I. PENDAHULUAN. nasional yang memiliki tujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "I. PENDAHULUAN. nasional yang memiliki tujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani"

Transkripsi

1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pertanian merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang memiliki tujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani pada khususnya dan masyarakat pertanian pada umumnya melalui peningkatan produksi pertanian baik secara kuantitas maupun kualitas. Pada tahun 1984 Indonesia telah mampu mencapai swasembada pangan dengan menggunakan pendekatan teknologi kimia. Penggunaan pupuk kimia merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produksi pertanian. Keberhasilan ini merupakan salah satu bukti upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Keberhasilan peningkatan produksi pertanian dengan pendekatan teknologi kimia ternyata tidak dapat berlangsung lama. Hal ini karena pendekatan teknologi ini tidak diimbangi dengan pendekatan faktor kelestarian sumberdaya dan lingkungan. Untuk meningkatkan produksi pertanian maka penggunaan pupuk kimia terus dilakukan dengan menambahkan dosis dan frekuensi aplikasinya. Penggunaan pupuk kimia yang terus menerus dengan dosis yang tidak berimbang menyebabkan kerusakan fisik tanah dan lingkungan di dalam tanah. Tanah akan menjadi lebih padat, drainase menjadi buruk, tidak mampu menyimpan air dalam tanah dan tidak tahan terhadap curah hujan yang tinggi (mudah terjadi erosi pada curah hujan tinggi dan mudah kering pada keadaan kurang hujan). Dampak lain dari pendekatan teknologi kimia adalah penggunaan pestisida kimia dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

2 Berdasarkan pengalaman masa lampau dilapangan menunjukkan bahwa penggunaan pestisida sering merupakan pilihan utama dan paling umum digunakan karena memberikan hasil seperti yang diharapkan dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Adanya kepercayaan yang berlebihan baik mengenai dosis maupun waktu interval dan banyaknya aplikasi adalah suatu tindakan yang tidak bijaksana. Di samping itu, kecenderungan sebagian konsumen menginginkan produk pertanian bebas cacat dari bekas serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) mendorong petani menggunakan pestisida lebih banyak lagi. Di balik keuntungan-keuntungan penggunaan pestisida seperti diuraikan di atas, ternyata penggunaan pestisida secara tidak bijaksana dapat menimbulkan berbagai dampak negatif yang tidak diinginkan antara lain resistensi dan resurjensi Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) sasaran, timbulnya hamahama skunder, keracunan terhadap manusia dan hewan piaraan, matinya musuhmusuh alami dan organisme bukan sasaran lainnya baik yang berguna maupun tidak berguna, masalah residu pestisida dan pencemaran lingkungan. Pertanian organik merupakan pertanian masa depan untuk menciptakan makanan sehat dan aman bukan hanya sekedar proses untuk menyelamatkan bumi dan lingkungan. Ciri khas pertanian organik adalah alami, sehat dan aman dengan pendekatan biologis, mekanis dan fisik sekaligus meminimalkan penggunaan bahan kimia sintetis sejak dari rantai produksi sampai produk siap dikonsumsi. Beberapa tahun terakhir ini, di seluruh dunia mulai tampak adanya fenomena baru di mana permintaan akan produk-pruduk pertanian organik meningkat luar biasa. Pada masa mendatang pertumbuhan permintaan produk- 2

3 produk organik tersebut akan mencapai rata-rata 20 persen per tahun (Winarno, 2002). Adanya slogan Back to Nature telah memacu tren gaya hidup baru tersebut sehingga masyarakat dunia mensyaratkan adanya jaminan bahwa produk pertanian harus aman untuk dikonsumsi (food safety attributes), mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi (Nutritional attributes) dan ramah lingkungan (ecolabelling attributes). Pada kenyataannya atribut-atribut di atas melekat erat pada produk-produk pertanian organik. Dengan melihat situasi yang ada, fenomena baru di atas dapat dibaca sebagai peluang yang cukup bagus untuk pembangunan agribisnis. Indonesia sebagai negara yang dianugerahi kekayaan keanekaragaman hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari, air dan tanah sehingga kita mempunyai peluang yang sangat besar untuk mengembangkan pertanian organik. Program pertanian Go Organik 2010 yang dicanangkan oleh Departemen Pertanian yang merupakan program nasional akan memacu meningkatkan pembangunan agribisnis yang berdaya saing, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan (eco agribisnis). Diharapkan program tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani. Dengan program ini diharapkan Indonesia akan menjadi salah satu produsen pangan dan pertanian organik terbesar di dunia pada tahun Perkembangan kota Jakarta mengarah pada service city di mana tuntutan akan kualitas hidup masyarakatnya sangat tinggi. Konsekuensi dari kenyataan di atas maka pemerintah bertanggung jawab akan meningkatnya tingkat keterjaminan masyarakat terhadap bentuk berbagai ancaman kelestarian 3

4 lingkungan hidup baik fisik, biologis maupun kimia. Dalam konteks ini, Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta yang bertanggung jawab untuk meningkatkan kelestarian lingkungan dan aspek pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), pengawasan pestisida sehingga akan terpenuhi kebutuhan produk-produk pangan organik seperti yang diuraikan di atas. Salah satu wilayah di DKI Jakarta yang memiliki potensi cukup besar dalam pengembangan pertanian organik adalah Jakarta Timur. Hal ini karena Jakarta Timur memiliki luas areal pertanian yang relatif luas dan jumlah kelompok tani cukup banyak dibandingkan dengan wilayah lain di DKI Jakarta. Pembinaan kelompok tani di wilayah tersebut telah banyak dilakukan dalam upaya pengembangan dan penerapan usahatani organik. Namun, dari hasil yang diperoleh belum menunjukkan hasil yang cukup baik terhadap program tersebut. Hal ini dapat terlihat dari masih relatif sedikitnya kelompok tani yang menerapkan usahatani organik sehingga masih sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan pangan organik di masyarakat. Faktor kunci dalam kesuksesan penyuluhan tentang usahatani organik adalah petani selaku pembuat keputusan usahataninya. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa ada faktor-faktor tertentu, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar diri individu yang mempengaruhi petani di dalam pengambilan keputusan dalam menerapkan usahatani organik tersebut. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam kesuksesan penyuluhan tentang usahatani organik adalah teknik penyuluhan dengan pendekatan pemasaran sosial. Hal ini mengingat misi dalam pertanian organik adalah bersifat mempengaruhi image dan pola pikir petani pada umumnya dan masyarakat pada 4

5 khususnya tentang produk pertanian organik yang merupakan pangan sehat. Oleh karena itu informasi tentang persepsi petani terhadap usahatani organik ini sangat diperlukan. Sehubungan dengan hal-hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian untuk menggali dan mengetahui persepsi dan sikap petani serta faktor-faktor yang mendorong dan menghambat petani dalam menerapkan usahatani organik serta dapat merumuskan strategi yang tepat dalam rangka pengembangan dan penerapan usahatani organik di DKI Jakarta. 1.2 Rumusan Masalah Beberapa komponen PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yang dapat diamati untuk mengetahui perubahan perilaku petani ke arah pertanian organik adalah penggunaan pupuk organik dan meniadakan pestisida kimia. Kedua komponen tersebut tidak berdampak negatif bagi lingkungan dan dapat menekan biaya produksi. Namun, pada kenyataannya belum semua kelompok tani termotivasi untuk menerapkan usahatani organik khususnya pada sayuran organik. Penerapan usahatani organik oleh kelompok tani di Jakarta Timur masih relatif rendah yaitu sebesar 16 persen dari seluruh kelompok tani di Jakarta Timur, sehingga diperlukan informasi tentang faktor-faktor yang berpengaruh baik pada tingkat petani maupun petugas selaku penyuluh dan Pembina petani, sehingga menimbulkan pertanyaan penelitian sebagai berikut: a. Bagaimana pengelolaan kegiatan-kegiatan usahatani organik di DKI Jakarta. b. Bagaimana persepsi dan sikap petani terhadap penerapan usahatani organik 5

6 c. Faktor-faktor apa yang dapat mempengaruhi persepsi dan sikap petani dalam penerapan usahatani organik. d. Strategi dan metode pendekatan apa yang efektif yang dapat dirumuskan dalam upaya meningkatkan penerapan usahatani organik. 1.3 Tujuan Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Mengidentifikasi dan menginventarisasi kegiatan pengelolaan usahatani organik di DKI Jakarta b. Menganalisis persepsi petani terhadap penerapan usahatani organik c. Mengetahui sikap petani dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sikap petani dalam penerapan usahatani organik. d. Mengembangkan alternatif strategi dalam meningkatkan penerapan usahatani organik. 6

7 UNTUK SELENGKAPNYA TERSEDIA DI PERPUSTAKAAN MB IPB 7

IDENTIFIKASI BENTUK-BENTUK INVESTASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN OLEH SEKTOR INDUSTRI

IDENTIFIKASI BENTUK-BENTUK INVESTASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN OLEH SEKTOR INDUSTRI IDENTIFIKASI BENTUK-BENTUK INVESTASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN OLEH SEKTOR INDUSTRI (Studi Kasus: PT Coca Cola Bottling Indonesia Divisi Jawa Tengah, PT. Leo Agung Raya, PT Djarum Kudus, dan Sentra Industri

Lebih terperinci

Renstra Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat 2011-2015 BAB I. PENDAHULUAN

Renstra Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat 2011-2015 BAB I. PENDAHULUAN BAB I. PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pembangunan pertanian secara umum dan pembangunan sub sektor Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura telah memberikan sumbangan besar dalam pembangunan daerah Propinsi

Lebih terperinci

Undang Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup

Undang Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup Undang Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 23 TAHUN 1997 (23/1997) Tanggal : 19 SEPTEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber : LN 1997/68; TLN

Lebih terperinci

INDONESIA 2005-2025 BUKU PUTIH

INDONESIA 2005-2025 BUKU PUTIH Kementerian Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia INDONESIA 2005-2025 BUKU PUTIH Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bidang Ketahanan Pangan Jakarta, 2006 KATA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pembangunan dan lingkungan mempunyai hubungan yang erat saling terkait dan saling mempengaruhi satu sama lain. Pembangunan dalam hal ini berupa kegiatan usaha maupun

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka konservasi sungai, pengembangan

Lebih terperinci

Pangan untuk Indonesia

Pangan untuk Indonesia Pangan untuk Indonesia Tantangan Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya. Indikator ketahanan pangan juga menggambarkan kondisi yang cukup baik. Akan

Lebih terperinci

Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya

Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 5 TAHUN 1990 (5/1990) Tanggal : 10 AGUSTUS 1990 (JAKARTA) Sumber :

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Kondisi Ekonomi dan Kebijakan Sektor Pertanian. menjadi krisis multi dimensi yang dialami bangsa Indonesia ternyata sangat

BAB I PENDAHULUAN. 1. Kondisi Ekonomi dan Kebijakan Sektor Pertanian. menjadi krisis multi dimensi yang dialami bangsa Indonesia ternyata sangat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1. Kondisi Ekonomi dan Kebijakan Sektor Pertanian Sejak terjadinya krisis ekonomi pada bulan Juli 1977 yang berlanjut menjadi krisis multi dimensi yang dialami bangsa

Lebih terperinci

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep II. LANDASAN TEORI 2.1 Arti dan Pentingnya Pemasaran Pemasaran merupakan faktor penting untuk mencapai sukses bagi perusahaan akan mengetahui adanya cara dan falsafah yang terlibat didalamnya. Cara dan

Lebih terperinci

PERTANIAN BERKELANJUTAN: MENGAPA, APA DAN PELAJARAN PENTING DARI NEGARA LAIN

PERTANIAN BERKELANJUTAN: MENGAPA, APA DAN PELAJARAN PENTING DARI NEGARA LAIN PERTANIAN BERKELANJUTAN: MENGAPA, APA DAN PELAJARAN PENTING DARI NEGARA LAIN Oleh: Didi Rukmana Jurusan Sosial-Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin Mengapa Pertanian Berkelanjutan?

Lebih terperinci

PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP

PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP ii PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP Buku Ajar MKU By Tim MKU PLH Editor: Dewi Liesnoor Setyowati Sunarko Rudatin Sri Mantini Rahayu Sedyawati UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG FEBRUARI 2014 iii Kata Pengantar Saat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara yang berkembang yang giat giatnya melaksanakan

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara yang berkembang yang giat giatnya melaksanakan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan Negara yang berkembang yang giat giatnya melaksanakan pembangunan di segala bidang termasuk pembangunan di bidang kesehatan.pembangunan kesehatan

Lebih terperinci

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIFITAS KERJA KARYAWAN PADA PT. HARMONI MITRA UTAMA DI SURABAYA Oleh : FELICIA DWI R.

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIFITAS KERJA KARYAWAN PADA PT. HARMONI MITRA UTAMA DI SURABAYA Oleh : FELICIA DWI R. FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIFITAS KERJA KARYAWAN PADA PT. HARMONI MITRA UTAMA DI SURABAYA Oleh : FELICIA DWI R.F ABSTRAKSI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari motivasi kerja,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 KATA PENGANTAR... 9 DAFTAR GAMBAR... 11 DAFTAR TABEL... 12 1. PENDAHULUAN... 14

DAFTAR ISI... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 KATA PENGANTAR... 9 DAFTAR GAMBAR... 11 DAFTAR TABEL... 12 1. PENDAHULUAN... 14 1 P a g e 2 P a g e Daftar Isi DAFTAR ISI... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 KATA PENGANTAR... 9 DAFTAR GAMBAR... 11 DAFTAR TABEL... 12 1. PENDAHULUAN... 14 1.1. Latar Belakang...14 1.2. Perumusan Masalah...16

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proses berkembangnya suatu kota baik dalam aspek keruangan, manusia dan aktifitasnya, tidak terlepas dari fenomena urbanisasi dan industrialisasi. Fenomena seperti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara otomatis kebutuhan terhadap pangan akan meningkat pula. Untuk memenuhi kebutuhan pangan

Lebih terperinci

KONDISI IKLIM KALSEL 1996-2005

KONDISI IKLIM KALSEL 1996-2005 24 2.2 Prediksi Kondisi Umum Daerah 2.2.1 Geomorfologis dan Iklim Kondisi iklim di Kalimantan Selatan sejak tahun 1996 sampai dengan tahun 2005 dapat dilihat pada grafik berikut ini: Gambar 2.1 Kondisi

Lebih terperinci

GUBERNUR JAMBI PERATURAN DAERAH PROVINSI JAMBI NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DI PROVINSI JAMBI

GUBERNUR JAMBI PERATURAN DAERAH PROVINSI JAMBI NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DI PROVINSI JAMBI GUBERNUR JAMBI PERATURAN DAERAH PROVINSI JAMBI NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DI PROVINSI JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAMBI, Menimbang Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci

Pilihan-pilihan untuk aksi REDD+: apa saja dampaknya terhadap hutan dan masyarakat?

Pilihan-pilihan untuk aksi REDD+: apa saja dampaknya terhadap hutan dan masyarakat? Pilihan-pilihan untuk aksi REDD+: apa saja dampaknya terhadap hutan dan masyarakat? Suatu Pengantar bagi para pemangku kepentingan di Sulawesi Tengah UN-REDD P R O G R A M M E Empowered lives. Resilient

Lebih terperinci

Pemeliharaan Permudaan Alam (PPA)

Pemeliharaan Permudaan Alam (PPA) Bab 5 Pemeliharaan Permudaan Alam (PPA) 5.1 Pendahuluan 5.1.1 Apa yang dimaksud dengan Pemeliharaan Permudaan Alam? Pemeliharaan Permudaan Alam (PPA) = Assisted Natural Regeneration atau disingkat dengan

Lebih terperinci

UU PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

UU PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan suatu Negara yang memiliki kawasan perairan yang hampir 1/3 dari seluruh kawasannya, baik perairan laut maupun perairan tawar yang sangat

Lebih terperinci

PEDOMAN PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA

PEDOMAN PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA PEDOMAN PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA Oleh : Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam Direktorat Jenderal PHKA Departemen Kehutanan DIPA BA-29 TAHUN 2008 SATKER

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelestarian

Lebih terperinci

OPTIMALISASI PEMBINAAN TERITORIAL GUNA MEMANTAPKAN KETAHANAN WILAYAH BAB I PENDAHULUAN

OPTIMALISASI PEMBINAAN TERITORIAL GUNA MEMANTAPKAN KETAHANAN WILAYAH BAB I PENDAHULUAN OPTIMALISASI PEMBINAAN TERITORIAL GUNA MEMANTAPKAN KETAHANAN WILAYAH BAB I PENDAHULUAN 1. Umum. a. Indonesia yang terletak pada posisi silang lintas internasional antara dua samudera dan dua benua satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Dalam perkembangan dunia usaha saat ini, banyak timbul persaingan bisnis

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Dalam perkembangan dunia usaha saat ini, banyak timbul persaingan bisnis BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Dalam perkembangan dunia usaha saat ini, banyak timbul persaingan bisnis yang semakin kompetitive. Perusahaan dituntut tidak sekedar menerapkan berbagai strategi

Lebih terperinci