Istilah umum yang mungkin pernah Anda dengar atau lihat

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Istilah umum yang mungkin pernah Anda dengar atau lihat"

Transkripsi

1 Translated from English to Indonesian Translated Commonly Used Terms June 2013 Istilah umum yang mungkin pernah Anda dengar atau lihat Daftar istilah berikut ini berisi definisi istilah umum yang digunakan dalam proses peradilan pidana. A Accused (Terdakwa) Seseorang yang dituntut melakukan pelanggaran pidana atau pelanggaran di pengadilan yang lebih tinggi. Kata lain untuk terdakwa adalah 'tersangka"dan 'terduga pelanggar'. Acquit (Bebas/Pembebasan/Dibebaskan) Apabila seorang hakim, majelis juri atau pengadilan banding memutuskan bahwa seseorang tidak bersalah atas pidana tertentu. Adjournment (Penundaan Pada masa sidang pengadilang atau Persidangan) Istirahat untuk jeda pagi atau makan siang atau untuk 'debat hukum' (lihat di bawah). Arti yang lain adalah bila sidang atau proses hukum ditunda sampai hari berikutnya. Admissible (Diperkenankan) Maksudnya adalah alat bukti yang diperkenankan oleh pengadilan dan dipertimbangkan dalam proses persidangan. Tidak semua alat bukti diperkenankan. Adversarial (Perlawanan) Sistem hukum Australia dikenal sebagai sistem perlawanan, dimana jaksa penuntut dan jaksa pembela akan mengajukan argument yang saling berlawanan. Kedua belah pihak berdebat di pengadilan mengenai fakta, keterangan saksi dan/atau masalah hukum. Affidavit (Surat Pernyataan) Sebuah pernyataan yang ditandatangani dan dibuat di atas kitab suci, seperti Alkitab, di hadapan seorang petugas peradilan atau pengacara. Surat pernyataan dapat juga dibuat dengan cara penegasan apabila orang tersebut tidak mau bersumpah di atas kitab suci. Orang tersebut menandatangani sebuah dokumen resmi yang menyatakan bahwa sepanjang pengetahuan mereka, isi dokumen tersebut bersifat benar.

2 Affirmation (Penegasan) Sebuah janji untuk menyatakan kebenaran di ruang sidang. Digunakan oleh orang yang tidak mau bersumpah di atas Alkitab atau kitab suci lainnya. Lihat juga "Sumpah". Allegation (Dugaan) Sebuah pernyataan dari satu pihak di dalam proses hukum yang masih perlu dibuktikan. Alleged offender (Terduga pelanggar) Sampai seseorang terbukti bersalah atas suatu tindak pidana, orang tersebut adalah "terduga pelanggar", "tersangka" atau "tergugat". Antecedents (Yang terdahulu) Catatan kriminal dan latar belakang seseorang. Biasanya, hal ini tidak diberitahukan kepada majelis juri, tetapi cacatan ini diberikan kepada hakim bila orang tersebut terbukti bersalah dan akan dijatuhi hukuman atau apabila masalahnya adalah apakah tersangka harus dilepaskan bersyarat (penangguhan penahanan) atau ditahan selama menunggu disidangkan. Appeal (Naik Banding) Untuk membawa sebuah perkara ke pengadilan lebih tinggi dalam rangka membanding sebuah putusan. Orang yang naik banding adalah pihak penuntut/appellant. Tidak semua putusan dapat diajubandingkan. Arraignment (Pendakwaan) Setelah semua rincian tuntutan (dakwaan) dibacakan kepada terdakwa di pengadilan. Terdakwa kemudian di minta untuk mengaku bersalah atau tidak bersalah. Arrest (Penahanan) Prosedur dimana seseorang dibawa ke dalam pengamanan polisi untuk dituntuk dengan pelanggaran pidana atau untk dibawa ke pengadilan dan harus tetap dijaga oleh polisi sampai permohonan penangguhan bersyarat dikabulkan atau pengadilan selesai mengurus tuntutan tersebut. B Bail (Penangguhan Penahanan) Dalam proses pidana, penangguhan penahanan berarti membebaskan tahanan dari penahanan hukum dengan adanya sebuah kesepakatan, yang kadang disebut sebagai "janji"untk hadir dalam persidangan. Seseorang yang ditangguhkan penahanannya mungkin harus mematuhi persyaratan tertentu.. Balance of Probabilities (Keseimbangan Probabilitas) Sebuah ujian (standar pembuktian) yang digunakan oleh pengadilan dalam proses acara perdata. Dinyatakan bahwa kemungkinan terjadinya sesuatu harus lebih tinggi dibanding kemungkinan tidak terjadinya. 2

3 Barrister (Kuasa Hukum) Seorang pengacara yang memiliki spesialisasi dalam persidangan dan biasanya mengenakan rambut palsu dan jubah di pengadilan yang lebih tinggi. Bar Table (Meja Pengadilan) Sebuah meja panjang dekat bagian depan ruang sidang dimana para pengacara berdiri ketika mereka berbicara di pengadilan dan tempat mereka duduk bila pihak yang lain sedang berbicara di pengadilan. Bench (Meja hakim) Kursi yang lebih tinggi yang berada di bagian depan ruang sidang, dimana hakim atau Magistrate duduk. Istilah bench dapat juga digunakan untuk merujuk kepada hakim atau Magistrate yang menangani sebuah perkara atau sebagai istilah gabungan untuk merujuk kepada sekelompok hakim, termasuk yang menangani perkara yang sama. Bench Warrant (Surat Perintah Pengadilan) Sebuah surat perintah penahanan dari pengadilan. Beyond reasonable doubt (Tanda ada keragu-raguan yang masuk akal) Sebuah pengujian (atau standar pembuktian) yang digunakan majelis juri, hakim atau Magistrate untuk memutuskan apakah tersangka/terdakwa bersalah atau tidak bersalah atas setiap dakwaan pidana. Mereka harus bisa membuktikan tanpa ada keragu-raguan yang masuk akal bahwa seseorang telah melakukan pelanggaran sebelum orang tersebut diputuskan bersalah. Breach (Pelanggaran) Tidak mematuhi surat perintah pengadilan, misalnya isi persyaratan dari surat perintah penangguhan penahanan. Brief or Brief of Evidence (Berkas/Berkas Perkara) Ini adalah berkas yang berisi kumpulan pernyataan dari saksi (termasuk saksi polisi dan saksi biasa), laporan ahli, laporan medis, foto, surat penangguhan penahanan, surat dakwaan dll. yang diberikan polisi atau lembaga penyidik kepada CDPP setelah mereka menyelesaikan pemeriksaan mereka. CDPP menggunakan materi dalam berkas perkara tersebut untuk memutuskan apakah penuntutan akan dilakukan, dan bila memang demikian, maka mereka akan menuntut tersangka. C Charge (Dakwaan) Tuduhan bahwa seseorang melakukan tindak pidana tertentu. Closed Circuit Television (CCTV) CCTV adalah layanan yang bisa diberikan kepada saksi tertentu, misalnya saksi yang rentan atau saksi anak, supaya mereka bisa bersaksi di persidangan dari lokasi yang lain. 3

4 Closed Court (Sidang Tertutup) Ruang sidang yang tidak terbuka bagi masyarakat umum. Committal hearing (Sidang Committal) Sidang untuk membahas semua alat bukti pendukung dakwaan di pengadilan rendah yang dipimpin oleh seorang Magistrate yang akan memutuskan apakah ada alat bukti yang cukup untuk membawa perkara ke sidang pengadilan. Dalam perkara tertentu saksi mungkin akan diminta untuk bersaksi di sidang committal. Common Law Ini adalah sistem hukum yang berdasarkan putusan pengadilan terdahulu dan kebiasaan yang ada yang berbeda dari undang-undang yang dibuat oleh Parlemen. Commonwealth Director of Public Prosecutions (CDPP) Kantor CDPPadalah sebuah lembaga penuntut independen yang bertanggungjawab untuk menuntut dugaan pelanggaran atas hukum Persemakmuran dan menyita hasil tindak pidana Persemakmuran dari para pelanggar hukum. CDPP kadang disebut juga dengan istilah 'the Commonwealth' atau 'the Crown'di dalam pengadilan. Commonwealth Offence (Pelanggaran Persemakmuran) Pelanggaran pidana atas hukum Persemakmuran atau hukum Federal (dan bukan atas hukum Negara bagian dan Teritori). Complainant (Pengadu) Istilah yang digunakan di pengadilan untuk merujuk kepada korban tindak pidana. Conference (Konferensi) Pertemuan dengan pengacara/kuasa hukum untuk membicarakan sebuah perkara. Conviction (Kebersalahan) Bila orang yang didakwa melakukan tindak pidana terbukti bersalah atas pelanggaran tersebut, catatan kebersalahan tersebut di catat dalam catatan kriminal mereka. Counsel (Penasehat hukum) Seorang kuasa hukum yang mewakili pihak pembela atau penuntut. Counsel for the Prosecution (Penasehat hukum untuk Penuntut) Istilah lain untuk Penuntut (lihat di bawah). County Court (Pengadilan Tinggi) Pengadilan lebih tinggi (atau menengah) yang berfungsi di daerah yurisdiksi tertentu. Di beberapa negara bagian/ teritori tertentu pengadilan setingkat ini adalah District Court. 4

5 Court (Pengadilan) Gedung tempat sebuah perkara disidangkan. Secara umum istilah ini juga digunakan untuk petugas peradilan yang memimpin sebuah perkara, misalnya Magistrate atau Hakim. Court Officer (Petugas Pengadilan) Orang yang bertugas membantu menjalankan proses persidangan. Petugas Pengadilan akan memanggil nama anda bila anda perlu bersaksi di persidangan. Crime (Pidana) Sebuah tindakan ilegal ( atau melawan hukum). Criminal history (Catatan kriminal) Catatan pelanggaran seseorang yang sudah terbukti bersalah. Cross-examination (Pemeriksaan Silang) Bila seorang saksi dari satu pihak (misalnya pihak penuntut) ditanyai di persidangan oleh pengacara dari pihak lainnya (misalnya pembela) untuk memeriksa kesaksian yang telah diberikan oleh saksi tersebut. Lihat juga pemeriksaan utama. The Crown (Kerajaan) Di pengadilan lebih tinggi, pihak penuntut dapat dirujuk dengan sebutan 'the crown', yaitu mewakili Ratu Negara Persemakmuran. Custody (Penahanan) Seorang tahanan adalah orang yang di tahan di tahanan sementara ( menunggu persidangan) atau di penjara, menjalanin masa tahanannya. D Defence (Pembela) Perkara dari seorang terdakwa dan pengacara yang mewakili mereka. Defence counsel (Penasehat hukum terdakwa) Kuasa hukum yang mewakili perkara seorang terdakwa di persidangan. Defendant (Terdakwa) Seorang yang dituntut atas pelanggaran pidana. Istilah lain untuk 'seorang tersangka' adalah 'seorang terdakwa. Deliberations (Pembuatan keputusan) Proses dimana majelis juri memutuskan apakah terdakwa bersalah atau tidak bersalah. Majelis juri meninggalkan ruang sidang dan masuk ke ruang khusus untuk membuat putusan pengadilan. Deposition (Deposisi) Catatan semua alat bukti yang dimasukkan di dalam proses sidang. 5

6 District Court Sebuah pengadilan lebih tinggi ( atau menengah) yang berada di daerah yurisidiksi tertentu. Di beberapa negara bagian pengadilan setingkat dengan ini adalah County Court. Dock (Mimbar) Sebuah tempat di pengadilan dimana terdakwa biasanya duduk selama masa sidang. Tidak semua pengadilan memiliki mimbar seperti ini. E Electoral Roll (Daftar Pemilih) Daftar nama orang yang tercatat untuk memilih. Daftar ini menyediakan nama orang yang dapat diminta untuk menjadi anggota majelis juri. Empanel a Jury (Pembentukan majelis juri) Proses pemilihan majelis juri (biasanya 12 orang) dari sekelompok orang yang telah dipanggil untuk menjalankan kewajiban sebagai juri. Evidence (Alat bukti) Informasi yang diberikan kepada pengadilan yang digunakan untuk membuktikan atau menentang sebuah fakta yang dipermasalahkan dalam proses persidangan. Evidence-in-Chief/Examination-in-Chief (Bukti utama/pemeriksaan utama) Bila seorang penuntut menanyai saksi supaya mereka bisa menceritakan apa yang terjadi kepada anggota sidang. Exhibits (Eksibit) Semua alat bukti lain (selain alat bukti saksi) yang diperlukan untuk mengajukan perkara ke pengadilan, misalnya barang seperti dokumen, foto, pakaian atau barang lainnya yang bersangkutan dengan perkara. F Forensic Evidence (Alat bukti forensik) Alat bukti yang ditemukan di tempat kejadian perkara, misalnya, sidik jari, hasil pemeriksaan darah, DNA dll. Forensic Medical Examination/Procedure (Pengujian/ Prosedur Forensik Medis) Korban dan/atau terdakwa dapat diminta untuk diperiksa, misalnya, pemeriksaan dengan usap mulut dalam rangka menyediakan sesuatu yang mungkin dijadikan sebagai alat bukti untuk perkara. For Mention Only (Untuk Sidang Mention Saja) Bila perkara tertentu hanya disidangkan dalam waktu singkat saja, biasanya untuk menangani masalah prosedur, misalnya memutuskan tanggal untuk memutuskan penangguhan penahanan. Sidang Mention bukanlah 'sidang' dari perkara tersebut. Saksi biasanya tidak diminta untuk datang ke pengadilan bila sidang tersebut hanya untuk mention saja. Lihat juga "Mention". 6

7 G Guilty (Bersalah) Bertanggungjawab secara hukum atas sebuah pelanggaran pidana. Bila seorang terdakwa mengaku bersalah, dia menerima tanggungjawab atas pelanggaran tersebut. Bila seorang terdakwa mengaku tidak bersalah, sebuah majelis juri akan memutuskan kebersalahan terdakwa bila perkara dimajukan ke sidang pengadilan di pengadilan yang lebih tinggi. Bila terdakwa mengaku tidak bersalah di pengadilan Magistrates atau di Local Court, maka Magistrate yang memutuskan kebersalahan terdakwa. H Hearing (Sidang) Tata acara bila alat bukti dimajukan ke pengadilan setelah tersangka atau terdakwa mengaku tidak bersalah. Higher Court (Pengadilan lebih tinggi) Sebuah pengadilan seperti District Court, Court Court atau Supreme Court yang menyidangkan perkara yang lebih berat. Seorang Hakim atau Majelis hakim lah yang duduk di pengadilan lebih tinggi. Tersedia majelis juri untuk perkara yang disidangkan di pengadilan lebih tinggi yaitu perkara mengenai pelanggaran hukum persemakmuran. Hung Jury (Keputusan gantung) Sebuah putusan bila majelis juri tidak dapat mencapai kesepakatan untuk memutuskan apakah terdakwa bersalah atau tidak bersalah. I In Camera (Tertutup) Dijalankan secara rahasia, misalnya di pengadilan tertutup atau ruang pribadi atau kamar pribadi hakim. Indictable Offence (Pelanggaran dapat didakwa) Pelanggaran pidana berat yang biasanya disidangkan di pengadilan lebih tinggi di hadapan hakim dan majelis juri. Pelanggaran dapat didakwa tidak begitu berat, atau disebut juga pelanggaran ringan, biasanya disidangkan di Local Court. Indictment (Dakwaan) Tuntutan tertulis resmi yang menuntut seseorang dengan pelanggaran yang akan disidangkan di pengadilan lebih tinggi. Instructing solicitor (Pengacara pemberi instruksi) Seorang pengacara yang membantu mempersiapkan perkara dan membantu kuasa hukum di ruang sidang. J 7

8 Justice of the Peace ( JP ) Fungsi Justice of Peace termasuk menjadi saksi pembuatan sumpah, deklarasi hukum dan dokumen resmi lainnya. Judge (Hakim) Hakim bertugas memimpin persidangan dan menjamin jalannya sidang yang bersifat adil untuk kedua belah pihak. Hakim dipanggil dengan sebutan "Your Honour". Hakim lah yang memutuskan vonis bagi terdakwa. Hakim duduk di pengadilan yang lebih tinggi. Judge s Associate (Pembantu Hakim) Adalah orang yang membantu hakim dalam mengurusi masalah hukum dan administrasi sebuah perkara. Dalam sebuah sidang, seorang judge's associate dapat membacakan dakwaan terdakwa dan membantu mencatat dokumen yang digunakan dalam perkara, misalnya eksibit. Juror (Juri) Anggota majelis juri. Lihat juga "Jury". Jury (Majelis juri) Sekelompok (biasanya) beranggotakan 12 orang yang dipilih secara acak dari masyarakat umum yang diberi tugas untuk bertanggung jawab dalam memutuskan apakah terdakwa bersalah berdasarkan alat bukti yang dimajukan dalam sidang pengadilan pidana. Majelis juri yang membuat putusan ( yaitu apakah terdakwa Bersalah atau Tidak Bersalah). L Legal argument (Perdebatan hukum) Perdebatan antara pengacara kedua belah pihak mengenai masalah hukum yang harus diputuskan oleh hakim. Saksi dan majelis juri biasanya meninggalkan ruang sidang bila hal ini berlangsung. Local Court (Pengadilan Setempat) Pengadilan rendah dimana perkara yang tidak begitu berat disidangkan ("pelanggaran ringan"). Seorang Magistrate memimpin sebuah Local Court/Magistrates Court tanpa adanya majelis juri. Lower court (Pengadilan rendah) Sebuah Magistrates Court atau Local Court yang menyidangkan perkara yang tidak begitu berat. Seorang Magistrate yang memimpin sidang dalam sebuah pengadilan rendah. Tidak ada majelis juri dalam perkara yang disidangkan di pengadilan rendah. M Magistrates Court ( Pengadilan Magistrate) Pengadilan rendah yang menyidangkan kasus yang tidak begitu berat. Seorang Magistrate memimpin sebuah pengadilan rendah tanpa majelis juri. Magistrate yang menjatuhkan vonis bila terdakwa terbukti bersalah. 8

9 Matter (Perkara) Penuntutan atau tata acara sidang (sebuah perkara) dapat disebut sebagai "perkara". Mention (Sidang singkat) Ini berart sebuah perkara dibawa ke ruang sidang dalam waktu singkat, biasanya untuk menangani masalah prosedural dan ini bukanlah "persidangan" perkara tersebut. Ini termasuk menentukan tanggal-tanggal tertentu dan pemutusan penangguhan penahanan. Saksi biasanya tidak perlu datang ke pengadilan untuk sidang singkat. Mistrial (Batal Sidang) Sebuah sidang pengadilan yang tidak ada pengaruh hukumnya karena adanya kesalahan dalam beracara. My learned friend (Rekan saya) Adalah ungkapan yang lazim dipakai pengacara di ruang sidang untuk merujuk kepada pengacara lawan. N No Bill/ No Further Proceedings CDPP mungkin akan memutuskan bahwa sebuah perkara tidak akan dilanjutkan, misalnya, karena kurangnya alat bukti. Ini bisa disebut dengan istilah "no bill" atau memutuskan tidak akan melanjutkan persidangan. Proses penuntutan dihentikan setelah pengadilan diberitahu mengenai hal ini. Nolle Prosequi Keputusan untuk tidak melanjutkan dakwaan dengan menggunakan daftar tuntutan yang sudah dimajukan ke pengadilan. Penuntutan dibatalkan setelah pengadilan diberitahu mengenai hal ini. Istilah lain untuk "nolle prosequi" adalah "no bill". Not Guilty (Tidak Bersalah) Sebuah pengakuan terdakwa atas dakwaaan pidana yang mana penuntut harus membuktikan kebersalahan orang tersebut di dalam sidang pengadilan. Sebuah putusan Tidak Bersalah menunjukkan gagalnya penuntut untuk membuktikan bahwa tanpa ada keragu-raguan sama sekali, terdakwa memang bersalah. O Oath (Sumpah) Sebuah janji untuk menyatakan kebenaran di persidangan dengan bersumpah di atas kitab suci yang sesuai dengan pembuat sumpah, misalnya Alkitab. Lihat juga "Penegasan" Objections (Keberatan) Ketika pihak pembela atau penuntut merasa bahwa sebuah pertanyaan tidak selayaknya ditanyakan, 9

10 mereka boleh mengajukan keberatan dan Hakim/ Magistrate harus memutuskan apakah pertanyaan tersebut boleh ditanyakan. Offender (Pelanggar) Orang yang ditemukan telah melakukan perbuatan yang dilarang secara hukum. Sebelum hal ini terjadi, orang tersebut diberi istilah terduga pelanggar/ terdakwa/tersangka. Open Court (Sidang Terbuka) Bila ruang sidang sebuah pengadilan dibuka untuk umum dan orang lain yang tertarik untuk menghadiri sidang tertentu. Opening Address (Pernyataan Pembuka) Adalah pidato pembuka dari Penasehat hukum dalam acara sidang yang menguraikan garis besar perkara dan alat bukti dari pihak mereka. P Paper Committal (Committal lewat Berkas) Committal lewat berkas adalah bila Magistrate sudah membaca berkas perkara dan dari berkas itu langsung memutuskan bahwa ada cukup alat bukti untuk memajukan perkara tersebut ke sidang pengadilan. Parliament (Parlemen) Lembaga pembuat undang-undang tertinggi, juga dikenal sebagai badan legislatif. Part Heard (Sidang Berjalan) Sebuah perkara disebut part heard bila acara sidang sudah dimulai tapi belum selesai. Parties (Pihak) Biasanya ada dua pihak dalam setiap acara perkara pidana, yaitu Persemakmuran dan tersangka/terdakwa (pembela). Plea (Pengakuan) Bila terdakwa menyakatan kepada pengadilan bahwa mereka bersalah atau tidak bersalah atas dakwaan tertentu. Bila seorang terdakwa mengaku bersalah, maka sidang pengadilan tidak dijalankan an perkara langsung masuk ke sidang pemutusan vonis. Pre-Sentence Report (Laporan Pra-Vonis) Laporan untuk membantu pengadilan dalam memutuskan vonis apa yang dijatuhkan kepada orang yang terbukti bersalah melakukan sebuah pelanggaran. Bila pelanggar ditahan (di penjara), Laporan Pra-Vonis dapat mencakup informasi mengenai tingkah laku orang tersebut di dalam penjara. Prima Facie Pada sidang pertama. Perkara prima facie adalah perkara yang pada sidang pertama, ditemui bahwa ada cukup alat bukti untuk membuktikan elemen pelanggaran tersebut. 10

11 Prosecutor / Prosecution (Penuntut/Penuntutan) Pengacara CDPP yang menjalankan penuntutan atas sebuah perkara di pengadilan. Prosecution counsel (Jaksa Penuntut) Pengacara atau penasehat hukum swasta yang mengajukan tuntutan perkara atas nama CDPP. Public Gallery (Tempat duduk Umum) Tempat duduk di bagian belakang ruang sidang dimana teman, keluarga atau orang yang tertarik untuk hadir bisa duduk diam dan mendengarkan jalannya sidang. Q QC (Queen Counsel) Penasehat hukum Ratu adalah penasehat hukum senior. Lihat juga " Penasehat hukum Senior" (SC) Quash (Pembatalan) Bila pengadilan yang lebih tinggi mencabut atau membatalkan putusan yang dulunya dibuat oleh pengadilan lebih rendah (misalnya, dalam hal putusan bersalah yang salah) R R Huruf R biasanya merujuk pada Reginaini adalah istilah latin untuk Ratu. Dalam acara pidana, 'R' merujuk pada Kerajaan atau Persemakmuran. Re-trial (Sidang Ulang) Sidang baru untuk perkara yang sama. Right to Silence (Hak untuk Diam) Peraturan yang menyatakan bahwa orang yang didakwa melanggar hukum tidak harus mengatakan apapun sejak dia ditanyai polisi sampai ke akhir sidang pengadilan. S SC Senior Counsel (Penasehat Hukum Senior) ( Kuasa Hukum yang senior) Lihat juga " QC" Sentencing (Vonis) Serangkain hukuman dapat diberikan dalam pada saat mejatuhkan hukuman seorang pelanggar, termasuk hukuman penjara, pelayanan masyarakat, jaminan kelakuan baik dan denda. Menurut Undang-Undang Pidana 1914, pengadilan harus mempertimbangkan sejumlah faktor dalam memutuskan vonis untuk pelanggaran federal, dan beratnya vonis haruslah sesuai berdasarkan kenyataan pelanggaran. 11

12 Sheriff s Officer (Petugas Keamanan) Petugas yang bertanggung jawab atas keamanan semua pihak selama mereka ada di pengadilan. Beritahu petugas keamanan bila Anda khawatir mengenai keamanan Anda. Statement (Pernyataan) Dokumen tertulis yang merinci alat bukti dari saksi. Subpoena (Surat panggilan) Surat perintah pengadilan untuk memanggil (membuat) saksi datang ke pengadilan untuk bersaksi dan/atau membawa dokumen ke pengadilan. Summary Hearing (Sidang Ringkas) Sidang di sebuah pengadilan rendah dimana semua alat bukti didengarkan dan putusan akhir dibuat oleh Magistrate saja (tanpa majelis juri). Summary Offence (Pelanggaran Ringan) Pelanggaran pidana yang tidak begitu berat yang dapat ditangani oleh pengadilan rendah. Summing Up (Merangkum) Tinjauan ulang hakim atas alat bukti dan penjelasan hukum kepada majelis juri. Summons (Panggilan) Surat perintah dari pengadilan rendah supaya terdakwa datang ke pengadilan untuk menjawab sebuah dakwaaan. Kadang dokumen ini diberi nama lain, misalnya "Surat Peringatan Menghadiri Persidangan" Support Person (Pendukung) Seorang saksi kadang mendapat dukungan dari seseorang (misalnya, teman atau anggota keluarag) yang dapat duduk di dekat mereka di ruang sidang. Supreme Court (Pengadilan Tinggi) Pengadilan lebih tinggi yang menangani perkara yang lebih berat (lihat "Pelanggaran Dapat Didakwa"). Seorang atau beberapa hakim yang menangani perkara Supreme Court. Di dalam sidang pengadilan tingkat P ersemakmuran di Supreme Court ada majelis juri. T Transcript (Transkrip) Salinan ketikan apa yang diucapkan dalam acara sidang. Lihat juga " Deposisi". Trial (Sidang Pengadilan) Sebuah sidang di pengadilan dimana semua alat bukti didengarkan dan putusan akhir dibuat. Di pengadilan tingkat tinggi, sidang pengadilan dijalankan dihadapan seorang Hakim dan majelis juri. Di pengadilan tingkat rendah, sidang pengadilan biasanya disebut ' sidang' dan dijalankan dihadapan seorang Magistrate,. 12

13 U Unanimous verdict/decision (Putusan bulat) Sebuah putusan dimana semua anggota majelis juri sepakat bahwa terdakwa bersalah atau tidak bersalah atas sebuah pelanggaran. Undertaking (Janji) Sebuah Janji yang dibuat dalam acara hukum oleh sebuah pihak atau oleh penasehat hukum mereka. Unrepresented (Tidak diwakili) Terdakwa atau tersangka yang tidak punya kuasa hukum atau tidak diwakili oleh pengacara. V Verdict (Putusan) Putusan majelis juri dalam sebuah sidang pengadilan pidana apakah terdakwa bersalah atau tidak bersalah atas pelanggaran tertentu. Victim ( Korban) Orang yang menderita luka sebagai akibat langsung dari satu atau lebih pelanggaran. Victim Impact Statement (VIS) (Pernyataaan Dampak terhadap Korban) Sebuah pernyataan yang ditulis oleh korban yang dapat dibacakan dalam sidang atau diserahkan ke pengadilan setelah pelanggar terbukti bersalah atas pelanggaran dan sebelum pelanggar tersebut dijatuhi vonis. VIS memberitahukan pengadilan mengenai luka yang diderita oleh korban akibat pelanggaran tertentu. Dalam menjatuhkan vonis, pengadilan harus mempertimbangkan sejumlah faktor termasuk, cedera, kehilangan, kerusakan yang dialami korban akibat pelanggaran tersebut. Voir dire Perdebatan hukum mengenai boleh tidaknya sebuah alat bukti digunakan dalam persidangan. Saksi dan majelis juri diminta meninggalkan ruang sidang selama perdebatan ini. W Witness (Saksi) Setiap orang yang datang ke dalam acara sidang dan menjawab pertanyaan di hadapan Magistrate atau Hakim dan majelis juri. Witness expenses (Biaya saksi) Saksi dapat diberi biaya saksi, sesuai dengan nilai yang sudah ditentukan, sebagai kontribusi atas hilangnya upah, biaya perjalanan dan pengeluaran terkait. 13

LANGKAH-LANGKAH DALAM PROSES PENUNTUTAN TINGKAT PERSEMAKMURAN

LANGKAH-LANGKAH DALAM PROSES PENUNTUTAN TINGKAT PERSEMAKMURAN Translated from English to Indonesian Steps in the Prosecution Process Translated June 2013 LANGKAH-LANGKAH DALAM PROSES PENUNTUTAN TINGKAT PERSEMAKMURAN LANGKAH-LANGKAH DALAM PROSES PENUNTUTAN TINGKAT

Lebih terperinci

PANDUAN BAGI SAKSI PIDANA TINGKAT PERSEMAKMURAN

PANDUAN BAGI SAKSI PIDANA TINGKAT PERSEMAKMURAN Translated from English to Indonesian Giving evidence in Court Translated June 2013 PANDUAN BAGI SAKSI PIDANA TINGKAT PERSEMAKMURAN PEMBUKAAN BERSAKSI DI PENGADILAN Saksi memberi kontibusi penting dan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci

1. PELAPORAN Proses pertama bisa diawali dengan laporan atau pengaduan ke kepolisian.

1. PELAPORAN Proses pertama bisa diawali dengan laporan atau pengaduan ke kepolisian. KASUS PIDANA UMUM CONTOH-CONTOH KASUS PIDANA: Kekerasan akibat perkelahian atau penganiayaan Pelanggaran (senjata tajam, narkotika, lalu lintas) Pencurian Korupsi Pengerusakan Kekerasan dalam rumah tangga

Lebih terperinci

NOMOR : M.HH-11.HM.03.02.th.2011 NOMOR : PER-045/A/JA/12/2011 NOMOR : 1 Tahun 2011 NOMOR : KEPB-02/01-55/12/2011 NOMOR : 4 Tahun 2011 TENTANG

NOMOR : M.HH-11.HM.03.02.th.2011 NOMOR : PER-045/A/JA/12/2011 NOMOR : 1 Tahun 2011 NOMOR : KEPB-02/01-55/12/2011 NOMOR : 4 Tahun 2011 TENTANG PERATURAN BERSAMA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI REPUBLIK INDONESIA KETUA

Lebih terperinci

HUKUM ACARA PIDANA Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tanggal 31 Desember 1981 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

HUKUM ACARA PIDANA Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tanggal 31 Desember 1981 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : HUKUM ACARA PIDANA Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tanggal 31 Desember 1981 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa negara Republik Indonesia adalah negara hukum

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap warga negara

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENANGANAN TERSANGKA ATAU TERDAKWA PENYALAH GUNA, KORBAN PENYALAHGUNAAN, DAN PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa berdasarkan

Lebih terperinci

PENGADILAN NEGERI STABAT

PENGADILAN NEGERI STABAT PUTUSAN No : 130/Pid/Sus/2014/PN.Stb DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri Stabat yang mengadili perkara - perkara pidana dengan acara pemeriksaan perkara biasa dalam peradilan

Lebih terperinci

MAHKAMAH AGUNG Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 Tanggal 30 Desember 1985 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia,

MAHKAMAH AGUNG Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 Tanggal 30 Desember 1985 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia, MAHKAMAH AGUNG Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 Tanggal 30 Desember 1985 Menimbang : DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia, a. bahwa negara Republik Indonesia, sebagai negara hukum

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG HUKUM DISIPLIN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG HUKUM DISIPLIN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG HUKUM DISIPLIN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Tentara Nasional Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG [LN 2007/58, TLN 4720 ]

UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG [LN 2007/58, TLN 4720 ] UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG [LN 2007/58, TLN 4720 ] BAB II TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG Pasal 2 (1) Setiap orang yang melakukan perekrutan,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PEMBERHENTIAN DENGAN HORMAT, PEMBERHENTIAN TIDAK DENGAN HORMAT, DAN PEMBERHENTIAN SEMENTARA, SERTA HAK JABATAN FUNGSIONAL JAKSA

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENANGANAN TERSANGKA DAN/ATAU TERDAKWA PECANDU NARKOTIKA DAN KORBAN PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA KE DALAM LEMBAGA REHABILITASI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyelesaian perkara pidana, keterangan yang diberikan oleh seorang saksi. pidana atau tidak yang dilakukan terdakwa.

BAB I PENDAHULUAN. penyelesaian perkara pidana, keterangan yang diberikan oleh seorang saksi. pidana atau tidak yang dilakukan terdakwa. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Alat bukti berupa keterangan saksi sangatlah lazim digunakan dalam penyelesaian perkara pidana, keterangan yang diberikan oleh seorang saksi dimaksudkan untuk

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

Regulasi Nomor 30 Tahun 2000 Mengenai Aturan Acara Pidana Pada Masa Transisi

Regulasi Nomor 30 Tahun 2000 Mengenai Aturan Acara Pidana Pada Masa Transisi UNITED NATIONS United Nations Transitional Administration in East Timor NATIONS UNIES Administration Transitoire des Nations Unies au Timor Oriental UNTAET Regulasi Nomor 30 Tahun 2000 Mengenai Aturan

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2003 TENTANG PELAKSANAAN TEKNIS INSTITUSIONAL PERADILAN UMUM BAGI ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

I. BIDANG ADMINISTRASI 1.1 STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) ADMINISTRASI PERKARA PADA PENGADILAN NEGERI KELAS II SUKADANA

I. BIDANG ADMINISTRASI 1.1 STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) ADMINISTRASI PERKARA PADA PENGADILAN NEGERI KELAS II SUKADANA I. BIDANG ADMINISTRASI 1.1 STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) ADMINISTRASI PERKARA PADA PENGADILAN NEGERI KELAS II SUKADANA A. KEPANITERAAN PIDANA 1. Penyelesaian Perkara a. Pengadilan Negeri menerima

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA www.legalitas.org UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa anak adalah bagian dari generasi muda sebagai

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA, PERBAIKAN DR SETUM 13 AGUSTUS 2010 PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG KOORDINASI, PENGAWASAN DAN PEMBINAAN PENYIDIKAN BAGI PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN

Lebih terperinci

P U T U S A N NOMOR : 392/PID.B/2014/PN.BJ DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. Umur : 25Tahun/ 26 Desember 1989

P U T U S A N NOMOR : 392/PID.B/2014/PN.BJ DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. Umur : 25Tahun/ 26 Desember 1989 P U T U S A N NOMOR : 392/PID.B/2014/PN.BJ DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri Binjai yang mengadili perkara-perkara pidana pada Peradilan Tingkat pertama dengan acara pemeriksaan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa di dalam era perdagangan global, sejalan dengan konvensi-konvensi

Lebih terperinci

P U T U S A N Nomor : 147 /Pid.B/2014/PN. BJ.- DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

P U T U S A N Nomor : 147 /Pid.B/2014/PN. BJ.- DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA P U T U S A N Nomor : 147 /Pid.B/2014/PN. BJ.- DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri Binjai yang mengadili perkara-perkara pidana biasa dalam peradilan tingkat pertama dengan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2005 TENTANG TATA CARA PERMOHONAN, PEMERIKSAAN, DAN PENYELESAIAN BANDING MEREK

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2005 TENTANG TATA CARA PERMOHONAN, PEMERIKSAAN, DAN PENYELESAIAN BANDING MEREK PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2005 TENTANG TATA CARA PERMOHONAN, PEMERIKSAAN, DAN PENYELESAIAN BANDING MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

KODE ETIK PANITERA DAN JURUSITA

KODE ETIK PANITERA DAN JURUSITA KODE ETIK PANITERA DAN JURUSITA KETENTUAN UMUM Pengertian PASAL 1 1. Yang dimaksud dengan kode etik Panitera dan jurusita ialah aturan tertulis yang harus dipedomani oleh setiap Panitera dan jurusita dalam

Lebih terperinci

PRINSIP-PRINSIP UNIVERSAL HAK ATAS PERADILAN YANG ADIL DAN TIDAK MEMIHAK (FAIR TRIAL) Siti Aminah (sitiaminah_tardi@yahoo.co.id)

PRINSIP-PRINSIP UNIVERSAL HAK ATAS PERADILAN YANG ADIL DAN TIDAK MEMIHAK (FAIR TRIAL) Siti Aminah (sitiaminah_tardi@yahoo.co.id) PRINSIP-PRINSIP UNIVERSAL HAK ATAS PERADILAN YANG ADIL DAN TIDAK MEMIHAK (FAIR TRIAL) Siti Aminah (sitiaminah_tardi@yahoo.co.id) The Indonesian Legal Resource Center (ILRC) A. PENDAHULUAN Di antara asas-asas

Lebih terperinci

Hal-Hal Penting Terkait Penangkapan Yang Harus Diatur RKUHAP

Hal-Hal Penting Terkait Penangkapan Yang Harus Diatur RKUHAP Hal-Hal Penting Terkait Penangkapan Yang Harus Diatur RKUHAP Oleh : Supriyadi W. Eddyono ICJR Pada prinsipnya, segala bentuk tindakan atau upaya paksa yang mencabut atau membatasi kebebasan merupakan tindakan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG IZIN PEMAKAIAN RUMAH MILIK ATAU DIKUASAI PEMERINTAH KOTA SURABAYA

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG IZIN PEMAKAIAN RUMAH MILIK ATAU DIKUASAI PEMERINTAH KOTA SURABAYA RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG IZIN PEMAKAIAN RUMAH MILIK ATAU DIKUASAI PEMERINTAH KOTA SURABAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI PENEGAKAN HUKUM TERHADAP ANGGOTA MILITER YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA NARKOTIKA DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN MILITER II 11 YOGYAKARTA

NASKAH PUBLIKASI PENEGAKAN HUKUM TERHADAP ANGGOTA MILITER YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA NARKOTIKA DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN MILITER II 11 YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI PENEGAKAN HUKUM TERHADAP ANGGOTA MILITER YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA NARKOTIKA DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN MILITER II 11 YOGYAKARTA Disusun oleh: ADAM PRASTISTO JATI NPM : 07 05 09661

Lebih terperinci

Langkah-langkah yang harus dilakukan Pemohon banding:

Langkah-langkah yang harus dilakukan Pemohon banding: Langkah-langkah yang harus dilakukan Pemohon banding: 1. Permohonan banding harus disampaikan secara tertulis atau lisan kepada pengadilan agama/mahkamah syar iah dalam tenggang waktu : a. 14 (empat belas)

Lebih terperinci

P U T U S A N. Nomor : 689/PID/2012/PT-MDN. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

P U T U S A N. Nomor : 689/PID/2012/PT-MDN. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA P U T U S A N Nomor : 689/PID/2012/PT-MDN. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PENGADILAN TINGGI MEDAN di Medan, yang memeriksa dan mengadili perkara pidana dalam Peradilan Tingkat Banding,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1995 TENTANG KOMISI BANDING MEREK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1995 TENTANG KOMISI BANDING MEREK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1995 TENTANG KOMISI BANDING MEREK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 35 Undang-undang Nomor 19 Tahun

Lebih terperinci

LANGKAH-LANGKAH PELENGKAP YANG TERLEWATKAN DALAM PEMERIKSAAN PERKARA

LANGKAH-LANGKAH PELENGKAP YANG TERLEWATKAN DALAM PEMERIKSAAN PERKARA 1 LANGKAH-LANGKAH PELENGKAP YANG TERLEWATKAN DALAM PEMERIKSAAN PERKARA oleh : Ali M. Haidar I. PENDAHULUAN Tulisan ini disajikan hanyalah sebagai ulangan dan bahkan cuplikan dari berbagai tulisan tentang

Lebih terperinci

Wajib Lapor Tindak KDRT 1

Wajib Lapor Tindak KDRT 1 Wajib Lapor Tindak KDRT 1 Rita Serena Kolibonso. S.H., LL.M. Pengantar Dalam beberapa periode, pertanyaan tentang kewajiban lapor dugaan tindak pidana memang sering diangkat oleh kalangan profesi khususnya

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa setiap orang

Lebih terperinci

P U T U S A N Nomor : 339/PID/2011/PT-Mdn.

P U T U S A N Nomor : 339/PID/2011/PT-Mdn. P U T U S A N Nomor : 339/PID/2011/PT-Mdn. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA ----- PENGADILAN TINGGI MEDAN, yang memeriksa dan mengadili perkara pidana dalam peradilan tingkat banding,

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 08/PMK/2006 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM SENGKETA KEWENANGAN KONSTITUSIONAL LEMBAGA NEGARA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan upaya

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN BARANG BUKTI DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN BARANG BUKTI DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL HSL RPT TGL 13 JULI 2009 PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN BARANG BUKTI DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Halaman...3 Halaman...33 Halaman...49 Halaman...59

DAFTAR ISI Halaman...3 Halaman...33 Halaman...49 Halaman...59 ii DAFTAR ISI Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) dan Eksploitasi Seksual Anak (ESA) 2009-2014. Halaman...3 Peraturan Pemerintah

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02 TAHUN 2012 TENTANG TATA LAKSANA JABATAN PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL LINGKUNGAN HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI BUKU PANDUAN UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI. Komisi Pemberantasan Korupsi

MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI BUKU PANDUAN UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI. Komisi Pemberantasan Korupsi MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI BUKU PANDUAN UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI REPUBLIK INDONESIA MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI Penyusun Desain Sampul & Tata Letak Isi MPRCons Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PETUNJUK PENGISIAN ADVISBLAAD HAKIM BANDING

PETUNJUK PENGISIAN ADVISBLAAD HAKIM BANDING PETUNJUK PENGISIAN ADVISBLAAD HAKIM BANDING I. Mempelajari Berkas Perkara 1. Bentuk Dakwaan: a. Tunggal : Adalah tehadap Terdakwa hanya didakwakan satu perbuatan yang memenuhi Uraian dalam satu Pasal tertentu

Lebih terperinci

PERADILAN TATA USAHA NEGARA Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 Tanggal 29 Desember 1986 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia,

PERADILAN TATA USAHA NEGARA Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 Tanggal 29 Desember 1986 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia, PERADILAN TATA USAHA NEGARA Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 Tanggal 29 Desember 1986 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia sebagai

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TENTANG TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

P U T U S A N NOMOR :239 / PID B / 2013/PN. BJ. menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam perkara terdakwa:----------------------

P U T U S A N NOMOR :239 / PID B / 2013/PN. BJ. menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam perkara terdakwa:---------------------- P U T U S A N NOMOR :239 / PID B / 2013/PN. BJ. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri Binjai yang mengadili perkara-perkara pidana dengan acara pemeriksaan biasa pada peradilan

Lebih terperinci

Written by tony Tuesday, 22 October 2013 09:10 - Last Updated Wednesday, 27 November 2013 07:24

Written by tony Tuesday, 22 October 2013 09:10 - Last Updated Wednesday, 27 November 2013 07:24 PERKEMBANGAN HUKUM LINGKUNGAN DI INDONESIA PROF.DR.TAKDIR RAHMADI, SH., LLM JAKARTA - HUMAS,Perkembangan hukum lingkungan modern di Indonesia lahir sejak diundangkannya Undang-Undang No. 4 Tahun 1982 Tentang

Lebih terperinci

REGULASI NO. 2001/18

REGULASI NO. 2001/18 UNITED NATIONS United Nations Transitional Administration in East Timor NATIONS UNIES Administrasion Transitoire des Nations Unies in au Timor Oriental UNTAET UNTAET/REG/2001/18 21 Juli 2001 REGULASI NO.

Lebih terperinci

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA (KUHAP) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA (KUHAP) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA (KUHAP) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Bab I Ketentuan Umum Bab II Ruang Lingkup Berlakunya Undang-undang Bab III Dasar Peradilan Bab IV Penyidik dan Penuntut Umum

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

STANDAR PELAYANAN PERADILAN PADA PENGADILAN TATA USAHA NEGARA JAKARTA

STANDAR PELAYANAN PERADILAN PADA PENGADILAN TATA USAHA NEGARA JAKARTA STANDAR PELAYANAN PERADILAN PADA PENGADILAN TATA USAHA NEGARA JAKARTA JAKARTA 2014 STANDAR PELAYANAN PERADILAN DI PENGADILAN TATA USAHA NEGARA JAKARTA I. KETENTUAN UMUM A. Dasar Hukum 1. Undang-undang

Lebih terperinci

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. pada peradilan tingkat banding telah menjatuhkan putusan

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. pada peradilan tingkat banding telah menjatuhkan putusan P U T U S A N NOMOR 129 / PID / 2015/ PT MDN. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Tinggi Medan yang memeriksa dan mengadili perkaraperkara pidana pada peradilan tingkat banding

Lebih terperinci

Direktori Putusan Pengadilan Negeri Sibolga pn-sibolga.go.id

Direktori Putusan Pengadilan Negeri Sibolga pn-sibolga.go.id PUTUSAN Nomor 354/Pid.B/2014/PN Sbg. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri Sibolga yang mengadili perkara pidana dengan acara pemeriksaan biasa dalam tingkat pertama menjatuhkan

Lebih terperinci

P U T U S A N NOMOR : 386/PID/2014/PT. BDG. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA,

P U T U S A N NOMOR : 386/PID/2014/PT. BDG. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA, P U T U S A N NOMOR : 386/PID/2014/PT. BDG. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA, Pengadilan Tinggi Bandung, yang memeriksa dan mengadili perkara pidana dalam peradilan tingkat banding telah

Lebih terperinci

BERITA NEGARA. No.649,2014 KEMENKUMHAM. Paspor Biasa. Surat Perjalanan. Laksana Paspor PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

BERITA NEGARA. No.649,2014 KEMENKUMHAM. Paspor Biasa. Surat Perjalanan. Laksana Paspor PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.649,2014 KEMENKUMHAM. Paspor Biasa. Surat Perjalanan. Laksana Paspor PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PASPOR

Lebih terperinci

TATA CARA DAN MEKANISME PEMBERIAN BANTUAN HUKUM DALAM PERKARA PERDATA PELAYANAN PERKARA PRODEO

TATA CARA DAN MEKANISME PEMBERIAN BANTUAN HUKUM DALAM PERKARA PERDATA PELAYANAN PERKARA PRODEO TATA CARA DAN MEKANISME PEMBERIAN BANTUAN HUKUM DALAM PERKARA PERDATA PELAYANAN PERKARA PRODEO Syarat-Syarat Berperkara Secara Prodeo 1. Anggota masyarakat yang tidak mampu secara ekonomis dapat mengajukan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

LAYANAN INFORMASI KELUHAN (COMPLAINT INFORMATION SERVICE)

LAYANAN INFORMASI KELUHAN (COMPLAINT INFORMATION SERVICE) Mengajukan keluhan Australian Human Rights Commission (Komisi Hak Asasi Manusia Australia) adalah sebuah lembaga independen yang bertugas menyelidiki dan menyelesaikan keluhan tentang diskriminasi berdasarkan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, Menimbang : a. bahwa perdagangan orang

Lebih terperinci

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA P U T U S A N Nomor : 345/Pid.B/2014/PN.BJ. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri Binjai yang memeriksa dan mengadili perkara-perkara pidana pada peradilan tingkat pertama

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENGELOLAAN BENDA SITAAN NEGARA DAN BARANG RAMPASAN NEGARA PADA RUMAH PENYIMPANAN BENDA SITAAN NEGARA

Lebih terperinci

PEDOMAN TEKNIS ADMINISTRASI DAN TEKNIS PERADILAN TATA USAHA NEGARA EDISI 2008

PEDOMAN TEKNIS ADMINISTRASI DAN TEKNIS PERADILAN TATA USAHA NEGARA EDISI 2008 PEDOMAN TEKNIS ADMINISTRASI DAN TEKNIS PERADILAN TATA USAHA NEGARA EDISI 2008 MAHKAMAH AGUNG RI 2008 1 DAFTAR ISI Kata Pengantar... iii Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : KMA/032/SK/IV/2007

Lebih terperinci

PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH

PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR : 158/PMK. 01/2012 TENTANG BANTUAN HUKUM DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR : 158/PMK. 01/2012 TENTANG BANTUAN HUKUM DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR : 158/PMK. 01/2012 TENTANG BANTUAN HUKUM DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, enimbang: a. bahwa negara Republik Indonesia, sebagai negara hukum

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa untuk mewujudkan perekonomian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kejahatan yang menghasilkan

Lebih terperinci

STANDARD OPERATION PROCEDURE (S.O.P) DI JAJARAN PENGADILAN TINGGI DAN PENGADILAN NEGERI SE-KALIMANTAN TENGAH

STANDARD OPERATION PROCEDURE (S.O.P) DI JAJARAN PENGADILAN TINGGI DAN PENGADILAN NEGERI SE-KALIMANTAN TENGAH STANDARD OPERATION PROCEDURE (S.O.P) DI JAJARAN PENGADILAN TINGGI DAN PENGADILAN NEGERI SEKALIMANTAN TENGAH I. PENDAHULUAN Dalam Visi Mahkamah Agung Republik Indonesia yang dituangkan dalam Blue Print

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pendirian Yayasan di Indonesia selama ini dilakukan

Lebih terperinci

PROSEDUR KERJA. Kencana Loka BLOK F JABATAN : KOORDINATOR SECURITY TGL TERBIT : 19 1-2014 SATUAN PENGAMAN / SECURITY NO REVISI : 0

PROSEDUR KERJA. Kencana Loka BLOK F JABATAN : KOORDINATOR SECURITY TGL TERBIT : 19 1-2014 SATUAN PENGAMAN / SECURITY NO REVISI : 0 JABATAN : KOORDINATOR SECURITY A. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB 1. Melakukan Rekrut anggota Security sesuai dengan kebutuhan, Yang telah di setujui warga melalui keputusan Ketua RT. 2. Sebagai jembatan komonikasi

Lebih terperinci

REGULASI MENGENAI HUKUM ACARA AJUDIKASI SENGKETA PEMAIN DI KOMITE STATUS PEMAIN. Pasal 1 Ketentuan Umum

REGULASI MENGENAI HUKUM ACARA AJUDIKASI SENGKETA PEMAIN DI KOMITE STATUS PEMAIN. Pasal 1 Ketentuan Umum REGULASI MENGENAI HUKUM ACARA AJUDIKASI SENGKETA PEMAIN DI KOMITE STATUS PEMAIN Pasal 1 Ketentuan Umum (1) Pemain adalah pemain sepak bola yang terdaftar di PSSI. (2) Klub adalah Anggota PSSI yang membentuk

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG LEMBAGA KEPRESIDENAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG LEMBAGA KEPRESIDENAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG LEMBAGA KEPRESIDENAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a bahwa Presiden sebagai Penyelenggara Pemerintahan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1951 TENTANG PENIMBUNAN BARANG-BARANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1951 TENTANG PENIMBUNAN BARANG-BARANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1951 TENTANG PENIMBUNAN BARANG-BARANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Pemerintah berhubung dengan keadaan dalam dan luar negeri

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

P U T U S A N Nomor : 138/PDT/2015/PT.Bdg. perkara perdata dalam Peradilan Tingkat Banding, telah menjatuhkan putusan. Islam, pekerjaan Wiraswasta ;

P U T U S A N Nomor : 138/PDT/2015/PT.Bdg. perkara perdata dalam Peradilan Tingkat Banding, telah menjatuhkan putusan. Islam, pekerjaan Wiraswasta ; P U T U S A N Nomor : 138/PDT/2015/PT.Bdg. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PENGADILAN TINGGI BANDUNG di Bandung yang memeriksa dan mengadili perkara perdata dalam Peradilan Tingkat Banding,

Lebih terperinci

KODE ETIK ADVOKAT INDONESIA

KODE ETIK ADVOKAT INDONESIA KOMITE KERJA ADVOKAT INDONESIA KODE ETIK ADVOKAT INDONESIA IKATAN ADVOKAT INDONESIA (IKADIN) ASOSIASI ADVOKAT INDONESIA (AAI) IKATAN PENASEHAT HUKUM INDONESIA (IPHI) HIMPUNAN ADVOKAT & PENGACARA INDONESIA

Lebih terperinci

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENYESUAIAN BATASAN TINDAK PIDANA RINGAN DAN JUMLAH DENDA DALAM KUHP

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENYESUAIAN BATASAN TINDAK PIDANA RINGAN DAN JUMLAH DENDA DALAM KUHP KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR :02 TAHUN 2012 TENTANG PENYESUAIAN BATASAN TINDAK PIDANA RINGAN DAN JUMLAH DENDA DALAM KUHP MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK

Lebih terperinci

P U T U S A N. Nomor : 763/PID/2014/PT-MDN. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

P U T U S A N. Nomor : 763/PID/2014/PT-MDN. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA P U T U S A N Nomor : 763/PID/2014/PT-MDN. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Tinggi Medan, yang memeriksa dan mengadili perkara pidana dalam Peradilan Tingkat Banding, telah

Lebih terperinci

- 1 - P U T U S A N NOMOR : 628 / PID.SUS / 2014 / PT-MDN DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

- 1 - P U T U S A N NOMOR : 628 / PID.SUS / 2014 / PT-MDN DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA - 1 - P U T U S A N NOMOR : 628 / PID.SUS / 2014 / PT-MDN DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PENGADILAN TINGGI MEDAN di Medan, yang memeriksa dan mengadili perkara-perkara pidana dalam tingkat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PERUSAKAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PERUSAKAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PERUSAKAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa hutan, sebagai

Lebih terperinci

P U T U S A N. NOMOR : 276/Pid/2014/PT.BDG. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

P U T U S A N. NOMOR : 276/Pid/2014/PT.BDG. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA P U T U S A N NOMOR : 276/Pid/2014/PT.BDG. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PENGADILAN TINGGI BANDUNG, yang memeriksa dan mengadili perkara-perkara pidana dalam peradilan tingkat banding,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BAGAN ALUR PROSEDUR PERKARA PERDATA PENDAFTAAN KASASI

BAGAN ALUR PROSEDUR PERKARA PERDATA PENDAFTAAN KASASI BAGAN ALUR PROSEDUR PERKARA PERDATA PENDAFTAAN KASASI Pemohan Kasasi Mengajukan kasasi pada Meja 3 dan memberikan Memori Kasasi (wajib) Kasasi dan menunjuk Juru Sita Pengganti Mengirim Kontra Memori Kasasi

Lebih terperinci

MENGHITUNG LAMANYA MASA PENAHANAN DALAM RUU KUHAP

MENGHITUNG LAMANYA MASA PENAHANAN DALAM RUU KUHAP MENGHITUNG LAMANYA MASA PENAHANAN DALAM RUU KUHAP Oleh : Siti Aminah 1 Dalam dua minggu terakhir, media massa, baik cetak maupun elektronik memuat berita terkait pembahasan RUU KUHAP di DPR RI. Komisi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR : 04/PMK/2004 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02/PMK/2003 TAHUN 2003 TENTANG KODE ETIK DAN PEDOMAN TINGKAH LAKU HAKIM KONSTITUSI

PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02/PMK/2003 TAHUN 2003 TENTANG KODE ETIK DAN PEDOMAN TINGKAH LAKU HAKIM KONSTITUSI PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02/PMK/2003 TAHUN 2003 TENTANG KODE ETIK DAN PEDOMAN TINGKAH LAKU HAKIM KONSTITUSI MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 13 TAHUN 2002 TENTANG SURAT IJIN USAHA PERDAGANGAN ( SIUP ) WALIKOTA DENPASAR,

PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 13 TAHUN 2002 TENTANG SURAT IJIN USAHA PERDAGANGAN ( SIUP ) WALIKOTA DENPASAR, PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 13 TAHUN 2002 TENTANG SURAT IJIN USAHA PERDAGANGAN ( SIUP ) WALIKOTA DENPASAR, Menimbang : a. bahwa sebagai tindak lanjut dari amanat Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999

Lebih terperinci