KAJIAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME) DAN KOMUNIKASI MATEMATIS PADA MATERI LUAS PERMUKAAN BANGUN RUANG SISI DATAR

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KAJIAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME) DAN KOMUNIKASI MATEMATIS PADA MATERI LUAS PERMUKAAN BANGUN RUANG SISI DATAR"

Transkripsi

1 KAJIAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME) DAN KOMUNIKASI MATEMATIS PADA MATERI LUAS PERMUKAAN BANGUN RUANG SISI DATAR Deka Anjariyah (Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Majapahit) ABSTRAK Luas permukaan bangun ruang sisi datar merupakan salah satu materi dalam pelajaran matematika tentang geometri yang diberikan di kelas VIII semester 2 dan termuat di kurikulum 2013 dengan KD 3.9 yaitu menentukan luas permukaan dan volume kubus, balok, prisma, dan limas dari KI 3 yaitu memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata. Namun siswa SMP masih kesulitan dalam memahami konsep luas permukaan bangun ruang sisi datar, beberapa penyebabnya karena rendahnya motivasi belajar matematika siswa dan siswa kurang terlibat aktif dalam mengkontruksi pemahamannya tentang konsep luas permukaan bangun ruang sisi datar. Untuk mengatasi hal ini, Realistic Mathematics Education (RME) menawarkan solusi. RME adalah pendekatan pembelajaran matematika dari hal yang riil bagi siswa, sehingga diharapkan siswa akan menjadi termotivasi untuk belajar matematika sehingga aktif dalam pembelajaran dan diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuan komunikasi yaitu salah satu standar kemampuan matematis yang termuat dalam National Council of Teacher of Mathematics (NCTM). Kata kunci : Luas permukaan bangun ruang sisi datar, Realistic Mathematics Education (RME), Kemampuan komunikasi. PENDAHULUAN Pada umumnya, hasil pembelajaran matematika di Indonesia kurang memuaskan, hal ini dapat terlihat dari nilai UAN mata pelajaran matematika dari tahun ke tahun termasuk kategori rendah (Rudiyanto & Waluya, 2010:33). Pendapat ini diperkuat oleh hasil survei internasional Programme for International Student Assessment (PISA) bahwa prestasi matematika Indonesia pada jenjang SMP/SMA selalu terpaku pada angka rendah dan Indonesia berada di urutan ke- 61 dari 65 negara (Survei Internasional PISA, 2009). Materi luas permukaan bangun ruang sisi datar merupakan salah satu materi dalam pelajaran matematika tentang geometri yang diberikan di kelas VIII semester 2 dan termuat di kurikulum 2013 dengan Kompetensi Dasar (KD) 3.9 yaitu menentukan luas permukaan dan volume kubus, balok, prisma, dan limas dari Kompetensi Inti (KI) 3 yaitu memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata. Materi bangun ruang sisi datar meliputi sub materi prisma dan limas. 1

2 Berikut ini peta konsep dari materi bangun ruang sisi datar. Gambar 1 Peta Konsep Materi Bangun Ruang Sisi Datar Siswa SMP masih kesulitan dalam materi bangun ruang, hal ini didukung oleh pernyataan Madja (dalam Widiyanto, 2012) bahwa siswa SMP masih mengalami kesulitan dalam melihat gambar bangun ruang. Temuan berikutnya adalah hasil penelitian Ryu, Yeong dan Song (dalam Widiyanto, 2012) yang menyebutkan dalam penelitiannya, dari 7 siswa berbakat matematika yang ditelitinya, 5 diantaranya mengalami kesulitan membayangkan obyek 3 dimensi dalam ruang yang digambarkan pada bidang datar. Hal-hal inilah yang mengakibatkan siswa kesulitan dalam memahami konsep luas permukaan bangun ruang dan kesulitan mengkonstruksi pengetahuan berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya. Pelajaran matematika dikenal sebagai mata pelajaran yang kering, karena kurang kelihatan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari, kecuali materi pelajaran berhitung yang berguna dalam belanja atau perhitungan sederhana, ketiadaan hubungan antara pelajaran di sekolah dengan dunia kerja dan masalah kehidupan nyata, ikut menyebabkan rendahnya motivasi belajar matematika siswa, Suryanto (dalam Asmadi, 2011). Hasil penelitian Joubert M. dan Andrews, P (2010:78) menyatakan bila siswa terhubung dengan konteks (permasalahan sehari-hari), siswa dapat memahami apa yang mereka kerjakan, dan tidak perlu banyak menghafal konsep dan prosedur yang tidak bermakna bagi mereka. Berdasarkan paparan kondisi di atas, Realistic Mathematics Education (RME) menawarkan solusi. RME adalah pendekatan pembelajaran matematika dari hal yang riil bagi siswa, sehingga diharapkan siswa akan menjadi termotivasi untuk belajar matematika. Menurut Ilma (2011:549) dua pandangan penting Fruedenthal adalah mathematics must be connected to reality and mathematics as human activity. Pertama, matematika harus dekat terhadap siswa dan harus relevan dengan situasi kehidupan seharihari siswa. Kedua, ia menekankan bahwa matematika sebagai aktivitas manusia, sehingga siswa harus diberi kesempatan untuk belajar melakukan aktivitas semua topik dalam matematika. Penerapan pembelajaran dengan RME telah berhasil meningkatkan hasil belajar pada beberapa SD dan SMP di Indonesia (Azhar & Kusuma, 2011:214). Pembelajaran bercirikan RME juga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan matematis siswa. Menurut National Council of Teacher of Mathematics (NCTM) (2000) mengenai tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran matematika, ada lima standar kemampuan matematis yang harus dimiliki oleh siswa, yaitu kemampuan pemecahan masalah, kemampuan komunikasi, kemampuan koneksi, kemampuan penalaran, dan kemampuan representasi. Nampak bahwa kemampuan komunikasi termuat pada kemampuan standar menurut NCTM. Artinya, kemampuan ini merupakan kemampuan yang penting untuk dikembangkan dan dimiliki oleh siswa dalam belajar matematika, yang dalam hal ini luas permukaan bangun ruang sisi datar. Pendekatan pembelajaran RME sesuai digunakan untuk pencapaian kemampuan komunikasi pada materi luas permukaan bangun ruang sisi datar karena dalam RME siswa mendapat soal-soal kontekstual tentang luas permukaan bangun ruang sisi datar dari dunia nyata lalu menyelesaikan soal-soal tersebut dengan cara, bahasa, dan simbol mereka sendiri, yang sering disebut sebagai proses matematisasi horizontal, Treffers (dalam Widjaja&Heck, 2003:2). 2

3 PEMBAHASAN 1. Kajian Tentang Luas Permukaan Bangun Ruang Sisi Datar Bangun ruang sisi datar yang diajarkan di SMP kelas VIII sesuai kurikulum 2013 adalah prisma dan limas. Prisma mencakup kubus dan balok yang merupakan prisma segiempat. Limas yang dibahas adalah limas segiempat. Bentukbentuk bangun ruang tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut ini : Gambar 2.1 Bangun ruang sisi datar di SMP yang dibahas pada makalah ini adalah kubus, balok, prisma dan limas, yang akan dijelaskan berikut ini: 1. Kubus Kubus adalah suatu bangun ruang yang dibentuk dari enam bidang sisi yang kongruen berbentuk persegi dan membentuk ruang di dalamnya Sulaiman (2008). Luas permukaan kubus adalah jumlah luas seluruh permukaan (bidang) kubus. Luas permukaan kubus sama dengan luas jaring-jaringnya. Jaring-jaring kubus terdiri atas 6 persegi dengan sisisisinya, misalkan s. Jadi luas permukaan kubus = 6s 2. Gambar 2.3 Balok dan salah satu jaring-jaringnya 3. Prisma Prisma adalah bangun ruang tertutup yang dibatasi oleh dua sisi berbentuk segi banyak yang sejajar dan kongruen, serta sisi-sisi lainnya berbentuk persegi panjang (sebagai sisi-sisi tegak). Contoh: kubus, balok, prisma segitiga. Luas permukaan prisma adalah jumlah luas seluruh bidangbidang sisinya atau bidang-bidang yang membentuk jaring-jaring prisma, Cholik (2002:64). Luas permukaan prisma adalah L= Luas alas prisma + Luas selimut prisma. Gambar 2.4 Prisma dan salah satu jaring-jaringnya 4. Limas Limas adalah bangun ruang yang alasnya berbentuk segi banyak dan bidangbidang sisi tegaknya berbentuk segitiga yang berpotongan pada satu titik yang di sebut titik puncak limas. Contoh: piramida, kerucut, limas segitiga. Luas permukaan limas adalah jumlah luas seluruh bidangbidang sisinya atau bidang-bidang yang membentuk jaring-jaring, Cholik (2002: 64). Luas permukaan limas adalah L = Luas alas limas + Luas selimut limas. Gambar 2.2 Kubus dan salah satu jaring-jaringnya 2. Balok Balok adalah suatu bangun ruang yang dibentuk dari enam bidang atau 3 pasang sisi yang masing-masing pasang kongruen dan membentuk suatu ruang di dalamnya, Sulaiman (2008). Luas permukaan balok adalah jumlah luas seluruh permukaan (bidang) balok. Luas permukaan balok sama dengan luas jaringjaringnya. Luas permukaan balok dengan panjang= p, lebar = l dan tinggi = t adalah L = 2 (pl+ pt + lt). Gambar 2.5 Limas dan salah satu jaring-jaringnya Realistic Mathematics Education (RME) Realistic Mathematics Education (RME), yang diterjemahkan sebagai pendidikan matematika realistik (PMRI), adalah suatu pendekatan belajar matematika yang dikembangkan sejak tahun 1971 oleh sekelompok ahli matematika dari Freudenthal Institute, Utrecht University di Negeri Belanda. Pendekatan ini didasarkan pada 3

4 anggapan Hans Freudenthal ( ) bahwa matematika adalah kegiatan manusia (Marja & Panhuzen, 2003:11). Menurut Hartono (2009:1) pendekatan matematika realistik adalah salah satu pendekatan belajar matematika yang dikembangkan untuk membuat siswa menyenangi matematika. Masalah-masalah nyata dari kehidupan sehari-hari digunakan sebagai titik awal pembelajaran matematika untuk menunjukkan bahwa matematika sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Benda-benda nyata yang akrab dengan kehidupan keseharian siswa dijadikan sebagai alat peraga dalam pembelajaran matematika. Sedangkan, menurut Treffers (dalam Widjaja & Heck,2003:2) matematisasi pada RME dibedakan menjadi dua, yaitu matematisasi horizontal dan matematisasi vertikal. Matematisasi horizontal adalah proses penyelesaian soal-soal kontekstual dari dunia nyata. Dalam matematika horizontal, siswa mencoba menyelesaikan soal-soal dari dunia nyata dengan cara mereka sendiri, dan menggunakan bahasa dan simbol mereka sendiri. Matematisasi horizontal berarti bergerak dari dunia nyata ke dalam dunia simbol dengan kata lain matematisasi horizontal Menghasilkan konsep, prinsip, atau model matematika dari masalah kontekstual sehari-hari. Sedangkan matematisasi vertikal adalah proses formalisasi konsep matematika. Dalam matematisasi vertikal, siswa mencoba menyusun prosedur umum yang dapat digunakan untuk menyelesaikan soal-soal sejenis secara langung tanpa bantuan konteks. Dengan kata lain menghasilkan konsep, prinsip, atau model matematika dari matematika sendiri termasuk matematisasi vertikal. a. Prinsip-Prinsip Realistic Mathematics Education (RME) Gravemeijer (dalam Irawanto,2005) mengemukakan 3 prinsip utama pada pendekatan RME yaitu: 1. Penemuan terbimbing dan pematematikaan progresif. Menurut prinsip penemuan, siswa harus diberi kesempatan untuk mengalami suatu proses yang sama dengan proses ketika konsep matematika ditentukan. 2. Fenomenologi didaktif. Menurut prinsip ini, topik matematika yang diberikan diterapkan untuk dua alasan yaitu kegunaan serta kontribusinya untuk perkembangan matematika lebih lanjut yaitu dapat digunakan untuk menentukan situasi yang dapat memunculkan paradigma prosedur solusi sebagai dasar pematematikaan vertikal. 3. Model dikembangkan sendiri. Ketika pengerjaan masalah kontekstual, siswa mengembangkan model mereka sendiri yang dapat menjembatani antara pengalaman informal dengan matematika formal. b. Karakteristik Realistic Mathematics Education (RME) Lima karakteristik Realistic Mathematics Education (RME) menurut Treffers (dalam Wijaya, 2012) adalah : 1. Penggunaan Konteks (Used of context) Konteks atau permasalahan realistic digunakan sebagai titik awal pembeljaran matematika. Melalui penggunaan konteks, siswa dilibatkan secara aktif untuk melakukan kegiatan eksplorasi permasalahan. Hasil eksplorasi siswa tidak hanya bertujuan untuk menemukan jawaban akhir dari permasalahan yang diberikan, tetapi juga diarahkan untuk mengembangkan berbagai strategi penyelesaian masalah yang bisa digunakan. Pembelajaran yang langsung diawali dengan penggunaan matematika formal cenderung akan menimbulkan kecemasan matematika (mathematics anxiety). 2. Penggunaan Model (Used of models) Model digunakan dalam melakukan matematika secara progresif, penggunaan model berfungsi sebagai jembatan (bridge) dari pengetahuan dan matematika tingkat konkrit menuju pengetahuan matematika tingkat formal. 3. Pemanfaatan Hasil Konstruksi Siswa Dalam pembelajaran realistic mathematics education (RME) siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. 4

5 Siswa memiliki kebebasan untuk mengembangkan strategi pemecahan masalah sehingga diharapkan akan diperoleh strategi yang bervariasi. Hasil kerja dan konstruksi siswa selanjutnya digunakan untuk landasan pengembangan konsep matematika. 4. Interaktivitas (Interactivity) Proses belajar seseorang bukan hanya suatu proses individu melainkan juga secara bersamaan merupakan suatu proses sosial. Proses belajar siswa akan menjadi lebih singkat dan bermakna ketika siswa saling mengkomunikasikan hasil kerja dan gagasan mereka. Pemanfaatan interaksi dalam pembelajaran matematika bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan kognitif dan afektif secara simultan. 5. Keterkaitan (Intertwinning) Konsep-konsep dalam matematika tidak bersifat parsial, namun banyak konsep matemtika yang memiliki keterkaitan. Oleh karena itu, konsep-konsep matematika tidak dikenalkan kepada siswa secara terpisah atau terisolasi satu sama lain. c. Langkah-langkah Pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) Menurut Hadi (2005:37) pembelajaran matematika RME meliputi aspek-aspek : (a) memulai pembelajaran dengan mengajukan masalah yang riil bagi peserta didik sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga peserta didik terlibat aktif dalam pembelajaran matematika (b)permasalahan yang diajukan harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, (c)peserta didik mengembangkan modelmodel simbolik secara informal terhadapa masalah yang diajukan dan (d)pembelajaran berlangsung secara interaktif, peserta didik menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikan, memahami jawaban teman, menyatakan ketidaksetujuanya mencara alternatif penyelesaian lain dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pembelajaran. Sedangkan peran guru dalam pembelajaran realistik, menurut Hadi (2005 :39) yaitu : (a) guru hanya sebagai fasilitator, (b) guru harus mampu membangun pembelajaran yang interaktif, (c) guru memberikan kesempatan kepada peserta didik secara aktif menyumbang pada proses belajar dirinya dan membantu peserta didik untuk menafsirkan persoalan riil, dan (d) guru tidak hanya terpaku pada kurikulum semata melainkan aktif mengaitkan kurikulum dengan dunia rill. Berdasarkan uraian diatas langkahlangkah pembelajaran yang mengacu pada RME dapat dirumuskan. Langkah-langkah dalam pembelajaran yang mengacu RME terdiri atas 4 langkah pokok berikut. 1. Memahami masalah kontekstual Langkah ini merupakan kegiatan peserta didik dalam memahami masalah. Masalah itu mengacu pada konteks peserta didik. Apabila peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami masalah kontestual, guru perlu memberi pancingan agar peserta didik terarah apada pemahaman tersebut. Dalam langkah ini muncul prinsip RME berupa guided reinvention dan didactical phenomology. Karakteristik RME yang muncul menggunakan konteks, kontribusi peserta didik, interaktif antara guru dan siswa. 2. Menyelesaikan masalah kontekstual Langkah ini dilakukan peserta didik setelah peserta didik memahami masalah. Untuk menyelesaikan masalah kontekstual, perlu digunakan model berupa benda manipulatif, skema atau diagram untuk menjembantani kesenjangan antara konkrit dan abstrak, atau dari abstraksi yang satu ke abstraksi selanjutnya. Pada langkah ini muncul semua prinsip RME, sedangkan karakteristik RME yang muncul menggunakan konteks, menggunakan model interaktif antara sumber belajar dengan peserta didik. 3. Membandingkan dan mendiskusikan jawaban Langkah ini merupakan tempat peserta didik berkomunikasi dan memberikan sumbangan jawaban atau gagasan. 5

6 Sumbangan jawaban atau gagasan peserta didik perlu diperhatikan dan dihargai agar terjadi pertukaran gagsan dalam proses pembelajaran. Peserta didik memproduksi dan mengkonstruksi gagasan mereka, sehingga proses pembelajaran menjadi konstruktif dan produktif. Proses pembelajaran menjadi interaktif, karena peserta didik yang satu dengan peserta didik lainnya dan peserta didik dengan guru mengadakan pertukaran gagasan. Pada langkah ini muncul semua prinsip RME, sedangkan karakteristik RME yang muncul berupa konteks, menggunakan model, kontribusi peserta didik dan interaktif. 4. Menyimpulkan Langkah ini merupakan tempat peserta didik dan guru membuat kesepakatan untuk sampai pada konsep. Peserta diminta membuat kesimpulan tentang apa yang telah dikerjakan sebelumnya, jika peserta didik masih mengalami kebingungan, guru perlu mengarahkan kearah simpulan yang seharusnya. Dalam langkah ini muncul prinsip RME guided reinvention. Karakteristik RME berupa kontribusi peserta didik dan interaktif. 2. Komunikasi Matematis Kemampuan komunikasi matematis merupakan kesanggupan/kecakapan seorang siswa untuk dapat menyatakan dan menafsirkan gagasan matematika secara lisan, tertulis, atau mendemons-trasikan apa yang ada dalam soal matematika (Depdiknas, 2004:24). Berdasarkan NCTM (2000) standar komunikasi matematis program pengajaran dari pra-tk sampai kelas 12 harus memungkinkan semua siswa untuk : a) Mengatur dan menggabung-kan pemikiran matematis melalui komunikasi, b) Mengkomunikasikan pemikiran matematika secara koheren dan jelas kepada teman, guru, dan orang lain, c) Menganalisa dan menilai pemikiran danstrategi matematis orang lain, d) Menggunakan bahasa matematika untuk menyatakan ide matematika dengan tepat. Belajar berkomunikasi dalam matematika membantu perkembangan interaksi dan pengungkapan ide-ide di dalam kelas karena siswa belajar dalam suasana yang aktif. Cara terbaik untuk berhubungan dengan suatu ide adalah mencoba menyampaikan ide tersebut kepada orang lain. Baroody (Ansari: 2003) mengatakan bahwa pembelajaran harus dapat membantu siswa mengkomunikasikan ide matematika melalui lima aspek komunikasi yaitu representing (refresentasi), listening (mendengar), reading (membaca), discussing (diskusi) dan writing(menulis). a. Representing (refresentasi) Refresentasi adalah: (1) bentuk baru sebagai hasil translasi dari suatu masalah atau ide, (2) translasi suatu diagram atau model fisik ke dalam simbol atau kata-kata (NCTM, 1989: 26). Misalnya, refresentasi suatu diagram ke dalam bentuk simbol atau kata-kata. Refresentasi dapat membantu anak menjelaskan konsep atau ide, dan memudahkan anak mendapatkan strategipemecahan masalah (Ansari, 2003:21) b. Listening(mendengar) Seseorang tidak akan memahami suatu informasi dengan baik apabila tidak mendengar yang diinformasi-kan. Dalam kegiatan pembelajaran mendengar merupakan aspek penting. Siswa tidak akan mampu berkomentar dengan baik apabila tidak mampu mengambil inti sari dari suatu topik diskusi. Siswa sebaiknya mendengar dengan hati-hati manakala ada pertanyaan dan komentar temantemannya. Baroody (Ansari, 2003: 23) mengatakan bahwa mendengar secara hati-hati terhadap pertanyaan teman dalam suatu grup juga dapat membantu siswa mengkonstruksi lebih lengkap pengetahuan matematika dan mengatur strategi jawaban yang lebih efektif. Pentingnya mendengar juga dapat mendorong siswa berfikir tentang jawaban pertanyaan. c. Reading(membaca) Membaca matematika memiliki peran sentral dalam pembelajaran matematika. Sebab, kegiatan membaca mendorong 6

7 siswa belajar bermakna secara aktif. Istilah membaca diartikan sebagai serangkaian keterampilan untuk menyusun intisari informasi dari suatu teks. Pembaca dikatakan memahami teks secara bermakna apabila ia dapat mengemukakan idea dalam teks secara benar dalam bahasanya sendiri. Karena itu, untuk memeriksa apakah siswa telah memiliki kemampuan mambaca teks matematika secara bermakna, maka dapat diestimasi melalui kemampuan siswa menyampaikan secara lisan atau menuliskan kembali idea matematika dengan bahasanya sendiri. d. Discussing(diskusi) Salah satu wahana berkomunikasi adalah diskusi. Dalam diskusi akan terjadi transfer informasi antar anggota kelompok diskusi tersebut. Diskusi merupakan lanjutan dari membaca dan mendengar. Siswa akan mampu menjadi peserta diskusi yang baik, dapat berperan aktif dalam diskusi, dapat mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya apabila mempunyai kemampuan membaca, mendengar dan mempunyai keberanian memadai. Melalui diskusi siswa dapat menanamkan dan meningkatkan cara berfikir kritis. e. Writing(menulis). Salah satu kemampuan yang berkontribusi terhadap kemampuan komunikasi matematika adalah menulis. Dengan menulis siswa dapat mengungkapkan atau merefleksikan pikirannya lewat tulisan (dituangkan di atas kertas/alat tulis lainnya). Dengan menulis siswa secara aktif membangun hubungan antara yang ia pelajari dengan apa yang sudah ia ketahui. Berdasarkan penjelasan yang telah dikemukakan di atas, maka kemampuan komunikasi matematik yang dikaji adalah representing (refresentasi), listening (mendengar), reading (membaca), discussing (diskusi) dan writing (menulis). Kemampuan siwa dalam refresentasi, mendengar, membaca, diskusi dan menulis dapat membantu siswa untuk memperjelas pemikiran mereka dan dapat mempertajam kemampuan komunikasi matematikanya. RME dan Komunikasi Matematis pada Luas Permukaan Bangun Ruang Sisi Datar Pendekatan pembelajaran yang diperlukan untuk membantu siswa menguasai konsep pembelajaran yang diajarkan yaitu dengan menggunakan konsep pembelajaran yang membuat siswa mampu menyelesaikan permasalahannya sendiri, antara lain adalah pendekatan pembelajaran RME. Pendekatan pembelajaran RME sesuai digunakan untuk pencapaian kemampuan komunikasi pada materi luas permukaan bangun ruang sisi datar karena prinsip-prinsip dan karakteristik RME mendukung siswa melatih kemampuan komunikasi. Di bawah ini adalah langkah-langkah pembelajaran RME pada materi luas permukaan bangun datar yang memuat aspek-aspek kemampuan komunikasi. 3. Langkah-langkah Pembelajaran RME yang Memuat Aspek Kemampuan Komunikasi A. Tahap Awal Kegiatan Guru : 1.Membuka pelajaran dengan salam, mempresensi siswa & menanyakan kabar hari ini. 2.Meminta siswa menempati kelompok 3.Memberikan apersepsi misalnya menanyakan kepada siswa "Apakah kalian pernah melihat tenda pramuka? Berbentuk apakah tenda pramuka itu?" 4.Memberi motivasi siswa dengan berkata "Apakah kalian tahu bagaimana menentukan menentukan luas kain yang diperlukn untuk membuat tenda pramuka itu? 5.Membagikan LKS dan benda konkrit berbentuk balok dan prisma segitiga masing- masing 1 buah Kegiatan Siswa: 1.Menjawab salam dan memperhatikan yang disampaikan guru 2.Menempati kelompok yang ditentukan guru 7

8 3.Menjawab pertanyaan guru dengan menghu bungkan benda-benda di sekitar dengan bentuk prisma. 4.Memperhatikan motivasi guru dan menjawab pertanyaan yang diberikan 5.Menerima LKS dan benda konkrit berbentuk balok & prisma segitiga masing- masing 1 buah Aspek RME : Memahami Masalah Kontekstual Aspek Kemampuan Komunikasi : Mendengar B. Tahap Inti Kegiatan Guru: 1. Meminta siswa membaca dan memahami LKS tentang luas permukaan balok dan prisma segitiga. 2. Memberi kesempatan siswa untuk menggunakan strategi nya dalam menyelesaikan LKS. 3. Berkeliling untuk memberi bimbingan kpd siswa yang mengalami kesulitan. 4. Meminta siswa membandingkan & mendiskusikan hasil jawaban LKS dalam 1 klompok. 5. Meminta salah satu klompok mempresentasikan hasil pekerjaan yang telah didiskusikan dalam 1 klompok. 6. Membantu kelancaran kegiatan diskusi Kegiatan Siswa: 1. Membaca & memahami LKS tentang luas permukaan balok dan prisma Segitiga. 2. Menggunakan strategi dalam menyelesaikan LKS. 3. Bertanya kepada guru jika ada yang kurang dipahami tentang soal pada LKS. 4. Membandingkan & mendiskusikan hasil jawaban dalam 1 klompok. 5. Mempresentasikan hasil kerja klompok berupa hasil diskusi. 6. Melakukan tanya jawab dengan klompok lain atau memberi tanggapan. Aspek RME : Memahami Masalah Kontekstual Membandingkan & mendiskusikan jawaban siswa Diskusi (kelas) Aspek Kemampuan Komunikasi: Membaca Representasi dan menulis Diskusi C. Tahap Akhir Kegiatan Guru : 1. Mengarahkan siswa membuat kesimpulan tentang pembelajaran luas permukaan balok & prisma segitiga. 2. Melakukan evaluasi terkait pembelajaran, seperti respon siswa selama pembelajaran. 3. Memberi siswa PR tentang materi hari ini&mengakhiri pembelajaran dgn salam. Kegiatan Siswa: 1. Mendengarkan penjelasan guru & membuat kesimpulan tentang luas permukaan balok dan prisma. 2. Menjawab pertanyaan & mencatat hal penting yg disampaikan guru. Mencatat PR yang diberikan guru&menjawab salam. PENUTUP Dari pembahasan mengenai kajian Realistic Mathematics Education (RME) dan komunikasi matematis pada materi luas permukaan bangun ruang sisi datar, dapat diketahui bahwa penggunaan pendekatan pembelajaran RME dalam pembelajaran geometri, khususnya bangun ruang sisi datar, dapat membantu siswa dalam memahami konsep luas permukaan bangun ruang sisi datar. Pendekatan pembelajaran RME sesuai digunakan untuk pencapaian kemampuan komunikasi pada materi luas permukaan bangun ruang sisi datar karena siswa mendapat soal-soal kontekstual tentang luas permukaan bangun ruang sisi datar dari dunia nyata lalu menyelesaikan soal-soal tersebut dengan cara mereka sendiri dan menggunakan bahasa dan simbol yang mereka pahami. Dalam pembelajaran RME siswa ditempatkan. 8

9 Sebagai subjek belajar yang memiliki kebebasan untuk mengembangkan strategi pemecahan masalah dan mengkonstruksi pemahaman, sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Dalam makalah ini terbatas dalam pengkajian salah satu kemampuan matematis yaitu kemampuan komunikasi. Sebagai saran untuk pembaca, akan lebih menarik apabila untuk selanjutnya dilakukan pengkajian atau penelitian yang memuat kemampuan komunikasi dan kemampuan matematis lainnya, seperti kemapuan pemecahan masalah, kemampuan koneksi, kemampuan penalaran dan kemampuan representasi beserta rubrik penskorannya yang lebih lengkap. Hasil penelitian tersebut pastinya dapat membantu guru untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan memotivasi siswa untuk belajar matematika sehingga dapat lebih mudah memahami konsep dalam matematika dan mencapai standar kemampuan matematis. Dalam makalah ini terbatas dalam pengkajian salah satu kemampuan matematis yaitu kemampuan komunikasi. Sebagai saran untuk pembaca, akan lebih menarik apabila untuk selanjutnya dilakukan pengkajian atau penelitian yang memuat kemampuan komunikasi dan kemampuan matematis lainnya, seperti kemapuan pemecahan masalah, kemampuan koneksi, kemampuan penalaran dan kemampuan representasi beserta rubrik penskorannya yang lebih lengkap. Hasil penelitian tersebut pastinya dapat membantu guru untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan memotivasi siswa untuk belajar matematika sehingga dapat lebih mudah memahami konsep dalam matematika dan mencapai standar kemampuan matematis. Ada 4 langkah pembelajaran yang mengacu pada RME yaitu 1)memahami masalah kontekstual, 2)menyelesaikan masalah kontekstual, 3)membandingkan dan mendiskusikan jawaban & 4)menyimpulkan. Dalam penerapan langkah pembelajaran tersebut, memuat 5 aspek komunikasi yang diamati, yaitu representing (refresentasi), listening (mendengar), reading (membaca), discussing (diskusi)&writing (menulis). Kemampuan siwa dalam representasi, mendengar, membaca, diskusi &menulis dapat membantu siswa untuk mmperjelas pemikiran mereka & dapat mmpertajam kemampuan komunikasi matematikanya. Untuk melaksanakan pembelajaran yang bercirikan RME, perlu disiapkan perangkat pembelajaran yang mendukung pencapaian tujuan dalam pembelajaran, misalnya RPP dan LKS. Pada lampiran B dan C akan diberikan contoh RPP dan LKS bercirikan RME yang melatih kemampuan komunikasi siswa. DAFTAR PUSTAKA Ansari, Bansu I. 2003, Menumbuhkembangkan Kemampuan Pemahaman dan Kmunikasi Matematika Siswa SMU Melalui Strategi Think-Talk-Write, Disertasi, Bandung: UPI, Tidak dipublikasikan. Asmadi Pengembangan Perangkat Pembelajaran Realistik Materi Garis dan Sudut Kelas VIII SMP RSBI. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana UM. Azhar & Kusuma, Pengembangan Perangkat Pembelajaran Teori Peluang Bercirikan RME Untuk Meningkatkan Pemahaman, Penalaran, dan Komunikasi Matematik Siswa SLTA. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika di Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY, Yogyakarta, 3 Desember Hadi, S Pendidikan Matematika Realistik. Banjarmasin: Tulip. Ilma, R Improving Mathematics Comunication Ability Of Students In Grade 2 Through PMRI Approac. Makalah disajikan pada Seminar and the Fourth National Conference on Mathematics Education. Department of Mathematics Education, 9

10 Yogyakarta State University, Juli Hartono, Yusuf Pendekatan Matematika Realistik. (online), (http:edywiharjo.blog.unej.ac.id/wpcontent/uploads/pengembanganpembe lajaranmatematika_unit_7.pdf), diakses 1 Mei Kartini, Meningkatkan Kemampuan Komunikasi. (online) (http://kartini okey.blogspot.com/2010/05/meningka tkan-kemampuan-komunikasi.html) diakses tanggal 10 Oktober 2013 Irawanto, Didin Pengembangan Perangkat Ajar Persamaan Garis Lurus Mengacu Pada Realistic Mathematics Education (RME) di SMP Kelas VIII Semester I. Skripsi tidak diterbitkan. Malang:FMIPA UM. Joubert, M, & Andrews, P Using Realistic Mathematics Education with low to middle attaining pupils in secondary schools. Proceedings of the British Congress for Mathematics Education. Marja & Panzhuen, The Didactical Use of Models in Realistic Mathematics Education: an Example From a Longitudinal Trajectory on Percentage. Journal Educational Studies in Mathematics, 54: NCTM, Curriculum and Evaluation Standards for School Mathematics. Reston, VA: Authur. Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Kemdikbud, Survei Internasional PISA Rudiyanto & S. B. Waluya Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Volum Benda Putar Bercirikan Teknologi Dengan Strategi Konstruktivisme Student Active Learning Berbantuan CD Interaktif Kelas XII., (Online), p/kreano/article/view/220, diakses tanggal 16 maret Van de Walle, John A Pengembangan Pengajaran Matematika Sekolah Dasar dan Menengah. Jakarta : Erlangga. Widiyanto, R Pentingnya Kecerdasan Spasial dalam Pembelajaran Geometri, (Online), (http://rendikwidiyanto.wordpress.com /2012/11/07/pentingnya-kecerdasanspasial-dalam-pembelajarangeometri/), diakses tgl 1 Maret Widjaja & Heck How a Realistic Mathematics Education Approach and Microcomputer-Based Laboratory Worked in Lessons on Graphing at an Indonesian Junior High School. Journal of Science and Mathematics Education in Southeast Asia. 26 (2),1-51. Wijaya, A Pendidikan Matematika Realistik. Jogjakarta: Graha Ilmu. Yuli, T PMRI: Pembelajaran Matematika yang Mengembangkan Penalaran, Kreativitas dan Kepribadian Siswa.. Makalah Disajikan dalam Workshop Pembelajaran Matematika di MI Nurul Rohmah, 8 mei

PENGEMBANGAN MATERI LUAS PERMUKAAN DAN VOLUM LIMAS YANG SESUAI DENGAN KARAKTERISTIK PMRI DI KELAS VIII SMP NEGERI 4 PALEMBANG

PENGEMBANGAN MATERI LUAS PERMUKAAN DAN VOLUM LIMAS YANG SESUAI DENGAN KARAKTERISTIK PMRI DI KELAS VIII SMP NEGERI 4 PALEMBANG PENGEMBANGAN MATERI LUAS PERMUKAAN DAN VOLUM LIMAS YANG SESUAI DENGAN KARAKTERISTIK PMRI DI KELAS VIII SMP NEGERI 4 PALEMBANG Hariyati 1, Indaryanti 2, Zulkardi 3 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut: 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Matematika adalah bagian yang sangat dekat dengan kehidupan seharihari. Berbagai bentuk simbol digunakan manusia sebagai alat bantu dalam perhitungan, penilaian,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pemahaman Konsep Matematika Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), disebutkan bahwa standar kompetensi mata pelajaran

Lebih terperinci

Desain Pembelajaran PMRI 4: "Jika Kamu Penjahit yang Pintar, Berapa cm Panjang Lingkar. Pinggang Pemesan Baju itu?"

Desain Pembelajaran PMRI 4: Jika Kamu Penjahit yang Pintar, Berapa cm Panjang Lingkar. Pinggang Pemesan Baju itu? Desain Pembelajaran PMRI 4: "Jika Kamu Penjahit yang Pintar, Berapa cm Panjang Lingkar A. Pendahuluan Pinggang Pemesan Baju itu?" Ahmad wachidul kohar 1 Fanni Fatoni 2 Wisnu Siwi Satiti 3 IMPoME, Sriwijaya

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN BANGUN RUANG (1)

PEMBELAJARAN BANGUN RUANG (1) H. SufyaniPrabawant, M. Ed. Bahan Belajar Mandiri 5 PEMBELAJARAN BANGUN RUANG (1) Pendahuluan Bahan belajar mandiri ini menyajikan pembelajaran bangun-bangun ruang dan dibagi menjadi dua kegiatan belajar.

Lebih terperinci

Anita Windarini SMP Negeri 1 Sanggau anitanajori@rocketmail.com

Anita Windarini SMP Negeri 1 Sanggau anitanajori@rocketmail.com Windarini, Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif dan Media Manipulatif, 1 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD DAN MEDIA MANIPULATIF DALAM PEMBELAJARAN LUAS PERMUKAAN BANGUN RUANG SISI LENGKUNG

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Mulyati, 2013

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Mulyati, 2013 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sering dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit dan membosankan bagi siswa. Begitu pula bagi guru, matematika dianggap sebagai pelajaran yang sulit

Lebih terperinci

UNIT 7 PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK. Yusuf Hartono. Pendahuluan

UNIT 7 PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK. Yusuf Hartono. Pendahuluan UNIT 7 PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK Yusuf Hartono Pendahuluan M atematika itu sulit! Begitu kesan yang beredar di antara sebagian besar siswa dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, bahkan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORETIS. Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan

BAB II KAJIAN TEORETIS. Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan BAB II KAJIAN TEORETIS 2.1 Hakekat Soal Cerita yang Diajarkan di Sekolah Dasar 2.1.1 Pengertian Soal Cerita Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan mudah dipahami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemahaman konsep merupakan dasar dan tahapan penting dalam rangkaian pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam Gunawan 1, a student's

Lebih terperinci

Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi. Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY

Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi. Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY Abstrak Pembelajaran di abad informasi menyebabkan terjadinya pergeseran fokus dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Kelas/Semester Alokasi waktu : SMA Negeri 1 Sukasada : Matematika : X/1 (Ganjil) : 2 x 4 menit (1 pertemuan) I. Standar Kompetensi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Efektivitas Pembelajaran Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu

Lebih terperinci

PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis

PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis Untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mencapai derajat Magister

Lebih terperinci

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat S-1 Pendidikan Matematika. Diajukan Oleh : WAHYU VITA LESTARI A 410 060 130

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat S-1 Pendidikan Matematika. Diajukan Oleh : WAHYU VITA LESTARI A 410 060 130 EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN METODE PENEMUAN TERBIMBING DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL SISWA (Untuk Kelas VIII SMP N 1 Tirtomoyo Semester Genap Pokok Bahasan Prisma) SKRIPSI Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII

ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII Oleh Adi Wijaya, S.Pd, MA PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) MATEMATIKA

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Examples Non Examples Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga lima orang dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja

Lebih terperinci

SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VIII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH KURIKULUM 2013

SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VIII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH KURIKULUM 2013 SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VIII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH KURIKULUM 2013 SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/ MADRASAH TSANAWIYAH KELAS VII KURIKULUM

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Program Studi Matematika

NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Program Studi Matematika UPAYA MENGATASI MISKONSEPSI SISWA MELALUI METODE PEMBELAJARAN DELIKAN (DENGAR, LIHAT, KERJAKAN) PADA SISWA KELAS VIII SEMESTER GENAP SMP MUHAMMADIYAH 2 SURAKARTA NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian

Lebih terperinci

PENERAPAN PEMBELAJARAN SUSUN BANGUN DATAR MANDIRI DALAM PRAKTIK LESSON STUDY DI SD GMIH IDAMGAMLAMO DAN SD LOCE HALMAHERA BARAT

PENERAPAN PEMBELAJARAN SUSUN BANGUN DATAR MANDIRI DALAM PRAKTIK LESSON STUDY DI SD GMIH IDAMGAMLAMO DAN SD LOCE HALMAHERA BARAT PENERAPAN PEMBELAJARAN SUSUN BANGUN DATAR MANDIRI DALAM PRAKTIK LESSON STUDY DI SD GMIH IDAMGAMLAMO DAN SD LOCE HALMAHERA BARAT Welhelmus Denny SD Loce Kecamatan Sahu Timur Kabupaten Halmahera Barat Abstrak:

Lebih terperinci

Penerapan model pembelajaran langsung dalam mata pelajaran matematika SMP/MTs. Oleh. Dra. Theresia Widyantini, M.Si

Penerapan model pembelajaran langsung dalam mata pelajaran matematika SMP/MTs. Oleh. Dra. Theresia Widyantini, M.Si ARTIKEL Penerapan model pembelajaran langsung dalam mata pelajaran matematika SMP/MTs Oleh Dra. Theresia Widyantini, M.Si PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) MATEMATIKA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Dan salah satu hal yang menentukan kualitas pembelajaran adalah

Lebih terperinci

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark.

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark. Proses Berpikir Siswa dalam Pengajuan Soal Tatag Yuli Eko Siswono Universitas Negeri Surabaya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses berpikir siswa dalam mengajukan soal-soal pokok

Lebih terperinci

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG Umar Wirahadi Kusuma Universitas Negeri Malang Pembimbing

Lebih terperinci

Modul Matematika Segi Empat

Modul Matematika Segi Empat Modul Matematika Segi Empat Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP-Standar Isi 2006) Berdasarkan Pendekatan Kontekstual Untuk Siswa SMP Kelas VII Semester 2 Penulis : Tutik Shahidayanti Pembimbing :

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Untuk SMA/MA Kelas X Mata Pelajaran : Matematika (Wajib) Penerbit dan Percetakan Jl. Tengah No. 37, Bumi Asri Mekarrahayu Bandung-40218 Telp. (022) 5403533 e-mail:srikandiempat@yahoo.co.id

Lebih terperinci

Peran Penting Guru Matematika dalam Mencerdaskan Siswanya

Peran Penting Guru Matematika dalam Mencerdaskan Siswanya Peran Penting Guru Matematika dalam Mencerdaskan Siswanya Fadjar Shadiq, M.App.Sc (fadjar_p3g@yahoo.com & www.fadjarp3g.wordpress.com) Peran guru matematika sangat penting. Guru matematika akan sangat

Lebih terperinci

Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono

Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono washington College of education, UNESA, UM Malang dan LAPI-ITB. 1 Pebruari 8 Maret dan 8-30 April 2002 di Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono Dalam pembelajaran matematika, sistem evaluasinya

Lebih terperinci

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR Disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SD Jenjang Lanjut Tanggal 6 s.d. 9 Agustus 200 di PPPG Matematika Oleh: Dra. Sukayati, M.

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. A. Pengertian Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving)

BAB II KAJIAN TEORI. A. Pengertian Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving) 8 BAB II KAJIAN TEORI A. Pengertian Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving) Strategi Pemecahan Masalah bidang studi Matematika ini ditujukan untuk para pengajar bidang studi Matematika sebagai alternatif

Lebih terperinci

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS IIIB MI ALMAARIF 03 LANGLANG SINGOSARI

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS IIIB MI ALMAARIF 03 LANGLANG SINGOSARI PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS IIIB MI ALMAARIF 03 LANGLANG SINGOSARI Arlita Agustina 1 Muakibatul Hasanah 2 Heri Suwignyo 2 Email: arlitaagustina@ymail.com

Lebih terperinci

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Menyelesaikan Studi Program Strata Satu

Lebih terperinci

PENGARUH PERMAINAN DOMINO TERHADAP KETERAMPILAN OPERASI HITUNG PECAHAN PADA SISWA KELAS V SD SWASTA PAB 23 PATUMBAK II KABUPATEN DELI SERDANG

PENGARUH PERMAINAN DOMINO TERHADAP KETERAMPILAN OPERASI HITUNG PECAHAN PADA SISWA KELAS V SD SWASTA PAB 23 PATUMBAK II KABUPATEN DELI SERDANG 1 PENGARUH PERMAINAN DOMINO TERHADAP KETERAMPILAN OPERASI HITUNG PECAHAN PADA SISWA KELAS V SD SWASTA PAB 23 PATUMBAK II KABUPATEN DELI SERDANG Sukmawarti Dosen Kopertis Wilayah I dpk pada FKIP Universitas

Lebih terperinci

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran di Jepang (Contoh) Kondisi Kesebangunan Segitiga Membuat Segitiga dari Sedotan Berisi Kawat

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran di Jepang (Contoh) Kondisi Kesebangunan Segitiga Membuat Segitiga dari Sedotan Berisi Kawat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran di Jepang (Contoh) Kondisi Kesebangunan Segitiga Membuat Segitiga dari Sedotan Berisi Kawat Makna Keseluruhan dari Kesebangunan Diagram Siswa semakin dalam memahami konsep

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan pergaulan dengan orang lain

BAB I PENDAHULUAN. keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan pergaulan dengan orang lain BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Belajar merupakan salah satu bentuk kegiatan individu dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan. Tujuan dari setiap belajar mengajar adalah untuk memperoleh hasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu diantara masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK SEBAGAI SUATU PENDEKATAN

PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK SEBAGAI SUATU PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK SEBAGAI SUATU PENDEKATAN Drs. Darhim, M.Si. *) Abstrak: Sering didengar bahwa matematika adalah ratunya ilmu. Tetapi tidak jarang banyak kalangan yang minder terhadap

Lebih terperinci

Kompetensi 1 : Mengenal karakteristik peserta didik. : Horale Tua Simanullang, S.Pd

Kompetensi 1 : Mengenal karakteristik peserta didik. : Horale Tua Simanullang, S.Pd Kompetensi 1 : Mengenal karakteristik peserta didik Nama Guru Nama Penilai : Horale Tua Simanullang, S.Pd : Drs. H. Edi Sumarto Sebelum Pengamatan Tanggal 15 Mei 013 Daftar nilai, Absensi Siswa, Catatan

Lebih terperinci

UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN. Masrinawatie AS. Pendahuluan

UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN. Masrinawatie AS. Pendahuluan UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN Masrinawatie AS Pendahuluan P endapat yang mengatakan bahwa mengajar adalah proses penyampaian atau penerusan pengetahuan sudah ditinggalkan

Lebih terperinci

SKRIPSI. Disusun Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S 1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar LAKSANA NIM : A510070450

SKRIPSI. Disusun Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S 1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar LAKSANA NIM : A510070450 PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP PETA INDONESIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BENAR SALAH BERANTAI PADA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR NEGERI 01 JATIHARJO KECAMATAN JATIPURO SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2009 / 2010

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang berbobot

BAB I PENDAHULUAN. memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang berbobot BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Matematika ada di mana-mana dalam masyarakat dan matematika itu sangat penting. Sejak memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan kehidupan selalu muncul secara alami seiring dengan berputarnya waktu. Berbagai tantangan bebas bermunculan dari beberapa sudut dunia menuntut untuk

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN NILAI TEMPAT MENGGUNAKAN KEGIATAN BERTUKAR BIOTA LAUT DI KELAS II SEKOLAH DASAR

PEMBELAJARAN NILAI TEMPAT MENGGUNAKAN KEGIATAN BERTUKAR BIOTA LAUT DI KELAS II SEKOLAH DASAR PEMBELAJARAN NILAI TEMPAT MENGGUNAKAN KEGIATAN BERTUKAR BIOTA LAUT DI KELAS II SEKOLAH DASAR 1 Christi Matitaputty, 2 Ratu Ilma Indra Putri, 3 Yusuf Hartono 1 Mahasiswa Pascasarjana Unsri 2 Dosen Pascasarjana

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBANTUAN KOMPUTER PADA MATERI RUANG DIMENSI TIGA UNTUK SISWA KELAS X SMA BILINGUAL

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBANTUAN KOMPUTER PADA MATERI RUANG DIMENSI TIGA UNTUK SISWA KELAS X SMA BILINGUAL 1 PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBANTUAN KOMPUTER PADA MATERI RUANG DIMENSI TIGA UNTUK SISWA KELAS X SMA BILINGUAL Ferrina Dwi Kurniasari *), Dr. Abdul Qohar, M. T **) Universitas Negeri

Lebih terperinci

Sebelum Pengamatan. Selama Pengamatan. Setelah Pengamatan

Sebelum Pengamatan. Selama Pengamatan. Setelah Pengamatan Nama Guru Nama Penilai 1 Tanggal Mengenal karakteristik peserta didik Tanggal Kegiatan/aktivitas guru dan peserta didik selama pengamatan Tanggal Setelah Pengamatan Setelah Pengamatan hal 1 dari 17 hal

Lebih terperinci

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110 ISSN: 1693-1246 Juli 2011 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110 J P F I http://journal.unnes.ac.id PEMBELAJARAN SAINS DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

Lebih terperinci

PENINGKATAN EFEKTIVITAS PADA PROSES PEMBELAJARAN

PENINGKATAN EFEKTIVITAS PADA PROSES PEMBELAJARAN PENINGKATAN EFEKTIVITAS PADA PROSES PEMBELAJARAN FARID AGUS SUSILO UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA Jl. Ketintang Gedung D1, Surabaya 60231 Telp:+6231-8280009 pes 310 fax :+6231-8296427 Abstrak Sebagaimana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab,

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Metode tanya-jawab seringkali dikaitkan dengan kegiatan diskusi, seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, meskipun

Lebih terperinci

MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIKA PESERTA DIDIK KELAS VIII B

MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIKA PESERTA DIDIK KELAS VIII B MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIKA PESERTA DIDIK KELAS VIII B MTs N KUDUS MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW BERBANTUAN KARTU MASALAH MATERI KUBUS DAN BALOK Oleh :Eka Zuliana *) Abstract

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2013 di SMP Negeri 3

METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2013 di SMP Negeri 3 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2013 di SMP Negeri 3 Metro. B. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini pemerintah sedang giat berupaya meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini dikarenakan

Lebih terperinci

Penerapan Model Project Based Learning (Model Pembelajaran Berbasis Proyek) dalam Materi Pola Bilangan Kelas VII. oleh Theresia Widyantini

Penerapan Model Project Based Learning (Model Pembelajaran Berbasis Proyek) dalam Materi Pola Bilangan Kelas VII. oleh Theresia Widyantini ARTIKEL Penerapan Model Project Based Learning (Model Pembelajaran Berbasis Proyek) dalam Materi Pola Bilangan Kelas VII oleh Theresia Widyantini PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA

Lebih terperinci

ALAT PERAGA MATEMATIKA SEDERHANA UNTUK SEKOLAH DASAR. Oleh : Drs. Ahmadin Sitanggang, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara

ALAT PERAGA MATEMATIKA SEDERHANA UNTUK SEKOLAH DASAR. Oleh : Drs. Ahmadin Sitanggang, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara ALAT PERAGA MATEMATIKA SEDERHANA UNTUK SEKOLAH DASAR Oleh : Drs. Ahmadin Sitanggang, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN (LPMP) SUMATERA UTARA 2013 Jl. Bunga Raya No.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangun ruang adalah materi pokok dalam pembelajaran matematika di SMP/MTs yang kajian materinya masih bersifat abstrak. Pada materi bangun ruang ini, peserta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi suatu bangsa agar bangsa tersebut dapat meningkatkan kualitas SDM yang dimilikinya. Dengan SDM yang berkualitas maka

Lebih terperinci

UNIT PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA. Nyimas Aisyah. Pendahuluan

UNIT PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA. Nyimas Aisyah. Pendahuluan UNIT 5 PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA Nyimas Aisyah Pendahuluan P embelajaran matematika di Sekolah Dasar sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, menurut kurikulum 2006, bertujuan antara

Lebih terperinci

Kompetensi Dasar. Menerapkan kemampuan dasar mengajar dalam mengelola pembelajaran. Kemampuan Dasar Mengajar

Kompetensi Dasar. Menerapkan kemampuan dasar mengajar dalam mengelola pembelajaran. Kemampuan Dasar Mengajar Kompetensi Dasar Menerapkan kemampuan dasar mengajar dalam mengelola pembelajaran 2 Indikator Keberhasilan menjelaskan karakteristik 8 kemampuan dasar mengajar dengan lengkap melaksanakan praktek salah

Lebih terperinci

Oleh: HARRY SULASTIANTO

Oleh: HARRY SULASTIANTO Oleh: HARRY SULASTIANTO PENGERTIAN KARYA TULIS ILMIAH Karya seorang ilmuwan (yang berupa hasil pengembangan) yang ingin mengembangkan ipteks yang diperolehnya melalui studi kepustakaan, pengalaman, penelitian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan sains saat ini menunjukkan bahwa sains memiliki peran yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Berkembangnya ilmu pengetahuan

Lebih terperinci

Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Kontekstual Tatag Y. E. Siswono FMIPA UNESA Surabaya

Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Kontekstual Tatag Y. E. Siswono FMIPA UNESA Surabaya Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Kontekstual Tatag Y. E. Siswono FMIPA UNESA Surabaya Dalam pembelajaran kontekstual, -yang cirinya adalah menekankan pada pemahaman konsep dan pemecahan masalah, siswa

Lebih terperinci

Penulis: Penilai: Editor: Ilustrator: Dra. Supinah. Drs. Markaban, M.Si. Hanan Windro Sasongko, S.Si. Fadjar Noer Hidayat, S.Si., M.Ed.

Penulis: Penilai: Editor: Ilustrator: Dra. Supinah. Drs. Markaban, M.Si. Hanan Windro Sasongko, S.Si. Fadjar Noer Hidayat, S.Si., M.Ed. PAKET FASILITASI PEMBERDAYAAN KKG/MGMP MATEMATIKA Penyusunan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Matematika SD dalam Rangka Pengembangan KTSP Penulis: Dra. Supinah Penilai: Drs. Markaban,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang mampu menghasilkan perubahan-perubahan perilaku (behavior), baik itu

BAB I PENDAHULUAN. yang mampu menghasilkan perubahan-perubahan perilaku (behavior), baik itu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu hal penting untuk menentukan maju mundurnya suatu bangsa, maka untuk menghasilkan sumber daya manusia sebagai subjek dalam pembangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Inti dari proses pendidikan secara keseluruhan adalah proses belajar mengajar. Proses belajar-mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan dalam Rangka Penyelesaian Program Studi Strata I untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

SKRIPSI. Diajukan dalam Rangka Penyelesaian Program Studi Strata I untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP TENTANG POKOK BAHASAN PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN MELALUI PEMANFAATAN ALAT PERAGA DAN LEMBAR KERJA PADA SISWA KELAS IV SD WONOSARI 02 SEMARANG TAHUN AJARAN 2006/2007

Lebih terperinci

P 21 Mengasah Kemampuan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Melalui Pembelajaran Matematika dengan Berbasis Masalah (Suatu Kajian Teoritis)

P 21 Mengasah Kemampuan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Melalui Pembelajaran Matematika dengan Berbasis Masalah (Suatu Kajian Teoritis) P 21 Mengasah Kemampuan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Melalui Pembelajaran Matematika dengan Berbasis Masalah (Suatu Kajian Teoritis) Fransiskus Gatot Iman Santoso Program Studi Pendidikan Matematika

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BEBRBASIS BUDAYA UNTUK MENCERDASKAN ASPEK SOSIAL (SQ) SISWA

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BEBRBASIS BUDAYA UNTUK MENCERDASKAN ASPEK SOSIAL (SQ) SISWA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BEBRBASIS BUDAYA UNTUK MENCERDASKAN ASPEK SOSIAL (SQ) SISWA Dr. Supriyadi, M.P Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya UNG Email: supriyadi_prima@ymail.com

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MENEMUKAN MAKNA DAN INFORMASI SECARA TEPAT DALAM KAMUS DENGAN MEMBACA MEMINDAI

PEMBELAJARAN MENEMUKAN MAKNA DAN INFORMASI SECARA TEPAT DALAM KAMUS DENGAN MEMBACA MEMINDAI PEMBELAJARAN MENEMUKAN MAKNA DAN INFORMASI SECARA TEPAT DALAM KAMUS DENGAN MEMBACA MEMINDAI Suhardi SD Negeri 007 Ranai Bunguran Timur Natuna Abstrak: Siswa kelas IV SDN 007 Ranai cenderungmengalami kesulitan

Lebih terperinci

Kompetensi 1 : Mengenal karakteristik peserta didik Jenis dan cara penilaian : Kompetensi Pedagogik (Pengamatan dan Pemantauan)

Kompetensi 1 : Mengenal karakteristik peserta didik Jenis dan cara penilaian : Kompetensi Pedagogik (Pengamatan dan Pemantauan) Kompetensi 1 : Mengenal karakteristik peserta didik Jenis dan cara penilaian : Kompetensi Pedagogik (Pengamatan dan Pemantauan) Pernyataan : Guru mencatat dan menggunakan informasi tentang karakteristik

Lebih terperinci

UPAYA PERBAIKAN KESALAHAN SISWA MENYEDERHANAKAN OPERASI BENTUK ALJABAR DENGAN PEMBELAJARAN KONTEKTUAL

UPAYA PERBAIKAN KESALAHAN SISWA MENYEDERHANAKAN OPERASI BENTUK ALJABAR DENGAN PEMBELAJARAN KONTEKTUAL UPAYA PERBAIKAN KESALAHAN SISWA MENYEDERHANAKAN OPERASI BENTUK ALJABAR DENGAN PEMBELAJARAN KONTEKTUAL Yusuf Octaviano F.M. Mahasiswa S1 Universitas Negeri Malang Pembimbing: Drs. Slamet, M.Si Dosen Universitas

Lebih terperinci

MENCIPTAKAN PROSES BELAJAR AKTIF: KAJIAN DARI SUDUT PANDANG TEORI BELAJAR DAN TEORI DIDAKTIK 1

MENCIPTAKAN PROSES BELAJAR AKTIF: KAJIAN DARI SUDUT PANDANG TEORI BELAJAR DAN TEORI DIDAKTIK 1 MENCIPTAKAN PROSES BELAJAR AKTIF: KAJIAN DARI SUDUT PANDANG TEORI BELAJAR DAN TEORI DIDAKTIK 1 Didi Suryadi Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI HP:08122417773 Email:ddsuryadi1@gmail.com A. Belajar

Lebih terperinci

PENYUSUNAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) SEBAGAI BAHAN AJAR

PENYUSUNAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) SEBAGAI BAHAN AJAR ARTIKEL PENYUSUNAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) SEBAGAI BAHAN AJAR Oleh Dra. Theresia Widyantini, M.Si PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) MATEMATIKA 2013 1 Abstrak

Lebih terperinci

Analisis SI dan SKL Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs untuk Optimalisasi Tujuan Mata Pelajaran Matematika

Analisis SI dan SKL Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs untuk Optimalisasi Tujuan Mata Pelajaran Matematika Analisis SI dan SKL Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs untuk Optimalisasi Tujuan Mata Pelajaran Matematika Penulis Dra. Sri Wardhani Penilai Dra. Th Widyantini, M.Si. Editor Titik Sutanti, S.Pd.Si. Ilustrator

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hubungan timbal balik antara guru dan murid yang baik. Untuk itu, selain

BAB I PENDAHULUAN. hubungan timbal balik antara guru dan murid yang baik. Untuk itu, selain 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kondisi belajar yang baik dan memadai sangat membutuhkan hubungan timbal balik antara guru dan murid yang baik. Untuk itu, selain menggunakan strategi belajar mengajar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. biasa disebut dengan kreativitas siswa dalam matematika. Ulangan Harian Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013 SD Negeri No.

BAB I PENDAHULUAN. biasa disebut dengan kreativitas siswa dalam matematika. Ulangan Harian Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013 SD Negeri No. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu upaya untuk memberikan pengetahuan kepada seseorang dengan tujuan agar orang tersebut mampu menghadapi perubahan akibat adanya kemajuan

Lebih terperinci

http://padamu.siap.web.id Page 1 of 14

http://padamu.siap.web.id Page 1 of 14 1. http://padamu.siap.web.id/ 2. klik: aktifasi akun PTK 3. isi NUPTK 4. isi kode aktifasi 5. klik: lanjut 6. isi password 7. ulangi password 8. isi email (WAJIB ADA) 9. klik: lanjut 10. klik: simpan 11.

Lebih terperinci

Belajar menjadi Mudah dan Menyenangkan

Belajar menjadi Mudah dan Menyenangkan Belajar menjadi Mudah dan Menyenangkan KASUS I Dominasi guru (teacher center) Siswa sebagai objek pembelajar Sumber belajar terbatas Kurang komunikatif Berfikir tingkat rendah Pembelajaran tidak menyenangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan meningkatnya kemampuan manusia, situasi dan kondisi lingkungan yang

BAB I PENDAHULUAN. dan meningkatnya kemampuan manusia, situasi dan kondisi lingkungan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan pendidikan selalu muncul bersama dengan berkembang dan meningkatnya kemampuan manusia, situasi dan kondisi lingkungan yang ada, pengaruh informasi

Lebih terperinci

Skripsi. disajikan sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Oleh. Muhamad Farid 1401409015

Skripsi. disajikan sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Oleh. Muhamad Farid 1401409015 PENINGKATAN HASIL BELAJAR OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK BERBASIS TEORI BELAJAR BRUNER PADA SISWA KELAS IV SDN KALIGAYAM 02 KABUPATEN TEGAL Skripsi disajikan

Lebih terperinci

BIMBINGAN BELAJAR 4/6/6

BIMBINGAN BELAJAR 4/6/6 BIMBINGAN BELAJAR OLEH : SETIAWATI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2008 4/6/6 Bimbingan Belajar Proses layanan bantuan kepada individu (mahasiswa) agar memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Remaja Rosda Karya, 2013) hlm. 16. aplikasinya (Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 2009) hlm, 13

BAB I PENDAHULUAN. Remaja Rosda Karya, 2013) hlm. 16. aplikasinya (Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 2009) hlm, 13 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi, serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh : Mahbubil Iqbal NIM. 100210101054

SKRIPSI. Oleh : Mahbubil Iqbal NIM. 100210101054 PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS KARAKTER KONSISTEN DAN TELITI DENGAN PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION PADA SUB POKOK BAHASAN PERSEGI PANJANG DAN PERSEGI KELAS VII SMP

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Materi penjumlahan pada kelas rendah adalah materi yang harus benarbenar

BAB I PENDAHULUAN. Materi penjumlahan pada kelas rendah adalah materi yang harus benarbenar 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Materi penjumlahan pada kelas rendah adalah materi yang harus benarbenar dipahami oleh Peserta didik, sebab materi tersebut merupakan materi yang sangat dasar yang

Lebih terperinci

NATIONAL EDUCATORS CONFERENCE 2015 Sampoerna University, 29-30 Mei 2015 6/12/2015. Garis Besar Proses Belajar Mengajar Sekolah SALAM

NATIONAL EDUCATORS CONFERENCE 2015 Sampoerna University, 29-30 Mei 2015 6/12/2015. Garis Besar Proses Belajar Mengajar Sekolah SALAM Garis Besar Proses Belajar Mengajar Sekolah SALAM 1 Kerangka Belajar Meletakkan Dasar-dasar menemukan pengalaman terapkan lakukan kesimpulan daur belajar analisis ungkapkan 2 BERSTRUKTUR 3 MENGALAMI Proses

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. a. Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah

BAB II KAJIAN TEORI. a. Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah BAB II KAJIAN TEORI A. Konsep Teoretis 1. Kemampuan Pemecahan Masalah a. Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah Pemecahan masalah merupakan aktivitas yang sangat penting dalam pembelajaran matematika,

Lebih terperinci

Putriaji Hendikawati Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Semarang p_aji_unnes@yahoo.com. Abstrak

Putriaji Hendikawati Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Semarang p_aji_unnes@yahoo.com. Abstrak Meningkatkan Aktivitas Belajar Untuk Mencapai Tuntas Belajar Siswa SMP CitischoolMelalui Model Pembelajaran Quantum Teaching Dilengkapi Modul Dan VCD Pembelajaran Putriaji Hendikawati Jurusan Matematika

Lebih terperinci

MUHAMMAD ALI SYAFI I NIM.

MUHAMMAD ALI SYAFI I NIM. PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA MATERI OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT PADA SISWA KELAS V MELALUI PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATIC EDUCATION DI SD 2 PIJI KUDUS Oleh MUHAMMAD ALI SYAFI I

Lebih terperinci

PENILAIAN PEMBELAJARAN

PENILAIAN PEMBELAJARAN PENILAIAN PEMBELAJARAN PENILAIAN APA PENILAIAN? APA PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI? BAGAIMANA CARANYA? PENILAIAN: PROSES SISTIMATIS MELIPUTI PENGUMPULAN INFORMASI (ANGKA, DESKRIPSI VERBAL), ANALISIS, INTERPRETASI

Lebih terperinci

Model Pembelajaran Kolaboratif dengan Tutor Sebaya pada Pokok Bahasan Rangkaian Seri-Paralel Hambatan Listrik

Model Pembelajaran Kolaboratif dengan Tutor Sebaya pada Pokok Bahasan Rangkaian Seri-Paralel Hambatan Listrik pada Pokok Bahasan Rangkaian Seri-Paralel Hambatan Listrik Sumarli, Eka Murdani STKIP Singkawang Kalimantan Barat Surat-e: aerlie.cool@gmail.com Pada pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas masih

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION PADA EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION PADA EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION PADA EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA (DEVELOPMENT DEVICES WITH APTITUDE TREATMENT INTERACTION IN EFFECTIVENESS

Lebih terperinci

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG 1 PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG Rima Buana Prahastiwi 1, Subani 2, Dwi Haryoto 3 Jurusan Fisika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Buku memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan. Buku merupakan salah satu sumber bahan ajar. Ilmu pengetahuan,

Lebih terperinci

Selamat Datang Di. AsiaWorks

Selamat Datang Di. AsiaWorks Selamat Datang Di AsiaWorks Program Basic Training adalah pengalaman eksplorasi dan penemuan diri; di sana saya belajar banyak hal tentang diri saya sendiri... dari diri saya sendiri! Kurikulum Inti AsiaWorks

Lebih terperinci

BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN. khususnya materi geometri kurang diminati bagi guru lebih-lebih bagi siswa.

BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN. khususnya materi geometri kurang diminati bagi guru lebih-lebih bagi siswa. BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN A. Refleksi Awal Kenyataan selama ini membuktikan bahwa dalam pelajaran matematika, khususnya materi geometri kurang diminati bagi guru lebih-lebih bagi siswa. Geometri

Lebih terperinci

Beberapa Benda Ruang Yang Beraturan

Beberapa Benda Ruang Yang Beraturan Beberapa Benda Ruang Yang Beraturan Kubus Tabung rusuk kubus = a volume = a³ panjang diagonal bidang = a 2 luas = 6a² panjang diagonal ruang = a 3 r = jari-jari t = tinggi volume = π r² t luas = 2πrt Prisma

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN SECARA MENYENANGKAN PADA PROGRAM KESETARAAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERFIKIR MATEMATIK PESERTA DIDIK.

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN SECARA MENYENANGKAN PADA PROGRAM KESETARAAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERFIKIR MATEMATIK PESERTA DIDIK. IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN SECARA MENYENANGKAN PADA PROGRAM KESETARAAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERFIKIR MATEMATIK PESERTA DIDIK Misran Rahman Abstract: Dalam kehidupannya setiap individu dihadapkan

Lebih terperinci

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN BAHASA INGGRIS

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN BAHASA INGGRIS STANDAR KOMPETENSI LULUSAN BAHASA INGGRIS DIREKTORAT PEMBINAAN KURSUS DAN PELATIHAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, NONFORMAL DAN INFORMAL KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL 2011 1 A. Latar

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. SUBJEK PENELITIAN Subyek dari penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik kelas VIIA MTs NU Tamrinut Thullab Undaan Lor Kudus tahun pelajaran 2009/2010 dengan jumlah

Lebih terperinci

MODEL PEMBELAJARAN KATA ULANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI PADA SISWA KELAS VIII MTS DARUL ASIQIN BANYURESMI GARUT MAKALAH

MODEL PEMBELAJARAN KATA ULANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI PADA SISWA KELAS VIII MTS DARUL ASIQIN BANYURESMI GARUT MAKALAH MODEL PEMBELAJARAN KATA ULANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI PADA SISWA KELAS VIII MTS DARUL ASIQIN BANYURESMI GARUT MAKALAH OLEH: RIDHO ELSY FAUZI NIM. 10.21.0462 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA

Lebih terperinci

Pengelolaan Pendidikan Kelas Khusus Istimewa Olahraga. menuju tercapainya Prestasi Olahraga

Pengelolaan Pendidikan Kelas Khusus Istimewa Olahraga. menuju tercapainya Prestasi Olahraga Pengelolaan Pendidikan Kelas Khusus Istimewa Olahraga menuju tercapainya Prestasi Olahraga Oleh: Sumaryanto Dosen FIK UNY Dipresentasikan dalam acara Program Kelas Khusus Olahraga Di SMA N 4 Yokyakarta,

Lebih terperinci