Abdul Jalil, S.Pd.I.

dokumen-dokumen yang mirip
Kitab Jenazah. 1. Meratapi mayat. Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra., ia berkata:

TATA CARA PENGURUSAN JENAZAH

Rasulullah saw. memotong tangan pencuri dalam (pencurian) sebanyak seperempat dinar ke atas. (Shahih Muslim No.3189)

CARA PERAWATAN JENAZAH DI DAERAH TEMPUR

Kitab Tentang Sumpah (Qosamah), Kelompok Penyamun, Kisas Dan Diyat 1. Qasamah (sumpah)

Lesson Sheet Kelas : Mars

SEBAB-SEBAB PARA ULAMA BERBEDA PENDAPAT. (Dirangkum dari kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Raf ul Malaam an Aimatil A laam )

10hb April Ustaz Mohd Salleh Hj. Mastor Imam Masjid Tun Abdul Aziz, Seksyen 14, Petaling Jaya. oleh SURAU AL-HIKMAH SBZ3 SHAH ALAM

3 Wasiat Agung Rasulullah

Hal-Hal Yang Diperbolehkan dan Dilarang Dalam Penyelenggaraan Jenazah

Isilah 10 Hari Awal Dzul Hijjah dengan Ketaatan

SUNNAH NABI. Dan dikuatkan dengan Hadist dari Imam Bukhari disalah satu bab yaitu: sunnahnya berwudhu sebelum mandi

PANDUAN MENGERJAKAN SOLAT KHAS

Barangsiapa yang dikaruniai seorang anak, lalu ia menyukai hendak membaktikannya (mengaqiqahinya), maka hendaklah ia melakukannya.

1. Di surga terdapat sebatang pohon yang luas bayangannya tidak dapat ditempuh selama seratus tahun berkendaraan

Menggapai Ridha Allah dengan Birrul Wâlidain. Oleh: Muhsin Hariyanto

Keutamaan Bulan Dzul Hijjah

Kekhususan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Yang Tidak Dimiliki Oleh Umatnya

[ Indonesia Indonesian

Waris Tanpa Anak. WARISAN ORANG YANG TIDAK MEMPUNYAI ANAK Penanya: Abdul Salam, Grabag, Purworejo. (disidangkan pada hari Jum'at, 10 Februari 2006)

HADITH-HADITH BERKAITAN HAJI. 1. Perkara yang dibenarkan dan tidak dibenarkan semasa ihram

Cemburu, Bagian Hidup Wanita


LAMPIRAN TERJEMAH. NO HAL BAB TERJEMAH 1 2 I Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci. (HR. Muslim)

Seribu Satu Sebab Kematian Manusia

Sejumlah ulama berpendapat bahwa menjalankan shalat berjamaah mengandung banyak nilai kebaikan, diantaranya berikut;

Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada (Al-Hajj: 46).

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orangorang yang ruku (Al Baqarah : 43)

Pakaian bersih rapih indah

Adab Menjenguk Orang Sakit

Rasulullah SAW suri teladan yang baik (ke-86)

Keistimewaan Hari Jumat

Kasih Sayang Nabi Muhammad? Kepada Umatnya

Ummu Sulaim Ar-Rumaishah

E٤٢ J٣٣ W F : :

Ustaz Mohd Salleh Hj. Mastor Imam Masjid Tun Abdul Aziz, Seksyen 14, Petaling Jaya. BAGIAN KE-2 dari 4

Kekeliruan-Kekeliruan Umat Islam di Hari Jumat

SIFAT MALU (Al Haya) Editor: Nunung NS Disajikan Oleh: M. Rofiqi Redi Sofiadi Rika Siti Syahidah

1. Kewajiban mandi Jumaat atas setiap lelaki dewasa dan keterangan tentang beberapa hal yang dianjurkan

ZIKIR SESUDAH SHALAT.

E٤٨٤ J٤٧٧ W F : :

Lailatul Qadar. Rasulullah SAW Mencontohkan beberapa amal khusus terkait Lailatul Qadar ini, di antaranya:

Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah

2. Barang siapa bersumpah dengan Laata dan Uzzaa, maka hendaknya dia segera mengucapkan "laa ilaaha illallah"

KISI KISI SOAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS UTS GENAP KELAS VII (TUJUH) (untuk memperkaya wawasan WAJIB BACA BUKU PAKET)

Munakahat ZULKIFLI, MA

TAFSIR AL QUR AN UL KARIM

Disebarluaskan melalui: website: TIDAK untuk tujuan KOMERSIL

UJIAN AKHIR SEMESTER 1 SEKOLAH MENENGAH TAHUN AJARAN 2014/2015 Mata Pelajaran : Agama Islam

BLUSUKAN SANG KHALIFAH ADIL UMAR BIN KHATTAB

Memperhatikan dan Menasihati Pemuda Untuk Shalat

Iman Itu Naik dan Turun

Ramadhan dan Taubat Kepada Allah

Faktor-faktor Pendorong Mengingat Kematian dan Zuhud Terhadap Dunia Kematian bagi setiap manusia adalah sebuah kepastian yang tak mungkin dihindarkan.

BATASAN TAAT KEPADA ORANG TUA Secara umum kita diperintahkan taat kepada orang tua. Wajib taat kepada kedua orang tua baik yang diperintahkan itu sesu

Ternyata Hari Jum at itu Istimewa

KUMPULAN FATWA. Hukum Membagi Agama Kepada Isi dan Kulit. Penyusun : Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Terjemah : Muh. Iqbal Ahmad Gazali

Pentingnya Menyambung Silaturahmi

Berpegang kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan tidak bertaqlid kepada seseorang

DAFTAR TERJEMAH No. BAB Hal Terjemah


TAWASSUL. Penulis: Al-Ustadz Muhammad As-Sewed

Kekeliruan Sebagian Umat Islam di Bulan Rajab

Tentang membuat Gambar dan Patung (Brosur cetak ulang)

SIKAP MUSLIM MENGHADAPI MUSIBAH. Ust. H. Ahmad Yani, MA. Kondisi Manusia Menghadapi Musibah

Cara Mengajarkan Shalat Pada Anak*

Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. [Q.S. 6 : 116]

Membaca Sebagian Al-Quran Dalam Khutbah Jum'at

Marhaban Yaa Ramadhan 1434 H

A. SIFAT JASMANIAH BAGINDA MUHAMMAD SAW

Fatwa Seputar Badal Haji dan Umrah. Serta Hukum Melaksanakan Umrah Berkali-Kali Bagi Jama'ah Haji Saat Berada di Makkah

TUNTUNAN PRAKTIS MERAWAT JENAZAH

Bantal dan Kasur Yang Melalaikan Shalat Subuh

MUZAKKI DI KALANGAN SAHABAT RASULULLAH SAW. Oleh: M. Yakub Amin

Tauhid untuk Anak. Tingkat 1. Oleh: Dr. Saleh As-Saleh. Alih bahasa: Ummu Abdullah. Muraja ah: Andy AbuThalib Al-Atsary. Desain Sampul: Ummu Zaidaan

1. Anjuran menikah bagi orang yang sudah berkeinginan serta memiliki nafkahnya dan anjuran bagi yang belum mampu untuk berpuasa

Istiqomah. Khutbah Pertama:

Sifat Surga dan Penghuninya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

: : :

Apa itu Nadzar dan Sumpah? NADZAR DAN SUMPAH

1. Tentang kebangkitan dari kubur, hari kiamat dan keadaan bumi pada hari kiamat

PMI. Ketika Kita Sakit. Pemuda Mencari Iman. Kultum. Rachmad Chandra Wardana

Disebarluaskan melalui: website: TIDAK untuk tujuan KOMERSIL

Khitan. 1. Sejarah Khitan

Kepedulian Umat Islam terhadap Jenazah. Menelaah dan Menganalisis Perawatan Jenazah KEPEDULIAN. Kepedulian MERAWAT. Merawat Jenazah JENAZAH

Tafsir Surat Al-Kautsar

Bismillahirrahmanirrahim

MACAM-MACAM AMALAN YANG DISYARIATKAN

Kisah-kisah di Balik Keajaiban Shalat Hajat

Janganlah Berlaku Zalim

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 40 Tahun 2011 Tentang BADAL THAWAF IFADHAH (PELAKSANAAN THAWAF IFADHAH OLEH ORANG LAIN)

Di antaranya pemahaman tersebut adalah:

yuslimu-islaman. Bukti ketundukan kepada Allah SWT itu harus dinyatakan dengan syahadat sebagai sebuah pengakuan dalam diri secara sadar akan

BAB IV DASAR PERTIMBANGAN MAHKAMAH AGUNG TERHADAP PUTUSAN WARIS BEDA AGAMA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

Khutbah Jum'at. Isra' Mi'raj. Bersama Dakwah 1

Pendidikan Agama Islam

Desas-desus. 1 P a g e

HUBUNGAN SEKSUAL SUAMI-ISTRI Dr. Yusuf Al-Qardhawi. Pertanyaan:


Transkripsi:

Abdul Jalil, S.Pd.I. i

Penulis: Abdul Jalil, S.Pd.I. Editor: Yulianawati, Rini Desain Sampul: Ilustrator : Fajar Lay Out: Pendy Penerbit: Sindur Press Jl. Pleburan VIII/64, Semarang Telp. (024) 6580335, 6582901 Fax. (024) 6582903, 6581440 ISBN: 978-979 - 067-038 - 9 Hak Cipta Dilindungi Undang-undang ii

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan karunia-nya kepada umat manusia supaya manusia mensyukurinya. Selawat beriring salam selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. demikian juga kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya serta para pengikut-pengikutnya yang masih istikamah dengan ajaran-ajarannya. Mati adalah sesuatu yang pasti bagi kita. Kita tentunya menginginkan agar jenazah atau mayat kita diurus dengan benar sesuai dengan ajaran Rasulullah. Apabila kita menginginkan agar mayat kita diurus orang lain, maka kita juga harus bisa mengurus jenazah, misalnya cara mempersiapkan pemandian bagi jenazah, memandikannya, mengafaninya, menyalatkan, sampai kita menguburkannya. Kami menyadari masih banyak kekurangan di dalam buku ini. Namun demikian kami berharap buku ini dapat bermanfaat bagi semua kalangan. Penyusun iii

Kata Pengantar iii Daftar Isi iv Bab 1 Pendahuluan 1 A. Perbuatan yang Dianjurkan Ketika Datang Ajal dan Sesudahnya 1 B. Meratapi Jenazah atau Mayat 2 Bab 2 Memandikan Jenazah 7 A. Hukum Memandikan Jenazah 7 B. Orang yang Berhak Memandikan Jenazah 11 C. Persiapan Sebelum Memandikan Jenazah 14 Bab 3 Mengafani dan Mengiringkan Jenazah 17 A. Mengafani Jenazah Menurut Pendapat Ulama 17 B. Tata Cara Mengafani Jenazah 21 Bab 4 Menyalatkan dan Menguburkan Jenazah 29 A. Menyalatkan Jenazah 29 B. Menguburkan Jenazah 37 Bab 5 Sebuah Cerita dan Pengalaman Seseorang 43 A. Menghadapi Kematian 43 B. Pengurusan Jenazah di Negeri Sakura 52 C. Suara yang Didengar Jenazah atau Mayat 54 D. Nasihat untuk Diri Kita dan Saudara-Saudara Sesama Muslim 57 Daftar Pustaka 60 iv

Pendahuluan A. Perbuatan yang Dianjurkan Ketika Datang Ajal dan Sesudahnya Terhadap orang yang sudah hampir meninggal, disunahkan untuk diajari mengucapkan syahadat, yaitu Laa ilaaha illallah (Tidak ada Tuhan kecuali Allah). Hal tersebut berdasarkan sabda Nabi saw.: Artinya: Ajarkanlah kalimat syahadat La ilaha illallah kepada orang-orang yang hampir mati di antara kamu. Dan sabdanya pula: Artinya: Barang siapa yang akhir perkataannya adalah La ilaha illallah, maka ia bakal masuk surga. Tata Cara Pengurusan Jenazah 1

Para ahli fiqih (fuqaha) berselisih pendapat tentang persoalan menghadapkan orang yang hampir meninggal ke arah kiblat. Apakah hal itu disunahkan? Segolongan fuqaha berpendapat bahwa hal itu disunahkan, sedang fuqaha yang lain tidak berpendapat demikian. Dari Imam Malik diriwayatkan bahwa ia berkata, Mengenai menghadapkan orang yang hampir meninggal ke arah kiblat, maka hal itu merupakan perkara yang sudah berlaku sejak dulu. Dari Sa id bin al-musyayyib diriwayatkan bahwa ia mengingkari dihadapkannya orang yang hampir mati ke arah kiblat, dan dalam hal ini juga tidak pernah diriwayatkan dari kalangan sahabat atau tabi in. B. Meratapi Jenazah atau Mayat Berkaitan dengan meratapi mayat, berikut hadis riwayat Usamah bin Zaid ra., ia berkata, Kami sedang berada di dekat Rasulullah saw. ketika seorang di antara putri beliau menyuruh seseorang memanggil beliau dan memberi kabar bahwa anak putri beliau itu sedang menghadapi maut. Rasulullah saw. bersabda kepada utusan tersebut, Kembalilah dan kabarkan kepadanya bahwa apa yang Allah ambil dan Allah berikan adalah milik-nya semata. Segala sesuatu di sisi-nya adalah dengan batas waktu tertentu. Suruhlah ia untuk bersabar dan mengharap pahala. Utusan itu kembali dan berkata, Dia berjanji akan memenuhi pesan-pesan itu. Lalu Nabi saw. berdiri diikuti oleh Saad bin Ubadah dan Muadz bin Jabal. Aku pun (Usamah bin Zaid) ikut berangkat bersama mereka. Kepada 2 Tata Cara Pengurusan Jenazah

Rasulullah saw. anak (dari putri beliau) diserahkan dan jiwanya bergolak seperti berada dalam qirbah (tempat air) tua. Kedua mata Rasulullah saw. menitikkan air mata. Lalu Saad bertanya, Apa arti air mata itu, ya Rasulullah? Rasulullah saw. bersabda, Ini adalah rahmat (kasih sayang) yang diletakkan Allah dalam hati para hamba-nya. Sesungguhnya Allah mengasihi para hamba-nya yang pengasih. (Shahih Muslim No.1531) Hal ini juga terdapat dalam hadis riwayat Abdullah bin Umar r.a., ia berkata, sebagai berikut. Saad bin Ubadah mengalami sakit keras, lalu Rasulullah saw. menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abu Waqqash dan Abdullah bin Masud. Ketika beliau tiba, beliau mendapatinya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Rasulullah saw. bertanya, Apakah ia telah meninggal dunia? Orang-orang yang hadir di sana menjawab, Belum, ya Rasulullah. Kemudian Rasulullah saw. menangis. Ketika para sahabat melihat tangis Rasulullah saw., mereka ikut menangis. Lalu Rasulullah saw. bersabda, Tidakkah kalian mendengar bahwa sesungguhnya Allah tidak menyiksa karena air mata dan atau karena kesedihan hati. Tetapi Dia menyiksa atau mengasihi sebab ini. Beliau menunjuk ke lidah beliau (maksudnya karena ratapan yang diucapkan lidah karena menolak qada dan takdir Allah atas si mayat). (Shahih Muslim No.1532) Mayat disiksa karena ratapan (penyesalan) keluarganya sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Umar r.a. yang artinya: Tata Cara Pengurusan Jenazah 3

Bahwa Rasulullah saw. bersabda, Sesungguhnya mayat akan disiksa karena tangis ratapan (penyesalan) keluarganya. (Shahih Muslim No.1536) Adapun hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a. yang artinya: Dari Abdullah bin Abu Mulaikah, ia berkata, Aku sedang duduk di samping Ibnu Umar. Kami sedang menunggu jenazah Ummu Aban binti Usman. Bersamanya juga ada Amru bin Usman. Kemudian Ibnu Abbas datang dituntun oleh seseorang yang menunjukkan tempat Ibnu Umar. Ibnu Abbas datang dan duduk di sampingku. Aku berada di tengah-tengah antara Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Tiba-tiba terdengar suara dari rumah. Lalu Ibnu Umar berkata, Nampaknya ia berusaha menghalangi Amru untuk berdiri guna melarang mereka. Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, Sesungguhnya mayat itu akan disiksa karena tangis ratapan keluarganya. Ia berkata, Abdullah menjadikannya mutlak (sebelumnya adalah dengan bersyarat). Ibnu Abbas berkata, Kami sedang bersama Amirul mukminin Umar bin Khathab. Ketika kami tiba di Baida, tiba-tiba ada seseorang yang berteduh di bawah sebatang pohon. Amirul mukminin berkata kepadaku, Pergi dan lihat siapa orang itu! Aku pun pergi, ternyata orang itu Shuhaib. Aku kembali kepada Umar dan berkata, Engkau menyuruhku untuk melihat siapa orang itu. Dia adalah Shuhaib. Umar berkata, Suruh ia ikut bersama kita! Aku berkata, Jika ia bersama keluarganya? Umar berkata, Walaupun bersama keluarganya. Atau mungkin Ayyub berkata, Suruhlah ia menemuiku. Tidak lama setelah kami datang Amirul mukminin terkena musibah. Shuhaib datang menemuinya sambil 4 Tata Cara Pengurusan Jenazah

meratap, Aduh saudaraku! Aduh temanku! Umar berkata, Tidakkah engkau tahu (atau tidakkah engkau mendengar) Ayyub berkata, Belum tahukah engkau atau Belum mendengarkah engkau bahwa Rasulullah saw. bersabda, Sesungguhnya mayat itu akan disiksa karena tangis ratapan keluarganya. Adapun Abdullah ia menjadikannya umum, adapun Umar ia berkata, Pada keadaan tertentu. Maka aku (Abdullah bin Abdullah bin Abu Mulaikah) berdiri dan menemui Aisyah dan bercerita kepadanya apa yang dikatakan oleh Ibnu Umar Aisyah berkata, Tidak, demi Allah! Rasulullah saw. sama sekali tidak bersabda sesungguhnya mayat akan disiksa sebab tangis seseorang. Tetapi beliau bersabda sesungguhnya orang kafir itu ditambah siksanya oleh Allah sebab tangis keluarganya. Sungguh, Allah adalah Zat yang membuat tertawa dan membuat menangis. Dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. (Shahih Muslim No.1543) Ada juga hadis yang diriwayatkan Mughirah bin Syu bah r.a., ia berkata, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang diratapi, maka ia akan disiksa pada hari kiamat nanti dengan yang diratapkan atasnya. (Shahih Muslim No.1549) Teguran keras terhadap perbuatan meratapi si mayat, juga terdapat dalam hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a., ia berkata, Ketika berita gugurnya Ibnu Haritsah, Jakfar bin Abu Thalib dan Abdullah bin Rawahah sampai kepada Rasulullah saw., Rasulullah saw. pun duduk bersedih hati. Ia (Aisyah) berkata, Aku melihat dari celah pintu. Lalu datang Tata Cara Pengurusan Jenazah 5

seseorang mengabarkan kepada Rasulullah saw. Katanya, Wahai Rasulullah saw., sungguh istri-istri Jakfar! Orang itu menceritakan tangis istri-istri Jakfar. Mendengar itu Rasulullah saw. menyuruh orang tersebut untuk melarangnya. Dia pun pergi, lalu kembali lagi, menuturkan bahwa istri-istrinya tidak mau menurut. Rasulullah saw. menyuruhnya lagi agar melarang istri-istri Jakfar meratap. Dia pun pergi menuju istri-istri Jakfar lalu kembali lagi kepada Rasulullah saw. sambil berkata, Demi Allah, mereka keras kepala, wahai Rasulullah. Aisyah menyangka bahwa Rasulullah saw. bersabda, Pergilah dan jejalkanlah debu tanah ke mulut mereka! Aisyah berkata, Aku berkata, mudah-mudahan Allah menghinakanmu! Engkau tidak melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah saw. dan engkau tidak mau meninggalkan Rasulullah saw. bebas dari beban. (Shahih Muslim No.1551) Hal ini dapat juga dilihat dalam hadis riwayat Ummu Athiyyah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. mengambil janji kami saat baiat, yaitu agar kami tidak meratapi mayat. Tidak ada di antara kami yang menepati baiat itu kecuali lima orang wanita; Ummu Sulaim, Ummul Ala, putri Abu Sabrah (istri Muaz) atau putri Abu Sabrah dan istri Muaz. (Shahih Muslim No.1552) 6 Tata Cara Pengurusan Jenazah

Memandikan Jenazah Pada bab ini akan diuraikan mengenai hukum memandikan mayat, orang yang berhak memandikan, serta perlengkapan dalam memandikan jenazah. A. Hukum Memandikan Jenazah Hukum memandikan jenazah menurut segolongan fuqaha, adalah fardhu kifayah, sedang sebagian yang lain berpendapat bahwa hukumnya adalah sunah kifayah. Kedua pendapat ini terdapat di dalam mazhab Maliki. Silang pendapat ini disebabkan karena persoalan memandikan mayat itu hanya diriwayatkan melalui jalan perbuatan, bukan perkataan. Sedangkan perbuatan itu tidak mempunyai bentuk tertentu yang bisa memberi pengertian wajib atau tidak. Mengenai wajibnya memandikan mayat ini, Abbul Wahab beralasan dengan sabda Nabi saw. mengenai anak perempuannya yang meninggal. Tata Cara Pengurusan Jenazah 7

Artinya: Mandikanlah ia tiga atau lima kali. dan sabdanya: Artinya: Mandikanlah dia. Bagi fuqaha yang berpendapat bahwa perkataan Nabi saw. itu dikeluarkan sebagai suatu pengajaran tentang cara memandikan, bukan sebagai perintah untuk memandikan, maka mereka tidak menetapkan wajibnya memandikan. Sedang bagi fuqaha yang berpendapat bahwa perkataan beliau itu mencakup perintah memandikan dan cara memandikan bersama-sama, maka mereka menetapkan wajibnya mandi. Fuqaha berpendapat bahwa mayat yang wajib dimandikan adalah mayat muslim yang tidak terbunuh dalam peperangan melawan orang-orang kafir (mati syahid). Adapun karena orang yang mati syahid, yakni orang-orang yang mati terbunuh oleh kaum musyrik dalam peperangan, maka jumhur fuqaha berpendapat bahwa ia tidak dimandikan, karena diriwayatkan sebagai berikut. 8 Tata Cara Pengurusan Jenazah

Artinya: Sesungguhnya Rasulullah saw. memerintahkan (penguburan) para sahabat yang gugur dalam peperangan Uhud, maka mereka dikuburkan dengan pakaian mereka, dan tidaklah mereka itu disalatkan. Apa jenis syahid menurut hadis diceritakan sebagai berikut. Menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, menceritakan kepada kami Malik dari Sumyyin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang mati terkena cacar, orang yang mati karena sakit perut/taun, orang yang mati tenggelam, orang yang mati tertimpa runtuhan, dan orang yang syahid di jalan Allah. (Al-Bukhari, Kitab As-Sayru Wal-Maghazi: 2617) Terdapat beberapa tambahan dari para ulama yaitu meninggal ketika melahirkan anak dan seumpamanya yang melibatkan penderitaan dan penyiksaan tertentu dalam tempo kematiannya. Syahid dibedakan atas syahid dunia akhirat, syahid dunia dan syahid akhirat. 1. Syahid Dunia Akhirat Syahid dunia akhirat yaitu orang yang berjuang di jalan Allah yang ikhlas melaksanakan untuk menegakkan agama Allah. Dengan demikian pejuang yang berdasarkan nasionalisme tidak termasuk dalam kategori ini. Pengurusan jenazah syahid dunia akhirat adalah dikebumikan dalam keadaan seperti saat ia mati. Tata Cara Pengurusan Jenazah 9

Perang Islam yang mati syahid langsung dikebumikan seperti saat ia meninggal. Sumber: Ilustrasi Penerbit 2. Syahid Dunia Syahid dunia adalah pejuang Islam yang terbunuh dalam peperangan melawan kaum kafir, sedangkan niatnya (yang kita tidak tahu) adalah mungkin untuk mengejar harta rampasan (ghanimah) atau mendapatkan nama atau gelar. Mereka itu juga disebut fi sabilillah, karena niat tidak dapat diketahui oleh manusia. 3. Syahid Akhirat Syahid akhirat yaitu mereka yang meninggal dalam keadaan seperti yang dijelaskan di atas, namun jenazah mereka diurus seperti jenazah saat kematian biasa. Menurut pandangan kalangan penulis kitab dan ilmu rijal (salah satu cabang dalam ilmu hadis), seseorang dapat 10 Tata Cara Pengurusan Jenazah

dikatakan syuhada jika saat-saat dan tanda kematiannya memenuhi sebab-sebab dan keadaan syahid. Dengan demikian dia harus disebut sebagai syahid (Ats-Tsamratul Jiyaad Fii Masaa-ili Fiqhil Jihaad). Walaupun demikian, ini bukan berarti dia akan masuk surga. Hal tersebut merupakan hak mutlak Allah swt., penyebutan ini untuk lebih membantu dalam kaidah pengurusan jenazah tersebut. Perjuangan yang dilalui oleh para syuhada tidak dapat diukur dengan jumlah luka dan tikaman yang diterima. Hal yang lebih penting kita pahami yaitu, jauh dari apa yang kita dapat fahami hanyalah Allah yang Maha Adil dan Maha Layak Menghukum. B. Orang yang Berhak Memandikan Jenazah Kewajiban memandikan jenazah adalah menjadi tanggung jawab keluarga atau saudara muslim yang masih hidup. Memandikan jenazah hukumnya wajib, kecuali orang yang mati syahid. Para ulama sepakat apabila orang yang mati syahid, yaitu orang yang mati karena berperang dengan orang-orang kafir tidak wajib dimandikan. Begitu juga dengan anak yang mati dalam kandungan ibunya (keguguran) sebelum kandungan mencapai empat bulan tidak wajib dimandikan. Sedangkan orang yang memandikan jenazah menurut kesepakatan ulama harus sejenis atau sama dengan jenazahnya. Apabila yang meninggal laki-laki, maka yang boleh memandikan adalah laki-laki. Begitu juga jenazah wanita yang boleh memandikan adalah wanita. Tata Cara Pengurusan Jenazah 11

Persiapan memandikan mayat. Sumber: http//:2bpblogspot.com Jika mayat telah mewasiatkan kepada seseorang untuk memandikannya, maka orang itulah yang berhak untuk memandikannya. Jika mayat tidak mewasiatkan, maka yang berhak adalah ayahnya atau kakeknya atau anak laki-lakinya atau cucucucunya yang laki-laki (jika mayatnya laki-laki). Jika tidak ada yang mampu, keluarga mayat boleh menunjuk orang yang amanah dan tepercaya untuk mengurusnya. Namun demikian, dianjurkan agar yang memandikan jenazah memilih 2 orang dari keluarganya. Adapun tata cara memandikan jenazah, para ulama sepakat bahwa memandikan jenazah adalah satu kali dengan air bersih. Sedangkan kedua dan seterusnya, hukumnya sunah. 12 Tata Cara Pengurusan Jenazah

Para ulama juga menyunahkan mencampur air dengan bidara dan kapur atau sejenisnya yang harum. Disyaratkan juga tentang sahnya memandikan mayat yaitu adanya niat, airnya adalah air mutlak, suci, menghilangkan najis yang di badan mayat, dan tidak ada sesuatu yang dapat mencegah sampainya air ke tubuh si mayat secara langsung. Menurut kesepakatan semua ulama mazhab, jika tidak dapat dimandikan karena ada halangan yang disebabkan karena tidak ada air, terbakar, sakit yang sekiranya kalau dimandikan dagingnya (kulitnya) akan rusak, maka boleh ditayamumkan sebagai pengganti mandi. Sedangkan caracara mentayamumkannya sama seperti orang hidup bertayamum. Sekelompk ahli fiqih Imamiyah berpendapat, wajib ditayamumkan tiga kali. Pertama, sebagai pengganti dari air mandi dengan air bidara. Kedua, sebagai pengganti dari mandi dengan air kapur. Ketiga, sebagai pengganti dari mandi dengan air bersih. Sedangkan sebagian dari mereka termasuk para peneliti (Imamiyah) berpendapat cukup dengan tayamum satu kali. Adapun perlengkapan bagi yang memandikan jenazah, sebagai berikut. 1) Penutup hidung. 2) Memakai pelindung tubuh agar tidak terkena kotorankotoran seperti sisa air perasan daun bidara dan kapur barus. 3) Sarung tangan. 4) Sepatu bot berlaras tinggi. Tata Cara Pengurusan Jenazah 13

Cara menyediakan perasan daun bidara, sebagai berikut. 1) 1 gelas besar atau sama dengan 4 liter. 2) 8 liter dan 2 gelas air perasan daun bidara. 3) 12 liter dan 3 gelas gelas air perasan daun bidara. 4) 16 liter dan 4 gelas air perasan daun bidara. 5) 20 liter dan 5 gelas air perasan daun bidara. Sedangkan cara menyediakan air dan kapur barus adalah setiap 4 liter air dicampur dengan 2 potong kapur barus. C. Persiapan Sebelum Memandikan Jenazah Berikut persiapan sebelum memandikan jenazah. 1) Menutup aurat si mayat dengan handuk besar mulai pusar sampai dengan lututnya (laki-laki dan perempuan sama). 2) Melepas pakaian yang masih melekat di tubuhnya. Caranya: a) Pakaian: dimulai dari lengan sebelah kanan ke arah kiri, selanjutnya dari lubang baju (kerah) ke bawah. Setelah itu, bagian depan ditarik dengan perlahan dari bawah handuk penutup auratnya. (Hal ini berlaku jika mayat mengenakan gamis atau baju panjang, jika hanya kemeja cukup membuka kancingnya). b) Celana: digunting sisi sebelah kanan dari atas sampai ke bawah lalu sebelah kiri. Setelah itu bagian depan ditarik perlahan dengan tetap menjaga handuk penutup. c) Pakaian belakang mayat: tubuh jenazah dibalik ke sebelah kiri, pakaian digeser ke kiri. Setelah itu dibalikkan lagi ke kanan. 14 Tata Cara Pengurusan Jenazah

3) Menggunting kuku tangan dan kaki jika panjang. 4) Mencukur bulu ketiak, apabila tidak lebat dicabut saja. 5) Merapikan kumis. 6) Membersihkan hidung dan mulut serta menutupnya dengan kapas ketika dimandikan lalu dibuang setelah selesai. Adapun tata cara memandikan jenazah adalah sebagai berikut. 1) Bersihkan isi perut dengan tangan kiri yang telah terbalut, angkat sedikit tubuh mayat, tekan perutnya perlahan-lahan sebanyak tiga kali hingga keluar, bersihkan kotoran itu dengan kain pembersih kemudian siram. 2) Wudukan jenazah, caranya bacalah basmallah, cuci tapak tangan mayat tiga kali, bersihkan mulut dan hidungnya tiga kali, basuh wajah dan tangan kanan lalu kiri sampai dengan siku, basuh kepala dan kedua telinganya, basuh kaki kanan kemudian kirinya. 3) Menyiram air perasan daun bidara, caranya: a) siram kepala dan wajahnya dengan perasan yang berbuih terlebih dahulu, b) basuh tubuh bagian kanan dari pundak ke telapak kaki sebelah kanan terus ke arah kiri, c) ulangi sekali lagi. 4) Menyiram dengan air kapur barus, caranya: a) siram kepala dan wajahnya dengan perasan yang berbuih terlebih dahulu, b) basuh tubuh bagian kanan dari pundak ke telapak kaki sebelah kanan terus ke arah kiri, c) ulangi sekali lagi. Tata Cara Pengurusan Jenazah 15

5) Keringkan (usap) tubuh mayat dari atas ke bawah. Usahakan menggunakan handuk yang halus. Rambut wanita dikepang menjadi tiga.wajib berwudu bagi yang memandikan dan dianjurkan mandi setelah selesai. Diwajibkan wudu terlebih dahulu sebelum memandikan jenazah. Sumber: dokumen penerbit Demikian hukum memandikan dan cara memandikan jenazah baik laki-laki maupun perempuan secara Islami. Kita sebagai muslim wajib mengetahui hal ini karena sangat bermanfaat bagi kita di kemudian hari. 16 Tata Cara Pengurusan Jenazah

Mengafani dan Mengiringkan Jenazah Mengafani jenazah juga bagian dari yang harus dilakukan dalam pengurusan jenazah. Setelah dimandikan, jenazah dipindahkan ke tempat lain yang telah ditentukan dengan posisi kepala lebih tinggi dan dalam keadaan auratnya tertutup. Syarat dalam mengafani jenazah seperti syarat pakaian penutup yang digunakan dalam salat, baik dari kesuciannya, boleh dan tidak bolehnya, seperti dari sutera, atau dari kulit binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya, atau emas bagi laki-laki dan wanita, dan lain-lain. A. Mengafani Jenazah Menurut Pendapat Ulama Menurut mazhab Syafii, Hanafi, dan Imamiyah, kain kafan seseorang dibebankan pada suaminya apabila ia hidup cukup. Sedangkan menurut mazhab Maliki dan Hambali, tidak diwajibkan bagi suami untuk mengafani istrinya walau istrinya kafir. Tata Cara Pengurusan Jenazah 17

Dasar hukum dalam mengafani jenazah adalah: Artinya: Sesungguhnya Rasulullah saw. dikafani dalam tiga lembar kain putih bersih, tidak ada padanya baju dan tidak pula sorban. (H.R. an-nasa i) Dalam hal ini Abu Daud meriwayatkan dari Laila binti Qaif ats-tsaqafiyah sebagai berikut. Artinya: Berkata Laila, Aku termasuk salah seorang yang ikut memandikan Ummu Kultsum, putri Rasulullah. Maka 18 Tata Cara Pengurusan Jenazah

apa yang pertama-tama diberikan oleh Rasulullah kepadaku adalah kain, kemudian kain cekak, kemudian kain kudung, kemudian kain selimut, lalu sesudah itu dibungkus dalam kain yang lain. Berkata Laila, Rasulullah duduk di sisi pintu sambil memegang kain-kain kafan untuknya (Ummu Kultsum), dan beliau memberikannya kepada kami satu per satu. Di antara ulama ada yang mengambil lahir kedua hadis ini, maka mereka mengatakan bahwa orang lelaki dikafani dalam tiga lembar kain, dan orang perempuan dalam lima lembar kain. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Syafi i, Ahmad dan segolongan fuqaha. Menurut Imam Abu Hanifah (mazhab Hanafi) berpendapat bahwa orang perempuan dikafani paling sedikit dalam tiga kain, dan sunahnya adalah lima kain. Sedang untuk orang laki-laki paling sedikit dua kain, dan sunahnya adalah tiga kain. Sedangkan Imam Malik berpendapat dalam hal ini tidak ada batasan tertentu. Baginya, satu kain pun mencukupi untuk jenazah laki-laki maupun perempuan. Tetapi ia menyunahkan pemakaian menggunakan bilangan ganjil. Silang pendapat tentang penentuan bilangan ini berpangkal pada silang pendapat mereka tentang pengertian (mafhum) dari kedua hadis tersebut di atas. Sedangkan ukuran kain kafan yang digunakan adalah dengan cara mengukur lebar tubuh dan tinggi tubuh jenazah. Jika lebar tubuhnya 30 cm, maka lebar kain kafan yang disediakan adalah 90 cm, atau 1 : 3. Apabila tinggi tubuhnya 180 cm, maka panjang kain kafannya ditambah 60 cm. Jika tinggi tubuhnya 150 cm, maka Tata Cara Pengurusan Jenazah 19

panjang kain kafannya ditambah 50 cm. Jika tinggi tubuhnya 120 cm, maka panjang kain kafannya ditambah 40 cm. Jika tinggi tubuhnya 90 cm, maka panjang kain kafannya ditambah 30 cm. Tambahan panjang kain kafan dimaksudkan agar mudah mengikat bagian atas kepalanya dan bagian bawahnya. Bahan-bahan yang diperlukan untuk pengkafanan. 1) Kapas 3-5 gulung. Gulungannya sebesar tisu makan. 2) Kain putih 15 sampai 20 meter, potong lebar sekitar 2-3 cm sepanjang kedua tepi kain, ini untuk pengikat/tali. Potong 1 lingkar badan sebanyak 5 potong (untuk badan), potong kira-kira 3 kali lingkar badan sebanyak 3 potong (untuk tikar). 3) Potong lebar kira-kira 4 kali badan jenazah, panjangnya seukuran jenazah ditambah 2 jengkal di atas kepala dan 2 jengkal di bawah kaki. Buat sebanyak 3 potong. 4) Potong kain 3 kali lebar badan, 2 kali panjang badan, dan lipat jadi persegi empat, potong tengahnya untuk jalan masuk kepala. Ini berfungsi untuk baju jenazah. 5) Potong kain seukuran kerudung, tempelkan kapas sepanjan bagian depan kepala, jahit dengan tangan. 6) Potong kain lebar 2 jengkal panjang 3 jengkal. Letakkan kapas di bagian tengah kira-kira lebar 10 cm memanjang. Selanjutnya tutup dengan sisa kain dari sisi kiri dan kanan. Lipat menjadi 2. Ini berfungsi untuk celana. 7) Tikar pandan. 8) Kapur barus. 9) Minyak wangi cendana. 10) Bunga-bungaan. 20 Tata Cara Pengurusan Jenazah

B. Tata Cara Mengafani Jenazah Berikut akan diuraikan mengenai cara mengafani jenazah, baik jenazah laki-laki maupun perempuan. 1. Mengafani Jenazah Laki-Laki Jenazah laki-laki dibalut dengan tiga lapis kain kafan. Hal tersebut berdasar hadis yang artinya, Rasulullah saw. dikafani dengan 3 helai kain sahuliyah yang putih bersih dari kapas, tanpa ada baju dan serban padanya, beliau dibalut dengan 3 kain tersebut. a. Cara Mempersiapkan Tali Pengikat Kain Kafan Panjang tali pengikat disesuaikan dengan lebar tubuh dan ukuran kain kafan. Misalnya lebarnya 60 cm maka panjangnya 180 cm. Persiapkan sebanyak 7 tali pengikat, (jumlah tali diusahakan ganjil). Tali kemudian dipintal dan diletakkan dengan jarak yang sama di atas usungan jenazah. b. Cara Mempersiapkan Kain Kafan Tiga helai kain diletakkan sama rata di atas tali pengikat yang sudah ada terlebih dahulu. Selanjutnya diletakkan di atas usungan jenazah, dengan menyisakan lebih panjang di bagian kepala. c. Cara Mempersiapkan Kain Penutup Aurat Sediakan kain dengan panjang 100 cm dan lebar 25 cm (untuk jenazah yang berukuran lebar 60 cm dan tinggi 180 cm), potonglah dari atas dan dari bawah sehingga bentuknya seperti popok bayi. Kain kemudian letakkan di atas ketiga helai kain Tata Cara Pengurusan Jenazah 21

kafan tepat di bawah tempat duduk jenazah, letakkan pula potongan kapas di atasnya. Selanjutnya, bubuhilah wewangian dan kapur barus di atas kain penutup aurat dan kain kafan yang langsung melekat pada tubuh jenazah. d. Cara Memakaikan Kain Penutup Aurat Pindahkan jenazah, kemudian bubuhi tubuh jenazah dengan wewangian atau sejenisnya. Bubuhi anggota-anggota sujud. Sediakan kapas yang diberi wewangian dan letakkan di lipatan-lipatan tubuh seperti ketiak dan yang lainnya. Letakkan kedua tangan sejajar dengan sisi tubuh, lalu ikatlah kain penutup sebagaimana memopok bayi dimulai dari sebelah kanan dan ikatlah dengan baik. e. Cara Membalut Kain Kafan Mulailah dengan melipat lembaran pertama kain kafan sebelah kanan, balutlah dari kepala sampai kaki. Hal tersebut dilakukan dengan lembaran kain kafan yang kedua dan yang ketiga. f. Cara Mengikat Tali-Tali Pengikat Mulailah dengan mengikat tali bagian atas kepala jenazah dan sisa kain bagian atas yang lebih, dilipat ke wajahnya lalu diikat dengan sisa tali itu sendiri. Kemudian ikatlah tali bagian bawah kaki dan sisa kain kafan bagian bawah yang lebih itu dilipat ke kakinya lalu diikat dengan sisa tali itu sendiri. Setelah itu ikatlah kelima tali yang lain dengan jarak yang sama rata. Perlu diperhatikan, mengikat tali tersebut jangan terlalu kencang dan usahakan ikatannya terletak di sisi sebelah 22 Tata Cara Pengurusan Jenazah

kiri tubuh, agar mudah dibuka ketika jenazah dibaringkan ke sisi sebelah kanan dalam kubur. 2. Mengafani Jenazah Wanita Jenazah wanita dibalut dengan lima helai kain kafan. Kain terdiri atas dua helai kain, sebuah baju kurung dan selembar sarung beserta kerudungnya. Jika ukuran lebar tubuhnya sekitar 50 cm dan tingginya 150 cm, maka lebar kain kafannya 150 cm dan panjangnya 150 ditambah 50 cm. Adapun panjang tali pengikatnya adalah 150 cm. Disediakan sebanyak tujuh utas tali, kemudian dipintal dan diletakkan sama rata di atas usungan jenazah. Kemudian dua kain kafan tersebut diletakkan sama rata di atas tali tersebut dengan menyisakan lebih panjang di bagian kepala. a. Cara Mempersiapkan Baju Kurungnya Ukurlah mulai dari pundak sampai ke betisnya. Lalu ukuran tersebut dikalikan dua, kemudian persiapkanlah kain baju kurungnya sesuai dengan ukuran tersebut. Buatlah potongan kerah tepat di tengah-tengah kain itu agar mudah dimasuki kepalanya. Setelah dilipat dua, biarkanlah lembaran baju kurung bagian bawah terbentang, dan lipatlah lebih dulu lembaran atasnya (sebelum dikenakan pada jenazah, letakkan baju kurung ini di atas kedua helai kain kafannya ). Lebar baju kurung tersebut 90 cm. b. Cara Mempersiapkan Kain Sarung Ukuran kain sarung yaitu lebar 90 cm dan panjang 150 cm. Kemudian kain sarung tersebut dibentangkan di atas bagian atas baju kurungnya. Tata Cara Pengurusan Jenazah 23

c. Cara Mempersiapkan Kerudung Ukuran kerudungnya adalah 90 cm x 90 cm. Kemudian kerudung tersebut dibentangkan di atas bagian atas baju kurung. d. Cara Mempersiapkan Kain Penutup Aurat Sediakan kain dengan panjang 90 cm dan lebar 25 cm. Potonglah dari atas dan dari bawah seperti popok. Kemudian letakkanlah di atas kain sarungnya tepat di bawah tempat duduknya. Letakkan juga potongan kapas di atasnya. Lalu, bubuhilah wewangian dan kapur barus di atas kain penutup aurat dan kain sarung serta baju kurungnya. Adapun cara melipat kain kafan sama seperti membungkus mayat laki-laki. Demikian juga cara mengikat tali sama seperti membungkus mayat laki-laki. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah, cara mengafani anak laki-laki yang berusia di bawah tujuh tahun adalah membalutnya dengan sepotong baju yang dapat menutup seluruh tubuhnya atau membalutnya dengan tiga helai kain. Adapun cara mengafani anak perempuan yang berusia di bawah tujuh tahun adalah dengan membalutnya dengan sepotong baju kurung dan dua helai kain. Pendapat Ulama tentang Mengafani Jenazah Menurut semua ulama mazhab, mengafani mayat itu hukumnya wajib. Namun menurut empat mazhab yang diwajibkan dalam mengafani mayat itu hanya dengan sehelai kain yang dapat menutupi semua tubuh mayat. Sedangkan menggunakan tiga helai kain adalah sunah. 24 Tata Cara Pengurusan Jenazah

Menurut ulama Imamiyah menggunakan tiga potong kain hukumnya wajib, bukan sunah. Pertama, kain lepas yang dapat menutupi dasar pusar sampai lutut. Kedua, baju yang dapat menutupi dua bahunya sampai separuh betisnya. Ketiga, sarung yang dapat menutupi semua badannya. Membawa dan Mengiringkan Jenazah Fuqaha berselisih pendapat mengenai sunahnya mengiringkan jenazah. Fuqaha Madinah berpendapat bahwa sunahnya mengiring jenazah adalah berjalan di depannya. Fuqaha Kuffah, yakni Imam Abu Hanifah, para pengikutnya, dan fuqaha lainnya, berpendapat bahwa berjalan di belakang jenazah lebih utama. Silang pendapat ini disebabkan karena terdapatnya bermacam-macam hadis yang diriwayatkan oleh masingmasing golongan dari ulama salafnya dan yang diamalkannya pula. Adapun hadis yang menjadi pegangan ulama Kuffah adalah hadis yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Talib bahwa ia berkata: Artinya: Letakkanlah jenazah itu di depanmu, dan jadikanlah dia lurus di depan matamu, karena sesungguhnya dia itu menjadi nasihat, peringatan, dan pelajaran. Tata Cara Pengurusan Jenazah 25

Dari Abu Hurairah r.a. Artinya: Nabi saw. bersabda, berjalanlah kamu di belakang jenazah. Sedangkan hadis yang diriwayatkan oleh Mughiroh bin Syuah r.a., Dari Nabi saw. Nabi bersabda, Orang-orang yang berkendaraan berjalan di depan jenazah, dan orang-orang yang berjalan kaki berjalan di belakang, di depan, di sebelah kanan dan di sebelah kirinya, berdekatan dengan jenazah. Kaum wanita dilarang mengiringi jenazah, sebagaimana hadis Nabi yang diriwayatkan Ummu Athiyyah r.a., ia berkata, Kami (kaum wanita) dilarang mengiringkan jenazah dan tidak diwajibkan atas kami. (Shahih Muslim No.1555) Mengenai berdiri untuk menghormat jenazah, maka perintah tentang hal ini terdapat dalam hadis yang diriwayatkan Imam Malik dari Ali bin Abi Talib: Artinya: Sesungguhnya Rasulullah saw dahulu berdiri karena jenazah, kemudian beliau duduk. 26 Tata Cara Pengurusan Jenazah

Artinya: Berkata Amir, Rasulullah saw. bersabda, Jika kamu melihat jenazah, maka berdirilah kamu untuknya, sehingga ia meninggalkan kamu, atau sehingga ia diletakkan (di kubur). Hadis riwayat Amir bin Rabiah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, Apabila kalian melihat iringan jenazah, maka berdirilah menghormatinya sampai iringan jenazah itu lewat meninggalkan kalian atau sampai diletakkan dalam kubur. (Shahih Muslim No.1590) Hadis riwayat Abu Said r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, Apabila kalian mengiringi jenazah, maka janganlah kalian duduk sebelum jenazah itu diletakkan. (Shahih Muslim No.1591) Hadis riwayat Jabir bin Abdullah r.a., ia berkata, Ada iringan jenazah lewat, lalu Rasulullah saw. berdiri menghormatinya dan kami ikut berdiri bersama beliau. Kemudian kami berkata, Wahai Rasulullah, jenazah itu adalah jenazah Yahudi. Rasulullah saw. bersabda, Sesungguhnya kematian itu menggetarkan, maka jika kalian melihat iringan jenazah, maka berdirilah. (Shahih Muslim No.1593) Hadis riwayat Qais bin Saad r.a. dan Sahal bin Hunaif r.a., dari Ibnu Abu Laila bahwa ketika Qais bin Saad r.a. dan Sahal bin Hunaif r.a. sedang berada di Qadisiyah, tiba-tiba ada iringan jenazah melewati mereka, maka keduanya berdiri. Lalu dikatakan kepada keduanya, Jenazah itu adalah termasuk penduduk setempat (yakni orang kafir). Mereka berdua berkata, Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah dilewati iringan jenazah, lalu beliau berdiri. Ketika dikatakan, Jenazah itu Tata Cara Pengurusan Jenazah 27

Yahudi, Rasulullah saw. bersabda, Bukankah ia juga manusia. (Shahih Muslim No.1596) Hadis riwayat Abu Qatadah bin Rib iy r.a., Bahwa Rasulullah saw. dilewati iringan jenazah, lalu beliau bersabda, Yang beristirahat dan yang ditinggalkan. Para sahabat bertanya, Wahai Rasulullah, apakah yang beristirahat dan yang ditinggalkan? Rasulullah saw. bersabda, Seorang hamba yang beriman itu beristirahat dari kepayahan dunia. Sedangkan seorang hamba yang jahat, manusia, negara, pepohonan dan hewan, semuanya merasa tenteram dari kejahatannya. (Shahih Muslim No.1579) 28 Tata Cara Pengurusan Jenazah

Menyalatkan dan Menguburkan Jenazah Jenazah sesudah dimandikan, kemudian dikafani, disalatkan, dan dimakamkan. Berikut akan diuraikan mengenai pemakaman dan menguburkan jenazah. A. Menyalatkan Jenazah Kewajiban yang ketiga adalah menyalatkan jenazah. Pada masa pertama Islam, masalah menyalatkan jenazah terutama masalah bilangan takbir ini banyak diperselisihkan di kalangan sahabat, dari tiga hingga tujuh takbir. Akan tetapi, fuqaha negerinegeri besar berpendapat bahwa bilangan takbir dalam salat jenazah ada empat. Kecuali Ibnu Abi Laila dan Jabir bin Zaid yang berpendapat bahwa takbir tersebut adalah lima kali. Tata Cara Pengurusan Jenazah 29

1. Hadis-Hadis yang Berkaitan dengan Menyalatkan Jenazah Menyalatkan jenazah. Sumber: http//:media.vivanews.com Silang pendapat ini terjadi karena terdapatnya bermacammacam hadis yang berkenaan dengan masalah ini, antara lain: Artinya: Sesungguhnya Rasulullah saw. salat di atas kubur seseorang perempuan miskin, kemudian beliau bertakbir atasnya empat kali. 30 Tata Cara Pengurusan Jenazah

Artinya: Berkata ayah Abu Khaitsamah, Dahulu Rasulullah saw. bertakbir atas jenazah-jenazah empat kali, lima kali, enam kali, tujuh kali, delapan kali, hingga ketika Najasyi wafat, maka berbarislah orang banyak di belakang beliau, dan beliau bertakbir empat kali. Kemudian tetaplah beliau pada empat takbir itu hingga Allah mewafatkannya. Dan hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. bersabda Rasulullah saw., Barang siapa yang menghadiri penyelenggaraan jenazah hingga ikut menyalatkannya, maka ia memperoleh pahala satu qirath. Adapun yang menghadirinya sampai jenazah tersebut dikebumikan, maka ia memperoleh pahala dua qirath. Ditanyakan kepada beliau apakah dua qirath itu? Beliau menjawab seperti dua gunung besar. (H.R. Bukhari Muslim). Hadis riwayat Abdullah bin Abbas r.a., Bahwa Rasulullah saw. menyalati mayat di atas kubur, sesudah mayat dikubur. Beliau bertakbir empat kali. (Shahih Muslim No.1586) Tata Cara Pengurusan Jenazah 31

Hadis riwayat Abu Hurairah r.a., Bahwa seorang wanita hitam yang biasa menyapu masjid, suatu hari Rasulullah saw. merasa kehilangannya (tidak melihatnya). Lalu beliau bertanya kabarnya, para sahabat menjawab, Dia sudah meninggal dunia. Rasulullah saw. menegur, Mengapa kalian tidak memberitahukan kepadaku? Seakan-akan para sahabat menganggap kecil urusannya atau urusan kematian. Kemudian Rasulullah saw. bersabda, Tunjukkan aku kuburnya. Setelah ditunjukkan, beliau menyalatinya kemudian bersabda, Sungguh pekuburan ini penuh dengan kegelapan bagi para penghuninya dan sesungguhnya Allah meneranginya sebab salatku atas mereka. (Shahih Muslim No.1588) 2. Hal-Hal yang Berkaitan dengan Salat Jenazah Berikut hal-hal yang berkaitan dengan salat jenazah. a) Kepala jenazah berada di sebelah kanan imam dengan menghadap kiblat. b) Apabila jenazah lebih dari satu dan berlainan jenis kelamin, maka posisinya adalah barisan pertama dari imam adalah jenazah laki-laki, kemudian anak laki-laki kemudian jenazah wanita kemudian anak perempuan. c) Diusahakan sebanyak mungkin orang dapat melakukan salat jenazah secara berjamaah. Jika terpaksa, dalam keadaan tanpa wudu pun dianjurkan ikut salat itu. d) Jika ruang masih lebar, maka shaf (barisan) salat disusun memanjang ke belakang, bukan memanjang ke samping. e) Jenazah diletakkan di tempat yang bersih dan terhormat, dan boleh disalatkan berkali-kali. 32 Tata Cara Pengurusan Jenazah

f) Salat Jenazah dipimpin seorang imam yang alim. g) Apabila jenazah laki-laki, imam berdiri sejajar dengan kepala jenazah, jika perempuan imam berdiri sejajar dengan pusar jenazah. Hal ini adalah menurut Imam Syafi i. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah imam berdiri di bagian dada jenazah, baik jenazah laki-laki maupun perempuan. Hal tersebut diperkuat dengan hadis riwayat Samurah bin Jundab r.a., ia berkata, Aku salat di belakang Nabi saw. dan beliau menyalati Ummu Kaab yang meninggal dunia dalam keadaan nifas. Rasulullah saw. berdiri untuk salat di tengah-tengah jenazah. (Shahih Muslim No.1602) h) Jika mayat lebih dari seorang, maka dapat disalatkan sekaligus. i) Mayat disalatkan di tempat yang bersih dalam posisi mayat terbentang di depan imam dan jamaah. j) Mayat yang tidak sempat disalatkan, dapat disalatkan di atas kuburan, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis, sepanjang mayat belum lewat sebulan, dan atau dapat juga disalat Gaibkan. 3. Syarat-Syarat Salat Jenazah Adapun syarat-syarat salat Jenazah sebagai berikut. a) Salat Jenazah sama halnya dengan salat yang lain, yaitu harus menutup aurat, suci dari hadas besar dan kecil, suci badan, pakaian dan tempatnya serta menghadap kiblat. b) Jenazah sudah dimandikan dan dikafani. c) Letak jenazah sebelah kiblat orang yang menyalatinya, kecuali jika salat dilakukan di atas kuburan atau salat Gaib. Tata Cara Pengurusan Jenazah 33

Salat Jenazah yang lebih masyhur ialah terdiri atas empat takbir tanpa rukuk dan sujud, meskipun Rasulullah dan kalangan sahabat pernah salat Jenazah lima, enam, dan tujuh rakaat. Hal ini berdasarkan hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. yang artinya, Bahwa Rasulullah saw. mengumumkan kemangkatan Raja Najasyi kepada kaum muslimin pada hari kematiannya, maka beliau dan kaum muslimin keluar menuju ke tempat salat dan bertakbir empat kali (melaksanakan salat Gaib). (Shahih Muslim No.1580) Selain itu ada juga hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah r.a., Bahwa Rasulullah saw. menyalatkan Ashhamah An-Najasyi, beliau bertakbir empat kali. (Shahih Muslim No.1582) 4. Rukun dan Cara Mengerjakan Salat Jenazah Berikut rukun dan cara mengerjakan salat Jenazah. a) Niat, menyengaja melakukan salat atas jenazah dengan empat takbir menghadap kiblat karena Allah. Lafal niat untuk laki-laki: Artinya: Aku niat salat atas mayat ini empat takbir fardhu kifayah dengan makmum karena Allah. 34 Tata Cara Pengurusan Jenazah

Lafal niat untuk perempuan: Artinya: Saya berniat menyalatkan mayat (perempuan) ini dengan empat takbir, fardu kidayah menjadi imam/ ma mum karena Allah ta ala. Perlu diperhatikan jika mayat laki-laki dibaca hadza dan jika mayat perempuan dibaca hazdihi dan jika mayatnya tidak jelas, karena mempunyai dua alat kelamin atau telah melakukan operasi plastik, maka yang bersangkutan mengikuti unsur jenis kelamin yang lebih dominan secara alami semasa ia hidup. b) Takbir pertama adalah takbiratul ikhrom. Setelah takbiratul ikhrom, yakni mengucapkan Allahu Akbar bersamaan dengan niat, sambil meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas perut (sedekap), kemudian membaca Ta awudz Surah al-fatihah.. c) Selesai membaca Surah al-fatihah. kemudian takbir lagi yang kedua, diteruskan membaca selawat atas Nabi seperti yang dibaca dalam Tasyahud sebagai berikut. Artinya: Ya Allah berilah rahmat kesejahteraan kepada Muhammad. Tata Cara Pengurusan Jenazah 35

d) Setelah itu takbir lagi yang ketiga, kemudian membaca doa sekurang-kurangnya sebagai berikut. Artinya: Ya Allah. Ampunilah dia, berilah rahmat dan sejahtera dan maafkanlah dia. e) Setelah itu takbir yang keempat, kemudian membaca doa lagi sebagai berikut. Artinya: Ya Allah janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepada kami (janganlah Engkau meluputkan kami akan pahalanya), dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia. f) Kemudian (selesai) mengucapkan salam sambil menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri, dengan ucapan sebagai berikut. Artinya: Kesejahteraan dan rahmat Allah serta berkah-nya, semoga tetap terlimpahkan kepadaku. 36 Tata Cara Pengurusan Jenazah

B. Menguburkan Jenazah Fuqaha sepakat jika menguburkan jenazah itu hukumnya wajib. Hal tersebut berdasarkan firman Allah: Artinya: Bukankah Kami jadikan bumi untuk (tempat) berkumpul, yang masih hidup dan yang sudah mati. Berikut firman Allah: Artinya: Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya. Dia (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya... (QS. Al-Maidah: 31) Imam Malik dan Imam Syafii telah memakruhkan pengapuran kuburan, sedang Imam Abu Hanifah membolehkannya. Segolongan fuqaha juga memakruhkan duduk di atas kuburan, sedang segolongan lainnya membolehkannya dan mereka menafsirkan larangan atas hal itu, bahwa yang dimaksud adalah duduk membuang hajat. Hadis Nabi saw.: Tata Cara Pengurusan Jenazah 37

Artinya: Berkata Jabir, Rasulullah saw. melarang pengapuran kubur, menulisinya, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya. Hadis Amr bin Hazm: Artinya: Berkata Amr, Rasulullah pernah melihat aku sedang duduk di atas kubur, maka katanya, turun dari kubur, jangan kau sakiti pemilik kubur, dan dia pun tidak boleh menyakitimu. Sedangkan fuqaha yang membolehkan duduk di atas kuburan beralasan dengan apa yang telah diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit r.a.: Artinya: Berkata Zaid, Rasulullah hanya melarang duduk di atas kuburan karena hadas, yaitu melarang membuang air besar dan air kecil. 38 Tata Cara Pengurusan Jenazah

1. Tata Cara Menggali Kubur Tata cara menggali kubur untuk orang besar adalah panjang 200 cm, kedalaman 130 cm, lebar 75 cm, kedalaman lahat 55 cm, lebar lahat 50 cm, yang menjorok ke dalam dan keluar 25 cm. Besar kecil ukuran kuburan tergantung jenazahnya (disesuaikan). 2. Tata Cara Menguburkan Jenazah Mengiringkan jenazah. Sumber: http//:community.kompas.com Adapun tata cara menguburkan jenazah yaitu hendaklah dua-tiga orang turun ke liang kubur. Selain itu, hendaklah orang yang kuat, lalu dua lagi di atas tepat di sisi kubur sebelah kiblat untuk membantu menurunkan jenazah. Ketika menurunkan hendaklah berdoa Bismillahi wa ala millati rasulullah. Jenazah dibaringkan di atas tubuhnya sebelah kanan dalam posisi miring, dengan dihadapkan ke arah kiblat. Kemudian letakkan bantalan dari tanah atau potongan batu bata Tata Cara Pengurusan Jenazah 39

di bawah kepalanya. Setelah itu, buka tali pengikatnya dan singkaplah kain kafan yang menutupi wajahnya, kemudian lahat ditutup dengan batu atau cor-coran atau sejenisnya. Usahakan jika bisa jangan terbuat dari bahan yang mudah terbakar seperti kayu atau sejenisnya. Lalu, diturunkan kembali galian tanah kuburan. Kuburan boleh diberi sedikit gundukan, tapi tidak boleh lebih dari satu jengkal. Berilah tanda dari batu bata pada arah kepala dan kaki, selanjutnya taburkan batu kerikil dan perciki dengan air supaya tanah menjadi lengket dan padat. Dari Ali r.a. berkata, Manakala Abu Thalib meninggal, aku datang kepada Rasulullah saw. lalu kukatakan kepada beliau, Sesungguhnya paman Anda, kakek (yang sesat) itu telah mati. (Siapa yang akan menguburkannya). Berkata Rasulullah saw. Pergilah lalu kuburkanlah! Kemudian jangan lakukan apa-apa sampai engkau datang kepadaku (lalu berkata), Sesungguhnya ia mati sebagai musyrik. Maka beliau berkata, Pergilah lalu kuburkanlah! ). Kata Ali r.a.: Lalu kukuburkan kemudian aku datang kepada beliau. Maka Rasulullah saw. berkata, Mandilah Kemudian jangan lakukan apa-apa sampai engkau datang kepadaku. Kata Ali, Maka aku pun mandi kemudian aku datang kepada beliau. Lalu beliau mendoakan aku dengan doa-doa yang aku tidak suka doa itu ditukar meskipun dengan unta merah maupun hitam. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (No.807) dan putranya di dalam Zawa id Al-Musnad (no.1074) dari jalur Abu Abdirrahman As-Sulaimi darinya. Sanadnya Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani 40 Tata Cara Pengurusan Jenazah

58 menjelaskan, termasuk hal-hal yang harus diperhatikan di dalam hadis ini adalah bahwa Nabi saw. tidak bertakziyah kepada Ali dengan sebab kematian bapaknya yang musyrik. Barangkali ini menjadi dalil atas tidak disyariatkannya seorang muslim bertakziyah dengan sebab kematian kerabatnya yang kafir. Maka lebih utama lagi bahwa hadis ini menjadi dalil atas tidak bolehnya bertakziyah kepada orang kafir atas kematian orang-orang dari mereka. Haram hukumnya menyalatkan, memintakan ampunan dan memintakan rahmat bagi orang-orang kafir maupun orangorang munafik. Hal ini berdasarkan kepada firman Allah: Artinya: Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan salat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (Q.S. at-taubah/9: 84) Tata Cara Pengurusan Jenazah 41

Diperbolehkan berziarah kubur kepada orang yang mati tidak di atas agama Islam, dalam rangka untuk mengambil ibrah (pelajaran). Adapun hadis nabi artinya, Nabi saw. pernah menziarahi kubur ibunya. Beliau menangis dan membuat orang-orang yang di sekelilingnya pun menangis. Lalu beliau berkata, Aku minta izin kepada Rabbku untuk memintakan ampunan untuknya, tetapi aku tidak diberi izin. Dan aku minta izin kepada-nya untuk menziarahi kuburnya, maka aku diizinkan. Oleh karenanya berziarahlah kalian ke kubur, karena sesungguhnya ziarah kubur itu bisa mengingatkan kalian kepada kematian. (Dikeluarkan oleh Imam Muslim (3/65), Imam Abu Dawud (2/72), Imam Nasa i (1/286)). 42 Tata Cara Pengurusan Jenazah

Sebuah Cerita dan Pengalaman Seseorang Berikut akan dikisahkan sebuah cerita dari seseorang yang mengalami kejadian-kejadian yang berkaitan dengan kematian yang menyebabkan tersadar. A. Menghadapi Kematian Roynan adalah seorang pemuda yang lahir di lingkungan keluarga yang cukup baik. Dia memiliki seorang ayah yang disibukkan dengan rutinitas kegiatan keagamaan atau lebih dikenal dengan nama ustaz ataupun kiai. Ibunya pun seorang ustazah yang sering mengisi di majelis-majelis taklim. Saat masih di bangku sekolah, ia selalu mendengar doa ibunya setiap ia pulang dari bermain hingga larut malam. Demikian pula ayahnya, beliau selalu dalam salatnya yang panjang. Walaupun agak berat, karena didikan kedua orang tuanya secara perlahan Roynan pun mengikuti anjuran kedua orang tuanya untuk bisa memaksimalkan pemahaman agamanya. Tata Cara Pengurusan Jenazah 43

Dia termasuk anak yang cukup baik kala itu. Ibadahnya pun sangat baik bila dibandingkan teman-teman seusianya saat itu. Roynan tumbuh sebagai pemuda yang matang. Sampai akhirnya, dia harus meneruskan pendidikan militer ke suatu daerah sehingga jauh dari orang tua. Dalam masa pendidikan ada yang sangat berubah dari Roynan. Jika tadinya dia salat di awal waktu dan berjamaah, dikarenakan kesibukannya, ia lebih sering salat di akhir waktu. Amalanamalan yang dahulu sering ia praktikkan bersama kedua orang tuanya, yaitu bangun salat malam, salat Duha di pagi hari, puasa sunah sudah semakin jarang ia kerjakan. Ia pun sebenarnya sadar kalau dirinya semakin jauh dari Allah. Setelah tamat dari pendidikan tersebut, Roynan ditugaskan di kota yang jauh dari kotanya. Perkenalannya dengan teman-teman sekerja membuatnya agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing. Tidak begitu jauh seperti ketika mengenyam pendidikan, di sana ia berbuat lebih parah lagi. Salat pun sudah mulai ia tinggalkan, terkadang salat terkadang tidak, apalagi amalanamalan sunah sudah tidak pernah sekali dia kerjakan. Bahkan bacaan Al-Qur an yang pada saat pendidikan dulu sering dia baca, kini tidak pernah lagi. Ia benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu sempat ia nikmati. Lingkungan di tempat tugasnya yang baru membuat Roynan berubah total. Hal ini dikarenakan rekan-rekannya di kantor pun berbuat demikian. Mereka begitu asyik dengan pekerjaan mereka. Memang betul tugas yang diemban Roynan, Sangatlah mengasyikkan. Selain mendapatkan pendapatan 44 Tata Cara Pengurusan Jenazah

yang besar, ia hanya ditugaskan untuk mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol, menjaga keamanan jalan di sana, serta membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Pekerjaan baru itu sungguh menyenangkan baginya. Ia lakukan tugas-tugasnya dengan semangat dan dedikasi tinggi. Tetapi, ia merasa hidupnya kering kerontang, tidak punya fondasi, sehingga merasa diombang-ambingkan ombak. Terkadang di sela-sela malam, ia merenung dan sering melamun sendirian. Roynan mulai jenuh karena tidak ada yang menuntunnya di bidang agama. Ia merasa sebatang kara. Hampir tiap hari yang disaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu perihal kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain. Ia merasakan kebosanaan yang tak terhingga dengan rutinitas yang ia lakukan. Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah ia lupakan. Ketika itu, ia dengan seorang teman sedang bertugas di sebuah pos jalan, mereka sedang asyik mengobrol. Tiba-tiba mereka dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Mereka mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Mereka segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian itu sangatlah tragis. Mereka melihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya segera mereka keluarkan dari mobil lalu mereka bujurkan di tanah. Mereka cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Tata Cara Pengurusan Jenazah 45

Mereka kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temannya menuntun mereka mengucapkan kalimat Tahlil. Ucapkanlah La ilaha illallah. La ilaha illallah.. Perintah temannya. Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuat Roynan merinding. Temannya tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat. Ia kembali dengan sabar menuntun korban itu membaca syahadat. Roynan diam membisu. Roynan diam tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupnya, Roynan belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti itu. Namun temannya terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan Tahlil. Tetapi, keduanya tetap terus saja melantunkan lagu. Tidak ada gunanya. Suara lagunya terdengar semakin melemah. Lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tidak ada gerak keduanya, karena mereka telah meninggal dunia. Akhirnya mereka segera membawa jenazah ke dalam mobil. Temannya menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening dan sepi. Kesunyian pecah ketika temannya mulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata, Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia. 46 Tata Cara Pengurusan Jenazah

Ia bercerita panjang lebar kepada Roynan tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin. Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan mereka tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya saat ingat bahwa mereka sedang membawa mayat. Tiba-tiba Roynan menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagi Roynan. Hari itu, alhamdulillah Roynan salat dengan khusyuk sekali. Tetapi setelah beberapa waktu kemudian, perlahan-lahan Roynan mulai melupakan peristiwa itu. Roynan kembali pada kebiasaan semula yang ia kerjakan selama di tempat kerjanya. Roynan seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak dikenal beberapa waktu yang lalu. Tetapi sejak saat itu, Roynan memang benar-benar menjadi benci dengan berbagai jenis lagu. Roynan tidak mau tenggelam menikmatinya seperti semula. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah didengarnya dari dua orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang sangat menakjubkan dan sangat memprihatinkan tentunya. Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mata Roynan. Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tibatiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika Tata Cara Pengurusan Jenazah 47

ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tibatiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika. Roynan dengan kawan-kawannya segera menuju tempat kejadian. Korban tersebut kemudian dibawa dengan mobil dan segera pula mereka menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan. Korban tersebut masih sangat muda. Wajahnya begitu bersih. Ketika mengangkatnya ke mobil, mereka berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika mereka membujurkannya di dalam mobil, mereka baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya. Subhanallah, korban tersebut melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur an dengan suara amat lemah. Dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al- Qur an. Kondisinya sangat memprihatinkan. Darah segar mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur an dengan suaranya yang merdu. Selama ini, Roynan tak pernah mendengar bacaan Al- Qur an seindah itu, apalagi orang yang sedang mengalami sakaratul maut. Dalam batin Roynan bergumam sendirian, Aku akan menuntunnya membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu. Sekonyong-konyong sekujur tubuh Roynan merasa bergetar menjalar dan menyelusup ke setiap rongga tubuhnya. Sehingga tanpa ia sadari matanya leleh dengan air mata. 48 Tata Cara Pengurusan Jenazah

Namun tiba-tiba, suara itu terhenti. Roynan pun terhentak dan menoleh ke belakang. Ia sangat kaget, ia menyaksikan korban tersebut mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepala korban terkulai, Roynan melompat ke belakang dan langsung memegang tangannya, degup jantungnya, napasnya, tidak ada yang terasa. Ia telah meninggal. Roynan lalu memandanginya lekat-lekat, air mata Roynan semakin menetes, dan semaksimal mungkin berusaha menyembunyikan tangisnya, takut diketahui oleh temannya. Kemudian secara terisak-isak, ia pun berkata kepada temannya kalau pemuda itu telah meninggal. Temannya tidak kuasa menahan tangis yang kemudian mereka berdua pun larut dalam tangis dan kesedihan yang luar biasa. Roynan terus menangis, air matanya deras mengalir. Suasana dalam mobil itu sangat mengharukan. Sesampainya di rumah sakit, kepada orang-orang di sana, mereka mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah mereka, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, ketika mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan disalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah. Semua ingin ikut menyalatinya. Salah seorang petugas rumah sakit kemudian menghubungi rumah keluarga. Mereka ikut mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya Tata Cara Pengurusan Jenazah 49

mengisahkan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana, almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Sungguh luar biasa kebiasaan yang dilakukan almarhum. Memang, ketika diperiksa mobil almarhum penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Di dalam mobilnya juga terdapat buku-buku agama dan kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dia santuni. Bahkan juga membawa permen untuk dibagikan kepada anak-anak kecil. Mendengar cerita itu, Roynan serasa disambar petir. Kembali ia teringat pesanpesan yang sering disampaikan oleh kedua orang tuannya saat ia kecil. Ayahnya yang tidak bosan-bosan memberikan pemahaman kepadanya. Jika Roynan beranjak dewasa, hendaknya ia senantiasa berbuat baik kepada sesama manusia, senantiasa menjaga tali persaudaraan (silaturahim) dengan keluarga, senantiasa menyayangi fakir dan miskin, menyayangi yatim piatu, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Namun itu semua hanya sebatas angin lewat, ia seakan lupa dengan berbagai nasihat tersebut saat ia dewasa. Akhirnya setelah pengurusan jenazah di rumah sakit selesai. Selanjutnya jenazah dibawa pulang dan diurus pemakamannya. Roynan beserta temannya pun pamit undur diri dari rumah sakit. Di dalam perjalanan pulang mereka hening dan tidak bergumam, masing-masing masih terpana menyaksikan kejadian yang sangat luar biasa yang baru saja berlangsung. Roynan hanya berkata kepada temannya kalau 50 Tata Cara Pengurusan Jenazah

bisa kita bisa mengikuti apa yang dilakukan pemuda itu yang kemudian kawannya pun cuma menggangguk mengiyakan. Mereka pun kemudian berpisah untuk pulang ke tempatnya masing-masing. Roynan langsung istirahat. Saat tengah malam dia pun terbangun. Pada kesempatan kali ini, dia langsung mengambil air wudu berencana untuk salat. Tidak seperti biasanya dia enggan untuk bangun malam. Di salatnya dia begitu khusyuk. Sampai tidak ia sadari matanya sudah leleh dengan air mata. Dia berdoa dan bermunajat kepada Allah, agar Allah senantiasa memberikan petunjuk dan hidayah kepadanya untuk senantiasa bisa istikamah menjalankan semua perintahperintah Allah dan menjauhi segala larangan-larangan Allah. Dia pun bertekad untuk kembali menjalankan segala nasihatnasihat yang dahulu pernah disampaikan oleh kedua orang tuanya ketika ia kecil. Kebiasaan-kebiasaan baik yang selama ini ia tinggalkan pun kembali ia jalankan dan amalkan kembali. Tidak hanya ibadah-ibadah wajib, ia secara maksimal mengerjakan ibadah-ibadah sunah. Ia banyak meluangkan waktu untuk membaca dan mengkaji Al-Qur an. Ia juga lebih senang mendengarkan lagu-lagu nasyid dan selawat nabi. Apabila ada waktu libur ia sering mengunjungi panti-panti jompo, fakir miskin dan ia juga sering menyisihkan sebagian pendapatannya untuk dibagikan kepada orang yang membutuhkan. Alhamdulillah, Roynan kembali menjadi pemuda dewasa yang berusaha secara maksimal untuk bisa istikamah menjalankan semua perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-larangan Allah. Demikian kisah seseorang yang telah menyadari arti sebuah kematian melalui kejadian-kejadian yang dialaminya. Tata Cara Pengurusan Jenazah 51

Allah swt. berfirman dalam Al-Qur an surah Ali Imran ayat 185: Artinya: Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Q.S. Ali Imran/3: 185) Rasulullah saw. juga telah mengingatkan dalam sabdanya: Barang siapa yang lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya. Jadi, orang yang cerdik dan pandai adalah orang yang senantiasa mengingat kematian dalam waktu-waktu yang ia lalui kemudian melakukan persiapan-persiapan untuk menghadapinya. B. Pengurusan Jenazah di Negeri Sakura Selasa malam kemarin, merupakan suatu malam yang penuh hidayah dan taufik dari Allah kepada si A yaitu dengan adanya seorang mualaf pria Jepang yang meninggal. 52 Tata Cara Pengurusan Jenazah

Bermula, hari itu si A merencanakan untuk melanjutkan penelitian isolasi plasmid yang harus diinkubasi satu malam, entah bagaimana si A urungkan niat tersebut. Kemudian si A pulang ke asrama dan melanjutkan makan malam. Disela santapan terakhir, ponsel si A bergetar. Ternyata, Pak Suadi salah satu mahasiswa doktor di Ibadai yang meneleponnya. Beliau menyampaikan bahwa ada saudara muslim kita yang meninggal di daerah Tsuchiura, dan keluarga jenazah menginginkan diurus secara Islam. Tak pikir lagi si A langsung mengiyakan, sambil menunggu Gubernur PPI-ibaraki saat itu. Sampai di sana mereka pun berkumpul dengan warga Indonesia lainnya. Mereka langsung menuju ke rumah jenazah di lantai 13 mansion. Di sana suasananya tidak seperti layaknya orang meninggal di Indonesia. Keadaan sunyi dan hembusan angin dingin sangat terasa. Dengan sekuat tenaga mereka berusaha membantu dalam penyelenggaran urusan jenazah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana pengurusan jenazah di negara Sakura. Mereka dan keluarga almarhum terus berusaha memikirkan pengurusan jenazah. Akan tetapi, di sela itu ada sedikit investigasi dari pihak kepolisian. Setelah urusan itu selesai, mereka pun bersiap untuk penyelenggaraannya. Dengan peralatan urusan jenazah yang dimiliki mereka pun memulainya. Di satu sisi, istri almarhum masih memikirkan pengurusan jenazah untuk penguburan karena sistem di Jepang yang berbeda, yaitu warga yang meniggal harus dibakar. Tapi, karena keluarga almarhum ingin secara Islam jadi harus mencari pengurusannya, dan itu ada Tata Cara Pengurusan Jenazah 53

di daerah Yamanashi. Di sana ada tempat khusus untuk pemakaman orang muslim. Tetapi biaya yang harus dikeluarkan sangat mahal, yaitu hingga 100 juta rupiah. Kembali, tim dibagi menjadi dua pengurusan, yaitu pengurusan mandi dan pemakaian kain kafan. Dengan keterbatasan tempat dan alat, mereka pun mencoba mendirikan tempat di beranda dan tidak bisa dibayangkan dinginnya dan keterbatasan alat. Namun, dengan izin Allah pengurusan mandi dapat terlaksana yaitu dengan bantuan salah seorang rekan yang pernah memandikan jenazah di Indonesia. Pemakaian kain kafan juga telah diselesaikan oleh ibu-ibu yang memeluk Islam. Dengan juga dibantu oleh salah seorang teman yang pernah mengkafani juga akhirnya dapat terlaksana. Setelah selesai itu mereka melanjutkan dengan shalat jenazah. Alhamdulilah salah satu kewajiban mereka sebagai seorang muslim terhadap saudara muslim lainnya yang meninggal dapat dilaksanakan walaupun dengan keterbatasan yang ada. Semoga beliau diterima di sisi Allah dan diampuni segala dosanya. C. Suara yang Didengar Jenazah atau Mayat Apabila seseorang meninggal dunia, maka yang akan ikut adalah tiga hal yaitu: 1) keluarga, 2) hartanya, 3) amalnya. 54 Tata Cara Pengurusan Jenazah

Adapun dua hal di atas akan kembali dan satu bersamanya yaitu amalnya. Maka ketika ruh meninggalkan jasad, terdengarlah suara dari langit yang memekik, Wahai Fulan anak si Fulan. Apakah kau yang telah meninggalkan dunia, atau dunia yang meninggalkanmu? Apakah kau yang telah menumpuk harta kekayaan, atau kekayaan yang telah menumpukmu? Apakah kau yang telah menumpuk dunia, atau dunia yang telah menumpukmu? Apakah kau yang telah mengubur dunia, atau dunia yang telah menguburmu? Ketika jenazah tergeletak akan dimandikan, terdengar dari langit suara memekik, Wahai Fulan anak si Fulan. Mana badanmu yang dahulunya kuat, mengapa kini terkulai lemah? Mana lisanmu yang dahulunya fasih, mengapa kini bungkam tak bersuara? Mana telingamu yang dahulunya mendengar, mengapa kini tuli diam seribu bahasa? Mana sahabat-sahabatmu yang dahulunya setia, mengapa kini raib tak bersuara? Ketika mayat siap dikafan. Suara dari langit terdengar memekik. Wahai Fulan anak si Fulan, berbahagialah apabila kau bersahabat dengan rida. Celakalah apabila kau bersahabat dengan murka Allah. Wahai Fulan anak si Fulan. Kini kau tengah berada dalam sebuah perjalanan nun jauh tanpa bekal. Kau telah keluar dari rumahmu dan tidak akan kembali selamanya kini kau tengah safar pada sebuah tujuan yang penuh pertanyaan. Tata Cara Pengurusan Jenazah 55

Ketika jenazah diusung, terdengar dari langit suara memekik, Wahai Fulan anak si Fulan! Berbahagialah apabila amalmu adalah kebajikan. Berbahagialah apabila matimu diawali tobat. Berbahagialah apabila hidupmu penuh dengan taat. Ketika jenazah siap disalatkan, terdengar dari langit suara memekik, Wahai Fulan anak si Fulan! Setiap pekerjaan yang kau lakukan, kelak kau lihat hasilnya di akhirat. Apabila baik maka kau akan melihatnya baik. Apabila buruk, kau akan melihatnya buruk. Ketika mayat dibaringkan di liang lahat, terdengar suara memekik dari langit, Wahai Fulan anak si Fulan! Apa yang telah kau siapkan dari rumahmu yang luas di dunia untuk kehidupan yang penuh gelap gulita di sini. Wahai Fulan anak si Fulan! Dahulu kau tertawa, kini dalam perutku kau menangis. Dahulu kau bergembira, kini dalam perutku kau berduka. Dahulu kau bertutur kata, kini dalam perutku kau bungkam seribu bahasa. Ketika semua manusia meninggalkannya sendirian, Allah berkata kepadanya, Wahai hamba-ku, kini kau tinggal seorang diri. Tiada teman dan tiada kerabat. Di sebuah tempat kecil, sempit dan gelap. Mereka pergi meninggalkanmu seorang diri. Padahal, karena mereka kau pernah langgar perintahku. Hari ini, akan kutunjukkan kepadamu kasih sayang-ku yang akan takjub seisi alam. Tuhan akan menyayangimu lebih dari kasih sayang seorang ibu pada anaknya. 56 Tata Cara Pengurusan Jenazah

Kepada jiwa-jiwa yang tenang Allah berfirman, Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-nya. Maka, masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-ku dan masuklah ke dalam jannah-ku. D. Nasihat untuk Diri Kita dan Saudara- Saudara Sesama Muslim Saudaraku, siapa yang tahu kapan, di mana, bagaimana, sedang apa, kita menemui tamu yang pasti menjumpai kita, yang mengajak menghadap Allah swt. Orang yang cerdik dan pandai adalah yang senantiasa mengingat kematian dalam waktu-waktu yang ia lalui kemudian melakukan persiapan persiapan untuk menghadapinya. Rasulullah saw. menganjurkan kita untuk senantiasa mengingat mati (maut) dan dalam sebuah hadisnya yang lain, beliau bersabda yang artinya, Cukuplah mati itu akan menjadi pelajaran bagimu. Orang cerdas adalah orang yang mengingat akan kematian. Apabila kita akan berangkat dari alam ini, ia dibarat penerbangan ke sebuah negara, di mana informasi tentangnya tidak terdapat dalam brosur penerbangan, tetapi melalui Al- Qur an dan Al-Hadis. Bekal kita bukan lagi tas seberat 23 kg, tetapi amalan yang tak lebih dan tak kurang. Baju kita bukan lagi merek-merek terkenal, akan tetapi kain kafan putih. Kita akan menggunakan pewangi yang berasal dari air biasa yang suci. Paspor kita bukan Indonesia atau lainnya, tetapi agama Islam. Tata Cara Pengurusan Jenazah 57

Visa kita bukan lagi berlaku selama 6 bulan, tetapi La ilaha illallah. Pelayannya bukan pramugari jelita, tetapi Izrail dan lainlain. Servisnya bukan lagi kelas bisnis atau ekonomi, tetapi sekadar kain yang diwangikan. Tujuan mendarat bukannya Bandara Cengkareng, Heathrow Airport atau Jeddah International, tetapi tanah pekuburan. Ruang menunggunya bukan lagi ruangan ber-ac dan permadani, tetapi ruang 2 1 meter, gelap gulita, dan pegawai imigrasinya adalah Munkar dan Nakir. Mereka hanya memeriksa apakah kita layak ke tujuan yang diidamkan. Juga tidak diperlukan satpam dan alat detektor, karena lapangan terbang transitnya adalah alam barzah. Tujuan terakhir hanya dua pilihan yaitu surga atau neraka. Penerbangan ini tidak akan dibajak atau dibom, karena itu tak perlu bimbang. Makam Sumber: Dokumen Penerbit. Sajian juga tidak akan disediakan, oleh karena itu tidak perlu merisaukan masalah alergi atau halal haram makanan. 58 Tata Cara Pengurusan Jenazah

Jangan risaukan pembatalan, karena penerbangan ini senantiasa tepat waktunya. Ia berangkat dan tiba tepat pada masanya. Jangan pikirkan tentang hiburan dalam penerbangan, karena kita telah hilang selera bersuka ria. Jangan bimbang tentang pembelian tiket, karena tiket telah siap dipesan sejak ruh kita ditiupkan di dalam rahim ibu. Jangan bimbangkan siapa yang duduk di sebelah kita. Kita adalah satu-satunya penumpang penerbangan ini. Oleh karena itu bergembiralah selagi bisa! Dan sekiranya kita bisa! Hanya ingat! Penerbangan ini datang tanpa pemberitahuan. Nama kita telah tertulis dalam tiket untuk penerbangan. Saat penerbangan kita berangkat, tanpa doa, atau ungkapan selamat jalan. Oleh karena itu, amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang terus mengalir walau seseorang sudah mati adalah ilmu yang bermanfaat. Begitulah hendaknya kita menasihati diri kita setiap hari karena kita tidak menyangka mati itu dekat bahkan kita tidak mengetahui kapan datangnya. Tata Cara Pengurusan Jenazah 59

Abdurrahman bin Abdullah Al Ghaits.B. Al Wijazah fi Tajhizi al Janazah. Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, juz 4. Beirut: Maktabah al-ilmiyyah. An-Naisaburiy, Imam Muslim bin al-hajaj al-qusyairi. 1994. Shahih Muslim, Juz III. Beirut: Darul Kutub al-ilmiyyah. Ibnu Rusyd. 1990. Bidayatul Mujtahid, Jilid I. Penerjemah: M.A. Abdurrahman. Semarang: Asy-Syifa, Moh. Rifai. 1976. Risalah Tuntunan Shalat Lengkap. Semarang: CV. Toha Putra. Muhammad Jawad Mugniyah. 1996. Fiqih Lima Mazhab; Ja fari, Hanafi, Maliki, Syafi i, Hambali. Penerjemah: Masykur AB., Cet. 2. Jakarta: Lentera. Mustafa Dibul bigha. 1984. Fiqih Syafi i. Alih Bahasa: Adchiyyah Sunarto dan M. Multazam. Surabaya: CV. Bintang Pelajar. Rasjid, Sulaiman. 1992. Fiqih Islam, Bandung: Sinar Baru. Sayyid Sabiq. 1988. Fiqih Sunnah, Juz 3. Alih Bahasa: Mahyuddin Syaf. Bandung: Al-Ma arif. Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani. Ahkamul Jana iz (Tuntunan Pengurusan Jenazah & Ziarah Kubur). http://bemuslim.co.nr http://dysa...@yahoo.co.id http://fernandositindaon.info http://fitrahzh.blogspot.com http://ilmuwanislam.wordpress.com http://matra6387.blog.friendster.com http://pembawaember1.blogspot.com 60 Tata Cara Pengurusan Jenazah