BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA HASIL PEMERIKSAAN ATAS

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA HASIL PEMERIKSAAN ATAS"

Transkripsi

1 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA HASIL PEMERIKSAAN ATAS PENYALURAN DAN PENERIMAAN DANA PERIMBANGAN TA DAN SEMESTER I TA PADA PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT DI TALIWANG AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA VI PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM Nomor : /XIX.MTR/02/2008 Tanggal : Februari 2008

2 D A F T A R I S I Halaman DAFTAR ISI i RINGKASAN EKSEKUTIF 1 BAB I GAMBARAN UMUM 3 1. Dasar Pemeriksaan 3 2. Standar Pemeriksaan 3 3. Entitas yang Diperiksa 3 4. Tahun Anggaran yang Diperiksa 3 5. Metodologi Pemeriksaan 3 6. Waktu Pemeriksaan 3 7. Obyek Pemeriksaan 4 8. Batasan Pemeriksaan 4 BAB II PENYALURAN DAN PENERIMAAN DANA PERIMBANGAN 5 1. Landasan Hukum Dana Perimbangan 5 2. Formula dan Alokasi Dana Perimbangan 5 a. Dana Alokasi Umum (DAU) 5 b. Dana Bagi Hasil (DBH) 6 c. Dana Alokasi Khusus (DAK) 7 3. Alokasi dan Realisasi Dana Perimbangan 7 4. Sistem Pengendalian Manajemen Dana Perimbangan 8 a. Organisasi 8 b. Kebijakan 8 c. Pencatatan dan Pelaporan 8 d. Prosedur 9 e. Pengawasan 9 BAB III HASIL PEMERIKSAAN Dana Bagi Hasil PBB dan BPHTB yang menjadi hak Pemerintah Kabupaten 10 Sumbawa Barat diterima di luar Kas Daerah sebesar Rp ,00 2. Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam bidang Pertambangan Umum yang menjadi 12 hak Kabupaten Sumbawa Barat TA sebesar Rp ,00 dan TA sebesar Rp ,00 diterima tidak tepat waktu dan TA sebesar Rp ,00 belum diterima dari Pemerintah Pusat Lampiran 1 : Rincian Penerimaan PBB mingguan TA dan Semester I TA Lampiran 2 : Rincian Penerimaan BPHTB mingguan TA dan Semester I TA i

3 HASIL PEMERIKSAAN ATAS PENYALURAN DAN PENERIMAAN DANA PERIMBANGAN (DANA ALOKASI UMUM, DANA BAGI HASIL DAN DANA ALOKASI KHUSUS) PADA KABUPATEN SUMBAWA BARAT DI TALIWANG Ringkasan Eksekutif Berdasarkan Undang-undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara Badan Pemeriksa Keuangan (BPK RI) telah memeriksa Penyaluran dan Penerimaan Dana Perimbangan yang mencakup Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Bagi Hasil (DBH) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Pemeriksaan Penyaluran dan Penerimaan Dana Perimbangan meliputi ketepatan sasaran, jumlah dan waktu penyaluran dan penerimaan di Tahun Anggaran 2006 dan 2007 posisi 30 Juni 2007 pada Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat. Pemeriksaan atas penyaluran dan penerimaan dana perimbangan bertujuan untuk menyimpulkan apakah dana perimbangan telah disalurkan dan diterima secara tepat nilai/jumlah, tepat waktu, dan tepat sasaran yaitu ke rekening kas daerah serta menguji efektivitas pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan. Dana Perimbangan bertujuan untuk menciptakan keseimbangan keuangan antar Pemerintah Pusat dan Daerah dan antar Pemerintahan Daerah. Dana Perimbangan yang terdiri dari Dana Bagi Hasil (DBH) dari penerimaan pajak dan SDA, Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK) merupakan sumber pendanaan bagi daerah dalam pelaksanaan desentralisasi, yang alokasinya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain mengingat tujuan masing-masing jenis penerimaan tersebut saling mengisi dan melengkapi. Dana Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari APBN yang dibagihasilkan kepada Daerah berdasarkan angka persentase tertentu dengan memperhatikan potensi daerah penghasil. Dana Alokasi Umum bertujuan untuk pemerataan kemampuan keuangan antar daerah melalui penerapan formula yang mempertimbangkan kebutuhan belanja pegawai, kebutuhan fiskal, dan potensi daerah. Kebutuhan daerah dicerminkan dari luas daerah, keadaan geografis, jumlah penduduk, tingkat 1

4 kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di daerah, dan tingkat pendapatan masyarakat di daerah. Sedangkan kapasitas fiskal dicerminkan dari Pendapatan Asli Daerah, Dana Bagi Hasil Pajak, dan Sumber Daya Alam. Dana Alokasi Khusus dimaksudkan untuk mendanai kegiatan khusus yang menjadi urusan daerah dan merupakan prioritas nasional, sesuai dengan fungsi yang merupakan perwujudan tugas kepemerintahan di bidang tertentu, khususnya dalam upaya pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat. Hasil pemeriksaan atas penyaluran dan penerimaan dana perimbangan pada Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat menunjukkan bahwa terdapat beberapa jenis Dana Bagi Hasil yang belum tepat waktu dan tepat rekening. Adapun rincian pokok-pokok temuan pemeriksaan terkait dengan hal tersebut adalah sebagai berikut: 1. Dana Bagi Hasil PBB dan BPHTB yang menjadi hak Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat diterima di luar Kas Daerah sebesar Rp ,00; 2. Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam bidang Pertambangan Umum yang menjadi hak Kabupaten Sumbawa Barat TA sebesar Rp ,00 dan TA sebesar Rp ,00 diterima tidak tepat waktu dan TA sebesar Rp ,00 belum diterima dari Pemerintah Pusat. BPK RI menyarankan kepada : 1. Bupati Sumbawa Barat agar menegur Kepala BPKAD Kabupaten Sumbawa Barat yang tidak melaporkan Rekening Penerimaan PBB dan BPHTB Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat pada PT. BNI 46 Cabang Sumbawa dan selanjutnya melaporkan rekening tersebut dalam Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat; 2. a. Bupati Sumbawa Barat agar memerintahkan Kepala BPKAD Kabupaten Sumbawa Barat untuk lebih mengoptimalkan upaya penagihan royalty dan landrent kepada Departemen Keuangan; b. Presiden RI agar memerintahkan Menteri Keuangan untuk menyalurkan royalty dan landrent tepat waktu. Untuk lebih jelasnya, kami persilakan menelaah Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Dana Perimbangan berikut ini. Denpasar, Februari 2008 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RI KEPALA PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM DRS. DJONI KIRMANTO NIP

5 BAB I GAMBARAN UMUM 1. Dasar Pemeriksaan : a. Undang-Undang No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara; b. Undang-Undang No. 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan; c. Rencana Kerja Tahunan (RKT) BPK-RI TA 2007; d. Rencana Kegiatan Pemeriksaan (RKP) BPK-RI (Revisi) Semester II TA Standar Pemeriksaan adalah Peraturan BPK-RI Nomor 1 Tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara 3. Entitas yang diperiksa adalah Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat 4. Tahun Anggaran yang Diperiksa adalah Tahun anggaran 2006 dan Semester I TA Metodologi Pemeriksaan : Pemeriksaan atas penyaluran dan penerimaan dana perimbangan di lingkungan Pemerintah Daerah dilakukan dengan pendekatan-pendekatan berikut : a. Pengujian dalam pemeriksaan Pemeriksaan terhadap penyaluran dan penerimaan dana perimbangan dilakukan dengan menguji semua dokumen-dokumen dana perimbangan berupa Surat Perintah Membayar (SPM), Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) dan Rekening Koran. Selanjutnya dilakukan konfirmasi dan wawancara dengan pihak-pihak terkait dan instansi-instansi terkait yaitu Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (KP PBB) dan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh atas ketepatan jumlah, waktu, dan sasaran dana perimbangan. b. Pelaporan Setiap permasalahan yang ditemukan dalam pemeriksaan dikomunikasikan secara mingguan dalam laporan mingguan (progress report) ke Tim BPK Pusat. Tim Pusat memberikan arahan-arahan atas pelaksanaan pemeriksaan dana perimbangan. Konsep temuan pemeriksaan selanjutnya dikomunikasikan dengan entitas yang diperiksa untuk memperoleh tanggapan tertulis sebelum disajikan sebagai temuan pemeriksaan. Atas temuan yang dituangkan dalam hasil pemeriksaan tersebut selanjutnya diberikan saran tindak perbaikan yang disajikan dalam laporan yang sama. 6. Waktu Pemeriksaan Pemeriksaan dilaksanakan dimulai tanggal 11 September 2007 dan berakhir pada tanggal 30 September

6 7. Obyek Pemeriksaan Dana Perimbangan Keuangan dari Pemerintah Pusat merupakan komponen Pendapatan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat, dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2006 dan 2007 masing-masing ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2006 dan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun Dana Perimbangan Kabupaten Sumbawa Barat terdiri dari Bagi Hasil Pajak, Bagi Hasil Bukan Pajak, Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Dana Bagi Hasil Pajak terdiri dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Pajak Penghasilan (PPh) pasal 21, 25 dan 29. Dana Bagi Hasil Bukan Pajak berasal dari Sumber Daya Alam Perikanan, Sumber Daya Alam Kehutanan, Landrent dan Royalti. Dana Alokasi Khusus (DAK) terdiri dari DAK Bidang Kesehatan, Kelautan dan Perikanan, Pertanian, Pendidikan, Lingkungan Hidup dan Infrastruktur. Dana Perimbangan tersebut dikelola oleh Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Sumbawa Barat. 8. Batasan Pemeriksaan a. Tidak termasuk dana Otonomi Khusus (Otsus) dan penyesuaian b. Tidak termasuk dana darurat c. Tidak termasuk penggunaan dana perimbangan 4

7 BAB II PENYALURAN DAN PENERIMAAN DANA PERIMBANGAN 1. Landasan Hukum Dana Perimbangan a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Daerah b. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara c. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan atas Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara d. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah e. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah f. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan 2. Formula dan Alokasi Dana Perimbangan a. Dana Alokasi Umum (DAU) Alokasi DAU per daerah ditetapkan dengan Peraturan Presiden sedangkan alokasi DAU tambahan ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan. DAU dialokasikan untuk provinsi dan kabupaten/kota. Jumlah keseluruhan DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 26% dari Pendapatan Dalam Negeri Neto. Proporsi DAU antara provinsi dan kabupaten/kota dihitung dari perbandingan antara bobot urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) memberikan pertimbangan atas rancangan kebijakan formula dan perhitungan DAU kepada Presiden sebelum penyampaian Nota Keuangan dan RAPBN tahun anggaran berikutnya. Menteri Keuangan melakukan perumusan formula dan penghitungan alokasi DAU dengan memperhatikan pertimbangan DPOD. Menteri Keuangan menyampaikan formula dan perhitungan DAU sebagai bahan penyusunan RAPBN. DAU untuk suatu daerah dialokasikan berdasarkan formula yang terdiri atas celah fiskal dan alokasi dasar. Celah fiskal merupakan selisih antara kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal. Kebutuhan fiskal diukur dengan menggunakan variabel jumlah penduduk, luas wilayah, Indeks Kemahalan Konstruksi, Produk Domestik Regional Bruto per kapita, dan Indeks Pembangunan Manusia. Kapasitas fiskal diukur berdasarkan Pendapatan Asli Daerah dan DBH. Alokasi dasar dihitung berdasarkan jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah. Atas dasar data-data tersebut, selanjutnya Pemerintah Pusat yang menghitung besarnya DAU yang diterima oleh masing-masing daerah. DAU dapat dihitung dengan menggunakan 2 (dua) cara yaitu : 1) Atas dasar celah fiskal dihitung berdasarkan perkalian bobot celah fiskal masing-masing daerah provinsi atau kabupaten/kota dengan jumlah keseluruhan DAU daerah provinsi atau kabupaten/kota; 5

8 2) Atas dasar alokasi dasar dihitung berdasarkan jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah termasuk kenaikan gaji pokok, tunjangan struktural, tunjangan fungsional, pemberian gaji ke-13, dan gaji Calon Pegawai Negeri Sipil. b. Dana Bagi Hasil (DBH) Penetapan alokasi DBH Pajak ditetapkan Menteri Keuangan sedangkan Menteri teknis menetapkan daerah penghasil dan dasar penghitungan DBH Sumber Daya Alam setelah berkonsultasi dengan Menteri Dalam Negeri. Ketetapan menteri teknis tersebut disampaikan kepada Menteri Keuangan untuk ditetapkan perkiraan alokasi DBH Sumber Daya Alam untuk masing-masing daerah. DBH Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dibagi dengan imbangan 10% untuk Pemerintah dan 90% untuk daerah. DBH PBB untuk daerah sebesar 90% dibagi dengan rincian 16,2% untuk provinsi yang bersangkutan dan 64,8% untuk kabupaten/kota yang bersangkutan serta 9% untuk biaya pemungutan. Bagian Pemerintah sebesar 10% dialokasikan kepada seluruh kabupaten dan kota. DBH Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dibagi dengan imbangan 20% untuk Pemerintah dan 80% untuk daerah. DBH BPHTB untuk daerah sebesar 80% dibagi dengan rincian 16% untuk provinsi yang bersangkutan dan 64% untuk kabupaten/kota yang bersangkutan. Bagian Pemerintah sebesar 20% dialokasikan dengan porsi yang sama besar untuk seluruh kabupaten dan kota. DBH Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri (PPh WPOPDN) dan PPh Pasal 21 dibagikan kepada daerah sebesar 20% dengan rincian 8% untuk provinsi yang bersangkutan dan 12% kabupaten/kota dalam provinsi yang bersangkutan. DBH SDA yang terdiri dari Kehutanan, Pertambangan Umum, Perikanan, Pertambangan Minyak Bumi, Pertambangan Gas Bumi, dan Pertambangan Panas Bumi dibagikan dengan rincian sebagai berikut: No DBH SDA Provinsi Kota/Kab Penghasil Kota/Kab prov ybs 1 Kehutanan a. IIUPH 16 % 64 % b. PSDH 16% 32 % 32 % c. Dana Reboisasi 40% 2 Pertambangan Umum a. Land-rent 16 % 64 % b. Royalty 16% 32 % 32 % 3 Perikanan 80% dibagikan ke seluruh kota/kab 4 Pertambangan Minyak Bumi 3% 6% 6% 5 Pertambangan Gas Bumi 6% 12% 12% 6 Pertambangan Panas Bumi a. Setoran Bag Pemerintah 16% 32 % 32 % b. Iuran Tetap & Produksi 80% prorata 6

9 c. Dana Alokasi Khusus (DAK) DAK merupakan dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan kepada Pemerintah Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah sesuai dengan prioritas nasional yaitu pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan kebijakan desentralisasi. Mekanisme DAK yaitu Pemerintah Daerah mengusulkan kegiatan yang akan dibiayai DAK kepada menteri teknis terkait, selanjutnya menteri teknis mengusulkan kegiatan khusus yang akan didanai dari DAK dan menetapkannya setelah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional. Menteri teknis menyampaikan ketetapan tentang kegiatan khusus kepada Menteri Keuangan untuk melakukan penghitungan alokasi DAK. Penghitungan alokasi DAK dilakukan melalui dua tahapan, yaitu penentuan daerah tertentu yang menerima DAK dan penentuan besaran alokasi DAK masing-masing daerah. Penentuan daerah tertentu harus memenuhi kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis. 3. Alokasi dan Realisasi Dana Perimbangan Dalam Tahun Anggaran 2006 dan Semester I Tahun Anggaran 2007 alokasi dan realisasi Dana Perimbangan pada Kabupaten Sumbawa Barat adalah sebagai berikut : No Jenis Penerimaan Alokasi (Rp) TA TA Realisasi (Rp) Alokasi (Rp) Realisasi - Semester I (Rp) A. Dana Alokasi Umum (DAU) B.1 Dana Bagi Hasil Pajak PBB BPHTB PPH 21 dan PPH B.2 Dana Bagi Hasil Bukan Pajak Provisi Sumber Daya Hutan Landrent Royalti Pungutan Pengusaha Perikanan C. Dana Alokasi Khusus (DAK)

10 4. Sistem Pengendalian Manajemen atas Penyaluran dan Penerimaan Dana Perimbangan a. Organisasi Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat, pendapatan dana perimbangan dari pemerintah pusat dikelola oleh Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Sumbawa Barat. Struktur Organisasi Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat ditetapkan dengan Peraturan Bupati Sumbawa Barat Nomor 3 Tahun 2006 tentang Pembentukan, Kedudukan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Organisasi Perangkat Daerah Kebupaten Sumbawa Barat yang telah didasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun b. Kebijakan Kebijaksanaan Pemerintah Daerah yang berkaitan dengan Pengelolaan Pendapatan Dana Perimbangan dari Pemerintah Pusat mengikuti kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat untuk semua jenis Pendapatan Dana Perimbangan yang terdiri dari Pendapatan Bagi Hasil Pajak, Bagi Hasil Bukan Pajak, Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Adapun kebijaksanaan yang terkait dana perimbangan yang telah diambil oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat antara lain dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 143 Tahun 2006 tanggal 22 Mei 2006 tentang penunjukan PT Bank NTB Cabang Taliwang selaku Kas Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun Anggaran Adapun rekening-rekening yang ditunjuk sebagai penerima dana perimbangan Tahun 2006 dan 2007 adalah sebagai berikut : No Jenis Dana Perimbangan Nama Bank No. Rekening 1. Dana Bagi Hasil PT. Bank NTB Cabang Taliwang Dana Alokasi Umum (DAU) PT. Bank NTB Cabang Taliwang Dana Alokasi Khusus (DAK) PT. Bank NTB Cabang Taliwang DAK Bidang Pendidikan PT. Bank NTB Cabang Taliwang DAK Bidang Kesehatan PT. Bank NTB Cabang Taliwang DAK Bidang Infrastruktur PT. Bank NTB Cabang Taliwang DAK Bidang Kelautan dan Perikanan PT. Bank NTB Cabang Taliwang DAK Bidang Lingkungan Hidup PT. Bank NTB Cabang Taliwang DAK Bidang Pertanian PT. Bank NTB Cabang Taliwang c. Pencatatan dan Pelaporan Penerimaan atas dana perimbangan dari pemerintah pusat tahun anggaran berjalan oleh Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Sumbawa Barat telah dicatat dalam buku jurnal, buku besar pendapatan dana perimbangan dengan tertib dan dilaporkan dalam Laporan Keuangan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat. Pemeriksaan lebih lanjut atas Buku Besar PBB dan BPHTB, Rekening Koran dan dokumen pendukung lainnya diketahui bahwa terdapat Rekening Penerimaan PBB dan BPHTB Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat pada PT. BNI 46 Cabang Sumbawa belum dilaporkan dalam Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat. 8

11 d. Prosedur Mekanisme penyaluran dan penerimaan dana perimbangan dari pemerintah pusat untuk setiap jenisnya telah diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan maupun Peraturan Dirjen Perbendaharaan Negara. Pada Kabupaten Sumbawa Barat untuk penerimaan dana perimbangan, pengajuan pencairan dilaksanakan oleh Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Sumbawa Barat. Pengajuan pencairan dilakukan dengan mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) dan Surat Perintah Membayar (SPM), kecuali untuk Dana Bagi Hasil PBB, BPHTB yang ditransfer mingguan dan biaya pemungutannya serta SDA Perikanan, SDA Kehutanan, Landrent dan Royalti tidak dilakukan prosedur pengajuan SPP dan SPM. SPP dan SPM diajukan setelah Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) diterima oleh daerah. Pengajuan pencairan DAK Tahap I perlu dilengkapi dengan Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPA SKPD) penerima DAK dan Daftar Penggunaan DAK tersebut, sedangkan pengajuan DAK tahap berikutnya dilengkapi dengan laporan realisasi keuangan penggunaan DAK bersangkutan. SPP dan SPM diajukan kepada KPPN Sumbawa Besar dan selanjutnya oleh KPPN diterbitkan SP2D sebagai dasar pencairan dana yang dilakukan Bank Operasional. e. Pengawasan Pengawasan atas penerimaan dana perimbangan pada Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dilakukan oleh Kepala BPKAD Kabupaten Sumbawa Barat sebagai pengelola keuangan daerah. Sedangkan pengawasan dari Aparat Pengawas Intern Pemerintah atas dana perimbangan tersebut belum pernah dilakukan. 9

12 BAB III HASIL PEMERIKSAAN Pemeriksaan atas Dana Perimbangan pada Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat diketahui bahwa terdapat 2 (dua) temuan pemeriksaan dengan rincian sebagai berikut : 1. Dana Bagi Hasil PBB dan BPHTB yang menjadi hak Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat diterima di luar Kas Daerah sebesar Rp ,00 Pemeriksaan terhadap penerimaan Bagi Hasil Pajak atas Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) Kabupaten Sumbawa Barat diketahui bahwa terdapat penerimaan PBB dan BPHTB yang menjadi hak Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat TA dan Semester I TA yang ditransfer secara mingguan diterima diluar Kas Daerah yaitu ke Rekening PBB dan BPHTB Kabupaten Sumbawa Barat yang ada di BNI 46 Cabang Sumbawa sebesar Rp dengan rincian sebagai berikut : a. Hak Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat atas PBB dan BPHTB TA masing-masing sebesar Rp ,00 dan Rp ,00. Dari penerimaan PBB dan BPHTB TA tersebut sebesar Rp ,00 yang terdiri dari penerimaan PBB sebesar Rp ,00 dan penerimaan BPHTB sebesar Rp ,00 belum diakui sebagai penerimaan dalam LKPD TA karena masih di Rekening penampungan Penerimaan PBB dan BPHTB pada BNI 46 dan baru ditransfer ke Kas Daerah 16 Januari 2007; b. Hak Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat atas PBB dan BPHTB Semester I TA masingmasing sebesar Rp ,00 dan sebesar Rp ,00, namun sebesar Rp ,00 yang terdiri dari penerimaan PBB sebesar Rp ,00 dan penerimaan BPHTB sebesar Rp ,00 belum diakui sebagai penerimaan Semester I TA karena masih di Rekening Penerimaan PBB dan BPHTB pada BNI 46 dan baru ditransfer ke Kas Daerah 13 Juli Rincian atas penerimaan PBB dan BPHTB Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat TA dan Semester I TA tersebut dapat dilihat pada Lampiran 1 dan 2. Pemeriksaan lebih lanjut atas SPM, SP2D, Rekening Koran dan dokumen pendukung lainnya diketahui bahwa penerimaan PBB dan BPHTB bagian pusat yang dibagikan ke daerah dan biaya pemungutan PBB telah diterima seluruhnya ke Kas Daerah yaitu TA sebesar Rp ,00 dan Semester I TA sebesar Rp ,00. Sedangkan atas penerimaan PBB dan BPTHB bagian daerah yang dibagikan setiap minggu diterima di luar Kas Daerah yaitu ditampung dulu pada Rekening PBB dan BPHTB Kabupaten Sumbawa Barat yang ada di BNI 46 Cabang Sumbawa dengan No. Rekening Rekening tersebut telah dibentuk dengan Keputusan Bupati Sumbawa Barat No.531 Tahun 2005 tanggal 28 September 2005 yang didasarkan pada Surat Permintaan Pembukaan Rekening dari KP PBB Sumbawa Besar No. S-244/WPJ.17/ KB.0605/2005 tanggal 18 Januari Namun Rekening tersebut tidak dilaporkan dalam Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat sehingga penerimaan PBB dan BPHTB yang dilaporkan hanya sebesar yang ditransfer ke Rekening Kas Daerah pada BPD 10

13 NTB Cabang Taliwang. Pada Akhir TA. 2006, rekening penampungan tersebut masih memiliki saldo berupa penerimaan PBB dan BPHTB bulan Desember 2006 sebesar Rp ,00. Hasil konfirmasi dengan pihak BNI 46 dijelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat telah membentuk rekening tersebut karena PT. BPD NTB Cabang Taliwang belum ada. Pelimpahan penerimaan tersebut ke Kas Daerah dilakukan secara periodik (umumnya setiap dua minggu) oleh pihak BNI 46 dan untuk setiap pemindahbukuan yang dilakukan ke Rekening Kas Daerah, pihak BNI selalu memberikan nota debet dan rekening koran kepada Pemkab Sumbawa Barat. Penjelasan dari Kepala Bidang Pendapatan BPKAD Kabupaten Sumbawa Barat dinyatakan bahwa penerimaan PBB dan BPHTB yang dilaporkan dalam realisasi penerimaan hanya yang masuk dalam Rekening Kas Daerah. Sedangkan atas penerimaan PBB dan BPHTB pada BNI 46 tidak dianggap sebagai penerimaan karena tidak sebagai rekening Kas Daerah. Dan Kepala Sub Bidang Pembukuan Pendapatan BPKAD Kabupaten Sumbawa Barat menyatakan bahwa rekening yang dilaporkan dalam Laporan Keuangan Daerah adalah rekening yang termasuk dalam Rekening Kas Umum Daerah pada PT. BPD NTB Cabang Taliwang. Kondisi tersebut di atas tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntanasi Pemerintahan pada Pernyataan No. 1 Paragraf 8 yang mnyatakan bahwa Kas Daerah adalah tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh Bendahawan Umum Daerah untuk menampung seluruh penerimaan dan pengeluaran pemerintah daerah. Jadi seluruh rekening yang digunakan sebagai tempat menampung penerimaan dan pengeluaran pemerintah daerah harus dilaporkan sebagai Kas Daerah pada Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Dana Bagi Hasil PBB dan BPHTB yang menjadi hak Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat diterima di luar Kas Daerah sebesar Rp mengakibatkan membuka peluang penyalahgunaan keuangan daerah. Hal tersebut terjadi karena kelalaian Kepala BPKAD Kabupaten Sumbawa Barat yang tidak melaporkan Rekening Penerimaan PBB dan BPHTB Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat pada PT. BNI 46 Cabang Sumbawa. Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah menyatakan bahwa mengenai rekening penampungan PBB/BPHTB pada BNI 46 Cabang Sumbawa yang dibuka atas permintaan Kepala KP PBB Sumbawa Besar sesuai dengan Surat No. S-244/WPJ.17/ KB.0605/2005. Maksud pembukaan rekening tersebut adalah untuk mempermudah transfer Bagi Hasil PBB dan BPHTB dari Bank Operasional ke Kas Umum Daerah Kabupaten Sumbawa Barat. Rekening No tersebut ditetapkan dengan SK. Bupati No. 531a Tahun 2005 tanggal 28 September 2005 merupakan kekurangcermatan kami, sehingga rekening tersebut tidak di rekonsiliasi seperti Rekening yang lainnya pada Rekening Kas Daerah. 11

14 BPK RI menyarankan Bupati Sumbawa Barat agar menegur Kepala BPKAD Kabupaten Sumbawa Barat yang tidak melaporkan Rekening Penerimaan PBB dan BPHTB Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat pada PT. BNI 46 Cabang Sumbawa dan selanjutnya melaporkan rekening tersebut dalam Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat. 2. Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam bidang Pertambangan Umum yang menjadi hak Kabupaten Sumbawa Barat TA sebesar Rp ,00 dan TA sebesar Rp ,00 diterima tidak tepat waktu dan TA sebesar Rp ,00 belum diterima dari Pemerintah Pusat Pemeriksaan atas Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam (DBH SDA) bidang pertambangan umum berupa Royalty dan Landrent pada Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat diketahui bahwa penerimaan tersebut dicatat dalam Laporan Keuangan Daerah TA yaitu royalty sebesar Rp ,00 dan landrent sebesar Rp ,00 sesuai dengan yang ditransfer pusat. Sedangkan untuk Semester I TA belum ada realisasi. Pemeriksaan lebih lanjut atas dokumen pembayaran royalty dan landrent dari PT. Newmont Nusa Tenggaran (PT. NNT) diketahui bahwa PT. NNT telah melakukan pembayaran dengan cara mentransfer dana tersebut ke rekening Menteri Keuangan setiap akhir bulan setelah berakhirnya triwulan bersangkutan dengan rincian sebagai berikut : No. Pembayaran Tgl. Pembayaran Jumlah (US $) Untuk penerimaan TA Pembayaran Tw IV TA Januari ,15 2. Pembayaran Tw I TA April ,11 3. Pembayaran Tw II TA Juli ,43 4. Pembayaran Tw III TA Oktober ,50 Jumlah TA ,19 Untuk penerimaan Semester I TA Pembayaran Tw IV TA Januari ,46 2. Pembayaran Tw I TA April ,51 Jumlah Semester I TA ,97 Dalam penyalurannya, royalty dan landrent terlebih dahulu dihitung dengan cara rekonsiliasi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi NTB dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat selaku daerah penghasil, dengan pembagian 20% untuk Pusat dan 80% untuk Daerah. Penerimaan 80% tersebut dibagi lagi yaitu 16% untuk pemerintah propinsi, 32% daerah penghasil dan 32% dibagi rata untuk kabupaten/kota di wilayah Propinsi NTB lainnya. Berdasarkan hasil rekonsiliasi yang dilakukan antara Departemen Keuangan, Pemerintah Propinsi NTB dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat selaku daerah penghasil, yang merupakan hak Kabupaten Sumbawa Barat adalah sebagai berikut : 12

15 a. Penerimaan royalty dan landrent TA : 1) Rekonsiliasi Triwulan I TA atas jasa produksi Triwulan IV TA yang dibayar PT. Newmont Nusa Tenggaran (PT. NNT) pada tanggal 31 Januari 2006 baru dilaksanakan pada tanggal 31 Mei Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat memperoleh royalty sebesar Rp ,00 dan landrent sebesar Rp ,00 dan dana tersebut telah ditransfer ke Kas Daerah pada tanggal 4 Agustus 2006; 2) Rekonsiliasi Triwulan II TA atas jasa produksi Triwulan I TA yang dibayar PT. NNT pada tanggal 30 April 2006 baru dilaksanakan pada tanggal 6 September 2006 dengan hasil pembagian berupa royalty sebesar Rp ,00 yang diterima di Kas Daerah tanggal 8 Nopember 2006; 3) Rekonsiliasi Triwulan III dan IV TA atas jasa produksi Triwulan II dan III TA yang dibayar PT. NNT pada tanggal 31 Juli 2006 dan 31 Oktober baru dilaksanakan pada tanggal 21 Nopember 2006 dengan hasil pembagian berupa royalty untuk Triwulan III TA sebesar Rp ,00 dan royalty dan landrent untuk Triwulan IV TA sebesar Rp ,00 atau seluruhnya sebesar Rp ,00. Dana tersebut telah ditransfer seluruhnya ke Kas Daerah pada tanggal 29 Desember b. Penerimaan royalty dan landrent Semester I TA : 3) Rekonsiliasi Triwulan I TA atas jasa produksi Triwulan IV TA yang dibayar PT. NNT pada tanggal 30 Januari 2007 yang baru dilaksanakan pada tanggal 24 Juli Atas dasar rekonsiliasi tersebut Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat memperoleh pembagian atas royalty sebesar Rp ,00 dan landrent sebesar Rp ,00 dan ditransfer ke Kas Daerah pada tanggal 11 September 2007; 4) Sedangkan rekonsiliasi Triwulan II atas jasa produksi Triwulan I TA sampai dengan berakhirnya pemeriksaan belum dilaksanakan. Jasa produksi Triwulan I yang telah dibayar PT. NNT per tanggal 30 April 2007 tersebut sebesar US $ ,51. Dengan pembayaran yang telah dilakukan PT. NNT tersebut, yang seharusnya menjadi hak Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat adalah 32% (dengan asumsi kurs tengah BI per tanggal 18 September US $ = Rp9.392,00) sebesar Rp ,00 (32% x US $ ,51 x Rp9.392,00). Dari uraian tersebut di atas dapat diketahui bahwa penerimaan royalty dan landrent yang diterima tidak tepat waktu untuk TA sebesar Rp ,00 (Rp ,00+ Rp ,00+ Rp ,00+ Rp ,00) dan untuk TA sebesar Rp ,00 (Rp ,00+ Rp ,00) dan yang belum diterima untuk TA sebesar Rp ,00. Hasil konfirmasi dengan Kepada BPKAD Kabupaten Sumbawa Barat dijelaskan bahwa atas penerimaan DBH SDA berupa Royalty dan Landrent Ta baru diterima pada Semester II TA Atas semua DBH SDA tersebut Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat hanya menunggu transfer dari pusat. Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat yang merupakan daerah penghasil pertambangan dan memang dipanggil oleh pusat dalam pelaksanaan rekonsiliasi penerimaan DBH Pertambangan, namun hasil yang ditetapkan tersebut tidak segera dapat diterima oleh daerah. 13

16 Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tanggal 9 Desember 2005 tentang Dana Perimbangan pada : a. Pasal 28 Ayat (1) Penghitungan realisasi DBH sumber daya alam dilakukan secara triwulanan melalui mekanisme rekonsiliasi data antara pemerintah pusat dan daerah penghasil kecuali untuk DBH sumber daya alam Perikanan. b. Pasal 29 Ayat (2) yang menyatakan bahwa penyaluran DBH SDA sebagaimana dimaksud Pasal 15 dilaksanakan secara triwulanan. Keterlambatan penerimaan DBH SDA bidang pertambangan umum tersebut mengakibatkan penerimaan tersebut tidak dapat segera dimanfaatkan. Hal tersebut disebabkan oleh : a. Belum optimalnya upaya penagihan atas royalty dan landrent oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat kepada Departemen Keuangan; b. Kelalaian Pemerintah Pusat dalam hal ini Departemen Keuangan yang tidak menyalurkan royalty dan landrent tepat waktu. Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Sumbawa Barat menyatakan bahwa kewenangan pembagian dan pengalokasian Dana Bagi Hasil (DBH) SDA ada pada Pemerintah Pusat demikian juga terhadap pagu penetapannya adalah melalui SK Menteri Keuangan. Bagaimanapun aktifnya Kepala Bidang Pendapatan BPKAD Kabupaten Sumbawa Barat mengurus dan menindaklanjuti hasil rekonsiliasi tidak akan memberikan hasil tanpa komitmen yang kuat dari Pemerintah Pusat untuk merealisasikannya. BPK RI menyarankan : a. Bupati Sumbawa Barat agar memerintahkan Kepala BPKAD Kabupaten Sumbawa Barat untuk lebih mengoptimalkan upaya penagihan royalty dan landrent kepada Departemen Keuangan; b. Presiden RI agar memerintahkan Menteri Keuangan untuk menyalurkan royalty dan landrent tepat waktu. 14

17 Lampiran 1 RINCIAN PENERIMAAN PBB MINGGUAN PADA KABUPATEN SUMBAWA BARAT A. Tahun Anggaran 2006 No Tgl. Pembagian Nomor SPM PHP PBB Jumlah (Rp) BPHTB Masuk ke Rekening di Bank BNI (no. rekening ) Masuk ke Rekening kasda di PT. Bank NTB (no. rekening ) Tanggal Jumlah (Rp) Tanggal Jumlah (Rp) /WPJ.31/K.0305/ /02/ /02/ /03/ /WPJ.31/K.0305/ /03/ /03/ /03/ /WPJ.31/K.0305/ /03/ /03/ /04/ /WPJ.31/K.0305/ /05/ /05/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /05/ /05/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /05/ /05/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /05/ /05/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /06/ /06/ /07/ /WPJ.31/K.0305/ /06/ /06/ /07/ /WPJ.31/K.0305/ /06/ /06/ /07/ /WPJ.31/K.0305/ /06/ /06/ /07/ /WPJ.31/K.0305/ /06/ /06/ /07/ /WPJ.31/K.0305/ /07/ /07/ /08/ /WPJ.31/K.0305/ /07/ /07/ /08/ /WPJ.31/K.0305/ /07/ /07/ /08/ /WPJ.31/K.0305/ /07/ /07/ /08/ /WPJ.31/K.0305/ /08/ /08/ /09/ /WPJ.31/K.0305/ /08/ /08/ /09/ /WPJ.31/K.0305/ /08/ /08/ /09/ /WPJ.31/K.0305/ /08/ /08/ /09/ /WPJ.31/K.0305/ /09/ /09/ /09/ /WPJ.31/K.0305/ /09/ /09/ /09/ /WPJ.31/K.0305/ /09/ /09/ /09/ /WPJ.31/K.0305/ /09/ /09/ /09/ /WPJ.31/K.0305/ /09/ /09/ /09/ /WPJ.31/K.0305/ /10/ /10/ /11/ /WPJ.31/K.0305/ /10/ /10/ /11/ /WPJ.31/K.0305/ /10/ /10/ /11/ /WPJ.31/K.0305/ /10/ /10/ /11/ /WPJ.31/K.0305/ /11/ /11/ /12/ /WPJ.31/K.0305/ /11/ /11/ /12/ /WPJ.31/K.0305/ /12/ /12/ /12/ /WPJ.31/K.0305/ /12/ /12/ /01/ /WPJ.31/K.0305/ /12/ /12/ /01/ Jumlah penerimaan PBB mingguan TA B. Semester I Tahun Anggaran 2007 Tgl. Pembagian No Nomor SPM PHP PBB Jumlah (Rp) BPHTB Masuk ke Rekening di BNI'46 (no. rekening ) Masuk ke Rekening kasda di PT. Bank NTB (no. rekening ) Tanggal Jumlah (Rp) Tanggal Jumlah (Rp) /WPJ.31/K.0305/ /02/ /02/ /03/ /WPJ.31/K.0305/ /03/ /03/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /05/ /05/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /05/ /05/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /06/ /06/ /07/ /WPJ.31/K.0305/ /06/ /06/ /07/ /WPJ.31/K.0305/ /06/ /06/ /07/ Jumlah penerimaan PBB mingguan Semester I TA

18 Lampiran 2 Rincian Penerimaan BPHTB Kabupaten Sumbawa Barat A. Tahun Anggaran 2006 No No. SPM PHP BPHTB Tgl. Pembagian BPHTB Jumlah (Rp) Masuk ke Rekening di BNI'46 (No. Rekening ) Masuk ke Rekening Kasda di BPD NTB (No. Rekening ) Tanggal Jumlah (Rp) Tanggal Jumlah (Rp) /WPJ.31/K.0305/ /01/ /01/ /01/ /WPJ.31/K.0305/ /01/ /01/ /01/ /WPJ.31/K.0305/ /01/ /01/ /02/ /WPJ.31/K.0305/ /02/ /02/ /02/ /WPJ.31/K.0305/ /02/ /02/ /02/ /WPJ.31/K.0305/ /02/ /02/ /03/ /WPJ.31/K.0305/ /03/ /03/ /03/ /WPJ.31/K.0305/ /03/ /03/ /03/ /WPJ.31/K.0305/ /03/ /03/ /03/ /WPJ.31/K.0305/ /03/ /03/ /03/ /WPJ.31/K.0305/ /03/ /03/ /04/ /WPJ.31/K.0305/ /04/ /04/ /04/ /WPJ.31/K.0305/ /04/ /04/ /05/ /WPJ.31/K.0305/ /04/ /04/ /05/ /WPJ.31/K.0305/ /05/ /05/ /05/ /WPJ.31/K.0305/ /05/ /05/ /05/ /WPJ.31/K.0305/ /05/ /05/ /05/ /WPJ.31/K.0305/ /05/ /05/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /05/ /05/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /06/ /06/ /07/ /WPJ.31/K.0305/ /06/ /06/ /07/ /WPJ.31/K.0305/ /06/ /06/ /07/ /WPJ.31/K.0305/ /06/ /06/ /07/ /WPJ.31/K.0305/ /07/ /07/ /08/ /WPJ.31/K.0305/ /07/ /07/ /08/ /WPJ.31/K.0305/ /07/ /07/ /08/ /WPJ.31/K.0305/ /08/ /08/ /08/ /WPJ.31/K.0305/ /08/ /08/ /09/ /WPJ.31/K.0305/ /08/ /08/ /09/ /WPJ.31/K.0305/ /08/ /08/ /09/ /WPJ.31/K.0305/ /08/ /08/ /09/ /WPJ.31/K.0305/ /09/ /09/ /09/ /WPJ.31/K.0305/ /09/ /09/ /09/ /WPJ.31/K.0305/ /09/ /09/ /09/ /WPJ.31/K.0305/ /09/ /09/ /09/ /WPJ.31/K.0305/ /11/ /10/ /11/ /WPJ.31/K.0305/ /11/ /10/ /11/ /WPJ.31/K.0305/ /11/ /10/ /11/ /WPJ.31/K.0305/ /11/ /10/ /11/ /WPJ.31/K.0305/ /11/ /11/ /12/ /WPJ.31/K.0305/ /11/ /11/ /12/ /WPJ.31/K.0305/ /11/ /11/ /12/ /WPJ.31/K.0305/ /11/ /11/ /12/ /WPJ.31/K.0305/ /12/ /12/ /12/ /WPJ.31/K.0305/ /12/ /12/ /12/ /WPJ.31/K.0305/ /12/ /12/ /12/ /WPJ.31/K.0305/ /12/ /12/ /12/ /WPJ.31/K.0305/ /12/ /12/ /01/ /WPJ.31/K.0305/ /12/ /12/ /01/ Jumlah penerimaan BPHTB mingguan TA

19 B. Semester I Tahun Anggaran 2007 No No. SPM PHP BPHTB Tgl. Pembagian BPHTB Jumlah (Rp) Masuk ke Rekening di BNI'46 (No. Rekening ) Masuk ke Rekening Kasda di BPD NTB (No. Rekening ) Tanggal Jumlah (Rp) Tanggal Jumlah (Rp) /WPJ.31/K.0305/ /01/ /01/ /03/ /WPJ.31/K.0305/ /02/ /02/ /03/ /WPJ.31/K.0305/ /02/ /02/ /03/ /WPJ.31/K.0305/ /02/ /02/ /03/ /WPJ.31/K.0305/ /03/ /03/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /03/ /03/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /03/ /03/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /03/ /03/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /04/ /04/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /04/ /04/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /04/ /04/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /04/ /04/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /05/ /05/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /05/ /05/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /05/ /05/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /05/ /05/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /05/ /05/ /06/ /WPJ.31/K.0305/ /06/ /06/ /07/ /WPJ.31/K.0305/ /06/ /06/ /07/ /WPJ.31/K.0305/ /06/ /06/ /07/ Jumlah penerimaan BPHTB mingguan Semester I TA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 26,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 04/PMK.07/2008 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH MENTERI KEUANGAN,

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 04/PMK.07/2008 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH MENTERI KEUANGAN, MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 04/PMK.07/2008 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 21/PMK.07/2009 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH MENTERI KEUANGAN,

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 21/PMK.07/2009 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH MENTERI KEUANGAN, PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 21/PMK.07/2009 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH MENTERI KEUANGAN, Menimban g : a. bahwa dalam rangka meningkatkan efisiensi pelaksanaan

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: Mengingat:

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1469, 2013 KEMENTERIAN KEUANGAN. Anggaran. Transfer. Pelaksanaan. Pertanggungjawaban. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 183/PMK.07/2013 TENTANG PELAKSANAAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH.

UNDANG-UNDANG TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH. RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

DANA BAGI HASIL YANG BERSUMBER DARI PENERIMAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

DANA BAGI HASIL YANG BERSUMBER DARI PENERIMAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DANA BAGI HASIL YANG BERSUMBER DARI PENERIMAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN Dgchuank.blogspot.com I. PENDAHULUAN Dalam rangka menciptakan suatu sistem perimbangan keuangan yang proporsional, demokratis, adil,

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 250/PMK.07/2014 TENTANG PENGALOKASIAN TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 250/PMK.07/2014 TENTANG PENGALOKASIAN TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 250/PMK.07/2014 TENTANG PENGALOKASIAN TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 126 /PMK.07/2010 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 126 /PMK.07/2010 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 126 /PMK.07/2010 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUB NOMOR 165/PMK.07/2012 TENTANG PENGALOKASIAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUB NOMOR 165/PMK.07/2012 TENTANG PENGALOKASIAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1 of 41 1/31/2013 12:38 PM MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 165/PMK.07/2012 TENTANG PENGALOKASIAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI

BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI Kebijakan Perhitungan dan Mekanisme Dana Bagi Hasil (DBH) dalam rangka Kebijakan Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah : Ketentuan, Mekanisme dan Implementasi No. 12/Ref/B.AN/VI/2007

Lebih terperinci

2016, No menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 21 Tahu

2016, No menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 21 Tahu No.477, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Dana. Desa. Transfer. Pengelolaan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48/PMK.07/2016 TENTANG PENGELOLAAN TRANSFER KE

Lebih terperinci

PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004

PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 1 PRINSIP KEBIJAKAN PERIMBANGAN KEUANGAN Perimbangan Keuangan antara Pemerintah

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KEUANGAN. Sistem. Akuntansi. Pelaporan. Daerah.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KEUANGAN. Sistem. Akuntansi. Pelaporan. Daerah. No.185, 2009 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KEUANGAN. Sistem. Akuntansi. Pelaporan. Daerah. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 120/PMK.05/2009 TENTANG SISTEM AKUNTANSI DAN

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 120/PMK.05/2009 TENTANG SISTEM AKUNTANSI DAN PELAPORAN TRANSFER KE DAERAH MENTERI KEUANGAN,

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 120/PMK.05/2009 TENTANG SISTEM AKUNTANSI DAN PELAPORAN TRANSFER KE DAERAH MENTERI KEUANGAN, 1 of 8 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 120/PMK.05/2009 TENTANG SISTEM AKUNTANSI DAN PELAPORAN TRANSFER KE DAERAH MENTERI KEUANGAN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN UMUM DANA PERIMBANGAN

BAB III GAMBARAN UMUM DANA PERIMBANGAN 44 BAB III GAMBARAN UMUM DANA PERIMBANGAN Adanya UU No. 32 dan No. 33 Tahun 2004 merupakan penyempurnaan dari pelaksanaan desentralisasi setelah sebelumnya berdasarkan UU No. 22 dan No. 25 Tahun 1999.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DANA BAGI HASIL SUMBER DAYA ALAM (DBH SDA)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DANA BAGI HASIL SUMBER DAYA ALAM (DBH SDA) KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DANA BAGI HASIL SUMBER DAYA ALAM (DBH SDA) Surabaya, 8 Oktober 2015 DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN KERANGKA PENYAJIAN 1. INDONESIA KAYA SUMBER DAYA ALAM?

Lebih terperinci

HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH

HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH DASAR PEMIKIRAN HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH DAERAH HARUS MEMPUNYAI SUMBER-SUMBER KEUANGAN YANG MEMADAI DALAM MENJALANKAN DESENTRALISASI

Lebih terperinci

ANGGARAN PENDAPATAN & BELANJA NEGARA DIANA MA RIFAH

ANGGARAN PENDAPATAN & BELANJA NEGARA DIANA MA RIFAH ANGGARAN PENDAPATAN & BELANJA NEGARA DIANA MA RIFAH DEFINISI Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) adalah suatu daftar atau penjelasan terperinci mengenai penerimaan dan pengeluaran negara untuk suatu

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAH DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAH DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DANA BAGI HASIL. Novotel, Bogor, 06 September 2015 DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DANA BAGI HASIL. Novotel, Bogor, 06 September 2015 DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DANA BAGI HASIL SUMBER DAYA ALAM (DBH SDA) Novotel, Bogor, 06 September 2015 DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN KERANGKA PENYAJIAN 1. INDONESIA KAYA SUMBER

Lebih terperinci

TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Belanja Langsung Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Pasal 36 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, belanja langsung merupakan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SAMPANG

PEMERINTAH KABUPATEN SAMPANG PEMERINTAH KABUPATEN SAMPANG PERATURAN BUPATI SAMPANG NOMOR : 15 TAHUN 2009 TENTANG PENGGUNAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH TAHUN ANGGARAN 2010 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SAMPANG,

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BOGOR

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BOGOR LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BOGOR NOM0R : 22 TAHUN : 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOGOR NOMOR 22 TAHUN 2008 TENTANG BAGIAN DESA DARI HASIL PENDAPATAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BOGOR,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999

Lebih terperinci

2017, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini, yang dimaksud dengan: 1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang selanju

2017, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini, yang dimaksud dengan: 1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang selanju No.287, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. DAU Non Tunai. DBH. Konversi. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/PMK.07/2017 /PMK.07/2015 TENTANG KONVERSI PENYALURAN

Lebih terperinci

2 Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, perlu mengatur kembali mekanisme pelaksanaan dan pertanggungjawaban transfer ke daerah dan dana desa; d. bah

2 Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, perlu mengatur kembali mekanisme pelaksanaan dan pertanggungjawaban transfer ke daerah dan dana desa; d. bah No.1972, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Transfer Ke Daerah. Dana Desa. Pertanggungjawaban. Pelaksanaan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 241/PMK.07/2014 TENTANG PELAKSANAAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR : 4 TAHUN 2000 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH KABUPATEN DAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LEBAK, Menimbang

Lebih terperinci

TEMUAN PEMERIKSAAN BPK ATAS LKPP DAN LKPD SERTA DANA PERIMBANGAN

TEMUAN PEMERIKSAAN BPK ATAS LKPP DAN LKPD SERTA DANA PERIMBANGAN REKOMENDASI DAN CATATAN MENGENAI HASIL PEMERIKSAAN BPK ATAS PENETAPAN, PENYALURAN DAN PENERIMAAN DANA PERIMBANGAN TAHUN ANGGARAN 2006 DAN 2007 (SEMESTER I) PENDAHULUAN 1. Dana perimbangan merupakan dana

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN 3.1 Kinerja Keuangan Masa Lalu 3.1.1 Kondisi Pendapatan Daerah Pendapatan daerah terdiri dari tiga kelompok, yaitu Pendapatan Asli

Lebih terperinci

BUPATI TASIKMALAYA PERATURAN BUPATI TASIKMALAYA NOMOR 37 TAHUN 2008 TENTANG

BUPATI TASIKMALAYA PERATURAN BUPATI TASIKMALAYA NOMOR 37 TAHUN 2008 TENTANG BUPATI TASIKMALAYA PERATURAN BUPATI TASIKMALAYA NOMOR 37 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT DI LINGKUNGAN DINAS PENDAPATAN, PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. "dengan pemerintahan sendiri" sedangkan "daerah" adalah suatu "wilayah"

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan pemerintahan sendiri sedangkan daerah adalah suatu wilayah BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Otonomi Daerah a. Pengertian Otonomi Daerah Pengertian "otonom" secara bahasa adalah "berdiri sendiri" atau "dengan pemerintahan sendiri" sedangkan "daerah"

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10 Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan salah satu instrumen kebijakan yang dipakai sebagai alat untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan salah satu instrumen kebijakan yang dipakai sebagai alat untuk BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2.1.1 Pengertian dan unsur-unsur APBD Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada hakekatnya merupakan salah satu instrumen

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Otonomi Daerah Otonomi selalu dikaitkan atau disepadankan dengan pengertian kebebasan dan kemandirian. Sesuatu akan dianggap otonomi jika ia menentukan diri sendiri, membuat

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UU Nomor 33 Tahun 2004 Draf RUU Keterangan 1. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK

Lebih terperinci

KEPUTUSAN BUPATI TASIKMALAYA NOMOR 21 TAHUN 2004 TENTANG URAIAN TUGAS UNIT DINAS PENDAPATAN BUPATI TASIKMALAYA B U P A T I TASIKMALAY A

KEPUTUSAN BUPATI TASIKMALAYA NOMOR 21 TAHUN 2004 TENTANG URAIAN TUGAS UNIT DINAS PENDAPATAN BUPATI TASIKMALAYA B U P A T I TASIKMALAY A B U P A T I TASIKMALAY A KEPUTUSAN BUPATI TASIKMALAYA NOMOR 21 TAHUN 2004 TENTANG URAIAN TUGAS UNIT DINAS PENDAPATAN KABUPATEN TASIKMALAYA BUPATI TASIKMALAYA Menimbang : a. bahwa dengan telah ditetapkannya

Lebih terperinci

KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN (KSAP)

KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN (KSAP) KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN (KSAP) Berdasarkan Pasal Peraturan Pemerintah Nomor Tahun 00 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan yang menyatakan bahwa:. Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA;

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA; PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA; Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10 Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999

Lebih terperinci

-2- No.1927, 2015 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara; 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan N

-2- No.1927, 2015 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara; 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan N BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1927, 2015 KEMENKEU. Dana. Bagi Hasil. Alokasi Umum. Penyaluran. Konversi. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 235/PMK.07/2015 TAHUN 2015 TENTANG KONVERSI

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2006 TENTANG DANA ALOKASI UMUM (DAU) DAERAH PROVINSI, KABUPATEN, DAN KOTA TAHUN 2007

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2006 TENTANG DANA ALOKASI UMUM (DAU) DAERAH PROVINSI, KABUPATEN, DAN KOTA TAHUN 2007 PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2006 TENTANG DANA ALOKASI UMUM (DAU) DAERAH PROVINSI, KABUPATEN, DAN KOTA TAHUN 2007 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN NOMOR PER- 15/PB/2006 TENTANG MEKANISME PEMBAYARAN/PENYALURAN DAN PELAPORAN DANA PENYESUAIAN

Lebih terperinci

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 103 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 103 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 103 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN ALOKASI DANA DESA, BAGIAN DARI HASIL PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH KEPADA DESA, DAN BANTUAN KEUANGAN

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KEBIJAKAN DBH SUBDIT DBH DITJEN PERIMBANGAN KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KEBIJAKAN DBH SUBDIT DBH DITJEN PERIMBANGAN KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KEBIJAKAN DBH SUBDIT DBH DITJEN PERIMBANGAN KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN DASAR HUKUM DBH UU No. 33 Tahun 2004 Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan

Lebih terperinci

2 d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Aloka

2 d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Aloka No.1851, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Dana Bagi Hasil. Sumber Daya Alam. Lebih Bayar. Alokasi Kurang Bayar. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 214 /PMK.07/2014 TENTANG

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep, Konstruk, Variable Penelitian 2.1.1 Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah merupakan semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah, pendapatan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 344/KMK.06/2001 TANGGAL 30 MEI 2001 TENTANG PENYALURAN DANA BAGIAN DAERAH DARI SUMBER DAYA ALAM

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 344/KMK.06/2001 TANGGAL 30 MEI 2001 TENTANG PENYALURAN DANA BAGIAN DAERAH DARI SUMBER DAYA ALAM KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 344/KMK.06/2001 TANGGAL 30 MEI 2001 TENTANG PENYALURAN DANA BAGIAN DAERAH DARI SUMBER DAYA ALAM MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

BUPATI SUMBAWA BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BUPATI SUMBAWA BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT BUPATI SUMBAWA BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN BUPATI SUMBAWA BARAT NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PEMBAGIAN DAN PENETAPAN RINCIAN DANA DESA DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT TAHUN ANGGARAN

Lebih terperinci

2 Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran

2 Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.168, 2014 APBN. Desa. Dana. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5558). PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60 TAHUN 2014

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BPKP PERWAKILAN SUMATERA UTARA

BPKP PERWAKILAN SUMATERA UTARA BPKP PERWAKILAN SUMATERA UTARA RANCANGAN PERATURAN KEPALA DAERAH tentang TATA CARA ALOKASI DAN PENYALURAN DANA DESA, ALOKASI DANA DESA (ADD), DAN BAGIAN DARI HASIL PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH KEPADA

Lebih terperinci

WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT

WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT Menimbang PERATURAN WALIKOTA PADANG NOMOR 35 TAHUN 2015 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET : DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60 TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60 TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60 TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Kebijakan Perhitungan Dana Alokasi Umum TA 2017 DAMPAK PENGALIHAN KEWENANGAN DARI PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA KE PROVINSI IMPLEMENTASI

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. melancarkan jalannya roda pemerintahan. Oleh karena itu tiap-tiap daerah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. melancarkan jalannya roda pemerintahan. Oleh karena itu tiap-tiap daerah BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Pengertian Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pendapatan daerah adalah komponen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang digunakan untuk membiayai pembangunan dan melancarkan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 556/KMK.03/2000 TENTANG TATA CARA PENYALURAN DANA ALOKASI UMUM DAN DANA ALOKASI KHUSUS

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 556/KMK.03/2000 TENTANG TATA CARA PENYALURAN DANA ALOKASI UMUM DAN DANA ALOKASI KHUSUS MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 556/KMK.03/2000 TENTANG TATA CARA PENYALURAN DANA ALOKASI UMUM DAN DANA ALOKASI KHUSUS MENTERI KEUANGAN, Menimbang

Lebih terperinci

LAPORAN KEUANGAN TRANSFER KE DAERAH

LAPORAN KEUANGAN TRANSFER KE DAERAH LAPORAN KEUANGAN TRANSFER KE DAERAH (BA 999.05) TAHUN 2009 (Audited) PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB Laporan Keuangan Transfer ke Daerah (BA 999.05 Dana Perimbangan dan Dana Otonomi Khusus & Dana Penyesuaian)

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2.1.1 Pengertian dan unsur-unsur APBD Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada hakekatnya merupakan salah satu instrumen

Lebih terperinci

A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN. Lahirnya kebijakan ekonomi daerah yang mengatur hubungan pemerintah

A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN. Lahirnya kebijakan ekonomi daerah yang mengatur hubungan pemerintah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lahirnya kebijakan ekonomi daerah yang mengatur hubungan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Kebijakan pemerintah Indonesia tentang otonomi daerah secara efektif

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENGANGGARAN DANA PERIMBANGAN DALAM APBD 2017 DAN ARAH PERUBAHANNYA

KEBIJAKAN PENGANGGARAN DANA PERIMBANGAN DALAM APBD 2017 DAN ARAH PERUBAHANNYA KEBIJAKAN PENGANGGARAN DANA PERIMBANGAN DALAM APBD 2017 DAN ARAH PERUBAHANNYA DIREKTORAT FASILITASI DANA PERIMBANGAN DAN PINJAMAN DAERAH DIREKTORAT JENDERAL BINA KEUANGAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 160.2/PMK.07/2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 160.2/PMK.07/2008 TENTANG PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 160.2/PMK.07/2008 TENTANG ALOKASI SEMENTARA DANA BAGI HASIL PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 DAN PASAL 29 WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DALAM NEGERI DAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.818,2011 PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 208/PMK.07/2011 TENTANG ALOKASI DANA BAGI HASIL SUMBER DAYA ALAM PERTAMBANGAN UMUM TAHUN ANGGARAN 2011 DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10 Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999

Lebih terperinci

SALINAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 344 / KMK.06 / 2001 TENTANG PENYALURAN DANA BAGIAN DAERAH DARI SUMBER DAYA ALAM

SALINAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 344 / KMK.06 / 2001 TENTANG PENYALURAN DANA BAGIAN DAERAH DARI SUMBER DAYA ALAM MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 344 / KMK.06 / 2001 TENTANG PENYALURAN DANA BAGIAN DAERAH DARI SUMBER DAYA ALAM MENTERI KEUANGAN REPUBLIK

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA LHOKSEUMAWE

BERITA DAERAH KOTA LHOKSEUMAWE 97 BERITA DAERAH KOTA LHOKSEUMAWE NOMOR: 10 TAHUN 2009 SERI: PERATURAN WALIKOTA LHOKSEUMAWE NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG POKOK-POKOK PENGELOLAAN KEUANGAN KOTA LHOKSEUMAWE BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KABUPATEN PURWOREJO TAHUN ANGGARAN 2013

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KABUPATEN PURWOREJO TAHUN ANGGARAN 2013 B U P A T I P U R W O R E J O PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KABUPATEN PURWOREJO TAHUN ANGGARAN 2013 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BUPATI MOJOKERTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO,

BUPATI MOJOKERTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO, BUPATI MOJOKERTO PERATURAN BUPATI MOJOKERTO NOMOR 34 TAHUN 2010 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS PENDAPATAN, PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET KABUPATEN MOJOKERTO DENGAN

Lebih terperinci

DANA ALOKASI KHUSUS DALAM PERIMBANGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH

DANA ALOKASI KHUSUS DALAM PERIMBANGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH DANA ALOKASI KHUSUS DALAM PERIMBANGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH A. Latar Belakang Pembangunan Nasional adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mencapai tujuan bernegara,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 156 /PMK.07/2007 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 156 /PMK.07/2007 TENTANG PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 156 /PMK.07/2007 TENTANG PENETAPAN ALOKASI KURANG BAYAR DANA BAGI HASIL PAJAK TAHUN ANGGARAN 2005 DAN 2006 YANG DIALOKASIKAN DALAM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA

Lebih terperinci

PERHITUNGAN ALOKASI DAN KEBIJAKAN PENYALURAN DAK TA 2014, SERTA ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH DI BIDANG KEHUTANAN

PERHITUNGAN ALOKASI DAN KEBIJAKAN PENYALURAN DAK TA 2014, SERTA ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH DI BIDANG KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN RI PERHITUNGAN ALOKASI DAN KEBIJAKAN PENYALURAN DAK TA 2014, SERTA ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH DI BIDANG KEHUTANAN disampaikan pada: Sosialisasi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi. mendasari otonomi daerah adalah sebagai berikut:

BAB II KAJIAN PUSTAKA. kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi. mendasari otonomi daerah adalah sebagai berikut: BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Otonomi daerah Berdasarkan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004, otonomi daerah merupakan kewenangan daerah otonom untuk mengurus dan mengatur kepentingan masyarakat

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI RIAU

PEMERINTAH PROVINSI RIAU . PEMERINTAH PROVINSI RIAU PERATURAN DAERAH PROVINSI RIAU NOMOR : 4 TAHUN 2008 TENTANG POKOK-POKOK PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR RIAU, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

KEBIJAKAN DAK BIDANG KESEHATAN 2010

KEBIJAKAN DAK BIDANG KESEHATAN 2010 KEBIJAKAN DAK BIDANG KESEHATAN 2010 Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bogor, 13 Oktober 2009 Dasar Hukum UU No.17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara UU No.25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI NATUNA PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN BUPATI NATUNA NOMOR 54 TAHUN 2015 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN TRANSFER KE DESA

BUPATI NATUNA PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN BUPATI NATUNA NOMOR 54 TAHUN 2015 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN TRANSFER KE DESA BUPATI NATUNA PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN BUPATI NATUNA NOMOR 54 TAHUN 2015 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN TRANSFER KE DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI NATUNA, Menimbang

Lebih terperinci

2013, No MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA. BAB I KETENTUAN UMU

2013, No MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA. BAB I KETENTUAN UMU No.103, 2013 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN NEGARA. Pelaksanaan. APBN. Tata Cara. (Penjelesan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5423) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

- 1 - Merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang dana perimbangan.

- 1 - Merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang dana perimbangan. LAMPIRAN III KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /KM.1/2016 TENTANG URAIAN JABATAN STRUKTURAL DI LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN - 1-1. NAMA JABATAN: Direktur Dana Perimbangan.

Lebih terperinci

BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 35 TAHUN 2011

BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 35 TAHUN 2011 BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 35 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (APBD) KABUPATEN BLITAR TAHUN ANGGARAN 2012 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH I. UMUM Berdasarkan amanat Pasal 18 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.255, 2009 DEPARTEMEN KEUANGAN. Pelimpahan Wewenang. Surat Kuasa Umum.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.255, 2009 DEPARTEMEN KEUANGAN. Pelimpahan Wewenang. Surat Kuasa Umum. BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.255, 2009 DEPARTEMEN KEUANGAN. Pelimpahan Wewenang. Surat Kuasa Umum. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 127/PMK.05/2009 TENTANG PELIMPAHAN WEWENANG

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 61 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH BUPATI MADIUN,

SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 61 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH BUPATI MADIUN, BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 61 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH BUPATI MADIUN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan

Lebih terperinci

BUPATI LUWU PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI LUWU NOMOR : 13 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI LUWU PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI LUWU NOMOR : 13 TAHUN 2016 TENTANG 1 BUPATI LUWU PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI LUWU NOMOR : 13 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PEMBAGIAN DAN PENETAPAN RINCIAN DANA DESA SETIAP DESA DI KABUPATEN LUWU TAHUN ANGGARAN 2016 DENGAN

Lebih terperinci

KEBIJAKAN UMUM DAN ALOKASI DAK TA 2014

KEBIJAKAN UMUM DAN ALOKASI DAK TA 2014 KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KEBIJAKAN UMUM DAN ALOKASI DAK TA 2014 Disampaikan pada: Rapat Konsolidasi DAK Bidang Dikmen TA 2014 Nusa Dua, 28 November 2013 AGENDA PAPARAN 1. Postur Dana Transfer

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PENYALURAN ALOKASI DANA DESA, BAGI HASIL PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH DAN DANA DESA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU TAHUN 2006 NOMOR : 9 SERI : E.6 PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 9 TAHUN 2006 TENTANG KEUANGAN DESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU TAHUN 2006 NOMOR : 9 SERI : E.6 PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 9 TAHUN 2006 TENTANG KEUANGAN DESA LEMBARAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU TAHUN 2006 NOMOR : 9 SERI : E.6 PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 9 TAHUN 2006 TENTANG KEUANGAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI INDRAMAYU, Menimbang

Lebih terperinci

UPAYA MEMAKSIMALKAN PELAKSANAAN TRANSFER KE DAERAH PADA DIREKTORAT DANA PERIMBANGAN 1 Oleh: Peserta Diklatpim IV Angkatan 127 Kelompok II Tahun

UPAYA MEMAKSIMALKAN PELAKSANAAN TRANSFER KE DAERAH PADA DIREKTORAT DANA PERIMBANGAN 1 Oleh: Peserta Diklatpim IV Angkatan 127 Kelompok II Tahun UPAYA MEMAKSIMALKAN PELAKSANAAN TRANSFER KE DAERAH PADA DIREKTORAT DANA PERIMBANGAN 1 Oleh: Peserta Diklatpim IV Angkatan 127 Kelompok II Tahun 2010 2 PENDAHULUAN Pelaksanaan urusan perimbangan keuangan

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN 3.1. Kinerja Keuangan Masa Lalu 3.1.1. Kinerja Pelaksanaan APBD 3.1.1.1. Sumber Pendapatan Daerah Sumber pendapatan daerah terdiri

Lebih terperinci