BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) di Indonesia masih menjadi masalah gizi utama. Program-program penanggulangan GAKY telah dilakukan beberapa dekade, dengan berbagai metode dan strategi, namun masalah GAKY masih merupakan masalah kesehatan masyarakat (Pusat GAKY-IDD Centre Undip, 2009). Mengingat dampaknya masalah GAKY yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi kelangsungan hidup dan kualitas sumber daya manusia yang mencakup 3 aspek, yaitu aspek perkembangan kecerdasan, aspek perkembangan sosial dan aspek perkembangan ekonomi. Begitu seriusnya dampak yang ditimbulkan dari masalah GAKY, maka Pemerintah Indonesia melakukan upaya penanggulangan GAKY dengan fokus utama yaitu distribusi kapsul minyak beryodium kepada seluruh wanita usia subur (15-49 tahun) di daerah endemik berat dan endemik sedang sebagai upaya jangka pendek, dan Yodisasi garam atau peningkatan konsumsi garam beryodium sebagai upaya jangka panjang. Hasil Studi Intensifikasi Penanggulangan GAKY (IP-GAKY) tahun 2003, dan hasil Riskesdas tahun 2007 mendapatkan hasil bahwa cakupan rumah tangga dengan garam cukup iodium rata-rata nasional baru mencapai 62,3 %. Terdapat disparitas antar daerah cukup tinggi dimana persentase cakupan terendah adalah provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 27,9 %, dan tertinggi Provinsi Bangka Belitung sebesar 98,7 % (Kementerian Kesehatan RI, 2010). Kualitas garam iodium yang dikonsumsi rumah tangga di Indonesia dari waktu ke waktu menunjukkan adanya perbaikan. Persentase rumah tangga yang mengkonsumsi garam mengandung cukup iodium ( 30 ppm KIO3) meningkat dari 50 % pada tahun 1995 menjadi 73 % pada tahun 2003. Sebaliknya, persentase rumah tangga yang mengkonsumsi garam tidak mengandung iodium menurun dari 22 % pada tahun 1995 menjadi 14 % pada tahun 2003 (Kartono, 2009). 1
Surveilans GAKY di Privinsi Jawa Tengah sudah dimulai sejak tahun 2009 di 6 kabupaten/kota, tahun 2010 di 8 kabupaten dan tahun 2011 dikembangkan di 15 kabupaten/kota termasuk Kabupaten Kudus. Kabupaten Kudus sebagai kabupaten kecil di Pesisir Utara Jawa Tengah pada tahun 1982 masuk sebagai daerah endemik sedang (TGR 27 %) dan melalui survei ulang pemetaan GAKY tahun 1996 dan tahun 2005 terjadi perubahan dimana Kabupaten Kudus menjadi daerah non endemik dengan prevalensi gondok (TGR) sebesar 0,4 % pada tahun 1996 dan 0,93 % pada tahun 2005. Data Kabupaten Kudus tersebut didasarkan pada survei di 2 kecamatan yaitu Gebog pada 11 desa dan Dawe pada 18 desa. Pemetaan GAKY tahun 2005, ditemukan bahwa Total Goiter Rate (TGR) di 18 desa di Dawe sebesar 1,00 % berkisar antara 0 s/d 6,73 %. Sesuai kriteria WHO, semua desa di Dawe termasuk daerah non endemik, kecuali Desa Ternadi Dawe dengan TGR 6,73 % yang termasuk desa endemik GAKY ringan (Kantor Litbanglahtasipda, 2005). Meskipun secara umum wilayah Dawe sudah dinyatakan sebagai daerah non endemik GAKY, namun perlu disadari bahwa masalah GAKY berkaitan erat dengan kondisi geografis suatu daerah yang bersifat laten. Implikasinya adalah bahwa suatu daerah endemis GAKY akan tetap menjadi daerah yang rawan terhadap masalah kekurangan yodium dan harus selalu diwaspadai. Hasil pemantauan garam beryodium di tingkat masyarakat, di wilayah Dawe menunjukkan bahwa persentase desa dengan garam beryodium baik pada tahun 2011 sebesar 11,11 % meningkat menjadi 27,78 % pada tahun 2012. Terjadi peningkatan hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya, namun cakupan tersebut masih jauh dari standar pelayanan minimal yaitu 80 % (Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, 2012). Kandungan iodium bahan makanan yang berasal dari daerah dataran tinggi lebih rendah dibandingkan bahan makanan dari daerah dataran rendah. Di Wilayah Kerja Puskesmas Dawe terdapat desa yang wilayahnya dataran tinggi yaitu desa Ternadi, Kajar dan Soco, terdapat pula desa yang wilayahnya dataran rendah yaitu desa Cendono, Piji, Margorejo, Lau, Samirejo dan Puyoh.
Desa-desa tersebut masyarakatnya sudah menkonsumsi garam yang merknya berlabel mengandung yodium, namun untuk desa Ternadi masih dinyatakan sebagai daerah endemik GAKY ringan. Berdasarkan gambaran tersebut, maka penulis melakukan penelitian yang berjudul Perbedaan Karakteristik Garam Beryodium yang Dikonsumsi Masyarakat Dataran Tinggi dan Dataran Rendah di Wilayah Kerja Puskesmas Dawe Kabupaten Kudus. 1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah ada perbedaan karakteristik garam beryodium yang dikonsumsi masyarakat dataran tinggi dan dataran rendah di wilayah kerja Puskesmas Dawe Kabupaten Kudus?. 1.3 Tujuan Penelitian A. Tujuan Umum Adapun tujuan secara umum yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan karakteristik garam beryodium yang B. Tujuan Khusus Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah : 1. Mendiskripsikan bentuk, lama dan cara penyimpanan garam beryodium yang dikonsumsi masyarakat dataran tinggi dan dataran rendah di wilayah kerja 2. Menganalisis perbedaan bentuk garam beryodium yang dikonsumsi masyarakat di dataran tinggi dan dataran rendah di wilayah kerja 3. Menganalisis perbedaan cara penyimpanan garam beryodium yang 4. Menganalisis perbedaan lama penyimpanan garam beryodium yang
5. Menganalisis perbedaan kadar garam beryodium yang dikonsumsi masyarakat dataran tinggi dan dataran rendah di wilayah kerja Puskesmas Dawe Kabupaten Kudus. 1.4 Manfaat / Kegunaan Penelitian Berdasarkan tujuan penelitian di atas, manfaat yang diharapkan adalah : 1. Bagi Kalangan Akademik Memperkaya pustaka Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang tentang Garam Beryodium dan sebagai tambahan informasi bagi mahasiswa dalam melakukan penelitian yang serupa. 2. Bagi Masyarakat Memberikan informasi tentang garam beryodium bagi masyarakat khususnya di Dawe sehingga dapat menumbuhkan budaya penggunaan garam beryodium sesuai standar. 3. Bagi Institusi Kesehatan Memberikan informasi/masukan tentang garam beryodium yang beredar di masyarakat, sehingga dapat dijadikan bahan untuk melakukan intervensi yang tepat terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan GAKY dan dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. 4. Bagi Peneliti Meningkatkan pengetahuan tentang garam beryodium. 1.5 Keaslian Penelitian No. Tabel 1.1 Keaslian Penelitian Judul, nama, tahun Sasaran Variabel yg diteliti 1. Hubungan Antara Pemilihan dan Penyimpanan Garam Beryodium pada Ibu Rumah Tangga di Daerah Rural dan Daerah Urban di Selo Kabupaten Boyolali Tahun 2004, Teguh Tri Kuncoro, 2004. Ibu-ibu rumah tangga di Selo Kabupaten Boyolali Perilaku. Hasil Penelitian Ada hubungan antara pemilihan dan penyimpanan garam beryodium ibu rumah tangga di daerah rural dan daerah urban Metode.
2 Pengaruh Penggunaan Garam Beryodium Terhadap Status Gizi Balita di Amuntai Tengah Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2010, Chairunnisa, 2011 3 Hubungan Bentuk Garam, Lama Penyimpanan dan Cara Penyimpanan Garam Dengan Kadar Yodium Dalam Garam Pada Pedagang Garam Di Pasar Piji Dawe Kudus Tahun 2013, Endang Sri Lestari, 2013. Balita di Amuntai Tengah Kabupaten Hulu Sungai Utara Pedagang Garam Di Pasar Piji Dawe Kudus Status Gizi Balita perilaku Ada pengaruh Penggunaan Garam Beryodium Terhadap Status Gizi Balita Ada hubungan antara Bentuk Garam, Lama Penyimpanan dan Cara Penyimpanan Garam Dengan Kadar Yodium Dalam Garam Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang sudah ada ( pada tabel 1.1) adalah tempat penelitian, variabel penelitian.