Volume 1, Nomor 2, Maret 2015

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Volume 1, Nomor 2, Maret 2015"

Transkripsi

1 Volume 1, Nomor 2, Maret 2015 Penerapan Metode Forward Chaining untuk Mendeteksi Penyakit THT Wiwi Verina Analisis Kinerja Algoritma Fuzzy C-Means dan K-Means pada Data Kemiskinan Aniq Noviciatie Ulfah, Shofwatul Uyun Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Rekam Medis Pada Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya Fransiska Prihatini Sihotang Sistem Informasi Pemakaian Sparepart Mesin Packing pada PT XYZ Triana Elizabeth, Stephanie Darmawan H Perancangan Prototipe Sistem Pemesanan Makanan dan Minuman Menggunakan Mobile Devices Sandy Kosasi Perancangan Clinical Information System (CIS) Pada Instalasi Rawat Jalan di Rumah Sakit ABC Desi Pibriana Analisis dan Perancangan Iklan Rekrutmen Mahasiswa Baru STMIK Potensi Utama Medan Soeheri, M.Suyanto, Amir Fatah Sofyan Perancangan Sistem Informasi Kehadiran Dosen Mengajar pada Universitas XYZ Arif Yulianto Implementasi Algoritma Genetika pada Penjadwalan Job Shop Fithri Selva Jumeilah Analis, Perancangan, dan Implementasi Sistem Informasi Perhitungan Gaji Berbasis Aktivitas (Studi Kasus :PT Kembang Djawa Makassar) Aprizal, Mirfan JATISI Volume 1 Nomor 2 Halaman

2 VOLUME 1 NOMOR 2, MARET 2015 JURNAL TEKNIK INFORMATIKA DAN SISTEM INFORMASI (JATISI) Terbit dua kali setahun pada bulan Maret dan September, Jurnal Teknik Informatika dan Sistem Informasi (JATISI) merupakan media penyampaian hasil penelitian untuk semua bidang yang ada pada rumpun teknik informatika dan sistem informasi, diharapkan hasil penelitian yang ada pada jurnal ini dapat menjadi penghubung antara peneliti dan pihak yang berkepentingan. ISSN , diterbitkan pertama kali pada tahun 2014 KETUA PENYUNTING Gasim DEWAN PENYUNTING Kudang Boro Seminar Gasim Djoko Soetarno STAF AHLI (MITRA BESTARI) Achmad Benny Mutiara Agus Harjoko Iping Supriana Suwardi Joko Lianto Buliali Yani Nurhadryani TATA USAHA Yulizar Kasih Rizani Teguh Sudiadi PENANGGUNG JAWAB Ketua STMIK Global Informatika MDP, Ir. Rusbandi, M.Eng. PENERBIT Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) STMIK Global Informatika MDP bekerjasama dengan IndoCEISS (Indonesian Computer, Electronics and Instrumentation Support Society) ALAMAT PENYUNTING & TATA USAHA Gedung STMIK GI MDP, Jalan Rajawali No. 14 Palembang Telp , Fax , Website : BERLANGGANAN Langganan dapat dilakukan dengan pemesanan untuk minimal 2 edisi (1 tahun) Rp ,- ditambah ongkos kirim.

3 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret 2015 DAFTAR ISI Penerapan Metode Forward Chaining untuk Mendeteksi Penyakit THT Wiwi Verina Analisis Kinerja Algoritma Fuzzy C-Means dan K-Means pada Data Kemiskinan Aniq Noviciatie Ulfah, Shofwatul Uyun Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Rekam Medis Pada Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya Fransiska Prihatini Sihotang Sistem Informasi Pemakaian Sparepart Mesin Packing pada PT XYZ Triana Elizabeth, Stephanie Darmawan H Perancangan Prototipe Sistem Pemesanan Makanan dan Minuman Menggunakan Mobile Devices Sandy Kosasi Perancangan Clinical Information System (CIS) Pada Instalasi Rawat Jalan di Rumah Sakit ABC Desi Pibriana Analisis dan Perancangan Iklan Rekrutmen Mahasiswa Baru STMIK Potensi Utama Medan Soeheri, M.Suyanto, Amir Fatah Sofyan Perancangan Sistem Informasi Kehadiran Dosen Mengajar pada Universitas XYZ Arif Yulianto Implementasi Algoritma Genetika pada Penjadwalan Job Shop Fithri Selva Jumeilah Analis, Perancangan, dan Implementasi Sistem Informasi Perhitungan Gaji Berbasis Aktivitas (Studi Kasus :PT Kembang Djawa Makassar) Aprizal, Mirfan Biodata Penulis 246 Indeks Penyunting/Mitra Bestari 249 Abstrak Volumen 1 Nomor Indeks Jurnal Volume 1 Nomor Pedoman Penulisan Makalah JATISI 257 Form Penilaian Reviewer 260

4 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Penerapan Metode Forward Chaining untuk Mendeteksi Penyakit THT Wiwi Verina Jurusan Teknik Informatika Universitas Potensi Utama Abstract Diseases Ear, Nose and Throathas become adisease that issuffered by the world community. ENT disease progression and higher, it is not accompanied by anumber of experts. In this case, an analysis should be doneto speed up the process of diagnosis. The refore it is necessary to use the expert system is a computer application that behaves like an expert. Expert system capable of solving problems that typically can only be solved by an expert using the knowledge base, facts and reasoning techniques. In this analysis using aforward chaining inference engine. In this approach, starting from the information entered and then draws conclusions, tracking the forefind facts in accordance with the IF-THEN rules. Based on the test system accuracy rate forward chaining method to detect ENT disease that is 100%, which according to the data obtained from the ENT specialist to determine disease based on symptoms exist. Keywords: Expert System, Forward Chaining, Knowledge, THT Diseases, IF-THEN Abstrak Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokan telah menjadi suatu penyakit yang cukup banyak diderita oleh masyarakat dunia. Peningkatan penyakit THT yang semakin tinggi, tidak diiringi oleh jumlah tenaga ahli. Dalam hal ini perlu dilakukan sebuah analisa untuk mempercepat proses diagnosa. Oleh karena itu perlu menggunakan aplikasi sistem pakar yaitu aplikasi komputer yang berprilaku layaknya seorang ahli. Sistem pakar mampu memecahkan masalah yang biasanya hanya dapat dipecahkan oleh seorang pakar dengan menggunakan basis pengetahuan, fakta dan teknik penalaran. Dalam analisa ini menggunakan metode forward chaining sebagai mesin inferensi. Dalam pendekatan ini dimulai dari informasi masukkan dan selanjutnya menggambarkan kesimpulan, pelacakan kedepan mencari fakta yang sesuai dengan aturan IF-THEN. Berdasarkan pengujian sistem tingkat keakurasian metode forward chaining untuk mendeteksi penyakit THT yaitu 100%, dimana sesuai dengan data yang didapat dari pakar THT untuk menentukan penyakit berdasarkan gejala yang ada. Kata kunci : Sistem Pakar, Forward Chaining, Pengetahuan, Penyakit THT, IF-THEN

5 ISSN: ISSN : S 1. PENDAHULUAN aat ini penyakit Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT) telah menjadi suatu penyakit yang cukup banyak diderita oleh masyarakat dunia. Peningkatan penyakit THT yang semakin tinggi, tidak diiringi oleh jumlah tenaga ahliyang bertugas melakukan diagnosa atas seorang pasien yang diperkirakan menderita THT. Pasien disini adalah orang yang menerima perhatian atau perawatan kesehatan. Orang ini lebih sering yang mengalami sakit atau terluka dan butuh perawatan ahli medis, walaupun demikian seorang yang pergi ke seorang ahli untuk memeriksa diri rutin juga dapat di sebut sebagai pasien. Pasien juga adalah orang yang pergi ke rumah sakit, klinik atau fasilitas medis lainnya untuk diagnosa atau perawatan.penyakit THT adalah penyakit yang menyerang sekitar kepala yaitu telinga, hidung dan tenggorokan[1]. Penyakit telinga terdiri dari 11 jenis penyakit, hidung terdiri dari 8 jenis dan penyakit tenggorokan terdiri 17 jenis penyakit[1]. Karena letak penyakit saling berdekatan maka gejala yang timbul hampir sama tetapi yang membedakannya hanya gejala yang spesifik saja. Oleh sebab itu untuk mendiagnosa penyakit ini harus dilakukan dengan secara cermat dan teliti karena memakai pedoman gejala sebagai aturan. Hal tersebut menambah beban kerja tenaga ahli yang bertugas melakukan diagnosa atas seorang pasien yang diperkirakan menderita THT sehingga dengan permasalahan seperti ini sangat dibutuhkan sebuah sistem pakar yang dapat membantu dalam pemecahan masalah. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat segala bidang kehidupan manusia diwarnai dengan penerapan teknologi. Salah satu wujud nyata dari teknologi ini adalah penerapan sistem komputerisasi sebagai contoh kegiatan pengolahan data dengan menggunakan sistem terkomputerisasi adalah sistem pakar. Sistem Pakar adalah sebuah program aplikasi komputer yang berprilaku layaknya seorang ahli. Aplikasi yang digunakan biasa yaitu membantu mendiagnosa penyakit, kerusakan peralatan dan pengukuran data. Sistem pakar mampu memecahkanmasalah yang biasanya hanya dapat dipecahkan oleh seorang pakar dengan menggunakan pengetahuan, fakta dan teknik penalaran[2]. 2. LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Pakar Sistem pakar adalah sistem berbasis komputer yang menggunakan pengetahuan, fakta, dan teknik penalaran dalam memecahkan masalah yang biasanya hanya dapat dipecahkan oleh seorang pakar dalam bidang tersebut[5]. Istilah sistem pakar berasal dari knowlegde-based expert system. Istilah ini muncul karena untuk memecahkan masalah, sistem pakar menggunakan pengetahuan seorang pakar yang dimasukkan kedalam komputer. Seseorang yang bukan pakar menggunakan sistem pakar untuk meningkat kemampuan pemecahan masalah, sedangkan seorang pakar menggunakan sistem pakar untuk knowledge assistant[7]. Sistem pakar adalah suatu program komputer cerdas yang menggunakan knowledge(pengetahuan) dan prosedur inferensi untuk menyelesaikan masalah yang cukup sulit sehingga membutuhkan seorang yang ahli untuk menyelesaikannya[10]. Pengetahuan adalah sebuah kekuatan yang dapat memecahkan suatu masalah yang kita temui sehari-hari. Sistem pakar adalah program Artificial Intellenge yang menggabungkan pangkalan pengetahuan (knowledge base) dengan sistem inferensi[10]. Kecerdasan buatan atau Artificial Intellenge (AI) dapat didefinisikan sebagai sub bidang pengetahuan komputer yang khusus ditujukan untuk membuat software dan hardware yang sepenuhnya biasa menirukan beberapa fungsi otak manusia. Karena itu diharapkan komputer bisa membantu manusia didalam berbagai masalah yang sangat rumit[10]. JCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

6 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Struktur Sistem Pakar Sistem pakar disusun oleh dua bagian utama, yaitu lingkungan pengembangan (development environment) dan lingkungan konsultas (consultation environment)[3]. Lingkungan pengembangan sistem pakar digunakan untuk memasukan pengetahuan pakar ke dalam lingkungan sistem pakar. Komponen-komponen sistem pakar dalam dua bagian tersebut dapat dilihat pada Gambar 1. LINGKUNGAN KONSULTASI LINGKUNGAN PENGEMBANG Pemakai Fakta Tentang Kejadian tertentu Basis Pengetahuan Antar Muka Fasilitas Penjelasan Knowledge Engineer Aksi yang direkomendasikan Mesin Inferensi Pakar Akuisisi Pengetahuan Workplace Perbaikan Pengetahuan Gambar. 1 Struktur Sistem Pakar 2.2 Forward Chaining Forward Chaining adalah teknik pencarian yang dimulai dengan fakta yang diketahui, kemudian mencocokkan fakta-fakta tersebut dengan bagian IF dari rules IF-THEN. Bila ada fakta yang cocok dengan bagian IF, maka rule tersebut dieksekusi. Bila sebuah rule dieksekusi, maka sebuah fakta baru (bagian THEN) ditambahkan ke dalam database. Setiap kali pencocokan, dimulai dari rule teratas. Setiap rule hanya boleh dieksekusi sekali saja. Proses pencocokan berhenti bila tidak ada lagi rule yang bisa dieksekusi. Metode pencarian yang digunakan adalah Deptth-Firstf Search(DFS), Breadth-First Search(BFS) atau Best First Search[7]. pendekatan dalam pelacakan dimulai dari informasi masukan dan selanjutnya mencoba menggambarkan kesimpulan, pelacakan kedepan mencari fakta yang sesuai dengan bagian IF dari aturan IF-THEN. Dengan metode forward chaining dari pendekatan dan aturan yang telah dihasilkan dapat ditinjau oleh para ahli untuk diperbaiki atau dimodifikasi untuk memperoleh hasil yang lebih baik[3]. Metode Forward Chaining adalah metode pencarian atau teknik pelacakan ke depan yang dimulai dengan informasi yang ada dan penggabungan rule untuk menghasilkan suatu kesimpulan atau tujuan. Pelacakan maju ini sangat baik jika bekerja dengan permasalahan yang dimulai dengan rekaman informasi awal dan ingin dicapai penyelesaian akhir, karena seluruh proses akan dikerjakan secara berurutan maju. Berikut adalah diagram Forward Chaining secara umum untuk menghasilkan sebuah goal yang dapat dilihat pada Gambar 2[9]. Forward Chaining berarti menggunakan himpunan aturan kondisi-aksi. Dalam metode ini, data digunakan untuk menentukan aturan mana yang akan dijalankan, kemudian aturan tersebut dijalankan. Mungkin proses menambahkan data ke memori kerja. Proses diulang sampai ditemukan suatu hasil. Metode inferensi runut maju cocok digunakan untuk menangani masalah pengendalian (controlling) dan peramalan (prognosis) (Giarattano dan Riley, 1994).

7 ISSN: ISSN : Observasi A Observasi B Aturan R1 Aturan R2 Fakta Fakta Aturan R3 Fakta Aturan R2 Kesimpulan 2 Gambar. 2 Forward Chaining Untuk mempermudah pemahaman mengenai metode ini, akan diberikan ilustrasi kasus pembuatan sistem pakar dengan daftar aturannya sebagai berikut: R1: Jika Premis 1 Dan Premis 2 Dan Premis 3 Maka Konklusi 1 R2: Jika Premis 1 Dan Premis 3 Dan Premis 4 Maka Konklusi 2 R3: Jika Premis 2 Dan Premis 3 Dan Premis 5 Maka Konklusi 3 R4: Jika Premis 1 Dan Premis 4 Dan Premis 5 Dan Premis 6 Maka Konklusi 4 Penelusuran maju pada kasus ini adalah untuk mengetahui apakah suatu fakta yang dialami oleh pengguna itu termasuk konklusi 1, konklusi 2, konklusi 3, atau konklusi 4 atau bahkan bukan salah satu dari konklusi tersebut, yang artinya sistem belum mampu mengambil kesimpulan karena terbatas aturan. Seandainya user memilih premis 1, premis 2, dan premis 3, maka aturan yang terpilih adalah aturan R1 dengan konklusinya adalah konklusi 1. Seandainya user memilih premis 1 dan premis 6, maka sistem akan mengarah pada aturan R4 dengan konklusinya adalah konklusi 4, tetapi karena aturan tersebut premisnya adalah premis 1, premis 4, premis 5, dan premis 6, maka premis-premis yang dipilih oleh user tidak cukup untuk mengambil kesimpulan kzonklusi 4 sebagai konklusi terpilih[6]. 2.3 Search Engine (Mesin Pencarian) Pencarian atau pelacakan merupakan salah satu teknik untuk menyelesaikan permasalahan AI. Keberhasilan suatu sistem salah satunya ditentukan oleh kesuksesan dalam pencarian dan percocokan[2]. Metode inferensi yang digunakan dalam penelusuran masalah pada sistem pakar gangguan penyakit umum pada balita ini adalah forward chaining (penelusuran maju), metode forward chaining adalah strategi pencarian yang memulai proses pencarian dari sekumpulan data atau fakta, dari data-data tersebut dicari suatu kesimpulan yang menjadi solusi dari permasalahan yang dihadapi. Didalam menemukan solusinya dibutuhkan penyelesaian pada setiap tahapan, sebelum tahap yang satu selesai tidak dapat maju ke tahap berikutnya karena hal tersebut dapat berpengaruh dalam pencapaian solusinya[2]. Menurut Tim Penerbit Andi Tahun 2013 ada 3 teknik yang digunakan dalam proses pencarian yaitu [2]. 1. Depth First Search adalah teknik penelusuran data pada node-node secara vertikal dan sudah didefinisikan, misalnya drai kiri ke kanan. Keuntungan pencarian dengan teknik ini adalah bahwa penelusuran masalah dapat digali secara mendalam sampai di temukannya kepastian suatu solusi yang optimal. Kekurangan teknik penelusuran ini adalah membutuhkan waktu yang sangat lama untuk ruang lingkup masalah yang besar. 2. Breadth First Search adalah teknik penelusuran data pada semua node dalam suatu level atau satu tingkatan sebelum ke level atau tingkatan di bawahnya. Keuntungan pencarian dengan teknik ini adalah sama dengan Depth First Search, hanya saja penelusuran dengan teknik ini mempunyai nilai tambah, di mana semua node akan dicek secara menyeluruh pada setiap tingkatan node. Kekurangan teknik penelusuran ini terletak JCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

8 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret pada waktu yang dibutuhkan yang sangat lama apabila solusi berada dalam posisi node terakhir sehingga menjadi tidak efisien. Kekurangan dalam implementasi juga perlu dipertimbangan, misalnya teknik penelusuran menjadi tidak interaktif antara pemakai dan sistem karena menyebabkan tidak adanya relasi antara suatu topik dengan topik yang lain atau harus melompat dari suatu topik ke topik yang lain sebelumnya topik tersebut selain ditelusuri. 3. Best First Search adalah penelusuran yang menggunakan pengetahuan akan suatu masalah untuk melakukan panduan pencarian ke arah node tempat di mana solusi berada. Pencarian jenis ini dikenal juga sebagai heuristik. Pendekatan yang dilakukan adalah mencari solusi yang terbaik berdasarkan pengetahuan yang di miliki sehingga penelusuran dapat ditentukan harus bagaimana menggunakan proses terbaik untuk mencari solusi. Keuntungan jenis penelusuran ini adalah mengurangi beban komputasi karena hanya solusi yang memberikan harapan saja yang diuji dan akan berhenti apabila solusi sudah mendekati alternatif yang terbaik. 2.4 Telinga, Hidung, dan Tenggorokan Lokasi dan fungsi telinga, hidung dan tenggorokan (untuk selanjutnya disebut THT) berhubungan erat yang dihubungkan oleh saluran yang dinamakan saluran Eustachian tube. Oleh karena itu infeksi pada hidung dapat menyebar ke tenggorokan dan sebaliknya. Kelainan pada organ-organ tersebut didiagnosis dan diobati oleh dokter spesialis THT[11]. Telinga merupakan organ untuk pendengaran dan keseimbangan, yang terdiri dari telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga luar menangkap gelombang suara yang diubah menjadi energi mekanis oleh telinga tengah. Telinga tengah mengubah energi mekanis menjadi gelombang saraf, yang kemudian dihantarkan ke otak. Telinga dalam juga membantu menjaga keseimbangan tubuh [1] Hidung merupakan organ penciuman dan jalan utama keluar-masuknya udara dari dan ke paru-paru. Hidung juga memberikan tambahan resonansi pada suara dan merupakan tempat bermuaranya sinus paranasalis dan saluran air mata. Hidung bagian atas terdiri dari tulang dan hidung bagian bawah terdiri dari tulang rawan (kartilago). Rongga hidung dilapisi oleh selaput lendir dan pembuluh darah. Sel-sel pada selaput lendir menghasilkan lendir dan memiliki tonjolantonjolan kecil seperti rambut (silia). Hampir seluruh permukaan hidung memiliki silia dan berlendir. Sinus paranasalis tulang di sekitar hidung terdiri dari sinus paranasalis, yang merupakan ruang berongga dengan lubang yang mengarah ke rongga hidung [11]. Tenggorokan (faring) terletak di belakang mulut, di bawah rongga hidung dan diatas kerongkongan dan tabung udara (trakea). Tenggorokan terbagi menjadi tiga bagian, atas, tengah dan bawah. Tenggorokan merupakan saluran berotot tempat jalannya makanan ke kerongkongan dan tempat jalannya udara ke paru-paru. Tenggorokan dilapisi oleh selaput lendir yang terdiri dari sel-sel penghasil lendir dan silia. Tonsil (amandel) terletak di mulut bagian belakang, sedangkan adenoid terletak di rongga hidung bagian belakang. Tonsil dan adenoid terdiri dari jaringan getah bening dan membantu melawan infeksi. Pada puncak trakea terdapat kotak suara (laring), yang mengandung pita suara dan berfungsi menghasilkan suara. Epiglotis merupakan suatu lembaran yang terutama terdiri dari kartilago dan terletak di atas serta di depan laring. Selama menelan, epiglotis menutup untuk mencegah masuknya makanan dan cairan ke dalam trakea[11]. 3. METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian dan kerangka kerja penelitian yang digunakan dalam penyelesaian aplikasi sistem pakar ini. Kerangka kerja ini merupakan langkah-langkah yang

9 ISSN: ISSN : akan dilakukan dalam rangka penyelesaian masalah yang akan dibahas. Adapun kerangka kerja dari penelitian ini dapat disajikan pada Gambar 3. Mengidentifikasi Masalah Menganalisa Masalah Menentukan Tujuan Studi Literatur Mengumpulkan Data Menganalisa Metode Forward Chaining Desain Sistem Implementasi Sistem Pengujian Sistem Gambar 3. Kerangka Kerja Penelitian Berdasarkan kerangka kerja pada Gambar 3 dimulai dengan mengidentifikasikan masalah yaitu memperhatikan gejala-gejala penyakit THT dan pemilihan akuisisi pengetahuan. Selanjutnya menganalisa masalah dalam melakukan analisa masalah peneliti melakukan beberapa cara dan metode di antaranya metode deskriptif. Pada metode ini data yang akan dikumpulkan, disusun, dikelompokkan, dianalisa sehingga diperoleh beberapa gambaran yang jelas pada masalah penelitian. Kemudian menetapkan tujuan, studi literatur dan mengumpulkan data primer yaitu dengan cara interview dan observasi dengan Pakar THT. Metode yang digunakan dalam pembangunan sistem ini adalah metode forward chaining, yang dimulai dari sekumpulan fakta-fakta tentang gejala-gejala penyakit THT yang telah diamati user sebagai masukan (input) sistem untuk kemudian dilakukan pelacakan sampai tercapainya tujuan akhir berupa kesimpulan. Tahap selanjutnya yaitu desain sistem dimana dari penyusunan basis data, basis pengetahuan, mesin referensi yaitu forward chaining dan perancangan interface dan mulai dengan implementasi sistem. Tahap terakhir yaitu Menguji keakuratan sistem yang sudah dirancang pada basis pengetahuan dan rule sebagai input oleh user untuk hasil konsultasi. JCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

10 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Arsitektur Sistem Komponen-komponen yang dibutuhkan dalam sistem tersaji pada Gambar 4. Knowledge base Berisi himpunan aturan sbb: Aturan untuk melihat penyakit THT berdasarkan gejala yang mudah terlihat di permukaan Database Berisi fakta-fakta tentang: Data gejala Data penyakit THT Inferensi Engine Berisi : Prosedur untuk mencocokkan fakta dengan aturan tentang penggunaan variabel yang dapat menentukan penyakit. User Interface Berisi : Prosedur untuk menbaca data input dari user berupa penyakit THT yang mudah terlihat. Prosedur untuk menampilkan hasil dari penyakit THT Explanation Facilities Berisi : Prosedur untuk menampilkan parameter data penyakit THT yang mudah terlihat. Prosedur tentang cara penggunaan program User Gambar. 4 Arsitektur Sistem Pakar Untuk Mendeteksi Penyakit THT 4.2 Basis Pengetahuan(Knowledge Base) Berdasarkan analisis sistem ini, akan diuraikan tentang analisis permasalahan yang ada dan analisis kebutuhan akan perangkat lunak yang nantinya akan dibuat yaitu membangun aplikasi sistem pakar untuk mendeteksi penyakit THT berdasarkan gejala-gejala yang dirasakan oleh pasien/user. Sistem pakar untuk mendeteksi penyakit THT (Telinga, Hidung dan Tenggorokan) menggunakan metode inferensi runut maju (forward chaining). Pemilihan metode ini didasari karena metode ini cocok diterapkan untuk melakukan diagnosa tentang mendeteksi penyakit THT. Adapun penyakit THT terdiri dari 10 penyakit Telinga, 9 Penyakit Hidung dan 9 Penyakit Tenggorokan. Di mana penyakit THT terdiri dari 57 gejala untuk keseluruhan penyakit THT.

11 ISSN: ISSN : JCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

12 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret

13 ISSN: ISSN : JCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

14 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Penyajian Fakta Table 2 adalah sampel data penyajian fakta untuk mendeteksi penyakit THT berdasarkan gejala-gejala. Dimana pada tabel tersebut menjelaskan pengetahuan untuk mengetahui gejala-gejala terhadap penyakit THT. Tabel. 2 Sampel Data Penyakit THT dengan Gejala-gejala Penyajian Aturan Berdasarkan representasi pengetahuan untuk perencanaan mendeteksi penyakit THT maka disusun aturan(rule) yang tersaji pada Tabel 3. Tabel. 3 Sampel Data Penyakit THT dengan Gejala-gejala No Aturan (Rule) 1 IFSakit kepala is True AND Keluar Cairan is True AND Ada tanda-tanda radang diliang telinga is True THENPenyakit Otitis Eksterna 2 IF Demam is True AND Sakit kepala is True AND PUS dan di meatus media is True AND Hidung tersumbat is True AND Hidung meler is True AND Nyeri pipi dibawah mata is True AND Selaput lendir merah dan bengkak is True Then Sinusitis 3 IF Bersin-bersin is True AND Hidung meler is True AND Hidung tersumbat is True AND Lendir di tenggorokan is True Then Renitis Non Alergika 4 IF Demam is True AND Sakit kepala is True AND Nyeri saat berbicara atau menelan is True AND Sakit pada telinga is True AND Pembengkakan kelenjar getah bening is True AND Tenggorokan gatal is True AND Adanya tonsil yang membengkak is True AND Suara serak is True Then Farangitis (Radang Tenggorokan)

15 ISSN: ISSN : Tabel 4 merupakan contoh dari penelusuran metode forward chaining untuk sampel penyakit THT yaitu penyakit farangitis(radang Tenggorokan). Dimana akan diberikan pertanyaan berupa gejala-gejala dan sistem akan memberikan hasil diagnosa dari hasil konsultasi. No Tabel. 4 Sampel Penelusuran Penyakit Farangitis Aturan (Rule) 1 IF Demam is True AND Sakit kepala is True AND Nyeri saat berbicara atau menelan is True AND Sakit pada telinga is True AND Pembengkakan kelenjar getah bening is True AND Tenggorokan gatal is True AND Adanya tonsil yang membengkak is True AND Suara serak is True Then Farangitis (Radang Tenggorokan) Proses penelusuran forward chaining dapat dilihat sebagai berikut : 1. IF G1 Then G2 2. IF G2 Then G3 3. IF G3 Then G6 4. IF G6 Then G8 5. IF G8Then G12 6. IF G12 Then G20 7. IF G20 Then G21 GOAL : 9. IF G22 THEN P22 Penyakit farangitis didapat melalui proses 9 rule, dimana penelurusan pertama itu dieksekusi apabila fakta sudah cocok dengan aturan bagian IF pada bagian IF-THEN. Kemudian data tersebut menghasilkan fakta baru dibagian Then yang akan disimpan kedatabase. Proses penelusuran dilakukan dari rule pertama dan tidak ada pengulangan eksekusi. Proses eksekusi akan berhenti apabila tidak ada lagi data yang sesuai dan akan mengeluarkan kesimpulan berdasarkan pencocokan fakta. 5. HASIL DAN PENGUJIAN SISTEM Berikut adalah tampilan Form halaman utama user adalah beranda utama untuk user dimana pada beranda utama ini sekilas tentang pengetahuan tentang penyakit THT (Telinga, Hidung dan Tenggorokan). Pada form beranda ini ada pilihan Beranda, Buat Akun, Konsultasi dan Ubah Data. Dapat dilihat pada Gambar 5. Setelah user selesai membuat akun dan login, kemudian user akan memilih menu konsultasi. Di mana pada menu ini akan ditampilkan pertanyaan-pertanyaan kepada user berdasarkan rule yang sudah ditentukan. Pertanyaan berupa gejala-gejala penyakit THT dan user harus menjawab pertanyaan yang disediakan sistem. Kemudian user akan mendapatkan hasil dari jawaban tersebut berupa penyakit yang dialami berdasarkan gejala-gejala yang dipilih. Pada form konsultasi penyakit ini pertanyaan berupa Ya dan Tidak seperti terlihat pada Gambar 6. JCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

16 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Gambar 5 Tampilan Halaman Sistem Pakar Mendeteksi Penyakit THT Gambar 6 Tampilan Halaman Konsultasi Setelah selesai user menjawab pertanyaan maka akan keluar jawaban daripertanyan-pertanyaan yang dijawab oleh user. Kemudian user juga bisa mencetak hasil dari diognosa penyakit THT tersebut yang tersaji pada Gambar 7 dan 8. Gambar 7 Tampilan Hasil Konsultasi

17 ISSN: ISSN : Halaman tampilan hasil dari konsultasi merupakan hasil diagnosa dari pertanyaan yang dijawab oleh user yaitu berupa gejala-gejala yang di alami oleh user. Pada halama tersebut memberikan informasi penyakit apa yang diderita kemudian bagaimana pengobatannya. Gambar 8 Tampilan Laporan Hasil Konsultasi Pada halaman tampilan laporan hasil konsultasi (Gambar 8) yaitu hasil dari konsultasi dan kemudian sistem memberikan riwayat konsultasi dimana user dapat mencetak laporan dari konsultasi tersebut. Pengujian Sistem Pengujian sistem dilakukan dengan cara menjawab pertanyaan Ya atau Tidak yang diajukan sistem melalu interfaceformberdasarkan gejala penyakit THT. 1. Pengujian sistem1 untuk Penyakit Farangitis(Radang Tenggorokan) Tabel 5 adalah hasil dari jawaban interface mendeteksi penyakit THT(Telinga, Hidung dan Tenggorokan). Tabel.5 Pengujian Penyakit Farangitis (Radang Tenggorokan) Nama : Wiwi Verina Konsultasi Pertanyaan Jawaban 1. Apakah anda demam? Ya 2.Apakah Anda Mengalami Gejala Nyeri Saat Bicara atau Menelan? Ya 3. Apakah Anda Mengalami Gejala Sakit Pada Telinga? Ya 4. Apakah Anda Mengalami Gejala Pembengkakan Kelenjar Getah Bening? Ya 5. Apakah Anda Mengalami Gejala Adanya tonsil yang membengkak? Ya 5. Apakah Anda Mengalami Gejala Suara Serak? Ya 6. Apakah Anda Mengalami Gejala Tenggorokan Gatal? Ya 7. Apakah Anda Mengalami Gejala Sakit Kepala? Ya Penyakit Yang Diderita Faringitis (Radang Tenggorokan) Pengertian : Faringitis adalah peradangan yang terjadi di tenggorokan (faring). Faringitis biasanya disebabkan oleh infeksi virus, dan lebih jarang oleh bakteri Pada Tabel 5 setelah diinput jawaban berdasarkan gejala-gejala penyakit THT pada program sistem pakar didapatkan terkena penyakit Farangitis. Hal ini disebabkan karena dari item-item pertanyaan lebih mengarah kepada rule yang ada sesuai dengan penyakit Farangitis. 2. Pengujian sistem2 untuk Penyakit Sinusitis Tabel 6 adalah hasil dari jawaban interface mendeteksi penyakit THT(Telinga, Hidung dan Tenggorokan). JCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

18 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Tabel 6 Pengujian Penyakit Sinuisitis Nama : Wiwi Verina Konsultasi Pertanyaan Jawaban 1. Apakah anda demam? Ya 2.Apakah Anda Mengalami Gejala Nyeri Saat Bicara atau Menelan? Tidak 3. Apakah Anda Mengalami Gejala Sakit Pada Telinga? Tidak 4. Apakah anda mengalami Sakit Kepala Ya 5. Apakah anda mengalami Hidung Tersumbat? Ya 6. Apakah Anda Mengalami Gejala Pus dan Di meatus media? Ya 7. Apakah Anda Mengalami Gejala Hidung Meler? Ya 8.Apakah Anda Mengalami Gejala Nyeri Pipi di Bagian Bawah? Ya Penyakit Yang Diderita Sinusitis Pengertian : Sinusitis adalah suatu peradangan pada sinus yang terjadi karena alergi atau infeksi virus, bakteri maupun jamur. Sinusitis bisa terjadi pada salah satu dari keempat sinus yang ada (maksilaris, etmoidalis, frontalis atau sfenoidalis) Pada Table 6 setelah di input jawaban berdasarkan gejala-gejala penyakit THT pada program sistem pakar didapatkan terkena penyakit Sinusitis. Hal ini disebabkan karena dari item-item pertanyaan lebih mengarah kepada rule yang ada sesuai dengan penyakit Sinusitis. 6. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan penelitian dan pembahasan yang dilakukan, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. Setelah dilakukan pengujian dengan menggunakan beberapa data uji, aplikasi sistem pakar yang dirancang dapat mendeteksi penyakit THT(Telinga, Hidung dan Tenggorokan) dari input data gejala yang dimasukkan dan memberikan hasil sesuai dengan jawaban pakar THT. 2. Metode forward chaining digunakan untuk melakukan penelusuran untuk mendapatkan hasil penyakit THT(Telinga, Hidung dan Tenggorokan). Dengan demikian hasil dari penelurusan metode forward chaining di dapat 75 rule untuk menentukan penyakit THT berdasarkan gejala-gejala yang di input user. 6.2 Saran Sebagai akhir dari penelitian ini, kami ingin menyampaikan saran-saran yang mungkin bermanfaat bagi siapa saja yang berminat untuk menggunakan sistem ini 1. Diharapkan dengan dikembangkan sistem pakar ini, jumlah rule-rule yang digunakan agar lebih banyak lagi sehingga untuk hasil diagnosa bisa mendapatkan hasil yang lebih baik lagi. 2. Untuk mendapakan hasil diagnosa yang lebih akurat dan lebih mendekati kebenaran sebaiknya diterapkan metoda-metoda statistik atau metoda sistem pengambilan keputusan lainnya. 3. Pada aplikasi sistem pakar ini belum menggunakan nilai kepastian terhadap hasil diagnosa. Diharapkan sistem pakar ini dapat dikembangkan dengan menggunakan metode seperti Certainty Factor untuk memberikan nilai kepastian terhadap hasil dari diagnosa.

19 ISSN: ISSN : DAFTAR PUSTAKA [1] Arsyad et al (2007), Buku Bahan Ajar Telinga, Hidung dan Tenggorokan, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Yogyakarta :Andi Offset. [2] Desiani, Anita dan Arhami M Konsep Kecerdasan Buatan. Yogyakarta: Andi Offset. [3] Deefa (2012), Expert System For Car Troubleshooting, International Journal For Research In Science & Advanced Technologies, Issue-I, Volume-I, [4] Ginanjar Wiro Sasmito, Bayu Surarso dan Aris Sugiharo (2011), Application Expert System of Forward Chaining And The Rule Based Reasoning For Simulation Diagnose Pest and Disease Red Onion and Chili Plant, Proceedings of the 1 International Conference on Information Systems For Business Competitiveness(ICISBC) [5] Ivo Randi MS, Zaenal Wafa dan Ruri Hartika Jhon(2013), Perancangan Sistem Pakar Untuk Mendiagnosa Penyakit Kanker Serviks Dengan Metode Forward Chaining,Jurnal Sarjana Teknik Informatika [6] Kusrini (2006), Sistem Pakar Teori dan Aplikasi, Yogyakarta :Andi Offset. [7] Kusrini (2008), Aplikasi Sistem Pakar, Yogyakarta : Andi Offset. [8] Sutojo, T dkk (2011), Kecerdasan Buatan, Yogyakarta : Andi Offset. [9] Tati Harihayati dan Luthfi Kurnia (2013), Sistem Pakar Mendiagnosa Penyakit Umum Yang Sering Diderita Balita Berbasis Web Di Dinas Kesehatan Kota Bandung,Jurnal Komputer dan Informatika (KOMPUTA) Edisi I Volume I Maret 2012 [10] Wisnu Yudho Untoro (2009), Penerapan Metode Forward Chaining Pada Penjadwalan Mata Kuliah, Jurnal Matematika dan Komputer Indonesia Vol. 1, No.2. [11] Wenny Widia Astuti, Dini Destiani dan Dhami Johar Damiri (2012), Aplikasi Sistem Pakar Deteksi Dini Pada Penyakit Tuberkulosis, ISSN : Vol. 09 No [12] Yana Hendriana (2013), Program Bantu Identifikasi Penyakit THT,Simposium Nasional Teknologi Terapan (SNTT) 2013 ISSN X JCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

20 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Analisis Kinerja Algoritma Fuzzy C-Means dan K-Means pada Data Kemiskinan Aniq Noviciatie Ulfah* 1, Shofwatul Uyun 2 1,2 Program Studi Teknik Informatika Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Jl. Marsda Adisucipto No.1 Yogyakarta Telp (0274) , fax (0274) * 1 2 Abstrak Salah satu upaya untuk mewujudkan program pemerintah Kabupaten Gunungkidul dalam rangka untuk pengentasan kemiskinan adalah dengan melakukan pendataan data kemiskinan warganya. Pemerintah telah merumuskan pendataan dengan melakukan pembobotan terhadap 15 indikator kedalam 3 kelompok. Banyaknya data dan indikator yang harus digunakan tentunya akan menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaannya, tidak efektif dan kurang obyektif. Oleh karena itu diperlukan otomatisasi dalam proses clustering data kemiskinan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja antara algoritma FCM dan K-means yang diimplementasikan pada data kemiskinan di Desa Girijati Purwosari menjadi 3 cluster. Beberapa tahapan yang harus dilakukan sebelum dilakukan clustering, terebih dahulu dilakukan prapengolahan yaitu data cleaning dan data transformation untuk selanjutnya dilakukan clustering menggunakan kedua algoritma tersebut. Hasil perhitungan digunakan untuk membandingkan antara algoritma FCM dengan K-Means. Kesesuaian data antara algoritma FCM dengan perhitungan indikator kemiskinan di Desa Girijati sebesar 50% dan untuk algoritma K-Means sebesar 83,33%. Algoritma K-Means lebih tepat digunakan pada pengelompokan data kemiskinan berdasarkan ketiga kriteria kemiskinan dibandingkan algoritma FCM. Kata kunci Clustering, Data Kemiskinan, FuzzyC-Means, K-Means. Abstract One of the local government of Gunungkidul efforts to realize program in order to alleviate poverty is to perform the data collection poverty of its citizens. The local government of Gunungkidul has formulated a collection by weighting against 15 indicators into three groups. The amount of data and indicators to be used will certainly lead to difficulties in implementation, ineffective and less objective. Therefore we need automation in the process of clustering data on poverty. This study aims to analyze the performance of the FCM algorithm and K-means are implemented in the data on poverty in Girijati Purwosari village into 3 clusters. Some of the steps that must be done prior to clustering, first performed pretreatment includes data cleaning and data transformation for clustering is then performed using the second algorithm. The suitability of data between FCM algorithm and the calculation of poverty indicators in the Girijati village is 50 % and for the K - Means algorithm is %. Therefore, K- Means algorithm is more appropriately used in data classification of poverty based on the three criteria of poverty, beside FCM algorithm. Keyword Clustering, The poverty, FuzzyC-Means, K-Means. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

21 ISSN: ISSN : K 1. PENDAHULUAN emiskinan di Yogyakarta menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2012 tertinggi se-jawa melebihi DKI Jakarta, Banten dan Jawa Tengah yang mencapai 15,88 persen sedangkan tingkat kemiskinan masyarakat Jawa Tengah hanya mencapai 14,98 persen, Jawa Timur 13,08 persen, Jawa Barat 9,89 persen, Banten 5,71 persen dan DKI jakarta hanya 3,7 persen [1]. Sebagai upaya pengentasan kemiskinan pemerintahan Kabupaten Gunungkidul membuat suatu penanggulangan kemiskinan dengan membuat rumusan yaitu membuat indikator-indikator kemiskinan serta mengklasifikasikannya kedalam tiga kategori yaitu keluarga tidak miskin, keluarga miskin dan keluarga sangat miskin berdasarkan 15 indikator kemiskinan [2]. Pendataan kemiskinan dilakukan secara berjenjang mulai dari tinggat RT, Pedukuhan, Desa, Kecamatan, sampai pada tingkat Kabupaten. Desa Girijati yang teletak di Kabupaten Gunungkidul merupakan bagian dari pendataan kemiskinan yang dilakukan oleh BAPPEDA Kabupaten Gunungkidul. Untuk mempermudah pengklusteran diperlukan suatu sistem yang dapat mengkluster data kemiskinan tersebut. Beberapa penelitian telah melakukan kajian terhadap beberapa algoritma clustering, antara lain K-Means oleh [3,4,5] yang menyatakan bahwa algoritma dari K-Means memiliki waktu proses yang lebih cepat dari pada hierarchical clustering (jika k kecil) dengan jumlah variabel yang besar dan menghasilkan cluster yang lebih rapat. Fuzzy C-means juga telah dianalisis kinerjanya oleh [6,7,8] bahwa algoritma FCM memiliki waktu proses lebih cepat dibandingkan Agglomerative Hierarchical Clustering dan hasil clustering lebih mudah untuk diinterpretasikan. Oleh karena itu pada penelitin ini menggunakan algoritma Fuzzy C-Means dan K- Meansuntuk mengkluster data kemiskinan menjadi tiga kategori dengan 15 indikator yang diperoleh dari 10 aspek kemiskinan menurut BAPPEDA yaitu aspek penghasilan, aspek pangan, aspek sandang, aspek papan, aspek air bersih, aspek kesehatan, aspek pendidikan, aspek kekayaan, aspek penerangan dan aspek jumlah jiwa. Indikator-indikator tersebut digunakan sebagai variabel dari clustering data kemiskinan tersebut. Kedua algoritma tersebut digunakan untuk membagi data kedalam beberapa kelompok (grup atau kluster atau segmen) yang tiap kluster dapat ditempati beberapa anggota bersama-sama. Setiap objek dilewatkan pada grup yang paling mirip dengannya. Kedua algoritma tersebut merupakan algoritma unsupervised learning dimana data yang diolah tidak memerlukan pembelajaran terlebih dahulu. 2. DATA DAN METODE PENELITIAN Data yang digunakan pada penelitian ini diambil dari data keluarga sejahtera Desa Girijati, Purwosari, Gunungkidul dengan 15 indikator kemiskinan yang terbagi menjadi 10 aspek [9], antara lain : penghasilan, pangan, sandang, papan, air bersih, kesehatan, pendidikan, kekayaan, penerangan dan jumlah jiwa. Untuk memperkuat analisis data juga dilakukan wawancara dengan Bapak Joko Hardiyanto selaku KASUBID Statistik, Bapak Sungkem selaku KASI KESOS Kecamatan Purwosari dan Bapak Budi Suryono selaku kepala Desa Girijati terkait sasaran pendataan kemiskinan, kriteria, indikator kemiskinan dan perhitungan data-data kemiskinan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan clustering data kemiskinan menggunakan algoritma FCM dan k-means clustering serta menganalisis kinerja untuk kedua algoritma tersebut. Untuk mengukur kinerja dari kedua algoritma tersebut dilakukan dengan membandingkannya dengan hasil klasifikasi yang dilakukan secara manual berdasarkan 15 indikator kemiskinan menurut BAPPEDA tahun Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan, antara lain : prapengolahan, proses clustering dan perbandingan hasil clustering. 2.1 Prapengolahan Data yang diperoleh masih dalam bentuk Microsoftaccess serta masih terdapat data-data yang tidak terisi dengan lengkap, oleh karena itu perlu dilakukan prapengolahan terlebih dahulu IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

22 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret sebelum data dikluster. Data diubah menjadi data yang ber-extensi.sql yang berisi beberapa tabel yang berhubungan dengan program Pendataan Ketenagakerjaan Gunungkidul. Selanjutnya dibuat satu tabel lagi yang berisi data-data yang berhubungan dengan proses perhitungan clustering data kemiskinan yaitu id, Nomerator, nama KK dan 15 indikator kemiskinan. Untuk kepentingan clustering data harus dalam bentuk numerik atau angka, sehingga semua data harus dikonversi terlebih dahulu, selain itu kelimabelas indikator yang digunakan pada penelitian ini perlu dilakukan data cleaning dan data transformation. Salah satu contoh data sebelum dilakukan perubahan kedalam bentuk numeris ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Contoh salah satu data indikator kemiskinan yang dilakukan perubahan bentuk dari frase ke numeris No Aspek Kriteria Numerisasi 1 Pangan Berapa kali makan dalam sehari seluruh keluarga a) Kurang dari 2 kali b) Dua kali atau lebih 2 Pangan Konsumsi daging/susu/telor/ikan/ayam dalam seminggu seluruh anggota keluarga a) Tidak pernah b) Satu kali c) Dua kali atau lebih Setelah dilakukan prapengolahan, format data kemiskinan yang sudah siap untuk diolah ditunjukkan pada Tabel 2. Tabel 2. Contoh data hasil proses prapengolahan dan siap untuk dilakukan clustering No Nomerator Indikator Proses Clustering Penelitian ini menggunakan dua algoritma clustering dengan dua pendekatan yang berbeda, yaitu pendekatan hard dan fuzzy clustering yang akan dijelaskan lebih detail pada subbab dan Fuzzy C-Means (FCM)Clustering Algoritma FCM telah dikenalkan oleh [10] dan merupakan metode clustering dengan pendekatan fuzzy, artinya setiap data yang dicluster memungkinkan menjadi anggota lebih dari satu cluster. Konsep dasar FCM adalah menentukan pusat cluster, pada kondisi awal pusat cluster ini masih belum akurat dan setiap data memiliki derajat keanggotaan untuk tiap-tiap cluster. Dengan cara memperbaiki pusat cluster dan nilai keanggotaan tiap data secara berulang untuk mendapatkan posisi pusat cluster yang tepat berdasarkan pada minimisasi fungsi obyektif yang menggambarkan jarak dari titik data yang diberikan ke pusat cluster V kj = n i=1 ((μ ik )w X ij ) n i=1(μ ik )w (1) dengan k=1,2,.,c; dan j=1,2,,m c i=1 k=1 (2) n P t = ([ m j=1 (X ij V kj ) 2 ](μ ik ) w ) Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

23 ISSN: ISSN : μ ik = [ n i=1 (X ij V kj ) 2 ] 1 w 1 [ (X ij V ij ) 2 1 c m j=0 ] w 1 k=1 (3) dengan i = 1,2,3,,n; dan k = 1,2,3,,c. Algoritma FCM : [1] Input data yang akan dicluster X, berupa matriks berukuran n x m (n = jumlah sampel data, m = atribut setiap data). Xij = data sampel ke-i (i = 1,2,3,n), atribut ke-j (j = 1,2,3,,m). [2] Tentukan : jumlah cluster (c),pangkat (w), maksimum iterasi (MaxIter), error terkecil yang diharapkan (ξ), fungsi objektif awal (P0 = 0) dan iterasi awal (t=1). [3] Bangkitkan bilangan random μik, dimana i=1,2,3,,n; k=1,2,.,c; sebagai elemenelemen matriks partisi awal U. [4] Hitung pusat cluster ke-k dengan persamaan (1) [5] Hitung fungsi obyektif pada iterasi ke t, Pt atau dengan cara menghitung hasil maksimal dari selisih matriks partisi akhir-dikurangi matriks partisi awal menggunakan persamaan (2) [6] Hitung perubahan matriks partisi dengan persamaan (3) [7] Cek kondisi berhenti : a. Jika ( Pt-Pt-1 <ξ ) atau ( t > MaxIter) maka berhenti. b. Jika tidak : t=t+1, ulangi langkah ke -4. Contoh hasil clustering menggunakan algoritma FCM dengan 5 kali iterasi dan 3 cluster ditunjukkan pada Tabel 3 Perubahan kluster pada FCM didasarkan pada derajat keanggotaan yang terbesar. Jika derajat keanggotaan terbesar terletak pada kolom pertama, hal itu menunjukkan bahwa data tersebut termasuk ke dalam cluster pertama, begitu seterusnya. Sebagai contoh pada data pertama di Tabel 3 yang memiliki derajat keanggotaan untuk kluster 1, 2 dan 3 adalah , dan , sehingga data tersebut masuk dalam kluster yang pertama. Dalam FCM satu data dapat masuk dalam lebih dari satu cluster, sehingga kemungkinan satu KK bisa di kategorikan dalam dua atau tiga kriteria kemiskinan dengan nilai keanggotaan yang dapat digunakan sebagai pembeda antara anggota cluster yang satu dengan yang lain. Tabel 3. Contoh hasil perhitungan menggunakan algoritma FCM Derajat keanggotaan Cluster Max C1 C2 C * * * * * * K-Means Clustering K-means clustering termasuk dalam partitioning clustering yang disebut juga exclusive clustering yang memisahkan data ke k daerah bagian yang terpisah dan setiap data harus termasuk ke dalam cluster tertentu dan memungkinkan setiap data yang termasuk cluster tertentu pada suatu tahapan proses, pada tahapan berikutnya berpindah ke cluster yang lain. K-means merupakan algoritma yang sangat terkenal karena kemudahan dan kemampuannya untuk melakukan pengelompokan data besar dengan sangat cepat [11]. IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

24 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Algoritma k-means clustering : [1] Inisialisasi cluster centroid μ 1, μ 2,, μ k ε R n secara random [2] Repeat until convergence : { fori, c (i) min arg j x (i) μ j 2 } for j, μ j m i=1 1{c(i) =j}x (i) m i=1 1{c (i) =j} Contoh hasil perhitungan menggunakan algoritma K-Means ditunjukkan pada Tabel 4. Contoh hasil akhir dengan 5 kali iterasi dan 3 cluster ditunjukkan pada Tabel 4.Perubahan kluster pada clustering menggunakan K-Means didasarkan pada derajat keanggotaan yang terkecil. Jika derajat keanggotaan terkecil terletak pada kolom pertama, hal ini menunjukkan bahwa data tersebut masuk ke dalam cluster pertama, begitu seterusnya. Sebagai contoh data pertama pada Tabel 4menunjukkan bahwa derajat keanggotaan untuk kluster 1, 2 dan 3 adalah , dan maka data satu tersebut masuk dalam cluster yang ke Perbandingan Hasil Clustering Hasil clustering menggunakan agoritma FCM dan K-means selanjutnya dibandingkan dengan hasil clustering yang dilakukan secara manual berdasarkan beberapa indikator yang telah digunakan oleh pemerintah sesuai BAPPAEDA tahun 2008 yang ditunjukkan pada Gambar 1. Gambar 1 menunjukkan hasil perbandingan perhitungan menggunakan algoritma FCM ditunjukkan dengan warna biru,k-means dengan warna kuning dan perhitungan Manual dengan warna hitam. Perhitungan manual dengan perhitungan menggunakan algoritma FCM memiliki kesesuaian sebesar 50% dan hasil perhitungan manual dengan perhitungan algoritma K-Means sebesar 83,33%. Tabel 4.Contoh hasil perhitungan menggunakan algoritma K-Means Derajat keanggotaan Cluster Min C1 C2 C * * * * * * Gambar 1. Perbandingan Hasil Perhitungan Manual dan Sistem untuk Algoritma FCM dan K- Means Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

25 ISSN: ISSN : HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini mengunakan 9 skenario untuk pengujian algoritma FCM dan 7 skenario untuk pengujian algoritma K-Means. Pengujian kedua algoritma tersebut menggunakan data kemiskinan desa Girijati, Purwosari, Gunungkidul pada tahun 2009, 2010, 2012 dan Jumlah data dari masing-masing tahun adalah 347, 13,16 dan Fuzzy C-Means Pengujian menggunakan algoritma FCM menggunakan 3 parameter yaitu maksimal iterasi, pangkat dan epsilon. Secara umum skenario-skenario pengujian ditunjukan pada Tabel 5. Tabel 5.Ringkasan Skenario untuk Algoritma FCM Skenario Maksimal Iterasi Pangkat Epsilon Skenario 1 5 Percobaan dengan skenario 1 sampai dengan 5 dilakukan untuk mengetahui pengaruh banyaknya iterasi dan data dengan waktu yang dibutuhkan sistem untuk mengolah data dan nilai epsilon.begitu juga semakin banyak data dan maksimal iterasi maka semakin tinggi nilai epsilon-nya. Hasil percobaan ditunjukkan pada Gambar 2 (a) dan (b), dapat dilihat bahwa semakin banyak data dan jumlah iterasi maka akan mempengaruhi waktu yang diperlukan untuk proses perhitungan algoritma FCM. Dapat dilihat juga bahwa untuk kesemua pengujian maksimal iterasinya sama dengan inisialisasi iterasi awal, hal ini menunjukan bahwa proses berhenti dikarenakan sudah mencapai batas maksimal iterasi yang ditentukan diawal bukan karena nilai epsilonnya. Percobaan hanya dilakukan mencapai maksimal iterasi 1000 saja, ini dikarenakan hasil yang diperoleh semakin jauh dari yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari data yang diperoleh bahwa pusat kluster yang nantinya akan dijadikan acuan sebagai kriteria tidak sesuai dari masing - masing indikator dan efisiensi waktu. Hasil untuk pusat kluster masih jauh dari yang diharapkan, Hal ini terjadi karena data yang ada pada kriteria 2 14 kurang bervariasi. (a) (b) Gambar 2 (a) Waktu yang diperlukan sistem untuk parameter maksimal iterasi, (b) Hasil epsilon terakhir untuk parameter maksimal iterasi IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

26 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Skenario 1, 6 dan 8 Percobaan dengan skenario 1, 6 dan 8 dilakukan untuk mengetahui pengaruh parameter pangkat terhadap waktu yang dibutuhkan sistem untuk mengolah data dan nilai epsilon. Hasil clustering yang ditunjukkan pada Gambar 3 (a) dan (b)menunjukkan bahwa banyaknya pangkat kurang mempengaruhi waktu yang diperlukan untuk proses perhitungan yang dilakukan. Hal ini dilihat pada nilai pangkat 5 mengalami penurunan waktu yang diperlukan, akan tetapi pada pangkat 100 waktu yang diperlukan bertambah kembali. Hal ini kemungkinan terjadi karena pengaruh nilai random untuk partisi awal. Nilai random partisi awal juga sangat berpanguruh terhadap banyaknya iterasi, hal itu disebabkan nilai dari fungsi objektif dapat berubah sesuai nilai partisi awal. (a) (b) Gambar 3. Hasil clustering terkait waktu yang dibutuhkan oleh system dengan parameter pangkat dengan maksimal iterasi 50 (a) dan 100 (b) Berdasarkan dari Gambar 3 (a) dan (b)menunjukkan bahwa nilai pangkat kurang mempengaruhi waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan proses perhitungan pada algoritma FCM Skenario 1, 6 dan 8 Percobaan dengan skenario 1, 2, 6, 7, 8 dan 9 dilakukan untuk mengetahui pengaruh banyak data, iterasi dan pangkat dengan waktu yang dibutuhkan sistem untuk mengolah data dan nilai epsilon. Dari Gambar 4 (a) dapat dilihat bahwa parameter pangkat mempengaruhi nilai epsilon akhir. Semakin tinggi pangkat maka nilai epsilon semakin besar dan semakin jauh dari nilai epsilon awal yang ditetapkan. Begitu juga untuk hasil clustering dengan maksimal iterasi 100 menunjukkan bahwa parameter pangkat berpengaruh terhadap nilai akhir epsilon yang ditunjukkan pada Gambar 4 (b). (a) (b) Gambar 4. Hasil clustering terkait nilai Epsilon Terakhir untuk Parameter Pangkat dengan maksimal iterasi 50 (a) dan 100 (b) Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

27 ISSN: ISSN : Semakin banyak data dan jumlah iterasi maka akan mempengaruhi waktu yang diperlukan untuk proses perhitungan algoritma FCM. Semakin banyak data dan maksimal iterasi maka semakin tinggi nilai epsilon-nya. Dari sekian percobaan yang dilakukan, data - data pada proses pengujian belum mencapai pada hasil yang diinginkan. Hal ini dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhinya antara lain proses perhitungan dipaksa berhenti berdasarkan maksimal iterasi yang telah ditentukan, bukan karena nilai epsilon yang ditentukan sehingga kemungkinan data dapat berpindah kluster masih bisa terjadi. Dari penjelasan penjelasa di atas maka dapat disimpulkan bahwa algortima Fuzzy C-Means kurang sesuai untuk clustering data kemiskinan di Desa Girijati, mengingat hasil yang diperoleh masih jauh dari harapan. Algortima Fuzzy C-Means tidak sesuai untuk data Kemiskinan di Kabupaten Gunungkidul disebabkan data yang kurang bervariasi. Pengaruh inisialisasi pangkat dan maksimal iterasi berpengaruh pada waktu yang diperlukan untuk proses perhitungan menggunakan algoritma Fuzzy C-Means K-Means Data yang digunakan untuk pengujian algoritma K-Means adalah data kemiskinan di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2009, 2010, 2012 dan 2013 dengan banyak data adalah 347, 13, 16 dan 23. Parameter untuk skenario skenario ditunjukan pada Tabel 6. Tabel 6. Ringkasan Skenario untuk Algoritma K-Means Skenario Maksimal Threshold Iterasi ,37 x ,53 x ,15 x ,51 x ,37 x ,53 x ,15 x ,51 x Skenario 1-3 Percobaan dengan skenario 1 3 dilakukan untuk mengetahui pengaruh banyak iterasi dan data dengan waktu yang dibutuhkan sistem untuk mengolsssah data. Gambar 5 (a) menunjukkan banyaknya iterasi dan data yang mempengaruhi waktu untuk menyelesaikan proses perhitungan algoritma K-Means. Semakin banyak iterasi maka semakin lama juga waktu yang diperlukan. Dari Gambar 5 (b) dapat disimpulkan bahwa banyaknya iterasi tidak berpengaruh pada nilai epsilon akhir. Hal ini terjadi karena nilai epsilon dari percobaan yang dilakukan sama untuk semua percobaan yang dilakukan. Kemungkinan ini terjadi karena pada iterasi 25 kebawah perhitungannya sudah berhenti. Karena nilai epsilon awal terlalu kecil proses tetap berjalan sampai maksimal iterasi terpenuhi. (a) (b) Gambar 5 (a) Hasil Waktu yang Diperlukan Sistem untuk Parameter Maksimal Iterasi, (b) Hasil Epsilon Terakhir untuk Parameter Maksimal Iterasi IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

28 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Skenario 6 Dan 7 Dari permasalahan di atas maka penulis meneliti sampai iterasi keberapakah proses perhitungan berhenti. Maka percobaan skenario 6 dan 7 dilakukan untuk mengetahui iterasi berapa proses perhitungan berhenti, sehingga penelitian ini mencoba untuk melakukan perhitungan dengan menggunakan maksimal iterasi adalah 50 dan threshold adalah 1,37 x 108 untuk tahun 2009, 1,55 x 106 untuk tahun 2010, 7,15 x 106 untuk tahun 2012, dan 6,51 x 106 untuk tahun Tabel 7. Hasil Iterasi Terakhir pada Algoritma K-Means dengan Parameter Maksimal Iterasi 50 Tahun Iterasi akhir Tabel 7 menunjukkan bahwa proses berhenti pada iterasi ke-12 untuk tahun 2009, pada tahun 2010 berhenti pada iterasi ke-4, pada tahun 2012 berhenti pada iterasi ke-312, pada tahun 2013 berhenti pada iterasi ke-9. Percobaan dilakukan juga untuk mengetahui pengaruh nilai random objek cluster awal terhadap lama waktu dan hasil yang diperoleh. Hasil percobaan pada skenario 4, 5 dan 7 menunjukkan bahwa nilai random sedikit berpengaruh terhadap waktu dan maksimal iterasi yang diperlukan, akan tetapi tidak berpengaruh terhadap hasil yang diperoleh. Berdasarkan hasil pengujian yang sudah dilakukan dengan skenario-skenario yang sudah ditentukan didapatkan hasil bahwa beberapa parameter saling mempengaruhi hasil yang diperoleh. Seperti halnya percobaan pada algortima Fuzzy C-Means bahwa banyak data dan inisialisasi maksimal iterasi awal dapat mempengaruhi lama waktu proses perhitungan, semakin besar data dan maksimal iterasi awal maka akan semakin lama waktu yang diperlukan. 4. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Data kemiskinan di Desa Girijati, Purwosari, Gunungkidul, Yogyakarta memiiki data yang kurang bervariasi untuk kelima belas indikatornya, hal itu menyebabkan hasil clustering menjadi sensitif terhadap perubahan nilai parameter. Dari percobaan yang dilakukan, waktu clustering yang diperlukan algoritma FCM relatif lebih lama serta membutuhkan iterasi lebih banyak dibandingkan dengan algoritma K-Means. Algoritma FCM lebih cocok diterapkan pada data yang lebih variatif. 2. Pengujian dilakukan dengan membandingkan hasil clustering kedua algoritma tersebut dengan pengelompokan berdasarkan aturan BAPPEDA Hasil clustering menggunakan algoritma FCM memiliki tingkat akurasi hanya 50%, sedangkan untuk algoritma K-means memiliki tingkat akurasi lebih baik yaitu 83.33%. DAFTAR PUSTAKA [1] Republika, 2013, Republika Online. [diakses tanggal 26 November 2013]. [2] BAPPEDA, 2008, Petunjuk Teknis Pendataan Ketenegakerjaan dan Keluarga Sejahtera. Kabupaten Gunungkidul, Pemerintahan Kabupaten Gunungkidul BAPPEDA. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

29 ISSN: ISSN : [3] Kardi dalam Susanto, A.R., 2013, Sistem Pendukung Keputusan Pengadaan Buku Perpustakaan STIKOM Surabaya Menggunakan Metode K-Means Clustering. Makalah TA. Surabaya, STIKOM Surabaya. [4] Helmiah, 2013, Sisitem Pendukung Keputusan untuk Pengkatogorian IPK dan Llama Studi Alumni Menggunakan Metode K-Means. Skripsi, Yogyakarta: UII Teknik Informatika. [5] Pamungkas, A., 2010, Perbandingan Distance Space Manhattan(Cityblock) dengan Ecludiean pada Algoritma K-Means Clustering Studi Kasus : Data Balita di Wilayah Kecamatan Melati, Sleman. Skripsi, Yogyakarta, AKAKOM Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer [6] Susilowati, R., 2012, Clustering Data Pasien Menggunakan Fuzzy C-Means dan Aglomerative Hierarchical Clustering. Skripsi, Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga Teknik Informatika [7] Pebrianto, R., 2011, Aplikasi Clustering Dengan Menggunakan Metode Fuzzy C-Means. Skripsi, Yogyakarta, UII Teknik Informatika. [8] Pahri, A.N.I., 2012, Pengelompokan Uji Laboratorium sebagai Penunjang Diagnosa Demam Berdarah Menggunakan Fuzzy C-Means. Skripsi, Yogyakarta, UII Teknik Informatika. [9] BPS, 2011, Kemiskinan dan Ketimbangan Pendapatan : Pengukuran, Relevasi dan Pemanfaatan. In Nasional, D.S.K., ed. Workshop Evaluasi Data Podes. Bandung, BPS. [10] Bezdek, J. C., Ehrlich, R., & Full, W. (1984). FCM: The fuzzy c-means clustering algorithm. Computers & Geosciences, 10(2), [11] Hartigan, J. A., & Wong, M. A. (1979). Algorithm AS 136: A k-means clustering algorithm. Applied statistics, IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

30 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Rekam Medis Pada Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya Fransiska Prihatini Sihotang STMIK MDP Palembang Abstrak Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Berkas rekam medis dibutuhkan pihak manajemen untuk merencanakan, mengendalikan, dan mengevaluasi mutu pelayanan. Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu atau sebagian wilayah kecamatan. Pelayanan di puskesmas cukup kompleks mulai dari kegiatan pelayanan rawat jalan, rawat inap, pemeriksaan laboratorium, dan apotek. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang sebuah sistem informasi rekam medis yang terintegrasi pada puskesmas Simpang Timbangan Indralaya sehingga dapat memperbaiki sistem yang lama. Pengembangan sistem menggunakan metodologi FAST, pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian ini adalah rancangan sistem informasi rekam medis Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya yang terdiri dari pelayanan rawat inap, pelayanan rawat jalan, pengelolaan laboratorium, pengelolaan apotek, dan pembuatan laporan rekam medis. Rancangan yang dihasilkan berupa DFD, ERD, diagram dekomposisi, rancangan antar muka aplikasi, rancangan laporan, dan rancangan arsitektur jaringan. Kata kunci Sistem Informasi, rekam medis, puskesmas, FAST, prototyping Abstract Medical record is a file containing records and documents about the patient s identity, examination, treatment, medical action, and other services that have been administered to patients. Management need a medical record file for planning, controlling, and evaluating the quality of care. Puskesmas (local medical center) is a technical unit of the District/City Health Office held responsible for health development in one or some districts. Puskesmas has a fairly complex service such as outpatient services, inpatient, laboratory tests, and pharmacy. The purpose of this research is to design an integrated medical record information systems at Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya to repair the old system. This study used FAST as system development, and to colect the data used interview, observation, and literature study. The results of this study is the design of medical record information system on Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya consisting of inpatient services, outpatient services, laboratory management, pharmacy management, and medical reports. The design is generated in the form of DFD, ERD, decomposition diagrams, application design interface, report design, and network architecture design. Keywords Information systems, medical records, health centers, FAST, prototyping. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

31 ISSN: ISSN : R 1. PENDAHULUAN ekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien[1]. Informasi yang dihasilkan oleh sebuah sistem rekam medis sangat dibutuhkan untuk pengobatan pasien, peningkatan kualitas pelayanan, pendidikan, dan penelitian. Selain itu pemerintah juga mewajibkan setiap tenaga kesehatan membuat rekam medis dan akan dikenakan sanksi jika tidak membuatnya[2]. Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya menggunakan komputer dengan memanfaatkan program Microsoft Office Word dan Microsoft Office Excel terbatas pada pembuatan laporan, sedangkan kegiatan pendaftaran pasien, pencatatan pemeriksaan, pemberian obat, sampai pasien pulang masih berupa lembaran-lembaran kertas. Hal tersebut sering menimbulkan masalah dalam penyajian data pasien, pembuatan laporan, dan memberikan pelayanan terhadap pasien.contoh kasus yang sering terjadi dalam pendataan pasien adalah ketika pasien kehilangan atau lupa membawa kartu pasien. Petugas harus mencari kembali data pasien tersebut dan jika tidak ditemukan akan dilakukan pendataan ulang sehingga terjadi duplikasi data tanpa mengetahui riwayat medis pasien sebelumnya. Hal tersebut merugikan puskesmas karena membutuhkan waktu yang lama untuk penyajian data, tidak akuratnya laporan tentang rekam medis di puskesmas tersebut sehingga menyulitkan pengambilan keputusan oleh pihak manajemen, dan mengurangi kualitas pelayanan terhadap pasien. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu digunakan komputer dan sistem basis data yang baik sebagai alat bantu dalam mengelola data rekam medis menjadi suatu sistem informasi yang berguna bagi perkembangan puskesmas di masa yang akan datang.dengan program berbasis komputer pada rekam medis, diharapkan kinerja Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya dapat ditingkatkan, sehingga kualitas dan mutu pelayanan menjadi meningkat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis masalah pencatatan dan penyimpanan rekam medis, merancang proses bisnis baru dalam sebuah sistem informasi rekam medis yang terintegrasi pada puskesmas Simpang Timbangan Indralaya sehingga dapat memperbaiki sistem yang lama.penelitian ini diharapkan dapat mempermudah penyajian informasi rekam medis, meningkatkan konsistensi data rekam medis sehingga laporan yang dihasilkan lebih akurat dan mempermudah pengambilan keputusan oleh pihak manajemen, dan meningkatkan mutu pelayanan Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya. 2. METODE PENELITIAN Bagian ini berisi tentang metode dan dasar teori yang digunakan pada tulisan ini. 2.1 Pengumpulan Data Penulis memperoleh data primer dengan melakukan wawancara, observasi, dan memberikan kuisioner. Wawancara dilakukan kepada beberapa narasumber dari Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya. Wawancara dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dilakukan dengan tatap muka, sedangkan secara tidak langsung dilakukan melalui media telekomunikasi seperti telepon dan percakapan online.teknik observasi dilakukan untuk mengetahui secara langsung proses bisnis yang terjadi pada Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya.Penulis juga melakukan studi literatur untuk memperkaya pengetahuan terkait rekam medis. 2.2 Rekam Medis Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien[1]. Isi rekam medis harus memuat beberapa hal sebagai berikut[3]: IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

32 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret a. Catatan, merupakan uraian tentang identitas pasien, pemeriksaan pasien, diagnosis, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain baik dilakukan oleh dokter dan dokter gigi maupun tenaga kesehatan lainnya sesuai dengan kompetensinya. b. Dokumen, merupakan kelengkapan dari catatan tersebut, antara lain foto rontgen, hasil laboratorium dan keterangan lain sesuai dengan kompetensi keilmuannya. Manfaat rekam medis berbagai aspek sebagai adalah berikut [3]: a. Pengobatan Pasien Rekam medis bermanfaat sebagai dasar dan petunjuk untukmerencanakan dan menganalisis penyakit serta merencanakanpengobatan, perawatan dan tindakan medis yang harus diberikankepada pasien. b. Peningkatan Kualitas Pelayanan Membuat Rekam Medis bagi penyelenggaraan praktik kedokterandengan jelas dan lengkap akan meningkatkan kualitas pelayanan untukmelindungi tenaga medis dan untuk pencapaian kesehatan masyarakatyang optimal. c. Pendidikan dan Penelitian Rekam medis yang merupakan informasi perkembangan kronologispenyakit, pelayanan medis, pengobatan dan tindakan medis, bermanfaatuntuk bahan informasi bagi perkembangan pengajaran dan penelitian dibidang profesi kedokteran dan kedokteran gigi. d. Pembiayaan Berkas rekam medis dapat dijadikan petunjuk dan bahan untuk menetapkan pembiayaan dalam pelayanan kesehatan pada saranakesehatan. Catatan tersebut dapat dipakai sebagai bukti pembiayaankepada pasien. e. Statistik Kesehatan Rekam medis dapat digunakan sebagai bahan statistik kesehatan,khususnya untuk mempelajari perkembangan kesehatan masyarakatdan untuk menentukan jumlah penderita pada penyakit-penyakit tertentu. f. Pembuktian Masalah Hukum, Disiplin dan Etik Rekam medis merupakan alat bukti tertulis utama, sehingga bermanfaatdalam penyelesaian masalah hukum, disiplin dan etik. 2.3 Puskesmas Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu wilayah kerja[4]. Sedangkan menurut Delimayanti, puskesmas merupakan penyelenggara pelayanan kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat dan memiliki berbagai macam unit pelayanan kesehatan antara lain pelayanan kesehatan poli umum, ibu hamil dan balita, gizi, gigi dan laboratorium dasar[5]. 2.4 FAST Dalam Penelitian ini metode pengembangan sistem yang digunakan adalah metodologi FAST (Framework for the Aplication of System Thinking). Alasan penulis menggunakan metode FAST karena standarisasinya baik serta proses yang stabil dan terencana[6]. Adapun tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut: 1. Scope Definition Scope Definition merupakan batasan-batasan masalah pada sistem. Pada tahap ini dilakukan pendefinisian ruang lingkup sistem, masalah-masalah, serta kesempatan- kesempatan dan perintah-perintah yang akan diterima sistem dalam pengelolaan rekam medis. Sebelum melakukan analisa masalah hal yang pertama kali dilakukan adalah pendefinisian lingkup proyek, yang bertujuan untuk menentukan tujuan pengembangan dan gambaran proyek sistem Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

33 ISSN: ISSN : informasi yang akan dikembangkan, menentukan masalah dan kesempatan dari sistem yang ada, menentukan batasan bisnis dan teknologi dari sistem yang akan dikembangkan, serta menentukan ruang lingkup awal proyek. Ruang lingkup sistem informasi rekam medis ini adalah proses pendaftaran pasien, pencatatan pemeriksaan, penggunaan obat, petugas medis yang melayani, dan pelayanan lain yang diberikan kepada pasien. Masalah yang sering dihadapi adalah kehilangan kartu berobat pasien, pencatatan kurang lengkap, penyajian data lama, dan tidak akuratnya laporan rekam medis. 2. Problem Analysis Pada tahap ini, dilakukan analisa lebih mendalam mengenai sistem yang sudah ada. Tujuan dari tahap ini adalah untuk mempelajari dan memahami business process dari sistem yang ada dan domain permasalahan yang ditemukan pada tahap penganalisaan awal (preliminary investigation). Dengan memahami business process dan problem domain dari sistem yang ada, maka dapat dihasilkan suatu system improvement objective yang mencangkup problems, opportunities, dan directives dari sistem yang ada, dan juga constraint dalam pengembangan sistem yang baru. Berdasarkan pendefinisian lingkup proyek akan dilakukan analisa masalah dengan melihat masalah berdasarkan domain permasalahan dari sistem yang ada berdasarkan analisa data, proses dan interface. Kemudian dilanjutkan dengan cause and effect analysis, yang akan menghasilkan solusi dari permasalahan yang ada. 3. Requirements Analysis Analisa kebutuhan bertujuan untuk menentukan kebutuhan fungsional dan nonfungsionaldari sistem yang akan dikembangkan, mengidentifikasi dan menyatakan persyaratan sistem, prioritas persyaratan sistem, memperbarui atau memperhalus rencana proyek, mengkomunikasikan pernyataan persyaratan. Kebutuhan fungsional pada sistem ini adalah harus mampu menangani proses pendaftaran pasien, menangani pencatatan kegiatan rekam medis pasien, menangani pengelolaan data-data rekam medis, dan menangani pembuatan laporan. Kebutuhan nonfungsional di ukur berdasarkan kerangka kerja PIECES. Dimana performance, information, economy, control, efficiency, dan service menjadi tolak ukur analisa kebutuhan nonfungsional. 4. Logical Design Pada tahapan ini dilakukan perancangan logika untuk menerjemahkan persyaratanpersyaratan bisnis ke model-model sistem. Perancangan logika berupa pemodelan data yang akan digambarkan menggunakan ERD (Entity Relational Diagram) dan pemodelan proses digambarkan menggunakan DFD (Data Flow Diagram). 5. Desicion Analysis Tahapan ini menganalisis solusi terbaik untuk kebutuhan sistem yang akan dikembangkan. Analisa keputusan bertujuan mengidentifikasi berbagai alternatif kandidat solusi untuk pengembangan sistem. Kandidat solusi sistem akan dibandingkan berdasarkan karakteristik proses bisnis yang terkomputerisasi, keuntungan, software dan hardware serta perangkat lunak yang digunakan pendukung sistem guna memilih kandidat terbaik yang akan digunakan dalam pengembangan sistem. 6. Physical Design and Integration Pada tahapan ini dilakukan transformasi persyaratan-persyaratan bisnis (diwakilkan sebagian oleh model sistem logis) ke dalam spesifikasi desain fisik yang akan memandu konstruksi sistem. Produk yang akan dihasilkan pada tahap ini adalah prototype desain dan proses bisnis yang didesain ulang. IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

34 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Contruction and Testing Pada tahap ini akan dilakukan pengkodean sistem yang telah didesain pada tahap sebelumnya, dan kemudian menguji sistem tersebut. Produk jadi pada tahap ini adalah sistem fungsional yang siap untuk diimplementasikan. 8. Instalasi dan Pengiriman Pada tahap ini akan dioperasikan sistem yang telah dibangun. 2.5 Sistem Informasi Sistem informasi merupakan sekumpulan elemen atau komponen yang terdiri dari manusia, komputer, teknologi informasi, dan prosedur kerja yang mengubah data menjadi informasi, dan dimaksudkan untuk mencapai suatu sasaran atau tujuan[7]. Sedangkan menurut Jogiyanto, sistem informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengelolaan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan[8]. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Bagian ini berisi tentang profil Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya dan hasil dari penelitian yang telah dilakukan. 2.6 Profil Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya terletak di Jalan Lintas Timur Kecamatan Timbangan Kabupaten Ogan Ilir dan berada di bawah naungan Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir. Seperti puskesmas pada umumnya, pada Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya terdapat berbagai poli untuk melayani pasien sesuai dengan keluhan. Poli tersebut antara lain adalah poli umum, poli gigi, poli KB/KIA/Lansia/MTBS, dan poli TB/Jiwa. Untuk menjalankan fungsinya dengan baik, Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya memiliki visi, misi, dan motto. Adapun visi Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya adalah Tercapainya masyarakat yang berprilaku hidup bersih dan sehat di wilayah Puskesmas Simpang Timbangan, Kabupaten Ogan Ilir. Misi Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya adalah: 1. Memelihara dan meningkatkan mutu pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan; 2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat; 3. Memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu prima; 4. Meningkatkan seumber daya manusia yang profesional dan berkualitas. Sedangkan motto dari Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya yaitu Pelayanan yang terbaik siap melayani Anda. 2.7 Proses pelayanan kesehatan yang sedang berjalan Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya melayani pasien rawat jalan, pasien rawat inap, dan pasien gawat darurat. Alur rekam medis di Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya diperlihatkan pada Gambar 1. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

35 ISSN: ISSN : Gambar 1. Alur Rekam Medis Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya (Sumber: Bagian Kepegawaian Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya, 2011) 2.8 Identifikasi masalah Dalam melakukan analisa terhadap berbagai masalah yang terdapat pada rekam medis Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya, penulis melakukan kategorisasi permasalahanpermasalahan yang ada pada bagian berdasarkan rangkaian kerja (framework) PIECES (Performance, Information, Economics, Control, Efficiency, Service). Berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis terhadap karyawan di puskesmas tersebut, didapat hasil sebagai berikut: 1. Proses pendaftaran pasien tidak teratasi dengan baik Proses pendaftaran pasien saat ini masih menggunakan pencatatan di sebuah buku yang ditulis oleh petugas berdasarkan keterangan pasien. Data yang dicatat oleh petugas tersebut seringkali tidak lengkap. Setelah melakukan pendaftaran, pasien seharusnya menerima kartu anggota tetapi seringkali petugas tidak memberikan kartu tersebut dengan alasan kehabisan stok kartu kosong atau karena kecerobohan. Dalam kasus kartu anggota tertinggal atau hilang, petugas merasa kesulitan mencari kartu rekam medis pasien karena harus membongkar file-file yang tersimpan di rak penyimpanan untuk mencari datanya. Sedangkan dalam kasus pasien rawat jalan yang akhirnya harus dirawat inap secara tibatiba, harus dilakukan pencatatan data kembali karena sistem belum terintegrasi. Hal tersebut dapat menghambat pasien untuk mendapatkan pelayanan yang cepat dan menyebabkan akan ada data yang dicatat berulang kali. Permasalahan ini dapat dikategorikan sebagai permasalahan Performance dan Service. 2. Penyajian data lama Data-data rekam medis masih disimpan dalam bentuk lembaran kertas dan belum terintegrasi. Dalam kasus pasien tidak membawa kartu anggota, petugas biasanya mencari data pasien di tumpukan berkas pasien karena selama ini puskesmas tidak didukung dengan sistem basis data. Begitu juga pada saat data rekam medis dibutuhkan, petugas harus mencari di rak penyimpanan data. Hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama. Permasalahan ini dikategorikan sebagai permasalahan Information, Performace dan Efficiency. IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

36 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Data rekam medis tidak lengkap Tidak lengkapnya data rekam medis seringkali terjadi karena petugas bagian pemeriksaan dan pihak terkait lainnya kurang sadar akan pentingnya data rekam medis pasien. Permasalahan ini dikategorikan sebagai permasalahan Information dan Control. 4. Proses rekapitulasi dan pembuatan laporan lama Data-data sumber pembuatan laporan berasal dari data yang berbentuk hard copy yaitu dari kartu rekam medis pasien. Data dari kartu rekam medis pasien harus dicatat ulang satu persatu ketika membuat laporan. Hal ini tentunya memerlukan waktu yang lama. Permasalahan ini dikategorikan sebagai permasalahan Performance dan Efficiency. 5. Laporan rekam medis tidak akurat Laporan rekam medis bersumber dari kartu rekam medis pasien yang tidak lengkap, dan didukung pula dengan kemungkinan kesalahan petugas saat merekapitulasinya (human error). Dengan demikian laporan yang dihasilkan pun menjadi tidak akurat. Permasalahan ini dapat dikategorikan sebagai permasalahan Performance, Information, Control, Efficiency, dan Service. 6. Banyaknya penggunaan kertas Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya selama ini mengandalkan media kertas dalam semua hal yang berhubungan dengan rekam medis, mulai dari pencatatan data diri pasien sampai pembuatan laporan rekam medis pasien yang akan diserahkan kepada kepala puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten Ogan Ilir. Permasalahan ini dikategorikan sebagai permasalahan Economics dan Efficiency. Tabel 1. Pernyataan Masalah Pernyataan Singkat dari Masalah atau No Peluang 1 Proses pendaftaran pasien tidak teratasi dengan baik 2 Penyajian data pasien lama 3 Data rekam medis tidak lengkap 4 Proses rekapitulasi dan pembuatan laporan lama 5 Laporan rekam medis tidak akurat 6 Banyaknya penggunaan kertas Tingkat Kepentingan Visibilitas Peringkat Solusi yang Ditawarkan 2 bulan tinggi 1 Dalam implementasi sistem, registrasi pasien sudah terkomputerisasi dan terintegrasi. 2 bulan tinggi 1 Pengembangan sistem informasi yang terintegrasi pada bagian pendaftaran, pemeriksaan, dan apotek. 2 bulan tinggi 1 Sistem yang dapat memberikan peringatan ketika data rekam medis yang diisi belum lengkap dan memusatkan penyimpanan data pada suatu basis data yang terintegrasi dan terpadu. 4 bulan Sedang 2 Pengembangan sistem informasi yang terintegrasi. 4 bulan Sedang 2 Pengembangan sistem baru yang memusatkan penyimpanan data pada basis data. 2 bulan Sedang 2 Pengembangan sistem baru yang paperless. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

37 ISSN: ISSN : Kesempatan Kesempatan yang menjadi faktor pendorong pengembangan sistem ini adalah sebagai berikut: 1. Peraturan pemerintah yang mewajibkan setiap lembaga pelayanan kesehatan membuat rekam medis pasien secara lengkap (Pasal 79 UU Praktik Kedokteran dan Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 16/KKI/PER/VIII/2006). 2. Pertumbuhan organisasi dan kemajuan di bidang Teknologi Informasi menyebabkan Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya mulai merasakan bahwa Teknologi Informasi perlu digunakan untuk meningkatkan penyediaan informasi sehingga dapat mendukung pelayanan pasien dan proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajemen. 3. Tenaga kerja pada Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya rata-rata berpendidikan sarjana lulusan tahun 2000 ke atas, sehingga akan cepat memahami jika ada perubahan pada sistem informasi rekam medis Hambatan Pengembangan Sistem Business Constraint Berikut ini adalah business constraint yang ada: 1. Sistem ini akan dikembangkan dengan metode FAST dan perangkat lunak akan dikembangkan dengan metode prototyping; 2. Sistem ini tidak akan merubah file file yang ada pada saat ini tanpa adanya izin dari pihak Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya. 3. Sistem yang akan dibangun harus memenuhi technology constraint yang ada Technology Constraint Solusi awal yang diberikan adalah dengan mengembangkan aplikasi sistem informasi rekam medis berbasis web. Berikut adalah standar teknologi informasi yang harus dipenuhi oleh sistem: 1. Sistem akan dibangun di atas sistem operasi Microsoft Windows 7; 2. Sebagai tempat penyimpanan data akan digunakan basis data dengan MySQL; 3. Sistem akan dibangun sebagai aplikasi web Ruang Lingkup Awal Pengembangan Sistem Fungsi-fungsi yang akan didukung dan terpengaruhi dalam pengembangan sistem ini adalah: 1. Pendaftaran Pasien Pendaftaran pasien pada Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya saat ini masih dicatat ke sebuah buku dan sering terjadi kekurangan pencatatan data pasien. Seringkali petugas tidak memberikan kartu anggota kepada pasien baru. Dengan adanya sistem baru ini, pendaftaran pasien dilakukan dengan komputer dan mencegah kekurangan pencatatan data pasien. Setelah proses pendaftaran selesai, pasien akan menerima kartu anggota yang dicetak dari sistem. 2. Data Rekam Medis Pasien Saat ini proses pencatatan rekam medis masih menggunakan kertas, sehingga antara satu data dengan data yang lain masih terpisah dan belum terintegrasi. Hal ini mengakibatkan suatu ketidakefisienan dan sering kali menimbulkan kesalahan serta berulangnya data (redudansi). Dengan adanya sistem baru ini, proses pencatatan rekam medis dapat dilakukan dengan menggunakan komputer, sehingga antara satu data dengan data yang lain dapat terintegrasi sehingga dapat meminimalisir terjadinya kesalahan dan redudansi data. IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

38 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Pelaporan kepada kepala puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir Saat ini belum ada sistem yang menghubungkan atau mengintegrasikan seluruh informasi yang dihasilkan, sehingga petugas Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya harus merekap data tersebut untuk membuat laporan bulanan untuk kepala puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir. Dengan adanya sistem ini dapat mempermudah petugas untuk merekap data sehingga mempermudah pelaporan kepada pihak Top Level Management Kebutuhan Fungsional Kebutuhan fungsional yang harus ada dalam sistem ini adalah sebagai berikut: 1. Sistem harus dapat menangani proses pendaftaran pasien. 2. Sistem harus dapat menangani pencatatan pemeriksaan pasien, obat dan pelayanan lain yang diberikan kepada pasien, serta tenaga medis yang memberikan pelayanan kepada pasien. 3. Sistem harus dapat menangani pencarian data pasien, pencarian data kunjungan, pencarian data rekam medis, pencarian data resep, dan pencarian data obat. 4. Sistem harus dapat menangani pencetakan kartu pasien, kartu rekam medis, laporan data pasien, laporan kunjungan pasien, laporan bulanan penyakit, laporan obat masuk, dan laporan obat keluar Kebutuhan Non Fungsional Kebutuhan nonfungsional adalah kebutuhan tambahan yang tidak memiliki input, proses, dan output. Namun demikian, kebutuhan nonfungsional ini sebaiknya dipenuhi, karena akan sangat menentukan apakah sistem ini akan digunakan user atau tidak. Kebutuhan nonfungsional ini dapat dikategorikan berdasarkan PIECES framework. - Performance: Dapat mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan, dalam hal ini mempercepat proses pendaftaran pasien, pencatatan data-data rekam medis pasien, dan pembuatan laporan(semakin sedikit waktu yang dibutuhkan, semakin besar troughput yang dapat dihasilkan). - Information: Terintegrasinya data rekam medissehingga pengelolaan data akan lebih mudah dan cepat, mencegah terjadinya pengulangandata, dan dapat menjaga akurasi dan konsistensi data. - Economic:Sistem diharapkan dapat mengurangi penggunaan alat tulis seperti kertas dan tinta karena proses pencatatan rekam medis dilakukan dengan komputer. - Control:Sistem dapat mengotentikasi user yang boleh menggunakan sistem ini, dapat mencatat aktivitas setiap user saat menggunakan sistem, menjaga keamanan datayang disimpan, dan memiliki backup data. - Efficiency: Sistem dapat mengurangi waktu yang diperlukan untuk pengolahan data rekam medis dan pembuatan laporan, sehingga pekerjaan pegawai terkait lebih ringan. - Service: Sistem memiliki tampilan yang user friendly, agar dapat memudahkan user dalam mempelajari, memahami, dan menggunakan sistem. Tampilan data pada sistem juga diharapkan terstruktur dengan baik, sehingga mudah dibaca. Sistem diharapkan dapat memberikan data-data yang akurat dan lengkap, sehingga dapat membantu pihak eksekutif dalam mengambil keputusan. Data-data untuk pihak eksekutif berupa laporan Rancangan Sistem Dalam penelitian ini rancangan untuk menggambarkan aliran data menggunakan Data Flow Diagram (DFD) yang dapat dilihat pada Gambar 2. Perancangan basis data digambarkan dalam bentuk Entity Relationship Diagram (ERD) yang dapat dilihat pada Gambar 3. Diagram dekomposisi dari sistem yang dirancang dapat dilihat pada Gambar 4. Sedangkan rancangan antarmuka program dapat dilihat pada Gambar 5, Gambar 6, dan Gambar 7. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

39 Status_login Username&passwor d Hasil_lab Status login ISSN: ISSN : Hasil_periksa Hasil_periksa Petugas Rawat Jalan Resep Surat_rujukan Hasil_lab Resep tindakan Petugas Rawat Inap Pasien Pasien baru Kartu_pasien Karcis_berobat Salinan_resep Surat_rujukan biodata Surat_rujukan SI Rekam Medis Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya Username&Password Status_login Username&Password Obat_keluar Surat_rujukan Hasil_lab Tindakan_UGD Petugas UGD Salinan_resep Petugas Apotek Petugas Laboratoriu m Kartu_pasien laporan Kepala Puskesmas Petugas rekam medis Username&Password Status_login Obat_masuk laporan Dinkes Pemkab OI Gambar 2. Diagram konteks sistem yang diusulkan Gambar 2 merupakan rancangan diagram konteks yang diusulkan dari Sistem Informasi Rekam Medis Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya. Dalam perancangan ini terdapat 10 entitas yaitu pasien, pasien baru, petugas rekam medis, petugas rawat jalan, petugas rawat inap, petugas apotek, petugas laboratorium, petugas UGD, kepala puskesmas, dan kepala dinas kesehatan kabupaten Ogan Ilir. Arus data yang mengalir ke dalam sistem adalah username dan password pengguna, biodata pasien, hasil periksa, surat rujukan, resep, obat keluar, hasil lab, dan tindakan. Sedangkan arus data yang mengalir dari sistem ke entitas terdiri dari validasi login, salinan resep, karcis berobat, salinan surat rujukanm dan laporan. Gambar 3 merupakan rancangan Entity Relational Diagram (ERD) yang dirancang pada penelitian ini. Terdapat sembilan belas entitas yang dirancang, yaitu pasien, petugas rawat inap, petugas rawat jalan, petugas UGD, petugas laboratorium, kunjungan, register rawat inap, pemeriksaan rawat inap, pemeriksaan rawat jalan, layanan laboratorium, tindakan UGD, resep obat, surat rujukan, obat keluar, obat, salinan resep, penyakit, riwayat penyakit, dan petugas apotek. Semua entitas saling berhubungan dan memiliki atribut, contohnya entitas obat memiliki atribut kode obat, nama obat, jenis obat, harga, satuan, dan stok. Entitas obat berelasi dengan entitas resep yang menjelaskan bahwa setiap ada resep yang keluar dari sistem, maka sistem dapat melakukan pengecekan keberadaan obat dari resep tersebut dengan mengecek kode obatnya. IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

40 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

41 ISSN: ISSN : SISTEM INFORMASI REKAM MEDIS PUSKESMAS SIMPANG TIMBANGAN INDRALAYA 1 LOGIN 2 PENDAFTARAN PASIEN 3 PENGELOLAAN PASIEN RAWAT JALAN 4 PENGELOLAAN PASIEN RAWAT INAP 5 PENDATAAN 6 UGD 7 CETAK LAPORAN 2.1 Catat data pasien baru 3.1 Pencatatan pemeriksaan pasien rawat jalan 4.1 Register pasien rawat inap 4.2 Pencatatan layanan harian pasien rawat inap 5.1 Pendataan petugas kesehatan 6.1 Pencatatan tindakan UGD 7.1 Cetak daftar pasien 7.2 Cetak data kunjungan pasien 2.2 Cetak kartu pasien 3.2 Pembuatan surat rujukan 4.3 Pembuatan surat rujukan 4.4 Pencatatan pemeriksaan laboratorium 5.2 Pendataan obat 6.2 Pembuatan surat rujukan 7.3 Cetak laporan rawat jalan 7.4 Cetak laporan rawat inap 2.3 Catat data kunjungan pasien 3.3 Pencatatan pemeriksaan laboratorium 4.5 Pasien pulang 5.3 Pendataan kamar 6.3 Pasien pulang 7.5 Cetak laporan UGD 7.6 Cetak laporan obat keluar 2.4 Cetak karcis berobat 3.4 Pengambilan obat 7.7 Cetak laporan penyakit Gambar 4. Diagram Dekomposisi Gambar 4 merupakan rancangan diagram dekomposisi yang dirancang pada penelitian ini. Terdapat tujuh bagian utama dari sistem yaitu login, pendaftaran pasien, pengelolaan pasien rawat jalan, pengelolaan pasien rawat inap, pendataan, UGD, dan cetak laporan, Ketujuh bagian utama dari sistem tersebut masing-masing memiliki sub sistem, misalnya pada UGD terdapat sub sistem pencatatan tindakan UGD pembuatan surat rujukan, dan pasien pulang. Gambar 5. Rancangan Antar Muka Halaman Login Gambar 5 merupakan rancangan antar muka dari halaman login. Halaman tersebut merupakan halaman awal ketika program dibuka. Pengguna diwajibkan untuk memasukkan username dan password serta memilih hak akses kemudian menekan tombol Login. Sistem akan melakukan autentikasi terhadap data yang dimasukkan dan menampilkan halaman sesuai dengan hak akses si pengguna. Gambar 6. Rancangan Antar Muka Halaman Pendaftaran Rawat Jalan IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

42 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Gambar 6 merupakan rancangan antar muka dari halaman pendaftaran rawat jalan. Halaman ini dapat diakses oleh petugas setelah melakukan login. Pada halaman ini petugas memasukkan data pelayanan yang akan dilakukan oleh pasien rawat jalan. Halaman ini juga menampilkan biodata pasien secara otomatis yang merupakan hasil dari tindakan petugas pada halaman sebelumnya. Gambar 7. Rancangan Antar Muka Halaman Pendaftaran Rawat Jalan Gambar 7 merupakan rancangan antar muka dari halaman pendaftaran rawat inap. Halaman ini dapat diakses oleh petugas setelah melakukan login. Pada halaman ini petugas memasukkan data pelayanan yang akan dilakukan oleh pasien rawat inap. Halaman ini juga menampilkan biodata pasien secara otomatis yang merupakan hasil dari tindakan petugas pada halaman sebelumnya. Yang membedakan halaman ini dengan rawat jalan yaitu pada halaman ini terdapat informasi tentang kamar yang digunakan oleh pasien untuk menginap. Petugas juga dapat melakukan perubahan data kamar jika diperlukan. Gambar 8. Rancangan Laporan Pemeriksaan Pasien Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

43 ISSN: ISSN : Gambar 8 merupakan rancangan laporan pemeriksaan pasien rawat jalan. Laporan tersebut dapat diakses oleh petugas rekam medis. Petugas rekam medis mencetak laporan tersebut dan memberikannya kepada kepala puskesmas untuk diperiksa dan ditandatangani, kemudian dilaporkan kepada kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir untuk disahkan. SISI CLIENT LAN Poli umum LAN LAN Poli gigi Laboratorium SISI SERVER LAN Poli THT LAN LAN Database Pendaftaran Web server LAN LAN Poli KIA Administrasi LAN Apotek Gambar 9 Rancangan Arsitektur Jaringan Gambar 9 memperlihatkan rancangan arsitektur jaringan sistem yang akan dikembangkan. Arsitektur jaringan menggambarkan bagaimana hubungan antara perangkat yang digunakan oleh user dengan server. Perangkat lunak aplikasi dan basisdata rekam medis Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya tersimpan dalam satu server dan di tiap unit layanan terdapat perangkat komputer yang terhubung dengan server menggunakan jaringan intranet. 4. KESIMPULAN Berdasarkan penjelasan sebelumnya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Rancangan aplikasi yang dibuat terdiri atas pelayanan rawat inap, pelayanan rawat jalan, pengelolaan laboratorium, pengelolaan apotek, dan pembuatan laporan rekam medis. 2. Rancangan yang dihasilkan berupa DFD, ERD, diagram dekomposisi, dan antar muka aplikasi. IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

44 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret SARAN Penelitian ini tidak terlepas dari kekurangan, berikut ini saran yang dapat diberikan sebagai bahan pertimbangan peneliti selanjutnya: 1. Untuk pengembangan aplikasi dari perancangan ini, diharapkan ada penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi masalah maupun kebutuhan secara lebih mendalam; 2. Diharapkan dapat ditambahkan modul lain sebagai pemeriksaan penunjang pasien seperti fisiotherapi dan rekam jantung; 3. Apabila rancangan sistem informasi rekam medis ini akan diaplikasikan, maka perlu dipastikan tersedianya fasilitas/sarana yang mendukung di Puskesmas Simpang Timbangan Indralaya. DAFTAR PUSTAKA [1] Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia NOMOR 269/MENKES/PER/III/2008. [Online]. Tersedia: [14 Maret 2014] [2] Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1996.[Online]. Tersedia: 0Tenaga%20Kesehatan.pdf. [14Maret 2014] [3] Sjamsuhidajat, dkk Manual Rekam Medis. Jakarta Selatan: Konsil Kedokteran Republik Indonesia [4] Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 128 Tahun [Online]. Tersedia: 20Kebijakan%20Dasar%20Puskesmas.pdf. [14 Oktober 2014] [5] Delimayanti Perancangan dan Analisis Perangkat Lunak Berbasis Web Sebagai Alat Rekam Medis Pasien di Puskesmas. Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2007 (SNATI 2007) [6] Whitten, L Jeffery Metode Desain dan Analisis Sistem. Yogyakarta: ANDI [7] Kadir, Abdul Pengenalan Sistem Informasi. Yogyakarta: ANDI [8] Jogiyanto, HM Sistem Teknologi Informasi. Yogyakarta: ANDI Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

45 ISSN: ISSN : Sistem Informasi Pemakaian Sparepart Mesin Packing pada PT. XYZ Triana Elizabeth, Stephanie Darmawan H STMIK GI MDP; Jl.Rajawali No.14, Program Studi Teknik Informatika, STMIK GI MDP, Palembang Abstrak Salah satu produk yang dihasilkan oleh PT XYZ adalah mie instant. Proses produksi dalam memproduksi mie instant berlangsung dalam beberapa tahapan, termasuk melewati tahapan packing. Oleh sebab itu, dibutuhkan beberapa mesin packing yang dapat memperlancar proses pengemasan mie instant sehingga kualitasnya dapat terjaga dengan baik. Untuk menjaga kelancaran proses packing, maka mesin-mesin tersebut harus dijaga agar tetap dalam kondisi baik dan layak pakai. Untuk dapat mengoperasikan dengan baik, maka harus diperhatikan persediaan sparepart. Jika terjadi kerusakan pada bagian tertentu dari mesin packing, maka sparepart mesin packing tersebut dapat segera diganti. Akibat jumlah sparepart mesin packing yang kurang jelas, akan menganggu jalannya proses packing dan proses produksi mie sehingga akan menyebabkan kerugian. Oleh sebab itu perlu dibuat suatu sistem yang terkomputerisasi berbasis desktop yang dapat memberikan informasi pemakaian sparepart mesin packing sekaligus dapat memberikan informasi jumlah sparepart yang tersedia. Sistem Informasi ini dibangun dengan bahasa pemrograman VB.Net dan menggunakan program IDE Microsoft Visual Studio 2008 serta DBMS Microsoft SQL Server Kata kunci Spare Part, Packing Abstract One of the products produced by PT XYZ is instant noodles. The production process in producing instant noodles takes place in several stages, including passing the packing stage. Therefore, it takes some packing machine which can expedite the process of packaging of instant noodles, so the quality can be maintained. To maintain the smooth process of packing, then the machines must be kept in good condition and unfit for use. To be able to operate properly, it must be noted inventory of spare parts. If there is damage to a particular part of the packing machine, packing machine spare parts so it can be replaced. Due to the number of spare parts that are less clear packing machine, will interfere with the course of the process of packing and noodle production process so that it will cause harm. Therefore it needs to make a desktop-based computerized system that can provide information on the use of spare parts packing machine also can provide information on the number of spare parts that tersedia.sistem This information is built with VB.Net programming language and IDE program using Microsoft Visual Studio 2008 and Microsoft SQL DBMS server Keywords Spare Part, Packing IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

46 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret P 1. PENDAHULUAN ersaingan antar perusahaan akhir-akhir ini tidak lagi terbatas secara lokal, tetapi mencakup kawasan regional dan global. Oleh karena itu, setiap perusahaan berlomba untuk terusmenerus mencari cara untuk mampu bersaing dan memiliki keunggulan kompetitif agar tetap hidup dan berkembang. Persaingan ini harus didukung oleh kelancaran proses produksi dalam perusahaan itu sendiri. Kelancaran proses produksi merupakan tuntutan utama yang harus dipenuhi agar target perusahaan dapat tercapai. Dalam dunia bisnis sekarang ini, penggunaan komputer merupakan suatu kebutuhan untuk membantu proses bisnis. Sistem informasi dibuat dan dibangun dengan baik agar meningkatkan produktivitas, menghilangkan kegiatan yang tidak memiliki manfaat, meningkatkan layanan, mengkoordinasikan setiap bagian dalam perusahaan serta meningkatkan kualitas kebijakan dalam manajemen. Sebuah sistesystemrmasi yang dibangun dan dipelihara dengan baik akan memberikan manfaat berwujud yang secara fakta dapat dilihat pergerakannya melalui pendapatan yang diraih serta biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan maupun organisasi bisnis. Indikator dari keberhasilan/ manfaat yang berdampak pada peningkatan pendapatan dapat diulur dengan meningkatnya penjualan dalam pasar, serta mengalami perluasan pangsa pasar. Sistem informasi yang baik dapat digunakan tidak hanya untuk penyimpanan data secara elektronik saja, tetapi harus mampu mendukung proses analisis yang diperlukan oleh manajemen, karena dengan adanya laporan yang tersaji dengan cepat dan setiap saat dapat diakses tersebut, maka keputusan-keputusan yang diambil pun dapat lebih cepat dan tepat terhadap dinamika pasar yang ada. Pemanfaatan teknologi dalam implementasi pada dunia bisnis diperlukan untuk membantu manusia menyelesaikan pekerjaannya secara cepat, efektif, dan efisien. Namun, banyak yang belum maksimal, dimana masih terdapat perusahaan-perusahaan di dalam negeri yang belum memanfaatkan komputer pada setiap proses bisnisnya salah satunya adalah PT XYZ. PT XYZ bergerak dibidang produksi makanan dan minuman, Salah satu produk dari PT XYZ adalah mie instant. Proses produksi dalam memproduksi mie instant berlangsung dalam beberapa tahapan yaitu : tahap mixing (pencampuran), pressing (pengepresan), slitting (pembentukan untaian), steaming (pengukusan), cutting and folder (pemotongan dan pencetakan), frying (penggorengan), cooling (pendinginan), dan packing (pengemasan). Pada proses packing dibutuhkan beberapa mesin packing yang dapat memperlancar proses pengemasan mie instant sehingga kualitasnya dapat terjaga dengan baik. Untuk menjaga kelancaran proses packing, maka mesin-mesin tersebut harus dijaga agar tetap dalam kondisi baik dan layak pakai. Untuk dapat mengoperasikan dengan baik, maka harus diperhatikan persediaan sparepart. Jika terjadi kerusakan pada bagian tertentu dari mesin packing, maka sparepart mesin packing tersebut dapat segera diganti. Akibat jumlah sparepart mesin packing yang kurang jelas, akan menganggu jalannya proses packing dan proses produksi mie sehingga akan menyebabkan kerugian. Oleh sebab itu perlu dibuat suatu sistem yang terkomputerisasi berbasis desktop yang dapat memberikan informasi pemakaian sparepart mesin packing sekaligus dapat memberikan informasi jumlah sparepart yang tersedia. Beberapa literatur yang digunakan sebagai pedoman dan acuan untuk merancang Sistem Informasi pemakaian sparepart mesin packing antara lain : a. Rahmat Tri Cahyono (2010) Penelitian ini berjudul : Sistem Informasi Persediaan Barang pada Apotik Madukoro Menggunakan Java. penelitian ini membahas tentang persediaan barang pada apotek madukoro berbasis aplikasi Java. Tujuan dari penelitian ini adalah mempermudah proses transaksi penjualan, transaksi pembelian spare parts bagi suatu perusahaan dan efisiensi waktu dan kemudahan pelayanan pada transaksi jual beli [1]. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

47 ISSN: ISSN : b. Firmansyah (2005) Penelitian ini berjudul : Sistem Informasi Administrasi Sparepart pada Gudang Pool Taksi Bluebird Ciputat dengan Menggunakan Aplikasi Java. Penelitian ini membahas proses pengadaan dan pengelolaan spare parts dengan kegiatan keluar masuknya spare parts [2]. c. Yuhendra dan Rendi Poerwanta (2013) Penelitian tersebut berjudul perancangan sistem inventory spare parts mobil pada CV Auto Parts Toyota Berbasis Aplikasi Java. penelitian tersebut berawal dari keinginan CV Auto Parts Toyota terhadap subuah software yang terstruktur sehingga data data maupun informasi dari seluruh persediaan barang, data barang, data pelanggan, data pemasok, data jenis barang, transaksi penjualan, transaksi pembelian, transaksi return, transaksi hutang, transaksi piutang, dan laporan semua data dan transaksi dapat diakses dan diketahui dengan mudah [3]. d. Kaan Ozbay, Eren erman, SamiDemiroluk (2012) Penelitian ini berjudul : An Efficient Maintenance and Spare Parts Inventory Management Software for ITS Equipment. Penelitian ini berfokus pada pemeliharaan yang lebih baik dari peralatan ITS (Intelligent Transportation Systems) sehingga dapat memaksimalkan kinerja sistem secara keseluruhan. Pengontrolan ketersediaan suku cadang atau komponen-komponen ITS sangat penting karena jika suku cadang atau komponen-komponen yang dibutuhkan tidak tersedia sewaktu dibutuhkan maka akan mengakibatkan keterlambatan dan berdampak pada meningkatnya biaya yang hasrus dikeluarkan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang suatu sistem manajemen persediaan yang akan meminimalkan stock-outs dan pada saat yang sama membantu dalam mempertahankan tingkat persediaan seoptimal mungkin sesuai dengan kebutuhan peralatan. Diharapkan melalui sistem ini dapat memantau kinerja peralatan, meningkatkan waktu penggunaan peralatan melalui tindakan perawatan yang lebih baik dan tepat waktu, mengektifkan jadwal kegiatan untuk pemeliharaan peralatan [4]. Berikut adalah dasar-dasar teori yang penulis gunakan dalam pembuatan sistem informasi ini, yaitu : a. Aplikasi Desktop Aplikasi desktop adalah suatu aplikasi yang dapat berjalan sendiri atau independen tanpa menggunakan browser atau koneksi internet di suatu komputer otonom, dengan sistem operasi atau platform tertentu. [5] Bahasa pemrograman yang pada umumnya digunakan dalam membuat aplikasi desktop antara lain Visual Basic, Delphi, FoxPro, Bahasa C, dan lain-lain. Contoh dari aplikasi desktop adalah Adobe Reader 9, ACD See Ori 2.5, dan Nero Express. Pada penelitian ini penulis mengembangkan dan membuat aplikasi desktop dengan menggunakan visual basic. b. Microsoft Visual Studio 2008 Microsoft Visual Studio 2008 merupakan aplikasi pemrograman yang menggunakan teknologi.net framework. Teknologi.Net framework merupakan komponen Windows yang terintegrasi serta mendukung pembuatan, penggunaan aplikasi, dan halaman web. Microsoft Visual Studio dapat digunakan untuk mengembangkan aplikasi dalam native code (dalam bentuk bahasa mesin yang berjalan di atas Windows) ataupun managed code (dalam bentuk Microsoft Intermediate language di atas.net Framework). Selain itu, Microsoft Visual Studio juga dapat digunakan untuk mengembangkan aplikasi Silverlight, aplikasi Windows Mobile (yang berjalan di atas.net Compact Framework).[6] IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

48 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret c. Database Database adalah kumpulan fakta-fakta sebagai representasi dari dunia nyata yang saling berhubungan dan mempunyai arti tertentu. [7] Database adalah kumpulan data yang terdiri atas satu atau lebih tabel yang terintegrasi satu sama lain, di mana setiap pemakai (user) diberi wewenang (otorisasi) untuk dapat mengakses (mengubah, menghapus, menganalisis, menambah, dan memperbaiki) data dalam tabel-tabel tersebut [8]. d. Microsoft SQL 2008 SQL Server adalah RDBMS (Relational Database Management System) dengan arsitektur client server yang disertai dengan berbagai komponen dan service/layanan yang menjadikan platform yang komprehensif (memiliki cakupan luas) untuk aplikasi enterprise.[9] SQL Server menggunakan objek yang bernama Database Server yang berfungsi layaknya manajer untuk mengatur database-database yang ada, biasanya SQL Server banyak digunakan untuk menangani data-data yang besar [6]. e. Crystal Report Crystal Report merupakan peranti standar untuk pembuatan laporan pada sistem operasi Windows, dimana cetakan/template laporan yang dihasilkan dapat disertakan pada banyak bahasa pemrograman. [10] Crystal Report terdiri dari tiga bagian utama, yaitu: a. Toolbox, yang berfungsi untuk menambahkan objek-objek ke dalam report designer. b. Field Explorer, yang berfungsi untuk menampilkan daftar field, formula, dan pernyataanpernyataan SQL serta yang lainnya. c. Report Designer, yang berfungsi untuk meletakkan objek-objek yang digunakan pada laporan. 2. METODE PENELITIAN Metode pengembangan sistem pada penelitian ini adalah metode iterative. Metode iterative merupakan proses siklus atau interaktif. Artinya harus bergerak diantara empat kumparan, yaitu proses pengumpulan data, penyajian data, reduksi data, dan kesimpulan atau verifikasi. Dengan begitu, analisis ini merupakan sebuah proses yang berulang dan berlanjut secara terus menerus dan saling menyusul. [11] Terdapat lima tahapan pada metode iterative, yaitu : a. Perencanaan Pada tahap ini, dilakukan pendefinisian dari permasalahan yang ada untuk menentukan ruang lingkup, menentukan metodologi pengembangan aplikasi yang digunakan, serta membuat jadwal kegiatan dengan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data seperti wawancara, observasi, maupun studi literature. Pada penelitian ini, peneliti mempelajari proses bisnis yang sedang berjalan pada PT XYZ melalui observasi secara langsung maupun melakukan wawancara terhadap pihakpihak yang terkait dalam PT XYZ b. Analisis Sistem Pada tahap ini, dilakukan analisis sistem yang sudah ada dengan mengidentifikasi permasalahan, menentukan tujuan dari perbaikan suatu sistem, dan mengiidentifikasi kebutuhan pengguna. c. Perancangan Pada tahap ini, dilakukan perancangan sistem yang menggambarkan suatu model sistem untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan dimana penulis merancang database dan merancang tampilan antar muka aplikasi. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

49 ISSN: ISSN : d. Implementasi Pada tahap ini dilakukan pengkodingan dan pengujian terhadap sistem informasi yang telah dibuat dan melakukan penginstalan serta melaksanakan pelatihan bagi pengguna sistem informasi. e. Pemeliharaan Pada tahap ini dilakukan proses yang diperlukan untuk menjamin kelangsungan, kelancaran, dan penyempurnaan sistem yang telah dioperasikan. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut ini merupakan tampilan antarmuka sistem informasi pemakaian sparepart mesin packing pada PT XYZ : a. Form Login Form ini akan selalu muncul setiap kali user membuka/menjalankan aplikasi tersebut. Untuk dapat menggunakan aplikasi tersebut user harus menginput ID dan password. Tampilan form login dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Form Login b. Form Menu Utama Setelah ID dan password user cocok, maka user akan masuk ke form utama. Pada form utama ini, user dapat memilih berbagai macam proses pengolahan data yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan. Tampilan form menu utama dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. Form Menu Utama IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

50 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret c. Form Data User Form ini digunakan untuk menambah data user. Button Simpan berfungsi untuk menyimpan data user yang baru ke dalam database. Tampilan form data user dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Form Data User d. Form Ubah Password Form ini digunakan untuk mengubah password pada data user yang telah ada. Tampilan form ubah password dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Form Ubah Password e. Form Data Spare Part Form ini dapat menyimpan data spare part yang baru. Selain itu, form ini juga dapat membantu user dalam melihat stok spare part yang ada,dengan cara menginput Kode, lalu mengklik button Cari Data. Maka, akan tampil Nama, Stok, Harga sesuai dengan kode yang telah diinput. Tampilan form data spare part dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5. Form Data Spare Part Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

51 ISSN: ISSN : f. Form Pembelian Form pembelian ini digunakan untuk melakukan transaksi pembelian. Button Tambahkan berfungsi untuk menampilkan data sparepart ke data grid view sesuai dengan nama spare part yang dipilih. Button Cari Data berfungsi untuk menampilkan Form Barang Habis. Tampilan form pembelian dapat dilihat pada Gambar 6. Gambar 6. Form Pembelian g. Form Pemakaian Form pemakaian ini digunakan untuk melakukan transaksi pemakaian. Jika user memakai suatu barang yang sudah terdaftar pada Form Barang, maka otomatis stok barang tersebut akan berkurang. Button Tambahkan berfungsi untuk menampilkan data sparepart ke data grid view sesuai dengan nama sparepart yang dipilih. Tampilan form pemakaian dapat dilihat pada Gambar 7. Gambar 7. Form Pembelian h. Form Barang Habis Form ini akan tampil ketika button Cari Data pada Form Pembelian diklik. Form ini bertujuan untuk memberi informasi kepada pengguna aplikasi, tentang spare part apa saja yang stok nya kurang dari sama dengan dua. Tampilan form barang habis dapat dilihat pada Gambar 8. IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

52 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Gambar 8. Form Barang Habis i. Form Cetak Laporan Form ini digunakan untuk menampilkan laporan pembelian dan pemakaian sesuai dengan tanggal yang telah dipilih. Tampilan form cetak laporan dapat dilihat pada Gambar 9. Gambar 9. Form Cetak Laporan j. Laporan Pembelian Laporan ini menampilkan informasi mengenai pembelian spare part berdasarkan tanggal yang telah di input oleh user pada Form Cetak Laporan. Tampilan laporan pembelian spare part dapat dilihat pada Gambar 10. Gambar 10. Laporan Pembelian Spare Part k. Laporan Pemakaian Spare Part Laporan ini menampilkan informasi mengenai pemakaian spare part berdasarkan tanggal yang telah di input oleh user pada Form Cetak Laporan. Tampilan laporan pemakaian spare part dapat dilihat pada Gambar 11. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

53 ISSN: ISSN : Gambar 11. Laporan Pemakaian Spare Part Tabel 1 merupakan hasil pengujian yang dilakukan terhadap Sistem Informasi Pemakaian Spare Part Mesin Packing PT XYZ. Tabel 1. Hasil Pengujian Sistem Informasi Pengujian pada Form Login No. Kasus Hasil yang diharapkan Hasil Pengujian 1. Pengguna memasukkan username dan password yang benar, lalu menekan tombol Login. 2. Pengguna tidak memasukkan username atau password, lalu menekan tombol Login. 3. Pengguna menginput username atau password yang salah, lalu menekan tombol Login. 4. Pengguna menginput username atau password yang salah lebih dari tiga kali. Login berhasil dan aplikasi akan menampilkan form Menu Utama. Aplikasi menampilkan pesan "Maaf, Anda belum mengisi username atau password." Aplikasi menampilkan pesan "Maaf, username atau password Anda salah." Aplikasi menampilkan pesan "Maaf, Anda sudah tiga kali salah memasukkan username atau password. Silahkan buka aplikasi kembali."dan aplikasi tertutup. Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil 5. Pengguna menekan tombol TUTUP. Aplikasi tertutup. Berhasil Pengujian pada Form Menu Utama No. Kasus Hasil yang diharapkan Hasil Pengujian 1. Menekan tombol User Menampilkan form Data User Berhasil 2. Menekan tombol Data Menampilkan form Data Spare Berhasil Part 3. Menekan tombol Transaksi Pembelian Menampilkan form Transaksi Berhasil Pembelian 4. Menekan tombol Transaksi Pemakaian Menampilkan form Transaksi Berhasil Pemakaian 5. Menekan tombol Lihat Data Menampilkan form Barang Habis Berhasil 6. Menekan tombol Laporan Menampilkan form Cetak Laporan Berhasil Pengujian pada Form Data User No. Kasus Hasil yang diharapkan Hasil Pengujian 1. Memasukkan ID, Password, dan Confirm Password dengan benar lalu menekan tombol Simpan Data User tersimpan Berhasil IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

54 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Memasukkan ID, Password, dan Confirm Password dimana Password dan Confirm Password tidak sama lalu menekan tombol Simpan Menampilkan pesan : Password dan Confirm Password Tidak Sama Berhasil 3. Menekan tombol Tutup Menutup form Data User Berhasil Pengujian pada Form Data Spare Part No. Kasus Hasil yang diharapkan Hasil Pengujian 1. Memasukkan Kode, Nama, Stok, dan Harga dengan benar dan lengkap lalu menekan tombol Simpan Data Spare Part tersimpan 2. Memasukkan data tidak lengkap Menampilkan pesan : Data Tidak Lengkap 3. Menekan tombol Cari Data Menampilkan Data Spare Part yang telah tersimpan dalam database Berhasil Berhasil Berhasil 4. Menekan tombol Tutup Menutup form Data Spare Part Berhasil Pengujian pada Form Pembelian No. Kasus Hasil yang diharapkan Hasil Pengujian 1. Memilih barang yang akan dibeli lalu memasukkan jumlah barang yang akan dibeli lalu menekan tombol Simpan Data Pembelian Barang tersimpan Berhasil 2. Menekan tombol Batal Membatalkan Pembelian Barang Berhasil 3. Menekan tombol Tutup Menutup form Pembelian Berhasil Pengujian pada Form Pemakaian No. Kasus Hasil yang diharapkan Hasil Pengujian 1. Memilih aparepart yang akan dipakai lalu memasukkan jumlah barang yang akan dipakai lalu menekan tombol Simpan Data Pemakaian Sparepart tersimpan Berhasil 2. Menekan tombol Tutup Menutup form Pemakaian Berhasil Pengujian pada Form Barang Habis No. Kasus Hasil yang diharapkan Hasil Pengujian 1. Menekan tombol Tutup Menutup form Barang Habis Berhasil Pengujian pada Form Cetak Laporan No. Kasus Hasil yang diharapkan Hasil Pengujian 1. Memilih tanggal dari dan tanggal sampai laporan yang ingin dicetak lalu memilih laporan apa yang ingin dicetak lalu menekan tombol tampilkan Menampilkan laporan yang ingin dicetak Berhasil 4. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengujian Sistem Informasi Pemakaian Spare Part Mesin Packing PT XYZ, maka penulis menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Dengan adanya sistem informasi ini, user dapat mengetahui spare part apa saja yang harus dibeli. 2. User juga dapat melihat laporan pembelian dan pemakaian spare part sesuai dengan tanggal yang diinginkan. Selain itu, berdasarkan wawancara terhadap pihak PT XYZ yang terkait setelah sistem informasi ini diimplementasikan, dapat diketahui bahwa sistem informasi ini telah memenuhi atau menjawab kebutuhan yang awalnya dirumuskan.. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

55 ISSN: ISSN : SARAN Saran kedepannya untuk membantu pengembangan sistem informasi pemakaian spare part mesin packing pada PT XYZ guna memperoleh hasil yang lebih baik dan bermanfaat bagi pengguna, antara lain : a. Memasukkan umur teknis terhadap masing masing spare part dan menampilkan pesan peringatan untuk memberikan informasi kepada pengguna tentang spare part apa saja yang umur teknisnya hampir habis. b. Memasukkan data supplier pada transaksi pembelian sehingga dapat memudahkan pengguna untuk mencari tahu data suplier dari suatu spare part. DAFTAR PUSTAKA [1] Cahyono, Rahmat Tri, 2010, Jurnal Sistem Informasi Persediaan Barang pada Apotik Madukoro Menggunakan Java, Amikom, Yogyakarta [2] Firmansyah, 2005, Jurnal Sistem Informasi Administrasi Sparepart pada Gudang Pool Taksi Bluebird Ciputat dengan Menggunakan Aplikasi Java. [3] Yuhendra, Poerwanta Rendi, 2013, Perancangan Sistem Inventory Spare Parts Mobil pada CV Auto Parts Toyota Berbasis Aplikasi Java, Jurnal TEKNOIF Vol 1 No2 Edisi Oktober 2013 [4] Ozbay Kaan, Erman Eren, dan Demiroluk Sami, 2012, An Efficient Maintenance and Spare Parts Inventory Management Software for ITS Equipment, Istanbul Turkey : IEEE International Conference on Vehicular Electronics and Safety [5] Konixbam, 2009, Aplikasi Desktop Menggunakan VB. Net, Surabaya [6] Komputer, Wahana 2010, SQL Server 2008 Express, Andi, Yogyakarta [7] Andi 2002, Mengolah Database dengan SQL pada Interbase Menggunakan Delphi 6.0, Bandung [8] Al-Bahra, 2004, Konsep Sistem Basis Data, Graha Ilmu, Jakarta [9] Kusumo, Ario Suryo 2006, Microsoft SQL Server, Jakarta [10] Santoso, Harip 2008, 1 Jam Bersama Crystal Report, Yogyakarta [11] Idrus, Muhammad 2009, Metode Pengembangan Teknologi, Surabaya IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

56 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Perancangan Prototipe Sistem Pemesanan Makanan dan Minuman Menggunakan Mobile Device Sandy Kosasi STMIK Pontianak, Jl. Merdeka No. 372 Pontianak & Abstrak Tujuan penelitian ini menghasilkan sebuah prototipe aplikasi sistem pemesanan makanan dan minuman yang lebih efisien dan efektif melalui perangkat mobile devices dalam menikmati sajian berbagai jenis makanan dan minuman dan kesempatan untuk meningkatkan hubungan personalisasi dengan pengunjung/pelanggan restoran secara online. Penelitian berbentuk survei dengan metode penelitian research & development (R&D). Untuk perancangan prototipe aplikasi menggunakan model agile dengan metode extreme programming dan pemodelan sistemnya menggunakan Unified Modeling Language (UML). Sistem aplikasi ini memiliki 3 interface utama yaitu, interface bagian pelayan (waitress), intreface dapur (chef) dan interface kasir (cashier). Ketiga modul ini saling berhubungan melalui proses integrasi database. Model perancangan arsitekturnya mendeskripsikan perangkat lunak disisi web server dan dan komputer client. Dalam pembuatan web server menggunakan perangkat apache, script PHP dengan dukungan database MySQL. Kata Kunci: Aplikasi Pemesanan, Makanan dan Minuman, Extreme Programming, Mobile devices Abstract The purpose of this research resulted in a more efficient and effective prototype system application of ordering food and beverage through mobile devices in enjoying various types of food and beverage, and chances to increase the personalization relationship with online visitors or customers of a restaurant. This research is in form of a survey and uses research & development (R & D) method. The design of prototipe system applications use an agile model with extreme programming method, and the modeling of the system uses Unified Modeling Language (UML). This application system has three main interfaces of waiter (waitress), kitchen (chefs) and cashier (cashier). These three modules interconnected through the database integration processes. The architectural describe the software at the web server and its clients. The web server design uses apache software supported by PHP script with MySQL database. Keywords: Application of reservation, Food and Beverage, Extreme Programming, Mobile devices Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

57 ISSN: ISSN : PENDAHULUAN Bisnis restoran sudah menjadi bagian dari kehidupan yang cenderung semakin meningkat dan berkembang seiring dengan meningkatnya taraf hidup pendapatan masyarakat. Bisnis restoran tidak lagi sekedar menyajikan menu makanan dan minuman bagi setiap pengunjung/pelanggannya. Beragam variasi makanan dan minuman memang menjadi daya tarik setiap restoran dibandingkan dengan makanan di rumah. Kondisi ini menjadi tantangan bagi para pemilik bisnis kuliner yang senantiasa harus bersaing dengan ketat, karena setiap restoran harus dapat menawarkan sesuatu yang berbeda. Selain dari sisi ketersediaan untuk semua variasi menu makanan dan minuman, juga harus menekankan kepada pentingnya sistem pelayanannya. Hal ini sangat penting karena bisnis restoran yang mampu menyajikan makanan secara cepat, tepat dan benar dapat memberikan kepuasan kepada setiap pengunjung/pelanggan restoran [1]. Kenyataan ini jelas membutuhkan sebuah sistem aplikasi pemesanan makanan dan minuman dengan memanfaatkan penggunaan teknologi informasi melalui perangkat mobile devices. Melalui dukungan perangkat teknologi mobile devices memungkinkan sistem pemesanan dapat memberikan banyak kemudahan dan lebih fleksibel dalam memesan menu makanan dan minuman secara online berbasis client/server [2]. Perangkat teknologi mobile devices berbasis client/server dapat memberikan banyak solusi kemudahan terkait dengan sistem pelayanannya. Teknologi client/server merupakan suatu sistem atau program aplikasi yang menggabungkan antara satu sistem dan yang lainnya dimana salah satu sistem ada yang dijadikan Server, sehingga akan menghasilkan suatu output yang dapat dioperasikan di kedua sistem tersebut, dimana pada sistem atau program aplikasi ini dapat dijalankan secara bersama-sama pada jaringan komputer [2]. Melalui teknologi client/server dengan menggunakan platform android dapat menyediakan berbagai kelebihan dalam proses pemesanan makanan dan minuman menjadi lebih mudah dan cepat, menghindari kendalakendala yang sering terjadi pada proses pemesanan dengan alat tulis (kertas dan pulpen), penyajian makanan dan minuman sesuai dengan pesanan, waktu pemesanan menjadi lebih cepat, meminimalisasi kekeliruan dan kerangkapan pemesanan, kesalahan perhitungan jumlah pembayaran, dan mengurangi waktu tunggu (antrian). Kondisi ini sangat meresahkan bagi para pengunjung/pelanggan yang benar-benar mengutamakan arti komitmen waktu. Oleh karena itu, melalui kehadiran sistem ini akan sangat bermanfaat bagi pelayan untuk mencatat setiap pesanan pelanggan dengan menggunakan komputer genggam (pocket PC), ipad atau PDA (Personal Digital Assistant) [3]. Penelitian sistem pemesanan makanan dan minuman untuk bisnis restoran yang relevan diantaranya sistem pemesanan foodcourt menggunakan mobile devices menggunakan koneksi wifi. Sistem pemesanan ini merupakan satu set server-side forms controls untuk membangun aplikasi perangkat mobile nirkabel. Kontrol ini menghasilkan output yang berbeda, yaitu WML, HTML, atau compact HTML dengan menggunakan metode prototyping. Keperluan pemesanan menu makanan pada foodcourt dapat menggunakan mobile phone sehingga lebih cepat dan efisien [4]. Sistem pemesanan menggunakan teknologi mobile android untuk pemesanan makanan dapat membantu proses bisnis, dan juga dapat membantu konsumen agar lebih mudah untuk memesan menu makanan. Aplikasi pemesanan menu makanan ini memakai PC dibagian server dapur atau kasir, dan dibagian konsumen atau pelayanan menggunakan mobile android sebagai client. Adapun bahasa pemrograman yang digunakan dalam pembuatan aplikasi ini merupakan bahasa pemrograman JAVA [5-6]. Sistem pemesanan digital melalui aplikasi android dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas mekanisme pelayanan, efektivitas biaya operasional, kemudahan dalam transaksi pembayaran, dan peluang membangun hubungan personalisasi dengan pengunjung/ pelanggan restoran [7-8]. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya untuk metode perancangan aplikasinya. Penelitian ini menggunakan metode agile dengan metode extreme programming. Sistem pemesanan makanan dan minuman menggunakan mobile devices yang diakses dengan memanfaatkan koneksi wifi terdiri dari 3 interface utama yaitu, interface bagian pelayan, IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

58 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret intreface bagian dapur dan interface kasir. Model arsitektur ini mendeskripsikan rancangan dari perangkat lunak disisi web server dan komputer client. Web server menggunakan apache, script PHP dan database MySQL. Informasi detil makanan dan minuman yang telah dipesan oleh pelanggan dan yang telah dimasak oleh chef bisa dilihat oleh bagian kasir ketika pelanggan ingin membayar pesanannya. Bagian kasir tidak perlu melakukan perhitungan total biaya pesanan karena pada sistem tersebut sudah tertera total biaya dari pesanan. Pencatatan pesanan pelanggan oleh pelayan sifatnya berurutan sehingga membantu bagian dapur dalam menentukan pesanan mana yang harus didahulukan. Tujuan penelitian ini menghasilkan sebuah sistem pemesanan makanan dan minuman yang lebih efisien dan efektif melalui perangkat mobile devices dalam menikmati sajian berbagai jenis makanan dan minuman dan kesempatan untuk meningkatkan hubungan personalisasi pengunjung/pelanggan restoran secara online. 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan bentuk survei dengan metode penelitian research & development (R&D), dan perancangan aplikasinya menggunakan model agile dengan metode extreme programming. Perancangan sistem pemesanan makanan dan minuman menggunakan perangkat mobil devices dengan metode extreme programming (XP) terdiri dari planning, design, coding dan testing. Extreme programming merupakan salah satu metodologi dalam rekayasa perangkat lunak dan juga merupakan satu dari beberapa agile software development methodologies yang berfokus pada coding sebagai aktivitas utama di semua tahap pada siklus pengembangan perangkat lunak. Metodologi ini mengedepankan proses pengembangan yang lebih memiliki daya tanggap terhadap kebutuhan pengunjung/pelanggan restoran dibandingkan dengan metode-metode tradisional sambil membangun suatu perangkat lunak dengan kualitas yang lebih baik [9]. Untuk pemodelan sistemnya menggunakan UML (Unified Modeling Language). Instrumen penelitian melalui teknik wawancara dan observasi. Dalam penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 30 (tiga puluh) restoran yang selama ini memang sudah memiliki dan menerapkan pemanfaatan teknologi jaringan internet dengan koneksi wifi dalam memberikan jasa pelayanannya [10]. Variabel dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu perancangan sistem pemesanan makanan dan minuman menggunakan mobile devices. Aspek penelitian meliputi perancangan formulir untuk permintaan barang, informasi data barang dan perancangan halaman utama. Pemilihan cara pengujian menggunakan data yang mudah diperiksa (easy values), data yang sederhana dan mudah dihitung (typical realistic values), data yang ekstrim (extreme values) dan data yang tidak diperbolehkan (illegal values) [11]. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Perancangan prototipe sistem aplikasi pemesanan makanan dan minuman menggunakan mobile devices dimulai diawali dengan membuat user stories yang menggambarkan output, fitur, dan fungsi-fungsi dari perangkat lunak yang akan dibuat. User stories tersebut kemudian diberikan bobot seperti prioritas dan dikelompokkan untuk selanjutnya dilakukan proses delivery secara incremental. Pengumpulan data merupakan komponen yang penting dalam tahap analisis ini. Pengumpulan data dilakukan dengan mewawancarai pemilik, observasi dan studi dokumen. Berdasarkan semua hasil dari wawancara yang sudah dilakukan, diolah kembali melalui mekanisme sumber jawaban responden. Semua hasil wawancara ini menjadi masukan penting dalam analisis kebutuhan melakukan perancangan prototipe ini. Untuk mempermudah pemahaman kebutuhan aplikasi, dikelompokkan kedalam dua jenis kebutuhan yaitu kebutuhan fungsional dan kebutuhan nonfungsional. Kebutuhan fungsional adalah kebutuhan yang berisi Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

59 ISSN: ISSN : proses-proses apa saja yang nantinya dilakukan oleh aplikasi. kebutuhan nonfungsional adalah kebutuhan yang menitik beratkan pada properti prilaku yang dimiliki oleh aplikasi. Sistem aplikasi pemesanan makanan dan minuman menggunakan mobile devices menggunakan strategi pemisahan antara modul pengguna sesuai dengan level masing-masing pengguna. Dalam aplikasi ini terdapat empat bagian pengguna yaitu admin yang melakukan pengelolaan data makanan dan minuman, waitress melakukan pencatatan data pesanan dengan menggunakan perangkat mobile seperti ipad ataupun iphone, chef menyediakan dan mempersiapkan pesanan pelanggan sesuai dengan data yang kirim oleh waitress dari perangkat mobile, sedangkan cashier melakukan penagihan terhadap pesanan pelanggan sesuai dengan data yang pesanan yang telah diolah chef. Untuk fase berikutnya melakukan perancangan antarmuka pengguna. Hal ini dilakukan guna memastikan bahwa aplikasi yang akan dibuat dapat diterima dan nyaman digunakan oleh pengguna. Aplikasi yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah sistem aplikasi pemesanan makanan dan minuman menggunakan mobile devices. Dalam arsitektur tradisional, fokusnya adalah benar pada pengguna dan kebutuhan pengguna. Hal ini memerlukan perhatian khusus pada konten web, rencana bisnis, kegunaan, desain interaksi, informasi dan desain arsitektur web. Untuk optimasi mesin pencari yang efektif perlu memiliki apresiasi tentang bagaimana sebuah situs web terkait dengan World Wide Web. Model arsitektur ini mendeskripsikan rancangan dari perangkat lunak disisi web server dan komputer client. Web server menggunakan apache, script PHP dan database MySQL. Aplikasi dapat memberikan kemudahan bagi pengguna karena dibuat dengan interface yang mudah digunakan dan dapat menangani masalah pengelolaan data food dan beverage dimana data yang tersimpan dalam bentuk file yang terpusat dalam bentuk server dan kemudian diproses oleh komputer. Data tersimpan secara terpusat pada web server dalam bentuk file memberikan kemudahan kepada setiap level pengguna karena kegiatan dari setiap level pengguna saling terkait. Waitress tidak perlu lagi melakukan pencatatan setiap pesanan menggunakan kertas akan tetapi menggunakan perangkat mobile yang sudah dipasang aplikasi. Sistem aplikasi dapat memberikan kemudahan bagi chef untuk menyediakan menu yang telah dipesan oleh tamu dengan membuka daftar pesanan pada aplikasi. Membantu kasir untuk mengetahui jumlah uang yang harus dibayar oleh tamu tanpa harus menghitung ulang dari setiap menu yang dipesan tamu. Perancangan arsitektur mempresentasikan framework dari aplikasi perangkat lunak yang dibangun. Deskripsi arsitektur mengadopsi spesifikasi aplikasi, model analisis, dan interaksi subaplikasi yang telah didefinisikan pada awal tahap analisis kebutuhan sistem. Proses bisnis diawali dengan domain waitress dalam melakukan proses mencatat pesanan pelanggan setelah itu data tersimpan di data center sebagai data pesanan. Lalu data pesanan masuk ke halaman chef kemudian koki menyediakan menu pesanan pelanggan data pesanan disimpan ke data center menjadi data menu yang telah diproses. Setelah itu data menu yang telah diproses masuk ke komputer kasir dan menampilkan pesanan pelanggan untuk dibayar. Lalu setiap menu yang telah dibayar maupun yang belum akan bisa dilihat oleh Admin sebagai laporan, kemudian Admin mengelola data menu, data karyawan dan laporan. Data menu yang dikelola Admin menjadi acuan waitress dalam pencatatan menu. Sistem arsitektur pengembangan aplikasi pemesanan makanan dan minuman menggunakan mobile devices memiliki sejumlah domain penting dalam proses bisnisnya (Gambar 1). Perancangan arsitektur jaringan dimaksudkan untuk memberikan gambaran dari kebutuhan hardware jaringan dan model dari arsitektur jaringan yang mendukung dalam penerapan sistem aplikasi pemesanan makanan dan minuman menggunakan mobile devices. Teknologi arsitektur jaringan sistem aplikasi pemesanan makanan dan minuman menggunakan mobile devices terdiri dari waitress, komputer Cashier, komputer Chef, komputer Admin, serta Database Server dimana waitress yang terhubung ke akses point akan mengambil data dari Database Server berupa informasi daftar menu dan dari waitress itu melakukan transaksi yang disebarkan ke bagian komputer Admin, komputer Chef, serta komputer Cashier dan disimpan ke Database Server (Gambar 2). Strategi dalam tahapan perancangan sistem aplikasi pemesanan IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

60 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret makanan dan minuman menggunakan mobile devices mengacu pada perancangan berbasis obyek. Strategi ini dalam istilah aslinya disebut sebagai OOD (Object Oriented Design) dan dianggap menjadi startegi perancanaan paling modern. CASHIER Data Menu yang telah diproses akan secara Otomatis masuk ke komputer cashier Menampilkan Pesanan Pelanggan Untuk Dibayar Setiap menu yang telah dibayar maupun Yang belum akan bisa dilihat oleh admin sebagai laporan Kelola Data Menu Kelola Data Karyawan Kelola Laporan DATA CENTER ADMIN CHEF Menyiapkan Menu Pesanan Pelanggan Data Pesanan Secara Otomatis Masuk Ke Halaman Chef WAITRESS Pencatatan Pesanan Pelanggan Admin menyediakan data menu Sebagai acuan waitress dalam pencatatan menu Gambar 1. Arsitektur Sistem Pemesanan Makanan dan minuman Komputer Chef Komputer Admin Ip address Ip address Ip address Komputer Cashier Ip address Ip address Database Server Ip address Switch Access Point Waitress Gambar 2. Arsitektur Sistem Jaringan Waitress login untuk mencatat semua pemesanan makanan dan minuman, chef login untuk mengelola pesanan. Kasir login untuk mengelola pembayaran dan data karyawan. Admin login untuk mengelola kategori menu, kelola menu, kelola meja dan kelola karyawan. Admin juga mencetak laporan pesanan, laporan pendapatan, dan laporan pesanan tidak dibayar. Diagram use case mengelola konten sistem aplikasi pemesanan makanan dan minuman menggunakan mobile devices terdiri dari admin, waitress, chef dan cashier. Actor admin Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

61 ISSN: ISSN : bertugas untuk aplikasi secara keseluruhan. Actor waitress melakukan pencatatan pesanan menggunakan perangkat mobile, chef bertugas memproses setiap menu yang telah dipesan tamu, sedangkan cashier bertugas menerima pembayaran dari tamu sesuai dengan pesanan dari tamu (Gambar 3). Gambar 3. Diagram Use Case Selanjutnya untuk menggambarkan berbagai alur aktivitas dalam aplikasi yang sedang dirancang, bagaimana masing-masing alur berawal, keputusan yang mungkin terjadi, dan bagaimana mereka berakhir menggunakan diagram activity. Diagram ini juga dapat menggambarkan proses paralel yang mungkin terjadi pada beberapa eksekusi. Diagram activity merupakan state diagram khusus, dimana sebagian besar state adalah action dan sebagian besar transisi di-trigger oleh selesainya state sebelumnya (internal processing). Di mulai dari user masuk ke form login, Sistem menampilkan form login user menginputkan username dan password, setelah itu menekan tombol login. Sistem akan mengecek data input user ke database. Jika username/password salah, sistem akan menampilkan form login. Jika username/password benar,sistem akan memeriksa level pengguna lalu sistem akan menampilkan halaman menu sesuai dengan level pengguna (Gambar 4). Berikutnya untuk menggambarkan interaksi antar objek di dalam dan di sekitar aplikasi (termasuk pengguna, display, dan sebagainya) berupa pesan yang digambarkan terhadap waktu menggunakan diagram sequence. Diagram sequence diagram terdiri atar dimensi vertikal (waktu) dan dimensi horizontal (objek-objek yang terkait). Sequence diagram dapat digunakan untuk menggambarkan skenario atau rangkaian langkah-langkah yang dilakukan sebagai respons dari sebuah kegiatan untuk menghasilkan output tertentu. Diawali dari apa yang mentrigger aktivitas tersebut, proses dan perubahan apa saja yang terjadi secara internal dan output apa yang dihasilkan. Masing-masing objek, termasuk aktor, memiliki lifeline vertikal. Message digambarkan sebagai garis berpanah dari satu objek ke objek lainnya. Pada fase desain berikutnya, message akan dipetakan menjadi operasi/metoda dari class. Admin mengirim pesan berupa data input item kategori menu ke form kategori menu setelah itu form kategori menu mengirim pesan ke control kategori menu berupa get data kategori menu lalu data dibawa diproses validasi. Jika salah, control kategori menu akan mengirim pesan berupa item invalid ke form kategori menu dan control kategori menu akan mengirim pesan buka koneksi ke data kategori lalu diproses eksekusi query. Jika benar input item kategori menu, maka data kategori IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

62 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret akan mengirim pesan valid ke control kategori menu dan control kategori menu mengirim pesan tutup koneksi ke data kategori (Gambar 5). Gambar 4. Diagram Activity Login Admin Gambar 5. Diagram Sequence Mengelola Kategori Menu Gambar 6. Diagram Sequence Mengelola Meja Tamu Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

63 ISSN: ISSN : Untuk kebutuhan admin mengirim pesan berupa data input item meja ke form meja setelah itu form meja mengirim pesan ke control meja berupa get data meja lalu data dibawa diproses validasi. Jika salah, control meja akan mengirim pesan berupa item invalid ke form meja dan control meja akan mengirim pesan buka koneksi ke data meja lalu diproses eksekusi query. Jika benar input item meja, maka data meja akan mengirim pesan valid ke control meja dan control meja mengirim pesan tutup koneksi ke data meja (Gambar 6). Proses berikutnya adalah admin mengirim pesan berupa data input item menu makanan dan minuman ke form pencatatan pesanan setelah itu form pencatatan pesanan mengirim pesan ke control pencatatan pesanan berupa get data lalu data dibawa diproses validasi. Jika salah, control pencatatan pesanan akan mengirim pesan berupa item invalid ke form pencatatan pesanan dan control pencatatan pesanan mengirim pesan buka koneksi kedata laporan lalu diproses eksekusi query. Jika benar input item menu makanan dan minuman, maka data laporan akan mengirim pesan valid ke control pencatatan pesanan dan control pencatatan pesanan mengirim pesan tutup koneksi ke data laporan (Gambar 7). Gambar 7. Diagram Sequence Mengelola Pemesanan Gambar 8. Diagram Sequence Mengelola Pembayaran IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

64 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Proses berikutnya adalah admin mengirim pesan berupa data input item menu dibayar ke form pembayaran setelah itu form pembayaran mengirim pesan ke control pembayaran berupa get data pembayaran lalu data dibawa diproses validasi. Jika salah, control pembayaran akan mengirim pesan berupa item invalid ke form pembayaran dan control pembayaran mengirim pesan buka koneksi ke data laporan lalu diproses eksekusi query. Jika benar input item menu dibayar, maka data pembayaran akan mengirim pesan valid ke control pembayaran dan control pembayaran mengirim pesan tutup koneksi ke data pembayaran (Gambar 8). Untuk proses berikutnya adalah membuat sebuah diagram class. Diagram class adalah diagam untuk menampilkan beberapa kelas serta paket-paket yang ada dalam aplikasi/ perangkat lunak. Diagram class juga memberikan gambaran (diagram statis) tentang aplikasi/perangkat lunak dan relas-relasi yang ada didalamnya. Diagram ini sangat penting untuk memperlihatkan setiap class/paket dan hubungan interaksi diantara semua proses akan menyatu dalam keseluruhan proses (Gambar 9). Selanjutnya merancang model database yang menjadi kebutuhan dari sistem pemesanan makanan dan minuman menggunakan mobile devices. Merancang aplikasi data terstruktur dan bagaimana dapat direpresentasikan ke dalam diagram hubungan entitas melalui proses normalisasi. Pokok pemikiran dalam merancang database adalah bagaimana merancang database sehingga dapat memenuhi kebutuhan saat ini dan kemudahannya untuk dikembangkan dimasa yang akan datang. Perancangan model konseptual perlu dilakukan disamping perancangan secara phisik. Pada perancangan konseptual, digunakan beberapa konsep pendekatan relasional namun tidak berarti konsep ini harus diimplementasikan ke model relasional saja tetapi juga apat dengan model hirarki dan model jaringan. Model konseptual mengkombinasikan beberapa cara untuk memproses data dan untuk beberapa aplikasi. Model konseptual tidak tergantung aplikasi tertentu dan tidak tergantung DBMS, dan perangkat keras yang digunakan. Dalam Extreme Programming diperkenalkan istilah Pair Programming dimana proses penulisan program dilakukan secara berpasangan. Dua orang programmer saling bekerjasama di satu komputer untuk menulis program. Melakukan ini akan didapat real-time problem solving dan real-time quality assurance. Interface Design, mendefinisikan interface-interface diantara komponen aplikasi dan spesifikasi interface tidak boleh ambigu. Berikut ini adalah perancangan interface yang diusulkan. Tahapan coding merupakan tahapan perancangan website yang sesungguhnya. Untuk menerapkan aplikasi ini menggunakan aplikasi mobile devices. Bahasa pemogramannya menggunakan PHP dan aplikasi database menggunakan MySQL. Gambar 9. Diagram Class Selanjutnya adalah kegiatan melakukan perancangan prototipe perangkat lunak dengan menerjemahkan rancangan layout ke dalam bentuk bahasa pemrograman yaitu bahasa PHP dengan database MySQL. Form login dipergunakan oleh admin web untuk bisa masuk ke menu Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

65 ISSN: ISSN : utama sebagai tempat bagi admin untuk melakukan manajemen konten aplikasi. Untuk perancangan prototipe form menu admin dibuat untuk memusatkan pengelolaan konten aplikasi web hanya pada satu halaman saja. Halaman ini memuat sejumlah konten-konten penting untuk penggunaan aplikasi ini. Semua konten ini memiliki interaksi dengan pengguna dan admin. Berikut ini adalah hasil perancangan prototipe menu utama admin yang diusulkan. Hasil perancangan prototipe form detil kategori menu dipergunakan untuk menampilkan data kategori menu. Untuk perancangan prototipe form detil kategori menu dipergunakan untuk menampilkan data menu secara detil. Hasil prototipe form laporan pesanan dipergunakan untuk menampilkan dan mencetak laporan pesanan pelanggan (Gambar 10). Selanjutnya untuk hasil rancangan prototipe form laporan pendapatan dipergunakan untuk menampilkan dan mencetak laporan pendapatan dari menu prototipe pelanggan (Gambar 11). Gambar 10. Prototipe Form Laporan Data Pesanan Gambar 11. Prototipe Form Laporan Data Pendapatan Hasil perancangan prototipe interface waitress menggunakan ipad 4 sebagai emulator untuk menjalankan aplikasi ini. Selain menggunakan ipad, iphone, tablet dan perangkat mobile yang lain juga bisa digunakan selama perangkat tersebut memiliki ukuran layar yang besar. Untuk perancangan prototipe form input data pesanan dipergunakan oleh waitress untuk mencatat semua data menu pesanan pelanggan (Gambar 12). Gambar 12. Prototipe Pencatatan Menu Pesanan IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

66 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Perancangan prototipe interface chef adalah merupakan rancangan yang dikhususkan bagi chef sebagai media informasi untuk melihat data pesanan pelanggan yang telah dikirim oleh bagian waitress. Perancangan prototipe form daftar menu pesanan yang belum diproses akan dipergunakan oleh chef untuk menentukan menu mana yang harus disediakan atau dibuat (Gambar 13). Selanjutnya juga memiliki hasil perancangan prototipe form daftar pesanan sudah dibayar dan dipergunakan oleh kasir untuk melihat informasi menu yang sudah dibayar (Gambar 14). Gambar 13. Prototipe Daftar Menu Pesanan Belum Diproses Gambar 14. Prototipe Daftar Menu Pesanan Sudah Dibayar 4. KESIMPULAN Penelitian ini menghasilkan sebuah rancangan prototipe sistem pemesanan makanan dan minuman menggunakan mobile devices hanya terdiri dari 3 interface yaitu interface pelayanan, interface dapur dan interface kasir. Sistem aplikasi pemesanan makanan dan minuman menggunakan mobile devices ini dirancang dengan menggunakan bahasa PHP dan database MySQL. Sistem ini memiliki model arsitektur dengan fokus kepada kebutuhan pengguna. Hal ini memerlukan perhatian khusus pada konten web, rencana bisnis, kegunaan, desain interaksi, informasi dan desain arsitektur web. Untuk optimasi mesin pencari yang efektif perlu memiliki apresiasi tentang bagaimana sebuah situs web terkait dengan World Wide Web. Model arsitektur ini mendeskripsikan rancangan dari perangkat lunak disisi web server dan komputer client. Web Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

67 ISSN: ISSN : server menggunakan apache, script PHP dan database MySQL. Secara umum pengguna dari sistem aplikasi pemesanan makanan dan minuman menggunakan mobile devices ini adalah para karyawan dan pimpinan restoran. 5. SARAN Untuk penelitian berikutnya, rancangan prototipe untuk sistem pemesanan makanan dan minuman menggunakan mobile devices ini dapat menggunakan koneksi dengan media wireless maupun dengan media kabel yang harus tetap stabil. Personil yang dilibatkan dalam manajemen konten dan pemeliharaan perlu memiliki pengetahuan dasar dibidang jaringan dan memahami dasar pemrograman website. Untuk sisi client, semua semua pemesanan menu makanan dan minuman dapat diakses melalui sebuah aplikasi yang berjalan pada berbagai platform perangkat mobile seperti Android, Symbian, IOS, dan lainnya. DAFTAR PUSTAKA [1] Rahil, Mir Roomi., Mahind, Rajesh., Chavan, Saurabh., Dhar, Tanumay., 2013, GLCD- Touchpad Based Restaurant Ordering & Automatic Serving System, International Journal of Recent Technology and Engineering (IJRTE), Volume-2, Issue-1, March 2013, ISSN: , hal [2] Hsu, Liwei., Wu, Pinying., 2013, Electronic-Tablet-Based Menu in a Full Service Restaurant and Customer Satisfaction - A Structural Equation Model, International Journal of Business, Humanities and Technology, Vol. 3 No. 2, February 2013, hal [3] Wahid, Nibras O A., 2014, Improve the Performance of the Work of the Restaurant Using PC Touch Screen, J Comput Sci Syst Biol, Volume 7(4) , ISSN: , hal [4] Christanto, William., Prasida, Arie Setiawan., Fibriani, Charitas., 2012, Perancangan dan Implementasi Sistem Pemesanan Foodcourt Menggunakan mobile devices dengan Memanfaatkan Koneksi Wifi, Jurnal Buana Informatika, Vol. 3, No. 1, Januari 2012, hal [5] Inayah, Ayu Rizka., Afriyudi., Marlindawati., 2014, Aplikasi Pemesanan Menu Makanan Di Rumah Makan Menggunakan mobile devices Service Menggunakan Mobile Android, Jurnal Teknik Informatika, Universitas Bina Darma, Palembang. [6] Ariefianto, Himawan., Dani, Mohamad., Nugraha, Asep., 2012, Perancangan Dan Implementasi Aplikasi Pemesanan Makanan Dan Minuman Berbasis Client Server Dengan Platform Android (Studi Kasus Waroeng Steak And Shake), STMIK Teknorat Lampung, Vol.11, No.2, hal 3. [7] Bhargave, Ashutosh., Jadhav, Niranjan., Joshi, Apurva., Oke, Prachi., S. R Lahane., 2013, Digital Ordering System for Restaurant Using Android, International Journal of Scientific and Research Publications, Volume 3, Issue 4, April 2013, ISSN , hal 1-7. [8] Dhore, V. B., Thakar, Surabhi., Kulkarni, Prajakta., Thorat, Rasika., 2014, Digital Table Booking and Food Ordering System Using Android Application, International Journal of IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

68 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Emerging Engineering Research and Technology, Volume 2, Issue 7, October 2014, ISSN (Print) & ISSN (Online), hal [9] Shelly, G., Rosenblatt, H., 2012, System Analysis and Design, Ninth Edition, Course Technology, Cengage Learning. [10] Jackson, Sherri L., 2011, Research Methods: A Modular Approach, Second Edition, Wadsworth, Cengage Learning. [11] Pressman, Roger., Maxim, Bruce., 2014, Software Engineering: A Practitioner's Approach, Eighth Edition, McGraw-Hill Science/Engineering/Math. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

69 ISSN: ISSN : Perancangan Clinical Information System (CIS) Pada Instalasi Rawat Jalan di Rumah Sakit ABC Desi Pibriana STMIK GI MDP; Jl. Rajawali No. 14 Palembang, telp: (0711) Jurusan Sistem Informasi, STMIK GI MDP, Palembang Abstrak Perkembangan teknologi yang semakin maju beberapa tahun terakhir mendorong perlunya penyampaian informasi yang cepat dalam kegiatan pelayanan di berbagai bidang. Selama ini, seluruh proses di Rumah Sakit ABC, dimulai dari proses pendaftaran bagi pasien baru, registrasi untuk berobat menuju poliklinik, pemeriksaan, pemeriksaan lanjutan di laboratorium, pembayaran obat dan pelayanan rumah sakit masih ditulis di kertas atau kartu. Hal ini mengakibatkan petugas memerlukan waktu yang lama untuk mengakses data tersebut. Selain itu, Rumah Sakit ABC saat ini harus menghadapi besarnya biaya operasional seperti percetakan kartu dan pembelian rak penyimpanan, seringnya terjadi kehilangan dan redudansi data, serta tidak efisiennya proses pelaporan bagi pimpinan Rumah Sakit. Oleh karena itu, dirancang suatu Sistem Informasi Klinis/ Clinical Information System (CIS) yang berbasis website dengan bahasa pemrograman PHP dan database MySQL. Perancangan Sistem Informasi ini dilakukan dengan menggunakan metodologi FAST (Framework for the Aplication of System Thinking). Hasil dari penelitian ini adalah sebuah rancangan sistem Informasi klinis lengkap dengan antar muka pengguna yang siap dibangun untuk membantu pegawai Rumah Sakit ABC Palembang dalam melayani pasien rawat jalan agar pasien dapat menerima pelayanan yang lebih cepat, tepat dan akurat. Kata kunci Rumah Sakit, Sistem Informasi Klinis, Sistem Informasi Berbasis Website, Rawat Jalan, FAST Abstract The development of technology has increased rapidly in the past few years encourage the needed for rapid information delivery in service activity in many section. During this time, the entire process in ABC Hospital, starting from the process of registration of the new patients, registration for treatment to the clinic, examination, further examination in the laboratory, the payment of medicine and hospital service are still written on paper or card. As a result, Hospital employee have to take a long time to access the data. In addition, today ABC Hospital have to face operational costs such as printing cards and purchasing shelves for data storage, frequent data loss and redudancy, and inefficiency in reporting process for management of the ABC Hospital. Therefore, the purpose of ths study is to design a Clinical Information System (CIS) in a website based with the PHP programming language and MySQL as a database. This Information system is designed using a FAST (Framework for the Application of Systems Thinking) methodology. The result of this study is a Clinical Information System design complete with a user interface that is ready to be built to help ABC Hospital Employee in outpatient service so that patient can receive more quickly, precisely and accurately service. Keywords Hospital, Clinical Information System, Website Based Information System, Outpatient Service, FAST IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

70 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret P 1. PENDAHULUAN erkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi beberapa tahun terakhir, dapat membawa perubahan yang sangat pesat dalam kehidupan berorganisasi. Perubahan-perubahan itu membawa akibat berupa tuntutan yang lebih tinggi bagi setiap individu untuk lebih meningkatkan kinerja dalam suatu organisasi, terlebih dalam melayani masyarakat luas. Rumah Sakit, merupakan salah satu institusi pelayanan umum yang sangat membutuhkan suatu pelayanan yang cepat, akurat dan andal dalam pelayanan kepada pasiennya. Banyaknya data yang akan dikelola serta perlunya penyampaian informasi yang cepat dalam kegiatan pelayanan rumah sakit, menjadikan teknologi informasi sebagai media yang dianggap maampu dalam membantu pengelolaan data dan penyajian informasi yang mudah, cepat, akurat,serta terintegrasi. Hal ini juga tertuang pada Peraturan Menteri Kesehatan No. 82 Tahun 2013 Pasal 4 Ayat 2 yang menyatakan suatu pengembangan Sistem Informasi Rumah Sakit harus mampu dalam meningkatkan serta mendukung proses pelayanan kesehatan di Rumah Sakit [1]. Salah satu bentuk pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit ABC kepada pasiennya adalah pelayanan instalasi rawat jalan. Instalasi rawat jalan ini menangani berbagai proses yang dimulai dari proses registrasi pasien, pemeriksaan oleh dokter atau perawat, pemeriksaan lanjutan yang merupakan pemeriksaan yang sewaaktu-waktu diperlukan dengan melibatkan laboratorium, pengambilan obat yang melibatkan apotek yang ada di Rumah Sakit ABC, serta pembayaran di kasir. Selama ini, Rumah Sakit ABC melakukan semua proses yang ada pada instalasi rawat jalan dengan menggunakan pencatatan di dalam buku, di atas kertas atau kartu yang kemudian disimpan di rak penyimpanan sebagai bukti bahwa pasien telah menerima jasa pelayanan instalasi rawat jalan pada Rumah Sakit ini. Banyaknya pasien yang datang setiap harisnya untuk berobat pada Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit ABC ini, akan sangat merepotkan apabila akan dilakukan pencarian data serta informasi untuk pasien tertentu karena menumpuknya kertas dan kartu sehingga harus dicari satu persatu. Oleh karena itu akan dirancang suatu antarmuka sistem informasi klinis atau Clinical Information System (CIS) sebagai pengganti sistem lama agar seluruh proses di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit ABC dapat dilakukan dengan mudah, cepat, tepat dan akurat. CIS merupakan modul yang terdiri dari modul modul yang meng-cover seluruh proses klinis yang terdiri dari Outpatient Clinical Management (terdiri dari order management, electronic medical record/emr, prescription, dan medical allerts) serta inpatient Clinical Management [2]. Disebutkan pula bahwa lingkup dari sistem informasi klinis meliputi proses penyimpanan dan pengambilan informasi di dalam membantu kegiatan pelayanan langsung kepada pasien Sabarguna (2004) dalam [3]. Sistem Informasi Klinis juga dinilai sebagai sebuah infrastuktur baru yang penting dalam mempengaruhi keterjangkauan dan keamaan dalam pelayanan kesehatan [4]. Tantangan dalam mendesain CIS ini adalah dalam hal menyediakan kontrol untuk menjamin keamanan serta privasi dari informasi kesehatan pribadi pasien tertentu oleh suatu organisasi kesehatan [4]. Adapun tujuan dari adanya sistem informasi klinis ini adalah untuk memperoleh hasil yang akurat, mempercepat pelayanan dan menghemat tenaga sedangkan manfaat dari Sistem informasi klinis adalah untuk permintaan tujuan dan target serta memperhatikan kebutuhan pelayanan [3]. 2. METODOLOGI PENELITIAN 2.1. Metodologi Pengembangan Sistem Sistem Informasi Klinis yang akan dirancang dikembangkan dengan menggunakan metodologi proses pengembangan sistem (classic systems development process) yang bernama Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

71 ISSN: ISSN : FAST( Framework for the Aplication of System Thinking) dengan pendekatan Model Driven Development Sytategy dengan alasan karena metode FAST standarisasinya baik serta proses yang stabil dan terencana [5]. Tahapan dalam metodologi FAST Model Driven terdiri dari scope definition, problem analysis, requirement analysis, logical design, decision analysis, phisical design and integration, construction and testing serta instalasi dan pengiriman [5]. Pada penelitian ini, dari 8 metodologi FAST Model driven, akan digunakan 4 fase awal yakni scope definition, problem analysis, requirement analysis, logical design dalam merancang Sistem Informasi Klinis di Rumah Sakit ABC. Selanjutnya penelitian ini diarahkan pada perancangan sistem informasi klinis sehingga menghasilkan prototype sistem yang akan dibangun berikut rancangan antarmuka sistem. Gambar 1. Model Driven Development Sytategy (Sumber: [5]) 3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Identifikasi Permasalahan Sistem Lama Permasalahan-permasalahan yang muncul dari penggunaan sistem lama yang masih menggunakan pencatatan pada buku, kertas serta kartu dan belum terkomputerisasi adalah: 1. Lamanya waktu yang diperlukan untuk mengakses data ketika diperlukan 2. Seringnya terjadi kehilangan data 3. Penggandaan data pasien 4. Besarnya biaya Operasional 5. Pembayaran biaya obat dan pelayanan Rumah Sakit yang belum terotomasi 6. Proses pelaporan kepada pimpinan Rumah Sakit masih membutuhkan waktu yang lama 3.2 Analisis Masalah Untuk menganalisa permasalahan-permasalahan yang ada, digunakan analisis sebab akibat (cause and effect analysis), yaitu sebagai berikut : IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

72 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Lamanya waktu yang diperlukan untuk mengakses data ketika diperlukan Seluruh data yang masih tercatat di buku, kertas dan kartu serta tersimpan pada rak/ lemari penyimpanan arsip menyebabkan lamanya waktu yang diperlukan ketika petugas rekam medis atau bagian administrasi dalam mencari data pasien tertentu. 2. Seringnya terjadi kehilangan data Kesalahan dalam peletakan buku, kertas atau kartu yang disusun di dalam rak penyimpanan dapat mengakibatkan terjadinya kehilangan data, dan akan menjadi sulit ketika data tersebut benar-benar dibutuhkan. 3. Penggandaan data pasien Proses registrasi pasien di Rumah Sakit ABC teridiri atas registrasi awal (registrasi ketika seseorang belum pernah berobat di Rumah Sakit ABC sebelumnya) serta registrasi berobat (untuk pasien yang sudah terdaftar di Rumah Sakit ABC yang akan menuju poliklinik tertentu untuk mendapatkan pemeriksaan). Keseluruhan proses registrasi masih dicatat ke dalam buku, kemudian bagi pasien baru akan mendapat kartu identitas berobat serta kartu pemeriksaan yang semuanya dilakukan dengan menuliskan secara manual ke dalam buku dan kartu tersebut. Dikarenakan belum adanya otomasi pengecekan data pasien, maka bagi pasien yang sudah pernah terdaftar tetapi tidak membawa kartu berobat akan mendaftarkan dirinya kembali seperti belum pernah berobat sebelumnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya penggandaan data pasien yang sama. 4. Besarnya biaya operasional Belum adanya komputerisasi untuk pencatatan registrasi, hasil pemeriksaan, pencatatan rekam medis, peresepan, pengambilan dan pembayaran obat, perekapan dan pembayaran biaya pelayanan serta pelaporan kepada pihak manajemen menyebabkan rumah sakit ABC harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mencetak kartu / kertas yang diperlukan untuk pencatatan tersebut. Selain kertas dan kartu, Rumah Sakit ABC juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk tempat penyimpanan berkas dan kartu-kartu tersebut mengingat semakin bertambahnya jumlah pasien setiap harinya. 5. Pembayaran biaya obat dan pelayanan Rumah Sakit yang belum terotomasi Perhitungan biaya obat dan pelayanan rumah sakit yang telah diterima pasien dilakukan dengan merekap berbagai pelayanan serta obat yang diterima pasien secara manual kemudian dihitung dengan menggunakan kalkulator memungkinkan terjadinya kesalahan perhitungan (human error). 6. Proses pelaporan kepada pimpinan Rumah Sakit masih membutuhkan waktu yang lama Pembuatan laporan yang selama ini masih dilakukan dengan merekap data-data dari berbagai bagian yang terpisah, dalam hal ini bagian registrasi, pemeriksaan/ rekam medis, apotek, serta bagian administrasi keuangan (kasir) untuk dilaporkan kepada pimpinan Rumah Sakit ABC selama jangka waktu tertentu kemudian diketik dengan menggunakan aplikasi spreadsheet seperti Ms. Word dan Ms. Excel dirasa masih menyulitkan para staff rumah sakit untuk membuat laporan dengan cepat. Dari analisis masalah di atas, dapat ditentukan tujuan-tujuan perbaikan sistem (System Improvement Objective) sebagai berikut : 1. Lamanya waktu yang diperlukan untuk mengakses data ketika diperlukan Meningkatkan efisiensi proses pencarian data pasien, dokter, penyakit, riwayat penyakit, obat serta data petugas dengan menyimpan seluruh data tersebut secara terstruktur sehingga mempermudah proses pengaksesannya 2. Seringnya terjadi kehilangan data Untuk meminimalisir terjadinya kehilangan data yang disebabkan oleh salah peletakan/ penyusunan, dilakukan dengan penyimpanan data menggunakan basis data. Hal ini juga dapat meminimalisir penggunaan rak/ lemari penyimpanan sehingga tidak Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

73 ISSN: ISSN : membutuhkan tempat yang besar/ luas untuk menyimpan data pasien yang semakin hari semakin bertambah banyak. 3. Penggandaan data pasien Untuk mencegah terjadinya pendaftaran yang berulang-ulang oleh pasien yang sama hanya dikarenakan pasien tidak membawa kartu identitas berobat dapat dilakukan dengan melakukan pengecekan terlebih dahulu terhadap data pasien sebelum melakukan penginputan data yang baru. Pendataan pasien yang tidak lengkap juga dapat diatasi dengan memberikan peringatan saat ada data yang belum diisi. Selain itu, sistem yang dirancang dapat menghasilkan print out kartu identitas berobat pasien sehingga tidak perlu untuk melakukan pencatatan data yang sama berulang-ulang. 4. Besarnya biaya operasional Meminimalisir jumlah penggunaan data berbentuk kertas/ kartu/ formulir sampai dengan 50% sehingga dapat meminimalisir biaya operasional Rumah Sakit dalam hal pencetakan kartu-kartu serta penyediaan fasilitas tempat penyimpanan yang berupa rakrak penyimpanan kertas/ kartu yang akan semakin bertambah seiring bertambahnya jumlah data yang harus dicatat. 5. Pembayaran biaya obat dan pelayanan Rumah Sakit yang belum terotomasi Meminimalisir terjadinya kesalahan perekapan data obat serta pelayanan yang diterima oleh pasien saat menerima jasa Rawat Jalan, serta meminimalisir terjadinya kesalahan perhitungan biaya yang harus dibayar oleh pasien kepada pihak Rumah Sakit ABC. 6. Proses pelaporan kepada pimpinan Rumah Sakit masih membutuhkan waktu yang lama Sistem diharapkan dapat mempermudah pihak manajemen Rumah Sakit dalam melihat perkembangan rumah sakit secara langsung tanpa harus menunggu hasil rekapan dari berbagai bagian, sehingga dapat membantu dalam pengambilan keputusan di tingkat manajemen dengan lebih cepat dan efisien serta diharapkan sistem dapat mencetak laporan dalam bentuk hard copy jika diperukan untuk arsip. 3.3 Analisis Kebutuhan Maka dari hasil analisis masalah yang telah diuraikan, dipenuhi ada 2 kategori, yaitu: maka kebutuhan yang harus Kebutuhan Fungsional Kebutuhan fungsional merupakan deskripsi mengenai aktivitas dan layanan yang harus diberikan/ disediakan oleh sebuah sistem [5]. Persyaratan fungsional sering diidentifikasikan dalam istilah input, output, proses dan data tersimpan yang dibutuhkan untuk memenuhi sasaran peningkatan sistem [5]. Kebutuhan fungsional yang harus dipenuhi oleh sistem berdasarkan analisis masalah yang telah diuraikan meliputi: 1. Sistem harus dapat menangani proses registrasi pasien, baik pasien yang baru pertama kali berobat di Rumah Sakit ABC maupun pasien yang sudah pernah berobat sebelumnya untuk registrasi di poliklinik tujuan. 2. Sistem harus dapat menyimpan seluruh data pasien, dokter, penyakit, riwayat penyakit, hasil pemeriksaan (baik pemeriksaan lanjutan maupun pemeriksaan oleh dokter), obat, serta data petugas secara terstruktur 3. Sistem harus dapat menangani proses pencarian data pasien, dokter, penyakit, riwayat penyakit, obat, serta data petugas 4. Sistem harus dapat menangani proses perhitungan biaya baik itu biaya pelayanan rumah sakit maupun biaya obat 5. Sistem harus dapat menangani pembuatan dan pencetakan kartu berobat, slip pembayaran serta laporan untuk pihak manajemen Rumah Sakit ABC. IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

74 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Kebutuhan Non Fungsional Kebutuhan non fungsional merupakan deskripsi mengenai fitur, karakteristik dan batasan lainnya yang menentukan apakah sistem memuaskan atau tidak[5]. Kerangka kerja PIECES yang telah digunakan dalam mengidentifikasi masalah, kesempatan dan batasan dapat juga digunakan sebagai kerangka kerja untuk menentukan persyaratan draft [5]. Kebutuhan nonfungsional yang telah diuraikan kemudian dirangkum dalam Tabel 1 dengan klasifikasi PIECES framework. Tabel 1 Klasifikasi Kebutuhan Non Fungsional Berdasarkan PIECES Jenis Kebutuhan Penjelasan Non-functional Kinerja - Diharapkan dapat mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan (Performance) setiap pekerjaan, sehingga dapat meningkatkan kinerja sistem. Informasi - Data klinis pasien terintegrasi sehingga pengolahan data menjadi lebih mudah (Information) dan akurat - Diharapkan dapat memberikan data yang konsisten serta dapat mencegah terjadinya redudancy data - Diharapkan dapat Meminimalisir terjadinya kesalahan pencatatan data Segi Ekonomi - Mengurangi biaya percetakan untuk kegiatan registrasi / pendaftaran, kartu (Economic) Pengontrolan Sistem (Control) Jenis Kebutuhan Non-functional Efisiensi Sistem (Efficiency) Pelayanan Sistem (Service) berobat / kartu poliklinik serta biaya pembelian rak penyimpanan berkas/ kartu. - Mengotentikasi User dan memberikan batasan hak akses untuk tiap tiap fitur sesuai dengan jabatan masing masing - Memiliki backup data sehingga akses data masih bisa berjalan walaupun server down. Penjelasan - Diharapkan sistem dapat mencatat aktifitas setiap user sehingga dapat meminimalisir terjadinya manipulasi data oleh user yang tidak bertanggung jawab - mempersingkat waktu yang diperlukan untuk pencarian / pemrosesan data klinis pasien - Mengurangi beban kerja para pegawai / petugas di Rumah Sakit ABC Palembang dalam menangani proses klinis pasien terutama dalam hal pelaporan kepada pimpinan. - Diharapkan sistem memiliki tampilan yang user friendly sehingga mudah dipelajari, dipahami dan digunakan oleh user - Dapat memberikan data data yang akurat dan lengkap sehingga dapat membantu pihak manajemen dalam mengambil keputusan Pada Tabel 1 dapat dijelaskan bahwa untuk memaksimalkan kinerja di Rumah Sakit ABC, sistem diharapkan dapat mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan, sehingga dapat meningkatkan kinerja sistem. Untuk memaksimalkan pemanfaatan informasi, sistem diharapkan dapat mengintegrasikan seluruh data klinis pasien rawat jalan di Rumah Sakit ABC sehingga pengolahan data menjadi lebih mudah, cepat, dan terhindar dari redudansi data. Dari segi ekonomi, sistem baru diharapkan dapat mengurangi biaya operasional Rumah Sakit ABC dalam hal pencetakan kartu dan pembelian rak penyimpanan berkas. Dari segi kontrol terhadap data, sistem baru diharapkan dapat memberikan batasan hak akses bagi setiap pengguna sesuai dengan bidang tugas masing-masing sehingga dapat meminimalisir terjadinya manipulasi data oleh pengguna yang tidak berhak. Dari sisi efisiensi, sistem diharapkan dapat mempersingkat waktu yang diperlukan dalam pencarian, pemrosesan dan pelaporan data klinis pasien sehingga mengurangi beban kerja petugas rekam medis terutama dalam hal perekapan ulang seluruh data yang diperlukan untuk dilaporkan kepada pimpinan. Dalam hal pelayanan, sistem diharapkan dapat memiliki tampilan yang user friendly sehingga mudah dipelajari dan dipahami oleh pengguna sehingga secara tidak langsung Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

75 ISSN: ISSN : dapat mempersingkat waktu pelayanan kepada para pasien. Selain itu, laporan yang dihasilkan dari sistem diharapkan dapat membantu pihak manajemen dalam pengambilan keputusan dengan cepat sehingga dapat meningkatkan kuaitas pelayanan secara berkesinambungan. 3.4 Pemodelan Proses Logika Pemodelan proses logika merupakan bagian dari analisis persyaratan bisnis [5]. Model proses logika fokus pada proses dan perspektif system owner dan atau system user dan biasanya dibuat sebagai penyelesaian fase analisis persyaratan proyek [5]. Untuk memodelkan persyaratan proses bisnis, pemodelan proses logika dapat dilakukan dengan penggambaran diagram dekomposisi dan data flow diagram (DFD) Diagram Dekomposisi Diagram dekomposisi digambarkan untuk mempartisi sistem menjadi sub sistem dan atau fungsi logika [5]. Diagram dekomposisi untuk sistem yang akan dirancang dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2 Diagram Dekomposisi Sistem yang Dirancang Pada Gambar 2 digambarkan bahwa Sistem Informasi Klinis dipartisi menjadi subsistem yang terdiri dari login, pendaftaran, pendataan, pemeriksaan, kelola pemeriksaan penunjang, kelola apotek, pembayaran tagihan rumah sakit serta laporan. Subsistem Pendaftaran dibagi lagi menjadi sub sistem yang lebih kecil, yakni subsistem pendaftaran pasien baru dan pendaftara kunjungan yang dala hal ini kunjungan ke poliklinik. Subsistem pendataan dibagi menjadi pendataan user, pendataan dokter, pendataan petugas poliklinik, pendataan diagnosa, pendataan poliklinik serta pendataan obat. Subsistem pemeriksaan dibagi menjadi subsistem pemeriksaan oleh dokter dan peresepan. Subsistem kelola pemeriksaan penunjang dibagi menjadi 2 buah sub sistem yakni kelola lab dan kelola radiologi, sementara subsistem kelola apotek dibagi menjadi 2 buah subsistem, yakni pengambilan obat dan pembayaran obat. Subsistem Laporan dibagi menjadi 4 subsistem, yakni laporan penyakit, peresepan obat, pendaftaran pasien serta statistik kunjungan pasien. IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

76 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Data Flow Diagram (DFD) DFD adalah suatu model logika data atau proses yang diinput untuk menggambarkan dari mana asal data dan kemana tujuan data yang keluar, dari sistem, dimana data disimpan, proses apa yang menghasilkan data tersebut dan interaksi antara data yang tersimpan dan proses yang dikenakan pada data tersebut [6]. Ada 2 Jenis DFD, yaitu DFD logis dan DFD fisik. DFD logis menggambarkan proses tanpa menyarankan bagaimana mereka akan lakukan, sedangkan DFD fisik menggambarkan proses model berikut implementasi dan pemrosesan informasinya [7]. Data Flow Diagram (DFD) digunakan untuk menggambarkan proses yang terjadi pada sistem yang akan dirancang. Gambaran proses yang terjadi pada sistem yang dirancang dapat dilihat pada Gambar 3. Tag ihan Resep Bukti Pembayaran Resep Username_Password Input Data Obat PETUGAS APOTEK Kartu Identitas Berobat Resep Validasi User Bayar Resep PASIEN Data Diri Kartu Identitas Berobat Kartu Identitas Berobat Bayar Resep Bayar RS Username dan password Input Data Pasien Input Data Diag nosa Input Data Poliklinik Input Data Reg istrasi PETUGAS REKAM MEDIS URMINTU KEPALA RUM AH SAKIT ABC Bukti Pembayaran RS Obat Username_Password Validasi User Laporan Penyakit Pasien Laporan Peresepan Obat Laporan Statistik Kunjungan Pasien Laporan Pendaftaran Pasien Username_Password Tag ihan Resep Bukti Pembayaran Resep Printed Form: Tag ihan RS Hasil Periksa Rawat Jalan Permintaan Pemeriksaan Lanjutan Radiolog i Permintaan Pemeriksaan Lanjutan Lab Resep Kartu Identitas Berobat 0 CIS Pelayanan Pasien Rumah Sakit ABC + Data Diri Pasien Validasi User Kartu Identitas Berobat Hasil Pemeriksaan Lab Rekap Pelayanan Lab Username_Password Username_Password Validasi User Input Data Petugas Apotek Input Data Petugas Lab Input Data Petugas Kasir Input Data Petugas Radiologi Permintaan Pemeriksaan Lanjutan Radiolog i Kartu Identitas Berobat Username_Password Validasi User Hasil Pemeriksaan Radiologi Rekap Pelayanan Radiolog i Input Data Dokter PETUGAS RADIOLOGI PETUGAS POLIKLINIK DOKTER Validasi User Data Peng unjung Cek Hasil Periksa Rawat Jalan Permintaan Pemeriksaan Lanjutan Lab Kartu Identitas Berobat Validasi User Permintaan Pemeriksaan Lanjutan Radiolog i Hasil Pemeriksaan Lab Validasi User Username_Password Resep Hasil pemeriksaan Rawat Jalan Permintaan Pemeriksaan Lanjutan Lab PETUGAS LAB Username_Password Validasi User Tag ihan RS Bayar RS Bukti Pembayaran RS PETUGAS KASIR Gambar 3 Diagram Konteks Sistem yang Dirancang Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

77 ISSN: ISSN : Gambar 3 menunjukkan sistem yang dirancang memiliki 9 entitas, yaitu pasien, petugas apotek, petugas rekam medis, urmintu, petugas lab, petugas kasir, dokter, petugas poliklinik, serta kepala/ pimpinan Rumah Sakit ABC. Dari diagram level konteks pada Gambar 3, proses klinis di Rumah Sakit ABC dipecah menjadi level yang lebih rinci lagi dengan dibagi menjadi 8 proses yang terdiri dari proses login, pendaftaran, pendataan, pemeriksaan, kelola lab, kelola apotek, pembayaran tagihan rumah sakit, serta laporan pada Data Flow Diagram level nol (DFD level 0). Selanjutnya DFD Level 0 ini dipecah kembali menjadi Data Flow Diagram Level 1 (DFD Level 1) untuk masing-masing proses pada level nol agar lebih terperinci. Pada Proses login, satu-satunya entitas yang tidak melakukan login adalah pasien. Disini, pasien tidak bersentuhan langsung dengan aplikasi sistem informasi klinis yang akan dirancang. Semua user yang melakukan login mendapat validasi username dan password dari datastore User. Proses pendaftaran pada DFD Level 0, dipecah menjadi 2 proses pada DFD Level 1, yaitu pendaftaran pasien baru dan pendaftaran pasien kunjungan. Pendaftaran pasien baru disini maksdunya adalah pendaftaran pasien yang pertama sekali ketika pasien yang datang belum pernah berobat sebelumnya di Rumah Sakit ABC. Sementara pendaftaran pasien kunjungan merupakan pendaftaran yang dilakukan ketika pasien yang sudah pernah terdaftar sebelumnya di Rumah Sakit ABC dan mengunjungi rumah sakit untuk berobat kembali. Pada proses pendaftaran ini terdapat 2 datastore yaitu datastore pasien untuk pasien yang baru mendaftar, dan datastore registrasi untuk pasien yang melakukan kunjungan. Proses pendataan pada DFD Level 0, dipecah menjadi 7 proses pada DFD Level 1, diantaranya adalah olah data diagnosa (tabel master penyakit), olah data poliklinik, olah data dokter, olah data petugas lab, olah data petugas apotek, olah data petugas kasir, olah data obat. Pada proses ini terdapat 7 datastore yang terdiri dari diagnosa, poliklinik, dokter, petugas lab, petugas apotek, petugas kasir dan obat. Proses pemeriksaan pada DFD Level 0, dipecah menjadi 3 proses pada DFD Level 1, yaitu pemeriksaan oleh dokter, peresepan dan pendataan pelayanan dimana proses pemeriksaan oleh dokter menhasilkan datastore riwayat penyakit dan hasil pemeriksaan, proses peresepan menghasilkan datastore resep dan resep obat. Proses kelola apotek pada DFD Level 0, dipecah menjadi menjadi 2 proses pada DFD Level 1, yaitu pengambilan obat dan pembayaran obat. Dimana proses pembayaran obat menghasilkan datastore tagihan resep. Proses pelaporan pada DFD Level 0, dipecah menjadi 4 proses pada DFD Level 1, yaitu laporan penyakit pasien, laporan peresepan obat, laporan peendaftaran pasien serta laporan statistik kunjungan yang masing-masing diambil dari datastore. Seperti laporan penyakit pasien diambil dari datastore riwayat penyakit, laporan peresepan obat diambil dari datastore resep, laporan pendaftaran pasien diambil dari datastore pasien, dan laporan statistik kunjungan diambil dari datastore registrasi Entity Relationship Diagram (ERD) Entity Relationship Diagram (ERD) adalah gambar atau diagram yang menunjukkan informasi yang dibuat, disimpan, dan digunakan dalam sistem [7]. Rancangan ERD yang diusulkan untuk sistem yang dirancang dapat dilihat pada Gambar 4, dimana Pada ERD dalam Gambar 4 terdapat 16 entitas yang terdiri dari pasien, registrasi, hasil pemeriksaan, user, dokter, petugas poliklinik, poliklinik, resep, resep obat, obat, tagihan resep, diagnosa, riwayat diagnosa, hasil periksa lab, hasil periksa radiologi, dan tagihan rawat jalan. Setiap entitas memiliki atribut masing-masing yang telah disesuaikan dengan formulir yang berlaku di Rumah Sakit ABC Palembang. IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

78 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

79 ISSN: ISSN : Rancangan Antar Muka Sistem yang Diusulkan Berikut merupakan rancangan antar muka sistem informasi klinis rawat jalan di Rumah Sakit ABC yang diusulkan Halaman Login Logo Selamat Datang di Rumah Sakit Bhayangkara Username xxxxxx Password xxxxxx Login Reset Gambar 4 Tampilan Halaman Login Gambar 5 merupakan halaman awal saat website Sistem Informasi Klinis dibuka. Halaman ini ditampilkan untuk seluruh user yang akan mengakses Sistem Informasi Klinis dengan hak akses yang berbeda-beda untuk setiap user-nya. User yang dapat mengakses sistem ini terdiri dari petugas rekam medis, petugas poliklinik, dokter, urmintu (merupakan bagian yang menangani admnistrasi di Rumah Sakit ABC), Petugas Apotek, Petugas Laboratorium, Petugas Radiologi, Kasir serta Pimpinan Rumah Sakit ABC Halaman untuk Petugas Rekam Medis Gambar 6 menunjukkan halaman utama untuk petugas rekam medis setelah melakukan login. Hak akses untuk petugas rekam medis disini adalah mengelola data pasien baik itu pasien baru maupun pasien kunjungan (registrasi), mengelola data poliklinik serta data diagnosa Memberikan Pelayanan Yang Terbaik Dengan Hati Nurani Logo SISTEM INFORMASI KLINIS RUMAH SAKIT ABC PALEMBANG Home Pasien Baru Registrasi Data Pasien Poliklinik Diagnosa Logout Company News - News 1 - News 2 - News 3 Partner Links - Link 1 - Link 2 - Link 3 Gambar 5 Halaman Petugas Rekam Medis Halaman untuk Petugas Poliklinik Gambar 7 menunjukkan hak akses dari petugas poliklinik. Di halaman ini petugas poliklinik berhak mengakses riwayat penyakit pasien dengan nomor rekam medis tertentu, menginput hasil pemeriksaan dokter, menginput hasil pemeriksaan lanjutan untuk pasien yang di instruksikan untuk mendapat pemeriksaan lanjutan di lab atau radiologi oleh dokter, serta dapat pula menginputkan resep. Semua yang diinputkan oleh petugas poliklinik ini atas instruksi dari dokter yang sedang bertugas IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

80 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Memberikan Pelayanan Yang Terbaik Dengan Hati Nurani Logo SISTEM INFORMASI KLINIS RUMAH SAKIT ABC PALEMBANG Home Riwayat Penyakit Pemeriksaan Pemeriksaan Lanjutan Resep Logout Company News - News 1 - News 2 - News 3 Partner Links - Link 1 - Link 2 - Link 3 Gambar 6 Halaman Petugas Poliklinik Halaman untuk Dokter Pada Gambar 8 terlihat bahwa hak akses dokter terdiri dari edit profil yaitu dokter dapat mengedit data pribadinya yang pernah diinputkan oleh petugas urmintu, riwayat penyakit yaitu dokter dapat melihat riwayat penyakit paasien tertentu berdasarkan nomor rekam medisnya, menginputkan hasil periksa dan periksa lanjutan, serta memasukkan data resep yang kemudian dapat langsung diambil pasien di apotek Memberikan Pelayanan Yang Terbaik Dengan Hati Nurani Logo SISTEM INFORMASI KLINIS RUMAH SAKIT ABC PALEMBANG Home Edit Profil Riwayat Penyakit Pemeriksaan Pemeriksaan Lanjutan Resep Logout Company News - News 1 - News 2 - News 3 Partner Links - Link 1 - Link 2 - Link 3 Gambar 7 Halaman Dokter Halaman untuk Urmintu Pada Gambar 9 terlihat bahwa urmintu dapat mengelola data pengguna sistem informasi klinis, data dokter serta data petugas poliklinik Memberikan Pelayanan Yang Terbaik Dengan Hati Nurani Logo SISTEM INFORMASI KLINIS RUMAH SAKIT ABC PALEMBANG Home Kelola Pengguna Kelola Data Dokter Kelola Data Poliklinik Logout Company News - News 1 - News 2 - News 3 Partner Links - Link 1 - Link 2 - Link 3 Gambar 8 Halaman Urmintu Halaman untuk Petugas Apotek Pada Gambar 10 terlihat bahwa petugas apotek berhak mengelola data obat, merekap data obat, data resep serta mengelola tagihan terhadap resep yang diberikan kepada pasien. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

81 ISSN: ISSN : Memberikan Pelayanan Yang Terbaik Dengan Hati Nurani Logo SISTEM INFORMASI KLINIS RUMAH SAKIT ABC PALEMBANG Home Kelola Data Obat Rekap Data Obat Rekap Data Resep Tagihan Resep Logout Company News - News 1 - News 2 - News 3 Partner Links - Link 1 - Link 2 - Link 3 Gambar 9 Halaman Petugas Apotek Halaman untuk Petugas Laboratorium Gambar 11 dapat dilihat bahwa petugas laboratorium/ lab hanya dapat mengelola hasil lab dimana petugas lab hanya dapat memberikan hasil pemeriksaan lab atas instruksi dari dokter yang dilakukan dengan memasukkan nomor identitas pasien. Jika tidak ada rekomendasi dari dokter untuk pasien tertentu, maka tidak ada pengelolaan hasil lab yang dapat dilakukan. Memberikan Pelayanan Yang Terbaik Dengan Hati Nurani Logo SISTEM INFORMASI KLINIS RUMAH SAKIT ABC PALEMBANG Home Kelola Hasil Lab Logout Company News - News 1 - News 2 - News 3 Partner Links - Link 1 - Link 2 - Link 3 Gambar 10 Halaman Petugas Laboratorium Halaman untuk Petugas Radiologi Pada Gambar 12 dapat dilihat bahwa radiologi hanya dapat mengelola hasil pemeriksaan radiologi, dimana petugas radiologi hanya dapat memberikan hasil pemeriksaan atas instruksi dari dokter yang dilakukan dengan memasukkan nomor identitas pasien. Jika tidak ada rekomendasi dari dokter untuk pasien tertentu, maka tidak ada pengelolaan hasil radiologi yang dapat dilakukan. Logo Memberikan Pelayanan Yang Terbaik Dengan Hati Nurani SISTEM INFORMASI KLINIS RUMAH SAKIT ABC PALEMBANG Home Kelola Hasil Radiologi Logout Company News - News 1 - News 2 - News 3 Partner Links - Link 1 - Link 2 - Link 3 Gambar 11 Halaman Petugas Radiologi Halaman untuk Petugas Kasir Pada Gambar 13 dapat dilihat bahwa petugas kasir hanya dapat melihat rekapan data tagihan rawat jalan di Rumah Sakit ABC Palembang, dimana rekapan ini didapat dari proses sebelumnya IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

82 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Memberikan Pelayanan Yang Terbaik Dengan Hati Nurani Logo SISTEM INFORMASI KLINIS RUMAH SAKIT ABC PALEMBANG Home Rekap Tagihan Logout Company News - News 1 - News 2 - News 3 Partner Links - Link 1 - Link 2 - Link 3 Gambar 12 Halaman Kasir Halaman untuk Pimpinan Rumah Sakit ABC Memberikan Pelayanan Yang Terbaik Dengan Hati Nurani Logo SISTEM INFORMASI KLINIS RUMAH SAKIT ABC PALEMBANG Home Laporan Pasien Laporan Penyakit Laporan Obat Laporan Kunjungan Statistik Kunjungan Logout Company News - News 1 - News 2 - News 3 Partner Links - Link 1 - Link 2 - Link 3 Gambar 13 Halaman Pimpinan Rumah Sakit ABC Pada Gambar 14 dapat dilihat bahwa pimpinan rumah sakit hanya dapat melihat dan mencetak data laporan yang terdiri dari laporan pasien baru, laporan penyakit pasien, laporan peresepan obat, serta laporan kunjungan pasien perbulan. Pimpinan rumah sakit juga dapat melihat statistik kunjungan pasien ke Rumah Sakit ABC Palembang pertahunnya. 4. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah: 1. Penelitian ini melibatkan 4 fase pada Metodologi FAST Model Driven dimulai dari scope definition, problem analysis, requirement analysis hingga logical design. Masing-masing tahapan dimulai dari scope definition (pendefinisian lingkup) digambarkan dengan mendefinisikan dan menguraikan masalah yang saat ini terjadi di Rumah Sakit ABC. Selanjutnya masuk pada tahapan problem analysis (analisis permasalahan) dimana pada tahap ini dilakukan analisis yang lebih mendalam tentang sistem yang saat ini sedang berjalan di Rumah Sakit ABC dengan menggunakan analisis sebab-akibat. Setelah domain masalah dipahami, maka dilanjutkan dengan menjabarkan tujuan perbaikan sisem (System Improvement Objective). Setelah analisis permasalahan, selanjutnya masuk ke tahap requirement analysis (analisis kebutuhan). Analisis kebutuhan dalam perancangan ini dilakukan dengan menguraikan kebutuhan fungsional dan non fungsional sistem yang akan dikembangkan, dimana kebutuhan non fungsional diuraikan dengan klasifikasi PIECES framework. Setelah menganalisis kebutuhan sistem yang akan dikembangkan, tahap selanjutnya adalah merancang model logik dari sistem yang akan dikembangkan dengan menggambarkan diagram dekomposisi, Data Flow Diagram (DFD) level konteks, dan Entity Relationship Diagram (ERD). Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

83 ISSN: ISSN : Setelah melalui 4 fase dalam metodologi FAST Model Driven, dirancang suatu rancangan antar muka Sistem Informasi Rawat Jalan untuk Rumah Sakit ABC sebagai hasil akhir dari penelitian Saran Dari hasil yang telah diuraikan, saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini antara lain: 1. Penelitian ini hanya terbatas pada rancangan antar muka Instalasi Rawat Jalan pada Ruumah Sakit ABC, untuk itu penelitian selanjutnya dapat berfokus kepada penambahan mudul lain seperti rawat inap dan Unit Gawat Darurat (IGD) agar menjadi sebuah Sistem Informasi Rumah Sakit yang utuh. 2. Pada penelitian ini, pemeriksaan penunjang hanya melibatkan 2 jenis instalasi penunjang, yakni laboratorium dan radiologi. Untuk penelitian selanjutnya dapat dilakukan penambahan fitur pemeriksaan penunjang lain seperti fisioterapi dan rekam jantung. 3. Penelitian ini hanya terbatas dengan 4 fase yang ada dalam metodologi FAST Model Driven. Untuk itu penelitian selanjutnya dapat diarahkan pada pengaplikasian seluruh fase (8 fase) yang ada pada FAST Model Driven agar menjadi suatu sistem nforormasi yang utuh yang dapat dimanfaatkan oleh Rumah sakit Bhayangkara untuk pengelolaan data rawat jalan pada Rumah Sakit ABC. DAFTAR PUSTAKA [1] Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 82 Tahun [online] Tersedia: m%20informasi%20manajemen%20rs.pdf [14 Oktober 2014] [2] B.S, Mohammad Petugas Medis Senang Pasien Pun Tenang. [online] Tersedia: digital/details.php%3fcid%3d1%26id%3d5615. [14 Oktober 2014] [3] Tundjungsari, V Aplikasi Klinik Kesehatan Online Berbasis Web. Konferensi dan Temu Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Indonesia. Jakarta. [online] Tersedia : df. [14 Oktober 2014] [4] Werner, J., Mathe, J.L., Duncavage, S., Malin, B., Ledeczi, A., Jirjis, J.N., Sztipanovits, J Platform-Based Design for Clinical Information Systems. Industrial Informatics, 5th IEEE International Conference on (Volume:2 ) [5] Whitten, L Jeffery, dkk Metode Desain dan Analisis Sistem Edisi 6 (Diterjemahkan oleh : Tim Penerjemah ANDI). Yogyakarta : Penerbit ANDI. [6] Kristanto, A Perancangan Sistem Informasi dan Aplikasinya. Yogyakarta : Gava Media. [7] Al Fatta, Hanif Analisis dan Perancangan Sistem Informasi. Penerbit Andi, Yogyakarta. IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

84 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Analisis dan Perancangan Iklan Rekrutmen Mahasiswa Baru STMIK Potensi Utama Medan Soeheri* 1, M.Suyanto 2, Amir Fatah Sofyan 3 1 STMIK Potensi Utama 2,3 Magister Teknik Informatika STMIK AMIKOM Yogyakarta * 1 3 Abstrak Setiap tahunnya masing-masing PTS (perguruan Tinggi Swasta) selalu terjadi persaingan ditambah lagi dengan PTN (Perguruan Tinggi Negeri) dalam memperebutkan jumlah mahasiswa, agar tetap bertahan setiap PTS harus memahami hal-hal menjadi pertimbangan bagi calon mahasiswa untuk memilih perguruan tinggi (PT) dan juga akan menjadikan pertimbangan tesebut sebagai keunggulan dalam berkompetitif. Untuk itu perlu adanya alat promosi yang lebih handal dalam menjangkau khalayak ramai yaitu dengan iklan televisi. Alat promosi harus efektif menarik perhatian, mendapatkan dan mendorong minat, membangkitkan keinginan, dan menghasilkan tindakan dan hal itu bisa dilakukan dengan rumus atau model AIDCA(Attention, Interest, Desire, Conviction, Action). Outpu dari penelitian ini adalah hasil rancangan berupa vidio iklan dan hasil analisis yang bisa dijadikan rujukan bagi STMIK Potensi Utama untuk melakukan promosi. Berdasarkan rancangan yang dilakukan untuk merancangan iklan televisi perlu adanya skema maupun tahapan-tahapan, yaitu pra produksi, produksi dan pasca produksi serta kreatifitas iklan agar iklan menjadi daya tarik. Berdasarkan hasil analisi dapat disimpulkan terdapat pengaruh efektifitas Interest, Coviction dan Action terhadap iklan rekrutmen mahasiswa baru, sementara variabel Attention dan Desire memiliki pengaruh terbalik terhadap minat memilih. Hal tersebut dapat dilihat dari koefisen regresi dimana Attention dengan keofesien -0,210, interest 0,232, Desire -0,092, Conviction 0,201, dan Action 0,831. Namun secara keseluruhan variabel AIDCA dilihat dari R Square 0,653 atau sama dengan 65,3%, artinya variabel tersebut mampu menjelaskan 65,3% perubahan terhadap minat calon mahasiswa. Sisanya dipengaruhi oleh faktor diluar dari variabel yang diukur. Kata Kunci : iklan, pengaruh iklan, aidca model. Abstract Every year, each PTS (Private universities) always be competition coupled with the State (State University) in getting the number of students, in order to survive each PTS should understand things into consideration for prospective students to choose a college (PT) and also will make the judgment as a proficiency level of excellence in competitive advantage. For that we need a more powerful promotional tool in reaching the general public that the television ads. Effective promotional tools should attract attention, gain and encourage interest, arouse desire, and generate tindakandah it can be done with a formula or model AIDCA (Attention, Interest, Desire, Conviction, Action). The output of this research is the design in the form of video ads and the results of the analysis can be used as a reference for STMIK Potensi Utama for promotion. Based design is to design a television commercial need for the scheme and the stages, ie pre-production, production and post-production as well as the creativity of advertising in order to attract advertising. Based on the analysis results can be concluded there is influence the effectiveness of Interest, Coviction and Action against new student recruitment advertising, while variable Attention and Desire has a reverse effect on the interest of choosing. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

85 ISSN: ISSN : This can be seen from where the regression coefficient with keofesien Attention, interest, 0.232, Desire, Conviction 0.201, and Action But overall variable AIDCA seen from R Square.653 or equal to 65.3%, meaning that these variables can explain 65.3% change in the interest of prospective students. The rest is affected by factors outside of the variables measured. Keywords : advertisi, the influence of advertising, aidca models B 1. PENDAHULUAN erdasarkan data dari panitia nasional SBMPTN ( Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) pada tahun 2013 diseluruh indonesia berjumlah calon mahasiswa. Tentunya jumlah yang sangat besar tersebut tidak akan memenuhi kebutuhan pendidikan jika pengelolaannya diserahkan semuanya kepada perguruan tinggi negeri (PTN), karena perguruan tinggi hanya menyediakan kursi untuk calon mahasiswa baru.untuk itu perguruan tinggi swasta (PTS) menjadi bagian dari solusi hal tersebut. Namun PTS mempunyai masalah tersendiri, karena dalam menjalankan operasional tentunya membutuhkan dan bergantung pada jumlah mahasiswa, PTS akan mampu memberi pelayanan terbaik jika jumlah mahasiswa semakin besar dan sebaliknya operasional akan bermasalah jika jumlah mahasiswa sedikit. Setiap tahunnya masing-masing PTS selalu terjadi persaingan ditambah lagi dengan PTN dalam memperebutkan jumlah mahasiswa, agar tetap bertahan setiap PTS harus memahami hal-hal menjadi pertimbangan bagi calon mahasiswa untuk memilih perguruan tinggi (PT) dan juga akan menjadikan pertimbangan tesebut sebagai keunggulan dalam berkompetitif. Orang awam yang belum banyak mengetahui tentang marketing, merasa kaget dengan istilah marketing pendidikan. Mereka mengira bahwa lembaga pendidikan itu akan dikomersialkan.persepsi masyarakat ini bisa saja benar bisa saja kurang benar, istilah marketing bisa saja digunakan untuk lembaga-lembaga bisnis, seiring dengan perkembangan zaman. Marketing tidak hanya digunakan dalam lembaga profit saja, melainkan juga banyak digunakan dalam lembaga-lembaga nonprofit.karena pada saat ini pendidikan juga menjadi komoditi yang diperdagangkan.pada saat ini banyak bermunculan lembaga-lembaga pendidikan yang menawarkan jasa pendidikan yang beraneka ragam.[1] Menurut data yang diperoleh dari STMIK Potensi Utama tahun 2011 jumlah mahasiswa baru mencapai 1035, pada tahun 2012 jumlah mahasiswa mencapa 816 dan terakhir pada tahun 2013 mencapai 978, itu artinya jumlah penerimaan mahasiswa baru cenderung mengalami penurunan. Hal tersebut tidak terlepas dari benyaknya jumlah PTS itu sendiri dan juga meningkatnya persaingan antara PTS.Walaupun STMIK Potensi Utama telah memiliki brand position sendiri.untuk propinsi Sumatera utara sendiri mencapai 234 PTS, hal ini berdasarkan data dari kopertis wilayah 1. Alat promosi harus efektif menarik perhatian, mendapatkan dan mendorong minat, membangkitkan keinginan, dan menghasilkan tindakan.sasaran atau masyarakat dalam menerima pesan informasi haruslah melalui tahap-tahap rumus dalam konsep model AIDCA(Attention, Interest, Desire, Conviction, Action) yaitu yang pertama, Attention berarti iklan harus menarik perhatian masyarakat baik pembaca, pendengar maupun pemirsa. Kedua, Interest berarti setelah merebut perhatian audiens, bagaimana memunculkan minat dan rasa ingin tahu lebih jauh.ketiga, Desire menggerakkan keinginan audiens untuk memiliki atau menikmati produk tersebut.keempat, Conviction meyakinkan audiens agar timbul rasa percaya diri dengan menyodorkan pandangan positif.kemudian, Action yaitu membujuk audiens sesegera mungkin melakukan suatu tindakan pembelian[2]. Tanggapan terakhir yang diharapkan dari calon mahasiswa adalah keputusan untuk memilih dengan kepuasan yang tinggi dan cerita dari mulut ke mulut yang baik. Namun IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

86 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret keputusan untuk memilih merupakan proses hasil akhir yang panjang. Pihak managemen berkeinginan untuk memasukkan sesuatu ke dalam pikiran calon mahasiswa, mengubah sikap, atau mendorong calon mahasiswa untuk bertindak. Setelah menentukan tanggapan yang diinginkan dari calon mahasiswa, selanjutnya komunikator melanjutkan pesan yang efektif. Idealnya pesan itu harus menarik perhatian (attention), mempertahankan ketertarikan (interest), membangkitkan keinginan (desire), menyakinkan calon mahasiswa dan menggerakkan tindakan (action). Bagian yang tajam dari instrumen pemasaran adalah pesan (message) yang akan disampaikan kepada calon pembeli melalui berbagai unsur yang terdapat dalam program promosi, karena promosi merupakan salah satu cara yang digunakan pihak managemen untuk mengadakan komunikasi dengan calon mahasiswa. Promosi yang disampaikan kepada calon mahasiswa ini diharapkan mampu meningkatkan citra PT dan mendongkrak jumlah mahasiswa di STMIK Potensi Utama. 2. METODELOGI PENELITIAN 2.1 Tehnik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sample yaitu metode purposive ( purposive sampling). Purposive sampling yaitu memilih sample bertujuan secara subjektif. Hal ini dilakukan karena peneliti telah memahami bahwa informasi yang dibutuhkan dapat diperoleh dari kelompok sasaran tertentu yang mampu meberikan informasi yang dikehendaki karena mereka memiliki informasi seperti itu dan mereka memenuhi kriteria yang ditentukan oleh peneliti [3]. Dalam hal ini pertimbangan yang dipergunakan dalam menentukan karakteristik responden adalah sebagai berikut : a. Sampel adalah mereka siswa dengan pendidikan SLTA sederajat dan pernah mengetahui/ menyaksikan iklan rekrutmen mahasiswa baru. b. Siswa yang dijadikan responden yaitu siswa kelas 3 (tiga) c. Jumlah sampel yang diambil adalah 100 siswa 2.2 Metode Analisis Data Sesuai dengan metode penelitian yang digunakan, maka dalam penelitian ini untuk melakukan Uji Validitas dan Uji Reliabilitas,yakni: 1) Uji Validitas menunjukkan sejauh mana tingkat ketepatan penggunaan alat ukur tersebut terdapat gejala yang ingin diukur. Kuesioner dapat dikatakan valid jika pertanyaan dalam suatu kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner. 2) Uji Reliabilitas adalah suatu alat ukur yang menunjukan bahwa sifat alat ukur yang kita gunakan sudah cukup akurat, stabil, atau konsisten dalam mengukur apa yang ingin diukur. 2.3 Tehnik Analisa data Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi yang bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh beberapa variabel independen terhadap variabel dependen. Dalam penelitian ini analisis regresi yang dipakai adalah analisis regresi linier berganda dimana secara umum data hasil pengamatan Y dipengaruhi oleh beberapa variabel bebas X 1, X 2, X 3,... X n, 2.4 Pengujian Hipotesis 1) Uji F, yaitu pengujian regresi secara simultan/serentak antara variabel independen terhadap variabel dependen. Uji F dimaksudkan untuk menguji ada tidaknya pengaruh variabel Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

87 ISSN: ISSN : independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen atau untuk menguji tingkat keberartian hubungan seluruh koefisien regresi variabel bebas terhadap variabel terikat. 2) Uji t, yaitu pengujian regresi secara parsial/terpisah antar masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Pengujian dilakukan untuk melihat kuat tidaknya pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen (secara parsial) 2.5 Formula AIDCA Formula AIDCA (Attention, Interest, Desire, Conviction, Action) merupakan formula yang paling sering digunakan untuk membantu perencanaan suatu iklan secara menyeluruh, dan formula itu dapat diterapkan pada suatu iklan hard-selling. Formula ini tidak hanya diterapkan pada naskah iklan atau copy iklan, layout dan tipografi saja, tetapi juga diterapkan pada pemilihan media, ukuran ruang iklan, dan posisi iklan itu dalam media publikasi [4]. 2.6 Konsep dan skema Perancangan Iklan Meracangan suatu iklan perlu adanya strategi yang terstruktur. Hal ini dilakukan agar proses berjalan sesuai tahapan-tahapan serta menghasilkan iklan yang sesuai dengan yang diinginkan Konsep Visual Pembuatan iklan rekrutmen mahasiswa baru melibatkan unsur- unsur keobjektifan informasi yang akan disampaikan. Sehingga dalam mengolah bentuk visualnya harus bisa memberikan gambaran seperti apa karakter STMIK Potensi Utama pada iklan itu nanti. Pembentukan nilai-nilai estetika visual yang akan dilengkapi oleh audio, yang mengacu pada karakteristik iklan televisi diangkat. Melihat karakteristik iklan televisi rekrutmen mahasiswa baru STMIK Potensi Utama, maka pemilihan elemen-elemen visual mengikuti citra dari karakteristik STMIK Potensi Utama itu sendiri. Penambahan visual effect sebagai dramatisasi bentuk yang akan memberikan pengaruh pada hasilnya Konsep Warna Pembuatan Iklan rekrutmen mahasiswa baru STMIK Potensi Utama, penulis menggunakan beberapa warna seperti warna Biru yang berhubungan atau menggambarkan teknologi komputer trasnparan masa depan atau hologram. Biru adalah basis untuk warna-warna tapi tambahan adalah putih dan hijau menambah rasa rilaksasi pada saat melihatnya Konsep Tipography Pembuatan iklan rekrutmen mahasiswa baru STMIK Potensi Utama penulis menggunakan font ticking time bomb menggambarkan karakter dari teknologi hologram dan terkesan modern. Sedangkan untuk pemakaian huruf arial sebagai penegasan karena memiliki karakter kaku dan tebal kemudian mudah di baca. ticking digitalism : a b c d e f g h i j k l m n o p Arial : A B C D E F G H I J K L M N O P Konsep Grafis Sebagai bagian yang tak terpisahkan iklan rekrutmen mahasiwa baru STMIK Potensi Utama. Elemen-elemen grafisyang penulis buat pada iklan ini sengaja dibuatkan elemenelemen grafis yang sesuai dan tepat dengan karakteristik yang telah dibicarakan pada konsep dengan pihak STMIK Potensi Utama, karena dengan grafis berbentuk hologram akan memberikan kesan berkarakter teknologi masa depan dan modern. IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

88 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Konsep 3D Animasi 3D merupakan komponen utama dari pembuatan iklan untuk televisi. Pada dasarnya animasi 3D dapat memberikan pandangan baru dan terlihat nyata untuk audience-nya. Konsep animasi 3D yang penulis tentukan untuk iklan ini dimana pembuatannya lebih menekankan pada gerakan gerakan yang dinamis yang menandakan sebuah gerak tulisan STMIK Konsep Audio Peran utama audio sebagai pelengkap dan penambah daya tarik dalam mengikuti unsur visual, audio merupakan bentuk ilustrasi suara yang mempertegas suasana dari visual. Dalam iklan rekrutmen mahasiswa baru STMIK Potensi Utama ini audio berfungsi sebagai penutur cerita yang ingin disampaikan, dan pembentukan irama bisa membantu dalam perpindahan visual untuk membentuk suatu pola yang dinamis. Dalam pembuatan iklan rekrutmen mahasiswa baru STMIK Potensi Utama narasi untuk memperjelas informasi yang akan disampaikan Skema Pengerjaan Iklan televisi Untuk meracangan suatu iklan perlu adanya strategi yang terstruktur. Hal ini dilakukan agar proses berjalan sesuai tahapan-tahapan serta menghasilkan iklan yang sesuai dengan yang diinginkan. Tahap Pra Produksi, Tahap prapoduksi adalah tahap diamana kita mengerjakan semua pekerjaan dan aktifitas sebelum iklan televisi diproduksi secara nyata.pemesan iklan dapat menghemat biaya dengan menyusun perencanaan yang baik sebelum memproduksi iklan. Pertama yang harus dipikirkan oleh produser adalah mempelajari naskah, storyboard dan menganalisa teknik produksi yang akan diterapkan dalam produksi iklan televisi. Teknik produksi meliputi live action, animasi dan efek-efek special.tahap Production, Perencanaan produksi memegang peranan penting sebelum memproduksi iklan televisi. Beberapa hal yang harus dilakukan dalam perencanaan produksi antara lain memilih sutradara, menyeleksi penawaran, memilih agen yang membuat iklan televisi, memperkirakan biaya dan waktu, membuat jadwal produksi, menentukan kontruksi iklan televisi, pemilihan pemeran (casting), menetapkan lokasi syuting pemilihan pakaian, persetujuan agensi dan pemesan, dan mengadakan pertemuan produksi. Tahap PascaProduction, Tahap produksi adalah tahap periode selama iklan diproduksi secara komesial. Tahap ini meliputi kegiatan syuting, perekaman suara, pengaturan pencahayaan dan pemilihan kamera. Jika ingin membuat iklan tentang profile perusahaan yang berdurasi 30 menit, paling tidak memerlukan waktu syuting 1-4 minggu atau lebih, jadi kita memerlukan waktu syuting sekitar 2-7 hari untuk membuat iklan televisi berdurasi 30 menit [5] Supaya pengerjaan iklan televisi menjadi terstruktur dengan baik perlu dibuat sebuah skema. Skema pengerjaan iklan ditampilkan pada Gambar 1. Gambar 1. Skema Pengerjaan Iklan Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

89 ISSN: ISSN : HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Rancangan Iklan Hasil dari perancangan iklan televisi ini sudah berdasarkan naskah dan storyboard. Barikut ini gambaran iklan televisi yang telah dirancangan dan dilakukan pengujian. Suatu media iklan yang baik harus memiliki tampilan yang menarik dan isi yang mudah dimengerti. Demikian juga dengan tampilan Iklan televisi rekrutmen mahasiswa baru STMIK Potensi Utama ini memanfaatkan aplikasi multimedia sebagai sarana media informasi dan periklanan agar menarik dan mampu berperan secara efektif. Pembahasan terhadap hasil penelitian dan pengujian yang diperoleh disajikan dalam bentuk uraian teoritik, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Hasil percobaan sebaiknya ditampilkan dalam berupa grafik atau pun tabel. Untuk grafik dapat mengikuti format untuk diagram dan gambar. Gambar 2. Hasil Rancangan Iklan 3.2 Hasil Pengujian Pengolahan data serta analisis tentang hasil tanggapan responden. Pada bagian ini akan dilihat mengenai kecenderungan jawaban responden atas masing-masing variabel penelitian. Kecenderungan jawaban responden ini dapat dilihat dari bentuk statistik deskriptif dari masing-masing variabel Deskripsi Responden Dari hasil penelitian, jumlah responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Responde Berdasarkan jenis kelamin No Jenis Kelamin Jumlah (orang) Presentase (%) 1 Laki-laki 45 45% 2 Perempuan 55 55% Total IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

90 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Regresi Linear Berganda Berdasarkan perhitungan regresi berganda antara attention (X1), interest (X2), desire (X3), conviction (X4), action (X5) terhadap minat memilih (Y) dengan dibantu program SPSS dalam proses penghitungannya dapat diperoleh hasil yang tersaji pada Tabel 2. Tabel 2. Analisis Regresi Variabel Koefisien Standart t hitung Probabilitas R Regressi Error Adjusted R 2 Konstanta -0, ,202 0,841 0,808 0,634 35,329 Attention(x1) -0,210 0,111-1,894 0,061 Interest (x2) 0,232 0,109 2,136 0,035 Desire (x3) -0,092 0,159-0,578 0,565 Conviction (x4) 0,201 0,172 1,169 0,245 Action (x5) 0,831 0,141 5,914 0,000 Y = -0,303 + (-0,210)X1 + 0,232X2 + (-0,092)X3 + 0,201X4+0,831X5 F-Statistik a. Nilai Konstanta b 0 (-0,303) Konstanta bernilai negatif terhadap variabel Y, artinya akan memberikan pengaruh negatif terhadap variabel dependen apabila variabel-variabel Independen bernilai 0 (nol). variabel attention (X1) dan desire (X3) bernilai negatif terhadap Y, artinya semakin tinggi nilai X1 dan X3 maka respon iklan rekrutmen mahasiswa baru terhadap minat memilih (Y) pada perguruan tinggi STMIK Potensi Utama menurun. Dengan demikian dapat diketahui bahwa calon mahasiswa mempunyai minat memilih dipengaruhi oleh interest, conviction dan action. b. Koefisien regresi faktor Attention (b1)= -0,210 Nilai maupun angka negatif menunjukan bahwa adanya pengaruh berbanding terbalik antara variabel attention (X1) terhadap minat memilih (Y). Dengan kata lain variabel attention (X1) tidak dapat mempengaruhi minat untuk memilih c. Koefisien regresi faktor Interest (b2) = 0,232 Pada variabel Interest (X2) terdapat pengaruh positif atau searah terhadap minat memilih (Y) calon mahasiswa. Artinya variabel Interest (X2) mempengaruhi minat calon mahasiswa untuk memilih. d. Koefisien regresi faktor Desire (b3) = -0,092 Nilai negatif ditunjukan oleh koefisien regresi faktor desire (X3) terhadap minat memilih (Y). Terbukti adanya berlawanan arah antara variabel desire (X3) terhadap variabel minat memilih (Y). Artinya variabel desire (X3) tidak mempengaruhi minat untuk memilih.. e. Koefisien regresi faktor Covition (b4) = 0,201 Nilai positif pada variabel conviction (X4) menunjukan terdapat hubungan searah antara variabel conviction (X4) terhadap variabel minat memilih (Y). Dengan kata lain variabel conviction (X4) mampu memberikan pengaruh terhadap calon mahasiswa memiliki minat untuk memilih. f. Koefisien regresi faktor Action (b5) = 0,831 Koefisien regresi linier pada variabel action (X5) menunjukkan nilai positif yang saling mendukung antara variabel action (X5) terhadap variabel minat memilih (Y). kesimpulannya adalah variabel action (X5) membawa dampak maupun pengaruh terhadap minat memilih. 3.4 Uji t Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel-variabel independen secara parsial berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel dependen. Derajat signifikansi yang digunakan Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

91 ISSN: ISSN : adalah 0,05. Apabila nilai signifikan lebih kecil dari derajat kepercayaan maka kita menerima hipotesis alternatif, yang menyatakan bahwa suatu variabel independen secara parsial mempengaruhi variabel dependen. a. Pengujian Pengaruh Variabel Attention Terhadap Minat Memilih Ho: t hitung < t tabel, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan secara parsial variable independen (X1) terhadap variable dependen (Y). Ha: t hitung > t tabel, artinya ada pengaruh yang signifikan secara parsial independen (X1) terhadap variable dependen (Y). Nilai t hitung pada derajad bebas (df) = 198, diperoleh angka = 3,207 dengan nilai t tabel = 1,97202 yang berarti t hitung > t tabel atau 3,207 > 1, Sesuai dengan kriteria pengujian Ho ditolak dan Ha diterima jika t hitung > t table. sehingga hipotesis yang menyatakan dugaan ada pengaruh yang signifikan secara parsial independen (X1) terhadap variable dependen (Y).dapat diterima. b. Pengujian Pengaruh Variabel Interest Terhadap Minat Memilih Ho: t hitung < t tabel, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan secara parsial variable independen (X1) terhadap variable dependen(y). Ha: t hitung > t tabel, artinya ada pengaruh yang signifikan secara parsial independen (X1) terhadap variable dependen (Y). Nilai t hitung pada derajad bebas (df) = 198, diperoleh angka = 8,580 dengan nilai t tabel = 1,97202 yang berarti t hitung > t tabel atau 8,580 > 1, Sesuai dengan kriteria pengujian Ho ditolak dan Ha diterima jika t hitung > t table. sehingga hipotesis yang menyatakan dugaan ada pengaruh yang signifikan secara parsial independen (X1) terhadap variable dependen (Y).dapat diterima. c. Pengujian Pengaruh Variabel Desire Terhadap Minat Memilih Ho: t hitung < t tabel, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan secara parsial variable independen (X1) terhadap variable dependen(y). Ha: t hitung > t tabel, artinya ada pengaruh yang signifikan secara parsial independen (X1) terhadap variable dependen (Y). Nilai t hitung pada derajad bebas (df) = 198, diperoleh angka = 3,898 dengan nilai t tabel = 1,97202 yang berarti t hitung > t tabel atau 3,898 > 1, Sesuai dengan kriteria pengujian Ho ditolak dan Ha diterima jika t hitung > t table. sehingga hipotesis yang menyatakan dugaan ada pengaruh yang signifikan secara parsial independen (X1) terhadap variable dependen (Y). d. Pengujian Pengaruh Variabel Conviction Terhadap Minat Memilih Ho: t hitung < t tabel, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan secara parsial variable independen (X1) terhadap variable dependen(y). Ha: t hitung > t tabel, artinya ada pengaruh yang signifikan secara parsial independen (X1) terhadap variable dependen (Y). Nilai t hitung pada derajad bebas (df) = 198, diperoleh angka = 1,819 dengan nilai t tabel = 1,97202 yang berarti t hitung < t tabel atau 1,819 < 1, Sesuai dengan kriteria pengujian Ho diterima dan Ha ditolak jika t hitung > t table. sehingga hipotesis yang menyatakan dugaan tidak ada pengaruh yang signifikan (lemah) secara parsial independen (X1) terhadap variable dependen (Y). e. Pengujian Pengaruh Variabel Action Terhadap Minat Memilih Ho: t hitung < t tabel, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan secara parsial variable independen (X1) terhadap variable dependen(y). IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

92 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Ha: t hitung > t tabel, artinya ada pengaruh yang signifikan secara parsial independen (X1) terhadap variable dependen (Y). Nilai t hitung pada derajad bebas (df) = 198, diperoleh angka = 0,224 dengan nilai t tabel = 1,97202 yang berarti t hitung < t tabel atau 0,224 < 1, Sesuai dengan kriteria pengujian Ho diterima dan Ha ditolak jika t hitung > t table. sehingga hipotesis yang menyatakan dugaan tidak ada pengaruh yang signifikan (lemah )secara parsial independen (X1) terhadap variable dependen (Y) 3.5 Uji f (Anova) Model regresi dikatakan baik, apabila antara variabel, attention (X1), interest (X2), desire (X3), conviction (X4) dan action (X5) terhadap minat memilih digunakan pengujian dengan uji F. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan program SPSS diperoleh nilai yang tersaji pada Tabel 3. Tabel 3. Uji F ( Anova) Df F F tabel Sig Beetween Groups 4 23,824 2,39 0,000 Within Groups 495 Total 499 Berdasarkan Tabel 3, dapat dijelaskan bahwa nilai F hitung sebesar 23,824 pada level significance (taraf signifikan) sebesar 5 % diperoleh F tabel sebesar 2,39 sehingga nilai F hitung = 23,824 > dari F tabel = 2,39 atau signifikan sig = 0,000 < 0,05. Dengan demikian model regresi dalam penelitian ini adalah baik, karena variabel bebas, yaitu attention (X1), interest (X2), desire (X3), conviction (X4) dan action (X5) secara bersama-sama berpengaruh terhadap minat memilih. 3.6 Uji Determinasi R 2 Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari seluruh variabel independen yang ada dan besarnya pengaruh yang disebabkan oleh variabel lain yang tidak dapat dijelaskan. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya koefisien determinan (R²) yang besarnya antara 0 sampai 1 atau 0 R² 1.Jika R² mendekati 1 maka varaibel independen berpengaruh terhadap variable dependen dengan sempurna atau terdapat suatu kecocokan yang sempurna (variable independen yang dipakai dapat menerangkan dengan baik variable dependen). Namun jika koefisien determinasi adalah nol (0) berarti variable independen tidak berpengaruh terhadap variable dependen Tabel 4. Uji Determinasi R 2 Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

93 ISSN: ISSN : Berdasarkan Tabel 4 menunjukan nilai hubungan dan kekuatan antar variabel. Sebagai contoh pada tabel ditas variabel minat memilih dan attention mempunya nilai pearson corelation sebesar 0,456 yang berarti bernilai positif. Dengan demikin hubungan antar variabel searah, dengan jika nilai variabel attention naik makan nilai variabel minat memilih juga akan ikut naik. Besaran nilai pearson corelation antara minat pilih dengan attention adalah 0,456 dan masuk kepada kategori cukup. Dari tabel diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa variabel minat pilih dan attention mempunya hubungan yang cukup dan searah. Bagitu juga dengan variabel yang lain. 3.7 Interpretasi Hasil Berdasarkan pengujian diatas dapat di interpretasikan sebagai beriku : a. R Square : 0,653 atau sama denga 65,3% artinya Varabel X 1, X 2, X 3, X 4 dan X 5 mampu menjelaskan 65,3% perubahan terhadap minat (Y) b. R sama dengan 0,808 termasuk kedalam derajat kuat hubungan antara variable X 1, X 2, X 3, X 4 dan X 5 terhadapa Y dengan range 0,2-1. c. Sig 0,000 α 0,05 maka Ho ditolak Ha diterima, dengan kata lain ada hubungan antara variable X 1, X 2, X 3, X 4 dan X 5 terhadap Y. 4. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. visual, konsep warna, konsep tipografhi, konsep grafis, konsep tehnik, konsep 3d dan konsep audio. Dari konsep tersebut diimplementasikan kedalam iklan rekrutmen mahasiswa baru STMIK Potensi Utama sehingga menghasilkan kreatifitas iklan televisi sesuai yang dikonsepkan. 2. Berdasarkan hasil analisi dapat disimpulkan terdapat pengaruh efektifitas Interest, Coviction dan Action terhadap iklan rekrutmen mahasiswa baru, sementara variabel Attention dan Desire memiliki pengaruh terbalik terhadap minat memilih. Namun secara keseluruhan variabel independen berpengaruh. Hal ini dijelaskan dengan R Square mampu menjelaskan 65,3% dari variabel AIDCA mempengaruhi minat memilih. 5. SARAN 1. Promosi merupakan salah satu variabel perusahaan dalam marketing mix atau bauran pemasaran yang sangat penting untuk dilaksanakan oleh perusahaan dalam pemasaran produknya maupun jasa, untuk itu STMIK Potensi Utama sebaiknya berusaha lebih meningkatkan promosi yang disampaikan kepada calon mahasiswa dengan meningkatkan upaya untuk meraih perhatian dari calon mahasiswa baik dengan slogan yang lebih menarik tulisan maupun kalimat yang lebih untuk mempengaruhi. 2. Bagi penelitian selanjutnya sebaiknya menambah variabel lain selain attention, interest, desire,conviction dan action atau dengan menggunakan metode lain yang dapat mempengaruhi minat memilih. UCAPAN TERIMA KASIH Trimakasi buat orang tua saya tercinta ayah ( nawawi) dan ibu (rosmawati), dan terima kasih juga buat STMIK Potensi Utama yang telah memberi dukungannya. IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

94 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret DAFTAR PUSTAKA [1] Alma, B. (2003). Pemasaran Stratejik Jasa Pendidikan. Bandung: Alfabeta. [2] Kasali, R. (1995). Manajemen Periklanan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. [3] Ferdinand, Augusty,2006, Metode Penelitian Manajemen, Edisi 2, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang [4] Jefkins, F. (1997). Periklanan. Jakarta: Erlangga. [5] Suyanto, M. (2005). Strategi Perancangan Iklan Televisi Perusahaan Top Dunia. Jakarta: Andi. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

95 ISSN: ISSN : Perancangan Sistem Informasi Kehadiran Dosen Mengajar pada Universitas XYZ Arif Yulianto STMIK Global Informatika Multi Data Palembang Jl. Rajawali No. 14 Palembang Abstrak Universitas XYZ memiliki beberapa fakultas dan jurusan dari berbagai bidang ilmu. Selama ini tingkat kehadiran, ketepatan waktu mengajar dan lama proses mengajar dosen serta bahan ajar yang disampaikan dosen di kelas tidak dapat di monitor oleh Bagian Akademik. Sistem yang digunakan saat ini masih menggunakan Sistem manual, yaitu dosen yang akan mengajar maupun telah selesai mengajar menandatangani form kehadiran di bagian administrasi akademik. Sehingga Bagian Akademik sulit mengawasi jalannya perkuliahan. Untuk itu dibutuhkan sebuah Sistem komputerisasi yang dapat memonitor kehadiran dan materi yang disampaikan. Sistem informasi kehadiran mengajar dosen dibuat menggunakan pemrograman Microsoft Visual Basic 2008 dan SQL Server Tahapan pembuatan Sistem memerlukan perancangan dengan metode prototyping dan perancangan Sistem basis data dengan konsep diagram konteks, DFD (Data Flow Diagram), flowchart dan ERD (Entity Relationship Diagram). Sistem ini dapat digunakan secara multiuser dengan memanfaatkan teknologi dan jaringan infrastruktur yang tersedia.sistim ini dirancang untuk memudahkan monitoring kehadiran dosen serta memudahkan Bagian Administrasi menghitung honor mengajar. Bahan ajar yang harus dimasukan setiap akhir proses perkuliahan membantu Bidang akademik untuk melihat keselarasan antara Garis-garis Besar Proses Pengajaran (GBPP) dengan materi yang disampaikan oleh Dosen di setiap kesempatan mengajar. Dengan demikian diharapkan proses belajar mengajar lebih transparan dan memudahkan dalam evaluasi proses mengajar. Kata kunci : Dosen, prototyping, perancangan. Abstract XYZ university has several faculties and departments of the various fields of science. During this level of attendance, punctuality long process of teaching and teaching faculty and instructional materials delivered lecturer in class can not be monitored by the Academic Unit. Systems in use today are still using manual systems, ie lecturers who will teach or have finished teaching signed form in the presence of academic administration. So that part is hard oversee Academic lectures. That requires a computerized system that can monitor the presence and the material presented. Teaching faculty attendance information system created using Microsoft Visual Basic 2008 and SQL Server Stages of making systems require design with prototyping and design methods of data base system with the concept of context diagram, DFD (Data Flow Diagram), flowchart and ERD (Entity Relationship Diagram). This system can be used in multiuser by utilizing technology and network infrastructure tersedia.sistim is designed to facilitate monitoring of the presence of lecturers as well as facilitate the teaching of Administration calculate fees. Teaching materials that must be entered each end of the lecture helping the academic field to see the harmony between the lines of the Teaching Process (GBPP) the material submitted by the lecturer at every opportunity to teach. It is expected the learning process more transparent and facilitate the evaluation of the teaching process. Keywords: Lecturer, prototyping, design. IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

96 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret U 1. PENDAHULUAN niversitas XYZ memiliki beberapa Fakultas dan Jurusan. Semua gedung fakultas berada di dalam satu lokasi. Kondisi saat ini antar gedung fakultas belum terhubung dengan jaringan komunikasi data. Sedangkan jaringan komunikasi suara atau telepon sudah terhubung. Sistem Informasi yang dimiliki oleh Universitas XYZ baru sebatas Sistem Informasi Akademik seperti KRS (Kartu Rencana Studi), KHS (Kartu Hasil Studi), Pengolahan Nilai dan Transkrip Nilai. Sistem penunjang lainnya belum dimiliki oleh Universitas XYZ dan salah satu diantaranya adalah Sistem informasi kehadiran dosen mengajar. Saat ini proses kehadiran dosen mengajar masih dilakukan secara manual yaitu setiap dosen yang akan mengajar terlebih dahulu menandatangani form kehadiran pada bagian akademik begitu juga pada waktu dosen selesai mengajar. Diakhir bulan staff administrasi keuangan akan merekap jumlah kehadiran dan jumlah penggantian jam mengajar untuk diproses perhitungan honor mengajar. Sedangkan bagian akademik akan merekap lama waktu mengajar atau tatap muka dosen dengan mahasiswa di kelas. Selama ini banyak ditemukan penyimpangan dimana ada oknum dosen yang mengajar tidak memenuhi jumlah menit pertemuan yang di tetapkan. Tentu saja Sistem informasi seperti ini banyak terjadi manipulasi data kehadiran, jumlah jam mengajar maupun jadwal pengganti. Selain itu bagian akademik dan bagian keuangan sulit untuk melakukan rekapitulasi kehadiran. Kesulitan lain yang timbul akibat Sistim manual adalah kesulitan monitoring materi yang disampaikan oleh dosen dibandingkan dengan Garisgaris Besar Proses Pengajaran (GBPP). Penyampaian materi bisa menyimpang atau bahkan kurang dari yang telah di tetapkan. Agar keselarasan dapat dipastikan serta meminimalisasi kemungkinan oknum dosen yang mengajar tidak tepat waktu atau selesai mengajar belum waktunya maka diperlukan Sistim Informasi kehadiran dosen mengajar. Selain dapat melayani dan membantu proses rekap kehadiran, Sistem informasi kehadiran dosen mengajar juga dapat mempermudah perhitungan honor dosen mengajar. Bagi pihak rektorat data hasil Sistem ini bisa di gunakan sebagai alat ukur tingkat kedisiplinan dari setiap dosen yang mengajar. Dosen yang terlambat ataupun selesai mengajar lebih cepat dibandingkan waktu yang ditentukan dapat segera diketahui dan pihak rektorat dapat dengan segera memberikan evaluasi. Berdasarkan hasil analisa dan keuntungan yang di dapat dengan menerapkan Sistem ini maka diputuskan untuk membuat Sistem komputerisasi kehadiran dosen mengajar. Sistem ini akan terintegrasi dengan Sistem informasi akademik yang sudah ada. Sistem informasi kehadiran dosen mengajar akan di terapkan pada semua fakultas dan jurusan yang ada di Universitas XYZ. Rektor, Dekan, Ketua Jurusan, Kepala Bagian Administrasi Akademik dan Kepala Bagian Administrasi Keuangan dapat dengan mudah memonitor seluruh kehadiran dosen mengajar. Mengingat gedung antar Fakultas berada di tempat terpisah maka dibutuhkan jaringan komunikasi data. Sistem informasi kehadiran dosen Universitas XYZ dilengkapi fitur fingerprint atau pemindai sidik jari. Sidik jari merupakan identitas pribadi yang tidak mungkin ada yang menyamai. Sifat-sifat atau karakteristik yang dimiliki oleh sidik jari adalah parennial nature yaitu guratan-guratan pada sidik jari yang melekat pada manusia seumur hidup, immutability yang berarti bahwa sidik jari seseorang tidak akan pernah berubah kecuali sebuah kondisi yaitu terjadi kecelakaan yang serius sehingga merubah pola sidik jari yang ada dan individuality yang berarti keunikan sidik jari merupakan originalitas pemiliknya yang tak mungkin sama dengan siapapun di muka bumi ini sekalipun pada seorang yang kembar identik[1]. Dengan memanfaatkan fitur pemindai sidik jari maka akan menjamin tingkat keakuratan data dosen yang mengajar. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

97 ISSN: ISSN : Sistem informasi kehadiran dosen ini bermanfaat juga untuk melihat seberapa besar utilitas penggunaan ruangan. Dari Sistem ini akan diketahui ruangan mana saja yang digunakan oleh dosen. Sehingga secara tidak langsung dapat dilihat efisiensi pemakaian listrik. Penelitian yang dilakukan kali ini merupakan penelitian menggunakan metode yang sama dengan penelitian sebelumnya [2,3]. Dengan menggabungkan metode penelitian sebelumnya diharapkan hasil yang lebih baik. 2. METODE PENELITIAN 2.1 Metode Pengembangan Penelitian ini menggunakan metode RAD (Rapid Application Development) adalah model pembangunan perangkat lunak yang tergolong dalam teknik incremental (bertingkat). RAD menekankan siklus pembangunan pendek, singkat dan cepat. Waktu yang singkat adalah batasan yang penting untuk model ini. RAD menggunakan metode iteratif (berulang) dalam mengembangkan sistem dimana model kerja sistem dikonstruksikan dari awal tahap pengembangan dengan tujuan menetapkan kebutuhan (requirement) pengguna[3]. Sebelum mengembangkan ataupun membangun Sistem informasi menggunakan metode RAD maka ada beberapa tahapan atau fase, yaitu : 1. Perencanaan syarat-syarat (requirements planning) Dalam fase ini, pengguna dan penganalisis bertemu untuk mengidentifikasikan tujuantujuan aplikasi atau sistem serta untuk megidentifikasikan syarat-syarat informasi yang ditimbulkan dari tujuan-tujuan tersebut. Orientasi dalam fase ini adalah menyelesaikan masalah-masalah perusahaan. Meskipun teknologi informasi dan sistem bisa mengarahkan sebagian dari sistem yang diajukan, fokusnya akan selalu tetap pada upaya pencapaian tujuan-tujuan perusahaan 2. Merancang dan memperbaiki desain RAD (RAD design Workshop) Fase ini adalah fase untuk merancang dan memperbaiki yang bisa digambarkan sebagai workshop. Penganalisis dan dan pemrogram dapat bekerja membangun dan menunjukkan representasi visual desain dan pola kerja kepada pengguna. Workshop desain ini dapat dilakukan selama beberapa hari tergantung dari ukuran aplikasi yang akan dikembangkan. Selama workshop desain RAD, pengguna merespon prototipe yang ada dan penganalisis memperbaiki modul-modul yang dirancang berdasarkan respon pengguna. Apabila sorang pengembangnya merupakan pengembang atau pengguna yang berpengalaman, Kendall menilai bahwa usaha kreatif ini dapat mendorong pengembangan sampai pada tingkat terakselerasi 3. Implementasi (Implemantation) Pada fase implementasi ini, penganalisis bekerja dengan para pengguna secara intens selama workshop dan merancang aspek-aspek bisnis dan nonteknis perusahaan. Segera setelah aspek-aspek ini disetujui dan sistem-sistem dibangun dan disaring, sistem-sistem baru atau bagian dari sistem diujicoba dan kemudian diperkenalkan kepada organisasi. mendemonstrasikan Analisis dan desain cepat Siklus pengujian pelaksanaan prototype membangun memperhalus Gambar 1. Model RAD IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

98 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Gambar 1 merupakan proses RAD dimana diawali dengan Analisis dan desain pada tahap membangun menghasilkan sebuah prototype yang langsung di demonstrasikan kepada pengguna sekaligus dilakukan pengujian. Dalam proses demonstrasi dapat langsung diperhalus dan setelahnya di implementasikan.[4] 2.2 Analisis Permasalahan Analisis permasalahan di perlukan untuk mempermudah kita dalam mendesain sistem informasi. Dengan melakukan proses analisis akan di temukan metode yang tepat dalam membangun Sistem informasi Kebutuhan Sistem Informasi Model Portfolio yang dikembangkan oleh McFarlan digunakan untuk menggambarkan kebutuhan Sistem informasi pada Universitas XYZ. Model ini mengusulkan sebuah analisis dari semua yang ada, direncanakan dan potensi aplikasi dimasukan ke dalam empat kategori berdasarkan penilaian dari saat ini dan pentingnya aplikasi bisnis masa yang akan datang. Sebuah aplikasi dapat didefinisikan sebagai strategis, potensi tinggi, kunci operasional atau dukungan, tergantung pada kontribusi saat ini dan nanti untuk kesuksesan bisnis.[5] Model Portfolio Sistem Informasi Universitas XYZ menggunakan diagram McFarlan. Diagram ini digunakan untuk memetakan ruang lingkup pengembangan sistem. Dengan adanya diagram ini, kita bisa memutuskan apakah sistem yang akan kita bangun benar-benar mendesak kebutuhannya atau sebaliknya bisa di tunda pengembangannya. Tabel 1. Diagram McFarlan Sistem informasi kehadiran dosen Key Operational Aplikasi untuk mendukung bisnis saat ini. Aplikasi pengolahan data mahasiswa, data perkuliahan, data dosen, data kepegawaian, data nilai Strategic Aplikasi untuk kesukses masa depan Sistem yang terintegrasi dengan proses perkuliahan, proses pembayaran, proses penilaian. Support Aplikasi yang meningkatkan manajemen & performansi tapi tidak kritis untuk bisnis Sistem panggajian, Sistem Asset High Potential Aplikasi yang mungkin berperan dalam strategi kedepan Layanan pendaftaran on-line, registrasi KRS On-line Tabel 1 menunjukan bahwa Sistem informasi kehadiran dosen merupakan salah satu Sistem yang termasuk ke dalam katagori Strategic Identifikasi Permasalahan Identifikasi permasalahan yang digunakan pada penelitian ini adalah Diagram Ishikawa atau Diagram Tulang Ikan atau cause and effect matrix. Diagram Ishikawa adalah diagram yang menunjukkan penyebab-penyebab dari sebuah even yang lebih spesifik. Diagram ini pertama kali diperkenalkan oleh Kaoru Ishikawa. Identifikasi permasalahan dibutuhkan untuk mempermudah kita dalam menganalisa pengembangan sistem agar lebih tepat guna. Dari permasalahan yang di dapat kita akan mudah mencarikan solusi penyelesaian permasalahan tersebut. Sistem informasi kehadiran dosen di desain dengan mempertimbangkan permasalahan yang terjadi. Diagram Tulang Ikan dianggap cocok untuk dijadikan landasan mengidentifikasi permasalahan yang terjadi. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

99 ISSN: ISSN : Sistem Dosen Pulang lebih awal Proses Belum terintegrasi Sistem Akademik sub Sistim KRS dengan Sistem Penjadwalan Perkuliahan Kurangnya Pengawasan terhadap jam mengajar Mahasiswa Terlambat Belum terintegrasi Sistem Penjadwalan Perkuliahan dengan Penggunaan Ruang Absensi Manual Kinerja Dosen Mengajar Keterbatasan tenaga Dosen Mengajar Tidak adanya catu daya cadangan berakibat terhadap kerusakan Komputer Belum adanya Sistem Absensi disetiap Fakultas SDM Mesin Gambar 2 Diagram Idetifikasi Masalah Gambar 2 menunjukan Diagram identifikasi masalah yang bertujuan untuk memetakan permasalahan yang ada. Permasalahan yang mendasar pada penelitian ini adalah Kinerja Dosen Mengajar. Ada beberapa faktor penyebab Kinerja Dosen Mengajar. a. Sistem Belum terintegrasi antara Sistem akademik perkuliahan sub Sistem rencana studi dengan Sistem penjadwalan perkuliahan. Belum terintegrasi antara Sistem penjadwalan perkuliahan dengan jadwal penggunaan ruang kuliah b. Proses Kerja Absensi kehadiran mengajar masih manual Kurangnya pengawasan terhadap jumlah jam mengajar. Dosen sering pulang lebih awal atau datang terlambat Disiplin jam belajar mahasiswa yang masih banyak terlambat. c. Sumber Daya Manusia Keterbatasan tenaga dosen sehingga menyulitkan waktu penjadwalan perkuliahan. d. Peralatan Tidak adanya catu daya cadangan berakibat terhadap kerusakan peralatan kerja (komputer, mesin absensi) Belum adanya komputer disetiap Fakultas 3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Use Case Diagram Use case diagram digunakan untuk memodelkan bisnis proses berdasarkan perspektif pengguna sistem. Use case diagram terdiri atas diagram untuk use case dan actor. Actor merepresentasikan orang yang akan mengoperasikan atau orang yang berinteraksi dengan sistem aplikasi. Use case merepresentasikan operasi-operasi yang dilakukan oleh actor. Use case digambarkan berbentuk elips dengan nama operasi dituliskan di dalamnya. Actor yang melakukan operasi dihubungkan dengan garis lurus ke use case.[6] IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

100 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Sistem Perkuliahan Log-IN Dosen Pengganti Log-Out Kelola User Dosen Jadwal Kuliah Absensi Backup Data Rekap Pertemuan Restore Data Rekap Pertemuan Master Administrasi Pelaporan Dosen Rekap Kehadiran Mata Kuliah Rekap Pengganti Fakultas dan Jurusan Ruang Rekap Gaji Daftar Dosen Bermasalah Rektor, Dekan, Kajur Gambar 3. Use Case Diagram Gambar 3 menunjukan 3 actor, Dosen, Administrasi dan Rektorat. Terdapat 4 SubSistem yaitu Sistem, Master, Perkuliahan dan Pelaporan. Didalam Use Case Diagram diperlihatkan apa yang menjadi hak dan wewenang masing-masing actor. Peran Dosen yaitu melakukan absensi disetiap kehadiran dan persiapan mengajar. Mengisi Garis-garis Besar Proses Pengajaran (GBPP) di akhir proses mengajar. Membuat rekapitulasi pertemuan untuk dapat menentukan apakah mahasiswa tersebut layak ikut ujian atau tidak. Apabila dosen melakukan peran sebagai dosen pengganti maka pada saat melakukan proses validasi terlebih dahulu memilih sub menu pengganti dan sebelumnya telah di validasi oleh bagian akademik bahwa status dosen tersebut adalah pengganti. Bagian Administrasi memegang peranan penting dalam Sistem ini. Semua kegiatan berada dalam pengawasan bagian administrasi. Petugas pada bagian administrasi memiliki tingkat kewenangan yang berbeda sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Semuanya diatur dalam parameter yang telah disiapkan dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengakses parameter tersebut. Rektor, Dekan dan Ketua Jurusan berfungsi sebagai pengawasan dari seluruh proses. Mereka bisa monitoring setiap kegiatan Dosen dan Bagian Akademik. Mereka juga bisa membuat dan membatasi tingkat kewenangan dari masing-masing individu baik dosen maupun bagian akademik. 3.2 Diagram Konteks Digram konteks adalah diagram yang terdiri dari suatu proses dan menggambarkan ruang lingkup suatu sistem. Digram konteks merupakan level tertinggi dari DFD (Data Flow Diagram) yang menggambarkan seluruh input ke sistem atau output dari sistem. Ia akan memberi gambaran tentang keseluruhan sistem. Sistem dibatasi oleh boundary (dapat digambarkan dengan garis putus). Dalam diagram konteks hanya ada satu proses. Tidak boleh ada store dalam diagram konteks. [6] Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

101 ISSN: ISSN : Rekap Pertemuan Daftar Dosen Bermasalah DOSEN Rekap Pertemuan ADMINISTRASI Jadwal Perkuliahan Rekap Gaji Rekap Dosen Pengganti Absen Kehadiran Daftar Dosen Bermasalah Rekap Pertemuan Rekap Gaji Rekap Dosen Pengganti SISTIM INFORMASI KEHADIRAN DOSEN Backup/Restore Data Kelola User Penjadwalan Perkuliahan Master Data REKTORAT Kelola User Master Data Gambar 3. Diagram Konteks Dilihat dari diagram konteks (Gambar 3), Bagian Administrasi yang paling banyak mengakses kedalam Sistem Informasi Kehadiran Dosen. Bagian Administrasi yang memproses seluruh master data dan melakukan pembackup-an maupun merestore data apabila sistem mengalami kendala. Sedangkan operasional harian dilakukan oleh Dosen. Rektorat hanya bersifat pengawasan. Rektorat juga bisa merubah master data dan pengaturan user pengguna sistem. 3.3 Diagram Dekomposisi Sistem informasi kehadiran dosen mengajar terdiri dari 4 Sub Sistem yaitu Sistem, Master, Perkuliahan dan Pelaporan. Gambar 4 menunjukan diagram dekomposisi Sistem Informasi kehadiran dosen mengajar. Sistim Informasi Kehadiran Dosen Mengajar Universitas XYZ Sistim Master Data Perkuliahan Pelaporan Log-IN Dosen Jadwal Kuliah Daftar Jadwal Perkuliahan Log-OUT Mata Kuliah Jadwal Pengganti Daftar Dosen Bermasalah Tambah User Rekap Pertemuan Backup Data Rekap Gaji Restore Data Rekap Dosen Pengganti Gambar 4. Diagram Komposisi IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

102 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Entity Relationship Diagram (ERD) Sistem Informasi Kehadiran Dosen Mengajar memiliki 6 tabel data yang saling berhubungan. Tabel tb_dosen, tb_absensi, tb_jadwal, tb_fakultas, tb_jurusan dan tb_mk. Entity Relationship Diagram (ERD) adalah salah satu cara untuk menggambarkan hubungan antar tabel dalam sebuah sistem informasi. memiliki m PK tb_dosen NIP PK,FK2 FK1 1 tb_fakultas KODEFAK NAMAFAK NIPDEKAN NIPSEKFAK NIP KODEJUR KODEMK 1 FK1 FK1 tb_absensi THNAKADEMIK KODEJADWAL TANGGAL m 1 JAMMASUK JAMKELUAR memiliki TEMUKE ISI memiliki memiliki PK PK FK1,FK3,FK4 FK2 FK3,FK4 FK4 m m tb_jadwal PK PK PK THNAKADEMIK KODEJADWAL KODEFAK KODEHARI KODEJAM NIP KODEMK KODEJUR m memiliki m tb_mk KODEFAK KODEJUR KODEMK m m m m mengajar memiliki 1 memiliki NAMA GELAR ALAMAT TELEPON HP TEMPATLAHIR TGLLAHIR PK PK,FK2 PK FK1 m 1 tb_jurusan 1 memiliki KODEFAK KODEJUR KODEMK NAMAJUR NIPKAJUR NIPSEKJUR NIP KETMK SKS Gambar 5. Entity Relationship Diagram (ERD) Tabel Fakultas, tabel Jurusan, tabel Matakuliah, dan tabel Dosen merupakan tabel master digunakan untuk membentuk jadwal perkuliahan (tb_jadwal). Setelah terbentuk jadwal perkuliahan maka aktifitas rutin akan lebih mudah di jalankan. Sedangkan operasional harian yaitu kehadiran dosen mengajar di simpan kedalam tabel Absensi. Tabel Absensi yang terbentuk digunakan untuk mencetak pelaporan-pelaporan dan sebagai tabel analisa terhadap kinerja dosen mengajar. Sistem yang dikembangkan saat ini tidak menutup kemungkinan untuk di integrasikan dengan sistem akademik. Jadwal perkuliah yang di bentuk pada sistem ini dapat berintegrasi dengan data rencana studi masing-masing mahasiswa. Dengan adanya integrasi diharapkan tercipta efisiensi pemanfaatan ruangan serta tidak akan terjadi duplikasi waktu belajar. Sistem yang ada saat ini sangat mungkin sekali terjadi duplikasi waktu belajar. Mahasiswa bisa memilih waktu belajar tanpa harus memikirkan apakah cukup waktu dari matakuliah ke-1 dan selanjutnya. Terkadang dalam rentang waktu yang pendek, mahasiswa harus menjalani sekaligus 2 mata kuliah. Sistem informasi yang dikembangkan saat ini memungkinkan untuk melakukan penggantian dosen apabila dosen yang bersangkutan berhalangan hadir. Dengan adanya sistem penggantian dosen mengajar akan memudahkan Bagian Keuangan dalam merekap jumlah pertemuan serta menentukan berapa nilai yang harus dibayarkan. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

103 ISSN: ISSN : Relasi antar tabel Gambar 6 adalah relasi antar tabel yang menunjukan hubungan entity dan atribut. Dari desain diagram entity relationship diagram (ERD) maka di buatlah skema entity tersebut kedalam perangkat lunak Microsoft SQL Server Gambar 6. Relasi antar tabel Gambar 6 memperlihatkan relasi antar tabel secara sistem. Relasi tersebut di buat menggunakan perangkat lunak Microsoft SQL Server Semua tabel di buat secara detail dan semua entity di buat sama dengan desain Entity Relationship Diagram (ERD). Entity Relationship Digram (ERD) merupakan tools untuk mendefinisikan hubungan antar tabel. Sedangkan desain pada perangkat lunak Microsoft SQL Server 2008 merupakan bentuk dari relasi antar tabel di dalam sistem database. Setiap tabel memiliki Primary key atau kunci utama. Dalam tabel juga terdapat Foreign key atau kunci tamu yang merupakan kunci utama dari tabel lain. Dengan demikian tidak mudah untuk melakukan penghapusan data. Relasi yang terbentuk akan memperingatkan kita apabila terjadi penghapusan data maka data pada tabel yang ada relasi juga harus di hapuskan. 3.6 Rancangan Antar Muka Rancangan antar muka merupakan perancangan tampilan yang akan di gunakan oleh user. Rancangan ini dibuat dengan mempertimbangkan kemudahan user dalam mengoperasikannya Form Menu Utama Rancangan antar muka menu utama (Gambar 7) merupakan rancangan induk dari semua modul aplikasi. Pada rancangan menu utama terdapat modul-modul yang disiapkan sesuai dengan hak setiap user. IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

104 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Gambar 7. Menu Utama Menu-menu yang terdapat dalam rancangan ini belum bisa diakses dan digunakan apabila user belum melakukan log-in ke dalam Sistem. Gambar 8. Log-in Sistem Gambar 8 adalah desain tampilan user log-in. Log-in merupakan modul untuk membatasi penggunaan menu yang bukan pada tempatnya. Ada 3 kategori yang berikan akses yaitu administrator, dosen dan staff. Administrator adalah akses yang tertinggi. Sehingga user yang diberi hak administrator bisa melakukan seluruh kegiatan Master Dosen Modul master dosen dipergunakan untuk pengolahan data dosen mengajar. Baik dosen tetap maupun dosen luar biasa. Master dosen ini akan berhubungan dengan seluruh kegiatan. Gambar 9 menjelaskan desain antar muka master dosen. Modul ini berfungsi untuk memasukan data-data dosen yang bergabung pada Universitas XYZ. No. Induk Dosen merupakan kunci utama pada modul ini. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

105 ISSN: ISSN : Gambar 9. Master Dosen Modul Absensi Kehadiran Modul ini dipergunakan untuk pendataan absen kehadiran dosen mengajar. Modul ini dipasang di setiap fakultas sehingga pada saat dosen akan mulai mengajar diwajibkan untuk mengabsen kehadiran terlebih dahulu. Begitu juga apabila dosen selesai melakukan tugas mengajar. Modul ini bekerja dengan sistem Finger Print. Dengan menggunakan sistem ini diharapkan akurasi data antara dosen terjadwal dengan dosen yang melaksanakan proses belajar mengajar. Gambar 10. Absensi kehadiran IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

106 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret KESIMPULAN Sistem informasi kehadiran dosen mengajar merupakan salah satu solusi untuk lebih meningkatkan kualitas belajar mengajar. Dilengkapi dengan teknologi finger print atau pemindai sidik jari dengan tujuan untuk sebagai pengamanan terhadap dosen yang mengajar. Tanggal dan jam waktu dosen mulai mengajar akan mulai dicatat pada saat dosen melakukan proses finger print dan pada akhir proses belajar juga di buktikan dengan finger print. Sistem informasi ini juga dapat digunakan sebagai sarana untuk melihat keselarasan antara Garis-garis Besar Proses Pengajaran dengan materi-materi yang disampaikan pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Sistem informasi kehadiran dosen dirancang menggunakan metode Rapid Aplication Development (RAD). Beberapa penelitian juga di lakukan dengan metode yang sama dan hasil yang dicapai juga sama baiknya dengan metode yang lain. Kelebihan dari metode ini adalah waktu yang dibutuhkan dari proses perancangan sampai dengan implementasi relatif singkat. 5. SARAN Sistem informasi kehadiran dosen mengajar merupakan bagian dari Sistem informasi akademik. Sebagai penunjang dari kehadalan Sistem informasi akademik. Sistem ini akan lebih bermanfaat apabila bisa diintegrasikan dengan Sistem informasi akademik. Tanpa adanya Sistem informasi akademik maka Sistem ini tidak bisa berdiri sendiri. Pengembangan lain yang bisa dilakukan adalah mengintegrasikan dengan memanfaatkan On-Line. Dosen dapat mengirimkan informasi ketidak hadiran melalui media On-Line. Mahasiswa dapat mengakses sistem ini kapan saja dan dimana saja untuk mengetahui apakah perkuliahan tetap berjalan sesuai jadwal atau ada penundaan jadwal. DAFTAR PUSTAKA [1] Sinaga, Triandes dan Tamba, Takdir, 2013, Sistem Presensi Dengan Metode Sidik Jari menggunakan Sensor Fingerprint Dengan Tampilan PC, Jurnal Saintia Fisika Vol.1 No. 1 Universitas Sumatera Utara, Sumatera Utara [2] Kornelia, Yuliati, Emi dan Hermanto, Dedy, 2013, Sistem Informasi Akademik Berbasis Web pada SMK Pelayaran Sinar Bahari Palembang, Jatisi Vol.1 No.1 September 2014, Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Global Informatika MDP, Sumatera Selatan [3] Irfandi, Azhar, Liansyah, Octa, Cofriyanti, Efri dan Hermawan, 2014, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Akademik (Studi Kasus SMA Negeri 1 Talang Kelapa Palembang), Jatisi Vol. 1 No. 1 September 2014, Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Global Informatika MDP, Sumatera Selatan. [4] Setiawan, Ade, Endrawan, Deden, Fathoni, Rifki dan Budi P, Septian, 2011, Rapid Application Development, https://mazadie.files.wordpress.com/2012/01/rapid-applicationdevelopment.pdf, Sistem Informasi Universitas Gunadarma. [5] Kendall, J.E. & Kendall, K.E Analisis dan Perancangan Sistem. Jakarta: Indeks. [6] Jogiyanto, Analisis dan Disain Sistem Informasi Pendekatan Terstruktur Teori dan Praktek Aplikasi Bisnis, 2005, Cetakan Ketiga, Andi, Yogyakarta. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

107 ISSN: ISSN : Implementasi Algoritma Genetika pada Penjadwalan Job Shop Fithri Selva Jumeilah Sistem informasi, STMIK GI MDP, Palembang Abstrak Di perindustrian untuk membuat suatu produk dibagi menjadi beberapa proses dan setiap proses membutuhkan mesin yang berbeda-beda untuk memproses selama waktu yang dibutuhkan. Jika tidak dijadwalkan dengan baik, maka akan membutuhkan waktu yang lama untuk memproduksi produk. Penjadwalan adalah proses menentukan sumber daya yang akan memproses pekerjaan dengan urutan tertentu selama waktu tertentu. Semakin banyak pekerjaan dan mesin maka semakin sulit menjadwalkannya. Penjadwalan yang baik adalah yang memiliki waktu penyelesaian semua pekerjaan atau sering disebut dengan (makespan) dan waktu tunggu mesin paling kecil. Untuk memperoleh jadwal yang terbaik dengan cepat maka dibutuhkan sebuah aplikasi penjadwalan yang mengimplementasikan algoritma genetika. Penelitian ini menggunakan metododologi pengembangan perangkat lunak Rational Unified Process. Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa jadwal yang dihasilkan oleh algoritma genetika mendekati penjadwalan yang terbaik. Hal ini dibuktikan oleh hasil pengujian yang menghasilkan persentase keakuratan 94.3%. Kata kunci Algoritma Genetika, Penjadwalan, Penjadwalan Job shop. Abstract In the industry to create a product is divided into several processes and each process requires a different machine to process during a certain time unit. If not scheduled properly, it will take a long time to produce. Scheduling is the process of determining a resource that will process the job with a certain order for a certain time. The more jobs and machines, the more difficult transfers. Good scheduling is who has the time or the completion of all work is often referred to (makespan) and the smallest waiting time machine. To obtain the best schedule quickly it takes a scheduling application that implements a genetic algorithm. This study uses metododologi software development Rational Unified Process. From the results of this study showed that the schedule generated by the genetic algorithm approach is best scheduling. This is evidenced by the results of tests resulted in the percentage accuracy of 94.3%. Keywords Genetic Algorithms, Scheduling, Job Shop Scheduling. IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

108 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret M 1. PENDAHULUAN asalah penjadwalan merupakan salah satu aspek penting pada lingkungan industri. Persaingan pasar global yang terus meningkat dan permintaan jenis produk yang tidak dapat diramal menjadi masalah. Industri pakaian adalah salah satu contoh yang terkena dampak dari tekanan untuk dapat menghasilkan berbagai macam produk yang sesuai dengan selera konsumen, dengan waktu yang singkat dan biaya yang rendah. Industri pakaian umumnya beroperasi dengan sistem job shop. Penjadwalan job shop untuk industri pakaian adalah suatu penjadwalan yang menggunakan banyak mesin yang disertai banyak operasi. Penjadwalan adalah rencana urutan pelaksanaan sejumlah pekerjaan dengan mempertimbangkan waktu dan fasilitas agar semua pekerjaan dapat diselesaikan [1,2]. Dalam lingkungan industri modern, untuk memproduksi produk terdapat sejumlah pekerjaan (n) yang terbagi kebeberapa operasi dan akan diproses oleh banyak mesin (m). Setiap operasi pekerjaan membutuhkan waktu yang berbeda-beda. Serangkaian operasi dari suatu pekerjaan tidak boleh diproses dalam waktu yang sama karena pemrosesan operasi harus dilakukan secara terurut [3]. Masalahnya adalah bagaimana memilih urutan operasi dari pekerjaan dan menentukan mesin yang bisa mengeksekusinya agar semua pekerjaan selesai secepat mungkin dengan meminimalkan waktu tunggu. Agar bisa memperoleh jadwal yang memiliki waktu tunggu yang sedikit dengan cepat maka dibutuhkan algoritma [3]. Banyak algoritma yang bisa digunakan untuk penjadwalan diantaranya adalah algoritma genetika [1,2,4]. Algoritma genetika adalah algoritma pencarian heuristik yang berdasarkan pada mekanisme seleksi ilmiah atau evolusi biologis [2]. Konsep dasar teori evolusi adalah persaingan antar individu, individu yang dapat bertahan merupakan individu yang memiliki kualitas tinggi sehingga individu yang lemah tentu akan punah [6,7]. Dalam proses evolusi, individu akan terus menerus menyesuaikan diri dengan lingkungan hidup dengan mengalami perubahan gen [6]. Secara alami semua organisme terdiri dari sel, di dalam setiap sel terdiri dari sekumpulan kromosom[8]. Prinsip algoritma genetika diambil dari teori Darwin yaitu setiap makhluk hidup akan menurunkan satu atau beberapa karakter ke anak atau keturunannya. 2. METODE PENELITIAN Untuk melaksanakan penelitian ini, terdapat tahap-tahap yang harus dilalui. Tahaptahap tersebut dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Langkah-Langkah Penelitian Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

109 ISSN: ISSN : Berikut adalah penjelasan dari langkah-langkah penelitian: 2. 1 Identifikasi Masalah Untuk membuat jadwal dibutuhkan banyak hal yang harus di pertimbangkan. Banyak penelitian yang membahas penjadwalan seperti penjadwalan perkuliahan, kereta, proyek dan lain-lain. Di industri juga dibutuhkan penjadwalan mesin karena untuk memproduksi suatu produk dibagi menjadi beberapa proses dan setiap proses harus diproses oleh mesin tertentu selama satuan waktu Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data produk yang di bagi menjadi beberapa proses (n), data mesin (m) dan waktu proses. Data diperoleh dari pengacakan dan disimpan kedalam file.txt Implementasi Algoritma Genetika Siklus algoritma genetika dimulai dengan mengkonversi permasalahan ke dalam bentuk individu, dimana setiap gen individu dapat berupa bilangan real, biner, atau desimal [6,8,9,10,11]. Algoritma genetika tidak beroperasi dengan penyelesaian asli dari suatu masalah tetapi beroperasi dengan dengan penyelesaian yang telah direpresentasikan. Representasi kromosom merupakan proses pengkodean dari penyelesaian asli dari suatu permasalahan. Pengkodean kandidat penyelesaian ini disebut dengan kromosom. Pengkodean tersebut meliputi penyandian gen, dengan satu gen mewakili satu variabel. Gembar 2 adalah flowchart dari algoritma genetika yang digunakan dalam peneltian ini. Gambar 2. Flow Chart Algoritma Genetika 2. 4 Prototyping Untuk memudahkan pengujian maka hasil implementasi algoritma diterapkan pada sebuah aplikasi yang memiliki 3 buah form, yaitu: form penjadwalan untuk membaca data dan IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

110 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret untuk menampilkan hasil penjadwalan, form ganttchart untuk menampilkan urutan proses setiap mesin, dan form zedgraff untuk menampilkan grafik nilai fitness terbaik setiap generasi Hasil dan Pembahasan Untuk menguji algoritma genetika maka akan dilakukan perbandingan hasil penjadwalan dengan menggunakan algoritma genetika dan konvensional sebanyak 8 sampel. Selisih dari kedua metode akan dihitung persentase selisihnya.. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Penentuan kromosom didasarkan pada index dari matriks order dan matriks waktu (m x n). Jadi, apabila jumlah matriks order 3 dan jumlah matriks waktu 3, maka jumlah gen pada setiap kromosom yaitu 9. Begitu pula jumlah individu pada populasi yaitu berjumlah 9.Pembentukan populasi awal secara acak kemudian lakukan perhitungan nilai fitnesnya dengan menggunakan Persamaan 1. Individu yang dipilih adalah 2 individu dengan nilai fitness terbaik yang kemudian akan dilakukan proses crossover. Crossover yaitu menukar gen yang ada pada individu pertama (orangtua pertama) dengan gen yang ada pada individu kedua (orangtua kedua) kemudian hitung kembali nilai fitnessnya. Kemudian pilih satu individu dengan nilai terbaik untuk dilakukan proses mutasi. Proses mutasi yaitu menukar gen pada kromosom itu sendiri kemudian hitung lagi nilai fitnessnya. Selanjutnya populasi yang baru akan mengalami siklus yang sama dengan populasi sebelumnya. Proses ini berlangsung terus hingga generasi ken. Semakin tinggi nilai fitness akan semakin besar kemungkinan kromosom tersebut terpilih ke generasi berikutnya. Dalam kasus penjadwalan job shop ini operasi dari makespan digunakansebagai nilai fitness. Makespan didenotasikan sebagai C max yaitu waktu ketika operasi yang terakhir telah selesai dikerjakan. Dimana, C max = max(c 1, C 2,...Cj..., C n) (1) C j = r j + Σ n k=1 (W jk + P jm(k)) (2) C j merupakan waktu penyelesaian pekerjaan dari mesin j, r j merupakan waktu rilis dari mesin j, W jk adalah waktu tunggu dari job j pada urutan k dan P jm(k)adalah waktu proses yang dibutuhkan oleh job j pada m mesin pada urutan k. Masalah utama dalam penelitian ini adalah bagaimana mencari jadwal pemrosesan pekerjaan di beberapa mesin dengan waktu yang singkat menggunakan algoritma genetika. Salah satu contoh masalah penjadwalan job shop adalah penjadwalan 3 buah pekerjaan yang akan diproses oleh 3 buah mesin dan setiap pemrosesan pekerjaan membutuhkan waktu yang beragam seperti tertera pada Tabel 1 dan Tabel 2. Setiap job terbagi menjadi 3 proses dan setiap proses memiliki waktu proses yang berbeda-beda dapat dilihat pada Tabel 2. Setiap proses dari job harus diproses oleh mesin tertentu yang dapat dilihat dari Tabel 1. Tabel 1. Matrik Order Tabel 2. Matrik Waktu Job Proses Order Waktu Proses Job J J J J J J Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

111 ISSN: ISSN : Skema Pengkodean Pada tahap ini yang dilakukan adalah membuat matriks order dan matriks waktu yang digunakan sebagai tahap awal dalam menentukan pekerjaan, jumlah kromosom, jumlah gen untuk setiap kromosom. Karena matriks order yang akan ditentukan jumlahnya 3 dan matriks waktu berjumlah 3 maka jumlah kromosom dan individu yang akan diciptakan berjumlah 9 (m x n), begitu pula jumlah gen untuk setiap kromoson akan berjumlah 9 (Gambar 3). Untuk mewakili 3 pekerjaan maka kode yang digunakan adalah bilangan bulat dari 1 sampai sejumlah mesin (m x n). Gambar 3. Contoh individu 2. Inisialisasi Populasi atau Generasi Awal Dari Gambar 4 akan dibentuk 9 buah individu dimana urutan gennya diperoleh dari pengacakan. Individu-individu yang sudah terbentuk inilah yang akan dibentuk menjadi suatu populasi untuk dapat diteruskan pada tahap selanjutnya. Individu Individu Individu Individu Individu Individu Individu Individu Individu Gambar 4.Contoh Generasi 3. Hitung Fungsi Fitness Fungsi fitness digunakan untuk proses evaluasi kromosom agar memperoleh kromosom yang diinginkan. Fungsi ini membedakan kualitas dari kromosom untuk mengetahui seberapa baik kromosom yang dihasilkan. Semakin tinggi nilai fitness akan semakin besar kemungkinan kromosom tersebut terpilih ke generasi berikutnya. Untuk menghitung makespan harus menggunakan Persamaan 1 dan 2. Nilai fitness diperoleh diambil dari hasil waktu maksimum dari mesin. Gambar 5 adalah hasil penjadwalan urutan pekerjaan dan urutan mesin yang memproses pekerjaan. m1 J1 J3 J2 m2 J3 J2 J1 m3 J1 J3 J Gambar 5. Perhitungan makespan C1 = 0 +( 2+2+2) = 6 C2 = 0 +(1+3+1) = 5 C3 = 2 +( ) = 7 IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

112 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Pada mesin 1 waktu berakhir adalah 6 satuan waktu, mesin 2 waktu berakhirnya 5 satuan waktu dan mesin 3 waktu berakhirnya adalah 7 satuan waktu. Karena dari ketiga mesin yang paling lama waktu proses adalah 7 satuan waktu, maka nilai fitness dari kromosom tersebut adalah 7. Nilai fitness diperoleh dari hasil waktu maksimum dari mesin. Hasil dari perhitungan nilai fitness dari semua individu dapat dilihat pada Gambar 6. Individu Fitness : 7 Individu Fitness : 7 Individu Fitness : 6 Individu Fitness : 13 Individu Fitness : 7 Individu Fitness : 6 Individu Fitness : 7 Individu Fitness : 7 Individu Fitness : 12 Gambar 6. Contoh generasi dan nilai fitness 4. Seleksi Setiap kromosom yang terdapat dalam populasi akan melalui proses seleksi untuk dipilih menjadi orang tua. Sesuai dengan teori Evolusi Darwin maka kromosom yang baik akan bertahan dan menghasilkan keturunan yang baru untuk generasi selanjutnya. Pilih 2 buah individu dengan nilai Fitness terkecil untuk diproses pada tahap selanjutnya yaitu tahap crossover dan mutasi. Dari Gambar 5, individu 3 dan 6 adalah individu yang memiliki nilai fitness terkecil. Kedua buah individu yang telah dipilih untuk selanjutnya disebut orang tua (Gambar 7). Orang tua Fitness : 6 Orang tua Fitness : 6 Gambar 7. Hasil Seleksi Orang Tua 5. Crossover Operator persilangan (crossover) merupakan operasi yang bekerja untuk menggabungan dua kromosom orang tua (parent) menjadi kromosom baru (offspring). Tidak semua kromosom mengalami persilangan. Jenis operator persilangan yaitu: persilangan satu titik, duatitik dan crossover dengan permutasi. Pada peneltiian ini yang digunakan adalah crossover dengan permutasi. Proses penukaran dilakukan dengan memilih jumlah gen sebanyak job yang dikerjakan. Proses penukaran dilakukan dengan memilih 3 gen pertama yang berbeda dan kemudian nilai fitnessnya dihitung kembali seperti Gambar Gambar 8. Orang tua yang akan di Crossover Hasil dari proses crossover Gambar 8 adalah Gambar 9 dimana hasil dari crossover tidak lebih baik dari orang tua. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

113 ISSN: ISSN : Anak Fitness : 8 Anak Fitness : 8 Gambar 9. Hasil Crossover 6. Mutasi Cara kerja proses mutasi ini yaitu dengan menukarkan gen dari kromosom yang telah dipilih yaitu individu yang memiliki nilai fitness terbaik. Jika nilai fitness yang di dapat dari hasil proses crossover tidak lebih baik dari nilai fitness sebelumnya maka kromosom yang dipilih adalah nilai sebelumnya yang merupakan nilai terbaik. Mutasi adalah proses mengubah gen dari keturunan secara random (acak). Cara kerja proses mutasi adalah dengan menukarkan posisi dua buah gen dan menyimpannya menjadi individu yang terbaru (Gambar 10) Fitness : 6 Tukar Fitness : 7 Gambar 10. Hasil Mutasi Apabila nilai nilai fitness yang di dapat dari hasil proses mutasi tidak lebih baik maka kromosom sebelum di proses yang akan diambil sebagai generasi baru. 7. Terminasi Tahapan 4, 5 dan 6 akan terus dijalankan sampai memenuhi kondisi teminasi. Proses terminasi dalam algoritma genetika dimaksudkan untuk mengakhiri siklus genetik yang dilakukan oleh program komputer lewat batasan yang diberikan. Batasan yang biasa dilakukan dapat berupa jumlah generasi maksimum yang harus dilewati oleh proses komputasi. Jika kondisi akhir terpenuhi maka proses akan berhenti dan telah mendapatkan solusi yang paling mendekati optimum jika kondisi belum terpenuhi maka akan dilakukan lagi tahap generasi awal. Dalam penelitian ini kondisi teminasi adalah jika perulangan sudah mencapai 100 kali. Sebelum melakukan penjadwalan, pengguna harus melakukan load matriks yaitu matriks orders dan matriks waktu yang berupa file text. Gambar 10 adalah tampilan dari aplikasi JSSP jika kita telah memilih matrik order dan matrik waktu dari file txt maka akan tampil urutan pekerjaan dan lama waktu pekerjaan hasil dari penjadwalan algoritma Genetika setelah ditekan tombol Run. Gambar 11. Form Load Matrik Dari hasil penjadwalan yang didapat pada Gambar 11, menunjukkan bahwa solusi penjadwalan terbaik yang dipilih adalah dari generasi 48 dengan IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

114 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret waktu 17 satuan waktu. Tapi tidak semua hasil penjadwalan dengan algoritma genetika yang akan dipilih sebagai solusi tetapi solusi yang memiliki niali fitness terkecil yang akan dipilih. Karena pemilihan jadwal dilakukan secara acak maka ada kemungkinan solusi yang dipilih merupakan solusi awal sebelum dilakukan proses algoritma genetika. Pada halaman Zedgraf (Gambar 12) kita dapat melihat individu terbaik atau yang memiliki fitness terkecil dari 100 generasi. Jika generasi pertama dapat menghasilkan solusi yang memiliki fitness 22 satuan waktu, generasi selanjutnya belum tentu dapat menghasilkan solusi yang memiliki fitness lebih kecil. Sehingga hasil setiap generasi tidak tentu atau naik turun. Gambar 12. Form Zedgraf Untuk melihat detil solusi penjadwalan yang dihasilkan oleh program kita dapat melihatnya di halaman ganttchart (Gambar 13). Dari representasi hasil perhitungan nilai fitness atau makespan. Kita dapat melihat bahwa mesin 1 akan mengerjakan pekerjaan ke 5, 1, 2, 3, 4, mesin 2 menggerjakan pekerjaan 3, 2, 1,5, dan 4, mesin 3 mengerjakan pekerjaan 1, 4, 5, 3, dan 2, mesin 4 mengerjakan pekerjaan 2, 3, 4, 5, dan 1, dan mesin 5 menggerjakan pekerjaan 4, 1, 5, 3, dan 2. Waktu tunggu dilambangkan warna unggu muda. Untuk melihat keoptimalan penjadwalan adalah dengan melihat jumlah waktu tunggu. Seperti mesin 1 harus menunggu karena pekerjaan 1 masih di proses pada mesin 5. Semakin sedikit waktu tunggu maka semakin kecil nilai fitness. Gambar 13. Form Ganttchart Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

115 ISSN: ISSN : Untuk memeriksa hasil algoritma genetika merupakan penjadwalan terbaik atau bukan kita bisa membandingkannya dengan metode konvensional. Dengan permasalahan yang sama dicari solusi dengan algoritma genetika dan cara konvensional dan hasilnya dapat dilihat pada Tabel 2 dimana error diperoleh dari Persamaan 3. No Error = Jumlah Matrik hasil waktu aplikasi hasil waktu konvensional hasil waktu aplikasi 100% (3) Tabel 2. Perbandingkan Hasil Algoritma Genetika dan Konvensional Hasil Penjdwalan Waktu Konvensional Algen Konvensional Algen 1 3x % 2 5x , % 3 5x % 4 6x % 5 6x ,3% 6 8x ,8% 7 10x x Error ,4% Dari Tabel selisih nilai fitness antara konvensional dan algoritma genetika cukup tipis. Dengan metode konvensional solusi yang dihasilkan adalah solusi yang terbaik tetapi memakan waktu yang lebih lama dibandingkan algoritma genetika. Sedangkan algoritma genetika menghasilkan solusi yang mendekati yang terbaik dengan waktu penjadwalan yang sangat cepat. Nilai rata-rata error dari hasil pencarian algoritma genetika adalah 5,7%, sehingga persentasi keakuratan: 100% - 5,7% =94.3%. Dari hasil Pengujian Tabel 2, keakuratan aplikasi ini identifikasi ini baru mencapai 94.3%. Hal ini disebabkan oleh: 1. Algoritma genetika adalah algoritma yang tidak memeriksa semua kemungkinan sehingga hasil yang diperoleh bukan yang terbaik tetapi mendekati yang terbaik. 2. Kondisi terminasi dari program yang hanya melalukan perulangan yang tidak sesuai dengan kombinasi dari jumlah mesin dan pekerjaan (m x n), sehingga masih ada kemungkinan lain yang tidak diperiksa. 6,2% IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

116 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Kesimpulan dari penelitian ini adalah: 4. KESIMPULAN 1. Algoritma genetika telah berhasil melakukan pencarian solusi dengan cepat dan hasil yang mendekati yang terbaik hal ini dibuktikan dari hasil pengujian yang menghasilkan nilai keakuratan sebanyak 94,3% jika dibandingkan dengan metode konvensional. 2. Penjadwalan Job Shop ini pencarian dilakukan secara acak sehingga hasil dari setiap generasi yang didapatkan dengan algoritma genetika ini belum tentu akan mendapatkan hasil yang lebih baik dari hasil penjadwalan sebelumnya tetapi hasil yang akan didapatkan tidak akan lebih buruk dari penjadwalan sebelum dilakukan dengan algoritma ini dan dengan permasalahan yang sama akan menghasilkan solusi yang berbeda pada waktu yang berbeda. 5. SARAN Saran untuk pengembangan lebih lanjut dari penelitian ini adalah hasil dari penelitian ini diharapkan akan menghasilkan penelitian yang lebih lanjut seperti penerapan hasil penelitian pada industri pakaian atau dilakukan pengembangan terhadap masalah penjadwalan yang lain dengan permasalahan yang lebih komplek. DAFTAR PUSTAKA [1] Desiani, Anita and arhami Konsep Kecerdasan Buatan. Andi Publiser. Yogyakarta. [2] Kusumadewi, Sri Artificial Intelligence (Teknik dan Aplikasinya). Graha Ilmu. Yogyakarta. [3] James C. Chen, Cheng-Chun Wu, Chia-Wen Chen, Kou-Huang Chen Flexible job shop scheduling with parallel machines using Genetic Algorithm and Grouping Genetic Algorithm.Expert Systems with Applications 39 (2012) [4] Yamada, Takeshi and Nakano, Ryohei Genetic Algorithms for Job-Shop Scheduling Problems. Proceedings of Modern Heuristic for Decision Support, pp. 67{81,UNICOM seminar}. [5] Sutojo, Mulyanto, dan Suhartono.2011.Kecerdasan Buatan. Andi Publiser. Yogyakarta. [6] Weng, Wei, and Fujimura, Shigeru. Study and Application of Scheduling Method for Just-in-time Production in Flexible Job Shops. Proceedings of 2011 IEEE IEEM /11. [7] Cheol Min Joo, and Byung Soo Genetic algorithms for single machine scheduling with time-dependent deterioration and rate-modifying activities. Expert Systems with Applications 40 (2013) Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

117 ISSN: ISSN : [8] Russel, S. and P. Norvig Artificial Intelligence: A Modern Approach. Prentice Hall, New Jersey. [9] Li Jun-Qing, Pan, Quan-Ke and Tasgetiren, Fatih. A discrete artificial bee colony algorithm for the multi-objective flexible job-shop scheduling with maintenance activities. Applied Mathematical Modelling 38 (2014) [10] Baykasoğlu, A., Hamzadayi, A., and Yelkenci, S., Testing the performance of teaching-learning basedoptimization (TLBO) algorithm on combinatorial problems:flow shop and job shop scheduling cases. Information Sciences (2014). [11] Jia, Shuai and Zhi-Hua, Hu Path-relinking Tabu search for the multi-objective flexible job shop scheduling problem. Computers & Operations Research 47 (2014) IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

118 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Analis, Perancangan, dan Implementasi Sistem Informasi Perhitungan Gaji Berbasis Aktivitas (Studi Kasus :PT Kembang Djawa Makassar) Aprizal 1, Mirfan 2 1,2 Stmik Dipanegara; Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 9 Jurusan Sistem Informasi, Makassar 1 2 Abstrak Permasalahan yang dihadapi dalam menetapkan penentuan gaji karyawan masih menggukan cara manual. Sistem yang digunakan Perusahaan Kembang Djawa dianggap kurang mampu menyediakan informasi gaji karyawan yang akurat. Oleh karena itu dirancanglah sebuah aplikasi untuk menghitung gaji karyawan dengan menggunakan metode Activity Based Costing, salah satu software yang digunakan adalah Microsoft Visual basic dan Microsoft Database Access. Untuk menguji program sistem informasi transaksi penulis menggunakan metode pendekatan white box yang merupakan metode perancangan Tes Case dan metode Basis Path yang berguna untuk mendapatkan kompleksitas logika dari rancangan procedural program. Untuk menghitung tingkat ke kompleksan logika program maka digunakan metode cyclomatic complexity (CC).Dengan menggunakan Activity Based Costing System dalam perhitungan gaji karyawan, informasi biaya yang dihasilkan lebih akurat Kata Kunci : Gaji Karyawan, Activity Based Costing Abstract This study was conducted to illustrate the company's management on how to calculate the salary or wages of employees so that the rights of each employee could they receive in accordance with the obligation or the work they do, and therefore the author using Activity Based Costing determines iperbedaan, weakness, as well as the advantages of each method. Activity Based Costing method in the Kembang Java Company Makassar salary calculation is different from the previous results are still using manual calculation. Results to be achieved by the authors implement a computerized payroll information system in Java Makassar Flower Company who have been using traditional or manual means that it is often slow process of employees' salaries. Keywords: Employee Salaries, Activity Based Costing Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

119 ISSN: ISSN : T 1. PENDAHULUAN ersedianya informasi biaya yang tepat dan akurat akan sangat menunjang manajemen dalam menentukan berbagai kegiatan, terutama untuk membantu kepentingan manajerial dalam hal mensejahterakan karyawan. Saat ini, perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan dan industri khususnya perusahaan-perusahaan swasta yang masih menggunakan sistem biaya yangpenentuan biayanya tidak mencerminkan aktivitas yang spesifik karena banyaknya kategori biaya yang bersifat tidak langsung dan cenderung fixed. Sehingga perlu diterapkannya sistem penentuan biaya berdasarkan aktivitasnya (Activity Based) atau lebih dikenal dengan namaactivity Based Costing System. Activity Based Costing System merupakan sebuah sistem informasi akuntansi yang mengidentifikasikan bermacam-macam aktivitas yang dikerjakan dan mengumpulkan biaya dengan dasar sifat yang ada dari aktivitas tersebut. Metode Activity Based Costing System digunakan untuk mengefesiensikan biaya. Perusahaan Kembang Djawa merupakansalah satu instansi swasta yang ada di Makassar. Perusahaan Kembang Djawa telah berkembang menjadi sebuah instansi swasta yang besar dan menjadi saingan bagi perusahaan swasta yang lain khususnya dalam hal penjualan kembang bunga di Makassar. Salah satu komponen yang dikelolah oleh Perusahaan Kembang Djawa ialah mengenai masalah pembiayaan gaji karyawan yang mana merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam menunjang produktivitas karyawan demi mencapai tujuan perusahaan. Metode yang digunakan oleh pihak perusahaan dalam menetapkan penentuan gaji karyawan masih menggukan cara manual. Sistem yang digunakan Perusahaan Kembang Djawa dianggap kurang mampu menyediakan informasi gaji karyawan yang akurat. Melalui penelitian ini ditunjukkan bahwa kepentingan manajemen perusahaan berkaitan dengan costing perlu ditunjang oleh tersedianya informasi akuntansi manajemen yang menghasilkan informasi biaya yang harus dibebankan kepada pemilik perusahaan mengenai transparansi atas pembayaran gaji kepada karyawan dalam hal ini pembenahan penentuan gaji karyawan. 2. METODE PENELITIAN Dalam rangka keberhasilan penelitian, maka digunakan dua jenis metode penelitian untuk pengumpulan data yaitu : 1. Penelitian pustaka Penelitian dilakukan melalui buku-buku pustaka dan internet yang dapat memberikan teoriteori mengenai sistem yang diteliti, kemudian mencocokkan dengan kemungkinankemungkinan yang terjadi dalam usaha penyelesaian masalah. 2. Penelitian lapangan Penelitian yang dilakukan dengan mengunjungi langsung lokasi penelitian. Di tempat penelitian tersebut penulis melakukan pengamatan langsung terhadap objek penelitian dan melakukan wawancara singkat kepada Ketua mengenai proses pembayaran gaji di STMIK Dipanegara Makassar. 2.1 Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data adalah salah satu hal yang penting dilakukan dalam memperoleh data yang diinginkan. Data yang dikumpulkan tersebut akan menjadi sebuah basis data. Dengan adanya data yang diambil tersebut, akan sangat membantu sebagai bahan pertimbangan dalam perancangan sistem informasi. Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu : IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

120 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Teknik Wawancara Teknik ini merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan cara mewawancarai Pemilik PT Kembang Djawa Makassar yang berhubungan langsung dengan penelitian ini. 2. Teknik Observasi Teknik ini merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan cara mengamati dan melihat langsung kegiatan atau proses yang terjadi di dalam usaha tersebut. 2.2 Alat dan Bahan Penelitian Dalam melakukan penelitian, harus ditunjang dengan peralatan dan bahan penelitian sehingga tujuan penelitian dapat tercapai. Alat dan bahan dalam merancang sistem yang baru dapat berupa : Alat Desain yang digunakan : 1. Bagan alir dokumen sistem 2. Diagram arus data 3. Kamus data 4. Rancangan relasi tabel 5. Flowchart Perangkat Lunak yang digunakan : Perangkat lunak yang digunakan dalam penelitian ini tersaji pada Tabel 1. Tabel 1 Perangkat Lunak No Perangkat yang digunakan 1 Sistem operasional windows seven 2 Microsoft visual basic Microsoft Database Access Perangkat Keras yang digunakan Perangkat keras yang dibutuhkan dalam penentuan sistem berupa 1 unit komputer dengan spesifikasi tersaji pada Tabel 2. Tabel 2 Perangkat Keras No Perangkat yang digunakan 1 Prosesor minimal pentium GHz 2 Hardisk dengan kapasitas minimal 80 GHz 3 Memori RAM minimal 512 MB 4 VGA Card dengan resolusi (1024 X 768) 5 CD ROM drive 52x 6 Monitor Bahan yang digunakan Bahan-bahan yang digunakan untuk penentuan pembayaran Gaji staf di STMIK Dipanegara Makassar adalah : 1. Rekap data staf 2. Rekap data gaji pokok 3. Rekap data tunjangan tambahan 4. Rekap data potongan gaji (asuransi) 5. Rekap data gaji bersih Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

121 ISSN: ISSN : Metode Pengujian Sistem Untuk menguji program sistem informasi transaksi penulis menggunakan metode pendekatan white box yang merupakan metode perancangan tes case dan metode basis path yang berguna untuk mendapatkan kompleksitas logika dari rancangan procedural program. Untuk menghitung tingkat ke kompleksan logika program maka digunakan metode cyclomatic complexity ( CC ). Agar sistem informasi transaksi dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya, maka dibutuhkan penginputan data secara berkala dan kontinu agar sistem dapat berfungsi baik dan laporan yang dihasilkan benar- benar akurat. Pengujian dilakukan pada flowchart dengan memeriksa alur program, kendali program dan procedure program. Metode white box dilakukan dengan terlebih dahulu mematakan flowchart kedalam flowgraph kemudian menghitung besarnya jumlah edge, node, dan jumlah region. Nilai nilai ini digunakan untuk menghitung cyclomatic complexity ( CC ) dengan ketentuan sebagai berikut: 1. CC = (E N) + 2 hasilnya sama dengan V (G) = P Flowgraph mempunyai region yang sama dengan jumlah V(G), maka program dikatakan sudah terbukti benar. 2.4 Tahap-tahap Penelitian Tahapan-tahapan atau langkah-langkah pokok yang penulis lakukan dalam kegiatan penelitian terdiri dari : 1. Pengumpulan Data Mengumpulkan data dan informasi secara langsung yang ada dalam suatu organisasi. Tahap ini dilakukan untuk mendapatkan informasi apa saja yang terdapat dalam organisasi tersebut. 2. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. Data primier yaitu data yang diperoleh dari objek penelitian. Data jenis ini diperoleh dari observasi, wawancara dan konsultasi terhadap pihak-pihak bersangkutan. b. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari sumber-sumber tertulis berupa data laporan dan data pendukung lainnya yang berkaitan dengan masalah yang dibahas. 3. Analisis sistem Mengidentifikasi dan mengenali masalah yang ada, kemudian mencari alternativealternative pemecahannya. 4. Perancangan sistem Setelah masalah ditentukan dan dianalisa data sudah dilakukan maka perlu dilakukan pembangunan atau mendesain sistem tentang masalah yang sudah ditentukan. 5. Pengujian sistem Setelah Proses coding selesai maka dilakukan pengujian sistem menggunakan metode white box. 6. Implementasi sistem Tahap ini digunakan untuk penerapan dan pengujian sistem ke dalam kondisi sebenarnya agar dapat diketahui kekurangan dan kelebihannya. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Analisis Sistem yang Sedang Berjalan Setelah penulis menganalisis masalah yang ada dalam sistem pada Perusahaan Kembang Djawa Makassar, maka penulis menarik kesimpulan bahwa sistem tersebut kurang efisien dalam melakukan proses perhitungan gaji karyawan. IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

122 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Bagan alir dokumen (document flowchart) dibawah ini akan menjelaskan sistem perhitungan gaji karyawan yang sedang berjalan padaperusahaan Kembang Djawa Makassar. Gambar 1 Bagan Alir Dokumen (Document Flowchart) Sistem Berjalan Gambar 1 menjelaskan Bagan Alir Dokumen Sistem Berjalan, terdiri dari tiga entitas yaitu Manager, Admin, dan Direktur. Manager membawa berkas data karyawan ke admin dan memeriksa berkas tersebut, satu berkas data karyawan diarsipkan dan satunya lagi diberikan ke direktur. Manager memebrikan berkas data aktivitas kerja karyawan ke admin untuk penentukan gaji karyawan yang selanjutnya diinformasikan ke Manager dan Direktur. 3.2 Analisis Sistem yang Diusulkan Adapun diagram alir dokumen sistem yang diusulkan untuk menangani kelemahan pada sistem yang sedang berjalan. Gambar 2 menjelaskan Bagan Alir Dokumen Sistem yang diusulkan, terdiri dari empat entitas yaitu Manage, Admin, Direktur dan Keuangan. Manage memberikan berkas data karyawan ke admin kemudian admin mengimput ke sistem menghasilkan output data karyawan terdiri dari dua dokumen, dokumen pertama di arsipkan dan dokumen dua diberikan ke direktur. Manage memberikan berkas data aktivitas kerja karyawan ke admin, kemudian admin mengimput ke dalam sistem menghasilkan gaji karyawan kemudian di informasikan ke manage dan direktur. Dari informasi gaji dibuatlah slip gaji yagn selanjutnya diberikan ke keuangan. Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

123 ISSN: ISSN : Gambar 2 Bagan Alir Dokumen (Document Flowchart) Sistem Yang Diusulkan 3.3 Diagram Konteks Diagram konteks adalah diagram yang terdiri dari suatu proses dan menggambarkan ruang lingkup suatu sistem. Diagram konteks merupakan level tertinggi dari DFD yang menggambarkan seluruh input ke sistem atau output dari sistem. Diagram konteks berisi gambaran umum (secara garis besar) sistem yang akan dibuat. Secara kalimat, dapat dikatakan bahwa diagram konteks ini berisi sistem informasi, serta kepada siapa saja informasi (dan informasi apa saja) yang harus dihasilkan sistem. Adapun diagram konteks perancangan aplikasi Perhitungan Gaji Karyawan Perusahaan Kembang Djawa Makassar yang dirancang dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Diagram Konteks IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page

124 Jatisi, Vol. 1 No. 2 Maret Gambar 3 Diagram Konteks, Manager menerima informais gaji dari sistem, manager memberikan data karyawan dsn data aktivitas karyawan kepada Admin, kemudian Admin mengimput dataa karyawan dan data aktivitas karyawan, menerima informasi gaji dari sistem. Direktur menerima output dari sistem berupa data karyawan dan ifnormasi gaji. Bagian Keuangan menerima slip gaji dari sistem. 3.4 Rancangan Input Input Data Karyawan Gambar 4 Rancangan Input Data Karyawan Gambar 4 adalah rancangan input data karyawan, terdiri dari input nama karyawan, alamat, umur, nomor telepon, jenis kelamin dan jabatan Input Gaji Pokok Gambar 5 Rancangan Input Gaji Pokok Gambar 5 adalah rancangan input gaji pokok, terdiri dari input nama karyawan, jabatan, dan gaji pokok. 3.5 Rancangan Output View Data Karyawan Gambar 6 Rancangan View Data Karyawan Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

125 ISSN: ISSN : Gambar 8 adalah rancangan view data karyawan, terdiri dari output id karyawan, nama, alamat, umur, nomor telepon, jenis kelamin dan jabatan View Data Gaji Pokok Gambar 7 Rancangan View Data Gaji Pokok Gambar 9 adalah rancangan view data gaji pokok, terdiri dari output id karyawan, nama karyawan, jabatan dan gaji pokok. 3.6 Rancangan Basis Data Adapun rancangan basis data dari sistem yang diusulkan dapat dilihat pada Gambar 8. Gambar 8 Rancangan Relasi Basis Data IJCCS Vol. x, No. x, July201x : first_page end_page