Istilah umum yang mungkin pernah Anda dengar atau lihat

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Istilah umum yang mungkin pernah Anda dengar atau lihat"

Transkripsi

1 Translated from English to Indonesian Translated Commonly Used Terms June 2013 Istilah umum yang mungkin pernah Anda dengar atau lihat Daftar istilah berikut ini berisi definisi istilah umum yang digunakan dalam proses peradilan pidana. A Accused (Terdakwa) Seseorang yang dituntut melakukan pelanggaran pidana atau pelanggaran di pengadilan yang lebih tinggi. Kata lain untuk terdakwa adalah 'tersangka"dan 'terduga pelanggar'. Acquit (Bebas/Pembebasan/Dibebaskan) Apabila seorang hakim, majelis juri atau pengadilan banding memutuskan bahwa seseorang tidak bersalah atas pidana tertentu. Adjournment (Penundaan Pada masa sidang pengadilang atau Persidangan) Istirahat untuk jeda pagi atau makan siang atau untuk 'debat hukum' (lihat di bawah). Arti yang lain adalah bila sidang atau proses hukum ditunda sampai hari berikutnya. Admissible (Diperkenankan) Maksudnya adalah alat bukti yang diperkenankan oleh pengadilan dan dipertimbangkan dalam proses persidangan. Tidak semua alat bukti diperkenankan. Adversarial (Perlawanan) Sistem hukum Australia dikenal sebagai sistem perlawanan, dimana jaksa penuntut dan jaksa pembela akan mengajukan argument yang saling berlawanan. Kedua belah pihak berdebat di pengadilan mengenai fakta, keterangan saksi dan/atau masalah hukum. Affidavit (Surat Pernyataan) Sebuah pernyataan yang ditandatangani dan dibuat di atas kitab suci, seperti Alkitab, di hadapan seorang petugas peradilan atau pengacara. Surat pernyataan dapat juga dibuat dengan cara penegasan apabila orang tersebut tidak mau bersumpah di atas kitab suci. Orang tersebut menandatangani sebuah dokumen resmi yang menyatakan bahwa sepanjang pengetahuan mereka, isi dokumen tersebut bersifat benar.

2 Affirmation (Penegasan) Sebuah janji untuk menyatakan kebenaran di ruang sidang. Digunakan oleh orang yang tidak mau bersumpah di atas Alkitab atau kitab suci lainnya. Lihat juga "Sumpah". Allegation (Dugaan) Sebuah pernyataan dari satu pihak di dalam proses hukum yang masih perlu dibuktikan. Alleged offender (Terduga pelanggar) Sampai seseorang terbukti bersalah atas suatu tindak pidana, orang tersebut adalah "terduga pelanggar", "tersangka" atau "tergugat". Antecedents (Yang terdahulu) Catatan kriminal dan latar belakang seseorang. Biasanya, hal ini tidak diberitahukan kepada majelis juri, tetapi cacatan ini diberikan kepada hakim bila orang tersebut terbukti bersalah dan akan dijatuhi hukuman atau apabila masalahnya adalah apakah tersangka harus dilepaskan bersyarat (penangguhan penahanan) atau ditahan selama menunggu disidangkan. Appeal (Naik Banding) Untuk membawa sebuah perkara ke pengadilan lebih tinggi dalam rangka membanding sebuah putusan. Orang yang naik banding adalah pihak penuntut/appellant. Tidak semua putusan dapat diajubandingkan. Arraignment (Pendakwaan) Setelah semua rincian tuntutan (dakwaan) dibacakan kepada terdakwa di pengadilan. Terdakwa kemudian di minta untuk mengaku bersalah atau tidak bersalah. Arrest (Penahanan) Prosedur dimana seseorang dibawa ke dalam pengamanan polisi untuk dituntuk dengan pelanggaran pidana atau untk dibawa ke pengadilan dan harus tetap dijaga oleh polisi sampai permohonan penangguhan bersyarat dikabulkan atau pengadilan selesai mengurus tuntutan tersebut. B Bail (Penangguhan Penahanan) Dalam proses pidana, penangguhan penahanan berarti membebaskan tahanan dari penahanan hukum dengan adanya sebuah kesepakatan, yang kadang disebut sebagai "janji"untk hadir dalam persidangan. Seseorang yang ditangguhkan penahanannya mungkin harus mematuhi persyaratan tertentu.. Balance of Probabilities (Keseimbangan Probabilitas) Sebuah ujian (standar pembuktian) yang digunakan oleh pengadilan dalam proses acara perdata. Dinyatakan bahwa kemungkinan terjadinya sesuatu harus lebih tinggi dibanding kemungkinan tidak terjadinya. 2

3 Barrister (Kuasa Hukum) Seorang pengacara yang memiliki spesialisasi dalam persidangan dan biasanya mengenakan rambut palsu dan jubah di pengadilan yang lebih tinggi. Bar Table (Meja Pengadilan) Sebuah meja panjang dekat bagian depan ruang sidang dimana para pengacara berdiri ketika mereka berbicara di pengadilan dan tempat mereka duduk bila pihak yang lain sedang berbicara di pengadilan. Bench (Meja hakim) Kursi yang lebih tinggi yang berada di bagian depan ruang sidang, dimana hakim atau Magistrate duduk. Istilah bench dapat juga digunakan untuk merujuk kepada hakim atau Magistrate yang menangani sebuah perkara atau sebagai istilah gabungan untuk merujuk kepada sekelompok hakim, termasuk yang menangani perkara yang sama. Bench Warrant (Surat Perintah Pengadilan) Sebuah surat perintah penahanan dari pengadilan. Beyond reasonable doubt (Tanda ada keragu-raguan yang masuk akal) Sebuah pengujian (atau standar pembuktian) yang digunakan majelis juri, hakim atau Magistrate untuk memutuskan apakah tersangka/terdakwa bersalah atau tidak bersalah atas setiap dakwaan pidana. Mereka harus bisa membuktikan tanpa ada keragu-raguan yang masuk akal bahwa seseorang telah melakukan pelanggaran sebelum orang tersebut diputuskan bersalah. Breach (Pelanggaran) Tidak mematuhi surat perintah pengadilan, misalnya isi persyaratan dari surat perintah penangguhan penahanan. Brief or Brief of Evidence (Berkas/Berkas Perkara) Ini adalah berkas yang berisi kumpulan pernyataan dari saksi (termasuk saksi polisi dan saksi biasa), laporan ahli, laporan medis, foto, surat penangguhan penahanan, surat dakwaan dll. yang diberikan polisi atau lembaga penyidik kepada CDPP setelah mereka menyelesaikan pemeriksaan mereka. CDPP menggunakan materi dalam berkas perkara tersebut untuk memutuskan apakah penuntutan akan dilakukan, dan bila memang demikian, maka mereka akan menuntut tersangka. C Charge (Dakwaan) Tuduhan bahwa seseorang melakukan tindak pidana tertentu. Closed Circuit Television (CCTV) CCTV adalah layanan yang bisa diberikan kepada saksi tertentu, misalnya saksi yang rentan atau saksi anak, supaya mereka bisa bersaksi di persidangan dari lokasi yang lain. 3

4 Closed Court (Sidang Tertutup) Ruang sidang yang tidak terbuka bagi masyarakat umum. Committal hearing (Sidang Committal) Sidang untuk membahas semua alat bukti pendukung dakwaan di pengadilan rendah yang dipimpin oleh seorang Magistrate yang akan memutuskan apakah ada alat bukti yang cukup untuk membawa perkara ke sidang pengadilan. Dalam perkara tertentu saksi mungkin akan diminta untuk bersaksi di sidang committal. Common Law Ini adalah sistem hukum yang berdasarkan putusan pengadilan terdahulu dan kebiasaan yang ada yang berbeda dari undang-undang yang dibuat oleh Parlemen. Commonwealth Director of Public Prosecutions (CDPP) Kantor CDPPadalah sebuah lembaga penuntut independen yang bertanggungjawab untuk menuntut dugaan pelanggaran atas hukum Persemakmuran dan menyita hasil tindak pidana Persemakmuran dari para pelanggar hukum. CDPP kadang disebut juga dengan istilah 'the Commonwealth' atau 'the Crown'di dalam pengadilan. Commonwealth Offence (Pelanggaran Persemakmuran) Pelanggaran pidana atas hukum Persemakmuran atau hukum Federal (dan bukan atas hukum Negara bagian dan Teritori). Complainant (Pengadu) Istilah yang digunakan di pengadilan untuk merujuk kepada korban tindak pidana. Conference (Konferensi) Pertemuan dengan pengacara/kuasa hukum untuk membicarakan sebuah perkara. Conviction (Kebersalahan) Bila orang yang didakwa melakukan tindak pidana terbukti bersalah atas pelanggaran tersebut, catatan kebersalahan tersebut di catat dalam catatan kriminal mereka. Counsel (Penasehat hukum) Seorang kuasa hukum yang mewakili pihak pembela atau penuntut. Counsel for the Prosecution (Penasehat hukum untuk Penuntut) Istilah lain untuk Penuntut (lihat di bawah). County Court (Pengadilan Tinggi) Pengadilan lebih tinggi (atau menengah) yang berfungsi di daerah yurisdiksi tertentu. Di beberapa negara bagian/ teritori tertentu pengadilan setingkat ini adalah District Court. 4

5 Court (Pengadilan) Gedung tempat sebuah perkara disidangkan. Secara umum istilah ini juga digunakan untuk petugas peradilan yang memimpin sebuah perkara, misalnya Magistrate atau Hakim. Court Officer (Petugas Pengadilan) Orang yang bertugas membantu menjalankan proses persidangan. Petugas Pengadilan akan memanggil nama anda bila anda perlu bersaksi di persidangan. Crime (Pidana) Sebuah tindakan ilegal ( atau melawan hukum). Criminal history (Catatan kriminal) Catatan pelanggaran seseorang yang sudah terbukti bersalah. Cross-examination (Pemeriksaan Silang) Bila seorang saksi dari satu pihak (misalnya pihak penuntut) ditanyai di persidangan oleh pengacara dari pihak lainnya (misalnya pembela) untuk memeriksa kesaksian yang telah diberikan oleh saksi tersebut. Lihat juga pemeriksaan utama. The Crown (Kerajaan) Di pengadilan lebih tinggi, pihak penuntut dapat dirujuk dengan sebutan 'the crown', yaitu mewakili Ratu Negara Persemakmuran. Custody (Penahanan) Seorang tahanan adalah orang yang di tahan di tahanan sementara ( menunggu persidangan) atau di penjara, menjalanin masa tahanannya. D Defence (Pembela) Perkara dari seorang terdakwa dan pengacara yang mewakili mereka. Defence counsel (Penasehat hukum terdakwa) Kuasa hukum yang mewakili perkara seorang terdakwa di persidangan. Defendant (Terdakwa) Seorang yang dituntut atas pelanggaran pidana. Istilah lain untuk 'seorang tersangka' adalah 'seorang terdakwa. Deliberations (Pembuatan keputusan) Proses dimana majelis juri memutuskan apakah terdakwa bersalah atau tidak bersalah. Majelis juri meninggalkan ruang sidang dan masuk ke ruang khusus untuk membuat putusan pengadilan. Deposition (Deposisi) Catatan semua alat bukti yang dimasukkan di dalam proses sidang. 5

6 District Court Sebuah pengadilan lebih tinggi ( atau menengah) yang berada di daerah yurisidiksi tertentu. Di beberapa negara bagian pengadilan setingkat dengan ini adalah County Court. Dock (Mimbar) Sebuah tempat di pengadilan dimana terdakwa biasanya duduk selama masa sidang. Tidak semua pengadilan memiliki mimbar seperti ini. E Electoral Roll (Daftar Pemilih) Daftar nama orang yang tercatat untuk memilih. Daftar ini menyediakan nama orang yang dapat diminta untuk menjadi anggota majelis juri. Empanel a Jury (Pembentukan majelis juri) Proses pemilihan majelis juri (biasanya 12 orang) dari sekelompok orang yang telah dipanggil untuk menjalankan kewajiban sebagai juri. Evidence (Alat bukti) Informasi yang diberikan kepada pengadilan yang digunakan untuk membuktikan atau menentang sebuah fakta yang dipermasalahkan dalam proses persidangan. Evidence-in-Chief/Examination-in-Chief (Bukti utama/pemeriksaan utama) Bila seorang penuntut menanyai saksi supaya mereka bisa menceritakan apa yang terjadi kepada anggota sidang. Exhibits (Eksibit) Semua alat bukti lain (selain alat bukti saksi) yang diperlukan untuk mengajukan perkara ke pengadilan, misalnya barang seperti dokumen, foto, pakaian atau barang lainnya yang bersangkutan dengan perkara. F Forensic Evidence (Alat bukti forensik) Alat bukti yang ditemukan di tempat kejadian perkara, misalnya, sidik jari, hasil pemeriksaan darah, DNA dll. Forensic Medical Examination/Procedure (Pengujian/ Prosedur Forensik Medis) Korban dan/atau terdakwa dapat diminta untuk diperiksa, misalnya, pemeriksaan dengan usap mulut dalam rangka menyediakan sesuatu yang mungkin dijadikan sebagai alat bukti untuk perkara. For Mention Only (Untuk Sidang Mention Saja) Bila perkara tertentu hanya disidangkan dalam waktu singkat saja, biasanya untuk menangani masalah prosedur, misalnya memutuskan tanggal untuk memutuskan penangguhan penahanan. Sidang Mention bukanlah 'sidang' dari perkara tersebut. Saksi biasanya tidak diminta untuk datang ke pengadilan bila sidang tersebut hanya untuk mention saja. Lihat juga "Mention". 6

7 G Guilty (Bersalah) Bertanggungjawab secara hukum atas sebuah pelanggaran pidana. Bila seorang terdakwa mengaku bersalah, dia menerima tanggungjawab atas pelanggaran tersebut. Bila seorang terdakwa mengaku tidak bersalah, sebuah majelis juri akan memutuskan kebersalahan terdakwa bila perkara dimajukan ke sidang pengadilan di pengadilan yang lebih tinggi. Bila terdakwa mengaku tidak bersalah di pengadilan Magistrates atau di Local Court, maka Magistrate yang memutuskan kebersalahan terdakwa. H Hearing (Sidang) Tata acara bila alat bukti dimajukan ke pengadilan setelah tersangka atau terdakwa mengaku tidak bersalah. Higher Court (Pengadilan lebih tinggi) Sebuah pengadilan seperti District Court, Court Court atau Supreme Court yang menyidangkan perkara yang lebih berat. Seorang Hakim atau Majelis hakim lah yang duduk di pengadilan lebih tinggi. Tersedia majelis juri untuk perkara yang disidangkan di pengadilan lebih tinggi yaitu perkara mengenai pelanggaran hukum persemakmuran. Hung Jury (Keputusan gantung) Sebuah putusan bila majelis juri tidak dapat mencapai kesepakatan untuk memutuskan apakah terdakwa bersalah atau tidak bersalah. I In Camera (Tertutup) Dijalankan secara rahasia, misalnya di pengadilan tertutup atau ruang pribadi atau kamar pribadi hakim. Indictable Offence (Pelanggaran dapat didakwa) Pelanggaran pidana berat yang biasanya disidangkan di pengadilan lebih tinggi di hadapan hakim dan majelis juri. Pelanggaran dapat didakwa tidak begitu berat, atau disebut juga pelanggaran ringan, biasanya disidangkan di Local Court. Indictment (Dakwaan) Tuntutan tertulis resmi yang menuntut seseorang dengan pelanggaran yang akan disidangkan di pengadilan lebih tinggi. Instructing solicitor (Pengacara pemberi instruksi) Seorang pengacara yang membantu mempersiapkan perkara dan membantu kuasa hukum di ruang sidang. J 7

8 Justice of the Peace ( JP ) Fungsi Justice of Peace termasuk menjadi saksi pembuatan sumpah, deklarasi hukum dan dokumen resmi lainnya. Judge (Hakim) Hakim bertugas memimpin persidangan dan menjamin jalannya sidang yang bersifat adil untuk kedua belah pihak. Hakim dipanggil dengan sebutan "Your Honour". Hakim lah yang memutuskan vonis bagi terdakwa. Hakim duduk di pengadilan yang lebih tinggi. Judge s Associate (Pembantu Hakim) Adalah orang yang membantu hakim dalam mengurusi masalah hukum dan administrasi sebuah perkara. Dalam sebuah sidang, seorang judge's associate dapat membacakan dakwaan terdakwa dan membantu mencatat dokumen yang digunakan dalam perkara, misalnya eksibit. Juror (Juri) Anggota majelis juri. Lihat juga "Jury". Jury (Majelis juri) Sekelompok (biasanya) beranggotakan 12 orang yang dipilih secara acak dari masyarakat umum yang diberi tugas untuk bertanggung jawab dalam memutuskan apakah terdakwa bersalah berdasarkan alat bukti yang dimajukan dalam sidang pengadilan pidana. Majelis juri yang membuat putusan ( yaitu apakah terdakwa Bersalah atau Tidak Bersalah). L Legal argument (Perdebatan hukum) Perdebatan antara pengacara kedua belah pihak mengenai masalah hukum yang harus diputuskan oleh hakim. Saksi dan majelis juri biasanya meninggalkan ruang sidang bila hal ini berlangsung. Local Court (Pengadilan Setempat) Pengadilan rendah dimana perkara yang tidak begitu berat disidangkan ("pelanggaran ringan"). Seorang Magistrate memimpin sebuah Local Court/Magistrates Court tanpa adanya majelis juri. Lower court (Pengadilan rendah) Sebuah Magistrates Court atau Local Court yang menyidangkan perkara yang tidak begitu berat. Seorang Magistrate yang memimpin sidang dalam sebuah pengadilan rendah. Tidak ada majelis juri dalam perkara yang disidangkan di pengadilan rendah. M Magistrates Court ( Pengadilan Magistrate) Pengadilan rendah yang menyidangkan kasus yang tidak begitu berat. Seorang Magistrate memimpin sebuah pengadilan rendah tanpa majelis juri. Magistrate yang menjatuhkan vonis bila terdakwa terbukti bersalah. 8

9 Matter (Perkara) Penuntutan atau tata acara sidang (sebuah perkara) dapat disebut sebagai "perkara". Mention (Sidang singkat) Ini berart sebuah perkara dibawa ke ruang sidang dalam waktu singkat, biasanya untuk menangani masalah prosedural dan ini bukanlah "persidangan" perkara tersebut. Ini termasuk menentukan tanggal-tanggal tertentu dan pemutusan penangguhan penahanan. Saksi biasanya tidak perlu datang ke pengadilan untuk sidang singkat. Mistrial (Batal Sidang) Sebuah sidang pengadilan yang tidak ada pengaruh hukumnya karena adanya kesalahan dalam beracara. My learned friend (Rekan saya) Adalah ungkapan yang lazim dipakai pengacara di ruang sidang untuk merujuk kepada pengacara lawan. N No Bill/ No Further Proceedings CDPP mungkin akan memutuskan bahwa sebuah perkara tidak akan dilanjutkan, misalnya, karena kurangnya alat bukti. Ini bisa disebut dengan istilah "no bill" atau memutuskan tidak akan melanjutkan persidangan. Proses penuntutan dihentikan setelah pengadilan diberitahu mengenai hal ini. Nolle Prosequi Keputusan untuk tidak melanjutkan dakwaan dengan menggunakan daftar tuntutan yang sudah dimajukan ke pengadilan. Penuntutan dibatalkan setelah pengadilan diberitahu mengenai hal ini. Istilah lain untuk "nolle prosequi" adalah "no bill". Not Guilty (Tidak Bersalah) Sebuah pengakuan terdakwa atas dakwaaan pidana yang mana penuntut harus membuktikan kebersalahan orang tersebut di dalam sidang pengadilan. Sebuah putusan Tidak Bersalah menunjukkan gagalnya penuntut untuk membuktikan bahwa tanpa ada keragu-raguan sama sekali, terdakwa memang bersalah. O Oath (Sumpah) Sebuah janji untuk menyatakan kebenaran di persidangan dengan bersumpah di atas kitab suci yang sesuai dengan pembuat sumpah, misalnya Alkitab. Lihat juga "Penegasan" Objections (Keberatan) Ketika pihak pembela atau penuntut merasa bahwa sebuah pertanyaan tidak selayaknya ditanyakan, 9

10 mereka boleh mengajukan keberatan dan Hakim/ Magistrate harus memutuskan apakah pertanyaan tersebut boleh ditanyakan. Offender (Pelanggar) Orang yang ditemukan telah melakukan perbuatan yang dilarang secara hukum. Sebelum hal ini terjadi, orang tersebut diberi istilah terduga pelanggar/ terdakwa/tersangka. Open Court (Sidang Terbuka) Bila ruang sidang sebuah pengadilan dibuka untuk umum dan orang lain yang tertarik untuk menghadiri sidang tertentu. Opening Address (Pernyataan Pembuka) Adalah pidato pembuka dari Penasehat hukum dalam acara sidang yang menguraikan garis besar perkara dan alat bukti dari pihak mereka. P Paper Committal (Committal lewat Berkas) Committal lewat berkas adalah bila Magistrate sudah membaca berkas perkara dan dari berkas itu langsung memutuskan bahwa ada cukup alat bukti untuk memajukan perkara tersebut ke sidang pengadilan. Parliament (Parlemen) Lembaga pembuat undang-undang tertinggi, juga dikenal sebagai badan legislatif. Part Heard (Sidang Berjalan) Sebuah perkara disebut part heard bila acara sidang sudah dimulai tapi belum selesai. Parties (Pihak) Biasanya ada dua pihak dalam setiap acara perkara pidana, yaitu Persemakmuran dan tersangka/terdakwa (pembela). Plea (Pengakuan) Bila terdakwa menyakatan kepada pengadilan bahwa mereka bersalah atau tidak bersalah atas dakwaan tertentu. Bila seorang terdakwa mengaku bersalah, maka sidang pengadilan tidak dijalankan an perkara langsung masuk ke sidang pemutusan vonis. Pre-Sentence Report (Laporan Pra-Vonis) Laporan untuk membantu pengadilan dalam memutuskan vonis apa yang dijatuhkan kepada orang yang terbukti bersalah melakukan sebuah pelanggaran. Bila pelanggar ditahan (di penjara), Laporan Pra-Vonis dapat mencakup informasi mengenai tingkah laku orang tersebut di dalam penjara. Prima Facie Pada sidang pertama. Perkara prima facie adalah perkara yang pada sidang pertama, ditemui bahwa ada cukup alat bukti untuk membuktikan elemen pelanggaran tersebut. 10

11 Prosecutor / Prosecution (Penuntut/Penuntutan) Pengacara CDPP yang menjalankan penuntutan atas sebuah perkara di pengadilan. Prosecution counsel (Jaksa Penuntut) Pengacara atau penasehat hukum swasta yang mengajukan tuntutan perkara atas nama CDPP. Public Gallery (Tempat duduk Umum) Tempat duduk di bagian belakang ruang sidang dimana teman, keluarga atau orang yang tertarik untuk hadir bisa duduk diam dan mendengarkan jalannya sidang. Q QC (Queen Counsel) Penasehat hukum Ratu adalah penasehat hukum senior. Lihat juga " Penasehat hukum Senior" (SC) Quash (Pembatalan) Bila pengadilan yang lebih tinggi mencabut atau membatalkan putusan yang dulunya dibuat oleh pengadilan lebih rendah (misalnya, dalam hal putusan bersalah yang salah) R R Huruf R biasanya merujuk pada Reginaini adalah istilah latin untuk Ratu. Dalam acara pidana, 'R' merujuk pada Kerajaan atau Persemakmuran. Re-trial (Sidang Ulang) Sidang baru untuk perkara yang sama. Right to Silence (Hak untuk Diam) Peraturan yang menyatakan bahwa orang yang didakwa melanggar hukum tidak harus mengatakan apapun sejak dia ditanyai polisi sampai ke akhir sidang pengadilan. S SC Senior Counsel (Penasehat Hukum Senior) ( Kuasa Hukum yang senior) Lihat juga " QC" Sentencing (Vonis) Serangkain hukuman dapat diberikan dalam pada saat mejatuhkan hukuman seorang pelanggar, termasuk hukuman penjara, pelayanan masyarakat, jaminan kelakuan baik dan denda. Menurut Undang-Undang Pidana 1914, pengadilan harus mempertimbangkan sejumlah faktor dalam memutuskan vonis untuk pelanggaran federal, dan beratnya vonis haruslah sesuai berdasarkan kenyataan pelanggaran. 11

12 Sheriff s Officer (Petugas Keamanan) Petugas yang bertanggung jawab atas keamanan semua pihak selama mereka ada di pengadilan. Beritahu petugas keamanan bila Anda khawatir mengenai keamanan Anda. Statement (Pernyataan) Dokumen tertulis yang merinci alat bukti dari saksi. Subpoena (Surat panggilan) Surat perintah pengadilan untuk memanggil (membuat) saksi datang ke pengadilan untuk bersaksi dan/atau membawa dokumen ke pengadilan. Summary Hearing (Sidang Ringkas) Sidang di sebuah pengadilan rendah dimana semua alat bukti didengarkan dan putusan akhir dibuat oleh Magistrate saja (tanpa majelis juri). Summary Offence (Pelanggaran Ringan) Pelanggaran pidana yang tidak begitu berat yang dapat ditangani oleh pengadilan rendah. Summing Up (Merangkum) Tinjauan ulang hakim atas alat bukti dan penjelasan hukum kepada majelis juri. Summons (Panggilan) Surat perintah dari pengadilan rendah supaya terdakwa datang ke pengadilan untuk menjawab sebuah dakwaaan. Kadang dokumen ini diberi nama lain, misalnya "Surat Peringatan Menghadiri Persidangan" Support Person (Pendukung) Seorang saksi kadang mendapat dukungan dari seseorang (misalnya, teman atau anggota keluarag) yang dapat duduk di dekat mereka di ruang sidang. Supreme Court (Pengadilan Tinggi) Pengadilan lebih tinggi yang menangani perkara yang lebih berat (lihat "Pelanggaran Dapat Didakwa"). Seorang atau beberapa hakim yang menangani perkara Supreme Court. Di dalam sidang pengadilan tingkat P ersemakmuran di Supreme Court ada majelis juri. T Transcript (Transkrip) Salinan ketikan apa yang diucapkan dalam acara sidang. Lihat juga " Deposisi". Trial (Sidang Pengadilan) Sebuah sidang di pengadilan dimana semua alat bukti didengarkan dan putusan akhir dibuat. Di pengadilan tingkat tinggi, sidang pengadilan dijalankan dihadapan seorang Hakim dan majelis juri. Di pengadilan tingkat rendah, sidang pengadilan biasanya disebut ' sidang' dan dijalankan dihadapan seorang Magistrate,. 12

13 U Unanimous verdict/decision (Putusan bulat) Sebuah putusan dimana semua anggota majelis juri sepakat bahwa terdakwa bersalah atau tidak bersalah atas sebuah pelanggaran. Undertaking (Janji) Sebuah Janji yang dibuat dalam acara hukum oleh sebuah pihak atau oleh penasehat hukum mereka. Unrepresented (Tidak diwakili) Terdakwa atau tersangka yang tidak punya kuasa hukum atau tidak diwakili oleh pengacara. V Verdict (Putusan) Putusan majelis juri dalam sebuah sidang pengadilan pidana apakah terdakwa bersalah atau tidak bersalah atas pelanggaran tertentu. Victim ( Korban) Orang yang menderita luka sebagai akibat langsung dari satu atau lebih pelanggaran. Victim Impact Statement (VIS) (Pernyataaan Dampak terhadap Korban) Sebuah pernyataan yang ditulis oleh korban yang dapat dibacakan dalam sidang atau diserahkan ke pengadilan setelah pelanggar terbukti bersalah atas pelanggaran dan sebelum pelanggar tersebut dijatuhi vonis. VIS memberitahukan pengadilan mengenai luka yang diderita oleh korban akibat pelanggaran tertentu. Dalam menjatuhkan vonis, pengadilan harus mempertimbangkan sejumlah faktor termasuk, cedera, kehilangan, kerusakan yang dialami korban akibat pelanggaran tersebut. Voir dire Perdebatan hukum mengenai boleh tidaknya sebuah alat bukti digunakan dalam persidangan. Saksi dan majelis juri diminta meninggalkan ruang sidang selama perdebatan ini. W Witness (Saksi) Setiap orang yang datang ke dalam acara sidang dan menjawab pertanyaan di hadapan Magistrate atau Hakim dan majelis juri. Witness expenses (Biaya saksi) Saksi dapat diberi biaya saksi, sesuai dengan nilai yang sudah ditentukan, sebagai kontribusi atas hilangnya upah, biaya perjalanan dan pengeluaran terkait. 13

LANGKAH-LANGKAH DALAM PROSES PENUNTUTAN TINGKAT PERSEMAKMURAN

LANGKAH-LANGKAH DALAM PROSES PENUNTUTAN TINGKAT PERSEMAKMURAN Translated from English to Indonesian Steps in the Prosecution Process Translated June 2013 LANGKAH-LANGKAH DALAM PROSES PENUNTUTAN TINGKAT PERSEMAKMURAN LANGKAH-LANGKAH DALAM PROSES PENUNTUTAN TINGKAT

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

Victim Impact Statements murni bersifat sukarela. Bila Anda tidak ingin membuat pernyataan seperti ini, itu adalah keputusan Anda.

Victim Impact Statements murni bersifat sukarela. Bila Anda tidak ingin membuat pernyataan seperti ini, itu adalah keputusan Anda. Translated from English to Indonesian Victim Impact Statements Translated June 2013 Apakah Victim Impact Statement? Victim Impact Statement adalah sebuah pernyataan tertulis berisi rincian mengenai dampak

Lebih terperinci

Bagian Kedua Penyidikan

Bagian Kedua Penyidikan Bagian Kedua Penyidikan Pasal 106 Penyidik yang mengetahui, menerima laporan atau pengaduan tentang terjadinya suatu peristiwa yang patut diduga merupakan tindak pidana wajib segera melakukan tindakan

Lebih terperinci

ALUR PERADILAN PIDANA

ALUR PERADILAN PIDANA ALUR PERADILAN PIDANA Rangkaian penyelesaian peradilan pidana terdiri atas beberapa tahapan. Suatu proses penyelesaian peradilan dimulai dari adanya suatu peristiwa hukum, misalnya seorang wanita yang

Lebih terperinci

PANDUAN BAGI SAKSI PIDANA TINGKAT PERSEMAKMURAN

PANDUAN BAGI SAKSI PIDANA TINGKAT PERSEMAKMURAN Translated from English to Indonesian Giving evidence in Court Translated June 2013 PANDUAN BAGI SAKSI PIDANA TINGKAT PERSEMAKMURAN PEMBUKAAN BERSAKSI DI PENGADILAN Saksi memberi kontibusi penting dan

Lebih terperinci

Hukum Acara Pidana Untuk Kasus Kekerasan Seksual

Hukum Acara Pidana Untuk Kasus Kekerasan Seksual Hukum Acara Pidana Untuk Kasus Kekerasan Seksual Hukum Acara Pidana dibuat adalah untuk melaksanakan peradilan bagi pengadilan dalam lingkungan peradilan umum dan Mahkamah Agung dengan mengatur hak serta

Lebih terperinci

MEKANISME PENYELESAIAN KASUS KEJAHATAN KEHUTANAN

MEKANISME PENYELESAIAN KASUS KEJAHATAN KEHUTANAN MEKANISME PENYELESAIAN KASUS KEJAHATAN KEHUTANAN POLTABES LOCUSNYA KOTA BESAR KEJAKSAAN NEGERI KOTA PENGADILAN NEGERI PERISTIWA HUKUM PENGADUAN LAPORAN TERTANGKAP TANGAN PENYELIDIKAN, PEYIDIKAN BAP Berdasarkan

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DI KPPU KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA

PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DI KPPU KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DI KPPU KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan transparansi dan

Lebih terperinci

HUKUM ACARA PIDANA. Welin Kusuma

HUKUM ACARA PIDANA. Welin Kusuma HUKUM ACARA PIDANA Welin Kusuma ST, SE, SSos, SH, SS, SAP, MT, MKn, RFP-I, CPBD, CPPM, CFP, Aff.WM, BKP http://peradi-sby.blogspot.com http://welinkusuma.wordpress.com/advokat/ Alur Penanganan Perkara

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa salah satu alat bukti yang

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA, Menimbang Mengingat : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

Komunikasi Saksi dalam Persidangan

Komunikasi Saksi dalam Persidangan Komunikasi Saksi dalam Persidangan Oleh Aan Widodo, S.I.Kom Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Abstrak Tulisan ini merupakan tinjauan mengenai kedudukan saksi dalam persidangan di pengadilan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO. 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI BAB I

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO. 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI BAB I UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO. 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI BAB I Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. Korporasi adalah kumpulan orang dan atau kekayaan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara Republik Indonesia adalah negara

Lebih terperinci

file://\\ \web\prokum\uu\2003\uu mahkamah konstitusi.htm

file://\\ \web\prokum\uu\2003\uu mahkamah konstitusi.htm Page 1 of 24 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 of 24 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

Pertanyaan dan Jawaban

Pertanyaan dan Jawaban Translated from English to Indonesian Translated FAQ for Victims and Witnesses June 2013 Pertanyaan dan Jawaban Apakah peran dari Commonwealth Director of Public Prosecution (CDPP)? CDPP adalah sebuah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci

KEKUATAN PEMBUKTIAN VISUM ET REPERTUM DALAM PERKARA PENGANIAYAAN. Zulaidi, S.H.,M.Hum

KEKUATAN PEMBUKTIAN VISUM ET REPERTUM DALAM PERKARA PENGANIAYAAN. Zulaidi, S.H.,M.Hum KEKUATAN PEMBUKTIAN VISUM ET REPERTUM DALAM PERKARA PENGANIAYAAN Zulaidi, S.H.,M.Hum Abstract Criminal proceedings on the case relating to the destruction of the body, health and human life, the very need

Lebih terperinci

STANDAR PELAYANAN KEPANITERAAN PIDANA

STANDAR PELAYANAN KEPANITERAAN PIDANA STANDAR PELAYANAN KEPANITERAAN PIDANA 1. PELAYANAN PERSIDANGAN NO. JENIS PELAYANAN DASAR HUKUM 1. Penerimaan Pelimpahan Berkas. Pasal 137 KUHAP PERSYARATAN - Yang melimpahkan harus Jaksa Penuntut Umum

Lebih terperinci

STANDARD OPERATING PROCEDURES (S.O.P) PENANGANAN PERKARA PIDANA ACARA BIASA PADA PENGADILAN NEGERI TENGGARONG

STANDARD OPERATING PROCEDURES (S.O.P) PENANGANAN PERKARA PIDANA ACARA BIASA PADA PENGADILAN NEGERI TENGGARONG PENANGANAN PERKARA PIDANA ACARA BIASA 1. Penerimaan berkas perkara Kepaniteraan Pidana (Petugas Meja I) Pedoman Pelaksanaan Tugas Buku II 1 hari 1. Menerima perkara yang dilimpahkan oleh Penuntut Umum

Lebih terperinci

WALIKOTA SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN BANTUAN HUKUM

WALIKOTA SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN BANTUAN HUKUM WALIKOTA SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SEMARANG, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

Laporan Pemantauan Persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

Laporan Pemantauan Persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Laporan Pemantauan Persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat A. Latar Belakang Pengadilan adalah satu satu nya institusi negara yang menjadi corong akhir untuk menegakkan keadilan. Pada lembaga inilah

Lebih terperinci

TATA CARA PEMERIKSAAN ADMINISTRASI PERSIDANGAN

TATA CARA PEMERIKSAAN ADMINISTRASI PERSIDANGAN TATA CARA PEMERIKSAAN ADMINISTRASI PERSIDANGAN L II.3 TATA CARA PEMERIKSAAN ADMINISTRASI PERSIDANGAN I. PERKARA PERDATA Untuk memeriksa administrasi persidangan, minta beberapa berkas perkara secara sampling

Lebih terperinci

MANTAN BOS ADHI KARYA KEMBALI DAPAT POTONGAN HUKUMAN.

MANTAN BOS ADHI KARYA KEMBALI DAPAT POTONGAN HUKUMAN. MANTAN BOS ADHI KARYA KEMBALI DAPAT POTONGAN HUKUMAN www.kompasiana.com Mantan Kepala Divisi Konstruksi VII PT Adhi Karya Wilayah Bali, NTB, NTT, dan Maluku, Imam Wijaya Santosa, kembali mendapat pengurangan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Republik Indonesia sebagai negara

Lebih terperinci

1. PELAPORAN Proses pertama bisa diawali dengan laporan atau pengaduan ke kepolisian.

1. PELAPORAN Proses pertama bisa diawali dengan laporan atau pengaduan ke kepolisian. KASUS PIDANA UMUM CONTOH-CONTOH KASUS PIDANA: Kekerasan akibat perkelahian atau penganiayaan Pelanggaran (senjata tajam, narkotika, lalu lintas) Pencurian Korupsi Pengerusakan Kekerasan dalam rumah tangga

Lebih terperinci

PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA. Oleh: NY. BASANI SITUMORANG, SH., M.Hum. (Staf Ahli Direksi PT Jamsostek)

PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA. Oleh: NY. BASANI SITUMORANG, SH., M.Hum. (Staf Ahli Direksi PT Jamsostek) PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA Oleh: NY. BASANI SITUMORANG, SH., M.Hum. (Staf Ahli Direksi PT Jamsostek) PENERAPAN HUKUM ACARA PERDATA KHUSUS PENGADILAN HUBUNGAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

JAMINAN PERLINDUNGAN HAK TERSANGKA DAN TERDAKWA DALAM KUHAP DAN RUU KUHAP. Oleh : LBH Jakarta

JAMINAN PERLINDUNGAN HAK TERSANGKA DAN TERDAKWA DALAM KUHAP DAN RUU KUHAP. Oleh : LBH Jakarta JAMINAN PERLINDUNGAN HAK TERSANGKA DAN TERDAKWA DALAM KUHAP DAN RUU KUHAP Oleh : LBH Jakarta 1. PENGANTAR Selama lebih dari tigapuluh tahun, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana atau KUHAP diundangkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan

Lebih terperinci

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR - 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 26 TAHUN 2014 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL GUBERNUR

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG HUKUM ACARA PERDATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG HUKUM ACARA PERDATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PERDATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap warga negara

Lebih terperinci

NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA Menimbang: DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa setiap warga negara

Lebih terperinci

DRAF RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG TINDAK PIDANA PENYELENGGARAAN PERADILAN (CONTEMPT OF COURT)

DRAF RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG TINDAK PIDANA PENYELENGGARAAN PERADILAN (CONTEMPT OF COURT) DRAF RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG TINDAK PIDANA PENYELENGGARAAN PERADILAN (CONTEMPT OF COURT) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang: a. Bahwa kekuasaan kehakiman

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa salah satu alat bukti yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1950 TENTANG SUSUNAN, KEKUASAAN DAN JALAN PENGADILAN MAHKAMAH AGUNG INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1950 TENTANG SUSUNAN, KEKUASAAN DAN JALAN PENGADILAN MAHKAMAH AGUNG INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1950 TENTANG SUSUNAN, KEKUASAAN DAN JALAN PENGADILAN MAHKAMAH AGUNG INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SERIKAT, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan Pasal-pasal

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK

NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK Menimbang: DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa anak adalah bagian dari generasi muda sebagai

Lebih terperinci

PENYELESAIAN PERKARA PIDANA DI LUAR PENGADILAN TERHADAP DUGAAN KEJAHATAN PASAL 359 KUHP DALAM PERKARA LALU LINTAS

PENYELESAIAN PERKARA PIDANA DI LUAR PENGADILAN TERHADAP DUGAAN KEJAHATAN PASAL 359 KUHP DALAM PERKARA LALU LINTAS PENYELESAIAN PERKARA PIDANA DI LUAR PENGADILAN TERHADAP DUGAAN KEJAHATAN PASAL 359 KUHP DALAM PERKARA LALU LINTAS Setio Agus Samapto STMIK AMIKOM Yogyakarta Abstraksi Didalam kecelakaan lalu - lintas yang

Lebih terperinci

STANDART OPERASIONAL KEPANITERAAN

STANDART OPERASIONAL KEPANITERAAN KEPANITERAAN PIDANA: STANDART OPERASIONAL KEPANITERAAN PELAKSANAAN TUGAS DAN ADMINISTRASI 1. Perkara Biasa: Meja Pertama: - Kepaniteraan pidana ada meja 1 (pertama) yang bertugas menerima pelimpahan berkas

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG IKATAN KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG MAHKAMAH MAHASISWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG IKATAN KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG MAHKAMAH MAHASISWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG IKATAN KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG MAHKAMAH MAHASISWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN PERWAKILAN MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara Republik Indonesia adalah negara

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Republik Indonesia sebagai negara

Lebih terperinci

NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER

NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER Menimbang : DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa Negara Republik Indonesia sebagai negara

Lebih terperinci

PENJATUHAN PIDANA BERSYARAT DAN MASALAHNYA SERTA KAITANNYA DENGAN PEMBINAAN DISIPLIN PRAJURIT DI KESATUANNYA

PENJATUHAN PIDANA BERSYARAT DAN MASALAHNYA SERTA KAITANNYA DENGAN PEMBINAAN DISIPLIN PRAJURIT DI KESATUANNYA PENJATUHAN PIDANA BERSYARAT DAN MASALAHNYA SERTA KAITANNYA DENGAN PEMBINAAN DISIPLIN PRAJURIT DI KESATUANNYA 1. PENDAHULUAN Fakta dalam praktek peradilan pidana sering ditemukan pengadilan menjatuhkan

Lebih terperinci

RUU Perlindungan Korban dan Saksi Draft Sentra HAM UI dan ICW, Juni 2001 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG

RUU Perlindungan Korban dan Saksi Draft Sentra HAM UI dan ICW, Juni 2001 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG !"#$%&'#'(&)*!"# $%&#'''(&)((* RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERLINDUNGAN KORBAN DAN SAKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sistem

Lebih terperinci

PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN Hasil PANJA 12 Juli 2006 Dokumentasi KOALISI PERLINDUNGAN SAKSI Hasil Tim perumus PANJA, santika 12 Juli

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa berdasarkan peraturan perundang-undangan yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan

Lebih terperinci

NOMOR : M.HH-11.HM.03.02.th.2011 NOMOR : PER-045/A/JA/12/2011 NOMOR : 1 Tahun 2011 NOMOR : KEPB-02/01-55/12/2011 NOMOR : 4 Tahun 2011 TENTANG

NOMOR : M.HH-11.HM.03.02.th.2011 NOMOR : PER-045/A/JA/12/2011 NOMOR : 1 Tahun 2011 NOMOR : KEPB-02/01-55/12/2011 NOMOR : 4 Tahun 2011 TENTANG PERATURAN BERSAMA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI REPUBLIK INDONESIA KETUA

Lebih terperinci

BAGAN ALUR PROSEDUR PERKARA PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA

BAGAN ALUR PROSEDUR PERKARA PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA BAGAN ALUR PROSEDUR PERKARA PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA Jaksa Ketua PN Para Pihak Melimpahkan berkas perkara ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat melalui Panitera Pidana Menunjuk Majelis Hakim dalam jangka

Lebih terperinci

RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 21/PUU-XII/2014 Penyidikan, Proses Penahanan, dan Pemeriksaan Perkara

RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 21/PUU-XII/2014 Penyidikan, Proses Penahanan, dan Pemeriksaan Perkara RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 21/PUU-XII/2014 Penyidikan, Proses Penahanan, dan Pemeriksaan Perkara I. PEMOHON Bachtiar Abdul Fatah. KUASA HUKUM Dr. Maqdir Ismail, S.H., LL.M., dkk berdasarkan surat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara Republik Indonesia adalah negara

Lebih terperinci

Perbedaan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dengan UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Perbedaan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dengan UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga 4 Perbedaan dengan UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Bagaimana Ketentuan Mengenai dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga? Undang Undang Nomor

Lebih terperinci

PEMETAAN LEGISLASI INDONESIA TERKAIT DENGAN PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN. Supriyadi Widodo Eddyono

PEMETAAN LEGISLASI INDONESIA TERKAIT DENGAN PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN. Supriyadi Widodo Eddyono PEMETAAN LEGISLASI INDONESIA TERKAIT DENGAN PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN Jakarta 2005 I. Latar Belakang Masalah perlindungan Korban dan Saksi di dalam proses peradilan pidana merupakan salah satu permasalahan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESI NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG PENGADILAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESI NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG PENGADILAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESI NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG PENGADILAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Republik Indonesia adalah negara

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 1991 TENTANG TATA CARA PEMBERHENTIAN DENGAN HORMAT, PEMBERHENTIAN TIDAK DENGAN HORMAT, DAN PEMBERHENTIAN SEMENTARA SERTA HAK-HAK HAKIM AGUNG DAN HAKIM

Lebih terperinci

PENGADILAN ANAK Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 Tanggal 3 Januari 1997 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PENGADILAN ANAK Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 Tanggal 3 Januari 1997 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PENGADILAN ANAK Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 Tanggal 3 Januari 1997 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa anak adalah bagian dari generasi muda sebagai salah

Lebih terperinci

HUKUM ACARA PERSAINGAN USAHA

HUKUM ACARA PERSAINGAN USAHA HUKUM ACARA PERSAINGAN USAHA Ditha Wiradiputra Bahan Mengajar Mata Kuliah Hukum Persaingan Usaha Fakultas Hukum Universitas indonesia 2008 Agenda Pendahuluan Dasar Hukum Komisi Pengawas Persaingan Usaha

Lebih terperinci

HUKUM ACARA PIDANA Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tanggal 31 Desember 1981 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

HUKUM ACARA PIDANA Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tanggal 31 Desember 1981 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : HUKUM ACARA PIDANA Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tanggal 31 Desember 1981 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa negara Republik Indonesia adalah negara hukum

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG PENGADILAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG PENGADILAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG PENGADILAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Republik Indonesia adalah negara

Lebih terperinci

MATRIK PERBANDINGAN UNDANG-UNDANG RI NO. 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG SEBAGAIMANA YANG TELAH DIUBAH DENGAN UNDANG-UNDANG NO

MATRIK PERBANDINGAN UNDANG-UNDANG RI NO. 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG SEBAGAIMANA YANG TELAH DIUBAH DENGAN UNDANG-UNDANG NO MATRIK PERBANDINGAN UNDANG-UNDANG RI NO. 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG SEBAGAIMANA YANG TELAH DIUBAH DENGAN UNDANG-UNDANG NO. 5 TAHUN 2004 DENGAN PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NO. 14 TAHUN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang bertujuan mengatur tata tertib dalam kehidupan masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. yang bertujuan mengatur tata tertib dalam kehidupan masyarakat. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara kesatuan Republik Indonesia adalah negara hukum yang berlandaskan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Negara juga menjunjung tinggi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam mewujudkan tujuan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa anak adalah bagian dari generasi muda

Lebih terperinci

Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 8 TAHUN 1981 (8/1981) Tanggal: 31 DESEMBER 1981 (JAKARTA)

Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 8 TAHUN 1981 (8/1981) Tanggal: 31 DESEMBER 1981 (JAKARTA) Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 8 TAHUN 1981 (8/1981) Tanggal: 31 DESEMBER 1981 (JAKARTA) Sumber: LN 1981/76; TLN NO. 3209 Tentang: HUKUM ACARA PIDANA Indeks: KEHAKIMAN.

Lebih terperinci

PENGGUGAT/ KUASANYA. Ketua Pengadilan Negeri menunjuk Majelis Hakim, dan Panitera menunjuk Panitera Pengganti. Kepaniteraan

PENGGUGAT/ KUASANYA. Ketua Pengadilan Negeri menunjuk Majelis Hakim, dan Panitera menunjuk Panitera Pengganti. Kepaniteraan PROSES PENYELESAIAN PERKARA PIDANA DI PENGADILAN NEGERI PROSES PENYELESAIAN PERKARA PERDATA DI PENGADILAN NEGERI KEJAKSAAN NEGERI KEPANITERAAN PIDANA PENGGUGAT/ KUASANYA KEPANITERAAN PERDATA Berkas diterima

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. penetapannya, dalam hal serta menurut cara yang diatur menurut Undang-Undang ini.

II. TINJAUAN PUSTAKA. penetapannya, dalam hal serta menurut cara yang diatur menurut Undang-Undang ini. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Penahanan Tersangka Penahanan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1 angka 21 KUHAP adalah penempatan tersangka atau terdakwa di tempat tertentu oleh penyidik atau penuntut umum atau

Lebih terperinci

SUSUNAN, KEKUASAAN DAN JALAN-PENGADILAN MAHKAMAH AGUNG INDONESIA

SUSUNAN, KEKUASAAN DAN JALAN-PENGADILAN MAHKAMAH AGUNG INDONESIA 1 1950 SUSUNAN, KEKUASAAN DAN JALAN-PENGADILAN MAHKAMAH AGUNG INDONESIA SUSUNAN, KEKUASAAN DAN JALAN-PENGADILAN MAHKAMAH AGUNG INDONESIA Undang-Undang No. 1 Tahun 1950 Tanggal 6 Mei 1950 PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

1. S O P KEPANITERAAN PIDANA

1. S O P KEPANITERAAN PIDANA 1. S O P KEPANITERAAN PIDANA a. SOP Perkara Pidana Biasa b. SOP Perkara Pidana Singkat c. SOP Perkara Pidana Ringan d. SOP Perkara Pidana Lalu Lintas e. SOP Penerimaan Perkara Pidana Banding f. SOP Penerimaan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG PENGADILAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG PENGADILAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG PENGADILAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Republik Indonesia adalah negara

Lebih terperinci

PENGADILAN NEGERI ARGA MAKMUR Jln. Jend. Sudirman No. 226 (0737) , Home Page:

PENGADILAN NEGERI ARGA MAKMUR Jln. Jend. Sudirman No. 226 (0737) , Home Page: PENGADILAN NEGERI ARGA MAKMUR Jln. Jend. Sudirman No. 226 (0737) 521004, 521014 Home Page: http://www.pn-argamakmur.go.id/ ARGA MAKMUR BENGKULU UTARA Standard Operating Procedures DI BAGIAN KEPANITERAAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. disuatu negara yang mengadakan dasar-dasar dan aturan-aturan untuk menentukan

I. PENDAHULUAN. disuatu negara yang mengadakan dasar-dasar dan aturan-aturan untuk menentukan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hukum acara pidana merupakan bagian dari keseluruhan hukum yang berlaku disuatu negara yang mengadakan dasar-dasar dan aturan-aturan untuk menentukan perbuatan yang tidak

Lebih terperinci

MASUKAN KOALISI PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN ATAS PERUBAHAN UU NO. 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN.

MASUKAN KOALISI PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN ATAS PERUBAHAN UU NO. 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN. MASUKAN KOALISI PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN ATAS PERUBAHAN UU NO. 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN 26 Juni 2014 No Rumusan RUU Komentar Rekomendasi Perubahan 1 Pasal 1 Dalam Undang-Undang

Lebih terperinci

REGULASI NO. 2000/14

REGULASI NO. 2000/14 PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA Administrasi Transisi Perserikatan Bangsa- Bangsa di Timor Lorosae NATIONS UNIES Administrasion Transitoire des Nations Unies in au Timor Oriental UNTAET UNTAET/REG/2000/14 10

Lebih terperinci

PENGANTAR MEDIKO-LEGAL. Budi Sampurna

PENGANTAR MEDIKO-LEGAL. Budi Sampurna PENGANTAR MEDIKO-LEGAL Budi Sampurna PROFESI KEDOKTERAN SUMPAH HIPOKRATES : LARANGAN-LARANGAN KEWAJIBAN-KEWAJIBAN (Hindari perbuatan amoral / non standar) UTAMAKAN KEBEBASAN PROFESI RAHASIA KEDOKTERAN

Lebih terperinci

PERATURAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER- 022 /A/JA/03/2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGAWASAN KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER- 022 /A/JA/03/2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGAWASAN KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA 1 PERATURAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER- 022 /A/JA/03/2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGAWASAN KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. Bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

BAB II KEWENANGAN JAKSA DALAM SISTEM PERADILAN DI INDONESIA. diatur secara eksplisit atau implisit dalam Undang-undang Dasar 1945, yang pasti

BAB II KEWENANGAN JAKSA DALAM SISTEM PERADILAN DI INDONESIA. diatur secara eksplisit atau implisit dalam Undang-undang Dasar 1945, yang pasti BAB II KEWENANGAN JAKSA DALAM SISTEM PERADILAN DI INDONESIA 1. Wewenang Jaksa menurut KUHAP Terlepas dari apakah kedudukan dan fungsi Kejaksaan Republik Indonesia diatur secara eksplisit atau implisit

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: Mengingat: a. bahwa anak merupakan amanah

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENANGANAN TERSANGKA ATAU TERDAKWA PENYALAH GUNA, KORBAN PENYALAHGUNAAN, DAN PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

DAFTAR ISI PERATURAN MEDIASI KLRCA SKEMA UU MEDIASI 2012 PANDUAN PERATURAN MEDIASI KLRCA. Peraturan Mediasi KLRCA. Bagian I. Bagian II.

DAFTAR ISI PERATURAN MEDIASI KLRCA SKEMA UU MEDIASI 2012 PANDUAN PERATURAN MEDIASI KLRCA. Peraturan Mediasi KLRCA. Bagian I. Bagian II. DAFTAR ISI Peraturan Mediasi KLRCA Bagian I PERATURAN MEDIASI KLRCA Bagian II SKEMA Bagian III UU MEDIASI 2012 Bagian IV PANDUAN PERATURAN MEDIASI KLRCA 2 Pusat untuk Arbitrase Regional Kuala Lumpur Bagian

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PEMBERHENTIAN DENGAN HORMAT, PEMBERHENTIAN TIDAK DENGAN HORMAT, DAN PEMBERHENTIAN SEMENTARA, SERTA HAK JABATAN FUNGSIONAL JAKSA

Lebih terperinci

dengan aparatnya demi tegaknya hukum, keadilan dan perlindungan harkat dan martabat manusia. Sejak berlakunya Undang-undang nomor 8 tahun 1981

dengan aparatnya demi tegaknya hukum, keadilan dan perlindungan harkat dan martabat manusia. Sejak berlakunya Undang-undang nomor 8 tahun 1981 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia adalah merupakan negara hukum yang demokratis berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 bukan berdasarkan atas kekuasaan semata. Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa tindak pidana korupsi

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG PENGADILAN PAJAK

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG PENGADILAN PAJAK PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG PENGADILAN PAJAK UMUM Pelaksanaan pemungutan Pajak yang tidak sesuai dengan Undang-undang perpajakan akan menimbulkan ketidakadilan

Lebih terperinci