BAB IV HASIL PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV HASIL PENGUJIAN DAN ANALISA

BAB IV HASIL PENGUJIAN DAN ANALISA. Pada bab ini akan dibahas hasil pengujian dan analisa dari system buck chopper

BAB IV HASIL PENGUJIAN DAN ANALISA

BAB IV HASIL PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dan penulisan laporan tugas akhir dilakukan di Laboratorium

INVERTER MODULASI LEBAR PULSA SINUSOIDA. BERBASIS dspic 30F4012

BAB III DESAIN BUCK CHOPPER SEBAGAI CATU POWER LED DENGAN KENDALI ARUS. Pada bagian ini akan dibahas cara menkontrol converter tipe buck untuk

BAB III RANCANGAN SMPS JENIS PUSH PULL. Pada bab ini dijelaskan tentang perancangan power supply switching push pull

BAB IV HASIL PENGUJIAN DAN ANALISA

1 BAB I PENDAHULUAN. bidang ilmu kelistrikan yang menggabungkan ilmu elektronika dengan ilmu ketenaga-listrikan.

BAB III DESAIN DAN IMPLEMENTASI

DESAIN DAN IMPLEMENTASI POMPA AIR MOTOR BLDC DENGAN SUPLAI DARI PANEL SURYA

OPERASI PWM INVERTER SEBAGAI CURRENT. INJECTOR DENGAN KENDALI dspic33fj16gs502

BAB I 1. BAB I PENDAHULUAN

BAB III METODE PENELITIAN

BOOST PWM RECTIFIER 3 FASA SEBAGAI METODE PERBAIKAN KUALITAS DAYA DAN MENINGKATKAN EFISIENSI DAYA

Kendali Sistem Pengisi Baterai Tenaga Surya Metode Incremental Conductance Berbasis Mikrokontrol

Desain Penyearah 1 Fase Dengan Power Factor Mendekati Unity Dan Memiliki Thd Minimum Menggunakan Kontrol Pid-Fuzzy Pada Boost Converter

NAMA :M. FAISAL FARUQI NIM : TUGAS:ELEKTRONIKA DAYA -BUCK CONVERTER

Desain dan Implementasi Catu Daya Searah Berarus Besar Bertegangan Kecil

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Konverter elektronika daya merupakan suatu alat yang mengkonversikan

INVERTER SATU FASA GELOMBANG PENUH SEBAGAI PENGGERAK POMPA AIR DENGAN KENDALI DIGITAL

Rancang Bangun Modul DC DC Converter Dengan Pengendali PI

DESAIN PENYEARAH 1 FASE DENGAN POWER FACTOR MENDEKATI UNITY DAN MEMILIKI THD MINIMUM MENGGUNAKAN KONTROL PID-fuzzy PADA BOOST CONVERTER

KINERJA PENYEARAH DIODA PADA SUMBER TAK IDEAL

Desain Buck Chopper Sebagai Catu. Power LED Dengan Kendali Arus

Desain dan Implementasi Catu Daya Searah Berarus Besar Bertegangan Kecil

BAB I PENDAHULUAN. adalah lebih hemat energi. Untuk menghidupkan lampu LED tersebut dapat

DESAIN DAN IMPLEMENTASI PENYEARAH MODULASI LEBAR PULSA DENGAN MODULASI DELTA

ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO

BAB I PENDAHULUAN. Inverter adalah alat yang banyak digunakan dalam aplikasi elektronis. Alat ini

SISTEM POMPA AIR BERTENAGA SURYA TUGAS AKHIR

DESAIN DAN IMPLEMENTASI CATU DAYA SEARAH BERARUS BESAR BERTEGANGAN KECIL

Desain dan Implementasi Inverter Tujuh Level Berbasis. Modulasi Lebar Pulsa Sinusoidal dengan PIC18F4550

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN ANALISIS

BOOST-UP CHOPPER 24 V/320 V DENGAN KENDALI PROPORSIONAL- INTEGRAL (PI) BERBASIS MIKROKONTROLLER

KENDALI KECEPATAN MOTOR DC MELALUI DETEKSI PUTARAN ROTOR DENGAN MIKROKONTROLLER dspic30f4012

DAFTAR GAMBAR. Magnet Eksternal µt Gambar Grafik Respon Daya Output Buck Converter dengan Gangguan Medan

MAXIMUM POWER POINT TRACKER DENGAN METODE INCREMENTAL CONDUCTANCE TRANSCONDUCTANCE CONTROL BERBASIS. dspic30f4012

Perancangan Dan Realisasi Converter Satu Fasa untuk Baterai Menjalankan Motor AC 1 Fasa 125 Watt

Desain Switch Mode Power Supply Jenis Push Pull. Converter Sebagai Catu Kontroler

BAB III METODE PENELITIAN

Desain dan Implementasi Self Tuning LQR Adaptif untuk Pengaturan Tegangan Generator Sinkron 3 Fasa

Desain Inverter Tiga Fasa dengan Minimum Total Harmonic Distortion Menggunakan Metode SPWM

Materi 3: ELEKTRONIKA DAYA (2 SKS / TEORI) SEMESTER 106 TA 2016/2017 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA

Adaptor/catu daya/ Power Supply

DESAIN DAN IMPLEMENTASI INVERTER SATU FASA SEBAGAI SARANA ANTARMUKA SISTEM PHOTOVOLTAIC DENGAN JARINGAN LISTRIK BERBASIS dspic30f4012

Analisis Ripple Masukan dan Keluaran PWM AC Chopper 3-Fasa pada Beban Motor Induksi 3-Fasa

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tugas akhir dilaksanakan pada bulan Februari 2014 hingga Januari

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT Flow Chart Perancangan dan Pembuatan Alat. Mulai. Tinjauan pustaka

SISTEM KONVERTER DC. Desain Rangkaian Elektronika Daya. Mochamad Ashari. Profesor, Ir., M.Eng., PhD. Edisi I : cetakan I tahun 2012

BAB III PERANCANGAN DESAIN POMPA AIR BRUSHLESS DC. DENGAN MENGGUNAKAN dspic30f2020

Politeknik Elektronika Negeri Surabaya ITS Kampus ITS Sukolilo Surabaya

Desain dan Simulasi Konverter Buck Sebagai Pengontrol Tegangan AC Satu Tingkat dengan Perbaikan Faktor Daya

Penggunaan Filter Daya Aktif Paralel untuk Kompensasi Harmonisa Akibat Beban Non Linier Menggunakan Metode Cascaded Multilevel Inverter

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dan perancangan tugas akhir ini telah dimulai sejak bulan Juli 2009

Sistem Perbaikan Faktor Daya Pada Penyearah Diode Tiga Phasa Menggunakan Hysteresis Current Control

Rancangan Awal Prototipe Miniatur Pembangkit Tegangan Tinggi Searah Tiga Tingkat dengan Modifikasi Rangkaian Pengali Cockroft-Walton

BAB III PERANCANGAN SISTEM

2015 PERANCANGAN SIMULASI FILTER AKTIF 3 FASA UNTUK MEREDUKSI HARMONISA AKIBAT PENGGUNAAN BEBAN NON LINIER

Rancang Bangun Rangkaian AC to DC Full Converter Tiga Fasa dengan Harmonisa Rendah

KENDALI VARIABEL VOLTAGE VARIABEL FREKUENSI PADA MOTOR INDUKSI SATU FASA BERBASIS MIKROKONTROL ATMEGA8535 LAPORAN TUGAS AKHIR OLEH : MATHIAS WINDY

Sistem Manual MPPT Inverter Sebagai Interface. Antara PV dan Beban

PV-Grid Connected System Dengan Inverter Sebagai Sumber Arus. Pada Beban Resistif

Rancang Bangun AC - DC Half Wave Rectifier 3 Fasa dengan THD minimum dan Faktor Daya Mendekati Satu menggunakan Kontrol Switching PI Fuzzy

RANCANG BANGUN PENYEARAH AC TO DC RESONANSI SERI DENGAN ISOLASI TERHADAP FREKUENSI TINGGI

DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM PENGISI BATERAI TENAGA SURYA MENGGUNAKAN METODE INCREMENTAL CONDUCTANCE KENDALI ARUS BERBASIS dspic30f4012

Oleh : ARI YUANTI Nrp

REALISASI KONVERTER DC-DC TIPE PUSH-PULL BERBASIS IC TL494 DENGAN UMPAN BALIK TEGANGAN

Desain Konverter DC/DC Zero Voltage Switching dengan Perbaikan Faktor Daya sebagai Charger Baterai untuk Kendaraan Listrik

RANCANG BANGUN SENSOR PARKIR MOBIL PADA GARASI BERBASIS MIKROKONTROLER ARDUINO MEGA 2560

TAPIS DAYA AKTIF SERI DENGAN KENDALI HISTERISIS PADA SISTEM SATU FASA

DESAIN MAXIMUM POWER POINT TRACKER PADA PHOTOVOLTAIC

BAB 1 PENDAHULUAN. adalah rectifier, converter, inverter, tanur busur listrik, motor-motor listrik,

BAB I PENDAHULUAN. pengontrolan sumber tegangan AC 1 fasa dengan memafaatkan sumber

1 BAB I PENDAHULUAN. terbarukan hanya sebesar 5.03% dari total penggunaan sumber energi nasional.

III. METODE PENELITIAN. dari bulan November 2014 s/d Desember Alat dan bahan yang digunakan dalam perancangan Catu Daya DC ini yaitu :

DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM PENGISI BATERAI TENAGA SURYA MENGGUNAKAN METODE INCREMENTAL CONDUCTANCE-VOLTAGE CONTROL BERBASIS dspic30f4012

BAB III PERANCANGAN SISTEM

Rancang Bangun Interleaved Boost Converter Berbasis Arduino

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

ANALISIS FILTER SERI-PARALEL DALAM RANGKAIAN INVERTER FREKUENSI TINGGI PENAIK TEGANGAN

SINKRONISASI DAN PENGAMANAN MODUL GENERATOR LAB-TST BERBASIS PLC (HARDWARE) ABSTRAK

Desain dan Implementasi Soft Switching Boost Konverter Dengan Simple Auxillary Resonant Switch (SARC)

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

LAMPIRAN A RANGKAIAN CATU DAYA BEBAN TAK LINIER. Berikut adalah gambar rangkaian catu daya pada lampu hemat energi :

AKTIF POWER FILTER PARALEL SATU FASA BERBASIS KESAMAAN DAYA NYATA SEBAGAI KOMPENSATOR HARMONISA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

harmonisa, filter pasif, full bridge dc-dc converter 1. Pendahuluan

PERANCANGAN ZERO VOLTAGE SWITCHING BUCK CONVERTER DENGAN BEBAN RESISTIF BERVARIASI DAN SEBAGAI CATU DAYA UNTUK MOTOR ARUS SEARAH

- 4 buah switch -Vpp= Vdc. Transformator Step Up

BAB III PERANCANGAN DAN CARA KERJA RANGKAIAN

PRAKTIKUM TEKNIK TELEKOMUNIKASI 1 / RANGKAIAN LISTRIK / 2015 PERATURAN PRAKTIKUM. 1. Peserta dan asisten memakai kemeja pada saat praktikum

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

KINERJA PHOTOVOLTAIC GRID CONNECTED SYSTEM

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB 1 PENDAHULUAN. ini terlihat dengan semakin banyaknya penggunaan peralatan elektronik baik pada

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Teknologi konverter elektronika daya telah banyak digunakan pada. kehidupan sehari-hari. Salah satunya yaitu dc dc konverter.

UNINTERRUPTIBLE POWER SUPPLY MENGGUNAKAN DOUBLE SWITCH SEBAGAI PENYEARAH DAN PERBAIKAN FAKTOR DAYA

Transkripsi:

BAB IV HASIL PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pendahuluan Pada bab empat ini akan dijelaskan tentang simulasi dan hasil pengujan alat PWM boost rectifier satu fasa full-bridge. Dalam implementasinya digunakanlah mikrokontroler dalam bentuk DSC (Digital Signal Controller) untuk mengendalikan pensaklaran saklar semikonduktor melalui driver IGBT IR2132. Kontrol hysterisis digunakan untuk memperoleh pola pensaklaran yang sesuai dengan bentuk referensinya, melalui lebar pita hysterisis dapat ditentukan bagus tidaknya bentuk gelombang keluaran. Sebelum dilakukan pembuatan dan pengujian secara langsung dalm bentuk hardware, terlebih dahulu dilakukan simulasi menggunakan software power simulator (PSIM). Setelah itu dilakukan pengujian secara langsung pada hardware untuk memperoleh hasil secara nyata serta dilakukan analisa dan perbandingan dari hasil pengujian dengan simulasi. 4.2 Simulasi Software Power Simulator Sebelum pembuatan alat dilakukan simulasi terlebih dahulu menggunakan software PSIM agar pada saat pengujian alat hasilnya nanti mendekati kondisi nyata. Pada rangkaian simulasi terdiri dari rangkain PWM boost rectifier satu fasa tipe full-bridge, sumber DC yang sebesar 12 Volt, C block yang diibaratkan sebagai DSC, resistor sebagai beban. Digunakan sensor arus sebagai pendeteksi pada keadaan aktualnya. 36

4.2.1 Simulasi PWM boost rectifier Satu Fasa Full-bridge Pada gambar rangkaian di bawah merupakan simulasi PWM boost rectifier satu fasa tipe full-bridge dengan kontrol hysterisis yang membandingkan referensi dengan aktual dari sensor arus. L S1 D1 S2 D2 AC C S3 D3 S4 D4 S1 S2 S3 S4 Driver Mosfet Kontroler Hysterisis Gambar 4.1 Skema rangkaian simulasi PWM Boost Rectifier Pada rangkaian ini parameter komponen yaitu sumber AC menggunakan tegangan sebesar 12 Volt, induktor memiliki induktasi sebesar 1mH, capasitor dengan capasitif 3700uF, resistor 20 Ohm, arus referensinya diberi nilai sebesar 2 Volt, dan penguatan pada sensor arus sebesar 1 kali, Pada simulasi PWM boost rectifier, kendali hysteresis telah diprogram kedalam C Block. Dimana pada impelementasinya menggunakan dspic30f4012 dengan pemrograman dasar menggunakan Bahasa C. Beberapa deklarasi digunakan sebagai proses awal program. Berikut isi program pada C Block. 37

Setelah pengolahan program, C Block akan menghasilkan sinyal pensklaran PWM. PWM yang dihasilkan merupakan komparasi antara sinyal error dan sinyal referensi yang sudah terkontrol berdasarkan program. Gambar 4.2 Hasil simulasi gelombang sinyal PWM output 0 output 1 C Block Pada Gambar 4.2 menunjukkan hasil komparasi antara sinyal error dengan sinyal referensinya. Nilai pada sinyal error selalu mengalami fluktuasi untuk menyesuaikan sinyal referensinya sehingga menghasilkan sinyal PWM untuk proses pensaklaran pada IGBT. Pensaklaran IGBT bekerja sesuai PWM yang dihasilkan kontrol. Pola pensaklaran tersebut akan membuat arus sumber memiliki gelombang sinusoidal sesuai referensinya. Dapat dilihat pada gambar, bahwa arus 38

sumber dibentuk dengan pola pensakalran PWM mengikuti bentuk referensinya. Sehingga memiliki kandungan harmonisa yang kecil. Gambar 4.3 Hasil simulasi gelombang sinyal aktual referensi Tegangan keluaran PWM boost rectifier pun memiliki nilai yang lebih besar dari tegangan sumbernya dengan ripple yang rendah akibat dari kinerja saklar IGBT tampak pada gambar di bawah. Gambar 4.4 Hasil simulasi gelombang tegangan sumber tegangan keluaran Memiliki arus sumber yang tetap sinusoidal terhadap beban non linier seperti induktor, dioda, dan capasitor membuat PWM boost rectifier juga mempunyai faktor daya satu. Dibuktikan dengan arus sumber dan tegangan sumber PWM boost rectifier memiliki fasa yang sama pada gambar dibawah. 39

Gambar 4.5 Hasil simulasi gelombang tegangan sumber sefasa dengan arus sumber 4.3 Pengujian Laboratorium Desain dan implementasi prototipe PWM boost rectifier satu fasa jenis full-bridge keseluruhan dikerjakan dan diuji di labolatorium Program Studi Teknik Elektro Unika Seogijapranata di gedung Albertus. Uji coba dilakukan dengan memberi tegangan AC secara langsung menggunakan transformator dengan tegangan sumber sebesar 12 Volt yang terhubung dengan induktor, konverter boost jenis full-bridge, kapasitor, dan beban resistor. Pengujian dilakukan sebanyak tiga kali yaitu mendeteksi pada arus sumber dengan referensi, tegangan sumber dengan tegangan keluarannya, dan tegangan dengan arus sumber yang masing-massing pengujian dilakukan dengan mengatur nilai referensinya 1 dan 2 Ampere. PWM boost rectifier satu fasa jenis full-bridge desain dan implementasinya terdiri dari konverter boost jenis full-bridge, DSC dspic30f4012, driver MOSFET/IGBT, sensor arus, power supply push pull, kapasitor, dan beban. Pada konverter boost jenis full-bridge terdiri dari IGBT CPV364M4F, induktor, dan dioda. Selanjutnya dilakukan pengujian dengan parameter yang disesuaikan dengan yang ada pada simulasi PSIM. Tegangan 40

sumber AC menggunakan transformator untuk mendapatkan tegangan 12 Volt sebagai tegangan sumbernya. Sedangkan pada sisi beban berupa resistor dengan hambatan 200 Ohm dan kapasitor 3700uF 50 Volt. Pada tahap selanjutnya semua konponen dan alat dihubungkan satu sama lain sesuai fungsinya massing-massing. Berikut merupakan gambar alat yang dirancang dan pengujian yang telah dilakukan : Gambar 4.6 Hardware PWM Boost Rectifier Satu Fasa Jenis Full-bridge yang di uji coba 4.3.1 Sinyal Arus Sumber dan Referensinya Pada saat pengambilan data dengan nilai referensi 1 Ampere didapatkan hasil data seperti gambar di bawah ini. 41

Gambar 4.7 Hasil pengujian arus, arus sumber arus referensi 1 Ampere (skala 5ms/div, CH1 1V/div, CH2 1V/div Pada saat arus referensi diatur sebesar 1 Ampere alat yang dibuat mampu menghasilkan gelombang arus sumber yang sama dengan referensinya. Hal tersebut dihasilkan dengan kontrol hysterisis yang memberikan sinyal PWM dengan frekuensi yang tinggi sehingga dapat dibentuk gelombang sesuai referensinya. Pengambilan data dengan nilai arus referensi 2 Ampere dapat dilihat hasil percobaan seperti gambar di bawah ini. Gambar 4.8 Hasil pengujian arus, arus sumber arus referensi 2 Ampere (skala 5ms/div, CH1 2V/div, CH2 2V/div) Selanjutnya nilai referensi dinaikkan menjadi 2 Ampere dengan harapan sistem dapat mentracking nilai yang lebih besar. Pada Gambar 4.8 memperlihatkan 42

bahwa sistem mampu mentracking nilai referensi yang lebih besar yaitu 2 Ampere, dengan beban dan kontrol yang sama. Referensi arus yang lebih mempengaruhi ripple pada arus sumber yang semakin kecil daripada sebelumnya. 4.3.2 Sinyal Tegangan Sumber Dan Keluarannya Pengambilan data hampir sama dengan sebelumnya dengan nilai arus referensi 1 Ampere, namun data yang diambil tegangan sumber dan keluarannya seperti pada gambar di bawah ini. Gambar 4.9 Hasil pengujian tegangan, tegangan sumber tegangan output (skala 5ms/div, CH1 10V/div, RefA 10V/div) Gambar 4.10 Hasil pengukuran tegangan output 43

Tegangan keluaran dari PWM boost rectifier dengan referensi 1 Ampere memiliki nilai 26,43 Volt DC. Di mana tegangan sumber sebesar 12,15 Volt AC disearahkan dengan PWM boost rectifier sehingga hardware yang dibuat mampu menyearahkan menjadi DC dan memilki tegangan keluaran lebih besar. Dengan kontrol referensi 1 Ampere, PWM boost rectifier sudah mampu menghasilkan tegangan keluaran dua kali lipat tegangn sumber. Selanjutnya pengambilan data pada nilai arus referensi di 2 Ampere dengan pengukuran yang sama terlihat pada gambar dibawah ini. Gambar 4.11 Hasil pengujian tegangan, tegangan sumber tegangan output (skala 5ms/div, CH1 10V/div, RefA 10V/div) Gambar 4.12 Hasil pengukuran tegangan output 44

Hasil pengujian pada nilai referensi arus 2 Ampere memperlihatkan bahwa tegangan keluaran semakin besar dari sebelumnya pada referensi 1 Ampere. Tegangan keluaran sebesar 32,55 Volt DC meningkat hampir tiga kali lipat dari tegangan sumber 12 Volt AC. Dengan pengaturan pada nilai referensi arus membuat tegangan keluaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan. PWM boost rectifier memiliki tegangan keluarannya dengan ripple yang kecil. 4.3.3 Sinyal Tegangan Dan Arus Sumber Pengambilan data selanjutnya untuk membuktikan bahwa PWM boost rectifier memiliki faktor daya satu dengan mengambil data dari tegangan dan arus sumber seperti pada gambar di bawah ini. Gambar 4.13 Hasil pengujian tegangan sumber arus sumber dengan referensi 1 Ampere (skala 5ms/div, CH1 1V/div, CH2 5V/div) 45

Gambar 4.14 Hasil pengujian tegangan sumber arus sumber dengan referensi arus 2 Ampere (skala 5ms/div, CH1 5V/div, CH2 5V/div) Tampak pada gambar 4.13 tegangan dan arus sumber memiliki bentuk gelombang yang sinusoidal dan fasanya sama. Pada gambar 4.14 nilai arus referensi diatur pada 2 Ampere, sinyal tegangan dan arus sumber tetap sefasa sehingga perubahan nilai referensi tidak akan mempengaruhi fasanya. PWM boost rectifier mengandung induktor dan kapasitor, namun beban tak linier tersebut tidak mempengaruhi fasa tegangan dan arus sumber. Jadi tegangan dan arus sumber tetap sefasa walaupun terdapat induktor dan kapasitor yang notabene dapat menggeser fasa sumber dayanya. 4.4 PEMBAHASAN Sesudah pengujian desain dan implementasi PWM boost rectifier dilakukan secara simulasi dan realisasi alat dapat diamati bahwa alat tersebut dapat bekerja semestinya sesuai yang telah disimulasikan. Alat mampu menyearahkan sumber AC menjadi DC serta memilki tegangan keluarannya lebih besar dari tegangan sumber. PWM boost rectifier satu fasa jenis full-bridge memiliki bentuk gelombang arus sumber yang sinusoidal. Arus sinusoidal dibentuk dari pensaklaran saklar semikonduktor oleh kontrol hysterisis yang 46

membandingkan nilai referensi dengan aktual (sensor arus). Detektor fasa akan membentuk template gelombang sinusoidal pada sumber tegangan AC, besar kecil gelombang referensi dapat disesuaikan dengan mengatur gain dan offset. Setelah didapatkan template gelombang sinusoidal, DSC akan menerima template sebagai referensi. Pada pengujian pertama digunakan nilai referensi sebesar 1 Ampere. Sedangkan keluaran sensor arus sebagai kondisi aktual arus sumber. Referensi dan aktual diproses oleh DSC dengan kontrol hysterisis sehingga menghasilkan pola pensaklran PWM dengan frekuensi yang tinggi. Pola pensaklaran PWM dari DSC akan diteruskan menuju driver IGBT untuk memicu saklar semikonduktor CPV364M4F. Pensaklaran saklar semikonduktor mengasilkan gelombang sinusoidal disisi arus sumber pada sensor arus. Sehingga PWM boost rectifier akan memiliki arus sumber yang tetap sinusoidal walaupun terdapat induktor, dioda, dan kapasitor yang merupakan beban tak linier. Dengan dasar konsep chopper boost, tegangan keluaran PWM boost rectifier satu fasa jenis full bridge memiliki magnitude yang lebih besar dari tegangan sumbernya. Dari tegangan sumber 12 Volt AC disisi keluaran menjadi sebesar 24,43 Volt DC. Topologi konverter fullbridge digunakan agar sumber tegangan AC dapat disearahkan secara penuh pada siklus positif maupun negatif. Meskipun arus sumber dibentuk dari pensaklaran saklar semikonduktor memilik fasa yang sama dengan tegangan sumber. Sehingga antara arus dan tegangan sumber tidak terjadi pergeseran fasa. Hal tersebut dapat terjadi karena arus sumber yang dibentuk merupakan template dari tegangan AC dari sumber yang sama pada kondisi real-time. Selanjutnya untuk mengetahui 47

batasan kemampuan alat, diaturlah nilai referensi menjadi 2 Ampere. Didapatkan bentuk gelombang arus sumber yang masih tetap sinusoidal dan sefasa, tetapi tegangan keluarannya meningkat menjadi 32,55 Volt DC. Pengujian dilakukan pada parameter beban dan tegangan sumber yang sama disaat nilai referensi 1 Ampere maupun 2 Ampere. Sehingga pengaturan besar kecil nilai referensi mengakibatkan peningkatan tegangan disisi keluaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa PWM boost rectifier satu fasa jenis full-bridge akan memaksa arus sumber tetap sinusoidal dan fasa antara tegangan dan arus sumber memiliki fasa yang sama. Dua kelebihan itu membuat PWM boost rectifier satu fasa jenis full-bridge memiliki kandungan harmonisa yang kecil dan faktor daya sama dengan satu. Sehingga hanya daya nyata yang dikirim pada disisi beban. 48