BAB II KAJIAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) 1. Pengertian Contextual Teaching And Learning (CTL)

I. TINJAUAN PUSTAKA. tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara

KAJIAN PUSTAKA. makna tersebut dapat dilakukan oleh siswa itu sendiri atau bersama orang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB II KAJIAN PUSTAKA. perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Secara umum, semua aktivitas yang melibatkan psiko-fisik yang menghasilkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran model koooperatif tipe STAD merupakan salah satu

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PBL UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN TATANIAGA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. tepat untuk diterapkan guna mencapai apa yang diharapkan yaitu menciptakan manusia

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memecahkan suatu permasalahan yang diberikan guru.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

jadikan sebagai indikator aktivitas belajar siswa adalah:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bertanya, mengajukan pendapat, dan menimbulkan diskusi dengan guru.

BAB.II. KAJIAN PUSTAKA. seseorang, sehinga menyebabkan munculnya perubahan prilaku (Wina Sanjaya,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. siswa tidak cukup hanya mendengarkan dan mencatat seperti yang sering

II. TINJAUAN PUSTAKA. dan sasarannya. Sutikno (2005: 29) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif

BAB I PENDAHULUAN. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah yang dinilai

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Helen Martanilova, 2014

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL. contextual teaching and learning

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. belajar. Pada prinsipnya belajar adalah berbuat, tidak ada belajar jika tidak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Seorang guru SD yang akan mengajarkan matematika kepada siswanya,

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pengajaran dan pembelajaran kontekstual atau contextual teaching and

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Matematika merupakan salah satu dari sekian banyak mata pelajaran yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menuju ke arah yang lebih baik. Menurut Hamalik (2001: 37) belajar

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Secara umum menurut Gagne dan Briggs (2009:3) yang disebut konstruktivisme

Matematika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang tidak pernah lepas dari segala bentuk aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari,

II. TINJAUAN PUSTAKA. Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah pembelajaran yang menekankan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Biologi berasal dari bahasa yunani, yaitu dari kata bios yang berarti

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN. Pembelajaran matematika membutuhkan proses bernalar yang tinggi

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. kemempuan belajar sendiri atau melakukan aktivitas seluas-luasnya kepada

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pengajaran dimana para siswa bekerja

II. TINJAUAN PUSTAKA. dapat membawa hasil atau berdaya guna. Efektif juga dapat diartikan dengan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Majid (2007:176) LKS adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti

II. TINJAUAN PUSTAKA. Rosenberg (dalam Surjono, 2009: 3), mendefinisikan e-learning sebagai

II. TINJAUAN PUSTAKA. Metode discovery adalah suatu prosedur mengajar yang menitikberatkan

TINJAUAN PUSTAKA. Model PBL merupakan suatu model yang dirancang untuk merangsang. perkembangan kemampuan berpikir kreatif dan inovatif siswa dengan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Salah satu teori belajar yang cukup dikenal dan banyak implementasinya dalam

TINJAUAN PUSTAKA. Banyak orang belum mengetahui apa itu leaflet dan apa perbedaannya dengan

IMPLEMENTASI METODE PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Rini Apriliani, 2013

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. juga mengalami sehingga akan menyebabkan proses perubahan tingkah laku pada

II. TINJAUAN PUSTAKA. TTW merupakan model pembelajaran kooperatif dimana perencanaan dari

BAB I PENDAHULUAN BAB II PEMBAHASAN Contextual Teaching and Learning

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran di mana

BAB II KAJIAN TEORI. Pembelajaran merupakan proses komunikasi du arah, mengajar dilakukan oleh

BAB II KERANGKA TEORITIS. Perubahan tersebut mencakup aspek tingkah laku, keterampilan dan

I. PENDAHULUAN. yang dimaksud adalah suatu proses penyampaian maksud pembicara kepada orang

BAB 1I KAJIAN PUSTAKA Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL)

I. PENDAHULUAN. didiknya. Sekolah sebagai lembaga pendidikan berusaha secara terus menerus dan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengacu pada

II. TINJAUAN PUSTAKA. usaha untuk mengubah tingkah laku. Jadi belajar akan membawa suatu perubahan

Aas Asiah Instansi : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Siliwangi Bandung

II. TINJAUAN PUSTAKA. salah satunya adalah teknik Numbered Head Together (NHT). Menurut

BAB I PENDAHULUAN. diperlukan kemampuan untuk memperoleh informasi, memilih informasi dan

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. kearah yang lebih baik. Menurut Hamalik (2004:37) belajar merupakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Poerwadarminta (2003:23), aktivitas adalah kegiatan. Jadi aktivitas belajar

Kata Kunci: Aktivitas, Hasil Belajar Matematika, dan kooperatif tipe Teams Games Tournament

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2009:6). Menurut Gagne (dalam Sadiman, 2006:6) menyatakan bahwa media

BAB I PENDAHULUAN. Hani Handayani, 2013

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga

Rumusan masalahan. Tujuan Penelitian. Kajian Teori. memahaminya. Demikian pula dengan siswa kelas IX SMP Negeri 1 Anyar masih

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI SISWA KELAS VIIB SMP NEGERI 3 SENTOLO.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Huda (2014) mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kualitas pembelajaran merupakan salah satu pilar upaya

YUNICA ANGGRAENI A

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku siswa akibat adanya

II. TINJAUAN PUSTAKA. Efektivitas pembelajaran yaitu terlaksana tidaknya suatu perencanaan

Pendekatan Kontekstual (CTL) dalam KTSP pada Pembelajaran di SD

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan salah metode yang sering

BAB II KAJIAN TEORI. 1. Hakikat Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Oleh Saryana PENDAHULUAN

PENDEKATAN PEMBELAJARAN IPS DI SMP (Oleh: Dra. Neti Budiwati, M.Si.)

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN KONTEKSTUALSISWA KELAS IV SDI RAI TAHUN PELAJARAN 2011/2012

MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SAINS (IPA) DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)

BAB II LANDASAN TEORI. suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh seseorang untuk

BAB II KAJIAN PUSTAKA. adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan. dapat menunjang hasil belajar (Sadirman, 1994: 99).

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE LISTENING TEAM PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 5 PADANG

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran kooperatif saat ini banyak diterapkan oleh guru dalam

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. terutama dalam mata pelajaran matematika sejauh ini telah mengalami

48. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Atas Luar Biasa Tunalaras (SMALB E) A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. menguasai informasi dan pengetahuan. Dengan demikian diperlukan suatu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terbuka, artinya setiap orang akan lebih mudah dalam mengakses informasi

Transkripsi:

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Peningkatan Pembelajaran Istilah peningkatan diambil dari kata dasar tingkat (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990) makna kata peningkatan itu sendiri adalah proses, perbuatan, cara meningkatkan (usaha, kegiatan) untuk mencapai suatu tujuan. Sebagaimana kita ketahui bahwa Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Kata pembelajaran sendiri diambil dari kata belajar. Hamalik (2008), menjelaskan bahwa belajar bukan hanya mengingat tetapi lebih dari itu yaitu mengalami. dan menurut Suparno (2003), belajar adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari suatu praktik atau latihan. Sedangkan menurut Munif (2010) pembelajaran adalah proses transfer ilmu dua arah, antara guru sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi.

Dengan demikian peningkatan pembelajaran adalah kegiatan pembelajaran yang di dalamnya terdapat proses mentransfer ilmu melalui kegiatan yang menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari agar terjadi perubahan tingkah laku yang relatif permanen. 2. Aktivitas Belajar Sardiman(2004) menyatakan bahwa aktivitas belajar adalah kegiatan yang melibatkan seluruh panca indra yang dapat membuat seluruh anggota tubuh dan pikiran terlibat dalam proses belajar. Paul D Diedrichdalam Sardirman (2004) membagi aktivitas belajar kedalam delapan kelompok, yaitu : 1. Visual activities, yang termasuk di dalamnya misalnya, membaca, memerhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain. 2. Oral activities, seperti : menyetakan, merumuskan, bertanya, memberisaran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi. 3. Listening activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato. 4. Writing activities, seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin. 5. Drawing activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, peta, diagram. 6. Motor activities, yang termasuk didalamnya antara lain: melakukan percobaan membuat konstruksi, model merparasi, bermain, berkebun. 7. Mental activities, sebagai contoph misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan. 8. Emotional activities, seperti misalnya: menaruh minat, merasa bosan,gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup. Dengan demikian dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar adalah kegiatan-kegiatan yang melibatkan seluruh panca indra yang berhubungan

dengan materi pelajaran, sehingga siswa aktif melakukan aktivitas agar siswa tersebut dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya. Oleh karena itu hakikat siswa sebagai subjek belajar terpenuhi, sebab siswalah yang beraktivitas. 3. Matematika Matematika merupakan satu bidang studi yang diajarkan di Sekolah Dasar (SD), Matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang logika, mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya. Menurut Soedjadi (2009) dalam Syarif matematika sekolah adalah bagian atau unsur dari matematika yang dipilih antara lain dengan pertimbangan atau berorentasi pada pendidikan. Dari pengertian-pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu yang mendasari berbagai disiplin ilmu untuk memajukan daya pikir manusia yang diajarkan sesuai dengan jenjang pendidikan. Sedangkan fungsi matematika sebagaimana terdapat dalam Standar Kompetensi (2006) disebutkan bahwa Matematika berfungsi untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama.kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemeampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Tujuan pembelajaran matematika pada tingkat Sekolah Dasar adalah sebagai berikut:

1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan kosep atau algoritma, secara luwes, akurat, efesien, dan tepat, dalam pemecahan masalah. 2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat melekukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. 3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. 4. Mengomunasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. 5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. (Standar Kompetensi, 2006) 4. Strategi Pembelajaran Kemp dalam Sanjaya (2009) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan oleh guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan pendapat di atas, Dick dan Carey dalam Martinis (2009) juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah satu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersamasama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa. Jadi dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah serangkaian rencana kegiatan pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran yang disusun dalam langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan metode dan fasilitas, serta sumber belajar yang bertujuan untuk tercapainya suatu tujuan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dan siswa. 5. Contextual Teaching and Learning

Contextual Teaching and Learning adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Kata kontekstual (contextual) berasal dari context yang berarti hubungan, suasana dan keadaan sehingga contextual Teaching and Learning dapat diartikan sebagai pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu (Kusuma. 2009). Menurut Depdiknas (2003) Contextual Teaching and Learning adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diaarkan dengan situasi nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan perencanaan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pernyataan di atas sesuai dengan pendapat Nurdin (2009) bahwa pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning)merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materiyang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswamembuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya denganpenerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Senada dengan pendapat di atas, Kasihani (2003) menyatakan bahwa Pembelajaran ini memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dan penerapannya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, sebagai anggota masyarakat dan nantinya sebagai tenaga kerja. Mirip dengan definisi di atas Suparno (2003) mendefinisikan pendekatan kontekstual merupakan pembelajaran yang memiliki acuan konsep mengajar dan belajar yang membantu guru dalam menghubungkan mata pelajaran (konten) dengan situasi nyata dan yang memotivasi siswa dalam menghubungkan pengetahuan dan menerapkan pengetahuannya itu dalam

kehidupan sehari-hari. Berbeda sudut pandang dengan kedua definisi di atas Depdiknas (2002)mendefinisikan pendekatan kontekstual sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang mengakui dan menunjukkan kondisi alamiah dari pengetahuan. Melalui hubungan di dalam dan di luar ruang kelas, suatu pendekatan pembelajaran kontekstual menjadikan pengalaman lebih relevan dan berarti bagi siswa dalam membangun pengetahuan yang akan mereka terapkan dalampembelajaran seumur hidup. Pembelajaran kontekstual menyajikan suatu konsep yang mengkaitkan materi pelajaran yang dipelajari siswa dengan konteks dimana materi tersebutdigunakan, serta berhubungan dengan bagaimana seseorang belajar atau gaya/cara siswa belajar. a. Asas-asas Pendekatan Kontekstual Pendekatan pembelajaran kontekstual memiliki tujuh komponen utama, yaitu konstruktivisme (Constructivisme), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection), dan penilaian autentik (Dharma Kusuma, 2009). Ketujuh asas-asas tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Konstruktivisme(Constructivisme) Konstruktivisme merupakan landasan berpikir pendekatan kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekaligus. 2. Penemuan (Inquiry) Menemukan merupakan bagian pokok dari kegiatan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan hasil dari menemukan sendiri. 3. Bertanya (Questioning) Bertanya merupakan strategi yang utama dalam pendekatan kontekstual. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. 4. Masyarakat Belajar (Learning Community) Konsep masyarakat belajar mengisyaratkan agar hasil belajar diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok atau bahkan denganorang di sekitarnya. 5. Pemodelan (Modeling) Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemontrasikan agar siswanya belajar, melakukan agar siswa-siswanya melakukan.

6. Reflkesi (Reflection) Reflkesi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa yang lalu.. 7. Penilaian Autentik (Authentic Assessment) Authentic Assessment adalah prosedur penilaian pada pendekatan pembelajaran kontekstual. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapaitujuannya. Maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi pembelajaran pada memberi informasi.tugas guru mengelola kelas sebagaiteam yang bekerjasama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggotakelasnya. Kontekstualnya hanya sebagai strategi. Pembelajaran Kontekstualdikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran lebih produktif danbermakna.sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual jikamenerapkan kan ketujuh komponen pembelajaran kontekstual tersebut di atas. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran Contextual Teaching and learningadalah sebuah proses pembelajaran, dengan tujuh komponen pembelajaran kontekstual tersebut di atas, bertujuan membantu siswa melihat makna di dalam materi pembelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka. Langkah langkah pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut: a. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara berkerja sendiri, menemukan sendiri danmengkonstruksisendiri pengetahuan dan kentrampilan barunya. b. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik. c. Kembangkan sikap ingin tahu siswa dengan bertanya.

d. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok kelompok) e. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran. f. Melakukan refleksi di akhir pertemuan. g. Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara. 6. Hasil Belajar Arikunto (2006) mengatakan bahwa hasil belajar adalah hasil akhir setelah mengalami proses belajar, perubahan itu tampak dalam perbuatan yang dapat diamati,dan dapat diukur. Sementara Hamalik (2008) mengatakan bahwa hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam perubahan pengetahuan sikap dan keterampilan. Benjamin S. Bloom (dalam Ruminiati, 2007) mengklasifikasikan hasil belajar dalam tiga ranah yaitu : a. Ranah kognitif, yang terdiri dari enam kategori yaitu : pengetahuan, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. b. Ranah afektif, yang berkenaan dengan sikap terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. c. Ranah psikomotorik, berkenaan dengan keterampilan dan kemampuan bertindak. Hasil belajar yang diidentifikasi dalam hal ini mengacu pada ranah kognitif. Dengan demikian dari uraian di atas jelas bahwa akhir dari suatu proses pembelajaran adalah menghasilkan kemampuan seseorang yang mencakup pengetahuan, sikapdan keterampilan, yang merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. B. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam proposal penelitian ini adalah: 1. Melalui Strategi Pembelajaran Contextual Teaching And Learning dapat meningkatkan aktivitasbelajar siswa Kelas VI SD Negeri 02 Titiwangi Tahun Pelajaran 2012/2013. Melalui Strategi Pembelajaran Contextual Teaching And Learning dapat meningkatkanhasilbelajar Matematika pada Kelas VI SD Negeri 02 Titiwangi Tahun Pelajaran 2012