NOMOR: KP 081 TAHUN 2018 PROSEDUR PENETAPAN, PENGGUNAAN DAN PENUTUPAN

dokumen-dokumen yang mirip
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 077 TAHUN 2018 TENTANG STANDAR TEKNIS DAN OPERASI (MANUAL OF STANDARD CASR PART

2016, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Perhubungan tent

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Memmbang. a. perhubungan NomQr KM 21 Tahun 2009 tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 173

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2012 tentang

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

2015, No Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 200

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR: KP 030 TAHUN 2018 TENTANG TIM PERSIAPAN DAN EVALUASI PENYELENGGARAAN

PART 69-01) PENGUJIAN LISENSI DAN RATING PERSONEL PEMANDU

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4956);

^PENYELENGGARAAN KALIBRASI FASILITAS DAN PROSEDUR

2016, No Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA. Nomor : KP 247 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN DAN STANDAR BAGIAN (MANUAL OF STANDARD

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 173 TAHUN 2013 TENTANG

SKEP /40/ III / 2010

b. bahwa dalam rangka memberikan pedoman terhadap tata

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 017 TAHUN 2018 TENTANG TIM PELAKSANA TINDAK LANJUT UMPAN BALIK PENGGUNA

Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR: KP.289 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 596 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP. 271 TAHUN 2012

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1Tahun 2009 tentang Penerbangan

Udara Jenderal Besar Soedirman di

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 216 TAHUN 2017 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 578 TAHUN 2015 TENTANG

2016, No Penerbangan (Aeronautical Meteorological Information Services); Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 216 TAHUN 2017 TENTANG

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang

2016, No Informasi Aeronautika (Aeronautical Information Publication (AIP)) Indonesia secara elektronik; d. bahwa berdasarkan pertimbangan seb

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOM OR : KP 038 TAHUN 2017 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR :.KP TAHUN TENTANG

Menimbang : a. bahwa dalam rangka percepatan operasional Bandar

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan

Menimbang : a. bahwa ketentuan mengenai angkutan udara perintis. Penyelenggaraan Angkutan Udara Perintis;

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 04 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : SKEP / 81 / VI / 2005 TENTANG

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR: KP 93 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA Nomor: KP 4 TAHUN 2016 TENTANG

Menimbang : a. bahwa dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 82 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR: KP.289 TAHUN 2012 TENTANG

DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA

Udara yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal;

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan

2017, No Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor

DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 153 TAHUN 2017 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 182 TAHUN 2017 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 593 TAHUN 2015 TENTANG

NOMOR : KP 261 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR KP 104 TAHUN 2017 TENTANG

Menimbang : a. bahwa Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 503 TAHUN 2014 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENILAIAN DAN PENGAWASAN PEMENUHAN

mengenai kewenangan Inspektur Navigasi Penerbangan dalam melaksanakan pengawasan; bahwa dalam melaksanaan pengawasan sebagaimana

PERATURAN MENTERl PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM 44 TAHUN 2015 TENTANG

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR: KP 181 TAHUN 2017 TENTANG

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 274 TAHUN 2017 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 60 TAHUN 2016 TENTANG PENGALIHAN PENYELENGGARAAN PELAYANAN NAVIGASI PENERBANGAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KP 407 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA NUSAWIRU DI KABUPATEN CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT

DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA

TENTANG PETUNJUK DAN TATA CARA PENGAWASAN KEAMANAN PENERBANGAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA,

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA PERHUBUNGAN UDARA NOMOR KP 112 TAHUN 2017 TENTANG

3. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara;

2016, No Indonesia Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916); 3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan

2015, No Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2015 tentang Kementerian Perhubungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 75); 4

MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA. NOMOR : KP. 56 Tahun 2014 TENTANG ORGANISASI SLOT INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA,

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 139 TAHUN 2018 TENTANG PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN OPERASI FASILITAS KEAMANAN PENERBANGAN

2016, No Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916); 4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 037 TAHUN 2018 TENTANG TIM PEMENUHAN TASK LIST AIR TRAFFIC MANAGEMENT CONTINGENCYPLAN

Pengoperasian Sistem Pesawat Tanpa Awak di Wilayah Ruang Udara Indonesia

MEETING OF THE ASIA/PASIFIC ATS INTER-FACILITY DATA-LINK. Menimbang : a. bahwa Indonesia sebagai salah satu Negara anggota

NOMOR: PM 17 TAHUN 2014

Menimbang : a. bahwa dalam Peraturan Direktur Jenderal

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 2 TAHUN 2016 TENTANG

Menimbang : a. bahwa berdasarkan Bab IV huruf A angka 2 huruf a dan b

2015, No Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 292, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5601); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahu

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR: KP 301 TAHUN 2015 TENTANG

2 3. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahu

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Seseorang dapat mengajukan Perancangan Prosedur Penerbangan

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM 36 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR

Mengingat : 1. Undang Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan

2017, No Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5058); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tah

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA. Telepon : (Sentral)

Transkripsi:

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DTREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR: KP 081 TAHUN 2018 TENTANG PROSEDUR PENETAPAN, PENGGUNAAN DAN PENUTUPAN KAWASAN PELATIHAN TERBANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA, Menimbang : a. bahwa dalam pasal 13 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 55 Tahun 2016 tentang Tatanan Navigasi Penerbangan Nasional diatur ketentuan mengenai kawasan pelatihan terbang (training area) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Direktur Jenderal; bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, dipandang perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara tentang Prosedur Penetapan dan Penggunaan Kawasan Pelatihan Terbang ; Mengingat Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 1 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4956); Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4075);

-2-3. Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2012 tentang Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 176); 4. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8); 5. Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2015 tentang Kementerian Perhubungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 75); 6. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 8 tahun 2010 tentang Program Keselamatan Penerbangan Nasional; 7. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 49 Tahun 2011 tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 172 Peraturan Lalu Lintas Udara [Civil Aviation Safety Regulation Part 172) tentang Penyelenggara Pelayanan Lalu Lintas Penerbangan [Air Traffic Service Provider); 8. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 55 Tahun 2015 tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 139 [Civil Aviation Safety Regulation Part 139) tentang Bandar Udara [Aerodrome); 9. Peraturan Menteri Perhubungan.Nomor 60 Tahun 2015 tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 175 [Civil Aviation Safety Regulation Part 175) Tentang Pelayanan Informasi Aeronautika [Aeronautical Information Service); 10. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 189 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perhubungan sebagaimana diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 117 Tahun 2017;

-3-11. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 55 Tahun 2016 tentang Tatanan Navigasi Penerbangan Nasional; 12. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 62 Tahun 2017 tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 19 tentang Sistem Manajemen Keselamatan; 13. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 65 Tahun 2017 tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 170 Peraturan Lalu Lintas Udara {Civil Aviation Safety Regulation Part 170) tentang Peraturan Lalu Lintas Penerbangan (Air Traffic Rules); 14. Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/25/II/2009 tentang Advisory Circular 170-02 Manual of Air Traffic Sen^ices Operational Procedures; 15. Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP 232 Tahun 2014 tentang Petunjuk dan Tata Cara Bagian 172-01 (Advisory Circular Part 172-01) mengenai Sertifikasi Penyelenggara Pelayanan Lalu Lintas Penerbangan (Certification of Air Traffic Service Provider); 16. Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP 220 tahun 2016 tentang Standar Teknis dan Operasional (Manual Of Standard CASR 172) Aerodrome Flight Information Services. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA TENTANG PROSEDUR PENETAPAN, PENGGUNAAN DAN PENUTUPAN KAWASAN PELATIHAN TERBANG (TRAINING AREA). I

-4- BABI KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan: 1. Direktur adalah Direktur Navigasi Penerbangan. 2. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Perhubungan Udara. 3. Gate Point adalah daerah/titik di suatu daratan yang dijadikan referensi sebagai pintu masuk suatu pesawat. 4. Ground Visual Reference Point adalah daerah/titik di suatu daratan yang dapat dijadikan referensi secara visual (kasat mata). 5. Kawasan pelatihan terbang (trainning area) adalah ruang udara tertentu di atas daratan dan/atau perairan yang digunakan untuk pelatihan terbang. 6. Kawasan Udara berbahaya (danger area) adalah kawasan ruang udara yang membahayakan. aktifitas penerbangan pesawat udara yang bersifat sementara atau waktu tertentu. 7. Kawasan Udara terlarang (prohibited area) adalah ruang udara tertentu di atas daratan dan/atau ruang udara tertentu di atas daratan dan/atau perairan, dengan pembatasan yang bersifat permanen dan menyeluruh bagi semua pesawat. 8. Keselamatan Penerbangan adalah suatu keadaan terpenuhinya persyaratan keselamatan dalam pemanfaatan wilayah udara, pesawat udara, Bandar udara, angkutan udara, navigasi penerbangan, serta fasilitas penunjang dan fasilitas umum lainnya. 9. Penyelenggara sekolah penerbangan atau Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Penerbang adalah lembaga yang menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi siswa penerbang diantaranya lembaga dari unsur pemerintah atau badan usaha yang berbadan hukum Indonesia.

-5-10. Pesawat Latih adalah pesawat yang digunakan untuk kegiatan terbang latih siswa penerbang. 11. Reporting Point adalah daerah/titik di suatu daratan yang dijadikan referensi untuk melaporkan posisi suatu pesawat. 12. Ruang udara adalah ruang yang terletak di atas ruang daratan dan atau di atas perairan Indonesia dimana Indonesia memiliki kedaulatan yang telah diakui berdasarkan hukum internasional. 13. Ruang Udara yang dikendalikan {controlled airspace) adalah jenis ruang udara yang diberikan pelayanan lalu lintas penerbangan berupa pelayanan pemanduan lalu lintas penerbangan (air traffic control service), pelayanan informasi penerbangan {flight information service) dan pelayanan kesiagaan {alerting service). 14. Ruang Udara yang tidak dikendalikan {uncontrolled airspace) adalah jenis jenis ruang udara yang diberikan pelayanan lalu lintas penerbangan berupa pelayanan pemanduan lalu lintas penerbangan pelayanan informasi penerbangan {flight information service), pelayanan kesiagaan {alerting service) dan pelayanan saran lalu lintas penerbangan (air traffic advisory service). 15. Safety Assessment adalah suatu analisa sistematis dari perubahan peralatan atau prosedur yang diajukan untuk mengenali dan mencegah kelemahan sebelum perubahan tersebut dilaksanakan. 16. Standard Operating Procedures (SOP) pelayanan kegiatan pelatihan terbang adalah prosedur pelayanan lalu lintas penerbangan untuk kegiatan terbang latih di suatu ruang udara.

-6-17. Surat kesepakatan bersama adalah surat kesepakatan kerjasama antara penyelenggara sekolah penerbang dengan penyelenggara bandar udara dan Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan setempat. 18. Training area adalah wilayah udara tertentu di dalam suatu kawasan pelatihan terbang. 19. Training Procedure Manual adalah dokumen yang digunakan sebagai pedoman bagi lembaga pelatihan untuk menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan. BAB II PENETAPAN DAN PENGGUNAAN KAWASAN PELATIHAN TERBANG Pasal 2 Dalam rangka pemenuhan kebutuhan akan penggunaan ruang udara untuk kegiatan pelatihan terbang perlu diatur ketentuan mengenai penetapan, penggunaan dan penutupan kawasan pelatihan terbang. Pasal 3 (1) Kawasan pelatihan terbang ditetapkan oleh Direktur Jenderal dengan memperhatikan : a. kondisi ruang udara disekitarnya; b. jenis pelayanan navigasi penerbangan yang diberikan; c. fasilitas navigasi penerbangan; d. fasilitas bandar udara; dan e. fasilitas keamanan penerbangan.

-7- (2) Kondisi ruang udara disekitamya sebagaimana dimaksud ayat 1 huruf (a) memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. kawasan pelatihan terbang berada di dalam ruang udara Indonesia yang dikendalikan (controlled airspace) maupun ruang udara yang tidak dikendalikan (uncontrollled airspace); b. penggunaan Kawasan pelatihan terbang tidak menganggu kegiatan angkutan udara niaga berjadwal dan tidak berjadwal. (3) Jenis pelayanan dan fasilitas navigasi penerbangan sebagaimana dimaksud ayat 1 huruf (b) dan (c) mengacu kepada peraturan keselamatan penerbangan sipil bidang navigasi penerbangan. (4) Fasilitas bandar udara sebagaimana dimaksud ayat 1 huruf (d) mengacu kepada peraturan keselamatan penerbangan sipil bidang bandar udara. (5) Fasilitas keamanan penerbangan sebagaimana dimaksud ayat 1 huruf (e) mengacu kepada peraturan perundangan bidang keamanan penerbangan. (6) Kawasan pelatihan terbang dapat terdiri dari 1 (satu) atau lebih training area. Pasal 4 Training area sebagaimana dimaksud pada pasal 3 ayat (6) hams memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. memiliki Ground Visual Reference Point sebagai acuan; b. tidak berada di atas wilayah: 1) padat penduduk; 2) wilayah laut lepas dan atau kawasan homogen; 3) wilayah pegunungan; 4) kawasan udara terlarang [prohibited area); dan 5) kawasan udara berbahaya (danger area).

-8- Pasal 5 (1) Penetapan kawasan pelatihan terbang berdasarkan permohonan Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan kepada Direktur Jenderal setelah memenuhi : a. persyaratan administrasi, dan b. hasil verifikasi oleh Direktur Jenderal pada training area yang diusulkan. (2) Persyaratan administrasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a meliputi : a. surat permohonan, sebagaimana terdapat dalam lampiran l.a Peraturan ini; b. peta usulan training area yang telah dilakukan safety assessment oleh Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan; c. Standard operating procedure pelayanan kegiatan pelatihan terbang; d. Salinan surat kesepakatan bersama antara penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan dengan penyelenggara sekolah penerbang. (3) Hasil verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b menjadi dasar disetujui atau ditolaknya permohonan penetapan kawasan pelatihan terbang. (4) Alur proses penetapan kawasan pelatihan terbang terdapat dalam Lampiran l.b Peraturan ini. Pasal 6 Peta usulan training area sebagaimana dimaksud pasal 4 ayat (2) huruf b sekurang-kurangnya memuat informasi yang meliputi: a. ground visual reference point; b. batasan vertikal; dan c. batasan horizontal;

-9- Pasal 7 (1) Standard Operating Procedure pelayanan kegiatan pelatihan terbang sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) huruf c sekurang-kurangnya memuat informasi terkait: a. lokasi training area; b. gate point 65 reporting point hams memiliki ground visual reference point; c. prosedur umum (general procedure); d. prosedur kedatangan dan keberangkatan (inbound and outbond procedure); e. prosedur di wilayah circuit pattern; f. prosedur kegagalan komunikasi (communication failure); g. prosedur kehilangan posisi (lost position procedure); h. prosedur kehilangan ketinggian (stalling procedure); dan i. prosedur kondisi darurat (emergency procedure). (2) Standard operating procedure pelayanan kegiatan pelatihan terbang sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (2) humf c, hams dimasukkan ke dalam training procedure manual penyelenggara sekolah penerbang yang berkegiatan di kawasan pelatihan terbang dimaksud. Pasal 8 Kawasan pelatihan terbang ditetapkan oleh Direktur Jenderal dalam bentuk surat penetapan kawasan pelatihan terbang.

-10- Pasal 9 (1) Surat penetapan kawasan pelatihan terbang sebagaimana dimaksud pada pasal 8 sekurangkurangnya terdiri dari : a. dasar hukum penerbitan surat penetapan; b. nama penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan; c. nama dan lokasi training area; d. tanda tangan pengesahan surat penetapan. (2) Bentuk dan format surat penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdapat dalam lampiran II.A Peraturan ini. Pasal 10 Kawasan pelatihan terbang yang telah ditetapkan dipublikasikan dalam AIP (Aeronautical Information Publication) dan memuat informasi sekurang-kurangnya sebagai berikut: a. nama kawasan pelatihan terbang; b. nama dan lokasi training area (jarak dan magnetic); c. koordinat kawasan pelatihan terbang; d. batas ketinggian kawasan pelatihan terbang; dan e. batas lateral kawasan pelatihan terbang. Pasal 11 (1) Setiap perubahan di dalam kawasan pelatihan terbang, penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan hams melaporkan kepada Direktur Jenderal. (2) Pembahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

-11- a. nama dan lokasi training area; b. koordinat; c. ground visual reference point; d. batas ketinggian; e. batas lateral; f. gate point dan g. adanya pengurangan training area. (3) Apabila terdapat penambahan jumlah training area, maka dilakukan pengajuan permohonan baru dengan persyaratan yang diatur dalam ketentuan Pasal 5, dan contoh surat permohonan penambahan sebagaimana tercantum pada lampiran II.B peraturan ini. BAB III PENGAWASAN KAWASAN PELATIHAN TERBANG Pasal 12 (1) Direktur melakukan pengawasan terhadap penggunaan kawasan pelatihan terbang untuk memastikan kesesuaian dengan peraturan perundangan. (2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sekurang-kurangnya l(satu) kali dalam l(satu) tahun. (3) Hasil pengawasan dapat menjadi dasar evaluasi penetapan kawasan pelatihan terbang Pasal 13 Apabila hasil pengawasan sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 ditemukan training area yang tidak sesuai sebagaimana diatur dalam pasal 4 dan/atau tidak aktif digunakan dalam jangka waktu l(satu) tahun berturutturut, maka training area dapat ditutup sementara melalui NOTAM.

-12- BAB IV PENUTUPAN KAWASAN PELATIHAN TERBANG Pasal 14 (1) Dalam kondisi tertentu kawasan pelatihan terbang yang telah ditetapkan dan dipublikasikan dalam AIP dapat ditutup berdasarkan : a. pertimbangan Direktur Jenderal; b. usulan penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan. (2) Penutupan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan melalui penerbitan surat penutupan kawasan pelatihan terbang oleh Direktur Jenderal dan penerbitan NOTAM. (3) Kondisi tertentu sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a, meliputi hal-hal sebagai berikut: a. alasan keselamatan dan keamanan penerbangan; b. kondisi kepadatan lalu lintas penerbangan komersial di kawasan pelatihan terbang dan c. hasil pengawasan; (4) Usulan penutupan kawasan pelatihan terbang sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf b, disampaikan kepada Direktur Jenderal, dengan melampirkan : a. surat permohonan penutupan dan b. hasil evaluasi dan data dukung (5) Alur proses penutupan kawasan pelatihan terbang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b tercantum dalam Lampiran 111 Peraturan ini.

-13- BAB V KETENTUAN PENUTUP Pasal 15 Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 27 MARET DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA ttd SALINAN Peraturan ini disampaikan kepada : Dr. Ir. AGUS SANTOSO, M.Sc 1. Menteri Perhubungan 2. Sekretaris Jenderal, Inspektur Jenderal, Para Kepala Badan di lingkungan Kementerian Perhubungan; 3. Para Direktur di Lingkungan Ditjen Perhubungan Udara; 4. Para Kepala Otoritas Bandar Udara; 5. Para Kepala Bandar Udara di lingkungan Ditjen Perhubungan Udara; 6. Kepala Balai Besar Kalibrasi Penerbangan; 7. Kepala Balai Teknik Penerbangan; 8. Direktur Utama Perum LPPNPI. ^ _^uai dengan aslinya HUKUM (ix TCW iptfim'b.s' \-^^NDAH PURNAMA RAPT _ ibina (IV/a) NIPrT5680704 199503 2 001

-14-. Lampiran la Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : KP 081 TAHUN 2018 Tanggal : 27MARET2018 CONTOH SURAT PERMOHONAN PENETAPAN KAWASAN PELATIHAN TERBANG Nomor Sifat Lampiran Perihal 1 (satu) berkas Permohonan Penetapan Kawasan Pelatihan Terbang (Tempat), (Tanggal, Bulan, Tahun) Kepada Yth. Direktur Jenderal Perhubungan Udara cq. Direktur Navigasi Penerbangan di JAKARTA Dengan hormat, yang bertanda tangan di bawah ini: a. Nama Pemohon b. Alamat Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama a. Nama b. Alamat c. Nomor Telepon d. Email (Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan) Mengajukan permohonan untuk Penetapan Kawasan Pelatihan Terbang. Sebagai pertimbangan dan data dukung, bersama ini terlampir disampaikan : a. Peta usulan training area yang akan digunakan sebagi Kawasan pelatihan terbang; b. Standard Operating Procedure untuk kegiatan pelatihan terbang, dan c. Copy surat kesepakatan bersama antara penyelenggara navigasi penerbnagan dengan penyelenggara sekolah penerbang. Demikian disampaikan dan terima kasih. Pemohon, Ttd Nama 85 Jabatan

-15- Lampiran IB Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : KP 081 TAHUN 2018 Tanggal : 27MARET2018 ALUR PROSES PENETAPAN KAWASAN PELATIHAN TERBANG PEMOHON (Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan) DIRJEN. HUBUD VERIFIKASI OLEH DITJEN. HUBUD TIDAK MEMENUHI SYARAT YA PENERBITAN SURAT PENETAPAN KAWASAN PELATIHAN TERBANG DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA ^ai dengan aslinya \GIAN HUKUM -7 ttd Dr. Ir. AGUS SANTOSO, M.Sc TORA ENDAH ifijrnama SAPT Pembina (IV/a) NIP. 19680704 199503 2 001

-16- Lampiran II.A Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : KP 081 TAHUN 2018 Tanggal : 27MARET2018 Nomor Sifat Lampiran Perihal CONTOH SURAT PENETAPAN KAWASAN PELATIHAN TERBANG 1 (satu) berkas Penetapan Kawasan Pelatihan Terbang (Tempat), (Tanggal, Bulan, Tahun) Kepada Yth, (Nama Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan) di xxxxxxxxxxx Dengan hormat, sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara nomor tentang Prosedur Penetapan, Penggunaan dan Penutupan Kawasan Pelatihan Terbang dan menindaklanjuti hasil evaluasi serta verifikasi Pengajuan Kawasan Pelatihan Terbang di ( nama kawasan pelatihan terbang ), yang telah dilaksanakan oleh Inspektur Navigasi Penerbangan, raaka ditetapkan Kawasan Pelatihan Terbang sebagai berikut: No NAMA TRAINING AREA LOKASI TRAINING AREA DISTANCE MAGNETIC... Penetapan Kawasan pelatihan terbang sebagaimana dimaksud butir 1 (satu) digunakan setelah dipublikasi dan berlaku efektif sesuai ketentuan perundangan. Setiap perubahan terhadap kawasan pelatihan terbang hams dilaporkan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara. Demikian disampaikan dan terima kasih. DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA ttd

-17- Lampiran II.B Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : KP 081 TAHUN 2018 Tanggal : 27MARET2018 CONTOH SUI^T PERMOHONAN PENAMBAHAN TRAINING AREA Nomor Sifat Lampiran Perihal 1 (satu) berkas Permohonan Penambahan Training Area (Tempat), (Tanggal, Bulan, Tahun) Kepada Yth. Direktur Jenderal Perhubungan Udara cq. Direktur Navigasi Penerbangan di JAKARTA Dengan hormat, yang bertanda tangan di bawah ini : a. Pemohon b. Alamat Kantor : (direktur) Mengajukan permohonan untuk Penetapan Kawasan Pelatihan Terbang. Sebagai pertob^gan dan data dukung, bersama ini terlampir disampaikan tmbjg? ^ digunakan sebagai kawasan pelatihan b. ^andard Operating Procedure pelayanan kegiatan pelatihan terbang dan Demikian disampaikan dan terima kasih. Pemohon, ttd Nama 8& Jabatan DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA ttd Dr. Ir. AGUS SANTOSO, M.Sc Sali <c. lesuai dengan aslinya lgian HUKUM '* f '."ii ri.i \ V'-- \-c NIP. NAMA SARI l^ina (IV/a) ;0704 199503 2 001

-18- Lampiran III Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : KP 081 TAHUN 2018 Tanggal : 27MARET2018 ALUR PROSES PENUTUPAN KAWASAN PELATIHAN TERBANG PEMOHON DIRJEN. HUBUD PENERBITAN SURAT PENUTUPAN KAWASAN PELATIHAN TERBANG DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA sesuai dengan aslinya BAGIAN HUKUM ttd Dr. Ir. AGUS SANTOSO, M.Sc TORAT END n i- j> URNAMA SART bina (IV/a) 680704 199503 2001