Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen. Tujuan Intruksional Khusus:

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen. Tujuan Intruksional Khusus:"

Transkripsi

1 Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen Tujuan Intruksional Khusus: Setelah mengikuti course content ini mahasiswa dapat menjelaskan kriteria, komponen dan cara panen tanaman semusim dan tahunan A. Panen Tanaman Semusim Berikut ini disampaikan beberapa contoh pengamatan panen untuk tanaman semusim yang digunakan dalam Praktikum Dasar-dasar Agronomi di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor yangmeliputi jagung, kacang tanah, kedelai, dan kacang hijau. Pada saat yang perlu diperhatikan adalah tujuan penggunaan hasil panen yang akan menentukan kriteria panen; selanjutnya adalah cara panen dan komponen produksi atau hasil yang perlu diamati (1) Jagung Jagung dapat dipanen untuk tujuan digunakan sebagai jagung sayur atau jagung rebus dan sebagai jagung pipilan kering. Kriteria panen jagung rebus (Gambar 1): - umur antara hari setelah tanam (9 10 MST) - kelobot masih hijau, tetapi rambut tongkol sudah kering - tongkol sudah terisi penuh dengan biji, - ukuran biji sudah sudah maksimal tetapi biji belum keras. Cara memeriksanya adalah dengan membuka kelobot, mengamati jumlah barisan biji dan jumlah biji dalam baris, menekan permukaan biji untuk menentukan kekerasan. Tanaman dan tongkol siap panen jagung muda Gambar 1.

2 109 Kriteria panen jagung pipil: - umur antara hari setelah tanam - kelobot dan rambut tongkol sudah kering - tongkol sudah terisi penuh dengan biji, - ukuran biji sudah sudah maksimal tetapi biji belum keras. Cara memeriksanya adalah dengan membuka kelobot, mengamati jumlah barisan biji dan jumlah biji dalam baris, menekan permukaan biji untuk menentukan kekerasan, mengambil biji dan memeriksa keberadaan lapisan hitam (black layer) pada bagian biji yang menempel pada tongkol Pada saat panen jagung pada percobaan Dosis Pemupukan N pada Jagung Hibrida dan Varietas Bersari Bebas, Lakukanlah pengukuran komponen produksi jagung sayur atau jagung rebus sebagai berikut : 1. Bobot tongkol berkelobot, ambil tongkol jagung yang telah memenuhi kriteria panen selanjutnya timbang bersama kelobotnya. 2. Bobot brangkasan tanaman contoh; cabut tanaman contoh yang telah diambil tongkolnya, bersihkan akar dari tanah yang melekat, lalu potong menjadi bagian akar dan bagian batang. Selanjutnya, timbang masingmasing bagian tersebut dan hitung rasio batang/akar. Hitung Indeks Panen (bobot tongkol berkelobot dibagi bobot total tanaman). 3. Bobot tongkol siap dipasarkan, ujung tongkol dipotong lalu ditimbang 4. Lingkar tongkol tanpa kelobot (cm), 5. Panjang tongkol tanpa kelobot(cm), 6. Panjang tongkol berbiji (cm) 7. Jumlah baris biji dan jumlah biji dalam baris per tongkol 8. Bobot tongkol basah berkelobot per petak. Panenlah seluruh tongkol pada tanaman di petak Saudara, selain tanaman pinggir dan baris pinggir. Kemudian timbanglah sekaligus. Bobot tongkol basah berkelobot ini ditambah dengan bobot tongkol basah 10 tanaman contoh merupakan bobot tongkol basah per petak bersih, kemudian konversikan ke luasan ha. Lihat Video 1. Untuk komponen produksi nomor 1 sampai 7 lakukan pada 10 tanaman contoh. Video 1 (panen jagung sayur/rebus), sumber 100_2465 mov, foto n video 5 jan 08

3 110 Lakukan pengamatan untuk produksi jagung pipilan kering pada 10 tanam contoh sebagai berikut: 1. Lakukan panen tongkol yang telah memenuhi kriteria panen, 2. Timbang bobot tongkol berkelobot tanaman contoh 3. Kupas atau pisahkan tongkol dan kelobot lalu timbang masing-masing bagian tersebut untuk mengetahui bobot tongkol tanpa kelobot saat panen. 4. Ukur lingkar tongkol tanpa kelobot (cm) 5. Ukur panjang tongkol tanpa kelobot (cm) 6. Hitung jumlah baris biji dan jumlah biji dalam baris per tongkol 7. Keringkan tongkol sampai siap dipipil (berkadar air 17%) dan timbang bobotnya 8. Lakukan pemipilan untuk memisahkan biji dari tongkolnya, kemudian timbang masing-masing bagian tersebut. 9. Lakukan pengeringan biji sampai menjadi biji pipilan kering dengan kadar air 12 13% 10. Hitung rendemen biji pipilan kering terhadap (a) bobot tongkol berkelobot saat panen, (b) tongkol tanpa kelobot saat panen, (c) bobot tongkol siap dipipil 11. Hitung bobot tongkol kering berkelobot per petak. Panenlah seluruh tongkol pada tanaman di petak Saudara, selain tanaman pinggir dan baris pinggir. Kemudian timbanglah sekaligus. Bobot tongkol kering berkelobot ini ditambah dengan bobot tongkol kering 10 tanaman contoh merupakan bobot tongkol kering per petak, kemudian konversikan ke luasan ha dengan rumus: (2) Kedelai (Luas petak(m2)/ m2)*bobot tongkol kering per petak Panen kedelai dapat dilakukan pada keadaan tanaman masih berdaun hijau, polong masih hijau tetapi sudah terisi penuh dengan biji masih lunak sebagai kedelai sayur (Gambar 2a) atau polong sudah berwarna kecoklatan dengan biji sudah mengeras sebagai kedelai biji pipilan kering (Gambar 2b). (a) (b) Gambar 2 Kedelai siap panen (a) untuk sayur, (b) untuk biji kering

4 111 Pada saat panen kedelai pada percobaan Pemupukan Nitrogen pada Dua Varietas Kedelai lakukanlah pengukuran komponen produksi pada 10 tanaman contoh sebagai berikut : 1. Bobot brangkasan tanaman contoh; cabut tanaman contoh, bersihkan akar dari tanah yang melekat, lalu potong menjadi bagian akar dan bagian tajuk. Timbang masing-masing bagian tersebut dan hitung rasio tajuk/akar. 2. Potong tanaman kira-kira 5 cm dari permukaan tanah, kemudian buang seluruh daun beserta tangkainya, tinggalkan polong tetap melekat pada batang dan cabang dan timbang sebagai bobot bagian marketable untuk kedelai panen sayur atau panen sisil (Video 2) 3. Tentukan rendemen atau indeks panen bobot bagian marketable (misal A) dari total bobot brangkasan tanaman (misal B), dengan rumus: A/B * 100%. 4. Hitung jumlah polong rata-rata per tanaman. Pisahkan polong tersebut menjadi polong bernas dan polong hampa, kemudian hitung jumlah polong bernas dan dan jumlah polong hampa per tanaman tersebut. 5. Hitung jumlah biji rata-rata per polong. 6. Bobot per petak. Panen seluruh tanaman di petak percobaan Saudara, selain tanaman pinggir dan baris pinggir. Daun dan pangkal batang dibuang, lalu timbang. Bobot ini ditambah dengan bobot dari 10 tanaman contoh merupakan bobot hasil panen per petak bersih, kemudian konversikan ke luasan ha. Video 2 (panen kedelai sayur/rebus), sumber 100_2464 mov, foto n video 5 jan 08 (3) Kacang Tanah Baik untuk tujuan sebagai kacang tanah rebus maupun kacang tanah polong (biji) pipilan kering, kacang tanah dipanen dengan kriteria yang sama. Kacang tanah dapat dipanen apabila polong telah berisi penuh dan biji di dalamnya sudah keras dengan kulit mengkilat berwarna putih, merah, atau merah muda tergantung varietasnya (Gambar 3). Kacang tanah dipanen dengan mencapbut tanaman beserta polong yang ada dalam tanah, kemudian polong dilepaskan dari tanaman lihat Video 3

5 112 a. b. Gambar 3 Pertanaman (a) dan polong kacang tanah (b) siap panen Video 3 (panen kacang tanah) Pada saat panen percobaan Pertumbuhan dan Produksi Kacang Tanah pada Populasi Berbeda, lakukanlah pengukuran komponen produksi untuk 10 tanaman contoh dan per petak, sebagai berikut : 1. Bobot polong dan bobot brangkasan rata-rata tanaman contoh; cabut tanaman contoh, bersihkan dari tanah yang melekat, lalu preteli polongnya. Selanjutnya, timbang bobot polong dan bobot brangkasan dari tiap tanaman contoh dan hitung Indeks Panen dengan rumus: A/(A+B)*100%; A = bobot polong (g) B = bobot brangkasan (g) 2. Hitung jumlah polong rata-rata per tanaman contoh, selanjutnya pisahkan dan hitung jumlah polong cipo dan jumlah polong hampa. 3. Bobot polong basah per petak. Panenlah seluruh tanaman pada tanaman di petak percobaan Saudara, selain tanaman pinggir dan baris pinggir. Kemudian cabut seluruh polongnya lalu timbang bobotnya. Bobot ini ditambah dengan bobot dari 10 tanaman contoh merupakan bobot hasil panen per petak bersih, kemudian konversikan ke luasan ha. 4. Untuk mengetahui produksi biji kering per petak, keringkan polong tersebut (sampai kadar air 14 %) lalu timbang sebagai bobot polong kering per petak, setelah itu kupas polong untuk mendapatkan bijinya

6 113 dan timbang sebagai bobot biji kering per petak. Selanjunya hitung rendemen biji terhadap (a) bobot polong basah atau (b) terhadap bobot polong kering dengan rumus: bobot biji kering per petak/bobot polong basah per petak x 100 % atau bobot biji kering per petak/bobot polong kering per petak x 100 % (4) Kacang Hijau Kacang hijau umumnya dipanen untuk menghasilkan produk berupa biji kering. Buah atau polong kacang hijau dalam satu tanaman tidak memiliki waktu matang yang serempak sehingga panen dilakukan bertahap. Polong yang dapat dipanen adalah yang telah masak ditandai dengan warna polong sudah berwarna hitam (Gambar 4) a b Gambar 4 Tanaman dan polong kacang hijau siap panen Pada saat panen percobaan Perlakuan Pupuk Majemuk dan Pupuk Tunggal pada Kacang Hijau Varietas Walet, lakukanlah pengukuran komponen produksi untuk 10 tanaman contoh dan per petak, sebagai berikut :

7 Petiklah polong yang sudah berwarna hitam dari tiap tanaman contoh. Pisahkan hasil panen tanaman contoh dengan hasil panen dalam petak selain tanaman contoh. Timbanglah polong basah. Jemurlah hingga kering dan biji terpisah dengan kulitnya. Timbanglah masing-masing bagian kulit dan bijinya 2. Pada saat panen terakhir, untuk 10 tanaman contoh, lakukanlah pengukuran komponen produksi sebagai berikut : a. Bobot brangkasan tanaman contoh; cabut tanaman contoh, bersihkan akar dari tanah yang melekat, lalu ditimbang. Timbang polong sisa panen (yang belum masak, jika ada). b. Jumlahkan semua bobot polong basah (sejak panen pertama berikut sisa yang belum masak). Hitunglah indeks panen c. Hitung rendemen polong basah menjadi biji kering. d. Hitung jumlah polong rata-rata per tanaman. Hitung pula rata-rata jumlah biji per polong. e. Tentukan indeks biji, yaitu bobot dari 100 butir biji. 3. Hasil petak dalam bentuk biji ditimbang, setelah ditambah dengan bobot biji dari tanaman contoh merupakan hasil per petak. Tentukan hasil panen per ha! B. Panen Tanaman Tahunan Berikut ini disampaikan ketentuan, cara, dan pengamatan panen pada beberapa tanaman perkebunan. (1) Kelapa Kelapa umumnya dipanen ketika sudah tua untuk diambil daging buahnya dan diolah menjadi kopra atau diambil santannya. Ketentuan panen dan pengamatan/perhitungan komponen produksi kelapa adalah sebagai berikut; 1. Kriteria panen untuk buah kelapa adalah jika warna buah dalam satu manggar telah berubah 80% menjadi coklat/kering (Gambar 5). 2. Komponen hasil untuk tanaman kelapa adalah : a. Jumlah manggar per tahun b. Jumlah buah per manggar c. Bobot kopra per buah 3. Jika 1 pohon kelapa dalam satu tahun menghasilkan 10 manggar dengan rata-rata jumlah buah per manggar mencapai 10 buah dan berat kopra yang dihasilkan oleh 1 buah kelapa = 200 gram, maka produksi kopra/tanaman/tahun adalah = 10 x 10 x 200 gram = gram (20 kg kopra).

8 115 Gambar 5 Kelapa tua siap panen (2) Kelapa Sawit : Kelapa sawit dipanen dalam bentuk tandan buah segar (TBS) sebagai bahan baku pada pabrik pengolahan kelapa sawit untuk mendapatkan minyak sawit mentah (crude palm oil = CPO) dan minyak kernel (palm kernel oil = PKO). Ketentuan panen dan pengamatan/perhitungan komponen produksi kelapa sawit adalah sebagai berikut; 1. Kriteria panen untuk kelapa sawit adalah jika terdapat 2 berondolan (buah sawit yang lepas darai tandan sawit) untuk setiap kilogram tandan buah segar (Gambar 6) 2. Komponen hasil untuk tanaman kelapa sawit adalah : a. Jumlah tanaman per hektar (140) b. Anga Kerapatan panen (perbandingan jumlah tandan yang dapat dipanen dengan jumlah tanaman) (30%) c. Bobot tandan rata-rata (20 kg) 3. Jika 1 hektar tanaman kelapa sawit dalam satu kali panen memiliki angka kerapatan panen 30% dengan bobot tandan rata-rata 20 kg, maka produksi tandan buah segar/ha/panen adalah =140 x 30% x 20 kg = 840 kg tandan buah segar Gambar 6 Kelapa sawit dengan TBS siap panen

9 116 (3) Karet Hasil panen tanaman karet adalah lateks baik dalam bentuk lateks cair maupun lum. Panen dilakukan dengan menyadap kulit karet dengan norma tertentu (Gambar 7). Ketentuan panen dan pengamatan/perhitungan komponen produksi karet adalah sebagai berikut; 1. Kriteria panen untuk karet adalah jika lingkar batang pada ketinggian 1 meter di atas pertautan lebih besar atau sama dengan 45 cm 2. Komponen hasil untuk tanaman karet adalah : a. Jumlah tanaman per hektar (500) b. Produksi latek setiap kali sadap (200 ml) c. Kadar karet kering latek (30%, artinya 1 liter latek jika dikeringkan akan menghasilkan 300 g karet kering) 3. Jika 1 hektar tanaman karet dalam satu kali panen rata-rata menghasilkan 200 ml latek dengan kadar karet kering 30%, maka produksi karet kering/ha/panen adalah =500 x 200 ml x 30% = 30 kg karet kering. Gambar 7 Penyadapan karet (4) Kopi Hasil panen tanaman kopi adalah buah kopi yang selanjutnya diolah menjadi biji kopi kering berasan. Panen dilakukan dengan memetik buah kopi dengan tangan. Ketentuan panen dan pengamatan/perhitungan komponen produksi kopi adalah sebagai berikut: 1. Kriteria panen untuk kopi adalah jika buah kopi di dompolan telah berubah warna menjadi merah (Gambar 8) 2. Komponen hasil untuk tanaman kopi adalah : a. Jumlah tanaman per hektar (1200) b. Jumlah cabang produktif per tanaman (10) c. Jumlah dompolan per cabang produktif (5) d. Jumlah Buah per dompolan (20) e. Indeks biji 120/100 g f. Rendemen buah (20%) 3. Jika 1 hektar tanaman kopi dalam satu kali panen rata-rata memiliki 10 cabang produktif dengan jumlah dompolan per cabang 10 dan rata-rata

10 117 buah kopi/dompolan mencapai 20 buah, indeks biji 120/100 g serta rendemen kopi 20%, maka produksi kopi kering/ha/panen adalah =1200 x 10 x 5 x 20 x 100/120 x 20% = 2 kg biji kopi kering. Gambar 8 Kopi dengan buah merah siap panen (5) Kakao Hasil panen tanaman kakao adalah buah kakao yang selanjutnya diolah menjadi biji kakao kering sebagai bahan baku aneka produk industri kakao. Panen dilakukan dengan memetik buah kakao. Ketentuan panen dan pengamatan/perhitungan komponen produksi kakao adalah sebagai berikut: 1. Kriteria panen untuk kakao adalah jika telah terjadi perubahan warna pada buah. Jika waktu muda buah berwarna hijau maka waktu masak akan berwarna kuning (Gambar 9), tetapi jika buah pada waktu muda berwarna merah maka waktu masak akan berwarna orange 2. Komponen hasil untuk tanaman kakao adalah : a. Jumlah tanaman per hektar (1200) b. Jumlah buah masak/tanaman (1) c. Pod Value (jumlah buah kakao untuk mendapatkan 1 kg biji kering) (10) 3. Jika 1 hektar tanaman kakao dalam satu kali panen rata-rata memiliki 1 buah masak/tanaman dengan pod value 10 maka produksi kakao kering/ha/panen adalah =1200 tanaman x 1 buah : 10 buah x 1 kg = 120 kg biji kakao kering.

11 Gambar 9 Kakao dengan buah siap panen 118

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Penyusun I Wayan Suastika

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai. Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri dari

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai. Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri dari 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri dari sebuah akar tunggang yang terbentuk dari calon akar,

Lebih terperinci

Bagian-Bagian Tumbuhan dan Fungsinya IPA SD Kelas IV

Bagian-Bagian Tumbuhan dan Fungsinya IPA SD Kelas IV Materi Pembelajaran Ringkasan Materi: Bagian-Bagian Tumbuhan dan Fungsinya IPA SD Kelas IV Berikut ini adalah pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) untuk Sekolah Dasar kelas IV yaitu tentang bagian-bagian

Lebih terperinci

SISTEM INFORMASI BIAYA POKOK UNTUK MEMPRODUKSI CPO DI PKS TANAH PUTIH. Oleh AHMAD FAUZI LUBIS 07 118 039

SISTEM INFORMASI BIAYA POKOK UNTUK MEMPRODUKSI CPO DI PKS TANAH PUTIH. Oleh AHMAD FAUZI LUBIS 07 118 039 SISTEM INFORMASI BIAYA POKOK UNTUK MEMPRODUKSI CPO DI PKS TANAH PUTIH Oleh AHMAD FAUZI LUBIS 07 118 039 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2011 SISTEM INFORMASI BIAYA POKOK UNTUK MEMPRODUKSI

Lebih terperinci

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,

Lebih terperinci

INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011

INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011 INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011 Ignatius Ery Kurniawan PT. MITRA MEDIA NUSANTARA 2011 KEMENTERIAN KEUANGAN

Lebih terperinci

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KEKERASAN DAN WAKTU PEMECAHAN DAGING BUAH KAKAO (THEOBROMA CACAO L) 1) MUH. IKHSAN (G 411 9 272) 2) JUNAEDI MUHIDONG dan OLLY SANNY HUTABARAT 3) ABSTRAK Permasalahan kakao Indonesia

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ilmiah tanaman jagung sebagaimana diketahui adalah: Kelas: Monocotyledoneae. Familia: Poaceae.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ilmiah tanaman jagung sebagaimana diketahui adalah: Kelas: Monocotyledoneae. Familia: Poaceae. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Klasifikasi dan Morfologi Jagung Klasifikasi ilmiah tanaman jagung sebagaimana diketahui adalah: Kerajaan: Plantae Divisio: Angiospermae Kelas: Monocotyledoneae Ordo: Poales

Lebih terperinci

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi)

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Pengolahan Tanah Sebagai persiapan, lahan diolah seperti kebiasaan kita dalam mengolah tanah sebelum tanam, dengan urutan sebagai berikut.

Lebih terperinci

I. U M U M. TATA CARA PANEN.

I. U M U M. TATA CARA PANEN. LAMPIRAN : PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 17/Permentan/OT.140/2/2010 TANGGAL : 5 Pebruari 2010 TENTANG : PEDOMAN PENETAPAN HARGA PEMBELIAN TANDA BUAH SEGAR (TBS) KELAPA SAWIT PRODUKSI PEKEBUN TATA

Lebih terperinci

Teknologi Tepat Guna Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa Oleifera) Teknologi Tepat Guna

Teknologi Tepat Guna Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa Oleifera) Teknologi Tepat Guna Teknologi Tepat Guna Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa Oleifera) Oleh Kharistya - http://kharistya.wordpress.com Teknologi Tepat Guna Teknologi tepat guna, mengutip dari wikipedia, merupakan teknologi

Lebih terperinci

Penemuan Klon Kakao Tahan Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di Indonesia. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118

Penemuan Klon Kakao Tahan Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di Indonesia. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118 Penemuan Klon Kakao Tahan Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di Indonesia Agung Wahyu Susilo 1) 1) Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118 Keberadaan hama penggerek buah

Lebih terperinci

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU Oleh: Gusti Setiavani, S.TP, M.P Staff Pengajar di STPP Medan Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji kecipir, koro, kelapa

Lebih terperinci

PRODUKSI TANAMAN NURSERY

PRODUKSI TANAMAN NURSERY PRODUKSI TANAMAN NURSERY Bambang B. Santoso Senen, 30 Maret 2009 PRODUKSI TANAMAN NURSERY A. Perencanaan Produksi B. Perbanyakan C. Produksi di Lapangan D. Produksi dalam Pot/wadah C. PRODUKSI DI LAPANGAN

Lebih terperinci

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Tanaman Bayam Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim dan tergolong sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas CO 2 secara efisien sehingga memiliki daya adaptasi

Lebih terperinci

Kulit masohi SNI 7941:2013

Kulit masohi SNI 7941:2013 Standar Nasional Indonesia ICS 65.020.99 Kulit masohi Badan Standardisasi Nasional BSN 2013 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen ini

Lebih terperinci

Resep Makanan Bayi. (6-8 Bulan) Copyright TipsBayi.com & KartuBayi.com

Resep Makanan Bayi. (6-8 Bulan) Copyright TipsBayi.com & KartuBayi.com Resep Makanan Bayi (6-8 Bulan) Copyright TipsBayi.com & KartuBayi.com Resep Makanan Bayi (6 Bulan, 7 Bulan, 8 Bulan) Bayi Anda sudah berusia 6 bulan? Jika Anda seperti para bunda lainnya, pasti Anda sedang

Lebih terperinci

Deskripsi Padi Varietas Cigeulis Informasi Ringkas Bank Pengetahuan Padi Indonesia Sumber: Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Deskripsi Padi Varietas Cigeulis Informasi Ringkas Bank Pengetahuan Padi Indonesia Sumber: Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Deskripsi Padi Varietas Cigeulis Informasi Ringkas Bank Pengetahuan Padi Indonesia Sumber: Balai Besar Penelitian Tanaman Padi 2008 Nama Varietas Tahun Tetua Rataan Hasil Pemulia Golongan Umur tanaman

Lebih terperinci

Disampaikan pada Annual Forum EEP Indonesia 2012 di Provinsi Riau Pekanbaru, 30-31 Oktober 2012

Disampaikan pada Annual Forum EEP Indonesia 2012 di Provinsi Riau Pekanbaru, 30-31 Oktober 2012 Disampaikan pada Annual Forum EEP Indonesia 2012 di Provinsi Riau Pekanbaru, 30-31 Oktober 2012 Oleh : Drs. Z U L H E R, MS Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau TERWUJUDNYA KEBUN UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Lebih terperinci

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT SEMANGKA. Dr. M. SYUKUR, SP, MSi INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT SEMANGKA. Dr. M. SYUKUR, SP, MSi INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT SEMANGKA Dr. M. SYUKUR, SP, MSi INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 Hama Penting Semangka Hama penting pada semangka: 1. Thrips (Thrips parvispinus Karny) 2. Ulat perusak daun

Lebih terperinci

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 No. 39/08/THXVIII.3 Agustus 2015 PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 PRODUKSI CABAI BESAR SEBESAR 501.893 KUINTAL, CABAI RAWIT SEBESAR 528.704 KUINTAL, DAN BAWANG MERAH SEBESAR

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN BEBERAPA DOSIS KOMPOS DENGAN STIMULATOR

PENGARUH PEMBERIAN BEBERAPA DOSIS KOMPOS DENGAN STIMULATOR PENGARUH PEMBERIAN BEBERAPA DOSIS KOMPOS DENGAN STIMULATOR Trichoderma TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS ( Zea mays saccarata sturt. ) VARIETAS BONANZA F1 JURNAL SKRIPSI OLEH : F A I

Lebih terperinci

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 No. 46/08/34/Th.XVII, 3 Agustus 2015 PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 PRODUKSI CABAI BESAR SEBESAR 17,76 RIBU TON, CABAI RAWIT SEBESAR 3,17 RIBU TON, DAN BAWANG MERAH SEBESAR

Lebih terperinci

LAMPIRAN Lampiran 1. Prosedur Pembuatan Ekstrak Cabai Rawit

LAMPIRAN Lampiran 1. Prosedur Pembuatan Ekstrak Cabai Rawit 37 LAMPIRAN Lampiran 1. Prosedur Pembuatan Ekstrak Cabai Rawit Pembuatan ektrak dilakukan di Laboratorium Farmasi Institut Teknologi Bandung Simplisia yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cabai rawit

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 12 TAHUN 2001 TENTANG IMPOR DAN/ATAU PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK TERTENTU YANG BERSIFAT

Lebih terperinci

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79 No. 17/03/34/Th.XVII, 2 Maret 2015 NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI 1. Nilai Tukar Petani (NTP) Pada Februari 2015, NTP

Lebih terperinci

PENGUKURAN, LUAS DAN VOLUME

PENGUKURAN, LUAS DAN VOLUME PENGUKURAN, LUAS DAN VOLUME Pengukuran merupakan kegiatan membandingkan suatu besaran yang diukur dengan alat ukur yang digunakan sebagai satuan. Sesuatu yang dapat diukur dan dapat dinyatakan dengan angka

Lebih terperinci

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 No.50/08/71/Th.IX, 3 Agustus 2015 PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 PRODUKSI CABAI BESAR SEBESAR 5.451 TON, CABAI RAWIT SEBESAR 8.486 TON DAN BAWANG MERAH SEBESAR 1.242 TON

Lebih terperinci

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar Standar Nasional Indonesia Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1

Lebih terperinci

KALENDER TANAM TERPADU MUSIM TANAM : MT III 2014 KECAMATAN : LONG HUBUNG KAB/KOTA : MAHAKAM HULU, PROVINSI : KALIMANTAN TIMUR

KALENDER TANAM TERPADU MUSIM TANAM : MT III 2014 KECAMATAN : LONG HUBUNG KAB/KOTA : MAHAKAM HULU, PROVINSI : KALIMANTAN TIMUR KECAMATAN : LONG HUBUNG KOMODITAS : PADI SAWAH DAN PALAWIJA Luas Baku Sawah (ha) Prediksi Sifat Hujan Prakiraan Luas dan Awal Musim Tanam I INFORMASI UTAMA : 32 : NORMAL : *) *) Musim Tanam II Musim Tanam

Lebih terperinci

25 RESEP KUE PALING LAKU DIJUAL. Variasi. Risoles. Indriani

25 RESEP KUE PALING LAKU DIJUAL. Variasi. Risoles. Indriani 25 RESEP KUE PALING LAKU DIJUAL Variasi Risoles Indriani 25 RESEP KUE PALING LAKU DIJUAL Variasi Risoles Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Gramedia Pustaka Utama, Jaka 25 RESEP KUE PALING LAKU

Lebih terperinci

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 No. 53/08/19/Th.XIII, 3 Agustus 2015 PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 PRODUKSI CABAI BESAR SEBESAR 3.686,00 TON, CABAI RAWIT SEBESAR 3.099,80 TON, DAN BAWANG MERAH SEBESAR

Lebih terperinci

Karakterisasi dan Deskripsi Plasma Nutfah Kacang Panjang

Karakterisasi dan Deskripsi Plasma Nutfah Kacang Panjang Karakterisasi dan Deskripsi Plasma Nutfah Kacang Panjang Suryadi, Luthfy, Yenni Kusandriani, dan Gunawan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang ABSTRACT To increase the variability of yard-long bean

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN LAHAN GAMBUT UNTUK BUDIDAYA KELAPA SAWIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PENANGKARAN BENIH JAGUNG HIBRIDA SILANG TIGA JALUR DI PELAIHARI, KALIMANTAN SELATAN

PENANGKARAN BENIH JAGUNG HIBRIDA SILANG TIGA JALUR DI PELAIHARI, KALIMANTAN SELATAN PENANGKARAN BENIH JAGUNG HIBRIDA SILANG TIGA JALUR DI PELAIHARI, KALIMANTAN SELATAN M. Yasin Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan ABSTRAK Penangkaran benih jagung hibrida silang tiga

Lebih terperinci

Sudika, Idris, Erna Listiana Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Mataram ABSTRAK

Sudika, Idris, Erna Listiana Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Mataram ABSTRAK 6 PEMBENTUKAN VARIETAS UNGGUL JAGUNG TAHAN KERING DENGAN HASIL, BERANGKASAN SEGAR TINGGI, UMUR GENJAH (TAHUN I: HIBRIDISASI DAN SELEKSI MASSA SECARA INDEPENDENT CULLING LEVEL) (IMPROVEMENT OF DROUGHT TOLERANCE

Lebih terperinci

Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh

Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh I. Latar Belakang Tanaman pala merupakan tanaman keras yang dapat berumur panjang hingga lebih dari 100 tahun. Tanaman pala tumbuh dengan baik di daerah tropis.

Lebih terperinci

TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI SISTEM TANAM BENIH LANGSUNG (TABELA) DI LAHAN SAWAH IRIGASI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH PENDAHULUAN

TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI SISTEM TANAM BENIH LANGSUNG (TABELA) DI LAHAN SAWAH IRIGASI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH PENDAHULUAN TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI SISTEM TANAM BENIH LANGSUNG (TABELA) DI LAHAN SAWAH IRIGASI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH Oleh : Chairunas, Adli Yusuf, Azman B, Burlis Han, Silman Hamidi, Assuan, Yufniati ZA,

Lebih terperinci

PANDUAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PERTANIAN ORGANIK FEBR JUNI 2012 (Kamis 10 12) Darwin Pangaribuan PJ Mata Kuliah TPO

PANDUAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PERTANIAN ORGANIK FEBR JUNI 2012 (Kamis 10 12) Darwin Pangaribuan PJ Mata Kuliah TPO 1 PANDUAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PERTANIAN ORGANIK FEBR JUNI 2012 (Kamis 10 12) Darwin Pangaribuan PJ Mata Kuliah TPO Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung 2012 2 PEMUPUKAN HAYATI

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SELAYAR NOMOR 08 TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SELAYAR NOMOR 08 TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SELAYAR NOMOR 08 TAHUN 2007 TENTANG PENGENDALIAN ALAT UKUR, TAKAR, TIMBANG DAN PERLENGKAPANNYA (UTTP) YANG DIGUNAKAN UNTUK TRANSAKSI BARANG DI KABUPATEN SELAYAR DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

Emisi Dari Alih Guna Lahan. Apa itu emisi alih guna lahan dan bagaimana cara menghitungnya?

Emisi Dari Alih Guna Lahan. Apa itu emisi alih guna lahan dan bagaimana cara menghitungnya? Emisi Dari Alih Guna Lahan Apa itu emisi alih guna lahan dan bagaimana cara menghitungnya? 1 Sejarah dan latar belakang ISPO membentuk sebuah kelompok kerja yang bertujuan untuk membuat sebuah kalkulator

Lebih terperinci

S E H A T, L E Z A T, & P R A K T I S MENU LENGKAP CITA RASA

S E H A T, L E Z A T, & P R A K T I S MENU LENGKAP CITA RASA masak! idemasak S E H A T, L E Z A T, & P R A K T I S MENU LENGKAP CITA RASA DAPUR BORNEO prakata Dapur Borneo adalah aneka resep masakan yang berasal dari daerah Kalimantan wilayah Indonesia. Ini mencakup,

Lebih terperinci

Tanggung Jawab lintas dimensi. Laporan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Indonesia 2013/14

Tanggung Jawab lintas dimensi. Laporan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Indonesia 2013/14 Tanggung Jawab lintas dimensi Laporan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Indonesia 2013/14 Cargill berkomitmen untuk beroperasi secara bertanggung jawab dengan satu tujuan yakni untuk menjadi pemimpin global

Lebih terperinci

Makanan Kasar (Roughage) Pakan Suplemen (Supplement) Pakan Aditive (Additive)

Makanan Kasar (Roughage) Pakan Suplemen (Supplement) Pakan Aditive (Additive) M.K. Teknik Formulasi Ransum dan Sistem Informasi Pakan Jenis Bahan Pakan Konsentrat (Concentrate) Makanan Kasar (Roughage) Pakan Suplemen (Supplement) Pakan Aditive (Additive) 1 Bahan-bahan Konsentrat

Lebih terperinci

WAKTU PANEN YANG TEPAT MENENTUKAN KANDUNGAN GULA BIJI JAGUNG MANIS ( Zea mays saccharata )

WAKTU PANEN YANG TEPAT MENENTUKAN KANDUNGAN GULA BIJI JAGUNG MANIS ( Zea mays saccharata ) WAKTU PANEN YANG TEPAT MENENTUKAN KANDUNGAN GULA BIJI JAGUNG MANIS ( Zea mays saccharata ) SURTINAH Staf pengajar Fakultas Pertanian Universitas Lancang Kuning Jurusan Budidaya Pertanian Jl. D.I Panjaitan

Lebih terperinci

di kota tetap Balikpapan menjanjikan. Era ini (tahun milik setara Produksi ton atau Segar) ton CPO (Crude skala cukup luas saat Paser

di kota tetap Balikpapan menjanjikan. Era ini (tahun milik setara Produksi ton atau Segar) ton CPO (Crude skala cukup luas saat Paser Peluang Industri Komoditi Kelapaa Sawit di kota Balikpapan (Sumber : Dataa Badan Pusat Statistik Pusat dan BPS Kota Balikpapan dalam Angka 2011, balikpapan.go.id, www..grandsudirman.com dan berbagai sumber,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. (tumbuhan), Divisi: Tracheophyta, Kelas: Magnoliophyta, Ordo: Leguminales,

II. TINJAUAN PUSTAKA. (tumbuhan), Divisi: Tracheophyta, Kelas: Magnoliophyta, Ordo: Leguminales, II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Kacang Tanah 2.1.1. Botani Tanaman Kacang Tanah Berdasarkan klasifikasi tanaman kacang tanah terdiri atas Kingdom: Plantae (tumbuhan), Divisi: Tracheophyta, Kelas: Magnoliophyta,

Lebih terperinci

POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK) PRODUKSI JAGUNG

POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK) PRODUKSI JAGUNG POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK) PRODUKSI JAGUNG BANK INDONESIA Direktorat Kredit, BPR dan UMKM Telepon : (021) 3818043 Fax: (021) 3518951, Email : tbtlkm@bi.go.id DAFTAR ISI 1. Pendahuluan.........

Lebih terperinci

Susu Sapi Tidak Baik Untuk Manusia. Written by Administrator

Susu Sapi Tidak Baik Untuk Manusia. Written by Administrator Susu adalah minuman kesehatan yang sebagian besar praktisi kesehatan menganjurkan agar kita mengkonsumsinya agar tubuh mendapat asupan kesehatan selain makanan yang kita makan sehari-hari. Namun, belum

Lebih terperinci

KERAGAMAN KARAKTER AGRONOMI KLON-KLON F1 UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz) KETURUNAN TETUA BETINA UJ-3, CMM 25-27, DAN MENTIK URANG

KERAGAMAN KARAKTER AGRONOMI KLON-KLON F1 UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz) KETURUNAN TETUA BETINA UJ-3, CMM 25-27, DAN MENTIK URANG J. Agrotek Tropika. ISSN 2337-4993 Putri et al.: Keragaman Karakter Agronomi Klon-klon Ubikayu 1 Vol. 1, No. 1: 1 7, Januari 2013 KERAGAMAN KARAKTER AGRONOMI KLON-KLON F1 UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz)

Lebih terperinci

Teknik Perbanyakan Jambu Air Citra Melalui Stek Cabang

Teknik Perbanyakan Jambu Air Citra Melalui Stek Cabang Teknik Perbanyakan Jambu Air Citra Melalui Stek Cabang Buah jambu air Citra terkenal di Indonesia, karena mempunyai cita-rasa yang sangat manis dan renyah, ukuran buah cukup besar (200 250 g/ buah), dan

Lebih terperinci

SURVEI PENDAHULUAN: DALAM USAHA MENANGGULANGI KERUSAKAN LAHAN AKIBAT LETUSAN GUNUNG KELUD. Syekhfani

SURVEI PENDAHULUAN: DALAM USAHA MENANGGULANGI KERUSAKAN LAHAN AKIBAT LETUSAN GUNUNG KELUD. Syekhfani SURVEI PENDAHULUAN: DALAM USAHA MENANGGULANGI KERUSAKAN LAHAN AKIBAT LETUSAN GUNUNG KELUD Syekhfani RINGKASAN Ditinjau dari aspek tanah, letusan gunung Kelud di suatu pihak dapat menyebabkan kerusakan

Lebih terperinci

PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI (ANGKA SEMENTARA TAHUN 2014)

PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI (ANGKA SEMENTARA TAHUN 2014) BPS PROVINSI JAWA BARAT No. 19/03/32/Th. XVII, 2 Maret 2015 PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI (ANGKA SEMENTARA TAHUN ) PRODUKSI PADI TAHUN (ANGKA SEMENTARA) DIPERKIRAKAN TURUN 3,63 PERSEN PADI Menurut

Lebih terperinci

ANEKA PENGOLAHAN PRODUK PERTANIAN

ANEKA PENGOLAHAN PRODUK PERTANIAN ANEKA PENGOLAHAN PRODUK PERTANIAN Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian DKI Jakarta 1996 / 1997 DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN II. Dasar-dasar pengolahan dan pengawetan produk pertanian 2.1

Lebih terperinci

Prakarsa Karet Alam Berkesinambungan Sukarela (SNR) Kriteria dan Indikator Kinerja

Prakarsa Karet Alam Berkesinambungan Sukarela (SNR) Kriteria dan Indikator Kinerja Prakarsa Karet Alam Berkesinambungan Sukarela (SNR) Kriteria dan Indikator Kinerja Kriteria, Indikator dan KPI Karet Alam Berkesinambungan 1. Referensi Kriteria, Indikator dan KPI SNR mengikuti sejumlah

Lebih terperinci

KERAGAAN, KERAGAMAN, DAN HERITABILITAS KARAKTER AGRONOMI KACANG PANJANG (Vigna Unguiculata) GENERASI F 1 HASIL PERSILANGAN TIGA GENOTIPE

KERAGAAN, KERAGAMAN, DAN HERITABILITAS KARAKTER AGRONOMI KACANG PANJANG (Vigna Unguiculata) GENERASI F 1 HASIL PERSILANGAN TIGA GENOTIPE J. Agrotek Tropika. ISSN 2337-4993 32 Jurnal Agrotek Tropika 1(1):32-37, 2013 Vol. 1, No. 1: 32 37, Januari 2013 KERAGAAN, KERAGAMAN, DAN HERITABILITAS KARAKTER AGRONOMI KACANG PANJANG (Vigna Unguiculata)

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP. 52/MEN/2004 T E N T A N G PELEPASAN VARIETAS IKAN NILA JICA SEBAGAI VARIETAS BARU

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP. 52/MEN/2004 T E N T A N G PELEPASAN VARIETAS IKAN NILA JICA SEBAGAI VARIETAS BARU KEPUTUSAN NOMOR : KEP. 52/MEN/2004 T E N T A N G PELEPASAN VARIETAS IKAN NILA JICA SEBAGAI VARIETAS BARU, Menimbang : a. bahwa dalam rangka memperkaya jenis dan varietas serta menambah sumber plasma nutfah

Lebih terperinci

PENGANTAR. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Prof. Dr. Ir. Achmad Suryana, MS

PENGANTAR. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Prof. Dr. Ir. Achmad Suryana, MS PENGANTAR Kebutuhan jagung terus meningkat, baik untuk pangan maupun pakan. Dewasa ini kebutuhan jagung untuk pakan sudah lebih dari 50% kebutuhan nasional. Peningkatan kebutuhan jagung terkait dengan

Lebih terperinci

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan Tanah dan Air di Lahan Pasang Surut Penyusun IPG Widjaja-Adhi NP Sri Ratmini I Wayan Swastika Penyunting Sunihardi Setting & Ilustrasi Dadang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Prosedur pelaksanaan dilakukan dalam 2 (dua) tahap yaitu tahap preparasi dan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Prosedur pelaksanaan dilakukan dalam 2 (dua) tahap yaitu tahap preparasi dan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Prosedur pelaksanaan dilakukan dalam 2 (dua) tahap yaitu tahap preparasi dan tahap pengolahan. 4.1 Tahap preparasi 4.1.1 Tahap Preparasi untuk Tempe Ada beberapa hal yang harus

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI BANYUWANGI MARET 2015 INFLASI 0,09 PERSEN

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI BANYUWANGI MARET 2015 INFLASI 0,09 PERSEN BPS KABUPATEN BANYUWANGI No. 03/April/3510/Th.II, 03 April PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI BANYUWANGI MARET INFLASI 0,09 PERSEN Pada bulan Banyuwangi mengalami inflasi sebesar 0,09 persen, lebih

Lebih terperinci

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI DEPARTEMEN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 ABSTRAK LIRA BUDHIARTI. Karakterisasi

Lebih terperinci

LATEKS ALAM IRADIASI SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI RUMAH TANGGA BARANG JADI KARET

LATEKS ALAM IRADIASI SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI RUMAH TANGGA BARANG JADI KARET LATEKS ALAM IRADIASI SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI RUMAH TANGGA BARANG JADI KARET Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki perkebunan karet paling luas di dunia. Sebagian besar karet alam tersebut

Lebih terperinci

PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT

PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT MODUL: PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT I. DESKRIPSI SINGKAT A ir dan sanitasi merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan manusia, karena itu jika kebutuhan tersebut

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. membuka sempurna. Pada kondisi tanah yang lembab, tahapan pemunculan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. membuka sempurna. Pada kondisi tanah yang lembab, tahapan pemunculan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Fase muncul lapang (Emergence) Fase muncul (emergency) merupakan periode munculnya koleoptil di atas permukaan tanah dimana daun pertama dan kedua telah muncul namun belum

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2012. Cangkang kijing lokal dibawa ke Laboratorium, kemudian analisis kadar air, protein,

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH PADA PRODUK TEPUNG WORTEL. Analysis of Added Value to The Product of Carrot Powder

ANALISIS NILAI TAMBAH PADA PRODUK TEPUNG WORTEL. Analysis of Added Value to The Product of Carrot Powder ANALISIS NILAI TAMBAH PADA PRODUK TEPUNG WORTEL Analysis of Added Value to The Product of Carrot Powder Maulana Malik 1, Wignyanto 2, dan Sakunda Anggarini 2 1 Alumni Jurusan Teknologi Industri Pertanian

Lebih terperinci

BOKS Perbatasan Kalimantan Barat Masih Perlu Perhatian Pemerintah Pusat Dan daerah

BOKS Perbatasan Kalimantan Barat Masih Perlu Perhatian Pemerintah Pusat Dan daerah BOKS Perbatasan Kalimantan Barat Masih Perlu Perhatian Pemerintah Pusat Dan daerah Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang berbatasan langsung dengan Sarawak (Malaysia) dengan

Lebih terperinci

Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH. Oleh : PT.

Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH. Oleh : PT. Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH Oleh : PT. Sari Bumi Kusuma PERKEMBANGAN HPH NASIONAL *) HPH aktif : 69 % 62% 55%

Lebih terperinci

PENGELOLAAN INDUK IKAN NILA. B. Sistematika Berikut adalah klasifikasi ikan nila dalam dunia taksonomi : Phylum : Chordata Sub Phylum : Vertebrata

PENGELOLAAN INDUK IKAN NILA. B. Sistematika Berikut adalah klasifikasi ikan nila dalam dunia taksonomi : Phylum : Chordata Sub Phylum : Vertebrata PENGELOLAAN INDUK IKAN NILA A. Pendahuluan Keluarga cichlidae terdiri dari 600 jenis, salah satunya adalah ikan nila (Oreochromis sp). Ikan ini merupakan salah satu komoditas perikanan yang sangat popouler

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. bangsa Indonesia. Dengan demikian pembangunan sektor pertanian khususnya

I. PENDAHULUAN. bangsa Indonesia. Dengan demikian pembangunan sektor pertanian khususnya I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagai negara dengan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia memiliki potensi daya saing komparatif dengan negara-negara lain. Daya saing tersebut khususnya pada sektor

Lebih terperinci

EVALUASI PEMUPUKAN PADA KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI KEBUN RADANG SEKO BANJAR BALAM, PT TUNGGAL PERKASA PLANTATIONS, INDRAGIRI HULU, RIAU

EVALUASI PEMUPUKAN PADA KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI KEBUN RADANG SEKO BANJAR BALAM, PT TUNGGAL PERKASA PLANTATIONS, INDRAGIRI HULU, RIAU EVALUASI PEMUPUKAN PADA KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI KEBUN RADANG SEKO BANJAR BALAM, PT TUNGGAL PERKASA PLANTATIONS, INDRAGIRI HULU, RIAU RAJA ADE SAPUTRA A24060030 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN

Lebih terperinci

TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU

TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU Diarsi Eka Yani (diarsi@ut.ac.id) PS Agribisnis, FMIPA, Universitas Terbuka ABSTRAK Abrasi pantai yang terjadi

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR

PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR VISI DAN MISI VISI Meningkatkan Kebersihan dan Keindahan Kota Denpasar Yang Kreatif dan Berwawasan

Lebih terperinci

KAJI TERAP TEKNOLOGI PENINGKATAN MUTU BUAH MANGGA SEGAR

KAJI TERAP TEKNOLOGI PENINGKATAN MUTU BUAH MANGGA SEGAR KAJI TERAP TEKNOLOGI PENINGKATAN MUTU BUAH MANGGA SEGAR Suhardi, Gunawan, Bonimin dan Jumadi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur ABSTRAK Produk buah mangga segar di Jawa Timur dirasa masih

Lebih terperinci

Uji Daya Hasil Pendahuluan Jagung Hibrida di Lahan Ultisol dengan Input Rendah. Preliminary Yield Test of Hybrid Corn on Ultisol Under Low Input

Uji Daya Hasil Pendahuluan Jagung Hibrida di Lahan Ultisol dengan Input Rendah. Preliminary Yield Test of Hybrid Corn on Ultisol Under Low Input Akta Agrosia Vol. 13 No.1 hlm 70-76 Jan - Jun 2010 ISSN 1410-3354 Uji Daya Hasil Pendahuluan Jagung Hibrida di Lahan Ultisol dengan Input Rendah Preliminary Yield Test of Hybrid Corn on Ultisol Under Low

Lebih terperinci

EVALUASI DAYA GABUNG BEBERAPA VARIETAS JAGUNG (Zea mays L.) DENGAN METODE SILANG VARIETAS SKRIPSI OLEH:

EVALUASI DAYA GABUNG BEBERAPA VARIETAS JAGUNG (Zea mays L.) DENGAN METODE SILANG VARIETAS SKRIPSI OLEH: EVALUASI DAYA GABUNG BEBERAPA VARIETAS JAGUNG (Zea mays L.) DENGAN METODE SILANG VARIETAS SKRIPSI OLEH: ARMIN SYAMRIADI PUTRANTO 040307034 / PEMULIAAN TANAMAN DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN

Lebih terperinci

Teknologi Pascapanen dan Teknik Pengolahan BUAH PISANG. Oleh Sulusi Prabawati, Suyanti dan Dondy A Setyabudi. Penyunting Wisnu Broto

Teknologi Pascapanen dan Teknik Pengolahan BUAH PISANG. Oleh Sulusi Prabawati, Suyanti dan Dondy A Setyabudi. Penyunting Wisnu Broto Teknologi Pascapanen dan Teknik Pengolahan BUAH PISANG Oleh Sulusi Prabawati, Suyanti dan Dondy A Setyabudi Penyunting Wisnu Broto Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian Badan Penelitian

Lebih terperinci

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) BUDIDAYA PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molkenb.)

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) BUDIDAYA PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molkenb.) STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) BUDIDAYA PURWOCENG 1 KATA PENGANTAR Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molkenb) termasuk salah satu tanaman obat yang paling banyak dibicarakan terkait manfaatnya sebagai

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1.tE,"P...F.3...1!..7. INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1 ISSN 1858-4330

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1 ISSN 1858-4330 STUDI PENGARUH PERIODE TERANG DAN GELAP BULAN TERHADAP RENDEMEN DAN KADAR AIR DAGING RAJUNGAN (Portunus pelagicus L) YANG DI PROSES PADA MINI PLANT PANAIKANG KABUPATEN MAROS STUDY OF LIGHT AND DARK MOON

Lebih terperinci

DIIT GARAM RENDAH TUJUAN DIIT

DIIT GARAM RENDAH TUJUAN DIIT DIIT GARAM RENDAH Garam yang dimaksud dalam Diit Garam Rendah adalah Garam Natrium yang terdapat dalam garam dapur (NaCl) Soda Kue (NaHCO3), Baking Powder, Natrium Benzoat dan Vetsin (Mono Sodium Glutamat).

Lebih terperinci

Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Daya Tumbuh Bibit Kakao Cabutan

Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Daya Tumbuh Bibit Kakao Cabutan Pelita Perkebunan 2005, 21(2), 106 112 Rahardjo Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Daya Tumbuh Bibit Kakao Cabutan Effect of Storage Period on the Viability of Bare Root Cocoa Seedlings Pudji Rahardjo

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. jenis Dura, Psifera dan Tenera. Ketiga jenis ini dapat dibedakan berdasarkan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. jenis Dura, Psifera dan Tenera. Ketiga jenis ini dapat dibedakan berdasarkan BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Buah sawit Tanaman kelapa sawit (Elaeis quinensis Jacq) merupakan tumbuhan tropis golongan plasma yang termasuk tanaman tahunan. Kelapa sawit yang dikenal ialah jenis Dura, Psifera

Lebih terperinci

PETUNJUK PENGAMBILAN SAMPEL DNA SATWA LIAR. Petunjuk Penggunaan Kit (Alat Bantu) untuk Pengambilan Sampel DNA Satwa Liar

PETUNJUK PENGAMBILAN SAMPEL DNA SATWA LIAR. Petunjuk Penggunaan Kit (Alat Bantu) untuk Pengambilan Sampel DNA Satwa Liar PETUNJUK PENGAMBILAN SAMPEL DNA SATWA LIAR Petunjuk Penggunaan Kit (Alat Bantu) untuk Pengambilan Sampel DNA Satwa Liar Panduan ini dirancang untuk melengkapi Kit atau Alat Bantu Pengambilan Sampel DNA

Lebih terperinci

PERBANDINGAN PENDAPATAN DAN KEUNTUNGAN PETANI PALA

PERBANDINGAN PENDAPATAN DAN KEUNTUNGAN PETANI PALA PERBANDINGAN PENDAPATAN DAN KEUNTUNGAN PETANI PALA (Myristica fragan haitt) ANTARA PENJUALAN DALAM BENTUK BASAH DAN KERING DI KECAMATAN TANJUNG RAYA KABUPATEN AGAM OLEH RENY HIDAYATI 07 114 062 FAKULTAS

Lebih terperinci

PERANAN KARAKTER KOMPONEN PRODUKSI TERHADAP PRODUKSI JAGUNG DALAM UPAYA MEMPEROLEH KARAKTER PENYELEKSI SKRIPSI

PERANAN KARAKTER KOMPONEN PRODUKSI TERHADAP PRODUKSI JAGUNG DALAM UPAYA MEMPEROLEH KARAKTER PENYELEKSI SKRIPSI PERANAN KARAKTER KOMPONEN PRODUKSI TERHADAP PRODUKSI JAGUNG DALAM UPAYA MEMPEROLEH KARAKTER PENYELEKSI SKRIPSI Oleh; Dewi Nur Hamidah NIM. 071510101074 JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI

TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI Teknik Pembuatan Pupuk Bokashi @ 2012 Penyusun: Ujang S. Irawan, Senior Staff Operation Wallacea Trust (OWT) Editor: Fransiskus Harum, Consultant

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG JENIS DAN ATAS YANG BERLAKU PADA KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH PADA AGROINDUSTRI JAGUNG DI KOTA GORONTALO (Studi Kasus pada UKM Qalifa)

ANALISIS NILAI TAMBAH PADA AGROINDUSTRI JAGUNG DI KOTA GORONTALO (Studi Kasus pada UKM Qalifa) ANALISIS NILAI TAMBAH PADA AGROINDUSTRI JAGUNG DI KOTA GORONTALO (Studi Kasus pada UKM Qalifa) Ria Indriani Universitas Negeri Gorontalo Jl.Jend.Sudirman No.6 Kota Gorontalo Email :ria.s_imran@yahoomail.com

Lebih terperinci

PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA

PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA (Role The Number of Seeds/Pod to Yield Potential of F6 Phenotype Soybean

Lebih terperinci

Buku Kecil Pendorong Besar Deforestasi 60-95. Pendorong Komoditas Berbasis Lahan

Buku Kecil Pendorong Besar Deforestasi 60-95. Pendorong Komoditas Berbasis Lahan Buku Kecil Pendorong Besar Deforestasi 60-95 Pendorong Komoditas Berbasis Lahan PENDORONG KOMODITAS BERBASIS LAHAN Pendahuluan Metodologi Permintaan atas dan produksi komoditas yang dijelaskan dalam bab

Lebih terperinci

FORM D. A. Uraian Kegiatan. Deskripsikan Latar Belakang Permasalahan: Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa :

FORM D. A. Uraian Kegiatan. Deskripsikan Latar Belakang Permasalahan: Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa : FORM D A. Uraian Kegiatan Deskripsikan Latar Belakang Permasalahan: 1. Pemanenan jeruk kisar yang dilakukan petani di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) masih tradisional, diantaranya tingkat kematangan,

Lebih terperinci

Karakter Morfologis dan Beberapa Keunggulan Mangga Podang Urang (Mangifera indica L.)

Karakter Morfologis dan Beberapa Keunggulan Mangga Podang Urang (Mangifera indica L.) Karakter Morfologis dan Beberapa Keunggulan Mangga Podang Urang (Mangifera indica L.) Baswarsiati dan Yuniarti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Jawa Timur 62 ABSTRACT Podang Urang mango is one of

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH SEBAGAIMANA

Lebih terperinci

ANALISA KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENGOLAHAN NIRA LONTAR MENJADI PRODUK NATA Financial Analysis of Processing Nata Lontar (from lontar sap)

ANALISA KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENGOLAHAN NIRA LONTAR MENJADI PRODUK NATA Financial Analysis of Processing Nata Lontar (from lontar sap) ANALISA KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENGOLAHAN NIRA LONTAR MENJADI PRODUK NATA Financial Analysis of Processing Nata Lontar (from lontar sap) Oleh/ By: Abd. Kadir W. ABSTRACT Lontar sap has a great potential

Lebih terperinci

Keadaan Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Tengah April 2015

Keadaan Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Tengah April 2015 KATA PENGANTAR Sektor pertanian merupakan sektor yang vital dalam perekonomian Jawa Tengah. Sebagian masyarakat Jawa Tengah memiliki mata pencaharian di bidang pertanian. Peningkatan kualitas dan kuantitas

Lebih terperinci

Seru sekali lomba lari itu! Siapa yang lebih dulu tiba di lapangan, dialah yang menjadi pemenang...

Seru sekali lomba lari itu! Siapa yang lebih dulu tiba di lapangan, dialah yang menjadi pemenang... SODIS BOTOL AJAIB Seru sekali lomba lari itu! Mereka berlari sekencang-kencangnya untuk memenangkan perlombaan. 4 5 Pada suatu pagi di hari Minggu, Ani dan Ayah berjalan-jalan. Sesampai di dekat lapangan,

Lebih terperinci