RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,"

Transkripsi

1 DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menyelenggarakan Pemerintahan Negara dan pembangunan nasional untuk mencapai masyarakat adil, makmur, dan merata berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Repulik Indonesia Tahun 1945; b. bahwa dalam rangka penyelenggaraan hubungan keuangan antara Pusat dan Daerah perlu didukung oleh suatu undang-undang yang mengatur tentang hubungan keuangan yang dapat menjamin terlaksananya pemerintahan yang adil, efektif, dan efisien; c. bahwa dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah, penyerahan, pelimpahan, dan penugasan urusan 1

2 pemerintahan kepada daerah secara nyata dan bertanggung jawab harus diikuti dengan pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan sumber daya nasional secara adil, termasuk perimbangan keuangan antara pemerintah dan pemerintahan daerah; c. bahwa Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah sudah tidak sesuai dengan perkembangan hukum, ketatanegaraan serta tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah sehingga perlu diganti dengan undang-undang yang baru; Mengingat: d. bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a, huruf b, huruf dan huruf c, perlu membentuk Undang- Undang tentang Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah; Pasal 18A ayat (2), Pasal 20, Pasal 22D ayat (1) dan ayat (2), Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH. 2

3 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah adalah sebuah kegiatan pemerintahan yang merupakan konsekuensi dari adanya urusan pemerintahan yang diserahkan dan/atau ditugaskan kepada Pemerintahan Daerah. 2. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil Presiden dan menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang selanjutnya disebut dengan Pusat. 3. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang selanjutnya disebut daerah. 4. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom. 5. Daerah Otonom yang selanjutnya disebut Daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus Urusan Pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut 3

4 prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. 6. Kepala Daerah adalah Gubernur bagi daerah provinsi atau Bupati daerah Kabupaten atau Walikota, bagi daerah. 7. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah yang berkedudukan sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah. 8. Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. 9. Desentralisasi adalah penyerahan Urusan Pemerintahan oleh Pemerintah Pusat kepada daerah otonom berdasarkan Asas Otonomi. 10. Dekonsentrasi adalah pelimpahan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat, kepada instansi vertikal di wilayah tertentu, dan/atau kepada Gubernur dan Bupati/Walikota sebagai penanggung jawab urusan pemerintahan umum. 11. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah Pusat kepada daerah otonom untuk melaksanakan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat atau dari Pemerintah Daerah provinsi kepada Daerah Kabupaten/Kota untuk melaksanakan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah provinsi. 12. Penerimaan Daerah adalah uang yang masuk ke kas daerah. 4

5 13. Pengeluaran Daerah adalah uang yang keluar dari kas daerah. 14. Pendapatan Asli Daerah, selanjutnya disebut PAD adalah pendapatan yang diperoleh Daerah yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundangundangan. 15. Belanja daerah adalah semua kewajiban Daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. 16. Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. 17. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang selanjutnya disingkat APBN adalah rencana keuangan tahunan Pemerintah Pusat yang ditetapkan dengan undang-undang. 18. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan Daerah yang ditetapkan dengan Perda. 19. Pendapatan Daerah adalah semua hak Daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. 20. Dana Daerah adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. 21. Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut Pajak, adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara 5

6 langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 22. Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut Retribusi, adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau Badan. 23. Penerimaan Daerah Bukan Pajak adalah seluruh Penerimaan Bukan Pajak Pemerintah Daerah yang tidak berasal dari penerimaan Pajak Daerah. 24. Dana Transfer adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. 25. Pendapatan Bagi Hasil, yang selanjutnya disingkat PBH, adalah dana yang bersumber dari pendapatan tertentu APBN yang dialokasikan kepada Daerah berdasarkan angka persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. 26. Dana Desa adalah yang bersumber dari pendapatan tertentu APBN yang dialokasikan kepada desa berdasarkan persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan desa. 27. PBH Pajak adalah pendapatan bagi hasil yang bersumber dari pendapatan Pajak Bumi dan Bangunan, Pajak Penghasilan Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan Pajak Penghasilan Pasal 21, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah 28. Pajak Bumi dan Bangunan, yang selanjutnya disingkat PBB, adalah pajak yang dikenakan atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai dan/atau dimanfaatkan untuk kegiatan 6

7 usaha Perhutanan dan Pertambangan, berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Pajak Bumi dan Bangunan. 29. Pajak Penghasilan Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri adalah Pajak Penghasilan terutang oleh Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri, kecuali pajak atas penghasilan sebagaimana diatur dalam Pasal 25 ayat (8) Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan 30. Pajak Penghasilan Pasal 21, yang selanjutnya disebut PPh Pasal 21, adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lainnya sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa dan kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi berdasarkan ketentuan Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan 31. Pajak Pertambahan Nilai yang selanjutnya disingkat PPN, adalah pajak yang dikenakan atas penyerahan barang kena pajak, impor barang kena pajak, jasa kena pajak di dalam daerah pabean sebagaimana diatur dalam Undang-Undang PPN dan PpnBM. 32. Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang selanjutnya disingkat PpnBM adalah pajak yang dikenakan atas penjualan barang yang tergolong mewah berdasarkan Undang-Undang PPN dan PpnBM. 33. Cukai Hasil Tembakau, yang selanjutnya disingkat CHT, adalah pungutan Negara yang dikenakan terhadap hasil tembakau berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan di bidang cukai. 7

8 34. Cukai minuman mengandung alkohol adalah pungutan Negara yang dikenakan terhadap peredaran minuman beralkohol berdasarkan ketentuan perundang-undangan di bidang cukai. 35. PBH Sumber Daya Alam adalah pembagian bagi hasil yang bersumber dari penerimaan sumber daya alam kehutanan, perikanan, pertambangan mineral dan batubara, pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi, pertambangan mineral dan batubara, serta pertambangan panas bumi. 36. Iuran Izin Usaha Pemanfaatan Hutan, yang selanjutnya disingkat IIUPH, adalah pungutan yang dikenakan kepada pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hutan atas suatu kawasan hutan tertentu yang dilakukan sekali pada saat izin tersebut diberikan berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan di bidang kehutanan. 37. Provisi Sumber Daya Hutan, yang selanjutnya disingkat PSDH, adalah pungutan yang dikenakan sebagai pengganti nilai intrinsik dari hasil hutan negara berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan. 38. Pungutan Pengusahaan Perikanan adalah pungutan yang dikenakan kepada perusahaan perikanan Indonesia atas penerbitan Izin Usaha Perikanan (IUP), Alokasi Penangkapan Ikan Penanaman Modal (APIPM), dan Surat Izin Kapal Pengangkut Ikan (SIKPI) yang diperoleh dari Pemerintah berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perikanan. 39. Pungutan Perikanan adalah pungutan yang dikenakan kepada setiap orang yang memperoleh manfaat langsung dari sumber daya ikan dan lingkungannya di wilayah pengelolaan perikanan 8

9 Negara Republik Indonesia dan di luar wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia sesuai dengan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) yang diperoleh dari Pemerintah berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perikanan. 40. Iuran Tetap adalah iuran yang diterima negara sebagai imbalan atas kesempatan penyelidikan umum, eksplorasi atau eksploitasi pada suatu wilayah kerja berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan mineral dan batubara dan pertambangan panas bumi. 41. Iuran Produksi adalah iuran yang dibayarkan kepada negara atas hasil yang diperoleh dari usaha pertambangan mineral dan batubara dan pertambangan panas bumi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan mineral dan batubara dan pertambangan panas bumi. 42. Setoran Bagian Pemerintah adalah penerimaan negara dari pengusaha panas bumi atas dasar kontrak pengusahaan panas bumi, setelah dikurangi dengan kewajiban perpajakan dan pungutan-pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundangan-undangan. 43. Bagian Penerimaan Negara Pertambangan Minyak Bumi adalah penerimaan bagian negara yang diperoleh dari pertambangan minyak bumi berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan di bidang minyak bumi dan gas bumi. 44. Daerah zona tambang adalah kabupaten dan atau kota pada provinsi lain yang masuk dalam wilayah penghasil tambang, tetapi tidak menjadi tempat dilakukannya proses produksi. 9

10 45. Dana Bagi Hasil yang selanjutnya disingkat DBH adalah dana yang bersumber dari pendapatan tertentu APBN yang dialokasikan kepada Daerah penghasil berdasarkan angka persentase tertentu dengan tujuan mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. 46. Dana Alokasi Umum yang selanjutnya disingkat DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar- Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. 47. Insentif Fiskal adalah perbandingan antara PAD dengan belanja daerah dalam APBD. 48. Celah Fiskal adalah selisih antara kebutuhan fiskal daerah dan kapasitas fiskal daerah. 49. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah, yang selanjutnya disingkat DPOD adalah suatu dewan yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan kepada Presiden mengenai kebijakan otonomi daerah sesuai perundanganundangan. 50. Dana Alokasi Khusus, yang selanjutnya disingkat DAK, adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus dalam rangka pemenuhan standar pelayanan minimum, prioritas nasional, dan/atau kebijakan tertentu. 51. Pinjaman Daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan Daerah menerima sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga Daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. 10

11 52. Obligasi Daerah adalah Pinjaman Daerah yang ditawarkan kepada publik melalui penawaran umum di pasar modal domestik. 53. Dana Dekonsentrasi adalah dana yang berasal dari APBN untuk mendanai urusan Pemerintah yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah, tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di Daerah. 54. Dana Tugas Pembantuan adalah dana yang berasal dari APBN untuk mendanai urusan Pemerintah yang ditugaskan kepada kabupaten/kota. 55. Hibah kepada Daerah yang selanjutnya disebut Hibah adalah uang, barang dan/atau jasa yang diberikan kepada Daerah berdasarkan perjanjian antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah dan tidak perlu dibayar kembali. 56. Dana Darurat adalah dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan kepada Daerah yang mengalami bencana alam nasional peristiwa luar biasa, dan/atau krisis solvabilitas. 57. Rencana Kerja Pemerintah Daerah, yang selanjutnya disingkat RKPD, adalah dokumen perencanaan daerah provinsi, kabupaten/kota untuk periode 1 (satu) tahun. 58. Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat Renja SKPD, adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 1 (satu) tahun. 59. Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat RKA SKPD, adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program, kegiatan dan anggaran SKPD yang merupakan penjabaran dari RKPD 11

12 dan rencana strategis SKPD yang bersangkutan dalam 1 (satu) tahun anggaran. 60. Pengguna Anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran kementerian negara/lembaga/ SKPD. BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Penyelenggaraan hubungan keuangan antara Pusat dandaerah dilaksankaan berdasarkan asas : a. transparansi; b. akuntabilitas; c. subsidiaritas; d. keadilan; e. otonomi; f. desentralisasi; g. dekonsentrasi; dan h. tugas Pembantuan. Pasal 3 Penyelenggaraan hubungan keuangan antara Pusat dan Daerah bertujuan untuk: a. mengurangi ketimpangan sumber pendanaan Pemerintah Pusat dan daerah serta untuk mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintah antar daerah. b. meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, peran serta masyarakat serta peningkatan daya saing daerah. c. memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia. 12

13 BAB III RUANG LINGKUP Pasal 4 (1) Hubungan keuangan pusat dan daerah mencakup pengaturan keuangan Pusat dan Daerah sebagai konsekuensi dari adanya urusan pemerintahan yang diserahkan dan/atau dilimpahkan kepada pemerintah daerah. (2) Hubungan keuangan pusat dan daerah terdiri atas Pendapatan Asli Daerah, Pendapatan Transfer, lain-lain pendapatan daerah yang sah dan mekanisme pelaksanaannya. (3) Hubungan keuangan pusat dan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menghasilkan : a. Prinsip hubungan keuangan; b. Sumber penerimaan daerah; c. Pendapatan Asli Daerah; d. Pendapatan transfer; e. Pinjaman daerah kepada pusat; f. Hibah; g. Dana darurat; h. Dana dekonsentrasi; i. Dana tugas pembantuan, dan j. Insentif fiskal daerah. BAB IV PRINSIP HUBUNGAN KEUANGAN Pasal 5 (1) Hubungan Keuangan Antara Pusat dan Daerah merupakan konsekuensi dari hubungan kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta merupakan perwujudan 13

14 pengelolaan keuangan yang dituangkan dalam APBN dan APBD. (2) Hubungan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan sumber pendanaan sesuai dengan urusan yang di desentralisasikan maupun pelimpahan urusan pemerintah kepada Gubernur sesuai dengan asas/penyelenggaraan desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan. (3) Sumber-sumber pendanaan kepada Pemerintahan Daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) memperhatikan stabilitas fiskal, keseimbangan fiskal, efisiensi, dan efektifitas. (4) Sumber-sumber pendanaan Pemerintahan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) terdiri dari Pendapatan Daerah dan Pembiayaan. BAB V SUMBER PENERIMAAN DAERAH Pasal 6 (1) Penyelenggara urusan pemerintahan daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi didanai APBD yang bersumber dari: a. Pajak Daerah; dan b. Penerimaan Daerah Bukan Pajak. (2) Penyelenggaraan urusan pemerintah yang dilaksanakan oleh daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi didanai APBD, dan yang bersumber dari: a. Retribusi Daerah; b. Penerimaan Daerah Bukan Pajak selain Retribusi Daerah; dan c. Dana Daerah. 14

15 (3) Penyelenggaraan urusan Pemerintah Pusat yang dilaksanakan oleh Daerah dan Desa dalam rangka tugas perbantuan didanai APBN. (4) Pelimpahan kewenangan dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi dan/atau dalam rangka pelaksanaan tugas perbantuan harus diserta dengan pemberian dana. Pasal 7 (1) Penerimaan daerah dalam pelaksanaan Desentralisasi terdiri atas pendapatan daerah dan pembiayaan. (2) Pendapatan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersumber dari: a. Pendapatan Asli Daerah; b. Pendapatan Transfer; dan c. Lain-lain pendapatan daerah yang sah. (3) Pendapatan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b meliputi: a. Transfer Pemerintah Pusat; dan b. Transfer antar daerah (4) Transfer Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud ayat (3) huruf (a), terdiri atas : a. Dana Perimbangan; b. Dana otonomi khusus; c. Dana keistimewaan; dan d. Dana desa. (5) Dana perimbangan sebagimana dimaksud Ayat (4) huruf a, terdiri atas: a. Dana Bagi Hasil (DBH); b. Dana Alokasi Umum (DAU); dan c. Dana Alokasi Khusus (DAK). 15

16 (6) Transfer antar daerah sebagaimana dimaksud Ayat (3) Huruf b terdiri atas: a. Pendapatan bagi hasil; dan b. Bantuan keuangan. (7) Pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersumber dari : a. Sisa lebih perhitungan anggaran daerah; b. Pinjaman daerah; c. Dana cadangan daerah; dan d. Hasil penjualan daerah yang dipisahkan. BAB VI PENDAPATAN ASLI DAERAH Pasal 8 (1) Pendapatan Asli Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf a meliputi: a. Pajak daerah; dan b. Penerimaan bukan pajak. (2) Penerimaaan bukan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi: a. Retribusi daerah; b. Hasil pengelolaan keungan daerah yang dipisahkan; c. Jasa giro; d. Pendapatan bunga; e. Keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing;dan f. Komisi, potongan, potongan bentuk lebih sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/jasa oleh daerah. 16

17 Pasal 9 (1) Dalam upaya meningkatkan PAD, daerah dilarang : a. menetapkan Peraturan Daerah tentang pendapatan yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi; dan b. menetapkan Peraturan Daerah tentang pendapatan yang menghambat mobilitas penduduk, lalu lintas barang dan jasa antar daerah, dan kegiatan impor/ekspor. (2) Dalam hal Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b menyebabkan ekonomi biaya tinggi dan menghambat mobilitas penduduk, lalu lintas barang dan jasa antar daerah, dan kegiatan impor/ekspor maka Paeraturan Daerah tersebut dibatalkan oleh Menteri atau Gubernur sesuai dengan kewenangannya. Pasal 10 Ketentuan mengenai pajak daerah dan retribusi daerah diatur lebih lanjut dengan undang-undang. BAB VII PENDAPATAN TRANSFER Pasal 11 (1) Dana Transfer terdiri atas: a. Transfer Pemerintah Pusat; dan b. Transfer antar daerah. (2) Transfer Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud ayat (1) Huruf a terdiri atas: a. Dana perimbangan; b. Dana otonomi khusus; c. Dana keistimewaan; dan d. Dana desa. 17

18 (3) Transfer antar daerah sebagaimana dimaksud ayat (1) Huruf b terdiri atas: a. Pendapatan bagi hasil; dan b. Bantuan keuangan. Pasal 12 (1) Pendapatan Bagi Hasil (PBH) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 Ayat (3) huruf a terdiri atas: a. pajak; b. cukai; c. sumber daya alam; dan d. Penerimaan lalulintas orang ke luar negeri dan melalui bandara. (2) PBH Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri atas: a. PBB obyek Pertambangan dan Kehutanan; b. PPh Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21; dan c. PPN dan PpnBM. (3) PBH Cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, berasal dari cukai hasil tembakau dan cukai minuman beralkohol. (4) PBH Sumber Daya Alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdiri dari: a. kehutanan; b. perikanan; c. pertambangan mineral dan batubara; d. pertambangan minyak bumi; e. pertambangan gas bumi; dan f. pengusahaan panas bumi. 18

19 (5) PBH lalu lintas orang ke dalam dan luar negeri dan melalui bandara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, terdiri dari : a. Surat keterangan keimigrasian; b. Visa; dan c. Pajak bandara. Pasal 13 (1) PBH Pajak yang bersumber dari PBB Obyek Pertambangan dan Kehutanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) huruf a, yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan ditetapkan sebesar 100% (seratus perseratus) dengan rincian: a. 20% (dua puluh perseratus) untuk daerah provinsi yang bersangkutan; b. 80% (delapan puluh perseratus) untuk daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. (2) PBH PBB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersumber dari PBB sektor pertambangan yang diperoleh dari wilayah laut kewenangan kabupaten/kota, dibagi dengan rincian: a. 20% (dua puluh perseratus) untuk daerah provinsi yang bersangkutan; b. 80% (delapan puluh perseratus) untuk kabupaten/kota yang bersangkutan. (3) PBH PBB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersumber dari PBB sektor pertambangan yang diperoleh dari wilayah laut yang menjadi kewenangan provinsi dibagi dengan rincian: a. 20% (dua puluh perseratus) untuk daerah provinsi yang bersangkutan; 19

20 b. 80% (delapan puluh perseratus) untuk seluruh kabupaten/kota di provinsi yang bersangkutan dengan porsi yang sama besar. (4) Penerimaan PBB yang bersumber dari PBB sektor pertambangan yang diperoleh dari wilayah laut yang menjadi kewenangan Pemerintah tidak dibagihasilkan kepada Daerah. Pasal 14 (1) PBH Pajak yang bersumber dari PPh Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) huruf b, ditetapkan sebesar 25% (dua puluh lima perseratus) dengan rincian: a. 5% (lima perseratus) untuk provinsi yang bersangkutan; b. 20% (dua puluh perseratus) untuk kabupaten/kota yang bersangkutan. (2) Pembagian kepada provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada tempat tinggal wajib pajak, tempat kegiatan usaha dan/atau tempat bekerja. Pasal 15 (1) PBH Pajak yang bersumber dari PPN dan PpnBM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) huruf c, ditetapkan sebesar 15% (lima belas perseratus) dari total penerimaan PPN dan PpnBM secara nasional. (2) Alokasi Pembagian Bagi Hasil PPN dan PpnBM sebagaimana dimaksud pada ayat (1), yang dihasilkan daerah yang bersangkutan didasarkan pada proporsi PDRB daerah yang bersangkutan terhadap PDB. 20

21 (3) Pembagian penerimaan Dana Bagi Hasil PPN dan PpnBM sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan ditetapkan dengan rincian: a. 20% (dua puluh perseratus) untuk provinsi yang bersangkutan; b. 80% (delapan puluh perseratus) untuk kabupaten dan kota dalam wilayah provinsi yang bersangkutan. c. Pembagian untuk masing-masing kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b didasarkan atas proporsi PDRB masing-masing kabupaten/kota yang bersangkutan terhadap total PDRB provinsi yang bersangkutan. Pasal 16 (1) PBH Cukai yang bersumber dari CHT dan cukai minuman beralkohol sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3) ditetapkan sebesar 5% (lima perseratus) dengan rincian: a. 1% (satu perseratus) untuk provinsi yang bersangkutan; b. 2% (dua perseratus) untuk kabupaten dan kota penghasil; dan c. 2% (dua perseratus) untuk seluruh kabupaten dan kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan dengan porsi yang sama besar. (2) Pembagian untuk provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b, didasarkan pada kontribusi Daerah yang bersangkutan terhadap penerimaan CHT dan/atau produksi tembakau. Pasal 17 (1) PBH surat keterangan keimigrasian, visa dan pajak bandara yang menjadi bagian daerah sebesar 25% dibagi dengan rincian : 21

22 a. 15% (lima belas perseratus) untuk provinsi yang bersangkutan; b. 5% (lima perseratus) untuk Kabupaten/Kota penghasil; c. 5% (lima perseratus) untuk seluruh kabupaten dan kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan dengan porsi yang sama besar. Pasal 18 (1) PBH Sumber Daya Alam Kehutanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (4) huruf a berasal dari: a. IIUPH; b. PSDH; dan c. Dana Reboisasi. (2) PBH Sumber Daya Alam Kehutanan yang berasal dari IIUPH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan, ditetapkan sebesar 85% (delapan puluh lima perseratus) untuk kabupaten dan kota penghasil. (3) PBH Sumber Daya Alam Kehutanan yang berasal dari PSDH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, yang dihasilkan dari Daerah yang bersangkutan, ditetapkan sebesar 85% (delapan puluh lima perseratus) dengan rincian: a. 17% (tujuh belas perseratus) untuk provinsi yang bersangkutan; b. 34% (tiga puluh empat perseratus) untuk kabupaten dan kota penghasil; dan c. 34% (tiga puluh empat perseratus) dibagikan kepada seluruh kabupaten dan kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan dengan porsi yang sama besar. (4) PBH Sumber Daya Alam Kehutanan yang berasal dari Dana Reboisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, yang dihasilkan Daerah yang bersangkutan, ditetapkan sebesar 50% (lima puluh perseratus) dengan rincian : 22

23 a. 10% (sepuluh perseratus) untuk provinsi; b. 40% (empat puluh perseratus) untuk kabupaten/kota penghasil. (5) PBH Sumber Daya Alam Kehutanan yang bersumber dari Dana Reboisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) digunakan untuk kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan. Pasal 19 (1) PBH Sumber Daya Alam Perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (4) huruf b, berasal dari: a. penerimaan pungutan pengusahaan perikanan; dan b. penerimaan pungutan hasil perikanan. (2) PBH Sumber Daya Alam yang berasal dari Perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebesar 95% (Sembilan puluh lima perseratus) yang dibagi kepada daerah dengan rincian: a. 10% (sepuluh perseratus) untuk provinsi; b. 85% (delapan puluh lima perseratus) untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi dengan porsi yang sama besar. Pasal 20 (1) PBH Sumber Daya Alam pertambangan mineral dan batubara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (4) huruf c, berasal dari: a. Penerimaan Iuran Tetap; dan b. Penerimaan Iuran Produksi. (2) PBH Sumber Daya Alam pertambangan mineral dan batubara yang bersumber dari Iuran Tetap, yang dihasilkan daerah yang bersangkutan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, ditetapkan sebesar 85% (delapan puluh lima perseratus) dengan rincian : a. 18% (delapan belas perseratus) untuk provinsi; 23

24 b. 67% (enam puluh tujuh perseratus) untuk kabupaten/kota penghasil. (3) PBH Sumber Daya Alam pertambangan mineral dan batubara yang bersumber dari Iuran Tetap sebesar 85% (delapan puluh lima perseratus) sebagaimana dimaksud pada ayat (2), yang diperoleh dari wilayah laut yang menjadi kewenangan provinsi, seluruhnya dialokasikan untuk provinsi yang bersangkutan. (4) PBH Sumber Daya Alam pertambangan mineral dan batubara yang bersumber dari Iuran Produksi yang dihasilkan daerah yang bersangkutan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, ditetapkan sebesar 85% (delapan puluh lima perseratus) dengan rincian: a. 18% (delapan belas perseratus) untuk provinsi yang bersangkutan; b. 33,5% (tiga puluh tiga koma lima perseratus) untuk kabupaten dan kota penghasil; dan c. 33,5% (tiga puluh tiga koma lima perseratus) untuk kabupaten dan kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan dengan porsi yang sama besar. (5) PBH Sumber Daya Alam pertambangan mineral dan batubara yang bersumber dari Iuran Produksi sebesar 85% (delapan puluh lima perseratus) sebagaimana dimaksud pada ayat (4) yang diperoleh dari wilayah laut yang menjadi kewenangan provinsi dibagi dengan rincian: a. 18% (delapan belas perseratus) untuk provinsi yang bersangkutan; b. 67% (enam puluh tujuh perseratus) untuk kabupaten dan kota dalam provinsi yang bersangkutan dengan porsi yang sama besar. 24

25 Pasal 21 (1) PBH Sumber Daya Alam pertambangan minyak bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (4) huruf d, berasal dari penerimaan Negara dari sumber daya pertambangan gas bumi dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai ketentuan peraturan perundangundangan. (2) PBH Sumber Daya Alam pertambangan minyak bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan, ditetapkan sebesar 40% (empat puluh perseratus) dengan rincian : a. 7,5% (tujuh setengah perseratus) dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan; b. 15% (lima belas perseratus) untuk kabupaten dan kota penghasil; dan c. 15% (lima belas perseratus) untuk seluruh kabupaten dan kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan dengan porsi yang sama besar. d. 2,5% (dua setengah perseratus) untuk kebupaten dan kota yang masuk dalam daerah zona tambang. (3) PBH Sumber Daya Alam pertambangan minyak bumi sebesar 40% (empat puluh perseratus) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang diperoleh dari wilayah laut yang menjadi kewenangan provinsi dibagi dengan rincian: a. 7,5% (tujuh setengah perseratus) untuk provinsi yang bersangkutan; dan b. 30% (tiga puluh perseratus) untuk seluruh kabupaten dan kota dalam provinsi yang bersangkutan dengan porsi yang sama besar. c. 2,5% (dua setengah perseratus) untuk kabupaten dan kota yang termasuk dalam daerah zona tambang. 25

26 Pasal 22 (1) PBH Sumber Daya Alam pertambangan gas bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (4) huruf e, berasal dari bagian penerimaan negara pertambangan yang diperoleh dari pengusahaan pertambangan gas bumi setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai ketentuan peraturan perundangundangan. (2) PBH Sumber Daya Alam pertambangan gas bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan, ditetapkan sebesar 40% (empat puluh perseratus) dengan rincian: a. 8% (delapan perseratus) dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan; b. 15% (enam belas perseratus) untuk kabupaten dan kota penghasil; dan c. 15% (enam belas perseratus) untuk seluruh kabupaten dan kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan dengan porsi yang sama besar. d. 2% (dua perseratus) untuk kabupaten dan kota yang termasuk dalam daerah zona tambang. (3) PBH Sumber Daya Alam pertambangan gas bumi sebesar 40% (empat puluh perseratus) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang diperoleh dari wilayah laut yang menjadi kewenangan provinsi dibagi dengan rincian: a. 12% (dua belas perseratus) dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan. b. 26% (dua puluh delapan perseratus) untuk seluruh kabupaten dan kota dalam provinsi yang bersangkutan dengan porsi yang sama besar. 26

27 c. 2% (dua perseratus) untuk kabupaten dan kota yang termasuk dalam daerah zona tambang. Pasal 23 (1) PBH Sumber Daya Alam pengusahaan panas bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (4) huruf f, berasal dari: a. setoran bagian pemerintah; b. iuran tetap; dan c. iuran produksi. (2) PBH Sumber Daya Alam yang berasal dari pengusahaan panas bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan, ditetapkan sebesar 85% (delapan puluh lima perseratus) dengan rincian: a. 13% (tiga belas perseratus) untuk provinsi yang bersangkutan; b. 36% (tiga puluh enam perseratus) untuk kabupaten dan kota penghasil; dan c. 36% (tiga puluh enam perseratus) untuk seluruh kabupaten dan kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan dengan porsi yang sama besar. Pasal 24 (1) Besarnya Dana Desa yakni paling sedikit 10% (sepuluh perseratus) dari dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota dalam APBD setelah dikurangi DAK. (2) 90% dari Dana Desa tersebut dibagi secara merata untuk setiap desa. (3) 10% dialokasikan kepada desa berdasarkan jumlah penduduk desa, angka kemiskinan desa, luas wilayah desa, dan tingkat kesulitan geografis desa. 27

28 Pasal 25 (1) Menteri Keuangan menetapkan alokasi sementara PBH Pajak dan PBH CHT dan minuman beralkohol sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) dan ayat (3) paling lambat 60 (enam puluh) hari sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan. (2) Khusus untuk PBH CHT dan minuman beralkohol sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dalam jangka waktu paling lambat 90 (sembilan puluh) hari sebelum berakhirnya tahun anggaran berjalan, Menteri Keuangan menetapkan prognosa realisasi PBH CHT dan minuman beralkohol. Pasal 26 (1) Menteri teknis menetapkan daerah penghasil dan penghitungan PBH sumber daya alam paling lambat 60 (enam puluh) hari sebelum tahun anggaran bersangkutan dilaksanakan setelah melakukan koordinasi dengan Menteri Dalam Negeri. (2) Daerah penghasil dan dasar penghitung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri Keuangan. (3) Menteri Keuangan menetapkan alokasi sementara PBH Sumber Daya Alam untuk masing-masing daerah paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah diterimanya ketetapan dari Menteri teknis. Pasal 27 Menteri Keuangan menetapkan prognosa realisasi PBH Sumber Daya Alam untuk masing-masing Daerah paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum berakhirnya tahun anggaran berjalan. Pasal 28 Penyaluran PBH dilaksanakan dengan cara pemindahbukuan dari Rekening Kas Umum Negara ke Rekening Kas Umum Daerah. 28

29 Pasal 29 (1) PBH Pajak disalurkan per triwulan. (2) Penyaluran untuk 3 (tiga) triwulan pertama masing-masing sebesar 25% (dua puluh lima perseratus) dari alokasi sementara PBH Pajak yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. (3) Penyaluran untuk triwulan keempat dilakukan berdasarkan prognosa realisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dengan memperhitungkan penyaluran sebelumnya. (4) PBH PBB disalurkan per triwulan. (5) PBH PPh Pasal 25/29 WPOPDN dan PPh Pasal 21 disalurkan setiap bulan. (6) PPN dan PpnBM disalurkan per triwulan. Pasal 30 (1) PBH CHT disalurkan per triwulan. (2) Penyaluran untuk 3 (tiga) triwulan pertama dilakukan masingmasing sebesar 25% (dua puluh lima perseratus) dari alokasi sementara PBH CHT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1). (3) Penyaluran untuk triwulan keempat dilakukan berdasarkan prognosa realisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) dengan memperhitungkan penyaluran 3 (tiga) triwulan sebelumnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 31 (1) PBH Sumber Daya Alam disalurkan per triwulan. (2) Penyaluran untuk 3 (tiga) triwulan pertama masing-masing sebesar 25% (dua puluh lima perseratus) dari alokasi sementara PBH Sumber Daya Alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (3). (3) Penyaluran untuk triwulan keempat dilakukan berdasarkan penghitungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 dengan 29

30 memperhitungkan penyaluran 3 (tiga) triwulan sebelumnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 32 Dalam hal terjadi kelebihan penyaluran PBH CHT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 dan PBH Sumber Daya Alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dalam tahun anggaran berjalan, kelebihan penyaluran tersebut diperhitungkan dengan penyaluran tahun anggaran berikutnya atau Dana Transfer yang lain pada tahun anggaran berjalan atau tahun anggaran berikutnya. Pasal 33 (1) DAU ditetapkan paling sedikit 28% (dua puluh delapan perseratus) dari Pendapatan Dalam Negeri Netto yang ditetapkan dalam APBN. (2) Pendapatan Dalam Negeri Netto sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah penerimaan negara yang berasal dari pajak dan bukan pajak setelah dikurangi dengan DBH. (3) DAU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan untuk: a. Provinsi sebesar 10% (sepuluh perseratus); dan b. Kabupaten dan kota sebesar 90% (sembilan puluh perseratus). (4) DAU untuk provinsi dan kabupaten dan kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diubah sesuai dengan perubahan urusan antara provinsi dan kabupaten dan kota, berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 34 (1) DAU suatu daerah dialokasikan atas dasar Celah Fiskal. (2) Celah Fiskal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung sebagai selisih antara kebutuhan fiskal Daerah dengan kapasitas fiskal Daerah. 30

31 (3) Kebutuhan fiskal Daerah merupakan kebutuhan pendanaan Daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum. (4) Kebutuhan pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dihitung berdasarkan kebutuhan pelayanan dasar pendidikan, kesehatan, infrastruktur jalan dan transportasi, pertanian, perkebunan dan kehutanan dan belanja umum daerah lainnya. (5) Kebutuhan pelayanan dasar pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diukur berdasarkan proyeksi penduduk usia sekolah dan biaya per unit dalam rangka penyediaan pelayanan dasar pendidikan. (6) Kebutuhan pelayanan dasar kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diukur berdasarkan proyeksi jumlah penduduk, tingkat kepadatan penduduk dan luas wilayah serta biaya per unit dalam rangka penyediaan pelayanan dasar kesehatan. (7) Kebutuhan pelayanan dasar infrastruktur jalan dan transportasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diukur berdasarkan konektivitas daerah, luas wilayah dan biaya per unit dalam rangka penyediaan pelayanan infrastruktur yang dimaksud. (8) Kebutuhan pelayanan pertanian, perkebunan dan kehutanan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diukur berdasarkan luas area pertanian, perkebunan dan kehutanan dan biaya biaya per unit dalam rangka menyediakan pelayanan yang dimaksud. (9) Kebutuhan belanja umum sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diukur berdasarkan proyeksi jumlah penduduk, luas wilayah dan biaya per unit dalam rangka penyediaan pelayanan umum daerah. (10) Dalam pengukuran kebutuhan fiskal daerah provinsi dikelompokkan menjadi dua, yaitu provinsi besar dan provinsi kecil, yang diukur berdasarkan jumlah penduduk dan luas wilayah. (11) Dalam pengukuran kebutuhan fiskal daerah kabupaten/kota dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kabupaten besar dan kota metropolitan, kabupaten sedang dan kota besar, dan kabupaten 31

32 kecil dan kota kecil, yang diukur berdasarkan jumlah penduduk dan luas wilayah. (12) Kapasitas fiskal Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan penjumlahan dari potensi PAD, PBH dan DAK. Pasal 35 (1) DAU atas dasar celah fiskal suatu provinsi dihitung berdasarkan perkalian bobot provinsi yang bersangkutan dengan jumlah DAU seluruh provinsi. (2) Bobot provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung dengan membagi Celah Fiskal provinsi yang bersangkutan dengan total Celah Fiskal seluruh provinsi. Pasal 36 (1) DAU atas dasar celah fiskal untuk suatu kabupaten/kota dihitung berdasarkan perkalian bobot kabupaten/ kota yang bersangkutan dengan jumlah DAU seluruh kabupaten dan kota. (2) Bobot kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung dengan membagi Celah Fiskal kabupaten/kota yang bersangkutan (3) dengan total Celah Fiskal seluruh kabupaten dan kota. Pasal 37 DAU untuk Daerah Otonom Baru, mulai dialokasikan pada tahun kelima sejak undang-undang pembentukannya diundangkan. Pasal 38 (1) Menteri Keuangan mengusulkan kebijakan DAU, dalam nota keuangan dan RAPBN tahun anggaran berikutnya, yang disampaikan Pemerintah kepada Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah. 32

33 (2) Kebijakan DAU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Menteri Keuangan kepada Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. (3) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyampaikan hasil pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) untuk ditetapkan oleh Presiden dalam penyampaian Nota Keuangan dan RAPBN kepada Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah. Pasal 39 (1) Berdasarkan hasil pembahasan antara Pemerintah dengan DPR dan DPD tentang alokasi DAU dalam APBN, Menteri Keuangan menetapkan alokasi DAU untuk masing-masing provinsi, kabupaten dan kota paling lambat 2 (dua) bulan sebelum tahun anggaran bersangkutan dilaksanakan. (2) Ketetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup informasi alokasi masing-masing Daerah, dasar penghitungan alokasi DAU dan sumber data yang digunakan. Pasal 40 (1) DAU disalurkan dengan cara pemindahbukuan dari Rekening Kas Umum Negara ke Rekening Kas Umum Daerah. (2) Penyaluran DAU untuk masing-masing Daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan setiap bulan masing-masing sebesar 1/12 (satu perdua belas) dari DAU Daerah yang bersangkutan. (3) Penyaluran DAU sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sebelum bulan bersangkutan. (4) Penyaluran DAU tahap pertama dilakukan pada awal bulan April. 33

34 Pasal 41 Ketentuan lebih lanjut mengenai DAU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33, Pasal 34, Pasal 35, Pasal 36, Pasal 37, Pasal 38, dan Pasal 39, dan Pasal 40 diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 42 (1) DAK dialokasikan kepada daerah berdasarkan usulan daerah mengacu pada RKPD dan musyawarah perencanaan dan pembangungan Nasional/Daerah dalam mendorong percepatan pencapaian Standar Pelayanan Minimum, Prioritas nasional dan/atau kebijakan tertentu. (2) DAK dialokasikan kepada Daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah, dan mendanai kegiatan pada provinsi berciri kepulauan. (3) Kegiatan khusus dan kegiatan pada daerah berciri kepulauan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah : a. kegiatan dalam rangka mendorong pemenuhan Standar Pelayanan Minimum pelayanan dasar pendidikan, kesehatan, infrastruktur jalan, jembatan, sanitasi, irigasi, dan air minum; dan b. kegiatan dalam rangka pencapaian prioritas nasional. (4) Kegiatan dalam rangka pencapaian prioritas nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b yang terkait dengan pelayanan dasar di bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur jalan, jembatan, sanitasi, irigasi, dan air minum. Pasal 43 (1) DAK diprioritaskan untuk mendanai kegiatan dalam rangka mendorong percepatan pencapaian Standar Pelayanan Minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (3) huruf a. 34

35 (2) Alokasi DAK untuk masing-masing bidang disesuaikan dengan rencana pembangunan jangka menengah nasional. (3) DAK untuk masing-masing bidang diusulkan oleh masing-masing kementerian teknis terkait, kepada menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan menteri Keuangan. (4) Berdasarkan usulan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Menteri Keuangan mengusulkan kebijakan DAK dalam nota keuangan dan RAPBN tahun anggaran berikutnya, yang disampaikan Pemerintah ke Dewan Perwakilan Rakyat. (5) Kebijakan DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disampaikan oleh Menteri Keuangan kepada Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. (6) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyampaikan hasil pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) untuk ditetapkan oleh Presiden dalam penyampaian Nota Keuangan dan RAPBN ke Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 44 (1) Pemerintah menetapkan DAK berdasarkan kriteria umum dan Kriteria Khusus. (2) Kriteria Umum, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada kemampuan keuangan daerah dan pemenuhan Standar Pelayanan Minimum. (3) Kriteria Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan serta kondisi geografis dan demografis daerah. (4) Pelayanan Minimum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi pelayanan dasar pendidikan, kesehatan, infrastruktur jalan, jembatan, sanitasi, irigasi, dan air minum. (5) Penentuan Daerah yang belum mencapai Standar Pelayanan Minimum sebagaimana dimaksud pada ayat (4), dilakukan oleh 35

36 menteri teknis yang membidangi pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur jalan, jembatan, sanitasi, irigasi, dan air minum. Pasal 45 (1) Kemampuan keuangan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2), dihitung dari penerimaan umum APBD setelah dikurangi belanja gaji PNSD. (2) Penerimaan umum APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah jumlah dari PAD, DAU dan DBH. (3) Kemampuan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam bentuk indeks. (4) Indeks Kemampuan Keuangan suatu Daerah (IKKD) sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dihitung berdasarkan Desil ketiga yang paling rendah dari keseluruhan daerah secara nasional dan ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Pasal 46 (1) Tingkat pencapaian Standar Pelayanan Minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (1) ditetapkan dalam RKPD berupa indikator pencapaian. (2) Tingkat pencapaian SPM sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dihitung dengan membandingkan antara target dan capaian pelayanan. (3) Hasil perhitungan tingkat capaian pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dalam bentuk indeks. Pasal 47 Daerah yang mendapat DAK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (5), adalah Daerah dengan IKKD di bawah Desil ketiga secara nasional dan indeks pencapaian Standar Pelayanan Minimum di bawah Standar Pelayanan Minimum yang ditetapkan. 36

37 Pasal 48 (1) Alokasi DAK suatu Daerah dihitung sebagai perkalian bobot daerah yang bersangkutan dengan pagu alokasi DAK nasional per bidang. (2) Bobot Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung dengan membagi jumlah IKKD dan indeks pencapaian Standar Pelayanan Publik Daerah yang bersangkutan dengan total IKKD dan total indeks pencapaian Standar Pelayanan Publik. Pasal 49 (1) Besaran alokasi DAK ditetapkan berdasarkan biaya per unit kegiatan. (2) Kegiatan yang didanai DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang didanai oleh sumber pendanaan lainnya. (3) Kegiatan yang didanai oleh DAK yang juga didanai oleh sumber pendaannya lainnya dapat dikenakan sanksi. (4) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), yakni berupa pemotongan dana transfer pusat. Pasal 50 (1) DAK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (1) dapat digunakan untuk mendanai kegiatan yang bersifat fisik dan non fisik. (2) Daerah penerima DAK tidak diwajibkan menyediakan Dana Pendamping. Pasal 51 Ketentuan lebih lanjut mengenai DAK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42, Pasal 43, Pasal 44, Pasal 45, Pasal 46, Pasal 47, Pasal 48, Pasal 49, dan Pasal 50 diatur dengan Peratuan Pemerintah. 37

38 Pasal 52 (1) Berdasarkan hasil pembahasan antara Pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah tentang alokasi DAK dalam APBN, Menteri Keuangan menetapkan alokasi DAK untuk masing-masing provinsi, kabupaten dan kota paling lambat 2 (dua) bulan sebelum tahun anggaran bersangkutan dilaksanakan. (2) Ketetapan Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup informasi alokasi masing-masing Daerah, dasar penghitungan alokasi DAK dan sumber data yang digunakan. Pasal 53 (1) Menteri/pimpinan lembaga teknis menetapkan pedoman umum penggunaan DAK untuk pencapaian Standar Pelayanan Minimum dan prioritas nasional. (2) Pedoman umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan paling lambat 1 (satu) tahun setelah Undang-Undang ini ditetapkan. (3) Pedoman umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disesuaikan setiap 2 (dua) tahun sekali. Pasal 54 (1) DAK disalurkan dengan cara pemindahbukuan dari Rekening Kas Umum Negara ke Rekening Kas Umum Daerah. (2) DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disalurkan per triwulan dengan porsi yang sama besar. Pasal 55 Tata cara penyaluran Dana Transfer diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan. 38

39 Pasal 56 (1) Kepala Daerah menyampaikan laporan triwulan DAK yang memuat: a. laporan pelaksanaan keuangan kepada Menteri Keuangan; dan b. laporan pelaksanaan teknis DAK kepada Menteri teknis. (2) Penyampaian laporan triwulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dilakukan paling lambat 14 (empat belas) hari setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. (3) Menteri teknis menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan DAK setiap akhir tahun anggaran kepada Menteri Keuangan, Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional, dan Menteri Dalam Negeri. (4) Laporan triwulan DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan. Pasal 57 (1) Menteri Teknis melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pemanfaatan dan teknis pelaksanaan kegiatan yang didanai dari DAK. (2) Menteri Keuangan melakukan pemantauan dan evaluasi pengelolaan keuangan DAK. (3) Berdasarkan laporan kepala daerah sebagamana dimaksud dalam Pasal 50 dan hasil pemantauan dan evaluasi, menteri teknis dan menteri keuangan menyampaikan laporan kepada DPOD, dengan menyampaikan tembusan kepada menteri dalam negeri dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional. Pasal 58 (1) Penyaluran DAK dapat ditunda apabila Daerah tidak menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50; (2) Dalam hal daerah tidak menyampaikan laporan, Kementerian teknis dapat mempertimbangkan penggunaan laporan tahun 39

40 sebelumnya sebagai dasar pengalokasian untuk tahun anggaran berikutnya. Pasal 59 Ketentuan lebih lanjut mengenai kebijakan DAK perencanaan, yang berkaitan dengan penetapan bidang, pengalokasian, pelaporan dan sanksi serta pemantauan dan evaluasi diatur dalam Peraturan Pemerintah. BAB VIII PINJAMAN DAERAH DARI PUSAT Bagian Pertama Pinjaman Pasal 60 (1) Pemerintah Daerah dapat melakukan pinjaman untuk membiayai sebagian anggarannya. (2) Pemerintah Daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri. (3) Pinjaman kepada pihak luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan melalui Pemerintah. (4) Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dikenakan sanksi. (5) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) adalah pengurangan Dana Transfer Pemerintah kepada daerah yang melakukan pelanggaran. Pasal 61 (1) Pinjaman Daerah bersumber dari Pemerintah Pusat. 40

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: Mengingat:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH.

UNDANG-UNDANG TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH. RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UU Nomor 33 Tahun 2004 Draf RUU Keterangan 1. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 26,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG DANA PERIMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUB NOMOR 165/PMK.07/2012 TENTANG PENGALOKASIAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUB NOMOR 165/PMK.07/2012 TENTANG PENGALOKASIAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1 of 41 1/31/2013 12:38 PM MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 165/PMK.07/2012 TENTANG PENGALOKASIAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAH DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAH DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 250/PMK.07/2014 TENTANG PENGALOKASIAN TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 250/PMK.07/2014 TENTANG PENGALOKASIAN TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 250/PMK.07/2014 TENTANG PENGALOKASIAN TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004

PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 1 PRINSIP KEBIJAKAN PERIMBANGAN KEUANGAN Perimbangan Keuangan antara Pemerintah

Lebih terperinci

Peraturan pelaksanaan Pasal 159 Peraturan Menteri Keuangan. 11/PMK.07/ Januari 2010 Mulai berlaku : 25 Januari 2010

Peraturan pelaksanaan Pasal 159 Peraturan Menteri Keuangan. 11/PMK.07/ Januari 2010 Mulai berlaku : 25 Januari 2010 Peraturan pelaksanaan Pasal 159 Peraturan Menteri Keuangan Nomor, tanggal 11/PMK.07/2010 25 Januari 2010 Mulai berlaku : 25 Januari 2010 Tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi Terhadap Pelanggaran Ketentuan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1469, 2013 KEMENTERIAN KEUANGAN. Anggaran. Transfer. Pelaksanaan. Pertanggungjawaban. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 183/PMK.07/2013 TENTANG PELAKSANAAN

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN UMUM DANA PERIMBANGAN

BAB III GAMBARAN UMUM DANA PERIMBANGAN 44 BAB III GAMBARAN UMUM DANA PERIMBANGAN Adanya UU No. 32 dan No. 33 Tahun 2004 merupakan penyempurnaan dari pelaksanaan desentralisasi setelah sebelumnya berdasarkan UU No. 22 dan No. 25 Tahun 1999.

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 11/PMK.07/2010 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 11/PMK.07/2010 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 11/PMK.07/2010 TENTANG TATA CARA PENGENAAN SANKSI TERHADAP PELANGGARAN KETENTUAN DI BIDANG PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH I. UMUM Berdasarkan amanat Pasal 18 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1999 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAHAN PUSAT DAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1999 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAHAN PUSAT DAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1999 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAHAN PUSAT DAN DAERAH Menimbang : Mengingat : DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH

HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH DASAR PEMIKIRAN HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH DAERAH HARUS MEMPUNYAI SUMBER-SUMBER KEUANGAN YANG MEMADAI DALAM MENJALANKAN DESENTRALISASI

Lebih terperinci

11/PMK.07/2010 TATA CARA PENGENAAN SANKSI TERHADAP PELANGGARAN KETENTUAN DI BIDANG PAJAK DAERAH DAN

11/PMK.07/2010 TATA CARA PENGENAAN SANKSI TERHADAP PELANGGARAN KETENTUAN DI BIDANG PAJAK DAERAH DAN 11/PMK.07/2010 TATA CARA PENGENAAN SANKSI TERHADAP PELANGGARAN KETENTUAN DI BIDANG PAJAK DAERAH DAN Contributed by Administrator Monday, 25 January 2010 Pusat Peraturan Pajak Online PERATURAN MENTERI KEUANGAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk memberikan pedoman

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, bahwa untuk memberikan pedoman

Lebih terperinci

2017, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini, yang dimaksud dengan: 1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang selanju

2017, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini, yang dimaksud dengan: 1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang selanju No.287, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. DAU Non Tunai. DBH. Konversi. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/PMK.07/2017 /PMK.07/2015 TENTANG KONVERSI PENYALURAN

Lebih terperinci

2017, No melaksanakan ketentuan Pasal 23 ayat (1) Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perlu membentuk Undang-Undang tent

2017, No melaksanakan ketentuan Pasal 23 ayat (1) Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perlu membentuk Undang-Undang tent No.233, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN. APBN. Tahun 2018. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6138) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2017

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10 Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk memberikan pedoman

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk memberikan pedoman

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999

Lebih terperinci

2016, No menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 21 Tahu

2016, No menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 21 Tahu No.477, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Dana. Desa. Transfer. Pengelolaan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48/PMK.07/2016 TENTANG PENGELOLAAN TRANSFER KE

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1999 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1999 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1999 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Belanja Langsung Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Pasal 36 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, belanja langsung merupakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep, Konstruk, Variable Penelitian 2.1.1 Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah merupakan semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah, pendapatan

Lebih terperinci

2 makro yang disertai dengan perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal, dan pergeseran anggaran antarunit organisasi dan/atau antarprogram yang berdampak

2 makro yang disertai dengan perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal, dan pergeseran anggaran antarunit organisasi dan/atau antarprogram yang berdampak No.44, 2015 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN. APBN. Tahun 2015. Perubahan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5669) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG DANA BAGI HASIL PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH BAGI DESA DAN ALOKASI DANA DESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG DANA BAGI HASIL PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH BAGI DESA DAN ALOKASI DANA DESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG DANA BAGI HASIL PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH BAGI DESA DAN ALOKASI DANA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1999 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1999 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1999 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 21/PMK.07/2009 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH MENTERI KEUANGAN,

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 21/PMK.07/2009 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH MENTERI KEUANGAN, PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 21/PMK.07/2009 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH MENTERI KEUANGAN, Menimban g : a. bahwa dalam rangka meningkatkan efisiensi pelaksanaan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA;

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA; PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA; Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10 Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999

Lebih terperinci

A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN. Lahirnya kebijakan ekonomi daerah yang mengatur hubungan pemerintah

A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN. Lahirnya kebijakan ekonomi daerah yang mengatur hubungan pemerintah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lahirnya kebijakan ekonomi daerah yang mengatur hubungan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Kebijakan pemerintah Indonesia tentang otonomi daerah secara efektif

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 126 /PMK.07/2010 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 126 /PMK.07/2010 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 126 /PMK.07/2010 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

DANA BAGI HASIL YANG BERSUMBER DARI PENERIMAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

DANA BAGI HASIL YANG BERSUMBER DARI PENERIMAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DANA BAGI HASIL YANG BERSUMBER DARI PENERIMAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN Dgchuank.blogspot.com I. PENDAHULUAN Dalam rangka menciptakan suatu sistem perimbangan keuangan yang proporsional, demokratis, adil,

Lebih terperinci

- 4 - URAIAN PEDOMAN PENYUSUNAN APBD TAHUN ANGGARAN I. Sinkronisasi Kebijakan Pemerintah Daerah dengan Kebijakan Pemerintah

- 4 - URAIAN PEDOMAN PENYUSUNAN APBD TAHUN ANGGARAN I. Sinkronisasi Kebijakan Pemerintah Daerah dengan Kebijakan Pemerintah - 4 - LAMPIRAN PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH TAHUN ANGGARAN 2018 URAIAN PEDOMAN PENYUSUNAN APBD

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. melancarkan jalannya roda pemerintahan. Oleh karena itu tiap-tiap daerah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. melancarkan jalannya roda pemerintahan. Oleh karena itu tiap-tiap daerah BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Pengertian Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pendapatan daerah adalah komponen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang digunakan untuk membiayai pembangunan dan melancarkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1999 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1999 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1999 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : c. d. bahwa

Lebih terperinci

2017, No Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 t

2017, No Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 t No.825, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENDAGRI. APBD TA 2018. Pedoman. PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN

Lebih terperinci

PERHITUNGAN ALOKASI DAN KEBIJAKAN PENYALURAN DAK TA 2014, SERTA ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH DI BIDANG KEHUTANAN

PERHITUNGAN ALOKASI DAN KEBIJAKAN PENYALURAN DAK TA 2014, SERTA ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH DI BIDANG KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN RI PERHITUNGAN ALOKASI DAN KEBIJAKAN PENYALURAN DAK TA 2014, SERTA ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH DI BIDANG KEHUTANAN disampaikan pada: Sosialisasi

Lebih terperinci

BUPATI LUWU UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN

BUPATI LUWU UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN SALINAN BUPATI LUWU UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI LUWU UTARA NOMOR 7 TAHUN 2017 TENTANG TATA CARA PEMBAGIAN DAN PENYALURAN BESARAN ALOKASI DANA DESA, PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DANA BAGI HASIL SUMBER DAYA ALAM (DBH SDA)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DANA BAGI HASIL SUMBER DAYA ALAM (DBH SDA) KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DANA BAGI HASIL SUMBER DAYA ALAM (DBH SDA) Surabaya, 8 Oktober 2015 DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN KERANGKA PENYAJIAN 1. INDONESIA KAYA SUMBER DAYA ALAM?

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1999 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1999 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1999 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SUSUNAN DALAM SATU NASKAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60 TAHUN 2014 SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 22 TAHUN 2015 DAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 2016

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2018

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2018 R E P UB L I KI NDONE S I A B UKUI RANCANGAN UNDANGUNDANG TENT ANGANGGARAN PENDAPAT AN DAN BELANJ ANEGARA T AHUNANGGARAN 2018 R E P UB L I KI NDONE S I A B UKUI RANCANGAN UNDANGUNDANG TENT ANGANGGARAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk memberikan pedoman

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 04/PMK.07/2008 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH MENTERI KEUANGAN,

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 04/PMK.07/2008 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH MENTERI KEUANGAN, MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 04/PMK.07/2008 TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.5,2012 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG HIBAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 103 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 103 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 103 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN ALOKASI DANA DESA, BAGIAN DARI HASIL PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH KEPADA DESA, DAN BANTUAN KEUANGAN

Lebih terperinci

URAIAN PEDOMAN PENYUSUNAN APBD TAHUN ANGGARAN 2015

URAIAN PEDOMAN PENYUSUNAN APBD TAHUN ANGGARAN 2015 4 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH TAHUN ANGGARAN 2015 URAIAN PEDOMAN PENYUSUNAN APBD TAHUN

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.244, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEMERINTAH DAERAH. Otonomi. Pemilihan. Kepala Daerah. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2000 TENTANG DANA PERIMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10 Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.240, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN. APBN. Tahun 2017. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5948) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2016

Lebih terperinci

-2- No.1927, 2015 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara; 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan N

-2- No.1927, 2015 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara; 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan N BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1927, 2015 KEMENKEU. Dana. Bagi Hasil. Alokasi Umum. Penyaluran. Konversi. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 235/PMK.07/2015 TAHUN 2015 TENTANG KONVERSI

Lebih terperinci

PENJELASAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH

PENJELASAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH PENJELASAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH UMUM Negara Kesatuan Republik Indonesia menyelenggarakan pemerintahan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. "dengan pemerintahan sendiri" sedangkan "daerah" adalah suatu "wilayah"

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan pemerintahan sendiri sedangkan daerah adalah suatu wilayah BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Otonomi Daerah a. Pengertian Otonomi Daerah Pengertian "otonom" secara bahasa adalah "berdiri sendiri" atau "dengan pemerintahan sendiri" sedangkan "daerah"

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BOGOR

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BOGOR LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BOGOR NOM0R : 22 TAHUN : 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOGOR NOMOR 22 TAHUN 2008 TENTANG BAGIAN DESA DARI HASIL PENDAPATAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BOGOR,

Lebih terperinci

2 Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran

2 Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.168, 2014 APBN. Desa. Dana. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5558). PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60 TAHUN 2014

Lebih terperinci

, No.2057 tentang Kurang Bayar dan Lebih Bayar Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Tahun Anggaran 2013 dan Tahun Anggaran 2014 Menurut Provinsi/Ka

, No.2057 tentang Kurang Bayar dan Lebih Bayar Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Tahun Anggaran 2013 dan Tahun Anggaran 2014 Menurut Provinsi/Ka BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Dana. Hasil. Sumber Daya Alam. Kurang Bayar. Lebih Bayar. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 259/PMK.07/2015 TENTANG KURANG BAYAR DAN LEBIH BAYAR

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN 3.1 Kinerja Keuangan Masa Lalu 3.1.1 Kondisi Pendapatan Daerah Pendapatan daerah terdiri dari tiga kelompok, yaitu Pendapatan Asli

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan salah satu instrumen kebijakan yang dipakai sebagai alat untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan salah satu instrumen kebijakan yang dipakai sebagai alat untuk BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2.1.1 Pengertian dan unsur-unsur APBD Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada hakekatnya merupakan salah satu instrumen

Lebih terperinci

jtä ~Éàt gtá ~ÅtÄtçt

jtä ~Éàt gtá ~ÅtÄtçt jtä ~Éàt gtá ~ÅtÄtçt PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR 53 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH TAHUN ANGGARAN 2014 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut M. Suparmoko (2001: 18) otonomi daerah adalah kewenangan daerah

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut M. Suparmoko (2001: 18) otonomi daerah adalah kewenangan daerah II. TINJAUAN PUSTAKA A. Otonomi Daerah Menurut M. Suparmoko (2001: 18) otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri

Lebih terperinci

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 153/PMK.05/2008 TENTANG PENYELESAIAN PIUTANG NEGARA YANG BERSUMBER DARI PENERUSAN PINJAMAN LUAR NEGERI, REKENING DANA INVESTASI,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2007 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2008

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2007 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2008 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2007 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2008 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DANA BAGI HASIL. Novotel, Bogor, 06 September 2015 DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DANA BAGI HASIL. Novotel, Bogor, 06 September 2015 DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DANA BAGI HASIL SUMBER DAYA ALAM (DBH SDA) Novotel, Bogor, 06 September 2015 DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN KERANGKA PENYAJIAN 1. INDONESIA KAYA SUMBER

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 160.2/PMK.07/2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 160.2/PMK.07/2008 TENTANG PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 160.2/PMK.07/2008 TENTANG ALOKASI SEMENTARA DANA BAGI HASIL PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 DAN PASAL 29 WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DALAM NEGERI DAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN DAN PEMANFAATAN INSENTIF PEMUNGUTAN PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60 TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60 TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60 TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENGANGGARAN DANA PERIMBANGAN DALAM APBD 2017 DAN ARAH PERUBAHANNYA

KEBIJAKAN PENGANGGARAN DANA PERIMBANGAN DALAM APBD 2017 DAN ARAH PERUBAHANNYA KEBIJAKAN PENGANGGARAN DANA PERIMBANGAN DALAM APBD 2017 DAN ARAH PERUBAHANNYA DIREKTORAT FASILITASI DANA PERIMBANGAN DAN PINJAMAN DAERAH DIREKTORAT JENDERAL BINA KEUANGAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 04/PMK.07/2011 TENTANG TATA CARA PENYAMPAIAN INFORMASI KEUANGAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 04/PMK.07/2011 TENTANG TATA CARA PENYAMPAIAN INFORMASI KEUANGAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 04/PMK.07/2011 TENTANG TATA CARA PENYAMPAIAN INFORMASI KEUANGAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, Menimbang

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 04/PMK.07/2011 TENTANG TATA CARA PENYAMPAIAN INFORMASI KEUANGAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 04/PMK.07/2011 TENTANG TATA CARA PENYAMPAIAN INFORMASI KEUANGAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 04/PMK.07/2011 TENTANG TATA CARA PENYAMPAIAN INFORMASI KEUANGAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, Menimbang

Lebih terperinci

2 Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, perlu mengatur kembali mekanisme pelaksanaan dan pertanggungjawaban transfer ke daerah dan dana desa; d. bah

2 Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, perlu mengatur kembali mekanisme pelaksanaan dan pertanggungjawaban transfer ke daerah dan dana desa; d. bah No.1972, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Transfer Ke Daerah. Dana Desa. Pertanggungjawaban. Pelaksanaan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 241/PMK.07/2014 TENTANG PELAKSANAAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG KEUANGAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG KEUANGAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG, PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG KEUANGAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG, Menimbang : a. bahwa Desa sebagai kesatuan masyarakat hukum berwenang untuk

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG HIBAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG HIBAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG HIBAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA SELATAN NOMOR 16 TAHUN 2006 TENTANG ALOKASI DANA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA SELATAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA SELATAN NOMOR 16 TAHUN 2006 TENTANG ALOKASI DANA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA SELATAN, LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANGKA SELATAN NOMOR 7 TAHUN 2006 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA SELATAN NOMOR 16 TAHUN 2006 TENTANG ALOKASI DANA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA

Lebih terperinci

Hubungan Keuangan antara Pemerintah Daerah-Pusat. Marlan Hutahaean

Hubungan Keuangan antara Pemerintah Daerah-Pusat. Marlan Hutahaean Hubungan Keuangan antara Pemerintah Daerah-Pusat 1 Desentralisasi Politik dan Administrasi Publik harus diikuti dengan desentralisasi Keuangan. Hal ini sering disebut dengan follow money function. Hubungan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN DAN PEMANFAATAN INSENTIF PEMUNGUTAN PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 123 TAHUN 2016 TENTANG PETUNJUK TEKNIS DANA ALOKASI KHUSUS FISIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 123 TAHUN 2016 TENTANG PETUNJUK TEKNIS DANA ALOKASI KHUSUS FISIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 123 TAHUN 2016 TENTANG PETUNJUK TEKNIS DANA ALOKASI KHUSUS FISIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

2017, No Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebagaimana telah beberapa kali diub

2017, No Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebagaimana telah beberapa kali diub No.1884, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Dana Desa. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 199/PMK.07/2017 TENTANG TATA CARA PENGALOKASIAN DANA DESA SETIAP KABUPATEN/KOTA

Lebih terperinci

I. UNDANG-UNDANG NOMOR 18 TAHUN

I. UNDANG-UNDANG NOMOR 18 TAHUN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2016 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2017 SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 2017 DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN

PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 1 TAHUN 2015 2015 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH TAHUN ANGGARAN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG SELATAN,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi. mendasari otonomi daerah adalah sebagai berikut:

BAB II KAJIAN PUSTAKA. kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi. mendasari otonomi daerah adalah sebagai berikut: BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Otonomi daerah Berdasarkan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004, otonomi daerah merupakan kewenangan daerah otonom untuk mengurus dan mengatur kepentingan masyarakat

Lebih terperinci

Jenis Penerimaan & Pengeluaran Negara. Pertemuan 4 Nurjati Widodo, S.AP, M.AP

Jenis Penerimaan & Pengeluaran Negara. Pertemuan 4 Nurjati Widodo, S.AP, M.AP Jenis Penerimaan & Pengeluaran Negara Pertemuan 4 Nurjati Widodo, S.AP, M.AP Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara APBN merupakan wujud pengelolaan keuangan negara yang ditetapkan tiap tahun dengan undang-undang

Lebih terperinci