Hak cipta 2010, Sekretariat Konvensi Ramsar (Ramsar Convention Secretariat)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Hak cipta 2010, Sekretariat Konvensi Ramsar (Ramsar Convention Secretariat)"

Transkripsi

1

2 Tentang Konvensi mengenai Lahan Basah Konvensi mengenai Lahan Basah (Ramsar, Iran, 1971) adalah perjanjian antar pemerintah yang misinya adalah "konservasi dan kebijakan menggunakan semua lahan basah melalui tindakan lokal, regional dan nasional serta kerjasama internasional, sebagai kontribusi terhadap pencapaian pembangunan yang berkelanjutan di seluruh dunia". Hingga bulan Oktober 2010, 160 negara telah bergabung dengan Konvensi sebagai Pihak yang terikat kontrak, dan lebih dari 1900 lahan basah di seluruh dunia, yang mencakup lebih dari 186 juta hektar, telah dirancang untuk dimasukkan dalam Daftar Lahan Basah Ramsar yang Penting. Apakah Lahan Basah itu? Seperti yang telah didefinisikan oleh Konvensi, lahan basah meliputi berbagai macam habitat seperti rawa-rawa, lahan gambut, dataran basah, sungai dan danau, dan daerah pesisir seperti rawa payau, hutan bakau, dan rumput laut, tetapi juga terumbu karang dan daerah dataran laut lainnya tidak lebih dari enam meter gelombang surutny, serta lahan basah buatan manusia seperti kolam pengolahan air limbah dan waduk. Mengenai serial dari Buku Saku ini Seri ini telah disiapkan oleh Sekretariat Konvensi setelah pertemuan para pihak ke-7, 8 9, dan 10, (COP7, COP8, COP9 dan COP10) diadakan, masing-masing, di San José, Kosta Rika, pada bulan Mei 1999, Valencia, Spanyol, pada bulan November 2002, Kampala, Uganda, pada bulan November 2005, dan Changwon, Republik Korea, Oktober-November Pedoman tentang berbagai hal yang diadopsi oleh para pihak dan COP sebelumnya telah disiapkan sebagai serial dari buku saku untuk membantu mereka yang memiliki minat, atau terlibat langsung dengan, pelaksanaan Konvensi di internasional, regional, nasional, subnasional atau tingkat lokal. Setiap buku saku menyatukan subyek dengan subyek, berbagai pembinaan yang relevan diadopsi oleh Pihak, ditambah dengan bahan tambahan dari kertas informasi COP, studi kasus dan publikasi lain yang relevan sehingga dapat menggambarkan aspek-aspek kunci dari pedoman tersebut. Buku saku ini tersedia dalam tiga bahasa Konvensi (Inggris, Perancis, dan Spanyol). Tabel di sampul belakang terdaftar lingkup penuh dari subyek yang dicakup oleh seri buku saku saat ini. Buku saku tambahan akan disiapkan untuk menyertakan petunjuk lebih lanjut yang diadopsi oleh pertemuan Conferences of the Contracting Parties (Konferensi Pihak terkait Perjanjian) yang akan datang. Konvensi Ramsar mempromosikan tindakan terintegrasi untuk menjamin konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara bijaksana. Dalam pembelajaran pendekatan terpadu tersebut, pembaca akan menemukan bahwa dalam setiap Buku Saku ada banyak referensi silang terhadap pihak/ bagian lain dari seri buku saku ini. Hak cipta 2010, Sekretariat Konvensi Ramsar (Ramsar Convention Secretariat) Kutipan versi Bahasa Indonesia: Sekretariat Konvensi Ramsar Pemanfaatan lahan basah secara bijaksana: Konsep dan pendekatan untuk pemanfaatan lahan basah secara bijaksana. Buku Saku Ramsar untuk penggunaan lahan basah, edisi 4, vol. 1. Sekretariat Konvensi Ramsar, Gland, Swiss. Judul asli: Ramsar Convention Secretariat, Wise use of wetlands: Concepts and approaches for the wise use of wetlands. Ramsar handbooks for the wise use of wetlands, 4th edition, vol. 1. Ramsar Convention Secretariat, Gland, Switzerland. Publikasi ini untuk pendidikan dan non-komersial. Tujuannya tidak perlu meminta izin terlebih dahulu dari Sekretariat Ramsar, untuk pengetahuan yang diberikan. Editor (Seri): Dave Pritchard Pembimbing (Seri): Nick Davidson Desain dan tata letak: Dwight Peck Sampul foto: Pengeringan ikan, Inner Niger Delta (Leo Zwarts)

3 Buku Saku Ramsar bagi pemanfaatan lahan basah secara bijaksana Edisi keempat, 2010 Buku Saku 1 Pemanfaatan lahan basah secara bijaksana Konsep dan Pendekatan mengenai pemanfaatan lahan basah secara bijaksana Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia oleh: Anna Arifin Penyesuaian Layout oleh: Triana Terjemahan dibiayai oleh: Wetlands International Indonesia Edisi ke-4 Buku Saku Ramsar ini menggantikan seri yang diterbitkan pada tahun Buku ini mencakup panduan yang relevan diadopsi oleh beberapa pertemuan Konferensi Para Pihak, khususnya pada COP7 (1999), COP8 (2002), COP 9 (2005), dan COP10 (2008), serta latar belakang dokumen dokumen yang dipilih dan disajikan pada COP tersebut.

4 Ucapan Terima Kasih Proses persiapan panduan dan kerangka kerja konseptual untuk pemanfaatan lahan basah secara bijaksana yang terdapat pada dalam Buku Saku ini dilakukan sebagai upaya kolaborasi yang terjadi pada tahun oleh Kelompok Kerja 1 Ramsar Scientific and Technical Review Panel (Panel Peninjauan Teknis dan Ilmiah - STRP) (Tahap inventarisasi dan penilaian, yang dipimpin oleh Max Finlayson, dari Insternational Water Management Institute (Institut Manajemen Air Internasional)) dan Kelompok Kerja 2 (pemanfaatan yang bijaksana, dipimpin oleh Randy Milton, Kanada). Tim ini juga menyiapkan analisis yang mendasari dan rekomendasi yang diberikan pada pertemuan ke-9 dari Konferensi Para Pihak (COP 9) sebagai Kertas Informasi (COP 9 DOC. 16). Kontribusi besar untuk pekerjaan ini dibuat secara khusus oleh Randy Milton, Dave Pritchard, Max Finlayson, dan personil pada Sekretariat Ramsar. Pekerjaan STRP itu sangat terbantu oleh kerjasama dari Millennium Ecosystem Assessment (MA), dan khususnya kerangka konseptual dari MA untuk ekosistem dan kesejahteraan manusia serta definisi dan deskripsi karakteristik EKOSISTEM dan jasa ekosistem (Millennium Ecosystem Assessment Ekosistem dan Kesejahteraan Manusia: Sebuah Kerangka Kerja untuk Penilaian. Island Press, Washington, DC). "Deklarasi Changwon", juga ditampilkan dalam buku ini, merupakan inisiatif dari pemerintah Republik Korea dan diadopsi sebagai resolusi X.3 pada COP10 di Changwon, Republik Korea, pada tahun Hal ini disiapkan melalui proses kolaboratif yang berangkat dari keahlian pada STRP, International Organization Partners (Organisasi Mitra Internasional - IOPS), pemerintah Korea sebagai tuan rumah Negara COP10, dan Sekretariat Ramsar. Semua Resolusi dari COP Ramsar tersedia dari situs website Konvensi di Dokumen latar belakang sebagaimana dimaksud dalam buku panduan ini tersedia pada tautan dan Gambar: Perahu nelayan di Sao Tome dan Principe. Foto oleh Tim Dodman 2

5 Daftar Isi Ucapan Terima kasih 2 Mendapatkan yang terbaik dari Buku Saku ini 4 Kata Pengantar 6 Konsep dan pendekatan mengenai pemanfaatan lahan basah secara bijaksana 7 Bagian I: Konsep kerangka kerja mengenai pemanfaatan lahan basah secara bijak dan perawatan sifat ekologi lahan basah 8 Pendahuluan 8 Terminologi ekosistem lahan basah 8 Sebuah kerangka kerja konseptual bagi pemanfaatan lahan basah secara bijaksana 9 Update definisi tentang sifat ekologi dan perubahan dalam sifat ekologi pada lahan basah Bagian II. Kesejahteraan manusia dan lahan basah: Deklarasi Changwon 20 Lampiran 1: Definisi pemanfaatan secara bijak pada Ramsar dalam kaitannya dengan pemanfaatan yang berkelanjutan, pembangunan terpadu dan pendekatan berbasis ekosistem 28 Lampiran 2: Panduan tambahan tentang pemanfaatan lahan basah secara bijak 30 Lampiran 3: Buku Saku Ramsar mengenai pemanfaatan lahan basah secara bijak: terdiri dari (edisi keempat) Nuku Saku Lampiran 4: Tambahan contoh terbaru mengenai prinsip dan panduan Ramsar menangani pengemudi tertentu terhadap perubahan lahan basah 39 Resolusi yang relevan Resolusi IX.1: Panduan teknis dan ilmiah tambahan untuk menerapkan konsep pemanfaatan secara bijak dari Ramsar 56 Resolusi X.3: Deklarasi Changwon tentang kesejahteraan manusia dan lahan basah 57 3

6 Mendapatkan yang terbaik dari Buku Saku ini Buku Saku ini secara umum Tujuan dari Buku saku Ramsar ini adalah untuk mengatur materi panduan dari berbagai keputusan yang relevan dan telah diadopsi oleh para Pihak selama bertahun-tahun, sesuai dengan tema pembahasan. Hal ini membantu praktisi untuk menerapkan praktek terbaik tingkat internasional yang disepakati dan dapat melakukannya dengan cara yang nyaman dan lebih alami sesuai dengan lingkungan kerja sehari-hari mereka sendiri. Pembaca yang dimaksud meliputi staf lokal dan nasional pada departemen pemerintahan, kementerian dan lembaga yang bertindak sebagai Otoritas Administrasi untuk Konvensi Ramsar di setiap negara. Pengguna penting lainnya dalam banyak kasus diantaranya manajer dari situs/ area lahan basah, karena beberapa aspek panduan berhubungan khusus dengan manajemen situs. Panduan Ramsar telah diadopsi oleh anggota pemerintahan secara keseluruhan, dan semakin meningkatkannya dan pentingnya peran dari sektor lain di luar sektor "lingkungan" atau "air". Menjadi sangat penting bagi buku saku ini untuk digunakan oleh semua pihak yang tindakannya dapat mengambil manfaat atau berdampak pada pemanfaatan lahan basah secara bijaksana. Langkah pertama yang penting di setiap negara adalah untuk memastikan penyebaran buku saku ini secara memadai untuk semua pihak yang membutuhkan atau bisa mendapatkan keuntungan dari buku saku ini. Salinan bebas tersedia dalam format PDF dari Sekretariat Ramsar dalam tiga bahasa dalam bentuk CD-ROM atau dapat diunduh dari website Konvensi (www.ramsar.org). Langkah awal lainnya, dalam setiap konteks, penting untuk memperjelas garis tanggung jawab dan secara aktif memeriksa bagaimana menyelaraskan istilah yang digunakan serta menjelaskan pendekatan terhadap yurisdiksi pembaca sendiri, termasuk situasi kerja, dan struktur organisasi. Sebagian besar teks dapat digunakan dalam makna proaktif, sebagai dasar untuk menyusun kebijakan, rencana dan kegiatan, kadang-kadang hanya mengutip bagian yang relevan menjadi bahan lokal dan nasional. Hal ini juga dapat digunakan dalam makna reaktif sebagai sumber bantuan dan ide-ide untuk menanggapi masalah dan peluang, mengatur materi pembahasan dengan kebutuhan pengguna. Referensi silang, sumber-sumber asli, dan membaca lebih lanjut dapat bebas mengutip: Buku saku ini tidak akan menjadi "kata terakhir", namun memberikan manfaat dalam bentuk "peta-perjalanan" untuk sumber informasi dan dukungan lebih lanjut. Pengarahan yang strategis dalam Konvensi Ramsar disediakan dalam bentuk Rencana Strategis, versi terbaru yang diadopsi oleh COP10 tahun 2008 untuk periode Semua kerangka pelaksanaan tematik, termasuk buku saku ini, terdapat dalam konteks tujuan dan strategi pada Rencana Strategis ini dan prioritasnya menyoroti untuk periode yang dicakup. Dalam edisi keempat buku saku, penambahan dan kelalaian dari teks pedoman asli, yang dibutuhkan oleh hasil COP8, COP9 dan COP10, ditunjukkan dalam tanda kurung siku [...]. Seri Buku saku diperbarui setelah setiap pertemuan Konferensi Para Pihak, dan umpan balik tentang pengalaman pengguna selalu dihargai dalam membantu untuk memperbaiki setiap edisi terbaru. 4

7 Buku saku ini (Pemanfaatan lahan basah secara bijaksana) Tujuan 1 dari Rencana Strategis mencakup pemanfaatan yang bijaksana sebagai salah satu dari tiga "pilar" utama Konvensi, dan tujuannya yang dinyatakan sebagai "Bekerja untuk mencapai penggunaan dari semua lahan basah yang bijaksana dengan memastikan bahwa semua Pihak yang terlibat mengembangkan, mengadopsi dan menggunakan instrumen dan langkah-langkah yang diperlukan dan tepat", dengan "Hasil akan dicapai" yang diutarakan sebagai "penggunaan semua lahan basah dengan bijaksana yang dicapai oleh semua Pihak, termasuk manajemen lahan basah yang lebih partisipatif, dan keputusan konservasi yang dibuat dengan kesadaran akan pentingnya jasa ekosistem yang diberikan oleh lahan basah". Strategi untuk mencapai hal ini, diuraikan dalam Rencana Strategis, antara lain: 1.1 Penilaian dan persediaan lahan basah 1.2 Informasi tentang lahan basah yang menyeluruh 1.3 Kebijakan, peraturan dan institusi 1.4 Pengenalan lintas sektor mengenai jasa lahan basah 1.5 Pengenalan mengenai peranan dari Konvensi 1.6 Manajemen lahan basah berbasis ilmu pengetahuan 1.7 Manajemen sumber daya air yang terpadu 1.8 Restorasi lahan basah 1.9 Invasi spesies asin 1.10 Sektor Swasta 1.11 Langkah-langkah yang intensif Rencana tersebut kemudian mengatur sebanyak 28 Area kunci yang harus dicapai pada tahun 2015 sebagai bagian dari Rencana Strategis ini. Teks dalam buku ini dikutip terutama dari Resolusi IX.1 dan Lampiran yang A, serta Resolusi X.3 dan lampirannya, selain dari berbagai kutipan Resolusi lainnya. Substansi tersebut mencerminkan keputusan resmi yang diadopsi oleh Konferensi Para Pihak. Buku saku juga menyatukan kertas informasi dan bahan sumber daya lainnya yang relevan dengan masalah ini. Pandangan yang diungkapkan dalam bahan-bahan tambahan tidak selalu mencerminkan pandangan dari Sekretariat Ramsar atau para Pihak terkait kontrak, dan bahan-bahan tersebut belum disahkan oleh Konferensi Para Pihak. 5

8 Kata Pengantar Buku Saku edisi ke-4, dengan Buku Saku lainnya (2-20) ini menangani satu atau lebih spesifik jenis intervensi di bawah "Kerangka Konseptual untuk pemanfaatan lahan basah secara bijaksana dan pemeliharaan sifat ekologis mereka". Selain daftar judul Buku Saku yang disediakan pada Lampiran 3, panduan ringkasan melingkupi masing-masing Buku Saku akan diberikan dalam publikasi pendamping terpisah "Sebuah Panduan untuk Penggunaan Buku Saku Ramsar yang Bijaksana". Prinsip-prinsip "pemanfaatan yang bijaksana" dan pemeliharaan "Sifat ekologis" pada lahan basah terletak di jantung Konvensi Ramsar. Mempertahankan sifat ekologi lahan basah ditetapkan sebagai Lahan Basah yang Penting (Situs Ramsar) dan pengamanan, sejauh mungkin, pemanfaatan yang bijaksana dari lahan basah di wilayah mereka, diperkenalkan dalam teks Konvensi yang diadopsi pada tahun 1971 sebagai kunci keberhasilan pelaksanaan konvensi oleh para Pihak yang terkait tersebut. Tetapi apa yang dimaksud dengan istilah "pemanfaatan yang bijaksana" dan "sifat ekologi"? Definisi "bijak" pertama kali diadopsi oleh Para Pihak di COP3 pada tahun Selanjutnya, Konvensi Panel tinjauan ulang secara Ilmiah dan teknis (STRP) mengembangkan definisi "sifat ekologis" dan "perubahan sifat ekologi" yang diadopsi oleh COP7 di Sejak adopsi definisi dari "pemanfaatan yang bijaksana" pada tahun 1987, bahasa pelestarian lingkungan telah berkembang dan berubah, dengan istilah-istilah baru seperti orang-orang dari laporan Komisi Brundtland tahun 1987 pada pembangunan berkelanjutan, pada tahun 1992 Konvensi mengenai keragaman biologi (CBD) menggunakan istilah "pendekatan ekosistem" dan "pemanfaatan berkelanjutan", dan akhir-akhir ini Penilaian Ekosistem Millenium (MA) mendefinisikan dan mendeskripsikan karakteristik dari ekosistem dan "jasa ekosistem. Dalam rangka untuk memastikan bahwa definisi Ramsar yang terbaru dan konsisten dengan bahasa pada saat itu, maka pada tahun 2002 Pihak Ramsar meminta STRP untuk meninjau kembali definisi tersebut dan mengusulkan definisi yang diperbaharui sesuai dengan kebutuhan. Buku saku ini memberikan definisi-definisi yang diperbaharui, seperti yang diadopsi oleh COP 9 pada tahun 2005 sebagai Resolusi IX.1 Lampiran A. Yang penting, dalam melakukan pekerjaan ini, STRP mengakui bahwa Konvensi tidak memiliki suatu kerangka kerja yang menyeluruh untuk implementasi dari "pemanfaatan yang bijaksana". Kerangka kerja konseptual untuk ekosistem dan kesejahteraan manusia sedang dikembangkan oleh MA terbukti sangat relevan dalam konteks ini, terutama karena berbicara langsung terhadap Konvensi Ramsar tentang saling ketergantungan antara manusia dan lingkungan mereka. Kerangka kerja konseptual ini menghubungkan penyebab langsung dan tidak langsung dari perubahan keanekaragaman hayati, ekosistem dan jasa mereka dan keterkaitannya dengan kesejahteraan manusia dan pengentasan kemiskinan. Dalam kerangka ini, "pemanfaatan yang bijak" Ramsar setara dengan pemeliharaan ekosistem dan penggunaan jasa ekosistem yang berkelanjutan untuk mempertahankan kesejahteraan manusia. Selanjutnya, kerangka konseptual ini menyediakan alat yang berharga bagi mereka yang melaksanakan Konvensi Ramsar dengan membentuk dasar untuk bagaimana dan kapan setiap aspek dan topik panduan Konvensi dapat dan harus diterapkan sebagai intervensi untuk mencapai pemanfaatan yang bijaksana dan pemeliharaan sifat ekologis lahan basah. Semua Pihak yang terkait dan lainnya yang terlibat dalam pelaksanaan Konvensi didesak untuk menggunakan buku ini sebagai "peta-perjalanan" milik mereka untuk keberhasilan pelaksanaannya. Dalam kasus tertentu sektor di luar sektor lahan basah itu sendiri, prinsip-prinsip dan pesan kunci juga dirumuskan dalam "Deklarasi Changwon" (COP10 Resolusi X.3, juga disajikan di sini) menawarkan ekspresi isu yang dirancang untuk membantu dengan tindakan lintas sektor yang luas dan pendekatan yang diperlukan oleh semua pihak. 6

9 Konsep dan pendekatan bagi pemanfaatan lahan basah secara bijaksana Komitmen implementasi yang relevan dibuat oleh para Pihak yang terikat kontrak dalam Resolusi COP Resolusi IX.1 : Penambahan pedoman ilmiah dan teknik guna menerapkan konsep pemanfaatan yang bijaksana dari Ramsar KONFERENSI DARI PIHAK YANG TERKAIT KONTRAK 5. MENYETUJUI Kerangka Konseptual untuk pemanfaatan lahan basah secara bijaksana dan pemeliharaan sifat ekologi mereka (Lampiran A pada Resolusi ini) dan definisi yang diperbarui "pemanfaatan yang bijaksana" dan "sifat ekologis", dan menegaskan bahwa hal ini menggantikan semua definisi istilah ini sebelumnya; 8. MENDORONG para Pihak yang terikat kontrak untuk menarik [kerangka kerja ini] (...) menjadi perhatian semua pemangku kepentingan yang relevan, termasuk kementerian pemerintah, departemen dan instansi, perairan dan otoritas pengelolaan daerah aliran sungai, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat sipil; dan MENDORONG LEBIH JAUH para Pihak yang terikat kontrak untuk mendukung para pemangku kepentingan untuk mengambil [itu] ke dalam pertimbangan, bersama-sama dengan (...) 'peralatan' dari Buku Saku Pemanfaatan secara bijaksana (...), dalam pengambilan keputusan dan kegiatan yang berhubungan dengan pemanfaatan lahan basah secara bijak melalui pemeliharaan sifat ekologis mereka; Resolusi X.3: Deklarasi Changwon mengenai kesejahteraan manusia dan lahan basah 4. MENYAMBUT pesan dari Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang dikirim ke pada Konferensi ini pada tanggal 28 Oktober 2008, dan MENCATAT penekanan dalam pesan pada hubungan penting antara lahan basah, mata pencaharian, dan kesejahteraan orang di seluruh dunia, serta sebagai pentingnya Konvensi Ramsar dalam memberikan pedoman dan mekanisme untuk mendasari hubungan penting dan kontribusi yang berharga bahwa layanan ekosistem lahan basah dapat membuat untuk mencapai Tujuan Pembangunan Milenium; 7. INFORMASI bahwa tujuan utama dari "Deklarasi Changwon" adalah untuk mengirimkan pesan-pesan kunci tentang isu yang terkait lahan basah dengan banyak pihak dan para pemangku kepentingan di luar komunitas Ramsar yang relevan dengan konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara bijak, untuk menginformasikan tindakan mereka dan pengambilan keputusan; 8. MENCATAT bahwa Deklarasi ini dirancang untuk melengkapi Rencana Strategis Ramsar , yang menyediakan Konvensi dan bagian-bagiannya dengan pendekatan masa depan mereka sendiri dan prioritas pelaksanaannya, serta bahwa sejumlah tujuan dalam Rencana Strategis dapat berkembang melalui penerapan Deklarasi Changwon; KONFERENSI DARI PIHAK YANG TERKAIT KONTRAK 12. MENDORONG DENGAN KUAT para Pihak yang terikat kontrak dan pemerintah lainnya untuk membawa "Deklarasi Changwon" menjadi perhatian kepala negara mereka, parlemen, sektor swasta, dan masyarakat sipil, serta untuk mendorong mereka dan semua sektor pemerintah (termasuk sektor pengelolaan air, kesehatan manusia, perubahan iklim, pengurangan kemiskinan, dan perencanaan tata ruang) dan lembaga-lembaga yang bertanggung jawab untuk kegiatan yang mempengaruhi lahan basah, terutama untuk menanggapi panggilan untuk bertindak bagi lahan asah yang terkandung dalam Deklarasi itu; 13. JUGA MENDORONG DENGAN KUAT para Pihak yang terikat kontrak dan pemerintah lainnya untuk memanfaatkan "Deklarasi Changwon" untuk menginformasikan kebijakan nasional dan pengambilan keputusan, termasuk dalam posisi delegasi nasional mereka untuk proses eksternal lainnya, dan melalui peluang khusus di tingkat lokal, nasional dan internasional di mana konvensi Ramsar dan proses lainnya memiliki potensi yang baik untuk saling membantu dan bekerja sama, termasuk antara lain Komisi PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan, badan-badan PBB, kesepakatan lingkungan multilateral, dan Forum Air Dunia (...). 7

10 Bagian 1 Sebuah Kerangka kerja konseptual pada pemanfaatan lahan basah secara bijak dan pemeliharaan terhadap sifat ekologi mereka (Dikutip sebagai lampiran A pada Resolusi IX oleh Konferensi para Pihak yang terikat kontrak ke-9, Kampala, Uganda, 2006) Pendahuluan 1. Definisi kunci konsep Konvensi Ramsar "pemanfaatan yang bijaksana" dan "Sifat ekologis" pada lahan basah yang diadopsi oleh COP3 (1987) dan COP7 (1999). Kegiatan tentang Rencana Strategis Ramsar membutuhkan Konvensi Panel tinjauan ulang Ilmiah dan Teknis (STRP) tentang "Meninjau ulang konsep pemanfaatan yang bijaksana, penerapannya, dan konsistensi dengan tujuan pembangunan berkelanjutan ". [Lihat Lampiran 1 untuk informasi tentang definisi Ramsar mengenai pemanfaatan yang bijaksana dan hubungannya dengan pemanfaatan berkelanjutan, pembangunan berkelanjutan dan pendekatan ekosistem.] 2. Sebagai tambahan, COP8 Resolusi VIII.7 meminta STRP untuk diperiksa lebih lanjut dan, sebagaimana mestinya, mengembangkan pedoman dan melaporkan kepada COP 9 tentang kesenjangan yang telah diidentifikasi dan ketidakharmonisan dalam mendefinisikan dan melaporkan ekologi sifat lahan basah, termasuk, antara lain, harmonisasi definisi dan istilah dalam panduan pada persediaan, penilaian, pengawasan dan pengelolaan sifat ekologi lahan basah. 3. Pekerjaan STRP telah sangat dibantu bersamaan oleh pekerjaan dari Millennium Ecosystem Assessment (MA), khususnya Kerangka kerja konseptual untuk Ekosistem dan Kesejahteraan Manusia (Millennium Ecosystem Assessment Ecosystems and Human Well-being: A Framework for Assessment. Island Press, Washington, D.C.), dan definisi dan deskripsi karakteristik ekosistem dan pelayanan ekosistem. 4. STRP menentukan bahwa tepat untuk memperbarui dan menyelaraskan Konvensi "pemanfaatan yang bijak" dan definisi "sifat ekologis" untuk mempertimbangkan istilah dan definisi yang berkaitan dengan ekosistem dan pembangunan berkelanjutan, serta kerangka kerja konseptual untuk pengiriman "pemanfaatan yang bijak" akan mendapatkan bantuan oleh para Pihak yang terikat kontrak dan lain-lain dalam menentukan kapan dan dimana untuk membuat kebijakan dan manajemen intervensi untuk mendukung proses ini. 5. Panduan ini mencakup harmonisasi istilah ekosistem lahan basah dan menyediakan baik kerangka kerja konseptual untuk penggunaan lahan basah dengan bijaksana dan diperbarui serta harmonis definisi "sifat ekologis", "perubahan sifat ekologi ", dan" pemanfaatan yang bijaksana "pada lahan basah. Terminologi ekosistem lahan basah 6. Dalam Millennium Ecosystem Assessment (MA), ekosistem digambarkan sebagai masyarakat yang kompleks (termasuk komunitas manusia) dan lingkungan non-hidup 8

11 (Komponen Ekosistem) pada Buku Saku 1: Pemanfaatan lahan basah dengan bijaksana bagian 9, berinteraksi (melalui Proses Ekologis) sebagai unit fungsional yang menyediakan berbagai manfaat kepada orang-orang (Jasa Ekosistem). 7. Termasuk dalam "Jasa Ekosistem MA" yang menyediakan, mengatur, dan kebiasaan melayani yang secara langsung mempengaruhi orang-orang, dan jasa pendukung yang diperlukan untuk mempertahankan layanan lain. Informasi lebih lanjut dapat ditemukan dalam Laporan Sintesis disiapkan oleh MA untuk Konvensi Ramsar (Finlayson, CM, D'Cruz, R. & Davidson, NC Wetlands and water: ecosystem services and human well-being. World Resources Institute,Washington D.C). Dalam konteks sesuai dengan Konvensi Ramsar ini mengacu pada hasil, fungsi dan atribut sebagaimana dimaksud dalam Resolusi VI.1 dan diperluas untuk mencakup nilai-nilai budaya materi dan non-materi, fungsi dan manfaatnya sebagaimana dimaksud dalam COP8 DOC.15 "Aspek budaya terkait lahan basah". 8. Syarat [...] digunakan dalam panduan Ramsar sebelumnya dan dokumen tersebut ditunjukkan pada Tabel 1 yang juga digunakan dalam MA. Penelaahan lebih lanjut tentang harmonisasi definisi dan istilah yang terkait dengan jasa /manfaat ekosistem (dengan mengacu pada Resolusi VIII.7 (ayat 15) dan COP9 DOC. 16, dengan mempertimbangkan penggunaan istilah tersebut dalam forum-forum internasional lainnya) [dilakukan oleh STRP pada tahun , dan dilaporkan pada para pihak di COP10 DOC.22: "penggunaan istilah global mengenai layanan ekosistem". Antara lain ini menemukan beberapa kebingungan, dan kebutuhan untuk memperjelas perbedaan konseptual antara istilah "jasa ekosistem" (manfaat yang diberikan oleh ekosistem kepada orang-orang) dan "jasa lingkungan" (manfaat yang diberikan oleh orang-orang) dalam kaitannya dengan timbal balik untuk jasa lingkungan: timbal balik tersebut harus digunakan sebagai insentif untuk menjaga ekosistem dan jasa ekosistem yang mereka berikan, bukan sebagai timbal balik untuk layanan yang disediakan bagi orang-orang oleh ekosistem ini]. Tabel 1. Perbandingan terminologi untuk menjelaskan ekosistem lahan basah Syarat ekosistem MA Komponen ekosistem: fisik, kimia, biologis (habitat, jenis, gen) Proses ekologis dengan dan antara ekosistem Pelayanan ekosistem: menyiapkan, mengatur, budaya, mendukung Syarat Ramsar komponen, sifat, atribut, barang-barang proses, interaksi, barang-barang, fungsi layanan, keuntungan, nilai-nilai, fungsi, barang, hasil Sebuah Kerangka Kerja Konseptual bagi penggunaan lahan basah dengan bijaksana 9. Kerangka Konseptual yang telah dikembangkan oleh Millennium Ecosystem Assessment (MA) untuk pemeliharaan jasa ekosistem bagi kesejahteraan manusia dan pengentasan kemiskinan menyediakan pendekatan multi-skala yang menunjukkan bagaimana dan dimana kebijakan serta manajemen intervensi dan pengambilan keputusan dapat dibuat (Gambar 1). Dalam kerangka kerja MA, "bijak" setara dengan pemeliharaan manfaat ekosistem / jasa untuk memastikan pemeliharaan jangka panjang terhadap keanekaragaman hayati serta kesejahteraan manusia dan pengentasan kemiskinan. 9

12 Informasi tambahan Millenium Ecosystem Assessment (Penilaian Ekosistem Millennium) Ekosistem dan Kesejahteraan Manusia: Sebuah Kerangka Kerja untuk Penilaian The Millennium Ecosystem Assessment (MA) adalah sebuah program kerja internasional yang berfokus pada jasa ekosistem (manfaat yang diperoleh manusia dari ekosistem), bagaimana perubahan ekosistem telah mempengaruhi kesejahteraan manusia, bagaimana perubahan ekosistem dapat mempengaruhi orang dalam beberapa dekade mendatang, dan respons terhadap pilihan yang mungkin diadopsi pada skala lokal, nasional, maupun global untuk meningkatkan manajemen ekosistem dan dengan demikian memberikan kontribusi untuk kesejahteraan manusia dan pengentasan kemiskinan. Hal ini telah diluncurkan oleh Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan pada bulan Juni 2001 dan selesai pada bulan Maret Ini dimaksudkan untuk membantu memenuhi kebutuhan penilaian Konvensi Keanekaragaman Hayati, Konvensi untuk Memerangi Desertifikasi, Konvensi Ramsar mengenai Lahan Basah, dan Konvensi Migran Spesies, serta kebutuhan lain di sektor swasta dan masyarakat sipil. Menurut website-nya, "MA mengolah informasi dari literatur ilmiah, dataset, dan model ilmiah, termasuk pengetahuan yang dimiliki oleh sektor swasta, para praktisi, masyarakat lokal dan masyarakat adat. Semua temuan MA melalui proses peninjauan bersama yang ketat. Lebih dari penulis dari 95 negara terlibat dalam empat kelompok ahli yang bekerja mempersiapkan penilaian global, dan ratusan lainnya [telah dilakukan] lebih dari 20 penilaian sub-global". Empat isi utama dari laporan umum MA - berjudul Current State and Trends, Scenarios, Policy Responses, and Multiscale Assessments - as well as Our Human Planet (Ringkasan untuk Pengambil Keputusan), tersedia untuk PDF download dari situs web MA dan membeli dalam bentuk cetakan dari Island Press: Laporan Sintesis Selain laporan umum yang sangat besar, ada lima laporan sintesis yang mengintegrasikan temuan umum yang signifikan untuk lima bidang studi utama. Semua dengan judul "Ekosistem dan Kesejahteraan Manusia ", pengolahan ini juga termasuk Lahan basah dan Air (disiapkan untuk Konvensi Ramsar), Keanekaragaman Hayati (disiapkan untuk CBD); Desertifikasi (dipersiapkan untuk UNCCD); Peluang dan Tantangan pada Bisnis dan Industri; dan Kesehatan (dengan WHO). Semuanya ini tersedia untuk download dalam bentuk pdf dari link web di atas. Pengolahan laporan mengenai Lahan basah dan Air disiapkan oleh sebuah Tim Pengolahan MA lebih dari dua puluh penulis ikut dibantu oleh Max Finlayson, Rebecca D'Cruz, dan Nick Davidson. Ini termasuk bagian pesan kunci dan ringkasan untuk Pembuat Keputusan serta bab tentang distribusi lahan basah dan spesies di dalamnya; layanan lahan basah; mengendalikan kerugian dan mengubah ekosistem lahan basah; kesejahteraan manusia; skenario untuk masa depan mengenai lahan basah; dan tanggapan untuk pemanfaatan lahan basah secara bijak. Pesan kunci dari STRP Untuk melengkapi pesan dalam pengolahan laporan mengenai Lahan basah dan Air, Scientific and Technical Review Panel (STRP) Ramsar, pada pertemuan bulan Februari 2005 yang menyiapkan satu set 14 pesan kunci untuk pengambil keputusan pada implikasi dari MA untuk Konvensi Ramsar dan masa depan mengenai lahan basah. Hal ini dipresentasikan pada COP Ramsar tanggal 9 November 2005 [dan diterbitkan sebagai Lampiran III sampai Laporan Konferensi COP9]. 10

13 14 Pesan Kunci SRTP dari Penilaian Millenium bagi Konvensi Ramsar dan masa depan lahan basah 1. Sebuah fokus pada lintas sektoral sangat diperlukan dari kebijakan dan pengambil keputusan yang menekankan pengamanan ekosistem lahan basah dan jasa mereka dalam konteks mencapai pembangunan berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan manusia. 2. Pengelolaan lahan basah dan sumber daya air yang paling berhasil ditangani melalui manajemen terpadu skala cekungan di sungai (atau danau atau akuifer) yang terkait dengan pengelolaan wilayah pesisir pantai untuk lahan basah pesisir dan dekat pantai serta memperhitungkan alokasi air untuk ekosistem. 3. Lahan basah memberikan berbagai layanan darurat dan penting (misalnya ikan dan serat, pasokan air, pemurnian air, perlindungan pantai, peluang rekreasi, dan semakin meningkat, pariwisata) untuk kesejahteraan manusia. Mempertahankan fungsi alami lahan basah akan memungkinkan mereka untuk terus memberikan layanan ini. 4. Pasokan utama daur ulang air segar bagi manusia berasal dari berbagai jenis lahan basah, termasuk danau, sungai, rawa dan akuifer air tanah. Hingga 3 milyar orang tergantung pada air tanah sebagai sumber air minum, tetapi abstraksi tersebut semakin melebihi resapan mereka dari permukaaan lahan basah. 5. Layanan yang diberikan oleh lahan basah telah dibilang senilai 14 trilyun US Dollar setiap tahun. Valuasi ekonomi sekarang menyediakan alat yang ampuh untuk menempatkan lahan basah dalam agenda pengambilan keputusan mengenai konservasi dan pembangunan. 6. Lahan basah mencakup proporsi yang signifikan dari wilayah bumi; perkiraan global adalah 1280 juta hektar (setara dengan sekitar 9% dari permukaan tanah) dan diakui sebagai sesuatu yang diremehkan. 7. Degradasi dan hilangnya lahan basah lebih cepat daripada ekosistem lainnya. Demikian pula, status air segar dan pada tingkat lebih rendah, spesies pesisir pantai memburuk lebih cepat daripada spesies dalam ekosistem lainnya. Keanekaragaman hayati yang bergantung pada lahan basah di banyak bagian dunia adalah melanjutkan dan mempercepat penurunan. 8. Hilangnya dan degradasi lahan basah terutama didorong oleh konversi lahan dan pembangunan infrastruktur, abstraksi air, eutrofikasi dan polusi dan eksploitasi yang berlebih. Kerugian cenderung lebih cepat di mana populasi paling meningkat dan di mana tuntutan peningkatan pembangunan ekonomi yang besar. Ada beberapa alasan yang luas, alasan keterkaitan dengan perekonomian, termasuk subsidi yang salah, mengapa lahan basah terus hilang dan rusak. 9. Perubahan iklim global diperkirakan akan lebih memperburuk hilangnya dan degradasi keanekaragaman hayati pada lahan basah termasuk spesies yang tidak dapat pindah dan spesies yang bermigrasi dimana pada berbagai tahap siklus hidup mereka mengandalkan sejumlah lahan basah. 10. Penurunan dan degradasi lahan basah secara terus menerus yang mengarah pada pengurangan pemberian layanan ekosistem lahan basah, namun pada saat yang sama permintaan untuk layanan tersebut diproyeksikan semakin meningkat. 11. Penggunaan dua layanan ekosistem lahan basah tertentu - air tawar dan penangkapan ikan tergantung pada reproduksi alami - di beberapa daerah sekarang lebih dari beberapa tingkat yang dapat dipertahankan bahkan pada tuntutan saat ini, akan banyak berkurang di masa depan. 12. Kehilangan terus menerus yang diproyeksikan dan degradasi lahan basah akan menghasilkan pengurangan kesejahteraan manusia lebih lanjut, terutama bagi orang-orang miskin di negara-negara yang kurang berkembang dimana tidak tersedianya solusi teknologi. 13. Kemajuan menuju pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium tergantung pada upaya mempertahankan atau meningkatkan layanan ekosistem lahan basah. 14. Prioritas ketika membuat pilihan tentang keputusan pengelolaan lahan basah adalah untuk memastikan bahwa layanan ekosistem lahan basah dipelihara (dan, jika perlu, dipulihkan). Hal ini dapat dicapai dengan penerapan prinsip pemanfaatan yang bijaksana dan panduan dari Konvensi Ramsar. 11

14 Gambar 1. Kerangka Konseptual Pemanfaatan lahan basah secara bijak dan pemeliharaan sifat ekologis, serta penerapan pedoman dalam peralatan Ramsar dari Buku Saku Pemanfaatan dengan Bijak edisi ke-4 (2010). (Dari laporan MA pada Konvensi Ramsar: Ecosystem Services and Human Well-Being: Wetlands & Water: Synthesis World Resources Institute, Washington D.C. [diperbarui untuk mencerminkan judul dan penomoran Buku Saku yang baru) [Lihat pada Lampiran 3 untuk informasi lebih lanjut pada peralatan Ramsar edisi ke-4] 10. Pemetaan isi dari peralatan penggunaan dengan bijak Ramsar pada kerangka kerja konseptual ini juga memungkinkan penilaian cakupan dan kesenjangan peralatan tersebut dalam kaitannya dengan peluang intervensi dan pembahasan. Perlu dicatat bahwa banyak dari panduan pemanfaatan yang bijaksana Ramsar terkait dengan perhatian strategi dan intervensi untuk ekosistem dan prosesnya, atau strategi dan intervensi menangani aspek yang mengarah secara langsung pada perubahan ekosistem. Juga, intervensi perhatian ini terutama di tingkat lokal atau nasional, karena panduan Ramsar adalah untuk Pihak yang terkait kontrak bertindak dalam wilayah mereka, meskipun beberapa panduan juga berlaku secara regional dan global (misalnya, aspek Pedoman Kerjasama Internasional - Buku Saku [20]). 11. Strategi dan peluang intervensi yang relevan maka aplikasi dari masing-masing pedoman dari peralatan Ramsar tercantum pada Tabel 2. 12

15 12. Hanya ada dua penggunaan panduan Ramsar dengan bijak - Kebijakan Lahan Basah Nasional dan Meninjau ulang Kerangka Kerja Legislatif dan Kelembagaan - sepenuhnya menjadi perhatian intervensi pada pengemudi tidak langsung terhadap perubahan, meskipun beberapa panduan lain mencakup beberapa aspek kebijakan. Namun, jelas bahwa 'intervensi' ke pengemudi tidak langsung mengarah pada perubahan yang penting untuk memiliki tempat jika upaya untuk mengelola ekosistem lahan basah secara berkelanjutan melalui penerapan sisa suit panduan pemanfaatan yang bijaksana agar efektif dan efisien. Informasi tambahan Millenium Ecosystem Assessment (Penilaian Ekosistem Millennium) Aplikasi untuk pilihan tindakan Pada COP10 tahun 2008, Pihak Ramsar mengadopsi Resolusi X.18 pada Penerapan opsi tanggapan dari Millennium Ecosystem Assessment (MA) dalam Penggunaan peralatan dengan bijaksana dari Ramsar, mengarah pada kerja dilakukan oleh Kelompok Kerja Penggunaan dengan bijaksana pada STRP itu yang dijadwalkan akan diterbitkan sebagai Laporan Teknis Ramsar. Laporan ini akan berfungsi sebagai panduan untuk Para Pihak dan lain-lain pada penerapan opsi respons MA untuk meningkatkan pelaksanaan Konvensi Ramsar di tingkat nasional. Pelengkap pekerjaan laporan lahan basah dan sintesis air, telah disiapkan pada saat yang sama dengan laporan MA keseluruhan sedang diselesaikan, dan karena itu tidak mungkin untuk meninjau secara menyeluruh semua isi MA lainnya untuk pilihan tanggapan yang relevan untuk memasukkannya dalam laporan proses. Beberapa poin dari analisis STRP sebagai berikut: Output MA mengenai tanggapan mengandung sedikit detail pada pemanfaatan lahan basah secara bijak, dan di mana lahan basah menggunakan bijak diperlakukan dalam pilihan jawaban, mereka sebagian besar difokuskan pada mengatasi pengemudi langsung pada perubahan (misalnya, abstraksi air, panen yang tidak berkelanjutan, dan konsumsi sumber daya); Output MA mengenai tanggapan mengandung beberapa pilihan yang relevan yang membahas pengemudi tidak langsung terkait pada perubahan (Pengemudi, misalnya, ekonomi dan sosial-politik) dan sejumlah yang berhubungan dengan pertukaran (trade-off) dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pemanfaatan lahan basah secara bijak; Mayoritas dari pilihan tanggapan bahwa mengatasi pengemudi yang mengarah langsung pada perubahan lahan basah telah diartikulasikan dalam peralatan Ramsar dan Buku saku pemanfaatan yang bijaksana Pengecualian merupakan pilihan respon yang terkandung dalam beberapa bab MA yang mendasari berurusan dengan layanan ekosistem (misalnya, siklus nutrisi, makanan, kesehatan manusia, dan perubahan iklim dan kualitas udara) dan beberapa bab MA yang berhubungan dengan sistem alam dan buatan manusia (misalnya, sistem perkotaan, sistem bertani dan sistem lahan kering); Beberapa pilihan respon MA yang tidak tercakup oleh buku saku Ramsar Pemanfaatan dengan bijaksana yang disertakan dalam produk STRP lainnya yang telah dibawa ke COP (misalnya, bahan diadopsi oleh COP10 di Resolusi X.23 Lahan Basah dan kesehatan serta (kesejahteraan) dan / atau sedang diterbitkan sebagai Laporan Teknis Ramsar.] Tanpa kebijakan tersebut dan kerangka kerja legislatif dalam tempatnya, ada risiko intervensi lain yang akan terjadi dalam 'kekosongan politik' tanpa lingkungan otorisasi yang jelas untuk pengiriman mereka, sehingga beresiko bahwa upaya tersebut gagal. 13. Untuk beberapa peluang intervensi ditunjukkan oleh Kerangka Kerja Konseptual MA - misalnya, antara faktor pendorong perubahan secara tidak langsung dan kesejahteraan manusia dan sebaliknya - saat ini tidak ada panduan Ramsar yang dikembangkan. 13

16 14. Semua aspek mengenai Panduan garis besar pelaksanaan konsep pemanfaatan yang bijaksana yang diadopsi oleh COP4 (Rekomendasi 4.10) dan sebagian besar aspek Panduan tambahan untuk pelaksanaan konsep pemanfaatan yang bijaksana diadopsi oleh COP5 (Resolusi 5.6) kini telah digantikan oleh panduan gabungan yang sesuai diadopsi oleh Konferensi para Pihak yang terikat kontrak dan disusun dalam peralatan Penggunaan Buku Saku Ramsar dengan bijak (lihat Tabel 2). Namun, tiga aspek panduan COP5 belum dikembangkan lebih lanjut, yang menyangkut "Penelitian", "Pelatihan" dan "Masalah teknis" dari teknologi yang berkelanjutan. [Bagian ini Resolusi 5.6 disertakan di sini dalam Lampiran 2.]. Beberapa contoh yang lebih baru dari prinsip-prinsip, pedoman dan informasi lain yang dipertimbangkan oleh COP, tentang cara-cara dimana pengemudi tertentu dapat diatasi dengan cara-cara yang positif dimana terintegrasi dengan pemeliharaan jasa ekosistem lahan basah, diberikan dalam Lampiran 4. Perkembangan definisi mengenai sifat ekologi dan perubahan sifat ekologi pada lahan basah 15. Menerapkan persyaratan dan konsep MA, di mana layanan membentuk bagian yang tidak terpisahkan dari ekosistem, definisi terbaru dari Ramsar "Sifat ekologi" adalah: "Sifat ekologis adalah kombinasi dari komponen ekosistem, proses dan keuntungan 1 / yang membentuk ciri lahan basah diberikan pada waktu tertentu." 16. Ungkapan "pada suatu titik waktu tertentu" mengacu pada Resolusi VI.1 ayat 2.1, yang menyatakan bahwa "Sangat penting bahwa sifat ekologis dalam sebuah situs dapat dijelaskan oleh Pihak yang bersangkutan pada saat penunjukan untuk Daftar Ramsar, dengan penyelesaian Lembar Informasi tentang Ramsar Lahan Basah (seperti yang diadopsi oleh Rekomendasi IV. 7)." 17. Selanjutnya, ayat 2.3 Resolusi VI.1 menyatakan bahwa "Persetujuan para Pihak yang terikat kontrak diminta untuk melakukan verifikasi data yang mereka berikan pada Lembar Informasi tentang Lahan Basah Ramsar setiap enam tahun, yaitu, setiap detik pertemuan Konferensi dan untuk menyediakan [Sekretariat] dengan lembar yang diperbaharui jika diperlukan. "Selain itu, menurut ayat 2,4" Perubahan sifat ekologi pada situs yang terdaftar harus dinilai terhadap status dasar yang disajikan dalam Lembar Informasi tentang Lahan Basah Ramsar, pada saat merancang untuk Daftar (atau pada saat Lembar Informasi pertama diberikan kepada [Sekretariat]), bersama-sama dengan informasi yang telah diterima sebelumnya. " 18. Penting untuk pengelolaan lahan basah adalah data dasar yang menetapkan kisaran variasi alami dalam komponen, proses dan manfaat / jasa di setiap situs dalam jangka waktu tertentu, terhadap ada perubahan dapat dinilai. Para Pihak yang terikat kontrak telah mengadopsi berbagai panduan yang relevan dengan identifikasi, penilaian, pemantauan dan pengelolaan sifat ekologi Lahan Basah bagi kepentingan Internasional dan lahan basah lainnya, termasuk penilaian risiko lahan basah (Resolusi VII.10), penilaian dampak (Resolusi VII.16 dan VIII.9), pemantauan (Resolusi VI.1), persediaan (Resolusi VIII.6), dan perencanaan manajemen (Resolusi VIII.14). Selain itu, [...] [teks telah diadopsi untuk menggambarkan sifat ekologi (Resolusi X.15) dan mendeteksi, pelaporan dan menanggapi perubahan sifat ekologis (Resolusi X.16) lahan basah]. 1 Dalam konteks ini, manfaat ekosistem didefinisikan sesuai dengan definisi MA mengenai jasa ekosistem sebagai "manfaat yang diterima oleh masyarakat dari ekosistem". 14

17 Tabel 2. Penerapan pedoman dalam peralatan Ramsar pada Penggunaan Buku Panduan yang bijak [4 Edition], didukung oleh Laporan Teknis Ramsar, peluang intervensi yang berbeda dalam Kerangka kerja Konseptual MA (lihat Gambar 1). Peluang intervensi Pengemudi secara tidak langsung Pengemudi secara langsung Pengemudi secara langsung Ekosistem lahan basah Dalam ekosistem Lahan Basah Menutupi beberapa tipe peluang intervensi (Pengemudi secara tidak langsung Pengemudi Langsung, pengemudi secara Langsung ekosistem Lahan Basah, dalam ekosistem Lahan Basah) Relevan dengan Penggunaan Panduan Ramsar yang bijak (edisi ke-4) [ ] dan Laporan Teknis Ramsar (RTR) 2. Kebijakan Nasional mengenai lahan basah 3. Hukum dan institusi [8.] Kerangka kerja terkait dengan air [9.] Manajemen bnataran sungai (beberapa bagian) [10.] Manajemen dan Alokasi air (beberapa bagian) [12.] Manajemen pantai (beberapa bagian) [8.] Kerangka kerja terkait dengan air [9.] Manajemen bnataran sungai (beberapa bagian) [10.] Manajemen dan Alokasi air (beberapa bagian) [11.] Air tanah [12.] Manajemen pantai (beberapa bagian) [15.] Persediaan Lahan Basah [16.] Dampak dari penilaian RTR 1. Penilaian secara cepat RTR 3. Nilai ekonomis dari Lahan Basah RTR 5. Penilaian kerentanan RTR. Kebutuhan air lingkungan (dalam persiapan) [7.] Kemampuan dari peserta [9.] Manajemen bnataran sungai (beberapa bagian) [10.] Manajemen dan Alokasi air (beberapa bagian) [11.] Air tanah [13.] Kerangka kerja mengenai persediaan/ penilaian / pengawasan [15.] Persediaan Lahan Basah [16.] Dampak dari penilaian [17.] Perencanaan situs Ramsar [18.] Mengatur Lahan Basah RTR 1. Penilaian secara cepat RTR 2 GIS untuk persediaan, penilaian dan pengawasan 1. Penggunaan Lahan Basah dengan Bijak [4. Flu Burung dan Lahan Basah] [5. Kemitraan] [6.] Lahan Basah CEPA [20.] Kerjasama Internasional Lihat juga Resolusi IX.1. Lampiran D : Indikator keefektifan. 15

18 Lihat juga Buku Saku 13, persediaan, penilaian dan pengawasan. 18, Manajemen Lahan basah dan 19. Mengatasi Perubahan pada sifat ekologi Lahan basah 19. Konsisten dengan definisi terbaru dari "sifat ekologi", definisi "perubahan sifat ekologi lahan basah" yang diperbaharui adalah: "Untuk keperluan pelaksanaan Pasal 3.2, perubahan sifat ekologi adalah perubahan yang merugikan yang disebabkan oleh manusia pada komponen, proses, dan / atau manfaat / jasa ekosistem apapun. " 20. Dimasukkannya referensi khusus dengan Pasal 3.2 dari teks Konvensi dalam definisi ini dirancang untuk memperjelas kewajiban pemeliharaan untuk sifat ekologis lahan basah yang telah terdaftar dalam Kepentingan Internasional (Situs Ramsar) berdasarkan Pasal 3.2, dan untuk dicatat bahwa masalah perubahan tersebut hanya merugikan mengubah yang disebabkan oleh tindakan manusia. Hal ini sejalan dengan konteks Pasal 3.2 dan 4.8 Rekomendasi (1990) menetapkan Rekaman Montreux, yang kembali ditegaskan oleh COP8 Resolusi VIII.8. Untuk keperluan berhubungan dengan Konvensi, definisi ini tidak memasukkan proses perubahan evolusioner alam yang terjadi pada lahan basah dan juga tidak termasuk perubahan positif yang disebabkan oleh manusia. 21. Namun, perlu dicatat bahwa tindakan lain yang diadopsi oleh Konvensi, seperti yang menyangkut penilaian status keseluruhan dan kecenderungan lahan basah serta Situs Ramsar, memerlukan informasi pada semua jenis perubahan sifat ekologi - positif dan negatif, yang disebabkan oleh alam dan manusia (seperti diakui dalam COP8 DOC. 20 dan dengan Resolusi VIII.8). Demikian pula, Konvensi Ramsar juga telah mengakui bahwa restorasi lahan basah dan / atau program rehabilitasi dapat menyebabkan perubahan-manusia yang menguntungkan dalam sifat ekologi (Lampiran Resolusi VI.1, 1996) dan merupakan aspek utama pada intervensi pengelolaan lahan basah (lihat, misalnya, Lampiran Resolusi VIII.14 (Buku Saku [18]) dan Buku Saku [19]). Definisi terbaru dari pemanfaatan yang bijak pada Lahan Basah 22. Definisi terbaru dari "pemanfaatan yang bijaksana", menjadi pertimbangan dalam pernyataan misi dari Konvensi, terminologi MA, konsep pendekatan ekosistem dan pemanfaatan berkelanjutan yang diterapkan oleh Konvensi Keanekaragaman Hayati, dan definisi pembangunan berkelanjutan yang diadopsi oleh Komisi Brundtland 1987, yaitu: Penggunaan lahan basah yang bijak adalah pemeliharaan sifat ekologis mereka, yang dicapai melalui penerapan pendekatan ekosistem 2, dalam konteks pembangunan berkelanjutan Ketentuan penggunaan Konvensi yang berlaku dengan bijak, sejauh ini, untuk semua ekosistem lahan basah. Pilihan masyarakat melekat dalam memajukan kesejahteraan manusia dan pengentasan kemiskinan, yang tergantung pada pemeliharaan manfaat / layanan ekosistem. Tekanan untuk mengikuti ajaran pembangunan berkelanjutan, dan untuk menjaga lingkungan, keberlanjutan sosial dan ekonomi dalam keputusan penggunaan lahan, mendorong kompromi pertukaran (trade-off) antara individual dan kepentingan bersama. 2 Termasuk antara lain Konvensi "Pendekatan Ekosistem" Keanekaragaman Hayati (CBD Keputusan COP5 V / 6) dan yang diterapkan oleh HELCOM dan OSPAR (Deklarasi Rapat Gabungan Menteri Pertama Helsinki dan Komisi OSPAR, Bremen Juni 2003). 3 Ungkapan "dalam konteks pembangunan berkelanjutan" dimaksudkan untuk mengakui bahwa sementara beberapa pembangunan lahan basah tidak dapat dihindari dan banyak perkembangan memiliki manfaat penting bagi masyarakat, perkembangan dapat difasilitasi dengan cara berkesinambungan dengan pendekatan yang digabungkan di bawah Konvensi, dan tidak tepat menyiratkan bahwa 'pembangunan' merupakan tujuan untuk setiap lahan basah. 16

19 24. Dalam konteks pendekatan ekosistem, proses perencanaan untuk mempromosikan pengiriman manfaat / jasa ekosistem lahan basah harus dirumuskan dan dilaksanakan dalam konteks pemeliharaan atau peralatan tambahan, yang sesuai, sifat ekologis lahan basah pada skala spasial dan skala temporal. Pengeringan ikan, Situs Ramsar Coppename Mending, Suriname, 2007 (Foto: Margarita Astralaga) 17

20 Informasi tambahan Lahan Basah dan Proyek Penanggulangan Kemiskinan: mengamankan lahan basah mempertahankan kehidupan Oleh Wetlands International Sebuah perkembangan oleh staff Ramsar untuk Buku Saku edisi ke-4 Wetlands dan Proyek Penanggulangan Kemiskinan dari Wetlands International berjalan dari bulan Januari 2005 sampai Desember 2008, dan dimaksudkan untuk membuktikan dan mempromosikan peran penting lahan basah dapat berperan dalam penanggulangan kemiskinan. Bersama dengan mitra dari organisasi lingkungan dan pembangunan, proyek berlangsung dalam konteks Lahan Basah dan Program Mata Pencaharian dari Wetlands International, yang mendukung peningkatan manajemen lahan basah. Tantangannya adalah untuk mengatasi konflik kepentingan serta kurangnya pengetahuan antara orang-orang yang terlibat dalam pengelolaan lahan basah. Proyek ini megembangkan pandangan dan informasi yang jelas, menawarkan fasilitas pelatihan dan menggunakan advokasi dan komunikasi untuk membawa pengetahuan kepada orang yang tepat. Untuk pengelolaan lahan basah yang optimal, yang mengarah pada manfaat yang berkelanjutan bagi banyak orang, advokasi juga dilakukan untuk mempromosikan penolakan terhadap kebijakan dan praktik yang merugikan serta mendukung kemitraan dan kebijakan yang mengarah pada solusi jangka panjang bagi masyarakat miskin. Pengetahuan: mengembangkan informasi dan pandangan yang meyakinkan Proyek ini bekerja pada basis pengetahuan informasi dan pandangan yang jelas tentang berbagai topik mengenai lahan basah untuk menginformasikan dan meyakinkan mereka yang bertanggung jawab atas kebijakan. Proyekproyek percontohan didirikan di Afrika dan Asia untuk menggali potensi berbagai jenis lahan basah untuk pengentasan kemiskinan dan bagaimana pengelolaan yang terbaik. Dalam proyek percontohan, kemitraan lokal menggambarkan bagaimana pengurangan kemiskinan dapat dicapai melalui pemanfaatan lahan basah secara bijak, menunjukkan dengan cara yang praktis, bagaimana resiliensi ekosistem lahan basah dapat memenuhi kebutuhan manusia dan mempertahankan keanekaragaman hayati. Pemangku kepentingan dalam proyek percontohan didorong untuk belajar dari pengalaman orang lain, khususnya masyarakat adat. Salah satu kriteria pendanaan untuk proyek-proyek adalah komitmen nyata dari kemitraan yang aktif antara lembaga konservasi dan pembangunan serta kepentingan sektoral lainnya dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek tersebut.contoh dari demonstrasi proyek tersebut, antara lain: MALI: Penanggulangan kemiskinan di Inner Niger Delta Penangkapan ikan di Inner Niger Delta. Foto: Leo Zwarts. KENYA: Meningkatkan pengelolaan air sebagai pintu masuk untuk meningkatkan mata pencaharian penduduk, rencana penggunaan lahan yang terpadu dan pembangunan institusional ZAMBIA MALAWI: Membuat sebuah keseimbangan mengelola lahan basah musiman dan kontribusi mata pencaharian mereka di wilayah Selatan Afrika Tengah 18

Deklarasi Changwon untuk Kesejahteraan Manusia dan Lahan Basah

Deklarasi Changwon untuk Kesejahteraan Manusia dan Lahan Basah Deklarasi Changwon untuk Kesejahteraan Manusia dan Lahan Basah MENGAPA ANDA HARUS MEMBACA DAN MENGGUNAKAN DEKLARASI INI Lahan basah menyediakan pangan, menyimpan karbon, mengatur arah aliran air, menyimpan

Lebih terperinci

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011.

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011. Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011. 1. Atas undangan Organisasi Kesehatan Dunia, kami, Kepala Pemerintahan, Menteri dan perwakilan pemerintah datang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG PENGESAHAN NAGOYA PROTOCOL ON ACCESS TO GENETIC RESOURCES AND THE FAIR AND EQUITABLE SHARING OF BENEFITS ARISING FROM THEIR UTILIZATION TO THE

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG PENGESAHAN NAGOYA PROTOCOL ON ACCESS TO GENETIC RESOURCES AND THE FAIR AND EQUITABLE SHARING OF BENEFITS ARISING FROM THEIR UTILIZATION TO THE

Lebih terperinci

DEKLARASI BERSAMA TENTANG KEMITRAAN STRATEGIS ANTARA PERANCIS DAN INDONESIA

DEKLARASI BERSAMA TENTANG KEMITRAAN STRATEGIS ANTARA PERANCIS DAN INDONESIA DEKLARASI BERSAMA TENTANG KEMITRAAN STRATEGIS ANTARA PERANCIS DAN INDONESIA Jakarta, 1 Juli 2011 - 1 - Untuk menandai 60 tahun hubungan diplomatik dan melanjutkan persahabatan antara kedua negara, Presiden

Lebih terperinci

Pemerintah Indonesia GGGI Program Green Growth

Pemerintah Indonesia GGGI Program Green Growth Pemerintah Indonesia GGGI Program Green Growth Memprioritaskan Investasi: Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Oktober 2013 Kata Sambutan Dr Ir. Lukita Dinarsyah Tuwo, M.A Wakil Menteri Kementerian Perencanaan

Lebih terperinci

Deklarasi Dhaka tentang

Deklarasi Dhaka tentang Pembukaan Konferensi Dhaka tentang Disabilitas & Manajemen Risiko Bencana 12-14 Desember 2015, Dhaka, Bangladesh Deklarasi Dhaka tentang Disabilitas dan Manajemen Risiko Bencana, 14 Desember 2015 diadopsi

Lebih terperinci

Prosedur dan Daftar Periksa Kajian Sejawat Laporan Penilaian Nilai Konservasi Tinggi

Prosedur dan Daftar Periksa Kajian Sejawat Laporan Penilaian Nilai Konservasi Tinggi ID Dokumen BAHASA INDONESIA Prosedur dan Daftar Periksa Kajian Sejawat Laporan Penilaian Nilai Konservasi Tinggi Kelompok Pakar Sejawat, Skema Lisensi Penilai (ALS) HCV Resource Network (HCVRN) Prosedur

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

CAGAR BIOSFER Uji lapangan untuk Pembangunan Berkelanjutan

CAGAR BIOSFER Uji lapangan untuk Pembangunan Berkelanjutan CAGAR BIOSFER Uji lapangan untuk Pembangunan Berkelanjutan Cagar Biosfer adalah situs yang ditunjuk oleh berbagai negara melalui kerjasama dengan program MAB-UNESCO untuk mempromosikan konservasi keaneragaman

Lebih terperinci

PROTOKOL CARTAGENA TENTANG KEAMANAN HAYATI ATAS KONVENSI TENTANG KEANEKARAGAMAN HAYATI

PROTOKOL CARTAGENA TENTANG KEAMANAN HAYATI ATAS KONVENSI TENTANG KEANEKARAGAMAN HAYATI PROTOKOL CARTAGENA TENTANG KEAMANAN HAYATI ATAS KONVENSI TENTANG KEANEKARAGAMAN HAYATI Para Pihak pada Protokol ini, Menjadi Para Pihak pada Konvensi Tentang Keanekaragaman Hayati, selanjutnya disebut

Lebih terperinci

BAB VIII RANCANGAN PROGRAM STRATEGIS

BAB VIII RANCANGAN PROGRAM STRATEGIS BAB VIII RANCANGAN PROGRAM STRATEGIS 8.1. Rancangan Program Peningkatan Peran LSM dalam Program PHBM Peran LSM dalam pelaksanaan program PHBM belum sepenuhnya diikuti dengan terciptanya suatu sistem penilaian

Lebih terperinci

Perlindungan Terhadap Biodiversitas

Perlindungan Terhadap Biodiversitas Perlindungan Terhadap Biodiversitas Pendahuluan Oleh karena kehidupan di dunia tergantung kepada berfungsinya biosfer secara baik, maka tujuan utama konservasi dan perlindungan adalah menjaga biosfer dalam

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Undang Undang No. 6 Tahun 1994 Tentang : Pengesahan United Nations Framework Convention On Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa Bangsa Mengenai Perubahan Iklim) Oleh : PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

DANA INVESTASI IKLIM. 7 Juli 2009 DOKUMEN RANCANG UNTUK PROGRAM INVESTASI HUTAN, PROGRAM YANG DITARGETKAN BERDASARKAN DANA PERWALIAN SCF

DANA INVESTASI IKLIM. 7 Juli 2009 DOKUMEN RANCANG UNTUK PROGRAM INVESTASI HUTAN, PROGRAM YANG DITARGETKAN BERDASARKAN DANA PERWALIAN SCF DANA INVESTASI IKLIM 7 Juli 2009 DOKUMEN RANCANG UNTUK PROGRAM INVESTASI HUTAN, PROGRAM YANG DITARGETKAN BERDASARKAN DANA PERWALIAN SCF 2 I. LATAR BELAKANG 1. Semakin meluas konsensus bahwa mengatasi perubahan

Lebih terperinci

Daftar Tanya Jawab Permintaan Pengajuan Konsep Proyek TFCA Kalimantan Siklus I 2013

Daftar Tanya Jawab Permintaan Pengajuan Konsep Proyek TFCA Kalimantan Siklus I 2013 Daftar Tanya Jawab Permintaan Pengajuan Konsep Proyek TFCA Kalimantan Siklus I 2013 1. Apakah TFCA Kalimantan? Tropical Forest Conservation Act (TFCA) merupakan program kerjasama antara Pemerintah Republik

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

DANA INVESTASI IKLIM

DANA INVESTASI IKLIM DANA INVESTASI IKLIM 29 November 2011 USULAN RANCANG MEKANISME HIBAH TERDEDIKASI UNTUK WARGA PRIBUMI DAN MASYARAKAT LOKAL YANG AKAN DISUSUN BERDASARKAN PROGRAM INVESTASI HUTAN PENDAHULUAN 1. Dokumen Rancang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

Bab 1: Konteks Menganalisis Lingkungan Indonesia

Bab 1: Konteks Menganalisis Lingkungan Indonesia Bab 1: Konteks Menganalisis Lingkungan Indonesia Nelayan (Koleksi Bank Dunia ) Foto: Curt Carnemark 4 Berinvestasi untuk Indonesia yang Lebih Berkelanjutan 1.1 Karakteristik Utama Tantangan Lingkungan

Lebih terperinci

Silabus Kursus Pelatihan Penilai NKT

Silabus Kursus Pelatihan Penilai NKT ID Dokumen BAHASA INDONESIA Silabus Kursus Pelatihan Penilai NKT Panduan untuk Organisasi Pelatihan Pendahuluan Skema Lisensi Penilai (ALS) HCVRN (High Conservation Value Resource Network)disusun untuk

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DAFTAR ISI BAB I KETENTUAN UMUM... 2 BAB II LANDASAN PENGELOLAAN AIR TANAH... 3 Bagian Kesatu Umum... 3 Bagian Kedua Kebijakan

Lebih terperinci

Pemuda Asia Tenggara sebagai Pemersatu untuk Dunia Kita Inginkan

Pemuda Asia Tenggara sebagai Pemersatu untuk Dunia Kita Inginkan 6th UNEP TUNZA Southeast Asia Youth Environment Network (SEAYEN) Meeting Youth Statement pertemuan Panel Tingkat Tinggi di Bali pada kemitraan / kerjasama global (25-27 Maret, 2013) 26 Maret 2013 Pemuda

Lebih terperinci

K182 PELANGGARAN DAN TINDAKAN SEGERA PENGHAPUSAN BENTUK-BENTUK PEKERJAAN TERBURUK UNTUK ANAK

K182 PELANGGARAN DAN TINDAKAN SEGERA PENGHAPUSAN BENTUK-BENTUK PEKERJAAN TERBURUK UNTUK ANAK K182 PELANGGARAN DAN TINDAKAN SEGERA PENGHAPUSAN BENTUK-BENTUK PEKERJAAN TERBURUK UNTUK ANAK 1 K 182 - Pelanggaran dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak 2 Pengantar

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

Respon Pemantauan IFC ke. Audit CAO mengenai investasi IFC di

Respon Pemantauan IFC ke. Audit CAO mengenai investasi IFC di AUDIT PEMANTAUAN DAN LAPORAN PENUTUPAN CAO Audit IFC Kepatuhan CAO C-I-R6-Y08-F096 27 Maret 2013 Respon Pemantauan IFC ke Audit CAO mengenai investasi IFC di Wilmar Trading (IFC No. 20348) Delta Wilmar

Lebih terperinci

Silabus Kursus Pelatihan Penilai NKT

Silabus Kursus Pelatihan Penilai NKT Silabus Kursus Pelatihan Penilai NKT Panduan untuk Organisasi Pelatihan Pendahuluan Skema Lisensi Penilai (ALS) HCVRN (High Conservation Value Resource Network)disusun untuk meningkatkan kompetensi penilai

Lebih terperinci

K187. Tahun 2006 tentang Landasan Peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

K187. Tahun 2006 tentang Landasan Peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja K187 Tahun 2006 tentang Landasan Peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja 1 K187 - Tahun 2006 tentang Landasan Peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja ISBN 978-92-2-xxxxxx-x Cetakan Pertama, 2010

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

BERITA DAERAH KOTA BEKASI BERITA DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 42 2012 SERI : E PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 42 TAHUN 2012 TENTANG BADAN KOORDINASI PENATAAN RUANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BEKASI, Menimbang

Lebih terperinci

PENDANAAN BERKELANJUTAN BAGI KAWASAN KONSERVASI LAUT

PENDANAAN BERKELANJUTAN BAGI KAWASAN KONSERVASI LAUT PENDANAAN BERKELANJUTAN BAGI KAWASAN KONSERVASI LAUT Oleh: Rony Megawanto Tekanan terhadap sumber daya perikanan semakin tinggi seiring dengan meningkatkan permintaan pasar (demand) terhadap produk-produk

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

-2- saling melengkapi dan saling mendukung, sedangkan peran KLHS pada perencanaan perlindungan dan pengelolaan Lingkungan Hidup bersifat menguatkan. K

-2- saling melengkapi dan saling mendukung, sedangkan peran KLHS pada perencanaan perlindungan dan pengelolaan Lingkungan Hidup bersifat menguatkan. K TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I LINGKUNGAN HIDUP. Strategis. Penyelenggaraan. Tata Cara. (Penjelasan atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 228) PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK

Lebih terperinci

R-165 REKOMENDASI PEKERJA DENGAN TANGGUNG JAWAB KELUARGA, 1981

R-165 REKOMENDASI PEKERJA DENGAN TANGGUNG JAWAB KELUARGA, 1981 R-165 REKOMENDASI PEKERJA DENGAN TANGGUNG JAWAB KELUARGA, 1981 2 R-165 Rekomendasi Pekerja dengan Tanggung Jawab Keluarga, 1981 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan

Lebih terperinci

STATUTA INSTITUT INTERNASIONAL UNTUK DEMOKRASI DAN PERBANTUAN PEMILIHAN UMUM*

STATUTA INSTITUT INTERNASIONAL UNTUK DEMOKRASI DAN PERBANTUAN PEMILIHAN UMUM* STATUTA INSTITUT INTERNASIONAL UNTUK DEMOKRASI DAN PERBANTUAN PEMILIHAN UMUM* Institut Internasional untuk Demokrasi dan Perbantuan Pemilihan Umum didirikan sebagai organisasi internasional antar pemerintah

Lebih terperinci

Memanfaatkan Data Terbuka untuk Peningkatan Keterbukaan Fiskal

Memanfaatkan Data Terbuka untuk Peningkatan Keterbukaan Fiskal Memanfaatkan Data Terbuka untuk Peningkatan Keterbukaan Fiskal Lima Langkah untuk Membantu Organisasi Masyarakat Sipil Berhasil Menerapkan Data Terbuka dengan Baik Panduan Pelaksanaan JAKARTA Panduan Pelaksanaan:

Lebih terperinci

GLOBALISASI HAK ASASI MANUSIA DARI BAWAH: TANTANGAN HAM DI KOTA PADA ABAD KE-21

GLOBALISASI HAK ASASI MANUSIA DARI BAWAH: TANTANGAN HAM DI KOTA PADA ABAD KE-21 Forum Dunia tentang HAM di Kota tahun 2011 GLOBALISASI HAK ASASI MANUSIA DARI BAWAH: TANTANGAN HAM DI KOTA PADA ABAD KE-21 16-17 Mei 2011 Gwangju, Korea Selatan Deklarasi Gwangju tentang HAM di Kota 1

Lebih terperinci

PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012

PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012 PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012 Apa saja prasyaarat agar REDD bisa berjalan Salah satu syarat utama adalah safeguards atau kerangka pengaman Apa itu Safeguards Safeguards

Lebih terperinci

Melestarikan habitat pesisir saat ini, untuk keuntungan di esok hari

Melestarikan habitat pesisir saat ini, untuk keuntungan di esok hari Melestarikan habitat pesisir saat ini, untuk keuntungan di esok hari Kesejahteraan masyarakat pesisir secara langsung terkait dengan kondisi habitat alami seperti pantai, terumbu karang, muara, hutan mangrove

Lebih terperinci

STATUTA ASOSISI MAHKAMAH KONSTITUSI DAN INSTITUSI SEJENIS SE-ASIA

STATUTA ASOSISI MAHKAMAH KONSTITUSI DAN INSTITUSI SEJENIS SE-ASIA STATUTA ASOSISI MAHKAMAH KONSTITUSI DAN INSTITUSI SEJENIS SE-ASIA Pembukaan Presiden atau Kepala mahkamah konstitusi dan institusi sejenis yang melaksanakan kewenangan konstitusional di Asia: MENGINGAT

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PENYELENGGARAAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PENYELENGGARAAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PENYELENGGARAAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

Kajian Tengah Waktu Strategi 2020. Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik

Kajian Tengah Waktu Strategi 2020. Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Kajian Tengah Waktu Strategi 2020 Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Kajian Tengah Waktu (Mid-Term Review/MTR) atas Strategi 2020 merupakan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGELOLA PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA DARI DEFORESTASI, DEGRADASI HUTAN DAN LAHAN GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan fakta fisiknya, Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang 81.000 km (terpanjang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10, Pasal

Lebih terperinci

K143 KONVENSI PEKERJA MIGRAN (KETENTUAN TAMBAHAN), 1975

K143 KONVENSI PEKERJA MIGRAN (KETENTUAN TAMBAHAN), 1975 K143 KONVENSI PEKERJA MIGRAN (KETENTUAN TAMBAHAN), 1975 1 K-143 Konvensi Pekerja Migran (Ketentuan Tambahan), 1975 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang

Lebih terperinci

PROGRAM HUTAN DAN IKLIM WWF

PROGRAM HUTAN DAN IKLIM WWF PROGRAM HUTAN DAN IKLIM WWF LEMBAR FAKTA 2014 GAMBARAN SEKILAS Praktek-Praktek REDD+ yang Menginspirasi MEMBANGUN DASAR KERANGKA PENGAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DI INDONESIA Apa» Kemitraan dengan Ratah

Lebih terperinci

KERANGKA DAN STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG DALAM PROGRAM KARBON HUTAN BERAU (PKHB)

KERANGKA DAN STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG DALAM PROGRAM KARBON HUTAN BERAU (PKHB) KERANGKA DAN STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG DALAM PROGRAM KARBON HUTAN BERAU (PKHB) Menimbang berbagai faktor utama yang menghambat pengelolaan hutan lindung secara efektif, maka pengelolaan hutan

Lebih terperinci

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Juli 2014 Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi risiko perubahan iklim tercermin melalui serangkaian

Lebih terperinci

K177 Konvensi Kerja Rumahan, 1996 (No. 177)

K177 Konvensi Kerja Rumahan, 1996 (No. 177) K177 Konvensi Kerja Rumahan, 1996 (No. 177) 1 K177 - Konvensi Kerja Rumahan, 1996 (No. 177) 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan

Lebih terperinci

Restorasi Ekosistem di Hutan Alam Produksi: Implementasi dan Prospek Pengembangan

Restorasi Ekosistem di Hutan Alam Produksi: Implementasi dan Prospek Pengembangan Restorasi Ekosistem di Hutan Alam Produksi: Implementasi dan Prospek Pengembangan Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia) Mendefinisikan restorasi ekosistem (di hutan alam produksi)

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Danau merupakan perairan umum daratan yang memiliki fungsi penting bagi pembangunan dan kehidupan manusia. Secara umum, danau memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi ekologi

Lebih terperinci

MAKALAH PEMBAHASAN EVALUASI KEBIJAKAN NASIONAL PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP DI DAERAH ALIRAN SUNGAI 1) WIDIATMAKA 2)

MAKALAH PEMBAHASAN EVALUASI KEBIJAKAN NASIONAL PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP DI DAERAH ALIRAN SUNGAI 1) WIDIATMAKA 2) MAKALAH PEMBAHASAN EVALUASI KEBIJAKAN NASIONAL PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP DI DAERAH ALIRAN SUNGAI 1) WIDIATMAKA 2) 1) Disampaikan pada Lokakarya Nasional Rencana Pembangunan Jangka

Lebih terperinci

Tantangan Ke Depan. 154 Tantangan Ke Depan

Tantangan Ke Depan. 154 Tantangan Ke Depan 5 Tantangan Ke Depan Pemahaman ilmiah kita terhadap ekosistem secara umum, khususnya pada ekosistem laut, mengalami kemajuan pesat dalam beberapa dekade terakhir. Informasi tentang pengelolaan ekosistem

Lebih terperinci

Diadaptasi oleh Dewan Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 18 Januari 2002

Diadaptasi oleh Dewan Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 18 Januari 2002 Protokol Konvensi Hak Anak Tentang Perdagangan Anak, Prostitusi Anak dan Pronografi Anak Diadaptasi oleh Dewan Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 18 Januari 2002 Negara-negara peserta tentang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10, Pasal

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN

Lebih terperinci

K 183 KONVENSI PERLINDUNGAN MATERNITAS, 2000

K 183 KONVENSI PERLINDUNGAN MATERNITAS, 2000 K 183 KONVENSI PERLINDUNGAN MATERNITAS, 2000 2 K-183 Konvensi Perlindungan Maternitas, 2000 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan

Lebih terperinci

Pedoman untuk Persiapan Pengajuan Proposal Program Pencegahan HIV dan Pengobatan Ketergantungan Napza Terpadu

Pedoman untuk Persiapan Pengajuan Proposal Program Pencegahan HIV dan Pengobatan Ketergantungan Napza Terpadu Lampiran 1 Pedoman untuk Persiapan Pengajuan Proposal Program Pencegahan HIV dan Pengobatan Ketergantungan Napza Terpadu 1. PENDAHULUAN 1.1. Pertimbangan Umum Penggunaan dan ketergantungan napza adalah

Lebih terperinci

BAB V. KEBIJAKAN PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH KABUPATEN ALOR

BAB V. KEBIJAKAN PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH KABUPATEN ALOR BAB V. KEBIJAKAN PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH KABUPATEN ALOR 5.1. Visi dan Misi Pengelolaan Kawasan Konservasi Mengacu pada kecenderungan perubahan global dan kebijakan pembangunan daerah

Lebih terperinci

2013, No Mengingat Emisi Gas Rumah Kaca Dari Deforestasi, Degradasi Hutan dan Lahan Gambut; : 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Rep

2013, No Mengingat Emisi Gas Rumah Kaca Dari Deforestasi, Degradasi Hutan dan Lahan Gambut; : 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Rep No.149, 2013 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LINGKUNGAN. Badan Pengelola. Penurunan. Emisi Gas Rumah Kaca. Kelembagaan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGELOLA

Lebih terperinci

5.2 Pengendalian Penggunaan Lahan dan Pengelolaan Lingkungan Langkah-langkah Pengendalian Penggunaan Lahan untuk Perlindungan Lingkungan

5.2 Pengendalian Penggunaan Lahan dan Pengelolaan Lingkungan Langkah-langkah Pengendalian Penggunaan Lahan untuk Perlindungan Lingkungan Bab 5 5.2 Pengendalian Penggunaan Lahan dan Pengelolaan Lingkungan 5.2.1 Langkah-langkah Pengendalian Penggunaan Lahan untuk Perlindungan Lingkungan Perhatian harus diberikan kepada kendala pengembangan,

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif. Laporan Kemajuan MDF Desember 2009 Ringkasan Eksekutif

Ringkasan Eksekutif. Laporan Kemajuan MDF Desember 2009 Ringkasan Eksekutif Laporan Kemajuan MDF Desember 2009 Ringkasan Eksekutif Ringkasan Eksekutif Proyek yang berfokus pada pemulihan masyarakat adalah yang paling awal dijalankan MDF dan pekerjaan di sektor ini kini sudah hampir

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGELOLA PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA DARI DEFORESTASI, DEGRADASI HUTAN DAN LAHAN GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN PELAKSANAAN EVALUASI AKHIR PROGRAM MITRA TFCA- SUMATERA PADA SIKLUS HIBAH 1

KERANGKA ACUAN PELAKSANAAN EVALUASI AKHIR PROGRAM MITRA TFCA- SUMATERA PADA SIKLUS HIBAH 1 KERANGKA ACUAN PELAKSANAAN EVALUASI AKHIR PROGRAM MITRA TFCA- SUMATERA PADA SIKLUS HIBAH 1 1. PENDAHULUAN Program TFCA- Sumatera merupakan program hibah bagi khususnya LSM dan Perguruan Tinggi di Indonesia

Lebih terperinci

V KEBERGANTUNGAN DAN KERENTANAN MASYARAKAT TERHADAP SUMBERDAYA DANAU

V KEBERGANTUNGAN DAN KERENTANAN MASYARAKAT TERHADAP SUMBERDAYA DANAU V KEBERGANTUNGAN DAN KERENTANAN MASYARAKAT TERHADAP SUMBERDAYA DANAU 70 5.1 Kebergantungan Masyarakat terhadap Danau Rawa Pening Danau Rawa Pening memiliki peran penting dalam menciptakan keseimbangan

Lebih terperinci

MENCIPTAKAN HUTAN MASYARAKAT DI INDONESIA

MENCIPTAKAN HUTAN MASYARAKAT DI INDONESIA PROGRAM HUTAN DAN IKLIM WWF LEMBAR FAKTA 2014 Praktek REDD+ yang Menginspirasi MENCIPTAKAN HUTAN MASYARAKAT DI INDONESIA RINGKASAN Apa Pengembangan kawasan konservasi masyarakat dan pengelolaan hutan berbasis

Lebih terperinci

Belajar dari redd Studi komparatif global

Belajar dari redd Studi komparatif global Belajar dari redd Studi komparatif global Studi komparatif global REDD dalam kurun waktu beberapa tahun yang diupayakan CIFOR bertujuan menyediakan informasi bagi para pembuat kebijakan, praktisi dan penyandang

Lebih terperinci

Kajian Nilai Konservasi Tinggi Provinsi Kalimantan Tengah

Kajian Nilai Konservasi Tinggi Provinsi Kalimantan Tengah Kajian Nilai Konservasi Tinggi Provinsi Kalimantan Tengah Ringkasan Eksekutif Bismart Ferry Ibie Nina Yulianti Oktober 2016 Nyahu Rumbang Evaphilo Ibie RINGKASAN EKSEKUTIF Kalimantan Tengah berada di saat

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2013 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2013 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2013 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa dalam rangka Konservasi Rawa, Pengembangan Rawa,

Lebih terperinci

W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A

W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 87 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN BADAN KOORDINASI PENATAAN RUANG DAERAH KOTA YOGYAKARTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2013 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2013 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2013 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : bahwa dalam rangka Konservasi Rawa,

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP.38/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN TERUMBU KARANG MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN,

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP.38/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN TERUMBU KARANG MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN, KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP.38/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN TERUMBU KARANG MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN, Menimbang : a. bahwa sumberdaya terumbu karang dan ekosistemnya

Lebih terperinci

K 173 KONVENSI PERLINDUNGAN KLAIM PEKERJA (KEPAILITAN PENGUSAHA), 1992

K 173 KONVENSI PERLINDUNGAN KLAIM PEKERJA (KEPAILITAN PENGUSAHA), 1992 K 173 KONVENSI PERLINDUNGAN KLAIM PEKERJA (KEPAILITAN PENGUSAHA), 1992 2 K-173 Konvensi Perlindungan Klaim Pekerja (Kepailitan Pengusaha), 1992 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. 1 P a g e

BAB I. PENDAHULUAN. 1 P a g e BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Keberadaan kawasan hutan di Jawa Timur, sampai dengan saat ini masih belum dapat mencapai ketentuan minimal luas kawasan sebagaimana amanat Undang-Undang nomor 41

Lebih terperinci

Naskah Rekomendasi mengenai Landasan Nasional untuk Perlindungan Sosial

Naskah Rekomendasi mengenai Landasan Nasional untuk Perlindungan Sosial Naskah Rekomendasi mengenai Landasan Nasional untuk Perlindungan Sosial 2 Naskah Rekomendasi mengenai Landasan Nasional untuk Perlindungan Sosial Naskah Rekomendasi mengenai Landasan Nasional untuk Perlindungan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG PENGESAHAN PARIS AGREEMENT TO THE UNITED NATIONS FRAMEWORK CONVENTION ON CLIMATE CHANGE (PERSETUJUAN PARIS ATAS KONVENSI KERANGKA KERJA PERSERIKATAN

Lebih terperinci

Pedoman Umum Penyusunan Rencana Pengembangan Desa Pesisir

Pedoman Umum Penyusunan Rencana Pengembangan Desa Pesisir Pedoman Umum Penyusunan Rencana Pengembangan Desa Pesisir i Kata Pengantar Kegiatan pembangunan di wilayah pesisir dan Pulau-Pulau Kecil mempunyai potensi dampak kerusakan habitat, perubahan pada proses

Lebih terperinci

Deklarasi New York tentang Kehutanan Suatu Kerangka Kerja Penilaian dan Laporan Awal

Deklarasi New York tentang Kehutanan Suatu Kerangka Kerja Penilaian dan Laporan Awal Kemajuan Deklarasi New York tentang Kehutanan Suatu Kerangka Kerja Penilaian dan Laporan Awal Ringkasan Eksekutif November 2015 www.forestdeclaration.org An electronic copy of the full report is available

Lebih terperinci

Pemerintah Republik Indonesia (Indonesia) dan Pemerintah Kerajaan Norwegia (Norwegia), (yang selanjutnya disebut sebagai "Para Peserta")

Pemerintah Republik Indonesia (Indonesia) dan Pemerintah Kerajaan Norwegia (Norwegia), (yang selanjutnya disebut sebagai Para Peserta) Terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia ini dibuat oleh Center for Internasional Forestry Research (CIFOR) dan tidak bisa dianggap sebagai terjemahan resmi. CIFOR tidak bertanggung jawab jika ada kesalahan

Lebih terperinci

MENUJU KERANGKA KERJA STRATEGIS MENGENAI PERUBAHAN IKLIM DAN PEMBANGUNAN UNTUK KELOMPOK BANK DUNIA RANGKUMAN

MENUJU KERANGKA KERJA STRATEGIS MENGENAI PERUBAHAN IKLIM DAN PEMBANGUNAN UNTUK KELOMPOK BANK DUNIA RANGKUMAN MENUJU KERANGKA KERJA STRATEGIS MENGENAI PERUBAHAN IKLIM DAN PEMBANGUNAN UNTUK KELOMPOK BANK DUNIA RANGKUMAN 11. Penanggulangan perubahan iklim merupakan tema inti agenda pembangunan dan pengentasan kemiskinan.

Lebih terperinci

ALAM. Kawasan Suaka Alam: Kawasan Pelestarian Alam : 1. Cagar Alam. 2. Suaka Margasatwa

ALAM. Kawasan Suaka Alam: Kawasan Pelestarian Alam : 1. Cagar Alam. 2. Suaka Margasatwa UPAYA DEPARTEMEN KEHUTANAN DALAM ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM DEPARTEMEN KEHUTANAN FENOMENA PEMANASAN GLOBAL Planet in Peril ~ CNN Report + Kenaikan

Lebih terperinci

BUPATI GORONTALO PROVINSI GORONTALO

BUPATI GORONTALO PROVINSI GORONTALO BUPATI GORONTALO PROVINSI GORONTALO PERATURAN DAERAH KABUPATEN GORONTALO NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PERENCANAAN, PELAKSANAAN PEMBANGUNAN, PEMANFAATAN, DAN PENDAYAGUNAAN KAWASAN PERDESAAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

KOMENTAR UMUM NO. 2 TINDAKAN-TINDAKAN BANTUAN TEKNIS INTERNASIONAL Komite Hak Ekonomi, Sosial, Dan Budaya PBB HRI/GEN/1/Rev.

KOMENTAR UMUM NO. 2 TINDAKAN-TINDAKAN BANTUAN TEKNIS INTERNASIONAL Komite Hak Ekonomi, Sosial, Dan Budaya PBB HRI/GEN/1/Rev. 1 KOMENTAR UMUM NO. 2 TINDAKAN-TINDAKAN BANTUAN TEKNIS INTERNASIONAL Komite Hak Ekonomi, Sosial, Dan Budaya PBB HRI/GEN/1/Rev. 1 at 45 (1994) KOMITE HAK EKONOMI, SOSIAL, DAN BUDAYA, komentar umum no. 2.

Lebih terperinci

PERENCANAAN PERLINDUNGAN

PERENCANAAN PERLINDUNGAN PERENCANAAN PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP UU No 32 tahun 2009 TUJUAN melindungi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup menjamin keselamatan,

Lebih terperinci

Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014

Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014 Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014 A) Latar Belakang Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat

Lebih terperinci

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 134, Tambahan

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 134, Tambahan PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35/PERMEN-KP/2013 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

Kerangka Acuan. Kegiatan Profesionalisasi Pengadaan. Mentor ULP untuk Manajemen Sumber Daya Manusia

Kerangka Acuan. Kegiatan Profesionalisasi Pengadaan. Mentor ULP untuk Manajemen Sumber Daya Manusia Kerangka Acuan Kegiatan Profesionalisasi Pengadaan Mentor ULP untuk Manajemen Sumber Daya Manusia Pengantar Amerika Serikat yang bertindak melalui Millennium Challenge Corporation ("MCC") dan Pemerintah

Lebih terperinci

KONVENSI STOCKHOLM TENTANG BAHAN PENCEMAR ORGANIK YANG PERSISTEN

KONVENSI STOCKHOLM TENTANG BAHAN PENCEMAR ORGANIK YANG PERSISTEN KONVENSI STOCKHOLM TENTANG BAHAN PENCEMAR ORGANIK YANG PERSISTEN Para Pihak atas Konvensi ini, mengakui bahwa bahan pencemar organik yang persisten memiliki sifat beracun, sulit terurai, bersifat bioakumulasi

Lebih terperinci

7 Prinsip Manajemen Mutu - ISO (versi lengkap)

7 Prinsip Manajemen Mutu - ISO (versi lengkap) 7 Prinsip Manajemen Mutu - ISO 9001 2015 (versi lengkap) diterjemahkan oleh: Syahu Sugian O Dokumen ini memperkenalkan tujuh Prinsip Manajemen Mutu. ISO 9000, ISO 9001, dan standar manajemen mutu terkait

Lebih terperinci