahtera 3 Lombok Timur Pade Geger. Haryani 4 Lombok Utara UPH. Erna Narni 5 Kota Mataram UPH.Sumber Rezeki Karya Makmur. 6 Sumbawa Melati UPH. Saling Sadu 7 Sumbawa Barat Kembang Kuning UPH YPSBi 8 Dompu UPH Mawar Merah Desa Suranadi/Narmada Desa Selat/Narmada Desa Kelebuh/Praya Aik Are/Jonggat Rumbuk/Sakra Nibas/Masbagik Gondang/Gangga Tanjung/Tanjung Ampenan/Ampenan Rembiga/Selaparang Kelungkung/Bt. Lanteh Desa Kanar,Labuan Badas Air Suning/Seteluk Skongkang Atas/Sekongkang Monta Baru/Woja Dodol Nangka, Ketan, Serikaya Pisang Sale Kerupuk Beras Keripik Pisang Keripik Pisang Bawang Goreng Pengol.Kerupuk Beras Keripik Pisang Keripik Nangka Keripik Pisang Jahe/Kunyit susu Kedelai. Keripik Pisang Lida Buaya Bawang Goreng Cahaya 9 Bima UPH. Siti Salehai UPH Oi Sie 10 Kota Bima UPH. Siti Salehai UPH. Hamzah Husen Monta Baru/Woja Nae/Rasanae Barat Desa Roko/ Belo Nae/Rasanae Barat Kel.Kumbe/RasanaE Keripik Pisang Aneka Kue Kering Aneka Kue Kering Keripik Pisang dan Bawang Goreng b. Tujuan dilaksanakannya pembinaan, pengawalan dan Pendampingan adalah : a). Terwujudnya kelompok tani/pelaku usaha yang mampu menerapkan teknologi pengolahan hasil tepat guna dan jaminan mutu serta keamanan pangan sehingga mampu menghasilkan produk olahan yang bernilai tambah, aman untuk dikonsumsi, bermutu, dan berdaya saing. b). Meningkatnya keanekaragaman produk olahan hasil pertanian yang memiliki nilai tambah dan daya saing. c). Pelaku usaha yang ada di masing-masing Kabupaten/Kota diharapkan dapat menjadi Primadona untuk memenuhi permintaan baik untuk kebutukan lokal maupun luar daerah, karena keberadaannya cukup setrategis. Para tamu sudah pasti akan membeli oleh- oleh khas Daerah sebagai buah tangan. 5. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(97,13 %) Realisasi Fisik :100 % Sisa dana Rp ,- VI - 49

50 Alasan dana SIAP, Merupakan efisiensi dana perjalanan dinas paket meiting luar kota. C. BIMBINGAN TEKNIS PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN A. Latar Belakang Selama ini kontribusi sektor pertanian khususnya sub sektor tanaman pangan terhadap penerimaan devisa lebih banyak diperoleh dari produk segar ( primer ) yang relative memberikan nilai tambah kecil dan belum mengandalkan produk olahan ( hilir ) yang dapat memberikan nilai tambah lebih besar. Potensi nilai tambah produk olahan pada sistem agribisnis mencapai sekitar 25 %, sedangkan pada produk segar ( primer ) hanya 9 %. Pada saat ini kondisi usaha industri pengolahan hasil tanaman pangan ( agroindustri ) perdesaan yang dikelola oleh kelompok tani/gapoktan di Nusa Tenggara Barat belum berkembang seperti yang diharapkan. Pengolahan hasil tanaman pangan pada industri skala kecil/rumah tangga, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, pengemasan sampai penyimpanan pada umumnya masih dilakukan secara sederhana dengan menggunakan teknologi sederhana, sehingga produk yang dihasilkan mutunya masih rendah dan kurang kompetitif. Belum berkembangnya industri pengolahan hasil tanaman pangan di Nusa Tenggara Barat dikarenakan antara lain : (1) terbatasnya kemampuan sumberdaya manusia (SDM) petani /pelaku usaha maupun aparat pembinanya ; (2) belum intensifnya pengembangan kelembagaan layanan pengolahan; (3) terbatasnya sarana/peralatan mesin mesin pengolahan di tingkat petani; (4) serta terbatasnya modal usaha. Terkait dengan hal itu, maka dalam rangka meningkatkan kemampuan Sumberdaya manusia ( SDM ) aparat pembina di kabupaten/kota dan provinsi dipandang perlu adanya kegiatan bimbingan teknis dan manajemen pengolahan hasil tanaman pangan guna meningkatkan kualitas pembinaannya di daerah. B. Tujuan dan Sasaran 1. Tujuan Tujuan kegiatan bimbingan teknis dan manajemen pengolahan hasil tanaman pangan adalah : Meningkatkan kemampuan teknis dan manajemen bagi aparat pembina kabupaten/kota dan provinsi di bidang pengolahan hasil tanaman pangan Memberikan dorongan dan motivasi kepada aparat pembina dalam rangka mendukung pengembangan agroindustri perdesaan 2. Sasaran Sasaran yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah : Meningkatnya kemampuan 30 orang aparat pembina dibidang pengolahan hasil tanaman pangan, sehingga diharapkan mampu melakukan pembinaan/pendampingan bagi pelaku usaha agroindustri tanaman pangan di wilayahnya. VI - 50

51 Termotivasinya aparat pembina untuk mengembangkan agroindustri tanaman pangan di wilayah binaannya. Tumbuh kembangnya agroindustri Tanaman Pangan di perdesaan yang mandiri, profesional dan berkelanjutan. C. Cara Pelaksanaan Kegiatan Pertemuan Bimbingan Teknis dan Manajemen a. Pembentukan Panitia Pelaksana Bimtek Kegiatan Bimbingan teknis dan manajemen pengolahan hasil tanaman pangan dalam pelaksanaannya diawali dengan pembentukan panitia pelaksana Bimtek dengan Surat Keputusan Pejabat Pembuat Komitmen Satker Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Nusa Tenggara Barat. Panitia pelaksana terdiri dari 4 personil yaitu : 1 orang Ketua, 1 orang Sekretaris dan 2 orang anggota. Kepada Panitia pelaksana diberikan honorarium yang besarnya sesuai dengan peraturan yang berlaku. b. Rapat Koordinasi Kegiatan Sebelum kegiatan bimbingan teknis dan manajemen pengolahan hasil tanaman pangan dilaksanakan, terlebih dahulu diadakan Rapat koordinasi kegiatan sebagai langkah persiapan pelaksanaan bimtek. D. Hasil Pelaksanaan Kegiatan Peserta mengikuti BINTEK dengan disiplin, tekun dan semangat serta proaktif dalam memeberikan input berdasarkan kemampuan dan pengalamannya di lapangan, yaitu sebagai berikut : 1. Bimbingan teknis pengolahan hasil pertanian terlaksana dengan baik dan terjadi diskusi yang mengarah pada perbaikan kegiatan pada masa yang akan datang 2. Kebijakan Pengembangan pengolahan Pertanian ada 4 yaitu : a. Peningkatan nilai tambah melalui agroindustri pedesaan, b. Peningkatan inovasi dan deseminasi teknologi pengolahan c. Peningkatan efisiensi usaha pengolahan hasil pertanian optimalisasi dan modernisasi sarana pengolahan d. Peningkatan upaya pengolahan lingkungan 3. Empat Pilar agroindustri yaitu : Sumber daya alam maupun sumber daya manusia, teknologi yang tepat, akses terhadap pasar, akses permodalan. 4. Sistem pemasaran dapat diperbaiki dengan meng-efisiensikan distribusi yang ada, promosi terhadap produk yang dihasilkan, pembagian level dan produk sehingga marjin tataniaga antara petani dan pedagang pengecer dapat diminimalkan. 5. Manfaat Sentra Pengemasan dapat memberikan keuntungan bagi pelaku usaha karena sesuai dengan GMP, sehingga dapat meningkatkan daya saing, mempertahankan mutu dan meningkatkan nilai tambah. 6. GMP adalah cara/ teknik berproduksi yang baik dan benar agar menghasilkan produk olahan yang bermutu memenuhi persyaratan keamanan pangan dan mutu. E. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(98,37 %) Realisasi Fisik : 100 % VI - 51

52 Sisa dana Rp ,-, karena adanya efisiensi penggunaan dana akomodasi dan konsumsi dan belanja perjalanan dinas paket meiting luar kota.l D. SOSIALISASI DAN APRESIASI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN A. Latar Belakang Produksi pertanian tanaman pangan di perdesaan pada umumnya dijual oleh petani dalam bentuk produk segar ( produk primer ) yang relatif memberikan nilai tambah kecil jika dibandingkan dengan produk olahan. Untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus membuka kesempatan kerja dan berusaha di bidang pertanian, maka diperlukan penumbuhan industri berbasis pertanian ( agroindustri ) di tingkat perdesaan. Tujuan dikembangkannya agroindustri perdesaan yaitu : 1. Meningkatkan nilai tambah hasil panen di perdesaan, baik untuk konsumsi langsung maupun untuk bahan baku agroindustri lanjutan. 2. Memberikan jaminan mutu dan harga sehingga tercapai efisiensi agribisnis. 3. Mengembangkan diversifikasi produk sebagai upaya meningkatkan keanekaragaman produk olahan pertanian serta penanggulangan kelebihan produksi atau kelangkaan permintaan pada periode tertentu. 4. Sebagai wahana pengenalan, penguasaan, pemanfaatan teknologi tepat guna dan sekaligus sebagai wahana peran serta masyarakat perdesaan dalam sistem agribisnis. Pengembangan agroindustri perdesaan merupakan pilihan yang strategis, karena selain dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, membuka lapangan pekerjaan dan menekan tingkat urbanisasi, juga dapat menjadi pendorong sekaligus penarik pertumbuhan ekonomi daerah, hal ini dikarenakan : (a) produknya memiliki nilai tambah dan pangsa pasar yang besar sehingga kemajuan yang dicapai dapat mempengaruhi pertumbuhan perekonomian daerah/nasional secara keseluruhan, (b) memiliki keterkaitan yang besar baik ke hulu, on-farm, maupun ke hilir, sehingga mampu menarik kemajuan sektor-sektor lainnya, (c) memiliki basis bahan baku lokal/regional ( keunggulan komparatif ) yang dapat diperbaharui sehingga terjamin keberlanjutannya, (d) memiliki kemampuan untuk mentransformasikan struktur ekonomi nasional dari pertanian ke industri. Pada saat ini industri pengolahan hasil ( agroindustri ) perdesaan di Nusa Tenggara Barat belum berkembang seperti yang diharapkan, hal ini dikarenakan disamping belum intensifnya pengembangan kelembagaan layanan pengolahan dan terbatasnya sumberdaya petani/pelaku usaha juga disebabkan kurangnya sosialisasi dan koordinasi antara Dinas/instansi terkait. Untuk itu, dalam rangka meningkatkan koordinasi dan mensosialisasikan pengembangan agroindustri tanaman pangan (agroindustri perdesaan) kepada masyarakat (aparat dan petani), maka perlu diselenggarakan kegiatan pertemuan koordinasi dan sosialisasi pengolahan hasil tanaman pangan. B. Tujuan dan Sasaran 1. Tujuan Mengkoordinasikan dan mensosialisasikan pengembangan agroindustri perdesaan kepada masyarakat /petani melalui aparat pembina Dinas Pertanian VI - 52

53 dan Gabungan Kelompoktani ( Gapoktan ) Meningkatkan kemampuan aparat pembina kabupaten/kota/provinsi dan Gapoktan dibidang pengolahan hasil tanaman pangan dalam rangka mendukung pengembangan agroindustri perdesaan Memberikan dorongan dan motivasi kepada aparat pembina Dinas Pertanian Provinsi/Kabupaten/Kota dan Gapoktan serta Dinas/instansi terkait lainnya dalam pelaksanaan pengembangan agroindustri perdesaan. 2. Sasaran Meningkatnya koordinasi dan meluasnya informasi tentang agroindustri perdesaan ditingkat petani dan aparat dinas/instansi, sehingga diharapkan pengembangan agroindustri perdesaan dalam pelaksanaannya dapat bersinergi dan didukung oleh masyarakat /petani dan pemangku kepentingan Meningkatnya kemampuan 30 orang aparat pembina dan petani/pelaku usaha dibidang pengolahan hasil tanaman pangan Tumbuhkembangnya agroindustri perdesaan berbasis Gapoktan di daerah sentra produksi yang mandiri, profesional dan berkelanjutan. C. Cara Pelaksanaan Kegiatan Sosialisasi dan Apresiasi Pengolahan Hasil Pertanian a. Pembentukan Panitia Pelaksana Pertemuan Kegiatan Pertemuan Koordinasi, Sosialisasi Pengolahan Hasil Tanaman Pangan dalam pelaksanaannya diawali dengan pembentukan panitia pelaksana pertemuan dengan Surat Keputusan Pejabat Pembuat Komitmen Satker Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Nusa Tenggara Barat. Panitia pelaksana terdiri dari 3 personil yaitu : 1 orang Ketua, 1 orang Sekretaris dan 1 orang anggota. Kepada Panitia pelaksana diberikan honorarium yang besarnya sesuai dengan peraturan yang berlaku. b. Rapat Koordinasi Kegiatan Sebelum kegiatan pertemuan koordinasi, sosialisasi pengolahan hasil tanaman pangan dilaksanakan, terlebih dahulu diadakan Rapat Koordinasi Kegiatan sebagai langkah persiapan pelaksanaan pertemuan. Tujuan rapat koordinasi antara lain : Meningkatkan koordinasi dan menyamakan persepsi diantara para petugas (panitia pelaksana, staf teknis) dalam pelaksanaan kegiatan pertemuan koordinasi, sosialisasi pengolahan hasil Tanaman Pangan. Menyusun rencana kegiatan pertemuan yang meliputi : waktu dan tempat penyelenggaraan pertemuan, akomodasi dan konsumsi yang harus disediakan, materi bimtek yang akan disampaikan termasuk nara sumbernya, jumlah dan asal peserta, penyusunan jadwal acara, dan lain-lain. c. Pembinaan, pembinaan dilaksanakan di Kota Mataram dan Kabupaten se P.Lombok. d. Mengikuti Workshop Pengolahan hasil Tanaman Pangan sesuai dengan panggilan Pusat. D. Hasil Kegiatan 1. Tempat, Waktu dan Peserta Pertemuan Kegiatan Pertemuan Sosialisasi dan Apresiasi P2HP dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2013 bertempat di Aula Padi, dihadiri oleh petugas Dinas Pertanian Provinsi dan Dinas Pertanian Kabupaten dan Pelaku Usaha se- NTB, dengan jumlah peserta seluruhnya 30 orang. VI - 53

54 2. Nara Sumber a. Kepala Dinas/ Pj. Yang mewakili b. Konsultan Pendampingan Sentra Pengemasan c. Ketua ASPPEHORTI d. Kasi. Pasca Panen dan Pengolahan Hasil e. Kasi Pemasaran Hasil dan Mutu 3. Materi Pertemuan Materi yang disampaikan pada kegiatan pertemuan koordinasi, sosialisasi pengolahan hasil tanaman pangan meliputi : 1. Kebijakan Pengolahan Hasil Pertanian 2. Pengembangan Usaha Pertanian dan Agribisnis 3. Pengembangan UPH untuk Kesejahteraan Petani Melalui Rumah Kemasan ASPPEHORTI 4. Kelembagaan Asosiasi Petani dan pengolahan Hasil Hortikultura (ASPPEHORTI) 5. Pemasaran Hasil Pertanian 6. Penjelasan Hasil RKA-KL 2014 dan Cara Pengisian Blanko Data Base Rumusan Hasil Sosialisasi : a. Dalam mengantisipasi perkembangan pasar global yang akan datang, masalah pemasaran dan mutu produk menjadi lebih kompleks. Pemasaran yang mengandalkan keunggulan komparatif sudah selayaknya diarahkan pada kompetitif. b. Dalam upaya pengembangan pengolahan hasil pertanian, dengan karakteristik usaha yang berskala kecil dengan berbagai keterbatasannya, memerlukan kebijakan pengembangan yang memiliki keunggulan. Salah satu pendekatan terintegrasi yang dipandang sesuai, adalah pendekatan kelompok yang memiliki jaringan usaha. c. Pengolahan Hasil Pertanian( UP3HP, peningkatan produktivitas usaha tani tidak secara otomatis meningkatkan pendapatan usaha tani dan kalaupun pendapatannya meningkat, tidak terlalu berarti karena belum mampu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan petani bersama keluarganya. d. Untuk mengatasi keterpurukan petani ada beberapa alternatif yang harus dilakukan, antara lain : a) Mengupayakan agar petani mencapai produktivitas tanaman pangan dan hortikultura yang maksimal perhektarnya. b) Petani selama ini memperoleh harga jual produk pertanian paling rendah dari standar yang telah ditetapkan atau minimal pendapatan seorang petani perbulan setara atau sama dengan pendapatan seorang pekerja buruh (UMR) yang ditetapkan pemerintah. e. Kelembagaan UP3HP yang dalam kegiatannya melakukan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian siap melakukan kerjasama pasar tani dalam memenuhi kebutuah bahan baku maupun dalam pemasaran produk pertania f. Pengemasan Hortikultura, kegiatan ini adalah kegiatan baru sebagai terobosan percepatan perbaikan kemasan produk olahan hortikultura guna mendukung peningkatan daya saing produk olahan yang diproduksi oleh masyarakat, Assosiasi Pengolah Hasil Hortikultura (ASPEHORTI). g. Pada umumnya produk olahan hasil hortikulura masih terkendala oleh jenis, bentuk, desain dan pelabelan kemasan yang kurang baik. Dengan adanya pusat pengemasan produk olahan hortikultura diharapkan muncul produk-produk VI - 54

55 bermutu yang dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan dapat diorganisir menjadi pusat-pusat pemasaran bersama produk olahan. h. Pengelola Sentra Pengemasan Produk Olahan Hortikultura Sentra pengemasan produk olahan hortikultura diletakkan pada dana Tugas Pembantuan propinsi yang dialokasikan di Kota Matarami, memungkinkan setiap pelaku usaha dapat dengan mudah mengakses Pusat Pengemasan. Pengelola Pusat Pengemasan Produk Olahan Hortikultura adalah Assosiasi. i. Dalam pengembangan sektor pertanian ke depan masih ditemui beberapa kendala, terutama dalam pengembangan sistem pertanian yang berbasiskan agribisnis dan agroindustri. Kendala tersebut antara lain: (a) lemahnya struktur permodalan dan akses terhadap sumber permodalan; (b) ketersediaan lahan dan masalah kesuburan tanah; (c) pengadaan dan penyaluran sarana produksi; (d) terbatasnya kemampuan dalam penguasaan teknologi; (e) lemahnya organisasi dan manajemen usaha tani; dan (f) kurangnya kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia untuk sektor agribisnis j. Petani menghadapi beberapa kendala untuk memasarkan produk pertanian, antara lain: (a) kesinambungan produksi; (b) panjangnya saluran pemasaran; (c) kurang memadainya pasar; (d) kurang tersedianya informasi pasar; (e) rendahnya kemampuan tawar-menawar; (f) berfluktuasinya harga; (g) rendahnya kualitas produksi; (h) kurang jelasnya jaringan pemasaran; dan (i) rendahnya kualitas sumberdaya manusia. k. Guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani perlu dibangun kemitraan usaha yang berbasis agribisnis. Kemitraan usaha tersebut harus melibatkan lembaga ekonomi masyarakat (koperasi), lembaga perkreditan, pengusaha tani (petani), dan pengusaha. E. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (83,45 %) Realisasi Fisik : 100 % Sisa dana Rp ,- Belum ada panggilan agenda dari Pusat untuk kegiatan workshop pengolahan hasil. E. PEMBINAAN, PEGAWALAN DAN PEDAMPINGAN PENGOLAHAN HASIL TANAMAN PANGAN A. Latar Belakang Pada saat ini kondisi usaha industri pengolahan hasil tanaman pangan (agroindustri) perdesaan yang dikelola oleh kelompok tani/gapoktan di Nusa Tenggara Barat belum berkembang seperti yang diharapkan. Pengolahan hasil tanaman pangan pada industri skala kecil/rumah tangga, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, pengemasan sampai penyimpanan pada umumnya masih dilakukan secara sederhana dengan menggunakan teknologi sederhana, sehingga produk yang dihasilkan mutunya masih rendah dan kurang kompetitif. Belum berkembangnya industri pengolahan hasil tanaman pangan di Nusa Tenggara Barat dikarenakan antara lain : (1) terbatasnya kemampuan sumberdaya manusia (SDM) petani /pelaku usaha maupun aparat pembinanya ; (2) belum intensifnya pengembangan kelembagaan layanan pengolahan; (3) terbatasnya sarana/peralatan mesin mesin VI - 55

56 pengolahan di tingkat petani; (4) serta terbatasnya modal usaha. Terkait dengan hal itu, maka dalam rangka meningkatkan kemampuan Sumberdaya manusia ( SDM ) aparat pembina di kabupaten/kota dan provinsi dipandang perlu adanya kegiatan bimbingan teknis dan manajemen pengolahan hasil tanaman pangan guna meningkatkan kualitas pembinaannya di daerah. B. Tujuan dan Sasaran a. Tujuan Tujuan kegiatan bimbingan teknis dan manajemen pengolahan hasil tanaman pangan adalah : Meningkatkan kemampuan teknis dan manajemen bagi aparat pembina kabupaten/kota dan provinsi di bidang pengolahan hasil tanaman pangan Memberikan dorongan dan motivasi kepada aparat pembina dalam rangka mendukung pengembangan agroindustri perdesaan b. Sasaran Sasaran yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah : Meningkatnya kemampuan aparat pembina dibidang pengolahan hasil tanaman pangan, sehingga diharapkan mampu melakukan pembinaan/pendampingan bagi pelaku usaha agroindustri tanaman pangan di wilayahnya. Termotivasinya aparat pembina untuk mengembangkan agroindustri tanaman pangan di wilayah binaannya. Tumbuh kembangnya agroindustri Tanaman Pangan di perdesaan yang mandiri, profesional dan berkelanjutan. C. Hasil Kegiatan 1. Kegiatan Bimbingan Teknis dan Manajemen Pengolahan Hasil Tanaman Pangan dilaksanakan di Kabupaten Kota se-ntb, ada beberapa hal yang menjadi bahan diskusi adalah : a. Bimbingan Teknis ini harus dapat menyamakan pandangan antara Pemerintah Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota dalam pelaksanaan kegiatan Pengolahan Hasil Tanaman Pangan b. Hal lainnya adalah pengembangan industri Pengolahan Hasil dimaksud harus dapat meningkatkan nilai tambah, meningkatkan mutu dan daya saing produk yang dihasilkan. Berkaitan dengan Unit Pengolahan Hasil (UPH) yang dibangun, agar dapat menghasilkan beberapa produk atau dengan kata lain tidak menghasilkan produk tunggal c. Pengembangan usaha pengolahan hasil Tanaman Pangan diharapkan menjadi usaha yang dapat menyerap dan melibatkan tenaga kerja masyarakat di pedesaan. Perlunya kreativitas, profesionalisme dan jiwa entrepreneur ship bagi Petugas Pembinadi Kabupaten/Kota., serta dengan kegiatan bimbingan dan pengawalan pengolahan hasil tanaman Pangan diharapkan dapat mengakselerasi peningkatan daya saing dan nilai tambah produk pertanian sehingga tercapai efisiensi agribisnis sekaligus mengembangkan diversifikasi usaha produk hasil pertanian. d. Tuntutan terhadap pangan nabati akan terus meningkat baik jumlah, mutu, maupun variasi bahan dan produknya, terlebih lagi globalisasi mensyaratkan kompetisi yang ketat dalam perdagangan pangan. Sentuhan teknologi pangan diharapkan mampu mengembangkan produk olahan hasil pertanian yang inovatif VI - 56

57 dan berdaya saing tinggi. e. Peningkatan peran teknologi pangan dalam penyediaan pangan olahan hasil pertanian untuk pasokan kebutuhan pangan dan hasil olahan bagi masyarakat NTB adalah sangat dibutuhkan. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para Petugas Kabupaten/Kota dan pelaku usaha pengolah hasil pertanian dan para aparat pembina di daerah. f. Penerapan pengetahuan/wawasan pengolahan pasca pelaksanaan bimbingan dan pengawalan perlu adanya tindak lanjut oleh aparat pembina di tingkat Propinsi/ Kabupaten/Kota, dalam kerangka pembinaan pelaku usaha secara simultan. 2. Mendata jenis kegiatan dan jumlah pelaku usaha yang ada di Kabupaten Kota. 3. Melaksanakan kunjungan lapangan ( ke UPH yang tersebar di Kabupaten/ Kota) dalam rangka melaksanakan pendampingan dan Pengawalan kegiatan di Kabupaten. D. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (100 %) Realisasi Fisik : 100 % Sisa dana Rp PENYUSUNAN DATA BASE PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERTANIAN. A. Latar Belakang Perencanaan pembangunan pertanian termasuk pembangunan pengolahan hasil pertanian dapat terealisir apabila didukung oleh data dan informasi di sektor hilir, sektor hulu, on-farm dan jasa pendukung. Namun demikian data utama yang sangat menentukan untuk meningkatkan kinerja pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian adalah data dan informasi di sektor hilir dan data tersebut saat ini sangat terbatas. Untuk itu, mengingat data dan informasi sangat diperlukan dalam mendukung perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian di daerah, maka perlu dilaksanakan kegiatan penyusunan database pengolahan dan pemasaran hasil pertanian. B. Tujuan dan Sasaran 1. Tujuan : Tujuan pengembangan database pengolahan dan pemasaran hasilpertanian adalah: Sebagai panduan di dalam melakukan pengumpulan dan pengolahan data yang berguna untuk menggambarkan kinerja pembangunan PPHP Berfungsi dalam menganalisa secara langsung perkembangan kegiatan sektor pengolahan dan pemasaran hasil pertanian Memperoleh informasi untuk indicator pemerintah sebagai bahan pemantauan perkembangan sektor agribisnis 2. Sasaran : Tersedianya standarisasi system dan prosedur pengumpulan data, metode pengolahan dan penyajiannya. VI - 57

58 Tersedianya profil usaha lingkup industri berbasis pertanian yang lengkap beserta skala usahanya yang tergolong besar, sedang, kecil dan mikro. Termonitornya perkembangan industry pertanian C. Cara Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan penyusunan database dalam pelaksanaannya dilakukan melalui tahapan persiapan dan pelaksanaan 1. Persiapan a. Konsultasi Ke Pusat Konsultasi ke pusat dilakukan sebelum dilaksanakan penyusunan database. Tujuan konsultasi adalah untuk menyamakan persepsi antara pusat dan daerah dalam pelaksanaan penyusunan database PPHP, sehingga diharapkan database yang disusun tidak menyimpang dan sesuai dengan kehendak pusat. Bagi petugas/pejabat yang melakukan konsultasi ke pusat diberikan biaya perjalanan dinas yang besarnya sesuai dengan peraturan yang berlaku. b. Pembentukan Tim Identifikasi dan Pengumpulan Data Untuk kelancaran dalam pelaksanaan kegiatan penyusunan data base P2HP perlu dibentuk Tim Teknis Identifikasi dan Pengumpulan Data dengan Surat Keputusan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Susunan keanggotaan Tim teknis terdiri dari : Ketua Tim, Sekretaris, Koordinator dan anggota. c. Rapat Koordinasi I Tujuan rapat koordinasi I adalah untuk menyamakan persepsi diantara para petugas Tim Teknis dalam pelaksanaan penyusunan data base. Rapat koordinasi I dilaksanakan di Mataram, berlangsung selama 1 hari, dihadiri oleh petugas yang tergabung dalam Tim Identifikasi database Dinas pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi NTB, dengan jumlah peserta seluruhnya 25 orang. Materi rapat membahas kesiapan pelaksanaan identifikasi, yaitu antara lain menentukan jenis dan model data yang diperlukan, sumber data, menyusun jadwal pelaksanaan identifikasi, menyusun kuesioner dan persiapan lainnya. 2. Pelaksanaan a. Identifikasi dan Pengumpulan data Kegiatan identifikasi dan pengumpulan data di lapangan dilaksanakan oleh Tim Teknis Identifikasi dan Pengumpulan Data yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kegiatan identifikasi dan pengumpulan data dilakukan dengan cara berkunjung ke Dinas Pertanian Kabupaten/Kota se- NTB dan mengadakan pertemuan dengan petugas terkait guna mengumpulkan data yang diperlukan sesuai blanko yang telah disediakan. Disamping itu, untuk melengkapi data yang ada, dilakukan pula kunjungan ke lokasi kelompok tani/gapoktan/pelaku usaha pasca panen, pengolahan dan pemasaran hasil pertanian. Rapat koordinasi II dilaksanakan di Mataram, berlangsung selama 1 hari, dihadiri oleh petugas yang tergabung dalam Tim Teknis Identifikasi dan Pengumpulan data Dinas pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi NTB, dengan jumlah peserta seluruhnya 25 orang. Materi rapat membahas hasil identifikasi yang telah dilaksanakan dan pada kesempatan VI - 58

59 tersebut dimanfaatkan untuk mengoreksi data dan informasi hasil identifikasi. Apabila terjadi kekeliruan data atau kurang lengkap data yang diperoleh, maka pelaksana kegiatan segera memperbaiki dan melengkapi data tersebut melalui petugas Dinas Pertanian Kabupaten/Kota. b. Penyusunan Database PPHP Data dan informasi hasil identifikasi yang dikumpulkan dari lapangan, setelah dikoreksi selanjutnya disusun, diketik dan digandakan oleh Tim Penyusun yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Pejabat Pembuat Komitmen ( PPK ) Kepada Tim Penyusun diberikan honorarium yang besarnya sesuai dengan peraturan yang berlaku. D. Hasil Kegiatan : 1. BUKU DATA BASE 2013, dimaksudkan sebagai upaya untuk memberikan pelayanan informasi kepada masyarakat, terutama dunia usaha/pelaku usaha, BUMN/BUMD, Badan/Dinas/Instansi tentang potensi sub sektor tanaman pangan dan hortikultura di Nusa Tenggara Barat 2. Isi Buku ini mencakup kegiatan : a. Data Produksi Dan Potensi Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Ntb b. Data Investasi Provinsi Ntb c. Data Identifikasi Unit Pengolahan Hasil (Uph) / Pelaku Usaha d. Data Profil Unit Pengolahan Hasil (Uph) Provinsi NTB e. Data Identifikasi Alat Dan Mesin f. Data Monitoring Bantuan Alat Dan Mesin g. Data Penggilingan Padi h. Data Rata-Rata Harga Grosir Dan Eceran Tanaman Pangan Dan Hortikultura i. Data Profil Dan Kinerja Unit Pengolahan Hasil (Uph E. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(100 %) Realisasi Fisik : 100 % Sisa dana Rp DOKUMEN PERENCANAAN, KEUANGAN, ORGANISASI DAN KEPEGAWAIAN SERTA EVALUASI DAN PELAPORAN PERENCANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN A. ADMINISTRASI SATKER VI - 59

60 I. Latar Belakang Sesuai dengan semangat reformasi pembangunan, Pemerintah telah mengambil kebijakan untuk mengarahkan program pembangunan pertanian termasuk di bidang pengolahan dan pemasaran hasil. Untuk mencapai program pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil secara berdaya guna dan berhasil guna diperlukan dua komponen utama yang saling terkait dan saling menunjang, yaitu komponen fisik / teknis dan komponen administrasi. Ketertiban dan kelancaran komponen administrasi akan menunjang kelancaran dan keberhasilan komponen fisik / teknis yang pada akhirnya akan menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan dan pencapaian sasaran program. Sasaran-sasaran kegiatan yang ada dalam program hanyalah merupakan sasaran antara untuk mencapai sasaran akhir dari tujuan pembangunan dibidang pengolahan dan pemasaran hasil pertanian. Sasaran tersebut hanya dapat dicapai apabila dipadukan dan mendapat dukungan dari sektor / sub sektor lainnya yang terkait. Maka untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut, diupayakan agar administrasi kegiatan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan tertib, sehingga terjadinya penyelewengan dan penyimpangan dapat dihindari dan penggunaan dana dapat lebih efisien dan efektif.sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam menunjang kelancaran program pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian perlu diperhatikan masalahmasalah penting seperti : pembinaan sumberdaya manusia, pengelolaan anggaran, proses pengadaan barang dan jasa, penatausahaan barang inventaris sebagai aset negara / pemerintah dan peningkatan dan pengendalian. Permasalahan yang sering terjadi dalam pelaksanaan kegiatan / program adalah tidak tercapainya sasaran program yang telah ditetapkan dan terjadinya penyimpangan-penyimpangan yang menyebabkan penggunaan dana menjadi tidak efisien dan efektif. Dalam mengatasi permasalahan tersebut, maka administrasi kegiatan perlu dilakukan secara baik, tertib dan terarah. II. Maksud dan Tujuan Kegiatan a. Maksud Kegiatan Menyelenggarakan administrasi program/ kegiatan dan anggaran yang tertib, teratur, terarah, efektif dan efisien dalam mendukung kegiatan fisik/teknis. b. Tujuan Kegiatan Meningkatkan sumber daya manusia ( SDM ) pengelola program/kegiatan dan anggaran dalam melaksanakan administrasi kegiatan yang baik, tertib dan terarah guna mendukung kegiatan teknis/fisik. III. Hasil Kegiatan a. Buku Petunjuk Pelaksanaan dan Petunjuk Teknis (Juklak/Juknis) b. Surat keputusan (SK-SK) terkait dengan pengelolaan anggaran Dekonsentrasi c. Rancangan anggaran 2014 (RKA-KL 2014) d. Laporan-laporan hasil kegiatan IV. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp (86,73%) Realisasi Fisik : 100 % Sisa dana Rp ,- VI - 60

61 Alasan :tidak ada panggilan pusat untuk agenda nasional kegiatan sinkronisasi PPHP dan adanya efisiensi perjalanan dalam rangka penyusunan RKAKL. I. Latar Belakang 012. EVALUASI, PEMANTAUAN DAN PELAPORAN A. EVALUASI, PEMANTAUAN DAN PELAPORAN Untuk mengetahui berhasil tidaknya pelaksanaan program kegiatan pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian perlu dlakukan monitoring dan evaluasi terhadap perkembangan pelaksanaan program/ kegiatan dan anggaran yang digunakan. Sistem informasi manajemen dan pelaporan merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting didalam proses pembangunan. Kegiatan ini dilakukan untuk memberikan informasi yang cepat, tepat dan akurat kepada pemangku kepentingan sebagai bahan pengambilan keputusan sesuai dengan kondisi yang terjadi serta penentuan kebijakan yang relevan. Pelaporan hasil kegiatan program dan anggaran kinerja ini merupakan salah satu bentuk media penyampaian informasi terhadap serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak dari persiapan kegiatan sampai pada akhir pelaksanaan. Melalui laporan yang baik akan dapat dilihat sejauhmana perkembangan pelaksanaan, hasil pelaksanaan dan tingkat keberhasilannya. Kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 39 tahun 2006 dan SK Mentan nomor 431 / Kpts/ RC.210 / 2004 tanggal 13 Juli 2004 tentang Pedoman Sistem Monitoring dan Evaluasi dan Pelaporan (Si-Monev) Program Pembangunan Pertanian dan surat edaran Menteri Pertanian No. 391/RC.210/A/6/2005 tanggal 29 Juni 2005 tentang Sistem Monitoring dan Evaluasi dan Pelaporan ( Si-Monev) Anggaran berbasis kinerja tahun II. Maksud dan Tujuan Kegiatan a. Maksud Kegiatan Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program /kegiatan dan anggaran pembangunan P2HP di Nusa Tenggara Barat. b. Tujuan Kegiatan : - Mengetahui perkembangan pelaksanaan program/kegiatan dan anggaran sebagai upaya antisipasi terhadap penyimpangan/penyelewengan yang mungkin terjadi dan perbaikan perencanaan dan pelaksanaan dimasa mendatang - Meningkatkan sumber daya manusia ( SDM ) pengelola program/kegiatan dan anggaran, sehingga dalam pelaksanaan program / kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik sesuai sasaran yang telah ditetapkan. III. Cara Pelaksanaan Kegiatan a. Metode Pelaksanaan 1) Penyusunan Petunjuk Pelaksanaan/Petunjuk Teknis Kegiatan 2) Monitoring dan evaluasi 3) Mengikuti Workshop Aplikasi SIMONEV 4) Konsultasi dan Koordinasi 5) Pelaporan VI - 61

62 b. Tahapan Kegiatan 1) Tahap persiapan - Penyusunan Petunjuk Pelaksanaan dan Petunjuk Teknis Kegiatan - Pembuatan Surat Keputusan oleh Pejabat Pembuat Komitmen / Kuasa Pengguna Anggaran ( KPA ) tentang Penunjukan dan pemberian honor pertugas SIMONEV. 2) Tahap pelaksanaan - Monitoring dan evaluasi ke Kabupaten/Kota - Mengikuti Workshop Aplikasi SIMONEV - Konsultasi dan koordinasi ke pusat 3) Tahap Evaluasi dan Pelaporan Evaluasi dilakukan terhadap pelaksanaan program/kegiatan yang telah dilaksanakan dan dilaporkan secara berkala dan berjenjang. IV. Hasil yang dicapai : 1. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan realisasi masukan (input), keluaran (output), dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. 2. Fokus utama evaluasi diarahkan kepada keluaran (output), hasil (outcome) dan dampak (impacts) dari pelaksanaan rencana pembangunan. Oleh karena itu, dalam perencanaan yang transparan dan akuntabel, harus disertai dengan penyusunan indikator kinerja pelaksanaan rencana yang sekurang-kurangnya meliputi : (1) indikator masukan, indikator keluaran dan indikator hasil / manfaat. 3. Hasil yang dicapai adalah : Laporan Perkembangan kegiatan di Kabupaten/Kota se NTB. 4. Laporan Simonev (10 bulan) V. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (93,66 %) Realisasi Fisik : 100 %) Sisa dana Rp ,- Alasan, adanya efisiensi perjalanan dinas dan pengiriman laporan 1. Latar Belakang 013. PELAPORAN SAI/SIMAK BMN Laporan yang disampaikan, baik untuk anggaran dekonsentrasi, maupun tugas pembantuan Provinsi, meliputi laporan kinerja dan laporan Sistem Akuntansi Instansi (SAI) yang wajib dilakukan setiap bulan, triwulan dan semesteran. Kinerja penyampaian laporan akan dijadikan salah satu dasar penentuan anggaran tahun berikutnya sebagai penerapan azas reward and punishment. 2. Kegiatan yang dilaksanakan a. Uraian kegiatan : 1) Melaksanakan input data SPM/ menyusun laporan SAI setiap bulan 2) Mengikuti Workshop Penyusunan Laporan SAI Semester I dan II, yang jadwalnya ditentukan oleh Pusat VI - 62

63 3) Mengikuti koordinasi pengelolaan keuangan. b. Batasan kegiatan : Kegiatan ini hanya terbatas kepada pelaksanaan kegiatan SAI dan mengikuti pertemuan sesuai dengan agemda Pusat. 3. Maksud dan Tujuan Kegiatan (why) a. Maksud kegiatan : Terselenggaranya koordinasi, pembinaan administrasi dan pengelolaan keuangan. b. Tujuan Kegiatan : 1) Untuk mengetahui perkembangan realisasi keuangan per kegiatan pada setiap bulannya. 2) Untuk mengetahui Barang Milik Negara yang ada di Dinas Pertanian TPH 4. Indikator keluaran : a. Indikator kualitatif : Diketahui perkembangan keuangan dan SABN setiap bulannya b. Indikator kuantitatif : Tersedianya laporan pembinaan administrasi dan pengelolaan keuangan dan SABN selama 12 bulan. 5. Cara Pelaksanaan kegiatan a. Berdasarkan data realisasi SPM dan SP2D dengan menitik beratkan pada penggunaan pos belanja pegawai, belanja barang, belanja barang, belanja modal dan belanja-belanja lainnya. Operator yang menangani SAI memasukkan / mengentri data ke dalam program SAI. b. Laporan tersebut dilaporkan perkembangannya setiap bulan. c. Komponen pembiayaan, tertuang dalam RAB 6. Hasil Kegiatan: Laporan SAI dan SIMAKBMN a. Laporan perkembangan realisasi keuangan dan SABN per kegiatan pada setiap bulannya. b. Laporan Barang Milik Negara yang ada di Dinas Pertanian TPH c. Laporan Pembinaan administrasi dan pengelolaan keuangan dan SABN selama 12 bulan 7. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp (87,90 %) Realisasi Fisik :100 % Sisa dana Rp ,- Alasan : karena adanya efisiensi anggaran perjalanan dinas 1. Latar Belakang 015. PENGAWALAN DAN PEMBINAAN LM3 Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) untuk sektor Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian pada tahun 2012 pada prinsipnya mengacu kepada VI - 63

64 Pedoman Penguatan Modal Usaha Kelompok dan Pondok Pesantren yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian yaitu LM3 bidang usaha pasca panen, pengolahan dan pemasaran hasil pertanian yang merupakan usulan pada tahun Bantuan dana yang diberikan kepada LM3 merupakan bantuan sosial penguatan modal usaha yang harus dikelola dan dipertanggung jawabkan sesuai dengan Rencana Usaha Kegiatan (RUK). LM3 merupakan bentuk pola pemberdayaan kelompok, yang diwujudkan dalam bentuk penyaluran dana langsung ke rekening kelompok tani dan pondok pesantren. LM3 diterapkan guna mengatasi permasalahan utama di tingkat petani dan masyarakat yaitu keterbatasan modal petani, disamping permasalahan tingkat usaha tani yang lain, rendahnya pengusahaan teknologi serta lemahnya SDM dan kelembagaan petani. Melalui pola Pemberdayaan yang diterapkan, diharapkan dapat merangsang tumbuhnya kelompok usaha agribisnis dan mempercepat terbentuknya jaringan kelembagaan agribisnis disuatu wilayah. 2. Maksud dan Tujuan a. Maksud kegiatan adalah melalui kegiatan ini diharapkan akan tumbuh usaha agribisnis yang berdaya saing di LM3 sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat disekitar lokasi LM3. b. Tujuan : 1) Tumbuhnya kesadaran LM3 dalam pengembangan usaha agribisnis di lembaganya. 2) Meningkatkan kemampuan petani/ kelompok tani dalam mengelola usahanya 3) Meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang berdaya saing. 3. Hasil yang dicapai : A. Sosialisasi Program LM3, Evaluasi LM3 Tahun sebelumnya : 1. Tempat dan Waktu, Kegiatan Sosialisasi Program LM3, Evaluasi LM3 tahun sebelumnya dilaksanakan Di Hotel Lombok Plaza tanggal 15 April Peserta, Peserta Sosialisasi Program LM3, Evaluasi LM3 tahun sebelumnya ini berasal dari Gapoktan/ Poktan dan Petugas Kabupaten/ Kota se Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan rincian sebagai berikut : Tabel VI-8. Petugas & Peserta Sosialisasi Program LM3 Kabupaten/Kota se-ntb Kabupaten Petugas Peserta 1. Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Keluatan Kota Mataram Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Barat Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah 1 1 VI - 64

65 4. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Kehutanan 1 1 Kabupaten Lombok Utara 6. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Dompu; Kepala Dinas Kehutanan, Pertanian dan Perkebunan Kabupaten 1 1 Sumbawa Barat 8. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Sumbawa Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Bima; Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kota Bima; 1 1 TOTAL Nara Sumber Nara Sumber pada kegiatan Sosialisasi Program LM3, Evaluasi LM3 tahun sebelumnya ini berasal dari : a. Dinas Pertanian TPH Provinsi NTB. b. Bank BRI cabang Mataram 4. Rumusan Hasil Sosialisasi : a. Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) merupakan lembaga mandiri yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dengan kegiatan meningkatkan gerakan moral melalui kegiatan pendidikan dan keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Termasuk dalam kategori LM3 antara lain Pondok Pesantren, Seminari, Paroki dan Gereja, Pasraman, Vihara, Subak dll. b. Dengan adanya pertemuan Sosialisasi Kebijakan dalam Rangka Peningkatan Partisipasi Masyarakat (LM3) sehingga dapat menumbuhkan kesadaran LM3 serta meningkatkan semangat dan kapasitasnya untuk mengembangkan usaha agribisnis LM3 agar dapat lebih berperan dalam pembangunan masyarakat, baik dalam aspek moral spiritual, sosial maupun ekonomi. c. LM3 terpilih yang akan menjadi sasaran peserta pemberdayan dan pengembangan usaha adalah LM3 berbasis keagamaan dan berwawasan agribisnis yang mempunyai kendala permodalan untuk menjalankan usahanya dibidang pertanian. Guna memperoleh manfaat secara luas, maka penetapan LM3 terpilih berdasarkan atas beberapa kriteria, yaitu: Kriteria umum, Kriteria administrasi,kriteria teknis serta, Kriteria kompetensi. S a r a n a. Tim pembina dan tim teknis agar meningkatkan pembinaan teknis dan pengendalian kegiatan LM3 dan petugas Pendamping agar meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait dalam pendampingan LM3. b. Pembinaan LM3 dilakukan secara berkelanjutan yang meliputi pelatihan usaha, pemberdayaan kelompok tani dan bimbingan teknis, agar mampu mengembangkan usahanya secara mandiri, yang selanjutnya diharapkan sebagai motivator/fasilitator pengembangan agribisnis pada masyarakat sekitarnya. c. Pemerintah Kabupaten/ Kota melalui dinas lingkup pertanian Provinsi melakukan koordinasi, sosialisasi, pembinaan, monitoring, evaluasi dan pelaporan LM3 serta melakukan pembinaan lanjutan bagi LM3 yang pernah difasilitasi Departemen Pertanian. VI - 65

66 d. Menyusun laporan bulanan secara tertib dan dikirim sesuai pedoman umum bagi kelompok tani penerima LM3 e. Dalam rangka Sosialisasi LM3 lebih diharapkan untuk mengadakan sosialisasi di kabupaten/ kota dengan mengumpulkan para petani sekitar lokasi ponpes, sehingga lebih efektif serta didukung dengan dana untuk perjalanan ke kabupaten. 5. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(100 %) Realisasi Fisik : 100 % b. Sumber Dana Tugas Pembantuan PRORGAM PENINGKATAN NILAI TAMBAH, DAYA SAING, INDUSTRI HILIR,PEMASARAN EKSPOR HASIL PERTANIAN PENGEMBANGAN PEMASARAN DOMESTIK OPTIMALISASI SARANA DAN KELEMBAGAAN PASAR DOMESTIK FASILITASI SARANA PEMASARAN HASIL PERTANIAN 011. FASILITASI PASAR TANI DI KABUPATEN SUMBAWA 012. FASILITASI PASAR TANI DI KABUPAT LOMBOK TIMUR 013. FASILITASI PASAR TANI DI KABUPAT LOMBOK BARAT 014. FASILITASI PASAR TANI DI KOTA MATARAM I. PENDAHULUAN Posisi petani Indonesia sampai saat ini hanya sebagai penerima harga dan bukan penentu harga, hal ini disebabkan antara lain oleh kurangnya sarana pemasaran bagi petani/poktan/gapoktan, kurangnya kemampuan anajemen pemasaran serta kurangnya informasi dan akses pasar ke konsumen. Salah satu upaya terobosan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan posisi tawar petani dan mengubah pola pikir petani menjadi pola pikir bisnis adalah dengan menyediakan berbagai fasilitasi antara lain Fasilitasi Sarana dan Kelembagaan Pemasaran Hasil Pertanian. Fasilitasi ini berupa Fasilitasi Sarana dan Kelembagaan Pasar Tani, Fasilitasi Sarana dan Kelembagaan STA serta Fasilitasi Pemasaran untuk Poktan/Gapoktan yang telah dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia namun belum memperlihatkan hasil yang memuaskan. Dalam upaya meningkatkan kembali peran Pasar Tani dan STA sebagai sarana dan kelembagaan pemasaran bagi petani serta menguatkan kelembagaan Poktan PHP, disusun Pedoman Teknis Fasilitasi Sarana dan Kelembagaan Pemasaran Hasil Pertanian Tahun 2013 sebagai landasan dalam pelaksanaan kegiatan Pengawalan dan Pengembangan/Revitalisasi Pasar Tani, Pengawalan dan Optimalisasi Pengelolaan STA serta Fasilitasi Pemasaran untuk Poktan/Gapoktan yang telah dikembangkan di berbagai daerah baik di Tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota. II. TUJUAN DAN SASARAN VI - 66

67 a. Tujuan Fasilitasi Sarana dan Kelembagaan Pemasaran Hasil Pertanian Tahun 2013 adalah : Sebagai landasan kerja dan implementasi Kegiatan Pengembangan Sarana dan Kelembagaan Pemasaran Hasil Pertanian (Pasar Tani, STA dan Poktan PHP). Meningkatkan operasionalisasi Pasar Tani dan STA serta menguatkan kelembagaan Poktan PHP sebagai sarana dan kelembagaan pemasaran bagi etani/poktan/gapoktan. Meningkatkan peran Kelembagaan Pasar Tani dan STA serta Poktan PHP dalam pemasaran hasil pertanian. b. Sasaran, Sasaran yang diharapkan dalam Pelaksanaan Fasilitasi Sarana dan Kelembagaan Pemasaran Hasil Pertanian Tahun 2013 ini adalah : Meningkatnya peran Pasar Tani, STA dan Poktan PHP sebagai sarana dan kelembagaan pemasaran produk pertanian secara langsung pada konsumen. Meningkatnya aktifitas pemasaran produk pertanian melalui Pasar Tani, STA dan Poktan/Gapoktan. Terbangunnya kelembagaan pemasaran bagi petani (Pasar Tani, STA dan Poktan PHP) yang mandiri. Meningkatnya usaha dan pemasaran hasil pertanian melalui Pasar Tani, STA dan Poktan/ Gapoktan. III. Hasil Yang Dicapai. Pasar Tani yang tersebar di empat Kabupaten/ Kota di NTB merupakan pasar yang tidak permanen, beroperasi pada hari Jum at/ tergantung kesepakatan dari yang terlibat dengan kegiatan pasar tani. Pasar Tani tersebut dikelola oleh Kelembagaan Pasar Tani yaitu : Asosiasi Pasar Tani (ASPARTAN). ASPARTAN ini telah terbentuk di 4 Kabupaten/ Kota, yaitu : ASPARTAN Gora Selaparang di Kota Mataram ASPARTAN Rinjani di Kabupaten Lombok Timur ASPARTAN Mampis Rungan di Kabupaten Sumbawa ASPARTAN Patut Patuh Patju di Kabupaten Lombok Barat, yang beranggotakan para petani/ pedagang. Hal ini dimaksudkan agar terjalin kerjasama pemasaran dalam upaya meningkatkan akses pasar dan merupakan jaringan pemasaran antar Pasar Tani di seluruh Indonesia. Pengembangan pasar tani di Nusa Tenggara Barat merupakan bantuan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP). Frekwensi dan lokasi spesifik pasar tani akan dikembangkan menurut situasi dan kondisi lokasi, sehingga nantinya diharapkan pasar tani akan menjadi outlet pemasaran yang efisien serta menguntungkan bagi petani produsen maupun pengolah. i. Lokasi Pasar Tani di Nusa Tenggara Barat a. Kota Mataram di Bumi Gora, Jl. Udayana Mataram b. Kabupaten Lombok Barat, Halaman Parkir Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Barat, Jalan Ahmad Yani Km.8 Telp. (0370) Gerimak VI - 67

68 Indah Narmada c. Kabupaten Lombok Timur, di Labuhan Haji. d. Kabupaten Sumbawa di Halaman Parkir Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Jalan Diponogoro No.36 Sumbawa Besar Telp. (0371) ii. Komoditi yang dijual di Pasar Tani adalah : Produk segar seperti, sayuran, buahbuahan. Komoditi tanaman pangan seperti beras, kacang-kacangan. Produksi olahan seperti; Tahu, Tempe dan hasil olahan lainnya seperti aneka kue basah dan kue kering IV. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : 1. Fasilitasi Pasar Tani di Kabupaten Sumbawa : Pagu dana sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(100 %) Realisasi Fisik : 100 % Sisa dana Rp.- 2. Fasilitasi Pasar Tani di Kabupaten Lombok Timur Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(100 %) Realisasi Fisik : 100 % Sisa dana Rp Fasilitasi Pasar Tani di Kabupaten Lombok Barat Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (100 %) Relisasi Fisik : 100 % Sisa dana Rp.- 4. Fasilitasi Pasar Tani di Kota Mataram Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(100 %) Realisasi Fisik : 100 % Sisa dana Rp. I. Latar Belakang PENGEMBANGAN AKSES PEMASARAN FASILITASI GUDANG JAGUNG 011. FASILITASI GUDANG JAGUNG DI KABUPATEN DOMPU Daerah-daerah sentra produksi pertanian semestinya harus memiliki gudang untuk VI - 68

69 penyimpanan produk sementara saat panen raya atau penyimpanan sebelum dipasarkan agar kualitas produk tetap terjamin, perbaikan kualitas dan harga. Saat ini sarana dan prasarana pergudangan di pedesaan belum tersedia dengan baik walaupun sudah ada gudang Koperasi Unit Desa namun kondisinya sudah banyak yang rusak dan tidak layak pakai. Disisi lain pergudangan yang dikelola oleh swasta merupakan gudang dengan penyimpanan skala besar shingga petani sangat sulit untuk mengakses gudang tersebut. Ketersediaan gudang yang baik dipedesaan diharapkan dapat menjadi gudang perantara bagi petani menjelang memasuki gudang besar untuk pelaksanaan Sistem Resi Gudang (SRG). Permasalahan klasik dalam pemasaran hasil pertanian adalah pada saat musim panen raya tiba misalnya harga cenderung jatuh. Para petani dihadapkan pada pilihan sulit apakah menjual produk dengan harga murah kepada pedagang pengumpul atau tidak menjual. Pada kenyataannya petani tetap menjual karena desakan kebutuhan hidupnya. Keberadaan gudang di sentra-sentra produksi sangat diperlukan terutama pada saat panen raya untuk penerapan SRG. Diharapkan melalui sarana pergudangan di daerah sentra dapat mengatur sistem pemasaran dan manajemen ketersediaan produk bagi konsumen yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani. Berdasarkan hal tersebut Ditjen PPHP melalui dana Tugas Pembantuan akan memfasilitasi renovasi gudang untuk komoditi jagung di beberapa daerah sentra jagung. II. Tujuan dan Sasaran a. Tujuan adanya renovasi gudang ditingkat gapoktan/kud dan tersedianya perlengkapan sarana dan prasana gudang. b. Untuk meningkatkan mutu dan harga produk pertanian Sasaran yang diharapkan adanya pelaksanaan renovasi gudang kegiatan ini adalah 1. Terlaksananya kegiatan renovasi gudang dengan baik dan benar. 2. Meningkatnya efisiensi dan akuntabilitas pelaksanaan kegiatan operasional renovasi gudang untuk mendukung sistem resi gudang. 3. Meningkatnya keterpaduan kegiatan pusat dan daerah. 4. Tepat dan terukurnya output dan outcome yang dihasilkan dalam renovasi gudang. III. PELAKSANAAN RENOVASI GUDANG 1. Anggaran dan Lokasi Renovasi Gudang Jagung Anggaran renovasi gudang merupakan dana Tugas Pembantuan Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Tahun Anggaran 2013 yang dialokasikan di Kabupaten Dompu Provinsi NTB. 2. Penetapan Lokasi Renovasi Gudang Pertimbangan dalam menentukan lokasi gudang adalah : di daerah sentra produksi jagung, mudah dijangkau alat trasportasi dalam artian berpijak kepada kaidah azas manfaat dan dampak sosial yang ditimbulkan. Gudang yang akan direnovasi adalah gudang milik gapoktan yang telah jelas statusnya dibuktikan dengan surat keterangan dari pihak-pihak terkait. IV. Hasil yang dicapai, telah terlaksananya renovasi Gudang di 3 Lokasi di kabupaten Dompu. VI - 69

70 Tabel VI-9. Lokasi Renovasi Gudang dialokasikan di 3 Lokasi/ 3 Paket yaitu : No Kegiatan/ Banyaknya Lokasi Kelompok Penerima Ketua Kelompok 1. Fasilitasi Gudang Jagung, Rehab dan Peralatan Gudang Jagung 1 Paket 2 Fasilitasi Gudang Jagung, Rehab dan Peralatan Gudang Jagung 1 Paket 3 Fasilitasi Gudang Jagung, Rehab dan Peralatan Gudang Jagung 1 Paket Dusun : Daha Nae Desa : Daha Kec.HU U Kab.Dompu Dusun : Bali Bunga Desa : Kandai II Kec. Woja Kab. Dompu Dusun; Muhajirin Desa : Nusa Jaya Kec. : Manggalewa Kab. Dompu V. Dana yang tersedia untuk mendukung Kegiatan Gapoktan Tune Ncuhi Gapoktan : Fo o Kompo Gapotan : Mitra Tani Mastar Drs. Syarifudin Imran Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (97,63%) Realisasi Fisik : 100 % Sisa dana Rp ,- Alasan : Merupakan efisiensi penggunaan dana Belanja Gudang dan Bangunan sebesar Rp ,- dan efisiensi belanja peralatan dan Mesin sebesar Rp ,- Solusi : Setor ke Kas Negara KENDARAAN BERMOTOR I. Pendahuluan Fasilitasi sarana/prasarana pemasaran yang dapat diberikan adalah berupa tenda, gerai/booth, shelter, kios maupun outlet. Selain itu, dapat juga diberikan dukungan sarana guna menjaga/ meningkatkan kualitas produk petani dan mempermudah proses distribusi/pemasaran produk ke konsumen, berupa fasilitasi sarana pengemasan/ pengepakan dan sarana distribusi. Fasilitasi sarana distribusi yang dapat diberikan adalah berupa sarana angkutan/kendaraan bermotor roda 3 yang dilengkapi dengan boks/bak. Untuk Tahun Anggaran 2013 di Provinsi NTB Sarana Pemasaran Pasar Tani yang diadakan adalah Sepeda Motor Roda Tiga atau Kendaraan Roda Tiga sebanyak 8 unit II. Tujuan dan sasaran b. Tujuan Untuk dapat meningkatkan efisiensi kinerja STA dan menjaga/meningkatkan kualitas produk STA dan mempermudah proses distribusi produk dari dan ke VI - 70

71 STA. c. Sasaran Pasar Tani di kabupaten Sumbawa, Lombok Timur, Lombok Barat dan Kota Mataram III. Ruang Lingkup Kegiatan Kegiatan yang dilaksanakan terbatas pada pengadaansarana berupa kendaraan Roda 3 (Belanja Peralatan dan Mesin yang diserahkan kepada Masyarakat/ Pemda), dengan cara kontrak tual. IV. Tata Cara Pelaksanaan c. Menyusun Spesifikasi Teknis kendaraan Roda 3 yang dilaksanakan oleh pemegang tolok ukur d. Koordinasi dengan Kabupaten/ Kota calon penerima bantuan e. Pengadaan barang / jasa oleh Pejabat pengadaan barang / jasa f. Mengalokasikan barang/ jasa (Kendaraan Roda 3) ke Kabupaten/ Kota V. Hasil Yang dicapai Berita acara serah terima barang seperti pada lampiran 4.Daftar Nama kelompok Sasaran yang menerima Bantuan Sarana berupa Kendaraan Roda 3, di NTB adalah sebagai berikut : Tabel VI-10. Daftar Nama kelompok Sasaran yang menerima Bantuan Sarana berupa Kendaraan Roda 3 di NTB No Kegiatan/ Banyaknya 1. Fasilitasi Pemasaran Hasil Pertanian, Kendaraan Bermotor Roda 3 2 UNIT 2 Fasilitasi Pemasaran Hasil Pertanian, Kendaraan Bermotor Roda 3 2 UNIT 3 Fasilitasi Pemasaran Hasil Pertanian, Kendaraan Bermotor Roda 3 2 UNIT Lokasi Kelurahan : Karang Baru Kec. Mataram Kota : Mataram Desa: Mekar Sari Kecamatan: Narmada Kab. : Lombok Barat Kel. Surya Wangi Kec. Labuhan Haji Kab. Lombok Timur Kelompok Penerima Pasar Tani Selaparang Pasar Patut Patju Pasar Rinjani Tani Patuh Tani Ketua Kelompok Ki Agus Ahmad Ir. H. Jumahir Sehabudin VI - 71

72 4 Fasilitasi Pemasaran Hasil Pertanian, Kendaraan Bermotor Roda 3 2 UNIT Kel. Uma Sima Kec. Sumbawa Kab.Sumbawa Pasar Mampis Tani M. Mas ud VI. Dana yang tersedia untuk mendukung Kegiatan Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- Sisa dana Rp.0 Alasan dana SIAP : PENGEMBANGAN PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN UNIT USAHA PENGOLAHAN HASIL TANAMAN PANGAN REVITALISASI PENGGILINGAN PADI 011. REVITALISASI PENGGILINGAN PADI DI KABUPATEN DOMPU, 012. REVITALISASI PENGGILINGAN PADI DI KAB. SUMBAWA BARAT 013. REVITALISASI PENGGILINGAN PADI DI KAB. LOMBOK TENGAH 014. REVITALISASI PENGGILINGAN PADI DI KAB. BIMA 015. REVITALISASI PENGGILINGAN PADI DI KAB. LOMBOK BARAT I. Latar Belakang Revitalisasipenggilingan padi dilakukan dengan mengganti atau menambah bagian yang rusak sehingga dapat berfungsi dengan baik atau dengan membangun unit penggilingan padi yang baru. Penambahan atau pergantian satu atau beberapa alsin penggilingan padi seperti mesin pembersih (cleaner), mesin pemecah kulit gabah (husker), mesin pemisah gabah dan beras pecah kulit (separator), mesin penyosoh (polisher), mesin pemisah beras kepala, beras patah dan menir (shifter), dan atau mesin pengkristal/pencuci beras (shinning). Dengan penambahan satu atau beberapa mesin tersebut diharapkan dapat meningkatkan rendemen giling dan kualitas beras, menekan susut hasil dan meningkatkan nilai tambah serta daya saing sehingga pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani/gapoktan padi. Kondisi ini pada gilirannya akan lebih memberdayakan usaha penggilingan padi, huller dan penyosohan beras serta petani sebagai subyek serta akan lebih memacu kemampuan dalam usaha agribisnis terutama dalam menghadapi era globalisasi. II. Tujuan dan Sasaran Tujuan : Tujuan Petunjuk Pelaksanaan pengembangan agroindustri tanaman pangan adalah : Sebagai acuan teknis bagi petugas/pelaksana/pelaku usaha dalam upaya mengembangkan/mengoperasikan UPH agroindustri tanaman pangan. Tersalurkannya alat/ mesin ke Kab/Kota penerima dana Tugas Pembantuan Meningkatnya Pendapatan dan kesejahteraan petani Sasaran : VI - 72

73 Sasaran pengembangan agroindustri tanaman pangan, adalah sebagai acuan dalam mensukseskan, mengembangkan/ mengoperasionalkan UPH agroindustri tanaman pangan yang mencakup 5 komoditi (Padi, Aneka Umbi, Jagung,Kedelai dan Kacang Tanah). III. Tahapan Pelaksanaan a. Tahap Persiapan : a). Menyusun SK Pengelola Kegiatan di Kabupaten b). Menyusun Juklak/ Juknis/ Pedoman-pedoman lainnya c). Koordinasi dengan Kabupaten Bima dan Kabupaten Lombok Barat, tentang pelaksanaan kegiatan Revitalisasi Penggilingan Padi alokasi dana, tata cara mengambilan dana dan pertanggung jawabannya di provinsi, Pelaporan, dan halhal lain terkait dengan dana tugas pembantuan. d). Melaksanaan koordinasi ke Kabupaten, bersama dengan kabupaten menentukan lokasi kegiatan. e). Mempasilitasi Kabupaten dalam pelaksanaan Bansos b. Tahap Pelaksanaan : a). Membentuk Tim Teknis (Febuari) b). Penentuan Calon Penerima/Calon Lokasi (CP/Cl c). Penyusunan Rencana Usulan Kegiatan Kelompok (RUKK) d). Pembelian Alat Bansos, Merujuk kepada Pedoman Pengelolaan Dana Bantuan Sosial Tahun 2013 Ditjen PPHP e). Bimbingan/Pelatihan Bimbingan Teknis adalah kegiatan di tingkat Gapoktan yang dilakukanoleh Tim Teknis untuk meningkatkan pemahaman terhadap teknis pengelolaan pengolahan hasil di tingkat Gapoktan. Materi Pelatihan dan Bimbingan Teknis Pemanfaatan Alat dan Mesin Pengolahan meliputi : Kelompok Teknis, Kelompok Usaha dan Kelompok manajemen Usaha. f). Pengorganisasi alat dan mesin pengolahan secara bisnis g). Operasional Alat Operasional Alat sepenuhnya merupakan tanggung jawab Gapoktan. Sebagai penerima bantuan alat dan mesin, Gapoktan perlu diberikan pendampingan/ pengawalan. Penyuluhan, peltihan bimbingan teknis agar dapat melakukan usahanya secar optimal mandiri dan profesional. h). Perjanjian pendayagunaan alat Perjanjian pendayagunaan alsin pengolahan dilakukan langsung antara Kepala Dinas pertanian propinsi dengan Gapoktan. Perjanjian pendayagunaan alsin tersebut dilaksanakan segera setelah penyerahan alat dan mesin pengolahan dilakukan dan diketahui oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten. IV. Hasil yang di Capai : Telah dialokasikannya Alat dan Mesin penggilingan Padi di 5 Kabupaten a 2 Unit seperti pada Tabel Berikut. Tabel VI-11. Alokasi Alat Mesin Penggilingan Padi di NTB TA : No Kegiatan/ Banyaknya Lokasi Kelompok Penerima Ketua Kelompok VI - 73

74 I. Kabupaten Lombok Barat 2 Paket 1. Revitalisasi Penggilingan Padi, Alat Mesin Penggilingan Padi 1 Paket Dusun : Penarukan Lauq Desa : Kebon Ayu Kecamatan :Gerung Ka. :Lombok Barat Poktan : Mekar Jaya H. Abdurahman 2 Revitalisasi Penggilingan Padi, Alat Mesin Penggilingan Padi 1 Paket Dusun : Berembeng Barat Desa : Sigerongan Kec.Lingsar Kab.Lombok Barat Poktan : Tunas Mekar Ismail Fahmi, S.Pd II. Kabupaten Tengah 2 Paket 3 Revitalisasi Penggilingan Padi, Alat Mesin Penggilingan Padi 1 Paket Dusun : Bun Sambang Desa; Sukarara Kec.Jonggat Kab.Lombok Tengah Poktan :Beriuk Tinjal Lalu Wirabakti 4 Revitalisasi Penggilingan Padi, Alat Mesin Penggilingan Padi 1 Paket Dusun: Lantan Duren Kec.Batu Kliang Utara Kab.Lombok Tengah Gapoktan : Lembah Makmur H.Uzaifi Hasan III. Kabupaten Sumbawa Barat 2 Paket 5 Revitalisasi Penggilingan Padi, Alat Mesin Penggilingan Padi 1 Paket 6 Revitalisasi Penggilingan Padi, Alat Mesin Penggilingan Padi 1 Paket IV. Kabupaten Dompu 2 Paket 7 Revitalisasi Penggilingan Padi, Alat Mesin Penggilingan Padi 1 Paket Dusun : Buin Banyu Desa : Mura Kec. : Brang Rea Kab. : Sumbawa Barat Dusun : Kenangan Desa : Rempek Kec. : Seteluk Kab. : Sumbawa Barat Dusun : Woja Bawah Kec. : Riwo Kec. : Woja Kab. : Dompu Gapoktan : Mura Tama Gapoktan : Barat Datang Gapoktan : Muncul Bart H. Syamson Irawansyah Baharudin VI - 74

75 8 Revitalisasi Penggilingan Padi, Alat Mesin Penggilingan Padi 1 Paket V. Kabupaten Bima 2 Paket 9 Revitalisasi Penggilingan Padi, Alat Mesin Penggilingan Padi 1 Paket Dusun : Jado Kelurahan : Dorotangga Kec. Dompu Kab.Dompu Dusun : Dua Desa : Rasa Bou Kec. : Bolo Kab. : Bima Gapoktan : Maju Jaya Poktan : Kaba Syirajuddin Arifin 10 Revitalisasi Penggilingan Padi, Alat Mesin Penggilingan Padi 1 Paket Dusun : Mangge Ule Desa : Wadukopa Kec. : Soromandi Kab. : Bima UPJA: Wadukopa Mel Yunus V. Dana yang tersedia untuk mendukung Kegiatan A. Revitalisasi Penggilingan Padi di Kabupaten Dompu Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (98,81 %) Realisasi Fisik 100 % Sisa dana Rp ,- Alasan : Adanya efisiensi penggunaan dana untuk Belanja Peralatan dan Mesin sebesar Rp ,- dan Efisiensi penggunaan dana perjalanan sebesar Rp ,- Solusi : Setor ke Kas Negara. B. Revitalisasi Penggilingan Padi di Kabupaten Sumbawa Barat Pagu danai sebesar Rp , Realisasi keuangan Rp ,- (92,03 %) Realisasi Fisik : 100 %) Sisa dana Rp ,- Alasan : Adanya efisiensi penggunaan dana Belanja Peralatan dan Mesin Rp ,- dan biaya perjalanan Dinas Meiting luar kota Rp ,- Solusi : Setor ke Kas Negara C. Revitalisasi Penggilingan Padi di Kabupaten Lombok Tengah Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (97,86 % Realisasi Fisik 100 % Sisa dana Rp ,- Alasan : Adanya Efisiensi belanja Alat dan Mesin Rp ,- Belanja perjalanan Dinas Meiting Luar Kota Rp ,- Solusi : Setor ke Kas Negara. D. Revitalisasi Penggilingan Padi di Kabupaten Bima Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(98,79 %) VI - 75

76 Realisasi Fisik : 100 % Sisa dana Rp ,- Alasan : Adanya Efisiensi penggunaan dana belanja peralatan dan mesin Rp ,- dan belanja perjalanan Dinas paket meiting luar kota Rp ,- Solusi : Setor ke Kas Negara. E. Revitalisasi Penggilingan Padi di Kabupaten Lombok Barat Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(98,56 %) Realisasi Fisik 100 % Sisa dana Rp ,- Alasan : Efisiensi belanja peralatan dan mesin Rp ,- dan belanja perjalanan dinas paket meiting luar kota Rp ,- Solusi : Setor ke Kas Negara FASILITASI AGROINDUSTRI JAGUNG 011. FASILITASI AGROINDUSTRI JAGUNG DI KAB. SUMBAWA 012. FASILITASI AGROINDUSTRI JAGUNG DI KAB.LOMBOK UTARA I. Pendahuluan Fasilitasi agroindustri jagung melalui Dana Tugas Pembantuan (TP) TA 2013 untuk memfasilitasi kelompok tani/gapoktan terhadap sarana, alat dan mesin pengolahan jagung yang akan mengolah bahan baku jagung menjadi olahan jagung seperti grits, tortilla, maizena, pakan ternak, makanan ringan, bioetanol, dll. Dengan fasilitasi ini diharapkan meningkatkatkan potensi nilai tambah jagung dengan penerapan teknologi pengolahan dengan mengikuti kaidah GMP (Good Manufactuting Practices). Pengembangan agroindustri jagung merupakan suatu sistem yang terintegrasi dalam aplikasinya seluruh instansi yang terkait harus saling mendukung dan mengambil peran. Pengembangan pengolahan jagung dalam satu kelompok tani (poktan) terdiri dari 15 s/d 20 petani, bersama mitra kelompok mengelola sebuah unit processing jagung (pengeringan dan silo). Apabila setiap petani mengelola luasan areal 1 s/d 2 Ha maka setiap kelompok memiliki areal 15 s/d 40 Ha dengan rata-rata produksi 4 ton/ha, maka setiap musim tanam tersedia ton jagung/poktan.bahan baku jagung untuk diproses dapat berasal dari petani anggota dan bukan anggota gapoktan berupa jagung bertongkol. Bahan baku jagung bertongkol kemudian dipipil menjadi jagung pipilan. Setelah dipipil, jagung diserahkan pada gapoktan sebagai pengelola unit pengolahan jagung untuk dikeringkan dan disimpan. Jagung yang telah dikeringkan selanjutnya didistribusikan kepada industri-industri pengolahan yang menggunakan jagung sebagai bahan baku. II. Tujuan dan Sasaran Tujuan : 1. Menumbuhkembangkan kelembagaan tani berbasis gabungan kelompok tani (gapoktan) di daerah sentra produksi jagung yang professional, mandiri dan mampu menghasilkan produk jagung yang bermutu untuk menunjang industri pakan ternak sekaligus untuk mengurangi/ mensubstusi impor jagung. VI - 76

77 2. Mengembangkan sistem dan usaha agroindustri jagung yang terpadu dari hulu sampai hilir di daerah sentra produksi jagung. 3. Menumbuhkembangkan kemitraan usaha antara petani/kelompok tani, gapoktan jagung dengan industri pakan ternak dan industri makanan. 4. Terciptanya nilai tambah dan daya saing produk jagung dalam upaya dapat meningkatkan pendapatan sekaligus kesejahteraan petani jagung. Sasaran 1. Tumbuhkembangnya kelembagaan tani berbasis gapoktan yang professional, mandiri dan mampu menghasilkan produk jagung bermutu untuk menunjang industri pakan ternak sekaligus mengurangi impor jagung. 2. Tumbuhkembangnya agroindustri dan agribisnis yang terpadu mulai dari hulu dsampai hilir di daerah sentra produksi jagung. 3. Optimalnya penggunaan alat dan mesin pengolahan jagung dalam upaya untuk meningkatkan efisensi, menekan kehilangan hasil, meningkatkan mutu, nilai tambah dan daya saing jagung sehingga dapat memenuhi kebutuhan industri pakan ternak nasional. 4. Tumbuhnya kemitraan usaha antara petani/kelompok tani, gapoktan dengan industri pakan ternak. III. Hasil yang dicapai : di Alokasikannya Alat dan Mesin Pengolahan Jagung di 2 Kabupaten a 2 Unit seperti pada tabel berikut. Tabel VI-12. Alokasi Kegiatan Alat dan Mesin Pengolahan Jagung di NTB TA No Kegiatan/ Banyaknya Lokasi Kelompok Penerima Ketua Kelompok I. Kabupaten Lombok Utara 2 Paket 1. Fasilitasi Agroindustri Jagung, Alat dan Mesin Pengolahan Jagung 1 Paket 2 Fasilitasi Agroindustri Jagung, Alat dan Mesin Pengolahan Jagung 1 Paket II Kabupaten : Sumbawa 2 Paket 3 Fasilitasi Agroindustri Jagung, Alat dan Mesin Pengolahan Jagung 1 Paket 4 Fasilitasi Agroindustri Jagung, Alat dan Mesin Pengolahan Jagung 1 Paket Dusun : Sambik Rindang Desa : Salut Kec. : Kayangan Kab.: Lomb. Utara Dusun : Pengadang Desa Mumbul Sari Kec. : Bayan Kab.: Lomb. Utara Dusun : Jotang Alas Barat Desa : Jotang Kec. : Empang Kab. : Sumbawa Dusun : Galak Jango Desa Belebrang Kec. : Uthan Kab. : Sumbawa Gapoktan : Sejahtera Gapoktan : Geruk Gundem Gapoktan : Gayong Mas Kelompok Tani : Tunas Rizki Ahyar Susanto Usman Albayani Kaharuddin Masrah VI - 77

78 IV. Dana yang tersedia untuk mendukung Kegiatan 1. Fasilitasi Agro Industri Jagung di Kabupaten Sumbawa Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(94,53 %) Realisasi Fisik : 100 % Sisa dana Rp ,- Alasan : Efisiensi penggunaan dana Belanja Peralatan dan mesin Rp ,- dan Belanja Perjalanan dinas meiting luar kota Rp ,- Solusi : Setor ke Kas Negara. 2. Fasilitasi Agro Industri Jagung di Kabupaten Lombok Utara Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (94,69%) Realisasi Fisik 100 % Sisa dana Rp ,- Alasan : Efisiensi penggunaan dana Belanja Peralatan dan Mesin Rp ,- ndan belanja perjalanan dinas paket meiting luar kota Rp ,- Solusi : Setor ke Kas Negara FASILITASI AGROINDUSTRI KEDELAI 011. FASILITASI AGROINDUSTRI KEDELAI DI KOTA MATARAM 1. Pendahuluan Pengembangan produk olahan kedelai merupakan suatu sistem yang terintegrasi mulai dari aspek budidaya (on farm), pasca panen sampai pengolahan (off farm). Meliputi aspek budidaya, pascapanen, pengolahan pembinaan, penyuluhan, dan aspek pemasaran yang dilakukan dalam suatu aktifitas yang saling berkait. Aplikasinya seluruh instansi yang terkait harus saling mendukung dan mengambil peran. Asumsinya adalah satu kelompok tani (poktan) terdiri dari 15 s/d 20 petani, bersama mitra kelompok mengelola sebuah unit pengelohan kedelai. Apabila setiap petani mengelola luasan areal 1 s/d 2 Ha maka setiap kelompok memiliki areal 15 s/d 40 Ha, dengan rata-rata produksi 1.3 ton/ha, maka setiap musim tanam tersedia kedelai kupas/poktan. Bahan baku kedelai untuk diproses dapat berasal dari petani anggota dan bukan anggota gapoktan berupa kedelai yang masih menyatu dengan polongnya. Polong kedelai tersebut kemudian dikupas menjadi jagung kupasan. Setelah dikupas, kedelai diserahkan pada gapoktan sebagai pengelola unit pengolahan kedelai untuk diolah. Produk olahan kedelai selanjutnya didistribusikan langsung ke pasar tradisional atau supermarket. namun bisa melalui distributor untuk membantu pemasarannya. 2. Tujuan dan Sasaran Tujuan a. Menumbuh kembangkan kelembagaan tani berbasis gabungan kelompok tani (gapoktan) di daerah sentra produksi kedelai yang professional, mandiri dan VI - 78

79 mampu menghasilkan produk olahan kedelai yang bermutu untuk menunjang industri kecil maupun industri rumah tangga dan pakan ternak sekaligus untuk mengurangi/ mensubstusi impor kedelai. b. Mengembangkan sistem dan usaha agroindustri kedelai yang terpadu dari hulu sampai hilir di daerah sentra produksi kedelai. c. Menumbuh kembangkan kemitraan usaha antara petani/kelompok tani, gapoktan kedelai dengan industri kecil/rumah tangga dan industri bahan makanan. d. Terciptanya nilai tambah dan daya saing produk kedelai/ olahan kedelai dalam upaya dapat meningkatkan pendapatan sekaligus kesejahteraan petani kedelai. Sasaran a. Tumbuh kembangnya kelembagaan tani berbasis gapoktan yang professional, mandiri dan mampu menghasilkan produk kedelai/ produk olahan kedelai bermutu untuk menunjang industri kecil/ industri rumah tangga sekaligus mengurangi impor kedelai. b. Tumbuhkembangnya agroindustri dan agribisnis yang terpadu mulai dari hulu dsampai hilir di daerah sentra produksi kedelai. c. Optimalnya penggunaan alat dan mesin pengolahan kedelai dalam upaya untuk meningkatkan efisensi, menekan kehilangan hasil, meningkatkan mutu, nilai tambah dan daya saing kedelai sehingga dapat memenuhi kebutuhan industri kecil/industri rumah tangga. d. Tumbuhnya kemitraan usaha antara petani/kelompok tani, gapoktan dengan industri yang ada di daerahnya. 3. Hasil Kegiatan : Di Alokasikannya Fasilitasi Agroindustri Kedelai berupa Alat, Mesin Pengolah Kedelai (Tahu) di Kelompok Kekalik Bersatu, Dusun kekalik Barat, Kelurahan : Kekalik Jaya Kecamatan Sekar Bela Kota Mataram. 4. Dana yang tersedia untuk mendukung Kegiatan Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(96,84 %) Realisasi Fisik : 100 % Sisa dana Rp ,- Alasan : Adanya efisiensi penggunaan dana belanja peralatan dan mesin Rp ,- dan belanja bahan Rp ,- Solusi : Setor ke Kas Negara FASILITASI AGROINDUSTRI TEPUNG 011. FASILITASI AGROINDUSTRI TEPUNG LOMBOK UTARA 012. FASILITASI AGROINDUSTRI TEPUNG LOMBOK TENGAH VI - 79

80 I. Latar Belakang Pengembangan agroindustri aneka tepung merupakan suatu sistem yang terintegrasi mulai dari aspek budidaya (on farm), pascapanen hingga pengolahan (off farm) dan pemasaran. Pengembangan agroindustri tepung perlu melibatkan berbagai instansi melalui pembinaan dan pengawalan sesuai bidang tugasnya. Berbagai instansi yang terkait antara lain Ditjen Tanaman Pangan, Litbang/Perguruan Tinggi (PT) dan Ditjen Pengolahan dan PemasaranHasil Pertanian serta Dinas Pertanian Propinsi/Kabupaten/Kota dan pelaku usaha. Pengembangan agroindustri tepung dilaksanakan dalam bentuk cluster inti dan plasma. Agroindustri tepung dikembangkan dari bahan baku bersumberdaya lokal, seperti ubi kayu, ubi jalar, garut dan ganyong. Pengembangan agroindustri aneka tepung berbasis sumberdaya lokal ini dilakukan dalam upaya meningkatkan produksi tepung sebagai substitusi impor dan penganekaragaman bahan pangan (diversifikasi pangan). Fasilitasi agroindustri tepung melalui Dana Tugas Pembantuan (TP) TA 2013 untuk memfasilitasi kelompok tani/gapoktan terhadap sarana, alat dan mesin pengolahan aneka umbi menjadi olahan tepung seperti sari mocaf, tapioca, tepung ubi jakar, tepung garut dan tepung ganyong. II. Tujuan dan Sasaran Tujuan : 1. Menumbuhkembangkan kelembagaan tani berbasis gabungan kelompok tani (gapoktan) di daerah sentra produksi Ubi Kayu yang professional, mandiri dan mampu menghasilkan produk olahan yang bermutu untuk menunjang industri rumah tangga maupun industri kecil di daerahnya. 2. Mengembangkan sistem dan usaha agroindustri yang terpadu dari hulu sampai hilir di daerah sentra produksi Ubi Kayu. 3. Menumbuhkembangkan kemitraan usaha antara petani/kelompok tani, gapoktan Ubi Kayu dengan industri makanan. 4. Terciptanya nilai tambah dan daya saing produk olahan Ubi Kayu dalam upaya dapat meningkatkan pendapatan sekaligus kesejahteraan petani Ubi Kayu. Sasaran 1. Tumbuh kembangnya kelembagaan tani berbasis gapoktan yang professional, mandiri dan mampu menghasilkan produk bermutu untuk menunjang industri rumah tangga. 2. Tumbuhkembangnya agroindustri dan agribisnis yang terpadu mulai dari hulu dsampai hilir di daerah sentra produksi Ubi kayu 3. Optimalnya penggunaan alat dan mesin pengolahan tepung dalam upaya untuk meningkatkan efisensi, menekan kehilangan hasil, meningkatkan mutu, nilai tambah dan daya saing ubi kayu sehingga dapat memenuhi kebutuhan industri. 4. Tumbuhnya kemitraan usaha antara petani/kelompok tani dan gapoktan dengan industri kecil maupun industri rumah tangga. III. Hasil 1. Teciptanya sistem dan usaha agroindustri Tepung yang terpadu mulai dari hulu (on farm) sampai ke hilir (off farm). 2. Berkembangnya agroindustri tepung di daerah sentra produksi dalam rangka memenuhi bahan baku industri yang terjamin mutu dan kontinuitasnya. VI - 80

81 3. Tersedianya peningkatan nilai tambah dan daya saing produk tepung sehingga dapat menggairahkan petani menanam Ubi Kayu yang akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. 4. Ter-alokasikannya Alat dan Mesin Agroindustri Tepung di 2 Kabupaten a 4 paket seperti pada tabel berikut. Tabel VI-13. Daftar Penerima Bantuan Alat dan Mesin Agroindustri Tepung No Kegiatan/ Banyaknya Lokasi I. Kabupaten Lombok Tengah 4 Paket 1 Fasilitasi Dusun Bulurua, Agroindustri Desa Pengengat, Tepung, Alat dan Kecamatan Pujut, Mesin Pengolah Kabupaten Lombok tepung/ubi Kayu Tengah 1 Paket 2. Fasilitasi Dusun : Sedau Agroindustri Desa : Pemepek Tepung, Alat dan Kec. : Pringgarata Mesin Pengolah Kab.: Lombok tepung/ubi Kayu Tengah 1 Paket 3 Fasilitasi Agroindustri Tepung, Alat dan Mesin Pengolah tepung/ubi Kayu 1 Paket 4 Fasilitasi Agroindustri Tepung, Alat dan Mesin Pengolah tepung/ubi Kayu 1 Paket Dusun : Sangeh Desa : Tampak Siring Kec.: Batukliang Kab.: Lombok Tengah Dusun :Kalenge Desa :Nyerot Kec.: jonggat Kab.: Lombok Tengah II. Kabupaten Lombok Utara: 4 Paket 1 Fasilitasi Agroindustri Tepung, Alat dan Dusun : Luk Pasiran Desa : Bentek Kec.: Gangga Mesin Pengolah Kab.:Lombok Utara tepung/ubi Kayu 1 Paket 2 Fasilitasi Agroindustri Tepung, Alat dan Mesin Pengolah tepung/ubi Kayu 1 Paket 3 Fasilitasi Agroindustri Tepung, Alat dan Mesin Pengolah tepung/ubi Kayu Dusun:Batu Gembung Desa: Akar-akar Kec.: Bayan Kab.:Lombok Utara Dusun :Jugil Desa: Sambik Bangkol Kec.: Gangga Kab.:Lombok Utara Kelompok Penerima Ketua Gapoktan Satu Tujuan Gapoktan : Harapan Baru Kelompok Tani : Pade Angen Kelompo0k Tani:Repuk Dalam Gapoktan:Paer Murmas Kelompok Tani: Mekar Makmur Kelompo0k:Beriuk Gati Ketua Kelompok Nurul Hidayah Amaq Mene Junaidi H. Abd.Rasyid Salitep Ensri Ratnadi VI - 81

82 1 Paket 4 Fasilitasi Agroindustri Tepung, Alat dan Mesin Pengolah tepung/ubi Kayu 1 Paket Dusun: Lendang Berara Desa : Sigar Penyalin Kec.: Tanjung Kab.:Lombok Utara Gapoktan:Tunas Makmur Adam Malik IV. Dana yang tersedia untuk mendukung Kegiatan a. Agroindustri Tepung Kabupaten Lombok Utara Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (98,49) Realisasi Fisik 100 % Sisa dana Rp ,- Alasan : Efisiensi penggunaan dana peralatan dan mesin Rp ,- dan belanja perjalanan dinas paket meiting luar kota Rp ,- b. Agroindustri Tepung Kabupaten Lombok Tengah Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(85,77 %) Realisasi Fisik 100 % Sisa dana Rp ,- Alasan : Efisiensi penggunaan dana peralatan dan mesin sebesar Rp ,- dan belanja perjalanan dinas paket meiting luar kota Rp ,- Solusi : Setor ke Kas Negara UNIT USAHA PENGOLAHAN HASIL HORTIKULTURA FASILITASI PENGEMASAN HORTIKULTURA 011. FASILITASI PENGEMASAN HORTIKULTURA DI KOTA MATARAM A. FASILITASI PENGEMASAN HORTIKULTURA Kegiatan ini adalah kegiatan baru sebagai terobosan percepatan perbaikan kemasan produk olahan hortikultura guna mendukung peningkatan daya saing produk olahan yang diproduksi oleh masyarakat, Assosiasi Pengolah Hasil Hortikultura (ASPEHORTI). Pada umumnya produk olahan hasil hortikulura masih terkendala oleh jenis, bentuk, desain dan pelabelan kemasan yang kurang baik. Pengelola Sentra Pengemasan Produk Olahan Hortikultura Sentra pengemasan produk olahan hortikultura diletakkan pada dana Tugas Pembantuan propinsi yang dialokasikan di Kota-kota propinsi, memungkinkan setiap pelaku usaha dapat dengan mudah mengakses Pusat Pengemasan. Pengelola Pusat Pengemasan Produk Olahan Hortikultura adalah Assosiasi. Kriteria Pengelola Pusat Pengemasan Produk Olahan adalah: Assosiasi Pengolah Hortikultura yang telah dibentuk tahun 2012 dan minimal disahkan oleh Kadis Pertanian Propinsi. Assosiasi berkedudukan di ibukota Propinsi Mempunyai aturan organisasi yang disepakati oleh seluruh anggota. Mempunyai sumberdaya manusia yang memadai dan terampil. VI - 82

83 Mempunyai pengurus aktif minimal Ketua, Sekretaris dan Bendahara. Mempunyai Rencana Kerja (AD/RT) Mempunyai anggota pengolah-pengolah hortikultura Mempunyai potensi dan prospek pasar yang jelas. Bersedia mengikuti Pedoman/pembinaan dari Dinas Pertanian Propinsi/Kabupaten/Kota Bersedia melakukan Perjanjian kerjasama/kemitraan dengan Institusi Profesional Pembina Pengemasan didalam rangka mengembangan desain, jenis dan bentuk kemasan produk produk olahan. B. FASILITASI PENGEMASAN PRODUK HORTIKULTURA (PACKAGING HOUSE) Rumah Kemasan Hortikultura (Horticulture Packing House) adalah tempat kegiatan penanganan pengolahan komoditas hortikultura setelah dipanen sampai dikemas dan siap untuk didistribusikan ke pasar tujuan. Penanganan produk hortikultura pada Rumah Kemasan Hortikultura memberi manfaat secara sosial diantaranya akan memudahkan masyarakat mendapatkan produk yang higienis dan lingkungan yang tertib. Secara ekonomi dapat memberikan keuntungan yaitu produk yang ditangani sesuai Good Handling Practices sehingga dapat menurunkan kehilangan hasil, mempertahankan mutu dan meningkatkan nilai tambah. C. Tujuan dan Sasaran Tujuan : Menyebarluaskan keberadaan organisasi ASPPEHORTI dan Rumah Kemasan sentra pengemasan horti di Nusa Tenggara barat Meningkatkan kemampuan aparat pembina kabupaten/kota/provinsi dan Pelaku Usaha (Gapoktan) dibidang pengolahan hasil dalam rangka mendukung pengembangan agroindustri perdesaan Memberikan dorongan dan motivasi kepada aparat pembina Dinas Pertanian Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pelaku Usaha serta Dinas/instansi terkait lainnya dalam pelaksanaan pengembangan agroindustri perdesaan. Sasaran Meningkatnya koordinasi dan meluasnya informasi tentang rumah kemasan dalam mendukung agroindustri perdesaan sehingga dapat bersinergi dan didukung oleh masyarakat /petani dan pemangku kepentingan Tumbuh kembangnya agroindustri perdesaan berbasis Gapoktan di daerah sentra produksi yang mandiri, profesional dan berkelanjutan. D. Hasil yang dicapai : Telah dibangunnya Sentra Pengemasan Hortikultura dan Peralatannya di Kelompok ASPEHORTI di Kelurahan Sayang-sayang Kecamatan Cakranegara Kota Mataram E. Dana untuk menunjang kegiatan Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (99,25%) Realisasi Fisik 100 % Sisa dana Rp ,- Alasan : Efisiensi penggunaan dana biaya perjalanan dinas Rp ,- belanja peralatan dan mesin Rp ,- belanja gedung dan bangunan Rp ,- Solusi : Setor ke Kas Negara. VI - 83

84 I. Latar Belakang LAYANAN PERKANTORAN 011. ADMINISTRASI TUGAS PEMBANTUAN Pola pengorganisasian kegiatan dan anggaran merupakan salah satu penentu arah kinerja pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian. Dalam rangka pengelolaan anggaran pembangunan pertanian di pusat dan Unit Pelaksana Teknis Pusat (UPT Pusat), Menteri Pertanian selaku pengguna anggaran menetapkan/mengangkat Kuasa Pengguna Anggaran(KPA), Bendahara, serta Pejabat Penguji dan Pejabat SPM. Untuk memperlancar pelaksanaan kegiatan, apabila diperlukan Menteri atau KPA dapat mengangkat Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Selanjutnya untuk memperlancar pengelolaan administrasi keuangan oleh PPK dan membantu kelancaran tugas bendahara, maka KPA dapat mengangkat Pemegang Uang Muka (PUM). Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah pusat kepada daerah dan/atau desa atau sebutan lainnya dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan. Dana Tugas Pembantuan adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleg daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan Kegiatan pembangunan pertanian yang dilaksanakan melalui dana tugas pembantuan Tahun Anggaran 2012 adalah untuk kegiatan fisik. Kegiatan fisik adalah kegiatan yang menghasilkan keluaran yang menambah aset tetap. Kegiatan fisik yang dimaksud diantaranya adalah pengadaan tanah, bangunan, peralatan dan mesin, jalan, irigasi dan jaringan, serta dapat berupa kegiatan yang bersifat fisik lainnya. Sedangkan kegiatan fisik lainnya antara lain pengadaan barang habis pakai, seperti obat-obatan, vaksin, pengadaan bibit dan pupuk, atau sejenisnya, termasuk barang bansos yang diserahkan kepada masyarakat, untuk pemberdayaan masyarakat. Dalam rangka mendukung pelaksanaan kegiatan tugas pembantuan sebagian kecil dana tugas pembantuan dapat dialokasikan sebagai dana penunjang untuk pelaksanaan tugas administratif dan/ atau pengadaan input berupa barang habis pakai dan/atau aset tetap. Untuk pelaksanaan kegiatan yang dibiayai darin dana tugas pembantuan gubernur/bupati/walikota mengusulkan calon Kuasa Pengguna Anggaran, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Pejabat penguji pembayaran serta bendahara Pengeluaran kepada Menteri Pertanian. Menteri Pertanian menetapkan KPA, PPK, Pejabat Penguji dan Pembat SPM, bendahara Pengeluaran dan bendahara penerima Dana Tugas Pembantuan Propinsi yang ada kegiatan untuk kabupaten, maka dalam rangka membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan dan pertanggungjawaban keuangan perlu dibentuk penanggung jawab kegiatan di kabupaten, Pemegang Uang Muka (PUMK) dan pelaksana kegiatan tim teknis dengan surat keputusan KPA/Kepala Dinas Propinsi. Kegiatan Tugas pembantuan tersebut harus dikoordinasikan dengan penanggungjawab kegiatan di kabupaten terutama dalam penentuan CP/CL, pengadaan alat/gedung dan bangunan serta dalam pembinaan/bimbinganteknis. II. Tujuan dan Sasaran Kegiatan a. Tujuan Kegiatan Meningkatkan sumber daya manusia ( SDM ) pengelola program/kegiatan dan anggaran dalam melaksanakan administrasi kegiatan yang baik, tertib dan terarah guna mendukung kegiatan teknis/fisik. b. Sasaran : Laporan Pelaksanaan kegiatan setiap bulan yang merangkum komponen kegiatan dan permasalahan serta upaya penyelesaian masalah. III. Hasil yang dicapai a. Buku Petunjuk Pelaksanaan/Petunjuk Teknis Kegiatan, ROPAK b. Pembinaan, Monitoring Keuangan ke Kabupaten/Kota c. Evaluasi dan Pelaporan VI - 84

85 IV. Dana untuk menunjang kegiatan Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (100) Realisasi Fisik 100 Sisa dana Rp ,- Alasan : Efisiensi penggunaan dana ATK Rp ,- 1. Latar Belakang 012. ADMINISTRASI LELANG Dalam pemilihan penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya, pada prinsipnya dilakukan melalui metoda pelelangan umum. Pelelangan umum adalah metoda pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan secara terbuka dengan pengumuman secara luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi untuk penerangan umum sehingga masyarakat luas dunia usaha yang berminat dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya. Dalam hal jumlah penyedia barang/jasa yang mampu melaksanakan diyakini terbatas yaitu untuk pekerjaan yang kompleks, maka pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan metoda pelelangan terbatas dan diumumkan secara luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi dengan mencantumkan penyedia barang/jasa yang telah diyakini mampu, guna memberi kesempatan kepada penyedia barang/ jasa lainnya yang memenuhi kualifikasi. Dalam hal metoda pelelangan umum atau pelelangan terbatas dinilai tidak efisien dari segi biaya pelelangan, maka pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan metoda pemilihan langsung, yaitu pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan dengan membandingkan sebanyak-banyaknya penawaran, sekurangkurangnya 3 (tiga) penawaran dari penyedia barang/jasa yang telah lulus prakualifikasi serta dilakukan negosiasi baik teknis maupun biaya serta harus diumumkan minimal melalui papan pengumuman resmi untuk penerangan umum dan bila memungkinkan melalui internet. Dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus, pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan cara penunjukan langsung terhadap 1 (satu) penyedia barang/jasa dengan cara melakukan negosiasi baik teknis maupun biaya sehingga diperoleh harga yang wajar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabka 2. Tujuan dan Sasaran Tujuan : Untuk memenuhi kebutuhan barang/ jasa yang dibutuhkan oleh Poktan/ Gapoktan sesuai dengan speifikasi teknis dan dana yang tersedia. Sasaran : Terlaksananya barang/jasa sesuai dengan yang tertera dalam Petunjuk Operasional Kegiatan dana tugas pembantuan TA. 2013, yaitu : a. Fasilitasi Gudang Jagung di Dompu berupa Renovasi Gudang Jagung VI - 85

86 b. Sarana pemasaran Pasar Tani berupa pengadaan Kendaraan Roda 3 sebanyak 8 unit. c. Revitalisasi Penggilingan Padi di 5 Kabupaten. d. Fasilitas Agroindustri Jagung di 2 Kabupaten e. Fasilitasi Agroindustri Kedelai di Kota Mataram f. Fasilitasi agroindustri Tepung di 2 Kabupaten g. Fasilitasi pengemasan Hortikultura di Kota Mataram 3. Hasil yang dicapai Telah dilaksanakannya pengadaan barang dan Jasa sesuai deengan Spesifikasi Teknis dengan tepat waktu dan tepat sasaran,yaitu : a. Fasilitasi Gudang Jagung di Dompu berupa Renovasi Gudang Jagung b. Sarana pemasaran Pasar Tani berupa pengadaan Kendaraan Roda 3 sebanyak 8 unit. c. Revitalisasi Penggilingan Padi di 5 Kabupaten. d. Fasilitas Agroindustri Jagung di 2 Kabupaten e. Fasilitasi Agroindustri Kedelai di Kota Mataram f. Fasilitasi agroindustri Tepung di 2 Kabupaten g. Fasilitasi pengemasan Hortikultura di Kota Mataram 4. Dana untuk menunjang kegiatan Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (94,74 %) Realisasi Fisik 100 % Sisa dana Rp ,- Alasan : Maksimalisasi dana Honor Output Kegiatan Rp ,- dan biaya pengumuman lelang Rp ,- Solusi : Setor ke Kas Negara. A. Latar Belakang 013. SINKRONISASI KEGIATAN TUGAS PEMBANTUAN Pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian merupakan suatu proses yang saling berkait, sehingga keterpaduan dan koordinasi dengan pihak lain yang terkait merupakan salah satu kunci keberhasilan. Untuk itu, berbagai program dan kegiatan pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian ( P2HP ) yang akan dilaksanakan harus dirancang secara utuh dan terarah mulai dari tingkat pusat, provinsi hingga tingkat kabupaten/kota. Demikian juga dalam pelaksanaannya, program dan kegiatan P2HP tersebut harus dilakukan secara terpadu, terkoordinasi serta sinkron antara pusat, provinsi dan kabupaten, sehingga hal ini akan mendukung kelancaran dalam pelaksanaan kegiatan dan pencapaian sasaran program. Adanya koordinasi dan sinkronisasi yang baik antara provinsi dan kabupaten dalam perencanaan dan pelaksanaan program dan kegiatan P2HP akan mempermudah untuk menciptakan keterpaduan berbagai kegiatan, baik antar kegiatan, antar program, antar sub sektor dalam satu sektor, maupun antar sektor. Terkait dengan VI - 86

87 itu, maka dipandang perlu untuk menyelenggarakan kegiatan pertemuan Sinkronosasi Kegiatan Tugas Pembantuan B. Tujuan dan Sasaran 1. Tujuan Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan petugas pengelola anggaran dan kegiatan pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian ( P2HP ) di Nusa Tenggara Barat Meningkatkan koordinasi dan sinkronisasi dalam pelaksanaan program dan kegiatan P2HP di tingkat provinsi dan kabupaten/ kota Menyamakan persepsi dan pandangan antara petugas provinsi dan kabupaten/kota dalam pelaksanaan program dan kegiatan P2HP tahun anggaran Sasaran Meningkatnya kinerja petugas dalam mengelola anggaran dan kegiatan pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian ( P2HP ) TA di tingkat provinsi maupun kabupaten Adanya persepsi dan pandangan yang sama antara petugas provinsi dan kabupaten dalam melaksanakan program dan kegiatan P2HP TA Tercapainya sasaran program dan kegiatan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian ( P2HP ) TA di Nusa Tenggara Barat sesuai yang telah ditetapkan. C. Hasil yang Dicapai : Pertemuan koordinasi dan Sinkronisasi. a). Tempat, Waktu dan Peserta Pertemuan Kegiatan Pertemuan Sinkronisasi Kegiatan Tugas Pembantuan P2HP dilaksanakan pada tanggal 4 Maret 2013 bertempat di Aula Hortikultura, dihadiri oleh petugas Dinas Pertanian Provinsi dan Dinas Pertanian Kabupaten pelaksana kegiatan dana Tugas Pembantuan Provinsi dengan jumlah peserta seluruhnya 20 orang. Sebagai nara sumber adalah Kepala Dinas Pertanian TPH, Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil, Kepala Seksi Pasca Panen dan Pengolahan Hasil, Kepala Seksi Pemasaran dan Mutu Hasil. Materi pertemuan meliputi : Kebijakan Program dan Kegiatan P2HP, Petunjuk Pelaksanaan Administrasi Kegiatan, Kegiatan Fasilitasi Pasar Tani, Pengembangan Akses Pemasaran Pengolahan Hasil Pertanian (Fasilitasi Gudang Jagung, Kendaraan Khusus Roda 3, Revitalisasi Penggilingan Padi, Fasilitasi Agroindustri Jagung, Fasilitasi Agroindustri Kedelai, Fasilitasi Agroindustri Tepung, Fasilitasi Pengemasan Hortikultura ) b). Hasil Pertemuan Koordinasi Dari hasil pelaksanaan pertemuan sinkronisasi kegiatan Tugas Pembantuan P2HP yang dilaksanakan di Mataram pada tanggal 4 Maret 2013, diperoleh hasil rumusan sebagai berikut : 1. Pertemuan Koordinasi dan Sinkronisasi P2HP dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Nusa Tenggara Barat VI - 87

88 2. Anggaran pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil di Nusa Tenggara Barat pada TA mencapai Rp ,- yang terdiri dari Dana Dekonsentrasi Rp ,- dan Dana Tugas Pembantuan Provinsi sebesar Rp ,- 3. Kegiatan pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian yang bersumber dari Dana Tugas Pembantuan Provinsi TA meliputi : Kegiatan Pengembangan Pemasaran Domestik, yaitu pengembangan STA dan Pasar Tani di Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Lombok Utara, Kegiatan : Pengembangan Pengolahan Hasil Pertanian, terdiri dari : Revitalisasi Penggilingan Padi di Kabuipaten Bima, Revitalisasi Penggilingan Padi di Kabupaten Lombok Barat, Pengembangan Agroindustri Kedelai di Kota Mataram, Pengolahan Jagung di Kabupaten Lombok Timur, Pengolahan Jagung di Kabupaten Lombok Utara, Pengolahan Jagung di Kabupaten Sumbawa dan Administras Tugas Pembantuan. 4. Beberapa kegiatan P2HP yang bersumber dari dana dekonsentrasi yang akan dilaksanakan pada TA di Nusa Tenggara Barat meliputi kegiatan : a. Perbaikan Mutu dan Standarisasi ( Pembinaan dan Sertifikasi Pangan organik, Bintek Penerapan Jaminan Mutu, Pengembangan OKKPD. b. Pengembangan Pemasaran Domestik, meliputi Kegiatan : PIP di Propinsi PIP di Kabupaten, Optimalisasi Sarana Pemasaran Hasil Pertanian, Gedung dan Bangunan yaitu Pengembangan Akses Jaringan Pasar5 (Pelaksanaan Resi Gudang). c. Kegiatan Pengembangan Kemitraan dan Kewirausahaan terdiri dari, Profil Kelompok Agribisnis, InvestasiP roduk Unggulan Daerah, Bimbingan Pengem. Usaha kemitraan, kewirausahaan dan ekonomi kreatif. d. Pameran, promosi, eksebisi dan perlombaan dalam negeri, terdiri dari beberapa kegiatan, yaitu : Agriculture Speciality Export Product, Agro & food expo, Surabaya Agribussines Matching &Expo, Batam Agribusines expo, September Ceria, Pekan Raya Tani. e. Kegiatan Pembinaan, Pengawalan dan Pendampngan Pengolahan hasil Pertanian, yaitu Pembinaan, pengawalan dan pendampingan Pengolahan hasil hortikultura, Bimbingan Teknis Pengolahan Hasil Pertanian, Sosialisasi dan Apresiasi Pengolahan Hasil Pertanian, Pembinaan, Pengawalan dan Pendampingan dan Pengolahan hasil Tanaman Pangan, Penyusunan Data Base Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. f. Dokumen Perencanaan, terdiri dari kegiatan Administrasi Satker, Perencanaan Program, Evaluasi Pemantauan dan Pelaporan, Pelaporan SAI/SIMAK BMN,Pengawalan dan Pembinaan LM Untuk Kegiatan P2HP kabupaten yang anggarannya berasal dari Dana Tugas Pembantuan Provinsi, maka Kuasa Pengguna Anggaran dan Pejabat Pembuat Komitmen berada pada Satker Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi NTB. Sedangkan pengelola anggaran dan kegiatan yang ada di tingkat kabupaten adalah Penanggung jawab Kegiatan, Pelaksana Kegiatan dan PUM/ Bendahara Pengeluaran Pembantu). 6. Untuk Kegiatan yang berasal dari Dana TP Provinsi, Petunjuk Pelaksanaan kegiatan dibuat oleh Dinas Pertanian Provinsi. Sedangkan untuk Petunjuk Teknis Kegiatan dibuat oleh Dinas Pertanian Kabupaten dengan VI - 88

89 mengacu/berpedoman pada Petunjuk Pelaksanaan yang diterbitkan oleh Dinas Pertanian Provinsi. 7. Kegiatan-kegiatan yang bersumber dari Dana TP Provinsi yang pelaksanaannya melalui Kontraktual dalam pelaksanaannya dilakukan oleh Dinas Pertanian Provinsi. Barang yang telah diadakan oleh Dinas Pertanian TPH Provinsi diserahkan ke Kabupaten/ ke Kelompok. 8. Untuk kegiatan kegiatan identifikasi Gapoktan /Kelompok Tani di lapangan dilakukan oleh dinas Pertanian kabupaten. 9. Dalam rangka efektivitas dan efisiensi pelaksanaan kegiatan dan anggaran pembangunan PPHP di Nusa Tenggara Barat, maka untuk beberapa kegiatan di Kabupaten perlu dilakukan revisi POK. 10. Bagi para petugas pengelola / pelaksana kegiatan di kabupaten yang akan Bendahara Provinsi. Pengajuan uang muka kerja oleh PUM baru dapat dilakukan pada bulan Pebruari D. Dana untuk menunjang kegiatan Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (99,35) Realisasi Fisik 100 % Sisa dana Rp ,- Alasan : Efisiensi biaya perjalanan dinas. Solusi : Setor ke Kas Negara PEMBINAAN MONITORING DAN EVALUASI I. Latar Belakang Untuk mengetahui berhasil tidaknya pelaksanaan program kegiatan pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian perlu dlakukan Pembinaan, monitoring dan evaluasi terhadap perkembangan pelaksanaan program/ kegiatan dan anggaran yang digunakan. Evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input), keluaran (output), dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. Evaluasi dilakukan dengan maksud untuk dapat mengetahui dengan pasti apakah pencapaian hasil, kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan rencana pembangunan dapat dinilai dan dipelajari untuk perbaikan pelaksanaan rencana pembangunan di masa yang akan datang. Fokus utama evaluasi diarahkan kepada keluaran (output), hasil (outcome) dan dampak (impacts) dari pelaksanaan rencana pembangunan. Oleh karena itu, dalam perencanaan yang transparan dan akuntabel, harus disertai dengan penyusunan indikator kinerja pelaksanaan rencana yang sekurang-kurangnya meliputi : (1) indikator masukan, indikator keluaran dan indikator hasil / manfaat. Pelaporan hasil kegiatan program dan anggaran kinerja ini merupakan salah satu bentuk media penyampaian informasi terhadap serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak dari persiapan kegiatan sampai pada akhir pelaksanaan. Melalui laporan yang baik akan dapat dilihat sejauhmana perkembangan VI - 89

90 pelaksanaan, hasil pelaksanaan dan tingkat keberhasilannya. II. Kegiatan yang dilaksanakan (What) a. Uraian kegiatan - Penyusunan Petunjuk Pelaksanaan dan Petunjuk Teknis Kegiatan - Penyusunan Laporan Tahunan - Pembinaan, monitoring dan evaluasi ke Kabupaten/ Kota terhadap pelaksanaan kegiatan Tugas Pembantuan. - Pelaporan b. Batasan Kegiatan : Kegiatan ini hanya terbatas pada pelaksanaan kegiatan Pembinaan Monitoring dan evaluasi III. Maksud dan Tujuan Kegiatan a. Maksud Kegiatan Melakukan Pembinaan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program/kegiatan Tugas Pembantuan n anggaran pembangunan P2HP di Nusa Tenggara Barat. b. Tujuan Kegiatan : - Mengetahui perkembangan pelaksanaan program/kegiatan dan anggaran sebagai upaya antisipasi terhadap penyimpangan/penyelewengan yang mungkin terjadi dan perbaikan perencanaan dan pelaksanaan dimasa mendatang - Meningkatkan sumber daya manusia ( SDM ) pengelola program/kegiatan dan anggaran, sehingga dalam pelaksanaan program / kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik sesuai sasaran yang telah ditetapkan. IV. Hasil yang dicapai : Laporan perkembangan kegiatan yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam pencapaian sasaran kegiatan di kabupaten/ Kota V. Jumlah Dana untuk mendukung kegiatan : Pagu danai sebesar Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,-(100 %) Realisasi Fisik 100% Sisa dana Rp.- BAB IV. SUCCESS STORY PEMBANGUNAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERTANIAN SUB SEKTOR TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA DI NUSA TENGGARA BARAT 1. Dengan adanya Fasilitasi sarana distribusi yang di alokasikan pada Kelembagaan Pasar Tani di NTB berupa Sepeda Motor Roda Tiga atau Kendaraan Roda Tiga sebanyak 8 unit, dapat memperlancar distribusi produk yang akan diperdagangkan oleh ASPARTAN. 2. Revitalisasi penggilingan padi dapat meningkatkan kinerja penggilingan padi karena dapat menekan susut hasil (losses), peningkatan rendemen dan kualitas gabah/beras serta mengembangkan usaha secara mandiri dan berkelanjutan 3. Alat mesin Pengolah Jagung, Alat/ mesin pengolah tepung ubikayu sangat diminati oleh kelompok Tani pada sentra Produksi Jagung dan ubi kayu, hal ini sangat VI - 90

91 dirasakan manfaatnya oleh petani, terutama ibu-bu anggota kelompok. Manfaat yang telah dirasakan adalah tumbuh kembangnya industri rumah tangga, dengan adanya alat pengolah jagung dan alat mesin pengolah tepung ubi kayu ibu-ibu anggota kelompok dapat membuat aneka olahan yang berasal dari bahan baku jagung maupun ubi kayu.dengan demikian dapat meningkatkan potensi nilai tambah jagung dan ubi kayu dengan penerapan teknologi pengolahan. 4. Fasilitasi agroindustri kedelai, sangat dirasakan manfaatnya oleh kelompok Tani Kekalik Bersatu, karena dapat mengolah bahan baku kedelai menjadi Tahu, dengan adanya bantuan ini mereka mengaku dapat meningkatkan nilai tambah berupa keuntungan yang cukup memadai. Kelompok semakin aktif untuk berproduksi dan menanam kedelai. 5. Rumah kemasan disambut baik oleh Assosiasi Pengolah Hasil Hortikultura (ASPEHORTI) di Kota Mataram, daiharapkan rumah kemasan ini dapat membantu petani dalam membantu petani, karena merupakan Pusat Pengemasan Produk Olahan Hortikultura. VI - 91

92 2. DPA Anggaran Pendapatan Belanja Daerah a. Kegiatan dan Anggaran Pengembangan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2013 Tabel VI-14. Anggaran APBD P2HP Tahun 2013 Kegiatan /Jenis N0. Belanja/Rincian Volume Jumlah Biaya Belanja Indikator Keberhasilan (1) (2) (3) (4) (5) 1. Jakarta Agro Outlet 1 Keg Ter-eksposenya produk unggulan NTB 2. Sub Terminal Agribisnis 1 Keg Terjadinya transaksi produk pertanian antara produsen dengan pedagang 3 Agrinex Expo 1 Keg Adanya event yang lebih diarahkan untuk lebih menumbuhkan empati, simpati, serta pemahaman publik tentang prospek agribisnis Indonesia 4 NTB Expo I Keg Ter-eksposenya produk hasil olahan dan sayur segar unggulan NTB 5 Perberasan I Keg Terpantaunya distribusi dan harga beras/ gabah 6. MPU 1 Keg Terciptanya produk pertanian yang ramah lingkungan. 7. HPS 1 Keg Adanya Informasi Pangan se-dunia. Diperkenalkannya 8. NTB Bersaing 1 Keg reputasi daerah NTB dalam bidang agribisnis. 9.. Meningkatnya Peningkatan Kemampuan 1 Paket keterampilan Wanita Tani Lembaga Petani di NTB J U M L A H VI - 92

93 b. Realisasi Dana Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) 2013 Tabel VI-15. Realisasi Dana SKPD 2013 NO KEGIATAN DANA (Rp) REALISASI KEUANGAN % % SISA DANA (Rp.) KEUANGAN FISIK 1 Jakarta Agro Outlet , STA. Mandalika , Agrinex EXPO , NTB Expo , Pembinaan Perberasan , MPU , HPS , NTB Bersaing , EXPO 9 Peningakat , Kemampuan Lembaga Petani T O T A L , A. Pendahuluan KINERJA PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN TAHUN DPA- SKPD 1) Jakarta Agro Outlet Dalam rangka memperlancar pemasarannya perlu disediakan suatu tempat untuk memajan komoditi dalam bentuk segar maupun olahan pada tempat strategis, yaitu Jakarta Agro Outlet. Pemerintah diharapkan mendorong prospek pengembangan industri hilir atau pengolahan hasil. Mengingat, prospek pengembangan industri pengolahan ini lebih berpotensi untuk maju dengan didorong oleh banyaknya sumber daya alam, khususnya sektor pertanian yang baik. Untuk meningkatkan akses pasar produk-produk horikultura sayuran, tanaman pangan dan produk olahan maka provinsi NTB mengikuti kegiatan Agro Outlet di Pasar Induk Kramat Jati Jakarta. B. Tujuan Pemantapan dan perluasan pemasaran komoditi pertanian (komoditi unggulan) yang dihasilkan oleh petani/kelompok usahatani di NTB VI - 93

94 C. Sasaran Konsumen akhir yang langsung mengkonsumsi komoditas yang dibelikannya. Konsumen antara yang membeli komoditas pertanian sebagai bahan baku. D. Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan penumbuhan marketing/etalase komoditi unggulan dilakukan sesuai dengan penyediaan dana yang disediakan.dana untuk mendukung kegiatan ini sebesar Rp ,-Dana tersebut dipergunakan untuk honor penjaga malam, honor petugas Full Taimer, dan dipergunakan untuk operasional agro outlet seperti alat tulis menulis kantor, biaya air, listrik dan telpon. Harapan dari kegiatan tersebut adalah terjalinnya akses-akses pasar bagi para petani, sehingga mempermudah dalam pemasaran sayuran kedepan. E. Indikator Kinerja : Input : Jumlah dana Rp ,- SDM Output : Terlaksananya Promosi produk unggulan NTB Outcome : Ter-eksposenya produk hasil olahan dan sayur segar unggulan NTB. Benefit : Meningkatnya pemasaran produk Pertanian Dampak : Meningkatnya pendapatan petani F. Realisasi fisik dan keuangan : Dana yang tersedia untuk mendukung kegiatan ini Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (53,49 %) Realisasi fisik 60 % Sisa dana Rp ,- Alasan dana SIAP : a. Dana yang ada hanya terrealisasi untuk membayar honor petugas full taimer dan penjaga malam. b. Biaya operasional seperti listrik, air, telpon, bahan tidak ter realisasi, karena : rekening listrik, air dan telpon tidak di kirim ke Dinas Pertanian TPH NTB, sehingga tidak bisa di SPJ-kan. c. Biaya perjalanan tidak dipergunakan karena tidak ada agenda nasional (panggilan pusat). Solusi : Menegur petugas full traimer agar mengirim rekening dan Sisa dana Setor Ke Kas Daerah 2) Sub Terminal Agribisnis (STA)-Mandalika A. Pendahuluan Secara umum salah satu permasalahan yang mendasar dalam memajukan usaha pertanian di NTB termasuk kegiatan pada lembaga pemasaran STA adalah masih lemahnya kemampuan sumber daya manusia. Hal ini disebabkan karena pembinaan SDM selama ini difokuskan pada subsektor budidaya sedangkan masalah pemasaran diserahkan pada mekanisme pasar yang ada sehingga keuntungan yang diperoleh VI - 94

95 petani tergantung pada pasar yang ada. Disamping permasalahan tersebut diatas produk pertanian sangat beraneka ragam bentuk maupun sifatnya fisiknya yang akhirnya mempengaruhi cara dan sistem pemasarannya. Rantai pemasaran produk pertanian tanaman pangan & hortikultura mempunyai rantai pemasaran yang relatif cukup panjang sehingga me nyebabkan perbedaan harga yang cukup besar antara harga di tingkat petani dan harga di tingkat konsumen. Dengan melihat kondisi yang demikian ini tentu pemerintah melalui instansi terkait perlu memikirkan bagaimana untuk memperpendek rantai pemasaran yang ada sehingga dari pihak petani maupun konsumen dapat lebih diuntungkan. Adapun upaya yang telah dilakukan terhadap kelembagaan STA yang ada di Pasar Induk Mandalika adalah telah dibentuknya Badan Musyawarah STA sebagai suatu lembaga yang akan mengoperasionalkan STA ini sesuai dengan tugas dan fungsinya untuk memfasilitasi petani dan pedagang dalam memasarkan produknya. Sub Terminal Agribisnis (STA) sebagai lembaga pemasaran yang memerankan fungsi busines leader bagi pelaksanaan manajemen rantai pasokan dapat mendistribusikan produk petani secara efisien memiliki peranan yang cukup strategis dalam pemasaran hasil pertanian tanaman pangan & hortikultura. Terkait dengan kegiatan pengembangan STA Mandalika ini maka dalam upaya meningkatkan kemanpuan SDM kelembagaan ini khususnya Pengurus STA telah dilakukan kegiatan Fasilitasi Penguatan Kelembagaan STA agar keterampilan dan kemampuan manajemen dalam pengelolaan STA dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. B. Tujuan Kegiatan Tujuan yang ingin dicapai adalah 1. Meningkatkan potensi produksi komoditas Pertanian dan prospek peluang usaha 2. Meningkatkan kelancaran dan memperluas pemasaran komoditas Pertanian 3. Menyediakan data base agribisnis. 4. Meningkatkan kemudahan pembinaan mutu hasil pertanian, perikanan dan kehutanan 5. Meningkatkan perekonomian masyarakat dan pendapatan daerah C. Sasaran Kegiatan : Sasaran dalam kegiatan ini adalah petani/ kelompok tani/ gapoktan / pedagang yang terlibat dalam kegiatan Sub Terminal Agribisnis (STA) D. Arah Investasi Arah investasi yang sedang dikembangkan adalah : 1. Menyediakan tempat transaksi, pelelangan, penyimpanan, sortasi dan pengemasan produk pertanian, perikanan dan kehutanan. 2. Menyediakan pusat informasi pasar 3. Gerai/outlet produk pertanian 4. Menyediakan rest area 5. Pengembangan Agrowisata VI - 95

96 6. Meyediakan fasilitas pendukung lainnya. E. FUNGSI SUB TERMINAL AGRIBISNIS Pembangunan Sub Terminal Agribisnis adalah sarana usaha untuk dapat mengakomodasi berbagai kepentingan pelaku agribisnis. Fungsi Terminal Agribisnis dapat dibagi 4 kelompok besar, yaitu : 1. Tempat transaksi dan jual beli Sebagai tempat transaksi dan jual beli, Sub Terminal Agribisnis berfungsi sebagai: a. menyediakan tempat yang memadai bagi produsen dan konsumen untuk transaksi hasil komoditas pertanian secara berkelanjutan b. sebagai jalur distribusi produksi pertanian c. meningkatkan pendapatan petani produsen serta memberikan kemudahan, kenyamanan dan perlindungan konsumen. d. Pusat kegiatan penangan pasca panen (sortasi, grading, pengepakan dan cold storage) 2. Pusat informasi Sebagai tempat informasi, Sub Terminal Agribisnis berfungsi sebagai : a. sebagai pusat informasi bagi produsen dan konsumen mengenai volume, macam, dan waktu ketersediaan.komoditas yang ditawarkan b. sebagai wadah / forum komunikasi antara kelompok petani dan produsen c. sebagai sekretariat asosiasi-asosiasi pertanian 3. Sebagai Tempat pendidikan Sebagai tempat pendidikan, Sub Terminal Agribisnis berfungsi sebagai : a. Tempat pelatihan bagi masyarakat untuk meningkatkan hasil pertanian, pengelolaan, pemasaran dan manajemen. b. Tempat magang bagi masyarakat untuk mengetahui proses kegiatan pemasaran 4. Sebagai Tempat Wisata Sebagai tempat pariwisata, Sub Terminal Agribisnis berfungsi sebagai : a. Rest area b. Tempat pameran hasil pertanian sebagai wahana promosi c. Agrowisata F. Hasil Kegiatan, Terfasilitasinya pedagang dalam rangka : Terbangunnya LOS PASAR, Halaman dan Papan Nama. peningkatan kelancaran dan memperluas pemasaran komoditas agribisnis, memperlancar sistem informasi dan promosi, peningkatan potensi produksi dan prospek peluang usaha sehingga diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan pendapatan asli daerah juga mulai ditekankan pada optimalisasi pemanfaatan lahan melalui pembangunan agrowisata yang mengakomodir konsep integrasi antara pedagang dan pembeli. G. Realisasi fisik dan keuangan : Dana yang tersedia untuk mendukung kegiatan ini Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (88,29 %). Realisasi fisik 100 %. Sisa dana Rp Alasan dana SIAP : disebabkan karena adanya efisiensi pembayaran Telpon, Listrik VI - 96

97 dan air Solusi : Setor ke Kas Daerah. 3) Agrinex expo I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Agrinex Expo 2013 merupakan suatu ajang eksibisi untuk memperkenalkan serta mempromosikan berbagai potensi daerah Nusa Tenggara Barat kepada buyers dan investor daerah lainnya termasuk berbagai potensi investasi dan peluang agribisnis yang terbuka luas di Jakarta. Agrinex Expo 2013 ini dilaksanakan di Balai Sidang Jakarta Convention Centre (JCC) Jakarta dan event promosi ini juga merupakan suatu ajang pameran dagang berbagai produk unggulan daerah yang didukung potensi sumberdaya daerah sebagai keunggulan komparatif yang dimiliki daerah NTB. B. Tujuan dan Sasaran 1. Tujuan Tujuan dilaksanakan promosi produk hasil pertanian pada Agrinex Expo 2013 di Jakarta adalah untuk memperkenalkan potensi dan reputasi Daerah Nusa Tenggara Barat khususnya untuk komoditas unggulan (agribisnis dan agroindustri) terutama aneka produk unggulan spesifik daerah Nusa Tenggara Barat kepada pasar regional dan internasional. 2. Sasaran Sasaran mengikuti pameran dan promosi Agrinex Expo 2013 adalah untuk mengembangkan pasar produk hasil pertanian daerah NTB serta mengembangkan dan meningkatkan kontak dagang (kontak bisnis) dan kerjasama dalam pemasaran antara kelompok usaha agribisnis di Daerah Nusa Tenggara Barat dengan kelompok usaha/ penyalur hasil-hasil pertanian serta konsumen dari daerah/provinsi lainnya. II. LINGKUP KEGIATAN Lingkup kegiatan dalam pameran dan promosi produk pertanian pada Agrinex Expo 2013 ini antara lain meliputi berbagai kegiatan, yaitu : 1. Rapat Persiapan dalam rangka pelaksanaan pameran yang diikuti oleh dinas/instansi terkait guna mendukung partisipasi/ keikutsertaan provinsi Nusa Tenggara Barat dalam Agrinex Expo Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengakomodir serta menginventarisir kebutuhan dalam rangka pelaksanaan pameran dan promosi termasuk penyediaan bahan-bahan pameran dan promosi serta bahan-bahan dekorasi. VI - 97

98 2. Tempat dan Waktu Pelaksanaan, tempat dan waktu penyelenggaraan promosi disesuaikan dengan agenda promosi yang difasilitasi/diselenggarakan oleh PT.Puteri Cahaya Kharisma 3. Penyediaan tempat (stand) pameran/promosi dengan ukuran stand seluas 8 m2 dilaksanakan melalui pemesanan kepada penyelenggara yang diikuti / ditindaklanjuti dengan sistem kontraktual dengan penyelenggara pameran yaitu PT.Puteri Cahaya Kharisma 4. Dekorasi stand dapat dilakukan dengan swakelola atau bekerjasama dengan pihak ketiga (penyelenggara/kontraktor penyelenggara) dilakukan dengan melalui pemesanan 5. Stand pameran dan dekorasi stand sudah disiapkan pihak penyelenggara yang ditunjuk untuk dimanfaatkan sebelum pelaksanaan ajang pameran dan promosi berlangsung yaitu pada tanggal 5-7 April Penunjukkan Peserta. Penunjukan peserta yang ikut serta dalam promosi baik dari unsur petugas maupun dari unsur pelaku usaha dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Nusa Tenggara Barat. Produk pelaku usaha yang dipilih ikut serta dalam ajang pameran dan promosi ini adalah produk pelaku usaha yang memiliki mutu yang mampu bersaing di luar daerah serta menarik untuk dikerjasamakan 7. Penyiapan Bahan Promosi. Penyiapan bahan promosi antara lain meliputi : a. Produk Hasil Pertanian, baik dalam bentuk produk segar maupun produk olahan. Produk/bahan/materi pameran disiapkan oleh masing-masing pelaku usaha dengan dukungan dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Provinsi NTB b. Bahan promosi dalam bentuk brosur/leaflet maupun buku-buku potensi disiapkan dan disediakan oleh Dinas Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Barat. III. PELAKSANAAN KEGIATAN Keikutsertaan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam event pameran dan promosi Agrinex Expo 2013 di Jakarta dilaksanakan sesuai dengan alokasi waktu dan tempat yang telah ditetapkan dan difasilitasi oleh PT. Puteri Cahaya Kharisma adalah sebagai berikut : A. Tempat. Pameran dan promosi Agrinex Expo 2013 yang diikuti oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Provinsi Nusa Tenggara Barat ini diselenggarakan di Balai Sidang Jakarta Convention Centre (JCC) Jakarta pada Hall B. B. Waktu. VI - 98

99 Pameran dan promosi Agrinex Expo 2013 ini diselenggarakan selama 3 (tiga) hari, yaitu dari Tanggal 5 7 April 2013 dan setiap harinya kegiatan pameran dan promosi berlangsung dari Pukul WIB C. Peserta. Peserta dalam pameran dan promosi Agrinex Expo 2013 dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Provinsi Nusa Tenggara Barat, sesuai dengan misi/tema keikutsertaan Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam event pameran dan promosi adalah mengedepankan produk produk unggulan daerah produk petani/pelaku Usaha Agribisins dan Agroindustri dalam peningkatan dan pengembangan pasar hasil pertanian melalui informasi yang dapat dihubungi dalam kontak bisnis. Oleh karena itu peserta dari unsur stakeholder/pelaku usaha diutamakan adalah produk pelaku usaha yang bergerak dalam bidang pengolahan dan pemasaran hasil-hasil pertanian, serta dari kalangan distributor maupun supplier atau produsen/ petani/ kelompok tani/ gapoktan yang bergerak di bidang agribisnis dengan diinformasikan lebih lanjut petugas dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Nusa Tenggara Barat. D. Komoditi Pameran Komoditi/produk yang dipamerkan/dipromosikan dalam ajang pameran dan promosi Agrinex Expo 2013 tersebut adalah berbagai komoditi/produk hasil-hasil pertanian, khususnya hasil tanaman pangan sesuai dengan program Pemerintah Daerah NTB yaitu PIJAR (Sapi, Jagung dan Rumput Laut) sebagai komoditas unggulan yang sedang dikembangkan, namun disamping itu juga dari komoditas tanaman pangan lainnya seperti kacang hijau dan kedele. Untuk komoditas jagung selain berupa jagung tongkol dan pipilan juga dipajang berbagai bentuk olahan seperti olahan marning jagung berbagai rasa, emping jagung, dan berbagai kue dari tepung jagung. Komoditas hortikultura sebagai produk unggulan dan andalan NTB untuk pasar ekspor yang ditampilkan adalah komoditas manggis yang telah disertifikasi organik, serta didukung oleh komoditas hortikultura lainnya seperti bawang merah, bawang putih, dan kangkung. IV. HASIL PAMERAN DAN PROMOSI Agrinex Expo adalah merupakan pameran agribisnis yang mengutamakan produkproduk unggulan yang memiliki peluang pasar yang cukup besar. Adapun pelaksanaan Agrinex Expo yang diselenggarakan dari Tanggal 5-7 April 2013 dapat kami laporkan sebagai berikut : Dalam acara pembukaan ini adapun yang memberikan sambutan adalah Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) selaku penyelenggara, dan dibuka oleh Menteri Koordinator Perekonomian Republik Indonesia yaitu Bapak Hatta Rajasa. Agrinex Expo 2013 dengan Event Organizer PT. Performax yang didukung oleh Kementerian Pertanian dan Coop Indonesia kali ini mengusung tema Agribisniss For food & Bioenergy Security. Agrinex expo adalah media bagi penyelenggara untuk menunjukkan pencapaian di sektor agribisnis Indonesia, di samping itu juga sebagai media edukasi masyarakat untuk mengenal dan mencintai agribisnis Indonesia. Dalam penyelenggaraan kegiatan agrinex ini bahwa berdasarkan laporan ketua penyelenggara yaitu Ibu Ir. Rifda Ammarina bahwa Agrinex tahun ini diikuti oleh 175 instansi dan 7 talkshow. Dalam kegiatan agrinex ini juga merupakan wahana belajar dan VI - 99

100 mengenal produk dan program dalam membangun kesadaran dan kecintaan akan pentingnya pangan lokal. Dalam sambutannya Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan bahwa pembangunan kemandirian pangan merupakan sektor andalan dan sektor utama yang saat ini memberikan sumbangan sebesar 15 % dalam pembangunan masih tergolong sangat kecil. Tindakan cinta produk dalam negeri merupakan daya tahan bangsa terhadap kemandirian pangan dan yang perlu diwaspadai bahwa dalam eksport produk pangan sering terjadi distorsi karena ada kepentingan golongan tertentu yang ingin menjatuhkan bangsa kita. Melalui kegiatan promosi produk-produk pertanian kita mengharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata dalam pengembangan produk pertanian dan akhirnya mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para pelaku agribisnis terutama para petani/produsennya. Pelaksanaan Agrinex expo di Jakarta Convention Centre (JCC) dilaksanakan di Hall B yang diisi oleh instansi pemerintah baik dari pusat yaitu kementerian pertanian, perindustrian dan perdagangan, sedangkan dari daerah baik SKPD dinas maupun badan, lembaga swasta, BUMN,PKBL, koperasi, produsen alsintan, media masa, dan para pelaku usaha baik segar maupun olahan, Adapun, rangkaian kegiatan Agrinex Expo 2013 pada siang dan sore harinya dilaksanakan dilakukan Talkshow yang antara lain menampilkan Kepala Badan Ketahanan Pangan Pusat, Bulog, Dosen UGM dan dan Koordinator dari MP3EI dengan pokok bahasan MP3EI terkait pangan. Dalam tolkshow ini ini dibahas masalah ketersediaan pangan, sistem distribusi, dan permasalahan lahan yang semakin berkurang untuk pertanian. Kesimpulan pada talkshow ini adalah perlu adanya perencanaan yang mantap tentang pangan untuk masa yang akan datang. Untuk talkshow selanjutnya juga dibahas tentang infrastruktur pertanian, hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan dan mengembangkan pertanian yang terkait dengan kebutuhan sarana prasarana guna peningkatan produksi dan distribusi pangan hasil pertanian. Permasalahan mendasar sektor pertanian dan petani adalah (a) kepemilikan lahan yang sempit rata rata < 0,5 ha, (b) keterbatasan infrastruktur, sarana prasarana, lahan, dan air, (c) keterbatasan akses petani terhadap permodalan dan lahan, (d) kemampuan manajerial dan kewirausahaan yang terbatas, (e) meningkatnya kerusakan lingkungan dan perubahan iklim global, (f) lemahnya kapasitas kelembagaan petani dan penyuluh, dan (g) nilai tukar petani tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Kondisi-kondsi tersebut memerlukan penanganan secara terintegrasi dari beberapa sektor yang terkait. Hal ini menjadi sangat penting mengingat peran strategis sektor pertanian dalam pembangunan nasional sebagai (1) penghasil pangan, (2) sumber pendapatan penduduk, (3) penyumbang PDB, (4) penyerapan tenaga kerja, (5) penyedia bahan baku industri, (6) sumber devisa, dan (7) pasar bagi produk dan jasa sektor non pertanian. Oleh karena itu, program penanggulangan kemiskinan dengan target peningkatan kesejahteraan petani diarahkan terhadap upaya peningkatan pendapatan per kapita. Ratarata laju peningkatan pendapatan per kapita pertanian adalah 11,10% per tahun. Guna mensejahterakan petani tersebut maka prioritas kebijakan pertanian adalah: a) Sebagai produsen hasil pertanian, petani harus mendapat perlindungan dari struktur pasar yang tidak sempurna, oleh karena itu subsidi, proteksi dan kemudahan harus diberikan kepada petani dalam menghadapi negosiasi perdagangan internasional. b) Petani harus diupayakan sebagai net produser dan mempunyai skala usaha yang cukup. VI - 100

101 c) Peningkatan SDM petani. Petani harus mempunyai kemampuan manajerial, kewirausahaan dan penguasaan teknologi untuk mengembangkan usahanya. d) Dibangun industrialisasi pertanian yang merupakan subsistem dalam sistem agribisnis, untuk ini dibutuhkan dukungan sektor di luar pertanian. e) Pemanfaatan lahan dan sumberdaya secara optimal. Lahan kritis perlu direhabilitasi agar dapat berfungsi melestarikan ekosistem. f) Infrastrutur pertanian yang memadai seperti fasilitas irigasi untuk pertanian, jalan untuk mengangkut hasil dan sarana produksi usahatani, pasar hasil maupun pasar sarana produksi, perkreditan yang sesuai dengan usaha pertanian dan agribisnis g) Pembenahan kelembagaan petani. h) Kondisi ekonomi makro yang kondusif bagi pengusahaan pertanian dan agribisnis i) Anggaran pembangunan pertanian ditingkatkan sesuai dengan jumlah penduduk yang terlibat. Keikutsertaan Nusa Tenggara Barat dalam Agrinex Expo 2013 tersebut sebagai upaya memperkenalkan berbagai potensi dan produk pertanian unggulan daerah kepada pengunjung Expo adalah menampilkan 2 komoditas unggulan yaitu jagung dan manggis. Jagung sebagai salah satu komoditas unggulan NTB dari tanaman pangan merupakan salah satu komoditas unggulan pertanian yang masuk dalam Program PIJAR (Sapi, Jagung, Rumput Laut). Produk jagung yang ditampilkan selain dalam produk primer juga dalam bentuk olahan seperti jagung marning, emping jagung, jagung garing, tortila jagung dan juga berbagai kue yang berbahan dasar jagung. Manggis sebagai salah satu komoditas unggulan hortikultura yang sudah bersertifikat organik merupakan komoditas yang cukup memiliki peluang pasar untuk eksport ke luar negeri seperti India, Cina, Jepang dll. Mangis produksi NTB cukup memiliki daya saing dengan manggis daerah lainnya seperti penampilan dan fisiknya yang lebih besar.. Selain 2 komoditas utama dalam pameran ini juga ditampilkan komoditas pendukung lainnya seperti kangkung, bawang putih, kacang hijau dan bawang merah. Komoditas ini merupakan komoditas unggulan NTB yang perlu dipasarkan karena cukup banyak dan memiliki mutu yang mampu bersaing dengan daerah lainnya. Produk-produk ini cukup menarik dan dikemas dengan baik sehingga memberikan penampilan yang menarik pula. Selama tiga hari dilaksanakan pameran ini cukup banyak transaksi dan permintaan informasi tentang komoditas yang dipamerkan. Meskipun selama berlangsungnya pameran belum terjadi kontak bisnis/ kerjasama dengan pengusaha besar yang ada di Jakarta namun sedikitnya produk NTB telah dikenal dan hiharapkan dengan adanya brosur/ liflet yang disebarkan akan dapat diharapkan adanya kontak bisnis dikemudian hari atau permintaan produk hasil pertanian NTB. V. REALISASI FISIK DAN KEUANGAN Pagu dana Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (100 %), Realisasi fisik 100 %. VI - 101

102 A. Latar Belakang 4) Promosi NTB Expo I. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki potensi pangan yang berlimpah dan disisi lain sebagian petani/produsen pertanian kita telah mampu memproduksi produknya sesuai dengan keinginan pasar. Salah satu program strategik adalah diversifikasi pangan yang merupakan program pertanian dalam memperkenalkan alternatif pangan lokal selain beras dan gandum. Keandalan sektor pertanian ini lebih didorong dan didukung oleh perkembangan di sektor agribisnis dan agroindustri yang memiliki struktur ekonomi yang kuat. Kenyataan ini sudah seharusnya dijadikan indikator dalam pembangunan sektor pertanian dan peran sektor agribisnis dan agroindustri harus dikembangkan dan dipacu kinerja optimalnya guna dapat meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan petani di pedesaan. Untuk memacu perkembangan sektor agribisnis dan agroindustri di Nusa Tenggara Barat telah diupayakan berbagai kegiatan pembinaan dan pengembangan kelompok/unit usaha pengolahan hasil pertanian yang berbasis pada sumberdaya daerah/ domestik (domestic resources) sebagai keunggulan komparatif (comparative advantage) daerah dan berakar pada ekonomi rakyat. Upaya pembinaan dan pengembangan unit pengolahan hasil pertanian yang dilakukan Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat khususnya melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Provinsi NTB telah memberikan dampak yang cukup berarti dengan tersedianya berbagai produk hasil-hasil pertanian baik produk segar maupun olahan di pasar - pasar tradisional maupun pasar modern (super market). Dalam rangka memperkenalkan produk produk hasil pertanian Daerah Nusa Tenggara Barat ke pasar pasar konsumen (Consumer) terutama untuk pasar di luar daerah Nusa Tenggara Barat perlu dilakukan promosi sebagai suatu upaya untuk memperkenalkan produk-produk hasil pertanian Nusa Tenggara Barat guna dapat mengembangkan pasar dalam maupun luar negeri. Promosi merupakan salah satu unsur penting dalam keberhasilan pemasaran disamping tiga unsur lainnya yaitu produk, harga dan lokasi. Karena bagaimanapun baiknya mutu suatu produk disertai harga yang bersaing di tempat/lokasi yang strategis, apabila tidak diikuti/dilakukan promosi maka produk tersebut tidak dikenal pasar yang berarti tidak akan mempunyai daya jual. Pameran Perdagangan dan industri NTB EXPO 2013 merupakan suatu ajang eksibisi untuk memperkenalkan serta mempromosikan berbagai potensi daerah Nusa Tenggara Barat kepada buyers dan investor daerah lainnya termasuk berbagai potensi investasi dan peluang agribisnis yang terbuka luas di Nusa Tenggara Barat. Pameran NTB EXPO 2013 ini dilaksanakan di Lapangan Sangkareang Mataram dan event promosi ini juga merupakan suatu ajang pameran dagang berbagai produk unggulan daerah yang didukung potensi sumberdaya daerah sebagai keunggulan komparatif yang dimiliki daerah NTB. VI - 102

103 B. Tujuan dan Sasaran Tujuan Tujuan dilaksanakan pameran dan promosi pada NTB EXPO 2013 di Mataram Nusa Tenggara Barat adalah a. Untuk memperkenalkan potensi dan reputasi Daerah Nusa Tenggara Barat khususnya dalam bidang pembangunan pertanian (agribisnis dan agroindustri) terutama aneka produk unggulan spesifik daerah Nusa Tenggara Barat kepada pasar lokal, regional atau internasional. b. Mempromosikan daerah NTB sebagai daerah tujuan investasi khususnya dalam bidang pertanian. c. Memberi kesempatan kepada pengusaha industri kecil dan koperasi untuk mempromosikan produknya. d. Meraih peluang eksport ke mancanegara. Sasaran Sasaran mengikuti pameran dan promosi NTB EXPO 2013 adalah : a. Berkembangknya pasar produk hasil pertanian daerah NTB serta meningkatnya kontak dagang (kontak bisnis) dan kontak kerjasama dalam pemasaran antara kelompok usaha agribisnis di Daerah Nusa Tenggara Barat dengan kelompok usaha / penyalur hasil-hasil pertanian serta konsumen dari daerah/provinsi lainnya. b. Meningkatnya kemampuan Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUKM) dalam menghadapi pasar global c. Berkembangnya NTB sebagai tempat promosi/ pameran yang dapat diandalkan. C. Indikator Kinerja : Input : Jumlah dana Rp, ,- SDM Output : Terlaksananya Promosi NTB Expo Outcome : Ter-eksposenya produk hasil olahan dan sayur segar unggulan NTB. Benefit : Meningkatnya pemasaran produk Pertanian Dampak : Meningkatnya pendapatan petani II. LINGKUP KEGIATAN Lingkup kegiatan dalam pameran dan promosi produk pertanian pada NTB EXPO 2013 ini antara lain meliputi berbagai kegiatan, yaitu : 1. Persiapan. Kegiatan persiapan ini dimaksudkan untuk mengakomodir serta menginventarisir kebutuhan dalam rangka pelaksanaan pameran dan promosi termasuk stand, penyediaan bahan-bahan pameran dan promosi serta bahan-bahan dekorasi. 2. Tempat dan Waktu Pelaksanaan, Tempat dan waktu penyelenggaraan promosi disesuaikan dengan agenda promosi yang difasilitasi/diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat VI - 103

104 yang bekerjasama dengan Event Organizer/ Penyelenggara Pameran PT. SOLINDO DUTA CONVEX Jakarta. 3. Penyediaan Tempat (stand). Penyediaan tempat (stand) pameran dilaksanakan oleh pihak penyelenggara/ event organizer PT. SOLINDO DUTA CONVEX. Stand pameran sudah disiapkan pihak penyelenggara yang ditunjuk untuk dimanfaatkan sebelum pelaksanaan pekan pameran dan promosi berlangsung. Dekorasi stand juga disiapkan oleh event organizer, atau pihak lain yang ditunjuk. 4. Penunjukkan Peserta. Penunjukan peserta yang ikut serta dalam promosi baik dari unsur petugas maupun dari unsur pelaku usaha dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pelaku usaha yang ditunjuk ikut serta dalam ajang pameran dan promosi ini adalah pelaku usaha yang memiliki kemampuan serta minat yang tinggi untuk melakukan promosi di luar daerah serta mampu mengakses pasar luar daerah. 5. Penyiapan Bahan Promosi. Penyiapan bahan promosi antara lain meliputi : a. Produk Hasil Pertanian, baik dalam bentuk produk segar maupun produk olahan. Produk/bahan/materi pameran disiapkan oleh masing-masing pelaku usaha dengan dukungan dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Provinsi NTB b. Bahan promosi dalam bentuk brosur/leaflet maupun buku-buku potensi disiapkan dan disediakan oleh Dinas Pertanian Tanaman pangan dan Hortikultura Provinsi Nusa Tenggara Barat. III. PELAKSANAAN KEGIATAN Keikutsertaan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam event pameran dan promosi NTB EXPO 2013 Di Mataram, dilaksanakan sesuai dengan alokasi waktu dan tempat yang telah ditetapkan dan difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan Event Organizer (EO) PT. SOLINDO DUTA CONVEX sebagai penyelenggara pameran. Adapun pelaksanaan kegiatan pameran dan promosi pada NTB EXPO 2013 tersebut adalah sebagai berikut : A. Tempat Pameran dan promosi NTB EXPO 2013 yang diikuti oleh Dinas Pertanian TPH Provinsi Nusa Tenggara Barat ini diselenggarakan di Lapangan Sangkareang Mataram NTB. B. Waktu Pameran dan promosi NTB EXPO 2013 ini diselenggarakan selama 5 (lima) hari, yaitu dari tanggal 2-6 Oktober 2013 dan setiap harinya kegiatan pameran dan promosi berlangsung dari jam WITA C. Peserta Peserta dalam pekan pameran dan promosi NTB EXPO 2013 dari Dinas Pertanian TPH Provinsi Nusa Tenggara Barat, sesuai dengan misi/tema keikutsertaan Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam event pameran dan promosi adalah mengedepankan peran serta para Pelaku Usaha Agribsins dan Agroindustri dalam peningkatan dan pengembangan pasar hasil pertanian. Oleh karena itu peserta dari unsur stakeholder/pelaku usaha diutamakan adalah pelaku usaha yang bergerak dalam bidang produksi, pengolahan dan VI - 104

105 pemasaran hasil-hasil pertanian, serta dari kalangan pelaku usaha baik Distributor maupun Supplier atau produsen/petani/kelompok usaha yang bergerak di bidang agribisnis dengan didampingi petugas dari Dinas Pertanian TPH Provinsi Nusa Tenggara Barat. D. Komoditi Pameran Komoditi/produk yang dipamerkan/dipromosikan dalam pameran dan promosi NTB EXPO 2013 tersebut adalah berbagai komoditi/produk hasil-hasil pertanian, khususnya hasil tanaman pangan dan hortikultura baik dalam bentuk produk segar maupun hasil olahan yang cukup potensial dan strategis serta mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi. Berbagai Komoditi-komoditi yang di display dan diperdagangkan pada pekan NTB EXPO 2013 cukup tinggi. Komoditi-komoditi tersebut antara lain meliputi: a. Hasil olahan : Jagung marning, emping jagung, Aneka Dodol, Aneka Kripik, Aneka Pangan Olahan lainnya. b. Hasil segar terdiri dari : Aneka Buah ( Pepaya California, Pisang, Nangka, melon, semangka, jeruk besar), Aneka Sayur (Cabe Besar, Cabe Kecil /Rawit, Bawang merah, Bawang putih, Tomat Buah/Beef, Kangkung. c. Aneka Kacang-kacangan : Kacang Tanah, Kacang Kedele, Kacang Hijau, dll. d. Aneka benih/bibit : benih padi, jagung, kedele, mangga, manggis, rambutan, durian, dll. Disamping hasil-hasil tanaman pangan dan hortikultura, juga ditampilkan beberapa jenis komoditi pertanian lainnya, antara lain Hasil Perikanan berupa Dodol dan Manisan rumput laut, Jellly rumput laut. IV. HASIL PAMERAN DAN PROMOSI Pameran Perdagangan dan industri NTB EXPO 2013 ini dibuka pada Tanggal 4 Juli 2012 oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat yaitu Bapak Ir. Madrul Munir, MM. serta pemotongan pita oleh Istri Wakil Gubernur yaitu Ibu Hj. Elok M. Eveni, S.Pd. Pada acara pembukaan ini hadir pula para pejabat pusat yaitu wakil dari Kementerian Koperasi dan UMKM unsur Muspida, walikota, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, TNI, Polri serta Pimpinan SKPD Tingkat provinsi NTB, dll. Dalam kesempatan ini Wakil Gubernur memberikan apresiasi yang tinggi sekaligus penghargaan atas terselenggaranya NTB EXPO Menurut Wakil Gubernur dalam sambutannya menyatakan bahwa NTB Expo merupakan event yang sangat penting bagi NTB dan beliau menyebutkan, dari sisi jumlah stand pada pelaksanaan NTB Expo kali ini terdapat peningkatan sekitar 7 persen akan tetapi dari sisi komparasi peserta dari luar provinsi mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal itu berarti geliat sektor ekon omi kreatif khususnya di sektor riil di Provinsi NTB secara faktual mengalami peningkatan. Hakekat pelaksanaan NTB Expo kata Wagub secara esensial dihajatkan untuk mempromosikan produk unggulan yang dimiliki Provinsi Nusa Tenggara Barat. Selain itu Pameran NTB Expo ini merupakan ajang untuk berkompetisi baik secara internal antar produk yang ada di NTB maupun secara eksternal antara produk NTB dengan produk luar NTB. Disamping itu Wakil Gubernur NTB dalam sambutannya juga menyampaikan bahwa produk-produk yang ditampilkan merupakan produk kreatif dan inovatif. NTB EXPO 2013ini merupakan ajang pelaku transaksi usaha. Trend positif yang kita lihat saat ini adalah meningkatknya ekonomi sektor riil. Maka sudah sepantasnya seluruh lapisan masyarakat ikut mendukung kegiatan-kegiatan seperti ini. Sekiranya ada kekurangan- VI - 105

106 kekurangan, itu wajar, namun dari tahun ke tahun kita terus membenahinya secara bersama-sama, dan ini terlihat dari jumlah stand yang tersedia pada tahun 2012 ini yang mengalami peningkatan sebesar 7 persen. Himbauan Wagub tingkatkan penampilan produk unggulan dan partisipasi peserta dari NTB, sebaliknya, kurangi peserta pameran dari luar NTB, namun tingkatkan jumlah pengunjung yang dari luar NTB, sehingga NTB dapat berkompetisi dalam event-event seperti ini. Geliat perekonomian di NTB saat ini juga tercermin dari data Badan Pusat Statistik yaitu menunjukkan bahwa paritas daya beli masyarakat NTB tahun 2010 berada pada posisi ke 16, sedangkan pada tahun 2011 berada pada posisi ke 7 dari 33 provinsi di Indonesia. Pada acara pembukaan ini berdasarkan laporan ketua pelaksana yang disampaikan oleh Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi NTB menyatakan bahwa NTB Expo ke-10 tahun 2012 ini diikuti sebanyak 300 Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dari dalam dan luar NTB dengan 105 unit stand. Hal itu belum termasuk stand para pendamping dari dinas/instansi terkait di NTB. Terjadinya penurunan jumlah peserta dari luar NTB karena bersamaan dengan event pameran yang digelar pada Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-19 di NTB dan beberapa provinsi menggelar pameran serupa di daerahnya. Tapi peserta dari NTB mengalami peningkatan 7 persen jika dibandingkan tahun lalu. Hal itu menandakan keinginan para UMKM di NTB untuk mempromosikan produknya sudah mulai meningkat. Salah satu yang menjadi kendala mereka, yakni terbatasnya akses pasar baik lokal, regional dan international. NTB Expo ini dihajatkan untuk memberikan kesempatan kepada para UMKM mempromosikan semua produk dan jasa dengan mengembangkan pasar kemitraan bersama penguasaha luar daerah. Selain itu, memperkenalkan NTB sebagai daerah yang sangat berpotensi di bidang pariwisata. Tidak kalah pentingnya, memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mendapatkan barang dengan harga terjangkau. Target transaksi pada NTB Expo tahun ini mencapai Rp 4 miliar. Sebab, diperkirakan stand akan dikunjungi sekitar 20 ribu per hari. Untuk memeriahkan NTB Expo, disediakan fasilitas internet gratis bagi pengunjung. Disediakan 2 mobil Samsat keliling bagi pengunjung yang akan memperpanjang STNK kendaraannya. Digelar event pertandingan tradisionil Presean, hiburan kesenian dan lomba Fashion show bagi anak-anak. Pameran perdagangan dan industri ini berlangsung dari tanggal 4-8 Juli 2011 di Gelanggang Olah Raga (GOR) Turide Mataram. Keikutsertaan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi NTB pada event ini cukup memberikan kontribusi yang signifikan terutama dalam upaya memperkenalkan aneka produk/komoditi strategis unggulan daerah seperti jagung. Jagung merupakan salah satu komoditas unggulan daerah yang yang diprogramkan dalam komoditas unggulan daerah NTB yang dikenal dengan PIJAR (Sapi, Jagung, Rumput Laut). Disamping jagung juga masih banyak komoditas unggulan lainnya yang memiliki prospek masa depan yang cukup menjanjikan seperti kacang hijau, kedele, kacang tanah, bawang merah, rambutan, manggis, melon dll. Kegiatan pameran dan promosi yang diikuti ini telah memberikan peluang kepada para pelaku usaha/stakeholder dari daerah Nusa Tenggara Barat untuk dapat memperkenalkan berbagai bentuk potensi dan reputasi para pelaku agribisnis dan agroindustri dan sekaligus dalam membangun tatanan agribisnis dan agroindustri di daerah. Disisi lain, melalui ajang pameran dan promosi ini para pelaku bisnis (Agribisnis) dapat bertemu dengan para buyer baik dari dalam daerah NTB sendiri maupun buyer dari VI - 106

107 luar daerah sehingga terjadi dan terjalin kontak bisnis serta kontak kerjasama pemasaran dengan para buyer sebagai mitra usaha / bisnisnya. Dalam event ini juga ditampilkan berbagai produk segar dan aneka olahan yang ditampilkan oleh para petani dan pelaku pengolahan. Pada kegiatan ini kami menampilkan kelompok komnitas petani Brayan Alkautsar dari Desa Loyok Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur. Kelompok ini disamping memproduksi juga banyak bergerak dalam pemasaran hasil pertanian. Adapun produk segar yang dipasarkan adalah berbagai sayuran seperti kool kembang, sawi, wortel, kentang, lombok, tomat, pepaya, melon, semangka dengan ratarata transaksi penjualan mencapai Rp ,-per hari. Produk yang dijual cukup berkualitas baik dari segi produk maupun kemasan sehingga cukup menarik dengan harga relatif lebih murah. Untuk produk olahan kami menampilkan kelompok UP3HP Lombok Tengah dengan produk-produk yang sudah cukup terkenal seperti aneka keripik, dodol, jagung garing, emping jagung, tepung jagung, keripik nangka, dodol nangka, keripik pisang, kacang kriuk, keripik jantung pisang yang semuanya merupakan komoditi yang banyak menarik perhatian para pengunjung. Produk olahan jagung ini cukup digemari dan diharapkan komoditi ini menjadi ciri khas produk NTB. Berdasarkan pemantauan kami bahwa komoditi/produk hasil pertanian yang mereka minati umumnya beragam, mulai dari produk segar sampai dengan aneka produk hasil olahan. Para calon pembeli (buyer) yang ingin melakukan kontak dagang adalah dari kalangan distributor yang memiliki saluran distribusi dan mitra bisnis ke luar daerah, baik untuk kebutuhan industri pengolahan (agroindustri) maupun untuk hotel dan restoran serta supermarket. Kegiatan pameran tahun ini untuk stand Dinas Pertanian TPH Provinsi NTB cukup sukses hal ini terlihat dari banyaknya pengunjung yang masuk ke stand serta banyaknya transaksi yang terjadi selama pameran yang menandakan bahwa produk hasil pertanian sudah mulai ada peningkatan baik dari segi mutu, harga, maupun penampilan produk. Selain produk hasil olahan sebagai produk agroindustri juga banyak produk-produk hasil kegiatan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura seperti produk benih/ bibit tanaman pangan (benih padi, jagung hibrida, kedele, kacang tanah dan kacang hijau) dan hortikultura (bibit mangga, durian, manggis, rambutan varietas Narmada). Industri perbenihan tanaman pangan dan hortikultura di NTB cukup berkembang hal ini terlihat dari banyaknya penangkar benih. Pada kesempatan pameran perdagangan dan industri tersebut, bagi para petani atau pelaku usaha hal ini merupakan ajang untuk menimba ilmu dan pengetahuan serta pengalaman / wawasan sebagai bekal untuk dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam meningkatkan pengetahuan teknis pemasaran dan sekaligus mengembangkan pangsa pasar produk hasil-hasil pertanian daerah Nusa Tenggara Barat, guna dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat khususnya dan petani/pelaku binis Nusa Tenggara Barat. V. REALISASI FISIK DAN KEUANGAN : Dana yang tersedia untuk mendukung kegiatan ini Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (99,08 %). Realisasi fisik 100 %. Sisa dana Rp ,-disebabkan karena adanya efisiesi anggaran sewa setan. VI - 107

108 Solusi : Setor ke Kasda. 5) Pembinaan Perberasan Beras merupakan komoditas strategis yang selalu menjadi bahan perbincangan setiap waktu, dimana saja dan oleh siapa saja. Masyarakat menjerit bila harga beras mahal, pemerintah seperti kebakaran jenggot bila rakyat menjerit soal beras, dan petani mengeluh bila harga beras murah dan tidak sesuai dengan keinginannya. Siapakah yang harus diperjuangkan dan siapa yang harus dibela dan siapa yang membela? Itulah permasalahan besar yang sedang dihadapi oleh bangsa yang besar ini. Kelemahan yang dilakukan selama ini oleh semua pihak yang terkait dengan kebijakan pembangunan pertanian nasional adalah terlalu percaya diri dan yakin dengan kemampuan serta peran petani. Bila teknologi sudah diperoleh, kebijakan sudah ditetapkan dan semua harus diterapkan maka penyuluh dan petugas di lapang akan menyelesaikannya, kemudian akan diperoleh hasil sesuai dengan rencana.untuk memenuhi kebutuhan beras di Daerah, maka perlu adanya pembinaan perberasan di Kabupaten/ Kota di NTB. A. Tujuan a. meningkatkan ketersediaan dan distribusi pangan kepada masyarakat; b. meningkatkan konsumsi pangan lokal dalam rangka penciptaan permintaan produk pangan lokal; c. meningkatkan jangkauan/aksesibiltas masyarakat terhadap pangan; d. menanggulangi terjadinya keadaan darurat dan kerawanan pangan pasca bencana; e. menjaga stabilitas harga pangan di tingkat masyarakat; f. memperpendek jalur distribusi pangan pemerintah sampai ke tingkat masyarakat/rumah tangga; g. mendorong terwujudnya Desa Mandiri Pangan (Desa Mapan), dan h. meningkatkan kesejahteraan masyarakat. B. Indikator Kinerja Input Output Outcome Benefit : Dampak : : Jumlah dana Rp, ,- SDM : Menjaga stabilitas harga, ketersediaan pangan dan distribusi pangan khususnya beras. : Terpenuhinya ketersediaan dan Stabilnya harga beras Terhindar dari adanya rawan pangan Meningkatnya kesejahteraan masyarakat C. Pelaksanaan Melaksanakan Pembinaan perberasan kepada pelaku usaha penggilingan padi, kelompok tani tani dan aparat Dinas Pertanian di Kabupten/ Kota. Memonitor ketersediaan dan distribusi/ pemasaran beras di kabupaten /Kota. Membantu memecahkan masalah yang dialami oleh pelaku usaha penggilingan padi, VI - 108

109 kelompok tani/ gapoktan dalam rangka memenuhi kebutuhan beras di Kabupaten/ Kota, terutama pada saat hari besar ke agamaan. D. Hasil yang diperoleh : Adanya koordinasi antara petugas Kabupaten, Propinsi dan pelaku usaha perberasan dalam rangka menjaga stabilitas harga dan distribusi beras. Terpantaunya ketersediaan dan harga beras di Kabupaten/Kota Adanya solusi /pemecahan masalah menyangkut ketersediaan dan stabilitas harga beras pada saat hari raya keagamaan. E. Realisasi fisik dan keuangan : Dana yang tersedia untuk mendukung kegiatan ini Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (98,25 %). Realisasi fisik 100 %. Sisa dana Rp ,- Alasan : karena efisiensi penggunaan biaya perjalanan di dalam dan luar daerah. Solusi : Sisa dana Stor ke Kas Daerah. A. Pendahuluan 6) Agenda Nasional MPU FKD-MPU atau forum kerjasama daerah mitra praja utama adalah forum kerjasama yang dibentuk oleh 10 provinsi, dengan tujuan agar para daerah menyusun kekuatan untuk saling memperoleh manfaat. Memperoleh manfaat ini harus dilihat dari kacamata bahwa "manfaat akan diperoleh lebih besar apabila dilakukan bersama (2 pihak atau lebih) dibandingkan dengan dilakukan sendiri. Jadi efisiensi, efektifitas dan skala ekonomis yang menjadi ukurannya. FKD-MPU hanya sebuah sarana, bukan tujuan. Oleh karenanya orang/skpd yang berkecimpung didalamnya yang berkaitan dengan tujuan kemanfaatan yang akan dicapai melalui kerjasama, bukan pada sarananya. Sehingga apabila ada pihak yang memberikan beban tujuan kemanfaatan itu kepada Sekretariat Bersama FKD-MPU adalah kurang tepat dan mengalihkan tanggung jawab yang sesungguhnya ada pada SKPD daerah anggota MPU, sebagai pengisi program kerjasama. Sebagai sebuah kerjasama, FKD-MPU secara perlahan telah melengkapi diri dengan perangkat pengendali perencanaan program dan kegaiatan serta evaluasi program dan kegiatan MPU, namun belum begitu sukses menerapkannya. Meskipun sosialisasi telah dilakukan, namun belum mencapai hasil yang maksimal. Pada tahap sosialisasi yang hadir A, pada saat rapat pembahasan hadir B dan pada acara penandatangan program hadir C, seringkali tidak nyambung antara yang satu dan lainnya, terlabih lagi terjadi pergantian pejabat, yang menyebabkan banyak kendala pencapaian tujuan kerjasama. Sudah saatnya para anggota MPU saling memperkuat dan berpegangan tangan membangun program yang konkrit, terukur dan memiliki dampak lintas daerah. Mari kita membuat program yang bermanfaat bagi orang banyak, sesuai arahan Gubernur anggota MPU pada saat Raker. Pedomani prioritas program , guna form yang telah disosialisasikan dan kita capat tujuan MPU sesuai Visi, Misi dan Tujuan kerjasama ini VI - 109

110 dibentuk. B. Maksud dan Tujuan Mitra Praja Utama Maksud : Meningkatkan kerjasama pembangunan antar daerah Tujuan : Mensinerjikan potensi sumber daya alam unggulan antar daerah; Mensinerjikan potensi dan peluang ekonomis antar daerah; Mensinerjikan potensi sumber daya manusia dan sumber daya non alami; Penelitian, pengembangan, pemeliharaan dan pemanfaatan secara optimal potensi antar daerah dan; Memecahkan berbagai masalah yang dianggap penting antar daerah. C. Hasil dari Kegiatan yang di ikuti : 1. Rapat kerja Mitra Praja Utama (MPU) ke 13 tahun 2013 Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mengarapkan Rapat Gabungan Forum Kerjasama Daerah Mitra Praja Utama (MPU) XIII Tahun 2013, di hotel Emersia, Kamis (25/4), mampu melahirkan solusi yang terbaik dalam melaksanakan tugas pembangunan. Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Berlian Tihang mengatakan Forum MPU yang terdiri dari provinsi Jawa, Bali, Lampung, NTB dan NTT, ditujukan sebagai wadah koordinasi perencanaan peningkatan pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat di provinsi anggota MPU. "Diharapkan dapat disusun program dan kegiatan yang dapat mensinergikan sumberdaya dan unggulan antar daerah, sehingga pemanfaatan potensi antar daerah dapat dimanfaatkan secara optimal." ujarnya. Target dalam kegiatan MPU ini, yang akan ditetapkan melalui forum, adalah program dan kegiatan yang tajam dan bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat di daerah, "tentunya terukur dan berkelanjutan. Selanjutnya dikatakan bahwa Rakorgub di Lampung waktu lalu, telah menghasilkan kesepakatan program kerjasama dan beberapa program bersama yang sangat penting untuk mempercepat pembangunan regional Sumatera khususnya di sektor Infrastruktur. "Diharapkan MPU ini mampu menterjemahkan dari rencana regional tersebut, di setiap bidang dan satuan kerjanya. 2. Transfer Teknologi SIMANTRI di Bali Sistem Pertanian Terintegrasi (SIMANTRI) adalah upaya terobosan dalam mempercepat adopsi teknologi pertanian karena merupakan pengembangan model percontohandalam percepatan alih teknologi kepada masyarakat perdesaan. Sasaran SIMANTRI 1. Peningkatan luas tanam, populasi ternak, perikanan dan kualitas hasil. 2. Tersedianya pakan ternak berkualitas sepanjang tahun. VI - 110

111 3. Tersedianya pupuk dan pestisida organik serta bio gas. 4. Berkembangnya diversifikasi usaha, lembaga usaha ekonomi dan infrastruktur di perdesaan Simantri mengintegrasikan kegiatan sektor pertanian dengan sektor pendukungnya baik secara vertikal maupun horizontal sesuai potensi masing-masing wilayah dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal yang ada. Kegiatan integrasi yang dilaksanakan juga berorientasi pada usaha pertanian tanpa limbah (zero waste) dan menghasilkan 4 F (food, feed, fertilizer dan fuel). Kegiatan utama adalah mengintegrasikan usaha budidaya tanaman dan ternak, dimana limbah tanaman diolah untuk pakan ternak dan cadangan pakan pada musim kemarau dan limbah ternak (faeces, urine) diolah menjadi bio gas, bio urine, pupuk organik dan bio pestisida. 3. Rapat Sekretaris Bersama MPU. Kepala Badan Pengembangan Sistem Informasi dan Telematika Daerah (BAPESITELDA) Provinsi Jawa Barat, Ir. H. Jan Muljana Soebrata, MT, didampingi Kepala Bidang Manajemen Sistem Informasi, Drs. H. Asep BK. Rachiemy, Msi dan Seorang Pejabat Fungsional Pranata Komputer, Dadan Supyan, SE pada tanggal Juli 2007, bertempat di Hotel Rombok Raya Mataram telah melaksanakan Rapat Gabungan Sekretariat Bersama Forum Kerjasama Mitra Praja Utama (MPU) VII. Rapat Gabungan Sekretariat Bersama Forum Kerjasama Mitra Praja Utama (MPU) VII. Bidang Informasi dan Komunikasi selain dihadiri oleh Bapesitelda Jawa Barat juga dihadiri utusan dari Kantor Pengelola Teknologi Informasi Provinsi DKI Jakarta, Boedi Setiawan, SH, Badan Informasi Kebudayaan dan Kehumasan (BIKK) Provinsi Jawa Tengah,Drs. Saman Kadarisman,Dinas Informasi dan Komunikasi Provinsi Jawa Timur,Daan Rachmad Tanod, Badan Informasi Daerah (BID) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Martan Kiswanto, Badan Informasi dan Telematika Provinsi Bali, I Made Sondra, SH, Badan Informasi Kebudayaan Daerah (BIKD) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs. Bambang Gunada, MM, Badan Informasi dan Komunikasi Provinsi Nusa Tenggara Timur, Drs. Umbu dan Drs. Elias Bengu. Rapat Gabungan Sekretariat Bersama Forum Kerjasama Mitra Praja Utama (MPU) VII, membahas tentang Rekomendasi dan Program Kerja Bidang Infokom, Bidang Infokom merekomendasikan Bagi Pemerintah Pusat yaitu Kelembagaan dan SDM Penguatan Kelembagaan Infokom di Provinsi dan Kabupaten /Kota, serta Peningkatan Profesionalitas SDM Infokom untuk mempercepat arus informasi secara timbal balik antara pusat dan daerah dalam rangka memperkokoh keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bagi Sekber MPU Bidang Infokom merekomendasikan tentang Website MPU,Optimalisasi pemanfaatan Website MPU melalui Updating data dari semua anggota MPU. D. Realisasi Fisik dan Keuangan : Dana untuk mendukung kegiatan Rp ,- Realisasi keuangan Rp ,- (58,45 %) Realisasi Fisik : 60 % Sisa Dana Rp ,- Alasan SIAP : Tidak diikutinya kegiatan Rapat Koordinasi Gubernur, Evaluasi 2012 dan Usulan 2013, karena pada saat bersamaan ada kegiatan yang tidak bisa ditinggal di daerah. Solusi : Setor ke Kas Daerah VI - 111

112 A. PENDAHULUAN 7) Hari Pangan Sedunia (HPS) Makna Strategis dari Hari Pangan Dunia 2013 menjadi momentum tepat untuk meningkatkan peran bidang pertanian di tingkat rumah tangga, desa, dan negara khususnya di Indonesia. Secara umum, situasi ketahanan pangan nasional pada periode menunjukan kecendrungan yang semakin baik. Hal ini ditunjukan oleh beberapa indikator ketahanan pangan, diantaranya; Pergerakan harga-harga pangan lebih stabil, meskipun terjadi peningkatan harga pada hari-hari besar nasional (Puasa, Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru) namun perlahan tapi pasti akan turun kembali pada posisi harga normal. Selanjutnya, peran serta masyarakat dan pemerintah daerah meningkat, yang ditunjukan oleh semakin beragamnya kreativitas pemerintah daerah dalam menangani ketahanan pangan, serta meningkatnya pasrtisipasi masyarakat yang ditunjukan dengan meningkatnya peran masyarakat dalam kegiatan ketahanan pangan. Berbagai indikasi yang terukur tersebut menunjukan bahwa berbagai upaya dan kebijakan ketahanan pangan yang dilakukan pemerintah telah memberikan hasil yang positif meskipun masih banyak ketimpangan disana-sini. B. Indikator Kinerja Input : Jumlah dana Rp, ,- SDM Output : Di ikutinya kegiatan HPS di Sumatra Barat Outcome : Sebagai bahan informasi dan acuan kerja bagi daerah NTB dalam penyediaan Pangan Benefit : Memberikan informasi kepada stake holder dan Pemerintah daerah. C. HASIL YANG DIPEROLEH Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-33 tahun 2013 dilaksanakan dari tanggal 31 Oktober 3 November 2013 di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat. Acara tersebut secara resmi dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudoyono pada tanggal 31 Oktober Seusai pembukaan, Presiden SBY yang didamping oleh beberapa menteri berkenan mengunjungi pameran dan kawasan gelar teknologi. Penyelenggaraan HPS, secara umum ditujukan untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat dan para stakeholder terhadap pentingnya penyediaan pangan yang cukup dan bergizi, baik bagi masyarakat Indonesia maupun dunia. Penyelenggaraan HPS juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat termasuk pemerintah, bahwa membangun kedaulatan pangan suatu negara yang berkelanjutan merupakan suatu hal yang penting bagi ketahanan suatu bangsa dan negara. Di samping itu, mendorong kepedulian masyarakat bahwa peningkatan produksi pangan yang cukup dan bergizi dalam memerangi kelaparan dan malnutrisi bagi masyarakat dunia, juga menjadi tanggung jawab semua negara. Secara khusus, tujuan peringatan HPS ini adalah (1) memperkuat kerjasama dan membangun koordinasi fungsional yang efektif dengan melibatkan seluruh komponen pemerintahan dan masyarakat dalam rangka mempertahankan ketahanan VI - 112

113 pangan nasional; (2) menstimulasi dan memotivasi para stakeholder untuk berpartisifasi aktif dalam pembangunan ketahanan pangan dan penyebaran teknologi yang efektif dan efisien untuk peningkatan produksi pangan; (3) penyebaran informasi kepada masyarakat tentang pentingnya optimalisasi sumberdaya lokal untuk kemandirian pangan, dan (4) sebagai ajang promosi dan edukasi dalam rangka kemandirian pangan. Tema peringatan HPS ke-33 adalah Optimalisasi Sumberdaya Lokal Melalui Diversifikasi Pangan Menuju Kemandirian Pangan dan Perbaikan Gizi Masyarakat. Tema tersebut dipilih dengan pertimbangan bahwa (1) Indonesia kaya akan berbagai sumberdaya alam sebagai sumber pangan lokal yang memiliki nilai gizi tinggi, (2) pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang senantiasa harus dipenuhi dan ketersediaan pangan dalam suatu bangsa merupakan suatu keharusan agar bangsa tersebut mandiri, dan (3) fluktuasi harga pangan dunia akibat perubahan iklim dan berbagai tantangan produksi pangan dunia, perlu disikapi dengan mengoptimalkan sumberdaya pangan lokal untuk kemandirian pangan. Berbagai kegiatan telah dilaksanakan dalam peringatan HPS ke-33 ini seperti seminar, pengabdian masyarakat (bantuan sosial kepada petani dan nelayan), gelar teknologi, pameran dan bazaar, serta perlombaan. Puslitbang Perkebunan menjadi salah satu unit kerja Badan Litbang Pertanian yang turut berpartisipasi aktif dalam mendukung pelaksanaan HPS tersebut. Dalam gelar teknologi, diwujudkan dalam bentuk penanaman berbagai macam tanaman obat sebagai kawasan pangan lestari (KPL) Biofarmaka. Gelar teknologi tersebut merupakan bentuk diseminasi hasil-hasil penelitian secara langsung kepada masyarakat dan pengguna agar dapat mengaplikasikan inovasi teknologi dalam mendukung kesehatan dan ketahanan pangan masyarakat. KPL Biofarmaka Puslitbang Perkebunan banyak dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai lapisan untuk melihat dan berinteraksi langsung dengan petugas sekitar tanaman obat. Puslitbang Perkebunan juga menampilkan berbagai produk inovasi teknologi yang tergabung dan dipamerkan oleh Badan Litbang Pertanian di dalam saung agroinovasi yang berada di sekitar kawasan gelar D. Realisasi fisik dan keuangan : Besarnya dana untuk mendukung kegiatan ini Rp ,- Realisasi Keuangan Rp ,- (100 %) Realisasi fisik : 100 % Sisa dana : - 8) NTB Bersaing Expo I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam rangka memacu dan mendorong perkembangan sektor agribisnis dan agroindustri di Nusa Tenggara Barat telah diupayakan berbagai kegiatan pembinaan dan pengembangan kelompok/ unit usaha agribisnis terutama kelompok/ unit usaha pengolahan dan pemasaran hasil pertanian yang berbasis pada sumberdaya daerah/ domistik ( Domistic resources) dan berakar pada ekonomi rakyat. Upaya pembinaan dan VI - 113

114 pengembangan unit pengolahan dan pemasaran hasil pertanian yang dilakukan Pemerintah Daerah/ Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui dinas/ instansi terkait telah memberikan dampak yang cukup berarti dengan tersedianya berbagai produk/ komoditas hasil pertanian dipasaran baik pasar tradisional maupun pasar modern. Disisi lain kebijakan dalam peningkatan produksi terus ditingkatkan/ dikembangkan, guna mendukung kebijakan ketahanan pangan daerah. Sementara itu kendala yang sering menjadi factor pembatas bagi perkembangan produk-produk agribisnis antara lain adalah masalah pemasarannya. Hal ini dimungkinkan karena banyak pihak yang terlibat didalam mata rantai distribusi/ pemasaran. Salah satu faktor penentu keberhasilan suatu program pemasaran adalah melalui promosi dengan cara memperkenalkan dan menginformasikan produk-produk agribisnis, baik dalam bentuk segar maupun olahan. Oleh karena itu melalui even HUT NTB ke- 55 ini Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menggelar berbagai kegiatan seperti bakti sosial, lomba masak, dan pameran / promosi produk pertanian guna mendukung kemampuan produk-produk pertanian agribisnis terutama yang dihasilkan oleh pelaku agribisnis dalam skala kecil dan rumah tangga. B. Tujuan dan Sasaran 1. Tujuan Tujuan dilaksanakan pameran NTB Bersaing Expo 2013 adalah untuk memperkenalkan potensi dan reputasi Daerah Nusa Tenggara Barat dalam sektor pertanian (agribisnis) terutama produk-produk pertanian unggulan spesifik daerah baik dalam bentuk segar maupun hasil olahan berupa Sapi, Jagung dan rumput laut (PIJAR). 2. Sasaran Sasaran mengikuti kegiatan NTB Bersaing Expo 2013 adalah berkembangnya pangsa pasar produk-produk agribisnis Nusa Tenggara Barat di pasar regional serta terjalinnya kontak kerjasama dalam pemasaran antara kelompok usaha agribisnis di Daerah Nusa Tenggara Barat dengan kelompok usaha agribisnis daerah kabupaten/kota lainnya. II. RUANG LINGKUP KEGIATAN Kegiatan NTB Bersaing Expo 2013 yang dilaksanakan di Lapangan Sepak Bola Manggalewa - Dompu pada tanggal 14 s/d 17 Desember 2013, dilaksanakan dengan bentuk Pameran produk-produk hasil olahan dan produk segar, lomba menumbuk kopi, Lomba menggambar untuk anak-anak,dan Acara Sosial kemasyarakatan. III. PELAKSANAAN KEGIATAN Dalam rangka menyambut HUT Provinsi Nusa Tenggara Barat yang ke -55 Pemerintah Provinsi NTB mengadakan serangkaian acara yang di pusatkan di Kabupaten Dompu yaitu di lapangan Sepak Bola Manggalewa-Dompu. Adapun acara-acara yang di laksanakan yaitu Pemeran/ Ekspose dimaksudkan untuk mempublikasikan dan mempromosikan produk unggulan dan inovasi daerah, Kerajinan, industri kreatif, UMKM, Photo dan sejarah NTB, hasil-hasil pembangunan lainnya, Pasar Murah Sembako, Peresmian proyek, Acara Sosial kemasyarakatan, Lomba Masak yang bertemakan PIJAR. Pameran yang pelaksanaannya tanggal 14 sd/ 17 Desember 2013 diikuti oleh kurang lebih 40 peserta stand yang terdiri dari Pemerintah daerah Provinsi dan Kabupaten/ Kota, BUMN, Perusahaan Agribisnis, UKM dan Koperasi. Dengan pameran yang diselenggarakan dalam rangka menyambut HUT Nusa Tenggara Barat ke - 55 saat ini tentunya produk-produk agribisnis maupun produk VI - 114

115 unggulan daerah akan dikenal baik oleh masyarakat luas. Pelaksanaan kegiatan NTB Bersaing Expo 2013 sebagai berikut : a. Waktu dan Tempat NTB Bersaing Expo 2013 dilaksanakan selama 3 (tiga) hari pada tanggal 14 s/d 17 Desember 2013 di Lapangan Pahlawan Sepak Bola Manggalewa -Dompu. Pameran ini berlangsung selama 10 Jam yaitu mulia jam WIB b. Materi / Bahan Pameran Materi yang disajikan/ ditampilkan dalam Pameran NTB Bersaing Expo 2013 antara lain: 1. Produk Pangan : Beras Organik Jagung 2. Produk Buah-buahan : Mangga Mentaram, Mangga Parkit & Mangga Arumanis Nangka Prabu Manggis Lingsar Melon Pisang 3. Produk Sayur-sayuran : Cabe Besar Bawang Putih Sembalun Tomat Kentang Sembalun 4. Produk Olahan : Jagung Garing Emping Jagung Dodol nangka Dodol Nangka Rumput Laut Dodol Sirsak Kripik Singkong Kripik Kentang Kripik Nangka Kripik Pisang Kripik Talas Roll Jagung Stik Kangkung Stik Wortel Kacang Bawang IV. HASIL / KELUARAN Dalam rangka menyambut dan memeriahkan HUT NTB Bersaing Expo 2013 yang ke 53 di Kabupaten Dompu, pameran ini dibuka oleh Bapak Bupati Kabupaten Dompu Drs. H.Bambang M.Yasin yang membuka secara resmi Pameran NTB Bersaing Expo 2013 dan dihadiri juga oleh Pejabat dari instansi terkait se kabupaten Dompu serta organisasi kewanitaan lainnya. Dalam pidatonya Bapak Bupati menyampaikan Sektor pertanian sebagai sektor andalan dalam pembangunan ekonomi, serta menekankan kembali arti pentingnya sektor pertanian dalam rangka ketahanan pangan, mengurangi kemiskinan dan VI - 115

116 pengangguran serta peningkatan daya saing ekonomi nasional sekaligus mendorong tersedianya bahan baku untuk tumbuh dan berkembangnya industry olahan khususnya saat ini Jagung telah membumukan Kabupaten Dompu. Menindak lanjuti program tersebut dan dengan melihat potensi yang ada, Pemerintah Prov. NTB menetapkan pengembangan 3 komoditas unggulan: sapi, jagung dan rumput laut yang disingkat PIJAR. Dengan adanya even NTB Bersaing Expo 2013 ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang luas bagi segenap komponen masyarakat. Pameran ini diharapkan dapat meningkatkan kecintaan kita akan produk unggulan daerah kita sendiri, meningkatkan nilai jual, mendatangkan investasi dari luar, serta potensi lainnya yang lebih besar. Lapangan kerja juga diharapkan terbuka lebar disektor pertanian. Keikutsertaan Dinas Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Barat pada event NTB Bersaing Expo 2013 cukup memberikan konstribusi yang cukup signifikan terutama dalam upaya memperkenalkan aneka produk/komoditi strategis unggulan Daerah Nusa Tenggara Barat yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Kegiatan pameran dan promosi yang diikuti ini, telah memberikan peluang kepada para pelaku usaha/stakeholder dari daerah Nusa Tenggara Barat untuk dapat memperkenalkan berbagai bentuk potensi dan reputasi para pelaku agribisnis dan agroindustri didaerah dalam membangun tatanan agribisnis dan agroindustri di daerah. Disisi lain, melalui ajang pameran dan promosi ini para pelaku bisnis (Agrobisnis) dapat bertemu dengan para buyer dari luar daerah sehingga terjadi dan terjalin kontak bisnis serta kontak kerjasama pemasaran dengan para buyer sebagai mitra usaha/bisnisnya. Disamping itu, aneka produk olahan lainnya seperti Kripik Nangka, hasil olahan jagung seperti emping jagung, jagung garing, rool jagung dan lain sebagainya dan produk-produk segar dan olahan hortikultura merupakan komoditi yang banyak menarik perhatian para pengunjung pada ajang pameran dan promosi NTB Bersaing Expo Pada kesempatan event pameran dan promosi tersebut,juga dibagikan 300 batang bibit mangga varietas arumanis kepada para pengunjung, baik dari kalangan masyarakat maupun pelaku usaha yang ada di daerah Kabupaten Dompu, dan bagi pelaku usaha hal ini merupakan ajang untuk menimba ilmu dan pengetahuan serta menambah pengalaman/wawasan sebagai bekal untuk dapat meningkatkan kemampuan (kompetensi) mereka dalam mengembangkan pangsa pasar produk hasil-hasil pertanian daerah Nusa Tenggara Barat, guna dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat khususnya dan petani Nusa Tenggara Barat umumnya. 9. PEMBINAAN WANITA TANI PRAKTEK PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN ( PEMBUATAN TORTILA ) DIKABUPATEN / KOTA SE- NUSA TENGGARA BARAT TAHUN 2013 I. PENDAHULUAN a. Latar Belakang. Salah satu Program Unggulan Daerah Nusa Tenggara Barat Bersaing yang dihajatkan sebagai salah satu upaya terobosan untuk percepatan penanggulangan kemiskinan, memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong tersediangan bahan baku untuk tumbuh dan berkembangnya industry olahan. Diharapkan program PIJAR berdampak luas bagi terciptanya lapangan pekerjaan, bergeraknya sector rill berbasis VI - 116

117 masyarakat, dan terciptanya nilai ekonomi bagi masyarakat. Produk olahan Tortila bahan bakunya berasal dari Jagung, Ubikayu dan bahan lain melalui proses pengolahan secara manual, dan Wanita Tani bisa melakukan usaha ini secara berkelompok didaerahnya. Untuk itu dalam upaya pembinaan Wanita tani di Kabupaten/Kota se NTB sekaligus dilaksanakan Praktek pembuatan Tortila dengan berbagai rasa sersuai karakteristik daerah masing-masing. b. Tujuan 1. Pemberdayaan masyarakat terutama pelaku usaha dibidang pangan dan hortikultura 2. Membuka Lapangan kerja bagi masyarakat pedesaan dan perkotaan 3. Peningkatan pendapatan masyarakat dan pelaku usaha 4. Mengatasi Pengangguran c. Manfaat 1. Penciptaan lapangan kerja baru 2. Meningkatkan income keluarga masyarakat dipedesaan 3. Membantu Pengentasan Kemiskinan 4. Mengurangi pengangguran d. Sasaran Pelaku usaha pengolahan hasil pertanian, Ibu rumah tangga, masyarakat umum lainnya di Kabupaten/ Kota se NTB e. Hasil yang diharapkan Pelaku usaha, Ibu rumah tangga, dan masyarakat dapat mengikuti pembinaan dan praktek pembuatan Tortila dengan baik dan akhirnya dapat eksis melaksanakan kegiatan usahanya. f. Dampak Kesejahteraan pelaku usaha meningkat II. PELAKSANAAN a. Waktu Pelaksanaan Pelaksanaan Pembinaan dan Praktek pembuatan Tortila berlangsung selama 1 hari sesuai jadwal terlampir b. Tempat Pelaksanaan Bertempat di salah satu rumah tinggal anggota kelompok di daerah masing-masing c. Peserta Pelaku usaha khususnya Kelompok Wanita Tani pengolahan hasil pertanian masingmasing sebanyak 10 orang. Materi Praktek Materi praktek masing-masing daerah Kabupaten/Kota se NTB disesuaikan dengan ketersediaan komoditi bahan pangan yang ada didaerah. Kabupaten/Kota Mataram ( Praktek pembuatan Tortila Jagung) 1. Kabupaten Lombok Barat ( Praktek Pembuatan Tortila Ikan ) 2. Kabupaten Lombok Utara ( Praktek Pembuatan Tortila Ikan ) 3. Kabupaten Lombok Tengah ( Praktek Pembuatan Tortila Ikan 4. Kabupaten Lombok Timur ( Praktek Pembuatan Tortila Jagung) 5. Kabupaten KSB( Praktek Pembuatan Tortila Jagung ) 6. Kabupaten Sumbawa ( Praktek Pembuatan Tortila Ikan ) VI - 117

118 7. Kabupaten Dompu( Praktek Pembuatan Tortila Ikan ) 8. Kabupaten Bima ( Praktek Pembuatan Tortila Labu ) 9. Kabupaten/Kota Bima ( Praktek Pembuatan Tortila Jagung) III. MODUL RESEP 1. TORTILA JAGUNG A. Bahan Baku No. Jenis Jumlah Keterangan 1. Jagung pipil 3 kg 2. Ubi kayu/singkong 2 kg 3. Tepung beras biasa 500 g 4. Garam dapur 10 g 1,5 sdm 5. Gula pasir 100 g 6. Air bersih 500 ml 7. Penyedap rasa 10 g 1,5 sdm B. Peralatan No. Jenis Fungsi 1. Blender Mencampur dan menghaluskan 2. Penggiling daging Menghaluskan 3. Kompor Memanaskan 4. Wajan Wadah memasak 5. Plastik bening Alas untuk pemipih 6. Pipa pemipih Pemipih adonan 7. Loyang besar dan kecil Wadah 8. Serbet Lap tangan 9 Timbangan Menimbang bahan C. Cara Kerja 1. Jagung pipil disortasi untuk memisahkan dari kotoran (benda asing). 2. Direbus selama 3-5 jam atau bagian dalam biji jagung menjadi lunak. 3. Diangkat lalu ditiriskan sampai air sisa rebusan habis terbuang 4. Digiling sebanyak 6-7 kali atau sampai benar-benar halus, ditimbang jagung halus sebanyak 3 kg (A), disisihkan 5. Ubi kayu dikupas kulitnya kemudian dipotong-potong kecil (3-5 cm) 6. Dicuci bersih sampai cairan lendir terbuang, lalu dikukus sampai matang (bagian tengah ubi menjadi lunak) 7. Digiling sebanyak 3 kali atau sampai halus lalu ditimbang sebanyak 2 kg (B) 8. Tepung beras dicampur dengan air bersih, diaduk sampai merata lalu tambahkan garam dapur dan gula, dikukus di wajan sampai mengental (C) 9. Adonan A + adonan B + adonan C, dicampur sampai kalis, lalu digiling sebanyak 3 kali VI - 118

119 sampai halus 10. Dilanjutkan dengan digiling kembali sebanyak 3 kali atau sampai halus 11. Dilakukan pemipihan dengan ketebalan 3 mm dengan panjang 5 cm dan lebar 3 cm. 12. Dijemur selama 1 3 hari (sinar matahari cerah) 13. Dikumpul dan dikemas dalam wadah kedap udara dan uap air. D. Diagram Alir Pembuatan Tortilla Jagung Jagung pipil bersih direndam selama 3 5 jam Ubi kayu dikupas,dicuci bersih lalu dipotongpotong kecil Tepung Beras, ditambah air +garam + gula pasir Digiling 6-7 kali sampai halus Digiling sebanyak 3 kali Dikukus sampai matang Jagung giling halus (A) Ubu kayu giling (B) Bubur Tepung beras (C) Dicampur jadi satu adonan,aduk hingga kalis Dipipih tipis-tipis diplastik, cetak dengan ukuran 3x4 cm,dijemur selama 2 hari, angin-anginkan,dikemas di wadah yang kedap udara dan uap air Tortilla Jagung Setengah Jadi 2. TORTILA UDANG A. Bahan Baku No. Jenis Jumlah Keterangan 1. Daging Udang 250 g 2. Ubi kayu/singkong 3 kg VI - 119

120 3. Tepung beras biasa 500 g 4. Garam dapur 5 g 1,5 sdm 5. Gula pasir 100 g 6. Air matang 500 ml 7. Penyedap rasa 10 g 1,5 sdm B. Peralatan No. Jenis Fungsi 1. Blender Mencampur dan menghaluskan 2. Penggiling daging Menghaluskan 3. Kompor Memanaskan 4. Wajan Wadah memasak 5. Plastik bening Alas untuk pemipih 6. Pipa pemipih Pemipih adonan 7. Loyang besar dan kecil Wadah 8. Serbet Lap tangan 9 Timbangan Menimbang bahan C. Cara Kerja 1. Udang dibersihkan, cuci bersih lalu dikukus sampai matang 2. Diambil dagingnya, ditambahkan air secukupnya lalu diblender sampai halus (A), sisihkan 3. Ubi kayu dikupas kulitnya kemudian dipotong-potong kecil (3-5 cm) 4. Dicuci bersih sampai cairan lendir terbuang, lalu dikukus sampai matang (bagian tengah ubi menjadi lunak) 5. Digiling sebanyak 3 kali atau sampai halus lalu ditimbang sebanyak 3 kg (B) 6. Tepung beras dicampur dengan air matang, garam dan gula pasir dicampur dengan adonan udang (A), diaduk sampai homogen lalu dikukus sampai matang (C) 7. Adonan B + Adonan C, dicampur sampai homogen, lalu digiling sebanyak 3 kali sampai halus 8. Dilakukan pemipihan dengan ketebalan 3 mm dengan panjang 5 cm dan lebar 3 cm. 9. Dijemur selama 1 3 hari (sinar matahari cerah) 10. Dikumpul dan dikemas dalam wadah kedap udara dan uap air. VI - 120

121 D. Diagram Alir Pembuatan Tortilla Udang Ubi kayu dikupas,dicuci bersih lalu dipotongpotong kecil,dikukus sampai matang Udang segar, dicuci bersih,dikukus sampai matang Digiling sebanyak 3 kali Daging Udang,diblender dengan penambahan air secukupnya (Bubur Udang (A) Tepung Beras, ditambah air +garam + gula pasir + bubur ikan (A) Ubi kayu giling (B) Dikukus sampai matang B + C dicampur jadi satu adonan,aduk hingga kalis,digiling sebanyak 3 kali Bubur Tepung beras Ikan (C) Dipipih tipis-tipis diplastik, cetak dengan ukuran 3x4 cm,dijemur selama 2 hari, anginanginkan,dikemas di wadah yang kedap udara dan uap air Tortilla Udang Setengah Jadi VI - 121

122 3. TORTILA IKAN A. Bahan Baku No. Jenis Jumlah Keterangan 1. Daging Ikan 250 g 2. Ubi kayu/singkong 3 kg 3. Tepung beras biasa 500 g 4. Garam dapur 5 g 1,5 sdm 5. Gula pasir 100 g 6. Air matang 500 ml 7. Penyedap rasa 10 g 1,5 sdm B. Peralatan No. Jenis Fungsi 1. Blender Mencampur dan menghaluskan 2. Penggiling daging Menghaluskan 3. Kompor Memanaskan 4. Wajan Wadah memasak 5. Plastik bening Alas untuk pemipih 6. Pipa pemipih Pemipih adonan 7. Loyang besar dan kecil Wadah 8. Serbet Lap tangan 9 Timbangan Menimbang bahan C. Cara Kerja 11. Ikan dikeluarkan isi perut dan insangnya, cuci bersih lalu dikukus sampai matang (bagian dalamnya tidak berdarah) 12. Diambil dagingnya, ditambahkan air secukupnya lalu diblender sampai halus (A), sisihkan 13. Ubi kayu dikupas kulitnya kemudian dipotong-potong kecil (3-5 cm) 14. Dicuci bersih sampai cairan lendir terbuang, lalu dikukus sampai matang (bagian tengah ubi menjadi lunak) 15. Digiling sebanyak 3 kali atau sampai halus lalu ditimbang sebanyak 3 kg (B) 16. Tepung beras dicampur dengan air matang, garam dan gula pasir dicampur dengan adonan ikan (A), diaduk sampai homogen lalu dikukus sampai matang (C) 17. Adonan B + Adonan C, dicampur sampai homogen, lalu digiling sebanyak 3 kali sampai halus 18. Dilakukan pemipihan dengan ketebalan 3 mm dengan panjang 5 cm dan lebar 3 cm. 19. Dijemur selama 1 3 hari (sinar matahari cerah) 20. Dikumpul dan dikemas dalam wadah kedap udara dan uap air. VI - 122

123 D. Diagram Alir Pembuatan Tortilla Ikan Ubi kayu dikupas,dicuci bersih lalu dipotongpotong kecil,dikukus sampai matang Ikan segar,dikeluarkan isi perut,insang, dicuci bersih,dikukus sampai matang Digiling sebanyak 3 kali Ubi kayu giling (B) Daging ikan disuwir,diblender dengan penambahan air secukupnya (Bubur Ikan ) (A) Tepung Beras, ditambah air +garam + gula pasir + bubur ikan (A) Dikukus sampai matang B + C dicampur jadi satu adonan,aduk hingga kalis,digiling sebanyak 3 kali Bubur Tepung beras Ikan (C) Dipipih tipis-tipis diplastik, cetak dengan ukuran 3x4 cm,dijemur selama 2 hari, anginanginkan,dikemas di wadah yang kedap udara dan uap air Tortilla Ikan Setengah Jadi VI - 123

124 4. TORTILA LABU A. Bahan Baku No. Jenis Jumlah Keterangan 1. Labu kuning 500 g 2. Ubi kayu/singkong 3 kg 3. Tepung beras biasa 500 g 4. Garam dapur 5 g 1,5 sdm 5. Gula pasir 100 g 6. Air matang 500 ml 7. Penyedap rasa 5 g 1,5 sdm B. Peralatan No. Jenis Fungsi 1. Blender Mencampur dan menghaluskan 2. Penggiling daging Menghaluskan 3. Kompor Memanaskan 4. Wajan Wadah memasak 5. Plastik bening Alas untuk pemipih 6. Pipa pemipih Pemipih adonan 7. Loyang besar dan kecil Wadah 8. Serbet Lap tangan 9 Timbangan Menimbang bahan C. Cara Kerja 1. Labu kuning dikupas, dikeluarkan bijinya, dicuci bersih lalu dipotong-potong 2. Potongan labu ditambah air bersih secukupnya lalu diblender sampai halus,sisihkan (A) 3. Ubi kayu dikupas kulitnya kemudian dipotong-potong kecil (3-5 cm) 4. Dicuci bersih sampai cairan lendir terbuang, lalu dikukus sampai matang (bagian tengah ubi menjadi lunak) 5. Digiling sebanyak 3 kali atau sampai halus lalu ditimbang sebanyak 3 kg (B) 6. Tepung beras dicampur dengan air matang, lalu dicampur dengan labu kuning ditambahkan garam, gula pasir diaduk sampai homogen,lalu dikukus sampai mengental dan masak (C) 7. Adonan B + Adonan C dicampur menjadi satu sampai homogen, kemudian digiling sebanyak 3 kali sampai halus 8. Dilakukan pemipihan dengan ketebalan 3 mm dengan panjang 5 cm dan lebar 3 cm. 9. Dijemur selama 1 3 hari (sinar matahari cerah) 10. Dikumpul dan dikemas dalam wadah kedap udara dan uap air. VI - 124

125 D. Diagram Alir Pembuatan Tortilla Labu Ubi kayu dikupas,dicuci bersih lalu dipotongpotong kecil Labu kuning tua,dikupas kulitnya, dipotong-potong kecil, diblender sampai halus Tepung Beras, ditambah air +garam + gula pasir Digiling sebanyak 3 kali Bubur mentah Labu kuning (A) Dikukus sampai matang Ubi kayu giling (B) Bubur Tepung beras (C) A + B + C dicampur jadi satu adonan,aduk hingga kalis kaliskaliskalis Dipipih tipis-tipis diplastik, cetak dengan ukuran 3x4 cm,dijemur selama 2 hari, angin-anginkan,dikemas di wadah yang kedap udara dan uap air Tortilla Labu Setengah Jadi VI - 125

Renstra Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat 2011-2015 BAB I. PENDAHULUAN

Renstra Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat 2011-2015 BAB I. PENDAHULUAN BAB I. PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pembangunan pertanian secara umum dan pembangunan sub sektor Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura telah memberikan sumbangan besar dalam pembangunan daerah Propinsi

Lebih terperinci

PedomanTeknis Pengelolaan Produksi Kacang Tanah, Kacang Hijau dan Aneka Kacang

PedomanTeknis Pengelolaan Produksi Kacang Tanah, Kacang Hijau dan Aneka Kacang KATA PENGANTAR Kacang tanah, kacang hijau dan aneka kacang merupakan komoditi strategis sebagai sumber pendapatan bagi petani yang memiliki arti dan peran dalam peningkatan kesejahteraan petani. Kacang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung

Lebih terperinci

4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104,

4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, 4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 5.

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN BELANJA BANTUAN KEUANGAN KEPADA KABUPATEN/KOTA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN

Lebih terperinci

DAFTAR ISI... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 KATA PENGANTAR... 9 DAFTAR GAMBAR... 11 DAFTAR TABEL... 12 1. PENDAHULUAN... 14

DAFTAR ISI... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 KATA PENGANTAR... 9 DAFTAR GAMBAR... 11 DAFTAR TABEL... 12 1. PENDAHULUAN... 14 1 P a g e 2 P a g e Daftar Isi DAFTAR ISI... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 KATA PENGANTAR... 9 DAFTAR GAMBAR... 11 DAFTAR TABEL... 12 1. PENDAHULUAN... 14 1.1. Latar Belakang...14 1.2. Perumusan Masalah...16

Lebih terperinci

Kertas Kebijakan. Pengembangan Usaha Kakao di Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat

Kertas Kebijakan. Pengembangan Usaha Kakao di Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat Kertas Kebijakan Pengembangan Usaha Kakao di Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat KERTAS KEBIJAKAN Pengembangan Usaha Kakao di Kabupaten Majene Provinsi Sulawesi Barat KERJASAMA ANTARA: KPPOD dan Pemerintah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling

Lebih terperinci

BAB 12 SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP

BAB 12 SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP BAB 12 SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup (SDA dan LH) mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan nasional, baik sebagai penyedia bahan baku bagi pembangunan

Lebih terperinci

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) BALAI BESAR PENGEMBANGAN MEKANISASI PERTANIAN TAHUN 2012

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) BALAI BESAR PENGEMBANGAN MEKANISASI PERTANIAN TAHUN 2012 LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) TAHUN 2012 Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong BADAN PENELITIAN DAN PENGEMB BANGAN PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2013 LAPORAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan di bidang ekonomi diarahkan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN-KP/2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN-KP/2014 TENTANG PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN-KP/2014 TENTANG PEDOMAN UMUM MONITORING, EVALUASI, DAN PELAPORAN MINAPOLITAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN

Lebih terperinci

Laporan Penelitian #4. Kerjasama Antar Daerah di Bidang Perdagangan sebagai Alternatif Kebijakan Peningkatan Perekonomian Daerah

Laporan Penelitian #4. Kerjasama Antar Daerah di Bidang Perdagangan sebagai Alternatif Kebijakan Peningkatan Perekonomian Daerah Laporan Penelitian #4 Kerjasama Antar Daerah di Bidang Perdagangan sebagai Alternatif Kebijakan Peningkatan Perekonomian Daerah Tim Peneliti KPPOD: Ig. Sigit Murwito Boedi Rheza Sri Mulyati Elizabeth Karlinda

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH Menimbang : DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa masyarakat adil dan makmur

Lebih terperinci

faw_cover_laku_susi_ak0040.indd 1 12/6/2014 11:16:29 PM

faw_cover_laku_susi_ak0040.indd 1 12/6/2014 11:16:29 PM faw_cover_laku_susi_ak0040.indd 1 12/6/2014 11:16:29 PM faw_cover_laku_susi_ak0040.indd 2 12/6/2014 11:16:44 PM KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunianya

Lebih terperinci

RENCANA KERJA TAHUNAN BADAN PUSAT STATISTIK KOTA CILEGON TAHUN ANGGARAN 2014

RENCANA KERJA TAHUNAN BADAN PUSAT STATISTIK KOTA CILEGON TAHUN ANGGARAN 2014 RENCANA KERJA TAHUNAN BADAN PUSAT STATISTIK KOTA CILEGON TAHUN ANGGARAN 2014 BADAN PUSAT STATISTIK KOTA CILEGON KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Pada era reformasi birokrasi sebagaimana telah dicanangkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Transmigrasi

Lebih terperinci

BAB 20 PEMBERDAYAAN KOPERASI SERTA USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH

BAB 20 PEMBERDAYAAN KOPERASI SERTA USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH BAB 20 PEMBERDAYAAN KOPERASI SERTA USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH Pemberdayaan koperasi usaha mikro, kecil, dan menengah (KUMKM) merupakan upaya strategis dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat

Lebih terperinci

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Lampiran IV PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI Nomor : 4 Tahun 2013 Tanggal : 19 Juli 2013 CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN a. PENDAHULUAN Pengelolaan keuangan daerah perlu diselenggarakan secara profesional,

Lebih terperinci

PEDOMAN PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA

PEDOMAN PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA PEDOMAN PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA Oleh : Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam Direktorat Jenderal PHKA Departemen Kehutanan DIPA BA-29 TAHUN 2008 SATKER

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 19/Permentan/OT.140/2/2010 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 19/Permentan/OT.140/2/2010 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 19/Permentan/OT.140/2/2010 TENTANG PEDOMAN UMUM PROGRAM SWASEMBADA DAGING SAPI 2014 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

INDONESIA 2005-2025 BUKU PUTIH

INDONESIA 2005-2025 BUKU PUTIH Kementerian Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia INDONESIA 2005-2025 BUKU PUTIH Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bidang Ketahanan Pangan Jakarta, 2006 KATA

Lebih terperinci

Pangan untuk Indonesia

Pangan untuk Indonesia Pangan untuk Indonesia Tantangan Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya. Indikator ketahanan pangan juga menggambarkan kondisi yang cukup baik. Akan

Lebih terperinci

PEDOMAN PELAKSANAAN PEWILAYAHAN SUMBER BIBIT TAHUN 2015

PEDOMAN PELAKSANAAN PEWILAYAHAN SUMBER BIBIT TAHUN 2015 PEDOMAN PELAKSANAAN PEWILAYAHAN SUMBER BIBIT TAHUN 2015 DIREKTORAT PERBIBITAN TERNAK DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2015 PEDOMAN PELAKSANAAN PEWILAYAHAN SUMBER

Lebih terperinci

KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA AYAM PETELUR (ANALISIS BIAYA MANFAAT DAN BEP PADA KEANU FARM, KENDAL)

KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA AYAM PETELUR (ANALISIS BIAYA MANFAAT DAN BEP PADA KEANU FARM, KENDAL) KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA AYAM PETELUR (ANALISIS BIAYA MANFAAT DAN BEP PADA KEANU FARM, KENDAL) SKRIPSI Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi pada Universitas Negeri Semarang Oleh Richo Dian Krisno.A 7450406053

Lebih terperinci

Iklim Usaha di Provinsi NTT: Kasus Perdagangan Hasil Pertanian di Timor Barat

Iklim Usaha di Provinsi NTT: Kasus Perdagangan Hasil Pertanian di Timor Barat Laporan Penelitian Widjajanti I. Suharyo Nina Toyamah Adri Poesoro Bambang Sulaksono Syaikhu Usman Vita Febriany Iklim Usaha di Provinsi NTT: Kasus Perdagangan Hasil Pertanian di Timor Barat Maret 2007

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA

PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA DRAF NOTA KESEPAKATAN ANTARA PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA DENGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR : 26/NKB.YK/2014 03/NKB/DPRD/2014 TANGGAL : 21 NOVEMBER 2014 TENTANG KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN

Lebih terperinci

PANDUAN PENYUSUNAN PROPOSAL KEGIATAN PENERAPAN DAN PEMANFAATAN IPTEK DI DAERAH (IPTEKDA) XV LIPI TAHUN

PANDUAN PENYUSUNAN PROPOSAL KEGIATAN PENERAPAN DAN PEMANFAATAN IPTEK DI DAERAH (IPTEKDA) XV LIPI TAHUN PANDUAN PENYUSUNAN PROPOSAL KEGIATAN PENERAPAN DAN PEMANFAATAN IPTEK DI DAERAH (IPTEKDA) XV LIPI TAHUN 2012 (Untuk Perguruan Tinggi) PANDUAN PENYUSUNAN PROPOSAL KEGIATAN PENERAPAN DAN PEMANFAATAN ILMU

Lebih terperinci