PROSIDING SEMNAS KBSP V

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. tentang Guru dan Dosen).

BAB I PENDAHUUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

DESKRIPSI KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DAN CALON GURU KIMIA SMA MUHAMMADIYAH 1 SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Nuri Annisa, 2013

Profesionalisme Guru/ Dosen Sains DISKRIPSI PEDAGOGICAL CONTEIN KNOWLEDGE CALON GURU SDPADA PEMBELAJARAN IPA. Kartika Chrysti S. PGSD Kebumen FKIP UNS

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. perubahan. Pada era globalisasi, dituntut suatu mutu lulusan yang disiapkan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

PENINGKATAN KOMPETENSI GURU SMA/ SMK MUHAMMADIYAH KARTASURA DALAM MERUMUSKAN INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI DASAR

Negeri 2 Teupah Barat Kabupaten Simeulue Tahun Pelajaran 2014/2015. Oleh: PARIOTO, S.Pd 1 ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Ciputat Pers, 2002, hlm Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media pembelajaran, Jakarta :

BAB I PENDAHULUAN. pengembangan aktivitas dalam bidang-bidang pendidikan. Pembangunan

STRATEGI PEMBELAJARAN DALAM MATA KULIAH BAHASA MANDARIN I DI PRODI S1 PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS FIB UB

II. KAJIAN PUSTAKA. keterampilan dalam bekerja. Peningkatan profesionalisme guru atau

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER OLEH MAHASISWA CALON GURU FISIKA

BAB I PENDAHULUAN. dipengaruhi oleh peserta didik (in put), pendidik, sarana dan prasarana,

BAB I PENDAHULUAN. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yang

PRAKTEK PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN 8 JP

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN BANTUAN MEDIA VIDEO UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS EKSPOSISI SISWA

Oleh: KHUSNUL CHOTIMAH A

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dalam rangka membangun profesionalisasi guru. Hal ini ditandai dengan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Perbandingan Peningkatan Keterampilan Generik Sains Antara Model Inquiry Based Learning dengan Model Problem Based Learning

UPAYA PENINGKATAN KREATIVITAS MEMECAHKAN MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 TERAS

2015 ANALISIS NILAI-NILAI KARAKTER, KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN PENGUASAAN KONSEP SISWA PADA TOPIK KOLOID MELALUI PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING

BAB I PENDAHULUAN. perguruan tinggi. Azzra (Ambarita, 2010:37) mengatakan seorang guru yang

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ARIAS TERINTEGRASI PADA PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

KEMAMPUAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (PCK) MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI FKIP UMS DALAM MENYUSUN RPP KURIKULUM 2013 TAHUN AKADEMIK 2016/2017

BAB II KAJIAN TEORETIS

PENERAPAN DISCOVERY LEARNING DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR RUANG DIMENSI TIGA PADA SISWA SMAN 8 MATARAM

BAB I PENDAHULUAN. dapat dirasakan oleh setiap warga negara. Dengan adanya pendidikan terjadi

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Pasal 31 ayat 2 Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN. belajar dengan berbagai metode, sehingga peserta didik dapat melakukan

IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS X DI SMAN 2 BUNGO. Irma Suryani, Aripudin dan Zulena Fertika

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan mutu pendidikan formal. Seorang guru berkualitas di dalam tiaptiap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

PROFIL KEMAMPUAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (PCK) GURU IPA SMP NEGERI SE-JATISRONO

Oleh: Drs.NANA DJUMHANA M.Pd PRODI PGSD FIP UPI

ARTIKEL SKRIPSI. Disusun Oleh ISTIYOWATI NPM P

Universitas Pendidikan Indonesia Program Studi Pendidikan IPA Sekolah Pascasarjana

BAB V PEMBAHASAN. A. Pembahasan terkait fokus penelitian pertama: Bagaimana implementasi

PENERAPAN MODEL GUIDED INQUIRY DENGAN SUMBER BELAJAR LINGKUNGAN DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPA SISWA KELAS IV SDN 1 SIKAYU TAHUN 2015/2016

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

KEMAMPUAN GURU IPA DALAM PENERAPAN KURIKULUM 2013 DI SMP BOYOLALI TAHUN 2013/2014 NASKAH PUBLIKASI. Disusun oleh: RETNO FEBRIYANINGRUM A

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. masa mendatang akan semakin komplek. Menurut Undang-Undang Guru dan. yang satu sama lain saling berhubungan dan saling mendukung.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENERAPAN MODEL QUANTUM TEACHING DENGAN METODE INKUIRI

PENERAPAN MODEL GRUP INVESTIGASI BERVISI SETS DI SEKOLAH DASAR

PENGARUH KOMPETENSI PROFESIONAL GURU TERHADAP MINAT BELAJAR KIMIA KELAS X DI SMA MUHAMMADIYAH 1 SEMARANG

PENINGKATAN KETRAMPILAN PENJUMLAHAN BILANGAN BULAT DENGAN METODE INQUIRI PADA SISWAKELAS II SD NEGERI DADIREJO 02 KECAMATAN MARGOREJO KABUPATEN PATI

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA MATERI BILANGAN BULAT

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SAINS (IPA) DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

2016 PENGEMBANGAN MODEL DIKLAT INKUIRI BERJENJANG UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI PEDAGOGI INKUIRI GURU IPA SMP

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif. mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

BAB I PENDAHULUAN. dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU SISDIKNAS 2003, 2006).

BAB I PENDAHULUAN. Untuk mengajarkan sains, guru harus memahami tentang sains. pengetahuan dan suatu proses. Batang tubuh adalah produk dari pemecahan

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH BERBANTUAN MULTIMEDIA INTERAKTIF PADA SISWA SEKOLAH DASAR

NASKAH PUBLIKASI ILMIAH Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

BAB I PENDAHULUAN. knowledge, dan science and interaction with technology and society. Oleh

BAB I PENDAHULUAN. penunjang roda pemerintahan, guna mewujudkan cita cita bangsa yang makmur dan

PANDUAN PENYUSUNAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS RISET

UPAYA MENINGKATKAN PARTISIPASI DAN HASIL BELAJAR SAINS PADA MATERI SIFAT DAN PERUBAHAN WUJUD SUATU BENDA MELALUI PENERAPAN METODE DISCOVERY LEARNING

PENGEMBANGAN MODEL PPL UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI PEDAGOGIK DAN PROFESIONAL MAHASISWA. Choirul Huda, Djoko Adi Susilo ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. Setiap manusia mempunyai hak untuk memenuhi kebutuhannya

BAB I PENDAHULUAN. kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsipprinsip

Transkripsi:

PEDAGOGICAL KNOWLEDGE (PK) CALON GURU BAHASA INDONESIA PADA MATA KULIAH WORKSHOP SILABUS DAN RPP Dini Restiyanti Pratiwi dan Hari Kusmanto Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Surakarta Dini.R.Pratiwi@ums.ac.id; A310150036@student.ums.ac.id Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan pedagogical knowledge (PK) mahasiswa calon guru bahasa Indonesia FKIP UMS pada mata kuliah workshop silabus dan RPP tahun pelajaran 2017/2018. Penelitian ini berjenis deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah metode dan langkah-langkah pembelajaran yang dipilih mahasiswa calon guru bahasa Indonesia dalam menyusun RPP kurikulum 2013 tahun pelajaran 2017/2018. Data penelitian ini dikumpulkan dengan teknik dokumentasi, yaitu berupa RPP yang disusun oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMS pada saat menempuh mata kuliah workshop Silabus dan RPP tahun pelajaran 207/2018. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan metode pembelajaran yang paling banyak dipilih mahasiswa calon guru adalah metode diskusi, tanya jawab, dan penugasan dengan presentase 46,1%. Adapun metode jigsaw 7,7%, metode peer teaching 7,7%, dan metode the power of two 7,7%. Selain itu, terdapat pemilihan metode yang kurang sesuai digunakan dalam komponen metode dan strategi pembelajaran, yaitu model pembelajaran discovery Learning 15,4% dan model inquiry 15,4%. Berdasarkan pemilihan metode yang digunakan dalam komponen metode/ strategi pembelajaran dalam RPP diketahui masih cukup banyak ketidaksesuai penerannya dalam langkah-langkah pembelajaran. Kata kunci: pedagogical knowledge (PK), rpp, metode, dan langkah-langkah pembelajaran PENDAHULUAN Perkuliahan workshop silabus dan RPP di program pendidikan bahasa indonesia universitas muhammadiyah surakarta merupakan salah satu mata kuliah yang diselenggarakan sebagai upaya memberikan bekal kepada mahasiswa calon guru dalam rangka merancang pembelajaran yang efektif. Calon guru tidak cukup hanya membutuhkan pengetahuan content dalam mengajar; akan tetapi pengetahuan tentang pengetahuan pedagogis atau pedagogical knowledge (PK) merupakan suatu hal yang sangat penting. Salah satu penyebab kegagalan dalam pembelajaran ialah tidak tepatnya strategi atau metode pembelajaran yang digunakan. Tugas seorang guru adalah menyelenggaran pembelajaran, baik di kelas maupun di luar kelas. Agar suatu kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru dapat berlangsung efektif, maka seorang guru harus memahami hakikat belajar, mengajar, pembelajaran. Pemahaman guru terhadap pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap pemilihan metode dan strategi pembelajaran. Pemilihan metode dan strategi pembelajaran yang tepat merupakan cerminan rencana pembelajaran yang tersistem dan terarah untuk mencapai tujuan pembelajaran. Hal ini berarti, apabila penyususnan RPP dilakukan dengan baik dan benar akan berimplikasi pada kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Kualitas guru dalam memilih strategi pembelajaran sangat berpengaruh terhadap hasil dan tujuan pembelajaran. Pedagogical knowledge (PK) erat kaitannya dengan tuntutan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru. Kompetensi yang harus dikuasi oleh seorang guru meliputi empat kompetensi sesuai dengan UU nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Empat kompetensi tersebut meliputi: (1) kompetensi pedagogik ialah sejumlah kemampuan guru yang berkaitan dengan ilmu dan seni mengajar. (2) kompetensi kepribadian ialah kompetensi yang berkaitan dengan perilaku pribadi guru itu sendiri yang memiliki nilai-nilai luhur dan tercermin dalam perilaku sehari-hari. (3) kompetensi sosial ialah kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan masyarakat di sekitar sekolah dan masyarakat tempat guru tinggal. (4) kompetensi profesional ialah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan. Berdasarkan kompetensi di atas maka setiap lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi harus mempersiapkan mahasiswa calon guru dengan empat E-ISSN: 2621-1661 210

kompetensi tersebut secara matang. Hal senada dikemukakan oleh Purwianingsih (2010) standarstandar guru profesional akan dapat dicapai bila secara dini dilakukan penyiapan program-program yang mengarah pada ketercapain standar bagi calon guru di LPTK atau universitas yang menyediakan program pendidikan guru, meskipun secara bertahap. Menurut PP No. 74 tahun 2008 tentang guru dinyatakan bahwa kompetensi pedagogik adalah kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi: pemahaman wawasan atau landasan pendidikan, pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan kurikulum dan silabus, perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis, pemanfaatan teknologi pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Berdasarkan pernyataan tersebut, diketahui bahwa pemilihan metode dan strategi pembelajaran merupakan salah satu kompetensi pedagogik yang harus dikuasai guru dalam melakukan perencanaan pembelajaran. Pemilihan metode dan strategi dalam pelaksanaan pembelajaran haruslah diikuti dengan pengetahuan terhadap hakikat pendekatan, metode, dan strategi pembelajaran. Seringkali ketiga hal ini dianggap sama sehingga terjadi kesimpangsiuran komponen metode atau strategi dalam RPP yang diisi dengan salah satu model atau pendekatan sehingga langkah-langkah pembelajaran tidak mencerminkan cara dalam melaksanakan pembelajaran secara tepat. Selain itu, dimungkinkan pemilihan metode atau strategi yang tepat tidak diikuti dengan langkah-langkah pembelajaran yang sesuai dalam RPP yang disusun. Hal ini nampak dari RPP yang disusun oleh calon guru bahasa Indonesia FKIP UMS. Pendekatan pembelajaran menurut Iskandarwassid & Dadang (2016) adalah sikap atau pandangan tentang sesuatu, yang biasanya berupa asumsi atau seperangkat yang saling berkaitan. Pendekatan bersifat aksiomatis, tidak perlu dibuktikan lagi kebenarannya. Dalam konteks pembelajaran bahasa dan sastra pendekatan merupakan pandangan, filsafat, atau kepercayaan tentang hakikat bahasa dan sastra serta hakikat pembelajaran bahasa dan sastra yang diyakini. Adapun metode adalah prosedur untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam pengajaran bahasa dan sastra, metode digunakan untuk menyatakan kerangka menyeluruh tentang proses pembelajaran. Proses itu tersusun dalam rangkaian kegiatan yang sistematis, tumbuh dari pendekatan yang digunakan sebagai landasan model pembelajaran. Iskandarwassid & Dadang (2016) menyatakan bahwa strategi pembelajaran meliputi kegiatan atau pemakaian teknik yang dilakukan oleh pengajar mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai ketahap evaluasi, serta program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yakni pengajaran. Pendekatan pembelajaran yang diterapkan sesuai dengan kurikulum 2013 adalah pendekatan ilmiah atau lebih dikenal sebagai scientific approach. Pendekatan ini diterapkan dengan menggunakan model pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Selanjutnya, dalam rangka mendorong kemampuan peserta didik untuk menghasilkan karya kontekstual, baik individu maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan model pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (problem based learning) (Permendikbud No.22 tahun 2016, halaman 3). Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pedagogical knowledge (PK) mahasiswa calon guru bahasa Indonesia FKIP UMS melalui aktivitas menentukan metode/ strategi pembelajaran dan menerapkannya dalam langkah-langkah pembelajaran dalam penyusunan RPP pada mata kuliah workshop RPP dan silabus. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah metode dan langkah-langkah pembelajaran yang dipilih mahasiswa dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) kurikulum 2013. Sumber data dalam penelitian ini adalah RPP yang disusun oleh mahasiswa penempuh mata kuliah workshop silabus dan RPP tahun pelajaran 2017/2018. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dokumentasi. Dokumentasi dalam penelitian ini digunakan dengan mengumpulkan RPP yang disusun oleh mahasiswa pada saat menempuh mata kuliah workshop silabus. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah metode analisis isi (content analysis). E-ISSN: 2621-1661 211

HASIL DAN PEMBAHASAN Data dalam penelitian ini diperoleh dari 13 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang disusun mahasiswa calon guru bahasa Indonesia penempuh mata kuliah workshop silabus dan RPP tahun pelajaran 2017/2018. Kemampuan pedagogical knowledge calon guru dalam menyusun RPP dapat dilihat dari pemilihan metode atau strategi dalam komponen metode/ strategi pembelajaran dan kesesuaiannya dengan langkah-langkah pembelajaran. Berikut disajikan tabel analisis pemilihan metode atau strategi pembelajaran dan kesesuaiannya dengan langkah-langkah pembelajaran. Tabel.1 Kemampuan pedagogical knowledge (PK) mahasiswa calon guru bahasa Indonesia FKIP UMS dalam menyusun RPP pada mata kuliah Workshop Silabus dan RPP tahun pelajaran 2017/2018. No Aspek Deskripsi 1 Pendekatan, model, strategi dan metode pembelajaran yang dipilih mahasiswa calon guru nahasa indonesia a. 46,1% memilih metode pembelajaran diskusi, tanya jawab, penugasan. b. 15,4% memilih model pembelajaran discovery Learning c. 15,4% memilih metode pembelajaran inkuiri. d. 7,7% memilih model pembelajaran cooperative learning tipe jigsaw. e. 7,7% memilih metode pembelajaran peer teaching. f. 7,7% memilih metode pembelajaran the power of two. 2. Kesesuaian metode pembelajaran dengan langkah-langkah pembelajaran. a. Metode pembelajaran diskusi, tanya jawab, dan penugasan. sudah sesuai dengan metode pembelajaran yang dipilih yakni diskusi, tanya jawab, dan penugasan. b. Model pembelajaran Discovery learning. tidak sesuai dengan model pembelajaran discovery learning. C. Model pembelajaran Inquiry Learning Langkah-langkah yang dipilih oleh mahasiswa calon guru dengan metode pembalajaran inkuiri tidak sesuai. Langkahlangkah yang dipilih oleh mahasiswa adalah metode pembelajaran diskusi. Langkahlangkah pembelajaran dengan metode inkuiri diantaranya (1) orientasi, (2) merumuskan masalah, (3) merumuskan hipotesis, (4) mengumpulkan data, (5) menguji hipotesis, (6) merumuskan simpulan. Sedangkan langkah-lagkah yang dipilih oleh mahasiswa calon guru tidak memuat hal-hal tersebut. E-ISSN: 2621-1661 212

d. Metode pembelajaran Jigsaw oleh mahasiswa calon guru dengan metode pembelajaran jigsaw tidak sesuai. Langkahlangkah metode jigsaw diantaranya: (1) guru menanyakan topik yang akan dibahas kepada peserta didik apa yang mereka ketahui tentang topik yang akan dibahas. (2) guru membagi kelompok menjadi lebih kecil sesuai dengan materi yang akan dibahas misalnya 4 kelompok. (3) guru membuat team ahli yang terdiri 4 orang dari kelompok berbeda kemudian diskusi, setelah selesai berdiskusi kembali kepada kelompok asal. Langkahlangkah yang dipilih oleh mahasiswa calon guru tidak memuat poin 3 dan 4. e. Metode pembelajaran Peer Teaching Langkah-langkah yang dipilih sudah cukup sesuai dengan metode pembelajaran yang dipilih yakni metode peer teaching. f. Metode pembelajaran The Power Of Two tidak sesuai dengan metode yang dipilih. Dalam langkah-langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan guru tidak membagi kelompok. Berdasarkan tabel.1 nampah bahwa metode pembelajaran yang paling banyak dipilih oleh mahasiswa calon guru adalah metode ceramah, tanya jawab dan penugasan dengan presentase (46,1%). Pembelajaran yang dipilih oleh mahasiswa calon guru sepertinya kurang relevan dengan kurikulum yang berlaku yakni kurikulum 2013. Menurut Mulyasa (2013) pembelajaran kurikulum 2013 didasarkan pada beberapa pendekatan di antaranya: 1) pembelajaran kontekstual yakni pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pelajaran dan dunia kehidupan siswa secara nyata, sehingga siswa mampu mengubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. 2) pembelajaran peran adalah menghadirkan persoalan dalam komunikasi yang dijalin antara guru dan siswa. 3) pembelajaran tuntas setiap siswa itu cerdas, sehingga guru harus yakin bahwa setiap anak dapat memahami materi pembelajaran dengan baik. 4) pembelajaran partisipatif merupakan proses interaksi antara siswa dan guru dengan lingkungannya. Secara sederhana pembelajaran dalam kurikulum 2013 menghendaki pembelajaran yang kontekstual dengan kehidupan nyata, ketuntasan materi dan pemahaman, dan pembelajaran peran dan partisipasi aktif antara guru dengan murid. Dengan demikian pembelajaran dengan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan kurang relevan dengan kurikulum yang diterapkan. Mahasiswa calon guru bahasa Indonesia sudah seharusnya meninggalkan metode pembalajaran ceramah, tanya jawab, E-ISSN: 2621-1661 213

dan penugasan dengan mengganti dengan metode pembelajaran yang bersifat partisipasif dan interaktif sesuai tuntutan dalam kurikulum 2013. Hal ini merujuk pada pola pembelajaran satu arah menjadi pembelajaran interaktif sesuai pola pembelajaran yang terdapat dalam Permendikbud No. 68 tahun 2016. Selain itu, dijelaskan dalam Permendikbud No. 22 tahun 2016 tentang prinsip-prinsip pembelajaran bahwa dari siswa diberitahu menjadi siswa mencari tahu. Berdasarkan kedua pernyataan tersebut, nampak bahwa metode pembelajaran ceramah tidaklah sesuai digunakan dalam kurikulum 2013. Selanjutnya, penguasaan terhadap hakikat pendekatan, model, metode, dan strategi oleh mahasiswa calon guru Bahasa Indonesia nampak dalam tabel data di atas, diketahui terdapat 15,4 % calon guru yang memilih metode atau strategi kurang tepat. 15,4% calon guru tersebut, memilih model pembelajaran discovery learning dan inkuiri sebagai metode/ strategi pembelajaran. Seharusnya model pembelajaran yang telah dipilih diikuti dengan metode/ strategi pembelajaran yang lebih menjawab tentang pertanyaan bagaimana cara mengajarkan materi pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Kesesuian metode dan langkah-langkah pembelajaran paling banyak pada metode pembelajaran peer teaching, diskusi, tanya jawab, dan penugasan. Adapun pemilihan metode jigsaw diketahui diterapkan secara tidak sesuai dengan langkah-langkah yang disusun. Hal ini nampak dari langkahlangkah yang disusun berupa; (1) guru menampilkan tayangan kepada siswa mengenai iklan dan slogan yang telah dipersiapkan; (2) peserta didik menanyakan hal-hal yang belum diketahui; (3) peserta didik dapat menjelaskan pengertian iklan dan slogan; (4) Peserta didik mampu membuat contoh iklan dan slogan; (5) peserta didik yang lain memberikan tanggapan terhadap peserta didik yang menyampaikan hasilnya di depan kelas. Langkah-langkah tersebut tidak sesuai dengan prosedur yang terdapat dalam metode jigsaw. Seharusnya pembelajaran diawali dengan (1) guru mengenalkan topik yang akan dibahas yakni mengenai iklan dan slogan; (2) guru menanyakan kepada peserta didik apa yang mereka ketahui tentang iklan dan slogan; (3) guru membentuk kelompok secara heterogen yang terdiri dari 4 kelompok; (4) guru membagikan kertas HVS kepada setiap kelompok; (5) siswa dalam kelompok mendapatkan materi yang berbeda terkait iklan dan slogan; (6) beberapa siswa dari kelompok yang berbeda namun memiliki topik yang sama membentuk kelompok baru untuk mendiskusikan topik yang sama; (7) selanjutnya setiap siswa kembali pada kelompok asal yang memiliki topik yang berbeda-beda untuk mempersentasikan hal-hal yang telah ditemukan bersama kelompok topik yang sama sebelumnya; (8) guru memberikan klarifikasi dan penilaian terhadap hasil diskusi siswa. Selanjutnya, pemilihan metode the power of two yang dipilih mahasiswa tidak sesuai dengan langkah-langkah yang disusun. Hal ini nampak dari langkah-langkah yang disusun tidak menunjukkan adanya aktivitas siswa berdiskusi secara berpasangan. Ditemukan dalam langkah-langkah pembelajaran terdapat beberapa persepsi yang tidak sesuai dengan metode the power of two, di antaranya (1) siswa dalam kegiatan pembelajaran mengerjakan dan mempresentasikan hasil pembelajaran secara individu dan (2) siswa diminta berdiskusi dengan membentuk kelompok namun jumlah anggota dalam satu kelompok dinyatakan lebih dari dua orang. Hal ini tidak sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran dengan metode the power of two. Dalam hal ini metode the power of two dilakukan dengan membentuk kelompok siswa untuk berpasang-pasang atau hanya dua orang dalam satu kelompok. Selanjutnya, berdasarkan uraian data diketahui bahwa dari 13 RPP terdapat 53,8 persen RPP yang memiliki komponen metode yang sesuai dan 15,4 persen yang tidak sesuai. Adapun kesesuaian metode dengan langkah-langkahnya diketahui dari metode dan langkah-langkah pembelajaran yang dipilih oleh mahasiswa calon guru terdapat 53,8% yang sesuai dan 15,4% tidak sesuai. SIMPULAN Berdasarkan analisis data dalam hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa permasalahan penguasaan pedagogical knowledge mahasiswa Bahasa Indonesia calon guru terletak pada pemahaman mengenai perbedaan pendekatan, model, metode, dan strategi pembelajaran. Sehingga masih ada mahasiswa yang memilih model pembelajaran untuk komponen metode dan strategi pembelajaran. Selain itu, pemahaman terhadap langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan metode yang dipilih belum diperhatikan secara saksama. Nampak beberapa metode dan strategi yang digunakan tidak diterapkan secara sesuai dalam langkah-langkah pembelajaran. E-ISSN: 2621-1661 214

DAFTAR PUSTAKA Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. 2016. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: Remaja Rosdakarya. Mulyasa. 2013. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: Rosda karya. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru. Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Purwianingsih, widi. Nuryani Y. Rustaman dan Sri Redjeki. 2010. Pengetahuan Konten Pedagogi (PCK) dan Urgensinya dalam Pendidikan Guru. Jurnal Pengajaran MIPA. 15(2): 87-94. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. S Chrysti, Kartika. 2015. Diskripsi Pedagogical Contein Knowledge Calon Guru SD pada Pembelajaran IPA. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains Pengembangan Model dan Perangkat Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Berfikir Tingkat Tinggi. 125-132. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. E-ISSN: 2621-1661 215