1 PENDAHULUAN Latar Belakang Kemandirian pangan pada tingkat nasional diartikan sebagai kemampuan suatu bangsa untuk menjamin seluruh penduduknya memperoleh pangan yang cukup, mutu yang layak dan aman yang didasarkan pada optimalisasi pemanfaatan dan berbasis pada keragaman sumberdaya lokal (Nainggolan 2008). Pembangunan tanaman pangan pada dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya usaha-usaha tanaman pangan yang mampu menghasilkan produk mulai dari hulu sampai hilir yang berorientasi pada peningkatan produksi dan peningkatan pendapatan petani guna mencapai kemandirian pangan. Untuk itu, faktor peningkatan produktivitas, peningkatan kapasitas usaha serta optimalisasi efisiensi usaha, nilai tambah dan daya saing menjadi indikator penting dalam mewujudkan kedua orientasi tersebut. Pemahaman terhadap potensi penyediaan pangan di Indonesia dan penanganannya memiliki tingkat urgensi yang tinggi dan strategis dalam pembangunan tanaman pangan. Kedelai adalah salah satu komoditi tanaman pangan utama setelah padi dan jagung yang sangat diperlukan untuk meningkatkan gizi masyarakat karena memiliki kandungan potein nabati yang tinggi dan kandungan kolesterol yang rendah. Kedelai juga merupakan bahan pangan yang mengandung protein nabati yang sangat tinggi nilai gizinya, mengandung zat antioksidan yang tinggi sehingga sangat bermanfaat bagi kesehatan (Isnowati 2014). Konsumsi protein yang bersumber dari kedelai adalah yang terbesar dari pangan nabati serta merupakan pilihan kedua setelah ikan dari kelompok protein hewani (Fizzanty dan Aminullah 2010). Kebutuhan kedelai dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk serta berkembangnya industri pangan dan industri pakan ternak yang berbahan baku kedelai. Konsumen yang banyak menyerap biji kedelai adalah industri pangan berupa tahu, tempe, kecap, tauco dan industri pakan ternak. Kedelai juga menjadi bahan baku penting industri lain, di antaranya tepung, sari kedelai serta olahan pangan lain. Kompleksitas penyediaan pangan kedelai muncul ketika konsumsi sudah menjadi tradisi dan membentuk pola makan. Ketergantungan kedelai pada pasar impor saat ini adalah keniscayaan. Rata-rata kebutuhan kedelai setiap tahunnya sebanyak ± 2,2 juta ton biji kering, akan tetapi kemampuan produksi dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sebanyak 43,95 persen terhadap kebutuhan, dan sisanya sebesar 56,05 persen dipenuhi dari impor (Kementan 2015). Adanya impor tersebut menyebabkan berbagai kerugian bagi Indonesia, antara lain hilangnya devisa yang cukup besar dan meningkatkan ketergantungan jangka panjang yang akan berpengaruh pada sistem ketahanan pangan nasional. Ketergantungan pada pasar impor mengindikasikan keterkaitan yang kuat antara kemampuan penyediaan kedelai dalam negeri dengan fluktuasi pasar internasional (Fizzanty dan Aminullah 2010). Makin tinggi jumlah impor maka harga kedelai di tingkat petani semakin turun, sebaliknya semakin rendah harga kedelai impor, maka harga kedelai di tingkat petani juga turun (Zakiah 2011). Besaran impor kedelai ditentukan oleh kebutuhan kedelai dalam negeri dan jumlah produksi kedelai lokal. Data impor kedelai selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 1.
2 Tabel 1 Ketergantungan impor kedelai tahun 2011 2015 Tahun Produksi Impor (Ton) Jumlah (Ton) Persentase (persen) 2011 851,286 2,087,986-2012 243,153 2,104,912 0.81 2013 779,992 1,785,327 (15.18) 2014 954,997 1,964,081 10.01 2015 963,183 2,256,932 14.91 Rerata 2,039,848 2.64 Sumber : BPS RI (2016) Selama kurun waktu tahun 2011-2015, data impor menunjukkan angka yang sangat besar bila dibandingkan produksi dalam negeri. Hal ini menunjukkan laju konsumsi kedelai yang tidak dapat dibendung dari waktu ke waktu, sebagai akibat pola konsumsi dan kebutuhan industri berbahan baku kedelai. Dalam proyeksi konsumsi kedelai oleh Simatupang et al. (2005) total kebutuhan terus mengalami peningkatan dari 2,35 juta ton pada tahun 2009 menjadi 2,71 juta ton pada tahun 2015 dan 3,35 juta ton pada tahun 2025. Kondisi tersebut mengharuskan pemerintah untuk mengambil kebijakan impor guna menjaga stabilitas pangan nasional. Argumen masih diperlukannya impor dalam mengatasi kesenjangan produksi lokal juga telah dikemukakan ekonom Rusastra et al. (2008) yang berpendapat bahwa dalam konteks transisi ekonomi dan politik di Indonesia, impor masih dibutuhkan karena masih rendahnya produksi kedelai lokal. Beberapa faktor yang mempengaruhi dinamika produksi kedelai Indonesia adalah rendahnya hasil, kondisi lingkungan agroekologi yang kurang sesuai dan persaingan dengan tanaman lain yang lebih menguntungkan. Swastika (2005) menyampaikan bahwa sulit untuk mencapai kemandirian kedelai dalam jangka pendek atau menengah, kebijakan impor kedelai sebaiknya dilakukan dalam jangka menengah dan panjang, mengingat kondisi produksi yang belum bisa mengejar konsumsi yang terus meningkat. Pemenuhan kedelai melalui importasi ini harus dianggap cara yang bersifat emergency, mengingat kebutuhan kedelai yang cukup tinggi ini antara lain adalah untuk terus menggerakkan industri kecil pembuatan tahu dan tempe. Namun demikian, kondisi ini tidak dapat dibiarkan mengingat potensi untuk meningkatkan produksi kedelai di dalam negeri dapat dilakukan. Hal ini ditunjukkan dengan tersedianya lahan yang cukup luas, khususnya di Indonesia bagian timur, dan sesuai untuk budidaya kedelai serta terdapatnya teknologi spesifik lokasi dan sumberdaya manusia yang cukup terampil dalam usaha tani kedelai (Ditjen Tanaman Pangan 2010). Kedelai nasional pernah mencapai produksi tertinggi pada tahun 1992 sebesar 1,87 juta ton. Dalam statistik pertanian ditunjukkan data bahwa tahun 1999-2013 ada kecenderungan produksi kedelai terus menurun dari 1,3 juta ton tahun 1999 menjadi 779.992 ton pada tahun 2013. Produksi kedelai mulai merangkak naik pada tahun 2014 menjadi 954.997 ton dan pada tahun 2015 produksi kedelai nasional mencapai 963.099 ton (BPS 2016). Penurunan produksi kedelai ini disebabkan oleh penetapan kebijakan harga sejak tahun 1992 ditiadakan, kebijakan tata niaga kedelai yang bebas dilakukan oleh pengusaha importir dan penetapan tarif impor tahun 1998 jauh di bawah bound tariff menyebabkan masuknya kedelai impor, akibatnya petani dalam negeri sulit bersaing dengan kedelai impor.
Penyebab turunnya produksi kedelai dalam negeri antara lain juga disebabkan menurunnya luas panen karena persaingan lahan dengan komoditi lainnya, belum adanya kebijakan harga yang memadai, kurangnya pemberlakuan tarif bea masuk dan tidak adanya jaminan pasar, serta penerapan teknologi yang belum optimal yang menyebabkan rendahnya produktivitas (Kementan 2015). Kebijakan peningkatan produksi kedelai di Indonesia sebaiknya dilakukan secara komprehensif dengan mendukung pengelolaan rantai pasokan kedelai, sehingga terbangun sistem umpan balik dari produsen hingga konsumen kedelai (Fizzanty dan Aminullah 2010). Di dalam negeri pengembangan kedelai dihadapkan pada ketersediaan benih bermutu dan pemanfaatan teknologi yang terbatas, menyempitnya lahan garap yang beralih fungsi menjadi lahan pemukiman dan industri serta terjadinya anomali iklim, menyebabkan produktivitas kedelai menjadi rendah. Di samping itu tingkat harga yang rendah dan fluktuatif tidak merangsang petani untuk menanam kedelai. Perkembangan harga kedelai lokal yang lebih mahal dibanding harga kedelai impor menyebabkan kedelai lokal kalah bersaing. Terjadinya perbedaan harga merupakan dampak dari tidak adanya regulasi jaminan pasar, kenaikan harga pasar dunia, serta panjangnya tata niaga kedelai sampai ke tingkat konsumen. Kebijakan yang ditempuh untuk mendukung upaya peningkatan produksi untuk mencapai swasembada kedelai pada dasarnya diarahkan untuk mendorong terwujudnya iklim yang kondusif guna tumbuh dan berkembangnya agribisnis kedelai. Kebijakan tersebut meliputi 1) meningkatkan produksi secara bertahap 2) meningkatkan peran pemerintah pusat dan daerah, BUMN, BUMD, swasta dan masyarakat dalam pengembangan kedelai 3) mengembangkan sistem pemasaran hasil dan tataniaga yang kondusif bagi petani dan 4) meningkatkan sumber permodalan usaha tani kedelai dan kemitraan. Strategi yang ditempuh meliputi: 1) peningkatan produktivitas 2) perluasan areal dan optimalisasi lahan 3) pengamanan produksi 4) perbaikan manajemen (Ditjen Tanaman Pangan 2010). Dalam rangka peningkatan produktivitas, seluruh upaya teknik budidaya dikembangkan oleh Kementerian Pertanian yang disesuaikan dengan spesifik lokasi. Mulai tahun 2015 dilakukan program peningkatan produksi kedelai yang tergabung dalam program upaya khusus peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai (UPSUS PJK). Upaya peningkatan produksi kedelai nasional meliputi bantuan benih dan penerapan program budidaya kedelai jenuh air (BJA) yang dikembangkan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB). Dalam rangka menambah areal pertanaman kedelai, Kementerian Pertanian bekerja sama dengan Kementerian LHK, Perum Perhutani dan PTPN di seluruh Indonesia untuk mengaplikasikan kebijakan tanam tumpangsari kedelai dengan komoditi perkebunan. Pengamanan produksi dilakukan dengan bantuan sarana pascapanen serta sosialisasi penangaan pascapanen yang baik dan benar. Adapun strategi perbaikan manajemen dilakukan dengan meningkatkan kualitas SDM penyuluh dan mengatur regulasi tata niaga kedelai, baik harga maupun saluran distribusi kedelai. Strategi lain yang harus dikembangkan dalam aspek perbaikan manajemen untuk menghadapi permasalahan penyediaan kedelai adalah peningkatan kinerja sepanjang rantai pasok melalui perbaikan manajemen rantai pasok/supply chain management (SCM). Sumarno et al. (2007) menyoroti tata niaga sebagai salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam usaha perbaikan dan pengembangan agribisnis kedelai di Indonesia. Saluran tata niaga merupakan rangkaian titik pemindahan 3
4 barang atau jasa dari tingkat produsen ke tingkat konsumen akhir. Menurut Kotler et al. (2004) saluran tata niaga dibedakan menjadi dua jenis, yaitu saluran langsung dan saluran tidak langsung. Saluran langsung terdiri atas dua pihak, yaitu produsen primer dan konsumen akhir, sedangkan saluran tidak langsung terdiri dari beberapa pihak perantara. Dalam rangka memperbaiki sistem tata niaga kedelai, perlu dilakukan penelitian mengenai analisis rantai pasok kedelai melalui pengukuran kinerja berdasarkan metode Supply Chain Operation References (SCOR) yang merupakan suatu model acuan dari operasi rantai pasok. Model SCOR mulai dioperasikan oleh Supply Chain Council pada tahun 1996 yang digunakan untuk mengukur kinerja total rantai pasokan perusahaan dan untuk meningkatkan kinerjanya secara keseluruhan (Paul 2014). Berangkat dari pemikiran di atas, penelitian ini dimaksudkan untuk mengukur kinerja rantai pasok kedelai dengan mengambil lokasi penelitian di Kabupaten Grobogan yang merupakan salah satu sentra kedelai di Provinsi Jawa Tengah dengan kompleksibilitas keterwakilan pelaku rantai pasok yang lengkap dari aspek budidaya di tingkat petani hingga aspek pemasaran sampai kepada pengguna akhir. Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Indonesia, dan sebagian besar dari produksi kedelai Provinsi Jawa Tengah disumbang oleh kabupaten Grobogan. Data produksi kedelai di Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Grobogan dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Data produksi kedelai tahun 2011 s.d. 2015 Produksi Kedelai (Ton) Tahun Kabupaten Nasional Prov. Jawa Tengah Grobogan 2011 851,286 112,273 75,979 2012 843,153 152,416 14,899 2013 779,992 99,318 65,114 2014 954,997 125,467 45,254 2015 963,183 129,794 48,003 Sumber : BPS RI (2016) Dalam kurun waktu tahun 2011 s.d. 2015 produksi kedelai di Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Grobogan mengalami fluktuasi yang cukup signifikan, pada tahun 2012 produksi kedelai Kabupaten Grobogan turun drasttis dikarenakan musim penghujan yang cukup lama pada pada awal hingga pertengahan tahun, sehingga hampir seluruh pertanaman kedelai dipanen dalam kondisi basah, ditambah lagi belum memadainya sarana pengeringan kedelai yang memadai, hal tersebut menyebabkan banyaknya kedelai busuk dan gagal panen. Sedangkan pada tahun 2013 terjadi kemarau panjang di beberapa wilayah di Jawa Tengah yang menyebabkan pertanaman kedelai mengalami gagal tumbuh pada periode awal tanam. Namun mulai tahun 2014 produksi kedelai merangkak naik dan pada tahun 2015 mencapai 129.794 ton. Pada tahun 2016 angka produksi kedelai baik di Jawa Tengah maupun di Kabupaten Grobogan diprediksi mengalami peningkatan dikarenakan penambahan luas tanam. Upaya peningkatan produksi kedelai di Kabupaten Grobogan terus menerus dilakukan melalui kerjasama sinergis antara pemerintah dan stakeholders terkait.
5 Perumusan Masalah Saat ini permintaan kedelai yang tinggi terutama dipicu oleh kebutuhan konsumsi. Pada kenyataannya permintaan kedelai terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Hal ini dipicu oleh kebutuhan pemenuhan gizi masyarakat yang berasal dari protein nabati kedelai yang terjangkau tersebut telah membentuk pola makan masyarakat. Kebutuhan penenuhan gizi yang berasal dari kedelai terus mengalami peningkatan dan mendorong berkembangnya usaha pengolahan pangan dan benih kedelai. Untuk menyediakan kedelai, perlu digiatkan produksi kedelai lokal, sebab ketergantungan pada impor akan semakin rawan dan harga kedelai impor juga akan semakin mahal. Sistem penyediaan kedelai lokal dengan berbagai kendalanya perlu ditelaah lebih lanjut terutama dalam hal sistem tata niaga. Mengacu pada apa yang disampaikan oleh Chopra dan Meindl (2007) bahwa strategi ideal dalam manajemen rantai pasok adalah menekankan adanya efisiensi dan mengelola kemapuan dalam ketepatan merespon permintaan konsumen yang diwujudkan dalam aplikasi kebijakan perusahaan dalam menangani enam faktor pendorong kinerja rantai pasokan, yaitu fasilitas, persediaan, transportasi, informasi, sumber daya dan harga. Permasalahan efisiensi dan responsibilitas tersebut harus dicari penyelesaiannya dan dirumuskan menjadi sebuah rekomendasi manajerial untuk perbaikan kinerja sebuah rantai pasok. Keberlangsungan proses produksi kedelai di Kabupaten Grobogan berjalan dengan baik dan simultan. Petani di Kabupaten Grobogan telah terbiasa melakukan budidaya kedelai hingga dua kali tanam dalam setahun dengan tanaman padi sebagai tanaman sela. Sebagian besar kebutuhan benih kedelai nasional juga dipasok oleh bandar dan petani penangkar di Kabupaten Grobogan. Sejauh ini, kendala yang dihadapi petani kedelai di Kabupaten Grobogan adalah; (1) penggunaan benih bermutu masih sangat rendah, (2) risiko budidaya kedelai cukup besar terutama adanya serangan hama/penyakit, (3) penanganan pascapanen terutama pada tahap pengeringan kurang memadai dan (4) jaminan harga kedelai dari pemerintah belum berjalan karena pada pada musim panen raya harga kedelai impor menjadi lebih murah dibanding kedelai lokal. Permasalahan tersebut merupakan permasalahan umum yang dihadapi dalam upaya pengembangan kedelai di Indonesia. Namun dengan berbagai permasalahan tersebut, Kabupaten Grobogan mampu menjadi daerah sentra produksi kedelai, di mana kebutuhan benih nasional sebagian besar dipasok dari Kabupaten Grobogan. Sebagai salah satu sentra kedelai di Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Grobogan memiliki stakeholders yang cukup lengkap bila dilihat dari aspek tata niaga. Kondisi rantai pasok kedelai di Kabupaten Grobogan saat ini termasuk yang paling baik di antara beberapa wilayah sentra produksi kedelai di Indonesia. Fenomena tersebut merupakan keunikan Kabupaten Grobogan dibanding dengan sentra kedelai lain di Indonesia. Bila diukur secara ilmiah, tentu terdapat indikator yang dapat dijadikan acuan bagi wilayah sentra kedelai lain agar tata niaga kedelainya dapat berjalan dengan baik. Dalam rangka mengetahui pola rantai pasok kedelai yang paling baik, upaya penelaahan lebih lanjut mengenai tata niaga kedelai di Kabupaten Grobogan dipandang perlu dilakukan. Bagaimana struktur dan pola manajemen rantai pasok serta sejauh mana kinerja rantai pasokan kedelai yang berlangsung di Kabupaten Grobogan sebagai daerah sentra kedelai perlu dianalisis, sehingga pola manajemen rantai pasok
6 tersebut diharapkan dapat dijadikan contoh dan referensi dalam memperbaiki permasalahan tata niaga kedelai di beberapa sentra kedelai di Indonesia. Berangkat dari pemikiran di atas, penulis bermaksud melakukan penelitian berupa analisis kinerja rantai pasok kedelai menggunakan metode SCOR dengan mengambil lokasi di Kabupaten Grobogan Provinsi Jawa Tengah. Hasil analisis penelitian ini dan rekomendasi kebijakan yang dirumuskan berupa implikasi manajerial diharapkan dapat lebih meningkatkan kinerja dari setiap pelaku rantai pasok kedelai di Kabupaten Grobogan. Rumusan masalah penelitian ini adalah: 1. Bagaimana gambaran struktur rantai pasok kedelai di Kabupaten Grobogan. 2. Bagaimana analisis kinerja rantai pasok kedelai di Kabupaten Grobogan. 3. Bagaimana implikasi manajerial efisiensi kinerja rantai pasok kedelai. Tujuan Penelitian Penelitian analisis kinerja rantai pasok kedelai di Kabupupaten Grobogan Provinsi Jawa Tengah dilakukan guna mencapai berbagai tujuan. Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah: 1. Mengidentifikasi struktur rantai pasok kedelai di Kabupaten Grobogan. 2. Menganalisis kinerja rantai pasok kedelai di Kabupaten Grobogan. 3. Merumuskan implikasi manajerial yang direkomendasikan dalam rangka meningkatkan kinerja rantai pasok kedelai di Kabupaten Grobogan. Manfaat Penelitian Hasil dari pengukuran kinerja rantai pasok kedelai yang dihasilkan dalam penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, khususnya bagi penulis dapat menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan dan dapat menganalisis masalah yang terjadi di lapangan. Bagi para pengambil keputusan, baik pemerintah dan seluruh stakeholders, penelitian ini diharapkan dapat diadopsi sebagai contoh dalam skala nasional untuk mengatasi permasalahan kinerja rantai pasok kedelai. Ruang Lingkup Penelitian Untuk menganalisis kinerja rantai pasok kedelai di Kabupaten Grobogan, penelitian ini memiliki ruang lingkup analisis mencakup: 1) identifikasi struktur rantai pasok kedelai, 2) pengukuran kinerja rantai pasok kedelai pada tingkat petani anggota kelompok tani di Kabupaten Grobogan dan 3) implikasi manajerial untuk peningkatan kinerja rantai pasok kedelai. Kabupaten Grobogan dipilih karena merupakan salah satu sentra produksi kedelai dengan pola produksi kedelai di tingkat kelompok tani yang sudah cukup baik dan dilengkapi dengan struktur pasar yang mewakili seluruh stakeholders yang ada. Karena hampir 90 persen hasil akhir produk kedelai di Kabupaten Grobogan berupa benih kedelai, maka penelitian ini dibatasi hanya pada aspek pengukuran kinerja rantai pasok di produsen benih kedelai selama kurun waktu pertanaman kedelai, proses panen, penanganan pascapanen sampai kedelai diproduksi menjadi benih kedelai yang telah disertifikasi dan siap dijual. Pada pembahasan hasil penelitian ini penulis menyertakan analisis deskriptif kondisi saluran distribusi rantai pasok kedelai di Kabupaten Grobogan.