Hak cipta 2010, Sekretariat Konvensi Ramsar (Ramsar Convention Secretariat)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Hak cipta 2010, Sekretariat Konvensi Ramsar (Ramsar Convention Secretariat)"

Transkripsi

1

2 Tentang Konvensi mengenai Lahan Basah Konvensi mengenai Lahan Basah (Ramsar, Iran, 1971) adalah perjanjian antar pemerintah yang misinya adalah "konservasi dan kebijakan menggunakan semua lahan basah melalui tindakan lokal, regional dan nasional serta kerjasama internasional, sebagai kontribusi terhadap pencapaian pembangunan yang berkelanjutan di seluruh dunia". Hingga bulan Oktober 2010, 160 negara telah bergabung dengan Konvensi sebagai Pihak yang terikat kontrak, dan lebih dari 1900 lahan basah di seluruh dunia, yang mencakup lebih dari 186 juta hektar, telah dirancang untuk dimasukkan dalam Daftar Lahan Basah Ramsar yang Penting. Apakah Lahan Basah itu? Seperti yang telah didefinisikan oleh Konvensi, lahan basah meliputi berbagai macam habitat seperti rawa-rawa, lahan gambut, dataran basah, sungai dan danau, dan daerah pesisir seperti rawa payau, hutan bakau, dan rumput laut, tetapi juga terumbu karang dan daerah dataran laut lainnya tidak lebih dari enam meter gelombang surutny, serta lahan basah buatan manusia seperti kolam pengolahan air limbah dan waduk. Mengenai serial dari Buku Saku ini Seri ini telah disiapkan oleh Sekretariat Konvensi setelah pertemuan para pihak ke-7, 8 9, dan 10, (COP7, COP8, COP9 dan COP10) diadakan, masing-masing, di San José, Kosta Rika, pada bulan Mei 1999, Valencia, Spanyol, pada bulan November 2002, Kampala, Uganda, pada bulan November 2005, dan Changwon, Republik Korea, Oktober-November Pedoman tentang berbagai hal yang diadopsi oleh para pihak dan COP sebelumnya telah disiapkan sebagai serial dari buku saku untuk membantu mereka yang memiliki minat, atau terlibat langsung dengan, pelaksanaan Konvensi di internasional, regional, nasional, subnasional atau tingkat lokal. Setiap buku saku menyatukan subyek dengan subyek, berbagai pembinaan yang relevan diadopsi oleh Pihak, ditambah dengan bahan tambahan dari kertas informasi COP, studi kasus dan publikasi lain yang relevan sehingga dapat menggambarkan aspek-aspek kunci dari pedoman tersebut. Buku saku ini tersedia dalam tiga bahasa Konvensi (Inggris, Perancis, dan Spanyol). Tabel di sampul belakang terdaftar lingkup penuh dari subyek yang dicakup oleh seri buku saku saat ini. Buku saku tambahan akan disiapkan untuk menyertakan petunjuk lebih lanjut yang diadopsi oleh pertemuan Conferences of the Contracting Parties (Konferensi Pihak terkait Perjanjian) yang akan datang. Konvensi Ramsar mempromosikan tindakan terintegrasi untuk menjamin konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara bijaksana. Dalam pembelajaran pendekatan terpadu tersebut, pembaca akan menemukan bahwa dalam setiap Buku Saku ada banyak referensi silang terhadap pihak/ bagian lain dari seri buku saku ini. Hak cipta 2010, Sekretariat Konvensi Ramsar (Ramsar Convention Secretariat) Kutipan versi Bahasa Indonesia: Sekretariat Konvensi Ramsar Pemanfaatan lahan basah secara bijaksana: Konsep dan pendekatan untuk pemanfaatan lahan basah secara bijaksana. Buku Saku Ramsar untuk penggunaan lahan basah, edisi 4, vol. 1. Sekretariat Konvensi Ramsar, Gland, Swiss. Judul asli: Ramsar Convention Secretariat, Wise use of wetlands: Concepts and approaches for the wise use of wetlands. Ramsar handbooks for the wise use of wetlands, 4th edition, vol. 1. Ramsar Convention Secretariat, Gland, Switzerland. Publikasi ini untuk pendidikan dan non-komersial. Tujuannya tidak perlu meminta izin terlebih dahulu dari Sekretariat Ramsar, untuk pengetahuan yang diberikan. Editor (Seri): Dave Pritchard Pembimbing (Seri): Nick Davidson Desain dan tata letak: Dwight Peck Sampul foto: Pengeringan ikan, Inner Niger Delta (Leo Zwarts)

3 Buku Saku Ramsar bagi pemanfaatan lahan basah secara bijaksana Edisi keempat, 2010 Buku Saku 1 Pemanfaatan lahan basah secara bijaksana Konsep dan Pendekatan mengenai pemanfaatan lahan basah secara bijaksana Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia oleh: Anna Arifin Penyesuaian Layout oleh: Triana Terjemahan dibiayai oleh: Wetlands International Indonesia Edisi ke-4 Buku Saku Ramsar ini menggantikan seri yang diterbitkan pada tahun Buku ini mencakup panduan yang relevan diadopsi oleh beberapa pertemuan Konferensi Para Pihak, khususnya pada COP7 (1999), COP8 (2002), COP 9 (2005), dan COP10 (2008), serta latar belakang dokumen dokumen yang dipilih dan disajikan pada COP tersebut.

4 Ucapan Terima Kasih Proses persiapan panduan dan kerangka kerja konseptual untuk pemanfaatan lahan basah secara bijaksana yang terdapat pada dalam Buku Saku ini dilakukan sebagai upaya kolaborasi yang terjadi pada tahun oleh Kelompok Kerja 1 Ramsar Scientific and Technical Review Panel (Panel Peninjauan Teknis dan Ilmiah - STRP) (Tahap inventarisasi dan penilaian, yang dipimpin oleh Max Finlayson, dari Insternational Water Management Institute (Institut Manajemen Air Internasional)) dan Kelompok Kerja 2 (pemanfaatan yang bijaksana, dipimpin oleh Randy Milton, Kanada). Tim ini juga menyiapkan analisis yang mendasari dan rekomendasi yang diberikan pada pertemuan ke-9 dari Konferensi Para Pihak (COP 9) sebagai Kertas Informasi (COP 9 DOC. 16). Kontribusi besar untuk pekerjaan ini dibuat secara khusus oleh Randy Milton, Dave Pritchard, Max Finlayson, dan personil pada Sekretariat Ramsar. Pekerjaan STRP itu sangat terbantu oleh kerjasama dari Millennium Ecosystem Assessment (MA), dan khususnya kerangka konseptual dari MA untuk ekosistem dan kesejahteraan manusia serta definisi dan deskripsi karakteristik EKOSISTEM dan jasa ekosistem (Millennium Ecosystem Assessment Ekosistem dan Kesejahteraan Manusia: Sebuah Kerangka Kerja untuk Penilaian. Island Press, Washington, DC). "Deklarasi Changwon", juga ditampilkan dalam buku ini, merupakan inisiatif dari pemerintah Republik Korea dan diadopsi sebagai resolusi X.3 pada COP10 di Changwon, Republik Korea, pada tahun Hal ini disiapkan melalui proses kolaboratif yang berangkat dari keahlian pada STRP, International Organization Partners (Organisasi Mitra Internasional - IOPS), pemerintah Korea sebagai tuan rumah Negara COP10, dan Sekretariat Ramsar. Semua Resolusi dari COP Ramsar tersedia dari situs website Konvensi di Dokumen latar belakang sebagaimana dimaksud dalam buku panduan ini tersedia pada tautan dan Gambar: Perahu nelayan di Sao Tome dan Principe. Foto oleh Tim Dodman 2

5 Daftar Isi Ucapan Terima kasih 2 Mendapatkan yang terbaik dari Buku Saku ini 4 Kata Pengantar 6 Konsep dan pendekatan mengenai pemanfaatan lahan basah secara bijaksana 7 Bagian I: Konsep kerangka kerja mengenai pemanfaatan lahan basah secara bijak dan perawatan sifat ekologi lahan basah 8 Pendahuluan 8 Terminologi ekosistem lahan basah 8 Sebuah kerangka kerja konseptual bagi pemanfaatan lahan basah secara bijaksana 9 Update definisi tentang sifat ekologi dan perubahan dalam sifat ekologi pada lahan basah Bagian II. Kesejahteraan manusia dan lahan basah: Deklarasi Changwon 20 Lampiran 1: Definisi pemanfaatan secara bijak pada Ramsar dalam kaitannya dengan pemanfaatan yang berkelanjutan, pembangunan terpadu dan pendekatan berbasis ekosistem 28 Lampiran 2: Panduan tambahan tentang pemanfaatan lahan basah secara bijak 30 Lampiran 3: Buku Saku Ramsar mengenai pemanfaatan lahan basah secara bijak: terdiri dari (edisi keempat) Nuku Saku Lampiran 4: Tambahan contoh terbaru mengenai prinsip dan panduan Ramsar menangani pengemudi tertentu terhadap perubahan lahan basah 39 Resolusi yang relevan Resolusi IX.1: Panduan teknis dan ilmiah tambahan untuk menerapkan konsep pemanfaatan secara bijak dari Ramsar 56 Resolusi X.3: Deklarasi Changwon tentang kesejahteraan manusia dan lahan basah 57 3

6 Mendapatkan yang terbaik dari Buku Saku ini Buku Saku ini secara umum Tujuan dari Buku saku Ramsar ini adalah untuk mengatur materi panduan dari berbagai keputusan yang relevan dan telah diadopsi oleh para Pihak selama bertahun-tahun, sesuai dengan tema pembahasan. Hal ini membantu praktisi untuk menerapkan praktek terbaik tingkat internasional yang disepakati dan dapat melakukannya dengan cara yang nyaman dan lebih alami sesuai dengan lingkungan kerja sehari-hari mereka sendiri. Pembaca yang dimaksud meliputi staf lokal dan nasional pada departemen pemerintahan, kementerian dan lembaga yang bertindak sebagai Otoritas Administrasi untuk Konvensi Ramsar di setiap negara. Pengguna penting lainnya dalam banyak kasus diantaranya manajer dari situs/ area lahan basah, karena beberapa aspek panduan berhubungan khusus dengan manajemen situs. Panduan Ramsar telah diadopsi oleh anggota pemerintahan secara keseluruhan, dan semakin meningkatkannya dan pentingnya peran dari sektor lain di luar sektor "lingkungan" atau "air". Menjadi sangat penting bagi buku saku ini untuk digunakan oleh semua pihak yang tindakannya dapat mengambil manfaat atau berdampak pada pemanfaatan lahan basah secara bijaksana. Langkah pertama yang penting di setiap negara adalah untuk memastikan penyebaran buku saku ini secara memadai untuk semua pihak yang membutuhkan atau bisa mendapatkan keuntungan dari buku saku ini. Salinan bebas tersedia dalam format PDF dari Sekretariat Ramsar dalam tiga bahasa dalam bentuk CD-ROM atau dapat diunduh dari website Konvensi (www.ramsar.org). Langkah awal lainnya, dalam setiap konteks, penting untuk memperjelas garis tanggung jawab dan secara aktif memeriksa bagaimana menyelaraskan istilah yang digunakan serta menjelaskan pendekatan terhadap yurisdiksi pembaca sendiri, termasuk situasi kerja, dan struktur organisasi. Sebagian besar teks dapat digunakan dalam makna proaktif, sebagai dasar untuk menyusun kebijakan, rencana dan kegiatan, kadang-kadang hanya mengutip bagian yang relevan menjadi bahan lokal dan nasional. Hal ini juga dapat digunakan dalam makna reaktif sebagai sumber bantuan dan ide-ide untuk menanggapi masalah dan peluang, mengatur materi pembahasan dengan kebutuhan pengguna. Referensi silang, sumber-sumber asli, dan membaca lebih lanjut dapat bebas mengutip: Buku saku ini tidak akan menjadi "kata terakhir", namun memberikan manfaat dalam bentuk "peta-perjalanan" untuk sumber informasi dan dukungan lebih lanjut. Pengarahan yang strategis dalam Konvensi Ramsar disediakan dalam bentuk Rencana Strategis, versi terbaru yang diadopsi oleh COP10 tahun 2008 untuk periode Semua kerangka pelaksanaan tematik, termasuk buku saku ini, terdapat dalam konteks tujuan dan strategi pada Rencana Strategis ini dan prioritasnya menyoroti untuk periode yang dicakup. Dalam edisi keempat buku saku, penambahan dan kelalaian dari teks pedoman asli, yang dibutuhkan oleh hasil COP8, COP9 dan COP10, ditunjukkan dalam tanda kurung siku [...]. Seri Buku saku diperbarui setelah setiap pertemuan Konferensi Para Pihak, dan umpan balik tentang pengalaman pengguna selalu dihargai dalam membantu untuk memperbaiki setiap edisi terbaru. 4

7 Buku saku ini (Pemanfaatan lahan basah secara bijaksana) Tujuan 1 dari Rencana Strategis mencakup pemanfaatan yang bijaksana sebagai salah satu dari tiga "pilar" utama Konvensi, dan tujuannya yang dinyatakan sebagai "Bekerja untuk mencapai penggunaan dari semua lahan basah yang bijaksana dengan memastikan bahwa semua Pihak yang terlibat mengembangkan, mengadopsi dan menggunakan instrumen dan langkah-langkah yang diperlukan dan tepat", dengan "Hasil akan dicapai" yang diutarakan sebagai "penggunaan semua lahan basah dengan bijaksana yang dicapai oleh semua Pihak, termasuk manajemen lahan basah yang lebih partisipatif, dan keputusan konservasi yang dibuat dengan kesadaran akan pentingnya jasa ekosistem yang diberikan oleh lahan basah". Strategi untuk mencapai hal ini, diuraikan dalam Rencana Strategis, antara lain: 1.1 Penilaian dan persediaan lahan basah 1.2 Informasi tentang lahan basah yang menyeluruh 1.3 Kebijakan, peraturan dan institusi 1.4 Pengenalan lintas sektor mengenai jasa lahan basah 1.5 Pengenalan mengenai peranan dari Konvensi 1.6 Manajemen lahan basah berbasis ilmu pengetahuan 1.7 Manajemen sumber daya air yang terpadu 1.8 Restorasi lahan basah 1.9 Invasi spesies asin 1.10 Sektor Swasta 1.11 Langkah-langkah yang intensif Rencana tersebut kemudian mengatur sebanyak 28 Area kunci yang harus dicapai pada tahun 2015 sebagai bagian dari Rencana Strategis ini. Teks dalam buku ini dikutip terutama dari Resolusi IX.1 dan Lampiran yang A, serta Resolusi X.3 dan lampirannya, selain dari berbagai kutipan Resolusi lainnya. Substansi tersebut mencerminkan keputusan resmi yang diadopsi oleh Konferensi Para Pihak. Buku saku juga menyatukan kertas informasi dan bahan sumber daya lainnya yang relevan dengan masalah ini. Pandangan yang diungkapkan dalam bahan-bahan tambahan tidak selalu mencerminkan pandangan dari Sekretariat Ramsar atau para Pihak terkait kontrak, dan bahan-bahan tersebut belum disahkan oleh Konferensi Para Pihak. 5

8 Kata Pengantar Buku Saku edisi ke-4, dengan Buku Saku lainnya (2-20) ini menangani satu atau lebih spesifik jenis intervensi di bawah "Kerangka Konseptual untuk pemanfaatan lahan basah secara bijaksana dan pemeliharaan sifat ekologis mereka". Selain daftar judul Buku Saku yang disediakan pada Lampiran 3, panduan ringkasan melingkupi masing-masing Buku Saku akan diberikan dalam publikasi pendamping terpisah "Sebuah Panduan untuk Penggunaan Buku Saku Ramsar yang Bijaksana". Prinsip-prinsip "pemanfaatan yang bijaksana" dan pemeliharaan "Sifat ekologis" pada lahan basah terletak di jantung Konvensi Ramsar. Mempertahankan sifat ekologi lahan basah ditetapkan sebagai Lahan Basah yang Penting (Situs Ramsar) dan pengamanan, sejauh mungkin, pemanfaatan yang bijaksana dari lahan basah di wilayah mereka, diperkenalkan dalam teks Konvensi yang diadopsi pada tahun 1971 sebagai kunci keberhasilan pelaksanaan konvensi oleh para Pihak yang terkait tersebut. Tetapi apa yang dimaksud dengan istilah "pemanfaatan yang bijaksana" dan "sifat ekologi"? Definisi "bijak" pertama kali diadopsi oleh Para Pihak di COP3 pada tahun Selanjutnya, Konvensi Panel tinjauan ulang secara Ilmiah dan teknis (STRP) mengembangkan definisi "sifat ekologis" dan "perubahan sifat ekologi" yang diadopsi oleh COP7 di Sejak adopsi definisi dari "pemanfaatan yang bijaksana" pada tahun 1987, bahasa pelestarian lingkungan telah berkembang dan berubah, dengan istilah-istilah baru seperti orang-orang dari laporan Komisi Brundtland tahun 1987 pada pembangunan berkelanjutan, pada tahun 1992 Konvensi mengenai keragaman biologi (CBD) menggunakan istilah "pendekatan ekosistem" dan "pemanfaatan berkelanjutan", dan akhir-akhir ini Penilaian Ekosistem Millenium (MA) mendefinisikan dan mendeskripsikan karakteristik dari ekosistem dan "jasa ekosistem. Dalam rangka untuk memastikan bahwa definisi Ramsar yang terbaru dan konsisten dengan bahasa pada saat itu, maka pada tahun 2002 Pihak Ramsar meminta STRP untuk meninjau kembali definisi tersebut dan mengusulkan definisi yang diperbaharui sesuai dengan kebutuhan. Buku saku ini memberikan definisi-definisi yang diperbaharui, seperti yang diadopsi oleh COP 9 pada tahun 2005 sebagai Resolusi IX.1 Lampiran A. Yang penting, dalam melakukan pekerjaan ini, STRP mengakui bahwa Konvensi tidak memiliki suatu kerangka kerja yang menyeluruh untuk implementasi dari "pemanfaatan yang bijaksana". Kerangka kerja konseptual untuk ekosistem dan kesejahteraan manusia sedang dikembangkan oleh MA terbukti sangat relevan dalam konteks ini, terutama karena berbicara langsung terhadap Konvensi Ramsar tentang saling ketergantungan antara manusia dan lingkungan mereka. Kerangka kerja konseptual ini menghubungkan penyebab langsung dan tidak langsung dari perubahan keanekaragaman hayati, ekosistem dan jasa mereka dan keterkaitannya dengan kesejahteraan manusia dan pengentasan kemiskinan. Dalam kerangka ini, "pemanfaatan yang bijak" Ramsar setara dengan pemeliharaan ekosistem dan penggunaan jasa ekosistem yang berkelanjutan untuk mempertahankan kesejahteraan manusia. Selanjutnya, kerangka konseptual ini menyediakan alat yang berharga bagi mereka yang melaksanakan Konvensi Ramsar dengan membentuk dasar untuk bagaimana dan kapan setiap aspek dan topik panduan Konvensi dapat dan harus diterapkan sebagai intervensi untuk mencapai pemanfaatan yang bijaksana dan pemeliharaan sifat ekologis lahan basah. Semua Pihak yang terkait dan lainnya yang terlibat dalam pelaksanaan Konvensi didesak untuk menggunakan buku ini sebagai "peta-perjalanan" milik mereka untuk keberhasilan pelaksanaannya. Dalam kasus tertentu sektor di luar sektor lahan basah itu sendiri, prinsip-prinsip dan pesan kunci juga dirumuskan dalam "Deklarasi Changwon" (COP10 Resolusi X.3, juga disajikan di sini) menawarkan ekspresi isu yang dirancang untuk membantu dengan tindakan lintas sektor yang luas dan pendekatan yang diperlukan oleh semua pihak. 6

9 Konsep dan pendekatan bagi pemanfaatan lahan basah secara bijaksana Komitmen implementasi yang relevan dibuat oleh para Pihak yang terikat kontrak dalam Resolusi COP Resolusi IX.1 : Penambahan pedoman ilmiah dan teknik guna menerapkan konsep pemanfaatan yang bijaksana dari Ramsar KONFERENSI DARI PIHAK YANG TERKAIT KONTRAK 5. MENYETUJUI Kerangka Konseptual untuk pemanfaatan lahan basah secara bijaksana dan pemeliharaan sifat ekologi mereka (Lampiran A pada Resolusi ini) dan definisi yang diperbarui "pemanfaatan yang bijaksana" dan "sifat ekologis", dan menegaskan bahwa hal ini menggantikan semua definisi istilah ini sebelumnya; 8. MENDORONG para Pihak yang terikat kontrak untuk menarik [kerangka kerja ini] (...) menjadi perhatian semua pemangku kepentingan yang relevan, termasuk kementerian pemerintah, departemen dan instansi, perairan dan otoritas pengelolaan daerah aliran sungai, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat sipil; dan MENDORONG LEBIH JAUH para Pihak yang terikat kontrak untuk mendukung para pemangku kepentingan untuk mengambil [itu] ke dalam pertimbangan, bersama-sama dengan (...) 'peralatan' dari Buku Saku Pemanfaatan secara bijaksana (...), dalam pengambilan keputusan dan kegiatan yang berhubungan dengan pemanfaatan lahan basah secara bijak melalui pemeliharaan sifat ekologis mereka; Resolusi X.3: Deklarasi Changwon mengenai kesejahteraan manusia dan lahan basah 4. MENYAMBUT pesan dari Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang dikirim ke pada Konferensi ini pada tanggal 28 Oktober 2008, dan MENCATAT penekanan dalam pesan pada hubungan penting antara lahan basah, mata pencaharian, dan kesejahteraan orang di seluruh dunia, serta sebagai pentingnya Konvensi Ramsar dalam memberikan pedoman dan mekanisme untuk mendasari hubungan penting dan kontribusi yang berharga bahwa layanan ekosistem lahan basah dapat membuat untuk mencapai Tujuan Pembangunan Milenium; 7. INFORMASI bahwa tujuan utama dari "Deklarasi Changwon" adalah untuk mengirimkan pesan-pesan kunci tentang isu yang terkait lahan basah dengan banyak pihak dan para pemangku kepentingan di luar komunitas Ramsar yang relevan dengan konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara bijak, untuk menginformasikan tindakan mereka dan pengambilan keputusan; 8. MENCATAT bahwa Deklarasi ini dirancang untuk melengkapi Rencana Strategis Ramsar , yang menyediakan Konvensi dan bagian-bagiannya dengan pendekatan masa depan mereka sendiri dan prioritas pelaksanaannya, serta bahwa sejumlah tujuan dalam Rencana Strategis dapat berkembang melalui penerapan Deklarasi Changwon; KONFERENSI DARI PIHAK YANG TERKAIT KONTRAK 12. MENDORONG DENGAN KUAT para Pihak yang terikat kontrak dan pemerintah lainnya untuk membawa "Deklarasi Changwon" menjadi perhatian kepala negara mereka, parlemen, sektor swasta, dan masyarakat sipil, serta untuk mendorong mereka dan semua sektor pemerintah (termasuk sektor pengelolaan air, kesehatan manusia, perubahan iklim, pengurangan kemiskinan, dan perencanaan tata ruang) dan lembaga-lembaga yang bertanggung jawab untuk kegiatan yang mempengaruhi lahan basah, terutama untuk menanggapi panggilan untuk bertindak bagi lahan asah yang terkandung dalam Deklarasi itu; 13. JUGA MENDORONG DENGAN KUAT para Pihak yang terikat kontrak dan pemerintah lainnya untuk memanfaatkan "Deklarasi Changwon" untuk menginformasikan kebijakan nasional dan pengambilan keputusan, termasuk dalam posisi delegasi nasional mereka untuk proses eksternal lainnya, dan melalui peluang khusus di tingkat lokal, nasional dan internasional di mana konvensi Ramsar dan proses lainnya memiliki potensi yang baik untuk saling membantu dan bekerja sama, termasuk antara lain Komisi PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan, badan-badan PBB, kesepakatan lingkungan multilateral, dan Forum Air Dunia (...). 7

10 Bagian 1 Sebuah Kerangka kerja konseptual pada pemanfaatan lahan basah secara bijak dan pemeliharaan terhadap sifat ekologi mereka (Dikutip sebagai lampiran A pada Resolusi IX oleh Konferensi para Pihak yang terikat kontrak ke-9, Kampala, Uganda, 2006) Pendahuluan 1. Definisi kunci konsep Konvensi Ramsar "pemanfaatan yang bijaksana" dan "Sifat ekologis" pada lahan basah yang diadopsi oleh COP3 (1987) dan COP7 (1999). Kegiatan tentang Rencana Strategis Ramsar membutuhkan Konvensi Panel tinjauan ulang Ilmiah dan Teknis (STRP) tentang "Meninjau ulang konsep pemanfaatan yang bijaksana, penerapannya, dan konsistensi dengan tujuan pembangunan berkelanjutan ". [Lihat Lampiran 1 untuk informasi tentang definisi Ramsar mengenai pemanfaatan yang bijaksana dan hubungannya dengan pemanfaatan berkelanjutan, pembangunan berkelanjutan dan pendekatan ekosistem.] 2. Sebagai tambahan, COP8 Resolusi VIII.7 meminta STRP untuk diperiksa lebih lanjut dan, sebagaimana mestinya, mengembangkan pedoman dan melaporkan kepada COP 9 tentang kesenjangan yang telah diidentifikasi dan ketidakharmonisan dalam mendefinisikan dan melaporkan ekologi sifat lahan basah, termasuk, antara lain, harmonisasi definisi dan istilah dalam panduan pada persediaan, penilaian, pengawasan dan pengelolaan sifat ekologi lahan basah. 3. Pekerjaan STRP telah sangat dibantu bersamaan oleh pekerjaan dari Millennium Ecosystem Assessment (MA), khususnya Kerangka kerja konseptual untuk Ekosistem dan Kesejahteraan Manusia (Millennium Ecosystem Assessment Ecosystems and Human Well-being: A Framework for Assessment. Island Press, Washington, D.C.), dan definisi dan deskripsi karakteristik ekosistem dan pelayanan ekosistem. 4. STRP menentukan bahwa tepat untuk memperbarui dan menyelaraskan Konvensi "pemanfaatan yang bijak" dan definisi "sifat ekologis" untuk mempertimbangkan istilah dan definisi yang berkaitan dengan ekosistem dan pembangunan berkelanjutan, serta kerangka kerja konseptual untuk pengiriman "pemanfaatan yang bijak" akan mendapatkan bantuan oleh para Pihak yang terikat kontrak dan lain-lain dalam menentukan kapan dan dimana untuk membuat kebijakan dan manajemen intervensi untuk mendukung proses ini. 5. Panduan ini mencakup harmonisasi istilah ekosistem lahan basah dan menyediakan baik kerangka kerja konseptual untuk penggunaan lahan basah dengan bijaksana dan diperbarui serta harmonis definisi "sifat ekologis", "perubahan sifat ekologi ", dan" pemanfaatan yang bijaksana "pada lahan basah. Terminologi ekosistem lahan basah 6. Dalam Millennium Ecosystem Assessment (MA), ekosistem digambarkan sebagai masyarakat yang kompleks (termasuk komunitas manusia) dan lingkungan non-hidup 8

11 (Komponen Ekosistem) pada Buku Saku 1: Pemanfaatan lahan basah dengan bijaksana bagian 9, berinteraksi (melalui Proses Ekologis) sebagai unit fungsional yang menyediakan berbagai manfaat kepada orang-orang (Jasa Ekosistem). 7. Termasuk dalam "Jasa Ekosistem MA" yang menyediakan, mengatur, dan kebiasaan melayani yang secara langsung mempengaruhi orang-orang, dan jasa pendukung yang diperlukan untuk mempertahankan layanan lain. Informasi lebih lanjut dapat ditemukan dalam Laporan Sintesis disiapkan oleh MA untuk Konvensi Ramsar (Finlayson, CM, D'Cruz, R. & Davidson, NC Wetlands and water: ecosystem services and human well-being. World Resources Institute,Washington D.C). Dalam konteks sesuai dengan Konvensi Ramsar ini mengacu pada hasil, fungsi dan atribut sebagaimana dimaksud dalam Resolusi VI.1 dan diperluas untuk mencakup nilai-nilai budaya materi dan non-materi, fungsi dan manfaatnya sebagaimana dimaksud dalam COP8 DOC.15 "Aspek budaya terkait lahan basah". 8. Syarat [...] digunakan dalam panduan Ramsar sebelumnya dan dokumen tersebut ditunjukkan pada Tabel 1 yang juga digunakan dalam MA. Penelaahan lebih lanjut tentang harmonisasi definisi dan istilah yang terkait dengan jasa /manfaat ekosistem (dengan mengacu pada Resolusi VIII.7 (ayat 15) dan COP9 DOC. 16, dengan mempertimbangkan penggunaan istilah tersebut dalam forum-forum internasional lainnya) [dilakukan oleh STRP pada tahun , dan dilaporkan pada para pihak di COP10 DOC.22: "penggunaan istilah global mengenai layanan ekosistem". Antara lain ini menemukan beberapa kebingungan, dan kebutuhan untuk memperjelas perbedaan konseptual antara istilah "jasa ekosistem" (manfaat yang diberikan oleh ekosistem kepada orang-orang) dan "jasa lingkungan" (manfaat yang diberikan oleh orang-orang) dalam kaitannya dengan timbal balik untuk jasa lingkungan: timbal balik tersebut harus digunakan sebagai insentif untuk menjaga ekosistem dan jasa ekosistem yang mereka berikan, bukan sebagai timbal balik untuk layanan yang disediakan bagi orang-orang oleh ekosistem ini]. Tabel 1. Perbandingan terminologi untuk menjelaskan ekosistem lahan basah Syarat ekosistem MA Komponen ekosistem: fisik, kimia, biologis (habitat, jenis, gen) Proses ekologis dengan dan antara ekosistem Pelayanan ekosistem: menyiapkan, mengatur, budaya, mendukung Syarat Ramsar komponen, sifat, atribut, barang-barang proses, interaksi, barang-barang, fungsi layanan, keuntungan, nilai-nilai, fungsi, barang, hasil Sebuah Kerangka Kerja Konseptual bagi penggunaan lahan basah dengan bijaksana 9. Kerangka Konseptual yang telah dikembangkan oleh Millennium Ecosystem Assessment (MA) untuk pemeliharaan jasa ekosistem bagi kesejahteraan manusia dan pengentasan kemiskinan menyediakan pendekatan multi-skala yang menunjukkan bagaimana dan dimana kebijakan serta manajemen intervensi dan pengambilan keputusan dapat dibuat (Gambar 1). Dalam kerangka kerja MA, "bijak" setara dengan pemeliharaan manfaat ekosistem / jasa untuk memastikan pemeliharaan jangka panjang terhadap keanekaragaman hayati serta kesejahteraan manusia dan pengentasan kemiskinan. 9

12 Informasi tambahan Millenium Ecosystem Assessment (Penilaian Ekosistem Millennium) Ekosistem dan Kesejahteraan Manusia: Sebuah Kerangka Kerja untuk Penilaian The Millennium Ecosystem Assessment (MA) adalah sebuah program kerja internasional yang berfokus pada jasa ekosistem (manfaat yang diperoleh manusia dari ekosistem), bagaimana perubahan ekosistem telah mempengaruhi kesejahteraan manusia, bagaimana perubahan ekosistem dapat mempengaruhi orang dalam beberapa dekade mendatang, dan respons terhadap pilihan yang mungkin diadopsi pada skala lokal, nasional, maupun global untuk meningkatkan manajemen ekosistem dan dengan demikian memberikan kontribusi untuk kesejahteraan manusia dan pengentasan kemiskinan. Hal ini telah diluncurkan oleh Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan pada bulan Juni 2001 dan selesai pada bulan Maret Ini dimaksudkan untuk membantu memenuhi kebutuhan penilaian Konvensi Keanekaragaman Hayati, Konvensi untuk Memerangi Desertifikasi, Konvensi Ramsar mengenai Lahan Basah, dan Konvensi Migran Spesies, serta kebutuhan lain di sektor swasta dan masyarakat sipil. Menurut website-nya, "MA mengolah informasi dari literatur ilmiah, dataset, dan model ilmiah, termasuk pengetahuan yang dimiliki oleh sektor swasta, para praktisi, masyarakat lokal dan masyarakat adat. Semua temuan MA melalui proses peninjauan bersama yang ketat. Lebih dari penulis dari 95 negara terlibat dalam empat kelompok ahli yang bekerja mempersiapkan penilaian global, dan ratusan lainnya [telah dilakukan] lebih dari 20 penilaian sub-global". Empat isi utama dari laporan umum MA - berjudul Current State and Trends, Scenarios, Policy Responses, and Multiscale Assessments - as well as Our Human Planet (Ringkasan untuk Pengambil Keputusan), tersedia untuk PDF download dari situs web MA dan membeli dalam bentuk cetakan dari Island Press: Laporan Sintesis Selain laporan umum yang sangat besar, ada lima laporan sintesis yang mengintegrasikan temuan umum yang signifikan untuk lima bidang studi utama. Semua dengan judul "Ekosistem dan Kesejahteraan Manusia ", pengolahan ini juga termasuk Lahan basah dan Air (disiapkan untuk Konvensi Ramsar), Keanekaragaman Hayati (disiapkan untuk CBD); Desertifikasi (dipersiapkan untuk UNCCD); Peluang dan Tantangan pada Bisnis dan Industri; dan Kesehatan (dengan WHO). Semuanya ini tersedia untuk download dalam bentuk pdf dari link web di atas. Pengolahan laporan mengenai Lahan basah dan Air disiapkan oleh sebuah Tim Pengolahan MA lebih dari dua puluh penulis ikut dibantu oleh Max Finlayson, Rebecca D'Cruz, dan Nick Davidson. Ini termasuk bagian pesan kunci dan ringkasan untuk Pembuat Keputusan serta bab tentang distribusi lahan basah dan spesies di dalamnya; layanan lahan basah; mengendalikan kerugian dan mengubah ekosistem lahan basah; kesejahteraan manusia; skenario untuk masa depan mengenai lahan basah; dan tanggapan untuk pemanfaatan lahan basah secara bijak. Pesan kunci dari STRP Untuk melengkapi pesan dalam pengolahan laporan mengenai Lahan basah dan Air, Scientific and Technical Review Panel (STRP) Ramsar, pada pertemuan bulan Februari 2005 yang menyiapkan satu set 14 pesan kunci untuk pengambil keputusan pada implikasi dari MA untuk Konvensi Ramsar dan masa depan mengenai lahan basah. Hal ini dipresentasikan pada COP Ramsar tanggal 9 November 2005 [dan diterbitkan sebagai Lampiran III sampai Laporan Konferensi COP9]. 10

13 14 Pesan Kunci SRTP dari Penilaian Millenium bagi Konvensi Ramsar dan masa depan lahan basah 1. Sebuah fokus pada lintas sektoral sangat diperlukan dari kebijakan dan pengambil keputusan yang menekankan pengamanan ekosistem lahan basah dan jasa mereka dalam konteks mencapai pembangunan berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan manusia. 2. Pengelolaan lahan basah dan sumber daya air yang paling berhasil ditangani melalui manajemen terpadu skala cekungan di sungai (atau danau atau akuifer) yang terkait dengan pengelolaan wilayah pesisir pantai untuk lahan basah pesisir dan dekat pantai serta memperhitungkan alokasi air untuk ekosistem. 3. Lahan basah memberikan berbagai layanan darurat dan penting (misalnya ikan dan serat, pasokan air, pemurnian air, perlindungan pantai, peluang rekreasi, dan semakin meningkat, pariwisata) untuk kesejahteraan manusia. Mempertahankan fungsi alami lahan basah akan memungkinkan mereka untuk terus memberikan layanan ini. 4. Pasokan utama daur ulang air segar bagi manusia berasal dari berbagai jenis lahan basah, termasuk danau, sungai, rawa dan akuifer air tanah. Hingga 3 milyar orang tergantung pada air tanah sebagai sumber air minum, tetapi abstraksi tersebut semakin melebihi resapan mereka dari permukaaan lahan basah. 5. Layanan yang diberikan oleh lahan basah telah dibilang senilai 14 trilyun US Dollar setiap tahun. Valuasi ekonomi sekarang menyediakan alat yang ampuh untuk menempatkan lahan basah dalam agenda pengambilan keputusan mengenai konservasi dan pembangunan. 6. Lahan basah mencakup proporsi yang signifikan dari wilayah bumi; perkiraan global adalah 1280 juta hektar (setara dengan sekitar 9% dari permukaan tanah) dan diakui sebagai sesuatu yang diremehkan. 7. Degradasi dan hilangnya lahan basah lebih cepat daripada ekosistem lainnya. Demikian pula, status air segar dan pada tingkat lebih rendah, spesies pesisir pantai memburuk lebih cepat daripada spesies dalam ekosistem lainnya. Keanekaragaman hayati yang bergantung pada lahan basah di banyak bagian dunia adalah melanjutkan dan mempercepat penurunan. 8. Hilangnya dan degradasi lahan basah terutama didorong oleh konversi lahan dan pembangunan infrastruktur, abstraksi air, eutrofikasi dan polusi dan eksploitasi yang berlebih. Kerugian cenderung lebih cepat di mana populasi paling meningkat dan di mana tuntutan peningkatan pembangunan ekonomi yang besar. Ada beberapa alasan yang luas, alasan keterkaitan dengan perekonomian, termasuk subsidi yang salah, mengapa lahan basah terus hilang dan rusak. 9. Perubahan iklim global diperkirakan akan lebih memperburuk hilangnya dan degradasi keanekaragaman hayati pada lahan basah termasuk spesies yang tidak dapat pindah dan spesies yang bermigrasi dimana pada berbagai tahap siklus hidup mereka mengandalkan sejumlah lahan basah. 10. Penurunan dan degradasi lahan basah secara terus menerus yang mengarah pada pengurangan pemberian layanan ekosistem lahan basah, namun pada saat yang sama permintaan untuk layanan tersebut diproyeksikan semakin meningkat. 11. Penggunaan dua layanan ekosistem lahan basah tertentu - air tawar dan penangkapan ikan tergantung pada reproduksi alami - di beberapa daerah sekarang lebih dari beberapa tingkat yang dapat dipertahankan bahkan pada tuntutan saat ini, akan banyak berkurang di masa depan. 12. Kehilangan terus menerus yang diproyeksikan dan degradasi lahan basah akan menghasilkan pengurangan kesejahteraan manusia lebih lanjut, terutama bagi orang-orang miskin di negara-negara yang kurang berkembang dimana tidak tersedianya solusi teknologi. 13. Kemajuan menuju pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium tergantung pada upaya mempertahankan atau meningkatkan layanan ekosistem lahan basah. 14. Prioritas ketika membuat pilihan tentang keputusan pengelolaan lahan basah adalah untuk memastikan bahwa layanan ekosistem lahan basah dipelihara (dan, jika perlu, dipulihkan). Hal ini dapat dicapai dengan penerapan prinsip pemanfaatan yang bijaksana dan panduan dari Konvensi Ramsar. 11

Deklarasi Changwon untuk Kesejahteraan Manusia dan Lahan Basah

Deklarasi Changwon untuk Kesejahteraan Manusia dan Lahan Basah Deklarasi Changwon untuk Kesejahteraan Manusia dan Lahan Basah MENGAPA ANDA HARUS MEMBACA DAN MENGGUNAKAN DEKLARASI INI Lahan basah menyediakan pangan, menyimpan karbon, mengatur arah aliran air, menyimpan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG PENGESAHAN NAGOYA PROTOCOL ON ACCESS TO GENETIC RESOURCES AND THE FAIR AND EQUITABLE SHARING OF BENEFITS ARISING FROM THEIR UTILIZATION TO THE

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN

Lebih terperinci

Kajian Tengah Waktu Strategi 2020. Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik

Kajian Tengah Waktu Strategi 2020. Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Kajian Tengah Waktu Strategi 2020 Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Kajian Tengah Waktu (Mid-Term Review/MTR) atas Strategi 2020 merupakan

Lebih terperinci

PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012

PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012 PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012 Apa saja prasyaarat agar REDD bisa berjalan Salah satu syarat utama adalah safeguards atau kerangka pengaman Apa itu Safeguards Safeguards

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

UNDANGAN BAGI AGREGATOR PASAR UNTUK BERPARTISIPASI DALAM PROGRAM INISIATIF TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI (CLEAN STOVE INITIATIVE CSI) INDONESIA

UNDANGAN BAGI AGREGATOR PASAR UNTUK BERPARTISIPASI DALAM PROGRAM INISIATIF TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI (CLEAN STOVE INITIATIVE CSI) INDONESIA UNDANGAN BAGI AGREGATOR PASAR UNTUK BERPARTISIPASI DALAM PROGRAM INISIATIF TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI (CLEAN STOVE INITIATIVE CSI) INDONESIA Informasi Umum Inisiatif Tungku Sehat Hemat Energi (Clean Stove

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN PELAKSANAAN EVALUASI AKHIR PROGRAM MITRA TFCA- SUMATERA PADA SIKLUS HIBAH 1

KERANGKA ACUAN PELAKSANAAN EVALUASI AKHIR PROGRAM MITRA TFCA- SUMATERA PADA SIKLUS HIBAH 1 KERANGKA ACUAN PELAKSANAAN EVALUASI AKHIR PROGRAM MITRA TFCA- SUMATERA PADA SIKLUS HIBAH 1 1. PENDAHULUAN Program TFCA- Sumatera merupakan program hibah bagi khususnya LSM dan Perguruan Tinggi di Indonesia

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGELOLA PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA DARI DEFORESTASI, DEGRADASI HUTAN DAN LAHAN GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014

Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014 Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014 A) Latar Belakang Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat

Lebih terperinci

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Juli 2014 Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi risiko perubahan iklim tercermin melalui serangkaian

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Laporan ini berisi Kata Pengantar dan Ringkasan Eksekutif. Terjemahan lengkap laporan dalam Bahasa Indonesia akan diterbitkan pada waktunya. LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Pendefinisian

Lebih terperinci

Terjemahan Tanggapan Surat dari AusAID, diterima pada tanggal 24 April 2011

Terjemahan Tanggapan Surat dari AusAID, diterima pada tanggal 24 April 2011 Terjemahan Tanggapan Surat dari AusAID, diterima pada tanggal 24 April 2011 Pak Muliadi S.E yang terhormat, Terima kasih atas surat Anda tertanggal 24 Februari 2011 mengenai Kalimantan Forests and Climate

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10, Pasal

Lebih terperinci

K120 HYGIENE DALAM PERNIAGAAN DAN KANTOR-KANTOR

K120 HYGIENE DALAM PERNIAGAAN DAN KANTOR-KANTOR K120 HYGIENE DALAM PERNIAGAAN DAN KANTOR-KANTOR 1 K-120 Hygiene dalam Perniagaan dan Kantor-Kantor 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

SEBUAH AWAL BARU: PERTEMUAN TINGKAT TINGGI TENTANG KEWIRAUSAHAAN

SEBUAH AWAL BARU: PERTEMUAN TINGKAT TINGGI TENTANG KEWIRAUSAHAAN SEBUAH AWAL BARU: PERTEMUAN TINGKAT TINGGI TENTANG KEWIRAUSAHAAN Pertemuan Tingkat Tinggi Tentang Kewirausahaan akan menyoroti peran penting yang dapat dimainkan kewirausahaan dalam memperluas kesempatan

Lebih terperinci

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM DAS Bengawan Solo merupakan salah satu DAS yang memiliki posisi penting di Pulau Jawa serta sumber daya alam bagi kegiatan sosial-ekonomi

Lebih terperinci

R197 REKOMENDASI MENGENAI KERANGKA PROMOTIONAL UNTUK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

R197 REKOMENDASI MENGENAI KERANGKA PROMOTIONAL UNTUK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA R197 REKOMENDASI MENGENAI KERANGKA PROMOTIONAL UNTUK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA 1 R-197 Rekomendasi Mengenai Kerangka Promotional Untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah

Lebih terperinci

Perubahan ini telah memberikan alat kepada publik untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan ekonomi. Kemampuan untuk mengambil keuntungan dari

Perubahan ini telah memberikan alat kepada publik untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan ekonomi. Kemampuan untuk mengambil keuntungan dari PENGANTAR Sebagai salah satu institusi pembangunan publik yang terbesar di dunia, Kelompok (KBD/World Bank Group/WBG) memiliki dampak besar terhadap kehidupan dan penghidupan jutaan orang di negara-negara

Lebih terperinci

AKSES INFORMASI DARI KELOMPOK BANK DUNIA

AKSES INFORMASI DARI KELOMPOK BANK DUNIA 3 AKSES INFORMASI DARI KELOMPOK BANK DUNIA PADA BAGIAN INI Informasi adalah hak! Kebijakan akan keterbukaan di Bank Dunia, IFC, dan MIGA Strategi lainnya untuk memperoleh informasi mengenai operasi Kelompok

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2008 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2008 TENTANG PERAN SERTA LEMBAGA INTERNASIONAL DAN LEMBAGA ASING NONPEMERINTAH DALAM PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

IMPLEMENTA IMPLEMENT S A I S IRENCANA RENCAN A AKSI AKSI NAS NA I S O I NA N L PENURU PENUR NA N N EMISI EMISI GAS RUMA M H H KACA

IMPLEMENTA IMPLEMENT S A I S IRENCANA RENCAN A AKSI AKSI NAS NA I S O I NA N L PENURU PENUR NA N N EMISI EMISI GAS RUMA M H H KACA IMPLEMENTASI RENCANA AKSI NASIONAL PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA Ir. Wahyuningsih Darajati, M.Sc Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Disampaikan ik dalam Diskusi

Lebih terperinci

Latar Belakang. Mengapa UN4U?

Latar Belakang. Mengapa UN4U? UN4U Indonesia adalah salah satu program penjangkauan terbesar dalam kampanye UN4U global dilaksanakan di beberapa kota di seluruh dunia selama bulan Oktober. Dalam foto di atas, para murid di Windhoek,

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN KONSULTAN KOMUNIKASI CONSERVATION INTERNATIONAL INDONESIA

KERANGKA ACUAN KONSULTAN KOMUNIKASI CONSERVATION INTERNATIONAL INDONESIA KERANGKA ACUAN KONSULTAN KOMUNIKASI CONSERVATION INTERNATIONAL INDONESIA Nama Organisasi Periode pekerjaan: Conservation International Indonesia Mei : Mendukung pencapaian visi dan misi CI Indonesia melalui

Lebih terperinci

CATATAN IDE PROGRAM PENGEMBANGAN PENGURANGAN EMISI DI REPUBLIK DEMOKRATIK KONGO

CATATAN IDE PROGRAM PENGEMBANGAN PENGURANGAN EMISI DI REPUBLIK DEMOKRATIK KONGO PROGRAM H U TAN DAN I KL I M PRAKTIK-PRAKTIK REDD+ YANG MENGINSPIRASI LEMBAR FAKTA CATATAN IDE PROGRAM PENGEMBANGAN PENGURANGAN EMISI DI REPUBLIK DEMOKRATIK KONGO 2014 SELAYANG PANDANG Apa» Pengembangan

Lebih terperinci

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas)

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) LAMPIRAN 6 PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) Pihak Pertama Nama: Perwakilan yang Berwenang: Rincian Kontak: Pihak Kedua Nama:

Lebih terperinci

Sistem manajemen mutu Persyaratan

Sistem manajemen mutu Persyaratan SNI ISO 9001-2008 Standar Nasional Indonesia Sistem manajemen mutu Persyaratan ICS 03.120.10 Badan Standardisasi Nasional SNI ISO 9001-2008 Daftar isi Daftar isi... i Prakata... iv Pendahuluan... vi 0.1

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber

Lebih terperinci

DIEMBARGO SAMPAI 9 APRIL (07:00 WIB) Pendidikan untuk Semua 2000-2015: Tujuan pendidikan global hanya dicapai oleh sepertiga negara peserta

DIEMBARGO SAMPAI 9 APRIL (07:00 WIB) Pendidikan untuk Semua 2000-2015: Tujuan pendidikan global hanya dicapai oleh sepertiga negara peserta Siaran Pers UNESCO No. 2015-xx DIEMBARGO SAMPAI 9 APRIL (07:00 WIB) Pendidikan untuk Semua 2000-2015: Tujuan pendidikan global hanya dicapai oleh sepertiga negara peserta Paris/New Delhi, 9 April 2015

Lebih terperinci

PEDOMAN PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT KABINET

PEDOMAN PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT KABINET PEDOMAN PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT KABINET A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Proses dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, telah membuat bangsa kita sadar akan

Lebih terperinci

Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah POLICY BRIEF

Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah POLICY BRIEF Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah POLICY BRIEF Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era

Lebih terperinci

DRAFT PEDOMAN MENGENAI HUBUNGAN AICHR DENGAN ORGANISASI MASYARAKAT MADANI

DRAFT PEDOMAN MENGENAI HUBUNGAN AICHR DENGAN ORGANISASI MASYARAKAT MADANI PEDOMAN MENGENAI HUBUNGAN AICHR DENGAN ORGANISASI MASYARAKAT MADANI As of 14 November 2013 I. Pendahuluan 1. Salah satu tujuan ASEAN seperti yang diatur dalam Piagam ASEAN adalah untuk memajukan ASEAN

Lebih terperinci

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI)

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) tertanggal 16 Desember 1966, dan terbuka untuk penandatangan, ratifikasi, dan aksesi MUKADIMAH

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam 10 tahun terakhir, jumlah kebutuhan ikan di pasar dunia semakin meningkat, untuk konsumsi dibutuhkan 119,6 juta ton/tahun. Jumlah tersebut hanya sekitar 40 %

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA)

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Menimbang : PP 47/1997, RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 47 TAHUN 1997 (47/1997) Tanggal: 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber:

Lebih terperinci

Peta Jalan untuk Mencapai Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak (BPTA) pada tahun 2016

Peta Jalan untuk Mencapai Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak (BPTA) pada tahun 2016 Peta Jalan untuk Mencapai Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak (BPTA) pada tahun 2016 Illustratie Dick Bruna copyright Mercis bv, 1997 Dokumen Hasil Konferensi Global Pekerja Anak Den

Lebih terperinci

Harga Sebuah Kebijakan Bahan Bakar Fosil: Subsidi Pemerintah Indonesia di Sektor Hulu Minyak & Gas Bumi

Harga Sebuah Kebijakan Bahan Bakar Fosil: Subsidi Pemerintah Indonesia di Sektor Hulu Minyak & Gas Bumi Harga Sebuah Kebijakan Bahan Bakar Fosil: Subsidi Pemerintah Indonesia di Sektor Hulu Minyak & Gas Bumi OKTOBER 2010 OLEH: PT. Q ENERGY SOUTH EAST ASIA David Braithwaite PT. CAKRAMUSTIKA SWADAYA Soepraptono

Lebih terperinci

Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia

Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia MIGRANT WORKERS ACCESS TO JUSTICE SERIES Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia RINGKASAN EKSEKUTIF Bassina Farbenblum l Eleanor Taylor-Nicholson l Sarah Paoletti Akses

Lebih terperinci

PEDOMAN ETIKA DALAM BERHUBUNGAN DENGAN PARA SUPPLIER

PEDOMAN ETIKA DALAM BERHUBUNGAN DENGAN PARA SUPPLIER PEDOMAN ETIKA DALAM BERHUBUNGAN DENGAN PARA SUPPLIER 2 PALYJA GDF SUEZ - Pedoman Etika Dalam Berhubungan Dengan Supplier GDF SUEZ berjuang setiap saat dan di semua tempat untuk bertindak baik sesuai dengan

Lebih terperinci

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/2008 TENTANG PERENCANAAN PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Cover Page. The handle http://hdl.handle.net/1887/20260 holds various files of this Leiden University dissertation.

Cover Page. The handle http://hdl.handle.net/1887/20260 holds various files of this Leiden University dissertation. Cover Page The handle http://hdl.handle.net/1887/20260 holds various files of this Leiden University dissertation. Author: Becking, Leontine Elisabeth Title: Marine lakes of Indonesia Date: 2012-12-04

Lebih terperinci

Program SUM di Konferensi AIDS Nasional Indonesia Lokakarya Peningkatan Keterampilan untuk Memperkenalkan Perangkat Penilaian Baru

Program SUM di Konferensi AIDS Nasional Indonesia Lokakarya Peningkatan Keterampilan untuk Memperkenalkan Perangkat Penilaian Baru Technical Brief 8 Oktober 2011 Program SUM di Konferensi AIDS Nasional Indonesia Lokakarya Peningkatan Keterampilan untuk Memperkenalkan Perangkat Penilaian Baru Tanya Jawab Q: Bagaimana RETA dapat digunakan

Lebih terperinci

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN SALINAN PERATURAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA BADAN KOORDINASI PENATAAN RUANG NASIONAL NOMOR : PER-02/M.EKON/10/2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN KOORDINASI PENATAAN

Lebih terperinci

K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL

K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL 1 K-144 Konsultasi Tripartit untuk Meningkatkan Pelaksanaan Standar-Standar Ketenagakerjaan Internasional

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 20/Menhut-II/2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KARBON HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 20/Menhut-II/2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KARBON HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 20/Menhut-II/2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KARBON HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG, PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG, Menimbang : a. bahwa pengaturan pengelolaan air tanah dimaksudkan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (2) Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA 1 K 100 - Upah yang Setara bagi Pekerja Laki-laki dan Perempuan untuk Pekerjaan yang Sama Nilainya 2 Pengantar

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PEDOMAN MANAJEMEN LOGISTIK DAN PERALATAN PENANGGULANGAN BENCANA

PEDOMAN MANAJEMEN LOGISTIK DAN PERALATAN PENANGGULANGAN BENCANA PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN MANAJEMEN LOGISTIK DAN PERALATAN PENANGGULANGAN BENCANA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA (BNPB) - i - DAFTAR

Lebih terperinci

Deklarasi Rio Branco. Membangun Kemitraan dan Mendapatkan Dukungan untuk Hutan, Iklim dan Mata Pencaharian

Deklarasi Rio Branco. Membangun Kemitraan dan Mendapatkan Dukungan untuk Hutan, Iklim dan Mata Pencaharian Satuan Tugas Hutan dan Iklim Gubernur (GCF) Deklarasi Rio Branco Membangun Kemitraan dan Mendapatkan Dukungan untuk Hutan, Iklim dan Mata Pencaharian Rio Branco, Brasil 11 Agustus 2014 Kami, anggota Satuan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013 PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013 TENTANG PERIZINAN REKLAMASI DI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL Menimbang DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi

K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi 1 K 150 - Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi 2 Pengantar Organisasi Perburuhan

Lebih terperinci

Bagian 1: Darimana Anda memulai?

Bagian 1: Darimana Anda memulai? Bagian 1: Darimana Anda memulai? Bagian 1: Darimana Anda memulai? Apakah Anda manajer perusahaan atau staf produksi yang menginginkan perbaikan efisiensi energi? Atau apakah Anda suatu organisasi diluar

Lebih terperinci

ASESMEN MANDIRI. SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02

ASESMEN MANDIRI. SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02 No. Urut 05 ASESMEN MANDIRI SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02 Lembaga Sertifikasi Profesi Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat 2013 Nomor Registrasi Pendaftaran

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 08 Teknik Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Tata Ruang Tujuan Sosialisasi Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik ik & Lingkungan,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

Program Penelitian CGIAR tentang Hutan, Pohon dan Wanatani. Penghidupan, Bentang Alam dan Tata Kelola

Program Penelitian CGIAR tentang Hutan, Pohon dan Wanatani. Penghidupan, Bentang Alam dan Tata Kelola Program Penelitian CGIAR tentang Hutan, Pohon dan Wanatani Penghidupan, Bentang Alam dan Tata Kelola Program Penelitian CGIAR tentang Hutan, Pohon dan Wanatani (CRP-FTA) CRP-FTA adalah sebuah program kolaboratif

Lebih terperinci

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku.

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku. KODE UNIT : KOM.PR01.005.01 JUDUL UNIT : Menyampaikan Presentasi Lisan Dalam Bahasa Inggris DESKRIPSI UNIT : Unit ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan profesi humas

Lebih terperinci

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL CONVENTION FOR THE SUPPRESSION OF ACTS OF NUCLEAR TERRORISM (KONVENSI INTERNASIONAL PENANGGULANGAN TINDAKAN TERORISME

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG SALINAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PEDOMAN PELAPORAN KEBERLANJUTAN

PEDOMAN PELAPORAN KEBERLANJUTAN PEDOMAN PELAPORAN KEBERLANJUTAN DAFTAR ISI PENGANTAR 3 1. TUJUAN PEDOMAN PELAPORAN KEBERLANJUTAN GRI 5 2. CARA MENGGUNAKAN PEDOMAN 2.1 Pedoman 7 2.2 Menggunakan Pedoman untuk Menyusun Laporan Keberlanjutan:

Lebih terperinci

- 283 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP

- 283 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP - 283 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP SUB BIDANG SUB SUB BIDANG PEMERINTAH 1. Pengendalian Dampak Lingkungan 1. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) 1. Menetapkan

Lebih terperinci

Prakarsa Karet Alam Berkesinambungan Sukarela (SNR) Kriteria dan Indikator Kinerja

Prakarsa Karet Alam Berkesinambungan Sukarela (SNR) Kriteria dan Indikator Kinerja Prakarsa Karet Alam Berkesinambungan Sukarela (SNR) Kriteria dan Indikator Kinerja Kriteria, Indikator dan KPI Karet Alam Berkesinambungan 1. Referensi Kriteria, Indikator dan KPI SNR mengikuti sejumlah

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012 PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF KEMENTERIAN PARIWISATA DAN

Lebih terperinci

Program "Integritas Premium" Program Kepatuhan Antikorupsi

Program Integritas Premium Program Kepatuhan Antikorupsi Program "Integritas Premium" Program Kepatuhan Antikorupsi Tanggal publikasi: Oktober 2013 Daftar Isi Indeks 1 Pendekatan Pirelli untuk memerangi korupsi...4 2 Konteks regulasi...6 3 Program "Integritas

Lebih terperinci

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN Potensi dan Tantangan DI INDONESIA Oleh: Dr. Sunoto, MES Potensi kelautan dan perikanan Indonesia begitu besar, apalagi saat ini potensi tersebut telah ditopang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

Rangkuman Pertemuan Antara Perwakilan GCF dan Entitas-Entitas Eropa Dalam Rangka Mendukung REDD+ Barcelona, Spanyol - 14 Pebruari 2012

Rangkuman Pertemuan Antara Perwakilan GCF dan Entitas-Entitas Eropa Dalam Rangka Mendukung REDD+ Barcelona, Spanyol - 14 Pebruari 2012 Rangkuman Pertemuan Antara Perwakilan GCF dan Entitas-Entitas Eropa Dalam Rangka Mendukung REDD+ Barcelona, Spanyol - 14 Pebruari 2012 Pusat Ilmu Pengetahuan Hutan Catalonia (Forest Sciences Center of

Lebih terperinci

PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER

PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER Kami meyakini bahwa bisnis hanya dapat berkembang dalam masyarakat yang melindungi dan menghormati hak asasi manusia. Kami sadar bahwa bisnis memiliki tanggung

Lebih terperinci

Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas

Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas Mendengarkan Masyarakat yang Terkena Dampak Proyek-Proyek Bantuan ADB Apa yang dimaksud dengan Mekanisme Akuntabilitas ADB? Pada bulan Mei 2003, Asian Development

Lebih terperinci

PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM

PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM 01/01/2014 PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM PENDAHULUAN Pembangunan berkelanjutan adalah bagian penggerak bagi strategi Alstom. Ini berarti bahwa Alstom sungguhsungguh

Lebih terperinci

Oleh Maria Chatarina Adharti Sri Susriyamtini ; Suci Paresti ; Maria Listiyanti ; Sapto Aji Wirantho ; Budi Santosa

Oleh Maria Chatarina Adharti Sri Susriyamtini ; Suci Paresti ; Maria Listiyanti ; Sapto Aji Wirantho ; Budi Santosa PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN IDENTIFIKASI DAN ANALISIS KEBUTUHAN LAPANGAN PADA PENGEMBANGAN MODEL KURIKULUM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR BERBASIS EKONOMI PRODUKTIF Oleh Maria Chatarina Adharti Sri Susriyamtini

Lebih terperinci

Kebijakan Hak Asasi Manusia (HAM) dan Bisnis. 1 Pendahuluan 2 Komitmen 3 Pelaksanaan 4 Tata Kelola

Kebijakan Hak Asasi Manusia (HAM) dan Bisnis. 1 Pendahuluan 2 Komitmen 3 Pelaksanaan 4 Tata Kelola Kebijakan Hak Asasi Manusia (HAM) dan Bisnis 1 Pendahuluan 2 Komitmen 3 Pelaksanaan 4 Tata Kelola BP 2013 Kebijakan Hak Asasi Manusia (HAM) dan Bisnis 1. Pendahuluan Kami mengirimkan energi kepada dunia.

Lebih terperinci

Piagam Tranparansi bagi Institusi Keuangan Internasional: Menagih Hak untuk Mengetahui. Pembukaan

Piagam Tranparansi bagi Institusi Keuangan Internasional: Menagih Hak untuk Mengetahui. Pembukaan Piagam Tranparansi bagi Institusi Keuangan Internasional: Menagih Hak untuk Mengetahui Pembukaan Hak untuk mengakses informasi bagi badan publik adalah hak asasi manusia yang paling mendasar, seperti tercantum

Lebih terperinci

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA 1 K-88 Lembaga Pelayanan Penempatan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi

Lebih terperinci

Term of Reference Hibah Inovasi Data untuk Pembangunan

Term of Reference Hibah Inovasi Data untuk Pembangunan Term of Reference Hibah Inovasi Data untuk Pembangunan 1. LATAR BELAKANG Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas, bekerja sama dengan Pulse Lab Jakarta, Knowledge Sector Initiative, dan

Lebih terperinci

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Briefing October 2014 Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Patrick Heller dan Poppy Ismalina Universitas Gadjah Mada Memaksimalkan keuntungan dari sektor

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 50 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN KOORDINASI PENATAAN RUANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 50 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN KOORDINASI PENATAAN RUANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 50 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN KOORDINASI PENATAAN RUANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang : a. bahwa dalam rangka menserasikan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2004 TENTANG PENGESAHAN KYOTO PROTOCOL TO THE UNITED NATIONS FRAMEWORK C'ONVENTION ON CLIMATE CHANGE (PROTOKOL KYOTO ATAS KONVENSI KERANGKA KERJA PERSERIKATAN

Lebih terperinci

Reviu 10 Buku Pengarusutamaan Gender (PUG) bidang Pendidikan

Reviu 10 Buku Pengarusutamaan Gender (PUG) bidang Pendidikan Reviu 10 Buku Pengarusutamaan Gender (PUG) bidang Pendidikan Ella Yulaelawati, M.A., Ph.D. Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal

Lebih terperinci

Keputusan Kepala Bapedal No. 56 Tahun 1994 Tentang : Pedoman Mengenai Dampak Penting

Keputusan Kepala Bapedal No. 56 Tahun 1994 Tentang : Pedoman Mengenai Dampak Penting Keputusan Kepala Bapedal No. 56 Tahun 1994 Tentang : Pedoman Mengenai Dampak Penting Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun

Lebih terperinci

BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG USAHA PERIKANAN DI KABUPATEN MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG USAHA PERIKANAN DI KABUPATEN MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG USAHA PERIKANAN DI KABUPATEN MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MAGELANG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2012 TENTANG STRATEGI NASIONAL PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN KORUPSI JANGKA PANJANG TAHUN 2012-2025 DAN JANGKA MENENGAH TAHUN 2012-2014 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

Area Global Tanaman Biotek Terus Meningkat di Tahun 2005 Setelah Satu Dekade Komersialisasi

Area Global Tanaman Biotek Terus Meningkat di Tahun 2005 Setelah Satu Dekade Komersialisasi Area Global Tanaman Biotek Terus Meningkat di Tahun 2005 Setelah Satu Dekade Komersialisasi SAO PAULO, Brasil (11 Januari 2006) Permintaan petani akan tanaman biotek telah meningkat sebesar dua digit per

Lebih terperinci

K27 PEMBERIAN TANDA BERAT PADA BARANG-BARANG BESAR YANG DIANGKUT DENGAN KAPAL

K27 PEMBERIAN TANDA BERAT PADA BARANG-BARANG BESAR YANG DIANGKUT DENGAN KAPAL K27 PEMBERIAN TANDA BERAT PADA BARANG-BARANG BESAR YANG DIANGKUT DENGAN KAPAL 1 K-27 Mengenai Pemberian Tanda Berat pada Barang-Barang Besar yang Diangkut dengan Kapal 2 Pengantar Organisasi Perburuhan

Lebih terperinci

JUDUL UNIT : Menerapkan Prinsip - Prinsip Rancangan Instruksional

JUDUL UNIT : Menerapkan Prinsip - Prinsip Rancangan Instruksional KODE UNIT : TIK.MM01.009.01 JUDUL UNIT : Menerapkan Prinsip - Prinsip Rancangan Instruksional DESKRIPSI UNIT : Unit ini menjelaskan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk menggunakan prinsip

Lebih terperinci

"Bencana di NTT dan Komitmen Forum Parlemen NTT" *) IPI SELI SENG

Bencana di NTT dan Komitmen Forum Parlemen NTT *) IPI SELI SENG "Bencana di NTT dan Komitmen Forum Parlemen NTT" *) IPI SELI SENG Syukurlah, akhirnya fakta bencana di NTT mendapat perhatian serius dari para pengambil kebijakan. Sabtu (27/10) dalam kesempatan sosialisasi

Lebih terperinci