BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dunia perdagangan dan industri akhir-akhir ini mulai mengalami kemajuan yang baik. Barang-barang yang diproduksi ataupun dijual sudah banyak dibungkus dalam kemasan karena selain lebih praktis, barang yang dibungkus juga lebih higenis. Barang kemasan mempunyai peranan dan merupakan suatu usaha untuk memudahkan penjualan dan transpor barang yang dijualnya. Apabila suatu barang dijual berdasarkan ukuran berat atau isi atau jumlah dalam bungkusan, karena tidak ada jalan lain untuk mengetahuinya selain daripada membuka bungkusan atau akan menerima begitu saja tentang isinya. Ukuran besar kecilnya bungkusan tidak selalu memberikan anggapan yang benar tentang ukuran, berat bersih, isi bersih atau jumlahnya. Tanpa memberitahukan ukuran, berat bersih, isi bersih atau jumlah akan menimbulkan keragu-raguan bagi pemakai barang atau konsumen dalam membeli produk. Oleh karena itu perlu diwajibkan pencantuman tentang ukuran, berat bersih, isi bersih dan jumlah yang sebenarnya dengan jelas, terang serta mudah dibaca oleh para konsumen. Tujuan penyelenggaraan kemetrologian telah dituangkan di dalam Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal yang mana kebenaran pengukuran, tertib ukur, takar dan timbang merupakan suatu unsur yang terpenting dalam dunia perdagangan untuk mencapai tertib niaga. Tertib niaga salah satu contohnya adalah terjaminnya kualitas maupun kuantitas suatu produk yang beredar. Tertib niaga dapat dicapai dengan adanya pengawasan terhadap barang dalam keadaan terbungkus yang diperjual belikan di masyarakat. Pengawasan ini berguna untuk melindungi para konsumen dari tindak yang tidak diinginkan dalam proses transaksi perdagangan. Pada kenyataan yang ada pada saat ini, masih banyak ditemukan produk-produk yang beredar di masyarakat yang isinya tidak sesuai kuantitas yang tercatat pada labelnya. Berdasarkan tulisan Sularsi, yang dimuat di warta konsumen Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia memaparkan contoh kasus nyata menjelang lebaran 1
2 tahun 2007. Penjualan biskuit yang dikemas dalam kaleng berisi 700 g dan biasanya penuh satu kaleng. Namun penulis menemukan biskuit yang isinya tidak lebih dari separuh kaleng. Jika konsumen hanya berpatokan pada fisik kemasannya maka akan salah besar. Kejadian tersebut memberikan kecurigaan pada berbagai produk BDKT lain juga ada potensi terjadi hal yang sama sehingga merugikan konsumen. Pengawasn BDKT merupakan salah satu dari tiga pengawasan kemetrologian selain pengawasan satuan dan pengawasan UTTP. Pada pengawsan BDKT terdiri dari 2 yaitu pemeriksaan label dan pengujian kuantitas BDKT. Pengujian kuantitas BDKT salah satunya adalah pengujian kuantitas BDKT dalam satuan volume. BDKT dalam satuan volume salah satu contohnya adalah air mineral dalam kemasan. Air mineral dalam kemasan atau yang sering disebut dengan AMDK merupakan produk yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga banyak para konsumen yang membeli produk tersebut. Air mineral dalam kemasan yang beredar di masyarakat memiliki harga satuan yang berbeda walaupun nilai kuantitas pada labelnya sama. Nilai kuantitas yang tertulis pada label belum tentu sesuai dengan isi kuantitas sebenarnya produk label. Hal tersebut disebabkan karena adanya koreksi alat pengisi volume atau filling machine pada perusahaan. Oleh sebab itu pada penulisan kali ini dilakukan penelitian terhadap produk air mineral pada salah satu toko sehingga dapat memberikan informasi mengenai kebenaran kuantitas pada produk air mineral dari beberapa jenis produk. Pengujian kuantitas BDKT satuan volume sesuai Keputusan Direktorat Jenderal Standardisasi Perlindungan Konsumen Nomor : 26/SPK/KEP/3/2015 tentang Petunjuk Teknis Atas Kebenaran Kuantitas Barang Dalam Keadaan Terbungkus yang dinyatakan dalam satuan berat dan volume mempunyai 2 metode yaitu gravimetri dan volumetri. Metode tersebut memiliki aturan yang berbeda mulai dari jumlah sampling yang digunakan sampai metode pengujianya. Metode gravimetri pada pengujian kuantitas BDKT sering disebut dengan metode tidak merusak dan metode volumetri adalah metode merusak. Pada penulisan ini dilakukan penelitian mengenai pengujian kuantitas BDKT satuan volume dengan kedua metode tersebut yang dilakukan pada air mineral kemasan (AMDK). Dari
3 hasil pengujian tersebut akan diketahui hasil kesalahan dari masing-masing metode apakah ada perbedaan hasil kesalahan atau tidak. 1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Pemeriksaan label produk BDKT air mineral dalam kemasan (AMDK) berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31/M- DAG/PER/10/2011. b. Analisis perbandingan hasil pengujian kuantitas produk BDKT air mineral dalam kemasan (AMDK) antara metode gravimetri dan volumetri sesuai syarat teknis. c. Analisis perbandingan ketidakpastian pengukuran pengujian kuantitas BDKT metode gravimetri dan metode volumetri. d. Analisis pengaruh metode gravimetri dan volumetri pada pengujian kuantitas tiga produk air mineral dalam kemasan (AMDK). 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Memeriksa label produk BDKT air mineral dalam kemasan (AMDK) berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31/M-DAG/PER/10/2011 b. Mengetahui perbedaan hasil pengujian kuantitas BDKT air mineral dalam kemasan (AMDK) antara metode gravimetri dan volumetri sesuai syarat teknis. c. Mengetahui perbandingan ketidakpastian pengukuran pengujian kuantitas BDKT metode gravimetri dan metode volumetri. d. Mengetahui pengaruh metode gravimetri dan volumetri pada pengujian kuantitas tiga produk air mineral dalam kemasan (AMDK). 1.4 Batasan Masalah berikut : Batasan masalah yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai
4 a. Studi kasus yang akan dibahas pada penelitian ini adalah pemeriksaan label dan pengujian kuantitas produk BDKT satuan volume yaitu 3 produk air mineral yang memiliki nilai nominal sama dengan menggunakan metode gravimetri dan volumetri. Pengujian ini tidak menguji kualitas air mineral. b. Sampel produk BDKT yang digunakan diambil di salah satu tempat penjualan produk atau toko yang diasumsikan setiap sampel produk homogen. c. Analisis statistik perbandingan hasil pengujian menggunakan aplikasi Microsoft Excel 2013 dan software Qi Macros 2016 d. Pengujian mengacu pada Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31/M- DAG/PER/10/2011 dan petunjuk teknis yang digunakan adalah Keputusan Direktorat Jenderal Standardisasi Perlindungan Konsumen Nomor 26/SPK/KEP/3/2015. 1.5 Manfaat Penelitian Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Bagi peneliti Memberikan pengalaman, pengetahuan serta wawasan baik secara teori maupun praktik dalam melakukan pengujian kuantitas BDKT baik dengan metode gravimetri maupun volumetri. Selain itu mengetahui kebenaran kuantitas BDKT air mineral yang diuji. b. Bagi pembaca Memberikan pengetahuan dan wawasan baru perihal pentingnya pengujian kuantitas BDKT. Selain itu memberikan informasi kebenaran kuantitas BDKT air mineral yang diuji. c. Bagi masyarakat Memberikan informasi perihal kebenaran kuantitas produk BDKT sebenarnya yang telah diuji yaitu air mineral, sehingga masyarakat akan lebih tahu mana produk yang menerapkan peraturan BDKT secara baik. 1.6 Landasan Hukum Landasan hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
5 a. Undang-Undang Metrologi Legal No.2 Tahun 1981 pasal 24 tentang Barang Dalam Keadaan Terbungkus. b. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31/M-DAG/PER/10/2011 tentang Barang Dalam Keadaan Terbungkus. c. Keputusan Direktorat Jenderal Standardisasi Perlindungan Konsumen Nomor 26/SPK/KEP/3/2015 tentang Petunjuk Teknis Atas Kebenaran Kuantitas Barang Dalam Keadaan Terbungkus Satuan Berat dan Volume d. OIML R87 tentang Quantity of Product in Prepackages 1.7 Sistematika Penulisan Sistematika penyusunan Proposal Tugas Akhir dengan judul Analisis Pengujian Kebenaran Kuantitas Barang Dalam Keadaan Terbungkus (BDKT) Produk Air Mineral di Minimarket Dengan Menggunakan Metode Gravimetri Dan Volumetri. ini dibagi menjadi beberapa bab dengan materi sebagai berikut : a. BAB I Pendahuluan Bab 1 ini berisi latar belakang dilakukan pengujian kuantitas BDKT satuan volume, rumusan masalah, tujuan dilakukan pengujian kuantitas BDKT, batasan masalah pada pembahasan pengujian kuantitas BDKT dan manfaat penelitian atau pengujian kuantitas sebenarnya BDKT b. BAB II Tinjauan Pustaka Bab 2 ini berisi tentang uraian sistematis tentang penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dalam pustaka dan menghubungkan dengan masalah atau topik bahasan yang diteliti. Fakta-fakta yang dikemukan sejauh mungkin diacu dari sumber lainnya. c. BAB III Dasar Teori Bab 3 ini membahas teori-teori dan informasi yang mendasari pemecahan dari permasalahan yang disajikan. Pada bab ini dijelaskan mengenai teori BDKT, pengawasan BDKT, pengawasan BDKT di Toko, pemeriksaan label BDKT, pengujian kuantitas BDKT dalam satuan volume, pengujian kuantitas BDKT satuan volume menggunakan metode gravimetri dan volumetri
6 d. BAB IV Metode Penelitian Bab 4 ini membahas rancangan penelitian terkait lokasi dan waktu penelitian, teknik pengumpulan data, urutan prosedur penelitian dan model analisis yang dilakukan. e. Bab V Hasil dan Pembahasan Bab 5 ini berisi tentang bahasan mengenai hasil data dari penelitian beserta pembahasanya. f. Bab VI Kesimpulan dan Saran Bab 6 ini terdiri dari kesimpulan dan saran-saran sebagai implikasi hasil dari penelitian.