BULETIN SKK MIGAS. No.17 I JUNI 2014 BEKERJA SAMA UNTUK MASA DEPAN ENERGI INDONESIA/ MEMONITOR KOMITMEN PASTI KEGIATAN EKSPLORASI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BULETIN SKK MIGAS. No.17 I JUNI 2014 BEKERJA SAMA UNTUK MASA DEPAN ENERGI INDONESIA/ MEMONITOR KOMITMEN PASTI KEGIATAN EKSPLORASI"

Transkripsi

1 BULETIN SKK MIGAS No.17 I JUNI 2014 BEKERJA SAMA UNTUK MASA DEPAN ENERGI INDONESIA/ MEMONITOR KOMITMEN PASTI KEGIATAN EKSPLORASI

2 DAFTAR ISI SALAM REDAKSI 3 Memperkuat Kemitraan dan Kerja Sama 6 FOKUS 4 Bekerja Sama Untuk Masa Depan Energi Indonesia 6 Dukungan Infrastruktur Untuk Pengembangan Gas PERSPEKTIF 8 Memonitor Komitmen Pasti Kegiatan Eksplorasi 10 SEREMONIAL 8 BIANGLALA 14 SKK Migas Gelar Sarasehan Media Rapat Berkala Kehumasan SKK Migas Jabamanusa FIGUR 16 Sujoko Kepala Divisi Pemeriksaan Penghitungan Bagian Negara SKK Migas Mengawasi Penghitungan Bagi Hasil Bagian Negara SPEKTRUM 18 Sosialisasi Pengadaan Tanah Skala Kecil 19 Industri Hulu Migas Dukung Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi TANGGUNG JAWAB SOSIAL 20 Mimpi Anak Desa Bekerja di Perusahaan Migas Internasional OPINI 22 Keberhasilan Sumur Step Out Pengembangan Dalam Rangka Memenuhi Target Produksi Nasional Redaksi : Pelindung J. Widjonarko, Gde Pradnyana / Penanggungjawab Handoyo Budi Santoso / Pemimpin Redaksi Zuldadi Rafdi / Editor Heru Setyadi, Ryan B. Wurjantoro / Tim Redaksi Adhitya C, Utama, Alfian, Galuh Andini, Heri Slamet, Ruby Savira, Suhendra Atmaja Redaksi memerima masukan artikel melalui : Redaksi : Bagian Komunikasi dan Protokol SKK Migas Alamat : Gedung Wisma Mulia Lt.30, Jl. Jend. Gatot Subroto No. 42, Jakarta Facebook : Humas SKK Migas 2 BUMI Juni 2014

3 SALAM REDAKSI MEMPERKUAT KEMITRAAN DAN KERJA SAMA Sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) telah menjadi tulang punggung perekonomian negara dalam waktu cukup lama. Sektor strategis ini juga menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi pendapatan negara. Namun dalam perjalanannya, sektor hulu migas kerap menghadapi tantangan dan kendala yang tidak mudah dalam upaya peningkatan produksi demi menjaga ketahanan energi nasional. Hingga sekarang, tantangan dan kendala yang dihadapi sektor hulu migas ibarat lagu lama yang diputar berulang kali. Saat ini, Indonesia berada di ambang krisis energi. Kondisi tersebut disebabkan terus menurunnya laju produksi migas, sementara kebutuhan migas makin meningkat. Upaya menutup kesenjangan antara jumlah permintaan dan pasokan sebenarnya terus dilakukan, salah satunya melalui kegiatan eksplorasi untuk menemukan cadangan-cadangan migas baru. Hanya saja, pelaksanaan kegiatan eksplorasi tidak lepas dari kendala. Berdasarkan prediksi, cadangan migas Indonesia sekarang lebih banyak tersimpan di kawasan laut dalam di wilayah Indonesia timur. Apabila melihat struktur geologi yang ada, kegiatan eksplorasi di kawasan tersebut membutuhkan teknologi tinggi. Artinya, kegiatan yang dilakukan butuh biaya yang tidak murah. Praktis, investasi dalam jumlah besar dibutuhkan guna mendukung kelancaran kegiatan eksplorasi. Namun upaya menarik investor untuk datang ke Indonesia dan menanamkan modalnya di sektor hulu migas bukanlah perkara yang mudah. Salah satu faktor pemicunya adalah regulasi. Banyaknya perizinan yang harus diurus sebelum kegiatan eksplorasi bisa dilakukan serta masalah pembebasan lahan membuat investor sedikit menahan diri untuk mengucurkan dananya. Selain itu, masalah kepastian perpanjangan kontrak juga membuat investor yang sudah masuk ke Indonesia berpikir ulang sebelum menyusun rencana pengembangan di blok-blok yang mereka operasikan. Hal ini bisa berimbas pada menurunnya laju produksi, sementara tingkat penggantian cadangan minyak masih rendah. Solusi permasalahan ini hanya satu. Perlu ada regulasi untuk menyederhanakan proses perizinan serta kepastian kontrak. Regulasi ini tidak bisa hanya diinisiasi oleh satu institusi saja, seperti SKK Migas atau Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tetapi butuh kerja sama semua pihak yang memiliki kaitan dengan sektor hulu migas. Dengan duduk bersama, apa yang selama ini menjadi permasalahan bisa dibahas dan dipecahkan bersama-sama. Kerja sama antar-institusi diharapkan juga akan melahirkan satu regulasi dasar yang menjadi acuan dalam penerapan peraturan, baik di pusat maupun daerah. Keberlanjutan produksi migas perlu terus dijaga guna mengoptimalkan pendapatan negara, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang. Hal itu membutuhkan kerja sama semua pihak sehingga sinergi bisa terjalin serta kemitraan antara pemerintah, sektor swasta dan pemangku kepentingan lainnya bisa terbangun. HANDOYO BUDI SANTOSO Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Juni 2014 BUMI 3

4 FOKUS BEKERJA SAMA UNTUK MASA DEPAN ENERGI INDONESIA Oleh: Adhitya C. Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) memiliki kontribusi yang sangat besar bagi perekonomian Indonesia. Di tahun 2013, sektor migas menyumbang sekitar US$ 31 miliar untuk penerimaan negara atau sekitar 23 persen dari total pendapatan nasional. Di tahun yang sama, sektor migas juga menyediakan 300 ribu lapangan pekerjaan di seluruh Indonesia. Seiring berjalannya waktu, jumlah permintaan migas makin tidak seimbang dengan pasokan yang ada. Makin lebarnya jarak antara permintaan dan pasokan migas dapat mengancam perekonomian nasional. Bahkan pada tahun 2025, konsumsi energi diprediksi naik tiga kali lipat 7,7 juta barel minyak ekuivalen per hari. Apabila kebutuhan tersebut tidak diimbangi dengan pasokan migas yang cukup melalui penemuan cadangan baru, Indonesia akan tergantung pada pihak lain dalam pemenuhan energi. Pemerintah menyadari, Indonesia menghadapi tren penurunan kapasitas produksi jangka panjang di bidang energi, terutama minyak. Kondisi ini disebabkan kurangnya investasi dalam jumlah besar di bidang eksplorasi dan eksploitasi migas selama 15 tahun terakhir. Namun tren kemerosotan ini harus dibalik arahnya. Indonesia harus mampu mandiri dalam pemenuhan kebutuhan energi sepanjang masa, kata Wakil Presiden RI, Boediono, saat membuka Indonesian Petroleum Association (IPA) Convention & Exhibition ke-38 di Jakarta pada 21 Mei Boediono mengatakan, Indonesia masih memiliki sumber daya migas yang cukup untuk dikembangkan guna mendukung ketahanan energi nasional. Meski demikian, banyak tantangan yang dihadapi sektor migas di negeri ini. Indonesia kini menghadapi tren penurunan produksi migas nasional, terutama minyak, karena sebagian besar lapangan yang ada sekarang sudah memasuki fase mature. Tantangan lain yang dihadapi adalah belum bisa tercapainya lifting migas sesuai target yang ditetapkan APBN. Upaya meningkatkan cadangan minyak melalui kegiatan eksplorasi menjadi semakin krusial mengingat sekitar 88 persen cadangan minyak awal sudah terkuras selama 60 tahun terakhir. Namun upaya tersebut membutuhkan penerapan teknologi tingkat tinggi yang tidak murah. Selain itu, kegiatan eksplorasi kerap terkendala masalah pembebasan lahan dan perizinan. Tantangan ini perlu dihadapi bersama, bukan hanya oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah, tetapi juga para pelaku usaha migas, kata Boediono. 4 BUMI Mei Juni 2014

5 FOKUS Boediono meminta agar seluruh jajaran di pemerintah, baik pusat maupun daerah, meningkatkan koordinasi antar instansi guna meminimalkan kendala yang muncul dari sisi pemerintah. Pejabat pemerintah, baik di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), SKK Migas maupun eksekutif BUMN, agar tidak ragu mengambil keputusan yang diperlukan apabila hal itu menyangkut kepentingan bangsa. Para menteri dan SKK Migas perlu duduk bersama untuk menyederhanakan peraturan di sektor migas. Wakil Presiden RI juga meminta para menteri agar memikirkan untuk kemudian menyepakati dan menandatangani semacam Service Level Agreement (SLA) dengan Kepala SKK Migas dan para kepala daerah. SLA ini berbentuk penyederhanaan izin yang akan memudahkan industri migas dalam berkontribusi bagi ekonomi nasional. Mengingat peran penting sektor migas bagi perekonomian negara, perlu ada perubahan cara pandang. Paradigma bahwa pemanfaatan lifting migas sebagai sumber penerimaan devisa negara harus diubah. Sumber daya alam, terutama migas, kini menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Migas menjadi penopang pembangunan industri nasional untuk meningkatkan kapasitas sumber daya dan teknologi yang akhirnya bermuara pada terciptanya kesejahteraan rakyat. Peran tersebut bisa terealisasi apabila kapasitas nasional ditingkatkan, hambatan terkait regulasi mampu diatasi, serta memaksimalkan peran dan fungsi masing-masing institusi, kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SKK Migas, J. Widjonarko. Widjonarko mengatakan, industri hulu migas menghadapi kondisi yang tidak mudah saat ini. Di satu sisi, produksi migas terus mengalami penurunan. Di sisi lain, industri hulu migas dituntut untuk bisa memenuhi target produksi nasional yang ditetapkan dalam APBN. Kondisi ini membuat industri hulu migas lebih menfokuskan perhatian pada target jangka pendek, yakni mencapai target produksi, dibanding mewujudkan pembangunan nasional yang berkelanjutan yang menjadi target jangka panjang. Selain target produksi yang harus dipenuhi, industri hulu migas terkendala banyaknya perizinan yang harus diurus. Permasalahan regulasi semakin kompleks karena perizinan yang harus dimiliki tidak hanya berasal dari pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah daerah. Kendala-kendala ini perlu diselesaikan melalui pendekatan yang efisien dengan tetap memperhatikan kepentingan para stakeholder dan pelaku usaha hulu migas. Seluruh pihak perlu duduk bersama untuk membahas dan menyelesaikan permasalahan yang selama ini menghambat kelancaran kegiatan usaha hulu migas. Kendala regulasi bisa diselesaikan dengan adanya kebijakan pokok yang menjadi dasar bagi seluruh institusi pemerintah, baik pusat maupun daerah, dalam memberlakukan aturan masing-masing. Melalui pengelolaan yang tepat, Indonesia bisa memaksimalkan cadangan migas yang tidak hanya menjadi sumber pendapatan utama bagi negara, tetapi juga menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, kata Widjonarko. Presiden IPA, Lukman Mahfoedz, mengatakan ada dua regulasi yang menjadi perhatian utama IPA. Pertama, Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2010 tentang biaya operasi yang dapat dikembalikan dan perlakuan pajak penghasilan di bidang usaha hulu migas. Peraturan ini berpotensi memunculkan isu-isu dari multi-interpretasi terhadap aturan-aturan yang tertuang di dalamnya. Regulasi lain yang menjadi perhatian utama IPA adalah revisi UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang migas. IPA berharap, revisi UU ini dapat membawa perubahan positif dalam pengelolaan migas di masa depan dan menambah kepastian hukum pada kontrak-kontrak yang sudah berjalan. Inilah alasan mengapa IPA perlu bekerja sama lebih erat dengan pemerintah untuk menciptakan iklim investasi yang dapat melindungi kepentingan masyarakat Indonesia, kata Lukman. Mei Juni 2014 BUMI 5

6 FOKUS DUKUNGAN INFRASTRUKTUR UNTUK PENGEMBANGAN GAS Oleh: Gas bumi menjadi sumber energi masa kini dan masa depan bagi Indonesia. Dari sisa cadangan minyak dan gas bumi (migas) Indonesia sekarang, hampir 85 persen merupakan gas. Artinya, masih banyak cadangan gas yang bisa diproduksikan untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun untuk diekspor. Seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi nasional, kebutuhan energi, termasuk gas, juga ikut naik. Alokasi gas untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri pun ikut naik. Sejak tahun 2003, penyaluran gas untuk domestik mengalami peningkatan rata-rata sembilan persen per tahun. Sebagai informasi, pada tahun 2012, alokasi gas untuk pasar domestik mencapai miliar British thermal unit per hari (bbtud) atau 49,5 persen. Pada tahun berikutnya, alokasi gas naik menjadi bbtud atau 52,15 persen. Tahun ini, alokasi gas untuk dalam negeri kembali naik. Sesuai kontrak, gas yang dialokasikan untuk konsumen domestik mencapai (bbutd) atau 54,2 persen. Jatah gas domestik dalam bentuk LNG (liquefied natural gas) untuk tahun 2014 juga lebih besar dibanding tahun Pasokan LNG domestik tahun 2014 mencapai 38 kargo. Angka tersebut lebih tinggi dibanding realisasi pada tahun 2013, yakni sebanyak 25 kargo. Hal ini disebabkan sudah adanya pasokan untuk Floating Storage Regasification Unit (FSRU) Lampung mulai tahun ini. Pada tahun 2014, Kilang Tangguh yang dikelola BP Berau Limited memasok 16 kargo LNG untuk domestik. Rinciannya, FSRU Jawa Barat 5 kargo, PT Pupuk Iskandar Muda dengan skema swap 6 kargo, dan FSRU Lampung 5 kargo. Sedangkan Kilang Bontang milik PT Badak NGL memasok 22 kargo untuk FSRU Jawa Barat. Makin bertambahnya pasokan gas untuk domestik tidak lepas dari bertambahnya produksi gas nasional. Sejak tahun 2002, industri hulu migas di Indonesia lebih didominasi gas. Tren 6 BUMI Juni 2014

7 FOKUS tersebut diperkirakan akan terus berlanjut di masa mendatang mengingat Indonesia masih memilki sejumlah proyek gas berskala besar yang bakal on stream dalam waktu dekat. Di saat yang sama, kebutuhan gas domestik saat ini cukup tinggi. Hanya saja, pasokan gas dari hulu ke konsumen domestik masih terganggung terbatasnya infrastruktur di midstream dan downstream. Bahkan tidak jarang jatah gas dalam negeri tidak terserap konsumen domestik akibat minimnya fasilitas infrastruktur seperti belum terpasangnya jaringan pipa. Ketersediaan infrastruktur menjadi kunci utama agar pasokan gas dari hulu ke hilir bisa lancar, kata Deputi Pengendalian Komersial SKK Migas, Widhyawan Prawiraatmaja. Saat ini, jumlah kebutuhan gas terbesar ada di wilayah Jawa Barat dan Sulawesi. Namun produksi gas terbanyak ada di kawasan Sumatera bagian tengah, Kalimantan Timur dan Papua. Tanpa adanya jaringan pipa penghubung maupun infrastruktur pendukung lainnya, penyaluran gas dari satu tempat ke tempat lain akan terkendala, bahkan sulit dilakukan. Akibatnya, suplai gas tidak bisa terserap secara optimal. Widhyawan mengatakan, konsumsi minyak di Indonesia masih cukup tinggi. Ketergantungan tersebut tidak akan bisa dikurangi apabila realisasi sumber energi lain seperti gas tidak segera dioptimalkan. Dewan Energi Nasional memprediksi, pada tahun 2025 konsumsi energi nasional akan naik lebih dari dua kali lipat dibanding sekarang. Pada tahun tersebut, kebutuhan energi utama, seperti minyak, gas dan batubara, diprediksi mencapai 7 juta barel minyak ekuivalen per hari. Dari perkiraan ini, kebutuhan untuk gas sebesar 20 persen atau mencapai 1,4 juta barel minyak ekuivalen per hari. Padahal, lifting gas nasional saat ini berkisar 7 miliar kaki kubik per hari atau hampir 1,2 juta barel minyak ekuivalen per hari. Apabila produksi gas nasional tidak bertambah dan tidak didukung infrastruktur yang memadai, Indonesia akan mengalami kekurangan pasokan gas dan harus melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan domestik, kata Wawan. Padahal, reserve replacement ratio (RRR) untuk gas selalu di atas 100 persen tiap tahun. Hal ini berarti, Indonesia terus menemukan cadangan gas. Kondisi berbeda terjadi pada penemuan cadangan minyak, di mana RRR untuk minyak selalu di bawah 50 persen. Hal ini berarti, Indonesia memiliki potensi gas yang sangat bagus. Hanya saja, dalam hal monetisasi gas, Indonesia masih kurang bagus. Indonesia kadang butuh waktu lebih dari 15 tahun untuk bisa mengalirkan gas setelah kegiatan eksplorasi berhasil menemukan cadangan baru. Jika Indonesia ingin memiliki sebuah kebijakan gas nasional, masalah tersebut harus menjadi prioritas untuk dipecahkan. Kita perlu mengakselerasi proyek-proyek gas yang ada agar kebutuhan gas domestik bisa terpenuhi secara optimal, kata Widhyawan. Direktur Teknologi dan Pengembangan Perusahaan Gas Negara (PGN), Djoko Saputro, menilai saat ini Indonesia masih kekurangan infrastruktur untuk mendukung pemanfaatan gas di sektor domestik. Pembangunan infrastruktur untuk gas masih kurang progresif apabila dibandingkan dengan terus meningkatnya kebutuhan gas domestik. Pemerintah perlu membuat terobosan dalam hal regulasi serta memahami pola bisnis yang ada dan membangun infrastruktur yang dibutuhkan agar kebutuhan gas domestik bisa terpenuhi, kata Djoko. Hal senada diungkapkan SVP Gas Engineering & Operation Management PT Pertamina (Persero), Salis S. Aprilian. Menurut Salis, untuk mengembangkan bisnis gas di Indonesia, perlu ada regulasi yang mengaturnya. Adanya regulasi akan memudahkan proses perizinan, mulai dari izin yang dikeluarkan pemerintah daerah setempat hingga izin untuk pembangunan jaringan pipa dan akuisisi lahan. Dukungan para stakeholder dalam mempromosikan pemanfaatan gas juga perlu, terutama dalam kampanye konversi penggunaan bahan bakar dari minyak bersubsidi ke gas, kata Salis. Juni 2014 BUMI 7

8 PERSPEKTIF MEMONITOR KOMITMEN PASTI KEGIATAN EKSPLORASI Oleh: Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) menjadi tumpuan utama dalam menjaga ketahanan energi nasional. Penemuan cadangan baru melalui kegiatan eksplorasi sangat diperlukan untuk mendapatkan lapangan-lapangan migas baru guna memenuhi target nasional. Seperti diketahui, sejak tahun 2002, produksi migas Indonesia lebih didominasi gas. Tren produksi migas selanjutnya juga diperkirakan akan tetap didominasi gas. Data 13 tahun terakhir menunjukkan, angka rata-rata oil reserve replacement ratio (RRR) adalah sebesar 73,64 persen. Artinya, angka penemuan cadangan minyak lebih sedikit dibanding cadangan yang diproduksikan. Artinya, cadangan minyak di Indonesia akan terus berkurang. Itulah mengapa perlu dilakukan kegiatan eksplorasi secara masif. Berdasarkan data SKK Migas, sebagian besar cekungan produksi migas di Indonesia sudah masuk kondisi mature dan post mature. Hanya sebagian kecil cekungan migas yang berada pada growth dan emerging stage. Kondisi ini mendorong industri hulu migas untuk terus mencari cadangan-cadangan baru melalui kegiatan eksplorasi. Apabila melihat posisi Indonesia di industri hulu migas Asia Tenggara dalam 10 tahun terakhir, jumlah pengeboran eksplorasi di Indonesia masih menempati posisi tertinggi. Ini berarti, kegiatan eksplorasi di Indonesia menduduki posisi teraktif di Asia Tenggara, terlihat dari success ratio pengeboran di Indonesia berada di atas rata-rata Asia Tenggara. Namun dalam pembuktian besaran cadangan, Indonesia masih berada di bawah Malaysia. Keyakinan dan dorongan serta dukungan seluruh stakeholder dalam kegiatan eksplorasi perlu diimbangi dengan metode dan pemikiran konsep-konsep eksplorasi baru, baik di cekungan migas yang sudah mature maupun yang masih frontier, kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SKK Migas, J. Widjonarko, saat membuka workshop Monitoring Komitmen Eksplorasi dan Eksploitasi di Jakarta awal Mei lalu. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dalam menemukan cadangan migas baru adalah dengan menambah wilayah kerja (WK) migas baru. Pada 26 Februari 2014, pemerintah menetapkan tujuh WK eksplorasi baru. Dengan penambahan tersebut, hingga 1 Mei 2014, jumlah WK di Indonesia tercatat sebanyak 320 WK, yang terdiri dari 79 WK tahap eksploitasi dan 241 WK tahap eksplorasi. WK tahap eksplorasi tersebut terdiri dari 166 WK 8 BUMI Juni 2014

9 PERSPEKTIF akan menjadi agenda rutin tiap tahun, kata perempuan yang akrab disapa Nuning tersebut. Tahun ini, ada 10 kontraktor KKS yang menerima penghargaan dari SKK Migas atas kinerja baik yang ditunjukkan dalam pelaksanaan kegiatan eksplorasi, termasuk dalam memenuhi komitmen eksplorasi yang telah disampaikan dalam kontrak kerja sama. Dari 10 kontraktor KKS tersebut, tiga kontraktor KKS masuk kategori hijau dan tujuh kontraktor KKS masuk kategori biru. Ketiga kontraktor KKS yang masuk kategori hijau antara lain Kris Energy Kutei BV, Pasir Petroleum Resources Ltd, dan North Sokang Energy Ltd. Ketiga kontraktor KKS di WK eksplorasi tersebut berhasil masuk zona hijau dari zona merah muda dengan keberhasilan memenuhi komitmen pasti dan penemuan cadangan hidrokarbon dengan kategori technical discovery. eksplorasi migas, 55 WK eksplorasi hidrokarbon non konvensional, dan 20 WK proses terminasi. Pada tahun 2013, terdapat 10 WK dengan perkiraan potensi cadangan mencapai 1,25 miliar barel minyak ekuivalen (BBOE). Sementara hingga awal Mei 2014 sudah terdapat penemuan-penemuan baru dari tiga WK eksplorasi dengan perkiraan jumlah cadangan sebesar 0,183 miliar barel minyak ekuivalen. Total, perkiraan potensi cadangan dari WK eksplorasi mencapai 1,44 miliar barel minyak ekuivalen dari total 13 kontraktor KKS WK eksplorasi. Kinerja kontraktor kontrak kerja sama (kontraktor KKS) dalam pemenuhan komitmen pasti perlu terus dikawal supaya kegiatan eksplorasi membuahkan penemuan cadangan baru yang layak untuk diproduksikan secara komersial. Hingga tahun 2013, SKK Migas telah memotret kinerja pemenuhan komitmen pasti dari 183 WK eksplorasi migas. Dari hasil penilaian tersebut, 51 WK telah memenuhi komitmen pasti, 50 WK belum memenuhi komitmen pasti, enam WK tidak aktif, 23 WK dalam proses terminasi, dan 53 WK masih berumur kurang dari tiga tahun. Sedangkan tujuh kontraktor KKS yang masuk kategori biru antara lain AWE (Titan) NZ Ltd, Lundin Baronang BV, Ranhill Jambi Inc Pte Ltd, Black Gold Cendrawasih LLC, Lundin Gurita BV, Pearloil (Tachylyte) Ltd, dan Lundin South Sokang BV. Ketujuh kontraktor KKS tersebut telah memenuhi komitmen pasti sesuai kesepakatan dalam kontrak kerja sama. Pemberian penghargaan dilakukan bukan hanya sebagai bukti apresiasi SKK Migas kepada kontraktor KKS, tetapi juga mendorong seluruh kontraktor KKS untuk lebih mengedepankan kinerja eksplorasi. Pemberian penghargaan ini lebih pada upaya peningkatan kinerja kontraktor KKS dari zona yang di bawah meningkat ke zona di atasnya, kata Nuning. Tahun ini, ada empat kontraktor KKS yang mulai mendapatkan penilaian karena baru saja selesai melakukan kegiatan eksplorasi di tahun kontrak tahun ketiga. Per Mei 2014, zonasi kinerja kontraktor KKS terbagi menjadi 13 WK berada dalam zona hitam, 10 WK pada zona merah, 35 WK di zona merah muda, 39 WK pada zona biru, 10 WK pada zona hijau, dan empat WK pada zona emas. Kepala Divisi Pengawasan Realisasi Komitmen Rencana Pengembangan Lapangan SKK Migas, Nugrahani Pudyo, mengatakan, selain memonitor kinerja kontraktor KKS dalam pemenuhan komitmen pasti, workshop Monitoring Komitmen Eksplorasi dan Eksploitasi juga dilaksanakan untuk memberikan apresiasi kepada kontraktor KKS. Apresiasi tersebut diberikan kepada kontraktor KKS di WK eksplorasi yang telah berhasil melaksanakan komitmen dan mendorong penemuan hidrokarbon. Pemberian apresiasi ini dimulai sejak tahun lalu dan diharapkan Juni 2014 BUMI 9

10 SEREMONIAL KEGIATAN SKK MIGAS PUSAT DAN DAERAH IPA Convention & Exhibition Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SKK Migas, J. Widjonarko, memberikan penjelasan kepada Wakil Presiden RI, Boediono, saat mengunjungi booth SKK Migas dalam Indonesian Petroleum Association (IPA) Convention & Exhibition ke-38 di Jakarta pada Mei Forum Kehumasan Q Untuk menjalin komunikasi, Perwakilan SKK Migas Wilayah Jawa, Bali, Madura dan Nusa Tenggara bersama kontraktor kontrak kerja sama menggelar Forum Kehumasan Industri Hulu Migas Q2 tahun 2014 yang dilaksanakan di Pasuruan pada 12 Mei Forum Sekuriti dan Handak VII - Perwakilan SKK Migas Wilayah Jawa, Bali, Madura dan Nusa Tenggara bersama kontraktor kontrak kerja sama menggelar Rapat Forum Sekuriti dan Handak VII di Yogyakarta pada Mei Talk Show Eddy Purwanto - Penasihat Ahli Kepala SKK Migas, Eddy Purwanto, berbicara dalam bedah buku 120 Nota Mengenang BPMIGAS yang diselenggarakan Perpustakaan SKK Migas di Jakarta pada 8 Mei Hari Lingkungan Hidup Sedunia Perwakilan SKK Migas Wilayah Papua dan Maluku mengikuti peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diselenggaran Pemerintah Kabupaten Sorong pada 5 Juni Kunjungan Kerja ke Lantamal IX Perwakilan SKK Migas Wilayah Papua dan Maluku dan kontraktor kontrak kerja sama berfoto bersama Komandan Lantamal IX, Laksamana Pertama TNI Asep Burhanudin (kelima dari kanan), dalam kunjungan kerja ke Lantamal IX pada 7 Mei Pelantikan Pejabat SKK Migas Sebanyak 41 pejabat setingkat kepala divisi, kepala dinas, dan kepala sub dinas di SKK Migas dilantik Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SKK Migas, J. Widjonarko, di Jakarta pada 16 Mei Kunjungan UPH Kepala Divisi Pertimbangan Hukum dan Formalitas SKK Migas, Didi Setiarto, berfoto bersama para mahasiswa dan dosen Universitas Pelita Harapan (UPH) dalam kunjungan ke kantor SKK Migas di Jakarta pada 4 Juni Mahasiswa dan dosen UPH mengunjungi SKK Migas dalam rangka Study Excursion. 10 BUMI Juni 2014

11 SEREMONIAL KEGIATAN SKK MIGAS SUMATERA BAGIAN UTARA Kunjungan Kerja ke Pemkab Langkat - Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumatera Bagian Utara dan kontraktor kontrak kerja sama berfoto bersama Wakil Bupati Langkat, Sulistianto, saat kunjungan kerja ke Pemerintah Kabupaten Langkat pada 5 Mei Koordinasi Pengamanan - Kepala Urusan Operasi Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumatera Bagian Utara, Rudy Fajar, bersama kontraktor kontrak kerja sama wilayah Langkat melakukan kunjungan kerja ke Kepolisian Resor Langkat pada 7 Mei Kunjungan Lapangan - Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumatera Bagian Utara mendampingi Penasihat Ahli Bidang Pemerintahan SKK Migas, Cornelia Oentari, dan Kepala Divisi Komersialisasi Gas Bumi SKK Migas, Arief Riyanto, dalam kunjungan lapangan ke fasilitas PLTMG Langgam Power di Pelalawan pada 8 Mei Silaturahmi Bupati Kampar - Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumatera Bagian Utara, Bahari Abbas, bersama kontraktor kontrak kerja sama wilayah Kampar bersilaturahmi ke Bupati Kampar, Jefri Noer, pada 14 Mei Pekan Inovasi Sumut 2014 Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumatera Bagian Utara bersama kontraktor kontrak kerja sama wilayah Sumatera Utara mengikuti Pekan Inovasi Sumut 2014 pada Mei Silaturahmi Wakil Gubernur Riau Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumatera Bagian Utara, Bahari Abbas, bersama Kepala Urusan Humas, Operasi, serta Administrasi dan Keuangan bersilaturahmi ke Wakil Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman, pada 21 Mei Serah Terima Blok Siak Tim SKK Migas berkoordinasi dengan PT Chevron Pacific Indonesia dan PT Pertamina Hulu Energi Siak melakukan pengukuran stok tangki minyak, inventarisasi dan pengembalian aset/fasilitas, serta penitipan dan penjagaan aset area Lindai, Batang, dan South Menggala di Blok Siak pada 27 Mei Kuliah Umum USU Kepala Divisi Pertimbangan Hukum dan Formalitas SKK Migas, Didi Setiarto, bersama Kepala Divisi Pengendalian Program dan Anggaran, Benny Lubiantara, memberikan kuliah umum di Universitas Sumatera Utara pada 27 Mei Juni 2014 BUMI 11

12 KEGIATAN SKK MIGAS SUMATERA BAGIAN SELATAN Kunjungan Kehormatan Bupati Batang Hari - Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Batanghari, Sinwan (kiri),menerima memento dari Kepala Urusan Humas, Perwakilan Sumatera Bagian Selatamn, Rinaldy Norman dalam kunjungan kehormatan dan silaturahmi bersama kontraktor kontrak kerja sama wilayah Batanghari pada 6 Mei Silaturahmi Gubernur Jambi - Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumatera Bagian Selatan dan kontraktor kontrak kerja sama wilayah Jambi melakukan kunjungan kehormatan dan silaturahmi ke Gubernur Jambi pada 8 Mei Forum Pimpinan Redaksi - Pada 14 Mei 2014, Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumatera Bagian Selatan menggelar Forum Pimpinan Redaksi Wilayah Sumatera Selatan. 4. Sumsel Expo - Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumatera Bagian Selatan bersama kontraktor kontrak kerja sama wilayah Sumatera Selatan berpartisipasi dalam Sumsel Expo yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pada Mei Rapat Koordinasi Kegiatan Eksplorasi - Pada 21 Mei 2014, Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumatera Bagian Selatan bersama Total E&P Indonesie Mentawai BV menghadiri rapat koordinasi implementasi dukungan kegiatan eksplorasi migas yang diselenggarakan Dinas ESDM Provinsi Bengkulu. 6. Kunjungan Kerja Lanud Palembang Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumatera Bagian Selatan melakukan kunjungan kehormatan dan silaturahmi ke Lanud Palembang pada 23 Mei Rapat Koordinasi Kehumasan Pada 26 Mei 2014, Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumatera Bagian Selatan melaksanakan rapat koordinasi kehumasan dan perizinan bersama kontraktor kontrak kerja sama wilayah Sumatera Selatan. 8. Lokakarya Budidaya Karet Organik Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumatera Bagian Selatan bersama PT Medco E&P Indonesia menyelenggarakan lokakarya Budidaya Karet Organik pada Mei Kegiatan tersebut juga dihadiri Bupati Musi Rawas, Ridwan Mukti. 12 BUMI Juni 2014

13 KEGIATAN SKK MIGAS KALIMANTAN DAN SULAWESI Sosialisasi Kegiatan Usaha Hulu Migas Perwira tinggi peserta Pendidikan Reguler Sekolah Staf dan Komando (Dikreg SESKO) TNI Tahun Ajaran 2014 berfoto bersama dalam kunjungan kuliah kerja di Balikpapan pada 6 Mei Dalam kuliah kerja ini, peserta pendidikan mendalami tentang kegiatan usaha hulu migas agar bisa disinergikan dengan tugas mereka dalam melakukan pengamanan dan pertahanan nasional. 2. HUT Tribun Kaltim Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Kalimantan dan Sulawesi, Ag. Djoko Widhihananto, melakukan tiup lilin bersama saat menghadiri peringatan ulang tahun harian Tribun Kaltim yang ke-11 pada 8 Mei Lokakarya dan Sosialisasi Pilpres Pada 10 Mei 2015, Perwakilan SKK Migas Wilayah Kalimantan dan Sulawesi bekerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Kalimantan Timur dan Kabupaten Kutai Kartanegara mensosialisasikan tahapan pemilihan presiden yang akan dilaksanakan pada 9 Juli 2014 kepada para pekerja industri migas di Samarinda. 4. Koordinasi Pengadaan Tanah - Kepala Kelompok Kerja Formalitas SKK Migas, Didik S. Setyadi, memberikan penjelasan dalam rapat koordinasi pelaksanaan pengadaan tanah untuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi di Balikpapan pada 2 Juni Sosialisasi ke Pemkot Palangkaraya Guna memberi pemahaman tentang pentingnya kegiatan hulu migas untuk negara dan daerah, Perwakilan SKK Migas Wilayah Kalimantan dan Sulawesi melakukan sosialisasi dan kunjungan kerja ke Pemerintah Kota Palangkaraya pada 2 Mei Juni 2014 BUMI 13

14 BIANGLALA SKK MIGAS GELAR SARASEHAN MEDIA 2014 Oleh: Adhitya C. Dalam rangka sosialisasi kegiatan hulu minyak dan gas bumi (migas) kepada praktisi media massa, Bagian Hubungan Masyarakat SKK Migas bersama kontraktor kontrak kerja sama (kontraktor KKS) melaksanakan Sarasehan Media 2014 pada 20 Mei 2014 di Jakarta. Acara ini diikuti lebih dari 160 wartawan dari seluruh Indonesia yang terdiri dari pemimpin redaksi, redaktur, dan kepala biro. Sarasehan diisi diskusi panel yang mengangkat tema tentang dana bagi hasil migas, tantangan investasi industri hulu migas di Indonesia, dan peran serta daerah di industri hulu migas. Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris SKK Migas, Gde Pradnyana, juga menyampaikan materi tentang sekilas kegiatan industri hulu migas di Indonesia. Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para wartawan yang hadir. Menurut Pemimpin Redaksi beritajatim.com, Dwi Eko Lokononto, materi yang disampaikan dalam sarasehan memberi pemahaman yang lebih utuh tentang industri migas bagi para awak redaksi. Materi yang diberikan juga memberi gambaran kepada peserta yang hadir tentang ancaman krisis energi dan beban neraca keuangan negara apabila usaha kontraktor KKS dalam menemukan cadangan baru dan meningkatkan produksi masih terkendala perizinan dan aksi-aksi penolakan di daerah. Materinya sangat bagus. Sayang, waktu pelaksanaan sarasehan yang hanya satu hari membuat peserta yang hadir agak susah untuk mencerna semua materi, kata wartawan yang akrab disapa Lucky ini. Mengingat ada dua masalah yang paling krusial di daerah, yakni tentang penghitungan lifting dan dana bagi hasil migas, Lucky menyarankan agar dua hal tersebut dijadikan materi khusus dengan membuat studi kasus yang konkret. Misalnya, daerah yang sudah turun produksinya seperti Sidoarjo atau Bojonegoro yang sedang naik produksinya dan beberapa tahun lagi akan turun jika tidak ada temuan baru. Melalui studi kasus, bisa dilihat bagaimana kedua daerah tersebut memanfaatkan dana bagi hasil selama ini, kata Lucky. Menurut Kepala Bagian Humas SKK Migas, Handoyo Budi Santoso, selain untuk memberi gambaran tentang industri hulu migas, sarasehan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus upaya SKK Migas dan kontraktor KKS untuk lebih mendekatkan diri ke kalangan media di seluruh Indonesia. Media, kata dia, merupakan salah satu stakeholder penting bagi sektor strategis ini. Tugas mengedukasi publik menjadi lebih ringan jika media massa paham dan mendukung kegiatan hulu migas, kata Handoyo. 14 BUMI Juni 2014

15 BIANGLALA RAPAT BERKALA KEHUMASAN SKK MIGAS JABAMANUSA 2014 Oleh: Priandono Konsistensi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam mendukung industri minyak dan gas bumi (migas) membuahkan hasil positif. Dalam beberapa bulan terakhir, Bojonegoro menerima banyak sekali kunjungan pelaku migas dari luar negeri. Hal tersebut diungkapkan Bupati Bojonegoro Suyoto saat menjadi pembicara dalam Rapat Berkala Kehumasan SKK Migas Perwakilan Jawa, Bali, Madura, dan Nusa Tenggara (Jabamanusa) 2014 yang berlangsung di Bali pada 4-5 Juni Kegiatan ini dihadiri sekitar 100 peserta dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta kontraktor kontrak kerja sama (kontraktor KKS) di wilayah Jabamanusa. Sekarang ini, hampir tiap minggu ada kunjungan delegasi pelaku migas dari luar negeri. Mereka menjadikan Bojonegoro sebagai tempat belajar bagaimana menyeimbangkan kepentingan masyarakat, pembangunan berkesinambungan, dan kepentingan industri, kata Suyoto. Suyoto mengatakan, Pemkab Bojonegoro telah menelurkan 11 peraturan daerah (perda) untuk mendukung kelancaran kegiatan usaha hulu migas. Salah satu perda yang sudah disahkan adalah perda tentang konten lokal. Kami sudah menyusun perda tersebut jauh sebelum kegiatan produksi berjalan dan sebelum ada dana bagi hasil yang turun. Tujuannya hanya satu. Kami ingin mempersiapkan diri ketika produksi migas di Bojonegoro makin tinggi, kata Suyoto. Sekretaris SKK Migas, Gde Pradnyana, menyambut baik keberhasilan daerah dalam menikmati multiplier effect dari kegiatan usaha hulu migas. Dalam menyikapi industri hulu migas, daerah memang jangan hanya menggantungkan pada pendapatan dari dana bagi hasil karena industri ini sifatnya ekstratif, katanya. Gde memberi contoh, Bali yang tidak mempunyai industri migas bisa berkembang baik lewat industri pariwisata. Bagi daerah yang punya industri migas, manfaatkan hasilnya untuk menumbuhkan kegiatan yang sifatnya produktif dan menyiapkan masyarakat ketika migas sudah tidak berproduksi lagi, katanya. Rapat berkala kali ini mengambil tema Peran Pemerintah Daerah, Dana Bagi Hasil dan Good Governance dalam Kerangka Mendukung Percepatan Produksi Minyak Nasional Sesuai Inpres Nomor 02 Tahun Kegiatan ini juga dihadiri Kepala Bagian Hubungan Masyarakat SKK Migas, Handoyo Budi Santoso, Kepala Divisi Akuntansi SKK Migas, Nono Gunarso, Penasihat Ahli Bidang Pemerintahan dan Kewilayahan SKK Migas, Cornelia Oentarti, I Gusti Suarnaya dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Asisten 2 Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Hadi Prasetyo, dan beberapa pejabat dari pemerintah pusat maupun daerah. Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Jabamanusa, Arief Sukma Widjaja, mengatakan kegiatan ini dapat meningkatkan komunikasi yang lebih baik, saling tukar pikiran, serta menyamakan persepsi guna membangun sinergi dan integritas antara pelaku industri hulu migas, SKK Migas, kontraktor KKS, serta pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten. Juni 2014 BUMI 15

16 FIGUR Sujoko Kepala Divisi Pemeriksaan Penghitungan Bagian Negara SKK Migas MENGAWASI PENGHITUNGAN BAGI HASIL BAGIAN NEGARA Oleh: Penghitungan bagi hasil bagian negara dan cost recovery dalam kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi (migas) seringkali mendapat sorotan publik. Hasil temuan dalam proses pemeriksaan yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) tidak jarang langsung dipersepsi bahwa negara telah dirugikan. Pembaca laporan hasil pemeriksaan harus paham mengenai Production Sharing Contract (PSC) dan perhitungan bagi hasil sehingga memperoleh pemahaman yang benar apakah hasil audit mempengaruhi bagian negara. Untuk menjaga kepentingan negara, SKK Migas menjalankan pengawasan dan pengendalian berlapis terhadap biaya operasi yang diperhitungkan dalam perhitungan bagi hasil, mulai dari pre control, current control, dan post control. Salah satu bagian penting dalam rangkaian tersebut adalah post control berupa pemeriksaan penghitungan bagi hasil bagian negara dan pemeriksaan kinerja kontraktor kontrak kerja sama (kontraktor KKS) yang dimandatkan kepada Divisi Pemeriksaan Penghitungan Bagian Negara (Divisi Pemeriksaan PBN). Berikut hasil wawancara dengan Kepala Divisi Pemeriksaan PBN SKK Migas, Sujoko. Dalam pandangan alumnus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) ini, perlu sinergi antar fungsi SKK Migas maupun kontraktor KKS dan komunikasi yang efektif agar pengawasan dan pengendalian melalui pemeriksaan penghitungan bagian negara dan tindak lanjutnya dapat berjalan efektif dalam rangka good governance. Bagaimana proses pemeriksaan atas penghitungan bagi hasil dalam kegiatan usaha hulu migas? Salah satu mandat yang diberikan kepada Divisi Pemeriksaan PBN adalah pemeriksaan penghitungan bagi hasil bagian negara dan pemeriksaan kinerja kontraktor KKS tahap produksi. Kami melakukan pemeriksaan penghitungan bagi hasil bagian negara pada kontraktor KKS produksi. Lingkup pemeriksaan meliputi lifting dan cost recovery yang dilaporkan dalam Financial Quarterly Report (FQR) yang disampaikan kontraktor KKS kepada SKK Migas. Laporan tersebut merupakan asersi dari kontraktor KKS terkait penghitungan entitlement (hak kontraktor KKS dan hak SKK Migas) atas hasil operasi produksi migas selama satu tahun buku. Pemeriksaan dilakukan tim pemeriksa yang memeriksa catatancatatan pembukuan langsung di kantor Kontraktor KKS, termasuk melakukan pengecekan dan observasi atas operasi di lapangan. Inti pemeriksaan adalah membandingkan kondisi yang terjadi (kondisi) dengan kondisi yang seharusnya terjadi (kriteria) untuk menyimpulkan apakah hal yang diperiksa telah sesuai dengan yang seharusnya atau sebaliknya sehingga diperlukan koreksi. Hal-hal yang disimpulkan tidak sesuai dengan kriteria tersebut dituangkan menjadi suatu temuan pemeriksaan untuk dibahas/diklarifikasi dengan kontraktor KKS dan ditindaklanjuti. 16 BUMI Juni 2014

17 FIGUR Kumpulan dokumentasi langkah-langkah pengujian yang dilakukan didokumentasikan menjadi kertas kerja pemeriksaan. Sementara temuantemuan pemeriksaan, baik yang telah selesai ditindaklanjuti pada saat pemeriksaan maupun yang akan menjadi bahan pembahasan lebih lanjut, dilaporkan dalam Laporan Hasil Pemerikasaan (LHP). Sebelum LHP diterbitkan, kami melakukan serangkaian pembahasan dengan kontraktor KKS sebagai bagian pelaksanan proses pelaporan hasil pemeriksaan sesuai prosedur yang berlaku. Setiap akhir penugasan, kami menyampaikan LHP kepada Deputi Pengendalian Keuangan SKK Migas sebagai pertanggungjawaban dan mengirimkannya kepada kontraktor KKS yang diperiksa untuk ditindaklanjuti. Mandat lainnya adalah melakukan monitoring tindak lanjut atas LHP BPKP dan LHP BPK RI, selain monitoring atas tindak lanjut LHP SKK Migas. Apakah pemeriksaan yang dilakukan Divisi Pemeriksaan Penghitungan Bagian Negara juga mencakup penghitungan over lifting dan under lifting? Proses bisnis pemeriksaan Divisi Pemeriksaan PBN tidak termasuk penghitungan penagihan over (under) lifting, mengingat hal tersebut merupakan tupoksi Divisi Akuntansi. Namun demikian, seluruh hasil pemeriksaan Divisi Pemeriksaan PBN yang ditindaklanjuti dengan koreksi perhitungan bagi hasil akan langsung mempengaruhi perhitungan over (under) lifting pada tahun buku di mana koreksi tersebut dilakukan. Jadi perhitungan over (under) lifting yang dilakukan Divisi Akuntansi sudah termasuk pengaruh hasil koreksi audit yang dilakukan pada tahun buku berjalan. Melihat objek audit yang mencakup 79 kontraktor KKS produksi, bagaimana cara Divisi Pemeriksaan Penghitungan Bagian Negara melakukan pengelolaan? Dengan mempertimbangkan jumlah auditor yang tersedia di Divisi Pemeriksaan PBN, kami melakukan optimalisasi pemberdayaan auditor yang tersedia untuk melakukan pemeriksaan penghitungan bagi hasil bagian negara terhadap seluruh Kontraktor KKS Produksi. Kami perlu mengatur strategi pemeriksaan mulai dari menentukan prioritas kontraktor KKS yang diperiksa dan penentuan lingkup pemeriksaan yang harus diperiksa lebih mendalam dan detil. Untuk kontraktor KKS tertentu, kami lakukan pemerikasan rutin untuk setiap tahun buku. Namun untuk beberapa kontraktor KKS, kami melakukan pemeriksaan untuk dua tahun buku sekaligus. Perencanaan ini kami dokumentasikan menjadi Jadwal Pemeriksaan. Mengingat pemeriksaan audit dilakukan secara sampling, apakah ada semacam risk based audit? Prinsip-prinsip Risk Based Audit telah diterapkan mulai dari penentuan kontraktor KKS mana yang akan diperiksa dan bagaimana memeriksanya, yaitu apakah setiap tahun buku atau digabungkan untuk setiap dua tahun buku, termasuk menentukan lingkup mana yang memerlukan pemeriksaan lebih mendalam. Penerapan Risk Based Audit secara terstruktur akan terus ditingkatkan untuk peningkatan berkelanjutan atas kualitas pengawasan dan pengendalian melalui pemeriksaan penghitungan bagi hasil bagian negara. Apakah dalam melakukan audit, Divisi Pemeriksaan Penghitungan Bagian Negara juga berkoordinasi dengan pihak auditor eksternal seperti BPK dan BPKP? Divisi Pemeriksaan PBN secara periodik berkoordinasi dengan auditor eksternal, yaitu BPKP dan BPK RI. Koordinasi tersebut dilakukan dalam rangka persiapan dan pelaksanaan koordinasi pemeriksaan. Setiap tahun kami bertemu dalam Rapat Koordinasi Pemeriksaan untuk membahas berbagai hal terkait pengawasan dan pengendalian, termasuk membahas Jadwal Pemeriksaan yang akan menjadi rujukan bagi SKK Migas, kontraktor KKS, dan auditor untuk mengefektifkan pelaksanaan pemeriksaan. Selain koordinasi pemeriksaan, SKK Migas juga berkoordinasi dengan BPKP dan BPK RI untuk menindaklanjuti LHP melalui rapat tripartit yang membahas pemutakhiran tindak lanjut hasil pemeriksaan. Apa yang sudah dilakukan SKK Migas untuk memperkuat pengendalian, terutama di Divisi Pemeriksaan Penghitungan Bagian Negara? Untuk memperkuat pengendalian, terutama di Divisi Pemeriksaan PBN yang menjalankan post control berupa pemeriksaan penghitungan bagi hasil bagian negara, kami memanfaatkan output pengawasan pengendalian yang dihasilkan fungsi lain sebagai input untuk merencanakan dan menentukan luas lingkup pengujian yang dilakukan dalam pemeriksaan. Sebagai contoh, Divisi Pemeriksaan PBN memanfaatkan output pengawasan Divisi Pemeriksaan Biaya Operasi dari Closed Out AFE, Divisi Akuntansi dari analisa dan evaluasi FQR, dan Divisi Operasi Manajemen Proyek dan Pemeliharaan Fasilitas atas persetujuan Placed Into Service. Dalam pandangan Bapak, apa saja langkah-langkah yang perlu dilakukan agar tidak ada lagi temuantemuan yang bisa dipermasalahkan? Divisi Pemeriksaan PBN mengharapkan kerja sama kontraktor KKS untuk lebih cepat memberikan klarifikasi sejak/selama proses pemeriksaan berlangsung terhadap permasalahan yang diungkapkan auditor, sehingga temuan pemeriksaan sudah dapat diklarifikasi atau ditindaklanjuti lebih dini. Bahkan jika memungkinkan, semua temuan pemeriksaan dapat diklarifikasi dan ditindaklanjuti sebelum LHP diterbitkan. Juni 2014 BUMI 17

18 SPEKTRUM SOSIALISASI PENGADAAN TANAH SKALA KECIL Oleh: Adhitya C. Danang Agung/ Masalah pengadaan tanah menjadi persoalan yang cukup serius bagi industri hulu minyak dan gas bumi (migas). Pasalnya, kegiatan eksplorasi untuk mendapatkan cadangan migas baru tidak bisa dilakukan apabila proses pengadaan tanah masih menghadapi kendala, terutama bagi kontraktor kontrak kerja sama (kontraktor KKS) yang wilayah operasinya di onshore. Persoalan pengadaan tanah juga bisa menghambat pelaksanaan komitmen pengeboran, sehingga kegiatan usaha hulu migas tidak bisa melakukan peningkatan produksi. Inilah alasan mengapa pengadaan tanah menjadi bagian sangat penting dalam rangkaian kegiatan industri hulu migas Pemecahan masalah pengadaan tanah mendapat titik terang dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2014 tentang penyelenggaraan pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum. Dalam Perpres ini disebutkan, luasan pengadaan tanah skala kecil yang semula hanya 1 hektare diperbesar menjadi 5 hektare. Menyusul diterbitkannya Perpres Nomor 40 Tahun 2014 tersebut, Kepala SKK Migas menerbitkan Surat Keputusan Nomor 076 Tahun 2014 tentang pengadaan tanah skala kecil untuk kegiatan operasi perminyakan. Dengan diterbitkannya Perpres Nomor 40 Tahun 2014 dan SK Kepala SKK Migas Nomor 076 Tahun 2014, proses pengadaan tanah skala kecil untuk kegiatan operasi hulu migas diharapkan bisa berjalan lebih mudah, kata Kepala Divisi Pertimbangan Hukum dan Formalitas SKK Migas, Didi Setiarto, dalam sosialisasi di Jakarta pada 12 Mei Sosialisasi diikuti perwakilan dari 53 kontraktor KKS. Didi Setiarto menambahkan, pihaknya ingin menata kembali tata kelola pengadaan tanah untuk kegiatan usaha hulu migas seiring diterbitkannya SK Kepala SKK Migas Nomor 076 Tahun Melalui langkah tersebut, pengadaan tanah bisa dipertanggungjawabkan, baik dari kebutuhan pragmatis di operasional maupun administrasi hukumnya, sehingga pengamanan aset negara bisa dilakukan. Kepala Kelompok Kerja Formalitas SKK Migas, Didi Setiadi, mengatakan setelah melakukan pengadaan tanah, kontraktor KKS wajib melakukan pengamanan terhadap aset tanah yang sudah dikuasai. Hal ini diperlukan karena tanah yang sudah dibebaskan tercatat sebagai barang milik negara. Pengamanan yang dilakukan tidak hanya pada fisik tanahnya saja, tetapi juga dokumen-dokumen terkait pengadaan tanah. Kontraktor KKS juga wajib melakukan pelaporan aset-aset tanah secara rutin. Selain itu, terminasi aset saat kegiatan usaha hulu migas sudah selesai dilakukan juga harus menjadi perhatian kontraktor KKS. Saat proses terminasi dilakukan, luasan tanah yang dikembalikan harus sama dengan luasan tanah pada waktu pembebasan. Rencananya, tahun depan SKK Migas akan menyusun PTK (pedoman tata kerja) untuk pertanahan yang mengatur berbagai hal mulai dari pengadaan, pengamanan, pelaporan hingga terminasi, kata Didi Setiadi. Sosialisasi pengadaan tanah skala kecil di Jakarta tersebut ditindaklanjuti Perwakilan SKK Migas Wilayah Kalimantan Sulawesi (Kalsul) dengan menggelar koordinasi pelaksanaan pengadaan tanah untuk pembangunan infrastruktur/ fasilitas kegiatan usaha hulu migas pada 2 Juni 2014 di Balikpapan. Koordinasi ini dilakukan guna menyamakan persepsi dan melancarkan eksplorasi migas. Kegiatan dihadiri beberapa kontraktor KKS serta perwakilan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi Kalimantan Timur, BPN Kabupaten Kutai Kartanegara, dan BPN Kabupaten Bulungan. 18 BUMI Juni 2014

19 SPEKTRUM INDUSTRI HULU MIGAS DUKUNG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN KORUPSI Oleh: yaitu anggota DPR; penegak hukum, yaitu KPK, kejaksaan, dan kepolisian; lembaga negara lain seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP); serta lembaga nonpemerintah seperti partai politik, kontraktor KKS, trader, asosiasi pelaku bisnis, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) mengikuti workshop Meningkatkan Peran Serta Pelaku Migas dalam Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi yang diselenggarakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Bali, 4-5 Juni Acara ini diikuti sekitar 80 peserta yang sebagian besar berasal dari SKK Migas dan kontraktor kontrak kerja sama (kontraktor KKS). Wakil Ketua KPK, Zulkarnain, mengatakan salah satu latar belakang diadakan acara ini adalah karena sektor migas menjadi salah satu prioritas KPK dalam rencana strategis lembaga ini untuk periode KPK di dalam rencana strategisnya, fokus areanya menyangkut kepentingan nasional, antara lain sektor migas ini. Inilah yang melatarbelakangi kita mengadakan workshop ini, ujarnya. Zulkarnain mengatakan potensi korupsi dalam industri hulu migas ada pada setiap tahapan. Mulai dari pelelangan wilayah kerja, penyusunan kontrak, persetujuan rencana pengembangan lapangan (plan of development/pod, program kerja dan anggaran (work program and budget/wp&b), dan autorisasi pengeluaran (authorization for expenditures/afe), pelelangan, pengadaan, perizinan, pengawasan eksplorasi, pengembangan dan produksi, lifting, pengendalian aset, pengendalian alokasi dan distribusi hasil produksi, pengendalian cost recovery, pengendalian internal kontraktor KKS, dan lain-lain. Sedangkan potensi pelakunya juga tersebar mulai dari eksekutif seperti di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kementerian terkait, pemerintah daerah, dan SKK Migas; legislatif, Zulkarnain menambahkan meskipun banyak masyarakat yang relatif belum paham terhadap industri hulu migas, jumlah pengaduan yang diterima dari masyarakat sudah cukup banyak. Saat ini KPK sudah menerima 270 pengaduan, yaitu 13 pengaduan terkait wilayah kerja, 105 pengaduan terkait pengadaan, lima pengaduan terkait lifting, 29 pengaduan terkait cost recovery, dan 118 pengaduan terkait hal-hal lain. Dalam acara tersebut, sebagian pemateri memang berasal dari industri hulu migas, antara lain Kepala Divisi Manajemen Risiko dan Perpajakan SKK Migas, Sampe L. Purba, BP Head of Country, Dharmawan Samsu, dan Senior Vice President Policy, Government and Public Affairs PT Chevron Pacific Indonesia, Yanto Sianipar. Sampe mengatakan kegiatan hulu migas tidak bisa dilihat sepotong-sepotong karena merupakan satu kesatuan sepanjang periode kontrak berlaku. Misalnya saja, setelah puncak produksi pada sebuah lapangan terlampaui, produksi akan menurun sementara biaya justru naik karena biaya perawatan meningkat. Pada saat ini, biaya per barel pasti meningkat, tetapi hal ini bisa dimengerti apabila kegiatan hulu migas itu dilihat sebagai sebuah siklus penuh, ujarnya. Untuk kepentingan negara, pemerintah membentuk SKK Migas guna melakukan pengawasan dan pengendalian kegiatan hulu migas. Namun SKK Migas bukanlah satusatunya lembaga pemerintah yang terlibat dalam pengawasan dan pengendalian ini. SKK Migas melaksanakan pengendalian dan pengawasan untuk pelaksanaan ketentuan berdasarkan Kontrak Kerja Sama. Sedangkan pengendalian aspekaspek lainnya, misalnya perizinan, perpajakan, dan lain-lain tetap melibatkan instansi terkait lainnya. Juni 2014 BUMI 19

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Briefing October 2014 Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Patrick Heller dan Poppy Ismalina Universitas Gadjah Mada Memaksimalkan keuntungan dari sektor

Lebih terperinci

DEWAN ENERGI NASIONAL OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014

DEWAN ENERGI NASIONAL OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014 OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014 23 DESEMBER 2014 METODOLOGI 1 ASUMSI DASAR Periode proyeksi 2013 2050 dimana tahun 2013 digunakan sebagai tahun dasar. Target pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata sebesar

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2006-2010 Sambutan Ketua BPK Pengelolaan keuangan negara merupakan suatu kegiatan yang akan mempengaruhi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dan bangsa

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

MENATAP MASA DEPAN MIGAS (roadmap energi migas)

MENATAP MASA DEPAN MIGAS (roadmap energi migas) SATUAN KERJA KHUSUS PELAKSANA KEGIATAN USAHA HULU MINYAK DAN GAS BUMI (SKK Migas) MENATAP MASA DEPAN MIGAS (roadmap energi migas) Jakarta, 4 April 2014 DR. Gde Pradnyana Sekretaris SKKMIGAS 2 Cadangan

Lebih terperinci

Oleh: Mudrajad Kuncoro**

Oleh: Mudrajad Kuncoro** Oleh: Mudrajad Kuncoro** FENOMENA listrik byarpet, sebagai cermin adanya krisis listrik, yang muncul di sejumlah provinsi harus segera diatasi. Tanpa merombak manajemen kelistrikan nasional, target pembangunan

Lebih terperinci

Hidup dan Sumber Daya Alam

Hidup dan Sumber Daya Alam KERTAS POSISI Lima Tahun Pemberlakuan UU Keterbukaan Informasi Publik Buka Informasi, Selamatkan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam April 2015 Pengantar Masyarakat sipil Indonesia mengapresiasi langkah

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, pres-lambang01.gif (3256 bytes) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG PENINGKATAN PRODUKSI MINYAK BUMI NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG PENINGKATAN PRODUKSI MINYAK BUMI NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG PENINGKATAN PRODUKSI MINYAK BUMI NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka pencapaian produksi minyak bumi nasional paling sedikit

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 SEMESTER I

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 SEMESTER I 1 KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin diwujudkan dalam pengelolaan APBD. Untuk mendorong tercapainya tujuan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh penyerapan

Lebih terperinci

PERAN BAWASLU Oleh: Nasrullah

PERAN BAWASLU Oleh: Nasrullah PERAN BAWASLU Oleh: Nasrullah Seminar Nasional: Pendidikan Politik Bagi Pemilih Pemula Sukseskan Pemilu 2014. Pusat Study Gender dan Anak (PSGA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. BAWASLU Menurut UU No.

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa sebagai tindak lanjut

Lebih terperinci

Transparansi dan Akuntabilitas di Industri Migas dan Pertambangan: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK

Transparansi dan Akuntabilitas di Industri Migas dan Pertambangan: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Briefing October 2014 Transparansi dan Akuntabilitas di Industri Migas dan Pertambangan: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Patrick Heller dan Poppy Ismalina Universitas Gadjah Mada Pengalaman dari

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemilihan umum

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN RANCANGAN LAPORAN SINGKAT RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI III DPR RI DENGAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK) -------------------------------------------------------------------- (BIDANG HUKUM, PERUNDANG-UNDANGAN,

Lebih terperinci

Kajian Tengah Waktu Strategi 2020. Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik

Kajian Tengah Waktu Strategi 2020. Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Kajian Tengah Waktu Strategi 2020 Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Kajian Tengah Waktu (Mid-Term Review/MTR) atas Strategi 2020 merupakan

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - 1 LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 TRIWULAN III KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN Pangkal Pinang 16-17 April 2014 BAGIAN DATA DAN INFORMASI BIRO PERENCANAAN KEMENHUT email: datin_rocan@dephut.go.id PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan pelaksanaan pembangunan

Lebih terperinci

Strategic Governance Policy. Pendahuluan. Bab 1 PENDAHULUAN. Kebijakan Strategik Tata Kelola Perusahaan Perum LKBN ANTARA Hal. 1

Strategic Governance Policy. Pendahuluan. Bab 1 PENDAHULUAN. Kebijakan Strategik Tata Kelola Perusahaan Perum LKBN ANTARA Hal. 1 Bab 1 PENDAHULUAN Kebijakan Strategik Tata Kelola Perusahaan Perum LKBN ANTARA Hal. 1 Bagian Kesatu PENDAHULUAN I.1. I.1.a. Latar Belakang dan Tujuan Penyusunan Strategic Governance Policy Latar Belakang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 18 /MenLHK-II/2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN

Lebih terperinci

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Juli 2014 Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi risiko perubahan iklim tercermin melalui serangkaian

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

Laporan Rekonsiliator EITI Indonesia Tahun 2009 LAPORAN AKHIR 22 April 2013

Laporan Rekonsiliator EITI Indonesia Tahun 2009 LAPORAN AKHIR 22 April 2013 Laporan Rekonsiliator EITI Indonesia Tahun 2009 LAPORAN AKHIR 22 April 2013 Laporan ini serta seluruh Lampiran terkait ditujukan untuk segala keperluan Organisasi EITI Indonesia dalam hal kegiatan transparansi

Lebih terperinci

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG PENINGKATAN DAYA SAING NASIONAL DALAM RANGKA MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASSOCIATION OF SOUTHEAST ASIAN NATIONS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA ACARA FINALISASI DAN REALISASI MASTERPLAN PUSAT KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (PPKH) Pongkor, Selasa, 23 April 2013

SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA ACARA FINALISASI DAN REALISASI MASTERPLAN PUSAT KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (PPKH) Pongkor, Selasa, 23 April 2013 SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA ACARA FINALISASI DAN REALISASI MASTERPLAN PUSAT KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (PPKH) Pongkor, Selasa, 23 April 2013 Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang

Lebih terperinci

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I 1 laporan monitoring realisasi APBD dan dana idle Tahun 2013 Triwulan I RINGKASAN EKSEKUTIF Estimasi realisasi belanja daerah triwulan I Tahun 2013 merupakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Laporan ini berisi Kata Pengantar dan Ringkasan Eksekutif. Terjemahan lengkap laporan dalam Bahasa Indonesia akan diterbitkan pada waktunya. LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Pendefinisian

Lebih terperinci

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia IFAD/R. Grossman Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia Kemiskinan perdesaan di Indonesia Indonesia telah melakukan pemulihan krisis keuangan pada tahun 1997 yang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 12 / PRT / M / 2010 TENTANG PEDOMAN KERJASAMA PENGUSAHAAN PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 12 / PRT / M / 2010 TENTANG PEDOMAN KERJASAMA PENGUSAHAAN PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM MENTERI PEKERJAAN UMUM PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 12 / PRT / M / 2010 TENTANG PEDOMAN KERJASAMA PENGUSAHAAN PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/6/2011 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/6/2011 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/6/2011 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERDAGANGAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pemilihan umum secara langsung

Lebih terperinci

RANCANGAN TEKNOKRATIK RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL (RPJMN) 2015-2019

RANCANGAN TEKNOKRATIK RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL (RPJMN) 2015-2019 KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL RANCANGAN TEKNOKRATIK RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL (RPJMN) 2015-2019 Oleh: Menteri PPN/Kepala Bappenas

Lebih terperinci

Penyusunan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) di Indonesia : Fasilitasi Penyusunan RUED di Propinsi Riau dan Kalimantan Tengah

Penyusunan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) di Indonesia : Fasilitasi Penyusunan RUED di Propinsi Riau dan Kalimantan Tengah Penyusunan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) di Indonesia : Fasilitasi Penyusunan RUED di Propinsi Riau dan Kalimantan Tengah Nur Amalia amalia_aim@pelangi.or.id SISTEMATIKA : 1. Tujuan Proyek 2. Hasil

Lebih terperinci

RENCANA KINERJA BALAI BESAR PULP DAN KERTAS TAHUN ANGGARAN 2015

RENCANA KINERJA BALAI BESAR PULP DAN KERTAS TAHUN ANGGARAN 2015 RENCANA KINERJA BALAI BESAR PULP DAN KERTAS TAHUN ANGGARAN 2015 KATA PENGANTAR R encana Kinerja merupakan dokumen yang berisi target kinerja yang diharapkan oleh suatu unit kerja pada satu tahun tertentu

Lebih terperinci

PROGRAM KERJA BIDANG RISET TAHUN 2011-2015 TAHUN

PROGRAM KERJA BIDANG RISET TAHUN 2011-2015 TAHUN BIDANG RISET 2011-2015 1 PT dengan kondisi riset Kelas C (paling lemah) 2 1. Membutuhkan riset untuk melengkapi fungsi Tridharma PT 2. Kebutuhan Akreditasi 3. Keperluan penaikan Kum untuk kepangkatan 4.

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2015 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2015 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2015 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara A. Dasar Pemikiran Sejak satu dasawarsa terakhir masyarakat semakin

Lebih terperinci

II. KEGIATAN PERIODE TRIWULAN III TAHUN 2012

II. KEGIATAN PERIODE TRIWULAN III TAHUN 2012 I. PENDAHULUAN PT. Sejahtera Alam Energy efektif melaksanakan pengembangan panas bumi WKP Panas Bumi Daerah Baturraden - Provinsi Jawa Tengah mulai tanggal 12 April 2011 berdasarkan Izin Usaha Pertambangan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1.tE,"P...F.3...1!..7. INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Pendahuluan Kebijakan anggaran mendasarkan pada pendekatan kinerja dan berkomitmen untuk menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Anggaran kinerja adalah

Lebih terperinci

Manajemen Aset Berbasis Risiko pada Perusahaan Air Minum (Disusun oleh Slamet Susanto dan Christina Ningsih)*

Manajemen Aset Berbasis Risiko pada Perusahaan Air Minum (Disusun oleh Slamet Susanto dan Christina Ningsih)* Manajemen Aset Berbasis Risiko pada Perusahaan Air Minum (Disusun oleh Slamet Susanto dan Christina Ningsih)* 1. Pendahuluan Air bersih atau air minum sangat penting artinya bagi kehidupan manusia. Kajian

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA DAN PERATURAN BERSAMA MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA DAN

MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA DAN PERATURAN BERSAMA MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BERSAMA MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK

Lebih terperinci

I... 1 PENDAHULUAN... 1 BAB II... 2 TATA CARA PELAKSANAAN PERTEMUAN TIGA PIHAK...

I... 1 PENDAHULUAN... 1 BAB II... 2 TATA CARA PELAKSANAAN PERTEMUAN TIGA PIHAK... ii DAFTAR ISI DAFTAR ISTILAH... iii BAB I... 1 PENDAHULUAN... 1 BAB II... 2 TATA CARA PELAKSANAAN PERTEMUAN TIGA PIHAK... 2 2.1 Mekanisme Pelaksanaan Pertemuan Tiga Pihak... 2 2.2 Institusi Peserta Pertemuan

Lebih terperinci

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Badan Usaha Milik Negara merupakan

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 1 - PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 1 - PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO - 1 - PERATURAN PRESIDEN NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa dampak luapan lumpur di Sidoarjo sudah demikian

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa untuk mewujudkan perekonomian

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. Manunggal yang bergerak di bidang property developer, didirikan. Alam Sutera Realty Tbk pada 19 September 2007.

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. Manunggal yang bergerak di bidang property developer, didirikan. Alam Sutera Realty Tbk pada 19 September 2007. BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Sejarah Perusahaan PT. Alam Sutera Realty Tbk adalah anak perusahaan dari grup Argo Manunggal yang bergerak di bidang property developer, didirikan oleh Harjanto Tirtohadiguno

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEAMANAN NASIONAL

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEAMANAN NASIONAL RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEAMANAN NASIONAL Jakarta, 16 Oktober 2012 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEAMANAN NASIONAL DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

P P A T K AMLNEWS. Clipping Service. Anti Money Laundering 19 Juli 2011. Indeks

P P A T K AMLNEWS. Clipping Service. Anti Money Laundering 19 Juli 2011. Indeks P P A T K AMLNEWS Clipping Service Anti Money Laundering 19 Juli 2011 Indeks 1. Proyek Wisma Atlet Alex Noerdin segera diperiksa 2. Korupsi Kepala Dinas PU Bengkulu dihukum 3,5 tahun 3. Dugaan Suap Wisma

Lebih terperinci

ANALISIS INDUSTRI MINYAK DAN GAS DI INDONESIA: Masukan bagi Pengelola BUMN Biro Riset LM FEUI

ANALISIS INDUSTRI MINYAK DAN GAS DI INDONESIA: Masukan bagi Pengelola BUMN Biro Riset LM FEUI ANALISIS INDUSTRI MINYAK DAN GAS DI INDONESIA: Masukan bagi Pengelola BUMN Biro Riset LM FEUI Beberapa waktu lalu Lembaga Management FEUI melakukan kajian industri perminyakan. Bahan kajian ini bisa dijadikan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA MENJADI UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

7. Memastikan sistem pengendalian internal telah diterapkan sesuai ketentuan.

7. Memastikan sistem pengendalian internal telah diterapkan sesuai ketentuan. 7. Memastikan sistem pengendalian internal telah diterapkan sesuai ketentuan. 8. Memantau kepatuhan BCA dengan prinsip pengelolaan bank yang sehat sesuai dengan ketentuan yang berlaku melalui unit kerja

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PEMANFAATAN BARANG MILIK NEGARA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PEMANFAATAN BARANG MILIK NEGARA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PEMANFAATAN BARANG MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

13. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika

13. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika SALINAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PENYIARAN TELEVISI SECARA DIGITAL DAN PENYIARAN MULTIPLEKSING MELALUI SISTEM TERESTRIAL

Lebih terperinci

Harga Sebuah Kebijakan Bahan Bakar Fosil: Subsidi Pemerintah Indonesia di Sektor Hulu Minyak & Gas Bumi

Harga Sebuah Kebijakan Bahan Bakar Fosil: Subsidi Pemerintah Indonesia di Sektor Hulu Minyak & Gas Bumi Harga Sebuah Kebijakan Bahan Bakar Fosil: Subsidi Pemerintah Indonesia di Sektor Hulu Minyak & Gas Bumi OKTOBER 2010 OLEH: PT. Q ENERGY SOUTH EAST ASIA David Braithwaite PT. CAKRAMUSTIKA SWADAYA Soepraptono

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM I. UMUM Pemilihan Umum merupakan perwujudan kedaulatan rakyat guna menghasilkan pemerintahan yang

Lebih terperinci

KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA

KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA PEMERINTAH KABUPATEN ACEH SINGKIL DAN TIM KOORDINASI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN ACEH TENTANG DUKUNGAN PROGRAM SEDIA UNTUK PENGUATAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN ACEH SINGKIL

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KABUPATEN REJANG LEBONG BUPATI REJANG LEBONG,

PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KABUPATEN REJANG LEBONG BUPATI REJANG LEBONG, PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KABUPATEN REJANG LEBONG BUPATI REJANG LEBONG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendorong percepatan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

I. PETA PERMASALAHAN PERATURAN DAERAH

I. PETA PERMASALAHAN PERATURAN DAERAH PETA PERMASALAHAN DALAM PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH DAN UPAYA FASILITASI PERANCANGAN PERATURAN DAERAH Oleh : Dr. WAHIDUDDIN ADAMS, SH., MA. I. PETA PERMASALAHAN PERATURAN DAERAH 1. Perkembangan Pemekaran

Lebih terperinci

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH. BAB I KETENTUAN UMUM

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH. BAB I KETENTUAN UMUM www.bpkp.go.id PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Revisi Pedoman Pelaporan dan Pencatatan. Pemutakhiran pedoman pencatatan Monev

Revisi Pedoman Pelaporan dan Pencatatan. Pemutakhiran pedoman pencatatan Monev www.aidsindonesia.or.id MARET 2014 L ayanan komprehensif Berkesinambungan (LKB) merupakan strategi penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan No 21 tahun

Lebih terperinci

BPK RI DAN KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK. Hasan Bisri Wakil Ketua BPK RI

BPK RI DAN KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK. Hasan Bisri Wakil Ketua BPK RI BPK RI DAN KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK Hasan Bisri Wakil Ketua BPK RI 1 Agenda Latar Belakang Sekilas tentang BPK BPK & Prinsip Keterbukaan Informasi BPK & Program Diseminasi Informasi Publik Tantangan

Lebih terperinci

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN Potensi dan Tantangan DI INDONESIA Oleh: Dr. Sunoto, MES Potensi kelautan dan perikanan Indonesia begitu besar, apalagi saat ini potensi tersebut telah ditopang

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.178, 2012 KEUANGAN NEGARA. Pertanggungjawaban. APBN 2011. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5341) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan efektivitas dan

Lebih terperinci

Program Bonus: Sebuah Modifikasi dari Konsep Kredit-Mikro

Program Bonus: Sebuah Modifikasi dari Konsep Kredit-Mikro Deskripsi Singkat Program Bonus: Sebuah Modifikasi dari Konsep Kredit-Mikro Tujuan dokumen ini adalah untuk memberikan gambaran singkat tentang Program Bonus. Program Bonus memobilisasi dana hibah untuk

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

ANGGARAN RUMAH TANGGA YAYASAN GEDHE NUSANTARA BAB I NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN. Pasal 1

ANGGARAN RUMAH TANGGA YAYASAN GEDHE NUSANTARA BAB I NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN. Pasal 1 ANGGARAN RUMAH TANGGA YAYASAN GEDHE NUSANTARA BAB I NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 1 1. Yayasan ini bernama Yayasan Gedhe Nusantara atau Gedhe Foundation (dalam bahasa Inggris) dan selanjutnya dalam Anggaran

Lebih terperinci

BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG, Menimbang : a. bahwa pembangunan ekonomi yang

Lebih terperinci

Memantapkan Upaya Rehabilitasi Lahan Pasca Tambang di Indonesia Melalui Peningkatan Kapasitas para Pelaksana

Memantapkan Upaya Rehabilitasi Lahan Pasca Tambang di Indonesia Melalui Peningkatan Kapasitas para Pelaksana LAPORAN LOKAKARYA Memantapkan Upaya Rehabilitasi Lahan Pasca Tambang di Indonesia Melalui Peningkatan Kapasitas para Pelaksana Bogor, Jawa Barat, Indonesia 10-12 September 2013 Lokakarya kolaboratif yang

Lebih terperinci

Deputi Bidang Pengembangan Strategi dan Kebijakan

Deputi Bidang Pengembangan Strategi dan Kebijakan SOSIALISASI INPRES NO. 1 TAHUN 2015 TENTANG PERCEPATAN PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH DAN PERPRES NO. 4 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS PERPRES NO. 54 TAHUN 2010 Deputi Bidang Pengembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini di Indonesia sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan nasional

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini di Indonesia sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan nasional BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Saat ini di Indonesia sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan nasional di segala bidang, dimana pembangunan merupakan usaha untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan

Lebih terperinci

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL,

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL, MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1454 K/30/MEM/2000 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENYELENGGARAAN TUGAS PEMERINTAHAN DI BIDANG

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG LANGKAH-LANGKAH PENGHEMATAN DAN PEMOTONGAN BELANJA KEMENTERIAN/LEMBAGA DALAM RANGKA PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN

Lebih terperinci

SEKILAS TENTANG PERAN LEMBAGA PEMERINGKAT EFEK DALAM INDUSTRI PASAR MODAL

SEKILAS TENTANG PERAN LEMBAGA PEMERINGKAT EFEK DALAM INDUSTRI PASAR MODAL SEKILAS TENTANG PERAN LEMBAGA PEMERINGKAT EFEK DALAM INDUSTRI PASAR MODAL oleh : Sungkana Pendahuluan Seiring dengan semakin menigkatnya industri Pasar Modal, peran penting perusahaan Pemeringkat Efek

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG PROGRAM PENYUSUNAN PERATURAN PRESIDEN PRIORITAS TAHUN 2014

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG PROGRAM PENYUSUNAN PERATURAN PRESIDEN PRIORITAS TAHUN 2014 KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG PROGRAM PENYUSUNAN PERATURAN PRESIDEN PRIORITAS TAHUN 2014 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KEPALA PERWAKILAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

KEPUTUSAN KEPALA PERWAKILAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN PERWAKILAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Jalan Jenderal Ahmad Yani kilometer 32,5 Banjarbaru 70711 Telp: (0511) 4781116 Faksimili : (0511) 4774501 email : kalsel@bpkp.go.id,

Lebih terperinci

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN FASILITAS DAN INSENTIF USAHA HORTIKULTURA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN FASILITAS DAN INSENTIF USAHA HORTIKULTURA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN FASILITAS DAN INSENTIF USAHA HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH I. UMUM Dengan adanya otonomi daerah Pemerintah Provinsi memiliki peran yang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN

Lebih terperinci

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL NOMOR 4

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 100 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 100 TAHUN 2012 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 100 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN KAWASAN EKONOMI KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

Bab II Tim Evaluasi, Mekanisme Evaluasi, Instrumen Evaluasi, dan Hasil Evaluasi

Bab II Tim Evaluasi, Mekanisme Evaluasi, Instrumen Evaluasi, dan Hasil Evaluasi Bab II Tim Evaluasi, Mekanisme Evaluasi, Instrumen Evaluasi, dan Hasil Evaluasi A. Tim Evaluasi T im Evaluasi ditetapkan dengan Keputusan Deputi Menteri Sekretaris Negara Nomor 3 Tahun 2010 tentang Pembentukan

Lebih terperinci

Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik... 133 I. Umum... 133 II. Pasal Demi Pasal...

Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik... 133 I. Umum... 133 II. Pasal Demi Pasal... DAFTAR ISI Hal - Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum... - BAB I Ketentuan Umum... 4 - BAB II Asas Penyelenggara Pemilu... 6 - BAB III Komisi Pemilihan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci