KEBIJAKAN UJIAN NASIONAL SEKOLAH DALAM KAJIAN MANAJEMEN. Y. Yohansyah Arifin Universitas Mulawarman

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KEBIJAKAN UJIAN NASIONAL SEKOLAH DALAM KAJIAN MANAJEMEN. Y. Yohansyah Arifin Universitas Mulawarman"

Transkripsi

1 KEBIJAKAN UJIAN NASIONAL SEKOLAH DALAM KAJIAN MANAJEMEN Y. Yohansyah Arifin Universitas Mulawarman Abstract: The conduct of National Leaving Exam (NLE or Unas) has shed to some extents from which political policy occupies schooling system from state hegemony. Actual implementation on NLE indicates artificial programs to improve actual needs of education quality. Internally, teachers competence to develop standardized test remains problematic. Yet, national standard in education has not prepared integral to the demand of quality improvement reflected in the NLE. From financial perspective, NLE indeed produces an excessive budget involving government budget and students parents. Otherwise its various drawbacks, NLE is required to improve national education quality, accelerating development programs on the whole eight education standard: contents, process, graduate competence, teacher qualification and staffs, facilities, management, finance, and evaluation. Keywords: national leaving exam, quality, policy. Sejarah ujian nasional sudah dimulai sejak diberlakukannya Kurikulum Pada 1945 sd 1970 dikenal sebagai Ujian Negara, Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS) dari 1984 s.d. 2001, Ujian Akhir Nasional (UAN) dari 2001 s.d. 2005, dan Ujian Nasional (UN) dari 2005 sampai sekarang. Secara subtansial, EBTANAS hanya mengujikan lima mata pelajaran pokok di tingkat SD, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK/MAK, yaitu: Bahasa Indonesia, PPKN, Bahasa Inggris, IPS, dan Matematika. Tujaun pokok EBTANAS adalah untuk mengetahui tingkat pencapaian hasil belajar siswa secara nasional, yang diwujudkan dalam bentuk Nilai Ebtanas Murni (NEM). EBTANAS dilaksanakan menggunakan berbagai paket soal yang berbeda tingkat kesukarannya. Penyelenggara EBTANAS sepenuhnya dilakukan oleh sekolah. Kelulusan siswa ditentukan dengan cara mengkombinasikan hasil penilaian yang dilakukan oleh sekolah (ujian sekolah) dan NEM (ujian nasional). Hasil ujian nasional sebenarnya sangat bermanfaat sebagai pengendalian mutu pendidikan secara nasional. Namun dalam pelaksanaan sering muncul berbagai masalah, antara lain: sekolah berlomba mencapai NEM dan tingkat kelulusan yang tinggi melalui berbagai upaya yang kurang terpuji. Motivasi yang dikembangkan oleh sekolah adalah meraih predikat sekolah efektif dengan mencapai NEM setinggitingginya. NEM digunakan sebagai ukuran standar pencapaian hasil belajar siswa, sehingga NEM dimanfaat-gunakan sebagai indikator keberhasilan utama pencapaian mutu pendidikan yang sekaligus dipergunakan sebagai determinan penting untuk meraih predikat sekolah efektif (effective school). Kesemua itu, 22

2 Y. Yohansyah Arifin, Kebijakan Ujian Nasional Sekolah 23 pada akhirnya akan mengancam reliabilitas, validitas, dan generabilitas hasil ujian nasional. Evaluasi secara nasional diberlakukan kembali oleh Pemerintah untuk memenuhi amanat UU No. Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya pasal 57 ayat 1 dan 2 serta pasal 58 ayat 1 dan 2. Evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan progam pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistemik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan. Lembaga pendidikan diharapkan memiliki standar secara nasional mencakup: (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana-prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan. Pada era globalisasi, semua negara berkompetisi untuk meningkatkan kualitas pendidikannya, karena pendidikan diyakini akan menjadi penentu maju-mundurnya peradaban suatu bangsa. Melalui pendidikan kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan. Melalui lembaga pendidikan yang berkualitas akan dihasilkan sumber daya manusia yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurut Quisumbing (2003) kualitas pendidikan adalah proses yang dinamik, tidak statis, dan bukan berupa produk akhir. Oleh karena itu, peningkatan kualitas harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Tengoklah, bangsa yang concern terhadap dunai pendidikan terbukti selalu memimpin dunia. Jepang, Singapura, Malaysia, bahkan Vietnam yang baru saja merdeka telah jauh mengungguli Indonesia dalam human development indeks. Sejak EBTANAS diterapkan pada 1983, banyak pendapat yang pro dan kontra terhadap sistem evaluasi itu, baik dari cara penyelenggaraannya, aspek yang diuji, bentuk soal, biaya yang digunakan, sampai pada manfaatnya. Pada masa penggunaan Ebtanas, tingkat kelulusan siswa di semua jenjang pendidikan cenderung sangat tinggi. Kelemahan Ebtanas ini dicoba diatasi dengan menggunakan sistem Ujian Akhir Nasional (UAN) sejak tahun Hasilnya tetap, mayoritas peserta ujian lulus. Maraknya gejala untuk menyiasati pelaksanaan Unas sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi. Di antaranya adalah pelaksanaan manajemen pendidikan di Indonesia yang terkesan sangat sentralistik dan tidak partisipatif. Terbukti sejak Orde Baru hingga saat ini proses evaluasi akhir dilaksanakan secara terpusat. Kelulusan siswa yang menjadi hak guru, sejak dulu diambil alih pemerintah. Dalam Pasal 58 ayat (1) UU No 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas disebutkan bahwa, Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memamtau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Membaca pasal tersebut jelas bahwa hak mengevaluasi pendidikan ada pada guru. Sementara itu, pemerintah mengambil alih sistem evaluasi dengan mengadakan Unas. Tentu saja protes keras dari guru, siswa, dan berbagai kalangan LSM mengiringi kontroversi tersebut. Mereka menuntut proses evaluasi dikembalikan kepada habitatnya yaitu guru dan sekolah.

3 24 Pedagogik, Volume 7, Nomor 1, Januari 2014 Guru merupakan figur yang berada di garis depan dalam meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia. Kerja keras untuk menciptakan generasi muda berkualitas, lagi-lagi harus dihadapkan dengan kebijakan pemerintah yang kurang mendukung. Menurut Soedijarto, Ketua Lembaga Akreditasi Sekolah Nasional Depdiknas, keingingan membentuk manusia seutuhnya dari hasil pendidikan tidak akan tercapai jika Unas dipaksakan. Ketika anak belajar hanya karena akan ada Unas, berarti tujuan anak dalam belajar diametral dengan keinginan pemerintah. Pada sisi lain, pemerintah juga mempunyai dasar hukum yang kuat dalam melaksanakan Unas misalnya: (1) Peraturan Pemerintah (PP) No 19 tahun 2005 tentang Standard Nasional Pendidikan (SNP) (2) PP tentang Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), (3) Keputusan Presiden No 17 tahun 2004 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah sebagai basis legitimasi hukum bagi setiap kebijakan, termasuk Unas. (2) Peraturan Menteri (Permen) No 1 tahun 2005 tentang pelaksanaan Unas sebagai penjelasannya. Pasal 58 ayat (1) UU No 20 tahun 2003 yang menyebutkan: Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik, secara jelas dibatasi oleh PP No 19 tahun 2005 dengan pasal 64 ayat (1) yang intinya, Penilaian pendidikan oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir smester, dan ulangan kenaikan kelas. Berdasarkan pasal tersebut jelas peran guru dalam evaluasi berhenti pada ujian kenaikan kelas, tidak sampai pada evaluasi akhir satuan pendidikan. Tabel 1. Dasar Hukum Pelaksanaan Unas oleh Pemerintah UU No 2 tahun 1989 UU No 20 tahun 2003 PP No 19 tahun 2005 Pasal 44 Pasal 35 Pasal 63 (1) Pemerintah dapat Standar pendidikan Penilaian pendidikan pada menyelenggarakan terdiri atas standar isi, jenjang pendidikan dasar penilaian hasil proses, kompetensi dan menengah terdiri atas: belajaar suatu jenis lulusan, tenaga (a) Penilaian hasil belajar dan atau jenjang kependidikan, sarana oleh pendidik pendidikan secara dan prasarana, (b) Penilaian hasil belajar nasional pengelolaan, pembiayaan, dan oleh satuan pendidikan, dan penilaian (c) Penilaian hasil belajar pendidikanyang harus oleh pemerintah ditingkatkan secara berencana dan berkala Pasal 45 Secara berkala dan Pasal 57 (1) Evaluasi dilakukan Pasal 66 Penilaian hasil belajar berkelanjutan dalam rangka sebagaimana dimaksud pemerintah pengendalian mutu dalam pasal 63 ayat (1) butir melakukan penilaian pendidikan secara c bertujuan untuk menilai terhadap kurikulum nasional sebagai bentuk pencapaian kompetensi dan prasarana akuntabilitas lulusan secara nasional pada pendidikan sesuai penyelenggara mata pelajaran tertentu pada

4 Y. Yohansyah Arifin, Kebijakan Ujian Nasional Sekolah 25 dengan kebutuhan dan perkembangan keadaan pendidikan pihak-pihak kepada kelompok mata pelajaran ilmu penetahuan teknologi dan dilakukan dalam bentuk ujian nasional UNAS DALAM TEORI HEGEMONI NEGARA UU Sisdiknas menyebutkan hak untuk mengevaluasi pendidikan adalah dilakukan guru. Namun, ketika hak itu diambil alih secara paksa oleh pemerintah, guru dengan rela, meskipun berat hati, menyerahkannya. Bahkan, ketika Unas dilaksanakan, guru tanpa menyadari mendukung program itu dengan sepenuh hati. Guru tidak kuasa lagi menolak segala sesuatu yang telah menjadi keputusan politik pemerintah. Kondisi seperti ini disebut oleh Foucault sebagai hubungan kekuasaan. Foucault beranggapan bahwa setiap hubungan sosial selalu merupakan hubungan kekuasaan (hegemoni Kekuasaan). Kekuasaan ada dan terwujud dalam setiap hubungan sosial, Power being the ultimate principle of social reality (Basrowi, 2004:73). Kekuasaan yang menjadi dasar realitas sosial dalam pandangan Foucault bersifat produktif dan tidak kelihatan karena ia ada di mana-mana, menyebar dan menyusup dalam setiap aspek kehidupan, serta terserap dalam ilmu pengetahuan dan praktik sosial yang untuk selanjutnya menciptakan rezim kebenaran. Dengan demikian, keberlangsungan kekuasaan seolah menjadi tidak disadari lagi. Kita rela melaksanakan apa yang dikehendaki oleh kekuasaan tanpa kita sendiri menyadari bahkan kita sedang dikuasai. Jenis kekuasaan seperti ini disebut sebagai kekuasaan kedisiplinan atau disciplinary power. Ia membawa efek kepatuhan kepada guru untuk berada dalam wacana disiplin. Dapat dipahami, ketika guru dengan ikhlas melaksanakan dan menerima Unas sebagai metode evaluasi akhir, sebenarnya guru telah dihegomoni oleh negara. Guru tunduk dan patuh, meskipun kebijakan yang dihasilkan oleh pemerintah bersifat top down. Unas menjadi Mantra baru penjinak guru. FAKTOR POLITIS PELAKSANAAN UNAS Perspektif teori hegemoni Negara sekaligus menunjukkan aspek politik turut campur dalam pelaksanaan Unas. Dalam era otonomi sekarang peranan itu semakin tajam terlihat. Secara kualitatif beberapa fakta empiris bias disebutkan di sini. Bagi banyak daerah, keberhasilan pendidikan merupakan prestise yang mahal nilainya. Proyek-proyek otonomi pendidikan dilaksanakan dalam beragam model. Misalnya, Kutai Kartanegara salah satu kabupaten di Kaltim yang tahun 2010 ini memiliki anggaran pendidikan Rp 600 Milyar, telah mencangkan pendidikan gratis sejak Program ini bisa dianggap yang awal dilaksanakan pemerintah daerah dan kemudian menjadi model yang ditiru di mana-mana. Menyusul program pendidikan gratis adalah insentif guru, sepeda motor untuk guru, laptop untuk guru, zona bebas pekerja anak. Hasil program tersebut memang tidak jelas sampai saat ini, bahkan menimbulkan permasalahan

5 26 Pedagogik, Volume 7, Nomor 1, Januari 2014 hukum yang rumit terkait penggunaan anggaran, tetapi model ini telah secara sporadis menjadi pola di mana-mana. Terkait Unas, prestise daerah dan dengan sendirinya pejabatnya, juga akan terangkat dan bahkan bisa menjadi pola kampanye terselubung sekolah di wilayahnya mencapai nilai Unas tinggi. Sebaliknya, kegagalan dalam Unas dijadikan indikator kegagalan. Secara politis, kebijakan penyelamatan Unas dilakukan dalam bentuk di antaranta, Kepala Dinas dipecat jika Unas gagal. Kepala Dinas kemudian mengancam Kepala Sekolah yang gagal untuk dipecat, dan Kepala Sekolah mengancam guru. Program sekolah kemudian dirancang sedemikian rupa untuk mengejar target tayang. Bimbingan belajar dibuat secara masal dan murid menjalani pendalaman mengerjakan soal dan materi Unas. Yang lebih heboh lagi, sekolah-sekolah baik yang maju di pusat kota dan di pedalaman atau pelosok, secara seragam memperoleh nilai Unas yang fantastis. Tingkat kelulusan mencapai 85% sampai 95%. Bahkan sekolah yang gurunya kurang, gedungnya kurang lengkap, tempatnya jauh di pulau memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dibanding sekolah-sekolah di perkotaan. Sebagai sampel, periksa Tabel 2 untuk profil Unas di Kaltim. Fakta misterius ini mengentak pemerintah dan dibuatlah kemudian proyek pengawasan Unas yang melibatkan berbagai pihak. Pertama-tama dibuatlah Tim Pengawas Ujian yang melibatkan aparat kepolisian. Kemudian Unas didelegasikan ke PTN di setiap wilayah. Semua usaha tersebut tetap tidak memberikan solusi untuk mengatasi persoalan Unas. Persoalan Unas yang sebenarnya ialah ketidaksiapan melaksanakan ujian, sehingga pihak-pihak terkait melakukan ketidakjujuran. Jadi, jika yang diatasi bukan persoalan mendasarnya dari aspek peningkatan standar mutu pendidikan, Unas akan tetap menghasilkan potret yang sama buruknya sampai kapan pun dilaksanakan. Tabel 2. Total persentase ketidaklulusan semua jenjang di Provinsi Kaltim Jenjang Jumlah Sekolah Jumlah Peserta Tidak Lulus Jumlah % SMP/MTs ,661 SMA IPA ,727 SMA IPS ,242 SMA Bahasa ,63 SMK ,578 TOTAL ,488 Sumber: Disdik Provinsi Kaltim, 2008 Jika uraian di atas ditegaskan, ada tiga pernyataan yang penting untuk dicatat. Pertama, Unas sebenarnya tidak memberi dampak belajar apa-apa. Ada Unas atau tidak hasilnya sama saja. Maksudnya, semua siswa tetap akan banyak yang lulus karena semua elemen sekolah bekerja mengejar target. Bahkan kebijakan politis juga turut bermain sehingga pengaruh Unas semakin kurang jelas.

6 Y. Yohansyah Arifin, Kebijakan Ujian Nasional Sekolah 27 Kedua, upaya pelaksanaan Unas dengan melibatkan berbagai pihak untuk mengamankan sebenarnya masalah non-evaluasi yang tidak memiliki dampak pada peningkatan kualitas Unas. Permasalahan yang utama ialah keterlaksanaan standar pendidikan yang sesuai dan kesiapan melaksanakan ujian kompetensi secara mandiri. Sepanjang kondisi tersebut belum terpenuhi, Unas tetap akan menjadi baik di permukaan tetapi tidak dalam peningkatan kualitas pendidikan. Ketiga, dalam pelaksanaan pendidikan, perlu pengakuan nasional dan internasional. Unas merupakan salah satu instrumen yang digunakan pemerintah untuk mendapatkan pengakuan internasional bahwa pendidikan Indonesia setara dengan pendidikan di negara maju. Untuk melaksanakan tujuan tersebut pemerintah telah mengambil hak-hak guru dalam perspektif hegemoni negara. Terlepas dari itu semua, kemampuan guru menguasai evaluasi dan penilaian memang masih kurang. Data pada Tabel 3 menunjukkan kemampuan guru. Secara empiris, perolehan nilai siswa tampak menggembirakan apabila versi soal disusun oleh para guru. Akan tetapi, ketika Unas yang pelaksanaannya dikoordinir pemerintah, perolehan nilai siswa tampak kurang menggembirakan. Hasil nilai siswa mencapai kebalikan dan biasanya mengecewakan. Gejala ini disebabkan oleh ketidaksiapan guru dalam menyusun soal secara baik dan benar. Guru sering gagal merancang, merakit, dan menyusun tes atau ujian sebagaimana dirambukan dalam kisi-kisi yang dijabarkan dari kurikulum. Kemampuan guru untuk menyusun alat evaluasi yang standar mutunya setaraf Unas ternyata belum dimiliki di kalangan sebagian guru. Tabel 3. Persentase Guru Menurut Kelayakan Mengajar pada Berbagai Jenjang Pendidikan No Jenjang Sekolah Status Skolah Negeri Swasta 1 SD Layak Mengajar Semi Layak Mengajar Tidak Layak mengajar 21,07 74,06 4,87 28,94 60,72 10,34 2 SMP Layak Mengajar Semi Layak Mengajar Tidak Layak mengajar 3 SMA Layak Mengajar Semi Layak Mengajar Tidak Layak mengajar 4 SMK Layak Mengajar Semi Layak Mengajar Tidak Layak mengajar 54,12 30,01 15,86 65,29 31,61 3,10 55,49 38,72 5,37 60,99 29,37 9,64 64,73 27,61 7,66 58,26 33,23 8,51

7 28 Pedagogik, Volume 7, Nomor 1, Januari 2014 Sumber: Hassan, 2004:5 Data tersebut menunjukkan bahwa usaha untuk memperbaiki mutu prestasi skolastik setiap jenjang pendidikan perlu kebijakan secara komprehensif. Pelatihan, penataran, seminar, lokaka, atau apa pun yang berkaitan dengan temu guru selama ini sering hanya membincangkan ihwal hakikat kurikulum, pendekatan, metode, dan materi esensial yang perlu dipahami. Malah, kadang hanya membicarakan buku pegangan guru, buku pegangan siswa, buku pelengkap atau LKS, hingga ramai-ramai menyusun program dalam rangka menjabarkan kurikulum yang baru diperkenalkan tersebut. Sebaliknya, hal mendasar yang prinsip justru kerap diabaikan adalah bagaimana para guru tidak hanya piawai memberikan materi secara menarik dari buku acuan, tetapi mahir pula dalam merancang dan menyusun tes sesuai keperluan. Jadi, yang penting adalah bagaimana perimbangan itu secara merata diperoleh guru dalam setiap kesempatan yang berkaitan dengan penataran atau kegiatan sejenis. Dengan kata lain, perlu diadakan pelatihan secara terjadwal, terpadu, dan terbimbing tentang: (1) strategi menyusun soal dengan baik, (2) strategi mengujicobakan dan menganalisis soal, dan (3) strategi memperbaiki soal yang telah diujicobakan. Untuk melawan hegemoni negara yang memaksanakan pelaksanaan Unas, upaya menyiapkan atau membentuk kemampuan guru dalam menyusun soal secara terampil perlu menjadi prioritas. Keterampilan ini sangat dituntut agar permintaan akan hak mengevaluasi dikembalikan kepada guru bisa berhasil. Bukan hanya sekedar berdemo menolak Unas. Hal itu tidak menyelesaikan masalah. Melihat kemampuan guru dalam menyusun alat evaluasi yang masih begitu rendah, maka apabila evaluasi akhir di sekolah diserahkan kepada masing-masing sekolah akan menemui berbagai kendala. Pertama, untuk menyusun tes yang valid, reliabel, mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi, mempunyai daya prediksi yang tinggi, sangat sulit dan mahal. Kedua, untuk menghindari kolusi, korupsi, dan nepotisme proses proses evaluasi juga sangat sulit. Berkaitan dengan model pengembangan soal Unas, terdapat beberapa problem yang dihadapi. Pertama, Unas tidak bisa langsung meningkatkan mutu pendidikan. Meskipun standar nasional sudah ada dan badan standardisasi sudah terbentuk, belum begitu bermanfaat ketika guru-guru yang sangat paham betul dengan kondisi siswanya tidak pernah dilibatkan dalam proses situ. Menurut Tilaar sejak awal pemberlakukan Unas tidak pernah ada niatan untuk memperbaiki mutu pendidikan. Semua sebagai wujud arogansi kekuasaan yang digenggam pemerintah. Ujian Nasional bukan untuk kepentingan pendidikan nasional, tetapi untuk kepentingan sakunya. Sekarang ini Unas sangat tergantung pada kong-kalikong Departemen dan DPR. 1 Terkesan, pemerintah 1 Hal ini terbukti dengan pernyataan Mendiknas Bambang Sudibyo yang mengatakan bahwa, Unas ini telah dicapai kesepakatan bersama DPR untuk tetap dilaksanakan. Kondisi seperti itu juga tidak lepas dari keinginan mantan Wakil Presiden, Yusuf Kalla yang ngotot untuk tetap melaksanakan Unas walau masyarakat terus menentang. Kalaupun nanti banyak yang tidak lulus (akibat Unas) maka itu konsekwensinya yang harus dibayar. Itu konsekwensi bagi sekolah agar

8 Y. Yohansyah Arifin, Kebijakan Ujian Nasional Sekolah 29 memberlakukan Unas hanya karena kalkulasi keuntungan proyek pengadaan soal yang dijalankan Depdiknas, lalu memaksakan wacana untuk melakukan Unas di tingkat bawah, sehingga dipahami oleh guru dan murid bahwa Unas adalah harga mati. Kedua, terjadi disparitas antar daerah. Kondisi sosial-ekonomi antardaerah yang sangat tidak merata, berdampak pada perbedaan mutu pendidikan antardaerah. Banyak sekali terdapat disparitas dan perbedaan mutu pendidikan yang sangat timpang antarsekolah, antardaerah, antarkota dan desa di Indonesia. Ketiga, dari penelitian yang dilakukan oleh Benyamin Bloom, tingkah laku belajar peserta didik dipengaruhi oleh perkiraan peserta didik tentang apa yang akan dinilai (diujikan). Karena itu, ujian nasional yang umumnya menanyakan dimensi kognitif dari mata pelajaran, akan menjadikan peserta didik selama belajar tiak merasa perlunya melakukan eksperimen di laboratorium, tidak perlu membaca novel, tidak perlu latihan mengarang, tidak perlu melakukan kegiatan terus menerus secara berdisiplin dan berbagai kegiatan belajar yang dalam dirinya diarahkan untuk menanamkan nilai dan mengembangkan sikap. Sebab, kesemuanya itu tidak akan diujikan. Dampak lebih lanjut adalah munculnya lembaga bimbingan tes yang mengakibatkan tidak lagi menjadikan sekolah sebagai pusat pembudayaan. Dalam lembaga Bimbel seolah telah terjadi pengarbitan kemampuan dan penggebirian wawasan anak. Proses pembelajaran ini akan menghasilkan kemampuan kamuflase dan bersifat sementara. Keempat, pemaksaan Unas, meskipun legal dengan adanya SNP, bersifat sangat memboroskan anggaran negara. Bahkan banyak pengamat mengatakan, pelaksanaan Unas, Hanya buang-buang duit saja. Tuduhan itu menurut Saepudin (2005) sangat wajar karena tidak ada transparansi dana setelah penyelenggaraan Unas. Ade Irawan, Sekretaris Koalisi Pendidikan yang juga anggota Indonesian Corruption Watch, mengatakan, Kebijakan Unas sangat tertutup dan sosialisasinya ke masyarakat kurang. Dana besar yang dikelolanya tidak transparan dan tidak partisipatif. Kelima, Menurut Tilaar, Ujian merupakan bentuk hukuman kepada murid dan sekolah oleh pemerintah. Sebab, ujian yang dilakukan menentukan hidupmati siswa dalam pendidikan. Ujian hendaknya bukan menentukan nasib anak, tetapi menolong dan dapat memperkuat anak dalam berproses menjadi siswasiswa yang seutuhnya. Keenam, Unas sangat bertentangan dengan semangat desentralistik yang digembar-gemborkan pemerintah, yaitu desentralisasi kewenangan penilaian pendidikan siswa kepada guru. Unas merupakan keputusan politik yang sangat mengingkari semangat otonomi pendidikan, bukan dijiwai membangun kualitas generasi yang lebih baik. Ketujuh, banyaknya biaya siluman yang dikeluarkan oleh orang tua di desa dan di pelosok-pelosok terpencil. Mereka mengeluarkan biaya siluman demi sekedar anaknya bisa mengikuti Unas. Bahkan menjelang Unas, siswa kelas mau meningkatkan cara mengajar mereka sekaligus konsekwensi bagi anak didik agar mau belajar lebih giat. (Baca lebih lanjut Kompas, 3 Februari 2005)

9 30 Pedagogik, Volume 7, Nomor 1, Januari 2014 enam SD, kelas III SMP, dan kelas 3 SMA diharuskan mengikuti pendidikan ekstra, lewat bimbingan belajar yang disediakan sekolah. Kebanyakan siswa sekarang mengejar cara cepat untuk menyelesaikan soal, bukan konsep dari materi pelajaran. Bimbel mendidik anak untuk mengerjakan soal secara instant, bukan pemahaman konsep. Unas yang hanya menuntut penguasaan materi menyebabkan lembaga Bimbel menjadi laku keras. Bahkan banyak pula sekolah yang membuka try out soal ujian, sehingga dengan usaha itu, sekolah bisa mendapatkan pemasukan. Sensitivitas sosial pemerintah pusat terhadap hal itu sama sekali tidak ada. Kedelapan, selain menghasilkan lahan bisnis yang kurang positif dalam mendukung kreativitas berfikir anak, Unas juga telah mengakibatkan guru kurang kreatif dalam mengembangkan bahan ajar dan metode mengajar. Guru lebih banyak menfokuskan perhatian menjelang dilaksanakan Unas. Apalagi guru kelas enam, sembilan dan dua belas, proses pembelajaran lebih didominasi dengan persiapan menghadapi Unas. Anak-anak lebih banyak dihadapkan pada soal-soal ujian terdahulu, ataupun strategi-strategi khusus menghadapi Unas. Strategi pembelajaran semacam ini bukan saja sangat jelek, tetapi juga akan mengakibatkan berkurangnya kreativitas anak. Akibat lebih lanjut, seandainya Unas dihapuskan, mereka yang merasa diuntungkan dengan Unas akan menyelenggarakan evaluasi tandingan, yang bisa dijadikan semacam proyek bisnis oleh oknum-oknum tertentu. Kesembilan, ada kecenderungan orientasi pendidikan bukan pada penguasaan ilmu, namun pada hasil yang tertera pada nilai Unas. Sekolah yang rata-rata nilai Unasnya tinggi adalah sekolah yang berprestasi di mata siswa, guru, kepala sekolah, orang tua, bahkan pemerintah(?). Kesepuluh, ujian nasional belum mampu menjadi pendorong dalam proses penanaman nilai dan pengembangan sikap. Hal itu dapat dipahami karena keampuhan pelajaran matematika dan Bahasa Inggris hanya mampu sebagai indikator kecerdasan peserta didik, tetapi nilai itu belum mampu menjadi indikator keberhasilan penanaman nilai dan pengembangan sikap. Kondisi yang lebih parah lagi ketika diterapkan Unas ulangan, yang terjadi: (1) ada kasus jawaban anak dalam satu kelas sama semua, (2) guru yang mengawasi pelaksanaan Unas meskipun sudah disilang tetap terjadi kong-kalikong untuk membantu siswa, karena sangat terkait dengan beban guru, mutu sekolah, dan nasib anak. Berkaitan dengan kelemahan Unas, masih banyak lagi pendapat ahli yang menyoroti kelemahannya. Antara lain, Suwarno, yang berpendapat bahwa, dengan Unas (1) Proses pembelajaran terbebani dan hanya berorientasi pada Unas, (2) penyelenggaraan Unas menjadi tidak sehat karena banyak polusi, (3) hasil Unas tidak dapat mempengaruhi kualitas lulusan karena banyaknya rekayasa nilai, apalagi untuk Unas ulangan. Selain berbagai kelemahan di atas, Unas juga mempunyai berbagai kelebihan. kelebihan Unas meliputi: (1) terdapat standar nasional sehingga kualitas pendidikan bisa dikontrol, (2) Sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, (3) Mampu menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu, (4) Memotivasi siswa untuk belajar keras, dan menuntut guru

10 Y. Yohansyah Arifin, Kebijakan Ujian Nasional Sekolah 31 untuk mengajar dengan baik, (5) Mempermudah proses seleksi penerimaan ke sekolah yang lebih tinggi, (6) Sekolah bisa mengklaim kualitas lembaganya dengan melihat nilai Unas yang diperoleh siswa, dan (7) Guru tidak direpotkan dengan penyusunan soal ujian, bahkan mendapat tambahan penghasilan dengan menjadi pengawas, korektor atau tambahan jam untuk mengedril soal-soal menghadapi Unas. SISI EKONOMI UNAS Sebenarnya, hal yang menarik dalam penyelenggaraan Unas adalah besarnya dana yang digunakan. Pada tahun 2004 sebagai contoh. Dana yang disediakan dalam APBN sebesar Rp ,00. Jumlah tersebut akan membengkak karena pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota juga diwajibkan ikut menyediakan dana dalam APBD. Apabila di Indonesia terdapat 33 provinsi dan 400 kabupaten/kota, maka berapa trilyun jumlah biaya yang dikeluarkan oleh provinsi dan kabupaten/kota. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menyelenggarakan Unas tahun ajaran 2003/2004 mengeluarkan dana sebesar Rp 13 milyar. Jika dirata-ratakan satu provinsi mengeluarkan Rp 5 milyar, maka dana yang terkumpul pada tingkat provinsi adalah Rp 165 milyar. Untuk kabupaten/kota diambil contoh kabupaten Tangerang yang mengalokasikan dana sebesar Rp 5,7 milyar. Jika dirata-ratakan setiap kabupaten/kota mengeluarkan dana Rp 2,0 milyar, maka dana Unas untuk tingkat kabupaten/kota bisa mencapai Rp 800 milyar. Selain biaya itu, walau diumumkan tidak ada pungutan, tetapi dalam praktiknya sekolah masih banyak yang memungut biaya untuk penyelenggaraan Unas dari orang tua siswa. Bahkan, banyak sekolah yang memungut jauh hari sebelum Unas dilaksanakan. Berbagai alasan digunakan oleh sekolah seperti untuk biaya les, biaya pemantapan, biaya uji coba, biaya penyelenggaraan Unas pada hari H seperti transportasi atau konsumsi, pengawas sekolah, dan lain-lain Dengan adanya Unas, orang tua juga sering memasukkan anaknya ke lembaga Bimbel. Dengan mengikuti Bimbel jelas menyebabkan pengeluaran orang tua bertambah. Dengan demikian, dibutuhkan biaya yang banyak jika anak ingin bisa belajar cepat dan mampu mengantisipasi soal-soal yang akan diujikan dalam Unas nanti. Hasil penelitian Rogers Pakpahan mengenai penyelenggaraan UAN di Tangerang menyebutkan, siswa dibebankan biaya antara Rp 150 ribu hingga Rp 400 ribu. (http://www. depdiknas. go.id). Jika dirata-ratakan total biaya Unas yang ditanggung orang tua siswa sebesar Rp 100 ribu, dikalikan jumlah peserta Unas sebanyak siswa, lebih dari 9 trilyun dana dikumpulkan dari masyarakat. Bagi penyusun buku bank soal, penerbit, toko buku, sales, Unas tetap mampu memberi perputaran ekonomi yang jumlahnya tidak sedikit. Jelas tergambar bahwa Unas merupakan sebuah proyek dengan dana melimpah. Dengan demikian, tidak mengherankan apabila banyak pihak yang berkepentingan dan bersama-sama mempertahankannya, mulai dari kepala sekolah, lembaga Bimbel, Dinas Pendidikan, hingga Depdiknas. JALAN KELUAR APA?

11 32 Pedagogik, Volume 7, Nomor 1, Januari 2014 Berkaitan dengan banyaknya kelemahan yang dihadapi dalam pelaksanaan Unas, ada beberapa alternatif jalan keluar yang sudah disampaikan oleh beberapa ahli. Pertama, usul yang dikemukakan oleh Fuad Hasan, mendikbud , yang menyatakan bahwa untuk mengetahui pencapaian hasil pendidikan di sekolah secara nasional masih ada cara lain selain Ebtanas, yang tidak membutuhkan biaya besar dan birokrasi panjang, misalnya dengan evaluasi sistem sampling. Kedua, usul yang dikemukakan oleh Yahya Muhaimin, Mendiknas era reformasi yang menyatakan bahwa sistem Ebtanas perlu diperbaiki, mulai dari manajemen, pelaksanaan, penyusunan soal, bentuk soal yang tidak lagi pilihan berganda akan tetapi esai. Dengan demikian, Ebtanas benar-benar mampu mengetahui tingkat kecerdasan siswa dan mutu pendidikan sekolah secara nasional, sehingga terwujud pemeraataan mutu pendidikan. Ketiga, usul yang dikemukakan oleh Burhanudin Tola, yang menyatakan bahwa untuk menciptakan equity dalam system evaluasi akhir, tingkat kesulitan soal Unas sebaiknya disesuaikan dengan kualitas pendidikan di daerah. Untuk daerah yang maju prosentase soal dengan tingkat kesulitas tinggi ditambah, dan untuk daerah yang kurang maju dikurangi. Misalnya untuk daerah Jakarta, DIY, atau Indonesia bagian barat, jumlah soal dengan tingkat kesulitan tinggi 30%, sedang 60%, dan mudah 10%. Sebaliknya, untuk Indonesia bagian timur jumlah soal dengan tingkat kesulitan tinggi 10%, sedang 60%, dan mudah 30%. Begitu juga standar kelulusan untuk tiap-tiap daerah tidak perlu sama. Misalnya, secara nasional minimal 4,01. Jakarta boleh menentukan standar kelulusan 6,0, DIY 6,2, Kupang 4,1 dan sebagainya. Keempat, usul yang dikemukakan oleh S. Belen, ahli kurikulum pada Balitbang Diknas, agar evaluasi belajar tahap akhir nasional diganti dengan tes terstandar, suatu bentuk evaluasi yang biasa dilakukan oleh negara-negara maju seperti Singapura, Australia, dan Inggris untuk mengukur keberhasilan pembelajaran siswanya. Tes tersebut semacam tes IQ atau tes diagnostik yang bisa diatur akan dilakukan di kelas apa saja, dilaksanakan oleh guru yang sudah mendapat pendidikan untuk menguji kemampuan siswanya. Pola tes tersebut juga bisa untuk mengukur mutu sekolah bersangkutan. Usaha ini sekaligus untuk memberdayakan guru dan sekolah sebagaimana diinginkan manajemen berbasis sekolah. Kelima, usul yang dikemukakan oleh Dali S Naga, yaitu dengan menerapkan model ujian adaptif. Siswa diberi soal ujian dengan taraf kesukaran yang sesuai dengan kemampuan peserta ujian. Soal ujian dikembangkan dengan teori pengukuran modern. Selama taraf kesukaran butir ujian yang diberikan kepada peserta ujian cocok dengan kemampuan peserta ujian, hasil ujian akan memiliki akurasi yang tinggi. Penerapan paradigma ini sulit dan perlu hati-hati, karena apabila taraf kesukaran butir yang diberikan tidak cocok dengan kemampuan peserta ujian, maka hasil ujian akan tidak memiliki akurasi. Keenam, usul yang dikemukakan oleh Djaali, model ujian yang paling cocok adalah UAN yang dilakukan seperti EBTANAS. Ujian (UAN) hanya berhenti pada nilai. Ujian berfungsi untuk mendeteksi siapa yang mampu dan tidak mampu, siapa yang lulus dan tidak lulus, untuk mengetahui di mana

12 Y. Yohansyah Arifin, Kebijakan Ujian Nasional Sekolah 33 sekolah yang bagus mutunya, dan mana yang tidak. Sedangkan EBTANAS merupakan informasi untuk memperbaiki, ada evaluasi proses, hasil, dan bisa menjadi informasi untuk menentukan suatu kebijakan pendidikan di suatu sekolah. EBTANAS membutuhkan tindak lanjut perbaikan. Ketujuh, usul penulis. Unas tetap dilaksanakan karena dampak positif Unas jauh lebih banyak dari pada negatifnya. Akan tetapi, Unas perlu penyempurnaan berkaitan dengan kualitas soal, obyektivitas penskoran, peningkataan keamanan soal, penyediaan anggaran yang cukup oleh pemerintah sehingga masyarakat tidak terbebani. Begitu juga sarana dan perlengkapan untuk Unas harus dilengkapi. SIMPULAN Terlepas dari pro dan kontra dalam menyikapi penyelenggaraan Unas, ada beberapa hal yang harus mendapat perhatian bersama dalam rangka penyehatan dan peningkatan mutu pendidikan. Pertama, program peningkatan kualitas pendidikan dirancang berdasarkan informasi tentang kualitas pendidikan saat ini. Penilaian yang bersifat nasional akan memberikan informasi perkembangan pendidikan tiap wilayah, sekolah pada setiap tahun serta hasilnya dapat dibandingkan. Hasil penilaian, sering dipandang sebagai tolok ukur penentuan keberhasilan proses pembelajaran. Kedua, Unas dirasakan banyak kekurangan dan menyusahkan siswa dan guru, tetapi Unas bisa memotivasi siswa untuk belajar keras, dan menuntut guru untuk mengajar dengan baik. Bagi guru Unas merupakan evaluasi negara terhadap hasil kerja guru. Guru banyak yang lebih cemas dari pada siswanya karena merasa diawasi oleh negara untuk melakukan pembelajaran dengan lebih baik. Ketiga, dampak positif Unas lebih banyak daripada negatifnya, sehingga Unas tetap diperlukan dengan penyempurnaan kualitas soal objektivitas penskoran, peningkataan keamanan soal, penyediaan anggaran yang cukup oleh pemerintah sehingga masyarakat tidak terbebani. Keempat, prinsip mengembalikan hak dan kewenangan pada guru dan sekolah untuk menguji siswanya sendiri, tetap harus mengacu pada peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Sekolah dan guru tetap bertanggungjawab terhadap proses pendidikan mulai dari penerimaan, pembelajaran, pengujian, sampai dengan penentuan kelulusan. Sekolah tetap berhak menyelenggarakan ujian sekolah bagi siswanya sendiri. DAFTAR PUSTAKA Anastasi, A., 1961, Psychological Testing, New York: The Macmillan Co. Basrowi, 1998, Equity dalam Sistem Seleksi Masuk Pemda, Lampung Post, 20 Oktober Basrowi, 1999, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Surabaya: Yayasan Kampusina Basrowi Keadilan dalam Sistem Seleksi Masuk Perguruan Tinggi, Kiprah, Vol 16 No 5 Mei Basrowi, dkk Manajemen Penelitian Tindakan Kelas, Surabaya: Surabaya Insan Cendekia.

13 34 Pedagogik, Volume 7, Nomor 1, Januari 2014 Belen Tes Terstandar Diusulkan Menggantikan Ebtanas, Kompas, 25 Januari hal 9. Djaali UAN yang EBTANAS Baru Ideal, dalam Buletin PUSPENDIK, Desember 2004, Hal Ebel, R.L dan Frisbie D.A Essentials of Educational Measurement, Englewood Clifft, New Jersey: Prentice Hall. Hardjasoemantri, Soenadi Hubungan UAN dan Perguruan tinggi, dalam Buletin PUSPENDIK, Desember 2004, Hal Hassan, Fuad Peraturan Perudang-undangan sebagai Acuan Pelaksanaan Evaluasi hasil Belajar dan Ujian Akhir Satuan Pendidikan, dalam Buletin PUSPENDIK, Desember 2004, Hal 3-8. Mardapi, Djemari Dampak Ujian Akhir Nasional, dalam Buletin PUSPENDIK, Desember 2004, Hal Mehrens W.A dan Lehmann, I. J Measurement and Evaluation in Education and Psichology, New York: Holt, Rinnehart and Winston. Naga, Dali S Pergeseran Paradigma pada Sistem Ujian, dalam Buletin PUSPENDIK, Desember 2004, Hal Saepudin, Epung UN, Kebijakan yang Dipaksakan, Transformasi, Edisi 38 Juli 2005, hal 4.

Kata Pengantar. Jakarta, Desember 2011. Tim Penyusun

Kata Pengantar. Jakarta, Desember 2011. Tim Penyusun Kata Pengantar Dalam proses pembelajaran, penilaian dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai hasil belajar yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Oleh karena itu, guru wajib

Lebih terperinci

ii KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan hidayahnya, sehingga dunia pendidikan kita telah memiliki Standar Nasional Pendidikan. Standar Nasional

Lebih terperinci

PARADIGMA BARU PENDIDIKAN NASIONAL DALAM UNDANG UNDANG SISDIKNAS NOMOR 20 TAHUN 2003

PARADIGMA BARU PENDIDIKAN NASIONAL DALAM UNDANG UNDANG SISDIKNAS NOMOR 20 TAHUN 2003 PARADIGMA BARU PENDIDIKAN NASIONAL DALAM UNDANG UNDANG SISDIKNAS NOMOR 20 TAHUN 2003 Dalam upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia, mengejar ketertinggalan di segala aspek kehidupan dan menyesuaikan

Lebih terperinci

Latihan: UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH 2012

Latihan: UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH 2012 Latihan: UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH 2012 I. Pilihlah jawaban yang benar dengan memberi tanda silang (X) huruf A, B, C, atau D pada lembar jawaban! 1. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun

Lebih terperinci

RAKER GUBERNUR KALBAR HUT PEMDA KALBAR KE 53 KOORDINASI PEMANTAPAN PENYELENGGARAAAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2010

RAKER GUBERNUR KALBAR HUT PEMDA KALBAR KE 53 KOORDINASI PEMANTAPAN PENYELENGGARAAAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2010 RAKER GUBERNUR KALBAR HUT PEMDA KALBAR KE 53 KOORDINASI PEMANTAPAN PENYELENGGARAAAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2010 Drs. Alexius Akim, MM. Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Barat RAKOR GUBERNUR KALBAR

Lebih terperinci

Ujian Nasional. Kebijakan Perubahan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Anies R. Baswedan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Ujian Nasional. Kebijakan Perubahan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Anies R. Baswedan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Kebijakan Perubahan Ujian Nasional Anies R. Baswedan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan disampaikan dalam konferensi pers Jakarta, 23 Januari 2015

Lebih terperinci

PENANAMAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA PELAKSANAAN ULANGAN HARIAN DALAM MATA PELAJARAN

PENANAMAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA PELAKSANAAN ULANGAN HARIAN DALAM MATA PELAJARAN PENANAMAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA PELAKSANAAN ULANGAN HARIAN DALAM MATA PELAJARAN PKn Studi Kasus: Siswa Kelas VII B MTs Muhammadiyah 07 Klego Boyolali Tahun Ajaran 2013/2014) NASKAH PUBLIKASI

Lebih terperinci

B. Maksud dan Tujuan Maksud

B. Maksud dan Tujuan Maksud RINGKASAN EKSEKUTIF STUDI IDENTIFIKASI PERMASALAHAN OTONOMI DAERAH DAN PENANGANANNYA DI KOTA BANDUNG (Kantor Litbang dengan Pusat Kajian dan Diklat Aparatur I LAN-RI ) Tahun 2002 A. Latar belakang Hakekat

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat Naskah Soal Ujian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Petunjuk: Naskah soal terdiri atas 7 halaman. Anda tidak diperkenankan membuka buku / catatan dan membawa kalkulator (karena soal yang diberikan tidak

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN KEOLAHRAGAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN KEOLAHRAGAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA www.bpkp.go.id PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN KEOLAHRAGAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAHAN AJAR (MINGGU KE 1) MATA KULIAH EVALUASI PEMBELAJARAN FISIKA STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (SNP)

BAHAN AJAR (MINGGU KE 1) MATA KULIAH EVALUASI PEMBELAJARAN FISIKA STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (SNP) BAHAN AJAR (MINGGU KE 1) MATA KULIAH EVALUASI PEMBELAJARAN FISIKA STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (SNP) VISI PENDIDIKAN NASIONAL Terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Remaja Rosda Karya, 2013) hlm. 16. aplikasinya (Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 2009) hlm, 13

BAB I PENDAHULUAN. Remaja Rosda Karya, 2013) hlm. 16. aplikasinya (Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 2009) hlm, 13 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi, serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan

Lebih terperinci

Pengembangan dan Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah dan Madrasah Melalui Proses Akreditasi

Pengembangan dan Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah dan Madrasah Melalui Proses Akreditasi Pengembangan dan Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah dan Madrasah Melalui Proses Akreditasi Sri Haryati Universitas Tidar Magelang Abstract: The quality of education in Indonesia is still far from being

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : a. bahwa pendidikan nasional

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

Sekilas Tentang Ujian Nasional 2015

Sekilas Tentang Ujian Nasional 2015 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Sekilas Tentang Ujian Nasional 2015 Nizam Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Tujuan UN Menilai pencapaian standar

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG PEMBINAAN PRESTASI PESERTA DIDIK YANG MEMILIKI POTENSI KECERDASAN DAN/ATAU BAKAT ISTIMEWA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG KRITERIA KELULUSAN PESERTA DIDIK, PENYELENGGARAAN UJIAN NASIONAL,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 144 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 144 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 144 TAHUN 2014 TENTANG KRITERIA KELULUSAN PESERTA DIDIK DARI SATUAN PENDIDIKAN DAN PENYELENGGARAAN UJIAN SEKOLAH/MADRASAH/PENDIDIKAN

Lebih terperinci

NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA (NSPK) PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL DAN PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA

NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA (NSPK) PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL DAN PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA SALINAN LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 20 TAHUN 2010 TANGGAL 31 AGUSTUS 2010 NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA (NSPK) PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL DAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1990 TENTANG PENDIDIKAN DASAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1990 TENTANG PENDIDIKAN DASAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1990 TENTANG PENDIDIKAN DASAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 13 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989

Lebih terperinci

Apakah Sekolah SBI / RSBI Adalah Solusi Untuk Isu-Isu Ini? Atau RSBI Itu Cuma Proyek Pemerintah!

Apakah Sekolah SBI / RSBI Adalah Solusi Untuk Isu-Isu Ini? Atau RSBI Itu Cuma Proyek Pemerintah! Setelah 18 tahun kerja di lapangan, setelah dua tahun bekerja sebagai konsultan di Depdiknas, dan lebih dari 10 tahun bekerja di beberapa proyek pendidikan saya percaya bahwa 5 isu berikut adalah isu-isu

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2008 TENTANG WAJIB BELAJAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2008 TENTANG WAJIB BELAJAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2008 TENTANG WAJIB BELAJAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 200 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 200 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 200 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan kepribadian ditujukan untuk mengembangkan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2007 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2007 TENTANG PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN OLEH SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PENDIDIKAN KEJURUAN DI INDONESIA Oleh Prof. Dr. Ir. H. Bachtiar Hasan, MSIE. Jalur-jalur Diklat Kejuruan yang Permeabel dan Fleksibel

PENDIDIKAN KEJURUAN DI INDONESIA Oleh Prof. Dr. Ir. H. Bachtiar Hasan, MSIE. Jalur-jalur Diklat Kejuruan yang Permeabel dan Fleksibel PENDIDIKAN KEJURUAN DI INDONESIA Oleh Prof. Dr. Ir. H. Bachtiar Hasan, MSIE Gambar 1 Jalur-jalur Diklat Kejuruan yang Permeabel dan Fleksibel ARTI DAN TUJUAN PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN Pendidikan

Lebih terperinci

Electronic Government: Sudahkah Memberi Manfaat?

Electronic Government: Sudahkah Memberi Manfaat? Electronic Government: Sudahkah Memberi Manfaat? Oleh: Mas Wigrantoro Roes Setiyadi *) Electronic Government (e-gov) dibangun untuk memberikan manfaat. Wacana dan upaya membangun e-gov di Indonesia sudah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental, yang bertujuan untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara menjamin hak setiap warga negara

Lebih terperinci

Materi Sulit pada UN Mata Pelajaran Bahasa Indonesia bagi Siswa SMP di Provinsi D. I. Yogyakarta*) Oleh : Badrun Kartowagiran**)

Materi Sulit pada UN Mata Pelajaran Bahasa Indonesia bagi Siswa SMP di Provinsi D. I. Yogyakarta*) Oleh : Badrun Kartowagiran**) Materi Sulit pada UN Mata Pelajaran Bahasa Indonesia bagi Siswa SMP di Provinsi D. I. Yogyakarta*) Oleh : Badrun Kartowagiran**) Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap (1) materi sulit bagi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Diskripsi Data Kemampuan Awal 1. Data Kemampuan Awal Prestasi Belajar Matematika Data yang digunakan kemampuan awal adalah nilai UAN keltika masuk MTs mata pelajaran

Lebih terperinci

DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SOSIALISASI UJIAN NASIONAL. SMP/MTs TAHUN PELAJARAN 2013/2014

DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SOSIALISASI UJIAN NASIONAL. SMP/MTs TAHUN PELAJARAN 2013/2014 DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SOSIALISASI UJIAN NASIONAL SMP/MTs TAHUN PELAJARAN 2013/2014 1 DasarPelaksanaanUjianNasional 1. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa jalan sebagai salah satu prasarana transportasi merupakan

Lebih terperinci

PENERAPAN SISTEM PENERIMAAN SISWA BARU SECARA ONLINE DAN REALTIME

PENERAPAN SISTEM PENERIMAAN SISWA BARU SECARA ONLINE DAN REALTIME PENERAPAN SISTEM PENERIMAAN SISWA BARU SECARA ONLINE DAN REALTIME Ariyanto A. Setyawan dan Bisma Jayadi PT. (Persero) Telekomunikasi Indonesia, Tbk. ari_as@telkom.co.id dan bisma@brawijaya.ac.id Abstraksi

Lebih terperinci

PENDIDIKAN GRATIS ATAU BEBAS PUNGUTAN DAN PERMASALAHANNYA

PENDIDIKAN GRATIS ATAU BEBAS PUNGUTAN DAN PERMASALAHANNYA PENDIDIKAN GRATIS ATAU BEBAS PUNGUTAN DAN PERMASALAHANNYA Oleh: Saparuddin Widyaiswara Madya LPMP Sulawesi Selatan Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang paling penting keberadaannya. Setiap orang mengakui bahwa tanpa

BAB I PENDAHULUAN. yang paling penting keberadaannya. Setiap orang mengakui bahwa tanpa BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sekolah Dasar (selanjutnya disingkat menjadi SD) merupakan pendidikan yang paling penting keberadaannya. Setiap orang mengakui bahwa tanpa menyelesaikan pendidikan

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA SALINAN - 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA DAN SASTRA, SERTA PENINGKATAN FUNGSI BAHASA INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 100 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 100 TAHUN 2013 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 100 TAHUN 2013 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG PENDIDIKAN TAHUN ANGGARAN 2014 DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah POLICY BRIEF

Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah POLICY BRIEF Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah POLICY BRIEF Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional dalam bidang pendidikan

Lebih terperinci

PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL DAN MENTERI AGAMA NOMOR 04/VI/PB/2011 NOMOR MA/111/2011 TENTANG

PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL DAN MENTERI AGAMA NOMOR 04/VI/PB/2011 NOMOR MA/111/2011 TENTANG SALINAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL DAN MENTERI AGAMA NOMOR 04/VI/PB/2011 NOMOR MA/111/2011

Lebih terperinci

PENYUSUNAN INSTRUMEN/ TES STANDAR. Dr. Zulkifli Matondang, M.Si

PENYUSUNAN INSTRUMEN/ TES STANDAR. Dr. Zulkifli Matondang, M.Si PENYUSUNAN INSTRUMEN/ TES STANDAR Dr. Zulkifli Matondang, M.Si Standar Nasional Pendidikan Standar Isi Standar Proses Pendidikan Standar Kompetensi Lulusan Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan Standar

Lebih terperinci

STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI (Permendikbud no 49/2014) Hotel Harris, Bandung, 18 Agustus 2014

STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI (Permendikbud no 49/2014) Hotel Harris, Bandung, 18 Agustus 2014 NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI (Permendikbud no 49/2014) Hotel Harris, Bandung, 18 Agustus 2014 Doktor (S3) Doktor (S3) Terapan 9 Magister (S2) Magister (S2) Terapan 8 7 Sarjana (S1) Diploma 4 (D4) 6 Fokus

Lebih terperinci

BERGUNAKAH PELAJARAN PRAKARYA BAGI SISWA?

BERGUNAKAH PELAJARAN PRAKARYA BAGI SISWA? BERGUNAKAH PELAJARAN PRAKARYA BAGI SISWA? Pendahuluan M. Fajar Prasudi Dalam kurikulum 2013 terdapat pelajaran Prakarya yang wajib dilaksanakan oleh satuan pendidikan dari berbagai jenjang, mulai dari

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Deskripsi Teori 1. Tes Hasil Belajar a. Pengertian Tes merupakan alat ukur untuk proses pengumpulan data di mana dalam memberikan respon atas pertanyaan dalam instrumen, peserta

Lebih terperinci

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Menyelesaikan Studi Program Strata Satu

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, LAMPIRAN II: Draft VIII Tgl.17-02-2005 Tgl.25-1-2005 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia INFOGRAFIS. Ujian Nasional

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia INFOGRAFIS. Ujian Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia INFOGRAFIS Ujian Nasional 2015 Perubahan Ujian Nasional 1x Tidak menentukan kelulusan Dapat ditempuh beberapa kali* Wajib diambil minimal satu kali*

Lebih terperinci

Kebijakan Pengembangan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi

Kebijakan Pengembangan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Kebijakan Pengembangan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Ridwan Roy T, Deputi Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Pertemuan Koordinasi Pengelolaan Insitusi Pendidikan Tinggi Tenaga Kesehatan,

Lebih terperinci

PEDOMAN UMUM PENYELENGARAAN PELAYANAN PUBLIK

PEDOMAN UMUM PENYELENGARAAN PELAYANAN PUBLIK KEPUTUSAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUS NEGARA NOMOR : 63/KEP/M.PAN/7/2003 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGARAAN PELAYANAN PUBLIK MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut: 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Matematika adalah bagian yang sangat dekat dengan kehidupan seharihari. Berbagai bentuk simbol digunakan manusia sebagai alat bantu dalam perhitungan, penilaian,

Lebih terperinci

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG 1 PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG Rima Buana Prahastiwi 1, Subani 2, Dwi Haryoto 3 Jurusan Fisika

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 5 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA ANALISIS

Lebih terperinci

PEDOMAN UMUM PENYUSUNAN INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT UNIT PELAYANAN INSTANSI PEMERINTAH

PEDOMAN UMUM PENYUSUNAN INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT UNIT PELAYANAN INSTANSI PEMERINTAH KEPUTUSAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: KEP/5/M.PAN//00 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYUSUNAN INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT UNIT PELAYANAN INSTANSI PEMERINTAH KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Selain itu sebagai sarana untuk

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Selain itu sebagai sarana untuk 12 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pengertian Ujian Nasional Ujian Nasional menurut Syawal Gultom adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Selain itu sebagai sarana untuk memetakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini pemerintah sedang giat berupaya meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini dikarenakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem kerap muncul sebagai bentuk reformasi dari sistem sebelumnya.

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem kerap muncul sebagai bentuk reformasi dari sistem sebelumnya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Roda pemerintahan terus bergulir dan silih berganti. Kebijakan baru dan perubahan sistem kerap muncul sebagai bentuk reformasi dari sistem sebelumnya. Dampak

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 78 B. TUJUAN 78 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 78 D. UNSUR YANG TERLIBAT 79 E. REFERENSI 79 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 79

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 78 B. TUJUAN 78 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 78 D. UNSUR YANG TERLIBAT 79 E. REFERENSI 79 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 79 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 78 B. TUJUAN 78 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 78 D. UNSUR YANG TERLIBAT 79 E. REFERENSI 79 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 79 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 82 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA

Lebih terperinci

Pengelolaan Pendidikan Kelas Khusus Istimewa Olahraga. menuju tercapainya Prestasi Olahraga

Pengelolaan Pendidikan Kelas Khusus Istimewa Olahraga. menuju tercapainya Prestasi Olahraga Pengelolaan Pendidikan Kelas Khusus Istimewa Olahraga menuju tercapainya Prestasi Olahraga Oleh: Sumaryanto Dosen FIK UNY Dipresentasikan dalam acara Program Kelas Khusus Olahraga Di SMA N 4 Yokyakarta,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan

Lebih terperinci

PANDUAN PELAKSANAAN BANTUAN BEASISWA UNTUK SISWA BERPRESTASI DAN SISWA TIDAK MAMPU

PANDUAN PELAKSANAAN BANTUAN BEASISWA UNTUK SISWA BERPRESTASI DAN SISWA TIDAK MAMPU PANDUAN PELAKSANAAN BANTUAN BEASISWA UNTUK SISWA BERPRESTASI DAN SISWA TIDAK MAMPU YAYASAN BAKTI NUSANTARA SMK BINA INFORMATIKA BINTARO TAHUN 20013-20014 i KATA PENGANTAR Kemajuan suatu bangsa sangat bergantung

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kinerja Guru 2.1.1 Pengertian Kinerja Guru Istilah kinerja berasal dari kata bahasa Inggris performance yang berarti unjuk kerja atau penampilan kerja. Kinerja adalah hasil

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 28 TAHUN 2010 TENTANG PENUGASAN GURU SEBAGAI KEPALA SEKOLAH/MADRASAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 28 TAHUN 2010 TENTANG PENUGASAN GURU SEBAGAI KEPALA SEKOLAH/MADRASAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 28 TAHUN 2010 TENTANG PENUGASAN GURU SEBAGAI KEPALA SEKOLAH/MADRASAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

Ruko Jambusari No. 7A Yogyakarta 55283 Telp. : 0274-889836; 0274-889398 Fax. : 0274-889057 E-mail : info@grahailmu.co.id

Ruko Jambusari No. 7A Yogyakarta 55283 Telp. : 0274-889836; 0274-889398 Fax. : 0274-889057 E-mail : info@grahailmu.co.id DASAR-DASAR EVALUASI PEMBELAJARAN Oleh : Sudaryono Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2012 Hak Cipta 2012 pada penulis, Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau

Lebih terperinci

Kata-kata kunci: Sumber daya sekolah Sumber daya manusia Sumber daya fisik Sumber daya keuangan

Kata-kata kunci: Sumber daya sekolah Sumber daya manusia Sumber daya fisik Sumber daya keuangan Pengembangan Sumber Daya Sekolah Oleh: Ruswandi Hermawan Abstrak Sekolah memiliki sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuantujuan pendidikan. Sumber daya pendidikan di sekolah dapat dikelompokkan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR ISI UNTUK PROGRAM PAKET A, PROGRAM PAKET B, DAN PROGRAM PAKET C DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa pembukaan Undang-Undang Dasar Negara

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TENTANG TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Kinerja Pendidikan: Survei Kualitas Tata Kelola Pendidikan pada 50 Pemerintah Daerah di Indonesia

Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Kinerja Pendidikan: Survei Kualitas Tata Kelola Pendidikan pada 50 Pemerintah Daerah di Indonesia Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Kinerja Pendidikan: Survei Kualitas Tata Kelola Pendidikan pada 50 Pemerintah Daerah di Indonesia Wilayah Asia Timur dan Pasifik Pengembangan Manusia Membangun Landasan

Lebih terperinci

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender 1 Tujuan belajar 1. Memahami arti stereotip dan stereotip gender 2. Mengidentifikasi karakter utama stereotip gender 3. Mengakui stereotip gender dalam media

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

Sudji Munadi (Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT-UNY) ABSTRAK

Sudji Munadi (Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT-UNY) ABSTRAK ANALISIS DAYA PREDIKSI TES SELEKSI MASUK PROGRAM D-3 REGULER FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA TERHADAP PRESTASI AKADEMIK MAHASISWA D-3 TEKNIK FT-UNY Sudji Munadi (Dosen Jurusan Pendidikan

Lebih terperinci

PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN 2006 KATA PENGANTAR Buku Panduan ini dimaksudkan sebagai pedoman sekolah/madrasah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kehidupan yang terus berkembang membawa konsekuensikonsekuensi

BAB I PENDAHULUAN. Kehidupan yang terus berkembang membawa konsekuensikonsekuensi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehidupan yang terus berkembang membawa konsekuensikonsekuensi tertentu terhadap pola kehidupan masyarakat. Begitu juga dengan dunia pendidikan yang terus berubah

Lebih terperinci

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA (Studi Eksperimen Di kelas XI IPA SMA Negeri 4 Tasikmalaya)

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN EVALUASI PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN EVALUASI PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN EVALUASI PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis

PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis Untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mencapai derajat Magister

Lebih terperinci

ESENSI Volume 13 No.2 Desember 2010

ESENSI Volume 13 No.2 Desember 2010 PERSEPSI MAHASISWA S1 AKUNTANSI TENTANGPENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI (PPAk) (Studi Kasus Mahasiswa Program S1 Akuntansi IBN) Albertus Karjono Institut Bisnis Nusantara Jl. D.I.Panjaitan Kav. 24 Jakarta

Lebih terperinci

Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi. Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY

Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi. Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY Abstrak Pembelajaran di abad informasi menyebabkan terjadinya pergeseran fokus dari

Lebih terperinci

Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan (Implikasinya terhadap Tugas Guru Matematika SMP/MTs dalam Pengembangan KTSP)

Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan (Implikasinya terhadap Tugas Guru Matematika SMP/MTs dalam Pengembangan KTSP) PAKET FASILITASI PEMBERDAYAAN KKG/MGMP MATEMATIKA Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan (Implikasinya terhadap Tugas Guru Matematika SMP/MTs dalam Pengembangan KTSP) Penulis: Dra. Sri Wardhani Penilai:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

ALAT PERAGA MATEMATIKA SEDERHANA UNTUK SEKOLAH DASAR. Oleh : Drs. Ahmadin Sitanggang, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara

ALAT PERAGA MATEMATIKA SEDERHANA UNTUK SEKOLAH DASAR. Oleh : Drs. Ahmadin Sitanggang, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara ALAT PERAGA MATEMATIKA SEDERHANA UNTUK SEKOLAH DASAR Oleh : Drs. Ahmadin Sitanggang, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN (LPMP) SUMATERA UTARA 2013 Jl. Bunga Raya No.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang :

Lebih terperinci

LEMBAGA PENJAMINAN MUTU BUKU PEDOMAN MONITORING DAN EVALUASI

LEMBAGA PENJAMINAN MUTU BUKU PEDOMAN MONITORING DAN EVALUASI LEMBAGA PENJAMINAN MUTU BUKU PEDOMAN MONITORING DAN EVALUASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU 2013 SAMBUTAN REKTOR Sistem monitoring dan evaluasi diperlukan untuk menjamin agar strategi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR Disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SD Jenjang Lanjut Tanggal 6 s.d. 9 Agustus 200 di PPPG Matematika Oleh: Dra. Sukayati, M.

Lebih terperinci

tertentu. Penilaian performans menurut Nathan & Cascio (1986) berdasarkan pada analisis pekerjaan.

tertentu. Penilaian performans menurut Nathan & Cascio (1986) berdasarkan pada analisis pekerjaan. Bentuk-Bentuk Tes Bentuk tes yang digunakan dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu tes objektif dan tes non-objektif. Objektif di sini dilihat dari sistem penskorannya, yaitu siapa saja yang memeriksa

Lebih terperinci

Lampiran: 2380/H/TU/2015 4 Mei 2015

Lampiran: 2380/H/TU/2015 4 Mei 2015 1 Lampiran: 2380/H/TU/2015 4 Mei 2015 NO Kepala Dinas Pendidikan 1 Provinsi DKI Jakarta 2 Provinsi Jawa Barat 3 Provinsi Jawa Tengah 4 Provinsi DI Yogyakarta 5 Provinsi Jawa Timur 6 Provinsi Aceh 7 Provinsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Buku memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan. Buku merupakan salah satu sumber bahan ajar. Ilmu pengetahuan,

Lebih terperinci

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 08 /PER/M.KOMINFO/6/2010 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN LEMBAGA

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN :

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Konsep Dasar Manajemen Pendidikan di Sekolah. KEWIRAUSAHAAN; Penanaman Jiwa Kewirausahaan

Konsep Dasar Manajemen Pendidikan di Sekolah. KEWIRAUSAHAAN; Penanaman Jiwa Kewirausahaan Konsep Dasar Manajemen Pendidikan di Sekolah : viii + 174 hlm ISBN : 978-602-8545-64-8 Tahun : 2013 Rp. 53.000 Manajemen Pendidikan adalah suatu kegiatan atau rangkaian kegiatan yang berupa proses pengelolaan

Lebih terperinci

Memaknai Kembali Arti Kesejahteraan Guru. Oleh : Fahriza Marta Tanjung, S.Pd. 1

Memaknai Kembali Arti Kesejahteraan Guru. Oleh : Fahriza Marta Tanjung, S.Pd. 1 Memaknai Kembali Arti Kesejahteraan Guru Oleh : Fahriza Marta Tanjung, S.Pd. 1 Perspektif Kesejahteraan Guru Kini Dalam setiap Peringatan Hari Guru, persoalan kesejahteraan guru selalu menjadi topik yang

Lebih terperinci