Taksonomi Tujuan Pembelajaran
|
|
|
- Indra Iskandar
- 10 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Taksonomi Tujuan Pembelajaran Ari Widodo Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Dr. Setiabudhi 229 Bandung September 2005 Dari penulis Taksonomi pembelajaran sebagaimana yang diuraikan oleh Bloom, Engelhart, Furst, Hill dan Krathwohl (1956), sudah sejak lama digunakan di dunia pendidikan Indonesia, termasuk Jurusan Pendidikan Biologi UPI. Direvisinya taksonomi Bloom, sekaligus menunjukkan bahwa taksonomi pembelajaran Bloom masih relevan dengan perkembangan pendidikan saat ini. Tulisan ini didasarkan pada buku: A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom s Taxonomy of Educational Objectives yang ditulis oleh Anderson, Krathwohl, Airasian, Cruikshank, Mayer, Pintrich, Raths, dan Wittrock (2001) dan sejumlah artikel lain yang relevan. Untuk lebih memperjelas penjelasan, contoh-contoh semaksimal mungkin saya ambil dari bidang biologi. Karena keterbatasan saya dalam mencari padanan istilah yang tepat dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, istilah bahasa Inggris tetap dicantumkan supaya pembaca bisa mudah dalam merujuk asal istilah bahasa Indonesia yang saya gunakan. Pendahuluan Sejak diterbitkan pertama kali pada tahun 1956, buku The Taxonomy of Educational Objectives, The Classification of Educational Goals, Handbook I: Cognitive Domain, yang ditulis oleh Bloom, Engelhart, Furst, Hill dan Krathwohl (1956) sangat luas pemakaiannya, termasuk di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari fakta bahwa buku itu telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa (lebih dari 20 bahasa). Pada tahun 2001 diterbitkan edisi revisi buku tersebut yang berjudul A Taxonomy for Learning and Teaching and Assessing: A Revision of Bloom s Taxonomy of Educational Objectives (Anderson, Krathwohl, Airasian, Cruikshank, Mayer, Pintrich, Raths, dan Wittrock, 2001). Tulisan ini menyajikan gambaran singkat taksonomi tujuan pembelajaran yang baru dan perbedaan penting antara sistem taksonomi yang lama dan taksonomi yang baru. Dengan demikian diharapkan pembaca yang telah mengenal taksonomi yang lama dapat mengenali taksonomi yang baru serta mendapatkan gambaran perbedaan antara keduanya. Bagi pembaca yang belum mengenal taksonomi yang lama, tulisan ini dapat menjadi informasi tentang manfaat taknomi tujuan pembelajaran serta bagaimana menerapkan taksonomi tujuan pembelajaran dalam praktek. halaman 1 dari 9 halaman
2 Taksonomi yang lama tentang hal-hal spesifik 1.11 tentang terminologi 1.12 tentang fakta spesifik 1.20 tentang cara-cara memper-lakukan halhal spesifik 1.21 tentang konvensi 1.22 tentang kecenderungan dan urutan 1.23 tentang klasifikasi dan kategori 1.24 tentang kriteria 1.25 tentang metodologi 1.30 tentang universal dan abstraksi 1.31 tentang prinsip dan generalisasi 1.32 tentang teori dan struktur 2.0 Pemahaman 2.10 Translasi 2.20 Interpretasi 2.30 Extrapolasi 3.0 Aplikasi 4.0 Analisis 4.10 Analisis elemen-elemen 4.20 Analisis hubungan 4.30 Analisis organisasi prinsip-prinsip 5.0 Sintesis 5.10 Membuat bentuk komunasi yang khas 5.20 Membuat rencana, atau seperangkat operasi 5.30 Menurunkan seperangkat hubungan abstrak 6.0 Evaluasi 6.10 Menilai berdasarkan bukti internal 6.20 Menilai berdasarkan kriteria eksternal Tabel 1 Perbedaan antara taksonomi yang lama dan taksonomi yang baru Taksonomi yang baru Dimensi pengetahuan Dimensi proses kognitif A. faktual 1. Menghafal (remember) Aa. tentang terminologi 1.1 Mengenali (recognizing) Ab. tentang bagian detail dan unsurunsur 1.2 Mengingat (recalling) 2. Memahami (understand) B. konseptual 2.1 Menafsirkan (interpreting) Ba. tentang kelasifikasi dan kategori 2.2 Memberi contoh (exemplifying) Bb. tentang prinsip dan generalisasi 2.3 Mengelasifikasikan (classifying) Bc. tentang teori, model, dan struktur 2.4 Meringkas (summarizing) C. prosedural 2.5 Menarik inferensi (inferring) Ca. tentang keterampilan khusus yang 2.6 Membandingkan (compairing) berhubungan dengan suatu bidang tertentu dan 2.7 Menjelaskan (explaining) pengetahuan tentang algoritme 3. Mengaplikasikan (apply) Cb. tentang teknik dan metode 3.1 Menjalankan (executing) Cc. tentang kriteria penggunaan suatu 3.2 Mengimplementasikan (implementing) prosedur 4. Menganalisis (analyze) D. metakognitif 4.1 Menguraikan (differentiating) Da. strategik 4.2 Mengorganisir (organizing) Db. tentang operasi kognitif 4.3 Menemukan makna tersirat (attributing) Dc. tentang diri sendiri 5. Mengevaluasi (evaluate) 5.1 Memeriksa (checking) 5.2 Mengritik (critiquing) 6. Membuat (create) 6.1 Merumuskan (generating) 6.2 Merencanakan (planning) 6.3 Memproduksi (producing) halaman 2 dari 9 halaman
3 Perbedaan antara taksonomi yang lama dan taksonomi yang baru Perbedaan mendasar antara taksonomi yang baru dengan taksonomi yang lama adalah dalam hal pemisahan antara dimensi pengetahuan (knowledge) dan dimensi proses kognitif (cognitive processes). Dalam taksonomi yang lama kedua dimensi tersebut disatukan dalam kategori pengetahuan sehingga kategori pengetahuan berbeda dari kategori-kategori yang lain (lihat tabel 1). Seperti terlihat dalam tabel 1, kategori 1.0 merupakan rincian tentang macammacam pengetahuan ( isi ) sedangkan kategori merupakan proses kognitif. merupakan kata benda sedangkan kategori-kategori yang lain merupakan kata kerja yang menunjukkan berbagai kemungkinan bagaimana kata benda tersebut diperlakukan. Rumusan tujuan pembelajaran sesungguhnya merupakan gabungan antara kategori 1.0 dengan kategori-kategori yang lain. Contoh: Kategori 1.23 ( tentang klasifikasi dan kategori) dapat dikombinasikan sbb: - dengan kategori 2.10 (translasi), menjadi bagaimana mentranslasikan prinsip dan generalisasi. - dengan kategori 3.0, menjadi bagaimana mengaplikasikan prinsip dan generalisasi. - dengan kategori 4.20, menjadi bagaimana menganalisis hubungan-hubungan antara prinsip dan generalisasi dalam suatu fenomena. - Dengan kategori 5.20, menjadi bagaimana membuat rencana dengan memanfaatkan prinsip dan generalisasi. - Dengan kategori 6.10, menjadi bagaimana menilai prinsip dan generalisasi berdasarkan bukti internal yang tersedia. Dalam taksonomi yang baru dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif dipisahkan. Dimensi pengetahuan hanya memuat jenis-jenis pengetahuan sedangkan dimensi proses kognitif memuat macam-macam proses kognitif. Pemisahan ini bukan hanya memperjelas kedudukan kedua dimensi tersebut namun juga memperluas cakupan kedua dimensi tersebut. Dimensi Dalam taksonomi yang baru pengetahuan dikelompokkan dalam 4 kelompok, yaitu: pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan metakognitif. metakognitif merupakan jenis pengetahuan yang tidak terdapat pada taksonomi yang lama. A. Faktual: unsur-unsur dasar yang ada dalam suatu disiplin ilmu tertentu yang biasa digunakan oleh ahli di bidang tersebut untuk saling berkomunikasi dan memahami bidang tersebut. faktual pada umumnya merupakan abstraksi level rendah. Aa. tentang terminologi: mencakup pengetahuan tentang label atau simbol tertentu baik yang bersifat verbal maupun non verbal. Setiap disiplin ilmu biasanya mempunyai banyak sekali terminologi yang khas untuk disiplin ilmu tersebut. Dalam biologi misalnya kita mengenal gamet, mitosis, genus, dsb. Ab. tentang bagian detail dan unsur-unsur: pengetahuan tentang kejadian tertentu, orang, waktu, dsb. Dalam setiap disiplin ilmu biasanya terdapat banyak sekali pengetahuan tentang kejadian, orang, waktu. Dalam biologi misalnya kita mengenal Carolus Linnaeus, periode kreta, Galapagos, dsb. B. konseptual: saling keterkaitan antara unsur-unsur dasar dalam struktur yang lebih besar dan semuanya berfungsi bersama-sama. konseptual mencakup skema, model pemikiran, dan teori baik yang implisit maupun eksplisit. halaman 3 dari 9 halaman
4 Ba. tentang kelasifikasi dan kategori: mencakup pengetahuan tentang kategori, kelas, bagian, atau susunan yang berlaku dalam suatu bidang ilmu tertentu. Sebagai contoh, dalam biologi ada pembedaan antara mitosis dan meiosis, ada prokariotik dan eukariotik, dsb. Bb. tentang prinsip dan generalisasi: mencakup abstraksi dari hasil observasi ke level yang lebih tinggi, yaitu prinsip atau generalisasi. Prinsip dan generalisasi merupakan abstraksi dari sejumlah fakta, kejadian, dan saling keterkaitan antara sejumlah fakta. Prinsip dan generalisasi biasanya cenderung sulit untuk dipahami siswa apabila siswa belum sepenuhnya menguasai fenomenafenomena yang merupakan bentuk yang teramati dari suatu prinsip atau generalisasi. Sebagai contoh dalam biologi kita mengenal prinsip adaptasi, hukum Mendel, dsb. Bc. tentang teori, model, dan struktur: mencakup pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi dan saling keterkaitan antara keduanya yang menghasilkan kejelasan terhadap suatu fenomena yang kompleks. tentang teori, model, dan struktur merupakan jenis pengetahuan yang sangat abstrak dan rumit. Sebagai contoh, dalam biologi kita mengenal teori evolusi, model DNA dan RNA, dsb. C. prosedural: pengetahuan tentang bagaimana mengerjakan sesuatu. Seringkali pengetahuan prosedural berisi tentang langkah-langkah atau tahapan yang harus diikuti dalam mengerjakan suatu hal tertentu. Ca. tentang keterampilan khusus yang berhubungan dengan suatu bidang tertentu dan pengetahuan tentang algoritme: mencakup pengetahuan tentang keterampilan khusus yang diperlukan untuk bekerja dalam suatu bidang ilmu atau tentang algoritme yang harus ditempuh untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Dalam biologi misalnya kita mengenal, bagaimana cara memipet dengan benar, bagaimana mengukur suhu air yang dididihkan dalam beker gelas, dsb. Cb. tentang teknik dan metode yang berhubungan dengan suatu bidang tertentu: mencakup pengetahuan yang pada umumnya merupakan hasil konsensus, perjanjian, atau aturan yang berlaku dalam disiplin ilmu tertentu. tentang teknik dan metode lebih mencerminkan bagaimana ilmuwan dalam bidang tersebut berpikir dan memecahkan masalah yang dihadapi. Dalam biologi misalnya kita mengenal bagaimana kita menerapkan metode ilmiah untuk memecahkan suatu masalah, bagaimana menerapkan metode ilmiah dalam suatu penelitian biologi, dsb. Cc. tentang kriteria untuk menentukan kapan suatu prosedur tepat untuk digunakan: mencakup pengetahuan tentang kapan suatu teknik, strategi, atau metode harus digunakan. Siswa dituntut bukan hanya tahu sejumlah teknik atau metode tetapi juga dapat mempertimbangkan teknik atau metode tertentu yang sebaiknya digunakan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi yang dihadapi saat itu. Misalnya, memilih teknik sampling yang sesuai untuk penelitian di padang rumput dan semak-semak, memilih metode statistika yang sesuai untuk mengolah data, dsb. D. metakognitif: mencakup pengetahuan tentang kognisi secara umum dan pengetahuan tentang diri sendiri. Siswa dituntut untuk lebih menyadari dan bertanggung jawab terhadap diri dan belajarnya. Da. strategik: mencakup pengetahuan tentang strategi umum untuk belajar, berpikir, dan memecahkan masalah. jenis ini dapat digunakan bukan hanya dalam suatu bidang tertentu tetapi juga dalam bidang- halaman 4 dari 9 halaman
5 bidang yang lain. Contoh, bagaimana strategi belajar tentang bagian-bagian sel dan belajar tentang siklus metabolisme (keduanya berbeda sifatnya, yang pertama tentang struktur sedangkan yang kedua tentang proses) Db. tentang tugas kognitif, termasuk di dalamnya pengetahuan tentang konteks dan kondisi yang sesuai: mencakup pengetahuan tentang jenis operasi kognitif yang diperlukan untuk mengerjakan tugas tertentu serta strategi kognitif mana yang sesuai dalam situasi dan kondisi tertentu. Misalnya, bagaimana mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian dengan soal bentuk pilihan ganda dan ujian yang boleh buka buku, mengenali jenis pertanyaan favourite setiap penguji, dsb. Dc. tentang diri sendiri: mencakup pengetahuan tentang kelemahan dan kemampuan diri sendiri dalam belajar. Salah satu syarat agar siswa dapat menjadi pembelajar yang mandiri adalah kemampuannya untuk mengetahui dimana kelebihan dan kekurangan serta bagaimana mengatasi kekurangan tersebut. Contoh, mengenali mengapa mengalami kesulitan untuk memecahkan soal hitungan, mengapa lebih mudah mengerjakan soal pilihan ganda daripada soal uraian, dsb. Dimensi proses kognitif dalam taksonomi yang baru Seperti telah disebutkan dimuka, dalam taksonomi yang baru seluruh aspek proses kognitif dipisahkan dari dimensi pengetahuan. Jumlah dan jenis proses kognitif tetap sama seperti dalam taksonomi yang lama, hanya kategori analisis dan evaluasi ditukar urutannya dan kategori sintesis kini dinamai membuat (create). Untuk lebih jelasnya lihat tabel 1. Seperti halnya taksonomi yang lama, taksonomi yang baru secara umum juga menunjukkan penjenjangan, dari proses kognitif yang sederhana ke proses kognitif yang lebih kompleks. Namun demikian penjenjangan pada taksonomi yang baru lebih fleksibel sifatnya. Artinya, untuk dapat melakukan proses kognitif yang lebih tinggi tidak mutlak disyaratkan penguasaan proses kognitif yang lebih rendah. 1. Menghafal (Remember): menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang. Mengingat merupakan proses kognitif yang paling rendah tingkatannya. Untuk mengkondisikan agar mengingat bisa menjadi bagian belajar bermakna, tugas mengingat hendaknya selalu dikaitkan dengan aspek pengetahuan yang lebih luas dan bukan sebagai suatu yang lepas dan terisolasi. Kategori ini mencakup dua macam proses kognitif: mengenali (recognizing) dan mengingat (recalling). 1.1 Mengenali (Recognizing): mencakup proses kognitif untuk menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang agar dapat membandingkan dengan informasi yang baru. Contoh: Menyebutkan urutan alat pencernaan makanan dari mulut hingga anus. 2.2 Mengingat (Recalling): menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang dengan menggunakan petunjuk yang ada. Contoh: Pada saat ditunjukkan sejumlah tumbuhan siswa dapat mengingat nama-nama ilmiah tumbuhan tersebut. 2. Memahami (Understand): mengkonstruk makna atau pengertian berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki, atau mengintegrasikan pengetahuan yang baru ke dalam skema yang telah ada dalam pemikiran siswa. Kategori memahami mencakup tujuh proses kognitif: menafsirkan (interpreting), memberikan contoh (exemplifying), halaman 5 dari 9 halaman
6 mengkelasifikasikan (classifying), meringkas (summarizing), menarik inferensi (inferring), membandingkan (comparing), dan menjelaskan (explaining). 2.1 Menafsirkan (interpreting): mengubah dari satu bentuk informasi ke bentuk informasi yang lainnya, misalnya dari dari kata-kata ke grafik atau gambar, atau sebaliknya, dari kata-kata ke angka, atau sebaliknya, maupun dari kata-kata ke kata-kata, misalnya meringkas atau membuat parafrase. Contoh: Membuat grafik berdasarkan data pertumbuhan jagung yang diberi pupuk yang berbeda. 2.2 Memberikan contoh (exemplifying): memberikan contoh dari suatu konsep atau prinsip yang bersifat umum. Memberikan contoh menuntuk kemampuan mengidentifikasi ciri khas suatu konsep dan selanjutnya menggunakan ciri tersebut untuk membuat contoh. Contoh: Setiap makhluk hidup beradaptasi dengan lingkungan. Manakah bentuk adaptasi pohon kelapa terhadap lingkungannya? 2.3 Mengkelasifikasikan (classifying): Mengenali bahwa sesuatu (benda atau fenomena) masuk dalam kategori tertentu. Termasuk dalam kemampuan mengkelasifikasikan adalah mengenali ciri-ciri yang dimiliki suatu benda atau fenomena. Contoh: pada saat disajikan beberapa tumbuhan, siswa diminta mengelompokkan tumbuhan tersebut dalam tumbuhan biji dan bukan tumbuhan biji. 2.4 Meringkas (summarising): membuat suatu pernyataan yang mewakili seluruh informasi atau membuat suatu abstrak dari sebuat tulisan. Meringkas menuntut siswa untuk memilih inti dari suatu informasi dan meringkasnya. Contoh: Meringkas sebuah laporan penelitian terbaru rekayasa genetika. 2.5 Menarik inferensi (inferring): menemukan suatu pola dari sederetan contoh atau fakta. Contoh: memprediksikan perkembangan suatu populasi dalam sebuah komunitas berdasarkan data perkembangan populasi selama 10 tahun terakhir. 2.6 Membandingkan (comparing): mendeteksi persamaan dan perbedaan yang dimiliki dua obyek atau lebih. Contoh: membandingkan proses respirasi dan pembakaran. 2.7 Menjelaskan (explaining): mengkonstruk dan menggunakan model sebab-akibat dalam suatu system. Contoh: menjelaskan mengapa jati menggugurkan daunnya di musim kemarau namun tidak di musim hujan? 3. Mengaplikasikan (Applying): mencakup penggunaan suatu prosedur guna menyelesaikan masalah atau mengerjakan tugas. Oleh karena itu mengaplikasikan berkaitan erat dengan pengetahuan prosedural. Namun tidak berarti bahwa kategori ini hanya sesuai untuk pengetahuan prosedural saja. Kategori ini mencakup dua macam proses kognitif: menjalankan (executing) dan mengimplementasikan (implementing). 3.1 Menjalankan (executing): menjalankan suatu prosedur rutin yang telah dipelajari sebelumnya. Langkah-langkah yang diperlukan sudah tertentu dan juga dalam urutan tertentu. Apabila langkah-langkah tersebut benar, maka hasilnya sudah tertentu pula. Contoh: menghitung jumlah gamet dengan 2, 6, dan 17 sifat beda. 3.2 Mengimplementasikan (implementing): memilih dan menggunakan prosedur yang sesuai untuk menyelesaikan tugas yang baru. Contoh: Setelah melakukan percobaan fotosintesis Ingenhouz, siswa merancang percobaan serupa untuk tumbuhan darat. 4. Menganalisis (Analyzing): menguraikan suatu permasalahan atau obyek ke unsurunsurnya dan menentukan bagaimana saling keterkaitan antar unsur-unsur tersebut. Ada tiga macam proses kognitif yang tercakup dalam menganalisis: menguraikan halaman 6 dari 9 halaman
7 (differentiating), mengorganisir (organizing), dan menemukan pesan tersirat (attributting). 4.1 Menguraikan (differentiating): menguraikan suatu struktur dalam bagian-bagian berdasarkan relevansi, fungsi dan penting tidaknya. Contoh: menganalisis sebabsebab semakin berkurangnya populasi burung kutilang di kota Jawa Barat. 4.2 Mengorganisir (organizing): mengidentifikasi unsur-unsur suatu keadaan dan mengenali bagaimana unsur-unsur tersebut terkait satu sama lain untuk membentuk suatu struktur yang padu. Contoh: menganalisis keseimbangan dinamis suatu ekosistem. 4.3 Menemukan pesan tersirat (attributting): menemukan sudut pandang, bias, dan tujuan dari suatu bentuk komunikasi. Contoh: menganalisis mengapa seseorang menulis di surat kabar bahwa hutan di Jawa Barat masih cukup luas. 5. Mengevaluasi: membuat suatu pertimbangan berdasarkan kriteria dan standar yang ada. Ada dua macam proses kognitif yang tercakup dalam kategori ini: memeriksa (checking) dan mengritik (critiquing). 5.1 Memeriksa (Checking): Menguji konsistensi atau kekurangan suatu karya berdasarkan kriteria internal (kriteria yang melekat dengan sifat produk tersebut). Contoh: Memeriksa apakah kesimpulan yang ditarik telah sesuai dengan data yang ada. 5.2 Mengritik (Critiquing): menilai suatu karya baik kelebihan maupun kekurangannya, berdasarkan kriteria eksternal. Contoh: menilai apakah rumusan hipotesis sesuai atau tidak (sesuai atau tidaknya rumusan hipotesis dipengaruhi oleh pengetahuan dan cara pandang penilai). 6. Membuat (create): menggabungkan beberapa unsur menjadi suatu bentuk kesatuan. Ada tiga macam proses kognitif yang tergolong dalam kategori ini, yaitu: membuat (generating), merencanakan (planning), dan memproduksi (producing). 6.1 Membuat (generating): menguraikan suatu masalah sehingga dapat dirumuskan berbagai kemungkinan hipotesis yang mengarah pada pemecahan masalah tersebut. Contoh: merumuskan hipotesis untuk memecahkan permasalahan yang terjadi berdasarkan pengamatan di lapangan. 6.2 Merencanakan (planning): merancang suatu metode atau strategi untuk memecahkan masalah. Contoh: merancang serangkaian percobaan untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan. 6.3 Memproduksi (producing): membuat suatu rancangan atau menjalankan suatu rencana untuk memecahkan masalah. Contoh: mendesain (atau juga membuat) suatu alat yang akan digunakan untuk melakukan percobaan. Merumuskan tujuan pembelajaran Dengan menggabungkan dimensi pengatahuan dan dimensi proses kognitif (lihat tabel 2), guru dibantu dalam merumuskan tujuan pembelajaran apa saja yang ingin dicapainya serta bagaimana mengukur tingkat keberhasilan pencapaian tujuan tersebut. halaman 7 dari 9 halaman
8 Tabel 2 Matriks tujuan pembelajaran Dimensi A. Pengetahaun faktual B. konseptual C. prosedural D. metakognitif 1. Mengingat 2. Memahami Dimensi proses kognitif Menerapkan Menganalisis Mengevaluasi 6. Membuat Menurut penulis, ada dua alternatif yang bisa ditempuh dalam perumusan tujuan pembelajaran. Pertama, membuat rumusan pembelajaran dan kemudian memetakan ke dalam matriks untuk mengetahui aspek-aspek mana yang sudah memadai dan yang masih perlu perhatian. Strategi ini mungkin lebih cocok untuk orang yang telah mengenal cara perumusan tujuan pembelajaran dengan menggunakan taksonomi yang lama. Contoh: Seorang guru merumuskan tujuan pembelajaran berikut. Tujuan 1: Setelah menyimak penjelasan guru tentang ciri-ciri tumbuhan berkeping tunggal, siswa dapat menyebutkan 3 ciri tumbuhan berkeping tunggal. Rumusan tujuan pembelajaran ini mengandung aspek pengetahuan faktual (ciri-ciri tumbuhan berkeping tunggal) dan proses kognitif mengingat (menyebutkan apa-apa yang telah dijelaskan sebelumnya). Tujuan 2: Setelah mengamati kotiledon kacang tanah, siswa dapat menemukan kotiledon jagung. Rumusan tujuan pembelajaran ini mengandung aspek pengetahuan faktual (kotiledon) dan proses kognitif menerapkan (mencari dengan prosedur yang kurang lebih sama). Apabila kedua tujuan pembelajaran tersebut dipetakan dalam matriks tujuan pembelajaran, maka terletak dalam kotak A1 dan A3 (lihat tabel 3). Tabel 3 Contoh distribusi tujuan pembelajaran Dimensi A. Pengetahaun faktual B. konseptual C. prosedural D. metakognitif 1. Mengingat 2. Memahami Tujuan 1 Tujuan 2 Dimensi proses kognitif Menerapkan Menganalisis Mengevaluasi 6. Membuat halaman 8 dari 9 halaman
9 Dari matriks di atas guru dapat segera mengetahui aspek-aspek mana yang belum tercakup dalam tujuan pembelajaran yang ingin dicapainya. Kedua, memetakan tujuan yang ingin dicapai dalam matriks dan kemudian menuliskannya secara rinci. Strategi ini bukan hanya cocok untuk pemula yang baru belajar merumuskan tujuan pembelajaran tetapi juga bagi orang yang sudah berpengalaman dalam merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan taksonomi yang lama. Dengan strategi ini, pertama-tama guru menentukan jenis pengetahuan apa yang akan dipelajari siswa dan proses kognitif mana yang akan dicapai. Setelah ditentukan kotak-kotak mana saja dalam matriks yang akan dicapai, barulah rumusan yang lebih rinci dibuat. Strategi ini lebih penulis anjurkan sebab dengan memanfaatkan matriks tujuan pembelajaran sebagai kisi-kisi merumuskan tujuan, guru akan terdorong untuk memperluas sebaran tujuan pembelajarannya. Taksonomi tujuan pembelajaran dan asesmen Seperti halnya dengan taksonomi yang lama, penggunaan taksonomi tujuan pembelajaran yang baru ini juga sangat membantu guru dalam menyusun soal untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa. Dengan memperhatikan jenis pengetahuan dan jenis proses kognitif guru akan lebih mudah dalam mengembangkan soal sebab jenis pengetahuan dan proses kognitif yang dituntut sudah lebih jelas. Paling tidak ada dua kelebihan taksonomi yang baru ini dalam kaitannya dengan asesmen. Pertama, karena pengetahuan dipisah dengan proses kognitif, guru dapat segera mengetahui jenis pengetahuan mana yang belum diukur. prosedural dan pengetahuan metakognitif merupakan dua macam pengetahuan yang dalam taksonomi yang lama kurang mendapat perhatian. Dengan dimunculkannya pengetahuan prosedural, guru biologi (dan sains pada umumnya) akan lebih terdorong mengembangkan soal untuk mengukur keterampilan proses siswa yang selama ini masih sering terabaikan. Kedua, taksonomi yang baru memungkinkan pembuatan soal yang bervariasi untuk setiap jenis proses kognitif. Apabila dalam taksonomi yang lama, hanya dikenal jenjang C1, C2, C3, dst., dalam taksonomi yang baru tiap jenjang menjadi 4 kali lipat sebab ada 4 macam pengetahuan. Seorang guru yang membuat soal jenjang C1, kini bisa memvariasikan soalnya, menjadi C1-faktual, C1-konseptual, C1-prosedural, C1- metakognitif, dsb. Penjelasan lebih rinci tentang bentuk dan contoh soal untuk tiap jenjang akan disajikan dalam tulisan yang lain. Daftar pustaka Anderson, L. W., Krathwohl, D. R., Airasian, P. W., Cruikshank, K. A., Mayer, R. E., Pintrich, P. R., et al. (2001). A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom's Taxonomy of Educational Objectives. New York: Longman. Bloom, B. S., Engelhart, M. D., Furst, E. J., Hill, W. H., & Krathwohl, D. R. (1956). Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals. Handbook 1 Cognitive Domain. New York: David McKay. Krathwohl, D. R. (2002). A revision of Bloom s taxonomy: An overview. Theory into Practice, 41(4), Pintrich, P. R. (2002). The role of metacognitive knowledge in learning, teaching, and assessing. Theory into Practice, 41(4), halaman 9 dari 9 halaman
BBM VIII EVALUASI PEMBELAJARAN IPA
BBM VIII EVALUASI PEMBELAJARAN IPA Pendahuluan Setelah pada bab sebelumnya Anda mempelajari tentang merancang pendekatan dan model pembelajaran, pada bab ini Anda akan mempelajari tentang asesmen dan evaluasinya.
Revisi Taksonomi Bloom dan Pengembangan Butir Soal. Ari Widodo Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI
Revisi Taksonomi Bloom dan Pengembangan Butir Soal Ari Widodo Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI Email: [email protected] Bagi guru dan praktisi pendidikan, kata Jenjang Kognitif atau sering disingkat
TAKSONOMI BLOOM-REVISI. Ana Ratna Wulan/ FPMIPA UPI
TAKSONOMI BLOOM-REVISI Ana Ratna Wulan/ FPMIPA UPI Revisi Taksonomi Bloom (Anderson, L.W. & Krathwohl, D.R.: 2001) Taksonomi Bloom lama C1 (Pengetahuan) C2 (Pemahaman) C3 (Aplikasi) C4 (Analisis) C5 (Sintesis)
Penilaian Proses dan Hasil Belajar
Penilaian Proses dan Hasil Belajar Oleh: Dr. Ana Ratna Wulan, M.Pd. FPMIPA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Revisi Taksonomi Bloom (Anderson, L.W. & Krathwohl, D.R.: 2001) Taksonomi Bloom C1 (Pengetahuan)
BAB III METODE PENELITIAN
42 BAB III METODE PENELITIAN A. Defenisi Operasional Untuk menyamakan persepsi mengenai istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka diperlukan adanya defenisi operasional mengenai istilah-istilah
EVALUASI PEMBELAJARAN
EVALUASI PEMBELAJARAN TUGAS 1 Taksonomi Bloom, Dimensi Belajar Marzano Oleh : Nama : Septri Rahayu NIM : 06101011019 Program Studi Dosen Pengasuh : Pendidikan Fisika : 1. Dr. Ketang Wiyono 2. Drs. Abidin
3/30/2010 Rustaman file 1
3/30/2010 Rustaman file 1 3/30/2010 Rustaman file 2 MATERI PERKULIAHAN Pertemuan 3 Prosedur dan Alat Penilaian: Ranah 17 09-2009 kognitif (C1-C6) relevansi dengan tujuan pembelajaran Pertemuan 4 Perbandingan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Eksperimen mengandung makna belajar untuk berbuat, karena itu dapat dimasukkan
II. TINJAUAN PUSTAKA 1. Metode Eksperimen Eksperimen mengandung makna belajar untuk berbuat, karena itu dapat dimasukkan ke dalam metode pembelajaran. Menurut Djamarah dan Zain (2006: 136) metode eksperimen
BAB II STUDI LITERATUR. A. Kemampuan Matematis dan Revisi Taksonomi Bloom. Kemampuan matematis adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki
10 BAB II STUDI LITERATUR A. Kemampuan Matematis dan Revisi Taksonomi Bloom Kemampuan matematis adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki siswa dalam mata pelajaran matematika. Dalam penelitian ini, kemampuan
ANALISIS SOAL UJIAN NASIONAL IPA SMP TAHUN 2014 BERDASARKAN DIMENSI PENGETAHUAN DAN DIMENSI PROSES KOGNITIF
22-199 ANALISIS SOAL UJIAN NASIONAL IPA SMP TAHUN 2014 BERDASARKAN DIMENSI PENGETAHUAN DAN DIMENSI PROSES KOGNITIF Herni Budiati SMP Negeri 22 Surakarta [email protected] Abstrak- Penelitian ini
II. KAJIAN TEORI. Perkembangan sebuah pendekatan yang sekarang dikenal sebagai Pendekatan
II. KAJIAN TEORI A. Pendekatan Matematika Realistik Perkembangan sebuah pendekatan yang sekarang dikenal sebagai Pendekatan Matematika Realistik (PMR) dimulai sekitar tahun 1970-an. Yayasan yang diprakarsai
Tugas Evaluasi Pendidikan RANAH PENGETAHUAN MENURUT BLOOM
Tugas Evaluasi Pendidikan RANAH PENGETAHUAN MENURUT BLOOM Dosen Pembina: PROF. DR.Ahmad Fauzan,M.Pd, M.Sc. Oleh: Kelompok I Asmi yuriana Dewi Desi Delarosa Isra Marlinawaty Sri Rahayu KONSENTRASI PENDIDIKAN
BAB II. POE adalah singkatan dari Predict-Observe-Explain. POE ini sering juga
BAB II STRATEGI PEMBELAJARAN POE (PREDICT, OBSERVE, EXPLAIN) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN PENGUASAAN KONSEP SISWA PADA KONSEP DIFUSI DAN OSMOSIS A. Strategi POE (Predict, Observe, Explain)
Profil Pertanyaan Guru dan Siswa dalam Pembelajaran Sains
Profil Pertanyaan Guru dan Siswa dalam Pembelajaran Sains (The feature of Teachers and Students Questions in Science Lessons) Oleh: Ari Widodo (Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI, Bandung) (Email: [email protected])
MERUMUSKAN TUJUAN PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI. Oleh: Rahyu Setiani
MERUMUSKAN TUJUAN PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI Oleh: Rahyu Setiani Rahyu Setiani adalah Dosen DPK Kopertis Wilayah VII pada STKIP PGRI Tulungagung PENDAHULUAN Keterampilan berpikir
II. TINJAUAN PUSTAKA. Kress et al dalam Abdurrahman, R. Apriliyawati, & Payudi (2008: 373)
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teoritis 1. Representasi Matematika Kress et al dalam Abdurrahman, R. Apriliyawati, & Payudi (2008: 373) mengatakan bahwa secara naluriah manusia menyampaikan, menerima,
Mengintegrasikan Revisi Taksonomi Bloom Kedalam Pembelajaran Biologi
Jurnal Sainsmat, September 2015, Halaman 102-112 Vol. IV, No. 2 ISSN 2086-6755 http://ojs.unm.ac.id/index.php/sainsmat Mengintegrasikan Revisi Taksonomi Bloom Kedalam Pembelajaran Biologi Integrating Bloom
Analisis Buku Siswa Matematika SMP Ruang Lingkup Statistika dengan Kesesuaian Unsur Unsur Karakteristik Berpikir Kreatif
SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY 2015 PM - 121 Analisis Buku Siswa Matematika SMP Ruang Lingkup Statistika dengan Kesesuaian Unsur Unsur Karakteristik Berpikir Kreatif R. Ach.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Sistem pendidikan di Indonesia telah lama menggunakan teori taksonomi pendidikan secara adaptif sebagai landasan pendekatan belajar. Implikasi dari penggunaan
Deskripsi Singkat Revisi Taksonomi Bloom Elisabeth Rukmini. Keywords: Bloom s taxonomy, cognitive, meta-cognitive
Deskripsi Singkat Revisi Taksonomi Bloom Elisabeth Rukmini Abstract The Bloom s taxonomy revision mainly consisted of curriculum, instructional design, and assessment. Educational development, sociocultural
PERANGKAT ASESMEN MODEL PKM YANG MELIBATKAN SCAFFOLDING METAKOGNITIF BERDASARKAN REVISI TAKSONOMI BLOOM
Awi, Perangkat Asesmen Model 11 PERANGKAT ASESMEN MODEL PKM YANG MELIBATKAN SCAFFOLDING METAKOGNITIF BERDASARKAN REVISI TAKSONOMI BLOOM Awi dan Sukarna Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
BAB I PENDAHULUAN. terutama tentang struktur materi, komposisi materi, sifat dan perubahan materi serta
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu kimia merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari sifat sifat materi yang ada di alam dan gejala yang ditimbulkan oleh sifat materi tersebut terutama tentang
II. TINJAUAN PUSTAKA
9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Media Video Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar Media adalah berbagai jenis komponen
BAB I PENDAHULUAN. akhirnya akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Sejalan dengan hal tersebut Brandt (1993) menyatakan bahwa hampir
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Berbagai macam permasalahan yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan Indonesia dewasa ini, antara lain adalah masih lemahnya proses pembelajaran yang dilakukan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan upaya penting untuk mengembangkan potensi diri dalam penguasaan ilmu.ada beberapa pengklasifikasian tujuan pendidikan yang dirumuskan oleh ahli
BAB III METODE PENELITIAN. Definisi operasional bertujuan memberikan persamaan persepsi terhadap
BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Definisi operasional bertujuan memberikan persamaan persepsi terhadap istilah yang ada dalam penelitian ini. 1. Analisis kualitas soal, soal dianalisis
KONSEP REVISI TAKSONOMI BLOOM DAN IMPLEMENTASINYA PADA PELAJARAN MATEMATIKA SMP
KONSEP REVISI TAKSONOMI BLOOM DAN IMPLEMENTASINYA PADA PELAJARAN MATEMATIKA SMP Ramlan Effendi SMP Negeri 2 Lahat, Jl. Letnan Amir Hamzah 1 Lahat [email protected] Abstrak. Tujuan kajian ini adalah
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional 1. Analisis Struktur Analisis struktur yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu dilakukan pemecahan setiap aspek yang ada pada desain kegiatan laboratorium
PENINGKATAN KEMAMPUAN ANALISIS KONSEP EKONOMI KREATIF MELALUI METODE PEMBELAJARAN RESITASI
Peningkatan Kemampuan Analisis (Nanik Sri Setyani) PENINGKATAN KEMAMPUAN ANALISIS KONSEP EKONOMI KREATIF MELALUI METODE PEMBELAJARAN RESITASI Nanik Sri Setyani STKIP PGRI JOMBANG [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. bangsa. Berdasarkan hal tersebut, negara-negara di dunia berkompetisi dalam
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Tingkat pendidikan menjadi salah satu indikator dari kemajuan suatu bangsa. Berdasarkan hal tersebut, negara-negara di dunia berkompetisi dalam meningkatkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris
10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Kegiatan Evaluasi Dalam Pendidikan Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran. Stufflebeam (1971)
TAKSONOMI KOGNITIF. Oleh: Ikhlasul Ardi Nugroho. Anderson et al. (2001: 66 91) mengemukakan enam taksonomi kognitif yang merupakan
TAKSONOMI KOGNITIF Oleh: Ikhlasul Ardi Nugroho Anderson et al. (2001: 66 91) mengemukakan enam taksonomi kognitif yang merupakan revisi dari Taksonomi Bloom, yakni mengingat (remembering), memahami (understanding),
PEMETAAN DIMENSI PROSES KOGNITIF SOAL-SOAL IPA PADA BUKU PEGANGAN SISWA KURIKULUM 2013 DI SEKOLAH DASAR KELAS RENDAH
PEMETAAN DIMENSI PROSES KOGNITIF SOAL-SOAL IPA PADA BUKU PEGANGAN SISWA KURIKULUM 2013 DI SEKOLAH DASAR KELAS RENDAH Din Azwar Uswatun & Astri Sutisnawati Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Sukabumi Jl.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional 1. Analisis Struktur Desain Kegiatan Laboratorium () Analisis struktur yang dimaksud pada penelitian ini adalah analisis keberadaan dan kualitas dari lima
TAKSONOMI BLOOM REVISI RANAH KOGNITIF: KERANGKA LANDASAN UNTUK PEMBELAJARAN, PENGAJARAN, DAN PENILAIAN. Imam Gunawan * Anggarini Retno Palupi **
TAKSONOMI BLOOM REVISI RANAH KOGNITIF: KERANGKA LANDASAN UNTUK PEMBELAJARAN, PENGAJARAN, DAN PENILAIAN Imam Gunawan * Anggarini Retno Palupi ** Abstract The Cognitive domain of Bloom s taxonomy often serves
MODEL BERPIKIR INDUKTIF:ANALISIS PROSES KOGNITIF DALAM MODEL BERPIKIR INDUKTIF
MODEL BERPIKIR INDUKTIF:ANALISIS PROSES KOGNITIF DALAM MODEL BERPIKIR INDUKTIF Winahyu Arif Wicaksono, Moh Salimi, Imam Suyanto Universitas Sebelas Maret [email protected] Abstrak Model berpikir
ASESMEN PENDIDIKAN IPA Nuryani Y. Rustaman
ASESMEN PENDIDIKAN IPA Nuryani Y. Rustaman Tujuan: Mampu memahami pengetahuan (deklaratif dan prosedural) tentang asesmen pendidikan lpa, khususnya dimensi proses kognitif, keterampilan proses sains, literasi
TAKSONOMI BLOOM REVISI RANAH KOGNITIF: KERANGKA LANDASAN UNTUK PEMBELAJARAN, PENGAJARAN, DAN PENILAIAN. Imam Gunawan * Anggarini Retno Palupi **
TAKSONOMI BLOOM REVISI RANAH KOGNITIF: KERANGKA LANDASAN UNTUK PEMBELAJARAN, PENGAJARAN, DAN PENILAIAN Imam Gunawan * Anggarini Retno Palupi ** Abstract The Cognitive domain of Bloom s taxonomy often serves
ANALISIS PERTANYAAN GURU DAN PERANANNYA DALAM PENGEMBANGAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
ANALISIS PERTANYAAN GURU DAN PERANANNYA DALAM PENGEMBANGAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Desak Made Citrawathi 1* (1 * Dosen Jurusan Pendidikan Biologi, FMIPA Universitas Pendidikan
Kurikulum Berbasis TIK
PENGEMBANGAN TUJUAN KURIKULUM Tujuan pendidikan menjadi arah semua kegiatan pendidikan termasuk dalam pengembangan kurikulum. Menetapkan dan mengembangkan tujuan merupakan langkah awal dalam mengembangkan
Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Mahasiswa Calon Guru Dalam Mengajukan Masalah Matematika Sekolah
Jurnal UJMC, Volume 4, Nomor 1, Hal. 19-26 pissn : 2460-3333 eissn : 2579-907X Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Mahasiswa Calon Guru Dalam Mengajukan Masalah Matematika Sekolah Siti Nuriyatin 1, Soffil
LEVEL KOGNITIF SOAL PADA BUKU TEKS MATEMATIKA KURIKULUM 2013 KELAS VII UNTUK PENDIDIKAN MENENGAH. Intan Sari Rufiana Universitas Muhammadiyah Ponorogo
LEVEL KOGNITIF SOAL PADA BUKU TEKS MATEMATIKA KURIKULUM 2013 KELAS VII UNTUK PENDIDIKAN MENENGAH Intan Sari Rufiana Universitas Muhammadiyah Ponorogo Email: [email protected] Abstrak Penelitian ini
TINJAUAN PUSTAKA. dan Ely (dalam Arsyad, 2000: 3) mengatakan bahwa media apabila dipahami
8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Media Kartu Bergambar Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar (Arsyad, 2000:3). Secara lebih jelas Gerald dan
Untuk Guru-guru MTs-DEPAG
Evaluasi Pembelajaran Fisika Untuk Guru-guru MTs-DEPAG I. Deskripsi Mata kuliah ini difokuskan untuk lebih memantapkan guru Fisika MTs agar lebih kompeten dalam merencanakan, membuat dan menganalisis asesmen.
BAB II KAJIAN TEORI. A. Kemampuan Representasi Matematis. solusi dari masalah yang sedang dihadapinya (NCTM, 2000).
BAB II KAJIAN TEORI A. Kemampuan Representasi Matematis Representasi adalah suatu konfigurasi (bentuk atau susunan) yang dapat menggambarkan, mewakili atau melambangkan sesuatu dalam suatu cara (Goldin,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bagaimana seseorang mengetahui fenomena-fenomena yang terjadi di dunia bergantung pada bahasa yang dimilikinya untuk merepresentasikan fenomena-fenomena tersebut.
Revisi Taksonomi Pembelajaran Bloom. Pertemuan 3-6
+ Revisi Taksonomi Pembelajaran Bloom Pertemuan 3-6 + Jadwal Presentasi! Pertemeuan 3 - Kelompok 1: Bab 1-2! Pertemuan 4 -Kelompok 2: bab 3! Pertemuan 5 - Kelompok 3 & 4 : bab 4 & bab 5! Pertemuan 6 -
PENERAPAN METODE EKSPERIMEN TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP SISWA KELAS VPADA MATERI GAYA DAN PEMANFATANNYA. Yuyu Hendawati 1, Cici Kurniati 2
PENERAPAN METODE EKSPERIMEN TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP SISWA KELAS VPADA MATERI GAYA DAN PEMANFATANNYA Yuyu Hendawati 1, Cici Kurniati 2 [email protected], [email protected] ABSTRAK Penelitian
TINGKAT BERPIKIR KOGNITIF MAHASISWA BERDASARKAN BENTUK PERTANYAAN PADA MATA KULIAH BIOLOGI UMUM
SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN SAINS Strategi Pengembangan Pembelajaran dan Penelitian Sains untuk Mengasah Keterampilan Abad 21 (Creativity and Universitas Sebelas Maret Surakarta, 26 Oktober 2017 TINGKAT
KEMAMPUAN ANALISIS MAHASISWA PGSD TERHADAP TUJUAN PEMBELAJARAN DIMENSI KOGNITIF PADA MATA KULIAH PERENCANAAN PEMBELAJARAN SD
KEMAMPUAN ANALISIS MAHASISWA PGSD TERHADAP TUJUAN PEMBELAJARAN DIMENSI KOGNITIF PADA MATA KULIAH PERENCANAAN PEMBELAJARAN SD Via Yustitia [email protected] Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar,
ANALISIS TINGKAT KOGNITIF SISWA SMP DENGAN KEMAMPUAN RENDAH BERDASARKAN TAKSONOMI REVISI BLOOM PADA PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA
ANALISIS TINGKAT KOGNITIF SISWA SMP DENGAN KEMAMPUAN RENDAH BERDASARKAN TAKSONOMI REVISI BLOOM PADA PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA 1) Teguh Wibowo, 2) Riawan Yudi Purwoko, 3) Wiwit Hermansyah 1) Pendidikan
II. TINJAUAN PUSTAKA. peningkatan lingkungan belajar bagi siswa. Agar proses belajar. media pembelajaran, khususnya penggunaan komputer.
6 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoretis 1. Simulasi Dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran perlu adanya usaha peningkatan lingkungan belajar bagi siswa. Agar proses belajar mengajar terlaksana
PEMBELAJARAN TEMATIK DAN BERMAKNA DALAM PERSPEKTIF REVISI TAKSONOMI BLOOM
PEMBELAJARAN TEMATIK DAN BERMAKNA DALAM PERSPEKTIF REVISI TAKSONOMI BLOOM Nur Fajriana Wahyu Ardiani, Nanda Adi Guna, Reni Novitasari, dan Ridwan Prihantono Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan FKIP
2016 PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ARGUMENT-BASED SCIENCE INQUIRY (ABSI) TERHADAP KEMAMPUAN MEMAHAMI DAN KEMAMPUAN BERARGUMENTASI SISWA SMA
1 A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Fisika merupakan bagian dari rumpun ilmu dalam Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Mempelajari fisika sama halnya dengan mempelajari IPA dimana dalam mempelajarinya tidak
II. TINJAUAN PUSTAKA. transferbilitas (kemampuan memindahkan) prinsip-prinsip yang dipelajari.
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Efektivitas Pembelajaran Suatu cara untuk mengukur efektivitas adalah dengan jalan menentukan transferbilitas (kemampuan memindahkan) prinsip-prinsip yang dipelajari. Jika kemampuan
PENGETAHUAN METAKOGNITIF UNTUK PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK
PENGETAHUAN METAKOGNITIF UNTUK PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK Endang Indarini, Tri Sadono, dan Maria Evangeli Onate Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan FKIP Universitas Kristen Satya Wacana ABSTRAK Tulisan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Taksonomi Anderson yang merupakan revisi dari Taksonomi Bloom.
10 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Teoritis 2.1 Pemahaman Guru Pemahaman merupakan salah satu bagian daripada domain kognitif dari Taksonomi Anderson yang merupakan revisi dari Taksonomi Bloom. Menurut
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Agung Firmansyah, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu tujuan penting dari kegiatan pembelajaran adalah memberdayakan potensi yang dimiliki oleh peserta didik sehingga menjadi manusia yang berkualitas. Hal ini
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP FISIKA POKOK BAHASAN BUNYI PESERTA DIDIK MTS AL-HIKMAH BANDAR LAMPUNG
P-ISSN: 2303-1832 Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al-BiRuNi 04 (2) (2015) 165-177 165 E-ISSN: 2503-023X https://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/al-biruni/index 10 2015 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF
II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan salah metode yang sering
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Metode Inkuiri Terbimbing Pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan salah metode yang sering digunakan oleh para guru. Khususnya pembelajaran biologi, ini disebabkan karena kesesuaian
BAB II LANDASAN TEORI. materi, mind mapping dan hubungan diantara mind mapping dengan pemahaman
BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan diuraikan teori yang menjelaskan tentang pemahaman materi, mind mapping dan hubungan diantara mind mapping dengan pemahaman materi. A. PEMAHAMAN MATERI 1. Definisi
Taksonomi Bloom (Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotor) serta Identifikasi Permasalahan Pendidikan di Indonesia
Taksonomi Bloom (Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotor) serta Identifikasi Permasalahan Pendidikan di Indonesia Taksonomi Bloom 1. Ranah Kognitif Ranah ini meliputi kemampuan menyatakan kembali konsep
ACUAN PENGEMBANGAN INDIKATOR PENCAPAIAN DALAM SILABUS
ACUAN PENGEMBANGAN INDIKATOR PENCAPAIAN DALAM SILABUS Mekanisme Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Analisis SI/SKL/ SK-KD Indikator Alokasi Waktu Penilaian Sumber/ Bahan Pengembangan Indikator Indikator
KISI-KISI MATERI PLPG MATA PELAJARAN BIOLOGI
1 KISI-KISI MATERI PLPG MATA PELAJARAN BIOLOGI Standar Guru (SKG Inti Guru Mata 1 Pedagogi 1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual, sosial, kultural, emosional, dan
2014 PEMBELAJARAN FISIOLOGI TUMBUHAN TERINTEGRASI STRUKTUR TUMBUHAN BERBASIS KERANGKA INSTRUKSIONAL MARZANO UNTUK MENURUNKAN BEBAN KOGNITIF MAHASISWA
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan bertujuan untuk mendapatkan mutu sumber daya manusia sesuai dengan tuntutan kebutuhan pembangunan. Pendukung utama terlaksananya sasaran pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terbuka, artinya setiap orang akan lebih mudah dalam mengakses informasi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan teknologi dan era globalisasi yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di dunia yang terbuka,
PROFIL JENIS PERTANYAAN SISWA SMA BERDASARKAN TAKSONOMI BLOOM REVISI
PROFIL JENIS PERTANYAAN SISWA SMA BERDASARKAN TAKSONOMI BLOOM REVISI Lissa Universitas Wiralodra e-mail: [email protected] p-issn: 2338-4387 e-issn: 2580-3247 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
BAB I PENDAHULUAN. menumbuhkembangkan kemampuan dan pribadi siswa yang sejalan dengan tuntutan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika adalah salah satu ilmu dasar yang sangat berperan penting dalam upaya penguasaan ilmu dan teknologi. Oleh karena itu matematika dipelajari pada semua
HOTS (High Order Thinking Skills) dan Kaitannya dengan Kemampuan Literasi Matematika
PRISMA 1 (2018) https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/prisma/ HOTS (High Order Thinking Skills) dan Kaitannya dengan Kemampuan Literasi Matematika Husna Nur Dinni Program Pascasarjana, Univeritas Negeri
SILABUS EVALUASI PEMBELAJARAN. Diperiksa Oleh : Dr. H. Saefudin, M.Si. (Ketua Program Studi Pend. Biologi)
FPMIPA SILABUS EVALUASI PEMBELAJARAN No. Dok. : FPMIPA-BI-SL-04 Revisi : 00 Tanggal : 2 Agustus 2010 Halaman : 1 dari 3 Dibuat Oleh : Diperiksa Oleh : Disetujui Oleh : Prof.Dr. Hj. Nuryani Rustaman, MPd.
ANALISIS KEBUTUHAN INSTRUMEN PENILAIAN BERBASIS TAKSONOMI THE STRUCTURE OF OBSERVED LEARNING OUTCOME PADA MATERI KONSEP LARUTAN PENYANGGA
SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN SAINS Strategi Pengembangan Pembelajaran dan Penelitian Sains untuk Mengasah Keterampilan Abad 21 (Creativity and Universitas Sebelas Maret Surakarta, 26 Oktober 2017 ANALISIS
PENGERTIAN MATERI PEMBELAJARAN JENIS-JENIS MATERI PEMBELAJARAN
Isi Panduan 1 2 3 4 PENGERTIAN MATERI PEMBELAJARAN JENIS-JENIS MATERI PEMBELAJARAN PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN MATERI PEMBELAJARAN a. Penentuan Cakupan Dan Urutan Materi b. Penentuan Sumber Materi Pembelajaran
INDENTIFIKASI INDIKATOR KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATEMATIKA BERJENJANG PADA TIAP-TIAP JENJANGNYA
INDENTIFIKASI INDIKATOR KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATEMATIKA BERJENJANG PADA TIAP-TIAP JENJANGNYA Sudi Prayitno, St. Suwarsono, dan Tatag Yuli Eko Siswono Mahasiswa
II. TINJAUAN PUSTAKA. pembelajaran siswa pada masalah yang nyata sehingga siswa dapat menyusun
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Problem Based Learning Model pembelajaran PBL merupakan model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah yang nyata sehingga siswa dapat menyusun
EduSains Volume 1 Nomor 2 ISSN
PERUMUSAN TUJUAN PEMBELAJARAN DAN SOAL KOGNITIF BERORIENTASI PADA REVISI TAKSONOMI BLOOM DALAM PEMBELAJARAN FISIKA FORMULATION OF LEARNING OBJECTIVES AND COGNITIVE PROBLEM IN BLOOM TAXONOMY REVISION ORIENTED
PENGEMBANGAN KETERAMPILAN PROSES MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN BIOLOGICAL SCIENCE CURRICULUM STUDY (BSCS)
PENGEMBANGAN KETERAMPILAN PROSES MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN BIOLOGICAL SCIENCE CURRICULUM STUDY (BSCS) Oleh: Hadi Suseno M. Badrus (Institut Agama Islam Tribakti Kediri) Abstrak : Tujuan tulisan ini
KEMAMPUAN BERPIKIR MATEMATIS MAHASISWA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH GEOMETRI. Rizki Amalia
EDU-MAT Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 4, Nomor 2, Oktober 2016, hlm 118-125 KEMAMPUAN BERPIKIR MATEMATIS MAHASISWA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH GEOMETRI Rizki Amalia Program Studi Pendidikan Matematika
KONSEP PENILAIAN AUTENTIK PADA PROSES DAN HASIL BELAJAR
KONSEP PENILAIAN AUTENTIK PADA PROSES DAN HASIL BELAJAR PPT 2.3 BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN A.
IPA DAN PEMBELAJARAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI (Telaah Buku Siswa SD Kelas IV Tema 3, Karya Much. Azam, Dkk)
SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN SAINS Pengembangan Model dan Perangkat Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Magister Pendidikan Sains dan Doktor Pendidikan IPA FKIP UNS Surakarta,
ANALISIS KEMAMPUAN PENGETAHUAN KONSEPTUAL DAN PROSEDURAL SISWA SD DALAM POKOK BAHASAN PECAHAN
ANALISIS KEMAMPUAN PENGETAHUAN KONSEPTUAL DAN PROSEDURAL SISWA SD DALAM POKOK BAHASAN PECAHAN Yunni Arnidha Prodi PGSD STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Jl. Makam KH. Ghalib No 112 Pringsewu Lampung
TAKSONOMI BLOOM MAKALAH (disusun guna memenuhi mata kuliah Strategi Belajar Mengajar) oleh : Rina Asih Niasari NIM
TAKSONOMI BLOOM MAKALAH (disusun guna memenuhi mata kuliah Strategi Belajar Mengajar) oleh : Rina Asih Niasari NIM 110210302062 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
