PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG ANAK Irwanto, Ahmad Suryawan, Moersintowarti B.Narendra Divisi Tumbuh Kembang Anak dan Remaja Bagian Ilmu Kesehatan Anak

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG ANAK Irwanto, Ahmad Suryawan, Moersintowarti B.Narendra Divisi Tumbuh Kembang Anak dan Remaja Bagian Ilmu Kesehatan Anak"

Transkripsi

1 KULIAH PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG ANAK Divisi Tumbuh Kembang Anak dan Remaja Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unair RSU Dr. Soetomo Surabaya 1

2 Korespondensi : Abstrak Penyimpangan tumbuh kembang anak adalah keadaan proses pertumbuhan dan perkembangan yang tidak wajar atau terganggu/terhambat, bisa terjadi pada tahap intra uterine, kelahiran dan pasca lahir.walaupun proses pertumbuhan dan perkembangan anak berlangsung secara simultan, untuk memudahkan para petugas kesehatan, tolok ukur penyimpangan pertumbuhan dibedakan dari tolok ukur perkembangan. Deteksi dini penyimpangan sangat penting untuk dapat melakukan intervensi secara tepat guna sehingga proses tumbuh kembang selanjutnya dapat berlangsung optimal. Perkembangan terlambat yang akan dibahas dalam makalah adalah kasus gagal tumbuh, keterlambatan pada kemampuan bicara dan motorik yang sering ditemukan di klinik tumbuh kembang anak. Kata kunci: penyimpangan tumbuh kembang, FTT, keterlambatan bicara Abstract Deviation in growth and development is related to disorders of the processes occur during intra uterine, birth and after birth.growth and development of a child is a simultaneous process, but parameters could be distinguished in practical approach to detect and to be intervened earlier. Focus on failure to thrive, speech and motoric delay as the more prevalent cases in Growth & Development clinic will be discussed in depth. Key words: Growth and Developmental deviation, FTT (Failure to thrive),speech delay. Pendahuluan Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan pada anak merupakan tema global utama dalam pelayanan kesehatan anak secara modern. Dalam kurun waktu lebih dari 20 tahun terakhir telah dilaksanakan diberbagai negara maju, dan semakin meningkatnya jumlah negara-negara berkembang yang menjalankan program untuk mengidentifikasi kelainan pada anak. Kegiatan deteksi dimaksudkan untuk penapisan / penjaringan adanya penyimpangan tumbuh kembang anak, dan pengkajian faktor risiko yang mempengaruhi sehingga tindakan intervensi dapat dilakukan sedini mungkin. Untuk melaksanakan deteksi secara baik diperlukan pengetahuan tentang proses pertumbuhan dan perkembangan anak yang wajar/normal (tidak menyimpang) dahulu, kemudian disusul pengetahuan untuk mengenali penyimpangan yang bisa terjadi pada proses tumbuh kembang anak. 1,2,3. Di bidang kedokteran terdapat kecenderungan para ahli memfokuskan diri pada keahlian khusus yang begitu sempit sehingga seringkali melupakan sasaran pelayanan secara utuh dan menyeluruh (holistik) pada penderitanya. Padahal menurut etik kedokteran yang terpenting adalah ditujukan pada bagaimana mengupayakan hal yang terbaik untuk penderita, sehingga diperlukan pendekatan multidisipliner yang kompak untuk mencapainya. Persamaan pengertian dan bahasa yang dipergunakan dalam pendekatan multidisiplin tata laksana pada penyimpangan tumbuh kembang anak merupakan prasyarat dalam pelayanan kesehatan anak di era millenium ini. Pelayanan kesehatan anak secara komprehensif yaitu preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif sudah harus diterapkan oleh semua subdivisi bidang ilmu guna mencapai kualitas hidup anak PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG 2 ANAK

3 untuk menjadi manusia yang berkualitas optimal. Pada kesempatan kali ini diharapkan para petugas kesehatan dapat memahami tentang penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan anak agar pada kesempatan pelatihan deteksi dini yang sudah dicanangkan di Jawa Timur akan lebih mudah penerapannya. Masalah Penyimpangan Tumbuh Kembang Sesuai dengan definisi proses tumbuh (pertumbuhan) yaitu perobahan ukuran fisik dan struktur tubuh, dan proses kembang (perkembangan) yaitu perobahan fungsi dan pematangan organ, psikomotor, dan perilaku anak dari tahap intra uterine hingga dewasa. Oleh karena itu yang dimaksud penyimpangan tumbuh kembangpun perlu ditelaah masalahnya dari proses yang berlangsung sejak intra uterine hingga dewasa pula. Dalam praktek pelayanan kesehatan anak, masalah penyimpangan tumbuh kembang secara praktis dapat dibagi 2 yaitu : 1. Penyimpangan pertumbuhan dengan menggunakan tolok ukur pertumbuhan.: Ukuran tubuh (anthropometri) dan bentuk morfologi yang menyimpang dari normal. 2. Penyimpangan perkembangan dengan menggunakan tolok ukur perkembangan a). Motorik kasar b). Motorik halus c). Kepribadian sosial d). Bahasa Telah diketahui bersama bahwa pada kurva distribusi normal dari Gauss terdapat kelompok mayoritas dalam batas normal, kemudian terdapat kelompok yang menyimpang lambat atau cepat (gambar1). Begitu pula perkembangan yang dibandingkan dengan milestones baku (standard). PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG 3 ANAK

4 Continuing Education XXXVI Keterangan : s.d. standart deviasi atau S.D. Standart Deviasi Dengan tolok ukur yang ada misalnya dengan menggunakan instrumen Denver II dapat dinilai penyimpangan yang terdapat pada sekelompok anak dalam proses tumbuh kembangnya (pada lampiran). Walaupun pada hakekatnya proses pertumbuhan dan perkembangan anak itu berlangsung secara simultan (bersama-sama dan bertahap), akan tetapi dalam sistematika prosedur menetapkan penilaian menuju diagnosis perlu difokuskan pada pertumbuhan dahulu kemudian pada perkembangannya juga. Masalah penyimpangan tumbuh kembang anak yang terjadi dimasyarakat memang sangatlah bervariasi, sebagai ilustrasi dapat dikaji sepuluh macam kasus yang terbanyak ditemukan pada penderita baru rawat jalan klinik Tumbuh Kembang RS Dr.Soetomo tahun 2005 (tabel 1).4 Tabel 1. Urutan 10 macam kasus terbanyak penderita rawat jalan baru klinik tumbuh kembang anak dan remaja, Unit Rawat jalan RSU Dr.Soetomo 2005 No Diagnosis Jumlah kasus 1. Developmental delay Speech delay Motoric delay Down Syndrome Cerebral palsy Microcephaly Autism / ADHD Epilepsy Hydrocephalus Mental Retardation 12 Dikutip dari Irmawati M, Listyandarini H. Jumlah penderita baru rawat jalan Klinik Tumbuh Kembang Anak RSU Dr.Soetomo Surabaya tahun ( belum dipublikasi ). PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG4 ANAK

5 Data yang dipakai dalam referensi perencanaan Program Nasional Bagi Anak Indonesia 2015 menggambarkan besarnya masalah dalam prevalensi kelainan struktur organ dan disabilitas fungsi tubuh dapat dilihat pada tabel 2 dan 3. 5 Tabel 2.Prevalensi Disabilitas Fungsi Tubuh pada Anak (dalam persen) Jenis Disabilitas Fungsi Kelompok Umur Tubuh < 1 tahun 1 4 tahun 5 14 tahun Mental 1,0 3,0 2,4 Sensorik dan nyeri 1,0 1,3 1,8 Bicara dan suara - 3,0 0,6 Kardiovaskuler,hematologi, 16,7 11,6 5,7 imunologi dan pencernaan Pencernaan, metabolisme 15,2 19,6 18,1 dan endokrin Urogenital dan reproduksi - 0,1 0,4 Neuromuskuloskeletal dan pergerakan - 0,3 0,1 Sumber : PNBAI 2015 th (Survai Kesehatan Nasional 2001) Tabel 3.Prevalensi Kelainan Struktur Organ pada Anak Jenis Kelainan Struktur Kelompok Umur Organ < 1 tahun 1 4 tahun 5 14 tahun Sistim Syaraf - - 0,1 Mata dan telinga 1,0 1,5 1,4 Pembentukan suara 1,5 0,5 0,7 Kardiovaskuler, imunologi, - 0,1 0,3 dan sistem pernafasan Pencernaan, metabolisme dan - 0,3 0,5 endokrin Sistem Urogenital - 0,1 0,2 Kulit, kuku dan rambut 0,5 1,0 0,8 Sumber : PNBAI 2015, tahun Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kes.RI. (2002) Survei Kesehatan Nasional Laporan SKRT 2001 : Studi Morbiditas dan Disabilitas Sedangkan data lain yang dapat dipakai untuk menggambarkan masalah penyimpangan Tumbuh Kembang adalah murid-murid yang bersekolah di Sekolah Luar Biasa(SLB). Dari 875 Sekolah Luar Biasa di Indonesia terdapat 52 sekolah khusus tuna netra, 106 sekolah khusus untuk tuna rungu, 15 sekolah khusus tuna grahita, 12 untuk tuna laras, 5 untuk bagi tuna ganda, dan 517 untuk melayani anak dengan berbagai kekurangan. Pada tabel 4 menunjukkan gambaran jumlah siswa SLB (Depdiknas.2001) PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG 5 ANAK

6 Tabel 4. Jumlah Sekolah dan siswa Sekolah Luar Biasa Negeri Swasta Jumlah SEKOLAH SLB SD LB Sekolah Terpadu SISWA SLB SD LB Sekolah Terpadu Sumber : PNBAI 2015,Th. 2004, Statistik Pendidikan Luar Biasa Tahun 2001, Depdiknas. Penyimpangan Pertumbuhan anak 1,6,7,8,9 Penyimpangan pertumbuhan anak dapat diketahui dengan cara pemantauan dan pemeriksaan seksama sejak kehamilan misalnya dengan memperhatikan kenaikan berat badan ibu setiap bulan dan USG untuk kemungkinan kelainan organik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai tanda adanya penyimpangan pertumbuhan, perlu dideteksi secara teliti. a. Bentuk tubuh, ukuran, simetris atau tidak : kepala (fontanella, pembengkakan ), muka (posisi mata,bentuk palpebra, pupil, lensa, telinga, bentuk mandibula, maxilla, hidung dan bibir), dada/thorax, jarak puting susu, umbilicus, otot perut, vertebra scoliosis/kyphosis, spina dan posisi serta adanya anus. Pada remaja; bentuk dan ukuran genitalia,payu dara, rambut pubis dan axilla. b. Anthropometri : Ukuran tinggi/panjang badan, berat badan, lingkaran kepala,lingkaran lengan, lingkaran dada, panjang lengan/tungkai. Data-data pengukuran yang dilakukan dengan tepat dan benar diplot dan dibandingkan dengan standard yang sudah disepakati untuk negara bersangkutan atau oleh WHO untuk digunakan. c. Gagal tumbuh (Failure to thrive) Terminologi ini sekarang disebut juga sebagai Growth Deficiency didefinisikan sebagai melambatnya kecepatan tumbuh yang mengakibatkan garis pertumbuhan memotong 2 garis persentil pertumbuhan dibawahnya pada kurva pertumbuhan anak (gambar 3). PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG 6 ANAK

7 FTT FTT : Failure to Thrive Gagal tumbuh bukanlah suatu penyakit akan tetapi suatu tanda dari keadaan galur (pathway) umum dari banyak masalah medik, psikososial dan lingkungan yang mengakibatkan pertumbuhan yang terhambat pada anak. Walaupun konsep awal gagal tumbuh diklasifikasikan sebagai organik dan non organik, akan tetapi sekarang telah difahami bahwa gagal tumbuh merupakan interaksi antara lingkungan dengan kesehatan anak, perkembangan dan perilaku. Evaluasi pada anak dengan pertumbuhan yang lambat atau tidak tumbuh sama sekali, merupakan tantangan bagi kemampuan dokter anak untuk secara simultan mengevaluasi informasi biomedik dan psikososial yang didapatkan melalui anamnesa dan pemeriksaan fisik. Masalah yang penting adalah pada tahap penegakkan diagnosis, karena kondisi anak bisa saja dalam penyakit yang gawat atau dalam keadaan kegawatan lingkungan psikososial. Akan tetapi kebanyakan kasus gagal tumbuh disebabkan oleh gizi yang tidak adekuat dikarenakan faktor biologi dan lingkungan yang tidak saling menunjang sehingga menyulitkan tercapainya status gizi yang baik. Dalam buku Lange Current Pediatric Diagnosis& Treatment (2005) tercantum 3 pola Growth deficiency sebagai berikut: Tipe I. Berat badan lebih tertekan daripada tinggi badan, lingkaran kepala tidak terganggu pertumbuhannya. - Umumnya karena masukan kalori tidak cukup, pengeluaran kalori yang berlebihan, masukan kalori yang berlebihan, atau ketidak mampuan PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG 7 ANAK

8 tubuh perifer menggunakan kalori. Kebanyakan kasus merupakan akibat dari kegagalan pada penyampaian (delivery) kejaringan yang dituju. - Kemungkinan disebabkan oleh faktor-faktor kemiskinan, kesenjangan hubungan pengasuh dan anak, pola makan yang abnormal atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Tipe II. Ditandai oleh tubuh kecil yang proporsional, lingkaran kepala dalam batas normal. - Berkaitan dengan faktor genetik pada perawakan pendek,endokrinopati, pertumbuhan lambat konstitusional, penyakit jantung atau ginjal, displasia tulang. Tipe III.Ditandai oleh ketiga parameter (tinggi, berat dan lingkaran kepala)dibawah normal - Tipe ini berkaitan dengan Susunan Syaraf Pusat yang abnormal, defek pada khromosom, dan gangguan perinatal. Penyimpangan perkembangan anak 10,11,12 Penilaian perkembangan anak meliputi identifikasi dini masalah-masalah perkembangan anak dengan screening (skrining/penapisan/penjaringan) dan surveillance ukuran standard atau non standard, yang juga digabungkan dengan informasi tentang perkembangan sosial, riwayat keluarga, riwayat medik dan hasil pemeriksaan mediknya 10. Penyimpangan perkembangan biasanya dibahas bersama-sama dengan penyimpangan perilaku dalam bab yang sama, dengan kelainan yang sangat luas variasinya. Tolok ukur perkembangan meliputi motorik kasar, halus, berbahasa, perilaku sosial dipakai dalam skrining pada Denver Developmental Screening Test (DDST) dan Denver II misalnya. Sedangkan untuk IQ(Intelligence Qotient, SQ (Social Qotient),EQ (Emotional Qotient) yang dilakukan oleh para psikolog diperlukan untuk menetapkan batas-batas kemampuan kurang, normal, atau berbakat (pada gifted children), pada test pemilihan sekolah/pendidikan yang tepat (placement test). atau semacam fit and proper test pada orang dewasa. Dikatakan terdapat penyimpangan perkembangan apabila kemampuan anak tidak sesuai dengan tolok ukur (milestones) anak normal. Dalam survai diperoleh dari informasi kepedulian orang tua terhadap perkembangan dan perilaku anaknya. Kategori kepedulian orang tua dalam deteksi penyimpangan perkembangan anak : 1. Emosi dan perilaku 2. Berbicara dan berbahasa 3. Ketrampilan sosial dan menolong diri sendiri 4. Motorik kasar 5. Motorik halus 6. Membandingkan dengan lingkungan 7. Masalah anak yang orang tuanya tidak mengeluh PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG 8 ANAK

9 Tatalaksana Penyimpangan Tumbuh kembang 1).Anamnesa Keluhan orang tua dan riwayat tumbuh kembang (lisan dan tertulis/ kuesioner skrining perkembangan anak) 2).Pemeriksaan Observasi dan pemeriksaan (bentuk muka, tubuh, tindak tanduk anak, hubungan anak dengan orang tuanya/pengasuhnya, sikap anak terhadap pemeriksa). Pengukuran anthropometri : Rutin :Tinggi badan, berat badan, lingkaran kepala, lingkaran lengan. Atas indikasi : Lingkaran dada, panjang lengan (armspan), panjang tungkai, tebal kulit (skinfold). 3).Penilaian pertumbuhan Plot pada kurva pertumbuhan yang sesuai dengan standard yang dipakai: 1. PB /U, PB/BB,BB/U NCHS/CDC BB/U KMS WHO 3. Lingkaran kepala Nellhaus 4. Lingkaran lengan (Depkes RI) 5. Lingkaran dada, panjang lengan/tungkai :buku referens Untuk anak normal ataukah untuk keadaan khusus (Sindroma Down atau Achondroplasia), Kartu Menuju Sehat/Buku KIA. 4). Penilaian maturitas Pertumbuhan pubertas (Tanner) : Anak perempuan (payu dara, haid, rambut pubis) Anak laki-laki ( testis, penis, rambut pubis) Umur tulang (bone age). 5). Penilaian perkembangan : Skrining dengan instrumen Denver II, Munchen, Bayley, Stanford Binnet atau lainnya. Pilihlah test yang paling dikuasai oleh pemeriksa. 6). Pemeriksaan lain yang diperlukan atas indikasi : Radiologi :Umur Tulang ( Bone Age), Foto tengkorak, CT scan/mri. Laboratorium : Darah(umum atau hormonal), urine tergantung penyakit atau kelainan organik yang mendasari. Fungsi Pendengaran (TDD) Fungsi Penglihatan(TDL), Funduskopi,Lapang pandang Pemeriksaan otot (EMG). PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG 9 ANAK

10 7). Klasifikasi / Diagnosis Kerja : Setelah dilakukan skrining kemudian perlu ditetapkan apakah anak termasuk kategori Normal atau menyimpang ( terlambat atau terlalu cepat dibandingkan dengan standard/milestones) 8). Rujukan : Menetapkan indikasi rujukan.: Kemana? Persiapan apa saja? Apabila penderita tidak bisa dikirim? Penggunaan telemedicine? Perlu dipersiapkan pada intervensi/tindakan invasif: Information for consent dan disusul dengan informed consent? Contoh kasus : I. Gagal Tumbuh (Failure to Thrive) 7,8,9 A. Evaluasi awal : Anamnes dan pemeriksaan fisik untuk identifikasi penyebabnya Fokus pada kelainan tubuh yang sering menyebabkan termasuk kekerasan dan penelantaran anak. Riwayat kelahiran : Hasil skrining neonatus, IUGR, anoxia, infeksi Kongenital. Makanan dan gizi : Kesukaran menelan, mengunyah, menelan. Pola makan (ASI, formula, PASI, makanan padat) Buang air besar & kencing : Diare, konstipasi, muntah, kesukaran kencing. Pola Pertumbuhan : Gunakan kurva pertumbuhan KMS / NCHS Infeksi berulang, Masuk Rumah Sakit, faktor resiko HIV. Riwayat perkembangan Faktor sosial dan keluarga : komposisi keluarga, status ekonomi, dukungan, stres, penyakit keturunan, berat badan dan tinggi badan keluarga lainnya. B. Evaluasi Lanjut: - Catatan diet ( kalori, protein,mikronutrien,dan pola makan) selama 3 hari secara prospektif. - Pemeriksaan laboratorium atas indikasi : pemeriksaan feces untuk Malabsorpsi pada diare (clini test untuk karbohidrat, floating test untuk lemak), proteinuria pada sindroma nefrotik - Muntah-muntah yang menjurus pada penyebab : gastrointestinal, metabolik, neurologik, infeksi dan ginjal. - Waktu untuk evaluasi tergantung berat ringannya gejala dan tingkatan gagal tumbuh. C. Pengobatan : - Sasaran pengobatan adalah diet dan pola makan anak, perkembangan anak, ketrampilan pengasuhnya, dan penyakit organik yang ditemukan. - Diet dengan kalori tinggi 150% dari kebutuhan kalori/bb ideal/hari PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG 10 ANAK

11 - Pemantauan secara ketat selama 1-2 minggu pertama, dan memperhatikan kenaikan berat badan yang dicapai. - Diperlukan pendampingan ahli gizi, kerja sama dengan tenaga lulusan Akademi Gizi bisa berperan membantu keberhasilan pengobatan - Stimulasi perkembangan anak harus diajarkan pada orang tua yang kurang memahami cara-caranya. Dukungan moril untuk pengasuh agar konsisten dalam mengasuh anak dengan gagal tumbuh membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Perbaikan nutrisi terlambat dapat mempengaruhi jangka panjang kondisi anak. - Untuk menjamin perbaikan holistik mungkin dapat diupayakan suatu tempat penitipan anak sementara (day care) II. Terlambat Bicara (Speech Delay) 11,12 A. Evaluasi awal : Anamnesa dan pemeriksaan fisik untuk identifikasi penyebabnya,catatan hasil skrining neonatus sampai usia 3 bulan untuk kecurigaan adanya gangguan pendengaran, kejadian frekuensi sakit telinga/mengeluarkan cairan atau trauma karena kekerasan - Penggunaan alat skrining awal kemampuan berbahasa. - Test Daya Dengar., dengan ELMS (Early Language Milestone Scale) B. Evaluasi lanjut : - Pemeriksaan audiologi oleh konsultan ahli THT yang berpengalaman. - Pemeriksaan yang berkaitan dengan kelainan pada syaraf : EEG atau CT Scan /MRI atas indikasi apabila terdapat riwayat kejang, asfiksia, dan infeksi pada SSP. - Pemeriksaan adanya kelainan perilaku anak (Autism /ADHD) - Identifikasi dan rujukan C. Diagnosis Menetapkan klasifikasi penyimpangan berbahasa/bicara : Ekspresif, Reseptif dan Kesukaran bicara: biasanya merupakan efek jangka pendek dan jangka panjang OM(otitis media) pada usia sampai 2 tahun. D. Intervensi/ Pengobatan 1). Konservatif 2). Aktif terhadap keadaan yang akut, bila keadaan tenang dianjurkan ke Rumah Sakit yang pelayanan sudah lengkap dengan speech therapy (terapi wicara) 3).Pada Autism / ADHD perlu secara multidisiplin dengan Pskolog dan Psikiater dan Rehabilitasi Medik, serta peningkatan interaksi anak dengan orang tuanya. 4). Konseling apabila diperlukan Alat Bantu Dengar. PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG 11 ANAK

12 Kesimpulan Penyimpangan Tumbuh kembang anak dapat terjadi dalam kurun waktu proses pertumbuhan dan perkembangan berlangsung sejak intra uteriine hingga dewasa. Faktor-faktor yang berpengaruh adalah faktor genetik, dan lebih banyak dipengaruhi oleh Faktor lingkungan dan peyakit-penyakit yang dialami anak. Deteksi dini dan intervensi yang tepat guna, dapat mengoptimalkan kualitas Tumbuh Kembang anak selanjutnya. Gagal tumbuh dan pengobatannya memerlukan pendekatan multidisipliner. Keterlambatan berbahasa merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian lebih banyak karena kasusnya kompleks dan dampak pada masalah komunikasi perlu dicegah. Daftar Pustaka 1. Narendra M.B. Deteksi Dini dan Tindak Lanjut Penyimpangan Tumbuh Kembang Anak. Disampaikan pada Simposium Deteksi Dini Tumbuh kembang Anak Nasional. Bandung, Narendra M.B. Deteksi Dini Penyimpangan Tumbuh kembang Anak. Disampaikan Pelatihan Stimulasi dan deteksi dini Tumbuh kembang Balita. Surabaya, Brayden R.M., Daley M.F., Brown J.M. Ambulatory & Community Pediatrics. In: Hay W.M, Levin M.J, Sondheimer J.M, Deterding R.R. Eds. Current Pediatric Diagnosis & Treatment.17 th ed. New York, The McGraw-Hill Co.; 2005: Irmawati M, Listyandarini H. Jumlah penderita baru rawat jalan Klinik Tumbuh Kembang Anak RSU Dr.Soetomo Surabaya tahun ( belum dipublikasi ). 5. Kelompok Kerja Penyusunan PNBAI Buku II Naskah Akademis. Dalam: Kelompok Kerja Penyusunan PNBAI Program Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI}. Jakarta, Bappenas; 2004: Goldson E, Reynolds A. Child Development & Behavior. Dalam: Hay W.M, Levin M.J, Sondheimer J.M, Deterding R.R. Ed. Current Pediatric Diagnosis & Treatment. Edisi ke-17. New York, The McGraw-Hill Companies, Inc; 2005: Frank D. Failure to Thrive. Dalam: Parker S, Zuckerman B. Ed. Behavioral and Developmental Pediatrics. Boston, Little, Brown and Company; 1995: Glascoe FP. Developmental Screening. Dalam: Behavioral and Developmental Pediatrics. Boston, Little, Brown and Company; 1995: Gahagan S. Failure to Thrive : A consequence of Undernutrition. Pediatr in Review; 2006(27): Needlman RD. Developmental Assessment. Dalam: Behrman, Kliegman, Jenson Ed. Nelson s Textbook of Pediatrics. Edisi ke-17. Philadelphia, Saunders co; 2004: PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG 12 ANAK

13 11. Chase C. Hearing Loss and Development: A Neuropsychologic Perspective. Dalam: Eavey RD, Klein JO. Ed. Hearing Loss in Childhood: A Primer. Ross Conference on Pediatric Research ke102. Ohio, Ross lab; 1992: Sukmawardani M, Wiyarni, Rufiati R, Kamil SA, Narendra M.B. Characteristic of Children with Speech delay in Dr.Soetomo Hospital Surabaya (Masih dalam proses publikasi). PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG 13 ANAK

14 Continuing Education XXXVI 14ANAK PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG

15 PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG 15 ANAK

Masalah perkembangan pada anak. Keluhan Utama pada Keterlambatan Perkembangan Umum di Klinik Khusus Tumbuh Kembang RSAB Harapan Kita

Masalah perkembangan pada anak. Keluhan Utama pada Keterlambatan Perkembangan Umum di Klinik Khusus Tumbuh Kembang RSAB Harapan Kita Artikel Asli Keluhan Utama pada Keterlambatan Perkembangan Umum di Klinik Khusus Tumbuh Kembang RSAB Harapan Kita Anna Tjandrajani,* Attila Dewanti,* Amril A. Burhany,* Joanne Angelica Widjaja** *Kelompok

Lebih terperinci

TUMBUH KEMBANG ANAK. Nur Faizah,dr

TUMBUH KEMBANG ANAK. Nur Faizah,dr TUMBUH KEMBANG ANAK Nur Faizah,dr DEFINISI Menurut Ilmu Kesehatan Anak : Tumbuh kembang adalah semua aspek kemajuan yang dicapai manusia sejak konsepsi hingga dewasa Pertumbuhan: Aspek fisik karena perbanyakan

Lebih terperinci

GAMBARAN TUMBUH KEMBANG DAN STATUS GIZI BALITA BAWAH GARIS MERAH. Hana Ariyani 1, Acep Solihat 2. Abstrak

GAMBARAN TUMBUH KEMBANG DAN STATUS GIZI BALITA BAWAH GARIS MERAH. Hana Ariyani 1, Acep Solihat 2. Abstrak GAMBARAN TUMBUH KEMBANG DAN STATUS GIZI BALITA BAWAH GARIS MERAH Hana Ariyani 1, Acep Solihat 2 Abstrak Aspek tumbuh kembang balita merupakan aspek yang menjelaskan mengenai proses pembentukan seseorang

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya

BAB 4 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya Perinatologi dan Neurologi. 4.. Waktu dan tempat penelitian Penelitian ini

Lebih terperinci

MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA - 1 -

MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA - 1 - LAMPIRAN I PERATURAN MENTER! KEUANGAN NOMOR 34 IPMK. 05 I 2014 TENTANG TARIF LAYANAN BADAN LAYANAN UMUM RUMAH SAKIT UMUM PUSAT NASIONAL Dr.CJP'fO MANGUNKUSUMO JAKARTA PADA KEMENTERIAN KESEHATAN MENTERIKEUANGAN

Lebih terperinci

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT)

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) LAMPIRAN 1 50 LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) Yang bertanda tangan dibawah ini: N a m a : U s i a : Alamat : Pekerjaan : No. KTP/lainnya: Dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan lahir

BAB I PENDAHULUAN. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan lahir BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram. Pertumbuhan dan pematangan (maturasi) organ dan alatalat tubuh

Lebih terperinci

CARA YANG TEPAT DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA

CARA YANG TEPAT DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA CARA YANG TEPAT DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA Oleh : Debby dan Arief Dalam tubuh terdapat berjuta-juta sel. Salah satunya, sel abnormal atau sel metaplasia, yaitu sel yang berubah, tetapi masih dalam batas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keadaan gizi kurang dapat ditemukan pada setiap kelompok masyarakat. Pada hakekatnya keadaan gizi kurang dapat dilihat sebagai suatu proses kurang asupan makanan ketika

Lebih terperinci

MANFAAT ASI BAGI BAYI

MANFAAT ASI BAGI BAYI HO4.2 MANFAAT ASI BAGI BAYI ASI: Menyelamatkan kehidupan bayi. Makanan terlengkap untuk bayi, terdiri dari proporsi yang seimbang dan cukup kuantitas semua zat gizi yang diperlukan untuk kehidupan 6 bulan

Lebih terperinci

PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM UPAYA PELAYANAN KESEHATAN JIWA PARIPURNA

PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM UPAYA PELAYANAN KESEHATAN JIWA PARIPURNA PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM UPAYA PELAYANAN KESEHATAN JIWA PARIPURNA Dr. Suryo Dharmono SpKJ Divisi Psikiatri Komunitas Departemen Psikiatri FKUI/RSCM UPAYA PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI INDONESIA Dikenal

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny I GII P I00I INPARTU DENGAN GEMELLI

ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny I GII P I00I INPARTU DENGAN GEMELLI ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny I GII P I00I INPARTU DENGAN GEMELLI Kustini Dosen Program Studi Diploma III Kebidanan Universitas Islam Lamongan ABSTRAK Persalinan gemelli merupakan salah satu penyebab kematian

Lebih terperinci

TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) / PPG ( Pusat Pemulihan Gizi )

TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) / PPG ( Pusat Pemulihan Gizi ) TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) / PPG ( Pusat Pemulihan Gizi ) Balita yang sehat dan cerdas adalah idaman bagi setiap orang. Namun apa yang terjadi jika balita menderita gizi buruk?. Di samping dampak

Lebih terperinci

Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Balita

Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Balita Sari Topik Pediatri, Khusus Vol. 3, No. 3, Desember 2001 Sari Pediatri, Vol. 3, No. 3, Desember 2001: 175-188 Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Balita Soedjatmiko Deteksi dini gangguan tumbuh kembang

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 15 Tahun : 2010 Seri : E PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 23 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

Lebih terperinci

Jakarta, Maret 2013 Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, DR. Sudibyo Alimoeso, MA

Jakarta, Maret 2013 Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, DR. Sudibyo Alimoeso, MA 1 SAMBUTAN Hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan SDM seutuhnya dimana untuk mewujudkan manusia Indonesia yang berkualitas harus dimulai sejak usia dini. Berbagai studi menunjukkan bahwa periode

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

KEGIATAN DALAM RANGKA HARI KANKER SEDUNIA 2013 DI JAWA TIMUR

KEGIATAN DALAM RANGKA HARI KANKER SEDUNIA 2013 DI JAWA TIMUR KEGIATAN DALAM RANGKA HARI KANKER SEDUNIA 2013 DI JAWA TIMUR PENDAHULUAN Kanker merupakan salah satu penyakit yang telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia. Setiap tahun,

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK IBU BALITA KAITANNYA DENGAN PELAKSANAAN STIMULASI, DETEKSI DAN INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK BALITA

KARAKTERISTIK IBU BALITA KAITANNYA DENGAN PELAKSANAAN STIMULASI, DETEKSI DAN INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK BALITA KARAKTERISTIK IBU BALITA KAITANNYA DENGAN PELAKSANAAN STIMULASI, DETEKSI DAN INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK BALITA Siti Rahayu, Ilham Setyo Budi, Satino Kementerian Kesehatan Politeknik Kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Faktor penentu kualitas tumbuh kembang anak adalah faktor genetik yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. Faktor penentu kualitas tumbuh kembang anak adalah faktor genetik yang sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tumbuh kembang yang normal pada seorang individu sangat dipengaruhi oleh interaksi yang kompleks antara pengaruh hormonal, respons jaringan dan gizi. Tingkat

Lebih terperinci

Tak perlu khawatir dan jangan dipaksakan,karena nanti ia trauma.

Tak perlu khawatir dan jangan dipaksakan,karena nanti ia trauma. Tak perlu khawatir dan jangan dipaksakan,karena nanti ia trauma. Mungkin ibu-ibu pernah mengalami kesulitan dalam memberikan makanan pada si bayi. Ia mengeluarkan makanan yang diberikan kepadanya alias

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang

BAB I PENDAHULUAN. yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehamilan merupakan proses reproduksi yang normal, tetapi perlu perawatan diri yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang normal

Lebih terperinci

Jika ciprofloxacin tidak sesuai, Anda akan harus minum antibiotik lain untuk menghapuskan kuman meningokokus.

Jika ciprofloxacin tidak sesuai, Anda akan harus minum antibiotik lain untuk menghapuskan kuman meningokokus. CIPROFLOXACIN: suatu antibiotik bagi kontak dari penderita infeksi meningokokus Ciprofloxacin merupakan suatu antibiotik yang adakalanya diberikan kepada orang yang berada dalam kontak dekat dengan seseorang

Lebih terperinci

Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA)

Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) Penyakit flu umumnya dapat sembuh dengan sendirinya jika kita cukup istirahat, makan teratur, dan banyak mengkonsumsi sayur serta buah-buahan. Namun demikian,

Lebih terperinci

PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS

PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS Agung Nugroho Divisi Peny. Tropik & Infeksi Bag. Peny. Dalam FK-UNSRAT Manado PENDAHULUAN Jumlah pasien HIV/AIDS di Sulut semakin meningkat. Sebagian besar pasien diberobat

Lebih terperinci

TAHAP PERKEMBANGAN ANAK USIA 12-17 TAHUN

TAHAP PERKEMBANGAN ANAK USIA 12-17 TAHUN TAHAP PERKEMBANGAN ANAK USIA 12-17 TAHUN LATAR BELAKANG Lerner dan Hultsch (1983) menyatakan bahwa istilah perkembangan sering diperdebatkan dalam sains. Walaupun demikian, terdapat konsensus bahwa yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya jumlah anak autis baik di dunia maupun di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya jumlah anak autis baik di dunia maupun di Indonesia BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Meningkatnya jumlah anak autis baik di dunia maupun di Indonesia memerlukan perhatian yang serius dalam penanganannya. Autis dapat sembuh bila dilakukan intervensi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Keluhan low back pain (LBP) dapat terjadi pada setiap orang, dalam kehidupan

I. PENDAHULUAN. Keluhan low back pain (LBP) dapat terjadi pada setiap orang, dalam kehidupan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Keluhan low back pain (LBP) dapat terjadi pada setiap orang, dalam kehidupan sehari-hari keluhan LBP dapat menyerang semua orang, baik jenis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. wanita. Pada proses ini terjadi serangkaian perubahan besar yang terjadi

BAB I PENDAHULUAN. wanita. Pada proses ini terjadi serangkaian perubahan besar yang terjadi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persalinan merupakan suatu proses fisiologis yang dialami oleh wanita. Pada proses ini terjadi serangkaian perubahan besar yang terjadi pada ibu untuk dapat melahirkan

Lebih terperinci

SAKIT PERUT PADA ANAK

SAKIT PERUT PADA ANAK SAKIT PERUT PADA ANAK Oleh dr Ruankha Bilommi Spesialis Bedah Anak Lebih dari 1/3 anak mengeluh sakit perut dan ini menyebabkan orang tua membawa ke dokter. Sakit perut pada anak bisa bersifat akut dan

Lebih terperinci

BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN

BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN YANG BERKUALITAS Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 97 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 97 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 97 TAHUN 2014 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN MASA SEBELUM HAMIL, MASA HAMIL, PERSALINAN, DAN MASA SESUDAH MELAHIRKAN, PENYELENGGARAAN PELAYANAN KONTRASEPSI,

Lebih terperinci

PANDUAN MEDIK BLOK KEHAMILAN DAN MASALAH REPRODUKSI 3.1 PARTOGRAF. Tujuan Belajar : Mahasiswa mampu melakukan pengisian partograf

PANDUAN MEDIK BLOK KEHAMILAN DAN MASALAH REPRODUKSI 3.1 PARTOGRAF. Tujuan Belajar : Mahasiswa mampu melakukan pengisian partograf PANDUAN MEDIK BLOK KEHAMILAN DAN MASALAH REPRODUKSI 3.1 PARTOGRAF Tujuan Belajar : Mahasiswa mampu melakukan pengisian partograf Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama fase aktif persalinan.

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PELAYANAN GIZI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PELAYANAN GIZI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PELAYANAN GIZI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PROBLEM BASED LEARNING MODUL 1 GANGGUAN TUMBUH KEMBANG & MALNUTRISI ENERGI PROTEIN

PROBLEM BASED LEARNING MODUL 1 GANGGUAN TUMBUH KEMBANG & MALNUTRISI ENERGI PROTEIN SISTEM / BLOK TUMBUH KEMBANG & GERIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN PROBLEM BASED LEARNING MODUL 1 GANGGUAN TUMBUH KEMBANG & MALNUTRISI ENERGI PROTEIN Penulis : dr. Martira Maddeppungeng,

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI I. UMUM Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang

Lebih terperinci

PERSALINAN KALA I. 1. kala 1 persalinan

PERSALINAN KALA I. 1. kala 1 persalinan PERSALINAN KALA I Persalinan normal yaitu proses pengeluaran buah kehamilan cukup bulan yang mencakup pengeluaran bayi, plasenta dan selaput ketuban, dengan presentasi kepala (posisi belakang kepala),

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN JIWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN JIWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN JIWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara menjamin setiap orang hidup

Lebih terperinci

Formulir Pernyataan Kesehatan

Formulir Pernyataan Kesehatan Formulir Pernyataan Kesehatan Saya yang bertanda-tangan di bawah ini: PEMEGANG POLIS NAMA TERTANGGUNG NOMOR POLIS Beri tanda silang (X) pada bagian sebelah kanan, bila jawaban "YA" harap berikan keterangan

Lebih terperinci

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID ABSTRAK PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID Ekowati Retnaningsih dan Rini Oktariza Angka kejadian berat badan lebih pada anak usia sekolah di Indonesia mencapai 15,9%. Prevalensi

Lebih terperinci

BESAR SAMPEL. Saptawati Bardosono

BESAR SAMPEL. Saptawati Bardosono BESAR SAMPEL Saptawati Bardosono Mengapa perlu menentukan besar sampel? Tujuan utama penelitian: Estimasi nilai tertentu pada populasi (rerata, total, rasio), misal: Mengetahui proporsi penyakit ISPA pada

Lebih terperinci

Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN

Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN panduan praktis Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN 07 02 panduan praktis Program Rujuk Balik Kata Pengantar Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)

Lebih terperinci

ABSTRAK. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insidensi Nyeri Pungggung Bawah. Januari-Desember 2009

ABSTRAK. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insidensi Nyeri Pungggung Bawah. Januari-Desember 2009 ABSTRAK Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insidensi Nyeri Pungggung Bawah (Low Back Pain) pada Pasien Rumah Sakit Immanuel Bandung Periode Januari-Desember 2009 Santi Mariana Purnama, 2010, Pembimbing I

Lebih terperinci

IPAP PTSD Tambahan. Pilihan penatalaksanaan: dengan obat, psikososial atau kedua-duanya.

IPAP PTSD Tambahan. Pilihan penatalaksanaan: dengan obat, psikososial atau kedua-duanya. IPAP PTSD Tambahan Prinsip Umum I. Evaluasi Awal dan berkala A. PTSD merupakan gejala umum dan sering kali tidak terdiagnosis. Bukti adanya prevalensi paparan trauma yang tinggi, (termasuk kekerasan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. orang tua yang sudah memiliki anak. Enuresis telah menjadi salah satu

BAB I PENDAHULUAN. orang tua yang sudah memiliki anak. Enuresis telah menjadi salah satu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Enuresis atau yang lebih kita kenal sehari-hari dengan istilah mengompol, sudah tidak terdengar asing bagi kita khususnya di kalangan orang tua yang sudah memiliki

Lebih terperinci

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan Merck peduli kesehatan saraf

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan Merck peduli kesehatan saraf Siaran Pers Kontak Anda: Niken Suryo Sofyan Telepon +62 21 2856 5600 29 Mei 2012 Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan Merck peduli kesehatan saraf Neuropati mengancam 1 dari 4 orang

Lebih terperinci

HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA RENTAL KOMPUTER DI PABELAN KARTASURA

HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA RENTAL KOMPUTER DI PABELAN KARTASURA HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA RENTAL KOMPUTER DI PABELAN KARTASURA SKRIPSI DISUSUN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN DALAM MENDAPATKAN GELAR SARJANA SAINS

Lebih terperinci

LAPORAN OBSERVASI LAPANGAN PERKEMBANGAN DAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

LAPORAN OBSERVASI LAPANGAN PERKEMBANGAN DAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS LAPORAN OBSERVASI LAPANGAN PERKEMBANGAN DAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (Suatu Observasi Lapangan di SDLB Desa Labui, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh) Oleh: Qathrinnida, S.Pd Suatu

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2012 TENTANG PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2012 TENTANG PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2012 TENTANG PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012 DAFTAR ISI Peraturan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

BUPATI MALANG BUPATI MALANG,

BUPATI MALANG BUPATI MALANG, BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LAWANG BUPATI MALANG, Menimbang : a. bahwa dengan ditetapkannya

Lebih terperinci

RENCANA INDUK PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT ( RIPPM ) STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG TAHUN 2012-2016

RENCANA INDUK PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT ( RIPPM ) STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG TAHUN 2012-2016 - 0 - RENCANA INDUK PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT ( RIPPM ) STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG TAHUN 2012-2016 Disiapkan, Disetujui, Disahkan, Ketua, Sarwono, SKM Eri Purwati, M.Si Giyatmo, S.Kep., Ns.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA STRATEGIS BISNIS DAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SULTAN IMANUDDIN PANGKALAN BUN DENGAN

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan sehat fisik, mental, dan sosial, bukan semata-mata keadaan tanpa penyakit atau kelemahan. Definisi

Lebih terperinci

Mulyadi *, Mudatsir ** *** ABSTRACT

Mulyadi *, Mudatsir ** *** ABSTRACT Hubungan Tingkat Kepositivan Pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) dengan Gambaran Luas Lesi Radiologi Toraks pada Penderita Tuberkulosis Paru yang Dirawat Di SMF Pulmonologi RSUDZA Banda Aceh Mulyadi *,

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA JARAK KELAHIRAN YANG DEKAT DENGAN TINGKAT PERKEMBANGAN ANAK USIA 1-3 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ANDONG BOYOLALI

HUBUNGAN ANTARA JARAK KELAHIRAN YANG DEKAT DENGAN TINGKAT PERKEMBANGAN ANAK USIA 1-3 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ANDONG BOYOLALI 0 HUBUNGAN ANTARA JARAK KELAHIRAN YANG DEKAT DENGAN TINGKAT PERKEMBANGAN ANAK USIA 1-3 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ANDONG BOYOLALI Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Meraih Derajat Sarjana

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. sistem informasi terdiri dari input, proses dan output seperti yang terlihat pada

BAB II LANDASAN TEORI. sistem informasi terdiri dari input, proses dan output seperti yang terlihat pada BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi Sebelum merancang sistem perlu dikaji konsep dan definisi dari sistem. Pengertian sistem tergantung pada latar belakang cara pandang orang yang mencoba mendefinisikannya.

Lebih terperinci

PERATURAN DIREKTUR RSUD TUGUREJO NO NOMOR DOKUMEN NAMA DOKUMEN REV. 00

PERATURAN DIREKTUR RSUD TUGUREJO NO NOMOR DOKUMEN NAMA DOKUMEN REV. 00 DAFTAR INDUK DOKUMEN RSUD TUGUREJO PROVINSI JAWA TENGAH TU & HUMAS PERATURAN DIREKTUR RSUD TUGUREJO NO NOMOR DOKUMEN NAMA DOKUMEN REV. 00 1 No. 1 Tahun 2013 Kebijakan Pelayanan Rumah Sakit RSUD Tugurejo

Lebih terperinci

SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT

SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT A.UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK Salah satu komponen penting dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat adalah pelayanan kesehatan dasar. UU no.3 tahun 2009 tentang

Lebih terperinci

Organ Reproduksi Perempuan. Organ Reproduksi Bagian Dalam. Organ Reproduksi Bagian Luar. 2. Saluran telur (tuba falopi) 3.

Organ Reproduksi Perempuan. Organ Reproduksi Bagian Dalam. Organ Reproduksi Bagian Luar. 2. Saluran telur (tuba falopi) 3. Organ Reproduksi Perempuan Organ Reproduksi Bagian Dalam 2. Saluran telur (tuba falopi) 1. Indung telur (ovarium) 3. Rahim (uterus) 4. Leher Rahim (cervix) 5. Liang Kemaluan (vagina) Organ Reproduksi Bagian

Lebih terperinci

POLA HIDUP SEHAT. Oleh : Rizki Nurmalya Kardina, S.Gz., M.Kes. Page 1

POLA HIDUP SEHAT. Oleh : Rizki Nurmalya Kardina, S.Gz., M.Kes. Page 1 POLA HIDUP SEHAT Oleh : Rizki Nurmalya Kardina, S.Gz., M.Kes Page 1 Usia bertambah Proses Penuaan Penyakit bertambah Zat Gizi Seimbang Mengenali kategori aktivitas NUTRISI AKTIVITAS TUBUH SEHAT Dengan

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI ACEH TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN BUPATI ACEH TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN BUPATI ACEH TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH IDI KABUPATEN ACEH TIMUR ATAS RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA, BUPATI ACEH

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN TENTANG DIABETES MELLITUS ( DM ) YAYASAN PENDIDIKAN SETIH SETIO AKADEMI KEPERAWATAN SETIH SETIO MUARA BUNGO

ASUHAN KEPERAWATAN TENTANG DIABETES MELLITUS ( DM ) YAYASAN PENDIDIKAN SETIH SETIO AKADEMI KEPERAWATAN SETIH SETIO MUARA BUNGO ASUHAN KEPERAWATAN TENTANG DIABETES MELLITUS ( DM ) YAYASAN PENDIDIKAN SETIH SETIO AKADEMI KEPERAWATAN SETIH SETIO MUARA BUNGO Kata Pengantar Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat

Lebih terperinci

KEP.333/MEN/1989 KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP.333/MEN/1989 T E N T A N G

KEP.333/MEN/1989 KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP.333/MEN/1989 T E N T A N G KEP.333/MEN/1989 KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP.333/MEN/1989 T E N T A N G DIAGNOSIS DAN PELAPORAN PENYAKIT AKIBAT KERJA MENTERI TENAGA KERJA Menimbang: a. bahwa terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masalah tumbuh kembang merupkan masalah yang masih perlu

BAB I PENDAHULUAN. Masalah tumbuh kembang merupkan masalah yang masih perlu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah tumbuh kembang merupkan masalah yang masih perlu diperhatikan tidak hanya pada bayi lahir normal melainkan juga pada bayi lahir prematur. Dikarenakan tingkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stres muncul sejalan dengan peristiwa dan perjalanan kehidupan yang dilalui

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stres muncul sejalan dengan peristiwa dan perjalanan kehidupan yang dilalui BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stres muncul sejalan dengan peristiwa dan perjalanan kehidupan yang dilalui oleh individu dan terjadinya tidak dapat dihindari sepenuhnya. Pada umumnya, individu yang

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja. BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN NOMOR: 12 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH

Lebih terperinci

MODUL PUSKESMAS 1. SISTEM INFORMASI PUSKESMAS (SIMPUS)

MODUL PUSKESMAS 1. SISTEM INFORMASI PUSKESMAS (SIMPUS) Modul Puskesmas 1. SIMPUS MODUL PUSKESMAS 1. SISTEM INFORMASI PUSKESMAS (SIMPUS) I. DESKRIPSI SINGKAT Sistem informasi merupakan bagian penting dalam suatu organisasi, termasuk puskesmas. Sistem infomasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN I.1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kehamilan dan persalinan pada primigravida dan atau wanita dengan umur 35 tahun atau lebih, diberi prioritas bersalin di rumah sakit dan diperlakukan pelayanan sama

Lebih terperinci

HUBUNGAN IBU HAMIL PEROKOK PASIF DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RSU MEURAXA BANDA ACEH

HUBUNGAN IBU HAMIL PEROKOK PASIF DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RSU MEURAXA BANDA ACEH HUBUNGAN IBU HAMIL PEROKOK PASIF DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RSU MEURAXA BANDA ACEH NURLAILA RAMADHAN 1 1 Tenaga Pengajar Pada STiKes Ubudiyah Banda Aceh Abtract

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.749, 2013 KEMENTERIAN KESEHATAN. Wajib Lapor. Pecandu Narkotika. Tata Cara. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN

Lebih terperinci

Menggunakan alat-alat tradisional yang tidak steril seperti alat tumpul. Makan nanas dan minum sprite secara berlebihan

Menggunakan alat-alat tradisional yang tidak steril seperti alat tumpul. Makan nanas dan minum sprite secara berlebihan Agar terhindar dari berbagai persoalan karena aborsi, maka remaja harus mampu menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seks. Untuk itu diperlukan kemampuan berpikir kritis mengenai segala kemungkinan

Lebih terperinci

LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG

LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG OUTLINE PENDAHULUAN TENAGA KESEHATAN MENURUT UNDANG-UNDANG TUGAS & WEWENANG PERAWAT PENDELEGASIAN

Lebih terperinci

KEPERAWATAN SELAMA PERSALINAN DAN MELAHIRKAN. ESTI YUNITASARI, S.Kp

KEPERAWATAN SELAMA PERSALINAN DAN MELAHIRKAN. ESTI YUNITASARI, S.Kp ASUHAN KEPERAWATAN SELAMA PERSALINAN DAN MELAHIRKAN. ESTI YUNITASARI, S.Kp TANDA PERSALINAN : KELUAR LENDIR BERCAMPUR DARAH (BLOODY SHOW) TERDAPAT HIS YANG ADEKUAT DAN TERATUR TERDAPAT PEMBUKAAN/DILATASI

Lebih terperinci

APLIKASI BERBASIS WEB UNTUK PEMANTAUAN STATUS GIZI DAN TUMBUH KEMBANG ANAK BERDASARKAN DATA ANTROPOMETRI

APLIKASI BERBASIS WEB UNTUK PEMANTAUAN STATUS GIZI DAN TUMBUH KEMBANG ANAK BERDASARKAN DATA ANTROPOMETRI APLIKASI BERBASIS WEB UNTUK PEMANTAUAN STATUS GIZI DAN TUMBUH KEMBANG ANAK BERDASARKAN DATA ANTROPOMETRI Fajri Hardhita Murti, Drs. Djalal Er Riyanto, M.IKomp, dan Drs. Suhartono, M.Kom Jurusan Matematika,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari tahun ke tahun.sementara target Rencana Pembangunan Jangka Menengah

BAB I PENDAHULUAN. dari tahun ke tahun.sementara target Rencana Pembangunan Jangka Menengah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia menempati urutan tertinggi di ASEAN yaitu 228/100.000 kelahiran

Lebih terperinci

KAJIAN PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL (PMKS)

KAJIAN PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL (PMKS) KAJIAN PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL (PMKS) Bappeda Kabupaten Temanggung bekerjasama dengan Pusat Kajian Kebijakan dan Studi Pembangunan (PK2SP) FISIP UNDIP Tahun 2013 RINGKASAN I. Pendahuluan

Lebih terperinci

Kuning pada Bayi Baru Lahir: Kapan Harus ke Dokter?

Kuning pada Bayi Baru Lahir: Kapan Harus ke Dokter? Kuning pada Bayi Baru Lahir: Kapan Harus ke Dokter? Prof. Dr. H. Guslihan Dasa Tjipta, SpA(K) Divisi Perinatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK USU 1 Kuning/jaundice pada bayi baru lahir atau disebut

Lebih terperinci

RANCANGAN PROGRAM PEMBELAJARAN (RPP)

RANCANGAN PROGRAM PEMBELAJARAN (RPP) RANCANGAN PROGRAM PEMBELAJARAN (RPP) Judul Mata Ajar : Sistem Reproduksi 2 Kode MK : KEP 301 Beban Studi : 3 SKS (T:2 SKS, P: 1 SKS) PJMK : Anita Rahmawati, S.Kep.,Ns Periode : Semester 6 Tahun Ajaran

Lebih terperinci

Peranan Bidan dalam Mendukung Program PMTCT Dra Ropina Tarigan, Am-Keb, MM

Peranan Bidan dalam Mendukung Program PMTCT Dra Ropina Tarigan, Am-Keb, MM Peranan Bidan dalam Mendukung Program PMTCT Dra Ropina Tarigan, Am-Keb, MM Kasus HIV/AIDS di Indonesia & Jakarta Jumlah kumulatif kasus HIV / AIDS di Indonesia Tahun 1987 hingga Maret 2012: 82.870 kasus

Lebih terperinci

Ketetapan resmi terkini ISCD tahun 2013 (pasien anak-anak) Dibawah ini adalah ketetapan resmi ISCD yang telah diperbaruhi tahun 2013

Ketetapan resmi terkini ISCD tahun 2013 (pasien anak-anak) Dibawah ini adalah ketetapan resmi ISCD yang telah diperbaruhi tahun 2013 Ketetapan resmi terkini ISCD tahun 2013 (pasien anak-anak) Dibawah ini adalah ketetapan resmi ISCD yang telah diperbaruhi tahun 2013 Gugus tugas tenatng kemungkinan resiko patah tulang serta definisi osteoporosis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan ekstrauterin. Secara normal, neonatus aterm akan mengalami

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan ekstrauterin. Secara normal, neonatus aterm akan mengalami BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penurunan berat badan neonatus pada hari-hari pertama sering menjadi kekhawatiran tersendiri bagi ibu. Padahal, hal ini merupakan suatu proses penyesuaian fisiologis

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 2009 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 2009 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 2009 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

STIMULASI TUMBUH KEMBANG ANAK UNTUK MENCAPAI TUMBUH KEMBANG YANG OPTIMAL

STIMULASI TUMBUH KEMBANG ANAK UNTUK MENCAPAI TUMBUH KEMBANG YANG OPTIMAL STIMULASI TUMBUH KEMBANG ANAK UNTUK MENCAPAI TUMBUH KEMBANG YANG OPTIMAL Oleh: dr. Nia Kania, SpA., MKes PENDAHULUAN Memiliki anak dengan tumbuh kembang yang optimal adalah dambaan setiap orang tua. 1

Lebih terperinci

LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT

LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT Tulang yang kuat benar-benar tidak terpisahkan dalam keberhasilan Anda sebagai seorang atlet. Struktur kerangka Anda memberikan kekuatan dan kekakuan yang memungkinkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan (kuratif) dan pemulihan

BAB I PENDAHULUAN. upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan (kuratif) dan pemulihan 7 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Rumah sakit merupakan suatu institusi di mana segenap lapisan masyarakat bisa datang untuk memperoleh upaya penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Upaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Persalinan adalah proses alamiah dimana terjadi dilatasi serviks, persalinan

BAB I PENDAHULUAN. Persalinan adalah proses alamiah dimana terjadi dilatasi serviks, persalinan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persalinan adalah proses alamiah dimana terjadi dilatasi serviks, persalinan lahirnya bayi, placenta dan membran dari rahim ibu (Depkes, 2004). Persalinan dan kelahiran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Aktivitas fisik yang teratur mempunyai banyak manfaat kesehatan dan merupakan salah satu bagian penting dari gaya hidup sehat. Karakteristik individu, lingkungan sosial,

Lebih terperinci

Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar. dimensi produksi dan dimensi konsumsi. Dimensi produksi memandang keadaan sehat sebagai

Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar. dimensi produksi dan dimensi konsumsi. Dimensi produksi memandang keadaan sehat sebagai Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar Sehat merupakan kondisi optimal fisik, mental dan sosial seseorang sehingga dapat memiliki produktivitas, bukan hanya terbebas dari bibit penyakit. Kondisi sehat

Lebih terperinci

50 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787

50 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787 50 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787 PERBEDAAN TUMBUH KEMBANG ANAK 1 3 TAHUN DARI YANG DILAHIRKAN DAN NON DIWILAYAH PUSKESMAS MENINTING KABUPATEN LOMBOK BARAT Oleh: Maria Ulfah STIKES Yahya Bima Abstrak:

Lebih terperinci

PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU SEBAGAI BENTUK STUDENT SUPPORT

PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU SEBAGAI BENTUK STUDENT SUPPORT PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU SEBAGAI BENTUK STUDENT SUPPORT Zulharman Staf Pengajar FK Unri Mahasiswa S2 Ilmu Pendidikan Kedokteran FK UGM PENDAHULUAN Para mahasiswa

Lebih terperinci

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DI PUSKSMAS ANTANG KOTA MAKASSAR

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DI PUSKSMAS ANTANG KOTA MAKASSAR GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DI PUSKSMAS ANTANG KOTA MAKASSAR Novendra Charlie Budiman, Muh. Askar, Simunati Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar Dosen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, karena

BAB I PENDAHULUAN. Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, karena BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, karena selain memiliki fungsi sebagai pelayanan, rumah sakit juga menjalankan fungsi pendidikan,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dalam bidang kesehatan. Sampai saat ini Angka Kematian Ibu (AKI) di. Indonesia menempati teratas di Negara-negara ASEAN, yaitu 228 per

I. PENDAHULUAN. dalam bidang kesehatan. Sampai saat ini Angka Kematian Ibu (AKI) di. Indonesia menempati teratas di Negara-negara ASEAN, yaitu 228 per 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Indonesia kematian ibu melahirkan masih merupakan masalah utama dalam bidang kesehatan. Sampai saat ini Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia menempati teratas di

Lebih terperinci

MANAJEMEN KASUS HIV/AIDS. Sebagai Pelayanan Terpadu Bagi Orang dengan HIV/AIDS (Odha)

MANAJEMEN KASUS HIV/AIDS. Sebagai Pelayanan Terpadu Bagi Orang dengan HIV/AIDS (Odha) MANAJEMEN KASUS HIV/AIDS Sebagai Pelayanan Terpadu Bagi Orang dengan HIV/AIDS (Odha) Tujuan Peserta mampu : 1. Menjelaskan dan menerapkan prinsip-prinsip dasar manajemen kasus HIV/AIDS 2. Memahami fungsi/kegiatan

Lebih terperinci

Rekapitulasi Kematian Ibu dan Bayi di Kota YK Tahun 2013. Dinkes Kota YK

Rekapitulasi Kematian Ibu dan Bayi di Kota YK Tahun 2013. Dinkes Kota YK Rekapitulasi Kematian Ibu dan Bayi di Kota YK Tahun 2013 Dinkes Kota YK Jumlah Kematian KELAHIRAN DAN KEMATIAN JAN-DES L P Total 1 Jumlah Bayi Lahir Hidup 2178 2228 4406 2 Jumlah Bayi Lahir Mati 16 15

Lebih terperinci

PETUNJUK TEKNIS BANTUAN SOSIAL (BANSOS) PROGRAM PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT DIREKTORAT BINA GIZI MASYARAKAT

PETUNJUK TEKNIS BANTUAN SOSIAL (BANSOS) PROGRAM PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT DIREKTORAT BINA GIZI MASYARAKAT PETUNJUK TEKNIS BANTUAN SOSIAL (BANSOS) PROGRAM PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT DIREKTORAT BINA GIZI MASYARAKAT DIREKTORAT JENDERAL BINA KESEHATAN MASYARAKAT DEPARTEMEN KESEHATAN R I TAHUN 2008 BAB I PENDAHULUAN

Lebih terperinci