REDD+: sebuah struktur insentif untuk menghasilkan kinerja jangka panjang

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "REDD+: sebuah struktur insentif untuk menghasilkan kinerja jangka panjang"

Transkripsi

1 REDD+: sebuah struktur insentif untuk menghasilkan kinerja jangka panjang Penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi 1 (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation/REDD+) disepakati dalam UNFCCC sebagai bagian dari Kesepakatan Cancun 2010 yang bertujuan untuk memperlambat, menghentikan dan membalikkan hilangnya tutupan hutan dan karbon. 2 Saat ini, banyak aspek REDD+ masih berada di meja perundingan, khususnya mengenai apa yang dimaksud dengan hasil-hasil REDD+ dan bagaimana hasil-hasil ini akan didanai. Struktur insentif REDD+ jangka panjang akan menjadi pedoman untuk menjalankan REDD+, tidak hanya pada fase kinerja penuh, tetapi juga dalam proses kesiapan yang tengah berjalan saat ini. Telah disepakati secara luas bahwa untuk memastikan berkurangnya deforestasi dan menangani faktor-faktor pendorongnya secara berkelanjutan, diperlukan reformasi struktural yang mencakup aspekaspek kunci dalam hal tata kelola, sosial dan lingkungan. Struktur insentif yang didasarkan pada definisi hasil yang sempit, yang hanya menyangkut karbon, tidaklah memadai untuk menciptakan reformasi di atas serta dapat menyebabkan alokasi sumber daya yang tidak proporsional untuk pengukuran, pelaporan dan verifikasi (MRV) karbon di tahap kesiapan yang sangat mahal. 3,4,5 Salah satu masalah dengan penggunaan karbon sebagai satu-satunya faktor penentu kinerja atau hasil REDD+ adalah sulitnya membuktikan hubungan sebab-akibat, yang dapat berujung pada timbulnya efek tak terduga (windfall effects) atau tidak adanya imbalan atas upaya-upaya pengurangan deforestasi sejati. 6 Struktur insentif yang lebih baik, yang mendefinisikan kriteria kinerja secara lebih luas, memonitor kemajuan dengan keluaran yang lebih beragam, serta yang dilandaskan pada berbagai komitmen dan pendekatan monitoring yang telah ada pada saat ini dapat membantu mendatangkan perubahan transformasional yang diperlukan untuk menghentikan kerusakan hutan dan memulihkannya. Makalah singkat ini menawarkan sebuah pendekatan pragmatis untuk memonitor kinerja yang dapat diandalkan untuk membantu melindungi hutan secara lebih efektif di tengah sumber daya yang terbatas. Melandaskan diri pada penelitian yang telah dipublikasikan, makalah ini memaparkan apa yang dimaksud dengan kinerja dalam arti luas dan bagaimana melakukan monitoring secara hemat biaya, yang dapat digunakan untuk mendasari diskusi lanjutan mengenai hal ini. Makalah untuk Diskusi September 2012 Kontak penulis: Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Bengawanty V. Tambunan. Disunting oleh Anggalia Putri Permatasari

2 2 Latarbelakang Keputusan Durban menyatakan bahwa aksi berbasishasil untuk REDD+ harus dapat diukur, dilaporkan dan diverifikasi sepenuhnya dan mensyaratkan tersedianya informasi mengenai safeguards untuk dapat mengakses pembayaran berdasarkan kinerja. 7 Kegiatan-kegiatan REDD+ didefinisikan sebagai aksi untuk memitigasi perubahan iklim, namun Para Pihak di Durban juga mengakui potensi REDD+ untuk mengentaskan kemiskinan dan menghasilkan manfaat dalam aspek keanekaragaman hayati dan ketahanan ekosistem. Mereka juga mengakui keterhubungan antara adaptasi dan mitigasi. Langkah-langkah kebijakan yang ditujukan untuk memperbaiki tata kelola hutan dan mengamankan hak tenurial masyarakat yang bergantung pada hutan adalah cara yang terbukti efektif untuk mengurangi deforestasi. 8 Selain itu, terdapat bukti empiris yang kuat bahwa langkah-langkah di atas dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca. 9,10 Penelitian terbaru dari Centre for International Forestry Research (CIFOR) menyebut kebijakan-kebijakan di atas sebagai tindakan tanpapenyesalan yang harus segera dijalankan. 11 Diskusi terkini mengenai monitoring REDD+ masih terlalu terfokus pada MRV karbon. Hal ini dapat membatasi kemampuan negara untuk mengakses dana REDD+ guna menjalankan kebijakan-kebijakan yang telah disebutkan di atas, yang menyediakan landasan bagi pengurangan deforestasi, namun tidak menghasilkan pengurangan emisi yang dapat segera diverifikasi. Oleh karena itu, beberapa negara dalam perundingan menyerukan penyederhanaan modalitas dalam hal prosedur pendanaan REDD+ yang turut mengakui atribut-atribut non-karbon dalam upaya mencapai perubahan transformatif. 12 Fokus pada karbon juga mensyaratkan dibentuknya berbagai sistem baru yang memakan banyak biaya ketimbang melandaskan diri pada pendekatan-pendekatan monitoring yang telah ada pada saat ini. 13,14 Contoh dari Brasil menunjukkan bahwa deforestasi dapat dikurangi secara signifikan melalui langkah-langkah kebijakan nasional tanpa harus mengkuantifikasi karbon secara akurat. Hasil atau kinerja REDD+ harus didefinisikan sedemikian rupa sehingga dapat meminimalkan biaya transaksi dan mengalirkan sumber daya untuk mendanai aksi-aksi yang telah terbukti dapat mengurangi deforestasi. Sumber-sumber pendanaan Kemungkinan besar, dana untuk REDD+ akan datang dari sumber publik dan privat. Penekanan pada MRV karbon dalam REDD+ berangkat dari ekspektasi bahwa pendanaan untuk REDD+ akan datang terutama dari pasar karbon global. Akan tetapi, untuk menciptakan aset yang dapat diperdagangkan di pasar finansial, diperlukan sebuah sistem MRV dengan akurasi yang sangat tinggi, yang meningkatkan biaya transaksi secara signifikan. Di tengah mundurnya pasar karbon dan rendahnya komitmen pengurangan emisi yang ada pada saat ini, yang tidak mampu menciptakan permintaan pasar yang memadai, 15 persyaratan monitoring kinerja yang lebih sederhana dapat membuka jalan untuk mendiskusikan sumber-sumber finansial baru yang bersandar pada sistem monitoring yang lebih luas dengan parameter kinerja yang lebih kuat untuk mengurangi risiko dan menjamin tercapainya hasil yang berkelanjutan. 16 Safeguards Saat ini, aspek-aspek tata kelola, sosial, dan lingkungan yang lebih luas terkait REDD+ telah dijawab oleh safeguards Cancun. 17 Safeguards Cancun menyediakan serangkaian tujuan yang harus dicapai oleh REDD+ bersamaan dengan pengurangan emisi. Keputusan Cancun dan Durban menekankan bahwa kegiatan-kegiatan REDD+ harus konsisten dengan safeguards yang harus dihormati secara penuh sebelum dapat mengakses pendanaan berbasis hasil. 18 Keduanya lebih jauh menekankan bahwa sebuah sistem informasi safeguards (SIS) harus tersedia sebelum negara dapat memasuki fase pembayaran berbasis hasil. 19 Pandangan Para Pihak yang diserahkan pada UNFCCC pada bulan Maret 2012 menunjukkan bahwa banyak negara memandang kepatuhan terhadap safeguards sebagai hal yang esensial bagi suksesnya implementasi REDD+. Mereka juga berpandangan bahwa safeguards diperlukan untuk dapat menarik dan mempertahankan investasi serta untuk menciptakan kondisi yang diperlukan untuk mengurangi hilangnya hutan secara berkelanjutan. Akan tetapi, diperlukan pendanaan internasional yang memadai untuk dapat menjalankan safeguards. Mengaitkan pembayaran berbasis hasil dengan keluaran-keluaran yang dihasilkan dari implementasi safeguards akan mengurangi biaya pelaporan hasil, membantu memobilisasi dana yang diperlukan, serta memberikan insentif untuk aksi-aksi yang dapat mengurangi hilangnya hutan secara paling efektif. Proposal: Mendefinisikan kinerja REDD+ yang lebih luas Untuk mengurangi hilangnya hutan, sebuah struktur insentif yang dapat menstimulasi aksi dengan cakupan yang luas mutlak diperlukan. Pembayaran REDD+ berbasis hasil harus didasarkan pada monitoring keluaran dari berbagai elemen kunci tata kelola, sosial, dan lingkungan yang konsisten dengan Kesepakatan Cancun. Monitoring kinerja yang lebih luas dapat dibuat lebih sederhana dan lebih efektif untuk mengurangi hilangnya hutan tanpa menambah beban dalam hal persyaratan

3 3 pelaporan. Makalah ini menawarkan sebuah model gabungan (komposit) di mana kinerja dalam fase pembayaran berbasis hasil dipertimbangkan dengan menyederhanakan monitoring atas tiga kategori yang mencakup aspek tata kelola, sosial, dan lingkungan hidup (termasuk karbon). Model komposit ini dapat mengindikasikan kemajuan di seluruh kategori dengan menggunakan pendekatan perubahan penggunaan lahan untuk memonitor karbon, yang memadai untuk mendeteksi kecenderungan pengurangan emisi. 20 Tabel di bawah didasarkan pada penelitian terkini mengenai monitoring tata kelola pemerintahan dan menawarkan serangkaian contoh input yang dapat dikembangkan di tingkat nasional dalam konteks pengembangan kerangka sistem monitoring hutan nasional dan SIS. Kinerja di ketiga kategori ini diperlukan untuk dapat mengakses pembayaran berbasis hasil, namun biaya transaksi akan berkurang dengan menyederhanakan sistem monitoring dan verifikasi serta dengan mensinergikannya dengan berbagai kewajiban pelaporan yang sudah ada. Sistem monitoring yang lebih sederhana Keengganan untuk memperluas definisi kinerja hingga mencakup perbaikan-perbaikan dalam aspek sosial-ekonomi dan tata kelola yang mendorong deforestasi disebabkan oleh adanya anggapan bahwa monitoring atas aspek-aspek tersebut akan sulit untuk dilakukan. Pendekatan yang ditawarkan dalam makalah ini dilandaskan pada sistem yang telah tersedia pada saat ini, begitu pula berbagai indikator/ keluaran yang telah terkandung di dalam standar-standar yang telah ada. Oleh karena itu, makalah ini adalah salah satu upaya untuk mengkonsolidasikan dan mendefinisikan berbagai standar tersebut sebagai standar untuk kinerja REDD+. Kewajiban untuk mengembangkan SIS juga telah mendorong banyak negara untuk mengembangkan kerangka kerja untuk memonitor kemajuan terkait dengan manfaat non-karbon yang cakupannya lebih luas. Berbagai kerangka kerja tersebut dapat diharmoniskan dengan kewajiban-kewajiban pelaporan yang telah ada dan dengan model kinerja REDD+ gabungan seperti yang dijelaskan di bawah ini.salah satu kunci untuk mengurangi biaya monitoring adalah dengan menggunakan Contoh input Output untuk dikaji Sinergi pelaporan i TATAKELOLA Apakah ada partisipasi yang transparan dalam pembuatan keputusan? Apakah keamanan tenurial di dalam dan di sekitar hutan meningkat? Seluruh pemangku hak dan pemangku kepentingan yang relevan berpartisipasi secara penuh dan efektif dalam perancangan dan pelaksanaan program-program REDD+ Hak-hak formal dan tradisional atas lahan dan teritori dihormati. Komunitas diberi mandat dan sumber daya untuk mengelola hak-hak tersebut. Indikator-indikator Transparency International tentang transparansi, Indikator Bank Dunia tentang korupsi Penelitian dan analisa yang telah ada mengenai situasi tenure; UNDRIP; ILO 169 SOSIAL Apakah ada mekanisme distribusi manfaat dan penyelesaian konflik? Peningkatan kualitas hidup, misalnya kualitas air, akses terhadap pasar, pendidikan, dan layanan kesehatan Manfaat didistribusikan di kalangan pemangku hak dan pemangku kepentingan dan sebuah proses resolusi konflik yang efektif terkait dengan distribusi manfaat didirikan. Keamanan penghidupan dan kualitas kehidupan masyarakat adat dan lokal meningkat dibandingkan baseline yang telah mereka tetapkan. UNDRIP; Perjanjian Amerika Utara dalam Hal Kerja Sama Lingkungan (untuk Para Pihak yang relevan) Millennium Development Goals; UN Declaration on Human Rights LINGKUNGAN Perubahan dalam kategori penggunaan lahan dengan menggunakan pendekatan matriks ii Ketahanan ekosistem, misalnya identifikasi kategori keanekaragaman hayati, data distribusi dan ancaman Perkiraan kecenderungan emisi, penilaian kinerja dari lima bidang kegiatan REDD+ dalam cara yang eksplisit secara spasial dan dapat diverifikasi, termasuk identifikasi IFL dan HCVF iii Layanan ekosistem dipertahankan dan ditingkatkan. Adanya perlindungan hutan alam atau kategori lain yang penting bagi fungsi-fungsi ekosistem prioritas yang telah diidentifikasi. Pelaporan di bawah sistem CBD iv ; Instrumen untuk Seluruh Jenis Hutan yang Tidak Mengikat Secara Hukum Strategi Keanekaragaman Hayati Nasional dan Rencana Aksi, Target Aichi dan pelaporan dibawah CBD i) ii) iii) iv) Contoh-contoh sinergi pelaporan adalah sebuah daftar yang tak ada habisnya, yang sebagian diambil dari kepatuhan ClientEarth/World Resources Institute terhadap SBSTA tentang Lessons from International and Regional Instruments. Lihat kepatuhan berikut untuk informasi dan referensi lebih lanjut Bucki et al, (2012) Assessing REDD+ performance of countries with low monitoring capacities: the matrix approach. Environ. Res. Lett. 7 (2012) Intact Forest Landscapes (IFL see and High Conservation Value Forests (HCVF) Konvensi Keanekaragaman Hayati

4 4 pendekatan yang melibatkan masyarakat adat dan lokal yang juga akan berkontribusi dalam mewujudkan tata kelola yang lebih baik. 21,22 Monitoring berbasis komunitas dapat dijalankan dengan menggunakan metodologi yang murah dan sederhana, yang dapat diulang dengan mudah, meningkatkan ketersediaan data, 23 dan dapat juga digunakan untuk menilai kemajuan di setiap kategori. Tabel di halaman sebelumnya ini menunjukkan contoh input yang dapat digunakan untuk memonitor kemajuan dalam upaya mencapai tujuan REDD+. Pengembangan input dan output yang relevan untuk dimonitor adalah upaya di tingkat nasional yang sifatnya spesifik bagi tiap negara, namun harus bertolak dari pedoman tertentu, misalnya Standar-standar Sosial dan Lingkungan REDD+ (REDD+-SES) 24 beserta Petunjuk Penggunaannya, serta harus sejalan dengan kewajiban pelaporan dan kewajibankewajiban internasional lain yang sudah ada. Pembayaran yang mendukung kinerja yang berkelanjutan Sebuah struktur pembayaran berbasis kinerja di masingmasing kategori perlu dikembangkan. Sebuah model gabungan yang mensyaratkan kinerja di ketiga kategori untuk dapat mengakses pembayaran berbasis hasil akan lebih mampu memberikan insentif untuk menghasilkan kinerja yang lebih luas dibandingkan dengan, misalnya, harga premium untuk karbon kredit yang mencakup kinerja non-karbon sebagaimana yang didiskusikan oleh Forest Carbon Partnership Facility (FCPF). Menjawab keluaran non-karbon hanya dengan pembayaran premium menyiratkan bahwa keluaran non-karbon bersifat opsional dan bukan merupakan bagian integral dari kinerja itu sendiri. Pembayaran berbasis hasil yang dilandaskan pada penilaian kinerja di seluruh tiga kategori yang telah disebutkan di atas dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai kinerja yang tengah berjalan (hasilhasil jangka pendek, termasuk tahap kesiapan) serta keberlanjutan pencapaian hasil dalam jangka panjang. Salah satu karakter utama dari struktur yang ditawarkan dalam makalah ini adalah kemampuan untuk memberikan insentif secara bertahap sehingga dapat memberi insentif bagi kinerja yang tengah berjalan. Laporan terbaru dari Centre for Agricultural Research for Development (CIRAD) menyarankan agar kinerja REDD+ didefinisikan ulang, dari kinerja berupa karbon yang dibayar di akhir (expost) menjadi kinerja yang berhubungan dengan investasi yang berkelanjutan dalam reformasi struktural jangka panjang yang diperlukan untuk menghentikan deforestasi. Penulis mencatat bahwa kemajuan REDD+ di masa depan akan bergantung pada dukungan kepada negara-negara berkembang untuk menjalankan reformasi hukum dan kebijakan yang mendorong penggunaan lahan dan perbaikan tata kelola yang berkelanjutan 25 China juga menyarankan agar pendanaan REDD+ yang berbasis dibayarkan secara bertahap kepada pemerintah negara-negara berkembang. 26 Kesimpulan Ada kesepakatan yang luas bahwa memfokuskan diri pada upaya untuk mengatasi penyebab-penyebab mendasar dari kerusakan hutan seperti buruknya tata kelola hutan, diabaikannya ekosistem, serta tidak jelasnya hak-hak tenurial merupakan langkah awal terpenting untuk mengurangi hilangnya hutan. Fokus REDD+ saat ini pada monitoring karbon tidak dapat mengurangi emisi karbon secara berkelanjutan dalam jangka panjang serta dapat mengarah pada tidak proporsionalnya alokasi sumber daya yang terbatas. Struktur kinerja yang memberikan insentif terhadap kegiatan-kegiatan di atas mensyaratkan adanya sistem yang dapat memonitor kemajuan berbagai aksi untuk memastikan alokasi sumber daya yang efisien. Telah ada banyak pengalaman dan bukti mengenai caracara sederhana dan berbiaya murah untuk memonitor serangkaian indikator kinerja yang lebih luas. Di samping itu, ada semakin banyak penelitian yang dilakukan oleh organisasi internasional, lembaga penelitian, dan Organisasi Non-pemerintah mengenai bagaimana memonitor kinerja tata kelola, sosial dan lingkungan. Saat ini, negara dan aktoraktor nasional lainnya telah menjalankan monitoring atas elemen-elemen ketiga kategori di atas untuk memenuhi berbagai kewajiban pelaporan internasional yang ada. Kapanpun dimungkinkan, harus ditemukan sinergi di antara berbagai kewajiban pelaporan ini. Pelajaran dari berbagai upaya mengatasi deforestasi di masa kini dan di masa lalu dapat ditarik untuk menekankan pentingnya memfokuskan diri pada faktor-faktor tata kelola, sosial, dan lingkungan yang mendorong perusakan hutan. Banyak elemen dari pendekatan yang ditawarkan dalam makalah ini mendapatkan dukungan luas. Pandangan Para Pihak dan pemangku kepentingan yang diserahkan pada UNFCCC baru-baru ini menunjukkan perlunya mengembangkan proses MRV untuk aksi berbasis hasil yang melibatkan aspek-aspek non-karbon. Negaranegara COMIFAC menyatakan bahwa pengakuan penuh atas manfaat-manfaat sampingan REDD+ (cobenefits) membutuhkan pengembangan sistem MRV yang relevan. 27 Kolombia, Kosta Rika, Honduras dan Meksiko mengindikasikan bahwa aksi REDD+ berbasis hasil mensyaratkan adanya kondisi yang memungkinkan hal tersebut, termasuk reformasi struktural di tahap kesiapan dan investasi yang mengurangi tekanan pada hutan. 28 Bolivia telah mengajukan sebuah model untuk memonitor kinerja dalam skema mitigasi dan adaptasi gabungan, 29 yang juga kompatibel dengan pendekatan ini. Harus ada kerja lanjutan dalam sistem UNFCCC, juga di kalangan lembaga penelitian dan organisasi non-

5 5 pemerintah untuk mengembangkan model gabungan yang mengarah pada sistem yang lebih sederhana untuk memonitor untuk kinerja atau hasil-hasil dengan cakupan yang lebih luas. Secara khusus, kami mengundang Para Pihak dan pemangku kepentingan yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan REDD+ untuk memberikan komentar atas proposal yang kami tawarkan di dalam makalan ini. Notes 1. Termasuk peran konservasi stok karbon hutan, pengelolaan hutan yang berkelanjutan, dan peningkatan stok karbon hutan 2. Keputusan 1/CP Karsenty, Tulyasuwan, Ezzine de Blas, (2012) Financing options to support REDD+ activities Report for the European Commission. CIRAD Agricultural Research for Development 4. Karsenty and Ongolo, (2011) Can fragile states decide to reduce their deforestation? The inappropriate use of the theory of incentives with respect to the REDD mechanism. Forest Policy and Economics, 18, pp Vatn and Vedeld, (2011) Getting ready! Noragric report Op. cit Keputusan 2/CP.17, paragraph Rights and Resources Initiative, (2012) Recognizing Rights; Delivering Development 9. Chhatre and Agrawal, (2009) Trade offs and synergies between carbón storage and livelihood benefits from forest commons. PNAS, vol 46, no 2, pp Nelson and Chomitz, (2011) Effectiveness of strict vs. multiple use protected categories in reducing tropical forest fires: a global analysis using matching methods. PLoS ONE 6(8): e Angelsen et al (eds), (2012) Analysing REDD+: Challenges and choices. CIFOR 12. Dokumen teknis tentang pilihan-pilihan pendanaan (FCCC/TP/2012/3), paragraph Sebuah analisa tentang Proposal Persiapan Kesiapan untuk Bank Dunia dan UN-REDD menunjukkan bahwa rancangan dan pengembangan sebuah sistem monitoring nasional mewakili rata-rata 40% dan hingga 80% biaya kesiapan. Lihat Simula M, (2010) Analysis of REDD+ Financing Gaps and Overlaps 14. Untuk studi kasus tingkat proyek, lihat Densham et al, (2009) Carbon Scam: Noel Kempff Climate Action Project and the Push for Sub-national Forest Offsets. Greenpeace International 15. Sudah ada banyak artikel dalam 6 bulan terakhir yang mengutip tentang berlanjutnya kemunduran pasar karbon. Artikel-artikel terbaru termasuk: Carbon trading: Up in smoke? Financial News, 28 August 2012; Singapore publishes climate plan, delays decision on ETS, Point Carbon, 14 June 2012; Camco ditches fixed price CER contracts, books big losses, Point Carbon, 21 May 2012; Analysis: No Asia-Pacific carbon market in sight, Point Carbon, 3 May 2012; Buyers default on carbon credits, China daily, 9 February 2012; CERs hit record low on oversupply, weak demand, Point Carbon, 16 Jan Sebagai contoh, pendekatan yang disarankan dalam Munden et al, (2012) INARI: A proposal for financing sustainable land use at scale 17. Safeguards dalam Annex II dari Keputusan 1/CP.16 telah disepakati di Cancun pada Desember Keputusan 2/CP.17, paragraph 63, Keputusan 1/CP.16, paragraph 71(d), dan Keputusan 2/CP.17, paragraph Bucki et al, (2012) Assessing REDD+ performance of countries with low monitoring capacities: the matrix approach. Environ. Res. Lett. 7 (2012) Danielsen et al, (2011) At the heart of REDD+: a role for local people in monitoring forests? Conservation Letters 22. Danielsen et al, (2008) Local participation in natural resource monitoring: a characterization of approaches. Conservation Biology 23. Untuk penjelasan mengenai teknik penilaian yang sederhana dalam konteks hutan, lihat Lawson, (2007) Illegal logging and related trade: measuring the global response, London: Chatham House Op. cit Dokumen teknis tentang pilihan-pilihan pendanaan, paragraph Dokumen teknis tentang pilihan-pilihan pendanaan, paragraph Dokumen teknis tentang pilihan-pilihan pendanaan, paragraph Mekanisme untuk kegiatan-kegiatan mitigasi dan adaptasi gabungan dijelaskan dalam Keputusan 2.CP/17, paragraph 67. Untuk proposal Bolivia, lihat The Plurinational State of Bolivia, (2012) Proposal untuk pengembangan mekanisme mitigasi dan adaptasi gabungan bagi manajemen hutan yang terintegrasi dan berkelanjutan

Apakah yang dimaksud dengan proyek percontohan REDD+?

Apakah yang dimaksud dengan proyek percontohan REDD+? Infobrief CIFOR memberi informasi mengenai topik terkini di bidang penelitian kehutanan secara ringkas, akurat, dan telah melalui proses pencermatan oleh mitra bestari. No. 38, www.cifor.cgiar.org Apakah

Lebih terperinci

DRAFT DISKUSI Saat ini Draft ini tidak mencerminkan posisi resmi mana pun dari GCF, anggotanya atau individu atau institusi mana pun

DRAFT DISKUSI Saat ini Draft ini tidak mencerminkan posisi resmi mana pun dari GCF, anggotanya atau individu atau institusi mana pun Saat ini Draft ini tidak mencerminkan posisi resmi mana pun dari GCF, anggotanya atau individu atau institusi mana pun Satgas Iklim dan Kehutanan Gubernur (GCF) LAPORAN TUGAS 1: Rekomendasi Rancangan GCF

Lebih terperinci

PROGRAM INVESTASI KEHUTANAN

PROGRAM INVESTASI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA PROGRAM INVESTASI KEHUTANAN REVISI MATRIKS KOMENTAR DAN TANGGAPAN TENTANG RENCANA INVESTASI KEHUTANAN INDONESIA 11 Februari 2013 Isi 1 PENDAHULUAN ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED. 2 KOMENTAR

Lebih terperinci

Climate Change STUDI PENYUSUNAN PANDUAN PENYIAPAN UNIT PENGELOLAAN HUTAN ALAM UNTUK PEMBANGUNAN PROGRAM REDD+

Climate Change STUDI PENYUSUNAN PANDUAN PENYIAPAN UNIT PENGELOLAAN HUTAN ALAM UNTUK PEMBANGUNAN PROGRAM REDD+ Climate Change STUDI PENYUSUNAN PANDUAN PENYIAPAN UNIT PENGELOLAAN HUTAN ALAM UNTUK PEMBANGUNAN PROGRAM REDD+ Dipublikasikan oleh: Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH Forests

Lebih terperinci

Buku Kecil Pendanaan Hutan

Buku Kecil Pendanaan Hutan Buku Kecil Pendanaan Hutan 14 Katalis untuk Meningkatkan Pendanaan Ramah-Hutan UCAPAN TERIMA KASIH Global Canopy Programme (GCP) adalah wadah para pemikir hutan tropis, yang berupaya menggunakan pendekatan

Lebih terperinci

Penilaian Dampak Sosial secara Partisipatif untuk Proyek dan Program Sumberdaya Alam

Penilaian Dampak Sosial secara Partisipatif untuk Proyek dan Program Sumberdaya Alam Penilaian Dampak Sosial secara Partisipatif untuk Proyek dan Program Sumberdaya Alam Juli 2012 Pendahuluan Ada kecenderungan umum yang menganggap Social Impact Assessment (SIA) atau Penilaian Dampak Sosial

Lebih terperinci

Apakah hutan dapat tumbuh di atas uang?

Apakah hutan dapat tumbuh di atas uang? PERSPEKTIF KEHUTANAN Apakah hutan dapat tumbuh di atas uang? Implikasi penelitian deforestasi bagi kebijakan yang mendukung REDD Markku Kanninen Daniel Murdiyarso Frances Seymour Arild Angelsen Sven Wunder

Lebih terperinci

Pilihan-pilihan untuk aksi REDD+: apa saja dampaknya terhadap hutan dan masyarakat?

Pilihan-pilihan untuk aksi REDD+: apa saja dampaknya terhadap hutan dan masyarakat? Pilihan-pilihan untuk aksi REDD+: apa saja dampaknya terhadap hutan dan masyarakat? Suatu Pengantar bagi para pemangku kepentingan di Sulawesi Tengah UN-REDD P R O G R A M M E Empowered lives. Resilient

Lebih terperinci

Analisis Lintas Sektor untuk Kerangka Hukum dan Kebijakan yang Terkait dengan Implementasi REDD+ di Sulawesi Tengah, Indonesia

Analisis Lintas Sektor untuk Kerangka Hukum dan Kebijakan yang Terkait dengan Implementasi REDD+ di Sulawesi Tengah, Indonesia Analisis Lintas Sektor untuk Kerangka Hukum dan Kebijakan yang Terkait dengan Implementasi REDD+ di Sulawesi Tengah, Indonesia UN-REDD P R O G R A M M E Empowered lives. Resilient nations. UNEP Kementerian

Lebih terperinci

Tata Guna Lahan di Kalimantan Tengah

Tata Guna Lahan di Kalimantan Tengah Pangan, Bahan Bakar, Serat dan Hutan Tata Guna Lahan di Kalimantan Tengah Menyatukan tujuan pembangunan dan keberlanjutan untuk optimalisasi lahan CIFOR Dialog Hutan (The Forests Dialogue/TFD), Maret 2014

Lebih terperinci

Buku REDD+ Mini. Sebuah panduan proposal pemerintah dan lembaga non pemerintah untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan

Buku REDD+ Mini. Sebuah panduan proposal pemerintah dan lembaga non pemerintah untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan Buku REDD+ Mini Sebuah panduan proposal pemerintah dan lembaga non pemerintah untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan 1 DAFTAR PROPOSAL Global Canopy Programme merupakan aliansi 7 lembaga

Lebih terperinci

Pedoman untuk Mempelajari Berbagai Dampak Proyek Redd+ bagi Mata Pencarian

Pedoman untuk Mempelajari Berbagai Dampak Proyek Redd+ bagi Mata Pencarian OCCASIONAL PAPER Pedoman untuk Mempelajari Berbagai Dampak Proyek Redd+ bagi Mata Pencarian Pamela Jagger Erin O. Sills Kathleen Lawlor William D. Sunderlin OCCASIONAL PAPER 67 Pedoman untuk Mempelajari

Lebih terperinci

Menuju Bentuk Kerjasama yang Lebih Berkesetaraan

Menuju Bentuk Kerjasama yang Lebih Berkesetaraan OCCASIONAL PAPER Menuju Bentuk Kerjasama yang Lebih Berkesetaraan Kontribusi Masyarakat Lokal bagi Konsesi Pengusahaan Kayu Krister Andersson Ashwin Ravikumar Esther Mwangi Manuel Guariguata Robert Nasi

Lebih terperinci

Pedoman Umum untuk Penilaian Pengelolaan Hutan di Indonesia (Draf ketiga, April 2003)

Pedoman Umum untuk Penilaian Pengelolaan Hutan di Indonesia (Draf ketiga, April 2003) Tujuan Pedoman Umum untuk Penilaian Pengelolaan Hutan di Indonesia (Draf ketiga, April 2003) Tujuan Program SmartWood adalah untuk mengakui pengelola hutan yang baik melalui verifikasi independen yang

Lebih terperinci

RANCANG TINDAK GLOBAL KEDUA UNTUK SUMBER DAYA GENETIK TANAMAN UNTUK PANGAN DAN PERTANIAN

RANCANG TINDAK GLOBAL KEDUA UNTUK SUMBER DAYA GENETIK TANAMAN UNTUK PANGAN DAN PERTANIAN RANCANG TINDAK GLOBAL KEDUA UNTUK SUMBER DAYA GENETIK TANAMAN UNTUK PANGAN DAN PERTANIAN KOMISI SUMBER DAYA GENETIK UNTUK PANGAN DAN PERTANIAN RANCANG TINDAK GLOBAL KEDUA UNTUK SUMBER DAYA GENETIK TANAMAN

Lebih terperinci

Proses Pembelajaran (Learning Lessons) Promosi Sertifikasi Hutan dan Pengendalian Penebangan Liar di Indonesia

Proses Pembelajaran (Learning Lessons) Promosi Sertifikasi Hutan dan Pengendalian Penebangan Liar di Indonesia Proses Pembelajaran (Learning Lessons) Promosi Sertifikasi Hutan dan Pengendalian Penebangan Liar di Indonesia Luca Tacconi Krystof Obidzinski Ferdinandus Agung Proses Pembelajaran (Learning Lessons) Promosi

Lebih terperinci

THE WORLD BANK. Kerangka Kerja Kelompok Bank Dunia dan Strategi IFC untuk Keterlibatan dalam Sektor Minyak Kelapa Sawit

THE WORLD BANK. Kerangka Kerja Kelompok Bank Dunia dan Strategi IFC untuk Keterlibatan dalam Sektor Minyak Kelapa Sawit Kerangka Kerja Kelompok Bank Dunia dan Strategi IFC untuk Keterlibatan dalam Sektor Minyak Kelapa Sawit 1 Misi Kelompok Bank Dunia Misi Kelompok Bank Dunia adalah untuk: Mengurangi kemiskinan secara profesional

Lebih terperinci

Organisasi Perburuhan Internasional. PROGRAM PEKERJAAN LAYAK NASIONAL untuk INDONESIA 2012-2015

Organisasi Perburuhan Internasional. PROGRAM PEKERJAAN LAYAK NASIONAL untuk INDONESIA 2012-2015 Organisasi Perburuhan Internasional PROGRAM PEKERJAAN LAYAK NASIONAL untuk INDONESIA 2012 - PROGRAM PEKERJAAN LAYAK NASIONAL untuk INDONESIA 2012 - Daftar Singkatan Program Pekerjaan Layak Nasional untuk

Lebih terperinci

PROTOKOL PEMANTAUAN UNTUK KAWASAN NILAI KONSERVASI TINGGI 5 dan 6

PROTOKOL PEMANTAUAN UNTUK KAWASAN NILAI KONSERVASI TINGGI 5 dan 6 PROTOKOL PEMANTAUAN UNTUK KAWASAN NILAI KONSERVASI TINGGI 5 dan 6 Peta partisipatif yang dibuat komunitas Karen di Chom Thong District, Thailand, dengan dukungan IMPECT, menunjukkan pola penempatan dan

Lebih terperinci

SVLK, Jalan Menuju REDD+

SVLK, Jalan Menuju REDD+ SVLK, Jalan Menuju REDD+ 2 Penulis: Arya Hadi Dharmawan Bramasto Nugroho Hariadi Kartodihardjo Lala M Kolopaking Rizaldi Boer Editor Bahasa: Sigit Pramono - CITK Rancang Grafis: Agus Sudaryono - CITK 3

Lebih terperinci

Abstrak. Working Paper. Abstrak...1 Pendahuluan...2 Metode...7 Aplikasi...18 Diskusi...20 Penutup...21

Abstrak. Working Paper. Abstrak...1 Pendahuluan...2 Metode...7 Aplikasi...18 Diskusi...20 Penutup...21 Working Paper PANDUAN Mengidentifikasi Lahan Terdegradasi untuk Budidaya Kelapa Sawit Ramah Lingkungan Beth Gingold, Anne Rosenbarger, Yohanes I Ketut Deddy Muliastra, Fred Stolle, I Made Sudana, Masita

Lebih terperinci

RENCANA AKSI GLOBAL SUMBER DAYA GENETIK TERNAK dan DEKLARASI INTERLAKEN

RENCANA AKSI GLOBAL SUMBER DAYA GENETIK TERNAK dan DEKLARASI INTERLAKEN RENCANA AKSI GLOBAL SUMBER DAYA GENETIK TERNAK dan DEKLARASI INTERLAKEN PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PETERNAKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN Kementerian Pertanian 2011 COMMISSION ON

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelestarian

Lebih terperinci

Indonesia Bagaimana Pemohon Bisa Memanfaatkan Hak atas Informasi

Indonesia Bagaimana Pemohon Bisa Memanfaatkan Hak atas Informasi 1 Bagaimana Pemohon Bisa Memanfaatkan Hak atas Informasi Manual untuk Peserta 2 Bagaimana Pemohon Bisa Memanfaatkan Hak atas Informasi Manual Peserta : Bagaimana Pemohon Bisa MemanfaatkanHak Atas Informasi

Lebih terperinci

WORKING PAPER. Politik REDD+ di Media. Studi Kasus dari Indonesia. Tim Cronin Levania Santoso

WORKING PAPER. Politik REDD+ di Media. Studi Kasus dari Indonesia. Tim Cronin Levania Santoso WORKING PAPER Politik REDD+ di Media Studi Kasus dari Indonesia Tim Cronin Levania Santoso Working Paper 54 Politik REDD+ di Media Studi Kasus dari Indonesia Tim Cronin Levania Santoso Working Paper 54

Lebih terperinci

Menyelaraskan penurunan emisi ke dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan pada tingkat nasional dan sub nasional di Indonesia

Menyelaraskan penurunan emisi ke dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan pada tingkat nasional dan sub nasional di Indonesia BRIEF NO. 32 Menyelaraskan penurunan emisi ke dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan pada tingkat nasional dan sub nasional di Indonesia Konteks 1. Indonesia merupakan penghasil emisi karbon

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

Standar Forest Stewardship Hasil Harmonisasi standar antar lembaga sertifikasi FSC untuk Indonesia

Standar Forest Stewardship Hasil Harmonisasi standar antar lembaga sertifikasi FSC untuk Indonesia Forest Stewardship Council Standar Forest Stewardship Hasil Harmonisasi standar antar lembaga sertifikasi FSC untuk Indonesia Standar Forest Stewardship Untuk Republik Indonesia FSC Harmonised Forest Stewardship

Lebih terperinci

SAWIT DI INDONESIA. Gary D. Paoli Piers Gillespie Philip L. Wells Lex Hovani Aisyah Sileuw Neil Franklin James Schweithelm

SAWIT DI INDONESIA. Gary D. Paoli Piers Gillespie Philip L. Wells Lex Hovani Aisyah Sileuw Neil Franklin James Schweithelm SAWIT DI INDONESIA Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan Berkelanjutan Rangkuman Untuk Pengambil Keputusan & Pelaku Gary D. Paoli Piers Gillespie Philip L. Wells Lex Hovani

Lebih terperinci