BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Dalam kenyataannya, kebudayaan memang sifatnya kompleks. Wacana

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Dalam kenyataannya, kebudayaan memang sifatnya kompleks. Wacana"

Transkripsi

1 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam kenyataannya, kebudayaan memang sifatnya kompleks. Wacana tentang kompleksnya kebudayaan dapat dideskripsikan sebagai keseluruhan sistem, gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia melalui proses belajar (Koentjaraningrat, 2004:9-10). Kebudayaan dapat dipilah-pilah menjadi tujuh unsur yang sangat kompleks, yaitu: sistem bahasa, sistem pengetahuan, sistem sosial/kemasyarakatan, sistem peralatan/teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi/kepercayaan, dan kesenian (Koentjaraningrat, 2004:2-4). Selanjutnya, (Koentjaraningrat, 2004:5-8) membedakan tiga wujud kebudayaan. Pertama, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks, ide, gagasan, nilai, norma dan peraturan ( ideas/mentifact). Kedua, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas tindakan yang berpola oleh manusia dalam masyarakat (activities/socifact). Ketiga, wujud nyata kebudayaan sebagai benda hasil karya cipta manusia disebut dengan artifacts. Ketiga wujud kebudayaan tersebut terkait satu dengan lainnya atau sebagai unsur yang terintegrasi, serta memiliki sifat universal, yang artinya berbagai unsur itu ada dan bisa didapatkan di dalam semua kebudayaan di dunia. Semua unsur itu dapat dipandang dari sudut ketiga wujud kebudayaan. Sistem bahasa misalnya, dalam hal 1

2 2 ini karya sastra baik lisan maupun tulisan, merupakan salah satu unsur kebudayaan dapat dipandang sebagai ide, gagasan atau nilai. Sebagai aktifitas tindakan yang berpola dan juga dapat berupa berbagai benda hasil karya manusia. Bahasa dan sastra, baik lisan maupun tulisan menjadi medium untuk menuangkan berbagai aspek kebudayaan sehingga menjadi kekayaan bagi pembaca dan penikmatnya. Masing-masing daerah, suku, atau komunitas dalam suatu wilayah memiliki pengetahuan tradisional. Secara empiris merupakan nilai yang diyakini oleh komunitasnya sebagai pengetahuan bersama dalam menjalin hubungan antara sesama dan lingkungan alamnya. Masyarakat Bali sebagai satu kesatuan geografis, suku, ras, dan agama, juga memiliki nilai kearifan lokal (local genius) yang telah teruji dan terbukti daya jelajah sosialnya dalam mengatasi berbagai problematika kehidupan. Nilai kearifan lokal yang berkembang dan diyakini sebagai perekat sosial tersebut dijadikan acuan dalam menata hubungan dan kerukunan antar sesama umat beragama di Provinsi Bali, di antaranya: nilai kearifan Tri Hita Karana, Tri Kaya Parisuda, Tatwam Asi, Salunglung Sabayantaka, Paras Paros Sarpanaya, Bhineka Tunggal Ika, Menyama Braya, Rwa Bhineda, dan ungkapan lainnya. Nilai-nilai kearifan lokal tersebut akan bermakna bagi kehidupan sosial apabila dapat menjadi rujukan dan acuan dalam menjaga serta menciptakan relasi sosial yang harmonis. Sistem pengetahuan lokal tersebut dapat dipahami sebagai sistem pengetahuan yang dinamis dan berkembang terus secara kontekstual sejalan dengan tuntutan serta kebutuhan manusia yang semakin hiterogen dan kompleks (Wisnumurti, 2009:3).

3 3 Kekayaan, keberagaman kebudayaan daerah memiliki daya tarik untuk digali, diangkat dan dipromosikan menjadi salah satu bentuk karya yang bermanfaat bagi kepentingan masyarakat pada umumnya. Kearifan lokal yang dimaksud, merupakan pengetahuan lokal. Masyarakat dapat menggunakan pengetahuan lokal sebagai pedoman untuk bertahan hidup dalam suatu lingkungan, menyatu dengan sistem kepercayaan, norma, budaya, yang diekspresikan sebagai sebuah tradisi. Proses regenerasi kearifan lokal dapat dilakukan melalui pelestarian sastra dan tradisi lisan termasuk mitos, karya sastra sejarah, babad, ritual, atau dalam wujud ide/ gagasan, penghayatan ( mentifact) serta wujud fisik ( artifact). Nilai kearifan lokal juga dapat menjadi perekat bagi terwujudnya kerukunan umat beragama (Gunawan, 2008:2). Cassirer (1987: ) banyak mengupas kaitan mitos dengan religi. Antara mitos dan religi tidak ada perbedaan yang mendasar karena bersumber pada fenomena yang sama dan bersifat manusiawi. Sepanjang perjalanan sejarah, religi senantiasa berhubungan dan diresapi berbagai unsur mitos. Di lain pihak, Sumandiyo, (2006:45) menyatakan bahwa mitos dalam bentuk yang paling kasar dan sederhana pun mengandung beberapa motif dalam arti tertentu. Beberapa di antaranya merupakan fakta yang tidak perlu disangsikan. Dengan berbagai macam alasan manusia menganggapnya sebagai penampakan makna luhur, dari gejala alam semesta dan keutamaan kehidupan manusia. Roland Barthes dalam bukunya Mythologies (1985: 272) menyatakan bahwa di balik tanda-tanda dalam komunikasi sehari-hari baik tertulis maupun lisan terdapat makna misterius yang akhirnya dapat melahirkan sebuah mitos. Dalam mitos terdapat

4 4 pola tiga dimensi, yaitu: penanda, petanda, dan tanda. Sebagai sesuatu yang unik, mitos juga sebuah sistem pemaknaan tataran ke dua. Di dalam mitos, sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda. Oleh karena itu, mitos sebagai tuturan yang mengandung pesan, banyak ditemukan di dalam kehidupan, sebagai sebuah kearifan tradisional yang dituturkan secara lisan (oral). Apabila dikaitkan dengan religi serta julukan Bali sebagai pulau Dewata, hampir setiap saat masyarakat melaksanakan ritual sesaji, baik untuk kepentingan rumah tangga maupun dilaksanakan pada tempat-tempat yang disakralkan. Dalam konsep Hindu hal itu merupakan implementasi dari sabda Weda yang berbunyi bahwa Tuhan ada dimana-mana. Wacana tentang mitos berasal dari berbagai ide atau gagasan, kisah, tindakan, serta merupakan hasil perpaduan tradisi budaya asli dengan budaya yang datang berikutnya pada saat Bali belum mengenal tulisan. Seiring dengan perjalanan waktu, ketika masyarakat Bali telah memiliki aksara, yaitu aksara Pallawa dan Dewa Nagari, akhirnya kearifan tradisional, khususnya cerita rakyat mulai dituliskan. Waktu terus berlanjut dari zaman kejayaan kerajaan Kediri, hingga runtuhnya kerajaan Majapahit dan memasuki zaman Republik, terjadi ekspansi besarbesaran terhadap ide-ide budaya baik dalam wujud mentifact dan artifact di Bali. Fenomena tentang keberagaman masyarakat Bali dewasa ini terlihat dari besarnya perhatian terhadap dunia spiritual, dengan mencari model-model kearifan lokal yang dirasakan mampu untuk mengatasi berbagai krisis sosial masyarakat modern. Masyarakat modern dirasakan seperti kehilangan makna hidup, tidak mengetahui bagaimana mempertahankan hubungan dengan Tuhan, dengan sesama,

5 5 dan dengan alam lingkungan secara tepat seperti yang tertuang dalam konsep Tri Hita Karana. Era globalisasi juga memunculkan berbagai gerakan spiritual sebagai reaksi terhadap dunia modern yang terlalu menekankan pada hal-hal yang bersifat profan. Fenomena ini merupakan respon dari paradigma modern yang dikenal dengan sebutan gerakan New-Age, yakni sebuah zaman yang ditandai dengan pengalihan perhatian terhadap berbagai macam dunia spiritual (Nida, 2007:4). Objek yang diteliti merupakan bagian dari sastra lisan, yakni mitos yang populer dan berkembang di Jawa, tentang penguasa laut Selatan yang dikenal dengan Ratu Kidul selanjutnya disingkat RK. Dalam budaya Jawa mitos tentang RK dipahami oleh masyarakat merupakan sistem kosmografi dan kosmogoni alam pulau Jawa dengan menjadikan RK sebagai ikon. Cerita tentang RK berkaitan erat dengan tradisi keraton Yogyakarta dan Surakarta. Seiring dengan perjalanan waktu mitos RK juga populer di Bali, bahkan telah diaktualisasikan dalam wujud artifact di beberapa tempat pemujaan sepanjang pesisir Bali Selatan. Nama yang dilabelkan sebagai RK berbeda-beda, akan tetapi secara umum mengarah kepada penguasa laut dan penguasa sumber mata air. Sebagian besar hotel yang berdiri menghadap ke laut Selatan secara khusus menyiapkan sebuah ruangan untuk tempat pemujaan RK. Perpaduan tradisi budaya luar Bali terutama tradisi budaya dari masyarakat Jawa dengan budaya asli Bali tanpa meninggalkan tradisi yang telah ada sebelumnya (akulturasi) telah terjadi di Bali. Kondisi seperti itu tidak dapat dibendung, apalagi Bali menjadi tujuan utama wisata dunia. Bali selalu menjadi tempat pilihan kegiatankegiatan yang bertaraf internasional, sehingga sastra dan budaya lisan Bali menjadi

6 6 efektif sebagai bahan promosi. Oleh karena itu, dituntut perhatian pemerintah daerah dalam pelestarian dan perlindungan terhadap kearifan lokal dengan berbagai tradisi lisannya, termasuk mitos-mitos yang ada maupun yang sedang berkembang dan berakulturasi. Pemilihan objek mitos RK didasarkan atas pandangan yang menyatakan bahwa sebuah mitos dapat muncul sebagai kearifan lokal, sedangkan kearifan lokal itu sendiri merupakan pengetahuan lokal (local wisdom) yang tercipta dari hasil adaptasi suatu komunitas tentang pengalaman hidup, yang dikomunikasikan dari generasi ke generasi. Namun demikian, terdapat fenomena lain yang saat ini menjadi perhatian banyak kalangan masyarakat adalah menjadikan RK sebagai sasuhunan. Oleh karena itu, objek mitos RK yang diteliti merupakan bentuk sastra dan tradisi lisan. Wacana mitos tentang RK yang berkembang di Bali seolah-olah sengaja dihidupkan karena dapat menghidupi. Sebuah mitos yang dikemas dalam bentuk ritual ber-yadnya untuk pelestarian laut. Mitos tentang Ratu Penguasa Laut Selatan memang melegenda. Hal ini dibuktikan bahwa wacananya sering diekspose melalui media elektronik maupun cetak, sehingga para peminat dan pendukungnya pun meluas ke segala profesi masyarakat. Mitos RK juga fenomenal, kontroversial, dan misteri. Peranan media terutama elektronik dan media sosial lainnya juga menentukan perkembangan wacana mitos RK di Bali. Pemilihan objek penelitian ini juga berawal dari emosional dan keingintahuan peneliti, lalu berkembang menjadi rasa simpati dan berupaya untuk menelusuri tentang fenomena yang terjadi.

7 7 Kefenomenalan mitos RK dapat mempengaruhi keyakinan spiritual sebagian masyarakat di Bali hingga menyebar dalam wujud penghayatan dengan pendirian beberapa pelinggih (tempat pemujaan), kamar suci, patung, lukisan, gedong, dan memberikan ritual serta doa-doa sebagai ciri penanda keberadaannya di Bali Selatan. Keunikan mitos RK di Bali Selatan disebut-sebut berkaitan dengan sejarah kebesaran dan kejayaan leluhur Hindu di Nusantara serta keberadaan roh-roh orang suci, dewadewi atau malaikat (Jawa) yang selama ini diyakini oleh masyarakat Hindu di Bali sebagai penyelamat, pembawa berkah, kesejahteraan dan keharmonisan. Pemahaman masyarakat di Bali tentang mitos RK kini berkembang menjadi kearifan lokal dalam bentuk aktivitas ritual, seperti: meditasi, malukat, Mapakelem, Melasti, nglarung(labuhan), petik laut, dan lainnya yang aktualisasinya mewujud dalam ritual ber-yadnya terhadap laut. Fenomena tentang keunikan mitos RK yang membumi dan melegenda itulah menjadi dasar pertimbangan serta ketertarikan peneliti untuk menelitinya. Namun, rujukan teoretis untuk pengkajiannya terbatas, karena di Bali belum ada yang menelitinya. Oleh sebab itu, peneliti juga merasa perlu melakukan observasi dan mencari rujukan ke tempat asal mitos tersebut. Ini dilakukan karena di Jawa, mitos RK merupakan bagian dari tradisi sastra lisan yang disakralkan dalam bentuk kepercayaan khususnya bagi Keraton Yogyakarta, Keraton Solo, dan menjadi keyakinan masyarakat pesisir Selatan Jawa pada umumnya. Terjadinya berbagai masalah sosial saat ini, sudah melampaui batas etika, dan norma kehidupan, diduga masih ada kaitannya dengan pelaksanaan tradisi lisan dan

8 8 nilai-nilai yang terkandung dalam mitos RK. Hal ini mungkin merupakan implikasi dari tidak terkendalinya sikap serta perilaku (pikiran, perkataan, dan perbuatan) menurut konsep Hindu yang disebut Tri Kaya Parisuda. Konsep inilah yang perlu dipakai acuan bagi masyarakat multikultur. Ketika manusia tidak lagi menghiraukan etika dan norma yang berlaku secara turun temurun yang telah diwariskan oleh nenek moyang (leluhur), terjadilah degradasi moral dan kesenjangan antara apa yang menjadi harapan, cita-cita para leluhur di masa lalu, dengan apa yang dilakukan generasi penerus. Berdasarkan pola pikir tersebut dan dengan disertai penemuan berbagai fenomena terhadap objek penelitian, diduga bahwa fenomena wacana mitos RK di Pesisir Bali Selatan mengandung nasihat-nasihat yang bersifat implisit. Dalam hal ini, diperlukan pemahaman dan pemaknaan yang sedalam-dalamnya, sehingga semua menjadi jelas, dan dapat dipahami tidak saja oleh masyarakat penghayat, tetapi yang terpenting oleh generasi muda sebagai penerus kehidupan bangsa. Selama ini para generasi muda selalu menganggap bahwa mitos itu kuno, hanyalah ilusi, tahayul, dan tidak perlu diperhitungkan dalam kehidupan modern. Namun, sesungguhnya mereka berada, dikelilingi, bahkan melaksanakan berbagai macam mitos. Menindaklanjuti ketertarikan tersebut, peneliti telah melakukan observasi dan mewawancarai para informan tentang mitos RK di Bali Selatan melalui penelusuran 12-an (duabelasan) Pura yang berada di pesisir Bali Selatan tidak termasuk kamar suci yang ada di hotel Inna Grand Bali Beach Sanur. Peneliti juga mempunyai alasan dalam pemilihan objek dengan mendasarkan pada beberapa

9 9 fenomena yang telah ditemukan. Dari fenomena itulah terinspirasi judul disertasi: Persepsi Masyarakat terhadap Mitos Ratu Kidul di Pesisir Bali Selatan: Kajian Wacana Naratif. Bahwa informasi yang ada di masyarakat dalam bentuk wacana perlu dikritisi kembali sesuai situasi, kondisi, sudut pandang, dan interpretasi para penyimak, peminat serta penikmatnya. Temuan yang berupa fenomena itu dideskripsikan, dianalisis, sehingga dapat dipahami wacana mitos RK di pesisir Bali Selatan yang dimaksudkan oleh masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan pragmatis yang mengarah pada wacana kritis, menjadi dasar kajian analisis wacana naratif. Hasilnya diharapkan dapat memberikan manfaat yang relevan bagi kehidupan masyarakat. 1.2 Rumusan Masalah Dalam teori kontemporer disebutkan, dominasi pikiran pun harus direkonstruksi, sehingga sistem simbol termasuk simbol suku primitif dapat dimanfaatkan dan diartikan. Manusia adalah entitas historis, keberadaannya ditentukan oleh sejumlah faktor yang saling mempengaruhi, yaitu: hubungan manusia dengan alam sekitar, hubungan manusia dengan manusia lain, hubungan manusia dengan struktur dan institusi sosial, hubungan manusia dengan kebudayaan pada ruang dan waktu tertentu, manusia dan hubungan timbal balik antara teori dan praktik, serta manusia dan kesadaran religius atau para religius (Ratna, 2010:351). Kaitannya dengan wacana mitos RK di Pesisir Bali Selatan, dengan latar ceritanya tergolong sastra yang bernuansa sejarah dan tidak asli dari daerah Bali,

10 10 bukan berarti diabaikan atau diremehkan kemunculannya. Justru yang diperlukan adalah gerakan cepat tanggap dari masyarakat untuk pemahaman dan penanganannya. Di zaman teknologi yang semakin canggih ini, ada kemungkinan mitos Ratu Penguasa Pantai Selatan sengaja dihidupkan (diwacanakan) oleh komunitas tertentu, dengan cara menampilkan kembali dalam wujud penghayatan yang disertai ritual. Wacana itu lalu difragmentasi dengan memberikan makna yang baru sesuai dengan situasi dan kondisi saat diwacanakan dan diteliti. Oleh karena itu, wacana mitos RK dihidupkan karena menghidupi masyarakat di tempat manapun wacana itu berkembang. Adapun rumusan masalah dari beberapa fenomena yang telah teridentifikasi, dan diteliti sebagai berikut. 1) Bagaimanakah Struktur Wacana Mitos RK di Pesisir Bali Selatan? 2) Bagaimanakah Fungsi Wacana Mitos RK di Pesisir Bali Selatan? 3) Apakah Makna Wacana Mitos RK di Pesisir Bali Selatan? 4) Bagaimanakah Persepsi Masyarakat dan Implikasi Wacana Mitos RK di Pesisir Bali Selatan? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan Umum Penelitian tentang wacana RK di Pesisir Bali Selatan merupakan penelitian lapangan. Oleh karena itu, secara ideal harus melalui tahapan kegiatan penelitian, seperti: pengumpulan data, pengolahan atau analisis data, dan penyajian hasil

11 11 penelitian. Dengan demikian, penelitian ini pun mempunyai tujuan, yaitu untuk menggali dan menemukan prinsip-prinsip serta pemahaman baru wacana mitos RK di pesisir Bali Selatan. Penelitian ini juga bertujuan memberikan pemahaman analitis dari sudut pandang wacana naratif. Cara ini dapat menunjukkan dan memberikan penekanan bahwa di era modern ini keyakinan/kepercayaan terhadap mitos yang masih hidup dan berkembang perlu dilestarikan. Wacana mitos RK yang melegenda dan bernuansa mistik telah mendapat pengakuan kesakralannya dari komunitas tertentu. Hal ini dapat menambah khasanah perbendaharaan sastra dan tradisi budaya di Bali khususnya. Pemahaman semacam itu diharapkan tidak terjadi kesalahpahaman antara pihak yang tidak melakukan penghayatan dengan pihak pendukung tradisi. Melalui pengungkapan fungsi dan makna wacana mitos RK bagi kehidupan spiritual, diharapkan agar berbagai pihak dapat memahami bahwa para pendukung telah merasakan ada kekuatan (energi) tertentu di balik ritual yang dilaksanakan atas nama mitos tersebut. Kekuatan-kekuatan itulah pada gilirannya menjadi aset yang berharga sebagai bentuk pola pikir masyarakat untuk tidak melupakan dan meninggalkan tradisi, sastra, dan sejarah Tujuan Khusus Dalam rangka mewujudkan tujuan umum seperti tersebut di atas, maka dipandang perlu untuk melakukan fokus tujuan melalui tahapan penelitian sesuai

12 12 rumusan masalah, menjadi tujuan khusus. Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Mengidentifikasi, mentranskripsi, dan mendeskripsikan struktur wacana mitos RK di Pesisir Bali Selatan. 2) Mendeskripsikan, menganalisis, dan menginterpretasi fungsi wacana mitos RK di Pesisir Bali Selatan. 3) Menganalisis dan menginterpretasi makna wacana mitos RK di Pesisir Bali Selatan. 4) Memahami dan menginterpretasi persepsi masyarakat dan implikasi wacana mitos RK di Pesisir Bali Selatan. 1.4 Manfaat Penelitian Manfaat Teoretis Secara teoretis, penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan pemikiran bagi perkembangan dunia ilmu wacana dan sastra, terutama tentang pemahaman tanda, petanda, dan penanda dalam mitos. Kemudian, diperoleh gambaran struktur, fungsi, dan makna terhadap fenomena yang terjadi dan dianggap masih misteri. Di samping itu, diharapkan dapat bermanfaat sebagai pengembangan, perlindungan, dan revitalisasi/pemeliharaan tradisi sastra lisan nusantara. Akhirnya, dapat memperkaya khazanah perpustakaan bahasa, sastra, dan budaya. Hasil penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai bahan rujukan bagi peneliti yang berminat melakukan kajian sejenis.

13 Manfaat Praktis Secara praktis penelitian ini bermanfaat sebagai berikut. 1) Bermanfaat bagi perubahan sikap, prilaku, dan cara pandang masyarakat Bali pada umumnya dalam memahami wacana mitos RK sebagai konsep kearifan lokal tentang etika pengelolaan dan pelestarian sumber mata air, khususnya laut. Dengan demikian, segala bentuk ritual penghormatan terhadap unsurunsur alam, seperti: laut, gunung, dan darat menjadi semakin penting dilakukan oleh masyarakat untuk mencapai keseimbangan dan keharmonisan makhluk hidup. 2) Hasil kajian ini diharapkan bermanfaat sebagai apresiasi bagi mahasiswa yang berminat meneliti wacana dan sastra lisan. 3) Manfaat lain juga diharapkan sebagai sumbangan pemikiran bagi pihak terkait dalam mengambil strategi serta kebijakan tentang tradisi dan sastra lisan di Bali, melalui penyamaan persepsi, demi memahami keragaman budaya, kearifan lokal, sastra dan agama, sebagai ciri masyarakat yang hiterogen. 4) Dapat dijadikan bahan bacaan untuk menambah pengetahuan bagi masyarakat pada umumnya yang gemar mempelajari tradisi dan sastra lisan. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Setelah tujuan dan manfaat ditentukan, maka dilakukan pembatasan ruang lingkup penelitian. Hal ini penting agar kegiatan penelitian tidak melebar tanpa arah, karena dapat mengaburkan fokus penelitian. Mely G.Tan (dalam Bungin, 2003:36),

14 14 menyebutkan beberapa dasar pertimbangan untuk menentukan batasan ruang lingkup penelitian, seperti: maksud dan perhatian peneliti, bahan atau data yang ada tentang masalah dan fenomena, serta penelitian lapangan yang sudah dilakukan. Oleh karena itu, penelitian tentang wacana mitos RK di pesisir Bali Selatan, lokasi dan analisisnya juga dibatasi sesuai ruang lingkup wilayah pesisir Bali Selatan (pesisir Gilimanuk sampai Padangbai). Namun, tidak meliputi pulau-pulau di seberang laut Bali Selatan dengan rumusan masalah sebagaimana disebutkan di atas. Pemilihan lokasi penelitian lebih difokuskan pada wilayah pesisir Bali Selatan, dari ujung Timur ( pesisir Selatan Kabupaten Karangasem), yaitu pantai Padangbai hingga ujung Barat (pesisir Selatan Kabupaten Jembrana), yaitu pantai Gilimanuk. Oleh karena keterbatasan waktu penelitian, sehingga tidak meneliti pulaupulau di seberang laut seperti Nusa Penida, Nusa Lembongan, Nusa Ceningan, dan pulau Menjangan. Ada ± 12-an (duabelasan) lokasi atau wilayah pesisir yang mewacanakan RK dan berkaitan dengan Pura. Data yang tidak berkaitan dengan Pura adalah kamar suci 327 dan Cottages 2401 hotel Inna Grand Bali Beach Sanur selanjutnya, disingkat IGBB. Pengambilan data dimulai dari hotel IGBB Sanur dan sekitarnya. Dari pesisir Denpasar bagian Selatan, kemudian menuju pesisir Gianyar bagian Selatan, Klungkung, Karangasem, lalu kembali di pesisir Badung bagian Selatan, Tabanan, dan Jembrana. Dengan tidak disengaja peneliti mendapat informasi bahwa, wacana mitos RK juga ada pada perbatasan Kabupaten Buleleng dengan Jembrana, yakni pada areal hutan Pura Segara Rupek Desa Sumber Kelampok, Kecamatan Grokgak.

15 15 Waktu pengumpulan data penelitian dilakukan selama 6 (enam bulan), sejak Maret 2014 sampai Agustus Data yang telah terkumpul berupa informasi, diklasifikasi, diidentifikasi, ditranskripsi menjadi beberapa penggalan wacana. Kemudian, penggalan wacana yang berupa persepsi masyarakat itu difragmentasi, serta direkonstruksi menjadi teks/wacana yang utuh. Bentuk persepsi masyarakat dianalisis dan diinterpretasi sesuai permasalahan yang dikaji dengan menggunakan metode serta teori yang relevan untuk memperoleh temuan dan kesimpulan. Pada saat melakukan observasi dengan menyusuri pesisir Bali Selatan, peneliti mewawancarai beberapa nara sumber yakni; para pemangku Pura yang mengetahui tentang wacana mitos RK, beberapa paranormal di Bali dan masyarakat nelayan yang bermukim di pesisir Bali Selatan. Para informan dipandang mengetahui, dan memahami, sehingga dapat menjelaskan asal usul wacana mitos RK hingga menjadi kepercayaan di Bali. Sebelum memfokuskan penelitian di Bali, peneliti telah mencari informasi awal di beberapa pesisir Selatan Jawa, sebagai tempat asal mitos RK yang sudah melegenda seperti di daerah Sukabumi (pantai Pelabuhan Ratu), pantai Karang Hawu, pantai Parangtritis dan Cepuri Parang Kusumo (Yogyakarta Selatan), Keraton Yogyakarta dan Solo, (foto; 1,3,25,26,27,28) terlampir. Informasi yang diperoleh bervariasi, ada yang memitoskan sebagai putri raja, seorang penari kerajaan, bidadari, dan penguasa atau ratu makhluk halus, namun tidak membuatkan tempat pemujaan khusus seperti yang ditemukan di Bali.

16 16 BAB II KAJIAN PUSTAKA, DESKRIPSI KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN 2.1 Kajian Pustaka Sejumlah pustaka yang berkaitan dengan wacana mitos RK sebagai objek bahasan sudah banyak beredar di Jawa. Terutama dalam bentuk buku yang isinya tentang RK baik berupa versi mitosnya maupun kaitannya dengan silsilah raja-raja penguasa tanah Jawa. Dari kerajaan Mataram Hindu, Pajajaran, Kediri, Majapahit, sampai berdirinya kerajaan Mataram Islam, bahkan hingga zaman Republik. Semua buku menceritakan RK di Jawa serta hubungannya dengan sejarah dan aktivitas para penguasa. Pustaka yang mengulas tentang asal usul cerita dan mitos RK di Bali tidak ditemukan, akan tetapi fenomenanya ada. Sebagai referensi ditemukan sebuah tulisan ilmiah pada Fakultas Sastra Universitas Udayana yang secara langsung masih berkaitan dan membicarakan tentang cerita mitos RK akan tetapi lokasi penelitiannya di Solo. Oleh karena itu, penelitian tentang wacana mitos RK yang dilakukan di Bali Selatan tergolong baru, sehingga kajian pustaka yang dipakai acuan pun masih memerlukan rujukan dari buku-buku sejarah peradaban Nusantara dan Bali masa lampau, terutama dalam pembahasan substansinya. Beberapa pustaka yang menjadi acuan teoretis untuk membahas wacana mitos RK di Bali Selatan adalah sebagai berikut. 16

17 17 Djoko Dwiyanto (2009) dalam bukunya Keraton Yogyakarta; Sejarah, Nasionalisme dan Teladan Perjuangan pada intinya menguraikan tentang sejarah berdirinya Keraton Yogyakarta yang telah berurat dan berakar dalam jiwa para pejuang, patriot dan pendiri negeri itu. Oleh karena itu, keagungan dan keanggunan istana dihormati dan dikagumi oleh siapa saja, termasuk rakyat yang tinggal di perkotaan, pedesaan dan pegunungan. Warisan agung itu pada kenyataannya bisa berperan dalam kancah tradisional dan internasional. Keteladanan dan keutamaan yang telah diwariskan kepada generasi muda tentu dapat digunakan sebagai sarana untuk memupuk semangat nasionalisme dewasa ini. Keselarasan antara nilai modern dengan tradisional dapat berjalan serasi dan seimbang demi kokohnya jati diri bangsa. Perjuangan raja Yogyakarta diuraikan secara kronologis disertai contoh-contoh perilaku luhur yang pantas dijadikan kaca benggala bagi bangsa. Dalam buku ini juga disinggung pengakuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang mengatakan setiap raja di Jawa sejak berdirinya kerajaan Mataran di bawah Panembahan Senopati dianggap sebagai suami Kanjeng Ratu Kidul, dan Sri Sultan menyebutnya dengan Eyang Roro Kidul. Diakui pula, bahwa beliau pernah mendapat kesempatan berpuasa pada waktu bulan naik. Eyang Roro Kidul akan nampak sebagai gadis yang amat cantik. Sebaliknya, apabila bulan menurun beliau tampil sebagai wanita yang amat tua. Banyak hal yang sulit dipercayai oleh masyarakat awam, tetapi menurut Sultan keberadaannya nyata. Wacana yang terdapat dalam buku ini menunjukkan bahwa keyakinan masyarakat Jawa, khususnya Yogyakarta dan

18 18 Surakarta merupakan harga mati terhadap mitos tersebut. Persoalannya, apakah keyakinan seperti itu juga berlaku bagi masyarakat di Bali, sehingga relevansi buku dengan penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman sekaligus acuan untuk mengetahui dan memahami alasan berterimanya mitos RK di Bali Selatan. K.H. Muhammad Sholikhin (2009) dalam bukunya, Kanjeng Ratu Kidul Dalam Perspektif Islam Jawa, membahas tentang Ratu Kidul sebagai sosok yang kontroversial, misterius tetapi dicari-cari orang. Kontroversi ini disebabkan karena Ratu Kidul adalah makhluk halus yang hidup di alam gaib. Namun, bagi masyarakat Jawa sosok beliau merupakan simbol yang hidup di tengah-tengah budaya. Riwayat legendanya diteruskan dari generasi ke generasi seiring dengan perkembangan sejarah dan budaya Jawa, sehingga terjadilah banyak persepsi dan nama diberikan kepada tokoh RK yang umumnya diceritakan melalui cerita lisan. Di dalam buku ini mitos RK dikatakan masih kontroversi dan misteri, tetapi masyarakat pendukung di Bali memahami wacana mitos RK dalam bentuk keyakinan dengan melaksanakan berbagai ritual sesaji dan membuatkan tempat pemujaan. Hal ini, yang ditelusuri sehingga jelas fungsi dan makna implisit di balik kontroversinya keyakinan terhadap mitos RK tersebut. Kamajaya dan Hadidjaja (1979) dalam Serat Centini (Ensiklopedia Kebudayaan Jawa) dituturkan dalam bahasa Indonesia yang isinya 112 tembang, dan novel yang berjudul Centini sebanyak tiga jilid. Tembang 7 pada serat Centini secara singkat menuturkan intrik cinta bawah laut dari Sultan Agung (cucu Panembahan Senopati) pendiri kerajaan Mataram yang dikatakan mempunyai dua Keraton, yaitu:

19 19 Keraton Mataram dan Keraton Pantai Selatan Jawa. Penguasa Keraton Pantai Selatan Jawa bukan Sultan, tetapi seorang perawan Ratu Kerajaan Maya, yaitu Ratu Kidul. Beliau pernah bersumpah bahwa selaput daranya tidak akan robek sebelum dunia masuk ke zaman Kali Yuga. Beliau akan memilih pengganti, seorang raja Islam yang Agung dan tampan sebagai kekasihnya. Apabila kekasihnya itu meninggal nanti, ia akan mengangkat dan mendampingi semua raja Kali Yuga hingga akhir zaman. Siapa saja yang dimaksud raja-raja kali yuga? Sampai sekarang belum terjawab karena itu hanya sebuah ramalan dan penafsiran dari karya sastra yang berkepanjangan. Sudah tersurat bahwa raja-raja Kali Yuga itulah yang menjadi Sultan Wangsa Mataram. Dikatakan juga bahwa di antara para Sultan, tidak ada yang lebih tergilagila kepada Ratu Kidul selain Sultan Agung (cucu Panembahan Senopati). Akan tetapi, kisah cinta mereka begitu menyilaukan dan jarang terjadi karena Ratu Kidul bersifat udara, sedangkan Sultan Agung bersifat tanah sehingga setiap asmara muncul harus disertai dengan perang. Wacana dalam serat Centini ini merupakan salah satu bentuk pemaknaan dari karya puisi. Di dalamnya terdapat banyak kata-kata dalam baris puisi yang perlu ditafsir karena dianggap mengandung pesan khusus. Serat Centini ini relevan digunakan sebagai acuan dan pedoman untuk pemahaman makna kata-kata kias dalam paragraf wacana mitos RK di Bali Selatan. Di samping itu perlu dilakukan pemahaman dari sisi filosofi dan teologi Hinduisme. Tanpa penafsiran dan pemaknaan penikmat terhadap karya secara terus-menerus, dikhawatirkan karya yang adiluhung pun menjadi tidak bemanfaat di masyarakat dan lama kelamaan menjadi punah.

20 20 Djajeng Koesoema (1954 ), dalam Serat Wedatama yang berbentuk macapat (puisi) berbahasa Jawa Kuna, dibuat dalam bentuk yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Anjar Ani (1985) dengan judul Menyingkap Serat Wedotomo terdiri atas 100 pada (b ait). Namun, yang berkaitan dengan Ratu Kidul adalah pada (bait) 18/4S sampai bait 21/7S. Isinya pertemuan Panembahan Senopati dengan Ratu Kidul di Kahyangan Dalepih saat melakukan tapa sebelum beliau dinobatkan menjadi raja Mataram. Berkat anugrah Tuhan, seolah-olah Panembahan Senopati dapat membaca dan memahami rahasia lautan. Bahkan seluruhnya sudah diselidiki, dimasukkan kedalam sanubari, yang berarti Panembahan Senopati benar-benar menguasai segalanya, pantaslah kemudian dapat berkuasa dan menjadi raja sampai ke anak cucu. Sementara itu, apa yang disebut dengan Kanjeng Ratu Lautan Kidul datang menghadap, karena merasa kalah wibawa dibanding Panembahan Senopati. Artinya, demikian hebat kekuasaan dan kekuatan Panembahan Senopati sehingga Ratu Kidul mohon untuk diangkat sebagai teman atau pengikut di dalam dunia gaib, dan akan mengerjakan apa saja yang diperintahkan dan dibutuhkannya. Anugerah Tuhan demikian besarnya sehingga keturunan Panembahan Senopati semua menjadi pemimpin dan berwibawa, karena mengutamakan tiga syarat kehidupan, yaitu: kedudukan, harta dan kepandaian. Pernyataan di dalam serat Wedatama hampir dengan serat Centini, namun dalam serat Wedatama lebih menekankan pada aspek mental dan etika pengendalian diri, terutama sorotan terhadap prilaku kehidupan manusia pada zamannya. Relevansi

21 21 dengan penelitian ini bahwa, pesan dalam mitos RK bersifat implisit atau tersamar sehingga memerlukan penafsiran secara terus menerus dari zaman ke zaman untuk memahami makna yang tersirat. Semakin banyak penafsir pesan dalam mitos, semakin kaya makna mitos RK. Olthof,W.L. (2009) dalam Babad Tanah Jawa, diceritakan asal muasal tanah Jawa dengan memuat silsilah raja-raja Jawa, seperti Nabi Adam, Dewa-dewi dalam agama Hindu, tokoh-tokoh dalam Mahabharata, Cerita Panji masa Kediri, masa kerajaan Pajajaran, masa Majapahit, hingga masa Demak yang dilanjutkan dengan silsilah kerajaan Pajang, Mataram Islam, dan berakhir pada masa Kasunanan Kartasura. Naskah Babad Tanah Jawa inipun telah banyak diterbitkan dalam berbagai versi, namun peneliti merasa lebih cocok menggunakan karya Olthof yang terbaru, karena dalam editan dan bahasa yang digunakan bisa dimengerti oleh semua pembaca dari segala usia. Dalam episode yang membicarakan berdirinya kerajaan Mataram Islam, nama Rara Kidul, kadang juga disebut Nyai Kidul sebagai seseorang yang telah memberikan inspirasi dan kekuatan rokhani kepada Panembahan Senopati sebagai pendiri kerajaan Mataram Islam. Panembahan Senopati mengasingkan diri ke pantai Selatan bersemadi, untuk mengumpulkan seluruh energinya dalam upaya mempersiapkan kampanye militer melawan kerajaan Utara (Pajang). Meditasinya menarik perhatian Kanjeng Ratu Kidul dan beliau berjanji untuk membantunya. Selama tiga hari tiga malam beliau mempelajari rahasia perang dan pemerintahan serta intrik-intrik cinta di istana bawah laut. Akhirnya, muncul kembali dari laut

22 22 Parangkusumo (Yogyakarta Selatan). Sejak saat itu lah, Ratu Kidul diinformasikan berhubungan erat dengan keturunan Senopati yang berkuasa dan sesajian dipersembahkan untuknya ditempat itu setiap tahun melalui perwakilan istana Solo dan Yogyakarta. Secara umum, buku Babad Tanah Jawa mengandung sejarah/silsilah raja-raja penguasa di tanah Jawa, diselingi oleh mitos-mitos yang mengandung nasihat tersamar. Kemudian, dikaitkan dengan ritual sesaji dan dikemas dalam bentuk cerita sehingga menarik untuk dibaca. Relevansi dengan penelitian ini, merupakan pemaknaan atas berbagai bentuk persepsi wacana RK di pesisir Bali selatan. Sesungguhnya masyarakat diarahkan untuk selalu mengutamakan etika dalam kehidupan, melakukan harmonisasi terhadap Tuhan sebagai pencipta, dengan alam lingkungan, dan sesama manusia agar tercapai keseimbangan rokhani dan jasmani. Untuk tujuan itulah, manusia mewujudkannya dalam berbagai bentuk ritual dan sesaji sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Peter Carey (2007), dalam bukunya The Power of Prophecy (kekuatan nujum), seorang peneliti dan dosen di Trinity College, Inggris. Buku ini memuat biografi lengkap dari Pangeran Diponegoro ( ) dengan sumber naskah Babad Dipanagara (beraksara pegon) yang ditulis oleh Pangeran Diponegoro di Manado. Dalam pandangan Carey, Pangeran Diponegoro adalah seorang muslim yang saleh, tetapi tetap dipengaruhi oleh kosmologi Jawa, sehingga mengobarkan perang suci melawan Belanda ( ), yang dikenal dengan perang Jawa

23 23 karena melibatkan seluruh wilayah Jawa. Menurut Suryadi ( Kompas, 27 Oktober 2008, dalam Carey, 2007:146) buku tersebut merupakan kajian lebih luas dari disertasi Carey, yang berjudul Pangeran Dipanegara and the Making of Java War, , di Universitas Oxford pada November 1975, terdiri atas 12 bab. Untuk menyusun buku tersebut, Peter Carey melakukan banyak hal, termasuk napak tilas, mengikuti acara ritual mistis, bahkan melakukan meditasi, sehingga buku tersebut ditulis selama hampir 30 (tiga puluh) tahun. Isi buku itu tidak khusus menyoroti tentang kaitan Pangeran Diponegoro dengan Kanjeng Ratu Kidul. Dari 12 bab, hanya pada bab IV pembahasannya yang menarik terkait dengan Ratu Kidul. Carey, mendiskripsikan perjalanan fisik dan spiritual atau ziarah lelana Pangeran Diponegoro ke tempat tirakatnya di pantai Selatan. Dalam salah satu momen ziarah, Carey mencatat adanya pertemuan antara Pangeran Diponegoro dengan Kanjeng Ratu Kidul di Gua Langse. Di sanalah terdengar suara Sunan Kalijaga, konon mengingatkannya akan datang bencana yang menghancurkan Kasultanan Yogyakarta yang ditandai oleh kejatuhan tanah Jawa. Pangeran Diponegoro menerima sinyal-sinyal mistis menyangkut peran historis yang akan dilakoninya pada masa depan. Ketika melakukan perlawanan terhadap Belanda, Pangeran Diponegoro juga melakukan meditasi di Cepuri Parangkusumo. Pada kesempatan tersebut beliau memperoleh senjata berupa cundrik (keris kecil) dari Ratu Kidul, yang dikenal dengan sebutan Keris Surotaman sebagai pelengkap senjatanya yang lain. Sebelum keris itu didapat terdengar suara tanpa wujud dari Kanjeng Ratu Kidul yang

24 24 mengingatkan agar Pangeran tidak menerima jabatan apapun dari Belanda. Setelah suara hilang, jatuhlah sinar putih dari langit di depan Pangeran dan sinar itulah yang membawa senjata cundrik tersebut. Pengakuan tersebut cukup mendasar karena dalam Babad Diponegoro, beliau mengakui laku mistiknya. Salah satu pertemuan spiritualnya dengan memohon restu dari Ratu Kidul dan Sultan Agung. Selanjutnya, dimungkinkan pula bahwa selama aksi melawan Belanda, Pangeran juga tetap berusaha menjalin kontak dengan Kanjeng Ratu kidul. Buku Carey ini secara terang-terangan menyatakan tentang eksistensi Kanjeng Ratu Kidul. Tetapi dalam penelitian ini lebih menekankan pada bentuk-bentuk wacana RK sebagai sebuah gagasan/ide masyarakat pesisir Bali Selatan dalam meramu antara mitos dengan fakta yang sedang terjadi. Hal ini memerlukan inspirasi agar pemaknaannya jelas dan interpretasinya mendalam sesuai situasi dan kondisi zaman. Bunga Perdana Putrianna Febrina (2012), dalam skripsinya yang berjudul, Fungsi Tari Bedhayang Ketawang di Keraton Surakarta, menyatakan kemunculan tari Bedhaya Ketawang yang dianggap ciptaan Kanjeng Ratu Kidul. Tarian mistis dan keramat ini sebagai suatu bentuk penghormatan terhadap Raja dengan Kanjeng Ratu Kidul Kencanasari yang mempunyai arti penting bagi Keraton Surakarta Hadiningrat, yaitu sebagai sarana legitimasi seorang raja. Tarian ini selalu dilaksanakan pada puncak acara dalam rangkaian upacara Tingalan Dalem Jumenengan (peringatan kenaikan tahta raja) sebagai tarian sakral yang merupakan pernyataan damai dan cinta kasih Panembahan Senopati dan keturunannya (Dinasti Mataram) dengan Kanjeng Ratu Kidul. Adapun fungsi tarian sakral tersebut antara lain sebagai sarana meditasi

25 25 Raja, lambang kebesaran Keraton Surakarta, legitimasi Raja, dan induk munculnya tari Bedhaya yang lain. Relevansi hasil penelitian Bunga, dengan penelitian ini adalah masyarakat di Jawa pada umumnya dan khususnya di Sukabumi (Pelabuhan Ratu), Yogyakarta dan Surakarta meyakini bahwa Kanjeng Ratu Kidul bukan tahayul, tetapi merupakan Ratu segala makhluk halus yang menguasai tanah Jawa sehingga dijadikan ikon karena membantu menjaga keselamatan raja, kerajaan dan keturunannya. Pemberian nama Kencanasari terhadap RK di Solo senada dengan wacana dari informan 1 (Wirya) bahwa RK sesungguhnya bernama asli Kanjeng Ratu Kidul Kencanasari Sekaring Jagat. Namun demikian, perbedaan penelitian ini, lebih memfokuskan pada aspek kesastraannya tentang struktur, fungsi dan makna serta resepsi masyarakat terhadap wacana mitos RK di Bali Selatan sudah menyatu dengan tradisi. Hal yang terpenting adalah dapat memahami makna serta implikasi dari wacana tersebut terhadap kehidupan masyarakat di Bali Selatan sebagai tempat tujuan penyebarannya. 2.2 Deskripsi Konsep Folklor, Tradisi Lisan, Kearifan Lokal dan Sastra Lisan Bouman (1992:29-30) mengatakan, bahwa folklor diadopsi dari bahasa Jerman ( volkskunde). Namun, secara etimologis leksikal, folklor(folklore) dianggap berasal dari bahasa Inggris, dari akar kata folk (rakyat, bangsa, kolectivitas tertentu) dan lore (adat istiadat, kebiasaan), karenanya lore adalah keseluruhan aktivitas

26 26 kelisanan dari folk. Jadi, folklore adalah kelisanan ( orality) yang dipertentangkan dengan keberaksaraan (literacy). Folklor dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: (1) folklor lisan ( verbal folklore); (2) folklor setengah lisan ( partly verbal folklore); dan (3) folklor bukan lisan ( nonverbal folklore). Ketiganya dapat dikenali melalui bentuk masing-masing, yaitu: oral ( mentifact), sosial ( socifact), dan material ( artifact). Folklor lisan terdiri atas; ungkapan tradisional, nyanyian rakyat, bahasa rakyat, dan cerita rakyat (mite/mitos, legende, sage). Folklor setengah lisan di antaranya: drama rakyat, tarian, upacara, adapt-istiadat, pesta rakyat. Folklor bukan lisan di antaranya: material dan bukan material. Folklor meliputi ketiga bentuk budaya tersebut. Folklor lisan dalam kaitannya dengan mitos sebagai objek penelitian ini disamakan dengan sastra atau cerita lisan, sedangkan folklor setengah lisan dan bukan lisan termasuk tradisi lisan. Jadi, objek penelitian kelisanan berkaitan dengan sastra lisan dan tradisi lisan, bukan folklor, kecuali memang bermaksud melakukan penelitian terhadap keseluruhan aktivitas kelisanan tersebut (Ratna, 2011:104). Kearifan lokal ( local genius/local wisdom), merupakan pengetahuan lokal yang tercipta dari hasil adaptasi suatu komunitas yang berasal dari pengalaman hidup yang dikomunikasikan dari generasi ke generasi. Kearifan lokal merupakan pengetahuan lokal yang digunakan oleh masyarakat lokal untuk bertahan hidup dalam suatu lingkungan yang menyatu dengan sistem kepercayaan, norma, budaya, dan diekspresikan di dalam tradisi dan mitos yang dianut dalam jangka waktu yang lama.

27 27 Jadi, kearifan lokal merupakan kumpulan pengetahuan dan cara berpikir yang berakar dalam kebudayaan sebuah etnis, berisi gambaran tentang anggapan masyarakat tentang hal-hal yang berkaitan dengan kualitas lingkungan manusia serta hubungan manusia dengan lingkungan alamnya (Wisnumurti, 2009:2-3). Pembicaraan selanjutnya adalah tradisi lisan dan sastra lisan. Secara definitif tradisi lisan adalah berbagai kebiasaan yang dilakukan dan hidup dalam masyarakat secara lisan, sedangkan sastra lisan ( oral literature) adalah berbagai bentuk sastra yang dikemukakan secara lisan. Tradisi lisan membicarakan tradisinya, sedangkan sastra lisan membicarakan masalah sastranya. Masyarakat lama sulit membedakan ciri-ciri di antara keduanya. Oleh karena itu, UNESCO memasukkan sastra lisan sebagai bagian tradisi lisan yang meliputi, antara lain: sastra lisan, teknologi tradisional, pengetahuan masyarakat di luar istana dan kota metropolitan. Unsur religi dan kepercayaan masyarakat di luar batas formal agama-agama besar, kesenian masyarakat di luar pusat istana dan kota metropolitan, dan berbagai bentuk peraturan, norma, dan hukum yang berfungsi untuk mengikat tradisi (Ratna:2011:105). Ciri khas kelisanan adalah penyebarannya yang dilakukan dari mulut ke mulut, sedangkan ciri lain di antaranya: (a) hidup dalam masyarakat tradisional; (b) dianggap sebagai milik bersama masyarakat; (c) seolah-olah tidak ada pengarang sehingga bebas disalin dan diresepsi; dan ( d) umumnya terdiri atas beberapa versi. Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan dengan objek folklor akan termasuk di dalamnya unsur tradisi dan mitosnya.

28 28 Relevansi penelitian ini terhadap mitos RK, berpengaruh terhadap wilayah kajian yakni wacana sastra yang juga merupakan elemen dari budaya. Apabila dikaitkan dengan pendekatan yang digunakan, yakni pendekatan pragmatis, maka kajian ini lebih difokuskan pada bidang sastra lisan mitos yang didukung oleh tradisi lisan, seperti adanya artifact dan ritual. Dengan menggunakan pendekatan pragmatis, maka penekanan lebih terfokus pada peranan pembaca eksplisit, yaitu masyarakat yang multikultur maupun pembaca implisit yang turut serta mendukung pelaksanaan tradisi RK Konsep Persepsi Istilah persepsi sering disebut dengan pandangan, gambaran atau tanggapan, sebab dalam persepsi terdapat tanggapan seseorang mengenai suatu hal atau objek. Kata persepsi berasal dari kata bahasa Inggris perception artinya penglihatan, tanggapan daya memahami atau menanggapi sesuatu. Sedangkan dalam (KBBI) persepsi dikatakan sebagai tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu serapan atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya. Para ahli dan ilmuan yang mengemukakan pengertian persepsi diantaranya: (a) Bimo Walgito tentang pengertian persepsi adalah suatu proses yang didahului oleh pengindraan yaitu proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera yang disebut sensoris; (b) Slamet (2010:102) menyatakan persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia sehingga melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan lewat inderanya yakni, penglihatan,

29 29 pendengaran, peraba, perasa, dan pemciuman; (c ) Robbins (2003:97) mendeskripsikan bahwa persepsi merupakan kesan yang diperoleh individu melalui pancaindera kemudian di analisa (diorganisir), diinterpretasi dan dievaluasi, sehingga individu tersebut memperoleh makna. Pengertian dan pemahaman tentang persepsi tersebut di atas sangat jelas bahwa kata persepsi memiliki sifat subjektif karena tergantung pada kemampuan dan keadaan dari masing-masing individu, sehingga akan ditafsirkan berbeda oleh individu yang satu dengan lainnya. Faktor yang mempengaruhi persepsi pada dasarnya ada 2 yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah yang terdapat dalam diri individu mencakup beberapa hal, antara lain: fisiologis, perhatian, minat, kebutuhan yang searah, suasana hati, pengalaman dan ingatan. Sedangkan faktor eksternal merupakan karakterristik dari lingkungan dan objek-objek yang terlibat di dalamnya. Elemen-elemen tersebut dapat mengubah sudut pandang seseorang terhadap dunia sekitarnya dan mempengaruhi bagaimana seseorang merasakannya atau menerimanya. Beberapa faktor eksternal yang dapat mempengaruhi, antara lain: (a) ukuran dan penempatan dari objek atau stimulus; (b) warna dari objek-objek; (c) keunikan dan kekontrasan stimulus; (d) intensitas dan kekuatan dari stimulus; (e) motivasi atau gerakan. Diakses tanggal 29 November by Kliksaya.com ) oleh Haryanto, S.Pd via Twitternya tanggal 8 Pebruari Dengan demikian persepsi merupakan proses perlakuan individu yaitu pemberian tanggapan, arti, gambaran, atau penginterpretasian terhadap apa yang

30 30 dilihat, didengar, atau dirasakan oleh inderanya dalam bentuk sikap, pendapat, dan tingkah laku yang disebut sebagai perilaku individu. Persepsi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu pendapat yang dilontarkan oleh masyarakat khususnya dari ketiga kelompok masyarakat dalam menilai, memahami tentang wacana mitos RK di Pesisir Bali Selatan Konsep Mitos Mitos merupakan istilah yang dapat digunakan dalam berbagai bidang ilmu dan dapat dijelaskan dengan menggunakan berbagai konsep yang berbeda-beda. Istilah mitos telah digunakan oleh para filsuf sejak zaman Yunani Kuno. Untuk mempermudah dalam uraian ini, mitos dibedakan menjadi dua jenis sesuai dengan akar katanya, yaitu mite ( myth) dan mitos (mythos). Secara leksikal mite berarti cerita tentang dewa, dan makhluk adikodrati lain yang di dalamnya terkandung berbagai penafsiran, bahkan juga alam gaib. Dalam hal ini mite biasanya dibedakan dengan fabel, dan legende (Danesi, 2012:167). Menurut Noth (dalam Ratna, 2011:110) secara etimologis mitos berarti kata, ucapan, cerita tentang dewa-dewa. Namun, dalam perkembangan berikut mitos diartikan sebagai wacana fiksional, dipertentangkan dengan logos (wacana rasional). Pada zaman Yunani Kuno mitos dianggap sebagai cerita naratif yang dinamakan plot. Mitos adalah prinsip struktur dasar dalam sastra yang memungkinkan hubungan antara cerita dengan maknanya. Pada akhirnya, baik mite maupun mitos, sebagai ilmu pengetahuan sering disebut mitologi. Menurut Shipley ( dalam Ratna, 2011:110) mitos lebih banyak

31 31 dibicarakan dalam bidang religi tetapi dibedakan dari masalah-masalah yang bukan dalam bentuk tindakan. Eliade (1975:2-4) mengatakan, sebagai gejala dasar kebudayaan, perubahan pandangan yang cukup mendasar terjadi sejak setengah abad terakhir, para sarjana mulai melihat mitos dari sudut pandang yang berbeda. Pada zaman pencerahan, mitos dianggap memiliki nilai negatif, tetapi sekarang mitos dianggap sebagai cerita yang sesungguhnya, cerita yang memiliki nilai-nilai sakral, patut dicontoh dan mengandung makna. Pengertian mitos di abad modern seolah-olah kembali ke dalam pengertian semula pada zaman Yunani Kuno. Mitos dipelajari karena gejala tersebut benar-benar ada dalam masyarakat dan masih hidup. Mitos merupakan model untuk bertindak, dan berfungsi memberikan makna dan nilai bagi kehidupan. Penafsiran modern terhadap mitos tidak memandangnya sebagai benar atau salah, tetapi sebagai sesuatu yang memiliki insight (pemahaman) puitis tentang realitas. Mitos juga dipandang dapat menyatakan simbolisme arketipe yang terus menerus berulang disebabkan ketidaksadaran kolektif umat manusia. Dengan kalimat lain, secara kosmogoni mitos selalu ingin membuktikan hubungannya dengan realitas. Memahami mitos bukan semata-mata untuk memahami sejarah masa lalu tetapi jauh lebih penting justru untuk memahami kategori kehidupan masa kini (Ratna, 2011:111). Mitos itu mulia, karena dapat membantu menentukan sikap, dihadapan semesta yang tidak berhingga. Mitos menjelaskan dari mana, hendak menuju ke mana eksistensi sebagai manusia, dan mitos juga dapat menjelaskan asal muasal peristiwa,

32 32 fenomena dunia serta dapat memandu kehidupan. Namun demikian, lahirnya modernitas ternyata menyudutkan pola berpikir mitologis dan menggantikannya dengan pola berpikir saintifik yang rindu akan penjelasan sebab akibat materialistik dan mekanistik (Beerling, 1994:18). Sesungguhnya modernitas itu kering, karena dapat mencabut manusia dari keberagamannya dengan mengganti cerita yang indah menjadi penjelasan yang menjemukan. Di dalam kekeringannya, modernitas kembali membutuhkan mitos, bahkan modernitas perlu menjadi mitos baru sehingga terus bisa ditanggapi secara kritis, karena mitos dapat memberikan sentuhan personal dan estetik pada sains dan modernitas (Herusatoto, 2011:3-4). Oleh karena itu, alangkah baiknya modernitas dengan sains dan rasionalitasnya perlu merangkul mitos secara sungguh-sungguh karena dapat membuat eksistensi manusia menjadi layak untuk dijalani (Susanto, 1987:19). Memahami mitos bukan semata-mata untuk memahami sejarah masa lalu, tetapi yang lebih penting justru untuk memahami kategori kehidupan masa kini yang dikaitkan dengan makna, teladan dan nilai-nilai secara keseluruhan yang dihasilkan. Pada dasarnya pengertian mite dan mitos hampir sama, karena masyarakat sehariharipun percaya bahwa berbagai bentuk dongeng dan kepercayaan dapat memberikan nilai-nilai pendidikan. Perbedaannya, fungsi mite terbatas pada bentuk pemahaman dalam kaitannya dengan cerita khayal sebagai akibat tidak langsung. Mitos memiliki akibat langsung terhadap keseluruhan tingkah laku individu dan masyarakat pendukungnya. Keragaman mitos, yakni mitos yang sifatnya positif

33 33 merupakan energi kehidupan. Alam semesta menurut Barthes (1985:109) dipenuhi oleh dugaan, saran, interpretasi, dalam pengertian yang lebih luas. Setiap objek, dalam posisi yang tertutup, dengan sengaja dirahasiakan dapat berubah ke dalam bentuk oral, kelisanan yang secara bebas dapat ditafsirkan sebab tidak ada hukum yang melarangnya. Pada dasarnya manusia hidup atas dasar mitos-mitos yang ada di sekelilingnya. Artinya, segala sesuatu adalah mitos, manusia hidup dalam alam mitos, bahkan dikendalikan oleh berbagai macam mitos. Dalam analisis Levi-Strauss (2007: ), cenderung memanfaatkan model bahasa seperti dikembangkan oleh Saussure, mitos sebagai langue (bahasa umum) dan parole (ucapan individual), termasuk model diakronis dan sinkronis, sintagmatis, dan paradigmatis. Mitos di abad ke-19 terbatas sebagai khayalan, sebagai langue dalam kerangka sejarah masa lampau ( diakronis), dalam konteks horizontal (sintagmatis). Sebaliknya, dalam visi kontemporer mitos adalah langue sekaligus parole, bahwa mitos yang dikondisikan melalui institusi social, tetapi dipahami dalam kehidupan sekarang ini, bebas dari ikatan-ikatan masa lampau, lebih banyak bersifat sinkronis, dengan pemahaman dilakukan secara horizontal sekaligus vertikal ( sintagmatis dan paradigmatis). Menurut Barthes (1985: ), mitos adalah bahasa yang tercuri ( stolen language), teori dusta ( lie theory), mitos adalah wacana bahasa yang digunakan. Mitos tidak didefinisikan oleh objek, atau pesan, tetapi dengan cara bagaimana pesan itu disampaikan atau diwacanakan. Oleh karena itu, mitos dianggap sebagai sistem

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara yang kaya kebudayaan. Kebudayaan tersebut

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara yang kaya kebudayaan. Kebudayaan tersebut 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara yang kaya kebudayaan. Kebudayaan tersebut tersebar di daerah-daerah sehingga setiap daerah memiliki kebudayaan yang berbeda-beda.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Atik Rahmaniyar, 2015

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Atik Rahmaniyar, 2015 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pendidikan karakter secara eksplisit maupun implisit telah terbentuk dalam berbagai mata pelajaran yang diajarkan. Melalui pendidikan karakter diharapkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN. Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, ialah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN. Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, ialah BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN A. Tinjauan Pustaka 1. Definisi Kebudayaan Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Danandjaja (1984 : 1) menyatakan bahwa folklore adalah pengindonesiaan

BAB I PENDAHULUAN. Danandjaja (1984 : 1) menyatakan bahwa folklore adalah pengindonesiaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Danandjaja (1984 : 1) menyatakan bahwa folklore adalah pengindonesiaan kata Inggris folklore. Kata itu adalah kata majemuk, yang berasal dari dua kata dasar folk dan

Lebih terperinci

Pada bab ini dipaparkan (1) latar belakang penelitian (2) rumusan penelitian (3) tujuan

Pada bab ini dipaparkan (1) latar belakang penelitian (2) rumusan penelitian (3) tujuan BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini dipaparkan (1) latar belakang penelitian (2) rumusan penelitian (3) tujuan penelitian (4) mamfaat penelitian. A. Latar Belakang Penelitian Karya sastra merupakan suatu bentuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebagai fakta sosial, manusia sebagai makhluk kultural (Ratna, 2005:14). Dalam

BAB I PENDAHULUAN. sebagai fakta sosial, manusia sebagai makhluk kultural (Ratna, 2005:14). Dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan salah satu hasil karya seni yang sekaligus menjadi bagian dari kebudayaan. Sebagai salah satu hasil kesenian, karya sastra mengandung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. satu budaya penting bagi masyarakat Islam Jawa, baik yang masih berdomisili di

BAB I PENDAHULUAN. satu budaya penting bagi masyarakat Islam Jawa, baik yang masih berdomisili di 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tradisi menyambut bulan Suro merupakan hal yang sudah menjadi salah satu budaya penting bagi masyarakat Islam Jawa, baik yang masih berdomisili di Jawa maupun yang

Lebih terperinci

I.PENDAHULUAN. kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah berupa folklor yang hidup dalam masyarakat.

I.PENDAHULUAN. kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah berupa folklor yang hidup dalam masyarakat. I.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah Negara kepulauan, yang memiliki berbagai macam suku bangsa yang kaya akan kebudayaan serta adat istiadat, bahasa, kepercayaan, keyakinan dan kebiasaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sastra merupakan suatu bagian dari kebudayaan. Bila kita mengkaji kebudayaan

BAB I PENDAHULUAN. Sastra merupakan suatu bagian dari kebudayaan. Bila kita mengkaji kebudayaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sastra merupakan suatu bagian dari kebudayaan. Bila kita mengkaji kebudayaan kita tidak dapat melihatnya sebagai sesuatu yang statis, tetapi merupakan sesuatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki lingkungan geografis. Dari lingkungan geografis itulah

BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki lingkungan geografis. Dari lingkungan geografis itulah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kekompleksitasan Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang memiliki lingkungan geografis. Dari lingkungan geografis itulah membuat Indonesia menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kemajuan komunikasi dan pola pikir pada zaman sekarang ini

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kemajuan komunikasi dan pola pikir pada zaman sekarang ini BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kemajuan komunikasi dan pola pikir pada zaman sekarang ini semakin mendukung terkikisnya nilai-nilai tradisional sebuah bangsa. Lunturnya kesadaran akan nilai budaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. batas formal namun semua itu tidak begitu subtansial. Mitos tidak jauh dengan

BAB I PENDAHULUAN. batas formal namun semua itu tidak begitu subtansial. Mitos tidak jauh dengan 1 BAB I PENDAHULUAN E. Latar Belakang Mitos adalah tipe wicara, segala sesuatu bisa menjadi mitos asalkan disajikan oleh sebuah wacana. Mitos tidak ditentukan oleh objek pesannya, namun oleh bagaimana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian Sastra merupakan suatu bagian dari kebudayaan. Bila kita mengkaji sastra maka kita akan dapat menggali berbagai kebudayaan yang ada. Di Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu kebanggaan nasional (national pride) bangsa Indonesia adalah

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu kebanggaan nasional (national pride) bangsa Indonesia adalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu kebanggaan nasional (national pride) bangsa Indonesia adalah memiliki keanekaragaman budaya yang tak terhitung banyaknya. Kebudayaan lokal dari seluruh

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pradopo (1988:45-58) memberi batasan, bahwa karya sastra yang bermutu

BAB 1 PENDAHULUAN. Pradopo (1988:45-58) memberi batasan, bahwa karya sastra yang bermutu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pembicaraan karya sastra tidak lepas dari penilaian-penilaian. Pradopo (1988:45-58) memberi batasan, bahwa karya sastra yang bermutu seni adalah yang imajinatif,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian sebagai salah satu unsur dari perwujudan kebudayaan bangsa,

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian sebagai salah satu unsur dari perwujudan kebudayaan bangsa, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesenian sebagai salah satu unsur dari perwujudan kebudayaan bangsa, memiliki nilai-nilai dan prinsip-prinsip luhur yang harus di junjung tinggi keberadaannya. Nilai-nilai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ratusan suku bangsa,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ratusan suku bangsa, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ratusan suku bangsa, didalamnya memiliki keragaman budaya yang mencerminkan kekayaan bangsa yang luar biasa. Kebudayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebudayaan suatu bangsa tidak hanya merupakan suatu aset, namun juga jati diri. Itu semua muncul dari khasanah kehidupan yang sangat panjang, yang merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sastra memiliki kekhasan dari pengarangnya masing-masing. Hal inilah yang

BAB I PENDAHULUAN. sastra memiliki kekhasan dari pengarangnya masing-masing. Hal inilah yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Karya sastra merupakan suatu karya yang sifatnya estetik. Karya sastra merupakan suatu karya atau ciptaan yang disampaikan secara komunikatif oleh penulis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra sebagai ungkapan pribadi manusia berupa pengalaman,

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra sebagai ungkapan pribadi manusia berupa pengalaman, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karya sastra sebagai ungkapan pribadi manusia berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran kehidupan, yang dapat membangkitkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sekarang ini sedang dikembangkan oleh pemerintah Indonesia. Selain bertujuan

BAB I PENDAHULUAN. sekarang ini sedang dikembangkan oleh pemerintah Indonesia. Selain bertujuan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri pariwisata merupakan salah satu sektor pembangunan yang sekarang ini sedang dikembangkan oleh pemerintah Indonesia. Selain bertujuan untuk memperkenalkan dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keanekaragaman budaya, adat istiadat, bahasa dan sebagainya. Setiap daerah pun

BAB I PENDAHULUAN. keanekaragaman budaya, adat istiadat, bahasa dan sebagainya. Setiap daerah pun BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat unik dengan berbagai keanekaragaman budaya, adat istiadat, bahasa dan sebagainya. Setiap daerah pun memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. khusus, karena terjadinya hubungan erat di antara keduanya.

BAB I PENDAHULUAN. khusus, karena terjadinya hubungan erat di antara keduanya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan salah satu hasil karya seni yang sekaligus menjadi bagian dari kebudayaan. Sebagai salah satu hasil kesenian, karya sastra mengandung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. manusia, mitos dan ritual saling berkaitan. Penghadiran kembali pengalaman

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. manusia, mitos dan ritual saling berkaitan. Penghadiran kembali pengalaman BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ritual merupakan suatu proses pelaksanaan tradisi. Meskipun sudah ada ritual tanpa mitos-mitos dalam beberapa periode jaman kuno. Dalam tingkah laku manusia,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kearifan nenek moyang yang menciptakan folklor (cerita rakyat, puisi rakyat, dll.)

BAB I PENDAHULUAN. kearifan nenek moyang yang menciptakan folklor (cerita rakyat, puisi rakyat, dll.) 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ada peribahasa yang menyebutkan di mana ada asap, di sana ada api, artinya tidak ada kejadian yang tak beralasan. Hal tersebut merupakan salah satu kearifan nenek

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peran orang tua sebagai generasi penerus kehidupan. Mereka adalah calon

BAB I PENDAHULUAN. peran orang tua sebagai generasi penerus kehidupan. Mereka adalah calon BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anak merupakan aset, anak adalah titisan darah orang tua, anak adalah warisan, dan anak adalah makhluk kecil ciptaan Tuhan yang kelak menggantikan peran orang tua sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia di era globalisasi sekarang ini sudah mengarah pada krisis multidimensi. Permasalahan yang terjadi tidak saja

Lebih terperinci

BAB IV RESEPSI MASYARAKAT DESA ASEMDOYONG TERHADAP TRADISI BARITAN. Secara definitif resepsi sastra berasal dari kata recipere (Latin), reception

BAB IV RESEPSI MASYARAKAT DESA ASEMDOYONG TERHADAP TRADISI BARITAN. Secara definitif resepsi sastra berasal dari kata recipere (Latin), reception 88 BAB IV RESEPSI MASYARAKAT DESA ASEMDOYONG TERHADAP TRADISI BARITAN A. Analisis Resepsi 1. Pengertian Resepsi Secara definitif resepsi sastra berasal dari kata recipere (Latin), reception (Inggris),

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. cipta yang menggambarkan kejadian-kejadian yang berkembang di masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. cipta yang menggambarkan kejadian-kejadian yang berkembang di masyarakat. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan karya sastra tidak dapat dilepaskan dari gejolak dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Karena itu, sastra merupakan gambaran kehidupan yang terjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Yunita, 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Yunita, 2014 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kesenian merupakan hasil dari kebudayaan manusia yang dapat didokumentasikan atau dilestarikan, dipublikasikan dan dikembangkan sebagai salah salah satu upaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Di Indonesia sangat kaya akan berbagai macam budaya baik itu bahasa,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Di Indonesia sangat kaya akan berbagai macam budaya baik itu bahasa, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Indonesia sangat kaya akan berbagai macam budaya baik itu bahasa, tarian dan adat istiadat yang dimiliki oleh setiap suku bangsa juga sangat beragam. Keanekaragaman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki keanekaragaman seni, budaya dan suku bangsa. Keberagaman ini menjadi aset yang sangat penting

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. anggota masyarakat yang berkembang sesuai dengan lingkungannya. Karya

BAB I PENDAHULUAN. anggota masyarakat yang berkembang sesuai dengan lingkungannya. Karya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan peradaban manusia tidak pernah terlepas dari apa yang disebut karya sastra. Karya sastra merupakan hasil ide atau pemikiran dari anggota masyarakat

Lebih terperinci

commit to user 1 BAB I PENDAHULUAN

commit to user 1 BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tradisi tabut di Bengkulu semula merupakan ritual yang sakral penuh dengan religius-magis yaitu merupakan suatu perayaan tradisional yang diperingati pada tanggal 1

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia terdiri atas beribu-ribu pulau dan berbagai etnis, kaya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia terdiri atas beribu-ribu pulau dan berbagai etnis, kaya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia terdiri atas beribu-ribu pulau dan berbagai etnis, kaya dengan seni dan sastra seperti permainan rakyat, tarian rakyat, nyanyian rakyat, dongeng,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG 1 I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG 1. Batasan Masalah Karya seni mempunyai pengertian sangat luas sehingga setiap individu dapat mengartikannya secara berbeda. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, karya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan strukturstruktur

BAB I PENDAHULUAN. keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan strukturstruktur BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebudayaan merupakan sesuatu yang turun-temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Folklor merupakan sebuah elemen penting yang ada dalam suatu sistem tatanan budaya dan sosial suatu masyarakat. Folklor merupakan sebuah refleksi sosial akan suatu

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORITIS KEPARIWISATAAN. suci. Ritual menciptakan dan memelihara mitos, adat, sosial, dan agama, ritual

BAB II URAIAN TEORITIS KEPARIWISATAAN. suci. Ritual menciptakan dan memelihara mitos, adat, sosial, dan agama, ritual BAB II URAIAN TEORITIS KEPARIWISATAAN 2.1 Pengertian Ritual Ritual adalah tehnik (cara metode) membuat suatu adat kebiasaan menjadi suci. Ritual menciptakan dan memelihara mitos, adat, sosial, dan agama,

Lebih terperinci

NILAI-NILAI SOSIAL DAN BUDAYA DALAM MITOS KIAI KALADETE TENTANG ANAK BERAMBUT GEMBEL DI DATARAN TINGGI DIENG KABUPATEN WONOSOBO SKRIPSI

NILAI-NILAI SOSIAL DAN BUDAYA DALAM MITOS KIAI KALADETE TENTANG ANAK BERAMBUT GEMBEL DI DATARAN TINGGI DIENG KABUPATEN WONOSOBO SKRIPSI NILAI-NILAI SOSIAL DAN BUDAYA DALAM MITOS KIAI KALADETE TENTANG ANAK BERAMBUT GEMBEL DI DATARAN TINGGI DIENG KABUPATEN WONOSOBO SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana

Lebih terperinci

PENYELENGGARAAN PENGELOLAAN PENGETAHUAN TRADISIONAL & EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL. Dra. Dewi Indrawati MA 1

PENYELENGGARAAN PENGELOLAAN PENGETAHUAN TRADISIONAL & EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL. Dra. Dewi Indrawati MA 1 Subdit PEBT PENYELENGGARAAN PENGELOLAAN PENGETAHUAN TRADISIONAL & EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL Dra. Dewi Indrawati MA 1 PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara dengan kekayaan dan keragaman budaya serta

Lebih terperinci

2015 PEWARISAN NILAI-NILAI BUDAYA SUNDA PADA UPACARA ADAT NYANGKU DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS

2015 PEWARISAN NILAI-NILAI BUDAYA SUNDA PADA UPACARA ADAT NYANGKU DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Struktur masyarakat Indonesia yang majemuk menjadikan bangsa Indonesia memiliki keanekaragaman adat istiadat, budaya, suku, ras, bahasa dan agama. Kemajemukan tersebut

Lebih terperinci

KAJIAN SEMIOTIK SYAIR SINDHEN BEDHAYA KETAWANG PADA NASKAH SERAT SINDHEN BEDHAYA

KAJIAN SEMIOTIK SYAIR SINDHEN BEDHAYA KETAWANG PADA NASKAH SERAT SINDHEN BEDHAYA KAJIAN SEMIOTIK SYAIR SINDHEN BEDHAYA KETAWANG PADA NASKAH SERAT SINDHEN BEDHAYA Skripsi Diajukan untuk Menempuh Ujian Sarjana Humaniora Program Strata 1 dalam Ilmu Sastra Indonesia Oleh: Fitrianna Arfiyanti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. didapat dalam semua kebudayaan dimanapun di dunia. Unsur kebudayaan universal

BAB I PENDAHULUAN. didapat dalam semua kebudayaan dimanapun di dunia. Unsur kebudayaan universal BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebudayaan merupakan suatu hal yang begitu lekat dengan masyarakat Indonesia. Pada dasarnya kebudayaan di Indonesia merupakan hasil dari kelakuan masyarakat yang sudah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesusastraan Bali adalah salah satu bagian dari karya sastra yang terdapat di

BAB I PENDAHULUAN. kesusastraan Bali adalah salah satu bagian dari karya sastra yang terdapat di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sastra merupakan karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan, seperti keaslian, keindahan dalam isi dan ungkapannya. Karya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia serta segala masalah kehidupan tidak dapat dipisah-pisah untuk

BAB I PENDAHULUAN. manusia serta segala masalah kehidupan tidak dapat dipisah-pisah untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Budaya dan kehidupan manusia merupakan satu kesatuan. Budaya dan manusia serta segala masalah kehidupan tidak dapat dipisah-pisah untuk memahami hakikat kehidupan sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang sangat kompleks. Didalamnya berisi struktur-struktur yang

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang sangat kompleks. Didalamnya berisi struktur-struktur yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya yang berada di daerah-daerah di dalamnya. Kebudayaan itu sendiri mencakup pengertian yang sangat luas. Kebudayaan merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra adalah salah satu bentuk karya seni yang pada dasarnya merupakan sarana menuangkan ide atau gagasan seorang pengarang. Kehidupan manusia dan pelbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia yang mempunyai ribuan pulau dengan berbagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia yang mempunyai ribuan pulau dengan berbagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia yang mempunyai ribuan pulau dengan berbagai suku bangsa tentunya kaya akan budaya dan tradisi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Situasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Secara etimologis kata kesusastraan berasal dari kata su dan sastra. Su berarti

BAB I PENDAHULUAN. Secara etimologis kata kesusastraan berasal dari kata su dan sastra. Su berarti BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara etimologis kata kesusastraan berasal dari kata su dan sastra. Su berarti baik dan sastra (dari bahasa Sansekerta) berarti tulisan atau karangan. Dari pengertian

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORITIS TENTANG KEPARIWISATAAN KEBUDAYAAN

BAB II URAIAN TEORITIS TENTANG KEPARIWISATAAN KEBUDAYAAN BAB II URAIAN TEORITIS TENTANG KEPARIWISATAAN KEBUDAYAAN 2.1 Uraina Tentang Seni Kata seni berasal dari kata "SANI" yang kurang lebih artinya "Jiwa Yang Luhur/ Ketulusan jiwa". Menurut kajian ilmu di eropa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kebudayaan dapat diartikan sebagai suatu nilai dan pikiran yang hidup pada sebuah masyarakat, dan dalam suatu nilai, dan pikiran ini berkembang sejumlah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. cerita yang khas dan tidak lepas dari cerita magis yang sampai saat ini bisa. dirasakan oleh siapapun ketika berada didalamnya.

BAB I PENDAHULUAN. cerita yang khas dan tidak lepas dari cerita magis yang sampai saat ini bisa. dirasakan oleh siapapun ketika berada didalamnya. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki warisan budaya yang beragam salah satunya keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Warisan budaya ini bukan sekedar peninggalan semata, dari bentangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. masyarakat, bangsa, dan negara sesuai dengan pasal 1 UU Nomor 20 Tahun 2003.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. masyarakat, bangsa, dan negara sesuai dengan pasal 1 UU Nomor 20 Tahun 2003. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berkembang mengiringi kebudayaan dari zaman ke zaman.akibat perkembangan itu

BAB I PENDAHULUAN. berkembang mengiringi kebudayaan dari zaman ke zaman.akibat perkembangan itu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sastra Bali merupakan salah satu aspek kebudayaan Bali yang hidup dan berkembang mengiringi kebudayaan dari zaman ke zaman.akibat perkembangan itu maka di Bali lahirlah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kehidupan sosial, adat istiadat. Indonesia memiliki beragam kebudayaan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kehidupan sosial, adat istiadat. Indonesia memiliki beragam kebudayaan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia yang terdiri atas beberapa pulau dan kepulauan serta di pulau-pulau itu terdapat berbagai suku bangsa masing-masing mempunyai kehidupan sosial,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dikenal masyarakat luas sampai saat ini adalah prosa rakyat. Cerita prosa rakyat

BAB I PENDAHULUAN. dikenal masyarakat luas sampai saat ini adalah prosa rakyat. Cerita prosa rakyat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia memiliki banyak warisan kebudayaan dari berbagai etnik. Warisan kebudayaan yang disampaikan secara turun menurun dari mulut kemulut secara lisan biasa disebut

Lebih terperinci

KESIMPULAN. Berdasarkan keseluruhan uraian dapat disimpulkan. penemuan penelitian sebagai berikut. Pertama, penulisan atau

KESIMPULAN. Berdasarkan keseluruhan uraian dapat disimpulkan. penemuan penelitian sebagai berikut. Pertama, penulisan atau 1 KESIMPULAN A. Kesimpulan Berdasarkan keseluruhan uraian dapat disimpulkan penemuan penelitian sebagai berikut. Pertama, penulisan atau penyalinan naskah-naskah Jawa mengalami perkembangan pesat pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sastra daerah merupakan bagian dari suatu kebudayaan yang tumbuh dan

BAB I PENDAHULUAN. Sastra daerah merupakan bagian dari suatu kebudayaan yang tumbuh dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sastra daerah merupakan bagian dari suatu kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Kehidupan sastra daerah itu dapat dikatakan masih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di Indonesia disatupadukan dari kebudayaan nasional dan kebudayaan. daerah. Kebudayaan nasional Indonesia merupakan puncak puncak

BAB I PENDAHULUAN. di Indonesia disatupadukan dari kebudayaan nasional dan kebudayaan. daerah. Kebudayaan nasional Indonesia merupakan puncak puncak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepulauan Nusantara terdiri atas aneka warna kebudayaan dan bahasa. Keaneka ragaman kebudayaan dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia disatupadukan dari kebudayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pengarang menciptakan karya sastra sebagai ide kreatifnya. Sebagai orang yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pengarang menciptakan karya sastra sebagai ide kreatifnya. Sebagai orang yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra tercipta sebagai reaksi dinamika sosial dan kultural yang terjadi dalam masyarakat. Terdapat struktur sosial yang melatarbelakangi seorang pengarang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki kekayaan budaya dan

BAB I PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki kekayaan budaya dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang beragam yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Kekayaan budaya dan tradisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau kelompok individu terutama kelompok minoritas atau kelompok yang

BAB I PENDAHULUAN. atau kelompok individu terutama kelompok minoritas atau kelompok yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seseorang dapat bertutur dengan bahasa tertentu secara tiba-tiba dalam situasi penuturan baik bersifat formal maupun yang bersifat informal. Mengganti bahasa diartikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sastra bersumber dari kenyataan yang berupa fakta sosial bagi masyarakat sekaligus sebagai pembaca dapat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sastra bersumber dari kenyataan yang berupa fakta sosial bagi masyarakat sekaligus sebagai pembaca dapat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sastra bersumber dari kenyataan yang berupa fakta sosial bagi masyarakat sekaligus sebagai pembaca dapat memberikan tanggapannya dalam membangun karya sastra.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelaksanaan yang biasanya dilakukan setiap tanggal 6 April (Hari Nelayan)

BAB I PENDAHULUAN. pelaksanaan yang biasanya dilakukan setiap tanggal 6 April (Hari Nelayan) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Upacara Adat Labuh Saji berlokasi di Kelurahan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, pada tahun ini upacara dilaksanakan pada tanggal 13 Juni hal tersebut dikarenakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lebih teratur dan mempunyai prinsip-prinsip yang kuat. Mengingat tentang

BAB I PENDAHULUAN. lebih teratur dan mempunyai prinsip-prinsip yang kuat. Mengingat tentang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Budaya merupakan cerminan dari suatu bangsa, bangsa yang menjunjung tinggi kebudayaan pastilah akan selalu dihormati oleh negara lainnya. Budaya yang terdapat dalam

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Etnis Bali memiliki kebudayaan dan kebiasaan yang unik, yang mana kebudayaan

I. PENDAHULUAN. Etnis Bali memiliki kebudayaan dan kebiasaan yang unik, yang mana kebudayaan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Etnis Bali memiliki kebudayaan dan kebiasaan yang unik, yang mana kebudayaan dan kebiasaan tersebut dapat dijadikan sebagai identitas atau jatidiri mereka. Kebudayaan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah salah satu negara yang luas di dunia, karena Indonesia tidak

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah salah satu negara yang luas di dunia, karena Indonesia tidak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia adalah salah satu negara yang luas di dunia, karena Indonesia tidak hanya memiliki kekayaan alam yang subur, tetapi juga terdiri atas berbagai suku

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Moses, 2014 Keraton Ismahayana Landak Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi.edu

BAB I PENDAHULUAN. Moses, 2014 Keraton Ismahayana Landak Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi.edu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kesenian merupakan sarana yang digunakan untuk mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia. Selain itu kesenian juga mempunyai fungsi lain, seperti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. karya sastra. Karya sastra merupakan hasil ide atau pemikiran dari anggota

BAB I PENDAHULUAN. karya sastra. Karya sastra merupakan hasil ide atau pemikiran dari anggota BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan peradaban manusia tidak pernah terlepas dari apa yang disebut karya sastra. Karya sastra merupakan hasil ide atau pemikiran dari anggota masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. juga disebut dengan istilah sekar, sebab tembang memang berasal dari kata

BAB I PENDAHULUAN. juga disebut dengan istilah sekar, sebab tembang memang berasal dari kata 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tembang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai ragam suara yang berirama. Dalam istilah bahasa Jawa tembang berarti lagu. Tembang juga disebut dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang telah mengalami perkembangan selama lebih dari bertahun-tahun. Peran

BAB I PENDAHULUAN. yang telah mengalami perkembangan selama lebih dari bertahun-tahun. Peran 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa dan sastra adalah cermin kebudayaan dan sebagai rekaman budaya yang telah mengalami perkembangan selama lebih dari bertahun-tahun. Peran penting bahasa dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Budaya lokal menjadi media komunikasi di suatu daerah yang dapat

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Budaya lokal menjadi media komunikasi di suatu daerah yang dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Budaya lokal menjadi media komunikasi di suatu daerah yang dapat mempersatukan dan mempertahankan spiritualitas hingga nilai-nilai moral yang menjadi ciri

Lebih terperinci

2015 KAJIAN NILAI-NILAI BUDAYA UPACARA ADAT NYANGKU DALAM KEHIDUPAN DI ERA MODERNISASI

2015 KAJIAN NILAI-NILAI BUDAYA UPACARA ADAT NYANGKU DALAM KEHIDUPAN DI ERA MODERNISASI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan keanekaragaman budaya, hal ini dikarenakan Indonesia terdiri dari berbagai suku dan adat budaya. Setiap suku

Lebih terperinci

JURNAL SKRIPSI. MAKNA RITUAL DALAM PEMENTASAN SENI TRADISI REOG PONOROGO (Studi Kasus di Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo)

JURNAL SKRIPSI. MAKNA RITUAL DALAM PEMENTASAN SENI TRADISI REOG PONOROGO (Studi Kasus di Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo) JURNAL SKRIPSI MAKNA RITUAL DALAM PEMENTASAN SENI TRADISI REOG PONOROGO (Studi Kasus di Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo) SKRIPSI Oleh: DESI WIDYASTUTI K8409015 FAKULTAS KEGURUAN DAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rumah adat yang menjadi simbol budaya daerah, tetapi juga tradisi lisan menjadi

BAB I PENDAHULUAN. rumah adat yang menjadi simbol budaya daerah, tetapi juga tradisi lisan menjadi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan sebuah negeri yang memiliki aneka ragam budaya yang khas pada setiap suku bangsanya. Tidak hanya bahasa daerah, pakaian adat, rumah adat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang kaya keanekaragaman seni dan budaya.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang kaya keanekaragaman seni dan budaya. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya keanekaragaman seni dan budaya. Kebudayaan lokal sering disebut kebudayaan etnis atau folklor (budaya tradisi). Kebudayaan lokal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. objeknya manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai

BAB I PENDAHULUAN. objeknya manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Penelitian Karya sastra merupakan suatu bentuk dan hasil pekerjaan kreatif yang objeknya manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai medianya (Semi,1989:8).

Lebih terperinci

Karya sastra melukiskan corak, cita-cita, aspirasi, dan perilaku masyarakat, sesuai dengan hakikat dan eksistensinya karya sastra merupakan

Karya sastra melukiskan corak, cita-cita, aspirasi, dan perilaku masyarakat, sesuai dengan hakikat dan eksistensinya karya sastra merupakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kata satra dalam Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sanskerta yaitu akar kata sas-, yang berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau instruksi, sedangkan

Lebih terperinci

BAB II CERITA RAKYAT NYAI ANTEH PENUNGGU BULAN

BAB II CERITA RAKYAT NYAI ANTEH PENUNGGU BULAN BAB II CERITA RAKYAT NYAI ANTEH PENUNGGU BULAN II.1 Cerita Rakyat Sebagai Bagian dari Foklor Danandjaja (seperti dikutip, Supendi 2010) Foklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. atau pola kelakuan yang bersumber pada sistem kepercayaan sehingga pada

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. atau pola kelakuan yang bersumber pada sistem kepercayaan sehingga pada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi dan budaya yang berbeda. Ini menjadi variasi budaya yang memperkaya kekayaan budaya bangsa Indonesia. Budaya merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat pesisir pantai barat. Wilayah budaya pantai barat Sumatera, adalah

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat pesisir pantai barat. Wilayah budaya pantai barat Sumatera, adalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masyarakat yang tinggal disepanjang pinggiran pantai, lazimnya disebut masyarakat pesisir. Masyarakat yang bermukim di sepanjang pantai barat disebut masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalamnya. Karya sastra diciptakan untuk dinikmati, dipahami dan dimanfaatkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. dalamnya. Karya sastra diciptakan untuk dinikmati, dipahami dan dimanfaatkan oleh BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karya sastra merupakan pencerminan masyarakat. Melalui karya sastra, seorang pengarang mengungkapkan problema kehidupan yang pengarang sendiri ikut berada di dalamnya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penelitian Bayu Dwi Nurwicaksono, 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penelitian Bayu Dwi Nurwicaksono, 2013 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penelitian Tradisi sedekah bumi dengan berbagai macam istilah memang banyak diadakan di berbagai tempat di pulau Jawa. Namun, tradisi ini sudah tidak banyak

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan peradaban manusia tidak pernah terlepas dari apa yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan peradaban manusia tidak pernah terlepas dari apa yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan peradaban manusia tidak pernah terlepas dari apa yang disebut karya sastra. Karya sastra merupakan hasil ide atau pemikiran dari anggota masyarakat yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Setiap provinsi di Indonesia memiliki cerita rakyat yang berbeda-beda. Sebagai salah satu dari keragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia, cerita rakyat tentu patut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sejarah kehidupan manusia, kebudayaan selalu ada sebagai upaya dan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sejarah kehidupan manusia, kebudayaan selalu ada sebagai upaya dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam sejarah kehidupan manusia, kebudayaan selalu ada sebagai upaya dan kegiatan manusia untuk menguasai alam dan mengolahnya bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Kebudayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang terdapat pada tujuh unsur kebudayaan universal. Salah satu hal yang dialami

BAB I PENDAHULUAN. yang terdapat pada tujuh unsur kebudayaan universal. Salah satu hal yang dialami BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberagaman suku bangsa di Indonesia telah melahirkan ragamnya adat - istiadat dan kepercayaan pada setiap suku bangsa. Tentunya dengan adanya adatistiadat tersebut,

Lebih terperinci

PERANCANGAN KOMUNIKASI VISUAL TRANSFORMASI MEDIA CERITA RAKYAT INDONESIA SEBAGAI PENGENALAN WARISAN BUDAYA NUSANTARA

PERANCANGAN KOMUNIKASI VISUAL TRANSFORMASI MEDIA CERITA RAKYAT INDONESIA SEBAGAI PENGENALAN WARISAN BUDAYA NUSANTARA PERANCANGAN KOMUNIKASI VISUAL TRANSFORMASI MEDIA CERITA RAKYAT INDONESIA SEBAGAI PENGENALAN WARISAN BUDAYA NUSANTARA Rizky Imania Putri Siswandari 1, Muh. Ariffudin Islam 2, Khamadi 3 Jurusan Desain Komunikasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang

BAB I PENDAHULUAN. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat istiadat dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat istiadat dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat istiadat dan budaya. Hal ini menyebabkan daerah yang satu dengan daerah yang lain memiliki kebudayaan

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. 5.1 Kesimpulan

BAB V PENUTUP. 5.1 Kesimpulan 116 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dari hasil analisis semiotika dengan unsur tanda, objek, dan interpretasi terhadap video iklan pariwisata Wonderful Indonesia episode East Java, serta analisis pada tiga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berpikir,

BAB I PENDAHULUAN. Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berpikir, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berpikir, merasa, mempercayai dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Bahasa, persahabatan, kebiasaan

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN SASTRA YANG KONTEKSTUAL DENGAN MENGADOPSI CERITA RAKYAT AIR TERJUN SEDUDO DI KABUPATEN NGANJUK

PEMBELAJARAN SASTRA YANG KONTEKSTUAL DENGAN MENGADOPSI CERITA RAKYAT AIR TERJUN SEDUDO DI KABUPATEN NGANJUK PEMBELAJARAN SASTRA YANG KONTEKSTUAL DENGAN MENGADOPSI CERITA RAKYAT AIR TERJUN SEDUDO DI KABUPATEN NGANJUK Ermi Adriani Meikayanti 1) 1) Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Madiun Email: 1)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1. Latar belakang Manusia adalah makhluk budaya, dan penuh simbol-simbol. Dapat dikatakan bahwa budaya manusia diwarnai simbolisme, yaitu suatu tata pemikiran atau paham yang menekankan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Neneng Yessi Milniasari, 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Neneng Yessi Milniasari, 2013 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia yang dijadikan milik diri manusia dan diperoleh melalui proses belajar (Koentjaraningrat,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. keanekaragaman kulinernya yang sangat khas. Setiap suku bangsa di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. keanekaragaman kulinernya yang sangat khas. Setiap suku bangsa di Indonesia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Surakarta selain dikenal sebagai kota batik, juga populer dengan keanekaragaman kulinernya yang sangat khas. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki kekhasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pedoman hidup sehari-hari. Keberagaman tersebut memiliki ciri khas yang

BAB I PENDAHULUAN. pedoman hidup sehari-hari. Keberagaman tersebut memiliki ciri khas yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap negara memiliki beragam norma, 1 moral, 2 dan etika 3 yang menjadi pedoman hidup sehari-hari. Keberagaman tersebut memiliki ciri khas yang berbeda-beda

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. keduanya. Sastra tumbuh dan berkembang karena eksistensi manusia dan sastra

BAB 1 PENDAHULUAN. keduanya. Sastra tumbuh dan berkembang karena eksistensi manusia dan sastra 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sastra bukanlah hal yang asing bagi manusia, bahkan sastra begitu akrab karena dengan atau tanpa disadari terdapat hubungan timbal balik antara keduanya.

Lebih terperinci

CERITA RAKYAT GUNUNG SRANDIL DI DESA GLEMPANG PASIR KECAMATAN ADIPALA KABUPATEN CILACAP (TINJAUAN FOLKLOR)

CERITA RAKYAT GUNUNG SRANDIL DI DESA GLEMPANG PASIR KECAMATAN ADIPALA KABUPATEN CILACAP (TINJAUAN FOLKLOR) CERITA RAKYAT GUNUNG SRANDIL DI DESA GLEMPANG PASIR KECAMATAN ADIPALA KABUPATEN CILACAP (TINJAUAN FOLKLOR) Oleh: Dyah Susanti program studi pendidikan bahasa dan sastra jawa shanti.kece@yahoo.com Abstrak:

Lebih terperinci