DAFTAR PUSTAKA. Bahorich, M. dan Farmer, S., 1995, 3-D Seismic Discontinuity for Fault and

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DAFTAR PUSTAKA. Bahorich, M. dan Farmer, S., 1995, 3-D Seismic Discontinuity for Fault and"

Transkripsi

1 83 DAFTAR PUSTAKA Bahorich, M. dan Farmer, S., 1995, 3-D Seismic Discontinuity for Fault and Stratigraphic Features : The Coherence Cube, The Leading Edge, Volume 14, hal Brown, A. R Interpretation of Three-Dimensional Seismic Data. 5 th ed. AAPG Memoir 42. Tulsa: American Association of Petroleum Geologists. Chopra, S., Pickford, S. dan Alberta, C., 2001, Integrating Coherence Cube Imaging anf Seismic Inversion, The Leading Edge, hal Gerzternkorn, A. dan Marfurt, K. J., 1999, Eigenstructure-based Coherence Computations as an Aid to 3-D Structural and Stratigraphic Mapping, Geophysics, Volume 64, hal Krisnandya, A Studi sekuen Stratigrafi untuk Menetukan Penyebaran Reservoar berdasarkan Data Log dan Seismik Lapangan Maya Formasi Cibulakan Atas Cekungan Jawa Barat Utara. Skripsi Jurusan Teknik Geologi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogjakarta. Neidell, N. S. Dan Tanell, T., June 1971, Semblance and Other Coherency Measures for Multhichannel Data, Geophysics, Volume 36, hal

2 84 Partyka, G., James G., and John L. Interpretational Application of Spectral Decomposition. Amoco Production Company. Sheriff, R. E., dan L. P. Geldart Exploration Seismology. 2 nd ed. Cambridge University Press. Sukmono, Sigit Interpretasi Seismik Refleksi. Bandung: Jurusan Teknik Geofisika ITB. Sukmono, S., 2002, Seismic Attributes for Reservoir Characterization, Teknik Geofisika ITB Telford, Geldart and Sheriff Applied Geophysics. 2 nd ed. Cambridge University Press Yilmaz, O Seismic Data Analysis, Processing, Inversion, and Interpretation of Seismic Data. 2 nd ed. Tulsa: Society of Exploration Geophysicists.

3 85 LAMPIRAN A GEOLOGI REGIONAL DATA PENELITIAN: CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA Dikutip dari Krisnandya (2006), menurut Pertamina (1994), Cekungan Jawa Barat berbatasan langsung dengan Cekungan Jawa Timur, dimana antara Cekungan Jawa Barat dan Jawa Timur dipisahkan oleh Punggungan Karimun Jawa sejak kala Eosen hingga sekarang. Peneliti terdahulu banyak melakukan studi di Cekungan Jawa Barat, terutama sejak diketemukannya beberapa lapangan minyak di beberapa sub cekungannya. Akibat letaknya yang berada pada pola busur penunjaman dari waktu ke waktu ternyata Cekungan Jawa Barat telah mengalami beberapa kali fase sedimentasi dan tektonik. Menurut Pertamina (1994) pula, Cekungan Jawa Barat Utara terletak di antara Paparan Sunda di bagian utara, jalur perlipatan Bogor di selatan, daerah pengangkatan Karimun Jawa di timur dan Paparan Pulau Seribu di barat. Cekungan Jawa Barat Utara ini dikenal pula sebagai Hidrokarbon Province. Cekungan Jawa Barat Utara terdiri dari tiga sub cekungan dari barat ke timur, yaitu sub Cekungan Ciputat, sub Cekungan Pasir Putih dan sub Cekungan Jatibarang. Masing-masing sub cekungan tersebut dipisahkan oleh tinggian. Tinggian Rengasdengklok memisahkan sub Cekungan Ciputat dengan sub Cekungan Pasir Putih. Tinggian Pamanukan dan Tinggian Kadanghaur memisahkan sub Cekungan Pasir Putih dengan sub Cekungan

4 86 Jatibarang. Konfigurasi sub cekungan dan tinggian-tinggian ini sangat mempengaruhi penyebaran batuan sedimen Tersier, baik sebagai batuan induk maupun sebagai batuan reservoir. Sistem patahan blok terbentuk selama orogenesa Kapur Tengah hingga awal Paleosen dan diperkirakan mengontrol struktur Tersier di Cekungan Jawa Barat Utara. Adanya perbedaan pergerakan blok-blok selama masa pengendapan membentuk ketebalan sedimen yang berbeda-beda. Umumnya patahanpatahan memotong sedimen-sedimen akhir Miosen. (Gambar A.1) U ARJUNA BASIN J A W A JAKARTA A Tangerang- Jatinegara High CIPUTAT LOW Rengasdengklok High Ciputat SUB BASIN CIPUTAT Kepuh BOGOR TROUGH CLU High SUB BASIN PASIR PUTIH Pamanukan High Pasirbungur KEPUH LOW Tinggian Kandanghaur-Gantar North Cemara Jatibarang JATIBARANG Babadan Cirebon B Tinggian Arjawinangun L A U T J A W A JATIBARANG LOW CIPUNEGARA LOW SEMARANG A SUBCEKUNGAN CIPUTAT D. C i p u t a t Tangerang - Jatinegara Build-up carbonat Parigi T. Rengasdengklok Formasi Cisubuh SUBCEKUNGAN PASIR PUTIH T. D. T. D. Cilamaya Pasirbungur Pamanukan Cipunegara D. Kepuh Build up Carbonate Parigi - T. K. Haur - Gantar Formasi Cisubuh SUBCEKUNGAN JATIBARANG D. Jatibarang - Babadan T. Arjawinangun B Baturaja TAF Basement TAF CIPUTAT LOW KEPUH LOW CIPUNEGARA LOW JATIBARANG LOW VolkanikJatibarang wid/tt Jabarut /03/99 ( Revisi Okt. 2000) Gambar A.1. Paleografi Jawa Barat Kala Miosen Awal -Tengah (Martodjojo,1984, dalam Hapsari, 2004)

5 87 A.1. Kerangka Tektonik Regional Menurut Martodjodjo (1989) (dalam Hapsari, 2004), pada permulaan Paleogen (Eosen Oligosen), Cekungan Jawa Barat mengalami proses tektonik regangan dengan pola sesar berarah utara-selatan yang berupa sesar-sesar normal, dimana pola sesar tersebut dinamakan sebagai pola Sesar Sunda (Sunda Fault) yang sangat sesuai dengan sistem sesar naik yang berada di belakang busur volkanik di Sirkum Pasifik yang disebut sebagai Thrust Fold Belt System. Perkembangan pola sesar naik dibuktikan dengan berdasarkan pada penyebaran umur endapan turbidit yang makin muda ke arah utara, sehingga diambil kesimpulan bahwa Cekungan Jawa Barat yang semula diduga sebagai cekungan yang berkedudukan tetap, ternyata terus berpindah dari selatan ke arah utara dan akibatnya terjadi perkembangan pola sesar naik yang sesuai dengan pola sesar yang sering terjadi di back arc basin. Perpindahan Cekungan Jawa Barat ini juga dikomplikasikan dengan timbulnya deretan jalur magmatis baru pada umur Plio Pleistosen yang ditempati oleh jalur gunungapi aktif di sepanjang Pulau Jawa sampai sekarang (Martodjodjo,1989 dalam Hapsari, 2004). Cekungan Jawa Barat Utara sangat dipengaruhi dengan adanya sesar bongkah berarah kurang lebih utara selatan yang sangat berperan sebagai pembentuk arah cekungan dan pola sedimentasi. Penurunan daerah cekungan terus berlangsung dengan lautan yang menutupi seluruh daerah lereng cekungan sebelah selatan melalui jalur-jalur yang terletak di antara bongkah-bongkah tektonik yang tinggi posisinya dan yang

6 88 memisahkan bagian-bagian cekungan yang lebih kecil. Denudasi dan gerak penurunan berlangsung terus, genang laut Miosen menutupi seluruh Cekungan Sunda dan mengendapkan sedimen-sedimen klastik yang halus dari Formasi Cibulakan. Dengan terisinya bagian-bagian cekungan maka terbentuk suatu permukaan endapan yang datar dengan pengangkatan-pengangkatan lemah di kawasan pinggir dan menurunnya permukaan laut yang menghasilkan susut laut secara regional dan pengendapan sedimen klastik yang berbutir lebih kasar serta batugamping dari Formasi Parigi. Susut laut ini diakhiri oleh suatu genang laut utama pada bagian akhir kala Miosen Tengah, yaitu pada saat diendapkannya batulempung asal laut dan batupasir dari Formasi Cisubuh. Selama genang laut yang kedua ini telah terjadi hubungan antar daerah Cekungan Sunda dan daerah Cekungan Sumatra Selatan. Susut laut yang terakhir berlangsung selama kala Pleistosen sehingga menyebabkan kondisi marine yang dijumpai dewasa ini. Cekungan Jawa Barat Utara telah terbukti sebagai cekungan minyak bumi yang potensial. Kegiatan eksplorasi secara aktif telah dilakukan di Cekungan Jawa Barat Utara dimana telah terjadi penemuan-penemuan terutama pada strukturstruktur antiklin. Lapisan-lapisan utama yang berproduksi adalah batupasir dari Formasi Talang Akar dan Formasi Cibulakan, selain batugamping dari Formasi Baturaja dan Formasi Parigi yang juga memproduksi minyak dan gas bumi. Suatu hal yang menarik ialah bahwa di kawasan daratan juga telah diproduksi minyak bumi dari batuan tuffa volkanik dan breksi dari Formasi Jatibarang. Secara tektonik, sejarah cekungan Jawa Barat Utara tidak terlepas dari tektonik global Indonesia Bagian Barat dimana tatanan tektoniknya berupa sistem active

7 89 margin, antara Lempeng Hindia dengan Lempeng Asia. Sistem ini dicirikan dengan adanya zona subduksi (penunjaman) dan busur magmatik. Perkembangan tektonik Cekungan Jawa Barat Utara selama Tersier dapat dipisahkan menjadi 3 fase tektonik (Pertamina, 1994), yaitu: 1. Fase pembentukan cekungan (Eosen hingga Miosen Awal). 2. Fase orogenesa (uplift/subsidence) (Miosen Awal - Miosen Akhir). 3. Fase kompresi pada Plio-Pleistosen. Pada waktu Eosen Miosen Awal, Jawa Barat Utara mengalami sesar geser yang pada akhirnya membentuk cekungan ini sebagai pull apart basin. Pada fase ini terjadi proses rifting dan membentuk sesar-sesar bongkah (half graben system) dengan arah Utara-Selatan. Half graben system membentuk daerah Tinggian Pamanukan, Rendahan Ciputat, Rendahan Pasir Putih, Rendahan Jatibarang, dan Rendahan Cemara. Struktur sesar tua (Eosen Miosen Awal) yang berarah Utara-Selatan sangat berkembang di daerah offshore (terutama di Cekungan Sunda). Sedangkan ke arah onshore (terutama daerah lapangan yang dikelola oleh PT. Pertamina), selain sesar Utara-Selatan berpengaruh pula sesar-sesar NE-SW. Sesar-sesar yang tua ini berperan dalam pembentukan batuan induk hidrokarbon (source rocks), dan mengontrol batuan reservoir Formasi Talangakar dan batugamping Formasi Baturaja.

8 90 Proses tektonik terus berlanjut dengan terjadinya proses uplift/subsidence pada Kala Miosen Awal Miosen Akhir. Sesar yang berkembang pada fase ini membentuk daerah yang naik dan turun. Daerah tinggian bisa semakin tinggi atau daerah rendahan semakin dalam, sehingga pada fase ini terbentuk Tinggian Rengasdengklok, Tinggian Cimalaya dan Rendahan Kandanghaur. Proses ini akan menyebabkan batuan induk hidrokarbon berada semakin dalam sehingga menambah derajat kematangan, sedangkan daerah yang semakin meninggi akan berfungsi sebagai perangkap. Sesar yang berarah Barat-Timur berupa sesar anjakan lipatan, berumur paling muda, terjadi pada fase kompresi, dan pada umumnya berkembang di Zona Bogor. Proses kompresi tersebut secara regional menyebabkan Cekungan Jawa Barat Utara ini cenderung miring ke Selatan. Kondisi seperti ini akan berdampak pada perubahan migrasi dan jebakan hidrokarbon, selain menambah cebakan baru, dapat juga mengubah perangkap lama.

9 Gambar A.2. Penampang Tektonik Cekungan Jawa Barat Utara (Pertamina, 1994) 91

10 92 Time slice LAMPIRAN B TAMPILAN HASIL COHERENCE CUBE 1540 ms 1552 ms 1564 ms 1576 ms